Kedele Maut Jilid 27

 
Jilid 27

Wajahnya Nampak berpenyakitan, rasa bimbang dan tak habis mengerti menghiasi mukanya yang kuyu, agaknya dia tak tahu kemanakah dirinya telah dibawa.

Hingga dirinya diseret menuju ke depan mimbar, kedua orang dayangnya Sia hong maupn Bwee hiang tak Nampak turut serta datang kesitu.

Agaknya Kho yang ciu berada dalam semakin lemahi tampak napasnya terengah-engah sambil meronta serunya :

"enci jin, enci Li sebenarnya apa yang telah terjadi..tempat apakah ini?"

Dengan pandangan mata yang sayu dan payah dia memperhatikan sekejap disekeliling sana, sementara rasa heran dan curiga menyelimuti wajahnya. Dengan suara sedingin es cun hong Lengcu berkata :

"Kho yang ciu, setelah kejadian berkembang begini, kamipun tak bermaksud mengelabui dirimu lagi, terus terang saja kukatakan, sebenarnya diantara kita merupakan musuh bebuyutan, hakekatnya antara kita tak ubahnya bagaikan air dengan api."

"Cici berdua jangan bergurau," teriak Kho yang ciu makin kebingungan, "kalian..."

"Dengarkan baik-baik, kami sama sekali tidak membohongimu," sambung Hee im Lengcu Li Sian soat dengan suara ketus.

"Dahulu kami baik kepadamu karena kami hendak memperalat dirimu untuk membatasi umat persilatan dan sekarang kami akan memperalat dirimu kembali untuk memaksa Kho Beng agar menyerahkan kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut.."

Berubah hebat paras muka Kho yang ciu, agak tergagap katanya

: "sungguh .sungguh ini?"

"Kau tahu, siapakah orang yang duduk di atas situ? Terus terang saja kami katakan, dia adalah guru kami. Dewi In Un"

"Aaaah-" Kho yang ciu berteriak keras, ia bermaksud untuk bangkit berdiri. Tapi sayang dia sudah lupa kalau posisinya saat ini sangat lemah. tahu-tahu kepalanya terasa amat pening dan seketika itu juga roboh tak sadarkan diri-Cun hong Lengcu segera membungkukkan badan memberi hormat keatas mimbar, katanya : "Harap suhu sudi memberi petunjuk untuk menyelesaikan persoalan ini.." Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh :

"Heeeeehhi.heeeehhheeeehhh, totok dahulu seluruh jalan darahnya kemudian sekap dia didalam kamar tahanan, setelah itu beritahu kepada Kho Beng agar dia datang kemari menukar cicinya dengan dua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut"

Kemudian sambil berpaling kembali serunya : "Ciu hoa. Tang soat"

Ciu hoa dan Tang soat Lengcu serentak melompat bangun sambil berseru:

"Tecu siap menerima perintahi-"

Dengan wajah serius Dewi In «n berkata :

"Kalian berempat kerjakan tugas ini bersama-sama, setiap orang yang termasuk anak buahku boleh kalian pergunakan bilamana perlu, yang penting selesaikan tugas ini secepatnya"

"Baik, tecu terima perintah" jawab Ciu hoa dan Tang soat Lengcu serentak-Tiba-tiba Cun hong Lengcu berseru agak sangsi:

"Lapor suhu, bila kita sampai berbuat demikian kemungkinan besar rahasia letak gua pengikat cinta ini akan ketahuan musuh. bisa jadi malah menyebabkan timbulnya pelbagai kesulitan dikemudian hari."

Dewi In wn tertawa hambar:

"Pertama, bila perkerjaan ini telah selesai dikerjakan maka aku akan segera memimpin semua jago pulang ke markas besar, secara otomatis semua bangunan yang berada dibukit cian san ini bakal ditinggalkan dengan begitu saja"

setelah berhenti sejenaki lanjutnya :

"Kedua, disaat kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh sudah didapatkan kembali, apakah kalian benar-benar hendak membebaskan mereka kakak beradik berdua dengan begitu saja?"

"Tentu saja tidak" jawab Cun hong Lengcu sambil memutar biji matanya "jadi maksud suhu, tecu..."

"Tentu saja harus membabat rumput sampai akar-akarnya, kita tak boleh membiarkan kedua orang anak jadah tersebut hidup terus didunia ini." seru Dewi In wn sambil menggertak giginya menahan emosi-

"Tecu pasti akan melaksanakan pesan suhu, hanya kali ini.." Tidak sampai Cun hong Lengcu menyelesaikan ucapannya. Dewi

In wn telah menukas lagi dengan suara dalam: "Bila kali ini menderita kegagalan lagi, kalian berempat akan menerima hukuman yang paling berat"

Keempat orang Lengcu itu serentak membungkukkan badan sambil berseru:

"suhu tak usah kuatir, kali ini tecu berempat pergi pasti tak akan membuat suhu kecewa."

sementara itu seluruh jalan darah ditubuh Kho yang ciu telah tertotok oleh Hee im Lengcu Li sian soat disaat ia jatuh tak sadarkan diri tadi, keadaannya saat ini tak jauh berbeda seperti orang mati, kesadarannya hilang dan tubuhnya lemas tak bertenaga-

Maka dibimbing oleh beberapa orang dayang, tubuhnya kembali diseret keluar dari ruangan sidang-

Memandang hingga semua orang sudah pergi. Dewi In wn baru bangkit berdiri sambil tersenyum.

Dayang berbaju perlente yang berdiri disisinya buru-buru berteriak lagi dengan suara lantang :

"Tutup sidang"

Ditengah suara teriakan yang keras itulah. Dewi In Un diiringi kedua orang nenek tersebut mengundurkan diri ke ruang dalam melalui jalan rahasia semula. sementara itu Kho Beng bersama Chinsian kun sekalian telah menelusuri puncak bukit dalam usahanya melacak sarang musuhnya.

Tatkala mereka sudah berada setengah li dari puncak bukit, mendadak Chinsian kun menarik ujung baju Kho Beng sambil bisiknya :

"Puncak bukit itu gundul tanpa tumbuhan, sudah jelas tiada bagian tempat yang menarik perhatian, aku rasa justru lembah disitu yang amat mencurigakan, bagaimana kalau kita lakukan pemeriksaan lebih dulu atas lembah tersebut?"

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian ia manggut-manggut: "ya a, perkataan nona memang benar-"

Maka dengan ilmu menyampaikan suara dia segera memberitahukan kepada Molim agar berbelok kesamping kiri langsung menuju kesebuah lembah yang rimbun.

siapa tahu justru karena perbuatannya ini secara kebetulan sekali mereka telah menghindari pos penjagaan yang diatur diseputar puncak bukit itu. sepanjang jalan Molim sekalian menelusuri hutan dengan langkah lebar, sepanjang jalan dia pun sibuk mengatur Mokim, Rumang dan Hapukim sesuai dengan petunjuk yang diterimanya dari Kho Beng.

Tiba-tiba terdengar Molim berseru dengan suara keras : "saudara-saudaraku, kenapa sih kita begitu apes sehingga segala

pekerjaan sepertinya tak pernah lancer, dengan susah payah kita berhasil mengadakan hubungan dengan situa Thia, eeei siapa tahu dia justru melakukan bunuh diri"-

"ya a, nasib kita memang lagi gelap, makanya." sambung Rumang cepat, sementara pembicaraan berlangsung, mereka telah memasuki lembah bukit itu.

Pepohonan yang tumbuh dalam lembah tersebut sangat lebat lagi rimbun, jalan setapak pun susah dilewati, bukan saja hening sepi tak kedengaran sedikit suara pun, bahkan sesosok bayangan manusia pun tidak Nampak-

Dengan suara lantang Hapukim segera berseru: "sebelum melakukan bunuh diri, si tua Thia juga tak

meninggalkan pesan apa pun, kemanakah kita harus mencari rekan- rekannya- heeei-situa Bangka itu betul-betul si telur busuk "

Biar pun nada suaranya tak terlalu lantang samun gema suaranya telah mengalun diseantero lembah, asal disitu ada orangnya sudah pasti suara tersebut akan kedengaran.

Tapi sungguh anehi selain gema panggilan suara sendiri, dari lembah tersebut tak kelihatan sesuatu reaksi apapun.

Dengan gemas Rumang memungut sebutir batu dan ditimpuk kedalam hutan seraya berteriak

"Makin dipikir rasanya hatiku semakin mendongkol, kalau bisa akan kuobrak abrik bukit ini hingga rata dengan tanah"

Tangannya segera diayunkan ke depan, sebutir batu pun meluncur ke depan dengan dahsyatnya. Blarrrrrr,... Diiringi suara benturan yang sangat keras, sebatang pohon kecil yang terkena timpukan batunya patah seketika itu juga menjadi dua bagian, batang pohon itupun segera roboh ke tanah-

Tapi pada saat itu pula kedengaran suara orang membentak keras dari balik hutan.

"Hey, siapa yang berkaok-kaok disini tengah malam buta begini? Huuuh, benarkah didunia ini tiada tempat yang betul-betul tenang?" Tampak seorang kakek berambut putih yang berperawakan kecil  lagi ceking dan membawa sebuah tongkat berkepala ular munculkan diri disamping pohon yang tumbang itu, dia langsung melotot kearah Molim sekalian.

sambil tertawa terkekeh-kekeh Molim sebera berseru: "Maaf orang tua, kami datang untuk mencari seseorang-• "

"Hmmmm, sekalipun maksud kalian hendak mencari orang, toh bukan begitu caranya" seru si kakek berambut putih itu sambil mendengus.

"Masa ditengah malam buta begini datang kelembah untuk mencari orang, benar-benar perbuatan orang edan.siapa sih yang kalian cari?"

sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Molim berkata agak gugup:

"Apakah kau orang tua kenal dengan Thia huhoat?"

"Hmm, mendengar namanya pun belum pernah," sahut kakek itu sambil mendengus.

"siapa yang tak tahu kalau kau sama seperti Thia huhoat, sama- sama menjadi anak buah siancu?" kata Molim lagi dengan kening berkerut.

"Hey bocah kunyuki kau jangan sembarangan bicara, aku tak peduli Dewi atau iblis, hayo cepat kalian pergi dari sini."

Molim tiada beranjak dari situ, malah setelah memutar biji matanya, ia berkata lagi:

"Kalau begitu sungguh aneh, kalau toh kau bukan rekan Thia huhoat, kenapa dirimu bisa berada dibukit Cian san ini?"

"Hmm, apakah bukit Cian san ini sudah punya pemilik tunggalnya dan orang lain tak boleh datang?"

"Tentu saja tidak, tentu saja tidak" sahut Molim serasa menggeleng, "tapi kau orang tua seorang diri bersembunyi di lembah tersebut, sebetulnya apa yang sedang kau perbuat"

"Tidur"

"Waahi sungguh aneh sekali," tak tahan Molim berteriak "kalau pingin tidur seharusnya pergi ke kota atau dusun untuk

mencari rumah penginapan. Kalau toh tak punya uang untuk menyewa penginapan, pergilah ke kuil untuk mondok barang semalam, masa kau malah datang keatas gunung untuk tidur?"

Kakek berambut putih itu mendengus.

"Baik rumah penginapan maupun dalam kuil sedikit banyak disitu pasti ada orang, bila ada orang tak bisa dihindari lagi tentu rebut, itulah sebabnya aku lari kelembah yang sepi ini untuk tidur. Heii..sungguh tak disangka tidurku lagi-lagi diganggu oleh kalian beberapa orang telur busuk?"

"Hey, kau lagi maki siapa?" Rumang segera menegur dengan gusar.

"Tentu saja kau"

Rumang menjadi sewot, sambil mengayunkan kepalannya dia siap menjotos tubuh kakek tersebut.

Tapi Molim segera menghadang dihadapannya sambil menegur: "Jangan bertindak gegabah"

Ternyata Kho Beng telah memberi petunjuk kepada Molim dengan ilmu menyampaikan suaranya untuk menyelidiki nama kakek tersebut lebih dulu.

setelah mencegah Rumang, Molim segera menjura dalam-dalam sambil tanyanya kepada kakek berambut putih itu ramah-

"Bolehkah aku tahu nama cianpwe?"

Kakek berambut putih itu tertawa cekakakan, sambil menatap Molim, katanya :

"Jika kulihat dari tampangmu, agaknya kau Cuma seorang budak asing, tak kusangka orang asing pun mengerti akan tata kesopanan, aku dari marga Ang bernama It ciang, orang menyebutku si Kakek Tongkat sakti"

"Namamu memang tepat sekali orang tua" ujar Molim kemudian sambil tertawa.

"Mungkin nama tersebut disesuaikan dengan tongkat kepala ular yang berada ditanganmu, bukan?"

Rupanya dia tak tahu apa yang mesti dibicarakan selanjutnya, maka diutarakannya kata-kata basa basi untuk mengulur waktu sambil menantikan petunjuk berikut dari Kho Beng.

Akan tetapi Kho Beng sama sekali tidak memberi petunjuk lagi kepadanya dengan ilmu menyampaikan suara, sebaliknya malah munculkan diri bersama Chin sian kun.

Mereka berdua langsung melayang turun dihadapan si Kakek Tongkat sakti dan menjura dalam-dalam sambil ketanya:

"Boanpwee Kho Beng dan chin sian kun menjumpai Ang locianpwee"

Buru-buru si Kakek Tongkat sakti berkata : "Mana...mana..."

Tapi kemudian sambil menghela napas, katanya lebih lanjut: "Makin lama orang yang muncul semakin banyak. aku rasa memang susah untuk menemukan tempat yang amat tenang didunia ini"

"Boanpwee memohon maaf yang sebesar-besarnya bila kehadiran kami telah mengganggu ketenangan tidur cianpwee" buru-buru Kho Beng berseru,

"tapi entah disebabkan urusan apa cianpwee munculkan diri kembali didunia persilatan.."

Ternyata si Kakek Tongkat sakti bersama Bu wi lojin serta Gin san siancu disebut sebagai tiga tokoh aneh dari dunia persilatan tapi sejak puluhan tahun berselang jago tua ini telah hidup mengasingkan diri, tak disangka secara tiba-tiba orang itu muncul kembali di lembah yang sunyi hari ini.. Kakek Tongkat sakti seoera tertawa terbahak-bahak:

"Haaahh-haaaah-haaah-sebetulnya aku sedang mencari tempat untuk tidur, terus terang kukatakan sudah hampir setahun lamanya aku belum pernah tidur yang nyenyak"

"Aaahi cianpwee memang gemar bergurau "

"Tidaki sama sekali tidak bergurau" si Kakek Tongkat sakti dengan wajah serius,

"aku dapat memberitahukan kepadamu sejujurnya, tempat tinggalku yang lama di lembah Ciong cun kok di bukit Pa San boleh dibilang telah berubah menjadi lembah monyet, siang malam selalu kedengaran suara monyet berteriak disitu, kau tahu telingaku ini belum beristirahat dengan tenang barang sejenak saja."

"oooohi kiranya begitu," kata Kho Beng serius.

Mendadak Kakek Tongkat sakti menatap wajah Kho Beng lekat- lekat, setelah itu tegurnya:

"Dilihat dari usiamu masih sangat muda, dari mana kau bisa mengetahui namaku?"

Buru-buru Kho Beng berseru:

"Nama besar tiga tokoh sakti dari dunia persilatan sudah termasyur dimana-mana. sekalipun pengalaman boanpwee amat cetekpun namun nama besar Ang locianpwee masih cukup kukenal"

Kakek Tongkat sakti kelihatan gembira sekali setelah mendengar umpakan tersebut, segera katanya:

"Aaaahi terlalu sungkan, terlalu sungkan.."

Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya kewajah Kho Beng kembali katanya sambil tertawa: "Akupun rasanya seperti pernah mendengar akan namamu itu, tapi bila ditinjau dari usiamu, sudah pasti namamu kudengar setelah kemunculanku yang kedua kalinya, tapi dari siapa kudengar namamu.aaaai, sekarang tak dapat kuingat kembali dengan jelas."

Kho Beng berpikir sejenaki kemudian katanya :

"sungguh beruntung boanpwee bisa bersua dengan cianpwee pada malam ini, sebab hubungan boanpwee dengan kedua tokoh sakti lainnya boleh dibilang cukup akrab."

"Coba kaujelaskan, hubungan macam apakah yang terjalin antara dirimu dengan mereka berdua?" Tanya Kakek Tongkat sakti keheranan.

"Bu wi lojin pernah mewariskan ilmu silat kepadaku, bahkan dengan ilmu may teng tay hoat telah menghadiahkan tenaga dalam sebesar empat puluh tahun hasil latihannya kepadaku, meski tiada hubungan guru dan murid, tapi kenyataannya hubungan kami menyerupai guru dan murid, sedang mengenai Gin san siancu, dia adalah guru dari ciciku. Nah, coba bayangkan sendiri, bukankah boanpwee mempunyai hubungan yang akrab dengan kedua orang tokoh sakti tersebut?"

Kakek Tongkat sakti segera tersenyum:

"Paling tidak kau sedang mendekati diriku sekarang, tapi hubungan kita akan datar, bahkan bertemu pun baru saja berlangsung, bagaimana mungkin bisa terjalin hubungan yang akrab diantara kita berdua?"

Dengan wajah serius Kho Beng berkata :

"Berbicara dari nama serta kedudukan cianpwee untuk bertemu muka saja sudah sukar bagi orang lain, tapi kini boanpwee bisa berbincang-bincang denganmu, hal ini sudah terhitung suatu kejadian yang beruntung sekali-"

"Tak nyana kau sibocah muda pandai sekali berbicara, begini saja, bagaimana kalau kita mengikat tali persahabatan?"

Buru-buru Kho Beng memberi hormat sambil serunya "cianpwee, hal ini tak berani kuterima, masa boanpwee harus

saling menyebut sobat dengan cianpwee?" Kembali Kakek Tongkat sakti tertawa :

"Kau jangan salah duga, kau toh tahu aku tak bakal menerima murid, sekalipun ingin mengorek kepandaianku sedikit demi sedikitpun tak mungkin bisa terjadi-dan lagi, akupun tak mampu menerima dirimu sebagai muridku, sekarang teringat sudah aku siapakah dirimu yang sebenarnya."

Dengan wajah serius ditatapnya wajah Kho Beng lekat-lekat, kemudian ujarnya lebih jauh:

"Kau adalah keturunan dari perkampungan hui im ceng, sekarang telah berhasil mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh-yaa aku memang sudah tua, otakku sudah tak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Padahal baru-baru berselang kudengar berita tentang dirimu, siapa tahu hari ini sudah hampir melupakannya kembali. "

"Kalau begitu cianpwee pun sudah mengetahui persoalan si Dewi In wn?"

"Barusan toh sudah kukatakan dengan jelas," kata Kakek Tongkat sakti sambil tertawa.

"Aku tak ambil peduli dewi atau setan, yang kuperhatikan justru pada sudut yang lain, yaitu kemunculan partai kupu-kupu"

"Baik" Kho Beng maupun chinsian kun sama-sama dibuat tertegun setelah mendengar perkataan tersebut.

"Kalau begitu kedatangan cianpwee ketempat ini bukan disebabkan untuk mencari tempat tidur, bukan?" kata Kho Beng kemudian sambil tertawa.

Kakek Tongkat sakti tertawa bergelak:

"Haaah.haaaah-haaah..aku datang kemari-sesungguhnya memang untuk itu, namun akupun merasa amat terkejut atas munculnya kembali partai kupu-kupu didalam dunia persilatan."

"Cianpwee, tak nyana kaupun memandang serius kemunculan partai kupu-kupu tersebut, nampaknya partai kupu-kupu tak boleh dianggap enteng"

"Bukan cuma tak boleh dianggap enteng" dengus Kakek Tongkat sakti, "pada hakekatnya persoalan ini harus dianggap sebagai satu- satunya masalah yang terbesar dan paling serius dari dunia persilatan, aku sebagai salah satu anggota dunia persilatan tentu saja tak boleh duduk berdiam diri saja, itulah sebabnya meski aku mencari tempat yang tenang untuk tidur yang nyenyak, sesungguhnya kedatanganku kemari adalah untuk mencari seseorang, tapi hingga kini orang yang kucari belum juga ditemukan.,"

"siapa sih yang cianpwee cari?" tak tahan Kho Beng bertanya. "orang dari marga Thian bernama Cun yang, dia adalah sahabat karibku tapi sudah tiga puluhan tahun belum pernah bersua muka."

Diam-diam Kho Beng menyebut nama orang itu berulang kali, terasa olehnya nama Thian Cun yang amat asing baginya, karena itu sambil mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, katanya lagi:

"Tahukah cianpwee bahwa diantara anak buah Dewi In un terdapat pula jago jago lihay dari partai kupu-kupu?"

Kakek Tongkat sakti tertawa lebar:

"Padahal tiada sesuatu yang perlu diherankan dalam persoalan ini, siapa tahu siancu tersebut adalah tokoh terpenting dalam partai kupu-kupu? Tapi yang terpenting dari kesemuanya ini masih tetap berada sang ciangbunjin dari partai kupu-kupu yaitu ui sik kong."

"Apakah locianpwee kenal dengannya?" Tanya Kho Beng agak tertegun.

Kakek Tongkat sakti menggeleng.

"Kenal sih tidaki tapi sebelum aku mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan dulu, aku sudah mendengar tentang keturunan partai kupu-kupu yang dibangkitkan dari keruntuhan dan sedang mempelajari sejenis ilmu sesat disuatu lembah yang terpencil, adapun pentolan dari kesemuanya itu tak lain adalah Ui sik kong, satu-satunya putra Thian it ketua partai kupu-kupu yang telah tewas ditangan tiga dewa see gwa sam sian tempo hari, semenjak saat itu aku sudah bisa menduga bahwa suatu saat partai kupu-kupu pasti akan muncul kembali kedalam dunia persilatan."

"Locianpwee, pengetahuanmu sangat luas, aku rasa diantara partai kupu-kupu dengan tiga dewa see gwa sam sian pasti sudah terjalin hubungan dendam sakit hati yang tak mungkin terselesaikan dengan damai bukan?"

Kakek Tongkat sakti manggut-manggut:

"aku rasa ada tiga tujuan partai kupu-kupu muncul kembali dalam dunia persilatan, pertama mencari kitab pusaka Thian goan bu boh yang hilang, kedua menuntut balas kepada tiga dewa see gwa sam sian dan ketiga, membantai umat persilatan untuk menyampaikan rasa bencinya selama ini."

setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata lebih jauh : "Kini terbukti kitab pusaka Thian goan bu boh berada

ditanganmu, otomatis kau pun terseret pula didalam peristiwa ini" "Boanpwee sama sekali tak tahu kalau kitab pusaka Thian goan

bu boh adalah barang milik partai kupu-kupu, selain itu.." "Tak usah kaujelaskan kepadaku" tukas Kakek Tongkat sakti. "Padahal kitab pusaka Thian goan bu boh bukannya milik partai

kupu-kupu sejak permulaan. Hanya saja turun temurun kitab tersebut beralih tangan sampai akhirnya jatuh ketangan mereka jadi siapakah pencipta kitab tersebut hingga kini masih merupakan teka- teki besar namun yang pasti kitab pusaka Thian goan bu boh adalah sumber bencana, sejak seratus tahun berselang dimana partai kupu- kupu membantai dunia persilatan, hingga peristiwa berdarah yang menimpa perkampungan Hui im ceng pada belasan tahun berselang, semuanya sudah ditandai dengan ceceran darah dimana-mana-"

"Ya a, perkataan cianpwee memang betul, karena memang begitulah kenyataannya," ucap Kho Beng lirih-

setelah menghela napas kembali. Kakek Tongkat sakti berkata : "Kita memang tak bisa berbuat banyak terhadap peristiwa yang telah terjadi, tapi menurut hematku, persoalan paling penting yang

harus kita lakukan sekarang adalah menghentikan pembantaian berdarah yang tampaknya sudah mulai melanda dunia persilatan ini."

"Lantas apa pendapat cianpwee tentang persoalan ini?" sesudah mendengus dingin. Kakek Tongkat sakti berkata : "Tindak tanduk partai kupu-kupu kelewat buas dan tak berperi

kemanusiaan, mereka tinggi hati karena menganggap ilmu silatnya paling top, selain itu berambisi pula untuk menumbangkan semua kekuatan yang ada dalam dunia persilatan, oleh sebab itu satu- satunya jalan adalah dengan membunuh untuk menghentikan pembunuhan, kita tumpas partai kupu-kupu hingga ke akar-akarnya, dengan begitu keamanan dunia persilatan baru bisa terjamin." Kho Beng berpikir sebentar, kemudian katanya :

"Konon Tiga dewa see gwa sam sian tinggal dipulau Bong lay sian to, entah Peristiwa itu terjadi pada seratus tahun berselang, setelah Tiga dewa see gwa sam sian bekerja sama menumpas ketua partai kupu-kupu ui Thian it, dengan menderita kerugian hampir lima puluh tahun hasil latihan, ketiga dewa tersebut kembali ke pulau Bong lay untuk memulihkan kembali kekuatannya, tapi tiga puluh tahun kemudian secara beruntun mereka telah pulang kealam baka, jangan lagi tiga dewa pribadi, sekalipun keturunan mereka pun kini sudah mencapai generasi yang ketiga yaitu cucu-cucunya-

Tapi pihak partai kupu-kupu toh takkan peduli sampai dimanakah generasi penerus dari tiga dewa tersebut, jelas mereka hanya akan melampiaskan rasa benci dan dendamnya kepada ahli waris mereka bertiga, bukan demikian?"

Kakek Tongkat sakti manggut-manggut: "ya a, tentu saja demikian, tapi ahli waris tiga dewa"

Mendadak dia menghela napas dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya, sebenarnya bagaimana dengan k.tfi.^R^ keturunan tiga dewa? desak Kho Beng keheranan, setelah lama sekali termenung akhirnya Kakek Tongkat sakti berkata :

"Keturunan dari tiga dewa minim sekali jumlahnya, hingga sekarang cucu tiga dewa masing-masing cuma seorang, usianya pun telah mencapai tujuh delapan puluh tahun tapi mereka sudah tidak menetap di pulau Bong lay lagi."

"Lantas mereka telah pergi kemana?"

"Tak ada yang tahu" Kakek Tongkat sakti menggeleng. "Bahkan tak ada yang tahu pula karena persoalan apa mereka

sampai meninggalkan pulau Bong lay tersebut, tapi hubunganku dengan si dewa An khek Thian cu yang paling akrab, itulah sebabnya aku sengaja melacaki jejaknya sampai dimana-mana.

"oooh, rupanya cianpwee sedang mencari keturunan dari tiga dewa,: sela Kho Beng,

"tapi si dewa Bu khek "

sambil tertawa Kakek Tongkat sakti berkata :

"Dewa Bu khek merupakan gelar yang dipergunakan turun temurun, dulu gelar itu dipergunakan kakek Thian cun yang dan sekarang dipakai olehnya sendiri, namuan..dunia begini luas, siapa tahu dia telah pergi kemana?"

"Apakah keturunan tiga dewa sudah mengetahui tentang berita meunculnya partai kupu-kupu dalam dunia persilatan?"

Kakek Tongkat sakti menghela napas panjang :

"Aaaai.justru persoalan inilah yang amat merisaukan hatiku, lagi pula berbicara menurut situasi yang ada sekarang, kendati pun jago silat yang berpihak kepada kita cukup banyak jumlahnya, tapi selain keturunan dari tiga dewa, siapa lagi yang mampu membendung agresi dari partai kupu-kupu?"

"Waaahi kalau begitu badai pembunuhan yang melanda dunia persilatan sudah tak mungkin bisa dihindari lagi?" Tanya Kho Beng dengan kening berkerut kencang.

Kakek Tongkat sakti tertawa getir: "Berbicara yang sebenarnya, badai pembunuhan sudah mulai melanda dunia persilatan, bukankah dimana-mana sudah terjadi pembunuhan berdarah yang menimpa umat persilatan?"

Kho Beng terbungkam tak mampu menawab pertanyaan itu, sampai lama kemudian dia baru berkata:

"Apakah cianpwee akan melanjutkan tidurmu? Kalau begitu, biar boanpwee mohon diri lebih dulu.."

"Setelah dibangunkan oleh suara kalian yang berisik, sekarang aku tak berminat untuk tidur lagi.."

Lalu sambil tertawa ia berpaling dan melanjutkan,

"Ditengah malam buta begini, sebenarnya karena persoalan apa kalian mendatangi bukit yang terpencil ini?"

"Bukit cian san merupakan sarang dari Dewi In Un serta anak buah andalannya. bisa jadi Dewi In un pribadi juga tinggal dibukit ini, sekarang boanpwee sedang berusaha melacaki letak sarang mereka itu."

" Apakah telah berhasil ditemukan?" "Belum" pemuda itu menggeleng,

"tak kusangka gerak aerik mereka begitu misterius dan sangat rahasia, aku lihat bukan pekerjaan yang gampang untuk menemukan tempat persembunyian mereka-"

"Lantas apa rencana kalian sekarang?"

"Boanpwee bermaksud meneruskan pelacakan disekitar tempat ini, bila tak berhasil kami akan segera tinggalkan bukit cian san, bagaimana dengan cianpwee sendiri"

setelah memperhatikan sekejap sekitar tempat itu. Kakek Tongkat sakti berkata :

"Aku toh tak bisa tidur lagi, tentu saja akan kutemani kalian, kita baru berpisah setelah meninggalkan bukit Cian san nanti"

"silahkan cianpwee" buru-buru Kho Beng berseru.

Tapi Kakek Tongkat sakti segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Aku kurang hafal dengan daerah disekitar sini, lebih baik kalian saja menjadi petunjuk jalanku."

Maka Molim sekalian berempat pun diperintahkan untuk berangkat lebih dulu, sementara Kho Beng, chin sian kun serta Kakek Tongkat sakti mengikuti dari belakang. Kali ini mereka berangkat menuju kebelakang bukit. suasana diatas bukit tersebut amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun seakan-akan bukit tersebut adalah sebuah bukit kosong yang tidak berpenghuni. Mendadak Dari kejauhan sana muncul tiga sosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan tinggi, menanti Molim sekalian mengetahui akan kehadiran orang-orang tersebut, kedua belah pihak sama-sama tertegun dan serentak menghentikan perjalanan.

Kho Beng, chin sian kun serta Kakek Tongkat sakti yang menyaksikan dari kejauhan. peristiwa tersebut segera menyusupkan diri kebalik pepohonan yang rimbun dan menyembunyikan diri

Dengan ilmu menyampaikan suara Kho Beng segera berbisik kepada Kakek Tongkat sakti:

"Tak disangka kita akan bersua disini-, mereka bertiga adalah pelindung hukum dari Dewi In wn, yaitu anggota dari partai kupu- kupu yang menghebohkan itu. Ternyata mereka bertiga adalah tang Bok kong, Liok Ci ang serta ong Thian siang."

"Bagus sekali" Kakek Tongkat sakti segera berseru dengan ilmu menyampaikan suara,

'"Ingin kulihat manusia macam apakah mereka itu?"

Dalam pada itu. Tang Bok kong sekalian telah membentak sambil tertawa dingin: "Heeehh.heehh.heeeh..kebetulan amat, kami memang sedang mencari kalian beberapa orang, sungguh tak disangka kita akan bersua dibukit ini."

Kemudian dengan nada berat, hardiknya :

"Ada urusan apa kalian datang ke bukit Cian san ini?" " Kami sedang mencari kalian" jawab Molim cepat.

Jawaban tersebut segera membuat Tang Bok kong jadi tertegun, serunya kemudian:

"Besar amat nyali kalian, kemana perginya Thia huhoat?" "Justru karena persoalan ini kami khusus datang kemari, Thia

huhoat telah tewas, kamilah yang telah mengubur jenasahnya." "Apa sebabnya dia tewas?" Tanya Tang Bok kong lagi sambil

kertak gigi.

Molim menghela napas panjang :

"Aaaaai, dia mati karena bunuh diri bahkan kematiannya mengenaskan sekali-"

ong Thian siang tak bisa menahan diri lagi, dengan suara dalam segera bentaknya : "Hayo cepat ceritakan keadaan yang sebenarnya, bila berani berbicara sembarangan, hati-hati dengan nyawa kalian semua"

"Kami memang sengaja datang kebukit Cian san untuk melaporkan kejadian ini kepada Dewi In Un"

"Tutup mulut" bentak Liok Ci ang keras-keras.

"Nama siancu bukan sebutan yang boleh diucapkan sembarangan orang. Hmmm.. cepat katakana, apa yang sebenarnya telah terjadi?"

sesudah menghela napas panjang, Molim beru berkata :

"Kami telah bersua dengan Thia huhoat di kuil Lu con bio, tatkala ia sedang mengajak kami merundingkan persoalan penting, tiba-tiba muncullah seorang pelajar rudin yang amat dekil"

"siapa namanya?" Tanya tang Bok kong.

Molim pura-pura mikir sejenak, akhirnya sambil bertepuk tangan serunya :

"Ahhhh, betul Dia bernama sipelajar rudin Ho heng"

"Pelajar rudin Ho heng?" bisik Tang Bok kong sambil menggigit bibir.

"Tak disangka bajingan tua inipun muncul kembali di dalam dunia persilatan.apa yang dia lakukan?"

"Perdebatan segera terjadi antara dia dengan thia huhoat, kami lihat pembicaraan diantara mereka saling bertolak belakang sampai akhirnya terjadilah pertarungan yang amat seru. Kami benar-benar tidak menyangka kalau sipelajar rudin yang kelihatannya ceking dan tak bertenaga itu ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu tangguh. Tidak sampai dua gebrakan kemudian ia telah berhasil memetik kupu-kupu diujung senjata Thia huhoat. sampai disitu Thia huhoat pun mengaku kalah dan siap berlalu dari situ, siapa tahu sipelajar rudin itu tidak mengijinkan pergi"

"Membunuh orang tak lebih kepala menempel tanah, apalagi yang hendak diperbuatnya?" Tanya TanBok kong sambil menggertak gigt.

"Dia memaksa Thia huhoat untuk memberitahukan tempat dan alamat siancu, tapi permintaan tersebut dtampik oleh Thia huhoat, kemudian entah mengapa ternyata ia menggigit putus lidah sendiri dan bunuh diri"

"Bagaimana dengan sipelajar rudin Ho heng?" Tanya TanBok kong setelah berpikir sejenak-

"Dia pergi dari situ" ucap Molim sambil menggeleng, "Kemanakah dia pergi aku kurang jelas." Dengan kemarahan yang meluap Tang bok kong berkata : "Thia Bu ki telah salah menilai orang itulah sebabnya dia

mengundang bencana kematian bagi diri sendiri. Aku rasa kalian berempat sama sekali tak berguna lebih baik kuhantar kalian pulang kerumah nenek saja, hitung-hitung untuk melampiaskan rasa dendam Thia bu ki"

sambil berkata dia segera mempersiapkan panji kupu-kupunya untuk melancarkan serangan.

Molim menjadi sangat etrperanjat setelah menyaksikan kejadian itu, cepat-cepat matanya celingukan ke sekeliling tempat tersebut kemudian sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, ia berseru:

"Tunggu dulu, tunggu dulu, jangan buru-buru turun tangan."

Tang Bok kong mendengus dingin, sambil melintangkan senjata panji kupu-kupunya didepan dada, ia berseru:

"Apalagi yang hendak kau ucapkan?"

Agaknya Molim cukup mengetahui akan kelihaian ke tiga orang tersebut, dengan kemampuan yang dimilikinya bersama Rumang sekalian berempat, paling banter Cuma bisa menahan seorang saja, bila musuh turun tangan bersama, mustahil bagi mereka untuk bisa meloloskan diri

Disamping itu diapun tidak tahu apakah Kho Beng sekalian berada disekitar situ atau tidaki maka sambil tertawa paksa katanya

:

"Terhadap kematian Thia huhoat, sesungguhnya kami turut bersedih Wati, tapi ilmu silat yang dimiliki sipelajar rudin Ho Heng kelewat tinggi, tak mungkin bagi kami untuk membantunya, oleh sebab itu terpaksa kami berangkat ke bukit Cian san untuk memberi laporan."

Tang bok kong sebera mendengus dingin:

"Darimana kalian tahu tentang bukit cian san?"

Molim menjadi tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, tapi segera jawabnya :

"Kami pernah mendengar pengakuan Thia huhoat yang konon berdiam di bukit Cian San. oleh karena itulah terpaksa kami datang kebukit Cian san untuk beradu nasib."

"sipelajar rudin itu telah pergi kemana?" Tanya Tang Bok kong kemudian dengan suara dingin. "Dia telah pergi ke lembah hati Buddha, konon hendak mencari Bu wi lojin serta Hwesio daging anjing"

Tang Bok kong sebera tertawa dingin: "Apalagi yang hendak kalian sampaikan?"

sambil berkata senjatanya kembali dipersiapkan, tampaknya ia sudah berniat untuk turun tangan lagi.

selain itu selain itu. Molim jadi tergagap, "hingga sekarang Kho Beng masih belum tahu kalau kami telah menghianatinya, ia masih menganggap kami sebagai orang kepercayaannya, ini berarti kami dapat memperalat dirinya dan pelan-pelan berusaha untuk mencuri kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu"

Tang Bok kong sebera mengulapkan tangannya seraya berkata : "Tidak usah dilanjutkan kata-katamu itu, terus terang saja aku

katakan, siancu sudah bosan dengan cara yang membuang waktu seperti itu.."

Kemudian setelah berhenti sejenaki bentaknya keras-keras : "Apalagi kau sudah tiada perkataan lain, hayo bersiap-siaplah

untuk menerima kematian"

senjata panji kupu-kupunya digetarkan siap hendak menyerang tubuh Molim-

Disaat yang kritis itulah, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring

"Tunggu sebentar"

Menyusul suara bentakan itu tampak empat sosok bayangan menusia melayang turun dihadapan Tang Bok kong sekalian bertiga-

Kehadiran bayangan manusia itu agaknya membuat Tang Bok kong, Liok Ci ang serta ong Thia n siang jadi tertegun, tapi buru- buru mereka menjura seraya berkata :

"Menjumpai Lengcu berempat"

Ternyata yang datang adalah Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu, Ciu hoa Lengcu, serta Tang soat Lengcu berempat.

Diantara keempat orang lengcu tersebut Molim sekalian pernah bertemu dengan ciu hoa Lengcu serta Tang soat Lengcu, diam-diam mereka merasa amat terperanjat-sementara itu Cun hong Lengcu telah maju beberapa langkah ke depan, lalu menegur:

"Apakah mereka berempat adalah budak-budak asing dari Kho Beng?"

"Benar" sahut Tang Bok kong seraya menjura. "Kami telah bersiap-siap akan membunuh mereka semua, sebab secara tidak langsung Thia huhoat telah tewas ditangan mereka."

sambil memutar biji matanya buru-buru Molim maju ke depan, kemudian ujarnya seraya menjura dalam-dalam:

"Lengcu berempat, sesungguhnya bukan begitu persoalannya"

Cun hong Lengcu tertawa-tawa, bukan menjawab dia malah bertanya :

"Tahukah kalian Kho Beng berada dimana sekarang?" Molim berpikir sejenaki kemudian sahutnya :

"sekarang kami tidak tahu, tapi kami dapat segera mencarinya, kami percaya dalam waktu singkat akan berhasil kami temukan."

"Bagus sekali." Cun hong Lengcu tertawa girang.

"Nah, adikku bertiga bagaimana menurut pendapatmu? Menurut penilaianku merekalah pilihan yang paling ideal"

Hee im Lengcu mengerling sekejap kearah Cun hong Lengcu serta Tang soat Lengcu, kemudian katanya sambil tersenyum:

"Toaci adalah pimpinan dari keempat Lengcu, sudah sepantasnya bila toaci yang mengambil keputusan, siau moy sekalian tak ada pendapat lain.."

Ucapan tersebut bernada mengumpak tapi bermaksud untuk mencuci tangan, kontan saja membuat Cun hong Lengcu berkerut kening, senyuman dinginpun segera menghiasi ujung bibirnya. sambil berpaling kearah Tang Bok kong sekalian, ia segera berkata :

"Aku ingin mengajukan satu permohonan kepada huhoat bertiga, apakah kalian bertiga sudi memberi muka"

Tang Bok kong agak tertegun, buru-buru sahutnya :

"Bila anda mempunyai suatu permintaan utarakan saja secara terus terang, kami pasti akan mentaatinya."

Cun hong Lengcu sebera tertawa :

"Aku mempunyai kegunaan yang lain atas keempat orang budak asing ini, bagaimana kalau kalian serahkan saja orang-orang tersebut kepadaku?"

"Kalau memang Lengcu bermaksud demikian, tentu saja ku akan mentaatinya. Cuma saja.."

"Cuma saja kenapa?" tukas Cun hong Lengcu sambil melotot. sekujur badan Tang Bok kong Nampak bergetar keras, buru-buru

ujarnya dengan kepala tertunduk: "yang aku maksudkan bukan persoalan mereka bertiga, melainkan pembunuhan Thia huhoat yang sebenarnya yakni si pelajar rudin Ho Heng."

Mendengar kata-kata itu, Cun hong Lengcu sekalian nampak terperanjat sekali. Hee im Lengcu segera menyela :

"Aku dengar si pelajar rudin ini belum pernah meninggalkan kawasan Pat huang mengapa secara tiba-tiba ia bisa muncul didaratan Tionggoan."

Padahal sederhana sekali jawabannya kata Ciu hoa Lengcu sambil tertawa dingin-

"Mungkin dia cun mendengar kabar tentang kitab cusaka Thian goan bu boh sehingga bermaksud mencari bagian."

Cun hong Lengcu mendengus dingin, sambil berpaling kearah Tang bok kong tanyanya :

"Dimanakah dia sekarang?"

sambil menunjuk kearah Molim, Tang bok kong berkata : "Menurut pengakuan orang ini sipelajar rudin tersebut telah pergi

ke lembah hati Buddha."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh : "Kalau dihitung sekarang berarti dalam lembah hati Buddha

sudah terdapat Bu wi lojin, Hivesio daging anjing serta sipelajar rudin, tiga orang jago tangguh" sambil mengkertak gigi Cun hong Lengcu menyela :

"jangankan baru mereka bertiga, sekalipun terdapat tiga puluh orang atau tiga ratus orang pun akan kubuat mereka hancur berantakan dan tak seorangpun dibiarkan hidup"

Lalu sambil mengulapkan tangannya kepada Tang Bok kong sekalian, ia berkata lagi:

"Kalian boleh mengundurkan diri dari sini."

Tang Bok kong saling berpandangan sekejap dengan Liok Ci ang serta ong Thian siang, kemudian sambil menjura mereka segera mengundurkan diri dari situ.

sepeninggal ketiga orang pelindung hukum itu, Cun hong Lengcu mengawasi sekejap wajah Molim sekalian, lalu katanya sambil tertawa :

"sebenarnya kalian pingin mati atau hidup?"

Buru-buru Molim membungkukkan badan dalam-dalam seraya berkata : "sebenarnya maksud kedatangan kami kesini adalah untuk menyampaikan kabar, perkataan Lengcu barusan benar-benar membuat kami susah untuk menjawabnya."

"Aku sengaja mengajukan pertanyaan tersebut kepadamu tak lain maksudku agar kalian mengetahui sampai dimana gawatnya keselamatan kalian. Bila kamu berempat berpikiran dua.sudah pasti kematian yang menimpa kamu semua bakal mengerikan sekali."

"Kami tak ingin mati, berjanji akan melaksanakan perintah Lengcu dengan setia"

"Apakah kau yakin bisa menemukan Kho Beng?" Tanya Cun hong Lengcu dengan suara dalam.

"Kami yakin bisa menemukannya" Molim mengangguk.- "Bagus sekali" Cun hong Lengcu tertawa,

"tapi aku hanya memberi waktu tiga hari kepada kalian, bila dalam tiga hari mendatang tetap tanpa berita, maka kalian semua akan kubunuh"

Molim sebera menganggukkan kepalanya berulang kali: "Itu mah gampang dan lagi waktu tiga hari sudah lebih dari

cukup buat kami, tapi apa yang harus kami perbuat setelah berhasil menemukan dirinya?" "Kalian cukup menyampaikan sebuah kabar kepadanya"

"Waahi itu mah sangat gampang tapi apa yang mesti kami sampaikan?"

"Katakan kepada Kho Beng bahwa encinya Kho yang ciu sudah disekap didalam gua pengikat cinta dibukit Cian san ini, dalam tiga hari mendatang dia akan dihukum mati, tapi dia bisa menyelamatkan jiwanya kalau mau. Asal datang dengan membawa kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut."

"Akan.akan kuingat baik-baik pesan itu" kata Molim kemudian tergagap. Tiba-tiba Hee im Lengcu berkata pula dengan suara dalam:

"Katakan kepada Kho Beng, inilah kesempatan terakhir baginya untuk menyelamatkan cicinya, sebab bila sampai lewat tiga hari, besar kemungkinan dia Cuma akan bertemu denganjenasah Kho yang ciu"

"Baik..baik,"

setelah hening sesaat, Cun hong Lengcu berkata lagi:

"Asal dia telah memasuki daerah terlarang dari bukit ini, pasti ada orang yang akan menyambut kedatangannya, tapi Kho Beng harus bersikap hati-hati, kuharap dia jangan mempergunakan keselamatan cicinya sebagai barang taruhan, bila dia berani bermain gila, maka yang bakal mampus paling dulu adalah cicinya."

Kemudian setelah tertawa terkekeh-kekeh, katanya lagi:  "Nah, adikku bertiga, sekarang kita boleh pulang, sungguh tak

disangka persoalan ini bisa dilaksanakan dengan lancar."

Hee im Lengcu sekalian hanya mengangguk tanpa menjawab, mereka berempat segera membalikkan badan dan berjalan menuju kearah puncak bukit.

sepeninggal keempat orang perempuan itu, Molim baru menyeka peluh dingin yang membasahi tubuhnya sambil berbisik dihati. "sungguh berbahaya, sungguh berbahaya.."

"Dari keempat orang perempuan itu, aku kenal dua orang diantaranya, "kata Rumang sambil menghampirinya.

"Mungkinkah mereka semua adalah anak buah dari Dewi In wn?" "ssst mereka adalah empat orang Lengcu" bisik Molim- "Kepandaian silat yang dimiliki konon jauh lebih hebat daripada

pelindung hukum, masih untung kita bisa menghadapi mereka secara baik, kalau tidaki waah bisa berbahaya sekali"

"Apa yang mesti kita takuti?" kata Rumang,

"bukankah cukong serta Kakek Tongkat sakti mengikuti kita secara diam-diam? Andaikata benar-benar terjadi pertarungan, yang bakal sial adalah keempat orang perempuan tersebut."

"Tapi hingga detik ini aku tak mendengar pesan cukong lewat ilmu menyampaikan suara, aku kuatir cukong tidak ikut datang kemari. " Kata Molim sambil celingukan kesekeliling tempat itu.

Mendadak terdengar Kho Beng berkata sambil tertawa ringan "Kalian kelewat mengkuatirkan soal itu padahal tak sedetikpun

kutinggalkan semua."

Tatkala Molim sekalian berpaling kearah sumber suara tersebut, tampak Kho Beng, Chin sian kun serta Kakek Tongkat sakti sedang berjalan keluar dari balik pepohonan.

Ternyata selama ini mereka bertiga bersembunyi hanya tiga kaki dari area, tapi kenyataannya Tang Bok kong serta keempat Lengcu sekalian tidak mengetahui akan kehadirannya.

Buru-buru Molim maju kedepan memberi hormat katanya : "oooh cukong, hamba sekalian hampir mati saking cemas dan

kuatirnya" Kakek Tongkat sakti segera mengulapkan tangannya seraya berkata :

"Aku rasa tempat ini bukan suatu daerah yang aman, lebih baik kita mencari tempat yang lain untuk berbincang-bincang"

Kho Beng dan chinsian kun segera mengangguki maka merekapun mengajak Molim sekalian meninggalkan tempat tersebut menuju kekaki bukit.

Lebih kurang lima li kemudian sampailah mereka disebuah bukit, meskipun bukit tersebut tidak terlalu tinggi, namun bisa melihat keadaan disekitarnya dengan jelas-sambil menunding keatas Kakek Tongkat sakti berkata :

"Tempat diatas sana merupakan tempat yang amat strategis, mari kita berbincang-bincang diatas sana."

Dia segera menggerakkan badannya dan berangkat lebih dulu menuju ke atas puncak bukit itu.

setibanya diatas puncaki dengan wajah serius dan amat berat Kho Beng menatap Molim sekalian seraya berkata:

"Kalian tak perlu menjelaskan lagi, semua pembicaraan yang berlangsung tadi telah kudengar dengan terang.."

"Tampaknya perubahan yang terjadi bertambah serius, cukong harus mencari akal yang bagus untuk menanggulangi persoalan ini."

"soal ini aku mengerti," tukas Kho Beng,

" tapi kalian., lebih baik pulang dulu ke lembah hati Buddha dan menunggu kedatanganku di situ."

"Cukong hendak menyuruh kami pergi ke lembah hati Buddha?" Tanya Molim sambil berkerut kening.

"ya a, kita harus pergi ke lembah hati Buddha,"

" bagaimana dengan cukong sendiri?" seru Rumang pula dengan mata melotot-Hapukim tak mau kalah dan berseru juga-

"Kami sudah bertekad akan mengikuti cukong, bila cukong hendak berangkat ke lembah hati Buddha, maka kami pun turut ke sana, bila cukong tak pergi, kami pun tak akan kesitu."

"Kalian semua toh sudah mengetahui," kata Kho Beng serius- "Aku hanya di beri waktu selama tiga hari, dalam tiga hari ke

depan aku harus berupaya sedapat mungkin untuk menyelamatkan ciciku."

Kemudian setelah berhenti sejenaki terusnya lagi: "Disamping itu, aku menyuruh kalian pergi ke lembah hati

Buddha tak lain adalah demi memikirkan keselamatan kalian semua," sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Molim berkata : "sekalipun keselamatan jiwa cici cukong amat berbahaya, tapi

kepergian cukong jauh lebih berbahaya lagi, aku rasa lebih baik,." Tiba-tiba ia berhenti bicara dan tidak melanjutkan lagi kata-

katanya .

Kho Beng sebera mendengus dingin:

"Lebih baik kenapa?"

setelah tertawa rikuh, Molim berkata :

"Andaikata cukong telah hapal dengan isi kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh itu, lebih baik diserahkan saja kepada mereka"

"Tidak bisa" tukas Kho Beng sambil tertawa dingin,

"Isi kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut adalah gambar-gambar petunjuk yang tak boleh keliru barang sedikitpun, kenapa aku mesti serahkan kepada mereka? Dan lagi masih ada dua sebab lain yang jelas tak mungkin bisa kuserahkan kitab tersebut kepada mereka,"

" sebab apakah itu?" Tanya Molim sambil tertawa getir.

"Kesatu, Dewi In Un adalah mush besar ku yang paling tangguhi diapun merupakan bibit bencana bagi umat persilatan, baik untuk kepentingan umum maupun kepentingan pribadi, aku tak bisa menyerahkan kedua lembar kunci tersebut kepadanya sehingga dia bisa menyelesaikan pelajaran ilmu silatnya, kedua, sekalipun aku benar-benar menyerahkan kedua lembar kitab pusaka tersebut, mereka belum tentu akan benar-benar membebaskan ciciku dengan begitu saja. "

"Kalau memang begitu, cukong lebih-lebih tak boleh pergi menyerempet bahaya," seru Molim semakin cemas,

"lebih baik kita undang datang Bu wi lojin, hwesio daging anjing serta pelajar rudin Ho Heng dan Kim bersaudara sekalian. Dengan kekuatan yang besar berarti kemungkinan selamatpun semakin besar pula."

"ya betul" sambung Mokim cepat,

"cukong toh bisa berkunjung ke Siau lim si dan meminta para hwesio siau lim si untuk menghimpun kekuatan dari pelbagai partai lainnya agar bersama-sama mengepung bukit Cian san ini"

Kho Beng sebera mendengus dingin. "Kenapa sih kalian begitu bawel? Apakah kuatir aku tertimpa musibah sehingga tak ada orang lain yang bisa mengurutkan nadi kalian lagi?"

Merah padam selembar wajah Molim sekalian karena jengah, agak tergagap segera katanya:

"Harap cukong jangan salah paham-"

Dengan suara dalam Kho Beng seoera berseru:

"Kalian dengarkan baik-baiki semua persoalan yang telah kuputuskan tak bisa ditawar lagi, kusuruh kalian pergi kelembah hati Buddha, lebih baik kalian menurut saja."

" Kami seaera mentaati perintah" kata Molim segera. Dengan suara dingin kembali Kho Beng berkata :

"seandainya nasib ku jelek dan tewas dalam peristiwa ini, paling tidak toh masih ada si pelajar rudin Ho Heng yang bisa mengurutkan nadi kalian, tak mungkin dia akan membiarkan kalian mampus secara mengenaskan."

Rumang nampak agak tertegun, kemudian serunya :

"Tapi tua Bangka itu berwatak jelek, andaikata dia menolak untuk mengurutkan nadi kami, bukankah urusan menjadi berabe-"

"andai kata sampai demikian, anggap saja nasib kalian memang lagi sial" tukas Kho Beng segera.

Kemudian setelah berhenti, katanya lagi, "sebetulnya kalian mau pergi atau tidak?" "Pergi, pergi," sahut Molim terkejut,

"semoga cukong baik-baik menjaga diri, hamba akan segera berangkat"

secara beruntun dia mundur tiga langkah sambil memberi tanda kepada rekan-rekannya, tak selang berapa saat kemudian bayangan tubuh mereka berempat telah lenyap dibalik kegelapan sana.

sepeninggal keempat orang itu, sambil menghela napas Kho Beng segera berpaling kearah Chin sian kun, seraya berkata :

"Nona Chin, bersediakah kau untuk membantu aku mengerjakan sesuatu."

" Tidak bersedia" Chin sian kun menggeleng.

sementara Kho Beng masih tertegun, dengan agak emosi Chinsian kun telah berkata lagi:

"Kho kongcu, kau tak usah menggunakan akal untuk mengusirku pergi, setelah aku bertekad menemanimu untuk menanggulangi persoalan ini, tak nanti aku akan meninggalkan dirimu dalam keadaan demikian"

" Tapi-" Kho Beng menghela napas panjang.

Kembali Chin sian kun menggoyangkan tangannya berulang kali, menukas perkataannya yang belum selesai:

"Aku cukup memahami maksud hatimu, mungkin aku memang tak bisa membantu dirimu malah sebaliknya akan menjadi beban untukmu, tapi kau sendiri harus tahu, dalam suatu pertarungan belum tentu hanya ilmu silat yang diandalkan, paling tidak aku toh bisa memberikan ide atau akal lain."

"Nona, aaai..kalau toh tekadmu sudah bulat, aku. .a ku hanya bisa mengucapkan terima kasih.."

Chin sian kun tertawa :

"Bila kau berpendapat bahwa kita harus menanggulangi kesulitan ini secara bersama, rasanya sepatah kata terima kasih pun sudah terlalu berlebihan.."

"Bagaimana terhadap diriku? Apakah kaupun hendak mengusirku pergi dari sini?" sambung Kakek Tongkat sakti secara tiba-tiba sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Kho Beng tertawa getir.

"Boanpwee tak berani berbuat demikian, tapi..bukankah cianpwee sedang berusaha untuk mencari Thian cun yang cianpwee? Aku rasa cianpwee tak perlu membuang waktu lagi."

 

Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).