Iblis Sungai Telaga Jilid 56

Jilid 56

"Adik", katanya sambil dia menunjuk pemuda itu, "kau lihat dia ! Nah, inilah harinya yang aku akan mewujudkan kata- kataku dahulu hari itu !"

"Hus !" bentak si nona. "kau mengaco belo !"

"Eh, eh," kata Bu Pa, "kalau kau tidak merasa pasti, pergi kau tanya suhu ! Tadi dia ini sendiri yang menyebut Tio It Hiong !"

In Go menarik tangannya, dia menunjukkan tampang tidak puas.

"Kenapa tadi kau menyebut dia dia Gak Hong Kun ?" tanyanya.

Bu Pa berdiam hingga sekian lama.

"Mungkin dia mempunyai dua nama," sahutnya kemudian. "Satu Gak Hong Kun dan satu lagi Tio It Hiong "

In Go mencibirkan mulutnya. Ia tidak mengatakan sesuatu lagi pada kakak seperguruannya itu hanya segera menoleh.

"Suhu !" panggilnya kepada gurunya.

Ketika itu hari mendekati magrib, uap mulai tampak di empat penjuru jagat. Rimba sudah mulai gelap.

Sia-sia saja In Go memanggil gurunya, gurunya tidak tampak. Jawabannya tidak terdengar, ketika ia mengulangi memanggil beberapa kali tetap tanpa penyahutan dari gurunya, ia lantas bertindak pergi untuk mencari.

Gwa To Sin Mo sebenarnya tidak pergi kemana-mana, dia membiarkan murid-muridnya itu, dia sendiri bercokol diatas pohon sambil bersemadhi, tetapi tak lama, In Go dapat mencarinya. Maka ujung bajunya ditarik-tarik, dia dikasihh bangun oleh muridnya itu, yang dengan manja berkata padanya : "Suhu, mari lekas ! Mari memberikan keputusan adil kepada muridmu. "

"Ah, anak tolol !" berkata guru itu tertawa. "Mengapa masih rewel saja ? Sekarang langit sudah gelap, mari lekas kita pulang !"

In Go tidak menghiraukan kata-katanya guru itu, dia bahkan menariknya, untuk kemudian menunjuk Hong Kun, dia berkata : "Suhu, siapakah namanya orang ini ? Aku minta suhu menjadi saksi !"

Sin Mo mengawasi si anak muda. Ia tidak tahu kedua murid itu rewel di dalam urusan apa, lantas ia menjawab dengan seenaknya saja : " Dia pernah menyebut namanya yaitu Tio It Hiong. "

"Nah, adik, kau telah dengar, bukan ?" Bu Pa menyela, tampangnya sangat girang. "Dia memangnya Tio It Hiong !"

Si nona membanting-banting kakinya.

"Aku tidak mau mengerti !" katanya, manja. "Suhu, suhu, kenapa suhu membantu kakak ?"

"Hus, jangan bingung !" bentak si guru. "Mungkin orang ini tengah memalsukan diri." "Suhu !" berseru Bu Pa. "Suhu, jangan suhu sembarang mengatakan !"

"Nah, kakak, kau dengar tidak ?" In Go menyela. Dia tertawa. "Kata suhu dialah si orang palsu!"

Bu Pa melengak. Lantas dia mengawasi gurunya, untuk bertanya : "Suhu, entah dialah Gak Hong Kun atau sebaliknya Tio It Hiong yang menyaru menjadi Gak Hong Kun ?"

"Suhu berkata apa yang benar," In Go menyela pula, "maka itu, tak usah kita saling membantah lagi !"

"Nampaknya dia bakal kehilangan jiwa " kata sang

guru.

"Suhu !" Bu Pa kata, bingung, "suhu, tolonglah bilang, sebenarnya dia ini menyamar menjadi siapa ?"

Sang guru tertawa.

"Dua-dua ada kemungkinannya !" sahutnya. "Buat apa kita perdulikan dia !"

In Go mengawasi gurunya. Terang guru itu pun ragu-ragu. Kemudian ia menoleh ke lain arah, mulutnya bungkam. Tapi cuma sejenak, ia menoleh pula, sinar matanya pun memain.

"Suheng !" katanya, pada si kakak seperguruan, "aku mempunyai satu pikiran. "

"Apakah itu ?" tanya sang suheng cepat. In Go menghampiri, tangannya merogoh sakunya dari mana terus ia menarik keluar sebuah peles kecil yang isinya tiga butir yang warnanya berlainan. Ia menuang mengeluarkan itu, buat terus dijejalkan ke dalam mulutnya It Hiong, tubuh siapa ia angkat bangun berduduk, kemudian ia meneruskan mencabut jarum beracun yang nancap di bahunya orang itu.

Kemudian lagi, sembari bangkit berdiri si nona memandang Bu Pa dan tertawa. Katanya : "Aku memberikan dia obat pemunah racun. Aku juga mencabut jarumnya. Itulah ada faedahnya buat dia ! Kakak, tahukah kau maksudku berbuat begini ?"

Hatinya Bu Pa tak mengasih menyaksikan pacarnya itu mengobati si pemuda. Akan tetapi karena ia menyayanginya, ia mencintai nona itu, tak mau ia membuat orang mendongkol dan bergusar. Maka ia membiarkan saja. Sekarang ia ditanya, itulah sangat menyulitkan padanya. Ia tidak dapat menerka maksudnya si nona itu. Namun dia ditanya, terpaksa ia menjawab sekenanya saja : "Mungkin kau, adikku, kau. "

"Jangan sembarang bicara !" In Go menyela. "Baik, mari aku beritahukan ! Aku mengobati dia supaya dia mendusin dan sadar, lalu kita tunggu sampai dia pulih seperti biasa. Setelah itu, aku ingin kau, kakak, menempur dia !"

Bu Pa mementang lebar matanya.

"Apakah yang hendak diadu pula ?" tanyanya heran. "Aku toh telah menghajarnya hingga kalah?"

In Go memperlihatkan wajah sungguh-sungguh, matanya menyilak. "Melukai orang dengan senjata rahasia, itulah bukan perbuatan secara laki-laki !" katanya sungguh-sungguh. "Dengan caramu itu kau merebut kemenangan, itulah yang paling aku tak sukai !"

Di dalam hati, Bu Pa ragu-ragu. Tadi pun, selagi menempur si anak muda, ia merasa orang lihai sekali. Tak ada kepastian baginya untuk memperoleh kemenangan dengan mudah.

Sekarang timbulnya soalnya In Go ini. Maka ketika ia berkata pula, ia bicara secara menyimpang. Katanya : "Janji kita bukankah janji asal aku dapat mengalahkan Tio It Hiong !

Benar, bukan ?"

In Go mengangguk.

"Tidak salah !" sahutnya lantas.

"Nah, sekarang tinggal soalnya !" kata Bu Pa. "Orang ini benar Tio It Hiong atau bukan ! Suhu sendiri tak dapat memastikannya. Maka itu aku pikir, baik kita tungguh sampai dia siuman. Baru kita tanya tegas padanya dia sebenarnya siapa ! Setelah itu masih ada waktu buat aku menguji kepandaiannya "

In Go mengawasi kawannya dengan dia mementang mata lebar-lebar. Dia berpikir. Kemudian dia bersenyum.

"Kakak, kenapa kau memikir banyak begini ?" katanya. "Apakah mungkin kau pun mendusta waktu kau mengatakan kau mencintai aku ?"

Bu Pa melengak. Dia bingung. "Jangan salah mengerti, adik !" katanya. "Dapat aku membelek dadaku buat aku mengasi lihat hatiku padamu ! Adik, aku harap kau menjunjung cinta kasih kita berdua. "

In Go tunduk.

"Cinta kasih kita berdua. " katanya perlahan.

"Ya, adik ! Apakah adik memandang itu hanya main-main saja ?"

"Bukan begitu, kakak." kata si nona. "Selama kedua orang pria dan wanita belum menikah, cinta kasih diantara keduanya adalah hal mengasi dan menerima bersama. Benar begitu, bukan ?"

"Ah, kembali adik main-main !"

"Bukan, kakak ! Aku hanya ingin bicara jelas. Bukankah dalam keadaan seperti kita sekarang, kaulah pihak yang meminta dan aku pihak yang menerima ?"

Bu Pa mengawasi. Ia sungguh tidak mengerti. Mau apa kekasih ini. Apakah yang dikandung di dalam hatinya.

Karenanya, tak berani ia sembarang memberikan jawabannya.

Lewat sejenak, In Go berkata pula : "Kakak, kau harus membedakan kedudukan meminta dan menerima. Itulah mengasi dan memberikan. Kita harus sama-sama saling mengetahui keadaan masing-masing. Buat minta cinta kasih seorang nona, kau harus mendengar kata-kata oarng, kau harus membuat hati orang senang ! Tahukah kau artinya itu

?" Bu Pa kata di dalam hatinya, "Hm, kiranya dia mau tunduk di bawah pengaruhnya ! Keadaan tapinya adalah sedemikian rupa. " Karena ini, ia lantas menjawab : "Adik, kau benar !

Nah, kau bilanglah, bagaimana kehendakmu !" Alisnya In Go bangkit.

"Kata-kataku ialah perintahku." sahutnya. "Jika kau memikir tentang cinta, kau harus mendengar kata. "

Justru si nona baru berkata sampai disitu, kata-katanya disela Gak Hong Kun yang tiba-tiba mengeluarkan suara tertahan. Kiranya dia sadar terus hendak tumpah-tumpah, lalu dia memuntahkan ilarnya. Habis itu dia menghela nafas panjang.

Tatkala itu sang malam telah tiba dan si puteri malam sudah muncul. Di antara cahaya rembulan, In Go melihat Hong Kun mendusin untuk terus bangun duduk.

Melihat pemuda itu siuman, Bu Pa ingat kepada janjinya pada In Go, maka lantas ia kata : "Adik, dia sudah sadar. Coba kau suruh dia bangun. Buat dia mengadu silat denganku !"

In Go mengangguk.

"Nah, ini barulah tandanya kau mencinta !" katanya, tertawa, terus dia bertindak menghampiri si orang muda untuk berkata : "Tio It Hiong, aku telah memberikan kau obat serta mencabut jarum beracun dari tubuhmu. Itu artinya aku telah membantu jiwamu. Maka buat itu, kau harus mengucap  terima kasih padaku ! Kau bangunlah !" Hong Kun mengangkat kepalanya, sinar matanya tolol. Ia mengawasi si nona. Ia tidak kata apa-apa. Ia pun tidak bergerak sama sekali.

"Orang bertabiat keras !" kata si nona. "Kau bangunlah !

Nonamu hendak bicara denganmu !"

Hong Kun bagaikan mendengar dan tidak mendengar. Ia duduk diam saja.

In Go heran. Ia menjadi tidak senang. Ia angkat kakinya dan mendupak perlahan pada paha orang.

"Bangun !" bentaknya.

Hong Kun tetap tidak bangun. Ia cuma mengusut-usut pahanya itu.

"Bangun !" si nona membentak pula. "Bangun !"  Percuma In Go memperdengarkan suaranya itu berulang-

ulang. Hong Kun tetap duduk diam saja. Maka makin panaslah

hatinya. Lantas ia berpaling kepada Bu Pa.

"Kau lihat, kakak." katanya. "Dia berpura-pura atau tubuhnya belum bersih seluruhnya dari racun ?"

"Dia tidak mau berkata terima kasih kepada kau, adik." kata si kakak seperguruan. "Dia juga tak mau mendengar kata terhadapmu. Menurut aku, kita bereskan saja padanya. Habis perkara !"

Bu Pa berkata dengan terus bekerja. Dengan tangannya, dengan satu pukulan Ngo Han Ciang, ia lantas menghajar ke arah ubun-ubun Hong Kun. Anak muda itu melihat serangan, sewajarnya saja ia berlompat bangun dan menangkis, tetapi karena tangkisannya itu, tubuhnya terhuyung, terus ia jatuh pula, jatuh duduk !

Hong Kun bukannya tidak menghiraukan si nona, sebenarnya dia belum bersih seluruhnya dari sisa pengaruh racunnya jarum. Sebab kebetulan sekali, racun itu bekerja sama dengan sisanya Thay-siang Hoan Hun Tan. Maka dia kembali kepada keadaannya tak sadar seperti semula.

Bu Pa heran. Tapi ia tetap berpikir, bukankah lebih baik ia binasakan saja pemuda itu ? Bukankah In Go pun telah merasa tidak puas ? Dengan begitu, ia pun jadi bertinak menuruti keinginannya si nona. Maka ia maju pula sambil menyerang lagi.

Masih sempat Hong Kun menangkis serangan yang ia dapat lihat. Habis menangkis, kembali ia jatuh duduk.

Menyaksikannya keadaannya si anak muda, In Go heran. "Tahan, kakak !" serunya.

Bu Pa mengawasi si nona.

"Kau hendak menarik perintahmu, adik ?" tanyanya. Dia agak girang.

"Bukan !" sahut si nona yang menggelengkan kepalanya. "Aku hendak melihat dahulu padanya!" Dan lantas ia mengawasi si anak muda.

Hong Kun bermandikan peluh pada dahinya dan sinar matanya tolol sekali. "Aneh !" pikir si nona. "Dia telah diberi obat, kenapa dia masih belum sadar seluruhnya ? Apakah mungkin jarum kakak telah dipakaikan lain racun ?" Maka ia menoleh pada kakak seperguruan itu seraya berkata : "Kakak, mari obat pemunahmu !"

Bu Pa tidak mau menentang adik seperguruan itu. Ia berikan peles obatnya, walaupun demikian ia toh menanya : "Kau hendak bikin apa, adik ?"

In Go menyambuti peles, ia buka tutupnya dan menuang isinya ke dalam tangannya. Lalu ia periksa obat itu, memeriksa berulang-ulang, setelah mana ia kata dingin : "Ah, kiranya suhu pun bisa menyimpan sesuatu. Dia berat sebelah terhadapmu, kakak !"

Bu Pa heran.

"Jangan sembarangan omong, adik !" katanya mencegah.

Terus dia berpaling ke arah gurunya. Khawatir guru itu mendengar perkataan adik seperguruan itu.

In Go melengak melihat kelakuan kakak itu.

"Kau takut apa ?" katanya. "Akan aku beri dia obatmu ini, kakak. Hendak aku lihat bagaimana hasilnya !" Terus dia menuang tiga butir obat yang semua berlainan warnanya.

Obat selebihnya, ia angsurkan pada kakak seperguruannya itu. Setelah itu ia bertindak menghampiri Hong Kun, guna memberi makan obat itu.

Tiba-tiba saja, berbareng dengan itu terdengar batuk-batuk dari Gwa To Sin Mo yang terus berkata : "Ah, anak tolol !

Mana dapat gurumu berlaku berat sebelah ? Sudah, jangan kau sia-siakan obat pemunah itu yang dibikin dengan sangat bersusah payah !"

Sembari berkata begitu, guru itu bertindak perlahan menghampiri.

In Go terperanjat. Ia menghentikan tindakannya. Ia khawatir gurunya itu gusar.

Lantas Sin Mo berkata pula, dengan suara dan sikapnya yang sungguh-sungguh : "In Go, kau sudah tidak kecil lagi. Jika kau bicara, kau berlakulah hati-hati !"

Cepat-cepat si murid menjura. "Tak berani aku, suhu !" katanya.

Bu Pa khawatir adik dimarahi atau dihukum. Ia menghampiri, sembari tertawa ia kata pada gurunya : "Suhu, anak muda itu aneh sekali ! Dia sudah diberi makan obat tetapi dia masih tetap tolol ! Coba suhu periksa, apakah dia bukan lagi berlagak pilon ?"

Sang guru agak heran. "Nanti aku lihat !" katanya.

Mendadak saja Sin Mo berlompat pada si anak muda, sebelum si orang sempat berdaya, ia sudah menotok jalan darah hek-tiam, atas mana Hong Kun terus rebah tetapi mulutnya tidak memperdengarka sepatah kata juga.

Dengan kedua tangannya, Sin Mo lantas mengusap-usap sekujur tubuh orang, buat mencari sesuatu. Di akhirnya, ia menekan jalan darah Pek-hiat yang mana dilakukan beberapa kali. Kemudian ia berbangkit sambil memperdengarkan tawa dingin.

"Suhu, dia kenapakah ?" tanya In Go heran.

"Dia pandai berpura-pura. Tak nanti dia dapat mengelabui suhu !" kata Bu Pa.

Masih Sin Mo menepuk-nepuk tubuh Hong Kun, membuat orang tetap rebah. Setelah itu, dia bertindak kepada murid- muridnya seraya berkata : "Di dalam tubuhnya pemuda ini masih mengeram sisa racun. Itulah yang menyebabkan dia tak sadar. Racun itu bukannya racun yang dapat disembuhkan oleh obat kita. "

"Heran !" kata In Go. "Tadi, sebelum dia terkena jarum, dia sehat seperti kita. Kenapa sekarang dia jadi begini ?"

Habis berkata, nona itu tunduk dan mukanya merah.

Mendadak ia ingat lakon berguraunya dengan Hong Kun tadi. Ia menjadi malu sendirinya.

"Pengetahuan kalian tentang racun masih sangat dangkal." berkata guru itu kemudian. "Kalian pasti tak dapat melihat.

Racun itu racun istimewa untuk mengekang urat syaraf orang

! Tidak salah, ini pasti buah tangannya Im Ciu si tua bangka !"

Mendengar demikian, Bu Pa lantas berakat : "Dia tak sadarkan diri. Mana dapat aku menempur padanya ! Taruh kata aku menang, itulah bukan berarti kegagahan ! Adik, bukankah benar kata-kataku ini !"

In Go tidak menjawab. Ia tunduk saja. "Sebenarnya telah aku menang satu kali darinya." kata pula Bu Pa. "Maka itu, kalau aku menempurnya pula, bukankah kesudahannya akan sama saja ?"

Dengan kata-katanya itu, ingin Bu Pa membebaskan diri dari tugas yang diberikan kepadanya oleh In Go, si adik seperguruan.

In Go membungkam, bahkan ia tak menghiraukan orang. Tetapi kali ini ia mengangkat kepalanya, akan berkata kepada gurunya : "Suhu, aku tidak mengerti kenapa obat suhu tidak mempan terhadap racun dia itu ? Ya, racunnya Im Ciu It Mo !"

Di tanya begitu, Gwa To Sin Mo menunjukkan tampang bersemangat. Kata dia sungguh-sungguh : "Kalau di dalam halnya racun Im Ciu It Mo terlebih lihai dari pada aku, kenapa dia datang ke Tiang Chong Sang memohon bantuanku ?

Mustahil dia nanti minta aku membuatkannya obat Hoa Hiat Thian-lo ?"

"Benar,suhu !" kata si murid perempuan. "Bagaimana kalau suhu menolong orang ini, lalu terus suhu menggunakan tenaganya ? Aku pikir dia dapat dipakai sebagai pengkhianat terhadap Im Ciu It Mo ! Biar dia mendekam di dalam Bu Lim CIt Cun ! Aku percaya dengan begitu, suhulah yang bakal menjadi kepala rimba persilatan !"

Manusia umumnya senang diangkat-angkat. Demikianpun Gwa To Sin Mo. Dia girang sekali mendengar perkataan muridnya ini. Lantas dia tertawa dan berkata : "Anak tolol ! Jangan kau memuji aku ! Apakah aku sangka aku tidak tahu perasaan hatimu ?"

Mukanya In Go menjadi merah. Dia malu sendirinya.

Kembali ia tunduk. Sinar rembulan memanjang ke mukanya nona ini. Nyata dia cantik sekali. Tak heran kalau Bu Pa melihat wajah orang, telah goncang hatinya......

Lewat sesaat, In Go mengangkat kepalanya dan tertawa. "Suhu, kalau suhu hendak mengangkat diri suhu, sedikitnya

suhu harus perlihatkan kepandaian suhu menggunakan obat beracun !" demikian katanya.

Sang guru memandang kepada si puteri malam. Ia berdiam, hatinya bekerja. Lewat sesaat, ia kata perlahan : "Selaksa aliran air, sumbernya ialah satu ! Demikian juga, seratus macam racun asalnya satu saja !"

Berkata begitu, guru ini merogoh ke dalam tangan bajunya.

Ia mengeluarkan setangkai pohon obat ban-lian cie-cie. Ia kepal remuk sedikit kemudian ia keluarkan sebutir pil merah yang ia terus aduk dengan remasan itu hingga keduanya menjadi serupa bubuk. Dengan tangannya sendiri, ia terus masuki obat itu ke dalam mulutnya Hong Kun, yang rebah tak berdaya.

In Go heran menyaksikan gerak gerik gurunya itu. Apa yang ia tahu ialah pil merah gurunya justru pil beracun, bukannya obat pemunah racun.

"Su. suhu !" serunya kaget. "Suhu kenapa dia dikasih

makan Cek Ang Tan Wan ?"

Cek Ang Tan Wan itu adalah namanya pil merah itu. "Anak tolol !" sahut sang guru, tertawa. "Gurumu tahu apa yang dia lakukan ! Aku mempunyai caraku sendiri ! Kau lihat selewatnya satu jam, kesadarannya orang ini akan pulih !"

Terus si guru pergi ke batu besar, akan berduduk di sana.

Bu Pa dan In Go heran sekali. Karena itu mereka mau menerka mungkin obat guru itu benar mempunyai khasiat istimewa, bisa untuk melawan racun. Mereka berdiam

tetapi sering mereka saling mengawasi dan mengawasi juga guru mereka..........

Bulan purnama ketika itu sedang indahnya dan suasana rimba tenang sekali.

Tanpa merasa, satu jam telah berlalu.

Tepat seperti katanya Gwa To Sin Mo, Hong Kun sadar setelah lewat satu jam habis dia dikasihh makan obat oleh si Bajingan Sakti. Obat yang pertama ialah ban-lian cie-cie yang telah dicampur menjadi satu dengan Cek Ang Tan Wan.

Benar-benar obat istimewa itu berhasil menumpas kejahatannya Thay-siang Hoan Hun Tan. Selekasnya sisa racunnya si Bajingan Tunggal musnah, dia tersadar. Pulih kesehatannya seperti sedia kala. Matanya menjadi bersinar tajam, semangatnya terbangun. Selekasnya dia menggerakkan pinggangnya, lantas saja dia bangun berdiri !

In Go yang melihat paling dahulu, sebab dia selalu memasang mata.

"Tio It Hiong !" segera ia memanggil "Tio It Hiong, sadarkah kau ?" Hong Kun menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia melihat tak jauh dari tempatnya berdiri sepasang muda mudi yang wajahnya ia seperti pernah mengenalnya. Hanya ketika itu, tak dapat ia segera mengingatnya. Maka ia terus mengawasi.

"Jiwie, siapakah kalian ?" tanyanya sambil memberi hormat.

Bu Pa dan In Go melengak sejenak tetapi lekas-lekas mereka membalas hormat.

Lantas Hong Kun bertindak menghampiri. Masih ia mengawasi muda mudi itu sebelum ia tertawa dan kata : "Jiwie, agaknya aku mengenali kalian ? Harap dimaafkan yang aku suka lupa. Tak ingat aku dimana kita pernah bertemu satu dengan lain. Sukakah jiwie memberi keterangan paadku ?"

Dalam syarafnya sadar seperti itu, muridnya It Yap Tojin dapat bicara dengan rapi. In Go menjawab cepat : "Inilah Bu Pa, kakak seperguruanku. Kakakku ini pernah bertemu denganmu di Tiam Chong San. Aku sendiri In Go. Akulah yang baru tadi bertemu denganmu disini !"

Tak berani In Go bicara lebih banyak. Sebab ia kuatir pemuda itu nanti menimbulkan urusan mereka tadi di dalam rimba.

"Oh, kiranya kakak Bu Pa bersama nona In Go !" kata Hong Kun hormat. "Maaf, maafkan aku !"

Bu Pa mengawasi.

"Saudara, apakah kau saudara Gak Hong Kun ?" tanyanya sengaja. "Benar !" sahut Hong Kun cepat. In Go tampak heran.

"Eh, eh, apakah kau bukannya Tio It Hiong ?" tanyanya.

Hong Kun melengak sejenak. Segera ia ingat yang ia tengah mainkan peran sebagai Tio It Hiong, si saingan dalam medan asmara. Lekas-lekas dia tertawa dan kata : "Rupa- rupanya jiwie juga kena dipermainkan oleh Gak Hong Kun ! Jahanam itu telah menyamar sebagai aku, dimana-mana dia melakukan kejahatan. Maka itu aku tengah mencarinya.

Karenanya, setiap sahabat Kang Ouw menyebut diriku Gak Hong Kun, aku mengiakan saja. Dengan itu kuingin supaya mudah aku mencari jahanam itu !"

Dengan kata-katanya ini, Hong Kun hendak memperbaiki penyahutannya tadi terhadap Bu Pa, supaya pemuda itu tidak ragu-ragu lagi.

"Maafkan aku, saudara Tio." kata Bu Pa. "Aku tidak tahu yang saudara tengah menderita kesulitan itu !"

In Go pun girang sekali. Ia tertawa dan kata : "Harap kau maafkan kelancangan kami ini."

Lantas Hong Kun menunjuki sikap yang gagah.

"Jangan mengatakan demikian, nona In." katanya sembari tertawa. "Namaku yang tidak berarti itu disebabkan kebaikannya para sahabat yang memberi muka terang padaku. Nona, sekarang ini tak berani aku bertanding pula dengan kakak seperguruanmu." In Go melirik manis. Kata dia tertawa : "Kita sudah mengikat perasahabata, sebagai sahabat-sahabat tidak ada halangannya kita melatih diri. Lagi pula. "Ia terus menatap

dan sengaja menunda kata-katanya selanjutnya.

Hong Kun tertawa.

"Mengapa kau tidak bicara terus, Nona In ?" tanyanya manis. "Apakah maksud nona ? Aku tolol sekali, aku tidak mengerti. Maka itu aku mohon nona tolong jelaskan "

"Adikku hendak mengatakan " Bu Pa campur bicara.

Dengan adik ia artikan adik seperguruan wanita.

"Ah, kakak !" In Go menyela kakak seperguruannya itu. "Aku. " Ia terus menoleh pada Hong Kun atau It Hiong

palsu, untuk menambahkan : "Saudara Tio, kau telah orang bikin secara diam-diam ! Di dalam tubuhmu telah mengeram racun yang berbahaya, yang membuat ingatanmu tidak sadar seluruhnya. Rupanya kau tak mengetahuinya, bukan ?"

Hong Kun menunjuki tampang kaget dan heran. "Bagaimana kau ketahui itu, nona In ?" tanyanya. In Go memperlihatkan tampang puas. Dia tertawa.

"Guru kami menjadi ahli racun ! Orang Kang Ouw siapakah yang tak kenal nama termashurnya?" katanya. "Racun di dalam tubuhmu, saudara Tio, mana dapat lolos dari pandangan matanya ?"

Hong Kun ragu-ragu. "Entah tubuhku telah terkena racun apa ?"tanyanya. "Tahukah kau, nona In ?"

In Go menunjuki tampang puas. Hanya kali ini dia menahan untuk tertawa.

"Tapi kau jangan khawatir, saudara Tio !" katanya kemudian. "Racun di dalam tubuhmu telah dibersihkan oleh guruku !"

Hong Kun heran, ia berpikir keras. Bukankah mereka berdua pihak tidak mengenal satu dengan lain dan tanpa budi juga, bahkan bertemunya baru kali ini ? Kenpa orang sudah lantas membantu, membebaskannya dari sisa racun ?

"Siapakah guru kalian itu, Nona In ?" tanyanya kemudian. "Aku telah ditolongi, ingin aku menemuinya guna menghaturkan terima kasih "

Si nona melirik.

"Nama guruku itu, sudah aku beritahukan !" sahutnya. "Coba kau ingat-ingat, akan kau ketahuinya. Sebentar, habis kau berlatih dengan kakakku ini, baru kau menemui guru kami."

It Hiong palsu heran sekali. Tak dapat ia menerka maksud orang ! Kenapa dia seperti dipaksa untuk main-main dengan Bu Pa ? Tapi ia lekas mengambil keputusan. Ia memberi hormat dan berkata : "Baiklah, aku yang muda akan menerima perintah. Silahkan saudara Bu Pa maju !'

Lantas pemuda itu lompat keluar dari dalam rimba akan pergi ke tanah datar itu. Bu Pa menyambut dan terus menyusul. Ia tahu, pertandingan ini akan menentukan soal cinta kasihnya dengan In Go.

Lantas keduanya berhadapan. Lantas mereka mulai bertempur. Di sisi mereka, In Go berdiri menonton. Hatinya puas.

Bu Pa bersilat dengan ilmu Ngo Heng Ciang ajaran gurunya Gwa To Sin Mo dan Hong Kun dengan ilmu Tauwlo-ciang dari Im Ciu It Mo. Ia tidak menggunakan ilmu pedang Heng San Pay. Hanya menggunakan Tauwlo-ciang, ia kurang kemahiran. Tidak demikian dengan Bu Pa. Sebaliknya, sebagai murid Heng San Pay, ia memiliki kelincahan dan telah berpengalaman. Hingga ia menjadi menang unggul.

Bu Pa ingin merebut kemenangan. Ia berkelahi dengan keras. Karenanya, Hong Kun melayani dia dengan kecerdikan.

Namanya berlatih tetapi sebenarnya itulah pertempuran mati atau hidup, hingga kesudahannya terjadilah pertandingan diantara ilmu Ngo Heng Ciang dari Gwa To Sin Mo melawan Tauwlo-ciang dari Im Ciu It Mo merangkap Keng Sin Kang, ilmu ringan tubuh Heng San Pay. Di bawah sinar rembulan, bayang kedua orang bergerak-gerak luar biasa cepat dan anginnya bersiur-siur. Menarik hati untuk ditonton.

Sejak dia muncul dalam dunia Kang Ouw, baru kali ini In  Go menyaksikan pertempuran demikian hebat. Sudah matanya berkunang-kunang dan hatinya pun berdebaran, dan beberapa kali dia hampir menjerit kaget disebabkan menyaksikan pukulan-pukulan yang membahayakan. Sekarang ia menjadi bersangsi, siapa yang ia harapkan akan menang......... Di atas batu, Gwa To Sin Mo terus duduk beristirahat. Dia juga kena terganggu suara berisiknya pertempuran. Sang angin pun membuat dedaunan rontok yang pada terbang berhamburan. Saking tak dapat menguasai diri lagi, ia membuka matanya, hingga ia pun menyaksikan pertempuran itu. Sendirinya ia bertindak maju, akan mencari tahu siapa yang lagi bertarung itu.

Pertarungan berlangsung terus. Kedua pemuda sekarang mempunyai pikirannya sendiri-sendiri. Bu Pa hendak merebut kemenangan guna merebut sekalian cinta adik seperguruannya. Dan Hong Kun mau melindungi nama baik perguruannya.

Lama-lama Bu Pa menjadi penasaran. Ia ingin sekali menang. Maka itu ia lantas ingat senjata rahasianya, jarum beracun. Di lain pihak, Hong Kun juga ingat ilmu pedangnya hingga ia berpikir buat apa ia membuat pertempuran bertele- tele.......

Hanya di dalam keadaan mendesak itu, belum ada kesempatannya akan kedua belah pihak mewujudkan apa yang mereka masing-masing pikir. Mereka lagi repot dengan pelbagai penyerangan dan penangkisan, sebab siapa ayal atau lalai, dia akan bercelaka......

Sementara itu, perlahan-lahan keduanya mulai merasa letih. Mereka telah menguras tenaga mereka. Lantas juga dahi mereka mengeluarkan peluh dan nafas mereka mulai terengah.

In Go melihat dan memperhatikan, baru sekarang timbul rasa cemasnya. Ia tidak menyangka bahwa orang berlatih sedemikian rupa. Sekarang ia merasa menyesal yang tadi ia tidak memikir lebih jauh. Gwa To Sin Mo mengawasi tajam. Ia melihat bahwa tenaganya kedua orang itu bakal lekas habis. Itu berarti, dua- duanya mereka akan bercelaka bersama. Tentu sekali ia menyayangi muridnya, yang ia telah didik bertahun-tahun dan tak sudi ia si murid mati konyol. Siapa nanti mewarisi kepandaiannya ? Di lain pihak lagi, ia tertarik kepandaiannya Hong Kun dan menyayangi kepandaiannya anak muda itu.

Bahkan ia memikir juga akan membersihkan racun dari tubuhnya anak muda itu.......

Adalah luar biasa yang Sin Mo dapat berpikir demikian.

Pertanda dari munculnya liangsim, kesadaran hati nuraninya sebagai manusia sejati. Sedangkan tadi-tadinya dialah si Bajingan kejam tak kenal perikemanusiaan........

Selagi pertempuran berlangsung terus, nafasnya kedua orang itu bekerja makin keras. Dari hanya terengah-engah, nafas mereka itu mulai memburu.

Tepat disaat genting itu, mendadak Gwa To Sin Mo memperdengarkan seruan geledeknya : "Tahan !" Maka berkumandanglah gemuruh suaranya itu hingga burung- burung kaget dan beterbangan sambil bercowetan berisik !

Perintah itu ditaati kedua orang yang lagi mengadu jiwa itu, keduanya terperanjat dan berlompat mundur masing-masing. Tubuh mereka terus terhuyung-huyung, akan akhirnya sama- sama jatuh terduduk. Nafas mereka mendesak.

"Lekas tolong mereka !" Sin Mo menitahkan In Go kepada siapa ia memberikan dua butir obat pulungnya Kiu Coan Siok Beng Hoan Hun Tan, atas mana si murid wanita lantas bekerja dengan cepat. Dia menjejalkan masing-masing mereka itu sebutir pil seraya terus memesan mereka untuk beristirahat. "Kenapa mereka bertempur ?" tanya Sin Mo kepada In Go sesudah ia mengawasi muridnya itu.

Sang murid tidak menjawab, sebaliknya dia menangis. Baru saja dia berhasil menenangkan diri atau datanglah pertanyaan sulit itu. Dasar dia manja, lantas dia melempar diri jatuh dalam rangkulan gurunya sambil terus menangis sedu sedan........

Si Bajingan tua heran. Tak tahu dia sebabnya kesedihannya muridnya itu. Ia mengelus-elus rambut hitam indah si murid, sikapnya sangat menyayangi.

"Anak Go," katanya sabar. "kau bicaralah ! Kenapa mereka itu bertempur ?"

Akhirnya In Go mengangkat mukanya, mengawasi sang guru hingga tampak air matanya masih berlinang-linang dan kedua belah pipinya pun berpetah dengan air suci murni itu.

"Semua ini karena salahnya muridmu, suhu," sahutnya kemudian berterus terang. "Akulah yang minta kakak Bu Pa dan Tio It Hiong bertanding untuk mereka melatih diri, lalu kejadiannya diluar dugaanku, mereka bertempur mati- matian. "

"Hm !" bersuara si guru. "Itukah namanya berlatih ?" In Go mengangguk.

"Begitulah keinginanku semula," katanya. "Mulanya telah dijanjikan sampai pada batas saling towel saja "

"Kemudian nyatanya mereka mengingkari janji, bukan ?" "Entahlah, hal itu aku tidak tahu."

Gwa To Sin Mo lantas menunjuki tampang gusar. "Nampaknya inilah gara-garamu, anak nakal !" katanya

nyaring. "Bagus benar perbuatanmu ini! Lekas kau bicara terus terang ! Atau. "

In Go takut sekali menyaksikan gurunya itu gusar, maka itu dengan terpaksa ia menuturkan sebab musababnya pertempuran itu, pertandingan dengan sifat menguji kepandaian tetapi berakhiran dengan pertempuran sungguh- sungguh. Katanya, ia baru mau menikah dengan kakak seperguruan kalau kakak itu menang dari Tio It Hiong.....

Mendengar keterangan itu, di dalam hati, Sin Mo berduka berbareng mau tertawa. Ia mengerti yang murid manja ini telah terbangun hati kedewasaannya hingga ia mulai mengenal asmara. Anehnya si murid dapat berpikir mengadu kedua pemuda itu.

Lantas Sin Mo mengusut-usut janggut kambingnya, dia tertawa. "Jika kakakmu itu tak dapat mengalahkan lawannya, habis bagaimana ?" tanyanya.

In Go berbangkit bangun, dengan sapu tangannya ia menyusut air mata.

"Muridmu tidak mau menikah, suhu !" sahunya. "Kakak tidak mau menikah juga ! Kami...... kami berdua. kami mau

mensucikan diri saja !"

Gwa To Sin Mo tertawa bergelak. "Budak tolol !" katanya. "Pernahkah kau membayangi bagaimana penderitaannya hidup mensucikan diri akan setiap waktu duduk bersila saja ? Itulah artinya kesepian "

In Go membuka lebar matanya menatap gurunya itu. Ia menggeleng kepala.

"Muridmu tak memikir sampai kesitu, suhu." bilangnya. "Asal kakak tak dapat melawan Tio It Hiong, kami tidak bakal menikah. Demikianlah janji kami !"

Sin Mo heran hingga dia melengak. Dia menatap muridnya itu.

"Tahukah kau jelas siapa Tio It Hiong itu ?" tanyanya. "Tahukah kau siapa gurunya dan bagaimana lihainya guru itu

? Tahukah kau bagaimana Tio It Hiong dengan sebatang pedang Ken Hong Kiam sudah mengangkat nama dengan menggetarkan dunia sungai telaga atau rimba persilatan ?"

Sang murid berdiam saja.

"Tentang kakakmu ini," tambahnya, "dia telah mewariskan seluruhnya ilmu Ngo Hong Ciang dari gurumu ini. Begitu pun tenaga dalamnya serta ilmunya menggunakan senjata rahasi beracun sudah sempurna. Walaupun demikian, dia masih ada kekurangannya yaitu pengalaman dalam dunia sungai telaga."

"Jika demikian, suhu, kakak tentu akan berhasil mengalahkan Tio It Hiong ?" si murid menanya menegaskan.

Sang guru bersenyum.

"Kau bicara enak saja, budak !" katanya tertawa. In Go heran.

"Suhu," tanyanya "tolong suhu jelaskan bagaimanakah kepandaiannya kakak dibanding dengan kepandaian Tio It Hiong ?"

"Ilmu silat kakakmu terang bagaikan cahaya kunang- kunang !" sahut guru itu tawar. "Dan ilmu silatnya Tio It Hiong seperti sinarnya si puteri malam !"

In Go mengira gurunya bergurau.

"Tak kupercaya, suhu !" katanya. "Kenapakah mereka berbeda demikian jauh ? Namanya Tek Cio Siangjin serta nama suhu dalam dunia Kang Ouw tak dapat ditetapkan siapa lebih atas dan siapa lebih bawah. Maka itu mana mungkin murid-murid mereka dapat dibandingkan dengan sinar kunang-kunang dan sinar rembulan ?"

Goa To Sin Mo menghela nafas perlahan.

"Perbedaan ilmu silat mereka itu berdua bukan perbedaan disebabkan guru mereka masing-masing." jelasnya kemudian. "Seperti tadi aku bilang, Tio It Hiong telah dapat mengangkat namanya itu disebabkan terutama karena peruntungannya yang bagus  sekali.  Karena  pengalamannya  yang  luar biasa. "

In Go melengak hingga ia berdiam saja.

"Tentang pengalamannya It Hiong itu, gurumu tidak tahu jelas." Sin Mo menambahkan. "yang pasti ialah, saban suatu penemuan, kepandaiannya lantas bertambah maju !"

In Go bertambah heran. Dia mengangkat mukanya. "Suhu, tolong kau jelaskan lebih jauh !" pintanya. "Apakah penemuannya Tio It Hiong yang luar biasa itu ?"

"Di masa kecilnya dia telah makan darahnya belut emas." berkata sang guru dengan keterangannya. "Darah itu telah menambah kekuatan darah dan tenaganya hingga dia menjadi ulet luar biasa. Sudah begitu, selama di jurang Ay Lao San dia telah menemui sebuah gua di dalam tanah dimana terdapat pelajaran rahasia Gie Kiam Sut ilmu pedang terbang melayang. Kedua penemuan itu saja sudah menjadi penemuan-penemuan yang langka selama seratus tahun yang paling belakangan ini !"

"Itulah baru ceritera burung, suhu. Itu tak dapat dipercaya seluruhnya." kata In Go tertawa. "Dalam dunia Kang Ouw biasa terjadi orang mengangkat-angkat dan lalu orang turut- turutan seperti orang latah !'

Sin Mo terdiam. Kata-kata si murid memang benar. "Kau benar juga, muridku." katanya mengangguk.

"Mendengar tak sama seperti melihat dengan mata sendiri. Benar It Hiong menemukan pelbagai pengalaman, tetapi semua itu pun masih membutuhkan pengalaman untuk mencapai batas kemahirannya. "

Mendadak terbangunlah semangat harga diri Gwa To Sin Mo hingga kepercayaannya atas kegagahannya Tio It Hiong seperti ia sering dengar menjadi goyah. Bahkan melebih dari pada itu, timbullah keinginannya akan mengadu Bu Pa dengan It Hiong, guna memperoleh kepastian........

In Go mengawasi gurunya, hatinya puas. Guru itu telah kena terpengaruhkan kata-katanya itu. "Tetapi suhu," katanya kemudian. "Bukankah bukti telah ada di depan mata ? Bukankah kakak Bu Pa dan Tio It Hiong sama tangguhnya ?" Dan dia menunjuk pada kedua anak muda yang masih berduduk mengistirahatkan diri masing- masing.

Gwa To Sin Mo menggeleng kepala.

"Muridku," katanya pada muridnya itu, "apakah sampai sekarang kau masih tetap menyangka dialah Tio It Hiong adanya ?"

Si nona merapatkan alis.

"Jadi dia bukannya ?" ia balik bertanya. "Padaku ia telah menjelaskan yang dia adalah Tio It Hiong !'

"Melihat dari jalan ilmu silatnya, dia bukanlah asal Pay In Nia." Sin Mo berkata. "Karena itu aku percaya mungkin dia bukanlah Tio It Hiong!"

In Go bingung.

"Habis dia siapakah ?" tanyanya cepat.

Sang guru berpikir, kemudian katanya : "Barusan dia menggunakan ilmu silat Tauwlo-ciang, karenanya dia mesti muridnya Im Ciu It Mo. Hanya ilmu ringan tubuhnya, itulah ilmu ringan tubuh dari si imam tua It Yap dari Heng San Pay ! Dia pula membawa-bawa pedang di punggungnya."

Tiba-tiba Sin Mo bagaikan terasadar, hingga dia membuka lebar matanya. "Bukankah dia pernah mengatakan dia bernama Gak Hong Kun ?" katanya kemudian. "Nah, itulah namanya murid dari It Yap Tojin !'

In Go membuka matanya lebar-lebar.

"Jika dia bukannya Tio It Hiong dari Pay In Nia," katanya, kecele, "kakak Bu Pa telah menempur dia sekian lama, bukankah itu sia-sia belaka ?"

Nona ini tetap masih bersangsi atau menyayangi sesuatu. Ia masih memberati Hong Kun walaupun telah ada janjinya dengan Bu Pa. Sedangkan gurunya tidak saja menyetujui dia menikah dengan Bu Pa bahkan menganjurkannya. Sekarang si guru melihat wajah murid perempuan itu, ia menerka yang murid itu pasti menghendaki ada pertempuran yang memutuskan kalah menang diantara Bu Pa dan Hong Kun.

Kedua anak muda itu sudah seri, tidaklah In Go merasa puas ?

Akhirnya Sin Mo tertawa dan berkata : "Sekalipun benar orang ini Gak Hong Kun adanya, ilmu silatnya sudah mahir sekali dan menyamakan separuh dari kepandaian Tio It Hiong

! Anak Bu Pa telah bertempur seri dengannya, itulah bagus sekali. Maka itu anak, kalau kalian kakak beradik seperguruan menjadi sepasang suami isteri, sungguh setimpal ! Kau tidak terhina, anak !"

Tapi In Go masih bertanya : "Suhu, mana dapat Gak Hong Kun dipadu dengan Tio It Hiong ?"

"It Yap Tojin dari Heng San menjadi salah satu dari Sam Kie, tiga orang gagah luar biasa dari jaman ini." kata Sin Mo. "Dalam hal ilmu pedang dan ringan tubuh, dialah terhitung orang yang langka. Gak Hong Kun dididik oleh guru rahib itu, ia pasti lihai. Kabarnya Hong Kun dan It Hiong pernah bertarung di Heng San dan ketika itu mereka sama tangguhnya. "

In Go mengawasi gurunya, dia menunjuki sikap manjanya. "Sekarang begini saja, suhu !" demikian katanya. "Sekarang

tolong suhu cari tahu, dia itu sebenarnya siapakah."

Nona ini menganggap, kalau demikian, tiga orang itu --Bu Pa dan Hong Kun serta It Hiong -- kepandaiannya berimbang satu dengan lain. Dengan demikian, cintanya terhadap kakak seperguruan makin kuat. Hanya karena biasa manja, dia selalu hendak membawa kebiasaannya itu.

Gwa To Sin Mo tahu tabiatnya si murid, maka dia kata : "Begini ! Sekarang di depanku, kau harus berjanji yang kau bersedia sehidup semati sampai di hari tua bersama-sama kakakmu, Bu Pa. Tentang keinginanmu, akan aku membuat puas kau."

Walaupun dengan likat, In Go memberikan jawabannya : "Janjiku dengan kakak Bu Pa bukan janji main-main, suhu ! Kalau suhu mengatakan demikian, baiklah aku menerima kata- kata suhu !"

Senang Sin Mo memperoleh jawaban muridnya, dia tertawa bergelak.

Ketika itu, sang waktu telah berjalan terus. Tanpa terasa, sang fajar pun tiba. Justru begitu, satu bayangan orang berkelebat mendatangi lantas tampak tibanya diantara guru dan murid itu.

"Oh, tosuhu Peng Mo !" seru Sin Mo yang segera mengenali si nikouw setengah tua. "Selamat bertemu ! Selamat bertemu ! Aku merasa beruntung sekali !"

"Selamat berjumpa !" menjawab si pendeta wanita. "Kiranya kau belum pulang, Toheng !"

Berkata begitu, nikouw ini melirik kelilingan.

Tak puas In Go mendengar suara orang yang ia rasa takabur. Orang toh bicara dengan gurunya yang ia pandang tinggi. Maka itu, ia mendahului gurunya menyahut dengan kata-katanya ini : "Eh, nikouw, apakah kau kira kau dapat mencampuri urusan kami disini ?"

Sepasang alisnya si pendeta wanita terbangun. "Selagi orang tua bicara, mana ada tempatmu untuk

campur bicara, budak !" bentaknya. "Sungguh tidak tahu adat

!"

Habis menegur itu, si Bajingan Es terus bertindak ke arah Hong Kun dan Bu Pa.

Melihat demikian, In Go lompat mencelat. Segera dia menghadang.

"Kau hendak berbuat apa ?" tegurnya keras.

Peng Mo tidak menjawab hanya sebelah tangannya dikibaskan !

Nona In berlaku celi dan gesit, belum lagi tangan si Bajingan tiba, ia sudah lompat berkelit. Hanya sembari mengegos tubuhnya ke samping, sebelah kakinya diluncurkan kepada penyerangnya itu !

Itulah tendangan "Kaki Di dalam Sarung".

Peng Mo terkejut. Ia pun menjadi mendongkol sekali karena berpikir kenapa seorang nona berhati demikian kejam. Maka itu habis berkelit, dia maju dengan pesat seraya menjambak tangan kanannya dengan jurus "Tangan menangkap mega" jurus "Sekalian Menuntun Kambing".

In Go sangat cerdik. Dengan cepat ia menarik pulang kaki kanannya itu, untuk seterusnya menaruhnya ditanah. Kaki kirinya meneruskan menendang pula. Seba ia sudah lantas menggunakan jurus silat "Lian-hoan Wan-joh Twie" kaki berantai Burung Mandarin yang semuanya terdiri dari delapan belas jurus. Maka menyusuli kaki kirinya ini yang lolos, lantas saja bergantian kedua kakinya menendang dan medepak terus menerus !

Peng Mo menjadi repot. Dia kagum berbareng bergusar. Si nona dianggapnya terlalu. Terpaksa dia main mundur, hingga kesudahannya dia berkelit enam atau tujuh tindak. Beberapa kali dia terancam kakinya nona itu.

In Go puas dapat membuat si Bajingan Es terdesak demikian rupa. Dimata umum, dia memang menang desak. Setelah desakannya itu, selagi lawan mundur dia berhenti menyerang. Lalu sembari berdiri diam, dia tertawa dan menanya separuh mengejek : "Nah, bagaimana kau lihat ilmu kakiku ? Dapatkah kau membalas mendesak aku, nikouw ?"

Hatinya Peng Mo panas bukan kepalang. Sebenarnya dia masih memandang mata pada Gwa To Sin Mo dan selalu mengalah, karena mana ia menjadi terdesak. Sekarang orang mengejeknya !

"Budak, jangan takabur !" bentaknya dingin. "Aku hanya memandang gurumu dan aku mengalah ! Hati-hatilah jika kau masih tidak tahu selatan ! Nanti pin-ni menjadi tidak berlaku sungkan lagi !"

Berkata begitu, si Bajingan Es terus melirik Gwa To Sin Mo, si Bajingan Sakti.

In Go tak berpengalaman, dia pun sangat besar kepala dan suka menang sendiri. Mendengar suara orang itu, dia tertawa.

"Hm !" ejeknya pula. "Sudah tidak sanggup melawan, kau menempel emas pada mukamu ! Sungguh manis kata-katamu itu ! Sekarang baiklah, jangan kau main berkelit dan mundur saja. Mari rasai kakiku !"

In Go menyerang pula. Dia tak jeri emang sedikit, dia sangat mengandali gurunya, yang masih berdiam saja.

Dalam panasnya hati, Peng Mo tetap masih memandang Sin Mo. Maka itu, ketika ia ditendang pula itu, walaupun ia melawan, ia tidak mau berlaku kejam. Mulanya ia menolak dengan kedua tangannya. Ketika tendangan datang, ia lekas- lekas menarik pulang kedua tangannya itu untuk berkelit.

Karena ini, lantas juga ia terdesak pula. Si nona kembali merangsak tak hentinya. Kedua kakinya naik dan turun dengan cepat dan secara membahayakan lawan. Sebenarnya ia tahu dua jurus jurus silat guna memecahkan Wan Yoh Twie itu tetapi tak mau ia segera menggunakannya. Di lain pihak, ia melayani dengan "Hong Pa Louw Hoa", Angin Mengombak Bunga Gelaga. In Go mendapat hati, dia mendesak terus. Hal ini membuat Peng Mo mendongkol sekali. Terpaksa, ia terpaksa menggunakan dua jurus jurus silatnya itu. Mulanya dengan tangan kanan ia menangkis dengan jurus "Sebelah Tangan Mengalingi Langit" terus dengan tangan kirinya ia menggunakan jurus "Sebuah Jeriji Suci". Sebenarnya dengan tangan kiri ini ia mesti menotok sambil menekan, tetapi karena ia ingat Sin Mo, ia tidak menotok hanya menggunakan saja tangan terbuka akan menyentuh paha si nona, sedangkan sasarannya totokan ialah anggota rahasia ! Maka seranganya itu sendirinya berbalik menjadi jurus "Menyingkap Mega Mengintai Rembulan". Serangan cuma menyentuh tidak lebih.

Baru sekarang In Go kaget sekali berbareng malu bukan main sebab pahanya kena tersentuh walaupun penyentuhnya bukan laki-laki hanya wanita bahkan seorang nikouw, jantungnya jadi memukul keras dan muka dan telinganya menjadi merah. Dengan kelabakan dia mundur dengan lompatan mengapungi diri "Yauw Co Hoan Sin"-- Burung Eng berjumpalitan.

"Cis, tak tahu malu !" dia menegur si nikouw selekasnya dia menaruh kaki dengan tegak di atas tanah. Jengah dan bergusar berbareng. Matanya mendelik terhadap si lawan, mulutnya pun berludah.

Peng Mo pun rada jengah, selagi si nona berlompat ia juga mundur. Ia tidak melayani si nona, hanya ia menoleh dengan mata tajam terhadap Sin Mo.

Gwa To Sin Mo memperlihatkan tampang sungguh-sungguh hingga ia nampaknya keren sekali.

"Budak tak tahu maju dan mundur !" ia membentak muridnya. "Masih kau tidak mau menghaturkan terima kasih kepada Peng Mo Su-thay yang berlaku murah hati terhadapmu

!"

"Sudah Toheng, cukup !" kata Peng Mo pada Sin Mo. "Sebenarnya pinni hanya ingin ketahui siapa kedua orang yang lagi beristirahat itu."

Dan ia bertinak pula perlahan-lahan ke arah Bu Pa dan Hong Kun.

In Go masih tetap likat. Ia heran atas sikap gurunya itu. Ia merasa ia belum roboh. Ia mundur sebab ia malu. Kenapa gurunya justru menyuruh ia mengucap terima kasih ?

Kapannya si nikouw berbuat baik terhadapnya ? Walaupun demikian, ia tidak berani meminta keterangan pada gurunya itu. Karena gurunya diam saja, ia pun tidak dapat mencegah Peng Mo menghampiri kedua anak muda itu.

Sin Mo dan muridnya saling mengawasi sekejap, lantas ia batuk-batuk dan mengangkat mukanya menengadah langit.

Peng Mo mengawasi kedua anak muda. Melihat Bu Pa, ia mengenali muridnya Sin Mo. Mengawasi Hong Kun, ia heran sekali. Ia mengawasi dengan tajam, otaknya bekerja. Itulah si pemuda melihat siapa hatinya goncang, semangatnya terbang........

Selama di Ngo Tay San, Peng Mo telah melihat dua-dua It Hiong dan Hong Kun dan mengenali mereka berdua. Hanya melihat orang yang digilai itu, ia sampai tak dapat membedakan It Hiong dari Hong Kun atau sebaliknya. Ia percaya Hong Kun ini ialah It Hiong.

Kemudian Peng Mo ingat juga peristiwa di puncak Hek Sek San. Di sana It Hiong ada bersama Kiauw In dan Ya Bie bertiga. Dari puncak itu ia berlalu terlebih dahulu. Di sana ia bisa lolos dari pelbagai pesawat rahasianya Im Ciu It Mo. Ia tiba di kaki gunung dengan selamat. Hanya tiba di rimba sang malam telah larut. Selama itu, ia mesti mencari tempat untuk beristirahat. Apa mau, ia justru mendengar suara orang bicara berisik dan bertempur. Ia heran, ingin ia mendapat tahu.

Dengan mengikuti suara angin, dari mana suara itu datangnya, ia sampai tepat di saat Bu Pa dan Hong Kun mencapai saat yang membahayakan mereka berdua. Ia pun melihat Sin Mo dna muridnya menonton pertempuran itu.

Saking tertarik hati, Sin Mo dan In Go tidak ketahui tibanya itu.

Waktu pertempuran berhenti, Peng Mo memikir buat melanjutkan perjalanannya atau tiba-tiba ia mendengar pembicaraan di antara SinMo dan In Go yang menyebut- nyebut halnya It Hiong tulen dan palsu hingga ia menjadi tertarik hati dan terus memasang telinga. Di dalam hatinya, tak mungkin It Hiong berada di tempat itu. It Hiong ada bersama Ya Bie dan Kiauw In, tetapi ia ingin memperoleh kepastian. Maka diakhirnya ia muncul di depannya In Go dan Sin Mo, hingga terjadilah ia mesti melayani nona manja dan takabur itu.

Sesudah berdiri menjublak sekian lama, Peng Mo berpikir. Perlu ia mendapatkan Hong Kun atau It Hiong palsu ini. Hanya di saat itu, ia masih tetap ragu-ragu.

Justru itu, Sin Mo dan In Go bertindak menghampiri buat melihat keadaannya kedua pemuda sesudah mereka itu beristirahat habis bertempur hebat itu.

In Go sangat prihatin terhadap kakak seperguruannya, ia lantas meletakkan tangannya di jalan darah cie-tong dari kakak itu untuk menyalurkan tenaga dalamnya guna membantu si kakak pulih kesegarannya.

Gwa To Sin Mo sebaliknya kata pada Peng Mo seraya ia menunjuk pada Hong Kun : "Kalau orang ini sahabatmu, suthay, silahkan kau membantunya agar dia pulih kesehatannya. Su thay bersediakah ?"

Peng Mo tertawa. Itulah pertanyaan yang dia harap-harap. Tadinya ia masih memikir-mikir bagaimana ia harus membuka mulutnya.

"Memang pinni tengah memikir. " sahutnya.

Tiba-tiba Sin Mo ingat sesuatu.

"Su-thay," tanyanya mendadak. "Su-thay, sahabatmu ini orang she dan nama apakah ? Dan dia murid siapakah ?"

"Lain hari kau akan ketahu itu, Toheng." sahut si nikouw sambil menekan jalan darah Hong Kun. Sebenarnya ia masih ragu-ragu, orang itu It Hiong atau Hong Kun....

Sin Mo melihat Peng Mo menotok jalan darah hek-tiam. Ia menerka orang bermaksud tidak baik, tetapi karena itulah totokon minta jiwa ia berlagak tidak tahu apa-apa. Ia bahkan tertawa dan berkata pula : "Kalau su-thay mau membawa pulang dia untuk diobati di rumah, itulah terlebih baik lagi.

Lohu sendiri hendak lekas-lekas pulang ke Tiam Chong San !"

Kembali Peng Mo merasa girang. Tepat kata-katanya Sin Mo untuknya. Lantas ia merapatkan kedua tangannya, sembari memberi hormatdan bersenyum, ia mengucapkan : "Terima kasih Toheng ! Di sini saja aku pamitan !" Dan lantas ia mengangkat tubuhnya Hong Kun buat di bawa ke pinggangnya guna dikempit. Setelah mana dia mengangkat kaki memutar tubuh dan berangkat pergi !

Mendadak Sin Mo batuk-batuk seraya terus berkata : "Su- thay, tunggu !"

Peng Mo mendengar, segera ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia merasa tak tentram karena khawatir si Bajingan Sakti nanti main gila terhadapnya.

"Ada pengajaran apa pula, Toheng ?" tanyanya ramah.

Sin Mo tertawa dan kata : "Orang itu telah terkena racun yang masih mengeram di dalam tubuhnya hingga ingatannya masih sedikit terganggu. Sebenarnya perbuatan siapakah itu

?"

Peng Mo terkejut. Ia berkesan orang mencurigainya. Ia pula tidak tahu pasti, si Bajingan Sakti tengah mempermainkannya atau tidak.

"Benarkah itu ?" tanyanya sembari memaksa diri bersenyum, supaya tampaknya dia tenang-tenang saja.

Sin Mo membuat main janggut kambingnya. Jawab dia tenang tentram : "Orang yang menggunakan racun itu, dia belum pandai benar. Dan racunnya juga bukan racun istimewa

! Hahaha ! Dia bertemu dengan aku si orang tua, itu artinya dia sedang apes !'

Peng Mo berpura tertawa.

"Kalau begitu Toheng, kau telah mengobati membuat dia bebas dari racun ?" katanya. "Benar !" kata Sin Mo. "Karena itu, su-thay aku menghendaki su-thay menyampaikan kata-kataku pada dia itu

!"

Peng Mo mengawasi, ia tertawa pula.

"Bukankah Toheng ingin aku berkatai dia supaya dia menghaturkan terima kasih kepada Toheng karena budi Toheng menyingkirkan racun itu ?"

Sin Mo tertawa bergelak.

"Jika demikian, itu berarti suthay tidak memandang mata terhadapku ! Menyingkirkan racun adalah urusan kecil, tentang itu tak usah dibuat pikiran lagi !'

Peng Mo heran hingga dia melengak sejenak.

"Sebenarnya Toheng, apakah maksud Toheng ?" tanyanya. "Silahkan bicara !"

Sin Mo bersenyum. Ia dapat menerka sebabnya kenapa si Bajingan Es mau membawa pergi pemuda itu. Ia ketahui lakon atau kegemarannya Nikouw ini. Sebenarnya dia bahkan cabul. Maka ia lantas menatap muka orang.

"Sebelumnya aku menyebutnya," katanya sabar, "aku suka minta apalah su-thay memaafkan dahulu. Bicara sejujurnya tetapi itu dapat dipandang sebagai kelakuan tidak hormat.

Itulah tidak kukehendaki. Pula bagi kaum beragama, itu hanya mengotori saja telinga !"

Peng Mo berpaling. Likat ia akan mengadu sinar mata dengan si Bajingan Sakti. Tapi ia menjawab. "Jangan sungkan, Toheng ! Apakah itu ? Silahkan Toheng sebutkan !"

Gwa To Sin Mo berayal sejenak, baru dia berkata : "Pemuda itu telah terkena racun dan aku telah memberikan dia obat guna menyembuhkannya. Walaupun demikian, di dalam tubuhnya sisa racun masih tetap mengeram. Dari itu dia masih memerlukan waktu tiga bulan untuk beristirahat guna menanti sisa racun musnah seluruhnya. Di dalam tiga bulan, pemuda itu tak dapat mendekati paras elok. Nah, suthay. Inilah kata-kataku yang aku ingin disampaikan oleh su-thay kepada si anak muda ! Dapatkah ?"

Sepasang alisnya si nikouw bergerak bangun, wajahnya berubah. Toh tampak tegas bahwa dia kecele. Lantas dia menjawab : "Itulah kata-kata kotor. Maafkan pinni, tidak dapat pinni menyampaikannya !"

Sin Mo tidak menghiraukan keberatan orang. Ia berkata pula sungguh-sungguh : "Inilah soal penting yang menyangkut jiwanya si anak muda, su-thay ! Bukankah dia pun sahabat karibmu ? Kenapa su-thay tidak mau berlaku demikian -- muris akan kata-kata hingga kau tak sudi menyampaikannya ?"

Peng Mo berpikir keras. Lantas ia dapat menerka bahwa Sin Mo sebenarnya sedang menggoda atau mengejeknya. Maka ia mengawasi hutan di depannya itu dengan sinar mata merah tanda dari kegusaran. Ia pun terus berkata : ""Toheng, dengan kata-katamu ini maka teranglah diartikan bahwa tempat ibadatmu telah terjadi peristiwa asmara !"

Sin Mo tertawa lebar, dia tidak menjawab. Peng Mo jeri terhadap orang di depannya ini. Walaupun dia mendongkol dan gusar sekali, ia masih mencoba mengekang diri. Ketika ia bicara pula, lebih dahulu ia menyingkirkan tampang gusarnya. Sebaliknya dia tertawa !

"To-heng, telah lama aku mendengar tentang obatmu istimewa buat memusnahkan racun," demikian katanya. "Maka itu dengan mengandal kulit mukaku yang tipis, ingin aku memohon obatmu yang mustajab itu ! Dapatkah Toheng memberikan obat guna menolong sahabat muda ini?"

Sin Mo menggeleng kepala.

"Barusan telah aku jelaskan yang pemuda ini telah makan obatku !" sahutnya. "Yang utama penting baginya ini ialah dia harus menantang mendekati paras elok ! Nanti, selewatnya tiga bulan, aku si tua akan memberikannya pula obat pemunah racun itu !"

Kembali alisnya si nikouw terbangun.

"Ini artinya, Toheng !" katanya keras. "Selewatnya waktu tiga bulan itu maka anak muda ini harus pergi ke Tiam Chong San kepada Toheng guna meminta obat tersebut ! Benarkah itu ?"

Sin Mo mengangguk. Katanya singkat : "Dia suka pergi atau tidak, terserah padanya. Sekarang pun, andiakata sahabat ini berkeinginan berplesiran, kalau dia mati karenanya, lohu tidak dapat berbuat apa-apa !"

Lantas si Bajingan Sakti memutar tubuhnya buat berjalan menghampiri muridnya. Tetapi ia melangkah ayal-ayalan. Baru beberapa tindak, ia sudah menoleh pula, untuk menambahkan kata-katanya : "Pemuda ini ada perlunya bagiku. Oleh karena itu janganlah karena urusan dia, kita berdua menjadi bentrok

!"

Kembali Peng Mo berpikir keras. Sebelumnya menjawab ia melirik Hong Kun. Tiba-tiba, ia merasa hatinya pepat.

Mengawasi wajah si anak muda, timbul rasa penasaran dan cintanya ! Kemudian ia melirik pada punggungnya Sin Mo, habis mana dengan sekonyong-konyong dia lari keras keluar rimba !

Baru lari sejauh sepuluh tombak lebih, mendadak si Bajingan Es berhenti. Dia lantas meletakkan Hong Kun di atas rumput, di dalam sebuah semak. Setelah itu dia lari kembali ke rimba tadi, tentu saja secara diam-diam guna mengintai Sin Mo. Dia ingin ketahui gerak geriknya itu guru dan murid- muridnya bertiga.

Ketika itu Bu Pa sudah mendapat pulang tenaganya. Ia membuka matanya dan perlahan-lahan bangun berbangkit.

In Go telah menarik pulang tangannya, menghentikan bantuan tenaga dalamnya.

Bu Pa memegang tangan halus adik seperguruan itu. "Kau baik sekali, adik," katanya perlahan. "Kau begini

menyayangi aku, tak nanti aku melupakannya !" In Go mengawasi.

"Kau tak merasa kurang apa-apa lagi, kakak ?" tanyanya.

"Tidak. Kau telah menghamburkan tenaga dalammu, adik. Lihat bagaimana kau letih !" Dan ia mengulur tangannya, akan menyusuti peluh di muka si nona. "Hus !" kata In Go hampir berbisik. "Apakah kau tidak malu

? Lihat, suhu lagi mendatangi. "

Sin Mo sudah lantas tiba di belakang orang. Dia batuk- batuk perlahan.

"Anak Pa, apakah kau terluka di dalam ?" tanyanya prihatin.

Bu Pa menjura.

"Tidak, suhu." sahutnya. "Tenagaku sudah pulih." Tiba-tiba In Go tertawa.

"Kakak berkelahi seperti membabi buta !" katanya. "Aku juga berkelahi serupa dengan si nikouw usilan !"

Berkata sampai disitu, si nona berhenti secara tiba-tiba dan mukanya menjadi merah sendirinya. Itulah karena sekonyong- konyong ia ingat yang Peng Mo telah menggunakan ilmu silat dan pahanya telah disentuh hingga ia merasa malu sendirinya.

"Bagaimana, adik ?" Bu Pa tanya, heran. "Dengan siapakah kau bertempur ? Siapa nikouw yang kau sebut itu ?"

In Go menggigit bibirnya, ia tidak menjawab. Ia hanya mengawasi gurunya.

Sin Mo tertawa dan berkata : "Anak In telah bertempur denan Peng Mo si nikouw, salah seorang dari Hong Gwa Sam Mo. Hampir dia roboh karena ilmu silat Wan Yoh Twie dari adikmu ini!" Bu Pa girang sekali mendengar itu.

"Adik telah maju pesat sekali !" pujinya. "Kelak dikemudian hari, nama In Go pasti akan menggemparkan dunia Kang Ouw

!"

In Go merasa manis sekali, ia sangat girang. Tapi ia kata

:"Sudah kakak, jangan kau memakaikan tudung padaku !" Kemudian ia menoleh pada gurunya terus bertanya : "Suhu, kenapa suhu ijinkan nikouw itu membawa Tio It Hiong pergi ? Menurut penglihatanku, nikouw itu bukannya manusia baik- baik. "

Ditanya muridnya itu, Sin Mo tertawa.

"Kalau Hong Gwa Sin Mo disebut orang baik-baik, maka di dalam dunia rimba persilatan pastilah tidak ada lagi si bangsa busuk !" demikian jawabannya.

Alisnya si nona rapat satu dengan lain.

"Tio It Hiong dilarikan olehnya, mana dia akan selamat. " katanya.

"Di dalam waktu yang singkat, tidak." kata Sin Mo. "Peng Mo tahu akulah ahli ilmu racun. Maka dia tentu akan percaya perkataanku ! Telah aku bilangi dia, di dalam waktu tiba bulan dia mesti pantang paras elok ! Pastilah dia akan berlaku hati- hati !"

"Tapi Gak Hong Kun itu muridnya Im Ciu It Mo. " kata Bu

Pa. "Aku khawatir. " "Oh !" In Go menyela kakak seperguruannya itu. "Kakak menyebut dia Gak Hong Kun ? Jadi dia benar bukannya Tio It Hiong ?"

Sin Mo segera melirik murid laki-lakinya itu. "Kakak," si nona menambahkan, "mengenai

pertempuranmu barusan, aku suka memburaskan segala janji

kita tadi."

"Dalam hal itu, adik, terserah kepada kau !" sahut Bu Pa. "Kalau bicara dari hal cinta, itu memang tak layaknya didapatkan dengan jalan curang !"

In Go puas.

"Kau memang laki-laki sejati !" katanya. "Kakak, aku bersedia membantu kau mencari kepastian tentang pemuda itu !"

Bu Pa lantas menoleh kepada gurunya.

"Suhu," katanya, sambil menjura dalam, "aku mohon petunjuk suhu ! Dapatkah suhu mengijinkan aku berdua adik In Go pergi merantau ?"

"Tentang itu, memang telah aku pikirkan," menjawab sang guru. "Kalian memang mesti belajar kenal dunia guna memperoleh pengalaman. Hanya dalam pada itu harus kalian menghormati aturan perguruan guna menjaga diri, terutama tidak dapat kalian menanam permusuhan ! Kalian boleh pergi, anak-anak. Asal kalian ingat, sebelum tiba saatnya pertemuan Bu Lim Cit Cun kalian mesti lekas-lekas pulang ke In Bu San untuk menemui aku !" Bu Pa bersama In Go lantas menekuk lutut di depan gurunya itu.

"Terima kasih, suhu !" kata mereka. "Akan aku ingat baik- baik pesan suhu !" Lantas mereka berbangkit. "Selamat berpisah, suhu !"

Sin Mo mengangguk.

Bu Pa melihat cuaca. Sang fajar baru tiba. Ia berdiam, agaknya ia bersangsi untuk membuka langkahnya.

In Go menarik ujung baju kakak seperguruan itu. Ia pun menatap.

"Bagaimana, eh ?" tegurnya. "Mari kita berangkat !" "Kita hendak mencari Tio It Hiong. " si kakak kata

separuh berbisik. "Kemanakah arah tujuan kita ?"

In Go pun melengak. Itu memang soal sulit. Tapi ia membuka lebar matanya. Ia berpikir, akan akhirnya berkata : "Mari kita susul Peng Mo si nikouw. Kita kuntit dia, pasti kita akan berhasil. "

Setelah menutup kata-katanya, tak peduli orang masih ragu-ragu atau tidak, si nona sudah lantas menarik tangannya kakak seperguruannya itu. Ia menuju keluar rimba, ke arah yang tadi diambil Peng Mo.

Sin Mo mengawasi kepergiannya kedua muridnya. Ia agak merasa berat, maka juga kemudian ia menarik nafas dalam- dalam dan lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya, ia pun bersiul panjang......... Ketika itu, berbareng dengan cerahnya sang pagi, burung- burung pun berbunyi dan beterbangan........

Sin Mo masih belum berlalu dari rimba ketika ia melihat seseorang muncul dari balik pepohonan lebat dan orang segera berada di hadapannya.

"Selamat pagi, Toheng !" demikian orang itu, suaranya merdu.

Sin Mo melengak mengawasi

"Kau datang pula ?" tegurnya. "Kau hendak mengacau aku

?"

"Hm !" bersuara orang itu yang bukan lain dari pada Peng

Mo. "Toheng, bagus perbuatanmu ! Mana kau melihat mata padaku si nikouw !"

Sin Mo mengawasi. Ia melihat tidak ada Hong Kun bersama nikouw itu.

"Bagaimana, eh ?" tanyanya. "Kau kehilangan laki-laki itu ?

Apakah kau hendak meminta tanggung jawab dari aku ?" Matanya Peng Mo mendelik, dia gusar sekali.

"Itulah urusanku !" bentaknya. "Tak perlu kau usil urusanku itu ! Hanya, kalau kau tahu selatan, harus kau memberi jawaban padaku ! Apakah yang kau perbuat atas dirinya anak muda itu ?"

Sin Mo tertawa lebar. "Obat beracun yang aku buat taruh kata kau beritahukan padamu, itu pun sia-sia belaka. Cuma-cuma mencapekkan lidah !" katanya.

Kembali si nikouw menjadi gusar sekali.

"Kalau demikian !" teriaknya. "Lekas kau keluarkan kay- yohnya !"

Sambil menyebut "kay-yoh" obat pemusnah racun, Peng Mo meluncurkan tangan kanannya lurus ke depan, telapakan tangannya dibalik ke atas ! Itulah caranya kalau dia meminta sesuatu. Itu namanya sikap "Cian Ciu Pian, Perubahan Seribu Tangan". Itu pula gerakan istimewa dari Hong Gwa Sam Mo disaat mereka mengajukan permintaan.

Sin Mo mengawasi. Ia tahu tangan orang itu bukan wajar mau menerima barang saja.

"Lohu tidak mau memberikan kay-yoh !" katanya. "Habis kau mau apa ?"

Peng Mo menjawab dingin : Di Hok Houw Gay ada dua orang bocah yang baru muncul buat belajar merantau ! Kau menghendaki jiwa mereka itu atau tidak ?"

Sin Mo terkejut hingga ia melengak. Dia lantas dapat menerka. Hanya sedetik, segera dia tenang kembali. Maka dia tertawa dingin.

"Bagaikan air yang telah disiramkan atau bunga yang gugur dari tangkainya," kata ia. "Demikian juga seorang atau murid- murid yang baru keluar dari rumah perguruannya ! Urusan mati hidupnya mereka tiu, ada sangkut pautnya apakah dengan aku ?" Di dalam hati, Peng Mo terperanjat. Kiranya ancamannya itu tidak mempan terhadap si Bajingan Sakti. Pancingan tangannya juga telah tidak memberikan hasil. Ia sudah mengulur tangannya itu, maka dapat ia menarik pulang dengan begitu saja sedangkan tangan itu masih kosong hampa ? Untuk menggunakan kekerasan, ia pula bersangsi yang ia nanti dapat menang di atas angin. Tetapi ia tidak mau kalah gertak. Maka berulang kali terdenar suara dinginnya : "Hm ! Hm !" Sambil menggertak gigi, dia kata pula : "Kau majulah ! Kau lihat !" Tangannya itu masih ia tidak mau tarik pulang !

Sin Mo melirik dengan lirikannya yang memandang hina. "Sungguh mulut besar !" katanya dingin. "Baiklah, akan

lohu beri lihat padamu !"

Begitu berkata begitu Sin Mo mengibaskan tangan bajunya hingga tampak tangannya --tangan kanan. Ia terus menyentil dengan jeriji telunjuknya, atas mana tampak sesuatu mirip asap putih keluar dari ujung jari tangannya itu, menghembus ke dalam telapak tangannya si nikouw !

Itulah bukan asap biasa. Itulah asap yang merupakan hawa beracun.

Itu pula Tan Cie Kang-hu, ilmu pukulan sentilan jari tangan yang sengaja si Bajingan Sakti keluarkan guna pertontonkan kepandaiannya sebab si nikouw mau memperlihatkan kepandaian telapan tangannya.

Peng Mo terkejut. Terpaksa, ia mesti menolak hawa jahat itu. Maka juga selekasnya dengan tersipu-sipu ia menarik pulang tangan kanannya itu. Lantas ia meneruskan menolak dengan tangan kiri yang dibantu tangan kanannya itu.

Itulah penolakan kepada hawa beracun. Menolaknya ke samping, sedangkan tubuhnya sendiri mundur dua tindak guna menyingkir dari hawa lihai itu.

Setelah itu, Gwa To Sin Mo berkata dengan keras dengan kata-katanya keluar sepatah demi sepatah : "Aku si orang tua malas melibatkan diri denganmu ! Toasuhu, sampai jumpa pula !'

Sesosok tubuh yang meluncur sebagai bayangan adalah penutup dari kata-kata tawar itu. Itulah Sin Mo yang berlalu dengan pesat sekali, berlalu dari dalam rimba. Suaranya masih mendengung dalam kumandang tetapi orangnya telah lenyap seketika saking dahsyatnya ilmu ringan tubuhnya itu !

Peng Mo melongo. Ia mau minta obat, ia nampak kecewa. Pikirannya bekerja keras sekali sebab ia tidak sanggup segera memperoleh pemecahan. Ia pun ingat kata-katanya Sin Mo tadi selagi ia mengintai. Sin Mo mengatakan Hong Gwa Sam Mo, ketiga Bajingan --ialah ia dan dua saudaranya-- ada orang-orang busuk kaum Bu Lim. Itulah ucapan hebat. Tapi ia toh merasai kebenarannya itu. Sebab mereka bertiga memang bukan orang kaum lurus.

"Benar ! Benar !" kemudian katanya seorang diri. Tanpa merasa ia tertawa sendirinya. Karena tertawa ini, ia jadi ingat Hong Kun. Maka ia kata pula di dalam hatinya : "Aku mesti mencari kepuasan. Kepuasan dari dirinya lain orang ! Aku mesti mendapatkan kesenangan sejati ! Dalam hal itu, aku peduli apa kalau orang mampus habis aku plesiran puas- puasan dengannya ?" Di saat itu, hatinya si Bajingan Es mirip hati kala. Begitu ia mendapat pikiran itu, begitu ia berlompat lari buat kembali ke tempat dimana ia telah menyembunyikan Gak Hong Kun. Tiba di sana, ia melengak. Di luar dugaannya, ia mendapatkan si anak muda lagi duduk bersila, beristirahat sambil mencoba memulihkan tenaga atau kesegarannya.

"Mungkinkah ada orang membebaskan dia dari totokanku

?" Peng Mo menerka-nerka di dalam hatinya. "Benarkah ada orang menolong menyadarkan padanya ?"

Maka ia melihat kelilingan dengan mata dipentang lebar- lebar. Akan tetapi ia tidak melihat siapa juga. Di situ tidak ada orang lainnya walaupun seorang saja !

"Ah, mungkin dia dapat membebaskan diri sebab dia memang pandai " kemudian si Bajingan Es berbalik pikir.

"Mungkin juga tadi aku menotoknya kurang keras sedangkan dia bertenaga dalam tangguh sekali. "

Sambil berpikir itu, Peng Mo bertindak menghampiri Hong Kun hingga ia berada disampingnya si anak muda. Segera ia mengawasi tajam. Bukan main hatinya tergiur. Di matanya, anak muda itu tampan sekali. Ia lantas berduduk disisinya. Lantas ia seperti lupa segala sesuatu yang tadi memenuhi benak otaknya.

"Saudara Tio !" katanya merdu. Ia masih mengira si anak muda It Hiong adanya. "Kau sudah mendusin, saudara ?"

Hong Kun berpaling. Dia mengawasi nikouw itu. Sama sekali dia tidak menjawab. Bahkan habis itu, dia memejamkan kedua matanya. Selama itu, tenaganya telah pulih demikian pun kesegarannya. Maka sambil meram itu dia mengingat- ingat nikouw disisinya ini. Orang berwajah cantik dan menggiurkan. Dia pula ingat yang dia rada-rada mengenalnya. Dia pun menerka-nerka si nikouw orang dari golongan mana.........

Peng Mo tidak dapat membade apa yang di pikiri si anak muda. Ia hanya menyangka mungkin anak muda itu masih menderita racun yang tentunya telah merusak tubuhnya bagian dalam. Maka sendirinya ia merasa sayang........

Nikouw ini juga masih belum dapat membedakan Hong Kun dari It Hiong atau sebaliknya.

Selagi mengawasi si pemuda yang masih terus memejamkan mata, ia mengulur tangannya meraba dada orang. Lalu sembari menatap ia tertawa dan berkata dengan merubah panggilannya: "Oh, kiranya saudara Gak -- Gak Hong Kun !"

Si anak muda membuka matanya.

"Toasuhu, apakah gelaran sucimu ?" demikian tanyanya sambil menatap juga.

Si nikouw tertawa.

"Saudara Gak sangat pelupa !" katanya. "Atau mungkin kau tidak memandang mata pada pinni? Bukankah selama diatas gunung Ngo Tay San kita telah mengikat persahabatan ?"

Nikouw ini mengatakan demikian sebab ia tidak tahu ketika itu Hong Kun tengah dipengaruhi obat Tay-siang Hoan Hun Tan hingga kesadarannya terganggu hingga urat syarafnya sangat lemah. Dia separuh sadar separuh lupa segala apa. "Oh !" kata si anak muda yang tak mau membuka rahasia hal dirinya itu. "Kiranya kita pernah bertemu satu dengan lain

! Aku pelupaan, Toasuhu. Harap kau maklumi aku. Apakah gelaran tosuhu ?"

Peng Mo melirik tajam, sinar matanya galak sekali.

"Nama suci pinni sudah lama tidak pernah digunakan lagi." sahutnya. "Sahabat-sahabat biasa memanggil pinni dengan sebutan Peng Mo saja."

Hong Kun terkejut di dalam hati. Kiranya inilah salah seorang anggauta dari Hong Gwa Sam Mo. Ia memang pernah mendengar tentang ketiga Bajingan itu.

"Oh, maaf, maaf, Toasuhu !" katanya cepat-cepat. "Kiranya Toasuhu Peng Mo !"

Sementara itu Peng Mo setelah meraba dada si anak muda, mendapat kepastian orang tidak terluka di dalam. Hanya ia tidak tahu apa racunnya masih mengeram atau tidak di jalan darah. Ia tertawa manis mendengar kata-kata orang.

"Saudara Gak." katanya. "Selama kau beristirahat barusan, ada apakah yang kau rasai beda dalam tubuhmu ?" Ia bersikap sangat prihatin.

Hong Kun menggoyangi kepala.

"Tidak !" sahutnya. "Terima kasih buat perhatian Toasuhu."

Peng Mo maju lebih dekat, terus ia menggenggam tangan orang. "Bagus !" katanya. "Dengan sesungguhnya kakakmu berkhawatir terhadap dirimu, saudara."

Lekas sekali si nikouw merubah sebutan dirinya dari pinni -- si rahib melarat -- menjadi kakak -- kakak wanita.

Hong Kun sebaliknya berhati-hati. Ia tahu kejahatannya Hong Gwa Sam Mo. Maka ia tidak sudi yang dirinya nanti kena dipengaruhi ketiga Bajingan itu atau oleh si Bajingan Es ini. Ia pula melihat orang bagaimana centil dan ceriwis.

"Apakah katamu, kakak ?" ia tanya. Ia pun lantas merubah panggilan dari Toasuhu menjadi kakak, akan mengikuti cara orang.

Sepasang alis lentik dari Peng Mo terbangun. "Saudara yang baik," dia tanya. "Kau pernah makan

obatnya Gwa To Sin Mo atau tidak ?"

Obat itu dia anggap adalah soal penting.

Mendengar pertanyaan itu, Hong Kun lantas ingat pertempuran dengan Bu Pa. Ketika itu dia merasa dadanya bergolak hingga hampir mau copot. Setelah mana ia telah diberi makan sebutir pil, habis mana, redalah pergolakan itu. Terus ia merasa tenang dan nyaman sedangkan darahnya lantas berjalan dengan lurus.

"Ya, aku telah makan obat." sahutnya. "Tetapi itu bukanlah racun."

Peng Mo tertawa manis. "Kakakmu pun menerka Sin Mo main gila !" katanya. "Dia rupanya sengaja menggertak kakakmu ini ! Tapi bajingan itu pernah berkatai yang kau saudara selewatnya tiga bulan, kau bakal merasai akibatnya dari obatnya itu. "

Mau tidak mau, Hong Kun terkejut juga.

"Benarkah itu, kakak ?" tanyanya. "Habis apa maksudnya maka si Bajingan tua itu meracuni aku ?"

"Itulah karena ilmu silatmu mengatasi banyak lain orang !" kata Peng Mo. "Kau tahu, puterinya si bajingan tua itu menaruh hati padamu !"

Hong Kun berpikir, terus dia menggeleng kepala.

"Tak mungkin keteranganmu ini, kakak !" katanya. "Aku tidak percaya maksudnya si bajingan tua demikian sederhana

!"

Peng Mo mendekati mukanya, akan berbisik di telinga orang.

"Benar, saudaraku. Benar si bajingan yang berkatai aku begitu." demikian bisiknya. "Tapi dia pun memesan aku supaya aku menyampaikan kata-katanya padau. Ialah kapan telah cukup waktunya tiga bulan maka kau harus pergi ke lembah Hok Houw Gay di gunung Tiam Chong San untuk mencari dianya. Itu waktu dia nanti memberikan kau obat pemunah racun. Oleh karena itu saudara yang baik, janganlah kau berkhawatir."

Nikouw ini tidak menyampaikan seluruh pesannya Sin Mo ialah bagian yang Hong Kun dilarang mendekati orang perempuan selama waktu tiga bulan itu. Sebenarnya Hong Kun pernah makan semacam obatnya Gwa To Sin Mo, obat Pian Sim Wan yang bekerjanya lunak. Itulah obat "Mengubah Hati." Biar bagaimana Sin Mo toh orang kaum sesat. Maka itu dia dapat membuat obatnya yang lihai itu. Hanya khasiatnya obat itu bukan buat mencelakai si anak muda. Hanya guna membikin pikirannya berubah supaya dia nanti menurut atau mendengar kata terhadap si Bajingan Sakti.

Hong Kun memikir lain. Benar tak mau ia percaya perkataannya Peng Mo. Tetapi ia anggap berhati-hati tidaklah salah. Maka itu diam-diam ia lantas meluruskan tenaga dalamnya. Ia ingin memperoleh kenyataan kesehatannya terganggu atau tidak. Asal saja ada perasaan tidak lurus.

Kesudahannya, ia merasa tidak ada yang kurang dan kesehatannya sempurna sekali.

Kalau toh ada yang kurang lancar itulah dua jalan darah ni- wan dan cie-hu, tak lebih.

Sementara itu, karena mereka berada sangat dekat satu dengan lain, hidungnya Hong Kun selalu diserbu bau harum dari tubuhnya si pendeta wanita. Hingga hatinya pun turut berdenyutan saja. Sulit buat dia mencoba menenangi hatinya itu.....

Detik-detik yang lewat membuat hatinya Hong Kun makIn Goncang. Hingga akhir-akhirnya tanpa merasa tangannya merangkul pinggang orang yang langsing menyusul mana si nikouw membalas merangkul tubuhnya ! Maka lupalah mereka yang mereka berada di dalam gerombolan rumput dan pepohonan. Cuma hati mereka yang terus memukul dan dada mereka berombak-ombak. Kapan bakal tibanya saat yang paling genting, maka diluar semak terdengar suara panggilan berulang-ulang : "Saudara Tio ! Tio It Hiong ! Sadar ! Sadar !'

Itulah suara seperti suara kekanak-kanakan, tetapi bagi sepasang "bebek mandarin" itu cukup mengejutkan hati mereka. Suara itu mirip suara guntur yang mengagetkan.

"Ada orang !" Hong Kun berbisik seraya ia menolak tubuhnya si nikouw.

"Oh !" seru Peng Mo tertahan dan masih dia memeluki. "Saudara Tio !" kembali terdengar suara orang memanggil.

Suara itu menandakan bahwa orang telah datang semakin dekat dan datangnya dari sebelah kiri.

"Lepaskan tanganmu !" kata Hong Kun. "Jelek kalau orang memergoki kita, malu !"

Peng Mo menjadi tidak puas.

"Peduli apa !" katanya mendongkol. "Cis !" Dan ia merangkul lebih erat bahkan ia terus mencium pipi orang. Baru setelah itu, dia melepaskan rangkulannya.

Hong Kun berlompat bangun akan mengebuti dan merapikan pakaiannya.

Lekas sekali, di depannya pemuda itu muncul seorang bocah usia tiga atau empat belas tahun. Kepalanya besar, mukanya lebar, besar juga mulut dan matanya. Dia berpakaian serba kuning, kuning juga pedangnya yang di gendol di punggungnya. "Kaukah saudara Tio It Hiong ?" tanyanya selekasnya dia melihat Hong Kun.

Hong Kun tertarik gerak gerik bocah itu, yang agaknya rada tolol.

"Siapakah kau ?" tanyanya.

"Aku Tong-hong Liang," bocah itu menjawab, "Kakakku. "

Dengan "kakakku" itu, bocah itu maksudkan cie-cie, kakak wanita. Suaranya itu tertahan karena ia melihat Hong Kun pun mempunyai pedang yang panjang.

"Tong-hong Liang !" kata Hong Kun keras. "Kau mencari orang atau meau menggoda saja ?"

Alisnya bocah ini terbangun.

"Kenapa kau berlaku galak ?" tanyanya. "Kalau bukannya kakakku menyuruh aku mencari Tio It Hiong, perlu apa aku datang kemari !" Ia menatap tajam muka orang, setelah mana ia menambahkan : "Kau bukannya Tio It Hiong ! Aku salah mencari orang !" Dan terus dia memutar tubuh dan bertindak pergi.

"Tahan !" Hong Kun membentak.

"Ada apa ?" tanya bocah itu, yang berhenti bertindak dan terus membalik tubuh.

"Kau kata kau mencari Tio It Hiong !" kata Hong Kun. "Ada urusan apakah ?" "Kau bukannya Tio It Hiong, buat apa aku memberitahukanmu ?" sahut si bocah.

Hong Kun bercuriga karena orang hanya mencari Tio It Hiong. Ia menjadi tertarik hati. Lalu ia tertawa. Sembari tertawa itu, ia kata manis : "Saudara Tonghong Liang, akulah Tio It Hiong ! Ada urusan apa kau mencari aku ?"

Kembali Tonghong Liang menatap, terus dia menggeleng kepala.

"Tak dapat kau memperdayai aku !" bilangnya. Hong Kun tertawa bergelak.

"Saudara Tonghong Liang, siapakah mau menipumu ?" katanya.

Kacung itu lagi-lagi menatap.

"Kau tak miripnya dengan Tio It Hiong !" katanya. "Kau memalsukan diri ! Bukankah itu berarti kau menipuku ?"

Di dalam hati, Hong Kun terkejut. Di luar dugaannya, si bocah dapat mengatakan demikian. Rahasianya telah dibuka ! Tapi ia tak mau menyerahkan kalah dengan begitu saja.

Bahkan mendadak timbul napsunya membinasakan kacung itu. Maka dia tertawa dan menanya : "Kau belum pernah melihat Tio It Hiong, kenapa kau mengatakan aku bukannya dia ?"

Tonghong Liang menunjuk pedang di punggung orang. "Dengan demikian, kau justru bukannya Tio It Hiong !"

sahutnya polos. Hong Kun melengak. Tak dapat ia menerka maksudnya bocah itu. Maka ia memikir-mikir, dalam hal apa ia telah membuka rahasianya sendiri.......

"Saudara Tonghong" katanya kemudian. "Kau masih berusia sangat muda, kenapa kau bicara dengan setengah- setengah ?"

"Hm !" bocah itu memperdengarkan suara tawarnya. Tiba- tiba ia menjadi gusar. "Kau sudah berusia tinggi tetapi kau pun turut bicara ngaco belo !" Ia pun berhenti sebentar akan mengawasi tajam pedang orang, selang sedetik ia menambahkan : "Itu pedang di punggungm ! Pedang apakah itu ?"

Baru sekarang Hong Kun sadar. Kiranya orang mengenalinya dari pedangnya itu. Lantas dia bersenyum.

"Jadi kau maksudkan pedang dipunggungku ini ?" tanyanya.

"Ya ! Pedang apakah itu ?"

"Keng Hong Kiam !" sahut si pemuda setelah berpikir sejenak.

Mendadak Tonghong Liang tertawa nyaring. "Pedang Keng Hong Kiam dari Tio It Hiong berada di

tangannya kakakku !" dia berkata keras. "Hahaha!"

Kembali Hong Kun melengak. Tapi sekarang ia ketahui yang It Hiong telah kehilangan pedang mustikanya itu. Lantas ia mendapat satu pikiran. Maka ia tertawa dan kata memuji : "Saudara Tonghong, kau sangat cerdik ! Memang juga pedangku ini pedang biasa saja ! Dimanakah kakakmu itu ? Bukankah dia memikir hendak mengembalikan pedangku ini ? Benarkah ?"

"Tak demikian mudah !" sahut Tonghong Liang tegas.

Tampangnya sungguh-sungguh.

Gak Hong Kun tertawa.

"Habis, mau apakah kau mencari aku ?" tanyanya. Tetap ia mengaku sebagai It Hiong.

Alisnya bocah itu terbangun.

"Kakakku bilang, kalau orang dapat mengalahkan dia diujung pedang, baru dia suka mengembalikan pedang itu !" sahutnya polos.

"Siapakah kakakmu itu ?" Hong Kun tanya. "Apakah namanya ?"

"Tonghong Kiauw Couw !" sahut si bocah, tegas dan terang.

"Sungguh sebuah nama yang bagus sekali !" Hong Kun memuji, tertawa. "Baik, akan aku cari kakakmu itu buat kita mengadu ilmu pedang !'

Tonghong Liang mencibirkan bibirnya.

"Lebih dahulu kau mesti menempur aku !" katanya, gagah. "Kalau kau menang dari aku, baru kau menempur kakakku ! Masih ada waktunya, belum terlambat !" Justru itu Peng Mo muncul dari dalam ruyuk.

Melihat nikouw itu, Tonghong Liang segera berkata pula : "Kau ada bersama seorang nikouw. Entah apa yang kamu lakukan ! Rupanya kau bukanlah orang baik-baik !"

Mukanya si anak muda menjadi merah dan terasa panas. Segera berpaling kepada nikouw itu dengan mata mendelik, suatu tanda dia gusar dan menyesal orang.

Peng Mo sementara itu sedang mendongkol sekali karena dia beranggapan Tonghong Liang, si bocah, telah mengganggu kesenagannya. Lalu haaw amarahnya meluap setelah mendengar si bocah mencari Tio It Hiong buat diajak bertanding pedang dan selanjutnya mendengar Hong Kun mau pergi mencari Tonghong Kiauw Couw, nona kakaknya si bocah. Mendadak saja ia menjadi iri hati dan jelus. Celakanya, Hong Kun pun pergi dengan memakai namanya It Hiong !

"Hm ! Hm !" dia memperdengarkan suaranya menyaksikan Hong Kun mendelik terhadapnya. "Siapa yang memergoki kami, apa kiranya dia dapat berlalu dengan hidup ? Hm !

Apakah kau takut ?"

"Dengan sekali mencelat, nikouw ini segera tiba di depannya Tonghong Liang.

"Hei makhluk tak tahu selatan !" bentanya. "Kau mencari mampusmu ya ?"

Menyusul bentakannya itu, tangannya si nikouw sudah lantas melayang ke kepalanya si bocah ! Itulah hajaran yang hebat yang dapat merampas jiwa orang ! Tonghong Liang melihat orang menyerang padanya, ia tidak berkelit. Hanya segera ia menghunus pedangnya guna dipakai melindungi dirinya. Dengan satu kelebatan, pedang itu berkilau di depannya menutup dirinya, sinarnya kehijau- hijauan !

Peng Mo terperanjat. Inilah dia tidak sangka. Syukur dia lantas melihat sinar pedang itu. Di dalam kaget, dia berlompat mundur. Dia batal melangsungkan serangannya itu atau lengannya dapat tertebas kutung !

Si kacung berdiri tegak ditempatnya, matanya mengawasi tajam. Melihat orang mundur teratur, dia tertawa bergelak lalu berkata : "Kami dari keluarga Tonghong, pedang kami tak nanti membinasakan orang yang tidak bernama atau berjulukan !"

Peng Mo mengawasi dengan melongo ! Entah kapan disimpannya, tangannya kacung itu tidak lagi mencekal pedangnya. Sebab pedangnya sudah dimasuki pula ke dalam sarungnya. Baru sekarang dia terkejut dan sadar dan juga ingat kiranya bocah itu menggunakan ilmu pedang keluarga Tonghong yang pernah menggetarkan dunia Kang Ouw yaitu ilmu "Hong Eng Tam Hoa -- Bayangan Pelangi Bunga Mega Hitam". Sementara itu dia jengah, dia malu sekali sebab sebagai salah seorang dari Hong Gwa Sam Mo dia jeri terhadap seorang bocah ! Maka itu, tak dapat dia sembarang mundur pula. Malah dia memikir buat membinasakan bocah itu !

"Hm ! Hm !" dia perdengarkan suara dinginnya. "Aku Peng Mo, aku mengalah terhadapmu. Siapa sangka kau justru menjadi berkepala besar ! kau berani main gila terhadapku !"

Tonghong Liang pun tidak senang. "Jika kau tak puas," katanya keras. "tidak ada halangannya buat kau mencoba-coba pula !"

Tak puas hanya dengan kata-kata, dasar bocah cilik, Tonghong itu membawa kedua tangannya ke depan hidungnya guna mengejek si nikouw itu !

Lupalah Peng Mo kepada dirinya sendiri sebagai nikouw kosen dari tingkat terlebih tinggi, dari tingkat tua. Maka terlihatlah sifat aslinya. Dia tertawa dingin. Lalu sembari tertawa itu dia mengerahkan tenaga dalamnya sampai sembilan bagian sesudah mana dia berlompat maju menghampiri si bocah terus sebelah tangannya menyerang !

Itulah semacam pembokong guna mencelakai si anak tanggung.

Tonghong Liang terkejut sekali. Tidak ia sangka orang akan menyerangnya pula secara sedemikian licik. Syukur ia tidak menjadi gugup. Cepat seperti pertama tadi, ia menghunus pedangnya untuk dipakai menyambut serangan.

Kembali ia menggunakan jurus silat pedang yang tadi "Hong Eng Tam Hoa". Hanya kali ini ia membabat sambil berlompat mundur supaya ia tak terdesak dan dapat bebas menggunakan pedangnya.

Di lain pihak, si nikouw gagal pula dan kembali mesti berlompat mundur juga !

Sebagai seorang yang usianya masih sangat muda, Tonghong Liong tidak kenal takut. Ia pun tidak punya pengalaman. Barusan itu ia tertolong ilmu pedang keluarganya. Kalau tidak, pasti ia sudah terbinasa di tangannya si nikouw telengas. Walaupun demikian, tak tahu ia yang ia telah memperoleh keselamatan karena ilmu pedangnya itu yang ia dapat wariskan dengan baik.

"Eh, nikouw, apa kau dapat bikin atas diriku ?" tanyanya pada si penyerang.

Peng Mo kaget tetapi pada parasnya ia menunjuki senyuman. Tak sudi ia yang orang ketahui ia keteter dalam satu gebrakan itu. Coba ia kurang cepat, tentulah tangannya akan buntung sebelah!

"Mari aku tanya kau." katanya. "Ilmu silat pedang kalian kaum Tonghong apakah cuma yang barusan satu jurus saja ?"

Tonghong Liang menjawab dengan jumawa : "Apakah kau hendak mencoba jurusku yang kedua ? Aku khawatir darahmu nanti muncrat berhamburan !"

Tepat bocah ini mau menghunus pedangnya atau ia mendengar satu siulan yang rendah dan halus tetapi tajam. Tidak ayal lagi ia berlompat pergi dan terus lari ke arah dari mana suara itu datang hingga di lain detik ia sudah hilang dari depannya Peng Mo.

Meski juga ia mendongkol, si Bajingan Es toh senang juga dengan kepergiannya bocah itu dengan siapa ia tidak bermusuhan. Ia membenci cuma disebabkan orang seperti datang menggerocoki menggodanya. Ia membiarkan orang pergi. Bahkan itu membuat hatinya lega. Sekarang ia mendapat pula kebebasannya akan berpelesiran dengan pemuda yang ia gilai.

"Saudaraku yang baik, mari !" ia memanggil Hing Kun tanpa menanti sampai ia berpaling pula. "Mari, jangan kita lewatkan kesempatan kita yang baik ini !" Baru setelah menutup mulutnya ia menoleh. Hanya kali ini ia menjadi kaget sekali.

Hong Kun tidak ada di depannya.

"Ah !" serunya kecewa hingga ia menjublak saja. Kemudian ia melihat ke sekitarnya. Benar-benar si anak muda tidak ada disitu. Entah kapan dan kemana perginya dia !

"Kurang ajar !" serunya. Saking heran, ia menjadi gusar. Maka disaat itu, lupa ia akan napsu hatinya buat berpesta dengan Hong Kun. "Hm !" ia perdengarkan pula suara gemasnya setelah mana ia berlompat pergi, berlari-lari menuju ke Hek Sek San !

Kiranya Hong Kun melepaskan diri dari Peng Mo karena ia berniat mencari Tonghong Kiauw Couw, si nona gagah seperti keterangannya Tonghong Liang, si bocah yang polos tetapi lihai ilmu silatnya. Selagi si Bajingan Es melayani bocah itu, diam-diam ia mengundurkan diri untuk bersembunyi. Ia telah pikir kalau nanti si bocah pergi, ia hendak menyusulnya dengan menguntit supaya ia bisa mencari dan menemui kakaknya bocah itu. Ia ingin melihat si nona, yang ia juga mesti cantik wajahnya.

Demikianlah sudah terjadi. Karena mendengar suara siulan, Tonghong Liang kabur meninggalkan si nikouw atas mana Hong Kun pun lantas lari menyusul padanya.

Tujuannya Tonghong Liang ialah pinggang gunung. Kesana ia lari keras sekali.

Ketika Hong Kun hampir menyandak, dia menjadi heran sekali. Dia mendapatkan bocah itu mendadak saja berhenti berlari lalu berdiri tegak. Kemudian ia menghunus pedangnya guna menghadang di tengah jalan !

"Hai, kau bertindak bagaikan memedi. Apakah maksudu ?" demikian bocah itu menegur. "Kenapa tadi kau bersembunyi dan sekarang kau menguntit aku ?"

Hong Kun berhenti berlari. Ia tertawa.

"Adik kecil" katanya. "toh dapat aku pun mengambil jalan disini ?"

Tonghong Liang mengawasi dengan mata menjublak.

Agaknya ia dibingungkan pertanyaan itu. Di tempat umum, memang siapa pun dapat berjalan.

Hong Kun melihat kesempatan. Dia tertawa pula. "Sebenarnya, saudara kecil. Ingin sekali aku melihat wajah

cantik kakakmu !" kata dia terus terang. "Dan aku juga memikir buat mencoba ilmu pedangnya ! Itulah sebabnya kenapa sekarang aku menyusul kau ! Aku tidak berbuat salah, bukan ?"

Kata-kata itu membuat si bocah merasa akan kelirunya menghadang orang tanpa sebab.

"Jika kau ingin mengadu silat dengan kakakku, kau mesti dengar kata-kataku !" katanya kemudian.

Hong Kun maju satu tindak. Dia tertawa.

"Apakah syaratmu itu, adik kecil ?" tanyanya ramah. "Silahkan kau sebutkan ! Buat aku, asal aku dapat melihat kakakmu apa juga yang kau kehendaki, akan aku turut !" Tonghong Liang mengibaskan pedangnya.

"Bukankah tadi telah aku jelaskan ?" katanya. "Untuk dapat melihat kakakku, kau mesti menangkan pedangku ini !"

Hong Kun menjublak.

"Senjata tajam tidak ada matanya, kau tahu !" katanya. "Aku khawatir tangan kita tak dapat dikendalikan ! Itulah tak baik. Itu dapat merusak persahabatan. Adik kecil, bukankah dapat kita tak usah mengadu pedang ?"

Matanya si bocah dibuka lebar. Tampak dia tidak senang. "Beranikah kau memandang ringan padaku ?" tegurnya.

"Kalau begitu, tidak ada halangannya buat kau menyambut

aku barang satu jurus !"

Tanpa menanti suaranya berhenti mendengung, Tonghong Liang sudah berlompat maju dengan satu tikamannya !

Hong Kun tidak sempat menghunus pedangnya. Keduanya berdiri terlalu dekat satu dengan lain. Tanah disitu pun tidak rata, banyak batunya. Pula bergeraknya si bocah terlalu gesit. Walaupun demikian, dia tak sampai menjadi korban pedang. Dia bermata awas dan bertubuh lincah. Pengalamannya bertempur juga banyak sekali. Maka dia lantas menjatuhkan diri, buat seterusnya bergulingan menyingkir jauh tak peduli tanah tak rata. Itulah jurus silat "CaCing Bergulingan di Pasir". Selekasnya sudah terpisah cukup jauh, dia berloncat bangun bagaikan ikan meletik buat terus mencabut pedangnya, buat tanpa istirahat lagi dia maju kepada kacung itu ! Tonghong Liang tidak mengejar orang. Ia hanya berdiri tegak mengawasi sambil menantikan gerak gerik si anak muda. Pedangnya dipasang dengan sikap "It Cu Keng Thian-- Sebatang Tiang Menunjang Langit".

Dengan satu lompatan tinggi, Hong Kun mencoba menyerang. Karean ia berlompat, ia jadi turun dari atas ke bawah.

Tonghong Liang tidak merubah sikapnya. Dengan sikapnya itu ia menyambut lawan.

Itulah bahaya buat kedua belah pihak. Siapa gagal menyerang atau gagal menangkis, dia bakal menjadi korban ujung pedang.

Hong Kun terkejut. Kalau kedua senjata mereka beradu.....

Maka ia lantas bergerak cepat. Di samping pedangnya, ia membarengi menggunakan kakinya, mendupat sikutnya kacung itu !

"Mundur !" tiba-tiba terdengar satu seruan nyaring halus !

Berbareng dengan itu, tubuhnya Tonghong Liang mendak terus berlompat mundur karena ia berkelit dengan jurus "Hie Yauw Kim Po -- Ikan Menerjuni Gelombang Emas". Hingga ia bebas dari tendangan dan lolos dari ujung pedang lawan.

Sebaliknya adalah dengan Gak Hong Kun. Dia bergerak bagaikan ditengah udara. Dengan dua-dua tangan dan kakinya mengenakan sasarannya, dia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Tidak ampun lagi, dia jatuh ke tanah dimana dia mesti menggulingkan diri kalau dia tidak mau terbanting keras. Di saat itu, telinganya pun mendengar suara nyaring yang menyusul : "Orang she Gak, jika kau tidak puas, kau datanglah ke Kin Kiok Hoa Kee !"

Bukan main menyesalnya murid dari It Yap Tojin ini. Ia tidak kalah dari Tonghong Liang tetapi ia toh kecele. Karena melayani seorang bocah, ia tidak dapat berbuat banyak.

Lekas-lekas ia berlompat bangun. Lantas ia menghadapi bocah itu seraya berkata : "Aku terima tantangan ! Inilah kata-kata janjiku !"

Biar bagaimana juga, Hong Kun penasaran sebelum melihat Tonghong Kiauw Couw atau bertanding dengan nona itu yang ia percaya pasti sangat cantik. Sedangkan si nona pun memiliki Keng Hong Kiam, pedangnya It Hiong yang lenyap itu.

"Apakah kau tak takut bakal roboh pula ?" tanya si kacung, atas mana tanpa menanti jawaban lagi lantas dia memutar tubuh dan ia pergi mendaki bukit !

Hong Kun mendongkol. Tajam kata-katanya si kacung yang bernada mengejek. Ia menahan sabar tetapi matanya mendelong mengawasi bocah nakal itu yang lekas juga tampak mirip bayangan saja.......

"Ah," katanya sambil menyeringai. Ia jengah sendirinya. Tengah berdiri diam itu, mendadak si anak muda kaget.

Ada tangan yang menekan bahunya. Hanya belum sempat ia menoleh, jalan darah Yauwhiat-nya terasa tertotok. Karena itu, tubuhnya menjadi lemas terus ia roboh tak berdaya. Di saat lainnya, ia merasa ada orang memeluk pinggangnya buat diangkat terus dibawa lari menaiki gunung ! Hong Kun tertotok tanpa pingsan. Maka itu walaupun ia mati kutunya, otaknya tetap sadar. Maka ia tahu, ia telah dikuasai Peng Mo, si Bajingan Es. Ia mendongkol tak terkirakan. Saking tidak berdaya, ia berdiam saja.

"Saudara yang baik, jangan kau bergusar padaku." kemudian Hong Kun mendengar suara yang manis. "Kakakmu sangat mencintai kau, kau tahu ?"

Berbareng dengan itu, Hong Kun merasai pipinya dicium. Ia memejamkan mata. Ia menggigit rapat giginya atas dan bawah. Saking gusar, ia mencoba menyabarkan diri.

Sementara itu, hidungnya mencium bau yang harum sekali dan pipinya terus merasai tekanan pipi yang halus. Dasar ialah seorang pemogor, tanpa merasa napsu birahinya telah terbangun.

Peng Mo -- demikian orang yang menawan si anak muda-- lari terus sampai diatas gunung Hek Sek San. Disitu tanpa memikir-mikir lagi, dia memasuii sebuah rumah batu, terus kedalam sebuah kamar yang sunyi tetapi cukup perlengkapannya.

"Sungguh tepat !" kata si nikouw girang tak kepalang. "Inilah waktu yang baik dan ini pula tempat yang cocok ! Ya, inilah kamar pengantin kita !'

Segera Peng Mo menutup pintu, kemudian ia meletakkan tubuhnya Hong Kun diatas pembaringan. Sesudah itu ia menubruk tubuh orang, untuk dirangkul dan dipeluk terus !

Hong Kun tidak berdaya. Untuk diajak pelesiran, totokan pada jalan darah Yauwhiat telah dibebaskan. Sebaliknya, ia ditotok pula jalan darah bengbun. Karena itu, ia tetapi mesti manda dipermainkan nikouw murtad itu. Kedua orang itu lupa daratan. Maka juga mereka tidak tahu bahwa diluar kamar ada orang yang mengintainya. Bahkan dengan satu timpukan dua butir batu kerikil kecil, yang mengenakan maisng-masing jalan darahnya, lantas saja mereka rebah tanpa berkutik. Orang telah menggunakan "Bie Liap Ta-hoat", ilmu timpukan "Sebutir beras."

Menyusul itu, dari luar kamar itu terdengar satu suara tajam ini : "Dua orang manusia tak tahu malu ! Nah, kalian bercinta-cintaanlah sampai tiga hari lima malam !"

Lalu terdengar suaranya seorang kacung : "Bagus kakak !

Timpukanmu jitu sekali !"

Habis itu, sunyilah rumah batu itu.

Demikianlah lakon Hong Kun bersama Peng Mo ketika mereka dipergoki Kiauw In dan Ya Bie. Hampir saja Nona Cio menyangka Hong Kun itu It Hiong adanya. It Hiong yang tengah disusul si nona berdua.

Waktu Hong Kun menggunakan kesempatannya mengangkat kaki, di luar rumah ia justru bertemu dengan Ek Jie Biauw, nona yang kedua dari Cit Biauw Yauw Lie.

"Berhenti !" demikian si Nona Ek yang kedua membentak si anak muda.

Hong Kun kaget sekali. Ketika itu dia memang sedang sangat bingung. Hatinya seperti runtuh. Dia mengira Kiauw In yang menyusulnya, dengan lantas ia menghentikan langkahnya. "Nona Cio, jangan. " katanya seraya mengawasi orang

yang menegurnya itu. Diantara sinar rembulan yang lemah, ia mendapat kenyataan orang bukannya Kiauw In. Maka juga ia menghentikan kata-katanya itu setengah jalan.

Ek Jie Biauw pun segera mengenali pemuda she Gak itu. Orang yang membuat hatinya goncang. Maka itu ia sudah lantas merubah suaranya yang bengis. Ia tertawa dan kata : "Ah, kau! Kau kenapakah ? Mengapa kau menyebut-nyebut Nona Cio ? Kau sangat prihatin terhadap nona itu ya ?"

Juga Hong Kun dengan cepat mendapat pulang ketabahannya. Ia pula telah bebas dari Thay-saing Hoan Hun Tan. Sebagai seorang yang berpengalaman, lekas sekali ia dapat menggunakan otaknya. Maka ia pun tertawa.

"Oh, Nona Ek !" katanya. "Kiranya kau ! Kau membuatku kaget !"

Hong Kun tidak merasa cinta sedikit juga pada Nona Ek tetapi si nona sebaliknya. Jie Biauw justru sangat terjatuh hati terhadapnya ! Hanya dia pandai sekali membawa tingkahnya, terutama terhadap seorang nona. Walaupun demikian, selama di dalam lembah Kian Gee Kiap, semua gaya menggairahkan dari Nona Ek, dia tidak tahu menahu karena ketika itu dia masih terpengaruhkan Thay-siang Hoan Hun Tan. Sekarang dia mengerti yang si nona tergila-gila padanya, lantas dia mau membawakan lakonnya pula. Buat dia, bermain asmara ada untungnya tak ada ruginya.

Satu hal Hong Kun tidak insaf. Selagi dia telah sembuh dari Thaysiang Huan Hun Tan dari Im Ciu It Mo, maka sekarang dia terpengaruhkan pil hitam dari Gwa To Sin Mo. Itulah pil untuk menambah atau untuk membangunkan napsu birahi. Hingga dengan demikian dia pun menjadi menampak bencana asmaranya yang sesat !

Lantas Hong Kun bertindak mendekati Nona Ek. "Seseorang tak dapat melakukan sesuatu yang tak benar."

kata Jie Biauw. "Kau kata barusan aku membuatmu kaget. Kenapakah ?"

Hong Kun insaf bahwa barusan ia telah keliru bicara, maka ia harus perbaiki itu.

"Nona, keangkeranmu membuatku jeri. Begitulah mendengar bentakanmu, aku jadi kaget. " demikian ia

bermain sandiwara.

Ek Jie Biauw mengawasi, bibirnya dicibirkan. "Benarkah itu ?" tanyanya.

"Benar, nona !" sahut Hong Kun cepat. "Tidak berani aku mendustaimu !"

Sebenarnya Jie Biauw mau lantas menggunakan kesempatannya atau rasa hormat dirinya membuat ia berpikir harus bersabar.

"Masa bodoh kau berdusta atau tidak !" katanya manja. "Namun kau harus ketahui, aku bukanlah si tolol !"

Hong Kun tertawa.

"Terhadap nona pintar sebagai kau, Nona Ek, aku mau mendusta pun tak dapat !" katanya. Senang Jie Biauw mendengar pujian itu. Toh ia masih berpura bersikap tawar.

"Sudah, jangan bicara saja !' katanya. "Sekarang aku mau tanya kau ! Tadi selagi malam gelap dan sunyi, kenapa kau kabur dengan meloncati jendela ?"

Hatinya Hong Kun bercekat. Itulah pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya sebab ia justru berada dalam kedudukan seperti terdakwa yang lagi menanti hukuman. Tak sudi ia yang rahasianya nanti terbuka. Tapi ia tidak kekurangan akal.

Setelah berdiam sejenak, ia memperlihatkan wajah lesu dan terus ia menarik napas panjang.

Ek Jie Biauw heran. Dia menatap. Sebaliknya dari pada bercuriga atau menanya lebih jauh, dia justru berkhawatir si anak muda menjadi tidak senang hati. Maka dia tertawa dan kata : "Eh, kau kenapakah ? Aku paling tidak menyukai orang yang saban-saban menarik napas panjang pendek. "

Hong Kun puas mendengar kata-kata si nona. Kembali ia ketahui kelemahan nona itu.

"Kau tidak tahu, adik !" katanya yang terus merubah panggilan dari nona menjadi adik. "Tadi itu aku kabur melewati jendela sebab aku bertemu dengan musuh. Ah !" ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan : "Tidak kusangka di Hek Sek San ini, suatu tempat yang tertutup, orang toh berani mendatanginya ! Aku maksudkan musuhku !"

"Siapakah yang kau ketemukan itu ?" Jie Biauw tanya. Dia tertarik hati.

"Dialah Cio Kiauw In dari Pay In Nia." Hong Kun menjawab terus terang. Ia mengasi lihat tampang masih jeri..... Jie Biauw tertawa.

"Ah, kenapa kau begini takuti dia ?"

Mukanya Hong Kun merah, separuh benar-benar malu, separuh berpura.

"Itulah sebab dia datang bukan sendiri saja." sahutnya. "Dia datang entah bersama berapa banyak kawan.."

Jie Biauw mengawasi. Mau ia percaya yang pemuda ini takut benar-benar. Karena ini, ia lantas tertawa. Ia tertawa terpingkal-pingkal. Ia tahu halnya It Hiong berdua Ya Bie membantu Kiauw In dan malah ia pernah menempur pemuda itu yang tadinya ia sangka Hong Kun adanya ! Ia tertawa sebab ia pikir inilah saatnya untuk menarik hati orang agar orang roboh dalam rangkulannya !

Hong Kun mengawasi. Ia mau menangkap hati orang. Jie Biauw bersungguh-sungguh atau berpura-pura. Ia bersangsi sebab ia ingat ia sendiri paling bisa membawa lagak.

Si puteri malam terus bergesr ke arah barat. Makin laru malam, makin bersinar cahanya yang indah. Kedua muda mudi ini bermandikan cahayanya si puteri ini. Suasana di sekitar mereka sangat sunyi. Itulah saat paling tepat buat bermain asmara.

Tiba-tiba Jie Biauw yang lagi tertawa, menghentikan tawanya itu.

"Siapa ?" bentaknya, matanya mengawasi ke samping dimana terdapat sebuah pohon. Tidak ada jawaban, hanya tampak sesosok tubuh bagaikan bayangan berlompat turun dari atas pohon itu terus dia berdiri sejauh dua tombak dari hadapan si muda mudi. Tetap dia tidak bersuara. Gerakan gesitnya itu membuat Hong Kun dan Jie Biauw heran.

Hong Kun berlaku tenang mengawasi orang itu yang mengenakan pakaian warna gelap dan potongannya singsat. Rambutnya dikundiakan tinggi, punggungnya menggendolkan sebatang pedang. Yang menyulitkan ialah separuh mukanya ditutup jalan hingga tampak alis dan matanya saja. Jelas dialah seorang wanita. Dan jelas pula, dia bermuka potongan telur serta tubuhnya langsing, tinggi dan rendahnya sedang sekali....

Hong Kun melengak, hingga ia hampir lupa segala apa.

Wanita itu terus mengawasi Ek Jie Biauw terus kepada si pemuda dan dia mengawasi si anak muda sekian lama.

Sikapnya itu segera membangkitkan jelusnya Jie Biauw hingga dia ini lantas menghunus pedangnya.

"Hei, budak hina. Darimanakah kau datang ?" demikian tegurnya. "Lekas kau sebutkan she dan namamu ! Di Hek Sek San ini tak dapat kau banyak tingkah !"

"Hm !" terdengar suara perlahan dari wanita itu yang terus menengadah langit, mengawasi si puteri malam. Kemudian dia menambahkan : "Kiranya Tio It Hiong yang namanya menggetarkan dunia Kang Ouw toh dapat secara diam-diam melakukan ini macam perbuatan buruk yang memalukan !"

Kata-kata itu disusul dengan gerakannya mencabut pedangnya juga hingga pedangnya itu bergemerlapan diantara sinar rembulan. Sebab pedang itu ialah pedang Keng Hong Kiam kepunyaannya Tio It Hiong !

Dua-dua Ek Jie Biauw dan Gak Hong Kun mundur beberapa tindak.

Si nona mengawasi lagak orang, dia tertawa. "Kalian takut ?" katanya. "Apa yang harus ditakuti ?

Nonamu tak sudi bertempur dengan kalian!"

Suara itu terang dan jelas, polos nadanya. Habis itu, si nona memasuki pula pedangnya ke dalam sarungnya.

Mungkin dia lupa bahwa sikapnya ini sikap yang kurang tepat. Suatu pantangan dalam kalangan persilatan. Itulah sikap memandang rendah !

Hong Kun dan Jie Biauw merasa tersinggung. Barusan mereka bukannya takut hanya ragu-ragu. Sekarang mereka bergusar. Si pemuda sudah lantas menghunus pedangnya.

"Tutup bacotmu !" bentaknya.

Si nona mengawasi pemuda itu. Ia tertawa. "Pedangmu itu apa khasiatnya ?" tanyanya. "Bahkan

dihunusnya itu membuat orang tertawa. Memalukan saja ! Mana dapat pedangmu itu dibandingkan dengan pedangnya nonamu ini ?"

Memang nona itu ialah nona Tonghong Kiauw Couw. Dia menghunus Keng Hong Kiam bukan untuk menantang berkelahi. Dia sengaja memperlihatkan pedangnya itu guna menguji si anak muda itu siapa sebenarnya. Kalau dia Tio It Hiong, melihat pedangnya sendiri pasti Tio It Hiong tertarik dan akan menanya atau meminta pulang pedang mustikanya itu. Siapa tahu, Hong Kun berdiam saja mengenai pedang itu, bahkan dalam murkanya dia menghunus pedangnya sendiri.

Di luar dugaan Nona Tonghong, kata-katanya itu membuat muda mudi di depannya menjadi gusar sekali. Secara mendadak, si nona maju untuk menebas pinggangnya.

Saking mendongkol, Ek Jie Biauw berniat mengutungkan pinggang orang. Maka juga dia menyerang secara tiba-tiba itu. Memangnya dia bersama-sama enam saudaranya tersohor telengas. Mereka kaum sesat.

Tonghong Kiauw Couw melihat datangnya serangan.

Dengan mudah saja ia berlompat mundur. Berlompat seraya memutar tubuh. Ia tidak menghunus pedangnya, tak mau ia membalas menerjang. Ia malah tertawa.

"Sungguh telengas !" katanya singkat.

Belum berhenti kata-kata itu mendengung atau satu serangan lainnya. Kali ini dari Hong Kun sudah menyusul. Sinar pedangnya berkelebat diantara cahaya rembulan. Itulah tikaman ke arah dada.

Manis sekali Nona Tonghong berkelit pula. Ujung pedang lewat disisi iganya. Masih ia tidak mau membuat perlawanan.

Karena gerakannya muda mudi itu, dengan sendirinya mereka menjadi berada di depan dan belakangnya nona yang mereka serang itu. Karena serangan mereka gagal, lantas mereka mengulanginya. Kali ini si nona menjadi terkepung di dua arah. Dan kali ini, bangkit jugalah hawa amarahnya. Ia menganggap orang keterlaluan. Ia bersilat dengan ilmu silat warisan, namanya "Loan Hoa Kong Sie -- Bunga Berserabutan, Sutera Awut-awutan". Ia bergerak sangat gesit dan lincah. Tubuhnya bagaikan gerakan ular diantara pelbagai tikaman. Sementara itu, ia pun berpikir: "Kenapa pemuda ini begini membenci aku ? Apakah ini disebabkan aku telah curi pedangnya ? Ah, mungkinkah dia benar Tio It Hiong ?"

Mengingat pemuda she Tio ini, otak si nona menjadi bekerja keras sekali. Dialah seorang nona muda belia yang baru mulai mengenal asmara, maka dia cuma mengenal cinta, lainnya tidak. Dia tak tahu cinta itu banyak liku-likunya, lebih banyak duka cintanya daripada suka cintanya....

Justru karena berpikir demikian, tanpa merasa Kiauw Couw berayal sendirinya. Dan justru begitu, pedangnya Hong Kun meluncur hebat padanya ! Itulah ancaman maut !

Bukan main kagetnya Nona Tonghong. Syukur ia tidak menjadi gugup. Sambil memaksa berkelit, ia membarengi menghunus pedangnya dengan apa ia menyampok pedang lawan hingga pedang mereka beradu keras hingga percikan apinya beterbangan. Di lain pihak, saking kerasnya bentrokan, mereka sama-sama terhuyung mundur setengah tindak masing-masing !

Tonghong Kiauw Couw menjadi heran hingga ia mengawasi pedang si anak muda. Bukankah ia menggunakan pedang mustika Keng Hong Kiam ? Kenapa pedang lawan tidak terbabat kuntung ? Maka itu, tentunya pedang lawan pun pedang mustika.

"Benarkah dia Tio It Hiong ? Kalau benar, darimana ia memperoleh lain pedang mustika pula ?" demikian si nona berpikir. Ia ingat ketika ia mencuri pedang dengan membiuskan It Hiong sampai It Hiong tak sadarkan diri.

Sekarang ternyata, kepandaiannya It Hiong ini pun lihai. Dia melihat pakaian, raut muka dan potongan tubuh yang tak berbeda....

"Aneh !" demikian pikirnya, pusing. Ia pun orang asing untuk dunia Kang Ouw, maka ia kurang pengalamannya. Pasti ia tidak ketahui yang pedangnya Hong Kun ialah pedang mustika Kie Koat Kiam kepunyaannya Teng It Beng si sahabat yang mengolah wajah orang hingga menjadi sangat sama dengan wajahnya It Hiong. Ia boleh cerdas dan cerdik tetapi dalam hal ini, kecerdasannya tak menolong padanya.

Selagi orang berdiam itu, Ek Jie Biauw maju menyerang.

Tonghong Kiauw Couw melihat tibanya serangan, ia berkelit. Ia tidak memikir akan melayani nona itu. Ia hanya ingin menempur Hong Kun guna ia mencari kepastian tentang dirinya si anak muda. Tapi Jie Biauw mendesaknya, terpaksa ia meladeni juga. Disamping itu, Hong Kun juga maju lagi.

Segera setelah Nona Tonghong mendongkol sekali, Jie Biauw tidak dapat bertahan lama. Dengan satu tebasan, pedangnya kena terbabat kuntung atau babatan lainnya membuat ia memegangi saja gagang pedangnya ! Baru sekarang dia kaget dan lompat mundur, keringat dingin membasahkan tubuhnya.

Sementara itu Hong Kun yang cerdik lantas dapat menerka siapa nona ini. Ia pun mengenali pedang orang. Maka akhirnya ia tertawa terbahak-bahak.

"Oh, nona. Adakah kau Nona Tonghong Kiauw Couw ?" sapanya. "Maaf, nona, maaf. Aku telah berlaku kurang hormat

!"

Kiauw Couw heran. Ia lantas mengawasi. "Kau siapakah ?" tanyanya saking herannya itu. Hong Kun tertawa.

"Akulah aku, nona !" sahutnya. "Nona sudah tahu, buat apa nona menanyakannya ?"

Ek Jie Biauw heran menyaksikan dua orang itu berbicara.

Sejak tadi dia berdiam saja sebab kutungnya pedangnya. Sekarang dia dibingungkan gerak geriknya dua orang itu. Mengenai Hong Kun, dia mendapat kesan kurang baik. Hong Kun tidak membantu dia hanya Bicara sambil tertawa-tawa. Tiba-tiba saja muncul iri hatinya.