Kedele Maut Jilid 30

 
Jilid 30

"Waaahi kalau begitu sudah pasti keempat orang dayangmu yang merasa kasihan kepada Kho Beng sehingga mereka membebaskannya pergi, lalu menghabisi nyawa sendiri"

"Tutup mulut" bentak Dewi In Un keras- keras

"Jika kau berani bicara sembarangan lagi, jangan salahkan kalau kucabut selembar jiwa tuamu itu"

Walaupun Kakek tongkat sakti tidak berbicara lagi namun diujung bibirnya tersungging sekulum senyuman yang dingin sekali.

Walaupun dia sendiripun tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, namun ditinjau dari hilangnya Kho Beng serta ditemukannya keempat sosok mayat dari dayang-dayang tersebut, paling tidak ia dapat menyimpulkan bahwa Kho Beng belum tewas.

Dalam pada itu para petugas telah mendekati keempat sosok mayat dari dayang-dayang tersebut serta melakukan pemeriksaan yang amat seksama.

Namun seluruh badan dayang-dayang itu kelihatan masih utuh sama sekali tidak terluka oleh bacokan senjata, sedangkan dari ketujuh lubang inderanya pun tidak ditemukan darah yang mengucur keluar, untuk berapa saat lamanya mereka jadi bingung dan kesulitan untuk memeriksa sebab musabab kematian orang-orang itu.

Menyaksikan hal ini, sambil menghentakkan kakinya keatas tanahi Dewi In Un berteriak keras :

"Hayo cepat lakukan pemeriksaan, apa yang menyebabkan kematian mereka berempat?"

Akhirnya terdengar Ciu hoa Lengcu berseru :

"Lapor suhu, luka yang menyebabkan kematian mereka terletak dibagian dada"

Dewi In Un sangat terkejut, buru-buru ia berjongkok dan melakukan pemeriksaan sendiri Dibawah pemeriksaan yang amat seksama segera ditemukan sebuah lubang berwarna hitam sebesar jari telunjuk diatas dada keempat orang dayang tersebut, walaupun tiada darah yang mengalir keluar, namun bisa diduga lubang tersebut menembus sampai kejantung, sehingga luka inilah yang menyebabkan kematian mereka.

Meskipun lubang luka itu berwarna hitam namun jelas bukan hitam karena keracunan, karena hitam yang berada disekitar mulut luka tersebut tak ubahnya seperti luka terbakar, kulit disekitarnya pun kelihatan agak hangus seperti terbakar.

Kakek tongkat saktipun dapat menyaksikan keadaan luka tersebut dengan sangat jelas, tiba-tiba saja dia merasa terkejut bercampur gembira.

Dalam pada itu Dewi In Un telah menghentakkan kakinya keatas tanah dengan penuh kegusaran, katanya :

"Apa-apan ini?"

Lalu setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, kembali serunya lantang :

"siapakah diantara kalian yang tahu, luka ini disebabkan oleh ilmu pukulan apa?"

Tiada jawaban yang berkumandang dari sekeliling tempat itu, tampaknya tiada seorangpun yang mengetahui keadaan sebenarnya.

Terdengar Kakek tongkat sakti tertawa ringan, lalu berkata secara tiba-tiba.

"Aku tahu"

"oya?" Dewi In Un segera mengalihkan pandangan mata kearahnya, lalu berseru

"hayo cepat katakan, ilmu sesat apa kah yang menyebabkan luka terbakar itu?"

Sambil tertawa Kakek tongkat sakti menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata :

"Ilmu tersebut bukan termasuk jenis ilmu sesat, melainkan artalah ilmu jari Tong kim ci yang merupakan sejenis ilmu keras dari dunia persilatan."

"Ilmu jari Tong kim ci?"

Dewi In Un kelihatan terperanjat sekali, sesudah termangu- mangu berapa saat, kembali serunya :

"Kau maksudkan ilmu warisan dari dewa Kim ka sian?" Kakek tongkat sakti segera mengangguk berulang kali : "Tepat sekali dugaanmu, memang ilmu tersebut merupakan ilmu kebanggaan dari dewa Kim ka sian, pemimpin dari tiga dewa See gwa sam sian"

Sambil mengalihkan pandangan matanya kewajah Dewi In Un, dia berkata lebih lanjut :

"Nah, sekarang kau mestinya sudah percaya bukan bahwa anak keturunan dari tiga dewa betul-betul telah terjun kedalam dunia persilatan?"

Dewi In Un tertegun berapa saat lamanya, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram :

"Haaaahihaaahh...haaaah, kebetulan sekali kalau mereka berani tampilkan diri dalam dunia persilatan, aku memang berhasrat membalaskan dendam bagi kematian kakekku dibawah tebing hati duka seabad berselang, paling baik lagi jika keturunan dari tiga dewa muncul secara bersama-sama."

Lalu dengan suara dalam ia berteriak :

"Lakukan penggeledahan"

Ciu hoa lengcu beserta kesebelas orang pelindung hukumnya segera mengiakan bersama, mereka menyebarkan diri keempat penjuru dan mulai melakukan penggeledahan seksama disekeliling tempat itu.

Dewi In Un sendiri berjalan mondar-mandir kesana kemari dengan wajah gelisah bercampur panik, sesaat kemudian serunya pada Cun hoa lengcu serta Hee im lengcu dengan suara dalam :

"Kalian pun ikut pergi kesana, serahkan tua Bangka ini kepadaku" selama itu, nenek penunjang langit dan nenek perata bumi masih

mengikuti saja dibela kang pemimpinnya, mereka tak pernah meninggalkan sisi tubuhnya walau hanya setengah langkah pun.

Kini perasaan kakek tongkat sakti sudah jauh lebih tentram, ia segera menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah, kemudian memejamkan mata dan mulai mengatur pernapasan.

Lebih kurang setengah jam kemudian, para petugas yang melakukan pemeriksaan berbondong-bondong telah balik kembali, namun hasil pemeriksaan mereka tetap nihil. sambil membuka matanya kembali, kakek tongkat sakti berkata dengan suara hambar

:

"Menurut pendapatku lebih baik tak usah kalian lakukan pemeriksaan lagi" "Hmmm, siapa yang suruh kau banyak bicara" teriak Dewi In Un sambil menggigit bibir menahan amarah.

"Aku Cuma berniat baiki sebab pemerikasaan yang dilakukan secara begini tak mungkin akan membuahkan hasil."

Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya lebih jauh :

"Coba bayangkan sendiri, mungkinkah keturunan dari dewa Kim ka sian akan tetap mengendon didalam jurang ini sambil menunggu kedatangan kalian untuk menggeledahnya."

Dewi In Un mendengus . "siapa tahu mereka memang berbuat begitu?"

Kakek tongkat sakti termenung dan berpikir sejenak, kemudian katanya lagi :

"Disamping itu akupun masih mempunyai suatu kesimpulan yang sangat masuk akal."

Tampaknya pikiran dan perasaan Dewi In Un sudah amat kalut dan kehilangan pegangan, ketika mendengar perkataan tersebut, buru-buru dia berseru dengan bersemangat :

"Apa kesimpulanmu?"

"Pertama-tama aku ingin bertanya dulu kepadamu, bukankah Kho yang Ciu belum dipindahkan dari gua pengikat cinta?"

"Yaa benar, dia masih tetap berada dalam gua tersebut." sahut Dewi In Un cepat.

sambil berkata dengan pandangan mata penuh kegemasan, ditatapnya wajah kakek tongkat sakti itu lekat-lekat, kemudian melanjutkan :

"Apa sangkut pautnya masalah itu dengan persoalan yang berada didepan mata sekarang? "

Kakek tongkat sakti tertawa :

"Tentu saja besar sekali sangkut pautnya, coba bayangkan sendiri kalau toh keturunan dari dewa Kim ka sian bersedia menolong Kho Beng, tentu saja diapun pasti menerima permohonannya untuk menolong Kho Yang ciu dari sekapan, padahal persoalan yang dipikirkan Kho Beng saat ini hanyalah menolong cicinya dari ancaman bahaya, coba bayangkan sendiri, apa tidak mungkin mereka telah menyerbu kedalam gua pengikat cinta saat ini."

Dewi In Un segera memutar biji matanya sambil berpikir sejenak, akhirnya dia manggut-manggut : "ehmmm, kesimpulanmu memang bisa dipercaya juga, yaa, kemungkinan kesana memang ada."

Maka dengan suara dalam ia berseru kembali : "Cepat kita kembali kegua"

Tanpa membuang waktu lagi ia membalikkan badan dan segera berangkat lebih dulu menuju ke puncak bukit.

Cun hong lengcu dan Hee im lengcu cepat-cepat membimbing tubuh kakek tongkat sakti dan menyusul kebelakangnya.

Dalam waktu singkat rombongan tersebut sudah berangkat meninggalkan dasar jurang, bayangan tubuh mereka lenyap kemudian dibalik kabut pagi yang tebal.

-ooo00000ooo-

ketika tubuhnya melambung ketengah jurang tadi, Kho Beng sudah kosongkan semua pikiran, sebab dia terpaksa harus berbuat demikian demi menyelamatkan jiwa rekan- rekannya .

Disamping itu dia pun mempunyai suatu pandangan yang salahi dia menganggap jurang yang terbentang dihadapannya sekarang tak mungkin seluas apa yang dikatakan Dewi In Un tadi. sebab dia mengira Dewi In Un hanya berniat untuk mencobanya.

Akan tetapi tatkala tubuhnya sudah meluncur sejauh enam tujuh belas kaki dari tepi jurang, pemuda ini segera sadar bahwa dia memang sudah melakukan suatu kesalahan yang amat besar.

Dalam keadaan demikian tak sempat lagi baginya untuk menarik diri serta balik kembali ketepi jurang.

Dalam gugup dan paniknya, terpaksa dia hanya bisa berusaha untuk mengurangi daya luncurnya kebawah, sedapat mungkin tangan serta kakinya melakukan gerakan mendayung untuk mengurangi kecepatan daya luncuran badannya.

Akan tetapi, jurang yang dalamnya mencapai dua ratusan kaki bukanlah suatu pekerjaan yang mudah ditanggulangi. Ia merasakan daya luncur tubuhnya makin lama semakin bertambah cepat dan akhirnya. ia jatuh tak sadarkan diri

Namun tak selang berapa saat kemudian, dia telah mendusin kembali dari pingsannya.

Ketika membuka mata kembali, ia menjumpai ada empat orang dayang berbaju kuning sedang berdiri disekeliling tubuhnya, salah seorang diantaranya malah sedang menusuk jalan darah tay yang hiat dikeningnya dengan sebatang jarum besar. Dia ingin meronta bangun, namun baru saja tubuhnya hendak terangkat dia sudah roboh kembali keatas tanah.

Kepalanya terasa amat pening, matanya berkunang-kunang dan keempat anggota badannya seolah-olah sudah tidak menjadi miliknya, disamping itu dadanya pun terasa sakit sehingga hampir saja ia jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

Ia sadar, isi perutnya telah menderita luka yang cukup parahi maka sambil menghembuskan napas panjang dia pun pejamkan mata dan tidak berbicara lagi. Terdengar si dayang yang memegang jarum itu berkata sambil tertawa :

"Perhitungan siancu memang sangat tepat, ternyata dia memang bukan Kong cin cu."

sekarang Kho Beng baru sadar, ternyata hasil penyaruannya telah dicopot oleh keempat dayang tersebut.

salah seorang diantara dayang itu segera berkata pula :

"Bukan saja siancu telah memperhitungkan bahwa dia adalah Kho Beng, bahkan telah diperhitungkan pula kalau dia bakal terjatuh kedasar jurang dalam keadaan setengah mati, nyatanya dia memang sudah berada dalam keadaan setengah sekarat kita tinggal menggotongnya pulang."

setelah berhenti sejenak, serunya kemudian : "Hayo, kita gotong dia dan segera pulang ke gua"

Kho Beng mencoba untuk meronta, namun hasilnya nihil, dia merasa tubuhnya seakan-akan sudah tak bertenaga lagi.

Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia hanya pasrah dan menuruti saja kemauan keempat orang dayang tersebut. Tiba-tiba terdengar dayang yang memegang jarum itu berseru : "Dia tak usah digotong Kenapa?"

"Walaupun dia telah sadar kembali, namun luka yang dideritanya terlampau parah, bila digerak-gerakkan tubuhnya mungkin saja dapat menyebabkan nyawanya melayang, nah, kalau dia sampai mampus, kitalah yang bakal memikul tanggung jawabnya."

"Lantas apa yang harus kita perbuat sekarang?"

"Siancu pernah berkata, dia akan menengok sendiri kedasar jurang ini, terpaksa kita harus menunggu kedatangannya disini"

Mendadak. sementara keempat orang dayang itu sedang berbincang-bincang, terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang. Dayang yang memegang jarum itu segera berseru : "Sudah pasti Siancu yang datang"

sambil berkata dia segera melompat bangun lebih dahulu disusul ketiga orang dayang lainnya, dengan mementangkan matanya lebar- lebar mereka berusaha melongok kesana kemari.

Rupanya kabut yang menyelimuti tempat tersebut tebal sekali, karenanya meski terdengar suara langkah manusia yang berjalan mendekat, namun susah untuk melihat dengan jelas siapa gerangan yang telah datang?

orang tersebut berjalan mendekat dengan langkah yang amat lambat, sampai setengah harian belum juga mendekati tempat tersebut.

Dengan kening berkerut dayang yang memegang jarum itu segera berseru :

"Tampaknya bukan, yang pasti bukan siancu yang datang" "Benar" sambung dayang yang lain,

"bila siancu yang datang, mustahil dia berjalan selamban ini, paling tidak suara langkahpun bukan hanya dua orang saja"

"Peduli amat siapa yang datang, toh sebentar lagi Siancu bakal menyusul kemari.mungkin juga orang yang sedang berburu pagi."

Dengan perasaan ingin tahu, Kho Beng turut membuka matanya san menengok kearah mana datangnya suara langkah manusia tadi.

Akhirnya dari balik kabut yang sangat tebal itu muncul dua sosok bayangan manusia.

Perasaan gembira yang semula meluap didalam hati Kho Beng seketika menyurut kembali, sebab yang munculkan diri disitu ternyata adalah dua orang nona muda.

seorang diantaranya berbaju hijau dan berusia delapan sembilan belas tahunan, meski dalam suasana remang-remang dapat terlihat betapa cantiknya wajah gadis tersebut.

Sedangkan yang seorang lagi berbaju hijau pupus, berdandan seperti seorang dayang, ia berusia antara enam tujuh belas tahunan.

Menyaksikan kehadiran kedua orang ini, perasaan Kho Beng yang sudah tenggelam, entah mengapa, ternyata bergelora kembali.

Waktu itu dajar belum menyingsing, tapi apa sebabnya kedua orang gadis tersebut berjalan sendirian didasar jurang tersebut?

Ditinjau dari sikap. gerak-gerik maupun dandanan kedua orang itu, dalam sekilas pandangan saja ia telah mengetahui bahwa mereka pasti bukan anak buah Dewi In Un. Dalam pada itu, keempat orang dayang berbaju kuning itu pun kelihatan agak tertegun, mereka bersama-sama mengawasi gerak- gerik kedua orang nona tersebut tanpa berkedip.

sewaktu kedua orang nona tersebut mengetahui didasar jurang sana terdapat orang lain, mereka pun kelihatan agak tertegun dan segera menghentikan perjalanannya.

sidayang berbaju hijau pupus itu segera berseru :

"Nona, coba kau perhatikan dari mana datangnya orang-orang itu?"

sigadis berbaju hijau mengalihkan pandangan matanya kearah orang-orang itu, ia lalu berkata :

"Yaa betul, fajar belum lagi menyingsing apa sebabnya mereka mendatangi tempat semacam ini? Siau wan, coba kau tanyakan persoalan ini kepada mereka."

Baru saja siau wan hendak maju kedepan, tiba-tiba ia berseru kembali :

"Nona disitu terdapat pula sesosok mayat"

Rupanya Kho Beng yang tergeletak tak bergerak diatas tanah itu Nampak seperti sudah mati.

si gadis berbaju hijau itu berseru tertahan tanpa terasa dia maju sendiri mendekati orang-orang itu.

Dengan gerakan yang cekatan dayang yang memegang jarum itu sebera menghadang jalan pergi mereka berdua, tegurnya ketus :

"Kalian mau apa?"

"seharusnya akulah yang mengajukan pertanyaan ini kepada kalian," kata nona berbaju hijau itu dingin.

seorang dayang berbaju kuntng yang lain sebera mendengus : "Hmmm, kalian tak berhak menanyakan persoalan itu kepada

kami"

si dayang berbaju hijau pupus yang mengikuti nona berbaju hijau tadi menjadi sangat marahi segera tegurnya :

"Besar amat nyali kalian, berani betul berbicara sekasar ini terhadap nona kami, hmmm, tampaknya kalian sudah pada bosan hidup?"

Baru saja dayang berbaju kuning itu hendak mengumbar amarahnya, si dayang yang memegang jarum tadi telah menghalanginya seraya berkata :

"Adikku, orang lain toh Cuma bertanya secara baik-baiki buat apa kau mesti cekcok dengan mereka?" sementara itu si nona berbaju hijau itu pun telah membentak dayangnya :

"siau wan, jangan bersikap kurang sopan"

Dayang yang bernama siau wan mendengus, dia sebera mengundurkan diri kebelakang majikannya sementara bibirnya Nampak cemberut, jelas dia masih merasa tak senang hati.

Dalam pada itu, si Nona berbaju hijau tersebut sudah memandang sekejap kewajah Kho Beng yang tergeletak ditanah itu lalu menegur :

"sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"oooh tak ada apa-apa" sahut si dayang yang membawa jarum itu cepat. Kemudian sambil tertawa paksa katanya lagi :

"Dia adalah kongcu kami, barusan bertindak kurang hati-hati hingga terlepas jatuh kemari, itulah sebabnya buru-buru kami menyusulnya kesini."

"Mengapa kalian tidak sebera menggotongnya untuk dibawa pulang kerumah?"

"sebab.sebab." dayang itu menjadi tergagap hingga tak sanggup melanjutkan perkataannya. siau wan yang menyaksikan kejadian ini segera berseru :

"Nona, bicara orang ini tersendat-sendat seperti orang gugup, aku yakin dibalik kesemuanya itu pasti ada persoalan yang tidak beres."

Nona berbaju hijau itu tertawa, ia tidak menanggapi ucapan dayangnya tadi, segera ia berkata :

"Kalian tak usah kuatir, kami tidak bermaksud jahat kepada kalian semua, bila ada kesulitan katakana saja, siapa tahu kami dapat memberikan bantuan."

Setelah ragu-ragu sejenak, dayang yang memegang jarum itu segera berkata :

"oleh karena luka yang diderita kongcu kami amat parahi maka kami tak berani menggerakkan badannya, itulah sebabnya kami..kami harus menunggu sampai kedatangan majikan kami."

"Siapakah majikan kalian?" Tanya si Nona berbaju hijau. Kembali dayang itu tergagap.

"Dia adalah..dia adalah nona kami"

Nona berbaju hijau itu segera berkerut kening, kembali dia membungkukkan badan memeriksa keadaan Kho Beng. Sementara itu Kho Beng tidak menaruh harapan apa-apa terhadap kedua orang gadis tersebut, oleh sebab itu dia membiarkan dayang yang memegang jarum itu berbicara semaunya sendiri.

Selama ini ia tetap membungkam dan sama sekali tidak ikut menimbrung.

Tampak Nona berbaju hijau itu mengamati wajah Kho Beng sampai lama sekali, selama ini pula pandangan matanya tak pernah beralih dari wajahnya sementara pipinya pun tiba-tiba berubah menjadi semu merah.

Si dayang Siau wan yang melihat sikap majikannya itu, ikut datang mendekati sambil berkata :

"Nona, kasihan sekali kongcu ini, nampaknya ia telah menderita luka yang cukup parah." Lalu ia melanjutkan :

"Bukankah nona mempunyai obat yang amat mujarab, berikanlah sedikit agar dia cepat sembuh"

Nona berbaju hijau berpikir sebentar, lalu dengan cepat ia berkata :

"Kami berdua sedang berpesiar disekitar sini, sementara ini kami berdiam disini, bagaimana kalau kalian pergi ketempat kami sehingga aku dapat memberikan pengobatan seperlunya."

Kho Beng yang mendengar hal ini, semangatnya menjadi berkobar kembali. Namun dayang yang memegang jarum itu dengan cepat menjawab :

"Kami sangat berterima kasih atas kebaikan nona berdua, namun kami tidak berani mengganggu nona, maka lebih baik kami menunggu majikan kami yang akan datang kemari"

"Masa kalian tidak kasihan sama sekali dengan kongcu ini?" "Bagaimana kalau kita tanyakan sendiri kepadanya?" balas siau

wan dengan curiga.

"Dia dapat mengerdipkan matanya jika setuju karena memang seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali" lanjutnya.

Nona berbaju hijau berpikir dan manggut-manggut, sambil katanya :

"Begitupun ada baiknya juga, coba kau saja yang bertanya?"

Tapi sebelum siau wan sempat mengajukan pertanyaan, dayang berbaju kuning yang memegang jarum itu sudah menghalangi sambil berteriak keras :

"Tunggu sebentar"

"Kenapa?" hardik siau wan gusar. "Perbuatan nona hanya suatu tindakan yang berlebihan. Lebih baik tak usah ditanyakan lagi"

"Kenapa?" saking mendongkolnya siau wan mulai bertolak pinggang, sikapnya menantang.

"Pertama, kongcu kami sedang menderita luka yang sangat parah sehingga tidak diperbolehkan banyak bicara. Kedua, sekalipun kongcu kami bersedia menerima tawaran kalian pun, kami tak akan membiarkannya pergi dengan begitu saja"

siau wan sebera mendengus.

"Hmmmm, dia toh majikan, sedang kamu semua Cuma dayang- dayangnya, apakah dia tak bisa mengambil keputusan untuk diri sendiri?"

"Kalau berada dalam keadaan sehat, bisa saja kongcu mengambil keputusan sendiri Tapi kini dia menderita luka dalam yang cukup parah, otomatis keadaannya menjadi berbeda bila kalian sanggup menyembuhkan lukanya tentu saja amat kebetulan, tapi seandainya tidak berhasil? Bukankah nyawa kami semua yang menjadi taruhan?"

Nona berbaju hijau itu tidak berkata apa-apa, tapi siau wan justru memutar biji matanya sambil berteriak keras :

"Nona, aku lihat ada yang tidak beres? Apanya yang tidak beres?

Bisa jadi orang ini bukan kongcu mereka"

teriak siau wan lagi dengan wajah bersungguh-sungguh . "Darimana kau bisa tahu?"

"Dia sendiri yang bilang, coba lihat ."

Rupanya Kho Beng sedang meronta-ronta dan menggoyangkan tangannya berulang-ulang kali, namun karena tenaganya kurang sehingga tak mampu berbicara, bahkan gerakan tangannya pun kelihatan lemas sekali.

serentak keempat dayang lainnya berdiri berjajar dihadapan Kho Beng, sikap mereka Nampak bengis dan siap bertempur.

"Jangan sentuh dia" bentak dayang yang memegang jarum itu keras-keras. Nona berbaju hijau itu segera tersenyum,

"Kalau dilihat dari sikap kalian sekarang, jelas terlihat sudah bahwa hubungan diantara kalian memang ada yang tak beres."

Dayang yang memegang jarum itu makin bengis, sikapnya setengah mengancam dia berseru

"Bila tahu diri, lebih baik cepat-cepat tinggalkan tempat dan tak usah mencari kesulitan buat diri sendiri, sebab bila tindakan kalian kurang berhati-hati, bisa jadi kedua lembar nyawa kalian akan cepat melayang."

"Hmmm, aku kuatir kalian tak akan memiliki kemampuan untuk berbuat demikian" jengek Nona berbaju hijau itu sambil mendengus dingin.

"Hmmm, mampukah kami berbuat demikian dalam waktu singkat akan kami buktikan dihadapanmu, tapi sebelumnya kami ingin menyatakan lebih dulu, sebetulnya kami tidak bermaksud untuk rebut dengan kalian secara bersungguh-sungguh."

Lalu setelah berhenti sejenak, dengan suara nyaring katanya lebih jauh :

"Asal kalian bersedia untuk menyingkir dari sini, kami anggap tak pernah terjadi masalah diantara kita"

"seandainya kami tak bersedia untuk menyingkir dari sini?" Tanya Nona berbaju hijau itu sambil tertawa tak acuh.

"Ini berarti kalian sedang mencarijalan kematian bagi diri sendiri" bentak dayang yang memegang jarum itu.

Nona tiba-tiba siau wan menyela,

"lebih baik kita bunuh mereka semua, apalah artinya rebut dengan orang-orang semacam begini?"

Nona berbaju hijau itu segera tertawa :

"Paling tidak kita toh mesti bertanya dulu sampai sejelasnya, mana boleh membunuh orang semaunya sendiri"

Mendadak terdengar suara langkah manusia yang amat ramai berkumandang datang, ditinjau dari suaranya dengan hiruk pikuki bisa diduga bukan saja yang datang berjumlah sangat banyaki lagipula bergerak mendekat dengan langkah yang cepat sekali.

Dayang berbaju hijau pupus siau wan, segera berteriak : "Nona, bala bantuan mereka telah datang, kau.."

Nona berbaju hijau itu menggoyangkan tangannya berulang kali mencegah dayangnya berbicara lebih jauhi lalu dengan sikap yang masih santai katanya :

"Bukankah bala bantuan kalian telah datang, tentunya kamu semua tak usah merasa takut lagi, cepat katakana siapakah majikan kalian?"

Dayang yang memegang jarum itu sebera mendengus : "Hmmm, diberitahukan kepadamujuga tak apa, majikan kami

tidak lain adalah Dewi In Un" "Dewi In Un?" agaknya Nona berbaju hijau itu tidak mengenali orang tersebut.

"sebuah nama yang asing sekali, dia termasuk aliran partai mana?"

"Partai kupu-kupu?" tiba-tiba paras muka Nona berbaju hijau itu berubah hebat, bentaknya keras-keras,

"Anggota partai kupu-kupu jahanam"

Kelima jari tangannya segera diayunkan kemuka melancarkan empat buah serangan jari yang amat dahsyat, belum sempat keempat orang dayang itu mengetahui apa yang terjadi, mereka telah terkena serangan dan roboh binasa keatas tanah.

Keempat orang itu tewas dalam keadaan yang sangat tenang, bahkan memekikkan jerit kesakitanpun tidaki begitu saja mereka roboh ketanah dan menghembuskan napas yang penghabisan.

sementara itu suara derap langkah kedengaran makin lama semakin dekat, tidak menanti sampai diperintah lagi siau wan membopong tubuh Kho Beng lalu berseru : "Nona, cepat kita pergi dari sini"

Nona berbaju hijau itu manggut-manggut, dia segera melejit keudara dan bersama dayangnya berlalu dari situ.

Kegelapan malam telah mencekam seluruh jagat, waktu menunjukkan kentongan kedua.

Didalam sebuah goa yang bersih dan ditengah celah jurang, Kho Beng sedang berbaring tenang diatas lantai.

Gua tersebut berada lebih kurang lima enam kaki dari permukaan tanah, didepan gua tumbuh pepohonan yang rimbun sehingga menutupi letak gua tersebut.

oleh karena mulut gua berada jauh diatas permukaan tanah, maka pencarian besar-besaran yang dilakukan anak buah Dewi In Un tidak memberikan hasil apapun.

Keadaan didalam gua amat kering, disisi rerumputan kering yang dipakai sebagai alas tidur Kho Beng terletak sebuah kantung air, ransum kering serta dua botol obat.

sementara itu dayang berbaju hijau pupus sedang duduk disampingnya, dia sedang mengawasi wajah Kho Beng sambil tertawa cekikikan tiada hentinya. sambil meronta bangun, Kho Beng sebera berseru :

"Nona."

Biarpun suaranya masih kedengaran lemah, amat jelas terdengar. Dayang itu segera menghentikan tawanya dan berkata : "Nona kami sedang mempersiapkan hidangan untukmu, aku

bernama siau wan, sebut saja namaku secara langsung. Nona, nona, nona melulu, haaaau.bikin telingaku terasa geli"

"Berada dimanakah aku sekarang?" Kho Beng bertanya sambil tertawa getir. Dayang tersebut segera tertawa :

"Masa kau lupa, bukankah selama ini kau berada dalam keadaan sadar? Kau terjatuh dari puncak bukit sana.."

setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :

"aku tebak kau pasti didorong mereka, bukan kau sendiri yang terpeleset jatuh kebawah bukan?"

sambil menghembuskan napas panjang, Kho Beng tertawa getir, sahutnya :

"sesungguhnya aku sendiri yang melompat turun kebawah jurang."

"Kau melompat sendiri kedalam jurang?" dayang itu Nampak agak terkejut,

"Kenapa kau berbuat demikian? Kulihat usiamu masih sangat muda, kenapa kau harus mengambil keputusan pendek?"

Kembali Kho Beng menghela napas panjang.

"Aaaai..aku tidak bermaksud mengambil keputusan pendeki aku dipaksa keadaan untuk berbuat demikian."

Dayang itu mengerdipkan matanya berulang kali, lalu ujarnya lagi.

"Aku semakin tidak memahami maksud perkataanmu itu, kau betul-betul manusia aneh, kalau memang tidak bermaksud mengambil keputusan pendek apa sebabnya kau terjun kedalam jurang?"

Kho Beng tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia mencoba memperhatikan sekejap keadaan disekelilingnya, lalu balik bertanya :

"sekarang sudah pukul berapa?" "Kentongan kedua lebih sedikit"

Lalu sambil tertawa katanya lebih jauh :

"sepanjang hari kau mementangkan mata tanpa berbicara, kau tahu nona kami menjadi panik setengah mati, dia mencoba memberimu ransum kering namun tubuh tak menerimanya, maka ia sedang mengusahakan makanan yang lain. Aku pikir sebentar lagi dia akan sampai disini, apakah kau sudah lapar?"

Kho Beng sebera menggeleng. "Terima kasih banyak atas kebaikan kalian."

Rupanya setelah mendapat pertolongan tadi, pikirannya menjadi kendor sehingga walaupun sepasang matanya masih tetap melotot namun orangnya berada dalam keadaan tak sadar.

Tanpa disadari satu hari telah berlalu dengan begitu saja.

Kini dia benar-benar telah sadar kembali, membayangkan apa yang telah terjadi, pikiran dan perasaannya mulai kalut dan tidak tentram.

situasinya sudah bertambah jelas, kakek tongkat sakti dan chin sian kun pasti sudah tertawan musuh atau bahkan sudah mengalami musibah.

Teringat kembali semua peristiwa tersebut gara-gara kepentingan dirinya, ia merasa masgul dan amat bersedih hati.

Masalah lain yang mencekam perasaannya adalah tentang keselamatan Kho Yang ciu encinya, dimanakah dia sekarang?

Membayangkan kesemuanya itu, tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran.

siau wan menjadi amat terkejut setelah menyaksikan kejadian ini, segera tegurnya :

"Hey kenapa kau? Mengapa menangis?" Tapi kemudian sambil tertawa katanya lagi :

"Jelek-jelek begini kau toh seorang lelaki sejati, kenapa tanpa sebab melelehkan air mata?"

Merah jengah selembar wajah Kho Beng, sambil menahan cucuran air matanya dia berkata

"Aku bukan menangis untuk diri sendiri tapi demi orang lain, aku merasa telah bersalah terhadap beberapa orang, gara-gara urusanku akibatnya orang lainlah yang turut menderita."

"Hmmmm, tak nyana kau adalah seorang yang punya perasaan," bisik si dayang simpatik, Kho Beng tertawa getir,

"sayang Thian tidak melindungi orang baik, persoalan apapun yang kukerjakan selamanya tak pernah memperoleh balasan yang baik"

"Mungkin kali ini berbeda pengalamanmu," kata si dayang sambil tertawa.

Kemudian sambil menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, tanyanya

:

"siapa namamu?"

"Aku bernama Kho Beng" "siapa saja yang berada dirumahmu?"

"Aaai.aku Cuma mempunyai seorang cici," kata Kho Beng sambil menghela napas panjang,

"tapi sekarang dia berada dimulut macan, nasibnya masih menjadi tanda Tanya besar."

"Apakah kau tak mempunyai orang tua dan saudara?" dayang itu bertanya keheranan.

"sebenarnya memang ada," kata Kho Beng sambil menggigit bibir.

"Keluarga kesemuanya berjumlah tujuh puluh jiwa, tapi"

Tiba-tiba ia merasa amat sedih sehingga tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya. siau wan membelalakkan matanya lebar-lebar, serunya keheranan :

"Tujuh puluh lembar jiwa? Kemana mereka telah pergi? Cepat katakan"

Kho Beng tak mampu menahan cucuran air matanya lagi, dia berkata :

"Mereka telah dibantai musuh besarku sehingga tumpas, tianggal aku dan ciciku berdua yang masih hidup. Itupun berkat pertolongan serta pengorbanan seorang pelayan kami yang setia menukar kami berdua dengan putra putri mereka."

"oooooh Sungguh kasihan," dayang itu sesenggukan,

"Akupun pingin menangis rasanya." Betuljuga, sepasang matanya menjadi merah dan nampaknya seperti mau menangis. Tapi kemudian sambil menghela napas panjang, katanya lagi :

"Bagaimana pula ceritanya sampai cicimu berada dimulut harimau, apakah kejadian ini merupakan perbuatan orang-orang tadi?"

"Yaa, betul Memang ulah orang-orang tadi" Kho Beng mengengguk membenarkan.

"Kau tak usah bersedih hati, nona kami pasti akan membantumu untuk membalaskan dendam, ilmu silat yang dimiliki nona kami sangat lihay."

"oya.." seru Kho Beng setelah berpikir sebentar, "Aku belum sempat mengetahui siapa nona."

"Nona kami bernama Beng Gi ciu, tahun ini genap berusia delapan belas tahun." Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi :

"Bagaimana dengan kau? Tahun ini berapa usiamu?" "Aku sembilan belas tahun" jawab Kho Beng dengan jening berkerut kencang. Dengan gembira dayang itu bertebuk kegirangan

:

"waaaa, kau memang sepasang sejoli yang amat serasi dengan nona kami, usia kalian sepadan"

Tapi dengan cepat dia menyadari kalau telah salah bicara, buru- buru dia menghentikan pembicaraannya dan tak berkata-kata lagi.

Paras muka Kho Beng pun berubah menjadi merah dadu, cepat- cepat dia mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya :

"Mengapa kau bersama nonamu bisa datang kemari dan berdiam didalam gua ini?" siau wan menghela napas panjang :

"Aaaaai..kalau dibicarakan yang sesungguhnya, nona kami pun seorang yang bernasib jelek, walaupun keluarga kami tak tertimpa sesuatu musibah yang mengenakan ati, namun jumlah keluarga kami tidak terlalu banyak, turun temurun hanya nona seorang yang mewarisi generasi keluarga kami."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh : "Walaupun hanya tinggal nona kami seorang, namun kalau

dihitung jumlah dayang dan pelayannya, seluruh anggota kami mencapai seratusan orang lebih."

Kho Beng manggut-manggut : :

"Lantas mengapa kalian..."

sambil tertawa siau wan menukas :

"sekarang toh aku menyinggungnya, nona kami merasa murung karena berdiam diri terus menerus dirumah, maka dia ingin keluar untuk berjalan-jalan, tapi aku mengetahui dengan jelas, paling tidak dia mempunyai dua tujuan"

"Apa tujuannya?"

"Kesatu, dia hendak mencari kedua empek angkatnya, seorang dari marga oh dan seorang lagi dari marga Thian. Kedua, dia."

Berbicara sampai disini ia kembali berhenti berkata dan tidak melanjutkan kembali. Kho Beng jadi keheranan, desaknya :

"Mengapa tidak kau lanjutkan?"

"sebab persoalan ini menyangkut rahasia nona kami, bila kuutarakan keluar bisa jadi dia akan marah kepadaku.."

"Kalau memang begitu lebih baik jangan kau utarakan keluar" siau wan memutar biji matanya sebentar, katanya : "Aaaah benar, aku rasa persoalan ini biar kukatakan saja kepadamu, sebenarnya nona kami sedang mencari seorang pasangan yang serasi"

Ucapan tersebut kontan saja membuat paras muka Kho Beng berubah menjadi merah jengah.

suasana hening segera mencekam seluruh ruangan gua itu, sampai lama sekali siau wan baru berkata sambil tertawa paksa :

"Apakah sekarang kau merasa rada baikan?"

"Yaaa, jauh lebih baik." sahut Kho Beng sambil tertawa penuh rasa terima kasih. Dengan kening berkerut kembali siau wan berkata

:

"Dari penuturan nona kami, kudengar peredaran darah pada jalan darah Ki hay hiat mu menderita luka yang cukup parahi paling tidak sepuluh hari kemudian lukamu itu baru sembuh kembali seperti sedia kala."

"sepuluh hari?" Kho Beng terkejut.

"Aku tak bisa menunggu selama sepuluh hari." siau wan tertawa iba, hiburnya :

"Sepuluh hari toh bukan suatu jangka waktu yang terlalu lama

.tapi apakah kau terburu-buru ingin menolong cicimu?"

Kho Beng mengangguki

"Bukan saja aku akan menolong ciciku, masih banyak masalah dan pekerjaan yang mesti kuselesaikan secepatnya, aku tak mungkin bisa menunggu sepuluh hari lagi."

Mendadak siau wan berkata dengan suara dalam : "sebetulnya aku pun termasuk orang yang berangasan, tidak

sabaran. Tapi kenyataannya kau lebih berangasan daripada diriku, kau harus mengerti, luka dalam yang kau derita amat parahi biarpun tak bisa ditunggupun kau harus menunggu, sebabnyaaa apa boleh buat." setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh :

"Andaikata kau sampai ditangkap orang jahat dari partai kupu- kupu, atau nasibmu kurang mujur hingga mati. Bukankah jauh lebih baik menanti sepuluh hari lagi?"

Kho Beng menghembuskan napas panjang.

"seandainya benar-benar mati, urusan malah beres sama sekali, karena akupun tak bisa berbicara lainnya, tapi sebelum napasku berhenti, aku takkan mampu untuk bersandar dan menahan diri terus menerus."

siau wan berpikir sebentar, kemudian katanya : "Aku rasa lebih baik kita bicara lagi persoalan ini setelah nona kami pulang nanti. Mungkin dia mempunyai akal yang lain untuk membuat lukamu itu sembuh lebih cepat lagi."

Dengan masgul Kho Beng manggut-manggut, dia tak berbicara apa-apa lagi.

siau wan celingukan sebentar dimulut gua, lalu setelah balik kembali ketempat semula ujarnya :

"Kho siangkong, ada sebuah persoalan ingin kutanyakan kepadamu lebih dulu."

"Tanyalah" sahut Kho Beng dengan hati bergetar.

"Dengan bersusah payah nona kami telah menyelamatkan dirimu.

Ditengah malam buta untuk mencari makanan untukmu, tentunya dia terhitung tuan penolong mu bukan?"

"ooooh, tentu saja." sahut Kho Beng cepat .

"selama hidup aku tak akan melupakan budi kebaikannya itu." Dengan girang siau wan tertawa merdu.

"Kau adalah seorang pemuda yang punya perasaan, dengan cara apakah kau hendak membalas budi kebaikan dari nona kami ini?"

"Biar tubuh hancur lebur pun pasti akan kubalas budi kebaikannya ini."

Buru-buru siau wan menggoyangkan tangannya berulang kali, katanya :

"Nona kami bukan seorang yang mengharapkan balas jasa dari orang lain atas pertolongan yang telah diberikan, namun terhadap kau. nampaknya...nampaknya." sedikit rasa tersipu-sipu, ia melanjutkan :

"Hey, apa yang mesti kukatakan tentang persoalan ini?" Kho Beng sendiripun dibuatnya jengah, cepat dia menukas :

"Tak usah kau lanjutkan perkataan itu, aku sudah memahami apa yang kau maksudkan."

"Ya a, paling baik kalau kau memang mengerti yang kumaksudkan.." seru siau wan gembira. setelah berhenti sebentar, diapun berkata lagi :

"Dikemudian hari, asal nonamu membutuhkan bantuan ataupun tenaga dari aku orang she Kho, biar mesti terjun kelautan api pun tak akan kutampiki" kata Kho Beng gagah.

"ooooh masalahnya sih tak segawat itu," seru siau wan sambil menggoyangkan tangannya berulang kali. "Asal kau bersedia mengabulkan permintaan nona kami untuk.." Mendadak siau wan membatalkan perkataan selanjutnya.

Ternyata saat itulah Nampak sesosok bayangan manusia menerobos masuk kedalam ruangan gua dan bagaikan sukma gentayangan langsung meluncur kehadapan mereka berdua.

"Nona, kau telah kembali" seru siau wan gembira.

Ternyata orang yang datang adalah si Nona berbaju hijau yang bernama Beng Gi ciu itu.

Air mukanya kelihatan bersemu merah, butiran keringat membasahi jidatnya, jelas baru saja dia menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Ditangannya dia membawa sebuah kotak makanan- yang segera diletakkan dihadapan Kho Beng, tegurnya kemudian sambil tertawa manis :

"Rupanya kau.kau telah sadar?" Buru-buru Kho Beng menjawab :

"Terima kasih banyak atas pertolongan nona, aku merasa berterima kasih sekali dengan kebaikan mu.aaaai, budi kebaikan yang begini besar membuat aku tak tahu apa yang mesti diucapkan."

Dengan suara dalam Beng Gi ciu menghela napas :

"Kau tentu sangat lapar, dalam kotak terdapat bubur dan beberapa sayuran, bersantaplah dulu"

Kepada siau wan segera serunya pula :

"Hayo cepat, layani Kho kongcu untuk bersantap."

"Nona, darimana kau bisa tahu kalau dia bermarga Kho?" Tanya siau wan keheranan. Beng Gi ciu tersenyum, sambil mengawasi wajah anak muda tersebut, katanya lagi :

"Bukan saja aku tahu kalau dia berasal dari marga Kho, bahkan mengetahui juga kalau dia adalah cengcu muda dari perkampungan Hui im ceng, betul bukan?" setelah tertawa manis, dia menambahkan :

"sewaktu berada diluar tadi aku telah menyelidiki hal tersebut hingga jelas."

"Cengcu muda dari mana?" Tanya siau wan tercengang. "sudahlah tak perlu banyak bertanya lagi," tukas Beng Gi ciu

dengan suara dalam.

"Cepat layani Kho kongcu untuk bersantap setelah itu kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya" sekali lagi Kho Beng dibuat tertegun sehabis mendengar perkataan tersebut. siau wan sendiripun agak tertegun, segera tanyanya :

"Nona, bukankah kau sendiri yang bilang kalau luka yang diderita Kho kongcu amat parah dan tak boleh meninggalkan tempat ini?

Mengapa kita harus pergi dari sini sebelum luka yang dideritanya menjadi sembuh." Dengan kening berkerut Beng Gi ciu menyahut :

"Memang benar begitu, tapi situasi saat ini telah terjadi perubahan, tak mungkin bagi kita untuk berdiam lebih lanjut disini."

"sebenarnya apa yang telah terjadi? Bersediakah nona memberi penjelasan?" pinta Kho Beng ragu-ragu.

"Ketua partai kupu-kupu Ui Thian it telah membawa sekawanan jago lihaynya berangkat kemari, mungkin hari inijuga mereka akan tiba disini, ini berarti seluruh bukit Cian san telah berubah menjadi lingkungan kekuasaan partai kupu-kupu, bila hal ini sampai terjadi, maka sulitlah bagi kita untuk meninggalkan tempat ini dengan selamat."

"Apakah nona berhasil mendapatkan berita lain?" Tanya Kho Beng sambil menggertak gigi kencang-kencang .

"Berita lain yang kuperoleh adalah Dewi In Un yang bercokol dibukit ini sesungguhnya adalah putri dari Ui Thian it, ketua partai kupu-kupu saat ini, aku rasa persoalan ini kau tentu lebih jelas daripada aku bukan?"

"sudah tak ada yang lain?" Kho Beng berkerut kening. Beng Gi ciu menggeleng.

"Persoalan lain tentang Dewi In Un tak berhasil kuperoleh, apakah Kho Beng menguatirkan keselamatan jiwa dari cicimu sekalian?"

"Benar, persoalan inilah yang sesungguhnya membuat hatiku gelisah dan tak tenang."

"Ya a, apa boleh buat, kita tak bisa banyak berkutik, ketahuilah pihak partai kupu-kupu akan menghimpun kekuatan intinya disini, kekuatan mereka sudah berubah menjadi himpunan kekuatan yang luar biasa hebatnya, untuk menghadapi hal semacam ini kita perlu mengadakan perencanaan jangka panjang ."

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan suara dalam :

"Tapi masalah penting yang kita hadapi dewasa ini adalah berusaha meninggalkan tempat ini secepatnya." Sementara itu Siau wan telah membuka kotak makan dan menghidangkan semangkuk bubur serta empat macam sayur dihadapan Kho Beng.

Dengan pikiran dan perasaan yang berat karena beban yang dipikulnya, sulit bagi Kho Beng untuk menelan bubur tersebut, namun agar tidak mengecewakan Beng Gi ciu yang telah bersusah payah mencarikan hidangan baginya, terpaksa dia harus menghabiskan bubur yang tersedia.

Ketika ia selesai bersantap. tampak Beng Gi ciu serta siau wan telah mempersiapkan sebuah usungan dari rotan. Beng Gi ciu sebera berkata dengan suara dalam :

"Tengah malam telah tiba, mari kita sebera berangkat"

Tiba-tiba Kho Beng merasa amat kikuki hatinya tergagap : "Nona, aku."

"Kho kongcu, apalagi yang hendak kau ucapkan?" Tanya Beng Gi ciu dengan kening berkerut.

"setelah nona Beng mengetahui identitasku yang sesungguhnya, tentu kau juga mengerti bukan bahwa saat ini aku telah menjadi musuh dari partai kupu-kupu"

"Ya a a, aku memang tahu," jawab si nona sambil tertawa. "setelah nona mengetahui akan hal ini, mengapa kau masih

bersedia menyerempet bahaya yang amat besar untuk menyelamatkan aku? Apakah kau tak kuatir mengikat tali permusuhan dengan pihak partai kupu-kupu?" Beng Gi ciu sebera tertawa.

"Tahukah Kho kongcu akan asal usulku yang sebenarnya?" "Aku memang ingin mengetahuinya."

setelah menatap pemuda itu sekejap dan tersenyum, Beng Gi ciu berkata pelan :

"Leluhurku sudah lama bermusuhan dengan pihak partai kupu- kupu, malah permusuhan kami ibarat air dengan api, tak mungkin bisa didamaikan kembali, oleh sebab itu aku tak perlu mengikatnya kembali sekarang." Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi :

"Pernahkah Kho kongcu mendengar kisah pertarungan antara  tiga dewa see gwa sam sian dengan ketua partai kupu-kupu dibawah tebing hati duka?"

"Tentu saja aku pernah mendengarnya, apakah nona adalah." "Yaa benar, aku adalah keturunan keempat dari dewa Kim ka sian" sahut si nona sambil tertawa hambar.

"Haaahh" kejut dan girang Kho Beng, segera berseru tertahan.

Beberapa saat kemudian baru ia bisa berkata :

"Tak heran kalau ilmu silat yang nona miliki begitu hebat dan luar biasa, ternyata nona adalah keturunan dari tiga dewa, kalau begitu maaf atas ketidak tahuanku" sambil berkata ia siap-siap meronta bangun. Cepat-cepat Beng Gi ciu menekan bahunya seraya berbisik :

"Lebih baik kau jangan bergerak dulu."

"Tapi aku merasa agak baikan," kata Beng Gi ciu dengan napas tersengal-sengal,

"Aku bisa berjalan sendiri"

"Mungkin saja kau bisa berjalan sendiri kalau dipaksakan," kata Beng Gi ciu sambil tertawa dan menggeleng,

"Tapi tahukah kau apa akibatnya bila kau berbuat begitu? "Tidak menunggu Kho Beng menjawab, dia telah melanjutkan kembali kata- katanya :

"Apabila darah sampai membeku didalam nadi dan berbalik menembusi pusat, bila parah bisa berakibat kematianmu atau paling ringanpun akan menyebabkan kau menjadi cacat seumur hidup,"

"Yaa, betul kongcu?" seru siau wan pula sambil berkerut kening, "bila kau benar-benar ingin membalas budi nona kami, maka kau harus menuruti nasehat nona kami."

"Sudahi tak usah banyak bicara lagi" tukas Beng Gi ciu tiba-tiba, "siau wan, cepat bopong Kho Beng kongcu keatas tandu

tersebut"

siau wan tak berani banyak bicara lagi, bersama Beng Gi ciu mereka bersama-sama membohong tubuh Kho Beng dan dibaringkan diatas usungan yang telah disediakan.

Berada dalam keadaan seperti ini Kho Beng tak leluasa untuk bicara lagi, terpaksa dia hanya memandang kedua orang itu dengan penuh rasa terima kasihi ia membiarkan mereka berbuat sesuka hati atas dirinya.

Beng Gi ciu bertindak amat cepat, setelah membaringkan Kho Beng diatas usungan tersebut, kembali dia menyelimuti tubuh anak muda tersebut dengan sebuah mantel, kemudian baru menggotong usungan tersebut dan berjalan keluar dari gua.

Jarak antara mulut gua dengan permukaan tanah masihada beberapa kaki tingginya, namun dengan ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna, kedua orang nona itu telah melompat turun kedasar jurang dengan gerakan yang amat ringan.

Bahkan sewaktu mencapai atas permukaan tanah pun, usungan tersebut hanya bergoyang sedikit saja.

setelah keluar dari mulut gua, kedua orang itu menempuh perjalanan dengan sangat cepat, mereka mengikuti arah aliran sungai didasar jurang tersebut, berangkat menuju keluar bukit.

Dalam waktu singkat mereka bertiga telah menempuh perjalanan sejauh tiga li lebih.

Mendadak tampak Beng Gi ciu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba kemudian dengan suatu gerakan cepat menyembunyikan diri dibalik semak belukar disisi jalan.

siau wan mencoba pasang telinga baik-baik akan tetapi ia tak berhasil menangkap suara apa pun dengan perasaan heran segera tegurnya :

"Nona kau." "ssssstttt"

Cepat-cepat Beng Gi ciu menempelkan jari telunjuknya diatas bibir sendiri dan memberi tanda agar tidak berisik,

siau wan tidak berani membantah, ia benar-benar membungkam diri dalam seribu bahasa.

Benar juga lebih kurang setengah peminuman teh kemudian terdengar suara ujung baju yang tersampok angin bergema tiba, lalu tampak tiga sosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dalam waktu singkat mereka telah meluncur kedalam dasar jurang sana.

Gerakan tubuh ketiga orang ini benar-benar amat cepat, sekali lompatan sepuluh kaki telah dilalui..dalam kegelapan malam yang terlihat hanya tiga sosok bayangan manusia yang remang-remang serta suara desingan ujung baju yang terhembus angin.

Tak terlukiskan rasa kagum Kho Beng setelah melihat kenyataan ini, sebab dari sini terbukti betapa lihaynya ketajaman pendengaran Beng Gi ciu. Sementara itu siau wan telah menjulurkan lidahnya sambil berbisik :

"Wouw.lihay betul ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketigg orang itu."

Diam-siam Kho Beng setuju dengan pendapat tersebut, sebab ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang tersebut sama sekali tidak lebih lemah daripada kemampuan jago nomor satu malah bisa jadijauh lebih hebat daripada kemampuannya. setengah berbisik siau wan bertanya :

"Apakah orang-orang itu berasal dari partai kupu-kupu?" "Hmmm, kecuali kawanan begal tersebut, siapa lagi yang bakal

datang kemari? Kelihatannya Ui sik kang segera tiba disini"

siau wan segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya :

"Nona, mari kita segera berangkat, kalau menunggu sampai terang tanah nanti, waaah kita bisa berabe"

Tapi Beng Gi ciu segera menggeleng. "Tunggu sebentar" Lalu sambil menunjuk kedepan, bisiknya lebih jauh : "Dibelakang sana masih ada seorang lagi."

Kho Beng amat tergetar hatinya setelah mendengar perkataan itu, dia mencoba untuk memasang telinga , akan tetapi sama sekali tak terdengar suara langkah manusia maupun suara ujung baju yang terhembus angin.

Namun diapun sadar, luka yang dideritanya saat ini amat parah, jelas sudah mempengaruhi ketajaman pandangan mata serta pendengarannya, meski begitu dia merasa kagum sekali dengan kemampuan Beng Gi ciu jelas sudah tenaga dalam yang dimiliki gadis tersebut amat sempurna.

Lewat setengah peminuman teh kemudian mereka baru mendengar suara langkah manusia yang cukup nyaring.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(