Kedele Maut Jilid 08

 
Jilid 08

Apa sebabnya dia bisa peroleh penghormatan setinggi ini? Tak perlu ditebak pun sudah jelas. Hal ini disebabkan Kho Beng berhasil membongkar kedok rahasia daei si Kedele Maut hingga membuat sebuah pahala besar. Atau dg kata lain dialah yg kemungkinan besar akan mendapatkan Buddha Emas dari Siau lim pay dan panji perak dari Bu tong pay, jelas masa depannya amat cemerlang.

Tapi siapa pula yg menduga bahwa sesungguhnya Kedele Maut adalah kakak kandung Kho Beng sendiri?

Kho Beng yang berada dibawah perhatian beratus mata benar- benar merasa sangat tidak tenang, bagaikan duduk dikursi berjarum, dia tidak bisa melukiskan bagaimanakah perasaannya waktu itu.

Ketika melihat Kiong ceng san menghormatinya dg arak, meski Kho Beng tak pandai minum, dalam keadaan demikian dia memang perlu meminjam pengaruh alkohol untuk membangkitkan semangatnya, maka tanpa berpikir panjang dia meneguk tiga cawan arak dan membalas dg tiga cawan pula.

Setelah enam cawan masuk keperut, mukanya mulai merasa panas dan semangatnya berkobar pula, tapi ketika jago lain ikut menghormatinya dg arak, pemuda itu mulai mengeluh.

Bila ditolak hal ini berarti tidak menghormati orang lain, jika tidak ditampik, ia pasti akan mabuk padahal keselamatan jiwa encinya sedang terancam…

Untunglah disaat inilah tiga ruyung raksasa dapat menyelamatkan Kho Beng dari kesulitan.

Buru-buru Kim lotoa berdiri seraya berkata:

“Para cianpwee dan saudara sekalian, baru saja Kho siauhiap tiba disini, sewaktu ditemukan kedua ekor kudanya sudah roboh dan siauhiap sendiri mandi peluh, konon ada berita yang lebih penting lagi hendak disampaikan, aku rasa kita tidak boleh menunda-nunda kesempatan siauhiap untuk berbicara.

Ternyata perkataan tersebut segera mendatangkan hasil yg luar biasa, diiringi seruan kaget para jago bersama-sama menghentikan perbuatannya dan duduk kembali dg wajah tegang.

Dibawah perhatian begitu banyak orang, seketika itu juga Kho Beng merasakan tekanan yg sangat berat, buru-buru dia berkata:

“Yaa, hampir saja aku melupakan suatu persoalan besar padahal sejak pagi tadi aku menyusul kemari dg menggunakan dua ekor kuda secara bergantian dg menempuh perjalanan sejauh dua ratus li lebih, sebetulnya ada berita tentang Kedele Maut yg hendak kusampaikan...”

Begitu perkataan tersebut diucapkan, seruan kaget kembali bergema memenuhi seluruh ruangan. Sekali lagi paras muka Liong kiong sincu Kiong ceng san berubah hebat, segera tanyanya:

“Apakah kau berhasil mendapatkan penemuan baru?” Dg berlagak serius Kho Beng berkata:

“Pagi tadi aku telah mendapat serangan gencar, pihak lawan dg segenggam kedele yg dusebarkan seperti bunga hujan mengancam tubuhku dg hebat, andaikata aku tidak tahu diri dan pandai menunggang kuda, mungkin jiwaku telah melayang sejak pagi tadi.”

Dg wajah berubah hebat Liong kiong sincu berseru tertahan: “Kau mengatakan si Kedele Maut telah menyergapmu?”

Kho Beng manggut-manggut.

“Yaa, yg kumaksudkan memang Kedele Maut, disamping itu akupun perlu menerangkan kepada cianpwee sekalian bahwa Kedele Maut telah muncul dg wajah aslinya, ternyata dia adalah seorang peempuan berambut hitam yg berusia tiga puluhan dan bermuka jelek seperti kuntil anak, sebaliknya dua perempuan yg meski berparas agak lumayan namun dandananya justru kebanci-bancian, mirip sekali dg bocah bodoh…”

Keterangan bohong yg diutarakan olehnya ini segera menimbulkan seruan kaget daris seluruh jago yg ada.

Tak tahan lagi Liong kiong sincu berseru:

“Menurut utusan yg dikirim dari Sam goan bun dijelaskan bahwa Kedele Maut adalah seorang nona berusia dua puluhan berwajah cantik jelita dan menggunakan payung sebagai senjata, sedang dua orang dayangnya menggunakan ikat pinggang perak, apakah utusan dari Sam goan bun telah salah menyampaikan…?

“Tidak, berita dari utusan Sam goan Bun memang begitulah keterangannya.”

“Lalu apa sebabnya wajah kedele maut bisa berubah lagi?” tanya Liong kiong sincu tak habis mengerti.

“Menurut dugaanku, bisa jadi Kedele maut yg kujumpai untuk yg pertama kalinya dikota Tong sia tempo hari adalah wajah penyamaran mereka.”

Mendengar keterangan tersebut, Liong kiong sincu segera menghela napas panjang:

“Aaaai, kalau begitu pengepungan kita yg ketat disekitar Gak yang dan telaga Tong ting kembali akan sia-sia belaka?”

“Kiong tayhiap jangan keburu putus asa!” mendadak dari sisi Kho Beng berkumandang seruan yg berat tapi penuh bertenaga. Cepat-cepat Kho Beng berpaling, ternyata sipembicara adalah seorang pendeta tua beralis mata putih yg waktu itu sedang mengawasi kearahnya dg pandangan tajam.

Kho Beng sangat terkejut setelah menghadapi kejadian ini, dia tak tahu siapakah pendeta tua ini sebab Kiong ceng san belum sempat memperkenalkan kawanan jago itu satu persatu kepadanya.

Yg membuat dia tak tenteram adalah ketajaman mata sang pendeta yg ibarat pisau tajam siap menyayat hatinya itu, pandangan semacam itu terasa tajam dan menggidikkan hati.

Dia seakan-akan mencurigai Kho Beng tapi seperti juga sedang mencari sesuatu dari tubuh pemuda tersebut, pokoknya pandangan tersebut mengartikan banyak sekali tapi justru karena banyak mengandung maksud hingga pada hakekatnya susah dicernakan dg begitu saja.

Satu ingatan dg cepat melintas dalam benak Kho Beng, pikirnya: “Mungkinkah dibalik keteranganku tadi terdapat titik

kelemahannya? Ataukah mungkin dia sudah mengetahui rencanaku?”

Sementara dia termenung, pendeta tua itu sudah berkata dg suara dalam:

“Siau sicu banyak hal yg tidak kupahami, bersediakah sicu memberi keterangan?”

“Tentu saja, silahkan taysu bertanya?”

“Darimana siau sicu bisa mengatakan bahwa orang yg menyerangmu pagi tadi adalah si kedele maut?”

Terhadap pertanyaan semacam ini Kho Beng memang telah menyiapkan jawabannya, maka sambil tersenyum segera jawabnya:

“Dalam dunia persilatan dewasa ini, selain Kedele Maut, siapa pula yg menggunakan biji kedele sebagai senjata rahasianya?

Apalagi sekalipun wajahnya telah berubah namun senjata yg digunakan tetap berupa payung bulat, kalau tidak mana berani kukatakan seyakin ini?”

Pendeta itu segera manggut-manggut, dia kembali berkata: “Perkataan itu benar juga, apalagi jika dilihat dari tindakan Kedele

Maut yg melanggar kebiasaannya dg menyerangmu disiang hari, jelas kalau dia telah berniat membunuhmu, hanya saja masalah yg ingin kuketahui adalah atas dasar apa sicu dapat mengatakan secara yakin bahwa kedele maut yg kaujumpai hari ini adalah wajah aslinya sedang wajah yg kau jumpai dikota Tong sia adalah wajah palsu hasil penyaruannya?”

Dg cepat Kho Beng telah menyadari akan kelihaian si pendeta tua ini, sebab setiap pertanyaannya boleh dibilang seperti pisau tajam yg langsung menusuk ulu hati, andaikata ia tidak melakukan persiapan secara matang sudah pasti semua kebohongannya akan terbongkar.

Maka dg wajah yg kalem dia menjawab:

“Memang sangat beralasan bila taysu mengemukakan kecurigaannya, tapi aku bisa berkata demikian karena berdasarkan dua buah kesimpulan yg kubuat.

Pertama, kejadian yg berlangsung pada hari ini terjadi dipagi hari, aku dapat melihat wajahnya dg lebih jelas, terbukti pihak lawan memang tidak mengadakan penyamaran karena kulit wajahnya sewarna dg kulit tangannya, jadi dia tidak mungkin memakaii kedok, sebaliknya dikota Tong sia, hal itu terjadi tengah malam, segala sesuatu yg terlihat sukar dipastikan kebenarannya.

Dg dua kali perjumpaan dalam saay yg berbeda serta bentuk yg berbeda pula, maka setelah kupikirkan kembali secara masak-masak, akhirnya kusimpulkan penampilannya pagi tadi barulah merupakan wajah aslinya.

Kedua, biarpun dalam dua kali perjumpaan ia muncul dg dua wajah yg berbeda, semua senjata yg digunakan tak berubah, sedang jumlah mereka yg bertiga satu majikan dua dayang pun tak berbeda pula, ditambah lagi nada perkataannya sewaktu hendak membunuhku, sudah pasti dia adalah Kedele Maut. Nah, atas dasar dua hal inilah kusampaikan beritaku tadi. Apakah taysu masih ada yg tidak jelas?”

Pendeta tua itu terbungkam dalam seribu bahasa, tapi wajahnya masih susah diduga bagaimanakah perasaannya sekarang, mukanya tetap tawar dan tatapan matanya tetap tajam, kesemuanya ini membuat Kho Beng tak bisa menduga apa gerangan yg sedang dipikirkan hwesio tersebut.

Liong kiong Kiong ceng san segera menghela napas panjang, katanya:

“Sekalipun penjagaan dan pengepungan yg kita lakukan sangat rapat, mata-mata tersebar dimana-mana dan pos penjagaan berlapis-lapis, namun setelah dilihat dari kenyataannya sekarang, sekalipun Kedele maut belum sampai lolos dari wilayah disekitar sini, rasanya untuk berhasil menangkap mereka pun belum tentu menjadi kenyataan.”

Para jago lainnya sama-sama terbungkam dg wajah lesu, jelas keputus asaan Kiong ceng san telah mencerminkan pula perasaan dari kawanan jago lainnya.

Kho Beng segera merasa inilah saat baik untuknya mengundurkan diri, mencari tempat dan berdiam sendirian untuk berpikir lebih jauh, dia ingin memeriksa apakah semua rencananya telah sempurna atau belum, bila terjadi perubahan berarti dia masih sempat menghadapinya dg cara kedua yg telah dipersiapkan.

Tapi ia percaya, dg perbuatannya itu maka tujuannya mengacaukan berita yg sesungguhnya telah tercapai, paling tidak, hal tersebut akan menambah kesulitan dan kebingungan kawanan jago tersebut.

Dg demikian iapun berhasil pula merebut sedikit waktu, agar kakak kandungnya berupaya untuk meloloskan diri dari kepungan pengawasan kawanan jago yg berada seratus li disekeliling telaga Tong ting dan kota Gak yang.

Maka dg berlagak sangat lelah karena menempuh perjalanan jauh, ia menjura kepada para jago disekeliling tempat itu sambil katanya lagi:

“Sejak mengalami penyergapan sampai melakukan perjalanan jauh ketempat ini, aku yg muda belum sempat beristirahat barang sekejappun, aku merasa amat lelah dan mohon maaf jika aku yg muda harus undur diri lebih dulu untuk beristirahat.”

“Aaaai benar! Aku tidak berpikir sampai kesitu.” Liong kiong sincu Kiong ceng san segera berkata, “Kalau begitu biar kumohon tiga bersaudara Kim untuk menemani siauhiap beristirahat ditepi telaga, besok pagi aku akan mengirim orang lagi untuk mengundang sauhiap.”

Kho Beng mengucapkan terima kasih dan segera meninggalkan tempat duduknya.

Saat itulah pemuda itu merasa ada sepasang mata yg amat tajam sedang mengawasinya tanpa berkedip. Pandangan semacam itu delapan puluh persen persis seperti pandangan si pendeta tua tadi.

Pandanga itu beraal dari meja kedua dekat dinding, maka buru- buru ia melirik sekejap kesana, ternyata dia adalah seorang sastrawan setengah umur yg memakai baju hitam, wajah orang itu terasa asing baginya. Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa kewaspadaannya ditingkatkan…

Ia sadar, berhasil atau tidaknya tipu daya yg sedang dilaksanakan untuk melindungi keselamatan jiwa encinya, bisa jadi akan tergantung pada tindakan yg akan dilakukan sastrawan berbaju hitam serta pendeta tua itu.

Biarpun hati kecilnya merasa terkejut, namun paras mukanya sama sekali tidak berubah, dg langkah yg amat santai ia menuruni rumah makan Ui hok lo.

Dibawa bimbingan tiga cambuk Kim kong sam pian, berangkatlah pemuda itu menuju kewisma yg berada ditepi telaga.

Jarak antara wisma dg rumah makan Ui hok lo hanya beberapa kaki, bangunan itu menghadap kearah telaga dg sisi kanannya menghadap pintu gerbang kota Gak yang, sebelah kiri menghadap rumah makan Ui hok lo dan belakangnya menempel bukit Kun san. Sesungguhnya tempat itu merupakan tempat yg amat strategis.

Akhirnya Kho Beng diajak masuk keruang sebelah kiri dideretan kedua wisma itu.

Sebelum berpamitan, Kim lotoa sempat berpesan:

“Sauhiap, bila kau membutuhkan sesuatu, silahkan saja minta kepada petugas wisma, besok pagi kami akan datang menjenguk sauhiap lagi.”

Buru-buru Kho Beng mengucapkan terima kasih.

Sepeninggalnya Kim kong sam pian, iapun menutup pintu dan naik kepembaringan untuk mengendorkan urat-urat badan.

Walaupun rasa lelah dan mengantuk datang menyerang secara bertubi-tubi, Kho Beng tak berani memejamkan mata barang sekejappun, sorot mata sastrawan berbaju hitam dan pendeta tua yg tajam mengiriskan itu selalu berkecamuk didalam benaknya.

Kesemuanya itu membuat anak muda ini mau tidak mau mesti meningkatkan kewaspadaannya agar dapat menghadapi setiap perubahan setiap saat.

Maka dia memaksakan diri menahan rasa kantuk dan lelah yg luar biasa dan duduk bersila diatas pembaringan, lalu mengatur napas menurut ajaran si Unta sakti berpunggung baja.

Setelah mengatur pernapasannya tiga kali, pelan-pelan Kho Beng mulai merasakan hatinya tenang, pikirannya kosong dan memasuki tahap lupa akan sekelilingnya. Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba pintu kamar dibuka orang, kemudian tampaklah sesosok bayangan manusia menyusup kedalam kamar...

Mendengar desingan suara itu segera Kho Beng membuka matanya kembali, ternyata orang yg menyusup kedalam ruangannya tak lain adalah sastrawan berbaju hitam.

Dg perasaan terkesiap cepat-cepat ia melompat bangun lalu dg lagak keheranan ia menegur:

“Ooooh rupanya saudara, ada urusan apa sih?”

Setelah merapatkan kembali pintu kamar, Sastrawan berbaju hitam itu mengawasi wajah Kho Beng dg pandangan yg amat tajam, kemudian pelan-pelan ia baru bertanya dg suara berat dan dalam:

“Aku hanya ingin bertanya kepada sauhiap, apakah dalam sakumu terdapat suatu benda?”

“Benda apa yg saudara maksudkan?” tanya Kho Beng setelah diam-diam tertegun sejenak.

“Sebuah lencana kemala hijau bergambar naga.”

Sekali lagi Kho beng merasakan hatinya bergetar keras, segera tegurnya dg suara dalam:

“apa maksudmu menanyakan persoalan ini?”

Dg sikap yg tetap dingin dan kaku, sastrawan berbaju hitam itu berkata:

“Sauhiap masih ingat dg orang yg meninggalkan uang di Kwan tong dan tak pernah muncul kembali?”

Kho Beng menjadi tertegun, setelah agak ragu sejenak, bisiknya: “Jadi kau....kau adalah...”

“Aku Li sam” tukas sastrawan berbaju hitam itu, “Nah sekarang sauhiap dapat memberi penjelasan.”

“Li sam..? Li sam..?” Kho Beng mengulangi nama tersebut sampai beberapa kali. Mendadak ia merasakan semangatnya berkobar, kejut dan gembira segera serunya:

“Jadi kau adalah Li sam yg dimaksudkan Kho lo tia.”

Sikap sastrawan berbaju hitam yg semula dingin dan kaku, tiba- tiba saja berubah menjadi amat sedih, bisiknya lirih:

“Kalau begitu, sauhiap adalah majikan kecil dari Li sam, sungguh amat sengsara hamba mencari jejakmu...”

Sembari berkata, ia segera menjatuhkan diri berlutut diatas lantai...

Buru-buru Kho Beng membangunkannya, seraya berbisik: “Kakak Li sam, harap kau jangan memanggil aku dg sebutan tersebut, bolehkah aku tahu apa hubunganmu dg Kho lo tia?”

“Kami adalah guru dan murid” sahut Li sam dg sikap menghormat, “Hamba sudah lima belas tahun lamanya belajar silat dari dia orang tua...”

“Kho lo tia sangat berhati baik dan setia kepada ayahku, diapun banyak melepaskan budi kebaikan kepada aku Kho beng, dan selanjutnya kita saling menyebut saudara saja, biar kusebut kau Sam toako.” Beberapa patah kata itu diucapkannya dg nada tulus dan jujur.

Dg perasaan gugup Li sam segera berseru:

“Aaaah, hal ini mana boleh jadi? Selama lima belas tahun terakhir hamba selain mendengar suhu membicarakan soal majikan muda, ia minta kepadaku untuk berbakti dan setia kepadamu, hubungan kami tak boleh lebih dari hubugnan antara majikan dan hamba, biar hamba bernyali setinggi langit pn tak berani membangkang pesan guruku ini.”

Dalam keadaan seperti ini Kho Beng enggan ribut dgnya, maka kembali ujarnya dg sedih.

“Apakah kau sudah tahu bahwa Kho lo tia tewas dibokong orang?”

Dg air mata bercucuran Li sam mengangguk:

“Gara-gara ada urusan, hamba datang terlambat, waktu majikan telah pergi meninggalkan tempat tersebut. Tapi dari penyelidikan hamba sudah terbukti bahwa suhu tewas dikarenakan jarum pembeku darah penghancur tulang Kiang Thian kut, kini jenasah suhu sudah kukebumikan!”

“Sam ko, segala sesuatunya tak usah terburu-buru diselesaikan,” hibur Kho Beng dg suara dalam, “Semua dendam sakit hati mari kita catat dulu menjadi satu, kemdian baru kita tuntut balas satu persatu, mari kita duduk dulu sambil berbincang bincang.

“Tidak” tukas Li sam cepat, “Kedatangan hamba kemari karena ingin memberitahukan suatu urusan penting kepadamu, Majikan kau segera meninggalkan tempat ini!”

“Sebenarnya apa sih yg terjadi?”

“Tahukah majikan muda bahwa Kedele Maut yg digembar gemborkan orang selama ini sesungguhnya enci kandungmu sendiri?”

Kho Beng segera menghela napas panjang. “Aaaai...justru lantaran aku terlambat mengetahui asal usulku yg sebenarnya sehingga kesalahan yg amat besar ini telah kuperbuat. Justru karena persoalan inilah tergesa-gesa aku datang kemari dg maksud hendak menanggulanginya secepat mungkin...”

“Majikan muda” kata Li sam sambil menghela napas pula, “Walaupun tindakanmu ini sangat pintar, namun dapatkah kau kelabui kawanan rase-rase tua itu? Mumpung sekarang masih ada kesempatan, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini, aku kuatir bila sedikit terlambat lagi, kau tak akan punya waktu untuk meloloskan diri.”

Biarpun dalam hati kecilnya Kho Beng merasa amat tegang, namun setelah dipikir sebentar, segera jawabnya lekas:

“Tidak! Aku mesti menyelesaikan dulu persoalan ini sampai sejelas-jelasnya, aku rasa bohongku barusan sangat rapi dan tiada hal-hal yg mencurigakan, bagaimana mungkin mereka bisa mengetahui kebohonganku itu?”

“Majikan muda, walaupun alasan yg kau kemukakan memang sangat jitu dan hebat, namun gerak gerikmu justru sangat mencurigakan.”

“Apakah maksudmu si pendeta tua yang menaruh curiga kepadaku?” tanya Kho Beng kemudian sambil berkerut kening.

Li sam manggut-manggut:

“Majikan muda, tahukah kau siapakah si keledai gundul itu?” “Siapakah dia?”

“Dia adalah Bok sian tianglo, salah satu diantara Ngo heng ngo cun lima sesepuh lima unsur dari ruang Tat mo wan kuil Siau lim si”

Kho Beng merasa terperanjat sekali, serunya tertahan: “Aaai, rupanya dialah Bok isan tianglo dari Siau lim pay,

waaah. celaka!”

“Persoalannya mah belum sampai serunyam itu, meski si keledai gundul itu sudah menaruh kecurigaan terhadap majikan muda, namun ia belum berani memastikan secara seratus persen bahwa apa yg dikatakan majikan hanya bohong belaka.”

“Sebetulnya dari persoalan manakah, si keledai gundul itu bisa menemukan penyakitku?”

“Keledai gundul itu beranggapanmeski apa yg dikatakan majikan masih sukar dibedakan antara sungguh dan tidaknya, namun tindakanmu datang ketelaga Tong ting ini justru menimbulkan masalah besar. Sebab kalau dibilang kau sedang kabur menyelamatkan diri, jalan raya yg menebus keseluruh negeri toh luas dan banyak, mengapa kau justru begitu kebetulan memilih jalan yang yang menuju ketelaga Tong ting? Sebaliknya kalau dibilang kau khusus datang kemari untuk menyampaikan kabar, mengapa berita tersebut tidak kau sampaikan dulu kepada rekan-rekan persilatan yg lain tapi justru jauh-jauh datang ketelaga Tong ting ini? Bukankah tindakan semacam ini jauh dari kebiasaan?”

Kho Beng segera merasakan hatinya menjadi lega setelah mendengar perkataan itu, katanya sambil tertawa ringan:

“Siapa bilang didunia ini tiada kejadian yg kebetulan? Kalau hanya masalah ini yg menjadi titik pangkal kecurigaan keledai gundul itu, aku percaya masih mampu merebut kepercayaan orang lain terhadap diriku!”

“Majikan” kembali Li sam memperingatkan dg suara dalam,”konco sikeledai gundul itu sudah mengetahui asal-usulmu yg sebenarnya, malah sejak mula pertama ia sudah menaruh curiga kalau sikedelai maut sebenarnya adalah enci kandungmu. Atas dasar inilah ia lantas menduga kalau kedatanganmu kemari bisa jadi ada sangkut pautnya dg Keledai Maut itu!”

Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya tercekat, agak terperanjat ia berseru:

“Lihay benar bajingan gundul itu, jadi persoalan inilah yg kau kuatirkan? Tahukah kau tindakan apakah yg hendak mereka perbuat terhadap diriku?”

“Tadi Bok sian sipendeta bajingan itu telah menyelenggarakan rapat rahasia dg ketua istana naga sekalian beberapa orang penanggung jawab dalam operasi ini, hasil rapat tersebut ditetapkan bahwa penjagaan yg dilakukan sekarang tetap dilangsungkan seperti semula, bahkan mereka pun akan mengutus orang untuk mengawasi majikan secara diam-diam, setelah itulah mereka akan mengirim utusan menuju ke Pek eng tong.”

“Mengapa mengirim utusan ke Pek eng tong?”

“Dewasa ini, hanya anak murid yg berasal dari Gin san siancu (Dewi payung perak) yg mempergunakan senjata payung dan angkin sebagai senjata andalannya untuk mengarungi dunia persilatan. Oleh sebab itulah keledai gundul itu memutuskan akan mengirim utusan kesana untuk mencari bukti atas hal tersebut.”

“Apakah enciku memang anak murid Dewi payung perak?” Li sam manggut-manggut. “Yaa benar, dugaan mereka kali ini memang tepat sekali.” Kho Beng segera menghela napas panjang:

“Aaaai. kalau begitu, asal usul cici bakal terbongkar sama

sekali. ?”

“Dalam soal ini majikan tidak perlu kuatir” kata Li sam sambil tersenyum. “Keberangkatan mereka ke Pek eng tong kali ini pasti tidak menghasilkan apa-apa!”

“Mengapa demikian?”

“Sebab Dewi payung perak telah menghadiahkan segenap tenaga dalam yg dimiliki kepada cicimi dg ilmu Kay goan koan tong, atas perbuatannya ini beliau telah menghembuskan napasnya yang terakhir, itulah sebabnya utusan mereka bakal Cuma menemukan sebuah kuburan dg batu nisan belaka.”

“Darimana sam toako bisa memperoleh begitu banyak kabar berita?” tanya Kho Beng sesudah termangu sejenak.

Sekulum senyum bangga segera menghiasi wajah Li sam. “Saat ini hamba sudah menjadi salah satu orang kepercayaan

dari Bok sian sibajingan gundul itu, jadi semua rahasia mereka tak akan lolos dari pendengaranku, he...he....he , tentu saja mereka

tidak pernah akan menduga kalau aku Li sam adalah mata-mata dari Kedele Maut!”

“Bagus sekali perbuatanmu ini” puji Kho Beng sambil menepuk – nepuk bahunya, “Perbuatan sam toako memang tak bakal diduga sama sekali olehnya, mereka pasti akan kebobolan kali ini..”

“Ketika hamba kemari mereka sedang melakukan perundingan rahasia” tukas Li Sam tiba-tiba ,”Aku rasa perundingan itu sudah pasti sudah usai sekarang, nah majikan muda kau harus segera mengambil keputusan!”

Setelah termenung sejenak, Kho Beng bertanya lagi: “Sam toako, dimanakah ciciku sekarang?”

“Nona masih berada didalam kota Gak yang. Aaai….sebenarnya ia telah memutuskan akan berangkat malam ini, tapi sejak berita yg dibawa pihak Sam goan bun tiba disini, ketua istana naga Kiong Ceng san telah menyebar luaskan identitas Kedele Maut kepada segenap umat persilatan yg berada diseputar kawasan ini, aku rasa penjagaan yg mereka lakukan telah diperketat sehingga sulit rasanya bagi nona untuk meloloskan diri.”

Baru selesai itu diutarakan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia bergema dari luar pintu kamar. Li sam kelihatan amat terkejut, buru-buru bisiknya lagi:

“Ada orang datang, hamba tak bisa berdiam lagi disini. Majikan, lebih baik kau segera tinggalkan tempat ini, soal keselamatan nona serahkan saja kepada hamba, nah aku pergi dulu.”

Habis berkata ia segera membuka jendela belakang, lalu tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia menyelinap dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Sementara itu suara langkah menusia telah tiba dimuka pintu, Kho Beng berpikir sejenak lalu cepat-cepat naik keatas pembaringan, melepaskan pakaian dan sepatunya lalu menyelimuti badannya dg selimut dan pura-pura tidur.

Hampir pada saat yg bersamaan tiba-tiba pintu kamar dibuka orang dan masuklah seorang pendeta gundul beralis putih yg membawa sebuah tongkat.

Ternyata orang ini tak lain adalah Bok sian tianglo dari Siau lim pay, orang yg mendatangkan was-was bagi Kho Beng.

Disatu pihak Kho beng baru saja berpura-pura tidur, dipihak lain pintu dibuka orang secara tiba-tiba, kedua kejadian tersebut boleh dibilang berlangsung pada saat yg hampir bersamaan.

Diam-diam Kho Beng merasakan hatinya berdebar keras, ia tak tahu siapakah yg munculkan diri waktu itu, sedang dalam hati kecilnya diam-diam mengkuatirkan identitas sendiri yg terbongkar.

Sementara itu Bok sian tianglo nampak agak tertegun ketika melihat Kho Beng sedang tidur nyenyak diatas pembaringan, alis matanya segera berkerenyit, selintas perasaan bimbang menguasai hatinya.

Tapi sesaat kemudian ia telah menegur dg lirih: “Sau sicu, apakah kau belum mendusin?”

Dari suara teguran itu, Kho Beng segera mengenali suara Bok sian tianglo, jantungnya berdetak makin keras.

Dalam detik itu, ia tak bisa menduga apa maksud dan tujuan kedatangan hwesio itu kedalam kamarnya, iapun tak tahu jawaban apa yg mesti diberikan atas pertanyaan itu, menyahut? Ataukah membungkam saja?

Dalam waktu singkat ia dapat menarik kesimpulan, andaikata ia bangun untuk memberikan jawaban, perbuatannya ini bakal mendatangkan banyak titik kelemahan, tapi andaikata berlagak pulas dg nyenyak, hal inipun dangat mencurigakan, sebab mana ada orang persilatan yg tidak menaruh kewaspadaan meski selagi pulas? Dari dua pertimbangan ini, Kho Beng merasa lebih baik memilih sikap yg lebih gampang dihadapi, ia merasa ada baiknya segera bangun dari tidurnya dan menghadapi hwesio tersebut.

Sebab ia berpendapat, bila ia tetap berlagak tidur terus, tindakan ini dimata seorang jago kawakan yg berpengalaman luas justru akan menimbulkan kecurigaan yg jauh lebih besar lagi.

Begitu keputusan diambil, dia pura-pura menguap keras dan menjawab sekenanya:

“Siapa disitu?”

Pelan-pelan ia bangkit dari tidurnya dan menatap wajah Bok sian tianglo sambil mengucek-ngucek matanya.

Bok sian taysu tersenyum, sambil merangkap tangannya didepan dada ia memberi hormat, sapanya:

“Sau sicu, nyenyak benar tidurmu, maafkan kedatangan lolap yg kelewat ceroboh…”

Kho Beng tidak membiarkan hwesio itu menyelesaikan kata- katanya, dg berlagak terkejut buru-buru ia mengenakan sepatunya lalu turun dari pembaringan dan memberi hormat sambil berkata:

“Ooooh, rupanya taysu. Maaf kalau aku yg muda kurang hormat karena terlelap tidur.”

“Sau sicu kelewat merendah” Bok sian taysu tersenyum ,”Apakah sau sicu sudah merasa segar kembali?”

Sambil berkata ia duduk ditepi meja.

“sEtelah beristirahat sebentar, rasa penat memang rada hilang, tapi. ada urusan penting apakah taysu datang kemari?”

Walaupun diluar ia bersikap sopan dan merendah, padahal diam- diam hawa murninya telah disiap-siagakan, dg tenang ia siap menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

Tampaknya Bok sian taysu tidak menaruh niat jahat, sikapnya tetap ramah dan serius ketika mendengar pertanyaan itu, ia segera menyahut sambil tersenyum:

“Oooh, ketika pertemuan baru bubar tadi, lolap hanya sekalian datang menjengukmu, aku kuatir sau sicu kelewat penat sehingga aku sengaja datang untuk menghadiahkan sebutir pil Gi goan kim wan untukmu.”

Sambil berkata ia segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebutir pil emas sebesar kacang kedele yg segera diangsurkan kehadapan Kho Beng. Penghormatannya ini bukan saja membuat Kho Beng menjadi tertegun, bahkan satu ingatan segera melintas didalam benaknya:

“Bukankah dia berniat hendak menghabisi nyawaku? Mengapa malah menghadiahkan sebutir pil mestika dari Siau lim pay? Jangan- jangan isi pil tersebut adalah obat beracun?”

Tapi diluarnya ia bersikap ramah, malah tanpa ragu diterimanya pil itu sambil mengucapkan terima kasih tiada habisnya:

“Maksud baik taysu tak berani kutampik, pemberian ini cukup membuat aku yg muda merasa bahagia sekali!”

Habis berkata ia segera memasukkan pil itu kedalam mulut dan menelannya dg cepat.

Diam-diam ia telah memutuskan, demi keselamatan encinya, sebelum rencana keduanya berjalan menjadi kenyataan, dia tak ingin memperlihatkan sesuatu perbuatan yg mencurigakan.

Ini berarti, sekalipun pil itu benar-benar racun, dg pertaruhkan selembar jiwanya, ia tetap akan menelannya, paling banter disaat racun itu mulai bekerja, dia akan melancarkan serangan terakhir dg sepenuh tenaga.

Ketika pil itu menggelinding masuk kedalam perutnya, bau harum segera menyebar kemana-mana, semangatnya menjadi segar kembali, terbukti betapa mujarabnya pil mestika dari Siau limpay.

Kho Beng yg dicekam rasa tegang, pelan-pelan menjadi lega kembali. Ia tahu pil tersebut bukan racun, tapi apa maksud Bok sian taysu yg sebenarnya? Persoalan ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benaknya....

Sementara itu Bok sian taysu berkata sambil tersenyum ramah: “Sau sicu, kau jangan kelewat merendah kepada lolap. Oya. mari

duduk, kita berbincang-bincang sebentar.”

“Terima kasih taysu” sahut Kho Beng dg sikap menghormat. Diluar ia bersikap sungkan-sungkan dan menaruh hormat,

sebaliknya secara diam-diam tenaga dalamnya telah dihimpun menjadi satu siap menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

“Bagaimana perasaan sau sicu sekarang?” tanya Bok sian taysu lagi.

“Tubuhku menjadi segar, kepenatan hilang tak berbekas, nyata sekali obat mestika dari Siau lim pay memang sangat hebat.”

Kembali Bok sian taysu tersenyum: “Barusan lolap telah cekcok dg Kiong tayhiap gara-gara satu masalah, sau sicu kau sebagai anak muda tentu berpandangan lebih terbuka, lolap harap sau sicu dapat memberikan pula pendapatnya tentang persoalan tersebut.”

“Taysu terlalu memandang tinggi kemampuan aku yg muda, padahal aku masih muda, kurang pengalaman dan berpengetahuan sangat rendah, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dg Kiong locianpwee? Aku kuatir harapan taysu akan menjadi sia-sia belaka!”

Walaupun dia ingin mengetahui persoalan apakah yg dimaksud Bok sian taysu, akan tetapi diapun sadar bahwa lawannya licik dan lihay, dalam menghadapi setiap masalah dia harus hati-hati, karenanya daripada mencari permusuhan atau menyakiti hati lawan, lebih baik ia berusaha mengumpak dan memakaikan topi kebesaran diatas kepalanya.

Benar juga umpakan tersebut segera termakan, sambil tertawa terbahak-bahak Bok sian taysu segera berkata:

“Sau sicu sendiri pun kelewat merendah, pernah kau dengar pepatah yg mengatakan Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya toh akan terjatuh juga? Siapa bilang orang pintar tak bisa menjadi bodoh disuatu ketika….?”

“Kalau toh taysu ingin bertanya, tentu saja aku yg muda akan berusaha memberi jawaban sedapatnya, tapi bolehkah aku tahu persoalan apakah yg menjadi pangkal keributan antara taysu dg Kiong locianpwee.”

Bok sian taysu menghela napas panjang:

“Keributan itu terjadi berpangkal pada berita yg dibawa sau sicu barusan, setelah menerima berita itu, Kiong lo sicu segera mengajak lolap dan sekalian jago persilatan mengadakan perundingan rahasia membahas kedudukan kami saat ini, ia berpendapat kalau toh sau sicu telah menemukan jejak Kedele Maut yg telah muncul dua ratus li dari kawasan ini, berarti musuh telah lolos dari jaring atau dg perkataan lain semua persiapan dan penjagaan yg dilakukan dalam kawasan seratus li diseputar telaga tong ting dan kota Gak yang menjadi tak ada artinya, karenanya dia memutuskan untuk membubarkan saja penjagaan disini dan mengalihkan perhatian ketempat lain, tapi lolap segera menentang usulan tersebut, akibatnya muncullah dua golongan manusia yg bertentangan pendapat serta ngotot dg prinsip masing-masing, hingga rapat bubar tadi kami belum dapat mengambil suatu keputusan. Nah sau sicu, bagaimana menurut pendapat pribadimu? Tindakan mana yg rasanya paling sesuai untuk kita ambil…”

Diam-diam Kho Beng merasa amat terkejut, pikirnya: “Hwesio gundul ini benar-benar racun tua yg licik dan lihay,

tampaknya dia bermaksud menjebakku dg kata-kata, ini berarti tidak gampang untuk menghadapi keledai gundul yg licik ini...”

Berpikir sampai disitu, ia segera tersenyum jawabnya: “Semestinya usul Kiong locianpwee untuk membubarkan

penjagaan disekitar kawasan ini adalah berdasarkan laporan yg kuberikan tadi, jadi seharusnya usul ini kudukung, tapi aku rasa pandangan taysu atas usul inipun didasarkan oleh sesuatu alasan, jadi bukan sengaja hendak mencari keributan. Oleh karena itu bolehkah aku mengetahui lebih dulu apa yg menjadi alasan penentangan taysu itu sebelum aku memberikan pandangan?”

Bok sian taysu manggut-manggut:

“Lolap menentang hal ini karena atas dasar pemeriksaan dari utusanku atas semua penjagaan dan pos yg berada disekitar sini, menurut laporan hingga sekarang mereka belum pernah menemukan seorang perempuan yg mencurigakan melewati pos penjagaan mereka, bukan saja tak pernah menjumpai perempuan bermuka seram seperti apa yg sau sicu lukiskan tadi, mereka pun tidak menjumpai gadis-gadis muda berparas cantik, oleh sebab itu lolap tak percaya kalau Kedele Maut benar-benar sangat ampuh sehingga dapat lolos dari penjagaan yg demikian ketat ini tanpa ketahuan jejaknya. Maka dari itu aku berpendapat lebih baik semua penjaga yg berada diseputar kawasan ini jangan dibubarkan lebih dulu sambil kita nantikan perkembangan lebih lanjut!”

“Kalau begitu taysu menaruh curiga atas berita yg kusampaikan tadi..?” tanya Kho Beng pura-pura sangsi.

Sambil tersenyum Bok sian taysu menggelengkan kepalanya berulang kali:

“Bukan demikian, ketika berada dikota Kwan tong tempo hari, ada orang yg memberitahukan kepada lolap bahwa jejak Kedele Maut telah muncul disitu, waktu itu adalah seorang lelaki yg berdandan sebagi saudagar. Tapi berdasarkan pemeriksaan atas korban yg berjatuhan ketika itu, kebanyakan mereka tewas oleh tusukan pedang dan tak seorangpun memperlihatkan tanda kalau tewas ditangan iblis tersebut. Karenanya lolap tak percaya kalau saudagar itu adalah Kedele Maut. Kini sau sicu telah memberikan dua berita yg saling bertentangan pula satu dg yg lainnya, karena itu lolap berkesimpulan bahwa pihak musuh tentu mempunyai komplotan. Atas dasar pandangan itulah lolap bersikeras tetap mempertahankan penjagaan diseputar telaga Tong ting dan kota Gak yang, asal kita berhasil membekuk komplotan itu tentu tak sulit pula untuk mencari tahu dalangnya, entah bagaimana menurut pendapat sau sicu?”

Kho Beng segera memuji:

“Kecerdikan taysu memang sangat mengagumkan, belum tentu orang lain bisa mengunggulinya, Kiong locianpwee serta taysu sama pintar, sama-sama lihay. Tapi aku rasa aku yg muda lebih setuju dg usul dari taysu tadi...”

Bok sian taysu tertawa terbahak-bahak:

Ha…ha….ha…..sau sicu, kau jangan rikuh menentang usulku itu karena sudah mendengar pendapat lolap barusan. Ketahuilah lolap selalu mengutamakan kenyataan daripada orangnya. Asal alasan yg dikemukakan bisa diterima dg akal sehat, lolappun bersedia melepaskan pendapat sendiri dg mendukung usul orang lain.”

“Kebesaran jiwa taysu benar-benar mengagumkan, selain cerdas kaupun bijaksana…aaai terus terang saja kukatakan taysu, aku bisa setuju dg usul taysu bukanlah berdasarkan atas alasan yg taysu kemukakan tadi.”

“Oya?” Bok sian taysu kelihatan agak terkejut, “Sau sicu bila kau ingin mengemukakan sesuatu, katakan saja secara blak-blakan, tak perlu merasa rikuh dan sangsi.”

Kho Beng manggut-manggut.

“Semenjak Kedele Maut mulai membunuh orang, apakah taysu berhasil menemukan sesuatu gejala tertentu?”

“Gejala apa maksudmu?”

“Walaupun Kedele Maut gemar membunuh tapi ia tak pernah turun tangan terhadap jago kelas dua atau kelas tiga, setiap kali melakukan pembunuhan, korbannya selain tokoh dunia persilatan atau pemimpin dari suatu perkumpulan.”

“Benar!”

“Kini seluruh jago-jago pilihan dari lima propinsi telah berkumpul disini, kecuali Kedele Maut harus mengubah arah tujuannya untuk melakukan pembunuhan di utara, aku rasa diwilayah timur maupun selatan sudah tiada sasaran lagi yg bisa dibunuh, oleh sebab itu aku berpendapat, asal kegemarannya membunuh masih belum berubah, akhirnya ia tentu akan muncul dikawasan telaga Tong ting untuk melakukan pembunuhan. Daripada kita mesti menyebar kekuatan untuk melakukan pelacakan tak menentu, toh lebih baik memasang perangkap disini sambil menunggu kedatangannya? Itulah sebabnya aku rasa usul dari taysu memang tak malu kalau dikatakan suatu usul yg hebat dan jitu!”

Bok sian taysu menghela napas berulang kali:

“Pandangan sau sicu betul-betul mengagumkan, aaai…sudah enam puluh tahun lolap berkelana didunia persilatan, namun belum pernah kujumpai orang yg pintar dan luar biasa macam sau sicu, bila saja kau tidak memandang rendah perguruan Siau lim pay, apa salahnya bila kau mengangkat ketua partai kami sebagai gurumu?

Lolap jamin tak sampai tiga tahun Siau sicu pasti sudah menjadi tokoh wahid dikolong langit!”

Kho Beng berdiri tertegun, ia tak mengira kalau hwesio tersebut akan mengucapkan perkataan seperti ini.

Andaikata pesan dari ketua Sam goan bun tidakmendengung disisi telinganya juga Li sam yg baru saja menyampaikan kabar kepadanya, ia benar-benar akan mencurigai apakah yg didengar ini benar atau tidak.

Namun tawaran yg disampaikan tersebut justru menyulitkan Kho Beng untuk menjawab, ia enggan menampik tawaran tersebut secara terang-terangan, karena kuatir menambah kecurigaan dihati kecil Bok sian taysu. Namun iapun tak bisa tidak untuk menampik dendam kesumat sedalam lautan yg terpampang didepan mata, sedang hwesio itu merupakan salah seorang yg dicurigai, bagaimana mungkin ia bisa bergabung kedalam perguruannya?

Untuk sesaat lamanya Kho Beng menjadi bimbang, risau dan tak tahu apa yg mesti dikatakan.

Melihat sikap pemuda tersebut, Bok sian taysu kembali bertanya: “Apakah sicu menjumpai suatu kesulitan?”

Kho Beng terkejut, buru-buru ie memperlihatkan sikap tulus dan kesungguhan hatinya seraya berkata:

“Aku yg muda dungu dan tak becus, tak nyana bisa memperoleh rejeki sebesar ini, tujuh puluh dua macam ilmu silat aliran Siau lim pay sudah lama termashur didunia, akupun sudah lama mengaguminya...”

“Kalau begitu sau sicu bersedia?” tukas Bok sian taysu girang. Sekali lagi Kho Beng menghela napas panjang: “Sayang sekali aku sudah mempunyai guru, meski aku tak berani menampik tawaran taysu itu, semua persoalan ini harus kulaporkan dulu kepada guruku sebelum diputuskan sendiri oleh suhu.”

“Ooooh...rupanya sau sicu sudah mempunyai guru, tapi siapakah gurumu itu?”

Kho Beng termenung sejenak sambil berpikir sebentar, lalu menjawab:

“Guruku adalah Unta sakti berpunggung baja...” “Aaaah…rupanya gurumu adalah Thio lo sicu, salah satu diantara

sepasang unta dari selatan” tukas Bok sian taysu cepat, “Tapi lolap dengar, Thio lo sicu telah meninggal dunia baru-baru ini…”

Dalam hati kecilnya Kho beng tertawa dingin, tapi diluar buru- buru sahutnya:

“Menurut apa yg kuketahui suhu belum meninggal dunia, beberapa hari berselang aku sempat cekcok dg perguruan Sam goan bun gara-gara persoalan ini, akhirnya atas desakanku kuburan itu dibongkar, saat itulah kami temukan peti mati kosong. Karena itulah aku menaruh curiga atas mati hidupnya guruku ini. Aaaai…ketua Sam goan bun licik dan sukar diraba jalan pikirannya sekarang ia pasti sedang risau karena masalah tersebut.”

Bok sian taysu agak terperanjat, tapi segera katanya: “Dalam soal ini lolap dapat membantu sicu untuk melakukan

penyelidikan, lolap jamin pihak Sam goan bun tak berani akan mengeluarkan permainan dihadapanmu…”

“Aaah..atas bantuan taysu sebelumnya kuucapkan banyak terima kasih” sambung Kho Beng cepat-cepat.

Bok sian taysu segera bangkit berdiri, katanya kemudian: “Waktu sudah semakin larut, lolap tak akan mengganggu

kesempatan sau sicu untuk beristirahat lagi, sampai besok pagi!”

Habis berkata ia lantas mohon diri, buru-buru Kho beng menghantarnya sampai diluar pintu.

Bok sian taysu telah pergi, namun Kho Beng yg berada dalam kamar seorang diri merasakan pikirannya sangat kalut.

Tadi Li sam membujuknya agar pergi, pihak lawan jelas hendak melakukan suatu tindakan berikut yg tidak menguntungkan bagi dirinya, sambil menunggu kabar dari utusan yg dikirim ke Pek eng tong.

Sayang ia tak sempat menanyakan persoalan itu lebih jelas lagi tadi, sedang hwesio tua itu justru menampilkan sikap yg begini ramah dan baik budi, rencana keji apakah yg sebetulnya terselip dibalik kesemuanya ini?

Ia tak dapat menduga teka teki dibalik kesemuanya itu, malah sebaliknya ia makin risau memikirkan keselamatan encinya.

Akhirnya setelah mempertimbangkan berulang kali, ia memutuskan akan melaksanakan rencana berikutnya, ia berpendapat dalam tiga hari mendatang pasti tak akan terjadi sesuatu perubahan, berarti ia dapat melaksanakan rencana tersebut dg tenang sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Tapi untuk melaksanakan rencananya itu, ia harus mempersiapkan beberapa macam peralatan, padahal menurut Li sam, ia sudah berada dibawah pengawasan musuh, lalu bagaimana caranya untuk mempersiapkan barang-barang yg dibutuhkannya itu/

Setelah putar otak sekian lama, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya, pemuda itu segera berpikir:

“Yaa..mengapa aku tidak minta bantuan Li sam untuk mempersiapkan barang-barang kebutuhanku? Kenapa tidak kupergunakan pembantu yg amat baik ini?

Berpendapat begitu, ia segera memutuskan untuk tidak menunda-nunda lagi, segera bangkit dari pembaringan, ia menuju kejendela belakang dan diam-diam mengintip keluar.

Sejak kepergian Li sam tadi, jendela tersebut belum ditutup, dg cepat Kho Beng menyelinap ketepi jendela dan mengintip keluar.

Ternyata tempat itu merupakan halaman belakang, tampak pepohonan tumbuh sangat rindang, gunung-gunung gardu istirahat tersebar dimana-mana, suatu tempat dg panorama yg indah.

Dibawah cahaya bintang dan rembulan yg redup, suasana dalam kebun hening, sepi tak nampak seorang manusia pun. Dari letak bintang diketahui waktu menunjukkan kentongan pertama, ia menunggu semua orang sudah mulai berangkat istirahat.

Kho Beng tidak tahu siapa yg ditugaskan mengawasi dirinya, iapun tak tahu dimanakah orang tersebut ditempatkan, tapi ia sadar alangkah baiknya bila Li sam dapat ditemukan malam ini juga, ia percaya asal tindak tanduknya cukup berhati-hati, tak bakal sampai terjadi hal-hal yg tidak diinginkan.

Maka hawa murninya segera dihimpun, bagaikan seekor burung nuri ia menyelinap keluar jendela dan melayang turun ditengah halaman, kemudian sesudah memeriksa sekejap seputar situ, ia menyusup kebelakang sebuah gunung-gunungan, lebih kurang tiga kaki didepan situ.

Baru saja ia mendekam dibelakang gunungan dan belum sempat memeriksa diseputar sana, mendadak terdengar ada suara orang yg sedang berbisik-bisik.

Dalam kagetnya Kho Beng segera menahan perasaannya, sambil memasang telinga untuk menyadap pembicaraan tersebut.

Dari hasil penyelidikannya, dapat diketahui arah suara tersebut, yaitu berasal dari balik gunung-gunungan yg lain, malah salah seorang diantaranya adalah wanita.

“Kebetulan amat” pekik Kho Beng dg perasaan terkejut bercampur heran,” Malam sudah begini larut, siapakah yg masih berpacaran disitu. ?”

Sementara ia masih termenung, suara pembicaraan telah bergema kembali, kali ini yg berbicara seorang lelaki, suaranya rendah lagi amat berat.

Namun setelah Kho Beng mendengar secara jelas nada pembicaraan orang itu serta apa yg sedang dibicarakan, hatinya langsung saja bergetar keras sekali.

Ternyata orang yg sedang berbicara dibalik gunungan itu, salah seorang diantaranya tak lain adalah Bok sian taysu dari Siau lim si, pendeta yg belum lama berselang meninggalkan ruangannya.

Terdengar Bok sian taysu sedang berkata: “. yakinkah li sicu akan hal ini?”

Suara perempuan itu segera menjawab:

“Taysu dapat kukatakan secara pasti bahwa hal itu sama sekali tak pernah terjadi, sebab semejak mendapat tugas untuk datang kemari, barang seketika pun Chin siau kun belum pernah tertidur.”

Suasana hening yg kemudian mencekam membuat Kho Beng merasa hatinya amat tegang, tapi berhubung ia tidak sempat mengikuti awal pembicaraan mereka, ia belum dapat memastikan persoalan apakah yg sedang dipermasalahkan kedua orang itu.

Selang beberapa saat kemudian, terdengar Bok sian taysu berkata lagi:

“Aneh betul, sewaktu lolap mendekati kamar tidurnya tadi, sudah jelas kudengar ada orang yg sedang berbicara didalam kamarnya, tapi begitu masuk kedalam kamar ternyata ia masih tertidur sangat – sangat nyenyak…” “Bisa jadi Kho sauhiap lagi mengigau lantaran kelewat penat!” sela Chin siau kun cepat.

Kho Beng yg menyadap pembicaraan tersebut semakin terperanjat, sekarang ia baru paham, rupanya pembicaraan dg Li sam tadi telah diketahui pihak lawan.

Untung saja Li sam cukup sigap dan cekatan, coba kalau tidak niscaya rahasia mereka sudah terbongkar.

Perempuan yg bernama Chin siau kun itu adalah orang yg ditugaskan untuk mengawasi gerak geriknya selama ini.

Dalam waktu singkat, Kho Beng mulai sadar bahwa keadaannya dewasa ini meski sepintas lalu nampak aman tanpa ancaman bahaya, padahal dalam kenyataan posisinya amat kritis dan berbahaya sekali. Aaai..jika salah melangkah setengah tindak pun, sudah pasti dirinya akan terjerumus dalam keadaan yg tak tertolong lagi.

Dalam pada itu terdengar Bok sian taysu telah berkata lagi: “Lolap yakin ia bukan lagi mengigau sebab suara pembicaraannya

waktu itu sangat lirih dan lembut, sama sekali tidak mengandung nada yg tinggi rendahnya tidak terkontrol, andaikata ia betul-betul lagi mengigau, tak mungkin akan memperlihatkan gejala semacam itu.”

“apakah taysu berhasil mendengar sesuatu?” “Tidak!”

“Kalau begitu bisa jadi taysu yg salah mendengar….”

“Hmmm! Biarpun usia lolap sudah tua, aku yakin belum sampai di idapi penyakit semacam itu.”

“Oooh..kalau begitu taysu mencurigai aku telah melalaikan tugas?”

Dibalik perkataan tersebut, jelas mengandung nada tak senang hati.

Buru-buru Bok sian taysu menyambung:

“Harap li sicu jangan salah paham, mungkin saja memang lolap salah mendengar…”

Kho Beng hanya mengikuti pembicaraan tersebut sampai setengah jalan, dg sangat hati-hati ia segera mengundurkan diri dari situ.

Ia tahu sudah tiada masalah penting yg bisa diperoleh lagi, andaikata ia tidak mengundurkan diri lebih dulu, bisa jadi diapun tak akan bisa kembali kekamarnya lagi. Tapi dg penemuannya yg tak sengaja ini, setelah berpikir keras beberapa waktu akhirnya Kho Beng memutuskan tak akan pergi mencari Li sam lebih dulu sebelum rencana yg telah ditetapkan terlaksana, meski ia tahu Li sam pasti berdiam diwisma yg sama.

Dg membatalkan niat semula, dg cepat Kho Beng kembali kedalam kamarnya.

Dari buntalannya ia mengeluarkan kertas dan menulis sesuatu yg kemudian disimpan dibawah ranjang.

Malam itupun ia tidur nyenyak hingga matahari mulai muncul diufuk timur.

Kho Beng terbangun ketika ia mendengar ketukan pintu, cepat- cepat ia bangun sambil menengok sekitarnya, ternyata sinar matahari sudah memancar kemana-mana.

Ia tahu orang yg mengetuk pintu kamarnya tentu salah seorang dari Kim bersaudara. Cepat-cepat ia bangun dan sapanya:

“Saudara kim kenapa masih berada diluar kamar? Silahkan masuk

…”

Belum lagi pakaiannya rapi dikenakan, pintu kamar telah dibuka

dan ternyata yg muncul bukanlah seperti dugaannya, yg muncul adalah seorang perempuan.