Kedele Maut Jilid 07

 
Jilid 07

Dalam sedihnya dia mengeluarkan pula baju darah yg penuh dg noda darah hitam itu, diatas baju itupun tertera beberapa huruf yg berbunyi demikian:

“Aku adalah Hee si, mak inangmu, sebelum menemui ajal kuberitahukan kepadamu, sekalipun kau hidup dalam kesederhanaan, tapi jangan lupa bahwa dirimu adalah sau cengcu dari perkampungan Hui im ceng, putra kesayangan dari Kho Bu sin, pendekar besar yg namanya menggetarkan seluruh dunia persilatan.

Biarpun dendam kesumat sedalam lautan tak bisa dituntut balas, kau harus beristri dan punya anak keturunan sebagai kelanjutan dari keturunan keluargamu…

Ketika membaca sampai disini, Kho Beng merasakan darah yg mengalir didalam tubuhnya mendidih, bibirnya digigit kencang, setitik darahpun bercucuran membasahi ujung bibirnya.

Sekalipun Ko Po koan adalah pelayan keluargamu namun dalam kenyataan dia mempunyai hubungan yg lebih akrab daripada sesama saudara dg ayahmu, untuk menyelamatkan jiwa kalian berdua, dia telah mengorbankan putra putrinya demi keselamatan kalian, dia memerintahkan putrinya membopong puta putri sendiri untuk memancing perhatian jago sementara kalian telah dibawa kabur dg selamat….

Mambaca sampai disini, tanpa terasa pemuda itu teringat kembali dg kematian yg menimpa Kho Po koan dalam perkampungan Hui im ceng tempo hari.

Ia menjadi sedih sekali, sehingga hampir saja menangis tersedu- sedu, namun dg sekuat tenaga pemuda itu menahan diri, dg mata yg berkaca-kaca dia membaca surat wasiat tersebut lebih jauh…

…Oleh sebab itu kau sama artinya dg memikul dendam kesumat dua keluarga, baik-baiklah menjaga diri setelah dewasa nanti.

Untuk menempuh perjalanan jauh tanpa berhenti, ditambah pula setiap hari dicekam rasa takut dan ngeri, jiwa dan semangat akhirnya runtuh dan hancur, sekalipun kami berhasil lolos dalam keadaan selamat…..

Tulisan tersebut terhenti ditengah jalan, jelas mak inang yg setia ini baru menemui ajalnya sebelum sempat menyelesaikan tulisannya itu.

Kini segala sesuatunya telah menjadi jelas, bila teringat kembali dg pemberian uang dan surat dari Li sam yg belum pernah ditemuinya itu, serta ulah Kho Po koan yg menyaru jadi setan diperkampungan Hui im ceng, nyata sekali kalau kesemuanya ini mempunyai hubungan yg erat sekali dg dirinya.

Rasa sedih dan terkejut membuat Kho Beng termangu-mangu entah berapa lamanya.

Ia merasa dirinya begitu mengenaskan dimasa lalu, betapa tidak, selama delapan belas tahun hidup tanpa mengetahui asal usul sendiri, baru sekarang segala sesuatunya menjadi jelas kembali.

Teringat akan kehidupannya selama delapan belas tahun, tanpa terasa dia teringat dg ketua Sam goan bun, Sun Thian hong yg telah memeliharanya selama ini, tanpa terasa dia berpikir kembali:

“Mengapa dia tidak memberitahukan kesemuanya ini kepadaku?

Atau mungkinkah diapun turut ambil bagian dalam pembunuhan berdarah itu?”

Dalam waktu singkat dia terbayang pula dg peristiwa yg dialami setengah tahun berselang, andaikata Thio bungkuk tidak memintakan ampun, niscaya tangan kanannya sudah kutung.

Tanap sadar pemuda itu berpikir lebih jauh:

“Hmmmm, dia tahu secara pasti bahwa aku gemar belajar silat, namun engga mewariskan kepadaku, diapun berusaha keras menghalangi niatku untuk membongkar kuburan, kalau begitu dia juga yg memaksa Thio bungkuk cianpwee untuk meninggalkan perkampungan Cui wi san ceng serta berusaha memutuskan pengharapanku  untuk  mengetahui   asal   usulku   yg sebenarnya. bukankah kesemuanya membuktikan kalau dia

mempunyai dendam dgku atau paling tidak terlibat peristiwa ini?”

Berpikir sampai disitu, Kho Beng tak sanggup mengendalikan diri lagi, dg cepat dia masukkan baju berdarah, kain putih serta surat peninggalan Thio bungkuk kedalam sakunya, setelah itu memapas kutung baru nisan didepan kuburan dan meninggalkan tempat tersebut dg cepat, langsung menuju keperkampungan Cui wi san ceng.

Siapa sangka baru saja dia siap melompat naik keatas wuwungan rumah, mendadak tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dan berdiri dihadapannya.

Waktu itu Kho Beng telah diliputi perasaan gusar yg membara, dalam kagetnya dg cepat dia melintangkan pedangnya didepan dada lalu mengawasi lawannya dg seksama.

Ternyata orang itu tak lain adalah Nyoo to li yg bahunya kini dibalut kain putih. Sambil tertawa dingin ia segera menegur dg suara dalam: “Ooooh, rupanya saudara Nyoo yg menunggu kedatanganku dg

membawa luka, apakah kau berniat menghalangi usahaku memasuki perkampungan ini?”

Nyoo to li tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya:

“Harap saudara Kho jangan salah paham, suhu sudah tahu kalau kau pasti datang kembali oleh sebab itu sengaja menitahkan kepadaku untuk menanti.”

“He...he.....he...” Kho Beng segera tertawa dingin, “Kalau tadi gurumu sudah melaksanakan siasat menyiksa diri sekarang siasat apa pula yg hendak dilakukan?”

Padahal pemuda inipun tidak habis mengerti mengapa ketua Sam goan bun memerintahkan anak buahnya saling melukai.

Terdengar Nyoo to li menghela napas panjang: “Aaaai...tampaknya kesalah pahamanmu sudah terlalu

mendalam, sebetulnya perbuatan suhu bukan ditujukan kepadamu, dikemudian hati kau bakal mengetahui dg sendirinya.”

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan melayang turun dari wuwungan rumah, kemudian tanpa berhenti dia melangkah masuk kedalam perkampungan.

Kho Beng sendiripun telah mengambil keputusan untuk menjadikan Sun Thian hong, ketua dari Sam goan bun ini sebagai sasaran pertama dalam usaha penyelidikannya, oleh sebab itu diapun tidak banyak berbicara dan mengikuti dari belakang dg mulut membungkam.

Sepanjang jalan, dg sinar mata yg tajam dia memperhatikan terus keadaan disekelilingnya, kewaspadaan ditingkatkan, dia tak ingin sampai dipecundangi musuh.

Setibanya dihalaman keempat, dimuka rumah kediaman ciangbunjinnya, Nyoo to li berhenti dan mengetuk pintu.

Tapi sebelum pintu sempat dibuka, Kho Beng dg sekali tendangan telah mendobrak pintu serta menyerbu masuk kedalam ruangan.

Tampak olehnya ketua sam goan bun itu duduk bersila diatas sebuah pembaringan dg wajah serius tapi tenang, saat itu dia sedang mengawasi anak muda tersebut tanpa menunjukkan sesuatu reaksi. Dg langkah cepat Kho Beng memburu kehadapannya dan menempelkan ujung pedang diatas tenggorokan Sun Thian hong, setelah itu bentaknya:

“Sun Thian hong! Aku tak ingin banyak berbicara, aku harap kau sendiri yg mengungkapkan semua peristiwa tersebut dg sejujur- jujurnya. ”

Tampaknya Sun Thian hong sudah tidak memikirkan mati hidup sendiri sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan tersebut, malah ujarnya dg tenang:

“Kau telah berhasil membongkar kuburan, asal usulmu juga telah menjadi jelas, apalagi yg mesti kukatakan?”

Dg suara yg menyeramkan Kho Beng segera tertawa dingin: “Terlalu banyak persoalan yg tidak kupahami, jika aku bermaksud

tak mengetahui sampai jelas, mungkin batok kepalamu sekaran telah berpisah dg badan.”

“Ooooh, tampaknya kau telah menganggap diriku sebagai musuh besarmu. ?” tegur Sun Thian hong dg tenang.

Kho Beng tertawa seram:

“Kalau tidak menganggap bajingan tua macam kau sebagai musuh besarku, memangnya aku mesti menganggapmu sebagai teman atau angkatan yg lebih tua?”

“Kho Beng” Sun Thian hong segera menegur dg wajah serius, “Bagaimanapun juga aku telah memeliharamu selama delapan belas tahun….”

“Tapi kaupun telah membohongi aku selama delapan belas tahun” tukas Kho Beng cepat, “Aku ingin tahu apa sebabnya kau merahasiakan asal usulku hingga sekarang?”

Sekujur badan Sun Thian hong gemetar keras, tapi setelah menghela napas panjang, katanya:

“Aku berniat untuk melenyapkan sebuah badai pembunuhan yg mengerikan dari dunia persilatan, ketahuilah bila balas membalas berlangsung terus, maka dunia persilatan tak akan pernah mengalami kedamaian…”

Kho Beng tertawa seram:

“He….he….he….perkataanmu itu kedengarannya menarik hati, siapa tahu kau masih mempunyai tujuan lain? Kau kuatir Kho Beng melakukan pembalasan dendam bukan?”

Sun thian hong tersenyum, tiba-tiba ia balik bertanya: “Coba pikirkan persoalan ini dg kepala dingin, bila berniat membunuhmu, bukankah hal ini lebih baik kulakukan disaat kau masih orok dulu?”

Kho Beng tertegun sejenak, kemudian serunya: “Siapa tahu kau tak berani melakukannya waktu itu?” “Mengapa aku tak berani?”

“He….he….he….bukankah waktu itu si Unta sakti locianpwee juga hadir disana?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

“Betul disaat mak inang pengasuhmu sampai diperkampungan, dia memang hadir pula disini.”

Sebetulnya Kho Beng hanya bermaksud melakukan penyelidikan, siapa tahu apa yg diduga ternyata benar, sambil tertawa dingin ia berkata:

“Kau anggap si Unta sakti locianpwee akan membiarkan dirimu berbuat kejahatan dg seenaknya?”

“Aku dapat memberitahukan kepadamu waktu itu si Unta sakti baru sembuh dari luka dalam akibat keracunan, seandainya aku berniat membunuhmu hal tersebut dapat kulakukan tanpa membuang banyak tenaga.”

Karena merasa tak mampu mengunggulinya, hawa amarah Kho Beng segera memuncak, bentaknya:

“Sekalipun kau pandai bersilat lidah, jangan harap bisa melenyapkan kecurigaan didalam hatiku, andaikata kau tidak pernah berbuat kejahatan, mengapa pula kau paksa si Unta sakti locianpwee sehingga pergi meninggalkan tempat ini?”

“Kau salah menduga, kepergian si bungkuk sama sekali tiada sangkut pautnya dgku.”

“Lalu ada sangkut pautnya dg siapa?”

Sun Thian hong menghela napas panjang:

“Aku rasa kaupun sudah tahu, dia adalah Bok sian tianglo dari Siau lim pay.”

Kontan saja Kho Beng tertawa seram.

“Hmmm…kau anggap aku adalah seorang bocah berusia tiga tahun yg gampang dibohongi?”

“Aku hanya mengucapkan keadaan yg sesungguhnya.” “Sesungguhnya?” kembali Kho Beng membentak keras,

“hmmm…walaupun tianglo dari Siau lim si mempunyai nama dan kedudukan terhormat, namun dia bukan ketua dari Sam goan bun, andaikata dia tidak bersekongkol dg tuan rumah sebagai tamu, apakah dia berani berbuat semena-mena? Apakah dia tak kuatir diusir?”

Sun Thian hong menghela napas panjang:

“Kau belum lama terjun kedalam dunia persilatan, tentu saja tidak memahami situasi dunia persilatan yg sebenarnya, ketahuilah semenjak perguruan kami kehilangan tiga jurus ilmu pedang yg paling diandalkan, selama tiga generasi ini nama kami sudah dicoret dari urutan tujuh partai besar, daya pengaruh kamipun bertambah lemah, seandainya aku tidak menjaga diri baik-baik dan mengurangi ruang gerak kami, mungkin perkampungan Cui wi san ceng sudah sejak lama tidak bisa dipertahankan lagi.”

“Kau memang tak malu menjadi seorang ciangbunjin, tak nyana kau bisa membantah dg mempergunakan kata-kata yg begitu tak bersemangat.”

Dg wajah serius Sun Thian hong berseru:

“Biarpun aku hidup dalam kesempitan, tapi bukan berarti mau diperintah orang lain.”

“hmmm..bukannya jawabanmu ini menjadi mencle-mencle tak karuan….?”

“Sesungguhnya kepergian sibungkuk secara tiba-tiba dikarenakan alasan lain.”

“Apa alasannya?”

“Bok sian tianglo mendesaknya agar mengungkapkan identitasmu yg sebenarnya, tapi sibungkuk selalu menolak untuk menjawab, akhirnya peristiwa tersebut menyebabkan terjadinya pertarungan diantara mereka berdua.”

“Kau sebagai tuan rumah, mengapa tak berusaha melerai?” tanya Kho Beng sambil tertawa dingin.

Sun Thian hong menghela napas panjang:

“Waktu itu tiada tempat untuk turut berbicara.”

“hmmm, jelek-jelek Sam goan bun termasuk sebuah perguruan, kalau kau membiarkan orang lain bertempur dirumahmu, apakah tidak takut hal ini akan menimbulkan tertawaan dari umat persilatan?”

Sun Thian hong tertawa getir:

“Siau lim pay adalah pimpinan dari tujuh partai, tulang punggung dari dunia persilatan, aku tak sanggup untuk menghadapi mereka, sedang sibungkuk orangnya tinggi hati dan keras, apalagi dalam marahnya, mana mau dia turuti nasehatku? Kecuali berpeluk tangan belaka, apapula yg bisa kuperbuat.”

“Akhirnya siapa pula yg unggul dan kalah?”

“Sibungkuk kelewat memandang enteng musuhnya, sehingga menderita kekalahan total.”

“Menang kalah adalah satu persoalan, pergi atau tidak semestinya adalah persoalan lain.”

“aaai…panjang sekali untuk menceritakan keadaan yg sebenarnya….”

“Aku tak ingin mendengarkan cerita yg bertele-tele, harap kau membicarakan yg penting-penting saja.”

“Aku tak terbiasa berbicara seperti itu, lebih baik kau saja yg mengajukan pertanyaan dan aku menjawabnya.”

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian katanya:

“Kalau toh sibungkuk cianpwee hanya terlibat dalam pertarungan melawan Bok sian tianglo, apa sebabnya dia harus angkat kaki dari sini?”

Sun Thian hong menghela napas panjang.

“Sibungkuk tidak seharusnya terlalu yakin dg kemampuan sendiri sehingga termakan oleh siasat memanaskan hati dari Bok sian tianglo…”

“Bagaimana cara Bok Sian tianglo menggunakan siasatnya?” “Bok sian tianglo mengusulkan agar mereka saling beradu tenaga

satu kali, dia bertanya kepada sibungkuk apakah berani bertaruh sebelum bertarung, sibungkuk yg tinggi hati tentu saja menerima tantangan tersebut.”

“Apa yg mereka pertaruhkan.”

Setelah menghela napas panjang dg suara dalam Sun Thian hong berkata:

“Pihak yg kalah harus melaksanakan dua permintaan dari pihak yg unggul, aaai…sungguh tak disangka sembilan bagian tenaga pukulan Kim khong khi dari sibungkuk ternyata kalah ditangan sepuluh bagian Bu sian singkanng dari Bok sian taysu.”

“Setelah kemenangan diraih oleh Bok sian taysu, apa yg mesti dilaksanakan oleh sibungkuk?” tanya Kho Beng tegang.

“Pertama sibungkuk harus mengatakan asal usulmu.” “Apakah sibungkuk cianpwee telah mengatakannya?” tanya

pemuda itu tegang.

Sun Thian hong manggut-manggut: “Selama hidup sibungkuk enggan mengingkari janji, setelah dia berada dipihak yg kalah, tentu saja apa yg dijanjikan harus dipenuhi olehnya.”

Kho Beng menekan perasaan hatinya, segera sambungnya: “apa yg harus dilakukan kemudian?”

“Bok sian taysu bertanya kepada sibungkuk, apakah kau sudah memahami asal usulnya, sibungkuk menjawab hal tersebut belum sempat dijelaskan kepadamu, maka Bok sian taysu pun minta kepada sibungkuk untuk meninggalkan dirimu serta tidak bertemu lagi dgmu untuk selamanya, bahkan pula minta jaminannya.”

“Menurut pendapatmu, sibungkuk terpojok sehingga dia penuhi semua permintaannya?”

“Itupun tidak .”

“Apakah sibungkuk telah merahasiakan sebagian dari asal usulku…?” tanya Kho Beng tertegun.

“Sibungkuk tidak merahasiakan apa-apa, tapi ada hal telah dilakukan secara jitu.”

“Bagaimana jitunya?”

Kedua hal tersebut tidak dijawab oleh sibungkuk dg perkataan melainkan dg tindakan, terhadap pertanyaan Bok sian taysu yg pertama sibungkuk hanya menyerahkan sebuah panji Hui im ki leng kepadanya sambil berkata kepada pendeta tersebut:

“Apa yg ditanyakan taysu semuanya berada disini.” Selesai berkata diapun tidak memberi penjelasan lagi.”

“Apa itu panji hui im ki leng?” tanya Kho Beng dg wajah tertegun. “Panji Hui im ki leng adalah salah satu benda yg ditinggalkan mak

inang untuk mu, yakni tanda pengenal ayahmu dimasa jaya dulu. Tapi berhubung sibungkuk yakin Bok Sian tianglo belum tahu tentang siasat yg telah dilakukan pelayan keluargamu dg menukar kalian putra putrinya, maka meskipun dia hanya mengeluarkan panji tersebut sebagai jawaban, Bok sian taysu sama sekali tidak menaruh curiga.”

“Jadi menurut pendapatmu, Bok sian taysu sama sekali tidak mencurigai diriku sebagai putra dari Hui im cengcu?”

“Tentu saja, orang yg mengetahui isi surat wasiat peninggalan pengasuhmu selain aku dan sibungkuk tiada orang ketiga yg mengetahuinya. Padahal menurut apa yg diketahui khalayak ramai, hanya empat orang yg berhasil lolos dari perkampungan Hui im ceng ketika itu, yakni mak inangmu, Kho Po koan serta putra putrinya. Waktu itu Bok sian taysu hanya mencurigai dirimu sabagai putra dari pelayan setia perkampungan Hui im ceng, tentu saja dia tidak menyangka kalian telah ditukar dan orang lain telah menggantikan dirimu untuk menerima maut.”

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi lebih jauh:

“Untuk memenuhi perintah kedua dari Bok Sian taysu, sibungkuk telah putar otak selama dua hari semalam, sebelum berhasil menemukan suatu siasat yg sempurna untuk mengatasinya.”

“Maksudmu siasat sibungkuk cianpwee yg menyiapkan kuburan untuk dirinya sendiri?”

“Benar, membuat kuburan untuk diri sendiri adalah sebagai jaminan kepada Bok sian taysu bahwa dia akan mentaati janjinya, tapi dia justru memasukkan semua benda yg kau butuhkan kedalam peti mati tersebut dg harapan kau bisa menemukannya sendiri, dg begitu diapun tidak sampai mengingkari janjinya dg dirimu.”

“Kalau toh kau telah mengetahui semua periapannya ini, mengapa hal tersebut tidak kau jelaskan padaku sejak pertemuan kita yg pertama..?” tanya Kho Beng sambil berkerut kening.

Sun Thian hong kembali menghela napas panjang

“Disinilah letak kemulyaa hati sibungkuk, dia sadar kekuatan Sam goan bun sangat minim, dia tak ingin menyeret diriku terlibat pula dalam pertikaian tersebut, karenanya dia tidak menyuruh aku yg menyampaikan pesannya kepadamu, tapi menyuruh sikoki Oh gemuk. Padahal sewaktu kau pergi mencari si Oh gemuk, aku telah mengetahui semua gerak gerikmu secara jelas, Cuma saja aku tetap berlagak pilon.”

Kho Beng tertawa dingin:

“Hmmm..tampaknya selain memikirkan keselamatan dari perguruan Sam goan bun, kau sama sekali tidak menaruh niat jahat terhadapku?”

“Kalau toh kau sudah memahami perasaanku, tariklah kembali pedangmu itu?”

Kho Beng mendengus dingin:

“Seandainya kau benar-benar tidak berniat jahat, mengapa pula kau menghalangi niatku untuk membongkar kuburan?”

“aku sengaja menghalangi niatmu karena aku sedang berusaha melindungi keselamatan jiwamu, kalau diriku saja tak mampu kau hadapi, setelah mengetahui asal usulmu sendiri, bukankah hal tersebut bukannya menguntungkan malah merugikan?” Sekali lagi Kho beng mendengus:

“Tapi dilihat dari sikapmu memaksa aku turun tangan, rasanya bukan Cuma bermaksud mencoba saja.”

Sun Thian hong menghela napas panjang:

“Benar, sebelum pergi dari sini Bok sian taysu telah berpesan kepadaku agar mengawasi gerak gerikmu, diapun memperingatkan kepadaku, bila aku berani membongkar rahasia kuburan kosong itu, berarti aku hendak memusuhinya. Sebagai orang yg tetap berada diluar garis tentu saja aku mesti berusaha untuk memberikan pertanggung jawaban kepada Bok sian taysu agar dia tidak menaruh curiga.”

“Waah, kalau begitu kau adalah seorang manusia plin plan yg berpihak sana sini?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

“Aku bukan manusia tak tahu malu, bukankah sudah kau saksikan sendiri persiapan yg kulakukan? Siasat menyiksa diri yg kulakukan dg menyuruh anak muridku saling menusuk tak lain merupakan sebagai usahaku memberikan pertanggungan jawab kepada Siau lim pay.

“Kau mesti memaklumi keadaanku sekarang, aku hanya bisa menandingimu secara sungguh-sungguh, jika tidak bagaimana mungkin orang lain mau percaya? Apalagi dg sikapku ini justru mendatangkan manfaat dan keuntungan bagimu.”

Sampai disini, Kho Beng baru memahami secara jelas semua kejadian yg sesungguhnya.

Pelan-pelan dia menarik kembali pedangnya, tapi rasa curiganya terhadap Sun Thian hong belum hilang sama sekali, katanya lagi dingin:

“Moga-moga saja sehala sesuatunya hanya merupakan kecurigaanku sendiri. Kalau toh hanya ciangbunjin dan sibungkuk cianpwee yg mengetahui asal usulku, darimana tianglo dari Siau lim si itu bisa memperoleh kabar tentang diriku? Dan lagi mengetahui juga hubungan sibungkuk dgku?”

Sampai saat inilah ketua Sam goan bun baru dapat menghembuskan napas panjang, mendengar pertanyaan itu dia segera menjawab:

“Dalam soal ini aku sendiripun merasa heran, yg lebih aneh lagi darimana Bok sian taysu bisa menduga kalau kau adalah anak murid sibungkuk...?” “Ketika mendengar perkataan tersebut, Kho Beng jadi sangat terperanjat, segera pikirnya:

“Sewaktu berada diperkampungan Hui im san ceng, pernah kuungkapkan kalau guruku adalah Unta sakti berpunggung baja, jangan-jangan mereka berdua yg menyampaikan kabar ini kepada Siau lim si?”

Ia lantas teringat kembali dg peristiwa lama, dimana sipedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala telah melakukan penyelidikan keperkampungan Hui im san ceng ditengah malam.

Lalu teringat pula lenyapnya lencana Siong im giok leng milik Kho Po koan dan hilangnya kitab pusaka yg disimpan Bu wi lojin, bukankah kesemuanya ini menunjukkan kalau sipedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala amat mencurigakan?

Diam-diam ia menghentakkan kakinya sambil tertawa getir, mimpipun tak pernah disangka bahwa akhirnya dia bahkan siap menjual nyawa untuk mereka.

Berpikir sampai disitu, dia baru sadar bahwa kecurigaannya terhadap Sun Thian hong sebenarnya tidak beralasan, maka dg wajah bersungguh-sungguh katanya:

“Terima kasih banyak atas penjelasan ciangbunjin pada malam ini, budi kebaikanmu pasti akan kubalas dikemudian hari, aku hanya berharap, disaat Kho Beng melakukan pembalasan dendam nanti, harap ciangbunjin tidak melibatkan diri dalam pertikaian itu.

Sun Thian hong menghela napas panjang.

“membangun suatu perguruan adalah sulit, aku sadar kalau tak punya harapan lagi untuk membangun perguruanku lebih besar, oleh sebab itu harapanku sekarang tinggal mencari pewaris buat jabatanku ini, buat apa aku melibatkan diri dalam pertikaian seperti ini?”

“Ciangbunjin, dapatkah kau jelaskan siapa-siapa saja yg terlibat dalam penyerbuan dan penumpasan terhadap Hui im ceng pada masa itu…?”

Sun Thian hong menggelengkan kepalanya:

“Sejak aku menjabat sebagai ketua sam goan bun hingga kini kami tak pernah tinggalkan pintu perguruan baran selangkah pun, terhadap musibah yg menimpa gedung kalianpun hanya kudengar beritanya saja.

Tapi yg pasti musuhmu sangat banyak dan mencakup banyak dan mencakup banyak perguruan kenamaan, kalau menurut nasehatku bertindaklah dg hati-hati dan tak usah gegabah, apalagi kau sudah tahu kalau Siau lim si terlibat didalamnya, tak salah jika kau lakukan penyelidikan lewat situ, aku yakin tak sulit bagimu untuk mengetahui duduk persoalan yg sebenarnya.”

Dg jawaban tersebut, sama artinya dia menolak untuk memberi jawaban.

Dari perkataan tersebut, Kho Beng segera memahami maksudnya, dia mengerti bahwa Siau lim si mempunyai daya pengaruh yg besar dan kuat, rasanya sulit untuk mencari urusan dg mereka, ini berarti lebih baik mencari sasaran lain yg lebih lemah untuk melakukan penyelidikan tersebut.

Tiba-tiba ia teringat kembali dg sastrawan berkipas kemala, bukankah orang ini merupakan satu-satunya titik terang yg bisa digunakan sebagai langkah pertama penyelidikannya?

Berpikir sampai disitu, cepat-cepat dia menjura seraya berkata: “Kalau memang ciangbunjin merasa keberatan, akupun tak akan

memaksa lebih jauh tapi dapatkah kau memberi petunjuk dimanakah alamat seseorang?”

“Coba kau sebutkan namanya?”

“Apakah ciangbunjin mengetahui seseorang yg bernama Sastrawan berkipas kemala?”

Sun Thian hong segera manggut-manggut:

“Sastrawan berkipas kemala Beng Yu berdiam di Hway sang, tak ada salahnya kau mencari tahu disekitar kota Yang ciu, mungkin alamatnya segera akan kau temukan.”

“Terima kasih atas pemberitahuanmu dan akupun hendak mohon diri lebih dulu.” Kata Kho Beng seraya menjura.

Dg cepat dia membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari situ.

Tiba-tiba terdengar Sun Thian hong berkata:

“Aku tak bisa memberi apa-apa kepadamu, hanya kudoakan semoga kalian kakak beradik dapat segera berkumpul kembali dan membangun perkampungan Hui im san ceng seperti dahulu.”

Kho Beng sudah hampir melangkah kelar dari pintu ketika mendengar perkataan tersebut, dg cepat dia menghentikan langkahnya, sementara perasaan hatinya bergetar keras.

Apakah ada sesuatu yg tak beres dg perkataan dari Sun Thian hong itu? Tidak! Tapi kata “Semoga kalian kakak beradik dapat segera berkumpul kembali” membuat Kho Beng teringat kembali dg kedele maut, terutama sekuntum bunga putih yg menghiasi sanggulnya.

Bukankah bunga putih tersebut mirip sekali dg bunga putih yg dipesankan ayahnya dulu?

“Bunga serunai putih menghiasi sanggul, siang malam empat musim tak pernah berubah…”

Benarkah kedele maut yg menggemparkan dunia persilatan selama ini sesungguhnya adalah kakak perepuannya?

Penemuan yg mendadak dan sama sekali tak terduga ini segera membuat Kho beng terperanjat dan gemetar keras saking emosinya.

Dg suatu gerakan cepat pemuda itu berpaling kearah Sun Thian hong, kemudian serunya:

“Ciangbunjin, apakah kabar tentang kedele maut yg kusampaikan kepadamu pagi telah kau sebarkan luaskan?”

Ketika melihat perubahan diatas wajah Kho Beng, diam-diam Sun Thian hong ikut terkejut, berbicara sesungguhnya ia merasa tak sanggup menghadapi pemuda ini.

Karenanya cepat-cepat dia menjawab:

“Sesudah kau meninggalkan diriku tadi, berita tersebut segera kusebar luaskan dg mengutus beberapa orang muridku.”

Dg wajah berubah hebat Kho Beng segera membentak: “Harap ciangbunjin segera menarik kembali berita tersebut.”

Sun Thian hong menjadi tertegun, dg keheranan ia segera bertanya:

“Apakah ada sesuatu yg tak beres?”

Tentu saja Kho Beng tak ingin menjelaskan kalau kedele maut sebetulnya adalah enci kandungnya dg keras dia membentak lagi:

“Tidak ada yg tak beres! Aku hanya menyuruh kau menarik kembali berita tersebut secepatnya.”

Sun thian hong mulai tak tahan dg sikap kasar itu, dg suara dalam dia berkata pula:

“Kho Beng, berita tersebut telah kusebarkan kemana-mana, bahkan kujelaskan pula kalau orang yg berhasil menemukan raut wajah kedele maut adalah kau. Begitu hal tersebut merupakan suatu pahala besar. Dg begitu bukan saja pihak Siau limsi akan mengurangi sikap tegangnya dg dirimu, seluruh umat persilatan pun akan mengetahui jasa mu terhadap dunia persilatan. Ini berarti akan mempersulit juga niat Siau lim pay untuk menyusahkan dirimu, masa dalam hal inipun kau menaruh curiga kepadaku?”

Dg perasaan tak sabar Kho Beng berkata:

“Aku tidak butuh segala macam jasa atau pahala, kau tak usah ribut lagi, cepat kirim orang untuk menghentikan penyebaran berita tersebut, selain itu akupun minta kepadamu untuk menarik kembali segenap anggota Sam goan bun yg ditugaskan mengawasi kedele maut, apakah kau sanggup melaksanakan hal tersebut?”

Mendengar perkataan ini, Sun Thian hong menjadi tertegun.

Tapi bagaimanapun juga jahe makin tua makin pedas, setelah embayangkan kembali gambaran tentang kedele maut yg didengarnya dari Kho Beng pagi tadi, kemudian menyaksikan sikap tegang dari pemuda tersebut, jago tua tersebut segera dapat menduga apa yg teradi.

Tapi berhubung Kho Beng enggan menjelaskan, Sun Thian hong pun tak ingin membongkarnya pula, dg nada yg sangat tenang dia berkata:

“Kalau toh kau tak ingin kulakukan hal tersebut, tentu saja akan kuturuti kehendakmu itu, Cuma aku kuatir sudah tak sempat lagi.”

“Kenapa tak sempat?” seru Kho Beng sambil melotot.

“Aku telah mengutus tiga orang yg terbagi dalam tiga jurusan untuk menyampaikan berita tersebut, dua jurusan menuju ke bu Tong pay dan Siau lim pay, tapi karena perjalanan yg jauh mungkin juga mereka masih bisa dicegah kembali, tapi yg menuju kearah Tong ting oh justru paling sukar dikejar sebab jaraknya dekat sekali, hanya dua ratus li. Sekalipun dikejar belum tentu dapat disusul.’

Kho Beng menjadi sangat gelisah, setelah berpikir sejenak buru- buru katanya:

“Kalau begitu harap ciangbunjin segera mengirim orang untuk memanggil pulang utusanmu yg pergi ke Bu Tong pay dan Siau lim pay, sedang aku akan mengejar kearah Tong ting oh.”

Tanpa membuang waktu lagi dia segera melompat keluar dari pintu dan secepat kilat menuruni bukit.

Fajar telah menyingsing.

Sudah semalam suntuk Kho Beng menempuh perjalanan cepat tanpa beristirahat, dia tak ingin kakak kandungnya terancam bahaya gara-gara perbuatannya. Maka tanpa mengenal lelah, dia menempuh perjalanan terus tanpa berhenti, begitu tiba dikota dia membeli ransum dan dua ekor kuda, kemudian meneruskan pengejaran kearah telaga Tong ting.

Tapi setelah melakukan pengejaran seharian, tiba-tiba pemuda itu jadi tertegun, rupanya karena begitu tergesa-gesa menempuh perjalanan dia telah lupa untuk menanyakan siapa yg membawa berita untuk wilayah Tong ting oh dan kemanakah dia mesti menemukan orang tersebut?

Namun nasi sudah jadi bubur, sekalipun kesal dan murung Kho Beng tak bisa berbuat apa-apa.

Untung saja dia cukup kenal dg setiap anggota Sam goan bun, asalkan sebelum orang itu tiba ditelaga Tong ting, dia yakin orang tersebut pasti dikenalinya.

Namun pemuda tersebut lupa akan satu hal, jika dia mampu melakukan perjalanan cepat, apakah orang lain pun tak mampu melakukan hal yg sama?

Apalagi sebelum dia mulai melakukan pengejaran, orang itu sudah menempuh perjalanan sejauh seratus li lebih, betapapun cepatnya pengejaran yg dilakukan mana mungkin bisa menyusul orang tersebut?

Sambil mengayunkan cambuknya, Kho Beng melarikan kudanya cepat-cepat, satiap kali satu jam lewat, dia segera menukar kudanya dg kuda yg lebih segar.

Begitu seterusnya sehingga menjelang senja, telaha Tong ting sudah nampah dikejauhan sana.

Dalam waktu sehari dia telah menempuh perjalanan sejauh dua ratus li, jarak tersebut boleh dibilang cukup cepat, tapi Kho Beng tetap merasa kesal dan kecewa.

Sebab sepanjang jalan dia sudah memasang mata baik-baik, namun tak seorangpun anggota sam goan bun yg ditemukan.

Keadaan sudah semakin jelas, biarpun dia telah berusaha melakukan pengejaran, namn hasilnya dia masih tetap ketinggalan satu langkah.

Tiba ditepi telaga Tong ting, kedua ekor kudanya sudah mandi peluh dan berbuih dari mulutnya, begitu lemas kedua ekor binatang tersebut sehingga boleh dibilang tak berkekuatan lagi untuk meneruskan perjalanan. Demikian pula dg Kho Beng sendiri, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat, napasnya tersengal sengal dan matanya terasa berat sekali.

Biarpun pemandangan alam disekelilingnya tampak indah dibulan ketiga ini, Kho Beng sama sekali tak berminat untuk menikmatinya, sambil mementangkan matanya yg berat dan penat, ia memperhatikan sekeliling tempat itu penuh rasa tegang dan panik.

“Apa yg harus kulakukan sekarang?” sambil termangu mangu dia mengawasi kedua ekor kudanya yg tergeletak ditepi jalan itu tanpa berkedip.

Pertama-tama dia harus dapat menduga lebih dulu kemanakah tujuan berita yg dikirim ketua Sam goan bun untuk wilayah telaga Tong ting itu?

Bila hal ini tak dapat terpecahkan, maka sekalipun dia panik dan bingung pun tak ada gunanya.

Dalam keadaan begini, terpaksa Kho Beng harus beristirahat sejenak, dia ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk menenangkan kembali pikirannya serta berusaha untuk mencari jalan guna mengatasi persoalan ini….

Pada saat itulah, tiba-tiba ia mendengar ada suara langkah manusia berhenti disisi tubuhnya, menyusul kemudian terdengar seseorang menyapa:

“Hey sobat, kalau kulihat tubuhmu basah oleh keringat dan kudamu tergeletak kepayahan ditepi jalan, apakah ada suatu berita penting yg hendak kau sampaikan kemari?”

Dg perasaan tertegun, cepat-cepat Kho Beng membuka matanya kembali, terlihatlah tiga otang telah berdiri dihadapannya.

Ketiga orang itu rata-rata berusia tiga puluh tahunan, bertubuh kekar berwajah keren dan berbaju ringkas berwarna kuning, sebuah ruyung emas bersinar kekuningan memancar ari pinggangnya.

Saat itu mereka dg keenam sorot matanya sedang mengawasi Kho Beng tanpa berkedip, bila dilihat dari wajahnya yg gelisah seakan-akan mereka ingin mengetahui sesuatu dg cepat.

Dalam lelahnya Kho Beng merasa pikirannya agak bebal melihat keadaan tersebut, dia segera berseru:

“Apakah kalian bertiga sedang bertanya kepadaku?”

Melihat hal ini lelaki yg berada ditengah itu segera tertawa terbahak bahak” “Ha…ha….ha….walaupun kita tak pernah bersua, umat persilatan kan bersumber satu, apalagi setelah kami saksikan wajahmu gelisah bercampur panik, itulah sebabnya secara gegabah kami telah menegur anda untuk itu harap anda jangan marah atas kecerobohan kami bertiga ini.”

Setelah mendengar perkataan tersebut, pikiran Kho Beng jga menjadi sadar, setelah berpikir sejenak ia segera menjadi paham kembali.

Karenanya dg sikap tegang Kho Beng segera menjawab:

“Benar aku memang membawa berita penting, tapi bolehkan aku tahu siapa nama anda bertiga?”

Lelaki ditengah itu segera tertawa terbahak-bahak: “Ha….ha….ha….siaute adalah Kim Han bersama Liat dan Kim Yog

disebut orang sebagai Kim kong sam pian(tiga ruyung raksaa), tapi orang diwilayah Sam siang memanggil kami Kim toa, Kim ji dan Kim sam, boleh aku tahu siapa nama anda?”

Kim lotoa mempunyai suara yg lantang sedang ketiga bersaudara itu sama-sama mempunyai perawakan tubuh yg tingi besar seperti raksasa, memang sesuai sekali dg nama julukannya.

Sebelum tersenyum, Kho Beng segera menjura, katanya:

“Oooh, rupanya tiga pendekar dari keluarga Kim, selamat bersua, selamat bersua, siaute Kho Beng.’

Begitu namanya disebutkan, paras muka tiga bersaudara dari keluarga Kim ini segera berubah hebat, tubuh mereka bergetar keras dan keenam buah mata mereka bersama mengawasi wajah Kho Beng tanpa berkedip.

Selang beberapa saat kemudian Kim lotoa baru menjura lagi seraya berkata dg sikap sangat menghormat:

“Oooh, rupanya anda adalah Kho sauhiap, sejak masih berada dikota Gak yang tadi, siaute sudah mendengar tentang nama besar anda yg dikirim dari bukit Kun san, sungguh tak disangka baru saja namanya terdengar, orangnya sudah tiba, beruntung sekali kami tiga bersaudara dapat bertemu dgmu secepat ini.”

Berbicara sampai disini, dia segera berpaling kekiri kanan sambil membentak:

“Loji, losam mengapa kalian tidak segera maju untuk memberi hormat kepada Kho siauhiap? Mari kita pergunakan kesempatan ini untuk bersahabat lebih akrab dgnya.” Kho Beng sangat terkejut setelah mendengar perkataan yg penuh sanjungan itu, buru-buru dia membalas hormat Kim lotoa sambil cegahnya:

“Kalian tiga bersaudara tak usah banyak adat...”

Tapi kim loji dan Kim losam telah keburu maju kemuka dan menjura seraya berkata:

“Kho siauhiap tak usah merendah, kami bertiga bisa berkenalan dulu dg siauhiap jauh sebelum umat persilatan lain mengenalimu, boleh dibilang hal ini merupakan suatu keberuntungan dan kehormatan bagi kami.”

Terpaksa Kho Beng membalas hormat sekali lagi, kemudian dg berlagak keheranan dia berseru:

“Kita belum pernah bersua, lagipula aku tak pernah berjasa apa- apa, mengapa kalian bertiga menaruh sikap begitu hormat kepadaku?”

Kim loji segera tertawa terbahak-bahak: “Ha...ha...ha...sekalipun orang pandai segan menunjukkan

kepandaiannya, namun sikap saudara Kho kelewat merendah, dalam setengah tahun terakhir ini, ulah si kedele maut sudah cukup menggetarkan seluruh dunia persilatan dan membuat hati orang tak pernah tenang, tapi hanya saudara seorang yg berhasil menyelidiki iblis tersebut serta menyingkap wajah aslinya. Jasamu besar sekali dan namamu telah menggetarkan selurh dunia persilatan, bukan hanya kami tiga bersaudara yg menaruh perasaan kagum kepadamu, aku percaya setiap umat persilatan akan menyanjung serta menghormatimu...”

Sesungguhnya perkataan ini sangat memabukkan dan bisa membuat seseorang dalam alam nirwana, tapi bagi Kho Beng, ucapan tersebut seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong, seketika membuat hatinya tercekat dan senyumannya menjadi getir.

Kenyataan membuktikan bahwa apa yg dikuatirkan selama ini memang nyata terbukti, anggota Sam goan bun yg ditugaskan menyampaikan berita tersebut telah tiba lebih dulu guna menyebar luaskan berita itu kemana-mana.

Ini berarti gerak gerik encinya dikemudian hari akan memperoleh hambatan yg sangat besar, malah bisa jadi jiwanya akan terancam bahaya maut. Sekalipun perasaan Kho Beng saat ini sangat gelisah, namun perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan diwajahnya, sambil tertawa paksa segera ujarnya:

“Jihiap terlalu memuji diriku, padahal kejadian tersebut hanya kuketahui secara kebetulan, jadi bukan atas dasar kemampuan sendiri, urusan sekecil ini tidak sepantasnya disanjung sanjung.”

Kim Lotoa dan Kim loji telah angkat bicara, maka Kim losam pun tak tahan ikut menyanjung pula.

“Ha...ha....ha...saudara benar-benar kelewat merendah, padahal pihak Siau lim si telah menyiapkan Budha emas, pihak Bu Tong pay menyiapkan panji kebesaran, semuanya itu dihadiahkan bagi para pendekar yg berjasa. Siapa sih yg tak ingin memperoleh penghormatan seperti ini? Dan sekarang anda telah mendapat penghormatan itu, apakah hal ini tak pantas disanjung?

Ha...ha....ha. ”

“Tapi siaute sama sekali tidak berharap mendapatkan panji emas atau perak, aku tidak mengharapkan apa-apa.”

Kim Lotoa jadi termangu, kemudian serunya keheranan:

“Harap anda jangan salah mengerti, Budha emas dan panji perak bukan saja menjadi lambang penghormatan umat persilatan kepadanya, juga menjadi lambang rasa hormat dan kagum tujuh partai besar kepadanya. Dg membawa Buddha emas panji perak tersebut, kemanapun anda hendak pergi disitulah segala sesuatu akan tersedia bagimu, bila menghadapi kesulitan macam apapun dg memperlihatkan kedua macam benda itu, maka semua kesulitan akan hilang dg sendirinya, kami tiga bersaudara berharap bisa mendapatkannya pun tak punya kesempatan, masa kau malah menolak pemberian itu.”

Sekarang Kho Beng baru tahu, rupanya hal tersebut bisa mendatangkan penghormatan sedemikian tinginya, tak heran kalau ketua Sam goan bun menyebutnya sebagai suatu pahala besar dan umat persilatan banyak yg rela mempertaruhkan jiwa raga untuk mendapatkannya.

Tapi apa yg bisa diperolehnya sekarang? Sekalipun ingin mendapatkannya pun belum tentu mampu diterimanya.

Rasa masgul dan kesal yg menyelimuti perasaan hatinya sekarang sungguh tak terlukiskan dg kata-kata, cepat-cepat dia mengalihkan pembicaraan tersebut kesoal lain, katanya: “Sudah setengah harian lamanya kita berbicara, tapi hampir saja melupakan suatu persoalan penting, boleh aku tahu saat ini anggota Sam goan bun yg bertugas menyampaikan berita itu berada dimana?”

“Sebenarnya siauhiap telah membawa berita apa lagi?” Kim lotoa segera bertanya dg perasaan tegang.

Kho Beng segera menggeleng.

“Dijalanan banyak telinga dan mata, tak baik kita bicara ditempat semacam ini.”

Kim loji segera manggut-manggut.

“Ya betul! Bagaimana kalau kita pergi kerumah makan Ui hok lu didepan sana...”

Kho Beng jadi tertegun.

“apakah Ui hok lo bukan tempat umum yg lebih terbuka dg aneka macam manusia? Mau apa kita kesana?”

Kim Losam tersenyum.

“Tampaknya Kho Siauhiap masih belum tahu tentang duduk persoalan yg sebenarnya, kini segenap umat persilatan yg sedang mencari jejak iblis tersebut telah berkumpul semua ditelaga Tong ting ini dg mengangkat Liong kiong siancu Kiong Ceng san loya cu dari Kan san sebagai pimpinan sambil melanjutkan usahanya mencari jejak iblis tersebut. Hari ini sudah mencapai hari ketiga, kiong tayhiap sengaja menjadi tuan rumah borong rumah makan Ui hok lo tersebut, selain untuk menjadi tuan rumah yg baik hingga bisa menjamu sesama rekan persilatan dg sebaik-baiknya, disamping itu juga bisa digunakan sebagai tempat bertukar pendapat, kami justru sedang mendapat tugas untuk menerima tamu sebelum bertemu dg siauhiap secara kebetulan tadi.”

Dg perasaan terperanjat buru-buru Kho Beng berseru: “Jadi semua rekan persilatan telah berkumpul diwilayah ini,

apakah kalian telah menemukan sesuatu.”

Kim Lotoa menghela napas panjang, katanya:

“Lima hari berselang, Tui hun jit kiau(tujuh keahlian pengejar nyawa) Cia tayhiap telah menemui ajalnya dikota Gak yang, oleh sebab itu Siau lim tianglo yg bertanggung jawab dalam soal ini segera menurunkan perintah agar segenap umat persilatan berkumpul disekitar telaga Tong ting dan kota Gak yang sembari melakukan pengepungan, dg cara demikian diharapkan si kedele maut segera akan unjukkan diri, sehingga berita yg anda kirim boleh dibilang tiba tepat pada saatnya, nah silahkan.”

Kho Beng semakin gelisah lagi setelah mendengar perkataan itu, dia tak mengira kalau peristiwa tersebut akan berkembang sampai begini, tak heran kalau ketua Sam goan bun mengirim utusan khusus ke telaga Tong ting.

Namun segala urusan menjadi gawat dan amat mendesak untuk beberapa saat pun dia tak berhasil menemukan cara terbaik untuk menanggulangi kejadian tersebut, sampai-sampai berita penting yg semula telah dipersiapkan secara matangpun sekarang jadi bubar tak karuan.

Ya, hal ini memang bisa dimaklumi, persoalannya sudah menyangkut keselamatan jiwa kakak kandungnya tapi semakin dia panik, pikirannya semakink alut dan tak mampu dikonsentrasikan kembali, otomatis diapn tak berhasil menemukan suatu jalan keluarnya.

Sementara itu tiga ruyung raksasa telah mempersilahkan Kho Beng untuk berjalan didepan sedang mereka bertiga mengiring disampingnya, melihat rumah makan Ui hok lo kian lama bertambah dekat, hampir saja Kho Beng kabur dari situ agar bisa berpikir secara tenang.

Tapi dia mengerti, keadaan dan kondisi tidak mengijinkan dia berbuat begini, terpaksa dia melompat langkahnya dg sengaja, agar waktu yg tersisa itu dapat dimanfaatkan untuk mencari jalan keluar.

Betapapun panjangnya jalan yg harus dilalui, akhirnya bakal habis juga, apalagi jarak sejauh seratus kaki sebetulnya dekat sekali.

Akhirnya Kho Beng melangkah masuk kedalam pintu gerbang rumah makan Ui hok lo, pakaiannya yg kering terhembus angin kini basah lagi oleh keringat.

Tapi yg mengalir sekarang bukan keringat panas melainkan keringat dingin karena dia kelewat tegang dan gelisah.

Meski begitu diapun berhasil juga menemukan dua cara terbaik untuk menangulangi dua kemungkinan yg terjadi.

Setelah masuk kepintu gerbang Ui hok lo, Lo sam dari tiga ruyung raksasa dg memburu masuk lebih dulu kedalam ruangan.

Menanti Kho Beng sudah naik ketangga, terdengar suara Kim losam berseru lantang:

“Cianpwee dan rekan-rekan sekalian, Kho siauhiap yg berhasil menemukan jejak iblis itu sudah tiba dibawah loteng ini, kini ia ditemani toako dan jiko ku, siaute sengaja mengabarkan dulu sehingga kita dapat memberikan sambutan yg meriah.”

Perkataan itu diucapkan dg penuh rasa bangga dan gembira seakan-akan bisa berjalan bersama Kho Beng sudah merupakan suatu kebanggaan baginya.

Menanti Kho Beng mencapai ujung loteng, tampaklah lima puluhan jago yg berada dalam ruangan tersebut seretak telah bangkit berdiri untuk memberikan sambutannya.

Sambutan yg begitu meriah dan diluar dugaan ini benar-benar mengejutkan Kho Beng, sekalipun dia sudah mempunyai gambaran sebelumnya dari pembicaraannya dg ketiga ruyung raksasa tersebut.

Dibawah sinar lentera yg terang benderang menerangi seluruh ruangan, ditengah ruangan sudah disediakan enam buah meja perjamuan. Laki perempuan, tua muda meski tidak menunjukkan sikap yg sama ada yg menatap ada juga yg berdiam, ada yg gagah tapi ada juga yg tenang, naun sorot mata mereka rata-rata tajam seperti sembilu.

Dari sini dapat diketahui bahwa sebagian besar yg hadir adalah jago-jago persilatan kelas satu yg memiliki kepandaian silat amat tinggi didalam dunia persilatan.

Tampak seorang kakek bermuka merah berjenggot panjang yg duduk dimeja tengah segera menjura kepada Kho beng sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya:

“Baru siang hari tadi beritanya tiba, kini orangnya sudah mncul, siauhiap benar-benar naga diantara manusia, mewakili segenap umat persilatan yg hadir kuucapkan salut dan kegembiraan kami untuk menyambut kedatangan anda.”

Kim Lotoa yg berada disisinya segera menyela:

“Siauhiap, cianpwee ini adalah Liong kiong sincu, Kiong tayhiap dari Kun san yg termasyur diseantero jagat.”

Kho Beng segera menjura pula kepada kakek itu sambil sahutnya: “Kiong locianpwee terlalu memuji, padahal menyelidiki jejak iblis

sudah menjadi kewajiban dari kita umat persilatan, janganlah bersikap begitu menghormat, aku yg muda menjadi rikuh rasanya. ”

Kemudian sambil menjura kepada kawanan jago lainnya, ia berkata pula:

“Silahkan cianpwee sekalian melanjutkan daharnya, maaf bila kehadiran aku yg muda telah mengganggu kegembiraan kalian.” Lima puluhan jago persilatan itu segera membalas hormat, suasana menjad gaduh.

Sambil tertawa tergelak kembali Kiong Ceng san berkata: “Bagus, bagus sekali, meski membuat pahala namun tidak

sombong, memang begitulah ciri sejati dari seorang pendekar muda, mari kita siapkan tempat duduk buat Kho siauhiap, aku mesti menghormatinya dg tiga cawan arak.”

Seruan tersebut segera disambut dg kerepotan sangat, para pelayan segera menyiapkan kursi sumpit dan cawan, sementara para jago yg duduk dimeja utama sama-sama bergeser untuk meluangkan sebuah tempat kosong.

Tiga ruyung raksasa segera mempersilahkan Kho Beng enempati meja perjamuan utama, persis duduk bersebelahan dg Liong kiong sincu, sementara mereka sendiri duduk diluar lingkaran meja perjamuan yg tersedia.

Situasi seperti ini tentu saja amat mengejutkan Kho Beng, sampai dia menjadi tegang sekali.

Sejak kecil dia sudah hidup terlantar dan menyendiri, setelah terjun kedalam dunia persilatan, diapun belum pernah menjumpai keadaan seperti ini, terutama sanjungan serta penghormatan seperti yg begini tinggi.

Apalagi setelah dia saksikan pembagian tenpat duduk berbentuk bunga bwee itu, sekalipun sepintas lalu tak nampak perbedaannya, namun dalam kenyataan pembagian dalam tingkatan kedudukan dilakukan sangat telit.

Seperti halnya dg tiga ruyung raksasa, mereka hanya kebagian tempat duduk diurutan paling bawah dekat mulut tangga, jelas menunjukkan kalau kedudukan mereka adalah tingkat paling rendah diantara para jago yg hadir.

Padahal saat ini dia duduk dikursi utama, hal ini menunjukkan kalau dia sangat dihormati,
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(