Kedele Maut Jilid 21

 
Jilid 21

“Bukankah dia menerangkan kalau rumahnya berada dibukit sebelah sana, kalau memang hendak pulang, kenapa mereka kembali memasuki hutan? Memangnya rumah berada ditengah hutan?”

“Siapa tahu mereka masih mempunyai keperluan lain? Atau bahkan mereka sedang berburu dihutan?” kata Molim tertawa.

“Yaa, perkataanmu memang ada benarnya, tapi kalau mereka ingin berburu, toh mereka harus mengenakan pakaian berburu, tapi kenyataannya mereka mengenakan gaun biasa, bila nona-nona itu memang penduduk rakyat biasa, mana mungkin mereka mampu melewati jalan bukit yg terjal dan licin dg memakai gaun?”

Kho Beng menjadi sangat terperanjat, segera serunya:

“Yaa, tadi aku tak sempat mengawasi secara teliti, ternyata aku percaya dg begitu saja semua obrolan mereka, siapa tahu kedua orang itu memang mendapat tugas memberi informasi yg salah agar kita tak bisa menemukan jejaknya lagi?”

“Bukankah mereka masih berada disekitar sini?” kata Molim kemudian, “lebih baik kita geledah saja daerah seputar tempat ini, masa mereka bisa sembunyi terus?”

Kho Beng manggut-manggut:

“Baik, mari kita mencari secara berpisah, setiap tempat kita periksa dg teliti, coba diperhatikan apakah disekitar sini masih ada penghuninya!”

Maka berangkatlah kelima orang itu dg menerobos hutan belukar.

Setelah melangkah masuk kedalam hutan, suasana menjadi remang-remang, bukan saja banyak ularnya, seringkali mereka mendengar suara auman harimau yg memekakkan telinga.

Kho Beng berlima menembusi hutan dg senjata terhunus, setiap jengkal tanah boleh dibilang telah diperiksa dg seksama, tapi aneh bin ajaib, dalam waktu yg relatif singkat ternyata bayangan tubuh kedua orang nona berbaju merah tadi telah lenyap dari pandangan mata. Dari pagi mereka berlima menelusuri hutan sampai tengah hari sebelum akhirnya muncul pada tepi hutan yg lain, waktu itu matahari sudah berada diatas kepala, namun tak sesosok bayangan manusia pun yg ditemukan.

Dg terjadinya peristiwa ini, semakin membuktikan betapa mencurigakannya kedua orang nona berbaju merah tadi.

Kho Beng menjadi sangat mendongkol bercampur gusar, sambil menengok cuaca, katanya kemudian dg suara dalam:

“Sekarang kita mengisi perut dulu dg ransum kering, kemudian baru melanjutkan pelacakan, aku tak percaya kalau kita tak berhasil menemukan tempat persembunyian mereka.

Maka mereka berlima pun mengisi perut dg ransum kering yg dibawa, lalu setelah beristirahat sebentar, pelan-pelan mereka lanjutkan pemeriksaannya disekitar sana.

Setelah melewati dua buah bukit yg tinggi akhirnya secara tiba- tiba mereka temukan jalan setapak yg agaknya seringkali dilalui manusia.

Jalan setapak itu amat bersih dan kering, tampak jelas jalanan itu sering digunakan utk berlalu lalang.

Kontan saja Kho Beng merasakan semangatnya berkobar kembali, segera serunya:

“Kemungkinan besar kita sudah berhasil menemukan arah yg benar!”

Tanpa membuang waktu lagi, segera ia memimpin anak buahnya utk menelusuri jalan itu.

Tak sampai setengah peminuman teh kemudian, sampailah mereka didepan sebuah bangunan rumah yg besar, bengunan loteng yg mungil tapi indah nampak secara lamat-lamat dari kejauhan.

Dg perasaan gembira yg meluap-luap,Rumang segera berseru: “Siapa tahu bangunan itu yg sedang kita cari, mari kita serbu saja

kedalam!”

“Tunggu sebentar!” cegah Kho Beng, “apabila kita langsung menyerbu kedalam gedung dan andaikata dugaan kita meleset, bukankah akan menimbulkan kesalah pahaman yg tak ada artinya?”

“Asalkan perempuan bajingan itu tidak berdiam disini, kita kan masih bisa mengundurkan diri… ” Seru Hapukim.

“Biasanya hanya orang-orang sakti atau pendekar berilmu tinggi yg membangun rumahnya ditengah hutan dan pegunungan yg terpencil seperti ini, padahal kedatangan kita kemari adalah utk melacak jejak dewi In nu, aku tak ingin menimbulkan banyak persoalan yg tak ada gunanya. Apalagi andaikata sasaran memang betul berada disini, kedatangan kita disiang hari begini bukankah sama artinya dg menggebuk rumput mengejutkan ular.”

“Kalau begitu mari kita menunggu saja sampai malam tiba sebelum masuk kedalam gedung itu utk melakukan penyelidikan” usul Molim kemudian.

“Nah, begitu baru cocok dg jalan pikiranku” seru Kho Beng sambil manggut-manggut, “sekarang waktu sudah siang, mari kita mencari tempat utk beristirahat sejenak, menanti hari sudah gelap nanti baru kita masuki perkampungan tsb utk melakkukan penyelidikan, kalau bukan mereka yg kita cari, kita segera mengundurkan diri, sebaliknya kalau memang mereka yg kita cari disini, sampai waktunya kita bicarakan lagi!”

Maka mereka berempat pun mencari hutan yg sepi dan bersembunyi utk melepaskan lelah dan duduk mengatur pernapasan.

Dalam waktu singkat, senja telah menjelang tiba.

Mereka berlima segera mengisi perut dg ransum kering, setelah itu berangkat menuju gedung itu.

Langit sudah gelap gulita, cahaya lentera yg memancar keluar dari balik gedung bagaikan kerdipan bintang yg terbesar diangkasa, ditengah kegelapan yg mencekam tanah perbukitan tsb, cahaya lentera itu kelihatan jauh lebih terang benderang.

Ketika mereka berlima tiba dimuka perkampungan tsb, tampaklah pagar bambu mengelilingi taman, aneka bungan yg tumbuh diseputarnya, tak salah lagi kalau tempat tsb mirip tempat tinggal orang pertapaan………

Sambil meloloskan goloknya, Rumang segera berbisik: “Bagaimana kalau kita langsung menyerbu masuk kedalam utk

melakukan pemeriksaan?”

“Tidak!” seru Kho Beng cepat, “kalau kebanyakan orang, gerak gerik kita menjadi kurang leluasa, coba kalian menunggu saja diluar, biarku masuk seorang diri, bila bertemu bahaya akan kuberitahukan kepada kalian dg suara pekikan sampai saatnya aku rasa belum terlambat buat kalian utk menyusulku kedalam… ”

Terpaksa Molim sekalian menggut-manggut tanda mengerti.

Maka seusai meninggalkan pesannya, Kho Beng segera melejit ketengah udara dan menerobos masuk kedalam perkampungan. Gerakan tubuhnya cepat sekali bagaikan sambaran kilat, bagitu memasuki perkampungan, ia segera mendekam diatas wuwungan rumah tanpa menimbulkan sedikitpun suara.

Baru saja dia hendak mengintip kebawah, mendadak dari kiri kanan dan belakang tubuhnya bergema suara bentakan nyaring, sewaktu ia berpaling dg perasaan terkejut, tampak empat sosok bayangan manusia telah melompat naik keatas atap rumah dan mengepungnya rapat-rapat.

Peristiwa ini boleh dibilang membuatnya terperanjat sekali.

Sejak menyelinap masuk kedalam perkampungan hingga mendekam diatas wuwungan rumah boleh dibilang ia tak menimbulkan suara sedikitpun, mengapa jejaknya segera ketauan lawan?

Tapi saat sekarang tidak memberi kesempatan lagi baginya utk berpikir panjang, serta merta dia melejit bangun dan berdiri tegak diatas atap rumah.

Tampak seorang nona berbaju hijau yg berada disisi kiri membentak keras:

“Bajingan keparat, besar amat nyalimu, berani sekali memasuki perkampungan Ciu hong san ceng ditengah malam buta begini, hmmm……tampaknya kau sudah bosan hidup!”

Kho Beng sadar kalau jejaknya tak bisa disembunyikan lagi, maka sahutnya sambil tertawa:

“Harap nona sekalian jangan gusar, sesungguhnya kedatanganku kemari adalah utk melacaki jejak seseorang, tak disangka kehadiranku telah mengejutkan kalian semua.”

“Siapa yg kau cari?” tanya nona itu.

“Sebelum kujawab pertanyaan tsb, dapatkah kuketahui lebih dulu siapakah kepala perkampungan Ciu hong san ceng ini?”

“Hmmm, siapa kepala perkampungan kami, kau masih belum pantas utk mengetahuinya.”

“Kalau begitu bolehkah aku tahu, apakah didalam perkampungan kalian terdapat seorang nona yg bernama Hong ing?” desak Kho Beng lebih lanjut dg kening berkerut.

Nona berbaju hijau itu kelihatan agak tertegun, kemudian sahutnya:

“Yaa, ada! Kau kenal dengannya?”

“Yaa benar, bolehkah aku bertemu sebentar dg nya?” Baru selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dari dlm gedung kedengaran seseorang bertanya:

“Bi kui, siapa yg berada diatas rumah?” Nona berbaju hijau itu segera menjawab:

“Lapor n ona, kita telah kedatangan seorang pemuda asing yg mengaku hendak mencari nona Hong ing!”

Kho Beng yg mengikuti tanya jawab tsb dalam hati kecilnya segera berpikir:

“Bila didengar dari nada pembicaraannya, mungkin orang itu adalah kepala kampungnya, mengapa tidak kuperiksa dulu apakah orang tsb adalah dewi In n u atau bukan?”

Berpikir sampai kesitu, ia segera melompat turun keatas tanah dan langsung melangkah masuk kedalam ruangan.

Tapi apa yg kemudian terlihat segera membuat hatinya bergetar keras, serunya tertahan:

“Cici…….!”

Ternyata didalam ruangan duduk dua orang nona muda.

Yg seorang mengenakan pakaian baju merah dan berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, matanya jeli, hidungnya mancung dan mulutnya kecil mungil, dia berusia dua puluh tujuh-delapan tahunan, agaknya orang inilah yg menegur tadi.

Sedangkan orang kedua adalah seorang nona berbaju putih yg berwajah dingin, dia tak lain adalah enci kandungnya, Kho Yang ciu yg telah berpisah dgnya dikota Yang ciu tempo hari.

Waktu itu Kho Beng benar-benar dibuat terkejut bercampur keheranan, utk sesaat lamanya dia Cuma tertegun seperti patung saja.

Begitu pula keadaan Kho Yang ciu serta nona berbaju merah itu, mereka berdua kelihatan tertegun juga.

Akhirnya Kho Yang ciu maju menyongsong kedatangan pemuda itu dg cepat, sambil menarik tangan Kho Beng serunya:

“Adikku, darimana kau bisa tahu kalau aku berada disini?”

Sewaktu bertanya, sepasang matanya tampak berkaca-kaca dan hatinya dicekam gejolak meosi yg meluap, jauh berbeda dg sikapnya sewaktu bertemu utk pertama kali dulu.

Dg perasaan terharu sahut Kho Beng:

“Cici, aku tak mengira kau ada disini!”

Sementara itu si nona berbaju merah tadi telah berseru sambil tertawa: “Oooh…rupanya orang sendiri, wah inilah yg dibilang orang air bah melanda istananya… ”

Tangannya segera diulapkan kepada keempat nona berbaju hijau yg mengawasi dari luar pintu dg pedang terhunus, katanya:

“Kalian boleh mengundurkan diri dari sini, segera siapkan meja perjamuan!”

Keempat orang nona berbaju hijau itu mengiakan bersama, setelah memberi hormat mereka segera mengundurkan diri, sekalipun rasa tercengang masih menghiasi paras muka masing- masing.

Sementara itu Kho Yang ciu telah membalikkan badan dan memperkenalkan Kho Beng dg nona berbaju merah itu, katanya: “Dia adalah enci Li dari perkampungan Ciu hong san ceng!”

Dg pikiran dicekam rasa bingung dan tak habis mengerti, Kho Beng memberi hormat seraya berkata:

“Ooooh, rupanya nona Li atas kelancanganku tadi, harap nona sudi memaafkan ”

Nona berbaju merah itu tersenyum:

”Untuk mengundang kehadiran tamu agung pun bukan suatu pekerjaan yg gampang, kenapa mesti bersungkan-sungkan…”

“Tapi dimanakah cengcu perkampungan ini? Sudah sepantasnya kalau Kho Beng bertemu serta menyampaikan dalam dulu kepadanya.”

“Adikku, nona Li adalah cengcu perkampungan ini… ” kata Kho

Yang ciu cepat.

“Aaaah… rupanya perkampungan ini adalah hasil karya nona Li,

tapi……tahukah nona bahwa perkampungan Bwee wan dibukit sebelah muka sana telah terbakar semalam?”

Li sian soat, ketua perkampungan Ciu hong san ceng kembali tersenyum manis:

“Pagi tadi aku baru melihat cahaya api, saat itulah baru kuketahui kalau perkampungan Bwee wan telah terbakar hangus… ”

“Tahukah cengcu, siapakah pemilik perkampungan Bwee wan itu?” tukas Kho Beng cepat.

Kembali Li Soan soat menggeleng:

“Hingga kini aku tak pernah meninggalkan rumah barang selangkah pun, meski kuketahui juga bahwa pemilik perkampungan Bwee wan pun seorang wanita, tapi sayang belum pernah kutanyakan siapa namanya.” Tanpa terasa Kho Beng mengerutkan alis matanya rapat-rapat. Selisih jarak diantara kedua perkampungan itu Cuma berapa li,

namun kenyataannya mereka tak pernah saling berhubungan, jelas kejadian semacam ini berada diluar kebiasaan pada umumnya.

Ia mulai menaruh curiga, jangan-jangan Li cengcu dari perkampungan Ciu hong san ceng adalah dewi In nu yg sedang dicari-cari, apa mau dibilang dia masih kekurangan bukti-bukti yg jelas, apalagi encinya pun sedang bertamu disitu..

Dg bekal pelbagai kecurigaan yg tak terjawab, akhirnya dia memutuskan akan menanyakan persoalan tsb kpd encinya nanti.

Maka dia pun membungkam diri dan tidak berbicara lagi.

Dlm perjamuan yg kemudian diselengggarakan, mereka bertiga duduk saling berhadapan, meski Li Sian soat banyak bicara dan senyum, namun Kho Beng selalu menjawab sekenanya.

Ditengah perjamuan itulah, mendadak terdengar nona berbaju hijau yg berada diluar ruangan berseru dg gelisah:

“Diluar perkampungan telah kedatangan empat orang lelaki kekar yg tak jelas identitasnya, agaknya mereka sedang mengintip perkampuangan kita……”

Mendengar ucapan tsb, buru-buru Kho Beng berseru:

“Aaaah betul, hampir saja aku lupa! Keempat orang itu tak lain adalah anak buahku!”

Kalau memang anak buah Kho kongcu, biar kusuruh mereka mengundangnya masuk, paling tidak kan mesti dijamu dg sebaik- baiknya” kata Li Sian soat sambil tertawa.

Perjamuan tsb baru berakhir setelah kentongan pertama lewat, Kho Yang ciu mohon diri terlebih dahulu kepada Li Sian soat, kemudian baru mengajak Kho Beng memasuki sebuah kamar tamu dihalaman belakang.

Ketika mereka berada dalam kamar hanya berdua saja utk pertama kalinya, Kho Yang ciu merasakan luapan rasa gembira yg tak terlukiskan dg kata-kata.

Kho Yang ciu yg pertama-tama berkata lebih dulu sambil tertawa: “Adikku, tempo dulu mungkin cici kepadamu sedikit kelewat

batas, tapi kau mesti memahami sikapku waktu itu yg berusaha utk mengobarkan semangat balas dendam dalam hati kecilmu, tentunya kau tak akan menyalahkan aku bukan?”

Dg air mata bercucuran, sahut Kho Beng: “Cici, aku memahami perasaan itu, malah panji Hui im ki leng sudah berhasil kurampas kembali.”

“Tentang soal-soal tsb telah kuketahui semua, adikku, apakah perkampungan Bwee wan yg kau tanyakan tadi adalah tempat tinggal siluman perempuan itu?”

“Betul!” Kho Beng manggut-manggut.

Mencorong sinar pembunuhan yg amat tebal dari balik mata Kho Yang ciu, serunya sambil menghentak-hentakkan kakinya berulang kali keatas tanah:

“Aku tdk tahu kalau pemilik perkampungan Bwee wan adalah dewi In nu, kalau tidak, aku pasti tak akan membiarkan dia kabur dari tempat tsb!”

“Apakah Li cengcu tak pernah menyinggung soal perkampungan Bwee wan?”

“Tidak!”

“Sebenarnya Li cengcu ini berasal dari perguruan mana?” “Dia tak mempunyai perguruan.”

“Tidak mempunyai perguruan? Lantas darimana dia pelajari ilmu silatnya?” tanya Kho Beng agak tertegun.

“Konon ayahnya adalah seorang tokoh duni persilatan yg berilmu tinggi, tapi dikarenakan suatu sebab, akhirnya mengundurkan diri dan menyendiri hidup disini, sebelum meninggal ia berpesan kepada keturunannya agar tidak berkelana lagi didalam dunia persilatan, itulah sebabnya meski sudah berusia tiga puluh tahun, namun ia tidak pernah sama sekali mennggalkan perkampungannya barang selangkah pun, sementara ilmu silatnya diperoleh dari warisan keluarga.”

Setelah memperoleh keterangan tsb, diam-diam Kho Beng berpikir lagi dalam hati:

“Berusia sekitar tiga puluh tahunan berarti persis seimbang dg usia dewi In nu!”

Berpikir demikian, kembali ia bertanya:

“Bagaimana ceritanya sampai cici bisa berkenalan dg nya?” Kho Yang ciu tertawa:

“Sewaktu dlm perjalanan turun gunung tempo hari, secara kebetulan aku ketimpa hujan sehingga harus berteduh ditempat ini, tak di sangka pertemuan yg semalam dapat menjalin hubungan yg lebih akrab diantara kami.”

“Apakah cici tak pernah menaruh curiga kepadanya?” “Curiga soal apa?”

“Curiga kalau dia adalah dewi In nu yg sedang kita cari-cari?” Kho Yang ciu tertawa geli:

“Aaah….perasaanmu terlalu sensitif, mana mungkin dia adalah dewi In nu? Kau tahu, ilmu kedele maut pencabut nyawa yg kumiliki sebetulnya adalah warisan dari dia!”

Sekali lagi Kho Beng dibikin tertegun oleh kenyataan tsb.

Tapi pelbagai tingkah laku, gerak gerik serta gejala yg diperolehnya selama bertemu dg Li Sian soat memberi kesan kepadanya bahwa perempuan she Li ini sangat mencurigakan hati, maka secara diam-diam dia mengambil keputusan utk melakukan penyelidikan selewatnya malam nanti, dia ingin mengetahui keadaan yg sebenarnya disekitar sana.

Maka setelah berbincang-bincang sebentar dg cicinya dan menunggu sampai Kho Yang ciu meninggalkan tempat itu, dia padamkan lentera dan pura-pura tidur, padahal secara diam-diam dia awasi gerak gerik diluar.

Ketika kentongan kedua sudah lewat.

Rembulan nampak bersinar terang diluar jendela.

Kho Beng menunggu sampai suasana diluar menjadi hening baru secara diam-diam melompat keluar dari jendela belakang dan menyusup kehalaman tengah.

Dg matanya yg tajam dia mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, suasana terasa lenggang dan gelap, hanya disudut halaman sebelah barat kelihatan masih ada cahaya lentera, maka diapun segera bergerak menuju kearah sana.

Setelah didekati barulah diketahui bahwa tempat tsb adalah sebuah halaman gedung yg terpisah, dari dalam gedung kedengaran suara lelaki yg sedang berbicara.

Secara diam-diam Kho Beng mendekati tempat itu dan melongok kedalam, tetapi apa yg kemudian terlihat membuat hatinya bergetar keras.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah gedung yg amat lebar, dlm ruangan duduk enam orang lelaki kekar.

Keenam orang itu semuanya memakai baju berwarna kuning, malah salah seorang diantaranya tak lain adalah Hang Tiong lin yg pernah dijumpai dikota Yang ciu tempo hari.

Tak terlukiskan rasa terperanjat si anak muda tsb saat itu. Dari kehadiran Hang Tiong lin, dia segera menyadari bahwa perkampungan Ciu Hong san ceng ini sesungguhnya adalah sarang iblis dari dewi In nu, sedangkan Li Sian soat sendiri meski bukan dewi In nu pribadi, paling tidak dia adalah komplotannya.

Tapi yg menjadi persoalan sekarang adalah kenapa cicinya bisa kenal dg perempuan itu, bahkan sama sekali tdk mengetahui identitas yg sebenarnya?

Bukan hanya itu, mengapa pula dia bersedia mewariskan ilmu senjata rahasia yg begitu ampuh kepada cicinya? Kalau dibilang tiada permusuhan diantara mereka, dibalik kesemuanya itu pasti ada rencana busuk atau latar belakang lainnya, tapi apakah rencana busuk dan latar belakang tsb?

Diam-diam Kho Beng termenung dg perasaan bimbang dan tak habis mengerti, namun satu hal telah diketahui secara pasti, ia sudah terjebak dalam sarang harimau.

Berapa bahaya keadaan demikian, ia pun mengambil keputusan utk m enghubungi cicinya dulu serta memberitahukan apa yg sudah terlihat, agar cicinya bisa meningkatkan kewaspadaannya juga.

Berpikir sampai disitu, diam-diam diapun memutuskan utk mengundurkan diri secara diam-diam dan menghubungi cicinya lebih dulu.

Siapa tahu baru saja dia membalikkan tubuhnya, tahu-tahu dibelakang tubuhnya telah berdiri seorang kakek berbaju ungu.

Ditengah malam buta yg sepi begini ternyata kehadiran orang tsb dibelakang tubuhnya sama sekali tdk menimbulkan suara sedikitpun, hampir saja Kho Beng dibuat bergidik ngeri saking kagetnya.

Sementara itu si kakek berbaju ungu itu telah menegur dg suara dingin:

“Siapa kau?”

Kho Beng tdk langsung menjawab, otaknya berputar sebentar, ketika melihat paras muka si kakek berbaju ungu itu terasa asing sekali, dia berpendapat lebih baik tdk membongkar identitasnya lebih dulu.

Maka sambil tersenyum, katanya:

“Aku bernama Kho Beng, tamu dari cengcu perkampungan ini, boleh aku tahu siapa kah nama locianpwee?”

Mencorong sinar tajam dari balik matya kakek itu, sahutnya dingin: “Ooooh, rupanya Kho kongcu, kalau toh sebagai tamu, tak pantas kau meyelidiki rahasia orang lain ditengah malam buta begini.”

Buru-buru Kho Beng berkata lagi:

“Aku sedang mencari keempat anak buahku karena ada urusan hendak menitahkan mereka utk dikerjakan, sayang tidak kuketahui mereka berdiam dan lagi aku pun enggan mengganggu kenyenyakan tidur tuan rumah, maka terpaksa aku mencari seorang diri, tak disangka akhirnya aku mencari sampai tempat ini, harap loheng sudi memaafkan atas kelancanganku ini.”

Kakek berbaju ungu itu termenung sebentar, kemudian katanya: “Kalau keempat enak buah kongcu mah, aku tahu..?”

“Oya, mereka berada dimana sekarang?” “Mereka telah pergi.”

“Sudah pergi?” seru Kho Beng tertegun,“memangnya mereka pergi meninggalkan aku tanpa mencari kabar lebih dulu kepadaku?”

“Kalau soal itu mah tidak kuketahui secara pasti” sahut si kakek dg nada dingin.

“Aku tidak percaya, sekalipun mereka pergi tanpa pamit, paling tidak cengcu kalian toh mesti memberitahukan soal ini kepadaku.”

“Disaat mereka pergi meninggalkan tempat ini, cengcu kami sudah pergi tidur!”

“Oya…?” Kho Beng segera tertawa dingin, “heeehh…heeeh…heeeh…apalah artinya lotiang membohongi aku? Toh, aku sudah tahu bahwa perkampungan Ciu Hong san ceng bukan tempat yg baik!”

Berubah paras muka kakek berbaju ungu itu, segera serunya: “Hey, apa maksudmu berkata begitu? Kalau bukan tempat yg

baik, memangnya tempat ini tempat jahat?”

“Seharusnya lotiang jauh lebih mengerti ketimbang aku!” jengek Kho Beng lagi sambil tertawa dingin.

“aku tidak mengerti?”

“Ehmm, tak ada salahnya kalau kujelaskan kepadamu” sambung Kho Beng segera, “bila perkampungan Ciu Hong san ceng adalah tempat orang baik-baik, kenapa disini bisa ditemui jago-jago pedang berbaju kuning dari dewi In nu?”

Begitu perkataan tsb diutarakan keluar, paras muka kakek berbaju ungu itu berubah sangat hebat. Dan pada saat yg bersamaan pula, dari balik ruangan telah berkelebat lewat enam sosok bayangan kuning, dalam waktu singkat anak muda tsb sudah terkepung rapat-rapat.

Sambil tertawa dingin, kakek berbaju ungu itu berkata: “Sebenarnya aku masih berminat memberi kesempatan padamu

utk hidup beberapa waktu lagi, tapi sekarang….heeh…heeh…..mau tak mau terpaksa aku harus mengirim kau utk pulang keneraka lebih dulu……”

Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangannya segera diayunkan kedepan, segulung angin pukulan yg maha dahsyat pun meluncur kedepan dan menyambar Kho Beng.

Dalam serangannya kali ini, kakek berbaju ungu tsb telah menggunakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian lebih……bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tsb.

Menyaksikan betapa dahsyatnya ancaman yg menggulung datang, Kho Beng tak berani menghadapinya dg keras melawan keras, dg cekatan dia mengenggos kesamping utk menghindarkan diri.

Tapi pada saat yg bersamaan, tiba-tiba terdengar lagi desingan angin tajam menyambar tiba dari sisi kiri.

Sergapan yg dilancarkan secara licik ini kontan saja mengobarkan hawa amarahnya, dg suara menggeledek segera bentaknya:

“Hmmm, manusia yg tak tahu malu!”

Tenaga pukulannya segera diayunkan kesamping mengimbangi perputaran badannya, dg cepat sekali dia hantam tubuh sijago pedang berbaju kuning yg melancarkan sergapan kearahnya itu.

Jeritan ngeri yg memilukan hati pun berkumandang memecah kesunyian.

Mimpi pun si jago pedang berbaju kuning itu tak menyangka kalau tenaga pukulan Kho Beng yg sedang tertuju kearah kakek berbaju ungu tsb, tiba-tiba sudah berpindah sasaran dan mengancam kearahnya.

Tahu-tahu dadanya terasa amat sakit, tak tahan ia menjerit ngeri lalu roboh terjungkal keatas tanah.

Berada dalam keadaan begini, Kho Beng tdk menghentikan perbuatannya sampai ditengah jalan, kembali bentaknya keras- keras,

“Barang siapa masih ingin h idup, hayo cepat menggelinding pergi dari sini!” Sepasang tangannya melancarkan sapuan berantai, bayangan pukulan menderu-deru bagaikan hujan gerimis, dalam waktu singkat lima orang jago pedang berbaju kuning sudah didesaknya sampai mundur sejauh tiga kaki lebih.

Melihat peristiwa ini, kakek berbaju ungu itu menjadi sangat terkesiap, katanya tiba-tiba:

“Sungguh hebat tenaga dalammu, tak heran kalau kau berani membuat keonaran ditengah malam buta begini!”

“Lotiang!” ujar Kho Beng dingin, “sekarang kau boleh bicara secara terus terang, sebenarnya dimanakah keempat anak buahku sekarang?”

Kakek berbaju ungu itu tertawa sinis: “Heeehh…heeehh…heeehh…kalau sekarang mah jiwa mereka

belum terancam, tapi bila kau berani membuat keonaran lagi disini, aku tidak dapat m enjamin keselamatan jiwa mereka lagi!”

“Hmmm, kau berani?” dengus Kho Beng.

“Nyawa mereka toh berada ditangan aku Ong Thian siang, aku juga yg menentukan hidup mati mereka, kenapa tak berani kulakukan?”

Kho Beng tertawa bergelak: “Haaahh….haaahh……haaahh…..tapi kau jangan lupa, selembar

nyawamu justru berada ditanganku!”

“Berani kau bertaruh dg ku?” tantang kakek itu tiba-tiba. “Bertaruh apa?”

“Bila kau yg menang, aku segera membebaskan anak buahmu dan membiarkan kau pergi dari sini tanpa diganggu!”

“Seandainya aku kalah?”

“Serahkan kitab pusaka Thian goan bu boh kepadaku!” “Baik!” sahut pemuda itu angkuh.

“Kalau begitu silahkan kau lepaskan seranganmu!” “Maaf….” Kata Kho Beng dg suara dalam.

Telapak tangan kanannya segera direntangkan didepan dada, lalu sambil berputar satu lingkaran ia bergerak maju kemuka.

Tiba-tiba Ong Thian siang menjengek dingin:

“Oooh, rupanya kau telah mempelajari sim hoat dari ilmu Thian goan sinkang…?”

Tubuhnya maju menyongsong, tidakberkelit atau berusaha menghindar, ia sambut datangnya serangan dari Kho Beng itu dg keras lawan keras….. “Blaaaammm……!”

Ditengah suara benturan yg amat keras, tubuh Ong Thian siang bergoncang amat keras, tapi segera serunya sambil tertawa seram:

“Heeeh…heeeh….heeeh…bocah keparat, tenaga pukulanmu hanya mampu meniup bulu ayam, hmmm, coba rasakan pula tenaga pukulanku ini!”

Ditengah bentakan keras, sepasang kepalannya didorong bersama kemuka dg kekuatan penuh.

Sesungguhnya Kho Beng merasa terkejut sekali ketika menjumpai tenaga pukulannya sebesar delapan bagian tak berhasil melukai lawannya, dia sama sekali tak mengira kalau hawa khikang peindung badan yg dimiliki musuhnya telah mencapai puncak kesempurnaan, dimana tusukan tombak dan bacokan golok tak mempan lagi melukai badannya.

Dalam waktu singkat dia segera menyadari bahwa kakek berbaju ungu ini betul-betul merupakan seorang musuh tangguh yg tak boleh dipandang enteng, maka begitu melihat datangnya angin pukulan yg menggulung datang, tergopoh-gopoh dia menghindarkan diri kesamping.

Sementara itu didalam hati kecilnya, diam-diam dia mengambil keputusan, selama orang ini tidak dilenyapkan dari muka bumi maka nasibnya pada malam ini lebih banyak bahayanya ketimbang selamat.

Belum habis ingatan itu melintas lewat, kelima orang jago pedang berbaju kuning telah berteriak bersama sambil menyerbu kemuka dg pedang terhunus.

Sambil tersenyum dingin Kho Beng segera berseru:

“Kalau toh kalian sendiri yg pingin mampus, jangan salahkan kalau siauya berhati keji!”

Lengan kirinya segera digetarkan keras-keras, bayangan tangan berputar mengikuti gerakan badannya, dg cepat ia sudah melepaskan empat buah pukulan berantai yg amat dahsyat.

Seketika itu juga terengarlah empat kali jerit kesakitan yg memilukan hati, tahu-tahu empat orang jago pedang berbaju kuning itu sudah roboh terjengkang keatas tanah.

Tinggal seorang jago pedang berbaju kuning lagi yg masih hidup, tapi nyalinya sudah pecah, dg ketakutan setengah mati ia membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit. Kakek berbaju ungu menjadi sangat gusar, ia membentak keras, tubuhnya segera menerjang kedepan sambil melancarkan pukulan berantai….

Ibarat benteng terluka yg menyerang secara membabi buta, ternyata ia sma sekali tdk memperhatikan keselamatan diri sendiri, walaupun tubuhnya sudah termakan oleh tiga pukulan secara beruntun sehingga terhuyung mundur sejauh tiga langkah lebih, namun ia menerjang lagi kedepan dg garang.

Kho Beng segera berkerut kening setelah menyaksikan peristiwa ini, tapi sebelum ia sempat mengambil suatu tindakan, mendadak terdengar suara gembrengan dibunyikan bertalu-talu, kemudian disekitar halaman bermuncullah bayangan manusia, suasana pun menjadi terang benderang bermandikan cahaya.

Menyusul munculnya bayangan manusia tsb, dari kejauhan sana kedengaran seseorang membentak nyaring:

“Tahan!”

Ong Thian siang segera menarik kembali serangannya sambil melompat mundur dari arena pertarungan setelah mendengar bentakan tsb.

Ketika Kho Beng turut berpaling, dilihatnya Li Sian soat telah berdiri diatas dinding pekarangan, ujung bajunya yg berkibar tertiup angin membuat gadsi tsb nampak sepeti dewi rembulan yg baru turun dari kahyangan.

Dg sinar matanya yg jeli, dia mengawasi sekejap wajah Kho Beng serta Ong Thian siang, lalu tegurnya:

“Apa yg telah terjadi?”

Ong Thian siang segera memberi hormat seraya menjawab, “Ditengah malam buta kongcu telah melakukan penyelidikan atas

perkampungan kita, jelas dia mempunyai maksud tujuan yg tidak menguntungkan kita!”

Kho Beng segera mendengus dingin, tukasnya:

“Lebih baik tak usah menggunakan tanya jawab sebagai basa basi lagi, langsung saja menyinggung masalah pokoknya.”

Ternyata Li Sian soat tdk menunjukkan sikap marah atau tersinggung oleh perkataan tsb, katanya lembut:

“Kongcu dapatkah jelaskan mengapa kau tdk bisa tidur malam……?”

“Sebelum kujawab pertanyaan tsb. Aku ingin menanyakan satu hal terlebih dulu.” “Silahkan bertanya!”

“Tolong tanya sebenarnya siapakah nona?” kata Kho Beng dg suara dalam.

Li Sian soat segera terkekeh-kekeh, ujarnya:

“Bukankah semala telah kuberitahukan kepadamu?” Kho Beng mendengus dingin.

“Hmmm, mungkin nona tdk berbicara sejujurnya tapi sengaja merahasiakan identitasmu yg sebenarnya?”

“Atas dasar apa kau mengatakan perkataanku tidak jujur?” tanya Li Sian soat sambil tersenyum.

Sambil menunjuk keatas mayat salah seorang jago pedang berbaju kuning yg tergeletak diatas tanah, ia menjawab:

“Karena aku kenal dg orang ini!” “Oya? Siapakah dia?”

Sepatah demi sepatah sahut Kho Beng,

“Orang ini adalah jago pedang berbaju kuning anak buah dewi In nu yg sedang ucari-cari, ia bernama Han Tiong lin, karena sewaktu berada dikota Yang ciu, aku pernah berkenalan dgnya!”

Li Sian soat segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu, serunya:

“Aku rasa kau telah salah melihat orang?” Kho Beng agak tertegun, lalu serunya lagi:

“Aku percaya mataku belum lamur, mana mungkin bisa salah melihat? Apalagi lotiang inipun sudah memberikan pengakuannya!” Dg kening berkerut Li Sian soat segera berpaling kearah Ong

Thain siang, lalu tegurnya: “Apa yg telah kau akui?”

Tiba-tiba saja sekujur badan Ong Thian siang gemetar keras, cepat-cepat serunya:

“Aku tidak pernah mengakui apa-apa, aku hanya menganggap kedatangan Kho kongcu amat mencurigakan dan manusia macam dia tak boleh dibiarkan hidup terus!”

Li Sian soat segera bertanya lagi kepada Kho Beng: “Benarkah orangu berkata demikian?”

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian baru mengangguk. “Yaa, benar, memang begitu!”

Li Sian soat segera mengalihkan kembali pandangan matanya kewajah kakek berbaju ungu, lalu katanya: “Ong Thian siang, kau telah bersikap tak sopan kepada tamu agung perkampungan kita, dosamu amat besar dan pantas dijatuhi hukuman mati, mengapa kau tidak segera bunuh diri utk menebus kesalahanmu itu?”

Kho Beng yg mendengar kejadian ini jadi tertegun, sebaliknya Ong Thian siang segera menyahut “Menerima perintah!”

Telapak tangannya segera diangkat dan dihantamkan keatas ubun-ubunnya sendiri.

Kho Beng tdk berpeluk tangan belaka, tiba-tiba dia melepaskan sebuah totokan menghajar jalan darah disikut Ong Thian siang.

Dalam waktu singkat, Ong thian siang mendengus kaget, tangannya kaku dan tak mampu bergerak lagi, tanpa terasa dia melototkan matanya sambil menegur:

“Hey, mau apa kau?”

Kho Beng memutar biji matanya sambil tersenyum, sahutnya: “aku tak ingin menyaksikan lotiang mampus dg begitu saja!”

Lalu sambil berpaling lagi kearah Li Sian soat, tanyanya lebih lanjut dg suara dalam:

“Nona Li, sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, sebenarnya siapakah kau?”

“Aku sama sekali tdk membohongi dirimu!” kata Li Sian soat sambil tertawa.

“Lantas kemana perginya ke empat orang anak buahku?” “Hey, bukankah mereka berada di gedung sebelah depan sana

dlm keadaan baik-baik?” seru Li Sian soat tercengang.

Buru-buru Ong Thian siang melapor:

“Mereka sudah meninggalkan tempat ini dua jam berselang!” “aaah…mengapa aku tidak tahu?” seru Li Sian soat agak

keheranan.

“Oleh karena cengcu sudah beristirahat, maka hamba tdk berani memberikan laporan.”

“Urusan sebesar ini kenapa mesti ditunda? Kau memang makin tua semakin pikun!” tegur si nona gusar.

Ong Thian siang segera mengiakan berulang kali.

Berada dlm keadaan seperti ini, Kho Beng benar-benar merasa agak pikun dan kebingungan, mungkinkah apa yg dia duga keliru? Tapi apa sebabnya Ong Thian saing bersikap begitu ganas dan buas kepadanya barusan……? Disamping itu, bukankah dandanan maupun tindakan keenam orang jago pedang berbaju kuning itu persis seperti apa yg dilihatnya dikota Tong sia? Apakah mereka bukan anak buah dewi In nu?

Dia percaya apa yg terlihat olehnya tapi mengapa nona itu bersikeras utk menutupi semua persoalan itu?

Rangkaian persoalan yg mencurigakan hatinya bagaikan sebuah teka-teki saja, membuatnya tak habis mengerti dan tak mampu utk memecahkannya.

Tentu saja, dg sikap senyuman dikulum dan keramahan nona tsb, mustahil baginya utk bentrok lebih jauh dgnya dan diapun jadi kebingungan serta tak tahu apa yg mesti dilakukannya lebih lanjut.

Sementara itu terdengar Li Sian soat telah berkata lagi, “Kongcu, lebih baik kau kembali kekamar utk beristirahat saja,

bila ada persoalan lebih baik kita bicarakan esok pagi, jangan sampai membiarkan cicimu menuduh aku kurang melayanimu!”

Lama sekali Kho Beng berdiri termangu-mangu tanpa mengetahui apa yg mesti dilakukan, akhirnya dg wajah bersemu merah dia menjura seraya berkata:

“Baiklah, kesalahpahaman yg terjadi pada malam ini biar ku mintakan maaf kepada nona esok pagi saja!”

“Aaaah…kongcu jangan berkata begitu” kata Li sian soat sambil tertawa lebar, “dalam suatu kesalah pahaman memang pasti akan jatuh korban, kau tak usah mempersoalkan masalah itu dalam hati.”

Kho Beng tdk bersungkan-sungkan lagi, setelah memberi hormat, dia segera kembali menuju kekamar tidurnya.

Sambil berbaring diatas ranjang, makin dippikir ia merasa makin tak tentram, hatinya pun makin tak habis mengerti, baru menjelang fajar ia terlelap dalam tidur yg nyenyak.

Menanti ia mendusin kembali dari tidurnya, ternyata suasana dalam kamar masih tetap gelap gulita, seakan-akan fajar belum lagi menyingsing.

Kejadian ini tentu saja amat mencengangkan hatinya, karena ia masih ingat, menjelang fajar tadi baru ia tertidur, mana mungkin…….

Tapi sewaktu dia memperhatikan kembali keadaan disekeliling sana, pemuda itu baru merasa terkejut sekali. Kho Beng masih teringat, sebelum tidur tadi jendela berada dlm keadaan terbuka, mengapa saat ini ruangan tsb justru gelap gulita dan tertutup rapat?

Sewaktu ia memeriksa kearah pintu ruangan, ternyata pintu itu pun tertutup rapat sekali.

Dg cepat pemuda ini sadar bahwa telah terjadi perubahan yg mencurigakan, buru-buru dia melompat turun dari atas pembaringan lalu memeriksa ke jendela.

Ketika ia mencoba utk membuka jendela, segera terasa benda tsb keras dingin, ternyata berupa sebuah lempengan besi baja yg amat kuat.

Buru-buru dia memeriksa pintu kamar, namun hasilnya sama saja, ketika dicoba utk mendorongnya dg sekuat tenaga, ternyata pintu itu sama sekali tak bergerak.

Sekarang Kho Beng baru sadar, ia sudah terjebak kedalam perangkap musuh, dalam terperanjatnya dg menghimpun segenap tenaga dalamnya, ia segera menghantam daun jendela.

“Blaaaaammmm…..!”

Suara benturan yg amat keras bergema memecah keheningan, akan tetapi daun jendela itu tak bergerak sama sekali, malah sebaliknya dia sendiri yg tergetar sampai mundur sejauh dua tiga langkah.

Keadaan sudah menjadi jelas sekarang, ternyata kamar dimana ia berada sekarang telah dilengkapi dg alat rahasia disekelilingnya, disaat ia sedang tertidur nyenyak tadi, ruangan tsb nampaknya sudah dirubah sedemikian rupa sehingga berubah menjadi seolah tahanan utk menyekapnya.

Sementara dia masih menggertak gigi menahan rasa benci dan marah yg meluap-luap, tiba-tiba dari luar kamar terdengar seseorang menegurnya dg suara lembut.

“Kho Kongcu, apakah kau telah mendusin?” Kho Beng mendengus dingin, sahutnya:

“Siapa kau?”

Orang yg berada diluar ruangan segera tertawa cekikikan, serunya dg genit:

“Budak adalah Hong ing, bukankah semalam kongcu mencari aku? Sekarang budak telah datang, silahkan kongcu memberi perintah.” “Aku tak punya urusan apa-apa, harap buka dulu pintu kamarku sebelum berbicara lebih jauh.”

“Sesungguhnya tdk sulit bila mengharapkan budak membukakan pintu kamar, tapi budakpun berharap agar kongcu mengabulkan pula sebuah permohonanku.”

“Katakan saja!”

“Aku harap kongcu suka menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kami!”

Kho Beng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak:

“Haaahh…haaah…haaah…akhirnya ekor si rase kelihatan juga, kalau dugaanku tak salah, cengcu kalian kalau bukan si perempuan siluman In nu pribadi, pastilah anak buah dari siluman perempuan itu… ”

“Kalau toh kongcu sudah tahu, semalam seharusnya kau tidak balik lagi kemari utk tidur!”

“Hmmm, aku hanya bersikap kelewat gegabah sehingga masuk perangkap kalian, tapi bila kalian mengharapkan kitab pusaka Thian goan bu boh….Huuuh! lebih baik tak usah bermimpi disiang hari bolong.”

“Apakah kongcu tak menghargai selembar jiwamu? Apalah artinya dua lembar kitab pusaka ketimbang jiwa sendiri?”

Kho Beng tertawa terbahak-bahak: “Haaahh…haaaahh…haaahh…meskipun aku sudah terperangkap

dlm kurungan ini, tapi utk bisa menghabisi nyawaku mungkin kalian mesti membuang banyak tenaga lagi.”

“Sama sekali tak usah membuang tenaga,, ruangan ini sudah dilapisi lempengan baja yg sangat kuat, asal kami memasang api disekitar ruangan serta membakarnya, meski tidak sampai membakar hangus tubuhmu paling tidak juga mampu membuat badanmu jadi arang!”

Kho Beng sangat terkejut, namun dia tak sudi menyerah dg begitu saja, sambil berkeras kepala katanya:

“Kalau begitu bakarlah sekarang juga, betapapun kallian mencoba utk menggertakku, jangan harap bisa memeras setengah patah kata pun dari mulutku.”

Hong ing segera saja tertawa terkekeh-kekeh… “Heeeehh…heehhh…….heeeehhhh…kongcu, mengapa kau berbuat begitu bodoh?”

“Ooooh….jadi kau menganggap kecerdasanmu luar biasa? Baiklah akan kulihat sampai dimanakah kemampuan yg dimiliki oleh kalian perempuan-perempuan siluman.”

“kongcu, sekalipun kau sudah bertekad akan gugur bersama isi kitab pusaka tsb, paling tidak kau tak seharusnya menyeret orang lain utk mati juga.”

“Siapa yg kalian maksudkan?” seru Kho Beng dg perasaan bergetar hebat.

“Tentu saja keempat orang anak buahmu.”

“Perempuan busuk yg tak tahu malu!” umpat Kho Beng sangat gusar, “mau dibunuh, mau dicincang lakukan saja segera, buat apa kau banyak berbicara lagi?”

Kembali Hong ing tertawa tergelak: “Haaahhh…haaaahhh….haaahhh….kalau begitu kau sudah ambil

peduli dg keselamatan anak buahmu lagi?”

“Mati hidupku sendiripun masih merupakan masalah, kenapa aku mesti memikirkan nasib orang lain?”

“Sekalipun perkataanmu itu ada benarnya juga, tapi disamping keempat orang anak buahmu tak bisa hidup lebih jauh, aku rasa harus ditambah lagi dg seseorang.”

“Siapa?”

“Encimu!”

Tak terlukiskan rasa terkejut Kho Beng setelah mendengar nama itu, segera bentaknya:

“Bagaimana dg ciciku?”

“Kalau sekarang sih masih berada dalam keadaan baik-baik, tapi bila kau tetap berkeras kepala, mungkin dia pun bakal diceburkan kedalam kuali berisi minyak mendidih.”

Kho Beng merasakan detak jantungnya hampir saja berhenti, diam-diam dia menggertak gigi menahan gejolak emosi dialam hatinya.

Benar kematian baginya bukan suatu peristiwa yg patut disayangkan, tapi bila cicinya ikut mati, lalu siapakah yg akan melanjutkan keturunan dari keluarga Kho mereka?

Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan itu, terdengar Hong ing yg berada diluar kamar telah berseru lagi: “Bila sauhiap tak percaya, bagaimana kalau budak mengajak cicimu kemari agar kau bisa berbincang-bincang dulu dengannya?”

“Kau berani…..” pekik Kho Beng keras.

Tapi sebentar kemudian ia sudah menghela napas panjang, katanya lagi dg suara lemah:

“Baiklah, aku mengabulkan permintaan kalian, kitab tsb kutukar dg enam lembar jiwa!”

“Nah, begitulah baru terhitung tindakan seorang lelaki sejati yg tahu diri” seru Hong ing tertawa.

“Tapi bagaimanakah pertukaran ini akan dilaksanakan?” “Kongcu dapat meletakkan kedua lembar kitab pusaka Thian

goan bu boh itu disisi pintu…”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, Kho Beng telah menukas sambil tertawa dingin:

“Heeehhh…heehh….heeehhh…bagus amat perhitunganmu, tapi bagaimana dg orang-orang kami?”

“Asal barangnya sudah kami dapatkan tentu saja orang-orang itu akan kubebaskan semua.”

“Aku tak dapat mempercayai kalian” teriak Kho Beng keras-keras. “Lantas bagaimanakah menurut pendapat kongcu?”

Kho Beng berpikir sebentar lalu katanya:

“Kalian harus membebaskan aku dahulu atau bebaskan kelima orang lainnya, kemudian aku baru serahkan kitab pusaka Thian goan bu boh itu kepadamu.”

Hong ing berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

“Baiklah kalau begitu aku akan membebaskan dulu keempat orang anak buahmu.”

“Tunggu sebentar, aku tak bisa menyaksikan dg mata kepalaku sendiri, hal ini tak bisa dipercayai……”

Hong ing tertawa terkekeh-kekeh, segera katanya:

“Itu mah soal gampang, tentu saja akan kuajak mereka datang kemari agar kau bisa bertemu dulu dg mereka kemudian menyaksikan pula orang-orangmu pergi meninggalkan tempat ini.”

“Bagaimana dg ciciku?”

“Sebentar, cicimu pasti akan datang pula kemari.”

Habis berkata suasana menjadi hening, agaknya Hong ing telah pergi meninggalkan tempat itu.

Kini tinggal Kho Beng berjalan mondar mandir seorang diri dalam ruangan. Benarkah dia akan menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh tsb kepada musuh? Tapi kitab tsb tidak berada ditangannya sekarang, sekalipun dia menyanggupi bukan berarti dia mampu menyerahkan keluar.

Tapi apa akibatnya bila dia tak mampu menyerahkannya keluar?

Pemuda itu tak bisa membayangkan lebih jauh dia pun tak sanggup utk menduganya.

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba jendela dibuka orang dan muncullah sebuah lubang kecil.

Ketika Kho Beng mendekati dan mengintip keluar, dia saksikan didepan ruangan telah berdiri berjajar empat orang, mereka tak lain adalah Hapukim, Rumang, Molim dan Mokim.

Yang lebih aneh lagi keempat orang tsb bukan saja tidak diikat lagipula sikap mereka tidak menunjukkan rasa tegang, panik ataupun rasa gusar.

Disamping keempat orang tsb berdiri Hong ing beserta dua dayang lainnya.

“Nah, kho kongcu, apakah kau sudah dapat melihatnya sekarang?” terdengar Hong ing berseru.

Buru-buru Kho Beng berteriak:

“Mo bersaudara, coba kalian kemari semua!”

Molim dan Mokim sekalian segera kemuka sambil berjongkok didepan lubang itu, tanyanya:

“Cukong, kau ada perintah apa?” “Kalian tak pernah menderita apa-apa?” “Tidak!” sahut Molim.

“Baik, siapa diantara kalian yg membawa bom udara?”

Mereka berempat sama-sama menggeleng, Kho Beng termenung dan berpikir sejenak, kemudian baru ujarnya,

“Sekarang tinggalkan tempat ini secepatnya, begitu tiba didepan perkampungan gunakan dua kali suara pekikan panjang utk mengabarkan kepadaku bahwa kalian sudah aman, sebaliknya bila menjumpai bahaya, gunakan tiga kali pekikan pendek sebagai kode, kalian tak usah balik lagi kemari, tunggu selama satu hari dibawah bukit situ, bila sehari sudah lewat tanpa melihat aku munculkan diri, ini berarti aku sudah tewas, berangkatlah secepatnya kelembah hati buddha utk mengabarkan berita ini kepada rekan-rekan lainnya!”

Keempat orang itu segera manggut-manggut tanda mengerti. Setelah menghela napas kembali, Kho Beng berkata: “Berangkatlah kalian sekalian juga, sepanjang jalan kalian harus melatih baik-baik kedua jurus serangan yg kuajarkan itu, dua jurus tsb merupakan dasar ilmu sakt yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, asal kalian sudah menguasai kedua gerakan tsb secara sempurna, maka gerakan berikutnya akan lebih muda dipelajari, asal aku dapat meloloskan diri dan asal kalian tidak binal dan liar, pasti akan kuwariskan semua kepandaian tsb kepadamu….”

Sekali lagi keempat orang itu manggut-manggut, sementara kelopak mata mereka nampak berkaca-kaca.

Diam-diam Kho Beng pun merasa amat sedih, meski dimasa lampau dia menaruh hubungan yg tak begitu akrab dg mereka berempat seolah-olah diantara mereka terdapat dinding pemisah, tapi pergaulan yg cukup lama, senang bersama sengsara berbareng yg mereka alami selama ini membuat hubungan batin diantara mereka bertambah akrab.

Itulah sebabnya perpisahan yg terjadi saat ini cukup menyedihkan hati mereka semua.

“Cukong, baik-baiklah menjaga dirimu, kami segera akan berangkat!” kata Molim berempat dg pelan.

Kho Beng manggut-manggut:

“Baiklah, kalau begitu sampai ditempat yg aman, jangan lupa memberi tanda kepadaku.”

Keempat orang itu manggut-manggut, kemudian dg gerakan cepat mereka beranjak pergi meninggalkan tempat tsb.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka lenyap dari pandangan mata.

Saat itulah Hong ing baru berkata lagi sambil tertawa: “Nah, tentunya perasaanmu sudah lega bukan sekarang?” “Hmmm, bagaimana dg ciciku?” dengus Kho Beng. “Tunggu dulu, sebagian dari orang yg kau minta sudah

dibebaskan, sekarang kau harus memenuhi janjimu lebih dulu.” “Janji apa?” Kho Beng berlagak bodoh.

“Bagaimana dg kitab pusaka Thian goan bu boh itu?”

“Kau tak usah membayangkan yg muluk-muluk, kitab pusaka Thian goan bu boh hanya terdiri dari dua lembar, sedangkan dari pihakku pun masih ada dua lembar nyawa yg masih berada ditanganmu, bagaimana mungkin aku bisa menyerahkan sekarang juga?” “Lantas sampai kapan kau baru akan menyerahkannya kepada kami?” tegur Hong ing dg wajah berubah.

“Setelah kau mengundang kemari ciciku, aku akan persembahkan selembar lebih dulu, menanti kau sudah membebaskan aku, akan kuberikan lembaran yg terakhir.”