Kedele Maut Jilid 03

 
Jilid 03

Maka selesai mengisi perut, cepat-cepat dia membayar rekeningnya dan meninggalkan rumah makan tersebut.

Sesudah keluar dari pintu timur, ia berjalan menelusuri sebuah jalan besar, tanpa terasa dua tiga li telah dilalui.

Benar juga, suasana disekitar sana makin lama semakin sepi dan menyeramkan, ini menunjukkan kalau perkataan si pelayan tadi tidak bohong.

Sepanjang jalan dia menjumpai banyak rumah yang tanpa penghuni, malah banyak pula yang sudah roboh, mungkin rumah rumah itu adalah bekas rumah penduduk yang ditinggalkan penghuninya.

Akhirnya dari kejauhan dana ia saksikan sebuah gedung perkampungan yang megah, bangunan itu berdiri dikaki bukit, semuanya terbuat dari batu yang kokoh dan megah, bisa diduga pemiliknya dulu tentu merupakan seorang yang ternama dan kaya raya.

Kho Beng tahu, gedung tersebut tentulah Hui im ceng yang dimaksud, ia mencoba memperhatikan sekeliling situ, ternyata tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak. Suasana dimusim gugur yang gersang menambah suasana ngeri dan menyeramkan disekeliling gedung tersebut.

Ia mendekati pintu gedung, sarang laba-laba kelihatan menghiasi setiap sudut bangunan, pintu gerbang setengah terbuka tapi terasa mengerikan.

Lama sekali pemuda itu berdiri ragu didepan pintu, pikirnya kemudian:

“Aaah…masa disiang aripun ada setan yang bakal muncul?”

Setelah menenangkan hatinya, diapun mendorong pintu gerbang ang lapuk itu, “Kraaak…”

Pintu segera terbuka lebar, pemandangan pertama yang kemudian terpampang didepan mata adalah tumbuhan ilalang setinggi lutut yang menyelimuti seluruh permukaan tanah, ketika angin berhembus lewat menggoyangkan ilalang, lamat-lamat terlihatlah tengkorak manusia berserakan dimana-mana.

Diam-diam Kho Beng merasa merinding, setelah melihat kejadia itu, tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Sekalipun disiang hari bolong dia toh dapat merasakan betapa seramnya dan ngerinya suasana dalam gedung tersebut.

Beberapa saat kemudian, dengan memberanikan diri ia melangkah masuk kedalam gedung tersebut dengan langkah pelan.

Tiba-tiba terdengar suara mencicit muncul dari balik ilalang, disusul bergelombangnya tumbuhan disekitar sana, Kho Beng terkejut dan cepat-cepat melompat mundur.

Tapi ia menjadi geli sendiri setelah melihat apa yang terjadi, rupanya ada bberapa ekor tikus yang lari ketakutan.

Sambil menghembuskan napas panjang, Kho Beng berpikir dihati kecilnya:

“Kho Beng, wahai Kho Beng…kalau keadan seperti inipun sudah membuat kau ketakutan, bagaimana mungkin kau bisa menjadi seorang pendekar dan orang gagah didalam dunia persilatan?”

Berpikir sampai disitu, semangatnya segera berkobar kembali, dengan langkah lebar dia meneruskan perjalanannya kedalam gedung tersebut.

Setelah melewati pelataran, didepan sana merupakan sebuah gedung besar yang berbentuk ruang tamu, kursi meja masih tersusun rapi disekitarnya, namun debu setebal berapa inci menyelimuti seluruh permukaan lantai, hal ini menunjukkan kalau gedung tersebut sudah lama tak pernah dijamah manusia.

Dengan langkah yang santai dia berjalan memasuki ruang tamu, sambil mengamati sekeliling dengan seksama akhirnya pemuda itu masuk kedalam gedung kedua.

Tempat itu merupakan sebuah bangunan berloteng, sederet jendela yang menghadap keluar meski sudah dilapisi debu tebal, namun masih kelihatan sisa-sisa kemegahan dimasa lalu.

Pemuda itu mencoba untuk membuka pintu ruangan dan melangkah masuk, tapi apa yang kemudian terlihat segera membuat perasaannya menjadi tercekat. Ternyata semua perabot disitu teratur rapi sekali, lantaipun amat bersih, tak setitik nodapun yang nampak.

Benar-benar satu kejadian aneh, kalau dibilang disitu tak ada penghuninya, mengapa ruangan tersebut begitu bersih dan terawat baik? Kalau dibilang ada penghuninya, sudah sekian lama dia memasuki gedung tersebut, namun tak setitik suarapun kedengaran…

Semakin dipikir Kho Beng merasa semakin ngeri sehingga tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, cepat-cepat dia kabur keluar dari pintu ruangan.

Tapi setelah termenung sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya menuju keruang belakang.

Semakin kedalam ia berjalan, Hui im ceng begitu luas dan besar, sepanjang jalan banyak pepohonan yang tumbuh rindang, jalannya pun berliku-liku, kesemuanya ini membuat suasana disana terasa makin menyeramkan dan menggidikkan hati…!

Selesai melakukan pemeriksaan disekeliling gedung, pemuda itu balik kembali kegedung kedua.

Hingga kini dia masih bimbang dan tak habis mengerti, dia tak berhasil menemukan titik terang yang menunjukkan bahwa antara dia dengan hui im ceng tersebut mempunyai sangkut paut yang luas.

Selain itu, kecuali gedung bertingkat tersebut yang nampaknya rada mencurigakan, ditempat lain ia tak berhasil menemukan sesuatu yang menyolok.

Lalu apa yang harus diperbuatnya sekarang? Pergi meninggalkan tempat tersebut atau tetap tinggal disitu? Apakah maksud orang yang menyuruhnya datang kesitu hanya untuk menonton gedung hantu ini?

Diliputi perasan ragu dan bimbang, Kho Beng masuk kembali kedalam ruang gedung yg bersih tadi.

Namun secara tiba-tiba, ia berseru kaget dan mundur sejauh tiga langkah lebih setelah pandangan matanya dialihkan kearah meja besar.

Ternyata diatas meja tersebut telah bertambah dengan sederet tulisan yg berbunyi begini:

“Jika masih sayang nyawa, pergilah meninggalkan tempat ini sebelum matahari terbenam.”

Kho Beng benar-benar amat terperanjat, seingatnya sewaktu masuk untuk pertama kalinya tadi diatas meja sama sekali tak terdapat tulisan apa-apa. Ini berarti surat peringatan itu dibuat pada saat dia sedang memeriksa bagian gedung yang lain.

Pemuda itu segera mengangkat kepalanya sambil mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitar situ, suasana terasa hening & sepi sedang disekitar situpun kosong melompong, mustahil ada orang kedua yg telah memasuki tempat itu, tapi…..siapakah yg telah meninggalkan surat peringatan tersebut? Mungkinkah setan…..?

Dalam waktu singkat, Kho Beng kembali merasakan suasana misterius menyelimuti seluruh perkampungan Hui im ceng tersebut.

Sesungguhnya pemuda itu telah bersiap-siap akan meninggalkan tempat tersebut, tapi surat peringatan itu segera membangkitkan kembali sifat ingin tahunya.

Sambil tertawa nyaring segera serunya dengan lantang: “Selama hidup aku Kho Beng belum perna melihat setan, malam

ini ingin kusaksikan sampai dimanakah kehebatan setan dedemit dalam menggoda manusia….”

Suasana disekeliling tempat itu tetap terasa hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Melihat tiada suara tanggapan, Kho Beng pun segera balik kembali keruang semula, menurunkan buntalannya dan duduk bersemedi diatas sebuah kursi.

Matahari senja telah condong dilangit barat, tak lama kemudian cahaya kemerahan itupun lenyap dari pandangan mata, suasana gelap segera menyelimuti seluruh angkasa.

Tatkala Kho Beng selesai dengan semedinya dan membuka mata, ruang tersebut telah dicekam kegelapan malam.

Dia masih ingat ketika dalam perjalanan, maka diambilnya ransum tersebut dan dimakan secara pelan-pelan sambil memperhatikan suasana diluar gedung.

Biarpun ruangan itu tanpa cahaya lentera, sinar rembulan diangkasa mendatangkan suasana cerah diseputar gedung tersebut.

Selesai bersantap, Kho Beng merasakan semangatnya berkobar kembali, dia tak tahu apa yg mesti diperbuatnya dalam kegelapan malam begini, maka dengan langkah pelan dia keluar dari ruangan dan mengawasi keadaan di sekitar sana.

Tampak kegelapan malam telah menyelimuti setiap sudut gedung itu, pemandangannya sepuluh kali lipat lebih menyeramkan dari pada disiang hari tadi. Dibawah timpaan sinar rembulan, bayangan pohon yang terbias menciptakan bayangan aneh yang menyerupai setan, angin malam yg berhembus kencang menimbulkan udara dingin yang membekukan, ditambah pula dg suara jeritan tikus yg lebih mirip jeritan setan. Kesemuanya ini membuat perkampungan Hui im ceng seolah-olah berubah menjadi sebuah dunia setan.

Biarpun sewaktu siang tadi Kho Beng telah mengadakan kontrol yg cermat disekitar sana, tapi dalam suasana begini, tak urung bergidik juga hatinya.

Cepat-cepat dia kembali keruang tengah, menutup pintu depan lalu bersemedi dikursi, walaupun perasaannya mulai gugup, namun wataknya yg keras kepala membuatnya bertekad untuk bermalam disitu. Dia ingin mengetahui sampai dimanakah kehebatan dan keseraman gedung tersebut.

Malam pun makn lama semakin larut, suasana tenang dan sepi makin mencekam seluru jagat, tunggu punya tunggu Kho Beng belum juga menangkap sesuatu suara yang aneh, tanpa terasa diapun berpikir:

“Konon hawa panas manusia membuat setan dedemit pada kabur ketakutan, jangan-jangan setannya tak akan muncul pada malam ini…”

Makin dipikir dia makin bernyali, akhirnya diapun terlelap dalam ngantuknya.

Baru saja dia akan tertidur, mendadak segulung angin dingin berhembus lewat menerpa tubuhnya, pemuda itu bergidik dan segera mendusin ari tidurnya.

Dengan pandanga tajam diawasinya sekejap sekitar situ. Tampak pintu ruangan yg semula tertutup rapat kini telah terbuka lebar, hembusan angin diluar pintu mendatangkan suara yg mengerikan hati.

Kho Beng sangat terkejut, belum sempat dia berbuat sesuatu, mendadak terdengar olehnya suara langkah kaki manusia yg cukup keras bergema memecahkan keheningan, suara itu seperti datang dari atas loteng.

Deruan angin dan suara langkah kaki tersebut muncul sejenak lalu lenyap, bila tidak diperhatikan dg seksama, sulit rasanya untuk ditangkap secara nyata.

Tapi langkah kaki siapakah itu? Apalagi ditengah malam buta begini, ditengah gedung yg disebut gedung hantu? Dg bulu kuduk pada bangun berdiri, Kho Beng segera membentak keras:

“Siapa disitu?”

Begitu suara bentakan berkumandang, suara langkah tersebut segera lenyap tak berbekas.

Kho Beng mencoba untuk memperhatikan lagi beberapa saat, namun tak kedengaran lagi suara apapun, dg perasaan ragu diapun berpikir:

“Jangan-jangan aku salah mendengar?”

Siapa tahu belum habis ingatan itu melintas lewat, suara langkah kaki itu kembali bergema, kali ini suara tersebut kedengaran nyata sekali dan berasal dari lantai atas.

Kali ini, Kho Beng telah yakin kalau suara langkah tersebut berasal dari atas loteng, ia tahu suara itu bukan khayalan belaka, maka dg suatu gerakan cepat dia melompat keluar dari ruangan tersebut.

Tampak dari balik jendela diatas loteng terlihat sebuah lentera menyinari suasana disekelilingnya.

Lagi-lagi suatu kejadian yg sangat aneh, pemuda itu masih ingat, loteng itu berada dalam kegelapan tadi, lalu siapa yg telah bermain gila dgnya.

Dg suatu gerakan cepat, dia melompat naik keatas loteng, kemudian menerobos masuk kebalik jendela dg suatu gerakan tipu yg manis.

Dilihat dari bawah tadi, cahaya lentera tersebut kelihatan terang benderang, tapi setelah berada dalam ruangan atas, ternyata suasananya cukup remang-remang.

Dg cepat Kho Beng memeriksa sekejap disekitar sana, tapi kembali ia dibuat terpeanjat sampai menjerit keras.

Dalam ruangan tersebut tidak ditemukan sesosok bayangan manusiapun, tapi diatas ranjang duduklah seperangkat tulang tengkorak manusia dalam posisi bersila, sisa daging yg membusuk masih menempel diseputar tulang belulangnya, sehingga hal ini membuat bentuknya lebih menyeramkan.

Benarkah duara langkah kaki manusia yg terdengar tadi adalah langkah tengkorak tersebut? Benarkah dalam gedung ini betul-betul terdapat setannya?

Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, Kho Beng segera membentak nyaring: “Lihat serangan!”

Sepasang tangannya diayunkan kedepan sekuat tenaga dan menghajar tengkorak yg sedang duduk bersila diatas ranjang itu…….

Dimana angin pukulannya menyambar lewat, tengkorak tersebut segera roboh berantakan diatas ranjang.

Dengan gerakan cepat Kho Beng memburu ketepi ranjang, dia baru dapat menghembuskan napas lega setelah menyaksikan tulang belulang itu berantakan tak karuan.

“Hmmm, akan kulihat apakah kau bisa bermain gila lagi!” demikian pikirnya dihati.

Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang lagi suara tertawa seram yg menggidikkan hati, menyusul kemudian cahaya lentera bergoyang tiada hentiny seakan akan hendak padam.

Dengan perasaan terkejut Kho Beng segera berpaling….apa yang terlihat?

Ternyata sesosok tengkorak telah berdiri tegak didepan pintu kamar sambil menyeringai seram.

Sekujur badan tengkorak itu berlumuran cahaya pospor, sehingga walaupun berada dalam kegelapan, namun bentuknya dapat terlihat jelas.

Hampir terbang semangat Kho Beng setelah menyaksikan kejadian ini, sambil memutar badannya cepat-cepat, ia segera membentak nyaring, sepasang tangannya kembali diayunkan kedepan melancarkan serangan dahsyat.

Dengan hasil latihannya selama dua tahun ditambah pula berada dalam keadaan terkejut bercampur ngeri, tak heran kalau tenaga serangan yang digunakan olehnya saat itu lebih hebat daripada serangan jago-jago setarafnya.

Tapi apa yg dirasakan Kho Beng kali ini berbeda jauh dengan keadaan semula, kali ini dia merasa tenaga pukulannya seperti tak berhasil menyentuh sesuatu, sementara tengkorak bercahaya itu malah melayang kesana kemari mengikuti hembusan angin pukulannya.

“Aaaaah……”

Tak kuasa lagi Kho Beng menjerit kaget, peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, hampir saja ia jatuh pingsan. Sekalipun dia tak percaya dg setan, namun berada dalam keadaan seperti ini,mau tak mau dia membayangkan juga cerita- cerita seram tentang setan yg pernah didengarnya selama ini.

Dalam waktu singkat, dia merasa suasana disekeliling sana menjadi gelap gulita, hawa setan menyelimuti sekitar situ, sementara bayangan iblis seakan-akan siap menerkam serta melahapnya.

Tengkorak bersinar itu lagi-lagi meluncur datang dg seramnya, Kho Beng ingin lari tapi kakinya seperti berakar, sama sekali tak mampu berkutik lagi, sehingga tanpa sadar dg tubuh gemetar keras pemuda itu mundur kebelakang selangkah demi selangkah.

Pada saat itulah cakar tengkorak yg kurus kering itu menyambar kewajahnya dg kecepatan bagaikan kilat, kemudian mencekik tenggorokan Kho Beng dari arah belakang.

Dg perasaan seram Kho Beng segera menjerit:

“Aku toh tak pernah terikat dendam sakit hati dgmu, jangan kau bunuh diriku!”

“Heeehh…..heeehh…..heeehh….” suara tertawa yg begitu menyeramkan berkumandang dari belakang tubuhnya, “Siang tadi aku toh sudah memperingatkan jangan tinggal disini sampai matahari terbenam, tapi nyatanya kau tetap tinggal disini, jangan salahkan kalau kucekik mampus dirimu sekarang!”

Napasnya menjadi sesak sekali dan kesadaran Kho Beng pun lamat-lamat mulai menghilang, pada hakekatnya dia tak sempat lagi untuk memperhatikan secara jelas apakah setan atau manusia yg mencekiknya dari belakang.

Apa yang terpikirkan olehnya sekarang adalah bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari jepitan jari tangan lawan yg kuat dan keras bagaikan jepitan besi tersebut serta mencari keselamatan hidup bagi dirinya.

Mendadak……

Satu ingatan melintas didalam benaknya dengan sekuat tenaga ia segera berteriak :

“Ampuni aku, bukan maksudku sendiri kemari. ”

“Hmmm…hmmm…cepat katakan siapa yg menyuruh kau datang melakukan penyelidikan disini ? “

Pertanyaan itu diucapkan dg suara yg menyeramkan, namun cekikan tersebut mulai mengendur, seakan-akan dia kuatir kalau Kho Beng benar-benar akan mati tercekik. Menggunakan kesempatan itulah Kho Beng menarik napas panjang, lalu dg sekuat tenaga kakinya menjejak tanah, dg kepalanya dia menerjang kebelakang.

Oleh karena setan itu berada dibelakangny maka percuma dia berilmu silat, karena mustahil dapat digunakan, maka diapun mengambil keputusan untuk beradu nasib dg melakukan terjangan…..

Buktinya terjangan tersebut segera memberikan hasil diluar dugaan.

“Bruuukkk… ! “

Dibali suara benturan keras kedengaran pula jeritan kaget, tangan yg mencekik Kho Beng tadi terlepas dari atas tengkuknya, dg memanfaatkan kesempatan inilah dia membalikkan badan sambil berkelit kesamping.

Akan tetapi disebabkan terjangan tersebut dilakukan dh sepenuh tenaga, hal mana membuat pandangan matanya menjadi berkunang-kunang, kepalanya pusing tujuh keliling, ditambah lagi suasana dalam ruangan redup, hakekatnya dia belum sempat untuk memperhatikan dg lebih jelas lagi siapakah lawannya itu….. ?

Menanti Kho Beng dapat menguasai diri kembali, tahu-tahu desingan angin tajam telah melintas didepan tubuhnya, menyususl kemudian urat nadai pada tangan kanannya telah dicengkeram dg kuat sekali.

Kontan saja pemuda itu kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya dan duduk lemas.

Ternyata dihadapannya telah muncul seorang kakek berbaju putih yg rambutnya telah beruban dan membawa sebuah tongkat ditangan kanannya, hanya saja rambutnya menutupi seluruh wajahnya hingga tak nampak jelas raut mukanya itu.

Biar begitu, sinar mata yg terpancar keluar dari balik matanya justru mendatangkan perasaan bergidik bagi siapapun yg melihatnya, hal mana membuat bulu kuduk Kho Beng segera pada berdiri semua.

Sekalipun demikian, Kho Beng pun dapat menghembuskan napas lega, karena biarpun orang ini lebih mirip setan, namun bagaimanapun juga toh tetap sebagai manusia biasa, karenanya dia segera berseru lagi:

“Empek, aku toh tak ada hubungan sakit hati atau permusuhan dgmu, kenapa kau mesti berlagak menjadi setan untuk menakut- nakuti diriku? Hampir saja aku mati ketakutan….cepat lepaskan aku, bila ada urusan, mari kita bicarakan secara baik-baik!”

Kakek itu segera tertawa dingin.

“Hmmm, meskipun nyalimu besar dan tak sampai mati ketakutan, namun aku mampu membunuhmu dalam sekali ayunan tangan saja, cepat katakan siapa yg menyuruhmu datang kemari?”

Kho   Beng   segera   menghela    napas   panjang. “Aaaai. orang yg menyuruhku kemari mengaku she Lie!”

“Hmmm, jangan berusaha membohongi aku, dia bernama Lie apa. ?” dengus kakek berambut putih itu.

Kembali Kho Beng tertawa getir.

“Aku juga tak tahu siapakah orang itu, bahkan wajahnyapun belum sempat kujumpai.”

Kakek berambut putih itu segera menghentakkan toyanya keras- keras keatas tanah, lalu bentaknya:

“Bajingan keparat, kau berani….”

Berbicara sampai ditengah jalan, toya ditangan kanannya segera direntangkan kedepan.

Seketika itu juga Kho Beng merasa amat terperanjat, dia mengira orang itu tak percaya dg kata-katanya dan sekarang bersiap siap untuk melancarkan serangan mematikan.

Baru saja dia hendak membuka suara untuk membantah, tampaklah si kakek itu sudah melemparkan toyanya lewat jendela.

Jendela yg setengah terbuka itu hancur seketika tersambar oleh toya baja itu, ditengah ledakan keras yg memekakkan telinga terdengar suara jeritan yg bergema membelah angkasa, disusul kemudian tampak ada benda berat yg roboh terbanting diatas tanah.

Kho Beng menjadi terbelalak dan melongo oleh peristiwa tersebut. Dia tak menyangka kalau dialam gedung tersebut kecuali dia seorang, ternyata masih ada pihak lain yg melakukan penyelidikan dari luar jendela.

Dia pun tak pernah menyangka kalau kakek berambut putih yg manusia tak mirip manusia, setan tak mirip setan ini ternyata memiliki tenaga dalam yg begitu sempurna, dimana dalam ayunan toyanya dia sangup membunuh seseorang dalam waktu singkat.

Sementara dia masih tertegun karena kaget, mendadak cekalan pada pergelangan tangan kanannya menjadi kendor, menyusul kemudian tampak kakek berambut putih itu roboh terjungkal keatas tanah. Dg napas terengah-engah, kakek itu segera berseru : “Aku sudah dicelakai orang, cepat….cepat katakanlah, dia

sia….siapakah kau?”

Sekali lagi Kho Beng dibuat tertegun, sebetulnya saat itu merupakan kesempatan yg terbaik aginya untuk melarikan diri, namun perasaan heran dan ingin tahunya membuat pemuda itu melupakan ancaman bahaya atas keselamatannya.

Dg perasaan keheranan, ia segera bertanya:

“Lotiang, bukankah kau berada dalam keadaan sehat wal afiat?

Siapa yg telah mencelakaimu?”

“Aku sudah terkena jarum penembus tulang pembeku darah….” Kata kakek berambut putih itu dg napas terengah-engah.

“Kau…kemarilah….mengingat aku sudah hampir mati, beritahulah padaku, siapakah kau? Dan siapa yg menyuruhmu datang kemari?”

Diam-diam Kho Beng merasa terkejut sekali, pikirnya: “Padahal kepandaian silatnya sangat hebat, tapi kenyataannya

dia telah dicelakai orang tanpa menimbulkan sedikit suarapun, aaah…! Jarum penembus tulang pembeku darah yg dimaksudkan pastilah sejenis senjata yg amat jahat.”

Ia merasa tak pernah mempunyai dendam sakit hati dg siapapun, sekarang ia Cuma terlibat dalam peristiwa tersebut secara kebetulan saja, apalagi setelah melihat kakek itu berusaha untuk mengetahui identitasnya menjelang saat kematiannya, tanpa terasa timbul rasa kasihan dalam hati kecilnya.

Setelah tertawa getir, diapun menjawab:

“Sesungguhnya aku sendiripun tak tahu mengapa aku Kho Beng disuruh datang kemari, seseorang yg tidak kukenal telah meninggalkan sepucuk surat kepadaku untuk datang kemari dan aku pun segera berangkat kesini. Nah, silahkan lotiang memeriksa surat ini seusai membaca isinya kau pasti akan mengerti dg sendirinya.”

Sambil berkata, dia mengeluarkan selembar surat dan mendekati kakek tersebut.

“Aku sudah tak dapat melihat lagi, tolong bacakan isi surat tersebut….” Kata kakek berambut putih itu dg nada lemah.

Dg cepat Kho Beng membaca isi surat tersebut.

“Aku tak dapat menunggu karena ada urusan penting, datanglah keperkampungan Hui im ceng dikota Hang ciu seusai membaca tulisan ini, sepuluh tahil perak kuhadiahkan sebagai ongkos jalan, dinding naga merupakan warisan leluhur, jangan diperlihatkan kepada siapapun. Nah, surat tersebut tanpa tanda tangan….”

Sekujur badan sikakek nampak bergetar keras selesai mendengar isi surat itu, dg nafas tersengal dia berusaha meronta bangun, lalu serunya sambil mengawasi wajah Kho Beng lekat-lekat:

“Dinding naga? Apakah dinding naga itu?”

Dg perasaan terkejut Kho Beng mundur selangkah, dia kuatir kakek itu akan menyerangnya secara tiba-tiba kemudian baru sahutnya:

“Benda itu tak lain adalah sebuah lencana batu kumala hijau yg kukenakan sedari kecil dulu….”

Belum selesai perkataan tersebut, dua rentetan sinar aneh telah memancar keluar dari balik mata kakek tersebut, serunya lagi dg gelisah:

“Cepat…..cepat keluarkan dan tunjukkan kepadaku….aku…..aku sudah hampir tak sanggup bertahan lebih lama lagi….”

Kalau dilihat dari sikapnya yg begitu gelisah, seakan-akan dia merasa bakal mati tak tentram apabila tak sempat melihat lencana naga itu menjelang ajalnya.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Kho Beng, pikirnya: “Jangan-jangan kakek ini mengetahui lencana kumala yg

kukenakan ini...?”

Berpikir begitu, cepat-cepat dia mengeluarkan lencana naga tersebut dan ditunjukkan kepada kakek tersebut sambil katanya :

“Lotiang, silahkan kau periksa dg seksama!”

Waktu itu rembulan sudah condong kelangit arat, sinar yg berwarna keperak perakan menyoroti lencana kumala tersebut dan memantulkan selapis cahaya hijau yg berkilauan.

Biarpun Kho Beng tidak melepaskan lencana tersebut dari gantungannya, akan tetapi kakek itu dapat menyaksikan dengan sangat jelas.

Dg tubuh gemetar keras karena pergolakan emosi, ia segera berseru:

“Aaah...ternyata benar-benar lencana naga kumala hijau..!

Ternyata benar-benar lencana naga kumala hijau…Oooh Thian! Kau telah melindungi kami sehingga memberi petunjuk kepada Lie sam untuk menemukan kau kembali….rasanya tak sia-sia aku menunggu hampir belasan tahun lamanya dg penuh penderitaan!” Mungkin saking emosinya, belum lagi perkataan tersebut selesai diutarakan, tubuhnya sudah roboh terjengkang keatas tanah.

Timbul kecurigaan dalam hati Kho Beng setelah mendengar ucapan tersebut, cepat-cepat dia memburu maju kedepan dan berseru:

“Lotiang, siapa sih Lie Sam yg kau maksudkan? Siapa pula kau? Kenapa kau bisa mengenali lencana naga kumala hijau milikku ini…?”

Secara beruntun dia telah mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus.

Namun keadaan kakek tersebut amat lemah, napasnya amat lirih dan bibirnya yg mengering nampak bergetar lemah, mengucapkan serentetan perkataan yg hampir saja susah terdengar.

“Hamba….hamba tak tahan untuk ba…banyak berbicara lagi…ce…cepat kau ambil sesuatu dalam sakuku dan pergi ketebing Siong hun gan dibukit Hong san…tee…temuilah Bu Wi lojin…ingat…kau adalah maa…majikan muda..da….dari Hui im

…ceng…cepat tinggalkan tempat yg berbahaya ini…”

Ketika berbicara sampai disitu, ia sudah tak sanggup lagi untuk menahan diri, kepalanya segera terkulai kesamping dan menghembuskan napas yg penghabisan.

Kho Beng enjadi amat tertegun, cepat-cepat dia menggoyangkan tubuh kakek tersebut sambil serunya:

“Lotiang, mana mungkin ak adalah majikan muda dari perkampungan Hui im ceng? Katakanlah lebih jelas!”

Tapi sayang kakek yg tergeletak diatas tanah itu sudah tak mampu menjawab lagi. Sinar rembulan yg menyoroti mayatnya memantulkan cahaya pucat yg mengenaskan hati.

Dg perasaan hati yg berdebar, Kho Beng segera mendekati kakek itu serta menyingkap rambut yg menutupi wajahnya.

Sekarang ia baru dapat melihat wajah kakek tersebut secara jelas, kerutan yg dalam menghiasi hampir seluruh wajahnya, tapi dibalik mukanya yg kurus kering justru memancarkan sifat keteguhan yg kuat, wajah semacam ini sedikitpun tidak mirip dg wajah seorang manusia licik yg berhati keji.

“Benarkah aku adalah majikan muda Hui im ceng?” dengan wajah termangu-mangu Kho Beng berpiki, “Tapi bukankah pelayan rumah makan dikota Hang ciu telah menerangkan tadi bahwa semua penghuni perkampungan Hui im ceng telah ditumpas orang semenjak delapan belas tahun berselang? Jika aku adalah keturunan dari Hui im ceng, bagaimana mungkin bisa hisup sampai sekarang dan dipelihara oleh perguruan Sam goan bun?”

Sementara pelbagai pikiran masih berkecamuk dalam benaknya, tiba-tiba terdengar seseorang menjerit kaget dari luar loteng.

“Aaah! Khu losam telah mampus!”

“Benar-benar amat keji,” sambung yang lain, “Coba lihat, mukanya hancur tak karuan, hantaman toya tersebut paling tidak mencapai lima ratusan kati.”

Orang yg berbicara pertama kali tadi segera tertawa dingin: “Nyatanya dugaanku tidak keliru, heboh setan yg telah

berlangsung empat lima tahun di Hui im ceng ternyata Cuma ulah dari si toya baja pedang sakti Kho Po koan seorang budak yg berhasil lolos dari musibah lalu.”

“Yaa benar! Toya besi itu memang merupakan senjata andalan Kho Po koan dimaa lalu, saudara Lu! Mari kita selidiki keatas , baik buruk persoalan ini harus kita selidiki sampai tuntas hari ini.”

Sekali lagi Kho Beng merasa tertegun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya:

“Aaah...rupanya kakek yg tewas ini dari marga Kho, kalau begitu pemilik perkampungan Hui im ceng dimasa lalu pun berasal dari marga Kho?”

Teringat dg pesan kakek tersebut menjelang ajalnya, cepat-cepat ia merogoh kedalam saku kakek tersebut, berusaha untuk memeriksa benda apakah yg diserahkan sikakek menjelang ajalnya tadi?

Sayang sekali hal ini sudah terlambat selangkah, tampaklah dua sosok bayangan manusia menerobos masuk kedalam ruangan dg kecepatan tinggi.

Dg perasaan terkejut Kho Beng segera menarik kembali tangannya sambil mundur kebelakang, ternyata pendatang tersebut terdiri dari dua orang.

Yang satu adalah seorang kakek berbaju abu-abu yg membawa pedang berjenggot hitam, bermata tajam dan bersikap keren serta penuh wibawa.

Sedangkan orang kedua adalah seorang sastrawan berbaju putih yg membawa kipas kumala. Walaupun gerak geriknya sangat lemah lembut dan penuh sopan santun, namun tidak menutupi hawa sesat dan kelicikan yg memancar keluar dari wajanya. Kedua orang itu nampak tertegun setibanya diatas loteng, kemudian kakek berpedang itu mmeriksa sekejap jenazah kakek berambut putih, lalu katanya pada sastrawan berbaju putih:

“Ternyata orang ini benar-benar adalah Kho Po koan!”

Lalu sambil mengalihkan pandangan matanya ke wajah Kho Beng, kembali bentaknya:

“Siapa kau?”

Belum selesai bentakan itu berkumandang, mendadak terdengar sastrawan berbaju putih itu menjerit kaget:

“Liu toako, coba lihat tempat ini benar-benar ada setannya!” Sambil berkata ia lantas menunding kedepan.

Mngikuti arah yg ditunuk, kakek berambut hitam itu segera berpaling, tapi apa yg kemudian terlihat membuat paras mukanya segera berubah hebat.

Sambil membentak keras pedangnya langsung disambit kedepan.

Kho Beng pun turut terperanjat dan segera berpaling kearah mana semua orang tertuju.

Ternyata yg dimaksudkan sastrawan berbaju putih itu adalah tengkorak putih yg dijumpainya tadi.

Sementara itu cahaya pedang telah berkelebat lewat dan…”Criit” langsung menembusi tengkorak tersebut dn menancap diatas pintu, gagang pedang bergetar tak hentinya, tapi tenggorokan itu Cuma bergerak terombang ambing kesamping lain, berdiri kembali ditempat semula.

Saat itupun mereka bertiga baru dapat melihat dg jelas, ternyata tengkorak tersebut tak lain hanya selembar tirai pintu yang diatasnya dilukis sebuah gambaran tengkorak dg kapur putih, oleh sebab dilihat dari kegelapan maka seolah olah gambaran tersebut merupakan tengkorak sungguhan.

Begitu rahasianya terbongkar, maka permainan yg terasa ngeri dan menyeramkan tadipun sekarang menjadi sama sekali tak berharga.

Kho Beng segera menghembuskan napas panjang, kemudian serunya sambil menjura.

“Tak nyana kalau Cuma selembar kain hitam, hampir saja aku dibuat mati saking kaget dan takutnya, tapi aku percaya selanjutnya dalam perkampungan ini tak bakal ada setan yg menggoda orang lagi.” Sesudah menyaksikan semua yg terjadi dan mendengar perkataan tersebut, sikap sikakek berjenggot hitam dan sastrawan berbaju putih pun turut berubah menjadi lebih lembut.

Kakek itu segera menjura seraya menyapa:

“Siapakah nama siauhiap?Ada urusan apa datang kemari?” “Aku yg muda Kho Beng, kebetulan saja lewat dikota Hang ciu,

berhubung kudengar digedung ini ada hantunya, maka dg perasaan ingin tahu aku datang kemari untuk melakukan penyelidikan.”

Sastrawan berbaju putih itu segera tertawa terbahak-bahak, katanya pula:

“Ha…ha….ha….ternyata Kho siauhiap! Maaf…maaf…siauhiap memang sangat hebat, bukan saja berani melakukan penyelidikan seorang diri digedung hantu ini, bahkan mampu membinasakan sitoya besi pedang baja Kho Po koan yg sudah termashur namanya dalam dunia persilatan. Bila berita ini sampai tersiar keluar, bukan saja keberanianmu akan dikagumi orang banyak, kehebatan ilmu silatmu tentu akan menggemparkan seluruh sungai telaga. Aku sastrawan berkipas kemala Beng Yu percaya, tak sampai tiga hari, nama besar siauhiap tentu sudah termashur diseluruh dunia persilatan!”

Merasa tidak memiliki kemampuan tersebut, pujian itu justru membuat Kho Beng tersipu-sipu, dg cepat dia menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berseru:

“Harap kalian berdua jangan salah paham, aku yg muda Cuma seorang manusia yg baru terjun kedunia persilatan, kepandaianku tak seberapa, sesungguhnya…”

Kakek berjenggot hitam itu tertawa terbahak-bahak, tukasnya: “Buat apa saudara cilik merendahkan diri? Kau tahu betapa

hebatnya rekanku si jarum emas pencabut nyawa yg datang bersamaku tadi? Tapi kenyataannya dia toh mempus juga oleh toya besi budak tua ini, bila kau masih mencoba bersungkan terus, ini namanya menganggap asing kami berdua.”

Sastrawan berbaju putih itu segera menyambung pula sambil tertawa:

“Saudara memang mengagumkan sekali, biar berilmu tinggi tapi tak sombong, sikap semacam inilah merupakan watak sejati seorang pendekar, bisa kuduga gurumu pasti seorang tokoh yg luar biasa sekali?” Dari nada pembicaraa mereka, Kho Beng dapat menyimpulkan kalau sang korban adalah musuh besar kedua orang ini, sebagai orang luar yg belum mengetahui duduknya persoalan secara jelas, dia tak ingin melibatkan diri dalam pertikaian itu.

Karena diapun tidak mencoba untuk memberi penjelasan lagi, cepat-cepat katanya:

“Aku belum pernah mengangkat guru tapi pernah belajar berapa jurus silat dari seorang Bu lim cianpwee!”

“Ooooh…” kakek berjenggot itu manggut-manggut, “Boleh kah kami tahu nama besar dari locianpwee yg telah mengajarkan silat kepadamu itu?”

“Cianpwee itu adalah siunta sakti berpungung baja!”

Paras muka kakek berjangggut hitam itu segera berubah hebat, setelah berseru tertahan, katanya:

“Ooooh….rupanya Thio Kok tayhiap salah seorang diantara sepasang unta utara selatan yg termashur namanya pada dua puluh tahun berselang, tapi aku pernah dengar Thio kok telah tewas dicelakai orang pada dua puluh tahun berselang?”

Sesungguhnya Kho Beng sama sekali tidak mengetahui soal masa lalu Thio bungkuk, bahkan nama dan kedudukannya dalam dunia persilatan pun tidak diketahuinya, karena nya dia berusaha menghindari hal-hal yg tak jelas baginya setelah mendengar perkataan tersebut.

“Aku yg muda baru beberapa bulan berpisah dg Thio locianpwee.” Katanya, “Menurut apa yg kuketahui, dia orang tua masih tetap berada dalam keadaan sehat walafiat.”

Kakek berjenggot hitam itu tertawa tergelak. “ha….ha…..ha…..semasa masih muda dulu, aku pernah berjumpa

sekali dg Thio tayhiap, bila lain waktu kau bertemu lagi dengannya, katakan saja sipedang tanpa bayangan Lu seng sin dan adik angkatnya sastrawan berkipas kemala, Beng Yu titip salam untukdia orang tua.”

Mengetahui kalau kedua orang ini pernah bersua dg Thio bungkuk, sikap Kho Beng pun turut berbah menghormat, segera sahutnya:

“Aku pasti akan menyampaikan salam anda berdua kepada beliau.”

Kemudian dg memanfatkan kesempatan tersebut, ia bertanya kembali: “Lotiang, tolong tanya siapakah sipedang baja toya besi Kho Po koan ini?”

“Budak tua ini adalah seorang budak dari perkampungan Hui im ceng dimasa lalu,” Sastrawan berkipas kumala Beng Yu menerangkan, “Tatkala tujuh partai besar menyerbu kemari, rupanya dia berhasil lolos, bisa jadi si kedele maut yg misterius dan belakangan ini banyak melakukan huru hara merupakan hasil perbuatannya.”

“Aku baru pertama kali ini terjun ke dunia persilatan, banyak persoalan yg tak kupahami, bolehkah aku tahu siapa pula pemilik perkampungan Hui im ceng ini?”

Dg wajah serius sipedang tanpa bayangan Lu Seng im berkata: “Pemilik Hui im ceng, dimasa lampau berasal satu marga dg lote,

ia bernama Kho Bun sin dan merupakan seorang jagoan persilatan yg berilmu tinggi, sayang aku sendiripun kurang begitu mengerti tentang peristiwa yg terjadi delapan belas tahun berselang, tapi kuanjurkan kepada lote sebagai orang luar lebi baik jangan banyak pencarian urusan ini.”

Berbagai kecurigaan segera melintas benak Kho Beng, ia tak mengira kalau Hui im ceng berasal dari marga Kho, benarkah ia mempunyai hubungan dg dirinya?”

Tapi kalau dilihat dari cara sipedang tanpa bayangan Lu Seng im sewaktu bicara , sudah jelas masih ada banyak masalah yg enggan dibicarakan olehnya, karena itu diapun tidak bertanya lebih jauh.”

Setelah menjura, diapun mohon diri.

Kini duduk persoalannya sekitar gedung hantu telah jelas, sedang akupun masih ada urusan lain dan tak bisa berdiam lebih lama lagi disini, biarlah aku mohon diri lebih dulu!”

Sesungguhnya si pedang tanpa bayangan dan sastrawan kipas kumala memang sedang menunggu-nunggu perkataan Kho Beng itu dg cepat, merekapun menjura seraya berkata:

“Kalau memang lote masih ada urusan, kamipun tak akan menahanmu lebih lama lagi, sampai jumpa lain kesempatan.”

Mereka menunggu sampai bayangan Kho Beng lenyap dibalik kegelapan, kemudian si pedang tanpa bayangan baru bergumam:

“Andaikata aku tidak menyaksikan dg mata kepala sendiri bagaimana putra Hui im cengcu tewas diujung panah pengejar sukma, aku pasti akan mencurigai orang itu sebagai keturunan Kho Bun sin!” Sastrawan kipas kemala Beng yu, tertawa tergelak:

“Kalau toh toako telah menyaksikan dg mata kepala sendiri, buat apa mesti menaruh curiga lagi? Aku dengar, biarpun sancu(dewi) berhasil memusnahkan Hui im ceng dg susah payah, namun tak berhasil mendapatkan kitab pusaka Khian hoan bu boh, sekarang Koh Po koan telah tewas, mengapa kita tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan pemeriksaan, sehingga kita dapat memberi laporan sekembalinya dari sini nanti?”

Si pedang tanpa bayangan segera manggut-manggut, maka kedua orang itupun menyulut lentera dan mulai menggeledah seluruh bagian ruangan tersebut.

Setengah kentongan telah lewat, hampir setiap bagian ruangan itu sudah mereka geledah, namun tiada sesuatu yg diperoleh tanpa terasa mereka menjadi kecewa.

Tiba-tiba Sastrawan berkipas kemala berkata kepada si pedang tanpa bayangan:

“Lotoa, mungkinkah sibocah muda itu datang dg suatu tujuan serta betndak mendahului kita?”

Berubah hebat paras muka si pedang tanpa bayangan.

“Yaa, hal ini memang bisa jadi, aduh celaka….mengapa tidak terpikirkan sejak tadi?”

“Siapa yg menyangka kalau bocah itu mampu bersikap acuh tak acuh meski memiliki kepandaian silat yg hebat?” seru Sastawan berkipas kemala sambil menghentak hentakkan kakinya dg mendongkol.

“Aaai…kta benar-benar telah dipecundangi olehnya, toako, rasanya belum terlambat bila kita kejar sekarang juga.”

Sipedang tanpa bayangan manggut-manggut, baru saja dia akan melompat pergi, mendadak pandangan matanya tertumpuk dg jenazah Kho Po koan, dg cepat ia berseru kepada rekannya:

“Tunggu sebentar loji!”

“Ada apa?” tanya sastrawan berkipas kemala tertegun.

Sambil menunding jenazah diatas tanah, pedang tanpa bayangan segera berkata:

“Seluruh ruang telah kita periksa, tapi mayat budak tua ini belum kita sentuh, apa salahnya kalau kta periksa dulu sebelum pergi dari sini?”

Cepat-cepat sastrawan berkipas kemala mendekati jenazah tersebut dan merobek pakaian yg dikenakan, pada pinggang mayat itu mereka temukan sebuah bungkusan kecil, ketika bungkusan itu dibuka maka isinya adalah sebuah lencana kemala sebesar lima inci.

Pada lencana tersebut terlihat gambar sederet pohon siong, diatas pohon siong terdapat dua tiga buah gumpalan awan.

Melihat bentuk lencana tersebut, sastrawan berkipas kemala segera berseru keheranan:

“Toako, cepat lihat!”

Pedang tanpa bayangan segera mendekati dan memeriksa lencana tersebut, apa yg kemudian terlihat membuat keningnya berkerut kencang, katanya kemudian:

“Sungguh aneh, mengapa lencana kemala Siong hun giok leng yg menjadi benda pengenal dari Bu wi lojin yg sudah dua puluh tahun lenyap dari dunia persilatan, bisa berada dalam saku budak tua ini…?”

Sastrawan berkipas kemala termenung sejenak, lalu katanya: “Mula-mula muncul seorang Kho Beng yg tak dikenal, lalu muncul

lagi lencana kemala Siong hun giok leng, hey lotoa, aku lihat apa yg kita jumpai hari ini bukan suatu kejadian yg kebetulan.”

Pedang tanpa bayangan manggut-manggut.

“Yaa, persoalan ini menyangkut suatu masalah besar, kita tak boleh menyimpulkan sendiri secara gegabah, hayo berangkat, kita berbicara ditengah jalan nanti!”

Dg cepat kedua orang itu melompat keluar lewat jendela, lalu membopong sesosok mayat yg berlepotan darah dari pelataran kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Tak lama mereka pergi, tampak sesosok bayangan manusia melayang masuk lewat jendela, ternyata orang itu adalah Kho Beng yg telah pergi dan kini balik kembali.

Rupanya setelah meninggalkan perkampungan hui im ceng tadi, sepanjang jalan dia memutar otak terus membayangkan kembali serangkaian kejadian yg dialaminya selama ini.

Menjelang memasuki kota Hang ciu, tiba-tiba ia teringat kembali dg pesan terakhir Kho Po koan menjelang ajalnya, maka tergesa- gesa dia balik kembali kesitu.

Ia tidak mengetahui benda apakah yg akan diserahkan kakek itu padanya, tapi bila ditinjau dari sikap dan nada pembicaraannya, sudah jelas benda itu mempunyai hubungan yg erat sekali dg Bu wi lojin. Ia baru tertegun setelah menyaksikan pakaian yg dikenakan jenazah tersebut telah hancur tak keruan lagi bentuknya. Dari kejadian tersebut jelaslah sudah bahwa benda tersebut telah diambil oleh sipedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala.

Sekalipun Kho Beng amat kecewa bercampur menyesal, tapi karena nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya lagi.

Ia teringat kembali janji tiga tahunnya dg Thio bungkuk, sekalipun ia tak dapat melaksanakan harapan kakek yang tewas ini, namun ia bertekad akan mendatangi tebing Siong hun gay dibukit hong san untuk menyelidiki persoalan ini.

Sebab masalah tersebut bukan saja menyangkut sikakek yang telah tewas, siapa tahu dari situ dia akan berhasil mengetahui asal usul yg menyelimuti dirinya selama ini.

Maka menempuh kegelapan malam yg mencekam seluruh jagat, dg langkah tergesa-gesa, Kho Beng berlalu dari situ, setelah menguburkan jenazah Kho Po koan, lalu tanpa berhenti langsung berangkat ketebing Siong hun gay di Hong san.

Dalam waktu singkat, bulan dua belas telah menjelang tiba.

Angin dan salju telah berhenti, puncak bukit Hong san dilapisi warna putih sampai diuung langit, pemandangan alam ketika itu benar-benar indah dan menawan hati.

Ketika Kho Beng tiba dibukit Hong san, waktu sudah menunjukkan tengah hari lewat, karena ia tak tahu dimanakah letak tebing Siong hun gay, terpaksa sambil berjalan ia mencoba untuk melakukan pemeriksaan.

Tiba-tiba ia menyaksikan sebuah bukit yg menonjol tinggi menjulang ke angkasa, aneka pohon siong tumbuh disekitarnya, awan putih menyelimuti sampai punggung bukit, bentuk maupun panoramanya jauh berbeda dg keadaan disekitarnya, tanpa terasa diapun berpikir :

“Konon tempat yg berpanorama indah sering digunakan para tokoh dan pertapa untuk mengasingkan diri, jangan-jangan tempat itu adalah tebing Siong hun gay yg sedang kucari ? “

Berpikir begitu, dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan meluncur naik keatas puncak itu.

Tebing itu curam dan amat berbahaya, apalagi dilapisi salju yg tebal membuat keadaan menjadi lebih licin dan susah dilalui. Kho Beng dg tenaga dalam yg tidak begitu sempurna harus mengerahkan seluruh kekuatan yg dimiliki untuk mencapai puncak tebing itu, tak heran kalau keringat berkucuran dg derasnya dan napasnya tersengal sengal seperti napas kerbau.

Akan tetapi setibanya dipuncak bukit itu dan menyaksikan apa yg terbentang didepan mata, seketika itu juga semangatnya menjadi berkobar kembali, ia saksikan sebuah tempat yg berpanorama begitu indah tak ubahnya seperti surga loka.

Ditengah rimbunnya pohon siong terlihat sebuah bangunan rumah yg mungil tapi indah, seorang kakek berbaju putih sedang berdiri memandang angkasa sambil menggendong tangannya.

Sikap maupun perawakan tubuhnya tak jauh berbeda dg bentuk dewa yg sering didengar Kho Beng dalam dongeng.

Sementara Kho Beng masih terengah-engah dan tak mampu berbicara, tiba-tiba terdengar kakek itu menegur dg suara nyaring:

“Hey bocah, ada urusan apa kau bersusah payah mendaki bukit berkunjung kemari?”

Kakek itu tetap berdiri sambil menggendong tangan, meski tidak membalikkan badan dan berjarak dua puluhan kaki, namun suara pembicaraannya amat jelas dan terang, malah dari dengusan napas Kho Beng, ia dapat menduga usia bocah tersebut bagaikan melihat dg mata kepala sendiri, tak heran kalau kejadian ini amat mengejutkan anak muda tersebut.

Dg perasaan gugup, ia segera berseru:

“Lotiang, bolehkah aku tahu, apakah tempat ini bernama bukit Siong hun gay?”

Sementara berbicara, dg beberapa kali lompatan dia mendekati sikakek berbaju putih itu.

“Benar!” sahut si kakek tanpa bergerak, “Kau datang dari mana nak...?”

Dg wajah berseri cepat-cepat Kho Beng memberi hormat seraya berseru:

“Kalau begitu cianpwee adalah Bu wi lojin, boanpwee Kho Beng datang dari Hui im ceng…?”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, Bu wi lojin telah berseru kaget sambil membalikkan badan, lalu dg pandangan mata yg tajam diawasinya seluruh wajah Kho Beng lekat-lekat, wajahnya menunjukkan perasaan tercengang dan keheranan. Baru sekarang Kho Beng sempat melihat jelas paras muka kakek itu, jenggotnya yg putih, wajahnya yg anggun membuat kakek itu nampak sangat agung dan berwibawa.

Cepat-cepat dia memberi hormat seraya berkata: “Boanpwee menjumpai locianpwee!”
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).