Kedele Maut Jilid 02

 
Jilid 02

Melihat rekannya mempunyai usia yang sebaya namun mempunyai keadaan yang berbeda, rasa sedih Kho Beng makin menjadi, tapi ia paksakan diri untuk unjukkan sekulum senyuman, katanya kemudian seraya memberi hormat :

“Hari ini adalah hari bahagia Cho toako karena telah lulus ujian dan turun gunung, aku harus menyampaikan ucapan selamat kepadamu.”

Cho Liu san tertawa riang, ditepuknya bahu Kho Beng sambil berkata :

“Kho Beng, sungguh beruntung kau dapat lolos dari musibah hari ini, untuk itu aku patut menyampaikan selamat juga kepadamu, selanjutnya kau bermaksud hendak kemana?”

Kho Beng menghela napas sedih, dipandangnya jalan raya yang membentang jah kedepan sana, kemudian berkata :

“Dunia amat luas, empat samudera adalah rumah, aku sendiri juga tak tahu kemana harus pergi.”

Mendengar ucapan tersebut, Cho Liu san segera turut menghela napas, dengan rasa simpati hiburnya :

“Saudara Kho, yang sudah lewat biarkan saja lewat tak usah kau pikirkan terus didalam hati, perahu yang tiba diujung jembatan akan melurus dengan sendirinya. Kau toh bisa mencari tempat kediaman yang lebih nyaman ditempat ini!”

Dengan mulut membungkam, Kho Beng manggut-manggut, tapi hiburan yang kosong tak akan melenyapkan kemasgulan dalam hati kecilnya, ia berjalan dengan harapan hampa, sementara pelbagai masalah menyelimuti benaknya.

Mendadak terdengar Cho Liu san berseru tertahan, lalu ujarnya : “Yaa! Aku teringat sekarang, saudara Kho ada dua persoalan, tak

ada salahnya kusampaikan kepadamu, siapa tahu dari kedua hal tersebut kau dapat melampiaskan rasa kesalmu sekarang dan berhasil menduduki kursi ciangbunjin dikemudian hari!”

“Soal apa itu?” tanya Kho Beng tertegun.

“Soal pertama menyangkut “Kedele Maut” yang telah menghebohkan dunia persilatan belakangan ini, aku yakin kau pernah mendengarnya bukan. ”

Kho Beng mengangguk.

Cho Liu san segera berkata lebih jauh :

“Menurut keterangan yang kudapat dari ciangbun suhu, konon tujuh partai besar telah mengumumkan baru-baru ini, barang siapa dapat membekuk si kedele maut yang gemar membantai orang secara semena-mena itu, maka dia akan diangkat sebagai Bu lim Beng cu, sebaliknya bagi mereka yang berhasil menyelidiki siapakah kedele maut itu dan melaporkan dimanakah dia berada, maka orang itu berhak mengajukan permintaan apa saja kepada tujuh pertai besar. Saudara Kho, bagaimanapun juga kau toh tiada tujuan tertentu, apa salahnya kalau ikut aku ke Kim leng dan bergabung dengan para susiok dan suheng sekalian untuk bersama-sama menyelidiki jejak si kedele maut itu?”

Kho Beng segera menganggap perkataan dari Cho Liu san itu kelewat polos, kelewat lucu dan tak masuk akal.

Ketua Sang goan bun telah melarangnya menggunakan ilmu pedang Sam goan kiam hoat dan melarang mengatakan kepada orang lain kalau selama ini ditampung dalam perguruan itu, bagaimana mungkin ia bisa berkumpul bersama-sama para jago Sam goan bun?

Biarpun para jago dari sam goan bun menaruh kesan baik kepadanya, tapi setelah mereka tahu kalau ia telah diusir pergi dari perguruan, apakah mereka berani menampungnya lagi ?

Sementara itu Cho Liu san telah berkata lebih jauh :

“Persoalan kedua mungkin telah kau ketahui, yakni masalah yang menyangkut lenyapnya ketiga jurus ilmu pedang perguruan kita, tadi ciangbunjin telah mengumumkan barang siapa dapat menemukan kembali jurus pedang yang hilang itu, maka dialah ahli waris perguruan Sam goan bun, calon ciangbunjin kita semua. Saudara Kho tak ada salahnya kau mencoba beradu untung, asal kau berhasil melaksanakan salah satu diantara kedua hal ini, niscaya keinginanmu untuk belajar silat akan terpenuhi dengan cepat.” Semangat Kho Beng yang sudah lama terpendam dalam hati kecilnya segera terpancing kembali oleh perkataan tersebut, ia merasa dirinya tak harus menjadi murid sam goan bun, tidak mesti jadi ketua Sam goan bun, tapi bila mampu menyelesaikan salah satu diantara kedua tersebut, paling tidak rasa kesalnya selama ini dapat terlampiaskan....

Maka ujarnya kemudian, sambil manggut-manggut :

“Betul juga perkataan Cho toako, bagaimanapun juga aku toh tidak mempunyai tujuan tertentu, tapi kau jangan lupa dengan dua larangan yang disampaikan ciangbunjin kepadaku. ”

Sementara Cho Liu san termangu-mangu, Kho Beng telah berkata lebih jauh dengan suara rendah :

“. oleh sebab itu aku hanya bisa membantu toako sekalian

melakukan penyelidikan secara diam-diam, tapi tak bisa berkumpul bersama toako sekalian!”

“Betul!” seru Cho Liu san sambil bertepuk tangan, setibanya dikota Kim leng nanti, kita menempuh perjalanan sendiri-sendiri tapi secara diam-diam masih melakukan kontak satu dengan lainnya, ya memang cara ini lebih tepat!” Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan perjalanan, ketika malam tiba mereka beristirahat disebuah penginapan dikota Ci hui sia.

Malam sudah amat larut. Setitik cahaya lentera menerangi sebuah kamar dirumah penginapan dalam kota Ci hui sia. Cho Liu san yang berada dipembaringan sebelah kiri sudah lama mendengkur, sebaliknya Kho Beng yang berada dipembaringan sebelah kanan masih melotot besar, pikiran yang kalut embuatnya tak mampu tidur dengan tenang. Pelan-pelan ia bangkit dari tempat tidurnya sambil memandang keluar jendela dengan pikiran kosong, suasana diluar kamar telah hening dan tak kedengaran sedikitpun suara.

Mendadak sorot matanya terbentur dengan bungkusan pemberian Thio bungkuk yang diletakkan dimeja. Sepanjang perjalanan tadi Kho Beng tak sempat memeriksa isi buntalan tersebut, maka dihampirinya bungkusan itu serta dibuka, ternyata pakaian yang disiapkan Thio bungkuk baginya masih baru semua, selain itu tedapat pula lima puluh tahil perak. Ia terkejut bercampur rasa terima kasih yang tak terhingga, ketika ia memeriksa pakaian tersebut, tiba-tiba ditemukan juga sejilid kitab tipis. Dengan cepat kitab itu diambil serta diperiksa dengan seksama, pada sampul depannya terbacalah beberapa huruf yang berbunyi :

Intisari ilmu pukulan telapak dan pedang dari pelbagai aliran. Dibawahnya tertulis pula :

Dibuat dan dikumpulkan oleh Thi hong sia tou.

Dalam tertegunnya Kho Beng merasa sangat gembira, cepat- cepat ia membuka halaman berikutnya, ternyata ditengah halaman terselip selembar surat yang isinya antara lain berbunyi demikian :

“Kho Beng :

Berat rasanya untuk berpisah denganmu, setelah delapan belas tahun kita hidup bersama. Terimalah sedikit pemberian dari aku sibungkuk sebagai rasa kasihku kepadamu….”

“Aaaai…suhu bungkuk benar-benar amat baik…” pikir Kho Beng dengan penuh rasa terima kasih.

Kemudian dibacanya isi surat itu lebih jauh :

“….untuk berkelana didalam dunia persilatan paling tidak kau harus memiliki sedikit ilmu untuk membela diri, aku tahu ilmu pedang Sam goan kiam hoat tak mungkin bisa kau pergunakan lagi, karena itu tak ada salahnya kau latihlah beberapa jurus silat yang tercantum dalam kitab tersebut, sehingga dalam pengembaraanmu nanti tak usah dianiaya orang lain.

Dalam kitab itu terdapat enam jurus ilmu pedang, enam jurus ilmu pukulan tangan kosong serta ilmu meringankan tubuh dari pelbagai aliran. Aku sengaja pilihkan beberapa diantaranya yang hebat untuk kau pelajari, karena hal ini paling sesuai dengan keadaan mu sekarang, disamping itu bila digunakanpun tak sampai membocorkan identitasmu yang sebenarnya…. “

Membaca sampai disini, kembali Kho Beng jadi kebingungan, rahasia apakah yang terkandung dibalik asal usulnya? Mengapa identitasnya harus dirahasiakan seketat itu. “

Cepat-cepat ia membaca lebih jauh :

“….aku duga kau pasti ingin mengetahui asal usulmu bukan? Tentang masalah ini, kau tak usah gelisah, karena gelisahpun tak ada gunanya.

Aku sibungkuk akan menungumu selama tiga tahun diperkampungan Cui wi san ceng, dalam tiga tahun ini tak ada salahnya kau mencari guru kenamaan serta belajar silat dengan tekun, bila telah berhasil datanglah menjumpaiku di Sam goan bun, sampai waktunya aku akan menceritakan segala sesuatunya kepadamu.

Tapi jika kau gagal dalam tiga tahun ini, lebih baik padamkan saja keinginan menjadi seorang ahli silat, lupakan segala kenangan lama dan hiduplah sebagai manusia biasa.

Tapi kau harus ingat, tidak ada orang didunia ini yang pantas menjadi gurumu, kalau dihitung hanya tiga orang saja yang pantas yakni sikakek sakti, sisesepuh sakti dan sidewa sakti.

Dewi payung perak tak mungkin menerima murid lelaki, sedangkan kakek tongkat sakti dan Bu wi lojin adalah tokoh luar biasa yang tak menentu jejaknya, mereka hanya bisa dijumpai tanpa sengaja dan tak mungkin dicari, karenanya semuanya ini tergantung pada nasibmu sendiri.

Tapi akupun mendoakan kepadamu, semoga kau bisa menemukan penemuan lainnya yang lebih hebat. Nah, hanya sampai disini saja pesanku ini, jangan lupa dengan janji tiga tahun mendatang. “

“Tiga tahun…tiga tahun, aaai, betapa lamanya tiga tahun ini….mengapa harus menunggu selama ini? “

…………….

…………….

Angin berhembus kencang, kuda meringkik nyaring.

Jalan raya yang membentang sepanjang jalan menuju Kim leng penuh dengan para busu yang bermata tajam dan bersenjatakan lengkap. Senjata itu, dari sebuah kota Kwan tong yang berada delapan puluh li dari kota Kim leng muncul dua orang pemuda berwajah tampan. Pemuda yang berada disebelah kiri memakai baju biru dan menyoren pedang, sebaliknya pemuda yang berada disebelah kanan membawa sebuah bungkusan kecil dan memakai baju putih, meski tidak membawa senjata namun wajahnya jauh lebih tampan daripada pemuda berbaju biru yang berada disisinya.

Pada saat itulah pemuda berbaju biru itu menunding kearah sebuah rumah makan diseberang jalan sana sambil berkata kepada pemuda disebelahnya :

“Saudara Kho, bagaimana dengan rumah makan ini?” “Terserah kepada Cho toako,” sahut pemuda berbaju putih itu

cepat.

Pemuda berbaju biru itu segera tersenyum dan manggut- manggut. “Baiklah, bagaimanapun juga kita sudah menempuh perjalanan bersama selama beberapa hari, setibanya dikota Kim leng kita harus minum dulu bersama sampai mabuk sebagai tanda perpisahan sementara, mulai besok pagi, aku akan berangkat dulu disusul kau beberapa saat kemudian, sampai waktunya kita akan berhubungan kembali.”

Pemuda berbaju putih itu segera manggut-manggut tanda setuju.

Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu telah tiba dimuka rumah makan tadi, pada papan nama besar yang terpancang didepan pintu, terbacalah tiga huruf besar yang berbunyi :

“Cui sian kit”

Seorang pelayan segera munculkan diri menyambut kedatangan mereka, kemudian sambil berpaling, teriaknya keras keras :

“Tamu...datang!”

Beberapa orang pelayan segera munculkan diri untuk menyambut kedatangan kedua orang pemuda tersebut serta mempersilahkan naik keatas loteng.

Tak salah lagi, mereka berdua tak lain adalah Kho Beng dan Cho Liu san.

Tiba diatas loteng, Kho Beng emandang sekejap sekeliling ruangan, ternyata delapan puluh persen meja kursi disitu telah diisi tamu, bahkan sebagian besar menggembol senjata. Ini menandakan bahwa kebanyakan mereka adalah anggota persilatan.

Pelayan mengajak mereka menuju kesebuah meja dibagian tengah, lalu kedua orang itu memesan hidangan pelayan itupun mengundurkan diri untuk mempersiapkan.

Sepeninggal sang pelayan, Kho Beng baru berbisik dengan lirih : “Cho toako, mengapa begitu banyak jago silat yang berkumpul

disini…?”

“Kemungkinan besar telah terjadi sesuatu peristiwa ditempat ini…” jawab Cho Liu san lirih.

Sementara pembicaraan berlangsung, hidangan telah datang, maka sambil memenuhi cawan dengan arak, Cho Liu san segera berkata kepada rekannya :

“Mulai besok kita akan berpisah dan lagi sepanjang jalan kaulah yang menyukongi aku terus, maka sepantasnya bila aku yang gantian menjamumu pada malam ini, nah saudara Kho, terimalah penghormatan secawan arakku ini.” Kho Beng segera menanggapi dengan meneguk habis cawan araknya, maka mereka berdua pun segera bersantap dan minum arak dengan riang gembira.

Pada saat itulah dari bawah loteng terdengar kembali suara teriakan yang mewartakan ada tamu datang, disusul kemudian muncul seorang tamu dari bawah loteng.

Tamu itu berwajah bulat dan berusia empat lima puluh tahunan, dia membawa sebuah bungkusan karung dipunggungnya dan mengenakan jubah berwarna abu-abu, kecuali sepasang matanya yang bersinar tajam, dandanannya tak berbeda dengan saudagar biasa.

Dengan pandangan yang tajam dia memandang sekejap sekeliling ruangan lalu gumamnya :

“Waah…sudah penuh!”

“Maaf tuan” cepat-cepat sang pelayan berseru sambil tertawa paksa, “Sejak tadi kan sudah hamba katakan bahwa loteng sudah penuh, lebih baik tuan duduk dibawah saja….”

Saudagar it tak menggubris ocehan pelayan tersebut, pelan-pelan dia mengalihkan pandangan matanya kesekeliling ruangan, ketika memandang sampai dimeja Kho Beng, tiba-tiba ia tertegun, lalu serunya sambil tertawa :

“Ha…ha…ha…. tak ada tempatpun tak apalah, biar aku bergabung dengan orang lain saja…”

Dengan langkah cepat ia segera menghampiri meja dimana Kho Beng berada.

Dengan perasaan apa bpleh buat, terpaksa pelayan itu mendahuluinya dan berkata sambil tertawa paksa :

“Harap tuan berdua sudi memaafkan, maklumlah rumah makan kami kelewat kecil sedang dagangan kami hari ini kelewat baik, sudikah toaya memberi tempat untuk toaya ini.”

Belum lagi perkataan tersebut selesai diucapkan, saudagar itu sudah menarik bangku dan duduk lebih dulu, sementara pandangan matanya yang tajam mengawasi terus wajah Kho Beng dengan pandangan tajam, sebentar ia nampak berkerut kening sebentar kemudian manggut-manggut, seakan-akan diatas wajah Kho Beng telah tumbuh sesuatu yang aneh.

Sementara Cho Liu san telah berkerut kening, wajahnya diliputi hawa amarah dan ia sudah siap menegur orang tersebut yang dianggapnya tak tahu sopan santun. Tapi sebelum ia sempat berbicara, Kho Beng telah berkata lebih dulu:

“Silahkan, silahkan, kami tidak keberatan, apa salahnya kalau duduk semeja?”

Ia berpendapat bahwa keadaan semacam ini tak akan terhindar dalam perjalanan diluar, sehingga persoalan kecil tak perlu menimbulkan perasaan tak senang dihati, itulah sebabnya ia menjawab dengan cepat.

Namun ketika merasa wajahnya diawasi terus oleh saudagar itu dengan pandangan tajam, ia menjadi tertegun, pikirnya :

“Aneh betul orang ini, kenapa sih dia mengawasi aku terus?

Jangan jangan ada sesuatu yang aneh denganku?”

Ia mencoba untuk memeriksa tubuhnya, namun tak ada yang aneh, pemuda itu menjadi semakin keheranan.

Baru saja dia akan bertanya, kedengaran Cho Liu san telah menegur dengan suara dingin:

“Sobat, caramu memandang orang dengan sikap begini sungguh tak tahu sopan….!”

Bagaikan baru mendusin dari lamunan, laki-laki bermuka bulat itu mengiakan berulang kali, kemudian serunya sambil tertawa :

“Ha…ha…ha… maaf, maaf aku jadi kesengsem dengan wajah tuan ini karena merasa seperti mengenalnya disuatu tempat…”

Ia segera menurunkan karungnya kelantai, kemudian sambil menjura kepada Cho liu san kembali katanya :

“Beruntung sekali aku bisa duduk semeja dengan anda, bolehkah aku tahu siapa nama lote?”

“aku dari marga Cho,” jawab Cho Liu san ketus. “Oooh…ha…ha…ha…rupanya Cho lote, aku yang rendah bernama

Sie Put ku!”

Lalu sambil menjura kearah Kho Beng, ia bertanya lagi : “Dan bolehkah aku tahu nama lote?”

“Aku bernama Kho Beng” sahut pemuda itu sambil tersenyum, “Aku rasa kita belum pernah bersua!”

Berkilat sepasang mata Sie Put ku ketika mendengar nama Kho Beng tadi, ia segera berseru sambil tertawa :

“Aku hanya merasa bahwa wajah Kho lote persis sekali dengan wajah seorang sahabatku almarhum, itulah sebabnya aku sampai memandangmu dengan kesengsem, untuk itu harap kau sudi memaafkan, mari,mari biar kuhormati kalian berdua dengan secawan arak!”

‘Tuan, kau belum memesan hidangan,” pelayan yang sudah menanti tak sabar segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mengingatkan.

Cho Liu san yang pada dasarnya sudah mendongkol, kontan saja menyindir sambil tertawa dingin :

‘Hmmm, kalau toh pingin numpang makan dan minum secara gratis, kenapa mesti berlagak sok ramah?”

Sie Put ku segera berseru tertahan, buru-buru serunya kepada sang pelayan :

“Hidangkan semua yang baik, hari ini aku she Sie yang akan menjamu mereka berdua.”

Kemudian katanya lagi kepada Cho Liu san sambil tertawa lebar : “Maaf, maaf…aku memang rada pusing kepala hari ini!”

Setelah itu dia baru bertanya lagi kepada Kho Beng : “Saudara Kho, kau berasal dari mana?”

“Dari wan tiong.”

“Dari wan tiong?” Sie Put ku nampak rada kecewa, tapi kembali desaknya, ‘bukan berasal dari Hang shin?”

Diam-diam Kho Beng merasa keheranan, dia menganggap Sie Put ku kurang waras otaknya, sebab tingkah lakunya persis seperti  orang gila.

Tanpa terasa serunya kemudian sambil tertawa tergelak: “Kitakan baru berjumpa untuk pertama kalinya, buat apa aku

mesti membohongimu?”

Seperti teringat akan sesuatu, kembali Sie Put ku menganggukkan kepalanya berulang kali, tanyanya lebih jauh:

“Apakah orang tua lote masih sehat walafiat?”

Pertanyaan tersebut segera menyentuh perasaan sedih Kho Beng, dia menghela napas panjang.

“Aaaai…sejak kecil aku hidup sebatang kara, hingga kini aku belum tahu siapakah orangtua ku…”

Sepasang mata Sie Put ku sekali lagi bersinar terang. “Ooooh….lantas lote berada dimana selama ini?”

“Empat samudra adalah rumahku, aku mengembara kemanapun kakiku membawa. ”

“Kalau dilihat dari gerak gerikmu, nampaknya lote pernah belajar silat, entah kau menjadi anggota perguruan mana?” Sekali lagi Kho Beng menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Aku Cuma mengerti ilmu silat secara kasar, belum pernah

menjadi anggota perguruan manapun.”

Hidangan telah disiapkan dari tadi, namun Sie Put ku seperti telah melupakannya, ia sama sekali tak menyentuhnya, hampir seluruh perhatiannya telah dicurahkan kepada Kho Beng seorang.

Keadaan tersebut tentu saja menjengkelkan Cho Liu san yang berada disampingnya, selain menimbulkan pula perasaan curiga dalam hati kecilnya.

Mendadak ia menegur sambil mendengus dingin :

“Hey sobat Sie, aku lihat kau seperti menaruh minat yang besar sekali terhadap saudara Kho ini, sudah selesai belum dengan pertanyaanmu itu? Sekarang giliran aku yang bertanya kepadamu!”

Sie Put ku nampak tertegun, tapi segera sahutnya sambil tertawa bergelak :

“Ha...ha....ha. baru bertemu sudah merasa seperti kenal,

mungkin inilah yang dinamakan berjodoh...ha....ha....ha. mari,mari

kita bersantap dan minum arak lebih dulu sebelum berbincang- bincang kembali!”

Dengan cepat Cho Liu san menyilangkan tangannya menghalangi orang itu bersantap, ucapnya ketus :

“Tak usah terburu-buru, darimana sobat?” “Ha...ha....ha. dari Kim leng.”

“Selama ini apa pekerjaanmu?” “Pedagang keliling!”

Cho Liu san tertegun, dia tak tahu apakah pekerjaan seorang pedagang keliling, maklumlah sebagai anak muda yang baru turun gunung, pengetahuannya memang amat cetek.

Tapi ia segera bertanya lagi dengan suara dingin: “Apa isi kantung yang kau bawa itu?”

“Kedele!” jawab Sie Put ku sambil tertawa misterius. Untuk kesekian kalinya Cho liu san dibuat tertegun.

Tapi jawaban tersebut segera memancing pula perhatian dari kawanan jago silat yang berada disekeliling tempat itu, serentak semua mengalihkan pandangan matanya kearah orang tersebut.

Kho Beng masih belum merasakan hal itu, ia segera berkata sambil tertawa sesudah mendengar perkataan itu.

“Oooh, rupanya saudara Sie adalah seorang pedagang kedele!” “Hmmm!” Cho Liu san segera mendengus, “kalau seorang pedagang kedele hanya membawa sekarung kedele saja untuk dijual, sejak dulu ia sudah mati kelaparan!”

Kho Beng segera merasa perkataan itu ada benarnya juga, maka ia bertanya lagi kepada Sie Put ku :

“Jangan-jangan saudara Sie membuka usaha penggilingan tahu?” “Ooooh tidak!” Sie Put ku segera menggeleng.

“Untuk dimakan sendiri?” “Juga bukan!”

“Lalu buat apa kau membawa sekarung kedele? Ayo cepat jawab!”

Bentakan tersebut berasal dari meja seberang, suaranya yang keras dan penuh tenaga membuat semua pendengar merasakan telinganya mendengung amat nyaring.

Dengan perasaan terkejut, Kho Beng berpaling, rupanya si pembicara adalah seorang busu berbaju kuning.

Waktu itu sibusu berbaju kuning itu sudah berdiri sambil bertolak pinggang, alis matanya yang hitam tebal berkenyit, wajahnya penuh dihiasi napsu membunuh yang tebal. Dia sedang mengawasi Sie Put ku dengan mata melotot.

Sie Put ku berpaling dan mengawasi busu itu sekejap, lalu katanya sambil tertawa.

“Eeei, lucu amat saudara in, apa sebabnya kau marah-marah seperti itu? Dan atas dasar apa aku mesti memberitahukan soal ini kepadamu?”

Dengan mata mendelik besar, busu berbaju kuning itu tertawa dingin tiada hentinya.

“Hey orang she Sie! Perhatikan baik-baik jika matamu buta, seharusnya kau dapat menduga kedudukanku dari pakaian yang toaya kenakan. Belakangan ini secara beruntun telah terjadi pembunuhan berantai disekitar Kim leng, semalam tiga nyawa melayang pula di Kwan tong tin oleh enam butir kedele, kini semua jago persilatan sedang menelusuri jejak ari si kedele maut tersebut. Karenanya kau harus menjelaskan identitasmu dengan seterang- terangnya, kalau tidak….hmmm…hmmm…jangan salahkan kalau toaya tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu!”

Sie Put ku segera tergelak, “Apa sih yang sedang kau bicarakan? aku Sie Put ku sama sekali tidak mengerti, tapi ada satu hal yang kuketahui dengan jelas, dilihat dari pakaian berwarna kuning yang kau kenakan serta tiga kuntum bunga bwee yang tersulam didadamu, bisa jadi kau adalah orang ketiga dari Jit bwee jit kiam atau ketujuh bwee tujuh pedang dari Hoa San pay yang disebut orang Ki Hong bukan begitu?”

Mendengar pembicaraan yang sedang berlangsung, diam-diam Kho Beng merasa terkejut.

Didengar dari pembicaraan busu berbaju kuning dari Hoa San pay itu, ia baru tahu kalau disekitar tempat tersebut benar-benar sudah terjadi peristiwa berdarah, mungkinkah si kedele maut telah beraksi kembali disitu?

Tapi setelah mendengar dari Sie Put ku, hatinya semakin terkejut.

Tadinya ia mengira orang itu seorang saudagar keliling, tapi kenyataannya orang itu dapat menyebutkan identitas busu berbaju kuning dalam sekilas pandang, ini berarti orang tersebut merupakan seorang jago silat berilmu tinggi yang sengaja merahasiakan identitasnya.

Tanpa terasa ia berdiri tertegun untuk beberapa saat lamanya. Sementara itu Khi Hong, sijago pedang berbaju kuning dari Hoa

San pay itu sudah berkata lagi sambil tertawa dingin :

“Hey orang she Sie, ternyata kau benar-benar anggota persilatan, nyatanya kau mampu menyebutkan namaku secara jelas, hmmm...rasanya kau tentu punya nama juga didunia persilatan. Nah sekarang tolong jelaskan kepadaku, apa gunanya kedele sekarang yang kau bawa ini?”

“Tak ada salahnya untuk memberitahukan kepadamu! Kedele ini kugunakan untuk makan ternak.”

“Untuk makan ternak!”

Bukan Cuma Kho Beng yang tertegun, bahkan segenap umat persilatan yang berada didalam rumah makan serta Khi Hong turut tertegun dibuatnya.

Mendadak Khi hong meninggalkan tempat duduknya, kemudian sambil berjalan mendekat, katanya lagi sambil tertawa dingin :

“Waaah….ternakmu itu tentu mahal sekali harganya, terbukti untuk ternakmu itu anda bersedia menggotong sekarung kedele menempuh perjalanan sejauh delapan puluh li lebih…aku Khi Hong jadi kepingin tahu kedele macam apa yang berada dalam karung itu.”

Tiba-tiba paras muka Sie Put ku berubah hebat, cepat ia menghalangi perbuatan lawan sambil membentak : “Jangan kau sentuh!” “Mengapa tak boleh disentuh?”

Kali ini orang yang menegur adalah seorang kakek berbaju ungu yang duduk dibelakang meja Sie Put ku, sambil menegur matanya yang tajam mengawasi wajah orang she Sie itu tajam-tajam.

Sie Put ku segera menggenggam karungnya erat-erat, lalu menjengek sambil tertawa dingin :

“Atas dasar apa kalian hendak memeriksa isi karungku ini?”

Kakek berbaju ungu itu mendengus dingin, tiba-tiba dia melakukan sebuah sodokan kilat dengan menggunakan kedua buah jari tangannya yang digunakan seperti tombak.

Serangan itu bukan ditujukan ketubuh Sie Put ku, melainkan mengarah karung tersebut.

“Duuukkk…!”

Karung itu seketika berlubang dan kedele yang berada didalam karungpun berceceran diatas tanah.

Semua pandangan mata kawanan jago yang berada dalam ruang makan pun bersama-sama ditujukan kearah kedele yang berceceran itu, namun dengan cepat mereka dibuat tertegun.

Isi karung tersebut memang berupa kedele yang cukup besar, hanya warna kedele itu bukan kuning melainkan hitam berkilat.

Mana ada kedele berwarna hitam berkilat didunia ini?

Baru saja jago pedang dari Hoa San pay, Khi Hong membungkukkan badan untuk mengambil kedele itu, tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras :

“Jangan disentuh, ada racun!”

Dengan perasaan terkesiap. Khi hong segera menarik kembali tangannya cepat-cepat.

Sementara semua orang masih diliputi perasan tertegun, tahu- tahu Sie Put ku telah menyambar karung kedelenya, sambil melejit ketengah udara.

Kho Beng hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu bayangan manusia itu sudah lenyap dari hadapannya, cepat dia berpaling, tampak Sie Put ku sudah melompat keluar jendela dan lenyap dari pandangan mata.

Disusul kemudian dari kejauhan dana berkumandang datang suara nyanyian yang amat nyaring :

“Seluruh dunia takut dengan kedele Hanya aku tersenyum seorang diri Siapa bilang kedele adalah penyamun? Kubilang kedele adalah jago yang gagah!” “Aaah! Bajingan itu adalah kedele maut!”

Tiba-tiba suara nyanyian itu diputuskan dengan suara bentakan keras yang berasal dari seorang laki-laki berbaju merah.

Tampak orang itu segera meloloskan senjata tajamnya sambil membentak lagi:

“Hayo kejar!”

Secepat sambaran kilat dia meluncur keluar jendela dan melakukan pengejaran dengan cepat.

Segenap jago persilatan yang berada dalam ruang loteng itu segera tersadar kembali dari lamunan masing-masing, sambil meloloskan senjata tajam, mereka segera melakukan pengejaran ketat.

Tampak puluhan sosok bayangan manusia berkelebat keluar jendela, dalam waktu singkat hampir semuanya telah berlalu dari situ.

Kho Beng yang menyaksikan peristiwa ini Cuma bisa membelalakkan matanya dan berdiri melongo, ia melihat Cho Liu san telah meloloskan pedangnya sambil berkata:

“Saudara Kho! Tunggulah aku disini, aku akan pergi melihat keramaian sebentar!”

Tidak menunggu jawaban dari Kho Beng lagi, dia turut melompat keluar jendela dan menyusul kawanan jago persilatan lainnya.

Dalam waktu singkat, rumah makan yang semula amat ramai kini jadi kosong melompong, yang masih tertinggal disana tinggal enam tujuh orang saja.

Dengan cepat Kho Beng tersadar kembali dari lamunannya, ia segera berpikir:

“Daripada duduk menunggu, kenapa kau tidak turut pergi melihat keramaian? Orang bilang kedele maut adalah iblis jahat yang suka membantai umat persilatan, andaikata aku bisa menyumbangkan sedikit tenaga, bukankah hal ini bermanfaat bagi dunia persilatan pada umumnya?”

Ia mengerti, Cho Liu san sengaja menyuruhnya menunggu disitu, karena kuatir dia menjumpai bahaya mengingat ilmu silatnya yang terlalu cetek, padahal selama berapa waktu terakhir ini, saban malam dia selalu berlatih, kemampuan yang dimilikinya sekarang tidak berada dibawah kemampuan Cho toakonya. Berpikir demikian, diapun cepat-cepat bangkit, baru saja akan melompat keluar lewat jendela, mendadak tampak tiga orang pelayan berlari mendekat, sambil menghadang mereka berseru bersama dengan muka merengek.

“Tuan, kalau kau pun pergi tanpa membayar, bagaimana mungkin kami bisa bertanggung jawab kepada majikan kami nanti?”

Kho Beng tertegun lalu sadar kembali, cepat-cepat serunya sambil tertawa:

“Berapa sih rekening kami?” “Semuanya tiga tahil enam rence!”

Tapi setelah merogoh kedalam sakunya, merah jengah selembar wajah Kho Beng, diam-diam ia mengeluh.

Ternyata uang sakunya sudah hampir habis terpakai untuk biaya penginapan dan bersantapnya bersama Cho Liu san selama ini, yang tersisa sekarang Cuma beberapa keping hancuran perak.

Paras muka ketiga orang pelayan itupun turut berubah setelah menyaksikan kejadian ini.

Dalam cemasnya Kho Beng segera berpikir:

“Sekarang aku sudah kehabisan sangu, yang tertinggal pun hanya sekeping kemala yang kukenang sejak kecil, biarlah kugadaikan dulu untuk sementara waktu, bila Cho Liu san telah datang nanti, biar kutebus kembali.”

Berpikir sampai disitu, dia segera mengeluarkan sisa uang yang masih ada keatas meja, lalu sambil melepaskan untaian kemala yang dikenakan itu ujarnya kepada si pelayan:

“Maaf kalau aku kehabisan uang tapi biarlah kugadaikan dulu batu kumala ini, sebentar akan kutebus kembali.”

Selesai berkata dia segera melompat keluar jendela dan menyusul Cho Liu san dengan cepat.

Ketiga orang pelayan itu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian seorang diantara mereka memeriksa batu kumala itu dengan seksama.

Belum selesai dia melihat, mendadak dari samping mereka muncul sebuah tangan yang segera menyambar batu kumala itu dengan kecepatan luar biasa.

Dengan perasaan terkejut para pelayan berpaling, ternyata disamping mereka telah muncul seorang sastrawan setengah umur berbaju hitam yang waktu itu sedang mengamati batu kumala tersebut dengan penuh perhatian. Batu kumala itu besarnya setengah telapak tangan, dibagian tengah terukir dua huruf yang berbunyi “Kit siong” sedangkan disekelilingnya berukiran naga sakti dengan delapan cakarnya, bila digenggam batu kumala itu terasa hangat sekali.

Pelayan itu menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian ini, segera teriaknya:

“Tuan, mau apa kau?”

Sastrawan setengah umur berbaju hitam itu sama sekali tidak menggubris, ia termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru bergumam sambil mengangguk berulang kali:

“Ehmmm.....dinding naga kumala hijau (Cing giok liong pit). tak

salah lagi.....pasti dia. ”

Mendadak dia mengambil sekeping uang perak dan diserahkan kepada pelayan itu sambil berkata:

“Sungguh tak kusangka pemuda tadi adalah putra sahabat karibku, biar rekeningnya aku bayar sedang batu kemala ini akan kusimpan untuk sementara waktu.”

“Tapi.....tapi. kalau orang itu minta kembali kepada kami,

bagaimana mungkin hamba bisa mempertanggung jawabkan diri?” seru pelayan itu panik.

Sastrawan berbaju hitam itu segera melotot besar, tukasnya dengan ketus:

“Kenapa tidak? Aku tinggal dirumah penginapan Put ji kui diseberang jalan, apa bila pemuda tersebut telah kembali nanti, suruh saja datang mencariku disana.”

Sepasang matanya yang bersinar tajam bagaikan sembilu membuat ketiga orang pelayan tersebut menjadi ketakutan setengah mati dan tak berani bicara lagi, mereka hanya bisa melihat bayangan si sastrawan tersebut berjalan menuruni anak tangga.

Dalam pada waktu itu, ketika Kho Beng melayang turun dari rumah makan, ia sudah tak melihat lagi bayangan tubuh dari kawanan jago persilatan tersebut, yang ada hanya rakyat yang sedang menonton keramaian disekelilingnya.

Setelah menentukan arah, ia segera berlarian menuju keluar kota, dalam waktu singkat setengah li sudah dilalui, namun tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak.

Tanpa terasa dia menghentikan perjalanannya sambil berpikir dengan keheranan:

“Sungguh aneh, kemana perginya orang-orang itu?” Sementara dia masih termenung, mendadak terendus bau darah yg amis sekali berhembus lewat terbawa angin.

Dengan hati terkesiap Kho Beng segera memperhatikan sekeliling tempat itu, sejauh mata memandang hanya pepohonan bambu yang lebat terbentang didepan mata, bau amis tadi tak lain berasal dari balik hutan yang berjarak lima kaki dari posisinya.

Dengan perasaan hati yang kebat kebit, dia memburu masuk kedalam hutan itu, benar juga, bau amisnya darah makin lama semakin bertambah terasa, kemudian setelah berbelok tiga tikungan, tampaklah dua sosok mayat membujur diatas tanah.

Dengan perasaan tercekat, Kho Beng segera menghentikan langkahnya, kemudian perlahan-lahan ia berjalan mendekat.

Ketika diperiksa, ternyata kedua sosok mayat tersebut adalah Khi hong sijago pedang dari Hoa san pay serta seorang kakek berbaju hitam.

Namun luka yang menyebabkan kematian mereka terletak didepan dada semua, mulut luka panjangnya mencapai setengah depa dan kelihatannya terluka oleh bacokan senjata tajam, darah kental masih mengucur keluar tiada hentinya, hal ini membuktikan bahwa mereka belum lama menemui ajalnya.

Bergidik perasaan Kho Beng sesudah melihat peristiwa ini, segera pikirnya:

“Benar-benar keji sekali cara membunuh orang ini, jangan-jangan Sie Put ku adalah si kedele maut yang sedang dicari-cari oleh segenap umat persilatan?”

Ia mulai mengkhawatirkan keselamatan jiwa Cho liu san, betapa tidak! Dibawah kerubutan berpuluh orang jago lihay pun Sie Put ku masih mampu membinasakan dua orang musuhnya, bagaimana mungkin Cho toako dengan kepandaian silatnya yang begitu rendah, akan mampu mempertahankan diri?

Angin malam terasa berhembus kencang,

-------missing page 48 – 57---------

....keperkampungan Hui im ceng di Hang ciu untuk melakukan penyelidikan?

Maka tanpa menginap lagi, berangkatlah Kho Beng pada malam itu juga menuju kekota Hang Ciu. Pemandangan alam disekitar kota Hang ciu memang termasyur diseantero jagat, sebuah telaga yang permai terbentang dikelilingi tiga bukit, sementara sisi yang lain menempel dengan kota tersebut, entah berapa banyak orang yang terpikat oleh keindahan alam disitu.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sampailah Kho Beng diota Hang ciu.

Saat itu dia tak berminat untuk menikmati keindahan alam disekitar sana, dia hanya ingin secepatnya tiba diperkampungan Hui im ceng serta menyelidiki persoalan sekita asal usulnya.

Waktu menunjukkan menjelang tengah hari, Kho Beng pun menuju kesebuah rumah makan untuk mengisi perut, kemudian tanyanya pada si pelayan :

“Hey pelayan, aku ingin menanyakan sebuah alamat kepadamu, apakah kau tahu?”

Sambil tertawa pelayan itu menyahut:

“Silahkan toaya bertanya, hamba memang penduduk asli kota ini, asal tempat tersebut berada disekitar Hang ciu, hamba pasti akan mengetahuinya.”

“Dimanakah letak perkampungan Hui im ceng?” tanya Kho Beng sambil tersenyum.

Begitu mendengar nama “Hui im ceng” mendadak paras muka pelayan itu berubah hebat, cepat-cepat ia berbisik dengan wajah tercengang :

“Toaya, mau apa kau pergi ke Hui im ceng?”

Kho Beng yang belum pengalaman dan baru terjun kedunia persilatan jadi tertegun, setelah melihat perubahan wajah pelayan itu, segera pikirnya:

“Waaah. nampaknya Hui im ceng punya nama cukup besar

dikota ini, tapi mengapa pelayan ini berubah muka?” Berpikir sampai disitu, diapun segera menjawab :

“Aku hendak mencari orang di Hui im ceng, hey pelayan apakah ada sesuatu yang tak beres?”

Pelayan itu mula-mula tertegun, kemudian katanya sambil tertawa geli :

“Mau mencari orang di Hui im ceng? Toaya, kau jangan menggoda hamba. “

Kho Beng menjadi mendongkol sekali, segera menegur agak marah : “Hey pelayan, jauh-jauh datang ke Hang ciu, aku khusus hendak mencari oran di hui im ceng, siapa bilang aku sedang menggodamu…. ?”

Pelayan itu menjadi tertegun beberapa saat lamanya, setelah itu ia baru berbisik.

“Toaya, terus terang saja kukatakan, Hui im ceng telah menjadi rumah tanpa penghuni semenjak dua puluh tahun berselang, disitu tak ada orang, tapi setan sih banyak sekali.”

Kho Beng terkesiap dan memandang pelayan itu dengan termangu, kemudian serunya gelisah:

“Pelayan! Sebenarnya dimana sih letak Hui im ceng? Apa yang telah terjadi dengan perkampungan tersebut?”

“Panjang sekali untuk diceritakan, Hui im ceng terletak dikaki bukit Mao san, kurang lebih lima li ditimur kota, dulu penghuninya adalah seorang yang ternama, kemudian entah bencana apa yang telah menimpa keluarganya, pada delapan belas tahun berselang semua penghuninya tewas tanpa sisa, dan perkampungan itupun berubah menjadi gedung hantu. ?”

“Apakah tak pernah ada orang yang berani masuk kesitu?” sela Kho Beng.

“Hmm. bukan saja tak ada yang berani masuk, beberapa tahun

belakangan ini malah muncul hantunya, setiap malam selalu kedengaran ada orang menangis didalam gedung itu, lagi pula sering ditemukan orang mati, entah dari mana datangnya orang-orang itu, mereka pada tewas didepan gedung itu. Konon orang-orang itu mati ketakutan ketika terdorong oleh rasa ingin tahunya melakukan penyelidikan disitu, selama beberapa tahun terakhir, suasana disekitar gedung tersebut tak pernah tenang sehingga rakyat disekelilingnya banyak yang pindah, kini seputar tiga li dari gedung tersebut menjadi sepi tanpa penghuni, suasananya menjadi lebih mengerikan lagi.”

Kho Beng mendengarkan semua pembicaraan tersebut dengan perasaan termangu, jauh-jauh dia datang kemari ternyata alamat yang dituju adalah sebuah gedung hantu, lantas apa maksud orang she Li itu menyuruhnya datang kemari?

Sementara itu terdengar si pelayan telah berkata lagi:

“Toaya, jika kedatanganmu pun disebabkan oleh rasa ingin tahu, hamba anjurkan lebih baik jangan kesana, sebab kalau sampai kehilangan nyawa dengan percuma kau rugi besar. ” Selesai berkata ia segera mengundurkan diri dari sana.

Kho Beng termangu beberapa saat lamanya, ia tahu sekalipun ditanya lagipun tak akan banyak keterangan yang bisa dikorek, tapi benarkah didunia ini ada hantunya?

Setelah berpikir lebih jauh, dia merasa tak baik kalau mengundurkan diri dengan begitu saja setelah tiba di Hang ciu sekarang, selain itu heboh hantu pun memancing rasa ingin tahu dalam hatinya.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).