Kedele Maut Jilid 23

 
Jilid 23

Baru saja Molim hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yg ramai bergema diluar pintu kamar, menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dg nada suara gelisah.

“Kho sauhiap, apakah kau tinggal disini?”

Kho Beng menjadi tertegun setelah mendengar suara teriakan tsb, sebelum ia bertindak sesuatu, Molim telah membuka pintu kamar sambil menghadang ditengah jalan.

Ternyata orang yg berada diluar pintu adalah seorang pemuda berbaju ringkas berwarna hijau, wajahnya kelihatan gelisah sekali.

Dg perasaan keheranan Molim segera menegur: “Darimana kau bisa mengenali majikan kami?”

Sebelum pemuda berbaju ringkas warna hijau itu menjawab, Kho Beng telah maju menyongsong seraya menegur. “Cho toako. “

Ternyata pemuda ini adalah Cho Liu san, anak murid dari perguruan Sam goan bun.

Cho Liu san memandang wajah Kho Beng sekejap, lalu katanya dg perasaan cemas.

“Oooh. saudara Kho, sungguh amat sulit mencari jejakmu!“

“Cho toako, silahkan duduk didalam kamar, entah dari siapa kau mendapat kabar kalau aku berada disini?“

Maka Cho Liu san pin dipersilahkan masuk dan mengambil tempat duduk, kemudian Kho Beng memperkenalkannya dg Molim sekalian, setelah itu dia baru berkata:

“Aku mendapat kabar kalau saudara Kho berada dilembah hati Buddha maka terburu-buru menyusul kesitu, disana bertemu dg Kim tayhiap bertiga, dari merekalah ku ketahui kalau saudara Kho telah berangkat kebukit Cian san, sudah banyak tempat disekitar bukit ini kulacaki, akhirnya dg susah payah berhasil juga kujumpai saudara Kho disini.“

“Cho toako, sebenarnya ada urusan apa sih kau bagitu bernafsu mencariku?“ tanya Kho Beng keheranan.

Cho Liu san kelihatan agak sangsi sejenak kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun tiba-tiba ia bertekuk lutut dan berlutut dihadapan Kho Beng.

Tentu saja Kho Beng dibuat tertegun, buru-buru dia membangunkan pemuda tsb dari atas tanah, kemudian katanya:

“Cho toako, sebenarnya apa yg terjadi? Hayo cepat bangun, mari kita bicara secara baik-baik.“

Setelah berdiri, dg air mata bercucuran Cho Liu san berkata: “Dg susah payah aku kesana kemari mencari Kho sauhiap,

maksud tak lain adalah mohon bantuan dari Kho sauhiap agar bersedia menyelamatkan ciangbunjin kami.“

“Apa yg terjadi dg Sun ciangbunjin?“ tanya Kho Beng dg kening berkerut.

“Ciangbunjin kami telah disekap oleh pihak siau lim pay didalam ruangan Tat mo wan“

“Apa sebabnya pihak Siau lim pay menyekap Sun ciangbunjin?“ seru Kho Beng tertegun.

Cho Liu san menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, lama kemudian ia baru berkata dg suara dalam:

“Konon hal ini disebabkan Kho sauhiap. “ “Gara-gara aku?“ Kho Beng semakin tercengang, “Soal ini. “

“Pihak Siau lim pay mengirim surat kepada perguruan Sam goan bun yg isinya mengundang kehadiran ciangbunjin utk merundingkan masalah penangkapan kedele maut dikuil mereka, tentu saja ciangbunjin tak bisa menampik undangan tsb, siapa tahu begitu tiba dikuil Siau lim si, ternyata Phu sian ciangbunjin dari pihak Siau lim pay telah menuduh ciangbunjin sebagai komplotan dari kedele maut, dg tuduhan itulah akhirnya ciangbunjin disekap disana.”

“Atas dasar apa mereka bisa menuduh begitu?” seru Kho Beng dg perasaan gusar.

“Konon pihak Siau lim pay menyalahkan pihak Sam goan bun karena tidak merahasiakan asal usul Kho sauhiap yg sebenarnya.”

“Betul-betul kurangajar!” umpat Kho Beng sambil mendobrak meja keras-keras.

Pelan-pelan Cho Liu san berkata lagi:

“Aku dengar Kho sauhiap pernah berbuat huru-hara didalam kuil Siau lim si, setiap umat persilatan boleh dibilang tahu semua, bagaimana sauhiap mencuri papan mereka untuk ditukar dg panji Hui im ki, tapi justru karena peristiwa tsb, aku takut semakin sulit buat ciangbunjin kami utk melepaskan diri!”

Kho Beng termenung sejenak, kemudian katanya:

“Lanyas apa yg mesti kulakukan menurut pendapat Cho toako?” Dg setengah merengek, Cho Liu san berkata:

“Harap Kho sauhiap mau mengingat hubungan dimasa lalu dg menyelamatkan ciangbunjin suhu dari sekapan pihak siau lim pay!”

Kho Beng menjadi rada serba salah menghadapi permohonan tsb.

Dg para jago dari seluruh dunia persilatan ia telah mengikat janji setengah tahun, berarti dalam setengah tahun mendatang ia harus berusaha mencari bukti dan fakta utk membuktikan kebenaran pihaknya, disamping berusaha mencegah encinya melakukan pembantaian lagi secara besar-besaran.

Tapi diantara dua persoalan tsb, belum satu pun diantaranya mampu terlaksana, bahkan dg pihak perkampungan Ciu hong san ceng pun sudah terlibat dlm hubungan yg serba runyam, mustahil baginya utk memisahkan diri guna mencampuri masalah yg lain.

Oleh sebab itu setelah termenung beberapa saat lamanya, dia pun berkata:

“Harap Cho toako pulang dulu kerumah, sebab siaute harus menyelesaikan persoalan lebih dulu ditempat ini sebelum dapat berangkat ke Siau lim pay, tapi kau tak usah kuatir, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga utk menyelamatkan Sun ciangbunjin dari sekapan orang-orang Siau lim si!”

Sementara itu Molim telah menyuruh pelayan menyiapkan hidangan, maka semua orang pun bersantap bersama.

Dg menahan rasa murung dan gelisah yg mencekam hatinya, Cho Liu san mengisi perut kenyang-kenyang lebih dulu sebelum berpamitan pulang keperguruannya.

Sepeninggal Cho Liu san, Kho Beng segera terjerumus kedalam keadaan serba salah, sepanjang hari dia mengurung diri didalam ruangan sambil memikirkan persoalan tsb sementara sepasang alis matanya berkernyit terus.

Lambat laun hari pun semakin gelap, setelah meninggalkan pesan kepada Molim sekalian, Kho Beng segera mengganti pakaiannya dg baju ringkas, lalu dibawah lindungan kegelapan malam berangkatlah dia menuju keatas bukit.

Ditengah kegelapan malam yg mencekam, sepanjang jalan ia tak pernah menjumpai penghadangan ataupun cegatan hingga tak selang berapa saat kemudian, anak muda tsb telah tiba diluar perkampungan Ciu hong san ceng........

Tapi apa yg kemudian terlihat, seketika membuat pemuda tsb menjadi tertegun.

Ternyata perkampungan tsb tercekam dalam kegelapan yg luar biasa, tak setitik cahaya lampu pun yg menerangi tempat tsb.

“Jangan-jangan perkampungan ini sudah tanpa penghuninya?” Kho Beng berpikir dg perasaan ragu-ragu.

Sementara dia masih terperangah, tiba-tiba tampak bayangan hijau berkelebat lewat lalu tampak seorang nona berbaju hijau melompat keluar dari balik perkampungan dan melayang turun persis dihadapan anak muda tsb……….

Setelah memberi hormat, nona berbaju hijau itu berkata: “Oooh, rupanya Kho sauhiap telah datang, sudah sejak tadi

cengcu kami menantikan kedatanganmu!”

“Apa yg terjadi dg perkampungan kalian? Mengapa seluruh perkampungan tercekam dlm kegelapan?” tegur Kho Beng dg kening berkerut.

Nona berbaju hijau itu segera tertawa.

“Perkampungan kami berada dalam keadaan aman, tak ada kejadian apa pun yg menimpa kami. Cuma saja cengcu kami telah menurunkan perintah melarang setiap orang menyulut lentera, itulah sebabnya perkampungan kami tercekam dalam kegelapan total!”

“Ooooh, rupanya begitu…..” Kho Beng manggut-manggut. Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,

katanya lagi sambil tersenyum.

“Maksud kedatanganku kali ini bukan utk bertemu dg cengcu kalian, tolong nona sudi melapor kedalam, suruhlah enciku saja yg keluar utk bersua dg ku.”

“Bila kedatangan Kho sauhiap dimaksudkan utk bertemu dg cicimu, mungkin kau merasa sangat menyesal!” kata nona berbaju hijau itu sambil tertawa.

Kho Beng terkejut sekali, buru-buru ia bertanya: “Kenapa?”

“Sebab encimu sudah meninggalkan perkampungan dan pergi ketempat lain!”

“Tak mungkin, dia pergi kemana?” tanya sang pemuda semakin tercengang lagi.

Sambil menarik muka nona berbaju hijau itu berkata:

“Aku toh tak perlu membohongimu, juga tak ada kepentingan utk menipumu, paling tidak tak akan tahu kemana perginya encimu!”

“Kalau begitu segala persiapan yg diatur cengcu kalian masih mempunyai rencana busuk lainnya?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

Nona berbaju hijau itu segera tertawa terkekeh-kekeh: “Bila Kho sauhiap ingin mengetahui duduk persoalan yg

sebenarnya, kenapa tak bersua dg cengcu kami serta menegurnya secara langsung?”

Kho Beng mendengus.

“Bila ciciku benar-benar telah pergi dari sini, rasanya aku orang she Kho tidak mempunyai kepentingan lagi utk bersua dg cengcu kalian. ”

Nona berbaju hijau itu segera memutar biji matanya yg jeli, kemudian ejeknya setengah menghina:

“Ooooh, mengerti aku sekarang, rupanya Kho sauhiap takut bertemu dg cengcu kami?”

“Aku orang she Kho tak pernah takut dg siapapun” seru Kho Beng amat gusar.

“Baiklah, harap nona sebagai penunjuk jalan, sekarang juga aku akan pergi menjumpai cengcu kalian!” “Kalau memang begitu, silahkan Kho sauhiap mengikuti dibelakangku. ” kata si nona sambil tertawa hambar.

Begitu selesai berkata, ia segera menggerakkan tubuhnya dg lincah seperti burung walet yg menembusi hutan, dlm waktu singkat dia telah ebrada didalam perkampungan.

Kho Beng mendengus dingin, dia tak berayal lagi dan segera menyusul dibelakang nona berbaju hijau itu, dg suatu gerakan ringan dia melayang turun dibalik halaman perkampungan.

Nona berbaju hijau itu segera berpaling sambil tertawa, kemudian meneruskan perjalanannya lagi dan langsung menuju kehalaman belakang, dimana ia baru menghentikan gerakan tubuhnya setelah tiba diatas sebuah bangunan loteng yg mungil.

Suasana dlm perkampungan itu tetap gelap gulita, tapi diatas bangunan loteng itu justru memercik cahaya lentera, tapi sinar yg begitu redup justru enambah suasana misterius da seram disekitar sana.

Sambil mempersiapkan diri secara baik-baik, Kho Beng memeriksa sekejap suasana diseputar bangunan loteng itu, kemudian baru tegurnya dg suara dingin:

“Berada dimanakah cengcu sekarang?”

“Tempat ini adalah kamar tidur cengcu!” sahut nona itu sambil tertawa misterius.

Tentu saja Kho Beng merasa terperanjat sekali, dg suara dalam lagi berat hardiknya:

“Nona, mengapa kau mengajak aku datang kemari?” “Bukankah Kho sauhiap bermaksud menjumpai cengcu kami?”

kata sinona sambil tertawa.

“benar, tapi kalau toh ingin bertemu semestinya pertemuan diadakan diruang tamu atau tempat lain, masa kau mengajakku mendatangi kamar tidurnya ”

Kemudian setelah memutar biji matanya, kembali ia bertanya: “Dimanakah orangnya sekarang?”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, terdengar seseorang telah menegur dari balik kamar dg suara yg genit:

“Sian kim, siapa yg datang?”

“Oooh, Kho sauhiap telah tiba!” buru-buru nona berbaju hijau itu memberi laporan.

“Bagus sekali, silahkan dia masuk kedalam!” Dibalik nada suaranya yg genit, lamat-lamat terdengar suara sedih yg rendah dan berat hingga kedengarannya begitu memilukan hati.

Kho Beng segera merasakan hatinya bergetar keras, utk sesaat dia menjadi ragu-ragu utk melanjutkan langkahnya.

Sementara itu sian kim, sinona berbaju hijau itu telah berkata dg suara rendah:

“Kho sauhiap, cengcu kami mengundangmu masuk kedalam, maaf kalau budak tak dapat menemani lagi!”

Habis berkata, dia segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan sekejap mata kemudian bayangan tubuh sudah lenyap dari pandangan mata.

Kho Beng yg tak berhasil menghalangi kepergiannya merasa hatinya makin tak tentram, setelah termenung sesaat, akhirnya pelan-pelan dia berjalan mendekati pintu ruangan.

“Cengcu, ada urusan apa kau mengutus orang mengundangku kemari?” tegurnya lantang.

Orang yg berada dalam ruangan itu segera tertawa terkekeh- kekeh:

“Heeh...heeeh....heeeeh...kau memang lucu sekali, toh bukan aku yg mengundang kehadiranmu utk kedua kalinya diperkampungan  Ciu Hong san ceng ini, kalau mau bilang sebetulnya sauhiaplah yg datang mencari kami, bukan begitu?”

Meskipun hatinya amat gusar namun Kho Beng merasakan mulutnya tersumbat dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Terdengar suara genit itu berkata lebih jauh:

“Tapi setelah Kho sauhiap berkunjung kemari, berarti kau adalah tamu agung perkampungan ciu hong san ceng kami, sudah sepantasnya bila kuberi pelayanan yg sebaik-baiknya kepadamu”

“Kalau memang begitu, silahkan nona tampil kedepan utk bertemu. ”

“Apa salahnya kalau kau yg masuk kedalam ruangan dan duduk disini. ?”

“antara lelaki dan perempuan ada batasannya, aku tidak berniat memasuki kamar tidur perempuan lain ditengah malam buta begini!”

Perempuan yg berada dalam kamar itu segera tertawa cekikikan, serunya geli: “Buat muda mudi dunia persilatan, batasan seperti itu sudah tak berlaku lagi, Kho sauhiap, apakah kau tidak merasa bahwa pandangan semacam itu terlalu kolot?”

“Tapi...”

Tidak sampai Kho Beng sempat berbicara perempuan itu telah berkata lebih jauh dg suara genit:

“Oooh, rupanya Kho sauhiap takut aku mempersiapkan jebakan atau perangkap dalam ruangan ini sehingga kau tak berani memasuki sarang naga gua harimau ini”

Kho Beng menjadi naik pitam, segera teriaknya:

“Biarpun aku tahu nona sedang menggunakan siasat memanasi hatiku utk memancing aku masuk kedalam ruangan , tapi aku tetap akan mencoba memasukinya.”

Sambil meraba gagang pedangnya, ia segera masuk kedalam ruangan dg langkah lebar.

Tapi begitu melangkah masuk kedalam ruangan, kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam lantaran jengahnya.

Rupanya perlengkapan perabot yg ada dalam ruangan itu sangat indah dan mewah, bau harum semerbak memenuhi setiap sudut ruangan, dibalik pembaringan yg dilapisi kelambu tipis tampaklah seorang perempuan yg sama sekali bugil sedang berbaring disitu.

Hanya saja suasana dalam ruangan remang-remang hingga utk sesaat sukar bagi pemuda kita utk mengenali paras mukanya, tapi dia tahu perempuan tsb adalah Li Sian soat, cengcu perkampungan Ciu hong san ceng itu.

Agak tersipu-sipu dia segera menegur:

“Tolong tanya ciciku berada dimana?”

“Apakah benda itu sudah kau bawa kemari?” tanya perempuan bugil itu serius.

“Benda apa?”

Perempuan itu segera tertawa terkekeh-kekeh, mendadak dia membalikkan kepalanya.

Begitu sepasang mata salng bertemu, Kho Beng menjadi terperanjat sekali, buru-buru tegurnya,

“Siapa kau?”

Ternyata wanita itu bukan Li Sian soat seperti apa yg diduganya semula, melainkan seorang perempuan muda yg berparas amat cantik jelita namun belum pernah dijumpai sebelumnya.

Tanpa terasa Kho Beng berpkir didalam hatinya: “Tak heran kalau lgat suaranya terasa asing, kenapa tidak kubayangkan sampai kesitu sejak tadi?”

Dalam pada itu siwanita muda yg cantik itu sudah berkata sambil tertawa merangsang:

“Sesungguhnya akulah cengcu yg sebenarnya dari perkampungan ini, Kho sauhiap mengapa kau tidak duduk dulu berbincang- bincang?”

“Tapi mana nona Li Sian soat?” bentak Kho Beng.

“Aaaai. dia telah pergi!”

“Telah pergi. ?” sekali lagi Kho Beng tertegun, tapi segera

tegurnya dg suara dalam, “dihadapan orang yg jujur janganlah berbohong, sesungguhnya apa hubungan nona dg nona Li?”

“Kami adalah sobat karib!” “Heeeeh.....heeeehh....heeehh.  kalau begitu kaupun satu

komplotan dg dewi In nu?” seru sang pemuda sambil tertawa dingin.

Dg cepat perempuan muda cantik jelita itu menggelengkan kepalanya berulang kali:

“Tidak, hubungan kami tidak terlalu akrab, apalagi kalau dibilang sebagai komplotannya.”

Kembali Kho Beng tertawa dingin.

“Lantas mengapa kau bertanya kepadaku apakah benda tsb sudah dibawa kemari!”

Sambil membenahi rambutnya yg kusut, pelan-pelan perempuan cantik itu bangkit dan duduk ditepi pembaringan, katanya:

“Sebelum meninggalkan tempat ini, nona Li telah berpesan kepadaku, katanya kau akan menghantar kitab pusaka Thian goan bu boh kemari, oleh sebab itulah aku mengira kedatangan Kho sauhiap ketempat ini adalah utk menyerahkan kitab pusaka tsb?”

“Hmmm berbicara pulang pergi, kalian tetap hanya mengincar kedua lembar kitab tsb, sayang dalam hal ini terpaksa kalian mesti menahan kecewa, sebab kedua lembar kitab tsb sesungguhnya tidak berada disakuku!”

“Kalau memang tidak berada disaku Kho sauhiap, lantas berada dimanakah benda itu?” tanya si perempuan cantik itu sambil tertawa lagi.

“Aku telah membakarnya hingga hancur menjadi abu!” Perempuan cantik itu nampak agak tertegun, kemudian serunya: “Kalau begitu Kho sauhiap telah menguasai seluruh isi kitab

pusaka yg tercantum dalam kedua lembar kitab itu?” “Yaa, memang begitulah keadaannya” sang pemuda mengangguk.

Perempuan cantik itu segera tertawa terkekeh-kekeh:

“Kalau begitu asal kutahan dirimu disini, toh sama saja artinya!” “Menahan aku…..?” Kho Beng segera tertawa terbahak-bahak,

“aku rasa kau tak akan mampu menahanku!”

“Kho sauhiap, lebih baik kau jangan sombong lebih dulu, coba saksikan dulu benda apakah ini!”

Seraya berkata perempuan cantik itu segera mengambil sebuah benda dari bawah pembaringannya dan dilemparkan kedepan.

Begitu menyaksikan benda tsb, Kho Beng segera merasakan hatinya tercekat, tak tahan lagi jeritnya tertahan:

“Payung Thian lo san!”

“Yaa betul, memang payung Thian Lo san” ujar perempuan cantik itu sambil tertawa, “apakah Kho sauhiap berharap bisa bertemu dg pemilik payung ini?”

Rasa sedih dan gusar yg bercampur aduk dalam benak Kho Beng membuat ia sangat gusar, dg mata melotot besar bentaknya keras- keras:

“Apa yg telah kau lakukan terhadap enciku?” Perempuan cantik itu tertawa dingin:

“Asal Kho sauhiap bersedia utk tinggal disini, tentu saja akan kuberitahukan soal tsb kepadamu?”

“Hmmm, bagaimana perhitungan siepoa mu itu!“ hardik Kho Beng semakin sewot, “baiklah, biar kubekuk dirimu lebih dulu, aku tak kuatir tak mampu membongkar semua rencana busuk kalian.”

“Criiingg…”

Pedangnya segera diloloskan dari sarung dan bersiap sedia melancarkan serangan.

“Hey, mau apa kau?” teriak perempuan cantik itu agak gelisah. “Bila kau tak bersedia menyerahkan diri dg begitu saja, jangan

salahkan bila pedangku tak mengenal perasaan!”

Begitu selesai berkata sebuah tusukan kilat langsung dilontarkan kedepan mengancam tubuh telanjang perempuan tsb.

Si perempuan cantik itu menjerit kaget, tergopoh-gopoh dia merentangkan payung Thian Lo san utk menyongsong datangnya tusukan maut tsb.

Dg gerakan tsb maka tusukan pedang Kho Beng pun persis menghajar diatas permukaan payung tsb, tapi payung itu betul-betul kokoh dan ulet, seketika itu juga ujung pedangnya terpeleset dan tergelincir kesamping.

Tapi pada saat itulah mendadak dari atas permukaan payung itu menyembur keluar segumpal asap berwarna putih.

Kho Beng menjadi terperanjat sekali, sayang sebelum sempat ia berbuat sesuatu, bau harum yg aneh tsb telah menerobos masuk kedalam hidungnya.

Seketika itu juga dia merasakan kepalanya mata berat dan pening sekali, hampir saja sia tak mampu berdiri tegak lagi.

Dalam terperanjat, buru-buru dia melompat kebelakang dan berusaha melarikan diri keluar ruangan.

“hmmm, akan kulihat kau bisa kabur sampai dimana?” bentak perempuan cantik itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Setelah berhasil melompat keluar dari ruangan loteng itu, buru- buru Kho Beng menarik napas panjang sambil bersiap-siap melompat utk kdua kalinya.

Namun sayang sepasang kakinya tahu-tahu jadi lemas dan tak mau menuruti perintahnya lagi, ditambah pula kepalanya amat pusing dan pandang matanya menjadi gelap.

“Blaaaammm…!”

Tak ampun lagi tubuhnya segera roboh terjengkang diatas tanah.

Perempuan cantik itu bersorak gembira, cepat-cepat dia mengenakan pakaiannya kembal sambil melompat turun dari pembaringan.

Lalu sambil mendekati Kho Beng, katanya dg bangga:

“Ciu hoa, Tang soat, Hee im sekalian, coba kau lihat, pekerjaan yg tak mampu kalian lakukan, tohh akhirnya berhasil diselesaikan olehku, Cun hong secara mudah. Peristiwa ini benar-benar merupakan sebuah pahala besar!”

Tampak ia tersenyum simpul dg wajah berseri-seri, dg cepat diambilnya sebuah gembrengan kecil dari sakunya dan dibunyikan berulang-ulang.

“Traaang….traaang….traaang…”

Dg bergemanya suara gembrengan, cahaya lentera segera memancar dari empat penjuru, suasana yg semula gelap gulita kini berubah menjadi terang benderang.

Si dayang Sian kim yg munculkan diri paling dulu, ketika melihat kejadian ini segera serunya sambil tertawa:

“Lengcu, kionghi atas keberhasilanmu!” Sambil mengulapkan tangannya Cun hong Lengcu berkata: “Cepat kirim dia kedalam kamarku, kemudian cepat kirim surat

melaporkan peristiwa ini kepada Saiancu!”

Buru-buru Sian kim mengiakan, sambil menyeret tubuh Kho Beng ia berjalan menuju keruangan sebelah kiri.

Sementara itu Cun hong Lengcu segera berjalan menurun tangga dan berangkat menuju kebangunan sebelah timur.

Tempat tsb merupakan sebuah bangunan loteng yg tidak kecil, begitu Cun hong Lengcu munculkan diri, Li Sian soat segera menyambut kedatangannya dan berseru sambil tertawa:

“cici, kionghi atas keberhasilanmu!”

Cun hong Lengcu tertawa cekikikan, tanyanya tiba-tiba: “Dimanakah Kho Yang ciu sekarang?”

“Ia sudah menelan obat mabukku, sekarang masih tak sadarkan diri…”

“Bagus sekali, jangan biarkan dia tahu akan peristiwa ini, cepat kembalikan payung ini kedalam kamarnya.”

Setelah menerima payung thian lo san tsb, Li Sian soat kembali bertanya:

“Apakah cici sudah menggelesahnya?”

“Belum, tapi menurut pengakuannya, kedua lembar kitab pusaka thian goan bu boh tsb sudah tidak berada disakunya lagi.”

“Lantas berada dimana?” tanya Li Sian soat agak tertegun. Dg kening berkerut, Cuh hong Lengc berkata:

“Konon ia sudah membakarnya sampai habis!”

“Waaah, bukankah usaha kita selama ini menjadi sia-sia belaka? Bagaimana cara kita melaporkan peristiwa ini kepada Siancu?” teriak Li Sian soat panik.

“Haaahh…haaaaahh…haaahh…apa susahnya dg masalah semacam ini…” kata Cun hong Lengcu sambil tertawa bergelak.

Dg wajah angkuh sambungnya lebih jauh:

“Ia pernah mempelajari ilmu Thian goan singkang, berarti sudah mengingat baik semua bagian dari keterangan yg tercantum dalam dua lembar kertas tsb, asal dia masih berada dalam cengkeraman kita, masa semua rahasia tsb tak akan dimuntahkan keluar sedikit demi sedikit?”

“Cici, paling baik kalau kau lakukan penggeledahan dulu, sebab aku dengar bocah keparat itu banyak tipu muslihatnya, kalau kita sampai termakan oleh siasat busuknya hingga dipecundangi habis- habisan, waaaah…penasaran rasanya!”

“Benar!” Cun hong Lengcu segera manggut-manggut,”kalau begitu biar kuperiksa dulu sakunya……”

Kemudian sambil melemparkan kerlingan genit kearah Li Sian soat, katanya lagi sambil tertawa:

“Sebentar tak ada salahnya bila kau turut kesana, kita nikmati bersama hasil tangkapan ini!”

“Ciiiisssss…..lebih baik cici menikmatinya seorang diri, aku mah tak berani mengusiknya.”

Cun hong Lengcu tertawa, dia segera bangun berdiri dan berjalan menuju kekamar tidurnya.

Udara malam amat cerah, bintang nampak bertaburan diangkasa, dg pancaran nafsu birahi yg membara Cun hong Lengcu berjalan kembali kekamar tidurnya.

Sepanjang jalan otaknya berputar terus mencari akal, dia ingin mencari sebuah cara yg terbaik utk memancing Kho Beng agar menyerah dibawah kakinya.

Dalam waktu singkat ia telah tiba didepan kamar tidurnya, cahaya lentera nampak menyinari seluruh bangunan loteng tsb, namun dayangnya Sian kim tidak kelihatan disitu.

Sambil mmeriksa sekeliling tempat itu, Cun hong Lengcu segera berseru keras:

“Sian kim, Sian kim……”

Aneh, suasana disekitar bangunan loteng itu amat hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Cun hong Lengcu segera bergumam,

“Sialan amat budak itu, hmmm makin lama semakin kurang ajar saja budak tsb.”

Sambil mengomel panjang pendek dia berjalan naik keatas loteng.

Begitu masuk kedalam ruang tidurnya, ia saksikan seseorang berbaring diatas pembaringannya, tapi berhubung kelambunya diturunkan maka tak jelas paras muka orang tsb.

Tapi bagi Cun hong Lengcu, ia tahu siapa gerangan yg dibaringkan disana, entah apa yg dibayangkannya tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi merah padam.

Mula-mula diambilnya obat penawar dari sakunya, kemudian baru menyingkap kelambu dimuka pembaringan. Tapi begitu kelambunya disingkap, paras mukanya segera berubah hebat, tak kuasa dia menjerit kaget.....

Ternyata orang yg berbaring disana bukan Kho Beng seperti yg diduganya semula, melainkan Sian kim dayang kepercayaannya.

Tampak dayang itu berbaring dg mata terpejam dan napas amat teratur, kiranya dia sudah tertotok jalan darah tidurnya.

Tergopoh-gopoh Cun hong Lengcu menepuk bebas jalan darahnya, lalu tegurnya dg gelisah:

“Mana orangnya?”

Sian kim menguap ngantuk, lalu bergumam:

“Heran, kenapa aku bisa tertidur? Hey Lengcu, siapa yg kau tanyakan?”

“Budak sialan!” umpat Cun hong Lengcu sambil menghentak- hentakkan kakinya dg gemas, “siapa lagi yg kutanyakan, tentu saja Kho Beng, mana orangnya sekarang?”

Sian kim menjerit kaget, cepat-cepat dia melompat bangun dari atas pembaringan sambil jeritnya:

“Aduh celaka! Orangnya telah diculik seseorang. ”

“Siapa yg menculiknya?” bentak Cun hong Lengcu gusar. Dg wajah ingin menangis, Sian kim menjawab tergagap: “Aku. aku benar-benar tidak tahu?”

Cun hong Lengcu benar-benar sangat gusar, mendadak....

“Plaaak!”

Dia menampar wajah Sian kim keras-keras kemudian bentaknya: “Budak busuk! Masa utk menjaga pun tak becus, sebetulnya apa

kegunaanmu? Hayo cepat katakan, apa yg sebenarnya yg telah terjadi?”

Dg wajah hampir menangis Sian kim berkata:

“Waktu itu aku sudah membawa Kho sauhiap sampai didalam kamar dan membaringkannya diatas ranjang, tiba-tiba kurasa ada angin yg berhembus kencang dari luar jendela maka budak pun pergi merapatkan daun jendela tsb.......mungkin. mungkin disaat

itulah budak kehilangan kesadaran!”

“Kau benar-benar gentong nasi yg tak berguna!“ umpat Cun hong Lengcu sangat gusar, “ayoh cepat bunyikan tanda bahaya, ia sudah terkena bubuk pemabukku, meski telah sadar daya kerja obat tsb belum hilang. Dia tak mungkin bisa kabur terlalu jauh.”

Sian kim mengiakan berulang kali dan tergopoh-gopoh lari turun dari atas loteng. Tak lama kemudian suara gembrengan kembali dibunyikan bertalu-talu diseluruh perkampungan, hanya saja nada suara gemberengan tsb jauh berbeda dg suara pertama.

Begitu suara tsb bergema, suasana perkampungan menjadi kalang kabut dan setiap orang dicekam perasaan gugup dan panik.

Ditengah bunyi suara gembrengan yg amat ramai inilah, tampak bayangan manusia berkelebat kian kemari, suasana kelihatan sangat kalut.

Apa yg diduga Cun hong Lengcu memang benar.

Waktu itu Kho Beng belum jauh meninggalkan perkampungan Ciu hogn san ceng, dia masih berada didalam sebuah hutan hanya berapa li dari perkampungan tsb.

Suasana dalam hutan itu gelap gulita, sementara dia berbaring diatas tanah dg tenang, disampingnya duduk siwalet terbang Chin sian kun.

Waktu itu si nona sedang meneteskan air dari kantung airnya kedalam mulut Kho Beng.

Chin sian kun tdk mengetahui racun apakah yg telah mengeram didalam badan Kho Beng, karenanya dia hanya bisa mencoba dg menggunakan air segar.

Betul juga, tak lama kemudian Kho Beng menggerakkan badannya dan lambat laun sadar kembali dari pingsannya.

“Kho sauhiap....kho sauhiap...” Chin sian kun memanggil dg suara lirih.

Akhirnya Kho Beng membuka matanya kembali, ketika ia merasakan seorang perempuan asing disampingnya, pemuda kita kelihatan amat terperanjat dan segera melompat bangun.

“Siapa. siapakah kau?” tegurnya terperanjat.

“Kho sauhiap, jangan gugup, aku yg berada disampingmu!” cepat-cepat Chin sian kun berbisik.

Akhirnya Kho Beng dapat mengenali kembali siapa gerangan nona tsb, dg perasaan terkejut bercampur girang segera serunya:

“Aaaaah...rupanya nona Chin. ”

Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, katanya lagi agak kebingungan:

“Mengapa kau bisa berada disini?”

“Aku merasa kuatir sekali membiarkan kau mengembara seorang diri, maka aku segera mencari tahu alamay yg kau tuju dari Bu wi cianpwee, setelah itu aku pun cepat-cepat menyusulmu kebukit Cian San, ternyata berhasil juga kutemukan dirimu.”

“Jadi nona yg telah menyelamatkan aku?” tanya Kho Beng dg perasaan amat berterimakasih.

Chin sian kun tersenyum,

“Sungguh beruntung Cuh hong Lengcu segera meninggalkan bangunan loteng tsb setelah membokongmu dg obat pemabuk, mereka tak menyangka sama sekali kalau aku bersembunyi dibelakang sana, itulah sebabnya dg mudah sekali aku berhasil membawamu keluar dari sana.”

“Aaaai, aku benar-benar tak tahu bagaimana mesti membalas budi kebaikan nona. ”

Merah jengah selember wajah Chin sian kun, cepat-cepat dia menukas

“Sebetulnya pekerjaan semacam ini sudah sepantasnya kulakukan untukmu, buat apa mesti berterima kasih?”

“Bila aku bertemu lagi dg perempuan rendah tsb dikemudian hari, pasti akan kupenggal batok kepalanya!” sumpah Kho Beng dg perasaan amat mendendam.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari luar hutan sana terdengar suara langkah kaki manusia yg ramai disusul munculnya cahaya api secara lamat-lamat.

Dg cepat kedua orang muda mudi itu menahan nafas dan tidak berbicara lagi.

Tak selang beberapa saat kemudian, suara langkah kaki manusia itu sudah tiba ditepi hutan, lalu terdengar suara seorang lelaki berkata:

“Li sam, coba kau lakukan pemeriksaan ketengah hutan sana, bila ada seseorang yg mencurigakan, segera berilah kabar kepadaku, bila tak ada yg mencurigakan, kita geledah lebih kedepan.”

Lelaki yg disebut Li sam itu segera mengiakan, dg tangan kiri membawa obor dan tangan kanan membawa pedang yg disilangkan didepan dada, selangkah demi selangkah dia berjalan memasuki hutan tsb.

Pucat pias selembar wajah Chin sian kun setelah mendengar perkataan itu, tapi Kho Beng sudah melompat bangun sambil berbisik,

“Pancing saja mereka masuk kedalam, malam ini aku hendak melakukan pembantaian secara besar-besaran!” Tapi belum selesai perkataan tsb diucapkan, tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat.

Rupanya disaat dia mencoba utk mengatur hawa murninya, dg cepat diketahui bahwa peredaran darahnya tak mampu mengalir dg lancar. Ini berarti dia tak mampu mengerahkan tenaga dalamnya lagi.

Tak heran kalau pemuda tsb mejadi terperanjat setengah mati hingga wajahnya berubah hebat

Chin sian kun yg mengawasi perubahan tsb menjadi agak tertegun disamping keheranan, buru-buru tanyanya:

“Kho kongcu, mengapa. mengapa kau?”

“Aku sama sekali tak mampu menghimpun tenaga dalamku lagi! peredaran darahku terasa agak tersumbat!“

Sementara itu lelaki yg bernama Li sam sudah melangkah mendekati mereka berdua, ini berarti tiada waktu lagi buat mereka utk berpikir panjang.

Buru-buru Chin sian kun menarik tangan Kho Beng dan diajak bersembunyi dibalik sebatang pohon besar, lalu bisiknya lirih:

“Mari kubopong kau naik keatas“

Bersemu merah wajah Kho Beng mendengar bisikan itu, sebaliknya Chin sian kun tertawa wajar, bahkan tak menanti Kho Beng membuka suara lagi ia segera merangkul pinggangnya kemudian melompat naik keatas batang pohon besar....

Tapi dg kejadian tsb, gerak gerik mereka segera menimbulkan suara berisik.

Lelaki yg bernama Li sam itu segera membentak keras: “Siapa yg berada didalam hutan?”

Diam-diam Chin sian kun berbisik kepada Kho Beng.

“Gelisah sangat tdk menguntungkan, sekarang kau duduk disini dg tenang, biar kupancing mereka pergi dari sini!“

Dg perasaan sedih bercampur gusar Kho Beng manggut- manggut, kini tenaga dalamnya telah punah, tentu saja dia tak mampu berbuat banyak terhadap situasi didepan mata.

Setelah melemparkan sebuah kerlingan mesra kearah Kho Beng, Chin Sian kun segera melayang turun keatas tanah, kemudian sambil mengumpulkan hawa murninya dia meluncur keluar dari hutan tsb, bahkan sewaktu bergerak keluar dia sengaja menimbulkan suara berisik.

Li Sam segera berpekik panjang, lalu teriaknya keras-keras: “Kalian cepat kemari! Didalam hutan benar-benar ada orang.“

Dg teriakan tsb, dari luar hutan pun segera terjadi suara sahutan dan secara beruntun tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dalam waktu singkat delapan buah obor telah menyinari sekeliling tempat Li Sam berdiri sekarang.

Belasan orang jago tsb dipimpin oleh seorang kakek berbaju hijau, ia mempunyai wajah kuda yg berbentuk panjang.

Begitu tiba disamping Li Sam, segera tegurnya dg gelisah: “Dimana orangnya?”

Sambil menunding kearah kiri sahut Li Sam:

“Agaknya ada orang melarikan diri kearah sebelah sana, pemimpin aku rasa hutan ini mencurigakan sekali!”

“Lakukan pemeriksaan!” kakek berbaju hijau itu segera menurunkan perintahnya.

Maka belasan orang jago pn memencarkan diri dalam formasi kipas terbuka lalu pelan-pelan melakukan pencarian disekeliling tempat itu.

Benar juga sepanjang jalan mereka mendengar ada suara langkah manusia serta suara ranting yg disingkirkan orang.

Sambil menyeringai seram, kakek berbaju hijau itu segera berkata:

“Kalau memang ada orang disini, berarti dia adalah bocah keparat she Kho itu, menurut Cun hong Lengcu, daya kerja obat dalam tubuhnya belum hilang karena itu tenaga dalamnya belum pulih kembali, tak heran kalau langkah kakinya menimbulkan suara berisik.”

Begitu mendengar perkataan tsb, belasan orang jago itupun melakukan pengejaran dg lebih bernafsu lagi, sebab setiap orang berharap bisa membuat jasa besar.

Mendadak.......

Dikejauhan sana terlihat ada sesosok bayangan hitam berkelebat lewat, Li Sam segera membentak keras:

“aku lihat kau bisa kabur kemana?”

Dg cepat dia melejit kedepan lalu menerjang kearah bayangan hitam tsb dg kecepatan tinggi.

Pada saat itulah bayangan manusia tadi sudah tiba ditepi hutan, tiba-tiba saja orang itu menghentikan langkahnya. Li Sam yg sudah menyusul sampai disitu tidak banyak berbicara lagi, dg cepat tubuhnya melejit keudara sementara pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat.

Ditengah deruan angin serangan yg amat tajam, sebuah tusukan telah mengancam punggung bayangan hitam tsb.

Dg cekatan bayangan hitam tadi menghindarkan diri kesamping, kemudian bentaknya keras-keras:

“Hey, kalian sudah edan semua. “

Setelah melancarkan tusukan tsb, Li Sam baru merasakan kalau gelagat tidak beres, tergopoh-gopoh dia menarik kembali serangannya sambil mengawasi wajah orang itu dg seksama.

Tapi apa yg kemudian terlihat membuat hatinya semakin terperanjat lagi buru-buru dia berbicara:

“Ooooh. rupanya nona Sian kim, mengapa kaupun berada

disini?“

Sambil menghentak-hentakkan kakinya dg gemas Sian kim berseru:

“Aku sedang mencari bocah keparat she Kho itu, tak disangka hampir saja mati diujung pedangmu, bunuh, mengapa sih kalian tidak melacak jejak musuh sebaliknya malah menguntil dibelakangku?“

Dalam pada itu si kakek berbaju hijau telah menyusul pula sampai disitu dg segenap kekuatannya, melihat kejadian ini buru- buru dia menyapa:

“Nona Sian kim, mengapa kau pun sampai disini?“ Sambil menggertak gigi menahan diri jawab Sian kim.

“Lengcu menyuruh aku turut melacaki jejak bocah keparat itu, tentu saja aku melaksanakan perintahnya, kalian tahu, barusan aku telah berhasil menemukan bayangan tubuh orang she Kho itu, tapi gara-gara ulah kalian, sekarang ia berhasil meloloskan diri kembali.“

“Dimanakah nona berhasil melihat jejak orang she Kho itu?“ buru-buru kakek berbaju hijau itu bertanya.

Sian kim segera menunding kedepan sana sambil berkata: “Itu dia, disudut tebing sebelah selatan, waktu itu sebenarnya

aku sedang melakukan pengejaran kesitu, sungguh tak disangka anak buahmu justru melancarkan sebuah tusukan kepunggungku secara tiba-tiba.....untung saja tak sampai melukai tubuhku. “

Kakek berbaju hijau itu tidak banyak berbicara lagi, buru-buru dia mengibaskan ujung bajunya sambil membentak: “Kita geledah kesana!“

“Betul!“ seru Sian kim sambil tertawa, kalian menggeledah kesisi kiri, biar aku mencarinya dari sebelah kanan, dg begini banyak orang, aku percaya sekalipun tumbuh sayappun jangan harap bisa meloloskan diri dari sini!“

“„Baik, kita kerjakan secara demikian saja!“ kata kakek berbaju hijau itu terburu-buru.

Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera melejit ketengah udara, dalam waktu singkat tubuhnya telah berada sepuluh kaki lebih dari tempat semula.

Sian kim, si dayang berbaju hijau itupun bergerak menuju kesebelah kanan utk melakukan pencarian, tapi belum sampai berjalan sejauh sepuluh kaki, dia sudah belik kembali ketempat semula, kemudian setelah memeriksa sekejap sekeliling tempat itu dan yakin kalau disana tak ada orang, tergesa-gesa dia menerobos masuk kedalam hutan.

Dg suatu gerakan yg cepat sekali, dia balik kepohon besar dimana Kho Beng bersembunyi tadi, dari atas wajahnya dia melepaskan selembar topeng kulit manusia dan dimasukkan kembali ke sakunya.

Ternyata dayang Sian kim tak lain adalah hasil penyamaran dari si walet terbang Chin sian kun.

“Kho Sauhiap...Kho sauhiap. “ bisiknya pelan

Dari balik dedaunan yg rimbun tampak Kho Beng menongolkan kepalanya sambil menyahut:

“Aku berada disini. !“

Chin Sian kun segera melompat naik keatas pohon , lalu katanya dg pelan:

“Waaah. betul-betul sangat berbahaya!“

“Apakah mereka sudah pergi?“ tanya Kho Beng dg perasaan sangat gelisah.

Chin Sian kun segera tertawa bangga, katanya :

“aku telah menipu kawanan bajingan itu sehingga mengambil arah yg salah, mungkin mereka sudah berada berapa li dari sini sekarang!“

“Dg cara apa nona berhasil memancing mereka menuju kearah yg salah?“ tanya Kho Beng tak habis mengerti.

Chin Sian kun segera memperlihatkan topeng kulit manusia yg berada ditangannya, dia berkata: “Aku mengandalkan benda ini......eeei...bagaimana perasaanmu sekarang, apakah rada mendingan?“

Kho Beng  segera  menghela  napas  panjang, “Aaaai. entah bahan obat pemabuk jenis apakah yg

dipergunakan perepuan siluman itu, hingga sekarang tenaga dalamku masih belum bisa dihimpun kembali.”

Chin Sian kun berpkir sebentar, lalu ujarnya:

“Kita harus meninggalkan tempat ini lebih dulu baru mengusahakan pengobatan atas lukamu itu, mari biar aku yg menggendongmu!“

oooOOooo

Hampir semalam suntuk perkampungan Ciu hong san ceng dilanda kekalutan dan keributan, namun usaha mereka sama sekali tidak memberikan hasil apa-apa.

Namun keesokan harinya, tiba-tiba dikota kecil dikaki bukit Cian san telah kedatangan serombongan manusia, mereka terdiri dari kawanan jago lihay baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam.

Kemunculan mereka amat tiba-tiba tak jauh berbeda dg keadaan sewaktu berada dilembah hati buddha tempo hari, entah siapa yg menyiarkan berita tsb namun yg jelas sasaran mereka kali ini bukan Kho Beng melainkan langsung menuju perkampungan ciu hong san ceng diatas bukit cian san.

Sebagai pemimpin dari rombongan tsb adalah seorang kakek berbaju hitam yg menyoren sepasang pedang dipunggungnya, orang itu termasyur sekali namanya dikawasan Kanglam dan dikenal orang sebagai Pedang emas berlengan baja To tin.

Dg gerakan yg amat cepat rombongan tsb langsung menyerbu kedepan perkampungan Ciu hong san ceng, ternyata jagoan yg terhimpun dalam rombogan ini mencapai lima puluhan orang.

Begitu sampai dimuka pint perkampungan, to tin segera membentak dg suara keras:

“Apakah dalam perkampungan ada orang?“

Baru saja suara bentakan tsb bergema, pintu perkampungan telah terbuka lebar-lebar, yg munculkan diri kemudian adalah kakek berbaju ungu Ong Thian siang. Ia kelihatan agak tertegun, lalu setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tegurnya:

“Bolehkah aku bertanya, ada urusan apa kalian datang keperkampungan kami?“

Dg suara berat dan dalam Pedang emas berlengan baja To tin menjawab:

“aku To tin bersama rekan-rekan persilatan dari kawasan Kanglam sengaja datang kemari karena mendengar diperkampungan anda telah datang seorang tamu agung, apakah dia masih berada disini?“

“Yaa betul, rupanya rekan-rekan sekalian datang mencari nona Kho, bolehkah aku tahu ada urusan apa kalian mencarinya?“

To tin segera mendengus dingin.

“Cepat suruh dia keluar, katakan saja ada orang mencari dirinya.!“

Ong Thian siang mengiakan dan buru-buru masuk kedalam perkampungan.

Tak selang berapa saat kemudian, tampak tiga orang perempuan berkerudung diiringi para dayang telah munculkan diri dari balik gedung, orang pertama adalah seorang nona berbaju putih, tentu saja dia adalah Kho Yang ciu, orang kedua menggunakan baju berwarna hijau, dia adalah Hee im Lengcu Li Sian soat, sedangkan orang ketiga mengenakan baju bewarna merah darah, dia adalah Cun hong Lengcu, Jin cun.

Begitu mereka bertiga tiba didepan pintu perkampungan, Kho Yang ciu lah yg kelihatan terkejut sekali.

Sebagaimana diketahui, perkampungan Ciu hong san ceng sama sekali tak ada hubungan apa-apa dg dunia persilatan, tapi darimana kawanan jago persilatan itu bisa tahu kalau dia berada disini?

Disamping itu selapis hawa membunuh pun telah muncul dalam hati kecilnya, sudah lama ia tak pernah membunuh orang, bagaimana mungkin dia akan menyia-nyiakan kesempatan baik yg berada didepan mata sekarang?

Tatkala melihat munculnya tiga orang wanita muda dari balik perkampungan, kawanan jago persilatan itu kelihatan sangat tegang dan serius, hawa pembunuhan pun mulai menyelimuti seluruh area.

Dg suara lantang si Pedang emas To tin segera menegur keras: “Siapakah si Kedele Maut?“

“Nonalah orangnya!“ jawab Kho yang ciu dingin. “Rupanya kaulah putri Hui im cengcu yg menghebohkan dimasa lalu, sibiang keladi yg menyebabkan timbulnya badai berdarah didunia persilatan. hmmm, hari ini sengaja aku datang kemari

bersama rekan-rekan persilatan utk membuat perhitungan atas kematian rekan-rekan kami. “

Kho Yang ciu segera tertawa terkekeh-kkeh, setelah mendengar perkataan itu, jengeknya:

“Heeehh....heeehh....heehh kalian anggap kemampuan yg kamu

semua miliki sudah cukup utk berbuat sesuka hati, hmmm. memangnya tujuh puluh lembar nyawa yg tewas

diperkampungan Hui im ceng tidak pantas utk dituntut balas?“ “Hmmm, aku tahu percuma saja banyak berbicara dg perempuan

gila macam dirimu itu” tukas To tin gusar, “rekan-rekan semua, hari ini kita tak boleh membiarkan siluman perempuan siluman itu meloloskan diri lagi dari cengkraman kita“

Seruan tsb segera disambut penuh antusias oleh kawanan jago silat lainnya, dalam waktu singkat mereka telah bersiap sedia utk melancarkan serangan.

Cun hong Lengcu yg menyaksikan kejadian ini buru-buru mengulapkan tangannya, seraya berkata:

“eeeei....tunggu dulu, tunggu dulu. “

“Siapa anda?“ To tin segera membentak. Sambil tertawa merdu jawab Cun hong Lengcu:

“Kami kakak beradik adalah pemilik perkampungan Ciu hong san ceng ini, ketahuilah perkampungan kami tak pernah mempunyai ikatan dg dunia luar, hubungan dg dunia persilatan pun tak ada, kenyataan kalian datang mencari gara-gara, apakah tindakan ini tidak merupakan suatu perbuatan yg kelewat batas ? “

“Jadi nona bermaksud akan melindungi siluman perempuan ini? “ seru To tin dg suara dingin.

Kembali Cun hong Lengcu tertawa:

“Nenek moyang kami telah membuat suatu peraturan utk perguruan kami, yakni tidak boleh mencampuri urusan dunia persilatan, oleh sebab itu aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kami pun akan dihitung menjadi satu? “

To tin tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya: “Perempuan ini adalah anak murid dari tokoh sakti dunia

persilatan, kepandaian silatnya tak boleh dipandang enteng, apalagi tujuanku yg utama adalah mlenyapkan perempuan siluman tsb dari muka bumi, kalau bisa mengurangi dua orang musuh tangguh jelas hal tsb makin menguntungkan bagi posisiku. “

“Berpikir demikian, buru-buru ia berkata:

Kalau toh pihak perkampungan kalian punya peraturan yg melarang anggotanya mencampuri urusan dunia persilatan, sudah barang tentu kamipun tak akan mengusik ketenangan kalian, asal nona sekalian bersedia menyingkir dari sini dan tidak mencampuri urusan kami, aku beserta rekan-rekan persilatan lainnya pasti tak akan mengganggu seujung rambutpun dari perkampungan anda.“

Cun hong Lengcu manggut-manggut, katanya lagi:

“Walaupun perkataan anda memang sangat tepat, namun kami dua bersaudarapun tetap merasa serba salah.“

“Apa yg menyebabkan kalian serba salah ? “

“Nona Kho adalah sahabat karib kami dua bersaudara, andaikata kejadian ini berlangsung ditempat lain, tentu saja kami dua bersaudara dapat berlagak seolah-olah tidak melihat serta tidak mencampurinya, tapi hari ini. kalian justru telah datang kemari

utk mencari gara-gara, bagaimanapun jua kami sebagai tuan rumah toh tak bisa berpeluk tangan belaka, sebab tindakan seperti ini jelas tidak mencerminkan kesetiakawanan, sebaliknya bila ingin membantu, kamipun kuatir akan melanggar peraturan leluhur kami, nah, coba dibayangkan apakah posisi kami saat ini tidak serba berabe. “

“Cici berdua tak usah kuatir“ cepat-cepat Kho yang ciu berseru, asal cici berdua mau membantu siaumoy dg berjaga-jaga ditepi arena, hal tsb sudah lebih dari cukup untukku, apalagi jumlah manusia seperti ini belum sampai merisaukan hatiku, silahkan cici berdua berpeluk tangan saja“

Cun hong Lengcu pura-pura menghela napas sedih, lalu katanya: “Yaa, kalau begitu maafkanlah kami, tapi kami berjanji tak akan

membiarkan adik menderita kerugian ditangan mereka!“

To tin yg mendengar perkataan itu menjadi tertegun, lalu serunya sambil mendengus:

“Nona, apa maksud perkataanmu itu?“ Cun hong Lengcu tertawa terkekeh-kekeh,

“Kalian berjumlah begitu banyak, padahal lawan yg hendak kalian hadapi hanya seorang perempuan lemah, sesungguhnya kami merasa amat tak puas dg tindakan kalian itu!“ “Kalau begitu kalian telah berubah pikiran?“ jengek To tin sambil tertawa dingin.

“Bukan begitu maksud kami, asal kalian bersedia mengikuti peraturan dunia persilatan dg pertarungan satu lawan satu, tentu saja kami akan berpeluk tangan saja, kalau tidak, terpaksa kami akan mengundang adik keluarga Kho untuk memasuki perkampungan kami.“ 

“Apakah kami tak sanggup menyerbu kedalam perkampungan kalian?“ seru To tin penasaran.

Sambil tertawa Hee im Lengcu Li Sian soat menyela:

“Bila kalian berani menyerbu kedalam perkampungan, urusan menjadi lebih mudah utk diselesaikan, sebab kami pun tak usah kuatir akan melanggar peraturan leluhur kami lagi!“

To tin segera tertawa seram.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(