Kedele Maut Jilid 14

 
Jilid 14

“Ia sudah tak sabar menunggu lagi, maka kami berdua pun disuruh keluar untuk mencari kabar.”

Sembari berkata, sinar matanya segera dialihkan ketubuh Kho Beng dan mengamatinya dg seksama.

Kho Beng baru terperanjat setelah menyaksikan tampang muka kedua orang tsb, ternyata mereka memiliki perawakan tubuh yg tinggi lagi ceking, tinggi seperti bambu sementara tampangnya seseram Rumang serta Hapukin. Hal ini membuktikan kalau mereka berasal dari satu daerah yg sama.

Hanya bedanya sikap maupun tingkah laku mereka jauh lebih dingin dan menyeramkan ketimbang Hapukin berdua, menimbulkan rasa sebal dan muak bagi yg memandang.

Yg lebih istimewa lagi adalah senjata yg tersorong dibahu mereka berdua bukan saja tanpa sarung, bentuknya pun golok tak mirip golok, pedang tak mirip, bentuknya meliuk-liuk mirip ular.

Sudah setengah harian lamanya Kho Beng memperhatikan bentuk senjata tajam tsb namun sampai terakhir pun ia tak mengetahui apa namanya, sebab belum pernah dijumpai dalam daratan Tionggoan.

Dalam pada itu si jangkung lagi ceking tadi telah berkata kembali, “Kami akan jalan duluan untuk memberi laporan kepada si tua,

harap kalian segera menyusul datang!”

Selesai berkata tampak dua sosok bayangan manusia meluncur bagaikan hembusan angin dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik pepohonan sana.

Diam2 Kho Beng merasa amat terkesiap seingatnya kepandaian silat yg dimiliki keempat orang itu tidak lebih rendah daripada jagoan kelas satu dari daratan Tionggoan.

Dg kekuatannya seorang diri, andaikata terjadi pertarungan satu lawan satu mungkin saja ia bisa meraih kemenangan, tapi kalau sampai mereka berempat maju bersama, sudah pasti dia bukan tandingannya.

Dalam terkesiapnya tiba2 dia teringat akan sesuatu, sambil berpaling tanyanya kemudian kepada Hapukim:

“Apakah si tua yg dimaksud adalah majikan kamu semua..?” “Betul!” Hapukim mengangguk membenarkan.

Dg perasaan tercengang Kho Beng segera berpikir:

“Sebagai seorang hamba ternyata dibelakang majikannya mereka memanggil sebagai si tua, hal ini menunjukkan kalau orang2 tsb tidak begitu menaruh hormat kepada majikannya, lantas hubungan antara hamba dan majikan macam apakah itu?”

Seketika itu juga ia berpendapat bahwa gerak gerik keempat orang ini bukan saja amat aneh dan mencurigakan, bahkan hubungan mereka dg majikannya yg belum sempat dijumpai pun jelas bukan suatu hubungan yg sederhana.

Sementara ia masih termenung, mereka telah membelok dua tikungan dan sampai didepan sebuah bangunan kuil yg bobrok.

Saat itu dua orang asing berperawakan jangkung lagi ceking itu sudah berdiri menanti ditepi pintu kuil, mereka segera menggapai kearah Rumang begitu melihat rekannya munculkan diri.

Dg cepat Kho Beng memperhatikan sekejap keadaan kuil tsb, rupanya tempat itu hanya merupakan sebuah bangunan yg sudah tak utuh, jelas sudah terbengkalai dan tak dihuni manusia.

Menghadapi situasi semacam ini, ia tak tahu apakah kedatangannya bakal beruntung atau sebaliknya, tanpa terasa pemuda kita menjadi ragu. Mendadak terdengar Hapukim yg berada dibelakangnya menegur dg suara rendah:

“Hey anak muda, tinggal dua langkah sudah masuk kedalam kuil, mengapa kau malah ragu2 untuk melanjutkan?”

Sementara Kho Beng masih tertegun, tiba2 pinggangnya didorong orang keras2.

Dalam keadaan tidak siap, ia segera terdorong hingga maju kemuka dg sempoyongan, tahu2 tubuhnya telah berada didepan pintu kuil.

Dg cepat hawa amarahnya berkobar, sambil membalikkan badan ia segera menghimpun kekuatan dan siap memberi pelajaran kepada pihak lawan yg dianggapnya kurang ajar itu.

Tapi belum sempat ia berbuat sesuatu dari balik ruang kuil sudah terdengar seseorang berseru:

“Kho sauhiap silahkan masuk kedalam, apalah artinya membuat keributan dg kawanan manusia seperti itu!”

Mendengar perkataan tsb Kho Beng segera berpikir sejenak, kemudian sambil tertawa dingin pikirnya:

“Betul juga perkataan ini, apa artinya ribut dg kawanan manusia biadab seperti ini, toh ada alasanpun tak bisa dijelaskan dan pula mereka hanya tahu melaksanakan perintah seseorang, bila ingin menegur, mangapa aku tidak menegur langsung kepada majikannya yg berada didalam ruangan kuil...?”

Dg pandangan dingin ia menyapu sekejap sekeliling ruangan, tampak olehnya Rumang telah berdiri disamping ruangan sementara dibagian tengah berdiri seorang kakek bertubuh pendek lagi kecil tapi kelihatan amat keras.

Setelah melihat dg jelas wajah si kakek yg berdiri sambil memegang sebuah huncwee, Kho Beng menjadi termangu untuk beberapa saat lamanya, sementara kejadian lainpun serasa melintas kembali dalam benaknya.

Dg darah mendidih dan air mata bercucuran membasahi pipinya, ia maju beberapa langkah kedepan dan segera menjatuhkan diri berlutut sambil katanya dg suara gemetar:

“Kho Beng tidak menyangka akan bersua kembali dg Thio cianpwee setelah berpisah setengah tahun berselang, ternyata kita bersua lagi disini, terimalah salam hormat boanpwee bagi kesehatan dan keselamatan cianpwee!” “Ha...ha...ha...” kakek ceking tertawa gelak, “bocah muda, kau tak usah menyebutku dg panggilan demikian, aku masih Thio bungkuk malah terasa lebih hangat...”

Ternyata kakek ceking ini tak lain adalah si Unta sakti berpunggung baja yg pernah dihebohkan karena kematiannya.

Waktu itu sambil berkata ia membangunkan Kho Beng dari atas tanah, kemudian agak emosi katanya lagi:

“Sebenarnya aku sibungkuk telah berjanji akan menemui dirimu lagi pada tiga tahun mendatang, siapa sangka dalam setengah tahun belakangan ini ternyata sudah terjadi perubahan yg besar sekali, kemajuan ilmu silat yg kau raih pun jauh diluar dugaanku sama sekali, mari, mari karena kuil ini tanpa bangku, mari kita duduk dilantai saja sambil berbincang-bincang!”

Dg perasaan gembira yg meluap-luap Kho Beng menyeka air mata yg membasahi pipinya, lalu bertanya:

“Darimana cianpwee bisa tahu kalau aku pergi ke kuil Siau lim si..?”

Si unta sakti berpunggung baja segera tertawa:

“Sejak aku melihatmu tanpa sengaja dikota Yang ciu, sampai sekarang aku selalu membuntuti disekitarmu, masa kau sama sekali tidak merasakannya.”

“Mengapa cianpwee tak segera munculkan diri untuk bertemu” seru Kho Beng agak tertahan.

Kali ini si Unta sakti berpunggung baja menghela napas. “Selama hidup aku sibungkuk enggan ingkar janji, meski

kekalahanku ditangan Bok sian taysu sewaktu berada diperguruan Sam goan bun tempo hari membuat hatiku tak puas namun karena ikatan janji tsb, aku tak dapat mengingkarinya lebih dulu!”

Ucapan mana segera menimbulkan perasaan kagum dan hormat didalam hati Kho Beng, tapi sebelum ia sempat berbicara, si unta sakti berpunggung baja telah berkata kembali sambil menghela napas:

“Aku dapat menyaksikan pertemuanmu dg encimu, lalu melihat pula kau meninggalkan bangunan kosong di Yang ciu dalam keadaan mendongkol, dari sikap serta gerak gerikmu itu aku segera tahu kalau kau tak akan mampu menahan diri dan pasti akan berangkat ke Siau lim si untuk mendapatkan kembali panji tsb, karena itu aku menguntil terus dibelakangmu. Tatkala kujumpai kalau jejakmu memang tak meleset dari dugaanku, terpaksa akupun munculkan diri dan mengajak pengurus rumah tanggamu itu untuk berunding serta

,mengatur siasat, he…he…he…pertama kali ini aku thio bungkuk ketenggor batunya.”

“Ketenggor batunya? Bagaimana maksudmu?” tanya Kho Beng agak keheranan.

“Walaupun aku sibungkuk telah berhasil menyelidiki identitas saudara tsb, namun ia justru tidak kenal dg aku sibungkuk, sewaktu terjadi pertemuan, aku sibungkuk nyaris sudah mengorek keluar seluruh isi hatiku, tapi ia sangsi dan curiga, dalam keadaan apa boleh buat tak mampu mengutarakannya keluar, aku terpaksa mohon diri dan mengikutinya terus secara diam2”

“Lantas bagaimana akhirnya? Aku lihat dia toh sudah percaya penuh dg cianpwee?” kata Kho Beng sambil tertawa.

Si Unta sakti berpunggung baja mendesis lirih:

“Kebetulan sekali pada saat kau belum tiba dibukit Siong san, hampir saja dirimu disatroni orang, agaknya Chee loko itu merasa kalau gelagat tak menguntungkan, segera ia munculkan diri dan melakukan penghadangan!”

“Cianpwee, belum kau jelaskan siapa yg telah bermaksud menyatroni diriku itu?”

“Mereka adalah Leng hong dan Leng tiok totiang, dua diantara delapan pelindung hukum Bu tong pay. Dalam satu dua patah kata saja saudara Chee telah terlibat dalam pertarungan sengit melawan Leng hong serta Leng tiok totiang berdua.

Kemampuan dari anak murid partai besar memang tak boleh dianggap enteng, tak sampai dua puluh gebrak kemudian saudara Chee mulai terdesak hebat dan tak mampu bertahan lagi. Maka aku sibungkuk pun segera memanfaatkan kesempatan itu untuk memberi bantuan, dalam pertarungan yg kemudian terjadi kami berhasil memukul mundur dua orang tosu Bu tong pay itu, dg demikian aku pun bisa memperoleh kepercayaan hingga bersama- sama mengatur siasat api tsb.

“Oooh, rupanya menggunakan api untuk memukul mundur musuh merupakan siasat yg diatur locianpwee…”

Belum habis perkataan itu diutarakan, tiba2 saja paras muka si unta sakti berpunggung baja telah pulih menjadi dingin kembali, segera tegurnya:

“Sebagai seorang laki2 sejati memang wajar memiliki semangat dan keberanian yg luar biasa, tapi kau kelewat gegabah, terlampau jumawa, kau tahu berapa ribu orang jumlah anggota kuil Siau lim si dan berapa ratus orang jago lihay yg mereka miliki? Tapi nyatanya kau berani mencuri papan namanya seorang diri untuk ditukar panji, perbuatan semacam begitu betul2 perbuatan bodoh. Apakah kau anggap Siau lim si yg termasyur itu gampang untuk dihadapi.”

Dg perasaan menyesal Kho Beng menundukkan kepalanya rendah2, sahutnya lirih:

“Teguran cianpwee memang benar…..”

Sewaktu pandangan matanya membentur kembali dg wajah Rumang, Hapukim maupun kedua lelaki kurus jangkung yg berdiri termangu disisi arena dg pandangan bingung itu, tanpa terasa dia mengalihkan pembicaraan sambil tanyanya:

“Siapakah mereka berempat? Rasanya cianpwee belum memperkenalkan mereka kepadaku?”

Si unta sakti berpungung baja segera manggut2, katanya:

“Yaa, kita hanya tahu membicarakan persoalan pribadi sehingga melupakan mereka semua…”

Sambil berkata ia segera bangkit berdiri, lalu gapainya kearah keempat orang itu sambil serunya dingin:

“Coba kemarilah kalian berempat!”

Keempat lelaki bengis itu serentak maju dua langkah kedepan, setelah berdiri berjajar, Rumang baru bertanya:

“Apakah cukong hendak memerintahkan sesuatu?”

Si Unta sakti berpunggung baja mendengus dingin, kepada Kho Beng katanya:

“Aku rasa kau tentu sudah mengetahui bukan nama dari dua orang yg mengajakmu kemari “

Lalu sambil menunjuk kearah dua lelaki jangkung lagi ceking tsb ia menambahkan:

“Mereka berdua adalah dua saudara dari keluarga Mo, yg tua bernama Molim sedang yg muda bernama Mokim seperti juga Rumang dan Hapukim, mereka semua merupakan penduduk yg berasal dari kawasan Cing hay….”

“Oooh…rupanya dua bersaudara Mo…” buru2 Kho Beng menjura kepada dua orang lelaki kurus jangkung itu.

Tapi si Unta sakti berpunggung baja segera menyela dg suara dalam:

“Kau tidak usah bersikap begitu sungkan terhadap mereka…” Sementara Kho Beng masih tertegun, si Unta sakti berpunggung baja telah berkata lagi kepada Molim berempat:

“Hayo kalian berempat cepat maju untuk memberi hormat, selanjutnya sauhiap ini adalah majikan kalian yg baru!”

Kho Beng semakin termangu lagi sehabis mendengar ucapan tsb, sebaliknya keempat orang itu pun nampak tertegun, tapi kemudian paras mukanya berubah hebat.

Rumang yg berangasan tak bisa mengendalikan gejolak emosinya lagi, ia segera membentak penuh amarah:

“Apa-apan kamu ini? Mak nya…sebetulnya kami mempunyai berapa orang majikan sih?”

Wajahnya kelihatan menyeringai bengis sementara tangannya meraba gagang golok yg tersoren dipinggang, agaknya dia merasa amat tidak puas terhadap perkataan dari si unta sakti tsb.

Kho Beng betul2 dibikin kebingungan setengah mati, dg wajah tak mengerti dan termangu diawasinya si unta sakti tanpa berkedip, dia ingin sekali bertanya, namun kedipan mata si unta sakti mencegahnya untuk mengajukan pertanyaan.

Terdengar si Unta sakti berkata dingin:

“Seekor kuda tak akan bisa dikendalikan dua orang, tentu saja kalian hanya mempunyai seorang majikan, Cuma selanjutnya Kho sauhiap lah yg bakal menggantikan kedudukan aku si bungkuk!”

“Tidak bisa!” tukas Molim tiba2 dg suara yg dingin dan menyeramkan.

“Mengapa tidak bisa?” Si Unta sakti balik bertanya dg wajah sama sekali tak berubah.

“Sewaktu kami berempat menyatakan kesediaan untuk menjadi pembantumu tempo hari, kita toh sudah berjanji bahwa mulai saat itu kami hanya akan menuruti perintahmu seorang, apabila kau si tua ingin melepaskan diri dari kami berempat…he…he...jangan mimpi!”

Kho Beng betul2 dibikin tercengang oleh peristiwa ini, kalau dilihat dari sikap maupun tingkah laku keempat orang tsb, nampaknya meski mereka sudah menjadi pembantunya si Unta sakti, namun kesediaan mereka bukan atas dasar benar2 takluk.

Tapi anehnya lagi, ternyata mereka pun enggan meninggalkan si Unta sakti untuk berganti majikan lain, sebenarnya hubungan macam apakah yg terjalin diantara mereka berdua?

Mendadak terdengar Si Unta sakti tertawa terbahak-bahak: “Ha…ha…ha…mengerti aku sekarang, rupanya kalian takut kalau aku sibungkuk mengingkari janji bukan?”

“Benar!” sahut Molim dingin.

Sambil tertawa terbahak-bahak si Unta sakti berkata lebih jauh: “Justru lantaran aku sibungkuk hendak menepati janji maka aku

baru perkenalkan Kho sauhiap sebagai majikan kalian yg baru, bila ingin mempelajari isi kitab pusaka Thian goan bu boh serta tenaga singkang, selanjutnya kalian harus baik2 melayani majikan kalian ini….”

Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras sekali, terutama setelah mendengar disinggungnya soal kitab pusaka.

Sementara itu Rumang sudah berteriak keras:

“Kami tak percaya, hayo cepat suruh dia tunjukkan kitab pusaka tsb….”

Kho Beng pun tak bisa menahan diri lagi, kepada si Unta sakti serunya:

“Cianpwee, sebenarnya apa yg telah terjadi? Jangan lagi kabar berita tentang kitab pusaka Thian goan bu boh belum diketahui, sekalipun benda tsb berada ditanganku pun pewarisnya harus diseleksi lebih dulu secara ketat!”

Siapa tahu begitu perkataan selesai diucapkan paras muka Rumang berempat sudah berubah sangat hebat, mereka segera mundur dg sempoyongan, menyusul kemudian tampak cahaya tajam berkilauan, ternyata keempat orang itu sudah meloloskan senjata masing2.

Sambil menyeringai seram Hapukim segera berseru:

“Bagus sekali! Tak disangka kau si tua bangka suka membohongi kami berempat, jauh2 dari Cing hay kau mengajak kami memasuki daratan Tionggoan, ternyata apa yg berlangsung Cuma sandiwara belaka.”

Paras muka si Unta sakti kelihatan dingin kaku tanpa emosi, agaknya dia sudah mempunyai persiapan yg cukup matang, selanya dg suara dalam dan berat:

“Selama hidup aku tak pernah berbohong kepada siapapun, siapa bilang aku telah membohongi kalian berempat?”

Mokim yg selama ini hanya membungkam terus, tiba2 mendengus dingin seraya berkata pula:

“Hey si tua! Jangan lupa kau pernah membual setinggi langit tentang kehebatan ilmu sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh ketika baru pertama kali bertemu dg kami, kaupun mengatakan bahwa kabar berita tentang kitab pusaka tsb sudah diketahui, asal sudah ditemukan maka kau bersedia mewariskan kepandaian sakti tsb kepada kami. Tapi sekarang..hmmm...mana kitab pusakanya? Mana ilmu saktinya. ?”

Si Unta sakti segera tertawa tergelak:

“Ha...ha...ha. betul aku memang pernah berkata demikian

kepadamu, padahal aku telah menemukan Kho sauhiap bagi kalian sekarang serta memperkenalkan majikan baru untuk kalian semua, hal ini sesungguhnya berarti aku telah melaksanakan setengah dari janjiku itu. ”

“Apa maksud perkataanmu itu?” tanya Hapukim tidak habis mengerti, nampaknya dia kebingungan.

“Aku bisa berkata demikian oleh karena kabar berita tentang kitab pusaka Thian goan bu boh hanya diketahui Kho sauhiap seorang, lagipula Kho sauhiap lah yg sebenarnya merupakan pemilik yg telah kehilangan kitab pusaka tsb.”

Molim segera mendengus dingin:

“Hmmm, siapa sih yg sebenarnya kau bohongi? Sudah jelas bocah muda ini mengatakan kalau berita tentang kitab pusaka tsb belum jelas. ”

Saat ini Kho Beng sudah banyak belajar dari pengalaman, buru2 dia mengulapkan tangannya seraya menyela:

“Coba kalian dengarkan dulu penjelasan dariku, barusan aku maksudkan kitab pusaka tsb belum jelas kabar beritanya karena aku masih menelusuri jejak orang yg telah mencuri kitab tsb, jadi bukan berarti sama sekali tak ada kabar beritanya.”

“Lantas kitab pusaka tsb berada ditangan siapa?” tanya Molim dingin.

“Beritahu kepada kalianpun tak ada salahnya” ujar si Unta sakti cepat, “kitab pusaka tsb berada ditangan seorang wanita yg memakai julukan sebagai In nu siancu!”

“Dewi In nu tsb berdiam dimana?” teriak Rumang lantang.

Sementara si Unta sakti hendak menjawab, Mokim sudah menyela lebih dulu dg suara dingin:

“Lotoa, kau jangan bodoh, andaikata mereka sudah mengetahui tempat tinggal perempuan tsb apa gunanya memperalat kita berempat?”

Sambil tertawa seram si Unta sakti segera menyambung. “Nah, ucapan Mo loji inilah yg paling sesuai dg jalan pikiranku, sekarang duduknya persoalan sudah jelas, berarti hanya dua jalan untuk kalian pilih, kamu berempat hendak memisahkan diri atau melakukan pencarian secara bersama?”

Molim termenung beberapa saat, tiba2 tanyanya pada Rumang: “Lotoa, bagaimana menurut pendapatmu?”

Rumang tertawa lebar.

“Aku adalah orang kasar yg dungu, pokoknya bagaimana kalian memutuskan, aku menurut saja!”

Kembali Molim berpaling kearah Hapukim, sambil tanyanya pula: “Kalau lotoa tiada pendapat, bagaimana dg pendapat saudara

Hapukim sendiri?”

Hapukim segera menggaruk-garuk kepalanya yg tak gatal, ujarnya setelah berpikir sebentar:

“Aku rasa mempunyai titik terang jauh lebih mantap ketimbang mencari secara membabi buta!”

Molim segera tertawa sinis, tukasnya:

“Bukan soal itu yg ingin kutanyakan kepadamu, aku Cuma ingin tahu jalan yg manakah yg harus kita tempuh?”

Karena melihat Hapukim berotak bebal dan agaknya tak punya pendapat lain, Mokim segera menyela:

“Toako, aku rasa lebih baik kalau kita teruskan saja perjanjian yg lama, buat kita yg baru pertama kali melangkah kedaratan Tionggoan, rasanya seperti orang buta menunggang kuda, kemana kita mesti pergi untuk menemukan perempuan tsb?”

Molim segera manggut2, kepada Rumang dan Hapukim kembali tanyanya:

“Bagaimana pendapat kalian berdua atas perkataan dari adikku barusan..?”

“Kalau Mo jiko telah berkata begitu , yaa sudahlah...kami mah tak punya pendapat apa-apa” ujar Rumang sambil tertawa kering.

Sedangkan Hapukim juga menggelengkan kepalanya pertanda tak punya pendapat lain.

Maka dg pandangan mata yg menyeramkan Molim menatap kembali wajah si Unta sakti dan Kho Beng sambil katanya:

“Baik, kami akan tetap menuruti janji semula!”

Si Unta sakti tertawa seram, sembari menarik muka katanya: “Kalau memang masih mengikuti perjanjian yg lama berarti kalian

mesti menjaga hubungan kita sebagai majikan dan pembantu, kalian pun harus menjalankan penghormatan sebagai seorang pelayan terhadap majikannya. Kenapa sampai sekarang masih mengacungkan senjata didepan kami?”

Agak tertegun keempat orang tsb setelah mendengar teguran si Unta sakti, tapi kemudian setelah saling berpandangan sambil tertawa, cepat2 mereka menyimpan kembali senjata masing2.

Kembali si Unta sakti membentak:

“Kalau toh majikannya sudah ganti, mengapa kalian tak segera maju untuk menjalankan penghormatan kepada Kho sauhiap?”

Keempat orang itu nampak sangat rikuh tapi setelah sangsi sejenak, akhirnya toh maju juga dua langkah kedepan dan memberi hormat kepada Kho Beng sambil katanya:

“Hamba menjumpai majikan baru!”

Pikiran maupun perasaan Kho Beng saat ini benar2 amat kalut, dg cepat dia mengulapkan tangannya seraya berkata:

“Kalian berempat tak usah banyak adat.” Sementara itu si Unta sakti telah menimpali pula:

“Sekarang kalian berempat boleh keluar dari sini untuk melakukan patroli disekitar tempat ini, jangan biarkan sembarangan orang mendekati bangunan kuil ini, aku masih ada persoalan lain yg hendak dibicarakan dg Kho sauhiap.”

“Mak nya!” umpat Rumang sambil melotot, “kau toh sudah bukan majikan kami sekarang, buat apa bergaya dan berlagak terus didepan kami?”

Kho Beng menjadi tertegun setelah melihat kejadian tsb, buru2 hardiknya:

“Rumang jangan kurang ajar, perkataan Thio cianpwee sama berarti perkataan diriku!”

Atas teguran mana, Rumang baru mengajak ketiga orang rekannya mengundurkan diri dari bangunan kuil itu dg wajah uring- uringan.

Kho Beng memasang telingan dan memperhatikan terus langkah keempat orang itu hingga lenyap dari pendengaran, kemudian ia baru menghela napas panjang seraya berkata:

“Cianpwee, buat apa kau…”

Tidak sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, dg wajah berubah hebat si Unta sakti sudah menukas dg suara dingin: “Aku sibungkuk melakukan segala sesuatunya demi dirimu, tak disangka kau malah mengomel dan menggerutu atas perbuatanku ini!”

Kho Beng menjadi gelagapan, cepat2 katanya:

“Harap cianpwee jangan salah mengerti akan maksudku, aku hanya maksudkan musuh tangguh yg bakal kita hadapi selanjutnya sudah amat sulit ditangani, bila kita mendatangkan lagi kawanan manusia buas tsb disisi kita, bukankah hal ini sama artinya mengundang srigala masuk rumah dan berteman dg bangsa harimau buas?”

Unta sakti tertawa dingin:

“Tahukah kau bahwa kawanan jago lihay yg terlibat dalam penyerbuan keperkampungan Hui im ceng tempo hari melingkupi jago2 dari tujuh partai besar serta jago pilihan dari golongan putih maupun hitam.

Kini identitasmu yg sebenarnya sudah terungkap dan diketahui umum, jago2 persilatan pasti akan berusaha keras untuk melenyapkan kau si bibit bencana dari muka bumi, atau dg perkataan lain langkah perjalananmu selanjutnya akan bertambah sulit, bila aku tidak mencarikan beberapa orang jago silat berilmu tinggi untuk melindungi keselamatanmu, kau anggap dg kekuatanmu seorang mampu bertahan berapa lama? Hmm, mungkin sebulan pun tidak sampai!”

Kho Beng menghela napas panjang,

“Aaaai…aku mengerti, cianpwee melakukan segala sesuatu demi kebaikanku, tapi kalau toh harus mencari pembantu, rasanya tak pantas bila mencari manusia sebangsa mereka…”

“He…he…he…kau anggap aku sudah tua dan makin pikun?” jengek si Unta sakti sambil tertawa dingin, “untuk menemukan jagoan lihay di ketiga belas propinsi utara maupun selatan daratan Tionggoan yg tidak terlibat dalam peristiwa pembunuhan berdarah diperkampungan Hui im ceng bukanlah suatu pekerjaan gampang, lagipula apakah mau mereka membantu? Coba bayangkan, kemana kau mesti mencari pembantu?”

“Biarpun perkataan tsb ada benarnya juga, tapi aku tetap merasa bahwa keempat orang tsb sangat buas, kejam dan susah dikendalikan, seandainya suatu ketika mereka berubah pikiran dan berbalik mencari gara2, mungkin….mungkin kita akan sulit untuk mengatasinya.” Sekali lagi si Unta sakti tertawa dingin:

“Sebelum kitab pusaka Thian goan bu boh berhasil diketemukan, aku jamin mereka tak akan berani berpikiran cabang, lagipula ayahmu pernah memimpin jagoan dari golongan putih maupun hitam dimasa lalu, andaikata tidak terjadi kesalah pahaman gara2 kitab pusaka tsb, siapa pula yg berani menentangnya? Kau sebagai seorang lelaki sejati yg mewarisi darah serta semangat ayahmu almarhum, bila mengendalikan empat orang saja tak mampu, apa gunanya kau menelusuri dunia persilatan?”

“Terima kasih atas nasihat cianpwee, tapi ada satu persoalan ingin kutanyakan lagi, seandainya kitab pusaka Thian goan bu boh sudah berhasil ditemukan, apakah kita benar2 akan mewariskan kepandaian sakti tsb kepada mereka?”

“Soal itu tergantung bagaimana caramu meninggalkan sifat2 liar mereka, karena sewaktu kutampung mereka tempo hari, aku hanya menilai berdasarkan kemampuan silat mereka yg cukup tangguh, aku rasa walaupun mereka berempat amat buas dan sukar diatur tapi bila kita menghadapinya secara luwes dan banyak melepaskan budi, rasanya tidak susah untuk merobah watak serta kelakuan mereka yg salah, andaikata tabiat jelek itu sudah teratasi, tentu saja kita akan lebih gampang untuk mengatasi persoalan tsb dikemudian hari.”

Berbicara sampai disitu, tiba2 dia menghela nafas, katanya lebih jauh:

Semenjak meninggalkan perguruan Sam goan bun, aku sudah terikat oleh janji ku sendiri sehingga tak mungkin dapat bersua kembali dg mu, karenanya aku bermaksud mempersiapkan segala sesuatunya bagimu, kini urusan telah selesai berarti akupun harus segera pergi dari sini. ”

“Cianpwee, mengapa kau harus pergi?” seru Kho Beng gelisah, “apakah kau takut diketahui Bok sian taysu dari Siau lim pay?”

Si Unta sakti tertawa dingin:

“Aku si bungkuk toh tak pernah mengingkari janji, siapa yg mesti kutakuti?”

Sementara Kho Beng masih tertegun, si Unta sakti telah berkata lebih jauh:

“Kau tak usah pikun, tak sampai tiga hari kemudian, aku sibungkuk jamin berita tentang “Kho Beng adalah sau cengcu dari perkampungan Hui im ceng” pasti telah tersebar luas diseantero jagad, dg tersiarnya identitasmu keseluruh dunia persilatan berarti ikatan janji Bok sian hwesio dg diriku pun sudah punah dg sendirinya, apakah kau menganggap tindakanku menjumpaimu sekarang merupakan suatu perbuatan yg mengingkari janji?”

Merah jengah selembar wajah Kho Beng, agak tergagap ujarnya: “Kalau toh demikian, mengapa cianpwee mesti tergesa-gesa

meninggalkan tempat ini.”

Kali ini Si Unta sakti tertawa lebar:

“Baiklah tak ada salahnya kalau kuberitahukan kepadamu, aku sibungkuk harus segera berangkat karena aku ingin melakukan lagi sebuah tugas bagimu….”

“Masalah penting apakah yg hendak cianpwee lakukan bagiku?” tanya Kho Beng tertegun.

“Tentu saja ada, kau telah mencuri papan nama Siau lim si untuk ditukar dg panji, saat ini pihak Siau lim pay pasti sudah mengirim utusannya untuk mengumumkan identitasmu yg sebenarnya kepada seluruh umat persilatan, karena itu akupun harus berusaha untuk mewakilimu menyampaikan kabar tentang maksud tujuan pihak Siau lim pay sebenarnya, juga menerangkan kepada seluruh umat persilatan atas terjadinya kesalah pahaman dimasa lampau, akan kuanjurkan kepada umat persilatan pada umumnya untuk menyelidiki pembunuh yg sebenarnya serta mengurangi pembalasan dendam secara membabi buta.

Dg dikuranginya tenaga tekanan pihak Siau lim pay terhadap dirimu, berarti kita pun bisa menghindari siasat adu domba Dewi In nu yg dilakukannya selama ini, bila hal ini berhasil berarti kau pun tak usah menghadapi dua golongan kekuatan yg sama2 memusuhimu. Coba pikirkan apakah hal semacam ini tidak penting?”

Kho Beng benar2 sangat terharu katanya:

“Cianpwee, kau telah mengaturkan diriku secermat dan sesempurna ini, aku tak tahu bagaimana mesti membalas budi kebaikanmu ini dikemudian hari…?”

Saking berterima kasihnya, tanpa terasa air mata bercucuran jatuh dg derasnya.

Dg suara dingin si Unta sakti menukas:

“Aku si bungkuk Cuma mengagumi jiwa serta watak ayahmu dimasa lalu, aku tidak membutuhkan pembalasan budi darimu….aaah benar, apa rencanamu selanjutnya?” Kho Beng makin berterima kasih sekali, dg mengucurkan air mata terharu katanya:

“Rupanya boanpwee telah salah bicara..”

Sampai lama sekali baru ia dapat mengendalikan perasaan harunya, setelah berpikir sejenak katanya:

“Saat ini boanpwee merasa kemampuan yg kumiliki masih belum memadai sehingga juga tiada persoalan yg harus kuselesaikan secara terburu-buru, daripada mengambil resiko yg tak ada artinya lebih baik mencari kembali kitab pusaka Thian goan bu boh terlebih dahulu, sekalian mencari tahu kabar berita tentang Bu wi cianpwee dan akhirnya membangun kembali perkampungan Hui im ceng!”

Si Unta sakti manggut2:

“Ehmm…gerak langkahmu emang amat tepat, tapi kemanakah kau hendak pergi?”

Tiba2 satu ingatan melintas didalam benaknya, segera jawabnya: “Boanpwee masih ingat kalau Dewi In nu mempunyai sebuah

sarang didekat kota Tong sia, karenanya aku berhasrat pergi berangkat kekota Tong sia untuk melakukan penyelidikan.”

“Bagus sekali, bila aku sibungkuk ada urusan tentu akan datang mencarimu sendiri, kuharap kau berhati-hati disepanjang jalan, nah sampai bertemu lagi lain waktu!”

Habis berkata ia segera membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Dg perasaan yg kacau dan pikiran yg kosong, Kho Beng mengawasi bayangan tubuh si Unta sakti hingga lenyap dari pandangan.

Sementara itu Rumang, Hapukim serta dua saudara Mo telah menyusul masuk kedalam ruangan, dg suara keras Rumang segera berseru:

“Cukong, sekarang sudah mendekati tengah hari, sedang situa pun telah pergi, kita harus masuk kekota dan mencari rumah makan untuk mengisi perut yg mulai lapar.”

“Tidak!” tukas Kho Beng sambil mengulapkan tangannya, “kita membeli rangsum ditengah jalan saja, ayo kita segera berangkat!”

“Cukong hendak pergi kemana?” tanya Hapukm agak tertegun. “Kota Tong sia!”

“Dimana sih letak kota tong sia?” tanya Molim, “berapa jaraknya dari sini?” “Lebih kurang dua puluh hari perjalanan. ”

“Mau apa pergi kekota Tong sia?” tanya Mokim pula. Kho Beng benar2 amat mendongkol, sahutnya tak sabar:

“Tentu saja mencari orang yg telah melarikan kitab pusaka Thian goan bu boh itu!”

“Kalau toh tempat itu jauh sekali, mengapa kita mesti tergesa- gesa. ?” Rumang berkaok-kaok.

Kho Beng benar2 habis kesabarannya, sambil melotot bentaknya keras2:

“Sebetulnya kalian yg menuruti perintahku? Atau aku yg menuruti perkataan kalian.”

Berubah paras muka Rumang, tampaknya ia sangat tidak puas, tapi Molim segera menyela sambil tertawa seram:

“Lotoa, kau jangan kurang ajar lagi...he....he. harap cukong

jangan gusar, tentu saja kami akan menuruti perintah cukong!”

Kho Beng mendengus, sinar matanya yg tajam memancar keluar dari balik matanya, ia berseru lagi dingin:

“Kalau mau menuruti perintahku, mengapa tidak segera berangkat?”

Agaknya keempat orang itu sudah dibikin terpengaruh oleh kewibawaan Kho Beng seorang demi seorang mereka keluar dari ruang kuil dg kepala tertunduk.

Kho Beng sendiri, meski semangatnya sempat dikobarkan oleh kata2 si Unta sakti, namun menyaksikan kebrutalan keempat orang tsb, apalagi mengingat kalau dikemudian hari dia mesti ektra waspada, hatinya menjadi risau sekali.

Dalam suasana pikiran yg berat itulah, Kho Beng dibawah perlindungan keempat jago tsb berangkat menuju kekota tong sia.

Apa yg diduga si Unta sakti memang tepat sekali, tiga hari kemudian didalam dunia persilatan telah tersiar kabar tentang masih hidupnya putra Hui im cengcu, bahkan telah terjun pula kedalam dunia persilatan untuk menyelidiki mereka yg terlibat dalam peristiwa berdarah tempo dulu.

Tak disangkal lagi, berita itu bersumber dari Siau lim pay, tapi bersamaan waktunya juga pelbagai perguruan besar serta jago ternama dari golongan putih mau pun hitam menerima selembar kartu yg amat misterius.

Kartu itu ditanda tangani oleh Kho Beng, selain menjelaskan sebab musabab terjadinya kesalah pahaman dimasa lalu, dimana Bu wi lojin yg dijumpai para ketua dari tujuh partai besar adalah gadungan, dijelaskan pula kalau orang yg sesungguhnya sedang dicari adalah pembunuh atau dalang dibalik peristiwa tsb, ia berharap semua orang yg pernah menaruh salah paham diwaktu itu jangan menjadi kaget ataupun panik sehingga peristiwa berdarah sembilan belas tahun berselang terulang kembali.

Dua berita yg muncul saling susul menyusul itu segera memancing pembicaraan yg ramai dari kawanan umat persilatan.

Bukan saja sementara orang mulai menelusuri kembali semua peristiwa yg telah berlangsung diperkampungan Hui im ceng waktu itu, ada pula yg mulai menaruh dugaan2 tentang gerakan yg diambil Kho Beng tsb.

Ditengah suasana kalut dan penuh kebingungan itulah secara diam2 Kho Beng telah tiba dikota Tong sia.

Tengah hari telah menjelang tiba, udara terasa amat panas, apalagi sang surya memancarkan sinarnya menyoroti seluruh jagad.

Ditengah keramaian kota Tong sia yg dipenuhi manusia yg  berlalu lalang, tiba2 muncul empat manusia yg amat menyolok mata.

Keempat orang itu terdiri dari tiga lelaki dan seorang wanita, yg lelaki rata2 berperawakan tingi besar, bermuka keren dan memakai baju ringkas berwarna ungu dg ikat pingang memancarkan cahaya terang.

Bagi seorang yg berpengalaman, dlm sekali pandang saja dapat diketahui kalau benda tsb adalah senjata tajam.

Ditinjau dari raut wajah serta dandanan dari ketiga orang tsb, bisa disimpulkan pula kalau mereka adalah bersaudara.

Sebaliknya sang nona baru berusia dua puluh tahunan, berwajah cantik dan menggembol sebilah pedang dg pita berwarna kuning, pita itu amat menyolok mata seperti seekor kupu2 kuning yg hinggap dibalik bahunya.

Tatkala mereka berempat tiba dimuka rumah makan Poan gwat kie, tiba2 sinona berkata:

“Nama rumah makan ini menarik sekali, lagi pula udara amat panas, mari kita beristirahat sejenak disini sambil mengisi perut.”

Sementara berbicara, ketiga orang lelaki setengah umur itu sama2 mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kemudian sama2 mengangguk pula.

Maka mereka berempat pun memasuki rumah makan Poan gwat kie, kedatangan mereka disambut pelayan dg wajah berseri. Mereka berempat mencari tempat duduk dekat jendela, begitu tamunya sudah duduk sang pelayan segera menyapa sambil tertawa:

“Tuan berempat ingin memesan apa?” Dg segan si nona berkata:

“Selama beberapa hari ini kita keluyuran seperti sukma gentayangan saja, berhari-hari kesana kemari tanpa makan enak, hey pelayan siapkan semua hidangan yg paling enak!”

Ketika pelayan mengiakan berulang kali, lelaki berbaju ungu yg duduk disebelah kiri segera menambahkan:

“Jangan lupa sediakan seguci arak yg harum.”

Sang pelayan mengiakan berulang kali dan mengundurkan diri sambil tertawa.

Sepeninggal sang pelayan, si nona baru berkata setelah menghela napas panjang:

“Terus terang saja aku hendak berkata, bila kita mesti keluyuran terus menerus tanpa tujuan seperti sukma gentayangan saja, aku rasa hal ini bukan semacam penyelesaian yg baik, oleh karena itu siaumoy berniat menggunakan perjamuan ini sebagai ucapan perpisahan dg kalian.”

Ketiga orang lelaki berbaju ungu itu kelihatan agak terkejut dan serentak bertanya:

“Chin lihiap hendak kemana?” Si nona menghela napas pelan.

“Aaai…bila mengembara dalam dunia persilatan sudah bosan, tentu saja aku mesti pulang kandang, hanya saja kalau bertiga pun akan mengalami teguran bila pulang dg tangan hampa, entah kemanakah kalian hendak pergi setelah hari ini?”

Lelaki yg duduk dekat jendela segera menggebrak meja keras2, katanya dg mendongkol.

“Sejak berusia delapan belas tahun terjun kedunia persilatan hingga sekarang, belum pernah kami tiga bersaudara mengalami nasib sejelek ini, makanya bagi umat persilatan empat penjuru adalah rumah sendiri, kalau toh kita tak bisa lagi kembali kesitu, tentu saja kami tak bakal pulang, memangnya kami mesti takut kepada mereka?”

Lelaki yg duduk disampingnya segera menegur dg suara dalam: “Lo sam, selama berapa hari belakangan ini kau selalu mengumbar hawa amarah, kalau toh kejadiannya sudah lewat, dimangkeli juga tak berguna, akhirnya toh sendiri yg rugi!”

Lelaki yg disudut kiri ikut menghela napas sambil berkata: “Lotoa, jangan terlalu menyalahkan Lo sam yg sewot melulu,

sesungguhnya kami pun merasakan Kho sauhiap adalah seorang lelaki sejati dg watak yg baik sekali, toh tak ada salahnya bila kami bersikap hangat kepadanya sewaktu bertemu tempo hari, siapa tahu orang malah menuduh yg bukan2 kepada kita sekarang, jangankan kami tiga ruyung manusia raksasa Kim kong sam pian memang tak pernah punya hubungan apa2 dg Kho sauhiap dimasa lalu, meski ada hubunganpun kami juga tak percaya kalau manusia gagah dan sopan macam orang she Kho itu merupakan orang jahat yg bisa dikaitkan dg Kedele Maut.”

Kim Losam menyambung pula setelah mendengus,

“Hmmm, dg susah payah dan mengerahkan seluruh kekuatan yg ada kita melakukan penjebakan disekitar telaga Tong ting, hasilnya Cuma Li sam si udang kecil yg masuk jaring, aku lihat tua-tua bangka celaka itu tak bisa menyalurkan rasa malu dan gusarnya kepada orang lain, maka kita yg menjadi sasarannya.”

“Aaa...bukan begitu persoalannya” Kim lotoa akhirnya menghela napas, “walaupun situa Kiong menaruh curiga dg menganggap kita yg setia sebagai mata2, padahal asal kita berjiwa besar, toh lama kelamaan kecurigaan tsb bakal sirna dg sendirinya, apalah artinya bagi lelaki sejati untuk menerima sedikit tuduhan macam begitu. ?”

Tiba2 si nona berbaju kuning itu berkata sambil tersenyum: “Kim lotoa, perkataanmu memang enak benar didengar,

bayangkan saja aku Chin sian kun pada mulanya disanjung dan dihormati bahkan mendapat tugas untuk mengamati gerak gerik Kho Beng, tak disangka akhirnya aku dibokong orang, untung saja nyawaku tak sampai melayang, tapi sekarang, Hmmm!

Bukan saja tak memperoleh jasa atau pujian, sebaliknya malah dicurigai orang dan setiap hari menjadi sasaran marah dan mendongkol orang, memangnya kami semua adalah orang-orangan dari kayu yg tak punya perasaan. ”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, dg amat mendongkol Kim loji menyela pula: “Yaa, andaikata tidak dicegah Lotoa, he...he...aku Kim loji pasti sudah memberontak, biarpun disana kita tak diterima, aku yakin masih ada orang lain membutuhkan tenaga kita semua!”

Sementara itu sayur dan arak telah dihidangkan, Kim loji segera menyambar poci arak dan memenuhi cwan sendiri, kemudian setelah meneguk sampai habis isinya, ia baru berkata lagi sambil tertawa seram:

“Ji ko perkataanmu benar2 kelewat pikun, siapa sih yg menahanmu? Bila ingin memberontak, siapa pula yg hendak kau tantang?”

Chin sian kun tersenyum, dg kata2 mengandung artimendalam tiba2 ia berkata:

“Tentu saja kita harus condong kepada Kho sauhiap!” “Yaa...benar..!” teriak Ki losam setelah menghabiskan tiga cawan

arak, “Kho sauhiap adalah seorang pemuda yg gagah dan berjiwa ksatria, tapi kenyataannya toh mengalami nasib yg sama seperti kita, dicurigai dan dituduh orang secara tak senonoh, lalu siapa pula yg dia tentang...?”

“Sam hiap” ucap Chin sian kun lagi, “Apakah kau lupa dg heboh sekitar berita tentang Kho sauhiap serta kartu yg disebarkan Kho sauhiap pribadi? Dia toh sudah mengakui sebagai keturunan dari Kho Tayhiap, pemilik perkampungan Hui im ceng? Coba menurut pandanganmu, siapa yg ditentangnya?”

“Hmmm, sekalipun dia adalah keturunan dari Hui im cengcu, lantas apa pula hubungannya dg kedele maut? Adikku, kau jangan lupa bahwa kita dituduh yg bukan2 karena dicurigai sebagai mata2 Kedele maut! Hmmm, aku lihat kawanan tua bangka itu sudah gila lantaran gelisah sehingga tak bisa membedakan lagi mana yg hitam dan mana yg putih. ”

“Sesungguhnya mereka tak salah menuduh” sela Chin sian kun sambil tersenyum, “apakah samhiap tak pernah mendengar tentang dugaan Bok sian taysu yg katanya Kedele maut adalah kakak kandungnya orang she Kho itu. ?”

Kim losam mendengus dingin,

“Hmmm, siapa yg mau percaya dg segala dugaan tanpa bukti?” “Tapi aku rasa apa yg diduga Bok sian taysu tak mungkin akan

meleset. ”

Kim kong sam pian menjadi termangu sampai lama, kemudian Kim lotoa baru berkata: “Adikku atas dasar apa kau mengatakan kalau apa yg diduga Bok sian taysu memang betul?”

Chin sian kun tersenyum, bukannya menjawab dia malah balik bertanya:

“Menurut kalian bertiga, mungkinkah Li sam adalah komplotan dari si kedele maut?”

”Walaupun si toya dan pedang sakti Li Sam tidak memberikan pengakuannya, namun dalam hal ini rasanya tak ada yg perlu dicurigakan lagi.”

Chin sian kun segera manggut2, katanya lebih jauh: “Sewaktu berlangsung persidangan terbuka tempo hari,

kebetulan aku berdiri disamping Kho sauhiap sehingga setiap perubahan wajahnya dapat kulihat secara jelas dan pasti, waktu itu rasa tegang, emosi dan kehilangan kontrol yg menyelimuti dirinya kentara sekali, aku yakin dia memiliki hubungan yg sangat akrab dg Li Sam, kalau toh mempunyai hubungan yg erat dg Li Sam, maka bisa diduga bahwa hubungannya dg Kedele Maut pun sudah pasti!”

Kim lotoa menjadi terperangah, selang sesaat kemudian ia baru berseru:

“Adikku, mengapa tidak kau utarakan persoalan tsb semenjak dulu?”

Chin sian kun segera mencibirkan bibirnya dan berseru: “Huuuh, aku harus bercerita kepada siapa? Kepada kalian? Toh

persoalan ini tak ada sangkut pautnya dg kalian bertiga. Kepada situa bangka Kiong serta Bok sian taysu? He...he...he...padahal dalam kenyataannya mereka jauh lebih jelas daripada diriku, apalagi sejak kematian Li Sam, Kho sauhiap pun pergi tanpa pamit, dibicarakan pun tak ada gunanya.”

Mendengar perkataan tsb, Kim kong sam pian menjadi terbungkam dalam seribu bahasa, tampaknya mereka sedang memikirkan sesuatu....

Sesudah menghela napas ringan, kembali Chin Sian kun berkata: “Sekarang asal usul Kho sauhiap sudah menjadi jelas, ternyata

dia adalah sau cengcu dari perkampungan Hui im ceng, aku lihat segala tuduhan yg dilimpahkan kepada kita pun tak mungkin bisa dicuci bersih dalam waktu singkat, aaai.  saat apes rasanya masih

panjang sekali. ”

Agaknya Kim losam tak percaya, serunya agak tercengang: “Bukankah Kho sauhiap sudah menyebar kartu nama yg menjelaskan bahwa ia Cuma mencari si pembunuh yg sebenarnya dan tak akan memusuhi orang2 lain? Masa persoalan yg bagaimanapun besarnya tak bisa diselesaikan dg perkataan?”

Chin sian kun mendengus:

“Hmmm, jalan pemikiran Kim sam hiap kelewat sederhana, kau tahu bukan bahwa tokoh persilatan yg tersangkut dalam drama sedih perkampungan Hui im ceng hampir meliputi tujuh partai besar, kini para cianpwee tsb telah menemukan kehadiran si bibit bencana, bisa jadi mereka akan dibuat berdebar-debar dan ketakutan setengah mati, untuk melepaskan dari tuduhan pun rasanya sudah susah, siapa pula yg mau percaya dg keterangan tsb?”

“Jadi maksudmu isi surat yg disebarkan orang she Kho itu bukan niatnya yg sebenarnya, tapi merupakan siasat mengulur waktu berhubung ia merasa tenaganya kelewat minim?” tanya Kim loji berkerut kening.

Chin sian kun segera menggelengkan kepalanya berulang kali: “Itu sih tidak, menurut pendapatku, Kho sauhiap bukan seorang

manusia yg lain dimulut lain dihati, aku hanya berpendapat bahwa apa saja yg dikatakan olehnya dan tindakan apapun yg dilakukannya, belum tentu orang akan mempercayainya dg begitu saja!”

Kim lotoa ikut menghela napas panjang,

“Yaaa, kejadian manakah didunia ini yg tidak begitu? Siapa punya kedudukan dan kekuatan, biar berkentut pun dikatakan harum, tapi bagi mereka yg tak mempunyai kekuasaan dan kekuatan, he...he...sekalipun membelah dada dan mengorek keluar hatinya pun, orang lain tetap menuduhnya yg bukan2.”

Berhubung Kim kong sam pian memang menaruh kesan yg sangat baik terhadap Kho Beng, otomatis perasaan mereka pun bertambah berat dan ikut memikirkan keselamatan pemuda tsb.

Chin sian kun memperhatikan sekejap perubahan wajah ketiga orang rekannya, lamat2 sekulum senyuman nampak tersungging diujung bibirnya, tapi hanya sebentar kemudian ia sudah berkata lagi dg wajah amat serius:

“Sejak aku meninggalkan telaga Tong ting dalam keadaan gusar dan mengundang saudara sekalian keluyuran dalam dunia persilatan hingga kini sudah lewat sebulan lebih, selama ini pula aku sudah memutar otak dan merenungi diri bermalam-malam lamanya, aku rasa ada sepatah dua patah kata yg tak enak rasanya bila tak kuutarakan keluar!”

Kim lotoa tersenyum, dg sikap bersungguh-sungguh segera katanya:

“Adikku, kita toh bukan baru berkenalan satu dua hari, apalagi kita pun mengalami tuduhan yg sama, boleh dibilang kita adalah senasib sependeritaan, nila kau ingin menyampaikan sesuatu lebih baik, katakan saja secara blak-blakan.”

Dg suara rendah tapi serius Chin sian kun segera berkata: “Tapi kalian mesti berjanji dulu, entah perkataanku betul atau

salah, harap kalian bertiga jangan menjadi gusar.”

“Chin lihiap, apa-apan kamu ini” teriak Kim loji, “sekalipun kau mengumpat kami, terus terang saja kami bersaudara tak akan berpikiran picik!”

Chin sian kun segera manggut2, setelah memperhatikan sekejap sekelilingnya dan yakin kalau tiada orang yg mencuri dengar, ia baru berkata lagi dg suara lirih,

“Selama kalian mengembara dialam dunia persilatan tanpa arah tujuan, sering kali kalian tiba disuatu tempat, kalian tak pernah menyambangi teman, baru datang sejenak lalu meninggalkan tempat tsb secepatnya, sebetulnya maksud tujuan apakah yg terkandung didalam benak kalian?”

Pertanyaan itu dg cepat membuat Kim kong sam pian menjadi tertegun dan saling perpandangan dg wajah melongo.

Selang berapa saat kemudian Kim lotoa baru balik bertanya: “Adikku, menurut pendapatmu apakah tujuan kami yg

sebenarnya?”

Setelah tersenyum, Chin sian kun berkata:

“Menurut pengamatanku, agaknya kalian tiga bersaudara sedang mengejar sesosok bayangan hanya saja kalian enggan mengutarakannya keluar karena kalian sendiripun masih suram dan tak jelas dg perasaan sendiri….”

“Ehmm, rasanya kata-katamu itu memang tepat sekali” seru Kim loji, “didalam benakku memang terdapat sesosok bayangan samar2, tapi aku sendiri tak tahu siapakah itu?”

“Tapi bagiku, justru telah kuketahui siapakah bayangan yg memenuhi benak kalian bertiga selama ini” sela Chin sian kun tertawa. Tentu saja Kim kong sam pian menjadi sangat keheranan , tanpa terasa meeka bertanya bersama-sama:

“Siapakah dia?”

“Dia tak lain adalah Kho sauhiap!” sahut si nona dg wajah serius dan bersungguh-sungguh.

Nampak jelas Kim kong sam pian bergetar keras sekali, sesudah gelagapan sesaat, akhirnya mereka terbungkam dalam seribu bahasa.

Yang dimaksud sepatah kata menyadarkan orang dari lamunannya adalah begini keadaannya.

Memang benar, sejak tertangkapnya Li Sam dan diadili secara bersama ditelaga Tong ting, kemudian meninggalkan kota Gak yang dalam keadaan mendongkol, didalam benak Kim kong sam pian memang selalu muncul sesosok bayangan, hanya sekejap mereka sendiri tak tahu bayangan siapakah yg sudah masuk kedalam benaknya itu.

Tapi setelah diungkap oleh si walet terbang berwajah ganda Chin sian kun sekarang, kemudian dipikirkan sejenak, segera terasalah bahwa apa yg dikatakan memang benar.

Namun oleh karena persoalan itu bisa mengakibatkan pengaruh yg besar sekali bagi nasib mereka semua, padahal mereka pun belum mengetahui maksud tujuan Chin sian kun yg sebenarnya, maka mereka bertiga hanya membungkam diri saja.

Setelah menghela napas panjang kembali, Chin sian kun berkata: “Aaaai, terus terang saja aku bilang, sejak semula sesungguhnya

akupun mempunyai perasaan yg sama, namun setelah kupikir dan kutelaah lebih jauh akhirnya dapatlah kupahami keadaanku yg sebenarnya.”

Mendengar itu, Kim lo sam segera tertawa terbahak-bahak: “Ha...ha...ha...rupanya si walet terbang berwajah ganda yg namanya menggetarkan kawasan Sam siang telah dihinggapi benih

cinta, tak heran kalau segala persoalan bisa kau pecahkan secara gamblang...ha...ha...ha...nampaknya kita masih punya kesempatan untuk menikmati arak kegiranganmu!”

Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, cepat2 ia berseru: “Sam hiap, aku toh sedang membicarakan persoalan yg penting,

kau malah menggoda orang saja….” “Persoalan perkawinan toh termasuk persoalan yg penting, tak heran kalau kau menjamu kami hari ini, memangnya kami hendak disuruh menjadi mak comblang?”

Chin sian kun semakin tersipu-sipu 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(