Iblis Sungai Telaga Jilid 58

Jilid 58

"Tapi aku bicara hal lain, bocah." kata si parau yang tidak mau kalah bicara, yang hendak mendoja orang. "Aku bicara dari hal gurumu si hidung kerbau ketika dia dahulu mendesak aku hingga aku terjungkal ke dalam jurang ! Itulah pengalamanku ! Aku tidak bicara dusta !" "Kau keliru, sahabat !" kata It Hiong yang mau berlaku tenang. "Permusuhan kalian toh sudah berselang puluhan tahun, bukan ? Bukankah kau sekarang sudah berusia lanjut ? Kenapa kau tidak dapat melihat lebih jauh ? Kenapa kau tidak mau membuka hatimu ? Kenapa kau tidak mau menyudahi ganjelan itu ?"

Si parau tertawa. Mungkin dia tertawa meringis.

"Bocah, kau harus ketahui sifatku !" katanya keras. "Kalau aku berkata satu, itu bukannya dua ! Apakah kau sangka sakit hati dan soal pembalasannya itu dapat dibereskan dengan satu atau dua patah kata saja ? Hm !"

"Jangan salah mengerti, sahabat !" kata It Hiong. "Aku bukannya memohonkan ampunan bagi guruku ! Kalau aku berbuat demikian, aku jadi merusak nama baik guruku itu ! Aku hanya Bicara dari hal kenyataan ! Bukankah ada pepatah yang berkata, dimana dapat orang harus memberi ampun ? Maka itu, kau harus tahu diri. Seharusnya kau mundur teratur

!"

"Eh, bocah ! Kau tahu apa ? Bukankah Co Beng Tek telah berkata, biar aku mengecewakan orang tetapi tak dapat orang mengecewakan aku ! Itulah kata-kata yang tepat sekali, yang cocok dengan rasa hatiku !"

Co Beng Tek ialah Co Coh, seorang perdana menteri atau dorna di jaman kerajaan Han.

It Hiong tertawa bergelak.

"Oh, orang yang bersisa jiwa di ujung pedang guruku !" katanya. "Bagaimana kau masih memikir untuk membalas dendam ? Andiakata kau bertemu dengan guruku, dapatkah kau melawan ilmu pedang Khie-bun Patkwa Kiam guruku ? Dapatkah kau melayani Hian-bun Sian Thian Khie-kang guruku

? Bukankah kau bakal menderita pula dan bertambah malu hingga kau seperti menyusun sakit hatimu ?"

"Hm !" si parau memperdengarkan suara dinginnya. "Kau tahu, telah lama lohu berdiam di jurang es dimana aku mempelajari ilmu hawa dingin yang beracun. Karena mana lohu berani muncul pula dalam dunia Kang Ouw terutama guna mencari gurumu si hidung kerbau itu ! Baik dalam hal ilmu silat biasa maupun dalam ilmu pedang, hendak aku menempurnya pula ! Andiakata aku tetap kalah maka masih ada kepandaianku yang istimewa ialah hawa dingin yang beracun itu ! Dengan ilmuku ini, akan aku merebut kemenangan terakhir ! Hm !"

"Hm !" It Hiong memperdengarkan suara dinginnya. "Dapatkah kau mewujudkan niatmu itu ? Guruku hidup di dalam pengembaraan. Ia tak ketentuan dimana adanya ! Bukankah sia-sia belaka kau mencarinya hingga kau membuat boneka dari lilin yang kau sengaja rantai dan kurung di dalam kamar ini ? Apakah artinya siksaan semacam itu ? Tak lain tak bukan, itu melainkan guna mempuaskan hati busukmu yang kecewa, niatmu tak tercapai ! Kau cuma menghibur diri !"

Si parau menjadi gusar sekali. Telak ia terserang kata- katanya si pemuda.

"Oh, bocah ! Kau berani menghina lohu ?" tegurnya. "Kau benar-benar tidak tahu mampus atau hidup !" Ia hening sejenak lalu menambahkan : "Kau catat ! Di dalam waktu satu tahun, jika lohu tidak berhasil mencari gurumu itu si rahib hidung kerbau guna lohu membalas dendamku, maka perhitungan ini bocah, akan lohu timpakan atas dirimu ! Nah, kau ingatlah baik-baik !"

Alisnya It Hiong bangkit.

"Jangan kau membuang-buang waktu !" katanya lantang. "Bagaimana kalau sekarang juga kau perhitungkan sakit hatimu itu terhadap guruku kepadaku ?"

Berkata begitu, si anak muda menyiapkan pedangnya dan matanya diarahkan tajam ke arah dari mana suara datang.

Si parau memperdengarkan pula suaranya. Dari nadanya, terang dia sangat gusar.

"Hendak lohu memegang kata-kataku !" demikian suara mendongkolnya itu. "Kalau lohu kata satu, itu tidak nanati menjadi dua ! Barusan lohu menjanjikan waktu satu tahun, janji itu akan lohu hormati ! Eh, bocah apakah kau sudah bosan hidup ?"

It Hiong tertawa dingin.

"Oh, manusia yang takut melihat manusia !" ejeknya. "Kiranya kaulah si mulut besar belaka ! Nyata-nyata kau cuma mencari alasan buat mundur teratur ! Ha ha ha !"

Si parau menjadi semakin gusar.

"Jangan takabur, bocah !" teriaknya. "Jika lohu hendak mengambil jiwamu, itu mudah sama seperti lohu membalik telapak tangan ! Sama mudahnya seperti lohu merogoh saku ! Tetapi lohu mesti memegang kata-kataku, lohu mesti mentaati janjiku ! Hari ini lohu tidak bersedia menempur kau ! Tapi kau lihat, bocah ! Sekarang hendak aku pertunjuki kepandaianku supaya kau tidak tak tahu mati atau hidup mendapat bukti !"

"Kepandaian apakah itu ?" It Hiong tanya tawar. "Coba kau pertunjukkan ! Aku yang rendah hendak melihatnya !"

"Baik, bocah !" teriak si parau. "Sekarang hendak aku mengasi bukti ! Kau pentang matamu lebar-lebar ! Kau lihat si Kim yang rebah di lantai itu. Hendak aku merampasnya pulang

!"

Begitu lekas si parau menutup mulutnya, begitu lekas di dalam ruang itu timbul angin besar seperti topan hingga debu beterbangan naik, menyerang mata dan hidung sampai orang mesti memejamkan mata serta menutup hidung, hingga orang sukar bernapas !

Walaupun sambil meram, It Hiong memutar pedangnya melindungi dirinya sendiri serta si nona yang ia suruh mendak di depannya. Syukurlah "topan" itu tidak berjalan lama dan juga tidak ada senjata rahasia yang membokong. Selekasnya topan sirap, si anak muda pun berhenti bersilat. Lalu keduanya membuka mata mereka.

Satu hal aneh segera tampak. Kim Tay Liang yang tadi rebah di lantai lenyap tidak karuan paran dan daun jendela yang tadi menjeblak, tertutup rapat pula seperti semula !

"Hm !" si anak muda kita memperdengarkan suaranya, meskipun dia sebenarnya heran. "Segala ilmu jejadian ! Ada apakah yang aneh ? Apakah kau kira kau dapat mengandalkan tembokmu ini buat mengurung kami ?"

Si nona baju hijau menggebriki pakaiannya dan merapikan rambutnya. Kemudian ia pun mengebuti pakaiannya It Hiong. Ketika ia mendengar kata-kata si anak muda, ia berkata : "Kau berhati-hati, kakak ! Kita mesti waspada terhadap akal muslihat liciknya !"

Belum lagi It Hiong menjawab atau ia sudah mendengar suaranya si parau, suara yang jumawa sekali ! Katanya : "Taruh kata tembok ini tidak dapat mengurung kalian tetapi kalian harus waspada. Sekeluarnya dari kamar ini, kalian bakal menghadapi Barisan racun lohu ! Bocah, kau lihat bagaimana nanti kau tahu rasa !"

"Jangan kau mengoceh saja !" It Hiong menegur. "Kau bilang kau pandai membuat hawa beracun tetapi itu tentulah untuk menggertak belaka ! Kau dapat menggertak mereka yang tolol tetapi kami tidak ! Menurut dugaanku, hawa racunmu itu belum tentu menjadi hawa racun yang teristimewa !"

Kembali si parau menunjuki kemurkaannya.

"Hm, manusia tak tahu mampus atau hidup !" teriaknya. "Apakah kau tidak ketahui tentang kebinasaannya kelima Ngo Lo dari ruang Ciang Ih Siauw Lim Sie serta si rahib tua ketua Ngo Bie Pay ? Mereka pada pulang ke Tanah Barat tanpa tubuhnya terluka ! Dengan demikian, bukankah ilmu kepandaianku itu ada nomor satu di kolong langit ini ?"

Tapi It Hiong menyambutnya sambil tertawa lebar. "Bajingan tua, bagus !" serunya. "Bagus sekali ! Tanpa

dikomper, kau telah mengakui kejahatanmu melakukan

pembokongan. Kau telah membuka rahasiamu sendiri. Tadinya orang tidak tahu sebabnya kematiannya semua orang tertua itu. Sekarang terbuktilah yang hutang darah mesti dibayar dengan darah juga ! Manusia jahat, lekas juga akan tiba saatnya keadilan di jalankan ! Sudah, manusia busuk. Baik sekarang kita jangan bicarakan soal itu ! Mari aku beri tahu padamu, jangan kau membuka mulut besar sebab kau berhasil menciptakan hawa beracunmu itu ! Kau harus ketahui, di luar langit ada langit lainnya, di atas orang ada orang lainnya lagi ! Di dalam dunia ini ada hidup seseorang yang pasti dapat melumpuhkan hawa dinginmu itu, Tok Mo ! Kau tahu atau tidak ?"

"Hm !" si parau bersuara pula, suaranya selalu dingin. Kali ini sengaja disuarakan panjang. Dia agaknya berpikir. Setelah itu baru dia melanjuti : "Eh, bocah, apakah kau maksudkan Pek Yam si kepala keledia gundul dari kuil Bie Lek Sie ?"

"Benar !" It Hiong menjawab cepat. "Ya, dialah LoSiansu Pek Yam dari Bie Lek Sie ! Kalau begitu, kau tahu diri juga ya

?"

Kembali si parau, yang si anak muda menyebutnya Tok Mo

-- si Bajingan Beracun -- memperdengarkan suara tawanya : Hm !" Kemudian dia lantas menambahkan : "Aku tahu kepandaiannya Pek Yam si kepala keledia botak itu ! Kitab racun Tok Kang miliknya adalah kitab bagian yang kedua, sedangkan kitab milikku adalah bagian yang kesatu ! Karena itu, mana dapat ia mempunahkan racunku ?"

"Sudah, Tok Mo ! Tak usah kau mengadu bicara !" It Hiong menyenggapi. "Kenyataan lebih menang dari pada bicara melulu ! Lihatlah aku sendiri ! Dengan menggunakan Wan Ie Jie dapat aku menerjang tempatmu yang berbahaya hingga aku dapat menolong nona ini yang kau siksa !"

Agaknya si parau seperti kalah bicara. "Mungkin itu hanya kebetulan saja !" katanya rada lunak. "Tak mungkin Wan Ie Jie demikian lihai ! Tak mungkin racunku tidak akan mengalahkannya ! Nah, kau lihat saja nanti !"

"Cukup, Tok Mo !" ejek It Hiong. "Kepandaian racunmu itu telah aku buktikan beberapa kali, jadi tak perlu kau panjang lebarkan lagi ! Sekarang begini saja ! Hendak aku mencoba ilmu silatmu. Dari itu, beranikah kau melayani aku ?

Sengaja si anak muda kita berjumawa supaya si parau itu mau memperlihatkan dirinya. Ia ingin melihat wajah orang atau sekalian mengetahui asal usulnya.

Tapi si parau gusar. Dia berteriak : "Kau kira lohu orang dari derajat apa ? Mana dapat lohu mudah saja bertempur denganmu ! Bukankah itu bakal mendatangkan buah tertawaan ? Jika kau bisa lolos dari kamarku ini, kau nanti lantas masuki Barisan rahasia yang beracun yang aku atur, yang aku beri nama Nyo Tok Tin ! Kalau kau benar kosen, di sanalah kau boleh coba-coba kepandaianmu !" Dia berhenti sebentar, terus ia menambahkan : "Lohu adalah seorang laki- laki sejati ! Lohu biasa berlaku terus terang, tak mau lohu main selingkuh ! Sekarang lohu kasi tahu padamu, kalau sebentar kau memasuki Barisan rahasiaku, itulah sebab kau sendiri yang mencari mampusmu ! Jangan nanti kau katakan lohu kejam !"

It Hiong tidak gusar. Sebaliknya dia tertawa.

"Jangan berpura bermurah hati, bajingan !" ejeknya pula. "Aku telah berani masuk kemari, tentu saja aku berani menerjang keluar !" Lantas pemuda kita merapikan pakaiannya, sedang matanya dikedipi pada si nona berbaju hijau supaya si nona selalu mengiringinya.

Si nona bersenyum, dia mengangguk. Nyata dia bernyali besar.

Selagi orang berbicara dengan gerak gerik mata, si parau sudah berkata pula. Dia seperti dapat melihat gerak gerik orang itu. Kata dia : "Lohu cuma mengijinkan kau, bocah she Tio menerjang Barisanku ! Tentang si budak wanita itu, jangan harap dia nanti dapat berlalu dari sini dengan masih hidup ! Oh, orang yang tak tahu hidup atau mati !"

Hebat si parau itu. Selalu dia menyebut-nyebut tentang "tak tahu hidup atau mati!".

Mendengar suara orang itu, si nona kaget hingga mukanya menjadi pucat. Baru saja ia bersenyum atau sekarang mendadak air matanya meleleh turun. Itulah sebab ia telah ketahui kekejamannya si parau itu !

It Hiong mengawasi nona itu, ia dapat mengerti kekhawatiran orang. Karena ini hatinya panas, ia menjadi membenci sangat pada si parau yang belum dikenal itu, yang ia menyebutnya Tok Mo, si Bajingan Racun sebab orang sangat licik. Si nona berbaju hijau bekas lawan tetapi sekarang berdua mereka menjadi kawan, bahkan kawan senasib.

Karenanyaia menjadi berkesan baik sekali terhadapnya, malah ia merasa kasihan. Seperti tabiatnya, ia selalu berpihak kepada si lemah.

Segera anak muda ini memutar pedangnya sembari terus ia berkata : "Sahabat yang baik, aku yang rendah hendak menguji pedangku ini ! Pedang yang terlebih keras atau mulutmu ! Dan kau, nona, kau keraskan hatimu !"

Tapi si nona menjawab : "Tuan, kalau toh aku mesti mati, tolong kau mendayakan mengirim mayatku kepada ayah bundaku. Dapatkah kau menolong ?"

Alisnya si anak muda terbangun.

"Aku berjanji, nona !" sahutnya. "Bahkan aku berjanji tidak hanya mengantar mayatmu tetapi juga tubuhmu yang masih bernyawa ! Kalau aku hanya mengantar mayat, itulah hal yang memalukan ! Nona, jiwamu ialah jiwaku ! Maka itu, mari kita hidup atau mati bersama !"

Si nona sudah lantas menyusut keras air matanya. Ia menjadi berbesar hati hingga dadanya menjadi berombak. Hanya itu ia telah salah paham. Ia menyangka pemuda itu justru mencintainya. Sejenak itu, lupa dia pada bahaya maut dan mukanya yang tadi bersedih tampak menjadi gembira.

"Baik, tuan !" katanya perlahan. "Baik, selembar jiwaku kau serahkan pada kau !"

Dengan sapu tangannya lantas nona itu mengikat rambutnya yang riap-riapan terus ia bertindak mendekati anak muda itu. ia menempelkan tubuhnya pada tubuh orang.

Ketika itu terdengar pula suara "Hm !" berulang-ulang dari si parau.

It Hiong tidak mempedulijan lagi suara itu. Ia hanya menghampiri pintu untuk menusuknya dengan satu serangan Heng Hong Hek Hoan Kiam. Tak usah disebutkan lagi yang ia telah mengerahkan seluruh tenaganya. Maka juga tampaklah lubang besar, sedangkan tembok bagikan tergetar seluruhnya.

Selagi pasir-kupa meluruk, It Hiong berlompat nyeplos di lobang itu sambil sebelah tangannya menarik lengan si nona.

Tiba di luar kamar, muda mudi itu berdiri terbengong.

Mereka berada disebuah tempat terbuka seluas dua sampai tiga puluh tombak. Itulah semacam lembah. Di sebelah kiri ada tanjakan yang berbatu. Di kanan terdapat beberapa buah puncak, diantaranya ada sebuah jalan kecil yang mendakinya berliku-liku menuju ke atas atau ke dalam gunung. Entah kemana arah tujuannya jalan kecil itu.

Berdua mereka berdiri diam sekian lama, ragu-ragu untuk mengambil jalan. Tidak lainnya yang mereka lihat, tida ada Ngo Tok Tin, Barisan rahasia Lima Racun seperti katanya si parau yang belum dikenal wajahnya itu. Kecuali angin, sunyi segala apa. Bahkan sinar matahari pun lemah, entah disebabkan ketika itu sudah lewat lohor atau bagaimana.......

Tetapi tak usah lama mereka berdiam berdiri menjublak.

Lantas juga mereka mendengar suara yang menarik perhatian. Itulah suara bergeraknya satu batu besar di kaki sebuah puncak sebelah kanan hingga karenanya terlihatlhat mulutnya sebuah gua.

Melihat gua itu, It Hiong tertawa.

"Kiranya di sana terdapat pintu rahasia !" katanya nyaring. "Benar-benar si bajingan parau ini sangat pintar dan cerdik !"

Hebat si anak muda. Dia bernyali sangat besar. Bukannya dia kaget atau jeri, ia justru tertawa kegirangan ! Toh dia belum tahu gua itu menembus kemana dan di dalamnya ada perangkapnya atau tidak ! Aneh, batu terbuka sendiri merupakan sebuah lobang.........

Si nona sebalinya melengak.

"Jangan-jangan itulah Ngo Tok Tin. " katanya ragu-

ragu. "Kenapa kakak tertawa ?"

It Hiong berlaku sabar ketika ia menjawab : "Kita bakal menyingkir dengan turun gunung. Apakah kau kira dapat kita menyingkir dengan mudah saja ? Kalau benar si bajingan mengatur Barisan rahasianya itu, mana dapat kita tak melintasinya ? Biar bagaimana, kita mesti bertempur ! Maka itu, bukankah lebih baik kita bertempur siang-siang ?"

Si nona mengerutkan alisnya.

"Aku hanya mengkhawatirkan hawa beracunnya. "

katanya. "Bagaimana kalau dia menyebarkannya di luar tahu kita ?"

It Hiong bagai terasadara.

"Kau benar juga, nona !" katanya. Lantas ia mengeluarkan peles obatnya, enam butir pil diserahkan pada si nona seraya berkata : "Kau makanlah obat ini, obat buatan LoSiansu Pek Yam, lalu kau jangan kuatirakan apa juga !"

Nona itu mengawasi, matanya dibuka lebar, ia menggeleng kepala.

"Obat ini telah menolong jiwaku," katanya. "Bagaimana sekarang dapat aku menghamburkannya dengan memakannya pula ? Kau baik sekali kakak, kau menerima baik kebaikanmu ini !" It Hiong tertawa.

"Lekas kau makan !" desaknya. "Jiwa kita paling berharga ! Kaulah orang Kang Ouw, kenapa kau membawa lagak seperti caranya si kutu buku ?"

Bukan main meresapnya kata-kata itu dalam hatinya si nona. Ia menerka pula kepada rasa cinta si anak muda terhadapnya. Ia lantas mengawasi obat ditangannya anak muda itu. Ia ragu-ragu sebab ia tak mementingkan dirinya sendiri. Kemudian ia balik menatap orang di hadapannya itu.

"Bukankah tadi aku telah makan obat ini cukup banyak ?" katanya pula. "Aku rasa khasiatnya obat dapat bertahan lama, dari itu tak usahlah sekarang aku memakannya pula. "

It Hiong balik mengawasi. Ia tidak mencintai nona itu, ia hanya mengasihani. Ia menduga memang selayaknya pengaruh obat itu bertahan lama tetapi kalau ia toh menyuruh orang makan pula, itulah guna menjaga keselamatan nona itu. Siapa tahu sisa obat tak dapat menentang racunnya si parau yang licik dan jahat itu ? Kalau si nona tidak terganggu racun, itu artinya ia bebas untuk melayani si parau. Jika sebaliknya, pasti dia menjadi repot sekali, mau membela diri berbareng harus membantu atau sedikitnya terus melindungi nona itu !

Dengan menyuruh si nona makan obat, itu pun guna membikin tenang hatinya nona itu agar dia jangan takut lagi racun lawan.

Mengawasi si nona hingga sinar mata bentrok, diam-diam It Hiong menggigil di dalam hati. Sinar mata si nona itu lain dari pada sinar mata orang umumnya, hingga ia memikir, "Inikah pula bencana asmaraku ? Kalau sekarang juga aku menjelaskannya, bagaimana hatinya ? Bagaimana andiakata dia kecewa dan putus asa ? Tidakkah aku bakal memperbahayakan jiwanya andiakata dia nekat ? Bagaimana aku harus berbuat ?"

Dasar ia telah berpengalaman, segera juga pemuda ini mendapat satu pikiran.

"Biarlah tak usah aku hiraukan dia." demikian keputusannya. "Terhadap rasa cintanya itu, tak boleh aku memberikan apa-apa. Sekarang ini aku perlu mencari kakak Kiauw In dan Ya Bie. Aku mengajak nona ini karena aku ingin membebaskan dianya. Asal aku telah bertemu dengan Kiauw In, urusan dia ini mudah diselesaikannya. Harap saja dia nanti mundur teratur kalau dia ketahui bahwa aku telah mempunyai isteri. "

Lantas menatap pula nona itu, It Hiong tertawa dan kata : "Nona, aku tahu maksudmu kenapa kau tidak suka makan obat ini ! Tentunya kau menyayanginya, bukan ? Sekarang begini saja, kau makan separuhnya selaku penjagaan untuk dirimu ! Kalau kau tidak makan obat ini, hatiku tidak tenang."

Lantas si anak muda menyimpan tiga butir obatnya itu dan yang tiga lagi ia angsurkan di muka nona itu, ke mulut orang.

"Kau makanlah !" ia menganjurkan.

Nampak nona itu sangat bersyukur, kembali sinar matanya nampak menyala. Itulah sinar mata dari sang cinta. Kemudian ia tertawa dan kata : "Kakak, lebih baik kaulah yang memakannya. Kakak, jiwaku ada ditanganmu. aku telah

menyerahkannya !"

It Hiong menjadi kewalahan. Tapi ia menganggap perlu nona itu makan obatnya, maka supaya ia tidak usah menyia- nyiakan waktu lagi, ia mengambil tindakan yang berani. Tiba- tiba saja dengan tangan kanannya ia merangkul tubuh orang, untuk ditarik dekat padanya sedangkan dengan tangan kirinya ia menjejalkan tiga butir obat itu ke dalam mulut orang hingga si nona mirip anak kecil yang tengah dicekoki ! Sembari berbuat begitu, ia tertawa dan kata : "Kalau kau telah menyerahkan jiwamu padaku maka haruslah kau menyayangi jiwamu itu !"

Si nona berbaju hijau menelan obat itu, dia bersenyum tetapi dia memejamkan matanya. Rupanya selain menikmati obat juga rasa puasnya sebab si anak muda merangkulnya, memaksa dia memakan obat secara prihatin. Sama sekali dia tidak meronta yang si anak muda memperlakukannya demikian rupa, malah dia menerimanya mesra !

It Hiong adalah seorang muda, dia bukannya Liu Hee Hui dijaman dahulu yang tak goyah dari godaan asmara. Benar dia telah memikir yang dia tidak mencintai nona itu, akan tetapi setelah tubuh mereka nempel satu pada lain sedemikian lama, hatinya toh berdebar-debar. Memangnya dia telah merasa berkasihan terhadap nona itu. Bukankah rasa kasihan berupa satu langkah kepada sang asmara ? Bukankah mereka berada berduaan saja ?

Tepat di saat keteguhan hati si anak muda ini hampir gempur, tiba-tiba telinganya mendengar suara bentroknya senjata-senjata tajam yang keluarnya dari dalam gua di depan mereka itu. Kontan ia bagaikan terguyur air dingin. Dua- duanya lantas bagaikan sadar dengan kaget dari mimpinya.

Lantas keduanya memasang telingan lebih jauh sambil sekalian memasang mata ke arah gua itu.

Segera juga tampak dua tubuh orang berlompat keluar dari dalam gua itu, yang satu terlebih dahulu, yang lainnya belakangan. Kembali senjata mereka itu beradu satu dengan lain. Karena yang satu menyerang, yang lain menangkis.

Orang yang keluar pertama bersenjatakan kaitan Bwe-hoa- Toat. Dialah wanita cabul dari Kwan-ga, Hiat-ciu Jie Nio. Dan yang menyusul, yang bergenggaman pedang, adalah Cio Kiauw In dari Pay In Nia !

Teranglah Jie Nio kalah dan karenanya dia sedang mencoba mabur !

Bukan main girangnya It Hiong, tak kepalang lega hatinya melihat kakak seperguruannya itu.

"Kakak !" serunya lantas tanpa merasa lagi. "Kakak Kiau In

! Kakak !"

Si nona berbaju hijau melengak mendengar pemuda itu memanggil kakak. Ia belum tahu wanita yang mana yang dipanggil kakak itu, tetapi ia telah berpikir : "Oh, kiranya mereka kakak beradik mereka datang kemari. "

It Hiong tidak cuma memanggil-manggil, ia sudah lantas lari menghampiri. Bahkan hampir ia lantas maju membantu kakak seperguruannya itu atau tiba-tiba ia ingat aturan Kang Ouw bahwa orang tak dapat main mengerubuti. Kalau ia maju, ia bakal mendapat nama jelek dan gurunya pun bakal ditertawai orang banyak. Maka itu lantas ia menunda majunya lebih jauh.

Kiauw In tengah mengejar Hiat-Cin Jie Nio ketika ia mendengar suara orang memanggilnya, suara yang ia rasa kenali. Segera ia pun menoleh, bukan main girangnya ia kapan ia pun mengenali orang itu It Hiong adanya. Saking bersuka cita itu, tanpa ia merasa gerakan tangannya menjadi rada lambat.

Sementara itu, Jie Nio juga kaget sekali apabila ia mengenali It Hiong. Ia memang sedang sangat terdesak Kiauw In. Ia sudah melakukan perlawanan seberapa ia mampu. Tentu sekali melihat It Hiong, jerinya bukan main. Kiauw In ditambah pemuda itu berarti jiwanya terancam bahaya. Memangnya ia telengas, lantas ia menjadi nekat. Tak sudi ia binasa secara kecewa. Justru ia memikir nekat itu, justru Kiauw In berayal. Tidak waktu lagi, kesempatan baik ini ia gunakan dengan segera. Ia memikir untuk mati bersama Nona Cio ! Begitulah dengan senjatanya yang istimewa ia menangkis Kiauw In ! Jurus silatnya yang ia gunakan juga "Kong Hong Kian Te -- Topan melanda bumi". Senjatanya ditangan kanan membabat Kiauw In di bagian bawah !

Berbareng dengan itu, senjatanya di tangan kiri juga menyerang -- menyerang ke atas dengan jurus "Keng See Pok Bian -- Pasir menyambar muka".

Hiat Ciu Jie Nio tersohor telengas. Gelarannya saja telah menunjuki itu. Hiat Ciu berarti Tangan Berdarah. Kali ini dalam nekatnya, dia menunjuki ketelengasannya itu.

Bukan main kagetnya Kiauw In kapan ia menyaksikan lawannya yang sudah keteter, yang tengah dikejar-kejar menyerang secara demikian hebat. Syukur ia bermata jeli dan cepat. Di dalam keadaan sangat terdesak itu masih sempat ia melindungi dirinya. Cepat luar biasa, ia menutup diri dengan jurus silat "Heng Pay Lok Kak -- Menjejer Tanduk Menjangan" hingga ia bisa menghalau serangan maut bagian atas dari lawannya itu berbareng dengan mana ia menjejak tanah berlompat tinggi menyingkir dari serangan di sebelah bawah itu. Hampir berbareng dengan lolosnya Nona Cio dari serangan nekat dari Jie Nio maka terdengarlah si Tangan Berdarah itu menjerit keras sebab tubuhnya tiba-tiba saja roboh terguling. Tetapi dasar lihai, begitu dia roboh begitu dia terus menggulingkan tubuhnya hingga dia berhasil memisahkan diri dari Kiauw In sejauh dua tombak lebih. Ia telah menggunakan jurus silat "CaCing Bergulingan di pasir".

Jie Nio roboh bukan wajar, bukan ia terpeleset atau terdesak perlawanannya Kiauw In, ia hanya menjadi korban dari tolakan keras dari pukulan Han Liong Hok Houw Ciang -- Menaklukan Naga, Menundukkan Harimau dari It Hiong, siapa sudah terpaksa membantu kekasihnya sebab dia melihat sang kekasih terancam bahaya hebat. Kalau dia mau, dia dapat merobohkan wanita itu hingga tak dapat berbangkit pula.

Akan tetapi ia telah tidak melakukan itu sebab ia ingat kehormatan dirinya serta gurunya juga.

Bertepatan dengan robohnya Jie Nio itu, orang mendengar satu suara parau. Mulanya ejekan "Hm ! Hm !" berulang-ulang lalu disusul dengan kata-kata dinginnya ini : "Beginilah perilakunya seorang murid dari rumah perguruan lurus yang ternama ! Yang banyak mengepung yang sedikit ! Sungguh memalukan ! Lohu. "

Tapi Kiauw In memotong ejekan itu : "Bagus perbuatanmu

! Bagaimana dengan lagakmu sendiri ? Sudah kau menyerang dengan hawa beracun, itu pula dilakukan secara menggelap ! Adakah kelakuanmu itu kelakuan laki-laki sejati ? Mudah saja kau menggoyang lidahmu !"

Justru Kiauw In menegur itu, justru Jie Nio mencelat bangun untuk terus kabur ke dalam gua. Sebagai seorang yang cerdik dan licik, si Tangan Berdarah pandai sekali menggunakan kesempatan yang baik itu ! Kiauw In melihat orang kabur, ia tidak mengejar. Ia hanya tertawa tawar mengawasi tubuh orang lenyap di dalam gua. Habis itu ia lantas berpaling kepada It Hiong.

"Adik !" tanyanya. "Adik, kenapa kau berada disini ? Kau tahu, kau telah membuat aku menderita mencarimu !"

Baik sinar matanya maupun wajahnya, Kiauw In menunjuk keprihatinannya yang luar biasa terhadap kekasihnya itu.

Itulah pertanda dari kasihnya yang sangat.

It Hiong menghampiri untuk mencekal erat-erat tangannya si kakak seperguruan, ia menghela napas.

"Oh, kakak. Panjang kalau aku mesti bercerita. "

demikian sahutnya perlahan. "Hampir aku bercelaka di dalam perangkapnya si bajingan jahat, bahkan aku telah terkena pula bencana asmara. Kakak aku menyesal, aku malu

terhadapmu. "

Terhadap kekasihnya yang demikian cantik dan luwes, yang sabar luar biasa, yang cerdas dan berpandangan jauh, It Hiong selalu berlaku jujur, tak sedikit jua ia memikir selingkuh. Ia mencintai berbareng menghormati kakak seperguruan itu yang sebaliknya pun sangat mencintai dan menghargainya.

Mendengar kata-katanya si pemuda, Kiauw In mengawasi orang dengan sinar matanya yang sangat mengasihi. Tak ada rasa jelus atau iri hatinya mendengar pengakuan si kekasih tentang bencana asmara itu.

"Syukurlah kau tak sampai kena perangkap, adik." demikian katanya, lemah lembut. "Ah, kau aneh ! Lihat ! Kau sekarang bertemu dengan kakakmu, jangan lagakmu seperti bocah cilik bau. "

Mukanya It Hiong merah, ia likat sekali. Ia ingat bagaimana tadi ia dengan si nona baju hijau, biarpun hatinya keras, ia toh tertarik juga oleh nona itu.......

"Pengalamanku hebat, kakak." katanya jengah. "Aku telah menghadapi saat-saat yang berbahaya yang menggoncangkan hati bahkan semangatku. Hampir saja.......

Kaget juga Kiauw In mendengar kata-kata pemuda ini. "Apakah kau terperangkap dan terkena racun hingga

musnah kepandaian silatmu ?" tanyanya Bingung.

It Hiong menggeleng kepala.

"Dalam hal menghadapi racun, aku senantiasa bersedia, kakak." sahutnya. "Selainnya telah memakan obat pemunahnya, aku juga selalu menyediakannya. Apa yang membuat hatiku hampir copot jatuh tadi ketika aku menyaksikan suhu terkurung dan tersiksa di dalam kamar rahasia !"

Terpaksa, Kiauw In kaget sekali. Mukanya sampai menjadi pias. Tapi hanya sebentar, lantas ia memperoleh kembali ketenangannya.

"Adik." katanya sabar. "Bukankah itu cuma seorang manusia palsu yang segala-galanya mirp dengan suhu ? Apakah kau telah melihatnya dengan teliti ? Dimanakah adanya kamar rahasia itu?" Si nona pun menjadi tenang karena sekarang ia lagi menghadapi si anak muda yang sadar dan tenang seperti sediakala.

It Hiong mengeluarkan napas lega.

"Kakak." katanya. "Andiakata kakak ada bersamaku itu waktu, tidak nanti aku kaget sampai pingsan. "

Kiauw In menatap kekasihnya itu, lalu ia bersenyum. "Kau melihat sendiri suhu terkurung dan tersiksa, adik.

Tidak heran kalau kau kaget tak terkirakan." katanya.

"Memang, kakak. Dalam hal pandangan jauh dan kesabaran serta ketelitian, aku kalah jauh dari kakak. Buktinya sekarang. Lantas saja kakak bisa menerka tepat. Memang itulah manusia palsu!"

Kiauw In tertawa, matanya melirik manis.

"Adik, sejak kapan kau mempelajari ilmu mengangkat- angkat, memuji-muji orang untuk membuat orang senang hati

? Pantaslah kalau dimana-mana selalu saja kau mendatangkan rasa suka orang hingga kau memancing bencana asmara !"

It Hiong tunduk, mukanya merah. Ia jengah sekali. Ia memuji si kakak dengan sesungguhnya hati. Siapa tahu kakaknya menggunakan itu untuk berkelakar. Tetapi ia senang, ia puas sekali. Sungguh kakak ini sangat baik hati, sabarnya luar biasa.

Melihat lagak orang itu, Kiauw In tertawa. "Eh, eh, kau kenapakah ?" tanyanya. "Apakah ini disebabkan kakakmu menyebut-nyebut hal bencana asmaramu itu ?"

It Hiong mengangkat kepalanya, menatap nona manis di depannya itu terus dia mengasi lihat wajah sungguh-sungguh.

"Kakak," katanya. "Biar bagaimana, dalam hal asmara, aku masih mempunyai keteguhan hatiku. Hanya mengenai nona ini, benar-benar ia harus dikasihhani. "

Lantas pemuda ini menuturkan tentang si nona berbaju hijau yang telah keracunan dan tersiksa tetapi ia berhasil membantu hingga selanjutnya si nona bersedia mengikuti dia. Ia menuturkan segala apa dengan jelas. Tentu saja tak lupa ia menyebut bagaimana segala ia pingsan, ia sadar sebab jeritannya nona itu. Kalau lama ia tidak sadar, entah bagaimana jadinya jika musuh menyerangnya..........

Mendengar keterangan itu, Kiauw In tertawa geli. Tapi kemudian ia menghela napas dan berkata dengan perlahan : "Adik, kakakmu adalah wanita Kang Ouw sejati. Aku bukannya itu macam orang perempuan yang tak dapat menghindarkan dirinya dari rasa jelus, iri hati dan cemburu !"

Berkata begitu, Nona Cio menoleh pada si nona berbaju hijau yang sejak tadi berdiri diam saja sebab dia bingung menyaksikan si pemuda kenal si pemudi.

"Adi, adik yang baik, mari !" panggilnya. Tangannya pun menggapai.

Si nona berbaju hijau mengawasi dengan ragu-ragu tetapi ia toh bertindak menghampiri dengan perlahan-lahan. Ia berhenti di depan Nona Cio. "Ada perintah apa dari kau, kakak ?" tanyanya, perlahan.

Sebagai seorang anak perempuan yang terlahir dan menjadi besar di Kwan ga, sebagai seorang anak nomad, penggembala, si nona berbaju hijau bisa hidup bebas dan polos. Ia tidak kenal adat kebiasaan di Tionggoan. Ia menyangka Kiauw In sebagai kakak, saudara perempuan dari It Hiong, maka ia lantas saja memanggil kakak juga.

Kiauw In lantas mengawasi nona itu.

"Kalian berdua bertemu secara kebetulan ditempat yang berbahaya." katanya kemudian. "lalu kalian bersama-sama pula menderita. Maka itu sekarang kalian menjadi kawan senasib satu dengan lain. Benar, bukan ?"

Nona itu mementang lebar matanya yang jeli, mengawasi nona dihadapannya.

"Aku dengan dia," katanya sembari menunjuk It Hiong, "bukan melainkan kawan saja, namun. "

Mendadak si nona berhenti berkata, ia berdiam, mukanya merah. Dengan berpura menyingkap rambutnya, ia mencoba menutupi mukanya itu.

Kiauw In tertawa.

"Kau belum bicara habis, adik !" katanya. "Bolehkah kakakmu meneruskan dengan menerkanya? Adik, usiamu masih terlalu muda. Bagaimana kau dengan mudah saja menyukai seorang pria yang masih asing bagimu ?" Nona baju hijau itu mengawasi Nona Cio. Ia menunjuk It Hiong.

"Kakak, jiwaku dialah yang membantu !" sahutnya terus terang. "Tentang kesucian diriku, dia juga yang menyaksikannya. Dia pula telah menyatakan padaku bahwa kami berdua harus hidup dan mati bersama ! Kakak, dapatkah ini dikatakan bahwa dialah seorang asing bagiku ?"

Tak tenang hatinya Kiauw In mendengar keterangannya nona itu. Di dalam hatinya itu tak dapat ia tertawa atau menangis. Benar-benar hebat bencana asmaranya It Hiong yang keteguhan hatinya tergoyah sedemikian rupa.

Si pemuda sendiri berdiam saja. Ia malu dan jengah.

Begitulah ketiga orang itu, semua berdiam, semua bungkam.

Lewat sekian lama, Kiauw In juga yang berkata. Ia segera mendapat pulang ketenangan dirinya. Kata ia sungguh- sungguh : "Urusan kalian berdua, lain kali saja kita bicarakan pula ! Yang paling penting sekarang ialah bagaimana kita dapat berlalu dari tempat berbahaya ini !"

Kata-kata itu menyadarkan It Hiong dan juga si nona berbaju hijau. Memang, mereka belum keluar dari tempat yang sangat berbahaya itu. Maka itu, sikap mereka bertiga lantas menjadi wajar pula. Tapi It Hiong toh masih tidak enak hati karena ia tak dapat menyelami kata-katanya Kiauw In ini. Ia mengira nona itu menyangka diantara dia dan si nona berbaju hijau telah ada persetujuan pernikahan, sedangkan ia, ia cuma maksudkan kawan, persahabatan sejati. "Kakak !" katanya kemudian, matanya menatap kakak seperguruan itu.

Si nona berbaju hijau sebaliknya. Saking gembiranya dia kata : "Kakak, kakak benar ! Kita memang harus berdaya agar kita dapat berlalu dari gunung Hek Sek San ini ! Kakak, bukankah benar kata-kataku ini ?" Kata-kata yang belakangan ini ditujukan kepada It Hiong, kepada siapa ia berpaling.

It Hiong menjadi serba salah, hingga ia memperdengarkan suara yang tidak jelas. Hendak ia membuka mulutnya tetapi Kiauw In segera mengedipi mata padanya seranya si nona berkata pada si nona berbaju hijau : "Adik, apakah adik ketahui jalan untuk berlalu dari gunung ini ? Aku maksudkan untuk kita turun gunung ?"

Nona itu balik mengawasi. Ia membuka matanya lebar- lebar.

"Aku tidak tahu !" sahutnya.

Justru itu, It Hiong mendadak mengeluarkan suara tertahan.

"Mana Ya Bie ?" demikian tanyanya.

"Aku telah kehilangan dia karena kami berpisahan tanpa merasa." sahut Kiauw In sabar. "Kau tahu, adik. Ketika Ya Bie dan aku memasuki sebuah kamar, di sana kami mempergoki Hong Kun bersama Peng Mo tengah berkasih-kasihan.

Mulanya aku mengira Hong Kun kaulah adanya, setelah kami masuk di dalam kamar itu, baru kami memperoleh kepastian dia bukannya kau, adik. Kiranya dialah Hong Kun ! Setelah aku keluar dari kamar itu, tahu-tahu adik Ya Bie sudah hilang. " Si nona tak menjelaskan perbuatan busuk dari Hong Kun dan Peng Mo, si Bajingan Es. Biar bagaimana, ia malu.

It Hiong melengak.

"Kalau begitu," katanya kemudian. "Kalau kita turun dari gunung ini, terlebih dahulu kita mesti mencari ketemu pada adik Ya Bie ! Akulah Tio It Hiong, tak dapat aku meninggalkan kawan yang demikian setia ! Itulah perbuatan tak pantas dari aku !"

Kiauw In pun bingung. Di dalam hal ini, sukar ia menggunakan kecerdasannya. Ya Bie terperangkap atau dia sudah turun gunung ? Dia sudah tertawan musuh atau masih berputar-putar ditempat musuh ini ? Cuma dua kemungkinannya tetapi sulit menerkanya........

Semua orang berdiam, semua mengasah pikiran mereka.

Akhirnya, Nona Cio yang membuka mulut paling dahulu.

"Buat mencari adik Ya Bie, kita harus menggunakan akal." katanya kemudian, tenang. "Kita mesti menggunakan tipu Melempar Batu Menanyakan  Jalan,  lainnya  jalan  tidak ada. "

Tipu itu ialah yang disebut "Touw Sek Bun Liuw."

It Hiong mengangguk. Lantas ia melihat sekelilingnya. "Kemana kita menimpuknya ?" tanyanya kemudian.

"Kepada siapa kita menanyakan jalan ?"

Si nona berbaju hijau diam melengak. Dia tak mengerti apa yang kakak beradik itu bicarakan. Dia pula tidak berani mencampur bicara. Tapi Kiauw In tertawa.

"Ha, kutu buku !" katanya. "Percuma kau belajar surat, sampai mati pun tidak ada terpakainya ! Dapatkah dalam urusan begini kita menganut pepatah Mengukir Perahu Mencari Pedang ?"

Mulanya It Hiong melengak, lantas dia sadar dari jengah, dia tertawa.

"Kakak benar !" katanya. "Mari kita maju !"

Sambil mengibaskan tangannya, pemuda ini lantas mengajak kedua nona itu lari ke arah gua karang. Akan tetapi segera juga ia kecele. Pintu gua tadi telah tertutup rapat pula. Bahkan tak terlihat tanda-tandanya atau bekas-bekasnya !

"Aneh !" pikir si anak muda, matanya mengawasi ke dinding puncak di tempat yang tadi rasanya pintu rahasia menjublak.

Kiauw In dan nona berbaju hijau tiba belakangan, sebab barusan mereka tak lari sekeras si anak muda. Mereka melihat si anak muda berdiri menjublak.

Hanya sejenak, Kiauw In lantas tertawa. Ia mengangkat tinggi tangannya, guna menghunus pedangnya yang digendol di punggungunya, lantas dengan ujung pedang ia menggurat- gurat di dinding batu guna mengukir enam buah huruf yang besar : "Tok Mo Pie Tek Ie Cie" yang berarti : "Tok Mo, si Bajingan Beracun, disini dia menyingkirkan diri dari kawannya." Selekasnya Nona Cio selesai mengukir, si nona kawannya membacanya dengan keras.

Baru berhenti suaranya si nona atau satu suara serak menyusulnya.

"Oh, budak setan !" demikian suara itu. "Rupanya sebelum kau tiba di lain dunia, belum juga hatimu mati ! Marilah masuk, hendak aku melihat berapa besar kepandaianmu !"

Satu suara keras segera terdengar, segera pintu batu rahasia terbuka pula hingga tampaklah mulut sebuah gua.

It Hiong dan Kiauw In saling memandang. Keduanya terus bersenyum, setelah itu dengan satu pengerahan tenaga dalam tiba-tiba si anak muda melakukan penyerangan ke dalam ! Dia menggunakan suatu pukalan Hong Liong Hok Houw Ciang.

Segera terdengar satu suara yang menandakan serangan itu mendapat halangan ialah dari dinding gua, jauh serangan itu mungkin cuma sepuluh tombak. Sedangkan penyerangan itu dilakukan guna mencoba mencari tahu di dalam gua itu masih bersembunyi atau tidak buat membokong lawan yang memasukinya.

Menyusul serangannya itu, It Hiong berlompat memasuki gua diturut oleh Kiauw In dan si nona berbaju hijau yang mengikuti dengan selalu berdekatan.

Gua gelap sekali hingga sekalipun lima jari tangan di depan muka, tak tampak. Jadi gua ini beda dari pada yang tadi.

"hati-hati, adik !" Kiauw In memberi peringatan. "Aku mengerti !" sahut It Hiong. Untuk dapat melihat keadaan gua itu, si anak muda lantas saja mengeluarkan Lee-cu, mutiara mustika hadiah si jago Bu Lim yang menyembunyikan diri. Dengan demikian, gua itu lantas tampak terang. Bahkan makin gelap tempat, mutiara makin bercahaya kuat.

Gua luas atau lebar sepuluh tombak lebih, seluruhnya kosong. Di empat penjuru cuma dinding yang tampak.

Kiauw In mengawasi dengan seksama, maka ia ingat rasanya ketika ia menempur Hiat Ciu Jie Nio, ia masuk dari pintu rahasia di sebelah kiri dan tiba di gua ini.

Apa daya sekarang ? Lawan tetap bersembunyi.

Setelah berpikir sejenak, Nona Cio lantas menggunakan tipu daya memancing kemarahan lawan. Ia teruskan kata dengan nada mengejek : "Rupanya kepandaian Tok Mo ialah cuma pintar menggunakan segala gua batu guna mengurung lawan-lawannya. Kemanakah kepandaiannya yang dahulu dipakai melakukan pembantaian kejam di antara kaum rimba persilatan ? Hm ! Pasti rahasianya ini ada disebelah kiri sini ! Kalau dia tetap tidak berani perlihatkan dirinya, mesti kita menggempurnya ransak ! Kita menggunakan kekerasan !"

Kembali terdengar suara parau itu : "Tempatku ini adalah salah satu dari Barisan rahasiaku yang diberi nama Ngo Tok Tin, namanya ini Tok Kong Tin, ialah Barisan rahasia Sinar Beracun. Jangan kamu memandang ringan, sahabat-sahabat

!"

It Hiong tertawa. "Gua kosong melompong begini kau katakan Tok Kong Tin

?" katanya. "Sungguh aku yang rendah tidak mengerti ! Dimana adanya sinar terangnya ? Dimana ada racunnya ?"

Si nona berbaju hijau jeri terhadap si orang tua yang mukanya keriputan itu, sebegitu jauh tak berani dia mencampur bicara. Sekarang dia menyaksikan sebuah gua kosong, tak ada juga bekas-bekasnya manusia. Timbul pula pula keberaniannya, apa pula sekarang dia berada bersama It Hiong dan Kiauw In terhadap siapa si keriputan tidak dapat berbuat apa-apa. Maka lupalah dia kan ancaman orang yang melarangnya dia meninggalkan Hek Sek San dengan jiwanya masih hidup ! Demikianlah dia menyela : "Kongcu benar !

Segala kepandaian untuk menggertak saja ! Dia sungguh bermuka tebal.

"Budak hina durhaka !" mendamprat si suara parau. "Rupanya kau memikir kabur mengikuti orang laki-laki ! Tak semudah itu ! lebih dahulu lohu akan mengambil jiwamu buat diperlihatkan kepada si bocah !"

Nona itu bungkam, suara orang telah membuat hatinya ciut pula. Bahkan tubuhnya pun bergemetar.

Diantaranya sinarnya mutiara, Kiauw In melihat mukanya nona yang ketakutan itu. Ia lantas menarik tangan orang untuk membuat tubuh dia itu nempel dengan tubuhnya, kemudian ia mengusap-usap rambutnya yang indah.

"Kuatkan hatimu, adik !" ia menghibur. "Dia cuma mengucapkan gertakannya si orang Kang Ouw ! Jangan takut

! Kita pasti bakal dapat lolos dari sini !"

Berbareng dengan berhentinya suara nona Cio, mendadak saja mereka melihat satu sinar yang menyorot keras, warnanya kehijau-hijauan. Sinar itu membuat mata sukar melihat.

Kiauw In segera memejamkan matanya. Tetapi karena barusan ia kena tersorot, ia pun merasakan panasnya nyeri, hingga air mata lantas meleleh keluar. Maka juga ia tunduk membekap mukanya pada bahunya si nona berbaju hijau.

Si nona baju hijau itu turut mengeluarkan air mata. Ia pun terkena sorotan cahaya istimewa itu yang luar biasa kerasnya.

Kiauw In lantas kata pada nona itu. "Adik, kau kerahkan tenaga dalammu ! Sinar itu harus dilawan dengan tenaga batin !"

Berkata begitu, nona Cio sendiri sudah lantas mengerahkan tenaga dalamnya sendiri hingga walaupun tubuh mereka tidak bergerak, hati mereka telah dibikin tenang dan mantap.

Hatinya Kiauw In tapinya tidak tenang. Ia memikirkan It Hiong, siapa tak dapat ia lihat karena ia mesti merapatkan matanya terus-terusan hingga ia tak tahu bagaimana jadinya dengan kekasih itu. Taruh kata ia membuka matanya, tetap ia bakal tak dapat melihat.

Sinar hijau itu tidak menyoroti ke satu tempat saja. Sinar menuju ke pelbagai arah. Rupanya dia dapat menyinari kemana dia suka. Tetap sinar itu keras dan panas terasanya. Bergantian kedua nona itu dan It Hiong juga mendapat giliran.

Tidak lama maka terdengarlah tawanya si orang bersuara parau itu.

"Inilah sinar beracun dari lohu !" kata dia, suaranya bernada mengejek. "Kalau orang disoroti terus menerus selama setengah jam saja, sinar bakal membakar mata orang

! Dan kalau sampai dua jam, tubuh orang bakal menjadi daging yang berdarah dan lumer karenanya ! Kamu tidak tahu hidup atau mampus, kamu membuat lohu gusar. Maka sekarang kamu rasailah !"

Jadi itulah yang si parau menyebutnya Tok Kong Tin, tin Lima Racun (Ngo Tok).

It Hiong tidak takut. Ia berkata nyaring : " Ada apakah kelihaian lainnya dari tin kau itu ? Kau sebutkanlah ! Hendak aku mendengarnya !"

Kiauw In mendengar nyata suara kekasihnya itu, lantas hatinya menjadi lega. Suara itu menyatakan yang si anak muda tidak terganggu sinar jahat itu. Apa sebabnya itu ? Ia berpikir tidak lama. Lantas ia ingat Lee-cu, mutiara mustika miliknya si anak muda. Rupanya mustika itu dapat menaklukan sinar jahat lawan itu......

Demikian kecerdasannya si nona, maka tidaklah kecewa dia menjadi muridnya seorang guru silat yang lihai luar biasa.

Habis memikir, ia lantas teriaki It Hiong. "Adik, mari ! Mari lekas ! Kau gunakanlah mutiaramu !"

Memang It Hiong telah disoroti lawan. Akan tetapi dia tidak kurang suatu apa. Dia tidak merasakan hawa tajam dan panas hingga dia bebas. Walaupun demikian, dia selalu memasang mata kalau-kalau lawan mencuranginya dengan jalan membokongnya. Sebab ini, dia sampai melpai kedua nona itu. Dia pula tidak menyangka yang Kiauw In dapat diganggu sinar jahat itu.

Si nona berbaju hijau juga menderita. Tetapi masih bagus baginya, ia telah dirangkul Kiauw In. Dengan begitu ia tak usah mengeluh, sedangkan nona Cio sebagai wanita gagah dapat bertahan hati, bertahan diri. Kecuali setelah ia ingat mutiara kekasihnya itu, hingga ia memperdengarkan suaranya tadi. Hingga si anak muda pun sadarlah akan ancaman bahaya bagi kakaknya yang baik hati itu.

Lantas It Hiong menghampiri tunangannya serta si nona berbaju hijau. Ia heran menyaksikan mereka itu saling merangkul dengan kepala mereka masing-masing disembunyikan. Tadinya ia menyangka lawan menggunakan sinar buat main-main atau menggertak saja, sekarang........

“Kakak, kalian kenapakah ?" tanyanya sambil menyoroti.

Terkena sinarnya Lee-cu, Kiauw In dan si nona berbaju hijau lantas merasa tubuh mereka nyaman, hilang rasa panas dan nyeri pada matanya.

Segera Nona Cio insaf akan keadaan yang sebenarnya.

Itulah pengaruhnya mutiara yang dahsyat itu. Dalam girangnya, ia mengangkat kepalanya dan berkata : "Lee-cu menjadi penolong jiwa kita, kau tahu atau tidak ?"

Si nona bukannya menjawab si anak muda, hanya berkata seperti balik bertanya.

Si nona berbaju hijau juga mengeluarkan kepalanya untuk berdiri tegak. Ia menyusut airmatanya terus ia mengawasi Kiauw In dan It Hiong. Ia agaknya heran.

Dengan demikian, bertiga mereka itu saling mengawasi. It Hiong tetap memegangi mutiaranya hingga sinarnya itu melindungi mereka bertiga. Sementara itu ia melihat matanya kedua nona merah, sedang rambutnya Kiauw In, begitu pun baju dibahunya seperti bekas terpanggang, seperti kering hangus. Tahulah ia sekarang hebatnya sinar lawan.

"Aku yang keliru, kakak !" katanya sengit. "Sinar itu demikian jahat tetapi aku tidak menyangka hingga aku tidak memperhatikan kalian ! Kakak, apakah ada bagian tubuhmu yang dilukai ?"

Si anak muda sangat prihatin hingga tanpa likat lagi ia mengelus-elus rambut si nona dan mengusap-usap baju dibahunya itu.

Kiauw In tertawa.

"Aku tidak terluka, adik !" sahutnya. "Siang-siang aku telah mengerahkan tenaga dalamku menentang serangan sinar jahat itu !"

Lega hatinya It Hiong. Lalu ia membawa mutiara ke mukanya kedua nona itu sembari ia kata : "Cobalah kalian menyedot hawa sinarnya mutiara ini, supaya kalau ada racun yang menelusup masuk, racun racun diusir pergi !"

Kiauw In berdua menurut. Mereka menghadapkan mutiara, terus mereka membuka mulut mereka akan menyedot hawa. Dengan begitu mereka merasai dada mereka lapang, seluruh tubuhnya agaknya nyaman sekali hingga mereka pun merasa segar. Pula dengan lekas mata mereka tidak lagi merah, rasa perihnya lenyap seketika.

Sementara itu, dengan berlalunya sang waktu, mendadak sinar jahat itu sirna. Maka seluruh ruang kembali menjadi gelap gulita seperti semula tadi. Hingga sekarang tampak tinggal cahayanya si mutiara mustika bagaikan si puteri malam di malam yang gelap petang. Sinar itu mengitari mereka bertiga sejauh kira dua tombak.

Selenyapnya sinar terang yang jahat itu, lantas terdengar si suara parau berbicara pula. Kata dia : "Bocah hitung saja peruntunganmu bagus sekali ! Kamu telah berhasil membebaskan diri dari dalam Tok Kong Tin ! Tapi kamu belum bebas seluruhnya ! Sekarang lohu hendak mengajukan pertanyaan kepadamu mengenai satu urusan. Lohu menghendaki kamu bicara dengan sebenar-benarnya. Kalau tidak, hm !"

It Hiong sementara itu panas hati. Orang telah mengganggu rambut dan bajunya Kiauw In.

"Jangan kau mengaco belo !" bentaknya. "Lebih baik mari kita mengadu jiwa.

Mendengar demikian, diam-diam Nona Cio menarik ujung baju tunangannya itu separuh berbisik, ia kata : "Kita harus menggunakan kecerdikan kita untuk lolos dari kurungan ini, kurungan Ngo Tok Tin ! Buat apa melulu melayaninya ?"

Terdengar pula suaranya si parau itu : "Masih lebih bagus kesabarannya si budak perempuan tua ! Memang, siapa luhur dia mengadu kecerdasan, siapa rendah dia mengadu tenaga ! Itulah cuma kegagahan si manusia biasa melawan harimau tanpa senjata atau menyebrangi kali tanpa perahu ! Hm !"

Selagi It Hiong berdiam, Kiauw In tertawa.  "Cianpwe," katanya. "Urusan apakah itu yang cianpwe

hendak tanyakan ? Bicaralah, jangan kau berlaku mirip si aki- aki atau si nenek !" Suara parau itu terdengar pula.

"Bocah, dari manakah kau perolehnya mutiara itu ?" demikian tanyanya. "Lekas bilang !"

It Hiong mengawasi Kiauw In, si kekasih yang ia sangat hargakan. Ia menahan sabar walaupun pertanyaan itu tak disenanginya.

"Aku dapatkan mutiara ini dari Kanglam." sahutnya. "Sungguh licin !" bentak si parau. "Jika kau tahu gelagat,

lekas kau bicara dengan sebenar-benarnya !"

Dengan memegang mutiaranya dengan kedua jeriji tangannya, It Hiong mengulapkan itu untuk dilihat oleh si parau, siapa sebaliknya cuma terdengar suaranya saja.

"Coba kau sebut dahulu namanya mutiara ini !" ia balik bertanya. "Setelah kau dapat menyebutnya, baru kau mempunyai harga atau kehormatan untuk menanyakan hal ikhwalnya ! Kau sebutkanlah !"

"Lee-cu." berkata si parau, suaranya keras.

"Mari aku beritahukan !" berkata It Hiong kemudian. "Mutiara ini aku peroleh dari Kui Hiang Sian-Koan di Kanglam, dari seorang locianpwe yang telah mengundurkan diri dari dunia rimba persilatan ! Nah, apalagi yang hendak kau tanyakan ?"

"Bagaimana wajah dan dandanannya si tua tak mau mampus itu ?" tanya si parau. "Kau bicaralah !" "Sulit buat aku menjawab pertanyaanmu ini !" sahut It Hiong. "Ketika aku bertemu dengan locianpwe itu, itulah secara kebetulan saja, sekilas lalu !"

Agaknya si parau tidak senang. Ketika dia bicara pula, lagu suaranya tak sedap di dengarnya. Kata dia : "Tua bangka tak mau mampus itu sangat menyayangi mutiaranya seperti dia menyayangi jiwanya sendiri, kenapakah dia sampai menghadiahkan itu padamu ?"

It Hiong tidak menjawab, sebaliknya ia bertanya : "Ada sangkut pautnya apa urusan locianpwe itu menghadiahkan mutiara padaku dengan kau ? Kenapa kau menanyakan secara begini kasar dan sengit ?"

Si parau menjawab, sekarang dengan suara gusar : "Aku si orang tua hendak mencari tua bangka tidak mau mampus itu guna membuat perhitungan dengannya ! Aku pula mau membuktikan dahulu omonganmu ini, cocok dengan kenyataannya atau tidak !"

"Tak dapat aku bicara banyak tentang mutiaraku ini !" It Hiong berkata. "Ketika locianpwe itu menghadiahkan mutiaranya padaku, beliau cuma memberi petunjuk padaku untuk menaklukan segala bajingan guna melindungi keadilan, juga guna membasmi segala sampah kaum rimba persilatan yang suka merusak segala apa ! Sedemikian, tak lebih tak kurang !"

Si parau itu seperti juga lebih dapat menerima cara keras daripada cara halus. Ketika dia memperdengarkan pula suaranya, sekarang suaranya itu tak sekeras tadi.

"Kau benar, kau benar." kata dia yang terus mengalihkan pokok pembicaraan. Ketika dia meneruskan, dia kata : "Dari Ngo Tok Tin aku si tua, kamu baru belajar kenal dengan Tok Kong Tin, satu tin ! Di sebelah itu, masih ada empat lainnya yaitu Tok Seng Tin --suara beracun, Tok Kie Tin --hawa beracun dan lainnya ! Apakah kau masih hendak belajar kenal lebih jauh dengan empat tin yang berikutnya ?"

"Coba jawab dahulu !" berkata It Hiong. "Bagaimana kalau aku mau belajar kenal ? Bagaimana andiakata aku tidak sudi, aku segan ?"

Si parau terdengar menghela napas dengan perlahan. "Sebenarnya aku si tua menyayangi kepintaranmu,"

katanya. "Karenanya suka aku memberikan kau satu jalan

hidup !"

Sampai disitu, Kiauw In campur bicara.

"Murid-murid dari Pay In Nia bukannya bangsa pengecut yang takut mati !" demikian katanya. "Meskipun demikian, cianpwe, kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatimu ini !"

Si nona mendahului si anak muda karena ia khawatir anak muda itu menuruti hawa amarahnya dan nanti mengeluarkan kata-kata keras. Buat ia yang utama ialah lekas berlalu dari tempat yang berbahaya itu !

Agaknya si suara parau itu puas mendengar kata-katanya si nona. Maka ketika dia bicara pula, bicaranya perlahan.

"Oh, anak. Kau juga muridnya Tek Cio si rahib tua dari Pay In Nia ?" tanyanya. "Nyata kau pandai bicara, kau cerdas sekali ! Bagus, bagus !" Kiauw In hendak mengatakan sesuatu tetapi si suara parau mendahuluinya dengan kata-katanya : "Nah, pergilah kalian turun gunung ! Lohu tidak mempunyai banyak ketika akan melayani kalian !"

Mendengar itu, It Hiong tertawa.

"Lee-cu dari locianpwe yang sudah mengundurkan diri itu serta obat pemunah racun dari Pek Yam Siansu !" kata ia keras. "Kedua benda mustika itu memiliki khasiat luar biasa guna membasmi segala macam racun. Maka itu kau Tok Mo si Bajingan Racun, jika kau tidak menjual lagak, pada akhirnya, kau bakal merasai sendiri akibatnya ! Benar, bukan ?"

"Bocah !" bentaknya. "Jika kau masih mengoceh saja, lohu akan mengunakan Tok Seng Ting guna menahan mutiara serta obatmu itu !"

Tok Seng Tin ialah Barisan rahasia Suara Beracun.

Belum lagi It Hiong menjawab, Kiauw In sudah tertawa dan kata : "Kami mau turun gunung. Untuk itu kami harus mendapatkan jalannya. Jika cianpwe tidak mau membukai pintu rahasiamu, apakah itu bukannya berarti cianpwe sengaja hendak menyusahkan kami ?"

Kembali suaranya si parau berubah menjadi sabar. "Kau benar, anak. Kata-katamu menyenangkan di

dengarnya." katanya. "Dapat aku membukai jalan pada kamu semua. Akan tetapi buat itu, kalian harus menolong lohu melakukan sesuatu !"

Kiauw In melengak, hingga ia kata di dalam hatinya : "Dasar kaum sesat, mulutnya saja manis, hatinya hati serigala ! Dialah si setan licik !" Tapi, meskipun demikian ia toh menanya : "Apakah itu? Silahkan sebutkan ?"

Si parau membuka suaranya tinggi.

"Kalian harus mewakilkan lohu membersihkan partaiku !" demikian katanya. "Kalian harus binasakan itu budak yang menjadi murid murtadku !"

Itu artinya, si pemuda dan si pemudi diharuskan membinasakan si nona berbaju hijau.

Kiauw In menoleh kepada nona itu. Ia melirik memberi tanda akan si nona menyelindung di belakangnya. Kemudian ia berpura menanya : "Siapakah muridmu itu cianpwe ?

Dimana adanya dia sekarang ? Dan, apakah kesalahannya muridmu itu ?"

"Banyak mulut !" si parau membentak. "Lohu bilang dia harus dibunuh, dia mesti dibinasakan ! Buat apa kau mesti menanya begini melit ?"

Si nona berbaju hijau yang telah menggeser ke belakangnya Nona Cio bergemetar tubuhnya. Dia takut sekali.

"Cianpwe." kata Kiauw In sabar. "Jika cianpwe tidak bicara dengan jelas, maka maafkanlah boanpwe yang boanpwe sulit menjalankan titahmu itu. "

"Hm ! Hm !" si parau memperdengarkan suara dongkolnya. "Nampaknya kalian tidak berniat turun gunung, bukankah ?"

Tapi It Hiong menjawab keras : "Apa yang aku si orang she Tio hendak tolongi, biarnya aku mesti menyebur ke air atau menyerbu ke api, kendati mesti mengadu jiwa hendak aku membuktikan apa yang aku janjikan ! Laginya adik ini masih belum ketahuan muridnya siapa dan kenapa dia bolehnya datang kemari ! Beranikah kau omong terus terang mengenai hal ikhwalnya dia ?"

Si parau bagaikan terdesak. Lewat sekian lama, baru ia membuka mulutnya.

"Sebenarnya kalian mau pergi atau tidak ?" dia menegaskan, bengis.

Sepasang alisnya si anak muda bangkit berdiri !

"Biarnya aku mesti menginjak-injak Hek Sek San menjadi rata, mesti aku berhasil mencari sahabatku !" katanya keras. "Setelah itu baru aku mau pergi ! Siapa yang jeri terhadap tinmu yang beracun ?"

Begitu dia menutup mulutnya, begitu si anak muda menghunus pedangnya.

Aneh si parau itu. Kali ini bukannya bergusar, dia justru tertawa berkakak.

"Kau boleh pergi !" katanya nyaring. "Lihatlah ! Di saat berhasilnya pertemuan besar di In Bu San, maka itulah saatnya juga yang kalian semua akan habis terbasmi !

Kalianlah ikan-ikan di dalam kwali dan sang semut di dalam telapakan tangan ! Ha ha ha !"

Tanpa menanti suara orang berhenti, It Hiong sudah berlompat maju ke kirinya dimana dengan pedangnya ia mengetuk tembok guna mencari pesawat atau pintu rahasianya ruang tertutup itu. Mendadak terdengar satu suara menjublak keras, mendadak juga sebuah pintu tampak terbuka sendirinya hingga disitu lantas tampak sebuah lorong. Agaknya pintu itu terbuka tanpa dicari pula oleh si anak muda.

Dengan berani anak muda kita berlompat masuk ke dalam pintu itu. Sembari berlompat dia memutar pedangnya guna melindungi diri andiakata nanti datang penyerangan gelap dari dalam terowongan itu.

Itulah semacam jurus silat bagaikan melesatnya anak panah.

Menyaksikan tindakannya It Hiong itu, si nona berbaju hijau menarik ujung bajunya Kiauw In, sedangkan kakinya melangkah. Dia ingin segera menyusul si pemuda. Sebab dia ingin sekali lekas-lekas menyingkir dari tempat yang berbahaya itu.

Kiauw In memegang lengan orang untuk ditarik. "Jangan bingung !" katanya. "Adik Hiong cuma hendak

menyelidiki jalanan. Sebentar dia kembali untuk kita berjalan bersama-sama !"

Si nona berbaju hijau dengan sinar mata guram berdiri mengawasi ke dalam terowongan, hatinya tetap tegang sendirinya.

Benar saja, tak lama maka tampaklah berkelebatnya bayangan dari sesosok tubuh hitam atau segera It Hiong berdiri di hadapan mereka berdua.

"Ujungnya terowongan ini adalah sebuah tanah datar berbatu." kata si anak muda seranya tangannya menunjuk ke dalam terowongan itu. "Di sana, di kiri adalah kaki puncak dan di kanan terdapat serentet rumah petak terbuat dari batu. Di sebelah terowongan terdengar samar-samar suara pertempuran. "

Alis indah dari Kiauw In dirapatkan, otaknya bekerja. "Mari kita pergi !" ajaknya sejenak kemudian.

It Hiong mengangguk. Lantas dia jalan di muka memasuki pula pintu rahasia itu hingga bertiga mereka berjalan didalma lorong atau terowongan. Si nona berbaju hijau jalan di tenah, agar Kiauw In yang berjaga-jaga di sebelah belakang.

Panjangnya lorong belasan tombak. Mulut jalan keluar itu terhadang dengan selat yang teraling dengan dinding batu, maka orang harus jalan mengidar ke kanan untuk tiba ditanah datar berbatu.

Di dalam waktu yang singkat, It Hiong bertiga sudah tiba disisi tanah datar itu, di pinggiran yang tinggi. Di depan mereka adalah puncak. Di situ mereka dapat menyedot hawa yang nyaman. Sang surya menyatakan yang sang waktu sudah siang, sudah mendekati tengah hari.

Tanah datar itu adalah tempat dimana kemarin Gak Hong Kun dan Ek Jie Biauw main perlip-perlipan. Itu pula tempat Ya Bie bertempur dengan Ek Jie Biauw sekeluarnya dia dari rumah batu.

Ketika malam itu Kiauw In kehilangan Ya Bie, ia telah memasuki serentetan rumah batu itu serta melintasi beberapa pintu dan pendopo guna mencarinya, hanya ia belum sampai di tanah datar berbatu itu. Waktu Ya Bie kembali, ia sebaliknya sudah pergi jauh. Maka juga mereka berdua tak dapat bertemu satu dengan lain.

Selama bingung mencari Ya Bie dan It Hiong itu, beberapa kali Kiauw In bertemu dan bertempur dengan beberapa orang berseragam. Hanya mereka itu aneh, nampaknya mereka semua tak beres pikiran dan cara berkelahinya tidak memakai aturan. Tegasnya mereka berkelahi masing-masing. Mereka pula menyerang asal orang ada ditempat jagaan mereka.

Selekasnya orang dapat melewatinya, mereka tidak mengejar.

Setelah sampai di rumah batu terakhir, disitu barulah nona Cio bertemu dengan Hian Ciu Jie Nio dan bertempur dengannya. Kali ini dia merasa bahwa ia tengah menempur orang yang otaknya tidak terganggu. Ia mesti melewati tiga puluh jurus lebih barulah lawan dapat dipaksa mundur dan kabur hingga ia mengejarnya sampai di luar rumah batu itu. Di situ baru ternyata, itulah bukan rumah batu hanya gua  karang.

Selama terpisah satu dengan lain, pengalamannya It Hiong dan Kiauw In berlainan. Toh akhirnya mereka bertemu dan berkumpul kembali. Ya Bie sebaliknya terpisah sebab dia ketinggalan Kiauw In dan karena ilmu silatnya masih rendah dia pasti menderita. Di antara beberapa orang Kang Ouw yang melindunginya, ada beberapa orang rimba persilatan hingga sangat sukar baginya melayani mereka itu. Demikianlah sampai It Hiong mendengar di sebelah puncak gunung ada suara pertempuran. Itu pula bukannya nona itu bergulat mati- matian guna meloloskan diri dari rintangan. Syukur baginya, ia dibantu oleh So Hun Cian Li si orang utan yang beberapa kali menolongnya dari serangan berbahaya dari lawan-lawannya tiu. Dari tengah malam sampai besoknya pagi barulah ia dapat keluar dari beberapa rumah batu itu tetapi belum bebas seluruhnya. Demikianlah It Hiong bertiga, setelah mendengari suara pertempuran itu, mereka lantas mencari jalan untuk menghampiri dan melihatnya. Mereka jalan melintasi beberapa rumah batu, hingga suara tadi nampak makin nyata.

"Mungkin itulah adik Ya Bie yang masih bertempur di dalam rumah batu. " kata Nona Cio setelah dia memasang

telinganya.

It Hiong heran.

"Kenapa kau menerka demikian, kakak ?" tanyanya. Ia menjadi heran sebab ia tidak menyangka Ya Bie yang masih begitu muda dan belum berpengalaman dapat berkelahi satu malam lebih......

Sebenarnya sebagai murid Kip Hiat Hong Mo, Ya Bie mempunyai suatu kelebihan ialah ilmu menyamarnya Hoan Kak Bie Cin, hingga ia dapat mengaburkan mata orang. Ilmu itu membuat umumnya ahli silat dapat melihat dan menerka keliru. Demikianlah sampai It Hiong pun membutuhkan keterangan dari si kakak......

"Panjang buat aku menjelaskan !" kata Kiauw In. "Yang perlu sekarang ialah membantu orang ! Mari !"

Nona Cio berkata terus bekerja. Ia lompat masuk ke dalam rumah batu dengan melewati jendela, sembari berlompat ia menghunus pedang dipunggungnya.

It Hiong masih tetap heran tetapi ia pun tidak mau terlambat. Mak ai lompat menyusul sambil terlebih dahulu ia menyambar tangannya si nona berbaju hijau untuk mengajak nona itu. Rumah batu itu gelap, apa yagn tampak ialah sinar berkilauan kehijau-hijauan mirip seperti terang kunang-kunang hingga penglihatan menjadi rada seram. Meski begitu, Kiauw In dapat maju dengan lekas. Ia seperti berjalan di tempat yang ia kenal baik sekali. Ia melintasi kamar-kamar untuk menuju langsung ke tempat suara pertempuran itu.

Kiranya tempat pertempuran adalah sebuah ruang pertengahan segi empat, kiri dan kanannya berdinding tembok. Jendela hanya satu dan juga kecil. Maka itu sekalipun siang hari, ruang guram.

Setibanya di muka kamar, Kiauw In melihat senjata-senjata berkelebatan dan mendengar bentakan. Ia segera memasang mata tajam guna bisa melihat terlebih tepat.

Yang bertempur itu adalah tiga orang pria bertubuh besar dan tegar mengepung seorang wanita dengan tubuh kecil langsing serta seekor orang utan yang tubuhnya besar dan berbulu.

Nona Cio pernah memasuki ruang ini dimana ia menempur tiga orang yang bertubuh besar seperti tiga orang ini, maka dia lantas menerka kepada Sam Mo atau tiga Bajingan dari pulau To Liong To. Karena itu, yang lainnya ialah Ya Bie bersama binatang piaraannya itu yang kuat dan lincah.

Dengan satu loncatan ilmu ringan tubuh Tangga Mega dan sembari berseru juga Kiauw In lompat masuk ke dalam ruang itu. Seruannya ialah : "Kakakmu datang ! Juga kakak Hiongmu lagi datang menyusul !" Ia pun terus menangkis senjatanya Lam Heng Hoan, si Bajingan nomor dua. Yang ia gunakan ialah jurus "Pelangi Mengelilingi Langit." Menyusul itu, satu desakannya membuat kedua Bajingan yang lainnya terpaksa mundur seperti yang pertama itu.

Kiauw In berbesar hati melayani ketiga Bajingan itu, karena ia tahu meski juga mereka itu lihai tetapi mereka berkelahi tanpa menggunakan otak yang sadar. Sebabnya ialah urat syaraf mereka itu sudah dipengaruhi obat.

Ya Bie lantas berlompat mundur selekasnya ia mendengar seruan dan melihat sinar pedang menghadang ketiga lawannya. Ia girang dan bersyukur hingga ia tidak dapat segera membuka mulutnya. Ia berdiri disisi dengan naps memburu. Cuma kedua matanya yang mengucurkan air mata kegirangan mengetahui datangnya Kiauw In terutama It Hiong, sang "kakak Hiong" sebagaimana Nona Cio menyebutnya barusan !

Letih dan kegirangan dan terharu berbareng. Terutama keletihan, membuat muridnya Kip Hiat Hong Mo tak dapat bertahan lama berdiri di sisi itu. Mendadak saja ia merasai napasnya sesak, lalu tubuhnya basah dengan peluh, akan dalam detik lain roboh dengan sekonyong-konyong !

Tepat ketika itu It Hiong sampai, maka anak muda ini berlompat akan mencegah tubuh nona itu yang ia pegang pada pinggangnya.

"Adik Ya Bie !" panggilanya keras. "Adik Ya Bie !"

Ketika itu Kiauw In tengah melayani ketiga Bajingan. Ia mengharap Ya Bie dapat beristirahat, maka ia terperanjat waktu ia mendengar suaranya It Hiong memanggil Ya Bie itu. Ia lantas mengambil kesempatan akan melirik, hingga ia melihat si adik Hiong tengah memondong tubuhnya anak perempuan itu. Kedua matanya nona itu dipejamkan dan napasnya memburu keras.

Selagi nona kita menyimpangi perhatiannya itu, Lam Hong Han menyerang pula. Ujung senjatanya mengancam dada dan perut si nona. Hebat erang itu hingga untuk menangkisnya pun sudah habis waktu. Karena itu, guna menyelamatkan diri, si nona menjatuhkan dirinya terus bergulingan ke kaki penyerangnya itu. Ia menggunakan jurus silat "Keledia Malas Bergulingan !" Setelah bebas dari ancaman itu, ia segera membalas menyerang. Ia menyerang tanpa berhenti sampai ia berlompat bangun. Ia mengarah lengan kanan dan tikamannya yaitu tikaman "Guntur Menyambar".

Lam Hong Hoan kaget sebab dia tidak menyangka lawan justru berguling ke arahnya. Ia menjadi repot sekali ketika ia mencoba menyelamatkan diri dengan menangkis serangan yang berbahaya itu. Tentu sekali, karena itu senjata mereka berdua saling bentrok dengan keras. Kesudahannya senjata si Bajingan yang kalah, bahkan ia hampir kutung lengannya jika tidak dia senjatanya yang malang ditengah ! Ia lantas berlompat mundur !

Tapi juga Kiauw In tidak memikir buat mencelakai orang yang kurang ingatan itu. Ia melainkan membela diri berbareng hendak mengalahkan lawan bukan merobohkannya hingga terbinasa.

Habis mengundurkan Lam Hong Hoan, Kiauw In berlompat bangun terus berlompat lebih jauh kepada Ya Bie yang ia lantas raba mukanya akan kemudian memeriksa seluruh jalan darahnya. Ia merasa lega mendapatkan nona itu tidak terluka apa-apa terutaman tidak anggauta dalam badan. Jadi orang pingsan hanya sebab terlalu letih. Maka lekas-lekas ia menjejalkan pil Kian tan kedalam mulut nona itu. "Telah aku menguruti dia," kata It Hiong. "Aku rasa keadaannya tidak berbahaya."

"Mari kita lekas menyingkir dari sini" kata Nona Cio berbisik. Di tempat yang aman, kita akan mencoba menolongnya lebih jauh pada adik Ya Bie ini." kemudian ia menggapaikan memanggil si nona berbaju hijau serta si orang utan atau untuk ia berkata : "Kalian lekas keluar terlebih dahulu dari sini, aku yang akan berjaga-jaga di belakang !"

Si orang utan berdiri dengan tampang lesu, tampangnya dia terlalu lelah. Sinar matanya pun sayup-sayup. Tadinya dia duduk numprah saja di lantai.

Si nona berbaju hijau mengawasi binatang itu. Kata dia pada Kiauw In : "Rupanya Binatang ini mengerti akan kata- kata orang. Kasihan dia. "

Binatang itu sebaliknya, menunjuk-nunjuk si nona yang berbicara itu berulang-ulang ia memperdengarkan suaranya, cuma entah apa yang ia katakan. Kemudian ia menghampiri It Hiong, tangannya menunjuk Ya Bie yang masih rebah, terus dipakai menepuk-nepuk punggungnya.

Menyaksikan demikian, It Hiong mengerti akan maksudnya Binatang cerdik itu. Ia angkat tubuhnya Ya Bie akan digembloki di punggungnya sang binatang.

Justru bertepatan dengan itu, mendadak ada seseorang yang berlompat kepada si orang utan lantas tampak suatu sinar terang meluncur pada punggungnya ! Itulah serangan terhadap Ya Bie ! Si nona berbaju hijau melihat sinar itu berkelebat. Dia kaget hingga dia berseru dan mundur dua tindak. Tapi sebelumnya pedang mengenai sasarannya, mendadak serangan itu ditarik pulang dan si penyerang terdengar suaranya perlahan !

Si orang utan sangat cerdik, dengan lantas dia lari sambil menggendong nonanya itu.

Kiauw In pun segera menolak tubuhnya si nona baju hijau sambil dia berkata keras : "Lekas lari!"

Nona itu mengerti, lantas dia lari menyusul si orang utan.

Ketika itu It Hiong sudah mulai bertempur dengan si penyerang barusan, senjata mereka beberapa kali beradu dengan keras hingga percikannya berpeletikan. Saat itu digunakan Kiauw In akan mengawasi lawan tunangannya itu hingga ia melihat seorang berbaju rahib To Kauw, agama To. Tubuhnya besar, cuma matanya ketolol-tololan.

Dia pula memelihara janggut yang biasa disebut sebagai janggut kambing gunung.

"Ah, siapakah dia ?" pikirnya menerka-nerka. Ia rasa pernah melihat rahib itu. Ia tidak usah berpikir lama akan terus ingat dan mengenali orang. Dialah Beng Leng Cinjin dari Hek Keng To, tocu, pemilik pulau ikan Lodan Hitam !

Dalam penyerbuan terhadap Siauw Lim Sie diwaktu malam dahulu hari itu, Beng Leng Cinjin turut mengambil bagian. Dia datang bersama-sama kedua adik seperguruannya, pria dan wanita yaitu Cek Hong Cu Cin Tong dan Giok Bin Yauw Ho Tan Hong. Adalah di itu waktu Tio It Hiong dengan pedang Keng Hong Kiam telah memukul mundur para penyerbu karena dengan pedang mustikan ia dapat menundukkan bajingan serta berbareng melindungi keadilan. Semenjak kegagalan itu, Beng Len Cinjin insaf dan lantas mengundurkan diri dengan tinggal menyendiri di dalam gubuk yang ia bangun di sebuah dusun dekat Kho tiam-cu. Dan Kiauw In ketahui rahib itu dari mulutnya Tan Hong yang menuturkan perihal kakak seperguruannya yang tertua itu.

Akan tetapi sekarang tiba-tiba tocu dari Hek Keng To itu yang telah mengundurkan diri, muncul di Hek Sek San ini, ditempatnya orang sesat bahkan urat syarafnya telah terganggu ! Tidakkah itu aneh ? Maka teranglah sudah, dia tentunya telah kena dikekang lawan yang lihai itu.

"Kasihan !" kata si nona kemudian dalam hatinya.

Habis bentrokan dengan Beng Len Cinjin itu, It Hiong mundur seperti juga si rahib sendiri. Keduanya berdiri diam sambil saling mengawasi.

"Adik, kenalkah kau akan orang itu ?" Kiauw In tanya. "Orang atau orang-orang sesat mana ada yang bersahabat

dengan kita ?" sahut It Hiong dengan suara tegas. "Buat apa kita mengenalnya ?"

"Bukannya begitu, adik." Kiauw In bilang. "Dialah kakak seperguruan dari adik Tan Hong ! Dia toh Beng Leng Cinjin dari Hek Keng To !

Mendengar disebutnya nama Tan Hong, pikirannya It Hiong bagaikan kacau secara tiba-tiba. Itulah kekusutan yang dibilang "digunting tak putus, diberesi masih kusut juga". Tan Hong sangat menyulitkan padanya. Nona sesat itu menjadi sadar dan lurus karena dia dengan setulusnya hati mencintainya !

Beng Leng Cinjin mendengar si nona menyebut namanya, dia tertawa dingin lantas dia kata keras : "Jika kalian tahu selatan, lekas kalian mengikat sendiri tanganmu supaya tak usah lohu turun tangan lagi !" Ia pun mengulapkan pedangnya dan menyingkap janggut kambingnya.....

It Hiong mengawasi jago tua itu, di dalam hatinya timbul rasa sayang dan lucu.

"Kakak !" katanya kemudian kepada Kiauw In. "tolong kau melindungi mereka itu, akan  aku  menyusul  kau belakangan. "

Justru si anak muda berkata, justru tubuhnya Beng Leng telah mencelat ke muka pintu, pedangnya dilintangkan. Akan tetapi Kiauw In tak dapat dirintangi karena si nona telah berlompat dengan menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Maka melengak dan mengocehlah ia seorang diri saking herannya orang dapat lewat.

It Hiong datang guna membantu Ya Bie, tidak ada niatnya menempur para jago sesat itu. Lebih-lebih tak ingin ia melukakan atau membinasakan orang-orang yang pikirannya lagi sesat. Akan tetapi sekarang ia dihadang Beng Leng serta di belakangnya berada Bajingan-Bajingan dari To Liong To, itulah berbahaya andiakata mereka berempat dapat bekerja sama menghadangnya. Maka ia pikir, perlu ia berkelahi cepat, guna meloloskan diri buat mengangkat kaki.

Segera setelah berpikir itu, anak muda kita menggerakkan pedangnya. Ia bersilat dengan jurus "Sie Toat Hong Sim" yaitu "Anak panah menyambar sasaran merah". Ia menikam ke dadanya Beng Leng Cinjin tetapi ditengah jalan ia merubah sasarannya itu dari menikam langsung menjadi menebas dari samping !

Beng Leng lihai, tidak kena dipermainkan secara begitu. Dengan berani dia menangkis. Kakinya tak berkisar barang setengah tindak. Dia tidak takut mengadu tenaga.

"Minggir !" It Hiong membentak. "Bukankah harimau menyingkir melompati tembok dan manusia menghindari ancaman bahaya ? Apakah untungnya perbuatan ngototmu ini

?"

Beng Leng tertawa dingin berulang-ulang, terdengar suara "hm !" nya.

"Bocah, sungguh mulutmu besar !" serunya. "Kau sebutkan namamu ! Ingin aku tahu betapa besarnya namamu itu !"

"Akulah Tio It Hiong dari Pay In Nia !" sahut It Hiong keras dan terus terang. "Bukankah kita pernah bertemu diatas Siong San ? Lupakah kau ?"

Beng Leng memperdengarkan suara bagaikan menggeruru.

Berulang kali ia menyebut namanya si anak muda. Terus ia berpikir keras, alisnya pun dirapatkan satu dengan lain.

Sekonyong-konyong ia menuding dan mendamprat berulang- ulang : "Penipu ! Penipu ! Ya, penipu !"

Hampir It Hiong tertawa melihat lagak orang mirip lagak orang edun hingga ia tak menggubris yang ia katakan penipu.

"Apakah itu yang dinamakan penipu ?" tanyanya sabar. "Coba kau jelaskan, ingin aku dengar !" Matanya Beng Leng mendelik, mulutnya dibuka lebar.

"Masih kau berlagak gila ?" bentaknya. "Kau. kau telah

menipu hatinya Tan Hong adik seperguruanku itu ! Bahkan kau telah merampas juga sifatnya ! Hm ! Penipu ! Penipu !'

Belum lagi It Hiong mengatakan sesuatu maka Lam Hong Hoan, tocu kedua dari To Liong To mendahului turut bicara. Kata dia nyaring : "Beng Leng Toheng benar ! Penipu ini bukan cuma menipu adik seperguruanmu, Tan Hong. Dia juga telah menipu adik seperguruanku, Siauw Wan Goat ! Ya, cara menipunya sama saja !'

Biar bagaimana, It Hiong toh gusar karena Lam Hong Hoan turut menuduhnya.

"Tutup mulutmu !" Ia membentak. "Mengapa kau mengoceh tidak karuan ?"

Lam Hong Hoan tidak mempedulikan orang gusar, dia kata pula : "Kau bukan melainkan sudah menipu Tan Hong, kau juga telah membujuk dan mengajaknya bersama pergi bertualang di dalam dunia sungai telaga. Kau telah mengacau di Ay Lao San, menyerbu kaum Losat Bun ! Itu masih tidak apa ! Tapi yang celaka ialah setelah kau menipu Siauw Wan Goat, adik seperguruanku itu, sampai sekarang ia tak ketahuan berada dimana, entah dia sudah mati atau masih hidup ! Bagaimana kau hendak memberikan pertanggungan jawabmu terhadap kami ?"

It Hiong mengawasi tajam dua orang itu. Tuduhan itu membuat ia bingung hingga tak tahu ia harus menjawab bagaimana, terutama mengenai lenyapnya Siauw Wan Goat. Ini dia yang pepatah bilang : "Kalau seorang mahasiswa bertemu dengan pasukan perang, ada alasannya toh tak dapat dia menjelaskannya." Pikirnya, "soal Tan Hong ada satu soal yang dapat dimengerti, tetapi bagaimana dengan Siauw Wan Goat yang telah ditipu dan dipemainkan Gak Hong Kun ? Aku sekarang haru memikul kedosaannya Hong Kun ! Tidakkah hebat ?"

Akhir-akhirnya dari mendongkol, si anak muda tertawa. "Habis, kalian mau apakah ?" tanyanya singkat, sikapnya

menantang.

Lam Hong Hoan maju satu tindak, senjatanya diulapkan. "Dimana adanya sekarang adik seperguruanku ?" dia tanya

bengis. "Kau bilang !"

It Hiong memang tidak tahu dimana adanya Nona Siauw tetapi ia melihat selatan dan menjawab : "Bukankah nona tadi yang ada bersama disini adik seperguruanmu itu, Siauw Wan Goat ? Kenapa kau tidak dapat mengenali adik seperguruanmu itu ? Kenapa kau justru menangih orang padaku ?"

Lam Hong Hoan melongo.

"Dimana adanya dia sekarang ?" tanyanya habis melengak. "Dia sudah pergi !"

"Dimana adanya Tan Hong adik seperguruanku itu ?" Beng Leng Cinjin pun menanya. "Bilanglah !"

"Kalian tidak mengenali adik seperguruanmu sendiri !" kata It Hiong yang menggunakan kesempatan untuk mengacau otak mereka itu, yang kadang beres kadang tidak. "Dia juga sudah pergi !" Ketua dari Hek Keng To pun melongo.

"Dia sudah pergi ?" tanyanya, menegaskan.

It Hiong mengawasi dua orang itu, hatinya tidak tenang. Ia bukannya tukang mendusta, maka juga merasa tak enak yang ia sudah membohongi mereka itu. Ia terpaksa bersikap demikian karena orang telah berlaku keterlaluan mengatakan ia penipu dan mencaci padanya. Tapi dengan demikian juga ia menjadi memperoleh kepastian bahwa benar-benar pikiran orang tak seluruhnya sadar. Buktinya mereka percaya Kiauw In adalah adik seperguruan mereka......

Beng Leng Cinjin tunduk dan berkata-kata seorang diri : "Adikku sudah pergi....... Adikku sudah pergi. "

Mendengar itu, Lam Hong Hoan pun berkata sendirinya : "Adikku sudah pergi...... Adikku sudah pergi. " dan ia ngoceh

terus.

Suaranya dua orang itu menyatakan keprihatinan mereka terhadap masing-masing adik seperguruannya, kedukaan mereka itu mendatangkan kesan baik dan rasa terharu. Inilah yang membikin hati It Hiong tak enak, tak tega ia menyaksikan kelesuan dan kedukaannya dua orang itu. Tak peduli ketika itu merekalah kedua lawan yang berbahaya dan telah menyulitkannya...........

"Kalian menyebut-nyebut penipu," katanya kemudian. "Apakah sekarang kalian telah insaf akan kekeliruan kalian ?"

Tiba-tiba saja Beng Len Cinjin dan Lam Hong Hoan membentak berbareng : "Di depanku, kau masih berani mendusta ? Kau mencari mampusmu sendiri !" Dan tiba-tiba pula mereka menyerang dengan masing-masing senjatanya !

Menyaksikan sikap orang tak waras pikiran itu, It Hiong merasa hatinya lega. Tapi ia tidak dapat berpikir lagi, ia mesti melayani kedua musuh bahkan selanjutnya menjadi empat lawan karena dua jago lainnya dari To Liong To pun turut turun tangan.

Karena ia bukan berkelahi dengan sungguh-sungguh, It Hiong melayani sekalian penyerangnya dengan terlebih banyak berkelit. Maka juga ia mengandalkan Te Ciong Sui, ilmu ringan tubuh Tangga Mega guna selalu berlompat menjauhkan diri dari setiap tikaman, bacokan dan tebasannya ataupun sabetan. Ia bergerak lincah ke kiri atau kanan dan ke atas atau mendak.

Beng Leng Cinjin dan Lam Hong Hoan termasuk kelas satu, dua jago To Liong To lainnya masih kalah dari Lam Hong Hoan tetapi mereka bukan sembaran orang. Dari itu tidaklah heran jika pengepungan mereka tak dapat dipandang ringan. Lebih- lebih mereka itu dalam pikiran tak waras sempurna, berkelahi dengan sungguh-sungguh, tanpa kenal takut mati.......

It Hiong repot sebab ruang kurang luas dan ia tak berniat membinasakan lawan. Jalan keluar juga cuma satu-satunya jendela yang dijaga keras oleh Beng Leng Cinjin.

Setelah bertempur sekian lama, It Hiong merasa yang cara berkelahi itu tidak sempurna. Ia yang mungkin nanti mendapat kerugian. Ia telah membuang-buang waktu. Dan bagaimana andiakata ia salah turun tangan ? Ia pula lantas memikirkan Kiauw In bertiga. Apakah mereka tidak terlintang pula oleh musuh yang licik ? Ya Bie memerlukan tempat aman guna ia memelihara kesehatannya. Sedangkan si nona berbaju hijau, ilmu silatnya tidak dapat diandalkan.

Setelah mengingat semua itu, anak muda kita menjadi berpikir keras. Bagaimana ia harus bertindak.

Dengan berpikir, It Hiong ingat cara berkelahinya Beng Leng Cinjin si penjaga pintu itu. Setiap kali ia menerjang, si rahib menerjang dengan jurus "Pat Hong Hong Ie -- Angin Hujan di Delapan Penjuru". Serangan itu sukar dihadapi kecuali kalau ia melawan keras dengan keras dan itu berarti mungkin ia mendapat rugi dilengannya. Kalau ia bersedia melukai Beng Leng, itulah lain.

Akhir-akhirnya muridnya Tek Cio Siangjin memikir buat menggunakan kecerdasan saja. Ialah memakai tipu, buat mengelabui si rahib atau ketiga kawannya itu. Maka ia lantas menanti kesempatan. Di saat Hong Hoan menghajar, ia berkelit. Sembari berkelit itu mendadak ia berseru : "Tan Hong datang !'

Beng Leng Cinjin melengak ! Orang bukan menyerangnya hanya menyerukan namanya adik seperguruannya itu ! Tepat dan telak si anak muda menyerang hati nuraninya itu. Segera ia menoleh dan mengawasi !

Ketika yang baik itu tidak dikasihh lewat oleh It Hiong.

Habis berseru, ia pun lantas menggunakan ilmu Hoan Kak Bie Cin, ilmu menyamar dan mengelabui mata ajarannya Kip Hiat Hong Mo Tauw Hwe Jie. Itulah ilmu sesat, yang ia tak penuju dan sejak ia pelajari belum pernah ia pakai. Hanya kali ini, saking terpaksa guna mengelabui matanya jago dari Hek Keng To itu. Tengah si rahib berdiam itu, ia terus mencoba lewat disisinya. Beng Leng melihat ada orang berjalan ke sisinya, wajar saja ia mengangkat pedangnya untuk menyerang atau ia lantas merasa ada tangan yang menahan turunnya senjatanya itu dan waktu ia mengawasi ia melihat yang melintasi itu Tan Hong adanya, si sumoay, adik seperguran yang ia buat pikiran. Tanpa merasa ia berseru : Adik ! Adik !" Karena ini, lupa ia buat menggunakan lebih jauh pedangnya !

It Hiong berlaku sangat gesit dan lincah. Selekasnya ia lewat disisinya Beng Leng, ia lantas menjejak lantai akan berlompat melesat melompat jendela yang menjadi pintu atau jalan satu-satunya buat ia dapat keluar dari ruang yang terkurung rapat itu oleh empat orang musuhnya. Hanya sekejap saja, lenyaplah ia berikut bayangannya !

Beng Leng Cinjin bersama Lam Hong Hoan berempat berdiri menjublak, matanya mengawasi keluar ruang. Mereka seperti juga tidak berani setindak saja meninggalkan tempat jagaan itu.........

It Hiong lari dengan keras. Setibanya ia ditanah datar terkaannya ternyata terbukti. Ia melihat suatu pertempuran yang seru. Di sisi si orang utan tampak sedang menggendong Ya Bie dan disebelahnya mereka itu si nona berbaju hijau lagi bersiap saja menghadapi bahaya. Matanya mengawasi tajam ke medan pertempuran.

Di sana Kiauw In tengah dikurung oleh Cit Biauw Yauw Lie yang bersenjatakan kim tay, sabuk sulaman air emas. Mereka itu bergerak cepat hingga ujung baju mereka turut bergerak tak hentinya. Demikian juga Nona Cio. Mereka itu berkumpul dan memegat di tanah datar itu karena diperintahkan Im Ciu It Mo, guru mereka. Caranya mereka menyerang pun dengan memakai aturan, sebab mereka tahu Kiauw In lihai dan hendak membikin nona itu lelah sendirinya....... Kiauw In tidak takuti ketujuh nona itu, apa pula ia mendapat kenyataan Im Ciu It Mo terus tidak mau munculkan diri. Begitu bergerak, ia menggunakan ilmu pedangnya guna mendahului membuat lawannya kalah angin. Inilah tindakan yang perlu guna membikin ketujuh pengepungnya kalah hati !

Cit Biauw Yauw Lie kecele. Tadinya mereka memikir yang mereka mudah saja akan mengepung dan membuat si nona letih, semua tahu segera senjata merekalah yang justru didesak sedangkan senjatanya mereka yang berjumlah banyak dan selayaknya saja dapat mengurung dan mengekang lawan itu. Sekarang justru mereka sendiri yang kena dibikin repot !

Nona-nona itu juga heran mendapatkan Kiauw In lekas sekali pulih kesehatannya. Disamping pedangnya, nona itu senantiasa bergerak dengan pasti dan lincah sebab nona ini menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Tak ada tanda-tandanya yang ia masih dipengaruhkan obat Thay siang Hoan Hun Tan.

Si orang utan pun menyaksikan pertempuran dengan matanya dibuka lebar. Serta dia memperdengarkan Pekikannya. Rupanya dia bersitegang hati seperti si nona berbaju hijau. Mereka sama-sama mengharapkan Nona Cio lekas menang.........

Tak sudi It Hiong menonton lama-lama pertempuran yang tak seimbang itu. Tujuh orang mengepung satu orang ! Ia bahkan melihatnya dengan sepasang alisnya bangkit berdiri karena hatinya tak puas. Maka ia berlompat maju sambil berseru : "Tahan !" Terus pedangnya berkelebat dan tubuhnya berada disisinya Nona Ciu ! Cit Biauw Yauw Lie berhenti menyerang secara serentak. Mereka terkejut. Lantas mereka mengawasi oang yang baru datang itu. Lantas mereka menjadi melengak saking jeran. Itulah orang yang tampang muka dan pakaiannya tak asing lagi bagi mereka ! Bahkan hati mereka lantas goncang disebabkan ketampanan dan sikap gagah dari si anak muda. Bahkan hatinya Ek Jie Biauw bergoncang lebih keras.

Ketujuh nona itu mengurung tetapi mereka berdiri diam, mereka tidak menyerang dan juga tidak mundur.

It Hiong mengawasi semua orang. Lalu dia kata pada Yauw Lie yang tertua, katanya : "Nona Ek Toa Biauw, tolong kau sampaikan pada gurumu bahwa Barisan Cit Biauw Tin lain hari saja aku datang pula untuk belajar kenal dengannya ! Hari ini kami perlu lekas-lekas meninggalkan gunung Hek Sek San !"

Ek Toa Biauw mengawasi dengan membuka lebar matanya. "Bagaimana jika guru kami hendak memaksakan tuan

berdiam disini ?" tanyanya sembari tertawa tawar.

It Hiong mengulapkan pedangnya hingga sinar pedang itu berkilauan.

"Biasanya aku si orang she Tio sabar terhadap setiap orang," sahutnya. "Suka aku mengalah dan melepas budi. Tetapi kesabaran itu ada batasnya. Bukankah senjata tajam tidak ada matanya? Maka itu siapa tidak takut darahnya nanti muncrat berhamburan, dia majulah mencoba-coba !"