Kedele Maut Jilid 20

Jilid 20

Dalam keadaan begini, tiba-tiba muncul suatu ingatan jahat dalam hatinya, dg cepat dia melepaskan ikat pinggangnya lalu secara tiba-tiba dilontarkan ketengah kilatan cahaya ruyung yg sedang berputar-putar didepan mulut gua.

Kim kong sam pian yg berada didalam gua saat itu sedang memutar ruyung masing-masing sepenuh tenaga guna membendung mulut gua dari serbuan musuh.

Begitu melihat ada sesosok bayangan putih menerobos masuk kebalik pertahanan mereka seperti sambaran ular, Kim lotoa segera menggerakkan ruyung utk menggulung kearah bayangan tadi dan segera melilitnya dg kencang.

Tang soat Lengcu tertawa seram, dg cepat ia mengerahkan segenap kekuatannya seraya membetot teriaknya:

“Kena!”

Begitu mendengar suara bentakan keras, Kim lotoa segera merasakan gelagat tidak menguntungkan, menunggu ia berniat menarik kembali ruyung panjangnya, sayang keadaan sudah terlambat, ujung ruyungnya telah bertautan dg angkin dari Tang soat Lengcu.

Menyadari kalau gelagat tdk menguntungkan dg cepat dia menarik napas sambil memperkokoh kuda-kudanya. Ruyungnya dibetot kebelakang maksudnya dia hendak membetot putus angkin musuh dg mengerahkan sepenuh kekuatan yg dimilikinya.

Padahal Tang soat Lengcu sendiripun mempunyai keinginan yg sama, saat tsb ia sedang mengerahkan seluruh tenaga dalam yg dimilikinya melakukan pembetotan sambil membentak:

“Liok Ci ang, mengapa kau tdk segera menyerbu kedalam gua?”

Liok Ci ang serta Tan Bok kong serentak memutar senjata panji kupu-kupunya makin kencang, lalu serentak menyerbu kedalam gua.

Kim loji serta Kim losam menjadi terperanjat sekali, hingga kini mereka bertiga bisa bertahan dimulut gua tanpa memberi kesempatan kepada musuhnya utk bergerak maju, disatu pihak karena memanfaatkan mulut gua yg sempit dan kecil, dipihak lain karena mengandalkan kerja sama ilmu ruyung mereka bertiga yg tangguh utk menyumbat mati seluruh mulut gua tsb.

Tapi sekarang, senjata ruyung Kim lotoa telah terlilit oleh senjata angkin Tang soat Lengcu, hal ini sama artinya dg terbukanya sebuah lubang kelemahan pada sistem pertahanan mereka, bila seorang harus melawan seorang, bagaimana mungkin Kim kong sam pian mampu menandingi keampuhan dari Tang Bok kong serta Liok Ci ang?

Chin sian kun yg berada didalam gua menjadi terperanjat sekali setelah melihat kejadian tsb, buru-buru dia maju kedepan sambil menyerang dg pedangnya, ia berniat menguntungi senjata angkin tsb lebih dulu.

Tapi baru saja serangan pedangnya dilancarkan, terdengar Kim losam telah berteriak keras:

“Hati-hati adikku!”

Tiba-tiba saja serasa segulung desingan angin tajam menggulung tiba dari atas, begitu dahsyatnya ancaman tsb membuat si nona harus mundur kembali dg perasaan terperanjat.

Memanfaatkan kesempatan yg sangat baik inilah, Tang Bok kong segera menerobos masuk kedalam ruangan dg kecepatan bagaikan sambaran kilat....

Perputaran senjata panji kupu-kupunya memaksa Kim bersaudara harus mundur hingga punggungnya menempel pada dinding gua, keadaan mereka betul-betul terdesak hebat.

Sementara itu, Chin Sian kun dg pedang terhunus telah berdiri menghadang dimuka pintu ruangan yg tertutup rapat, dg suara keras ia membentak nyaring:

“Tua bangka yg tak tahu malu, kalian biasanya Cuma memanfaatkan kelemahan orang lain saja, hmmm! Rupanya orang- orang yg mencari gara-gara diluar lembah sana memang sengaja kalian bawa utk mengalihkan perhatian kami, sementara kalian sendiri berusaha menyelundup masuk kemari bagaikan pencoleng?”

Pada saat itu, Tang soat Lengcu telah mengendorkan pula angkinnya dan turun melayang masuk kedalam gua, sahutnya:

“Perkataanmu memang tepat sekali! Liok ang, ayoh cepat turun tangan dan jangan membuang waktu lagi!”

Liok Ci ang manggut-manggut, kepada Chin Sian kun segera ujarnya sambil tertawa dingin: “Hmmm..kenapa kau tidak segera menyingkir? Kalau nekad terus, jangan salahkan aku bertindak keji dg mencabut nyawamu!”

Chin Sian kun mendengus dingin, diam-diam ia memberi kedipan mata kepada Kim kong sam pian.

Tiga bersaudara Kim dari telaga Tong ting segera menanggapi tanda tsb, serentak mereka bertiga mendekati Chin Sian kun.

Setelah keempat orang itu berdiri berjajar kembali dimuka pintu gua, Kim lotoa baru berseru sambil tertawa seram.

“Heeeh…heeeh…heeeeh..sebetulnya tidak sulit utk menyingkirkan kami dari sini, asal kalian mampu memenggal dulu batok kepala kami berempat!”

“Baiklah, kalau toh kalian tak takut mati, apa susahnya utk mengantar kematian kalian!” seu Tang Bok kong dingin.

Senjata panji kupu-kupunya segera diputar dg dg jurus “lebah terbang memainkan putik” menciptakan selapis cahaya hitam yg amat menyilaukan mata, lalu dg membawa suara desingan tajam secara langsung menyergap diri Chin Sian kun.

Dg sekuat tenaga Chin Sian kun mencukil pedangnya keatas utk membendung datangnya ancaman tsb, begitu sepasang senjata beradu segera terjadilah suara benturan nyaring……

Tampak sekilas cahaya perak mencelat ketengah udara, dususul jeritan kaget dari Chin Sian kun, rupanya ia sudah kehilangan senjatanya.

Dalam pada itu Tang Bok kong telah mengayunkan telapak tangan kirinya melepaskan bacokan segulung tenaga pukulan yg maha dahsyat langsung menumbuk kemuka.

Tergopoh-gopoh Chin Sian kun menghindarkan diri kesamping…. “Blaaammm…!”

Angin pukulan yg maha dahsyat persis menghantam diatas pintu gua membuat pintu ruangan tsb terpentang lebar.

Dalam waktu singkat Tang soat Lengcu mengayunkan pula sepasang tangannya melepaskan tiga buah pukulan kekiri dan kekanan, lalu tubuhnya seperti segulung asap ringan menerobos masuk kebalik ruangan dimana Kho Beng sedang bersemedi.

Menanti Kim kong sam pian berusaha utk menghalangi jalan perginya, keadaan sudah terlambat.

Chin Sian kun menjadi amat terperanjat, ia saksikan Tang soat Lengcu menyerbu masuk kedalam ruangan batu dan entah apa yg kemudian terjadi disana………. Hanya secara tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget bergema memecahkan keheningan lalu tampak tubuh Tang soat Lengcu yg baru menyerbu masuk kedalam ruangan, tahu-tahu sudah mencelat balik kembali.

Waktu itu Tan Bok kong serta Liok Ci ang baru saja bersiap-siap menyerbu kedalam, mereka tak menyangka kalau perempuan berbaju putih itu bakal mundur kembali secara tiba-tiba, hampir saja mereka saling bertumbukan satu dg lainnya.

Menanti ketiga orang itu sudah dapat berdiri kembali dg sempoyongan, dimuka pintu ruangan tahu-tahu sudah bertambah dg sesosok bayangan manusia, dia tak lain adalah Kho Beng.

Paras muka Kho Beng kelihatan sangat cerah dan penuh bertenaga, sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, waktu itu ia berdiri disitu dh wajah yg gagah da sikap yg keren, berbeda sekali dg keadaannya pada tiga belas hari berselang.

Chin Sian kun segera mengucak-ngucak matanya, ia seperti tak percaya dg pandangan mata sendiri, sesaat kemudian baru serunya tertahan:

“Kho sauhiap, apakah latihanmu telah selesai?”

Kho Beng mengangguk, setelah melempar pandangan yg penuh rasa terima kasih, katanya:

“Musuh tangguh telah menyerbu sampai disini, mengapa tidak kulihat Rumang, Hapukim serta dua bersaudara Mo utk membendung serangan mereka?”

Sambil menghela napas sahut Chin Sian kun.. “Kawanan jago dari golongan putih maupun hitam telah

berdatangan sama, kini mereka berkumpul diluar lembah, sekarang Hapukim sekalian berada bersama hwesio daging anjing, tapi bagaimana keadaannya tidak kuketahui secara pasti.”

Paras muka Kho Beng sedikit berubah, sambil merapatkan kembali pintu ruangan katanya:

“Bu wi cianpwee masih berada dalam ruangan, tolong nona Chin dan saudara Kim bertiga menjaga keselamatannya.”

Chin Sian kun mengerling sekejap kearah pemuda itu, lalu mengiakan….

Pelan-pelan Kho Beng maju beberapa langkah kedepan, ditatapnya Tang soat Lengcu, Tang Bok kong dan Liok Ci ang sekejap, kemudian tegurnya dingin:

“Siapakah kalian?” Tang Bok kong mendengus:

“Hmmmm! Cecunguk muda, kau tak berhak mengetahui, hayo cepat serahkan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kami, mengingat kerelaanmu itu bisa jadi aku akan mengampuni selembar jiwamu!”

“Ooooh…bila kudengar dari nada pembicaraan kalian, tampaknya kamu semua adalah anak buah dewi In nu?”

“Benar!” sahut Tang soat Lengcu dingin. Kho Beng segera tertawa bergelak:

“Haaaah…haaaah..haaahh…kebetulan sekali kedatangan kalian, siauya memang berniat menangkap seorang diantara kalian utk mencari keterangan. Kitab pusaka Thian goan bu boh berada disaku siauya, aku Cuma kuatir kalian tak punya kemampuan utk merebutnya kembali!”

Liok Ci ang tertawa dingin:

“Bocah keparat, kau sangat tekebur!” Kho Beng balas tertawa dingin:

“Hmmm..bagiku perkataan yg diucapkan tergantung kepada siapa aku berbicara, padahal siauya tidak tekebur, apa salahnya kau buktikan sendiri ucapanku tadi!”

“Aku memang berniat mencoba kemampuanmu!” bentak Liok Ci ang keras.

Senjata panji kupu-kupunya digetarkan menciptakan sebuah lingkaran busur lalu secara kilat disapu kepinggang Kho Beng.

Menghadapi datangnya sambaran cahaya hitam itu, ternyata Kho Beng tdk bergerak sama sekali, dia seakan-akan tak memandang sebelah matapun terhadap kemampuan lawannya.

Tak terlukiskan rasa gusar Liok Ci ang menghadapi kejadian seperti ini, gerak serangannya segera berubah, kali ini dia mengancam dada lawan dg sebuah tusukan keatas.

Dg perubahan itu, kupu-kupu yg berada diatas ujung sejatanya seakan-akan berubah menjadi empat, dalam waktu singkat disekeliling tubuh Kho Beng seolah-olah beterbangan aneka macam kupu-kupu yg mengancam bagian mematikan ditubuhnya.

Kim kong sam pian menjadi terperanjat sekali melihat kelihaian lawan, paras muka mereka sampai berubah hebat.

Tiba-tiba terdengar Kho Beng tertawa ringan, ujung baju kirin dan kanannya dikebaskan kemuka, lalu tubuhnya menyelinap keluar dibalik kepungan bayangan kupu-kupu lawan, sementara itu telapak tangan kirinya melancarkan sebuah bacokan kesisi kiri.

Waktu itu, Tang Bok kong sedang berdiam disisi kiri sambil menonton jalannya pertarungan, melihat kejadian tsb, dia mengira Kho Beng hendak membokongnya.

Sambil membentak keras, senjata kupu-kupunya disodok kedepan keras-keras, lalu berbalik mengancam ubun-ubun Kho Beng.

Siapa tahu pada saat yg bersamaan inilah Kho Beng membalikkan telapak tangan kirinya langsung menghantam iga kanan Liok Ci ang.

Waktu itu Liok Ci ang sudah merasakan gelagat tidak menguntungkan, begitu serangannya mengenai sasaran kosong, belum sempat dia berbuat sesuatu, desingan angin tajam tahu-tahu sudah mengancam bahu kirinya.

Berada dalam keadaan seperti ini, buru-buru dia membalikkan badannya, sementara senjata kupu-kupunya dg jurus “kupu-kupu terbang bayangan menari” menyodok keluar dg sekuat tenaga.

Siapa tahu pada saat itulah Tang Bok kong melancarkan pula serangannya, dalam kondisi sama-sama menyerang dg kecepatan tinggi, menantimereka berdua sama-sama menyadari kalau senjata mereka bukannya mengancam tubuh lawan sebaliknya malah menghantam teman sendiri, keadaan sudah terlambat.

“Criiiinnnggg…..!”

Sitengah benturan keras, Liok Ci ang serta Tang Bok kong sama- sama tergetar mundur satu langkah, kedua belah pihak sama-sama merasakan lengan kananya linu dan kesemutan, nyaris senjata mereka terlepas dari tangan…….

Sementara itu, Kho Beng masih berdiri tenang diposisinya semula, malah sambil tertawa dingin jengeknya:

“ ‘Jurus panglima langit kembali kepangkuan’ yg barusan kugunakan merupakan satu diantara tiga puluh enam gerak perubahan yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, bila kalian berdua menginginkan kitab itu, apa salahnya kalian mulai belajar sejak kini!”

Liok Ci ang serta Tang Bok kong terperanjat sekali sampai paras mukanya berubah, sambil membentak nyaring san serentak bersiap- siap menyerang kembali.

Tapi sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba Tang soat Lengcu berseru keras: “Tang tua, Liok tua, hentikan dulu serangan kalian!” “Lengcu, apa maksudmu?” seru Tang Bok kong tercengang. “Aku rasa kesempatan baik buat kita masih banyak, buat apa

mesti menyerempet bahaya dg percuma pada hari ini? Apalagi kerepotan yg datang dari luar lembah sudah cukup memusingkan kepalanya, ayo kota mundur saja!”

Begitu selesai berkata, tubuhnya segera melesat keluar dari gua dg kecepatan tinggi.

Liok Ci ang serta Tang Bok kong tidak banyak bicara lagi, serentak mereka turut mengundurkan diri dari dalam gua.

Medadak Kho Beng membentak dg kening berkerut: “Mau kabur kemana kalian!”

Ia menggerakkan badannya siap melakukan pengejaran.

Tapi Chin Sian kun segera menghalangi siatnya itu sambil berseru:

“Kho sauhiap………”

Mau tak mau terpaksa Kho Beng harus menghentikan langkahnya, lalu bertanya dg kening berkerut,

“Nona Chin, mengapa kau menghalangi niatku?”

“Hwesio daging anjing sedang bertarung melawan kawanan jago diluar lembah, apa salahnya sauhiap membebaskan mereka untuk kali ini saja, bagi kita yg penting adalah memukul mundur lebih dullu… ! “

Kho Beng manggut-manggut, ia mengalihkan pandangan matanya keluar gua, saat itu Tang soat Lengcu bersama Liok Ci ang dan Tang Bok kong telah kabur entah kemana.

Maka Kho Beng meminta kepada Kim kong sam pian agar tetap menjaga dalam gua, sementara ia sendiri segera bergerak menuju keluar lembah dg kecepatan tinggi.

Dugaan Hapukim memang benar, diluar lembah telah muncul enam puluhan jago yg terdiri dari aneka macam manusia, diantaranya meliputi jago-jago dari pelbagai perguruan besar serta kaum sesat.

Sementara itu si hwesio daging anjing malah berdiri dilmulut lembah sambil berkata dg lantang :

“Bila kalian bersedia memberi muka kepada aku si hwesio pada hari ini, harap segera mengundurkan diri sekarang juga, harap segera mengundurkan diri sekarang juga, kalau tidak, silahkan mencoba utk menyerbu kedalam, asal aku si hwesio bisa dikalahkan, lembah hati budha akan menjadi tempat kediaman kalian… “

Sui cuncu dari Siau lim pay segera tampil kedepan, lalu berkata dg suara dalam.

“kita sebagai murid buddha seharusnya bila taysu berpikir demi kepentingan umat persilatan, mengapa kau malah berpihak kepada kaum durjana ? “

Hwesio daging anjing tertawa..

“Walaupun kita sama-sama sebagai murid buddha, bukan berarti kita mesti bersahabat, aku si hwesio tak akan diterima dikuil kecil, apalagi dikuil besar macam Siau lim si… oooh, rupanya aku si

hwesio tak bakal diundang kesana. “

“Toya suka bergurau“ sela Kim cuncu dari Siau lim pay sambil tertawa, “walau pun kuil Siau lim si sangat besar, rasanya kami tak akan mampu menampik kehadiran taysu, asal saja taysu senonoh dan berminat, pintu gerbang Siau lim si selalu terbuka untuk kehadiran taysu. “

Hwesio daging anjing tertawa terbahak-bahak : “Haaaahhh…haaahhhh…haaahhh…hwesio gede, kita tak usah

banyak bicara lagi, itu dia, yg bersangkutan telah datang, bila ada persoalan lebih baik dibicarakan sendiri dengannya, biar aku si hwesio menjadi saksi saja!”

Habis berkata dia menyingkir kesamping dan ujarnya kepada Kho Beng sambil tertawa:

“Untung kau segera keluar, kalau tidak…mungkin mereka bakal naik darah……”

Buru-buru Kho Beng memberi hormat seraya berkata:

“Terima kasih banyak atas bantuan taysu telah melindungi kami, budi kebaikan itu tak akan boanpwee lupakan!”

Hwesio daging anjing segera tertawa:

“Sudah, jangan banyak berbicara dulu, yg penting kau harus mengusir pergi orang-orang itu lebih dulu!”

Kho Beng mengiakan dan menjura lagi dalam-dalam, setelah itu dia baru mengalihkan pandangan matanya kearah para jago sambil berkata,

“Berita yg kalian peroleh benar-benar amat cepat dan luar biasa, bolehkah aku tahu karena urusan apakah kalian datang kemari?”

Thian it taysu, ketua Go bi pay segera berkata dg suara dalam, “Sejak mendapat surat Hui im tiap dari sicu, dimana dikatakan sicu hendak memberi penjelasan kepada seluruh umat persilatan, sayang kami tidak mengetahui jejak sicu, maka begitu kudengar bahwa sicu berada disini, berbondong-bondong kami datang kemari dg harapan bisa peroleh penjelasan dari sicu!”

Kho Beng jadi tertegun, segera serunya:

“Ucapan taysu benar-benar membingungkan hati orang, kapan sih aku telah menyebar hui im tiap?”

“Bukankah sicu sendiri yg menyebarkan kartu undangan tsb, kenapa kau menyangkalnya kembali?” kata Thian itu taysu sambil berkerut kening, “untung saja aku masih menyimpan baik-baik kartu tsb, kalau tidak orang tentu menganggap aku membuat alasan yg bukan-bukan………”

“Mana kartu undangannya? Bolehkah dipinjamkan sebentar kepadaku?” kata Kho Beng sambil mengulurkan tangannya.

Dari dalam sakunya Thian it taysu mengeluarkan selembar kartu berwarna merah, lalu serunya:

“Sambutlah sicu!”

Ketika tangannya diayunkan, kartu tsb segera meluncur kehadapan Kho Beng bagaikan sekuntum awan merah.

Kho Beng mengebaskan ujung bajunya pelan-pelan dan menyambut kartu tsb, ketika dibuka maka terbaca olehnya tulisan yg berbunyi begini:

“Kini aku telah mengetahui asal usulku yg jelas, ayahku adalah Hui im cengcu dari Hang ciu, sebagai putaranya, akupun berkewajiban menuntut balaskan sakit hati orang tuaku.

Dulu, peristiwa tsb timbul gara-gara kitab pusaka Thian goan bu boh, karenanya akan kuteruskan cita-cita ayahku almarhum utk menyebar luaskan ilmu sakti tsb keseluruh dunia persilatan, tapi hal ini baru bisa diwujudkan bila dalangnya sudah tertangkap, agar umat persilatan mengetahui dg jelas duduk persoalan yg sebenarnya serta memperbaiki nama baik ayahku dimata orang banyak.

Mungkin saja anda turut terlibat didalam peristiwa berdarah yg terjadi di perkampungan Hui im ceng tempo dulu, tapi karena aku yakin peristiwa ini merupakan siasat busuk seseorang yg masih bersembunyi dibelakang layar, dan aku percaya kalian terkelabui semua oleh perbuatan terkutuknya, maka aku tak akan menyalahkan kalian, sebagai timbal baliknya aku pun berharap kalian pun jangan memusuhi diriku lagi. Disaat perkampungan Hui im ceng didirikan kembali nanti, pasti akan ku undang kehadiran semua untuk merayakan bersama peristiwa ini.

Adapun waktunya kutetapkan setangah tahun kemudian, jika takdir menghendaki lain atau terjadi perubahan lain, akan kukirim surat pemberitahuan tentang perubahan waktu itu, pokoknya aku tak akan membohongi seluruh kolong langit.

Bila anda ingin mengetahui siapakah dalang dari peristiwa berdarah tempo hari, dia tak lain adalah Dewi In un.”

Tertanda Kho Beng.

Ketika selesai membaca tulisan itu, Kho Beng segera teringat kembali dg perkataan si Unta sakti berpunggung baja yg katanya hendak menyebar Bu lim tiap untuk mengangkat kejadian yg sebenarnya.

Dg cepat dia pun menjadi paham apa gerangan yg terjadi, kepada Thian it taysu katanya kemudian:

“Apakah hanya taysu seorang yg menerima kartu tsb… ”

“Tidak, hampir setiap jago atau tokoh kenamaan dunia persilatan mendapatkan kartu tsb!”

Kho Beng segera manggut-manggut

“Betul, memang aku yg menyebar surat undangan tsb, tapi waktu yg kutetapkan kan masih setengah tahun kemudian, sebelum waktunya tiba, apa gunanya taysu memburu kemari?”

Kiong Ceng san dari istana naga munculkan diri secara tiba-tiba dari kerumunan jago, sambil tertawa seram serunya:

“Bocah keparat, kau anggap aku bakal percaya dg siasat mengadu dombamu itu?”

“Sejak kuterima kartu undangan tsb, hingga kini sudah tiga orang rekan persilatan yg tewas oleh Kedele Maut, aku ingin bertanya kepadamu, sebenarnya siapakah pembunuh keji itu?”

Kho Beng mendengus dingin:

“Hmmm…selama setengah bulan terakhir, aku belum pernah turun gunung barang setengah langkah pun, darimana aku bisa tahu siapakah pembunuh yg sebenarnya?”

“Hmmm…kau angap aku masih gampang dikelabui? Sudah dua kali kau memberi keterangan tentang wajah asli si Kedele Maut, bila tiada hubungan apapun dg Kedele Maut, siapa yg mau percaya?” “Benar, aku memang mempunyai hubungan dg kedele maut, tapi aku tak tahu siapa yg melakukan pembunuhan dimana-mana, aku minta waktu tiga bulan untuk menyelidiki persoalan ini, sampai waktunya pasti akan kuberi keterangan yg jelas!”

“Mengapa harus menunggu sampai tiga bulan? Asal kubekuk dirimu sekarang juga, aku yakin kedele maut pasti akan menghantarkan diri sendiri masuk perangkap.”

Begitu ucapan tsb diutarakan, para jago segera menangapi dg penuh luapan emosi.

Melihat keadaan tsb, Kho Beng segera berkata:

“Bila kulihat dari keadaan saat ini, tampaknya saudara sekalian tak mau menyudahi persoalan tsb hingga disini saja?”

“Tindak tanduk sicu sangat mencurigakan, tak aneh bila memancing rasa gusar umat persilatan kepadamu.” Thian it taysu berkata, “menurut pendapatku, lebih baik sicu menyerahkan diri saja utk dibelenggu, bila semua kecurigaan sudah dibikin jelas, sicu pasti dibebaskan lagi.”

Kho Beng segera tertawa dingin, jengeknya:

“Sekalipun aku setuju, belum tentu pedang dibahuku serta sepasang tanganku ini bersedia menuruti anjuranmu itu!”

Dg suara menggeledek Kiong Ceng san membentak:

“Kalau toh ingin berkelahi, buat apa banyak bicara terus? Aku bersedia utk bertarung dulu melawanmu!”

Sambil berkata ia segera mempersiapkan senjatanya dan bergerak maju kemuka.

“Kiong tayhiap, apakah kau yakin bisa menang?” ejek Kho Beng sg suara dingin.

Kiong Ceng san tertawa seram: “Heeeh…heeeeh…heeeh…bocah keparat, aku mau berkelahi

melawanmu sudah merupakan suatu kehormatan bagimu!”

“Bagus sekali!” Kho Beng tertawa pula dg nyaring, “terima kasih banyak atas kehormatan yg Kiong tayhiap berikan kepadaku, Cuma aku pun perlu memberitahukan satu hal kepadamu, yakni aku telah memperlajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, kuharap tayhiap jangan marah-marah bila menderita kekalahan nanti!”

Begitu ucapan tsb diutarakan, paras muka Kiong ceng san segera berubah hebat. Padahal bukan Cuma Kiong ceng san saja, kawanan jago silat lainnya pun ikut terperanjat dibuatnya.

Mereka tak tahu apa yg dikatakan Kho Beng itu benar atau Cuma gertak sambal belaka.

Tapi Kiong ceng san sebagai jago kawakan yg sudah termashur puluhan tahun lamanya tak berani mengambil resiko besar setelah melihat sikap tenang lawannya.

Sementara dia masih termenung dg perasaan sangsi, mendadak dari kerumunan orang banyak kedengaran seorang berteriak keras:

“Aku tidak percaya, Kiong tayhiap ijnkan aku Poa Ho sam mencoba utk membekuk bocah keparat itu!”

Ditengah seruan tsb, terlihat sesosok bayangan manusia melayang masuk kedalam arena.

Orang itu berwajah merah membara, senjatanya adalah tombak pendek, dia berusia empat puluh tahunan serta memakai pakaian ringkas warna biru, orang tsb tak lain adalah si jago tombak baja Poa Ho sam, yg namanya terkenal dikawasan Kanglam.

Kiong ceng san menjadi kegirangan, buru-buru serunya: “Bila Poa lote ingin berebut pahala dg ku baiklah, biar aku

mengalah lebih dulu, Cuma kuharap kau bertindak lebih berhati-hati lagi… ”

Poa Ho sam tertawa bergelak: “Haaaahhh….haaaahh……haaaahhh…tak usah kuatir, aku orang

she Poa tak akan percaya dg obrolan setannya!”

Kemudian sambil menatap Kho Beng lekat-lekat, bentaknya keras:

“Bocah keparat, biar aku yg mencoba lebih dulu kemampuan ilmu sakti Thian goan bu boh mu!”

Sambil bergendong tangan Kho Beng maju kemuka, lalu katanya dingin:

“Bagus sekali, biar kucoba kemampuanmu dg mengandalkan sepasang tangan kosong.”

Berbicara sampai disitu, orangnya telah berdiri persis dihadapan Poa Ho sam.

Agaknya si tombak sakti Poa ho sam sudah tak sabar lagi, senjatanya segera diputar kencang, lain saat tampak sekilas cahaya hitam meluncur kemuka dan langsung menusuk lambung Kho Beng.

Melihat datangnya ancaman itu, Kho Beng mendengus dingin, sebuah ayunan tangan menyambar kemuka menyongsong datangnya ancaman lawan, hampir bersamaan maju lagi tiga langkah kedepan........

Ternyata ketiga langkah kakinya ini luar biasa sekali, bukan saja dapat menghindari tusukan tombak lawan, lagipula tenaga pukulannya menjadi mengarah persis pada sasaran.”

Mula-mula Poa Ho sam tertegun, ia tidak mengerti apa kegunaan dari serangan lawan.

Sebab menurut pengalaman, pada umumnya pada jurus serangan dari perguruan manapun, selalu mengarah langsung kepada sasaran yg dihadapi, tidak seperti jurus serangan yg dgunakan lawannya sekarang, bukan tubuh lawan yg dituju, sebaliknya menghantam kesisi lain.

Sementara ia masih tertegun, angin serangan yg amat tajam telah menyambar keatas badannya, dalam keadaan begini, terlambat sudah baginya utk menghindarkan diri..

“Blaaaaaaaammmm. !”

Tubuhnya segera terhajar telak sampai mencelat sejauh tiga kaki lebih dan jatuh terguling diatas tanah, untuk berapa saat lamanya orang itu tak mampu merangkak bangun kembali.

Dalam satu gebrakan seorang jago silat kenamaan sudah dibikin keok, bukan saja para jago dibuat terkesiap, sampai si hwesio daging anjing pun ikut terbelalak dg wajah melongo, sampai beberapa saat lamanya ia tak mempu berkata-kata.

Sesungguhnya memang disinilah letak keluarbiasaan serta keampuhan ilmu silat Thian goan bu boh dibandingkan dg ilmu silat aliran lain.....

Pukulan yg dilancarkan selalu mendahului langkah kaki, tapi justru menciptakan suatu kerjasama yg amat serasi, bukan saja membuat musuh susah menghindarkan diri, bahkan pada hakikatnya tak bisa diduga sebelumnya.

Berhasil merobohkan Pou Ho sam dalam satu gebrakan, Kho Beng segera memandang sekejap kearah kawanan jago lainnya, lalu berkata:

“Siapa yg ingin memberi petunjuk lagi”

Para jago saling berpandangan sekejap tanpa berkata-kata, suasana sangat hening.

Mendadak Kim cuncu dari Siau lim pay memutar toyanya seraya berkata: “Jurus serangan dari sau sicu memang sangat hebat, tapi aku bersedia utk mencoba kemampuanmu yg lihai itu!”

“Apakah taysu ingin mencoba satu pukulan saja?” tanya Kho Beng dingin.

“Yaa, aku memang berniat mencoba tenaga dalammu, aku rasa satu pukulan pun sudah dapat melihat kemampuan yg kau miliki!”

“Bagaimana menang kalah telah diketahui?” Kim cuncu segera tertawa seram,

“Haaa...haaaa....haahh...asal sicu dapat menggungguli diriku, pinceng akan segera mengundurkan diri dari sini bersama segenap rekan persilatan yg ada!”

“Sungguhkah perkataanmu itu!”

“Tentu saja, perkataan yg telah kuucapkan pasti akan kutaati, hanya aku takut sicu tak mampu mengungguli diriku!”

“Bila aku tak mampu mengungguli dirimu, tentu saja aku akan menyerahkan diri kepada kalian!”

“Bagus sekali........Nah, sicu harus bersiap sedia ”

“Tunggu sebentar!” tukas Kho Beng mendadak. “Masih ada urusan lain?”

“Bila aku beruntung bisa menang, masih ada sebuah permintaan lain yg kuharap dikabulkan.”

“Apa permohonanmu?”

“Orang-orang yg lain boleh pergi, tapi Kiong tayhiap dari istana naga tak bisa angkat kaki begitu saja!”

Mula-mula Kim Cuncu kelihatan tertegun, lalu sambil mendengus serunya keras-keras:

“Permintaan mu ini kelewat kebangetan!”

Sambil mendengus dingin, Kiong ceng san berseru pula: “Hey bocah keparat, dalam hal apa kau bisa tertarik dg ku?:

“Tua bangka celaka! Kau masih ingat dg kematian Li sam?” seru Kho Beng dg wajah sedingin es.

Kiong Ceng san kelihatan agak tertegun, menyusul kemudian katanya sambil tertawa seram:

“Li sam mati karena disiksa gara-gara ulahnya menyaru sebagai Kedele maut, jelas terbukti kalau dia adalah komplotan si iblis keji itu. Kini kau hendak membalaskan dendam bagi kematiannya, kalau memang begitu kenapa kau menyangkal tak ada hubungan dg mereka?”

Dg suara lantang, Kho Beng segera berseru: “Tahukah kalian, siapa sebenarnya si Kedele Maut itu?”

“Aku memang ingin tahu!” seru Kim Cuncu dg wajah berubah. Sepatah demi sepatah kata Kho Beng segera berseru:

“Dia tak lain adalah enci kandungku, Kho Yang ciu!”

Begitu pengakuan tsb diucapkan, kawanan jago tsb jadi amat terkesiap.

Sekarang duduknya persoalan sudah jelas, tapi mereka tak mengira kalau putra putri Hui im cengcu belum mati dalam peristiwa berdarah tempo hari.

Dg suara keras Kiong Ceng san segera berteriak:

“Saudara sekalian, apalagi yg kita nantikan? Kalau bocah keparat ini tidak kita bunuh sekarang juga, setengah tahun kemudian, mungkin tiada jago persilatan yg bisa lolos dari ancaman mautnya!”

Begitu teriakan tsb berkumandang, suasana jadi sangat gaduh sekali.

Hwesio daging anjing yg selama ini Cuma mengikuti perkembangan tsb dari sisi arena, tiba-tiba ikut berkata dg kening berkerut:

“Aku tidak mengira kalau duduk persoalannya begitu rumit dan kacau, tapi bersediakah kalian semua mendengarkan sepatah dua patah kata dariku?”

“Taysu punya pendapat apa?” tanya Kiong ceng san. “Kuharap pertarungan ditunda pada hari ini, karena saling

membunuh hanya merugikan umat persilatan, lagipula melanggar ajaran buddha, oleh sebab itu aku keberatan dg terjadinya peristiwa macam begini.”

“Omitohud!” Thian it taysu segera memuji keagungan buddha, “tak nyana toyu bisa mengucapkan kata-kata semacam itu, apakah kau tidak berpihak kepada golongan kami?”

Hwesio daging anjing menggeleng:

“Tidak, aku si hwesio tidak berpihak kepada golongan manapun, aku Cuma berharap bisa meleyapkan bencana besar ini, aku rasa, aku hwesio dapat mencegah sobat kecil ini utk melakukan pembunuhan lebih lanjut.”

“Aku rasa bocah keparat itu enggan menuruti nasehat orang, toh ilmu sakti telah dipelajari...?” jengek Kiong ceng san sinis.

Hwesio daging anjing segera berpaling kearah Kho Beng, lalu ujarnya pelan: “Bersediakah sicu untuk memberi muka kepadaku dg menuruti nasehatku?”

“Boanpwee pasti akan menerimanya dg senang hati!” sahut Kho Beng cepat.

Mendengar itu, hwesio daging anjing segera tertawa terbahak- bahak:

“Haaaahh...haaaahh...haaahh...sobat kecil Kho telah bersedia memberi muka kepadaku, bagaimana dg saudara sekalian?”

Thian it taysu termenung sambil berpikir berapa saat, akhirnya diapun berkata:

“Baiklah, tapi Cuma kali ini saja, biar begitu aku tetap berharap kepada sauhiap untuk menentukan waktu pertemuan dan tempatnya!”

“Tak usah ditentukan tempat serta waktunya” sela Kho Beng dingin, “sekarang juga aku dapat katakan kepada kalian bahwa Bu wi cianpwee yg kalian jumpai ditengah jalan pada dua puluh tahun berselang bukan Bu wi cianpwee yg asli, Bu wi cianpwee yg asli masih merawat lukanya didalam gua, kitab pusaka thian goan bu boh juga berada ditangan Bu wi cianpwee bahkan sudah dibuatkan salinannya buat para ciangbunjin dari tujuh partai besar, sayang sekali para ciangbunjin dari partai-partai besar telah terkecoh oleh siasat busuk orang lain sehingga mengira ayahku telah mempermainkan mereka?”

“Sunguh perkataanmu itu?” tanya Thian it taysu dg perasaan bergetar keras.

“Aku berbicara sejujurnya!”

“Mengapa tidak kau undang Bu wi toyu sekarang juga agar semua persoalan menjadi terang?”

“Bu wi cianpwee masih membutuhkan waktu satu bulan utk menyembuhkan luka yg dideritanya, sampai waktunya beliau pasti akan bertemu dg saudara sekalian!”

“Sekarang siapakah dalang dari rencana busuk ini?” tiba-tiba Kiong ceng san bertanya pula.

“Dewi In nu!”

Dg perasaan tercengang Thian it taysu berseru:

“Rasanya belum pernah kudengar tokoh persilatan yg bernama begitu……?”

Tiba-tiba hwesio daging anjing berkata pula sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Thian it, apakah kau mengetahui tentang peristiwa berdarah yg menyangkut partai kupu-kupu pada seratus tahun berselang?”

Dg perasaan keheranan Thian it taysu berdiri tertegun, kemudian sahutnya:

“Partai kupu-kupu………”

“Kupu-kupu indah terbang berpasangan, darah bercucuran melanda dunia persilatan, air mata bercucuran bagaikan sungai, tulang berserakan bagaikan bukit, pernah kau dengar tentang bait syair tsb.”

Berubah hebat paras muka Thian it taysu, serunya tertahan: “Jadi partai kupu-kupu sungguh-sungguh telah muncul kembali

didalam dunia persilatan?”

“Yaa!” jawab hwesio daging anjing serius, “barusan mereka ikut datang kemari, buat apa aku si hwesio membohongi dirimu?”

Tiba-tiba Thian it taysu mengulapkan tangannya kepada para jago sambil berseru:

“Hayo berangkat!”

Dg cepat ia memohon diri kepada hwesio daging anjing, lalu tergesa-gesa mengundurkan diri keluar lembah.

Diantara kawanan jago yg hadir, mereka yg berusia agak lanjut mungkin mengetahui sedikit tentang masalah yg dibicarakan, sebaliknya yg masih muda usia malah dibikin kebingungan.

Tapi melihat semua orang sudah beranjak pergi, tentu saja mereka harus angkat kaki pula.

Maka suatu pertarungan yg sesungguhnya hampir meletus, seketika hilang lenyap tak berbekas.

Kho Beng sendiri pun merasa kebingungan, sambil mengawasi kawanan jago yg mengundurkan diri dari situ, ia berdiri termangu- mangu.

Sesaat kemudian, pemuda itu baru memberi hormat kepada hwesio daging anjing, sambil katanya:

“Bolehkan aku tahu naa besar taysu?” Hwesio daging anjing tertawa bergelak.

“Haaahhh…haaaahhh….haaahhh…aku si hwesio tak punya julukan apa-apa, mungkin lantaran kegemaranku adalah daging anjing, maka semua orang menyebutku si hwesio daging anjing!”

“Oooooh..rupanya Kiu tin Sin ceng (pendeta suci penolong jagat).

Aku yang muda bernama Kho Beng, cianpwee bolehkah aku tahu partai macam apakah partai kupu-kupu itu?” Hwesio daging anjing menghela napas panjang,

“Sebenarnya partai tsb merupakan suatu perguruan yg paling istimewa didalam dunia persilatan pada seratus tahun berselang, perguruan ini tidak bisa disebut partai lurus tapi juga bukan partai sesat. Adapun senjata andala dari anak muridnya adalah panji kupu- kupu, kepandaian silat mereka berasal dari kitab pusaka Thian goan bu boh!”

“Ilmu silatnya bersumber dari kitab pusaka Thian goan bu boh?” tanya Kho Beng dg perasaan terkesiap, “tapi menurut apa yg boanpwee serta Bu wi cianpwee ketahui, isi kitab pusaka Thian goan bu boh hanya terdiri dari ilmu pukulan serta ilmu pedang!”

“Wah, kalau soal itu mah aku tidak ketahui, semenjak kehilangan kitab pusaka Thian goan bu boh pada seratus tahun berselang, pihak partai kupu-kupu telah mengirimkan jagonya utk melakukan pencarian diseluruh dunia, dunia persilatan seakan-akan diobrak abrik tak karuan, jumlah korban yg tewas gara-gara peristiwa itu tak terhitung jumlahnya, keadaan waktu itu sungguh mengerikan sekali, pokoknya darah seperti menganak sungai dan mayat bertumpuk bagaikan bukit.

Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, setelah termangu- mangu berapa saat, dia bertanya kembali:

“Bagaimana selanjutnya?”

“Akhirnya peristiwa itu mengejutkan tiga dewa dunia persilatan, tampaknya ketiga tokoh sakti ini merasa tak senang melihat berlangsungnya peristiwa itu, maka mereka bertiga turun tangan bersama dan mengundang ketua dari partai kupu-kupu untuk bersua di tebing hati sedih...”

Setelah menghela napas panjang, terusnya:

“. dalam peristiwa tsb, boleh dibilang tiga dewa telah

kehabisan seluruh kekuatannya dan mati semua!”

“Kepandaian macam apakah yg diandalkan ketua partai kupu- kupu?” tanya Kho Beng keheranan.

“Tentu saja ilmu kupu-kupu terbang berpasangan, senjata kupu- kupu yg berada diujung senjatanya terbang melayang, satu berubah menjadi dua, dua berubah menjadi empat, dan lebih hebat lagi senjata tsb khusus dipakai utk menjebol pertahanan hawa khikang orang. Walaupun tiga dewa telah mengeluarkan segenap kemampuan silat yg dimilikinya, namun tak berhasil meloloskan diri dari ancaman tsb, dalam keadaan terdesak akhirnya mereka memutuskan utk beradu jiwa dg ketua partai kupu-kupu.

Akhirnya, ketua dari partai kupu-kupu juga tewas dibawah tebing hati sedih, sebaliknya tiga dewa pun kehilangan tenaga dalamnya sebesar lima puluh tahun hasil latihan, sejak kembali ke pulau Bong lay to, kekuatan tsb tak pernah pulih kembali, sejak pertai kupu- kupu mengundurkan diri dari dunia persilatan, dalam dunia kangouw pun tak pernah kelihatan lagi jejak dari tiga dewa itu!”

Kho Beng termenung berapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata:

“Apakah cianpwee yakin kalau dua orang kakek berbaju ungu tadi adalah anggota perguruan kupu-kupu?”

“Aku yakin penglihatanku tidak salah!” jawab hwesio daging anjing dg wajah serius.

Kembali Kho Beng termenung sejenak, lalu ujarnya dg nada bersungguh-sungguh:

“Boanpwee ingin memohon bantuan, apakah cianpwee bersedia utk mengabulkan?”

“Ada urusan apa?”

“Boanpwee ingin meninggalkan tempat ini selama berapa hari, tapi Bu wi cianpwee sedang mengobati lukanya sekarang dan membutuhkan satu bulan lamanya sebelum kembali seperti sedia kala. Walaupun Kim bersaudara adalah orang-orang yg setia kawan dan bisa dipercaya, namun berhubung tenaga dalam yg mereka miliki sangat terbatas, rasanya sulit utk menghadapi serangan musuh tangguh, sebaliknya keempat orang anak buahku sangat liar dan susah dikendalikan, oleh karena itu aku ingin mohon bantuan cianpwee agar bersedia menjaga ditempat ini selama satu bulan lamanya… ”

Mendengar perkataan tsb, si hwesio daging anjing segera tertawa terbahak-bahak:

“Haaaahh…..haaaah…..haaaah….kukira persoalan apa yg kau minta, kalau soal menjaga bu wi sudah sepantasnya kuterima, apalagi melindungi keselamatan rekan sendiri. Tapi kau hendak pergi kemana?”

“Terus terang saja cianpwee, boanpwee ingin secepatnya pegi mencari dewi In nu, ingin kuketahui manusia macam apakah dirinya itu?”

“Kau tahu berada dimana dia?” tanya si hwesio agak tertegun. “Bu wi cianpwe telah menerangkan alamatnya kepadaku, justru karena itu boanpwee harus secepatnya berangkat kesana, sebab aku takut ia sudah keburu melarikan diri lebih dulu.”

“Bagus, bagus sekali, orang-orang yg lain boleh kau bawa semua” kata hwesio daging anjing sambil tertawa, “tempat ini serahkan saja kepada aku si hwesio seorang, asal yg datang bukan tiga dewa, aku percaya masih mampu utk menghadapinya.”

“Kalau begitu boanpwe akan berangkat sekarang juga, kelewat banyak malah kurang leluasa, boanpwee hanya akan mengajak keempat orang anak buahku saja, sedang Kim bersaudara serta nona Chin biar tetap tinggal disini, paling tidak kan taysu membutuhkan juga beberapa orang pembantu!”

“Bagi ku sih tak ada usul lagi, terserahlah maumu!”

Maka Kho Beng pun masuk kembali kedalam gua utk berpamitan dg Kim bersaudara serta Chin Sian kun, lalu dg mengajak Rumang berempat segera berangkat eningalkan lembah berhati buddha, langsung berangkat menuju kebawah bukit seratus kaki.

oooOOooo

Fajar baru menyingsing.

Pintu gerbang sebuah gedung bangunan yg besar, terletak dilembah Thian sim kok bukit Cian san pelan-pelan dibuka lebar.

Dari balik pintu gerbang yg terpentang lebar, muncullah serombongan kereta kuda yg semuanya membawa barang yg bertumpuk-tumpuk, setiap kereta dikusiri oleh seorang lelaki berbaju hitam dan seorang dayang berbaju hijau.

Tapi anehnya mereka bukan turuni bukit, sebaliknya malah bergerak menuju keatas bukit.

Puluhan manusia itu berjalan dg mulut bungkam, malah berulang kali mereka berpaling serta memperhatikan bangunan perkampungan itu dg perasaan berat hati.

Menanti rombongan manusia itu makin lama semakin menjauh, mendadak berkobarlah api yg membakar perkampungan tsb, menyusul kemudian tampak dua orang nona muda berbajumerah berlarian kesana kemari dg membawa obor utk membakar bangunan disana.

Si nona yg berusia agak lanjut segera lari menuju kebalik pintu perkampungan setelah membakar bangunan tadi, mengawasi api yg berkobar sampai menjulang keangkasa, ia berkata sambil menghela napas panjang.

“Aaaai….sebuah bangunan rumah yg begitu megah, ternyata harus dimusnahkan dg begitu saja, kasihan dg jerih payah nona selama puluhan tahun, akhirnya mesti ludes dg begitu saja….”

Si nona berbaju merah yg berada dibelakangnya, segera menjawab sambil tertawa:

“Enci Kiok jiu, inilah yg disebut hilang yg lama datang yg baru, nona sendiri tidak merasa bersedih hati, buat apa kau berkeluh kesah seorang diri?”

“Bukan begitu maksudku,paling tidak sudah belasan tahun lamanya kita berdiam disini, siapa yg tak pedih hatinya melihat bangunan yg begitu megah harus musnah menjadi abu?

Haaai….Hong eng, masa kau tidak melihat nona sendiri sempat menyeka air matanya sewaktu pergi meninggalkan bangunan tsb semalam?”

Kembali Hong eng tertawa terkekeh-kekeh.

“Kalau aku mah tak akan risau, sebab memang kejadian ini apa boleh buat, dirisaukan juga tak ada gunanya!”

Sambil berkata ia segera menyulut pintu gerbang dg obor ditangannya, dalam waktu singkat pintu itupun terbakar dg hebatnya.

Menanti kobaran api sudah merata dan membakar semua benda yg dijumpainya, Kiok Jiu baru membuang obor tsb seraya berkata:

“Sekarang kita harus menanti disekitar sini, coba dilihat apa benar musuh kita akan datang. “

“Aku tak percaya kalau perhitungan nona bisa begitu tepat. “ kata Hong eng curiga.

“Perhitungan nona selalu tepat rasanya belum pernah meleset barang sekalipun, kecuali kedatangan si tua Bu wi yg amat tiba-tiba tempo hari, sehingga menimbulkan bibit bencana kebakaran yg berlangsung pada hari ini….. “

Sembari bercakap-cakap mereka berdua segera memasuki hutan yg lebat ditepi perkampunga yg terbakar itu.

Tak sampai sepenanak nasi kemudian, tiba-tiba dari bawah bukit sana muncul lima sosok bayangan manusia yg bergerak menuju keperkampungan itu dg kecepatan tinggi. Diantara kelima orang itu, seorang diantaranya adalah pemuda berbaju putih, sementara empat orang lainnya adalah lelaki kekar berwajah bengis.

Tatkala tiba didepan perkampungan dan menyaksikan api yg berkobar membakar seluruh bangunan, pemuda itu segera menghentak hentakkan kakinya ketanah sambil menghela napas panjang.

“Aaaai…kedatangan kita ternyata masih terlambat juga satu langkah ! “

Tak salah lagi, orang ini tak lain adalah Kho Beng yg datang melakukan penyelidikan setelah mendapatkan alamat tsb dari Bu wi lojin.

Agak tertegun Rumang berseru :

“ Asap tebal masih mengepul dari seluruh perkampungan, tampaknya kebakaran ini belum lama berlangsung, jangan-jangan sudah ada orang yg mendahului kita sampai disini dan bertarung sengit melawan mereka ? “

“Tidak mungkin ! “ Kho Beng menggeleng, “kecuali kita, orang yg mengetahui dewi In nu masih jarang sekali, sudah jelas pihak lawan telah menduga akan kedatangan kita mka sebelumnya membakar perkampungan ini lebih dulu.”

“Sayang……sayang……” gumam Hapukim. “Apanya yg sayang?” Molim bertanya.

“Padahal sekalipun hendak angkat kaki, bukan berarti seluruh perkampungan harus dibakar, coba kalau bangunan rumah tsb diberikan kepada kita…waaah….pasti nyaman sekali.”

“Apanya yg nyaman?” kata Molim tertawa, “terpencil sendirian ditengah bukit yg jauh dair keramaian manusia, andaikata benar- benar diberikan kepadaku pun, belum tentu akan kuterima?”

“Sudah, sudahlah, kalian jangan ngaco belo melulu” tukas Kho Beng segera. “Kini kita sudah kehilangan jejak, berarti selanjutnya kita harus membuang banyak waktu dan tenaga lagi utk menemukan jejak mereka………”

“Cukong, kami seperti mendengar ada suara manusia dari balik hutan sana!”

Dg perasaan terkejut Kho Beng memasang telinganya sambil memperhatikan dg seksama, betul jua, ia seperti mendengar ada suara orang tertawa. Cepat-cepat dia memberi tanda dg kedipan mata kepada anak buahnya, lalu berbisik:

“Memang mencurigakan sekali kehadiran anak gadis ditengah bukit yg sepi macam begini, mari kita lakukan pencarian secara pelan-pelan, tapi kalian jangan turun tangan secara gegabah, sebelum orang itu adalah musuh kita!”

Siapa tahu belum habis perkataan itu diucapkan, suara tertawa kedengaran makin lama semakinjelas, lalu tampaklah dua orang gadis munculkan diri dari balik hutan dan langsung mendekati Kho Beng.

Menyaksikan munculnya dara-dara muda itu, Kho Beng merasa agak tertegun, sebab bukan saja kedua orang itu memiliki paras muka yg cantik jelita, tindak tanduknya pun sangat wajar, seakan- akan disekitar sini sana tiada orang lain.

Agaknya kedua orang nona pun telah melihat Kho Beng serta rombongannya berada disitu, buru-buru mereka berseru:

“Aaaaah….tidak disangka ditempat ini masih ada orangnya, mari kita pergi kebagian lain saja!”

Cepat-cepat Kho Beng memburu maju kedepan dan memberi hormat, katanya:

“Bolehkah aku tahu siapa nama nona berdua?”

Sinona berbaju merah yg agak muda segera menjawab:

“Aku bernama Hong eng, dia adalah ciciku bernama Kiok jin!” “Ooooh, rupanya nona kiok jin serta nona hong eng, dimanakah

kalian berdiam?”

“Mau apa kau menanyakan alamat kami?” seru Hong eng sambil menjebikkan bibirnya.

“Nona salah paham, maksudku hanya ingin bertanya apakah kalian berdua sudah lama berdiam disini?”

Kiok jin manggut-manggut:

“Benar, kami memang berdiam didesa keluarga Li, dibelakang gunung sana, tapi utk apa kau menanyakan persoalan ini?”

“Kalau begitu tolong tanya, apakah nona kenal dg orang-orang yg semula berdiam didalam perkampungan yg terbakar sekarang?”

“Siapa bilang tak kenal?” sahut Hong eng sambil berkerut kening, “dlu kami malah sempat berdiam disini!”

Mencorong sinar terang dari balik mata Kho Beng sesudah mendengar perkataan itu, segera ujarnya: “Ooooh. bersediakah nona memberitahukan kepadaku siapa

nama majikan disini?”

“Sebetulnya tempat ini bernama Bwee wan, pemiliknya adalah seorang perempuan.”

“Apakah dia bernama dewi In nu?” desak Kho Beng lebih jauh. “Benar!”

“Apa sebabnya perkampungan ini sampai terbakar?”

“Konon, semalam telah datang beberapa orang penyamun yg mambakar ludes bangunan gedung disini!”

“Lantas bagaimana dg pemilik gedung ini?” tanya Kho Beng agak tertegun.

“Sudah pergi. Ia sudah pergi menjelang fajar tadi, malah mereka sempat meminjam tali temali dari kami.”

“Tahukah kalian kemana perginya?” Kiok jin menggeleng.

“Ia tidak mengatakan kepada kami, waktu itu kami pun belum bangun maka tak sempat utk bertanya padanya!”

“Lantas dari manakah nona berdua tahu kalau Bwee wan telah kedatangan kawanan perampok?” seru pemuda itu tercengang.

Kiok jin segera tertawa cekikikan.

“Kenapa kongcu begitu bodoh? Sebelum pergi mereka tentu akan membicarakan persoalan ini dg ayahku, api berkobar dg begitu besar, masa ayah kami tidak tahu?”

“Kemana mereka telah pergi?” “Kalau soal itu mah tidak kuketahui!”

Kho Beng benar-benar merasa amat kecewa, buru-buru dia datang kesitu namun hasilnya nihil, dia tak mengira begitu cepat musuhnya angkat kaki dari tempat tsb.

Sementara ia masih termenung memikirkan persoalan itu, Hong eng telah berkata lagi:

“Kongcu, kalau sudah tak ada urusan lagi, kami kakak beradik ingin mohon diri lebih dulu!”

“Terima kasih banyak atas petunjuk nona!” buru-buru Kho Beng menjura utk memberi hormat.

Hong eng tertawa, bersama Kiok jin segera emutar badan dan berjalan menuju kedalam hutan sana.

Dg termangu mangu Kho Beng hanya bisa mengawasi bayangan tubuh kedua orang gedis tsb lenyap dibalik pepohonan sana.

Tiba-tiba terdengar Rumang menjerit kaget...... Dg perasaan tertegun Hapukim segera menegur: “Engkoh Rumang, ada urusan apa?”

“Aku merasakan hawa sesat pada kedua orang gadis kecil tadi!” “Hawa sesat apa?” tanya Molim.