Kedele Maut Jilid 06

 
Jilid 06

Buru-buru Nyoo To li membalikkan badan seraya berseru: “Saudara Kho, selanjutnya kau hendak kemana?”

Tanpa berpaling sahut Kho Beng:

“Langit sangat luas, dimanapun aku pergi disitulah aku menuju, tolong sampaikan kepada gurumu, Kho Beng akan berkunjung dulu ke Siau lim si, tiga bulan kemudian aku pasti akan berkunjung lagi kemari, pokoknya sebelum persoalan ini berhasil kuselidiki hingga tuntas, aku tak akan berdiam diri saja!”

Selesai berkata dia segera mempercepat langkah mengitari pagar pekarangan dan segera melesat turun kebawah bukit.

Apakah Kho Beng benar-benar hendak berangkat ke Siau lim si?

Benar, tapi bukan sekarang.

Saat ini dia sedang melaksanakan siasatnya dg sengaja melepaskan tabir untuk menyembunyikan jejak sendiri.

Begitu sampai dibawah bukit, dia segera mencari rumah makan untuk mengisi perut, kemudian dg memanfaatkan kegelapan malam dia balik kembali keatas bukit.

Kali ini dia meninggalkan jalan gunung yg lebar dan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yg sempurna, ia bergerak diantara semak belukar yg rimbun, dg gerakan yg sagat berhati-hati dia bergerak menuju ke perkampungan Cui wi san. Cerita tentang kematian si Unta sakti berpunggung baja menimbulkan pelbagai kecurigaan dalam hati Kho Beng, dia sadar dibalik peristiwa tersebut tentu terdapat hal-hal yg tidak beres.

Ia belum dapat menduga tenaga dalam siapakah diantara ketua Sam goan bun dg Thio bungkuk yg lebih tinggi, karenanya semula dia cuma menaruh kecurigaan saja terhadap ciangbunjin dari Sam goan bun tersebut.

Sebab dia berpendapat bahwa dg kemampuan seorang ketua sam goan bun, rasanya tidak besar kesempatan baginya untuk berhasil membinasakan si Unta sakti berpungung baja yg mempunyai nama amat termasyur didalam dunia persilatan.

Tapi setelah mendengar keterangan dari Nyoo To li, anggota perguruan Sam goan bun itu, Kho Beng merasa bahwa apa yg dicurigai sudah hampir mendekati kenyataan.

Sebab bila ia ditambah dg kemampuan Bok sian tianglo seorang jago lihay dari Siau lim si, maka kemungkinan berhasil didalam usaha pembunuhan itu menjadi bertambah besar.

Yg menjadi persoalan sekarang tinggal siapakah pembunuh utama dan siapakah pembantunya diantara Bok sian tianglo dg ketua Sam goan bun itu.

Bintang dan rembulan bersinar cerah, meskipn sudah malam namun waktunya masih dini.

Dg hapal sekali Kho Beng menelusuri jalan setapak menuju kebelakang perkampungan, kemudian melompat keatas dan menyembunyikan diri diatas sebatang pohon besar, dari situlah dia mengintip keadaan dalam gedung.

Tampak olehnya dapur dalam gedung dimana selama banyak tahun ia pernah berdiam, kini bermandikan cahaya lentera, banyak orang nampak berlalu lalang disitu. Jelas, saat ini masih belum saatnya untuk melakukan penyelidikan.

Diam-diam Kho Beng duduk diatas dahan pohon sambil menanti, mendadak teringat olehnya akan seseorang yg dirasakan penting dalam usahanya melakukan penyelidikan kali ini, agaknya ia teringat dg selembar wajah gemuk yg merah segar.

Sambil bertepuk tangan pelan, diam-diam serunya:

“Ya betul! Aku harus mencari sigemuk Oh, meskipun suhu bungkuk jarang berbicara dan bergurau dg orang lain, tapi dia cocok sekali dg sikoki ini, seringkali mereka duduk menum arak sambil berbincang bincang. Disamping itu, kamar tidur sigemuk Oh persis terletak disebelah kamar tidur suhu bungkuk, siapa tahu dia mengetahui sedikit banyak tentang latar belakang peristiwa tersebut. ”

Ketika keputusan diambil, waktu sudah menunjukkan kentongan pertama, lambat laun sinar lentera dalam gedung itupun mulai redup.

Kho Beng segera menghimpun tenaga dalamnya sambil melejit naik keatas wuwungan rumah, dari situ dia menyusup masuk kedalam gedung dekat dapur.

Saat itu sinar lentera didalam dapur telah padam, suasana disekeliling sana amat hening dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, tapi dibalik jendela kamar sigemuk Oh terlihatlah sinar lentera masih menerangi ruangan, jelas dia belum tidur.

Dg suatu gerakan ringan Kho Beng mendekati pintu, mendorongnya, menyelinap masuk kemudian merapatkan kembali pintu kamarnya.

Tampak sigemuk Oh sedang duduk seorang diri sambil minum arak, diatas meja telah dihidangkan dua tiga macam sayur.

Ketika melihat Kho Beng menyerbu masuk kedalam ruangan secara tiba-tiba, ia sama sekali tidak nampak terkejut atau keheranan malah sambil tertawa serunya:

“Baru setengah tahun tak bersua, nampaknya kau sudah berubah seperti orang lain, ehm..tampaknya memang memperoleh kemajuan amat pesat. ”

Penampilan seperti ini sudah barang tentu sangat mencengangkan Kho beng, dia jadi tertegun dan serunya keheranan:

“Oh suhu, nampaknya kau seperti telah menduga kalau aku bakal datang kemari?”

Sigemuk Oh segera manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa: “Cuma aku tak menyangka kedatanganmu begitu awal, nah

silahkan duduk, sayur dan arak telah kupersiapkan, mari kita bersantap sambil berbincang-bincang.”

“Tidak!” tampik Kho Beng dg perasaan sangat tegang, “Oh suhu, walaupun aku pernah menjadi seorang pembantu dari Sam goan bun, tapi sekarang telah berubah menjadi duri dalam daging bagi ciangbunjin, karenanya aku tak berani berdiam terlalu lama, aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu.”

Sigemuk Oh meneguk araknya secawan kemudian balik bertanya: “Apakah dikarenakan persoalan sibungkuk?”

Air mata segera jatuh berlinang membasahi wajah Kho Beng, ujarnya dg sedih:

“Oh suhu, kalau toh kau telah memahami maksud kedatanganku, tolong beritahukanlah kepadaku keadaan yg sebenarnya, sesungguhnya apa yg menyebabkan kematian suhu bungkuk?”

Oh gemuk segera menggelengkan kepalanya berulang kali: “Dalam soal ini aku sigemuk pun kurang jelas, tapi sibungkuk

memang meninggalkan pesan agar kusampaikan kepadamu.” “Apa pesannya?” buru-buru Kho Beng bertanya dg semangat

berkobar kembali.

Oh gemuk menyumpit sebuah daging dan dikunyahnya lebih dulu, setelah ditelan ia baru berkata:

“Dia menyuruh aku bertanya dulu kepadamu, dalam bidang ilmu silat, apakah kau telah berhasil mencapai apa yg diharapkan?”

Kho Beng manggut-manggut:

“Beruntung sekali aku dapat memenuhi pengharapan suhu bungkuk, itulah sebabnya aku baru berani pulang untuk menjenguk dia orang tua, sungguh tak disangka dia telah berpulang kealam baka. ”

Ia tak dapat menahan rasa sedihnya lagi sehingga air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Dg nada serius Oh gemuk segera berseru:

“Lote, sekarang bukan saat bagimu untuk menangis, kalau toh kau mengatakan tidak menyia-nyiakan harapan sibungkuk, coba tunjukkan dulu kemampuanmu itu dihadapan aku sigemuk.”

Berbicara sampai disitu, dia segera mengeluarkan sebuah batu sebesar telur ayam yg diletakkan diatas meja sambil katanya:

“Inilah cara mencoba kepandaianmu yg dipesankan sibungkuk, sekarang remas dulu batu itu sampai hancur!”

Dg termangu-mangu Kho Beng menerima batu tadi kemudian mengerahkan tenaga dalamnya ketelapak tangannya, sekali pencet batu tersebut segera hancur menjadi bubuk dan berserakan lewat celah-celah jari tangannya.

Melihat keberhasilan pemuda tersebut, Oh gemuk segera manggut-manggut, kemudian sambil menunding kearah lilin yg berada dimeja, ia berkata lagi:

“Sekarang coba kau papas kutung separuh batang lilin ini menjadi enam potong, tapi hal ini harus kau lakukan dalam sekali gerakan, lagipula setiap potong harus mempunyai panjang yg sama. Bila kutungan lilin tersebut tak sampai ambruk dari tumpukannya, hal tersebut baru dianggap berhasil!”

Kho Beng menjadi tertegun.

“Memotong lilin tanpa roboh serta mempunyai kepandaian yg sama tidak terlalu sulit untuk kukerjakan, tapi mana mungkin dalam sekali tebasan pedang lilin tersebut dapat dipapas menjadi enam potongan?”

“Sibungkuk telah berpesan, cara ini bukan saja menguji kepandaian silatmu, juga menguji kecerdasan otakmu, bila kau tidak lulus maka pesannya tak boleh disampaikan kepadamu, pesan tersebut baru dapat kusampaikan apabila hal mana sudah kau pahami.”

Kho Beng menjadi terbungkam dalam seribu bahasa, dia tahu kata-kata yg dirahasiakan sigemuk pasti mempunyai arti penting dg dirinya, tapi bagaimana mungkin dia dapat memapas kutung  separuh batang lilin menjadi enam bagian dalam sekali tebasan saja?

Dalam lamunannya mendadak dia teringat kembali dg catatan ilmu silat pemberian Thio bungkuk tempo hari, diantaranya tercantum sebuah jurus pedang dari Hoa san pay yg disebut “Angin puyuh menggulung debu”, gerakan pedang itu didasari pada gerakan berputar, apabila pedangnya tidak ditarik, tubuhnya memang akan berputar sebanyak enam kali, bukankah gerakan tersebut cocok sekali dg sekali tebasan enam kali memapas?

Berpikir sampai disitu, dia tak berani membuang waktu lagi, pedangnya segera diloloskan dari sarungnya, kemudian setelah memusatkan seluruh perhatiannya, dia himpun hawa murninya kedalam pedang dan pedangnya langsung dibabat kearah separuh batang lilin itu diiringi perputaran badan.

Tampak cahaya tajam berkilauan, dalam waktu singkat Kho Beng telah menarik pedangnya, lalu sambil menyarungkan kembali pedangnya, ia berkata:

“Silahkan Oh suhu memeriksanya.”

Lilin itu nampak masih tetap utuh seperti sedia kala dan sama sekali tidak kelihatan cacad.

Sambil melototkan matanya lebar-lebar, sigemuk Oh mengangkat lilin tersebut pada bagian paling ujung, ternyata bagian tersebut sudah terpapas kutung. Demikian seterusnya, ternyata lilin tadi memang terbagi menjadi enam potong dg panjang yg sama, hal ini menandakan kalau permainan pedang pemuda tersebut memang sudah amat mantap.

Si gemuk Oh segera bersorak memuji:

“Suatu kepandaian yg sangat hebat lote, meskipun aku sigemuk belum pernah belajar silat, namun jarang sekali kujumpai kehebatan seperti ini, kau memang sangat hebat….”

Padahal Kho Beng sendiripun tidak terlalu yakin dg kemampuan sendiri, kini dia baru dapat menghembuskan napas lega, buru-buru katanya:

“Oh suhu, semua syarat telah berhasil kulaksanakan, sekarang tolong sampaikan pesan terakhir dari dia orang tua.”

Sigemuk Oh segera manggut-manggut:

“Sibungkuk berpesan : Jika kedua ujian tersebut berhasil kau atasi, silahkan datang kekuburannya untuk bersembahyang.”

Kho Beng menjadi tertegun.

“Siang tadi aku telah berjiarah kesitu!” serunya.

“Tak ada salahnya kau berjiarah sekali lagi, jika menemukan sesuatu pergilah ke pohon siong ketiga disisi kiri kuburan, disana akan kau temukan barang yg dibutuhkan.”

“Hanya perkataan ini saja?” tanya Kho Beng tercengang. Sekali lagi sigemuk Oh manggut-manggut:

“Yaa, hanya kata-kata itu, sekarang semua pesan sibungkuk telah kusampaikan kepadamu, mumpung waktu sudah larut dan orang lain belum menyadari akan kehadiranmu pergilah kesana dg cepat.”

Kho Beng memang ingin secepatnya mengetahui benda apakah yg berada dibawah pohon ketiga disisi kiri kuburan, tentu saja diapun tak ingin berdiam terlalu lama disitu sambil menjura segera ujarnya:

“Terima kasih banyak atas bantuanmu, budi kebaikan ini pasti akan kubalas dikemudian hari.”

Selesai berkata, dia segera membalikkan badan dan membuka pintu, kemudian setelah celingukan sekejap kesekeliling sana, dg suatu gerakan cepat tubuhnya melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Suasana tengah halaman gedung amat sepi, Kho beng berhasil keluar dari dinding pekarangan tanpa menjumpai kesulitan apa-apa. Setelah masuk kedalam hutan, sesuai dg petunjuk dia menuju kepohon siong ketiga disisi kiri kuburan dan melompat naik keatas, tapi setelah diperiksa sekejap dia menjadi tertegun.

Apakah diatas pohon tak ada barangnya? Bukan, barang tersebut memang berada disana, tapi jenisnya sama sekali diluar dugaan Kho Beng, sebab benda itu ternyata tak lain adalah sebuah sekop bulat.

Selain sekop bulat, disana tidak ditemukan benda lain.

Kho Beng menjadi kecewa sekali, pada mulanya dia mengira benda yg disembunyikan si Unta sakti berpunggung baja diatas pohon itu meski tiada hubungan dg asal usulnya paling tidak menyangkut sebab-sebab kematiannya. Sungguh tak disangka ternyata benda itu adalah sebuah benda yg sama sekali tak ada sangkut pautnya dg masalah tersebut.

Lalu sekop bulat yg karat ini melambangkan apa? Mungkinkah sigemuk Oh sedang bergurau dgnya?

Kho Beng merasa sangat curiga, tapi setelah dipikirkan lebih jauh, dia merasa tak mungkin sigemuk Oh sengaja bergurau dgnya, mengingat persoalan ini menyangkut suatu masalah yg besar.

Lagipula ditinjau dari wataknya sehari-hari biasa yg terbuka dan polos, tak mungkin dia sengaja menyiapkan rencana busuk untuk menjebaknya.

Kho Beng segera mencabut keluar sekop bulat itu, lalu dalam keadaan bimbang dia melayang turun kembali kebawah pohon.

Dalam keadaan begini tanpa terasa dia teringat kembali dg pesan kedua si gemuk Oh:

“. tak ada salah kau berjiarah kepusara tersebut, bila

menemukan sesuatu. ”

Berpikir sampai disitu, dia segera menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang, pikirnya:

“Bila menemukan sesuatu, apakah benda yg kubutuhkan adalah sekop bulat ini? Apakah Thio bungkuk menyuruh aku menggali kuburan da merampok isi peti mati? Benar-benar suatu kejadian yg membingungkan hati!”

Sambil berpikir Kho Beng mundur terus hingga didepan kuburan, dia mencoba untuk memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, namun kuburan itu masih utuh seperti sedia kala, bentuknya tak berbeda seperti apa yg dilihatnya siang tadi.

Memandang pusara yg sendu tanpa terasa pemuda itu teringat kembali dg pengalaman hidupnya selama ini, bagaimanapun juga mereka telah hidup bersama hampir delapan belas tahun lamanya. Kini memandang gundukan tanah yg sepi, rasa sedih tiba-tiba menyelimuti perasaannya, dia segera berlutut dan diam-diam berkata:

“Cianpwee, bila kau benar-benar mati dibunuh, mati lantaran urusanku, beristirahatlah dg tenang, aku bersumpah akan membalaskan dendam bagi kematianmu, akan kugusur pembunuh tersebut dan membunuhnya dihadapan pusaramu. ”

Baru selesai dia berdoa, mendadak berkilat sepasang mata Kho Beng, dia seperti telah menemukan sesuatu.

Apa yg dijumpanya ternyata tulisan Unta sakti berpunggung baja diatas batu nisan itu mirip sekali dg gaya tulisan sibungkuk sendiri.

Penemuan yg sama sekali tak terduga ini bukan saja membuat Kho Beng terperanjat, bahkan semakin menambah perasaan bingungnya.

Mana mungkin ada orang mati yg bisa mengukir batu nisan sendiri, jelas hal ini tak mungkin terjadi.

Menurut pengakuan Nyoo To li, jenasah Thio bungkuk dikubur sendiri oleh ketua Sam goan bun, ini berarti tulisan diatas batu nisan tersebut seharusnya merupakan tulisan dari ketua Sam goan bun, tapi mungkinkah gaya tulisan dari ketua Sam goan bun mirip sekali dg gaya tulisan Thio bungkuk?

Atau mungkinkah dia telah salah melihat?

Cepat-cepat Kho Beng memburu kedepan dan mengamati gaya tulisan diatas batu nisan itu lebih seksama, makin dipandang dia merasa tulisan itu makin mirip dg gaya tulisan Thio bungkuk.

Dalam sekejap mata Kho Beng segera teringat kemabli dg sekop bulat yg berada disisinya, dg cepat hatinya bergetar keras, segera pikirnya:

“Dia bilang kalau ditemukan sesuatu, benda yg kau butuhkan berada diatas pohon siong ketiga disisi kiri kuburan. yaa benar,

kalau begitu dia orang tua telah memutuskan agar aku menggali kuburan ini untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenasahnya!”

Sekarang dia baru merasa mustahil ada orang mati yg menyiapkan batu nisannya sendiri, satu-satunya dugaan yg masuk diakal adalah si Unta sakti berpunggung baja telah menduga akan kematiannya, maka menyiapkan batu nisan lebih dulu dan secara diam-diam berpesan kepada Oh gemuk untuk menyiapkan sekop bulat ditempat yg telah ditunjuk.... Jelas sudah semua persiapan yg dilakukan secara cermat dan rahasia ini disamping untuk menyelamatkan jiwa Oh gemuk, selain itu juga merupakan petunjuk yg kuat bahwa asal kuburan itu dibongkar maka siapa pembunuh dia orang tua yg sebenarnya akan segera terbongkar.

Bahkan bisa jadi teka teki sekitar asal usulnya juga akan diperoleh jawaban dari dalam peti mati itu....

Makin berpikir Kho Beng merasa hatinya semakin tegang, dia segera bangkit berdiri, menyambar sekop dan m ulai mencangkuli kuburan tersebut.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras dari dalam hutan.

“ Manusia keparat! Besar amat nyalimu, malam-malam begini berani datang bongkar kuburan, Hmmm! Cepat hentikan perbuatanmu itu!”

Menyusul suara bentakan itu, tampak belasan sosok manusia bermunculan dari balik hutan, semuanya bersenjata pedang dan secepatnya menerjang kedepan kuburan melakukan pengepungan.

Dg perasaan terkesiap, Kho Beng membuang sekopnya sambil meloloskan pedang, tapi apa yg kemudian terlihat membuat paras mukanya berubah hebat.

Ternyata kawanan manusia tersebut bukan lain adalah anggota perguruan Sam goan bun sedang sebagai pemimpinnya tak lain adalah ketuanya sendiri, Sun Thian hong.

Begitu bersua dg Sun Thia hong, hawa amarah Kho Beng segera berkobar kembali, serunya sambil tertawa dingin:

“Ciangbunjin, tajam benar kabar beritamu.”

Dg wajah dingin kaku bagaikan salju, Sun Thian hong membentak keras:

“Bocah keparat, sudah berulang kali kuperingatkan kepadamu, jangan mencoba-coba datang lagi keperkampungan Cui wi san ceng, tak nyana kau begitu berani datang menyatroni kami, bahkan berniat untuk menggali kuburan. hmmm!”

“He....he....he. boleh aku bertanya kepada ciangbunjin, apakah

bukit ini milik pribadimu?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh dg suara ketus: “Pokoknya, asal Kho Beng tidak melangkah masuk kedalam perkampungan Cui wi san ceng, rasanya aku toh belum sampai melanggar janjiku terhadap ciangbunjin?”

Dg penuh kegusaran, ketua Sam goan bun berseru:

“Tajam betul selembar mulutmu! Aku tak mengira kau adalah seorang manusia yg tak  kenal budi, air susu dibalas dg air tuba. ”

“Tutup mulut!” dg kening berkerut Kho Beng membentak nyaring, “Aku Kho Beng adalah seorang lelaki sejati, siapa menanam pohon kebaikan akan ku balas dg kebajikan, siapa menanam pohon kejahatan akan kubayar pula dg uah kejahatan. Tapi kau mesti tahu, usahaku membongkar kuburan malam ini tak ada sangkut pautnya dg budi dan dendam, harap ciangbunjin jangan mencampur baurkannya menjadi satu masalah yg sama ”

Dg suara menyeramkan ketus, Sun Thian hong tertawa keras: “Bagus…bagus sekali, kalau toh kau sudah tahu budi harus

dibalas dg budi, mengapa kau berniat membongkar kuburan? Kau toh tahu, siapa yg telah mati dia yg harus dihormati, apalagi setelah masuk ketanah, sudah sepantasnya diberi kedamaian dan ketentraman, apalagi Thio bungkuk mempunyai budi kepadamu….”

Kho beng segera tertawa bergelak:

“Ha…ha….ha….perkataan ciangbunjin kali ini memang sangat tepat, justru karena aku tak rela si bungkuk cianpwee mati penasaran diakhirat sehingga tak bisa beristirahat dg mata meram, maka aku telah bersiap-siap akan membongkar kuburan serta memeriksa jenasahnya.”

Mendadak nada pembicaraan ketua Sam goan bun itu berubah menjadi dingin menyeramkan, serunya :

“Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bungkuk mati karena terserang penyakit gawat, apalagi yg hendak kau periksa?”

“Hmmm, siapa yg berani menjamin akan kebenaran hal ini?” jengek pemuda itu dingin.

“Toh aku yg mengetakan si bungkuk mati karena sakit, tentu saja aku berani menjamin,” jawab Sun Thian hong marah.

“Tapi siapa pula yg berani menjamin kebenaran dari perkataan ciangbunjin?” jengek Kho Beng lagi sambil tertawa dingin.

Sun Thian hong segera berkerut kening, dg mata melotot besar karena marah ia membentak:

“Oooh, jadi kau anggap sibungkuk mati dibunuh dan akulah sipembunuhnya?” “Tidak berani, sebelum melakukan pemeriksaan, Kho Beng tak berani mencurigai siapa saja, tapi tak bisa pula menghilangkan rasa curigaku terhadap setiap orang.”

Mendadak Sun Thian hong mendongakkan kepalanya lalu tertawa tergelak, ditundingnya Kho Beng dg ujung pedang, lalu serunya:

“Bagus sekali Kho Beng, beranikah kau bertaruh dgku?” “Bagaimana bertaruhnya?” sahut Kho Beng, meski agak tertegun

didalam hatinya.

“Mari kita bongkar kuburan it, jika keadaannya sesuai dg apa yg kau curigai, saat itu juga aku akan menggorok leher untuk bunuh diri, tapi kalau tak sesuai dg apa yg kau duga, maka kau harus mendirikan gubuk disini dan hidup mengasingkan diri selama tiga puluh tahun tanpa boleh meninggalkan tempat ini selangkah pun. Beranikah kau menerima tantanganku ini?”

Orang bilang: Jika seseorang telah melakukan kejahatan, maka dia pasti ragu da cemas dalam setiap perkataan maupun tindakan, tapi perkataan Sun Thian hong sekarang diucapkan secara gagah dan tegas, tentu saja hal ini membuat Kho Beng menjadi tertegun.

Tanpa terasa pandangannya semula mulai goyah, dia mulai ragu dg penilaian sendiri, tapi sebagai pemuda cerdik, setelah termenung sebentar ia segera menggeleng:

“Maaf jika Kho Beng tiada kegembiraan untuk melayani taruhanmu itu…”

Sun Thian hong segera tertawa mengejek, tukasnya :

“Aku tahu kau tak berani menerima taruhanku ini karena kau belum mempunyai keyakinan, nah sekarang kuperingatkan kepadamu untuk terakhir kalinya, segera tinggalkan tempat ini daripada mendatangkan maut bagi diri sendiri!”

Dg dingin Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali: “Maaf kalau aku tak bisa menuruti keinginanmu, aku telah

bertekad akan membongkar kuburan tersebut, sekalipun ada ancaman seperti apapun, tekadku ini tak akan berubah.”

“Kho Beng!” bentak Sun Thian hong sambil melotot, “ Kau harus tahu, kesabaran orang ada batasnya…”

Setelah ciangbunjin dari Sam goan bun ini berulang kali berusaha menghalangi niatnya, kepercayaan Kho Beng yg semula mulai goyah kini menjadi mantap kembali.

Mendengar perkataan tersebut, ia segera menjawab dg suara dingin: “Kho Beng pun hendak memperingatkan kepada ciangbunjin, bila ciangbunjin merasa tak pernah melakukan kesalahan, seharusnya kau tidak menghalangi niatku untuk membongkar kuburan.”

“Aku tak bisa membiarkan kau berbuat semena-mena.” Kembali Sun Thian hong membentak keras, “ Aku tak tega menyaksikan sahabatku selama puluhan tahun yg telah mati ternyata tak bisa peroleh ketenangan diakhir hayatnya, bahkan setelah dikuburpun, kuburannya masih dibongkar orang. ”

Dg angkuh Kho beng segera bangkit berdiri, kemudian serunya: “Ciangbunjin tak usah banyak bicara lagi, pokoknya segala

sesuatunya biar aku seorang yg menanggung.”

Agaknya kesabaran Sun Thian hong pun telah mencapai puncaknya, dg mata mendelik karena marah, dia berseru penuh nada menyeramkan.

“Jadi kau memaksa akan bertarung melawanku?” Kho Beng tertawa seram.

“Bila keadaan memang menghendaki demikian dan bagi Kho Beng tiada pilihan lain, terpaksa aku akan pertaruhkan selembar jiwaku untuk menghadapi ancaman macam apapun.”

Dg pedang terhunus Sun Thian hong maju dua langkah kedepan, kemudian serunya:

“Bagus, bagus sekali, wahai Kho Beng asal kau sanggup melampaui diriku, segala sesuatunya terserah kehendakmu sendiri!”

Selesai berkata ia segera melintangkan pedangnya sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tidak diinginkan.

Menyaksikan hal tersebut, Kho Beng segera menjura seraya berkata:

“Sudah lama Kho Beng mengagumi kelihayan ilmu pedang Sam goan kiam hoat, beruntung sekali aku bisa peroleh petunjuk langsung pada hari ini sehingga tidak menyia-nyiakan serih payahku selama setengah tahun. Ciangbunjin sebagai angkatan lebih tua silahkan turun tangan lebih dulu!”

Sun Thian hong tidak malu menjadi seorang ketua dari suatu perguruan, menghadapi pertarungan yg segera berkobar ternyata ia tak nampak gusar atau mendongkol, tidak panik ataupun gelisah, sikapnya kelihatan sangat tenang dan penuh kemantapan, tak malu menjadi seorang tokoh ilmu pedang yg berpengalaman.

Dg sikap yg dingin dan hambar dia berseru: “Kau tak perlu sungkan-sungkan, dg usiaku diatas enam puluh tahun bila sampai melancarkan serangan terlebih dahulu kepada seorang pemuda ingusan macam kau, berita yg tersiar dalam dunia persilatan dikemudian hari bisa mambuat aku malu menjadi seorang ciangbunjin lagi!”

Kho Beng segera mendengus dingin:

“Hmmm, kalau begitu maafkan aku!”

Pedangnya segera diangkat keatas kemudian dg langkah Bwee hong poh dia mendesak maju kemuka secepat hembusan angin dan sebuah bacokan kilat dilancarkan.

Deru angin tajam menyambar ditengah udara, sinar tajam berkilauan menusuk pandangan mata, menyusul perbuatan tersebut, pedangnya membentuk satu gerakan lingkaran huruf besar. Inilah jurus angin berhembus debu menggulung dari aliran Hoa san pay.

Menyaksikan gerak serangan Kho Beng tersebut, Sun Thian hong menjadi sempat terperanjat, dia bukannya takut dg gaya pengaruh jurus ilmu pedang tersebut, tapi kaget dan bingung setelah melihat hembusan hawa pedang yg begitu kuat dari ujung senjata lawan.

Biarpun ketua yg berusia lanjut ini memiliki pengalaman yg cukup luas dalam dunia persilatan, bagaimanapun juga dia tak menyangka kalau seorang pemuda ingusan seperti ini ternyata memiliki tenaga dalam yg jah lebih sempurna daripada tenaga dalam yg dimilikinya.

Apalagi menurut apa yg diketahuinya, pada setengah tahun berselang Kho Beng baru sempat mempelajari dasar-dasar tenaga dalam saja, mana mungkin dalam waktu singkat ini kemampuan tenaga dalamnya dapat meningkat sehebat ini?

Sementara itu serangan pedang dari Kho Beng sudah keburu datang sehingga tidak memberi kesempatan lagi bagi ciangbunjin tersebut untuk berpikir lebih jauh.

Namun bagaimanapun juga , jahe yg tua memang lebih pedas, dalam waktu yg amat singkat inilah ketua Sam goan bun telah mengambil keputusan bagaimana cara untuk mengatasi keadaan tersebut.

Tampak dia menghindar kesamping, kemudian diantara hembusan angin serangan lawan, pedangnya melakukan tangkisan berulang kali dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai untuk memunahkan semua ancaman yg datang dari Kho Beng. Setelah itu diiringi suara bentakan keras, tak menanti sampai Kho Beng berubah gerak serangan, tubuhnya telah mendesak maju dg melancarkan serangan menggunakan jurus sam goan ci ti.

Secara beruntun dia melepaskan tiga buah serangan berantai hingga dalam waktu singkat cahaya berkilauan telah menciptakan selapis kabut pedang yg mengurung tubuh Kho Beng rapat-rapat.

Ilmu pedang sam goan kiam hoat terdiri dari tiga kali tiga jurus berantai dg enam jurus terbalik, sedangkan keistimewaannya adalah menyerang dalam bertahan dan sekali menyerang tiga jurus serangan akan meluncur secara berantai sehingga tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk melancarkan serangan balasan.

Setelah menderita kekalahan ditangan kedele maut dalam pertarungan yg pertama, sedikit banyak Kho Beng merasa tegang juga menghadapi pertarungan kali ini tapi dia tak pernah menyangka kalau begitu bertarung segera akan terlibat dalam suatu pertarungan yg sengit.

Berulang kali dia mencoba untuk menembusi pertahanan lawan dg menerjang kekiri dan kekanan, namun selalu tak berhasil. Dalam keadaan begini terpaksa dia harus mengandalkan kesempurnaan tenaga dalam untuk mempertahankan diri sehingga tak sampai menderita kekalahan total….

Benarkah Kho Beng bukan tandingan dari ketua Sam goan bun? Tidak! Kecuali merasa agak tegang diapun merasa agak sangsi.

Kesangsian ini membuat hatinya jadi ragu-ragu untuk mengeluarkan ilmu pedang Lui siu jit si yg maha dahsyat itu.

Sekalipun ketua Sam goan bun ini dicurigainya sebagai pembunuh Unta sakti berpunggung baja, namun diapun telah melepaskan budi pemeliharaan dan pendidikan selama delapan belas tahun, oleh karena itu sebelum duduk persoalannya menjadi jelas, dia tak tega untuk melancarkan serangan secara keji, kuatirnya bila salah bertindak maka akibatnya dia akan menanggung penyesalan sepanjang masa.

Tapi Sun Thian hong, ketua dari Sam goan bun itu justru tidak memahami bagaimana perasaan lawannya, pedang digetarkan dg enteng dan cekatan, begitu sepuluh jurus lewat sedangkan serangan yg digunakan Kho Beng pulang pergi hanya tiga jurus tersebut sehingga sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan, tanpa terasa semangatnya menjadi berkobar kembali.

Sambil tertawa seram dia segera berseru:

“Tadinya kukira kau sudah memiliki kepandaian yg luar biasa sehingga berani melakukan perlawanan, tak tahunya hanya sedikit kepandaian tersebut saja yg kau miliki, hmmm mengingat aku

telah memeliharamu selama delapan belas tahun asal kau bersedia meyesali perbuatan ini, akupun bersedia pula memberi sebuah jalan kepadamu.”

Kho Beng yg sebetulnya sedang bimbang karena pertentangan batinnya, kini menjadi naik darah setelah mendengar perkataan itu, dia merasa tak bersalah lalau apa yg mesti ditakuti?

Tiba-tiba saja dia menyadari bahwa pertarungan ini bukan perebutan menang kalah, juga bukan pertarungan antara hidup mati tapi memperebutkan kebenaran.

Apabila dia tetap ragu untuk mengambil keputusan sehingga menyebabkan menderita kekalahan, soal mati hidup jangan dibicarakan dulu, tapi yg pasti soal misteri kematian si Unta sakti berpunggung baja akan tetap tenggelam didasar liang untuk selamanya, sedangkan niatnya yg luhur bukan saja tak bakal dipahami orang lain, malah sebaliknya akan dituduh orang sebagai manusia berdosa.

Dalam waktu singkat pertentangan batin dalam hatinya lenyap tak berbekas, sambil tertawa nyaring segera serunya:

“Ilmu pedang Sam goan kiam hoat memang nyata sekali kehebatannya tapi menang kalah belum diketahui, kalau ingin membicarakan masalah tersebut rasanya terlalu dini, harap ciangbunjin merasakan pula serangan balasan yg akan kulancarkan segera.”

Belum selesai perkataa tersebut diucapkan, gerak serangan pedangnya telah berubah, dg jurus “Seratus aliran kembali ke samudra” dia lancarkan serangan balasan terhadap ketua dari Sam goan bun tersebut.

Begitu serangan tersebut dilancarkan, nyata sekali perbedaannya, dalam waktu singkat seluruh angkasa telah dipenuhi dg kilauan cahaya pedang yg menyusup seperti ular perak, begitu dahsyat dan banyak kilauan cahaya tadi sehingga sudah untuk diikuti secara pasti. Kejadian tersebut bukan saja mengejutkan ketua sam goan bun tersebut, bahkan dari posisi menyerang dia harus merubah taktik menjadi posisi bertahan, selapis kabut pedang yg kuat melindungi seluruh tubuhnya secara ketat dan kuat.

Sementara itu belasan anggota Sam goan bun yg menonton jalannya pertarungan dari sisi arena pun sama-sama berseru kaget , perasaan tegang pun segera mencekam wajah mereka semua.

Kho Beng semakin bersemangat lagi setelah jurus serangannya yg pertama membawa hasil, keberaniannya juga semakin meningkat.

Secara beruntun dia segera mengeluarkan jurus-jurus serangan “Ombak dahsyat menghantam karang” dan “Air terjun bunga terbang” untuk mencecar lawannya, serangan demi serangan seperti gulungan air sungai Tiang kang, membanjir tiba tiada habisnya.

Perubahan jurus yg dahsyat dan hebat ditambah pula dg desingan angin tajam yg memekakkan telinga, segera membuat ketua Sam goan bun in harus mempertahankan diri secara cermat dan berhati-hati sekali.

Ketujuh jurus serangan dahsyat yg diciptakan oleh Bu wi lojin ini sengaja diberi nama tujuh jurus air mengalir karena begitu serangan pedang dilancarkan, maka seperti gulungan bah yg mengalir, semua lobang dan celah akan dimasuki dan sebuah benda akan terhanyut olehnya.

Kendatipun pertahanan yg dilakukan Sun Thian hong boleh dibilang cukup tangguh, nyatanya dia toh tak sanggup mempertahankan diri terhadap desakan lawannya, setelah mempertahankan dri sebanyak tiga jurus secara payah, dia mulai merasakan matanya berkunang-kunang dan hatinya berdebar-debar keras.

Pada saat jurus keempat dilancarkan itulah, medadak.....

“Traang! Traang! Traang!”

Secara beruntun terjadi tiga kali bentrokan nyaring, tahu-tahu pedang Sun Thian hong sudah terpental ketengah udara dan berubah menjadi serentetan cahaya perak yg terjatuh sejauh tiga kaki dari posisinya.

Peristiwa ini tentu saja menggemparkan segenap anggota Sam goan bun yg hadir disana. Ditengah suara jeritan kaget, tahu-tahu pedang Kho Beng telah digetarkan kemuka dan ujung pedang tersebut telah menempel diatas dada Sun Thian hong.

Pantulan cahaya perak yg memancar dari balik pedang, menyinari paras muka Sun Thian hong yg pucat pias seperti mayat, membuat segenap anggota Sam goan bun terbungkam dalam seribu bahasa dan detak jantungnya serasa hampir berhenti.

Kini menang kalah sudah terlihat dg jelas.

Kalau tadi yg tua bersikap angker dan menegur secara kasar!

Sedang yg muda berusaha melawan dg posisi dibawah angin. Maka sekarang justru kebalikannya, yg tua nampak loyo dan masgul seperti orang yg kehilangan semangat, sebaliknya yg muda justru sampak gagah perkasa.

Perubahan yg sangat mendadak ini segera membuat ketua Sam goan bun menjadi lemas dan tiba-tiba menghela napas panjang, katanya kemudian dg suara gemetar:

“Yaa sudahlah...selama hidupku aku berusaha bertindak secara hati-hati, sungguh tak disangka karena kurang berhati-hati, nama baik yg sudah kupupuk selama puluhan tahun akhirnya harus hancur dalam semalam!”

“Apakah ciangbunjin tidak puas?” seru Kho Beng sambil tertawa dingin.

Sun Thian hong tertawa getir.

“Ilmu pedang Lui sui Jit si memang suatu ilmu pedang yg menggetarkan seluruh jagat, menang kalah kini sudah ditentukan, terbukti akulah yg berada dipihak yg kalah,kenapa mesti tak puas? Kho Beng kau boleh turun tangan dg segera.”

Dg suara dingin yg menyeramkan, Kho Beng berkata:

“Mengingat ciangbunjin telah memeliharaku selama delapan belas tahun, akupun menyudahi persoalan ini sampai disini saja, kuharap ciangbunjin dapat melaksanakan janji semula dg tidak menghalangi pekerjaanku lagi.”

Selesai berkata dia segera menarik kembali pedangnya dan segera membalikkan badan berjalan menuju ketepi kuburan.

Sementara itu belasan anggota Sam goan bun yg berada didepan kuburan telah memisahkan diri menjadi dua rombongan, mereka berdiri dg wajah serius dan pedang terhunus.

Melihat hal ini, Kho Beng segera berhenti lalu menegur dg kening berkerut: “Toako sekalian harap segera kembali keperkampungan, seusai bekerja nanti, siaute pasti akan mohon maaf kepada kalian.”

Kawanan anggota Sam goan bun itu tetap membungkam diri dalam seribu bahasa dan berdiri serius ditempat tanpa berkutik terhadap teguran Kho Beng tersebut, mereka bersikap seolah-olah tidak mendengar.

Seketika itu juga Kho Beng mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian bentaknya:

“Suhu kalian telah memberikan janjinya dan kurasa toako sekalian telah mendengar secara jelas, bila kalian tidak menyingkir lagi, jangan salahkan kalau Kho Beng akan menggempur kalian dg kekerasan……”

Sekalipun ancaman telah diberikan, namun reaksi tak jauh beda seperti permulaan tadi, kawanan anggota Sam goan bun itu tetap tak bergerak dari posisi semula.

Kho Beng semakin gusar, namun dalam amarahnya diapun merasa serba salah.

Semua anggota Sam goan bun yg berdiri dihadapannya sekarang boleh dibilang merupakan sahabat-sahabatnya yg sudah banyak tahun hidup bersama serta memiliki hubungan persahabatan yg erat, apabila mereka bersikeras akan menghalanginya, apakah dia benar- benar akan menggempur mereka dg kekerasan?

Dia mengerti, dg tenaga dalam yg dimilikinya sekarang, untuk menghadapi kawanan jago dari Sam goan bun tersebut bukanlah suatu pekerjaan yg sulit. Yg menjadi masalah sekarang adalah dia tega tidak untuk menggempur sahabat-sahabatnya itu?

Dalam waktu singkat pelbagai ingatan telah melintas didalam benaknya, mendadak dia teringat, bisa jadi sikap dari anggota Sam goan bun ini terpaksa dilakukan karena telah mendapat perintah dari ketuanya untuk bersikap begitu.

Bedebah ciangbunjin itu!

Dg penuh amarah, Kho Beng membalikkan tubuhnya, dia saksikan Sun thian hong masih berdiri kaku ditempat tanpa terasa hardiknya:

“Ciangbunjin! Apakah semua perkataan yg telah kau ucapkan masih bisa dipercaya?”

Bagaikan baru mendusin dari impian, Sun Thian hong segera menghela napas panjang, tiba-tiba serunya kepada segenap anggota Sam goan bun yg berdiri dimuka kuburan itu: “Masih ingatkah kalian dg pesanku tadi?”

“Tecu masih teringat” sahut segenap anggota Sam goan bun bersama-sama.

“Kalau memang masih ingat, kenapa tidak segera turun tangan?” Perkataan yg terakhir ini sekali lagi mengobarkan hawa amarah

Kho Beng, dia tak sanggup menahan diri lagi.

Dia menganggap sikapnya sudah cukup bijaksana mengingat kesetiaan kawan, tapi kenyataannya musuh begitu munafik dan tak tahu malu.

Sekarang jelas sudah duduknya persoalan, Sun thian hong pasti kuatir dia membongkar kuburan tersebut sehingga perbuatan kejinya ketahuan.

Dalam keadaan begini, otomatis dia harus menghadapi setiap perubahan sesuai dg keadaan, disamping itu diapun ingin tahu permainan busuk apakah yg sedang dilakukan lawan?

Berpikir sampai disini, Kho Beng segera tertawa seram penuh kegusaran, matanya berapi-api da mukanya meringis, dia bertekad akan membekuk Sun Thian hong lebih dulu untuk memaksa anak buahnya menyingkir semua dari sana.

Dg pedang terhunus diapun bersiap-siap untuk mendesak maju kemuka, tapi sebelum perbuatan tersebut sempat dilakukan, tiba- tiba dari belakang tubuhnya terdengar suara jeritan kesakitan berkumandang silih berganti.

Dg perasaan tertegun ia segera berpaling, tapi apa yg kemudian terlihat segera membuatnya menjadi tertegun.

Ternyata belasan anggota Sam goan bun itu telah berdiri saling berhadapan dan tusuk menusuk sendiri, tentu saja tusukan itu bukan bermain sandiwara, tapi benar-benar dilaksanakan, dari bekas tusukan setiap orang nampak darah segar memancur keluar dg derasnya.

“Hey, apa-apaan kalian semua?” pemuda itu segera menegur dg kening berkerut.

Tiada jawaban yg terdengar selain teriakan dari Sun Thian hong: “Kalian cepat kembali keperkampungan dan balut luka

tersebut….”

Serentak belasan jago dari Sam goan bun itu membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ sambil memegangi bekas luka dilengannya. Kho Beng benar-benar dibikin kebingungan dan tak habis mengerti terhadap peristiwa tersebut, ketika melihat Nyoo To li yg semalam pernah dijumpainya lewat disisi tubuhnya, cepat-cepat dia menarik tangan pemuda tersebut sambil bertanya:

“Saudara Nyoo, sebenarnya permainan apa sih yg sedang kalian perbuat?”

Luka yg diderita Nyoo To li waktu itu terletak diatas bahunya, karena ditarik Kho Beng dia segera mengeluh kesakitan, kemudian sambil tertawa getir sahutnya:

“Inilah siasat menyiksa diri dari suhu ! “

Habis berkata cepat-cepat dia memburu rekan lainnya meninggalkan tempat tersebut.

“Siasat menyiksa diri ? “ sekali lagi Kho Beng berpikir dg wajah termangu, “Apaka dia menggunakan siasat menyiksa diri ini untuk menghadapi diriku ? “

Berpikir sampai disini, pemuda tersebut segera berteriak keras : “Ciangbunjin, harap tunggu sebentar ! “

Sun Thian hong yg berjalan paling belakang segera menghentikan langkanya, setelah mendengar seruan tersebut, tanyanya sambil berpaling :

“Siauhiap masih ada pesan apa ? “

“Huuuh, cepat benar dia merubah panggilannya terhadapku ? “ pikir Kho Beng diam-diam sambil tertawa dingin.

Kemudian dg suara dalam ia berkata:

“Aku harap ciangbunjin tetap tinggal disini. “

“Apakah kau kuatir aku kabur ? “ seru Sun Thian hong sambil tertawa pedih.

“Hmmm, susah untuk dikata ! Jika duduknya persoalan telah menjadi jelas, sedang ciangbunjin sudah keburu melarikan diri, bukankah aku mesti meluangkan waktu lagi untuk melakukan pengejaran terhadapmu….”

Seketika itu juga Sun Thian hong tertawa seram: “Ha…ha…ha…kau tak usah kuatir, sekalipun si hwesio sudah

kabur, dia tak akan kabur dari kuil. Asal kau berhasil menemukan sesuatu, akan kutunggu kedatanganmu dalam perkampungan.”

Selesai berkata dia meneruskan perjalanannya kembali, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan.

Kho Beng menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian ini, pikirnya kemudian: “Persoalan yg paling mendesak saat ini adalah membuka peti mati tersebut secepatnya, setelah duduk persoalannya menjadi jelas, rasanya tidak sulit untuk bertindak selanjutnya….”

Terpengaruh oleh tindak tanduk orang-orang Sam goan bun yg dinilai sangat aneh ini, dg membawa perasaan tak tenang, Kho Beng memungut kembali sekopnya dan menggunakan kecepatan paling tinggi untuk membongkar kembali kuburan tersebut.

Waktu berlalu dg cepatnya.

Kuburan yg semula merupakan gundukan tanah tinggi, kini telah berubah menjadi sebuah liang yg sangat dalam.

Akhirnya sudut peti mati pun mulai kelihatan.

Dg terlihatnya peti mati tersebut, Kho Beng merasa hatinya semakin tegang, dia tak tahu jenasah didalam peti mati tersebut telah berubah menjadi seperti apa? Adakah luka bekas bacokan ? Atau sama sekali tak ada luka ? Bagaimana seandainya jenasah itu telah membusuk sehingga sukar dilakuka pemeriksaan ?

Dg hati-hati sekali dia membersihkan penutup peti mati itu dari tanah liat, lalu setelah berdoa sebentar dg perasaan tegang, dia memegang penutup peti mati itu, mengerahkan tenaga dalamnya dan mengangkatnya kuat-kuat keatas.

“Kraaaakk….. ! “

Penutup peti mati itu segera terbuka lebar.

Meminjam cahaya rembulan yg memancar masuk dia mencoba mengintip kedalam peti mati itu tapi ia segera tertegun dan cepat- cepat membuang penutup peti mati tadi kesamping.

Dibawah sinar rembulan yg redup, dapat terlihat bahwa dibalik peti mati tersebut sama sekali tidak ada mayatnya, tapi terdapat sepucuk surat dan sebuah bungkusan.

Dalam bungkusan tersebut entah berisi apa, tapi pada sampul surat tersebut tertera dg jelas beberapa huruf yg berbunyi demikian:

“Ditujukan kepada Kho Beng:

Dari Thio bungkuk”

Apa yg terjadi dg cepat membuat Kho Beng semakin termangu- mangu lagi, dia benar-benar tak habis mengerti terhadap peristiwa yg berlangsung didepan matanya sekarang.

“Mungkinkah sibungkuk belum mati? Tapi apa sebab ketua Sam goan bun mengumumkan kematiannya dan mendirikan batu nisan baginya?” Satu hal yg membuatnya tak mengerti adalah mengapa sibungkuk meninggalkan surat baginya itu didalam peti mati? Siapakah yg telah mengatur segala sesuatunya ini?

Dg perasaan bimbang, cepat-cepat dia merobek sampul surat tersebut dan mengeluarkan isinya.

Terbacalah surat itu, berbunyi demikian:

“Kho Beng jika kau dapat membaca surat ini berarti kau dapat melenyapkan semua rintangan yg ada, ini menunjukkan kalau tenaga dalammu secara paksa masih dapat menghadapi segala sesuatu.

Saat ini perasaanmu tentu diliputi rasa cemas, bingung dan tidak habis mengerti bukan ? Tapi aku dapat memberitahukan kepadamu sesungguhnya aku sibungkuk belum mati…. “

Ketika membaca sampai disini, meskipun Kho Beng semakin tak habis mengerti, namun rasa sedih yg semula mencekam perasaannya seketika tersapu lenyap tak berbekas.

Cepat-cepat dia membaca lebih jauh :

“. selama puluhan tahun terakhir ini sudah banyak kesulitan yg

kualami dan banyak masalah pelik yg pernah kuhadapi, namun belum pernah mengalami situasi pelik seperti apa yg kualami pada beberapa hari belakangan ini, kesulitan dan kepelikan tersebut terjadi karena aku harus memenuhi janjiku kepadamu, yakni menanti selama tiga tahun.

Namun oleh karena situasi yg begitu mendesak sehingga memaksa aku mau tak mau harus meninggalkan Sam goan bun, padahal aku harus bertemu lagi dgmu, maka aku semakin bertekad untuk memenuhi janjiku dulu kepadamu.

Setelah berpikir keras dua malam, akhirnya akupun membuat batu nisan dan liang kubur untuk melaksanakan siasat ini.

Andaikata apa yg terjadi kemudian diluar dugaanku sehingga kau tak dapat membaca surat ini, yaa. kita hanya bisa dikatakan takdir

menghendaki demikian.

Sekarang, semua rahasia asal usulmu berada dalam bungkusan itu, bila benda itu dapat kau terima, anggaplah aku sibungkuk dapat memberikan pertanggungan jawabnya.

Selesai membaca tulisan ini, kau jangan emosi dan tak usah melakukan perbuatan ceroboh yg bisa menimbulkan amarah umat persilatan, cukup selidikilah otak dibelakang layar yg mendalangi semua peristiwa tersebut, dg begitu kau akan menghibur arwah kedua orang tuamu dialam baka.

Nah, aku tak ingin membuang waktumu lagi, akhirnya aku dapat memberitahukan kepadamu, asal usulmu sudah menjadi jelas dalam dunia persilatan, saat itulah merupakan waktu kita untuk bersua kembali.

Tertanda : Thio Bungkuk “

Selesai membaca tulisan tersebut, Kho Beng menjadi terkejut bercampur gembira, cepat-cepat dia mengambil bungkusan tersebut dan membukanya.

Ternyata isi bungkusan itu adalah sebuah kain putih dan sebuah baju penuh noda darah.

Kain putih itu sudah menguning, jelas benda tersebut sudah lama tersimpan, sedang diatasnya terlihat beberapa tulisan yg dibuat dg darah, isinya adalah sebagai berikut:

“Tahun Ka sang, anak Beng persis berusia satu tahun ketika serombongan jago menyerbu perkampungan gara-gara kitab Thian goan bu boh, segenap jago perkampungan yg memberikan perlawanan tewas tertumpas musuh. Daam gawatnya kuserahan putra putriku kepada mak inang nyonya Hee dan pelayan Kho Po koan untuk melindungi nyawanya serta melarikan diri.

Moga-moga Thian maha pengasih dan melindungi anak keturunanku ini, jika mereka dapat lolos dari maut, masing-masing telah diberi sebuah tanda sebagai tanda pengenal mereka setelah dewasa nanti. Dikemudian hari yg perempuan harus selalu emakai bunga seruni putih diatas sanggulnya, empat musim bunga tersebut tak boleh dirubah, sedang yg lelaki mempunyai lencana Liong pit dan panji kebesaran.

Bagaimana nasib putra putriku dimasa mendatang, biarlah Thian yg menentukan, anggap suratku ini sebagai pesan yg terakhir,

Tertanda : Kho Bun sin Pemilik Hui im ceng “

Setelah membaca tulisan ini, pucat pias wajah Kho Beng, hampir saja ia menangis tersedu, sekarang dia baru tahu ternyata dia memang putra Kho Bun sin, majikan dari perkampungan Hui im ceng.