Kedele Maut Jilid 24

 
Jilid 24

“Heeehh…heeehh…heeeehhh…sudah seumur hidup kami mengembara didalam dunia persilatan, namun belum pernah mendengar nama perkampungan Ciu hong san ceng kalian. Hmmm! Kendatipun tempat ini sarang naga gua harimau, aku tetap akan mencoba menyerbunya… ”

“Aku tidak berharap kalian mencoba perbuatan sebodoh itu” ujar Cun hong Lengcu pelan “sebab aku kuatir tanah kami yang bersih segera akan dinodai oleh percikan darah, tapi bila anda kelewat memandang enteng kekuatan perkampungan kami, jelas perbuatan tersebut merupakan perbuatan orang buta.”

Begitu selesai berkata, tiba-tiba dia mengibaskan ujung bajunya.

Dari balik dinding pekarangan segera bermunculan empat puluhan orang jago, separuhnya adalah nona muda bergaun hijau dan separuhnya lagi adalah kakek berpakaian ringkas.

Terdengar Cun hong Lengcu membentak lagi:

“Cin bu wi, coba demontrasikan kepandaianmu dihadapan mereka!”

Seorang kakek berbaju hijau yang berada diatas dinding pekarangan segera menyahut,

“akan kami laksanakan perintah nona!” “Sreeeeet. !“ Tampak kakek itu meloloskan sepasang pedang yang tersoren dipunggungnya, lalu sambil membentak keras sepasang tangannya diayunkan bersama kedepan.

Tampaklah kedua belah pedang tersebut berubah menjadi dua jalur cahaya putih yang secepat sambaran petir meluncur kearah dua batang pohon besar yang tumbuh lima kaki dari tempatnya berada.

“Duuukkk!Duuuukkk...!“

Diiringi suara bentakan nyaring, mata pedang tahu-tahu sudah menembusi batang pohon tersebut hingga tinggal gagang pedangnya saja yang masih menongol diluar.

Untuk menembusi batang pohon dengan dua bilah pedang sekaligus, paling tidak seseorang harus memiliki dasar tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, tak heran kalau kawanan jago tersebut menjadi terperanjat dan berubah paras mukanya.

Si pedang emas berlengan baja termasyur dalam dunia persilatan karena mengandalkan ilmu pedangnya, berarti kepandaiannya dalam ilmu pedang terhitung cukup tangguh namun dihati kecilnya ia mengerti bahwa kepandaian silat yang dimiliki anak buah dari perkampungan Ciu hong san ceng tersebut jauh lebih tangguh dari kemampuannya.

Mimpi pun dia tak mengira kalau perkampungan Ciu hong san ceng yang belum pernah terdengar namanya dalam dunia persilatan ini ternyata memiliki sekawanan jago yang berilmu sangat hebat, peristiwa ini benar-benar berada diluar dugaannya, bila orang-orang itu sampai bersekongkol dengan Kedele Maut, bukankah..........

Membayangkan kesemuanya itu diam-diam ia menjadi gelisah, mendadak timbul sebuah akal dalam benaknya.

Padahal jalan pemikiran tersebut pun merupakan suatu tindakan apa boleh buat, sebab ia berpendapat walaupun mereka turun tangan seorang melawan seorang pun asal pihak perkampungan Ciu hong san ceng tidak ikut campur dalam peristiwa ini, dengan sistem pertarungan roda berputar, niscaya kekuatan tubuh yang dimiliki Kedele Maut tersebut lambat laun akan terkuras habis, akhirnya tidak akan sulit bagi mereka untuk menangkap hidup-hidup.

Berpendapat demikian, pikiran dan perasaan hatinya pun jauh lebih terbuka, maka sambil tertawa terbahak-bahak katanya:

“Haaaahh......haaaahh......haaaah. sungguh tak kusangka

perkampungan kalian adalah sebuah sarang naga gua harimau, tapi kalian tak perlu kuatir, aku telah mengambil keputusan untuk bertindak sesuai dengan peraturan dunia persilatan, tapi dapatkah pihak kalian memberi jaminan kalau orang-orangmu tak akan mencampuri urusan ini?“

Cun hong Lengcu segera tertawa:

“Sekali perkataan kami telah diucapkan, biar ada seribu ekor kuda pun tak akan sanggup utk menariknya kembali.“

“Bagus sekali, kami semua akan mundur sejauh sepuluh kaki sebagai tanda hormat kami terhadap perkampungan kalian!“

Selesai berkata ia segera mengulapkan tangannya kearah para jago, kemudian bergerak mundur sejauh sepuluh kaki lebih dulu.

Ketika dilihatnya kawanan jago lainnya masih nampak sangsi untuk mengikuti petunjuknya, dengan ilmu menyampaikan suara buru-buru To tin berkata:

“Dengan berbuat demikianlah kita baru bisa memotong jalan mundur siluman perempuan itu, disaat pertarungan sudah berkobar nanti, kita gencet kemuka dari dua sudut yang berlawanan, kemudian hadapi di dengan sistem roda berputar, aku yakin siluman perempuan itu tentu akan kehabisan tenaga dan akhirnya dapat kita bekuk hidup-hidup!“

Setelah mendengar bisikan tersebut, kawanan jago tersebut baru mengerti apa gerangan yang terjadi, tanpa terasa semangat mereka makin berkobar.........

Sementara itu Cun hong Lengcu yang menyaksikan kawanan jago tersebut sudah terpengaruh oleh hasutannya, diam-diam tertawa geli.

Padahal kalau berbicara sejujurnya, andaikata bukan pihak perkampungan Cui hong san ceng yang sengaja membocorkan rahasia Kho Yang ciu ke tempat luaran, darimana kawanan jago persilatan itu bisa mendapat kabar dan berbondong-bondong datang kesana?

Dan sekarang mereka tidak menunjukkan reaksi apapun, kedua belah pihak pun sama-sama tidak dibelanya, padahal yang mereka harapkan justru adalah menonton dua harimau berkelahi sementara mereka akan menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasilnya. 

Betapa tidak? Siapa saja yang kalah, sudah jelas memberikan keuntungan bagi pihaknya. Sementara itu Cun hong Lengcu telah berjalan mendekati Kho Yan ciu, lalu katanya:

“Adik Kho, hanya sampai disini saja yang bisa kami perbuat untukmu. maafkan kami!“

Waktu itu, bukan saja Kho Yang ciu tidak memahami rencana busuk dari rekan-rekannya, malah sebaliknya dia merasa terharu dan berterima kasih sekali, segera jawabnya:

“Cici berdua, apa yang bisa kalian lakukan demi diriku sudah lebih dari  cukup  untukku,   terima   kasih   banyak   atas   bantuan kalian. “

Li sian soat yang turut menghampirinya, segera berkata dengan suara rendah:

“Adikku, kau harus berhati-hati, andaikata kau tak sanggup untuk menahan diri lagi, cepatlah balik badan dan kabur kemari!“

Sambil tertawa Kho Yang ciu manggut-manggut:

“Tak usah kuatir, sebodoh-bodohku, rasanya tak akan segoblok seperti apa kalian katakan, harap cici berdua legakan hati!“

Selesai berkata dia segera mempersiapkan sejata payung Thian lo san nya kemudian berkelebat maju sejauh sepuluh kaki lebih dari posisi semula, begitu sampai ditengah arena, ia segera menegur sambil tertawa dingin:

“Heeehh....heehhh. siapakah diantara kalian yang hendak

memberi petunjuk lebih dulu. ?“

Seorang lelaki bercambang yang membawa sebuah golok besar segera tampil kedepan, sahutnya dengan lantang:

“Aku si Golok setan bercambang baja ingin mencoba kemampuanmu “

“Oooh. rupanya Sun tongkeh yang ingin mencoba sebutir

Kedele Maut ku. bagus sekali, kau boleh pilih sendiri, ingin

mencari kemenangan dengan mengandalkan tenaga dalam ataukah mencoba kedele maut ku saja?“

Begitu mendengar nama “Kedele” si Golok Setan Bercambang Baaja Sun Pah, segera merasakan hatinya bergidik dan peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuhnya.

Namun ia tak mau unjuk kelemahannya dihadapan umum, dengan suara menggeledek segera teriaknya:

“Hanya enghiong hohan yang mencari kemenangan dengan mengandalkan kepandaian silatnya yang sejati!” “Baik!” seru Kho Yang ciu sambil tertawa dingin, “kalau toh kau sudah memilih jalan kematian sendiri, silahkan saja untuk maju kesini!”

Golok Setan bercambang baja segera membentak keras, goloknya dengan membawa deruan angin serangan yang maha dahsyat segera menyapu ke muka.

Cahaya goloknya yang melingkar diangkasa segera membiaskan sinar yang amat menyilaukanmata, diiringi desingan angin tajam serangan tersebut langsung membacok kebadan Kho Yang ciu.

Melihat datangnya serangan tersebut, Kho Yang ciu tertawa lirih, dengan gerakan seenak hatinya sendiri, dia memutar payung thian lo san nya kebawah, kemudian menyongsong datangnya serangan bacokan itu.

Buru-buru si Golok Setan bercambang baja menarik kembali serangannya sambil berganti jurus, lagi-lagi dia membabat pinggang lawannya.

Siapa sangka gerakan Kho Yang ciu kali ini masih setingkat lebih cepat daripada serangannya, belum sempat golok tersebut menyambar pinggang lawan, tahu-tahu senjata payung Thian lo san gadis tersebut sudah menembusi dadanya.

Jeritan yang memilukan hati segera bergema memecah keheningan, semburan darah segar membasahi seluruh dada dan tubuh Golk Setan bercambang baja, Sun Pah.

Setelah mundur belasan langkah kebelakang dengan sempoyongan, akhirnya ia roboh terjengkang ke atas tanah dan tewas seketika itu juga.

Belum sampai satu gebrakan, dari pihak kawanan jago persilatan sudah kehilangan seorang jago lihaynya, peristiwa ini tentu saja amat menggusarkan hati To tin.

Dengan wajah hijau membesi, buru-buru serunya kepada kawanan jago dengan ilmu menyampaikan suara:

“Cepat kalian terjun kearah musuh secara bergiliran, bila tak sanggup menahan serangan siluman perempuan itu, gunakan suara pekikan sebagai tanda, kami segera akan mengirim jago lain untuk menggantikan kedudukan kalian.”

Dalam pada itu, Kho Yang ciu merasakan semangatnya berkobar setelah dalam satu gebrakan berhasil meraih kemenangan, dengan suara lantang segera teriaknya: “Apakah masih ada diantara kalian yang ingin memberi petunjuk?”

Sesosok bayangan manusia segera melompat keluar dari kerumunan para jago, sambil melayang turun ditengah arena, teriaknya keras-keras:

“Biar aku yang mencoba kepandaian sakti dari ilmu payung Thian lo san!”

Ketika bayangan manusia itu sudah berdiri tegak, terlihatlah dia adalah seorang pemuda yang berusia dua puluh lima tahunan, wajahnya kelihatan cukup tampan.

Dengan suara dingin Kho Yang ciu segera menegur: “Boleh aku tahu siapa namamu?”

“Aku Ki Liu si!”

Kho Yang ciu berpikir sebentar, katanya kemudian,

“Aku rasa dalam daftar hitamku tidak tercantum nama tersebut, kuanjurkan kepadamu lebih baik mengundurkan diri saja secara teratur, daripada akhirnya mati secara mengenaskan ! ”

Mendengar perkataan tersebut, Ki Liu si tertawa terbahak-bahak : “Haaaahhh….haaaahhh……..haaahh… bukankah sepasang

tangan nnona sudah penuh berlepotan darah ? mengapa secara tiba-tiba kau menunjukkan belas kasihan ? sungguh suatu kejadian yang aneh ”

Kho Yang ciu mendengus dingin :

“Hmmm….walaupun sudah banyak manusia yang kubunuh, namun belum pernah kubunuh manusia yang tak berdosa ! ”

“Haaaahhh……..haaaahhh…….haaahhh… kalau begitu anggap

saja aku sendiri yang mencari mati ! ”

Begitu selesai berkata, pedangnya langsung diayunkan kedepan menyerang dada Kho Yang ciu.

“Kurang ajar ! ” seru Kho Yang ciu amat marah, “kalau toh pingin mampus, jangan salahkan bila nonamu berhati kejam ! ”

Sambil memutar senjata payung thian lo san nya, dia sambut kedatangan lawan.

“Criiiiingggg… ! ”

Tatkala senjata payung Thian lo san dan pedang itu saling bertemu satu sama lainya, segera terjadilah suara benturan keras yang menyebabkan terjadinya percikan bunga api. Sambil miringkan badan Ki Liu si segera mundur setengah langkah kebelakang, ia merasakan pergelangan tangannya kesemutan.

Sebaliknya sepasang bahu Kho Yang ciu pun nampak bergoncang keras, tak tahan lagi serunya :

“Wah hebat juga tenaga dalammu ! ”

Rasakan dulu sebuah tusukanku ini…. ! ” teriak Ki Liu si lagi dengan seuara keras.

Pedangnya segera diputar membentuk tiga kuntum bunga pedang, lalu dalam komposisi segi tiga, ia langsung menyergap kemuka dengan sangat hebatnya.

Paras muka Kho Yang ciu waktu itu sudah berubah menjadi dingin bagaikan es, tiba-tiba saja senjata payung Thian lo san nya dipergunakan bagaikan senjata pedang dengan jurus ”Cahaya tajam lintasan bayangan”, dia sapu tubuh lawan dari sisi kiri langsung mengancam lengan kanan Ki Liu si.

Walaupun Ki liu si sendiripun dapat merasakan betapa lihainya jurus serangan tersebut, sayang sekali keadaan sudah terlambat, sebab jurus serangan dari Kho Yang ciu memang kelewat aneh dan sakti.

Ki Liu si sudah tak sempat lagi menarik serangannya sambil menanggapi ancaman yang datang, tak ampun seperti nasib yang dialami si Golok setan bercambang baja, terdengar suara sambaran serangan jurus dari Kho Yang ciu yang sangat aneh dan sakti itu , Ki Liu si dengan tiba-tiba menjejakkan kakinya, lalu mengundurkan diri dari serangan Kho Yang ciu yang sangat hebat itu.

Tak lama kemudian Kho Yang ciu menyerang jago kedua dari kawanan orang jago dunia persilatan itu dengan menggunakan jurus “Cahaya tajam lintasan bayangan” dia sapu tubuh musuhnya tersebut.

Dengan tidak dapat menahan serangan dari Kho Yang ciu itu, maka Ki Liu si, jago kedua itu menggeletak dengan badan yang bermandikan darah.

Dengan kematian dua orang jago pedang secara beruntun, kawanan jago dari dunia persilatan mulai dibikin keder dan bergidik.

Kho Yang ciu memperhatikan sekejap sekeliling arena, lalu sambil tertawa dingin serunya:

“Heeehhh……heeeehhh……….heeeehhh…..orang she To, kau tak usah menyuruh orang lain datang menghantar kematian lagi, kali ini nonamu ingin sekali mencoba kehebatan sepasang pedang berlengan baja mu, beranikah kau menerima tantangan ini?”

Si pedang emas berlengan baja To tin segera merasakan hatinya bergetar keras sesudah mendengar seruan tersebut.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau Kho Yang ciu bakal menantangnya secara terang-terangan, hal inilah yang membuat hatinya terperanjat sekali.

Sebagai pimpinan dari rombongan para jago dunia persilatan, sudah barang tentu dia tak ingin menunjukkan kelemahan sendiri dihadapan umum, karenanya sambil sengaja tertawa tergelak, katanya kemudian:

“Haaah…haaahh…..haaaahhh….bagus sekali, aku memang ingin mencoba sampai dimanakah kelihaian serta keampuhan ilmu payung Thian lo san mu itu, meski nona tidak menantangku untuk bertarung, sudah sejak tadi tanganku terasa gatal untuk mencoba keampuhanmu.”

Dengan suatu gerakan yang sangat ringan, dia melejit keudara dan melayang turun beberapa kaki dihadapan Kho Yang ciu, dan pada saat bersamaan dia meloloskan sepasang pedangnya yang berkilauan tajam ditangan, diapun membentak keras:

“Nah, silahkan nona memberi petunjuk!” Kho Yang ciu tertawa dingin, katanya :

“Kau sendiri kelewat tinggi menilai kemampuanmu sendiri, hmmmm! Bagiku, bertarung melawan manusia macam kau tak perlu berebut melancarkan serangan, kalau bukan demikian, kemana mesti kutaruh selembar wajahku ini dalam pengembaraanku dalam dunia persilatan?”

“Kau betul-betul kelewat sombong!” teriak To tin dengan perasaan amat mendongkol.

Sepasang pedangnya segera diputar menciptakan selapis cahaya pedang yang amat menyilaukan mata, lalu dengan jurus “Sepasang naga berebut mutiara” dia langsung menyerang tubuh gadis tersebut.

Kho Yang ciu tertawa dingin, payung Thian lo san nya dipentangkan lebar-lebar, dalam waktu singkat kawasan seluas berapa kaki sudah diliputi cahaya keperak-perakan yang menyilaukan mata, seluruh serangan gencar dari To tin seketika terbendung sama sekali.  To tin yang melancarkan tusukan dengan sepasang pedangnya segera merasakan serangan tersebut seakan-akan sudah membentur diatas sebuah dinding baja yang sangat kuat, pergelangan tangannya menjadi tergetar, sampai lamat-lamat terasa sakit dan kesemutan, hampir saja pedangnya terlepas dari cekalan tangannya.

Sementara itu Kho Yang ciu telah memutar kembali senjata payung Thian lo san nya sambil tertawa terkekeh-kekeh, jengeknya :

“Heeeeeehh……heeeeeeeehhh……heeeehhh…..dengan mengandalkan sedikit kepandaian seperti ini pun kau mencoba untuk memimpin umat persilatan? Huuuh… masih ketinggalan jauh!”

Merah padam selembar wajah To tin karena jengah, sambil menggertak gigi menahan gejolak emosi, teriaknya keras-keras:

“Hey perempuan siluman! Kau jangan tekebur dulu, rasakan sebuah tusukan pedangku ini!”

Sambil mendesak maju kemuka, sepasang pedangnya melancarkan tusukan mendatar ke tubuh lawan.

Kho Yang ciu menggunakan payungnya menggantikan pedang, dengan jurus “Malaikat langit menyembahkan hidangan”, terlihat sinar keperak-perakan menyebar keudara dan mengurung diatas cahaya pedang dari si Pedang emas berlengan baja To tin serta menyumbat gerakannya sama sekali.

Sebagai seorang jagoan yang termasyur didalam dunia persilatan karena permainan ilmu pedangnya, tentu saja si Pedang Emas berlengan baja dapat melihat pula bahwa jurus serangan yang digunakan Kho Yang ciu adalah jurus pedang.

Kendatipun demikian, teryata ia tak mampu untuk meraba jurus serangan macam apakah yang telah dipakai lawannya untuk menciptakan lapisan cahaya perak yang begitu menyilaukan mata serta menyumbat seluruh gerak serangannya itu.

Dalam terkejut dan gugupnya, buru-buru dia mengeluarkan jurus “Rombongan burung terbang melintas”, maksudnya dia hendak melindungi keselamatan tubuh sendiri dengan lapisan cahaya pedangnya yang tebal.

Tapi sayang, jurus pedang dari Kho Yang ciu itu justru memiliki keistimewaan lain,

“Criiiiingggggg… !”

Terdengar suara dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, ternyata pedang emas ditangan To tin telah saling beradu keras dengan payung Thian lo san dari Kho Yang ciu. Tak ampun lagi To tin merasakan lengan kanannya sakit sekali bagaikan patah, bersamaan waktunya pedang emas dalam cekalannya tak sanggup dipertahankan lebih jauh dan segera melesat ketengah udara lalu jatuh dua kaki dari posisi semula.

Dalam terkejutnya, buru-buru dia memutar pedang kirinya untuk melindungi badan, sementara tubuhnya bergerak mundur dengan cepat untuk menyelamatkan diri.

Tentu saja Kho Yang ciu tidak memberikan kesempatan kepada lawannya untuk melarikan diri dari cengkeramannya, sekali lagi terjadi suara dentingan nyaring yang amat memekakkan telinga.

“Criiiiiiiingggg… !”

Lagi-lagi Thian lo san nya menghajar pedang kiri To tin hingga mencelat dari cekalannya.

Dengan kehilangan sepasang pedangnya, maka pertahanan dada To tin pun menjadi terbuka sama sekali, dengan cepat payung Thian lo san menerobos masuk kedalam dan menguasai beberapa buah jalan darahnya.

Perubahan situasi ini berlangsung amat cepat, meski diantara kelima puluh jago persilatan yang berada disisi arena ada yang berniat terjun untuk menggantikan kedudukan To tin, namun tak seorangpun diantara mereka yang sempat berbuat demikian.

Dalam waktu singkat, tubuh To tin sudah terkurung dibawah ujung payung Thian lo san dari Kho Yang ciu itu.

Betapa pun lihai dan ampuhnya kepandaian silat yang dimiliki pemimpin dunia persilatan untuk kawasan Kanglam ini, bukti mengatakan bahwa dia sendiripun hanya mampu bertahan sebanyak dua jurus saja.

Sambil tertawa dingin Kho Yang ciu segera berkata: “Hey orang she To! Kau sudah menyerah, bukan?”

To tin memejamkan matanya rapat-rapat, sambil menggertak gigi serunya lantang:

“Kau boleh segera turun tangan!”

Kho Yang ciu tertawa hambar, dia tak langsung turun tangan, tapi ujarnya pelan:

“Berhubung kau adalah pemimpin dari rombongan tersebut, maka aku belum turun tangan, ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan kepadamu lebih dulu.” “Tanyakan saja!” ucap To tin sambil membuka matanya kembali, “asal dapat kujawab tentu akan kujawab secara baik-baik, tapi bila tak bisa kujawab, sekalipun kau tanyakan juga tak berguna.”

Kho Yang ciu memutar biji matanya sambil mengawasi wajah orang itu sekejap, setelah itu tanyanya:

“Dalam peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng tempo dulu, apakah kau pun ikut ambil bagian?”

“Bukankah kau sudah mempunyai sebuah daftar hitam? Kenapa pertanyaan ini mesti diajukan kembali kepadaku?” shut To tin dengan suara dalam.

“Daftar hitamku tak dapat dipercayai seratus persen, paling tidak masih banyak nama yang belum tercantum dalam daftar tersebut, oleh karena itu kuharap kau bisa memberikan jawaban yang meyakinkan kepadaku.”

To tin segera mendengus dingin: “Hmmm…..pertanyaan tersebut tak bisa kujawab!” “Kenapa?” tanya Kho Yang ciu gusar.

Dengan wajah serius To tin berkata:

“aku secara khusus menghubungi rekan-rekan persilatan untuk datang kemari bersama tujuannya tak lain adalah membasmi si kedele maut dari muka bumi serta menghilangkan bibit bencana bagi umat persilatan pada umumnya, sekarang aku gagal dengan tujuanku, berarti biar mati pun tak perlu kusesali, jika sekarang kuakui kalau diriku tidak terlibat dalam persitiwa berdarah di perkampungan Hui im ceng tempo hari, bukankah tindakanku ini sama artinya dengan tindakan pengecut yang takut mati… ?”

“Ooooh… jadi kalau begitu kau tidak erasa takut untuk

menghadapi kematian?” jengek Kho Yang ciu sambil tertawa dingin. “Sudah semenjak permulaan aku tidak memikirkan soal hidup

matiku!”

Kembali Kho Yang ciu mendengus:

“Hmmmm… kalau memang begitu terpaksa aku harus memenuhi

pengharapanmu itu!”

Payung Thian lo san segera digetarkan dan siap utnuk menembusi tubuh rang tersebut.

Disaat yang amat kritis inilah, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras:

“Tunggu sebentar!” Menyusul teriakan itu, tampak seorang pendeta tua berbaju kuning telah meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Pendeta tua ini tidak termasuk didalam rombongan kawanan jago persilatan itu, ternyata dia tak lain adalah Cok cuncu dari Siau lim si.

Lima sesepuh panca unsur dari Siau lim si memang merupakan jago-jago yang bernama besar dan termasyur dalam dunia persilatan, tak sedikit diantara para jago yang kenal dengan pendeta agung dari Siau lim pay ini, sehingga dalam waktu singkat suasana dalam arena berubah menjadi amat hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Begitu melayang turun ditengah arena, pendeta itu segera berseru memuji keagungan Buddha, sambil katanya :

“Omitohud……ternyata kedatanganku toh masih terlambat satu langkah, sudah ada korban yang kehilangan nyawa disini!”

Waktu itu, meskipun Kho Yang ciu tidak melanjutkan gerakan payung Thian lo san nya untuk membunuh To tin yang telah kehilangan kemampuan untuk melawan, tapi sambil mendengus dingin segera tegurnya :

“Siapa kau?”

“Aku adalah Bok cuncu dari Siau lim pay!” “Heeeeehhh……heeeeehh……heeeehhhh…….sebetulnya nona ada

minat untuk menyerbu Siau lim si dan mencuci tanah disitu dengan darah kalian, sayang hingga sekarang belum ada waktu luang, kalau toh kau datang lebih dulu untuk menghantar kematian, tentu saja nona akan mengabulkan permintaanmu itu.”

Buru-buru Bok cuncu menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berseru:

“Kedatanganku pada hari ini sama sekali bukan bermaksud untuk berkelahi denganmu!”

“Hmmmmm….lantas mau apa kau datang kemari?” dengus Kho Yang ciu dingin.

Bok cuncu memperhatikan sekejap situasi disana, lalu katanya : “Bersediakah Li sicu untuk membebaskan To lo sicu lebih

dahulu…..”

Kho Yang ciu termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya : “Baiklah, mencabut nyawa kalian toh sama gampangnya dengan

membalik telapak tangan sendiri, biar kubebaskan orang ini lebih dulu, bila aku masih menginginkan nyawanya, nantipun masih bisa kulakukan secara gampang ” Sambil menarik kembali payung Thian lo san, dia segera mengundurkan diri sejauh satu kaki dari posisi semula.

Si pedang emas berlengan baja To tin yang lolos dari kematian, buru-buru memberi hormat kepada Bok cuncu seraya berkata:

“Terima kasih banyak atas bantuan dari Lo siansu, tapi tahukah lo siansu siapa gerangan perempuan itu?”

Bok cuncu tersenyum :

“Bukankah dia adalah puteri dari Kho Bun sin, kepala kampung dari perkampungan Hui im ceng tempo dulu, atau yang lebih dikenal dalam dunia persilatan sebagai si Kedele Maut? Lolap mengetahui persoalan ini dengan amat jelas”

“Kalau toh lo siansu sudah mengetahui tentang persoalan ini, kenapa kau…..”

Sebelum perkataan dari To tin selesai diucapkan, bok cuncu telah menukas dengan cepat :

“Tampaknya To lo sicu masih belum mendengar tentang peristiwa dilembah hati Buddha, kini si hwesio daging anjing serta Kho Beng telah tampilkan diri, maka sebelum duduknya persoalan dibikin jelas, kedua belah pihak dilarang melakukan bentrokan serta pertempuran berdarah lagi.”

“Akupun telah menerima surat pemberitahuan dari Kho Beng, tapi yatanya si Kedele Maut masih tetap meneruskan ulahnya dengan menyebarkan maut didalam dunia persilatan.”

“Yaa…..didalam hal ini aku sendiripun merasa sangat menyesal!” kata Bok cuncu sambil manggut-manggut.

Bebicara sampai disini, dia segera berpaling kearah Kho Yang ciu, sambil katanya lebih jauh:

“Apakah nona Kho pernah bertemu dengan adikmu?” “Pernah!” jawab si nona ketus.

“Setelah bertemu muka, aku rasa adikmu pasti telah menyinggung pula masalah pemberitahuannya kepada seluruh umat persilatan. Nona, apakah kaupun bersedia mengikat janji dengan lolap untuk sementara waktu diadakan gencatan senjata sampai duduk persoalan yang sebenarnya dimasa lalu terungkap sama sekali?”

“Hmmmm…..apakah kau bisa mengambil keputusan?” dengus Kho Yang ciu dingin.

Dengan wajah bersungguh-sungguh, Bok cuncu berkata: “aku memang tak bisa mengambil keputusan, tapi sekembalinya dari sini lolap akan segera melaporkan peristiwa ini kepada ketua kami, lalu atas nama ketua kamilah akan disebarkan surat pemberitahuan keseluruh partai dan perguruan yang ada untuk mengebarkan gencatan senjata ini, nah bagaimana pendapatmu?”

Kemudian setelah berhenti sejenak, diam engalihkan sorot matanya dan memperhatikan sekejap To tin beserta kawan-kawan persilatannya, kemudian menyambung lebih jauh:

“Walaupun umat persilatan berjumlah banyak sekali didunia ini, aku rasa belum ada seorangpun yang berani melanggar keputusan dari tujuh partai besar!”

To tin beserta segenap jago persilatan serentak terbungkam dengan kepala tertunduk, setelah mendengar ucapan itu.

“Omitohud………” kembali Bok cuncu berkata, “bagaimana nona Kho……?”

“Baik, aku bersedia mengabulkan permintaanmu itu” kata Kho Yang ciu kemudian dengan suara dingin, “tapi disaat kau telah selesai dengan penyelidikanmu itu, maka setiap orang yang terlibat didalam peristiwa pembantaian berdarah diperkampungan Hui im ceng tempo dulu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, aku tak akan membiarkan seorang pun diantara mereka yang berhasil meloloskan diri.”

“Omitohud. kalau soal itu mah merupakan urusan dikemudian

hari, yang kujanjikan dengan nona adalah masa sebelum duduknya persoalan menjadi jelas. ”

Kho Yang ciu mendengus dingin:

“Hmmmmm. aku telah menyanggupi permintaan kalian,

sekarang kalian semua boleh pergi dari sini!”

Bok Cuncu tidak langsung pergi, ia nampak termenung sebentar, kemudian katanya lagi:

“Aku perlu memberitahukan pula satu persoalan kepada nona, yang harus dicari oleh nona sebetulnya adalah Dewi In nu, sebelum orang tersebut berhasil ditemukan, duduknya persoalan pun jangan harap bisa menjadi terang untuk selamanya.”

“Soal ini aku cukup mengerti, rasanya lo siansu tak usah banyak berbicara lagi.”

“Omitohud. kalau toh begitu, biar lolap segera mohon diri lebih

dahulu. ”

Kemudian kepada To tin sekalian, katanya pula : “Saudara sekalianpun boleh pergi dari sini!”

Selesai berkata, tampak bayangan kuning berkelebat lewat, pendeta itu sudah beranjak meninggalkan tempat tersebut.

Kho Yang ciu hanya tertawa dingin tiada hentinya, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

Si pedang emas berlengan baja segera mengawasi sekejap anak buahnya, kemudian serunya pula :

“Hayo berangkat!”

Dari rombongan para jago segera muncul empat orang untuk membopong kedua sosok jenasah yang tergeletak ditanah, kemudian buru-buru berlalu dari situ.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik pepohonan sana.

Menanti para jago sudah pergi jauh, Li Sian soat baru menghampiri gadis tersebut seraya berseru :

“Adik Kho, kau betul-betul hebat dan perkasa, kali ini kau telah membuat mereka mati kutu!“

“Andaikata pendeta tua dari siau kim pay itu tidak muncul tepat waktunya, aku tak akan membiarkan kelima puluhan orang jago tersebut pulang dalam keadaan utuh!” jawab Kho Yang ciu bangga.

Cun hong Lengcu, Jiu cun segera tertawa misterius, ucapnya : “Hayo cepat siapkan perjamuan, kita harus merayakan

kemenangan dari adik Kho sebaik-baiknya.”

“Cici berdua, kalian sudah bersikap begitu baik kepadaku, kesemuanya ini membuat siaumoy merasa berterima kasih sekali…….” Buru-buru Kho Yang ciu berseru.

Kembali Cun hong Lengcu tertawa manis,

“Kita sesama saudara sendiri, buat apa kau mesti bersungkan- sungkan……?”

Maka rombongan gadis itupun kembali keperkampungan Ciu hong san ceng dan langsung menuju keruang tengah.

Tak selang berapa saat kemdian, meja perjamuan telah dipersiapkan ditengah ruangan, Li Sian soat segera turun tangan sendiri untuk memenuhi cawan Kho Yang ciu dengan arak.

Setelah perjamuan berlangsung sampai setengah jalan, tiba-tiba Kho Yang ciu bangkit berdiri sambil mengangkat cawan araknya, lalu ia berkata pelan:

“Siaumoy ingin mempergunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghormati cici berdua dengan secawan arak!” “Aaaaah…kita kan sesama saudara sendiri, tak usahlah memakai segala adat lagi…….”seru Cun hong Lengcu tertawa.

“Tidak! Cici berdua harus menghabiskan isi cawan ini, sebab setelah itu aku hendak menyampaikan sesuatu.”

Cun hong Lengcu segera melemparkan sebuah kerlingan mata kepada Li Sian soat, setelah itu mereka berdua angkat cawan bersama-sama, seraya berkata:

“Kalau memang begitu, biarlah kami berdua menerima penghormatan ini… ”

Dengan cepat mereka berdua meneguk habis isi cawan tersebut. Sambil meletakkan kembali cawan araknya kemeja, Cun hong

Lengcu berkata kemudian:

“Adik Kho, bila kau hendak menyampaikan sesuatu, sekarang dapat kau utarakan keluar.”

“sudah kelewat lama siaumoy berdiam bersama cici berdua, terima kasih banyak untuk pelayanan kalian yang begitu bagik selama ini, tapi siaumoy tak mungkin bisa berdiam terlalu lama lagi disini, oleh sebab itulah menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, aku ingin memohon diri kepada cici berdua.”

“Adik Kho…hubungan persahabatan diantara kita cukup akrab, pergaulan kitapun berlangsung begitu hangat dan erat, mengapa kau mengucapkan kata-kata seperti itu?” seru Li Sian soat dengan kening berkerut.

“Sesungguhnya siaumoy sendiripun merasa ebrat hati untuk berpisah dengan cici berdua, tapi mumpung sekarang ada kesempatan yang sangat baik bagiku untuk berkunjung keperkampungan Hui im ceng, pertama aku ingin pulang kampung untuk berjiarah didepan makam kedua orang tuaku, kedua akupun ingin meneruskan usaha ayahku almarhum untuk membangun kembali kejayaan perkampungan Hui im ceng, sebab saat ini dunia persilatan akan menjadi tentram untuk sementara waktu dan mustahil akan terjadi keributan lagi… ”

Missing page 40-47

……keselamatan jiwaku menjadi berbahaya sekali?” “Soal ini tak perlu kau kuatirkan adikku, biar langit ambruk punkami akan berusaha menanggulanginya bagimu, apalagi yang mesti kau takuti….?”

Kho Yang ciu menggeleng:

“Bukannya aku merasa takut, tapi… hatiku merasa amat tak

tenang… ”

Mendadak Li Sian soat bertepuk tangan seraya berseru :

“Aaaaai betul… aku sudah memperoleh sebuah cara yang bagus

sekali untuk mengatasi kesulitan ini!” “Apakah caramu itu?”

“Kami mempunyai sebuah pesanggrahan lain dengan panorama yang indah sekali, aku rasa tempat itu cocok sekali bagimu untuk merawat penyakit yang kau derita, mari kita berangkat kesana dan tinggal barang dua tiga bulan disana, sampai waktunya pasti penyakitmua akan sembuh dengan sendirinya… ”

“Pesanggrahanmu itu terletak dimana?”

“Diatas puncak bukit Cian san, letaknya jauh lebih bagus dan indah ketimbang tepat ini!”

Kho Yang ciu segera menghela napas:

“Bagusnya memang bagus…….Cuma……”

“Sudahlah, kau tak usah berbicara lagi” tukas Li Sian soat sambil menutup bibirnya, “kecuali kau memang asing terhadap kami.”

“Ooooh cici, kau……kau benar-benar kelewat baik kepadaku!” bisik Kho Yang ciu dengan perasaan sangat terharu.

Maka keesokan harinya muncullah tiga buah tandu meninggalkan perkampungan Ciu hong san ceng dan langsung berangkat menuju kepuncak bukit cian san, selain mereka tampak pula belasan orang dayang beserta kakek dari marga Tia itu mengiringi dibelakang mereka.

Dengan keberangkatan rombongan besar tersebut, maka suasana diperkampungan Ciu hong san ceng pun dicekam dalam keheningan dan suasana sepi yang luar biasa.

Menjelang senja itu tampak, tampak ada dua orang nona berbaju putih yang tergesa-gesa menuju keperkampungan itu, kedua orang tersebut tak lain adalah dayang kepercayaan Kho Yang ciu, yaitu Sia hong serta Bwee hiong…….

Sampai lama sekali kedua orang itu menggedor pintu sebelum muncul seorang dayang berbaju hijau yang membukakan pintu. Begitu bertemu dengan kedua orang tersebut, tanpa terasa lagi dayang berbaju hijau itu menggerutu :

“Mengapa kalian baru kembali pada saat ini? Huuuuh…..sudah cukup lama kami menantikan kedatangan kalian.”

Dayang berbaju hijau itu tak lain adalah dayang kepercayaan Cun hong Lengcu, yakni Sian kim.

Buru-buru Sia hong berkata :

“Enci Sian kim, sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa suasana disalam maupun diluar perkampungan nampak lenggang dan sepi?”

“Mereka semua telah pergi, coba kalau bukan untuk menunggu kalian, mungkin aku pun sudah pergi sedari tadi!”

“Mereka telah pergi kemana? Mana nona kami?” tanya Bwee hiang sangat terkejut.

“Tentu saja nona kalian pun ikut pergi dari sini.” Kata Sian kim. Kemudian setelah berhenti sebentar, kembali ia menambahkan: “Mari kita segera berangkat, hari hampir gelap, meski perjalanan

tidak terhitung jauh, namun jalan setapak yang dilalui susah sekali untuk dilewati!”

Selesai berkata, diapun balik kembali kedalam perkampungan.

Tapi tak lama kemudian ia muncul lagi dedepan pintu sambil membawa sebuah papan nama.

Mula-mula pintu gerbang perkampungan ditutup rapat lebih dulu, kemudian papan tersebut baru dipakukan diatasnya.

Sewaktu Sia hong dan Bwee hiang memperhatikan tulisan diatas papan tadi, maka terbacalah beberapa kata yang berbunyi:

“Pemilik perkampungan ini sedang berpesiar keluar daerah, setahun kemudian baru pulang kembali.”

Dibawahnya dicantumkan tahun dan bulan yang dimaksud.

Selesai memaku tulisan tersebut, Sian kim baru berpaling dan berkata sambil tertawa :

“Sekarang kita harus segera beangkat!”

Sia hong dan Bwee hiang merasa canggung untuk bertanya lebih jauh, tanpa bertanya lagi berangkatlah mereka bertiga menuju kearah puncak bukit tersebut.

oooOOooo Tak lama setelah kepergian ketiga orang itu, dimuka perkampungan Ciu hong san ceng kembali muncul dua sosok bayangan manusia.

Menanti kedua orang itu sudah tiba dimuka perkampungan, baru terlihat jelas paras muka mereka sebenarnya, ternyata mereka adalah Kho Beng serta Chin sian kun.

Sewaktu membaca isi pengumuman didepan pintu gerbang perkampungan itu, Kho Beng kelihatan agak tertegun, lalu gumamnya :

“Berpesiar keluar daerah, setahun kemudian baru pulang kembali. ?”

Tapi setelah meneliti bulan dan hari yang tercantum dibelakangnya, ternyata menunjukkan hari ini, tanpa terasa lagi dia menghentakkan kakinya keatas tanah seraya berseru:

“Aduh, celaka. !”

Dengan kening berkerut, Chin Sian kun berkata : “Mungkin saja apa yang mereka perbuat sekarang Cuma

sebagian dari siasat licik mereka, siapa tahu sesungguhnya mereka tak pernah meninggalkan tempat ini? Mari kita lakukan pemeriksaan yang seksama disekeliling perkampungan ini!“

Kho Beng mengangguk :

“Pemeriksaan mah tentu harus dilakukan. “

Sambil berkata ia segera melejit keatas dinding pekarangan, diikuti Chin Sian kun dari belakang.

Namun suasana dalam perkampungan itu gelap gulita tanpa setitik cahaya pun, meski mereka berdua sudah melakukan pemeriksaan yang seksama, atap, setiap halaman dan ruangan yang ada. Namun semua pintu kamar ditemukan berada dalam keadaan terkunci, memang tak seorang manusia pun yang nampak disitu.

Kembali Kho Beng menghentakkan kakinya sambil menggerutu : “Huuuuuhh. kesemuanya ini gara-gara tenaga dalamku tak

bisa pulih kembali dalam waktu cepat, akibatnya mereka berhasil kabur dari sini. “

“Marilah kita lakukan pencarian secara pelan-pelan“ hibur Chin sian kun, “masa kita takut mereka bisa kabur keujung langit.”

“Aaaai. keselamatan enciku masih berada ditangan mereka, aku

amat mengkuatirkan keselamatannya.“

Chin Sian kun turut menghela napas sedih, katanya pula : “Biasanya orang baik selalu dilindungi Thian, meski gelisah pun rasanya tak ada gunanya!“

Tatkala seluruh perkampungan Ciu hong san ceng telah selesai diperiksa dan mereka mendapatkan kenyataan bahwa perkampungan tersebut benar-benar sudah tak berpenghuni lagi, terpaksa kedua orang tersebut harus mengundurkan diri dari perkampungan itu.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?“ tanya Chin Sian kun kemudian dengan wajah sedih.

“Selain terburu-buru ingin melacak jejak enciku, masih ada dua persoalan lagi yang harus kukerjakan, pertama turun kekaki bukit untuk mencari Molim sekalian berempat, dan kedua berangkat ke siau lim pay untuk membebaskan ketua Sam gian bun“

“Pergi ke Siau lim si?“

“Aaaai. “ Kho Beng menghela napas panjang, “Aku telah

menyanggupi permintaan dari Cho Lui san, anak murid Sam goan bun itu untuk berangkat ke siau lim si dan menolong ketuanya Sun thian hong dari sekapan, Bagaimanapun juga aku toh mesti melaksanakan janji ini!“

“Aku lihat persoalan ini bukan suatu pekerjaan yang gampang“ kata Chin sian kun dengan kening berkerut, “pihak siau lim pay mempunyai banyak jago lihai yang tak terhitung jumlahnya, kita tak boleh memandang enteng kekuatan mereka, selain itu setelah ketua siau lim pay berani menyekap ketua Sam goan bun dalam kuilnya, aku yakin dia tak akan membebaskannya hanya disebabkan sepatah dua patah katamu.“

“Yaaa. entah apa pun yang bakal terjadi, setelah kusanggupi

permintaan mereka, paling tidak tugas tersebut harus dilaksanakan“ ujar Kho Beng dengan wajah serius.

Mendadak terdengar suara seseorang yang amat nyaring menyambung ucapan tersebut.

“Padahal persoalan tersebut mudah dalam penyelesaiannya, serahkan saja kepadaku untuk membereskannya!”

Tampak sesosok bayangan kuning berkelebat lewat, tahu-tahu seorang pendeta tua berwajah anggun telah melayang turun tepat sihadapan mereka.

Ketika diamati lagi dengan seksama, ternyata pendeta tersebut tak lain adalah Bok cuncu, salah seorang diantara lima sesepuh lima unsur dari Siau lim pay. Kho Beng segera mendengus dingin, tegurnya : “Hmmm……sebagai seorang pendeta agung dari siau lim pay,

mengapa kau sadap pembicaraan kami?”

“Omitohud!” Bok Cuncu segera berbisik memuji keagungan Buddha, hampir setengah harian aku berada ditempat ini, toh sewaktu sicu berbincang-bincang tadi, lolap tak bisa menyumbat telingan sendiri untuk tidak ikut mendengar……”

“Lo siansu, mengapa kau berada disini sampai setengah harian lamanya?” seru Kho Beng keheranan.

Kembali Bok cuncu berbisik memuji keagungan Buddha, kemudian sambil menunjuk kedepan, katanya :

“Noda darah yang berceceran disini belum lagi mengering, kemarin encimu telah membunuh dua orang lagi disini”

“Lo siansu, terus terang saja kukatakan, akupun sedang mencari jejak enciku, sebab aku perlu memberi penjelasan kepadanya bahwa untuk sementara waktu semua pertumpahan darah harus dihentikan… ”

“Dalam peristiwa yang terjadi kemarin, sebetulnya kesalahan bukan terletak pada cicimu.” Tukas Bok cuncu cepat.

“Sungguh aneh” Kho Beng segera menjengek sambil tertawa dingin, “mengapa lo siansu ustru membelai si Kedele Maut?”

Dengan wajah serius Bok cuncu berkata :

“Bila hatiku condong kesalah satu pihak dan tak mampu berlaku adil, mungkin Buddha sudah lama meninggalkan aku. Betul cicimu sudah banyak menyebarkan maut dalam dunia persilatan, banyak sudah korban jiwa yang tewas oleh kedele maut nya, tapi setelah ada perjanjian dipihak kita semua untuk menunda semua perselisihan dan pertumpahan darah sampai duduknya persoalan menjadi jelas, sudah barang tentu kedua belah pihak harus menepati janji tersebut dengan sebaik-baiknya.“

Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, katanya lebih jauh:

“Yang menghasut umat persilatan untuk melakukan penyerbuan berdarah kemarin adalah si pedang emas berlengan baja to tin, seorang pentolan dunia persilatan dari kawasan Kanglam, ia telah datang kemari bersama lima puluh orang jago-jago Kanglam, oleh sebabitulah aku menilai bahwa dalam peristiwa kemarin, cicimu tak dapat disalahkan. “

Kho Beng berpikir sejenak, kemudian katanya : “Tadi Lo siansu bilang sudah hampir setengah harian lamanya kau berada disini, tentunya Lo siansu tahu bukan kemana perginya orang-orang dari perkampungan Ciu hong san ceng ini.“

Bok Cuncu menggeleng,

“Biarpun aku melihat mereka pergi meninggalkan tempat ini, tapi tidak kuketahui kemanakah mereka telah pergi?“

„Lo siansu, seharusnya kau buntuti mereka“ seru Kho Beng dengan kening berkerut.

Merah jengah selembar wajah Bok cuncu, serunya berulang kali : “Waaah....dosa....dosa...aku adalah seorang pendeta yang jauh

dari keramaian keduniawian, masa seorang hwesio disuruh menguntil berapa orang gadis muda? Apa jadinya kalau perbuatanku itu sampai ketahuan mereka? Bisa hilang mukaku ini. “

“Apakah Lo siansu juga tidak mendengar hendak kemanakah mereka akan pergi?“ tanya Kho Beng lebih jauh sambil menghentakkan kakinya keatas tanah.

Kali ini Bok Cuncu manggut-manggut:

“Kalau soal ini mah sudah kudengar, tapi aku kurang pecaya dengan perkataan mereka, menurut apa yang mereka bicarakan, konon rombongan tersebut hendak pergi kesebuah pesanggrahannya dipuncak sana, tapi bisa jadi perbuatan mereka hanya sebuah tipuan saja untuk mengalutkan perhatian orang.“

“Tapi yang pasti entah kemanapun mereka pergi, akan sulit buat kita untuk mencarinya kembali!“ seru Kho Beng gelisah.

“Tak usah terburu nafsu“ kata Bok Cuncu sambil menggelengkan kepalanya, “justru persoalan inilah yang hendak kubicarakan dengan dirimu. “

Setelah berhenti sejenak, dengan suara dalam ia berkata lebih jauh:

“Aku merasa gembira dan bersyukur sekali dengan keputusanmu yang khusus melacaki jejak pembunuh sebenarnya dan tidak melakukan tindakan yang membabi buta, itulah sebabnya kami bersedia pula untuk bekerja sama denganmu, entah bagaimanakah menurut pendapatmu?“

“Bekerja sama?“ agaknya usul ini sama sekali diluar dugaan Kho Beng, “Aku merasa persoalan ini benar-benar suatu kejadian yang lucu.“

Peristiwa ini memang benar-benar merupakan suatu kejadian yang lucu sekali, dimasa lalu mesku hubungannya dengan pihak Siau lim pay tak seberapa renggang, namun dengan cicinya si Kedele Maut justru merupakan musuh bebuyutan yang ibarat air dengan api, tapi sekarang, mereka justru disodori untuk bekerja sama, bukankah kejadian semacam ini tak pernah terduga sebelumnya?

Dengan nada suara yang amat tenang, Bok Cuncu berkata lagi: “Justru demi keamanan dan ketentraman bagi seluruh dunia

persilatan, kami khusus mengajukan usul tersebut kepada kalian, kuharap Kho sicu mau berpikir tiga kali lebih dulu sebelum mengambil keputusan.“

“Setelah kau berani berbicara tentang kerja sama, aku rasa Lo siansu pasti sudah mempunyai rencana yang amat masak, bolehkah aku tahu dalam bentuk seperti apakah kerja sama itu hendak dilaksanakan?“

“Kita semua sudah tahu kalau dalang yang sebenarnya dari peristiwa berdarah ini adalah dewi In nu“ kata Bok Cuncu serius, “dan kami percaya dengan ini tak bakal salah lagi, yang masih kurang bagi kita sekarang tinggal bukti yang jelas serta siapa gerangan orang yang telah menyaru sebagai Bu wi lojin pada waktu itu, begitu teka-teki tersebut terungkap, maka semua duduk persoalan pun akan menjadi terang. Maka kerja sama diantara kita pun otomatis tertuju untuk tercapainya sasaran tersebut secara gemilang. “

“Yaa betul. tapi bicara sih gampang, kalau dilaksanakan benar-

benar akan muncul banyak kesulitan yang tak terduga, seperti ambil contoh dengan keadaan didepan mata sekarang. “
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(