Kedele Maut Jilid 09

 
Jilid 09

Sementara Kho Beng masih termangu-mangu, nona berbaju kuning itu telah berkata sambil tersenyum:

“Oleh karena hari sudah siang, sedang sauhiap belum juga bangun dari tidurnya, maka untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan, sengaja aku mengganggu tidurmu, tak nyana perbuatanku ini justru mengejutkan sauhiap dari tidurnya.”

Kho Beng merasa rikuh sekali berbicara dg lawan jenis, mendengar perkataan barusan, buru-buru ia memberi hormat seraya berkata:

“Padahal aku yg muda pun harus bangun segera, justru akulah yg merepotkan nona. Tadi, aku masih menyangka tiga bersaudara Kim yg telah datang!”

Nona berbaju kuning itu menitahkan pelayan untuk meletakkan dulu air cuci muka serta sarapan diatas meja, menanti kedua orang pelayan tadi telah mengundurkan diri, ia baru berkata sambil tersenyum: “Fajar tadi telah terjadi suatu peristiwa, kini Kim kong sam pian sedang mendapat tugas untuk meninggalkan Gak yang, itulah sebabnya mereka tak hadir kemari. Untuk itu Kiong sincu telah mengutus diriku untuk menemani sauhiap, harap sauhiap tidak menganggap asing diriku ini…”

“Peristiwa apa sih yg telah terjadi?”

“Kalau dibilang sesungguhnya persoalan itu ada sangkut pautnya dg sauhiap.”

Diam-diam Kho Beng merasa terkejut, tapi diluarannya ia bertanya keheranan:

“Persoalan apa sih yg ada sangkut pautnya dg diriku?”

“Fajar tadi secara tiba-tiba muncul utusan dari Sam goan bun yg memberitahukan perintah dari ciangbunjin mereka, konon segenap anggota Sam goan bun yg sedang bertugas diperintahkan untuk segera pulang keperguruan, bahkan mulai hari ini perguruan Sam goan bun menutup diri selama tiga tahun dan tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi.”

Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, segera tanyanya: “Apakah utusan dari Sam goan bun itu mengemukakan juga

sebab atau alasannya?”

Nona berbaju kuning itu tersenyum, sahutnya sambil manggut- manggut:

“Konon gara-gara kematian Unta sakti berpunggung baja, sauhiap telah menunjuk perasaan dg menyerbu kedalam markas mereka, akibat peristiwa tersebut pihak Sam goan bun memutuskan untuk mengundurkan diri secara total.”

Kho Beng merasakan hatinya terkesiap tapi diluar ia mendengus dan pura-pura menjengek dg sinis:

“Hmmm, sekalipun kita tidak didukung belasan jago dari Sam goan bun, belum tentu hal ini akan mempengaruhi situasi pada umumnya.”

“Biarpun ucapan itu ada benarnya juga, namun orang-orang mereka mengundurkan diri kelewat cepat, disaat berita ini tersiar dibukit Kun san, orang-orang mereka sudah tak nampak batang hidungnya lagi, akibat dari perbuatan mereka ini Siau lim tianglo serta Kiong cioanpwee sempat dibikin sewot…”

Diam-diam Kho Beng merasakan hatinya tak tenang, ia tak menyangka dalam keadaan dan situasi macam ini akan timbul persoalan lagi yg sama sekali diluar perhitungan. Walaupun demikian, diluarnya ia mesti bersikap acuh tak acuh, malah ujarnya kemudian sambil tertawa dingin:

“Segenap jago persilatan telah berkumpul disekitar kawasan telaga Tiong ting dan Gak yang, yg hadir pun rata-rata merupakan jago pilihan yg berkepandaian tangguh, buat apa sih kedua orang cianpwee itu menilai begitu tinggi akan kemampuan Sam goan bun?”

Nona berbaju kuning itu segera tersenyum:

“Justru sauhiap bisa berpendapat demikian karena kau belum mengetahui keadaan yg sebenarnya, meski para petugas yg berjaga- jaga dikawasan sekitar tempat ini hanya dari kaum keroco yg tak seberapa kemampuannya, asal mereka mendapat tugas dan tanggung jawab berarti orang itu sudah menjadi rangkaian gelang yg tak boleh putus, bila diantara rangkaian gelang-gelang tersebut ada yg pergi meninggalkan tugas tanpa pemberitahuan, sama artinya dg terbukanya titik kelemahan yg semula rapat, akibatnya semua penjagaan yg dilakukan seketat dan sekuat itupun menjadi tak ada artinya lagi.”

Dg perasaan tidak mengerti Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali.

Kembali nona berbaju kuning itu tersenyum, jari tangannya yg lentik segera dicelupkan kedalam air the, lalu dibuatnya sebuah gambar kipas diatas meja, ujarnya sambil tertawa:

“Tahukah sauhiap benda apakah ini?” “Kipas”

“Benar” kata nona berbaju kuning itu sambil manggut-manggut, “posisi penjagaan kita saat ini berupa sebuah kipas dg bukit Kun san sebagai pangkalnya, para jago yg turut serta dalam pengepungan ini masing-masing membentuk grup sendiri yg membentang dari dalam keluar hingga mnyerupai batang-batang tangkai kipas, pihak Sam goan bun bertugas disekitar wilayah Gak yang, kini mereka meninggalkan tugas secara mendadak, hal ini sama seperti seluas permukaan kipas yg utuh tahu-tahu kehilangan setangkai tulang kipas, andaikata iblis dan komplotannya memanfaatkan kelemahan yg ada ini untuk melarikan diri, bukankah semua usaha kita selama ini jadi tak ada artinya? Tak heran kalau Siau lim tianglo serta Kiong cianpwee menjadi sewot!”

Sehabis mendengar penjelasan ini, diam-diam Kho Beng merasa terperanjat sekali, ia tak mengira kalau penjagaan yg dipersiapkan ditempat ini demikian kuat dan rapatnya. Teringat akan keselamatan enci kandungnya yg makin berbahaya, pemuda ini menjadi makin risau dan masgul sekali.

Namun diluarnya ia harus menunjukkan sikap menyesal, katanya dg cepat:

“Aaah, tak kuduga sama sekali gara-gara urusan pribadiku ternyata berpengaruh besar terhadap situasi ditempat ini…”

“Sauhiap pun tak usah merasa sedih hati karena persoalan ini” kata nona berbaju kuning itu sambil tersenyum, “untung persoalan dapat diatasi dg cepat, pihak bukit Kun san telah mengutus Ki, kong sam pian untuk menutup titik kelemahan dikawasan Gak yang tersebut pada setengah jam berselang. Aaah betul…buburmu sudah dingin, silahkan sauhiap segera cuci muka dan sarapan.”

Kho Beng manggut-manggut buru-buru dia cuci muka lalu sarapan, selesai bersantap ia baru teringat bahwa nona yg dihadapannya sekarang tidak mirip dg pengurus wisma.

Maka segera tegurnya sambil tersenyum:

“Sudah setengah harian kita berbincang, tapi hingga kini belum kuketahui nama nona…maaf akan keteledoranku ini!”

Nona berbaju kuning itu segera tersenyum:

“Sauhiap terlalu merendah, aku adalah Chin Sian kun.”

Kontan saja Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, Chin sian kun? Bukankah dia adalah perempuan yg berbicara dg Bok sian taysu dibelakang gunung-gunungan semalam?

Sekarang ia baru sadar, rupanya gadis ini mendapat tugas untuk mengatasi setap gerak geriknya, ini berarti sulit baginya untuk bergerak secara leluasa selanjutnya.

Berpikir demikian, diam-diam ia berkerut kening dan memutar otak untuk mencari jalan keluar.

Saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang menyapa dari luar pintu:

“Apakah Kho sauhiap ada?”

“Siapa yg berada didepan pintu? Silahkan masuk!” jawab Chin sian kun cepat.

Pintu kamar dibuka orang dan muncullah seseorang yg ternyata tak lain adalah Li Sam.

Berkilat sepasang mata Kho Beng melihat kedatangan rekannya ini, seakan-akan bertemu dg malaikat penolong, rasa gembiranya tak terhingga.

Sementara itu Li sam telah berkata sambil tertawa: “Ooooh, rupanya nona Chin juga berada disini, sauhiap nyenyakkah tidurmu semalam?”

Sambil balas memberi hormat, sahut Kho Beng seraya tertawa: “Fajar baru menyingsing, pelayanan dari Kiong tayhiap telah

datang secara lengkap…”

Jelas dibalik perkataan itu masih mengandung maksud lain. Sementara itu Li sam telah berkata kepada Chin Sian kun: “Berhubung Kim bersaudara masih punya tugas lain sehingga tak

bisa hadir disini, maka tianglo serta Sincu menitahkan aku orang she Li untuk mewakili mereka melakukan penyambutan.”

Sambil tersenyum Chin Sian kun manggut-manggut:

“Kho sauhiap baru pertama kali ini datang ketelaga Tong ting, Li tayhiap mesti menemaninya secara baik-baik, jangan membuat orang menjadi kecewa.”

Li sam tertawa terbahak-bahak: “Ha…ha…ha…tak perlu nona pesankan lagi…”

“Yaaa, nona Chin memang kelewat sungkan” sambung Kho Beng pula, “bukankah hal ini malah membuat aku yg muda semakin rikuh.”

“Perahu telah disiapkan, silahkan sauhiap,” kata Li sam kemudian.

“Silahkan saudara!” sahut Kho Beng pula sambil mempersilahkan.

Begitu meninggalkan wisma dan sudah jauh meninggalkan pengawasan Chin sian kun, Kho Beng baru menghembuskan napas panjang, seraya berkata:

“Sam ko, semalam aku berniat mencarimu.”

“Hamba mengerti” sahut Li Sam tertawa, karena pembicaraan kita semalam belum selesai, maka pagi tadi sengaja aku minta ijin untuk mendapat tugas menemuimu.”

“Apakah Sam ko tidak berdiam didalam wisma?” tanya Kho Beng agak tertegun.

“Untuk menghadapi perundingan rahasia yg setiap saat bisa diselenggarakan, tianglo menyuruh hamba berdiam di istana naga bukit Kun san…”

“Untung aku mengurungkan niatku semalam, kalau tidak perjalananku tentu akan sia-sia belaka!”

Dg suara berat dan dalam Li Sam berkata:

“Dalam situasi seperti ini, lebih baik kurangilah pergerakan yg tidak ada artinya, tahukah cukong siapa perempuan cantik tadi?” Kho Beng manggut-manggut, katanya sambil tertawa dingin: “Bukankah dia adalah mawar beracun yg bertugas mengawasi

aku?”

Li Sam segera manggut-manggut:

“Kalau toh majikan sudah tahu, hamba pun tak akan banyak berbicara lagi, tapi ketahuilah Walet terbang berwajah ganda mempunyai pamor yg cukup baik disekitar kawasan Sam siang, harap majikan tidak memandang dirinya kelewat enteng.”

Kho Beng mendengus dingin:

“hmmm aku tahu. Dari pembaringan tadi, konon pihak Sam goan bun telah menarik kekuatannya secara tiba-tiba dan mengumumkan menutup diri dari kegiatan didunia persilatan, bagaimana reaksi Bok sian taysu serta Kiong sincu atas peristiwa tersebut?”

“Waktu itu mereka menjadi sewot setengah mati, malah mereka sempat mencaci maki ketua Sam goan bun habis-habisan dihadapan anggota Sam goan bun yg membawa berita itu.”

“Maksudku, bagaimana reaksi mereka terhadapku?” buru-buru Kho Beng meralat.

Li sam menggelengkan kepalanya berulang kali:

“Mereka sama sekali tidak memberikan pernyataan apapun terhadap diri majikan, dalam hal ini hamba sendiripun merasa keheranan.”

Kho Beng termenung sebentar, lalu tanyanya lagi: “apakah Sam ko mempunyai hubungan kontak dg ciciku?” Kembali Li sam mengangguk.

“Ya ada! Tapi bila tiada urusan yg amat gawat, hamba tak akan melakukannya, daripada jejak mereka ketahuan orang.”

“Beritahukan alamatnya kepadaku!” desak Kho Beng agak gelisah.

“Majikan, kau ada urusan apa?” tanya Li Sam agak terkejut.

Kho Beng menggelengkan kepala, katanya setelah menghela napas sedih.

“Kami telah berpisah sejak kecil, walaupun akhirnya pernah bertemu namun kedua belah pihak sama-sama tidak mengenal, itulah sebabnya aku ingin sekali bersua lagi dengannya!”

“Majikan, kau tidak boleh melakukan suatu tindakan hanya atas dasar emosi” kata Li Sam dg suara berat,” saat dan situasi seperti ini bukan saat yg tepat bagimu untuk berkumpul kembali, dalam masalah ini maaf kalau hamba harus merahasiakannya untuk sementara waktu.”

Kho Beng sendiripun cukup mengetahui akan bahayanya persoalan tersebut andaikata sampai bocor, maka ia menghela napas lagi setelah mendengar perkataan tersebut:

“Aaai, dalam selisih jarak sedekat ini kami hanya bisa saling tahu namun tak dapat saling bersua, takdir memang kelewat kejam mempermainkan manusia Sam ko, aku telah mempunyai suatu rencana baik yg bisa mengatur pelolosan ciciku dari kepungan!”

“Apa siasatmu itu?” tanya Li Sam lirih setelah memeriksa sekejap keadaan disekelilingnya.

Kho Beng segera mengeluarkan kertas yg telah ditulisnya semalam dan diangsurkan ketangan Li Sam, lalu katanya:

“Rencanaku telah kutulis dikertas itu, harap kau jangan membengkalaikannya dan persiapkan segala sesuatu secepatnya, dg begitu rencana tersebut bisa kulaksanakan secepatnya.”

Dg wajah tertegun Li Sam membaca sebentar isi surat itu, tiba- tiba paras mukanya berubah hebat, serunya tertahan:

“Majikan muda, buat…buat apa kau…kau membutuhkan kesemuanya itu?”

Saking terperanjatnya, ia sampai tergagap dan tidak lancar bicara.

Kho Beng tersenyum:

“Kau harus memahami perasaanku, kali ini kuharap Sam ko tidak berusaha menghalangi keinginanku lagi!”

“Majikan, jangan sekali-kali kau lakukan perbuatan bodoh” bujuk Li Sam dg suara berat, “sekalipun rencanamu dapat terlaksana secara sukses, andaikata kau sendiri sampai melakukan kesalahan, bukankah hasilnya tetap bakal berabe…”

“Tidak!” tegas Kho Beng, “kesalahan faham ini timbul dariku, jadi sudah sewajarnya kalau akulah yg bertanggung jawab, apalagi keputusanku ini sudah bulat, kuharap Sam ko tak usah berniat membujuk diriku lagi.”

“Bila cicimu mengetahui hal ini, ia pasti tak akan mengijinkan kau untuk melaksanakannya…”

Tiba-tiba Kho Beng mendelik dg marah, serunya:

“Jelek-jelek begini aku adalah seorang lelaki juga, kalau untuk melindungi cici saja tak mampu, apa gunanya membicarakan soal dendam sakit hati…” Kemudian setelah berhenti sejenak, ia sengaja menarik muka sambil katanya lagi:

“Sam ko, sebenarnya kau mampu tidak untuk melaksanakannya?

Bila menjumpai kesulitan, biar aku sendiri yg pergi berusaha.”

Li Sam menjadi terpojok, akhirnya ia menghela napas seraya berkata:

“Aaaai, kalau toh keputusan majikan sudah bulat, tentu saja hamba tak berani membantah!”

Walaupun begitu namun langkahnya tanpa terasa terhenti juga, sementara sinar matanya tertuju kearah secarik kertas yg berada ditangannya, gerak gerik serta sikapnya persis seperti orang yg kehilangan semangat…

Sebenarnya tulisan apa yg tercantum dikertas Kho Beng?

Ternyata isinya hanya sebuah daftar barang:

“Sebuah payung perak, sebotol bahan pewarna, satu stel pakaian perempuan berwarna putih, empat tahil lilin putih, satu kantong kacang kedele hitam, tiga macam perhiasan dan tusuk konde, sebuah topeng kulit kambing” semua benda itu harus sudah siap esok malam.

Tak heran Li Sam menjadi gelisah sekali membaca tulisan itu, karena dari daftar kebutuhan yg tercantum, sudah dapat diduga rencana apakah yg hendak dilaksanakan pemuda tersebut. Melihat sikap Li Sam, buru-buru Kho Beng menegur:

“Sam ko, kenapa kau? Apakah ingin memancing kecurigaan orang terhadap kita.”

Li Sam baru mendusin dari lamunannya sesudah mendengar perkataan itu, cepat-cepat ia masukan catatan itu kedalam sakunya lalu berjalan menuju ketepi telaga.

Jarak dari wisma sampai didermaga ditepi telaga paling banter Cuma enam tujuh puluh kaki, tapi dalam waktu yg amat pendek itu mereka berdua telah menyelesaikan urusannya.

Diujung dermaga berkibar sebuah panji besar yg bersulamkan seekor naga emas, sementara ditepi telaga bersandar kurang lebih lima enam puluh sampan yg berjajar sangat rapi. Kesemuanya membuat Kho Beng berpendapat bahwa pihak istana naga dibukit Kun San ini benar-benar memiliki kekuatan yg luar biasa.

Ketika melihat kehadiran mereka berdua, dua orang kelasi berbaju ungu yg semula berdiri dibawah panji besar itu serentak memberi hormat dan menyingkir kesamping menunggu mereka berdua naik keatas sampan.

Kemudian seorang meloncat keujung perahu dan lainnya melompat keburitan, dg cepat mereka mendayung sampan itu menuu kearah bukit Kun san…

Dibawah petunjuk Li Sam secara diam-diam, Kho Beng baru mengerti bahwa penjagaan yg dilakukan pada daerah sekitar Kun san benar-benar amat ketat.

Sampan yg hilir mudik diatas permukaan telaga kebanyakan adalah perahu-perahu pengontrol dari pihak Kun san. Kode rahasia mereka siang malam selalu berubah, jangan hatap orang lain dapat menyusup masuk kedalam wilayah sana tanpa diketahui.

Tiba dipantai bukit Kun san dan sepanjang jalan menuju kepintu gerbang istana naga, pos penjagaan semakin sering, begitu ketatnya penjagaan seolah-olah sedang menghadapi musuh tangguh saja.

Menyaksikan kesemuanya ini, diam-diam Kho Beng menjulurkan lidahnya karena ngeri.

Terasa olehnya situasi semacam ini betul-betul sulit untuk ditembusi dan tanpa terasa ia makin pesimis terhadap kemampuan yg dimilikinya bersama encinya.

Benarkah gara-gara sejilid kitab pusaka Thian goan bu boh dunia persilatan telah berubah menjadi demikian repot sampai saling bermusuhan satu sama lainnya.

Kho Beng yakin dibalik kesemuanya ini pasti masih terselip hal- hal yg tak beres.

Dlm perasaan yg serba kalut dan tegang, ia melangkah masuk keruang tengah istana naga yg kokoh dan megah dan untuk kesekian kalinya bertemu lagi dg Bok sian taysu serta ketua istana naga Kiong Ceng san…

Dibawah tatapan mata orang banyak, kedua orang tokoh silat ini menunjukkan sikap yg amat hangat terhadap Kho Beng, malah mereka sama sekali tidak menyinggung soal pengunduran diri anggota Sam goan bun secara tiba-tiba pagi tadi.

Tapi situasi demikian bukan berarti melegakan Kho Beng, sebaliknya ia justru semakin tak tenang, ibarat duduk diatas jarum, ia tak pernah bisa tenangkan hatinya.

Tapi Kho Beng cukup pengertian, sikap ramah dan bersahabat dari pihak lawan terhadap dirinya sekarang hanya disebabkan identitas serta asal usulnya belum mereka ketahui. Kalau bukan demikian, mungkin saja mereka telah turun tangan keji sedari tadi.

Dg susah payahperjamuan baru bisa diselesaikan tengah malam, dg perasaan yg tak karuan Kho Beng kembali kewisma dg menumpang perahu.

Malam itu boleh dikata Kho Beng tak dapat memejamkan mata, ia pergunakan sisa waktu yg ada untuk merencanakan tindakan yg harus dilakukannya esok malam….

Malam ini adalah hari ketiga setelah kedatangan Kho Beng ditelaga Tong ting.

Kentongan pertama belum lagi lewat, sesosok bayangan hitam telah menyelinap dari luar halaman wisma dan menyusup kedalam.

Baru saja bayangan itu berkelebat lewat dari tengah kebun sudah terdengar seseorang membentak dg suara nyaring:

“Siapa disitu?”

Chin sian kun sampak munculkan diri dari balik gunungan dan maju menghadang jalan pergi bayangan hitam tersebut dg gerakan tubuhnya yg enteng seperti burung walet.

Namun setelah berhasil melihat jelas wajah tamu yg tak diundang itu, seketika itu juga ia dibuat tertegun.

Ternyata pihak lawan adalah seorang perempuan berkerudung putih yg menggembol sebuah buntalan.

Nampaknya tamu yg tak diundang tersebut sudah menguasai penuh situasi disekitar tempat itu. Dg santai dia m emberi hormat kepada si burung walet berwajah ganda Chin sian kun, lalu serunya melengking:

“Chin lihiap tak usah menghalangi diriku, coba lihat bukankah Siau lim tianglo sedang memanggilmu dari balik jendela sana?”

Sembari berkata, ia menunjuk kearah belakang tubuh Chin sian kun….

Untuk kedua kalinya Chin sian kun tertegun, kemudian berpaling kebelakang dg cepat.

Tapi pada saat itulah, jari tangan kiri perempuan berbaju hitam itu telah menyodok kemuka dg cepat dan langsung mengancam jalan darah kaku tubuh Chin sian kun.

Serangannya sangat cepat bagaikan sambaran kilat, ketepatannya pun sangat mengagumkan. Dalam keadaan yg sama sekali tak siaga, tentu saja Chin sian kun tak mampu menghindarkan diri, tak ampun jalan darah tidurnya segera tertotok oleh perempuan berkerudung putih itu.

Mungkin sikapnya waktu itu kelewat teledor atau mungkin juga sikap perempuan berkerudung putih itu kelewat santai, ternyata si walet terbang berwajah ganda yg termasyur disekitar wilayah Sam siang dapat dirobohkan ditengah kebun dlm keadaan tak jelas.

Begitu berhasil dg serangannya, perempuan berkerudung putih itu segera melayang kebelakang jendela kamar tidur Kho Beng dan mengetuk tiga kali.

Waktu itu Kho Beng sedang menanti didalam kamar dg gelisah, mendengar suara ketukan tersebut cepat-cepat ia membuka jendela seraya menegur:

“Apakah Li Sam ko yg datang?”

Sesosok bayangan hitam menyelinap masuk kedalam kamar dg gerakan yg amat cepat, kemudian menutup jendela rapat-rapat.

Namun Kho Beng segera dibikin tertegun setelah menyaksikan siapa yg muncul dihadapannya, sebelum ia sempat mengucapkansesuatu, perempuan berkerudung putih itu telah meloloskan kain kerudung muka serta rambut palsunya, ternyata dia tak lain adalah penyaruan dari Li Sam yg ditunggu-tunggunya.

“Sam ko mengapa kau menyaru macam begini?” Kho Beng segera menegur dg keheranan.

Sambil tertawa Li Sam menurunkan buntalan panjang dari bahunya, lalu menjawab:

“Sejak memasuki halaman ini, hamba telah merobohkan si budak Chin sian kun, dg demikian bila kau pulang seusai pekerjaanmu nanti, siapapun tak akan mencurigai dirimu!”

Kho Beng manggut-manggut, dg cepat ia membuka buntalan tersebut., ternyata semua barang kebutuhannya sudah siap sedia.

Maka dia pun segera turun tangan menjahit kulit kambing yg dibentuknya menjadi selembar topeng, tak sampai setengah jam kemudian selembar wajah yg menyeramkan seperti muka kuntilanak telah terbentuk.

Dibawah bantuan Li Sam, ia segera menggerakkan rambut palsu, memakai baju, menggembol kantung kedele dan mempersiapkan diri. Tak selang beberapa saat kemudian, Kho Beng telah berubah menjadi seorang perempuan berwajah jelek yg mengenakan baju warna putih.

Sambil menggenggam payung putih, Kho Beng mulai berjalan dalam ruangan mempelajari cara berjalan yg tepat, lalu tanyana kepada Li Sam sambil tertawa:

“Miripkah diriku dg sikedele maut?” Li Sam segera tersenyum.

“Bagaimanapun juga selain kau seorang, belum pernah ada manusia lain yg pernah bersua dg cicimu, asal tidak terkurung, aku pikir orang lain tentu dapat dikelabui.”

Kho Beng manggut-manggut, tanyanya lagi:

“Kau sudah memberi kabar kepada ciciku?” Li Sam menghela napas panjang.

“Hamba telah berkunjung ketempat persembunyian cicimu, yakni kuil Hian tin li tokoan yg berada ditengah kota Gak yang, disitu kutemukan cicimu sudah meninggalkan tempat tersebut, sambil meninggalkan tanda “aman”. Oleh sebab itu boleh dibilang saat ini hamba sendiripun telah kehilangan kontak dgnya1”

Kho Beng tertegun.

“Apakah tanda tersebut bisa diartikan ciciku telah meninggalkan kota Gak yang dalam keadaan aman?”

“Bebicara menurut tanda itu, apakah cicimu sudah pergi meninggalkan kota ataukah hanya berpindah tempat persembunyian, hal ini baru bisa diketahui besok pagi.”

Kho Beng termenung beberapa saat lamanya, kemudian manggut-manggut.

“Untuk menghindari hal-hal yg tak diinginkan, aku akan tetap melaksanakan rencanaku semula, Sam ko, menurut penilaianmu penjagaan dibagian manakah dari pihak istana naga yg kau anggap paling lemah?”

Li Sam berpikir sejenak, kemudian menjawab:

“Jalan yg menuju kearah timur laut kota Gak yang merupakan bagian yg paling banyak penjagaannya tapi justru bagian tersebut yg paling lemah, daerah sana dijaga Kim kong sam pian, setelah keluar kota maka sepanjang perjalanan dijaga oleh orang-orang Hoa san pay, kecuali Hek pek ji lo dua sesepuh hitam putih dari Hoa san pay, lainnya tak perku dirisaukan. “Bagus sekali!” kata Kho Beng kemudian sambil manggut- manggut, “Kau harus segera pergi mencari ciciku, suruh dia berusaha meloloskan diri disaat aku memancing kawanan jago lainnya menuju kearah timur laut kota Gak yang.”

“Ada tiga persoalan yg perlu hamba laporkan kepada majikan!” kata Li Sam setelah manggut-manggut.

“Soal apa?”

“Tanda bahaya yg dipergunakan pihak mereka dimalam hari adalah asap api, apabila asap kuning yg dilepaskan berarti menjumpai bahaya, bila asap putih berarti kesalah pahaman sebaliknya bila muncul asap merah berarti jejak kedele maut telah ditemukan. Ini berarti segenap jago dari pelbagai kawasan akan segera berkumpul dari segala penjuru untuk melakukan pengepungan. Oleh sebab itu apabila cukong menjumpai tanda asap merah janganlah sekali-kali melibatkan diri dalam pertempuran sengit!”

Kho Beng segera manggut-manggut. Li Sam berkata lebih jauh:

“Soal kedua adalah soal telaga Tong ting sebagai pusat kekuatan mereka yg menembus sampai kota Gak yang. Bila menuju kearah timur laut maka penghadangan hanya terdapat pada sepanjang sungai tiang kang hingga telaga Sam hong oh, asal majikan dapat menghindari penjagaan dan mampu melewati telaga Sam hong oh berarti kau telah tiba tempat yg aman, tapi andaikata situasi amat darurat sehingga tak mampu meloloskan diri, silahkan majikan menelusuri sungai kira-kira sejauh lima puluh li, disitu terdapat hutan gelugu yg amat rimbun, asal majikan bersembunyi dibalik gelugu tadi, tentu ada orang yg akan munculkan diri untuk menolong dirimu.”

“Siapakah dia?” tanya Kho Beng agak tertegun. Li Sam segera tersenyum:

“Sampai waktunya majikan akan mengetahui sendiri.”

Selesai berkata ia segera menyembah kepada Kho Beng seraya berpesan lagi dg suara dalam:

“Harap majikan menjaga diri baik-baik, bagaimanapun juga harap kau lebih mementingkan jiwa sendiri daripada persoalan yg lain...”

Kho Beng cepat-cepat balas memberi hormat sambil menjawab: “Terima kasih banyak untuk nasehat Sam ko, seperti diketahui

maksud tuuanku hanya memancing musuh untuk meninggalkan pos penjagaan, bila keadaan tidak terlalu mendesak tak nanti kulibatkan diri dalam suatu pertarungan yg tidak menguntungkan, biarpun dendam kesumat sedalam lautan namun sebelum duduk persoalan menjadi jelas, Kho Beng tak akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran, kuharap Sam ko pun bisa membujuk cici ku agar mengurangi sifat suka membunuhnya, apalagi musuh berjumlah sangat banyak, biar dibunuh lebih banyak pun bukan berarti bisa menyelesaikan persoalan!”

Li Sam pun manggut-manggut, maka mereka berdua pun saling bertatapan beberapa saat, seakan-akan setelah perpisahan kali ini entah mereka dapat bersua kembali atau tidak.

Ungkapan perasaan yg amat tulus dan tebalpun terpancar jelas dalam detik-detik seperti ini.

Jendela belakang masih terbuka lebar, akhirnya setelah mengucapkan “jaga diri baik-baik”, Li Sam menyelinap keluar dari ruangan tersebut dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Waktu itu kentongan pertama sudah menjelang tiba, Kho Beng menunggu sampai sepeminum the lamanya semenjak kepergian Li Sam, setelah membereskan buntalan lalu ia menyusup keluar pula lewat jendela belakang.

Suasana dalam kebun amat sepi, nampaknya belum ada yg tahu kalau si walet terbang berwajah ganda telah dirobohkan orang.

Kho Beng mencoba memperhatikan sejenak suasana sekitar situ, kemudian ia bergerak menuju kearah kiri kemudian menyulut api yg telah dipersiapkan untuk membakar gedung.

Memang inilah rencananya untuk memancing perhatian musuh, menanti api sudah berkobar hingga membumbung keangkasa dan suasana gaduh memecahkan keheningan dalam wisma, ia baru tertawa seram sambil bergerak menuju kearah kota Gak yang.

Dalam gerakan mana, ia sempat melihat asap kuning telah ditembakkan ketengah udara, lalu dibawah cahaya api yg membara, ia melihat dg jelas ada lima enam sosok bayangan manusia sedang mengejar dibelakangnya…..

Diam-diam Kho Beng merasa bangga dg hasil pekerjaannya, sambil mempercepat larinya ia melompat tembok kota dan bergerak cepat menuju kearah timur laut.

--------missing page 38 – 41 ----------- …dan merupakan suatu kerjasama yg sangat rapat.

Mau tak mau Kho Beng terkejut juga menghadapi ancaman tersebut, pikirnya:

“Tak aneh kalau pihak lawan begitu tinggi hati ketika bertemu pertama kali dulu, nyatanya ilmu ruyung penakluk iblisnya betul- betul sangat hebat dan tangguh!”

Dg payung menggantikan pedang, pemuda kita tak berani bertarung lebih jauh, serangannya segera diurungkan ditengah jalan dan buru-buru melompat kesamping untuk menghindari serangan musuh.

Baru saja ia bermaksud untuk melepaskan diri dari kepungan, mendadak tampak olehnya Kim losam menyerbu datang, ruyung panjangnya disertai desingan tajam langsung mengancam batok kepalanya.

Bersamaan waktunya, terdengar dua kali bentakan nyaring bergema dari belakang tubuhnya, ia mendengar desingan suara senjata tajam menyambar tiba dan mengancam punggungnya.

Diserang dari muka dan belakang, terpaksa Kho Beng harus membuang badannya kesamping untuk menghindarkan diri.

Sebagaimana diketahui payung Thian lo san yg berada ditangannya adalah benda palsu, meski permukaan payungnya berwarna perak, namun sesungguhnya hanya tempelan kertas. Itulah sebabnya Kho Beng harus mempergunakannya dg hati-hati sekali, ia tak berani melancarkan serangan balasan, karena takut hasil penyamarannya ketahuan orang sehingga semua rencana gagal total.

Siapa tahu, pada waktu ia sedang berkelit kekiri menghindar kekanan inilah, tiba-tiba terdengar Kim li jin membentak keras, lalu terasa tangannya mengencang…

Ternyata payung bulatnya telah terlilit oleh senjata ruyung lawan Sementara itu kedua senjata ruyung lainnya telah berkelebat pula

ditengah udara, diantara kilauan cahaya, senjata-senjata itu menyambar pula kepinggangnya.

Dalam dua gebrakan sudah terjerumus dalam posisi terdesak, hal ini membuat Kho Beng yg sudah gugup dan kalut pikirannya semakin terperanjat lagi.

Ia tak berani membuang payung itu, namun bila tidak dilepaskan payung tersebut berarti gerakan tubuhnya akan terperangkap kepungan lawan, bukan hanya ancaman ruyung itu saja yg mesti diperhitungkan, terutama sergapan jago tangguh dari belakang tubuhnya.

Berada dalam keadaan seperti ini, mau tak mau Kho Beng harus mempertaruhkan selembar jiwanya.

Hawa murninya segera dihimpun kedalam payung itu kemudian sambil membentak, payung itu digetarkannya keras-keras untuk melepaskan diri dari belenggu ruyung tersebut.

Dalam getaran ini telah disertakan juga tenaga dalam hasil latihan empat puluh tahun dari Bu wi lojin, bisa dibayangkan sendiri bagaimana akibatnya…

Waktu itu sebenarnya Kim lo ji bermaksud hendak mengunci senjata Kho Beng hingga tak mampu dipergunakan lagi, siapa tahu getaran lawan membuat telapak tangannyanya menjadi belah dan berdarah.

Saking kaget dan ngerinya, ia segera menjerit keras dan melepaskan ruyungnya sambil buru-buru mundur.

Sementara itu Kho Beng telah mengayunkan payungnya mengikuti gerakannya tadi, lagi-lagi ia menggetarkan ruyung kedua sampai mencelat kebelakang.

Walaupun jurus ruyung dari Kim hong sam pian termasyur karena kehebatannya, ternyata sama sekali tidak mampu menahan getaran tenaga dalam lawan.

Dalam terkesiapnya tubuh Kim lotoa dipentalkan sampai terhuyung maju dua langkah, akibatnya ia jadi menghalangi gerak kelima orang lainnya.

Biarpun serangan yg digunakan Kho Beng sekarang belum terhitung merupakan suatu jurus serangan, namun kehebatannya sudah etrbukti dg jelas.

Maka begitu melihat situasi sudah semakin rawan, ia merasa inilah kesempatan terbaik untuk meninggalkan tempat tersebut, karenanya setelah menggetar lepas tiga buah ruyung lawan, ia menerjang maju kemuka dan berseru sambil tertawa dingin:

“He…he….he…kuampuni kedelapan lembar jiwa anjing kalian pada malam ini, sampaikan kepada keledai gundul dari Siau lim bahwa penjagaan yg dilakukan disekitar tempat ini belum cukup mampu untuk menyulitkan Kedele Maut!”

Waktu itu rasa terkejut dan ngeri yg mencekam Kim kong sam pian sekalian belum lenyap, meski Kho Beng sudah bergerak meninggalkan tempat tersebut namun untuk beberapa saat lamanya mereka masih berdiri mematung ditempat semula.

Saat ini, dalam hati kecil mereka sama mempunyai satu pandangan yg sama, yakni Kedele Maut memang nyata bukan musuh sembarangan.

Salam pada itu, dari ujung atap rumah dikejauhan sana telah muncul belasan sosok bayangan manusia, terdengar seorang diantaranya berteriak keras.

“Tanda bahaya asap merah telah dilepaskan, apakah disini telah terjadi sesuatu peristiwa?”

Buru-buru Kim lotoa menyahut:

“Kedele Maut telah melarikan diri kearah timur laut!” Kemudian sambil memandang sekejap kearah rekan-rekannya,

dia mengulapkan tangan sambil berseru lagi. “Hayo kita kejar!”

Sekali lagi kedelapan orang jago tersebut berkelebat kemuka melakukan pengejaran.

Sesungguhnya kedelapan orang jago ini sudah dibikin keder oleh kelihaian dan kemapuhan tenaga sakti Kho Beng, tapi terdesak oleh situasi dan keadaan terpaksa mereka harus melakukan pengejaran kembali.

Maka suasana didalam kota Gak yang pun menjadi sangat kalut, sekalipun tengah malam sudah menjelang, namun diatas-atas setiap bangunan rumah telah dipenuhi oleh jago-jago lihay dari dunia persilatan, bayangan manusia berkelebat kian kemari dg cepatnya.

Memanfaatkan situasi yg sangat kalut ini, Kho Beng segera menghimpun tenaga dalamnya dan melompati pintu utara kota Gak yang untuk kabur menuju kearah timur laut.

Walaupun ia berhasil lolos dari kepungan, tapi sesungguhnya pemuda ini merasa terkejut juga sampai mandi keringat dingin.

Padahal menurut Li Sam, penjagaan daerah sini terhitung penjagaan terlemah, tapi kenyataannya dg kemampuan yg dimiliki Kim kong sam pian pun nyaris penyamarannya terbongkar, bisa dibayangkan betapa ketat dan kokohnya penjagaan diposisi lain.

Sekarang ia berpendapat untuk sedapat mungkin berlomba dg waktu, atau dg perkataan lain ia harus dapat meninggalkan tempat tersebut setelah lawan melepaskan bom asap merah dan sebelum bala bantuan dari pelbagai penjuru memburu kesitu dan mengepungnya. Sebab kalau tidak begitu sama artinya rencana yg dilaksanakan menemui kegagalan total, apalagi bila ia sampai terkurung hingga tertangkap, akibatnya tentu susah diramalkan.

Berpikir sampai disitu tanpa terasa ia menambah tenaganya dg dua bagian untuk kabur sekuat tenaga.

Dalam waktu singkat tiga li sudah dilalui, disisi kirinya telah membentang sungai Tiang kang yg luas sementara disisi kanannya adalah lapang datar, dimana jauh beberapa li dari sisi jalan baru kelihatan beberapa rumah penduduk.

Sementara ia masih berlarian kencang, tiba-tiba dari rumah penduduk disisi kanan jalan menyembur keluar bom asap merah yg meledak ditengah udara menyusul kemudian tampak tiga sosok bayangan hitam munculkan diri dari balik rumah dan meluncur sejauh lima kaki di depan.

Dalam waktu singkat mereka telah menghadang ditengah jalan dg pedang terhunus.

Sekarang Kho Beng baru mengerti bahwa pihak jago persilatan telah memanfaatkan pula rumah penduduk sebagai pos penjagaan, tak heran kalau meeka bisa melaksanakan penjagaan siang malam tanpa henti.

Karena para penjaga telah tampilkan diri, mau tak mau kho Beng harus bersikap tenang, sambil mempersiapkan payung bulatnya, pelan-pelan ia mendesak maju kemuka dan berseru sambil melengking:

“apakah murid hoa san pay yg menghadangku? Hmmm, nampaknya kalian sudah bosan hidup!”

Seperti diketahui, umat persilatan sudah mempunyai kesan jelek terhadap Kedele Maut, yakni seorang pembunuh yg buas dan berhati keji, karena itulah dia sengaja menggertak dg maksud merontokkan dulu moril lawan.

Betul juga paras muka ketiga jago Hoa san pay yg berusia antara tiga puluh tahunan dan memakai pakaian ringkas hitam segera berubah hebat, seakan-akan mereka merasakan datangnya ancaman maut yg setiap saat dapat menimpa dirinya atau secara lamat-lamat mereka berpendapat bahwa mereka bertiga pasti akan tewas apabila Kedele Maut sampai turun tangan.

Salah seorang diantaranya segera memandang sekejap kearah rekannya, sambil menempelkan pedang didepan dadanya ia memberi hormat kepada Kho Beng dan berkata dg suara gemetar: “Berhubung tanda bahaya asap merah telah dilepaskan, Hoa san sam kiam menanti dg hormat kedatangan cianpwee!”

Kho Beng tertegun, reaksi dari lawannya sama sekali diluar dugaan, terutama sekali sebutan “cianpwee” tersebut, hampir saja membuatnya tertawa geli.

Tapi diluaran dia sengaja mendengus dingin, kemudian dg suara yg tinggi melengking katanya:

“Hmmm, tiga pedang dari Hoa san yg cerdik, rupanya kalian hendak merayuku dg sikap tak hormat?”

Buru-buru pemimpin dari tiga pedang tersebut berkata lagi dg hormat:

“Aku yg muda tak berani bersikap kurang ajar pada Cianpwee, kami hanya berharap cianpwee suka menunggu sebentar saja disini!”

Kho Beng tertawa terkekeh-kekeh, sambil memutar payungnya ia menjengek lagi dingin:

“Ooooh, kau suruh aku menunggu disini agar orang-orangmu datang kemari dan mengeroyokku seorang diri?”

Tiga pedang dari Hoa san pay nampak terkejut, sebelum mereka sempat berkata sesuatu, Kho Beng telah membentak lagi dg suara lengking:

“Hmm, tak nyana kalian menyembunyikan golok dibalik senyuman, bagus sekali jangan kabur dulu rasakan payung saktiku ini!”

Sambil membentak keras gerakan payungnya digetarkan sedemikian rupa hingga tercipta sebuah lingkaran cahaya putih yg amat menyilaukan mata kemudian menerobos kemuka dan menusuk tubuh pemimpin dari ketiga jago pedang tersebut.

Berubah hebat paras muka tiga pedang sakti dari Hoa san karena mereka tidak mengira perbuatan sakti apakah yg tersembunyi dibalik jurus serangannya, ternyata tak seorang berani menangkis atau pun menghadapinya.

Tanpa membuang waktu, serentak mereka bergerak mundur sejauh tiga depa lebih dari posisi semula.

Padahal memang inilah keinginan Kho Beng, memanfaatkan kesempatan tersebut ia menerjang kedepan tiga pedang dari Hoa san seraya membentak lagi:

“Mengingat kalian bersikap sopan kepadaku, untuk sementara waktu kuampuni jiwa kalian pada malam ini, sampaikan kepada ketua partai kalian agar segera menarik kembali anak buahnya dan jangan mencampuri urusan orang lain!”

Berbicara sampai disitu, tubuhnya sudah melompat sejauh dua puluh kaki dari posisi semula.

Mnanti musuhnya sudah pergi jauh, paras muka tiga pedang dari Hoa san lambat laun baru pulih kembali ari ketegangan.

Ketika dilihatnya, dari kota Gak yang telah berdatangan serombongan jago persilatan, buru-buru pemimpin dari Hoa san sam kiam membentak keras:

“Bala bantuan telah datang, mari kita kejar!”

Kho Beng terkejut sekali, rasa tegang kembali menyelimuti seluruh perasaannya.

Ia sadar, tak boleh berdiam lebih lama disitu, bila murid-murid Hoa san pay sampai berhasil mengejar dan mencegatnya sedang jago-jago lihay dari kota Gak yang segera akan berhamburan datang, niscaya ia akan terjepit dan terkepung sama sekali.

Bila hal seperti ini terjadi, tak pelak lagi jiwanya tentu akan terancam bahaya maut.

Setelah berpikir berapa saat akhirnya ia menjadi nekad untuk kabur kedepan lebih jauh.

Lebih kurang satu kentongan kemudian ia berlarian tanpa arah tujuan, akhirnya dari antara pepohonan yg lebat ia berhasil menemukan sebuah jalan setapak yg entah berhubungan sampai dimana.

Dalam keadaan seperti ini, tiada kesempatan lagi buat Kho Beng untuk berpikir panjang, begitu menjumpai jalan setapak ia segera menelusurinya dg cepat.

Siapa tahu belum sampai satu li, tiba-tiba dari balik sebatang pohon terdengar seseorang membentak keras:

“Berhenti! Sobat darimana yg datang kemari tengah malam begini? Ada urusan apa kau kemari?”

Ditengah bentakan, tampak sesosok bayangan manusia meluncur kedepan dg kecepatan tinggi dan menghadang jalan perginya ternyata dia adalah seorang tosu setengah umur yg memakai baju warna kuning.

Kho Beng sama sekali tidak menyangka kalau dijalan sesepi inipun terdapat musuh, dalam kagetnya cepat-cepat dia menghentikan langkahnya sambil memutar senjata payung dan berlagak seolah-olah hendak menyebarkan kedele mautnya. Lalu dg suara tinggi melengking ia membentak keras: “Tosu setan! Buat apa kau banyak bertanya, memangnya

matamu sudah buta sehingga tak bisa mengenali siapakah diriku?”

Walaupun tosu itu baru berusia tiga puluh tahunan, namun sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, jelas kalau dia adalah seorang jago persilatan yg berilmu tinggi.

Tatkala mendengar teguran tersebut, serta merta ia memperhatikan lawannya dg lebih seksama, air mukanya segera berubah hebat, tanpa sadar tubuhnya mundur dua langkah kebelakang, serunya tertahan:

“Jadi andakah si Kedele Maut?” Kho Beng tertawa dingin.

“He…he…he….setelah tahu siapakah aku, buat apa kalian berdiri mematung terus disitu?”

Ternyata reaksi dari tosu itu cukup cekatan, tiba-tiba dia mengayun kan tangan kirinya dan….

“Sreeeettt…….”

Sebuah bom udara berasap merah sudah dilepaskan dan meledak ditengah udara.

Melihat perbuatan lawannya ini diam-diam Kho Beng tertawa geli, pikirnya:

“Tak nyana perbuatan mereka sama satu dg yg lainnya….Cuma tosu ini dari partai mana? Seingatku, hanya Kio kiong dan Bu tong saja yg beranggota tosu?”

Meskipun ingatan tersebut melintas dalam benaknya, namun ia tak berani berayal lagi, secepat anak panah yg terlepas dari busurnya, dia segera melintas lewat dari samping tosu itu meluncur kedepan dg kecepatan tinggi.

Tosu itu nampak agak tertegun, mungkin lantaran ucapan Kho Beng maka dia masih mengira akan terjadi pertempuran yg amat seru.

Siapa tahu, si Kedele Maut yg sudah termasyur karena keganasannya ternyata meninggalkan korbannya dg begitu saja tanpa terjadi pertarungan barang satu dua juruspun.

Dg cepat ia segera menggerakkan tubuhnya melakukan pengejaran, bentaknya keras:

“Hei, tunggu sebentar!” “Kho Beng menegur, dia tak menyangka musuhnya masih menghalangi kepergiannya padahal ia sedang berperan sebagai Kedele Maut yg disegani sekarang.”

Mau tak mau pemuda tersebut harus menghentikan langkahnya, lalu sambil menatap tosu tersebut dg pandangan dingin, tegurnya keras-keras:

“Apakah kau sudah bosan hidup?”

Tosu setengah umur itu tertawa nyaring.

“Pinto Leng hun menjabat sebagai pemimpin pelindung hukum dari Bu tong pay, meski takut mati namun tak akan kulepaskan iblis keji macam anda dg begitu saja, pinto merasa berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan didunia ini. Apa artinya mati hidup buat diriku ketimbang memberantas kejahatan dari muka bumi? Karenanya sebelum anda dapat membinasakan diriku, jangan harap bisa pergi meninggalkan tempat ini dg leluasa…!”

Begitu selesai berkata, pedangnya langsung digetarkan dan menusuk ke uluhati Kho Beng.

Mengingat musuhnya sudah termasyur karena ketangguhan dan keganasannya, maka tosu dari Bu tong pay ini tak berani bertindak gegabah, untuk menghindari segala kemungkinan yg tak diinginkan, begitu turun tangan ia segera mengeluarkan jurus “cahaya hitam bayangan memecah” yg merupakan jurus serangan paling tangguh dari ilmu pedang Thian hiam kiam hoat, ilmu andalan Bu tong pay.

Tidak terlukiskan rasa terkejutnya Kho Beng, dg cepat ia eyusut mundur kebelakang kemudian menyilangkan payungnya didepan dada sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

Ia sadar kalau dirinya sudah terjerumus kedalam kawasan yg dijaga oleh pihak Bu tong pay, dan lebih-lebih tak diduga olehnya adalah sikap jantan dan berani mati yg diperlihatkan musuhnya kendatipun hanya dia seorang.

Padahal Leng hun totiang termasuk pimpinan dari kedelapan pelindung hukum partai Bu tong pay, bukan saja termasuk jago paling muda yg sangat menonjol dalam tubuh Bu tong pay sendiri, sekalipun dalam dunia persilatan pun termasuk jago pilihan.

Serangkaian ilmu pedang Thian hian kiam hoatnya telah mencapai tingkat sempurna yg hampir seimbang dg kemampuan ketua Bu tong pay dewasa ini. Lebih-lebih lagi, biarpun dia termasuk seorang pendeta, namun keangkuhannya melebihi orang biasa, itu sebabnya sikap, jalan pemikiran maupun tindakannya berbeda sekali dg orang-orang Hoa san pay.

Sudah lama sekali ia berhasrat untuk bertarung melawa Kedele Maut dg harapan bisa menaikkan pamor partai Bu tong pay dimata masyarakat, bayangkan saja bagaimana mungkin dia mau melepaskan kesempatan yg sangat baik setelah bersua dg Kedele Maut gadungan saat ini?

Gagal dg serangan yg pertama, ia segera tertawa seram sambil berseru:

“Telah lama kudengar akan kegemaran anda membunuh orang, aku pun dengar tenaga dalammu amat sempurna dan kepandaian silatmu sangat hebat. Sekarang, mengapa kau tak berani turun tangan? Ataukah kau sudah pecah nyali setelah berhadapan dg orang-orang golongan lurus? Nih rasakan dulu kehebatan ilmu pedang Bu tong pay ku ini?”

Ditengah pembicaraan, jurus serangannya “cahaya hitam bayangan berpisah” segera diubah menjadi gerakan “langit dan bumi menyatu”, pedangnya dg dilapisi cahaya terang segera menyelimuti seluruh badan Kho Beng.

Dua jurus serangan yg dilancarkan berantai, sesungguhnya sararan yg berlawanan, namun kenyataannya bisa dipergunakan sembung menyambung, hal ini membuktikan bahwa ilmu pedang Bu tong pay memang benar-benar luar biasa, kehebatannya tiada bandingannya didunia ini.

Kho Beng merasa terkejut bercampur mendongkol, ia tak berani melayani musuhnya terlalu lama, apalagi tanda bahaya sudah dilepaskan, berarti sebentar lagi kawanan jago akan segera berdatangan, apa jadinya bila ia sampai terkepung?
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏