Kedele Maut Jilid 22

 
Jilid 22

Hong ing berpikir sebentar kemudian, katanya: “Baiklah, kalau begitu tunggulah dulu disini!”

Menyusul kemudian lubang dijendela pun tertutup kembali. Lagi-lagi Kho Beng berjalan bolak balik didalam ruangan,

perasaan hatinya waktu itu amat sedih masgul dan gelisah.

Sementara itu diruang yg indah dibelakang loteng, Kho Yang ciu sedang berbaring kemalas-malasan diatas ranjang.

Tiba-tiba dari luar pintu kedengaran suara langkah kaki manusia bergema memecah keheningan.

Menyusul kemudian pintu kamar dibuka orang, Li Sian soat dg wajah berat dan serius melangkah masuk kedalam ruangan.

Buru-buru Kho Yang ciu melompat bangun sambil menyapa: “Enci Soat, selamat pagi…….”

“Pagi apa?” jawab Li Sian soat sambil terpaksa, “kau tahu matahari sudah hampir menyinari seluruh tempat!”

Sambil berkata dia segera duduk persis dihadapan Kho Yang ciu… “Enci Soat” Kho Yang ciu menegur lagi dg wajah tercengang,

“kenapa paras mukamu kelihatan kurang sedap?”

“Semalam telah terjadi peristiwa berdarah diperkampungan kita ini” keluh Li Sian soat.

“Peristiwa apa?” dg perasaan kaget Kho Yang ciu melompat bangun.

Li Sian soat menghela napas panjang.

“Aaaai…..adikku, lebih baik kita tengok keluar sebentar sebelum berbicara lebih jauh.”

Dg cepat Kho Yang ciu mengenakan pakaian, lalu katanya lagi: “Enci Soat, sebenarnya apa yg telah terjadi? Mengapa tidak kau

ceritakan dulu kepadaku?”

Sekali lagi Li Sian soat menghela napas panjang: “Aaai….sesungguhnya aku tak mampu utk menceritakan kembali,

lebih baik tengoklah sendiri, kau pasti akan mengerti setelah melihat keadaan diluar situ.” Terpaksa Kho Yang ciu membetulkan letak rambutnya lalu berkata:

“Kalau begitu mari kita berangkat!”

Mereka berdua berjalan keluar loteng menuju halaman sebelah barat, disitu Kho Yang ciu melihat ada lima sosok mayat yg membujur diatas tanah.

Apa yg terlihat olehnya ini kontan saja mengejutkan perasaan Kho Yang ciu, utk sesaat dia sampai melongo.

Mayat-mayat itu tergeletak diatas genangan darah yg membasahi seluruh permukaan tanah, sementara belasan orang gadis berdandan pelayan dan lelaki bertubuh kekar berdiri disekeliling tempat itu dg wajah murung dan sedih.

Setelah termangu-mangu sesaat, Kho Yang ciu baru bertanya: “Siapa korban yg mati terbunuh itu?”

“Mereka adalah anggota perkampungan kami!” sahut Li Sian soat sambil menghela napas.

“Apa yg menyebabkan kematian mereka?” tanya Kho Yang ciu lebih jauh dg kening berkerut.

“Tewas oleh pukulan dahsyat seseorang!” “Siapa pelakunya?”

“Aaaai…..mungkin kalau kuungkapkan orangnya kau tak akan percaya, aaai….bagaimana aku mesti berbicara?”

Kho Yang ciu semakin keheranan lagi, dg dorongan rasa ingin tahu segera desaknya:

“Enci Soat, mengapa sih kau seperti nampak ragu-ragu utk berbicara? Aaaai…..membuat hatiku gelisah saja.”

“Sesungguhnya orang yg membunuh mereka tak lain adalah adikmu sendiri, Kho kongcu.”

Kho Yang ciu merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak, wajahnya berubah hebat, jeritnya tertahan:

“Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?”

Dalam hati kecilnya diam-diam Li Sian soat tertawa dingin, karena semuanya ini merupakan bagian dari siasat liciknya, bukan saja dia telah melibatkan Kho Beng bahkan Kho Yang ciu sendiripun dikelabui mentah-mentah, tentu saja kesemuanya ini dilakuakannya demi kitab pusaka Thian goan bu boh tsb.

Sampai matipun Kho Yang ciu tak bakal menyangka kalau apa yg dilihatnya ini hanya sebagian dari siasat busuk lawannya, dia lebih tak mengira lagi kalau ilmu senjata rahasia yg diwariskan lawan kepadanya sebetulnya hanya merupakan siasat meminjam golok membunuh orang……

Rasa terkejut dan tertegun membuat gadis itu berdiri termangu- mangu beberapa saat lamanya, kemudian baru ia berkata:

“Enci soat, kau bukan sedang bergurau bukan?”

“Kau rasa dapatkah aku bergurau dgmu?” Li Sian soat balik bertanya dg wajah serius.

Rasa bingung dan gelisah segera mencekam perasaan Kho Yang ciu, lama kemudian ia baru berkata:

“Apa sebabnya adikku bisa membunuh orang tanpa sebab musabab?”

“Sesungguhnya dia berbuat demikian bukan dikarenakan tanpa sebab musabab, tapi kelewat besar rasa curiganya” kata Li Sian soat.

“Apa yg dicurigainya?”

“Dia menaruh curiga kalau cici adalah dewi In nu.”

Kho Yang ciu segera menghentak-hentakan kakinya berulang kali, serunya dg gemas:

“Benar-benar tolol, bukankah semalam aku telah berulang kali memberi penjelasan kepadanya? Aaaai……bagaimana baiknya sekarang?”

Li Sian soat menghela napas panjang:

“Orang yg sudah mati tentu saja dapat cici kebumikan selayaknya, tapi yg kukuatirkan adalah selanjutnya…..”

Dg rada gusar yg meledak-ledak, Kho Yang ciu segera berseru: “Lain kali bila dia berani bertindak lagi secara sembrono tanpa

membedakan mana yg benar dan mana yg salah, aku yg menjadi cicinya pasti akan memberi pelajaran dulu kepadanya, cici Soat, mana orangnya sekarang…….?”

“Semalam dia malah berniat membunuhku” kata Li Sian soat dg kening berkerut, “oleh sebab itu dlm keadaan apa boleh buat terpaksa kugunakan siasat utk mengurungnya sementara waktu dlm kamar berlapis baja!”

“Enci Soat!” seru Kho Yang ciu terperanjat, “apakah kau….” Li Sian soat segera tertawa terkekeh-kekeh:

“Apa yg bisa kukatakan terhadapnya? Aku hanya berharap dia tidak mengapa-apa kan diriku saja, hal ini sudah cukup untukku.”

Kho Yang ciu merasa terharu sekali, segera katanya:

“Enci Soat, adikku tidak tahu urusan, kuharap kau sudi memberi muka kepadaku……” “Tentu saja memandang diatas wajahmu, kalau tidak masa kubiarkan dia berulah semau hatinya sendiri?” kata Li Sian soat tertawa.

“Hayo berangkat, kita tengok dulu keadaannya.”

Li Sian soat manggut-manggut, bersama-sama Kho Yang ciu mereka menuju kegedung bagian depan.

Kalau kemarin ruangan tsb masih terdiri dari jendela dan pintu, maka hari ini telah berubah menjadi sebuah ruang besi yg tak berpintu dan berjendela.

Ditengah ruangan berdiri empat orang nona berbaju hijau, ketika melihat kedatangan cengcu mereka, serentak orang-orang itu memberi hormat.

Li Sian soat segera mengulapkan tangannya sambil memberi perintah:

“Buka lubang dijendela itu!”

Seorang nona berbaju hijau mengiakan dan mendekati rumah besi itu, lalu menginjak keras-keras diatas sebuah ubin.

Sambil menengok kearah Kho Yang ciu, Li Sian soat segera berkata:

“Adikmu berada didalam sana, kuharap kau bisa memberi penjelasan kepadanya serta membujuknya, bila ia sudah mau tahu keadaan yg sebenarnya, kita baru membukakan pintu baginya.”

Dg perasaan berat Kho Yang ciu manggut-manggut.

Tapi sebelum ia sempat mendekati lubang jendela itu, Kho beng yg berada dalam ruangan telah mendekati jendela sambil berseru:

“Cici!”

Meskipun Kho Yang ciu merasa sedih dihati, namun berhubung Li Sian soat hadir pula disampingnya, terpaksa ia membentak keras- keras.

“Apakah dalam pandanganmu masih terdapat aku yg menjadi cicimu…?”

“Cici, dengarkan dulu penjelasanku” seru Kho Beng dg cemas. “Justru aku yg hendak memberi penjelasan kepadamu” tukas Kho

Yang ciu dingin, “aku ingin tahu apa sebab kau membunuh orang tanpa sebab ditengah malam buta?”

“Cici, kau masih dikelabui oleh mereka, tahukah kau, besar kemungkinan perkampungan Ciu Hong san ceng adalah salah satu diantara sarang-sarang iblis dari siluman perempuan In nu?”

“Omong kosong!” hardik Kho Yang ciu keras. “Tidak, aku sama sekali tidak ngaco belo..” Kho Beng menghela napas panjang.

Dg wajah hijau membesi, Kho Yang ciu kembali berkata: “Adikku, sekali lagi kuminta kepadamu, hayo cepat minta maaf

kepada Enci Soat!”

“Bolehkah aku memberi keterangan yg lebih jelas lagi kepadamu?” pinta Kho Beng dg kening berkerut.

“Katakanlah!”

Sambil merendahkan suaranya pemuda itu segera berkata: “Aku telah menjumpai jago pedang berbaju kuning dari dewi In

nu berada didalam perkampuangan ini.”

“Kau toh tak bisa menganggap setiap jago yg mengenakan baju berwarna kuning sebagai anak buah dari siluman perempuan itu!”

“Tapi aku kenal dg salah seorang diantara mereka, sebab kami pernah berkenalan!” bantah Kho Beng.

Kho Yang ciu segera mendengus dingin.

“hmmm, aku tidak berharap kau lanjutkan kata-katamu itu.”

Melihat sikap dari kakaknya itu, Kho Beng menghela napas panjang, katanya kemudian:

“Aaai…barusan ada orang yg menggunakan keselamatan jiwa cici utk mengancam kepadaku agar menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh, bagaimana pula kejadian ini?”

“Siapakah orang itu?” tanya Kho Yang ciua sambil kerutkan dahinya kencang-kencang.

“Dia tak lain adalah dayang yg bernama Hong ing, dayang itu pernah kujumpai didepan perkampungan Bwee wan.”

Tapi Kho Yang ciu segera gelengkan kepalanya berulang kali, katanya cepat:

“Aku tidak percaya dg semua perkataanmu itu, sekarang aku Cuma berharap kepadamu agar mau minta maaf kepada enci soat!”

Menghadapi keadaan seperti ini, Kho Beng hanya bisa menghela napas panjang, katanya kemudian:

“Aaaai, baiklah cici, aku akan menuruti semua perkataanmu, tapi sekarang mereka harus membebaskan diriku lebih dulu.”

Kho Yang ciu segera berpaling kearah Li Sian soat dan ujarnya, “Enci Soat, adikku telah menyesali semua perbuatannya dan

bersedia minta maaf kepada enci Soat, kuharap enci soat sudi mengingat hubungan persahabatan diantara kita dan membebaskan dirinya.” “Oooh, tentu saja……” kata Li Sian soat sambil tertawa.

Sambil berkata dia segera mengulapkan tangannya kebelakang.

Tampak seorang nona berbaju hijau yg berada diatas sebuah pohon besar segera menekan sebuah tombol rahasia disana, tiba- tiba saja lapisan baja disekeliling bangunan itu tenggelam kedasar tanah dan muncullah bangunan rumah yg sebenarnya.

Kho Beng segera melangkah keluar dari dalam ruangan, kepada Kho Yang ciu ujarnya kemudian dg suara berat:

“Cici, semoga kau dapat menjaga diri baik-baik, aku hendak mohon diri sekarang juga.”

“Kau hendak kemana?” tanya Kho Yang ciu agak tertegun.

Kho Beng amat sedih, hatinya serasa remuk redam, pertanyaan dari Kho Yang ciu sama sekali tak dijawab olehnya, bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menggerakkan tubuhnya dan secepat sambaran kilat berkelebat meninggalkan perkampungan tsb.

Setelah keluar dari perkampungan, ia merasakan dadanya bagaikan ditindih dg batu karang yg besar sekali, tak terlukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, akhirnya sambil menghela napas sedih dia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Tapi belum jauh dia meninggalkan perkampungan Ciu Hong san ceng, mendadak dari jarak beberapa kaki dihadapannya telah bermunculan puluhan sosok bayangan manusia, dg cepat dia sudah terkurung ditengah kepungan mereka.

Kho Beng melototkan sepasang matanya bulat-bulat, hawa amarah yg membara didalam dadanya telah memuncak, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan yg amat dahsyat.

Ternyata puluhan sosok bayangan manusia itu dipmpin oleh seorang kakek berbaju ungu yag tak lain dalah Ong Thian siang.

Tampak kakek tsb membentak keras-keras, kemudian sepasang telapak tangannya diputar dan menyongsong datangnya serangan lawan keras melawan keras.

Dalam melepaskan serangan kali ini, Kho Beng telah menyertakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tsb.

“Blaaaammm…!”

Ditengah suara benturan keras yg memekakkan telinga, pasir debu nampak beterbangan diangkasa, akan tetapi Ong Thian siang justru kelihatan masih berdiri tegak ditempat semula tanpa menderita cidera barang sedikitpun juga.

Tampak kakek itu mengulapkan tangannya dg dingin, lalu bentaknya keras-keras:

“Bocah keparat, kau jangan harap bisa kabur lagi dari cengkeramanku…….?”

Sementara itu, belasan jago pedang yg turut hadir disitu telah meloloskan senjata masing-masing dan bersiap sedia melancarkan serangan…..

Tak terlukiskan rasa kaget Kho Beng menghadapi kejadian ini, dia percaya tenaga pukulannya barusan paling tidak mencapai delapan sembilan ratus kati, jangan lagi tubuh manusia yg terdiri dari darah dan daging, besi baja pun pasti akan patah menjadi dua.

Tapi sungguh aneh, mengapa kakek berbaju ungu itu justru tetap sehat wal afiat tanpa cedera sedikitpun?

Terburu-buru ingin meninggalkan tempat itu secepatnya, timbul hawa nafsu membunuh dalam hatinya, dg cepat pemuda itu meloloskan pedangnya lalu dg jurus “Hujan darah melanda langit” pedangnya dg membawa desingan suara yg memekakkan telinga langsung ditusukkan ketubuh Ong Thian siang.

Menghadapi datangnya ancaman ini, Ong Thian siang tdk bermaksud menghindarkan atau berkelit, senjata kupu-kupunya segera diputar kencang-kencang menyongsong datangnya ancaman tsb.

Ketika sepasang senjata mereka saling adu satu sama lainnya, Kho Beng segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku dan kesemutan sehingga tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur sejauh beberapa langkah.

Walaupun Ong Thian siang sendiripun terhuyung mundur sejauh dua langkah lebih, namun sikap maupun mimik wajahnya masih tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi suatu peristiwa pun, bukan saja dia tak terluka oleh serangan pedang anak muda tsb, paras mukanya pun sama sekali tidak berubah.

Terdengar kakek itu mendengus dingin seraya menjengek: “Hmmm, kalau Cuma mengandalkan kepandaian semacam itu,

jangan harap kau bisa lolos dari cengkeramanku lagi!”

Sambil berkata, senjata panji kupu-kupu nya segera digetarkan lalu dihantamkan keatas kepala Kho Beng. Dalam waktu singkat anak muda itu terkepung, ia merasakan sekeliling tubuhnya telah dilapisi oleh bayangan kupu-kupu yg beterbangan kian kemari, dia tak bisa membedakan lagi mana yg asli dan mana yg tipuan?

Dalam terperanjatnya buru-buru Kho Beng melompat mundur kebelakang dan menghindar sampai sejauh dua kaki dari posisi semula.

Tampak sinar hijau yg menggidikkan hati memancar keluar dari balik mata Ong Thian siang, utk kedua kalinya dia melancarkan serangan dg senjata panji kupu-kupunya.

Ditengah deru angin serangan yg memekakkan telinga, selapis bayangan kupu-kupu kembali menyergap dan mengurung Kho Beng dari segala penjuru arena.

Kho Beng benar-benar bergidik hatinya menghadapi ancaman lawan yg begitu bertubi-tubi, mimpipun dia tak pernah menyangka kalau ilmu silat yg dimiliki setan tua tsb ternyata begitu tangguh dan luar biasa.

Tak heran kalau Li Sian soat bersikap begitu terbuka dan sok berjiwa besar dg mempersiapkan jago-jago lihaynya utk melakukan penyergapan disini.

Lalu apakah tujuan dari rencana busuknya itu?

Sementara dia berpikir tentang kejadian ini, tubuhnya dg cekatan telah melejit kesana kemari utk meloloskan diri dari ancaman musuh….

Dalam hati kecilnya dia sudah mempunyai perhitungan, Ong Thian siang tak boleh dianggap enteng, sebab sedikit salah tingkah berarti jiwanya besar kemungkinan akan terluka ditangannya.

Akan tetapi Ong thian siang sendiri pun sama sekali tak berayal, ketika melihat Kho Beng menghindarkan diri sekali lagi kesisi arena, permainan senjata panji kupu-kupunya segera diperketat, utk ketiga kalinya dia melancarkan serangan kembali utk menggencet pemuda tsb, bahkan jurus serangan yg digunakan kali ini jauh lebih ganas dan hebat lagi….

Setelah berhasil menghindarkan diri utk ketiga kalinya, tiba-tiba saja pemuda tsb teringat akan sebuah jurus serangan pedang yg mungkin bisa digunakan utk mematahkan serangan lawan, jurus tsb merupakan salah satu jurus ciptaannya sendiri, yakni gabungan dari dua jurus yg yg berbeda diantara tiga puluh enam jurus ilmu pedang Thian goan kiam hoat. Walaupun dia tak mengetahui sampai dimanakah kehebatan dari jurus ciptaannya itu, namun dalam keadaan yg begini kritis dan berbahaya, dia tak mau berpikir panjang, jurus serangan tsb segera dipersiapkan utk dipakai.

Begitulah, sambil mempersiapkan pedangnya dia segera membentak keras-keras:

“Kalau toh kau mengharapkan kematianku, nah silahkan mencoba dulu jurus Thian goan hap it ku ini!”

Pedangnya diputar membentuk satu gerak melingkar, ditengah lingkaran bunga pedang yg membentuk garis bagaikan pelangi, secepat kilat dia tusuk tubuh Ong Thian siang.

Menyaksikan datangnya ancaman tsb, Ong Thian siang sangat terkesiap, tergopoh-gopoh dia memutar senjata panji kupu-kupu utk menyongsong datangnya ancaman tsb.

Akan tetapi jurus pedang dari Kho Beng benar-benar luar biasa hebatnya, sebaris cahaya pelangi tsb tiba-tiba saja berubah menjadi hujan pedang yg menyelimuti seluruh angkasa.

Baru sekarang Ong Thian siang menyadari betapa lihay dan luar biasanya jurus pedang dari ilmu yg tercantum dalam pusaka Thian goan bu boh.

Walaupun dia mengetahui akan kelihaian ilmu pedang Thian goan kiam hoat, tapi sayang keadaan sudah terlambat………

Terdengar suara dengusan tertahan bergema memecah keheningan, tampak Ong Thian siang mundur dg sempoyongan, sementara dadanya sudah berlubang oleh tusukan, darah segar menyembur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Berubah hebat paras muka belasan orang jago pedang lainnya, mereka sangat terperanjat oleh peristiwa yg tak terduga sebelumnya itu.

Begitu berhasil dg seragannya, Kho Beng segera membentak keras-keras:

“Apabila kalian semua tak ingin hidup terus, silahkan saja maju kemuka utk menerima kematian!”

Waktu itu, meskipun Ong Thian siang sudah terluka oleh tusukan pedang, agaknya luka yg dideritanya tdk begitu parah.

Ia segera tertawa seram sesudah mendengar perkataan itu, katanya:

“Haaahhh…..haaahh…haaahh…..sebuah jurus serangan dari ilmu pedang Thian goan kiam hoat, ilmu pedang sakti mana yg sudah punah ratusan tahun lamanya, sekarang digunakan lagi utk menghadapi diriku lewat kau… ”

Lalu dg sorot mata berkilau tajam, dia berkata lebih jauh:

“Asal kau mampu membunuh habis diriku serta kedelapan belas orang anak buahku ini, akan kubiarkan kau meninggalkan bukit Cian san ini dlm keadaan hidup.”

“Heeeh….heeehh….heeehh…kau anggap aku tak tega utk melakukannya?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

“Hmmm, justru aku kuatir kau tdk memiliki kemampuan sehebat itu……” jengek Ong Thian siang dg suara keras.

Menyusul suara pekikan nyaring yg menembusi angkasa, katanya lebih jauh:

“Aku akan bertarung seratus jurus lagi melawan dirimu!”

Pada saat itulah tiba-tiba muncul empat sosok bayangan manusia dari balik hutan sana.

Ketika Kho Beng berpaling dan mengetahui siapa yg datang, ia menjadi kegirangan setengah mati, ternyata mereka tak lain adalah Molim, Mokim, Hapukim serta Rumang.

Saat itu keempat orang anak buahnya telah meloloskan senjata masing-masing siap utk bertarung, kepada Kho Beng teriaknya lantang:

“Cukong tak usah gugup, kami datang utk melindungimu!” “Kemarilah kalian!” seru Kho Beng lantang, “bantu aku utk

bertarung mati-matian melawan mereka semua!”

Keempat orang itu segera melayang turun persis disamping Kho Beng, suasana pun menjadi amat tegang, nampaknya suatu pertarungan sengit segera akan berlangsung.

Mendadak……..

Disaat keadaan makin kritis dan pertarungan sengit segera akan berkobar itulah, tiba-tiba terdengar suara gembrengan yg dibunyikan bertalu-talu berkumandang datang dari arah perkampungan.

Mendengar suara tsb, Ong Thian siang menjadi terkejut sekali, buru-buru dia mengulapkan tangannya seraya berkata:

“Cepat kembali keperkampungan!”

Kho Beng sendiri pun agak tertegun melihat perubahan tsb, dia tak habis mengerti apa gerangan yg telah terjadi.

Sementara itu Ong Thian siang telah berkata dg dingin: “Untuk sementara waktu kubebaskan dirimu hari ini, tapi kau mesti mengerti, setiap waktu setiap saat nyawamu selalu berada dalam cengkeraman kami.”

Habis berkata, dia segera memimpin belasan orang jago pedangnya dan mengundurkan diri dari sana, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Menanti bayangan Ong thian siang sekalian sudah hilang dari pandangan. Kho Beng baru berkata dg suara rendah:

“Mari kita pergi dari sini!”

“Cukong!” seru Rumang keras-keras, “tua bangka tadi telah kau lukai dg babatan pedang, mengapa kau biarkan dia melarikan diri dg begitu saja?”

Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya: “Walaupun dia sudah menderita luka, namun bila benar-benar

terjadi pertarungan yg sengit, ditambah pula dg belasan orang jago pedangnya, aku rasa siapa yg menang siapa yg kalah masih belum dapat diramalkan mulai sekarang…….”

Kemudian setelah memperhatikan sekejap keadaan disekeliling sana, katanya lebih jauh:

“Disamping itu, pikiranku sangat kalut dan tidak mempunyai semangat utk melanjutkan pertarungan, hayo kita pergi saja dari sini.”

“Cukong” kembali Rumang berteriak, “ kau belum bercerita kepada kami bagaimana kisahmu melarikan diri dari sana…….apakah kau benar-benar menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh itu kepada mereka?”

Dg cepat Kho Beng menggeleng,

“Dikemudian hari kau akan mengerti dg sendirinya, sekarang lebih baik kita pergi dulu.”

“Tapi kita hendak kemana?” tanya Hapukim. “Terserahlah, mau kemana pun boleh saja.”

Mendadak seperti teringat akan sesuatu, dia berseru lagi: “Mari kita pergi mencari tempat utk minum arak!”

Dg perasaan gembira yg meluap Rumang segera berseru: “Haaaa…….haaaah…….haaaah…bagus sekali, kita pergi minum

arak, sudah lama sekali aku berpantang minum arak…..”

Maka mereka berlima pun segera berangkat menuruni bukit.

Menjelang senja, Kho Beng bersama Molim, Mokim, Rumang serta Hapukim sekalian sudah berada dalam sebuah rumah makan kecil dikaki bukit, disitu mereka memesan sayur dan arak serta bersantap dg lahapnya….

Walaupun arak diharapkan bisa menghilangkan segala kemasgulan, namun kobaran api dendam yg membara membuat perasaan Kho Beng tak pernah bisa tenang.

Beberapa poci arak yg berpindah keperut membuat pemuda tsb mulai dipengaruhi oleh air kata-kata, maka mereka berlima pun melewatkan malam yg panjang itu didalam rumah makan kecil ini.

Mereka berlima tidur dalam sekamar, namun mereka tidak dapat memejamkan mata, terutama Kho Beng.

Pikiran dan perasaannya waktu itu sangat kalut dan tak tenang, bagaimana pun dia berusaha utk memejamkan mata namun tak setitik rasa ngantuk pun yg menyerang dirinya.

Ketika Molim melihat Kho Beng belum juga dapat tidur, tanpa terasa segera ia membujuk:

“Cukong, kau harus pergi tidur sebentar, dirisaukan pun persoalan tsb tak akan terselesaikan dg sendirinya.”

“Ehmmm, kau pergilah tidur sendiri!” sahut Kho Beng dg suara hambar.

Tapi sambil tertawa paksa Molim segera berkata lagi: “Aku merasa amat kesal berada didalam kamar, biar aku

berjalan-jalan sebentar diluar kamar sambil mencari udara segar…”

Kho Beng sama sekali tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan sebab dalam keadaan seperti saat ini, dia pun mempunyai perasaan yg sama seperti Molim, Cuma saja ia malas utk keluar dari kamar.

Sementara itu Molim sudah keluar dari kamarnya, ternyata dia bukan pergi berjalan-jalan seperti yg diutarakan tadi, begitu sampai diluar halaman, dg sekali lompatan ia sudah melewati pagar pekarangan dan bergerak menuju keluar kota dg kecepatan tinggi.

Lebih kurang setengah peminuman the kemudian , didepan situ muncul sebuah kuil dewa tanah, Molim segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dg seksama kemudian menerobos masuk kedalam kuil tadi……..

Ditengah kegelapan malam yg mencekam, gerak gerik Molim tak ubahnya seperti sukma gentayangan, tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia menghampiri bangunan kuil tsb.

Kemudian setelah memperhatikan sekejap seputar bangunan kuil, dia bersiul pelan. Dari dalam kuil segera segera bergema suara langkah kaki manusia, disusul seseorang menegur dg suara yg rendah dan dalam.

“Saudara Mo kah yg datang?”

“Yaa, betul, siaute yg datang?” jawab Molim.

Orang yg berada dalam kuil itu tidak berbicara apa-apa lagi, dia membuka pintu kuil tsb lebar-lebar.

Molim tdk berayal lagi, setelah memperhatikan sekali lagi sekeliling tempat itu, dg langkah cepat dia berjalan masuk kedalam ruangan kuil.

Suasana dalam kuil itu gelap gulita sehingga boleh dibilang susah utk melihat kelima jari tangan sendiri, setibanya disitu, Molim segera menghentikan langkahnya dan berusaha utk melihat jelas pemandangan disekelilingnya.

Ternyata yg barusan membukakan pintu adalah seorang manusia berkerudung yg bertubuh kurus kering, waktu itu dia sudah mengundurkan diri kedepan ruangan dan duduk bersila disitu.

Gerak gerik serta tingkah lakunya nampak misterius sekali.

Tiba-tiba saja dia menggapai kearah Molim dan menyuruhnya duduk, setelah itu baru tegurnya:

“Apakah kau datang kemari seorang diri?” Molim manggut-manggut tanpa menjawab. Kembali manusia berkerudung itu berkata:

“Sewaktu datang kemari apakah kau telah memperhatikan belakang tubuhmu? Apakah ada orang yg membuntuti jejakmu?”

“Tidak ada!” jawaban Molim sangat meyakinkan.

Dg persaan amat puas manusia berkerudung itu manggut- manggut, katanya lagi:

“Bagus sekali, tapi selanjutnya gerak gerikmu harus lebih berhati- hati lagi, asal barang itu sudah didapatkan, pokoknya aku tak akan lupa utk memberikan sebagian kepadamu, bahkan masih ada balas jasa lainnya lagi…..”

Mendengar perkataan tsb, Molim segera berkata setelah termenung sejenak,

“Sayang aku tak punya kesempatan utk menggeledahnya pada hari ini, sehingga aku pun tak tahu apakah barang tsb masih ada ditangannya atau tidak?”

Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin: “Persoalan ini tak perlu kau kerjakan secara tergesa-gesa, yg penting jangan sampai menimbulkan kecurigaan, sebab persoalan tsb bisa membuat semua masalah jadi terbengkalai.”

“Dalam soal ini kau tak perlu kuatir, aku bisa bekerja dg berhati- hati sekali!” buru-buru Molim berjanji.

Manusia berkerudung itu segera mengangguk,

“Selanjutnya aku bisa membuntutimu secara diam-diam dan sering melakukan kontak dg mu, tapi ada satu hal yg perlu kujelaskan lebih dulu kepadamu sebelum akhirnya terjadi…”

“Soal apa?” tanya Molim serius.

Sambil menarik muka, manusia berkerudung itu berkata dg suara dingin:

“Bila kau berani menghianati diriku maka jiwamu pasti akan kucabut, nah kuharap kau pertimbangkan persoalan ini dg sebaik- baiknya, jangan kau pergunakan nyawa sendiri sebagai barang permainan.”

Molim merasakan sekujur badannya bergetar keras, namun mulutnya tetap membungkam seribu bahasa.

Kembali manusia berkerudung itu berkata sambil tertawa hambar:

“Aku tak lebih hanya bermaksud memberi tahukan soal peraturan perguruanku kepadamu, semoga saja kau bisa bekerja dg berhati- hati sekali…..”

Kemudian setelah memandang sekejap sekitar tempat itu, katanya lagi sambil mendengus:

“Hmmm, sekarang kau boleh pergi dari sini!”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Molim segera menjura dan mengundurkan diri dari ruangan kuil.

Sewaktu tiba dimuka pintu, kembali dia memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Tidak lama setelah Molim meninggalkan tempat itu, dari depan pintu kuil muncul kembali seorang perempuan berbaju hijau, perempuan itu menutup wajahnya dg kain kerudung hijau, gerak geriknya pun sangat misterius….

Walaupun Molim tidak menyadari akan kehadiran perempuan tsb, namun setiap gerak gerik, tingkah laku serta pembicaraannya, agaknya sudah diketahui dg jelas oleh perempuan berbaju hijau itu. Sementara itu tampaknya kakek berkerudung yg berada dalam ruangan kuil pun telah mengetahui akan kehadiran perempuan berbaju hijau itu, terdengar ia menegur sambil tertawa dingin:

“Sobat yg berada diluar, apa gunanya kau sembunyi disitu? Aku sudah tahu kalau kau telah mengintip diluar sejak tadi.”

Pada mulanya perempuan berbaju hijau itu kelihatan agak terkejut, namun setelah sangsi sejenak, dg langkah lebar dia berjalan masuk kedalam ruangan kuil itu, katanya sambil tertawa hambar:

“Ketajaman mata anda sungguh mengagumkan, boleh aku tahu siapa anda?”

Kakek ceking berkerudung hitam itu mendengus dingin:

“Hmmm, seharusnya akulah yg menanyakan siapa namamu, hayo cepat sebutkan identitasmu yg sebenarnya!”

Perempuan berbaju hijau itu segera tertawa.  “Selama kau menyembunyikan nama serta identas yg

sebenarnya, aku pun akan merahasiakan nama asliku utk sementara waktu, nah bagaimana kalau kita masing-masing tak usah saling bertanya soal nama?”

Kakek ceking itu tertawa lebar:

“Kau betul-betul amat binal, baiklah, boleh aku tahu ada urusan apa kau datang kemari?”

“Hanya kebetulan lewat!” “Haaaahh…..haaahh…..haaahh…..kau anggap begitu banyak

kejadian yg kebetulan disunia ini?” seru kakek ceking sambil tertawa terbahak-bahak, “apalagi ditengah malam buta, kebetulan amat kau lewat sini?”

Perempuan berbaju hijau itu sama sekali tidak kelihatan canggung, malah ia menjawab sewajarnya,

“Bila kau bersikeras tak percaya, apa boleh buat? Untung saja kita tak pernah saling mengenal, lagipula tiada ikatan dendam atau sakit hati, asal tidak saling mencampuri urusan orang lain, urusan kan beres?”

Seraya berkata dia segera membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari situ.

“Tunggu dulu!” mendadak kakek ceking itu membentak keras.

Sambil menghentikan langkahnya, nona berbaju hijau itu menegur:

“Apakah tuan masih ada urusan lain?” “Sebelum aku mengetahui identitasmu yg sesungguhnya sampai jelas, jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini dg selamat.”

Nona berbaju hijau itu segera tertawa manis, katanya:

“Aku bukan termasuk manusia yg takut digertak orang, bila kau benar-benar ingin mengetahui identitasku yg sesungguhnya, hal ini pun tidak terlalu sulit, asal saja kau melepaskan kain kerudung yg menutupi wajahmu itu, aku pun bersedia mengemukakan identitasku yg sesungguhnya.”

Kakek ceking itu mendengus dingin:

“Hmmm, tak kusangka kau si budak susah sekali utk dihadapi, baiklah akan kuberi kesempatan kepadamu utk menyaksikan paras mukaku yg sebenarnya!”

Sambil berkata dia segera melepaskan kain kerudung yg menutupi wajahnya itu.

Ternyata paras muka dibalik kain kerudung tsb adalah selambar wajah yg tua, jelek lagipula kuning kepucat-pucatan, selambar wajah yg sangat tidak menarik.

Sampai lama sekali nona berbaju hijau itu mengamati paras muka kakek ceking itu, kemudian katanya:

“Aku sama sekali tidak kenal dg mu….”

Tapi setelah memutar biji matanya dan tertawa merdu, kembali ujarnya:

“Setelah tuan berani menunjukkan wajah aslimu, aku rasa tentunya kau berani juga utk menyatakan nama aslimu bukan?”

“Aku bernama Thia bu ki” kakek ceking itu berkata dg suara sedingin es.

“Ooooh……dan aku bernama To Ku giok!” nona berbaju hijau itu menjelaskan.

“Kau berasal dari perguruan mana?” “Go bi pay!”

Tiba-tiba Thia bu ki bangkit, lalu katanya dg suara dingin: “Ooooh, rupanya kau adalah murid perguruan kenamaan, To ku

lihiap, aku ingin mencoba kemampuanmu!” “Apa yg hendak kau coba?”

“Ingin kubuktikan benarkah kau berasal dari perguruan Go bi pay?”

Tidak sampai perkataan itu selesai diucapkan, sebuah pukulan yg maha dahsyat telah dilepaskan. Serangan ini dilancarkan dg kecepatan luar biasa, angin pukulan yg sangat berat seperti ditindih bukit karang langsung menggulung kedepan dan mengancam tubuhnya.

Cepat-cepat nona berbaju hijau itu berkelebat kesamping utk meloloskan diri, serunya:

“Hey, bagaimana sih kau ini? Kan tadi Cuma ingin mengetahui identitasku? Kenapa malah menyerang secara sungguhan?”

Thia bu ki mendengus dingin:

“Hmmm, aku tak percaya kalau tak mampu mencoba kepandaian silat aslimu…..”

Telapak tangan kenennya berputar membentuk satu lingkaran, sekali lagi ia melancarkan sebuah sapuan yg maha dahsyat.

Serangan yg dilancarkan kali ini jauh berbeda dg seranbgan yg pertama kali tadi, tampak bayangan berlapis-lapis seolah-olah serangan sungguhan seperti juga gerak tipuan, yg jelas sekujur badan Tu ku giok terkepung begitu rapat dibalik angin pukulannya.

Tempaknya sinona berbaju hijau itu tidak menyangka kalau tenaga dalam yg dimiliki kakek ceking itu sedemikian tinggi dan berbahaya, tergopoh-gopoh dia menghindarkan diri kesamping, tapi bersamaan waktunya dia meloloskan pedang yg tersoren dipunggungnya.

Mendadak Thia Bu ki berseru sambil tertawa terbahak-bahak: “Haaaah….haaaaah……..haaaah………aku memang berharap kau

berbuat demikian!”

“Kalau toh kau begitu mendesak diriku habis-habisan, sekarang rasakan sebuah tusukan pedangku lebih dulu!” bentak nona berbaju hijau itu dg penuh amarah.

“Sreeeeet… !”

Selapis cahaya pedang yg amat menyilaukan mata segera menyebar kedepan dg sangat hebatnya.

Ditengah pancaran sinar pedang yg menyebar keempat penjuru, dalam sekejap mata wailayah seluas dua kaki lebih sudah terkkurung oleh selapis hawa dingin yg menggidikkan hati.

Dg amat cekatan Thia bu ki menarik diri sambil melompat mundur, serunya kemudian sambil tertawa tergelak:

“Haaaa……..haaaa…..haaaahhh….sebuah jurus “angin menderu diempat penjuru” yg sangat hebat, ternyata kau memang pandai ilmu pedang aliran Go bi, maaf, maaf……” Tidak sampai perkataan tsb selesai diucapkan, ia sudah melejit ketengah udara dan meluncur keluar dari kuil dewa tanah yg gelap gulita, dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Memandang hingga bayangan tubuh Thia Bu ki pergi jauh, si nona berbaju hijau itu baru menghembuskan napas panjang, gumamnya lirih:

“Huuuh, sungguh berbahaya!”

Pelan-pelan dia melepaskan kain kerudung mukanya sehingga muncullah selembar wajah yang muda lagi cantik jelita, ternyata dia bukan To Ku giok seperti yg diakui tadi, melainkan si walet terbang Chin Sian kun.

Setelah membereskan rambutnya yg kusut, dia menyeka peluh dingin yg sempat membasahi seluruh tubuhnya, dalam hati ia berpikir:

“Sungguh beruntung aku dapat menghadapi setiap perubahan dg cukup cekatan kalau tidak huuuuh, dg kepandaiannya yg begitu

tinggi, sudah jelas aku bukan tandingannya… apalagi bila sampai

aku salah langkah, bisa jadi sebuah rahasia kebohonganku bakal terbongkar… ”

Siapa tahu baru saja hatinya menjadi lega, kembali tampak bayangan hitam berkelebat lewat dari luar kuil, ternyata Thia Bu ki bagaikan bayangan sukma gentayangan saja telah melayang kembali dihadapan matanya.

Dalam tertegun dan kegetnya, buru-buru Chin Sian kun mengenakan kembali kain cadarnya. Lalau menegur:

“Hey, kenapa kau balik kembali setelah pergi tadi?” Dg wajah dingin bagaikan es, Thia Bu ki menjawab:

“Tadi aku sudah lupa menanyakan satu hal kepadamu, apakah kau bersedia menjawab pertanyaanku itu sekarang?”

Chin Sian kun sengaja tertawa lebar katanya:

“Silahkan tuan bertanya, asal aku tahu pasti akan kuberikan jawaban yg sebaik-baiknya.”

Thia Bu ki manggut-manggut, katanya kemudian:

“Bagus sekali, bolehkah aku tahu kemanakah tujuan kepergianmu yg sebenarnya?”

Chian Sian kun menjadi tertegun. “Tentang soal ini ” Ia memainkan biji matanya sebentar lalu sambil tertawa hambar katanya lagi,

“Aku rasa persoalan ini tiada sangkut pautnya dg diri tuan bukan…?”

“Hmmm, siapa tahu justru ada sangkut pautnya!” jawab Thia Bu ki dingin.

“Aku bermaksud naik kebukit Cian san” kata si nona kemudian setelah sangsi sebentar.

“Mau apa kau naik kebukit Cian san?” desak Thian Bu ki lebih lanjut.

“Saudara, kenapa kau menanyakan persoalan ini sampai mendetail? Apa maksudmu yg sebenarnya?”

Dg suara berat dan dalam Thia Bu ki berseru:

“Kuanjurkan kepadamu lebih baik jawab semua pertanyaanku dg sejujurnya, tak usah mencoba berlagak sok pintar dg mengarang cerita bohong utk menipu diriku, sebab hal ini justru akan merugikan dirimu sendiri.”

Diam-diam Chin Sian kun menjadi tertegun, tanpa terasa ia berpikir dalam hati kecilnya,

“Sungguh tajam pandangan mata orang ini, nampaknya aku harus menghadapinya secara berhati-hati sekali, tapi manusia dari pihak manakah dia? Mengapa dia memeriksa diriku seteliti dan secermat ini?”

Tanpa terasa terbayang kembali olehnya tingkah laku Molim yg dijumpainya tadi serta gerak gerik si kakek ceking yg mencurigakan ini, mungkinkah dia adalah dari pihak lawan atau mungkin juga anak buah dari siluman perempuan dewi In nu yg bersekongkol dg keempat jago asing tsb utk melakukan sesuatu yg tidak menguntungkan bagi Kho Beng, dan sekarang takut rahasia tsb terbongkar..

Ingatan tsb melintas lewat dalam benaknya dalam waktu singkat, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, Thia Bu ki telah berkata lagi sambil tertawa dingin:

“Nona, mengapa kau tidak berbicara lagi? Apakah kau belum memperoleh jawaban yg tepat utk menjawab pertanyaanku tadi?”

Begitu mengambil keputusan didalam hati kecilnya, sambil tersenyum Chin Sian kun berkata:

“Apa yg tuan duga memang tepat sekali, aku memang sedang mempertimbangkan jawabanku!” Jawaban yg secara gamblang ini justru sama sekali diluar dugaan Thia Bu ki, utk sesaat lamanya ia menjadi tertegun dibuatnya,

“Aku benar-benar tak habis mengerti” katanya kemudian, “masa utk berbohong saja kau perlu mempertimbangkan kembali?”

”Tentu saja harus kupertimbangkan masak-masak, sebab tugas yg kupikul dalam perjalananku kali ini berat sekali, aku tak tahu harus memberi jawaban secara sejujurnya ataukah lebih baik mencarikan alasan yg lain utk membohongimu?”

Thia Bu ki segera tertawa seram: “Haaaahhh……haaaah…….haaaaahhh….nona memang seorang

yg amat jujur, tapi bagaimanapun besar dan pentingnya persoalan tsb, lebih baik kemukakan saja secara blak-blakan, aku berjanji akan menyimpan rahasiamu sebaik-baiknya dan pasti tak akan kubocorkan kepada siapa pun…..”

Tapi Chin Sian kun segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

“Mulut manusia ibarat mulut botol, asal didalamnya sudah terisi cairan maka setiap saat bisa meleleh keluar kembali, itulah sebabnya aku tak usah menjawab saja, karena sekali berbicara toh lebih baik diutarakan keluar sama sekali.”

“Bicara pulang pergi, sebenarnya kau bersedia utk berbicara atau tidak…?”

“Tentang persoalan ini, bila tuan bersedia membatalkan pertanyaanmu itu tentu saja aku merasa amat girang Cuma bila aku tak bersedia menjawab sudah pasti tuan akan menaruh kesalah pahaman kepadaku… ”

Thia Bu ki tertawa terbahak-bahak: “Haaaaa…haaah….haaaahhhh….aku rasa dalam hal ini nona

sudah mengetahui secara pasti, yaaa aku memang harus mengetahui rahasia kepergian nona kebukit Cian san ini, kalau tidak, aku kuatir kita susah utk berpisah pada malam ini!”

Chin Sian kun segera termenung sambil berpikir sejenak, setelah itu baru ujarnya:

“Kalau toh tuan ingin bersikeras ingin tahu boleh saja Cuma aku pun mempunyai sebuah syarat!”

“Cepat katakan apa syaratmu itu?”

“Sederhana sekali kuharap kau mengemukakan dulu identitasmu dan sesungguhnya merupakan jago dari aliran mana?” Thia Bu ki termenung pula beberapa waktu lalu sambil tertawa seram katanya:

“Heeeehhh….heeeehh…heeeehhhh….boleh saja kalau kau ingin mengetahui identitasku yg sebenarnya Cuma aku kuatir setelah kau mengetahui identitasku yg sebenarnya, mungkin sulit bagimu utk meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.”

“Tapi bagi diriku, sebelum kutahu identitasmu yg sebenarnya, sulit pula utk memberitahukan maksud tujuanku yg sebenarnya.”

Mendengar perkataan itu, sepatah demi sepatah kata Thia Bu ki segera berkata:

“Baiklah, dengarkan baik-baik, aku dari marga Thia… ”

Cepat-cepat Chin Sian kun menggoyangkan tangannya seraya menukas:

“Tadi tuan sudah menyebutkan nama aslimu dan aku rasa namamu telah kuketahui secara jelas….”

Kemudian sambil memutar biji matanya dan tertawa, ia berkata lebih lanjut:

“Oleh karena nama besar tuan kedengarannya masih sangat asing dalam dunia persilatan, sebaliknya ilmu silat yg kau miliki justru termasuk dalam golongan kelas satu, maka kejadian ini benar- benar membuat hatiku bingung dan tak habis mengerti.”

“Perkataanku toh belum selesai kuucapkan, lebih baik kau jangan menimbrung lebih dulu!”

“Baiklah” sahut Chin Sian kun kemudian sambil tertawa, “lanjutkanlah perkataanmu tadi.”

Setelah mendengus Thia Bu ki berkata:

“Aku adalah salah satu diantara dua belas pelindung hukum dari dewi In nu.”

Dalam hati kecilnya Chin Sian kun merasa amat terperanjat, segera pikirnya:

“Ternyata apa yg kuduga memang benar, kalau begitu kedatangan Kho Beng kemari tidak menghasilkan apa-apa, tapi tidak pula mengalami musibah. Hanya disekelilingnya telah dipersiapkan orang suatu perangkap yg mengerikan hati… aku mesti membuat

rencana yg sebaik-baiknya utk menghadapi semua persoalan itu!” Sementara dalam hati kecilnya berpikir, diluaran sahutnya: “Aku amat jarang berkelana dalam dunia persilatan,

pengetahuanku amat cetek, bolehkah aku tahu siapa sih dewi In nu itu?” Kembali Thia Bu ki mendengus:

“Dikemudian hari kau toh akan mengetahui dg sendirinya sekarang……hayo cepat kemukakan rahasiamu sendiri?”

Dg wajah serius Chin Sian kun segera berkata: “Sesungguhnya maksud perjalananku kali ini bukan terhitung

suatu rahasia besar, kau toh tahu semua umat persilatan sedang melacaki jejak si Kedele Maut? Aku dengar si Kedele Maut tak lain adalah kakak perempuan Kho Beng dan secara kebetulan aku berhasil mendapat kabar yg mengatakan Kho Beng berada disini, karena itulah aku sengaja hendak naik kegunung utk menyelidiki jejaknya!”

Mendengar perkataan itu, Thia Bu ki segera tertawa terbahak- bahak:

“Haaaahhh…..haaaahhh… haaahhhh….rupanya begitu,

kenapa tidak kau ucapkan sedari tadi.”

“Darimana aku bisa tahu kalau tuan bukan komplotan dari Kho Beng?”

“Sekarang kau harus mengerti” kata Thia Bu ki sambil tertawa, “bukan saja aku bukan komplotan dari Kho Beng, malah sebaliknya merupakan musuh besarnya?”

“Kalau begitu sudah terjadi kesalah pahaman diantara kita!” seru Chin Sian kun sambil tertawa cekikikan.

“Yaa, memang sudah terjadi kesalah pahaman……” Seelah berhenti sejenak, terusnya lagi dg suara dalam:

“Setelah kesalah pahaman diantara kita telah hilang, aku pun bersedia memberitahukan pula sebuah rahasia besar kepadamu?”

“Rahasia apakah itu?” buru-buru Chin Sian kun bertanya. “Kedele Maut yg sedang kalian cari-cari pun berada disini!” bisik

Thia Bu ki sambil tertawa misterius. “Dimana?” tanya sinona agak tertegun. “Tentu saja diatas bukit Cian san!” “Orang she Kho itu?”

“Dia berada didalam sebuah rumah penginapan dikota kecil dibawah bukit sana, bila nona hendak mencarinya, inilah saat yg paling tepat……”

Lalu setelah berhenti sejenak, kembali ia melanjutkan:

“Tapi kuanjurkan kepada nona, lebih baik tak usah kesana lagi!” “Kenapa?” “Sederhana sekali, sebab berbicara menurut kepandaian silat yg nona miliki, entah harus menghadapi Kho Beng atau si Kedele Maut pribadi, kau masih ketinggalan jauh sekali…….maaf, aku masih ada urusan lain dan tak dapat menemanimu lebih lanjut!”

Tiba-tiba saja dia melejit ketengah udara lalu meluncur pergi meninggalkan tempat tsb d kecepatan tinggi.

Memandang bayangan punggung Thia Bu ki yg pergi menjauh utk kedua kalinya, kembali Chin Sian kun menghembuskan nafas panjang secara diam-diam.

ooooOOoooo

Ketika mendusin kembali dari tidurnya, Kho Beng menemukan matahari sudah jauh berada diatas angkasa, ia sadar waktu sudah siang dan buru-buru melompat bangun dari atas ranjang.

Terbayang kembali perbuatannya mabuk-mabukan semalam, tanpa terasa ia menghela napas panjang.

Belum habis dia menghela napas, tiba-tiba dari luar jendela kedengaran suara seseorang mendehem lalu menegur:

“Apa cukong telah bangun?”

Ternyata Molim yg menyapanya dari luar jendela. “Ada urusan apa?” Kho Beng segera bertanya.

“Oooh, tak ada urusan apa-apa” jawab Molim dg suara lirih, “ketika kulihat cukong telah mendusin tadi, aku takut kau hendak memerintahkan sesuatu, maka aku segera menegur lebih dulu.”

Kho Beng terharu sekali melihat perhatian anak buahnya, buru- buru dia berkata:

“Kemana perginya adikmu serta Hapukim dan Rumang?”

Ketiga orang yg disebutkan namanya segera mengiakan dari luar pintu kamar.

Kho Beng segera berkata lagi:

“Aku benar-benar telah menyusahkan kalian berempat, aaai….padahal kita sudah termasuk teman senasib sependeritaan, selanjutnya sikap kalian tak perlu muncuk-muncuk dan menghormat, anggap saja diriku saudara kalian sendiri.”

“Tidak, hamba tak berani” serentak keempat orang itu menjawab bersama-sama.

Menyusul kemudian tampak keempat orang itu mendorong pintu dan berjalan masuk kedalam ruangan lalu berdiri tunduk disisi ruangan, sikap mereka jauh berbeda daripada sikapnya diwaktu- waktu yg lampau.

Secara tiba-tiba saja Kho Beng mendapat kesan bahwa sifat liar dan kasar keempat orang tsb seakan-akan tersapu lenyap hingga tak berbekas, tak terlukiskan rasa gembira didalam hati kecilnya.

Sementara dia masih termenung, terdengar Molim berkata lagi. “Cukong, apakah kau mempunyai sesuatu rencana pada hari ini?”

Kho Beng berjalan mondar mandir didalam ruangan, lama kemudian ia beru berkata sambil menghela napas:

“Justru persoalan inilah yg merisaukan hatiku sekarang, sebenarnya aku berniat akan turun tangan menghadapi perempuan siluman itu, apa daya enciku justru berada disitu, dilain pihak aku ingin meninggalkan tempat ini, tapi akupun kuatir enciku mengalami bahaya maut, ……aaaai, pikiranku jadi amat bingung…….”

Setelah sangsi berapa saat lamanya, sambil menggertak gigi dia berkata kemudian,

“Aku berniat menyelidiki perkampungan tsb sekali lagi pada malam nanti, paling tidak aku harus memperoleh bukti yg bisa membuat enciku percaya dg perkataanku!”

“Kalau toh cukong telah memutuskan demikian, setiap saat kami siap menantikan perintah.”

“Kalian tak perlu mempersiapkan diri, sebab aku bermaksud pergi kesana seorang diri.” Kata Kho Beng sambil gelengkan kepalanya berulang kali.