Kedele Maut Jilid 18

 
Jilid 18

Setelah paras muka dari si pedang geledek yg pernah termasyur dlm dunia persilatan ini berubah berapa kali, akhirnya ia berseru sambil tertawa tergelak:

“Tua bangka Bu wi, tak kusangka kartu as mu begitu banyak tapi jangan lupa aku Sin cu beng pun mempunyai pula selembar kartu as!”

“Oya? Kalau begitu akupun ingin mengetahui sampai dimanakah kemampuan yg kau miliki!”

Sambil tertawa dingin Sin Cu beng berkata:

“Rupanya kau lupa kalau Sin Cu beng masih memegang bocah she Kho ini! Selama dia masih berada ditanganku, kenapa aku mesti jeri dg kekuatanmu?”

Tiba-tiba ia mengulapkan tangannya kebelakang seraya berseru: “Gusur bocah she Kho itu keatas atap kereta!”

Dua orang dayang itu serentak menjepit tubuh Kho Beng dan dibawa melompat keatas atap kereta.

Bu wi lojin mendongak serta memandang wajah Kho Beng sekejap, lalu sambil tetap tersenyum, tanyanya:

“Sin Cu beng, apa yg hendak kau perbuat?” Dg suara dalam Sin Cu beng berkata:

“Aku akan menghitung sampai angka lima, bila kau masih belum menyerahkan kitab pusaka tsb kepadaku, terpaksa aku akan membunuh bocah ini lebih dulu kemudian baru berusaha menembusi kepungan!”

“Sin lote! Kau tak usah menghitung lagi. ” sela Bu wi lojin.

Sin Cu beng jadi kegirangan, segera tegurnya: “Apakah kau sudah berubah pikiran?”

“Aku tak pernah mau menyerah pada tuntutan orang, lote.

Silahkan kau bunuh bocah she Kho itu lebih dulu!” kata Bu wi lojin dingin.

Begitu perkataan tsb diutarakan, bukan saja Kho Beng jadi terperanjat, Sin Cu beng sendiri jadi tertegun, serunya kemudian sambil membelalakkan matanya: “Jadi kau telah memutuskan tak akan memperdulikan mati hidup bocah ini lagi?”

“Aku Cuma mendapat titipan dari sahabatku utk menyimpan kitab pusaka, tak pernah mendapat pesan utk melindungi keselamatan putranya, kalau kitab itu lenyap berarti aku telah mengingkari janji, sebaliknya kalau putranya yg tewas, hal ini hanya bisa dibilang takdir, apalagi selembar nyawanya bakal ditukar dg nyawa lote, dua puluh orang anak buahmu ditambah lagi dg dua orang dayang serta dua orang kusir, sekalipun Kho kongcu tewas diujung pedang, paling banter satu nyawa ditukar dg dua puluh empat nyawa. Hitung-hitung aku toh masih bisa mempertanggung jawabkan diri kepada Hui im cengcu yg telah tiada.”

Sin Cu beng jadi tertegun, tiba-tiba ia berpaling sambil serunya keras-keras:

“Kho Beng kau sudah dengar perkataannya?”

Dlm kaget dan tercengangnya Kho Beng mengawasi sekejap wajah Bu wi lojin yg nampak begitu tenang itu, mendadak ia teringat dg senyuman yg dilemparkan kepadanya tadi, rasanya dibalik senyuman tsb masih mengandung arti yg mendalam.

Satu ingatan melintas kedalam benaknya, setelah tertawa tergelak, segera katanya:

“Aku sudah mendengarkan semua perkataannya dg jelas, menurut anggapanku Bu wi cianpwee memang sudah sewajarnya berbuat demikian, sebab apalah artinya selembar nyawaku dibandingkan bila kitab Thian goan bu boh sampai terjatuh ketangan kaum manusia laknat yg bakal menimbulkan bencana bagi seluruh umat persilatan? Aku justru merasa berbangga hati krn selembar nyawaku bisa menyelamatkan beribu lembar nyawa, sehingga kalau dihitung-hitung kembali, kematianku ini berharga sekali!”

“Baik….”ucap Sin Cu beng tiba-tiba sambil tertawa dingin.

Sambil meloloskan pedang dari sarungnya, ia segera melompat naik keatas atap kereta itu…..

Agak berubah paras muka Bu wi lojin, segera bentaknya dg suara dalam dan berat:

“Kau sudah bosan hidup!” Sin Cu beng tertawa seram.

“He...he...he...aku rasa masih terlalu pagi utk membicarakan soal hidup mati diriku. ” Kemudian sesudah menempelkan mata pedangnya diatas tengkuk Kho Beng, kembali teriaknya keras-keras:

“Tujuanku sekarang adalah berusaha sekuat tenaga utk melindungi kereta ini meloloskan diri dari kepungan. ”

Tiba-tiba Bu wi lojin berseru pula ambil tertawa nyaring: “Sin Cu beng, silahkan saja kau mencoba menembusi

kepunganku, aku akan membuktikan perkataanku tadi!”

Dg sorot mata tajam Sin Cu beng memperhatikan sekejap keadaan disekeliling tempat itu, kemudian teriaknya keras-keras:

“Ayoh berangkat, kita terjang kearah utara!”

Lelaki berbaju hitam yg bertindak sebagai kusir itu mengiakan, tapi sebelum kereta dilarikan, mendadak terdengar Kiok bi berseru dg nada gugup:

“Tunggu sebentar!”

Lelaki berbaju hitam itu segera menarik kembali tali les kudanya seraya berpaling dg keheranan.

Dg penuh amarah Sin Cu beng ikut berseru:

“Nona, apa-apaan kamu ini?”

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, sahut dayang itu:  “Komandan Sin, bila kau sudah bosan hidup adalah urusanmu

sendiri, kalau budak mah belum bosan hidup.”

“Yaa betul” Kiok hoa menimpali, “komandan jangan lupa bahwa benda yg diinginkan dewi adalah kitab pusaka Thian goan bu boh, kini kitab pusaka itu belum didapatkan kembali, sekalipun kau bunuh orang she Kho tsb, bagaimana pula tanggung jawabmu nanti? Bila kita sampai turut berkorban, waaaah….rugi besar namanya!”

oooOOooo

Sin Cu beng termenung berapa saat kemudian tanyanya: “Lantas apa yg harus kita perbuat menurut pendapat nona

berdua?”

“Untuk menghindari jatuhnya korban dikedua belah pihak, aku rasa lebih baik kita bebaskan tawanan dan segera mengundurkan diri lebih dulu….”

Berubah paras muka Sin Cu beng setelah mendengar ucapan tsb, segera katanya:

“Tapi tua bangka celaka itu belum menyatakan kesediaannya utk menyerahkan kitab pusaka itu?” Setelah menghela napas panjang Kiok bi berkata:

“Selama bukit nan hijau kenapa kita kuatir kehabisan kayu bakar?

Sebaliknya kalau kita mesti beradu jiwa dg begitu saja, bukankah kita bakal mampus tanpa memberikan hasil?”

Dg gusar Sin Cu beng segera berseru:

“Kelihatannya kalian berdua enggan menuruti perkataanku dan lebih suka bertindak sendiri-sendiri?”

Kiok hoa segera tertawa terkekeh-kekeh,

“Budak hanya seorang pelayan berkedudukan sangat rendah, mana berani kutentang perintah dirimu sebagai seorang komandan? Cuma kami berharap agar komandan tdk mencampur baurkan tugas seseorang menjadi satu, budak Cuma mendapat perintah utk memindahkan tawanan ketempat lain, sehingga masalahnya berbeda sekali dg tugas komandan utk merebut kembali kitab pusaka itu….”

“Tutup mulut!” bentak Sin Cu beng tiba-tiba, “dalam situasi demikian, aku tdk perkenankan kehadiran dua orang pemimpin dalam satu kelompok kekuatan….”

Kiok bi yg berada disisinya buru-buru menimbrung:

“Komandan, adik Kiok hoa memang tak pandai bicara, harap kau jangan gusar padahal. ”

Tiba-tiba ia menempelkan bibirnya disisi telinga orang itu dan membisikkan sesuatu.

Melihat keadaan tsb, dalam hati kecil Kho Beng segera timbul kecurigaan, pikirnya:

“Jangan-jangan kedua orang dayang ini masihmempunyai rencana busuk lainnya?”

Terhadap mata pedang yg menempel diatas tengkuknya itu, ia sama sekali tdk merasa takut, sebab dia tahu si pedang geledek yg pernah termasyur dlm dunia persilatan dimasa lampau ini tak akan turun tangan keji terhadapnya.

Namun terhadap kasak kusuk kedua orang dayang tsb, ia justru merasakan hatinya tdk tentram.

Tampak Sin Cu beng mengerutkan dahinya dg marah, kemudian dg suara rendah bisiknya:

“Benarkah maksud Lengcu agar berbuat demikian?” Kiok hoa tertawa dingin, sahutnya:

“Berapa butir batok kepala sih yg budak miliki sehingga berani membohongi komandan? Bila komandan berbuat demikian maka bukan saja kau tak akan peroleh teguran, malah sebaliknya bakal melakukan suatu pahala besar!”

Sin Cu beng termenung berapa saat lamanya, mendadak ia berseru kpd Bu wi lojin:

“Hey situa Bu wi, bila aku Sin Cu beng bersedia membebaskan bocah ini, apakah kau pun dpt menjamin agar orang-orang kami meninggalkan tempat ini tanpa hadangan?”

Bu wi lojin tersenyum,

“Aaaah, tak nyana kau bisa berubah pikiran secepat itu, berapa kali sih selama hidupku aku pernah mengingkari janji? Asal kalian pun tdk berbuat permainan busuk terhadap kami, tentu saja akan kubiarkan kalian meninggalkan tempat ini dg selamat.”

Sin Cu beng segera manggut-manggut,

“Baiklah, selewatnya malam ini, aku akan meminta pelajaran lagi darimu….”

Seusai berkata dia menarik kembali pedangnya dan berkata kepada dua orang dayang itu sambil mengulapkan tangannya.

“Hantar orang itu kesana!”

“Tidak!” teriak Bu wi lojin keras-keras, “biar dia sendiri yg berjalan kemari!”

“Tapi loya…jalan darah kaku Kho kongcu sudah tertotok…”ujar Kiok bi sambil tertawa.

“Bebaskan dulu jalan darahnya, aku jamin dia pun tdk akan melancarkan serangan terhadap kalian!”

Kiok bi segera berpaling kearah Kho Beng, dan tanyanya sambil tersenyum,

“Kho kongcu, bersediakah kau berbuat begitu?” Kho Beng tertawa dingin.

“Setelah Bu wi cianpwee berkata begitu, utk sementara waktu akupun akan membebaskan kalian, tapi bila bertemu lagi lain waktu, he….he……”

Beberapa kali suara tawa dinginnya menyambung kata-kata yg belum selesai diucapkan.

Kiok bi tertawa terkekeh,

“Bila bersua lagi lain waktu, budak pasti akan mohon maaf kepada kongcu…!”

Dg cepat ia menepuk bebas jalan darah kaku ditubuh Kho Beng. Diam-diam pemuda itu mencoba utk mengatur pernapasannya,

ketika dijumpai hawa murninya berjalan lancar dan tiada gejala lain yg aneh, dia baru melayang turun dari atas atap kereta dan berjalan menuju kesisi Bu wi lojin.

“Apakah kau merasakan ada sesuatu yg tak beres?” Bu wi lojin segera bertanya dg cemas.

“Sama sekali tidak!” Kho Beng menggeleng.

Bu wi lojin segera mengulapkan tangannya keempat penjuru, menanti orang-orang yg berada disekeliling sana telah mengundurkan diri, ia baru mendongakkan kepalanya seraya berkata:

“Sin lote, sekarang kau boleh pergi dari sini!”

Dg wajah dingin Sin Cu eng segera menjura, kemudian mengajak dua puluhan orang anak buahnya dan kereta kuda itu berlalu darisana menuju kearah barat.

Tidak selang beberapa saat kemudian, bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Saat itulah Kho Beng baru bisa menghembuskan napas lega, baru saja ia akan mengucapkan terima kasih krn pertolongan tsb, tampak Bu wi lojin sedang mengawasi kearah dimana mush-musuhnya melenyapkan diri itu ambil menghembuskan napas panjang, lalu gumamnya: 

“Akhirnya bencana pada malam ini pun dapat dilalui…”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba badannya sudah roboh terjengkang keatas tanah.

Dg perasaan terkejut buru-buru Kho Beng membangunkan orang tua tsb seraya berseru:

“Cianpwee kenapa kau?”

Dimana jari tangannya menyentuh, ia merasakan pakaian yg dikenakan Bu wi lojin basah kuyup bagaikan orang tercebur keair.

Dg perasaan terkesiap ia segera mengawasi wajahnya, sekarang ia baru menemukan kalau wajah tokoh persilatan ini sudah berubah menjadi pucat kekuning-kuningan, napasnya lemah sekali.

“Aaaah. !”

Kho Beng benar-benar dibikin tertegun saking kagetnya oleh perubahan yg berlangsung secara mendadak ini sehingga tanpa terasa ia menjerit kaget.

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran seorang berkata sambil menghela napas: “Luka dalam yg diderita Bu wi cianpwee belum sembuh, sewaktu mendapat kabar kalau kau ketimpa musibah, ia menjadi kuatir sekali, mungkin lantaran kelewat banyak memeras otak akhirnya dia menjadi kehabisan tenaga. ”

Mendengar perkataan tsb, dg rasa terkejut Kho Beng mendongakkan kepalanya, ia makin terperanjat lagi setelah mengetahui bahwa orang tsb adalah Kim lotoa dari Kim kong sam pian.

Buru-buru Kim lotoa memberi hormat seraya berkata:

“Harap sauhiap jangan menaruh curiga kepadaku, yg penting sekarang adalah berusaha keras untuk menyadarkan kembali Bu wi cianpwee!”

Kho Beng manggut=manggut, sambil duduk bersila dan menarik napas panjang, kelima jari tangannya segera ditempelkan keatas jalan darah Mia bun hiat ditubuh Bu wi lojin, segulung tenaga murni pun segera meluncur masuk ketubuh orang tua itu dan menyebar kemana-mana.

Satu perputaran kemudian, Kho Beng sudah basah kuyup mandi keringat, tapi Bu wi lojin tetap jatuh tak sadarkan diri, sekalipun dengusan napasnya sudah makin bertambah kuat.

Maka tanpa segan-segan lagi Kho Beng mengerahkan segenap tenaga dalam yg dimilikinya utk menyembuhkan luka orang tua tsb, ditengah suasana yg amat kritis inilah, mendadak dari kejauahan sana kembali muncul beberapa sosok bayangan hitam yg meluncur datang dg cepatnya.

Kim lotoa yg pertama-tama menjumpai kehadiran bayangan manusia itu, dg perasan terkejut ia segera meloloskan ruyungnya sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

Dlm keadaan seperti ini, dia tak berani mengusik ketenangan Kho Beng, sementara hatinya gelisah sekali demi memikirkan keselamatan Bu wi lojin dan Kho Beng.

Menunggu bayangan manusia itu sudah makin dekat dan diketahui bahwa mereka adalah saudara-saudaranya sendiri bersama Chin sian kun sekalian, dia baru menghembuskan napas panjang, cepat-cepat tangannya digoyangkan berulang kali melarang mereka berisik.

Betapa gembiranya Chin sian kun setelah menjumpai Kho Beng berada pula disana, Kim lotoa segera bertanya dg suara lirih: “Eeei...darimana kalian tahu kalau kami berada disini?” “Penggeledahan kami dirumah makan Poan gwat kie tdk

memberikan hasil apa-apa” kata Chin sian kun, “kemudian kami pulang mencarimu, tapi diketahui kalianpun sudah pergi dari sana, maka kami segera keluar kota utk mencarimu disekitar sini. ”

Sementara mereka masih berbicara, tiba-tiba terdengar Kho Beng menghembuskan napas panjang, seraya bertanya:

“Cianpwee, bagaimana perasaanmu sekarang?”

Mendengar pertanyaan itu semua orang segera berpaling, benar juga ternyata Bu wi lojin sudah membuka matanya kembali, sementara Kho Beng yg duduk bersila disampingnya menghembuskan napas panjang, pakaiannya telah basah pula oleh keringat.

Bu wi lojin menghela napas pelan, katanya kemudian: “Walaupun aku telah pulih kembali kesadarannya, namun masih

susah bergerak, tolong Kim bersaudara memayangku dg segera dan secepatnya meninggalkan tempat ini. ”

Akan tetapi sewaktu dia menjumpai kehadiran Ruamng sekalian berempat, kembali wajahnya nampak tertegun, sambil mengawasi Kho Beng segera tanyanya:

“Siapakah orang-orang itu?”

“Keempat orang ini adalah anak buah boanpwee ” buru-buru

Kho Beng menerangkan.

Lalu kepada Rumang sekalian katanya:

“Hayo cepat kalian menjumpai Bu wi cianpwee!”

Siapa tahu keempat orang itu sama sekali tidak bergerak dari posisi semula, malah Hapukim segera berseru sambil tertawa dingin:

“Yang kami sanjung serta hormati adalah seorang enghiong atau lelaki perkasa, bukan seorang kakek tua bangka yg mati tidak, hidup pun susah.”

Tak terlukiskan rasa amarah Kho Beng setelah mendengar perkataan itu, tapi sebelum ia sempat berbicara, Mokim telah berkata pula dg suara dingin,

“Cukong, kami benar-benar mulai mencurigai ketidak beresan otakmu, tadi kau berusaha menghindari orang-orang dari kelompok ini, tapi sekarang malah berusaha menyelamatkan tua bangka ini, sebenarnya permainan apa sih yg sedang kau perbuat?”

Seandainya Kho Beng tdk merasa lemah sehingga sama sekali tak bertenaga, ingin benar dia menggaplok orang-orang tsb. Dalam pada itu Bu wi lojin telah berkata pula sambil mengernyitkan alisnya:

“Bila didengar dari nada pembicaraannya, aku rasa orang-orang ini bukan penduduk asli dari daratan tionggoan, hubungan kalian pun seperti majikan dg pembantu tapi seperti juga bukan, sebetulnya hubungan apasih yg terjalian diantara kalian?”

“Aaaai. tak akan habis utk menerangkan persoalan ini dg

sepatah dua patah kata. ” ujar Kho Beng sambil menghela napas

panjang.

Mendengar itu Bu wi lojin segera menukas,

“Kalau memang tak akan habis dibicarakan dlm waktu singkat, sekurangnya kita harus meninggalkan tempat ini selekasnya!”

Sembari berkata ia segera memberi tanda kepada Kim kong sam pian.

Kim lotoa dan Kim loji segera memayang tubuh orang tua itu, lalu tanyanya:

“Cianpwee, apakah kita segera pulang kepenginapan?” Bu wi lojin menggeleng kepala,

“Walaupun musuh tangguh telah mundur, namun sebelum berhasil merebut kembali kitab pusaka Thian goan bu boh, tak mungkin mereka akan lepas tangan dg begitu saja. Apalagi didalam kota terdapat banyak sekali komplotannya, tempat itu tak bakal aman.

Lebih baik kita berjalan kearah barat sejauh tiga puluh li, ditepi bukit karang terdapat sebuah gua bekas tempat tinggal sahabatku, nah sekarang tolonglah kalian menghantarkan aku kesana….”

Sementara itu, Molim bersaudara sekalian yg mendengar tentang kitab pusaka Thian goaan bu boh, tiba-tiba hatinya tergerak dan saling bertukar pandangan sekejap.

Sementara itu Kim lotoa telah membangunkan Bu wi lojin dan siap berangkat meninggalkan tempat itu.”

Mendadak Kho Beng berseru dg cemas:

“Bukankah tadi terdapat begitu banyak cianpwee yg membantu kita, mengapa kita tdk minta bantuan mereka lagi?”

Mendengar perkataan tsb, Bu wi lojin segera tersenyum. “Oooh…itu mah Cuma siasatku utk menakuti mereka, padahal

bayangan manusia tadi Cuma orang-orangan dari rumput yg dibuat Kim tayhiap, masa hingga sekarangpun belum kau ketahui?” Tapi…mana mungkin orang-orangan dari rumput bisa berbicara….”

Sambil tertawa Kim lotoa berkata:

“Sesungguhnya yg berbicara adalah aku, sedang bagaimana nada suaranya dan apa yg mesti kuucapkan merupakan ajaran dari cianpwee sebelumnya, yaa...satu orang harus berperan tiga manusia yg berbeda-beda, hampir saja kakiku terasa mau patah.”

“Oooh...rupanya hanya sebuah siasat tentara rumput” kata Kho Beng sambil tertawa geli, “andaikata siasat tsb sampai ketahuan komandan Sin, bukankah keadaan jadi lebih berbahaya?”

Bu wi lojin tertawa pula, katanya:

“Selama hidup aku selalu bertindak sangat hati-hati, sekalipun Sin Cu beng orangnya cerdik dan seksama, tetap saja ia tak bakal menyangka kalau aku bertindak begitu berani, oleh sebab itulah kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, sebab aku takut dia akan balik lagi kemari. ”

Mendengar penjelasan tsb, Kho Beng tak berani ayal lagi, ia segera beranjak meninggalkan tempat tsb.

Maka berangkatlah kesembilan orang itu menuju ketebing seratus kaki.

Ditengah bukit-bukit karang yg terjal, terdapat sebuah lembah kecil.

Rerumputan nan hijau dan aneka macam bunga tumbuh disekitar lembah, diujung lembah tadi terdapat sebuah gua yg besar.

Waktu itu pintu gua tertutup rapat-rapat, Bu wi lojin sedang duduk diatas sebuah pembaringan sambil mengatur pernapasan, sedangkan Kho Beng menanti disisinya dg perasaan gelisah dan tak tenang.

Walaupun sejak tiba digua tsb waktu baru lewat setengah jam, namun bagi perasaan Kho Beng seperti sudah setengah tahun lamanya, sebab ia merasa banyak persoalan yg hendak diucapkan keluar, tentu saja ia pun tahu Bu wi lojin pun mempunyai banyak persoalan yg hendak disampaikan kepadanya.

Baru saja dia hendak menuju kepintu gua, tiba-tiba terdengar Bu wi lojin menghembuskan napas panjang sambil berseru:

“Nak, kemarilah!”

Dg girang Kho Beng membalikkan badannya sambil memburu kesamping pembaringan bata, tampak olehnya walaupun Bu wi lojin telah bersemedi sekian waktu namun sinar matanya tetap sama dan sama sekali tak bersinar, hal ini tentu saja membuat hatinya amat gelisah.

“Cianpwee, apakah kau merasa agak baikan?” ia bertanya. Bu wi lojin manggut-manggut.

“Yaa..badanku memang terasa segar kembali mungkin utk sementara waktu bukan menjadi masalah lagi, aaai….tapi untuk mengembalikan kekuatanku seperti sedia kala, mungkin paling tidak harus bersemedi lagi selama sepuluh tahun, padahal mampkah aku hidup selama sepuluh tahun lagi masih menjadi suatu pertanyaan besar. “

“Siapa sih yg telah melukai cianpwee?” tanya Kho Beng dg wajah berubah karena terperanjat.

“Dewi In nu!”

“Apakah dewi In nu adalah perempuan yg menyamar sebagai kuasa perkampungan Hui im ceng dimasa lalu kemudian mengambil kitab pusaka dari cianpwee?”

Bu wi lojin manggut-manggut.

Dg perasaan yg amat bergetar ia berseru :

“Begitu lihaykah perempuan siluman itu?” Dg sedih ia menghela napas, katanya:

“Aaaai, dia adalah musuh paling tangguh yg belum pernah kujumpai selama hidup, pukulan Thian goan eng nya hampir saja membuyarkan tenaga latihanku selama empat puluh tahun!”

“Thian goan eng?” tanya Kho Beng dg perasaan terperanjat. Kembali Bu wi lojin menghela napas.

“Ilmu pukulan tsb hanya merupakan salah satu macam ilmu yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh ”

“Jadi maksud cianpwee, siluman perempuan itu telah berhasil mempelajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh?” tanya Kho Beng dg wajah berubah.

Bu wi lojin manggut-manggut.

“ Untung saja kitab pusaka sakti Thian goan bu boh mengandung ilmu silat yg sangat mendalam dan cukup rumit, menurut perkiraanku dia baru bisa menyelami setengah dari isi kitab tsb, kalau bukan begitu tak nanti dia akan mengirim begitu banyak jago dan berusaha utk merebutnya kembali ! “

Kembali Kho Beng merasa amat terperanjat, hanya mempelajari setengah dari kitab pusaka itu pun sudah begitu lihai, andaikata Bu wi lojin tdk berjuang mati-matian utk merampas sebagian dari kitab tsb sehingga perempuan siluman itu berhasil mempelajari seluruh isi kitab itu, bukankah kekuatannya tiada tandingan lagi didunia ini?

Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi sambil menghela napas:

“Aku benar-benar merasa malu terhadap arwah ayahmu dialam baka. ”

“Cianpwee, kau sudah kelewat banyak melepaskan budi kepada boanpwee, harap kau jangan berkata begitu, apa yg cianpwee lakukan selama ini sudah membuat boanpwee tak tentram.”

Bu wi lojin menggoyangkan tangannya berulang kali, lalau berkata:

“Walaupun aku sudah berusaha memeras tenaga dan pikiran bahkan pertaruhkan pula jiwa tuaku, alhasil hanya separuh buku yg berhasil kurebut kembali.”

“Separuh buku. ?” Kho Beng berseru tertahan.

Bu wi lojin tersenyum,

“Biarpun kitab ini sudah tak utuh, namun aku yakin dewi In nu tak bakal bisa menguasai ilmu silat maha sakti lagi, bagimu pun hal ini tak akan mendatangkan kerugian.”

Sambil berkata ia segera membuka buntalannya dan mengeluarkan dua lembar kulit kambing lalu diletakkan diatas lututnya.

“Aku tidak mengerti…” Kho Beng berbisik kebingungan.

Sambil menunjuk kearah kulit kambing itu, Bu wi lojin berkata: “Coba kau perhatikan dulu lukisan diatas kertas ini, kemudian

dengarkan penjelasanku maka kau segera akan mengerti.”

Dg seksama Kho Beng segera memperhatikan kedua lembar kulit kambing itu, pada lembaran pertama berlukiskan sebuah gambar Pet kwa besar, didalam pat kwa bersila seseorang dg sepasang tangan menempel pada Im dan Yang.

Yang aneh adalah letak atau posisi pat kwa tsb ternyata tak karuan bentuknya, walaupun sepasang tangan orang yg dilukis ditengah menempel pada posisi Im serta Yang namun justru terlukis pula beberapa bekas telapak yg berpencar disekeliling gambar pat kwa. 

Pada lembaran kedua pun keadaannya tak jauh berbeda, hanya posisi pat kwanya berubah lagi, sedang gambar orangnya dari posisi duduk menjadi berdiri, disitu pun tertera bekas bekas telapak yg terpencar.

Terdengar Bu wi lojin berkata:

“Kitab pusaka Thian goan bu boh seluruhnya terdiri dari enam halaman, dua lembar pertama adalah kedua lembar gambar ini, sedang empat lembar berikut adalah penjelasan. Menurut pendapatmu, jika kau kehilangan kedua gambar ini, mampukah kau meneruskan latihanmu?”

Kho Beng termenung sebentar, lalu katanya:

“Apa bila seseorang memiliki daya ingatan yg kuat, mungkin saja ia bisa mengingat sebagian diantaranya.”

Bu wi lojin tersenyum,

“Benar, oleh karena kau belum memahami rahasia dari kedua lembar gambar ini maka kau bisa berpendapat demikian, memang jurus silat pelbagai aliran lain memisahkan antara tenaga dalam serta perubahan jurus, berbeda sekali dg ilmu silat dari Thian goan bu boh, setiap jurus silatnya harus disesuaikan dg posisi langkah dan urutan nadi yg tercantum dalam gambar keterangan ini, sebab bila salah sedikit saja, bukan Cuma akan terjadi reaksi yg luar biasa, malah bisa jadi akan menderita jalan api menuju neraka dan kehilangan seluruh tenaga dalamnya.”

Dg perasaan terkejut bercampur keheranan Kho Beng berseru: “Kalau begitu utk mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka Thian

goan bu boh, seseorang harus membutuhkan petunjuk dari kedua lembar gambar ini. ?”

“Yaa. kalau pelajaran ilmu silat bisa dihapalkan maka kedua

lembar gambar tsb mustahil dihapalkan dg begitu saja, karena orang harus menyelaminya satu persatu menurut kemajuan ilmu yg dicapai, apalagi kalau mengandalkan daya ingat saja, resikonya benar-benar kelewat besar. selain itu akupun pernah mendapat

petunjuk dari ayahmu utk membuatkan tujuh lembar salinan buat ketujuh partai besar, karenanya aku yakin masih bisa menghapalkan kembali isi dari halaman terakhir kitab pusaka ini ”

Belum habis ia berkata, dg gelisah Kho Beng telah berseru: “Oya, tentang soal ini aku memang ingin bertanya, setelah

cianpwee selesai menyalin kitab pusaka tsb, apakah pihak tujuh partai besar telah menerima salinannya?”

“Belum” Bu wi lojin menggeleng, “aku sendiri pun tak habis mengerti kenapa ayahmu waktu itu tdk menghargai kitab pusaka tsb, sedang tujuh partai besar pun tdk banyak bertanya, hingga sekarang aku belum memahami apa sebabnya.”

Kho Beng segera menghela napas,

“Aaai, kalau begitu dugaanku tak meleset, jelas peristiwa ini merupakan suatu rencana busuk yg paling sempurna.”

“Rencana busuk apa?” tanya Bu wi lojin terkejut.

“Tahukan cianpwee kenapa ketua dari tujuh partai besar tdk mengambil salinan kitab pusaka itu? Sesungguhnya mereka bukannya enggan menerima salinan itu, tapi ditengah jalan telah bertemu dg seseorang yg menyaru sebagai locianpwee dan berlagak tidak mengetahui persoalan ini, akibatnya para ketua pertai menjadi gusar, mereka mengira ayahku mempermainkan mereka, maka kawanan jago yg kecewa pun berbondong-bondong datang keperkampungan Hui im ceng yg berakibat terjadinya peristiwa berdarah itu.”

Berubah wajah Bu wi lojin setelah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa:

“Benar, benar sebuah rencana busuk yg amat keji, jadi maksudmu dalangny adalah orang yg menipu kitab dariku yaitu dewi In nu?”

“Benar!” jawab Kho Beng dg rasa benci.

Bu wi lojin terbatuk-batuk lalu secara tiba-tiba memuntahkan segumpal darah kental.....

Bu wi lojin memejamkan matanya sejenak, lalu katanya sambil menggeleng:

“Waktu sudah amat mendesak, lebih baik kau segera  mempelajari ilmu sakti yg tercantum dlm kitab pusaka Thian goan bu boh, hanya dg menguasai ilmu sakti inilah kau baru bisa membalas dendam serta menumpas musuh-musuhmu!”

“Tapi luka yg diderita cianpwee lebih penting lagi artinya. ”

buru-buru Kho Beng berseru. Bu wi lojin tertawa getir.

“Aku tak bakal mati, dg luka dalam yg kuderita sekarang, paling tidak membutuhkan waktu semedi selama sepuluh tahun utk bisa memulihkan kembali seperti sedia kala, tapi bila kau mampu manguasai ilmu sakti dari Thian goan bu boh tsb dalam setengah bulan mendatang dan kemudian kau bersedia membantuku, niscaya tenaga dalamku bisa dipulihkan kembali seperti sedia kala cukup dalam waktu satu tahun saja!” Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya dg wajah serius:

“Tapi dalam lima belas hari berikut tak boleh ada orang yg mengusik atau pun mengganggu ketenangan kita, kalau tidak bukan saja pikiranmu akan bercabang sehingga tak sanggup konsentrasi penuh, bagi keadaan luka yg kuderita pun akan semakin bertambah parah, karenanya lebih baik kau atur dulu suatu penjagaan yg ketat dari orang-orangmu yg diluar, setelah itu aku akan mewariskan semua teori ilmu sakti tsb kepadamu utk dipelajari!”

Kho Beng mengiakan dan buru-buru keluar dari ruangan tsb. Sementara itu Rumang beserta Hapukim serta dua bersaudara

Mo yg berkelompok menjadi satu, kemudian Kim kong sam pian serta si Walet terbang berwajah ganda yg mengelompok disudut lain, sedang menunggu dg perasaan gelisah dan kesal.

Begitu melihat Kho Beng munculkan diri dg semangat yg berkobar mereka segera maju menyongsong.

Kho Beng menutup dulu pintu gua rapat-rapat, lalu memberi tanda kepada semua orang agar duduk, sesudah itu baru katanya:

“Luka dalam yg diderita Bu wi cianpwee sangat parah, ia membutuhkan waktu utk bersemedi dg tenang tanpa gangguan, sementara aku sendiri pun akan memanfaatkan kesempatan selama beberapa hari utk mempelajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab thian goan bu boh, oleh sebab itu selama lima belas hari berikut kami tak boleh mengalami gangguan apapun!”

“Soal itu tak usah Kho sauhiap kuatirkan” buru-buru Chin sian kun berseru sambil tertawa, “biar kami yg akan mengawal keselamatan kalian selama setengah bulan mendatang!”

“Memang begitu maksudku, kalau toh nona Chin telah ebrkata demikian, aku sendiri pun tak perlu sungkan-sungkan lagi dg bantuan saudara sekalian diwaktu susah, dihari-hari sukses nanti pasti akan kubalas budi kebaikan kalian ini!”

“Sauhiap, apa-apan kamu berkata begitu” seru Kim lotoa, “kami sangat kagum atas kegagahan serta kebijaksanaan kongcu, sudah sewajarnya bila teman saling membantu, kau jangan salah mengira, kami bukan manusia yg kemaruk akan harta ataupun kedudukan, kongcu, bila kau ingin mengataka sesuatu, katakan saja terus terang!” Kho Beng merasa sangat terharu, buru-buru dia mengucapkan terima kasih, tapi teringat bagaimana caranya membagi tugas diantara mereka semua kembali ia menjadi sangsi.

Dia merasa tak punya hubungan ataupun persahabatan yg cukup akrab dg orang-orang tsb, padahal keadaan tidak memberi kesempatan utk berpikir lebih panjang, meski perkataan Kim kong sam pian enak sekali didengar, namun berdiri pada posisinya sekarang bagaimanapun jua dia mesti berjaga-jaga terhadap segala sesuatu yg mungkin saja bakal terjadi.

Sebaliknya terhadap Rumang sekalian mereka tak lebih hanya orang-orang liar yg ditaklukan dan ditampung si unta sakti berpunggung baja dg maksud membantunya jelas sudah diketahui keikut sertaan mereka dalam rombongannya tak lain krn masalah kitab pusaka Thian goan bu boh, karenanya terhadap orang-orang semacam ini, dia tak bisa menaruh kepercayaan penuh.

Berada dlm keadaan seperti ini, bagaimana caranya utk mengatur penjagaan?

Sementara dia masih termenung dan tak tahu bagaimana memutuskan, tiba-tiba Chin sian kun berkata sambil tertawa:

“Sauhiap, masih ada persoalan yg menyulitkan dirimu? Mengapa tdk dikemukakan saja?”

“Ooooh…..tidak ada” buru-buru Kho Beng menggeleng, “aku sedang berpikir, bagaimana cara pembagian tugas?”

Chin sian kun memang seorang gadis yg pintar dan teliti, dari perkataan pemuda itu, dia segera dpt memahami kerisauan dari Kho Beng, maka sambil memutar biji matanya dia berkata:

“Apabila sauhiap dpt mempercayai perkataanku, aku ingin sekali mengajukan sebuah usul!”

“Bagus sekali kalau begitu, silahkan nona Chin katakan!” “Gua ini persis menghadap kemulut lembah, andaikata benar-

benar ada musuh tangguh yg menyerbu kemari, maka pertarungan yg berkobar pasti akan mengganggu ketenangan dlm gua, oleh krn itu aku pikir lebih baik kita membagi orang-orang kita menjadi dua rombongan, rombongan pertama menjaga mulut lembah dan rombongan kedua menjaga didalam dua, kedua kelompok kekuatan ini harus saling bantu membantu.”

Kho Beng segera manggut-manggut.

“Ehmmm…cara membagi seperti ini memang cocok sekali dg jalan pemikiranku!” Tapi persoalan baru kembali muncul, siapa yg mendapat tugas menjaga dimulut lembah dan siapa didalam gua?

Kelompokdari Rumang sekalian tak bisa dipercaya seratus persen, sedangkan Kim kong sam pian meski pernah membantu, tapi susah utk diramalkan apakah kedatangan mereka bukan disebabkan kitab pusaka Thian goan bu boh.

Sementara dia merasa kesulitan utk mengambil keputusan, Chin sian kun kembali berkata:

“Bila sauhiap bersedia menerima usul dariku, biarlah Kim bersaudara serta aku menjaga didalam gua, sedangkan keempat orang saudara itu menjaga diluar gua…”

Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, Molim telah berseru dg suara dingin:

“Kami keberatan!”

“Kenapa keberatan?” tegur Chin sian kun tertegun. Sambil tertawa dingin Molim berseru:

“Siapa yg tahu rencana busuk apa yg sedang kau persiapkan dg cara mengatur seperti itu? Kami empat bersaudara mempunyai tugas melindungi keselamatan majikan, karena itu tugas menjaga tak akan kuserahkan kepada orang lain.”

Chin sian kun segera tertawa terkekeh-kekeh: “He….he….he…sebenarnya perkataan kalian berempat memang

masuk diakal, tapi usul yg sengaja kuucapkan barusan pun mempunyai dasar-dasar alasan yg kuat, karena kenyataan mengharuskan aku berbuat begitu!”

“Kenyataan bagaimana maksudmu?” sela Molim dingin. “Tolong tanya apakah kalian berempat bisa memasak nasi,

membuat sayur….?”

Mokim agak tertegun, lalu sahutnya tergagap: “Soal ini………”

Sambil tertawa Chin sian kun berkata lebih jauh,

“Kuali serta peralatan memasak berada didalam goa, apakah kalian menyuruh aku membuat tungku lagi diluar gua? Bagaimana seandainya hujan turun secara tiba-tiba? Apalagi aku adalah seorang wanita, masa seorang perempuan disuruh tidur ditempat terbuka?”

Dua bersaudara Mo jadi terbelalak dg wajah melongo mereka terbungkam seketika itu juga.

Kembali Chin sian kun berkata: “Oleh sebab itu aku harus berdiam didalam gua, karena aku berada dalam gua maka ketiga toako dari keluarga Kim secara otomatis menjaga didalam gua pula. Aku lihat kalian berempat lebih baik mengalah saja dg menjaga diluar lembah, sementara kebutuhan sehari-hari akan kupersiapkan, Nah, bagaimana menurut pendapat sauhiap?”

Kho Beng berpikir sebentar, dia merasa cara tsb memang rasanya paling baik, maka sahutnya kemudian sambil manggut-manggut:

“Kalau toh nona Chin telah berkata demikian, baiklah kita putuskan begitu saja. Mulai sekarang kuminta kalian sama-sama menjaga pada posnya masing-masing, budi kebaikan kalian biar kubalas lima belas hari kemudian disaat latihanku telah selesai.”

Setelah mendengar perkataan itu, dua bersaudara Mo sekalian segera mengerti kalau keputusan tak mngkin bisa dibantah lagi, setelah melotot sekejap kearah Chin sian kun dg gemas, mereka saling bertukar pandang sekejap dan mengundurkan diri dari gua.

Setibanya dimulut gua, Molim segera berseru dg suara dingin: “Nah saudara Rumang, saudara Hapukim, kalian sudah melihat

dg jelas?”

Rumang bertanya agak tercengang, “Apa yg sudah terlihat dg jelas?”

“Perempuan sialan itu sengaja mengatur secara tak adil, dg menyingkirkan kita keluar lembah, jelas sudah kalau dia tidak mempunyai maksud baik.”

Rumang tdk mengerti soal akal-akalan, dg wajah tertegun kembali serunya:

“Apa bedanya menjaga didalam ataupun diluar gua? Toh sama- sama menjaganya. ”

Sambil tertawa dingin Mokim segera menukas,

“Saudara Rumang, mungkin kau sudah lupa apa maksud kedatangan kita kemari? Mengapa kita bersedia diperintah si bocah muda itu?”

“Tentu saja demi ilmu silat maha sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh!”

“Kalau toh belum melupakannya, apakah kau tak pernah mempertimbangkan bahwa orang lain pun kemungkinan besar sama seperti kita, kedatangannya membawa suatu tujuan tertentu?”

Berubah paras muka Rumang, dg bahasa daerahnya dia langsung mengumpat. “Perempuan bajingan, rupanya dia memang sengaja meninyingkirkan kita keluar lembah agar mereka mempunyai kesempatan utk turun tangan terlebih dahulu?”

“Ehmm....tak nyana kau sudah mengerti sekarang...” Dg rasa mendongkol, Hapukim berseru pula :

“Kalau begitu lebih baik kita tantang mereka dan segera menghabisi orang itu, kita serbu sekarang saja, siapa yg kalah toh, ia akan kabur sendiri dari sini!”

Habis berkata dia segera bermaksud menyerbu kedalam. Tapi Mokim segera menarik tangannya seraya berseru:

“Saudara Hapukim, buat apa kau mesti terburu-buru? Sekarang meski kita dapat mengusir mereka dari situ tapi apalah gunanya buat kita?”

“Lalu kita mesti menunggu sampai kapan?” tanya Hapukim setelah termangu-mangu sejenak.

Molim tertawa dingin.

“Sekarang kita tak usah menunjukkan tanda-tanda yg mencurigakan dulu, toh kesempatan kita masih sangat banyak sekali. He...he. apalagi keadaan sudah kritis, aku yakin dia pasti

akan menyerahkan kitab pusaka tsb kepada kita!”

Maka mereka berempat secara diam-diam mengadakan perundingan rahasia, utk membahas persoalan tsb.

Pada saat yg sama, Kim kong sam pian serta Chin sian kun yg berada didalam gua pun sedang melangsungkan perundingan rahasia, hanya saja yg dirundingkan mereka adalah bagaimana caranya mencegah serta menghadapi serangan penghianatan dari keempat orang asing yg menjaga dimulut lembah.

Perubahan wajah Molim sekalian ketika mengundurkan diri dari gua tadi telah meningkatkan kewaspadaan Chin sian kun sekalian.

Kho Beng sendiri telah kembali kedalam gua setelah selesai melakukan pembagian tugas tadi, pintu gua segera ditutup rapat- rapat dan putuslah hubungan antara luar dan dalam gua bagaikan dunia yg terpisah.

Waktu pun berlangsung hari demi hari dg tenang, ketenangan tsb sesungguhnya hanya saat tenang menjelang tibanya badai besar, hanya saja tak ada yg bisa meramalkan kapan badai yg dahsyat itu akan mulai menyerang....

Keadaan seperti itu berlangsung selama tiga hari lamanya. Pada keesokan hari keempat, ketika Chin sian kun melihat ransum yg dibawa masing-masing orang sudah habis termakan, dia pun membawa kantung kain dan keranjang bambu turun gunung utk membeli bahan makanan.

Sebelum berangkat, dia berpesan dulu kepada Kim kong sam pian agar lebih berhati-hati, ketika tiba diluar lembah, ia menyaksikan Rumang sekalian sedang bergurau dalam sebuah gubuk mesra yg kelihatan masih baru, maka dia pun menyapa orang-orang tsb sambil tertawa, kemudian meneruskan perjalanannya menuruni bukit.

Siapa tahu belum mencapai tengah jalan, mendadak ia melihat ada seseorang berjalan mendekat dg langkah sempoyongan, dg rasa terkejut nona itu menyelinap kebelakang sebuah batu besar dan bersembunyi disitu.

Kehadiran seseorang ditengah pegunungan yg terpencil dan sepi seperti apa yg terjadi hari ini membuat kewaspadaan Chin sian kun segera ditingkatkan.

Ia tahu dewasa ini Kho Beng sudah menjadi orang yg dicari-cari seluruh umat persilatan, ditambah lagi usaha dewi In nu yg berusaha utk mendapatkan kembali kitab pusakanya yg hilang, maka apabila ada musuh yg mengetahui tempat persembunyian mereka sehingga mereka mengadakan serbuan secara besar-besaran, akibatnya pasti susah dibayangkan lagi.

Itulah sebabnya sebelum dia melihat dg jelas wajah orang itu, ia tak berani bertindak secara gegabah, dia ingin menyelidiki dulu asal usul lawannya sebelum bertindak lebih jauh.

Sementara itu bayangan manusia tadi makin lama makin mendekat, malah sambil berjalan orang itu memperdengarkan suara nyanyian kecil.

Ketika Chin sian kun mencoba utk memperhatikan dg lebih seksama, ternyata orang it adalah seorang hwesio.

Hwesio itu menggunakan jubah pendeta yg sudah amat dekil, warnanya sudah luntur hingga semuanya kelihatan berwarna gelap, dia membawa sebuah buli-buli besar, tangan kirinya membawa sebuah tongkat bambu, sedang kan tangan kanannya membawa sebuah bungkusan.  Ia memiliki wajah bulat dg mata yg merah krn mabuk, jalannya sempoyongan, wajah maupun bentuk tubuhnya yg begitu dekil dan menjijikkan membuat siapapun pasti akan tumpah bila melihatnya.

Setelah melihat dg jelas keadaan hwesio tsb, Chin sian kun merasa amat kesal dan murung, ia tak tahu darimana datangnya pendeta liar tsb? Dimana orang itu justru muncul disitu dalam keadaan seperti ini?

Terdengar hwesio itu membawakan lagu senandung lirih mengiringi tiap derap langkahnya:

“Langit tak berawan, cuaca cerah,

Ada arak ada daging, tak bakal kelaparan,

Kantong kosong tanpa sepeserpun, tak takut merampok. Orang-orang gagah perkasa, tak bermaksud jahat.

Kau tidak mengganggu aku, akupun tidak menggenggumu.

……………………..”

Nyanyi punya nyanyi, orang itu sudah berjalan melewati batu karang.

Mendadak ia berhenti berjalan, lagu senandung pun ikut berhenti dibawakan.

Tampak hwesio itu mendengus beberapa kali disekitar sana, kemudian gumamnya:

“Aneh, aku sihwesio telah bertemu dg memedi?aukah aku sudah ketimpa rejeki?”

Tercekat perasaan Chin sian kun melihat tingkah laku pendeta itu, pikirnya:

“Jangan-jangan dia sudah mengetahui kalau aku bersembunyi dibelakang batu?”

Belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak si hwesio itu berjalan kembali dg sempoyongan sambil bersenandung:

“Setan dedemit, janganlah mendekat….. Bila mabukku telah mendusin…..

Biar kupaksa kau unjukkan wujud aslimu……………..

Makin berjalan semakin jauh suara senandungnya makin lirih, Chin sian kun yg bersembunyi dibelakang batu semakin terperanjat lagi setelah ia mengintip keluar.

Ternyata meskipun langkah si hwesio itu gontai macam orang mabuk arak, namun gerak tubuhnya sama sekali tidak lambat, dlm waktu singkat ia sudah berada sepuluh kaki lebih dari posisi semula, lagi pula arah yg dituju adalah jalan setapak dimana Chin sian kun baru saja melewatinya.

Chin sian kun berpikir sejenak, lalu diputuskannya utk mengikutinya dulu secara diam-diam, bila pihak lawan tdk menuju kearah lembah dimana dirinya berdiam, ia akan segera balik, kalau tidak maka dia harus munculkan diri utk menghalanginya.

Secara diam-diam nona itu merangkak keluar dari belakang batu lalu menelusuri kembali jalan semula dan menguntil dibelakang pendeta itu.

Setelah melalui sebuah bukit, ternyata ia saksikan pendeta tsb benar-benar menuju ke gua dimana mereka tinggal.

Chin sian kun segera merasakan gelagat tdk menguntungkan , dia tak tahu apa maksud kedatangan pendeta tsb, melakuakan penyelidikan? Ataukah hendak mencari gara-gara?

Tapi ada satu hal yg pasti yakni dia harus segera munculkan diri utk menghalangi jalan pergi pendeta tsb, dlm gelisahnya dia segera menarik napas dan melompat ketengah udara, bentaknya nyaring:

“Hey hwesio! Tunggu sebentar, aku hendak menanyakan sesuatu kepadamu...!”

Hwesio itu benar-benar menghentikan langkahnya sesudah mendengar teriakan tsb.

Bagaikan seekor walet yg melintas diangkasa, dalam beberapa kali jumpalitan saja Chin sian kun telah melayang turun dihadapan pendeta tsb.

Bau arak yg amat menusuk hidung membuat nona itu berkerut kening, tapi ia memaksakan diri utk tertawa saja sambil bertanya, “Taysu hendak kemana?”

Hwesio itu memutar biji matanya beberapa kali, lalu sahutnya sambil tertawa terkekeh.

“He....he.....he. jadi setengah harian lamanya tujuanmu hanya

ingin mengajukan pertanyaan tsb?”

Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, serunya kemudian agak tersipu-sipu,

“Ternyata taysu sudah mengetahui kehadiranku semenjak tadi, kalau begitu harap kelancanganku ini sudi dimaafkan.”

Hwesio itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Kalau didengar dari nada pembicaraanmu amat sungkan, tapi siapa yg bisa menduga pikiran macam apa yg terkandung dalam benakmu?” “Taysu, aku sama sekali tdk bermaksud jahat...!” kata Chin sian kun serius.

Hwesio itu memutar biji matanya yg memperhatikan sekejap tubuh si nona dari atas hingga bawah lalu sambil tetap tertawa katanya,

“Ehmmm.kalau ku amat-amati wajahmu rasanya memang agak berbeda dg kelompok manusia yg berada dibawah bukit sana, coba kalau bukan krn begitu, aku si hwesio sudah tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi kepadamu!”

Sudah setengah harian lamanya mereka berbicara namun hasilnya belum berbicara banyak, lama kelamaan mendongkol juga Chian sin kun dibuatnya.

Namun dia masih berusaha utk menahan sabar, kembali katanya: “Sebenarnya taysu hendak pergi kemana?” “Ha…ha…ha….pentingkah persoalan ini bagimu?”

“Benar!”

“Kalau begitu tak ada salahnya kalau kuberitahukan kepadamu, aku si hwesio hendak kemana!”

Ternyata yg ditunjuk adalah arah kemulut lembah tersebut.

Setelah menengok kearah yg ditunjuk, Chin sian kun segera berseru keras:

“Taysu, apabila kau tdk mempunyai urusan yg begitu penting, tolong tak usah kesana!”

Pendeta itu agak tertegun, setelah memutar biji matanya beberapa saat kembali tanyanya:

“Mengapa?”

Setelah termenung sebentar Chin sian kun menjawab:

“Tidak karena apa-apa, aku cma memohon kesudian taysu agar taysu sudi memakluminya!”

Pendeta  itu  segera  tertawa  bergelak:  “Ha....ha....ha. kalau tidak kau kemukakan alasannya,

bagaimana mungkin aku bisa memaklumi dirimu? Ha...ha. dasar

perempuan, aku si hwesio paling tidak suka berhubungan dg kaum wanita macam dirimu itu, karenanya kuharap kau pun jangan mengusik diriku lagi, setiap orang mempunyai maksud dan tujuan yg berbeda. Lebih baik kau tempu jalan raya Yang kwan to mu dan aku menyebrangi jembatan To bok kiau ku, kau tak punya alasan utk melarang kepergianku, sebaliknya aku si hwesio pun tak ingin mengurusi dirimu!”

Habis berkata kembali dia meneruskan langkahnya menuju kemuka....

Tergopoh gopoh Chin sian kun mengundurkan diri lima langkah kebelakang, setelah itu bentaknya keras-keras:

“Berhenti! Hey hwesio, apakah kau tak bersedia menuruti nasehatku. ?”

Sambil memicingkan matanya pendeta itu tertawa terkekeh- kekeh:

“Tidak banyak lagi manusia didunia ini yg bisa membuat aku si hwesio menuruti perkataannya, apalagi aku si hwesio sudah menjadi seorang pendeta, aku tak takut dg teriakan singa betina macam kau.”

Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, segera bentaknya keras-keras:

“Hey hwesio anjing, masih mending kalau kau enggan mendengarkan nasehatku, eee..siapa tahu mulutmu usil dan berani berbicara seenaknya sendiri, aku lihat kau sudah boan hidup rupanya?”

Sambil membuang keranjang dari tangannya ia segera membalik tangannya dan meloloskan pedang daribahunya.

Kembali hwesio itu memutar biji matanya sambil menjulurkan lidah serunya:

“Wah, sungguh lihai, rupanya kau sudah pingin menggunakan senjata utk membunuh orang?”

“Betul!” sahut Chin sian kun sambil menarik muka, “bila kau si hwesio bersikeras hendak meneruskan niatmu, terpaksa aku pun mesti berbuat keji terhadapmu!”

“Baik, baiklah, kerjaku setiap hari Cuma minum arak melulu, tak nyana hari ini mempunyai kesempatan utk melmaskan otot. Nah, Li pousat, kalau pingin bertarung sih, aku setuju saja, Cuma mesti berlaku adil. ”

“Hmmmm, cara yg bagaimana kau anggap adil?” dengus Chin sian kun dingin.

“Seandainya kau tak berhasil mengungguli diriku, maka kau tak boleh merecoki diriku lagi!” “Andaikata kau si hwesio benar-benar memiliki kemampuan semacam itu, tentu saja nyonya mudamu tak akan bernyali lagi utk mencari penyakit sendiri!”

“He....he....he. betul, betul sekali!” hwesio itu tertawa terkekeh-

kekeh, “setiap orang mengatakan bahwa buddha adalah maha pengasih, tapi aku si hwesio ada kalanya berhati keji dan suka melakukan pembantaian sampai keakar-akarnya!”

“Sebelum bertarung, aku si hwesio ingin menum arak dan makan daging dulu utk membangkitkan semangat, bersediakah kau menunggu sebentar saja? Kujamin aku tak bakal menyergapmu secara licik?”
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).