Kedele Maut Jilid 25

 
Jilid 25

Bok cuncu tersenyum, sebelum pemuda tsb menyelesaikan kata- katanya, dia segera menukas :

“Saat ini rasanya aku sudah mulai menaruh perasaan curiga terhadap perkampungan Ciu hong san ceng ini”

“Bukan Cuma mencurigakan, bahkan aku yakin bahwa penghuni perkampungan ini adalah anak buah dari dewi In nu, hanya saying kita tak berhasil mengumpulkan bukti yg nyata sehingga mengakibatkan ciciku pun terpengaruh oleh mereka.”

“Kalau begitu tugas kita yg terutama sekarang menemukan sarang mereka serta mendapatkan bukti yg nyata, bukan?”

“Betul!” Kho Beng manggut-manggut, “tapi aku percaya pekerjaan inipun bukan suatu pekerjaan yg mudah.”

Bok cuncu segera tertawa : “Sekembalinya dari sini, aku akan melaporkan peristiwa ini kepada ketua kami, kemudian akan kuhimpun umat persilatan utk bersama-sama melacak jejak dari orang-orang perkampungan Ciu hong san ceng ini serta cicimu, Cuma diantara kita berdua harus sering mengadakan hubungan kontak…….”

Dg rasa gembira, Kho Beng berseru :

“Kalau memang begitu tujuannya, aku bersedia sekali utk bekerja sama dg kalian!”

“Omitohud, kalau begitu kita tetapkan dg sepatah kata ini saja… ” seru Bok cuncu.

“Benar!” Kho Beng mengangguk, “kita tetapkan sepatah kata ini saja.”

“Omitohud, kalau begitu harap Kho sicu baik-baik menjaga diri, aku segera akan berangkat ke siau lim si!”

“Lo siansu, bila kau harus kembali ke Siau lim pay lebih dulu utk meminta persetujuan dari ketua kalian sebelum menghimpun para jago dunia persilatan, aku rasa dalam soal waktu mungkin akan sangat terlambat sekali” ucap Kho Beng sambil mengerutkan kening. 

Mendengar perkataan tsb, Bok cuncu segera tersenyum, “Tentang soal ini, harap sicu tak usah kuatirkan, setelah kembali

ke Siau lim si utk melaporkan hal ini, saat itu juga kami akan menyebarkan surat kilat kepada seluruh jago dari pelbagai perguruan agar bersiap sedia, aku percaya dalam tujuh hari mendatang sudah ada sebagian jago persilatan yg turut serta didalam pergerakan ini”

Kemudian setelah memuji keagungan sang Buddha lagi, dia menambahkan:

“Aku akan mohon diri lebih dulu!”

Habis berkata, dia segera menggerakkan badan dan berlari dari situ dg kecepatan tinggi.

Lama sekali Kho Beng berdiri termangu-mangu ditempat semula sebelum akhirnya menghela napas dan berkata :

“Perubahan sikap yg diperlihatkan hwesio tua ini kelewat cepat, aku menjadi tak habis mengerti, sebetulnya niat mereka itu baik atau jahat……”

Chin Sian kun memperhatikan sekejap wajah anak muda itu, lalu katanya dg lembut : “Tampaknya ia mempunyai niat yg jujur dan tulus, apalagi tindakan semacam inipun bakal mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak, aku rasa tawaran tsb tak usah kita risaukan lagi.”

Mendadak Kho Beng menghentakkan kakinya sambil berseru : “Aduh celaka! Aku telah melupakan suatu masalah yg amat

penting….”

“Soal apa?” Tanya Chin sian kun keheranan.

“Masalah disekapnya ketua Sam goan bun oleh pihak Siau lim pay, aku lupa utk titip pesan kepadanya agar memohonkan pembebasan dari ketua Siau lim pay.”

Chin sian kun segera tertawa cekikikan serunya:

“Kalau hanya disebabkan persoalan ini, aku rasa kau tak perlu terlalu merisaukannya.”

“Kenapa?” Tanya Kho Beng tak habis mengerti.

“Coba kau bayangkan sendiri, ketua dari Sam goan bun bias disekap dikuil Siau lim si gara-gara urusanmu, apabila sekarang pihak Siau lim pay bersedia utk bekerja sama dg mu, masa mereka tak akan membebaskan ketua dari Sam goan bun tsb? Siapa tahu dia justru akan dikirim kemari utk ikut melacaki jejak dewi In nu?”

Kho Beng segera manggut-manggut, katanya :

“Nona memang sangat teliti dan cermat sekali, dugaanmu memang tepat sekali!”

Setelah tertawa bangga, kembali Chin sian kun berkata : “Lantas kemanakah kita harus pergi sekarang?”

“Sekarang kita harus pergi mencari Molim sekalian berempat!”

Maka mereka berdua pun menuruni bukit tsb dan kembali kekota kecil dikaki gunung.

Ketika menyusul kerumah penginapan tsb, menurut keterangan pemilik rumah penginapan itu, keempat orang itu sudah meninggalkan tempat tsb sejak kemarin.

Kho Beng menjadi sangat gelisah, segera tanyanya :

“Apakah mereka telah meninggalkan alamat yg hendak dituju?” “Tidak!” pemilik penginapan itu menggelengkan kepalanya

berulang kali, “mereka tidak mengatakan apa-apa, langsung pergi begitu saja…..”

Terpaksa Kho Beng harus meninggalkan rumah penginapan tsb, sepanjang jalan dia Nampak murung dan sangat kesal.

Melihat sikap anak muda tsb, Chin sian kun segera berkata : “Bukan aku sengaja banyak mulut, tapi aku rasa alangkah baiknya bila keempat orang anak buah kongcu itu pergi tanpa pamit.”

“Kenapa begitu?”

“Aku tak ingin mengatai kejelekan orang lain, tapi dalam kenyataannya keempat orang itu sama sekali tidak menaruh kesetiaan terhadap Kho kongcu, sikap mereka selama ini tak lebih hanya ingin mempelajari isi dari kitab pusaka Thian goan bu boh!”

“Aaaaai….setiap manusia tentu mempunyai watak yg baik dan jelek, tapi sikap mereka berempat saat ini sudah jauh berbeda dg sikap mereka waktu pertama dulu.”

“Maksud Kho kongcu………” Chin sian kun berpaling. “Mereka berempat sebetulnya mempunyai sifat yg jujur dan

terbuka, apalagi setelah melalui pendidikan dan bimbingan beberapa waktu, boleh dibilang kesetia kawanan mulai mereka kenal. Bisa jadi kepergian mereka dari rumah penginapan ini adalah utk mencari jejakku.”

Kemudian setelah menghela napas, kembali katanya :

“Cuma saying mereka terlalu sempit jalan pikirannya sehingga tidak tahu bagaimana mesti meninggalkan pesan kepada pemilik rumah penginapan itu………”

Dg nada setengah percaya, Chin sian kun berkata :

“Kalau begitu kita harus pergi mencari mereka berempat?” Kho Beng berpikir sebentar lalu mengangguk :

“Yaa, tentu saja, tapi aku rasa tiada tempat yg bias kita telusuri utk mencari jejak mereka, aku pikir lebih baik kita kembali dulu kelembah hati Buddha, coba kita periksa apakah kondisi badan Bu wi cianpwee telah pulih kembali seperti sedia kala.”

“Betul!” sambung Chin sian kun, “bisa jadi Molim bersaudara telah kembali kelembah hati Buddha!”

“Kejadian semacam ini mungkin saja dapat berlangsung, mari kita segera berangkat kelembah hati Buddha.”

Maka berangkatlah kedua orang itu menuju kelembah hati Buddha.

Oleh karena kepergian mereka kelembah hati Buddha tidak mengandung tujuan yg terburu-buru, maka perjalanan mereka tempuh dg santai, sepanjang jalan selain mereka menikmati panorama yg indah, pekerjaan mereka adalah mengamati gerak gerik umat persilatan. Menjelang magrib keesokan harinya, mereka berdua menempuh perjalanan sejauh lima li dari bukit Cian san.

Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, Kho Beng segera berkata :

“Aku lihat kita sudah jalan terlalu jauh hingga melampaui tempat penginapan.”

Ternyata sekeliling tempat itu merupakan hutan belantara dg tanah perbukitan dikejauhan sana.

“Apa salahnya?” sahut Chin sian kun sambil tersenyum, “udara malam pasti amat nyaman, mengapa kita tidak menempuh perjalanan malam? Kapan kita sampai dikota, kapan pula kita beristirahat, toh hasilnya juga sama saja……?”

Kho Beng manggut-manggut, tanpa berbicara mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya menelusuri tanah berhutan.

Mendadak……..

Kho Beng menyaksikan ada seseorang yg berjalan malam melintas lewat dari sisi kiri mereka, jaraknya hany beberapa puluh kaki saja dari mereka berdua.

Tergerak perasaan Kho Beng sesudah menyaksikan hal ini, kepada Chin sian kun dia segera member tanda, kemudian dilakukan pengejaran secara ketat.

Ternyata ilmu meringankan tubuh yg dimiliki si pejalan malam itu cukup tangguh, mereka harus mengejar sejauh satu li lebih sebelum berhasil menyusul sampai jarak sepuluh kaki dibelakang orang itu.

Agaknya si pejalan malam itupun sudah merasakan kalau jejaknya sedang diikuti orang, tiba-tiba saja dia menghentikan larinya.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bersua muka, tanpa terasa Kho Beng berseru tertahan, ternyata orang itu adalah orang yg cukup dikenal olehnya, yakni si Saudagar racun berjalan cepat Cho Tay hap.

Cho Tay hap sendiripun nampak agak tertegun, kembali sambil buru-buru member hormat, katanya :

“Ooooh rupanya kongcu, mengapa kau datang kemari?” Kho Beng menghela napas,

“Aaaai…panjang sekali utk diceritakan dan bagaimana dg kau sendiri? Apakah belakangan ini pernah bertemu muka dg ciciku?”

Kali ini Cho tay hap yg menghela napas panjang, “Aaaai…cicimu sudah terperangkap oleh anak buah dewi In nu sehingga hubungan diantara mereka Nampak sangat akrab dan mesra, kemanakah dirinya berada sekarang kini sudah menjadi sebuah tanda Tanya yg besar sekali”

“Yaa benar, aku sendiripun merasa amat gelisah dan cemas karena persoalan ini!” cepat-cepat Kho Beng berkata.

“Ooooh…jadi kongcu pun sudah mengetahui akan persoalan ini?” Kho Beng manggut-manggut.

“Bukan hanya tahu, tapi aku sudah dua kali menemui ancaman bahaya maut diperkampungan Ciu hong san ceng, saying sekali ciciku begitu terpengaruh oleh mereka sehingga bagaimanapun aku member penjelasan kepada dirinya, ia tetap tidak percaya!”

Kemudian sambil menatap wajah Cho Tay hap sekejap, kembali ujarnya :

“Bagaimana dg kau sendiri? Hendak pergi kemana?”

“Sebenarnya hamba sedang berusaha mencari kongcu, maksudku hendak pergi kelembah hati Buddha, sungguh tak kusangka kita telah bertemu muka disini.”

“Ada persoalan apa mencariku?” Tanya Kho Beng cepat. “Pertama hamba ingin mengajak kongcu utk berunding

bagaimana caranya melepaskan encimu dari pengaruh anak buah dewi In nu, kedua adalah menyangkut masalah keempat orang anak buah kongcu itu…..”

“Apakah kau bersua dg mereka?”

Dg wajah serius Cho Tay hap segera berkata :

“aku telah bersua dg mereka, saat ini mereka telah menjalin hubungan yg cukup akrab dg para begundal Dewi In nu, tentu saja tujuan mereka tak lain adalah kitab pusaka Thian goan bu boh yg berada ditangan kongcu.”

“Aaah, peristiwa ini benar-benar jauh diluar dugaanku!” seru Kho Beng setengah percaya setengah tidak.

Dg wajah serius kembali Cho Tay hap berkata :

“Sebenarnya hamba bermaksud menguntit dibelakang mereka utk mengetahui siapakah orang yg mengadakan kontak dg mereka, tapi akhirnya mereka berhasil meloloskan diri.”

Chin sian kun yg berada disisinya segera menukas:

“Sudah sejak lama aku tahu kalau mereka bukan manusia baik- baik….!” Sementara itu Cho Tay hap sudah memandang sekeliling tempat itu, kemudian katanya lagi :

“aku telah bertemu pula dg si Unta sakti berpunggung baja Thio cianpwee, dia sendiripun mengusulkan agar kongcu bias turun tangan melenyapkan mereka berempat dari muka bumi.”

“dimanakah si Unta Sakti cianpwee? Apakah kau tahu?” buru- buru Kho Beng bertanya.

“Meskipun aku tak tahu berada dimanakah dia sekarang, tapi setengah bulan kemudian aku masih mempunyai janji dgnya.”

“Kalian berjanji akan bersua dimana?” “Lembah bunga tho dibukit Hu gou san!”

Kemudian setelah berhenti sejenak, ujarnya lebih jauh : “Tapi Thio cianpwee berpesan agar kongcu tidak pergi

menjumpainya, sebab yg terpenting buat kongcu saat ini adalah menghimpun seluruh kekuatan yg dimiliki utk melacaki jejak dewi In nu, selain watak diketahui watak dan tabiat keempat orang asing itu sudah diketahui tak jujur dan berniat membelot. Walaupun semula Thio cianpwee menghimpun mereka demi membantu kongcu yg berada dalam posisi seorang diri, tapi sekarang sudah ada Bu wi cianpwee, hwesio daging anjing serta Kim bersaudara sekalian yg siap membantu, oleh karenanya dianjurkan agar keempat orang tsb dilenyapkan saja dari muka bumi, ketimbang akhirnya menimbulkan banyak kesulitan buat diri sendiri.”

“Baiklah segala sesuatunya akan kulaksanakan sesuai dg perintah Thio cianpwee, bila kau bertemu lagi dg dia orang tua, tolong sampaikan pula salamku kepadanya.”

“Hamba mengerti” buru-buru Cho Tay hap mengiakan. Setelah berpikir sejenak, Kho Beng berkata lebih lanjut : “Kalau memang begitu, kau boleh pergi sekarang.”

“Harap kongcu bias baik-baik menjaga diri” Cho Tay hap segera member hormat.

Kemudian berangkatlah saudagar itu meninggalkan tempat tsb. Mengawasi bayangan punggung Cho Tay hap yg pergi jauh,

tanpa terasa Kho Beng menghela napas sedih.

Chin sian kun mengerti bahwa pikiran dan perasaan hatinya waktu itu amat kalut dan berat, karenanya dia pun tidak banyak berbicara , dg mulut membungkam ia berjalan mengikuti disampingnya. Sekalipun mereka berdua tidak bercakap-cakap, namun Kho Beng bias merasakan timbulnya rasa hangat yg sukar dilukiskan dg kata- kata, menyelimuti pikiran dan perasaannya yg kalut.

Begitulah dalam suasana hening dan saling mencekam, mereka berdua menempuh perjalanan selama hampir satu jam lebih, sementara itu kegelapan yg luar biasa telah menyelimuti seluruh angkasa.

Waktu itu langit amat gelap tiada cahaya rembulan, tiada cahaya bintang, yg ada hanya awan gelap yg menutup angkasa.

Tiba-tiba Chin sian kun berbisik :

Padahal Kho Beng sendiripun merasa agak lelah karena selama beberapa hari terakhir ini mereka berdua belum pernah beristirahat secara baik.

Kho Beng mencoba utk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, mendadak ujarnya sambil menunjuk kemuka :

“Rasanya didepan sana terdapat sebuah bangunan kuil, bagaimana kalau kita menginap semalam dikuil tsb?”

Walaupun kegelapan telah menyelimuti seluruh bumi waktu itu, namun mereka masih dapat melihat secara lamat-lamat bahwa ditengah pepohonan yg rimbun didepan sana terdapat sebuah bangunan besar yg membentuk seperti kuil.

Dg perasaan gembira Chin sian kun manggut-manggut, berangkatlah mereka berdua menuju kebangunan kuil tsb.

Sewaktu sampai didekat bangunan tsb, ditemui pintu gerbang sudah setengah roboh, rumput ilalang tinggi selutut, rupanya tempat itu merupakan sebuah kuil bobrok yg sudah lama tidak dipergunakan lagi.

Dari papan nama yg terpancang dimuka bangunan tsb dapat diketahui bahwa kuil itu bernama “Lu cau bio”

Sambil tertawa Kho Beng segera berkata :

“Malah kebetulan sekali kalau kuil ini adalah kuil yg terbengkalai, kita tak usah mencari alasan utk membohongi pendeta, biar tak usah pula membayar uang minyak.”

Dg langkah lebar mereka berdua berjalan masuk keruang tengah kuil tsb, Chin sian kun segera bersorak gembira :

“Coba lihat, bersih nian tempat ini”

Ketika Kho Beng menyusul kedalam, dijumpai ruangan tsb memang berada dalam keadaan bersih sekali, lagipula bangunan utamanya masih tetap utuh. Tanpa terasa dia berseru dg kening berkerut : “Sungguh aneh!”

“Yaa, memang sangat aneh” Chin sian kun menimpali, “kalau dibilang kuil ini sudah lama terbengkalai dan tak dihuni manusia lagi, kenapa ruangan tengahnya justru begitu rapih dan bersih?”

Kemudian setelah berpikir sebentar, kembali ujarnya :

“Yaa betul, sudah pasti tempat ini dipergunakan kaum pengemis atau pendatang sebagai tempat pondoknya, itulah sebabnya tempat ini diatur secara rapih dan bersih!”

“Aaaah, peduli amat” kata Kho Beng sambil tertawa aneh, “bagaimana juga kita kan Cuma menginap semalam, besok pagi kita telah berangkat kembali.”

Maka mereka berdua pun duduk bersila didepan altar sambil mengatur napas utk memulihkan kembali tenaga dalam mereka.

Ditengah suasana hening dan hampir mencapai keadaan akan lupa akan keadaan sekelilingnya, mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang dari kejauhan sana.

Kho Beng yg pertama-tama merasakan hal itu, cepat-cepat ia menarik ujung baju Chin sian kun, sambil berbisik :

“Ssst, ada orang datang!”

“Mungkin para pengemis penghuni kuil ini telah pulang” jawab Chin sian kun lirih.

“Itu toh menurut dugaan kita sendiri, bisa juga orang lain yg datang kesini.”

“Lantas apa yg harus kita lakukan sekarang?” tanya si nona dg kening berkerut.

“Lebih baik kita bersembunyi saja!”

Dg langkah cepat mereka berdua segera lari kesisi ruang tengah dan m enyembunyikan diri dibalik kegelapan.

Dinding samping itu berada dalam keadaan setengah roboh sehingga mudah sekali bagi mereka untuk mengundurkan diri kebelakang, boleh dibilang tempat tsb merupakan tempat yg amat strategis, karena bisa digunakan menyerang maupun mengundurkan diri secara leluasa.

Baru saja mereka berdua menyembunyikan diri, tampak empat sosok bayangan manusia telah melangkah masuk kedalam ruang kuil dg langkah lebar. Setibanya dalam ruang tengah, keempat orang itu segera m,embuat api unggun dan mengeluarkan daging serta arak, lalu bersantaplah mereka dg lahap.

Baik Kho Beng maupun Chin sian kun dapat melihat dg jelas bahwa keempat orang tsb adalah Molim, Hapukim serta Rumang berempat.

Beberapa kali Kho Beng berniat utk munculkan diri, namun niatnya selalu dihalangi Chin sian kun, malah dg ilmu menyampaikan suara, bisiknya :

“Coba kita dengarkan dulu apa yg mereka bicarakan, apalah gunanya tergesa-gesa menemui mereka?”

Terpaksa Kho Beng harus bersabar dan tetap menyembunyikan diri dibalik kegelapan.

Tak lama kemudian keempat orang itu sudah mulai mabuk oleh air kata-kata.

Tampak Rumang menepuk paha sendiri keras-keras segera berseru :

“Aku lihat pergaulan kita makin lama makin kacau, benar-benar mak nya….”

Hapukim berkata pula kepada Molim.

“Sekarang apa yg mesti kita perbuat, jangan lagi orangnya, bayangan tubuh dari Kho Beng si bocah keparat itupun sudah tak nampak lagi, hmmm!”

“Sudah pasti kau bertindak kurang hati-hati sehingga rahasia kita ketahuan, karena itulah dia segera melarikan diri!”

Kho Beng yg menyadap pembicaraan itu kontan saja merasakan hatinya tenggelam kedasar samudera, diam-diam pikirnya :

“Betul-betul tahu orangnya, tahu mukanya belum tentu dapat menyelami perasaannya.”

Sementara itu Molim telah berkata sambil tertawa :

“Buat apa kita mesti gelisah, toh tiada pekerjaan yg gampang didunia ini.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya : “Tentang masalah Kho Beng, aku kira dia sudah menjumpai

kesulitan diperkampungan Ciu hong san ceng, jadi mustahil dia telah mengetahui rencana kita, dalam hal ini aku yakin masih dapat melihatnya secara jitu….”

Rumang segera mendengus : “Hmmm…baiklah, anggap saja Kho Beng si bocah keparat itu memang belum mengetahui persoalan kita, tapi kemanakah kita harus pergi mencari dirinya?”

“Yaa betul” sambung Hapukim, “paling tidak kita kan mesti menemukan Kho Beng lebih dulu, kalau tidak, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan kitab pusaka Thian goan bu boh tsb?”

Molim segera menggeleng, katanya :

“Menurut penilaianku, kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh sudah tidak berada ditangan Kho Beng, besar kemungkinan benda tsb masih berada ditangan si tua Bu wi.”

“Hmm, kau sama sekali tak pernah melakukan pelacakan secara khusus, dari mana bisa tahu kalau benda tsb tidak berada disakunya?” seru Rumang.

“Padahal asal kita mau berpikir, hal tsb bisa kita pikirkan dg jelas, sesungguhnya Kho Beng si bocah keparat itu belum berhasil menguasai ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, sekalipun pernah dipelajarinya tanpa latihan satu atau dua tahun mustahil dia bisa memperoleh hasil yg sepadan, jadi tegasnya kepandaian silatnya tak lebih hanya mendapat sedikit kemajuan saja. Bayangkan saja, dg bekal kepandaian serendah ini, apakah dia akan menggembol benda yg tak ternilai harganya itu?”

“Yaa, betul juga perkataan ini” seru Mokim sambil mengangguk. Tapi Hapukim segera berteriak :

“Aaah, peduli amat betul atau tidak perkataan tsb, yg penting apa yg mesti kita perbuat sekarang?”

“Sederhana sekali, aku telah berhasil mendapatkan sebuah rencana yg amat bagus.”

Sekali lagi Rumang menepuk paha sendiri keras-keras, teriaknya : “Cepat katakan apa rencanamu itu?”

“Kita berangkat kelembah hati Buddha dan berlagak diutus oleh Kho Beng si bocah keparat itu utk mengambil kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh!”

“Aku rasa cara seperti itu tak bakal berhasil, jangan lagi situa Bu wi adalah seorang yg berotak lihay dan liciknya bukan kepalang. Ia tak mungkin percaya dg perkataan kita, lagipula si hwesio daging anjing pun bukan manusia yg boleh dianggap enteng, bagaimana mungkin dia bersedia menyerahkannya kepada kita?”

Molim segera mendengus : “Hmmm, dasar goblok!” “Hey, siapa yg kau maki?” tegur Hapukim marah.

“Tentu saja kau! Otakmu memang bebal dan tak pernah bisa dipakai utk berpikir, hmmm… sekalipun kita gagal utk menipu mereka, paling tidak kita kan akan memperoleh kepastian tentang kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tsb, asal kita laporkan kabar tsb kepada Thia hu hoat, emangnya kita tak akan peroleh bagian?”

Agaknya Hapukim menyadari kalau otak sendiri memang tak selancar dan sepintar Molim, karenanya dia Cuma bisa menahan diri dan tak banyak bicara lagi.

Sementara itu Molim telah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak amat bangga.

Chin sian kun segera berbisik kepada Kho Beng dg ilmu menyampai suara :

“Nah, sekarang kau sudah jelas bukan? Thia hu hot yg dia maksudkan bernama Thia bu ki, dia adalah salah satu diantara duabelas pelindung hukum dari dewi In nu.”

Diam-diam Kho Beng menghembuskan napas panjang, utk sesaat ia merasa sangat kecewa hingga lupa utk memberi jawaban.

Mendadak terdengar lagi suara langkah kaki dari manusia bergema datang dan langsung menuju kedalam kuil.

Sementara Kho Beng masih tertegun, Chin sian kun kembali berbisik :

“Sudah pasti pelindung hukum she Thia yg datang!”

Namun setelah suara langkah kaki manusia itu masuk kedalam ruang kuil, ia baru mengetahui kalau dugaannya salah.

Ternyata yg datang adalah seorang lelaki yg berdandan seperti seorang Sastrawan tapi tegasnya pakaian tsb sudah dekil lagi luntur warnanya, mungkin sudah sepuluh tahun tak pernah dicuci hingga warnanya tak bisa diduga lagi.

Yg jelas pakaian tsb memberi kesan dekil lagi bobrok bagi siapapun yg melihatnya.

Orang itu berumur empat puluh tahunan, tubuhnya kurus lagi kuning kepucat-pucatan, mungkin sudah tiga tahun menderita sakit dan belum juga sembuh, pokoknya dia mempunyai potongan muka yg mengenaskan dan patut dikasihani.

Sambil mengoyangkan sebuah kipas berwarna hitam, sastrawan itu berjalan masuk kedalam ruang kuil dg jalan terseok-seok…. Kho Beng serta Chin sian kun yg melihat kehadiran orang itu menjadi tertegun , utk sesaat mereka tak bisa menduga asal usul orang tsb.

Agaknya Molim sekalian yg berada didalam ruang kuil pun merasa agak tercengang dg kehadiran orang itu.

Sambil memutar biji matanya, Molim segera menghardik : “Hey si peminta-minta, malam ini tempatmu sudah kami

pergunakan, lebih baik mencari tempat pemondokan ditempat lain saja!”

“Biarpun sudah kalian tempati, memangnya aku tidak boleh masuk kemari?” sahut sastrawan rudin itu sambil tertawa terkekeh- kekeh.

Rumang segera berteriak :

“Tempat ini kelewat sempit, tak mungkin bisa menampung sekian banyak orang utk tidur bersama.”

“Aaah, bisa tak bisa tidurpun tak mengapa, toh aku bisa duduk duduk….hey, kalian punya arak wangi?”

“Arak sih ada, Cuma sayang bukan disediakan untukmu!” bentak Hapukim mendongkol.

Kembai sastrawan rudin tertawa :

“Empat samudera adalah sahabat, masa kalian tak akan mengundangku untuk minum barang dua cawan saja?”

Rumang menjadi teramat gusar, segera teriaknya :

“Hey pengemis busuk, kenapa sih kau ribut amat? Huuuh, dg tampangmu yg begitu dekil dan menjijikkan, kaupun ingin meneguk arak kami? Hayo cepat menggelinding pergi dari sini, kalau terlambat menggelinding akan kusuruh kau merangkak keluar dari sini!”

Kembali sastrawan rudin itu tertawa :

“Aku sipelajar belum pernah belajar merangkak, entah kalian berempat mampu tidak utk merangkak keluar?”

“Haaaah….haaa…haaaah…orang apapun mengaku sebagai pelajar? Huuuh, betul-betul tak tahu malu!” ejek Rumang sambil tertawa seram.

“Sesungguhnya aku sipelajar adalah orang yg paling ramah dan tahu diri” kata si sastrawan rudin sambil menggeleng, “asal kalian bersedia menjamu aku dg arak dan daging lezat, akupun bersedia memaafkan kekasaran kalian serta tidak mempersoalkan lagi.”

“Lebih baik kau persoalkan saja, pingin kulihat bagaimana caramu utk mempersoalkan masalah ini.” “Aku lihat kalian semua adalah orang-orang yg tak tahu diri, orang bermata buta!”

Rumang menjadi sewot, sambil mengepal tinjunya ia membentak

:

“Ngaco belo tak karuan, hati-hati akan kupetik batok kepalamu

itu!”

Mendadak sastrawan rudin itu tertawa tergelak : “Haaaah…haaahh…haaahh…bagus sekali….aku sipelajar sastra

gagal menjadi sastrawan, belajar pedang gagal menjadi jago pedang, kemudian belajar memetik batok kepala, ternyata dalam bidang yg satu ini aku memang cukup ahli dan berpengalaman.”

“Kau pun pandai memetik batok kepala?” tanya Rumang dg wajah tertegun.

“Yaa, mengetahui sedikit-sedikit”

Sambil bertolak pinggang Rumang segera membentak :

“Kalau begitu coba kau petiklah, bila tak mampu memetik batok kepala ayahmu….hati-hati kalau batok kepalamu tak bisa di pertahankan lagi!”

“Bagus sih bagus” kata sastrawan rudin itu sambil tertawa, “tapi sebelum itu aku ingin melihat dulu bagaimana caramu merangkak keluar dari sini.”

Tak terlukiskan rasa gusar Rumang menghadapi kejadian ini, tanpa banyak berbicara lagi dia segera mengepal tinjunya dan langsung disodokkan kemuka.

Pada hakekatnya dia tak memandang sebelah matapun terhadap sastrawan rudin yg ceking lagi pucat sehingga mirip orang yg hampir mampus ini.

Serangan yg dilontarkan dg cepat dan dahsyat itu dalam perkiraannya paling tidak bisa membuat pelajar rudin itu pingsan sebelas kali………

Siapa tahu menilai orang tak boleh menilai dari wajahnya, kali ini Rumang telah salah menilai lawannya.

Tidak tampak bagaimana cara pelajar rudin itu menghindarkan diri, tahu-tahu jotosan yg sangat kuat itu sudah mengenai sasaran kosong.

“Hey orang muda, kau betul-betul hendak main pukul?” teriak pelajar rudin itu keras-keras.

Rumang agak tertegun, kemudian teriaknya pula : “Hey, kalau punya nyali hayo jangan berkelit!” Kembali sebuah sodokan tinju yg keras dilontarkan kedepan.

Kali ini ternyata sastrawan rudin itu tidak mencoba utk menghindarkan diri, dia malah sambut datangnya serangan tsb dg sodokan kipasnya.

Dg demikian pukulan keras dari Rumang tsb bukan bersarang ditubuh sastrawan rudin itu, sebnaliknya malah saling membentur dg ujung kipas.

Tak ampun lagi dia menjerit kesakitan, seketika itu juga kepalan kanannya sakit bagaikan retak, rasa sakit yg dideritanya benar-benar tak terlukiskan dg kata-kata.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, sastrawan rudin itu berseru : “Nah, bocah tolol, kali ini kau harus menderita cukup berat!” Kipasnya ditotok berulang kali kedepan, dalam waktu singkat,

sikut kiri serta sepasang lutut Rumang sudah terhajar oleh gebukan kipas tsb……

Jerit kesakitan yg memilukan hati bergema saling menyusul, keempat anggota badannya seperti sudah dibikin cacat semua, membuat ia tak mampu berdiri tegak lagi dan segera roboh terjengkakng keatas tanah…

Hapukim serta dua bersaudara Mo yg melihat peristiwa itu menjadi amat terperanjat, serentak mereka meloloskan s enjata masing-masing sambil menerjang kemuka.

Terdengar sastrawan rudin itu berseru sambil tergelak : “Kalian tak perlu tergesa-gesa, marilah maju satu persatu!”

Kipasnya segera direntangkan, selapis tenaga pukulan yg tak berwujud dan bersuara segera menyapu ketubuh ketiga orang tsb.

Bagaikan menumbuk diatas lapisan dinding baja yg amat kuat saja, tampak ketiga orang itu mencelat kebelakang hingga menumbuk diatas dinding ruangan keras-keras.

“Blaaaammm….!”

Sampai setengah harian lamanya mereka tak sanggup utk merangkak bangun kembali.

Kho Beng serta Chin sian kun yg mengikuti jalannya peristiwa itu menjadi terperanjat sekali hingga paras mukanya berubah hebat, sadarlah mereka bahwa sastrawan rudin tsb sesungguhnya adalah seorang tokoh dunia persilatan yg berilmu tinggi, hanya mereka tak dapat nmenebak siapa gerangan orang ini.

Sementara itu Molim sekalian telah meronta bangun, kini mereka Cuma bisa berdiri termangu-mangu bagaikan patung. Sambil tertawa dingin sastrawan rudin itu berkata kemudian : “Nah, siapa lagi yg merasa tak puas, silahkan maju

menyerang……”

Buru-buru Molim menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berkata :

“Jangan main kasar, jangan main kasar, apalagi diantara kita toh belum pernah terikat hubungan dendam atau sakit hati.”

“Yaa,yaa…kau memang seorang yg pandai melihat gelagat…” ejek sastrawan rudin itu sambil tertawa, “dan bagaimana dg yg lain?”

Sebetulnya Mokim serta Hapukim mempunyai maksud akan turun tangan utk kedua kalinya, namum kerlingan mata Molim membuat kedua orang tsb harus mengurungkan niatnya.

Pelan-pelan Rumang berusaha meronta dan merangkak bangun, tapi kaki kanan sastrawan rudin itu sudah keburu menginjak diatas punggungnya, hal ini membuat badannya yg hampir bangkit berdiri segera terjatuh kembali mencium tanah.

“Hey, kau sudah selesai belum?” teriak Rumang keras-keras. “Belum…belum selesai!” sahut sastrawan rudin itu sambil tertawa

terbahak-bahak, “kau harus merangkak dulu dari sini sampai keluar kuil ini……”

“Tidak! Aku tak akan merangkak keluar biar harus mati aku tak akan merangkak keluar!”

Kembali sastrawan rudin itu tertawa :

“Kebetulan sekali aku si pelajar mempunyai watak aneh, yaitu setiap perbuatan yg kuinginkan harus dilaksanakan sampai jadi, untuk itu kau mesti merangkak keluar dari sini entah apapun alasannya.”

“Kalau aku tak mau merangkak keluar, mau apa kau?” teriak Rumang makin sewot.

“Kalau begitu terpaksa kau mesti menahan pelbagai siksaan dan penderitaan, nah pertimbangkan sendiri, kau benar-benar enggan merangkak atau menurut saja? Bila menolak, terpaksa aku sipelajar akan turun tangan untuk mulai menyiksamu, bahkan ”

Setelah memutar biji matanya, ia menambahkan :

“Bahkan sekali aku sipelajar sudah turun tangan, maka pekerjaan ini tak bakal berhenti sampai ditengah jalan.”

Mendadak terdengar Molim berteriak keras, “Tuan, kau jangan marah dulu, dia...dia pasti akan bersedia merangkak keluar…..”

“Bagus sekali!” kata pelajar rudin itu sambil tertawa, “coba kau bujuklah dia”

Molim segera menghampiri Rumang , kemudian teriaknya : “Seorang lelaki sejati bisa mengikuti perubahan situasi, hari ini

kita telah bertemu dg tokoh berilmu tinggi, sekalipun harus merangkak keluar dari sini, apalah artinya bagimu?”

“Kalau kau hendak merangkak, lebih baik merangkaklah lebih dulu, asal kau sudah mulai merangkak, aku pasti mengikuti” teriak Rumang sambil menggigit bibir.

Molim segera berkerut kening, tiba-tiba ia membisikkan sesuatu dg menggunakan ilmu menyampaikan suara.

Rumang kelihatan termenung sebentar, akhirnya dia berkata : “Baiklah! Mak nya….. aku akan merangkak keluar dari sini…..!” Habis berkata ia benar-benar merangkak sampai diluar kuil.

Sambil bertepuk tangan pelajar rudin itu segera bersorak : “Horeeee…..bagus, bagus sekali, sungguh menarik, sungguh

menarik hati…….” Mendadak………

Pada saat Rumang sedang merangkak keluar itulah, Molim, Mokim serta Hapukim bertiga secara diam-diam telah meloloskan golok masing-masing, lalu tanpa menimbulkan sedikit suara pun membacok punggung si pelajar rudin tsb.

Agaknya ketiga orang itu berniat membokong musuhnya secara diam-diam, padahal si pelajar rudin itu sedang memusatkan seluruh perhatiannya melihat Rumang merangkak keluar, jelas dia tidak mempersiapkan diri secara baik.

Keselamatan jiwanya pun segera terancam bahaya maut, kelihatannya sebentar lagi dia bakal termakan oleh bacokan tsb.

Tapi disaat yg amat kritis inilah, Kho Beng serta Chin sian kun yg bersembunyi diruang samping telah melayang keluar bagaikan sukma gentayangan saja, dua bilah pedang mereka dg cekatan sekali menangkis ketiga golok lawan.

Tentu saja peristiwa ini sama sekali berada diluar dugaan Molim, Mokim dan Hapukim, untuk sesaat lamanya mereka dibuat terkejut bercampur amat gusar.

Rumang yg sedang merangkak diatas tanah dan kebetulan berpaling pun nampak perubahan pada mukanya, dg cepat dia menjatuhkan diri berbaring diatas tanah dan berlagak sudah mampus…

“Budak kurangajar!” dengan mata melotot dan suara nyaring Kho Beng membentak keras, “aku lihat nyali kalian makin lama semakin bertambah besar saja!”

Molim, Mokim serta Hapukim segera menundukkan kepala dg mulut membungkam, paras muka mereka berubah menjadi merah padam karena jengah….

Sebaliknya si pelajar rudin itu berkata sambil tertawa terkekeh- kekeh,

“Haaaahh…haaahh…haaahh…bagus sekali, nampaknya kuil ini memang luar biasa, masa dalam waktu sekejap mata telah muncul kembali dua orang manusia?”

Sambil tertawa hambar Chin sian kun berkata : “Seandainya kami berdua tidak munculkan diri tepat pada

waktunya, mungkin tuan sudah termakan oleh bokongan mereka!” “Nona terlalu serius kalau b erbicara” ucap si pelajar rudin sambil

tertawa, “aku si pelajar meski tidak sering berkelana didalam dunia persilatan, namun aku percaya kemampuan yg dimiliki keempat anjing asing ini masih belum mampu utk membokongku!”

Lalu sambil memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh :

“Aku si pelajar paling senang kalau berbicara sejujurnya, tahukah kau apa sebabnya aku sengaja memberi kesempatan kepada mereka utk membokongku?”

“Aku tidak tahu!” sahut Chin sian kun dg paras muka berubah menjadi merah padam.

Sambil tertawa si pelajar rudin itu berkata lebih jauh :

“Hal ini tak lain disebabkan aku si pelajar ingin mencari sebuah alasan yg cukup kuat utk membunuh mereka semua.”

“Apa sebabnya tuan bersikeras hendak membunuh mereka semua.”

“Haaahh…haaahh….haaahh….tegasnya aku sipelajar tak mampu memberi alasan yg tepat, pokoknya begitu bertemu dg mereka timbul perasaan muak dan benci dalam hati kecilku, biasanya terhadap orang-orang yg kubenci, aku si pelajar tak akan membiarkan mereka hidup terus didunia ini.”

Rasa terkejut, gusar dan gelisah segera mencekam perasaan Molim sekalian berempat, namun utk berapa saat lamanya tak sepatah katapun yg sanggup mereka utarakan keluar. Sambil menjura Kho Beng berkata cepat :

“Bolehkah aku tahu siapa nama tuan yg sebenarnya?” Si pelajar rudin itu tertawa :

“Selama hidup aku si pelajar tidak memiliki kelemahan apapun selain rudin, oleh karena itulah namaku memakai pula kata rudin tsb yakni si pelajar rudin Ho Heng!”

“Haaah…rupanya tuan adalah Ho cianpwee, pemimpin dari Lam huang pat ciong (nelayan rudin dari Lam huang), kalau begitu maaf….maaf….”

Sembari berkata dia segera memberi hormat dalam-dalam :

Buru-buru si pelajar rudin, Ho Heng menghalanginya seraya b erkata :

“Tak usah sungkan-sungkan, kau sendiri sebetulnya siapa…” “Boanpwee berasal dari marga Kho bernama Beng, asalku adalah

perkampungan Hui im ceng dikota Hang ciu!”

Si pelajar rudin segera bertepuk tangan kegirangan, serunya cepat :

“Oooh, rupanya kau adalah Kho Beng, sudah lama aku sipelajar rudin mengagumi nama besarmu”

“Aaaah…perkataan dari cianpwee tsb tak berani boanpwee terima….”

“Oya, sudah lama aku si pelajar rudin tak pernah melangkah masuk daratan Tionggoan, dari siapa sih Kho sauhiap pernah mendengar namaku ini?”

“Bu wi cianpwee yg memberitahukan kepadaku!”

“Situa Bu wi?” si pelajar rudin Ho Heng segera tertawa tertawa terbahak-bahak, “bukankah si tua bangka ini sudah hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia?”

“Aaaai…panjang sekali utk menceritakan tentang ini…..”

Maka secara ringkas Kho Beng bercerita tentang Bu wi lojin serta pengalaman yg dialaminya sampai terluka…

Sewaktu selesai mendengar penuturan, sambil tertawa terkekeh- kekeh, si pelajar rudin Ho Heng berkata :

“Sewaktu menyinggung tentang aku si pelajar rudin, apa saja yg dikatakan si tua Bu wi kepadamu?”

Dg wajah serius Kho Beng berkata :

“Dia orang tua sangat memuji kehebatan cianpwee, katanya cianpwee suka mengembara seorang diri dan membentuk kekuatan yg tersendiri didalam dunia persilatan, kau adalah seorang tokoh yg dihormati oleh setiap umat persilatan didunia ini!”

Pelajar rudin Ho Heng segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya :

“Tidak mirip, tidak mirip, aku merasa belum sanggup membawa kedudukanku mencapai tingkatan seperti apa yg dia gambarkan.”

Lalu setelah memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh : “Untung saja perkataan semacam ini biar agak lebih banyak pun

tak akan mengganggu selera orang, entah betul atau tidak yg pasti mendatangkan rasa gembira bagi yg mendengarkan… ehmmm,

rasanya pembicaraan diantara kita cocok sekali, baiklah kita cari kesempatan lain utk pelan-pelan berbicara lagi!”

Berbicara sampai disitu, dia segera menggerakkan lengan kanannya dan mencengkeram tubuh Rumang yg masih mendekam diatas tanah.

Kho Beng menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan peristwa itu, buru-buru serunya :

“Cianpwee, kau… ”

Si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya seraya berkata :

“Tunggulah sampai aku si pelajar memetik batok kepala mereka lebih dulu sebelum melanjutkan pembicaraan kita tadi.”

“Beberapa orang ini adalah anak buah boanpwee, bersediakah cianpwee utk ringan tangan serta mengampuni mereka semua?” pinta Kho Beng dg perasaan cemas.

“Anak buahmu?”

Setengah percaya setengah tidak si pelajar rudin Ho Heng mengalihkan pandangan matanya dan memandang sekejap kewajah keempat orang asing itu, lalu katanya lebih jauh :

“Sekalipun dalam dunia persilatan sudah tak mampu menemukan orang lain, kau tidak sepantasnya menerima manusia semacam ini sebagai anak buahmu.”

Kho Beng segera menghela napas panjang :

“Tapi boanpwee toh sudah menerima sebagai anak buahku, paling tidak hubungan antara majikan dan pembantu sudah cukup melekat dihati kami!”

Si pelajar rudin Ho heng menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya lagi : “Menurut penilaianku si pelajar, watak dari beberapa orang ini tidak baik, mereka tak kenal budi, membalas air susu dg air tuba, manusia yg tak kenal budi seperti ini hanya merupakan bibit bencana kalau ditampung disisimu, aku lihat lebih baik……”

Mendadak Molim menjatuhkan diri berlutut dihadapan Kho Beng seraya merengek :

“Cukong, tolonglah jiwa kami!”

Hapukim serta Mokim serentak menjatuhkan diri berlutut pula dihadapan anak muda tsb sambil menyembah tiada hentinya.

Sambil mendengus dingin Kho Beng berkata :

“Kalian anggap apa yg telah kamu lakukan sama sekali tidak kuketahui?”

“Hamba tak berani melakukannya kembali, hamba sudah merasa amat menyesal….” Seru Molim cepat-cepat.

Pelajar rudin Ho Heng yg ikut mendengar pembicaraan itu segera menimbrung sambil tertawa :

“Bila kuperhatikan nada pembicaraan kalian, tampaknya orang- orang ini sudah pernah berhianat kepadamu?”

Kho Beng segera menghela napas panjang :

“Aaaai…manusia toh bukan nabi, siapakah yg pernah luput dari kesalahan?”

“Yaa, siapa tahu salah dan bersedia utk bertobat, berarti orang ini masih bisa dipelihara lebih jauh.”

Setelah berhenti sejenak, pelajar rudin itu berkata lebih jauh : “Tapi sayang keempat orang ini bukan termasuk orang-orang yg

tahu salah serta bersedia utk bertobat, rasanya aku si pelajar terpaksa harus menggunakan sedikit keahlian utk membuat mereka takluk selamanya dan sepanjang hidup tak berani berhianat lagi.”

“Dengan cara apa?” tanya Kho Beng keheranan. Si pelajar rudin Ho Heng tertawa:

“Kepandaianku ini bernama “memotong urat menutup nadi”, setelah dilakukan ditubuh mereka, maka dalam sebulan mendatang mereka pasti akan merasakan gangguan hebat hingga menyebabkan peredaran darah mereka tersumbat dan akhirnya mati, namun bila saban bulan peredaran darah mereka diurut dg kepandaian khusus, maka tidak akan terjadi persoalan pada dirinya.”

Kemudian sambil menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, katanya lebih jauh :

“Bagaimana menurut pendapat Kho sauhiap?” Molim, Mokim serta Hapukim yg masih berlutut buru-buru merengek dg suara memelas,

“Jangan gunakan kepandaian apapun utk melukai kami, kami semua berjanji tak akan berhianat lagi…”

Utk beberapa saat lamanya Kho Beng jadi ragu-ragu utk mengambil keputusan.

Melihat hal tsb, si pelajar rudin Ho Heng segera berkata lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh :

“Kalau persoalan lain, aku si pelajar akan rikuh utk turut campur, tapi dalam persoalan ini aku si pelajar sudah mempunyai keputusan yg cukup tegas, nah siapakah diantara kalian yg akan merasakan lebih dahulu…?”

Berada dalam keadaan seperti ini, Molim sekalian berempat tak berani lari dari situ, kabur pun tak berani, terpaksa mereka hanya bisa berlutut sambil merengek tiada hentinya.

Ternyata apa yg diucapkan si pelajar rudin Ho Heng segera dikerjakan pula, tanpa membuang tempo lagi dia segera menghampiri Molim sekalian dan melakukan gerakan menotok dg ilmu menyumbat nadi memotong urat!

Selesai menotok jalan darah orang-orang itu, si pelajar rudin Ho Heng baru bertanya sambil tertawa :

“Nah sekarang cobalah utk mengatur pernapasan, coba dirasakan keanehan apakah yg kalian rasakan antara bagian dada dg lambung?”

Molim sekalian menurut dan segera mengatur pernapasan. Tak lama kemudian terdengar Molim berteriak lebih dulu : “Aaah…aku merasa agak kesemutan…..”

Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terbahak-bahak : “Haaahh…haaah…haahh…itu berarti ilmu menyumbat nadi

memotong uratku telah mulai bekerja menunjukkan reaksinya, cara yg kupergunakan ini sama sekali tak akan berpengaruh pada tenaga dalam yg kalian miliki, tapi sebulan kemudian apabila tidak memperoleh pengurutan secara khusus, habislah sudah riwayat kalian.”

“Selanjutnya bukankah kami harus mengikuti dirimu terus menerus?” tanya Molim sangat terkejut.

“Hee…heee…hee…kalau aku mah tak dusi dg kalian, tentu saja kalian harus mengikuti majikan kalian yg lama…” “Kalau begitu, bukankah kami hanya bisa hidup selama satu bulan saja….?” Seru Molim dg perasaan amat gelisah.

Kembali si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya berulang kali, ujarnya :

“Kalau soal itu mah kalian tak perlu kelewat kuatir, aku si pelajar pasti akan mewariskan kepandaian mengurut tersebut kepada majikan kalian, asal kalian mau setia dan berbakti kepadanya, aku yakin setiap bulan dia pasti bersedia pula mengurutkan kalian satu kali.”

Pucat pias selembar wajah Molim karena ngeri dan ketakutan, buru-buru serunya kemudian :

“Cukong, cepatlah kau pelajari ilmu mengurut nadi darinya…..selamatkanlah jiwa kami…”

Sambil manggut-manggut pelajar rudin segera berseru : “Nah, Kho sauhiap, mari kita pergi keluar!”

Kho Beng segera manggut-manggut dan mengikuti si pelajr rudin menuju keluar ruangan.

Dalam beberapa kali lompatan saja tubuh si pelajar rudin telah berada sejauh lima puluh kaki dari tempat semula, dari situ dia segera melompat naik keatas pohon raksasa.

Dg amat cekatan Kho Beng mengikuti dibelakangnya, begitu sampai diatas pohon, pemuda itu segera berkata dg hormat :

“Mohon petunjuk dari cianpwee!” “Petunjuk apa?”

Kho Beng jadi tertegun, tapi segera sahutnya :

“Tentu saja ilmu mengurut utk mengobati ilmu menyumbat nadi memotong urat tsb.”

Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa misterius, serunya : “Terus terang saja aku katakan, sebetulnya apa yg terjadi hanya

tipuan belaka.”

“Tipuan belaka?” tanya Kho Beng agak tertegun, “tapi mengapa mereka merasakan dada serta lambungnya agak kesemutan?”

Sambil tertawa si pelajar rudin berkata :

“Hal ini disebabkan aku telah menggetarkan dada dan lambungnya dg tenaga dalamku, paling tidak dalam setahun mendatang mereka masih akan merasakan kesemutan tsb, setiap bulan kau cukup berlagak menguruti nadi-nadinya dan mengelabui mereka dg begitu saja, dalam keadaan seperti ini sebuas-buasnya watak orang asing tsb, aku rasa mereka tak berani menunjukkan sikap yg menyeleweng lagi.”

Buru-buru Kho Beng berkata :

“Terima kasih banyak atas bantuan cianpwee, cara yg kau pergunakan ini memang cukup hebat!”

Pelajar rudin Ho Heng tertawa gembira, baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, mendadak tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dari kejauhan sana dan langsung menerobos masuk kedalam kuil.

“Aduh celaka” bisik Kho Beng dg gelisah, “ada orang menyerbu dalam kuil itu!”

Si pelajar rudin Ho Heng yg sudah mengetahui kehadiran bayangan manusia tsb sendiri tadi, segera berkata sambil tertawa :

“Tak usah kuatir, mari kita lihat kembali kedalam kuil, memang sudah lama tanganku terasa gatal dan pingin mencari orang utk diajak berkelahi, kuharap orang ini cukup berharga utk bertarung melawan diriku…”

Dg cepat mereka berdua segera melompat turun dari atas pohon dan kembali kedalam kuil.

Sementara itu, diruang tengah bangunan kuil tsb telah berdiri seorang kakek berkerudung, paras muka Molim sekalian berubah seketika, mereka kelihatan gugup dan gelagapan sendiri.

Chin sian kun sendiripun merasa agak kaget bercampur gugup, sorot matanya yg gelisah dan cemas berulang kali dialihkan keluar ruangan, jelas ia sangat berharap Kho Beng dan si pelajar rudin Ho Hewng bisa pulang kembali dg cepat.

Keadaan semacam ini tak lebih hanya berlangsung dalam sekejap mata, sebab si pelajar rudin dan Kho Beng telah muncul kembali kedalam ruangan tsb.

Situasi didalam ruangan kuil seketika mengalami perubahan yg sangat besar, paing tidak Molim sekalian serta Chin sian kun sudah tidak sekaget dan segugup tadi lagi.

Dalam pada itu, kakek berkerudung itu sudah memperhatikan sekejap disekitar ruangan kuil, kemudian sambil tertawa dingin katanya :

“Haaahh…haaahh…haaahh…bagus sekali, aku sudah menduga kalau kalian empat anjing asing bukan manusia yg bisa dipercaya, ternyata dugaanku benar, kalian telah membocorkan rahasia kehadiranku disini….” Kemudian sambil berpaling kearah Chin sian kun, bentaknya lebih lanjut :

“Bukankah kau adalah To ko Giok, anak murid dari Go bi pay?

Mengapa bersekongkol dg mereka?”

Chin sian kun segera mendengus dingin :

“Hmmm, sekarang aku dapat memberitahukan kepadamu, sesungguh nonamu adalah …”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, kakek berkerudung bertubuh ceking itu sudah menggoyangkan tangannya berulang kali seraya menukas :

“Tak perlu kau lanjutkan, aku sudah dapat menebak siapa gerangan dirimu yg sebenarnya.”

“Siapakah aku?” tanya si nona sambil tertawa.

Dg suara rendah dan dalam kakek berkerudung itu membentak : “Kau adalah si walet terbang Chin sian kun yg telah menghianati

para jago dari kawasan Sam siang…betul bukan?” Chin sian kun segera tertawa terkekeh-kekeh :

“Ketajaman matamu memang sangat mengagumkan, tebakanmu memang sangat tepat!”

Dg penuh amarah, kakek berkerudung itu berseru lagi :

“Selama hidup, belum pernah aku dibodohi orang seperti hari ini, hey budak busuk, aku lihat nyalimu benar-benar cukup besar, tapi….beginipun ada baiknya juga…….
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(