Kedele Maut Jilid 26

 
Jilid 26

“Yaa benar” sambung Chin sian kun, “mari kita selesaikan persoalan tsb sekarang juga, toh urusan segera akan menjadi beres.”

Kho Beng yg berada disisinya segera mengawasi kakek berkerudung itu tajam-tajam, lalu hardiknya dg suara keras :

“Siapa kau? Berani benar berkaok-kaok semaunya sendiri ditempat ini…?”

Kakek berkerudung itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak :

“Haaahh…haaahh…haaahh…walaupun hari ini kau sudah memperoleh kemajuan yg pesat dalam ilmu silat, bukan berarti aku sudah memandang sebelah mata kepadamu, terus terang saja aku katakan diriku ini adalah Thia Bu ki, salah satu diantara dua belas orang pelindung hukum dari Siancu!”

“Kalau begitu kedatanganmu memang sangat kebetulan” kata Kho Beng kegirangan, “aku memang sedang mencari tahu dimanakah siluman perempuan In nu berdiam diri, aku rasa kau bisa memberitahukan alamat kepadaku bukan?”

“Kurang ajar!” bentak Thia Bu ki marah, “berani amat kau menghina Siancu kami? Hmmm, pelanggaranmu itu pantas kalau dijatuhi hukuman mati…”

Sebetulnya dia sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap sipelajar rudin Ho Heng yg dianggapnya sebagai si pengemis itu, tapi akhirnya dia toh memperhatikan juga sekejap, tanyanya kemudian dg nada menghina :

“Siapa pula dirimu? Mengapa ikut bergerombol bersama mereka?”

Pelajaar rudin Ho Heng memandang sekejap kearah Kho Beng, kemudian baru ujarnya sambil tertawa :

“Apakah anda bertanya kepadaku si pelajar?”

“Aku tak peduli kau adalah seorang pelajar atau seorang guru, aku Cuma bertanya apa sebabnya kau berkelompok bersama mereka?” bentaknya sengit.

Si pelajar rudin Ho Heng menghela napas panjang :

“Aaai…aku sipelajar bernasib kurang mujur, ketika ujian negara yg kuikuti berulang kali, aku gagal lulus akhirnya dg perasaan apa boleh buat aku mengembara dalam dunia persilatan dan mencari sesuap nasi dg kesana kemari, sungguh beruntung nasibku hari ini rada mujur, aku telah bertemu dg beberapa orang langganan yg berduit, kami telah bicarakan secara baik-baik bahwa temanku ini akan menggunakan tenaga aku si pelajar dg upah dua tahil perak setiap hari, waaah…coba kau bayangkan sendiri, bila aku dipakai selama setahun saja sudah pasti aku sipelajar akan menjadi seorang hartawan yg cukup lumayan….”

“Untuk apa mereka menyewa dirimu? Memangnya membutuhkan tenaga utk membuat syair atau membacakan dongeng?” jengek Thia Bu ki sinis.

“Oooh, bukan, bukan” si pelajar rudin menggoyangkan tangannya berulang kali, “mereka bukan mengundang utk menjadi guru sastra, tapi menyewa aku si pelajar utk menjadi tukang pukulnya.” “Haaahh…haaahh…haaahh…” Thia Bu ki segera tertawa terbahak-bahak, “betul-betul satu berita yg amat lucu, dg kemampuan seorang setan penyakitan macam dirimu, mau jadi tukang pukul macam apakah dirimu itu?”

“Jangan kau menilai orang dari bentuk rupanya, yg penting adalah isinya” ucap si pelajar rudin sambil menggeleng, “biar pun tampangku kurang meyakinkan, tapi kepandaian silatku cukup tangguh, kau tahu delapan belas senjata dapat kupergunakan semua secara sempurna.”

Utk kesekian kalinya, Thia Bu ki memperhatikan si pelajar rudin itu dari atas kepala hingga keujung kaki, lalu jengeknya lagi sambil tertawa dingin :

“Heeehh…heeehh…heeehh…kalau toh kau sudah bersedia menjadi tukang pukul mereka, andaikata menghadapi soal pertarungan, tentunya kau pula yg akan tampilkan diri utk membela bukan?”

“Oooh, tentu saja, tentu saja…! Setelah menerima upah, tentu saja aku mesti berusaha utk melenyapkan bencana atas dirinya. Kau tahu bukan, saban hari aku si pelajar telah menerima gaji sebesar dua tahil perak, tentu saja bila bertemu dg urusan yg menyangkut nyawa, aku si pelajar lah yg akan tampilkan diri utk menghadapinya.”

“Mengapa kau tidak mencoba utk menimbang diri sendiri, mampukah kepandaianmu mengatasi setiap masalah?” ejek Thia Bu ki lagi sambil tertawa.

Si pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terkekeh-kekeh : “Cukup berbobotkah diriku utk mengatasi masalah tsb, hanya

orang lain yg mampu menimbangnya, aku sipelajar tidak mengerti bagaimana caranya utk menimbang kemampuan sendiri.”

“Bagus sekali” Thia Bu ki segera membentak keras, “malam ini juga aku akan mencoba utk menimbang sampai dimanakah bobot kemampuan yg kau miliki….”

Sesudah berhenti sejenak, kembali tegurnya dg suara dalam : “Senjata apa yg hendak kau gunakan?”

Si pelajar rudin Ho Heng menggeleng kepalanya berulang kali, katanya :

“Aku si pelajar tidak pernah mempergunakan senjata, aku pun tak memerlukan senjata…sebab ak si pelajar adalah orang yg malas, bila mesti menggembol senjata utk berjalan, waaah…repotnya setengah mati, maka aku lebih suka tidak membawa apa-apa” “Bila bertemu dg jagoan yg berilmu tinggi, dg silat apa kau

hendak menghadapinya?” tanya Thia Bu ki mendongkol. “Jago yg benar-benar berilmu tinggi tidak terlalu banyak

jumlahnya didunia ini, kalau biasa-biasa mah cukup kuandalkan sepasang kepalanku ini, karena kepalanku sudah lebih dari cukup…”

Lalu setelah mengerling sekejap sekitar ruangan, kembali dia berkata :

“Seandainya benar-benar bertemu dg lawan tangguh, aku sipelajar pun menyambar benda apa saja yg kebetulan ada disekitar sana, sebab setiap benda yg ada didunia ini tak ada sebuahpun yg tak bisa dipergunakan sebagai senjata.”

Thia Bu ki mendengus dingin :

“Hmmm…kalau didengar dari perkatanmu sih nampaknya kepandaianmu sangat hebat…coba kau lihat, senjata macam apakah yg hendak kau comot sekarang?”

“Ooooh…kalau begitu kau hendak menantang aku sipelajar utk bertarung?” tanya si pelajar rudin sambi tertawa cengar cengir.

“Tepat sekali! Aku memang bermaksud demikian!”

Masih juga tertawa cengar cengir, si pelajar rudin Ho Heng berkata lebih jauh :

“Apakah kau menganggap aku si pelajar telah bertemu dg musuh yg sangat tangguh?”

“Haaahh…haaahh…haaahh…kesediaanku utk bertarung melawanmu pun sudah merupakan sikap yg cukup menghargai dirimu…”

“Aku sipelajar pun cukup menghargai kemampuanmu” jengek si pelajar rudin sambil tertawa aneh, “baiklah, aku akan mencomot sebuah benda sebagai senjata…”

Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya lebih jauh :

“Aaah…benda yg bisa dipergunakan dalam kuil miskin ini sungguh tidak terlalu banyak, terpaksa aku harus menggunakan sekenanya saja biar kupakai yg ini saja!”

Sambil berkata tangannya segera mencomot kedepan, sebuah tempat hio yg berada diatas altar tahu-tahu sudah berada dalam genggamannya. Benda itu besarnya tak lebih Cuma seperti mangkuk nasi, biarpun berada dalam genggamannya, tak bisa terhitung sebagai senjata yg membahayakan.

Kejadian tsb bukan saja membuat Thia Bu ki jadi tertegun bahkan Kho Beng serta Chin sian kun pun ikut merasa terperanjat sekali.

Terdengar Thia Bu ki tertawa terbahak-bahak, dia segera membalikkan tangannya dan tahu-tahu sudah mengeluarkan sebuah panji kupu-kupu yg egera digetarkan ditengah udara.

Dg angkuh dia menggoyangkan senjatanya dihadapan si pelajar rudin Ho Heng, lalu tegurnya :

“Apakah kau kenal dg senjataku ini?”

“Bukankah senjata tsb bernama panji kupu-kupu?” sahut si pelajar rudin acuh tak acuh.

Agaknya jawaban si pelajar tsb jauh diluar dugaan Thia Bu ki, dia nampaknya agak melengak, kemudian serunya :

“Setelah mengenali senjataku, tentunya kau pun tahu asal usul senjata ini beserta kedudukanku bukan?”

“Heeehh…heeehh…heeehh…sedikit banyak tentu saja tahu, mungkin kau adalah anak murid dari partai kupu-kupu bukan?”

“Kupu-kupu terbang berpasangan, banjir darah melanda dunia persilatan, saat ajalmu telah tiba!” seru Thia Bu ki sambil menggoyangkan senjatanya.

“Aaaah, belum tentu!” jengek si pelajar rudin sambil menggelengkan kepalanya.

Thia Bu ki tidak banyak berbicara lagi, senjata panji kupu- kupunya bagaikan menyodok seperti juga menusuk, langsung ditujukan kedada si pelajar rudin Ho Heng.

“Waaa…senjatamu memang luar biasa” teriak si pelajar rudin setengah mengejek, “tapi sepasang kupu-kupumu menarik hati”

Hiolo yg berada ditangannya segera digetarkan, tampak selapis cahaya kuning menyebar keempat penjuru untuk melindungi tubuhnya, dg suatu gerakan ringan badannya mundur sejauh lima kaki lebih jauh dari posisi semula.

Thia Bu ki menarik kembali senjatanya kemudian bentaknya keras

:

“Hey, kalau merasa punya kepandaian, ayo jangan main

sembunyi, mari kita bertarung tiga ratus jurus.” Walaupun begitu, timbul juga perasaan ngeri didalam hatinya, sebab gerak gerik si pelajar rudin yg kacau dan tak beraturan dikenali sebagai suatu ilmu gerakan tubuh yg amat lihay, hal mana menyadarkan dirinya bahwa pelajar yg dihadapinya bukan jagoan tak berguna seperti apa yg diduganya semula.

Sementara itu si pelajar rudin telah menggelengkan kepalanya sambil tertawa, katanya :

“Aku sipelajar merasa amat sayang dg sepasang kupu-kupu itu dan tak ingin merusaknya, janganlah kita bertarung tiga ratus gebrakan karena terlalu merepotkan, selamanya aku belum pernah bertarung dg musuh melebihi sepuluh gebrakan, kalau dalam jangka sepuluh jurus bisa menang ya anggaplah unggul, kalau tak bisa menang yaa anggaplah saja kalah.”

“Sepuluh jurus? Baik, kita tetapkan sepuluh jurus saja, sambutlah seranganku ini!” bentak Thia Bu ki.

Panji kupu-kupunya digoncangkan keras-keras, lalu dg jurus “pentang sayap terbang berpasangan” ia melepaskan sebuah serangan yg mah dahsyat.

Tiba-tiba saja tampak sepasang kupu-kupu yg berada diujung senjatanya meluncur kemuka dg kecepatan luar biasa, satu berubah menjadi dua, lalu dua menjadi empat, dalam waktu singkat bayangan kupu-kupu yg berlapis-lapis sudah mengurung seluruh tubuh pelajar rudin tersebut…

Menghadapi serangan yg begitu gencar, si pelajar rudin hanya menggoyangkan badannya kian kemari seperti orang sempoyongan, sementara hiolo ditangannya bergoncang tiada hentinya.

Lapisan cahaya kuning yg terpancar keluar segera membungkus tubuhnya berlapis-lapis, kendatipun bayangan kupu-kupu sangat banyak dan menyerang secara ganas, kenyataannya semua ancaman tsb tak mampu berbuat banyak terhadap dirinya.

“Criiing…!”

Tiba-tiba bergema suara dentingan yg amat nyaring, disusul kemudian tampaklah bayangan kupu-kupu yg menyilaukan mata tadi hilang lenyap seketika itu juga.

Thia Bu ki dg perasaan ngeri bercampur kaget nampak mundur kebelakang, meski poanji kupu-kupunya masih berada ditangan, akan tetapi sepasang kupu-kupu diujung senjata tsb telah berpindah tangan, kini benda tsb berada dalam genggaman si pelajar rudin. Kho Beng dan Chin sian kun maupun Molim sekalian yg berada disisi arena meski dapat mengikuti semua peristiwa itu secara jelas, namaun bagaimana cara si pelajar rudin memetik sepasang kupu- kupu dari ujung senjata lawan, ternyata tak seorangpun yg sempat melihat dg jelas….

Lama sekali Thia Bu ki berdiri tertegun, kemudian baru teriaknya

:

“Ilmu kepandaian apa yg telah kau pergunakan….?”

Si pelajar rudin Ho Heng melemparkan hiolo tsb kedepan, dg

tenang tapi mantap benda tadi segera mendarat kembali diatas altar, setelah itu dia baru berkata sambil tertawa hambar.

“Inilah yg disebut jurus “Petik bunga menangkap kupu-kupu” Dg penuh kasih sayang dipandangnya kupu-kupu itu sekejap,

kemudian dimasukkannya kedalam saku bajunya yg dekil.

Sambil menggertak gigi menahan amarah, Thia Bu ki berkata : “Aku benar-benar punya m ata tak mengenal bukit Tay san, boleh

aku tahu siapa namamu sehingga dikemudian hari bisa mohon petunjuk lagi…?”

“Aku si pelajar bernama Ho Heng!” jawab si pelajar rudin itu sambil tertawa.

Thia Bu ki kelihatan sangat terkejut, segera serunya tertahan : “Oooh…rupanya jago lihay dari Pat huang, tak aneh kalau

begitu…”

“Sayang sekali terlalu terlambat kau mengetahui segala sesuatu itu…”

“Tidak terlalu terlambat” tukas Thia Bu ki sambil menggertak gigi, “aku segera akan melaporkan kejadian ini kepada Siancu serta mencatat nama besarmu baik-baik, dikemudian hari kami pasti akan mengunjungi anda sambil menyatakan terima kasih…nah sekarang maaf kalau aku hendak mohon diri lebih dulu!”

Ia menggerakkan sepasang bahunya dan siap meninggalkan tempat tersebut….

“Eeei…tunggu dulu, tunggu dulu!” pelajar rudin Ho Heng segera menghalang jalan perginya.

Thia Bu ki menjadi tertegun.

“Membunuh orang tak lebih hanya kepala menempel tanah, aku toh sudah mengaku kalah, apa yg hendak kau lakukan sekarang”

Si pelajar rudin Ho Heng tertawa : “Yaa benar, semestinya aku si pelajar tak pantas menyusahkan dirimu lagi tapi aku sudah menerima gaji dua tahil perak saban hari apakah kau diperkenankan pergi dari sini atau tidak rasanya aku si pelajar tak bisa memutuskan sendiri…”

Kemudian sambil menjura kepada Kho Beng, katanya lebih jauh : “Tuanku, sekarang tugas aku si pelajr sudah selesai, kecuali kalau

dia tak mau menuruti perkataanmu, aku sipelajar pasti akan turun tangan dg sendirinya utk memberi pendidikan kepadanya.”

Thia Bu ki benar-benar mendongkol sekali gemasnya, dia hanya bisa menggertak gigi keras-keras.

Sementara itu Kho Beng telah maju keepan, katanya kemudian sambil tertawa :

“Sobat, akupun tak ingin terlalu menyusahkan dirimu, keinginanku tak lebih hanya berharap kau sudi menjawab sebuah pertanyaan ku saja, aku rasa kau pasti tahu bukan dimanakah letaknya sarang dewi In nu?”

“Sebagai salah satu dari dua belas pelindung hukum Siancu, tentu saja aku mengetahui alamatnya” sahut Thia Bu ki dingin, “tapi aku tak bakal memberitahukan kepadamu, lebih baik matikan saja harapanmu itu…”

Kho Beng menjadi gusar sekali, serunya :

“Kuanjurkan kepadamu lebih baik menuruti saja permintaanku, sebab kalau tidak, hmmm! Kau sendiri yg bakal rugi”

“Hmmm, aku justru sengaja tak mau bicara, apa yg bisa kau lakukan….?”

Tidak sampai perkataan tsb selesai diucapkan, panji kupu-kupu yg telah kehilangan sepasang kupu-kupunya itu telah digetarkan kembali keras-keras kemudian langsung disodokkan kedada Kho Beng.

Melihat datangnya serangan tsb, Kho Beng menjadi amat gusar, pedangnya segera diloloskan dari sarungnya, kemudian dg jurus Thian goan kui wi, dia tangkis datannya ancaman panji kupu-kupu dari Thia Bu ki….

Pada saat yg bersamaan pula si pelajar rudin menerjang kemuka dan melepaskan sebuah tendangan kilat ketubuh Thia Bu ki.

Sebetulnya keistimewaan yg dimiliki senjata panji kupu-kupu itu terletak pada sepasang kupu-kupu diujung senjata tsb, dg lenyapnya kupu-kupu itu maka senjata tsb menjadi tak ada gunanya sama sekali. Itulah sebabnya hanya dalam satu gebrakan saja, senjata tsb sudah gigetarkan oleh pedang Kho Beng hingga terlepas dari genggaman dan mencelat keluar pintu.

Tendangan yg dilepaskan si pelajar rudin Ho Heng barusan memang lihay sekali, tendangan tsb persis menghajar tulang selangkangan sebelah kanan Thia Bu ki.

Akibatnya ia nampak mundur dua langkah dg sempoyongan, kemudian roboh terjungkal keatas tanah.

Kho Beng tidak berayal lagi, kelima jari tangannya segera dikebaskan kedepan utk menotok jalan darah Cian kong hiat dikiri kanan bahunya serta jalan darah Yong swan hiatnya.

Dg tertotoknya jalan darah Cian kong hiat serta Yong swan hiat, otomatis keempat anggota badan Thia Bu ki menjadi hilang fungsinya, meski begitu bagian tubuh yg lain tetap berjalan normal dan sama sekali tidak ada gangguan.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh si pelajar rudin Ho Heng berkata : “Hey situa bangka, inilah yg disebut mencari penyakit buat diri

sendiri, sungguh menggelikan, sungguh menggelikan!”

Sementara itu Kho Beng telah berjongkok sambil membentak keras :

“Sekarang kau tentu sudah sadar bukan, tidak berbicara pun tiada gunanya, biarpun aku mesti mencincang tubuhmy sedikit demi sedikit, aku tetap akan memaksamu memberi keterangan.”

Mendadak Thia Bu ki tertawa seram, katanya : “Heee…heee…heee…kalau aku bisa membuat harapan kalian

terkabul, percuma saja menjadi salah satu diantara dua belas pelindung hukum Siancu, biar aku bakal mampus tapi cepat atau lambat kalian pun jangan harap bisa lolos dari cengkeraman maut partai kupu-kupu!”

Pelajar rudin Ho Heng nampak agak tertegun, kemudian teriaknya :

“Hati-hati, tua bangka itu hendak bunuh diri.”

Tapi sayang peringatan itu toh masih terlambat selangkah, tampak darah segar menyembur keluar dari mulut Thia Bu ki, menyusul kemudian terlihat sepotong gu,palan daging berwarna merah turut tersembur keluar, rupanya dia telah bunuh diri dg menggigit putus lidah sendiri.

Dg gemas Kho Beng menghentak-hentakkan kakinya keatas tanah sambil berseru : “Akulah yg teledor, sayang sekali titik terang yg berhasil kita peroleh dg susah payah harus terputus kembali ditengah jalan…”

Setelah menyemburkan beberapa gumpal darah segar, selembar nyawa Thia Bu ki pun turut melayang meninggalkan raganya.

Dalam pada itu Molim telah mendekati jenasah Thia Bu ki serta mencopot kain kerudungnya, kemudian ia berkata :

“Bajingan inilah yg telah menggaet kami utk masuk kedalam komplotannya”

Tergerak hati Kho Beng, mendadak ia bertanya :

“Selain dia, siapa lagi yg sering mengadakan hubungan kontak dg kalian?”

Molim jadi terkejut sekali, buru-buru katanya :

“Sudah tak ada, selain dia seorang kami tidak mengenal yg lain…”

Pelajar rudin Ho Heng segera menyela sambil tertawa terkekeh- kekeh :

“Padahal persoalan ini tak usah digelisahkan, kita bisa menyelidiki secara pelan-pelan…”

Kemudian setelah melirik sekejap kearah Molim, Mokim, Hapukim serta Rumang, katanya lebih jauh :

“Ilmu mengurut nadi telah kuajarkan kepada majikan kalian, asal kamu semua tak punya pikiran nyeleweng dan menuruti perintahnya, aku rasa tak akan terjadi sesuatu atas dirimu berempat.”

“Cukong, benarkah kepandaian tsb telah kau pelajari?” dg ragu- ragu dan gelisah Molim berpaling kearah Kho Beng.

Sianak muda itu segera mengangguk :

“Tentu saja telah kupelajari, kalian tak usah kuatir, setahun kemudian, cianpwee ini pasti akan membebaskan kalian dari pengaruh ilmunya, disamping itu aku pun tetap akan menepati janjiku dulu, yakni mewariskan ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kalian”

“Terima kasih cukong…” buru-buru Molim berseru. Sambil tertawa pelajar rudin segera berkata pula :

“Kho Beng, belum terlalu lama aku sipelajar meninggakan kawasan Lam huang, munculnya kembali orang-orang partai kupu- kupu membuat hatiku sangat tak tenang, sebetulnya siapa sih dewi In nu itu? Dan apa yg telah terjadi selama ini?”

Setelah menghela napas, Kho Beng berkata : “Dewi In nu adalah dalang dari peristiwa pembunuhan berdarah ketujuh puluh lembar jiwa keluarga Kho kami, sedangkan orang- orang dari partai kupu-kupu tak lain adalah para pelindung hukumnya…”

“Kalau begitu sungguh aneh sekali!” bisik si pelajar rudin sambil berkerut kening.

“Maksud cianpwee…” Kho Beng kelihatannya agak tercengang. Dg wajah amat serius pelajar rudin Ho Heng berkata :

“Kau tahu, sewaktu partai kupu-kupu masih malang melintang didalam dunia persilatan, waktu itu kemampuan mereka amat dahsyat hingga tujuh partai besar pun bukan tandingan mereka. Badai pembunuhan berdarah yg berlangsung pada seratus tahun berselang itu hampir memporak porandakan seluruh dunia persilatan andaikata tiga dewa Sam gwa sam sian tidak segera munculkan diri, entah bagaimanakah penyelesaian terhadap pembantaian berdarah itu. Akibat dari peristiwa ini, pihak partai kupu-kupu telah mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia persilatan, tapi sempat meninggalkan nyanyian yg berbunyi : Kupu-kupu terbang berpasangan, banjir darah melanda dunia persilatan, hujan air mata bersedihan, bangkai berserakan menganak bukit.”

“Tentang masalah ini, boanpwee sudah pernah mendengar” Pelajar rudin Ho Heng manggut-manggut kembali katanya : “Setiap anggota partai kupu-kupu hampir semuanya angkuh dan

berpandangan tinggi, coba bayangkan sendiri, apa sebabnya mereka bersedia tunduk dibawah perintah seorang wanita dan mau bnertindak sebagai pelindung hukum dari dewi In nu?”

Kemudian sambil menunding kearah jenasah Thia Bu ki yg terkapar ditengah ruangan, kembali dia berkata :

“Bayangankan pula sikap situa bangka tsb, dia lebih rela mati daripada mengungkapkan letak sarang dari dewi In nu, dari sini bisa disimpulkan bahwa persoalannya lebih tak gampang…”

“Yaa, persoalan ini memang membingungkan sekali!” kata Kho Beng sesudah termenung sebentar.

Sambil memicingkan matanya, si pelajar rudin Ho Heng kembali berkata :

“Dalam masalah demikian ini hanya ada satu kemungkinan, yakni bisa jadi dewi In nu adalah salah seorang tokoh dari partai kupu- kupu.” Bagaikan baru memahami akan sesuatu, dg rasa kaget Kho Beng segera berseru :

“Yaa, tebakan cianpwee memang tepat sekali, kemungkinan besar memang begitulah kenyataannya, kalau tidak mengapa tokoh- tokoh partai kupu-kupu seperti Thia Bu ki, Ong Thian siang, Tang Bok kong serta Liok Ci ang sekalian begitu rela menjadi pelindung hukumnya?”

“Benar!” pelajar rudin manggut-manggut, “ditambah lagi tujuannya berada dikitab pusaka Thian goan bu boh, persoalan pun rasanya semakin jelas lagi, sebab peristiwa berdarah yg terjadi pada seratus tahun berselang pun timbul dari kitab pusaka Thian goan bu boh yg lenyap secara tiba-tiba, karena kitab pusaka Thian goan bu boh sesungguhnya adalah benda mestika milik partai kupu-kupu.”

“Tapi ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh hanya terdiri dari ilmu kepalan, ilmu pukulan dan ilmu pedang, sama sekali tidak tercantum ilmu panji kupu-kupu seperti andalannya, aku rasa dibalik kesemuanya ini…”

Dg cepat si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya menukas pembicaraannya yg belum selesai itu, katanya :

“Tentang soal ini justru aku….sendiri pun tidak mengerti tapi menurut berita yg tersiar, kenyataannya memang begitu, jadi bila masih ada persoalan lainnya, jelas aku tak akan mengetahuinya…”

Tiba-tiba ia memutar biji matanya sambil menambahkan : “Lebih baik kau sendiri yg mencegah persoalan pelik itu, aku

sendiri harus segera pergi!”

“Cianpwee hendak pergi?” tanya Kho Beng agak tertegun. Pelajar rudin tertawa :

“Aku si pelajar khusus meninggalkan Lam huang datang kemari, tentunya bukan dikarenakan urusanmu, bukan?”

Merah jengah selembar wajah Kho Beng, segera tanyanya : “Lantas cianpwee hendak kemana?”

Pelajar rudin Ho Heng berpikir sebentar, lalu katanya : “Hwesio daging anjing, situa Bu wi semuanya termasuk orang-

orang yg ingin kujumpai dalam perjalananku kali ini, biar aku pergi mencari mereka berdua saja.”

“Saat ini kedua orang tua tsb berada dilembah hati buddha, apakah cianpwee mengetahui tempat tsb?” buru-buru Kho Beng bertanya.

Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terbahak-bahak : “Haa…haaa…haaa…lembah hati buddha adalah sarang lama dari hwesio daging anjing, aku sipelajar pernah berkunjung kesitu, nah selamat tinggal….”

Sambil berkata, tubuhnya sudah beranjak pergi meninggalkan ruangan tsb.

Cepat-cepat Molim menyusul kedepan sambil berteriak :

“Hey situa, setelah berkunjung kelembah hati buddha, kau masih hendak pergi kemana? Lebih baik kita jangan sampai kehilangan kontak dg dirimu!”

“Kenapa?” tanya si pelajar rudin sambil mendengus. Agak tergagap Molim segera berkata :

“Andaikata cukong kami lupa cara menguruti nadi kami, dia bisa mencarimu utk belajar kembali.”

Mendengar perkataan ini, si pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terbahak-bahak tanpa menjawab pertanyaan dari Molim lagi, ia segera menggerakkan sepasang bahunya.

Laksana anak panah yg terlepas dari busurnya dia segera melesat kemuka meninggalkan tempat tsb, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Menyaksikan si pelajar rudin tidak menggubris sama sekali atas kekuatirannya, Molim menjadi amat m endongkol sambil menggigit bibirnya ia berseru :

“Aku benci setengah mati dg si tua bangka tsb!”

“Yaa betul betul mak nya…hari ini kita lagi apes semua” teriak Rumang pula sambil melonjak-lonjak, “sialan, kita bisa mati penasaran…”

“Tutup mulut!” mendadak Kho Beng membentak keras.

Molim dan Rumang tak berani bicara lagi, sedang Mokim serta Hapukim nampak agak terkejut, paras muka mereka berubah hebat, namun selain mengawasi pemuda itu dg termangu, tak seorangpun berani bersuit lagi.

Dg suara yg keras dan tajam kembali Kho Beng berkata : “Kalian anggap perbuatan kalian berempat yg berhianat dan

berniat jahat sama sekali tidak kuketahui? Hmmm, selama ini aku hanya membungkam karena aku masih berharap kalian bisa bertobat serta kembali kejalan yg benar. Kalian tahu, malam ini Ho cianpwee sudah menaruh ulat utk membunuh kalian semua, coba kalau aku tidak mengingat-ngingat hubungan kita yg terdahulu, mungkin tubuh kalian sudah dingin dan kaku sekarang….” Buru-buru Molim berseru :

“Yaa, memang cukong telah menyelamatkan kami, selama hidup kami tak akan melupakan kebaikan dari cukong!”

Kembali Kho Beng mendengus :

“Hmm, lantas kalian lagi mengumbar nafsu apa sekarang?” “Hamba sekalian mengerti salah!”

“Hmm, ingat baik-baik, mulai hari ini kalian berempat harus saling menjaga diri baik-baik, dalam perkataan maupun tindak tanduk kalian mesti bersikap lebih hati-hati, bila salah seorang diantara kamu berempat telah melakukan kesalahan, akibatnya kalian berempat yg akan kuhukum, bila ada seseorang diantara kalian berhianat, maka aku tak akan menguruti kalian berempat, biar kulihat kalian berempat mampus bersama-sama….”

Berubah hebat paras muka keempat orang itu, serempak mereka berteriak bersama-sama :

“Cukong tak usah kuatir, betapa pun besarnya keberanian kami, tak nanti kami berani mempunyai pikiran jahat lagi.”

“Bagus sekali!” Kho Beng manggut-manggut, “asal kalian dapat berbuat demikian akupun tak akan menyia-nyiakan pengharapan kalian semua.”

Tiba-tiba Chin sian kun menyela :

“Kho kongcu, fajar sudah hampir menyingsing, kita harus segera memutuskan langkah kita berikutnya!”

Kho Beng hanya mengangguk tanpa menjawab, keningnya berkerut kencang, jelas untuk sesaat sulit baginya utk mengambil keputusan, ia tak tahu kemana harus pergi?

Chin sian kun yg menyaksikan hal itu, kembali berkata : “Untung saja Bok cuncu sudah kembali ke kuil Siau lim si utk

memberikan laporan pada ketuanya dan segera menurunkan perintah kepelbagai jago partai utk mengutus jago-jagonya melacaki jejak siluman perempuan In nu, aku rasa kita harus kembali dulu ke lembah hati Buddha!”

Kho Beng termenung berapa saat, mendadak ia menggelengkan kepalanya seraya berkata:

“Tidak, utk sementara waktu ini aku tak ingin bertemu dg Bu wi cianpwee maupun hwesio daging anjing.”

“Kenapa?” tanya si nona sambil menghembuskan napas panjang. Kho Beng menghela napas panjang, katanya : “Sewaktu hendak meninggalkan lembah hati Buddha, aku pernah sesumbar kepada Bu wi cianpwee dan hwesio daging anjing, kenyataannya hasil nihil yg kuperoleh sekarang, rasanya kok rikuh kalau mesti kembali dalam keadaan tangan hampa….”

Setelah memutar biji matanya sebentar, dia berkata lagi : “Menurut pendapatku, lebih baik nona pulang lebih dulu, biar aku

berangkat kebukit Cian san utk sekali lagi mengadakan penyelidikan……”

“Bukankah rencana semula kita akan pulang ke lembah hati Buddha bersama? Mengapa kau berubah pikiran ditengah jalan?” tegur si nona sambil berkerut kening.

“Sebab, setelah mengetahui penghianatan Molim sekalian berempat yg secara diam-diam bersekongkol dg pihak In nu siancu, rasanya semangatku seperti dikobarkan lagi…betul dari pihak Siau lim si bakal mengirim banyak jago dari pelbagai partai utk melacaki jejak si pembunuh keji itu, tapi aku rasa toh lebih baik kulakukan pelacakan sendiri, apalagi keselamatan ciciku terancam bahaya maut, aku wajib mencoba sekali lagi!”

Chin sian kun segera menghela napas panjang :

“Baiklah, setelah kau memutuskan demikian, maka aku pun tak berniat menghalangi mu lagi, tapi aku tetap akan mendampingimu, aku pikir kau tak bakal menampik bukan?”

“Lebih baik nona jangan ikut, pulanglah dulu kelembah hati Buddha karena kepergian nona sama sekali tak diketahui mereka, bila kau tak segera kembali kelembah, aku kuatir mereka bakal gelisah, disamping itu……”

“Cukup! Kau tak usah melanjutkan” tukas Chin sian kun sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, “aku cukup memahami perasaanmu, bukankah kau takut kehadiranku hanya akan menjadi beban untukmu?”

“Nona jangan salah paham, aku sama sekali tak sependapat begitu….” Buru-buru Kho Beng berseru :

“Kalau begitu kau setuju atau tidak?” desak si nona agak girang. Dg perasaan apa boleh buat terpaksa Kho Beng berkata :  “Kalau toh nona berkata demikian, rasanya kurang baik kalau

kuhalangi niatmu itu….”

“Nah begitu baru benar…..apakah kita akan segera berangkat kebukit Cian san?”

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian katanya : “Paling baik kita duduk beristirahat sejenak disini, besok malam kita baru berangkat kebukit Cian san.”

Waktu itu Molim sekalian berempat telah berubah menjadi amat jinak dan penurut, mereka hanya mengekor belaka terhadap semua keputusan yg diambil.

Begitulah, Rumang segera ditugaskan menguburkan jenasah Thia Bu ki dibelakang kuil, sementara yg lain membersihkan ruang kuil tsb, distulah mereka berempat duduk bersemedi sambil menunggu waktu.

Dalam suasana yg hening dan tenang, mereka berenam beristirahat hingga tengah hari seblum bangkit utk berangkat.

Setelah melalui masa beristirahat yg cukup panjang, kesegaran mereka telah pulih kembali.

Kho Beng segera menurunkan perintah utk berangkat menuju kebukit Cian san.

oooOOooo

Ketika melalui sebuah dusun dalam perjalanan, mereka pun bersantap dulu disebuah rumah makan sampai kenyang, selesai bersantap mereka baru meneruskan perjalanan kebukit Cian san.

Ketika sampai dikaki bukit, tengah malam telah menjelang tiba.

Mereka berenam melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah hutan lebat, disanalah perundingan rahasia segera dilaksanakan.

Pertama-tama Kho Beng berkata lebih dulu kepada Molim dg suara berat lagi dalam :

“Sekarang kau harus berbicara sejujurnya, selama kau mengadakan kontak dg anak buah dewi In nu, benarkah kau Cuma berhubungan dg Thia Bu ki yg telah terbunuh itu?”

Molim sangat terkejut, buru-buru dia mengangkat sumpah :

“Jika hamba berbicara bohong, biarlah aku dikutuk oleh thian dan mati secara tak wajar!”

Dg kening berkerut, kembali Kho Beng berkata :

“Bukan aku tak mau percaya kepadamu tapi dg matinya Thia Bu ki berarti hubunganmu dg mereka pun jadi putus, kini hubungan semacam ini tak mungkin dapat dipergunakan lagi!”

Tiba-tiba Chin sian kun menimbrung :

“Walaupun Thia Bu ki telah mati, tapi aku rasa anak buah dewi In nu yg lain pasti mengetahui juga akan hubungan persekongkolan antara Molim dg mereka, paling tidak dewi In nu pasti mengetahui persoalan ini….”

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian manggut-manggut : “Yaa, perkataanmu ini memang ada benarnya juga….” Sorot matanya segera dialihkan kembali kewajah Molim,

lanjutnya :

“Begini saja, kalian berempat tak usah menyembunyikan jejak lagi, teruskan perjalanan keatas bukit secara terang-terangan, asal dewi In nu belum meninggalkan bukit Cian san, sudah pasti jejak kalian bakal mereka diketahui.”

“Apa yg mesti kami lakukan jika kami telah ditemukan?” tanya Molim agak sangsi.

“Setelah mereka menemukan kalian berempat, tak ada salahnya bila kau melaporkan peristiwa Thia Bu ki yg telah bunuh diri, bila ada jawaban lain, aku tentu akan menyampaikan kepada kalian dg ilmu menyampaikan suara.”

Terpaksa Molim manggut-manggut :

“Hamba turut perintah.”

“Nah, kalian boleh berangkat sekarang.”

Molim saling pandang sekejap dg Mokim, Rumang serta Hapukim, kemudian beranjak pergi dari situ dg langkah lebar.

Begitulah dibawah petunjuk Kho Beng yg disampaikan secara diam-diam, keempat orang itu sengaja berjalan dg langkah berat, bahkan sengaja bercakap dg suara keras.

Asalkan satu li disekitar tempat itu ada orangnya, sudah pasti kehadiran mereka akan menarik perhatiannya.

Sementara itu Kho Beng bersama Chin sian kun menguntil dibelakang mereka secara diam-diam, gerak gerik mereka tak ubahnya seperti sukma gentayangan.

Sepanjang jalan mereka perkampungan Ciu hong san ceng, juga melewati perkampungan Bwee wan yg rata dg tanah, namun sepanjang jalan suasana amat sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun…..

Dalam posisi empat berjalan terang-terangan dan dua mengikuti secara diam-diam inilah mereka berenam meneruskan perjalanan kepuncak bukit, sebab Kho Beng telah memutuskan, dia harus memeriksa seluruh bukit Cian san sampai jelas utk membuktikan apakah dibukit Cian san masih ada musuh yg bersembunyi. Dipuncak bukit Cian san terdapat sebidang tanah datar, rerumputan tumbuh subur diatas tanah tsb.

Pepohonan yg rimbun memenuhi pula sisi lereng bukit dg batu cadas berserakan disana sini.

Sekilas pandangan, tempat tsb tak ubahnya seperti sebuah puncak bukit yg sepi dan jauh dari keramaian manusia.

Namun menjelang kentongan pertama, tiba-tiba tampak empat sosok bayangan manusia berkelebat dan berkumpul ditengah-tengah puncak bukit tsb.

Ternyata keempat sosok bayangan manusia itu adalah Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu, Ciu hoa Lengcu serta Tang soat Lengcu.

Mereka berempat saling berpandangan sekejap, lalu tertawa ringan.

Cun hong Lengcu segera berkata dg lirih :

“Belakangan ini sifat suhu kurang baik, karenanya dalam pertemuan malam nanti kita harus menghadapinya secara hati-hati.”

Selesai berkata ia segera bertepuk tangan tiga kali sebagai kode rahasia mereka…

Begitu selesai bertepuk tangan, dari empat arah delapan penjuru segera bermunculan dua puluhan lelaki berbaju hitam yg semuanya memakai pakaian ringkas dan menyoren pedang dipinggangnya, dg cepat mereka mengurung ketengah lapangan.

Salah seorang diantaranya segera menjura , sambil berkata : “Hamba menjumpai Lengcu berempat!”

Ternyata orang ini adalah sipedang geledek Sin Cu beng, seorang tokoh silat yg amat termasyur dalam dunia persilatan dimasa lalu dan sekarang menjadi selah seorang komandan pasukan dibawah perintah dewi In nu.

Sambi tersenyum, Cu hong Lengcu berkata :

“Malam ini Siancu akan membuka sidang, harap komandan Sin melakukan penjagaan yg lebih ketat dan berhati-hati lagi!”

“Hamba mengerti!” buru-buru Sin Cu beng manyahut.

“Apakah penjagaan disekeliling tempat ini sudah selesai diatur?” “Lengcu tak perlu kuatir, hamba telah menyiapkan segala

sesuatunya secara rapi, jangan lagi manusia, seekor burung jangan harap bias melintasi istana gua pengikat cinta ini tanpa diketahui jejaknya.”

“Bagus sekali!” dg gembira Cui hong Lengcu manggut-manggut, “silahkan komandan Sin kembali ke posnya!” Sin Cu beng segera menjura, lalu sambil membalikkan badan, bisiknya :

“Masing-masing kebali ke posnya sendiri, jaga dg hati-hati, menjumpai tanda bahaya jangan bertindak terlalu ayal!”

Dua puluhan orang jago berbaju hitam itu serentak mengiakan bersama dan menyebarkan diri keempat penjuru, gerak-gerik mereka cepat bagaikan gulungan asap ringan, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.

Setelah anak buahnya bubaran, Sin Cu beng baru beranjak pula meninggalkan tempat tsb.

Sepeninggal orang-orang itu, Cu Hong Lengcu mendongakkan kepalanya dan memandang sebentar keadaan cuaca, lalu bisiknya : “Waktu sudah semakin dekat, mari kita tunggu suhu naik ke

mimbar sidang!”

“Silahkan suci!” Hee im Lengcu dan Tang soat Lengcu serentak berseru.

Dg langkah lebar, Cun hong Lengcu segera beranjak lebih dulu meninggalkan tempat tsb.

Disisi kiri bukit terdapat sebuah dinding karang yg terjal, disanalah terbuka sebuah lorong rahasia waktu itu, keempat Lengcu serentak melangkah masuk kedalam lorong tsb.

Ketika mereka telah masuk kedalam, terdengar kembali suara gemerincingan nyaring, pintu gua merapat kembali seperti sedia kala hingga sama sekali tak terlihat titik kecurigaan pun.

Setelah berada dalam lorong rahasia, Cun hong Lengcu sekalian menelusuri undak-undakan batu turun kebawah, lebih kurang lima puluh anak tangga kemudian didepan sana terbentang sebuah lorong bawah tanah yg amat luas dan lebar.

Dinding samping maupun langit-langit lorong tsb terbuat dari batu cadas yg datar, pada jarak setiap dua kaki tertancap sebatang obor yg menerangi sekitar goa tsb.

Selain itu, pada jarak setiap satu kaki sepanjang lorong tadi berdiri seorang busu bersenjata lengkap yg siap menghadapi segala kemungkinan, suasana yg menyeramkan menimbulkan rasa bergidik bagi siapapun yg memandangnya..

Ketika Cun hong Lengcu sekalian melewati lorong tsb, serentak semua busu membungkukkan badan member hormat. Panjang keseluruhan dari lorong rahasia tsb mencapai dua puluhan, kaki pada ujungnya terdapat dua buah cabang jalan, Cun hong Lengcu sekalian mengambil jalan yg belok kesisi kiri.

Jalan bercabang itu tidak terlalu panjang, lebih kurang hanya tiga kaki lebih, pada ujungnya muncul sebuah ruang batu yg luas sekali, paling tidak lebarnya mencapai dua puluhan kaki persegi.

Waktu itu dalam ruangan telah penuh berdiri manusia yg berjajar-jajar, diantaranya terdapat busu bersenjata lengkap, ada gadis-gadis cantik berpakaian ringkas, ada pula kakek yg rambutnya telah beruban.

Ditengah ruangan, dekat dinding belakang didirikan sebuah panggung tinggi, didepan panggung tergantung tirai bamboo, sedang dibelakang tirai bamboo terdapat sebuah kursi besar.

Pada kedua belah sisi kursi besar tadi, masing-masing tersedia pula empat buah bangku bambu yg agak kecil.

Kecuali kelima lembar kursi tsb berada dalam keadaan kosong, diluar tirai bamboo telah penuh dg manusia.

Pada barisan terdepan berjajar sebelas orang kakek yg berusia antara lima puluh sampai tujuh puluh tahunan, pakaian mereka beraneka ragam.

Sedang pada barisan kedua adalah puluhan nona cantik berbaju ringkas, pakaian mereka pun berwarna warni dan amat menyolok mata.

Dibelakang barisan gadis-gadis muda itu adalah lelaki kekar yg masih muda semua, usia mereka berkisar dua sampai tiga puluhan tahun, sedang pakaian yg dikenakan adalah warna hitam atau kuning yg kelihatan amat segar.

Tatkala Cun hong Lengcu sekalian memasuki ruangan tsb, suasana yg semula hening kini bertambah sepi, demikian sepinya hingga detak jantung setiap orang hampir bias terdengar jelas.

Keempat orang Lengcu itu langsung menerobos masuk diantara kerumunan orang banyak, mereka tidak berhenti dalam ruang batu tapi langsung membuka pintu rahasia dan masuk kedalam.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, tampak pintu rahasia itu kembali terbuka, tampak seorang dayang berbaju indah munculkan diri sambil berseru dg nyaring :

“Siancu memasuki mimbar!”

Suaranya mengalun sampai ketempat kejauhan dan mendengung tiada hentinya dalam pendengaran. Tak lama kemudian tampak lima puluh empat orang nona berbaju ringkas berwarna kuning yg membawa pedang terhunus munculkan diri dari balik pintu rahasia dan berjalan menuju mimbar dg langkah lebar.

Dg gerakan cepat mereka menyebarkan diri lalu mengurung mimbar itu rapat-rapat.

Suasana yg mencekam seluruh ruangan waktu terasa hening dan sepi, suasana serius menyelimuti perasaan setiap orang.

Lewat beberapa saat lagi baru kelihatan seorang perempuan cantik berusia tiga pulu tahunan yg memakai baju kuning, bermantel bulu dan berwajah anggun, munculkan diri ditengah ruangan.

Dua orang nenek berbaju kuning berjalan mengiringi disisi kiri dan kanannya, sikap yg anggun dan wajah berwibawa membuat setiap orang merasakan hatinya tercekat.

Barulah dibelakang mereka mengikuti keempat Lengcu yakni Cun hong, Hee im, Ciu hoa serta Tang soat, semuanya langsung menuju keatas mimbar.

Tak salah lagi perempuan anggun yg diiringi dua orang nenek tsb bukan lain adalah In nu Siancu.

Ia langsung menuju kekursi kebesaran yg telah disediakan dan duduk, sementara kedua orang nenek tadi berdiri mendampingi dibelakang tubuhnya…….”

Menunggu dewi In nu sudah duduk, secara terpisah keempat orang Lengcuitu baru mengambil tempat duduk dikeempat kursi kecil yg telah disediakan.

Pelan-pelan dewi In nu memperhatikan suasana dalam ruangan, kemudian tanyanya dg suara hambar:

“Apakah semuanya telah hadir!”

Mendadak paras muka dewi In nu berubah hebat, bentaknya keras-keras :

“Kurangajar, sampai kalian berempat pun berani membohongi diriku, besar nian nyali kalian!”

Cun Hong Lengcu sangat terkejut, tanpa sadar ia menjatuhkan diri berlutut diatas tanah sambil katanya :

“Teecu tak berani membohongi suhu!”

Masih dg nada marah, dewi In nu berkata lagi :

“Sudah jelas diantara duabelas orang pelindung hukum hanya sebelas orang yg hadir, terpaksa hanya sebelas orang yg hadir, mengapa kau katakana telah hadir semua?” Tampaknya Cun hong Lengcu sama sekali tidak mengetahui akan peristiwa itu, ia baru berpaling kebawah mimbar setelah mendengar perkataan tsb.

Betul juga, diantara deretan kakek yg berdiri dibarisan terdepan, ternyata hanya sebelas orang yg hadir, terpaksa katanya lagi dg suara tergagap:

“Teecu memang pikun, silahkan suhu menjatuhkan hukuman!” Dewi In nu mendengus :

“Dihukum atau tidak, lebih baik dibicarakan nanti saja, hayo cepat selidiki apa yg telah terjadi!”

“Teecu turut perintah!”

Buru-buru Cun hong Lengcu bangkit berdiri, mundur sejauh tiga langkah kemudian baru menghadap kebawah mimbar, seraya membentak :

“Siapakah diantara dua belas pelindung hukum yg belum hadir?” “Thia Bu ki!” seorang kakek berbaju ungu menjawab.

Dg kening berkerut, Cun hong Lengcu kembali berkata : “Apakah dia tak tahu kalau mala mini diadakan siding?” “Tentu saja tahu!”

“Kalau sudah tahu malam ini ada siding, mengapa sengaja ia tidak hadir? Memangnya ia sudah bosan hidup!”

“Betapapun besarnya nyali Thia Bu ki, semestinya dia akan dapat hadir pada waktunya…..aku kuatir… ”

“Kuatir kenapa? Mengapa tidak segera diucapkan?” hardik Cun hong Lengcu keras-keras.

“Aku kuatir terjadi sesuatu peristiwa yg diluar dg dirinya… ”

Bergetar keras perasaan Cun hong Lengcu setelah mendengar perkataan itu, buru-buru katanya :

“Tahukah kau apa yg sedang dilakukannya selama satu dua hari belakangan ini?”

“Menurut apa yg kuketahui, dia sedang melacak jejak keempat orang asing yg menjadi pengikut Kho Beng, tapi hingga saat ini bayangan tubuhnya masih belum juga Nampak.”

Mendadak…….

Disaat Cun hong Lengcu dan sikakek berbaju ungu itu melangsungkan Tanya jawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yg tergesa-gesa datang, disusul kemudian tampak seorang laki-laki berbaju ringkas lari masuk kedalam ruangan. Suasana gaduh segera mencekam seluruh ruangan itu, Cun hong Lengcu menghentikan pembicaraannya dan menyingkir kesamping, sementara sorot matanya dialihkan kewajah Dewi In nu, jelas ia sedang mengamati bagaimana reaksi gurunya terhadap peristiwa ini?

Tampak lelaki berbaju hijau itu lari kedepan mimbar lalu menjatuhkan diri berlutut seraya berseru :

“Hamba menjumpai Siancu!”

Menyusul kemudian ia menyembah berulang kali.

Paras muka Dewi In nu amat dingin dan tanpa emosi, terhadap sikap lelaki itu ia menunjukkan sikap acuh tak acuh.

Melihat sikap gurunya itu, buru-buru Cun hong Lengcu segera membentak dg suara lantang :

“Besar amat nyalimu, berani sekali mengganggu ketengan Siancu…..”

Buru-buru lelaki itu berkata :

“Berhubung ada urusan penting yg mesti dilaporkan, terpaksa hamba harus menerobos masuk kemari, untuk itu harap Lengcu sudi memaafkan kelancangan hamba.”

Agak kurang sabar dewi In nu menyelak secara tiba-tiba : “Suruh dia laporan secepatnya!”

Buru-buru Cun hong Lengcu berseru :

“Cepat katakan!”

Dg suara lantang lelaki itu berkata :

“Thia huhoat telah mendapat celaka, jenasahnya dikubur dibelakang kuil Lu cuo bio lima puluh li diluar kota, kini mayatnya sudah digali keluar dan dibawa kemari.

Paras muka semua jago yg hadir dalam ruangan berubah hebat, suasana berubah menjadi semakin hening, tiada orang yg berani bersuara kecuali dengusan marah dari dewi In nu.

Dg perasaan amat bergetar, Cun hong Lengcu bertanya : “Thia huhoat tewas karena termakan bacokan senjata ataukah

tewas oleh pukulan tenaga dalam?”

Lelaki itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya : “Semua tidak, ia tewas karena bunuh diri, Thia huhoat bunuh dg

menggigit putus lidahnya sendiri.”

Tiba-tiba dewi In nu berkata sambil menghela napas : “Bagus sekali! Masih untung dia tak menyia-nyiakan

kepercayaanku kepadanya, meski tewas karena musibah, ia pantas dihormati sebagai pembantu yg amat setia, aku pasti akan memohonkan pujian dari ciangbunjin…”

Setelah berhenti sejenak, dg suara dalam kembali katanya : “Segera perintahkan orang utk mengurusi layonnya secara baik-

baik dan segera kirim ke markas besar partai kita.”

“Teecu segera akan mengutus orang utk melakukannya….” Buru- buru Cun hong Lengcu berseru.

Dg suara dalam sekali lagi dewi In nu berkata :

“Segera kirim tiga orang pelindung hukum utk menyelidiki sebab kematian Thia huhoat, kemudian balaskan dendamnya!”

“Teecu terima perintah….”

Dg cepat Cun hong Lengcu membalikkan badan, membalik kebawah mimbar seraya serunya :

“Tang Bok kong, Liok Ci ang, Oun Thian siang, perintah dari Siancu tentunya sudah kalian dengar sendiri, kuharap kalian bertiga segera melaksanakannya.”

“Hamba terima perintah!” buru-buru ketiga orang huhoat itu menyahut.

Dewi In nu segera berseru :

“Persoalan ini tak perlu ditunda lagi, kalian berangkat sekarang juga…..”

Tang Bok kong sekalian serentak member hormat kemudian membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ.

Ruang tengah yg luas pun pulih kembali dlm keheningan, hanya kali ini paras muka dewi In nu telah dilapisi oleh hawa dingin dan kaku yg sangat mencekam hati.

Suasana hening semakin mencekam seluruh hadirin, mereka semua menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tak berani menatap wajah atasannya lagi.

Terutama sekali keempat Lengcu, mereka merasa bagaikan duduk dikursi berjarum, gerak geriknya amat tak tenang.

Diam-diam Cun hong Lengcu telah balik kembali ketempat duduknya, sementara sinar matanya secara diam-diam meneliti wajah Dewi In nu.

Ketika ia menjumpai tatapan mata Dewi in nu sedang tertuju kearahnya, tanpa sadar cepat-cepat ia mengalihkan pandangan matanya kearah lain, sementara wajahnya berubah menjadi merah hijau tak menentu, sikapnya mengenaskan sekali.

Dg suara sedingin es, Dewi In nu berkata kemudian : “Sewaktu berada diperkampungan Bwee wan tempo hari, justru karena penjagaan yg sangat kendorlah menyebabkan Bu wi si bajingan tua itu berhasil mencapai tujuannya secara mudah, kendati aku berhasil menghajarnya sampai terluka parah, namun bagian yg terpenting dari kitab pusaka Thian goan bu boh berhasil dicuri olehnya. Sejak kejadian itu sampai sekarang, sudah berjalan cukup lama, kenapa kalian semua belum berhasil juga merebutnya kembali?”

Buru-buru Cun hong Lengcu mengerlingkan matanya sekejap kearah Hee im, Ciu hoa serta Tang soat, serentak mereka berempat bangkit berdiri dan berlutut dihadapan gurunya sambil berkata :

“Kesemuanya ini memang merupakan kesalahan teecu yg tak becus!”

“Sebetulnya sampai dimanakah sulitnya pekerjaan ini? Memang kalian mengulur waktu terus menerus? Memangnya aku harus turun tangan sendiri baru berhasil?”

Cun hong Lengcu berpikir sebentar, lalu ujarnya :

“Keadaan yg sebenarnya telah teecu laporkan kepada suhu, dalam kenyataannya Kho Beng adalah pemuda yg licik, justru karena kami bermaksud memperalat keempat orang pembantu asingnya, siapa sangka gara-gara persoalan ini Thia huhoat pun kena musibah….”

Dewi In nu segera berkata setelah berpikir sebentar :

“Konon kalian menggunakan encinya sebagai umpan, mengapa sekarang malah mengalihkan sasarannya kepada ke empat pembantu asingnya?”

Dg hati bercampur keki serta marah, “masa untuk menyelesaikan pekerjaan kecilpun kamu harus menggunakan cara yg berputar kayuh macam begini?”

Setelah berhenti sejenak, ia segera membentak “ “Gusur dia kemari!”

Cun hong Lengcu tak berani membantah, ia segera member tanda kepada Hee im dan Li sian soat, kemudian bersama-sama mengundurkan diri dari situ.

Lebihkurang setengah peminuman teh kemudian, tampak Cun hong Lengcu dan Hee im Lengcu telah muncul kembali kedalam ruang siding dg mengempit tubuh Kho Yang ciu yg berambut awut- awutan serta bermata sayu. Bersambung ke bab 27