Kedele Maut Jilid 10

 
Jilid 10

Tapi diapun tak bisa melarikan diri dg begitu saja. Setelah berani berperan sebagai Kedele Maut, otomatis dia tak mau menunjukkan titik kelemahannya ditengah jalan hingga sampai dicurigai lawan.

Disaat kedua persoalan tersebut meragukan pikirannya dan membuat pemuda kita tak berani mengambil keputusan itulah, jurus serangan dari Leng hun totiang telah tiba dihadapannya, diantara percikan cahaya bintang yg amat menyilaukan mata, semua jala darah kematiannya telah berada dibawah ancamannya.

Waktu tidak mengijinkan Kho Beng untuk berpikir lebih jauh, sedang payung Thian lo san palsunya juga tak mungkin bisa dipakai untuk membendung serangan pedang lawan, didalam keadaan apa boleh buat, terpaksa ia mesti meloncat mundur lagi untuk kedua kalinya.

“Tahan!” bentaknya melengking.

Sekalipun Kho Beng harus melompat mundur untuk kedua kalinya, namun gerakan badannya sangat ringan dan cepat.

Menghadapi keadaan demikian, biarpun Leng hun totiang merasa curiga, tapi berhubung nama besar Kedele Maut sudah terlanjur termasyur dimana-mana, terang saja ia tak berani memandang enteng lawannya.

Ketika mendengar bentakan tersebut, ia segera menarik pedangnya seraya menegur dingin:

“Anda telah menunjukkan sikap yg berbeda dg kebiasaanmu dimasa silam ataukah ada rencana busuk yg sedang kau persiapkan?”

Kho Beng tertawa melengking:

“Leng hun, ketahuilah bahwa dibawah payung dewimu, belum pernah ada seorang manusia pun yg bisa lolos dalam keadaan hidup, tahukah kau mengapa aku mengalah terus kepadamu?”

Leng hun totiang agak tertegun, lalu jawabnya dingin: “Maaf, pinto kelewat bodoh dan mohon tahu apa sebabnya?”

Satu ingatan cerdik segera melintas dalam benak Kho Beng, dg dingin katanya kemudian:

“Sederhana sekali, berhubung antara aku dg ketua partai kalian sudah terjalin perjanjian secara pribadi untuk tidak saling mengganggu, maka akupn enggan berselisih paham dg mu, lagi kalau toh kau tetap tak tahu diri sehingga mengobarkan watakku, hmmm lihat saja akibatnya nanti!”

Seusai berkata ia segera membalikkan badan dan berabjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Pada mulanya Leng hun totiang merasa agak tertegun, kemudian dg penuh amarah ia membentak:

“Berhenti!” Secepat anak panah yg terlepas dari busurnya dia melesat maju kedepan, begitu melampaui Kho Beng, ia segera menghadang jalan perginya dg pedang disilangkan didepan dada.

Kho Beng sendiripun agak mendongkol, setelah mundur berapa langkah, serunya dg suara melengking:

“Tosu setan, aku toh sedang memberi keterangan sejelasnya, apakah kau betul-betul sudah bosan hidup?”

“Iblis keji!” hardik Leng hun totiang, “Kau jangan memfitnah ketua kami sebagai temanmu, kapan sih ciangbunjin kami mengikat perjanjian gelap dgmu?”

Sebagaimana diketahui, Kho Beng memang Cuma berbicara semaunya senciri, maka sambil tertawa terkekeh-kekeh serunya lagi:

“Mengapa tidak kau tanyakan sendiri kepada ketuamu?” Leng hun totiang segera tertawa dingin:

“He…he…he…sudah tiga orang rekan kami yg tewas oleh Kedele Maut mu, aku yakin bohongmu kali ini kalau bukan bermaksud mengadu domba, pasti mempunyai maksud busuk lainnya. Bila kau tak dapat memberikan bantahan yg jelas hari ini, rasanya tak mungkin bisa membersihkan tuduhanmu tersebut.”

Leng hun totiang termasuk seorang pendeta yg sangat mengutamakan nama baik perguruannya, ia kuatir tuduhan Kho Beng tersebut sampai tersebar luas diluaran hingga menimbulkan kecurigaan pihak lain.

Karenanya begitu selesai berkata, pedangnya sekali lagi melancarkan tusukan kilat ketubuh Kho Beng, hanya kali ini dia telah melipat gandakan kekuatannya.

Kho Beng sendiripun tidak begitu jelas mengetahui seberapa banyak korban yg sudah tewas ditangan cicinya, tentu saja dia pun tidak tahu siapa saja yg telah menjadi korban.

Karenanya ia menjadi tertegun sehabis mendengar perkataan tadi, ia tahu perkataannya bukan saja gagal melunakkan sikap lawan malah sebaliknya mengobarkan kembali perasaan dendam sakit hatinya.

Dalam keadaan demikian, ia mengerti kalau suatu pertarungan tak bisa dihindari lagi.

Cepat-cepat senjata payungnya dipersiapkan, kemudian secara beruntun balas menotok ketujuh jalan darah penting ditubuh Leng hun totiang, jengeknya sambil tertawa dingin: “Yang telah mampus toh sudah mampus, justru karena katua kalian menyayangi kalian anggotanya yg masih hidup, maka perjanjian tersebut dibuatnya dg ku, tapi sekarang kau bakal menjadi sukma keempat yg bakal melayang ditanganku.”

Untuk tetap mempertahankan pemornya Kedele Maut, terpaksa ia mesti mengucapkan kata-kata yg pedas.

Hawa amarah Leng hun totiang semakin memuncak, ia membentak nyaring:

“Ngaco belo!”

Serangan pedangnya semakin diperketat, diantara ayunan pedangnya sedapat mungkin ia mengancam bagian-bagian mematikan ditubuh Kho Beng.

Dalam waktu singkat, cahaya pelangi yg menyilaukan mata telah mengurung Kho Beng dibawah lapisan bayangan pedang.

Kho Beng dipaksa untuk menghindar kesana kemari untuk menyelamatkan diri, ditambah pula senjatanya tak sesuai dg kebiasaannya, maka sulit baginya untuk melancarkan serangan balasan, hal ini masih ditambah pula dg kekuatirannya bila sampai melukai lawan, karenanya ilmu pedang Lingsui jit si pun tak berani digunakan.

Akibatnya secara lambat laun ia makin terjerumus kedalam kepungan musuh dan kerepotan untuk menghadapinya.

Perasaan gelisah membuatnya makin tegang, apalagi permainan pedang Leng hun totiang yg makin lama makin gencar, dimana pancaran hawa serangannya begitu hebat dan jauh diluar perhitungannya, semua itu membuatnya makin terpojok.

Kho Beng mulai sadar, bila ia tidak segera melancarkan serangan balasan, akhirnya dia sendiri yg akan terluka diujung senjata lawan.

Sementara itu Leng hun totiang sedang mengeluarkan jurus “Im yang ji hun” atau “Im yang dipisahkan dua” dimana cahaya pedang yg terwujud dalam dua bias sinar mengancam kedua iga Kho Beng, lapisan cahaya serangan tersebut membuatnya susah untuk membedakan manakah yg kenyataan dan mana yg tipuan.

Sambil menggertak gigi keras-keras Kho Beng segera membentak nyaring, telapak tangan kirinya diputar kemudian didorongnya kemuka dg pancaran tenaga serangan yg sangat hebat.Berbicara soal tenaga dalam, Kho Beng menggembol tenaga murni Bu wi lojin sebesar empat puluh tahun hasil latihan, tentu saja serangannya itu benar-benar mengerikan hati. Leng hun totiang kelihatan agak terkejut, pergelangan tangannya segera diayunkan kebawah dan merubah jurus serangannya menjadi gerakan “bayangan hitam pelangi terbang” untuk menyambar pinggang Kho Beng.

Kecepatannya didalam merubah jurus selincah ular berbisa, keganasannya serupa angin puyuh yg menyapu dedaunan, tapi sayang Kho Beng sudah mempersiapkan diri dg sebaik-baiknya.

Sekali lagi ia membentak nyaring, dg ujung payungnya ia totok ketubuh pedang lawan, inilah jurus “ombak ganas menerjang batuan” dari ilmu pedang Liu sui jit si yg amat menggetarkan dunia persilatan.

Walaupun payungnya itu tak bisa dipakai untuk tangkisan melintang dan tusukan langsung, namun oleh karena ujung payung terbuat dari tembaga putih, maka begitu menutul ditubuh pedang Leng hun totiang, ternyata secara tiba-tiba dan sangat aneh menyambar kedada tosu tersebut.

Serentetan cahaya bintang yg terwujud dari rentetan bahan perak seketika itu juga mengurung dada Leng hun totiang dan menyerupai air terjun yg menumbuk diatas batu karang kemudian memercikan butiran air keempat penjuru, kekuatan serangan tersebut dg cepatnya memancar keempat penjuru dan mengancam keseluruh tubuh lawan. Memang disinilah kehebatan dari jurus serangan ilmu pedang air mengalir yg amat hebat itu.

Menanti Leng hun totiang mengenali jurus pedang tersebut, sayang sekali keadaan sudah terlambat. Diantara percikan cahaya bintang yg menyilaukan mata, jerit kesakitan bergema memecah keheningan lalu tampaklah jagom uda dari Bu tong pay yg kosen ini mundur beberapa langkah dg sempoyongan, pedangnya terkulai lemas kebawah.

Ternyata diatas dadanya sudah muncul lima buah lubang berdarah dimana darah segar masih menyembur keluar dg derasnya, air mukanya pucat pias seperti mayat, jelas luka yg dideritanya parah sekali.

Semenjak terjun kedunia persilatan, baru pertama kali ini Kho Beng melukai lawannya, sebagai pemuda yg berhati mulia ia menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya. Sementara itu Leng hun totiang telah menunding Kho Beng dg susah payah sambil berbisik lirih. “Jurus…jurus ombak ganas menerjang batu yg sangat hebat, kau…kau…kau pasti bukan Kedele Maut….”

Diam-diam Kho Beng merasa terkejut tapi sesudah menghela napas panjang sahutnya:

“Ketajaman mata totiang memang amat mengagumkan, sebetulnya aku kho Beng enggan membunuhmu, tapi nampaknya mau tak mau aku harus menghabisi nyawamu sekarang!”

Leng hun totiang membelalakkan matanya dg keheranan, serunya amat tercengang:

“Kho Beng? Kau adalah Kho Beng sau sicu yg telah melaporkan identitas Kedele Maut?”

Sambil tertawa getir Kho Beng manggut-manggut:

“Yaa, betul! Sayang sekali totiang mengetahui segalanya terlalu terlambat…”

Seusai berkata, telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Leng hun totiang yg sudah terluka parah tak ampun terhajar telak hingga terbanting keatas tanah, seketika itu juga selembar jiwanya melayang meninggalkan raganya.

Agar mendekati kenyataan sesuai dg yg sebenarnya, Kho Beng mengeluarkan dua butir kedele dan segera disambitkan kesepasang mata korban, kemudian ia lalu menjura kepada jenasah tadi seraya berdoa:

“Totiang, beristirahatlah dg tenang, ucapanmu yg telah mengundang bencana sendiri, hal mana membuat ku terpaksa harus membunuhmu, maafkanlah aku, semoga kau dapat menjelma menjadi manusia kembali dalam penitisan mendatang!”

Selesai berdoa buru-buru ia meninggalkan tempat tersebut dg cepat.

Sekarang ia tak berani meneruskan perjalanan kedepan, seorang Leng hun totiang sudah cukup membuat berpikir dua kali, ia sadar orang-orang Bu tong pay tak boleh dipandang enteng.

Ini berarti apa yg dikatakan Li sam memang benar, bila dibandingkan maka hanya pihak Hoa san pay yg mudah dihadapi.

Maka sekali lagi dia bergerak kembali menuju ketempat dimana pihak Hoa san pay mempersiapkan penjagaannya.

Tapi pelbagai pikiranpun bermunculan didalam benaknya saat itu. Bila dilihat dari perbuatan encinya yg membunuh tak habisnya, maka muncullah pertanyaan berapa banyakkah musuh besar keluarganya?

Didalam surat wasiat ayahnya hanay dikatakan kalau kehancuran perkampungan Hui im ceng hanya disebabkan sejilid kitab pusaka Thian goan bu boh, mungkinkah orang yg mengincar kitab pusaka tersebut tempo hari mencakup seluruh umat persilatan didunia ini?

Dibebani oleh berbagai persoalan yg mencurigakan inilah, tanpa disadari ia telah kembali dikawasan dimana jago-jago Hoa san pay melakukan penjagaan.

Suasana disekeliling tempat itu sangat hening, kecuali ombak sungai yg menggulung-gulung, segala sesuatunya kelihatan tenang sekali.

Seharusnya dg kembalinya ia ketempat tersebut, maka kawanan jago lihay yg mengejar dari kota Gak yang harus sudah berkumpul semua disitu, tapi apa sebab suasana diseputar sana justru kelihatan begitu hening dan tenang....

Dg perasaan tak habis mengerti Kho Beng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, belum lagi ingatan kedua melintas lewat, tiba-tiba dari sisi kirinya, dari balik sebuah batuan karang menyembur keluar bom udara berwarna merah, disusul kemudian terdengar seseorang menjengek sambil tertawa dingin.

“Iblis jahat! Sudah lama kunantikan kedatanganmu, tak kusangka kau masih tetap berada disini!”

Ditengah pembicaraan, tampak dua sosok bayangan manusia meluncur turun dg cepatnya dan menghadang ditengah jalan, ternyata mereka adalah dua orang kakek putih dan hitam.

Kedua orang kakek itu mempunyai dandanan yg sangat aneh, yg hitam mempunyai rambut berwarna hitam pekat, jenggot hitam, muka hitam dan berbaju hitam, sekilas pandang mirip sekali dg sebuah gumpalan daging berwarna hitam.

Sebaliknya yg putih, mengenakan baju putih, muka putih bahkan rambut dan jenggot pun berwarna putih salju.

Diam-diam Kho Beng merasa sangat terkejut, dari dandanan maupun ciri khas kedua orang lawannya itu, ia segera mengenali mereka sebagai Hoa san Hek pek jilo atau dua sesepuh hitam putih Hoa san pay.

Karenanya dg berlagak acuh tak acuh dan santai, ia memutar payung bulatnya seraya berseru lengking: “Ada apa? Apakah kunjunganku untuk menikmati keindahan panorama malam ditempat ini telah mengganggu kalian berdua, dua sesepuh dari Hoa san pay?”

Sikakek muka hitam mendengus dingin:

“Hmmm...ternyata anda betul-betul sangat licik dan berakal bulus, sudah ratusan orang rekan-rekan persilatan mengejarmu sampai dimuka sana, tak nyana kau masih berkeliaran disekitar sini, tapi dg berdua kami bersaudara ditempat ini berarti jangan harap kau bisa lolos dari sini dg selamat. Bila tahu diri mari kita selesaikan persoalan ini secepatnya...”

Sembari berkata, mereka berdua masing-masing meloloskan senjata andalannya.

Ketika mendengar perkataan tersebut, dalam hati kecilnya Kho Beng amat terkejut sekali, dari perkataan lawan yg mengatakan bahwa para jago telah mengejar kedepan situ, berarti selisih jarak mereka tak bakal terlalu jauh, atau dg perkataan lain siasatnya memancing para jago telah mencapai tujuan.

Dalam keadaan begini, dia tak ingin membuang waktu lebih lama lagi disana, setelah berpikir sejenak, katanya kemudian sambil tertawa lengking:

“Apakah kalian berdua sudah merasa bosan hidup didunia ini?”

Sikakek bermuka putih segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak:

“Ha...ha...ha...terus terang saja, aku masih belum bosan hidup didunia ini, tapi dalam kenyataan aku memang menaruh curiga kepadamu!”

“Mencurigai dalam soal apa?”

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, kakek bermuka putih itu menjawab:

“Aku curiga kalau engkau bukan Kedele Maut yg tulen!” KHo Beng tertegun, lalu tegurnya sambil tertawa dingin” “Atas dasar apa kau berkata begitu?”

Sambil tertawa dingin, sikakek bermuka hitam turut menimbrung: “Sejak kemunculannya dalam dunia persilatan, kapan sih Kedele

Maut pernah membiarkan korban yg telah melihat wajahnya hidup terus didunia ini?”

“Yaa, memang belum ada” sahut Kho Beng sambil tertawa lengking. “Padahal menurut laporan anak muridku, sepanjang perjalanan anda tidak melukai siapa saja, hal ini bertentangan sekali dg si Kedelai Maut, oleh sebab itulah bukan saja aku menaruh curiga kalau engkau bukan Kedele Maut, bahkan akupun mencurigai maksud serta tujuanmu berbuat begini!”

Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya tanpa terasa:

“Tampaknya ucapan jahe makin tua makin pedas memang benar, tak heran kalau Li Sam berpesan kepadaku agar bersikap lebih hati- hati bila bertemu dua sesepuh hitam putih dari Hoa san…”

Dalam waktu singkat ia telah memperoleh jawabannya, maka sambil tertawa dingin katanya:

“Ehmm, kecurigaanmu memang cukup beralasan, tapi akupun hendak bertanya kepadamu, sudah tidak sedikit korban yg tewas diuung Kedele Maut ku selama ini, tapi apakah tak pernah kau pikirkan, diantara jago-jago yg tewas adakah diantaranya yg berasal dari jagoan kelas dua atau kelas tiga?”

Kakek bermuka putih itu berpikir sebentar, lalu manggut- manggut:

“Yaa benar, diantara korban yg tewas dlm cengkeraman Kedele Maut mu kalau bukan seorang pemimpin suatu perkumpulan atau perguruan, memang biasanya termasuk jagoan kelas satu yg berilmu silat tinggi…”

Sambil tertawa dingin, Kho Beng segera menyela:

“Nah, tentunya kau sudah mengerti bukan apa sebabnya sepanjang jalan aku tidak melakukan pembunuhan? Bukan aku tak ingin membunuh, he…he…he…Cuma sayang mereka belum pantas untuk menemui ajalnya ditanganku.’

“Hmmm..sombong benar lagakmu” dengus kakek bermuka hitam dg rasa mendongkol, “dari kota Gak yang hingga ketempat ini, meski diantara rekan-rekan persilatan terdapat juga kawanan manusia yg tidak sesuai dg nama besarnya, namun sebagian besar memiliki ilmu silat yg luar biasa hebatnya, bila anda benar-benar adalah Kedele Maut, aku rasa bangkai sudah bergeletakan dimana-mana, darah yg mengalir telah menganak sungai….”

Kho Beng sengaja tertawa melengking.

“Hey tua bangka! Kau tak usah menempeli emas diwajah sendiri, ketahuilah orang-orang yg kujumpai sepanjang jalan tak lebih hanya sekawanan setan bernyali kecil yg menggelikan hatiku saja tapi berbicara sesungguhnya, memang ada juga diantara mereka yg memiliki kemampuan yg cukup berhak untuk kuhadapi seperti misalnya tosu kecil yg bernama Leng hun, aku rasa tosu yg telah kujegal itu masih lebih hebatan ketimbang jago-jago dari hoa san kalian.”

Sindiran yg tak langsung ini seketika membuat wajah dua sesepuh hitam putih menjadi merah padam, sikakek muka hitam segera membentak penuh amarah.

“Jadi kau anggap kekuatan Hoa san pay kami tak ada harganya sama sekali?’

“Hmmm..itupun belum cukup, ambil contoh kalian berdua saja, berapa sih tinggi ilmu silat kalian berdua? Tapi aku telah menyiapkan empat butir Kedele untuk menghantar kalian bermain-main dialam baka!”

Dua sesepu hitam putih dari Hoa san nampak terkesiap, perasaan curiga yg semula muncul dalam benak mereka pun mulai goyah.

Mereka mengetahui cukup jelas taraf kepandaian silat yg dimiliki Leng hun totiang dari Bu tong pay, tapi kenyataannya ia telah tewas ditangan musuh, hal ini menandakan bahwa Kedele Maut yg berada dihadapannya sekarang bisa jadi adalah iblis yg tulen.

Serentak kedua orang sesepuh dari Hoa san pay ini mempersiapkan pedangnya dan disilangkan didepan dada sambil berjaga jaga terhadap segala kemungkinan yg bakal terjadi, namun mereka tidak bermaksud untuk menyerang lebih dulu.

Padahal Kho Beng sendiripun tidak berniat turun tangan, melihat keadaan tersebut, segera ujarnya sambil tertawa lengking:

“Hey tua bangka! Apa lagi yg kalian nantikan? Andaikata benar- benar tak pingin mampus, menyingkirlah kesamping dg segera, hari ini aku akan bersikap lebih terbuka terhadap pihak Hoa san pay kalian!”

Berubah hebat paras muka sikakek bermuka hitam, dg wataknya yg keras dan berangasan akhirnya ia tak kuasa untuk menahan diri, segera dipandangnya sikakek bermuka putih sekejap, lalu berkata:

“Lotoa, perguruan kita telah dihina malam ini, bila kita berpeluk tangan belaka, apakah orang persilatan tak akan mentertawakan kita?”

Watak sikakek bermuka putih justru merupakan kebalikan dari kakek bermuka hitam, mendengar kata-kata tersebut segera ia tertawa: “Loji kita tak boleh mengucapkan masalah besar hanya disebabkan persoalan kecil, buat apasih kita terburu nafsu?”

Kho Beng jadi tertegun, ia coba memperhatikan sekejap suasana diseputar sana, tiba-tiba ia menjumpai munculnya beberapa titik hitam dari arah timur sana, titik-titik hitam tersebut sedang bergerak mendekat dg kecepatan luar biasa.

Tiba-tiba saja ia menjadi paham agaknya kedua sesepuh hitam putih dari Hoa san pay ini sedang mengulur waktu sambil menunggu bala bantuan.

Kho Beng menjadi tercekat, ia tak berani berayal lagi, sambil mengambil segenggam kedele ari sakunya, ia berseru lengking:

“Tua bangka celaka! Kalau toh kalian tak berani turun tangan, rasakan dulu kehebatan kedele pengejar sukma ku ini , lihat serangan…”

Segenggam kedele segera memancar keempat penjuru bagaikan hujan gerimis yg menyelimuti angkasa. Sebagaimana diketahui korban yg tewas diujung kedele tersebut sudah kelewat banyak, lag pula diantara para korban tersebut terdapat jago-jago yg berkepandaian jauh melebihi dua sesepuh hitam putih, itulah sebabnya bagitu kedele tersebut diluncurkan, dg perasaan terkesiap buru-buru dua orang kakek itu menyurut mundur untuk menghindarkan diri.

Kho Beng memang bermaksud menggertak musuhnya dg kebesaran nama kedele maut, karenanya sesudah melepaskan serangan, tanpa diperdulikan lagi apakah serangannya mengenai sasaran atau tidak, secepat anak panah dia melesat pergi.

Sementara itu kedua kakek hitam putih dari Hoa san pay masih berdiri tertegun ditempat semula, terutama setelah gumpalan kedele tersebut berguguran diatas tanah tanpa menimbulkan reaksi apapun yg mengerikan hati.

Tapi setelah tertegun sesaat, dg cepat mereka lakukan pengejaran kembali.

Dalam pada itu kawanan jago yg melakukan pengejaran telah berdatangan semua, dibawah bimbingan dua sesepuh hitam putih dari hoa san pay, serentak mereka lancarkan pengejaran dg ketat.

Bom-bom udara berasap merah dilepaskan berulang kali, suara dentuman dan percikan cahaya membelah kegelapan dan keheningan malam. Kho Beng kabur dg sekuat tenaga, beberapa kali ia berpaling sambil memperhatikan keadaan diseputar sana, tatkala menjumpai keadaan tersebut, hatinya merasa makin tegang dan panik. Ia tahu bila dirinya sampai terkepung oleh kawanan jago sebanyak itu, jelas sudah keselamatan jiwanya akan terancam.

Berada dalam keadaan begini, mau tak mau ia mesti menambah dua bagian tenaganya untuk kabur semakin cepat lagi.

Dalam waktu singkat ia sudah kabur sejauh lima li lebih, tiba-tiba sungai yg membentang dihadapannya berbelok kekiri lalu pada jarak seratus kaki didepan situ ia menemukan htan gelagah dg bunganya yang putih. Hutan gelaga tersebut luas sekali hingga mencapai ratusan bau…

Menjumpai hutan gelaga itu membuat Kho Beng segera teringat kembali dg pesan Li sam, hatinya menjadi amat girang. Ia tahu, asal dirinya berhasil memasuki hutan gelaga tersebut berarti keselamatan jiwanya sudah terjamin.

Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba dari balik hutan disisi kanan telah muncul serombongan jago persilatan yg dipinpin sendiri oleh Bok sian taysu dari Siau lim si serta Kiong Ceng san pemilik istana naga dari bukit Kun san.

Bok sian taysu dg toya bajanya berdiri mencegat ditengah jalan sambil membentak keras:

“Iblis jahat, hendak kabur kemana kau?”

Kho Beng amat terkesiap, ia sadar sedang menghadapi musuh yg benar-benar tangguh, maka begitu melihat bayangan manusia melintas lewat dihadapan mukanya, dg cepat dia merogoh kembali segenggam kedele sambil membentak nyaring:

“Keledai gundul! Rasakan dulu beberapa biji kedele ku ini!” Segenggam kedele segera diayunkan kedepan mengancam tubuh

Bok sian taysu serta puluhan jago lihay lainnya.

Agaknya kawanan jago tersebut agak jeri terhadap kedele maut, buktinya orang-orang tersebut serentak mengundurkan diri dg panik ketika melihat datangnya ancaman tersebut, bahkan Bok sian taysu sendiripun segera memutar toyanya sedemikian rupa sambil melejit kebelakang untuk menghindarkan diri.

Memanfaatkan kesempatan yg sangat baik itulah Kho Beng segera melarikan diri dari situ, dalam enam tujuh kali lompatan saja ia telah berhasil menyusup masuk kebalik telaga tersebut. Perlu diketahui, tumbuhan tgelaga yg berada disitu tingginya melebihi tubuh manusia, begitu masuk kebalik gelaga, Kho Beng mendekam sejenak sambil memperhatikan situasi, kemudian ia baru merangkak secara pelan-pelan meninggalkan tempat itu.

Dia tak tahu, siapakah orang yg bakal menolongnya seperti apa yang dijanjikan Li Sam, karena itu diam-diam dia merangkak maju ketepi sungai dan mendekam disitu.

Pikirnya, andaikata waktu itu ada sebuah perahu yg lewat, maka tak sulit baginya utnuk meloloskan diri dari kepungan para jago, atau mungkin memang begitulah maksud Li sam sewaktu menyuruh menelusuri sungai..?

Siapa tahu ketika ia sudah merangkak hingga mencapai tepi sungai dan melongok Keluar yg terlihat hanya gulungan ombak yg amat ganas, jangan lagi bayangan perahu, sepotong kayu atau papan pun sama sekali tak nampak.

Dg perasaan kecewa, Kho Beng segera duduk tepekur diatas tanah, sementara matanya mengawasi sekeliling tempat itu dg seksama, ia kuatir ada orang yg berhasil menyusup masuk kesitu.

Atau mungkin Li Sam hanya berbohong? Atau mungkin orang yg berniat menolongnya belum datang?

Dg perasaan amat gelisah Kho Beng menanti kedatangan bala bantuan, sementara telinganya dapat menangkap suara pembicaraan yg bergema datang terbawa oleh hembusan angin.

“Rekan-rekan sekalian, jangan digeledah secara sembarangan! Yang penting kita kurung lebih dulu sekeliling hutan telaga ini, lalu selangkah demi selangkah kita geledah kedalam, asal iblis itu bukan jelmaan siluman, lolap jamin dia tak akan lolos dari pencarian kita pada malam ini.”

Habis berkata, kembali gelak tawa yg amat nyaring berkumandang memecah keheningan, jelas sudah orang yg memberi komando tadi tak lain adalah Bok sian taysu dari Siau lim pay.

Menyusul perkataan tadi, dari sekeliling tempat tersebut kedengaran langkah kaki manusia serta suara rumput yg disingkap orang.

Tak terlukiskan rasa terperanjat Kho Beng pada waktu itu, ia berusaha memeras otak untuk menemukan jalan keluar, namun usahanya sia-sia belaka, kecuali terjun kesungai dan kabur dg jalan menyelam, rasanya tiada jalan lain lagi. Apa lacur, sama sekali ia tak mengerti ilmu berenang, menceburkan diri ke dalam sungai sama artinya bunuh diri.

Menjumpai keadaan seperti ini, tanpa terasa ia mendongakkan kepalanya sambil menghela napas pikirnya:

“Apa yg dikatakan Bok sian taysu memang benar, biar memiliki sayappun jangan harap kau Kho Beng bisa lolos pada malam ini!”

Padahal Kho Beng masih mempunyai sebuah jalan lagi yaitu muncul dalam wajah aslinya dan melangsungkan pertarungan sekuat tenaga untuk membuka sebuah jalan berdarah guna lolos dari kepungan.

Tapi jalan tersebut merupakan jalan terakhir yg tak akan dilaksanakan sebelum keadaan betul-betul terpaksa, sebab ia pun hanya mempunyai sedikit harapan, sebab jumlah musuh yg mengepung disekeliling sana benar-benar kelewat banyak.

Sementara Kho Beng duduk termenung dibalik tumbuhan gelaga, kawanan jago persilatan yg jumlahnya mencapai ratusan orang itu sudah mulai membentuk gerakan menjepit dirinya, semuanya membawa senjata terhunus dan selangkah demi selangkah memasuki hutan gelaga dg wajah tegang.

Manusia beriring manusia, pedang berlapis pedang, boleh dibilang tiada tempat luang yg tersisa, bukan Cuma begitu, kawanan jago yg mendapat tugas ditempat lain pun secara berbondong- bondong berdatangan semua kesitu.

Dalam waktu singkat, wailayah yg berada dlm radius pencarian mereka makin lama makin meluas.

Disaat para jago sudah memasuki hutan gelaga sejauh dua puluhan kaki itulah mendadak dari balik sungai berkelebat sesosok bayangan putih yg membawa sebuah payung bulat, bagaikan sambaran petir cepatnya bayangan itu dan langsung terjun ke dalam sungai.

Melihat kejadian tersebut, para jago segera menjerit kaget: “Kedele maut melarikan diri ke dalam sungai…”

“Kedele Maut terjun keair!” “…..”

Ditengah jeritan kaget itulah tiba-tiba terdengar seseorang berseru sambil tertawa nyaring:

“Andaikata berada didaratan mungkin aku harus mengalah tiga bagian kepadanya, tapi kalau berada dalam air….ha…ha…ha…dia sama artinya dg mencari kematian buat diri sendiri, lihat saja nanti aku akan membekuknya hidup-hidup!”

Ditengah pembicaraan, sesosok tubuh yg tinggi besar telah melompat ke depan dan menyusul dibelakang Kedele Maut, ikut terjun pula ke dalam sungai…

Ternyata jago yg ke air itu tak lain adalah ketua istana naga Kiong Ceng san sendiri.

Dg terjunnya Kiong Ceng san ke dalam sungai Tiangkang, maka para jago yg melakukan penggeledahan pun ikut menghentikan gerakannya, serentak mereka berkumpul ditepi sungai untuk mengikuti jalannya peristiwa tersebut.

Benar juga, tak selang beberapa saat kemudian dari balik sungai yg hitam berlumpur telah muncul sebuah kepala manusia, kemudian terdengar Kiong Ceng san berseru sambil tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha…aku telah berhasil membekuk iblis tersebut!”

Sambil berkata dia mengangkat tinggi-tinggi tubuh seseorang yg basah kuyup.

Bok sian taysu yg berdiri ditepi sungai segera berseru dg gembira:

“Kiong lo sicu, cepat seret gembong iblis itu naik ke daratan!” Kiong Ceng san membenamkan kembali tubuh Kedele Maut kedalam air sungai kemudian ujarnya sambil tertawa, “Taysu aku belum mau naik kedaratan.”

“Kenapa?” tanya Bok sian taysu tertegun.

“Sudah berhari-hari lamanya aku mesti menderita siksaan batin yg berat gara-gara ulah iblis tersebut, maka pada malam ini aku hendak menyuruh si iblis jahat ini merasakan nikmatnya air sungai, selain itu tenaga dalam yg dimiliki iblis ini terlalu hebat, hanya selama berada dalam air aku dapat mengatasinya. Aku pikir lebih baik iblis ini kubawa berenang menuju ketelaga Tong ting, toh jaraknya jauh lebih dekat ketimbang lewat daratan.

Ha…ha…ha…oleh sebab itu aku putuskan akan membawanya pulang kebukit Kun san dg lewat jalan air, nah kutunggu kedatangan kalian disana!”

Padahal begitu banyak jago lihay yg melakukan penjagaan disekitar sana, asalkan jalan darah di Kedele Maut sudah tertotok, apakah ia sanggup untuk melarikan diri?

Tentu saja tidak, yg benar adalah Kiong Ceng san hendak memanfaatkan kesempatan ini dg sebaik-baiknya untuk meningkatkan pamor serta kedudukannya dimata orang banyak. Itulah sebabnya ia sengaja mendemontrasikan kehebatannya dihadapan para jago.

Bok sian taysu sebagai seorang jago kawakan yg berpengalaman tentu saja memahami maksud hati rekannya, baginya asal iblis itu sudah tertangkap maka persoalan lain bukan masalah, itulah sebabnya iapun memberi kesempatan buat Kiong Ceng san untuk memperlihatkan kebolehannya.

Sambil tertawa segera ujarnya:

“Bagus, bagus sekali, tapi lolap perlu menjelaskan dulu bila sampai terjadi sesuatu mala lo sicu seorang yg mesti bertanggung jawab!”

Kiong Ceng san segera tertawa terbahak-bahak: “Ha…ha…ha…bila terjadi sesuatu hal yg tak diinginkan, aku akan

pertaruhkan sebutir batok kapalaku ini, ha…ha…ha…maaf aku harus berangkat duluan!”

Selesai berkata dia lantas menyelam kembali kedalam air dan meluncur kedepan dg cepatnya, dalam waktu singkat diatas permukaan air hanya tertinggal sebuah jalur panjang yg memutih.

Sambil tertawa tergelak, Bok sian taysu segera berkata: “Kiong tayhiap betul-betul hebat, makin tua makin gagah saja

nampaknya….”

Kemudian sambil mengulapkan tangannya kepada para jago serunya kembali:

“Sicu sekalian, mari kita segera berangkat, coba kita lihat siapa yg lebih cepat tiba ditempat tujuan, Kiong tayhiap atau kita?”

“Baik! Hayo berangkat!”

Diiringi sorak sorai yg keras, berangkatlah kawanan jago itu kembali kearah telaga Tong ting.

Betulkah orang yg berhasil ditawan adalah Kho Beng?

Ternyata bukan! Waktu itu Kho Beng masih bersembunyi dibalik hutan gelaga, betapa bingung dan bimbangnya sia setelah menyaksikan terjadinya adegan tersebut.

Suara sorak sorai dan gelak tawa dari para jago makin lama semakin menjauh, suasana disekeliling hutan gelaga pun pelan-pelan pulih kembali dalam keheningan, tapi pikiran Kho Beng tetap kalut dan bergelombang dg hebatnya.

“Siapa gerangan orang itu? Mengapa dia mewakiliku agar dibekuk orang? Mungkin kah orang tersebut yg dimaksud Li sam?” Pelbagai pertanyaan membelenggu pikiran dan perasaannya, namun tak sebuah pun yg dapat ditemukan jawabannya.

Akhirnya dalam hutan gelaga itu juga dia melepaskan rambut palsunya, membuang payung bulat, melepaskan baju perempuan dan mengenakan kembali baju sendiri.

Kemudian setelah muncul dalam wujud aslinya, ia baru melompat keluar dari balik hutan gelaga serta memperhatikan sejenak suasana disekitar tempat itu.

Menurut rencana semula, Kho Beng memutuskan akan pergi meninggalkan telaga Tong ting dan berangkat ke Yang ciu untuk mencari Sastrawan berkipas kumala Beng Tan atau kalau tidak berusaha mengadakan kontak dg encinya.

Tapi sekarang ia harus merubah rencananya semula, sebab dia ingin tahu siapakah orang yg telah mewakilinya untuk mencari mati?

Sebab ia sangat terharu oleh tindakan orang tersebut disamping perubahan yg terjadi benar-benar diluar dugaan. Tapi persoalan yg membuatnya ragu adalah dapatkah ia kembali kesitu dg selamat? Mungkinkah orang lain sudah mencurigai gerak-geriknya?

Sementara Kho Beng masih mempertimbangkan persoalan tsb, mendadak dari belakang tubuhnya kedengaran seseorang menegur:

“Kho sauhiap, mengapa kau masih berada disini?”

Kho Beng sangat terkejut, secepat kilat ia membalikkan badannya sambil memperhatikan kearah mana berasalnya suara teguran tsb.

Tampak tiga sosok bayangan manusia melayang turun persis dihadapannya, ternyata mereka adalah Kim kong sam pian, Kim bersaudara.

Pelbagai perasaan yg tak keruan pun berkecamuk dlm benaknya, tapi dg cepat ia pun balik bertanya:

“Oooh…rupanya kalian bertiga, mengapa kamu bertiga pun masih berada disini?”

Sambil tertawa Kim lo ji segera berkata:

“Kami dapat tugas utk menarik kembali semua penjagaan yg berada di sekitar sini, kenapa sauhiap tidak kembali?”

Kho Beng pura2 tertawa getir:

“Kembali? Sewaktu mengikuti kalian mengejar Kedele Maut tadi, tiba2 kulihat adanya tanda bahaya muncul disebelah sana, maka aku buru2 kesitu, ditempat tsb kutemukan sesosok mayat tosu, karenanya aku berusaha mencari rekan2 lainnya disekitar sini, siapa tahu tidak kutemukan seorang teman pun berada disini…” Ketika berbicara sampai disitu, tiba2 ia merasa penjelasannya banyak terdapat kelemahan, maka cepat2 ia balik bertanya:

“Mengapa kalian bertiga menarik kembali semua penjagaan disekitar sini?”

“Apakah Kedele Maut sudah lolos?”

Kim kong sam pian adalah para lelaki periang yg berjiwa terbuka, ditambah pula mereka menaruh kesan baik terhadap Kho Beng dan bermaksud mengikat tali persahabatan dgnya, maka pada hakikatnya semua kelemahan dibalik penjelasan Kho Beng tadi tidak diperhatikan sama sekali.

Terdengar Kim lo jin tertawa terbahak-bahak. “Ha…ha…ha…rupanya sauhiap belum tahu? Gembong iblis itu

sudah tertangkap hidup2…”

“Kedele Maut sudah tertangkap hidup2?” Kho Beng pura2 terkejut bercampur keheranan, “siapa yg berjasa membekuk iblis tsb?”

“Siapa lagi, tentu saja Kiong locianpwee dari bukit Kun san” sahut Kim losam sambil tersenyum, “malah ia ketelaga tong ting lewat jalan air. Kho sauhiap, mari kita cepat2 pulang, siapa tahu disana bakal berlangsung suatu pertunjukkan yg sangat menarik!”

Seraya berkata, ia segera menarik Kho Beng dan diajak berlalu dari situ…

Berada dalam keadaan begini, terpaksa Kho Beng ikut pulang, walaupun demikian ia toh menunjukkan kembali wajah tercengang, tanyanya:

“Pulang lewat jalan air? Mengapa tidak kulihat ada perahu di sungai?”

Kembali Kim lo toa tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha… dg ilmu berenang yg dimiliki Kiong locianpwee, apa gunanya perahu baginya? Biarpun sungai tiangkang lima enam puluh li namun dalam pandangannya tak lebih hanya sebuah selokan kecil.”

“Maksud saudara Kim, Kiong tayhiap pulang ke Kun san dg jalan berenang diair?” kembali Kho Beng berlagak tak percaya.

Kim lo toa manggut2.

“Tampaknya sauhiap baru pertama kali menginjakkan kaki di Gak yang sehingga tidak mengetahui kemashurannya, biarpun dlm kurun waktu belasan tahun belakangan ini banyak sudah bermunculan jago2 kenamaan diseputar wilayah Sam siang, sesungguhnya belum ada seorang manusia pun yg sanggup melampaui kepandaian berenang yg dimiliki Kiong tayhiap, itulah sebabnya gedung keluarga Kiong dibukit Kun san disebut sebagai istana naga, karena ilmu berenangnya luar biasa, malah pernah mengungguli enam belas jago berenang dari lima telaga, itulah sebabnya ia pun dihormati sebagai seorang sincu.”

Ditengah pembicaraan yg santai, tanpa terasa mereka berempat sudah tiba dikota Gak yang.

Sewaktu tiba ditepi telaga Tong ting hari sudah terang tanah, dari kejauhan Kho Beng dapat menyaksikan hasil karyanya semalam, gedung wisma tsb nyaris terbakar habis, puing2 nampak berserakan dimana-mana.

Untuk menutup perbuatannya, pemuda itu sengaja menggerutu sambil menghela napas mencaci maki perbuatan tsb, kemudian mereka baru berangkat kebukit Kun san dg menaiki sampan yg tersedia.

Saat itu hatinya merasa tegang sekali sebab teka teki akan segera terjawab. Ia ingin tahu apakah orang tsb ada hubungan dg dirinya atau tidak.

Setibanya dibukit Kun san, diiringi Kim kong sam pian mereka memasuki gedung istana naga yg megah. Waktu itu eluruh ruangan sudah dipenuhi jago yg masing2 sedang berbisik-bisk mempersoalkan kejadian itu.

Pada saat itulah petugas penerima tamu dari Bu tong pay telah berseru keras:

“Kho sauhiap tiba!”

Para jago yg semula berjalan dimuka pintu gerbang serentak memisahkan diri menjadi dua dan menyingkir kesamping, lalu nampak seorang nona cantik tampil kedepan pintu seraya menyapa.

“Sauhiap, rupanya kau telah pulang.”

Melihat orang yg datang menyambutnya adalah Walet Terbang berwajah ganda Chin sian kun, lagi2 Kho Beng merasakan hatinya tak tenang, buru2 ia menjura seraya menyahut:

“Terima kasih atas sambutan dari lihiap”

“Sewaktu terjadi kebakaran di wisma semalam, aku menjadi panik sekali karena tidak menjumpai sauhiap!” gumam Chin sian kun lagi.

Diam2 Kho Beng merasakan hatinya tercekat, dia tak tahu apa maksud pertanyaan tsb, menjebakkah atau sengaja hendak menyelidiki? Sebelum ia sempat menjawab, kim lo toa telah berkata suluan sambil tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha… tak nyana nona Chin pun merasa gelisah krn memikirkan seseorang, wah nampaknya benih cinta sudah mulai bersemi dalam hatimu!”

“Huh, usil!” umpat Sian kun sambil berkerut kening, sementara wajahnya berubah menjadi semu merah krn jengah.

Atas terjadinya peristiwa ini, perasaan tegang yg semula mencekam perasaan Kho Beng pun menjadi jauh berkurang, buru2 ia berkata sambil tersenyum:

“Oleh karena aku mengetahui terjadinya kebakaran sejak awal, waktu itu jejak musuh belum hilang maka tanpa berpikir panjang aku melakukan pengejaran…”

Kemudian sambil mengalihkan pembicaraan kesoal lain, lanjutnya:

“Konon Kiong tayhiap telah berhasil membekuk Kedele Maut, apa benar..?”

Chin sian kun manggut2:

“Yaa, sekarang iblis tsb sudah dibelenggu ditengah ruangan dan siap menerima pengadilan masal!”

“Sebenarnya siapa sih gembong iblis tsb?” desak Kho Beng ingin tahu.

Chin sian kun segera tertawa misterius:

“Tak ada salahnya bila sauhiap mencoba untuk menerkanya sendiri..!”

Sambil tertawa Kim lo ji ikut menimbrung.

“Waah…buat apa sih kau menjual mahal? Asal kita masuk keruangan, bukankah segala sesuatunya akan jelas?”

Chin sian kun segera mendengus:

“Hmm, aku yakin kalian tak bakal bisa menerkanya, sauhiap cepat masuk dapat kuberitahukan kepadamu, Kedele Maut tsb hanya gadungan…”

Dalam hal ini tentu saja Kho Beng lebih mengerti, sebab yg dimaksud sebagai Kedele Maut bukan lain adalah enci kandungnya, sedang encinya pun mustahil mengambil arah yg sama dg arah yg ditempuh.

Namun utk menghilangkan kecurigaan orang, mau tak mau ia meski berlagak terkejut juga, serunya keheranan.

“Oooh…Cuma gadungan? Lantas siapakah perempuan itu?” Kembali Chin sian kun tersenyum.

“Dia bukan wanita, tapi seorang laki-laki!”

Kali ini Kho Beng benar2 dibuat tercengang, setengah tak percaya serunya:

“Mana mungkin seorang laki-laki?”

Tiba2 Chin sian kun menghela napas panjang:

“Aaai…kalau dibicarakan mungkin kau semakin tak percaya lagi, ternyata laki-laki yg menyaru sebagai Kedele Maut itu adalah Thi koay siang coat Li Sam yg baru2 ini termasyur dlm dunia persilatan!”

Sewaktu berbicara sampai disini, mereka berempat telah melangkah masuk ke dalam pintu ruangan. Tapi nama “Li Sam” yg disebutkan terakhir itu ibarat guntur yg membelah bumi disiang hari bolong, kontan saja membuat pandangan mata Kho Beng berkunang-kunang.

Li Sam? Si toya baja Li Sam? Apakah dunia persilatan dewasa ini

,asih ada orang kedua yg menggunakan nama Li Sam.

Aan tetapi sewaktu sorot matanya dialihkan kewajah orang yg diikat kencang2 ditiang ruang tengah itu, ia makin tercekat lagi, ternyata orang itu benar2 adalah Li Sam yg dicintai dan dihormati.

Dalam waktu singkat Kho Beng merasakan hatinya bergolak keras sekali, untuk berapa saat lamanya dia hanya bisa termangu-mangu.

Sekarang ia mengerti, rupanya sewaktu ia menolak untuk menuruti nasehatnya, ia telah mempersiapkan rencana untuk menolong jiwanya dg korbankan diri sendiri, tak heran kalau ia sempat berpesan kepadanya bahwa disaat terdesak nanti, dari balik hutan gelaga pasti akan muncul seseorang yg akan menolongnya, ternyata orang yg dimaksud tak lain adalah dirinya sendiri.

Pada saat Kho Beng dicekam rasa sedih yg luar biasa itulah, teredngar Bok sian taysu berseru:

“Berikan tempat duduk untuk Kho sicu!”

Kho Beng tersentak kaget, ia tak berani menunjukkan perubahan sikap dihadapan orang banyak, apalagi disitu penuh hadir jago2 persilatan yg tak terhitung jumlahnya.

Dibagian terdepan terdapat lima buah kursi, selain bok sian taysu dan pemilik istana naga Kiong Ceng san yg duduk dibagian tengah, disebelah kanannya adalah Hek pek ji lo dari Hoa san pay, sedang disebelah kiri adalah seorang tosu tua, Hian it totiang dari Bu tong pay. Sementara itu dua orang centeng telah menyiapkan sebuah kursi kebesaran yg diletakkan disamping Hian it totiang, kemudian mengundurkan diri kembali.

Kho Beng segera menjura, serunya cepat2:

“Aku yg muda hanya seorang angkatan muda, tak berani duduk bersanding dg cianpwee sekalian…”

Sambil mengelus jenggotnya yg putih Kiong Ceng san segera menyela:

“Sauhiap adalah tamu agung kami, tidak pantaskah kami menghormati? Hayo silahkan duduk, kita harus segera mengadili mata2 ini!”

Kho Beng merasakan pikirannya sangat kalut, maka tanpa sungkan2 lagi ia menempati kursi yg telah disediakan.

Baru saja ia duduk, Bok sian taysu telah berkata: “Sau sicu, kau tidak menyangka bukan?”

Kho Beng merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris dg pisau, tanpa berbicara ia manggut2, kemudian mengalihkan pandangannya ke wajah Li Sam yg terikat diatas tiang.

Waktu itu Li Sam masih mengenakan baju perempuan berwarna putih yg basah kuyup, mukanya pucat menghijau, selain tanpa emosi iapun tidak menengok sekejap pun kearahnya.

Kho Beng betul2 menyesal, pekiknya dlm hati: “Samko..ooh samko…akulah yg telah mencelakaimu…!” Sementara itu, Bok sian taysu telah berseru dg lantang: “Li Sam, selama ini lolap bersikap cukup baik kepadamu,

mengapa kau justru membalas dg cara begini?”

“Aku rasa Li Sam belum pernah bersikap jelek kepada taysu” sahut Li Sam dingin.

“Apa maksud perkataanmu itu?” bentak Bok sian taysu dg suara dalam dan berat.

“Sederhana sekali, sebenarnya aku orang she Li dapat membunuhmu setiap saat, tapi aku toh tak pernah melakukannya, hal ini disebabkan sikapmu kepadaku pun sangat baik, maka aku enggan membalas air susu dg air tuba!”

Kontan saja Bok sian taysu melototkan matanya bulat2, bentaknya keras:

“Dendam sakit hati apakah yg pernah terjalin antara kau dg aku…?”

“Sama sekali tiada dendam sakit hati apa pun!” “Lantas mengapa kau berbuat begitu?” Bok sian taysu mengerutkan dahinya rapat2.

“Aku sedang melaksanakan tugas dari guruku!” “Siapakah gurumu?” sela Kiong Ceng san. “Maaf tak dapat kujawab!”

Bok sian taysu segera menghentakkan tongkatnya keras2 ke tanah, kemudian bentaknya dg gusar:

“Kau mau mengaku tidak!”

Paras muka Li Sam sama sekali tak berubah, tanpa emosi sahutnya dingin:

“Apa yg mesti kuakui?”

“Katakan siapa gurumu? Mengapa kau menyaru sebagai Keele Maut dan apa maksud tujuanmu?”

Tiga pertanyaan yg diutarakan secara beruntun ini segera membuat para jago menjadi tegang, mereka semua pasang telinga baik2 untuk mendengarkan jawabannya.

Namun Li Sam tetap hambar, tanpa emosi katanya ketus: “Kuanjurkan kepadamu agar tak usah membuang energi sia2,

percuma ! aku tak bakal menjawab semua pertanyaanmu.” Mendadak Bok sian taysu tertawa seram:

“He…he…he…Li Sam, sekalipun tidak kau katakan, lolap juga bisa menebaknya, kau sengaja berperan sebagai si Kedele Maut bukankah karena ingin memancing perhatian para rekan2 persilatan sehingga memberi kesempatan kepada si iblis jahat itu untuk meloloskan diri?”

“Cerdik benar kamu ini!” jengek Li Sam sambil tertawa dingin,” sayang sekali agak terlambat kau mengetahui soal ini.”

Sekali lagi Bok sian taysu tertawa seram:

“Selama kau Li Sam masih berada dibawah cengkeramanku, maka belum terhitung terlambat bagiku. Sekarang aku hanya berharap kepadamu untuk menjawab pertanyaan saja, siapa gurumu dan apa hubunganmu dg Kedele Maut? Asal kau bersedia mengakui secara blak-blakan bisa jadi akupun dapat mempertimbangkan kembali hukuman yg jauh lebih ringan bagimu.”

Li Sam tertawa mengejek, katanya:

“Kalau toh kau si hwesio dapat menebaknya sendiri, mengapa tidak kau tebak saja jawabannya?” Kiong Ceng san tak dapat mengendalikan hawa amarahnya, sambil mengebaskan ujung bajunya ia membentak: “Mana pengawal? Siapkan alat2 siksa dg api!”

Lelaki2 kekar yg berdiri disamping arena segera mengiakan, seketika itu juga muncul empat orang lelaki yg segera berlarian keluar dari ruangan.

Pada saat itulah tiba2 Hian it totiang dari Bu tong pay buka suara, ujarnya:

“Li sicu, pinto anjurkan kepadamu agar mau menjawab dg sejujurnya, asal sicu bersedia untuk bertobat serta menyesali perbuatanmu dimasa lalu, aku jamin selembar jiwamu pasti selamat tanpa cedera.”

“He…he…he…” Li Sam tertawa dingin tiada hentinya, “Kau hendak menjamin keselamatanku? Siapa yg dapat menjamin pula keselamatanmu sendiri? Hmmm siapa tahu kau sendiripun hanya bisa hidup selama beberapa hari?”

Paras muka Hian ti totiang seketika itu berubah menjadi hijau membesi gemetar keras seluruh tubuhnya karena mendongkol, bentaknya keras2:

“Bajingan laknat yg tak tahu diri! Kau berani mencari gara2 dg ku?” Baru selesai ia berkata keempat lelaki kekar tadi telah muncul kembali dari pintu ruangan sambil menggotong masuk sebuah kuali besi yg besar sekali, ditengah kuali kelihatan bara api yg merah kehijau-hijauan, lidah api yg mengerikan tampak menjilat-jilat keatas, sementara dibalik bara api yg membara, masing2 terdapat dua batang besi yg telah membara pula.

Kuali besi berisi api yg membara tadi diletakkan dihadapan Li Sam, sementara keempat lelaki bengis tadi berdiri berjajar disisinya.