Kedele Maut Jilid 11

 
Jilid 11

Dalam waktu singkat suasana diseluruh ruangan tsb telah dicekam oleh suasana seram, tegang dan serius, lebih2 untuk Kho Beng, ia sangat terperanjat sehingga untuk sesaat lamanya tidak tahu apa yg mesti diperbuat.

Namun Li Sam yg dibelenggu diatas tiang tetap tenang, wajahnya tetap hambar tanpa perubahan, ia seperti tak gentar menghadapi ancaman tsb… Sekalipun berhadapan dg api yg membara, jangan lagi berkedip, melihat sekejap pun tidak, seakan akan masalah mati atau hidup sudah bukan menjadi masalah lagi baginya.

Dalam sekejap mata, suasana didalam ruangan tercekam dlm keheningan yg luar biasa, begitu hening sampai jarum yg terjatuh pun mungkin akan terdengar jelas.

Sinar mata dan perhatian semua jago telah tertuju ketubuh Li Sam seorang, semua orang ingin melihat bagaimanakah reaksi orang tsb.

Tiba2 terdengar pemilik istana naga, Kiong Ceng san membentak lagi dg suara menggeledek:

“Li Sam sebetulnya kau bersedia mengaku atau tidak!”

“Seperti perkataanku semula, tiada persoalan yg bisa diakui oleh Li Sam kpd kalian. ”

“Betul2 keras kepala dan membandel!” seru Kiong Ceng san sambil tertawa seram, “Baik, akan kubuktikan hari ini, apa benar tubuhmu terdiri dari otot kawat tulang baja sehingga tahan disiksa. mana pengawal? Siapkan alat siksaan!”

Keempat lelaki kekar pelaksana siksaan segera mengiakan bersama, salah seorang diantaranya segera menyambar gagang besi yg membara itu kemudian selangkah demi selangkah berjalan menuju kehadapan Li Sam.

Berada dlm keadaan seperti ini hampir saja jantung Kho Beng melompat keluar dari tenggorokannya, selama ini ia sudah berusaha memutar otak untuk mencarikan cara baik guna menyelamatkan Li Sam dari bahaya maut, namun biarpun sudah dipikirkan lebih jauh, bagaimanapun jua ia gagal menemukan cara terbaik.

Bukit Kun san dikelilingi air, ditambah lagi ratusan jago silat yg memadati ruangan dlm serta ratusan lagi diluar ruangan, andaikata ia tak segan2 untuk mengungkapkan identitas diri dan tampil ke depan untuk melindungi keselamatan Li Sam, belum tentu usahanya tsb dapat menolong Li Sam dari bahaya serta membawanya lolos dari situ.

Oleh karenanya Kho Beng hanya bisa duduk dg perasaan tertegun dan tidak tenang, pelbagai pikiran dan perasaan yg kalut berkecamuk dlm benaknya.

Tapi sekarang siksaan segera akan dilaksanakan, ini berarti sudah tiada kesempatan lagi baginya untuk mempertimbangkan lebih jauh, kesetian Li Sam membuat darahnya terasa mendidih, ia berpendapat sekalipun tubuh sendiri bakal remuk, bagaimanapun jua tak mungkin bagi dirinya untuk berpeluk tangan belaka.

Sementara darahnya terasa mendidih dan bergolak keras, pada saat itulah kedengaran seseorang membentak dg suara yg dalam dan berat:

“Tunggu sebentar!”

Bentakan tsb bukan saja membuat beberapa orang tokoh persilatan yg hadir menjadi tertegun, Kho Beng sendiripun turut termangu dibuatnya.

Cepat2 dia mengalihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara bentakan tsb, ternyata orang itu tak lain adalah kakek bermuka hitam satu diantara dua sesepuh hitam putih dari Hoa san pay.

Waktu itu besi membara yg disiapkan lelaki kekar pelaksana siksaan telah tiba didepan dada Li Sam, ia segera menghentikan perbuatannya sesudah mendengar bentakan tsb.

Dg keheranan dan tak habis mengerti Kiong Ceng san segera bertanya:

“Sik tayhiap mengapa kau menghalangi jalannya siksaan?”

Sambil menjura kearah Kiong Ceng san si kakek bermuka hitam berkata lagi sambil tertawa:

“Aku Sik Tin phu tak berani menghalangi jalan penyiksaan, hanya ada satu permintaan ingin kuajukan kepada sidang?”

“Silahkan Sik tayhiap katakan!” buru2 Kiong Ceng san berseru seraya menjura.

Sik Tin phu, kakek bermuka hitam itu segera tertawa:

“Aku hanya berharap pelaksana siksaan dapat ditunda sebentar saja…”

Sepasang sesepuh hitam putih dari Hoa san pay ini boleh dibilang merupakan tokoh silat yg memiliki pamor dan kedudukan tinggi didunia persilatan, tapi sekarang tokoh semacam itu bisa berkata demikian, hal mana segera menimbulkan perasaan heran dihati para jago lainnya.

Sementara semua orang masih tertegun, kakek bermuka putih telah memberi penjelasan sambil tertawa:

“Sebagaimana diketahui, semalam kami dua bersaudara sudah cukup menderita gara2 ulah bajingan busuk ini, maka kami ingin melampiaskan rasa mendongkol tsb saat ini juga, itulah sebabnya kami mohon penyiksaan terhadap bajingan tsb dapat diserahkan saja pelaksanaannya kepada kami berdua.”

Dg penjelasan tsb, para jago baru mengerti maksud dan keinginannya.

Kiong Ceng san segera tertawa terbahak-bahak: “Ha….ha…ha….rupanya begitu, kalau toh saudara Sik mempunyai

kegembiraan untuk berbuat demikian silahkan saja dilakukan dg sesuka hati.”

Sekali lagi kakek bermuka hitam itu menjura kemudian baru membalikkan badan dan berjalan menuju ketengah arena.

Diambilnya sebatang besi yg telah membara, lalu sambil berjalan menuju kehadapan Li Sam, jengeknya sambil tertawa seram:

“Sewaktu berada ditepi sungai semalam, aku sama sekali tak menyangka kalau orang yg kami hadapi adalah Li tayhiap, he…he…he…masih ingatkah kau dg apa yg telah diucapkan semalam?”

Li Sam nampak agak bingung tapi segera jawabnya dingin: “Maaf aku Li Sam tidak dpt mengingatnya kembali…” “He…he…he…” sekali lagi kakek bermuka hitam tertawa seram,

“semalam kau begitu bergaya dg ucapanmu yg begitu sombong, tak sebuah perkumpulanpun yg luput dari cercaanmu, maka sekarang aku hendak menyuruh kau merasakan pembalasan kami atas perkataanmu yg tidak senonoh semalam.”

Tentu saja sikakek bermuka hitam ini tidak tahu kalau orang yg mengejeknya semalam adalah Kho Beng, sehingga semua rasa dendam dan sakit hatinya dilimpahkan kepada Li Sam seorang.

Paras muka Li Sam waktu itu sudah berubah menjadi hijau membesi, hawa panas yg memancar keluar dari besi membara tsb cukup membuat peluh diatas jidatnya mengucur keluar dg deras.

Sementara itu sikakek bermuka hitam kembali tertawa seram seusai mengucapkan perkataannya tadi, tiba2 besi yg membara itu ditusukkan keatas dada Li Sam.

Dlm keadaan seperti ini, Kho Beng sudah tak sanggup utk menahan diri lagi, ia segera melompat bangun dan siap membentak:

Tapi sebelum suara bentakannya meluncur dari balik bibirnya, Li Sam dg mata melotot besar telah membentak keras lebih dulu:

“Tahan!” Walaupun suara bentakan itu tidak nampak bertenaga namun berhubung dipancarkan dg sepenuh tenaga, maka suaranya cukup menggetarkan seluruh ruangan.

Dg sorot mata yg berapi-api kembali ia membentak keras: “Barangsiapa berani bertindak sembarangan, aku Li Sam tak

segan2 akan menghabisi nyawa sendiri!”

Didalam teriakan tsb seolah-olah tak sengaja sorot matanya dialihkan sampai dua kali kewajah Kho Beng.

Menyaksikan hal tsb, Kho Beng menjadi tertegun lalu menghela napas panjang dan duduk kembali ketempat semula.

Ia mengerti perkataan Li Sam tsb sengaja dituju kepadanya, ia seperti memberi petunjuk kepadanya agar tdk bertindak secara gegabah karena dorongan emosi, sebab hasilnya hanya mengantar selembar jiwanya dg percuma.

Sementara itu sikakek bermuka hitam telah mengejek kembali sambil tertawa seram:

“He...he...he...dalam keadaan seperti inipun kau masih ingin berlagak sok?”

Besi yg merah membara itu segera disodokkan kedepan... “Coossss. !”

Dipakaian Li Sam yg basah kuyup segera menyembur keluar segulung asap berwarna hijau, disusul kemudian seluruh jago yg hadir dlm ruangan mengendus bau daging yg hangus....

Jerit kesakitan yg memilukan hatipun berkumandang dari mulut Li Sam serta bergema diseluruh ruangan.

Kho Beng tak tega menyaksikan adegan semacam itu, ia memejamkan matanya rapat2 sambil berusaha keras menahan cucuran air matanya yg telah mengambang dalam kelopak matanya sekuat tenaga, ia berusaha utk menahan rasa gusar, dendam dan gejolak emosi yg membara dalam dadanya. Dlm hati kecilnya diam2 ia berpekik, “Maafkan aku sam ko. selama Kho Beng masih dapat

bernapas didunia ini aku bersumpah akan membalaskan dendam sakit hatimu ini” Tiba2 terdengar suara teriakan kaget bergema dari sekeliling ruangan tsb,

“Sik tua cepat hentikan perbuatanmu!”

Sik tua tahan, dg wajah tertegun Kho Beng membuka matanya kembali, ia saksikan darah segar telah meleleh keluar dari ujung bibir Li Sam, sementara kepalanya telah terkulai lemas diatas dadanya. Dg perasaan terkejut kakek bermuka hitam membuang besi membara yg berada ditangannya, kemudian memeriksa denyut nadi Li Sam tapi akhirnya ia membalikkan badan dan mengundurkan diri seraya bergumam:

“Aaaah...sudah mampus. ”

Perasaan menyesal jelas terlintas diatas wajahnya.

Sementara itu Bok sian taysu telah bangkit berdiri pula, ketika menyaksikan peristiwa tsb ia segera berkata sambil menghela napas:

“Aaaaai…aku tidak menyangka kalau dia akan bunuh diri dg menggigit lidah sendiri, akibatnya jejak kita untk menelusuri Kedele Maut lagi2 terputus ditengah jalan.”

Kho Beng sendiri hampir semaput setelah meyaksikan kematian yg mengenaskan dari Li Sam, tapi dg sekuat tenaga ia menggigit gigi menahan diri.

Sekarang ia sudah dapat melihat dg jelas wajah2 sebenarnya orang persilatan yg menganggap dirinya sbg golongan putih, demi tercapainya apa yg diharapkan ternyata mereka pun tak segan2 menggunakan cara siksaan yg paling keji bahkan sama sekali tidak menggubris peraturan dunia persilatan.

Diam2 ia mulai berjanji, peduli pihak istana naga dari bukit Kun san serta sepasang sesepuh hitam putih Hoa san pay mempunyai ikatan permusuhan atau tidak dg dirinya, suatu saat dia pasti akan membalaskan dendam bagi kematian Li Sam…”

Begitulah malam itu juga Kho Beng berangkat meninggalkan bukit Kun san…

Peristiwa berdarah yg berlangsung dibukit Kun san pun dg cepatnya tersebar luas diseluruh dunia persilatan.

Kematian Leng hun totiang dari Bu tong pay, bunuh dirinya Li Sam yg belum lama termasyur didunia persilatan…semua berita tsb mendatangkan perasaan terkejut dan heran bagi semua jago diseluruh negeri….

Tentu saja semua orang menduga Kedele Maut telah berhasil meninggalkan kawasan telaga Tong ting, maka usaha pembalasan dendam dari Kedele Maut pun mendatangkan perasaan misteri dan seram bagi setiap umat persilatan. Orang jadi lebih waspada dan berhati-hati lagi dalam kehidupannya.

Lebih2 dg kematian Li Sam, kematiannya mendatangkan akibat yg luar biasa bagi umat persilatan. Semua orang tidak tahu barapa banyakkah komplotan yg berpihak kepada Kedele Maut dan masih berkeliaran diantara mereka.

Dibawah pemberitaan yg sambung menyambung, akhirnya keseraman dan kehebatan Kedele Maut telah menimbulkan suatu gambaran yg mengerikan bagi semua orang, seolah-olah tiada lubang sekecil apapun yg tak bisa ditembusi Kedele Maut.

Dg terjadinya peristiwa itu, setiap jago mulai tak percaya dg orang2 disekelilingnya, tindak tanduk setiap orang pun berubah menjadi lebih hati2 dan penuh perhitungan, semuanya takut dicurigai dan sebagai komplotan dari Kedele Maut tsb.

Terutama bagi kawanan tokoh persilatan yg berkumpul dibukit Kun san kecuali menderita kekalahan yg tragis, mereka pun mulai tak tenang hatinya akibat lenyapnya Kho Beng secara tak berbekas.

Waktu itu Kho Beng dg membawa perasaan sedih yg luar biasa telah meneruskan perjalanannya utk mencari jejak encinya.

Entah berapa waktu sudah lewat, suatu hari sampailah dia dikota Yang ciu.

Kota Yang ciu sebagai kota termasyur dikawasan Kang lam benar2 memiliki kejayaan dan kemegahan yg luar biasa.

Walaupun kota Yang ciu sangat indah, sayang Kho Beng tidak berkesan untuk menikmatinya.

Sejak kematian Li Sam, putusnya berita encinya, membuat pemuda ini masgul dan berpikir kosong, dia tak tahu sampai kapan baru dapat berkumpul kembali dg kakaknya itu.

Ketua Sam goan bun pernah memberitahukannya untuk menemukan Sastrawan berkipas kemala Beng yu, maka dianjurkan mencarinya kekota Yang ciu.

Tapi sejak kedatangannya dikota tsb, sudah hampir sore ia berusaha menelusuri jejaknya, alhasil alamat tsb belum ketahuan juga.

Dlm putus asanya dia mulai merasa ragu2 atas kebenaran tindakan yg telah dilakukannya selama ini.

Dg perasaan bimbang dan kosong ia mencoba memperhatikan sekejap sekeliling itu, mendadak dari ujung jalan sana tampak seorang lelaki berbaju kuning yg menyoren pedang munculkan diri dan bergerak mendekati dg cepat.

Orang itu berwajah panjang seperti muka kuda, alis matanya tebal, meski wajahnya amat asing anmun warna kuning bajunya persis sama seperti pakaian kuning yg dipakai rombongan jago pedang yg pernah dijumpai di Tong sia tempo hari.

Seketika itu juga Kho Beng merasakan semangatnya berkobar kembali, pikirnya:

“Seandainya orang berbaju kuning ini merupakan anggota perguruan dari dewi In nu siancu, sudah pasti dia mengetahui pula kabar berita tentang sastrawan berkipas kemala.”

Buru2 dihampirinya orang tsb, lalu seraya menjura sapanya: “Saudara harap berhenti sebentar!”

Orang berbaju kuning itu tertegun, diamatinya wajah Kho Beng dari atas hingga kebawah, kemudian tegurnya:

“Ada urusan apa?”

“Benarkah saudara anak buah dewi In nu siancu?” selidik Kho Beng sambil tersenyum.

Berubah hebat paras muka jago pedang berbaju kuning itu, dg suara dingin ia balik bertanya:

“Siapa kau? Darimana bisa tahu nama besar dewi kami?”

Dari nada jawaban orang tsb, Kho Beng tahu kalau ia sudah menemukan lawan bicara yg benar, namun oleh karena sikap orang tsb sangat tidak bersahabat, mau tak mau secara diam2 ia mesti tingkatkan kewaspadaannya.

Sengaja ia membohongi orang tsb, segera ujarnya sambil tertawa terkekeh-kekeh:

“Aku yg muda Tio ki mempunyai sobat yg menjadi anggota perguruan dari dewi In nu siancu, oleh sebab itu sudah lama aku yg muda menaruh rasa kagum dan hormat terhadap kebajikan siancu…..”

“Siapakah rekanmu itu?” tukas lelaki berbaju kuning tsb dingin. “Dia she Beng, orang persilatan menyebutnya sebagai sastrawan

berkipas kemala!”

Lelaki berbaju kuning itu segera mendengus dingin:

“Besar amat nyali Beng loji sehingga pantangan siancu kami pun berani dilanggar, bahkan membocorkan rahasia sebesar ini kepada orang lain….he…he….tampaknya ia sudah bosan hidup….”

Kho Beng segera merasa gelagat kurang menguntungkan, selain itu dia pun tak berani menanyakan alamat sastrawan berkipas kemala secara langsung, sebab sebagai sobat lama, mana mungkin alamat rumahnya pun tidak diketahui? Bila ditanyakan secara langsung, bukanka rahasianya justru akan terbongkar? Satu ingatan segera melintas didalam benaknya, tidak sampai perkataan lawan selesai diutarakan, segera ia tertawa terbahak- bahak:

“Mengingat saudara adalah kenalan Beng jiko, berarti kaupun sahabat diriku, harap anda jangan menganggap asing diriku.

Mari,mari…biar siaute menjadi tuan rumah dg menjamu saudara dirumah makan Tay ang wan…”

Agaknya tindakan tsb sangat memenuhi selera manusia berbaju kuning itu, air mukanya segera berubah kembali lebih kendor, malah sambil tertawa katanya:

“Tio lote tak usah sungkan2, untung kau bersua dg diriku hari ini, coba kalau orang lain….hmmm, mereka tak bakal bersikap bersahabat seperti aku Han Tiong lin!”

Kho Beng segera tertawa bergelak:

“Sejak pandangan pertama tadi, aku sudah tahu kalau saudara Han seorang lelaki yg amat bersahabat, tahu perasaan orang, itulah sebabnya aku telah menegurmu secara lancang, ha…ha…ha…kalau ada persoalan mari kita bicarakan didalam saja, mari berangkat, jika saudara Han masih sungkan2 terus sama artinya tidak menganggap diriku sbg sahabat!”

Sambil berkata, ia segera menarik ujung baju orang itu dan diajak berlalu dari sana.

Han Tiong lin segera memicingkan matanya, lalu pura2 tertawa rikuh, katanya:

“Kalau toh saudara bersikap begitu bersahabat, tentu saja aku orang she Han harus menurutinya!”

Begitulah mereka berangkat berdua menuju rumah pelacuran Tay ang wan.

Sambil berjalan Kho Beng kembali berkata sambil tertawa: “Saudara Han tak usah merendah, biarpun aku tak punya nama

besar dalam dunia persilatan, tapi kesukaanku adalah mengikat tali persahabatan dg siapa saja, apalagi manusia macam saudara Han. Waah, aku tak pernah melewatkan biar seorangpun!”

Kata2 umpakan tsb makin menggirangkan hati Han Tiong lin, wajahnya makin cerah, tidak sedingin tadi waktu bertemu pertama kali tadi.

Baru saja mereka berdua melangkah masuk kedalam pintu gerbang rumah pelacuran Tay ang wan, penjaga pintu telah berteriak dg suara lantang: “Ada tamu datang?”

“Silahkan!” jawaban lengking bergema dari balik ruangan.

Disusul kemudian muncul serombongan perempuan yg berdandan menyolok dan bergaya amat genit.

Begitu genit jalannya perempuan2 tsb membuat Kho Beng bukan saja bingung dan gugup, pandangan matanya serasa berkunang- kunang. Sejak terjun kedunia persilatan, baru pertama kali ini ia terjun kebidang tsb sehingga pada hakekatnya tidak mengerti akan tata cara yg berlaku disitu. Tapi untuk mengikat tali hubungan yg lebih akrab dg Han Tiong lin sehingga usahanya memperoleh alamat sastrawan berkipas kemala terwujud, buru2 ia mengeluarkan dua puluh tail perak yg tersisa dalam sakunya dan dijejalkan ketangan petugas disisinya sambil berpesan. Terima hadiah tersebut tapi kau keluarkan semua nona yg paling top disini untuk menemati Han toako ini...

Petugas rumah pelacuran itu nampak agak tertegun tapi kemudian dg wajah berseri-seri serunya:

“Boleh hamba tahu toaya she apa?”

“She Tio!” dg suara keras petugas itu berteriak kembali.

“Tio kongcu telah menghadiahkan dua puluh tail perak, siapkan kamar kelas satu.” Menyusul kemudian muncul sang germo diikuti sekawanan dayang yg bersama-sama mengucapkan terima kasih:

Sang germo dg genitnya menerjang kehadapan Han Tiong lin lalu katanya setengah merayu:

“Oooh. tuan Han kau toh bukan tamu asing buat apa menyuruh

Tio kongcu membayar mahal?” Han Tiong lin terbahak-bahak:

“Li toanio jangan mentertawakan, Tio lote ku ini baru pertama kali berkunjung kemari, karena itulah sebabnya baru masuk gedung lantas membagi hadiah, harap toanio bisa melayani secara baik2… ”

“Ooooh…kalau toh sahabat tuan Han, masa aku berani berayal kepadanya….he…he…kebetulan sekali Cui hong sedang kangen dg tuan Han, mari ajak sekalian Tio kongcu ini untuk duduk dikamar tidurnya Cui hong.”

Sambil berkata ia lantas menyingkir kesamping untuk memberi jalan lewat…

Han Tiong itu tertawa terbahak-bahak, diiringi sekawanan dayang, berjalanlah dia masuk kedalam gedung dan naik keatas loteng. Sementara itu paras muka Kho Beng telah berubah menjadi merah jengah, ia tahu perbuatannya memberi hadiah tadi memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia baru kali ini berkunjung ketempat macam begitu.

Sedikit banyak ia menyesal juga dg lenyapnya uang sebesar dua puluh tail secara sia2, pikirnya kalau sekarang ia sudah berlagak menjadi seorang toaya, entah bagaimana caranya untuk keluar dari gedung ini nanti?

Tapi ibaratnya menunggang dipungung harimau, dalam keadaan begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lain, setelah duduk dalam ruangan, segera katanya kepada Han Tiong lin:

“Tak kusangka sama sekali saudara Han adalah langganan lama tempat ini!”

Han Tiong lin tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha…harap lote jangan mentertawakan, paling banter aku Cuma iseng kemari kalau ada waktu senggang, habis kalau menganggur sumpek rasanya!”

Kho Beng ikut tertawa terbahak-bahak, selanya: “Ha…ha…ha…mana aku berani mentertawakan Han toako, tapi

aku pikir seorang enghiong tak bisa meninggalkan perempuan cantik memang tepat sekali, buktinya saudara Han sebagai seorang jagoan tg perkasa pun suka dg perempuan2 cantik…”

Kata2 umpakan tsb tak ubahnya menyanjung Han Tiong lin setinggi langit, kontan saja ia kegirangan setenga mati.

Kebetulan sekali pada saat itulah tirai pintu ruangaan terbuka dan muncul seorang perempuan cantik yg genit dan jalang.

Sembil tertawa tergelak Han Tiong lin segera berkata:

“Betul, betul sekali, Cui hong cepat kau jumpai Tio lote, sahabat karibku ini!”

Sepelacur cantik, Cui hong mengerling dulu kearah Kho Beng, kemudian setelah memberi hormat, ia baru merapatkan tubuhnya kesamping Han Tiong lin dg manja.

Sang germo yg mengira Kho Beng sebagai putra seorang hartawan, buru2 bertanya:

“Kongcu ingin makan apa?”

Setelah berada dalam posisi demikian, terpaksa Kho Beng harus berpesan lebih lanjut, pesannya:

“Siapkan meja perjamuan dg hidangan terbaik.” “Kongcu baru pertama kali berkunjung kemari, apakah perlu hamba pilihkan seseorang….”

Tapi sebelum germo itu selesai bicara, Kho Beng sudah menggoyangkan tangannya berulang kali dg kekuatiran.

“Tidak usah…tidak usah, harap toanio siapkan sebuah meja perjamuan.”

Sang germo tertawa geli dan segera mengundurkan diri dari situ sambil mengajak sekawanan dayang.

Pada saat itulah Han Tiong lin seperti teringat akan sesuatu. Buru2 dia mendorong kesamping tubuh Cui hong, lalu ujarnya kepada Kho Beng yg berada disisinya:

“Lote aku benar2 amat bodoh, aku lupa menanyakan sesuatu kepadamu….”

“Soal apa?” tanya Kho Beng sambil tersenyum.

“Sebetulnya lote ada urusan apa datang mencariku?” tanya Han Tiong lin hangat.

Diam2 Kho Beng agak tertegu, tapi setelah berpikir sebentar buru2 jawabnya:

“Kalau toh saudara Han sudah mengajukan pertanyaan tsb, terpaksa akupun hendak mohon bantuan saudara!”

“Katakan saja secara terus terang” seru Han Tiong lin sambil menepuk dada, “Asal aku orang she Han sanggup melaksanakannya, biar terjun kelautan api pun pasti tak akan kutampik!”

“Sesungguhnya persoalan besar sebagaimana diketahui, sudah cukup lama siaute mengagumi nama besar siancu , oleh sebab itu sudah berapa kali kumohon kepada Beng toako agar mau memperkenalkan aku menjadi anggota perguruan siancu, siapa tahu Beng toako berulang kali menampik permintaanku itu, sehingga siaute pikir hendak mohon bantuan saudara Han untuk mencapai cita2 ku!”

Setelah mengaku sebagai teman karib sastrawan berkipas kemala, tentu saja ia tak bisa mengatakan kalau tak tahu alamat rumahnya, karena itu satu ingatan cerdik segera melintas dalam benaknya, membuat pemuda tsb segera menyusun sebuah alasan palsu.

Ketika mendengar permintaan tsb, kening Han Tiong lin segera berkerut kencang, dg sikap serba susah ia tampak termenung beberapa saat lamanya:

Menggunakan kesempatan itu, buru2 Kho Beng berkata lagi: “Siaute tidak terburu-buru dg keinginan tsb, harap saudata Han usahakan saja secara pelan2 dikemudian hari!”

Dg serius Han Tiong lin manggut2, sahutnya:

“Ya betul, persoalan semacam ini memang tak bisa terburu-buru, tapi tak usah kuatir, aku orang she Han pasti akan mencarikan kesempatan untukmu!”

“Saat ini saudara Han berdiam dimana? Tolong diberikan alamat, agar dikemudian hari siaute dapat berkunjung!”

“Kebetulan sekali aku sedang berdiam dirumah Beng loji saat ini...!”

Mendengar itu Kho Beng menjadi sangat kegirangan, segera ujarnya sambil tertawa:

“Ooooh kalau begitu sangat kebetulan sekali, siaute memang berhasrat untuk mengunungi Bok toako dirumahnya, sebentar mari kita berangkat bersama.”

Mendadak Han Tiong lin berbisik:

“Tahukah kau saat ini Beng loji berdiam dimana?” Kho Beng tertegun, tapi ia segera balik bertanya: “Apakah Beng toako sudah pindah alamat?”

Han Tiong lin segera tertawa misterius:

“Beng loji bukan hanya sudah berpindah alamat, malah dia sekarang harus berpindah rumah setiap dua tiga hari sekali.”

“Aaaa…lantas Beng toako berdiam dimana sekarang?” tanya pemuda itu keheranan.

Han Tiong lin semakin merendahkan suaranya, setengah berbisik ia berkata:

“Selama dua hari terakhir ini dia berdiam ditengah kebun terbengkalai gedung keluarga Nyoo disebelah timur kota.”

“Mengapa begitu?” seru Kho Beng lagi keheranan, “rumah sendiri tidak ditempati, kenapa malah berdiam disebuah gedung yg sudah tak terurus lagi…?”

“Karena ia sedang melarikan diri dari pengejaran si Kedele Maut, kau tahu sekarang ia tidur tak nyenyak makan tak enak, setiap saat hatinya selalu berdebar dan dicekam perasaan takut.”

“Apakah Kedele Maut telah menemukan Beng toako?” seru Kho Beng makin tertegun.

Han Tiong lin menggelengkan kepalanya berulang kali: “Seandainya bisa menduga, persiapan malah lebih gampang dilakukan, justru karena kehadirannya tak dapat diramalkan, maka ia jadi ketakutan setiap saat…”

Saat itulah sejumlah dayang muncul kedalam ruangan menyiapkan semeja hidangan yg lezat, dalam keadaan begini mau tak mau Kho Beng harus menghentikan dulu pembicaraannya.

Si pelacur Cui hong pun segera berseru pula sambil cemberut: “Sudah setengah harian lebih tuan berdua bicara melulu, tapi tak

sepotong kata pun kupahami, coba lihat, aku jadi tersisih kan saja….hayo kalian berdua mesti dihukum dg tiga cawan arak!”

Sambil memicingkan matanya, Han Tiong lin lalu tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha…baik2 memang harus dihukum”

Secara beruntun dia meneguk habis tiga cawan arak, kemudian dg kasar ia merangkul pinggang Cui hong dan ujarnya sambil tertawa cabul, “Seharusnya kaupun dihukum dg tiga cawan arak pula!”

Cui hong berseru genit:

“Tuan Han kau ini memang keterlaluan…masa main gerayang didepan tamu, apakah tidak kuatir ditertawai Tia kongcu?”

Han Tiong lin kembali tertawa, “Saudara ku ini bukan orang yg kolot, mari,mari kita berciuman bibir dulu”

Adegan yg hangat tsb kontan saja mendebarkan hati Kho Beng, tapi ia mesti berlagak seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun, malah dg mengalihkan perhatiannya keatas hidangan, ia makan dg lahapnya. Tiba2 Han Tiong lin kembali berpaling seraya bertanya:

“Apakah kau kenal dg Kedele Maut?”

Kho Beng agak tertegun, lalu pura2 tercengang sahutnya: “Orang persilatan bilang orang tsb harus dimusnahkan dari muka

bumi, apakah saudara Han mengetahui siapakah orangnya?” Han Tiong lin tertawa misterius.

“Aku pernah mendengar siancu membicarakan soal ini, konon orang itu masih ada sangkut pautnya dg perkumpulan Hui im ceng!”

Diam2 Kho Beng sangat terkejut, buru2 tanyanya lagi: “Darimana siancu bisa mengetahui persoalan ini sedemikian

jelas….?”

“Siancu sendiripun hanya menduga-duga, tapi lote mesti tahu, atasanku ini jarang sekali berbicara dihari-hari biasa, tapi sekali ia sudah berkata maka biasanya apa yg diucapkan tak akan meleset dari kenyataan….”

Dg berlagak tidak mengerti Kho Beng berkata lagi:

“Tapi rasanya belum pernah siaute dengar tentang perkumpulan Hui im ceng didunia persilatan saat ini.”

“Aaah..berapa sih usia lote ini? Tentu saja kau tak bakal tahu. Pada sembilan belas tahun berselang nama perkampungan Hui im ceng boleh dibilang dikenal oleh setiap orang didunia saat itu.”

“Kalau demikian, mengapa tiada orang yg menyinggungnya lagi sekarang?”

“Sebab semua penghuninya sudah mati semua, apa lagi yg dibicarakan? Itulah yg dibilang orangnya hidup namanya termasyur, orangnya mati nama pun ikut musnah.”

“Aaaah...rupanya saudara Han sedang membalik sejarah lama” goda Kho Beng sambil tertawa.

“Lote rupanya kau belum mengerti, ketahuilah meski hutang tsb telah berlangsung sembilan belas tahun sesungguhnya hingga sekarang masalahnya belum selesai.”

“Kalau toh peristiwanya sudah terjadi pada sembilan belas tahun berselang, apanya lagi yg belum selesai?”

Secara beruntun Han Tiong lin meneguk habis dua cawan arak, mukanya yg jelek segera berubah menjadi semu merah, dg semangat berkobar segera ujarnya lagi:

Perkampungan hui im ceng musnah disebabkan sejilid kitab pusaka dunia persilatan, tapi orangnya mati bukunya ikut lenyap dan hingga kini belum diketahui nasibnya, disamping itu dari perkampungan Hui im ceng pun masih ada empat yg berhasil lolos, hingga sekarang kecuali diketahui kematian Kho Po koan seorang pelayan tua perkampungan tsb, nasib si mak inang serta putra-putri Kho Po koan masih belum diketahui jelas. Atas dasar dua persoalan itulah bagaimana mungkin persoalannya bisa diselesaikan dg begitu saja...”

Baru pertama kali ini Kho Beng mendengar orang lain membicarakan tentang peristiwa yg menimpa keluarganya, ia merasa sedih sekali.

Tapi untuk menyelidiki persoalan tsb lebih lanjut terutama tentang kitab pusaka yg lenyap, buru2 tanyanya lagi: “Siaute masih sangat muda dan rendah sekali pengetahuannya, apa salahnya bila saudara Han mengungkap kembali peristiwa tsb agar pengetahuan siaute pun ikut bertambah?”

Dg rasa bangga Han Tiong lin manggut2:

“Boleh saja mengungkapkan kembali perkampungan Hui im ceng diota Han ciu, waktu itu boleh dibilang erupakan tempat suci yg disegani setiap angggota persilatan pada saat itu, sayang sekali Hui in cengcu terlalu cerdik sehingga akhirnya malah mendatangkan bencana kemusnahan bagi keluarganya….”

“Sungguh siaute tak mengerti” sela Kho Beng cepat, “kalau toh Hui im cengcu seorang yg cerdik melebihi orang lain, mengapa keluarganya malah tertimpa musibah besar?”

“Peristiwa ini harus dibicarakan kembali sejak hari Tong ciu pada bulan delapan, sembilan belas tahun berselang, waktu itu Hui im cengcu menyelenggarakan perjamuan besar untuk merayakan hadirnya putra pertamanya, konon yg menghadiri perjamuan tsb mencapai lima ratusan orang lebih, tentu saja hadiah yg diterimanya pun tak terhitung jumlahnya.

Siapa tahu pada saat perjamuan diselenggarakan itulah, tiba2 datang sebuah bingkisan yg dihantar seorang tak dikenal hingga dimuka pintu gerbang, orang itu segera berlalu tanpa meninggalkan pesan setelah menyerahkan bingkisan tsb, padahal diatas kotak bingkisan tsb sama sekali tidak ditinggali nama atau alamat pemberinya, kejadian inilah yg menimbulkan perasaan ingin tahu perasaan semua hadirin.

Berhubung bingkisan itu kelewat misterius datangnya, maka Hui im cengcu Kho Ban siu pun memutuskan untuk membukanya didepan umum, coba lote terka apa isi bingkisn tsb?”

Kho Beng segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

Melihat pemuda itu menggeleng Han Tiong lin berkata lebih lanjut:

“Ternyata isi bungkusan tsb tidak lain adalah kitab pusaka thian goan bu boh yg menjadi incaran setiap umat persilatan sejak belasan tahun berselang.”

“Oooo…begitu berharganya bingkisan tsb!” pekik Kho Beng agak tertegun.

“Ya, memang kelewat harganya” sahut Han Tiong lin sambil tertawa, “Begitu berharga sampai Hui im cengcu yg termasyur namanya diseantero jagad pun tak sanggup menerimanya, akibat dari bingkisan tsb lima enam lembar nyawa mesti berkorban dg sia2!”

Kho Beng erasakan darah dlm tubuhnya mendidih dan panas, segera tanyanya:

“Apakah diantara tamu yg menghadiri perjamuan tsb ada yg iri hati dan berniat merampas kitab tsb?”

“Lote dugaanmu itu keliru besar, justru Hui im cengcu sendiri yg bersedia menyerahkan kitab itu kepada semua umat persilatan, Cuma diapun mempunyai jurus permainan sendiri.”

“Permainan apa?” tanya pemuda itu tertegun.

“Waktu itu Hui im cengcu belum juga habis berpikir siapa gerangan yg menghadiahkan bingkisan tsb kepadanya? Mengapa ia rela menghadiahkan kitab pusaka tsb kepadanya? Tapi ia mengerti dg pasti bahwa menyimpan kitab mestika sama artinya mengundang bencana bagi diri sendiri, maka pada saat itulah dia mengumumkan rela menyebar luaskan isi kitab pusaka Thian goan bu boh tsb kepada seluruh umat persilatan, tapi untuk menghindari agar ilmu sakti tsb jangan terjatuh ketangan bangsa kurcaci yg tidak bertanggung jawab hingga mendatangkan bencana dikemudian hari, maka dia mohon para jago agar mau menunggu selama tiga hari agar ia dapat mencarikan cara yg terbaik dala pelaksanaan tujuannya itu.”

Mendengar sampai disini tanpa terasa Kho Beng menyela: “Apakah tiga hari kemudian Hui im cengcu telah berubah

pikiran?”

Han Tiong lin segera tertawa bergelak:

“Ha...ha...ha...Hui im cengcu tak akan sebodoh itu, tiga hari kemudian bukan saja ia telah mengumumkan cara tsb malah menimbulkan rasa gembira yg amat sangat bagi para jago yg menghadiri perjamuan tsb, semua orang berpamitan dg perasaan amat lega!”

“Kalau memang demikian keadaannya, toh tak bisa dibilang Hui im cengcu telah melakukan permainan dibalik tindakannya itu?” seru Kho Beng emosi.

Setelah mengeringkan secawan arak, sambil tertawa Han Tiong lin kembali berkata:

“Lote kau hanya tahu satu tak tahu dua, justru masalahnya berada dibelakang. Waktu itu Hui im cengcu telah mengumumkan secara blak-blakan kalau kitab pusaka Thian goan bu boh telah diserahkan kepada Bu wi lojin untuk dibuatkan tujuh buah salinannya yg masing2 hendak dihadiahkan kepada tujuh perguruan besar, tentunya lote akan bertanya bukan apa salahnya kalau ia sendiri yg membuatkan salinan tsb?”

“Ya, benar!” Kho Beng manggut2.

“Ya disinilah letak kebijaksanaan Hui im cengcu, ia kuatir orang lain mencurigainya tidak jujur atau sengaja menyembunyikan sebagian dari rahasia ilmu silat tsb, sedangkan Bu wi lojin sudah tersohor didalam dunia persilatan sebagai seorang tokoh silat yg berwatak baik, saleh serta hambar akan perebutan nama dan kedudukan, oleh sebab itulah semua orang merasa tindakan Hui im cengcu itu sangat jujur, bijaksana dan mengagumkan.

Kemudian peraturan yg ditentukan Hui im cengcu pun sangat teliti dan luar biasa, ia bilang setiap umat persilatan yg bertabiat baik dan bermoral tinggi bila ingin mengajukan permintaannya untuk mempelajari ilmu sakti yg tercantum dalam kittab Thian goan bu boh tsb, maka ciangbunjin dari perguruan mana pun dilarang menyembunyikan sebagian dari ilmu silat tersebut secara sengaja.

“Akhirnya Hui im cengcu berkata: Bu wi lojin akan menunggu kehadiran mereka dikaki gunung Hong san pada setengah bulan kemudian, ia berharap semua ciangbunjin dari pelbagai perguruan bisa hadir pada saatnya, siapa tak hadir artinya mengundurkan diri dari keinginan untuk memperoleh salinan kitab tsb.”

“Mengapa harus menunggu sampai setengah bulan kemudian?” tanya Kho Beng lebih jauh.”

“Didalam persoalan inipun Hui im cengcu memberi penjelasan, konon Bu wi lojin baru sembuh dari sakit parah dan lagi telah memutuskan akan hidup terpencil, maka ia tak berharap mengulur waktu kelewat lama hingga menimbulkan kerisauan semua pihak, maka ketujuh partai besar serta sekalian rekan2 persilatan yg hadir dalam erjamuan itu sama2 berpamitan kepada Hui im cengcu dg membawa perasaan gembira dan agar tidak terlambat sampai ditempat tujuan, ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar segera berangkat kebukit Hong san. Siapa tahu sepuluh hari kemudian, tatkala mereka belum tiba dibukit Hong san, ditengah jalan telah bersua dg Bu wi lojin, siapa tahu perjumpaan tsb membuat semua orang menjadi amat kecewa.”

“Mengapa begitu?” tanya Kho Beng tertegun. “Waktu itu Bu wi lojin malah marah2, ia bilang bukan saja Hui im cengcu tak pernah menyerahkan sesuatu kitab pusaka kepadanya, bahkan ia sama sekali tidak mengetahui akan persoalan tsb!”

Mendengar sampai disini Kho Beng segera merasakan hatinya bergetar keras, serunya tanpa sadar:

“Mana mungkin hal ini bisa terjadi?” Han Tiong lin tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha…tampaknya Hui im cengcu telah menggunakan siasat memindah bunga menyambung ranting untuk menipu orang banyak, waktu itu ketujuh ketua partai besar merasa amat gusar, mereka menganggap permainan Hui im cengcu sangat keterlaluan sehingga menyiksa mereka harus bersusah payah berangkat kebukit Hong san tapi pulang dg rasa kecewa.

Maka sepanjang jalan pun mereka mengumpulkan segenap rekan persilatan serta anak murid masing2 untuk kembali ke Hang ciu dan menegur Kho Bun sin atas ulahnya. Akibatnya terjadilah suatu drama yg sangat tragis, Hui im cengcu yg gagah perkasa akhirnya tewas dan musnah karena tak tahan menghadapi kerubutan ratusan orang jago lihay.”

Kisah cerita sudah berakhir, tapi Kho Beng justru terjerumus dalam suasana sedih dan murung.

Ia percaya ayahnya bukan manusia semacam itu tapi diapun tahu kisah cerita yg disampaikan Han Tiong lin sekarang bukan Cuma diketahuinya seorang, jadi mustahil orang itu sengaja membohonginya.

Lalu mungkinkah Bu wi lojin yg kemaruk wasiat hingga lupa daratan..?

Kho Beng menganggap hal ini mustahil bisa terjadi bila orang tua tsb berniat melalap kitab pusaka itu, tak nanti dia akan menyesal setengah mati karena kehilangan pusaka tsb tiga bulan berselang, bukan saja dia bersedia mengorbankan setengah dari tenaga latihannya, bahkan tergesa-gesa turun gunung untuk menyelidiki kemana larinya pusaka tadi, berpikir sampai disini tanpa terasa Kho Beng teringat kembali dg pesan gurunya si Unta sakti berpunggung baja, orang tua itu pernah memberi kisikan kepadanya bahwa dibalik dendam kesumatnya itu ada penyakitnya.

Mungkinkah penyakit tsb muncul pada Bu wi lojin yg dijumpai para ciangbunjin tujuh partai besar ditengah jalan? Berpikir sampai disini perasaan hatinya segera bergetar keras, satu ingatan melintas dalam benaknya.

Ia merasa besar kemungkinan ada orang yg menyaru sebagai Bu wi lojin pada waktu itu, dimana orang tsb sengaja menunggu kedatangan para ciangbunjin dari tujuh partai besar ditengah jalan dan melaksanakan siasat liciknya untuk menjerumuskan keluarga Hui im cengcu kelembah kehancuran.

Dari kisah yg diceritakan Han Tiong lin, secara lamat2 Kho Beng pun dapat merasakan bahwa ada seseorang yg telah menyamar sebagai pegawai ayahnya untuk mendapatkan lencana Siong in giok ceng dari tangan pelayan setia keluarganya Kho Po koan dan mengambil kitab pusaka yg disimpan Bu wi lojin.

Bila semua cerita itu dikaitkan satu dg lainnya, maka posisi si sastrawan berkipas kemala dalam rencana keji itupun makin lama serasa semakin penting.

Sementara dia masih melongo seperti orang kehilangan semangat, terdengar Han Tiong lin menegur sambil tertawa:

“Lote aku sudah selesai bercerita, apalagi yg kau pikirkan? Mari aku hendak menghormati secawan arak kepadamu sebagai rasa terima kasih atas kebaikanmu hari ini!”

Kho Beng segera sadar kembali dari lamunannya setelah mendengar teguran tsb, buru2 dia mengulumkan senyuman dibibirnya serta meneguk habis secawan arak.

Sedang dalam hati kecilnya ia merasa sangat gembira, sebab sama sekali tak terduga olehnya bahwa perjamuan yg diselenggarakan kali ini justru meraih hasil yg sama sekali diluar dugaan.

Ini berarti rencananya untuk mencari sastrawan berkipas kemala pun tak bisa ditunda-tunda lagi.

Sementara itu malam hari sudah semakin kelam, Kho Beng mulai gelisah karena Han Tiong lin sama sekali tidak berhasrat untuk meningalkan rumah pelacur tsb, dlm keadaan setengah mabuk, apalagi dirayu oleh seorang pelacur cantik Cui hong, bagaimana mungkin orang she Han tsb tega meninggalkan ditengah jalan?

Ia tak tahu bagaimana caranya melepaskan diri dari pengawasan Han Tiong lin, ditambah lagi isi sakunya telah ludes, dg cara apa mereka harus keluar dari rumah pelacur Tay ang wan tsb?

Pikir punya pikir, akhirnya ia berhasil menemukan sebuah cara yg dirasakan terbaik. Satu-satunya jalan yg terbaik baginya sekarang adalah berusaha meloloh lawan dg arak sehingga mabuk, dalam keadaan begitu, tentu saja ia biasa meloloskan diri dg mudah.

Maka dg pelbagai alasan yg dibuat-buat, ia mulai meloloh Han Tiong lin dg arak menjelang kentongan yg pertama Han Tiong lin sudah dibikin benar2 mabuk.

Dlm keadaan beginilah Kho Beng moho diri dg alasan hendak kekamar kecil, begitu keluar dari kamar tidur Cui hong, ia segera menerobos keluar dari jendela dan secepatnya berangkat kerumah kosong keluarga Nyoo disebelah timur kota.

Sebetulnya gedung keluarga Nyoo merupakan sebuah gedung bangunan yg paling luas diseluruh kota Yang ciu, kebunnya yg luas dg pepohonan yg rimbun, benar2 merupakan sebuah tempat tinggal yg sangat nyaman.

Tapi kini, bangunan tsb tinggal sebuah gedung yg kotor tanpa penghuni, kebunnya yg luas telah ditumbuhi rumput liar setinggi manusia, sarang laba2 menambah semaraknya suasana, membuat keadaan disitu betul2 amat mengenaskan.

Setelah meninggalkan tempat pelacuran Tay ang wan dg gerakan cepat Kho Beng berangkat menuju gedung kosong tsb, dari kejauhan ia sudah melihat bangunan gedung yg gelap gulita dan menyeramkan itu.

Seandainya Han Tiong lin tidak menjelaskan lebih dulu, ia sendiripun hampir tak percaya kalau dalam gedung semacam begini ada penghuninya.

Setelah sampai disana, pemuda itu segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan melompat masuk kedalam dinding pekarangan gedung.

Mendadak terdengar seorang membentak dg suara dalam: “Sobat ada urusan apa malam begini datang kemari?”

Sesosok bayangan manusia berbaju kuning munculkan diri secara tiba2 dari balik hutan dan menghadang jalan perginya.

Kho Beng tahu orang ini pastilah salah satu diantara kawanan jago pedang berbaju kuning rombongan Han Tiong lin maka sambil menghimpun tenaga untuk menghindari segala hal yg tidak diinginkan, ia menjawab dg lantang: “Aku adalah sahabat dari Han tiong lin toako, atas permintaan Han toako ada urusan penting hendak kusampaikan kepada sastrawan berkipas kemala Beng jihiap!”

Jago pedang berbaju kuning itu segera menyarungkan kembali pedangnya, lalu berkata seraya mengulap tangannya:

“Harap sobat mengikuti aku!”

Ia membalikkan badan dan melompat kehalaman belakang.

Sesudah melalui dua lapis bangunan yg setengah roboh sampailah mereka didepan sebuah bangunan rendah yg amat gelap.

Jago pedang berbaju kuning itu segera bertepuk tangan dua kali, dari balik bangunan rumah itu segera muncul setitik cahaya lentera disusul kemudian seorang bertanya:

“Ada urusan apa?”

“Han toako mengutus orang untuk menyampaikan suatu berita!” jawab jago pedang berbaju kuning itu.

Baru selesai ucapan tsb, pintu sudah dibuka orang, lalu terlihatlah dibawah cahaya lentera yg redup, lima enam buah peti mati nampak berjajar dalam ruangan, sementara sastrawan berkipas kemala dg sikap yg was-was dan agak tercengang munculkan diri dari balik pintu.

Ketika ia sudah melihat jelas wajah Kho Beng, paas mukanya segera berubah hebat, serunya tanpa terasa:

“Aaaah...rupanya kau?”

Kho Beng tertawa nyaring, segera ujarnya sambil menjura: “Beng Jihiap, sejak perpisahan tempo hari, aku benar2 rindu

sekali kepadamu.”

“Kho Beng, darimana kau bisa tahu kalau aku berdiam disini?” tegur Sastrawan berkipas kemala dg suara dingin.

Kembali Kho Beng tertawa terbahak-bahak: “Ha…ha…ha…sewaktu berada dikota Yang ciu, secara kebetulan

aku telah bersua dg Han toako, dari dialah dapat kuketahui bahwa jihiap telah pindah, hanya saja sikap jihiap mendiami tempat semacam ini benar2 membuat hatiku terkejut bercampur keheranan!”

“Kau kenal dg Han lotoa?” seru Sastrawan berkipas kemala dg wajah tertegun dan hati bergetar keras.

“aku sudah bersahabat hampir setahun lamanya dg saudara Han, bukan kenalan baru lagi namanya….” “Tolong tanya ada urusan apa kau datang mencariku?” tukas Sastrawan berkipas kemala kemudian.

“Jihiap bagaimana kalau kita berbincang-bincang didalam ruangan saja…?”

Sastrawan berkipas kemala itu termenung beberapa saat, akhirnya dia manggut2, namn disaat Kho Beng melangkah masuk kedalam ruangan, secara diam2 ia memberi tanda rahasia kepada sijago pedang berbaju kuning yg berada diluar pintu itu.

Setelah berada dalam ruangan, Kho Beng baru dapat melihat dg jelas keadaan dalam ruangan, ternyata kecuali keenam buah peti mati itu, disana tak nampak benda lain.

Sarang laba2 kelihatan memenuhi setiap sudut ruangan, hal ini menunjukkan kalau tempat tsb telah dirubah oleh rakyat setempat sebagai ruangan penitipan jenasah.

Bila seseorang yg tak tahu keadaan sebenarnya, pada hakekatnya tak pernah akan menduga kalau ada orang berdiam ditempat semacam ini.

Setelah menutup kembali pintu ruangannya, Sastrawan berkipas kemala segera berkata dg suara dingin:

“Maaf kalau aku tak bisa memberi pelayanan yg baik ditempat semacam ini, nah sauhiap bila ada persoalan silahkan saja diutarakan keluar!”

Kho Beng tertawa hambar.

“Jihiap tidak usah sungkan, persoalan pertama yg hendak kusampaikan adalah berita kematian dari saudara angkatmu sesaat sebelum meninggal kakak angkatmu merasa amat menyesal karena tak dapat kembali bersua dg mu!”

Sekilas perasaan malu dan menyesal menyelimuti seluruh wajah Sastrawan berkipas kemala, tapi sejenak kemudian ia sudah berkata lagi dingin:

“Berita kematian kakak angkatku telah kuperolah sejak lama, kecuali persoalan ini apakah sauhiap masih ada urusan lain?”

Sikap lawannya segera menimbulkan pandangan yg menghina dari Kho Beng, diam2 pikirnya:

“Tampak untuk menghadapi manusia semacam ini, lebih baik kugunakan siasat untuk menjebaknya ketimbang bertanya secara baik2.”

Berpikir begitu, dg wajah serius segera katanya: “Sebelum menghembuskan napas yg terakhir kakakmu telah memberitahukan satu persoalan kepadaku, itulah sebabnya aku sengaja datang mencari jihiap untuk membuktikan kebenaran ceritanya.”

“Soal apa?” tanya Sastrawan berkipas kemala mulai ragu2. “Masih ingatkah jihiap dg tempat dimana kita bersua pertama

kalinya?”

Sastrawan berkipas kemala manggut2.

“Maksudmu perkampungan Hui im ceng didalam kota Tang an?” “Betul!” Kho Beng mengangguk, “konon kalian berhasil

mendapatkan sebuah lencana Siong im giok leng…”

“Ada urusan apa lotoa ku memberitahukan soal tsb kepadamu?” seru si sastrawan berkipas kemala tercengang, wajahnya nampak agak kaget.

Dari nada pembicaraannya, Kho Beng tahu kalau dugaannya memang benar, maka sambil menarik muka katanya lebih jauh:

“Tentu saja persoalan ini ada hubungannya dgku, sekarang aku Kho Beng hanya ingin tahu apa benar lencana Siong im giok leng tsb telah diserahkan kepada orang lain?”

“Menurut lotoa, benda tsb telah diserahkan kepada siapa?” paras muka Sastrawan berkipas kemala berubah hebat.

“Jihiap seharusnya mengerti aku Kho Beng hanya berharap Jihiap memberikan jawabannya sehingga bisa dicocokkan dg apa yg kuketahui.”

Tiba2 Sastrawan berkipas kemala tertawa dingin, jengeknya: “Kau tidak usah menggunakan tipu muslihat untuk menjebakku,

aku Beng yu tak mau menjawab pertanyaan tsb.”

Menyaksikan siasatnya berhasil dibongkar lawan tanpa terasa Kho Beng berpikir:

“Nyata sekarang betapa licik dan lihaynya orang ini!” Sambil menarik muka ia segera berseru:

“Jadi jihiap benar2 enggan menjawab?”

Mendadak Sastrawan berkipas kemala tertawa licik:

“Kho Beng, jelaskan dulu apa hubunganmu dg persoalan tsb!” Sastrawan berkipas kemala segera tertawa bergelak: “Ha…ha…ha…siapa sih yg hendak kau tipu? Justru Bu wi lojin

sendiri yg telah meminta kembali lencananya…”

Seketika itu juga Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, sekarang ia baru mengerti kalau toh Sastrawan berkipas kemala mengatakan bahwa lencana tsb telah diminta kembali Bu wi lojin, berarti persoalan ini ada hubungannya dg orang yg menyamar sebagai pegawai Hui im ceng dan melarikan kitab pusaka Thian goan bu boh tsb.

Karenanya dg suara dalam katanya:

“Beng Yu, dari mana kau bisa tahu kalau lencana Siong im giok leng telah diminta kembali Bu wi cianpwee?”

Kembali Sastrawa berkipas kemala tertawa licik, tiba2 ia bertepuk tangan keras2: