Kedele Maut Jilid 31

 Jilid 31

Sewaktu diperlihatkan dengan seksama, terdengar si pendatang hanya terdiri dari seorang.

Siau wan segera berbisik:

"Yang datang kali ini hanya seorang, mari kita bunuh saja orang itu"

"Tutup mulut" buru-buru Beng Gi ciu membentak.

Belum habis suara langkah manusia itu sudah kedengaran semakin nyata, tampaknya orang tersebut berjalan amat lamban.

Tanpa terasa Kho Beng berpikir dengan perasaan ragu-ragu : "Benar-benar kejadian yang sangat aneh, bila didengar dari suara

derap langkahnya orang itu seperti seseorang yang tidak mengerti akan ilmu silat." Tapi ingatan lain kembali melintas, pikirnya dengan perasaan terkejut. "Biasanya orang yang lihay tak suka jual tampang, mungkin juga orang itu adalah seorang jagoan yang berilmu tinggi?"

Sementara ingatan tersebut masih melintas dalam benaknya, suara langkah manusia tadi telah tiba dua kaki dihadapan mereka. Toook.toooktook Makin lama makin lambat, akhirnya dia berhenti hanya dua kaki jaraknya dari tempat persembunyian mereka.

Kabut malam yang makin menipis membuat raut wajah orang tersebut lamat-lamat sudah mulai kelihatan, ternyata dia adalah seorang kakek yang rambutnya telah beruban semua.

orang itu berperawakan gemuk lagi pendek, mengenakan baju berwarna ungu, ditangannya membawa sebuah tongkat bambu sementara dicunggungnya tergantung sebuah buli-buli besar. sementara orang itu sudah mengambil tempat duduk diatas sebuah batu besar.

Ketika Kho Beng secara diam-diam mengintip keluar, tampak olehnya sekulum senyuman seolah-olah selalu menghiasi wajah kakek tersebut, ia tak memiliki suatu keistimewaan, mungkin setelah menempuh perjalanan jauh dan merasa lelahi kini sedang beristirahat disitu. satu-satunya masalah yang mencurigakan adalah mengapa dia memasuki dasar jurang yang terpencil sepi ini ditengah malam buta begini.

Beng Gi ciu maupun siau wan telah mengawasi pula gerak gerik kakek berbaju ungu itu dengan penuh perhatian, sikap mereka Nampak tegang dan amat serius.

Berada dalam keadaan begini, Kho Beng merasa kurang leluasa untuk mengajukan pertanyaan, karenanya dia Cuma membungkam diri seribu bahasa. setelah duduk beberapa saat, mendadak Kakek berbaju ungu itu bergumam seorang diri :

"Waaah.rasanya makin lama semakin tak beres, ditengah malam buta begini, kemanakah aku mesti menemukan langgananku itu?"

sembari berkata dia menarik buli-buli dipunggungnya ke depan, membuka penutupnya serta mengeluarkan bungkusan besar maupun bungkusan kecil yang banyak sekali jumlahnya.

setelah diperiksanya semua, sekali lagi dia masukkan kembali bungkusan tersebut kedalam buli-bulinya.

oleh karena udara malam masih menyelimuti angkasa, kabutpun masih melayang diatas permukaan tanah, maka walaupun selisih jarak mereka hanya dua kaki, namun tak terlihat dengan jelas benda-benda apakah itu. Begitulah, selesai memeriksa barang-barang yang berada didalam buli-bulinya, Kakek berbaju ungu itu mulai celingukan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu mengendus pula dengan hidungnya kesana kemari, pada akhirnya dia bergumam :

"semestinya di tempat ini aku harus bertemu langganan, kenapa tak seorang manusia pun yang menyapaku?"

Mendengar perkataan tersebut tanpa terasa perasaan Kho Beng serta Beng Gi ciu agak tergerak.

Mendadak terdengar Kakek berbaju ungu itu berkata lagi : "Aaahi rupanya ada lagi yang datang, tapi bisa jadi orang itu

bukan langganan yang kucari"

Ia segera melompat turun dari atas batu dan mendekam diatas tanah untuk menyembunyikan diri.

Tindakan dari Kakek berbaju ungu itu sangat mengejutkan hati Beng Gi ciu, sebab dia pun merasa ada orang yang mendekati tempat tersebut, namun ia baru mengetahuinya setelah Kakek berbaju ungu itu menyembunyikan diri baik-baik.

setengah peminuman teh kemudian, betul juga tampak ada sesosok bayangan hitam melintas lewat dengan kecepatan luar biasa, orang itu berjalan lewat persis didepan batu cadas dimana kakek itu menyembunyikan diri.

Tapi agaknya orang yang berjalan malam itu sama sekali tidak menyadari akan kehadiran si Kakek berbaju ungu disitu, buktinya dia lewat dengan begitu saja tanpa berpaling.

Dalam hati kecilnya Kho Beng segera sadar, kakek yang berada dihadapannya sudah pasti bukan manusia sembarang.

Ditinjau dari tingkah laku si Kakek berbaju ungu itu yang dinilai amat misterius, kemudian menyembunyikan diri dari pengintaian orang berjalan malam yang jelas merupakan anggota partai kupu- kupu, pemuda tersebut segera menarik kesimpulan bahwaannya kakek tersebut sudah pasti merupakan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi.

Ketika ia mencoba berpaling untuk mengawasi Beng Gi ciu berdua, tampak kedua orang gadis itu masih mengawasi lawannya dengan tanpa berkedip. melihat itu terpaksa dia harus menelan kembali kata-katanya.

Berapa saat kemudian Kakek berbaju ungu itu telah merangkak bangun dan duduk kembali diatas batu cadas semula.

Terdengar ia tertawa ringan lalu bergumam lagi seorang diri : "Kalau obat mujarab datang secara tiba-tiba, segala penyakit pasti akan hilang dengan sendirinya, tapi kalau memang orang lain tidak berjodoh dengan aku si orang tua, yaa.apa boleh buat lagi, lebih baik aku pergi saja dari sini"

selesai berkata dia segera menggerakkan tubuhnya dan berjalan menuju kearah jurang sana.

Tapi baru saja berjalan beberapa langkahi dia telah balik kembali dan berkata sambil tertawa :

"Aaaahi aku tak usah terburu napsu, biarlah kutunggu sejenak lagi."

sambil berkata dia mengeluarkan batu api dan menyulut huncwenya, kemudian sambil duduk dibatu, ia menikmati huncwenya dengan penuh keasyikan.

sejak kedatangan Kakek berbaju ungu itu, bila diperhatikan secara sungguh-sungguhi maka dapat dilihat bahwa sinar matanya selalu dan sekelebatan tanpa sengaja mengawasi tempat persembunyian dari Kho Beng sekalian.

Akhirnya Beng Gi ciu tak dapat menahan diri lagi, tiba-tiba dia berbisik kepada Kho Beng dengan ilmu menyampaikan suara :

"Aku lihat kakek ini sedikit rada aneh, bagaimana kalau kita menemui dirinya?" Buru-buru Kho Beng menjawab dengan ilmu menyampaikan suara pula : "Terserah kepada nona Beng, bagi diriku sih tiada pendapat yang lain."

Beng Gi ciu tersenyum, dia segera bangkit berdiri dan berjalan keluar dari tempat persembunyiannya .

Kakek berbaju ungu itu sama sekali tidak tercengang melihat kemunculan gadis tersebut, sambil tertawa hambar dia malah bergumam lagi,

"Untung saja aku menunggu sejenak tadi, kalau tidak tentu kesempatan baik dilewatkan dengan begitu saja."

Beng Gi ciu maju beberapa langkah kedepan, sambil memberi hormat, sapanya :

"Mungkin lotiang sudah tahu kalau siau li sekalian berada disini?" sambil tersenyum Kakek berbaju ungu itu balas memberi hormat. "Yaa betul, betul, aku tahu kalau disini ada langganan yang

menunggu."

"Boleh aku tahu siapa nama lotiang?" Tanya Beng Gi ciu kemudian dengan suara dalam.

Kakek berbaju ungu itu tersenyum. "Dulu sih aku punya nama, tapi kemudian kurasakan nama bukanlah suatu yang penting, lama kelamaan aku tak pernah menggunakannya lagi sehingga akhirnya aku sendiripun melupakannya ."

"Bagaimana pun juga, saban orang pasti punya nama, kalau tidak, bagaimana cara orang lain memanggilmu?" kata Beng Gi ciu lagi sambil tertawa.

"Panggilan sih ada."

sambil menunjuk kearah rambut sendiri yang telah beruban semua, Kakek berbaju ungu melanjutkan,

"Berhubung rambutku putih bagaikan saiju, orang menyebutku sebagai si kakek berambut putih, tapi ada pula yang memanggilku si setan tua dari Lam ciang"

"setan tua dari Lam ciang?" gumam Beng Gi ciu lirih,

"sayang sekali pengetahuan serta pengalaman siauli amat cetek sehingga belum pernah mendengar nama besar dari lotiang, tapi akum percaya kau pastilah seorang tokoh dunia persilatan yang berilmu tinggi"

Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak : "Haaaahhhihaaahhhhaaaahhhhinona, nona.terang saja aku si

kakek pun baru pertama kali ini melangkah masuk ke daratan Tionggoan, sehingga tak banyak jago persilatan yang kukenal"

"Apakah selama ini lotiang berdiam diwilayah Lam ciang?" Kakek berambut putih itu mengangguk berulang kali.

"Hampir empat lima puluh tahunan , aku tak pernah meninggalkan wilayahku barang setengah langkah pun, tapi berapa tahun belakangan, makin lama kehidupanku disana semakin susah, maka dengan perasaan apa boleh buat terpaksa aku situa harus hijrah ke utara, aku ingin mencari keuntungan didaratan Tionggoan sehingga bisa dibuat sebagai biaya untuk hari tua ku nanti."

"apa sih pekerjaan lotiang?" Tanya Beng Gi ciu sambil mencoba mengawasinya. sambil menepuk buli-buli dipunggungnya, kakek itu menjawab :

"sepanjang hidupku bergumul dengan obat-obatan, meski belum bisa dibilang mampu menghidupkan kembali orang mati, namun penyakit dalam maupun penyakit luar bisa kusembuhkan secara cepat" "oooohi rupanya lotiang adalah seorang tabib yang gemar menolong orang, maaf..maaf" Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata :

"Bila kutinjau dari perkataan lotiang barusan, agaknya kau mengatakan bahwa kami adalah langganan lotiang."

Tiba-tiba ia menghentikan perkataannya dan tidak dilajutkan kembali. sambil tertawa terkekeh-kekeh, Kakek berambut putih itu menjawab :

"Yaa benar, sudah hampir sebulan lamanya aku melangkah masuk kedaratan Tionggoan, namun selama ini belum berhasil juga menemukan seorang langganan pun, padahal bekal yang kubawa keluar sudah hampir habis terpakai, bila kau gagal mendapatkan langganan dalam waktu singkat, bisa jadi aku bakal mati kelaparan didaratan Tionggoan ini."

sambil tertawa dingin Beng Gi ciu menyela :

"Lotiang belum memberikan jawaban yang sejelasnya atas pertanyaan siauli barusan."

Kemudian dengan suara dalam dia melanjutkan :

"Dari mana lotiang bisa tahu kalau siauli sekalian bersembunyi disini dan dari mana pula bisa tahu kalau bakal menjadi langgananmu?"

Kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak : "Haaahhaaa.haaahi.aku mengandalkan hidungku ini." "Mengandalkan hidung?" Beng Gi ciu tertawa geli,

"lotiang memang pandai bergurau, apa sangkut pautnya masalah ini dengan hidungmu?"

"Tentu saja amat besar hubungannya," kata Kakek berambut putih itu tertawa ringan.

"sebab hidungku ini memiliki ketajaman penciuman yang luar biasa, jauh berbeda dengan orang biasa."

"Jadi maksud lotiang, kau mengandalkan ketajaman dari daya penciuman hidungmu itu?"

"Tepat sekali" kakek itu manggut-manggut,

"Memang begitulah yang kumaksudkan." Beng Gi ciu segera mendesak lebih jauh.

"Jadi lotiang pun mengandalkan ketajaman daya ciummu itu untuk mengetahui tempat persembunyian kami disini?"

Kembali Kakek berambut putih itu mengangguk.

"Yaa, memang, demikianlah keadaan yang sesungguhnya." Lalu sambil berpaling dan memandang sekejap kearah semak belukar dihadapannya, ia berkata lebih jauh :

"Yang menarik perhatianku justru perasaanku yang mengatakan bahwa didalam sana, agaknya terdapat seseorang yang sedang menderita luka parah, terus terang saja aku sedang menaruh perhatian atas dirinya."

"Apa yang kau inginkan?" bentak Beng Gi ciu dengan suara dalam lagi berat.

Buru-buru Kakek berambut putih itu menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berkata :

"Harap nona jangan salah paham, aku sudah menyembuhkan beribu-ribu penyakit yang diderita orang, sudah memeriksa keadaan luka yang diderita beribu jago, tentu saja perhatian yang kucurahkan saat ini adalah luka yang diderita rekanmu itu."

Kemudian sambil menepuk buli-buli dipunggungnya, dia berkata lebih jauh :

"Bila aku tak berhasil mendapatkan uang lagi, bisa jadi aku betul- betul akan mati kelaparan."

setengah percaya setengah tidak, Beng Gi ciu berseru : Lotiang benar-benar tidak mempunyai tujuan yang lain?

Apa tujuan yang lain itu? kakek itu balik bertanya dengan wajah amat serius.

Beng Gi ciu termenung s ej enaki lalu berkata :

Peristiwa ini terlampau aneh dan susah membuat orang untuk mempercayainya, coba bayangkan sendiri, apa sebabnya kau menelusurijulan yang terpencil seperti ini ditengah malam buta dan kebetulan sekali mengapa kau memiliki ketajaman daya cium yang jauh lebih tajam daripada penciuman anjing. Kemudian dengan suara dalam ia berkata lebih jauh :

"Terus terang saja kukatakan, aku agak mencurigai dirimu sebagai kaki tangan dari partai kupu-kupu"

sambil tertawa Kakek berambut putih itu menggeleng kepalanya berulang kali, ujarnya :

"akupun pernah mendengar tentang berita munculnya kembali partai kupu-kupu didalam dunia persilatan, terus terang saja kukatakan, aku sendiripun amat membenci orang-orang partai kupu- kupu, bila keadaan mengijinkan aku pun ingin sekali membunuh beberapa orang anggota dari partai kupu-kupu."

"Mengapa?" Tanya Beng Gi ciu keheranan. Mendadak Kakek berambut putih itu menjadi emosi, sambil mengkertak gigi kencang-kencang katanya :

"sebab aku mempunyai ikatan dendam kesumat sedalam lautan dengan mereka..tatkala partai kupu-kupu kehilangan kitab pusaka Thian goan bu boh pada seabad berselang dan melakukan pembantaian didalam dunia persilatan, leluhur ku terbunuh pula ditangan mereka."

Menurut hasil pengamatan Beng Gi ciu, dia menemukan kalau Kakek berambut putih itu sama sekali tidak berbohong, karena rasa benci dan dendam yang menyelimuti wajahnya tak mungkin bisa ditunjukkan orang lain. Maka katanya kemudian sambil tersenyum,

"Tentunya lotiang sangat mahir didalam ilmu pertabiban?" "Telah kukatakan tadi, biar pun penyakit itu berada didalam

ataupun diluar, aku sanggup membuatnya sembuh sama sekali." "Ditinjau dari kesanggupan lotiang untuk mengendus seseorang

diantara kami menderita luka dalam yang cukup parah, membuktikan kalau kemampuan lotiang memang sangat hebat, silahkan"

"Haaaahh.haaaahhhaaahh.kalau begitu transaksi kita pasti akan berhasil." Tukas si kakek dengan wajah kegirangan.

Beng Gi ciu manggut-manggut.

"Yaa, bila lotiang memang mampu menyembuhkan luka, tentu saja siauli merasa amat bersyukur dan berterima kasih sekali."

"Bagus sekali kalau begitu, bagus sekali, tapi kami harus memeriksa keadaan luka nya lebih dulu sebelum berbicara soal harga, silahkan nona mengajakku menjumpainya."

Beng Gi ciu tidak ragu-ragu lagi, dia berjalan lebih dulu menuju ketempat persembunyian Kho Beng serta siau wan.

sambil membawa tongkat bambunya, Kakek berambut putih itu mengikuti dibelakangnya.

Mula-mula dia memperhatikan dulu seluruh tubuh Kho Beng dengan seksama, kemudian baru katanya :

"Luka yang dideritanya tidak enteng, masalahnya darahnya telah membeku didalam isi perutnya..apakah nona telah memberi obat- obatan kepadanya?"

"Ya a" sinona mengangguk, "Aku hanya memberi obat penambah darah untuk memperkuat kondisi tubuhnya."

sekali lagi Kakek berambut putih itu memperhatikan air muka Kho Beng, selang beberapa saat kemudian dia baru berkata : "Kalau kita ikuti cara pengobatan yang nona lakukan paling tidak masih dibutuhkan waktu selama sepuluh hari untuk menyembuhkan kembali lukanya itu, lagipula dalam sepuluh hari ini dia tak boleh bergerak ataupun melakukan gerakan yang melelahkan, terutama sekali tak boleh emosi dan menuruti gejolak perasaan sendiri, kalau tidak keselamatan jiwanya akan berbahaya sekali."

"Betul Pandangan lotiang memang tepat sekali" puji Beng Gi ciu dengan perasaan kagum. setelah berhenti sejenak, desaknya lagi :

"Menurut cara pengobatan yang lotiang lakukan, kira-kira beberapa lama yang dibutuhkan?"

Kakek berambut putih itu tersenyum.

"Biarpun luka dalamnya cukup parah, aku Cuma membutuhkan waktu setengah peminuman untuk bisa membuatnya sembuh dan segar kembali seperti sedia kala"

"Hanya setengah peminuma n teh saja dapat memulihkan kembali kesehatannya?" hampir saja Beng Gi ciu melompat bangun saking kagetnya,

"Lotiang kan tidak sedang bergurau, bukan?"

Dengan suara dalam Kakek berambut putih itu berkata : "Kalau persoalan yang lain boleh saja kita bergurau, tapi dalam

soal mengobati penyakit, hal semacam ini tak boleh sekali-kali sampai terjadi, aku bukan termasuk manusia macam begitu."

Beng Gi ciu menjadi kegirangan setengah mati, segera serunya : "Baiklah, bila lotiang benar-benar mampu menyembuhkan

lukanya dalam setengah peminumanteh saja, siauli pasti akan sangat berterima kasih kepadamu."

"Bagus sekali," Kakek berambut putih itu tersenyum, "Tapi. .kita harus membicarakan soal bayarannya dulu."

"Berapa tahil yang lotiang minta?" Tanya si nona agak tertegun. Kakek berambut putih itu termenung serta berpikir sebentar,

kemudian sahutnya sambil tertawa,

"Dalam transaksi yang terjadi pertama kali, aku merasa canggung untuk membuka harga keliwat tinggi, dari para pasien, kedua jadi mengurungkan niatnya"

setelah garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia baru berkata

:

"Bagaimana kalau lima tahil perak, bersediakah kau

membayarnya?"

Beng Gi ciu segera tersenyum, "Bila kau minta lima ribu atau lima laksa tahil peraki mungkin siauli tak mampu membayar sekaligus, tapi kalau Cuma lima tahil peraki itu mah tak terhitung seberapa."

sambil berpaling kearah siau wan, segera bentaknya : "Ambil lima tahil emas dan serahkan kepada lotiang ini" siau wan jadi tertegun.

"Nona, dia kan cuma menghendaki lima tahil peraki bukan lima tahil emas."

"Tak usah banyak bicara lagi" tukas Beng Gi ciu sambil tertawa, "Cepat ambil keluar dan serahkan kepadanya"

Terpaksa siau wan mengiakan, dengan rasa berat hati dia membuka buntalannya dan mengeluarkan sebatang emas sambil disodorkan kemuka.

Kontan saja paras muka Kakek berambut putih itu berubah menjadi berseri-seri karena kegirangan, katanya :

"Lima tahil emas..wow, ini berarti nilainya hampir mencapai seratus tahil perak. nona, kau.."

"Tak terhitung seberapa, terima saja." Tukas si nona hambar. Kakek berambut putih itu segera menyimpan batangan emas tersebut kedalam sakunya, kemudian ia mengambil buli-bulinya dan

mengeluarkan sebutir pil berwarna putih, katanya kemudian : "Apakah kantung air nona berisi air?"

"Ya a, ada" Beng Gi ciu mengangguk. sambil berkata dia melepaskan kantung airnya.

Kakek berambut putih itu menyodorkan pil bewarna putih tadi kehadapan sinona sambil berkata :

"silahkan nona melolohkan obat tersebut kedalam mulutnya."

Beng Gi ciu menerima pil tadi, diamati sejenak lalu berdiri termangu, tampaknya dia merasa agak ragu-ragu.

sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa, Kakek berambut putih itu bertanya :

"Apakah nona masing sangsi?"

"Ya a, mungkin saja aku memang banyak curiga,"

"tapi Aku cukup memahami perasaan nona." Tukas si kakek cepat.

"Apa yang kaupahami?" Tanya Beng Gi ciu agak tergetar.

Mendadak Kakek berambut putih itu berkata dengan ilmu menyampaikan suara : "Nona tidak akan gusar bila aku berbicara blak-blakan dan terus terang?"

"Katakan saja terus terang" sahut Beng Gi ciu dengan perasaan agak tergetar.

Tentu saja jawaban dari si nona pun diberikan dengan ilmu menyampaikan suara. sambil tersenyum kakek itu berkata :

"Aku lihat pemuda itu tentulah kekasih hati nona bukan, karenanya nona bagitu menguatirkan keselamatan jiwanya?"

"Aaahi ngaco belo" seru Beng Gi ciu dengan wajah bersemu merah karena jengah.

Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak dan segera mengalihkan pandangan matanya kearah lain.

Beng Gi ciu tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat ia menjejalkan pil tersebut kedalam mulut Kho Beng.

Paras muka Kakek berambut putih itu segera berubah serius kembali, buru-buru dia mendekati Kho Beng dan bertanya lembut :

"Bagaimana rasanya pil tersebut?"

"Rada getir, tapi setelah berada dalam perut rasanya menyegarkan"

"Kalau begitu tak salah lagi, cepat kau himpun tenaga dalammu dan membawa sari obat tersebut keseluruh badan, aku jamin kesehatan tubuhmu segera akan pulih kembali seperti sedia kala."

Kho Beng segera memejamkan matanya rapat-rapat dan meng ikuti petunjuk tersebut mulai mengatur pernapasan.

sementara itu Beng Gi ciu serta siau wan menjaga disisi arena dengan wajah teggng dan serius.

Benar juga, tak sampai setengah peminuman teh kemudian, Kho Beng telah membuka matanya kembali.

Kho kongcu Beng Gi ciu segera menegur dengan agak emosi, "Kau.."

Kesegaran telah memancar dari balik wajah Kho Beng, tiba-tiba dia melompat bangun seraya berkata :

"Aku. benar- benar telah segar kembali."

Beng Gi ciu menjadi kegirangan setengah mati, siau wan pun turut memuji kehebatan kakek itu, katanya :

"Locianpwee, obatmu benar-benar amat mujarab, rupanya khusus dipakai untuk mengobati luka dalam? Lain waktu aku tentu akan membantumu untuk menyiarkan nama besarmu dimana-mana, tanggung kau pasti akan menjadi kaya raya." Kakek berambut putih itu tertawa.

"Aku tidak mengharapkan punya nama besar, asal bisa mendapat sejumlah uang sebagai biaya dihari tuaku serta sebuah peti mati untuk mengubur jenasahku lain waktu, rasanya itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk pulang kedusun."

"Kau orang tua, apakah masih punya keluarga lain?" Kakek itu menggeleng.

"Aku siorang tua adalah manusia bernasib jelek, sejak dilahir sudah hidup seorang diri, sampai saat ini pun aku tetap hidup sebatang kara tanpa anak tanpa bini."

"ooooh . kasihan benar," bisik siau wan simpatik. Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya,

"Kau bilang sejak dilahirkan sudah hidup sebatang kara, aku kurang percaya dengan perkataan itu, apakah.."

sambil menghela napas, Kakek berambut putih itu menyela : "Bila sudah kuterangkan nanti, kau pasti akan menjadipaham.

Disaat ibu sedang mengandung aku, ayahku dibunuh orang secara keji, lalu dikala ibuku melahirkan aku dia mengalami kesulitan dalam kelahiran sehingga terjadi pendarahan hebat, akibatnya aku lahir diapun ikut mati. Aaaai.justru aku bernasib agak baikan ternyata aku bisa hidup sampai berusia sembilan puluh tahunan tanpa sekalipun menderita sakit."

"Kau telah berusia sembilan puluh tahunan?" seru siau wan tercengang, "Wahi aku tak menyangka."

"Lalu menurut pendapatmu, berapa usiaku sekarang?" "Paling banter baru berusia tujuh puluh tahunan." Mendadak terdengar Kho Beng mengeluh :

"Aduuuuh ada yang kurang beres."

"Apanya yang kurang beres?" Tanya Beng Gi ciu dengan perasaan amat terkejut.

Tampak paras muka Kho Beng berubah sangat hebat, peluh dingin telah membasahi seluruh badannya, setelah menghela napas sedih, ia terduduk kembali keatas tanah. siau wan turut gelisah, sambil menghampiri teriaknya cemas,

"Kho kongcu, sebenarnya apa yang kau rasakan? cepat katakan" "Aaaai punggungku" seru Kho Beng menghela napas.

"Mengapa dengan punggungmu?" Tanya Beng Gi ciu dengan perasaan amat terkejut. "Linu, sakit bagaikan ditusuk jarum, aku tak mampu meluruskan badanku kembali."

Sekarang Beng Gi ciu baru mengetahui bahwa Kho Beng telah membungkukkan badannya persis seperti udang, dengan perasaan kaget bercampur gelisah dia segera berpaling kearah Kakek berambut putih itu, tegurnya

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"sudah pasti penyakitnya berasal dari pil tadi" seru siau wan pula sambil meraba gagang pedangnya.

Kakek berambut putih itu mengerutkan dahinya kencang- kencang, katanya :

"obat yang kugunakan tak mungkin salahi aku men.." setelah berhenti sejenak, katanya lagi dengan suara dalam :

"Cepat. .suruh dia membaringkan diri biar kulakukan pemeriksaan yang seksama, aku percaya dalam waktu singkat dapat menemukan penyebabnya."

Berada dalam keadaan begini, Beng Gi ciu tidak berpikir lebih jauhi dia segera turun tangan sendiri membaringkan Kho Beng keatas tanah, kemudian melepaskan pula pakaian yang dikenakan.

Kakek berambut putih itu cepat-cepat berjongkok dan melakukan pemeriksaan dengan seksama.

Tapi sebentar saja dia sudah mendongakkan kepalanya dan berseru sambil menghentakkan kakinya keatas tanah :

"Aduh celaka."

"sebenarnya apa yang terjadi?" buru-buru Beng Gi ciu bertanya. setelah menghela napas, Kakek berambut putih itu berkata :

"Semula kukira dia hanya menderita luka dalam, siapa tahu dia pun sudah menderita keracunan hebat.."

"Ia sama sekali tidak keracunan" kata Beng Gi ciu sambil menggretak gigi.

"Dari raut mukanya kau tak akan melihat kalau dia sudah keracunan, kalau bukan begitu racun tersebut tak bisa dibilang sebagai racun luar biasa."

sambil menunding kearah tulang punggung Kho Beng, dia berkata lebih lanjut :

"sudah kau lihat bekas merah ditulang punggungnya itu?"

Beng Gi ciu serta siau wan berebut melihat arah yang ditunjuk kakek berambut putih itu, benar juga diantara tulang punggung pemuda tersebut benar-benar terdapat sebuah bekas garis panjang bewarna merah.

sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali, Kakek berambut putih itu berkata :

"Jangan kau anggap remeh garis merah tersebut, padahal inilah gejala yang khas dari racun Ang bong tok, salah satu racun yang terkeji didunia ini."

"Apa yang bisa terjadi dengan seseorang yang terkena racun Ang bong tok tersebut?" Tanya Beng Gi ciu gelisah. Kakek berambut putih itu tertawa getir :

"Dalam satu bulan ilmu silatnya akan musnah, tiga bulan kemudian tulang belulangnya membusuk jadi darah kental dan lima bulan kemudian selurh tubuhnya akan membusuk sebelum mati dalam keadaan yang amat mengerikan."

Berubah hebat paras muka Beng Gi ciu setelah mendengar ucapan tersebut, tanyanya kemudian :

"Lantas apa yang mesti kita perbuat sekarang?"

Dengan suara dalam Kakek berambut putih itu berkata : "Andaikata gejala keracunan ini bisa kuketahui lebih awal

mungkin bisa diatasi lebih mudah, tapi sekarang kita mesti memunahkan racun tersebut lebih dulu sebelum menyembuhkan lukanya, tapi kini berhubung racun tersebut belum punah padahal tenaga dalamnya telah pulih kembali, keadaan tersebut semakin mempersulit usaha pengobatan yang hendak kulakukan."

"sebenarnya apakah masih ada cara untuk menyembuhkan lukanya atau tidak?" Tanya Beng Gi ciu sambil menggertak gigi. Kakek berambut putih itu tertawa angkuh.

"sudah kukatakan tadi, selamanya belum pernah ada penyakit yang gagal kusembuhkan, bila kubilang tak sanggup, bukankah sama artinya dengan merusak nama sendiri, hanya saja"

setelah biji matanya berputar sejenak kian kemari, dia berkata lebih lanjut :

"Untuk pengobatan luka semacam ini, aku benar-benar menjumpai banyak kesulitan."

Disaat biji matanya berputar inilah Beng Gi ciu dapat melihat dengan jelas bahwa dibalik sinar matanya seakan-akan terpancar sifat licik, keji dan jahatnya. Namun setelah dipikir sebentar, terpaksa dengan nada merengek katanya lagi : "Lotiang adalah tabib Hua tou jaman sekarang, bagaimana juga kau harus berusaha untuk menyelamatkannya ."

Tentu saja Kakek berambut putih itu manggut-manggut, "tapi. .kali ini tak mungkin lukanya bisa kusembuhkan hanya

dalam waktu setengah peminuman teh saja."

"Peduli berapa waktu pun yang kau butuhkan, asal lotiang bisa menyembuhkan lukanya, itu sudah cukup, siauli pasti akan berterima kasih sekali padamu." Kakek berambut putih itu berpikir sebentar, lalu katanya :

"Kali ini bukan dengan biaya lima tahil emas saja bisa menyembuhkan luka tersebut."

Rasa tidak simpatik segera timbul didalam hati kecil Beng Gi ciu, namun ia tidak mempersoalkan masalah kecil tersebut, katanya :

"Terserah berapa pun biaya yang kau minta, coba terangkan berapa jumlah yang kau inginkan?"

"Begini saja, bagaimana kalau ditambah dengan sepuluh kali lipat? siau wan, berikan dua puluh tahil emas kepadanya." seru Beng Gi ciu tanpa ragu. sambil menggertak gigi siau wan segera berseru :

"Nona, dia pasti seorang penipu, sudah jelas dia telah membohongi kita habis-habisan, apakah kau bersedia dibohongi sekali lagi."

"Kau tak usah banyak bicara, siapa sih yang menyuruh kau tak tahu aturan?" tegur Beng Gi ciu dengan suara dalam.

Namun siau wan tetap merasa tak puas, katanya lebih jauh : "Nona, dengan asal usul kita yang terhormat selama hidup belum

pernah ditipu orang mentah-mentah. Mengapa kau bersedia menuruti perkataan situa Bangka ini? sudah jelas racun tersebut berasal dari dalam pil yang diberikan olehnya tadi."

"Tutup mulut" bentak Beng Gi ciu gusar. Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi :

"Persoalan ini menyangkut hidup mati Kho kongcu, siapa suruh kita kurang berhati-hati sehingga dipecundanginya? Apakah kau masih merasa saying dengan uang sebesar lima puluh tahil emas itu?"

siau wan tidak banyak bicara lagi, dia segera mengeluarkan sebatang emas dan diserahkan kepada Beng Gi ciu.

Tanpa merasa sayang barang sedikitpun Beng Gi ciu menyerahkan batangan emas tersebut kepada Kakek berambut putih tadi, katanya : "Ini lima puluh tahil emas, silahkan lotiang menerimanya." Kakek berambut putih itu tertawa terkekeh-kekeh :

"Bila kudengar dari pembicaraan nona serta budak tersebut, seakan-akan kau menuduh racun tersebut berasal dari obat yang kuberikan tadi bukan?"

"siauli telah salah bicara, harap lotiang sudi memaafkan," sahut Beng Gi ciu dengan wajah tanpa emosi.

Kakek berambut putih itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Walaupun aku amat membutuhkan uang tapi aku lebih mementingkan soal nama, bila kalian berdua merusak nama baikku aku tak terima"

"Lantas apa yang lotiang kehendaki?" Tanya Beng Gi ciu sambil menggigit bibir menahan diri

"Emas ini aku tak akan menerimanya lebih dulu, tunggu saja sampai aku berhasil menyembuhkan luka racunnya itu."

"Dengan cara apa lotiang hendak mengobati lukanya? Apakah diberi obat yang lain?" Kakek berambut putih itu segera tertawa dingin :

"ang bong tok merupakan racun paling keji didunia ini, belum pernah kudengar kalau didunia ini terdapat obat-obatan yang mampu memunahkan racun tersebut?"

"Lantas apa yang hendak kau perbuat?" Tanya Beng Gi ciu dengan wajah berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

"Hanya ada satu cara yakni menghisap keluar sisa racun yang berada didalam tubuhnya dengan tangan dingin. "

Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kembali dia berkata :

"Mustahil bagiku untuk melakukan pengobatan ditempat seperti ini, aku pikir hendak kubawa ke kuil Hian thian koan dibukit Wang hu san."

"Apakah harus berbuat demikian?" Tanya Beng Gi ciu sambil menghela napas panjang. Kakek berambut putih itu mendengus :

"Masih ada sebuah cara lagi, yaitu aku angkat tangan dan pergi dari sini. Nah, silahkan nona memilih sendiri"

Beng Gi ciu termenung berapa saat lamanya, setelah itu dia baru berkata dengan suara dalam :

"Baiklah aku akan menuruti kehendak lotiang." Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak : "Haaaahhhi.haaahhhaaahhhhi.nona memang seorang yang tegas dan cepat mengambil keputusan, ketegasanmu jauh melebihi laki- laki sejati, bagus..bagus sekali"

Saat itu paras muka Beng Gi ciu telah berubah menjadi dingin dan kaku bagaikan sebuah batu karang, sepatah demi sepatah ia berkata kepada siau wan : "Mari kita gotong Kho kongcu dan segera berangkat"

"Tunggu dulu" mendadak Kakek berambut putih itu mengulapkan tangannya mencegah.

"Apakah lotiang masih ada pesan lain?" Tanya si nona agak tertegun.

"Kuil Hian thian koan dibukit Wang hu san bukan merupakan tempat yang bisa dikunjungi kaum wanita, lebih baik serahkan saja pemuda itu kepadaku."

Paras muka Beng Gi ciu seketika berubah menjadi lebih tak sedap lagi, sambil menggigit bibir katanya : "soal ini."

"Nona toh seorang yang tegas dalam mengambil keputusan, apakah kau tak bersedia?" Rengek Kakek berambut putih sambil tertawa.

Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam ia berkata lebih jauh :

"Menggunakan sisa waktu yang luang ini, nona toh bisa memanfaatkannya untuk melakukan penyelidikan apakah Kho kongcu benar-benar telah keracunan Ang bong tok lebih dulu, kemudian kita baru menentukan waktu dan alamat guna saling menyerahkan orang dan uang "

"Apakah kau mempunyai keyakinan untuk menyembuhkan lukanya itu??"

"Bila tak berhasil kusembuhkan luka tersebut, bukan saja aku tak akan menerima lima puluh tahil emas tersebut, bahkan aku pun akan menyerahkan selembar jiwaku ini kepadamu." Beng Gi ciu segera manggut-manggut.

"Kalau begitu silahkan lotiang menentukan waktu serta tempatnya."

Kakek berambut putih itu berpikir sebentar kemudian jawabnya : "Bagaimana kalau sepuluh hari kemudian didepan bukit Wang hu

san?"

"Baik kita tetapkan dengan sepatah kata ini." sahut si nona seraya mengangguk. sementara itu racun yang mengeram didalam tubuh Kho Beng sudah mulai bekerja, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, kesadarannya pun berada dalam keadaan ada dan tidak ada, karenanya terhadap pembicaraan yang berlangsung antara kedua orang itu pun dia seperti mendengar seperti jUga tidak, yang pasti sama sekali tiada reaksi dari dirinya pribadi.

Dengan langkah cepat Kakek berambut putih itu berjalan mendekati Kho Beng dan membopongnya, kemudian sambil tertawa ia berkata :

"Kita berjumpa lagi sepuluh hari kemudian"

sambil membalikkan badan, tanpa berpaling lagi dia beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.

Mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap dari pandangan mata, tanpa terasa Beng Gi ciu menghela napas panjang.

siau wan pun tak mampu menahan diri lagi, dengan air mata bercucuran bisiknya : "Nona"

Mendadak Beng Gi ciu berpaling seraya menegurnya untuk tidak menangis.

siau wan menyeka air matanya yang membasahi wajahnya, siau wan berkata amat sedih :

"Nona, bukankah kau sendiri sedang menangis?"

Beng Gi ciu tertegun, sekarang dia baru menyadari bahwa dia sendiripun telah melelehkan air mata.

Kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam, buru-buru dia menyeka air mata dipipinya.

setelah menghela napas panjang, siau wan berseru :

"Nona dihari-hari biasa, kau adalah seorang yang berhati keras, mengapa kau bersedia dipermainkan kakek tersebut semaunya sendiri?" sambil tertawa getir, Beng Gi ciu menggeleng.

"siapa suruh aku telah salah menilai orang"

"Jadi menurut nona, dia juga yang telah melepaskan racun keji itu?"

"Ya a, paling tidak tujuh delapan puluh persen adalah hasil perbuatannya." sahut sinona serius.

sambil menggertak gigi, siau wan berseru lagi :

"Kalau toh kau sudah mengetahui akan hal ini, mengapa kau biarkan dia membawa pergi Kho kongcu?"

"Apa boleh buat? selain dia seorang mungkin tiada orang kedua yang mampu menyembuhkan racun didalam tubuh Kho kongcu." "Menurut pendapatmu, apakah dia benar-benar akan memunahkan racun yang bersarang dalam tubuh Kho kongcu?"

"Paling tidak kita harus menyerempet bahaya dengan melakukan suatu pertaruhan besar."

Cepat-cepat siau wan menggeleng, katanya :

"seandainya aku menjadi nona, akan kutangkap orang itu lalu memaksanya untuk menyerahkan obat pemunah racun tersebut, asal kita iris daging tubuhnya sepotong demi sepotong, aku percaya akhirnya dia pasti akan menyerah."

Beng Gi ciu segera menghela napas panjang.

"Aaaai.anak bocah, kau tidak mengerti akan kelicikan dan kebusukan orang dunia persilatan, bila kau sampai berbuat demikian, sama artinya kau telah mencelakakan jiwa Kho kongcu."

"Asal kita bisa memaksanya untuk menyerahkan obat penawar racun tersebut, bukankah racun yang bersarang dalam tubuh Kho kongcu akan lenyap dan kesehatan tubuhnya akan pulih kembali, kenapa..?"

Kembali Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Pertama, agaknya ilmu silat yang dimiliki tua Bangka itu tidak berada dibawah kemampuanku, andaikata betul-betul sampai terjadi pertarungan, masih susah untuk diramalkan siapa yang bakal menang."

"Tapi budak kan bisa membantumu, apa yang mesti kita takuti?" seru siau wan dengan penuh emosi.

Beng Gi ciu segera tertawa getir :

"sekalipun kita berhasil mengungguli dirinya, belum tentu bisa memaksanya untuk menyerahkan obat pemunah racun tersebut, sekalipun dia menyerahkan obat penawar racun tersebut, belum tentu obat itu dapat memunahkan racun yang bersarang ditubuh Kho kongcu." 

"Kenapa?" Tanya siau wan sambil membelalakkan matanya lebar- lebar.

"Kemungkinan besar obat yang diserahkan kepada kita benar- benar dapat memunahkan racun yang bersarang ditubuh Kho kongcu tapi bisa jadi obat tersebut merupakan racun keji jenis lainnya, sehingga menyebabkan Kho kongcu mati tanpa disadari." setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi : "Kita berdua sama-sama tidak memahami sifat racun ataupun obat, apakah kita mampu untuk mencegah terjadinya peristiwa macam begitu?"

sambil menggigit bibir siau wan segera berseru : "Waaaahi kejadian semacam ini benar-benar amat

berabe,..aaai.."

Mendadak Beng Gi ciu tertawa pedih, katanya lagi :

"Walaupun demikian keadaannya, tapi aku rasa diapun tak akan berani bermain gila dengan ku, kecuali dia memang sudah bosan hidup."

"Mengapa nona mempunyai keyakinan begini?"

"Coba kau lihat apakah itu?" ucap Beng Gi ciu sambil menunding kemuka dan tertawa.

siau wan segera berpaling kearah mana yang ditunjuki tanpa terasa serunya dengan tercengang :

"sejak kapan kau perlihatkan kesemuanya ini?"

"Tadi, sewaktu pembicaraan sedang berlangsung," sahut si nona sambil tertawa.

Ternyata diatas batu cadas itu telah muncul sebuah tusukan jari tangan yang dalamnya mencapai satu inci lebih, bekasnya masih baru, ini berarti baru saja dilakukan Beng Gi ciu.

"Nona, kapan kau lakukan serangan dengan jari tanganmu?" kembali siau wan bertanya dengan keheranan.

"Tadi, sewaktu kita sedang berbincang-bincang."

"Tapi, apalah gunanya?" Tanya siau wan tak habis mengerti. Beng Gi ciu segera tersenyum,

"Aku berharap agar dia tahu bahwa aku adalah keturunan dari tiga dewa." Kemudian dengan pancaran sinar tajam dari balik matanya, dia berkata lebih jauh :

"aku rasa belum ada seorang manusia pun dalam dunia persilatan dewasa ini yang berani cari gara-gara dengan keturunan tiga dewa, aku rasa dengan mengandalkan ilmu jari Tong kim ci tersebut, mungkin kita bisa membuatnya keder dan berpikir berapa kali sebelum berbuat."

"Andaikata dia tak sampai keder dibuatnya."

"Kita masih mempunyai sebuah cara lagi, mari kita ikuti jejaknya" kata Beng Gi ciu sambil menggigit bibir.

"Yaa benar," sorak siau wan gembira, "barusan aku memang ingin mengajak nona untuk berbuat demikian, asal kita mengikuti terus jejaknya, maka andai kata sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, kita masih mempunyai kesempatan untuk memberikan pertolongan."

"Benar," Beng Gi ciu mengangguk,

"Mari kita segera berangkat" siau wan mengangguk berulang kali.

Maka bersama Beng Gi ciu mereka berkelebat kedepan melakukan pengejaran terhadap Kakek berambut putih tadi dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

-ooo00000ooo-

Kho Beng sama sekali tidak mengerti dari mana datangnya racun yang menyerang tubuhnya, sebab pikiran dan kesadarannya terasa kosong, kalut hingga tak berkemampuan lagi untuk berpikir.

Namun ia mengerti kalau tubuhnya saat itu sedang dibopong oleh si Kakek berambut putih tersebut, beberapa kali dia ingin membuka mulut untuk bertanya, namun sungguh aneh sekali, tak sepatah katapun yang sanggup siucapkan keluar dari mulutnya.

Ia Cuma merasakan punggungnya bagaikan mau patah, setiap gerak langkah Kakek berambut putih itu segera mendatangkan perasaan sakit yang membuat hampir saja ia jatuh pingsan.

setelah membuang waktu hampir satu jam lamanya, akhirnya sampailah mereka dibukit Wan husan, namun pikiran dan kesadaran Kho Beng semakin menghilang.

Bukit Wan hu san bukan termasuk bukit yang besar, namun pepohonan yang tumbuh disitu amat rimbun, bukit dengan daratan yang terjal terbentang dimana-mana.

sambil bersenandung lirih, Kakek berambut putih itu meneruskan perjalanannya menaiki bukit.

Dipuncak bukit terdapat sebuah kuil yang besar, bangunan itu sangat besar lagi megah. Kakek berambut putih itu tidak memasuki kuil lewat pintu depan, tapi melompati dinding pekarangan dan bagaikan sukma gentayangan lenyap dibalik bangunan berloteng.

Waktu itu fajar baru menyingsing, suasana gelap masih mencekam seluruh bangunan kuil itu.

Didalam kuil tiada arca, tapi berjajar lima buah peti mati yang kelihatannya masih baru.

Dengan wajah gembira kakek itu membaringkan Kho Beng keatas tanah, kemudian sambil menepuk jidatnya dia berseru :

"Hey anak muda, cepat bangun" Kho Beng segera membuka matanya, namun sorot matanya Nampak sayu dan kelihatan kosong.

Kakek itu segera membuka buli-bulinya, mengeluarkan sebuah botol berisi bubuk obat, setelah dioleskan didepan lubang hidung pemuda tadi, katanya lagi sambil tertawa :

"sekarang apakah kau sudah merasa agak baikan?"

Dengan sepenuh tenaga Kho Beng mengendus obat yang diusapkan didepan lubang hidungnya itu kemudian sambil mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ia menjawab :

"Dimana aku berada sekarang?"

"Tak usah buru-buru ingin tahu, sebentar kau toh akan mengetahui dengan sendirinya," jawab si kakek sambil tertawa.

Kemudian setelah membangunkan pemuda tersebut, katanya lagi

:

"Mari kita menuju kebawah sana"

sambil maju dua langkah kedepan, dia membuka penutup peti

mati dari salah satu peti mati yang berjajar disana.

Peti mati itu tidak mempunyai sesuatu keistimewaan, didalamnya kosong melompong tiada suatu yang luar biasa.

Tapi Kho Beng segera membelalakkan matanya lebar-lebar, dengan wajah bingung katanya

"Lotiang..apakah luka yang kuderita terlalu prah hingga hingga kau . "

Kakek berambut putih itu tertawa tergelak : "Haah.haaahh.haahh bocah bodoh, kaujangan salah paham, aku

situa bukan bermaksud membaringkan badanmu kedalam liang kubur, umurmu masih amat panjang"

"Lantas peti mati ini?" Kho Beng berbisik dengan kening berkerut.

Kembali Kakek berambut putih tersenyum : "Coba lihatlah "

Ketika ia menekan sebuah tombol yang berada dalam peti mati itu, terdengarlah suara gemerincing nyaring bergema memecahkan keheningan, papan yang berada pada dasar peti mati itu segera bergeser kesamping dan muncullah sebuah lorong rahasia dibawahnya. sambil tertawa kakek itu berkata kemudian :

"Kau sudah terkena racun yang amat keji bagaimanapun juga luka tersebut harus disembuhkan ditempat ini, nah mari kita turun kebawah." Dengan langkah cepat dia berjalan masuk lebih dahulu kedalam lorong rahasia dibawah peti mati tersebut.

Kho Beng bagaikan seorang yang telah kehilangan semangat dan pikiran, tanpa mengucapkan sepatah katapun segera mengikuti dibelakangnya turun kebawah.

Belum sampai mereka menuruni belasan anak tangga, kembali bergema suara gemerincingan nyaring, ternyata peti mati tersebut telah pulih kembali dalam keadaan semula.

Lorong dibawah tanah tersebut tidak terlalu panjang, belum lama mereka berjalan, tibalah kedua orang itu disebuah ruangan batu yang sangat luas dan lebar.

Ditengah ruangan batu itu terdapat sebuah meja altar, asap dupa menyelimuti seluruh ruangan hingga membuat suasana disana terasa seram dan amat serius. Dikedua belah sisi altar tergantung tulisan yang berbunyi : 'Menghimpun setan-setan gentayangan di seluruh dunia. Memelihara sukma penasaran dari empat penjuru.'

Kemudian dikedua belah sisi meja altar terdapat banyak sekali patung-patung yang berwajah mengerikan, keadaan disitu tak ubahnya seperti berada didalam neraka.

Kakek berambut putih itu mengajak Kho Beng menuju kebelakang meja altar, disitu kembali dia membuka sebuah pintu rahasia.

Letak ruang rahasia ini persis berada dibelakang meja altar, keadaan dalam ruangan bersih dan rapi, selain terdapat sebuah pembaringan dan sebuah meja kecil, segala sesuatunya terawatt dan terpelihara sekali.

Kakek berambut putih itu menyuruh Kho Beng membaringkan diri diatas pembaringan, lalu katanya sambil tertawa :

"Tahukah kau sedari kapan tubuhmu terkena racun yang amat keji itu?"

Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, "Aku tak bisa mengingatnya kembali."

Tapi kemudian seperti memahami akan sesuatu, setelah berpikir sejenak kemudian katanya :

"Aku hanya teringat setelah menelan sebutir pil pemberian lotiang, maka luka dalamku sembuh sama sekali, tapi kemudian." Ia menghembuskan napas panjang dan berhenti berbicara. sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Kakek berambut

putih itu berkata : "obat yang kuberikan kepadamu itu adalah obat yang mustajab untuk menyembuhkan segala macam luka, obat tersebut merupakan obat dewa yang tak ternilai harganya, racun yang mengeram didalam tubuhmu sudah lama hilang, coba pikirkan kembali."

sambil memejamkan matanya rapat-rapat Kho Beng menggeleng, katanya setengah bergumam

"Aku benar-benar tak bisa mengingatnya kembali, aku..aku sangat lelah berilah kesempatan kepadaku untuk beristirahat."

"Tidak Tidak bisa Kau tak boleh beristirahat" seru Kakek berambut putih itu sambil menggoncang-goncangkan bahunya,

"kau harus mengingat-ingat dulu persoalan ini, kemudian baru aku akan turun tangan untuk menyembuhkanmu."

"Aku...aku amat lelah" bisik Kho Beng.

Kakek berambut putih itu segera mengeluarkan botol obatnya tadi dan menggosokkan kembali sedikit bubuk dibawah lubang hidung anak muda itu.

Tak lama kemudian terlihat Kho Beng mengendusi obat tersebut kuat-kuat, sepasang matanya pun terpentang lebar kembali, diawasinya Kakek berambut putih itu dengan termangu.

Mendadak dari balik mata Kakek berambut putih itu memancar keluar dua buah cahaya hijau yang amat menggidikkan hati, diawasinya wajah Kho Beng tanpa berkedip, sementara mulutnya berkomat-kamit berbicara dengan suara yang tinggi melengking dan amat menusuk telinga.

"Kau harus mengingat ingatnya, apa sebabnya kau sampai keracunan?"

Perasaan ngeri, takut dan murung tahu-tahu menyelimuti seluruh wajah Kho Beng, sepasang matanya bagaikan terhisap oleh cahaya hijau yang menggidikkan hati itu, kembali gumamnya :

"Aku benar-benar tak dapat mengingatnya kembali"

"Kalau begitu aku perlu mengingatkan kepadamu, masih ingat dengan partai kupu-kupu?"

Bagaikan baru tersadar dari ingatan, mendadak Kho Beng berseru keras-keras :

"Ya a betul, aku sudah teringat kembali" "Apa yang kau ingat kembali"

"Aku teringat sekarang secara bagaimana diriku sampai keracunan" Dengan perasaan gembira Kakek berambut putih segera berseru

:

"Kalau begitu cepat katakan"

Tanpa ragu-ragu Kho Beng berkata :

"Keempat budak dari Dewi In Un yang meracuni diriku, aku masih

teringat dengan jelas, sudah pasti mereka"

"Kalau begitu Dewi In Un yang meracuni dirimu?" seru si Kakek berambut putih setengah bersorak karena gembira.

"Yaa betul, Dewi In Un, siperempuan siluman yang melakukan semuanya ini"

"Kalau begitu, kau harus mengobati luka racunmu dengan hati tenang dan tentram disini, kemudian baru pergi mencari siluman perempuan itu untuk membalas dendam"

"Yaa.aku hendak mencincang tubuhnya sehingga hancur berkeping-keping" seru Kho Beng sambil menggertak gigi menahan diri

Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahaki segera serunya :

"Haaahhhaaahh.haahhhi.aku bersedia untuk mengobati luka racun yang kau derita tapi yang penting adalah kau wajib menuruti perkataanku serta melakukan kerja sama secara baik, mampukah kau melakukannya? "

"Aku mampu" jawab pemuda itu cepat.

"Bagus sekali" Kakek berambut putih itu bertambah girang, "mari, sekarang juga aku akan mengobati lukamu itu, kendorkan

semua pikiran dan badan, lalu pejamkan matamu rapat-rapat"

Kho Beng menurut dan segera melaksanakan apa yang diminta.

Lebih kurang setengah peminuman teh kemudian, tiba-tiba terdengar Kakek berambut putih itu berseru :

"Pentang matamu lebar-lebar"

Kho Beng menurut dan segera mementang matanya lebar-lebar, namun sekujur badannya segera bergetar keras, sebab yang dilihatnya saat itu adalah dua buah sinar hijau yang sangat menggidikkan hati.

Terdengar Kakek berambut putih itu berseru lagi dengan suara yang berat lagi dalam.