Iblis Sungai Telaga Jilid 57

Jilid 57

"Cis !" serunya, membentak si nona. "Budak hina dina !

Bagaimana kau berani datang ke Hek Sek San ini guna memancing laki-laki ? Sungguh perempuan lacur tidak punya muka !"

Tonghong Kiauw Couw heran, dari heran ia menjadi mendongkol.

"Kenapa kau menggunakan kata-kata kasarmu ?" tegurnya. "Bukankah kita sama-sama wanita?"

Jie Biauw tidak mempedulikannya.

"Kalau kau bukan hendak mencuri laki, buat apa malam- malam kau datang kemari ?" dia balas bertanya.

Hatinya Nona Tonghong menjadi panas. "Siapa kesudiaan bicara denganmu !" bentaknya. "Kau mementang dan menutup mulut, selalu kau menyebut-nyebut orang laki-laki ! Bagaimana hebat kau memfitnah orang !"

Jie Biauw tertawa kering berulang kali. Dia menunjuk Hong Kun.

"Kau tentunya menganggap dirimu putih bersih !" katanya. "Tetapi kenapa kau justru hendak menculik pria ini ?"

"Maksudku tak lain tak bukan hendak aku mendapat kepastian tentang diri dia !" sahut Nona Tonghong. "Aku ingin ketahui, dia Tio It Hiong atau bukan !"

Segera Hong Kun mendahului Jie Biauw.

"Akulah Tio It Hiong !" katanya nyaring. "Nona Tonghong, ada apakah petunjukmu untukku ?"

Belum lagi Tonghong Kiauw Couw memberikan jawabannya atau mengatakan sesuatu, tiba-tiba seseorang telah menyelanya, menyela dengan suaranya yang nyaring : "Oh, kakak Hiong. Kiranya kau disini ! Kau membuat aku bersusah payah mencarimu !"

Dan orangnya pun segera muncul. Seorang Nona Tanggung yang tangannya memegangi seekor ular hidup, sebab dialah Ya Bie !

Gak Hong Kun dan Nona Tong Hong menjadi dibuat heran karenanya. Keduanya lantas berpaling, mengawasi nona yang baru tiba itu. Ya Bie tidak menghiraukan sikap orang, habis mengawasi ketiga orang disitu, ia bertindak maju ke arah Jie Biauw dan Kiauw Couw terus ia menatap mereka, untuk akhirnya berkata

: "Kiranya kamulah berdua yang selalu mengikat kakak Hiong

!" Kemudian ia bertindak ke arah Hong Kun.

Kiauw Couw heran sekali. Ia tak kenal Nona Tanggung itu hingga ia tak tahu orang dari kalangan mana. Ia pun heran karena melihat si nona dapat menjinakkan ular beracun. Maka selama itu, ia mengawasi dan mendengari saja kata-kata orang.

Tidak demikian dengan Ek Jie Biauw. Tidak saja ia tahu nona itu bahkan ia mengenalinya. Sebab selama di ruang besar dari kamar batu di Kian Gee Kiap, berdua mereka pernah bertempur hingga ia mengerti baik juga lihainya si ular hijau di tangannya si nona cilik ! Walaupun demikian, hatinya telah panas. Ketika itu saatnya ia untuk dapatkan Hong Kun guna mempuasi hatinya. Siapa tahu sudah muncul Nona Tonghong. Sekarang muncul juga ini bekas lawan. Ia jadinya sangat terganggu. Sikapnya Ya Bie pula membuat kegusarannya meluap, hingga timbullah niatnya membinasakan nona itu. Beberapa kali ia memperdengarkan suara tawar "Hm !" dan matanya mengawasi tajam.

Ya Bie tidak menerka apa yang orang pikir, ia maju mendekati.

Jie Kiauw menanti sampai orang sudah datang dekat sekali.

Mendadak ia mengayun sebelah tangannya, menyerang dengan serangan tipu Tauwlo-ciang, mengarah jalan darah sin-ciang dari si nona !

Mereka berdua berada dekat sekali satu dengan lain, seranganpun serangan bokongan yang hebat. Bahkan Ya Bie tidak menyangka sama sekali. Walaupun ia sangat gesit, ia tak sempat berkelit. Maka kagetlah ia, hingga sendirinya ia memperdengarkan jeritannya yang halus tapi tajam dan panjang yang membuat hati orang goncang.

Itulah suara dahsyat bagaikan burung malam yang memperdengarka suaranya selagi terbang di tengah udara. Dengan sendirinya, jeritan itu merupakan jeritan ilmu Hoan Kan Bie Cin dari Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie.

Tak pernah Jie Kiauw mendengar suara seperti itu, hatinya goncang seketika. Bahkan matanya pun menjadi seperti kabur. Ia melihat tubuhnya Ya Bie tercipta menjadi sebuah batu besar dan serangannya mengenai batu besar itu. Ia kaget hingga ia mengawasi dengan melengak ! Tangannya pun sudah lantas ditarik pulang.

Ya Bie mundur tiga kaki untuk berkelit. Dengan begitu, bebaslah ia dari serangan maut itu. Tapi itu belum semua, jeritannya itu seperti juga ia memanggil kawannya yaitu So Hun Cian Li, si orang utan yang besar.

Tonghong Kiauw Couw heran hingga dia mementang lebar- lebar matanya menyaksikan gerak gerak aneh dari Ya Bie....

Ek Jie Kiauw penasaran. Habis melengak ia maju pula akan mengulangi serangannya. Maka Ya Bie melayaninya. Begitulah mereka berdua bertempur di depannya Hong Kun. Demikian juga Nona Tonghong jadi turut menonton.

Jie Kiauw repot juga ketika Ya Bie menggunakan ularnya sebagai senjata. Tak berani ia menangkis dengan tangannya sedangkan ia berkelahi tanpa genggaman. Terpaksa ia main berlompatan ke kiri dan kanan atau mencelat mundur. Hingga ia menjadi pihak yang terdesak. Karena ia menang di atas angin, Ya Bie tidak mau berlaku sungkan lagi. Ia mendesak hebat, ularnya mengangkat kepalanya dan mengulur-ulurkan lidahnya yang tajam dan beracun. Sedangkan matanya yang merah bersinar bengis menakutkan ! Setiap saat lidah itu dapat memagut sasarannya.........

Oleh karena ia terus main mundur, sendirinya Jie Kiauw mendekati Hong Kun. Ia menerka, pastilah si anak muda bakal turun tangan membantunya. Atau sedikitnya anak muda itu bakal menyela disama tengah, guna memisahkan mereka berdua.

Tapi Hong Kun berpikir lain. Dia justru lagi memperhatikan Tonghong Kiauw Couw. Kecantikan nona tiu dan tubuhnya yang ramping sangat membuatnya kesengsam. Ia pula sangat mengagumi ilmu pedang nona itu. Mak itu, ia seperti tidak dengar atau melihat jalannya pertempuran diantara kedua nona itu....

Untuk selalu mundur, Jie Kiauw mundur memutarkan Hong Kun. Ia heran bukan main mendapat kenyataan si anak muda tidak menghiraukannya. Bahkan ia tidak menjadi puas waktu ia mendapat kenyataan pemuda pujaannya itu justru sedang asyik memperhatikan Nona Tonghong !

Dalam bingungnya, Jie Kiauw berpeluh pada dahinya. Ia jadi berpikir keras sekali. Dasar ia cerdik, tiba-tiba ia ingat sesuatu. Begitulah ketika Ya Bie menyerang pula, ia berlompat kepada Hong Kun. Itulah loncatan "Rase Lompat dari Sarangnya".

ketika itu Hong Kun yang lagi mengawasi si nona Tonghong sudah menurunkan pedangnya hingga ujung pedang nempel pada tanah di kakinya. Itulah pedang yang diarah Nona Ek, yang mau merampasnya guna membela diri, buat melawan terus musuhnya dan kedua membikin si pemuda kehilangan pedangnya hingga mungkin dia terkejut.

Pemuda she Gak itu kaget sekali ketika tahu-tahu pedangnya telah kena orang rampas, karenanya ia sadar dari lamunannya. Ia lantas mengenali Jie Biauw, siapa dengan bersenjatakan pedang lantas tak main mundur pula, malah dia mencoba akan balik mendesak Ya Bie.

"Tahan !" teriak si anak muda.

Jie Biauw tidak menghiraukan teriakan itu. Ia memang lagi panas hati. Ia pula ingin membinasakan Ya Bie. Ia tidak tahu, orang tak mungkin mendesaknya kalau tadi ia tidak menggunakan Tauwlo-ciang guna menjatuhkan lawannya itu.

Pertempuran selanjutnya menjadi hebat sekali. Jie Biauw penasaran dan dengan bersenjatakan pedang, dia hendak mengumbar kemarahannya. Lantas dia mendesak.

"Tahan !" kembali Hong Kun berteriak dengan cegahannya.

Kali ini suaranya mendengung laksana genta. Sayang, suaranya itu didengar tetapi tidak dihiraukan. Suara itu lenyap dibawa sang angin.

Justru Hong Kun berseru itu, justru dia seperti membuka rahasianya sendiri. Kalau dia selalu memperhatikan nona Tonghong, nona itu pun sebaliknya. Sebab si nona ingin memperoleh kepastian, pemuda itu Hong Kun atau It Hiong. Sekarang ia merasa si anak muda bukannya Tio It Hiong.

Maka lantas ia menghela napas. Ia menyesali dirinya yang tak berpengalaman hingga mudah saja ia menaruh hati terhadap seseorang yang belum dikenal. Karena ini dengan diam-diam ia mengangkat kakinya, meninggalkan tempat pertempuran itu serta ketiga orang muda mudi, menghilang di dalam rimba yang gelap.

Hong Kun sementara itu menjadi panas hati. Sia-sia belaka teriakannya untuk menghentikan pertempuran. Sedangkan ia ingin sekali mendapat pulang pedangnya. Ia berduka menyaksikan Kiauw Ciauw meninggalkannya pergi. Nona itu tanpa melirik pula padanya bahkan cuma menghela napas.

Untuk menyerbu merampas pulang pedangnya dari tangannya Jie Kiauw, ia pun ragu-ragu. Dua orang itu lagi bertempur hebat dan kepandaian mereka berdua agak berimbang.

Pemuda she Gak ini menjadi serba salah. Ingin ia menyusul nona Tonghong tetapi ia memberati pedangnya. Senjata itu bukan saja perlu terutama itulah pedang mustika. Kalau ia berati senjatanya, si nona mungkin keburu lenyap hingga tak dapat disusul lagi.... 

Selagi bingun dengan hatinya pun panas, tiba-tiba Hong Kun melihat Ya Bie berhasil melibat Kie Koat Kiam, pedang ditangannya Jie Biauw dengan ular hijaunya.

Gerakannya Ya Bie gerakan sederhana saja. Kalau toh ia menjadi lihai, itulah sebab ia dapat mewarisi ilmu cambuk dari Kip Hiat Hong Mo.

Jie Biauw sendiri berasal murid Ceng Khia Pay. Hanya belum sampai ia sempurna mempelajari ilmu pedang kaum itu, ia sudah memisahkan diri. Sebabnya ialah ia lebih suka mempelajari ilmu yang menggunakan racun. Begitulah ia pergi pada Im Ciu It Mo dan menjadi muridnya Bajingan itu hingga ia menjadi berkawan bersama enam saudari seperguruannya. Ia berhasil mendapatkan dua ilmu tongkat Tauwlo Tiang dan pukulan tangan kosong Tauwlo-ciang. Kalau ia toh dapat menggunakan pedang, itulah karena ia sudah mempunyai dasar dan kemudian menggunakan ilmu tongkat sebagai gantinya. Lebih dahulu dia dan kawan-kawannya mempelajari Barisan rahasia Cit Biauw Tin, baru ia menggunakan ilmu tongkatnya. Sekarang ia menghadapi Ya Bie, yang genggamannya luar biasa. Walaupun keduanya seimbang, ia toh repot. Maka diakhirnya itu, pedangnya kena terlibat ular hijau. Ia menjadi kaget sekali.

Senjatanya Jie Biauw adalah cambuk lunak yang berupa ikat pinggang, namanya cambuk Kim-tay Piancu. Tapi senjatanya itu ia tidak bawa. Kesatu disebabkan ia terlalu mengandalkan racunnya. Kedua karena kepalanya besar, suka menang sendiri. Ia sangat suka bertindak "semau gue". Di lain pihak, ia sedang gila asmara. Maka juga ia gilai Hong Kun selekasnya ia melihat anak muda itu. Dalam hal mana ia sampai tak menghiraukan yang Hong Kun tidak memperhatikannya, lebih-lebih disaat si anak muda masih terpengaruhi obat Thaysiang Hoan Hun Tan. Ia suka mengeluh sendirinya kapan ia ingat Hong Kun acuh tak acuh terhadap dirinya, sedangkan ia sendiri sudah menggunakan segala dayanya guna menarik perhatian orang hingga ia mengeluarkan lagak centilnya.

Begitulah sekarang, ia terpaksa mesti melayani Ya Bie sendiri saja. Bukan main kagetnya mendapati pedangnya kena dilibat. Ia menjadi bingung sekali.

Justru orang bingung itu, justru Hong Kun maju. Baru sekarang dia mendapatkan kesempatan akan merampas pulang pedangnya. Dengan meluncurkan sebelah tangannya, dia henda menyerang senjata istimewa dari Ya Bie atau dia membatalkan serangannya itu selagi Ya Bie terperanjat.

Lantas ia bersenyum terhadap Nona Tanggung itu, seraya berkata : "Adik Ya Bie, sudahlah ! Buat apa kau mengotot melayani dia ?"

Dengan kecerdikannya, Hong Kun membawa aksinya It Hiong supaya Ya Bie kena diakali. Dan ia berhasil.

Ya Bie pun tertawa.

"Baik, kakak Hiong. Akan aku dengar perkataanmu !" demikian jawabnya. Lantas nona cerdik tetapi polos ini melepaskan libatan ularnya pada pedang Kie Koat Kiam terus ia mundur satu tindak.

Hatinya Jie Biauw lega berbareng girang yang akhir- akhirnya Hong Kun toh datang sama tengah. Tapi ia terus ingin menguji anak muda itu. Sampai di detik penghabisan ini, ia masin belum memperoleh kepastian, It Hiong inii Hong Kun atau Hong Kun sebenarnya It Hiong. Ia terus bersenyum menatap anak muda itu.

"Oh, kau kenal budak ini !" demikian katanya. "Kiranya kalian ada dari satu kalangan ! Nah, lihatlah jurusku !"

Berkata begitu mendadak nona Ek menyerang si anak muda. Ia membacok ke arah kepala. Gerakanya itu sangat cepat tetapi ia tidak menggunakan tenaga keras......

Hong Kun berkelit ke samping, bukannya dia mundur, dia justru maju setengah tindak. Dengan tangannya, dia pun menyangga lengan orang yang memegang pedang, hingga di lain detik mudah saja dia dapat merampas pulang pedangnya itu. Sembari mengambil alih senjatanya itu, ia kata : "Oh, adikku yang baik ! Terhadapku juga kau masih bersikap begini telengas ?" Menutup kata-katanya itu, mendadak Hong Kun berlompat pergi akan lari masuk ke dalam rimba buat menyusul Tonghong Kiauw Couw !

Dua-dua Ya Bie dan Jie Biauw heran. Terutama Nona Ek, dia bingung sekali. Kiranya dia telah kena orang permainkan !

Memang, Hong Kun bertindak secara licin sekali.

Justru itu terdengarlah suara berPekik dua kali, lantas tampai sesosok tubuh besar dan hitam lari berlompatan ke arah Ya Bie. Tiba di depan si nona, dengan tangannya dia menunjuk ke arah rumah batu. Sebab dia So Hun Cian Li yang tadi mendengar seruan si nona. Dia nampak girang sekali, sedangkan petunjuknya itu cuma si nonalah yang mengerti.

Ketika itu, dengan berjalannya sang waktu sudah lewat jam empat. Ketika itu pula, di dalam rumah batu sedang terjadi pertempuran seru, umpama kata "Naga bergulat, harimau bertarung".

Im Ciu It Mo itu, diatas gunung Hek Sek San sudah membuat rumah batunya yang istimewa itu yang dilengkapi dengan pelbagai pesawat rahasia. Kesanalah It Hiong masuk. Ia mendahului Kiauw In dan Ya Bie kira setengah jam. Hanya ketika ia masuk, alat-alat rahasia sudah lantas bekerja.

Karenanya ia menjadi terpisah dari Nona Cio dan Ya Bie. Kiauw In dan Ya Bie tidak menghadapi sesuatu rintangan. Mereka justru mempergoki Peng Mo bersama Hong Kun !

It Hiong sebaliknya, dia menghadapi ancaman malapetaka !

Selekasnya tiba di dalam, It Hiong lantas melihat sebuah ruang yang besar tetapi kosong tanpa perlengkapan kursi mejanya. Ada juga perlengkapan lainnya tetapi membuat halaman itu lebih mirip ruang piranti berlatih silat.

Di dalam ruang itu ada sebuah pembaringan model pembaringan selir raja. Di kiri dan kanannya terdapat para- para senjata. Lainnya tiada. Pada dinding di empat penjuru nampak sinar hijau berkilauan, sinar itu menerangi seluruh lantas dan lantainya licin. Sulit menaruh kaki disitu. Anehnya pintu cuma satu dan jendela tak ada barang sebuah juga. cahaya terangpun tak tembus dari luar. Maka ruang diterangi hanya sinar hijau itu.

Suasana ruang yang aneh itu dapat mendatangkan rasa jeri.....

Ketika It Hiong baru memasuki ruangan, pintu di belakangnya sudah lantas tertutup sendirinya. Sedangkan di dalam ruang terus tampak sebuah sinar hijau yang keras sekali. Ia bernyali besar, ia tidak takut. Sebaliknya, ia terus mengawasi tajam ke empat penjuru dinding, guna mencari jalan keluar terutama buat mencari musuh.

Ketika kemudian matanya menuju kepada pembaringan, di atas itu tampak rebah sesosok tubuh manusia yang tidur miring madap ke tembok. Kepalanya tertutup dengan kopian pelajar sebagaimana jubahnya jubah pelajar juga. Kedua kakinya tubuh itu tertekuk sampai tubuh melengkung. Di ujung jubah tampak dasar sepatu.

Orang itu rebah tanpa berkutik, napasnya pun tidak terdengar. Hingga tak dapat dipastikan dialah seorang hidup atau mayat atau dia manusia benar atau boneka saja.......

It Hiong sudah berpengalaman. Ia tidak menjadi jeri karenanya. Hal itu justru membuatnya bertambah berhati-hati. Ia hanya menerka disitu mesti terdapat banyak pesawat rahasia, peranti mencelakai orang. Itulah yang mesti dijaga.

Setelah mengawasi tubuh yang rebah di atas pembaringan itu, It Hiong bertindak perlahan mendekatinya. Ia ingin memperoleh kepastian, orang atau mayat siapa itu adanya.

Baru beberapa tindak, ia sudah berhenti. Lantas ia merogoh sakunya dan mengeluarkan peles hijau akan menuang enam butir obatnya yang terus ia telan. Itulah Wan Ie Jie, pil peranti memunahkan racun, pemberiannya pendeta dari biara Bie Lek Sie. Setelah itu, ia maju pula.

Tiba di depan pembaringan, anak muda kita menyiapkan tangan kirinya didadanya.

"Sahabat, bangun ! Tio It Hiong datang untuk belajar !'

Tidak ada jawaban dari orang yang lagi tidur itu, pun tidak waktu teguran diulangi sampai beberapa kali, hingga akhirnya anak muda kita mendongkol juga. Maka ia terus berkata nyaring : "Sahabat, Tio It Hiong tidak mau membokong. Maka juga lebih dahulu aku menyapamu ! Aku mau berlaku hormat terhadapmu ! Sahabat, kau bangunlah ! Mari kita bicara.

Sahabat, jika benar-benar kau tidak tahu selatan, jangan kau sesalkan aku !"

Kata-kata itu ditutup dengan dihunusnya pedang ! Tetap saja tubuh diatas pembaringan itu tidak berkutik.

Tetapi baru lewat sedetik maka dengan sekonyong-konyong dari bantal, kepalanya tahu-tahu menyembur asap hijau yang makin lama makin banyak, makin tebal hingga lekas sekali asap sudah beruap seperti awan yang bergulung-gulung hingga di lain saat kecuali tubuh orang bahkan pembaringannya pun tak tampak lagi sebab tertutup asap itu ! It Hiong waspada. Matanya tajam. Ia dapat lihat mengepulnya asap. Lantas dia lompat mundur beberapa tindak, untuk seterusnya mengawasi lebih jauh. Tengah ia memasang mata itu tiba-tiba ia mendengar suara anginnya senjata menyambar di belakang kepalanya. Tanpa berpaling pula, ia berkelit ke samping guna menyelamatkan diri. Belum lagi ia berdiri tegak, senjata sudah datang pula. Sekarang sempat ia menangkis dengan pedangnya hingga senjata gelap itu dapat dihalau.

Anak muda kita yang telah memutar tubuh dapat melihat penyerangnya itu. Seorang dengan tubuh besar dan kekar, pipinya berewokan, alisnya tebal, matanya gede dan bengis sorotnya. Dia berumur setengah tua, mulutnya lebar, kulit mukanya hitam. Pakaiannya singsat sekali. Senjatanya ialah siang-koay, sepasang tongkat. Dia agak melongo setelah serangannya tidak ditangkis.

It Hiong rasa ia seperti kenal orang itu. Hanya ia lupa dimana orang pernah diketemukan atau siapa nama atau gelarannya.

Orang itu bersikap gagah, melainkan matanya yang kurang bercahaya. Mengawasi pemuda kita, dia memperdengarkan suara tak jelas hingga terdengar bagaikan menggerutu.

Melihat mata orang itu, It Hiong segera insaf. Orang itu mesti seorang jago rimba persilatan golongan lurus tetapi karena sesuatu dia kena dipengaruhkan Im Ciu It Mo.

Rupanya dia telah diberi makan obat yang melemahkan urat syarafnya hingga selanjutnya dia kena dipakai sebagai perkakas hidup ! "Hai, sahabat !" ia lantas menyapa. "Sahabat, kenapa kau membokong aku ? Bukankah perbuatanmu ini perbuatan rendah ? Apakah kau tak kuatir nanti ditertawakan orang sesama kaum Kang Ouw ?"

Ditegur begitu, orang itu nampak terkejut. Air mukanya pun berubah.

"Hm !" dia mengasi suara di hidung.

It Hiong percaya terkaannya tepat. Maka ia lantas berkata pula : "Sahabat, apakah nama dan gelarmu ? Bagaimanakah aku harus berbahasa terhadapmu ?"

Orang itu melihat ke empat penjuru. Agaknya ia menjerikan sesuatu. Habis itu barulah dia menjawab perlahan : "Akulah Boan Thian Ciu Kim Tay Liang. "

It Hiong merasa gelaran dan nama itu asing baginya. Ia tetap percaya orang bukannya kaum sesat atau dari kalangan pancalongok. Maka ia lantas tanya pula : "Sahabat, kau asal manakah ? Apakah kau murid dari lembah Kian Gee Kiap ?"

Kim Tay Liang menggeleng kepala, terus dia menghela napas.

"Tahukah kau akan perkampungan Kim-kee-chung di kota Haphui ?" tanyanya.

Mendengar disebutnya nama Haphui itu, hati It Hiong menggetar. Darahnya terus bergolak. Ia telah diingatkan pada sesuatu yang sukar dilupakan. Karena urusan itu mengenai soal minatnya menuntut balas serta jodohnya. Ketika dahulu hari Tio It Hiong berguru pada Tek Cio Tojin, di dalam waktu tujuh tahun ia telah berhasil memperoleh kepandaian yang berarti. Maka guna mencari musuhnya, ia minta ijin turun gunung. Ia menuju ke Haphui mencari Sanbu Ong Pa guna membuat perhitungan. Karena turun gunung itu, ia telah bertemu Nona Pek Giok Peng dari Lek Tiok Po hingga ia disukai si nona hingga ia dibantu si nona waktu malam itu ia menyerbu gedung musuhnya. Setelah itu, berdua mereka melakukan perjalanan bersama sampai mereka singgah dan bermalam di Kim kee-chung. Kebetulan sekali pemilik dari perkampungan itu, Kim Tay Liang menjadi sahabatnya Pek Kiu Jie dari Lek Tiok Po. Begitulah, It Hiong jadi bersahabat bersama chungcu itu bahkan ia berdiam beberapa hari di rumah orang she Kim itu. Sekarang secara kebetulan ia bertemu Tay Liang didalam keadaan Tay Liang yang tak wajar itu, maka ingatlah ia akan persahabatan mereka dahulu.

Lekas-lekas ia memberi hormat.

"Kiranya kaulah Kim Jie-ko, chungcu dari Kim kee-chung !" katanya. "Selamat berjumpa !"

Di luar dugaan adalah penyambutannya Kim Tay Liang.

Mendadak ia tertawa dingin dan kata bengis : "Kalau kau telah ketahui nama dari Kim Jieko mu ini, kenapakah kau tidak mau lantas manda kasih dirimu ditelikung ? Kau mau tunggu apa lagi ?"

It Hiong tercengang. Orang bicara tidak karuan. "Benarlah dia telah terpengaruhkan obat." pikirnya

kemudian. Maka tak sudi ia melayani chungcu dari Kim kee-

chung itu, sebaliknya ia menjadi sangat membenci Im Ciu It Mo ! Tay Liang melihat si anak muda berdiam, dengan keras dia menegur : "Sebenarnya siapakah kau ? Kenapa kau lancang memasuki Kian Gee Kiap, lembah terlarang ini ? Apakah kau tidak takut nanti kehilangan nyawamu ?"

Habis berkata itu, tanpa menanti jawaban, dia tertawa bergelak sendirinya.

It Hiong tidak menjadi kurang senang. Bahkan sebaliknya ia menjadi masgul. Ia menyesali dan mendukakan kesesatannya chungcu itu. Maka ia memikir buat menolong mengobati. Ia ingat obatnya yang mujarab.

Tiba-tiba saja sebelum It Hiong memberikan obatnya, dari belakangnya ia mendengar teguran nyaring dan bengis ini : "Manusia tak tahu mati tidak tahu hidup !"

Entahlah teguran itu ditujukan kepada Kim Tay Liang atau terhadapnya tetapi It Hiong sudah lantas memutar tubuhnya hingga ia mendapat lihat si penegur ialah seorang pelajar sebagaimana terlihat dari kopiah dan jubahnya. Bahkan dialah si pelajar yang tadi rebah tak berkutik di atas pembaringan yang kemudian lenyap di dalam kegelapannya sang asap tebal

!

Ketika itu asap sudah buyar seluruhnya dan pembaringan pun kosong.

Dengan sabar anak muda kita mengawasi si pelajar. Dia itu dengan tenang bertindak menghampiri, kedua tangannya digendongan di punggungnya. Nyatanya muka dia itu sudah keriputan. Akan tetapi sepasang matanya sangat berpengaruh. Dialah Ie Tok Sinshe, si ahli racun yang bernama Kan Tie Uh si murid murtad dari Siauw Lim Pay telah menyerbu Siauw Lim Sie. "Tuan, kau bergerak gerik laksana bajingan. Apakah kau tidak takut perilakumu ini nanti menurunkan derajatmu ?" kemudian It Hiong menegur. Suaranya keras tetapi sikapnya tenang dan pedangnya dibawa ke depan dadanya.

Si pelajar keriputan mengangkat kepalanya memandangi langit-langit rumah. Tanpa menoleh atau melirik si anak muda, dia kata perlahan : "Kau telah mengenali lohu. Apakah kau masih tidak mau tunduk untuk memohon ampun ? Kalau benar, itu artinya kau tidak tahu hidup atau mati !'

Jawaban itu sangat tak sedap untuk telinga. Sepasang alisnya It Hiong terbangun. Dia gusar.

"Tok Mo, jangan kau bertingkah dengan usia lanjutmu !" tegurnya. "Pendekar ini biasa dipakai menaklukan siluman dan membela keadilan ! Yang aku hormati ialah tertua rimba persilatan yang lurus dan sadar. Sebaliknya penjahat-penjahat perusak negara, pengacau dunia Bu Lim, tak peduli dia siapa, dengannya aku tak sudi hidup bersama di kolong langit ini !"

Begitu gagah It Hiong bicara. Si pelajar menjadi terperanjat dan air mukanya pun berubah sejenak. Selekasnya dia sadar, dia batuk-batuk lalu terus berseru. "Kim lo-jie, kau bekuk bocah ini!"

"Ya !" menjawab Kim Tay Lian yang lantas turut berubah sikapnya. Dengan sepasang kaitannya segera ia menyerang anak muda kita.

Tidak ada niatnya It Hiong melukai Tay Liang. Atas serangan itu ia berkelit dengan satu gerakan Tangga Mega. Karena itu ia pun bepikir : "Apakah Ie Tok ini palsu atau si tulen ? Perlu aku menyelidikinya lebih dahulu agar dapat aku mengenalinya benar-benar. "

Menurut pantasnya, tidak dapat Ie Tok Sinshe berada di Hek Sek San untuk bekerja sama dengan Im Ciu It Mo.

Biasanya orang-orang sebangsa mereka itu -- meski sama- sama kaum sesat -- tak sudi mengalah satu dari lain. Mareka biasa berjumawa dan pikirannya cupat dan juga kejam.

Pepatah pun berkatai : "Dua jago tak dapat berdiri bersama -- Sebuah gunung sukar menempatkan dua ekor harimau." Dan kalau benar dugaannya, orang ini adalah Tok Mo, maka ia harus bersedia mengorbankan jiwanya guan menyingkirkannya.

Selagi It Hiong memikir, Tay Lian sudah menyerang pula padanya. Dia jadi hebat sekali.

Tetapi si anak muda melayani dengan kelincahannya. Ia selalu berkelit. Namun, setelah lewat sekian lama ia masih diserang pulang pergi, mendadak ia berseru : "Tahan ! Kita mesti bicara dahulu biar jelas !'

Kim Tay Liang telah bernapas mendesak, dahinya penuh peluh.

"Apa ?" tanyanya. Nyatanya ia masih dapat mendengar kata-kata orang.

It Hiong tidak menjawab orang she Kim itu. Ia hanya menoleh kepada si pelajar yang lagi berjalan mundar mandir.

"Tuan !" sapanya. "Bagaimana emas murni tidak takut api, demikian juga dengan kau ! Kalau kau menghargai derajat kehormatanmu, maukan kau memberitahukan aku nama dan gelaranmu?" Pelajar keriputan itu menghentikan langkahnya. Agaknya dia berpikir.

"Kau ingin ketahui nama lohu ?" sahutnya kemudian. Ia menyebut diri lohu, si orang tua. "Apakah kau tak takut nyalimu nanti rontok ?" Ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan : "Siapa yang ketahui nama lohu, dia biasanya tak akan berjiwa pula ! Apakah kau masih memikir buat menarik pulang perkataanmu ini ? Masih ada waktunya !"

It Hiong membuka mata lebar-lebar hingga tampak sinarnya berkelebat.

"Jangan banyak tingkah, tuan !" tegurnya. "Kau cuma tahu menggertak orang, sama sekali kau tidak berani menyebutkan nama dan gelarmu ! Rupanya kaulah si manusia palsu yang banyak orang nanti datang untuk membuat perhitungan denganmu !'

Si pelajar keriputan tertawa dingin. Tak sedap suara tawanya itu, yang dapat membuat orang jeri. Habis tertawa, dia mengawasi Kim Tay Liang, untuk membentaknya : "Kim Lojie ! Kau perlihatkan dia benda kepercayaan lohu !"

Habis berkata, dia terus menengadah dan berjalan pula pelan-pelan.

Kim Tay Liang menyahuti, terus ia lari ke pembaringan. Dari situ ia mengambil sehelai bendera kecil warna merah darah untuk terus dikibarkan.

Bendera itu kecil tetapi ada empat buah hurufnya yang bersinar hijau, bunyinya "Giok Hauw Kip Ciauw" artinya "Panggilan kilat ke neraka". Begitu melihat lencana itu, It Hiong mengerti. Lantas ia ingat halnya dahulu hari di Tay Hong Poo Tian dari Siauw Lim Sie waktu ia terkena racun hingga dia pingsan. Yang beda ialah sekarang ini bendera kecil sedang dahulu sehelai kertas benang sutera, sementara hurufnya sama, empat huruf serta bersinar hijau.

Lantas juga Kim Tay Liang mau menyimpan bendera itu atau mendadak si pelajar mengulur tangannya dan menjambretnya.

It Hiong tertawa. Kata dia : "Bendera kecil itu milik siapa, aku tidak tahu. Sebab pendengaran dan penglihatanku belum banyak ! Sebenarnya bagaimanakah asal usulnya itu ?"

Pelajar keriputan itu menjadi gusar.

"Benar kau mau tahu juga ?" tanyanya bengis. "Nah, serahkanlah jiwamu !"

It Hiong tak gentar akan ancaman itu. Sahut dia sabar : "Tuan, kau sebutkan dahulu nama dan gelaranmu. Setelah itu baru kau ambil jiwaku ! Umpama berdagang, kita harus berlaku jujur satu pada lain. Kau toh tahu aturan itu, bukan ?"

"Hm !" si pelajar keriputan memperdengarkan ejekannya. "Orang tak tahu mati atau hidup !" Lantas ia menyentilkan jeriji tangannya membuat bendera kecil itu melesat ke arah pemuda kita !

Hebat sentilan itu, sebab bendera melesat keras sekali sampai terdengar suaranya. Tetapi kira-kira ditengah jalan, mendadak lajunya menjadi kendor seperti ada tangan yang menarik menahannya. It Hiong mengawasi tajam. Ia mengerti si pelajar tengah menunjuki kepandaiannya. Maka itu diam-diam ia menyiapkan pedangnya, bersedia buat sesuatu kejadian. Ia pun berdiri tegak, tak berkisar dari tempatnya.

Kapan bendera itu sudah sampai di depannya It Hiong tinggal lagi satu kaki, tiba-tiba dia mundur lagi tiga kaki. Habis mana, terus dia maju dan mundur pula. Gerak geriknya mirip dengan lidah ular yang dikeluar masukkan. Dan itu berjalan sekian lama, tak mau lantas berhenti !

It Hiong heran berbareng mendongkol. Tapi ia dapat mengendalikan diri. Hanya ia lantas berpikir : "Siapa mau membekuk penjahat, dia harus membekuk dahulu pemimpinnya ! Demikian kali ini. Baiklah aku tak pedulikan dia Tok Mo yang tulen atau yang palsu. Akan aku singkirkan lebih dahulu ! Tidak nanti aku keliru membinasakan orang baik-baik

! Dengan begini pula aku jadi lantas dapat bukti kenyataan !"

Lantas secara diam-diam anak muda kita mengumpul tenaga dalamnya, membuat Sian Thian Hian bun Khie-kang menjalar ke seluruh tubuhnya. Setelah itu ia membungkuk seraya kedua kakinya dimendakkan sedikit, guna mempersiapkan loncatan "Rase loncat dari lubangnya". Habis mana mendadak saja tubuh bersama pedangnya mencelat kepada si pelajar keriputan !

Di luar dugaan, tubuhnya si pelajar lenyap secara mendadak !

Dengan serangannya tanpa mengenai sasarannya, tubuhnya anak muda kita jadi meluncur terus. Karena serangannya dilakukan dengan ilmu Gie Kiam Sut, maka itu supaya ia tak usah membentur dinding dengan lantas ia menolakkan tangan kirinya. Selekasnya ia berdiri diam, segera ia memutar tubuh melihat ke belakang terus ke kiri dan kanan.

Benar-benar si pelajar keriputan telah lenyap dari dalam kamar itu. Bahkan bersamanya hilang juga Kim Tay Lian, chungcu dari Kim kee-chung itu !

Sementara itu barusan karena bertolak tangan kirinya anak muda kita, dinding bersuara nyaring dan sinar hijaunya buyar. Syukur dinding itu kokoh kuat hingga tak usah terhajar tergempur. Sinar hijau itu membayang-bayang, mirip kunang- kunang.

Menyusul itu, ruang pun menjadi sebentar gelap dan sebentar terang. Entah apa yang menyebabkannya.

Selagi It Hiong memasang mata dan telinga, dari satu ujung kamar ia mendengar ini suara parau : "Bocah she Tio, kau untung bagus sebab kau masih mempunyai daya untuk menyelamatkan dirimu sendiri dari serangannya sinar beracun

! Pernahkah kau merasai racun itu ? Maukah kau merasainya

?"

It Hiong mendongkol. Tanpa mengatakan sesuatu, ia menyerang ke pojok itu !

Kembali serangan itu gagal, kembali cuma sinar hijau yang runtuh. Terus runtuhannya melayang berhamburan.

Kali ini terdengar pula suara parau tadi, didahului dengan tawa dinginnya.

"Oh, manusia tak tahu mampus atau hidup !" demikian ejekan itu. "Apakah kau berniat menempur aku ? Baiklah, lohu tak akan membuatmu kecewa ! Nah, kau lihatlah !" Mendadak saja, tembok terdengar berbunyi bagaikan pintu menjublak hingga terlihatlah sebuah renggangan besar dari mana muncul kepalanya satu orang, ialah kepalanya si pelajar keriputan !

It Hiong sangat cerdik. Segera ia menerka kepada kepala dari sebuah boneka. Ia tidak jeri sama sekali. Menuruti amarahnya, lantas ia serang kepala itu !

Bagaikan sebuah kepala hidup, kepala itu dapat membuat main alis dan matanya. Dia tampak seperti merasa nyeri habis dihajar, bahkan terdengar juga suara kesakitannya ! Kepala itu dapat merasai nyeri tetapi tidak rusak !

Serangannya It Hiong ada serangan pukulan Han Long Hok Houw--Menaklukan Naga, Menundukkan Harimau. Suatu ilmu silat ajarannya Pat Pie Sin Kay In Gwa Siau sedangkan tenaganya berpokok pada tenaga dalam Hian-bun Sian Thian Khie-kang. Maka aneh sekali kepala itu dapat bertahan, tak terluka atau remuk !

Biar bagaimana It Hiong menjadi penasaran. Terang ia tengah dipermainkan. Karena ini, ia memikir menggunakan pedangnya.

Bertepatan dengan itu, dari belakangnya pemuda kita lantas mendengar suara yang merdu bagaikan nyanyinya seekor burung kenari. Kata suara itu : "Ayo ! Buat apa kau bergusar tidak karuan ! Bukankah itu tak menarik hati, tak ada artinya ? Bagaimana jika kau main-main saja denganku ?"

It Hiong terkejut berbareng redalah hawa amarahnya.

Inilah sebab ia heran mengetahui orang mempunyai kepandaian ringan tubuh yang istimewa hingga ia tak menyadari akan kehadiran orang di dalam kamar itu. Celaka andiakata oang membokongnya. Ia melindungi diri dengan satu gerakan pedang "Hoat Kong Hok Te". Pedang berputar kilat di seputar tubuhnya yang terkurung pedangnya itu.

Berbareng dengan mana ia memutar diri untuk dapat melihat wanita yang menyapanya itu.

Dekat pada dinding, di sana tampak seorang nona usia enam atau tujuh belas tahun dengan seluruh pakaiannya berwarna hijau. Tangan bajunya singsat, ujung sepatunya lancip dan pinggangnya terlilitkan sabuk sulam. Nona itu menguraikan rambutnya ke punggung dan kedua belah bahunya. Alisnya lentik, matanya tajam. Dia memiliki muka yang bulat, yang memakai pupur dan yancie hingga tersiar keras baunya yang harum, yang menggiurkan hati....

Melihat si anak muda menggunakan pedang menjaga diri, nona itu tertawa geli.

"Itulah berlebihan !" katanya manis. "Jika nonamu mau membokongmu, mana sempat kau membela dirimu ?"

"Sungguh mulut besar !" si anak muda menanggapi. Nona berbaju hijau itu bersenyum. Dia menatap tajam.

"Nonamu tidak berminat mengadu mulut denganmu !" katanya. "Nonamu cuma memikir aka menyaksikan ilmu silatmu yang sejati !"

Alisnya It Hiong terbangun. Ia mengawasi tajam. "Bagaimana kalau kau dipadu dengan Im Ciu It Mo atau Ie

Tok sinshe ?" tanyanya. Nona itu tertawa pula, alisnya memain.

"Itulah tak dapat dibanding dan disamakan !" sahutnya. It Hiong heran juga.

"Kau jelaskanlah !" pintanya.

Kembali matanya si nona memain manis sekali. Kembali dia tertawa.

"Apakah kau masih belum mengerti ?" dia balik bertanya. "Kalau orang-orang rimba persilatan mengadu kepandaiannya, tak peduli dia dari tingkat tua atau tingkat muda, bukankah mereka semuanya mengandalkan senjatanya masing-masing ? Atau kalau menggunakan tangan kosong, mereka sekalian mengadu tenaga dalamnya ! Benar, bukan ?"

"Habis kau mempunya cara lainnya apa lagi ?" tanya It Hiong.

Nona itu memiringkan kepalanya, ia melirik. Ia pun menyingkap rambutnya.

"Kamilah orang perempuan." katanya kemudian. "Laginya aku adalah seorang wanita yang masih muda sekali. Untuk kami mencoba kepandai kau bangsa pria, jalan atau macamnya banyak sekali ! Kalau kau mau, kau cobalah !"

Lantas nona itu mengangkat langkahnya menghampiri si anak muda. Ia berjalan dengan perlahan, tubuhnya bergerak- gerak halus sekali. Ia sangat menggairahkan.

Hatinya It Hiong goncang. Sungguh lagak orang sangat menggiurkan. Bagaikan tertiup angin, bau harum semerbak mendesak makin keras ke hidungnya si anak muda. Itulah karena si nona telah mendatangi semakin dekat.

Hatinya It Hiong berdebaran. Ia tidak menolak orang, ia pun tidak mundur. Ia berdiri seperti menjublak saja. Tak ada suaranya sama sekali.

Segera juga si nona datang dekat sekali sampai sebelah tangannya di ulur ke jalan darah hongku di bahu si anak muda, lalu dengan suaranya yang merdu ia kata : "Kakak yang baik, kau sempurnakanlah keinginannya adikmu ini.......

Kakak, aku ingin sekali mencoba-coba kepandaianmu yang sejati. "

Baru saja tangan nona itu menyentuh bajunya, It Hiong sudah lantas mengelit bahunya itu. Tubuhnya pun mundur sekalian. Ia menatap tajam si nona.

"Kau mau apa ?" tanyanya.

Si nona menunda langkahnya. Ia menatap si anak muda. "Hatinya seorang anak perempuan," katanya. "Kau

mengerti atau tidak. "

"Aku mengerti maksudmu !" kata It Hiong. "Kau menjual lagak, lalu secara diam-diam kau hendak membokong !"

Nona itu melengak. Hanya sedetik, dia tertawa.

"Kaulah orang Kang Ouw, jago Bu Lim !" katanya. "Sudah sewajarnyaitu kalau kau berhati-hati menjaga dirimu dari perbuatan curang ! Dalam hal itu, nonamu tidak mau menyesalkanmu. Aku pun tidak akan menjadi kurang senang. Akan tetapi, hendak aku memberitahukan kau dalam hal meramalkan orang, penglihatanmu keliru !" Ia berdiam sesaaat, lalu ia menambahkan : "Apa juga yang kau kehendaki dari nonamu, akan nonamu iringi ! Aku cuma ingin kau. "

Mendadak alisnya si anak muda terbangun, matanya pun mendelik.

"Tutup multu !" bentaknya.

Karena kata-katanya dirintangi bentakan itu, si nona tampak kurang puas. Nyata wajahnya menunduk. Dia menyesal dan penasaran. Tapi dia tidak bergusar. Terus ia menatap muka si anak muda.

"Kau tunggulah aku sampai aku bicara habis, baru kau bicara." katanya agak penasaran.

Berkata begitu, mendadak matanya si nona berlinang air.

Dua butiran matanya lantas menetes jatuh..

It Hiong melihat wajah orang serta air matanya itu, ia pun mendengar suara yang halus dan bernada sedih itu. Ia menyesal, tanpa merasa muncullah kesannya yang baik. Ia tunduk lalu menghela napas dan berkata : "Apa yang kau hendak utarakan itu, telah aku ketahui !"

Si nona sudah berpaling ke arah lain. Lantas ia menoleh pula. Ia mengawasi si pemuda. Air matanya masih meleleh tetapi ia toh tertawa.

"Jika kau sudah mengerti, nah, kau hiburlah hatiku !" katanya. "Aku ingin hatiku dilegakan ! Kau menerima baik, bukan ?" Sembari berkata begitu, si nona maju mendekati. Tetapi It Hiong mengulapkan tangan.

"Kau pergilah !" katanya.

Nona itu cerdik. Ia menerka bahwa hatinya si pemuda sudah menjadi lunak.

"Jika aku pergi, apakah kau tidak bakal menyesal ?" tanyanya, tetap dengan gerak geriknya yang menggiurkan.

"Kau telah keliru melihat orang, nona !" kata It Hiong sungguh-sungguh. "Tidak, aku Tio It Hiong. Aku tidak bakal menyesal !" Ia berhenti sejenak. "Aku tidak berniat membinasakanmu ! Kau pergilah !"

Si nona berbaju hijau mencibir, dia tertawa.

"Kau mirip seorang beribadat !" katanya. "Kau tidak kenal asmara, benarkah ? Aku rasa mulutmu lain dari pada hatimu !"

Ia maju setindak mendekati, ia mengeluarkan sapu tangannya. Agaknya ia hendak menyusut air matanya tetapi tahu-tahu sapu tangan itu dikebutkan ke mukanya si pemuda !

Hanya sekejap, tersiarlah bau harum yang sangat keras.

It Hiong terkejut. Inilah ia tidak sangka. Karena mencium bau itu yang tersedot masuk ke dalam hidungnya terus ke otaknya, mendadak ia merasai sesuatu yang luar biasa. Tanpa tahunya, napsu birahinya telah terbangun, karena mana hatinya pun goncang. Si nona berbaju hijau sudah lantas berada di sisinya si anak muda kita. Agaknya dia hendak melemparkan tubuhnya ke dalam rangkulan orang. Sedang matanya bersinar kecentilan dan wajahnya tersungging satu senyuman manis sekali.

Semua tampang dan gerak geriknya sangat menggiurkan hati.

Di matanya It Hiong, nona itu sangat menarik hati, sangat menggairahkan. Ia mengawasi dengan hatinya terus memukul. Ia menatap terus-terusan. Hingga sinar mata mereka beradu satu dengan lain.

Dadanya kedua muda mudi itu segera juga mau bertemu satu dengan lain. Tidak cuma dada si pemuda, juga dada si pemudi bergolak.

Ruang besar itu sunyi sekali. Cahaya hijau membuat suasana sangat sejuk hingga sarang bajingan itu bagaikan suatu rumah pelesiran. Kedua tubuh pun hampir saja bersentuhan.....

Segera tibalah saat yang paling genting. Kedua tangannya si nona sudah lantas merangkul tubuh orang dan kedua tangannya si pemuda membalasnya. Ketika itu digunakan si nona akan menekan jalan darah bwe-in dari It Hiong untuk dengan jalan itu menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh si anak muda !

Di luar sangkanya si nona, totokannya itu mendapat perlawanan yang kuat. Ia memang tidak tahu yang It Hiong mempunyai tenaga dalam yang istimewa tangguh. Pertama- tama si anak muda berbakat, lalu dia telah makan darahnya belut emas yang berkhasiat luar biasa. Kemudian dia sudah melatih diri dengan ilmu Hian-bun Sian Thian Khie-kang yang istimewa yang mana diperkuat dengan latihan Gie Kiam Sut, ilmu pedang mirip terbang melayang. Si nona sebaliknya. Usianya masih terlalu muda dan dia cuma mengandalkan paras eloknya serta obat biusnya itu. Ketika ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, akan menekan lebih keras, dia lantas merasai sesuatu yang membuatnya kaget.

Tenaga kokoh kuat dari It Hiong telah menolak tekanan itu

! Si nona tidak melainkan merasa tangannya tertolak keras. Bahkan dia pun merasai hawa panas terasalurkan ke jalan darahnya ! Dia kaget, tak dapat dia mempertahankan diri. Celakanya, ketika dia hendak menarik pulang tangannya itu, tiba-tiba saja tenaganya habis. Tangannya menjadi kaku dan tak dapat digerakkan........

"Celaka !" serunya di dalam hati dan ia menjadi sangat kaget dan takut.

It Hiong di lain pihak sudah lantas berhasil menekan hatinya hingga di lain saat ia memperoleh kembali ketenangan dirinya. Tak lagi ia terganggu napsu birahinya. Dengan telah makan obat kay-tok-wan dari pendeta dari Bie Lek Sie, ia memang sukar terserang pelbagai macam racun.

Di saat si anak muda sadar, tubuhnya masih dipeluji si nona berbaju hijau. Sedangkan kedua tangannya pun belum dilepaskan hingga mereka berdua saling rangkul....

"Kau bikin apa, eh ?" It Hiong menegur.

Dengan perlahan si nona mengangkat kepalanya, akan menatap si anak muda.

"Kau lihatlah !" katanya perlahan. "Sebenarnya akulah yang membuat kau tak sdar atau kaulah yang membikin aku tak ingat akan diriku. " It Hiong membuka kedua tangan orang dan menolak tubuhnya dia itu.

"Kau lihat !" tegurnya. "Apakah kau tidak malu ? Lepaskan tanganmu !"

Nona itu menggeleng kepala, wajahnya menjadi suaram. "Aku sudah kalah, aku menyerah. " katanya lemah. "Aku

suka mati ditanganmu. Inilah lebih baik daripada aku

terbinasa tersiksa hebat ditangan guruku. "

"Apakah kau masih mau main gila ?" It Hiong membentak. "Masihkah kau hendak merayu aku ? Tak nanti aku terkena akal muslihatmu ! Baiklah kau tahu diri !"

Air matanya si nona turun meleleh. Dia menangis. "Aku....." katanya. "Aku. "

Dengan perlahan It Hiong menolak bahu orang.

"Mengingat usiamu yang masih terlalu muda, suka aku memaafkan kau." kata It Hiong. "Aku percaya segala perbuatanmu masih belum berbau darah. Aku tahu perbuatanmu sekarang ini disebabkan orang telah menyesatkanmu. Karena kau terpaksa. Karena itu, suka aku membukakan satu jalan hidup ! Sekarang pergilah kau, untuk kau kembali ke jalan yang lurus !"

Nona itu mengangguk. Agaknya dia sangat tertarik hati. "Tuan Tio," katanya. "Kau telah tidak membunuhku,

budimu ini akan aku ingat baik-baik. Nasihat emasmu juga aku nanti ukir di dalam hati sanubariku. Cumalah aku....

aku. "

"Sudah !" kata It Hiong yang ingat sesuatu. "Tak usah kau bicara lagi. Kau pergilah !" Lantas ia menotok jalan darah Pek- jie nona itu hingga lengan kanannya jadi dapat digeraki pula dengan bebas. Tadi, tanpa merasa ia kena totok jalan darah itu.

Dengan sinar mata bersyukur --bukan lagi sinar mata centil-- nona itu mengawasi si anak muda. Sedangkan lengan kanannya itu digerak-geraki guna membikin pulih jalan darahnya. Kemudian dengan suara berbisik ia kata : "Tempat ini tempat berbahaya. Maka itu tuan, baiklah kau lekas-lekas

mundur teratur. Nah, kau berhati-hatilah tuan ! Sampai jumpa pula !"

Nona itu memberi hormat terus ia memutar tubuh bertindak ke arah pojok kamar dari mana tadi ia muncul.

Tiba-tiba saja terdengarlah satu siulan sangat nyaring dan tajam yang memekakkan telinga. Suara itu pun sangat seram. Mendengar suara itu, si nona berhenti melangkah dan tubuhnya lantas menggigil. Mukanya terus menjadi pucat.

It Hiong turut terkejut, apa pula kapan ia melihat si nona. Tetapi cuma sedetik, lantas ia mengerti. Perubahan nona itu tentulah disebabkan dia telah makan Thay-siang Hoan Hun Tan, obat pengganggu syaraf yang lihai itu.

Menyusul itu dari pojokan terdengar suara yang sayup- sayup, suara musik yang merdu. Sebentar rendah, sebentar tinggi. Suara itu bagaikan dibawa datang oleh sang angin. Mendengar suara itu, si nona mendadak meloloskan ikat pinggangnya yang terasalut benar emas. Selekasnya dia mengibaskan tangannya, ikat pinggang itu menjadi panjang dua atau tiga tombak hingga tampak warnanya.

Mengikuti irama musik itu, si nona berbaju hijau lantas menggerak-geraki kedua tangannya membuat main ikat pinggangnya itu yang terus berkelebatan. Kedua kakinya pun turut bergeraka akan mengimbangi gerakan tangannya dan tubuhnya. Dia nampak seperti orang yang lagi menari. Gerak geriknya itu cepat dan perlahan menuruti irama. Bahkan terus ia mengitari si anak muda. Hingga karenanya, It Hiong mesti turut berputaran untuk memasang mata.

Sebenarnya anak muda kita sudah memikir mencari jalan keluar guna pergi turun gunung. Siapa tahu ia telah menyaksikan gerak gerik si nona yang terang sudah menarikan tarian "Thian Mo Biauw Bu -- tari Bajingan Langit". Untuk meloloskan diri, ia tidak menghiraukan tarian itu. Terus ia pergi kepojok guna mencari pintu rahasia. Hanya dalam usahanya itu, ia terintang si nona yang terus saja menari-narik memutarinya. Kalau dia sadar akan dirinya, sekarang terang nona itu telah terjatuh di bawah pengaruh orang. Ya, dibawah pengaruh obat yang mengacaukan urat syarafnya itu ! Dia bergerak-gerak secara indah dan menarik hati.

It Hiong mencari terus di sekitar dinding. Ia tidak memperoleh hasil. Maka juga kemudian ia berdiri diam. Matanya diarahkan ke empat penjuru kamar. Selagi mengawasi, otaknya tak henti-hentinya bekerja.

Si nona dengan tarian ikat pinggang itu masih terus mengganggu seperti juga mengganggunya lagu yang merdu itu yang entah dari mana datangnya. Halus sekali gerak gerik pinggang langsing dari nona itu. Hatinya It Hiong goncang ketika ia mengawasi si nona.

"Oh, kakak yang baik," kemudian nona itu kata, matanya mengawasi tajam. Sinar matanya memain. "Kakak, kalau kau ketarik dengan tarianku ini, Bajingan Langit, maka kau tentulah tertarik juga mendengari nyanyianku, yaitu lagu Daging Sakti. Benar bukan ?" Dan si nona tertawa manis.

Tanpa menanti jawaban si naak muda, nona itu lantas mulai dengan nyanyiannya :

Kekasihku -- diujung langit....

Kekasihku -- di dalam istana rembulan........

Kekasihku -- di dalam hatiku....

Bukan, bukan ! Hanya di depanku !

Lagi menantikan kasihnya daging sakti.......

Nyanyian itu sangat halus dan merdu. Sangat sedap untuk telinga, sedangkan tubuh si nona bergerak-gerak halus merayu sang mata. Sinar matanya pun sangat menawan hati......

Masih berputaran dengan ikat pinggangnya itu, si nona mendesak si anak muda. Dengan sinar matanya memain, ia bernyanyi pula :

Kekasihku -- dialah jago di selalu tempat ! Kekasihku -- adalah ahli asmara !

Kekasihku -- dialah bangsawan halus Pekertinya ! Bukan, bukan ! Dialah orang gagah.

Dialah laki-laki sejati !

Dan kau, kaulah adanya. Lekaslah ! Kenapa kau tak mau merangkul aku ?....

Kenapa kau tak mau menerima cintaku ?....... Ya, cintaku........

Tetap lagu itu sangat merdu, sangat sedap untuk telinga.

Yang bernyanyi sudah menutup multnya tetapi suara nyanyian masih seperti terdengar di telinga.

Baru setelah dia berhenti menyanyi, maka berhenti juga si nona menari. Hanya sekarang dengan tindakan halus, dia menghampiri si anak muda. Ia menatap dan tertawa manis.

"Oh, kakak. Kakak yang baik. Kau kenapakah ?" demikian sapanya lemah lembut. "Seharusnya orang yang berhati besi atau batu pun hatinya akan tergerak ! Maka itu, mari aku tanya, hatimu tergerak atau tidak ?"

"Hm !" It Hiong memperdengarkan jawabannya. "Toh kepandaianmu cuma sebegini saja. Apakah masih ada yang lainnya ? Coba kau keluarkan ! Tak ada halangannya, akan aku mengujinya.

Matanya si nona memain galak.

"Baik, baik !" sahutnya. "Kaulah arhat besi, kakak. Kaulah arhat tembaga, pendekar sejati. Tetapi hendak aku coba !

Lihatlah !"

Si nona bertindak ke tengah ruang. Sembari berjalan ia melirik. Tubuhnya melangkah lemas dan menarik hati. Kata dia : "Kau lihat, kakak. Adikmu akan memberikan pula pertunjukannya yang jelek. "

Segera nona itu bersilat dengan ikat pinggangnya itu. Ia bagaikan tengah menari. Hebat ikat pinggang itu dapat ia geraki dalam pelbagai gerakan. Ikat pinggang berputar-putar, bergulung-gulung. It Hiong heran dan kagum. Nona itu diluar sangkaannya. Dia masih muda tetapi ilmu silatnya sudah sedemikian lihai. Karena ini, timbullah rasa kasihannya akan nasib orang yang terjatuh di bawah pegnaruh manusia jahat.

Sesudah menonton sekian lama, diam-diam hatinya It Hiong gatal. Maka ia pun hendak menunjuki kepandaiannya. Demikianlah mendadak ia melonjorkan tangan kirinya, diarahkan ke ikat pinggang si nona seraya ia menggapai.

Hanya sedetik itu, ikat pinggang telah tertarik ke dalam genggamannya !

Mendapatkan ikat pinggangnya ditarik itu, si nona bukannya gusar bahkan sebaliknya. Dia tertawa. Dia girang luar biasa. Sembari tertawa dia kata : "Kakak, apakah kau jemu melihatnya ?"

"Menurut aku, kepandaianmu ini sama saja dengan pertunjukannya tukang jual silat yang mencari arak dan nasi !" sahut It Hiong. "Tidak ada yang bagus dan menarik hati untuk ditonton !"

Kedua biji matanya si nona berputar, dia nampak berpikir.

Kemudian dia tertawa dan kata : "Oh, kiranya bukanlah permainan semacam ini yang kakak ingin lihat ! Kiranya itu ! Benar, bukan?"

"Apakah itu ?" si pemuda tanya. "Apakah artnya itu ? Ada macam apakah lagi ?"

"Itulah bagian bawah dari tarian Bajingan Langit serta Daging Sakti !" sahut si nona. "Aku jamin, melihat itu, kau bakal menjadi sangat tertarik hati !" Begitu dia mengucap, begitu si nona menepuk tangannya atas mana musik tadi berbunyi pula. Menyusul itu, ia pun mengangkat kakinya serta menggerak-geraki kedua belah tangannya untuk mulai menari, sedangkan mulutnya lantas memperdengarkan nyanyiannya yang merdu :

Aku ada maksudku, tuan ada hatinya. Bagaimana kalau Daging Sakti dirapatkan ? Diatas semangat terbetot.

Dari air, dari tanah, itu dapat dicampur aduk. Kalau baju dilolosi, kakak.

Hatimu pasti goncang !

Tak puas It Hiong mendengar kata-kata menyeleweng itu. Justru ia lagi berpikir, si nona telah membuka baju hijaunya itu hingga terlihat dadanya yang tertutup dengan semacam kutang merah dadu. Sembari berbuat begitu, matanya  memain tak hentinya. Setelah itu, dia melanjuti nyanyiannya.

Kali ni nyanyiannya itu makin mendekati kecabulannya.

It Hiong menjadi tidak puas, apa pula ketika ia mendapat kenyataan sembari bernyanyi itu tangan si nona pun bekerja meloloskan pakaiannya hingga dia hampir telanjang hingga berpetalah tubuhnya yang montok.

"Pergilah !" bentak anak muda kita yang menguatkan hatinya untuk mencegah dirinya disesatkan si nona yang benar-benar telah terjatuh ke dalam pengaruh sesat hingga dia lupa malu.

Si nona tapinya tidak menghiraukan. Dia menari terus, dia melanjuti nyanyiannya. Selalu dia melirik secara menggiurkan.

Memperlihatkan tubuh asli hadiah ayah dan ibu. Dari sana timbullah rasa sesar dan sadar !

Ah ! Cinta ? Penasaran ? Semangat ? Daging ? Bagaimana ?

Semenjak dahulu hingga sekarang. Orang menipu orang !

Habis menyanyi, si nona lari pada It Hiong, untuk memeluknya. Sebelaum si anak muda tahu apa-apa, lehernya telah dirangkul dan bibir dia itu telah nempel di pipinya hingga disitu tertinggal bekas yancie dadu !

Bukan main terkejutnya si anak muda. Karena ia berkasihan, tidak dapat dia menolak dengan kekerasan. Si nona sebaliknya merangkul erat-erat. Lekas ia menjatuhkan diri untuk duduk bersila ditanah guna mengheningkan cipta. Ia bersemadhi !

Tidak lama maka merasalah si anak muda bahwa hatinya tenang. Dengan demikian juga pulihlah ketenangan hatinya. Ia sadar seluruhnya. Maka ia lantas dapat menggunakan otaknya.

"Aku berkasihan, hampir aku celaka." pikirnya. "Hebat pengaruh obatnya si jahat ! Sekarang bagaimana aku harus bertindak terhadap nona ini yang menjadi lupa daratan karena dia terpengaruh ?"

Perlahan-lahan It Hiong membuka matanya akan mengawasi si nona yang masih saja merangkul lehernya. Begitu ia melihat muka orang ia menjadi terkejut. Nona itu menjadi pucat. Sinar matanya sayup-sayup. Yang hebat ialah mulutnya mengeluarkan darah segar !

"Sungguh jahat !" seru It Hiong di dalam hati. "Sungguh telengas !" Tak tega ia membiarkan orang mati keracunan.

"Aku mesti tolong padanya !" pikirnya. Maka ia mengeluarkan peles obatnya yang hijau, enam butir pil ia jejalkan ke dalam mulut nona itu. Kemudian ia berbangkit bangun sambil mengangkat juga tubuh si nona.

Nona itu lemas sekali. Tenaganya seperti telah habis. Karena itu, ia dipondong dibawa ke pembaringan untuk direbahkan di sana.

Lekas sekali bekerjanya obat. Belum lama jalan napasnya si nona menjadi tak lemah seperti barusan, kemudian terdengar dia merintih.

Menampak demikian, lega juga hatinya It Hiong. Jiwanya si nona ada harapan akan tertolong. Dengan berdiri di depan pembaringan, ia menguruti tubuh orang guna meluruskan jalan darahnya. Tetapi melihat tubuh orang yang separuh telanjang, ia jengah. Mana dapat ia meraba-raba tubuh nona itu, malah nona yang tidak dikenal ? Sekian lama, ia mengawasi saja muka orang.....

Si nona merintih semakin keras lalu dia bergulak gulik.

Terang dia tengah menderita. Racun dan obat pemunahnya rupanya sedang bertarung. Itulah saat mati atau hidup..

It Hiong mendengar, ia berdiam saja. Hati nuraninya sedang digempur. Ia membantu atau tidak. Kasihan nona itu. Tak dapat ia dibiarkan tersiksa lama-lama. Giris hatinya mendengari suara lemah orang !

Tanpa bantuan pengurutan, sulit nona itu tertolong. Obat harus dibantu tenaga dari luar, baru bisa dapat dibasmi seluruhnya. Bagaimana sekarang ? Dapatkah ia membiarkan orang menghembuskan napasnya dihadapannya tanpa ia berdaya ? Kalau si nona mati, bukankah seperti dialah yang membiarkannya putus jiwa ?

It Hiong pula berada di dalam sarang penjahat, sarang musuh. Bagaimana kalau ada musuh yang muncul ? Ia terancam bahaya, ia pula dapat dituduh, difitnah secara tidak- tidak !

"Ha, kenapa hatiku menjadi begini lemah ?" pikirnya kemudian. "Kemana semangat kegagahanku ? Aku mesti mengambil keputusan !"

Sampai di situ anak muda kita lantas bertindak. Paling dahulu ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya. Ia pun menjemput baju hijau si nona yang tadi dilemparkannya ke lantai. Setelah itu ia kembali ke pembaringan.

Si nona masih merintih, darah dimulutnya berubah menjadi hitam. Pembaringan kotor dengan darah itu.

Cepat sekali It Hiong membeber baju orang diatas tubuh pemiliknya, menyusul itu ia mengerahkan tenaga Hian-bun Sian Thian Khie-kang buat akhirnya mulai meraba tubuh orang buat diuruti. Sebelah tangannya diletaki diatas jalan darah

tan-tian, buat menekannya guna menyalurkan tenaga dalamnya.

Demikianlah pertolongan diberikan.

Lewat kira setengah jam, rintihan si nona lantas berkurang bahkan terus berhanti. Tetapi sekarang tubuhnya lantas bermandikan peluh. Malah peluh itu berbau tak sedap. Rupanya hawa racun telah keluar dengan perantaraan peluh itu.

Lega hatinya pemuda kita. Jiwa si nona sudah dapat ditolong. Maka ia lantas menghentikan mengurutnya serta juga mengangkat tangannya. Terus ia bangun berdiri. Atau mendadak ada angin yang menyambarnya. Ia kaget sekali. Ia mengerti itulah serangan gelap. Tidak ada waktu buat dia menghunus pedang, maka terpaksa ia mengegos tubuh ke sisi terus membalik badan dengan kedua tangannya segera ditolakkan keras !

Kiranya serangan itu berupa tiga buah senjata rahasia Yan bwe Hui-hoan Piauw, yaitu piauw yang dapat berputar dan berbalik mirip bumerang. Dan ketika kena tertolak, piauw itu tidak jatuh ke tanha hanya kembali ke arah dari mana datangnya. Juga aneh, penyerangan bukan ditujukan kepada si anak muda, hanya terhadap si nona !

Lantas It Hiong dapat menerka. Si orang jahat mau membinasakan orang itu yang gagal dalam tugasnya. Tentunya dengan maksud menutup mulut orang ! Sungguh kejam !

Habis menghalau senjata rahasia, It Hiong menoleh kepada si nona. Dia masih rebah, matanya sudah dibuka tetapi sinar matanya itu sangat bodoh. Dia tampak seperti orang yang baru sembuh dari penyakit berat. Kelihatannya dia tidak bertenaga sama sekali. Walaupun demikian, dia memegangi bajunya. Rupanya dia telah insaf akan keadaan tubuhnya itu.

Mulanya It Hiong memikir menganjurkan orang pergi kabur.

Akan tetapi melihat keadaannya dia itu, dia batal membuka mulutnya. Dalam keadaan selemah itu, tidak nanti dia mengangkat kaki. Waktu It Hiong memandang muka orang, si nona justru mengawasi padanya. Empat sinar mata lantas beradu !

Kesudahannya si nona lekas-lekas tunduk. Nampak dia sangat likat. Telinga dan mukanya pun menjadi merah. Itulah menyatakan dia sudah sadar dan malu sendirinya. Itu pula menandakan yang dia belum tersesat. Dia hanya korban racun yang lihai sekali.

Dalam malunya, si nona rebah tak berkutik. Tubuhnya ditutupi bajunya. Dia pun terus membungkam. Kalau dia membuka mulut, dia khawatir si anak muda nanti menoleh ke arahnya....

Sementera itu, piauw bumerang itu masih berputaran. Menyaksikan demikian, It Hiong menjadi panas hati. Itulah berbahaya buat ia sendiri terutama buat si nona yang jiwanya di arah. Maka ia lantas menghunus pedangnya terus ia memutarnya dengan keras. Kesudahannya itu ialah ketiga buah piauw runtuh, semua jatuh ke lantai.

Baru sekarang anak muda kita mendekati si nona seraya berkata : "Nona, lekas kau mengenakan pakaianmu ! Lekas kau menyingkir dari sini, guna membantu dirimu !"

Sembari berkata begitu dengan pedang ditangan, It Hiong memasang mata ke sekitarnya buat menjaga kalau-kalau datang pula serangan pengejut.

"Aku mengerti !" berkata si nona. Dia melihat si anak muda membaliki belakang, hatinya lega. Segera ia membalik tubuh, akan turun dari pembaringan buat berdandan dengan cepat. Ia mengenakan pula pakaian hijaunya itu. Selesai merapikan rambutnya yang panjang, ia maju ke muka si pemuda. Ia tidak berani mengangkat kepala akan mengawasi anak muda itu, hanya sambil tunduk ia kata : "Tuan, kau telah membantu jiwaku. Budi besarmu ini tak nanti kau lupakan selama aku masih hidup."

Ia lantas menangis, akan tetapi ia menjura memberikan hormatnya.

Inilah It Hiong tidak sangka, ia melengak. Biar bagaimana, ia pun rada likat. Lalu ia kata : "Jangan mengucap terima kasih, nona. Kita sama-sama orang Kang Ouw. Tak usah kita memakai banyak ada peradatan."

Si nona menyusuti air matanya dengan ujung bajunya. Dia menghela napas.

"Biar bagaimana, tuan, kau telah menolong jiwaku." katanya. "Kaulah orang yang telah menghidupkan pula nyawaku. Sekarang aku insaf, maka aku hendak menyingkir dari jalan yang sesat ini. Akan aku menyingkir buat seterusnya mengembalikan wajahku yang asli !'

"Nona, memang aku telah menolong kau. Tetapi sama benarnya kau telah menyelamatkan dirimu sendiri." kata It Hiong. "Kau tahu, aku telah memberikan kau obat guna membasmi obat yang mengeram di dalam tubuhmu.

Selanjutnya tinggal kau beristirahat guna menjaga kesehatanmu supaya tubuhmu bersih dari godaan napsu hatimu."

Si nona mengawasi. Ia agaknya belum mengerti jelas kata- katanya si anak muda.

"Tuan." katanya. "Sekarang ini, apa juga nanti terjadi, aku mengharapkan bantuanmu supaya aku dapat menyingkir dari tempat ini. Aku ingin tidak lagi menjadi boneka orang hingga aku dapat diperintah melakukan segala apa di luar kesadaranku !"

"Tetapi nona," kata It Hiong, "bukan maksudku menyuruh atau menganjurkan kau berdurhaka terhadap gurumu.

Aku. "

"Aku mengerti, tuan !" si nona menyela. "Akan tetapi, apakah tuan tak sudi menolong aku dipermulaannya lalu terus sampai di akhirnya ? Apakah tuan bermaksud menyuruh aku tetap berdiam disini supaya aku menderita siksaan hebat ? Di sini aku dapat dihukum picis. "

Lantas si nona menangis tersedu sedan, tubuhnya sampai menggigil.

It Hiong terkejut. Tak dapat menerka kekejamannya guru si nona.

"Baik, nona." katanya akhirnya. "Baik, akan aku melindungi kau sampai kau lolos dari sini !"

Nona itu menahan tangisnya.

"Dengan kau menjanjikan aku untuk membantu aku keluar dari sini tuan, itu berarti bahwa bagiku barulah terbuka kesempatan buat hidup baru pula !" demikian katanya bersyukur.

It Hiong berdiam sebentar, baru dia menanya : "Nona, siapakah gurumu ? Apakah nama atau gelarannya ?"

Di tanya begitu, si nona melengak. Akan kemudian menggeleng kepala. "Aku berada di sini bukannya karena aku mengangkat orang menjadi guruku." sahutnya. "Di luar tahuku, orang telah menculik dan membawaku kemari. "

It Hiong heran, sepasang alisnya bangkit berdiri. "Nona, baiklah kau bicara secara terus terang saja."

katanya.

Nona itu menggeleng pula kepalanya.

"Tak sepatah kata juga aku mendusta !" bilangnya. "Aku berani bersumpah !"

Berkata begitu, si nona nampak berduka pula dan air matanya meleleh.

It Hiong lantas memperlihatkan pula wajah sabar.

"Kalau begitu, nona, selama dirumahmu, kau telah belajar silat, bukan ?" tanyanya pula

Kembali si nona menggeleng kepala. "Tidak." sahutnya.

It Hiong tertawa dingin. Dia tak percaya.

"Kalau begitu, sungguh aneh !" katanya keras. "Kau sebenarnya orang golongan apa ?"

Si nona melengak. Dia menatap si anak muda. Agaknya dia sadar. "Ya, tuan." katanya sabar. "Aku ini orang macam apakah ?" Ia mengangkat kepalanya, agaknya dia berpikir keras akan mengingat-ingat.

Nona itu menunjuki bahwa ia sudah keracunan hebat.

Walaupun dia telah mendapatkan obat mujarab, ingatannya masih kurang sempurna. Ia belum sehat seluruhnya.

It Hiong menatap. Ia dapat melihat keadaan sebenarnya dari nona itu. Jadi ia siapa telah tidak mendusta. Karena itu, ia tidak mau mendengar.

Lewat sekian lama, si nona berkata pula.

"Aku ingat sekarang." bilangnya. "Pada tiga tahun yang lalu, pada suatu malam, tengah aku tidur nyenyak ada orang yang menculikku. "

It Hiong mengawasi, ia masih tidak mau menanyakan sesuatu.

Si nona menambahkan : "Akulah anak dari seorang gembala yang biasa hidup mengembara. Selama hidup kami, kami berada di gurun pasir, memelihara kambing dan kuda. Menyusuri tempat-tempat berumput dimana ada perairan.

Kami selalu berpindahan, dimana kami tiba, disitu kami berkemah. ". Ia berhenti pula sejenak, baru ia menambahkan

lagi : "Di rumahku, aku mempunyai ayah dan ibu serta kakak laki-laki juga banyak kawan kerabat. "

"Sudah nona, tak usah kau bicaraterlalu banyak." It Hiong memotong. "Yang aku ingin ketahui ialah ilmu silatmu.

Darimanakah kau pelajari itu ?" Si nona berpikir pula. "Aku ingat sekarang." sahutnya. "Aku mempelajarinya dari Paman Kim. "

"Siapakah paman Kim mu itu ?" It Hiong tanya. "Dia toh gurumu ?"

Si nona melengak.

"Paman Kim tidak ada namanya. Dia juga bukannya guruku."

It Hiong heran.

"Bagaimana caranya pamanmu itu mengajari kau ilmu silat

?"

"Panjang buat kau menutur, tuan." sahut si nona. "Apakah

tuan tidak sebal kalau aku bercerita panjang lebar ?"

"Bukannya aku sebal mendengarnya, nona." sahut It Hiong. "Hanya sekarang ini kita berada di dalam sarang bajingan. Ini bukannya tempat memasang omong. Baiklah nona menjelaskan yang paling penting saja !"

Nona berbaju hijau itu mengangguk.

"Aku ingat." demikian ia mulai dengan keterangannya. "setelah aku siuman, aku mendapatkan yang aku bukan berada di rumahku lagi. Yaitu bukannya kemah dimana terdapat kambing dan kuda kami. Aku justru berada di dalam gua yang sunyi senyap ! Di situ pula tidak ada seorang lain juga kecuali seorang yang berewokan dan kulit mukanya hitam. Baru belakangan aku mendapat tahu dialah orang yang dipanggil Paman Kim. " Lantas si nona memperlihatkan tampang sangat berduka.

"Mulanya aku menangis terus, aku merengek minta diantarkan pulang." kemudian ia meneruskan ceritanya. "Lantas paman Kim memberi aku makan sebutir pil. Habis mana selanjutnya aku tidak ingat apa-apa lagi, kecuali sampai sekarang ini. "

"Apakah kau pernah dengar namanya Im Ciu It Mo ?" "Tidak."

"Apakah kau pernah melihat seorang pelajar tua yang mukanya keriputan ?"

Si nona membuka matanya lebar-lebar. Matanya itu dikesap-kesipkan.

"Sudah, sudah !" sahutnya.

"Apakah namanya si pelajar tua itu ? Apakah dia yang mengajari kau ilmu silat ?"

"Namanya dia itu belum pernah aku dengar. Tapi sehabisnya Paman Kim mengajari ilmu silat, lantas ada orang yang bicara disebelah tembok yang mengajari aku ilmu secara lisan."

"Aneh !" pikir It Hiong. "Ada biasa saja kalau orang mengajar silat tetapi dia tidak sudi dianggap sebagai guru. Yang aneh ialah kalau dia tidak mau memberitahukan she dan namanya juga wajahnya ! Apakah yang terkandung di dalam hatinya orang itu ?" "Dengan begitu, nona." ia lantas berkata pula. "Ilmu silat kau jadi diajari oleh Paman Kim yang berewokan itu.

Sedangkan orang disebelah tembok itu mengajarkan kau ilmu tenaga dalam. Benar begitu, bukan ?"

Si nona mengangguk.

"Benar." sahutnya. Dia mengangkat kedua tangannya, akan menyingkap rambutnya. Kemudian dia menengadah langit- langit rumah untuk melanjuti berkata sabar : "Secara demikian, tiga tahun sudah aku belajar ilmu silat ini. Selama hari-hari dan bulan-bulan yang dilewati itu, sudah berapa banyak gunung dan rimba yang kami telah pergikan, berapa banyak rumah batu yang kami diamkan, sampai paling belakang ini kami tiba dan berdiam disini. "

"Sudah berapa lama kalian tinggal disini ?" Nona berbaju hijau itu berpikir.

"Sudah berapa lama kami tinggal disini, itulah aku tidak ingat." sahutnya kemudian. "Menurut perasaanku, itulah rasanya baru kemarin. "

"Apakah si pelajar tua yang bermuka keriputan itu datang bersama Paman Kim mu itu ? Apakah ada orang lainnya lagi ?"

Si nona melengak, matanya menatap si anak muda.

Kemudian dengan polos dia tertawa.

"Eh, eh, kenapakah kau menanya begini banyak ?" dia balik bertanya. "Selama beberapa tahun ini aku cuma berada bersama Paman Kim, belum pernah ada orang lain. "

Si anak muda memperlihatkan tampang sungguh-sungguh. "Nona." katanya pula buat kesekian kalinya. "Bukankah barusan nona berkatai aku bahwa nona pernah melihat si pelajar tua yang bermuka keriputan itu ? Kenapa sekarang nona bilang tidak pernah ada lainnya orang ?"

Di tanya begitu, nona itu bungkam. Ia berpikir keras. "Heran, apa kataku barusan ?" katanya. "Kenapa aku jadi

bicara tidak ketentuan, tidak jelas. "

It Hiong menghela napas.

"Mungkinkah barusan nona keliru bicara ?" ia mengingatkan.

Nona itu tidak menjawab hanya dia terus bicara seorang diri : "Sungguh menyesalkan ! Semakin dipikir otakku semakin tumpul !"

It Hiong tidak menanya lagi, ia hanya mengawasi. Ia tahu orang keracunan hebat, karena mana kesadarannya yaitu tenaga ingatannya tidak mudah segera pulih. Kalau dia ditanya terus menerus, pikirannya Bisa menjadi kacau.

Nona itu beberapa kali hendak menggerakkan bibirnya, saban-saban dia gagal. Ia agaknya tengah berpikir keras guna memberikan jawabannya.

Lewat sekian lama, baru ia berkata pula.

"Pelajar tua yang keriputan mukanya itu, memang benar pernah aku melihatnya." demikian katanya. "Hanya kesanku mengenai dia bagaikan impian saja. Di dalam impian itu, rasanya dia pernah mengajari aku beberapa jurus ilmu silat, antaranya ilmu silat yang menggunakan senjata tajam, juga bertangan kosong dan ilmu ringan tubuh serta latihan pernapasan... Hanya selekasnya aku mendusin, aku cuma melihat Paman Kim sendiri. "

Aneh si nona, tetapi melihat lagak polosnya orang mesti percaya. Maka itu It Hiong menganggap tidak bisa lain dia itu belum sadar seluruhnya, ingatannya masih lemah. Di lain pihak, ia tertarik hati.

"Selama dalam keadaan seperti bermimpi itu, selama kau berlatih," ia tanya sambil tertawa. "bagaimana kalian berbahasa satu pada lain ? Dan apakah kalian tidak bicara juga tentang lain-lain partai persilatan ?"

Si nona juga rupanya merasa aneh, bahwa ia bergembira.

Karenanya ia tertawa.

"Tuan, kau sangat cerdik !" katanya. "Bagaimana kau dapat ingat urusan selama aku seperti bermimpi itu dan menanyakan justru urusan yang aku ingin menyebutkannya ?" Ia berdiam sejenak, lalu melanjuti : "Di dalam hatiku melihat orang tua itu, hatiku jeri berbareng jemu. Akan tetapi aku tidak berani mengutarakan apa juga terhadapnya. Asal aku bertemu dengannya, lantas aku belajar silat, ak melatih pelajaranku ! Aku tidak tahu menahu tentang nama partai !"

It Hiong tertawa. Ia mau menahannya tetapi tidak dapat. Si nona agak jenaka.

"Selagi kau belajar silat atau berlatih itu," ia tanya pula, "apakah kalian tetap tidak memanggil atau membahasakan satu pada lain ? Tak sepatah kata juga ?" "Itulah bukannya. Aku memanggil dia paman dan dia memanggil aku A Hoa -- si Hoa. A Hoa itu aliasku”

Dengan "paman" si nona maksudkan "piehu" paman yang terlebih tua.

"Apakah pamanmu itu tidak menyuruh kau memanggil guru padanya ?"

"Rasanya dia pernah berkatanya. Katanya sesudah aku belajar sempurna, baru aku memanggil dia guru. Dia pula membilangi aku, buat aku turut perintahnya. Yaitu aku diharuskan membunuh dahulu seratus orang ! Bahkan orang yang aku tidak niat bunuh, juga dia mestikan aku membinasakannya ! Itulah syaratnya buat mengangkat dia menjadi guru !"

"Habis, apakah kau telah lakukan kemestian itu ?" Nona itu nampak masgul.

"Pasti tidak aku lakukan." sahutnya. "Kenapa aku mesti membunuh orang ? Apa pula membinasakan seratus orang dengan siapa kau tidak bermusuhan atau bersakit hati ? Lagi pula, kenapa aku mesti mengangkat seorang yang aku paling jemu menjadi guruku ?"

It Hiong berpikir, lalu berkata : "Jika kau tidak menerima baik syaratnya itu, itu tandanya kau merenggangkan diri dari dianya ! Itulah suatu tanda bahwa kau terancam bahaya !"

"Kau benar, tuan." kata si nona. Agaknya dia hendak mengajukan pengaduan atau mengutarakan kesukarannya itu. "Orang tua itu telah menyuruh Paman Kim berkatai aku, jika aku tidak meluluskan kehendaknya buat aku membunuh seratus orang, dia hendak membinasakan aku. Dia pula menyuruh aku memilih kematian macam apa ! Katanya itulah kemurahan darinya maka dia memberi aku kebebasan memilih. "

"Apakah orang sekejam dia masih mempunyai kemurahan hati ?"

Si nona mengangguk.

"Itulah kemurahannya yang dia menyuruh aku memilih.

Dari pada disiksa, lebih baik mati wajar saja. "

It Hiong menghela napas.

"Jadi kau memilih yang belakangan itu ?" Mukanya si nona menjadi merah.

"Biar bagaimana, aku hendak berdaya meloloskan diri dari tangannya dia itu !" katanya. "Aku tidak sangka bahwa dia justru memerintahkan aku melakukan apa yang aku telah berbuat atas dirimu ini!"

"Sudah, jangan kau sebut pula urusan kita barusan !" It Hiong mencegah. "Sekarang mari bicara tentang dirimu ! Kau tahu, kau masih tetap terancam maut. Tidak nanti mereka madah saja membebaskanmu !"

Nona itu memperlihatkan tampang duka tetapi ia menggertak gigi dan berkata dengan keras. "Mereka boleh menebas kutung tubuhku menjadi dua potong ! Mereka boleh berlaku itu sembarang waktu ! Aku tidak takut !" Kata-kata bersemangat itu membangunkan juga semangatnya si anak muda. Dia kagum sekali yang seorang nona bernyali demikian besar. Bukankah nona itu tak usah kalah dari kebanyakan pria ? Maka ia lantas berkata sungguh- sungguh : "Nona, telah aku bilang hendak aku membantu kau

! Akan kau membantu kau lolos dari tangannya si bajingan jahat ! Sekarang aku ketahui bahwa kaulah orang baik-baik yang telah terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Maka akan kau lakukan segala apa guna membuktikan janjiku ! Tak nanti aku hiraukan ancaman golok atau kapak di batang leherku !"

Si nona nampak senang sekali mendengar janji itu. Tetapi di saat ia hendak memberikan jawabannya, tiba-tiba terdengar suara parau yang datangnya dari pojok ruang, disusul dengan tawa dingin serta kata-kata ini : "Di depan seorang wanita, kau bicara enak saja ! Bocah she Tio, apakah kepandaianmu ? Cara bagaimana kau dapat membantu jiwanya budak hina dina itu ?"

It Hiong mendongkol sekali.

"Aku bukannya orang yang berjumawa dengan kepandaianku !" sahutnya nyaring. "Akan tetapi menghadapi bangsa sesat dan jahat, aku bersumpah tak akan hidup bersama-sama dengannya !"

Suara parau di pojok itu terdengar pula. Kali ini nadanya dingin : "Murid yang dididik Tek Cio si imam tua sungguh bersemangat ! Melihat kau, lohu senang sekali ! Maka itu mengingat akan kepandaianmu, suka aku memberi ampun padamu ! Supaya kau dapat hidup terus. Kau tahu diri atau tidak ?"

Suara itu terdengar tegas tetapi wujud orangnya tidak tampak. Saking murka, It Hiong mendelik mengawasi ke pojok. Kata dia bengis : "Sudah, jangan kau bicara seenaknya saja ! Jika kau berani, kau keluarlah ! Kenapa kau membawa lagak bajinganmu, main sembunyi di tempat gelap ? Kenapa kau takut dilihat orang ?"

Orang dengan suara parau itu terdengar pula suaranya. Nyatanya dia tidak mendongkol atau gusar walau It Hiong telah mendampratnya. Ketika dia berkata pula, suaranya tetap perlahan, tetap dingin.

"Apa yang lohu bilang menyayangi kau." demikian katanya. "Itu bukan berarti aku menyayangi kepandaianmu, aku hanya menyayangi keberanianmu ! Kau bersemangat, itulah menyenangi aku!"

It Hiong sangat mendongkol. Ia meluncurkan tangannya ke pojok tembok itu. Itulah serangan di udara terbuka. Maka gempurlah sinar-sinar hijau yang nempel ditembok itu.

"Oh, orang tak tahu mati atau hidup !" terdengar pula suara parau, datangnya dari pojok yang lainnya. "Kau baik dengar dahulu aku bicara sampai habis. Baru kau umbar napsu amarahmu ! Belum terlambat, bukan ?

It Hiong segera memutar tubuh tanpa berkata apa-apa. Ia hendak menyerang pula ke arah pojok dinding itu, atau mendadak ia membatalkannya karena ia insyaf, ia berada di tempat terbuka dan terang. Sebaliknya musuh tidak dikenal itu di tempat gelap. Itulah berbahaya untuknya. Laginya, dengan mengumbar hawa amarahnya, ia menjadi membikin keruh otaknya sendiri. Itulah satu pantangan besar kaum rimba persilatan ! Maka juga dengan hati bercekat, ia lantas menyabarkan diri. "Kau hendak bicara apa ?" kemudia ia menegur, sabar. "Bicaralah, akan aku mendengarnya !"

"Oh, bocah she Tio." kata suara itu. "Bagus sekali. Disaat bergusar kau dapat menentramkan hatimu ! Hanya sayang kau telah keliru berguru hingga kau tidak dapat mempelajari ilmu yang luar biasa mujizatnya. Dengan apa kau dapat membunuh orang tanpa orang dapat melihatmu !"

It Hiong menahan marah hingga tubuhnya menggigil. Ia memang paling benci mendengar orang menghina gurunya. Ia mengepal keras kedua tangannya. Ia terus berdiri diam, cuma matanya dipasang, telinganya siap sedia.

Si suara parau itu tertawa dingin berulang-ulang. Lagi-lagi dia memperdengarkan suaranya yang tidak sedap : "Kau tahu, kau beruntung sekali yang kau telah berhasil melintasi benteng-bentengku, benteng tarian bajingan langit dan nyanyian daging sakti..."

Mendengar suara itu, mukanya si nona menjadi pucat. Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi dia menarik ujung bajunya si pemuda, membuat si anak muda datang dekat satu tindak padanya.

It Hiong membiarkan nona itu.

"Kau telah bicara habis atau belum ?" tanyanya pada si suara parau yang orangnya tak nampak itu.

Si parau tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan kata- katanya : "Untung bagus kau ini bocah she Tio. Itu adalah pemberian orang lain ! Itulah bukan disebabkan kepandaian tenaga dalammu yang mahir. " "Manusia pengecut !" It Hiong mendamprat. "Kau takut bertemu orang, maka juga cuma suaramu saja yang terdengar

! Itu pula kata-kata yang takut menemui orang ! Apakah artinya tarian Bajingan Langit dan nyanyian Daging Sakti ? Pengaruh apakah keduanya memiliki ? Apakah kau sangka tarian dan nyanyian itu dapat merintangi aku ? Hm !"

Mendengar suaranya si anak muda, si nona diam-diam mengangguk sendirinya. Ia menganggap anak muda ini gagah dan laki-laki sejati. Bicaranya terus terang. Pemuda itu pun tidak cabul. Ia menjadi sangat mengaguminya.

"He, bocah !" kata pula si parau itu. "Apakah kau masih tidak mengenal budi ? Bagaimana aku telah memberi hadiah padamu ? Kau rupanya telah melupakan diri dan menjadi takabur sekali !"

"Apakah artinya kata-katamu ini, sahabat ?" It Hiong tanya. "Siapa bilang aku mendapat hadiah? Aku bebas dari tarian dan nyanyianmu karena kepandaianku sendiri ! Tidak ada orang yang membantui dan menolongku ! Kau bicaralah !"

Tiba-tiba si nona berbisik : "Itulah gurumu, tuan !" Habis itu dia pun tertawa.

It Hiong tidak berkatai apa-apa, ia hanya mengangguk. "He, bocah. Kau rupanya sudah lupa !" terdengar pula si

parau itu. "Kau tahu nama lohu ?" Dia terus menyebut dirinya lohu, si tua yang harus dihormati. "Namaku itu pada beberapa puluh tahun dahulu sudah menggetarkan rimba persilatan !

Itulah sebab lihainya obat yang aku buat ! Ketika itu, tidak ada seorang juga yang dapat menentang aku. Kalau toh ada satu orang, dialah si keledia gundul bernama Pek Yam dari kuil Bie Lek Sie ! Dan itu peles hijau kecil ditubuhmu, itu tentulah obat Wan Ie Jie miliknya keledia botak itu ! Maka juga, untuk bagusmu hari ini adalah untung bagus hadiah dari si keledia gundul Pek Yam itu ! Nah, kau mengaku atau tidak ?"

It Hiong telah bertemu dengan pendeta dari biara Bie Lek Sie itu. Ia pula telah diberikan itu satu peles obat pemunah racun yang mustajab. Walaupun demikian, ia masih belum ketahui namanya si pendeta. Karena sang alim tidak mau menyebutkan namanya, ia juga tidak berani menanyakannya. Sampai di sini si parau itu menyebutkan nama orang !

Di dalam kalangan Siauw Lim Pay atau biara Siauw Lim Sie, pendeta tingkat tua dari turunan huruf "Pek" sudah tinggal beberapa orang lagi saja. Maka itu, Pek Yam ini mestinya saudara seperguruan dari Pek Cut Taysu. Mungkin dia suheng atau sute, kakak atau adik seperguruan ketua Siauw Lim Sie itu.

Mengetahui namanya si pendeta yang telah melepas budi padanya itu, It Hiong girang sekali. Sendirinya ia lantas menaruh hormat. Setelah itu ia kata pada si parau : "Memang, aku lolos dari bahaya tarian dan nyanyian karena pertolongannya obat LoSiansu Pek Yam dari Bie Lek Sie itu.

Akan tetapi gelarannya loSiansu, tidak aku tahu. Karena ia belum pernah menyebutkannya. Kau ketahui gelerannya loSiansu, cianpwe ? Bagaimana sebabnya itu ? Maukah kau memberi keterangan padaku ?"

Karena orang menyebut namanya Pek Yam, It Hiong jadi memanggil cianpwe -- orang dari tingkat tua -- pada si parau ini.

Si parau tertawa secara jumawa. "Eh, bocah. Berapa luaskah pengetahuanmu ?" tanyanya. "Bagaimana sekarang kau berani menantang lohu ?"

It Hiong tidak puas. Ia menanya kemana, dijawabnya kemana. Maka itu, dengan sungguh-sungguh, dengan suara nyaring ia kata : "Cianpwe, si sesat dengan si lurus tidak dapat berdiri atau hidup bersama ! Aku Tio It Hiong, memang aku tidak memiliki kepandaian yang berarti. Akan tetapi tetap hendak aku membasmi kawanan bajingan guna menegakkan keadilan ! Pendeknya, tidak dapat aku menahan sabar membiarkan orang-orang yang biasa menggunakan racun secara sewenang-wenang hidup malang melintang di dalam dunia Kang Ouw ini !"

Si parau bersuara pula, agaknya dia gusar.

"Sudah, jangan mengoceh tidak karuan." dia membentak. "Aku tanya kau, bagaimana kepandaianmu dibanding dengan si rahib tua Tek Cio ?"

Kembali It Hiong menjadi mendongkol. Tek Cio Siangjin, gurunya itu, disebut secara demikian memandang rendah ! Bukankah gurunya itu menjadi salah satu dari Sam Kie, tiga orang berilmu dijamannya itu ?

"Sudah !" bentaknya. "Sekarang mari kau coba ilmu Hian- bun Patkwa Kiam dari guruku itu !"

Lantas It Hiong menghunus pedangnya untuk diputar. Si parau menyambut dengan tawa dingin.

"Lohu tidak memikir menurunkan derajatnya dengan melayani menempur kau si orang muda dari tingkat rendah !" demikian katanya mengejek. "Aku pula tidak memikir akan bicara lebih banyak pula denganmu ! Sekarang aku membiarkan kau dapat hidup lebih lama sedikit. Nah, kau larilah ke belakang untuk melihat-lihat di sana !"

Habis si parau berkata, maka sunyilah ruang itu. Sebaliknya lewat sedetik, maka di sebuah pojok tampak terpentangnya sebuah pintu yang kecil.

Melihat pintu itu, It Hiong segera berpaling pada si nona berbaju hijau. Agaknya ia ingin bicara atau menanya. Akan tetapi ia ragu-ragu.

Nona itu melihat gerak geriknya si anak muda, dia cerdik, dia lantas mengerti. Maka ia lantas berkata : "Di belakang ruang itu ada sebuah lorong yang menembus sampai ditanah datar di kaki puncak. Mungkin itulah jalan untuk turun gunung

!"

Alisnya si anak muda bangkit.

"Kita jangan hiraukan itu !" katanya nyaring. "Mari kita maju !"

Dengan tangan kanan bersiap dengan pedangnya dan tangan kiri mencekal tangan halus lembut si nona, It Hiong lantas berjalan berendeng menghampiri pintu kecil itu untuk memasukinya. Ia melihat suatu tempat mirip gua dimana terdapat sinar terang yang lemah. Segala sesuatu tampak cukup nyata. Ke empat dinding temboknya tidak rata dan ada celah-celah atau renggangan dimana molos sinar terang. Di atas --pada langit-langit-- terlihat stalakmit yang merakar ke bawah, panjang dan pendeknya tidak rata. Tempat itu demek dan mendatangkan rasa dingin. Jadi tempat itu beda seperti langit dan bumi dibanding dengan ruang besar tadi. "Nona, pernahkah kau datang kemari ?" tanya It Hiong selekasnya kakinya melangkah masuk.

Si nona bukannya menjawab, dia justru menjerit. Eh, kenapa dapat berubah begini ? Kenapa berubahnya begini cepat ?"

Mendengar itu, insaflah It Hiong yang mereka sudah kena perangkap. Maka segera ia memutar tubuh atau ia menjadi kaget ! Pintu yang barusan itu sudah lenyap ! Pintu tertutup tanpa suara apa-apa !

Si nona sebaliknya kaget hingga dia menjerit. Maka tahulah si anak muda yang nona ini masih hijau pengalamannya. Maka ia lantas menghibur dengan suara perlahan : "Jangan takut, nona ! Di dalam keadaan seperti ini hilang jiwa juga jangan kita gentar ! Segala apa sudah terlanjur, kita harus besarkan hati ! Apakah yang harus ditakuti ? Walaupun pesawat mereka lihai, mereka tak akan dapat berbuat apa-apa terhadap pedangku ini ! Seluruh tubuh kita adalah jadi merah !"

Dengan memasang matanya, It Hiong segera mengawasi tajam ke empat penjuru. Ia tidak percaya ruang itu tidak mempunyai jalan keluar. Di lain saat maka ia melihat sesuatu yang mencurigai. Di dinding tampak menonjol sepotong rebung batu warna hijau. Besarnya seperti jeriji tangan.

Biasanya batu semacam itu tidak akan menarik perhatian, tidak demikian bagi pemuda kita.

Juga si nona baju hijau yang turut memasang mata melihat batu itu. Ia pula melihat perhatiannya si anak muda.

"Tuan, apakah tuan hendak mengambil batu itu ?" tanyanya. It Hiong menjawab perlahan sekali. "Mungkin batu itu alatnya pesawat rahasia. Mungkin juga orang telah

menaruh racun hingga tak dapat orang merabanya. "

Si nona mengawasi tajam.

"Nanti aku coba." katanya. "Kita tak dapat terlalu lama berdiam disini."

Berkata begitu, si nona melepaskan tangannya dari cekalan It Hiong. Terus ia berduduk bersila di tanah untuk bersemadhi. Kedua matanya dipejamkan.

It Hiong berdiri di sisi si nona. Ia pun memusatkan perhatiannya. Ia meluruskan otot-ototnya. Ia bernafas dengan perlahan-lahan. Satu kali ia ingat Kiauw In dan Giok Peng, tiba-tiba saja pikirannya menjadi terganggu. Ia tak tahu bagaimana dengan mereka itu. Ingat Giok Peng, terus ia ingat Hauw Yan, puteranya. Karena pikirannya tidak tenang itu, lantas ia teringat juga kepada Tan Hong dan Ya Bie...

Syukur Tan Hong dan Ya Bie dapat kembali ke jalan lurus. demikian pikirnya.

Lalu ia ingat juga Hong Kun. Hebat kawan itu yang menjadi saingan dalam asmara hingga mereka berdua menjadi musuh satu dengan lain. Atau tegasnya, Hong Kun yang memusuhkannya hingga ia mau dibikin celaka.

"Dia tersesat, dia harus dibinasakan." pikirnya lebih jauh. "Tapi dialah bekas sahabatku, pantas kalau dia diberi maaf."

Kemudian It Hiong ingat gerakan Bu Lim Cit Cun. Itulah pergerakan besar dan berbahaya yang dapat merusak dunia Kang Ouw atau Bu Lim. Saatnya pertemuan sudah mendatangi semakin dekat. Sebaliknya pedang Keng Hong Kiam masih juga belum di dapat pulang. Pedang itu sangat perlu guna menaklukan para pengacau sungai telaga itu....

"Dan sekarang aku lagi menghadapi Tok Mo yang lihai ini. " pikirnya pula.

Tanpa merasa, anak muda kita menghela napas dalam- dalam. Karenanya pemusatan pikirannya menjadi buyar.

"Ah !" serunya kemudian.

Tengah bermasgul itu, It Hiong lantas merasai hawa rada hangat. Segera ia sadar pula. Maka ingatlah ia yang tidak dapat berdiam lebih lama pula di dalam sarang lawan.

Kemudian It Hiong menoleh kepada si nona berbaju hijau. Nona itu masih terus duduk bersila tanpa bergeming. Matanya terus dipejamkan. Terang nona itu tengah memusatkan perhatiannya. Melihat keadaan si nona, ia merasa berpikir....

Ingat akan keadaan dirinya, It Hiong lantas memikir jalan buat meloloskan diri. Pertama-tama ia melihat dua jalan. Satu ialah menggempur pintu atau tembok buat keluar dengan paksa. Satu lagi ialah mencari dan menemukan pintu rahasia. Pintu rahasia sukar dicari. Pintu batu itu mestinya sangat tangguh hingga tak mudah didobrak dengan kekuatan tenaga......

Sesudah berpikir keras sekian lama, It Hiong bertindak menghampiri batu menjol itu. Ia sudah mengulur tangannya akan memegang batu itu atau segera ia menarik pulang tangannya itu. Tiba-tiba ia ingat kalau-kalau batu itu ada racunnya. Kalau ia terkena racun, bisa-bisa ia roboh atau mungkin jiwanya akan melayang pergi..... Sesaat itu, It Hiong lupa yang ia telah menelan Wan Ie Jie, obat si pendeta dari biara Bie Lek Sie.

Tapi sehabis menarik tangan kirinya, It Hiong sebaliknya meluncurkan pedangnya di tangan kanan. Ujung pedang disentuhkan kepada batu itu. Nyata batu itu nancap keras, pedang tak dapat membuatnya bergeming. Batu itu pula licin seperti memangnya sudah lama berada disitu. Hanya adakah itu batu wajar dan bukannya dipasang oleh tangan manusia ?

Di awasi sekian lama, batu itu tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigai.

"Mungkinkah ini bukannya alat rahasia ?" pikir anak muda kita. Ia agak menyesal. Tapi ia penasaran. Ia mengawasi lebih jauh. Formasi batu luar biasa sekali. Tak mungkin batu itu wajar saja berada disitu ! Batu lainnya tidak ada yang seaneh itu !

Lalu dengan ujung pedangnya, It Hiong membentur batu itu pergi dan pulang, ke kiri dan ke kanan, dari perlahan sampai keras. Masih batu rebung tetap tak berkutik !

Kemudian It Hiong menekan batu dengan ujung pedang, dari perlahan sampai keras. Maka itu dengan sendirinya ujung pedang melesak ujungnya sedikit ke dalam batu. Karena itu, terdengarlah suara batu tergorok pedang.

Anak muda kita bercuriga, telinganya pun terang sekali.

Kapan ia mendengar suara goresan itu, kecurigaannya menjadi bertambah. Maka akhirnya ia mau percaya, batu itu memang pesawat rahasia. Hanyanitu alat ini terpasang dengan kuat sekali hingga tak mudah tergoyah. Tidak bersangsi pula, It Hiong mengerahkan tenaga dalamnya, lengan kanan. Ia tidak mau berlaku sembrono. Tenaganya ditambah sedikit demi sedikit. Tak lama maka terdengarlah satu suara keras, suara menjublaknya pintu rahasia. Maka dihadapan mereka berdua terbentanglah sebuah pintu !

It Hiong girang bukan main. Mau ia memanggil si nona berbaju hijau yang sejak tadi duduk bersila terus. Justru ia berpaling, justru si nona maju padanya hingga mereka hampir saling bertabrakan, muka mereka hampir menempel satu dengan lain !

Dua-dua muda mudi itu terkejut, mereka melongo saling mengawasi. Mulut mereka tertutup rapat. Barusan si nona mendengar suara menjublak, dia membuka matanya. Melihat pintu rahasia, dia girang tak terkirakan. Lantas dia berlompat bangun dan lari pada si anak muda, justru anak muda itu berpaling hingga hidung mereka hampir beradu !

It Hiong lekas juga menentramkan hati. Ia pun dengan berani lantas memutar tubuh pula. Buat bertindak masuk ke dalam pintu rahasia itu.

Si nona mengikuti tanpa berkata apa-apa. Keduanya berlaku waspada.

It Hiong mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah kamar yang empat penjuru dindingnya berbatu granit. Kedua sisi tembok tidak ada jendelanya. Ruang pun kosong, bahkan tanpa kursi atau meja. Cuma nempel pada tembok terdapat sebuah pembaringan yang hitam mengkilat, entah terbuat dari kayu atau semacam logam. Di atas pembaringan itu duduk numprah seorang tosu, rahib Agama To, melihat siapa anak muda kita menjadi heran hingga ia terus menatap.

Tosu itu sudah berusia lanjut. Dia mengenakan jubah putih, tubuhnya tegak, mukanya merah segar, rambutnya sudah putih seluruhnya sedangkan alisnya panjang. Ketika itu dia duduk samil memejamkan mata.

Yang membuat It Hiong heran ialah ia kenali tosu itu adalah Tek Cio Siangjin, gurunya sendiri !

Maka anehlah yang gurunya berada di tempat itu hingga ia terus mengawasi dengan dadanya bergelombang sebab jantungnya memukul keras. Sudah banyak tahun karena perantauannya, ia tak bertemu gurunya itu hingga ia pun tidak tahu gurunya berada dimana. Segera timbul rasa hormatnya, tanpa ragu pula ia menekuk lutut di depan tosu itu untuk memberi hormat seraya ia memanggil perlahan : "Suhu !" Pula tanpa merasa, saking gembiranya, air matanya turun meleleh.

Tetapi aneh adalah si guru. Beberapa kali dia dipanggil muridnya itu, dia berdiam saja. Dia duduk tidak bergeming. Dia seperti tidak mendengar suara orang atau kehadirannya orang lain di dalam kamar itu.

Si nona berbaju hijau berdiri di sisinya It Hiong. Ia pun mengawasi saja si tosu hingga ia melihat dan mendengar dengan nyat. Karena si tosu berdiam saja, timbullah rasa anehnya. Sendirinya ia menjadi bercuriga.

"Kakak." katanya pada It Hiong sesudah ia menantikan sekian lama pula. "Kakak, coba kau perhatikan ! Coba kakak lihat, tosu itu masih hidup atau sudah mati !" Tidak cuma berkata, si nona pun memegang lengannya si anak muda buat diangkat dikasih bangun terus ia berkata pula

: "Kakak, apakah kakak tidak merasa aneh ? Bukankah guru kakak seorang pertama yang lurus ? Kenapa ia justru datang kemari dan berdiam disini ?"

It Hiong menepas air matanya. Ia lantas berpikir. Benar kata-kata si nona. Gurunya itu bersikap aneh. Tak biasanya gurunya pendiam sedangkan ia tahu benar, biasanya guru itu ramah tamah.

"Kau benar juga, nona. " katanya perlahan.

Sambil mengawasi tajam, It Hiong menghampiri gurunya itu lebih dekat. Ia meneliti rambut dan muka orang. Ia merasa tak salah lagi, tosu itu benar gurunya.....

"Suhu !" ia memanggi pula. Kembali ia menekuk lutut. "Suhu, maafkan muridmu ! Aku telah mengganggu pertapaan suhu ! Suhu, tolong suhu membuka matamu, melihat pada muridmu ini. "

Kembali si murid menangis, walau tanpa suara.

Si tosu terus duduk bagaikan patung. Ia tak bergerak, tak membuka matanya, tak mengatakan sesuatu. Dia bagaikan tak mempunyai perasaan.

Dari berlutut It Hiong mendekam di lantai. Ia bingung. Ia juga lantas ingat segala sesuatu yang telah berlalu selama ia berdiam di Pay In Nia melayani gurunya itu pada siapa ia belajar silat dan surat. Guru itu menyayang dia sebagai juga ia adalah seorang anak. Guru itu keras mendidiknya tetapi belum pernah ia ditegur atau dirotani. Maka heran sekarang, menghadapi murid kesayangannya, guru itu berdiam saja sebagai patung.

"Mungkinkah suhu tengah bersemadhi sampai di bagian yang paling genting ?" demikian si murid berpikir. "Kalau benar, kalau kena terganggu, suhu bisa celaka karena kegagalannya. Inilah berbahaya. "

Diam-diam It Hiong mengeluarkan peluh dingin, hatinya berdebaran.

It Hiong menyesal sekali, maka ia terus mendekam tanpa berkutik. Tapi pikirannya terus kacau. Ia heran dan bingung, ia ragu-ragu...

Karena semua orang berdiam, kamar menjadi sunyi seperti semula tadi.

Si nona berbaju hijau berdiri mematung, matanya mengawasi It Hiong. Ia pun heran hingga ia berpikir keras.

Dengan lewatnya sang waktu, It Hiong mulai dapat berpikir. Ia ingat kata-kata si nona yang meragukan gurunya itu. Memang, kenapa gurunya bertapa di tempat rahasia itu yang menjadi sarang si bajingan ? Itulah tak mungkin, bukan

? Hek Sek San bukan tempat yang cocok dimana orang dapat mensucikan diri. Bukankah Kiu Hoa San jauh terlebih baik ?

Saking heran, pikirannya si anak muda menjadi kacau.

Hingga ia mau menerka, pa-apa yang tak menjadi, lantaran kejujurannya, gurunya itu telah kena orang akali hingga dia kena makan racun dan karenanya menjadi terpengaruhkan orang jahat.

Giris memikir demikian, It Hiong menggigil saking berkuatir. "Tidak ! Tidak mungkin !" ia berseru tanpa disengaja. "Tidak mungkin !"

Kembali murid ini mengangkat kepalanya, mengawasi gurunya itu. Kembali air matanya menetes jatuh !

Si nona berbaju hijau terperanjat.

"Kakak !" serunya. "Kakak, kau kenapakah ?"

Si nona kaget karena menyaksikan lagak orang serta mendengar seruannya itu.

Segera It Hiong berlompat bangun, matanya mengawasi ke seluruh kamar. Sekarang ia telah berpikir tetap. Matanya pun bersinar berapi.

"Jahanam yang malu bertemu orang !" demikian katanya keras. "Kenapa kau bersembunyi saja? Kalau kau benar mempunyai kepandaian, perlihatkan dirimu ! Mari kau bertempur denganku, Tio It Hiong !"

Nadanya itu mengandung penasaran.

Segera terdengar jawaban parau yang dingin : "Kepandaian

? Kau mau bertempur ? Hm ! Oh, bocah tak tahu hidup atau mati ! Memangnya kau sudah bosan hidup ?" Suara itu mendengung di dalam kamar itu. Baru suara itu lenyap, lantas terdengar pula sambungannya : "Bocah ! Kau telah melihat tegas atau tidak ? Kau mau menempur aku ? Hm ! Lihat gurumu itu, Tek Cio si hidung kerbau ! Dia tersohor kosen tetapi dia toh tak mampu lolos dari tanganku ! Telah aku tahan dia, telah kukurung disini ! Bagaimana kepandaian gurumu ? Jangan kau membuat lohu gusar, itu cuma berarti kau meminta mampusmu saja !"

Suara tak sedap itu ditutup dengan suara batuk-batuk kering !

Bukan kepalang gusarnya It Hiong. Dadanya bergolak, matanya berapi, alisnya pun berdiri.

"Jika kau benar berani, muncullah !" bentaknya. "Kalau kau berani bertanding hidup mati denganku, barulah kau benar- benar mempunyai kepandaian !"

"Hm ! Hm !" demikian suara mengejek tawa, jawaban lainnta tidak ada. Baru lewat sejenak, si parau itu berkata : "Kau mau menempur aku ? Hm ! Kau tahu, hari ini aku mau berurusan dengan Tek Cio si hidung kerbau ! Kau mengerti !"

"Iblis !" seru It Hiong. "Iblis !"

"Bocah, kau harus mengerti !" kata si suara parau. "Kau tahu bocah, aku minta keadilan !"

"Kau mengoceh saja !" bentak It Hiong. "Keadilan apa yang kau minta ?"

Si parau tertawa. Tapi kemudian dia menghela napas. "Buat aku menjelaskan bocah, itulah suatu cerita panjang."

katanya. "Kalau aku tidak menuturkan kau tentunya tidak tahu. Itulah satu peristiwa yang menyedihkan. Karena itu, keadilan pun telah terpendam "

"Jangan kau mengoceh saja !" It Hiong membentak. "Lekas kau perlihatkan dirimu. Lekas kau beri keterangan padaku ! Ingat, Tio It Hiong dapat menggempur kamar ini dan menginjak rata sarangmu !"

Dalam sengitnya, si anak muda menikam kepada dinding hingga batu granitnya gempur dan rontok.

"Jangan galak, bocah !" kata si suara parau. "Kau dengar dulu ceritaku ! Di saat aku bercerita habis, itu pula saatnya jiwamu lenyap !"

Mendengar itu, si nona berbaju hijau menarik ujung bajunya si anak muda terus dia berbisik : "Kakak, tidak ada halangannya untuk mendengarkan ceritanya. "

"Hm !" It Hiong perdengarkan suara tawar, lantas ia berdiam. Cuma pedangnya yang disiapkan.

Kembali terdengar suara parau tadi.

"Nah, dengan berlaku begini barulah artinya kau tahu selatan !" demikian katanya. "Kalau kalian mengerti ceritaku, itu pun ada baiknya....

It Hiong berdiam saja, juga si nona. Si anak muda menyabarkan diri.

Suara parau itu terdengar pula, nadanya sedikit lain. Suara itu lebih keras.

"Cerita yang hendak aku tuturkan ini adalah peristiwa pada empat puluh tahun dahulu !" demikian si parau mulai. "Itulah cerita yang menyedihkan dan hebat. Maka itu lohu demi pembalasan dendam sudah membunuh juga membinasakan beberapa orang Kang Ouw. Semua itu guna meminta keadilan

! Kau tahu, perbuatanku itu telah menarik perhatiannya apa yang dinamakan kaum sadar dan lurus ! Mereka para ketua dari sembilan partai besar. Mereka itu mencari dan mengejar- ngejar lohu, yang mereka hendak binasakan ! Di antara mereka itu terhitung juga Tek Cio si hidung kerbau, gurumu itu bocah !"

Dia berhenti sebentar, terdengar dia menghela napas. "Ketika itu," begitu dia melanjuti. "Lohu berada seorang

diri. Tidak dapat lohu melawan mereka. Kau tahu, jumlahnya mereka belasan dan semuanya orang-orang tersohor !

Seorang diri lohu diperhina mereka itu ! Apa juga mau dibilang, buatku ialah lohu mesti melindungi diriku. Karenanya lohu selalu membela diri sambil mundur setapak demi setapak. Tapi mereka itu telengas sekali, terus-terusan lohu dikejar mereka. Akhirnya lohu telah di desak sampai di tepi jurang es di gunung Thian San. Adalah gurumu, si hidung kerbau itu yang mengandalkan ilmu pedangnya yang lihai telah memaksa aku mundur ke tepi jurang itu. Disitulah kesembilan ketua partai tidak lagi menghormati sopan santun kaum Kang Ouw. Berbareng mereka menyerang lohu dengan pengerahan tenaga dalam mereka. Tak lagi lohu berdaya. Maka robohlah lohu ke dalam jurang ! Dasar orang baik dilindungi Tuhan, lohu tak mati walaupun lohu telah terlempar ke dalam jurang itu. Lohu roboh terasangkut di sebuah pohon besar dan lebat, dimana selembar jiwaku ketolongan. "

lagi si parau berhenti sebentar. Lewat sejenak baru ia mulai pula. "Sejak itu lohu hidup di dalam penderitaan. Lohu mencari hidupku dan ilmu kepandaian pula. Lewat belasan tahun, barulah lohu muncul pula dalam dunia Kang Ouw.

Demikianlah kali ini, lohu berhasil membekuk Tek Cio si hidung kerbau dan mengurungnya disini. Meski begini, lohu tidak menghendaki jiwanya. Lohu menaruh belas kasihan terhadapnya. Sebaliknya, lohu mau mencari penggantinya dari siapa lohu hendak meminta keadilan ! Dan itulah kau !"

Kembali dia berhenti, lalu batuk-batuk. Agaknya dia puas sudah dapat menutur lakonnya itu. Dia pun mengeluarkan napas lega. Setelah itu dia kata pula : "Nah, bocah.

Bagaimana pikirmu sesudah kau mendengar peristiwa hebatku ini ? Sekarang ini maksudku yang utaman yang ingin lekas- lekas aku lakukan ialah membalas sakit hati itu. Dan itu mungkin soal paling menyedihkan untukmu ! Bocah, bagaimana kau pikir andiakata kita balik keadaan kita ini ? Kau menjadi aku dan aku menjadi kau. Bagaimana kau hendak bertindak ?"

It Hiong mendongkol sekali.

"Hm !" ia memperdengarkan suara dinginnya. "Itulah urusan kalian dahulu hari ! Semua itu cuma diketahui oleh para ketua dahulu itu ! Aku sendiri, aku tak menghiraukannya

! Aku cuma mau mengurus kejadian di depan mata kita ! Jika kau tidak pulihkan kesehatan guruku sebagaiman adanya, aku cuma mau mengadu jiwa denganmu !"

Si suara parau itu tertawa dingin.

"Bocak cilik, kau benar-benar bernyali besar !" katanya. "Tetapi bocah, tentang ilmu silatmu, lohu ketahui sampai di dasarnya ! Buat apa kau berlagak galak begini ? Lihat saja gurumu itu ! Kau lihatlah tulang selangkanya ! Telah aku belenggu erat-erat ! Begitu juga ingatannya, telah lohu kekang

! Dia sekarang cuma mayat hidup ! Dia sudah bercacat, dia tidak ada dayanya samasekali !"

It Hiong kaget dan gusar menjadi satu. Ia masuki pedangnya kedalam sarungnya dan bertindak menghampiri pembaringan akan melihat ke belakang gurunya itu. Maka ia lantas mendapat kenyataan benarnya kata-kata si parau itu !

Pada punggungnya si rahib tua tampak sehelai rantai, ujungnya yang satu masuk ke pungung, ujung yang lain mendam ke dalam tanah !

Maka bergolaklah darah si anak muda, darahnya itu seperti naik ke otaknya. Itulah penglihatan dahsyat luar biasa. Lupa segala apa, ia menghunus pedangnya dan pakai membacok rantai besi itu hingga terdengar suara sangat keras dari beradunya barang logam -- pedang kontra rantai besi!

Di waktu begitu, It Hiong lupa yang pedangnya bukan pedang Keng Hong Kiam, hanya pedang biasa. Pedang Keng Hong Kian dapat memapas besi hingga kutung, pedang biasa tidak ! Akan tetapi si anak muda mempunyai tenaga dalam mahir sekali. Dia pula sedang meluap angkara murkanya.

Walaupun pedangnya pedang biasa, toh terbabat putus !

Sementara itu, kejadian yang terlebih hebat menyusul penyerangan dahsyat kepada rantai itu ! Karena putusnya rantai, roboh juga tubuhnya si rahib yang tercancang tulang selangkanya itu. Bahkan robohnya dengan tubuhnya terkutung menjadi dua potong, roboh berbareng jatuh ke tanah !

Bukan main kagetnya It Hiong. Lupa ia akan segala apa.

Dia lompat menubruk tubuh gurunya itu, tak dapat ia menjerit menangis, cuma air matanya yang mengucur deras. Pula hanya sedetik saja, terus dia roboh tak sadarkan diri !

Si nona berbaju hijau kaget sekali. Hingga ia menjublak saja. Tanpa merasa, air matanya pun mengucur turun. Dia sampai lupa segala apa. Matanya cuma mengawasi It Hiong serta itu dua potong tubuhnya si rahib tua.... Tengah kamar menjadi sunyi itu, sebab si pemuda pingsan dan si pemudi berdiam sebagai patung. Mendadak daun jendela yang satunya menjublak roboh dengan menerbitkan suara keras. Di situ lantas terlihat sebuah liang sebesar liang anjing. Sebab jendela itu kecil dan sempit, cuma dapat muat sesosok tubuh manusia saja !

Itulah apa yang dinamakan lobang anjing.....

Menyusul robohnya daun jendela, dari sebelah daLam Sana sudah tampak munculnya sesosok tubuh hitam yang nyeplos ke sebelah sini. Dialah seorang usia setengah tua, yang mukanya hitam. Dia pula Kim Tay Liang !

Setibanya di dalam kamar, Tay Liang mengawasi It Hiong dan si nona baju hijau. Lantas dia bertindak menghampiri nona itu. Sebelum orang sadar dari menjublaknya, dia sudah menyambar tangan orang untuk dicekal keras dan ditarik.

Nona itu kaget, dia juga merasai nyeri pada tangannya hingga dia tak sadar terus menjerit. Cuma satu kali dia dapat membuka suaranya, selanjutnya dia bungkam sebab jalan darahnya telah ditotok Tay Liang.

It Hiong siuman disebabkan kaget mendengar jeritan si nona. Lantas ia membuka matanya, terus ia berlompat bangun. Dengan begitu lantas ia mendapat lihat si nona berada dibawah pengaruhnya Tay Liang. Bahkan pria itu sudah menarik si nona ke jendela. Rupanya dia berniat membawanya pergi !

Tay Liang mendapat kesulitan akan menyeploskan si nona ke dalam lubang anjing itu. Kalau ia masuk lebih dahulu, si nona mesti dilepaskan. Kalau ia menolak lebih dahulu nona itu, berarti ia menyusul belakangan. Sulitnya jalan tengah terpengaruhkan urat syarafnya hingga ia tidak dapat berpikir jernih seperti orang yang sehat otak. Ketika ia mencekal si nona, ia pun mencekal tanpa pikir-pikir lagi. Maka juga ia membuat nona itu habis tenaganya sampai dia tak dapat berdaya....

It Hiong menyaksikan kesulitan Tay Liang itu, ia menjadi puas sekali. Tanpa banyak pikir pula, dia lompat pada pria itu untuk menotok jalan darahnya yang dinamakan hek-tiam. Ia berhasil dengan mudah sebab orang she Kim itu tidak menyangka dan dia juga kalah cepat. Lantas saja dia roboh terkulai, rebah seperti orang lagi tidur pulas !

It Hiong segera memegangi si nona, buat dipondong dan direbahkan setelah mana ia membantu dengan menotok menyadarkannya serta menguruti membuat tenaganya pulih.

Tidak ada niatnya It Hiong membinasakan Tay Liang sebab dia tahu orang she Kim itu sedang terpengaruhkan obat jahat hingga ia tak sadar akan segala pebuatanya itu. Bahkan kalau ada kesempatan, hendak ia membantu kenalannya itu.

Setelah si nona sadar dan dapat bangun berdiri, It Hiong mengeluarkan napas lega.

Nona itu lantas ingat segala apa, terus ia mengawasi tubuh mayatnya Tek Cio Siangjin. Tiba-tiba ia menunjuk tubuh itu sambil berkata nyaring : "Kakak, lihat !"

It Hiong terperanjat. Segera ia berpaling. Maka dia pun melihat seperti apa yang dilihat nona itu. Untuk sejenak, dia melengak saking herannya. Tubuh itu kutung sebatas pinggang. Anehnya kutungan itu berikut jubahnya juga. Dan jubah itu, warna biru rembulan sudah terlalu tua dan habis kekuatannya, mudah pecah dan hancur sendirinya. Di tengah-tengah tubuh itu tampak tulang punggung yang dirantai.

Maka sekarang teranglah ternyata, tubuh itu bukan tubuh berdarah daging. Hanya tubuh dari anak-anakan yang terbuat dari lilin ! Pantas hebatnya serangan pedang pada rantainya, tubuh itu roboh sendirinya !

Hanya apa yang mengagumkan, buatan boneka itu sangat hidup dan mirip sekali dengan Tek Cio Siangkin. Sampai muridnya yang telah tinggal bersamanya tujuh tahun lamanya masih kena dikelabui !

Tapi tak aneh kalau It Hiong membuat kekeliruan itu. Di saat seperti itu, pikirannya tak jernih seluruhnya. Ia kena dikacaukan kapan ia ingat halnya gurunya tertawa dan dirantai

!

Berdua bersama si nona, It Hiong segera menghampiri tubuh palsu itu sampai dekat sekali untuk meneliti. Mereka memegang jugah yang sudah usang itu dan merobeknya secara mudah sekali.

Sekarang lega hatinya, It Hiong menghela napas dalam- dalam. Hilanglah kaget dan kekhawatirananya. Sebaliknya, terbangunlah semangatnya. Maka ia mendongkol sekali yang ia telah dipermainkan musuh yang bersuara parau itu, yang masih belum ketahuan siapa adanya.

Satu kali si anak muda menoleh pada si nona hingga mereka saling memandang. Berbareng dua-duanya bersenyum. Leganya hati membuat mereka sesaat itu seperti lupa yang mereka masih berada di tempat yang berbahaya itu.

"Nona" kata si anak muda kemudian, "Inilah yang dibilang, melihat satu tambah pula satu pengetahuan ! Inilah dia pengalaman kita kaum Kang Ouw ! Aku malu yang pengalaman kurang. Kali ini aku telah kena dipermainkan musuh yang licik !"

Si nona mengawasi.

"Sebenarnya kakak, ini bukanlah disebabkan pengetahuanmu yang kurang." bilangnya. "Tadi kau telah dibikin kacau saking kau kaget melihat gurumu yang kau sangat sayang dan hormat. Buatku, aku justru mengagumi kecintaanmu terhadap guru itu. "

Suara si nona belum berhenti, atau mereka berdua lantas mendengar suara si parau. Katanya : "Kenyataan tinggal kenyaan, demikian si manusia palsu dan tulen ! Aku pun mengagumi kepada murid ajarannya Tek Cio si rahib tua. Kau hebat anak muda ! Hm !"

"Bagus kata-katamu !" kata It Hiong keras. "Akal busukmu telah pecah. Apa lagi yang hendak kau bilang ? Kenyataan ? Kenyataan apakah ?"