Kedele Maut Jilid 15

 
Jilid 15

..dibuatnya, saking malunya dia sampai menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Akhirnya Kim lotoa yg tak tega, buru-buru tegurnya:

“Lo sam, kau sudah kelewat banyak minum, hayo jangan berbicara semaunya lagi macam orang edan!”

Kemudian sambil berpaling kearah Chin sian kun, katanya lebih jauh,

“Adikku, barusan kau bilang sudah dapat memahami persoalan yg sebenarnya, tapi bagaimana sih persoalan yg sebenarnya itu?”

Sampai lama sekali Chin sian kun baru dpt mengendalikan debaran hatinya, dg suara lirih ujarnya kemudian,

“Aku rasa perasaanku tak akan berbeda jauh dg perasaan kalian bertiga, setelah dibuat mendongkol oleh segala tuduhan tanpa dasar, sebenarnya kita berharap sekali bisa menemukan Kho sauhiap utk mengungkap seluruh isi hati kita kpdnya, krn hanya berbuat begitu pikiran dan perasaan kita baru lega, entah bagaimana menurut Kim tayhiap?”

Kim lotoa menghela napas panjang,

“Yaa, tepat sekali, tak nyana kecerdasan adikku memang benar- benar hebat, setelah berkumpul hari ini, aku Kim lotoa benar-benar merasa kagum sekali, terbukti sudah bahwa apa yg tersiar dlm dunia persilatan selama ini memang benar.”

“Aaah, Kim toako hanya pandai memuji saja,” sela Chin sian kun sambil tertawa, “ucapanmu malah membuat aku malu berbicara lebih jauh.”

Kim lotoa segera tertawa terbahak-bahak… “Ha…ha…ha…padahal perkataanku bukan bermaksud

mengumpakmu, aku benar-benar merasa kagum dan berbicara sebenarnya. Hanya saja…aaai, kini identitas Kho sauhiap sudah jelas, keadaan dan situasi pun telah berubah, kalau sebelumnya kami memang berhasrat utk menemukan jejaknya, maka sekarang rencana tsb harus mengalami perubahan!” “Yaa benar!” si nona mengangguk, “apabila kita teruskan pencarian ini, maka aku kuatir tuduhan yg bukan2 dari pihak mereka akan berubah menjadi sungguhan.”

Sementara itu Kim losam telah menghabiskan sepoci arak, agaknya rasa mangkel dan dongkolnya belum habis dilampiaskan keluar. Ketika mendengar perkataan itu, sambil mendengus segera serunya:

“Bukankah pernah kukatakan tadi, kalau ingin memberontak, marilah berontak dg sungguh-sungguh, sekalipun tuduhan mereka jadi sungguhan, apa pula ruginya buat kita?”

Tiba-tiba Kim lotoa membentak keras:

“Sam te, kau anggap saat ini adalah saat yg bagaimana? Apakah kau sudah bosan hidup dan ingin mencari kerepotan buat sendiri?”

Agaknya Chin sian kun mempunyai pikiran lagi, ketika mendengar perkataan mana, cepat ia menyela:

“Kim toako, perkataanmu kelewat berpandangan picik, bagaimanapun juga Kho sauhiap adalah keturunan orang termasyhu, baik kecerdikan maupun kebesaran jiwanya jauh melebihi kebanyakan orang, menurut pendapatku dia bukanlah tokoh dlm sangkar, jika ingin berbicara soal enghiong hanya atas dugaan sementara, aku pikir hal ini masih terlalu awal.”

Kim lotoa kelihatan agak tergetar, sekarang baru benar-benar menyadari bahwa si Walet terbang berwajah ganda yg tersohor ini benar-benar sudah jatuh cinta kpd Kho Beng.

Maka dg nada menyelidiki segera tanyanya:

“Lantas bagaimana menurut pendapatmu?” Tanpa pikir panjang sahut Chin sian kun:

“Menurut pendapatku, daripada sepanjang hidup kita mengembara dalam dunia persilatan tanpa tujuan dan selalu menjadi cemoohan orang lain, mengapa kita tidak melakukan pertaruhan besar dg mencari kesempatan lain utk muncul kembali dlm percaturan dunia persilatan? Asal Kho sauhiap muncul kembali dlm arena dunia persilatan, berarti saat bagi kita utk melampiaskan semua rasa mangkel dan mendongkol pun telah tiba. Hanya entah bagaimana pendapat Kim toako sendiri?”

“Soal ini…”

Krn menghadapi keputusan yg bakal mempengaruhi nasib mereka selanjutnya, Kim lotoa menjadi ragu-ragu utk mengambil keputusan. Terbayang kembali olehnya akan tuduhan tanpa dasar yg dilontarkan kepadanya ketika berada di Gak yang tempo hari, iapun mengetahui posisi Kho Beng yg terjepit sekarang.

Sementara ia masih termenung dan susah mengambil keputusan, Chin sian kun yg sedang mengawasi kejalan raya tiba-tiba tampak tertegun, lalu serunya gelisah:

“Toako bertiga, cepat lihat! Siapakah dia?”

Dg perasaan terkejut, Kim kong sam pian berpaling, mereka mengira Chin sian kun telah menemukan Kho Beng.

Ketika menengok kearah jalan raya, disitu mereka hanya menyaksikan banyak orang sedang berlalu lalang, bukan saja tdk melihat Kho Beng, seorang yg dikenal puntak nampak.

Dg keheranan Kim lotoa segera bertanya:

“Adikku, siapa yg telah kau lihat?”

Sambil menunding ketempat kejauhan sana, bisik si nona: “Kim toako, coba kau lihat kearah lima kaki didepan sana, bukankah dimuka toko kain tsb berdiri seorang perempuan?”

Kim kong sam pian segera berpaling kembali kearah toko kain diseberang jalan, dan memang benar tampak seorang perempuan sedang berjalan dg pelan.

Perempuan itu membawa sebuah payung bulat, memakai baju berwarna putih bersih, meski hanya nampak bayangan punggung saja hingga tak diketahui bagaimanakah raut mukanya, namun bunga giok putih yg menghiasi sanggulnya nampak menyolok sekali.

Sayangnya Kim kong sam pian tdk berpikir lebih jauh, krn mereka sangat asing dg perempuan tsb, tanpa terasa Kim losam bertanya:

“Apakah kau kenal dgnya?”

Dg sedikit kebingungan dan tak habis mengerti Kim kong sam pian mengawasi nona itu dg wajah melongo, namun oleh krn Chin sian kun sudah menuruni tangga, terpaksa mereka pun harus mengikutinya.

Padahal hidangan sebanyak itu diatas meja belum berkurang sedikit pun juga, tentu saja kejadian ini membuat para pelayan menjadi gelagapan dan tak tahu apa yg mesti diperbuat.

Ketika mereka berempat meninggalkan rumah makan Poan gwat kie, tampaklah perempuan berbaju putih itu sudah berada sepuluh kaki didepan sana.

Dlm keadaan begini, Kim lotoa tak dpt mengendalikan diri lagi, segera tanyanya: “Adikku, sebenarnya apa yg telah terjadi?”

Sambil mempercepat langkahnya, Chin sian kun berkata: “Apakah kalian lupa dg ciri wajah si Kedele Maut yg pernah kita

dengar utk pertama kalinya ditelaga Tong ting tempo hari?”

Paras muka Kim kong sam pian seketika berubah hebat, agak tercengang Kim lotoa berseru:

“Darimana kau bisa tahu kalau perempuan tsb adalah si Kedele Maut…?”

“Memakai baju putih, membawa payung bulat dan mengenakan bunga putih disanggulnya, bukankah ciri tsb pernah disinggung oleh Kho sauhiap kpd kita semua?”

“Tapi bukankah Kho sauhiap pernah melakukan ralat atas keterangannya itu?” seru Kim lotoa.

Chin sian kun segera tertawa dingin:

“Kim toako mengapa kau begitu bodoh, tentu saja ralat yg dilakukan sauhiap hanya bermaksud utk mengelabui pandangan kita semua, hanya saja memang aku blm mengerti secara pasti, mengapa utk pertama kalinya dulu ia sampai memberikan keterangan semacam itu kpd umat persilatan.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, keempat orang itu sudah berhasil menyusul kebelakang perempuan tadi, selisih jarak mereka tinggal empat lima langkah lagi.

Tiba-tiba Kim lotoa menarik ujung baju Chin sian kun sembari bisiknya lirih:

“Ei…tunggu sebentar!”

Chin sian kun agak tertegun, lalu dg wajah bersemu merah tanyanya keheranan:

“Ada urusan apa?”

Sambil menghentikan langkahnya Kim lotoa segera berkata: “Benarkah dia sebagai kakak kandung Kho sauhiap hingga kini

masih merupakan teka teki, aku dengar ia sangat gemar membunuh, seandainya perbuatan kita yg membuntuti serta menegurnya menimbulkan kecurigaan atas diri kita berempat sehingga membangkitkan nafsu membunuhnya, bukankah hal ini berarti mencari penyakit buat diri sendiri, maksud baik berubah menjadi niat jahat?”

Teguran tsb kontan saja mengejutkan hati Chin sian kun, tanpa terasa dia menghentikan langkahnya seraya mengangguk, “Yaa, perkataan toako memang benar, hampir saja aku berbuat kesalahan besar krn belum terpikir sama sekali akan soal itu.”

“Lagipula aku ingin tahu, megapa kau mesti mengambil tindakan menyerempet bahaya?” tanya Kim lotoa lebih lanjut.

Dg paras muka bersemu merah sahut Chin sian kun: “Seandainya ia benar-benar si Kedele Maut, bukankah

menemukan dirinya sama artinya dg menemukan Kho sauhiap?”

Lalau sambil menggigit bibir seraya termenung sesaat, katanya kemudian:

“Hmmm, aku punya akal sekarang, tolong toako bertiga mengikuti beberapa langkah dibelakangnya saja, andaikata terjadi kesalah pahaman sehingga berkobar pertarungan, kalian dpt membantuku bila perlu. Sekarang biar aku lewat dulu disampingnya, akan kucoba utk menegurnya dg beberapa kata.”

Kim kong sam pian mengangguk kegirangan, mereka segera memperlambat langkahnya.

Sementara itu si Walet terbang berwajah ganda telah mempersiapkan diri baik-baik dan mempercepat langkahnya maju kedepan.

Belasan langkah kemudian ia sudah melalui sisi tubuh perempuan berbaju putih tadi.

Setelah lewat ia berlagak menoleh seraya menyapa:

“Hey, tak disangka enci dari keluarga Kho pun berada disini?”

Sikapnya yg begitu hangat seakan-akan sahabat karib yg baru bersua saja, benar-benar amat mesra.

Akan tetapi setelah ia dpt melihat dg jelas usia serta raut muka perempuan berbaju putih itu, tiba-tiba saja timbul keraguan dlm hatinya.

Sewaktu utk pertama kali ia mendengar berita yg dibawa anggota Sam goan bun tempo hari, konon usia si Kedele Maut baru dua puluhan tahun, krn usia begitu memang cocok sekali menjadi kakak kandung Kho Beng.

Sebaliknya meski perempuan ini berdandan amat sederhana, bermuka bulat telor berhidung mancung dan bibir kecil, namun usianya pasti lebih dari dua puluhan tahun.

Memang buat seorang wanita utk menebak usia perempuan lainnya seringkali agak cocok, menurut penilaian si Walet terbang berwajah ganda, paling tidak perempuan ini telah berusia dua puluh limaan tahun, lagipula sudah tak mirip seorang gadis perawan. Lantas benarkah dia si Kedele Maut? Diakah enci kandung Kho Beng? Jangan-jangan ia salah menegur?

Betul juga, tatkala mendengar sapaan dari Chin sian kun tadi, perempuan itu nampak menghentikan langkahnya, dg wajah agak tertegun, tapi setelah memperhatikan lawannya sekejap, segera jawabnya sambil tertawa ringan:

“Nampaknya adik sudah salah melihat orang!”

Chin sian kun tak mau menyerah dg begitu saja, berlagak-lagak tertegun kembali serunya,

“Ooooh…jadi toaci tidak berasal dari marga Kho?” Perempuan itu menggelengkan kepalanya berulang kali, “Tidak, aku tidak bermarga Kho, aku bermarga Ciu!” Agak curiga Chin sian kun berkata:

“Aneh benar, sudah jelas Kho sauhiap menerangkan kepadaku bahwa encinya mempunyai wajah serta dandanan yg mirip sekali dgmu…”

Mencorong sinar aneh dari balik mata perempuan itu setelah mendengar ucapan tsb, sambil menggeleng tukasnya,

“Adik pasti sudah salah melihat orang, aku sama sekali tak punya keluarga dari marga Kho sejak kawin dg suamiki dari marga Ciu, akupun belum pernah mendengar bila suamiku mempunyai sahabat atau keluarga dari marga Kho…”

Setelah jelas mengetahui bahwa lawannya bukan seorang gadis, Chin sian kun baru betul-betul merasa kecewa, sambil segera katanya cepat-cepat:

“Kalau begitu siaumoy benar-benar telah salah melihat, harap toaci jangan marah.”

Baru selesai berkata, tiba-tiba terdengar Kim losam berseru dg suara keras:

“Coba lihat, bukankah dia adalah Kho sauhiap?”

Sambil berkata ia segera menunjuk kebelakang tubuh Chin sian kun.

Dg perasaan terkejut buru-buru si nona berpaling, benar juga tampak Kho beng bersama empat orang lelaki aneh berjalan melintasi sebuah jalanan dan menyusup kedalam lorong kecil, dimana bayangan tubuhnya segera lenyap dari pandangan.

Sayang sekali ia kelewat gelisah utk menengok kearah Kho Beng sehingga tak sempat terlihat olehnya bahwa perempuan tadi pun menyunggingkan sekulum senyuman aneh diujung bibirnya sehabis mendengar perkataan tsb, tiba-tiba saja ia membalikkan badan lalu berjalan menuju kearah rumah makan Poan gwat kie.

Sementara itu, Chin sian kun yg telah berhasil menemukan jejak Kho Beng pun tak mau membuang waktu lagi, ia segera memberi tanda kepada Kim kong sam pian, kemudian cepat-cepat menyusul kearah mana pemuda tadi lenyap.

Siapa sangka setibanya ditikungan lorong tadi, ia hanya melihat banyak manusia berlalu lalang disitu, bayangan Kho Beng maupun keempat lelaki aneh tadi sudah lenyap dari pandangan.

Dlm pada itu Kim kong sam pian telah menyusul kesisi Chin sian kun, ketika tak menjumpai bayangan tubuh anak muda itu, buru- buru Kim lotoa berkata:

“Sudah kau temukan dirinya?”

Chin sian kun menghela napas panjang:

“Aaaai…belum, agaknya dia sengaja hendak menghindari dari kita semua!”

Kim losam segera tertawa:

“Kota Tong sia bukan sebuah kota yg terlalu besar, asalkan orangnya masih disini, aku rasa tak mungkin ia bersembunyi dibawah tanah!”

Mendengar itu Chin sian kun segera tersenyum,

“Yaa, perkataan Sam ko memang betul, bagaimanapun jua kita kan tak punya urusan, mari kita cari jejaknya dg seksama.”

Seraya berkata ia segera beranjak menelusuri jalan sambil celingukan kesana kemari.

Kalau gadis ini bersemangat utk mencari jejak Kho Beng krn benih cinta yg sudah tumbuh didlm hatinya, maka Kim kong sam pian justru mengikuti dibelakangnya dg begitu saja.

Namun kenyataannya ternyata jauh diluar dugaan, walaupun mereka berempat telah menelusuri seluruh kota Tong sia dan setiap jengkal tanah sudah hampir mereka periksa semua, namun bayangan tubuh Kho Beng serta keempat lelaki aneh itu sama sekali tak nampak kembali.

Akhirnya Chin sian kun mulai mendongkol bercampur kesal, sedang Kim kong sam pian pun mulai bermandi peluh.

Ketika melihat senja sudah menjelang sementara pencarian mereka tetap nihil, Chin sian kun yg kelelahan segera berkata kpd Kim kong sam pian: “Lebih baik kita mencari sebuah rumah penginapan dulu utk beristirahat.”

Sesungguhnya Kim kong sam pian sendiri pun sudah kelelahan, tentu saja mereka tak punya usul lain, maka mereka berempat pun menginap dirumah penginapan yg memakai merk “Hong hian”

Begitu memasuki ruang belakang dg wajah murung dan kesal Chin sian kun segera menjatuhkan diri duduk dikursi,

Melihat keadaan si nona, Kim lotoa segera menghiburnya,

“Asal sudah kita ketahui kehadiran Kho sauhiap dikota Tong sia, aku rasa kau pun tak usah terlalu gelisah lagi?”

Tiba-tiba Chin sian kun menghela napas panjang:

“aaaai… padahal lebih baik kita tak usah mencarinya, sebab bila ditemukan malah banyak ruginya dari pada untungnya.”

Mendengar perkataan itu, Kim kong sam pian segera menjadi tertegun dan melongo, pikirnya:

“Yg hendak mencarinya juga kau, sekarang yg mengusulkan jangan dicari juga kau, yaa….perasaan wanita memang benar-benar susah diduga…”

Tak tahan lagi Kim loji segera bertanya:

“Adikku, apa maksud perkataanmu itu?”

“Pembicaraan kita sewaktu berada dirumah makan tadi belum diperoleh suatu kesimpulan ataupun keputusan, tak ada salahnya kalian bertiga berpikir sekarang, kalau toh kita belum bisa mengambil keputusan tentang sikap yg bagaimana mesti kita ambil dalam menghadapi Kho Beng, sekalipun berhasil menemukannya, lalu apa pula yg hendak kita lakukan…?”

Sekarang Kim kong sam pian baru memahami maksudnya, serentak mereka terbungkam dlm seribu bahasa.

Sambil mengucap Chin sian kun kembali berkata:  “Persoalan ini menyangkut nasib kita selanjutnya, karena itu

kalian bertiga wajib mempertimbangkan dulu untung ruginya, sekarang aku hendak kembali kekamar utk beristirahat dulu, kalian bertiga tak ada salahnya utk memenfaatkan kesempatan ini utk berpikir masak-masak, tapi ada satu hal yg perlu kujelaskan dulu, entah bagaimana pun keputusan yg bakal kalian ambil, aku Chin sian kun sudah bertekad utk melakukan pertarungan besar ini.”

Habis berkata buru-buru dia keluar dari ruangan. Kim kong sam pian yg berada dlm ruangan saling pandang sejenak sambil termenung, akhirnya Kim lotoa menggeliat sambil berkata:

“Aku rasa persoalan ini bisa kita bicarakan secara pelan-pelan, mari kita pergi bersitirahat lebih dulu.”

Kim loji dan Kim losam menyetujui usul Kim lotoa, saat ini mereka memang membutuhkan waktu utk beristirahat sebentar, maka setelah menguap berulang kali, mereka pun membaringkan diri diatas ranjang.

Belum sampai terlelap tidur, mendadak dari kamar sebelah berkumandang suara rintihan lirih, tapi makin lama suara rintihan tsb makin keras.

Orang yg mengantuk seringkali mudah naik darah bila terganggu oleh suara yg berisik, Kim losam yg pertama-tama naik darah, sambil melompat bangun dari pembaringan, umpatnya:

“Anjing busuk darimana yg berada dikamar sebelah, berisik betul mengganggu ketenangan oranng.”

Sambil membetulkan pakaian ia segera bangkit dan membuka pintu kamar….

Tentu saja Kim lotoa juga tak dpt beristirahat, masing-masing segera bangun dari pembaringan.

Ketika melihat diknya meninggalkan kamar, Kim lotoa segera menegur dg suara dalam:

“Sam te, jangan gegabah!”

Sebetulnya Kim losam hendak menerjang kedlm kamar sebelah, ketika mendengar suara bentakan dari toakonya, terpaksa ia hanya berhenti dimuka pintu kamar sambil umpatnya dg suara keras:

“Hey sobat, bila kau sedang sakit, suruh lah pelayan utk memanggilkan tabib, tempat ini bukan rumahmu, tapi penginapan, bila kesakitan tahanlah sedapat mungkin, jangan sampai mengganggu ketenangan orang lain….”

Sementara ia masih berkaok-kaok, pintu kamar diujung sana dibuka orang lalu nampaklah Chin sian kun yg baru bangun tidur munculkan diri sambil bertanya:

“Sam ko, siapa sih yg berdiam dikamar sebelah?”

Rupanya diruang belakang terdapat tiga buah kamar, krn sewaktu datang yg tengah sudah diisi tamu, maka mereka tdk terlalu memperhatikan. Tapi setelah Kim kong sam pian tdk dpt tidur krn berisik, otomatis Chin sian kun yg berada dikamar ujung sebelah sana pun mengalami keadaan yg tak berbeda.

Sementara itu Kim losam telah berseru sambil tertawa dingin: “Siapa yg tahu manusia atau telur busuk yg berdiam disitu….” Kalau tdk dimakai keadaan masih mendingan, begitu diumpat maka suara rintihan yg berasal dari ruangan itu pun berkumandang

makin keras dan nyaring.

Bukankah hal ini sama artinya dg sengaja mencari gara-gara? Kim lotoa menjadi amat curiga, segera bentaknya:

“Sobat yg berada dlm kamar, benarkah kau menderita sakit parah?”

Sambil menegur ia mendorong pintu ruangan, ternyata pintu kamar tdk dikunci dan segera terbuka.

Ketika delapan sorot mata mereka tertuju kw dlm ruangan, serentak orang-orang itu menjadi tertegun.

Ternyata orang yg merintih didalam kamar adalah seorang kakek berambut putih yg wajahnya kuning kepucat-pucatan.

Kakek itu duduk diatas pembaringan dg bersandar pd dinding, mulutnya merintih tiada hentinya, sementara sorot matanya mengawasi keempat orang yg berada diluar pintu tanpa berkedip, agaknya tenaga utk berbicara pun sudah tak punya.

Menyaksikan keadaan tsb, perasaan iba segera muncul di dlm hati kecil Kim kong sam pian serta Chin sian kun, hanya saja dlm hati kecil masing-masing diliputi perasaan tak habis mengerti, kalau toh orang tua itu menderita sakit parah, mengapa ia tdk berbaring sebaliknya malah tetap duduk?

Chin sian kun segera menegur lebih dulu:

“Orang tua, bolehkah kami masuk ke dlm?” Orang tua itu manggut-manggut.

Tiga saudara Kim segera melangkah masuk kedalam kamar dan mengambil tempat duduk, kemudian Kim lotoa baru bertanya:

“Parahkah sakit yg kau derita orang tua?”

Kakek itu mengangguk, sambil menghela napas, katanya dg lemah:

“Terima kasih banyak utk perhatian anda, hanya saja aku menjadi tak tentram krn sudah mengusik ketenangan tidur kalian.”

Kim losam tertawa jengah, “Kami hanya tak dpt mengendalikan emosi sehingga mengumpat kau orang tua sekenanya, utk itu harap lotiang jangan marah, padahal siapa sih yg bisa menjaga kondisi masing-masing selama berada diluar rumah? Cuma saja….kalau toh totiang menderita penyakit parah, mengapa kau tidak meminta tolong pelayan utk memanggilkan tabib?”

”Aaaai…!” sekali lagi sikakek menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kalau memang sakit mana boleh tidak diobati?” seru Kim loji cepat, “bila totiang sedang kekurangan bekal, tak perlu sungkan- sungkan, kami bersedia utk membantu!”

Sembari berkata dia hendak merogoh saku.

Buru-buru sikakek menggoyangkan tangannya berulang kali sambil katanya:

“Maksud baik kalian berempat biar lohu terima dlm hati saja, padahal aku bukannya tak mampu memanggil tabib utk memeriksa sakitku, dlm kenyataannya penyakit yg kuderita ini tak nanti akan bisa diobati oleh tabib mana pun!”

“Penyakit apasih yg lotiang derita?” tanya Chin sian kun agak tercengang.

Sekali lagi si kakek menghela napas, “kalian berempat bukan tabib sekalipun sudah aku sebut pun tak ada gunanya, hanya saja ada sebuah persoalan ingin aku tanyakan , semoga kalian dpt menjawab dg sebenarnya.”

“Katakan saja lotiang!” buru-buru Kim losam berseru. “Kalau dilihat dandanan kalian berempat sebagai jagoan

persilatan, pernahkah mendengar tentang seorang yg bernama Kho Beng?”

Mendengar pertanyaan tsb, keempat orang tsb nampak terperanjat sekali.

“Ada urusan apa sih lotiang mencari Kho Beng?” Chin sian kun segera menegur.

Setelah menghela napas, kakek itu berkata:

“Aku hanya dpt memberitahukan kpd kalian bahwa aku Cuma mendapat titipan dari seseorang, apa daya aku sedang menderita sakit parah dan tak mampu berkutik, krn nya terpaksa aku Cuma bisa bertanya kpd kalian berempat.”

“Ooooh” Kim lotoa manggut-manggut, “Siapa sih yg menitipkan persoalan itu kpd lotiang? Persoalan apa yg hendak disampaikan?” Kakek itu tertawa minta maaf,

“Aku hanya dpt memberitahukan kpd kalian bahwa orang itu adalah seorang wanita, sedang masalah yg lain maaf kalau aku tak bisa memberitahukan kpd kalian.”

Dg tak sabar Kim losam berseru:

“Padahal orang she Kho itupun berada dikota Tong sia, sayang sekali kami hanya sempat melihatnya dari kejauhan, sewaktu disusul ternyata usaha kami mengalami kegagalan.”

Kakek itu menjadi kegirangan, buru-buru serunya: “Aaah…tak kusangka begitu kebetulan, ada suatu benda aku

mohon kpd kalian berempat agar disampaikan kpd Kho Beng, apakah kalian bersedia membantu?”

Sementara Kim lotoa masih termenung, dg gembira Chin sian kun telah berseru:

“Kalau memang lotiang minta tolong kpd kami, tentu saja kami akan mengusahakannya.”

Sikakek segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah Kim kong sam pian, kemudian tanyanya:

“Apakah kalian bertiga mempunyai suatu kesulitan?” Kim lotoa menjawab cepat.

“Setelah Chin lihiap menyanggupi, tentu saja kami akan berusaha membantunya.”

“Kalau begitu, kuucapkan banyak terima kasih lebih dulu!” seru si kakek kegirangan.

Sembari berkata ia mengambil sepucuk surat yg tertutup rapat dari bawah pantatnya, sambil diangsurkan ketangan Kim lotoa, katanya:

“Isi surat ini penting sekali, harap kalian berempat menyimpannya secara baik-baik!”

Cepat-cepat Kim lotoa bangkit dari tempat duduknya utk menerima, siapa tahu ketika ujung jarinya hampir menyentuh sampul surat itu, mendadak si kakek tadi melepaskan sampul surat tadi lalu secepat kilat tangannya menyambar kemuka, dg cepat kelima jari tangannya mencengkeram urat nadi Kim lotoa erat-erat.

Sesungguhnya Kim lotoa bukan orang sembarangan, betapa terperanjat ia menghadapi kejadian tsb, cepat-cepat ia menarik tangannya sementara sebuah bacokan kilat dilontarkan dg telapak tangan kanannya. Tapi sayang walaupun ia cukup cepat menghindarkan diri toh tak berhasil meloloskan diri dari ancaman kelima jari tangan kakek itu, tak ampun pergelangan tangannya segera tercengkeram dg telak.

Dlm waktu singkat Kim lotoa merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak kencang, tenaga pukulan yg dilontarkanpun punah ditengah jalan.

“Plaaaak…!”

Ketika sampul surat itu jatuh kelantai, ternyata menimbulkan suara yg berat.

Sementara itu Chin sian kun, Kim loji dan Kim losam telah dibuat tertegun oelh perubahan yg berlangsung secara mendadak itu, utk sesaat mereka tak mampu berbuat apa-apa.

Akhirnya Kim losam melotot dg amarah teriaknya keras-keras: “Bagus sekali! Rupanya kau si keledai tua sedang menipu kami dg

siasat busuk, ayoh cepat bebaskan toako ku!”

Sambil berseru, tubuhnya menerjang kemuka kuat-kuat, telapak tangannya bagaikan bacokan golok langsung dihantamkan kedada kakek tsb.

Jangan dilihat kakek tsb kelihatan lemah dan tak bertenaga, sekalipun tubuhnya tetap duduk tak bergerak diatas pembaringan namun tindak tanduknya cukup cekatan.

Tiba-tiba saja ia menarik tubuh Kim lotoa, kemudian ia memutar pergelangan tangannya sehingga tubuh Kim lotoa berputar seratus delapan puluh derajat dg muka menghadap keluar, dg begitu ia persis menyambut serangan dari Kim losam dg tubuh rekannya sendiri. 

Tentu saja Kim losam menjadi sangat terperanjat, tergopoh- gopoh dia menarik kembali serangannya sambil melompat mundur , begitu mendongkolnya dia sampai giginya saling beradu gemerutukan.

Sementara itu si kakek sudah membentak lagi dg suara dalam: “Barang siapa berani bertindak bodoh lagi, jangan salahkan bila

kubunuh rekan kalian lebih dulu!”

Oleh karena rekannya dibuat sebagai sandera, maka Kim loji serta Kim losam hanya bisa mendelik besar sambil berkaok-kaok penuh amarah.

Sementara itu Chin sian kun pun amat terperanjat, ia tak dpt menduga asal usul kakek tsb, tapi ia kuatir sekali, sebab bila kakek ini utusan dari tujuh partai besar, dg diketahuinya usaha membelot mereka berarti posisi mereka selanjutnya menjadi bertambah runyam...

Sekuat tenaga ia berusaha utk mengendalikan perasaan ngeri dan seram yg mencekam hatinya, kemudian setelah tertawa dingin katanya:

“He...he...he...ternyata lotiang adalah seorang jagoan lihay, tapi entah apa maksudmu berbuat selicik ini untuk menjebak kami?”

Kakek itu tersenyum.

“Apa yg telah kukatakan bukan alasan yg dibuat-buat tapi benar- benar merupakan kenyataan, aku pun sungguh menderita luka parah, bahkan aku memang bersungguh hati hendak minta tolong kpd kalian utk mencarikan Kho Beng...”

Mengetahui bahwa si kakek benar-benar menderita luka parah, Kim loji dan Kim losam saling bertukar pandang sekejap, kemudian bersiap sedia melakukan tindakan berikut.

Tapi si kakek segera membentak keras.

“Lebih baik kalian berdua jangan bertindak bodoh, sekalipun aku menderita luka parah, namun aku masih yakin bahwa kemampuan kalian berempat belum sampai kupandang sebelah matapun.”

Sekali lagi Kim loji dan Kim losam amat terperanjat.

Dalam pada itu Chin sian kun telah berkata sambil tertawa merdu,

“Bukankah kami sudah bersedia utk mencarikan Kho Beng seperti apa yg kau kehendaki, tapi mengapa kau justru melakukan tindakan semacam ini...?”

Kakek itu tersenyum,

“Bersediakah nona menyebutkan dulu nama sendiri serta tiga bersaudara ini?” pintanya.

“Aku bernama Chin sian kun, berdiam di Siang pak, sedang mereka bertiga adalah Kim kong sam pian dari Gak yang. Tolong tanya siapa nama kau orang tua?”

Kembali kakek itu tersenyum,

“Aku tak punya nama, tapi orang-orang menyebutku sebagai Bu wi!”

“Haaaahh...!”

Begitu mendengar nama “Bu wi”, baik Kim kong sam pian maupun Chin sian kun sama-sama terperanjat dibuatnya sehingga berseru tertahan. Mimpi pun mereka tak mengira kalau si kakek tak lain adalah Bu wi lojin, satu di antara tiga tokoh sakti yg sudah termasyur dlm dunia persilatan semenjak lima puluh tahun berselang.

Buru-buru Chin sian kun memberi hormat, seraya berkata: “Oooh, rupanya kau adalah Bu wi locianpwee, terus terang saja

aku bersama tiga bersaudara Kim memang berniat membelot utk bergabung dg Kho sauhiap, oleh sebab itu harap cianpwee jangan salah paham dan segera membebaskan Kim toako!”

Namun Bu wi lojin masih mencengkeram tangan Kim lotoa kencang-kencang, ia menggeleng dan berkata sambil tertawa lembut,

“Sewaktu terjun kembali kedunia persilatan akupun sudah banyak mendengar tentang kegagahan Kim kong sam pian serta Walet terbang berwajah ganda, akupun tahu kalian berempat bukan orang jahat, itulah sebabnya tindakanku sekarang tidak berniat jahat, tapi berhubung benda dalam sampul itu penting sekali artinya, sedang asal usul Kho Beng pun luar biasa sekali, dimana lebih banyak musuh ketimbang temannya, maka terpaksa aku mesti menggunakan Kim tayhiap sebagai sandera, utk itu harap kalian sudi memakluminya.” 

Setelah berhenti sejenak dan menunding sampul surat dilantai, katanya lebih jauh:

“Tolong nona Chin bersama jihiap dan samhiap pergi mencari  Kho Beng serta menyerahkan surat tsb kepadanya, suruh ia datang kemari secepatnya. Kelicikan manusia didunia ini susah diraba sehingga mau tak mau aku mesti bertindak lebih berhati-hati, biarlah kusandera Kim tayhiap sementara waktu, bila Kho Beng telah sampai disini aku pasti akan minta maaf kpd Kim tayhiap, selain itu utk kesekian kalinya ingin kutegaskan bahwa aku tidak berniat jahat terhadap Kim tayhiap, sedang kehadiran Kim tayhiap disini pun pasti aman. Selesai persoalan ini akan kuberi hadiah lain sebagai balas jasanya, nah sekarang mohon kalian bertiga utk melakukannya.”

Kim loji, Kim losam maupun Chin sian kun emmang agak jeri terhadap nama besar Bu wi lojin, mendengar perkataan tsb mereka saling pandang sekejap, akhirnya Kim losam berkata:

“Kalau toh cianpwee berkata begitu, kami akan segera pergi mencari Kho sauhiap utk membuktikan ketulusan hati kami yg sesungguhnya. ” Habis berkata dia memungut sampul surat itu, kemudian memberi tanda kpd Kim loji dan Chin sian kun.

Namun setelah mereka bertiga keluar dari penginapan Hiong hien dan mengawasi jalan yg terbentang didepan mata, mereka segera saling berpandangan sekejap dg perasaan murung.

Sudah setengah harian lebih mereka melakukan pencarian tadi tanpa hasil yg nyata, sekarang kemanakah mereka harus pergi utk menemukan jejak Kho Beng?

Padahal, mimpi pun mereka tak mengira sewaktu mereka melakukan pencarian ketiap sudut rumah tadi, sesungguhnya Kho Beng sedang duduk dg tenang dirumah makan Pon gwat kie yg baru mereka tinggalkan.

Memang disinilah letak kelemahan manusia, Chin sian kun sekalian berpendapat bahwa mereka baru saja meninggalkan rumah makan Poan gwat kie, maka walaupun sudah dua tiga kali melewati pintu muka rumah makan tsb, namun mereka tdk masuk utk memeriksanya kembali.

Berbeda dg Kho Beng, sesungguhnya ia sudah melihat kehadiran Kim kong sam pian sekalian tapi berhubung maksud kedatangannya kesitu adalah utk menelusuri jejak In nu siancu dan tak ingin mencari keributan yg lain, maka sedapat mungkin ia berusaha utk menghindari orang-orang tsb.

Tapi dia sendiripun tdk menyangka kalau Kim kong sam pian serta Chin sian kun terpengaruh oleh pembelotan Li sam hingga dicurigai oleh rakan-rekannya sendiri dimana dalam gusarnya mereka justru sedang mencarinya utk bergabung.

Tentu saja ia pun tidak tahu kalau Bu wi lojin yg sedang dicari- cari berada pula dikota Tong sia, malah menderita luka parah dan berdiam dirumah penginapan Hiong hien dimana ia sedang dicari- cari utk bertemu.

Memang kadangkala banyak kejadian yg berlangsung sangat kebetulan kadangkala justru bertentangan satu sama lainnya sehingga terjadi banyak peristiwa yg tak diinginkan. Apa yg telah dialami Kho Beng waktu itu?

Utk mengetahui keadaannya, maka waktu harus diundur setengah hari lagi yaitu sepeminuman teh setelah Kim kong sam pian dan Chin sian kun meninggalkan rumah makan Poan gwat kie.

Saat itu Kho Beng beserta keempat pengawalnya menghindar pula kedalam rumah makan tsb. Disinilah letak kecerdikan Kho Beng. Ia berpendapat Kim kong sam pian berempat mustahil akan memeperhatikan tempat itu lagi krn mereka sebelum meninggalkan tempat tsb, saat menunjukkan tengah hari yaitu saat banyak orang bersantap siang.

Untuk menghindari hal inilah, maka dia pun mencari tempat duduk didekat loteng dekat jendela, benar juga apa yg dia duga, dua kali ia menyaksikan Kim kong sam pian berempat celingukan disekitar rumah makan tsb tanpa berniat masuk kedalam utk mencarinya, diam-diam ia jadi sangat geli selain rasa bangga yg meluap.

Selain memesan hidangan dan belum lagi bersantap, tiba-tiba Kho Beng kelihatan seperti tercenung lalu bangkit berdiri, ulah pemuda tsb tentu saja amat mengejutkan Rumang serta Hapukim sekalian berempat. Ternyata Kho Beng telah menjumpai pula bayangan punggung perempuan berbaju putih yg pernah ditegur Chin sian kun tadi sedang berdiri membelakangi meja kasir.

Oelh karena orangtsb memiliki perawakan tubuh yg terlalu mirip dg encinya, ditambah lagi payung serta bunga putih disanggulnya, membuat Kho Beng amat kegirangan. Seperti juga Chin sian kun, kepada Rumang sekalian segera bisiknya:

“Coba kalian tunggu sebentar disini, aku segera balik!”

Selesai berkata buru-buru ia meninggalkan tempat duduknya menuju kemeja kasir.

Waktu itu si perempuan berbaju putih tadi sedang menyerahkan seguci arak kepada kasir sambil berkata merdu,

“Arak yg dibutuhkan majikan kami adalah arak terbaik, coba siapkan satu kati lagi!”

Sang kasir yg gemuk segera mengiakan berulang kali sambil ketawa namun ketika melihat Kho Beng yg berjalan mendekat, sekilas perasaan kaget yg susah ditemukan sempat melintas dalam sorot matanya, ia segera membalikkan badan utk mengambil arak.

Sementara itu Kho Beng telah sampai dibelakang tubuh perempuan berbaju putih itu, segera sapanya dg suara lirih:

“Enci. ”

Dg cepat perempuan berbaju putih itu berpaling. “Aaaahh!” tiba-tiba Kho Beng berseru tertahan.

Ternyata sekarang ia baru menyadari bahwa bayangan punggung yg dianggap sebagai encinya itu ternyata adalah perempuan lain, kontan saja pipinya berubah menjadi merah padam karena jengah. “Ooooh, maaf,maaf...” buru-buru serunya, “rupanya aku telah salah melihat...”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, perempuan berbaju putih itu telah menyela sambil tertawa,

“Oooh...rupanya Kho kongcu!”

Panggilan itu sediit diluar dugaan Kho Beng, ia merasa tak pernah kenal dg perempuan tsb, tapi kenyataannya pihak lawan justru

kenal dg nya.

Maka sesudah tertegun sejenak, segera ujarnya: “Kau…kau kenal dg diriku?”

Perempuan berbaju putih itu segera tersenyum, “Budak bernama Ciu hoa, pernah kudengar nona kami

melukiskan raut muka kongcu…”

“Siapakah nonamu?” seru Kho Beng cepat, setelah melengak beberapa saat.

Mendadak Ciu hoa merendahkan suaranya dan berbisik, “Nona kami adalah cicimu, Kho yang ciu!”

Kho Beng menjadi kegirangan setengah mati, segera tanyanya: “Dimanakah ciciku berada?”

“Dia berada diruang belakang rumah makan Poan gwat kie ini, biar budak siapkan arak lebih dulu kemudian baru mengajak kongcu kesitu!”

Sambil berkata ia segera menerima guci arak dari tangan si kusir gemuk itu.

Kemudian baru ia berkata lagi kpd Kho Beng: “Silahkan kongcu mengikuti budak!”

Habis berkata ia segera berjalan lebih dulu menuju keruang belakang rumah makan itu.

Ketika Kho Beng mengikuti dibelakangnya, si kusir gemuk itu tiba-tiba menampilkan secercah senyuman yg sangat aneh.

Setelah melangkah keluar pintu ruangan, ternyata dibelakang sana merupakan sebuah kamar tamu yg sangat indah.

Dg pandangan terkejut Kho Beng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu serunya:

“Aaah, tak kusangka rumah makan Poan gwat kie merangkap juga usaha penginapan!”

Ciu hoa tertawa, “Kami berdiam diruangan yg paling belakang sana. ” “Heran!” gumam Kho Beng tiba-tiba, “sudah dua kali aku bertemu cici, mengapa belum pernah melihat dirimu?”

“Dulu budak mendapat tugas menjaga abu leluhur, barubelakangan ini menyusul siocia terjun kedalam dunia persilatan.”

“Aaaah…maksudmu kau enjaga abu dari Gin san siancu cianpwee?”

Dg suara sedih Ciu hoa mengangguk,

“Sebenarnya budak sudah berjanji kepada nona utk menjaga abu selama tiga tahun, apa mau dibilang aku tak pernah tentram hatinya membiarkan nona berkelana sendiri dalam dunia persilatan, krn itu secara diam-diam meniggalkan gunung utk menyusulnya!”

Tanpa terasa Kho Beng menaruh perasaan kagum atas kesetiannya dan ditengah tanya jawab inilah mereka telah sampai dihalaman paling belakang, disitu ia menyaksikan terdapat dua bilik dg pepohonan liu yg amat rindang, tempat tsb memang merupakan sebuah tempat tinggal yg amat tenang.

Tapi sesudah melangkah masuk kedalam ruangan, kembali Kho Beng menjadi termangu, rupanya ditengah ruangan terdapat sebuah meja besar dg pelbagai macam hidangan, perangkat sumpit dan cawan elah tersedia namun tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Baru saja Kho Beng hendak bertanya, ambil tertawa Ciu hoa telah berkata lebih dulu:

“Berhubung masih ada urusan lain, nona belum kembali silahkan kongcu duduk lebih dulu.”

Sambil menunjuk kearah hidangan dimeja, Kho Beng bertanya keheranan:

“Tapi hidangan ini. ”

Buru-buru Ciu hoa menukas:

“Sebenarnya nona sedang menjamu seorang teman lamanya, tapi berhubung chen koan keh masuk secara tergesa-gesa entah persoalan apa yg dilaporkan, ternyata nona segera mengajak tamunya pergi dg melompati dinding pagar, tapi sebelumpergi ia sempat meninggalkan pesan kepada budak, katanya sebentar dia akan kembali maka budak disuruh tetap menyiapkan hidangan ini!”

“Tapi kemana perginya Cun bwee serta Sin hong?” tanya Kho Beng setelah mengambil tempat duduk. “Mereka ikut nona keluar rumah, tak ada salahnya bila kongcu duduk menanti sambil minum arak, budak rasa segera nona akan balik kemari, toh ia sudah bilang hanya akan pergi sebentar saja.”

Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali tanda ia tak ingin makan, sementara hati kecilnya menaruh curiga, dia tak tahu persoalan penting apakah yg telah ditemui cicinya? Kalau dibilang bukan urusan penting, mengapa pula ia pergi secara tergesa-gesa?

Berapa saat sudah lewat, Kho Beng duduk termenung sambil menunggu cicinya kembali, tapi orang yg ditunggu belum nampak juga.

Ketika melihat Ciu hoa berdiri terus disisinya tanpa berkutik, lama-kelamaan ia menjadi rikuh sendiri, maka sambil bangkit berdiri segera katanya:

‘Aku rasa lebih baik nanti saja aku balik lagi. ”

Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, buru-buru Ciu hoa telah berkata lagi:

“Bagaimana pun juga kongcu toh sudah menunggu sampai sekarang, kenapa mesti buru-buru pergi? Bila nona sampai tahu, ia pasti akan memarahi budak yg dibilang tak mampu melayani kongcu.”

“Tapi aku masih mempunyai empat teman yg menunggu diluar. ”ucap Kho Beng.

“Soal ini tak usah kongcu kuatirkan” sela Ciu hoa, “tentu saja budak dapat berpesan kpd sang kasir agar baik-baik melayani mereka, hingga kini kongcu belum bersantap siang, masa harus pergi dg begitu saja? Meski hendak pergi, toh rasanya belum terlambat jika bersantap lebih dulu.”

Saat ini Kho Beng memang merasa agak lapar, melihat Ciu hoa begitu bersikap hormat kepadanya, ia pun berpikir:

“Bagaimana pun juga tempat ini toh kediaman cici, kalau mesti bersikap sungkan, rasanya hal ini malah lucu sekali. ”

Berpendapat demikian, maka dia pun manggut-manggut, katanya sambil tertawa:

“Terus terang saja, perutku memang terasa agak lapar, kalau cici memang berpesan begitu,baiklah aku mengisi perut lebih dulu!”

Ciu hoa tertawa merdu..

“Sebetulnya diantara saudara sendiri memang tak perku bersungkan-sungkan, kalau tidak, orang luar pasti mentertawakan. Mari biar budak mengisikan secawan arak lebih dulu utk melegakan pikiran..”

Sambil berkata dia mengambil guci arak yg baru dibawa masuk tadi dan mengisi secawan arak penuh utk Kho Beng.

Buru-buru Kho Beng menerimanya sambil berkata: “Aku tak biasa minum, biar cukup secawan saja!”

Ia menerima cawan itu dan menegak isinya sampai habis, seketika itu juga segulung hawa panas muncul dari pusarnya dan menjalar keseluruh bagian tubuhnya, tiba-tiba saja kepalanya terasa pening.

Detik itu juga Kho Beng merasakan keadaan tak beres, matanya segera melotot besar dan ia melompat bangun.

Tapi Ciu hoa sudah berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh: “Roboh! Roboh!”

“Budak bajingan! Besar amat nyalimu!” bentak Kho Beng membentak keras-keras, “tak nyana kau berani mencelakai diriku secara licik…”

Sepasang telapak tangannya segera disiapkan utk melancarkan bacokan kilat ketubuh Ciu hoa.

Tapi sayang keadaa sudah terlambat, tahu-tahu dunia serasa berputar kencang, pandangan matanya berkunang-kunang, ia tak sanggup lagi mempertahankan diri….

“Blaaamm!”

Badannya roboh terjungkal keatas tanah.

Ciu hoa kembali tertawa terkekeh-kkeh, mendadak ia bertepuk tangan tiga kali.

Dari sisi ruangan segera muncul enam orang lelaki berbaju hitam, kepada Ciu hoa serentak mereka memuji:

“Siasat Lengcu betul-betul hebat sekali!” Ciu hoa tertawa bangga, katanya:

“Hayo cepat gotong dirinya masuk keloteng rahasia, beritahu kepada Ong cianpwee dkasir agar baik-baik melayani keempat orang asing tsb!”

Sementara itu Rumang, Hapukim dan dua bersaudara Mo masih bersantap dg lahapnya sepeninggalan Kho Beng tadi.

Hingga perutnya terasa kenyang, mereka baru teringat kalau hingga saat itu Kho Beng belum juga kembali.

Hapukim mulai celingukan kesana kemari dg tak sabar, lalu berseru keheranan: “Apa yg sudah terjadi? Kenapa cukong kita hilang lenyap dg begitu saja?”

“Jangan-jangan bocah keparat itu memanfaatkan kesempatan in utk melarikan diri” seru Rumang sambil menggebrak meja.

“He…he…he…Molim tertawa dingin, “seandainya ia bermaksud melarikan diri, sepanjang jalan ia sudah banyak mempunyai kesempatan utk berbuat begiut, buat apa dia menunggu hingga sekarang?”

“Yaa, perkataan toako memang benar!” sambung Mokim, “toh orangnya msih didalam sana, sekalipun belum namapak buat apa kita mesti gelisah.”

Rumang mengedipka mata, tiba-tiba ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak, Hapukm segera menegur:

“Apa sih yg lucu?”

Sambil tertawa ujar Rumang : “Sebenarnya aku mengira cukong kita adalah seorang kuncu, kemudian baru kuketahui rupanya dia adalah seorang pipi licin, yang suka perempuan!”

Mendengar perkataan tsb, Hapukim dan dua bersaudara Mo segera teringat kembali dg sikap Kho Beng yg buru-buru menghindar ketika melihat tiga orang lelaki kekar (Kim kong sam pian) dari kejauhan tadi, namun sekarang setelah masuk mengikuti seorang perempuan lalu lupa keadaan dan waktu. Hingga tanpa terasa mereka pun turut tertawa.

Walaupun empat orangjago sakti dari luar perbatasan ini rata- rata buas dan licik, namun jalan pikiran mereka masih terlalu sederhana, ditambah lagi mereka pun belum begitu paham tentang seluk beluk Kho Beng dg pelbagai masalahnya, maka kepergian sang pemuda yg kemudian tak pernah muncul kembali ini bukan dianggap sebagai suatu tanda bahaya sebaliknya mereka malah menafsirkan pemuda itu sebagai seorang lelaki hidung bangor yg sedang menikmati kehangatan tubuh wanita.

Begitulah setelah tertawa terbahak-nahak beberapa saat, Hapukim berkata kemudian:

“Yaa, berbicara sesungguhnya, nona-nona dari daratan Tionggoan memang mengasyikkan dg segala macam yg memikat hati, tidak heran kalau cukong kita menjadi lupa daratan sehingga begitu masuk kekamar lantas melupakan kita…..”

Molim mendengus dingin, katanya pula: “Hmmm, mengikuti manusia busuk macam begini, saban hari dari siang sampai malam mesti menuruti perkataannya, sudah lama kita merasa muak dan sebal…”

“Yaaa…kalau ingin mendapatkan anak masa masa induknya dibuang dulu” sambung Mokim, “apa boleh buat terpaksa kita mesti bersabar dulu sekarang, tapi apa yg mesti kita perbuat dewasa ini? Memanggilnya keluar dari kamar? Atau duduk saja menanti?”

Baru selesai ia berkata, Si kasir yg gemuk telah datang menghampiri dan berkata sambil tertawa:

“Toaya berempat, Kho kongcu telah berpesan kepadaku agar baik-baik melayani kalian, katanya dia masih ada urusan sehingga tuan berempat tak perlu menunggu lagi, selain itu kongcu pun telah telah menyuruh hamba utk memesankan sebuah kamar dirumah penginapan seberang sana, katanya kalian dipersilahkan utk beristirahat dulu!”

Rumang tertawa terkekeh-kekeh, tanyanya sambil berpaling: “Sebetulnya cukong kami lagi apaan sih didalam sana?”

Si kasir gemuk pura-pura tertegun, lalu tanyanya keheranan: “Masa Kho kongcu tidak memberitahukan keperluannya kepada

kalian?”

Hapukim segera menepuk bahu si kusir dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha… toako emmang makin lama makin pintar saja, kalau pekerjaan yg lain boleh dirahasiakan, masa masalah main perempuan pun mesti diumumkan? Ha…ha…ha….”

Buru-buru si kusir gemuk membungkukkan badan sambil tertawa dibuat-buat, katanya kemudian:

“Toaya memang cerdik sekali..he…he…he..utk biaya makan telah dilunasi Kho kongcu tadi, bila kalian berempat tak ada permintaan lain, hamba hendak mohon diri dulu.”

Rumang segera mengulapkan tangannya berulang kali, kemudian kepada Hapukim dan dua bersaudara Mo katanya:

“Begitupun ada baiknya juga, sudah dua puluhan hari lamanya kita tak pernah beristirahat secara baik, mumpung hari ini punya kesempatan, mari kita pergi mencari kesenangan, mari kita cicipi kehangatan nona-nona daratan Tionggoan!”

Karena mereka memang sedang menganggur dan meresa tak punya urusan lain, tentu saja usul tsb segera disetujui ketiga orang rekan lainnya, maka berempat pun beranjak pergi dari tempat duduk masing-masing dan berjalan keluar.

Sewaktu baru melangkah keluar dari pintu rumah makan Poan gwat kie, kebetulan sekali Chin sian kun serta dua bersaudara Kim sedang lewati tempat tsb.

Perjumpaan yg sama sekali tak terduga tsb mengundang kedua belah pihak sama-sama tertegun.

Dg wajah berseri Kim losam segera berbisik kepada Chin sian kun:

“Bukankah keempat orang itu yg melakukan perjalanan bersama Kho sauhiap? Tak disangka mereka pun berada dirumah makan Poan gwat kie..”

Chin sian kun segera tampil kedepan dan menjura kepada Rumang sambil sapanya:

“Saudara berempat, mengganggu sebentar, boleh kutahu siapa nama kalian….?”

Melihat kecantikan wajah Chin sian kun ibarat bunga yg baru mekar, Rumang jadi kegirangan setengah mati sambil tertawa terkekeh-kekeh segera katanya:

“Belum lagi kami pergi mencari, eeh siapa tahu si nona datang menghantarkan diri, he...he...he..aku bernama Rumang, sedang ketiga rekanku ini adalah saudara Hapukim serta saudara Molim dan Mokim. ”

Agak geli Chin sian kun melihat sikap Rumang yg kesemsem oleh kecantikannya, sambil bersikap lebih genit segera tegurnya lagi sambil tersenyum manis:

“Ooooh, rupanya saudara Rumang, saudara Hapukim dan dua bersaudara Mo, tolong tanya kenapa tak nampak Kho kongcu bersama kalian?”

Rumang segera tertawa bergelak:

“Kau sedang menanyakan cukong kami? Ha...ha...ha. ”

Belum sempat dia meneruskan kata-katanya, Molim sudah menyikutnya keras-keras membuat ia menjadi melengak.

Sambil berpaling segera tegurnya:

“Mo lotoa, apa-apaan kau ini?”
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).