Kedele Maut Jilid 12

 
Jilid 12

Bersamaan dg bergemanya suara tepukan itu, tiba2 pintu ruangan terpentang lebar dan muncullah serombongan jago pedang berbaju kuning, dg pedang terhunus mereka mengawasi Kho Beng tajam2 sementara serangan telah siap dilancarkan setiap saat.

Berubah hebat paras muka Kho Beng, terutama karena jumlah lawannya mencapai delapan orang lebih.

Diawasinya wajah Sastrawan berwajah kemala lekat2, kemudian tegurnya dg suara dalam:

“Apa yg hendak kau perbuat?”

Sastrawan berkipas kemala sama sekali tidak menggubris teguran Kho Beng, kepada kedelapan orang jago pedang berbaju kuning itu bentaknya keras2:

“Dialah Kho Beng, orang yg sedang dicari-cari siancu, apabila dapat dibekuk dalam keadaan hidup, hal itu merupakan sebuah pahala yg amat besar!”

Kho Beng sangat terkesiap, tiba2 satu ingatan melintas dalam benaknya, segera hardiknya:

“Beng yu, rupanya kau telah menyerahkan tanda pengenal milik Bu wi cianpwee itu kepada dewi In nu siancu.”

Sastrawan berkipas kemala tidak menyangka kalau sepatah katanya tadi telah membongkar seluruh rahasianya, berubah hebat paras mukanya, tapi sambil tertawa seram ia kemudian berkata:

“Benar, malah siancu telah mencurigai dirimu sebagai putra sipelayan dari Hui im ceng, hari ini kau tak dapat dilepaskan dg begitu saja…”

Dlm terperanjatnya Kho Beng merasakan pikiran serta perasaannya bergolak keras. Ternyata dewi In nu siancu pun mencurigai hubungannya dg pihak perkampungan Hui im ceng, tapi darimana ia bisa tahu kalau kita pusaka Thian goan bu boh masih berada ditangan Bu wi lojin?

Mungkinkah dalang dibelakang layar yg menyebabkan kematian tragis ayah ibunya serta hancurnya perkampungan Hui im ceng tempo hari tak lain adalah Dewi in nu siancu tsb?

Tapi sayang situasi saat ini tidak memberi kesempatan kepada Kho Beng untuk berpikir lebih jauh, karena dua bilah pedang yg membawa desiran angin tajam telah menusuk kedepan dadanya.

Kho Beng merasakan darah panas mendidih dalam dadanya, dg penuh kegusaran ia melompat naik keatas peti mati untuk meloloskan diri dari ancaman tsb, kemudian ia meloloskan pedangnya dan sambil membentak keras ia melancarkan sebuah sapuan kedepan mengancam keselamatan jiwa Sastrawan berkipas kemala.

“Bajingan ! Anjing yg tak tahu malu!” bentaknya keras2, “sekalipun kau tidak mencari gara2 dgku, hari ini akupun hendak membekukmu hidup2 serta mengorek keterangan dari mulutmu.”

Sementara itu Sastrawan berkipas kemala telah meloloskan pula senjata kipas tulang kemala putihnya sambil tertawa dingin ia menjengek.

“He…he….he…tampaknya kau benar2 sebagai putra Kho Po koan, sunguh menggelikan sekali, kau telah membunuh ayah sendiri tapi sampai sekarang masih tidak merasakannya…”

Gerak serangan Kho Beng segera terhadang oleh empat orang jago pedang berbaju kuning sewaktu berada ditengah jalan, ia makin gusar sehabis mendengar perkataan itu, baru satu jurus serangan tangguh hendak dilancarkan, mendadak dari luar terdengar dua kali jeritan ngeri yg memilukan hati bergema memecahkan keheningan.

Kedua belah pihak sama2 terperanjat dan serentak berpaling kebelakang, dibawah cahaya lentera yg redup kelihatan jelas dua orang jago pedang berbaju kuning telah mengeletak mati diatas tanah.

Tak terlukiskan rasa kaget Sastrawan berkipas kemala serta kawanan jago pedang lainnya, paras muka mereka berubah hebat. Rupanya entah sejak kapan dari depan pintu gedung telah bertambah dg tiga orang nona berbaju putih, ketiga orang nona itu munculkan diri tanpa menimbulkan sedikit suara pun sehingga semua orang yg berada dalam ruangan tak seorangpun yg mengetahui kehadiran mereka.

Hampir saja Kho Beng menjerit tertahan, setelah melihat kehadiran nona berkerudung yg membawa sebuah payung bulat diantara gadis2 tsb, sebab orang itu tak lain adalah kakak kandungnya.

Tapi bila teringat disitu masih hadir orang lain, akhirnya pemuda kita berusaha untuk menahan diri, sebab dia tahu jika identitas kakaknya sampai terbongkar maka akan mendatangkan banyak kerugian bagi pihaknya.

Olehkarena itulah untuk sementara waktu dia Cuma bisa membungkam sembil menunggu perkembangan selanjutnya.

“Siapa kalian…?” terdengar Sastrawan berkipas kemala membentak dg tercengang.

Nona berkerudung perak yg berdiri ditengah mendengus dingin, ia sama sekali tidak menggubris teguran Sastrawan berkipas kemala itu, sebaliknya kepada keenam jago pedang berbaju kuning lainnya ia berkata dg suara sedingin salju:

“Mencari kemenangan dg mengandalkan jumlah banyak bukan sifat gagah seorang pendekar sejati, tinggalkan orang she Beng dan orang she Kho itu, yg lain boleh segera menggelinding dari sini!”

Tiba2 salah seorang diantara jago pedang berbaju kuning itu menjengek sambil tertawa dingin:

“Kami harus pergi dari sini hanya atas dasar kata2 perempuan rendah macam dirimu? He…he…he…terus terang kukatakan, aku Liok Bo beng merasa amat tak puas!”

Agaknya ia masih belum sadar kalau nona yg berada dihadapannya sekarang tidak lain adalah Kedele Maut yg telah mengobrak abrik seluruh dunia persilatan dewasa ini.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Kho Yang ciu setelah mendengar ucapan tsb, mendadak serunya dingin:

“Bwee hiang!”

Dayangnya, Bwee hiang segera tampil kedepan seraya bertanya: “Apa perintah nona?”

“Lecuti orang she Liok itu hingga berdarah, agar lain kali jangan mencaci orang lain semaunya sendiri!”

Bwee hiang segera mengiakan, dirabanya sebuah angkin perak yg melilit pinggangnya lalu diayunkan kedepan menyambar tubuh jago pedang berbaju kuning itu, kecepatan serangannya begitu mengagumkan sehingga pada hakekatnya tak dapat diikuti dg pandangan mata.

Semenjak tadi si jago pedang berbaju kuning itu telah membuat persiapan, sambil tertawa dingin segera jengeknya:

“He…he…he…belum tentu seranganmu bisa mengapa apa diriku!”

Sambil berkelebat kesamping, pedangnya diputar secepat kilat lalu menusuk kemuka, sasarannya adalah pinggang Bwee hiang.

Tiba2 terdengar Bwee hiang membentak nyaring, cahaya perak menggulung bagaikan seekor naga sakti, kemudian…

“Praakk…”

Ujung angkinnya telah melecuti bahu kanan jago pedang berbaju kuning itu keras2.

Seketika itu juga si jago pedang berbaju kuning itu menjerit ketakutan, pedangnya segera jatuh keatas tanah sementara tubuhnya mundur dua langkah dg sempoyongan dan akhirnya…

“Blummm…”

Ia jatuh terduduk diatas tanah.

Tampak paras mukanya telah berubah menjadi menguning, peluh bercucuran keluar seperti air terjun, dibagian bahu kanannya robek besar, daging dan kulitnya robek hingga kelihatan hancuran rulangnya yg berwarna putih.

Peristiwa ini sangat mengejutkan kawanan jago pedang lainnya, paras muka mereka berubah hebat.

Bukan saja mereka tak sempat melihat cara pasti perubahan jurus serangan dari Bwee hiang, bahkan mereka tak mengira kalau lecutan yg kelihatan begitu ringan ternyata menimbulkan kekuatan sehebat itu, siapa tak ciut hatinya setelah melihat adegan ini?

Sementara itu Kho Yan chiu telah melirik sekejap kearah jago pedang yg terluka itu, lalu bentaknya tiba2:

“Batalkan dua lecutan terakhir!”

Waktu itu lecutan kedua dari Bwee hiang hampir menempel diatas dada lawan, serentak ia menggetarkan tangannya setelah mendengar bentakan tsb.

Angkin peraknya dg membawa cahaya yg berkilauan segera menggulung balik kebelakang..

Kho Yang chiu kembali tertawa sinis, ejeknya: “Hmmm, mengakunya seorang pendekar hebat, tapi kenyataannya tak mampu menahan sebuah lecutan pun, buat apa kau mengibul terus menerus? Hmm...siapa lagi yg merasa tak puas?”

Ciut hati kawanan jago pedang lainnya setelah menyaksikan adegan tsb, ternyata tak seorangpun diantara mereka yg berani bersuara lagi.

“Kalau sudah mengakui keunggulan kami, mengapa kalian belum enyah juga dari sini? Hmm, apakah masih kepingin mampus?” hardik Kho Yang chiu lebih jauh.

Kelima orang jago pedang berbaju kuning itu saling pandang sekejap, tiba2 mereka menggeserkan badannya dan berdiri berjajar dibelakang Sastrawan berkipas kemala.

Pada saat itulah paras muka Sastrawan berkipas kemala berubah hebat, dia seperti teringat akan sesuatu, dipandangnya Kho Beng sekejap, lalu serunya tertahan:

“Payung Thian lo san, lecut pengikat dewa, jangan2 kau adalah Kedele Maut”

Nama Kedele Maut bagaikan kekuatan yg mengerikan hati, tiba2 kawanan jago berbaju kuning ittu menggeserkan badannya kembali dg wajah memucat, kemudian tanpa banyak berbicara mereka bersiap-siap melarikan diri dari situ.

Menghadapi suasana seperti ini, tentu saja Sastrawan berkipas kemala enggan berdiam kelewat lama disitu, dg cepat iapun bersiap siap ikut kabur dari sana.

Tapi sayang gerakan tubuh Kho Yang chiu beserta kedua orang dayangnya kelewat cepat, bahunya baru nampak bergerak, payung bulat ditambah dua utas tali pengikat dewa secara terpisah telah menutup mati seluruh jalan keluar dari ruangan tsb.

Sambil tertawa dingin nona itu berkata:

“Beng Yu, ternyata otakmu cukup cerdas, tepat sekali, akulah Kedele Maut yg kalian cari2, tapi sayang setiap orang yg namanya sudah tercantum dlm daftar kematianku jangan harap ia dapat lolos dari cengkeramanku.”

Menyusul kemudian pandangan matanya dialihkan kewajah lima orang jago pedang berbaju kuning itu dan katanya lebih lanjut:

“Mengingat kalian semua bukan sasaran yg hendak kucabut nyawanya, maka aku persilahkan kalian pergi dari sini, tapi kalian harus membungkam terhadap peristiwa yg terjadi pada malam ini, bila kuketahui dikemudian hari bahwa satu diantara kalian telah membocorkan peristiwa ini keluaran, hmmm…saat bertemu kembali dilain waktu berarti waktu kalian untuk berangkat keakhirat! Nah, sekarang bawa serta yg tewas dan terluka dan cepatlah enyah dari sini!”

“Eh…kalian jangan pergi!” teriak Sastrawan berkipas kemala ketakutan.

Namun dibawah ancaman kematian yg mengerikan, kawanan jago pedang tsb sama sekali tidak memperdulikan teriakan Sastrawan berkipas kemala lagi, seorang demi seorang mereka kabur dg secepatnya dari situ…

Pada saat itulah Kho Beng tak dapat menahan diri lagi, ia segera berteriak keras:

“Tunggu dulu! Orang2 itu tak bolh dilepaskan barang seorangpun…”

“Hmmm!” Kho Yang ciu mendengus dingin, “Siapa yg berani membangkang terhadap perintahku?”

Karena takut terjadinya perubahan , tanpa membuang waktu lagi kawanan jago berbaju kuning itu melarikan diri terbirit-birit dari sana.

Waktu itu, walaupun paras muka Kho Yang ciu tertutup oleh kain kerudung sehingga tidak diketahui bagaimanakah perubahan wajahnya, namun pancaran sinar matanya benar2 menggidikkan hati!

Kepada Kho Beng ia berseru sambil tertawa dingin:

“Masih ingatkah kau apa yg kuperingatkan kepadamu sewaktu mengampunimu dikota tong ciu tempo hari?

Hmm...hmmm...sekarang aku hendak membuat perhitungan dulu dg mu, akan kulihat dg beberapa butir batok kepala kau akan membayar hutang tsb!”

Kho Beng menjadi tertegun untuk sesaat, tak tahan ia berteriak keras:

“Cici. apakah Li sam tidak memberi tahukan kepadamu siapakah

aku sebenarnya?”

Panggilan tsb seketika menggetarkan perasaan setiap orang yg hadir dalam ruangan.

Berapa saat kemudian, Kho Yang ciu baru berbisik: “Kau. kau adalah adik Beng?”

Suaranya gemetar keras menandakan betapa kerasnya gejolak perasaannya waktu itu. Dg agak emosi dan air mata bercucuran Kho Beng mengangguk, lalu selangkah maju menghampiri nona tsb.

Siapa tahu pada saat itulah tiba2 Kho Yang ciu membentak keras: “Berhenti!”

Dg perasaan tertegun Kho Beng menghentikan langkahnya, lalu bertanya keheranan:

“Cici, apakah kau tak percaya dgku?”

“Hmm, tidak sedikit manusia licik didunia ini, aku harus bersikap lebih waspada dan berhati-hati!” jawab Kho Yang ciu dingin.

“Empat musim mengenakan bunga seruni putih disanggul, siang malam tak pernah dilepas, yang lelaki menerima panji bergambar naga sebagai lambang, apakah semuanya ini bukan suatu bukti?”

“Kalau toh kau sudah mengetahui akan hal ini, cepat tunjukkan panji bergambar naga itu sebagai bukti!”

Buru2 Kho Beng menyodorkan lencana giok bei yg berada dipinggangnya seraya berkata:

“Lencana panji telah hilang, tapi giok bei kemala masih ada, silahkan toaci memeriksa keasliannya!”

Kho Yang ciu menyambut benda tsb dan diperiksanya beberapa saat, kemudian katanya dingin:

“Hmmm, barang bukti kurang satu, ini membuat diriku masih mencurigai gerak gerikmu, ambil contoh dg kematian Kho lotoa, aku dengar mati ditanganmu, benarkah begitu?”

Buru2 Kho Beng berseru:

“Kho lotoa sudah jelas tewas karena racun jahat dari jarum pembeku darah perasuk tulang, dalam hal ini Li Sam pun mengetahui secara jelas?”

Belum habis perkataan tsb diutarakan, Sastrawan berkipas kemala yg berada disamping arena segera tertawa dingin dan selanya:

“Hmmm, seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, sewaktu berada di perkampungan Hui im ceng tempo hari, bukankah kau sudah mengakui sebagai pembunuhnya? Mengapa kau menyangkalnya kembali sekarang…?”

Tampaknya ia sadar kalau tiada harapan lagi untuk lolos dari kematian, maka satu2nya jalan baginya sekarang adalah berusaha mengadu domba dua bersaudara itu sehingga saling gontok- gontokan sendiri, sebab hanya cara inilah kemungkinan besar ia masih punya harapan untuk hidup? Dg tujuan itulah ia bersikeras menuduh Kho Beng sebagai pembunuh Kho Po koan.

Kho Beng bukan orang bodoh, tentu saja ia dapat menduga maksud serta tujuan si Sastrawan berkipas kemala, dg penuh amarah segera bentaknya keras2:

“Waktu itu aku toh belum mengetahui keadaan yg sebenarnya, karena itu berbicara sekenanya dg kalian….”

“Paling tidak waktu itu kau hadir dalam arena” tukas Kho Yong ciu tiba2 dg suara dingin, “tapi kenyataannya kau tidak memberi pertolongan kepadanya yg terancam bahaya, hal ini merupakan suatu kejadian yg patut disesalkan, tapi soal tersebut tak usah dibicarakan kembali, sekarang mari kita singgung masalah kedua, dimana kau telah melaporkan identitas serta ciri khas ku kepada para jago lihay yg berkumpul dikawasan telaga Tong ting dan kota Gak yang, apakah tujuanmu hendak membunuh diriku?”

Dg perasaan gelisah buru2 Kho Beng memberi penjelasan: “Cici, waktu itu aku belum memahami betul tentang asal usulku

sehingga aku telah melakukan perbuatan yg amat bersalah, atas kejadian tsb aku menyesal sekali sehingga untuk menyelamatkan keadaan aku menyusul pula ketelaga Tong ting…”

Setelah berhenti sejenak dan menghela napas panjang, kembali lanjutnya:

“Cici, seharusnya semua persoalan ini telah dilaporkan Li Sam kepadamu….”

“Tidak! Li Sam sama sekali tidak memberitahukan apa2 kepadaku…”

Kho Beng menjadi tertegun, selanya:

“Mengapa tidak?”

Setelah mendengus, kata Kho Yang ciu:

“Sewaktu meninggalkan kota Gak yang, aku sama sekali tidak berjumpa dg Li Sam….”

“Kalau begitu dg cara apa cici dapat meloloskan diri dari pemeriksaan begitu banyak pos penjagaan…”

Bwee hiang yg berada disisi arena segera menyela:

“Orang baik selalu dilindungi Thian, ketika pihak Sam goan bun menarik diri secara tiba2, nona kami segera mendapat berita tsb sehingga memanfaatkan kesempatan yg sangat baik ini untuk meloloskan diri.” Perasaan menyesal dan masgul seketika menyelimuti perasaan Kho Beng, sambil menghentakkan kakinya dan menghela napas keluhnya:

“Aaai…sungguh tak nyana aku harus dibikin bodoh karena kecerdikan sendiri, akibatnya Li Sam harus tewas dg mata tak meram!”

Tiba2 mencorong sinar mata yg tajam dari balik mata Kho Yang ciu, serunya dingin:

“Jadi Li Sam telah tewas?”

Agaknya ia belum mengetahui kejadian tsb hingga tubuhnya kelihatan gemetar keras dan nada pembicaraannya penuh diliputi perasaan kaget dan terkesiap.

Dg air mata ercucuran dan mulut membungkam Kho Beng manggut2.

“Bagaimana matinya?” bentak Kho Yang ciu kemudian.

Secara ringkas Kho Beng bercerita bagaimana ia menyusun rencana pertolongan darurat, bagaimana ia menyaru sebagai encinya untuk memancing perhatian musuh dan sebagainya….

Kho Yang ciu mendengarkan semua penuturan tsb dg seksama, sementara pancaran sinar matanya berkilat-kilat, mendadak terdengar ia membentak keras, lalu payung Thian lo san nya menyambar kemuka dg kecepatan bagaikan sabaran kilat.

Tak terlukiskan rasa kaget Kho Beng melihat kejadian itu, teriaknya ketakutan:

“Cici….”

Ternyata serangan payung yg dilancarkan Kho Yang ciu tsb bukan kearahnya, sewaktu berpaling ia saksikan Sastrawan berkipas kemala telah beralih dari posisi semula.

Ternyata memanfaatkan kesempatan disaat Kho Beng berdua sedang terlibat dalam pembicaraan serius, secara diam2 Sastrawan berkipas kemala telah bergeser ke sisi peti mati yg berada dipaling kanan dan membukanya secara pelan2.

Pada saat itulah Kho Yang ciu mengetahui akan perbuatannya itu, dalam keadaanbegini dg sekuat tenaga orang she Beng menghentakkan tutup peti matinya dan membuang kearah tubuh Kho Yang ciu yg sedang menerjang kearahnya.

Memanfaatkan kesempatan mana, ia sendiri segera melompat masuk kedalam peti mati tsb. Tusukan kilat payung thian li san dari Kho Yang ciu seketika tertahan oleh penutup peti mati itu.

Untung saja Bwee hiang yg berdiri disisinya cukup sigap menghadapi perubahan tsb, begitu mendengar tanda bahaya dg cepat dia menghentakkan lecutnya kemuka disusul kemudian badannya ikut menerjang kesisi peti mati.

Bagaikan seekor ular sakti, nona itu menyusup kedalam peti mati sambil mengayunkan kembali tangannya kebawah, tiba2 saja dengusan tertahan bergema dari balik peti mati itu.

Menyusul suara dengusan tsb, Bwee hiang menarik tali angkinnya keatas, ternyata tubuh Sastrawan berkipas kemala sudah terjirat dan segera terseret keluar dari balik peti mati.

Pada saat itulah Kho Beng telah menerjang pula kesisi peti mati tsb sambil melongok kebawah, sekarang ia baru tahu rupanya dibalik peti mati tsb terdapat sebuah mulut lorong rahasia yg tembus kebawah tanah.

Dg perasaan terkejut bercampur heran, sekali lagi ia menengok tubuh Sastrawan berkipas kemala yg tergeletak ditanah, waktu itu matanya kelihatan melotot keluar, lidahnya menjulur panjang, ternyata ia sudah tewas terjirat oleh tali mestika pengikat dewa.

“Aduh celaka ia sudah mampus!” serunya tanpa sadar.

“Lebih bagus kalau sudah mampus” sahut Kho Yang ciu dingin, “Kho Beng, seandainya kau benar2 adalah adikku, aku Cuma bisa menghela napas atas ulahmu selama ini.”

“Cici, apa yg kau maksudkan?” tanya Kho Beng tertegun.

Dg nada suara yg tetap sedingin es, Kho Yang ciu berkata lebih jauh:

“Sejak kematian Kho lo tia ditangan orang sampai kematian Li Sam karena tersiksa, meski bukan menjadi tanggung jawabmu tapi semua peristiwa tsb berlangsung gara2 kebodohanmu.”

“Umpakan cici benar, aku mengaku salah!” bisik Kho Beng sangat menyesal.

Kembali Kho Yang ciu mendengus:

“Hmmm...umpatanku tak akan mampu menghidupkan kembali Li Sam, tapi aku menghela napas bukan disebabkan persoalan tsb.”

Dg suara tergagap Kho Beng berkata:

“Saudara tua bagaikan ayah, kakak perempuan bagai ibu, toaci, bila aku telah melakukan kesalahan atau kebodohan, silahkan kau menghukumku sehabis-habisnya, mengapa kau menghela napas?” “Bukan hanya menghela napas, pada hakekatnya aku merasa amat kecewa, sebagai putra keluarga Kho yg memikul beban dendam berdarah sedalam lautan, apalagi sudah berhasil memiliki ilmu silat yg cukup tangguh seharusnya setiap waktu yg dimiliki dipergunakan untuk membalas dendam serta membangun kembali nama baik serta kejayaan keluarga, tapi kau hingga kini belum nampak sesuatu kegiatan apapun, aku tak mengerti apa saja yang kau repotkan selama ini, begitukah caramu membalas budi kedua orang tua mu serta para pembantu setia yg sudah membela Hui im ceng hingga titik darah penghabisan?”

Kho Beng terkesiap sekali, dg serius segera katanya:

“Aku tak akan melupakan semuanya itu, aaai...terus terang saja cici, kedatanganku hari ini tak lain adalah untuk menyelidiki siapa gerangan pembunuh sebenarnya dari kedua orang tua kita, hanya saja cara berpikirku jauh berbeda dg pikiran cici...”

“Hmmm...bagaimana menurut jalan pikiranmu?” tanya Kho Yang ciu dg suara dingin.

“Bagiku, kita harus menemukan dalang dari peristiwa berdarah itu, bukan melakukan pembantaian secara membabi buta dan membunuh setiap orang yg dicurigai, dg begitu paling tidak kita akan menghibur arwah ayah dan ibu yg telah beristirahat tenang dialam baka, meski orang yg ikut menyerbu keperkampungan Hui im ceng waktu itu banyak sekali, tapi mereka berbuat demikian karena siasat licik si dalang yg masih bersembunyi dibelakang layar. Hingga kini kau telah membantai ratusan orang, bersediakah cici untuk menuruti nasehatku, banyak membunuh tak akan menolong keadaan, kau seharusnya mulai menghentikan kegemaran membunuhmu itu...”

“Hmmm, besar amat jiwamu” dengus Kho Yang ciu dingin, “Lalu tahukah kau siapakah dalang dari peristiwa berdarah itu?”

“Aku rasa dewi in nu siancu yg paling mencurigakan!”

“Kalau hanya mencurigakan saja, kau anggap aku tidak tahu?” “Jadi cici sudah?” seru Kho Beng termangu.

“Hmmm..tadi kau anggap aku membunuh semaunya sendiri...” Kho Beng segera berkerut kening, katanya cepat:

“Cici, kalau toh kau sudah tahu mengapa kau…… “

“Tidak menghentikan pembunuhan secara besar-besaran, bukan?” sambung Kho Yang ciu melanjutkan kata2 Kho Beng yg belum selesai, setelah mendengus dingin terusnya: “Tahukah kau apa alasan dan penyebab dari orang2 yg tewas ditanganku itu?”

“Apakah ada alasan lain?”

“Terus terang saja kukatakan, justru karena manusia tsb enggan memberitahukan asal usul serta tempat kediaman dewi in un siancu, maka dalam gusarnya aku telah menghabisi nyawa mereka.”

Kho Beng baru menjadi paham setelah mendengar perkataan ini, ia tak menyangka kalau apa yg diketahuinya ternyata telah diketahui semua oleh cicinya, malah apa yg diperbuatnya selama ini justru merupakan sebagian dari usahanya untuk mencapai tujuan tsb.

Tak tertahan lagi dia menghela napas panjang, katanya dg nada minta maaf:

“Cici, maafkanlah kelancanganku tadi, ya…semua kesalahan hanya terletak mengapa kita berpisah sejak kecil sehingga aku tak dapat memahami perasaanmu, tapi tidak seharusnya cici tidak menuruti perkataanku tadi dg membebaskan kawanan jago pedang berbaju kuning itu.”

“Mengapa?”

“Sebab orang2 itu adalah anak buah dewi in nu siancu!” Kho Yang ciu kelihatan tertegun, lalu katanya dingin: “Mengapa tidak kau katakan sedari tadi?”

“Aaai…tadi kau sama sekali tidak memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara lebih jauh.”

Sesudah termenung beberapa saat lamanya, tiba2 Kho Yang ciu mengulapkan tangannya kepada Bwee hiang berdua sambil serunya:

“Mari kita pergi!”

“Cici, mengapa kau hendak pergi?” buru2 Kho Beng berseru dg gelisah.

“Kalau tidak pergi, mau apa tetap tinggal disini?”

“Cici, kalau begitu mari kita pergi bersama.” Kata Kho Beng kemudian sambil manggut2.

Kho Yang ciu mendengus dingin:

“Tahukah kau aku bersedia atau tidak menempuh perjalanan bersamamu. ?”

“Kita kan sesama saudara kandung, apakah cicipun tetap membedakan antara pria dan wanita?” seru Kho Beng termangu.

“Hmmm.  enak benar kedengarannya, terus terang saja aku

bilang, dua tanda bukti yg kuminta masih kurang satu, jadi aku tak berani menerima sebutan “cici” dari mu, tunggulah sampai kau berhasil mendapatkan kembali lencana panji Hui im ceng sebelum kita berkumpul kembali secara resmi!”

Habis berkata ia mengulapkan tangannya dan melayang keluar dari ruangan, dlm waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan malam.

Memandang tiga sosok bayangan manusia yg makin menjauh, tanpa terasa Kho Beng menghela napas panjang.

Ia menyadari sekarang bahwa cicinya meski seorang wanita namun wataknya amat keras dan pendiriannya amat kukuh, tanpa sadar semuanya ini makin menunjukkan kelemahan dirinya.

Tapi. benarkah ia begitu lemah?

Mendadak ia menggertak gigi keras2 dan melompat keudara meninggalkan tempat tsb. Ia bertekad akan membuktikan dg tindakan bahwa dirinya tidak lemah, sasaran yg pertama dari gerakannya in adalah Siau lim si, sebab dia harus merebut kembali lencana panji Hui im leng tersebut.

Kuil Siau lim si....

Selama beberapa hari ini, walaupun suasana dikuil tsb nampak tenang dg para pejiarah yg datang berdoa, namun dibalik kesemuanya itu suasana tegang menyelimuti perasaan setiap orang, hal ini disebabkan berita penting yg dibawa oleh Bok sian taysu.

Setiap hari boleh dibilang para pendeta tingkat tinggi kuil itu selalu menyelenggarakan rapat rahasia dg ketuanya untuk membicarakan soal Kho Beng serta pelbagai kemungkinan untuk menghadapinya.

Pagi ini, seperti juga diwaktu lain, pintu gerbang kuil Siau lim si yg besar dan berat pelan2 terbuka lebar, dua orang pendeta muda muncul diplataran da mulai membersihkan debu disekitar kuil.

Ketika salah seorang pemuda itu selesai menyapu dan memandang sekeliling kuil, tiba2 paras mukanya berubah hebat dan menjerit kaget.

Mendengar jeritan kaget itu, rekannya segera berpaling seraya menegur keras:

“Hiong pun sute, persoalan apa yg membuatm kaget? Apakah kau lupa sg pelajaran tentang “ketenangan” yg selalu diajarkan suhu kepada kita semua.”

Hiong pun taysu tidak menjadi tenang karena teguran tsb, sambil menunding keatas pintu kembali serunya: “Suheng, coba lihat…..”

Hiong hoat taysu mengikuti arah yg ditunjuk dan segera mendongak, tapi apa yg kemudian terlihat membuat air mukanya berubah hebat dan menjerit tertahan pula.

Ternyata papan nama “Siau lim si” yg terbuat dari sepuhan emas itu sudah hilang lenyap dalam semalaman saja, sedang pada tempat semula kini telah muncul dua baris tulisan yg berbunyi demikian:

“Kutunggu kedatangan Bok cuncu untuk mengembalikan panji Hui im ki dipuncak Siau lim kentongan pertama malam nanti, bila nanti main kerubut dg menggunakan akal licik, jangan salahkan kalau papan nama kalian kuhancurkan.”

Dibawah tulisan tsb sama sekali tidak dijumpai tanda tangan.

Hiong hoat taysu yg semula menegur sutenya tentang “ketenangan” kali ini tak dapat mengendalikan “ketenangan” sendiri, sambil berpaling segera teriaknya:

“Sute, cepat hapus semua tulisan disitu!”

Kemudian dg langkah cepat dia berlarian masuk kedalam kuil untuk memberi laporan.

Tak sampai setengah peminuman teh kemudian, suara genta dalam kuil telah dibunyikan sembilan kali.

Ditengah dentangan suara genta yg amat nyaring, berbondong- bondong para penghuni kuil keluar dari kamar masing2 dan bergerak menuju keruang tengah Tay hiong po tian.

Dalam waktu singkat ruangan Tay hiong po tian telah dipenuhi lima ratusan orang pendeta dg pandangan tidak mengerti dan saling bertanya, mereka seling berpandangan satu sama lainnya.

Tak lama kemudian kelima pendeta agung ngo heng dari ruang Tat mo beserta para pemimpin ruangan telah hadir semua disitu dan akhirnya ketua kuil Siau lim si pun muncul dg membawa tongkat kebesarannya.

Serentak para anggota kuil memberi hormat dg wajah serius.

Setelah membalas hormat dan menghentakkan tongkatnya keatas tanah, ketua siau lim si mulai berkata dg suara dalam :

“Barusan murid kita Hiong pun menemukan papan nama kuil kita telah dicuri orang, untuk itu apakah ada diantara kalian telah melihat seseorang yg mencurigakan kemari ? “

Dg perasaan terkejut dan bimbang segera murid Siau lim si saling berpandangan dg mulut membungkam, nampaknya tak seorangpun yg menyaksikan peristiwa ini. Dg wajah serius dan nada dalam kembali ketua Siau lim si ini berkata :

“Papan nama gereja kita merupakan hadiah dari bagina almarhum, bukan saja melambangkan kewibawaan da sejarah kuil kita selama seratus tahun terakhir ini, juga melambangkan posisi terhormat kita dimata umat persilatan pada umumnya, tapi sekarang ternyata papan nama itu telah dicuri orang tanpa diketahui kabar beritanya, peristiwa ini betul2 merupakan suatu aib dan penghinaan untuk kuil kita, oleh karenanya sejak hari ini tidak terbatas dari tingkatan mana saja kalian semua diwajibkan siaga, tak boleh lalai, tak boleh gegabah, semuanya harus siap sedia setiap saat untuk menanggulangi hal2 yg tidak diinginkan, barang siapa berani lalai dia akan ditindak secara tegas!”

“Menurut perintah ciangbunjin!” segenap anggota kuil menyahut bersama-sama.

Maka ditengah ulapan tangan ketuanya, beratus orang pendeta itu pun mengundurkan diri dari ruangan itu.

Tak lama kemudian pintu ruangan telah tertutup kembali, kini yg tinggal hanya para tongcu serta kelima pendeta ngo heng dari ruang Tat mo wan.

Terdengar ketua Siau lim si berkata:

“Bok lim sute, yakinkah kau bahwa ini adalah perbuatan Kho Beng?”

Dg nada yakin Bok sian taysu menjawab:

“Menjawab pertanyaan ciangbunjin, menurut dugaanku hal ini tak bakal salah lagi , bukankah sangkut paut serta hubungannya persoalan ini telah kujelaskan tadi?”

“Semula menurut laporanmu dari telaga Tong ting, kau mengatakan Kho Beng masih belum mengetahui asal usulnya sehingga mengusulkan kepadanya untuk menariknya sebagai murid kita sehingga tindak tanduknya dikemudian hari bisa diawasi tapi sekarang mengapa ia bisa mengetahui asal usul sendiri sehingga mencari gara2 dg pihak kita?”

“Menurut dugaanku, andaikata bukan si unta sakti berpunggung baja Thio Ciong san telah mengingkari janjinya, tentu ketua Sam goan bun yg membongkar rahasia tsb atau kemungkinan terakhir adalah Li Sam yg telah tewas telah mengungkap asal usulnya menjelang kematian, kecuali tiga orang ini aku rasa tiada kemungkinan yg lain lagi.” Ketua Siau lim si itu nampak termenung sebentar, tiba2 ujarnya sambil tertawa dingin:

“Budha maha pengasih, demi melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, mau tak mau kita mesti menggunakan tindakan yg keji untuk mengatasinya, Li Sam sudah mati, jejak si unta sakti berpunggung baja pun masih penuh tanda tanya, satu-satunya jalan adalah mengundang kehadiran ketua Sam goan bun untuk ditanyai persoalan tsb, entah bagaimana menurut pendapat para tongcu serta tianglo berlima?”

Padahal yg dimaksud “mengundang: dari ketua Siau lim si itu.

Lebih tepat kalau dibilang “diciduk”.

Serentak para sesepuh Siau lim si memberikan persetujuannya.

Maka dg beberapa patah kata itulah nasib tragis perguruan Sam goan bun telah diputuskan.

Melihat tak ada lagi usul lain, ketua Siau lim si segera berpaling kearah Bok sian taysu seraya berkata:

“Entah tindakan apa yg mesti kita ambil untuk menghadapi perjanjian malam nanti?”

Dg suara tenang Bok sian taysu berkata:

“Pamor serta nama baik Siau lim si harus kita bela mati-matian, menurut pendapatku, malam nanti kita penuhi undangannya kemudian setelah mendapatkan kembali papan nama tsb, kita bekuk orangnya.”

“Yakinkah sute akan keberhasilan kita?” tanya ketua Siau lim si dg secara dalam.

Bok sian taysu tersenyum:

“Tak usah kuatir, pokoknya aku tak akan mengecewakan pengharapan ciangbun suheng.”

“Baiklah” kata ketua Siau lim si kemudian sambil manggut2, “Silahkan sute memenuhi janji itu, aku akan mengatur persoalan lainnya.”

Dan perundingan rahasia pun diakhiri sampai disitu.

Pintu gerbang ruang Tay hiong po tian kembali terbuka lebar, para sesepuh Siau lim si itupun kembali keruangannya masing2.

Tulisan diatas pintu gerbang kuil Siau lim si juga telah dihapus, segala sesuatunya pulih kembali dalam ketenangan, seakan-akan sebelum itu tak pernah terjadi sesuatu peristiwa pun. Waktu berlalu dg cepatnya, dalam waktu singkat sehari sudah lewat, kini rembulan sudah bersinar diatas angkasa, kentongan pertama telah menjelang tiba.

Ditengah keheningan dan kegelapan yg mencekam seluruh kuil Siau lim si, tiba2 kelihatan sesosok bayangan abu2 berkelebat keluar dari ruangan dan bergerak menuju kepuncak bukit.

Tampak ditangan kanan orang itu membawa sebuah toya besi, sementara ditangan kirinya membawa sebuah panji yg berbentuk segi tiga.

Ternyata orang itu tak lain adalah Bok cuncu, sesepuh Siau lim si yg sedang berangkat kebelakang bukit untuk memenuhi janji.

Sementara itu malam amat hening, selain hembusan angin malam yg terasa dingin, tak kedengaran sedikit suara pun yg memecah keheningan.

Bok sian taysu dari Tat mo wan berdiri tegak dipuncak bukit dg sorot mata yg tajam mengawasi sekeliling tempat itu, namun suasana tetap hening dan tidak kelihatan setitik bayangan manusia pun.

Karena terlalu mengandalkan kemampuan ilmu silatnya yg amat lihay, ditambah lagi ia tahu kalau ciangbun suhengnya telah mempersiapkan bala bantuan disekitar sana, maka wajahnya sama sekali tidak nampak tegang ataupun gelisah.

Ditunggunya sampai kentongan pertama menjelang tiba, sewaktu dilihatnya orang itu belum nampak juga maka dg suara lantang ia berseru:

“Kemana perginya orang yg mencuri papan nama? Aku telah datang memenuhi janjiku, apakah kau tidak segera menampilkan diri?”

Baru selesai perkataan tsb diucapkan, suara jawaban yg nyaring telah bergema tiba:

“Bok sian hweesio, apakah sudah kau bawa panji Hui im ki leng tsb…?

“Panji Hui im ki leng berada ditanganku…” sahut Bok sian taysu lantang.

“Harap bentangkan panji tsb dan kibarkan tiga kali.”

Bok sian taysu menurut dan kibarkan panji tsb tiga kali, kemudian baru ujarnya dingin:

“Apakah sicu sudah melihatnya dg jelas?” Mendadak berkumandang suara gelak tertawa yg amat nyaring berasal dari atas puncak bukit sebelah kiri, ditengah gelak tertawa yg amat keras itu nampak sesosok bayangan manusia menerobos angkasa dan melayang turun dihadapan Bok sian taysu.

Ternyata orang yg bermata tajam dan berwajah tampan itu memang tak lain adalah Kho Beng, orang yg sudah diduga oleh Bok sian taysu sebelumnya.

Sambil tertawa seram Bok sian taysu segera berkata: “He...he...he...ternyata memang sauhiap, tak kusangka aku

masih punya jodoh untuk bersua kembali dg sicu”

“Tak usah banyak bicara” tukas Kho Beng sambil menarik muka, “nah hweesio gede cepat serahkan panji Hui im ki leng tsb kepadaku!”

Bukan diserahkan, Bok sian taysu malah menyimpan kembali panji tsb, kemudian katanya sambil tersenyum:

“Sau sicu, bolehkah aku berbicara dulu barang sepatah dua patah kata?”

“Kalau ingin bicara, katakan saja terus terang!”

“Masih ingatkah sau sicu dg kata2 ku ketika berada dalam wisma tamu di bukit Kun san ditepi telaga Tong ting?”

Kho Beng segera tertawa bergelak:

“Ha…ha…ha…jadi kau masih ingin menerimaku sebagai muridmu hweesio tua?”

“Membujuk orang berbuat baik merupakan suatu amal yg sangat mulia, Budha maha pengasih, aku tak boleh melenyapkan kesempatan seseorang untuk kembali kejalan yg benar, asal tindakan yg sau sicu lakukan sekarang hanya merupakan dorongan emosi maka pintu gerbang Siau lim si masih terbuka bagi sau sicu.”

“Hweesio gede! Enak amat perkataanmu itu” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin, “Masih ingatkah dg drama penyiksaan terhadap Li Sam tempo hari?”

“Sau sicu, ketahuilah bahwa perbuatanku itu demi kepentinganmu sendiri…”

“Sayang sekali hweesio tua, aku Kho Beng justru hendak menyingkap topeng dibalik kebajikanmu itu!” tukas anak muda itu.

Tiba2 saja paras muka Bok sian taysu berubah hebat, serunya dg penuh kegusaran: “Selama ini aku selalu berusaha membujuk mu agar berbuat kebaikan serta kembali kejalan yg benar, tindakan inikah yg kau tuduh sebagai tindakan pura2?”

“He…he….he…kalian toh bukan pejabat pengadilan, atas hak apa kamu semua menyelenggarakan sidang penyiksaan? Hey hweesio tua mengapa kau tidak memberi kesempatan kepada Li Sam untuk menempuh hidup baru? Mengapa kau hanya memberi kesempatan macam itu kepadaku seorang?”

Merah padam selembar wajah Bok sian taysu, tapi justru karena itu dia menjadi marah hingga wajahnya hijau membesi, ujarnya kemudian dg suara dalam:

“Sau sicu, kalau toh kau enggan menuruti nasehatku, sampai waktunya kau pasti akan menyesal sekali.”

Kho Beng tertawa angkuh…

“Tentang soal ini tak usah kau kuatirkan, yang datang tak akan membawa maksud baik, orang baik tak akan datang mencari gara2. He…he…he…hweesio tua, tahukah kau apa sebabnya aku Kho Beng justru menunjuk dirimu untuk datang memenuhi janji?”

“Sayang aku tak paham niatmu itu!” dengus Bok sian taysu.

Kho Beng tertawa dingin…

“Kalau begitu tak ada salahnya bila kuberitahukan kepadamu, selain menukar papan nama kuil kalian dg panji tsb, akupun hendak memenggal batok kepalamu untuk dipakai bersembahyang didepan meja abu engkoh Li Sam!”

Mendengar perkataan tsb, Bok sian taysu segera tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha…asal sau sicu merasa yakin dg kemampuanmu, silahkan saja untuk berusaha memenggalnya, tapi sayang batok kepalaku ini bukan barang yg bisa dipetik sembarangan….Hmmmm, sebelum itu aku ingin bertanya dulu kepadamu, sesungguhnya apa sih hubunganmu dg Li Sam?”

“Li Sam adalah kakak angkatku, nah hweesio, serahkan panji tsb kepadaku sekarang juga!”

“Apakah sicu telah membawa serta papan nama kuil kami?” “Papan nama itu terlalu besar dan berat lagi hingga kurang

leluasa untuk dibawa kesana kemari, tapi tak usah kuatir perkataan seorang lelaki sejati tak akan diingkari lagi, asal panji tsb sudah kau serahkan, tentu papan nama itu akan kukembalikan kepada kalian.” “Hmmm…dalam soal ini aku dapat mempercayai perkataanmu, tapi akupun merasa heran dg mempertaruhkan selembar jiwau kau berusaha untuk mendapatkan panji tsb, sebetulnya apa sih kegunaan panji itu bagimu.”

“Hmmm hweesio busuk, tahukah kau siapakah Kho Beng yg sebenarnya?” seru pemuda itu sambil tertawa dingin.

Bok sian taysu balik tertawa dingin:

“Bila dugaanku tidak keliru, sicu adalah putra Kho Po koan, pelayan dari perkampungan Hui im ceng dimasa lalu!”

Kho Beng segera manggut2, katanya dg suara dalam :

“Kho lo tia pernah melepaskan budi setinggi bukit kepadaku, sudah sepantasnya kalau kusebut dia orang tua sebagai ayah angkatku, tapi aku bukan putra kandungnya.”

“Jadi sicu bukan anak kandung si toya baja pedang tembaga Kho Po koan?”

Bok sian taysu menyela dg wajah tercengang. Tepat sekali perkataanmu, sebab mendiang ayahku tak lain adalah Hui im cengcu yg termashur itu!”

Bok sian taysu terperanjat sekali, tapi sejenak kemudian ia sudah mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak:

“Ha...ha...ha. siapa sih yg hendak kau tipu? Putra tunggal Hui in

cengcu sudah mampus diujung pedang Ciu bu ki, Ciu tayhiap semasa masih bayi dulu. Mana mungkin bisa muncul putra kedua dari Hui im cengcu dewasa ini. ”

“Hmmm. tak nyana kau si hweesio begitu dungu” ejek Kho Beng

sambil tertawa sinis, “Orang yg mewakiliku mati waktu itu lah baru putra tunggal pelayan kami, kasihan kamu semua ternyata hingga kini masih belum menyadarinya”

Sekali lagi paras muka Bok sian taysu berubah hebat.

Dulu pendeta dari Siau lim si ini memang menaruh curiga atas raut wajah Kho Beng yg dianggapnya mirip Hui im cengcu, tapi selama ini ia selalu berpendapat itu hanya suatu kebetulan saja.

Karena itu setelah menyelami kembali peristiwa masa lampau, ia tak mau percaya kalau bocah yg telah mampus diujung pedang tempo hari, ternyata masih hidup terus hingga hari ini.

Sekarang, pendeta agung dari Siau lim si ini baru memahami duduk persoalan yg sebenarnya, diam2 ia menyesal sekali karena sudah menyia-nyiakan kesempatan baik sewaktu masih ditelaga Tong ting tempo hari, coba kalau waktu itu ia bertindak tegas, niscaya Kho Beng tak akan lolos hingga hari ini.

Hawa nafsu membunuh pelan2 menyelimuti perasaan Bok sian taysu, meski begitu sikapnya masih tetap tenang dan lembut seperti sedia kala, malah ujarnya sambil tertawa nyaring:

“Kalau toh sicu adalah putra kandung Hui im cengcu, tentu saja aku harus mengembalikan benda ini kepada pemiliknya, nah ambillah!”

Tangan kirinya segera diayunkan kemuka, panji Hui im ki leng segera meluncur kemuka bagaikan sekilas cahaya hijau dan....

“Duuuk!”

Segera menancap diatas sebuah batu karang, persis ditengah antara kedua orang itu.

Menyusul kemudian tangan kanannya bergeser dari batang tongkat keujung senjatanya. Setelah itu toyanya diputar dan dijajarkan didepan dada, inilah gaya pembukaan dari suatu serangan.

Sebagai orang persilatan tentu saja Kho Beng dapat melihat hal tsb, dg kening berkerut serunya dingin:

“Hey Hweesio, kelihatannya kau sudah tak sabar lagi untuk bertarung melawanku.”

Bok sian taysu tersenyum:

“Bukankah sicu menghendaki batok kepalaku? Sekarang kau dapat menyelesaikan dua persoalan sekaligus, selain lencana panji bisa kau peroleh, batok kepalaku bisa kau penggal, Cuma masalahnya sekarang apakah sicu mempunyai kesanggupan untuk melakukannya.”

Kho Beng mendengus dingin, sambil membusungkan dada ia segera berjalan kemuka mendekati lencana panjinya.

Ia tahu baik kecerdasan maupun tenaga dalam yg dimiliki Bok sian taysu masih satu setengah tingkat diatas kemampuannya, diapun menyadari bahwa pihak lawan tak akan membiarkan dirinya mendapatkan kembali panji tsb secara aman, bahkan bisa jadi serangan yg bakal dilancarkan musuh luar biasa hebatnya.

Akan tetapi kobaran semangat yg dibangun oleh sindiran encinya, menimbulkan kegagahan dan kejantanan yg tak terbendung dalam tubuh Kho Beng, apalagi kematian Li Sam yg tragis amat melekat didalam benaknya, boleh dibilang rasa bencinya terhadap Bok sian taysu sudah merasuk sampai ke tulang sumsum. Maka mempergunakan kesempatan disaat ia selangkah demi selangkah mendekati panji tsb, dg teliti dan hati2 sekali ia mulai memperhatikan kemungkinan2 yg dilakukan Bok sian taysu dalam menghadapi dirinya, dia pun mulai mempersiapkan jurus serangan yg mungkin bisa dipakai untuk menanggulanginya.

Selisih jarak sejauh berapa kaki tidak terlalu jauh, ditengah suasana tegang yg mencekam seluruh kalangan inilah akhirnya Kho Beng telah sampai disisi panji tsb.

Dalam keadaan demikian, mau tak mau dia harus mengalihkan sorot matanya yg semula mengawasi wajah Bok sian taysu lekat2 kini harus beralih keatas panji yg berada diatas tanah.

Pada saat inilah sekulum senyuman dingin yg licik tersungging diujung bibir Bok sian taysu, sebelum jari tangan Kho Beng menyentuh panji itu mendadak ia membentak keras,

” lihat senjata!”

Toyanya diputar sambil bergetar menciptakan selapis cahaya hitam yg disertai angin tajam langsung mengancam tubuh anak muda tsb.

Inilah jurus “Cahaya suci bayangan budha” dari ilmu delapan belas jurus penaklus iblis yg merupakan ilmu toya rahasia dari Siau lim si, seperti apa yg telah diduga semula, ternyata kekuatan yg disertakan didalam serangan tsb benar2 hebat dan luar biasa sekali.

Berbicara menurut keadaan situasi saat itu rasanya selain membendung ancaman mana dg mempergunakan senata, hanya ada satu jalan saja bagi Kho Beng yakni menghindarkan diri.

Akan tetapi Kho Beng tak rela melepaskan panji yg sudah hampir tersentuh oleh tangannya itu, dalam terperanjatnya ia pun bertekad mengambil tindakan yg amat berbahaya sekali.

Tiba2 saja badanya menerjang maju kedepan lalu menjatuhkan diri mendekam ketanah, dg suatu gerakan yg manis tapi berbahaya ia berhasil lolos dari sapuan tenaga lawan.

Memanfaatkan kesempatan inilah dia menyambar panji tsb, kemudian menjejakkan kakinya kebelakang keras2.

Laksana anak panah yg terlepas dari busurnya, pemuda itu pun meluncur kemuka langsung menerjang kedada Bok sian taysu, pedangnya menusuk sejajar dada dan menggunakan gerakan “ombak berbaring gelombang memburu” dia mengancam lambung lawan. Baru saja serangan toya Bok sian taysu menemui sasaran kosong, ia makin terperanjat lagi setelah menyaksikan kejadian itu.

Ia bukan terkejut karena tindakan pembalasan dari Kho Beng yg menyerempet bahaya, sebab tindak serangan balasan dari anak muda tsb telah berada dalam dugaan pendeta agung dari Siau lim si ini.

Yang membuatnya amat terperanjat adalah jurus serangan yg digunakan Kho Beng untuk melancarkan serangan balasan tadi , ia tak mengira kalau jurus serangan yg dipakai adalah ilmu pedang aliran air Lin sui jit si yg amat termasyur itu.

Dg suara dalam dan berat Bok sian taysu segera menegur: “Rupanya sicu telah memperoleh warisan ilmu silat dari Bu wi

lojin…”

Toyanya kembali diputar dg jurus “Guntur sakti penakluk iblis” sepenuh tenaga ia babat tubuh lawan.

Disaat melejit kedepan tadi Kho Beng telah mencabut panjinya dari batu, kini semangatnya berkobar-kobar, namun oleh karena perubahan jurus yg dilakukan Bok sian taysu kelewat cepat, maka dalam keadaan terdesak dan tak mungkin dapat dihindari lagi, ia segera tertawa keras2 sambil serunya:

“Hey hweesio gede, aku Kho Beng akan menjajal sampai dimanakah kemampuan tenaga dalammu!”

Tubuhnya cepat2 meluncur kebawah, begitu menginjak permukaan tanah, pedangnya ditarik sambil berputar, lalu membentak keras ia bendung serangan musuh dg kekerasan.

“Traaanggg…!”

Dua senjata yg saling bertemu menimbulkan suara bentrokan yg nyaring sekali, percikan bunga api memancar kemana-mana.

Kho Beng segera merasakan kekuatan serangan Bok sian taysu begitu berat dan kuat seperti tindihan bukit karang sehingga seluruh lengan kanannya menjadi skit dan kesemutan, hampir saja pedangnya lepas dari genggaman.

Akan tetapi senjata toya Bok sian taysu yg tertangkis pedang kho Beng pun dibuat mencelat kebelakang, akibatnya pendeta dari Siau lim si ini menjadi terkejut sekali sampai paras mukanya berubah hebat, buru2 dia menghindarkan diri kebelakang.

Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau Kho Beng pemuda yg lemah lembut selain mendapatkan warisan ilmu pedang Lui sui jit si, juga memiliki tenaga dalam yg begitu sempurna sampai2 bila dibandingkan dg tenaga latihannya selama enam puluh tahun selisihnya cuma sedikit sekali.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(