Iblis Sungai Telaga Jilid 59

Jilid 59

Ketika It Hong melayani nona-nona itu, bicara, tanpa mengtakan sesuatu, Kiauw In  lantas meninggalkannya. buat ia menghampiri Ya-Bie, guna segera membantu nona itu, yang ia bantu dengan emposan tenaga dalamnya. Itulah ilmu yang dinamakan "menyambut yin menyebrang Yang." tangannya diletaki pada jalan darah. itulah cara yang menghamburkan tenaga dalam sendiri tetapi cepat sekali menyembukan orang yang ditolongnya.

Demikian Yan-bie, dalam waktu yang singkat sekali, ia lantas sadar. waktui ia melihat nona Cio, lantas ia berseru: "kakak kiauw-in!"

Kiauw In menepuk bahu orang.

"Jangan khawatir, ada apa lagi adik!" katanya, menghibur. "buatmu sudah tidak ada ancaman bahaya lagi! kau beristrirahatlah!"

Ya-bie turun dari punggungnya So-Hun Cian Li. ia mau bertindak, atau tubuhnya terhuyung, hampir saja ia roboh baiknya Kiauw In segera meyambarnya.

“Kau berhati keras melebihi aku, adik" kata nona Cio tertawa. "lekas kau berdiam dipunggung si orang utan, untuk beristirihat!"

Ya Bie tahu tenaganya belum pulih, ia berduka sekali, sehingga air matanya melel keluar. sebenarnya ia ingin sangat dapat bergerak pula dengan bebas. terpaksa ia membiarkan tubuhnya digendong pula binatang piarannya itu, untuk bersiap turun gunung. Tepat itu waktu, terdengar suara nyaring dari It Hong pada kiauwin "kakak, mari kita pergi!"

Ek Toa Biauw agak terperanjat, dia lantas menglapakan tubuhnya.

"Kami datang kemari bukan untuk membantu kau menyampaikan kabarmu, tuan!" kata dia. "Aturan guru kami keras sekali, tak dapat itu diabaikan cuma karena beberpa patah kata dari kau bagaimana kami nanti harus berurusan dengan guru kami?"

It Hong tidak puas. ia tapinya menahan sabar. "Habis kalian mau apa?" tanyanya

Nona itu menjawab dengan tertawa dingin "Hek Sek San bukannya gunung dimana orang dapat datang dan pergi menuruti suka hatinya sendiri! jika kalian mau turun gunung maka kalian harus menuruti aturan pihak tuan rumah, sedikitnya kalian harus meningalkan sesuatu!"

It Hong pun tertawa.

"Kami perlu lekas-lekas melakukan poerjalanan kami, tak usah nona -nona mengantarkan kami!" demikian katanya, "bagaimana kalau aku persilakan nona-non pulang saja?"

Ek Toa Biauw gusar, alisnya berdiri wajahnya bengis, tapi dia mencoba tertawa.

"Masihkah kau berlagak pilon tuan?" tanyanya dingin "guru kami meletakkan kakinya didalam dunia kang-ouw, dia telah menjadi orang tingkat tinggi yang ada kepala dan mukanya! maka itu, setiap kata-kata yang diucapkannya, itu mesti dilakukan dan diwujudkannya, itu tak pernah dirubah! pendeknya, siapa yang menentang guru kami, maka. janganlah dia mengucap akan dapat berlalu dari sini dengan masih bernyawa!"

Alisnya It Hong berdiri.

"Kau bicara berputar-putar. nona Ek" tegurnya. "bagaiman jika kau omong terus terang saja?"

Ek Toa Biauw menatap tajam.

"Benarkah tuan mau mendengar pesan guru kami?" dia menegaskan "Apakah tuan tak nanti habis sabarnya"

Panas hatinya It Hong, hampir ia bersikap keras kalau ia tidak melirik Ya Bie dipunggungnya si orang utan dan ingat yang nona itu memerlukan waktu istirahat, ia pula melihat si nona berbaju hijau bersama kiauw. Ia lagi mengawasinya, buat mendengar apa katanya. mengenai si nona berbaju hijau, ia juga ingat janjinya akan nanti mengantarkannya pulang kerumahnya. maka ia lantas mengenadalikan diri.

"Nona Ek kalau kau mau bicara ya bicaralah" katanya kemudian, sungguh-sunggih.

Ek Toa Biauw mengawasi. ia dapat melihat orang sabar dan keras hati. terpaksa, iapun menghargai sikap orang itu. maka ia juga tertawa, sembari tertawa , ia berkata: itulah cuma dua urusan kecil! guruku tidak nanti memaksakan orang membuat orang sulit!"

It Hong menatap, telinganya ia pasang. "Pertama-tama," kata Ek Toa Biauw kemudian, "Yaitu tentang perbuatanmu sendiri yang telah lancang memasuki wilayah Hek Sek San ini dimana kau telah menembusi lembah Kiau gee kiap serta menjelajah beberapa bagian tempat yang terlarang, hingga kalian mengetahui beberapa rupa rahasia kami. oleh karena itu guru kami menghendaki kau makan sebutir pil sintan supaya dengan begitu kau jadi dapat lupa segala apa yang kau telah lihat dan lakukan disini"

Untuk sekejap mata, It Hong nampak gusar, akan tetapi dengan lekas ia nampak sabar pula.

"Dan yang kedua?" tanyanya. "Apakah itu?"

Toa Biauw membuat main matanya. lalu tangannya diangkat, menunjuk si nona berbaju hijau.

"Guruku berkata untuk menyampaikan kepada kau tuan. menasehati supaya kau jangan terpincut anak perempuan itu.!" sahutnya, tertawa "kalau sampai nama dan tubuh tuan tercemar dan rusak karena dia, itulah harus disayangi. maka itu baiklah tuan tinggalkan disini, buat kami mengantar pulang agar guru kami yang mendidiknya begitu bagus, bukan?"

Suara itu halus dan rapih tetapi bagi It Hiong, terdengar tajam, ia rupanya dianggap sebagai penggemar paras elok serta dituduh telah melindungi seorang murid murtad, saking mendongkolnya serta menahan amarahnya, ia sampai berdiam diri saja.

Ek Toa Biauw tertawa dan kata pula "Tak salah bukan? bukankah ada pepatah kuno yang berkata, dikolong langit ada hanya wanita cantik, kenapakah mesti hanya dianya seorang? saudara Tio, cobalah pikir bukankah dibalik keberuntungan adalah kecelakaan?. " Kata-kata itu ditutup dengan tertawa geli.

Dari mendongkol dan gusar, dapat It Hiong menguasai dirinya. sebaliknya dari pada menyatakan amarahnya, ia tertawa. "Kaulah seorang wanita terhormat. nona Ek, mengapa sekarang, kau bicara begini. seperti juga kaulah seorang perempuan hina dina?" tanyanya, "Baiklah kau menjaga kehormatan dirimu!"

Muka Toa Biauw menjadi merah.

"Cisss" serunya, gusar lalu dia tanya dengan bengis "Bagaimana, kau terima dua syarat ini atau tidak?"

Hebat nona Ek, selama ini, tiga macam panggilannya pada It Hiong, mulai dengan "tuan" lalu "saudara" dan sekarang "kau"

It Hiong tetap berlaku sabar,

"Aku yang rendah cuma dapat menerima sebagian saja" sahutnya.

Mendengar demikian, Toa Biauw girang, hingga lupa ia pada mendongkolnya barusan, semua itu tidak lain, ialah sebabnya sebenarnya ia sangat tertarik pada pemuda itu, yang diam-diam ia gilai sendiri.

"Saudara It Hiong yang mana kau pilih ?”tanyanya. "Makan Sin-tan!" sahut It Hiong tegas. Toa Biauw tertawa,

dia nampak sangat girang. "Jadinya saudara Tio lebih menghargai paras daripada jiwa!" katanya "Benar, bukan"

Pemuda itu tak sudi melayani orang bicara.

"Dengan memandang muka gurumu, maka aku mau makan obat itu." katanya, "dengan jalan ini, hendak aku menghargai aturan gurumu, sekarang sudah tak siang lagi. kami mau lekas-lekas melakukan perjalanan kami, aku minta lekas kau keluarkan obatmu itu!"

Toa Biauw berhenti tertawa.

"Jadi budak itu akan pergi bersamamu turun gunung bukan?" dia masih bertanya,

It Hiong mengangguk.

"Ya" Jawabnya, "Aku yang rendah hendak mentaati janjiku buat mengantarkan dia pulang kerumahnya supaya dia dan keluarganya hiudup berkumpul rukun dan damai!"

"Melindungi murid orang yang murtad, itu berarti melanggar pantangan besar kaum rimba persilatan kata Toa Biauw, "Itulah pelanggaran yang tak terampunkan! saudara Tio, pernahkah kau memikirkan itu?"

"Kira-kira bicara, nona" kata It Hiong .

"Tak sanggup aku menerima kata-katamu ini! bukankah hal yang benar ialah nona ini pada mulanya diculik oleh Tok Mo si manusia beracun, yang kemudian dia obati dan membuatnya menjadi boneka perkakasnya? disini tidak ada soal perguruan, karenanya. mana ada soal murid mendasarkan? aku sebaliknya, aku lagi menjalankan keadilan dalam dunia kang ouw, aku hendak menolong seorang sampai pada akhirnya!. kalau seorang laki-laki sejati bekerja, mana dia jeri terhadap kesukaran atau bencana? memang sulit menghindarkannya kalau aku langgar janjiku, bukan cuma terhadap sahabat terutama aku mendatangkan malu besar pada guruku"

Sampai disitu Ek Jie Biauw, yang sejak tadi berdiam saja bersama lain saudaranya, lantas bercampur bicara, dia memang pandai bicara. katanya dia "kalau seorang laki-laki menggilai seorang wanita, dia suka menggunakan alasan keadilan dan perikemanusiaan sebagai senjatanya, guna menutupi kejahatannya itu, dia biasa mangoceh balelo, hingga dia mau menipu orang tetapi jadi menipu dirinya sendiri. Dia kata ada Tok Mo disini, di Hek Sek San! siapakah yang dapat membuktikan itu? disini bukan tempatnya Tok Mo"

Tok Mo ialah bajingan racun.

"Kenyataan adalah bukti lebih menang dari penyangkalan" Kata It Hiong. "Dan pendengarannya kalah dengan penglihatannya! dengan mataku sendiri aku pernah melihat Tok Mo muncul disini"

"Bagaimana macamnya Tok Mo yang kau lihat itu!" tanya Cie Biauw "Coba kau jelaskan buat kami mendengar!"

"Dialah seorang tua yang mukanya keriputan, yang berdandan sebagai pelajar," It Hiong memberi keterangan "Dia sangat gemar menggunakan racunnya! didalam gua digunung ini, dia telah membangun Barisan rahasianya yang dia beri nama Ngo Tok Tin dan pembantunya ialah sepasang pria dan wanita muda, yang pria bersenjatakan sepasang tongkat, dan yang wanita kaitannya Bwe-hoa taot cukup dia itu buka Tok Mo atau bukan" Mendengar itu, ketujuh nona tertawa ramai, lalu Ek Cit Biauw kata nyaring: "Pintar belingar! kiranya kalian kembali dipermainkan Couw Kong. "

"Tahan " Ek Toa Biauw menyela saudaranya.

Cit Biauw berhenti mendadak, tak dapat dia meneruskan. put lo"

Tanpa terasa It Hiong melengak, ia lantas menerka, tentu ada rahasia apa-apa maka juga Cit Biauw dicegah bicara terus. Tanpa disebutnya nama "Couw Kong" membikin ia ingat pada Couw Kong Put Lo dari Ceng Lo Ciang. yang memiliki tentang So Lie Keng, kitab tentang wanita, maka ia berkata dalam hatinya" pantas pelajar tua itu yang bermuka keriputan itu berulang kali bertemu dengan diriku tetapi dia tidak sudi memperlihatkan dirinya, kiranya dia  takut  rahasianya terbuka. " karena itu ia menerka pasti Im Ciu It Mo telah

mengurung dan mengekang banyak jago kang-ouw tua didalam gunung Hek Sek San ini dan mereka itu semua telah dipakai sebagai boneka atau perkakas......

Darahnya It-Hiong bergelok. tahulah ia sekarang siapa si manusia jahat, yang hendak merebut kemenangan dalam pertemuan Bulim Ciu Cun nanti, dan pengaruh obatnya, membikin orang-orang kosen menjadi perkakasnya.

Lantas pemuda kita menyabarkan diri. ia kembali pada persoalan mereka. katanya: "Telah aku beritahukan hal Ihwalnya adik berbaju hijau itu dengan sebenarnya dia bukan murid murtad! dalam halnya dia, aku si orang she Tio, aku berani menjaminnya dengan jiwaku! maka itu aku minta guru kalian suka memberi muka padaku supaya dia dilepaskan dan dibiarkan turun gunung" Ketujuh nona itu tertawa, tidak ada yang menjawab, semua cuma nmenatap tajam anakmuda itu mata mereka juga dibuat main. Nyata sekali kebencian mereka itu, Rupanya mereka tetap menyangka ada apa-apa diantara pemuda itu serta si nona berbaju hijau.

Panas hatinya It-Hiong.

"Kalian dengar atau tidak apa yang aku katakan?" Tanyanya keras.

Ek Toa berhenti tertawa,

"Kami cuma percaya separuh" sahutnya. "Sebenarnya masih ada soalmu, soal asmara yang manis."

Kata-kata itu dihentikan secara tiba-tiba.

Dalam panasnya hati, It Hiong katakan :”Walaupun ada sesuatu diantara aku dan nona berbaju hijau, kalian tak perlu campur tahu? bukankah kamu semua nona-nona remaja? kenapa kalian begini tidak tahu malu?"

Toa Biauw merasa pipinya panas.

"Ciss" Serunya, "Jangan kau menyangkal tentang perbuatanmu dengan nona itu memang tidak ada hubungannya dengan kami tetapi di sana ada wanita yang iri hati dan jelas yang akan mengurusnya? dialah yang akan membuat perhitungan denganmu! hati-hati kau dengan dengkulmu!. "

Habis berkata , kembali si nona tertawa, guna menggoda si anak muda. Kiauw In tidak puas menyaksikan tingkahnya nona-nona itu, akhirnya dia maju ke depan dan berkata keras: "Sudah cukup kalian bicara? kalian masih ada urusan, aku yang bertanggung jawab. Aku Cio Kiauw In! Jika kalian sudah tidak punya urusan lagi, hendak kami berangkat pergi! sampai jumpa!"

Segera ia menutup mulutnya, nona Cio menghunus pedangnya, terus ia membuka jalan buat berlalu dari situ.

Si orang utan yang cerdik, yang menggendong Ya Bie, lantas lompat akan menyusul, akan berjalan di belakang nona Cio itu. karenanya, si nona berbaju hijau turut menyusul juga.

Cit Biauw Yauw pun segera bergerak. dengan memutar sabuk mereka, mereka lantas melompat maju untuk mengatur diri, buat merintangi. Sedangkan Ek Toa Biauw lantas berkata pula: “Saudara Tio, tadi kau telah berjanji akan makan sin-tan, bagaimana dengan janjimu itu? janji itu masih berlaku atau tidak?"

It Hiong di belakang nona berbaju hijau itu berkata pula: "Bagaimana bendanya kalau obat sin-tan gurumu itu dibandingkan dengan Wan Te Jie?" tanyanya.

Ketujuh nona itu bingung, tak tahu mereka itu apa itu "Wan Te Jie," yang dapat diartikan "main main" adakah itu main- main diantara pria dan wanita, tegasnya bercumbu-cumbuan? mereka belum tahu bahwa yang dimaksud ialah obat mujizat anti racun dari Pak-yam Siansu dari biara Bie Lek Sie.

Toa Biauw mengawasi si anak muda, matanya berlinang air mata, kata dia "Obat guruku itu berkhasiat dapat membetot arwah dan merusak tulang-tulang serta membikin dunia berputar, setelah makan nanti barulah kau mengerti.!" It Hiong tidak menjawab. kata-kata nona itu seperti mengandung dua maksud : “Benar-benar dan menyindir.”

Melihat sikap orang, Cie Biauw turut bicara. ia tertawa dan berkata : "Bagaimana saudara Tio? bukankah kau telah memberikan janjimu pada kakakku? apakah kau takut nanti arwahmu terbetot dan tulang-tulangmu hancur remuk?"

Cit Biauw juga tertawa geli.

"Kau benar kakak kedua!" kata dia,

"Kalau seorang pria telah memberikan janjinya tetapi dia sangkal itu. itulah tak dapat ! tak dapat tidak, dia mesti makan obat dari kakak kita!"

It Hiong sementara itu, dengan pedang ditangannya, mengawasi formasi Cin atau Barisan nona-nona itu, kemudian ia berkata: “Bagaimana kalau aku makan itu, habis kalian minggir? apakah dengan begitu lantas sudah saja"

"Ciss" Cit Biauw meludah. "Berapa lihainya ilmu kepandaianmu?"

"Kalian lihat saja!"kata It Hiong keras.

Demikian nona-nona itu mengganggu si anak muda.

Ketika itu Kiauw In sudah maju sampai diantara Sam Biauw dan Su Biauw, tanpa mengatakan sesuatu, ia menyerang mereka itu dengan suatu jurus dari Khie Bun Pay Kwa Kiam yang di teruskan, kedua nona itu berlompat mundur, mereka tidak menangkis , dengan begitu mereka membiarkan nona Cio lewat dan disusul So Hua Ciante yang menggendong Ya Bie, selekasnya si nona berbaju hijau mau turut lewat , lantas keduanya bergerak pula mengambil kembali kedudukan mereka seperti tadi guna menghadang nona itu.

Si nona berbaju hijau loloskan ikat pinggangnya. Dengan itu ia lantas menyerang kedua orang yang merintanginya.

Melihat nona itu berani membuka jalan, Sam Biauw dan Su Biauw menarik sabuk mereka, sebaliknya mereka bersama menolakkan tangan kirinya, menyerang dengan satu jurus dari Tauwlo-ciang.

Dasar ilmu silatnya masih sangat rendah, si nona berbaju hijau repot mengelakkan diri. setelah mana bergeraklah tin lawan dan kedudukan Yauw Lie segera mengurung padanya. tapi walaupun kepandaiannya masih sangat terbatas. nyalinya si nona besar sekali, ia menjadi nekat lantas ia menyerang dahsyat ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang. kepada sekalian pengurungnya itu! itulah jurus silat "Loan Sek Ta Tiok Lim," dengan satu kali menimpuk kalang kabutan dalam rimba bambu-.

Jadi ia menyerang siapa saja diantara ketujuh Yauw Lie itu!

Satu kali Cie Biauw adalah yang menerima giliran diserang si nona baju hijau. dia menggunakan senjatanya menangkis dengan sampokkan keatas, apa mau, ujung ikat pinggang meluncur kekepalanya. justru itu si baju hijau menarik senjatanya itu, yang ia khawatir nanti kena terlibat sabuk lawan, dan kebetulan sekali, seutas rambutnya nona Ek kena tarik hingga dia kenekatan dan menjadi gusar sekali karenanya. dalam sengitnya, dia membalas menyerang kemuka orang, jurusnya ialah "Tok Coa Touw Sin," ular beracun muntahkan racun Kembali si nona berbaju hijau menjadi repot. serangan itu sangat berbahaya, untuk menyelamatkan diri. ia melompat berjumplitan mundur dengan jurus silat "ikan gabus meletik"

Justru nona kita menginjak tanah, justru Ek Toa Biauw tiba- tiba ke belakang karena ketujuh nona main berputaran. dengan cepat nona Ek meluncurkan tangannya, menolok lawannya itu pada jalan darah sin tong.

Si nona baju hijau tidak berdaya lagi, maka habis menjerit, robohlah dia.

Cit Biauw berlaku cepat melihat lawan roboh, ia lantas melompat kesana, guna di pondong untuk dibawa pergi

Ketika itu It Hiong terpisah dari si nona baju hijau kira-kira tiga tombak, ia ketinggalan karena ia mesti melayani Toa Biauw dan lainnya berbicara. ia terkejut mendengarakan jeritan kawannya itu dan lalu melihat tubuh si kawan roboh, sedangkan Cit Biauw hendak menangkap lawannya yang sudah tak berdaya itu, tidak ayal barang sedetik saja juga ia melompat menghampiri kawan itu, dalam hal ini. ilmu Tangga Mega membantu banyak padanya, ia sampai sebelumnya Cit Biauw sempat meraba tubuh orang, maka mudah saja ia menyambar si nona baju hijau, terpisahnya mereka berdua hanya dua kaki.

Dengan tangannya kirinya, It Hiong memondong nona yang ia tolongi itu, justru itu, tubuhnya kena ditabrak tubuhnya Cit Biauw sebab nona Ek, yang pun menyambar, tak keburu berkelit lagi, Hingga tiga buah tubuh bagaikan menjadi satu! hingga mereka bukan seperti lagi saling berebutan hanya  mirip tengah rangkul-merangkul! Mukanya Cit Biauw menjadi merah, biar bagaimana, dia jengah. sambil lekas-lekas memisahkan diri, dia memperdengarkan suara penasarannya: "Cis,! Kau mau menjadi si pelindung Bunga, ya? siapa kesudian melayani kau?. "

Justru It Hiong pun jengah maka Yauw Lie lainnya sudah merangsak pula. empat nona lantas mengurung anak muda kita, karena tiga yang lainnya lari pergi, mungkin mereka hendak menyusul Ya Bie dan Kiauw In.

Selama itu Kiauw In bersama si orang utan sudah lari jauh tigah puluh tombak kapan ia menoleh dan tidak melihat si nona baju hijau masih sangat lemah ilmu silatnya, sebaliknya Barisan Cit Biauw tin sangat lihai. terpaksa ia memberi isyarat akan si orang utan menantikan, ia sendiri lantas lari balik, maka itu, tepat sekali, ia berpapasan dengan ketiga Yauw Lie lagi terus mengepung padanya!.

Siasatnya Ek Toa Biauw benar sekali, dengan begitu, rombongannya dapat merintangi lawan kabur, hanya ia tak ingat tentang kepandaian silat mereka sendiri. bertujuh mereka tidak sanggup melawan Kiauw In, apapula sekarang si nona dikurung melainkan tiga orang, juga hati si nona sedikit lega sebab ia tahu, kalau It Hiong pun berada terkepung cuma harus melawan empat orang lawan bukankah bersama It Hiong pun berada si nona baju hijau? cuma ia tidak tahu nona baju hijau itu justru mengurangi kebebasanya si anak mudah sebab dia pingsan dan mesti dipondong bagaimana kalau Im Cit It Mo sempat mengirim bala bantuan kepada Cit Biauw Yauw Lie.

It Hong sebaliknya berlega hati melihat Kiauw In kembali, itu tandanya, meski si nona belum lolos dia tapi tidak kurang suatu apa dan senang ketika melihat musuh memecah Barisan. hingga tenaga mereka itu pasti berkurang sendirinya.

Ke empat Yauw Lie mengurung, mereka tidak lantas menyerang, inilah saat yang menguntungkan bagi anak muda kita: “Lekas-lekas ia membebaskan totokan si nona baju hijau, membuatnya siuman, walaupun dia lemah ada baiknya nona itu sadar, dan dengan cepat sadar, dia tak usah terancam bahaya akibat totokan lawan. terlalu lama pingsan dapat menyebabkan kesehatannya terganggu.

dengan segera si nona berbaju hijau membuka kedua matanya.

It Hiong segera menyuruh si nona berdiri seraya ia menanya:"Kau tidak kurang suatu apa, bukan?"

Nona itu mengawasi si anak muda, ia menggelengkan kepala.

Disaat itu Kiauw In mulai diserang tiga orang lawannya, hingga ia membuat perlawanan, hingga mereka berempat jadi bertempur pula. Maka berkilauanlah pedangnya, diantara berkibarannya ketiga helai sabuk sekalian lawannya itu. Kali ini ketiga lawan itu menjadi bingung sendirinya,  tak dapat mereka merobohkan si nona sebaliknya, tak mudah buat mereka sendiri mundur teratur....

It Hiong itu secara diam-diam memperhatikan keadaan sekitaranya, hingga ia merasa sudah tibalah saatnya buat mengangkat kaki, lalu ia berkata dengan sabar kepada ke empat orang nona yang mengurungnya: " Nona-nona, aku yang rendah hendak pergi turun gunung, oleh karena itu aku minta sudi apakah kalian memberi muka padaku!" Berkata begitu, tanpa menanti jawaban sebagaimana seharusnya. karena dia mengajukan pertanyaan. anak muda kita terus saja menuntun tangannya si nona berbaju hijau guna diajak pergi.

Ek Toa Biauw tertawa.

"Saudara Tio, tegakah kau meninggalkan nona Cio sendirian?" tanyanya.

Ditanya begitu It Hiong juga dapat ingat sesuatu, ia tersenyum dan berkata: "Sang malam bakal lekas tiba dan jalanan berbatu disini pun sangat licin. oleh karena itu aku tidak memikirkan akan bertempur dengan kalian! bagaimana kalau kita bertaruh?"

Toa Biauw heran, alisnya bangkit. ia lantas berpikir.

"Coba kau terangkan dahulu, taruhanmu itu taruhan apa?" tanyanya kemudian.

"Bagaimana kalau nona Ek sendiri yang mulai?" It Hiong tanya ramah.

"Bukankah barusan kau mengatakan yang kau tidak suka bertempur?" nona itu bertanya. "Apakah kau bukannya maksudkan supaya kita berkelahi cara bun, tanpa menggunakan senjata, hanya dengan cara lunak"

It Hiong lantas menjawab: "Nona menjadi seperti nyonya rumah dan aku tamu karena aku bersedia bertaruh secarah bun ataupun Bu putusannya terserah pada kau sendiri nona!"

Ek Toa Biauw melirik tajam pemuda di depannya itu, lantas ia tertawa manis, gerak-geriknya menggiurkan. ia merogoh kedalam sakunya, ketika tangannya ditarik keluar, semua jarinya dikepal, seperti menyembunyikan sesuatu dalam kepalannya itu. setelah itu, lantas ia berkata: "Coba kau terka, didalam genggamanku ada barang apa? jika kau menebak jitu, barang ini aku berikan padamu dan akan aku biarkan kalian turun gunung"

It Hiong berpura-pura kurang mengerti.

"Jika aku gagal, dan menerkanya tidak tepat, bagaimana ?" Tanyanya berlagak pilon. tak ada perlunya untuk ia menanya menegaskan.

Ek Toa Biauw tertawa geli.

"Jika kau menerka salah, masih juga kami memberi ijin buat kau pergi turun gunung!" katanya "Asal kan tinggalkan budak berbaju hijau itu"

It Hiong tertawa.

"Tadi nona menginginkan aku melakukan dua hal" katanya. "Ialah aku makan obat Sin-tan atau aku menyerahkan nona berbaju hijau ini! Bukankah ini sama saja dengan kehendakmu sekarang ini? kalau begitu, buat apa kita bertaruh!. "

Toa Biauw mementang matanya lebar menatap si anak muda, terus sinar matanya memainkan, separuh tertawa separuh gusar. ia berkata: " Inilah kehendak pihak si nyonya rumah, yang mengajukan syarat! kenapa pihak tamu yang menyarankan akan bertaruh, sekarang menampik?" "Tetapi nona" sahut It Hiong. "Aku bersedia memakan sin- tan, namun si nona aku menghendaki supaya dibiarkan turut aku turun gunung"

Berkata begiru, si anak muda maju, tangannya diangsurkan, guna menyambuti obat.

Nona Ek membuka genggamannya. maka terciumlah bau harum, sedang diatas telapak tanganya tangan itu tampak sebiji Lok Ho Hoa seng, kacang tanah. yang disebut 'siang su- tauw' kacang rindu. maka itu teranglah maksudnya nona bahwa ia mengutarakan rindu hatinya terhadap pemuda itu?

It Hiong menyambut kacang itu, tanpa ragu, ia masuki itu kedalam mulutnya, tanpa gigit lagi. ia menelannya, habis mana ia berkata, "Aku yang rendah mentaati janjiku, maka dimana sekalipun Sin-tan. obat beracun buatan gurumu. aku berani makan dengan mempertaruhkan nyawaku!"

Berkata begitu, anak muda kita menatap tajam nona di depannya itu. sikapnya itu menunjukkan halnya ia tidak mempedulikan kacang tanah itu kacang tanah tulen atau sin- tan, obat dari Ciu It Mo

Ek Toa Biauw juga mengawasi si anak muda. Maka sinar mata mereka seperti bertemu. maka juga mukanya menjadi merah karena dia likat sendiri. biar bagaimanapun diapun sangat tertarik pemuda tampan dan gagah itu. itulah sebabnya kenapa dia mainkan perasaannya ini!

Sebenarnya itulah racunnya si nona sendiri ketika dia mengajukan syarat agar It Hiong makan sin-tan serta menyerahkan si nona baju hijau, ia cuma mau mempermainkan si anak muda. dari pihak gurunya tidak ada titah demikian. bahkan Sin-tan, obat mujarab gurunya, juga tidak ada gurunya tidak menyerahkan kepadanya.

It Hiong tidak ketahui rahasia hati orang ia menduga benar- benar Im Ciu It Mo yang tak mengijinkan ia beramai turun gunung hingga si bajingan mengajukan syarat seperti itu. sengaja ia makan Sin-tan, atau lebih benar kacang tanah itu, sebab ia tidak takut racun apa juga. bahkan dengan itu, ia jadi memegang kepercayaannya. maka itu melengaklah si nona, yang menemui batunya.

It Hiong memandang terus sehingga melihat sinar mata si nona, yang juga terus memandanginya, itulah sinar mata cinta.

"Bagaimana nona?" ia menegur. "Kenapa kau berdiam saja

? apakah kau hendak mencari alasan lain buat menyangkal taruhan kita ini?"

“Cisss" berludah si nona, yang ia lantas berhenti memandang orang. "Siapa yang menyangkal, aku atau bukan, kau sendirilah yang ketahui! tapi kau benar cerdas, kau menyangkal secara menarik hati ! baiklah kali ini aku memberi ampun padamu?"

Lega juga It Hiong mendengar suara itu.

"Terima kasih nona" katanya seraya terus menarik tangannya si nona baju hijau buat diajak berjalan ke arah ke empat nona-nona she Ek itu.

Mendadak Ek Toa Biauw menggerakkan senjatanya yang istimewa itu, maka bergeraklah ketiga saudaranya serentak hingga mereka menjadi berdiri menghadang. diapun berseru dengan perintahnya: "Berhenti" It Hiong bertindak dengan segera ia berdiri tiga langkah di depannya nona-nona itu. ia mengawasi mereka saling heran.

"Kau telah bertaruh, nona apakah masih kau tidak puas?" tanyanya.

Toa Biauw tertawa dingin.

"Dalam urusan taruhan kita, siapakah yang kalah?" diapun balik bertanya. "Dan bagaimana caranya kalah?"

It Hiong menjawab sabar: “Taruh kata kita tidak kalah dan tidak menang, nona tidaklah selayaknya kau mengganggu aku begini rupa kau lihat di sana" dan ia menunjuk ke arah Kiauw In. yang lagi dirintangi ketiga nona Ek lainnya.

Toa Ek Biauw tertawa.

"Habis bagaimana?" tanyanya.

Mendengar begitu, ketiga orang lainnya tertawa nyaring.

It Hiong mendongkol saking serba salah sebab terhadap nona -nona itu ia tidak berniat berlaku keras. Kemudian ia membangkkitkan alisnya terus ia pun tertawa dan katanya "Baiklah, hendak aku menyaingi cara kalian ini marilah kita main menahan sabar sampai sebentar terang tanah! hendak aku lihat!"

Begitu habis ia berkata itu, begitu mendadak It Hiong menyambar pinggangnya si nona berbaju hijau, terus kakinya menjejak tanah, guna melompat mengapungi diri. itulah jurus silat "Peng Te Seng Kui" -guntur ditanah datar- dengan jitu ia melompat tinggi lewat diatas kepalanya nona-nona itu, sehingga lain detik dia telah turun di jalan gunung sebelah bawah nona-nona itu!.

Ke empat nona-nona itu kaget hingga mereka mengeluarkan seruan tertahan, menyusul mana semua lalu lari berlompatan akan menyusul, hingga dilain detik mereka dapat menghadang dan mengurung pula muda-mudi itu berdua.

Tanpa merasa, kedua belah pihak telah memperlihatkan kepandaiannya masing-masing dalam ilmu meringankan tubuh. sebab It Hiong kembali berlompat melintasi orang, hingga orangnya menyusul pula, begitulah mereka berkejar- kejaran turun gunung. Hingga setengah jalanan telah dilintasi. Sampai disitu, ke empat nona-nona menjadi bermandi keringat dan napasnya tersengal-sengal tetapi mereka masih mencoba menyusul terus......

It Hiong menjadi heran. sang malam telah tiba, orang masih menjejarnya-ngejarnya.

"Heran mau apakah mereka?" pikirnya.

"Mereka tidak mau berkelahi, mereka hanya mengurung kami. mereka merintangii aku. nyata mereka memiliki kepandaian ringan tubuh yang tak dapat dipandang enteng begitupun keuletan mereka!"

Kemudian It Hiong ingat tidak dapat ia melayani nona-nona itu secara demikian terus menerus. Hal itu akan menyulitkan si nona berbaju hijau. nona itu pasti tidak dapat dibawa berlari- lari terus. Tentu, kesehatannya dapat terganggu karenanya, si nona justru harus istirahat, demikianlah, ketika ia meletakkan kakinya di tanah dan berhenti berlari, terus dengan perlahan- lahan ia menurunkan nona itu, membiarkan dia duduk. Ia sendiri berdiri disisi nona itu, merapikan rambut dan pakainannya, sesudah itu ia pun beristirahat secara tenang.

Belum terlalu lama, tiba juga ke empat nona Ek, yang mengejar, atau mengekor mereka tak hentinya. belum lagi beristirahat, mereka itu sudah menempatkan diri, dua di depan dan dua lagi lagi di belakang It Hong berdua. tetap mereka mengurung siap menjagai.......

It Hiong melirik mereka itu bergantian.

"Benarklah kalian hendak merintangi aku sampai terang tanah?" tanyanya sabar.

Tidak ada jawaban. ke empat nona membisu.

Si anak muda mengulangi pertanyaannya, sampai berapa kal;i, terus ia seperti bicara sendiri. maka dia lantas mengawasi mereka itu.

Kiranya ke empat nona itu lagi duduk bersila beristirahat!

Menyaksikan hal demikian It Hiong bersenyum lalu menyeringai. ia merasa lucu dan berbareng merasa kasihan juga. maka ia pun berdiam.

Sementara itu, kita melihat kepada Kiauw In yng dirintangin ketiga Yauw Lie lainnya. ia tidak seleluasa It Hiong, ia mesti berkelahi dengan sungguh-sungguh melayani ketiga lawan itu. ia menang unggul tetapi ketiga saudara Ek berkelahi secara teratur hingga tak mudah buat mereka dipukul mundur. langit pula sudah gelap sebab sang sore tiba dengan cepat. keadaan tempat dan sang malam membuat ketiga nona itu dapat bertahan terus. Kiauw In memancing ketujuh lawan memisahkan diri dengan harapan agar It Hiong dapat dapat bebas, ia tidak menduga bahwa ia sendiri diganggu begini rupa. seperti It Hiong. ia juga tidak memikir melukai nona-nona itu. siapa tahu, orang justru melibatnya dengan keras, sehingga salah- salah ia dapat keliru menggerakkan tangannya.

Kapan nona Cio ingat pada It Hiong, ia menerka tentu anak muda itu telah lolos bersama-sama si nona baju hijau, maka ia pikir baiklah ia jangan berdiam lebih lama pula disitu, ia lantas mengambil keputusan dan melaksanakannya itu. dengan satu jurus 'angin puyuh menyapu salju" Khan Bin Patkwa Kiam, ia membikin seorang lawan yang terdekat kaget dan berkelit.

Kesempatan itu digunakannya untuk satu loncatan Tangga Mega, hingga ia berhasil menjauhkan diri. hanya setelah sang malam menjadi gelap itu, sukar buat melihat jauh, hingga It Hiong tak nampak pula sedangkan dari tempat dimana semula tadi si anak muda bertempur, tidak terdengar suara apa juga, itulah tanda bahwa pertempuran dimana sudah berhenti dan entah orang telah pergi atau berada dimana sekarang............

Menduga bahwa It Hiong sudah lolos, Kiauw In terus berlari trus, ia masih disusul oleh musuh-musuhnya tapi ia membiarkannya. tetap ia lari keras, membuat orang tetap ketinggalan.

Di belakang orang yang berkejar-kejaran itu ada mengikut sesosok tubuh hitam dan besar, jaraknya kira-kira sepuluh tombak, itulah So Hun Cien Lie. yang menggendong Ya Bie, sebab orang utan itu cerdas sebagai manusia, tahu ia akan tugasnya menolong nonanya.

Ketika Kiauw In menyuruh si orang utan berhenti, dia ini lantas meletakkan tubuhnya Ya Bie dibalik batu, terus dia berdiam menjaganya. diam-diam dia menonton pertempuran diantara Kiauw In dan ketiga nona lawannya.

Dengan lewatnya sang waktu, kesegarannya Ya Bie pulih perlahan-lahan, tetapi belum mampu ia menggunakan tenaganya, apa pula buat berkelahi, maka ia pun duduk dia saja mengasuhkan diri, mereka juga tetap menyembunyikan diri.

Tidak lama So Hun Cien Lie memberikan isyarat bahwa ada orang datang. Ya Bie lantas memasang mata. dalam satu kelebatan, terlihat orang berlari lewat dengan sangat cepat, ia tidak melihat tergas, ia pun membiarkannya.

Lewat sesaat si orang utan memberi isyarat pula, kali ini dia berpikir beberpaa kali, menyusul itu. si nona melihat pula orang lari lewat dengan saagat cepat.

"Mari" kata Ya Bie kemudian kepada binatang peliharaannya, setelah mana ia bangkit dan minta si orang utan menggendongnya pula, buat terus berlari-lari menyusul orang barusan leawat itu.

Tak lama, Ya Bie melihat bahwa bayangan itu ada sosok- sosok tubuh dari empat orang, maka ia lantas menerka pada empat orang Yauw Lie, karenanya ia segera menyuruh So Hun Cian Li memperlahan larinya agar mereka tak dapat di lihat empat orang itu.

Sang malam merayap terus, si puteri malam, yang tadinya dekat dengan permukaan laut, telah memisahkan diri naik makin jauh ke timur. dengan begitu juga sang malam tak lagi gelap gulita semula. samar-samar segala sesuatu mulai nampak. Tepat itu waktu Kiauw In yang lagi lari melihat jauh di depannya "It Hiong tengah berdiri ditepi jalan, kedua tangnnya digendongkan ke belakang, agaknya anak muda itu menantikan sesuatu, ia menduga anak muda itu lagi menunggunya. senang hatinya, lantas ia mempercepat larinya, untuk menghampiri anak muda itu.

Setelah dekat, Kiauw Ini heran juga. ia mendapatkan tak jauh dari It Hiong ada beberapa orang nona tengah duduk bersila beristirahat justru itu, ia pun mendengar suara memanggil si anak muda: "Kakak!" suara itu sangat prihatin!

Bangga ia menjadi bersyukur.

Tanpa menjawab lagi, nona Cio melompat lari pada anak muda itu, setelah tiba segera ia menunjuk ke empat nona itu seraya berkata :"Apakah barusan kau melayani mereka itu bertempur?"

It Hiong menggelengkan kepala.

"Bukannya bertempur," sahutnya. "Cuma percobaan mengadu ilmu ringan tubuh dan ternyata mereka itu tidak dapat bertahan lama!"

Ketika si anak muda berkata itu. si nona baju hijau bangkit bangun. ia telah pulih kesegaran tubuhnya.

"Kakak Cio," katanya, "Kakak baru baru sampai ?”

Kiauw In mengangguk, tetapi melihat nona itu, ia latas ingat pada Ya Bie dan orang utannya. maka ia segera menoleh kebelakangnya.

"Ah…kemanakah mereka itu? ..." Tepat waktu itu, ketiga Yauw Lie si pengejar pun tiba, tetapi mereka demikian letih hingga mereka tak dapat berkata-kata, mereka berdiri diam saja dengan napasnya tersengal-sengal.

Dilain detik dari tibanya ketiga Yauw Lie, tiba juga sesosok tubuh yang besar dan hitam, ialah So Hun Cian Li, yang terus saja mendekam, guna menurunkan Ya Bie. karena nona itu menitahkan ia lari menghampiri It Hiong.

Belum sempat rombongan itu berbicara satu dengan lain. mata jeli dari It Hiong dapat melihat ketiga sosok tubuh tengah lari dipinggang gunung mendatangai dengan sangat pesat.

"Kembali musuh" kata si anak muda.

"Kalau mereka orang-ornag kosen yang pikirannya telah dikekang, kita bakal mengalami kesulitan. "

Tatkala itu si putri malam lagi mendekati tengah langit, cahayanya, cahayanya sangat terang, ayu dan indah cemerlang

Kiauw In menoleh ke arah ketiga orang yang disebutkan It Hiong itu. ia merasa bahwa ilmu meringankan tubuh mereka itu tidak lemah, mereka itu mengikuti jalan gunung menuju ke tempat mereka lagi berkunjung.

"Sekarang ini sulit buat kita menyingkir dari mreka" berkata si nona. "Mari kita menantikan dan melihat pasti siapa mereka itu. jika mereka kaum sesat, barulah kita lihat apa yang harus kita lakukan..?" “Jika mereka orang-orang jahat, baik kita habisi saja" berkata Ya Bie. yang turut bicara, suaranya sengit. "Jangan kita kasih mereka itu banyak tingkah! bukankah begitu, kakak Hiong?"

"Barusan kakak In berkata, kalau mereka orang-arang yang otaknya terganggu jangan kita malakukan banyak pembunuhan" sahut si anak muda. "Tak baik kita menambah badai pembunuhan!"

Si nona tertawa lebar, tak puas dia nampaknya.

"oiarlah aku yang turun tangan!" katanya pula. "Kalau ada kutukan, biarlah aku yang bertanggung jawab! Kau tak sangkut pautnya, kakak,!" dan ia pun segera mengeluarkan ularnya.

Baru saja Ya Bie menutup mulutnya atau tibalah sudah ketiga orang yang mereka bicarakan itu, yang pertama muncul adalah seorang hwesio, pendeta agama budha, dan dua yang lainnya ialah seorang tosu atau Tojin, rahib agama To, dan seorang nikouw, wanita suci agama budha juga, dan kiranya merekalah Hong Gwo Sam Mo, tiga bajingan kalangan pertapaan.

It Hiong dan Kiauw In menggeser tubuh mereka, sedikitpun mereka tidak menaruh perhatian kepada tiga orang itu.

Hiat Mo hwesio mengawasi muda-mudi itu dan juga yang lainnya, lantas ia tertawa tergelak-gelak, terus dia kata gembira! "Selamat berjumpa! selamat berjumpa! sungguh kau sangat gembira, Gak sicu! Pada tengah malam begini kau telah berada bersama-sama nona-nona dan empat muda remaja! sungguh suatu kehidupan seorang berbahagia seperti cara hidupnya seorang raja!." Ada sebabnya kenapa Hiat Mo si bajingan berdarah mengucapkan demikian! sebab itu ialah ia menyangka keliru terhadap It Hiong! ia mengira anak muda di depannya ini Hong Kun adanya!.

Peng Mo, si bajingan Es, sebaliknya menatap tajam pada pemuda kita, kemudian dia mengawasi Cit Biauw Yauw Lie, masih pada duduk bersemedi ditanah, setelah itu barulah ia bekata dingin: "Pantaslah didalam sekelebatan saja kalian telah menghilang bagaikan menggunakan ilmu lenyap masuk kedalam tanah! kiranya kalian semua tengah membuat pertemuan perjanjian istimewa disini!"

Kiauw In mengerti kenapa kedua biksu dan nikouw itu mengatakan demikian, ia telah memergoki waktu Hong Kun bersama-sama Peng Mo bercumbu-cumbuan. ia merasa lucu yang Peng Mo tidak dapat membedakan antara It Hiong dengan Hong Kun, sedangkan pergaulan mereka itu berdua demikian erat. Di lain pihak, ia merasa sebal sebab si nikouw bersikap demikian.

It Hong adalah yang menjadi bingung sekali. namun ia pun sebal. Peng Mo telah mengucapkan kata-kata yang tak manis untuk telinga.

"Hmm!" ia memperdengarkan suara dinginnya. tak lebih!

"Hmm!" si nikouw mengulangi. dia menjadi mendongkol. "Kau mau menyangkal, ya? apakah ini disebabkan kau telah mendapat kawwan baru.

It Hiong tetap diam. Tam Mo Tosu, si bajingan tamak, bertindak maju. dia tertawa.

"Tuan Gak," katanya sebat, "Baiklah kau minta maaf terhadap adik sepergurunku ini, supaya kalian berdua hidup akur dan rukun! buat apa beselisih?"

It Hiong masih menahan sabar.

"Totiang, mengapa totiang begini lancang?" tegurnya. "totiang, mengapa kau mengeluarkan kata-kata yang tidak bersih?"

Matanya Tam Mo terbuka lebar, lalu mukanya menjadi merah padam.

"Pinto bicara untuk kebaikan kalian berdua." katanya keras. "Ialah guna kerukunan kalian, supaya kalian menjadi bersatu kenapa kau tidak mau menerima kebaikanku ini kenapa kau bersikap begini keras?"

Seperti biasanya kaum rahib agama To, si bajingan tamak ini menggunakan kata "pinto" sebagai gantinya "aku" pinto itu berarti "rahib melarat"

Peng Mo sudah berusia mendekati empat puluh tahun tetapi terhadap kedua kakak seperguruannya itu dia manja sekali, demikian dengan tingkah seperti di bikin-bikin dia berkata: "Nah, kalian lihatlah, kakak! lihat, bagaimana dia tak mengenal budi kebaikan kakak, aku minta supaya kalian memberikan keadilan pada adikmu ini!..."

Habis berkata si nikouw pun membanting-banting kakinya melampiaskan kedongkolannya dan penyesalan... Menyaksikan tingkahnya si pendeta wanita, Ya Bie bersama si nona baju hijau tertawa geli.

Parasnya Tam Mo hweshio menjadi merah padam. "Hong Gwa Sam Mo bukanlah orang yang dapat dibuat

permainan!" katanya bengis. "kau harus tahu gelagat! janganlah kau menampik arak kebahagiaan dan sebaliknya menerima arak dendam?"

It Hiong mengawasi tajam pada nikouw itu. "Kelihatannya kalian salah mata, para bapak suci!"

demikian katanya. "Kau juga ibu yang murah hati! orang yang

kalian cari bukanlah aku Tio It Hiong dari Pay In Nia!"

Anak muda kita mengharap, setelah menyebut nama dan gunungnya, urusan akan sudah selesai, kan tetapi terkaannya meleset.

Tam Mo tidak mengerti dia tertawa tawar.

"Tuan Gak, pandai kau menggunkan akal tongret meloloskan kulit rangkahnya!" demikian sindirnya, "Bagaimana kau berani menyangkal? apakah ini perbuatannya seorang

laki-laki kang ouw."

It Hiong berdiri tegak.

"Segala tindak tandukku, semuanya terang dan tegas!" ia berkata, nyaring. "Jangan totiang memfitnahku! jangan kau membuatku penasaran.

Melihat semua itu, air mata nya Peng Mo berlinang-linang, sambil menggigit gigihnya, dia bertindak maju. "Tak kusangka kau begini licik dan kejam" teriaknya. "Kau mesti memberi kepuasaan padaku!"

Tidak cuma berkata demikian, si nikouw juga melompat kepada It Hiong sambil

Sebelah tangannya diangsurkan guna menjambak bajunya si anak mudah.

It Hiong waspada. mudah saja ia berlompat menyingkir, justru ia menjauhkan diri justru Kiauw In dan Ya Bie bergerak berbareng. nona Cio menyampok dan Ya Bie meluncurkan tangannya yang memegang ular hijaunya, mereka ini bukan cuma menghadang tetapi menyerang dengan sikap menjepit, sebab mereka tak kerasan menyaksikan orang demikian tak tahu malu!.

Peng Mo melompat mundur, dia kaget dan jeri. bukannya dia gusar, dia justru lantas menangis, justru begitu, dia menyebabkan Hiat Mo dan Tam Mo menjadi gusar. dalam murkanya, Hwesio dan tosu itu sama-sama lompat menerjang Kiauw In dan Ya Bie.

"Tahan!" teriak It Hiong, yang mencoba malang ditengah, "Mari kita bicara secara baik-baik?"

Kiauw In dan Ya Bie menurut. mereka mundur satu tindak. "Jika kita mesti berkelahi maka harus kita ketahui dahulu

sebab musababnya" It Hiong lantas berkata pula. "Bapak

guru, bukankah apa yang kukatakan ini?"

Tak dapat It Mo membeberkan lakon asmara dari adik seperguruannya itu. itulah hal yang memalukan mereka. karena itu, tak sudi ia menjawab anak muda kita, ia malah menyimpangkannya.

"Eh budak liar" tegurnya pada Ya Bie, "Jika aku tidak melihat pada gurumu, tentu dengan satu hajaran sebelah tanganku akan aku bikin darahnya berhamburan disini. Hm!"

Dengan jalan ini, Hiat Mo hendak meredakan suasana. Tapi Ya Bie muda dan belum berpengalaman, dialah yang dibilang tak tahu mundur atau maju, maka juga mendengar suara si biksu, dia mementang matanya terhadap pendeta itu dan katanya dengan jumawa : "Memang hebat ilmu kepandaiannya Bong Gwa Sam Mo! jika kau benar laki-laki mari rasakan cambuk ular hijauku! coba merasakan satu pagutan saja!"

Tantangan itu membuat jeri pada Hiat Mo. dahulu Peng Mo pernah terpagut ular itu hingga dia merintih dan menderita karenanya dan Ya Bie justru yang membantu memberikan obat pemunahnya.

"Hm!" ia perdengarkan suara dingin. dia tak mau kalah gertak. terpaksa ia mesti maju menyambut tantangan si nona remaja. atau Peng Mo menarik ujung jubahnya seraya terus membisikinya.

Menyaksikan demikian. Kiauw In tahu apa yang mesti ia lakukan. Ia mirip si tukang perahu memasang layar setelah melihat arah angin.

"Bapak guru beramai, kami memohon diri!" katanya, hormat. "Sampai berjumpa pula!"

Habis berkata, nona Cio memberi isyarat kepada It Hiong dan si nona baju hijau, supaya mereka itu berangkat terlebih dahulu, setelah itu ia sendiri bertindak pergi sambil menarik tangannya Ya Bie.

Dengan berlalunya mereka bertiga maka mengitlah So Hun Cian Li!

Peng Mo berdiri menjublak, kekasihnya itu-- tak pedulikan dia Tio It Hiong atau Gak Hong Kun-- telah meninggalkannya. tadinya ia memikirkan akal, guna mencapai maksudnya, ia tidak sangkah, kakaknya mencampur bicara dan pergilah kekasihnya itu.......

Tam Mo dan Hiat Mo menjadi panas hati, sang kekasih adik seperguruannya sebaliknya ia sangat berduka, sampai dia membanting-banting kaki. kapan dia melihat Cit Biauw Yauw Lie, mendadak dia menumplak kemarahannya kepada ke tujuh orang nona itu, yang masih saja bersemedi tanpa memperdulikan tempat itu tempat apa.

"Dasar itu segala budak bau" katanya sengit, pada kakaknya, "Kalau bukan dikarenakan adanya mereka disini, tak nanti kekasihku berangkat pergi! kakak, hayo kau beri keadilan pada adikmu!"

Tam Mo sebaliknya menggoda adiknya itu. katanya dia

:"Banyak nona yang muda dan jenaka tetapi dalam hal bicara, sukar dicari nona yang melebihkan kau pandainya, adik! kau sangat pandai membujuk!"

Sang adik seperguruan menarik janggut kambing kakak seperguruannya itu.

"Kau bisa saja!" katanya. "Kau menghina aku, ya? kau lihat, janggutmu dapat tumbuh lebih banyak atau aku yang menjambaknya lebih cepat!" dan dua kali ia membetot janggutnya si kakak yang nomor dua itu!.

Si rahib menjadi jeri, dia berkaok-kaok meminta ampun, barulah adik itu tidak membetotnya pula.

Selama itu, Cit Biauw Yauw Lie telah ketahui tentang datangnya Hong Gwa Sam Mo, sengaja mereka berdiam saja, berpura-pura terus semedi, hingga mereka dengar apa yang It Hiong semua bicarakan. mereka jeri terhadap ketiga bajingan itu. karenanya mereka pikir, baik mereka berlagak pilon, hanya pada waktu Peng Mo menjahili kakaknya. tanpa merasa mereka tertawa sendirinya.

Hiat Mo sedang mendongkol, mendengar tawanya nona, maka ia menerka bahwa orang hanya berpura-pura beristirahat, maka timbullah hawa amarahnya, terus ia mengumbarnya terhadap mereka itu, dengan sekonyong- konyong ia menyerang mereka itu dengan kedua tangannya saling susul. ia hendak membinasakan mereka, guna menyumpal mulut mereka semua.

Semua nona Ek menjadi kaget sekali. tahu-tahu angin serangan dahsyat itu mengenai muka mereka, hingga terasa pedas, Toa Biauw bersiul pendek, tubuhnya mencelat bangun, segera disusul oleh enam orang saudaranya, maka dilain saat, bertujuh mereka sudah menggunakan sabuk mereka menyerang si bajingan darah!

Peng Mo gusar. tetapi dia masih suka bicara, tegurnya dengan mengancam "Kalian mau hidup atau mau mampus? lekas pilih jangan nanti kalian sesalkan kami tidak memandang lagi." "Bagus benar suaramu?" Toa Biauw membalas "Siapakah yang lebih dulu menyerang kami, hingga muka kami terasa nyeri? adakah itu perbuatan baik, perbuatan memandang?"

Peng Mo mau mengatakan dia memandang mata pada Im Ciu It Mo. terhadap Cit Biauw Yauw Lie, ia bertiga saudaranya tak jeri barang sedkitpun. Toa Biauw dapat menerka maksud kata-kata orang itu tetapi ia toh menanggapi. ia berkata pula:"Wilayah gunung Hek Sek San ini menjadi tempat terlarang kami. kalian bertiga sudah lancang datang kemari, apakah kata kalian?"

Hiat Mo mengelus janggutnya yang masih terasa nyeri, dia berkata sengit :"Budak bau, masih kau banyak mulut! rupanya jika kamu tidak diajar adat. kamu masih tidak tahu kelihaian kami?" dan kata-katanya itu disudahi dengan satu srangan kedadanya si nona.

Toa Biauw berkelit dengan lincah. berbareng dengan itu dengan satu pukulan tauwlo hiang, ia membalas kepada jalan darah cun kwan dari si bajingan!

Hiat Mo terkejut. ia menarik pulang lenangnya. kembali ia menyerang.

Toa Biauw melayani. maka itu bertempurlah mnereka.

Sampai disini, keenam Yauw Lie lantas mengambil tempatnya masing-masing, mengurung ketiga bajingan itu. Peng Mo menjadi bingung. maksudnya hendak menyusul Gak Hong Kun, dengan kakaknya itu untuk berkelahi. waktunya jadi terbuang secara sia-sia. pula pertempuran itu tidak ada artinya. saking jengkelnya, ia membanting-banting kakinya, lalu ia berseru-seru menganjurkan orang berhenti bertarung! Tam Mo tahu adatnya adik seperguruannya itu, ia khawatir orang nanti rewel, terpaksa ia melompat mundur.

Toa Biauw pun tahu keadaan, ketika baik itu ia pergunakan, ialah ia membiarkan orang mundur, tak mau ia menyusul guna menyerang terus, tapi ia tidak mau kalah gertak, maka ia lantas kata nyaring:"Kau tidak mau berkelahi, nonamu juga tidak mau keterlaluan! asal kalian suka berurusan dengan guruku, suka kami bukakan jalan hidup!"

Suara itu keras tetapi itulah umum dalam dunia kang ouw, itulah cara buat mundur teratur.

"Kalian mau apa?" tanya Hiat Mo, yang hatinya masih panas, iapun maju satu tindak, kedua belah tangannya disiapkan, supaya sembarang waktu ia dapat menyerang secara dahsyat. terus ia berkata pula:"Beginilah aku bersedia mengiringi kehendak kalian, budak bau! kau ingin mencoba- coba, budak? kalau tidak, pergi, pergilah kau berlindung!"

Kembali satu serangan, sebab si pendeta tak dapat mengekang dirinya.

Toa Biauw kaget, dia berkelit sambil melompat menjatuhkan diri, dengan gerakan tipu "tambra emas menembus gelombang" dia mundur sampai setombak lebih, baru dia bebas.

Enam orang nona lainnya menjadi repot, hingga mereka menyelamatkan diri secara kacau. mereka justru berada di belakang si kakak dan tidak menyangka yang orang bakal menyerang pula! Toa Biauw insap yang mereka tidak dapat melayani hong Gwa Sam Mo, terpaksa ia bersiul pendek, terus ia lari menyingkir. maka semua saudaranya lantas lari menyusulnya!.

Menyaksikan itu, Tam Mo bersorak sambil tertawa menepuk-nepuk tangan.

"Kakak hebat!" pujinya. "Dengan serangan itu kakak, cukup sudah kau melayani mereka itu!"

Hiat Mo tertawa, dia puas sekali.

"Murid-muridnya Im Ciu si bajingan tua cuma pandai bermain asmara!. " katanya, dan mendadak ia menutup

mulutnya, sebab mendadak juga ia ingat justru adik sepergurunnya lagi mabuk cinta, dengan mencaci Cit Biauw Yauw Lie, ia seperti mencaci adik seperguruannya sendiri,........

Matanya Tam Mo memainkan melihat kesekitaranya, kepada kedua saudaranya itu.

"Sayang, kamilah orang-orang yang menuntut hidup suci" katanya kemudian "Kalau tidak. disini, selama malam yang indah ini, dapat kita berpelesiran puaslah. kita murid-murid

sang budha, kita sudah bersih bebas dari satu akar..........

Peng Mo heran mendengar kata-kata kakaknya yang nomor dua itu,

"Kenapa kau menyebut satu akar, kakak?" tanyanya, "bukankah kaum agama kita mempunyai enam yang harus semua bersih?" Yang disebut "enam akar" itu, Lion-kin, ialah mata, telinga, hidung, mulut, tubuh dan hati (pikiran). Seorang suci harus membersihkan harus membersihkan diri dari semua itu, hingga dirinya menjadi kosong seluruhnya (su tay kay khong).

"Kau benar, adik ," kata Tam Mo. "Tapi dapatkah kau bersih dari semuanya ?"

"Aku baru dapat membersihkan yang lima, kakak. tinggal satu yang belum.....

"Hu, kalian bicarakan apa saja?" Hiat Mo campur bicara.

Peng Mo tidak menjawab, hanya bertanya "Kakak, sudah lama kau menyucikan diri, apakah kau telah bersih dari enam akar? Baru satu bukan?"

Hiat Mo mengangguk. "Ia"sahutnya

Tertarik hatinya ketiga saudara itu bicara tentang sari agamanya, hingga mereka jadi berbicara panjang lebar, sampai Peng Mo dapat kenyataan, kedua kakaknya itu gagah dan galak, apa saja mereka lakukan, cuma satu hal yang tak menarik perhatian mereka, yaitu paras elok. pantas selama bergaul, kedua kakak itu tidak pernah membicarakan soal tersebut dan seingatnya, ia belum pernah diganggu mereka. kedua saudara seperguruan itu bahkan menyanyangi seperti saudara kandung sendiri.

"Kedua kakak tak dapat mempuaskan dirinya, bagaimana aku dapat membantunya?" kemudian Peng Mo berpikir. "Mereka harus hidup seperti orang umumnya. " Selagi berpikir keras mendadak bajingan es ingat seseorang.

"Couw Kong Put Loo!" serunya perlahan. hanya orang itu yang namanya diingat secara tiba-tiba.

Hiat Mo melengak.

"Ada apakah adik?" tanyanya. heran.

"Apakah dia pun orang. yang sangat kau perhatikan?"

Hampir kakak ini menyebut "kekasih" syukur dia lantas ingat dan segera merubahnya.

Peng Mo tidak menjawab, hanya menatap kakaknya itu. "Apakah kakak kenal dia?" tanyanya.

"Buat apa berkenalan dengannya!" sahut Hiat Mo. "dalam hal ilmu silat, dia telah ditindih, Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Cie"

Si adik tersenyum.

"Kakak kenal baik dia itu, rupanya kakak dan dia sahabat- sahabat kekal?" katanya.

Hiat Mo menggeleng kepala.

"Tidak" sahutnya, ada apa adikku menanyakan tentang dia?"

"Bukankah itu mengenai soal kekuranganmu, kakak?" ia berbalik bertanya. Hiat Mo heran. tapi ia menjadi girang.

"Apakah dia mempunyai surat obat yang mujizat, adikku?" tanyanya, "Coba bilang?"

"Oh, adikku yang baik!" Tam Mo memuji.

Puas hati Peng Mo mengetahui kakaknya itu memperhatikan kata-katanya. ia mengawasi mereka dan tertawa, terus ia berkata:" Touw Kong Put lo memahami bunyinya kitab So Lie Keng, rupanya dia telah berhasil baik. dia bagaikan menyulap kekuatan pria, jika kakak berdua mendapat bantuan pengobatan dari dia, pasti kakak pun akan memperoleh kebaikan!"

"Dimana adanya Touw Kong Put Lo sekarang?" tanya Tam Mo Si To kauw. "Dimana dia menyakinkan ilmunya?"

"Sejak beberapa puluh tahun, tempatnya ialah Tiang Lo Jiang. didalam rimba pohon bambu" sahut Peng Mo, "Hanya selama yang belakangan ini, orang bilang dia sudah muncul pula dalam dunia kang ouw hingga orang tak tahu pasti dimana dia tengah merantau. "

Hiat Mo m,enghela napas, nampaknya dia berduka.

"Kalau begitu, sulit buat mencari dia, adik" katanya masgul. "Dengan mencari sembarangan saja, sadma dengan kita merogoh rembulan didalam air."

"Jangan mudah putus asa, kakak" Tam Mo menghibur," Didalam segala hal biasanya terjadi sesuatu yang diluar perkiraan! coba adik ingat-ingat pula dimana kau pernah mendengar tentang dia?. " ia meneruskan namanya adik

seperguruannya.

Peng Mo berpikir, lalu ia ingat pertemuannya dengan Touw Kong Put Lo dalam penginapan Kui Hiang San Koan di Kang lam. tapi ia hendak "mengekang" dua saudaranya itu, ia berpura-pura belum mengingatnya, ia melihat sana melihat sini, ia berjalan mondar mandir perlahan-lahan.

Hiat Mo tidak sabaran.

"Sudah adik, tak usahlah kau pikirkan pula?" katanya. "Biarlah kekuranganku itu kami derita selama hidup kami. "

Peng Mo berhenti berjalan. dia menoleh "Kenapa, kakak?" tanyanya. "Kenapa kakak habis sabar? baru saja aku ingat tentang dia, sekarang tinggal soalnya, dia akan dapat di cari tidak! inilah tergantung dengan peruntungan baik dari kakak berdua. "

"Kau bicaralah terus terang adik!" katanya Hiat Mo, suaranya menjadi sabar pula "aku minta kau jangan bicara setengah-setengah. "

"Demi kakak berdua, telah aku kuras otakku, kakak, berkata adik seperguruannya yang manja itu. "Kalau nanti aku berhasil mencari dia, buatku tidak ada untungnya. itulah buat kebaikan kakak berdua. "

Tam Mo tertawa.

"Syukur adik!" katanya "kami berterima kasih padamu!" Peng Mo puas, alisnya terbangun. "Nah, kakak, dengan apa kalian akan membalas budiku?" tanyanya, "Bagaimana kalau kau mengajariku aku limu silat Thian Lui Ciang? kau toh tak akan menyimpannya buat dirimu sendiri. bukan?"

"Thian Lui Ciang" ialh ilmu silat "Guntur tangan" atau "tangan guntur"

"Akan aku ajari kau ilmu itu, adik!" Hiat Mo memberi janjinya.

Peng Mo tertawa.

"Memang kesohor ilmu silatmu itu kakak!" katanya memuji. "Tapi telah aku mempunyai satu ilmu silat tangan kosong lainnya. bukankah kaum persilatan paling pantang kemaruk? mana dapat aku mempelajarinya pula? kakak, terimah kasih untuk kebaikanmu itu. "

*****

Sementara itu It Hiong dan Kiauw In beramai telah dapat berkumpul bersama-sama. banyak soal yang mereka bicarakan terutama ialah urusan pertemuan besar digunung in Busan nanti, guna menghadapi Pihak Thian Liong pang.

Sang waktu berjalan terus dan saatnya pertempuran terus mendatangi semakin dekat, karena itu, Perlu It Hiong membuat persiapan, biar bagaiman, Thian Liong Pang tidak dapat dipandang ringan. bukankah katanya Tong Thian Tok Liong Sian Hiauw telah mengundang, mau meminta bantuan gurunya dan lainnya. yang semuanya ada orang-orang lihai maka itu harus ia teliti. Oleh karena nya, ia pasti perlu mendapat bantuan,

Demikianlah, serbua perundingan permintaan bantuan akan diminta dari pihak pejuang dan utusan segera ditetapkan, keputusan yang akhir ialah Cukat Tan bersama Tan Hiong yang diminta harus pergi terlebih dahulu ke In Bu San guna menentukan siapa-apa guna membantu menyambut, orang rimba persilatan golongan sadar dan lurus yang diundang itu.

Semua orang sangat menyetujui pikiran It Hiong itu, maka lantas juga mereka mau berkemas-kemas, agar mereka semua dapat berangkat ketempat itu , si nona berbaju hijau tiba-tiba saja dia mengeluarkan air mata deras dan menangis sesunggukan terus dia menghampiri It Hiong. untuk memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk-angguk.

"Tuan Tio," kata dia selagi menangis sangat sedih itu. "Budimu yang  beasr,  entah  kapan  dapat  aku membalasnya dan perpisahan kita ini, sampai kapan kita

bakal dapat bertemu pula. "

Mendengar suara nona itu, semua orang menjadi terharu, hingga air muka mereka menjadi suaram.

"Ah, adik!" berkata It Hiong jangan memperlihatkan sikap tegang, walaupun hatinya terharu bukan main, "Apakah begini cara lakunya seorang nona kaum kang Ouw? bukankah manusia itu, dia berpisah atau berkumpul, semua itu telah ditakdirkan? kenapa kau begitu bersedih dengan perpisahan kita ini? kita menjelajah sungai telaga. dunia yang luas menjadi sempit mirip satu kaki, oleh karena itu, hari-hari pertemuan kita yang mendatang masih banyak sekali! adik, kau pulanglah dengan hati tenang!" Nona itu menghapus air matanya.

"Aku berjanji"katanya, "setelah pulang ini, akan aku belajar dengan sungguh sungguh, agar kemudian hari dapat aku membasmi semua orang jahat kaum sesat, guna sekalian membalas dendamku!"

It Hiong tertawa.

"Kau benar adik!"katanya. "Baiklah-baiklah saja kau menjaga dirimu"

"Adik" Teng Hiang campur bicara, "bagaimana kalau kau meninggalkan she dan namamu? di belakang hari. apabila ada jodoh kita bertemu pula, dapat aku mengenal dan dapat memanggilmu..."

Mendengar kata-katanya Teng Hiang itu, semua orang tak terkecuali It Hiong bagaikan baru mendusin dari tidurnya! ia, sudah lama berkumpul tetapi tak ada satu yang ingat akan menanyakan nama orang, sebegitu jauh nona itu cuma dikenal dan dipanggil sebagai si nona berbaju hijau.

Si nona berbaju hijau agak bersangsi, tetapi kemudian ia toh menjawab:"Aku she Tio nama Toan, biasa dipanggil Toan jie, anak Toan, aku asal Kwan tiong. kakekku menyingkir dari musuhnya maka itu kami merantau dan tinggal di Kwan gwa. hidup kami berkelana. ayah pernah berkata aku bahwa satu waktu kami akan pulang kekampung halam kami "

"Oh kiranya adik Toan jie" berkata Teng Hiang, tertawa."Sungguh satu nama yang bagus!"

"Kau ingin melanjuti pelajran silatmu, adik. itulah bagus seali!" Kiauw In turut berkata. "Ilmu silat memang sangat baik, baik guna kesabaran maupun guna pembalasan sakit hati, terutama buat menegakkan keadilan! buat sekarang ini. adik. selama dalam perjalanan pulang, baik-baiklah kau terlebih dahulu mempelajari ilmu istimewa Hoan Kuk Bie Cin dari adik Ya Bie. itulah suatu kepandaian sangat berharga terutama bagi kaum wanita, guna dia membela dirinya"

Si nona berbaju hiaju mengangguk, ia mengucap terima kasih.

Sementara itu hatinya It Hiong lega buka main. inilah disebabkan ia ketahui si nona berbaju hijau ada orang dari satu she dengannya, syukurlah, selama bergaul erat dengan nona itu, ia berlaku jujur dan hormat terhdap nona itu! bagaimana celakanya andiakata ia tersesat! untuk sejenak ia mengeluarkan peluh dingin, hatinya berdebar-debar.

"Syukur..."pujinya dalam hati.

Kemudian tibalah saatnya Toan jie diantar pergi keluar dari dusun Kho Tiam cu disitu, ditengah jalan kedua bela pihak lantas berpisahan. Toan jie memberi hormat. ia mengucap terima kasih terus ia memohon diri. tentu sekali ia berangkat dengan hati berat....

Disitu bukan cuma Toan jie yang memisahkan diri, juga lain-lain. satu pada lain, karena masing-masing mempunyai tugasnya sendiri-sendiri.

Lebih dahulu, kita mengikuti It Hiong. pemuda ini berkeinginan sangat lekas-lekas mendapat pulang pedangnya yang hilang, pedang mustika Keng Hom Kiam, maka juga ia membuat perjalanan dengan cepat. Pada suatu hari sampailah anak muda itu kita dikaki gunung Bu Ie San. ia mengangkat kepalanya mengawasi gunung itu, bagian atas dan sekitarnya. otaknya pun berbareng bekerja. ia memikirkan dimana adanya kali Kiu Kiok ceng koan.

Selagi It Hiong mencari tempat tujuannya itu, baiklah kita belajar kenal lebih dahulu dengan orang-orang atau anggota keluarga Tong Hong Se kee, ialah keluarga Tong Hong.

Tiada orang ketahui asal usulnya keluarga Tong Hong itu akan tetapi di Bu Ie San mereka sudah tinggal kira-kira empat puluh tahun. dan mereka telah terdiiri dari tiga turunan, kakek sampai pada cucunya.

Tong-hong Tan, sang kakek, ketika dimasa mudahnya, tatkala diadakan rapat Bu Lim yang kelima, telah berhasil menundukkan semua lawannya, hingga ilmu pedangnya jadi kesohor, tapi disaat sedang terkenal itu, entah apa sebabnya , tahu-tahu ia mengundurkan diri dengan mengajak istri dan anaknya laki-laki tinggal berdiam di Kiu Kiok Ceng Kee yang sunyi. ia membangun gubuk buat hidup dalam ketenangan. kemudian ternyata, ia tak dapat berumur panjang.

Selang satu tahun habis hidup menyendiri, pada suatu malam Tong Hong Tan kedapatan telah menutup mata, Nyonya Tong Hong menjadi heran, dia pun memanggil putrinya seorang guru silat dan dia pandai ilmu pedang, maka dia periksa mayat suaminya itu, juga semua barang didalam kamarnya,

Tak ada sesuatu yang mencurigakan kecuali sehelai kertas yang ada tulisannya empat buah huruf, sebenarnya itulah bukan kertas hanya sehelai sulaman sutera dengan sulaman huruf-hurufnya yang berbunyi "Giok Leuw Kio Ciauw" artinya "panggilan kilat dari neraka" sulaman itu berkilauan mirip api kunang-kunang. Nyonya itu bingung dan berduka, juga anak dan menantunya, tak berdaya mereka mencari keterangan, mereka cuma mengira pasti kematian itu disebabkan musuh, yang belum diketahui siapa adanya....

Dengan lewatnya sang waktu, akhirnya keluarga Tong Hong tinggal terdiri dari seorang nenek dengan seorang cucunya, sebab anak dan menantunya yang pergi mencari musuh, pergi dan tak kembali selama belasan tahun, hingga tak diketahui mereka telah menutup mata atau bagaimana.

Sebagai pembantu rumah tangga sinenek memelihara pelayan.

Sebagai nenek Tong Hong sudah berusia diatas enam puluh tahun, rambutnya sudah putih semua. maka orang memangilnya Tong-hong Po--Nyonya Tonghong. nyonyanya ialah Tonghong Liang.

Kecuali dua tiga orang kang-ouw yang menjadi kenalannya, sangat jarang Tonghong Po menerima tamu kunjungan, lama- lama hanya beberpa lewat dua bulan yang lampau, ia kedatangan seorang sahabatnya dengan siapa sudah banyak tahun ia tak pernah bertemu muka. dialah Couw Kong Put Lo, yang ada bersama seorang nona yang masih muda sekali.

Nona itu cantik. pakaiannya yang singsat memperlihatkan tubuhnya yang langsing, dipunggungnya dia menggendong sebatang pedang, nampaknya dia mirip seorang nyonya muda, apa yang luar biasa ialah dia mempunyai mata bersinar ketolol-tololan hingga mudah untuk diterka yang urat syarafnya tak tak sehat wajar, rupanya dia telah terkena pengaruh semacam obat bius. Habis dia minum teh, yang disuguhkan nyonya rumah, Couw Kong Put Lo memberitahukan halnya nona itu adalah muridnya yang baru dan telah mempunyai bakat silat baik. ia berkata ia datang buat minta si nyonya rumah mengajari nona itu ilmu pedang keluarga Tonghong, ilmu pedang "Koay Kiam" atau pedang kilat, yang sangat kesohor, dalam dunia rimba persilatan. bahkan si tamu mengatakan lebih cepat nona itu belajar pedang hingga sempurna terlebih baik pula!

Habis berkata, Couw Kong Put Lo menyerahkan dua peles berisi obat pada Tonghong Po. obat yang satunya buat membebaskan nona itu dari gangguan ingatannya, dan obat yang lainnya. namanya "Sek Sim Tan" guna membikin dia lupa pada she dan namanya serta asal usulnya.

Tonghong menerima dua peles obat itu, dia tertawa dan berkata: "Aku si tua lagi menganggur, tugas yang kau berikan ini dapat aku guna mengisi waktu menganggurku itu, tetapi sekarang kau harus beritahukan aku perguruan atau asal usulnya si nona , juga she dan namanya, supaya kelak di belakang tak nanti muncul soal yang menertawakan....

Couw Kong Put Lo berpikir sekian lama, barulah dia menjawab:"Muridku ini berasal dari pulau To Liong To, namanya Siauw Wan Goat, dia sendiri yang datang padaku buat minta diajari silat, jadi bukanlah aku yang memaksanya menjadi muridku"

Sinyonya mengawsi sahabatnya, dia tertawa dingin. "Dihadapan sahabat karib, buat apakah kau mendusta?"

Katanya "Kalau dia benar datang atas kehendak sendiri, mengapa kau mengekang syarafnya dengan obat?" Si tamu tua jengah, tapi ia menjawab:"Baik, kau katalah aku telah mendusta! hanya sekarang aku minta, nyonya tua, tolong lah aku memeriksa dia, buat mengajarinya ilmu pedang yang kesohor itu dari keluargamu itu"

"Jika demikian maksudmu, kau sebenarnya tidak boleh bekerja kepalang tanggung." kata si nyonya Tonghong kemudian. "Sudah ingatannya dikekang, baik juga sekalian saja tampang wajahnyapun dirubah, supaya dia tak lagi berupa seperti diri asalnya!. "

Couw Kong Put Lo girang ia memuji sambil bertepuk tangan.

"Bagus-bagus" demikian serunya.

Demikian karena mampunya Couw Kong Put Loo itu, Siauw Wan Goat menjadi berada dirumah Tong Hong Sie Kee dimana dia belajar silat, dia telah dikasih makan obat hingga dia lupa diri asalnya, dan wajahnya pun menjadi lain daripada wajah semula, dia tidak ingat lagi nama Siauw Wan Goat! selanjutnya dia cuma tahu dirinya ialah Tong Hong Kiauw Couw, hingga dia menjadi seperti juga "Tong Hong Kiauw Couw" cucu perempuan dari sinyonya hidup pula,

Belajar ilmu pedang tidak mudah, waktu yang diperlukan pun bertahun-tahun. akan tetapi Tonghong Po pintar dan cerdik, dia mendapat akal. dia memakai jalan singkat.

"Dia harus mengangkat nama Tonghong Sie Kee!" demikian pikir sinyonya tua dan dengan demikian dia mengambil keputusannya.

Jalan singkat itu termasuk jalan sesat. untuk itu, si nyonya mencoba obatnya Couw Kong Put Lo, sebab sekalian ia mau membuktikan, obat itu benar mujizat atau tidak, kalau obat itu dimakan satu satu butir, maka dalam waktu satu bulan dengan latihan tidakk lengahnya, tenaga dalam si nona bakal seperti latihan dari sepuluh tahun.!

Latihan itu perlu dibarengii latihan semedhi, supaya pikiran tidak tergoda urusan lainnya, jika tidak si nona bakal terseret dan gagal, tubuhnya bakal rusak dan binasa.

Dengan memakan dua rupa obat itu, Siauw Wan Goat tidak lagi nampak tolol, hanya sekarang ia lupa asal-usul dirinya, tak ingat ia pada namanya dan padanya cuma ia tahu adalah Tonghong Kiauw Couw dan menjadi cucu si nenek Tonghong.

Hanya satu hal yang tak dapat dilupakan oleh obat Sek Sian Wan dari Couw Kong Put Lo. itulah nama atau wajah Tio It Hiong, meski sebenarnya It Hiong palsu, ialah Gak Hong Kun, samar-samar otaknya masih seperti terbelenggu......

Rupanya ikatan sang asmara sangat kuat. Maksudnya Tong Hong po tercapai. didalam waktu dua bulan, Tong Hong Kiauw Couw telah berhasil mempelajari Koay Kiam, ilmu pedang kilat itu. dia bahkan memilkiki hasil latihan seperti dua puluh tahun, lamanya. maka juga dia jadi gesit, lincah dan lihai.

Bukan main girangnya Tonghong Po hingga ia menyayangi Siauw Wan Goat seperti cucunya sendiri, hingga ia lantas menyuruh cicitnya itu pergi merantau. katanya buat mengangkat naik pula nama baru dari Tonghong Sie Kee.

Tonghong Kiauw Couw menerima tugas itu hanya diam- diam mau sekalian mencari Tio It Hiong!

Disaat Kiauw Couw mau berangkat maka Tonghong Liang sang adik ingin turut serta bersama. anak ini meminta dengan memaksa hingga akhirnya ia mendapat perkenan dari neneknya itu, yang cuma memesan "berhati-hatilah kau!" sinenek masih bersemangat dan tak menghawatirkan apa-apa mengenai cucunya itu.

Demikian Tonghong Kiauw Couw dan Tonghong Lian meninggalkan Kiu Kiok Ceng Kee, tempat halamannya, untuk melakukan pengembaraanya, selama mana senantiasa si nona mencari tahu tentang Tio It Hiong, hingga akhirnya ia berhasil, bahkan paling belakang ia mendengar halnya si anak muda berada di Kho-tiam Cu justru malam itu ia mau cari It Hiong, ia bertemu dengan Couw Kong Put Lo dan si orang tua terus mengajari ia bagaimana harus berbuat, guna memancing anak muda itu supaya datang ke Kiu Kiok Ceng Kee! malah orang tua itu memberikan bubuk serta sulaman empat huruf "Giok Lauw Kip Ciauw" itu.

Demikian terjadi It Hiong kehilangan pedangnya dan di anjurkan datang ke Kiu Kiok Ceng Kee guna mendapatkan pulang pedangnya itu. Selama ia masih ada lain pengalamannya kiuw couw, seperti halnya dia bertemu Gak Hong Kun si Tio It Hong palsu.

Terjadilah malam itu Gak Hong Kun menyusul Kiauw Couw, maksudnya ada dua mendapatkan pedang Keng Hom Kiam serta juga tubuhnya si nona, guna ia milikinya!.

Ada sedikit kecurigaan Kiauw Couw terhadap Hong Kun, kendati begitu, ia toh terus memancing anak muda itu sehingga Hong Kun terus mengintilnya, sedangkan It Hiong, diapun telah tiba dikaki Bu Ie San seperti yang dituturkan dibagian atas ini. Sesudah berdiam dikaki gunung sekian lama. It Hiong segera mendakinya. ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Megah.

Bu Ie San banyak puncaknya yang kecil. banyak rimbanya, juga kali dan lembah. It Hiong harus melintasi semua itu, ia hanya nampak kesulitan sebab majunya tanpa sasaran yang tentu, ke arah mana ia mesti menuju? ia cuma menerka-nerka maka sedapat-dapatnya ia mencari tempat dimana ada kali atau selokan, sebab "kee" dari Kiu Kiok Ceng Kee berarti "kali" dengan demikian, disamping telah menyaksikan perbagai pemandangan alam yang indah, sering ia mendengar air tumpah.

Selain itu, tak pernah anakmuda kita menemui orang. gubuk pun tidak, sudah setengah hari ia menjelajah, sampai akhirnya di satu tempat sayup-sayup ia mendengar orang berbicara,suara mana dibawa sang angin, segera ia memasang telinga dan membuka matanya lebar-lebar.

"Mungkin mereka tukang cari kayu!" Pikir It Hiong, girang lantas ia lari mendekati, ke arah suara itu datang, selagi mendekati ia melihat dua sosok tubuh orang, yang lagi duduk berandeng diatas sebuah batu besar di hulu kali, selagi mendatangi semakin dekat, tampaklah sepasang pria dan wanita.

Hari sudah lohor, matahari bersinar layung, magrib akan segera tiba, puncak gunung berbayang di muka air, begitupun tubuhnya sepasang pria dan wanita itu.

Datang semakin dekat It Hiong merasa pasti orang bukannya tukang kayu. pada punggungnya mereka itu masing-masing pun terdapat pedang. maka ia mau menerka, jangan-jangan itulah pencuri pedangnya, selagi berpikir begitu, ia tetap melangkah terus, hingga di lain saat ia sudah berada di dekat dengan mereka itu, hanya berjarak tiga tomabak.

"Sahabat" ia lantas menyapa, untuk mana ia menahan sabar seberapa bisa, "Sahabat, aku menumpang bertanya dimanakah letaknya kali Kiu Kiok Ceng Kee? dapatkah kau menunjukkan padaku?"

Kedua orang pria dan wanita itu agak melengak sebab keduanya lantas mengangkat mukanya dan mengawasi hingga mereka seperti lupa menjawab.

It Hiong menanya pula, tetap ia dapat mengusai dirinya, akan tetapi kali ini suaranya menjadi terlebih keras, katanya

:"Sahabat, adakah kau berlagak pilon? akulah Tio It Hiong dan aku datang kemari untuk memenuhi janji undangan!"

Mendengar nama Tio It Hiong itu kedua orang pria dan wanita itu terkejut hingga mereka bagikan sadar dari mimpinya yang nyenyak.

"Ya, ya" kata si wanita, yang mirip orang terlepasan bicara.

Yang pria mengawasi terus, kali ini mukanya menunjukkan rasa heran berbareng girang, lantas ia bangkit berdiri, untuk memberi hormat, serunya balik bertanya :"Tuan, benarkah kau It Hiong adanya?"

It Hiong membalas dengna suara keren :"Apakah kau khawatir aku memalsukannya?"

Sebelum si pria menjawab, wanita mendahului :"Tio It Hiong yang palsu, telah nonamu melihatnya bahwa kau dan dia itu bukanlah satu orang, itulah sukar untuk dibilang pasti!" It Hiong bagaikan habis sabar.

"Baiklah kita tangguhkan soal Tio It Hiong tulen dan Tio It Hionga palsu!" katanya, kaku, "Sekarang aku tanya kalian berdua, tuan dan nona, benar atau bukan kalian penduduk Kiu Kiok Ceng Kee ?"

Si nona tertawa manis. dia tidak menjawab hanya bertanya

:"Baiklah kau sebutkan dahulu she dan namamu yang sebenar-benarnya begitupun gelaranmu! setelah itu barulah kau menanyakan tentang diri orang lain! dapat, bukan?"

It Hiong menjadi tidak senang, tapi ia toh menjawab : "Barusan telah aku memberitakukan bahwa akulah Tio It Hiong yang tulen, akulah Tio It Hiong murid dari Pay In Nia!"

Wanita itu menatap tajam. ketika ia berkata pula, suaranya lunak : "Karena ada satu urusan maka kami menanya pelit tentang she dan namamu. ini toh urusan kecil, bukan? kenapa kau nampaknya gusar? apakah demikian prilakunya seorang kang ouw ternama?"

Mendapat pertanyaan itu, It Hiong merasa tidak tentram hati, sendirinya lantas kemarahannya mereda, lantas ia berkata:"Nona, telah aku beritahukan namaku yang sejati serta asal perguruanku, maka itu sudah selekasnya kalau sekarang nona menjawab pertanyaannku barusan!"

Nona itu mengangguk,

"Kau benar!" bilanglah. lantas ia menoleh kepada pria disisinya, akan mengedipi mata sambil membuat main bibirnnya. Si pria segera bertindak mendekati It Hiog. kembali ia memberi hormat.

"Sahabat she Tio" katanya, "Ada satu urusan dalam hal mana kami mengharapkan bantuanmu untuk menyempurnakannya. "

It Hiong heran hingga ia melengak.

"Tuan, apakah she dan nama besarmu?" ia bertanya.

"Aku In Go!" si nona mendahului memberikan jawabannya. "Akulah muridnya Gwa Toa Sin Mo dari lembah Houw Touw digunung Tiam Cong San" ia menunjuk si pria dan menambahkan "dan dialah Bu Pa, kakak seperguruanku!"

It Hiong pernah medengar nama gwa To sin mo hanya dengan orangnya belum pernah ia bertemu, demikian muda mudi di depannya ini, mereka itu asing baginya. satu hal yang menarik perhatiannya ialah, persoalan apakah dari mereka ini? bukankah mereka datang jauh dari Tiam Cing San? mau apa mereka mendatangi gunung Bu Ie San ini? Aneh, bukan?

"Saudara Bu Pa" kemudian ia bertanya. "Buat urusan apakah saudara mencariku? nampaknya kalian mempunyai urusan yang sangat penting. dapatkah saudara memberi

penjelasan kepadaku?"

Si nona mengawasi, agaknya dia tidak sabaran, lantas dia membanting kaki.

"Kakak, kau bicaralah" desaknya "kakak" itu ialah suheng, kakak seperguruan. Bu Pa menggusai dirinya, supaya ia tidak jengah, tapi ketika ia toh bicara, suaranya perlahan sekali, kartanya.

:"Kami mencari kau, sahabat she Tio, yaitu untuk memohon kau membantu menyempurnakan perangkapan jodoh kami berdua. "

It Hiong heran hingga dia bagaikan ditutupi halimun, suara orang pun tidak lancar, ia heran bukan main. lantas ia mendapatkan dugaan yang tidak-tidak, ia pikir: "Ah, ini juga soal yang sulit,. Mungkinkah nona kaum sesat ini mencintai

aku?. ", ia menerka demikian karena ia segera ingat lakonnya

Tan Hong dari pulau Ikan lodan hitam, Siauw Wan Goat dari pulau naga melengkung, Ya Bie dari Ciang Lo Ciang. dan juga terakhir. Tio Toan Cie si nona berbaju hjau dari gunung Hek Sek San...."Ah!. "ia menghela napas masgul. maka ia ingat

kata-kata gurunya bahwa ia bakal terlibat soal asmara.

Hanya kali ini ia terkaannya keliru jauh sekali.

Sama sekali In Go tidak mencintai Tio It Hiong. dia hanya menyukai kakak seperguruannya dan mereka berdua seluruh seperguruannya sudah bersepakatan merangkap ikatan jodoh mereka. hanya dalam hal itu, si nona mengajukkan suatu syarat istimewa. syarat mana itu ialah:"Bu Pa harus bertanding melawan It Hiong!

It Hiong tengah mencari orang, ia ingin mendapat pulang pedangnya karena nya tak suka ia bercengkrama dengan muda mudi itu, lantas ia memberi hormat pada Bu Pa dan berkata "Saudara Bu Pa, kau telah keliru mencari orang! memang aku bernama It Hiong tetapi aku bukanlah orang jahat yang kalian cari. silakan kau cari Tio It Hiong dia itu sejati, agar kalian dapat mencari dia maka persoalan dari merangkapkan sempurna jodoh kalian ! nah, ijinkanlah lah aku pergi!"

Dengan kata-katanya itu, tanpa terasa It Hiong  mengatakan dialah It Hiong palsu, habis itu, ia lantas memutar tubuh dan bertindak pergi!

"Sahabat, tahan" Bu Pa berseru, memanggil. "Sahabat dengar dahulu aku"

Begitu berkata, begitu si pria lompat menyusul. hanya sebentar, ia sudah berada di depannya si anak muda kita, In Go si wanitanya menyusul bersama.

"Sahabat she Tio, dengar dulu penjelasan kami," berkata si nona itu. "Dapat bukan? kita toh baru saja bertemu dan berkenalan! kenapakah tuan begini tergesa-gesa?"

It Hiong tidak puas, ia masih menyangka orang tergila-gila padanya, walaupun demikian, ia masih juga memberi muka pada muda mudi iotu, maka ia berhenti berjalan, ia mengekang rasa jemunya.

"Silakan bicara nona" katanya.

Matanya si nona bersinar, lantas ia tertawa perlahan pada anak muda kita,

"Barusan kakak Bu Pa bicara kurang jelas" katanya. "Kau agaknya tak puas. sahabat she Tio! benarkah?"

"Seorang wanita kang ouw, dia dapat bebas bicara!" kata It Hiong, "Maka itu, nona aku minta kau jangan bicara secara tak langsung itu hanya membuang waktu!" Si nona menoleh pada Bu Pa.

“Kakak kau bicaralah sekali lagi" kata dia pada kakak seperguruannya itu. "Kau bicara terus terang, jangan seperti lagak nenek-nenek! nanti aku tak mau mengerti!"

Bu Pa menggaruk-garuk kepala, sepasang matanya memainkan, nampaknya dia ragu.

"Sahabat she Tio" katanya akhirnya: "Aku bersama adik seperguruanku, kami telah berjanji akan mengikat jodoh. untuk menikah nanti. " Sampai disitu, pria itu berhenti,

Mendengar demikian, sekarang mengertilah It Hiong, bukannya In Go hendak merecokinya ia tetapi sebenarnya mereka telah bertunangan, hanya tingagal soal syarat saja. maka legalah hatinya.

“Kalian telah mengikat janji" katanya "Habis, apakah kalian kehendaki lagi? coba kalian bicara biar jelas!"

"Ya, kaka bicaralah" In Go mendesak , dia membanting kakinya. "Kenapa kakak pemaluan melebihkan orang perempuan?"

Bu Pa terkejut, diapun malu, dia dikatakan melebihi wanita! dia juga berkhawatir si nona mundur teratur....

"Begini tuan!" akhirnya ia berkata pada It Hong, suaranya terang dan tegas "Kami sudah mengikat janji buat menikah, tetapi dengan satu syarat, dan syarat itu ialah aku mesti menempur dahulu pada Tio It Hiong, yaitu kau sendiri, tuan. ? seperti telah aku sebutkan tadi. beginilah janji kami. kalau kau suka mengalah barang satu jurus atau dua jurus, sahabat, maka dapatlah kami menikah!" It Hiong mengawsi muda mudi itu. ia heran dan juga merasa lucu, itulah syarat aneh. sudah suka sama suka, sudah setuju, habis buat apa syarat itu,? kenapa harus bertempur dahulu? dan, kenapa justru ialah yang dicari buat diajak bertempur? mana ada tempo ia melayani? ia sendiri mempunyai urusan yang sangat penting! pedangnya harus didapat kembali. agar nanti ia dapat menghadiri rapat umum Bu Lim Cit Cun.

"Oh, kiranya demikian!" katanya kemudian sambil tertawa. "Inilah janji pernikahan yang luar biasa istimewa! bagaimana kalian dapat memikir untuk kalian menguji aku? saudara- saudara, aku memberi selamat kepada kalian! semoga kalian hidup rukun dan berbahagia! nah, maafkan aku!"

Begitu ucapan itu ditutup, begitu tubuhnya anak muda kita menjelat sejauh satu tombak lebih, untuk terus berlari, hingga didalam sekejap, ia sudah pergi belasan tombak!

Bu Pa dan In Go terperanjat akan tetapi mereka pun segera berlari menyusul! keduanya memanggil manggil meminta si anak muda berhenti berlari...

Tiga orang itu terus berlari-lari disepanjang tepi kali, cepat larinya mereka, lantas juga mereka tiba disebuah tikungan. diatas itu ada sebuah batu karang tinggi dan bayangannya itu berpeta di jalanan, melihat itu, It Hiong memikir guna menyembunyikan diri dibalik bebatuan itu, akan tetapi ia mendapat kenyataan, ditengah jalan dimana terdapat bayangan batu itu justru ada seorang lagi berdiri diam.

Ketika itu, rembulan baru saja muncul dan cahayanya terang cemerlang, hingga orang itu nyata berpeta sebagai bayangan hitam juga. It Hiong terkejut lantaran ia sedang berlari keras, dikanan itu ada dinding batu gunung, dan kirinya tepian kali, celaka kalau ia kena tubruk orang itu, sedangkan jalanan disitu tidak cukupo  buat  dua  orang  jalan berendeng. syukur ia telah dapat melihat orang dari sedikit

jauh, maka sempat ia melompat tinggi untuk melewatinya, waktu ia tiba di depan orang itu sekali, mendadak telah terjadi hal yang membuatnya terperanjat dan heran. orang itu mendadak menghunus pedang dan dengan mengangkat pedangnya itu dia menghadang!

Dalam keadan berbahaya itu, It Hiong dapat berlaku tabah dan gesit, dengan satu loncatan Tangga Mega, ia melompat terus melewatinya, sejauh dua tombak, baru ia turun, akan menjejaki kaki ditanah, justru itu ia mendengar berisiknya suara senjata-senjata beradu, maka ia lantas memasang mata hingga ia menyaksikan bayangan-bayangan orang lagi bertempur. It Hiong mendapatkan, itulah ujung tikungan, disitu terlihat sebuah tempat terbuka. mungkin itulah belakang bukit, itulah sebuah tanah yang penuh rumput dan pohon! bunga hutan serta pohon-pohon kayu kecil, dari situlah datangnya suara beradu itu, disitu pula ia menyaksikan pedang-pedang berkelebatan berkilauan diantara terangnya si putri malam.

Maka terlihat jelas, yang bertempur itu adalah dua orang, dan yang satu besar, yang lain kecil, keduanya bergerak dengan sangat gesit, orang yang besar itu memang unggul dalam ilmu kegesitan, sebaliknya orang yang kecil itu pesat sekali gerakan pedangnya, maka juga, mereka berdua jadi imbang.

Diam-diam It Hiong memuji kedua orang itu, ia berdiri diam menonton hingga ia lupa pada orang yang menghadang dan yang menyusulnya! mereka itu tiba dengan cepat, In Go dan Bu Pa seperti di belakangnya oleh seorang pria tua, yang berdandan sebagai pelajar, yang mukanya sudah keriputan.

Pertempuran sangat menarik hati hingga It Hiong menontonnya dengan asyik, tak dapat ia melihat jelas wajahnya kedua orang itu, tetapi dari cara gerak -geriknya mereka itu, ia menerka pada ilmu pedang Heng San Pay, entahlah ilmu pedang orang yang kecil itu, yang sukar buat lantas dikenali, ini pula yang menambah keasyikannya sebab sebagai ahli ilmu pedang ia toh tak mudah mengenali ilmu pedang orang...

Kiranya itulah ilmu pedang Koay Kiam, atau pedang kilat, dari Tonghong Sie Kee--keluarga Tonghong, sebab yang lagi bertempur itu, yang satu adalah Gak Hong Kun yaitu It Hiong palsu, dan yang lainnya adalah TonghongLling, adiknya Tonghong Kiauw Couw.

Malam itu ditanah datar gunung Hek Sek San, Tonghong Kiauw Couw mendapat tau Gak Hong Kun menyusulnya, ketika itu, si nona mengira Hong Kun adalah It Hiong, didalam benaknya otaknya, masih berbayang tampang atau tubuhnya Gak Hong Kun---yang ia sangka It Hiong adanya, bukankah didalam penginapan Lap Kee, mereka berdua telah bermain asmara-asmara? hanya itu ketika itu Kiauw Couw masih merupakan Siauw Wan Goat, dan Siauw Wan Goat kemudian menyesal, waktu ia mengetahui ia telah keliru, menyangka Hong Kun sebagai It Hiong, hingga ia menjadi menyesal berbareng penasaran, hanya peristiwa itu sukar ia lupakan, hingga sekarang sebagai Kiauw Couw masih ada sisa bayangan dalam ingatannya.

Nona Tonghong tahu, orang yang menyusulnya mungkin bukannya Tio It Hiong tetapi karena pengaruh sisa ingatannya itu, yang masih berbekas, ia mau memancingorang ke Bu Ie San, guna nanti mencoba mendapatkan bukti kenyataan bagi keragu-raguannya itu.

Demikianlah Tonghong Ling, si adik, dititahkan memancing anak muda itu, agar orang tak kehilangan menguntitnya, dua hari satu malam mereka telah lewati didalam perjalanan, sampai mereka tiba ditempat terbuka itu, dan It Hong tiba belakangan, hingga kesudahannya anak muda itu dapat menyaksikan Tonghong Ling tengah melayani Hong Kun, bedanya merekka tiba cuma kira dua jam.

Mulanya pertempuran diantara Tonghong Ling dan Gak Hong Kun ialah, selagi Hong Kun masih mengejar, Kiauw Couw berkata pada adiknya:"Adik, pergi kau turun tangan lebih dahulu, akan menguji ilmu silatnya orang muda itu!"

Tonghong Ling girang menerima titah sang kakak, dia memang paling gemar berkelahi. lantas dia berlari memapaki Hong Kun, bahkan segera dia menegur dengan kaku "Eh, sahabat, mau apa kau selalu mengikuti kami? apa bukannya mau mengambil pedang tuan kecilmu ini?"

Selama dikaki gunung Hek Sek San, pernah Hong Kun bertempur dengan bocah itu, ia ketahui baik kepandaiannya orang, tetapi walaupun demikian, ia tidak memandang mata . ia percaya seorang bocah tak akan lihainya luar biasa dan tak dapat bertahan lama melawannya. maka itu, ia tidak menggubris teguran oarang, ia lari terus ke arah nona Tonghong!.

Tonghong Ling menjadi tidak puas, segera dia menghadang.

"Tahan" teriaknya keren. Bahwa sekarang Hong Kun mengawasi bocah itu.

"Kakakmu lagi menunggui aku?" katanya sengaja "Masih kau tidak suka memberi jalan padaku! awas kalau nanti kau pulang, kau bakal mendapat hajaran!"

Berkata begitu, si anak muda ini mengegos tubuh akan lari melewati penghadangnya itu.

Tong Hong Ling mendongkol, ia melompat maju sambniil terus menyerang punggung orang!

Hong Kun mengawasi Kiauw Couw, nampak mata airnya telah meleler keluar, maka itu hampir punggungnya tertikam pedang, disaat terakhir, dapat ia berkelit menyelamatkan diri, hal ini membuatanya gusar, maka ia lantas menghunus pedang mustikanya dan menebas sambil ia berseru: "Kau sambutlah pedangku!. "

Hanya belum berhenti seruannya, tebasannya sudah mengenai sasaran kosong, hingga ia menjadi heran! menurut ia, mestinya berhasil....

Tonghong Ling berdiri di depan lawan, dia tertawa. "Serangan pedangmu barusan terlalu lambat!" kata si

bocah, "lebih lambat daripada sang keong merayap naik pohon! buat apa kau heran?"

Hong Kun mendongkol dan gusar sekali, "Kau terlalu, saudara kecil" tegurnya, "Aku telah mengatakan, siapa tahu kau jadi begini kurang ajar! awas, jangan kau nanti mengatakan aku kejam!"

Tonghong Liang mengangkat mukanya. "Tunggu dulu" kata dia kemudian, "Kiu Kiok Ceng Kee digunung Ie Bu San ini menjadi kampung halamanku, maka itu berada disini, kau mesti menyebutkan dahulu she dan namamu serta apa perlunya kau datang kesini! itu barulah pantas!"

Mendengar demikian, Hong Kun suka melayani.

“Aku yang rendah adalah Tio It Hiong." demikian jawabnya, "aku datang kesini tanpa maksud sesuatu kecuali...karena aku sangat mengagumi ilmu silat lihai dari nona!. " dia menunjuk

ke arah Kiauw Couw, yang lagi berdiri menonton. sebab si nona mau mengetahui kesudahan ujian adiknya itu.

Sebenarnya Hong Kun mau mengatakan si nona cantik luar biasa tetapi disaat terakhir ia merubah itu menjadi ilmu silat.

Sampai disitu barulah Kiauw Couw berbicara. "Tuan Tio" sapanya, "Benar apa tidak yang kau kemari guna meminta pulang pedangmu?"

Sebenarnya Hong Kun tidak tahu menahu urusan pedang itu tetapi karena ia mengaku diri sebagai It Hiong, lantas saja ia menjawab: "benar! benaar!"

Kiauw Couw tertawa pula--manisnya tertawanya. "Kalau benar demikian. tuan harus pertunjuki dahulu

kepandaianmu menggunakan pedang!" katanya.

Kembali Hong Kun menjawab cepat: "Aku yang rendah justru lagi memikirkan buat belajar kenal dengan ilmu silatmu yang lihai, nona!" "Tetapi sabar tuan, tunggu dahulu!" berkata nona itu, "Buat menguji kepandaianmu, lebih dahulu kau mesti main-main dengan adikku! kau melayanilah dia buat beberapa jurus!"

Hong Kun mendongkol akan tetapi dia berpura-pura tersenyum. dia tertawa.

"Hanya aku khawatir yang aku tidak sanggup mengendalikan pedangku!" katanya tembereng, "aku khawatir yang aku nanti kena melukai adikmu itu! aku harap nona tiidak bergurau..."

Nona Tonghong tertawa pula.

"Nada suaramu besar sekali tuan!" katanya"Apakah tuan tak takut nanti dikatakan si katak dalam di tempurung ? kau harus ketahui keluargaku, Tonghong Sie Kee, sangat terkenal buat ilmu pedangnya yang disebut Koay Kiam! sudah beberapa puluh tahun, nama tersohor itu bukannya nama curian belaka! jika kau dapat mengalahkan adik nonamu ini, barulah kau dapat dibilang orang kosen kelas satu! mengertikah kau?"

Biarlah ia melukai si nona, bahkan tergila-gila tehadapnya, Hong Kun toh mendongkol juga, kata-kata si nona terasa sebagai hinaan besar terhadapanya, maka ia lantas memikir menggunakan ilmu pedang Heng San Pay akan menundukkan nona itu, lantas ia berkata:"baiklah aku menurut perintahmu, nona! akan aku layani adikmu bersilat buat beberapa jurus!"

Tonghong Liang gusar mendenagar suara orang.

"Lidah dan mulutmu serampangan saja!" bentaknya. "Kau terlalu lancang mulut, berhati-hatilah dengan batok kepalamu kau lihat!" Kata-kata itu ditutup dengan satu serangan dahsyat, gerakan pedang memperdengarakan suara angin yang keras.

Hong Kun percaya akan ketangguhannya sendiri, ia memikir akan melaewan keras dengan keras maka iapun segera menggunakan tenaga dan pedangnya!

Bocah she Tonghong itu kecil tetapi cerdik, diapun tahu tentang pedang lawan pedang mustika, maka tak sudi dia membuat pedangnya beradu dengan pedang lawan. begitu ditangkis, dia mengelit padanya, buat diteruskan dipakai menyerang pula, hingga Hong Kun menjadi kedodoran dan repot berkelit.

Demikian saja bergebrak, keduanya sudah lantas bertempur seru, Koay Kiam benar-benar dapat bergerak bagaikan kilat cepatnya, dar itu, sejenak itu, Hong Kun masih menjadi pihak yang membela diri. dia berlaku waspada dan gesit, agar dia tak sampai roboh ditangannya bocah itu, yang mulanya ia pandang ringan.

Kuat penjagaan diri dari Hong Kun, memang Heng San Pay tidak dapat dipandang ringan, ia pun lihai dan telah berpelangalaman, tidak demikian dengan Tonghong Liang yang masih terlalu muda, hingga dia galak karena bengisan, pengalamannya belum ada serta latihan tenaga dalamnya juga belum mencukupi. dia hanya berani dan gesit. dilain pihak, Hiong kun menang senjata.

Perlahan-lahan pertempuran berlangsung dengan sengit, hingga lantas mulai memasuki tahap mati atau hidup, sinar pedang terus berkelebatan dan anginnya menyambar- nyambar, tubuhnya kedua orang muda itu bergerak dengan sangat gesit dan lincah. Adalah disaat itu, yang It Hiong dan Bu Pa tiba bersama In Go hingga bersama-sama mereka menonton dengan asyik, tak terkecuali si orang tua keriputan yang berdandan sebagai pelajar itu, dia hanya berdiam seorang diri sebab dia tidak berkawan.

Masih ada seorang lain, yang menonton dengan perhatiannya tak berkurang, bahkan bertambah, dan dialah nona Tonghong Kiauw couw, kakaknya Tonghong Liang, nona ini memasang mata sebab yang lagi mengadu jiwa adalah adiknya, hanya nona ini tidak tahu hal adanya orang tua berkeriputan itu,

Selama pertempuran berlangsung, sang putri malam bergeser terus hingga tahu-tahu dia telah berada ditengah- tengah langit, di atas semua orang yang lagi bertarung serta menonton itu, mereka itu berdua tak menghiraukan rembulan yang permai.

Lewat lagi sekian lama, Hong Kun mendapat kenyataan lawannya, mulai bernapas memburu, maka giranglah ia, sebab ia tahu yang orang sudah mulai letih, bocah itu kalah ulet, maka ia lantas menanti ketika ada yang baik buat turun tangan...

Tanpa menanti lama pula, Gak Hong Kun segera menggunakan jurus silat "Hong Kun Sauw Hoat" badai menyapu salju, ia mau mengandalkan pedangnya yang tajam luar biasa. guna menguntungkan padang lawan, bahkan ia ingin dapat menebas sekalian pinggangnya si bocah! pedang Kie Koat tidak dapat ditangkis kecuali oleh sesama pedang pusaka!, Demikian pernyerangan pedang Hong Kun yang berbahaya itu selekasnya ia memperoleh kesempatannya yang baik sekali, maka diantara suara nyaring dari beradunya senjata tajam dan berpeletakan , percikan api serta jeritan kaget "ayy" yang keras, empat sosok tubuh manusia tampak mencelat!

Didalam waktu sejenak, maka berhentilah pertempuran dahsyat itu.

Gak Hong Kun memperdengarkan suara "hm!" dingin, pedangnya ia masukkan kedalam sarung, terus ia mengawasi tajam pada pihak lawannya dan orang yang menyela diantara ia dan lawannya itu, kemudian ia menghadapi Tonghong Kiauw Couw nona yang berdiri di depannya, sambil bertanya : "Apakah artinya perbuatanmu ini?"

Belum lagi nona Tonghong memeberikan jawabannya, Tonghong Liang sudah mendahului dengan berkata: 'Kau menggunakan padang mustika, dengan begitu barulah kau berani memakai jurusmu barusan! apakah kau tidak malu?"

Hong Kun mengawasi tajam.

"Bocah harum. mulutmu hebat!!" katanya.sengit. "Nah, marilah coba satu kali lagi !"

Mendengar suara orang itu, Kiauw Couw gusar. "Mulutmu ringan sekali!" katanya. menegur, "Apakah

dengan kata-kata kasarmu ini kau tidak merobohkan sendiri nama tersohor dari Tio It Hiong?"

Diantara empat sosok tubuh yang bergerak itu, yang ketiga ialah tubuhnya Tio It Hiong, bahkan dialah yang mendahului Nona Tonghong lompat maju kekalangan pertempuran, sebab dia menggunakan pedangnya menangkis sampingnya pedang Kie koat dari Gak Hong Kun, hingga Tonghong Liang bebas dari ancaman maut, nona Tonghong berlompat maju setelah It Hiong itu, kemudian It Hiong sendiri Mundur satu tindak sedangkan si nona itu terus maju menghadapi Hong Kun, demikian nona itu jadi berselisih mulut, dengan jago muda dari Heng San Pay itu.

Sembilan puluh satu

Selekasnya It Hiong mendengar si nona itu menyebut namanya, ia lantas berkata pada nona itu "Nona, aku cuma membantu adikmu mengelakkan bahaya, tidak ada maksud lainnya dari aku"

Tonghong Kiauw Couw melengak sedetik, lantas ia mengawasi Hong Kun dan It Hiong bergantian, ia heran bukan main. di depannya berdiri dua orang yang mirip saudara kembar

"Apakah kalian berdua sama-sama bernama Tio It Hiong?" tanganya, "Siapakah diantara kalian telah kehilangan pedangnya?"

Hebat pertanyaan itu, yang telak dan tegas.

Tapi Hong Kun cerdik, dia lantas menjawab: "Siapa yang kehilangan pedangnya soal? yang penting ialah mana buktinya keterangannya? dan siapa Tio It Hiong yang sebenarnya ialah lagi sekali -buktinya mana, buat apakah kau usilan sampai begini?"