Iblis Sungai Telaga Jilid 61 (Tamat)

Jilid 61 (Tamat)

Bu Pa dan In Go berpamitan tetapi nona Tonghong seperti tak melihat atau mendengarnya, sebab sebab ia masih terus berdiri menjublak, matanya tak berkedip mengawasi kekaki gunung dimana It Hiong menghilang..... Masih lama nona ini berdiam terus, ketika kemudian ia bagaikan tersadar, seperti orang melamun ia berkata seorang diri, "aku mesti pergi melihat dia. "

Tapi Tonghong Liang, sang adik, mengwasi saja lagak kakaknya itu, kemudian ia menyambar tangan orang, buat ditarik, buat diajak pulang ke Kiu Kiok Ceng Kee.

*****

Dunia Bu Lim, Rimba persilatan, atau kalangan kang Ouw-- sungai telaga, telah digemparkan berita tentang Bu Lim Cit Cun, pertemuan besar kaum Bu Lim, diwaktu mana bakal dilakukan pertandingan mati hidup diantara kaum sesat dan kaum sadar dikarenakan kaum sesat hendak merebut pengaruh, untuk menjadi jago tunggal agar kelak dunia menjadi dunianya sendiri, supaya selanjutnya mereka dapat melakukan apa yang mereka suka, lebih-lebih setelah tibanya hari-hari pertama dari permulaan tahun, sebab pertemuan akan diadakan pada tanggal lima belas bulan pertama hingga waktunya sudah datang dekat sekaali.

Dari perbagai penjuru angin orang telah datang kegunung In Bu San, tempat pertemuan besar itu, telah datang orang- orang dari dua golongan, terutama mereka yang bersangku paut, karena datangnya dari berbagai arah banyak yang tanpa berjanji, maka juga datangnya pun masing-masing, cuma sedikit yang berombongan, setelah sampai digunung, barulah orang belkelompok masing-masing.

Semua orang yang datang itu pula terdiri dari berrbagai golongan, sebagaimana dari cara berpakaiannya atau berdandannya. ada orang-orang biasa, ada imam To kauw, atau biksu dan nikouw kaum hud kauw, ada pelajar, ada juga pengemis, usianya pun tak tentu, ada yang tua, ada yang muda atau setengah tua, hanya yang seragam senjata mereka, pedang dan golok.

Diatas gunung kau sesat dan kaum lurus memisahkan diri, masing-masing ada gubuknya sendiri, ada gubuk yang ketiga dan itulah dari kaum penonton, maka juga gunung, yang tadinya sepi dan sunyi, sekarang menjadi ramai.

Diatas puncak utama, yang dipilih sebagai medan pertempuran, terdapat tanah datar yang luas, yang beralaskan rumput, hingga itu merupakan tempat yang tepat sekali buat maksud tersebut, disekitar itu, yang gundul, terdapat banyak batu berserakan serta juga pepohonan kecil.

Puncak itu dinamakan Pek Lok Hong, di kiri dan kanan itu terdapat puncak-puncak lainnya yang sambung menyambung, juga rimbanya, oleh karena kaum sesat mengambil tempat disebelah kiri, maka sedirinya kaum lurus menempati bagian sebelah kanan.

Tio It Hiong berangkat dari Bu Ie San, propinsi Hokkian, dia melakukan perjalanan cepat, tanpa singgah kalau tidak ada perlunya, waktu ia sampai di tempat, tujuan itu, waktunya sudah tanggal lima belas, bahkan diwaktu magrib, ia ulet tetapi toh ia merasa lelah juga, hanya setelah tiba, hatinya merasa lega, ia tak terlambat, dikaki gunung ia berhenti, buat lantas menangsal perutnya, ia membekal rangsum kering, sembari makan dan beristirahat itu, ia mengawasi orang-orang yang baru tiba, yang bagaikan berbelok berjalan mendaki gunung.

Dipermulaan musim semi, sisa hawa dingin belum lenyap, seluruhnya, maka juga diwaktu magrib, mega masih tebal, akan tetapi matahari sore cerah, hawa udarapun nyaman sekali.

Satu kali, It Hiong melihat tibanya serombongan orang, yang menarik perhatiannya. Itulah kira-kira sepuluh orang pendeta, diantaranya ada sebuah tandu atau usungan terbuat dari rotan peranti ditanah pegunungan, diatas itu bercokol seorang biksu yang telah berusia lanjut yang tampangnya tenang sekali, sedangkan jubahnya kuning serta lehernya digantungkan rantai mutiara Liam Cu.

Dengan lantas It Hiong mengenali biksu tua itu, ialah Pek Yan Siansu. orang suci dari kuil Bie Lek Sie ,orang yang pernah menghadiakan Wan Ie Jie, obat yang pernah menolongnya bebas dari kematian keracunan.

Di belakang tandu itu berjalan sekalian biksu, dua yang depan adalah Liang Houw Siang Ceng, sepasang biksu naga dan harimau, yang gelang-gelang emasnya dilengannya bercahaya berkilauan! gan Sek Sie digunung Ngo Tay San, murid-murid dari kepala Pie Sie Siansu, yang lainnya, yang anak muda kita kenali, adalah Bu Kie hwesio dari Siauw Lim Sie.

Tadinya It Hiong hendak muncul, akan menemui para biksu itu, tetapi ia gagal sebab kedua tukang mengusung tandu itu jalan cepat bagaikan lari, maka agar tidak mencurigai orang, ia batal menyusul.

Sebenarnya Pie Sie Siansu sudah sampai terlebih diatas In Bu San, dia datang dengan mengajak Pie Te Siansu, adik seperguruannya, adalah ia yang mengirim surat mengundang Pek Yam Siansu karena bantuannya Biksu ahli racun itu perlu guna menghadapi para bajingan yang beracun Baik kuil Gwan Sek Sie dari Ngo Tay San maupun kuil Bie Lek Sie dari Ciong Lam San, dua-duanya menjadi cabang dari Siauw Lim Sie gunung Siong San, karenanya Pie Sie dan Pek Yam terhitung sebagai pendeta-pendeta dari satu kaum dan satu tingkat juga, juga Liauw In taysu dari Siauw Lim Sie telah mengirim undangan pada Pek Yan Siansu, hingga biksu tua itu dan berilmu ini tak dapat tidak turun gunung, maka itu para biksu yang mengiringi Pek Yam, kecuali Bu Sek dan Bu Siang, semuanya pendeta dari Siauw Lim Sie.

It Hiong tidak mendapat tahu sebab musabab dari datangnya Pek Yam Siansu itu. maka ituy ia merasa heran, tengah ia berpikir itu, tiba-tiba telinganya mendengar beberapa kali seruan, yang datangnya dari kaki gunung. ia lantas menoleh, ia melihat mendatangi sebuah joli, yang dilarikan keras, tendanya dikasihh turun, dan jendelanya tertutup dengan jala hitam, hingga tak terlihat siapa penumpangnya, sebentar saja, joli itu sudah lewat jauh.

Walaupun sudah magrib, itu waktu masih saja ada orang yang datang mendaki gunung, seperti tak putusnya.

Tidak lama, dengan suara sedikit berisik, tampak mendatangi serombongan wanita, yang berambut panjang dan dikasih turun terlepas, semua mereka itu mengenakan ikat pinggang tersulam, disebelah depan mereka berjalan belasan orang lainnya.

"Ah, mereka pun telah tiba!" kata It Hiong didalam hati, sebab ia kenal semua wanita itu ialah tujuh orang muridnya Im Cin It Mo, belasan orang yang berjalan di muka itu, sinar matanya semua sinar mata bodoh dan jalannya pun sambil tunduk..... Ketika Ek Toa Biauw lewat di sisi It Hiong, dia mengangguk memberi hormat, di menyapa, sebab dia mengenali anak muda kita dan dia tak jumawa, dan dia menyapa terlebih dahulu, maka si anak muda mengangguk menyambutnya.

"Apakah kalian saja yang baru tiba? “It Hiong tanya. Ek Toa Biauw tertawa.

"Guru kami duduk di joli, tadi telah jalan lebih dahulu," sahutnya.

Mendengar itu maka mengertilah It Hiong bahwa joli tadi diduduki Im Ciu It Mo.

Selewatnya rombongan Cit Biauw Yauw-lie itu, cuaca makin suram.

"Apakah aku pun sudah waktunya naik keatas," pikir si anak muda.

Atau hampir bertepatan dengan itu, tiga orang perrempuan tampak mendatangi, mereka semua bertubuh ramping, semua membekal pedang pada punggungnya, dan jalannya pun tenang-tenang saja, sebab sembari mendaki mereka itu sambil bicara. diantaranya terdengar kata-kata:" kakak Kiauw In. "

Mendengar demikian, tiba-tiba saja semangatnya It Hiong terbangun, segera dia memasang mata, atau lantas hatinya menjadi girang luar biasa.

Meskipun dengar samar-samar, segera ketiga wanita itu dapat dikenal si anak muda sebagai tiga orang terhadap siapa dia paling prihatin! maka tidak waktu lagi, ia berlari pergi memapaknya. "Kakak!" panggilnya setelah ia datang dekat.

Dengan lantas ketiga orang perempuan itu menghentikan langkahnya, semua mengangkat muka, mengawasi ke depan, hingga mereka pun mendapat lihat siapa yang menyapanya itu.

Ketiga orang itu ialah Kiauw In yang terdepan, lalu Pek Giok Peng, lalu Tan Hong si nona kaum sesat yang telah sadar dan mengubah tingkah lakunya.

"Oh, kau adik Hiong?" nona Cio menanya. "Kau sendiri saja?"

Belum lagi orang menyahuti. Giok Peng sudah lompat menyambar lengan orang seraya dia berkata keras:"Oh, bagaimana sukarnya aku mencari kau!"

"Kakak Hiong, Tan Hong pun menyapa dengan girang luar biasa, "Bagaimana kesudahannya kau meminta pulang pedangmu, kakak? bagaimana kau dapat tiba terlebih dahulu dari pada kami?"

It Hiong demikian gembira hingga ia tidak tahu siapa yang ia mesti jawab.

"Mari!" Kiauw in lalu mengajak, ia insaf bahwa jalanan itu bukannya tempat mereka memasang omong, ia menarik tangannya Giok Peng sambil menambahkan:"Adik Hiong tak bakal lari, maka itu mari kita cari tempat yang aman di mana kita dapat berbicara dengan bebas"

Giok Peng semua setuju, maka berempat mereka berjalan bersama, mereka pergi jauh tiga tombak dari jalanan, di sana ada sebuah batu besar, di belakang batu itu mereka menempatkan diri, hingga mereka tak mudah dilihat orang lain.

It Hiong segera memberika penuturan bagaimana caranya ia berhasil mendapatkan pulang pedangnya. ia bercerita jelas, dan akhirnya ia memberitahukan, Tan Hong halnya kakak seperguruan kakak nona itu yaitu Beng Leng Cinjin, kedapatan digunung Hek Sek San dalam keadan ingatannya terganggu disebabkan terpengaruhkan orang jahat.

Tan Hong kaget, berduka dan gusar berbareng, hingga ia menggertak gigi.

"Sungguh jahat, Im Ciu It Mo!" berkata si nona dalam sengitnya, " Bairlah, akan aku mencara balas terhadapnya, supaya aku dapat membantu kakakku itu!"

"Adik, kau sabarlah, " Kiauw In memberikan nasehat, " Janganlah kau terpengaruhkan kemarahanmu hingga pikiranmu menjadi kacau. mernurut aku, lebih dahulu kita pergi ke In Bus San, di sana kita tuturkan perihal kakakmu itu dan kemudian pikirannya para cianpwe. aku kira mereka tentu akan memberi petunjuk bagaimana kita harus bertindak.

"Menurut terkaanku tentunya Gak Hong Kun turut memainkan peranan dalam urusan ini" Giok Peng mengutarakan sangkaannya.

"Itulah benar," It Hiong kasih tahu, "It Yap Tojin justru menjadi pemimpin di belakang layar dalam usaha Bu Lim cit Cun itu! laginya "

Sudah terlanjur bicara, It Hiong memikir buat mengasih tahu halnya, bahwa dalam pertemuannya dengan Hong Kun di Bu Ie San, pemuda she Gak Itu telah menentangnya bertempur di In Bu San nanti.

Justru itu, Giok Peng telah mencelanya:"Lagi apa? kau bicaralah, apa mungkin kau menyangsikan aku masih berat memikirkan manusia buruk itu?"

It Hing tertawa, tak sudi ia menimbulkan urusan lama, itu cuma akan membuat nona Pek menjadi menyesal, berduka dan mendongkol saja, ia tertawa dan berkata, :"Urusanmu dengan Hong Kun ada bagaikan awan yang telah buyar dan lenyap, oleh karena itu tak usah kakak masih mengingatnya! Tio It Hiong bukanlah seorang laki-laki yang cemburu. "

Kiauw tertawa.

"Kau bicara tidak lancar, adik, maka juga adik Giok Peng menjadi tidak sabaran!" katanya,  "kau  mengatakan lagian. Nah, kau bicaralah terus! lagian apakah itu?"

"Lagiannya begini kakak. "sahut It Hiong, yang terus

menceritakan bagaimnan ia meminta pedangnya tetapi di gunung Bu Ie San ia bertemu dengan Hong Kun yang ngotot mengaku diri sebagai" Tio It Hiong," hingga kesudahannya pemuda itu she Gak itu, menantangnya buat mengadu kepandaiannya di gunung In Bu San.

Mendengar itu , Giok Peng tertawa.

"Kalau begitu aku keliru menerkamu!" katanya, yang mengakui kekeliruan terkaannya.

Habis itu, masih mereka bicara lain-lain urusan, mereka asyik sekali hingga tanpa ,merasa mereka ditinggal pergi sang waktu, hingga tahu-tahu sang malam telah tiba dan si putri malam mulai memperlihatkan cahayanya yang indah permai, malam itu terang mirip seperti siang hari....

Tiba-tiba malam yang sunyi dipecahkan suara siul yang nyaring dan tajam seperti menikam telinga, hingga It Hiong berempat lantas menggerakkan tubuh mereka, untuk berbalik dan mengawasi dari mana suara hebat itu datang, dengan demikian mereka lantas melihat seorang wanita tua bersama seorang nona muda sekali mendatangi mereka, mereka berdua itu mirip nenek dan cucunya.

Kedua orang perempuan itu menggunakan masing-masing baju panjang dengan tangan pendek, kaki mereka tanpa sepatu, dan bajunya itu disulam dengan kupu-kupu warna merah maron, hingga nampak sangat mencorong dan mentereng!

Si nona yang berjalan disebelah depan, meriap-riapkan rambutnya yang turun kebahunya, usianya baru tiga atau empat belas tahun, dialah yang memperdengarkan suara siulan tajam itu, berulang-ulang, tak hentinya, hingga sikapnya itu yang aneh pasti membuat orang merasa heran.

It Hiong melengak, ia telah melihat dan mendengar banyak tetapi tidak kenal nenek dan kacung wanita itu, demikianpun Kiauw In dan Giok Peng, tidak demikian dengan Tan Hong, nona yang menjadi salah satu Cin dari Hek Keng To, pulau Ikan lodan hitam dari Hay-lam, ingat yang ia pernah menemukan dua orang itu ditengah jalan disuatu tempat dalam propinsi Ouw lam, bahwa ia kenal mereka itu.

"Eh, kakak Hiong, kenapa kau nampak bingung?" tanyanya pada It Hiong, ia tertawa. "Apakah kakak lupa halnya kau pernah bertemu dengan mereka itu?" It Hiong menggeleng kepala.

"Seingatku, belum pernah aku bertemu dengan mereka. "sahutnya.

"Kalau demikian, benar-benar kau lupa!" berkat si nona, "Si orang tua adalah Ang Gan Kwie Bo dari gunung Le Kong Sam di Haylam. " kemudian ia menunjuk si nona kecil seraya

melanjutkannya: "anak itu bernama Cio Hoa, muridnya, dan siulannya itu ialah ilmu kepandaian yang istimewa dari Ang Gan Kwie Bo, namanya Toat Pek Im Po, yang dia sangat andalkan, Cio Hoa masih muda, kepandaiannya itu dia pergunakan sebagai semacam barang mainan, dia belum melatihnya sampai sempurna kepadiaan itu, hingga suaranya cuma terdengar tajam, tidak demikian apabila Ang Gan Kwie Bo, sendiri yang menyuarakannya, orang menjadi putus nyawa karenanya...

"Jika perempuan dari Lamhai itu begitu rupa, dia bakal menjadi lawan berbahaya bagi kita," kata Giok Peng.

Tan Hong tertawa.

"Dengan kata-katamu ini, kakak, kau jadinya mengangkat Ang Gan Kwie Bo terlalu tinggi?" katanya. "Dia lihai cuma dalam siulannya itu, sedangkan kepandaiannya silatnya belum berarti banyak!"

"Bagaimana kau pikir kalau kepandaiannya Ang Gan Kwie Bo itu dipadu dengan suara seruling maut Kwie Tiok Mo Im dari Kwie Tiok Giam Po, kaucu dari Losat Kauw dari gunung Ay lo san,"katanya. kemudian, "karena aku harus membantu melindungi cianpwe Beng Kee Eng, aku telah turun gunung terlebih dahulu, jadi aku tidak dapat mendengar siulannya itu, cuma kau sendiri yang mendengar. " It Hiong berdiam, akan tetapi otaknya berpikir, terbayanglah peristiwa digunung Ay lao san itu dimana ia telah menempuh bahaya, hampir jiwanya melayang disebabkannya terjatuh kejurang....

Kiauw In yang sejak tadi berdiam saja, turut bicara. "Bagaimana lihainya ilmu kaum sesat, jangan kita gentar

hati," demikian katanya, "Tak dapat pikiran kita terganggu oleh karena itu, bukankah buat kau adik, sama saja itu adalah Toat Pek Im Po atau Kwie Tiok Mo Im? kau toh telah makan belut emas! kita harus berlaku tenang dan tabah,

It Hong diingatkan pada darahnya binatang itu, maka segera juga pikirannya menjadi tenang, karena itu, ia sangat bersyukur pada kakak seperguruannya itu, Giok Peng dan Tan Hong pun mengagumi ingatannya tajam dari si nona.

"Ingatanmu sangat tajam, kakak," kata It Hiong, menggoda, "Pantaslah kalau kakak menjadi separuh guruku!. "

Kiauw In tersenyum, sedangkan Giok Peng tertawa dan segera berkata pada suaminya:"Kau pintar sekali bicara, ya? kalau kau mau mengangkat kakak In sebagai separuh gurumu, lebih dahulu kau mesti menjalakan kehormatan besar padanya"

Disebutnya kata guru membuat nona Cio ingat barang sesuatu, lantas ia merogoh kedalam sakunya, buat menarik keluar dua pucuk surat tertutup, itulah "kim long" surat rahasia, dari gurunya, yang ia telah menyimpannya dengan berhati-hati, setelah itu ia mendekati It Hiong, katanya:"Ketika guru kita mau melakukan perjalanan merantau, ia telah meninggalkan tiga pucuk surat rahasia untuk kita, sampai sebegitu, baru sepucuk yang telah kita buka. sekarang masih ada dua buah lagi kau lihat, adik, ditempat dan disaat ini, bukankah saat buat membukanya? Aku maksudkan surat yang kedua"

It Hiong menyambuti.

"Kakak benar, " sahutnya. ia melihat sampul surat bertuliskan empat buah huruf, bunyinya "Ban Hoa Pie Teng" yang berarti "selaksa bunga menutupi langit (atau kepala)" ia lantas menyobek pinggiran sampul, akan menarik keluar suratnya.

Ketiga nona datang dekat sekali pada si anak muda, hingga berempat mereka merubung menjadi satu, sebab semuanya ingin segera melihat bunyinya surat, setelah surat dibeber, maka mereka membacanya sebaris dari enam belas huruf kecil, beginilah bunyinya: Gie Kiam Siauw Seng, Ban Ho Apie Teng Ay Lao Tek Cie, Hek Sek Yu Keng"

Berempat muda-mudi itu lantas mengawasi saja, tak mudah mereka membacanya mengerti, mereka harus menggunakan otak memikirin.

Lewat sekian lama, Kiauw In yang mulai bicara, katanya: "Menurut dugaanku, surat rahasia ini, kita terlambat membukanya. ada disebut-sebut nama Ay lao dan Hek sek, itulah toh gunung Ay lao sian dan Hek Sek San? bukankah adik Hiong telah menjelajah sarang-sarang bajingan dikedua gunung itu?"

It Hiong mengangguk. "Aku sepakat dengan kau, kakak," katanya. "Rupanya sampul ini harus dibuka setelah kita meninggalkan Ay lao san atau sebelumnya pergi Ke Hek Sek San, benar demikian, bukan?"

"Tapi, apakah artinya dua baris, atau delapan huruf yang pertama itu?" tanya Giok Peng.

It Hiong berpikir, sampai ia bagaikan tersadar.

"Empat huruf dari baris kedua, itulah kata-kata rahasia, atau kunci buat mempelajari Ilmu Gie Kiam Hui Heng Sut," katanya, "ban hoa pie teng berarti berlaksa bunga menutupi langit, maksudnya ialah di waktu mempelajari ilmu pedang orang harus mencapai batas kesempurnaan, buat mana, hati mesti tetap, belajar mesti tekun, hingga akhirnya orang dapat terbang mengedalikannya pedang, Yakni Gie Kiam Siauw Seng, jadi artinya ringkasnya belajar harus sungguh-sunguh sampai maksudnya tercapai,"

"Jika demikian," Tan Hong turut bicara, "Rupanya gurumu itu. kakak, bermaksud memberi anjuran pada kau, yaitu setelah kau mememperoleh Ilmu Ay lao san, kau mesti mempelajari itu sampai sempurna, seperti berlaksa bunga menutupi langit, setelah mana, di Hek Sek San nanti, haruslah kau berhati-hati, harus waspada sebab mungkin di sana ada ancaman malapetaka."

"Aku kira taksiran adik Tan Hong cuma benar separuhnya saja," kata Giok Peng, "menurut aku, empat huruf dari baris ke empat, yang terakhir, berarti menunjuk pada kakak Kiauw In, yang digunung Hek Sek San sudah terkena racun yang mengekang kesadarannya, maksudnya ialah kita harus berjaga-jaga akan ancaman bahaya itu,..." "Aku percaya kau benar! adik Peng," Berkata Kiauw In, "Hanya sekarang ini, semua telah berlalu lewat, nah, adik Hiong, coba kau buka sampul yang ketiga itu, supaya kita tidak menyia-nyiakan waktu dan terlambat seperti sampul! kedua itu!"

It Hiong menurut, ia lantas membacanya muka sampul itu, ketiga nona bersama melihatnya, nyata tulisannya ialah " Cit Mo Tong Hian," Yang berarti "tujuh bajingan muncul bersama,"

"Kleihatannya kali ini kita tidak terlambat" kata It Hiong pada ketiga nona kawannya, sembari tertawa.

"Masih kau bicara saja!"" kata Giok Peng, "Bukannya lekas buka sampulnya"

It Hiong menurut, ia merobek sampul dan menarik suratnya, maka ia lantas membacanya Bunyinya:"satu racun berubah tiga racun, seratus tak suka daging atas nampan, darah bajingan mencuci pelangi kaget, laki-laki atau suami kenal mulia dan hina malu,"

Kiauw In bertiga turut membacanya.

Lalu berulang-ulang mereka membacanya dan mengulangi sebelum mereka dapat menangkap artinya maksudnya tulisan itu, yang terbagi dalam empat baris, mereka sampai pada "menunduk kepala akan mengasah otak," sebab semua kata- kata itu sulit untuk segera ditangkap artinya dengan satu kali melihat atau membaca saja.

"Bagaimana kalau kita masing-masing menerka satu baris?" tanya Tan Hong. Gio peng mengangguk.

"Sepakat," sahutnya, "Bagaimana caranya?"

Tan Hong mengulur tangannya, bergantian menunjuk Kiauw In, It Hiong dan si nona Pek, katanya:" Kakak beramai mengambil satu baris menurut runtunannya, dan aku baris yang ke empat, yang terakhir! Bagaimana ??"

It Hiong semua setuju, maka itu, lantas mereka masing- masing mengapali satu baris untuk mengingatanya diluar kepala, hingga mudahlah bagi mereka itu buat memahami arti dan maksudnya, karenanya lantas mereka itu berpikir, seperti lakunya anak-anak sekolah.

"Aku mendapatkan baris yang ketiga," Kata Giok Peng kemudian, "Aku anggap kata-kata itu sederhana sekali, karenanya aku mengartikannya menurut sebagaimana adanya,"

Baris ketiga itu ialh "darah bajingan mencuci pelangi langit kaget," tegasnya darah bajingan dipakai mencuci pelangi kaget, dan "pelangi kaget" ialah pedang mustika Keng Hong Kiam, Keng=kaget, dan Hong=pelangi.

Kiauw In mengangguk, katanya, "Tepat! Keng Hong Kiam dicuci dengan darah bajingan, itu artinya, kapan adik Hong menghadapi ketujuh bajingan, ia mesti menghadapi pertempuran yang berdarah, seteleh itu 'baru' ia akan berhasil menumpas kawanan bajingan itu. tegasnya adik Hiong harus menggunakan kekerasan!--dan aku, aku mendapatkan baris pertama--satu racun berubah tiga racun, dengan racun pasti diartikan si bajingan beracun, sulitnya buat aku ialah pengetahuan atau pengalamanku yang kurang mengenai sekalian bajingan itu? kenapa satu bajingan berubah tiga bajingan? disaat ini, belum dapat aku menerkanya pasti. "

Juga Giok Peng dan Tan Hong kurang mengtahui halnya si bajingan beracun--Tok Mo, cuma satu kali mereka pernah melihat empat huruf "Giok Lauw Kip Ciauw" di pendopo Tay Hong Tian didalam vihara Siauw Lim Sie, empat huruf beracun, pertanda pembunuhan oleh Tok Mo, lainnya tidak, kakek itu, tak dapat mereka membantu kakak yang tertua itu.

"Apakah tak mungkin bahwa si bajingan beracun itu, Tok Mo ada satu yang tulen dan tiga yang palsu?" It Hiong turut mengutakan terkaannya.

Kiauw In berpikir.

"Memang ada kemungkinannya adik, "sahutnya kemudian," Tapi, cobalah kalian memikirkannya terlebih jauh, kita membutuhkan kepastian"

"Apakah tak boleh jadi, namanya saja satu Tok Mo tetapi sebenarnya ada tiga orangnya?" Tan Hong turut membantu berpikir.

"Mungkin kau benar adik, hong," berkata It Hiong, "didalam satu bulan terakhir ini aku telah melihat dua orang Tok Mo yang sama rupa dan tampangnya, ialah seorang pelajar tua yang kulit mukanya sudah berkerut-kerut, entahlah Tok Mo yang ketiga itu. "

Giok Peng nampaknya heran.

"Kalau baru menemui dua orang adik," Giok Peng pun turut bicara, "Bagaimana kau dapat memastikan merekalah dua orang? siapa tahu meerka itu cuma satu, yaitu pertama kali kau ketemu yang satu, lalu yang kedua kali, dia juga sebab mereka bagaikan kembar dan tentulah sukar memastikan merekalah dua orang. "

"Inilah sebab aku memperhatikan suara mereka," It Hiong menjelaskan, "Suara mereka berdua berlainan, bahkan halnya Tok Mo yang satu itu, yang berada didalam sarangnya Im Ciu It Mo, aku mendengarnya dari mulut Cit Biauw Yauw Lie, katanya dialah Couw Kong Put Lo yang menyamar, entahlah Tok Mo yang kedua itu. "

"Jika demikian adanya adik,"Kiauw in turut bicara pula, "mungkin sekali Tok Mo yang ketigapun si Tok Mo yang palsu, jadi benar seperti katanya guru kita, bahwa Tok Mo satu berubah menjadi tiga Tok Mo.........guru kita mengerti ilmu meramal, mestinya ramalannya itu tidak salah!"

"Ya, demikianlah terkaanku," kata It Hiong, "ketiga Tok Mo palsu tiga-tiga!'nya.

"Taruh kata benar demikian adanya" tanya Tan Hong, "Habis bagaimana dengan Tok Mo yang satu itu, yang tulen?"

"Bukankah tadi adik mengatakan ada satu saja namanya tetapi tiga orangnya?" It Hiong tanya, "Kenapa sekarang adik mengatakan begini? tentang itu baik kita tak usah repotkan pula, pedang Keng Hong Kiam menjadi pedang pembela keadilan dan penakluk bajingan, sekarang tak usah kita rewelkan pula dia bajingan tulen atau si bajingan palsu, biarlah ujung pedang yang nanti menentukan!"

Gagah bicaranya si anak muda, dia nampak sangat bersemangat. "Dari ke empat baris surat rahasia, yang tiga telah dapat kita tafsirkan," kata Giok Peng. "Sekarang tinggal yang ke empat adik Hong, coba kau menjelaskan pendapatmu."

Tan Hong lantas membaca mengapali baris terakhir itu, "Laki-laki atau suami kenal mulia dan hina atau malu," terus ia berpikir, baru ia berkata"Menurut aku, aku kira maksud singkatnya yaitu setelah seseorang berhasil dalam usahanya, dia menepi digunung atau dalam rimba, akan mencuci tangan dari kalangan sungai telaga, bagaimana, apakah kakak beramai setuju?"

Kiauw In mngenagguk.

"Menurut pikiranku," katanya, "Kalau nanti di In Bus san pihak kita berhasil menumpas kawanan bajingan sesat itu maka selayaknya apabila Adik Hiong bertindak sebagai seorang laki-laki sejati yang kenal akan kemulian dan kehinaan, buat menjadi orang gagah yang tahu gelagat, guna selanjutnya menutup diri dan menyepi di tanah pegunungan atau rimba, akan menempuh sisa hidup selanjutnya. "

Mendengar itu, alisnya It Hiong terbangun.

"Bagus, " serunya, "semua pesan suhu, akan aku Tio It Hiong mentaatinya! selesai urusan di In Bu San, akan aku mengajak kakak bertiga tinggal bersama ditanah pegunungan! di sana kita bersama akan melewati hari-hari kemudian kita

!....."

Kata-kata itu dikeluarkan secarah sungguh, maka juga ketiga orang nona itu menerima dan menyambutnya dengan berkesan sekali, lebih -lebih Tan Hong, yang kenal diri, sampai dengan perlahan ia berkata:"Tan Hong adalah perempuan asal kaum sesat, mana dapat ia memikir yang tidak-tidak? mana dia mempunyai rejeki besar akan hidup bersama kalian, para kakak? Ah. "

Dengan tampang sangat mengasihi, It Hiong berkata:"didalam halnya manusia bergaul atau bersahabat, yang paling diutamakan ialah mengenal hati satu sama lain! maka itu, apabila telah tiba saatnya, akan aku mengambil keputusan yang bijaksana, yang pasti tak bakal mengecewakan kalian!, sekarang ini masih terlalu pagi buat menyebutkan itu!"

Mendengar kata-kata "Tak bakal mengecewakan kalian" itu, bukan main terbukanya hatinya Tan Hong, dia merasa sangat lega dan bersyukur, dia girang sekali.

"Aku....Aku. " katanya dan tak dapat ia meneruskannya,

sebab Kiauw In mencelanya:"Apa lagi yang hendak kau katakan, adik? kita adalah sesama orang kaum sungai telaga, dada kita harus lebar bagaikan perahu, kepalan kita harus keras dan ulet! bukankah soalmu soal remeh, dari itu buat apakah kau memikir dan mengkhawatikrkannya?"

Tan Hong terdiam, matanya mengawasi nona Cio, sinarnya menyatakan yang ia sangat beryukur, sebab Kiauw In sangat sabar dan lapang dada, pikirannya terbuka sekali, dia tak iri atau jelus, dia bahkan sangat mulia!

Begitulah mereka berempat, memasang omong, sampai rembulan mulai selam ke arah barat, barulah mereka berjalan mendaki gunung.

Besoknya pagi. makin banyak orang yang naik ke In Bu San, hingga ke kiri dan kanan puncak Pek Lok Hong,t ampak hanya kilauan dari golok dan pedang. Lagi satu hari lewat maka tibalah di hari yang dinanti- nantikan cia-gwee-cap gouw, tanggal lima belas bulan pertama. malam itu diperbagai kota dan kampung di seluruh negeri, orang merayakan pesta Goan siauw, atau Cap go meh, sebaliknya, diatas puncak In Bu San, kedua belah pihak menghadapi saat-saat pertempuran yang memastikan , disamping mereka yang hadir untuk menonton.....

Kedua belah pihak yang berkelompok sudah bersiap sedia didalam masing-masing rombongannya. di pihak sesat orang memilih It Yap Tojin sebagai ketua di bantu oleh Kip Hiat Hong Mo Touw Hee Cie dari lembah Ceng-lo Ciang gunung Bu liang san serta Im Ciu It Mo dari Hek Sek San, it yap tenang sekali melihat datangnya sedemikian banyak kawan yang tersohor.

Dipihak sadar, pendatangpun bukan main banyaknya, disamping wakil-wakil kesembilan partay persilatan besar, hadir juga banyak guru silat tersohor, bahkan orang yang tadinya sudah lama tak muncul dalam dunia kang ouw, terutama orang yang tak disangka-sangka, yang sudah empat puluh tahun lebih hidup menyendiri. dialah Pek Yam Siansu dari vihara Bie Lek Sie.

Perubahan terjadi selekasnya pihak sesat melihat pasti keadaan rombongan pihak lurus itu, orang lantas pada saling mengalah, bahkan Gwa To Sin Mo lantas mengundurkan diri sebab dia kena bujuk Bu Pa Dan In Go kedua muridnya, yang tidak sudi bermusuhan dengan Tio It Hiong.

Kerugian lain dari pihak sesat itu ialah dengan mundurnya juga Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Cie, sebab dia itu, setelah melihat It Hiong, ia lantas ingat pada janjinya dahulu dengan anak muda itu, dan dia mundur seketika. Karena mundurnya dua anggota penting itu, susunan penyelenggara pun turut berubah. telah diadakan pemilihan ketua yang baru, It Yap Tojin tidak dapat sesatu penuh disebabkan dia adalah orang kaum "sama tengah" sebab tadinya dialah orang lurus dan baru belakangan masuk ke dalam kalangan sesat, setelah pemilihan baru, kedudukan ketua di pegang oleh Im Ciu It Mo di bantu oleh hong gwa Sam Mo dan ketiga Tok Mo, si bajingan tunggal.

Im Ciu It Mo lantas mengirim Ek tou Biauw, murid pertama diantas Cit Biauw Yauw Lie, buat pergi ke pihak lurus, buat menyampaikan tantangan untuk memulai pertempuran besar yang memutuskan.

Dengan berjalan cepat, sebentar saja Toa Biauw sudah sampai digubuknya pihak sadar, dengan mudah ia diijinkan masuk kedalam kemah terakhir, untuk menghadap Liauw In Tianglo yang lagi di temani It Hiong bersama Kiauw In, Giok Peng dan Tan Hong.

Ek Toa Biauw mengenali It Hiong dan Kiauw In, Giok dan Tan Hong asing baginya, Liauw In mengenakan jubah kuning. biksu itulah yang dihampirinya, akan memberi hormat padanya seraya berkata:"Ek Toa Biauw dari Hek Sek San datang menghadap bapak pendeta ketua dari Siauw lim pay!"

Liauw In memblas hormat seraya menanya nona itu ada punya pengajaran apa untuknya.

Toa Biauw mengawasi dahulu pendea itu dan orang-orang lainnya. baru ia menjawab:"ketuadari bu-lim Cit cun, yaitu guru kami, Im Ciu It Mo, mengutusku menyampaiakn surat, kepada loSiansu untuk memohon loSiansu sudi membacanya," Dengan membungkuk hormat, si nona mengeluarkan surtanya dan terus menghaturkan itu,

Pek Giok Peng berbangkit akan menyambuti surat itu, setelah itu ia berkata:"silahkan pembawa surat menunggu dipinggiran gua menantikan balasan!" Terus ia menyerahkan surat lawan pada tetua Siauw Lim Sie itu.

Liauw In menyambuti surat itu, karena ia tahu apa bunyinya itu, ia tidak membuknya, hanya terus ia berkata pada si nona pengantar surat, bahwa ia sudah mengerti dan meminta si nona menyampaikannya balasan bahwa pihaknya telah siap sedia menerima tantangan.

Ek Toa Biauw menyahuti dan berpamitan. ia baru berjalan beberapa tindak, atau si biksu, yang tampangnya sangat berkesan baik, memanggilnya kembali, maka lekas ia memutar tubuhnya dan menanya, biksu itu mempunyai titah apa.

Liauw In menangkapkan tangannya dan berkata:"Sebenarnya di antara kita berdua kaum tidak ada permusuhan untuk mati atau hidup, yang hanya perselisihan belaka, hal mana mudah dibataskan asal kedua belah pihak dapat membataskan diri dan tak usah membinasakan, maka itu lolap hendak memberi nasehat kepada gurumu itu supaya dia mundur teratur, guna mencegah bencana, ia, asal gurumu itu suka menghapus niatnya menjagoi dunia Bu Lim, suka lolap mengajak para ketua dari sembilan partai meninggalkan tempat ini, agar selanjutnya kita hidup rukun sama-sama, maukah nona menyampaikan pesanku ini pada gurumu?"

Demikianlah pendeta tua itu, yang hatinya pemurah, yang tak menyukai pertumpahan darah, hingga ia suka bicara demikian halus maka sayang sekali, pihak sesat tetap sesat, jalannya kesasar, tak sudi mereka menoleh akan melihat pantai keselamatan, yang masih muda sama pendiriannya seperti gurunya itu.

Begitulah nona ini bersenyum dan menjawab, "losiansu, maaf, tugasku bukan untuk menyampaikan kata-kata losiansu ini kepada guruku, nah, ijinkalah aku yang muda mengundurkan diri!"

Begitula suara ditutup, begitu orangnya memutar tubuh melanjutkan perjalanannya pergi.

Menyaksiakn kelakuan orang itu, Laiuw In menghela napas. "Amitabha budha, inilah takdir, yang tak dapat diubah!"

katanya, masgul, ia terus duduk sambil tunduk seraya mendoa perlahan sekali, lewat sesaat ia mengangkat tangannya, diletaki di depan dada, terus ia menengadah kelangit untuk memberi hormat seraya mengucap:"Budha kami yang maha pemurah, maafkanlah muridmu ini yang tidak mempunyai guna, yang tidak mampu menyingkirkan malapetaka, hingga kekerasan mesti diambil juga, supaya kawanan bajingan dapat disingkirkan, guna membela keadilan, terpaksa muridmu mesti memegang pimpinan dalam usaha penindasan kepada kaum sesat yang ganas dan kejam itu!"

Ketika itu Ek Toa Biauw sudah kembali kepada gurunya, guna menyampaikan jawabannya pihak lurus itu, maka Im Ciu It Mo segera bekerja, menitahkan orang-orang pihaknya bersiap sedia, terutama didalam urusan menyiapkan perbagai racun, guna dipakai menghadapi lawan, ia ingin, pada saatnya, musuh dapat diserang dengan senjata yang sangat berbahaya itu!.

Kapan sang magrib dan sore telah lewat tibalah sang malam, rembulan indah, udara pun bersih dari sang mega, cahayanya si putri malam membuat tanah lapang, yang dijadikan medan laga itu, terang mirip siang hari.....

Tidak lama maka muncullah rombongannya kaum sesat, mereka mengambil lapangan sebelah barat, menghadap pihak sadar disebelah timur, mereka sudah lantas mengatur kedudukan dengan Cit Biauw Yauw Lie berdiam di depan gurunya, untuk dapat menerima segala titah.

Liauw In duduk rapi bersama ketua delapan partai. Pek Yam Siansu duduk tetap diatas usungannya, yang diletaki di belakang Liauw In beramai, sebab ia tak mau maju kemuka, ia duduk sambil memejamkan mata, nampaknya ia seperti tak memperdulikan soal pertempuran hidup mati itu, ia hanya dikawal empat orang biksu bersenjatakan golok kayTo, yang berdiri dikedua sisinya, di depannya setiap biksu itu terdapat sebuah guci besar berisi arak, yang baunya keras tersiarnya!.

Sudah rembulan terang, di kedua belah pihak orang pun memasang banyak obor yang besar-besar, hingga dilapangan itu terlihat suasana malam disebabkan cahaya semua obor itu.

Sang waktu berjalan terus.

Tepat kira jam permulaan maka ditengah udara lantas terdengar siulan yang nyaring dan panjang, suaranya tajam seperti menusuk telinga, terasa nyeri, itulah pertanda dari pihak barat, pertanda bahawa pertandiangan akan dimulai.

Disaat itu, sunyilah suara orang di sebelah timur dan barat, bahkan sunyi juga diantara rombongan penonton, yang berkelompok sendiri dilain bagian dari tanah lapang itu, untuk sejenak, mereka itu kaget dan khawatir, syukur suara tajam itu lenyap tak lama kemudian. Menyusul berhentinya pertanda itu, seorang perempuan lompat keluar dari bagian barat, untuk maju kelapangan dimana dia terus memberi hormat krarah timur seraya berkata:"pertemuan sudah dimulai! silahkan ketua dari golongan lurus maju kemuka buat berbicara!"

Duduk disisi kiri Laiuw In ialah Hay Thian sin lie dari haylam. dia memuji sang Buddha, terus berkata pada tertua siauw lim pay itu:"suheng, bagaimana kalau dititahkan murid kami Cukat Tan keluar untuk menemui lawan?"

Liauw In mengangguk.

"Baiklah, Sin-ni!" sahutnya. "Lolap setuju!" lantas ia memberi isyarat pada seorang murid di depannya, siapa sudah lantas berkata nyaring:"Cukat Tan murid dari Ngo Bie pay, silahkan maju!"

Cukat Tan yang berada di dalam rombongan murid tingkat dua, sudah lantas menyahuti seraya terus bertindak maju, akan terus memberi hormat pada ketua lalu terus maju lebih jauh sampai ketengah medan pertempuran. dia memberi hormat pada si nona dari pihak barat itu serta menanya: "nona akulah Cukat Tan dari Ngo Bie pay, aku ditugaskan buat berada disini, maka itu, ada pengajaran apakah dari nona? silahkan beritahukan!"

Wanita itu tertawa tawar.

"Oh, segala orang tak berarti!" katanya, "kaulah Cukat Tan dari Ngo Bie pay? tapi kau berani maju kesini, kau boleh dibilang berani juga!"

Cukat Tan mendongkol hingga sepasang alisnya bangkit berdiri. "Nama Cukat Tan memang tidak mengangetkan orang tetapi dia berani menyebut namanya terang-terangan!" katanya keras, "tidak sebagai kau, nona, kau tak punya nama sama sekali!"

Nona itu tertawa dingin.

"Sahabat, silahkan berdiri biar tegak!" katanya keras, "nonamu hendak memberi tahukan namanya!"

"Hm!" sambutnya Cukat Tan, mengejek.

Nona itu cuma berhenti sejenak, segera terdengar pula suaranya yang nyaring:"Kau dengar baik-baik! Nonamu ialah Ek Toa Biauw muridnya Im Ciu It Mo dari Hek Sek San!"

Dia memang murid kepala dari sibajingan tunggal dari Hek Sek San.

Cukat Tan tertawa.

"Kiranya kaulah anggota dari Cit Biauw Yauw Lie!" katanya, "Aku khawatir dari Toa Biauw kau bakal berubah menjadi put Biauw!"

Itulah ejekan, "Toa Biauw" berarti "cantik luar biasa" sedang "put Biauw" ialah "tidak cantik" alias jelek! maka itu, mendnegar demikain, matanya Toa Biauw melotot.

"Kau pandai memainkan lidahmu!" bentaknya. "Bilang, kau datang kemari untuk berbicara atau bertempur?"

"Untuk bicara!' "Nah, kau dengarlah ! Guruku, Im Ciu It Mo, berkatai bahwa, pertama kali kita bertarung, kita menggunakan senjata! pihakmu akan mengajukan siapa?"

Cukat Tan merabah gagang pedangnya.

"Aku yang akan belajar kenal dengan pihakmu," sahutnya.

Ek Toa Biauw lantas saja pergi kepihaknya, dirombongan sebelah barat itu, guna menyampaikan kabar pada gurunya, segera muncul seorang yang bertubuh besar, yang mukanya hitam dan brewokkan, serta senjatanya sebuah tok kak tongjin, boneka terbuat dari tembaga, dia berjalan cepat memasuki kalangan.

"Akulah Peklie cek, tongcu nomor satu dari losat kauw dari gunung Ay lao san!" demikian katanya dengan nyaring.

"Bocah, kalau kau melawan aku, aku khawatir usiamu yang muda membuatmu tak tahan menerima satu kali saja hajaranku!"

"Cukup!" seru Cukat Tan sambil memberi hormat, "silahkan?"

Berkata begitu anak muda kita menghunus pedangnya.

Melihat demikian, Pek lie cek sudah lantas menggerakkan senjatanya yang hebat dengan apa dia menghajar pedang lawan, maksudnya untuk dengan satu gerakan saja membuat senjata lawan runtuh!

Cukat Tan tidak mau mengadu senjata, pasti pedangnya yang ringan kalah dari boneka yang berat itu, maika ia menggunakan kegesitan tubuhnya dan kelincahannya, ia menarik pulang pedangnya untuk diteruskan menyerang pula, hingga lawan menjadi repot ketika ia menyerang terus-terusan tiga kali!

Pek lie kaget, terpaksa ia melompat mundur.

Cukat Tan tidak mau mengerti, ia melompat menyusul, untuk mengulangi serangan saling susul, dengan demikian, ia seperti mengurung lawan itu.

Peklie repot sekali, dia selalu mesti membela diri, karena mana menjadi kena terdesak, bonekanya yang berat dan panajng seperti membuatnya sulit bergerak dengan leluasa, dia menang latihan tetapi kalah gesit.

Dengan mengandalkan kegesitannya, Cukat Tan menampak menang unggul dan keunggulan itu ia pergunakan sebaik- baiknya.

"Awas!' teriaknya mendadak setelah bertempur puluhan jurus.

Pek lie kaget dan menjerit kesakitan, tubuhnya mundur, bahu kirinya mengucurkan darah sebab ujung pedang lawan menikam tepat.

Cukat Tan berhenti sampai disitu, ia melompat maju, guna mengulangi serangannya, atau dari dalam rombongan lawan terlihat seseorang lompat maju pada si hitam yang brewokan itu, guna menolong dengan dia lantas menghajar pedangnya, hingga senjata mereka beradu.

"Siapa kau?" bentaknya orang baru itu. "bagaimana kau merasakan kim tay tongcumu ini?" "Kim tay" adalah senjata sabuk sulam.

Cukat Tan heran, ia mengawasi penghadangnya itu, seorang wanita cantik tetapi tampangnya bengis, matanya sangat tajam.

Dia berdiri tegak di depannya Pek Lie cek.

"Kau sebutkan namamu!" kata Cukat Tan nyaring sesudah ia mengawasi orang perempuan itu' "pedangnya Cukat tak membinasakan perempuan siluman yang tak bernama!"

Wanita itu tertawa, dia mengawasi si anak muda yang tampan, yang sangat menarik hatinya.

"Lou hong hui muncul guna main-main beberapa jurus denganmu!" sahutnya tersenyum.

Cukat Tan tidak mau banyak bicara, pengalaman memperingati ia untuk jangan memasang omong dengan wanita centil itu atau genit, maka ia lantas maju menikam.

Wanita itu melompat muhndur, untuk mendapat kesempatan memutar sabuknya yang panjang setombak lebih, dengan cara itu, hendak ia melihat pinggangnya anak muda di depannya itu!

Cukat Tan merasa sulit melayani senjata yang panjang yang dapat diulur panajng itu, sedangkan pedangnya cuma tiga kaki kira-kira, karena itu, perlu ia menggunakan siasat, apa akal? mendadak ia menjatuhkan diri dengan jurus silat "cacing bergilingan di pasir," tubuhnya terus menggelinding menghampiri lawan, dengan demikian sambil berkelit, terus ia membalas menyerang dibagian bawah, ia menyerang sambil tubuhnya mencelat bangun. Lou hong hui terkejut dan repot sekali, tidak dia sangka lawan dapat lolos dari libatan sabuknya seraya terus menghampiri dekat padanya serta menyrang dengan serangan berbahaya itu, tapi dasarnya sudah berpengalaman, ia tidak menjadi gentar atau bingung, ia berkelit dari ujung pedang dengan tubuhnya lompat jumplitan, diwaktu mana, sebelah kakinya terulur mendepak lawan!

Itulah berbahaya buat Cukat Tan, yang gagal menikam lawannya, sulit buat ia menggunakan pedangnya atau berkelit tubunhya. didetik yang sangat berbahaya itu, ia menjadi nekat, terpaksa, terpaksa ia menyerang terus, buat celaka bersama, demikian ia tidak menangkis atau berkelit ia justru meneruskan tikamannya!

Tang hiang dipinggiran kaget sekali melihat pacarnya itu dalam ancaman bahaya, dalam bingungnya ia menjerit sambil berlompat maju, hendak mia membantui sang pacar atau justru ia maju, justru ia menyaksiakn sesuatu yang membuatnya heran dan tercengang!

Mendadak hoa hong hui dan Cukat Tan mencelat mundur masing-masing, dua-daunya selamat tak kurang suatu apapun!

Apakah yang telah terjadi?

Itulah sebab hong hui, yang banyak pengalamannya, tidak mau celaka bersama, disaat yang tepat, dia dapat membatalkan serangannya, sebaliknya dari pada menentang terus, kaki lainnya dipakai menjejak tanah, buat melompat mundur juga. Menyusul itu terdengar siulan nyaring, yang menjadi aba- aba buat menunda pertempuraan, maka lou hong hui segera mengundurkan diri dan Cukat Tan balik kedalam rombongannya bersama-sama Teng Hiang, ketika itu Pek lie, yang terluka sudah ditolong dan dirawat kawannya.

Pertandingan itu ditundah, bukannya dihentikan, maka itu tak lama dari mundurnya hong hui berdua Cukat Tan, dipihak sesat muncul lain pahlawannya,seorang pria setengah tua, yang tangannya bersenjtakan golok dan tangan kirinya pisau belati, dia betubuh besar, matanya bersorot bengis, yang luar biasa ialah rambutnya hijau.

Melihat lawan itu, Teng Hiang mengenali Lek hoat jin long, maka ia lantas menghadap ketuanya, mohon ijin maju buat melayani lawan, ia memperoleh perkenan lantas ia maju.

Lek hoat jin long mengenali si nona mereka berdua pernah bertemu di Kho-tiam cu. maka itu, tak mau Teng hiang bicara lagi, bahkan ia lantas menyerang!

Lek hoat jin long menangkis serangan itu, dia lantas tertawa, dialah si mata keranjanag, tak dapat ia melihat muka kelimis atau timbullah maksudnya yang bukan-bukan.

"Oh, nona Teng Hiang!" katanya, "kembali bertemu pula gunung dan air! sungguh kita berdua berjodoh!"

"Siapa kesudian mengadu mulut denganmu!' bentak si nona, "lihatlah pedangku!'

Kembali Teng Hiang menyerang, kali ini ia menikam dan menebas hingga tiga kali ini. Masih Lek hoat jin long menggoda dengan kata-kata dan tertawanya, ketiga serangan itu dengan mudah saja ia menghalaunya, tapi sekarang Teng Hiang melihat sesuatu pada lengannya lawan, lengan itu kaku dan bergeraknya kurang lincah.

Memang, sepasang tangannya jin long telah dikutungkan Kiauw In dan So Hun Cian Li si orang utan ketika diluar kota Hen yang dia itu bertemu si nona dan Ya Bie serta binatang paraannya itu, dia lihai, dia membuat sepasang tangan besi dan masih tak mau tobat.

"Tanganmu kejam, nona." katanya tertawa, matanya melirik Teng Hiang. "akan tetapi aku tahu, hatimu sebenarnya baik bahkan manis, nah, marilah kita berdua main-main buat beberapa jurus!"

Pria itu menggunakan golok, dengan senjatanya itu dia menerjang lawannya, tetapi dia bukan menyerang seperti biasa, hanya selalu menarik buah susu Teng Hiang, hingga hatinya nona Teng menjadi sangat panas, dengan mendadak ia membalas menyerang secara hebat!

******

Terpaksa Jinlong maju mundur, tetapi dia mundur sekalian hendak menggunakan kesempatan, dia pun gusar sebab terdesak itu. Mendadak dia meluncurkan lengan kirinya.

Kelihatannya dia menunju, tak tahunya tangannya meluncurakn pisau belatinya itu, yang cahayanya berkilauan.

Teng Hiang kaget sekali, inilah ia tidak sangka, syukur dalam keadaan terancam masih sempat ia menyampok pisau belati itu,. tapi itu justru membuat kemarahannya meluap, ia melompat sambl menebas bengis.

Masih Lek hoat jin long tertawa ceriwis, ia menangkis dengan goloknya, kembali ia menyerang dengan tangan kirinya yang sudah tidak bersenjata lagi, nampaknya ia meninju, tidak tahunya mendadak tangannya itu menyamburkan sesuatu seperti uap ungu, sebab itulah senjata rahasianya, bubuk beracun Bie hun Tok-hun!

Teng Hiang terkejut, ia kena menyedot bubuk itu, tetapi ia tidak takut, ia telah makan obatnya Pek Yam Siansu, bubuk beracun itu tidak mempan terhadapnya.

Lek hoat jin long menggunakan bubuknya dengan dia merasa sangat girang, dia percaya bubuknya itu bakal berhasil, hingga mungkin dia dapat menawan nona buat dibawah pulang, kedalam rombongannya, akan seterusnya memiliki......

Justru bubuk itu belum buyar dan si pria ceriwis lagi mengawasi tajam, mendadak dia melihat satu sinar berkelebat ke arahnya, dia menjadi kaget, akan tetapi sebelum dia tahu apa-apa, tubuhnya sudah roboh dengan jiwa melayang seketika, sebab secara sangat cepat, Teng Hiang sudah maju menyerang dengan satu tebasan ke arah pinggang hingga pinggang itu putus!

Menyaksikan demikian, dari pihak barat lompat maju seorang laki-laki yang tubuhnya jangkung kurus, yang kedua tangannya memegang siang kauw, yaitu sepasang kaitan yang menjadi senjatanya, dia gusar dan berkata bengis kepada nona teng: "Eh, budak bau, kenalkah kau pada siauw tiong beng dari to liong to?" Teng Hiang menunjuk pada mayatnya Lek hoat jin lomnng sambil ia berkat: "siapa yang tak kenal kamu dari pihak To Liong To? kamu telah mengucurkan banyak darah yang berbau bacin dalam dunia sungai telaga! semua orang membenci kamu! hanya mengenai kau sendiri, sayang pendengaranku kurang luas, belum pernah aku dengar namamu! apakah kau mau turut teladan dia ini supaya kau pun mati puas?"

Mata Tiong beng mendelik.

"Jangan mengoceh saja?" bentaknya. "lihat senjataku"

Dan sepasang kaitannya menyerang Teng Hiang itulah jurus "sepasang naga keluar dari laut,"

Teng Hiang menangkis, terus ia membalas, bahkan segera ia mendesak, tapi siauw cong beng tidak sudi mengalah, dia mencoba-coba mendesak, hingga keduanya jadi bertarung seru sekali.

Dalam ilmu pedang dan kaitan, keduanya sama-sama sempurna, hanya dalam hal tenaga dalam, atau keuletan, si nona kalah setingkat, rupanya, itu disebabkan perbedaan usia dari mereka itu berdua, hanya dalam hal keringanan tubuh, Teng hiang lebih unggul, dengan begitu dapat ia menutupi kelemahannya.

Pertempuran seru dan berisik disebabkan sering beradunya kedua senjata, diantara penonton didua-dua pihak pun kadang terdengar puji-pujian buat masing-masing jagonya, disebelah itu, kedua pihak sama-sama waspada, buat membantu pihaknya apabila bantuan mereka diperlukan. Mendadak saja satu sinar putih berkelebat, munculnya dari arah barat, meluncur ketengah kalangan, maka segera tampak Teng Hiang menjerit keras dan tubuhnya roboh ketanah, pada bahunya tertancapkan sebilah golok lu yan To, dan dari lukanya darah mengucur keluar sedang pedangnya lepas dari gengamannya!

Justru itu si nona terjatuh maka siauw tiong beng melompat ke arah lawannya itu sambil dia mengayun kaitannya, sebab ingin dia merampas nyawa orang. Justru itu juga dari arah timur bergerak tubuh melompat bagaikan bayangan, melompat ke arah kalangan pertempuran, dan sebelum lagi Tiong beng tahu apa-apa senjata kaitannya terjun itu tiba-tiba tubuhnya roboh terjengkang dan darahnya mencrat, dia rebah ditanah, tak berkutik pula.

Hebat penyerangnya Tiong Bneg itu, karena gerakannya bagaikan kilat. Justru si orang she Siuaw roboh, dia justru mengangkat bangun Teng Hiang, yang terus dipayang dibawah pulang kedalam rombongannya. Dia bersenjatakan sebatang pedang.

Semua orang dikedua belah pihak kagum sekali atas gerakan penolong itu, sedangkan pihak kaum sesat kagum berbareng kaget, kiranya dialah nona, yang sudah menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega serta Ilmu pedang Khie-bun patkwa kiam!

Dan dialah Cio Kauw In dari Pay In Nia, yang terpaksa berbuat demikian guna membantu Teng hiang. Bukankah nona itu pun roboh sebab terbokong?

Tengah nona Cio memayang Teng Hiang pulang, di belakangnya tampak sesosok bayangan menyusul edngan sangat cepat, didalam satu kelebatan, bayangan itu sudah menghampiri sejauh dua tombak lagi! Menyususl itu, sehelai sabuk panjang menyambar pada nona dari Pay In Nia itu, bahkan itulah serangan “tok coa touw sin,--ular beracun mementahkan racun”

Tepat orang menyerang padanya tepat Kiauw in memutar tubuhnya seraya dia menebaskan pedangnya ke belakang, maka itu dengan satu suara “sreet” perlahan, terkutunglah senjata musuh, yaitu sabuk yang lihai itu. Kemudian tanpa menoleh lagi, nona kita berjalan terus mengantarkan Teng Hiang pulang kedalam rombongannya.

Bukan main mendongkolnya si penyerang gelap itu. Dialah seorang bertubuh besar dan jangkung. Dia gusar dan malu. Dila gusarnya, dia mengumbar hatinya. Maka juga dia mendamprat:”Oh, budak hina dina! Kamulah bangsa palsu semuanya siapakah diantara kamu yang mau datang kemari akan menerima bisa?’

Suara itu keras dan keren, muka orang pun merah dan membara, matanya melotot. Hanya sinar mata itu nampak guram, kelihatannya ketolol-tololan.

Bu Sek hweshio dari liong houw Siang ceng segera maju menyambut tantangan itu. Dia bertindak lebar hingga jubahnya berkibar-kibar, pada lengannya tampak sepasang kim hoan emas, yang bersinar berkeredipan. Dia menghampiri lawan sambil memuji sang Buddha yang maha suci, terus dia memberi hormat sambil berkata:”sicu, usiamu sudah lanjut sekali, kenapakh masih begini tidak dapat bersabar?

Bagaimana kalau pin ceng yang menerima pengajaran beberapa jurus dari kau?”

“Akulah kang Teng Thian dari to liong to!” orang itu berseru memeprkenalkan dirinya. “Eh, keledai gundul yang tidak mempunyai nama, jangan kau membuat ruyungku menjadi kotor!”

Bu Sek tidak menjadi kurang senang. Sebaliknya ia tertawa. “sicu, pin ceng adalah Bu Sek dari Gwan Sek Sie!” iapun

memperkenalkan dirinya. “pasti sicu pernah mendengar namanya liong houw siang ceng!”

Mana Teng Thian tertawa lebar.

“Memang itulah nama yang bukan kecil!” katanya, baiklah sekarang ini lohu hendak mencoba coba kepandaian, taysu, untuk mendapat kenyataan nama besarmu itu, nama curian atau bukan!”

Didalam keadaan otak tak sadar seluruhnya, kang Teng Thian menyebut orang sekenanya saja, nama kepala keledai, nanti taysu—panggilan suci untuk seorang biksu. Disaat itu, ia lupa pada siauw tiong heng, adiknya yang ia hendak bela, dan begitu dia menutup mulutnya, begitu dia menyerang lawan tanpa menanti jawaban dari lawan itu!,

Bu Sek berkelit kesamping, dari situ lantas ia membalas menyerang dengan gelang emasnya, ia galak seperti lawannya itu, maka itu. Keduanya lantas saling menyerang atau bergantian berkelit, nayta snejata mereka, satu panajng yang lain pendek, menyulitkan msaing-masing, Teng Thian mau renggang, Bu Sek sebaliknya, dengan demikian, masing- masing ada kelemahannya, asal Bu Sek merangsak, Teng Thian mundur, hingga karenanya, sipendeta selalu maju mendekati! Sebaliknya dengan jago to liong to itu, karenanya demikian,keduanya tak mudah dapat memperlihatkan serangan-serangan yang dahsyat. Yang terang ialah Teng Thian seperti kena desak…. Kang Teng Thian juga terganggu oleh pikirannnya, tak dapat dia memikir dengan sadar. Maka itu, dalam cara berpikir, dia menang unggul, baik diwaktu menyerang, maupun disaat berkelit dapat ia mengira dengans seksama. Diwaktu menyerang, ia pula dapat mencuri kesempatannya yang baik.

Nampaknya kedua lawan itu sama tangguhnya, akan tetapi dimata ahli. Teng Thian adalah yang kalah angin. Bahkan dia sudah memasuki tahap berbahaya. Dia bukan kalah lihai hanya kalah dengan kekuatan otaknya.

Lewat kira setengah jam. Pertempuran berlangsung makin hebat.

Im Ciu It Mo senang menyaksikan pertempuran itu. Dia memang hendak mengadu jiwanya jago-jago kaum sesat buat keuntungan dirinya sendiri, supaya pihak lurus mendapat kerugian jiwa, buatnya, kematian jago-jago tidak berarti apa- apa, tentu saja, Teng Hiang semua tidak insaf yang mereka tengah dijadikan perkaakas.

Lewat lagi sesaat maka berakhirlah sudah pertarungan dahsyat itu, tahu-tahu pedangnya si orang suci telah menyambar batok kepalah siornag sesat, maka robohlah jago dari toliong to, pulau naga melengkung, dengan kepalanya pecah terbelah!

Im Ciu It Mo menyaksikan kekalahan pihaknya itu. Segera merubah siasatnya, begitulah di lantas bersiul, memberi isyarat kepada ketujuh orang muridnya:”Cit Biauw Yauw Lie, supaya mereka itu yang mengajukan diri. Ek Toa Biauw menerima titah. Ia memberi hormat pada gurunya, lantas ia mengajak enam orang saudarinya maju ketengah tanah lapang. Hanya disaat ia hendak mulai mengatur tin, Barisan rahasianya tiba-tiba ia didahului dihampiri Gu Tauw Kong, murid kepala dari Ceng Shia Pay sebab orang she gu itu mengenali Ek ci Biauw sebagai murid murtad dari partaynya., ia tidak sangka adik seperguruannya itu kabur terus masuk menjadi murid kaum sesat, lebih dahulu tauw kong menemui gurunya buat mengasih keterangan tentang ji Biauw serta memohon perkenan memberikan hukuman pada adik seperguruannya itu, setelah memperoleh ijin barulah dia maju, dia menghunus pedangnya dan menghadap Im Ciu It Mo, habis memberi hormat, ia berkata”Aku adalah Gu Tauw Kong murid Ceng Shin Pay, ingin aku melaporkan pada bapak ketua dari Bu Lim cit cun tentang Ek Ji Biauw Yauw Lie, bahwa dialah  murid Ceng Shia Pay yang buron dan sedang dicari, kerananya sekarang aku datang untuk menawan dan menghukumnya!”

Im Ciu It Mo tahu, memang benar Ek Ji Biauw adalah orang Ceng Shia Pay yang lari kepadanya di Hek Sek San dan menerimanya sebagai murid, tentu sekali tak berani ia melindungi murid itu secara terang-teragan. Maka ia berlagak pilon. Maka juga sengaja ia menegur:”Eh, Gu Tauw Kong, bukankah disini ada terselip soal pribadi, yang kau hendak mengumbar secara umum? Tidakkah dengan demikian kau bakal memnbuat orang penasaran?”

Gu Tauw Kong menjawab dengan hormat:”Dia benar-Benar murid murtad dari partai kami. Disini hadir paman guru dari kami dan beliau dapat dijadikan saksi dari kebenarannya kata- kataku ini!”

“Gu Tauw Kong!” kata pula Im Ciu It Mo, “kalau benar kau hendak membersihkan partaimu, buat itu kau harus menggunakan kepandaianmu, kalau kepandaianmu belum berarti maka janganlah kau menyesal atau menyesalkan orang lain! Terutama jangan kau nanti mengatakan aku kejam!”

“Itulah aturan kaum Bu Lim yang harus ditaati!” sahut Tauw kong singkat.

Terpaksa mau Im Ciu It Mo, mesti membatalkan penggunaan Barisan , ia panggil Ek Ji Biauw datang dekat padanya, buat diberikan pesan sekalian diberikan juga secara diam-diam sebungkus bubuk racun, guna si murid pakai merobohkan lawannya, lawannya yang menjadi kakak seperguruannya.

Ek Ji Biauw tidak menjadi jeri, ia mengandalkan pada gurunya ini, bahkan ia girang sekali. Selekasnya ia menghampiri Gu Tauw Kong, ia lantas menegur:”Eh, orang she Gu, benarkah kau tidak memandang persahabatan lama dan hendak membinasakan aku ?”

Tauw kong mengasih dengar suara dinginnya “Hm!” berulang kali.

“Ek Ji Biauw, apakah kau masih tetap tak sadar?” tegurnya, “kaulah si murid durhaka! Apakah kau menganggap dunia kang ouw masih dapat menerima dirimu? Kau berbuat pelanggaran, kau yang cari penyakit sendiri kenapa kau masih membandel?’

Ji Biauw tertawa dingin.

“Siapa hidup siapa mati,. Dia harus mengandalkan tangannya sendiri!” sahutnya keras dan gagah. Bahkan segera dia menyerang dengan sabuk sulamnya, senjata yang ujungnya kelihatan barang keras berupa seperti bulan sabit, tapi itulah perkakas belaka, untuk ia mengtahui sampai dimana sudah kemnjuan sang kakak seperguruannya yang bengis itu.

Tauw kong berdiri tegak, ketika senjata sampai kepada kepalanya, ia cuma berkelit, sikap tenang itu membuat si nona percaya sang kakak telah menjadi lihai sekali, hingga sulit buat ia mengalahkannya. Dari itu. Ia mau mengandalkan racun bubuk gurunya. Lantas ia menyerang pula, kali ini dengan sungguh-sungguh terus, terus dengan keras, hingga sabuknya naik turun, ke kiri dan kanan, berputaran dan melibat, menyambar-nyambar!

Gu Tauw Kong berlaku waspada dan gesit. Ia menangkis dan berkelit dengan beraturan, ia pun membalas menyerang setiap ada kesempatan, karena ia tidak mau hanya menjadi sasaran, ia malah ingin lekas-lekas menyudahi pertempuran itu!.

Segera setelah lewat banyak jurus, nampak Ek Ji Biauw keteter, dia kalah lihai dan kalah hati juga. Oleh karena itu, dia menjadi penasaran dan gusar sekali, hingga dia mengertak gigi. Lantas dia mencari saat baiknya.

Gu Tauw Kong tidak menyangka jelek, ia mengira adik seperguruan murtad itu sudah mogok, ia mendesak. Siapa tahu, mendadak Ji Biauw menyerangnya dengan bubuk beracunnya Im Ciu It Mo. Tak sempat ia menangkis atau berkelit, dalam sekejap saja ia gelagapan, lantas ia roboh, bahkan lantas keluar darah dari mulut, mata, hidung dan telinganya.

Bukan alang-kepalang girangnya Ji Biauw yang ia berhasil memperoleh kemenangan, sambil menuding mayatnya sang suheng ia berkata:” kau mencari mampus sendiri maka jangan kau sesalkan siapa juga….”

Baru Ek Ji Biauw mengeluarkan ejekannya itu atau mendadak saja tubuhnya roboh tergulung dengan jiwa segera melayang, hingga orang –orang kedua belah pihak menjadi heran, tak terkecuali Im Ciu It Mo yang senantiasa mengawasi gerak-gerik muridnya itu.

Ek Toa Biauw kaget dan heran tetapi ia lantas lari pada adiknya itu, untuk mengangkat tubuhnya, buat dibawah pulang, ketika ia memeriksa tubuh si adik seperguruannya, tidak ada luka yang ditemui kecuali sebelah pelipisnya berlobang kecil dan dari situ tampak darah meleleh keluar.

Im Ciu It Mo gusar sekali, tahulah dia yang muridnya itu telah terbokong. Maka juga dia mengawasi ke arah lawan dengan matanya merah seperti darah.

Berbareng itu waktu di sebelah timur. Hay Thian Sin Nia berbangkit untuk terus memberi hormat pada Liauw In Tianglo seraya berkata:”Saudara ketua, pin-ni memohon maaf atas perbuatanku!’

Liauw In membalas hormat, sepasang alisnya bergerak. “Sinni tidak bersalah apa-apa,” sabutnya. “Sinni toh tengah

menghukum muridmu yang murtad yang telah menjadi sesat”

Pi sie Siansu tertawa dan berkata: ”Sinni, sungguh lihai ilmumu Tan ciu sinthong serta Bie lip ta hiat sungguh jitu dan tepat, hingga lolap menjadi sangat kagum!” Tan ci sin-thong ialah ilmu menyentil dengan jari tangan serta Bie lip ta hiat adalah ilmu menimpuk jalan darah dengan sebutir beras.

“Kalian baik sekali saudara-saudara!” Hay thian sinni berkata pula. “perbuatan itu pinni lakukan karena terpaksa, buat itu pinni bersedia menerima kutukan thian!’

“pinni” ialah sebutan ‘aku’ buat seorang nikouw.

Pi sie Siansu berkata pula: “seorang murid murtad harus menerima hukumannya, apapula murid yang bandel dan menjadi sesat dan jahat, hingga ia tak segan menggunakan racun membinasahkan kakak seperguruannya sendiri. Orang kejam semacam dia, kalau dia hidup terus, dia bakal berbuat lebih banyak dosa, dia akan mencelakai lebih banyak orang terutama kaum Bu Lim, sin ni telah membinasakannya, Buddha kita tentu maklum dan akan memaafkan!’

Mendengar pembicaraan itu barulah semua pihak timur ketahui sebab musababnya kematian Ek Ji Biauw. Hanya selama itu, kedua belah pihak pada berdiam selama sekian lama.

Sang malam makin larut, rrembulan sekarang berada ditengah-tengah langit, angin gunung keras dan hawanya sangat dingin sekali meresap di tulang.

Im Ciu It Mo sementara lantas berpikir keras, kekuranganya Ek Ji Biauw menyebabkan Barisan Cit Biauw tin tidak dapat dikerahkan. Jadi perlu dicari lain orang untuk diajukan guna menantang lawan. Dia ingin sekali memperoleh kemenangan

….. Tepat itu waktu. Ang gan kwi bo bangkit dari tempat duduknya dan bicara dengan ketua Bu Lim cit cun, menawarkan diri buat maju menempur musuh.

Im Ciu It Mo mengenal baik si biang iblis dari pulau Lee san di Haylam itu, dia jarang mengembara, kurang pengalamannya, dalam pertempuran, ilmu silatnya juga sangat terbatas. Yang dia sangat andalkan adalah ilmu sesatnya, yaitu:”Toat Pek mo im”—suara bajingan membetot arwah, ilmu itu membuatnya menjadi jumawa. Sedangkan senjatnya adalah sebatang tongkat rotan. Biasanya dia tidak memakai sepatu, maka itu, dia melangkah ketanah lapang dengan sepasang kakinya telanjang!

Bagi pihak timur, Ang Gan Kwie Bo boleh dibilang asing, dia pun berwajah sangat luar biasa. Sudah rambutnya riap-riapan, mukanya merah. Dia berjubah panjang, tetapi bertangan pendek. Pada bajunya terdapat sulaman kupu-kupu warna merah maron.

Cuma Tan Hong yang tertawa selekasnya si nona melihat bajunya jago dari Lee san itu, dia lantas berkata:”Ditanah siok sudah tiada panglima perang lagi, hingga Liauw hoa menjadi sianhong, perwira yang maju di muka lihat, Ang Gan Kwie Bo pun maju berperang!”

Tanah siaok ialah tempat formasi kerajaan tau dinasti Han, dari Lauw pie, di jaman Sam Kok, tiga kerajaan.

Mendengar demikian, Pek Giok Peng berkata :”Biarlah aku yang mencoba-coba bagaimana lihainya Biang iblis itu!”

“Ay ..ah, kau berhati-hati, kakak!” Tan Hong pesan. Nona Pek lantas minta perkenannya Laiuw In Tianglo, terus itu maju akan menghampiri yang baru itu. Bahkan tiba di depan lawn, ia lantas menegur:”Ang Gan Kwie Bo, bukannya kau bertapa digunung lee san, haylam, untuk hidup dengan aman dan damai. Kenapa justru kau datang kemari mencampuri diri dalam air keruh? Apakah kau tidak takut mati?”

Orang yang ditegur tertawa terkekeh-kekeh, pertanda bahwa dia berani sekali:”Nona, kau she apa dan nama apa?” tanyanya. “Kau harus bicara dahulu!”

Sama sekali tak tampak tanda yang jago wanita dari Lam Hay ini berniat berkelahi.

Terpaksa, Giok Peng pun tertawa menyaksikan lagak orang itu.

“Akulah Siauw Yan Ji Pek Giok Peng!” demikian jawabnya. “Pekerjaanku ialah menaklukan bajingan dan membekuk iblis!”

Belum berhenti suaranya nona kita, atau Ang gwan Kwie Bo sudah perdengarkan suara iblisnya, “Toat Pek Im Po,” – gelombang suara memebtot arwah, --jeritan mana diulang- ulang beberpa kali.

Suara itu sangat tajam masuk ke telinga bagaikan mendatangkan rasa nyeri, sangat mengagetkan, dan bulu roma bangkit berdiri karenanya, hingga tanpa merasa, orang jeri sendirinya, demikian dengan Giok Peng. Dadanya bagaikan bergolak, jantungnya berdebaran, darahnya mengalis deras, hingga tubuhnya turut menjadi limbung, terhitung mau jatuh! Karena itu jangan kata buat berkelahi, buat menggengam pedang saja sukar….. Bukan saja nona Pek, juga orang lainnya. Di sebelah timur itu turut merasakan hebatnya Pekik iblis tersebut, darah mereka terasa berjalan keras dan hati mereka goncang…..

Sementara itu. Tio It Hiong sudah memasang mata semenjak Ang Kwie Bo mulai muncul, ia melihat dan mendengar, begitu lekas ia mendengar suara orang dan mendapatkan tubuhnya Giok Peng terhuyung-huyung, segera ia melompat maju dan lari menghampiri, sedangkan tangannya sudah menarik keluar Lee-cu, mutiara mustika dari sakunya. Ia lari pada istrinya, yang mulutnya terus ia desakkan mutiaranya itu, kemudian ia melompat mundur, akan memasang mata, guna memberikan pertolongan lebih jauh bila perlu…..

Ang Gan Kwie Bo girang sekali dapat menggunakan suara jahatnya itu, ia terus memperdengar-kan lebih jauh. Hingga suaranya makin mengentarkan, bagaikan Pekik burung bajingan itu, ia sampai lupa menggunkan tongkat rotannya!

It Hiong mundur bukan melulu buat mengawasi Giok Peng, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya menurut ilmu Khie Bun Hian Thian Khie Kang, guna menutup semua jalan darahnya, agar darahnya tak bergolak. Iapun terbantu khasiatnya darah belut emasnya serta hasilnya latihan Gie Kiam Sut. Maka juga suaranya si biang bajingan cuma membuat darahnya bergerak sedikit. Ia dapat tetap berdiri tegak menjagai isterinya.

Lain-lain orang tergempur hebat sebab Toat Pek Im po diperdengarkan terus-menerus, orang telah menutup telinga tetapi toh hati mereka goncang dan muka mereka pucat pasi. Luar biasa khasiatnya Lee-cu, di dalam waktu yang pendek, Giok Peng dapat pulih kesegarannya dan kesehatan tubuhnya. Ia seperti tak terganggu sama sekali oleh suara aneh tapi dahsyat dari lawannya. Maka diam-diam ia mengawasi lawannya itu, lalu selagi mulutnya orang bekerja, tiba-tiba ia menyerang dengan pedangnya!

Hanya dengan satu gerakan itu, tongkatnya Kwie Bo kena dibikin terbang!

Nona Pek bergerak terus dengan sangat cepat. Dengan pedangnya ia menuding si biang bajingan, sedangkan dengan tangan kirinya ia menyambar rambut orang. Terus ia mengancam:”tutup mulutmu! Apakah kau kira dengan ilmu iblismu ini dapat kau menakuti nonamu?”

Giok Peng paksakan bicara, meskipun mulutnya lagi mengulum mutiara mustika.

Ang Gan Kwie Bo kaget sekali, ia tidak menerka sama sekali akan gerakan si nona lawannya itu. Memangnya ilmu silatnya tidak lihai, lantas ia menjadi tidak berdaya, bahkan tubuhnya gemetaran saking takutnya. Di dadanya sudah terancam ujung pedang mustika. Hatinya berdebar keras, tubuhnya lantas bermandikan peluh dingin. Ia menggoyang-goyangkan tangannya. Mukanya menjadi sangat pucat, karena ia tidak dapat lantas membuka suara, gerakan tangannya itu merupakan permintaan ampunnya….

Cio Hoa sang murid menjadi kaget dan ketakutan. Diapun tidak berdaya. Maka dia menghampiri gurunya, akan memeluki kaki orang sambil dia menangis sesugukan.

Baru sekarang Ang Gan Kwie Bo menyesal, sampai air matanya tergenang…… Giok Peng menggerakkan pedangnya, ia membabat kutung rambut orang yang panjang, yang ia cekal dengan tangan kirinya, menyusul itu, ia mendepak tubuh si biang bajingan sambil ia membentak:”kau menggelindinglah!”

Benar-benar tubuhnya Ang Gan Kwie Bo bergulingan lebih jauh dan hatinya pun mulai tenang, dengan muka kemerah- merahn saking malu, ia merayap bangun, terus dia mengawasi nona Pek, sinar matanya menunjukkan yang dia bersyukur sebab jiwanya tidak dirampas. Setelah itu, tanpa mengatakan sesuatu, dia menarik tangan muridnya buat diajak berlari pergi!

Sampai disitu, hati semua orang sudah tenang kembali, maka juga, menyaksikan tingkahnya si biang bajingan, mereka tertawa.

Adalah Im Ciu It Mo di sebelah barat yang menjadi kaget, malu tak enak hati. Dia khawatir, dia pula panas hati, maka berulang-ulang dia mengetuk-ngetuk tanah dengan tongkatnya.

It Yap Tojin melirik Im Ciu It Mo, sang kawan yang tadinya ia biarkan menjadi pemimpin, atau ketua diantara mereka. Ia pikir sekarang tibalah saatnya buat ia merampas kedudukan tanpa menyentuh rasa tinggi diri dari si bajingan tunggal, maka sembari tertawa lebar, ia berkata:”saudara ketua, apakah kau membutuhkan bantuanku tauwto si rahib?”

Im Ciu It Mo menoleh mengawasi, mednadak ia tampak tenang, ia tampak girang. Maka tak lagi ia bermuka kebiru- biruan saking masgul dan bareng mendongkol. Iapun lantas menyahuti:”Toheng, janganlah kau mengucap begini!

Terhadapmu bahkan memintapun aku tak berani!” It Yap Tojin tersenyum..

“Cuma,” katanya, “kalau pinto sendiri yang turun tangan itu tidak mungkin kurang bagus kesudahannya!.......

Im Ciu It Mo melengak. Dia manatap rahib itu, dasar cerdik dan licik, dia dapat menerka hati orang, maka ia lantas berkata :”asal lotiang turun tangan, pasti kita bakal memperoleh kemenangan! Setelah ini, Toheng, tidak nanti aku berani menyangkal jasa besarmu!’

It Yap tertawa lebar itulah jawaban yang ia tunggu-tunggu.

Tapi ia menggunakan alasan. Katanya :”Pinto tak memikir sedemikian jauh, bukankah kita satu sama lain sahabat- sahabat dari satu hati dan satu tujuan? Dibawah dari cit cun, kedudukan yang terakhir bagiku pun sudah cukup!”

Bukan main girangnya Im Ciu It Mo mendengar kata-kata si rahib, hatinya menjadi sangat lega, maka lantas ia berkata

:”Baiklah, dengan cara begini kita berjanji silahkan Toheng turun tangan!”

It Yap mengangguk.

“Baiklah, akan pinto coba, “ sahutnya

Walaupun ia mengatakan demikian, It Yap Tojin tidak lantas maju sendiri hanya sambil mengulapkan tangannya ia menyuruh Gak Hong Kun, muridnya.

Hong Kun mau maju pada permulaan pembukaan, ia dicegah oleh gurunya, ia telah meminta beberpa kali tapi selalu gurunya itu mengisyaratkan buat ia bersabar, sampai sekarang tibalah saatnya ia maju, maka ia juga girang bukan main, tidak ayal lagi ia memegang gagang pedangnya, terus ia melompat maju, dan terus pula ia menantang :”Mana dia Tio It Hiong? Mari maju! Bukankah cepat kalau sekarang kita mencari keputusan?”

It Hiong mau menyambut tantangan itu, inilah kesempatan, sebab ia akan dapat menempur si manusia licik di muka umum. Hanya belum lagi dia maju, Giok Peng sudah mendahuluinya, nona itu panas hati, sekarang sudah tidak ada sisa kasih atau kesan baiknya terhadap anak muda itu, sebaliknya. Ia sangat membencinya. Maka dengan menempur si anak muda, hendak ia melampiaskan dendam hatinya yang telah tertahan sekian lama. Bahkan setibanya di tanah lapang, ia tanpa membuka mulutnya lagi, ia sudah lantas menerjang!

Gak Hong Kun pun membenci nona Pek, sebabnya mudah dimengerti. Si nona telah meninggalkannya, sekarang tiba kesempatan akan mengumbar sakit hatinya. Maka ia menyambut serangan si nona dan lantas saja melawan, bahkan membalas menyerang, dengan hebat sekali!

Setelah bertemu dengan gurunya, meski juga didalm waktu yang pendek, Hong Kun telah memperoleh petunjuk dari gurunya itu hingga ilmu silatnya mendapat kemajuan yang berarti.

Diantara pasangan ini, dalam halnya ilmu silat, mereka seimbang, sulit buat mengatakan siapa terlebih lihai, tetapi toh Hong Kun menang diatas angin, disebabkan senjatanya pedang mustika Kie kwat kiam yang tajam luar biasa! Ia jadi dapat menangkis pedang si Nona tanpa rasa khawatir.

Sebaliknya, Giok Peng harus waspada. Ia mesti menjaga supaya pedang mereka tidak beradu satu sama lain—beradu bagian tajamnya, kecuali mengadu bagian samping atau sisinya. Karenanya si nona tampak kalah rangsak.

Pertempuran segera menjadi seru sekali. Keduanya berkelahi seperti untuk mati atau hidup. Bagusnya mereka masih dapat menggunakan otak mereka. Mereka sama-sama bersikap keras tetapi tidak membabi buata.

Tentu sekali, pertempuran sangat menarik perhatian kedua rombongan barat dan timur itu, terutama pihak timur, It Hiong bersama Kiauw In dan Tan Hong yang perhatiannya tertarik sepenuhnya, lebih-lebih si pemuda, sedikit banyak, ia khawatir buat isterinya itu sebab ia tahu Hong Kun lihai dan licik, sedangkan Giok Peng jujur.

Lama pertempuran berlangsung, sampai orang dikejutkan suara beradunya senjata yang keras sekali disusul jeritannya Giok Peng, si nona mana terus tampak melompat mundur dan pakaiannya basah dengan darah dan tubuhnya pun terhuyung-huyung!

Kiauw In berdua Tan Hong sudah lantas melompat maju, guna memayang saudaranya itu, sebaliknya It Hiong melompat pada Hong Kun, guna terus menyerangnya. Ia sekarang menggunakan Keng Hong Kiam, pedang mustikanya yang telah dikembalikan oleh Tonghong Kiauw couw. Hingga ia dapat berkelahi dengan hati mantap. Ia pun sudah lantas menyerang dengan keras sekali sebab hatinya panas menyaksikan isterinya dilukai si pemuda jahat dan licik.

Sebenarnya kekalahannya Giok Peng tadi bukannya kekalahan lantaran kalah pandai, itulah sebab disaat sedang murka itu, ia kehilangan kesabarannya, ia tahu yang senjata lawan senjata mustika, toh disaat itu ia lalai, Hong Kun menyerangnya, ia menangkis, ia menangkis dengan jurus “melintang menyapu seribu serdadu” itulah tangkisan yang wajar, tapi Hong Kun sangat cerdik. Dia membatalkan serangannya ditengah jalan, selagi si nona menangkis, ia membabati pedang nona itu, disaat demikian, tak keburu Giok Peng menarik pulang pedangnya. Maka pedang itu kena terbabat kutung dan ujung pedangnya si pemuda meluncur terus mengenaikan lengannya tanpa ia berhasil mengelakkannya. Hanya syukur, pedang lawan tak sampai menebas kutung lengannya itu, karena ia masih bisa mengelit tangan dan tubuhnya.

Sekarang Hong Kun mesti melayani It Hiong. Sekarang ia bukan menempur orang seperti pertempuran dahulu hari di Heng San, sekarang mereka bukan lagi sahabat dan It Hiong pula tak lagi memandang-mandang. Sekarang merekal musuh- musuh besar.

Selama di Heng San, kepandaian mereka berdua dapat dikatakan seimbang sekarang lain sekali, selain pengalamannya bertambah It Hiong pun pandai ilmu Gia Kiam Hui Heng Sut, sedangkan kemajuannya Hong Kun lain lagi, tapi sekarang Hong Kun berkelahi nekat, dengan keberanian luar biasa, dibelakangnya, di sana, ada gurunya, yang membuat nyalinya menjadi besar. Dia pula sangat ingin merobohkan bahkan membinasakan musuhnya ini, yang ia anggap menjadi saingan hebat dalam urusan asmara, ia tetap menganggap It Hiong merampas Giok Peng dari tangannya.

Dengan bersenjatakan Kie Kwat Kiam, Hong Kun menjadi tidak kenal takut, dia melawan dengan sungguh-sungguh hati.

Hanya kali ini. Seperti di Bu Ie San, pertempuran mereka tampak luar biasa. Itu karena Hong Kun tetap dalam penyamarannya, hingga wajah dan dandanannya sama dengan It Hiong. Hingga mereka mirip dua orang kembar, hingga sangat sulit orang membedakannya. Selagi bertempur, tubuh mereka bergerak dengan sangat gesit! Mana It Hiong ? mana Hong Kun? Karena tampang dan pakaian, pedang mereka pula sama-sama pedang mustika, yang bentuk dan tampangnya sama pula.

Setiap terdengar suara nyaring dari beradunya senjata, selalu tampak letupan api berpeletikan dan berkilauan. Hingga pertempuran bagaikan disemarakkan kembang api…..

Semua penonton menyaksikan pertempuran dengan berdiam saja, melainkan mata mereka yang dipasang tajam, sebisanya kedua pihak ingin mengenali, yang mana satu jago mereka. Tentu sekali, berbareng pun ada yang hatinya berkebat-kebit sebab melihat serunya pertempuran.

Demikian semua penonton seperti mereka menonton sambil melongo. Siapakah bakal menang? Siapakah bakal roboh dan runtuh?

Tentu sekali, walaupun pertempuran berjalan cepat, mereka itu telah memakan waktu yang lama. Sekian lama itu. Mereka tetap sama tangguhnya, sama gesit dan lincahnya!

Tentu sekali, sama-sama mereka pun terancam maut…..

Meski juga sudah berjalan lama, pertempuran tidak berubah menjadi kendor, kedua pihak tetap bergerak dengan cepat dan keras.

Lagi setengah jam berlalu, maka disaat itu barulah tampak perubahan. Hong Kun mulai bermuka merah. Napasnya mulai terengah-engah. Dan gerak-geriknya tak lagi segesit semula. Tidak demikian dengan It Hiong. Pemuda itu tampak segar seperti semula. Kemudian tibalah saat yang memutuskan. Sekonyong- konyong satu tusukan dari It Hiong merupakan susulan dari satu tangkisan atas serangan dahsyat Hong Kun. Yang membuat pedangnya pemuda she Gak itu terpental. Dibarengi satu teriakan yang mengerikan. Lantas tubuhnya roboh bermandikan darah. Roboh tanpa berkutik lagi. Karena rohnya sudah lantas melayang pergi meninggalkan tubuh kasarnya!

Habis merobohkan lawan itu, It Hiong berdiri diam bagaikan tonggak. Wajahnya tidak memberikan perubahan apa-apa. Hingga dia tak tampak seperti orang yang baru merebut kemenangan. Karena di detik itu, pikirannya rada kacau memikirkan nasibnya orang she Gak itu!

“Adik Hiong, kau kembalilah!” demikian satu suara perlahan tetapi tegas terdengar It Hiong. Suara itu dikeluarkan setelah orang menghela napas. Dan itulah suaranya Pek Giok Peng, yang terharu menyaksikan gerak-gerik suaminya itu.

It Hiong mendengar suara si nona. Ia bagaikan sadar, maka mau ia memutar tubuhnya buat kembali kedalam rombongannya, mendadak ia medengar bentakan bengis terhadapnya :”Diam, jangan pergi!” dan bentakan itu disusul dengan berkelebatnya sesosok tubuh, yang berlompat ke arahnya!

Itulah It Yap Tojin, yang hatinya bagaikan pecah sebab dia mesti menyaksikan muridnya binasa, maka juga selekasnya dia datang dekat, dia berteriak setinggi-tingginya :”Kau ganti jiwa muridku! Kau…..kau….ganti jiwa muridku!”

It Hiong menghadapi imam itu. Ia memberi hormat sambil menjura. "Totiang," katanya sabar, "Aku yang muda mengharap supaya totiang mengerti akan keadaan kita. totiang menjadi orang tua kenamaan dan mengerti segala aturan, jadi totiang pasti dapat memberikan pertimbangan secara adil. pertempuran barusan adalah pertempuran buat mati atau hidup, karenanya dari itu tidak dapat diharap kesudahan yang sempurna bagi kedua belah pihak! Di dalam hal ini maka hanya harus disesalkan murid totiang, yang kepandaiannya kurang sempurna "

"Ganti jiwa muridku!' teriak pula si rahib, yang telah menjadi seperti kalap. sikapnya pun mengancam.

It Hiong tetap sabar, akan tetapi ketika dia berkata pula. suaranya terang dan tegas :"Totiang, bagaimanakah pendapat totiang andaikata yang rebah binasa di situ bukannya Gak Hong Kun tetapi aku Tio It Hiong? apakah yang totiang akan bilang?"

Ditanya begitu, agaknya It Yap Tojin tersadar, berhentilah ia dengan teriakan kalapnya itu. lantas ia mengawasi si anak muda, dia tercengang. tetapi hanya sebentar, sinar matanya lantas menyala! cepat luar biasa, ia melompat kepada Hong Kun guna menyambar pedang Kie Kwat muridnya itu, kemudian dengan mencekal pedang itu, dia menghadapi anak muda kita, untuk memperdengarkan suaranya yang keras sambil dia menuding :"Orang She Tio, beranikah kau membereskan sakit hati muridku yang telah kau binasakan itu?"

"Totiang," kata It Hiong, sabar luar biasa, "Sekarang ini totiang tengah dipengaruhikan hawa amarahmu yang meluap- luap, karena itu tak berani aku melayani kau, sebab aku dengan begitu bisa menjadi seorang Bulim muda yang berdosa telah melawan seorang tua, maka itu waktu akan aku pergi kepda totiang guna mohon maaf..."

"Hm!" sirahib memperdengarkan ejekannya. "Jangan kau mengoceh tidak karuan! itulah tak perlu! kau bersiaplah. pinto hendak turun tangan sekarang!"

Si rahib sudah lantas mengangkat tanganya, hendak ia melangkahkan kakinya.

"Tahan!" It Hiong berseru, "Aku masih hendak bicara!" Masih saja si anak muda berlaku hormat.

"Kau mau bicara apa lagi?" tanya si rahib bengis. "Lekas"

"Totiang," kata It Hiong, sabar, "Totiang bersama guruku serta ayah angkatku terkenal sebagai tiga orang gagah luar biasa di kolong langit ini, nama totiang tersohor sekali dan nama itu pastikan berada buat selam-lamanya, oleh karena itu, dirusak dalam satu saat cuma disebabkan kemarahan? bukankah sebagai seorang ketua partai, nama totiang telah harum sekali? dapatkah totiang merusak itu didalam satu hati?

Nampak parasnya si rahib tidak sebengis tadi, tetapi ketika dia berkata, suaranya tetap keras.

"Siapa membunuh orang, dia harus mengganti jiwa" demikian jawabnya. "Siapa berhutang darah, dia mesti membalas dengan darah juga! bocah, apakah kau hendak bersilat dengan lidahmu? apakah kau hendak menentang kenyataan? jadi kau hendak menyingkir dari keadilan? Hm!"

It Hiong dapat mengendalikan dirinya. ia menuding pada mayatnya Hong Kun dan menanya:"Totiang, coba totiang perhatikan tampang muka dan dandanya orang itu! coba totiang bilang, dia Gak Hong Kun atau bukan?"

It Yap Tojin mengawasi muridnya itu, lantas ia berdiri menjublak. sudah sekian lama. baru sekarang dia sadar. memang, Hong Kun sangat mirip dengan It Hiong! maka dia heran, kenapa tak dari siang-siang dia melihat penyamaran muridnya itu!

Selagi orang berdiam. It Hiong mengawasi saja. ia menanti jawaban.

Justru itu diam-diam, diluar tahunya si rahib dan juga si anak muda, disisi mereka sudah muncul seorang lain, ialah seorang pendeta yang tubuhnya tinggi dan kekar akan tetapi sikapnya sangat alim, entah kapan datangnya dia! dan dialah Pe Sie Siansu dari vihara Gwan Sek Sie digunung Ngo Tay San.

Segera biksu itu memperdengarkan batuk-batuk perlahan, segera dia merangkapkan kedua belah tangnya terhadap It Yap Tojin.

"Toheng!" sapanya terhdapa rahib itu.

It Yap Tojin mengangkat mukanya, dia mengawasi orang yang menyapanya. dia masih mengenali pendeta itu walaupun sudah beberapa puluh tahun tak pernah mereka bertemu pula.

"Toyu dari Gwa Sek, ada pengajaran apakah dari kau?" dia tanya.

Pie Sie Siansu tersenyum. "Maksudku tak lain tak bukan," ia menjawab, "Berdasarkan pantang mudah murka dan membunuh dari sang buddha kami. lolap ingin menyampaikan sepatah dua patah kata pada Toheng, agar. "

Ia berhenti sebentar, baru ia melanjutkan:"Toheng sudah berusia mendekati tahun ke seratus, itu pertanda bahwa hari- hari mendatang kita sudah tidak lama lagi, bahwa di dalam waktu sekilas lalu, kita bakal menjadi tulang belulang di dalam peti dalam tanah! jika telah tiba saatnya itu, dimanakah adanya budi atau permusuhan?"

Alisnya It Yap Totjin bangkit, kumisnya bangun.

“Hm,” terdengar suara tawarnya. Ia tidak menjawab atau mengatakan sesuatu, bahkan pedangnya ia masuki kedalam sarungnya.

Pie Sie Siansu mengawasi. Ia berkata pula:”Kaum rimba persilatan umumnya, karena soal nama atau hawa amarah, suka sekali menerbitkan peristiwa-peristiwa berdarah, hingga mereka saling menanam permusuhan besar, hingga selanjutnya mereka gemar saling menyantroni, itu artinya bagi kita sudah tak ada lagi saat-saat tenang dan berbahagia!

Bukankah ada dibilang, siapa membunuh ayah orang, ayahnya dibunuh orang lain? Siapa membunuh kakak orang, kakaknya akan dibunuh juga, demikianlah orang saling membinasakan, langsung dan tidak langsung! Kenapakah demikian? Oleh karena itu lolap memohon sudilah kiranya Toheng menjernihkan otakmu menyingkirkan pikiran sesat, terus berlaku tenang untuk memahami artinya kata-kataku ini.

Amidha Buddha,” It Yap Tojin masih berdiam, nasehat itu meresap kehati sanubarinya. Dia memang asal sadar tetapi belakangan berat kepihak sesat.

Si biksu batuk-batuk. Terus dia melanjuti kata- katanya:”Diantara tiga orang yang bersama –sama Toheng ternama besar, Tek Cio Toyu sudah pergi merantau untuk melepaskan diri dari dunia kita ini, sudah kemana perginya, sedang Pat Pie Sie Kit In Gwan Sian, dia telah menutup matanya buat selama-lamanya tak dapat melihat pula, akan tetapi mereka berdua berlalu dengan meninggalkan nama- nama yang besar dan harum, maka itu tinggal Toheng sendiri sekarang ini, sudah selayaknya jika Toheng pun sudi menyempurnakan diri sebagai layaknya, agar nama kalian bertiga harum bersama, agar namanya ketiga orang tak ternodakan! Demikian apa yang hendak lolap katakan, Toheng, maka sekrang terserahlah kepada Toheng sendiri!”

Mendadak saja, It Yap Tojin bagaikan mendengar khotbah penerangan, mendadak ia sadar sesadar-sadarnya, hingga otak dan hatinya menjadi jernih, hingga lenyap juga rasa marah dan mendongkolnya, lalu, dengan tiba-tiba ia melemparkan Kie Kwat Kam ke sisinya Hong Kun, terus ia membuka langkah lebar, lari turun gunung In Bu San, hingga selanjutnya orang tidak mendengar pula perihal dia!

Pie Sie Siansu bersama Tio It Hong mengawasi orang menghilang dikaki gunung. Lalu, bersama-sama mereka kembali ke dalam rombongan mereka kemana Pek Giok Peng telah dipayang pulang buat diobati dan beristirahat.

Di pihak Bulim Cit Cun, orang saling memandang dengan melongo, diluar dugaan mereka, It Yap Tojin dan Hong Kun, hilang dan mati tidak karuan, diam-diam hati mereka menjeblos, sebab mereka kehilangan orang–orang yang dibuat andalan.

Selain itu, menyaksikan pertempuran diantara It Hiong dan Hong Kun, hati mereka gentar dan ciut. Hebat pertempuran itu, terutama hebat adalah It Hiong. Si anak muda yang gagah dan lihai luar biasa!

Tapi Im Ciu It Mo sendiri tidak puas dan penasaran.

Sekarang saatnya buat dia berkuasa sendiri. Karena sudah tidak ada lagi It Yap Tojin yang bisa menjadi saingannya yang hebat. Lantas ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata pada sekalian kawannya :”Saudara-saudara, ditempat dan saat seperti ini. Tidak ada lagi saat buat kita bersantai dan berpikir- pikir pula! Saat ini ialah saatnya kita menghajar musuh, buat melabraknya habis-habisan, inilah saat mati hidup kita semua!”

Hiat Mo hweshio berani, dia menjawab nyaring :”Bapak ketua benar, apakah yang kita takuti? Biarlah kami Hong Gwa Sam Mo membinasakan mereka!”

Ketiga Tok Mo palsu pun turut berseru :”Sahabatku, kau benar sekali, nah kalian bertiga majulah, supaya kita dapat mengangkat nama Bu Lim Cit Cun kita!”

Hiat Mo mengangguk, dia mendapat persetujuan dari Peng Mo dan Tam Mo, dua orang saudara angkatnya, maka ketiga mereka lantas mengajuhkan diri. Mereka menantang Tio It Hiong? Mereka percaya, asal It Hiong, roboh, tentu hancurlah kaum sadar itu. Mereka tidak takut, mereka bertiga, It Hiong sendiri, dan mereka pun memiliki senjata rahasia mereka yang lihai -bubuk beracun-. Di sebelah timur banyak orang yang hatinya tidak tenang mendengar It Hiong ditantang seorang diri. Nama Hong Gwa Sam Mo memang terkenal sekali. Maka ada memikir untuk memajukan seorang pembantu. Tidak demikain anggapannya Liauw In Tianglo dari Siauw Lim Pay. Biksu tua ini justru percaya betul kepandaiannya si anak muda. Maka juga ia berkata : ”Baiklah. Tio sicu dapat menyambut tantangan mereka itu! Bahkan dengan begini, kita jadi membuat puas hatinya ketiga bajingan itu!”

Mendengar suaranya sang ketua, semua orang berdiam.

Hanya itu Hay Thian Sin-ni seorang yang menganggap baiknya Tio It Hiong makan lebih banyak obat pemunah racun. Maka lantas ia menoleh dan mengawasi Pek Yam Siansu dari Bie Lek Sie. Terus ia mengedipkan mata pada It Hiong, supaya si anak muda meminta obat dari biksu tua itu.

It Hiong tidak menyambuti isyarat itu, ia hanya dengan tenang merogoh sakunya dan mengeluarkan peles kecilnya, dari mana ia menuang enam butir obatnya, yang terus ia masuki kedalam mulutnya dan telan, baru setelah itu, ia menjura pada si nikouw seraya berkata:”Baiklah, aku yang muda menurut nasehat, aku makan obat,”

Hay Thian Sin-ni heran, lantas ia pikir, tentulah It Hiong muda dan keras tabiatnya. Bahwa anak muda ini tak sudi sembarang tunduk pada orang lain, hingga ia menyayangi anak muda itu, maka hatinya menjadi kurang tentram. Tidak ayal pula, ia bangkit, akan memutar tubuh menghadapi Pek Yam Siansu, untuk berkata pada pendeta tua itu :”Suheng, mengapa kau berlagak pilon saja? Hayolah keluarkan Wan Ie Jie, obat mujarab itu!”

Pek Yam Siansu , yang terus duduk bercokol sambil memejamkan matanya, membuka matanya itu, ia terus mengawasi nikouw, untuk kemudian berkata :”Oh, nikouw yang tak sabaran! Baik kau ketahui Wan Ie Jie sudah berjalan masuk sampai kedalam kantung nasinya Tio sicu!”

Begitu ia mengucapkan kata-kata itu, begitu si biksu meram pula. Hay Thian Sin Ni heran hingga ia melongo.

Menyaksikan demikian, It Hiong berkata hormat pada nikouw tua itu :”Terima kasih untuk kebaikanmu ini, sin ni, Obat yang aku makan adalah obatnya losiansu sendiri”

Mendengar demikian Hay Thian Sie Ni tersenyum, terus ia duduk pula.

Selama itu, Hong Gwa Sam Mo sudah tidak sabaran, hingga Hiat Mo mengulangi tantangannya.

It Hiong sebaliknya tidak puas, maka waktu ia bertindak maju, ia berkata nyaring :"Orang sudah tua-tua tetapi tidak mengenal aturan kaum kang ouw! buat apakah kalian berteriak tidak keruan juntrungannya?"

Peng Mo tidak puas dia sudah berusia empat puluh tahun tetapi dia benci kalau orang mengatakan dia tua. Maka diapun berkata:"Eh, bocah, buat apa kau mengadu lidahmu? marilah maju kita mengadu kepandaian kita!" baru dia berkata begitu, dia merasa sebutannya kurang tepat, maka lekas-lekas dia menambahkan:"Eh, orang muda, saudara yang baik! mari, saudara, kakakmu hendak main-main beberapa jurus denganmu!"

Kagum Peng Mo, Bajingan Es, melihat It Hiong berwajah demikian gagah dan tampan, hatinya menjadi sangat tertarik, maka hendak dia beraksi, memperlihatkan tingkahnya yang menggiurkan guna menggempur hati muda orang..... Dasarnya gemar paras tampan, Peng Mo menjadi tak tahu malu, sekalipun di depan banyak orang kaum sesat dan sadar, dia membawwa tingkah centilnya itu,

"Hm," It Hiong memperdengarkan suara dingin seraya ia menghunus Keng Hong Kiam, pedang mustikanya itu, kemudian barulah ia menjawab nyaring :"Pedangku ini yang panjangnya tiga kaki tidak kenal orang dan juga tidak dapat mengadu lidah, oleh karena itu aku mohon kalian bertiga harap berhati-hati, supaya kalian tak nanti menyesal setelah kasip!"

Hiat Mo gusar mendengar suara besar dari si anak muda, tanpa mengatakan apa-apalagi, ia maju sambil mengirim satu hajarannya!

Melihat saudaranya sudah turun tangan, Peng Mo menggertak gigi, iapun menyambuti goloknya dan turut menerjang juga, maka kecuali seranagnnya si Bajingan Darah, It Hiong mesti membela diri dari serangan si Bajingan Kemaruk dan Bajingan Es!

Demikianlah It Hiong kena dikurung ketiga penjuru, hingga ia mesti berkelahi sambil berputaran, sebelahnya sepasang pedang dan sebatang golok, ia mesti berjaga-jaga dari tangan kosong tetapi lihai dari Hiat Mo, mereka itu justru ingin berkelahi cepat, guna cepat-cepat juga menyudahi pertempuran.

It Hiong sendiri juga ingin lekas-lekas merobohkan ketiga lawannya itu, supaya ia berhasil cepat-cepat membasmi kaum sesat tukang bikin kacau golongan sadar dan lurus. Maka itu ia memutar pedangnya bagaikan kitiran. “Diantara ketiga bajingan, Hiat Mo si bajingan darah adalah yang paling lihai ilmu silatnya dan dia juga paling telengas, sudah begitu, dia berkelahi dengan bengis sekali, maka, karena kedua belah pihak sama-sama ingin pertempuran lekas selesai, dapat dimengerti hebatnya jalan pertempuran.

Sepasang golok Peng Mo si nikouw mengeluarkan cahaya kebiru-biruan, selain senjata itu termasuk senjata mustika, yang tak takut segala macam senjata logam lainnya, golok pula diberi racun. Karenanya, bisa dimengerti yang dia mencoba merangsek dan mendesak lawannya.

Adalah Tam Mo si kemaruk yang licik, sebab dia takut mati, dia ingin hidup panjang umur, dia benar membantui dua saudaranya tetapi ia merangsak secara waspada. Dia lebih banyak berkelit menyingkir daripada mendesak menghajar lawan.

It Hiong dapat melihat ketangguhan dari lawannya itu, lantas ia berlaku cerdik. Ia mengguna-kan akal. Tam Mo si licik termakan umpan. Disaat dia merangsak untuk menyerang, mendadak dia dipapak anak muda kita.

“Aduh….’ Demikian jeritan tertahannya, sebab tubuhnya terus roboh bermandikan darah dan jiwanya melayang pergi!

Hiat Mo dan Peng Mo kaget sekali, itulah tidak mereka sangka, mereka jadi sangat gusar, hingga mereka berniat menuntut balas, segera mereka memperhebat serangannya!

Diam-diam Peng Mo telah menyiapkan bubuk beracunnya.

Dia mendesak hebat sekali. Berbareng menyerang dengan kehebatannya, ia pun menyebarkan racunnya, maka berhamburanlah bubuk racun itu, bagaikan halimun yang menututpi muka It Hiong!

Bukannya kepalang girangnya si bajingan es, dia percaya yang bubuknya sudah meminta korban,

Hiat Mo pun girang, ia melihat adiknya sudah turun tangan. Ia percaya, seperti si adik. It Hiong bakal roboh tak berdaya. Bahkan ia tertawa dan memuji adiknya :”Sungguh hebat kepandaianmu adik!”

Justru karena ia berbicara itu, dengan sendirinya si bajingan darah desakannya mengendor. Pada saat itulah sinar pedang berkelebatan!

“Aduh!. ” menjerit si Bajingan darah, yang lengan

kanannya mendadak tertebas kutung, hingga dengan berlumuran darah, dia jatuh terduduk. Dia tertikam rasa nyeri berbareng sangat penasaran dan gusar tetapi tanpa berdaya…….

Peng Mo menyangka, sesudah terkena bubuk beracunnya, It Hiong jadi kalap dan menyerang kakaknya itu dengan segenap kekuatan yang penghabisan, iapun gusar sekali, lantas ia menyerang secara hebat dengan sepasang goloknya. Keinginannya akan dapat mencincang lawannya itu.

Kembali bajingan ini mendapat hal yang tak disangkanya. Ketika bubuknya buyar, ia melihat It Hiong berdiri tetgak di depannya dengan tidak kurang suatu apa-apa. Hingga ia menjadi tercengang.

Kenapa It Hiong tak mempan bubuknya beracun itu? Justru itu Hiat Mo sudah dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Ia makan obat dan membalut lukanya, terus ia melompat bangun, buat berkelahi pula. Ia sangat penasaran!

It Hiong melayani kedua musush itu. Ia panas hati sebab orang tidak kenal jera. Tak roboh terus. Dalam mendongkolnya, ia mendesak si bajingan darah. Kembali ia satu tikaman dahsyat.

“Aduh….” Sekali lagi Hiat Mo menjerit tertahan. Hanya kali ini buat yang penghabisan kali. Sebab sekarang dadanya yang terpanggang pedang It Hiong! Itulah akibatnya serangan jurus silat ”Sie Toat Ang Sim,” -anak panah mengenakan sasaran-,’

Peng Mo kaget bukan main. Baru sekarang hatinya menjadi ciut. Bubuknya tidak memberikan hasil, maka ingin dia melarikan diri. Segera dia mengibaskan sepasang goloknya seraya melompat kesamping buat pergi kabur!.......

It Hiong melihat gerak-gerik orang, ia dapat , menerka maksud orang itu, segera ia menjejak tanah, buat melompat melesat, pedang dan tubuhnya bagaikan satu, karena itulah satu gerakan, dari Gie Kiam Hui Heng Sut. Sejenak saja. Dapat ia menyusul lawan. Maka ketika pedangnya ditebaskan. Maka kutunglah barang lehernya si bajingan es. Hingga dia roboh binasa tanpa sempat berkaok lagi….

Segera setelah memperoleh kemenangan yang luar biasa atas Hong Gwa Sam Mo yang kesohor dan di segani. It Hiong maju terus kepda rombongan di sebelah barat itu, ia telah berkeputusan akan melabrak habis kawanan kaum sesat!

Im Ciu It Mo bersama Tok Mo palsu kaget sekali, melihat ketiga bajingan mati secara demikian cepat. Mereka insaf bahaya. Maka lantas mereka bersatu hati mempertahankan diri. Tindakan mereka yang pertama ialah selekasnya It Hiong mendekati mereka, lantas mereka menyambut dengan pelbagai senjata rahasianya masing-masing!

Anak muda kita tidak jadi mundur karena penyambutan yang istimewa dan sangat berbahaya itu. Ia memutar hebat pedangnya menghalau setiap senjata rahasia yang mengarah tubuhnya. Akan tetapi, setelah ternyata serangan lawan tidak ada hentinya. Ia tidak mau sembrono menempuh bahaya.

Lekas-lekas ia melompat mundur kembali ke tanah lapang tempat tadi!

Sementara itu kaum lurus, melihat majunya anak muda kita, sudah bergerak maju bersama. Mereka lantas mengambil sikap mengurung musuh, bahkan kali ini. Yang luar biasa ialah Pek Yam Siansu, ia tadinya selalu bersiam di sebelah belakang, sekarang ia justru maju di muka!

Melihat majunya musuh, Im Ciu It Mo mengeluarkan Pekiknya yang luar biasa nyaring, yang membuat orang kaget sebab bulu roma orang pada berdiri. Karenanya kaum lurus yang tenaga dalamnya masih terbelakang pada lekas-lekas mundur sambil menekap telinga mereka.

Tiba-tiba terdengarlah suara nyaring bagaikan Guntur.

Itulah “Say Cu hauw” atau “Auman Singa,” suatu ilmu tenaga dalam yang istimewa dari kalangan agama Buddha. Gunung In Bu San bagaikan mendengung jadinya. Dengan demikian maka lenyaplah Pekiknya si bajingan tunggal, bahkan orangnya sendiri roboh dengan seketika dengan jiwanya terbang melayang serta darah keluar dari mulut hidung, mata, dan telinganya!

Menyaksikan kebinasaannya Im Ciu It Mo, ketiga Tok Mo mnejadi bernyali kecil, dengan bersatu hati, mereka menerobos untuk membuka jalan darah, guna mengangkat kaki. Mereka licik, maka itu, mereka menyerbu diantara lawan- lawan yang lemah, mereka seperti mengobral senjata- senjatanya mereka yang beracun. Karena itu, banyak orang lurus yang roboh keracunan, ada yang telah terluka parah.

Selekasnya It Hiong menyakkikan sepak terjangnya ketiga bajingan beracun itu, ia lompat lari menyusulnya. Ia menggunakan lari ilmu lari Gie Kiam Sut, maka dengan cepat ia menyandak mereka itu, akan tetapi, belum sempat ia turun tangan, ia telah didahului oleh Hay Thian Sie Ni, karena nikouw yang membenci ketiga orang jahat dan telengas itu, yang berkhawatir, mereka itu nanti dapat lolos, sudah lantas menyerang dengan “Ciang sim luiji---pukulan tangan Guntur— yang dapat dilakukan dari tempat jauh, maka itu, tanpa ampun lagi, ketiga bajingan beracun itu roboh berbareng dengan rohnya pada terbang melayang, mereka roboh terbinasa, dengan nadi dan otot-otot terputus sebab gempuran dahsyat sekali!

Dengan terbinasanya Im Ciu It Mo dan ketiga Tok Mo, selesai sudah pertempuran dahsyat itu, karena pihak sesat yang tidak berarti itu pada lari meloloskan diri yang tinggal ialah mereka yang terbinasa.

It Hiong menyimpan pedangnya kedalam sarungnya, lekas- lekas ia pergi mencari Giok Peng serta Kiauw In dan Tan Hong.

Tepat itu waktu, Pek Yam Siansu mengirup arak yang ia bawa-bawa itu, ia menyemburkan berulang-ulang kepada semua orang pihaknya yang telah roboh akibat Pekik hebat dari Im Ciu It Mo, maka itu didalam waktu singkat, mereka yang tengah bergeletakan ditanah lapang lantas pada bergerak dan bangun sendirinya, sebab mereka telah sadar cepat sekali.

Sementar itu sang waktu, yang berjalan terus, telah membawa orang pada waktu fajar, karena mana banyak orang Bu Lim yang sudah lantas berpamitan dari Pek Yam Siansu dan Liauw In Tianglo sekalian buat mereka lantas pergi pulang, hingga In Bu San menjadi sunyi, tak ramai seperti kemarin-kemarin tengah malam itu, para penonton sudah kabur siang-siang disaat mereka kaget mendengar Pekik dahsyat dari Im Ciu It Mo.

Tengah Liauw In semua masih berkumpul sekonyong- konyong mereka melihat seorang nona lari mendatangi dengan pesat, hingga sebentar saja ia sudah sampai tiba di rombongan.

Segera It Hiong mengenali nona Tonghong Kiauw In dari Bu Ie San, maka itu ia yang menyambutnya. Kiranya nona itu datang buat menonton pertempuran antara It Hiong dan Hong Kun tetapi ia terlambat.

Melihat nona yang baru datang itu, Hay Thian Sin Ni segera menyambut dengan tegurannya : ”Nona Tonghong, bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak mau kembali pada wajah diri asalmu?”

Tonghong Kiauw heran, dia tertawa.

“Sinni bercanda denganku!” katanya, “bukankah boan pwe tidak memalsukan siapa juga?”

Sebagai seorang nona muda, si nona dapat merendah dengan menyebut dirinya “boanpwe” orang dari tingkatan muda. Mereka berdua berdiri berhadapan, dengan kecepatan yang luar biasa, sinni menyambar mukanya si nona dan menggeset kulitnya, sembari tertawa ia berkata pula:”Nona, pinni toh tidak salah mata, bukan?”

Selekasnya kulit mukanya disingkirkan maka kembalinya Tonghong Kiauw couw pada diri asalnya, yaitu Siauw Wan Goat hingga It Hiong dan Kiauw In dan lainnya menjadi heran sekali, lebih-lebih si anak muda sebab ia tidak sangka Kiauw couw ialah Wan Goat dari To Liong To, si bajingan wanita dari pulau naga melengkung itu, mereka  itu  sampai berseru:”Oh!. ”

Lantas Hay Thian Sinni berkata pula :”Nona ini telah kena dipengaruhi obat yang menggangu ingatannya, hingga ia tak ingat akan diri asalnya. Tio sicu, tahukah she dan asalnya dia?”

“Dialah Siauw Wan Goat dari To Liong To,” sahut si anak muda.

“Dia berjodoh dengan agama sang Buddha,” kata pula sin ni,”Kalau dia dibiarkan hidup terus merantau, dia akan tersesat lebih jauh dan dapat pula menciptakan berbagai macam gara-gara, karena itu pinni mau ajak dia pulang ke gunungku supaya ia dapat menuntut penghidupan suci dan damai,--Nah, kau dengarlah!”

Kata-kata itu diakhiri pada Wan Goat, yang sedari tadi berdiri diam saja, nona itu tampak terkejut dan tubuhnya terus bergemetar.

Sin ni lantas menyuruh Teng Hiang dan Cukat Tan membujuk keenam Yauw Lie supaya insaf dan merubah cara hidupnya, mereka itu menurut, maka bersama Kiauw Couw, mereka lantas diajak pergi oleh Hay Thian Sinni.

Sampai disitu, orang berpamitan, buat pulang ke masing- masing gunungnya.

It Hiong mengajak Kiauw In bersama Pek Giok Peng dan Tan Hong pulang langsung ke Pay In Nia, buat hidup menyendiri digunung yang sunyi dan damai itu, tak lagi mereka pergi merantau.

Sampai itu waktu maka tahulah Tan Hong akan cinta kasih yang murni…………………

TAMAT
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(