Kedele Maut Jilid 04

 
Jilid 04

Bu wi lojin tertawa bergelak, sambil mengebaskan tangannya dia berkata:

“Silahkan bangun nak, kehadiranmu yg tiba-tiba sungguh membuat aku merasa keheranan!”

Dari nada pembicaraannya, seolah-olah mereka telah berkenalan cukup lama.

Kho Beng menjadi tertegun, serunya kemudian dg wajah tercengang:

“Boanpwee berkunjung kemari karena mengagumi nama besar cianpwee, apa yg cianpwee herankan?”

“Mengagumi nama? Ha....ha.....ha. perkataanmu kelewat

sungkan,” kata Bu wi lojin sambil tertawa, “Sudah sembilan belas tahun lamanya aku hidup mengasingkan diri ditebing Siong hun gay dan belum pernah ada teman yg berkunjung kemari, tapi hari ini telah datang tamu agung secara beruntun, lagipula semuanya mengaku datang dari Hui im ceng, apakah kejadian tersebut tidak mengherankan. ?”

Kho Beng semakin keheranan lagi sehabis mendengar perkataan ini, tapi sebelum ia sempat berbicara, Bu wi lojin telah berkata lebih lanjut:

“Yang kuherankan lagi adalah penguasa perkampungan kalian baru saja berlalu dari sini, tapi keponakan telah datang berkunjung, apakah telah terjadi suatu peristiwa di perkampungan Hui im ceng?”

Kho Beng semakin termangu, tanyanya keheranan: “Locianpwee maksudkan Hui im ceng?”

“Hey keponakan Kho, bukankah aku telah menerangkan sejelasnya, aku sedang bertanya tentang keadaan Hui im ceng kalian?” seru Bu wi lojin dg kening berkerut.

Kho Beng semakin tidak mengerti, katanya kemudian: “Maafkan aku cianpwee, boanpwee benar-benar dibuat

kebingungan setengah mati.” “Kebingungan?Ha…ha…ha…setiap orang tentu akan kebingungan.” Bu wi lojin tertawa bergelak,”Keponakanku, mungkin tenaga dalammu yg kurang sempurna membuat kau letih karena mendaki tebing tadi, mengapa tidak beristirahat dulu didalam ruangan, kemudian baru pelan-pelan berbicara?”

Sambil berkata, dia segera menyingkir kesamping mempersilahkan pemuda itu masuk kedalam.

Buru-buru Kho Beng berseru:

“Boanpwee bukan maksudkan begitu, tapi hendak menjelaskan bahwa Hui im ceng sudah hampir dua puluh tahun lamanya terbengkalai, malah belakangan ini telah berubah menjadi gedung hantu, lalu darimana munculnya seorang pengurus gedung?”

Bu wi lojin menjadi tertegun.

“Jadi ayahmu telah meninggalkan Hui im ceng kemana dia telah pergi…?”

Kho Beng semakin melongo, sahutnya tergagap: “Cianpwee bertanya soal ayahku? Apakah kau mengetahui

siapakah ayahku?”

Sekali lagi Bu wi lojin terperangah, lalu gelengkan kepalanya berulang kali:

“Aaaai…aku menjadi tak habis mengerti, sebetulnya kau yg pikun ataukah aku yg sudah pikun, masa kau tidak kenal dg ayahmu sendiri, kepala perkampungan Hui im ceng Kho Bun sin?”

Dg hati berdebar Kho Beng berseru keheranan:

“Boanpwee belum pernah menyebutkan asal usulku, darimana cianpwee bisa tahu kalau boanpwee adalah putra Hui im cengcu?”

Bu wi lojin tertawa terbahak-bahak:

“Ha….ha….ha….biarpun sewaktu kujumpai dirimu dulu kau masih berusia satu bulan, namun hingga kini wajahmu tak jauh berubah, lagipula tampangmu kini tidak jauh berbeda dengan Hui im cengcu Kho Bun sin pada sembilas tahun berselang, kalau bukan putranya mengapa kalian begitu mirip?”

Kho Beng betul-betul tertegun saking tercengangnya oleh ucapan tersebut, orang ini adalah orang keempat yg menganggap dia sebagai keturunan Hui im cengcu.

Biarpun banyak kejadian yg kebetulan didunia ini, tak mungkin begitu banyak orang menaruh salah paham kepadanya, lamat-lamat pemuda itu mulai merasa bahwa identitasnya sebagai putra cengcu dari Hui im ceng tak mungkin diragukan lagi. Tapi kalau hanya dianggap orang saja belum menjadi bukti yg bisa dipertanggungjawabkan, apalagi masih banyak pertentangan yg terdapat didalamnya, karena itulah beberapa saat pemuda itu menjadi tertegun dan sangat kebingungan.

Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi:

“Sudah sekian lama kita berbincang, namun kau belum menjawab pertanyaanku tadi, sebetulnya kemana ayahmu telah pergi. Mengapa dia harus membengkalaikan hasil karyanya yg dibangun dg susah payah itu?”

Kho Beng menghela napas panjang.

“Locianpwee, terus terang saja asal usulku hingga kini masih merupakan sebuah teka teki besar, aku tidak tahu siapakah orang tuaku, bahkan akupun tidak tahu siapakah manusia yg disebut Hui im cengcu dan bernama Kho Bun sin itu...”

Bu wi lojin menjadi tertegun dan mengawasi Kho Beng dg termangu-mangu, untuk beberapa saat lamanya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Kho Beng berkata lebih jauh.

“Tapi sedikit banyak boanpwee pernah mendengar persoalan yg menyangkut Hui im ceng, konon semua penghuni Hui im ceng telah dibantai orang sampai ludes pada delapan belas tahun berselang.”

“Sungguhkah perkataan itu?” berubah hebat paras muka Bu wi lojin.

“Benar atau tidak boanpwee tak berani memastikan, namun bila ditinjau dari pengalaman yg boanpwee alami, rasanya berita itu tak meleset dari kebenaran!”

Berbicara sampai disini, secara ringkas diapun mengisahkan kembali semua pengalamannya selama berada didalam perkampungan Hui im ceng, akhirnya dia menambahkan:

“Oleh sebab itulah boanpwee menjadi bingung dan curiga setelah cianpwee mengatakan bahwa Hui im ceng mempunyai saorang pengurus rumah tangga, tapi aku yakin orang yg menyaru sebagai pengurus tersebut kalau bukan sipedang tanpa bayangan tentu si sastrawan berkipas kemala!”

Dg wajah serius dan berat Bu wi lojin termenung, lalu katanya sambil menggeleng:

“Orang itu bukan seorang pria.”

“Maksud cianpwee, orang yg menjadi pengurus gadungan dari Hui im ceng adalah seorang wanita?” seru Kho Beng tercengang. Bu wi lojin manggut-manggut, katanya sambil menghela napas panjang:

“Lai-laki atau perempuan sudah tak penting lagi artinya, tapi aku benar-benar penasaran karena setelah hidup mengasingkan diri hampir dua puluh tahun dari keramaian dunia, hari ini mesti ditipu orang mentah-mentah, selain itu akupun menyesal dan malu karena tak dapat menjaga titipan Hui im cengcu dimasa lalu secara baik- baik.”

“Sebenarnya benda apasih yg telah ditipu perempuan itu?” “Kitab pusaka Thian goan bu boh!”

“Sejilid kitab pusaka?”

“Ehmm, bukan saja sejilid kitab pusaka, bahkan merupakan pusaka yg diimpi impikan dan diharapkan setiap umat persilatan didunia ini, sebab barang siapa berhasil menguasai serta melatih isinya dia akan menjadi perkasa dan tiada tandingannya dikolong langit1”

Kho Beng menjadi terperanjat sekali, buru-buru serunya: “Cianpwee, bagaimana ceritanya sampai kitab pusaka itu tertipu

olehnya?”

“Sebab dia mempunyai tanda pengenal milikku, aaai...mungkin benda yg dipesan oleh orang tua menjelang ajalnya untuk kau ambil adalah lencana kemala Siong giok leng tersebut?”

Sekarang Kho Beng baru mengerti, tak heran kalau Kho Po koan meninggalkan pesan tersebut kepadanya, ternyata benda yg berada dalam sakunya dapat ditukar dg sejilid kitab pusaka.

Berpikir sampai disitu, ia segera berkata dg serius:

“Bolehkah boanpwee mengajukan pertanyaan, bagaimanakah tabiat Hui im cengcu dimasa lampau?”

Bu wi lojin menghela napas panjang.

“Dia adalah seorang pendekar sejati, bertenaga dalam sempurna dan betul-betul merupakan seorang gagah yg hebat.”

“Andaikata kitab pusaka Thian goan bu boh sampai terjatuh ketangan manusia bangsa kurcaci, bukankah hal ini dapat menimbulkan bencana besar?”

“Bukan hanya bencana, pada hakekatnya seluruh dunia akan kalut dan kehidupan manusia dilanda penderitaan besar.”

“Sesungguhnya maksud kedatanganku kemari adalah untuk mencari guru pandai serta mempelajari ilmu silat, sungguh tak disangka aku telah mendapatkan titik sedikit terang mengenai asal usulku, biarpun hingga kini belum ada kepastian, namun bila cianpwee mengijinkan, boanpwee ingin mengetahui lebih banyak lagi!”

Bu wi lojin termenung beberapa saat, lalu mengangguk. “Mari kita bebicara didalam rumah saja.”

Sambil membalikkan badan, ia masuk lebih dulu kedalam rumah.

Dg wajah serius Kho Beng mengikuti dibelakangnya, ia saksikan ruangan tersebut teratur sangat rapi dan bersih, kursi meja dan rak buku semuanya terbuat dari bambu.

Bu wi lojin menuang dua cawan teh, lalu duduh dihadapan tamunya, setelah mempersilahkan pemuda itu meneguk air teh, ia baru berkata:

“Kalau dilihat dari sikap pelayan tua keluarga Kho yg mengenalimu sebagai sau cengcu Hui im ceng dari lencana yg kau kenakan, ditambah pula pengamatanku lewat paras mukamu yg mirip dg Hui im cengcu, aku rasa identitasmu sebagai keturunan Kho tak jauh dari kebenaran. Tapi sudah hampir dua puluh tahun aku hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia, oleh sebab itu akupun tidak tahu menahu tentang semua peristiwa yg terjadi di Hui im ceng selama ini, jadi apa yg bisa kuungkap tak lebih hanya hubunganku dg Kho cengcu.”

“Akan boanpwee dengarkan dg seksama.”

Bu wi lojin termenung sebentar, seakan-akan sedang mengumpulkan kembali kenangan lamanya, lalu setelah menghela napas ringan, dia berkata:

“Bila diceritakan rasanya memang susah diperaya, sesungguhnya hubunganku dg Kho cengcu hanya didaari perjumpaan satu kali dan berkumpul setengah hari lamanya. Biar begitu, dalam perjumpaan yg hanya sekali, aku telah menjadi sahabat karib Kho tayhiap, lalu dalam masa berkumpul selama setengah hari, kami menjadi sahabat sehidup semati….aaai…sungguh tak nyana saat perpisahan waktu itu ternyata merupakan perpisahan untuk selamanya….bila diingat kembali sekarang, sungguh membuat hatiku pedih.

“Aaaai, sembilan belas tahun sudah lewat, kejadian ini harus dikisahkan kembali sejak sembilan belas tahun berselang.

Waktu itu untuk membasmi manusia sesat dari golongan hitam, aku telah mengembara sampai diwilayah Lam huang, meski musuhku berhasil kutumpas, namun aku sendiri terkena serangan beracun yg amat hebat sehingga jika tidak diobati dg segera, niscaya jiwaku akan melayang.

Dg mengandalkan tenaga dalamku yg sempurna untuk mengekang daya kerja racun tersebut, aku berusaha lari pulang dan dalam tiga hari saja aku telah menempuh perjalanan sejauh ribuan li.

Tapi akhirnya sewaktu lewat di Hang ciu meski racun belum bekerja, aku justru sudah roboh tak sadarkan diri ditepi jalan.

Waktu itu secara kebetulan Kho tayhiap lewat disitu serta menolongku, untung dia mempunyai obat mujarab yg habis memunahkan racun, cukup menelan obatnya satu , tengah hari kemudian lukaku telah sembuh sama sekali.

Setelah peristiwa itu, tiba-tiba dia mengeluarkan kitab pusaka Thian goan bu boh dan mohon kepadaku untuk menyimpannya. Dia bilang rahasia kitab tersebut sudah bocor sehingga banyak jago silat yg sedang mengincarnya.

Aku yg selama hidup baru pertama kali ini memperoleh budi orang tentu saja tidak mnyia-nyiakan kesempatan tersebut. Aku segera menawarkan diri untuk membantunya menghadapi serbuan jago-jago silat tersebut, namun tawaranku ini segera ditolaknya.

Padahal dg julukan Kiu hui sin kiam atau pedang sakti sembilan terbang yg dimiliki Kho tayhiap waktu itu cukup disegani banyak orang dan banyak jago lihay yg keok ditangannya.

Karenanya sewaktu melihat kekerasan kepalanya, akupun sadar bahwa tindakannya itu pasti ada sebab musababnya, maka akupun menerima permohonannya dg meninggalkan tanda pengenalku serta memberikan alamat dimana aku berdiam, kami berjanji bila kitab tersebut hendak diambil maka orang tersebut harus membawa tanda pengenal itu.

Aaaai…sungguh tak disangka sejak berpisah, aku telah menunggu sampai belasan tahun lamanya.

Pagi tadi tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik yg mengaku sebagai pengurus rumah tangga Hui im ceng, dia mohon bertemu aku dan memperlihatkan lencana tersebut.

Karena tanda pengenal yg dibawa memang tak salah, maka tanpa sangsi akupun menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut kepadanya,aaai…tak nyana rupanya aku sudah tertipu, kejadian ini benar-benar membuat aku malu dg Kho cengcu almarhum…” Sekarang Kho Beng baru mengerti bahwa pesan yg ditinggalkan pelayan tua itu menjelang ajalnya ternyata mempunyai pengaruh yg besar terhadap masalah tersebut, dia menjadi amat menyesal karena tidak melaksanakan pesa pelayan tua itu seketika itu juga.

“Apakah cianpwee kena dg perempuan itu?” tanyanya kemudian. “Tidak! Aku tidak kenal.” Bu wi lojin menggelengkan kepalanya

berulang kali.

“Kalau begitu locianpwee telah bertindak kelewat gegabah,” keluh Kho Beng sambil menghela napas.

Tapi setelah perkataan itu diutarakan, dia baru sadar kalau sudah salah bicara, bagaimanapun tidak pantas dia menegur seorang cianpwee dg ucapan sekasar itu.

Baru saja hendak memberi penjelasan sambil meminta maaf, ternyata Bu wi lojin sama sekali tidak menjadi marah karena teguran tersebut, malah ujarnya kemudian sambil menghela napas panjang:

“Padahal selamanya aku bekerja sangat teliti, karenanya tertipuku pagi tadi, pertama dikarenakan sudah lama putus hubungan dg dunia luar sehingga tidak mengetahui duduk persoalan yg sebenarnya, kedua saat itu aku telah memutuskan akan hidup mengasingkan diri untuk selamanya ditebing Siong hun gay ini dan Cuma Kho tayhiap seorang yg tahu akan alamat ku ini. Itulah sebabnya aku sama sekali tidak curiga kepadanya ketika perempuan itu muncul dg membawa tanda pengenalku.”

Cepat-cepat Kho Beng mengangguk, dia menduga benda yg disimpan disaku pelayan tua keluarga Kho itu pastilah tanda pengenal Siong hun giok leng dan orang yg mengambil lencana tersebut tak lain adalah si pedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala, tapi mengapa akhirnya bisa muncul seorang perempuan? Persoalan inilah yg membuatnya tak habis mengerti.

Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi setelah menghela napas sedih:

“Lenyapnya kitab pusaka itu membuat aku malu dg Kho Tayhiap almarhum, apalagi kalau kejadian tersebut mengakibatkan dunia persilatan dilanda bencana, aku benar-benar akan menyesal sepanjang masa.”

“Kejadian ini toh berlangsung diluar dugaan, locianpwee tak perlu kelewat menyalahkan diri sendiri.” Cepat-cepat Kho Beng menghibur, ”Berbicara sesungguhnya, akulah yg sudah teledor waktu itu sehingga mengakibatkan terjadinya semua peristiwa ini.” Bu wi lojin menggelengkan kepalanya, dg suara dalam dia berkata:

“Satu-satunya jalan yg bisa kita lakukan sekarang adalah mencari upaya untuk menanggulangi persoalan tersebut!”

Setelah mengangkat kepalanya dan menatap Kho Beng lekat- lekat, dia berkata lebih jauh:

“Aku pernah mempelajati isi kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut dan memberikan hasil yg lumayan, tapi bagaimanapun juga usiaku sudah delapan puluh tahun lebih sehingga usiaku yg lanjut membuat tenagaku bertambah lemah hingga tak mungkin bisa memberikan hasil yg nyata, aku pikir satu-satunya jalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah mewariskan kepandaian itu kepadamu!”

“Sungguh?” seru Kho Beng dg perasaan terkejut dan girang, “Terima kasih banyak atas kesediaan cianpwee!”

Belum selesai perkataan itu diutarakan, Bu wi lojin telah mengulapkan tangannya seraya berkata lagi:

“Kau jangan keburu bergirang hati dulu, ada sepatah kata hendak kutanyakan lebih dulu, kalau toh kau tidak mengetahui siapa orang tuamu, siapa yg telah memeliharamu sejak kecil hingga dewasa?”

Kho Beng menjadi termangu seketika itu juga, teringat olehnya dg sumpah yg pernah diucapkan di Sam goan bun tempo hari.

Maka dg suara tergagap katanya:

“Harap cianpwee sudi memaafkan, boanpwee telah diusir dari suatu perguruan karena mencuri belajar ilmu silat, waktu itu aku telah bersumpah tak akan mengatakan kepada siapa saja orang yg telah memelihara boanpwee selama ini.”

Dg perasaan tercengang Bu wi lojin berseru perlahan, kemudian sesudah dipikirkan sejenak:

“Kalau memang kau punya janji demikian dimasa lalu, memang paling baik kalau ditaati hingga kini, aku memang menduga kau sebagai keturunan Hui im cengcu, namun sebelum memperoleh bukti yg jelas, aku tak bisa tidak harus merubah niatku semula, baiklah soal ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh kuurungkan dulu sementara waktu.”

Sementara Kho Beng masih tertegun, Bu wi lojin telah berkata lebih jauh:

“Kau tak usah kecewa, biarpun aku menunda saat mewariskan ilmu silat Thian goan bu boh kepadamu, namun dg segenap kemampuan yg kumiliki aku hendak menjadikan dirimu sebagai seorang jago yg tangguh hanya dalam tujuh hari saja, aku berharap dg modal kepandaian itu maka kau bisa turut terjun kedunia persilatan serta menyelidiki teka teki sekitar asal usulmu.

Marilah…..!”

Selesai berkata diapun beranjak masuk kedalam rumah. Cepat-cepat Kho Beng mengikuti dari belakang.

Ruangan belakang ruang utama ternyata merupakan dapur. Waktu itu Bu wi lojin sedang mendekati sebuah gentong air dan memandang sebuah batu tonjolan disisi gentong air tersebut...

“Bluummmm. !”

Diiringi suara gemuruh yg keras, tiba-tiba gentong air itu bergeser kesamping dan muncullah sebuah lorong bawah tanah undak-undakan batu yg membentang kebawah menghubungkan tempat tersebut dg sebuah ruang batu.

Setelah kedua orang itu berjalan turun kebawah, gentong air diatas permukaan tanahpun bergeser kembali keposisi semula, dg demikian rumah diatas sana pun menjadi kosong tanpa penghuni.

Begitulah, waktu pelan-pelan berlalu, sehari.....dua hari. tiga

hari....

Menjelang tengah hari ketiga, Bu wi lojin muncul secara tiba-tiba dirumahnya dg wajah penuh keringat dan cahaya muka yg lebih redup, sikapnya berbeda sekali dg tiga hari berselang.

Menyusul kemudian hari keempat.....kelima. keenam pun lewat

begitu saja.

Menjelang hari ketujuh siang, pintu ruang bawah tanah terbuka dan muncullah Kho Beng.

Pakaian yg dikenakan meski tak berbeda dg tujuh hari berselang, namun semangat maupun kekuatannya sudah berbeda jauh bagaikan langit dan bumi.

Sewaktu tiba diruang utama, ia tidak menemukan Bu wi lojin, tapi diatas meja ditemukan secarik kertas yg isinya berbunyi begini:

“Aku telah turun gunung sehari lebih cepat, aku belum tahu sampai kapan baru kembali kesini, bila kau sudah melewati tujuh hari latihan, tentukan sendiri langkah berikutnya dan tak usah menunggu kehadiranku lagi.

Betul, diantara kita tak mempunyai ikatan hubungan sebagai guru dan murid, namun dalam kenyataan aku pernah mewariskan ilmu silat kepadamu, karenanya kuharap kaupun tidak melanggar tata krama kehidupan manusia pada umumnya.

“Ingat !Apa yg diperbuat orang lain belum tentu harus dituruti diri sendiri dan apa yg harus dilakukan mesti dipilih dulu persoalan apakah itu, dg begitu kau tak akan sampai terjerumus kedalam pergaulan yg keliru.

Diatas dinding ada pedang, dalam almari ada uang, ambillah menurut kebutuhan dan tak usah berdiam lebih lama lagi disini.”

Ketika selesai membaca tulisan tersebut, Kho Beng merasa air matanya jatuh berlinang karena terharu, dg sangat hormat dia menyembah tiga kali kearah pintu ruangan, kemudian mengambil pedang dan uang dan menuruni tebing Siong hun gay tersebut.

Setelah menuruni bukit Hong San, suatu hari tibalah Kho Beng dikota Tong sia.

Waktu itu adalah hari tahun baru, salju yg tebal menyelimuti seluruh permukaan tanah, namun anehnya justru pada masa gembira seperti ini, ia lihat banyak jago persilatan yg bersenjata lengkap berlalu lalang disekitar sana.

Kho Beng menjadi amat tercengang setelah menyaksikan kesemuanya ini segera berpikir:

“Jangan-jangan sudah terjadi suatu peristiwa dikota Tong sia ini...?”

Sementara dia masih menempuh perjalanan sambil melamun, tiba-tiba seekor kuda berjalan melintas disisinya, penunggangnya asalah seorang lelaki berpakaian sastrawan yg memakai baju putih dan membawa kipas kemala.

Dilihat dari bayangan punggungnya, orang itu mirip sekali dg sastrawan berkipas kemala yg pernah dijumpainya tempo hari.

Teringat dg peristiwa yg menimpa Bu wi lojin, cepat-cepat pemuda itu berteriak keras:

“Beng jihiap....Beng jihiap. ”

Waktu itu tenaga dalam yg dimilikinya sudah amat sempurna, teriakan tersebut segera bergema sampai puluhan li jauhnya.

Betul juga, penunggang kuda itu segera menghentikan lari kudanya setelah mendengar teriakan tersebut kemudian berpaling, dia tak lain adalah Sastrawan berkipas kemala, Beng yu.

Agaknya ditengah debu yg beterbangan menyelimuti angkasa, ia tak sempat melihat wajah Kho Beng secara jelas, dg secara lantang dia berseru pula: “Siapa yg sedang memanggil aku Beng Yu?”

Baru saja dia berkata, sesosok bayangan hijau telah berkelebat lewat dan tahu-tahu Kho Beng sudah berdiri dihadapannya dan menegur seraya menjura:

“Beng jihiap, baru berpisah beberapa bulan, masa sudah tak kenal lagi dg Kho Beng?”

“Ooohh. rupanya Kho siauhiap!”

Gerakan tubuh Kho Beng yg cepat dan gesit membuat sastrawan berkipas kemala ini merasa terkejut bercampur keheranan sehingga setelah tertegun sejenak, cepat-cepat dia menjura seraya bertanya lagi:

“Siauhiap hendak kemana?”

“Aku sedang menempuh perjalanan jauh sambil melewati hari tahun baru ini, tapi. mengapa jihiap pun tidak melewati tahun baru

dirumah, sebaliknya melarikan kuda begitu tergesa-gesa ditempat ini? Apakah sudah terjadi suatu peristiwa dikota Tong sia ini?”

Sastrawan berkipas kemala segera menghela napas panjang, katanya dg suara berat:

“Siauhiap terus terang kukatakan, jejak iblis telah muncul dikota tong sia, dan sekarang aku sedang mewakili kakak angkatku untuk mengumpulkan para jago yg berada disekitar sini untuk bersama- sama menghadapi gembong iblis tersebut..”

“Siapa sih gembong iblis yg jihiap maksudkan?” tanya Kho Beng keheranan.

“Dia tak lain adalah Kedele Maut yg membunuh orang tak berkedip dan jejaknya amat rahasia itu. ”

“Ooohh. jadi kedele maut telah mencari gara-gara pula dg kakak

angkatmu Lu tayhiap?”

“Begitulah kejadiannya.” Sastrawan berkipas kemala mengangguk, “Jika siauhiap tak keberatan, Beng yu mewakili kakak angkatku mohon bantuan anda, setelah berhasil memukul mundur iblis tersebut, nanti kami baru berterima kasih kepadamu.”

Dari nada pembicaraan tersebut, jelas sudah bahwa dia mengharapkan bantuan dari pemuda tersebut.

Kho Beng segera teringat kembali dg peristiwa dirumah makan kota Kwan tong tin tempo hari, lelaki berdandan saudagar yg membawa sekarung kedele itu pernah menanyakan nama serta asal usulnya, bukankah orang itu justru merupakan orang pertama yg menganggap dia sebagai sau cengcu dari Hui im ceng? Seandainya orang itu benar-benar adalah penyaruan dari kedele maut, bukankah saat ini merupakan kesempatan yg terbaik baginya untuk menanyakan hubungannya dg Hui im ceng?

Lagipula kesempatan tersebut merupakan peluang yg sangat baik baginya untuk menyelidiki jejak kitab pusaka yg hilang itu, disamping menambah pengetahuan serta pengalamannya.

Mengenai asal usulnya dia tak merasa ragu, bagaimanapun juga thio bungkuk telah berjanji akan membeberkan soal itu tiga tahun mendatang, sementara Bu wi lojin telah mewariskan sebagian besar dari tenaga dalam kepadanya, yg membuat kepandaian yg dimilikinya sekarang bertambah tangguh, mengapa ia tidak membuat kejutan sekarang dg mengandalkan kemampuan tersebut?

Pelbagai persoalan berkelebat lewat dalam waktu singkat dibenaknya, Kho Beng segera memutuskan untuk menerima undangan tersebut.

Maka sambil tertawa nyaring, diapun menjawab: “Membasmi kaum iblis sudah menjadi kewajiban setiap umat

persilatan, biar kemampuanku masih rendah, namun aku tak ingin ketinggalan dari yg lain. Beng jihiap! Silahkan kau berangkat duluan, tinggalkan saja alamatnya, sampai waktunya aku pasti akan menyusul kesana.”

Dg perasaan gembira sastrawan berwajah kemala segera menjura berulang kali, katanya:

“Terima kasih banyak atas kesedian siauhiap, sekarang aku belum bisa kembali kekota Tong sia, karenanya harap siauhiap masuk kota sendiri, setelah melewati pintu gerbang, tanyakan kepada orang gedung keluarga Lu, setiap penduduk kota mengetahui letaknya dan pasti menunjukkan kepadamu. Setelah senja nanti aku pasti akan bertemu lagi dg siauhiap. Nah, maaf kalau aku tak bisa menemani lebih lama lagi.”

Selesai menjura ia segera melarikan kuda kembali meninggalkan tempat itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Sepeninggal Beng Yu dg langkah santai Kho Beng meneruskan perjalanannya lagi memasuki kota.

Tak usah bersusah payah mencari, dg cepat ia telah tiba didepan pintu gerbang gedung keluarga Lu.

Gedung tersebut sangat megah, pintu gerbang terbuka lebar dan sepasang patung singa yg besar berdiri dikedua sisi pintu. Dua deret centeng berbaju hijau dg mata yg tajam dan kesiap siagaan penuh menjaga sekeliling gedung, semuanya ini memberi kesan bahwa si pedang tanpa bayangan Lu seng sim pasti mempunyai kedudukan dan nama yg tinggi dimata masyarakat.

Setelah membereskan pakaiannya dan membersihkan debu dari pakaian, pemuda itu melangkah kedepan pintu dan menegur sambil menjura:

“Aku Kho Beng atas undangan dari Beng jihiap sengaja datang kemari, harap kalian suka memberi kabar kepada Lu tayhiap.”

Seorang centeng segera tampil kemuka dan menyahut sambil menjura pula:

--------missing page 36-41 ----------

….acuh tak acuh, malah ujarnya sambil tertawa nyaring: “Kuakui perkataan lote memang merupakan nasehat yg sangat

berharga semua, seandainya aku tak punya keyakinan tak nanti sikapku begini santai dan percaya dg kemampuan sendiri…..ha….ha….ha….nantikanlah hingga Beng loji pulang senja nanti, lote pasti tahu apa sebabny sikapku begini santai dan percaya dg kemampuan sendiri!”

Selesai berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak.

Kho Beng menjadi geli sendiri setelah mendengar perkataan itu, pikirnya:

“Kalau toh sudah mempunyai keyakinan untuk menghadapi serbuan iblis tersebut, buat apa kau menyuruh adik angkatmu mencari bantuan dimana-mana? Ehmm. sikapnya benar-benar

bertentangan sekali dg kenyataan. ”

Tapi Kho Beng pun mengerti, si pedang tanpa bayangan bisa bersikap begini bisa jadi karena dia menganggap kepandaian silat yg dimilikinya cukup tangguh untuk menghadapi serangan lawan, atau mungkin juga ia telah mendapat janji bantuan dari seseorang yg tangguh dan mampu menghadapi ancaman si kedele maut.

Tapi kalau dilihat dari sikapnya yg menyuruh semua orang menunggu sampai kembalinya Beng loji, besar kemungkinan dia memang mengandalkan bala bantuan dari luar.

Tapi siapakah tokoh persilatan yg bersedia melindungi di pedang tanpa bayangan? Kalau memang orang itu memiliki kepandaian yg sanggup menandingi di kedele maut, mengapa umat persilatan tidak meminta bantuannya untuk menumpas iblis tersebut, sebaliknya membiarkan si kedele maut malang melintang hingga sekarang. Kecurigaan tersebut melintas lewat didalam benak Kho Beng, tapi berhubung senja sudah menjelang dan jawabanpun akan diperoleh maka pemuda itu tidak berpikir lebih jauh.

Apalagi maksud kedatangannya yg terutama adalah mencari kesempatan untuk menyelidiki soal kitab pusaka yg ditipu orang, ia merasa tak berkepentingan untuk merisaukan kesulitan orang lain.

Oleh sebab itu, diapun tidak banyak berbicara lagi.

Agaknya sipedang tanpa bayangan sadar kalau ucapannya kelewat memandang enteng bantuan orang lain sehingga menyebabkan jago-jago yg telah hadir merasa sungkan untuk berbicara. Melihat suasana dalam ruangan berubah menjadi mengesalkan, cepat-cepat ia perintahkan orang untuk mempersiapkan meja perjamuan.

Akhirnya senja pun menjelang tiba, sinar sang surya yg lemah menyinari pelataran luar ruangan sementara angin malam yg dingin terasa berhembus makin kencang dan tebal.

Perjamuan didalam ruangan telah selesai disiapkan, baru saja tuan rumah dan tamu mengambil tempat duduk masing-masing, tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang datang suara langkah kaki manusia yg terburu-buru menyusul kemudian terlihat seseorang centeng berlari masuk kedalam ruangan sambil memberi laporan:

“Beng jiya telah kembali!”

Dg tak sabar lagi se pedang tanpa bayangan segera melompat bangun dari tempat duduknya.

Ia saksikan sastrawan berkipas kemala dg wajah mandi keringat berlari masuk kedalam ruangan, wajahnya merah padam tetapi kelihatan amat serius.

“Loji bagaimana dg persoalan kita?” cepat-cepat si pedang tanpa bayangan bertanya.

Sastrawan berkipas kemala menggelengkan kepalanya berulang kali dan menghembuskan napas panjang yg amat berat.

Sikap yg diperlihatkan sastrawan berkipas kemala ini bukan saja membuat paras muka sipedang tanpa bayangan berubah hebat, bahkan eempat jago lainpun turut berubah muka.

Kho Beng menyaksikan kejadian tersebut segera berpikir dalam hatinya:

“Ternyata apa yg kuduga semula memang tidak meleset!”

Tampak sipedang tanpa bayangan dg wajah hijau membesi bertanya lagi: “Apakah dia akan berpeluk tangan embiarkan aku orang she Ku menjadi korban iblis tersebut?”

“Itupun tidak!” kembali Sastrawan berkipas kemala menggelengkan kepalanya berulang kali.

Pedang tanpa bayangan menjadi tertegun.

“Ini bukan, itupun bukan, lalu apa yg sebenarnya terjadi?” “Sebetulnya dia akan datang atau tidak?”

Sastrawan berkipas kemala menghela napas panjang. “Tidak! Kedatanganku sungguh tidak kebetulan, baru saja

siancu(dewi) menutup diri untuk bersemedi, jelas keadaa begitu ia tak bisa meninggalkan tempat karenanya berpesan agar kau mengurungkan niatmu untuk melakukan perlawanan dan sementara waktu pergi menyingkir dari sini?”

Hijau membesi selembar wajah si pedang tanpa bayangan setelah mendengar ucapan tersebut, jenggotnya yg hitam kelihatan bergetar keras, sesudah termangu-mangu berapa saat, ia segera menggebrak meja dan berseru dg marah:

“Hmmm, perkataan macam apa itu? Aku manusia she Lu bukan manusia yg tak bernama, kalau mesti kabur sebelum melangsungkan pertempuran, bagaimana pertanggungjawabku nanti kepada

sahabat-sahabat dan sanak keluarga yg telah membantuku sekarang? Beng loji, selain pesan itu apakah dia tidak menyampaikan pesan yg lain lagi?”

Sastrawan berkipas kemala menghela napas panjang:

“Ada, siancu berpesan bila toako tetap berkeras akan memberi perlawanan demi nama kosong, maka beliau pun tak bisa berbuat yg lain kecuali mengijinkan toako bertindak sekehendak hati.”

“Hmmm, benar-benar ngaco belo belaka.” Teriak si pedang tanpa bayangan penuh amarah, “Selama dua puluh tahunan hidup bergelimpangan diujung senjata, beratus-ratus kali pertarungan besar kecil telah kualami sebelumnya, akhirnya berhasil meraih sedikit nama, kau anggap aku mesti melepas jerih payahku itu dg begitu saja?”

“Toako, siapa tahu siancu mempunyai perhitungan lain.” Buru- buru sastrawan berkipas kemala menyela, “Kalau tidak diapun tak akan mengutus keenam belas jago pedang berbaju kuning untuk diserahkan penggunaannya kepadamu.”

“Hmmm, perhitungan kentut anjing!” Pedang tanpa bayangan berteriak penuh kegusaran, “Setiap korban yg tewas ditangan kedele maut rata-rata adalah jago yg bernama besar dan memiliki kepandaian silat yg hebat, apa artinya keenam belas jago pedang berbaju kuning itu? Hmmm. sungguh tak disangka meski aku telah

berjuang mempertaruhkan jiwa raga demi kepentingannya dimasa lalu, kini habis manis sepah dibuang, ia sama sekali tidak memperdulikan keselamatan jiwaku lagi. ”

Tampaknya sastrawan berkipas kemala sudah tak mampu mendengarkan perkataan itu lebih jauh, dg suara berat ia segera menyela:

“Toako, kau kelewat emosi, jangan lupa dg peraturan yg telah ditetapkan siancu dimasa lampau!”

Walaupu perkataan tersebut diucapkan dg nada yg lembut da mendatar, namun bagi pendengaran si pedang tanpa bayangan, tak ubanya seperti guntur yg membelah bumi disiang hari bolong.

Paras mukanya segera berubah menjadi pucat ke abu-abuan, ia duduk kembali keatas kursi dan menghembuskan napas panjang.

Sikap santai dan acuh tak acuh yg diperlihatkan siang tadi, kini sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya dia nampak begitu lemah dan ketakutan menghadapi kematian.

Dari pembicaraan yg barusan berlangsung serta perubahan mimik muka si pedang tanpa bayangan, tanpa dijelaskan pun para jago lainnya sudah mengerti apa gerangan yg telah terjadi. Jelaslah sudah si pedang tanpa bayangan telah kehilangan pendukungnya yg paling diharapkan sehingga keselamatan jiwanya kini sudah erada diujung tanduk...

Si ruyung dan toya sakti Siau bin yg duduk disisi arena pertama- tama yg tak sanggup menahan diri lebih dulu, mendadak ia berkata:

“Saudara Lu, Beng jihiap, sebetulnya siapa sih siancu yg kalian sebut-sebut tadi?”

Sastrawan berkipas kemala Cuma tertawa getir, gelengkan kepala dan tidak menjawab.

Pedang tanpa bayangan yg duduk lemas dikursinya mendadak melompat bangun, lalu sambil menjura kepada semua orang ia berseru:

“Lu Seng sim mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian atas kesediannya datang membantuku, tapi sekarang ancaman bahaya besar telah berada didepan mata, aku tak ingin melibatkan kalian semua sehingga menjadi korban yg tak ada artinya. Oleh sebab itu mumpung waktunya masih pagi, silahkan kalian beranjak pergi lebih dulu dari tempat berbahaya ini. Tolong sekalian beritakan kepada rekan-rekan diluar agar mereka yg ingin pergi silahkan pergi, yg ingin tinggal silahkan tinggal. Pokokny aku tak akan mendendam kepada siapa pun yg meninggalkan tempat ini, jika nyawaku berhasil lolos malam ini, dikemudian hari aku tentu akan berkunjung lagi kerumah kalian sambil menyampaikan terima kasihku.”

Si kakek sakti berambut putih, Ciu Cu in memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian menghela napas:

“Aaai...kalau toh Lu tayhiap berkata begitu, biar aku she Ciu mohon diri lebih dulu.”

Disusul kemudian toya dan ruyung sakti Siau Bin, Piau sakti tujuh bintang Kuang beng, Su beng kongcu Yu Bu secara beruntun mohon diri pula dari situ.

Jelas mereka merasa tak puas karena si pedang tanpa bayangan enggan menerangkan siapa gerangan “siancu” yg gagal diundang itu, disamping mereka pun mengerti kalau kepandaian yg dimilikinya belum mampu untuk menghadapi si kedele maut.

Tentu saja mereka tak ingin mengorbankan jiwa sendiri demi keselamatan orang lain.

Kho Beng yg menyaksikan kejadian tersebut tanpa terasa timbul perasaan simpatiknya kepada si pedang tanpa bayangan, sebab dia menganggap orang ini masih belum kehilangan semangat jantannya sebagai seorang laki-laki sejati.

“Biar kulepaskan budi lebih dulu kepadanya, bukankah diapun akan menerangkan pula soal kitab pusaka tersebut kepadaku?” demikian pikirnya dalam hati.

Sementara itu si pedang tanpa bayangan telah mengalihkan pandangannya kewajah Kho Beng, setelah menyaksikan kepergian rekan-rekan lainnya, kemudian menegur:

“Lote, mengapa kau belum pergi?”

Tatapan matanya penuh mengandung keresahan dan putus asa.

Rasa ingin tahu, iba ditambah semangat mudanya sebagai seorang jago yg baru selesai belajar silat, apalagi diapun mempunyai tujuan lain membuat Kho Beng segera tertawa nyaring:

“Lu tua, kau anggap aku yg muda adalah manusia kurcaci yg mundur bila menemui kesulitan?”

Pedang tanpa bayangan segera menghela napas panjang, katanya dg wajah bersungguh-sungguh: “Lote masih muda, kesepatan hidup dikemudian hari [un masih panjang, apa gunanya kau mesti menyerempet bahaya demi kepentinganku?”

“Setelah mendengar ucapanmu itu, aku makin berkeras akan tetap tinggal disini, kau tak usah kuatir, Kho Beng adalah seorang manusia sebatang kara yg tanpa sanak saudara tanpa rumah tinggal. Selama ini dunia persilatan sudah cukup dihebohkan oleh ulah sikedele maut, namun hingga kini belum ada yg tahu siapakah orang tersebut. Oleh sebab itu selain hendak berusaha melenyapkan iblis tersebut dari muka bumi, akupun hendak menyingkap tabir kerahasiaan dari iblis tersebut, agar umat persilatan bisa mempunyai patokan yg tertentu didalam usaha pemburuannya tidak lagi asal tubruk secara membabi buta seperti sekrang ini.”

Perkataan yg diucapkan dg bersungguh-sungguh dan penuh semangat ini segera membuat perasaan si pedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala agak tergerak.

Cepat-cepat si pedang tanpa bayangan menjura dalam-dalam seraya berkata:

“Siauhiap benar-benar perkasa dan berhati mulia, bila aku beruntung dapat lolos dari musibah ini, biar jadi kuda atau anjing pun aku rela!”

Cepat-cepat Kho Beng menukas:

“Kau jangan berbicara seperti itu dan lagi masih terlalu awal untuk menjanjikan sesuatu, oh ya….jihiap apakah kau tahu si kedele maut telah berjanji akan muncul pada pukul berapa?”

“Tengah malam nanti,” sahut si pedang tanpa bayangan. “Darimana Lu tayhiap bisa tahu kalau dia bakal datang tengah

malam nanti?”

Pedang tanpa bayangan menghela napas panjang, dari sakunya dia mengeluarkan selembar kertas surat berwarna merah dan diserahkan kepada Kho Beng sambil katanya:

“Silahkan lote memeriksa isi surat ini, kau akan mengerti sendiri !

»

Kho Beng menerima surat tersebut dan diperiksa isinya, pada

sampul muka tertera nama si pedang tanpa bayangan, sedangkan ditengah sampul tertera dua butir kedele berwarna hitam.

Disamping itu dalam sampul terdapat selembar kertas yg bertuliskan begini : “Nantikanlah kedatanganku pada tengah malam nanti, siapkan batok kepalamu, bila mencoba kabur atau melawan seluruh keluargamu akan kutumpas semua.”

Dibawahnya tertera tanda tangannya : Si Kedele Maut.

Dg kening berkerut, Kho Beng segera merobek-robek surat ini menjadi beberapa bagian, lalu serunya sambil tertawa dingin:

“Hmm, ingin kulihat bagaimanakan tampang muka sigembong iblis tersebut….enak benar kalau bicara, seluruh keluarga akan ditumpas habis….emangnya dia anggap perintahnya adalah firman dari sribaginda?”

Kemudian setelah memeriksa keadaan cuaca, ia berkata lebih jauh:

“Malam baru menjelang, berarti kita masih mempunyai waktu yg cukup lama, kurasa lebih baik kalian berdua kembali dulu kekamar untuk beristirahat sambil menghimpun kekuatan, disamping itu kumohon saudara Lu menyiapkan pula sebuah kamar untuk diriku, akupun ingin beristirahat sebentar.”

Tuk, tuk, tuk, traaang, traang, traaang…..

Dari arah jalan raya sana berkumandang tiga kali kentongan yag amat nyaring, mendadak kentongan ketiga telah menjelang tiba.

Cahaya lentera yg menerangi gedung keluarga Lu waktu itu sudah amat redup, suasana amat hening tak ubahnya seperti sebuah kota mati.

Kho Beng dg semangat menyala-nyala memakai jubah panjang dg pedang tersoren dipunggung beranjak keluar dari kamarnya menuju keruang tengah.

Disitu ia saksikan hanya si pedang tanpa bayangan seorang duduk termenung ditengah ruangan dg pedang tergenggam ditangan, wajahnya termangu-mangu dan pandangan kaku.

Suasana yg suram ini membuat Kho Beng menjadi tertegun, segera tegurnya keheranan:

“Mana Beng jihiap?”

Dg sedih si pedang tanpa bayangan menggelengkan kepalanya menghela napas tetap membungkam, mukanya kusut sementara dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Dari sikap sedih yg terpancar keluar ari wajah si pedang tanpa bayangan ini, Kho Beng segera dapat menduga, Sastrawan berkipas kemala tentu sudah kabur menyelamatkan diri tanpa mempedulikan keselamatan kakak angkatnya lagi.

Keadaan tersebut segera membuat Kho Beng semakin simpatik, buru-buru ia menghibur:

“Ketika membuyarkan rekan-rekan lain disenja tadi, sikapmu begitu terbuka dan gagah, mengapa pula kau risau karena seorang Beng Yu? Ha….ha….ha….biarpun kepandaianku amat rendah, jelek- jelek begini aku akan tetap mendampingimu untuk menghadapi segala kemungkinan yg terjadi.”

Dg perasaan amat terharu dan berterima kasih, si pedang tanpa bayangan segera berseru:

“Aku tak menyangka meski kita hanya berpisah satu kali, namun kesetiaan kawanmu sangat mengagumkan, aaai…tapi berapa banyakkah manusia dalam dunia saat ini yg memiliki sifat mulia seperti lote….?”

Cepat-cepat Kho Beng menukas:

“Kalau toh kta sudah berniat sehidup semati, apa gunanya kau mesti mengutarakan kata-kata sungkan seperti itu? Cuma ada satu hal yg masih menjadi beban pikiranku selama ini, apakah kau bersedia untuk memberitahu?”

“Katakan saja lote, asal aku tahu pasti akan kujawab.”

“Siapa sih siancu yg telah disinggung Beng jihiap senja tadi? Dan apa pula hubungan dg dirimu?”

Pedang tanpa bayangan termenung beberapa saat lamanya setelah mendengar perkataan tersebut, sesaat kemudian dia baru menghela napas panjang dan berkata:

“Dia adalah seorang perempuan berusia tiga puluhan yg berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, orang itu bernama In in dan tidak diketahui asal usulnya, namun memiliki kecerdasan yg hebat dan tenaga dalam yg mengerikan. Oleh karena dia jarang berkelana didalam dunia persilatan maka sedikit sekali umat persilatan yg mengetahui kalau didunia ini terdapat perempuan semacam itu…..aaai….dulu aku pernah menjual nyawa baginya….”

Baru berbicara sampai disitu, tiba-tiba perkataan tersebut terhenti oleh jeritan ngeri yg menyayat hati.

Jerit kesakitan tersebut berkumandang datang dari luar ruangan dan bergema amat panjang, kalau didengar ditengah kegelapan dan keheningan seperti ini suaranya terasa sangat mengerikan dan mendirikan bulu kuduk siapapun. Berubah hebat paras muka si pedang tanpa bayangan saking terperanjatnya, pembicaraanpun segera terputus ditengah jalan, dg pedang terhunus dia melompat bangun namun tubuhnya kelihatan genetar sangat keras.

“Bisa jadi sikedele maut telah tiba!” bisiknya dg perasan ngeri. “Siapa saja yg berada digedung ini?” tanya Kho Beng sambil

melompat bangun pula.

“Kecuali enam belas jago pedang, tiada orang lain yg berada digedung ini.”

“Hayo berangkat! Mri kita pergi memeriksa keadaan yg sebenarnya...” seru Kho Beng kemudian .

Dg suatu gerakan yg cepat dia segera melesat keluar dari ruangan langsung menerjang kepintu gerbang.

Dg ketat si pedang tanpa bayangan mengintil dibelakangnya, tapi karena dia bergerak sedikit lamban maka tubuhnya tertinggal sejauh tiga kaki lebih dibelakang.

Tiba didepan pintu gerbang, mereka saksikan diantara dua deret pohon siong telah tergeletak sesosok mayat berbaju kining, ubun- ubunnya telah hancur berantakan, isi benaknya berserakan dimana- mana dan mendatangkan suasana yg mengerikan sekali bagi yg melihat.

Namun kelima belas jago pedang yg lainnya sama sekali tak nampak batang hidungnya. Dengan kening berkerut Kho Beng memperhatikan sekeliling tempat itu, lalu tanyanya dg kening berkerut: