Kedele Maut Jilid 17

 
Jilid 17

Sepeninggal orang itu, Ciu hoa Lengcu berkata lagi kepada Kho Beng sambil tersenyum,

“Asal alamat yg kau berikan itu benar, aku segera akan membebaskan dirimu dlm keadaan hidup!”

Melihat kesemuanya itu, diam-diam Kho Beng berpikir: “Untuk menempuh jarak sepuluh li pulang balik, paling tdk

mereka membutuhkan waktu setengah jam lebih, bila Rumang sekalian berempat dpt melepaskan diri dari kurungan tiga bersaudara Kim, seharusnya mereka telah sampai pula disini!”

Belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak lelaki yg menyampaikan perintah tadi sudah muncul kembali dan berdiri didepan pintu seraya berkata:

“Lapor Lengcu, komandan pasukan baju hitam menyatakan kecurigaannya...”

Dg kening berkerut Ciu hoa Lengcu berkata:

“Apa yg dia curigakan?”

“Menurut laporan komandan Sin, sepuluh li disekitar kota Tong sia sama sekali tidak terdapat kuil dewa tanah!”

Mendengar laporan tsb, seketika itu juga Kho Beng merasa terkejut sekali.

Ia sama sekali tdk menyangka kalau bohongan yg pertama segera dibongkar lawan, tapi tidak mau ia menyerah dg begitu saja, sambil tertawa dingin segera katanya:

“Kalau begitu sungguh mengherankan, orangnya saja belum keluar pintu rumah, darimana dia bisa tahu kalau sepuluh li disekeliling kota tidak terdapat sebuah kuil dewa tanah?”

Tapi dg wajah sinis Ciu hoa Lengcu telah berkata sambil tertawa dingin:

“Tak ada salahnya kuberitahukan kepadamu, Komandan Sin adalah penduduk asli kota ini, boleh dibilang ia sudah menguasai penuh  keadaan  diluar  maupun  didalam  kota  Tong  sia,  hmmmm. bila kau ingin hidup terus, lebih baik jangan bermain gila

dg kami.” Berada dlm keadaan seperti ini, mau tak mau Kho Beng harus berperan lebih jauh, dg kening berkerut katanya:

“Tapi Bu wi cianpwee dg jelas mengatakan kepadaku, bila ingin bertemu dgnya sekitar kentongan pertama, aku diharuskan pergi kekuil diluar kota, mana mungkin keterangan ini bisa keliru?”

Melihat kesungguhan hati Kho Beng sewaktu berbicara, Ciu hoa Lengcu segera memutar biji matanya sambil termenung, agaknya dia belum bisa mengambil keputusan.

Tapi setelah berpikir beberapa waktu, segera perintahnya kpd lelaki berbaju hitam itu,

“Coba tanyakan sekali lagi kepada Komandan Sin, benarkah disekitar kota Tong sia tidak terdapat bangunan kuil lainnya?”

Lelaki berbaju hitam itu segera mengiakan dan buru-buru beranjak pergi dari situ.

Tidak sampai setengah peminuman teh kemudian ia sudah muncul kembali dg langkah terburu-buru, katanya kemudian:

“Komandan Sin telah membawa pasukan meninggalkan tempat!”

Ciu hoa Lengcu jadi tertegun, segera tegurnya, “Bukankah dia mengatakan kalau disekitar kota tak ada kuil dewa tanah..?”

“Benar komandan Sin berkata sepuluh li disekeliling kota tak ada kuil dewa tanah, namun ditimur kota terdapat sebuah rumah abu dari keluarga Liok yg sudah terbengkalai, bisa jadi orang she Kho ini sudah mengartikan rumah abu sebagai kuil dewa tanah, karena itu utk berlomba dg waktu komandan telah berangkat lebih dulu!”

Ciu hoa Lengcu segera manggut-manggut, katanya memuji: “Cara bekerjanya memang cekatan dan tegas, bagus sekali kau

boleh berjaga dimuka pintu.”

Selesai berkata, ia berpaling lagi kearah Kho Beng sambil ujarnya lebih jauh.

“Nah, sudah kau dengar?”

Memanfaatkan kesempatan tsb, Kho Beng segera berseru: “Yaa memang benar, tempat pertemuan yg dimaksudkan Bu wi

cianpwee memang sebuah rumah abu bukan kuil dewa tanah seperti yg kumaksudkan tadi, tak kusangka siasatku dg menunjuk menjangan sebagai kuda segera terbongkar oleh kecerdikan kalian, padahal maksudku bisa mengulur sedikit waktu...yaaa tampaknya memang susah utk membohongi orang pintar macam kalian!”

Ciu hoa Lengcu tertawa dingin. “Sampai saat ini aku masih mempercayai dirimu, paling banter setengah jam kemudian aku akan segera tahu apakah laporan itu benar atau tidak, jika kau membohongi aku, he...he. sampai

waktunya aku akan menyuruh kau rasakan kelihaianku!”

Selesai berkata ia segera bangkit dari tempat duduknya dan dibawah iringan kedua dayangnya, ia beranjak meninggalkan ruangan rahasia tsb.

Dua orang lelaki berbaju hitam yg berada didepan pintu itu segera menutup kembali pintu ruangan rapat-rapat, lalu terdengar pintu itu dikunci dari luar, ternyata Kho Beng telah disekap seorang diri dlm ruangan tsb.

Setelah berada seorang diri, Kho Beng segera berusaha utk menghimpun kembali tenaga dalamnya, tiba-tiba ia merasa aliran hawa murninya berjalan lancar, kekuatan tubuhnya sama sekali tdk menderita suatu apapun.

Hanya saja meski daya kerja obat telah hilang, tapi kedua jepitan baja dikursi itu justru mengekang pergelangan tangannya secara telak, sehingga walaupun ia memiliki tenaga dalam yg sempurna pun tidak banyak kegunaannya.

Lambat laun Kho Beng mulai putus asa, setengah jam bukan suatu jangka waktu yg terlalu lama, bila ia tak mampu memanfaatkan kesempatan yg sedikit ini utk melepaskan diri dari belenggu kursi besi tsb, jelas sudah kematian akan menjelang tiba.

Dlm waktu singkat, ia terbayang kembali dg cici nya yg berusaha membalas dendam. teringat Bu wi lojin yg menderita luka parah

lalu si unta sakti berpunggung baja yg banyak melepaskan budi kepadanya...Rumang, Hapukim sekalian....

Disaat pikirannya kalut dan dicekam rasa sedih inilah, si Walet terbang berwajah ganda Chin sian kun, Kim kong sam pian serta Rumang sekalian berempat telah sampai dimuka rumah makan Poan gwat kie.

Waktu sudah menunjukkan tepat kentongan pertama, yg aneh adalah utusan yg dikirim Ciu hoa Lengcu ternyata belum juga kembali, sedangkan waktu itu Chin sian kun telah memasuki rumah makan Poan gwat kie utk melakukan pelacakan terhadap jejak Kho Beng.

Seusai berunding, maka Chin sian kun segera memberi tanda kepada Rumang sekalian berempat agar mengikutinya melompat naik keatap rumah disamping rumah makan Poan gwat kie dan langsung menyusup kebangunan belakang....

Menungu sampai bayangan tubuh Chin sian kun sudah lenyap dari pandangan, Kim loji serta Kim losam baru saling berpandangan sekejap lalu menggedor pintu rumah makan Poan gwat kie keras- keras.

Waktu itu sebagian besar penduduk disekitar sana sudah terlelap tidur, tapi suara gedoran pintu yg keras itu hampir saja menggetarkan seluruh jalanan.

Ditengah suara gedoran keras ,pintu gerbang rumah makan Poan gwat kie yg sudah tertutup itu segera memancarkan sinar lentera, lalu kedengaran seseorang mengumpat:

“Kurangajar! Siapa yg sudah bosan hidup? Malam-malam begini menggedor pintu?”

“Mak nya!” umpat Kim losam pula, “Kenapa tiada suara jawaban?

Memangnya semua penghuni rumah ini sudah pada mampus?”

Suara gedorannya makin lama semakin bertambah keras, nyaris pintu itu didobrak dg kekerasan.

Tak lama kemudian pintu dibuka orang, Kim loji dan Kim losam segera berlagak marah-marah dan langsung menyerbu masuk kedalam ruangan....

Dg wajah kaget bercampur gusar tampak dua orang pelayan menegur dg keras:

“Mau apa kalian?”

“Cepat panggil keluar pemilik rumah makan ini, aku hendak berbicara dg nya!” seru Kim loji sambil menarik muka.

Salah seorang diantara pelayan itu segera mendengus dingin, katanya:

“Hey sobat, coba lihat dulu, sekarang ini pukul berapa..?”

“Pukul berapa pun buat kami sama saja!” tukas Kim losam kasar, “Kalau kalian tidak segera melaporkan kedatangan kami, jangan salahkan bila ku obrak abrik rumah makan ini lebih dulu!”

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari balik pintu belakang ruangan sudah terdengar seseorang menjengek sambil tertawa dingin,

“Hmm. besar amat bacotmu, sobat dari manakah yg sudah

tertarik dg rumah makan Poan gwat kie ku ini?” Sambil berkata tampak seorang lelaki pendek bertubuh gemuk telah munculkan diri dari dalam ruangan, dia tak lain adalah Ong ciangkwee.

Namun setelah melihat jelas wajah dua bersaudara Kim, ia kelihatan agak tertegun, lalu serunya :

“Ada urusan apakah ditengah malam buta begini kalian berdua mencari aku orang she Ong?”

Nada suaranya jauh lebih lembut dan lunak.

“Boleh aku tahu siapa nama Ong ciangkwee?” seru Kim loji dingin.

Seperti juga sikapnya disiang hari tadi, senyuman pura-pura segera menghiasi wajah Ong ciangkwee, ujarnya sambil tertawa:

“Tuan berdua kelewat serius, masa aku seorang saudagar pun punya nama besar? Aku bernama Ong kui sudah lama membuka usaha rumah makan disini, bolehkah aku tahu dalam hal mana aku telah menyalahi tuan berdua?”

Kim loji mendengus dingin:

“Hey tauke Ong, dalam mata yg sehat tak akan kemasukan pasir, janganlah menggunakan kata-kata yg kosong, terus terang saja, kedatangan kami kesini adalah utk mencari seseorang!”

“Mencari seseorang? Siapa yg kalian cari?” tanya Ong kui pura- pura tertegun.

“Siapa lagi? Tentu saja Kho Beng!”

“Kho Beng?” kembali Ong kui berlagak tercengang, “rasanya belum pernah kudengar nama tsb….”

Kim loji menjadi sangat marah, tegurnya:

“Hey orang she Ong! Pentang matamu lebar-lebar, ketahuilah bahwa Kho Beng adalah buronan yg sedang dicari-cari segenap umat persilatan, bila kau berani menyembunyikan dirinya, hmmm….sudah bosan hidup nampaknya….?”

Sementara itu Kim losam juga turut menimbrung, katanya: “Tauke Ong, kuanjurkan kepadamu agar bertindak lebih terbuka,

terus terang saja kukatakan, tanpa sumber berita yg bisa dipercaya, kami tak bakal menggedor pintu rumahmu ditengah malam buta!”

Ong kui kelihatan panik, tapi mati-matian ia enggan mengaku, tangkisnya:

“Tuan berdua, belum pernah ada kejadian macam begitu ditempat kami, aku Ong kui sudah tiga generasi membuka usaha ditempat ini, sungguh mati aku tidak kenal dg orang she Kho itu. ” Jawaban semacam ini pada dasarnya telah berada dalam dugaan dua bersaudara Kim, maka sambil menarik muka Kim loji berkata:

“Hey tauke Ong! Bolehkah aku menggeledah tempatmu?”

Menurut perkiraannya, pihak lawan tak akan mengabulkan permintaan itu, maka asal orang itu menyatakan keberatan, Kim lo ji sudah bersiap sedia merusak perabot yg berada disana dan memancing terjadinya keributan sehingga memancing perhatian orang-orangnya kesitu.

Dg cara demikian, Chin sian kun tentu akan mempunyai cukup waktu utk melakukan penggeledahan secara seksama.

Siapa tahu pemilik rumah makan tsb tidak menunjukkan keberatannya, malah sambil manggut-manggut katanya:

“Boleh, boleh saja, kalau toh kalian berdua tak percaya dg perkataanku, silahkan saja masuk utk melakukan pemeriksaan, asal kalian bisa menemukan orang she Kho tsb, aku bersedia menyerahkan usahaku ini kepada kalian berdua!”

Jawaban tsb segera membuat Kim bersaudara jadi tertegun, tanpa terasa mereka mulai berpikir:

“Benarkah Kho Beng sudah pergi dari sini? Ayaukah ia sudah dibokong dan sekarang telah dipindahkan ketempat lain?”

Dari tujuhorang yg ada, rupanya mereka membagi diri menjadi dua rombongan, satu rombongan memeriksa secara terang-terangan sedang yg lainnya melakukan pemeriksaan secara diam-diam, hal ini dimaksudkan agar semua bagian tempat diperiksa dg seksama.

Tapi setelah lawan membolehkan utk digeledah, hal ini segera memberi firasat kepada Kim loji bahwa usaha mereka melakukanpenggeledahan tak akan menghasilkan apa-apa.

Tapi dari pada pulang dg begitu saja lebih baik dilakukan pemeriksaan kedalam, siapa tahu masih ada tanda-tanda yg ketinggalan?

Karena berpendapat demikian, maka sambil manggut-manggut katanya kemudian:

“Baiklah, kalau begitu harap tauke suka menjadi petunjuk jalan. ”

Tauke Ong segera memerintahkan kedua orang pelayannya utk menjaga pintu, sedang kepada dua bersaudara Kim dipersilahkan mengikuti dibelakangnya masuk kedalam. Sambil menghimpun hawa murninya dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan, dua bersaudara Kim masuk keruang belakang.

Disekitar ruangan mereka saksikan ada tujuh delapan orang lelaki yg berkerumun sambil menanyakan persoalan yg terjadi.

Sepintas lalu orang-orang itu nampak seperti pegawai rumah makan, tapi bagi dua orang bersaudara Kim yg cukup berpengalaman, dalam sekilas pandang saja ia dapat melihat dg jelas bahwa beberapa orang diantara mereka memiliki kening yg menonjol tinggi, jelas mereka adalah jago-jago yang berilmu sangat tinggi.

Tanpa terasa, rasa kaget yg mencekam makin menyelimuti perasaan kedua orang itu.

Dalam pada itu, tauke Ong telah mengulapkan tangannya sambil berkata:

“Kalian tak usah mengada-ada, disini tak ada persoalan, ayoh kembali kekamar masing-masing!”

Selesai berkata, dia mengajak dua bersaudara Kim melakukan pemeriksaan yg teliti atas setiap ruangan yg ada disana.

Baik kim loji maupun Kim losam sama sekali tak menyangka kalau bangunan dibelakang rumah makan Poan gwat kie diatur serapi dan sehebat itu.

Kebun yg luas dan bangunan rumah yg megah sama sekali tak kalah dg rumah hartawan kaya, terutama sekali jumlah kamarnya yg begitu banyak, rasanya tak kalah dg rumah penginapan pada umumnya.

Tanpa terasa Kim loji tertawa dingin dan sengaja ejeknya,

“Hey tauke, tidak kusangka dibelakang rumah makanmu ternyata dibuka pula usaha penginapan!”

“Kalian berdua jangan salah paham” buru-buru tauke Ong menjelaskan, “aku hanya suka menerima teman sehingga sengaja membangun.

Betapapun besarnya kecurigaan dua bersaudara Kim terhadap tempat itu, sekarang mereka tak sanggup bicara lagi.

Sesudah menghela napas sedih, Kim loji segera menjura seraya berkata:

“Maaf atas gangguan kami malam ini, dikemudian hari kami tiga ruyung dari Tong ting pasti akan datang lagi utk minta maaf!” “Ooooh. rupanya tiga bersaudara Kim yg termasyur namanya”

seru tauke Ong, “sudah lama kudengar nama besar Kim kong sam pian, he...he...he. kesalah pahaman semacam ini belum berarti apa-

apa, bagaimana kalau kita minum arak sampai pagi?”

Tentu saja Kim loji tak punya muka utk berdiam lebih lama disana, dg wajah bersemu merah, buru-buru tampiknya,

“Biarlah maksud tauke kami terima dihati saja, maaf kami harus mohon diri lebih dulu karena ada urusan lain.”

“Aaah, mana. ” Ong kui tertawa mengejek.

Baru saja mereka bertiga berjalan menelusuri kebun, mendadak tampak sesosok bayangan hitam melayang turun persis dihadapan mereka, ternyata orang itu adalah Chin sian kun.

Kim loji dan Losam sama-sama menjadi tertegun, tegurnya berbareng:

“Hey, mengapa kaupun kemari?”

Tentu saja dibalik pertanyaan tsb masih terkandung pertanyaan lain.

Setengah mengomel Chin sian kun berkata:

“Sudah hampir setengah harian lamanya kami menunggu kedatanganmu berdua, tapi belum juga nampak kalian datang!. aku

toh tak bisa dibiarkan berdiri dibawah langit sambil minum embun dingin.”

Tauke Ong segera tertawa terbahak-bahak, katanya cepat: “Ha....ha....ha. tidak kusangka rumah makan Poan gwat kie ini

bisa menarik perhatian begitu banyak jago lihay pada malam ini, entah siapakah lihiap ini?”

Dg langkah yg lemah gemulai Chin sian kun maju mendekatinya, sambil tersenyum dia berkata:

“Apakah kau adalah pemilik rumah makan ini?”

“Aaaah, mana, mana. ” cepat-cepat Ong kui menjura, “walaupun

aku tak mengerti ilmu silat, namun aku paling kagum dg jago-jago persilatan, sungguh menjadi kebanggaan bagiku bisa menerima kunjungan dari lihiap. ”

“Tauke memang pandai sekali berbicara” Chin sian kun tersenyum, “padahal aku Chin sian kun bukan termasuk orang pandai, justru ciangkwee lah merupakan seorang tokoh silat yg tak mau mengunjukkan diri!” Sambil berkata, tiba-tiba saja ia melancarkan sebuah serangan secepat sambaran kilat dan langsung mengancam jalan darah lemas dan kaku Ong kui.....

Mimpipun Ong kui tdk menyangka kalau lawannya akan melancarkan serangan disaat masih tersenyum, ketika menyadari akan datangnya bahaya, keadaan sudah terlambat,

“Bluuuukk. !”

Tak ampun lagi tubuhnya terserang dan segera roboh terjungkal keatas tanah.

Dua bersaudara Kim yg menyaksikan kejadian ini menjadi tertegun, sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari balik kegelapan terengar dua kali bentakan keras,

“Kurang ajar, kalian berani berbuat keonaran disini!”

Tampak dua sosok bayangan manusia dg membawa gulungan cahaya tajam yg menyilaukan mata meluncur tiba.

Dg suatu gerakan cepat Chin sian kun menyambar tubuh Ong kui yg tergeletak lemah ditanah, lalu serunya:

“Cepat kalian loloskan senjata utk membendung serangan lawan!”

Mendengar seruan tsb, Kim loji dan losam segera mencabut keluar ruyungny lalu diayunkan kedepan utk menghadang serbuan dari ketiga sosok bayangan manusia itu.

Ternyata oleh gerak serangan ruyung tsb, ketiga sosok bayangan manusia itu segera melayang turun ketanah.

Kim loji segera mengenali mereka sebagai beberapa orang pelayan yg dijumpai sewaktu masuk kehalaman tadi, hanya sekarang mereka berdiri dg senjata terhunus.

Setelah berhasil membendung gerak maju lawan, Kim loji baru menjengek sambil tertawa dingin:

“Apakah sampai sekarang kalian bertiga belum mau menunjukkan wajah aslinya? Apakah kalian bersedia menyebutkan nama-nama kalian semua?”

Salah seorang diantaranya, seorang lelaki bermuka kuda segera membentak dg keras:

“Kami semua adalah sahabat tauke Ong, tak usah menyebut nama-nama kami lagi, yg jelas tauke Ong sudah bersikap cukup sopan kpd kalian, tapi kenyataannya kalian menyergapnya secara licik, terhitung jagoan macam apakah kalian ini?” Paras muka dua bersaudara Kim segera berubah merah padam krn jengah.

Tapi Chin sian kun segera berkata sambil tertawa terkekeh- kekeh,

“Sudah sepantasnya bila kalian merasa tdk terima, tapi bila aku tak diberi kesempatan utk memberi penjelasan, pasti kalian akan menganggap diriku sebagai seorang yg tak tahu malu. Untuk itu bersediakah kalian bertiga memberi sedikit waktu utk berbincang- bincang dulu dg tauke ini sebelum bertarung?Bila alasan yg kami kemukakan dianggap tak masuk akal, pertarungan baru diteruskan kembali?”

Ketiga orang lelaki itu mendengus dingin, samun mereka tdk memberikan komentar apa-apa.

Sambil menarik muka Chin sian kun segera berpaling kearah tauke Ong dan menegur dg suara dingin:

“Hey tauke Ong! Aku harap kau bersedia memberi jawaban dg sejujurnya, sebab kalau tdk, siksaan akan menimpa dirimu, kau tahu bukan bagaimana rasanya seseorang yg hidup tak bisa mati pun tidak?”

Dg wajah hampir menangis, tauke Ong merengek: “Lihiap , apa yg mesti kukatakan? Aai. ”

“He...he...he. ”Chin sian kun tertawa dingin, “belum lagi

persoalan pokok disebutkan, kenapa kau mesti berkeluh kesah? Kemampuan Ong ciangkwee dlm menghadapi persoalan benar-benar mengagumkan dan tak malu disebut jagoan lihai, apalagi bila dibandingkan dg anak buahmu yg sebentar menjadi pelayan, sebentar lagi menjadi sahabat itu. kami benar-benar ketinggalan

jauh!”

Beberapa patah kata itu kontan saja membuat paras muka ketiga orang jago pedang itu berubah hebat, sedangkan air muka Ong kui makin merah jengah.

Setelah berhenti sejenak, kembali Chin sian kun berkata: “Sudahlah, tak usah banyak berbicara yg tak guna lagi, mari kita

menyinggung masalah pokok, nah tauke Ong, sebetulnya pemuda she Kho itu sudah kalian sekap dimana?”

Ong kui menghela napas,

“Chin lihiap, mengapa kau tidak bertanya langsung kpd dua bersaudara Kim yg telah melakukan penggeledahan yg seksama dari depan sampai belakang? Apa lagi yg mesti kukatakan kepadamu?” “Jawabanmu benar-benar sangat hebat” jengek Chin sian kun sambil tertawa dingin.

“Hey tauke Ong, tolong tanya rumah makan Poan gwat kie ini, selain pintu besar yg menghadap kejalan raya, apakah masih ada pintu lain?”

“Ada!” Ong kui mengangguk, “pintu belakang terletak disebelah kiri kebun!”

“Selain pintu belakang?”

“Sudah tak ada lagi...” Ong kui kembali menggeleng.

Chin sian kun segera menunding kearah gunung-gunungan yg berada tiga kaki disampingnya, lalu mengejek sambil tertawa dingin:

“Tauke, bolehkah aku tahu, pintu rahasia dibalik gunung itu tembus kemana?”

Begitu ucapan tsb diutarakan, paras muka ketiga orang jago pedang serta Ong kui segera berubah sangat hebat.

Dg agak cemas Ong kui berseru:

“Lihiap, kau jangan bergurau, mana mungkin dibalik gunung- gunung itu terdapat pintu.”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Chin sian kun, segera bentaknya keras-keras:

“Barusan aku melihat ada orang pelayanmu menerobos masuk kebalik gunung-gunungan itu dan hingga sekarang belum nampak muncul kembali, jika disitu tak ada pintu, kau anggap dia bisa menerobos masuk kedalam tanah?”

“Perempuan rendah!” tiba-tiba jago pedang bermuka kuda itu membentak keras, “kau tak usah mengada-ngada terus disini, sebenarnya Ong ciangkwee akan dilepaskan tidak?”

Chin sian kun mengerling sekejap kearah lawannya, lalu menjengek sinis:

“Nah, mulai panik bukan krn rahasianya ketahuan? He...he...he. lebih baik kalian bertiga jangan bergerak

sembarangan, sebab aku bisa menghabisi nyawa Ong ciangkwee paling dulu. ”

Jago pedang bermuka kuda itu tdk menggubris, tiba-tiba ia berpekik nyaring, lalu serunya kpd dua orang jago lainnya:

“Hayo serbu!”

Tubuhnya segera melejit ketengah udara, dari situ pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam dan secara langsung membecok kepala Chin sian kun. Tak terlukiskan rasa kaget Chin sian kun menghadapi serangan tsb, ia tak mengira kalau lawan sama sekali tdk m enggubris keselamatan sandera yg berada ditangannya.

Melihat Kim loji dan losam telah dihadang musuh, cepat-cepat ia berkelit kesamping, sambil teriaknya:

“Kalian cepat turun!”

Berbareng dg suara bentakan itu, empat sosok bayangan manusia segera melompat turun dari atas wuwungan rumah, ternyata mereka adalah Rumang, Hapukim serta dua bersaudara Mo.

Rumang dg golok terhunus langsung menghadang sijago pedang bermuka kuda yg menyerang Chin sian kun itu, bentaknya:

“Mak nya! Tak kusangka rumah makan kalian adalah sarang penyamun yg suka menculik orang, biar kubunuh manusia macam dirimu lebih dulu. ”

Golok segera diputar bagaikan roda, secara beruntun dia telah melepaskan dua kali bacokan berantai.

Mendadak terdengar Kim loji yg sedang bertarung berseru lantang:

“Adikku, kalau toh sudah kau ketahui pintu rahasia disitu, mengapa tdk segera menyuruk kedalam utk melakukan penggeledahan?”

“Bila pintu rahasianya sudah kuketahui, buat apa aku mesti menunggu sampai sekarang?” sahut Chin sian kun.

Kemudian kepada Ong kui yg berada digenggamannya ia membentak:

“Coba lihat sendiri, sobatmu sudah tak ambil peduli dg keselamatanmu lagi, aku rasa kaupun tak usah menyimpan rahasia terus.”

Sambil berkata ia segera memberi tanda kpd dua bersaudara Mo serta Hapukim agar mengikutinya menuju kebalik gunung-gunungan.

Bangunan yg menyerupai gunung-gunungan itu dibuat sangat tinggi dan besar, dibagian tengahnya terdapat sebuah gua yg saling berhubungan.

Sementara itu Ong kui masih ragu-ragu, Chin sian kun telah mencengkeram ujung bajunya, seraya membentak keras :

“Hayo jawab, kau bersedia menunjukkan atau tidak? Asal kau mau menunjukkan letak tombol rahasia utk membuka pintu tsb, kami pasti tak akan menyusahkan dirimu lagi.” Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari balik gunung-gunungan itu sudah kedengaran seseorang berkata dg suara merdu,

“Terhadap pelbagai persoalan yg begitu sepele, buat apa kau memaksanya utk berbicara? Kalau toh ia enggan berkata, biar aku yg menunjukkan!”

Menyusul perkataan tsb, tiba-tiba dinding kiri gunung-gunungan itu sudah terbuka lebar dan muncullah seorang perempuan berbaju putih.

Dia tak lain adalah Chiu hoa Lengcu, anak buah dewi In nu yg dikenali Chin sian kun pagi tadi sebagai “nyonya Ciu”.

Kehadirannya yg sama sekali tak terduga ini segera menimbulkan rasa tertegun bagi Chin sian kun, ia tak menyangka kalau pihak lawan akan menggunakan cara demikian dlm menghadapinya.

Sementara dia masih termenung, Ciu hoa Lengcu telah memperhatikan sekejap situasi pertarungan, dimana enam orang sedang terlibat dlm pertarungan sengit.

Mendadak bentaknya:

“Tahan!”

Ketiga orang jago pedang yg sedang bertempur seru itu segera melepaskan dua rangkai serangan gencar, setelah itu mereka melompat keluar dari arena pertarungan dan berdiri tenang disitu.

Kepada Chin sian kun kembali Ciu hoa Lengcu berkata seraya tersenyum ramah,

“Kini pintu rahasia telah terbuka, silahkan nona memasukinya utk diperiksa!”

Chin sian kun baru saar setelah mendengar ucapan itu, serunya tanpa sadar:

“Benarkah kau dari marga Ciu?” Ciu hoa Lengcu manggut-manggut:

“Aku beridam digang sebelah sana, hitung-hitung masih punya hubungan family dg tauke Ong, apabila ia telah melakukan suatu kesalahan terhadap nona, bagaimana kalau aku mewakilinya minta maaf!”

Chin sian kun tersenyum,

“Sungguh tak kusangka tempat ini merupakan sebuah sarang naga harimau, aku percaya enci orang persilatan juga?”

Sambil tertawa Ciu hoa Lengcu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya: “Nona sudah salah menilai, rumah makan Poan gwat kie hanya sebuah rumah makan biasa dan aku pun bukan manusia bangsa jago silat yg pandai memainkan senjata.”

“Hmmm, siapa yg percaya dg kata-katamu itu?” Chin sian kun mendengus, “bila rumah makan ini hanya usaha biasa mengapa terdapat banyak jago lihay yg berdiam disini? Dan mengapa pula dibangun lorong bawah tanah yg begitu rahasia?”

“Kalau begitu nona yg sudah salah paham” tukas Ciu hoa Lengcu, “suamiku lebih sering berjaga diluar, ia jarang pulang, maka sengaja kami buat lorong rahasia utk menghubungkan tempat ini dg rumahku, dg begitu antara aku dg tauke Ong pun bisa saling berhubungan bila perlu, sementara orang-orang itu tak lain adalah sobat-sobat yg diundang tauke Ong, sesungguhnya kehadiran mereka tak perlu diributkan nona. ”

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya: “Sekarang aku sudah memberi keterangan yg cukup jelas, aku

rasa nona pun harus membebaskan tauke Ong!”

Kata-katanya diucapkan sangat lembut dan beralasan kuat sehingga Chin sian kun jadi gelagapan dibuatnya.

Dalam keadaan begini, terpaksa nona itu menjadi nekad, ujarnya kemudian dg suara dingin:

“Sebetulnya tidak susah utk minta kepadaku membebaskan orang ini, tapi Kho Beng harus diserahkan dulu!”

“Kho kongcu memang pernah berkunjung kemari” Ciu hoa Lengcu tersenyum, “tapi ia sudah pergi sejak tadi!”

“Aku tak percaya!”

“Lantas apa yg harus kami perbuat agar nona mau percaya?” tanya Ciu hoa Lengcu sambil berkerut kening.

Tanpa pikir panjang Rumang menyela dari samping.

“Kecuali kami diberi kesempatan utk melakukan penggeledahan!”

Diluar dugaan ternyata Ciu hoa Lengcu menanggapi sambil mengangguk:

“Untuk menarik kepercayaan kalian, aku bersedia menjadi penunjuk jalan, nah silahkan mengikuti diriku!”

Selesai berkata, ia segera masuk dulu kedalam lorong rahasia. oooOOooo Disaat Chin sian kun sekalian bertujuh mengikuti Ciu hoa Lengcu memasuki pintu rahasia tsb, dari mulut gang tampak sebuah kereta kuda yg mungil dilarikan orang cepat-cepat.

Kusir kuda adalah dua orang lelaki berbaju hitam, tampak mereka melarikan kudanya dg begitu cepat dan menuju kearah pintu kota sebelah timur...

Disisi kereta itu duduk dua orang perempuan genit, mereka tak lain adalah kedua orang dayang Ciu hoa Lengcu, sedangkan orang ketiga adalah Kho Beng, wajahnya nampak sayu dan diliputi perasaan terkejut, tubuhnya sama sekali tak bisa berkutik, jalan darah kakunya telah tertotok.

Kereta kuda itu meluncur terus menembusi pintu kota dan lari ketempat yg liar dan terpencil dari keramaian, melihat keadaan mana, dg perasaan terkejut bercampur keheranan Kho Beng segera menegur:

“Sebenarnya kalian hendak membawaku pergi kemana?” Dayang genit yg berada disebelah kiri tertawa terkekeh-kekeh,

katanya:

“Bukankah telah kukatakan tadi, sampai waktunya kau toh akan mengetahui dg sendirinya?”

“Apakah komandan Sin kalian itu sudah kembali?” tanya Kho Beng lagi dg perasaan tegang.

Dayang genit yg berada disebelah kanan segera mendengus dingin, sahutnya:

“Siapa yg tahu permainan setan apa yg sedang kau perbuat? Dua puluhan orang sudah dikirim, namun sudah hampir satu jam lamanya belum juga ada kabar beritanya!”

Mendengar jawaban tsb, Kho Beng merasa hatinya agak lega, diam-diam ia menghembuskan napas panjang, lalu katanya sambil tertawa:

“Rupanya kalian hendak mengajak diriku pergi mencari mereka. ”

“Kau jangan keburu bersenang hati dulu” sela dayang disebelah kiri sambil tertawa dingin, “terus terang saja aku bilang asal orang- orang kami sampai ketimpa suatu kemalangan, maka kau sendiripun jangan harap bisa pulang kekota Tong sia dalam keadaan hidup!”

Kembali Kho Beng merasa terkesiap sekali sebab sebagaimana diketahui keterangan yg diberikannya hanya keterangan palsu, mustahil Bu wi lojin bisa begitu kebetulan berada juga dirumah abu keluarga Liok, sepuluh li disebelah timur kota.

Tapi apa sebabnya komandan Sin beserta kedua puluhan orang yg dipimpinnya belum juga nampak muncul kembali?

Tanpa terasa ia mulai mengkuatirkan pula nasib anak buah Ciu hoa Lengcu yg sudah pergi dan hingga kini belum balik itu.

Suara derap kaki kuda yg ramai.....

Suara roda kereta yg menggelinding....

Kho Beng tahu inilah kesempatan terbaik baginya utk meloloskan diri dan itu berarti ini merupakan kesempatannya yg terakhir.

Tapi apa mau dikata jalan darah kakunya tertotok sehingga tubuhnya tak mampu berkutik, ditambah lagi pengawasan dua orang dayang yg begitu ketat, membuat ia tak berhasil menembusi jalan darahnya itu.

Sementara dia masih berpikir mencari akal utk meloloskan diri, tiba-tiba terasa kereta itu bergetar keras dan segera berhenti.

Sementara itu lelaki berbaju hitam yg berada didepan kereta segera berkata:

“Nona berdua, komandan Sin telah pulang.”

Mendengar perkataan itu, Kho Beng bersama kedua orang dayang itu berpaling keluar jendela, benar juga kelihatan ada puluhan sosok bayangan hitam sedang melesat datang dg kecepatan tinggi.

Sesudah mendekat, bayangan manusia yg berjalan dipaling depan berseru tertahan, lalu cepat-cepat menghampiri kereta.

Ternyata orang itu adalah seorang kakek berbaju hitam yg berperawakan tinggi besar berwajah amat keren.

Dg sorot matanya yg tajam bagaikan sembilu, dia mengawasi sekejap dua orang lelaki yg berada didepan kereta, lalu tanyanya keheranan:

“Go hoat, Tan peng kalian hendak kemana?”

Lelaki berbaju hitam yg bertindak sebagi kusir itu segera menjawab:

“Lapor komandan, hamba mendapat perintah dari Lengcu utk menghantarkan Kiok hoa dan Kiok bi yg mengawal tawanan Kho Beng menuju kekebun Kiok wan!”

Mendengar tanya jawab itu, Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya: “Ternyata orang ini adalah komandan Sin dan pasukan baju hitam, kalau ditinjau dari tampangnya nampak gagah dan keren, sama sekali tdk mengandung hawa sesat, tapi heran mengapa ia justru bergaul dg kawanan manusia sesat itu?”

Sementara itu komandan Sin telah berpaling kearah jendela kereta seraya berkata:

“Nona Kiok bi, mengapa Lengcu tdk menunggu sampai aku pulang? Kenapa secara tiba-tiba ia berubah pendapat?”

Kiok bi segera tertawa cekikikan, ujarnya:

“Aduh komandan ku, kenapa kau masih bertanya? Kepergianmu yg tak ada kabar beritanya nyaris membuat semua urusan menjadi terbengkalai...!”

“Ketika aku sampai dirumah abu itu, telah ditemukan seorang yg amat mencurigakan. ”

“Aaaah. apakah dia adalah si tua Bu wi?”

“Bukan!” komandan Sin menggeleng.

“Lantas siapakah dia?” tanya Kiok bi keheranan.

“Setelah kulakukan pengejaran sejauh dua puluh li, ternyata orang itu berhasil meloloskan diri, aku tak sempat melihat dg jelas raut wajah orang itu, tapi aku yakin dia bukan si tua Bu wi!”

Kiok bi segera tertawa terkekeh-kekeh:

“Masa dibawah kelopak mata komandan Sin pun ada seseorang yg mampu meloloskan diri? Kecuali kau si komandan sengaja main sabun. ”

Tiba-tiba komandan Sin menarik muka dan berseru dg suara dalam:

“Aku tdk terbiasa bergurau, aku harap perkataan nona sedikitlah tahu diri, meskipun aku she Sin selalu tinggi hati, tapi ilmu meringankan tubuh yg dimiliki orang itu sudah jelas tidak berada dibawah kemampuanku. ”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, sambil tertawa Kiok hoa telah menukas:

“Sudah, sudahlah komandan Sin juga tak perlu memberi penjelasan lagi, kau toh mengerti, kami kakak beradik hanya gemar bergurau dan menggoda orang lain, masa komandan Sian betul- betul main sabun? Cuma gara-gara keterlambatanmu itu, dikota telah terjadi suatu peristiwa besar!”

“Peristiwa apa?” tanya komandan Sin agak tertegun. “Kim kong sam pian bersama si Walet terbang berwajah ganda serta kempat anjing asing itu telah berhasil menggeledah rumah makan Poan gwat kie dan menemukan tempat tinggal kita!”

“Bagaimana dg Lengcu?” tanya komandan Sin dg perasaan amat terkejut.

“Lengcu masih berusaha mengulur waktu dg meeka, sementara kami diperintah utk membawa orang she Kho ini kembali kekebun Kiok wan!”

Mendengar sampai disini Kho Beng baru mengerti apa sebabnya ia dipindahkan ketempat lain, namun pelbagai kecurigaan pun menyelimuti perasaan hatinya......

Siapakah yg mengutus Kim kong sam pian dan Walet terbang berwajah ganda. Bukankah mereka sedang terlibat pertarungan sengit melawan Rumang sekalian? Mengapa mereka malah bergabung menjadi satu?

Perubahan sikap dari musuh menjadi teman yg berlangsung begitu cepat benar-benar membuatnya kebingungan dan tidak habis mengerti.

Dg paras muka berubah menjadi amat tegang, komandan Sin berkata:

“Kalau begitu aku harus secepatnya kembali kekota utk memberi bantuan. ”

“Dalam hal ini Lengcu pun telah berpesan” buru-buru Kiok hoa menerangkan, “kita diharuskan menyelidiki terus jejak si tua Bu wi dan mendapatkan kembali kitab pusaka Thian goan bu boh, sebab hal itu jauh lebih penting daripada persoalan lain, oleh sebab itu Lengcu berpesan apabila bertemu dg dirimu maka kita diharuskan segera kembali kekebun Kiok wan dan menyiksa orang she Kho ini agar mengaku. ”

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar seseorang berseru sambil tertawa tergelak:

“Buat apa mesti disiksa utk mengorek keterangan? Bukankah aku sudah hadir disini!”

Berubah hebat paras m uka komandan Sin saking kagetnya setelah mendengar perkataan itu, dg cepat dia mengulapkan tangannya kepada orang-orang berbaju hitam yg berada disekeliling sana.

Dalam waktu singkat dua puluhan jago pedang itu telah menyebarkan diri dan mengepung kereta tsb ketat-ketat, semuanya berdiri dg pedang terhunus dan punggung menghadap kearah kereta, agaknya orang-orang itu sudah siap sedia melangsungkan pertarungan.

Kho Beng yg berada dlm kereta segera mengenali suara itu sebagai suaranya Bu wi lojin. Ia sangat terkejut dan berpekik dihati:

“Aduh celaka!”

Keadaan sudah jelas tertera, Bu wi lojin seorang diri lagi pula menderita luka dalam yg cukup parah, bagaimana mungkin ia sanggup menandingi kawanan jago lihay sebanyak itu?

Dg perasaan gelisah dan cemas dia mengawasi keluar lewat jendela krn tampak olehnya sesosok bayangan manusia telah munculkan diri sepuluh kaki didepan sana dan pelan-pelan berjalan mendekati kereta kuda itu.

Ia baru berhenti setelah berada hanya tiga kaki dari kereta, wajahnya kelihatan anggun dan tenang dg jenggot putihnya berkibar terhembus angin, orang ini memang tak lain adalah Bu wi lojin.

Komandan Sin segera menjura utk memberi hormat, lalu katanya sambil tertawa terbahak-bahak,

“Ha...ha...ha. saudara Bu wi, sejak berpisah tiga puluh tahun

berselang tak disangka kita akan bersua kembali maam ini!”

Ketika bertemu komandan Sin, tiba-tiba paras muka Bu wi lojin berubah, segera sahutnya sambil menjura pula,

“Ooooh. rupanya Sin tayhiap, apakah kau pun mengharapkan

kitab pusaka Thian goan bu boh?” Komandan Sin segera tertawa,

“Aku orang she Sin mengerti akan kemampuan serta keterbatasanku, sehingga sama sekali tdk berambisi dg kitab pusaka tsb.

Hanya sayang aku sedang melaksanakan perintah sehingga mau tak mau terpaksa mohon pengertian dari engkoh tua, asal engkoh tua bersedia memberi muka kpd ku, aku Sin cu beng bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan Kho kongcu serta engkoh tua utk meninggalkan tempat ini.”

“Bagus, bagus sekali, ha...ha...ha. ”

Setelah mengucapkan dua patah kata itu, Bu wi lojin memperdengarkan suara tertawanya yg amat pedih, terusnya:

“Sama sekali tak kusangka tokoh sakti yg pernah menggetarkan dunia persilatan pada tiga puluh tahun berselang sebagai tujuh pedang tiga belas lelaki, ternyata telah berubah menjadi manusia tak becus yg sudi tunduk dibawah gaun wanita!”

Ternyata Sin Cu beng tdk menjadi gusar, katanya sambil tertawa: “Saudara Bu wi, perkataanmu ini keliru besar sekali, atasanku

adalah seorang tokoh sakti yg berwatak mulia dan bersikap anggun melebihi bidadari, sekalipun Sin Cu beng tunduk dibawah perintahnya, hal ini tak akan merusak nama baikku.”

Bu wi lojin segera mendengus dingin:

“Sin Cu beng, seorang perempuan rendah yg tak tahu malu pun kau anggap sebagai bidadari, jangan-jangan matamu sudah silau sehingga tak bisa menilai orang. ?”

“Tutup mulut!” bentak Sin Cu beng dg wajah berubah, “jangan kau tuduh atasanku dg kata-kata yg jorok dan kotor, bila kau berani menghinanya lagi, jangan salahkan bila aku Sin Cu beng tak akan mengingat hubungan kita dahulu dan segera menyerangmu secara habis-habisan.”

Mendengar perkataan mana, Bu wi lojin segera menghela napas panjang, ujarnya kemudian,

“Sudah, sudahlah Sin Cu beng! Aku hanya merasa sayang dg nama besarmu dulu sebagai pedang geledek, tapi.....yaa setiap

orang mempunyai tujuan yg berbeda dan siapapun tak sapat memaksakan pendapatnya, nah sekarang aku hanya minta kepadamu utk segera membebaskan Kho kongcu!”

Dibalik perkataan tsb jelas nada sayang dan kecewa yg amat sangat.

Sementara itu Kho Beng merasakan hatinya berdebar keras, kalau didengar dari nada suara Bu wi lojin agaknya komandan Sin ini bukan saja memiliki kedudukan yg tinggi, lagipula pernah dikenal sebagai seorang pendekar sejati.

Tak heran kalau ia berpendapat bahwa orang ini tdk mirip seorang manusia sesat, tapi mengapa tokoh semacam inipun begitu tunduk dibawah periontah iblis wanita dan rela menjadi kuku garudanya?

Dalam pada itu, sipedang geledek Sin Cu beng telah berkata dg suara dalam:

“Kho kongcu berada dalam kereta, asal kau bersedia mengembalikan kitab pusaka yg kau curi itu, aku pun segera akan membebaskannya!” “Bila aku hanya menuntut dikembalikannya orang itu dan tidak bersedia mengembalikan kitab pusaka?”

Sin Cu beng segera tertawa dingin, jengeknya:

“Mengapa kau tidak mencoba utk mengukur dulu kekuatanmu?

Jangan lagi aku didukung dua puluh jago pedang kelas satu, dg mengandalkan pedang ini pun belum tentu kau bisa mengungguli diriku.”

Tapi setelah berhenti sejenak, dg nada pembicaraan yg jauh lebih lunak, kembali katanya sambil menghela napas:

“Saudara Bu wi, sku Sin Cu beng tahu kalau isi perutmu sudah terluka parah, sekalipun kau nekad ibaratnya hanya kunang-kunang yg menubruk api, hanya mencari kematian buat diri sendiri, aku berharap kau jangan memaksaku turun tangan!”

Bu wi lojin segera tertawa terbahak-bahak:

“Ha...ha...ha...Sin Cu beng! Tak nyana kau masih teringat akan persahabatan kita dulu, tapi apa kau lupa dg tabiatku?”

Sin Cu beng tertawa:

“Justru aku cukup mengerti akan watakmu yg suka akan keheningan dan hambar dg segala pertikaian, maka kuanjurkan kepada mu agar lepas tangan saja, apalah artinya mempertaruhkan jiwamu hanya demi sebuah benda?”

Bu wi lojin tertawa dingin, jengeknya:

“Kalau sudah tahu kalau aku senang akan keheningan dan hambar dg segala macam pertikaian, kau seharusnya jangan lupa kalau aku tak bakal menyerempet bahaya bila tak punya pegangan.

Kalau toh sudah tahu kalau aku tak suka keributan, kau harus mengerti bahwa tindakanku sekarang krn terdorong kepentingan yg mendesak bahkan demi kepentingan pribadiku sendiri!”

Sin cu beng tertawa terbahak-bahak:

“Ha...ha...ha...bila kudengar dari nada pembicaraan loheng, agaknya kau datang dg mengandalkan sesuatu.”

“Memang begitulah keadaannya!”

“Aku jadi ingin tahu apa sih yg kau andalkan itu?”

“Aku sudah terluka parah, kalau tanpa persiapan bukankah tindakanku ini sama artinya dg mencabuti kumis harimau? Sin cu beng coba perhatikan jelas-jelas.”

Sambil berkata tiba-tiba ia meloloskan pedangnya dan menunding langit dg ujung pedangnya lalu diputar satu lingkaran. Menyusul kode rahasia itu, dari empat penjuru bermunculan bayangan manusia yg jumlahnya tak kurang dari dua puluhan.

Menyaksikan kejadian tsb, dua orang dayang yg berada dlm kereta menjadi terkesiap, sebaliknya Kho Beng sangat kegirangan sehingga hampir saja bersorak kegirangan.

Dengan sinar mata yg tajam si pedang geledek, Sin Cu beng memperhatikan sekejap wajah orang-orang itu, lalu katanya:

“Tua bangka, tak kusangka kemampuanmu sangat hebat, hanya dalam seharian saja telah dapat mengumpulkan jago-jago sebanyak ini!”

Bu wi lojin tersenyum.

“Nah, anak buahku sekarang tdk lebih sedikit daripada kekuatan, bukan...”

Sambil tertawa seram Sin  Cu  beng  menukas: “He....he....he. si tua, kau harap memahami kemampuan yg

kumiliki, sekalipun saat ini Cuma ada aku Sin Cu beng seorang, puluhan jagomu itu tak akan kupandang sebelah mata pun!”

Baru selesai perkataan itu diutarakan, medadak dari sisi hutan terdengar seseorang berseru sambil mendengus dingin:

“Hey orang she Sin, apa kau tidak malu membual melulu?” Sin Cu beng tertawa dingin, sambil berpaling tegurnya: “Siapa kau?”

“Aku Ang It tiang!”

Berubah paras muka Sin Cu beng mendengar nama itu, jeritnya tertahan krn kaget,

“Kau adalah si kakek tongkat sakti?”

Sambil tertawa tergelak Bu wi lojin menyela: “Ha...ha...ha. tepat sekali, memang si tua Ang, jika kau

menganggap seorang kakek tongkat sakti masih belum kau pandang sebelah mata pun, baiklah kuperkenalkan lagi beberapa orang sahabatku yg lain.”

Berbicara sampai disini, dia segera berpaling seraya teriaknya keras-keras:

“Hey pelajar rudin, bersediakah kau mengucapkan beberapa patah kata bagiku?”

Dari kejauhan sana segera terdengar seseorang menyahut:

“Aku sipelajar rudin Cuma pandai membuat syair, aku tak mampu berbicara, apalagi ditengah malam yg tak berbintang ini ilhamku serasa menjadi tersumbat, tapi kalau suruh main pedang putar golok, rasanya lebih sesuai dg keadaan.”

“Siapakah pelajar rudin itu?” tanya Sin Cu beng tertegun. “Hmmm...masa pemimpin Lam huang pat ciong (delapan rudin

dari Lam huang) yg lebih dikenal sebagai pelajar rudin Ho Heng pun tdk kau kenal? Hmmmm, aku lihat kau Sin Cu beng sudah bosan hidup!”

Sekali lagi paras muka Sin Cu beng berubah hebat, alis matanya makin lama berkenyit semakin kencang.

Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi:

“Tampaknya kau Sin Cu beng memang benar-benar punya nyali, mari, biar kuperkenalkan seorang teman lagi.”

Setelah celingukan sebentar kesekeliling sana, teriaknya lantang, “Hey hwesio, bagaimana kalau kaupun unjukkan diri?”

“Hidup sebagai seorang pendeta, sama halnya sudah tak punya nafsu apa-apa, kenapa aku mesti unjuk diri? Tapi aku hwesio tak pernah membaca doa, tak pernah juga makan hidangan berpantangan, aku paling tertarik dg segala jenis barang yg aneh, asal kau tak ingkar janji dan memberi salinan kitab pusaka Thian goan bu boh kepadaku, biar ada urusan sebesar apapun didunia ini, aku si hwesio tetap akan menanggulanginya seorang diri.”

Paras muka Sin Cu beng betul-betul berubah hebat, serunya tanpa sadar:

“Aaai...si hwesio daging anjing Thian tin?”

“Ha...ha...ha...Sin Cu beng, walaupun kita tak pernah bertemu muka, namun aku si hwesio sudah lama mendengar nama besarmu, bila kau ingin kabur kuharap larilah kearahku, aki sihwesio pasti mengundangmu utk mencicipi daging anjing sebelum kuhantar pulang ke See thian menemui Hud cow!”

Menanti perkataan itu selesai diucapkan, Bu wi lojin segera berkata pula sambil tertawa bergelak:

“Nah, Sin lote, bagaimana keputusanmu sekarang! Akan kau bebaskan tawananmu itu? Ataukah ingin bertempur mati-matian?”

Dicekam oleh perasaan terkejut bercampur ngeri, Sin Cu beng benar-benar tak habis mengerti, darimana Bu wi lojin bisa mengumpulkan jago-jago lihay yg dihari biasa pun susah dijumpai, jangan lagi ia belum mengetahui jago lainnya, cukup berbicara tentang si pelajar rudin, kakek tongkat sakti serta hwesio daging anjing pun sudah cukup membuat kepalanya pusing. Sekalipun ia merasa curiga, tapi kenyataannya telah terpampang didepan mata dan tak mungin dipungkiri lagi.