Iblis Sungai Telaga Jilid 60

Jilid 60

Mendengar demikian, Kiauw Couw memperdengarkan suaranya: "dalam hal itu, nonamu ada punya maksudnya sendiri!"

Sampai disitu, It Hiong bicara pula, ia memberi horamat pada si nona ketika ia menanya: "Nona, apakah she dan nama nona yang mulia? dan Kiu Kiok Ceng Kee tempat apakah itu? sudikah nona memberi keterangan padaku?"

Kiauw Couw balik menatap pemuda yang tampan itu, sepasang alisnya yang lentik terbangun.

"Namaku Yang rendah ialah Tonghong Kiauw Couw," sahutnya halus, "dan Kiu Kiok Ceng Kee adalah kampung haklamanku!"

It Hiong menggangguk.

"Nona, aku yang rendah dartang kemari guna memenuhi undangan nona," katanya. "aku ingin belajar kenal dengan ilmu pedang nona supaya dengan demikian dapat aku meminta pulang pedangku!"

Belum sempat nona menjawab, Hong Kun sudah mendahului. lebih dahulu dia tertawa dingin, untuk mengejek, lalu katanya tajam:"Segala penipu! telah kau memalsukan she, nama dan tampang wajahku, sekarang kau berani mendusta di depan orang terhormat! di depan Tio It Hiong sejati! sungguh tak tahu malu! Jika kau tahu diri, lekas menggelinding pergi?"

It Hiong mengawasi pemuda itu yang ia tahu cerdik dan licik, ia tidak sudi melayani, ia cuma ingat urusan meminta pulang pedangnya, agar ia dapat lekas berangkat ke Bu San, dilain pihak, sedikitnya ia terharu juga bagi pemuda itu yang gagal memperoleh Giok Peng sebab Giok Peng justru mencintai ia, maka ia merasa kasihan dan tak tega mendesak orang sampai dipojok, siapa tahu, kelemahannya hatinya ini digunakan oleh Hong Kun, hingga ia seperti kalah angin...

Tanpa menghiraukan orang, It Hiong berkata pula pada Tonghong Kiauw Couw "nona, ketika pedangku lenyap di Kho- tiam cu, aku menyangka itulah perbuatan seorang sesama kaum kang-ouw yang menaruh harga padaku, yang telah bergurau dan bermain main denganku, nona, tentang bagaimana syaratnya supaya pedang dapat dikembalikan padaku, asal yang aku sanggup, aku suka akan mengiringi segala kehendakmu."

Nona Tonghong tertawa.

"Mengembalikan pedang?" katanya "Itulah sangat sederhana! cukup asal kau memberi pelajaran beberapa jurus ilmu pedang padaku, supaya mataku menjadi terbuka!"

It Hiong segera mundur dua tindak, terus ia memberi hormat.

"Bagaiman kalau sekarang juga kita main-main beberapa jurus nona" demikian ia tanya. "Silahkan nona mulai!"

Kata-katanya anak muda itu disusul dengan gerakan kedua tangannya, tangan kirinya diturunkan, tangan kanannya menghunus pedang dipunggungnya, menyusul itu, ia berdiri tegak, akan menantikan si nona.

Kiauw Couw mengawasi gerak-gerik si anak muda, hatinya tergerak bukan main. ia rada likat, ia merasa seperti telah bertemu pula dengan kekasihnya dengan siapa ia telah berpisah lama. tapi tak dapat ia berdiam lama-lama. maka

iapun maju, tangan kanannya di gagang pedang Keng Hong Kiam, hanya, pedang itu tidak ia segera hunus.

Masih ada satu pertanyaanku"katanya perlahan,"Dapat atau tidak aku ajukan itu?"

"Silakan nona!" sahut It Hiong lantas.

Tak puas Hong Kun menyaksikan tingkahnya si nona terhadap It Hiong. ia menerka nona itu menyukai orang muda di depannya. tanpa merasa, timbullah iri hati dan jelusnya, ia menahan sabar, hingga ia mesti menggertak gigi. mendadak timbul pikirannya jahatnya. 

"Biar, aku tunggu sebentar!" demikian pikirnya itu. "Selagi mereka bertempur, akan aku serang dia dengan senjata rahasia, supaya si nona yang nanti bertanggung jawab?"

Sementara itu Tonghong Liang waspada, terus ia memperhatikan gerak-geriknya Hong Kun. ia cerdas dan curiga, diam-diam ia menggeser tubuh ke dekat orang yang dicurigai itu. Hong Kun tidak menyangka apa-apa sebab pikirannya tengah ditumpakan atas dirinya It Hiong dan Kiauw Couw.

Ketika itu Kiauw Couw tertawa dan berkata pada anak muda kita: "Menurut kau nama Tio It Hiong itu namamu dan bukan nama palsu?" ia bicara manis dan mantap.

Mulanya melengak, akhirnaya It Hiong tersenyum. "Kenapa nona begini prihatin pada nama Tio It Hiong?" ia balik betanya :"Kenapa nona begini jelas untuk mengetahui palsu dan tulennya?"

Pertanyaan itu membuat Kiauw Couw mendapat kepastian bahwa Tio It Hiong ini adalah Tio It Hiong yang tulen, maka timbullah kehendaknya mengembalikan pedang pada anak muda kita. ia maju pula satu tindak, pedangnya segera di hunus hingga terdengar suara menyeretnya serta tampak sinarnya yang berkilauan.

"Nah, tolong kau memberikan beberapa petunjuk padaku!" katanya, yang terus menggerakan pedangnya.

Tepat itu waktu sebuah sinar pedang meyambar ke arah It Hiong dan Kiauw Couw, hingga muda mudi itu yang lagi hendak bertempur, menjadi kaget sekali, hingga mereka masing-masing mencelat mundur menyusul itu, tampakaTonghing Lian sudah bergebrak pula dengan Hong Kun. sebab barusan itu, Hong Kun telah membokong muda mudi, ia demikian bernafsu akan percaya bahwa ia bakal berhasil, sama sekali ia tidak menyangka, si bocah di sisinya selalu mengawasinya, maka begitu ia menyerang, begitu bocah itu melompat juga seraya menyampok padangnya!

Hingga beradulah senjata mereka, maka gagallah serangan selap itu. Bahkan karena Tonghong Liang menyerang terus, mereka jadi kembali bertarung!

Bukan main panas hatinya Hong Kun, orang telah menggagalkan usahanya yang telah dipikir matang itu, maka tanpa dapat mengekang diri lagi, ia menyerang bengis pada si bocah.

Sementara itu, dengan wajaha merah. Tonghong Kiauw Couw mengawasi It Hiong. "Tuan Tio." katanya, manis, "Entah kenapa, aku seperti pernah mengenalmu! Apakah tak mungkin yang dahulu hari kita pernah bertemu satu pada lain?. "

It Hiong mengawasi, ia tidak kenal nona itu, tidak ada bekas-bekas tampangnya Siauw Wan Goat pada wajah nona itu, sebaliknya si nona, dia cuma mengingat samar-samar sebab tenaga ingatannya telah diperlemah oleh pengaruh

obat-obat, jangan kata si anak muda kita, sebab sekalipun Gak Hong Kun, dia pun tak dapat mengenali wanita yang dia pernah ganggu....

Coba kedua anak muda ketahui bahwa Kiauw Couw adalah Wan Goat, entah bagaimana perasaan mereka masing-masing dan juga setahu bagaimana perasaanya nona andiakata ia mendapat tahu, Hong Kun adalah orang yang pernah mencemarkan kesuciannya......

Tio It Hiong mengawasi si nona, hatinya bekerja, sia-sia belaka ia mengingat-ingat, ia merasa tak pernah mempunyai kenalan nona she Tonghong, kemudian ia lalu menanya

:"Nona, apakah nona tidak keliru mengenali orang?"

"Apakah kau bukannya Tio It Hiong?" mendadak si Nona tanya pula, “sebenarnya, kau siapakah?"

It Hiong mendelong. orang bukannya menjawab hanya menegaskannya. ia menjadi merasa tidak enak hati. lantas ia menghela napas, akan melegakan hatinya, setelah itu dapat ia menentramkan diri.

"Begini saja nona," katanya, sabar, "Nama Tio It Hiong itu, siapa saja di dalam dunia ini dapat memakainya! maka guna mendapatkan kepastiannya, baik itu disaksikan pada kepandaianya saja, pada prilakunya baik atau buruk! dari situ nona nanti ketahui, siapa yang tulen siapa yang palsu? tidak benarkah begitu?"

Nona Tonghong tidak mengatakannya lagi, ia pun tidak menyerang pula buat mengadu kepandaian ilmu silat pedangnya masing-masing, sebaliknya lantas mereka menonton pertempuran diantara Tonghong Liang dan Gak Hong Kun, si nona menyimpan pedangnya, dia mundur terus dia mengawasi adiknya.

It Hiong mundur, ia merasa kecele. ia juga mesti menonton saja.

"Tahan!"Tiba-tiba terdengar satu seruan mengguntur sedangnya dua orang itu bertarung dengan hebat, menyusul itu maka disitu muncul seorang laki-laki yang sikapnya kereng, sebab diallah yang dikatakan mempunyai "kepala macan tutul serta mata bundar gelang" dia berdiri tegak dengan sebatang pedang dipunggungnya!

Tonghong Liang dan Gak Hong Kun terperanjat, mereka heran, maka dengan sendirinya mereka berhenti saling menyerang, sama-sama mereka mundur.

"Hari sudah lewat jauh malam," kata orang yang baru datang itu, "sekarang sudah jam empat, apakah kalian masih juga belum selesai berkelahi?"

Tonghong Liang mengawasi orang itu, dia tidak menjawab hanya balik bertanya, "Apakah kau juga sudah gatal tangan?" demikian tanyanya. "apakah kaupun ingin bertempur? benarkah?" "Tidak ada waktuhnya buat aku berkutat denganmu!" sahutnya si orang bertubuh gagah itu. "Aku hanya ingin mengadu kepandaian dengan Tio tayhiap, buat beberapa jurus saja, supaya urusan besar kami segera dapat diselesaikan?"

Dengan "urusan besar" orang itu maksudkan urusan perjodohannya, sebab ia bukan lain orang diaripada Bu Pa, yang telah menyusul It Hiong itu bersama In Go dan berhasil menyandak si anak muda, yang kepergiannya, atau kaburnya itu, terhalang oleh pertempuran diantara Tonghong Liang dan Hong Kun tadi.

It Hiong tak tenang hati melihat porang dapat menyusulnya.

Juga Gak Hong Kun tidak puas, dia mengenali Bu Pa sebagai muridnya Gwa To sin Mo dan dia khawatir orang nanti juga mengganggunya. dia dalam usahanya mendapatkan Kiauw couw, maka itu dia lantas berpikir, jalan apa dia harus diambil supaya Bu Pa tidak sampai mengeroyoknya. dia berpikir keras tidak lama, lantas dia mendapat sati jalan, maka juga dia segera menghadapi Bu pa dan menanya dengan keras: "Bu Pa, mari aku tanya kau!, kau hendak mencari aku Tio It Hiong yang tulen atau yang palsu?"

Bu Pa suka menjawab.

"Aku mau mencari Tio It Hiong tayhiap sendiri! demikian jawabnya.

Hong kun segera menunjuk pemuda kita.

"Itu Dia Tio It Hiong yang tulen! Nah, kau pergilah membereskan urusanmu dengannya!" Dibawah sinar rembulan, Bu Pa mengawsi Tio It Hiong, kemudian ia mendekati Hong Kun, untuk menatap dengan tajam.

Kemudian lagi. ia mengawasi mereka bergantian berapa kali. ia melihat seorang muda yang sama potongan tubuhnya, sama pakaiannya, terutama sama tampang mukanya. ia menjadi heran dan bingung, toh ia merasa seperti mengenalnya...

Gak Hong Kun tertawa lebar karena ia sudah menyaksikan tingkahnya Bu Pa itu, yang bingung hingga nampaknya Tolol.

"Bagaimana, Eh?" tegurnya keras. "Bagaimana apakah kau tak percaya perkataanku?"

Bu Pa membuka mata lebar, ia mengawsi tajam. "Tuan kau siapakah?" ia menegaskan.

Hong Kun menjawab segera, dia berlaku berani mati.  "Aku adalah Tio It Hiong palsu?" demikian sahutnya keras.

Hebat si licik ini. dia menggunakan akal muslihatnya perang syaraf. saking terdesak, dia mengambil sikap ini. tak malu dia mengakui demikian. Dengan begitu dia hendak membuat bimbang pikirannnya Kiauw Couw dan lainnya. orang dapat menyangka pula mana It Hiong palsu dan mana It Hiong tulen.

Segera setelah mendengar kata-kata Hong Kun itu, Tonghong Kiauw maju mendekati, seperti Bu Pa, bergantian mengawasi Hong Kun dan It Hiong, wajah mereka berdua menandakan keraguan-raguan mereka. Tengah orang bernagansan itu, tiba-tiba terdengar suara saluran Toan Im Cip bit :

"Wajah Tio It Hiong sejati mana dapat lolos dari mataku si orang tua? dua mahluk ini palsu dua-duanya!"

Semua orang menoleh, maka terlihatlah oleh mereka semua siapa yang memperdengarkan suara itu, dialah si orang tua berdandan sebagai pelajar, yang mukanya keriputan, yang lagi berjalan mundar-mandir perlahan sambil kedua belah tangannya digendongkan pada punggungnya, berulang kali diapun menengadah ke langit, mengawasi rembulan yang sudah tidak purnama lagi....

In Go dan Bu Pa telah melihat orang itu, yang tadi mengintili Tio It Hiong, hanya mereka tidak menghiraukannya, mereka berdua repor mikirin urusan mereka sendiri hingga tak ada kecurigaaan sama sekali, siapa tahu sekarang mendadak pelajar tua itu menyela diantara mereka dengan kata-katanya yang membingungkan itu.

Semua orang lantas menerka, orang tua itu mesti orang kang ouw tingkat atas tetapi tak ada yang mengenalnya.

Cuma It Hiong yang tertawa di dalam hati mendengar kata- kata orang tua itu, ia menerka, dia orang tua juga orang yang palsu, maka hendak ia mencoba membuka rahasia orang, tinggallah ketika dia caranya.

Hong Kun turut bingung, ia tahu ia adalah Tio It Hiong palsu, di depannya ada Tio It Hiong tulen. sekarang si tulen dikatakan palsu oleh si orang tua, bagaimana? benarkah perkataan orang tua? Kalau benar, Saipa Tio It Hiong yang dianggapnya tulen ini? dan. siapakah orangnya kecuali ia sendiri, yang memalsukannya Tio It Hiong? apakah perlu, atau maksudnya, orang tersebut menyamar menjadi si pemuda she Tio?

Tonghong Kiauw Couw baru saja mengambil keputusan, mana It Hiong tulen dan It Hiong palsu, sampai ia mengingat baik-baik dimana It Hiong berdiri, maka sekarang ia menjadi heran di buatnya. benarkah kata-katanya orang itu? benarkah It Hiong tulen inipun It Hiong palsu?

Bu Pa bercuriga selekasnya dia mendengar perkataan si orang tua, hingga ia berpikir keras, akan tetapi dilain saat, ia pun dapat menenangkan diri, ia pikir peduli apa It Hiong tulen atau palsu, buat ia asal ia menempur It Hiong, habis perkara!

Tengah orang masih berdiam itu, kembali terdengar suaranya si orang tua, yang tajam, agaknya diapun puas sekali dengan hasil kata-katanya yang pertama tadi. kata dia" separuh kata-kataku si orang tua jauh lebih menang daripada pertempuran kalian setengah hari! Hm! Hm!"

In Go yang sekian lama berdiam diri saja, sampai disitu lalu membuka mulutnya, ia toh ragu-ragu.

"Cianpwe," tanyanya pada si orang tua, "Kalau cianpwe ketahui mereka itu adalah It Hiong palsu, sekarang sudikah kau memberi tahu aku mana It Hiong yang tulen? Bukankah Cianpwe ketahui itu dengan baik?"

Bu Pa telah memikir, maka itu, mendengar suaranya si kekasih, lantas ia mencela:"Adik, jangan kau sembarang percaya kata-kata orang! kau tahu sendiri didalam dunia kang ouw terdapat banyak manusia licik yang suka mengoceh tidak karuan. Habis berkata, ia lantas maju ke depannya It Hiong, untuk memberi hormat sambil berkata dengan perlahan:"Tayhiap, aku harap kau sudi mengalah sedikit dengan beberapa jurusmu, supaya perjodohanku dengan adik seperguruanaku dapat disempurnakan! buat itu seumur hidupku akan aku bersyukur sekali terhadapmu..."

Suaranya pemuda itu belum berhenti satu tubuh langsing berlompat kepada ia dan It Hiong dan orang itu lantas berkata:"Kakak, apakah yang kau bicarakan dengan Tio tayhiap? kenapa kau membisik ?apakah kau memintah Tio tayhiap suka berpura guna memperdaya aku? awas, akan aku tak mau mengerti!"

Memang, itulah In Go, yang mencurigai pacarnya itu, maka juga dia lantas menegur.

"Aku tidak mengatakan apa-apa adik!" berkata Bu Pa. terpaasa ia mesti menyangkal kalau ia tak sudi adik seperguruannya itu rewel terus, "jangan kau menerka yang tidak-tidak. "

It Hiong berdiam saja, ia sebal berbareng merasa jenaka melihat tingkahnya sepasang muda mudi itu. yang lakon jodohnya unik sekali.

In Go tidak mudah mempercayai kakak seperguruannya itu, berulang kali ia masih mengatakannya :"aku tidak mengerti! aku tidak mengerti!"

Sebenarnaya It Hiong sudah memikir, maka ia menegaskan pada Bu Pa, agar itu berdua dapat menikah, akan tetapi melihat tingkahnya si nona, yang manja itu, ia lantas berpikir lain. diam-diam ia meninggalkan mereka itu, akan mendekati nona Tonghong.

"Nona" sapanya sabar, "Jika sudah tidak ada urusan lainnya lagi, aku mohon sudilah kau menyerahkan pedangku..."

Sepasang alis lentik dari Kiauw Couw terbangun, ia menatap tajam wajahnya si anak muda.

"Apa tanyanya. "Kau menghendaki pedangmu? oh. tak semudah itu"

"Bagaimana caranya aku harus memintanya, nona?" tanyanya It Hiong. "Coba kau tolong tunjuki!"

Selagi berbicara itu, ke empat buah mata beradu sinarnya satu dengan yang lain. Dua--dua pihak saling tertarik lebih- lebih si nona, It Hiong melihat raut muka yang cantik manis serta mata yang jeli. si nona melihat muka orang yang tampan dan mata yang tajam.

"Sebetulnya, pedang ini adalah pedangnya Tio It Hiong" kemudian si nona berkata perlahan, kalau pedang diserahkan pada Tio It Hiong itulah sudah sepantasnya. "

It Hiong mengangguk.

"Pandangan nona tepat," bilangnya. Nona itu menghela napas perlahan.

"Hanya. ah!" katanya, tertahan. "Sekarang ada

kesukarannya, yaitu kesukaran mencari Tio It Hiong yang benar-benar Tio It Hiong !" Alisnya It Hiong terbangun, lalu rapat satu pada lain.

"Kalau begitu, nona, nyatanya kau percaya aku!" katanya, ia menyesal tetapi ia bersikap tenang.

Kiauw Couw tersenyum, terus ia menggeleng kepala. "Bukannya begitu tuan," kata ia. "Tuan. maukah tuan

memperlihatkan sesuatu bukti padaku?"

It Hiong tidak lantas menjawab, ia mesti berpikir.

"Nona, bukti apakah yang kau minta?" tanyanya kemudian.

"Bukti manusia! atau bukti barang!" sahutnya si nona, terus terang dan tegas, toh ia mengawasi si anak muda, nampaknya ia berkasihan...

Si anak muda menghela napas perlahan.

"Apa kau tak khawatir nanti mempersulit orang, nona?" tanyanya. "Sekarang ini, ditempat seperti ini, mana dapat aku mencari bukti untuk diajukan kepdamu? disini dimana aku mesti mencari saksi?"

"Kalau saksi tidak ada, bukti barangpun boleh!" kata si nona, yang memperlunak syaratnya.

It Hiong merasa sukar sekali, akan tetapi aneh, terhadap nona, tak sedikit juga ia merasa gusar atau kurang senang. ia justru berpikir. ia menganggap si nona lucu! pula sungguh aneh ia yang mau meminta pulang pedangnya, ia justru mesti memperlihatkan bukti atau menonjolkan saksi! Kemudian ia berkata, sungguh-sungguh:"Nona, aku tengah merantau, maka juga tak ada persiapanku mengadakan barang bukti atau saksi. oleh karena itu, sekarang aku cuma dapat menyebutkan diriku sebagai pualam asli, aku ingin kau dapat mengandalkan ketajaman matamu sendiri akan melihat aku palsu atau bukan!"

“Mau tidak mau, nona Tonghong mengangguk. pemuda itu bicara benar.

"Tetapi tuan" katanya "Apakah pada tubuhmu benar-benar tidak ada ssuatu barang yang dijadikan bukti untuk dirimu?"

"Ada, itulah pedang Keng Hong Kiam." sahutnya It Hiong, "Namun. "

"Itulah tak usah disebutkan lagi!" menjelaskan si nona. "Pedang itu telah berada ditangan nonamu!"

Tiba-tiba It Hiong tersadar.

"Ada, ada bukti sekarang!" katanya lantas.

"Apakah itu?" tanya si nona, ccepat. dia agak terkejut, "Bukti apakah itu? mari aku lihat!"

It Hiong tenang pula.

"Itulah bukan bukti barang" sahutnya sabar."Aku maksudkan ilmu silat, yaitu pelajaran yang aku peroileh dari rumah perguruanku, seperti ilmu pedang Khie-Bun-patkwa Kiam, ilmu tenaga dalam Hian Bun Sia Thian Khie-kang, dan ilmu meringankan tubuh Te Ciong sut. ,masih ada satu lagi yaitu ilmu tenaga dahsyat Hong Liong Hok Houw Ciang ajarannya ayah angkatku, Sin Ciu Cui Kiu. apakah semua bukti itu masih belum cukup?"

Menyebut perbagai macam ilmunya itu, It Hiong puas. ia percaya si nona bakal menerimanya dengan baik, dan pedangnya bakal segera kembalikan.

Akan tetapi nona Tonghong menggeleng kepala perlahan- lahan, hingga tusuk kundianya yang berupa burung-burungan pionix emas, turut bergoyang-goyang juga. meski demikian, airmukanya tenang, bahkan ayu dan mendatangkan kesan baik bagi siapa yang melihatnya. kemudian ia berkata dengan sabar:"Semuanya itu cukup, akan tetapi janganlah mengatakan nonamu licik serta mau mempersulitmu, sebenarnya sukar buat aku menaruh kepercayaan sepenuhnya. semua kepadiaan perguruanmu itu mana dapat dijadikan bukti bagiku?. "

It Hiong mengaswasi.

Si nona segera menambahkan: "Memang kepandaian tuan itu sebenarnya dapat juga dijadikan bukti, hanya sayang. "

It Hiong tetap mengawasi. ingin ia ketahui, ada keberatan apa lagi dari si nona

Kiauw couw mengasi lihat tampang sayup-sayup, ia puas mengawasi si anak muda. lalu katanya pula:"Sayang bahwa pengalamanku masih kurang sekaai, mengenai ilmu silat perbagai partai, pengetahuanku masih sangat terbatas, jangan kata tenaga dalam Hian bun sian Thia Khie kang yang sukar dibedakna, sekalipun ilmu pedang Khie Bun ptkwa kiam, belum pernah aku melihatnya. bukankah sia-sia belaka andiakata kau pertunjukkan semua itu di depanku? " It Hiong bungkam, inilah ia tidak sangka. ia menatap si nona dengan mata mendelong, ia harus memikirkan bukti lainnya.

Tonghong Kiauw Couw berkata pula, memberikan penjelasannya, selalu ia bicara dengan sabar dan halus, katanya: "Keng Hong Kiam adalah pedang mustika dan terutama pedang yang membuatnya namanya Tayhipa Tio It Hiong menggetarakan sungai telaga. maka pedang itu harus dihargai. baik aku jelaskan bahwa aku mencuri pedang itu melulu dikarenakan aku ingin dapat berjumpa dengan kau sendiri, tuan, supaya kita dapat membandingkan ilmu pedang kita berdua. oleh karena itu, untuk membayar pulang pedang itu, harus aku memperoleh bukti yang mengesankan. agar hatiku lega, maka itu, dalam hal ini. aku minta tuan suka apalah memaklumi aku. "

It Hong mengangkat kepalahnya.

"aku dapat memaklumi kau nona," bilangnya. Kiauw Couw tersenyum.

"Kau lihat sendiri, tuan, sekarang telah muncul dua Tio It Hiong" katanya pula

“Bagaimana. " mendadak ia tertawa hingg ia mesti lekas

mengeluarkan sapu tangannya untuk memebekap mulutnya yang mungil.

It Hiong tetap bungkam, ia cuma mengawasi,

"Sekarang ada lagi yang aneh!" kata lagi si nona. "sekarang ada orang yang mencari Tio It Hiong guna mengadu kepandaian ilmu pedang! bagaimana? karena adanya dua Tio It Hiong, maka tak tahulah aku, siapa pemilik yang sebenarnya dari pedang itu..."

It Hiong tidak menjawab, cuma sebentar, matanya tampak bersinar, kemudian menghela napas.

"Sekarang kita bicara dari hal suara saluran Toan Im Cip Bit barusan." berkata pula Tonghong Kiauw Couw. "itulah suara dari seorang cianpwe. dia mengatakan yang kalian kedua Tio It Hiong, dua duanya palsu! ah, bagaiman itu ? memang tak dapat kata-kata itu lantas dipercaya habis , akan tetapi kata- kata itu pula telah menggoyah kepercayaanku atas dirimu, tuan! mana dapat aku menyerahkan pedang pada pemiliknya yang belum dipastikan?"

It Hiong bingung. ia mengerti si nona, tetapi ia merasa sulit. ia cuma menghendaki pedangnya. ia tidak dapat memikirkan alasan lain, walaupun ia memakluminya.

"Aku mengerti, nona," katanya kemudian.

"Sekarang coba jelaskan, apa lagi kehendakmu supaya urusan kita dapat segera diselesaikan?"

Nona Tonghong mengawasi si pemuda tampan. "Bagaimana kalau kita mengambil kepastian dengan jalan

mencoba-coba ilmu pedang kita" demikian tanyanya, "Dengan

demikian pertama akan tercapai maksud keinginanku semula dan kedua aku jadi akan mendapat tambahan pengetahuan yang berharga. demikian begini akan tenanglah hatiku, bagaimana kau pikir?"

It Hiong kewalahan, pergi pulang, soal tetap harus diselesaikan dengan satu pertandingan ilmu silat pedang! itulah justru yang ia buat keberatan! tapi sekarang! apa boleh buat! tidak ada jalan lain...

"Jika begitu nona,"katanya akhirnya, terpaksa, silahkan nona mulai memberikan pengajarannya padaku..." ia pun segera menghunus padangnya, untuk bersiap menangkis penyerangan,

"Baik"menyambut si nona, "lihatlah!"

Menyusul bergeraknya bahu kanannya, si nona sudah lantas menghunus Keng Hong Kiam dengan apa ia segera menyerang dengan jurus "Tit To Oey Liong" langsung menyerbu istana naga kuning.

Dengan jurus "Peng Se Seng Lui"--guntur ditanah datar--- mendadak serangannya itu tersampok keras hingga kedua pedang bentrok, menyebabkan letupannya bagaikan kembang api.

Kiauw Couw heran, sebab ia ketahui pedang lawan adalah pedang mustika, tetapi ia lebih heran pula ketika ia melihat bahwa penentangnya itu justru Tio It Hiong yang satunya lagi! ia sudah lantas mundur sambil mengawasi tajam pada pemuda itu.

Hong Kun berdiri diantara kedua muda mudi itu, memang dialah yang barusan menangkis pedangnya si nona, lantas ia mengawasi bergantian kepada muda mudi itu. Nona Tonghong menjadi tidak puas.

“Mau apakah kau?" tegurnya, “Kenapa kau tidak mematuhi aturan pertempuran kaum rimba persilatan? apakah kau memangnya mau mengacau?" "Kau bertindak putar balik, nona!" sahutnya Hong Kun dingin. "Kau bertindak tidak adil kenapa kau masih menegur aku?"

Nona itu mengawasi tajam.

"Tidak adil bagaimana?" tanyanya. "Coba jelaskan.” Dengan pedangnya, Hong Kun menuding It Hiong. "Apakah nona merasa pasti dialah Tio It Hiong tulen?"

tanyanya.

Kiauw Couw diam. telak pertanyaan mengenainya, yang lagi ragu-ragu.

Hong Kun menerka keraguan-raguan si nona, dia puas, tapi dia bertindak terus kata dia pula: "Kalau nona sudah merasa pasti, tidak ada halangannya nona menyerahkan pulang pedang Keng Hong Kiam pada nya. buat apa kau mengadu pedang segala! kalau sebaliknya, baik nona meminta dia segera menggelinding pergi dari gunung ini! buat apa membuang bunag waktu saja"

Kiauw Couw membuka lebar-lebar matanya.

"Dalam hal ini mataku tidak cukup tajam akan menembusi wajah orang," katanya, "Karena itu tak dapat aku memutuskan dia si tulen atau si palsu! karena itu juga tidak ada jalan lain jalan dari pada mengadu pedang..."

Hong Kun senang menerima jawaban itu. "Aku pun orang yang datang buat meminta pedangku," katanya pula, "Bagaimana nona pikir tentang diriku? bukankah nona juga masih menyangsikannya?"

Kiauw Couw bingung, dia kerena diajak bicara, dia mengangguk.

"Ya" sahutnya

Hong Kun melengak, lalu tertawa.

"Nah inilah yang kukatakan nona tidak adil!" bilangnya.

Nona Tonghong heran hingga ia melengak. ia merapikan rambutnya didahinya.

"Kalau bicara, bicaralah biar terang!" tegurnya. "Kenapa kau bicara setengah-tengah kenapa mesti berputar-putar?"

Kembali si pemuda girang, ia percaya si nona telah kena dipengaruhinya,

"Nona" katanya, "Bukankah syaratmu mengadu pedang, mulanya kau mengajukan dahulu adikmu dan kalau adikmu mengalah barulah kau sendiri yang turun tangan? sahabat itu mau meminta pulang pedangnya, bukankah dia pun harus mentaati syarat itu?"

Nampak si nona menyesal.

"Oh!" serunya, tertahan, "Kiranya kau bicara panjang lebar ini cuma buat urusan itu!"

Hong Kun memperlihatkan roman jumawa. "Nah, nona!" serunya. "Itu dianya" barusan aku meladeni adikmu, syukur dia suka mengalah, maka itu menurut bunyinya syarat sekarang nona harus bertanding denganku!"

"Gila!" si nona mencela. "Bagaimana kau dapat mengatakan begini? bukankah kau sendiri tadi mengakui bahwa kaulah Tio It Hiong palsu? apakah katamu sekarang? kau mengaku tanpa dipaksa!"

Hong Kun bungkam. itulah sanggapan diluar dugaanya, ia lupa yang tadi ia telah mengatakan, demikain. tapi ia berani mati dan cerdik, hanya sejenak, ia lantas tertawa dan berkata: "Bagaimana dengan sahabat itu? apakah dia dapat memberikan bukti? habis, apakah dia bukannya si palsu?"

Kiauw Couw habis sabar.

"Kau lihat saja!" serunya. "Tuan ini akan bertanding dengan adikku!" dan ia menggapainya saudaranya.

Tonghong Liang lompat menghampiri ia berpaling senang kalau kakaknya menitahkannya ia bertempur, ia memang tidak kenal takut, ia pula menyangka bakal disuruh bertanding dengan Hong Kun, ia berbuat membals kegagalannya tadi....

"Kali ini kau berhati-hatilah" demikian ia berkata pada Hiong kun yang ia tuding sekali, "Tuan kecilmu tidak mau sudah jiklau diantara kita belum ada keputusannaya.

Hong Kun mememperlihatkan sikap tak memandang mata, "Apakah kau masih tidak mau mengaku kalah" tanyanya,

"Bertempur dengan kau bocah, memang juga tidak ada artinya!" Mendadak darahnya si kacung meluap, mendadak ia menghunus pedangnya dan menikam!

Hong Kun melihat serangan, ia tidak menangkis hanya mencelat mundur,

“Tahan!" Kiauw Couw berseru.

"Tonghong Liang tidak menyusul lawannya, ia bahkan menyimpan pedangnya ke dalam sarungnya.

Selama itu It Hiong berdiam diri saja menonton tingkahnya Gak Hong Kun, tapi ia melihat kelicikannya pemuda she Gak itu, ia lantas mencari keletakan tempat yang menguntungkan baginya, katannya, ia terus menggeser tubuh, untuk terus berkata pada nona Tonghong: "Baik, nona, akan aku menerima baik syaratnya itu, nona, suka aku melayani adikmu bertempur buat beberapa jurus. "

Kiauw Couw girang, dia mengangguk. "Baiklah" sahutnya. lantas ia menepuk bahunya Tonghong Liang, yang berdiri disisnya, seraya berkata:"Adik, pergi kau melajyani tuan itu buat beebrapa jurus!"

Diluar sangkahnya si nona, adiknya itu menggeleng-geleng kepala.

"Kenapa?" tanyanya heran. "Apakah akau letih"

"Aku menyerah kalah!" sahutnya adik itu, lebih diluar dugaan.

Kiauw Couw mendelong mengawasi adiknya itu. "Kau kenapa adik?" tanyanya pula. "Kau letih atau terluka didalam?"

Si adik balik menatap, matanya dipentang lebar. dia menjawab gagah: "Sekarang tanganku masih gatal! aku letih? mana mungkin ? mustahil aku akan mendatangkan malu? aku hanya tidak mau kena terperangkap akal muslihatnya dia itu!" ia menuding Hong Kun.

Mendengar itu, It Hiong, Kiauw Couw dan Hong Kun kagum, lebih-lebih Hong Kun sendiri. kacung itu sangat cerdik. karenanya, ia pun kecele, sebab gagal maksudnya mengadu It Hiong dengan si bocah !

Maksudnya Hong Kun mengadu domba It Hong ialah guna mempersulit pemuda itu saingannya itu dalam lakon asmara. kalau It Hiong kalah dari Tonghong Liang, sekarang dia tak akan menempur si nona, biar bagaimana, Tonghong Liang lihai, tak mudahh ia kalahkan. kalau It Hiong kalah, dia pasti mendapat malu dan mengundurkan diri atau bersembunyi . seri juga tak ada kemungkinannya. Dan, kalau dia menang, dia sebenarnya sungkan melayani nona Tonghong..."

Justru anak muda kita bingung, justru Tonghong Liang menunjuki kecerdasannya. dia menampik bertanding dengannya! Bukan main menyesalnya Hong Kun, dia mendelu sekali terhadap si bocah, pada wajahnya tampak kedongkolan itu.

Tonghong Kiauw Couw tidak memaksa adiknya. maka ia berkata pada Hong Kun: "Adikku sudah menyerah kalah, apa katamu sekarang, sahabat?"

Hong Kun licik sekali. dia tersenyum. "Nona," katanya, "Apakah nona tidak khawatir yang adikmu ini membuat runtuh nama Tonghong Sie Kee yang tersohor itu?"

Nona itu jemu. tak sudi ia melayani orang bicara lebih lama lagi. maka ia lantas berpaling pada It Hiong.

"Bagaimana tuan?" tanyanya, "Maukah kau menjalankan beberapa jurus terhadapku?"

It Hiong tidak melihat jalan lain.

"Dengan segala senang hati, nona!" sahutnya. Bahkan ia segera menghunus pedangnya.

Tiba-tiba dua sosok tubuh maju kepada mereka berdua. "Tuan tio, tunggu dahulu!" terdengar satu diantaranya

berseru.

Kiranya itulah Bu Pa serta In Go, dua saudara seperguruan yang aneh itu.

Terpaksa It Hiong menunda pertandingannya. "Kau mau apa lagi?" tyanynya.

Bu Pa memberi hormat, dia menjawab:"Dengan banyak susah akhirnya dapat juga menunjuki adik seperguruanku agar dia suka menerima baik bahwa kau, tuan adalah tayhiap Tio It Hiong! itulah pula berarti untung bagus kami!"

It Hiong tersenyum, dia merasa lucu. Justru itu. In Go berkata:"Tuan, kalau sebentar kau mengadu kepandaian dengan kakakku ini. aku melarang kau menggunakan akal! aku tak sudi yang kau berpura kalah!"

It Hiong menatap si nona, ia heran sekali, melihat lagak orang itu, ia jadi tak berkeinginan bicara dengannya.

"Jangan kau khawatir adikku" berkata Bu Pa selagi si anak muda berdiam saja. " Tak nanti tayhiap Tio It Hiong yang namanya termasyur berbuat demikian. "

"Cis!" si adik seperguruan meludah, mencela. kemudian ia mengawasi It Hiong dan berkata pada pemuda itu :"Sahabat she Tio. kau menerima baik, bukan, akan melayani adikku ini?"

Bu Pa pun menjelas selagi It Hiong belum menjwab, kata dia:"Tayhiap, terima! terimalah!"

In Go b, meludah pula pada kekasihnya itu. "Aku tak suka kau turut bicara!" bentaknya,

Bu Pa lantas diam. ia mengawasi saja pada It Hiong, nampak ia sangat bingung.

Tonghong Kiauw Couw mengawasi muda mudi itu. ia menganggap mereka itu jenaka. lantas ia menyimpan pedangnya sembari tertawa, ia berkata pada It Hiong:"Tuan Tio, kau terima baiklah permintaan nya nona ini!"

It Hiong suka menerima baik permintaanya Kiauw Couw. "Nona, kau menghendaki apakah?" tanyanya pada In Go. "Kau harus bersumpah bahwa kau tak nanti berpura-pura kalah!" demikian jawabnya kemudian, singkat dan getas.

Itulah permintaannya yang sederhana akan tetapi hebat artinya, It Hiong justru seorang jujur dan paling menghargai janji. ingin ia menyempurnakan jodohnya muda-mudi itu akan tetapi bagaimana habis bersumpah, mana dapat ia melanggar sumpahnya ia sendiri? Bu Pa murid pandai dari Gwa To sin Mo dan Hong Kun jeri melawannya, kalau tidak mengalah berpura-pura? kalau ia melawan menang, pasti gagallah jodohnya mereka itu...

Maka itu aneh keinginan In Go ini. dia mencintai Bu Pa tetapi toh dia mempersulitnya!

"Nona" kemudian kata si anak muda, "Akan aku terima permintaanmu ini tetapi buat apakah aku mesti mengangkat sumpah "katanya.

In Go nampak likat waktu ia menjawab: "Pernikahan, adalah urusan besar mana dapat itu dilaksanakan dengan cara sembrono? oleh karena itu aku minta, sahabat Tio, tolonglah kau tak menganggap remeh!"

Bu Pa berda di sisi mereka. dia tertawa.

"Seorang lelaki sejati, apakah halangannya buatnya mengatakan sepatah dua sumpah?" katanya. "tayhiap, kau bersumpahlah, buat menenangkan hatinya adikku ini!"

Hong Kun melihat dan mendengar saja, sampai disitu dia campur bicara,.

"Benar! tidak berani bersumpah berarti hendak berlaku palsu!" demikian katanya. Guna mengejek It Hiong. "Didalam dunia ini, orang yang menipu perempuan, didalam sepuluh orang, delapan atau sembilannya adalah orang laki-laki! jodoh atau pernikahan memang bukan permainan anak-anak, maka itu, nona. pantaslah kalau kau berlaku hati-hati!"

Kata-kata Hong Kun penghabisan itu ditujukan kepada In Go, guna membikin panas hatinya si nona. dia pernah menggilai nona itu tetapi dia gagal. inilah sebabnya kenapa dia telah mengeluarkan kata-katanya yang berbisa itu! dia mengipasi api yang sedang berkobar itu!

Semua orang menoleh mengawasi orang si she Gak. semua bersinar jemu. melihat demikian , mau tidak mau, Hong Kun jengah sendiri. ia tidak menyangka yang orang semua tidak menyukainya.

Tonghong Liang tidak sabaran, dia masih muda dan belum tahu banyak soal asmara, maka itu seperti juga orang lagi menggerutu, dia berkata seorang diri :"Kalau seorang wanita mau menikah, menikahlah! buat apa menciptakan segala aneka warna ini? Hm!. "

In Go berpaling dengan cepat.

"Eh, saudara kecil, apakah katamu?" tanyanya. dia mendengar tetapi tidak jelas.

Tonghong Liang mengangkat kepalanya menghadapi nona itu.

"Aku menyuruh kakak she Tio ini jangan bersumpah dan juga jangan turun tangan!" sahutnya dengan nyaring, "Biarlah kau, budak. menjadi budak tua. supaya seumur hidupmu kau tidak menikah!" Mendengar jabawan, yang bernada lucu itu, semua orang tertawa.

In Go menjadi malu dan gusar karenanya.

"Kurang ajar!" teriaknya. "Kau masih berusia muda tetapi kenapa kau dapat bicara begini rupa?"

Tonghong Liangpun tidak puas tetapi dia tidak menjadi marah. dia hanya berkata :"Kau tunggulah, lewatnya beberapa tahun pula. lantas kau boleh tanya dirimu sendiri, pria mana yang sudi menikah denganmu yang pasti telah menjadi bertambah tua! sekarang ini ada orang yang penujui dan mau menikah denganmu. kenapa kau banyak tingkah seperti ini? sungguh, aku sangat berkhawatir buat hari kemudianmu nanti!..."

In Go gusar sekal;i.

"Jika kembali kau banyak bacot. nonamu akan menghajar padamu!" teriaknya.

"Tetapi benar katanya-katanya saudara kecil ini. nona," berkata It Hiong, "Baiklah nona suka memikirkannya dengan hati yang tenang..."

In Go tak bergusar tadi. ia cuma mengawasi bengis pada si bocah.

"Kata-kataku tidak dapat berubah!" sahutnya pada si anak muda kita, "Sabahat she Tio. jika kau berniat membantu akakak seperguruanku itu, supaya maksudnya tercapai, nah. kau bersumpahlah!"

Hebat nona ini, dia hanya menyebut Bu Pa Seorang. Mendengar demikian, Tonghong Liang tidak dapat menahan sabar.

"Hm," ia perdengarkan pula suara dinginnya, Eh, saudara Tio!" ia menambahkan pada It Hiong, "Kalau nanti perempuan ini menjadi seorang nenek-nenek, apa sangkut pautnya dengan dia? apa perlu nya kau memberi nasihat begini rupa padanya?"

"Fui!" In Go meludah. "Inilah urusanku bocah, apakah sangkut pautnya urusanku denganmu? buat apa kau usil urusanku?"

Tonghong Liang berkata pula: :Dengan meniru lagak si nona. kata ia dengan lagu suara seperti sedang menghapalkan buku bacaan: "Bagaikan bunga adalah manisnya sebuah rumah tangga, bagaikan air yang mengalir tenang atau sang waktu yang lewat dengan tenteram, berduka kalau hari sudah larut, seperti musim semi yang indah telah berlalu, "Nah itu waktu, kau rasailah nanti!"

In Go menyabarkan diri. maka dengan memonyongkan muka ke si kacung, dia berakta:"Oh, orang dengan lidah busuk, yang kata-katanya jahat, kau lihatlah nanti kapan telah tiba saat berputaranya roda di dalam neraka! itu wakrtu kau boleh rasai bagaimana lidahmu ditarik keluar!"

Bu Pa menjadi bingung. lekas-lekas ia memberi hormat pada semua orang.

"Para hadirin, maaf," katanya, "Aku minta kalian sukalah memberi muka padaku dengan kalian mengurangi pembicaran kalian..." terus ia maju dua tindak pada It Hiong, buat menjura dan berkata: "Tolong Tayhiap menyempurnakan kami berdua! aku minta sukalah tayhiap memberikan sumpahnya."

It Hiong bingung akan tetapi belum sempat ia mengusai dengan pikirannya tahu-tahu Hong Kun mencela pula. Si dengki itu berkata "Siapa tidak mempunyai kepandaian, dia memang banyak lagak dan akalnya! apakah susahnya bersumpah terhadap seorang wanita? bukankah itu mudah seperti seorang mencaplok barang makanan saja? saudara Bu Pa sendianya kau minta bantuanku, selaksa kali bersumpah pun segera akan aku habis mengucapnya dalam waktu sekelebatan!"

Pemuda itu bicara seenaknya saja, tanpa merasa ia telah membuat merosot kehormatan atau derajat dirinya sendiri, mungkinkah oarng bersumpah semudah itu?

It Hiong melirik, mau ia membuka mulutnya atau ia batal.

Hong Kun melihat sikap orang, dia tertawa berkakakan,

Tonghong Liang telah berpikir, maka juga sembari tersenyum, ia berkata pada muridnya Gwa To Sin Mo

:"Saudara Bu Pa! baiklah kau merubah dan sekarang kau minta It Hiong ini yang mengangkat sumpah untukmu! dia sudi bersumpah untukmu, sungguh dialah orang kang ouw sejati!"

Diam-diam Bu Pa dan In Go melengak keduanya mengawasi Hong Kun. tak sedetik juga yang mata mereka berkedip.

Hong Kun kaget sekali, kata-katanya Tong Hong liang itu membuatnya sadar bahwa ia seperti telah membuka rahasia sendiri. ia menyebut nama Tio It Hiong sedangkan ia sendiri mengaku menjadi Tio It Hiong yang tulen. tadinya ia pernah mengatakan dialah Tio It Hiong palsu, mudah akan mengangkat sumpah tetapi merobohkan Bu Pa itulah sukar...

Tapi murid dari It Yap Tojin itu tidak kekurangan akal. ia bermuka tebal, terus ia berlaku tidak tahu malu, ia pikir, biarlah orang ragu-ragu terus tentang dirinya dan It Hiong, maka ia lekas berkata lagi:"Akulah Tio It Hiong palsu! mana mungkin nona In Go Mau percaya aku?"

Tepat itu waktu, terdengar pula suara tajam dari si orang tua keriputan tadi. dia itu berdiri terpisah jauh dari mereka. kata dia :"Apa kataku si orang tua? kalian berdua semuanya Tio It Hiong palsu? nah, sekarang ini tampaklah ekornya si rase?"

Suara itu dsusul dengan tawa nyaring tak sedap didengar Semua orang melengak. Justru itu suara tersebut kembali

terdengar, kali ini:" Sebenarnya masih bagus aku cuma mengatakan kalian adalah Tio It Hiong palsu! sebenarnya kalian adalah dua buah kantung nasi! bahwa saja mendengar nama-nama murid Gwa To Sin mo--kamu sudah takut melawannya, kamu berdualah saling dorong, saling tolak menolak ! sungguh sangat memalukan!--Hm!"

Dua-duanya It Hiong dan Hong Kun mendeongkol sekali mendengar kata-katanya arang tua berkulit muka keriputan itu, bahkan si orang se Gak yang terlebih gusar, maka juga dia mendahului It Hiong membentak keras:"Seorang tua bangka masih tidak mengharagakan dirinya sendiri! bagaimana kau suka usil orang lain! Kenap akau mengaco belo? benar- benarkah kau berani? kalau benar, kemarilah kau? mari kita main-main buat beberapa jurus coba lihat siapa yang memalukan saja!"

Hebat dampratan itu semua menerka tentunya si orang tua akan sangat gusar. Bahwa bakal terjadilah peristiwa, semua orang lantas menoleh, dan mengawasi orang tua itu, guna menyaksikan apa sambutannya.

Sambutan itu sungguh diluar dugaan!

Si orang tua berdiri tenang, kepalanya di angkat, matanya mengawasi si putri malam, kemudian dia bertindak perlahan, kedua tangannya digendongkan dipunggungnya, ia berjalan mondar-mandir, ia berdiam saja, sedikitpun ia tidak menghiraukan suaranya Hong Kun itu.

It Hiong kemudian memperdengarkan suaranya, tetapi ia tidak berlaku kasar seperti itu.

Hong Kun ia hanya berkata:"Cianpwe, kau mengatakan kau dapat membedakan Tio It Hiong yang tulen dan palsu, aku kira itulah cuma kata-kata buat menipu orang saja. jika cianpwe benar pandai dan juga bernyali besar, silakan cianpwe datang kemari, guna membuktikan kami berdua siapa sebenarnya kantung nasi! coba cianpwe pastikan, siapa Tio It Hiong dan siapa si palsu!"

Baru saja mendengar suara tajam anak muda itu. si orang tua keriputan itu menoleh, terus dia mengawasi dengn suaranya yang dingin :"Jika kalian berdua memikir menyuruh aku si tua turun tangan buat memberi hajaran kepadamu, buat itu kamu harus menantikan kesempatan yang baik, kalau telah tiba saatnya yang aku sedang bergembira! apa saja kamu kira dengan dua tiga dampratan saja kamu dapat membuat aku gusar atau turun tangan? tidak! Tidak demikian mudah!"

Bu Pa gusar sekali, si orang tua itu, menurut anggapannya, telah mengganggunya, suaranya juga tidak sedap di telinga.

"Tua bangka tak mau mampus!" dampratnya, sengit "Bagaimana di depan Tio Tayhiap kau berani omong tentang tulen dan palsu? lekas kau pergi!"

Masih si pelajar tidak bergusar, dia cuma tertawa dingin berulang-ulang.

*****

sembilan puluh dua

"Tio It Hiong sudah kabur keluar lautan?" kata dia, "Dia telah terdampar sampai di kouw long-ta. Jika tidak ada aku si tua yang menolongnya, pasti dia sekarang sudah tinggal tulang belulangnya yang berserakan di pesisir pasir! Mana dia mempunyai jiwanya lagi?"

It Hiong mendapat kesan bahwa bicara nya si tua itu benar adanya, hanya saja kapannya dia telah tiba di kouw long-ta? maka itu ia lantas berpaling kepada Gak Hong Kun, yang diam melengak.

Hong Kun menginsafi kata-katanya si tua. ia menerka si tua mestinya Hay Thian It siuw, si kokok beluk laut, yang tinggal menyembunyikan diri di kouw long ta, hanya itu, setahunya, Hay Thian iT Siauw bermuka merah, berhidung bengkung dan potongan mukanya mirip muka kuda, dia ini sebaliknya berkulit muka keriputan, ia menundukkan kepala seakan mikir itu.

It Hiong mengawasi, ia melihat lagak orang itu, ia menerka apa yang dia itu pikir.

"Saudara Gak, kenalkah kau akan orang tua ini?" ia tanya sabar. "siapakah dia?"

Panggilan "saudara Gak" itu membikin Hong Kun terkejut, panggilan itu menyatakan sendiri bahwa It Hiong ialah It Hiong, toh terpengaruh pertanyaan itu dia menjawab singka" Mungkin dialah Hay Thian It Siauw yang hidup menyendiri di kouw long ta. "

Nama Hay Thian It Siauw membuat It Hiong terkejut di dalam hati. Jago tua itu muncul pula, mungkin dia ada sangkut pautnya dengan pertemuannya di In Bu San nanti, maka itu makin perlu saja ia mendapatkan pulang pedangnya mustikanya.

"Bagaimana?" ia tanya dirinya sendiri.

"Apakah perlu aku merampasnya dengan kekerasan?" karena berpikir begini, ia lantas mengawasi Kiauw Couw.

Justru itu terdengar tawanya Bu Pa, yang terus berkata keras "Mahluk menjemukan itu benar-benar mengacau kata! adik, kau lihat, hendak aku mengusirnya pergi!"

Tatkala itu, sang fajar tengah mendatangi, sang rembulan telah tenggelam ke arah barat, sang angin mendadak saja datang menderu-deru, membuat pepohonan tergoyang- goyang keras. "Cis"In Go memperdengarkan suaranya, "Buat apa memperdulikan dia? urusan kita lebih penting! Kau mau urus atau tidak ?"

Bu Pa heran hingga ia membuka matanya lebar-lebar.

"Sabar,adik" katanya bermohon, "Sekarang ini hatiku sedang bingung, tak dapatkah kau mengalah sedikit dengan kau merubah syarat itu dengan yang terlebih ringan?"

Sang adik seperguruan menggeleng kepala.

"Kakak, apakah kau takut akan kesulitan dan hatimu telah berubah?" tanyanya.

"Kenapa? benarkah kau menghendaki aku menukar pikiranku?"

Suara si nona halus tetapi nadanya tajam.

Nona Tonghong mendengar pembicaraan orang, dia tertawa.

"Aku mendapat sebuah pikiran, yang ada baiknya buat kedua belah pihak!" katanya.

"Tinggal kau, adik, kau sudi menerimanya atau tidak?. "

In Go mengawasi Kiauw Couw, dia agak tertarik hati. "Pikiran apakah itu, kakak?" tanyanya cepat. "Coba kakak

jelaskan!" Tonghong Kiauw Couw mengawasi nona itu, dia bersikap sungguh-sungguh.

"Menurut kau, adik apakah sudah pasti yang kau baru mau menikah dengan kakakmu kalau kakakmu itu telah dapat mengalahkan Tio It Hiong?" tanyanya.

Mukanya In Go menjadi merah, tetapi dia mengangguk. "Ya" sahutnya.

"Sekarang ini Tio It Hiong telah dapat dicari" Kiauw Couw berkata pula "Tapi disamping itu, adik. kau kuatir kakakmu dan saudara Tio itu berkongkol, kau bercuriga yang mereka berdua akan main gila supaya Tio It Hiong berpura-pura kalah karena itu, benarkah kau menghendaki Tio It Hiong mesti mengangkat sumpah?"

In Go mengangguk  pula. "Benar" sahutnya, dia tetap likat. Tonghong Kiauw Couw tertawa.

"Rupanya kau masih belum sadar, adik!" demikian katanya. "Taruh kata benar mereka berdua bersekongkol dan Tio It Hiong berlagak kalah, bukankah itu baik sekali untukmu? bukankah mereka telah melakukan perbuatan mereka dengan maksud baik?"

"Siapa yang menghendaki mereka bersekongkol dan Tio It Hiong mengalah?" kata In Go, suaranya tetap. "Aku hendak menguji kepandaian sungguh dari kakak seperguruanku itu!" "Nah, bagaimanan andaikata kakakmu kalah?" nona Tonghong menanya pula.

"Aku akan menjadi pendeta!" sahut In Go tanpa berpikir pula. "akan aku cukur gundul rambutku dan menjadi nikouw! demikianlah perjanjiannya kami dahulu! dalam hal itu aku tidak menyesal!'

Kiauw Couw terharu mendengar jawabannya nona itu, yang tabiatnya aneh dan teguh, biar bagaimana, ia bingung juga, lalu ia menghela napas perlahan.

"Sungguh cinta sejati!" katanya kemudian "hanya itu dibalik itu sang penasaran dan penyesalan tengah mengancamnya! oh, adik yang baik, aku harap janganlah sampai tejadi kesalahan besar di belakang hari, sebab Yaitu akan berarti penyesalan seumur hidup!"

In Go mementang mata lebar mengawasi nona di depannya itu, hatinya tergugah mendengar disebutnya penasaran dan penyesalan tanpa terasa, air matanya meleleh keluar.

"Perjanjiannya tak dapat dapat disangkal!" katanya, "hal itu tak dapat dibuat sesalan. kesudahan urusan ini, bagus atau buruk, tergantung kepada kepandaiannya kakakku ini?"

"Orang yang palsu atau yang sengaja mengalah, tak aku terimah baik. !" sahut si nona tergas.

"Siapa yang tulen dan siapa yang palsu tak dapat aku menentukannya," berkata Kiauw couw, walaupun demikian, aku kira, dapat kita minta mereka jangan mau mengalah..."

In Go berdiam dia hanya mengawasi nona di depannya ini. Nona Tonghong menunjuk pada It Hiong, ia tanya nona itu

:"Bukankah tadi kakakmu menunjuk Tio It Hiong ini untuk diajak bertempur?"

In Go mengangguk.

"Tetapi dia tidak mau mengangkat sumpah. dia harus di curigai!" sahutnya.

Nona Tonghong menunjuk Gak Hong Kun,

"Dan ini tuan Tio It Hiong, dia telah mengatakan suka mengangkat sumpah, bukan ?" tanyanya.

"Benar" jawab In Go, "Tetapi kakakku tidak sudi bertempur dengan dia!"

Kiauw Couw tertawa.

"Nah, disinilah terletak cara pemecahannya!" bilangnya, "Maksud ialah membuat mereka dua Tio It Hiong! biarlah yang bersedia bersumpah mengangkat sumpahnya dan yang suka bertempur melakukan pertempurannya dengan kakakmu! bukankah itu bagus?"

"Bagus!" Bu Pa mendahului menyatakan persetujuannya, bahkan dia bertepuk tangan. "Cuma kau yang cerdas, nona yang berhasil mendapatkan cara pemecahannya ini! nona, aku sangat kagum terhadapmu!"

In Go melirik kakaknya itu, dia membungkam.

Hong Kun mendengar semua itu, dia berpikir: "Memang aku menyatakan bersedia buat mengangkat sumpah, tetapi aku mengatakannya itu cuma guna mendorong hatinya Tio It Hiong supaya dia berkutat melayani Bu Pa bertempur, tak peduli siapa yang kalah atau menang diantara mereka, aku hanya tetap menyaksikan suatu tontonan yang menarik hati! baiklah, akan aku berikan sumpahku!" Maka ia lalu berkata "Demi membantu menyempurnakan jodoh kalian berdua, aku suka mengangkat sumpah! nah, kalian dengarlah!"

Dengan sikap gagah, Hong Kun mengajukan diri, lantas ia menunjuk keatas lalu kebawah! segera terdengar sumpahnya

:"Raja di langit dan ratu di bumi menjadi saksi, disini Tio It Hiong dan Bu Pa hendak mengadu kepandaian silat, jika ada salah satu yang mengalah dan berpura kalah, biarlah dia dikutuk biarlah bajingan membetot arwahnya dan siluman merampas sukmanya, supaya tubuhnya dikutungkan dua dan dicincang!. "

"Bagus! bagus! " nona Tonghong berseru memuji, hingga karenanya , kata-katanya Hong Kun kena diputuskan, dia tidak meneruskan hanya terus dia menghampiri It Hiong kkan berkata pada pemuda itu:"Sekarang tinggal kau, sahabat"

It Hiong segera berpikir :"Aku tidak bersumpah, tidak apa aku mengalah terhadap Bu Pa ini pun guna membantu jodoh mereka itu dapat dirangkap! bukankah itu bagus dan baik sekali?"" maka segera ia mengambil keputusan, terus ia menyapa Bu Pa "Saudara Bu Pa, mari! sudilah kau memberi pengajaran padaku?"

"Baik!" sahut Bu Pa lantas, bahkan ia segera lompat menghampiri sejauh dua tombak!

It Hong pun lompat menghampiri, ia memberi hormat, yang dibalas oleh muridnya Gwa To sin mo, yhabis itu, keduanya sudah lantas merapatkan diri, buat mulai mnyerenag dan menangkis buat bertempur. Bu Pa menggunkan Ilmu silat "Ngo heng Ciang,"--tangan panca berdua, sedangkan It Hiong mengeluarkan hang liong Hok kuhouw kun. mulanya Biasa saja, lambat laun pertandingan berubah menjadi seru.

In Go adalah orang menaruh perhatian paling besar, mulanya ia memasang mata guna menjaga agar ia tidak sampai kena diselomoti. mulanya itu, ia terus curiga, hatinya lega selekasnya ia menyaksikan kedua pemuda itu bertempur dengan seru, dengan bersungguh-sungguh.

Orang kedua yang perhatiannya sama sseperti si nona adalah Gak Hong Kun, si licik yang tengah mengadu domba, ia mau mencelakai It Hiong, maka ia mencari cara rahasia orang andaikata It Hiong berlagak kalah. ia ingin membangkitkan kecurigaan dan kemarahannya In Go.

Tonghong Kiauw Couw menaruh perhatian tetapi ia hanya untuk menyaksikan cara kerjanya It Hiong, ia ingin pemuda itu tidak digembrengi pula oleh In Go, si nona aneh, tipu apakah yang It Hiong bakal gunakan?

Tonghong Liang tak terdengar lagi suaranya, kiranya dia tengakh duduk bersemedi di tanah, mata dan mulutnya rapat, hidungnya bekerja dengan tenang, ia mirip orang yang lagi tidur pulas.

Di tengah kalangan, kedua pemuda itu terus bertarung, angin, yang disebabkan gerak-gerik mereka terdengar jelas. Hang Liong Hok Houw Ciang dan Ngo Heng Ciang memiliki masing-masing keistimewaan, buat sementara, tak terlahat yang mana yang terlebih lemah. Dalam hal tenaga dalam. It Hiong mencapai kesempurnaan tetpai juga Bu Pa adalah hasil latihan selama kira-kira dua puluh tahun, di dalam kalangan kaum sesat, dia menjadi bintanganya yang mentereng!

Lewat satu jam kemudian maka tampak sang pagi yang cerah, di ufuk timur muncul cahaya terang, burung-burung pada bernyanyi, angin fajar pun halus dan mendatangkan rasa nyaman.

Pertarungan berlangsung terus , tetap makin seru, kalau tadinya In Go merasa hatinya lega, perlahan-lahan ia mulai berkhawatir, biar bagaiman ia menguatirkan kakaknya salah tangan dan itu dapat mendatangkan ancaman maut, karenanya pada parasnya tampak tampang lesu atau tak tenang hati. lantas ia menghampiri Tonghong Kiauw couw....

"Kakak!". panggilnya, suaranya tidak lancar.

Nona Tonghong menoleh. "Ada apa?"

"Kakak,"tanyanya pula In Go, "Bagaimanakah pandangan kakak? siapa yang bakal kalah atau menang?"

Kiauw Couw menatap muka orang, ia pun memperhatikan suaranya si nona.

"Siapa tahu?" kemudian jawabnya, yang berupa pertanyaan juga, "kalau angin dari hujan dahsyat saling bermunculan, siapa tahu apa akibatnya nanti?"

In Go menarik napas perlahan. "Aku cuma menghendaki mereka menguji kepandaian, siapa tahu mereka seperti berkelahi, untuk hidup dan mati," katanya suaranya tak wajar lagi.

Kiauw Couw mengawasi nona itu.

"Kalau dia terhajar mati dengan satu tangan, itulah sepantasnya," katanya sengaja, "siapa suruh pelajaran silatnya tidak sempurna?"

In Go terkejut, kata-katnya nona itu telak mengenai perasaan khawatirnya.

"Kakak, lihat!" tiba-tiba dia berkata nyaring.

Nona Tonghong terperanjat juga, segera ia menoleh, hingga ia masih sempat melihat It Hiong berkelit dengan melengakan tubuhnya kebelakaag, menyelamatkan diri dari satu hajarannya Bu Pa, sebab nampak dahsyat itulah pukulan yang dahsyat sekali. hanya itu selagi tubuhnya itu melengak sebelah kakinya anak muda ini diluncurkan mengarah ke ulu hati lawannya!

Menyusul suara nyaring dari In Go, tubuhnya Bu Pa  nampak roboh terjengkang, hanya saja, dia bukan terus roboh terguling untuk terkulai di tanah, dia justru dapat meneruskan berjumpalitan, hingga diapun bebas dari dupakan lawannya itu

Menyaksikan kesudahan itu, tiba-tiba In Go tertawa dan berkata:"Oh, sungguh hebat, kakak! nyata ilmu silatmu sempurna sekali" inilah sebab dia merasa lega dan bersuka cita.

Tonghong Kiauw melirik nona itu diam-diam dia tersenyum. Sementara itu, pertempuran telah dilangsungkan, tetap makin seru,

Gak Hong Kun menonton dengan hati puas, ia percaya akhirnya kedua pemuda itu akan kehabisan tenaga dan itu dapat mengakibatkan mereka dapat terluka didalamnya. Di Hek Sek Han, pernah ia berkelahi sehebat ini demikian melawan Bu Pa, syukur ia dapat ditolong dengan obat mujarab dari Gwa To Sin Mo, sekarang, kalau mereka berdua itu roboh, siapa nanti yang menolongnya? maka juga jiwa mereka adalah bagian mati.....

Saking girang, tanpa merasa muridnya Yap To jin ini tertawa sendirinya!

In Go menoleh, dia heran. "Kenapakah kau tertawa?" tergurnya. Hong Kun tertawa lagi. geli tawanya.

"Nona salah mata!" sahutnya. "mereka itu tengah bersilat balik mengawasi nona yang lagi menangis dengan ilmu silat kembang, cuma kau saja yang kena dikelabui!"

"Ngaco belo!" bentak si nona. Hong Kun tertawa pula.

"Habis," tanyanya, "Habis apakah nona sangka mereka itu tengah berkelahi dengan sungguh-sunggguh?"

"Apakah itu perlu dibilang lagi?" Hong Kun menoleh, mengawasi pertempuran, ia agaknya sangat memperhatikan karena heran.

"Kalau mereka bersungguh-sungguh, sungguh mereka berdua seimbang kepandaiannya!" katanya kemudian, nadanya mengejek. "Nona, pertempuran mereka itu bakal menyebabkan mereka berdua kehabisan tenaganya! bagaimana kalau kejadian mereka terbinasa karenanya? apakah dengan demikian nona tak bakal menjadi janda?"

Hatinya In Go tercekat, itulah kata-kata yang ia tidak siap. ia memang lagi menghawatirkan keselamtan kakak seperguruannya itu.

"Kalau sampai terjadi begitu, terserah kepada takdir. "katanya sambil menghela napas.

Hong Kun tertawa.

"Tak dapat kau menjadi janda nona!" katanya, "Jangan terlalu berduka!"

In Go heran, lalu ia menjadi bergirang, tiba-tiba saja ia memperoleh harapan.

"Bagaimana kau lihat kakak seperguruanku itu?" ia bertanya, "apakah ia bakal menang?"

"Bukankah begitu, nona. "jawab Hong Kun, karena dia

memang memikir lain, dia bukan mau mengatakan Bu Pa bakal menang, dia memikir sesuatu buat kepentingan dirinya sendiri, dia mengarah nona itu....

"Kau bicaralah!" desak si nona, yang seperti telah habis sabarnya, "Kenapa kau bicara setengah-setenagah?" Hong Kun mengawasi, alis dan matanya bertemu.

"Jikalau kakak seperguruanmu itu mati" katany sembari tertawa, "Masih ada aku! maka itu mana dapat kau menjadi janda!"

In Go kaget saking gusarnya, matanya lantas mendelik. "Jahanam!" dam pratnya. "Bagaimanan kau menjadi begini

kurang ajar! lihat" dan tanganya segera melayang!

Hong Kun berkelit.

"Hargailah dirimu nona!" katanya. "Jangan kau turuti saja adatmu dan mudah menyerang orang! hahaha.."

Kiauw Couw maju menghampiri nona itu, ia tarik lengannya.

"Jangan layani dia," bujuknya, "Sebenarnya apakah yang dia katakan barusan?"

Dadanya In Go berombak, tak dapat ia menjawab, ia justru menjerit menangis.

Tonghong Liang tersadar tangisan itu. ia membuka matanya dan berjingkrak bangun, untuk terus melemaskan pinggangnya, kemudian ia mengawasi Hong Kun sambil ia memperlihatikan wajah tersungging senyuman, kemudian lagi ia balik mengawasi nona yang lagi terseguk-seguk itu.

Segera bocah ini mengerti bahwa terntunya si pria telah menggoda si nona, memang ia jemu terhadap pria itu, sekarang ia jadi membenci, diam-diam ia mengumpulkan ludahnya serta juga tenaga dalamnya, setelah itu mendadak ia meludah pada pemuda itu yang dibencinya itu!

Hong Kun kaget sekali, dia tengah menggoda In Go, serangan gelap itu diluar dugaannya, telak mukanya kena terludahkan, selagi kaget itu, ia pun merasakan mukanya panas dan nyeri, serangkum hidungnya mencium bau yang tak sedap, tapi ia tidak menjadi gusar, ia menyangka In Go yang meludahinya, dengan sabar ia menyusuti mukanya.

"Kau baik sekali, nona!" katanya semabari tertawa, "Kenapa nona tidak meludahi saja mulutku? pasti harapannya bertambah-tambah dan itu menandakan cintamu padaku"

Tonghong Liang tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana kalau sekali lagi?" tanyanya, yang terus

meludah pula!

Hong Kun melengak. lalu gusar, kiranya dia diganggu si bocah nakal lantas mendadak saja dia serang bocah itu!

Tonghong Liang melihat serangan, dengan mudah ia berkelit, habis itu ia melompat maju, untuk membalas menyerang dengan pedangnya.

Hong Kun panas hati, dia berkelit lalu terus menyerang pula, maka dengan demikian, bertempurlah mereka berdua, hanya sementara itu, belum sempat ia menghunus pedangnya,

Diantara dua orang, walaupun Hong Kun tanpa senjata, dia menang latihan serta pengalaman pertempuran, dan si bocah menang bunga dan pedangnya yang cepat gerak-gerakannya, maka sekilas, Hong Kun kalah angin..... Sedikit demi sedikit, Tonghong Liang mendesak lawannya sampai si lawan mundur dua tombak lebih, maka juga ketika itu ditanah datar berlumpur itu tampak dua rombongan orang yang lagi mengadu kepandaian.

In Go dan Tonghong Kiauw Couw lagi memperhatikan Bu Pa dan Tio It Hiong mereka sampai seperti melupakan Tonghong Liang dan Gak Hong Kun,

Didalam rombongan It Hiong, si anak muda mesti berkelahi dengan berhati-hati sekali, ia tidak dapat memperlihatkan kelemahan yang dibuat-buat atau nona In Go bakal mencurigainya, maka juga, ia mesti mencari suatu kesempatan, yang mana segera gunakan.

Mula-mula anak muda kita menyerang dengan Jurus, "kay bun kaiu san" --membuka rimba melihat gunung,--disusul dengan" tongcu pay hud,--kacung memuja sang budha. kedua tanganya dilonjorkan. maksudnya buat memancing Bu Pa mengunakan jurus silat "ngo lui kek liang,"--Lima guntur menindih batok kepala.

Benar-benar muridnya Gwa To sin Mo kena dipancing, benar-benar dia lantas menyerang dengan jurusnya yang dahsyat itu, tangan kanannya yang berupa seperti sambaran guntur itu.

It Hiong segera menggunakan akal biasa, ia membuang tubuhnya ke belakang, mengelak dengan jurus "sia kwa leng kie,"--miring menggatung bendera, hanya kali ini ia sambil berseru seperti berbisik:"gunakanlah kesempatan ini! "isyarat itu disusul dengan satu tendangan. Bu Pa tercengang sedetik atau segera dia menyambar dengan tangannya, menyambar kaki orang, ketika It Hiong menarik kakinya, sepatunya copot sebab terus terpegang kena oleh lawannya.

Lantas Bu Pa tertawa dan berkata :"Terima kasih, Tio taihiap! kau telah mengalah terhadapku"

It Hiong menghela napas, ia menunjuki tampang sangat menyesal.

Bu Pa tidak menghiraukan lagi keadaan orang, dia hanya lantas menoleh kepada adik seperguruannya, buat terus berlari seraya berkaok girang :"Adik, adik In Go, kau lihat!" dan ia mengancungkan sebelah tanganya, mengangkat tinggi sepatunya It Hiong yang terus ia pegang saja.

In Go meliat itu, diapun lari menghampiri, kegirangannya bukan kepalang ia menubruki dan merangkul Bu Pa dengan Ia tak dapat bicara, ia merangkul erat-erat dan meletakkan kepalanya didada sang suheng, kakak seperguruannya.

Tonghong Kiauw Couw juga lari menghampiri.

"Saudara Bu Pa. kau hebat" pujinya. "Kau mengagumkan! aku beri selamat padamu, buat perjodohan kalian yang terangkap dengan indah.

Bu Pa sangat girang, dengan sebelah tangannya, merangkul In Go, tangannya yang lain mengangkat tinggi memperlihatkan sepatu rampasannya.

"Terimah kasih! terima kasih! kau memuji saja!" serunya. Dengan langkah jingkat. It Hiong terus menghampiri, ia memberi hormat pada Bu Pa seraya berkata :"Saudara Bu Pa. terimah kasih untuk kebaikanmu, yang menaruh belas kasihan padaku,"

"Oh, saudara, kau terlalu merendahkan diri!" kata Bu Pa. "Saudara Bu Pa! kata pula It Hiong menggoda. "Kalau nanti

tiba saatnya buat minum arak kebahagiaan, aku harap kau jangan lupa aku--tapi , eh. adikmu itu, kenapa dia berdiam saja?"

In Go mendengar semua, ia girang berbareng jengah, ia malu sendiri, maka ia mendekam terus di dada kakaknya seperguruannya itu, sang kekasih.

Kiauw Couw tertawa melihat lagak nona itu, kemudian ia tertawa pula kapan ia melihat mengawasi sepatunya It Hiong, ditangannya Bu Pa.

It Hiong pun ingat sepatunya.

"Saudara Bu Pa, bagaimana kalau kau kembalikan padaku barang tanda kemenanganmu itu?" tanyanya tertawa.

Bu Pa lupa pada sepatu orang, atas tawa dan kata-katanya muda-mudi itu, dia bingung .

"Apa?" tanyanya pada It hinog.

"Itu, sepatu yang menjadi perantara jodoh kalian berdua!" sahut si anak muda, "maukah kau memulangkannya padaku?" Baru sekarang Bu Pa sadar, ia melihat sepatu ditangannya, terus ia tertawa, maka lantas ia melepaskan tubuhnya In Go. akan ia melompat pada It Hiong.

"Aku lupa!" katanya seraya terus memakaikan sepatu orang.

Selagi Bu Pa bekerja itu, telinga mereka berempat mendengar suara nyaring dar bentrokan senjata tajam, maka semua lantas menoleh, maka sekarang baru mereka ingat yang Tonghong Liang sedang bertempur hebat dan suara itu disebabkan beradunya senjata mereka itu berdua!

Selama bertempur, terus Tonghong Liang mendesak lawannya, ia dapat berbuat begitu sebab ia bersenjatakan pedang dan ilmu pedangnya ilmu pedang kilat, Hong Kun terus main melompat, mundur atau menyamping ke kiri dan kanan, desakan si bocah membuatnya tak sempat menghunus pedang dipunggungnya, untung buat ia ialah keuletannya dan tenaga dalamnya yang terlebih mahir. beberapa kali ia menghajar dengan hebat tetapai selalu gagal, sebab lawannya gesit sekali, barulah selagi Bu Pa dan In Go kegirangan, selagi Kiauw Couw dan It Hiong mengghoda dan meminta sepatu itu, waktu itulah baru Hong Kun memperoleh kesempatannya.

Tiba-tiba murid cerdik dan licik ini dari It Yap Tojin menggunakan waktunya, disaat ia diserang mendadak ia menjejakkan tanah melompat jauh setombak jauhnya, dan selekasnya ia menaruh kaki sebat luar biasa, ia menghunus pedangnya, maka itu, ketika Tonghong Liang menyusul dan menikam pula, sempat ia menangkis dengan pedangnya, hingga senjata mereka beradu keras, habis itu, segera ia membalas menyerang, dengan menggunakan pedangnya, dengan cepat ia mencoba membalas menyerang. Kiauw Couw terkejut mendengar suara pedang, apapula selekasnya ia melihat adiknya mulai didesak Hong Kun, tidak ayal lagi ia melonpat berlari, akan menghampiri adiknya, cepat ia tiba, tepat Hong Kun membacok adiknya itu, terus saja ia mewakili adiknya menangkis, selagi si anak sendiri mengegos tubuhnya, begitulah pedang mereka beradu keras, menyusul mana Hong Kun melompat mundur, karena pedangnya mustikanya keras lawan keras, karena si nona telah menggunakan Keng Hong Kiam pedang mustika juga!

Dengan sinar mata gusar, Kiauw Couw mengawasi tajam pada Hong Kun, habis itu ia menarik tangan adiknya, buat di ajak pergi ke rombongannya It Hiong bertiga Bu Pa dan In Go.

Hong Kun tidak berkata apa-apa, dengan langkah perlahan ia susul muda-mudi itu, pedangnya ia masukkan kedalam sarungnya selagi ia berjalan.

Bu Pa dalam kegirangannya menyambut Tonghong Liang tahu siapa terus ia tepuk-tepuk.

"Saudara, hari ini kita berdua beruntung sekali!" katanya, gembira, "Kita telah dilindungi tuhan yang maha kuasa!"

Ketika itu hatinya Tonghong Liang masih sedikit berdebaran sebab ia ingat ancaman bahaya dari lawannya tadi, syukur kakaknya ia dapat menolong pada saatnya yang tepat, ia mengawasi Bu Pa tanpa mengatakan sesuatu.

Tio It Hiong sebaliknya, pemuda ini dengan bersemangat berkata: “Setiap laki-laki sejati, dia mesti bersedia menghadapi golok yang dapat mengucurkan darah atau pedang yang akan menerbangkan semangat, siapa yang dapat berbuat barulah dia sanggup mengangkat namanya didalam dunia sungai telaga! kali ini satu ancaman bahaya berarti tambahan pengalaman! maka itu, saudaraku yang muda, kau harus ingat ini baik-baik! jangan sekali-kali kau menjadi takut!"

Kata-kata gagah itu sangat meresap dalam hatinya Tonghong Liang.

"Akan aku ingat baik-baik!"demikian jawabnya. "Kalau mesti bertempur lagi sekali, akupun tidak takut!, " lantas dia menoleh pada Kiauw Couw, sang kakak, untuk berkata:"Kakak, pedangmu itu hebat! bagaimna kalau lain kali ada kesempatan, dapatkah kau mencurikan pula sebuah untukku?"

Dasar masih seorang bocah, enak saja si Liang ini

,mengutarakan kata-katanya itu. satu kali kakaknya "Mencuri" pedang orang, ia menyangka lain kali kakaknya itu boleh mencuri pula.

"Hus!" berseru sang kakak, yang terus tertawa. "dirumah ada sebuah golok mustika yang tajam luar biasa, yang dapat dipakai menguntungkan emas atau membelah batu kemala, kenapa kau justru menghendaki pedang?"

Matanya Tonghong Liang berputar, otaknya bermain. "Tidak" sahutnya, "Golok tidak cocok bagiku! aku menyukai

sekali pedang!"

Inilah sebab dia terpengaruh pedang lihai dari Hong Kun.

It Hiong rada bingung, ia khawatir anak itu menginginkan Keng Hong Po Kiam. kalau begitu, urusannya dapat menjadi berlarut-larut, sedangkan pedang itu ia sangat butuhkan, bagaimana kalau ia terlambat hadir di In Busan? maka ia lekas-lekas berkata pula:"Adik, siapa hidup merantau, pribadinya harus melebihi golok dan pedang mustika! mengertikah kau akan hal itu?"

Tonghong Kiauw Couw mengawasi Tio It Hiong, mulanya ia heran, atau dilain detik, ia insaf, maka ia lantas menandingi:"Benar, kata-katamu benar, tuan Tio! hampir aku kena dilibat keinginan memiliki pedang mustika!"

It Hiong mengangguk, masih ia berkata pula:"Masih ada satu hal ! buat apa memiliki pedang mustika kalau kita tidak sekalian memiliki pribadi tinggi? dengan begitu, mudah sekali kita mengundang datangnya bahaya maut, tanpa pedang tetapi hanya membekal pribadi luhur, dapat juga kita merantau, keselatan atau ke utara, dan di empat penjuru lautan, kita menanam memupuk persahabatan!"

Mendengar itu Hong Kun turut bicara, katanya, "Itulah cuma cara bicaranya si orang sekolah, cuma buat mengelabui orang banyak, --Hm! bagaimana dengan jiwanya bocah ini barusan? dia telah ditolong oleh pribadi luhurkah, Hahahaha! siapakah hendak kau perdayakan?"

Tonghong Liang tunduk, ia memikirkan kata-katanya dua pemuda itu.

It Hiong menjadi gusar sekali. orang she Gak itu menjadi pengacau!

"Gak Hong Kun!" serunya.

Hong Kun kaget, orang menyebut she dan nama lengkapnya, sinar matanya lantas berputar, otaknya bekerja, hanya sebentar, ia lantas mendapat pikiran. "Dengan mata berputar, ia berkata keras."Gak Hong Kun, benarkah kau tidak tahu malu?" Ia menyebut Gak Hong Kun walaupun Gak Hong Kun adalahnya dirinya sendiri. didalam keadaan seperti itu, masih ia hendak mengacaukan pikirannya Kiauw Couw berempat.

Hong Kun berbuat begitu karena ia takut ada langkah dari Tonghong Kiauw Couw, ia ingin mengacaukan pikirannya nona itu, agar jangan berpihak pada saingannya itu, orang yang ia tengah sarukan tampang dan namanya, tegasnya, It Hiong ia jadikan Hong Kun! kembali ia mau perang uraf syaraf.

It Hiong gusar hingga ludeslah sisa kesan baiknya terhadapnya, dari merasa kasihan ia menjadi benci. maka dengan alis berdiri dan sinar mata bengis, ia menatap muridnya It Yap Tojin itu, lalu sembari menoleh kepada Tonghong Kiauw Couw, ia berkata:"Nona, aku memintah sudikah apakah kau mengembalihkan pedang mustika padaku, sekarang ingin aku membinasakan dahulu manusia jahat ini, kemudian baru aku mau pergi ke In Bu San guna membasmi semua bajingan agar tidak ada sisanya sekali pun satu iblis saja!"

Dalam murkanya itu, It Hiong menjadi keren sekali. lantas ia menghampiri nona Tonghong, untuk mengulurkan tangnya, buat mencabut pedang Keng Hom Kiam yang berada di punggungnya nona itu.

Kiauw Couw berkelit dengan ia mundur selangkah. "Tahan dullu!" katnya saabr,

Hong Kun sendiri sudah lantas melompat mundur sejauh lima tindak, untuk ia menghunus pedangnya-Kie Koat Kiam, untuk segera menantang:"Apakah kau sangka aku takut padamu? Hm,"

Nona Tonghong mengawasi It Hiong dan Hong Kun bergantian, terhadap It Hong kepadannya luar biasa, ia mencuri pedangpun melulu dengan maksud mencari pemuda itu, hanya buat apa, ia mencari pemuda itu, hanya buat apa , dia sendiri tidak tahu jelas, ia cuma merasa ada sesuatu yang mengingatkannya pada pemuda itu, tetapi itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, diluar dugaannya, sekarang muncul dua orang Tio It Hiong yang membuatnya ragu-ragu pikirannya Bimbang, disaaat terkhir itu, ia memikirkan pemecahannya. dan ia percaya kalau kedua anak muda itu dibiarkan bertempur, akan ketahuan siapa yang terlebih lihai dan pada orang itu ia ingin serahkan pedang Keng Hong Kiam.

Paling akhir ia melirik Hong Kun, yang sikapnya tembereng itu, setelah maju ia berkata:"Ada pedang mustika tanpa kejujuran, itu memudahkkan kebinasaan diri sendiri, maka itu kau sahabat, kau memmiliki pedang mustika tetapi kau tidak jujur, kau kurang bijaksana! kenapa kau menantang pada orang tanpa senjata mustika?"

Hong Kun tertawa.

"Habis, apakah maksudmu, nona?" dia bertanya. Tonghong Kiauw Couw tertawa.

"Supaya adil, baik kau tukar pedangmu dengan pedang biasa saja!" sahutnya "setujukah kau?"

Hong Kun tersenyum, otaknya bekerja, tak sudi ia mempercayai nona itu, ia curiga, bahwa mungkin orang mengarah pedangnya itu..... "Siapa tidak mempunyai pedang mustika, baiknya dia terima nasib saja!" kemudian katanya getas, "Buat apa aku diharuskan menukar pedang?" ia lantas menoleh, akan menatap It Hiong, untuk berkata keras:" "Gak Hong Kun, jika kau suka menyerah kalah maka aku, Tio It Hiong, akan memandang kepada persahabatan kaum kang-ouw, akan aku tak membinasakan kau habis-habisan! kau insaf sekarang?"

Hebat muridnya It Yap Tojin itu, sampai disaat itu, ia masih hendak membikin kacau pikirannya Tonghong Kiauw Couw! masih dia menyebut dirinya Tio It Hiong dan menyebut It Hiong sebagai Hong Kun!

Mendengar suara itu, hampir dadanya anak muda kita meledak saking panas hati, bagaimana rendah orang yang tadinya ia kasihani itu! tapi dasar sudah mahir latihan tenaga dalam, masih ia dapat menguasai dirinya. sebaliknya dari pada mengumbar hawa amarahnya, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya, akan menyalurkannya pada pedangnya, guna sewaktu-waktu siap digunakan.

Tonghong Kiauw Couw mengawasi kedua pemuda tu bergantian, ia tersenyum.

"Sahabat." katanya pada Hong Kun, "Tidak apa jika kau tidak sudi, menukar pedangmu. sekarang aku mempunyai satu cara lain, yang patut" ia memegang gagangnya pedangnya, lantas ia berkata:"Itulah cara pedang mustika melwan pedang mustika! Nah, bagaimana anggapan kalian berdua?" setelah berkata begitu, ia pedang Keng Hong Kiam pada ujungnya, terus menyodorkan gagangnya kepada It Hiong, ia mengulur tangannya perlahan.

Hong Kun tercekat hati. "Ah, aku tolol!" ia sesalkan diri, "Kenapa aku justru menyebabkan nona itu menyerahkan pedangnya pada lawan? mana mungkin pedang itu dikembalikan pada pemiliknya?" karena itu, dalam sejenak itu, , ia mengambil keputusannya dan segera melaksanakan itu! dengan kecepatan luar biasa, ia membabat pada tangannya si nona yang lagi diulur itu.

Penyerangan gelap itu tapinya gagal, selagi penyerangan dilakukan, satu serangan lain dilakukan terhadap si orang rendah, yang terhajar sikutnya, hingga tengannya tertolak keras dan pedangnya terlepas dan terbang! dengan menggertak gigi menahan nyeri, dengan tangan kiri memegangi sikut kanannya, dia lompat mundur menjauhkan diri!

Itulah It Hiong yang menyerang secara tiba-tiba sebab ia melihat nona Tonghong terancam bahaya, ia menyerang mendahului tanpa pikir lagi, sebab itulah perlu guna melindungi Kiauw Couw, iapun dapt menyerang lantas dengan dahsyat sebab ia telah mengerahkan tenaga dalamnya sejak tadi.

Ketika It Hiong sudah menyambut pedangnya, yang diberikan si nona selekasnya nona itu melihat bagaimana oarang berlaku kejam hendak menyerangnya, maka sambil menuding ia berkata keras, " Gak Hong Kun, pungutlah pedangmu! mari kita bertempur secara laki-laki! bagaimana hina kau membokong terutama terhadap seorang wanita!"

"Sungguh hebat!" Tonghong Liang berseru dengan pujiannya. "Sungguh cepat!" dia ia bersorak bertepuk tanganbp! Hong Kun tidak mengatakan sesuatu, lekas-lekas ia mengeluarkan obatnya untuk di telan tanpa bantuan air lagi, setelah mana ia melompat pada pedangnya guna menjemputnya itu, tapi ia tidak mencekal pedang memasukinya kedalam sarungnya! lalu dengan tampang gusar ia menegur anak muda kita kau sendiri, bukankah kau juga membokong aku? bagaimana nyaring kau berbunyi!"

Begitu ia berkata itu, begitu ia memutar tubuhnya buat berjalan pergi!

Ketika itu, Tonghong Kiauw Couw tertawa, ia telah melihat dan mengetahuinya,

"Emas sejati tak takut panasnya api" demikian katanya, nyaring, "kiranya kaulah si Tio It Hiong palsu!"

It Hiong panas.

"She dan nama dia yang sebenarnya ialah Gak Hong Kun," katanya pada si nona. "sudah sekian lama dia telah menyaru menjadi Tio It Hiong!!"

Justru itu Hong Kun, yang sudah ngeloyor pergi, balik kembali, langsung dia menghadapi nona Tonghong dan berkata secara temberang, "Nona, jika nona mau menyaksikan aku yang rendah menempur jahanam ini, silahkan kau datang kegunung In busan! sekarang ini aku tidak mempunyai kesempatan buat melayani dia!"

"Benarkah itu?" ejek Tonghong Liang, yang mendahului kakaknya membuka mulut. ia pun membuat main kedua belah tangannya di depan mukanya.

Biar bagaimana, panas juga hatinya Hong Kun. "Orang mulut jail, kau mencari susahmu sendiri!" bentaknya. "Kau lihat, nanti akan tiba saatnya aku memberi hajaran padamu!"

Kiauw Couw mengulapkan tangan pada adiknya, kemudian ia berkata pada orang jumawa tetapi licik itu:"Kalau orang Bu Lim mengadu kepandaian, biasanya dia mulai secara memuaskan, oleh karena itu kalian berdua buat mengadu kepandaian apa perlunya kau mesti menanti sampai waktu lainnya? kenapa naniti sampai di In busan?"

Hong Kun melengak, mukanya merah, ia bungkam.

It Hiong lantas berkata:"Rupanya nona belum tahu! lagi beberapa hari, yaitu tanggal lima belas bulan pertama saatnya kaum sesat menempur kaum sadar, sekalian kaum sesat berikut bajingan-bajingannya dari luar lautan, bakal berkumpul di gunung In Bu San, guna mengadakan pertemuan atau pertempuran yang mereka namakan Bu Lim Cit Cun. guna disana mendapatkan kepastian paling pandai, gagah dan lihai!"

"Benar demikian!" Hong Kun menyelutuk. "kau yang menamakan dirimu kaum sadar, jika kau berani, datanglah keau kesana! beranikah kau?"

It Hiong tertawa.

"Telah pasti aku akan menyambut tantangan itu" sahutnya. "Di sana aku nanti minta pengajaran dari kau kaum Heng San Pay!"

Hong Kun berdiam, karena ia ingat bahwa ia harus menjawab si nona, maka ia lantas berkata:"Kau benar, nona memang kalau kaum rimba persilatan bertempur, tak usah mereka memiliki tempat dan waktu, akan tetapi lainlah halnya aku dan jahanam ini, kami mau mengadu ilmu pedang kami sebab aku hendak memperoleh keputusan dalam urusan merampas isteri orang! di sana akan dapat diputuskan siapa yang bakal memperoleh julukan yang nomor satu dikolong langit ini!"

Tonghong Kiauw Couw Heran mendengar kata-kata?

Merampas isteri orang" itu pikirnya : "Siapakah yang merampas isteri orang? bagaimana duduknya itu? ia adalah seorang wanita, bahkan seorang nona, tidak heran kalau ia memperhatikan sekali soal itu, maka dalam herannya, ia tanya:" kalian bukannya mengadu pedang, kalian justru berebutan isteri! buat itu, kalau mau bertempur hidup atau mati! kenapakah?"

Hong Kun dengan sikap dan suara gagah berkata:"Di antara kami tidak ada satu jua yang dapat hidup bersama, karenanya kami harus mengambil keputusan dengan cara kekerasan! maka itu kebetulan sekali, kami hendak menggunakan saat pertemuan di In Bu San untuk mengambil keputusan! keputusan akan diambil di muka orang-orang gagah supaya jahanam ini mati puas! disini, cuma nona seorang yang menyaksikannya! biarlah dunia rimbah persilatan semuanya mengetahui segala kejahatannya dan dosa-dosanya!"

Gusarnya It Hiong bukan kepalang, akan tetapi ia masih dapat mengendalikan diri, maka juga sebaliknya daripada mengumbar hawa amarahnya, ia justru tertawa.

"Sahabat she Gak, benar katamu ini!" katanya. "Siapa yang tubuhnya penuh kejahatan dan dosa, nanti di In Busan dapat diputuskan! itu waktu sang pedanglah yang bakal memberikan keadilan!"

Hong Kun menunjuk pedang berikut sarungnya ditangan It Hiong, ia berkata pada nona Tonghong "Nona, kau telah kerna tertipu! bagaimana mudah kau menyerahkan pedang pada jahanam ini! bukankah nona seperti menampar pipi sendiri? bukankah nona bakal ditertawai orang?"

"Urusan mengembalikan pedangku adalah urusanku sendiri, bukan urusanmu!" menjawab si nona terang dan tegas. "Karena itu, tak berhak kau untuk mencampur tahu! aku tahu apa yang aku lakukan!" ia berdiam sebentar, baru ia menambahkan:"Sebenarnya aku ingin menyaksikan kalian berdua mengadu kepandaian, siapa yang menang dialah Tio It Hiong sejati, dia pula pemilik asli dari pedang Keng Hong kaim! siapa sangka, kau telah melepaskan hakmu? siapa yang harus disalahkan?"

Hong Kun terdesak, tetapi dia tertawa. "Aku yang rendah bukan melepaskan hakku!" katanya membela. "Aku hanya menjanjikan tempat dan waktu kepada jahanam ini! maka itu, nona, kalau aku benar-benar seorang yang menepati janji, aku minta kau jangan dahulu menyerahkan pedang sebelum ada pertempuran yang memutuskan!"

Kembali orang she Gak itu hendak menghasut, supaya si nona batal mengembalikan pedangnya.

Kiauw Couw cerdas sekali, tak mudah ia terpedayakan. maka juga ia berkata:" Bu Ie San tak dapat disamakan dengan In Bu San, dari itu, urusan pemulangan pedang dengan urusan pertandingan kalian berdua tak dapat disangkut pautkan! pedang itu terserah padaku, pada siapa aku merasa senang, kepadanya akan aku menyerahkannya! kau telah melepaskan hakmu, maka pedang aku serahkan pada sahabat ini!"

Gak Hong Kun melengak, gagal ia dengan lidahnya yang tajam.

"Nah, sampai jumpa pula di In Bu San!" kemudian ia berseru, terus ia melompat pergi, akan terus lari turun gunung!

It Hiong lantas memberi hormat pada si nona. "Nona, kau baik sekali, telah kau mengembalikan

pedangku," katany "Nona aku menghaturkan banyak-banyak

terima kasih! nona, lain waktu kita akan bertemu pula! sampai jumpa lagi!"

Begitu ia menutup mulutnya, It Hiong pun mau berlalu. "Tunggu dulu!" tiba-tiba si nona mencegah It Hiong

menundah kepergiannya.

"Kalau ingin bicara apa, nona?" tanyanya sabar.

Dengan tampang sungguh-sungguh, Kiauw Couw berkata:" Sebenarnya aku mengembalikan pedang ini, bertentangan dengan maksudku yang semula, maka juga hal itu kalau diketahui kang ouw, orang akan menertawakan aku, ah. "

Nona itu berhenti bicara dengan tiba-tiba , mukanya merah sendiri.

It Hiong dapat menerka kekhawatirannya si nona. "Bagaimana caranya mengembalikan pedang itu yang dapat membuat hatimu tenang, nona?" ia tanya.

"Coba kau memikirkannya" sahut si nona, dia justru membalikan.

It Hiong heran hhingga ia melengak, bagaimana justru ia yang harus memikirkannya.

"Jika aku yang memikirkannya nona, mungkin nona justru nanti tak menyetujuinya," sahutnya.

Nona itu tersenyum.

"Cobalah kau utarakan itu," katanya si nona "Percaya, tak nanti aku mempersulitmu. buatku sudah cukup asal itu selayaknya atau selaras..."

It Hiong heran juga, setelah urusan sampai begini jauh, masih ada ekornya yang berupa syaratnya aneh ini, "Bukankah mudah saja buat aku meninggalkan pergi" pikirnya, disaat itu, ia memang tidak mendapat memikirkan sesuatu, maka sekian lama ia berdiri diam saja.....

Ketika itu sudah mendekati tengah hari, diantara ranting- ranting pohon, burung-burung kecil beterbangan pergi datang dan turun naik sambil ramai mengasi dengan celotehnya. ditanah datar itu, sunyi segalanya.

Dalam keadaan diam itu, It Hiong mengangkat kepalanya melihat kelangit. Tiba-tiba ia melihat beberapa ekor burung elang lagi beterbangan. tiba-tiba juga ia ingat sesuatu.

Pikir, inilah saatnya buat ia memberi kepuasan pada si nona, siapapun telah berdiam saja. "Saudara Bu Pa, silahkan kalian datang kemari!" ia memanggil muda-mudi murid -muridnya Gwa To sin mo itu. yang tengah duduk berduaan dan berbicara asyik akan mencicipi madu asmara, hingga mereka melupai segala urusan lainnya, tak peduli It hiong dan Hong Kun telah bentrok.

Si anak muda masih harus mengulang-ulang panggilannya, baru Bu Pa berdua mendapat dengar dan menoleh, lantas si pria menarik tangannya si wanita, buat diajak lari menghampiri.

"Ada Perintah apakah tayhiap?" Bu Pa tanya sambil memberi hormat.

"Aku hendak meminta kembali pedangku ini, suka apalah kalian berdua menjadi saksinya, " kata It Hiong.

Bu Pa segera menepuk dadanya dan berkata:" Tayhiap, urusanmu ialah urusanku si Bu Pa, maka itu tak peduli ada urrusan bagaimana besar, aku berani bertanggung jawab"

In Go melirik dan berkata perlahan:"Orang belum lagi menjelaskan urusannya kau sudah tergesa-gesa tidak karuan. "

"Begini duduknya hal ini" It Hiong segera memberi keterangan:"Mulanya syarat si nona Tonghong akan mengembalikan pedang ialah si pemilik pedang harus bertempur dahulu dengan nona, dan kalau si pemilik menang satu atau setengah jurus , barulah pedang itu dikembalikan, tetapi sekarang telah berubah, maka si nona mengubah juga syaratnya itu, bahkan ia menghapus, tapi si nona khwatir orang kang ouw nanti menertawakannya, kalau ia menyerahkan dengan bersahaja, dari itu ia. " "Kau menghendaki kami berbuat apa, sahabat she Tio?" In Go bertanya .....

"Bagaimana harusnya aku bilang, kalian berdua cuma diminta menjadi saksi saja" sahutnya It Hiong. "kami tidak berani mmbikin berabeh atau sulit, "ia terus menghunus pedangnya. "Maka itu di depan kalian dan nona Tonghong, hendak aku pertunjukan ilmu silat pedangku yang buruk, itulah Gie Kiam hui Hong sut, ilmu pedang terbang, dengan pertunjukan ini aku harap akan dapat meyakinkan nona Tonghong dan membuatnya kelak tidak mendapat tertawaan orang yang tidak tahu duduknya urusan kita ini."

"Itulah bagus!" berseru Bu Pa dan In Go "Aku akur! suka aku menjadi saksinya."

Nyatanya Tonghong Kiauw juga menyetujui cara itu, katanya:"sahabat, dengan mempertontonkan ilmu kepandaianmu itu, aku anggap itu melebihkan cukupnya Bila kita mengadu pedang, bahayakan itu justru membuat kami tambah penglihatan serta pengetahuan! silahkan!"

"Baiklah, nona!" berkata si anak mudah, "Saudara Bu Pa, kalian saksikanlah,"

Segera setelah suaranya berhenti, It Hiong sudah lompat mencelat dengan Te Ciong sut, ilmu meringankan tubuh Tangga Mega, sembari berlompat itu, ia mementangkan kedua belah tangannya dalam sikap jurus "Pek ho liang ce," --jenjang putih membuka sayap, ia melompat tinggi dan kaki lebih berbareng itu, ia menghunus pedangnya, seterusnya ia melompat tak hentinya, tinggi jauh, hingga gerak-geriknya itu nampak mirip orang yang lagi terbang melayang mundar mandir, selama mana selain pedangnya dibulang-balingkan, hingga sinarnya pedang berkilauan, ia bergerak dengan sangat cepat dan lincah, hingga ujung bajunya pun terus berkibar-kibar.

Bu Pa berdua In Go, terutama Tonghong Kiauw Couw , juga Tonghong Liang, mengawasi tanpa berkedip, mereka sangat tertarik hatinya, kagumnya bukan main. bahkan Tonghong Liang yang kekanak-kanakan turut menjadi mendelong saja, dia merasa tegang sendirinya, tanpa merasa ia mendekati kakaknya akan memeluknya.

Lewat sekian lama maka tiba-tiba saja It Hiong mencelat ke depannya ke empat orang penontonnya itu, dia menginjak tanah tanpa suara, menandakan kesempunaan dari ilmu peringan tubuhnya itu, ia tersenyum dan berkata merendah:"Telah aku memperlihatkan pertunjukan yang buruk. "

Tonghong Kiauw Couw berempat masih mengawasi anak muda itu,

"Nona, bagaimana sekarang?" tanya si anak muda. "Cukupkah pertunjukanku ini menenangkan hatimu?"

Dari diam mengawasi, nona Tonghong lantas tersenyum. sekarang tenanglah hatinya, maka ia menjadi girang sekali. diam-diam ia sangat mengagumi pemuda tampan di depannya itu, yang memiliki kepandaian demikian lihai.

"Tadinya aku keliru memandang kau, tayhiap?" katanya kemudian mengakui kekeliruan pandangannya. "Aku harap tayhiap suka maafkan aku"

Selagi berkata begitu, nona ini melirik pada In Go dan Bu Pa, maka ia mendapatkan si nona In masih merangkul pacarnya, sebab tadi itu dia kagum berbareng ngeri menyaksikan pertunjukan luar biasa dari It Hiong itu, dia ternyata mendapat serupa kesan seperti Tonghong Liang mengenai kepandaian It Hiong, menyaksikan tingkahnya Nona In itu, ia jengah sendirinya, mukanya menjadi bersemu merah dadu.

Justru Kiauw Couw melirik padanya, justru In Go menoleh juga, maka dia menjadi likat sekali, sebab orang pergoki dia lagi merangkul Bu Pa, lekas-lekas dia melepaskan rangkulannya, sembari memisahkan diri, dia merapikan rambutnya, guna menutupi rasa malunya itu,...

Bu Pa sebaliknya sudah lantas berkata nyaring "Inilah dibilang bahwa kenyataan mengalahkan segala apa! inilah ilmu pedang yang langkah dikolong langit ini! kalau nanti ada oarng yang usil mulut, yang berani menyatahkan yang tidak tidak, maka aku Bu Pa, aku suka menjadi saksinya! malah sebagai saksi, aku sangat girang, mukaku menjadi terang!"

Tidak cuma berkata begitu, Bu Pa bertindak menghampiri It Hiong, guna memberi hormat buat mengutarakan penghargaannya.

Maka It Hiong menjadi tersipu-sipu membalas hormat itu. "Ah, saudara Bu Pa bisa saja!" katanya.

"Terima kasih, saudara, yang kalian suka menjadi saksi kami!"

Tonghong Liang pun menghampiri It Hiong, tangan siapa ia cekal keras-keras. "Kakak, aku minta sukalah kau mengajari aku ilmu Gie Kiam Hui Heng Sut itu!" pintanya.

It Hiong menyukai bicoh itu, tak tega ia menampiknya, maka ia berkata:"Nanti adik, setelah selesai pertemuan besar di In Bu San, baru aku mengajari kau"

Tonghong Ling menerima baik janji itu, dia girang sekali. "Inilah janji!" katanya.

Bu Pa dan In Go sementara itu tercekat hatinya. keduanya menjadi tidak enak, mendengar di sebutnya gunung In Bu San, mereka jadi ingat pesan guru mereka disaat guru dan murid mau berpisah, ketika itu sang guru. Gwa To Sin Mo, memesan mereka buat datang tepat di In Bu San Nanti! karena Ini, mereka menjadi merasa sukar.

Muda-mudi itu berasal dari kalangan lurus-lurus sesat, Gwa To Sin Mo tidak terkenal jahat, hanya dialah ahli racun, hingga dia memperoleh julukannya itu, Sim Mo, bajingan Sakti, dan bantuannya dibutuhkan Im Ciu It Mo, yang hendak membikin "Hoa Hiat Thian Lo," Jaring langit yang dapat mencairkan darah. karena itu, tak dapat tidak, sin mo mesti pergi ke In Bu San, karenanya kedua ,muridnya ini pun di pesan mesti pergi ke gunung itu, tentu saja kedua murid ini menjadi sulit sendirinya, di Bu Ie San ini mereka telah bertemu Tio It Hiong dan telah mendapat pertolongan dari pemuda kaum lurus yang baik hati itu, bagaimanan nanti di In Busan andaikata mereka mesti menghadapi It Hiong sebagai lawan?

Mulanya Bu Pa dan In Go tidak memikirkan soal pertentangan diantara kedua golongan sadar dan sesat, gurunya p[un tidak bersangkut paut, sampai Im Ciu It Mo membujuk gurunya berpihak pada kaum sesat itu, baru mereka merasakan kesulitannya itu, demikianlah kali ini, selagi mereka berdiri menjublak, It Hiong sudah berpamitan dari Tonghong Kiauw Couw sambil ia berkata: "Nona, berkat pedang ini, kita telah bersahabat! nona, gunung itu tinggi, air itu panjang, maka itu, sampai berjumpa pula lain kali!"

Kiauw Couw berduka sekali, ia merasa berat berpisah dari anak muda itu. tanpa merasa, air matanya berlinang-linang.

"Sahabat she Tio," katanya dengan berduka, "Jika kau tidak memandangku sebagai orang luar, aku minta sembarang saat kau sudi datang menjenguk kami. " dan mukanya pun

merahlah......

It Hiong mengawasi, ia bingung untuk memberikan jawabannya, menghibur atau menampik? ia jeri untuk lakon asmaranya. dilain pihak, tak ingin ia membuat si nona bersusah hati, ia mesti menjawab dengan tepat! ia mengawasi sekian lama, lalu ia menghela napas, untuk akhirnya berkata:" Sampai jumpa pula, nona Tonghong! sampai jumpa pula, " segera ia memutar tubuhnya, buat melangkah dengan cepat sekali hingga lekas juga ia lenyap dikaki gunung!

Tonghong Kiauw couw berdiri mengawasi, matanya mendelong saja, semangatnya seperti telah disedot anak muda yang tampan dan gagah itu!
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).