Iblis Sungai Telaga Jilid 55

Jilid 55

Tindakannya Im Ciu It Mo yang pertama-tama ialah menitahkan kelima Bajingan dari To Liong To, yang telah roboh dibawah pengaruh gaibnya, pergi menghadang dan menyerang It Hiong bertiga. Di luar dugaan, kelima bajingan gagal, bahkan dua hilang jiwa, dua lagi terluka. Karenanya, Im Ciu It Mo memanggil Lam Hong Hoan pulang.

Ek Toa Biauw melihat It Hiong bertiga, ia khawatir anak muda itu dapat mencari jalan rahasia, setelah berpikir, mereka sengaja membikin So Hun Cian Li pergi memperlihatkan diri, supaya sehabis itu, si orang utan nanti mengajak It Hiong bertiga mendatangi pesawat rahasia mereka, agar mereka itu kena terjebak.

Segera setelah dapat membikin tenang pada si orang utan, Ya Bie lantas mengajaknya berbicara, minta dia suka menunjuki jalan keluar, ialah jalan yang tadi diambil si orang utan sendiri.

So Hun Cian Li tetap binatang, dia tidak tahu perangkap Im Ciu It Mo.

"Kita tidak berhasil mendapati jalan keluar itu, tidak ada halangannya kalau So Hun Cian Li yang menunjuki," kata It Hiong setelah Ya Bie memberitahukan si orang utan dapat menjadi penunjuk jalan.

Kiauw In sebaliknya mengernyitkan alisnya. Dia berpikir keras.

"Sia-sia saja percobaan kita mencari jalan keluar," katanya selang sesaat. "tetapi So Hun Cian Li dapat datang kemari dengan mudah saja, tanpa dia mendapat celaka, inilah aneh. Aku rasa pada ini mesti ada rahasianya. " Walaupun Nona

Cio mengatakan demikian, Ya Bie tapinya tidak takut.

"Lihai ia Im Ciu It Mo menggunakan racunnya serta kepandaiannya orang-orangnya, semau telah kita kenal !" katanya gagah. "Karena itu, apalagi yang harus kita buat takut

?"

Kiauw In menghela nafas.

"Kau benar, adik," katanya. "akan tetapi apakah barusan kau tidak lihat cara munculnya orang-orang To Liong To itu serta cara kaburnya yang satunya ? Bukankah mereka pun mengambil jalan serupa datang dan perginya ? Kenapa kita justru gagal mencari jalan rahasia itu ?"

"Kakak benar," berkata It Hiong. "Di sini tentu ada rahasianya. Meski demikian kakak, justru karena kita tidak berhasil mencari jalan keluar itu, kenapa kita tidak mau pakai perantaraannya orang utan ini ? Biarlah dia yang menunjuki jalan !"

"Ya, biar dia menjadi penunjuk jalan kita !" Ya Bie campur bicara. "Marilah kita ikuti So Hun Cian Li, lainnya hal biar kita lihat saja !"

Biar bagaimana Kiauw In mesti menyetujui nona kecil itu.

Memang mereka tidak mempunyai pilihan lain. "Baiklah," katanya diakhirnya. "Asal kita waspada !"

Begitulah mereka berangkat. Ya Bie menyuruh orang utannya jalan di depan mereka.

Mereka menempuh pula jalan kecil tadi dimana mereka telah berjalan bulak balik tanpa hasil Setibanya di depan jurang, si orang utan sudah lantas berlompat turun !

Ketika itu tengah hari, jurang yang tadi tertutup uap, sekarang uapnya telah buyar. It Hiong heran melihat So Hun Cian Li berlompat turun, segera ia menyusul ke tepiannya jurang, untuk melongok ke bawahnya.

Cahaya matahari dapat menembus terang sekali ke dalam jurang itu. Maka di situ tampak sebuah apa yang dinamakan "batu rebung", yang muncul nonjol panjang tiga atau empat tombak, yang berupa mirip sebatang penglari melintang diantara jurang atas dan dasarnya. Tadi itu, sebelum uap buyar, ia beramai tak melihatnya.

Si orang utan berdiri di atas batu panjang itu, dia berPekik- Pekik sambil menggerak-geraki kaki dan tangannya.

Kiauw In dan Ya Bie telah turut melongok ke dalam jurang itu.

"Pasti ada gua di tempat di mana batu itu menonjol," kata Nona Cio, "hanya. "

"Kalian tunggu," It Hiong menyela, "Nanti aku lompat turun buat melihatnya. "

Belum habis kata-kata itu diucapkan, orangnya sudah berlompat turun, untuk menaruh kaki di batu panjang itu, yang jaraknya dari atas cuma tujuh atau delapan tombak.

Mudah saja buat si anak muda turun ke situ karena kemahirannya ilmu ringan tubuh Tangga Mega serta ilmu pedang melayang Gie Kiam Hui Heng Sut. Juga mudah saja buatnya mendapati gua, atau lubang seperti diterka Kiauw In. Karena gua justru merupakan mulut terowongan.

So Hun Cian Li menunjuk pada mulut gua, kembali dia berPeki berulang kali. It Hiong mengawasi. Mulut gua itu gelap dan dari situ bertiup keluar angin shilir. Kecuali angin halus itu, tidak ada suara lainnya.

Anak muda kita segera menggunakan otaknya. Di dalam situ mesti ada orang yang menjaga atau telah dipasangi perangkap yang berbahaya.

"Mari !" kata It Hiong yang terus menarik si orang utan buat diajak berlompat naik pula.

"Adakah jalanan di situ ?" Ya Bie paling dahulu menanya si anak muda.

It Hiong tertawa.

"Di situ ada sebuah mulut gua." sahutnya. "Hanya entahlah, gua itu menembus ke perut gunung atau ke bawahnya. "

"Bagus !" seru si nona polos. "Mari kita turun !" Dan ia maju ke tepian jurang, bersiap lompat turun ke dalamnya.

"Tahan !" mencegah Kiauw In sambil menarik lengan orang. Kemudian dia menoleh kepada It Hiong, untuk bertanya : "Adik, bagaimana penglihatanmu mengenai gua itu

?"

"Jika aku tidak keliru menerka, " sahut orang yang ditanya, "itulah mesti salah sebuah gua sarangnya Im Ciu It Mo." Alis si anak muda bangkit, tampangnya menjadi gagah sekali ketika ia menambahkan, "Namun, walaupun itu adalah sarang naga atau sarang harimau, pasti aku akan menerjang memasukinya

!" Kiauw In membuka mata lebar memandan si anak muda, lalu dia tertawa.

"Melawan harimau tanpa bersenjata atau menyeberangi sungai tanpa perahu, itulah yang dinamakan kegagahannya si orang biasa saja," katanya. "Adik, apakah kau tak kuatir orang Kang Ouw menertawakanmu andiakata mereka mendengar tentang cara lakumu ini ?"

It Hiong melengak. Ia sadar yang barusan ia telah terlalu menuruti suara hatinya sendiri. Segera ia menatap nona di depannya itu. Terhadap kakak seperguruan ini, disebelah rasa cintanya, ia pun sangat menghormatinya. Lalu, sendirinya, ia pun tertawa.

"Kau benar, kakak," katanya kemudian. "Nah, apakah kakak telah memikir sesuatu ?"

Ya Bie sebaliknya berdiri bengong mengawasi bergantian muda dan mudi itu. Ia pun insyaf akan kecerdasannya Kiauw In, maka diam-diam ia menjadi menaruh hormat sekali.

Kiauw In dengan perlahan menggeleng kepala.

"Di saat ini, aku belum memikir apa-apa," sahutnya halus. "Aku cuma ingat bahwa disini ada faedahnya jika kita gunakan bunyi pepatah yang berkata melempar batu buat menumpang tanya jalanan. "

Pepatah itu berbunyi "Touw-sek-bun-louw--Melempar batu, Menanya jalan". Dengan menuruti pepatah itu, orang biasa melempar batu dari atas ke bawah atau ke sebelah depan, guna kemudian mendengari jatuhnya batu itu, guna mengetahui reaksinya. Hanya disini, Pekerjaan itu sulit juga. Untuk melempar, atau menimpukkan batu, ke dalam mulut gua, orang mesti berdiri di palangan batu itu. Batu panjang itu sebaliknya meluncur hanya sebatang dan sekitarnya jurang, maka kecuali berlompat ke atas, ke kiri dan kanan atau ke dasar jurang, semua itu berbahaya. Bagaimana apabila muncul reaksi yang mengancam hebat ? Orang sukar menangkis atau berkelit, atau orang bakal tercemplung ke dasar jurang......

It Hiong menggunakan otaknya selekasnya ia mendengar kata-kata si nona, karena ia berpikir itu, ia tidak lantas membuka mulutnya. Kiauw In bersenyum mengawasi pemuda itu.

"Adik," katanya, "buat apak kita memikir lama-lama ?

Menurut aku, kita gunakan saja ilmu Kiauw-keng !"

"Oh !" suara It Hiong mendengar perkataannya si nona. Ia bagaikan baru mendusin dari tidurnya.

Ya Bie sebaliknya tidak mengerti.

"Kakak Kiauw In, apakah itu Kiauw-keng ?" tanyanya.

Menurut arti biasanya, kiauw-keng berarti tenaga kekuatan yang dikendalikan kecerdasan.

Kiauw In mengawasi nona itu sebentar, lalu ia bersenyum. "Biarlah Kakang Hiongmu melakukan itu buat kau lihat !"

sahutnya kemudian. Lalu ia menuntun nona itu, buat diajak memungut tujuh atau delapan buah batu sebesar telur, batu mana terus mereka letaki di tepian jurang. It Hiong tertawa. Kata dia : "Kakak, siapakah yang sangka bahwa cara bermain-main kita menggunakan batu di Pay In Nia sekarang ada gunanya di gunung Hek Sek San ini ?"

Nona Cio tidak menjawab, ia cuma bersenyum.

It Hiong lantas mengerahkan tenaga dalamnya, Hian-bun Sian Thian Khie-kang, untuk menyalurkan ke tangannya kiri dan kanan, setelah itu kedua tangannya itu menjemput batu sebesar telut itu, beberapa buah. Di lain saat, cepat sekali, ia sudah lantas perlihatkan kepandaiannya.

Dengan digeraki sebagai dipentil, sebuah batu lantas terpental, yang mana disusul dengan pentilan lainnya. Luar biasa cepat adalah batu yang terpentil belakangan, yang menyusul batu pentilan terdahulu. Bedanya ialah pentilan pertama rada perlahan, pentilan belakangan sangat cepat hingga yang pertama tercandak dan terhajar keras, karena mana, batu terdahulu itu mental keras ke arah mulut gua !

Ya Bie heran dan kagum menyaksikan batu dapat dibikin terpental demikian macam.

"Hebat !" serunya girang sekali. "Kakak Hiong, sungguh kau pandai !"

Justru orang memujinya, It Hiong sudah menyentil pula, sampai buat ke empat kalinya !

Kiauw In sementara itu mendekam di pinggiran jurang, buat memasang telinga, guna mendengar hasilnya permainan "Touw sek bun louw" itu. Ia tak usah menanti lama akan mendengar sambutan dari dalam gua itu. "Jawaban" yang datang setiap batu mental masuk ke dalam gua, jawaban itu berupa menyambarnya senjata-senjata rahasia yang disinarnya matahari bercahaya kebiru-biruan. Itulah sinar yang menandakan senjata rahasia itu tadinya telah dicelup dahulu ke dalam racun ! Itulah pula pelbagai pisau belati, anak panah dan piauw !

Karena It Hiong melanjuti timpukan istimewanya itu, maka juga Kiauw In bersama Ya Bie terus memunguti dan mengumpuli batu-batu kolar sebesar telur itu, sampai serangan-serangan senjata rahasia itu berhenti, baru mereka turut berhenti juga.

Ya Bie heran, tetapi ia lantas berkata : "Serangan senjata rahasia sudah berhenti, mari kita turun akan memasuki gua !"

"Tunggu dulu !" kata It Hiong, tangannya masih menggenggam batu. "Dalam waktu pereang orang tak pantang berlaku palsu ! Maka itu, kita harus waspada ! Siapa tahu kalau musuh menggunakan akal liciknya."

Ya Bie mendengar kata, ia mundur pula. Kata-katanya "Kakak Hiongnya" itu benar sekali.

Kiauw In bertindak ke tepi jurang, akan mengawasi ke mulut gua tadi.

"Aku mendengar suara banyak kaki bergerak-gerak" katanya seraya memasang telinga. "Rupanya beberapa orang lagi berjalan mundar mandir hanya tibanya di mulut gua, mereka pada berhenti. "

"Apakah kakak telah mendengarnya dengan jelas ?" Ya Bie tanya. "Kenapa mereka pada berhenti di mulut gua ? Kenapa mereka tak berani muncul ?"

Kiauw In mengerutkan alisnya, terus ia menghela nafas. "Mungkin sekali merekalah orang-orang yang telah makan obat jahatnya Im Ciu It Mo," sahutnya. "Mereka itu tak cerdas lagi, semua gerak geriknya menuruti saja kendalinya si Bajingan Tunggal. "

It Hiong melemparkan batu ditangannya, ia berjalan mundar mandir. Otaknya bekerja. Lewat sesaat, ia mengangkat kepalanya, menoleh kepada Kiauw In.

"Bagaimana sekarang ?" tanyanya pada si nona. "Mereka tidak mau muncul, kita sebaliknya tidak mau turun ! Habis, sampai berapa lamakah kita harus menanti ?"

"Kita lihat saja," sahut nona Cio. "Buat kita, tindakan yang utama ialah kita memasuki goa di luar sangkaan mereka, supaya mereka dapat dikekang andiakata mereka menyerang dengan senjata rahasianya. Kita harus menjaga diri agar kita tak terkena senjata rahasia beracun dan tidak nyemplung ke dasar jurang !"

Ya Bie terkejut. Sungguh hebat apabila mereka sampai tercemplung !

"Kakak benar !" katanya kemudian. Ia menyenderkan tubuhnya pada tubuhnya Kiauw In, nampaknya ia seperti takut nanti jatuh ke dasar jurang itu !

It Hiong berdongkol, ia menjemput pula beberapa buah batu tadi.

"Akan aku coba !" katanya. "Hendak aku menggunakan ilmu Gie Kian Hui Heng Sut. Kakak berdua menunggu sampai aku memanggil, baru kalian lompat turun ke jurang ini buat menyusulku!" Berkata begitu, si anak muda menghunus pedangnya, buat terus diputar, hingga terdengar suara anginnya yang keras.

Mendengar suara itu, mendadak ia melongo. Karena mendadak ia ingat, itu bukanlah Keng Hong Kiam, pedang mustikanya. Bahwa pedang mustikanya justru ada yang curi. Pasti, dengan pedang biasa itu, kemahirannya akan berkurang.

Kiauw In belum pernah menyaksikan ilmu pedang Gie Kiam Hui Heng Sut dari adik seperguruannya itu, ia mengawasi dengan prihatin. Ia pun memesan : "Adik, kau berhati-hatilah, jangan kau terlalu menempuh bahaya. "

"Aku mengerti," sahut It Hiong, yang lantas saja berlompat, sedangkan pedangnya ia putar hebat, lantas mengeluarkan sinar berkelebatan. Berbareng, tubuh manusia dan pedang mencelat ke dalam jurang, terus melesat ke mulut gua !

Matanya Kiauw In berkunang-kunang melihat gerakan si pemuda yang demikian cepat itu.

Menyusul itu, satu bayangan tubuh pun turut berlompat ke dalam gua.

Segera terdengar beberapa kali suara tertahan, menyusul mana lantas terdengar juga suara nyaring dari It Hiong : "Kalian turunlah !"

Kiauw In dan Ya Bie sudah siap sedia, akan tetapi, mendengar panggilan itu, mereka melengak juga. Lantas mereka saling melirik, baru mereka lompat menyusul ! Gua gelap gulita, akan tetapi samar-samar tampak beberapa buah mayat menggeletak di tengah jalan. Lewat tiga atau empat tombak, terowongan mulai menikung. Dari sebelah dalam segera terdengar suara nyaring dari beradunya alat senjata, juga terdengar bentak-bentakan.

Kiauw In menarik bajunya Ya Bie, buat diajak lari terlebih keras pula, menyelusupi jalan maju lebih jauh, akan mencari suara berisik itu. Lagi kira sepuluh tombak, setelah sebuah tikungan, orang telah keluar di mulut gua yang lainnya, maka disitu tampak suatu pemandangan alam dari tanah pegunungan. Disitu, kedua nona menyusul It Hiong yang justru lagi masuki pedangnya ke dalam sarungnya. Pemuda itu berdiri tenang di sebuah tempat mirip pengempang kering, disekitarnya rebah berserakan tujuh atau delapan tubuh dari orang-orang yang berseragam hitam, yang pakaiannya bermandikan darah, tak ada yang tubuhnya berkutik.

Ya Bie mengawasi semua mayat itu, lantas dia tertawa. "Sungguh kau hebat luar biasa, kakak Hiong !" pujinya. Kiauw In sebaliknya menghela nafas.

"Semua ini ada akibatnya kejahatan dari Im Ciu It Mo "

katanya. "Inilah badai pembunuhan disebabkan kelicikan dan kekejamannya !"

Ketika itu keduanya telah sampai di depannya si anak muda. Kiauw In lantas memandang ke sekitarnya. Ia melihat dinding gunung diseputarnya itu, tinggi umpama kata mirip langit. Cuma di tempat mereka berdiri, yang tanahnya datarnya cukup luas. Sekitar tiga sampai empat puluh tombak, tak ada tumbuh rumput. Semua batu karang telah berubah menjadi hita. Di sebelah depan, jauh sepanahan, terlihat sederet rumah batu, rumahnya katai, katai juga semua pintunya. Deretan rumah itu bagaikan menghadang jalanan. "Tak kusangka di dalam gua terdapat melulu orang- orangnya Im Ciu It Mo." kata It Hiong pada nona Cio. "Syukur kepandaian mereka biasa saja dan diantaranya tak ada pemimpin yang lihai. Aku cuma mendapatkan pesawat rahasianya yang mengobral pelbagai senjata rahasia tadi."

"Mungkin si pemimpin sudah mundur teratur ke dalam deretan rumah batu," Kiauw In mengutarakan dugaannya. "Jangan jangan mereka akan bertahan di dalam rumah itu. "

"Peduli apa !" kata Ya Bie menyela. "Apa yang harus dibuat takut ? Dapatkah deretan rumah-rumah itu menghadang ilmu Gie Kian Hui Heng Sut dari kakak Hiong ?"

Begitu si nona menutup mulutnya, begitu mukanya menjadi merah. Di depannya Kiauw In, ia menyebut orang dengan "kakak Hiong". Ia likat sendirinya.

It Hiong sebaliknya, mengawasi deretan rumah batu itu. "Ya" katanya kemudian. "tak peduli di dalam rumah itu ada

pemimpinnya yang lihai atau pelbagai macam senjata

rahasianya yang beracun, kita toh harus menyerbunya !"

Panas hatinya karena pertempuran barusan, anak muda ini tak lagi berhati-hati seperti semula.

Tepat itu waktu tampak So Hun Cian Li yang tadi lari di depan sudah lari kembali. Di belakang dia terlihat dua orang mirip bayangan-bayangan lari mengejar dengan keras sekai. Mereka itu muncul dari salah sebuah jendela rumah batu itu.

Hanya sebentar, si orang utan dan pengejarnya sudah sampai di depannya It Hiong bertiga. So Hun Cian Li berPekik tak hentinya, dia kelabakan. Inilah sebab di punggungnya menancap sebatang pedang yang berkilauan, yang pasti adalah jarum beracun. Dia berkulit tebal dan kuat, dia toh tak tahan nyerinya.

Melihat lukanya si orang utan, Kiauw In lekas berkata pada It Hiong : "Adik, So Hun Cian Li dilukai senjata beracun, lekas kau obati padanya. Nanti aku yang menghadapi musuh."

Ya Bie gusar sekali mendapat kenyataan binatangnya itu telah dilukai, dengan mata terbuka lebar dan bijinya bagaikan terputar, ia sudah lantas meloloskan ularnya dari libatan pada pinggangnya, tanpa membuka mulut lagi, ia maju mengikuti Nona Cio menghampiri musuh.

Dua orang yang keluar dari rumah batu itu berseragam singsat, tampang dan mata mereka tampak sangat bengis. Mereka berhenti berlari, untuk segera mengawasi tajam kepada kedua nona yang menghampirinya.

Kiauw In lantas mengenali Yan Tio Siang Cian, sepasang si kejam dari wilayah Yan-TIo (propinsi Cilee), ialah dua saudara Leng Gan dan Leng Ciauw. Yang mencolok mata dari dua orang itu yakni masing-masing kehilangan tangan kanan dan tangan kirinya, yang lenyap selama pertarungan di puncak Tiauw JIt Hong di gunung Tay San selama diadakan pertemuan besar kaum sesat dan golongan lurus. Bahkan yang menebasnya kutung justru Kiauw In bersama Giok Peng.

Dahulu itu, Kiauw In berlaku murah hati, dia tak membasmi terus, siapa tahu sekarang mereka itu muncul pula di depannya di gunung Hek Sek San.

Yan Tio Siang Cian tidak merasa berhutang budi, sebaliknya, mereka bersakit hati, maka itu sesudah meninggalkan gunung Thay San, mereka mengobati diri dan seterusnya pergi mencari guru, akan belajar silat terlebih jauh, maka sekarang, kalau mereka bertempur, selalu bekerja sama. Dengan berdiri berendeng dan rapat, mereka seperti masih mempunyai sepasang tangan kiri dan kanannya ! Mereka pula masuk dalam rombongannya Im Ciu It Mo hingga mereka menjadi pandai menggunakan senjata beracun, bahkan mereka diajari juga ilmu silat Tauw-lo-ciang, hingga mereka diandali Im Ciu It Mo sebagai pembantu-pembantu setia dan lihai, guna nanti dia menjagoi dunia Kang Ouw.

Melihat nona Cio, yang dia kenali, Leng Gan tertawa mengejek berulang kali.

"Hm, budak bau !" hardiknya. "Nyata disini kita bertemu pula ! Tak nanti kami melupakan sakit hati terkutungnya tangan kami, maka sekarang kami mau menuntut balas berikut bunganya !"

Kiauw In tertawa.

"Tak kusangka kalian berdua, kegalakan kalian masih tak berubah !" katanya. "Percuma saja ketika di puncak Tiauw JIt Hong aku menaruh belas kasihan kepada kalian !"

Leng Ciauw gusar sekali. Dengan tangan kirinya, tangan semengga-mengganya itu, dia menghunus goloknya, untuk dikibaskan.

"Cio Kiauw In !" bentaknya. "kau kurangilah ocehanmu yang tak ada gunanya itu ! Paling baik kau serahkan nyawamu

!"

Leng Gan juga mencabut golok dengan tangan kanannya yang tunggal, terus dia melangkah maju hingga berdua saudara, mereka berdiri berendeng rapat, hingga mereka tampak seperti seorang dengan kedua tangannya lengkap. Di lihat dari berkilauannya golok mereka, tak usah disangsikan lagi yang kedua golok itu pernah direndam atau telah dipakaikan semacam racun.

Ya Bie tidak puas menyaksikan lagakanya dua orang yang bertangan buntung itu. Dia berlompat maju seraya memutar ularnya, untuk diteruskan dipakai menyambar mukanya dua orang yang jumawa itu. Ular hijau itu mengulur lidahnya, buat dibuat main, sedangkan matanya bersinar beringas. Melihat ular itu, Yang Tio Siang Cian yang ada orang-orang Kang Ouw berpengalaman menjadi kaget.

"Sian Liong !" seru mereka berbareng.

Ternyata mereka mengenali Sian Liong, si ular beracun, Naga Sakti. Lantas mereka berlompat mundur, sebab mereka takut nanti kena dipagut ular lawan itu. Meski demikian, habis mundur mereka berlompat maju pula, kali ini untuk menebaskan golok mereka. Niat mereka agar ular itu dapat dibacok kutung !

Ya Bie menarik pulang ularnya, atas mana ia lantas diserbu.

Kedua saudara Leng maju terus sambil mengulangi serangannya, kali ini golok mereka mencari sasaran pada bahu dan perutnya si nona. Hebat serangan serempak itu.

Nyata sekali, walaupun tangan mereka masing-masing kurang satu, sekarang ini mereka itu berlipat lihai daripada semasa di puncak Tiauw JIt Hong. Ya Bie sudah cukup berpengalaman, tetapi toh belum pernah ia kena dibikin repot senjata begini cepat, maka juga ia berkelahi dengan waspada. Leng Ciauw bukan saja kejam, dia juga jail bahkan cabul. Selamanya dia menusuk atau membacok ke arah perutnya si nona, membuat nona itu mendongkol berbareng jengah hingga mukanya menjadi merah. Tentu sekali, ia gusar bukan main. Muridnya Kip Hiat Hong Mo bukan sembarang murid, karena panas hatinya, nona polos itu jadi menggertak giginya. Ia memasang mata dengan tajam. Begitulah ketika golok menyambar ke bahunya, ia berkelit dengan dibarengi gerakan kaki "Angin puyuh di tanah datar". Tubuhnya bagaikan melilit dengan lincah sekali, hingga ia bebas dari ancaman maut.

Jangan kata tubuhnya, ujung bajunya pun tidak berkenalan dengan golok lawan. Karenanya, kontan ia membalas dengan meluncurkan ularnya ke dada orang !

Cepatnya gerakan senjata kedua belah pihak tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Itulah bagaikan berkelebatnya sang kilat. Leng Gan dan Leng Ciauw merasa heran, kaget dan kagum. Nona yang baru berusia tujuh atau delapan belas tahun ini ternyata lihai luar biasa, sebab ia sanggup menyelamatkan diri dari serangannya dengan jurus silat golok "Giok Sek Hun Tuaw" atau "Batu Kemala Terbang Berhamburan". Itulah suatu jurus mereka yang lihai sekali.

Sudah musuh lolos, lantas mereka pun dibalas serang dengan sama hebatnya, sebab ular hijau itu, si Naga Sakti, meluncur ke depan mereka ! Terpaksa dua saudara itu bergerak mundur seperti semula tadi.

Ya Bie pun mengerti ancaman bahaya dari musuh barusan, maka itu selagi kedua musuh mundur, ia tidak menyusul, sebaliknya, ia berdiri diam untuk menatap kedua musuh itu.

Diam-diam di dalam hatinya ia mengucap syukur yang barusan ia dapat menyingkir dari ancaman maut. Jantungnya memukul keras, nafasnya pun mendesak. Seperti si nona mengawasi lawannya, kedua lawannya pun menatap tajam pada nona itu. Mereka heran sekali. Kiauw In juga kaget ketika melihat Ya Bie terancam bahaya, hampir ia berlompat membantunya, buat menghindarkan dia dari bahaya atau segera ia mendapat kenyataan kawan itu lihai, tubuhnya ringan dan gesit dan pengalamannya pun cukup. Ia merasa hatinya lega. Walaupun demikian, tidak dapat ia membiarkan kawan itu tetap melayani dua orang musuh yang lihai.

"Adik, silahkan mundur !" katanya kemudian. "Biarlah kakakmu yang berhitungan dengan mereka, buat menyelesaikan segala-galanya !" Dan ia lompat maju ke depan orang guna menghadapi lawan.

Ketika itu It Hiong telah dengan cepat membantu So Hun Cian Li. Dengan bantuannya Lee-cu, ia mencabut jarum beracun dari tubuhnya si orang utan. Sebenarnya jarum tidak menancap dalam saking kerasnya kulit tetapi jarum beracun dan racunnya tetap berbahaya. Berkat khasiatnya mutiara mustika, racun itu dapat dilenyapkan dengan segera dan lukanya lantas sembuh seperti sedia kala.

Adalah pikirannya It Hiong akan menempur Yan Tio Siang Cian tetapi waktu ia mendengar suaranya Kiauw In, ia membatalkan niatnya itu. Ia bersedia membiarkan si manis yang melayani musuh. Ia hanya berdiri di sisi sambil memasang mata.

"Fui !" Ya Bie berludah, lalu terus bertindak kepada It Hiong untuk berdiri berendeng dengan anak muda itu.

Habis berkata itu, Kiauw In maju dengan perlahan, kemudian ia menghentikan langkahnya sambil berbareng merintangi pedangnya di depan dadanya. Kata ia dengan bengis : "Orang-orang she Leng, hendak aku melihat ilmu pedang bersatu padu dari kalian berdua ! Hendak aku membuktikan sampai dimana kemahiran kalian menggunakan golok kalian ! Nah, kalian majulah !"

Sepasang alisnya Leng Gan bangkit. Hebat kata-katanya si nona.

"Hm ! Hm !" dia perdengarkan suara seramnya. "Bagus ! Memang hendak aku mencoba ilmu golokku kepadamu ! Kau kenalilah Cu-Ngo Hap Pek To !"

Itulah nama golok yang berarti "golok bersatu padu diwaktu tengah hari dan tengah malam". Dan menyusuli berakhirnya kata-katanya itu, Leng Gan dan saudaranya sudah lantas bergerak dengan berbareng, goloknya masing-masing turut bergerak juga, hingga sinarnya berkilauan di antara cahaya matahari. Kedua golok bergerak satu dari atas ke bawah dan yang lainnya dari bawah ke atas.

Nona Cio sudah bersiap sedia, ia lantas menggerakkan pedangnya buat melayani. Oleh karena percaya kedua lawan benar-benar lihai ilmu goloknya, Kiauw In tidak sudi berlaku sembrono. Ia berkelahi dengan berhati-hati dengan ilmu pedangnya Sam Cay Kiam, yang berarti "Langit, Bumi dan Manusia". Karena ia bersedia menyambut bentrokan, senjata mereka bertiga lantas juga saling bentrok satu dengan lain hingga terdengarlah berulangkali suaranya yang nyaring dan membisingkan telinga.

Benar-benar lihai ilmu golok Cu-Ngo Hap Pek To dari Yan Tio Siang Cian. Semua gerakannya cepat dan rapi, satu dengan lain dapat bekerja sama dengan baik. Mereka menangkis sendiri atau menyerang sendiri juga, tetapi lebih sering mereka menyerang dengan berbareng tetapi dengan arah sasarannya berlainan, guna membingungkan lawan. Tak jarang mereka membatalkan atau merubah serangan mereka melulu buat menukar siasat, guna memakai sekali jalan.

Kiauw In melayani dengan sama cepatnya tetapi pun berbareng dengan hati dingin. Dengan bersikap tenang itu, perlahan-lahan ia menyelami ilmu golok lawannya. Dengan cepat ia mengetahui kedua lawan ini bukan lawan-lawan yang dahulu. Mereka benar-benar lihai. Maka ia terus berlaku sabar dan waspada. Ia mengerti, kedua lawan tak dapat dirobohkan dalam tiga atau empat puluh jurus saja. Ia bergerak gesit dengan menggunakan ilmu ringan tubuh Te In Ciong atau Tangga Mega, yang telah dikuasai It Hiong dengan baik sekali. Nyata ia dapat mengimbangi si anak muda. Demikian, ia senantiasa berkelebatan bagaikan gerak geriknya seekor walet.

Di dalam pertempuran itu, yang paling tegas tampak ialah berkilauannya sebatang pedang dan dua batang golok, mirip sinar membulang-baling dari sang kilat. It Hiong menonton dengan perhatian penuh, ia pun mengagumi kedua saudara Leng itu, yang menjadi lihai luar biasa. Tentu sekali ia sangat perhatian terhadap Kiauw In, sang kakak seperguruan yang ia hormati berbareng kekasih yang ia cintai.

Tanpa merasa pertempuran sudah melalui jurus kelimapuluh. Matahari miring ke barat, sang waktu telah mendekati magrib. Hal itu membuat hatinya It Hiong menjadi kurang tenang. Beberapa kali ia berniat maju, guna membantui sang kakak tetapi selalu ia batal sendirinya. Ia malu sendirinya. Sebab ia mesti menghargai kehormatan dirinya selaku laki-laki sejati. Bukankah ia muridnya satu partai persilatan tersohor ? Tak dapat ia melanggar aturan kaum Kang Ouw walaupun Yan Tio Siang Cian bukanlah orang yang harus dihormati. Disebelah itu, puas ia menyaksikan Kiauw In tak kalah desak.

It Hiong terus berdiri diam mengawasi pertempuran berlangsung.

Ya Bie juga kagum bukan main. Belum pernah ia melihat caranya Kiauw In bersilat seperti itu, bagitu pun tidak ia sangka yang Yan Tio Siang Cin demikian tangguh. Goloknya si penderita cacat lihai sekali, sangat berbahaya ! Pertempuran berlangsung terus sampai mendadak dari rumah batu tampak munculnya beberapa orang yang berlari-lari bagaikan bayangan hitam, sebab sudah pakaian mereka seragam hitam, muka mereka ditutup dengan topeng hitam juga.

Ya Bie bermata celi, ia mendapat lihat munculnya orang- orang itu. Segera ia menarik ujung bajunya It Hiong dengan ia memperdengarkan suara tertahan. Menyusul seruannya si nona, dari belakang yang terus menyambut orang-orang yang baru datang itu. Hingga mereka itu tampak terkejut terus memisah diri, guna melayani serangan tiba-tiba itu.

Kiranya bayangan hitam itu ialah So Hun Cin Lie. Dia ini mendongkol yang tadi dia telah terkena jarum beracun, meski dia selamat, hatinya toh panas sekali. Maka itu, melihat datangnya beberapa orang itu, dia lantas maju menyerang ! Dia ingin melampiaskan kemendongkolannya itu.

Dalam halnya ilmu silat, kepandaiannnya So Hun Cian Li sudah mencapai taraf orang Kang Ouw kelas satu, sekarang dia berkelahi karena kemarahannya, dapat dimengerti yang dia menjadi kosen sekali, sepasang tangannya yang berbulu menyambar-nyambar dengan hebat ! Beberapa orang berseragam hitam itu menjadi repot dalam sekejap, tak peduli mereka berjumlah lebih banyak serta bersenjatakan senjata tajam. Terpaksa mereka lebih banyak berkelit daripada menyerang. Ya Bie yang polos menyaksikan pertempuran binatang piaraannya itu, ia senang sekali, dengan menaruh kepalanya di dadanya It Hiong, ia tertawa geli.

It Hiong sebaliknya berfikir keras menyaksikan dua rombongan pertempuran itu, yang dua-duanya berimbang serunya. Justru itu, ia bagaikan disadarkan kelakuan polos dari Ya Bie itu, telinganya mendengar tawa halus yang merdu dan hidungnnya mencium bau harum dari nona cilik itu. Tanpa merasa, ia merangkul nona itu.

"Adikku, apa artinya ini ?" tanyanya.

Ya Bie berhenti tertawa, ia mengangkat kepalanya, menatap si pemuda.

"Aih !" serunya perlahan.

Ke empat mata bentrok sinarnya, itu berarti banyak bagi hatinya kedua orang. Mereka merasakan seperti tengah bermimpi atau melayang-layang di udara....

Tak lama muda mudi itu bagaikan bermimpi, mendadak It Hiong sadar. Itulah disebabkan dari medan pertempuran, suara berisik berkurang secara tiba-tiba. Ia lantas menoleh dan mengawasi.

Benar-benar pertempuran telah berubah sifatnya. Tiba-tiba terdengar satu suara tertahan. Lantas tampak tubuhnya seorang berseragam hitam terlempar tinggi, terus jatuh ke dalam jurang disisi mereka. Di pihak lain, dua saudara Leng bertempur tanpa rapat lagi satu pada lain seperti mula- mulanya, mereka jadi terpisah hingga meraka tidak dapat bersilat golok bagaikan bersatu padu, akan tetapi di lain pihak, dengan memisahkan diri, mereka merangsak, menggencet di kiri dan kanan.

Kiauw In merubah juga caranya bersilat dari ilmu Sam Thay Kiam, ia menukarnya dengan Khie-bun Patkwa Kiam, hingga sekarang dapat ia mengimbangi tangkisannya dengan serangan pembalasannya. Ia sanggup membikin sepasang golok lawan bagaikan terkekang di luar. Tadi pun ia yang memaksa lawan merenggangkan diri.

Walaupun mereka telah memisahkan diri, hingga ilmu golok gabungan mereka menjadi terintang, Leng Gan dan Leng Ciauw pun telah memikir akal mereka yang licin. Dan akal itu, mereka tak menunda lama untuk mewujudkannya. Dengan satu gertakan goloknya, Leng Gan si kakak menggunakan jurus silat "Walet Menyambar Air" hingga ia mencelat ke belakang si nona. Selagi mencelat itu, ia menggunakan kesempatan merogoh ke dalam sakunya, menyusul mana tangannya dikibaskan, membuat tiga buah sinar perak berkilauan meluncur ke kepalanya Nona Cio, meluncurnya sambil berputar ! Senjata rahasia itu pun berbunyi nyaring.

Itulah senjata rahasia istimewa dari Leng Gan, namanya "Hui Hoan Yan-ciu Piauw atau piauw walet terbang berputar". Sudah piauw itu direndam di dalam racun, juga meluncurnya berputar-putar mirip bumerang. Bentuknya piauw mirip burung walet dari mana nama itu diambil (yan-ciu). Jahatnya racun ialah membuat daging bonyok dan lepas dari tulang !

It Hiong melihat senjata rahasi itu, diam-diam ia berkuatir buat keselamatan pacarnya. Bukankah piauw itu telah berputar dan bersuara membingungkan ? Dari terkejut, ia menjadi gusar! Musuh berlaku curang ! Maka maulah ia membantu kakak seperguruannya. Begitulah ia menolak tubuhnya Ya Bie, berniat melompat maju.

Di luar dugaan anak muda ini, ia telah didahului si nona polos. Tahu-tahu nona itu sudah mencelat tinggi dua tombak, dengan loncatan "Ular Hijau Melintasi Pohon", jauhnya setombak lebih. Berbareng denganitu, dia pula sudah lantas menyerang dengan dua-dua tangannya, tangan kanannya meluncurkan ularnya dengan jurus silat "Rantai Putih Melintangi Sungai" dan tangan kirainya menolak keras dengan tolakan "Menolak - Menumbuk" hingga tiga batang piauw musuh kena tertolak terbang kembali !

Celakanya, piauw itu menyambar ke arah empat orang yang lagi mengepung So Hun Cian Li, mereka itu kena mencium bau racun, kontan kepala mereka terasa pusing. Syukur mereka masih dapat bertahan, sedang kawan mereka yang satunya, ialah orang yang telah dilemparkan ke dalam jurang.

Dua batang piauw kena disampok si ular hijau, terpentalnya keras hingga mengenakan batu gunung, suaranya nyaring, percikannya pun terpencar terus terlihat asapnya. Yang hebat ialah batu itu lantas menjadi hangus seperti bekas terbakar !

Maka celakalah siapa terkena piauw jahat itu !

Masih satu piauw mencelat kepada si orang utan, ketika dia ini berkelit, piauw meluncur terus pada seseorang yang berseragam hitam itu. Dia terkena pipinya, dia menjerit, terus dia roboh seketika, tak berkutik pula. Ketika dia kena terhajar, piauw mengeluarkan asap biru, waktu dia roboh terkulai, cepat sekali dagingnya lodoh dan lepas dari tulang-tulangnya ! Tatkala itu It Hiong pun maju. Sebab ia tak dapat membiarkan orang nanti menyerangnya dengan piauw "walet" yang lihai itu. Ketika itu pula, Yan Tio Siang Cian sudah berhasil merapatkan diri pula satu dengan lain, hingga golok mereka dapat dibuat bersatu padu kembali.

Kembali Kiauw In menempur kedua musuhnya. Nampaknya kedua belah pihak seimbang kekuatannya. Tapi setelah It Hiong dan Ya Bie maju, perubahan sudah mengambil tempat dengan cepat sekali. Lebih-lebih karena si anak muda tak sudi memberi hati.

Baru sepuluh, dua saudara Leng sudah lantas kena terkurung. Syukur bagi mereka, ilmu golok Cu-NgoHap Pek To lihai sekali, mereka masih sanggup bertahan. Kiauw In tidak sudi mengepung lawan. Melihat majunya It Hiong bersama Ya Bie, ia lantas mencari kesempatan buat mengundurkan diri, untuk berdiri diam di pinggiran seraya memasang mata, bersiap sedia buat sesuatu kejadian. Dari empat orang berseragam hitam, semua sudah melayang jiwanya. Kecuali yang satu yang terbinasa piauw jahat itu, tiga yang lain menyerahkan jiwanya pada pagutannya sang ular hijau.

Pertempuran di antara It Hiong dan YanTio Siang Cian berjalan terus, hanya kali ini tak berlarut-larut lagi. Lewat sesaat, sinar pedang menyambar kedua saudara she Leng itu, Leng Gan menangkis dengan goloknya, hingga kedua senjata bentrok keras dan berisik sekali, hanya menyusul itu, darah muncrat berhamburan, disusul robohnya tubuh si penderita cacat yang terguling di tanah ! Namun korban itu bukannya sang kakak, hanya Leng Ciauw sang adik !

Apakah yang telah terjadi ? Kejadian itu membuat It Hiong menjublak sedetik ! Sebenarnya ilmu silat Cu-Ngo Hap Pek To dari Yan Tio Siang Cian juga berdasarkan kedudukan Ngo Heng atau panca benda, ialah emas, kayu, air, api dan tanah, yang satu sama lain saling menarik manfaatnya. Dengan demikian, kedua saudara itu biasa bergerak saling mengambil atau menukar tempat. Ketika It Hiong menikam, tepat Leng Gan dan Leng Ciauw sedang menukar tempat, maka itu Leng Gan selamat dan sang adik bercelaka !

Sebenarnya Leng Ciauw masih sempat menangkis, tetapi disini mereka mengadu bukan melulu tenaga luar, golok melawan pedang, hanya tenaga dalam, maka itu, sebab si orang she Leng keteter, dialah yang kalah dan roboh sebagai korban !

Kagetnya Leng Gan bukan kepalang, sendirinya tubuhnya segera mencelat mundur, hatinya giris menyaksikan saudaranya roboh dengan bermandi darah. Dia bergemetar dan bermandikan peluh seketika juga. Tanpa ragu pula, dia memutar tubuhnya buat terus melangkah, mengangkat kaki panjang untuk kembali ke dalam rumah batu itu !

Bukan main mendelnya It Hiong menyaksikan cara pengecut dari Leng Gan tiu. Dia bukan bergusar dan berdaya membalaskan sakit hati adiknya, dia justru kabur. Saking mendongkol, anak muda kita berlompat menyusul.Leng Gan dapat berlari keras, sebentar saja dia sudah memisahkan diri belasan tombak jauhnya dari anak muda kita, akan tetapi dia keliru menerka anak muda itu. Orang dapat lari keras dengan mengandalkan ilmu ringan tubuh Tangga Mega dan juga Gie Kiam Sut, terbang mengendalikan pedang. Dalam sengitnya, si anak muda menyerang dengan satu lemparan pedang ! Itulah jurus silat yang diberi nama "Melemparkan Pedang Tercipta Menjadi Naga", pedang diluncurkan dengan dorongan tenaga dalam, dengan demikian, senjata itu racun menyerang ke tempat jauh.

Hanya sekejap terdengarlah jeritan hebat dari si orang she Leng, yang tubuhnya lantas roboh dengan bermandikan darah, sedang larinya belum sejauh tiga puluh tombak. Yang paling hebat ialah ketika kepalanya jatuh bergelutukan di tanah sebab batang lehernya kena tertebas kutung !

Sambil berseru nyaring, It Hiong menarik pulang pedangnya itu, yang mirip pedang mustika.

Ya Bie melongo mengawasi pedang itu atau si anak muda. "Sungguh pedang mujizat !" pujinya.

Kiauw In sebaliknya, menghela nafas.

"Ah, adik. "katanya. "Mengapa kau bertindak secara

demikian ?"

It Hiong mengangkat alisnya, terus dia tertawa. "Mungkin ini disebabkan kutukan pembunuhanku. "

sahutnya, singkat.

Ketika itu, gunung sangat sunyi dan dari rumah batu juga tidak terlihat gerakan atau terdengar suara apa-apa. It Hiong mengawasi ke rumah batu itu, kemudian ia menoleh pada Kiauw In.

"Aku kira jalan untuk turun gunung mesti dengan melewati rumah batu itu," katanya, "karena itu, mari kita pergi ke sana akan melihat-lihat !" Tanpa menanti jawaban, habis berkata itu, si anak muda terus bertindak maju. Tanpa kata apa-apa, Kiauw In mengikuti. Ia dibuntuti oleh Ya Bie serta So Hun Cian Li.

Kiranya rumah batu itu berpintu satu, ditengah-tengah, dan ketika itu, pintunya pun tengah terpentang lebar-lebar !

"Tahan !" mencegah Kiauw In, waktu ia melihat It Hiong dan Ya Bie mau lancang masuk ke dalam rumah itu.

Si anak muda segera menghunus pedangnya. "Kepandaiannya Im Ciu It Mo mengandalkan pada racun

melulu !" katanya. "Kalau bicara tentang ilmu silat. "

Belum selesai kata-katanya si anak muda ini atau Ya Bie telah bersiul nyaring, atas mana terus So Hun Cian Li berlompat memasuki pintu !

Kiauw In menoleh kepada nona polos itu, katanya : "Adik cerdas sekali dan pengetahuanmu tentang kaum Kang Ouw telah bertambah banyak !

Nona itu tertawa.

"Kakak cuma memuji !" katanya, tertawa. "Dengan caraku ini, aku cuma seperti melemparkan batu untuk menanyakan jalanan !"

Kiauw In bersenyum, begitu juga It Hiong. Langit sementara itu makin guram.

Dari pihaknya si orang utan tidak terdengar apa-apa, dia masuk ke dalam rumah batu itu bagaikan dialah batu besar yang tenggelam ke dalam lautan. Terpaksa, Ya Bie bertiga menjadi heran, dari heran lantas timbul kecurigaannya. Kiauw In bertindak maju ke undakan tangga, terus ia melongok ke dalam rumah. Di sebelah dalam, keadaan gelap sekali. Tidak ada api di dalam situ.

Tengah nona Cio mengawasi terus dengan otaknya bekerja, ia mendengar suara angin bersiur di belakangnya, atau tahu- tahu satu bayangan orang berlompat memasuki rumah itu, disusul dengan jeritannya Ya Bie : "Kakak Hiong !" Dan belum suara si nona berhenti, orang sudah lompat pada Nona Cio, yang dia tarik ujung bajunya. Dia pun berkata tergesa-gesa : "Kakak, mari kita masuk !"

Kiauw In melengak sebentar, lantas bersama kawannya itu ia lari masuk ke dalam rumah batu.

Di dalam terdapat sebuah lorong, di kiri dan kanannya ada kamar-kamar dengan semua pintunya tertutup. Setelah masuk lagi lima tombak, gelapnya bukan main, sampai kamar pun tak tampak. Maka itu dengan cepat Ya Bie menyalakan apinya.

Berjalan di lorong yang panjang itu, kedua nona merasai angin dingin bersiur ke muka dan tubuh mereka, hawanya menggigilkan tubuh, masih saja lorong panjang, masih saja pelbagai kamar di kiri dan kanan. Tak usah diterangkan lagi suasana sangat diam dan sunyi mencekam. Tiada terdengar suara apapun.

Kiauw In cerdas dan berani, toh ia merasa cemas sendirinya. Maka timbul kesangsian dan kecurigaannya. Dari It Hiong atau dari So Hun Cian Li juga tidak terdengar apa-apa. Ya Bie jalan terus mengikuti Kiauw In, ia tak jeri sedikit juga. Ia berdiam saja. Ia mengandal betul kepada kakak In itu...... Mereka berjalan hingga sumbu di tangan muridnya Touw Hwe Jie hampir habis. Justru itu baru pertama kali mereka mengkol di sebuah tikungan. Di situ, ruang tetap gelap.

Sampai mendadak, nyala api di tangan si Nona Tanggung padam sendirinya.

"Kakak !" panggil Ya Bie.

Kiauw In mencekal keras tangan orang. Itulah isyarat buat sang kawan menutup mulut. Sebaliknya, sambil menarik tangan orang, ia berjalan cepat sekali. Barusan itu, disebelah depan tampak cahaya api, yang padam dalam sekelebatan.

Nona Cio mencurigai api itu. Ia bertindak semakin cepat, untuk menyusulnya.

Sampai disitu, tiba sudah mereka di ujung lorong itu. Itulah sebuah Toa-thia, ruang besar. Di sebelah kiri ada sebuah kamar samping, yang pintunya separuh tertutup, dari situ tampak sinar api yang memain tak hentinya. Dengan langkah yang ringan sekali, Kiauw In menghampiri pintu itu, untuk terus mengawasi ke dalam kamar. Ia mendapati sebuah kamar orang perempan dan diatas pembaringan tampak dua tubuh manusia tengah rebah merapat satu dengan lain.

Karena lain menghadapnya, muka mereka tidak terlihat. Kaki mereka separuh turun ke sisi pembaringan.

Teranglah itu tubuhnya masing-masing seorang pria dan seorang wanita. Karena kedua tubuh tak pernah bergeming, entahlah orang hidup atau mayat.

Mukanya Kiauw In merah sendiri menyaksikan cara rebahnya kedua tubuh manusia hingga ia mesti menenangkan diri. Ia mesti mengawasi terus sebab ia perlu mendapat tahu siapa mereka itu dan kenapa keduanya berdiam saja. Lewat beberapa detik, Nona Cio masih terus mengawasi.

Kedua orang itu tetap berdiam saja, maka ia juga tidak berkutik atau bersuara, keculai memasang mata. Selama itu, Ya Bie pun membungkam.

Di lain pihak, Kiauw In memikirkan It Hiong, bahkan ia menguatirkannya. Kemana perginya pemuda itu ? Dia selamatkah atau menemui suatu rintangan ?

"Cis !" Ya Bie memperdengarkan suara jemunya setelah ia mengawasi kedua tubuh diatas pembaringan itu. Ia menoleh ke lain arah dengan kulit mukanya merah saking jengah. Ia polos tetapi ia mengerti keadaan itu.

"Asal dia bukannya Kakak Hiong " katanya kemudian,

perlahan.

Kiauw In terkejut mendengar suara si nona, hingga ia membuka lebar matanya mengawasi tubuh pria di pembaringan itu. Likat atau tidak, jemu tak jemu, ia toh mesti mengawasinya.

"Adik, kau tunggu disini, " katanya kemudian. "Aku mau masuk ke dalam kamar guna melihat tegas siapa mereka itu. "

Ya Bie mengangguk, menyatakan setuju. Kiauw In berjalan berjinjit memasuki kamar, pedangnya ia hunus ketika ia berlompat ke depan pembaringan. Api lilin di dalam kamar membuat orang bisa melihat cukup terang. Sekarang nona Cio dapat melihat. Si wanita ialah Peng Mo si Bajingan Es.

Entahlah si pria, yang mukanya teraling bantal sulam. Hanya pakaiannya menandakan dialah It Hiong.... Saking terkejut, tubuhnya Kiauw In menggigil, hatinya goncang. Tak kelirukah penglihatannya itu ? demikian pikirnya. Ia bingung bukan main. Selagi pikirannya kacau itu, Kiauw In toh ingin sekali ia memperoleh kepastian. Maka juga ia mencoba menenangkan hatinya, sembari mengawasi, ia meluncurkan tangannya yang memegang pedang. Hendak ia menowel tubuh pria itu. Tau-tau tiba-tiba.

"Jangan bergerak !"

Itulah suara yang tawar sekali. Yang nadanya bengis, namun tak dapat dipastikan itulah suara pria atau wanita....

Tiba-tiba saja api lilin bergerak, terdengar suara meletupnya bunga apinya, yang mengeluarkan sinar kebiru- biruan. Sinar itu membuat suasana di dalam kamar menjadi seram. Dalam terkejutnya, Kiauw In menarik pulang

tangannya yang di ulur ke pembaringan serta ia segera berpaling, buat melihat siapa itu yang membuka suara yang nadanya bengis itu.

Di belakangnya, Nona Cio melihat seseorang dengan rambut panjang yang teriap-riap ke bahunya, mukanya ditutup dengan kain hitam, hingga tampak saja dua biji matanya yang sinarnya tajam dan galak, sinar mata itu kebiru-biruan. Tubuh orang tertutup jubah hitam gelap, yang tangan bajunya lebar. Ujung tangan bajunya itu sama panjangnya dengan ujung bajunya, turun sampai nempel dengan lantai. Hingga kalau dipakai berjalan, pasti kedua ujung itu bakal terseret-seret !

Biar bagaimana, hatinya Nona Cio toh giris, orang nampak seram sekali. Tapi dengan lekas ia dapat menentramkan hatinya. Maka lantas ia dapat menerka, orang tentunya muridnya Im Ciu It Mo atau orangnya si Bajingan yang telah menjadi korban obatnya yang lihai. "Kau pergilah !" akhirnya dia mengusir.

Orang bertopeng itu berdiri tegak, dia seperti tak mendengar bentakan si nona. Tetap dia menatap dengan matanya yang tajam itu. Kiauw In menjadi tidak puas. Ia memang paling tak menyukai orang menatapnya tanpa sebab atau urusan. Tidak bersangsi pula, ia meluncurkan pedangnya pada orang itu !

Aneh si orang berjubah hitam mirip bajingan itu. Dengan mudah dia berkelit setindak, habis itu dia berdiri diam pula, sama sekali dia tak mau membalas menyerang.

"Sahabat !" Nona Cio menegur dengan bengis, "kalau kau tetap membawa lagakmu seperti bajingan ini, jangan kau sesalkan yang pedang nonamu nanti tak mengenal kasihan lagi !"

Masih orang itu tidak mau membuka mulutnya, tetap dia membisu. Dia berdiri laksana patung dengan cuma matanya yang terus mengawasi dengan sinarnya yang bengis. Dengan si nona cuma terpisah kira tiga kaki.

Kiauw In meliriki kepada dua orang yang rebah diatas pembaringan, kapan ia melihat pula yang dandanannya mirip dengan dandanannya It Hiong, hatinya bercekat. Sedangnya melirik itu, si orang bertopeng hitam mau dua tindak kepadanya. Hingga sekarang mereka berdiri berhadapan sejarak satu kaki !

Mau tak mau, Kiauw In mundur satu tindak, akan tetapi berbareng dengan itu, dengan pedangnya ia menikam, terus ia membabat ke kiri dan kanan pergi dan pulang -- sasarannya ialah dada dan pinggang. Ia pula menggunakan jurus-jurus dari Khie-bun Patkwa Kiam. Walaupun ia sabar, kali ini dia habis sabarnya.......

Masih saja si orang berjubah hitam itu selalu berkelit, tak sekali juga dia mau membalas menyerang. Masih pula dia mengawasi dengan tajam.

"Aneh !" pikir Kiauw In. Lantas ia menyerang pula, secara berantai. Kembali ia heran dibuatnya. Orang tetap tak melayaninya.

Yang mengherankan yaitu orang pun bisa bergerak demikian lincah di dalam sebuah kamar yang sedemikian sempit. Mestinya orang tak dapat menyingkir dari pelbagai tusukan atau bacokannya itu. Diakhirnya, saking herannya, Nona Cio jadi berpikir keras. Orang aneh sekali, mesti ada sebabnya ! Apakah sebab itu ?

Tiba-tiba muridnya Tek Cio Siangjin menyerang pula, kali ini beruntun sampai delapan kali. Dan kali ini, si orang aneh terus melayani dengan main mundur hingga dia berada dekat pinggir pembaringan. Sampai disitu, disaat sinar matanya bergemerlap bengis, mendadak dia menggerakkan kedua belah tangannya, hingga ujung bajungay terus menungkrap nona di depannya !

Kiauw In terkejut, akan tetapi ia menyambut dengan sabetan pedangnya, membuat kedua ujung baju itu kutung ! Hingga kedua ujung baju itu jatuh ke lantai ! Orang berjubah itu agak terperanjat, dia sudah lantas mundur satu tindak.

Saat ini digunakan baik sekali oleh nona Cio. Ia maju dan menebas, gerakannya cepat bagaikan kilat ! Dan ia berhasil

!Tubuhnya orang itu sebatas pinggang telah kena tertebas, pinggangnya kutung, kedua tubuhnya terus roboh, hanya aneh, walaupun dia telah berlaku demikian hebat, dia tak menjerit atau suara lainnya, dia pula tidak mengeluarkan darah !

Kiauw In berdiri diam sambil mengawasi tajam. Sampai disitu, lenyap sudah keheranan si nona. Kalau toh ia heran, ia cuma mengherani orang yang membuat orang berjubah hitam itu. Dia bukannya manusia yang berdarah daging, dia hanya sebuah boneka !

Apa yang aneh, dari manakah datangnya tadi suara tawanya boneka itu ?

Kiauw In melihat rahasia orang setelah dia memeriksa pinggang orang yang terkutung itu, yang terbuat dari benang perak.

"Hm !" si nona memperdengarkan suara dinginnya. Ia telah menjadi korban kelihaiannya Im Ciu It Mo. Karena ini dengan perlahan ia bertindak ke pembaringan. Ia lantas mengulur sebelah tangannya, niat meraba tubuhnya It Hiong, guna menyadarkannya. Atau mendadak ia menarik pulang tangannya itu.

"Ah !" pikirnya tiba-tiba. "Bukankah dua orang ini dua orang manusia palsu belaka ?"

Dengan merandak itu, Kiauw In mengawasi tajam. Untuk memperoleh kepastian, ia lalu menowel dengan ujung pedangnya, menyingkap baju si pria. Kembali ia heran dibuatnya. Orang itu bukannya boneka, dialah orang benar. Anehnya ialah kenapa dia terus berdiam saja.

Habis menyingkap pakaiannya yang pria, Kiauw In juga menyingkap bajunya yang wanita. Dia ini pun manusia adanya.Kenapa mereka tidur bagaikan mayat ? Bahkan suara menggerosnya pun tak terdengar ? Sekarang Kiauw In dibikin sangsi oleh si pria. Dia It Hiong atau bukan ? Ia belum melihat muka orang. Ia menjadi berfikir keras. Ia memasuki tempat itu saling susul dengan It Hiong. Mungkinkah It Hiong lantas bertemu dengan Peng Mo dan keduanya terus tidur bersama ? Kalau memangnya mereka tidur bersama, kenapa mereka menjadi lupa daratan seperti itu ? Kalau It Hiong kena perangkap, itu pun disangsikan si nona. Tak mudah anak muda itu dirobohkan orang. Dia cerdas dan waspada. Dia pula tak nanti terkena racun mengingat yang pada tubuhnya ada Lee-cu, mutiara mustikan yang mujizat itu. Kalau bukannya It Hiong, habis siapakah orang itu ? Kenapa dia justru mengenakan pakaiannya si anak muda ?

Bukan main kerasnya Kiauw In berpikir, sampai akhirnya ia menggertak giginya. Tak mestinya ia menerka-nerka saja. Tak benar buat membiarkan dirinya terus terbenam dalam keragu- raguan. Mesti ia mengambil keputusan. Maka lantas ia bekerja. Dengan sebelah tangannya, ia memegang dan mengangkat tubuhnya "It Hiong", buat dikasih berduduk diatas pembaringan !

Tubuh orang itu sangat lemas, kedua matanya ditutup rapat. Dia rupanya sangat mengantuk.

Tapi yang membuat nona Cio kaget ialah ketika ia melihat muka orang. Itulah mukanya Tio It Hiong !

"Ah !" serunya.

It Hiong tidur bersama-sama Peng Mo ! It Hiong yang demikian muda-lela dan gagah perkasa ! Tanpa merasa, Kiauw In melelehkan air matanya. Ia heran berbareng berduka, bersedih hati. Inilah diluar sangkaannya sama sekali. Sebagai seorang wanita, ia toh merasa jelus juga. Tapi dasar dia sabar dan luwes, hanya sejenak, lantas dapat berlaku tenang pula. Ia tetap heran dan penasaran. Maka ia terus menatap anak muda di depannya itu. Ia seperti hendak menembusi muka dan hati orang !

It Hiong bukannya tidur, dia juga bukannya terkena racun.

Kiranya dia adalah korban totokan !

Maka itu, dengan satu gerakan cepat, Kiauw In menotok tubuh anak muda itu.

Hanya sekejap, It Hiong lantas terasadar. Dia membuka matanya, terus dia mengawasi orang di depannya. Dia menghela nafas perlahan. Terus dia masih mengawasi saja.

"Adik, kau kenapakah ?" Kiauw In akhirnya tanya.

Orang muda itu melepaskan tangannya Kiauw In, yang sejak tadi masih memegangi tubuhnya, terus dia bergerak bangun, untuk melempangkan pinggangnya.

"Tidak kenapa-napa. " sahutnya kemudian.

Kembali Kiauw In heran. Ia mendengar suara orang. Itulah bukan suaranya It Hiong. Ia mengenal baik suara adik seperguruannya dengan siapa baru beberapa menit yang berselang ia berpisah. Karenanya, ia segera menatap.

Si anak muda berpaling, dia memandang si nona. Maka sekarang sinarnya empat buah mata bertemu satu dengan lain. Lagi-lagi Kiauw In terkejut, hatinya bercekat. Ia melihat dua buah mata dengan sinar sesat bengis. Itu bukanlah sinar matanya It Hiong.

"Siapakah kau ?" bentaknya sambil ia lantas lompat mundur.

Habis menatap, anak muda itu nampak telah pulih kesadarannya.

"hm !" ia memperdengarkan suara dinginnya. "Aku ialah aku ! Buat apa kau menanya aku selagi kau sudah tahu ?" Ia menatap pula dengan terlebih tajam, wajahnya memperlihatkan kecentilan. Tiba-tiba ia bersenyum. Katanya pula : "Akulah Tio It Hiong ! Akulah adik Hiong mu ! Kenapa kau tidak mengenali aku ?"

Kiauw In terus menatap tajam. Terang itulah bukan suaranya Tio It Hong ! Tapi, kenapakah pakaian bahkan wajah orang demikian mirip ? Saking heran ia menjadi bingung.

Syukur juga, lekas sekali ia memperoleh pula ketenangannya. Ya, suara dia itu bukannya suara si adik Hiong !

Karena memikir demikian, nona Cio lantas berpikir keras.

Segera ia mengerjakan otaknya. Ia lantas dibantu kesadarannya. Mendadak ia ingat ! Orang itu orang yang memakai topeng ! Orang itu ialah Tio It Hiong palsu ! Dialah Gak Hong Kun yang menyamar sebagai Tio It Hiong !

"Gak Hong Kun !" teriaknya kemudian.

"Ha ha ha !" sela Hong Kun dengan tawa tawarnya. "Nah, kakak Cio, bagaimanakah kalau kau menganggap aku sebagai Tio It Hiong ? Bukankah. " Mendadak saja darahnya Kiauw In meluap. Ia menjadi sangat gusar. Maka mendadak pula ia menebas ke muak orang ! Itulah serangan jurus silat "Daun Yangliu Mengusap Muka". Si nona gusar sebab Hong Kun bersikap centil.

Hong Kun sudah sadar betul-betul, dia cerdik sekali dan matanya pun sangat tajam. Dia mengerti kemarahannya si nona, maka dia selalu waspada. Atas datangnya sontekan, dia lantas berkelit ke samping, tubuhnya terus berlompat maka di saat berikutnya dia sudah mencelat keluar dari jendela dengan lompatan "Ikan Meletik di Antara Gelombang". Hingga lantas dia lenyap di luar jendela itu !

Untuk sedetik, Kiauw In melongo. Ia heran, menyesal dan penasaran. Setelah itu kembali ia dapat menguasai dirinya. Maka paling dahulu ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya.

"Ah !" katanya seorang diri, kemudian ia merasai kulit mukanya panas, sebab kulit muka itu menjadi merah. Ia jengah kapan ia ingat tanpa sengaja ia menjeluskan pemandangan di depan matanya itu. Lantas ia memikir buat mengangkat kaki dari dalam kamar itu bilamana melihat di atas pembaringan masih ada satu orang. Orang itu entah tidur pulas atau sebab kena ditotok orang seperti Hong Kun tadi.

Sebagai seorang kaum sadar, yang hatinya mulia, tak tega Kiauw In meninggalkan orang itu secara begitu saja. Maka timbul keinginannya buat membantu. Maka ia lantas menghampiri, untuk mengawasi terlebih dahulu. Ya, dari cara berdandannya, orang itu Peng Mo atau si Bajingan Es adanya.

Peng Mo menjadi salah satu dari Hong Gwa Sam Mo, dia dengan nona Cio beda diantara sesat dan sadar. Si nona tidak mempunyai hubungan dengan si Bajingan Es, tetapi itu tak mengurangi minatnya menolong. Kecuali menumpas kejahatan, nona kita tak nanti turun tangan membunuh atau melukai orang. Apa pula ia tahu selama di Kiap Gee Kok dari Im Ciu It Mo, Peng Mo pernah membantu It Hiong. Dalam hal ini ia tidak mengambil pusing Peng Mo menolong dengan sejujurnya atau dikarenakan mengandung sesuatu maksud lain. Maka itu, tanpa ragu pula, ia menotok si Bajingan Es membuat orang sadar.

Peng Mo berbangkit untuk berduduk, setelah ia membuka matanya, ia melihat Kiauw In berdiri di depan pembaringannya.

"Ah !" serunya seranya terus mukanya menjadi merah karena jengah. Ia malu sendirinya kapan ia ingat lakonnya tadi sudah berplesiran dengan si anak muda yang ia sangka Tio It Hiong adanya. Dan sekarang ia berhadapan dengan Kiauw In, yang ia tahu siapa adanya. Ia insyaf yang dirinya adalah orang kaum sesat dan si nona orang golongan lurus. Betapa malu ia merasa yang orang telah memergokinya. Tapi, kapan ia tidak melihat "Tio It Hiong" di sisinya atau di seluruh kamar itu, perlahan-lahan bisa ia menenangi diri. Ia mau menerka yang Kiauw In tak memergokinya....

Walaupun semua itu, si Bajingan Es lantas menunduki kepala dan mulutnya bungkam. Ia masih khawatir orang tahu rahasianya. Ia hanya tidak tahu, pria kawan plesirannya itu bukannya Tio It Hiong hanya Gak Hong Kun si It Hiong palsu !

Kiauw In terus mengawasi si Bajingan Es, menantikan sampai ia rasa orang sudah sadar seluruhnya, kemudian sebab orang tunduk dan diam saja, ia menyapa juga.

"Toa suhu, apakah kau bertemu dengan Tio It Hiong ?" demikian tanyanya. Itulah pertanyaan biasa saja dan diajukannya juga dengan sabar tetapi Peng Mo terkejut bagaikan dia mendengar guntur, tanpa merasa tubuhnya bergemetar, hingga sekian lama dia tak dapat memberikan jawabannya.

Kiauw In mengawasi. Ia melihat orang likat. Tahulah ia apa artinya itu. Ia masih belum mengulangi pertanyaannya ketika Peng Mo berkata perlahan : "tidak..... tidak... aku tidak bertemu dengan Tio sicu "

Kiauw In menerka hati orang tetapi ia tidak mau menggoda. Maka ia cuma mengatakan : "Baiklah, Toa suhu! Aku hendak mencari adik Hiong, di sini saja kita berpisahan !"

Begitu ucapannya itu dikeluarkan, begitu Kiauw In lompat keluar kamar. Tentu saja ia tak tahu lakonnya Peng Mo itu.

Si Bajingan Es bertemu dengan Hong Kun secara kebetulan saja. Dari Hek Sek San, dia pergi mendahului Tio It Hiong beramai. Dia tidak diganggu oleh Im Ciu It Mo. Sebab mereka berdua sama-sama kaum sesat dan kedua, It Mo tidak mau bentok dengan Hong Gwa Sam Mo. Biar bagaimana, si Bajingan Tunggal memandang mata juga pada ketiga Bajingan itu. Maka itu, Peng Mo dibiarkan mengambil jalan di dalam terowongan istimewa itu. It Mo hanya mengharap orang lekas meninggalkan wilayahnya.

Kebetulan sekali, diluar terowongan, Peng Mo bertemu dengan Gak Hong Kun yang tetap menyamar sebagai Tio It Hiong. Ketika itu si anak muda justru habis kabur dari wilayah gunung Ngo Tay San dimana ia telah bertempur dengan Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tosin dari Hong Gwa Sam Mo dan kena orang totok pingsan, sampai It Hiong menolong menyadarkannya. Ketika itu Hong Kun tidak sadar seluruhnya. Dia masih terpengaruhkan obat Thay-siang Hoan Hun Tan dari Im Ciu It Mo. Maka dia mirip orang setengah gila. Dia kabur mengikuti jalan pegunungan, tanpa tujuan. Dia cuma tahu yang ia lapar atau berdahaga. Dia melakukan perjalanan buat beberapa hari dan malam, sampai dia tiba di Hek Sek San. Di kaki gunung, di rimba yang jurang, dia berhenti untuk duduk beristirahat.

Kebetulan sekali, hari itu Gwa To Sin Mo muncul bersama dua orang muridnya, In Go dan Bu Pa. Mereka itu dalam perjalanan pulang ke Tian Cong San habis bertempur dengan Im Ciu It Mo dan saling menukar obat pemunah racun. Sin Mo melakukan perjalanan cepat tetapi toh ia sambil berfikir, memikirkan cara bagaimana nanti ia dapat mengalahkan It Mo. Inilah sebabnya, tanpa dikehendaki, langkahnya menjadi pelan.

Bu Pa mengerti pemikiran gurunya itu, ia mengikuti berjalan perlahan pula di belakangnya sang guru. Tidak demikian dengan In Go, yang masih muda sekali, yang cuma tahu bermain-main, yang gemar akan keindahan alam, apa pula waktu itu pikirannya lagi terbuka habis dia berhasil menggunakan jarumnya di Kian Gee Kiap. Terus dia berjalan cepat hingga tahu-tahu dia sudah jauh melewati guru dan kakak seperguruannya itu, masih saja ia berjalan terus. Dia berjalan dengan air muka berseri-seri saking riang hatinya. Tanpa merasa, dia memasuki rimba yang tidak lebat dimana Hong Kun tengah duduk seperti ngelamun. Hong Kun tidak menghiraukan si nona walaupun dia melihat nona yang cantik itu. Di lain pihak, In Go jadi tertarik hati. Si pemuda tampan dan gagah tampangnya. Dia sebaliknya, dia sedang muda belianya, hatinya mudah tergoda. Ketika itu, mereka pun berada berdua saja. Lama dia mengawasi pemuda itu, akhirnya dia mendongkol juga. Kenapa orang berdiam saja ? Kenapa orang tak tergiur akan kecantikannya? Dia tidak tahu yang Hong Kun adalah korban obat dan kesadarannya seperti lenyap.

Dalam mendongkolnya, In Go berpaling ke lain arah, akan mengawasi burung-burung kecil tengah beterbangan berpasangan, hanya tanpa merasa, kelakuannya burung- burung itu justru membangunkan hati mudanya itu. Dengan perlahan-lahan hatinya bergolak, hingga pikirannya pun mulai kacau......

Buat sejenak, In Go pun berdiri diam, sampai suara burung mengejutkannya. Apabila dia sudah coba menentramkan hatinya, dia tertawa sendirinya. Mengingat gejolak hatinya itu, terasa kulit mukanya panas. Tetap dia penasaran. Masih si anak muda duduk menjublak saja. Beberapa kali dia menoleh dan mengawasi. Pernah dia pikir, tak usah dia hiraukan pemuda itu. Dia ingat akan harga dirinya.

Selama itu, In Go terus berdiri diam saja. Dia masih mengawasi burung-burung kecil itu, yang terbang bersenda gurau. Tak tahu dia bagaimana harus mengambil keputusan, meninggalkan rimba itu atau tidak.

Akhir-akhirnya muridnya Gwa To Sin Mo kata secara menggerutu : "Kau tidak mempedulikanku, buat apa aku mempedulikanmu ?"

Hong Kun sebaliknya masih berdiam terus, hanya dengan lewatnya sang waktu, pengaruh obat Thay-siang Hoan Hun Tan atas dirinya berkurang sendirinya, berkurang dengan perlahan-lahan. Terlalu banyak bergerak atau hati bergolakpun dapat melemahkan tenaga obat itu. Di lain pihak, kalau obat itu merangsang obatnya, itu bertambah hebat.

Demikian kali ini, dia seperti sedang lupa akan dirinya hingga dia tak tahu In Go berdiri di dekatnya lagi mengawasi padanya.

Biasanya, dalam keadaan sadar, tak pernah Hong Kun menyia-nyiakan waktunya andiakata ia didekati seorang nona cantik apa pula nona seperti In Go yang hati mudanya itu tengah terbangun hingga si nona tampak sangat cantik dan manis. Sekarang ia telah duduk terbengong buat banyak waktu, itu berarti yang ia sudah beristirahat cukup lama, maka juga perlahan-lahan dengan berkurangnya tenaga obat, ia sedikit sadar. Akhir-akhirnya, dia dapat melihat juga pada si nona. Ia melihat tubuh orang yang langsing. Dengan melihat punggung orang, ia toh sudah tertarik hati.

Angin rimba meniup-niup rambut dan bajunya In Go, yang menjadi memain-main. Angin itu pula membawa bau harum dari tubuhnya, harumnya pupur dan yancie. Bau harum itu membantu banyak menjernihkan otaknya si anak muda. Maka kemudian, dia berbangkit, matanya terus menatap nona itu. Tak berani ia berlaku sembrono.

Di saat Hong Kun memikir buat menyapa nona itu, kebetulan sekali In Go pun tengah menoleh pula ke arahnya, maka sinar mata mereka beradu satu pada lain. Sama-sama mereka saling melihat dengan tegas. Maka dua-duanya lantas melengak, lebih-lebih si nona, yang memperdengarkan suara kaget lalu menunduki kepala sebab dia likat sendirinya.

Dalam keadaan hampir sadar, hatinya Hong Kun pun terbuka. Ia senang menemui nona cantik itu. Lantas ia menoleh ke sekitarnya. Di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Maka legalah hatinya.

Akhir-akhirnya : "Nona !" sapanya, dan ia tertawa. "apakah nona mau pergi ke Kian Gee Kok ?" In Go mengawasi, matanya dibuka lebar.

"Buat apa kau tanya-tanya tentang nonamu ?" dia menjawab, suaranya keras tetapi dia tertawa. "Toh bukan urusanmu sendiri !" Di mulut dia menegur akan tetapi kakinya tak bergeming, tak ada niatnya buat mengangkatnya.

Hong Kun tertawa.

"Aku ialah murid dari Kian Gee Kiap !" katanya. "Aku menyapa kau, nona, sebab aku khawatir nanti tidak dapat menyambut kau sebagaimana selayaknya."

In Go merapikan rambutnya.

"Kau murid dari Kian Gee Kiap ?" ia balik menanya. "Kau hendak memperdaya siapa ?"

"Tidak aku mendusta, nona !" kata Hong Kun. "Aku memang muridnya Im Ciu It Mo !'

In Go menatap.

"Kau tahu atau tidak, apakah aku pernah mendatangi Kian Gee Kiap ?" tanyanya.

Hong Kun melengak.

"Kita baru pernah bertemu satu dengan lain, mana aku ketahui tentang kau, nona ?" katanya. "Laginya. "

"Sudah !" si nona menyela. Tapi dia tertawa. "Kaulah seorang penipu !" Alisnya Hong Kun terbangun, tetapi dia pun tertawa.

"Jangan sembarang menuduh, nona ! Siapa bilang aku penipu ?"

In Go mengawasi dari menatap, matanya menjadi separuh mendelik.

"Mari aku tanya dahulu padamu !" ktanya. "Tadi pagi siapakah itu nona yang membawa-bawa ular hijau yang muncul di ruang besar dari rumah barunya locianpwe Im Ciu It Mo ? Nona itu ada bersama-sama kau ! Dia pernah apakah denganmu ? Dan, kemana perginya dia sekarang ?"

In Go menerka pasti orang di depannya ini ialah It Hiong. Sekarang ia telah mengenalinya. Hanya ia mengenali It Hiong yang palsu. Sebaliknya, pertanyaannya itu membuat Hong Kun melengak. Hong Kun tidak tahu peristiwa It Hiong dengan It Mo itu.

Melihat orang berdiam saja, alisnya In Go terbangun. "Kamu sudah menyerbu Kian Gee Kiap dan mengacau !"

tegurnya, bengis. "Kau sudah tidak sanggup melawan, lantas kau tinggalkan nona itu ! Sekarang di depanku, kau masih berani berpura-pura pilon begini macam ! Bagaimana kau masih berani menipu aku dengan kau mengaku dirimu sebagai muridnya It Mo ? Kalau kau bukannya penipu, habis apakah ?"

Di desak begitu, Hong Kun menjadi tidak senang. Ia gusar. "Sebenarnya kau mempunyai kepandaian bagaimana lihai

maka kau berani mengatakan aku Gak Hong Kun sebagai penipu ?" tegurnya. "Buat apakah aku menipumu ?" "Hm !" In Go memperdengarkan suara dingin. Dia pun mendongkol. "Kalau kau menjadi orang rimba persilatan, tahukah kau akan harga dirimu sendiri ? Seorang jago rimba persilatan, dia berjalan, dia berduduk, tidak nanti dia merubah she dan namanya !"

Hong Kun maju satu tindak.

"Kau mengaco belo, ya ?" tegurnya. "Apakah maksudmu ?" In Go mencibirkan bibirnya.

"Bilang !" katanya bengis. "Bilang sebenarnya, siapakah kau

? Kau Tio It Hiong atau Gak Hong Kun ? atau "

"Tutup bacotmu !" teriak Hong Kun bengis.

In Go gusar hingga dia tertawa berkakak. Dia belum berpengalaman, dia menyangka orang kalah suara dan karenanya menjadi gusar. Dia tertawa sampai dia melengking.

Hong Kun gusar tetapi dia tetap tertarik oleh paras elo si nona. Dia mencoba menguasai dirinya. Dia pun tertawa. Dia lantas menggunakan akal.

"Nona," katanya. "nona, kau cerdik sekali ! Tak dapat aku memperdayaimu ! Nona.... aku mempunyai kesulitan. "

In Go mengawasi. Memangnya dia tertarik oleh ketampanan pemuda itu. Melihat orang menjadi sabar, ia turut menjadi sabar juga. Tak lagi ia tertawa, ia justru lantas menanya : "Bilanglah terus terang, sebenarnya siapakah kau dan apa namamu ? Dan, apa kesulitanmu itu ?" Hong Kun menghela nafas. Ia senang menyaksikan orang berubah sikap.

"Sebenarnya musuhku ialah Tio It Hiong," katanya kemudian. "Dia telah menyamar sebagai aku, baik wajah maupun pakaiannya ! Dimana dia berada, disitu dia menerbitkan onar, untuk menimpakan kesalahan padaku. "

"Benarkah itu ?" si nona menyela, "Tadi pagi ada seorang anak muda yang datang bersama-sama seorang nona yang membawa-bawa ular ! Dia itu memusuhkan gurumu ! Apakah benar dia itu ?"

"Coba nona bilang, wajah dan pakaiannya dia itu, bukankah semuanya sama benar dengan wajah dan dandananku sekarang ini ?"

Hong Kun bicara dengan lemah lembut !

"Ya, segala-galanya sangat mirip !" sahut si nona, yang mengangguk.

"Manusia itu sangat jahat !" Hong Kun kata pula. "Sengaja dia datang mengacau ke Kian Gee Kiap, guna meminjam tangan guruku supaya guruku membersihkan rumah perguruannya ! Dengan begitu, itu artinya dia ingin aku dibinasakan guruku !"

In Go mementang matanya lebar-lebar.

"Apakah kau tidak sanggup merobohkan musuhmu itu ?" tanyanya.

Hong Kun menghela nafas. "Sudah beberapa kali kami bertempur," sahutnya. "Hanya, selama itu kami berdua sama tangguhnya, kami selalu seri saja. "

In Go tidak puas terhadap "It Hiong", tetapi berbareng merasa kasihan terhadap Hong Kun, pemuda di depannya ini. Lantas ia menatap pemuda itu.

"Kau memikir atau tidak untuk menghajar musuhmu itu, guna melampiaskan sakit hatimu ?" tanyanya kemudian.

Hong Kun berpura girang.

"Kau tentunya murid seorang guru yang ternama, nona," katanya. "Kau pasti mempunyai kepandaian silat yang mahir sekali ! Nona, kalau kau benar hendak membalaskan sakit hatiku maka kelak di belakang hari buat selama-lamanya akan aku mendampingimu, untuk setiap saat melayani padamu "

Hebat kata-kata bergula itu. Sedangkan sebenarnya Hong Kun berniat memiliki tubuh orang.

In Go kurang jelas tetapi ia toh merasa senang, hatinya puas. Manis sekali rasanya kata-kata si anak muda. Lantas ia tertawa dan kata : "Kepandaianku tidak mahir akan tetapi akulah muridnya Gwa To Sin Mo si Bajingan Sakti ! Guruku itu ternama semenjak beberapa puluh tahun dahulu !"

Hong Kun terkejut mendengar si nona muridnya Gwa To Sin Mo, tanpa merasa kulit mukanya menjadi panas. Tapi, karena dia cerdik, dia lekas-lekas bersenyum, terus dia tertawa.

"Oh, nona !" serunya. "Kiranya kaulah muridnya seorang guru yang termashur ! Nona, maaf ! Memang telah lama aku mendengar nama besar dari gurumu itu yang aku kagumi !" Ia berhenti sedetik, lalu menambahkan, "Nona kebetulan saja kita bertemu, sudah sekian lama kita bicara, akan tetapi aku masih belum kenal dengan nona, maka itu, apakah dapat nona memberitahukan aku nama nona yang mulia ?"

In Go mengangkat tangannya dan menuding. Tapi dia tertawa.

"Jika kau hendak menanya namaku, tanyakanlah secara langsung !" sahutnya. "Kenapa kau mesti bicara panjang lebar dahulu ? Lagakmu mirip dengan seorang guru sekolah si kutu buku."

Hong Kun merangkap tangannya, buat memberi hormat. "Kau baik sekali, nona !" ujarnya. Tanpa merasa ia pun

sudah bertindak menghampiri nona itu hingga mereka terpisah hanya satu kaki.

In Go tertawa manis, kepalanya pun digoyangi, sedangkan sinar matanya memain dengan indah sekali. Kemudian ia melirik pemuda itu.

"Namaku In Go !" katanya kemudian.

"Oh !" seru Hong Kun, bagaikan orang kaget. "Oh, kiranya nona, Nona In ! Maaf, maaf,aku kurang hormat !"

Puas In Go mendengar panggilan Nona In itu.

"Ya, aku bernama In Go !" katanya. "Baguskah nama itu ?

Baik kau panggil saja aku In Go ! Kau toh terlebih tua dari pada aku." "Baik, nona, aku menurut perintahmu !" berkata Hong Kun. "Adik In Go ! Adik In Go !"

Manis panggilan itu terdengarnya, In Go puas sekali.

Ketika berkata begitu, Hong Kun menatap, air mukanya tersungging senyuman hingga tampak ketampanannya.

Dengan begitu, ia menambah girangnya si nona. Si nona sendiri balik menatap dengan sinar matanya mengandung arti..........

Keduanya berdiam, wajah mereka bersenyum berseri-seri.

Masih mereka saling mengawasi, sampai Hong Kun merasa yang ia sudah memperoleh kemenangan. Lantas ia menganggap baiklah jangan ia melewatkan ketika yang baik itu.

"Adik". katanya. "Kita bertemu secara kebetulan, kita menjadi sahabat, aku girang sekali !"

"Apakah kau ingin bersahabat denganku ?" si Nona Tanya, menatap.

"Asal kau tidak menolak, adik !" sahut Hong Kun cepat. "Bukankah sekarang kita sudah bicara dengan akrab sekali ? Benar bukan ?"

"Benar !" kata si nona, alisnya berkerut. "Sayang, sayang.....kita harus akan berpisah pula. "

Hong Kun melongo.

"Memangnya kau hendak pergi kemana, adik ?" dia tanya.

Dengan berani dia mengangsurkan tangannya, akan menyingkap merapikan rambut di dahi si nona, yang dikacaukan angin.

In Go diam saja, membiarkan orang merapikan rambutnya itu.

"Aku harus pulang !" katanya kemudian.

Hong Kun sengaja menurunkan tangannya ke bahu orang. "Kenapa begini tergesa-gesa, adik ?" tanyanya, prihatin.

"Buat apa kau lekas-lekas pulang ? Kita toh baru berkenalan, bukan ? Bukankah lebih baik kita mencari tempat yang sunyi dimana kita dapat duduk memasang omong dengan asyik ?"

Si nona menggeleng kepala.

"Kenapa ? Kenapa ?" tanya Hong Kun. Mendadak sekali, agaknya dia bingung. "Kau bilang, bilanglah, adik ! Apakah kau mencela aku buruk hingga aku tak pantas menjadi sahabatmu ?"

In Go menghela nafas.

"Jangan menyebut demikian," katanya perlahan. "Bukannya soal tidak pantas Aku mesti lekas-lekas pulang karena

aturan guruku sangat keras. Laginya. "

"Adik. " berkata Hong Kun, yang terus bersandiwara,

buat membikin lemah hati orang. Ia menggoyang-goyang bahu nona itu, agaknya ia menyesal sekali. "Adik, tak kusangka kau begini tega, lantas saja kau hendak meninggalkan aku ! Tahu begini, terlebih baik kita tak usah bertemu. " Kata-kata itu menarik hatinya In Go tetapi ada sesuatu yang membuatnya menahan diri. Itulah tak lain dan tak bukan karena lebih dahulu daripada ini, ia sudah mencintai Bu Pa, kakak seperguruannya, dan Bu Pa pun membalas mencintainya. Kalau sekarang ia tertarik oleh Hong Kun, itulah karena dimatanya anak muda ini tampan luar biasa dan sangat menggiurkannya.

Di saat itu maka terbayanglah dua orang muda : Hong Kun dan Bu Pa !

In Go mengenal Bu Pa semenjak mereka berguru bersama, keduanya selalu berada berdua-duaan, sudah sekian lama mereka mencintai satu dengan lain. Sekarang, mendengar kata-katanya Hong Kun, ia bagaikan tidak mendengarnya.

Itulah sebabnya kenapa ia tidak lantas memberikan jawabannya.

Hong Kun bersenyum. Ia maju lebih jauh. Ia memang pandai beraksi.

"Adik. " katanya, seraya maju terlebih rapat setelah

mana ia memeluk pinggang langsing nona itu, "adik, tak dapat aku berpisah dari kau. Aku pikir, kau juga tentu tak tega

meninggalkan aku. "

In Go terkejut dipeluk laki-laki itu. Mendadak saja ia sadar.

Maka merahlah mukanya. Dia malu. Dengan satu gerakan tubuhnya, dia meloloskan diri dari pelukan si anak muda. Tetapi dia tidak menjadi gusar. Dia bersenyum, lalu dia kata perlahan, nadanya berduka : "Aku mau lekas pualgn sekarang, tentang diriku, jangan kau pikir terlalu banyak. "

Hong Kun maju mendekati pula. Dia menyangka si nona malu-malu kuCing. "Kalau kau toh mau pulang, adik, tak usah kau begini tergesa-gesa," katanya tertawa. "Mari kita duduk pula, kita bicara lebih jauh. Kita bakal berpisah, bukan ? Kenapa kita tidakmau bicara lebih lama sedikit ? Kita harus melakukan sesuatu yang kelak sukar kita lupakan. " Dan ia maju lagi,

berniat memeluk kembali. In Go menatap tajam.

"Eh, eh, kau mau apakah ?" tanyanya. Hong Kun tertawa manis.

"Mau apa ?" katanya bertanya. "Kau tentu telah ketahui sendiri, adikku. Kita harus saling mencinta, dari semula hingga di akhirnya. Sampai kita mati. Mustahil kau tidak tahu itu, adikku ?" Dan dia tertawa pula, lau dengan satu sambaran, dia memeluk pinggang si nona !

In Go kaget. Inilah ia tidak sangka. tak sempat berkelit, tak dapat ia melepaskan pula tubuhnya. Si anak muda memeluk keras sekali. Mendadak ia menjadi gusar. Maka ia melayangkan sebelah tangannya !

"Plok !" mukanya si pemuda kena terhajar.

Hong Kun terperanjat. Pipinya sampai balan, bertandakan lima jari tangan si nona, hingga ia mesti mengusapnya.

Menggunakan saatnya orang terperanjat, In Go meronta, membebaskan diri, setelah mana ia mundur dua tindak. Ia menatap anak muda itu, agaknya ia pun bingung sendirinya....... Hong Kun mengawasi pula si nona. Mulanya hendak ia menggunakan kekerasan, akan tetapi kapan ia melihat wajah orang, ia percaya si nona masih belum dapat membaca maksudnya yang sebenarnya. Ia mengawasi, lalu tertawa.

"Ah, adik !" katanya sambil bertindak maju. "Adik, kau main-main secara kelewatan. Kenapa kau menggunakan tanganmu ?" Kembali ia maju mendekati satu tindak.

In Go menatap tajam. Ia bisa melihat wajah orang.

Nampaknya si anak muda itu bersikap keras tetapi segera sikap itu berubah pula. Buktinya dia itu tertawa dan berlaku manis lagi. Tapi ia sudah sadar, maka ia waspada.

"Apakah kau marah padaku ?" tanyanya, tertawa. "Aku telah terlepasan tangan. Apakah kau masih merasa nyeri ?"

Hong Kun mengusap-usap pula pipinya, kemudian dia mengasi lihat tapak balannya, yang masih bersemu merah.

"Nyeri di pipiku tetapi girang di dalam hati !" sahutnya. "Mungkin inilah tanda dari cinta kasihmu, adik..."

Selagi orang maju, In Go mundur pula. Sekarang ia sadar benar-benar, maka juga dari menyukai pemuda itu, di dalam waktu sependek ini, ia jadi memandang tak mata. Ia mundur dengan sepasang alisnya terbangun.

"Aku menyesal atas kelakuanmu ini," katanya. "Aku menyayanginya !"

Hong Kun heran hingga ia melengak. Sungguh hebat perubahan sikapnya si nona. "Apakah yang kau sayangi, adik ?" tanyanya berlagak pilon. "Apakah yang kau maksudkan yang pertemuan kita ini terlambat ?"

Lagi-lagi In Go mundur satu tindak.

"Bukan itu," sahut si nona. "Aku melihat gerak gerikmu ini !

Dengan orang dengan lagak sepertimu ini, tak suka aku bergaul lagi ! Kau harus ketahui aku bukanlah orang yang dapat dipermainkan !"

Habis mengucap itu, In Go memutar tubuh terus melangkah keluar rimba.

Panas hatinya Hong Kun yang kedoknya dibuka si nona, sedangkan nafsunya memiliki nona itu keras sekali. Ia menggertak gigi, lantas ia bertindak ringan tetapi cepat untuk menyusul, setelah datang dekat, tiba-tiba saja dia menotok jalan darah hektiam nona itu !

In Go tidak menyangka jelek, dia tidak bersedia sama sekali. Begitu dia kena totok, tubuhnya terus terhuyung beberapa tindak. Dia pun mengeluarkan jeritan kaget. Justru dia mau jatuh itu, si pria lompat padanya merangkul pinggangnya tanpa dia dapat berbuat apa-apa.

Hong Kun puas sekali berhasil menawan nona itu, dari bersenyum ewah, ia tertawa bergelak. Kemudian ia memandang ke sekitarnya, guna mencari tempat yang cocok dimana ia dapat memuaskan nafsu hatinya terhadap nona itu.

Rimba jarang tetapi di sana sini terdapat semak-semak pohon rendah atau rumput yang tebal dan lebat ! Ketika itu pula, suasana sangat sunyi, sampai suara kupu atau binatang kecil lainnya pun tidak terdengar. Segera si anak muda melihat batu besar dan rata dibawah pohon dimana tadi dia duduk, itulah batu yang menurutnya pantas dijadikan pembaringan. Maka kesana dia pergi sambil memondong In Go. Dengan perlahan-lahan ia meletakkan nona itu di atas batu tersebut.

Di dalam keadaan seperti itu, Hong Kun ingat untuk berlaku hati-hati. Ia lantas melihat sekelilingnya. Rimba tetap sunyi, tak ada lain orang disitu. Kemudian ia mengawasi batu besar, maka ia mendapat kenyataan, meskipun suasana sunyi, batu itu toh terlalu terbuka. Tapi, selekasnya ia mengawasi In Go yang rebah diam saja, yang kecantikannya, juga potongan tubuhnya, sangat menggairahkan, tiba-tiba tak dapat ia menguasai dirinya lagi. Cepat luar biasa, ia lantas membukai kanCing bajunya si nona !

Tepat pemuda itu tengah membukai kanCing orang, hingga dia tak memikir lainnya apa juga, mendadak saja dia merasai kedua belah iganya ada yang sentuh hingga dia terkejut sekali. Kedua iga itu pun terasa sedikit sesemutan. Lantas ia menduga kepada penyerangan pembokongan, maka tanpa ayal pula, berbareng dia memutar tubuhnya, untuk melakukan penyerang hebat dengan dua-dua tangannya.

Akan tetapi, dia menyerang tempat kosong. Tak ada orang disitu. Serangannya itu hanya mengenai daun-daun pohon, yang rontok berhamburan. Dia heran sekali. Menurut dia, sekalipun orang yang tubuhnya paling ringan tak nanti lolos dari hajarannya itu. Toh tadi ia merasa tubuhnya tersentuh dan tubuh itu sedikit bergemetar. Habis apakah itu kalau bukannya serangan gelap ?

Dengan perasaan heran sekali, anak muda ini melihat pula ke sekitarnya, terutama ia memperhatikan pohon-pohon dan semak di seputarnya itu. Tetap ia tidak melihat suatu apa-apa, tetapi --ia merasa-- seperti telinganya mendengar langkah kaki di atas daun-daun dan bagaikan ada bayangan orang diantara semak.......

Dari merasa aneh, Hong Kun menjadi bersangsi bahkan bercuriga. Ia lantas menerka yang tidak-tidak. Ia menyangka mesti ada orang yang mengintai dan membokongnya. Tapi, mana orang itu dan siapakah dia ? Ia berdiam tetapi ia waspada, matanya dibuka lebar-lebar, mengawasi tajam ke sekelilingnya.

Rimba tetap sunyi.

"Sahabat yang mana yang berada disini ?" akhirnya si anak muda bertanya nyaring. "Sahabat, silahkan kau perlihatkan dirimu supaya kita dapat saling bertemu muka !"

Pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban walaupun telah diulangi beberapa kali. Setelah itu, baru anak muda ini merasa hatinya tenteram. Ia mengawasi pula, ia tidak melihat bayangan orang dan tidak mendengar suara langkah kaki diantara dedaunan. Rupanya tadi, ia merasa, bahwa ia dipermainkan daun-daun rontok hingga ia mendapat perasaan yang tidak-tidak......

Matahari pun bersinar terang.

Segera sesudah berfikir tenang, Hong Kun menghampiri pula batu besar dimana In Go tetap rebah tak berdaya.

Keadaannya mirip seorang nona yang lagi tidur nyenyak. Tubuh dan wajah nona itu sangat menggiurkan hatinya. Sang nafas membuat dadanya si nona naik dan turun dengan perlahan. Mengawasi nona itu, dadanya Hong Kun pun memain naik turun seperti dadanya si nona. Dia dipengaruhi sangat perasaan hatinya. Darahnya lantas bergolak, dadanya itu terasa sesak. Dia mirip si srigala kelaparan tengah menghadapi sang kelinci !

Di dalam keadaan seperti itu, masih anak muda ini bercuriga, hingga ia merasa batu besar itu bukanlah tempat yang tepat untuk ia melampiaskan nafsu hatinya. Maka juga lantas ia mengambil keputusan. Segera ia mengangkat dan memondong tubuhnya In Go buat dibawa masuk ke dalam sebuah ruyuk tak jauh di depannya. Dengan berada di dalam situ, mereka berdua akan tak terlihat siapa juga. Karena merasa senang dan puas, selagi memasuki ruyuk, ia menggerutu seorang diri....

Tepat tengah ia melangkah masuk ke dalam ruyuk itu, sekonyong-konyong Hong Kun merasa ada jari tangan yang menekan sin-tong, jalan darahnya yang berarti kematian untuk setiap orang. Dia kaget, hingga lantas saja dia memutar tubuhnya berniat melakukan penyerangan. Atau segera dia didahului bentakan bengis : "Jangan bergerak !" Terpaksa dia membatalkan serangannya. Dia tahu, asal dia menyerang, jiwanya bakal lenyap seketika........

"Hm !" ia lantas mendengar suara yang dingin. "Sahabat, kau datang kemari, apakah maumu ? Apakah yang kau hendak lakukan ?"

Dari suara orang, Hong Kun menerka pada seseorang yang usianya telah lanjut. Pertanyaan itu bernada tak bermaksud jahat. Karenanya ia memikir baiklah ia berlaku sabar, selekasnya ada kesempatan, baru ia mau mengasi hajaran.

Maka lekas-lekas ia menjawab : "Urusanku, lotiang, tidak ada sangkut pautnya denganmu !" Ia membahasakan "lotiang" -- orang tua yang dihormati karena ia percaya orang itu benar seorang tua.

"Oh !" orang itu memperdengarkan suaranya.

Hong Kun telah bersiap sedia, hendak dia menyerang tetapi dia batal. Jari tangannya orang tak dikenal itu tetap mengancam jalan darah kematiannya itu......

"Lotiang," kata ia kemudian, "kaulah seorang dari tingkat tertua, kenapa kau melakukan ini ancaman menggelap atas diriku ? Apakah lotiang tidak takut yang perbuatanmu ini akan merendahkan derajatmu sendiri ?"

Agaknya orang itu melengak, sebagaimana terasa tekanan tangannya tak berat seperti semula.

"Sahabat !" kemudian terdengar suaranya pula, "sahabat, jika kau masih menyayangi jiwamu, kau mesti dengar setiap pertanyaanku dan menjawabnya dengan sebenar-benarnya ! Jika tidak, hm !"

"Kau tanyakanlah !" sahut Hong Kun cepat. "Aku yang rendah, biasanya tak pernah aku mendustai !"

Orang itu tidak menjawab, hanya dia lantas mulai dengan pertanyaannya.

"Sahabat," demikian tanyanya. "Siapakah nona yang kau pondong ini?"

Sinar mata galak dari Hong Kun memain beberapa kali. "Dia ini sahabatku !" demikian sahutnya. "Sungguh licik !" kata orang itu, suaranya menandakan kemendongkolannya.

"Jangan sembarangan mencaci orang, lotiang !" Hong Kun pun sengaja memperdengarkan suaranya yang menyatakan dia tak puas. "Di dalam dunia ini, urusan yang paling besar pun tak melebihkan kematian ! Kenapa lotiang mendongkol tidak karuan ?"

Agaknya orang itu terpengaruhkan kata-kata si anak muda, maka ketika ia bersuara pula, suaranya sabar seperti semula.

"Jika benar seperti katamu, nona ini adalah sahabatmu," katanya, "coba kau jelaskan she dan namanya serta juga nama perguruannya. Kau tentunya tahu jelas, bukan ? Kau bicaralah !"

Hong Kun melengak. Ia cuma tahu namanya In Go, tidak perguruannya. Tapi ia toh menjawab cepat : "Sahabatku ini bernama In Go, kami baru saja bertemu secara kebetulan, lantas kami mengikat persahabatan."

Sebenarnya In Go pernah menyebutkan namanya Gwa To Sin Mo tetapi Hong Kun melupai itu sebab tadi sewaktu si nona memberitahukannya pikirannya masih belum sadar seperti sekarang ini dan ia pun tidak memperhatikannya.

"Oh !" kembali orang itu memperdengarkan suaranya. "Kenapa nona ini tak sadarkan diri di dalam pondonganmu ?"

Kembali Hong Kun terkejut.

"Sebenarnya kita sedang bergurau. " sahutnya kemudian,

sebab tak ada alasan lainnya yang bisa dia kemukakan. "Sedang bergurau ?" tanya orang itu, suaranya menandakan kemurkaannya. Dia pun terus menekan, membuat si anak muda berjengit menahan nyeri, sampai giginya dijatrukan atas dan bawah.

Lewat sesaat, tekanan reda pula.

"Sahabat, kau bicaralah baik-baik." katanya pula orang itu. "Kau harus mengaku dengan sebenar-benarnya ! Jika kau memikir mendustai lohu, itu artinya kau mencari penderitaanmu sendiri ! Mengertikah kau ?"

Dengan kesabarannya, orang itu membahasakan dirinya "lohu", kata-kata merendah dari seorang tua, yang sama artinya dengan "aku".

Hong Kun cerdik sekali. Dia bukannya menjawab, dia justru balik menanya.

"Lotiang," demikian tanyanya, "lotiang pernah apakah dengan nona ini, maka juga lotiang begini memperhatikan tentang dirinya ?"

Sebagai jawabannya, orang itu tertawa bergelak-gelak hingga kumandang tawanya itu menggetarkan rimba. Lalu, terasakan kata-kata demi kata oleh Hong Kun, dia menambahkan, "In Go ini ialah muridku si orang tua !"

Kagetnya Hong Kun tak terkirakan. Dia seperti mendengar guntur. Dia sampai bergemetar seluruh tubuhnya. Dengan lantas, tapinya ia mengasah otaknya. Hingga dia bisa lekas- lekas memulihkan ketenangan dirinya. "Oh, kiranya nona ini murid kesayangan lotiang," demikian katanya, tertawa. "Bagus !"

Orang itu heran.

"Apa katamu ?" tanya dia.

Hong Kun tertawa pula, tertawa licik.

"Coba lotiang tanyakan dirimu sendiri," dia menjawab. "Sebelumnya lotiang dapat membinasakan aku, mampukah lotiang membantu murid kesayanganmu ini ?"

Si orang tua melengak. Baru sekarang ia insyaf yang muridnya berada di dalam tangan orang. Jadinya murid itu terancam bahaya seperti sekarang si anak muda berada dalam ancamannya sendiri.

"Aku si tua bukanlah orang yang dapat diancam, dipaksa !" katanya kemudian. "Kalau muridku mati, aku cuma kehilangan seorang murid ! Sahabat, kau agaknya licik sekali, maka itu silahkan kau ambil jalanmu ke neraka sana !"

Kata-kata itu disusul dengan satu tekanan jari tangannya.

Hong Kun kaget sekali, segera ia merasakan nyeri sampai alisnya berkerut rapat satu pada lain. Terpaksa ia mesti menyerah, maka ia kata susah : "Lotiang, kau berlakulah murah hati ! Aku yang muda akan bicara dengan sebenar- benarnya. "

Orang itu mengendorkan pula tekanannya, dia tertawa. "Hm, bocah yang baik !" katanya mengejek, "bukankah kau

barusan mengatakan manusia itu cuma mati satu kali ? Kalau benar kaulah seorang gagah sejati, buatmu mati ialah mati ! Habis kau mau bicara apakah lagi ?"

Hong Kun meluruskan nafasnya yang sesak, dengan begitu juga ia memperbaiki saluran nafasnya itu.

"Aku yang rendah," sahutnya kemudian, "aku sebenarnya bukan takut mati. Aku hanya tidak memikir akan terjadinya permusuhan diantara guruku dengan kau, lotiang.

Permusuhan itu akan berarti hebat, akan merupakan balas membalas dengan kematian !"

Orang itu tertawa perlahan.

"Di dalam hal ini, bicaramu beralasan," katanya. "Tapi dapat aku jelaskan pada kau, aku Gwa To Sin Mo, jika aku bunuh kau, aku tidak takut yang gurumu nanti datang mencari balas !"

Girang Hong Hun mendengar suara itu. Ia memperoleh kesempatan.

"Lotiang," tanyanya. "Apakah lotiang bersahabat dengan guruku ?"

Pemuda licik ini tidak tahu Gwa To Sin Mo mengenal gurunya atau tidak, ia menggoyang lidah sekenanya saja.

Gwa To Sin Mo sebaliknya heran. "Siapakah itu gurumu ?" tanyanya.

Ditanya begitu Hong Kun lekas memikir. Ia tahu Gwa To Son Mo yang berdiam di jurang Houw Tauw Gay di gunung Tiaom Chong san menjadi seorang lihai yang sesat bukannya sesat, sadar bukannya sadar. Dia itu bertindak sesat atau lurus dengan melihat suasana. Dia ingat, mesti ada sebabnya kenapa Gwa To Sin Mo muncul di Hek Sek San ini. Maka dia pun menerka jangan-jangan Sin Mo mempunyai hubungan dengan It Mo dan mungkin Sin Mo mengandung sesuatu maksud dalam urusan Bu Lim Cit Cun. Dia menduga juga, kalau Sin Mo mengenal gurunya, ada kemungkinan ia pasti pergi ke Heng San.

Di dalam sekejap, Hong Kun mendapat akal. Maka lekas- lekas dia menjawab : "Lotiang, guruku ialah Im Ciu It Mo !"

Mendengar jawaban itu, mukanya Gwa To Sin Mo berubah menjadi suaram, tetapi cuma sejenak, dia terus tertawa dan menanya : "Sahabat, apakah she dan namamu yang mulia ? Kau sebutkanlah !"

Mendengar suara orang bernada sungkan, timbul pula kelicikannya Hong Kun.

"Aku yang rendah bernama Tio It Hiong." demikian jawabannya. Dia sadar pula akan peranannya.

Gwa To Sin Mo heran hingga ia berdiri melengak. Pernah ia bertemu dengan Tio It Hiong, hanya ketika itu It Hiong bersama Ya Bie, muridnya Touw Hwe Jie. Di Kiam Gee Kiap ia bertemu dengan Im Ciu It Mo dan Im Ciu It Mo mengatakan bahwa muridnya bernama Tio It Hiong, hanya ketika itu Tio It Hiong agaknya terganggu urat syarafnya. Ketika ia dan murid- muridnya bertiga melayani Im Ciu It Mo bertempur, Tio It Hiong bersama Ya Bie lenyap tidak karuan. Sekarang di sini ia bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Tio It Hiong dan bukannya Gak Hong Kun ! Bagaimanakah duduknya hal ? Benarkah dua nama itu tetapi orangnya satu ? Kalau It Hiong dari Kiam Gee Kiap, maka manakah kawan wanitanya ? Kenapa dia justru muncul disini tengah mempermainkan In Go

? Kenapakah In Go berdiam saja itu ? Ia tercelakakan atau hanya ditotok hingga pingsan ?

Bingung si Bajingan, tetapi di akhirnya ia dapat pikiran bahwa cuma sesudah muridnya terasadar barulah ia akan mendapat keterangan jelas tentang duduknya hal. Dasar ia telah berpengalaman, walaupun terbenam dalam kesangsian, ia dapat tertawa ringan, pada wajahnya tak nampak sesuatu perubahan.

"Kiranya kaulah laote Tio It Hiong !" katanya tertawa pula.

Bajingan ini telah memikir tak mau menanam bibit permusuhan baru, cukup asal muridnya dapat ditolong dan terasadar, tetapi sebab si naka muda nampak licik, ia berpikir keras bagaimana ia harus mendapati muridnya itu.

Habis tertawa, Sin Mo lantas mengendorkan tekanannya pada jalan darah orang.

"Kiranya kaulah orang sendiri, Tio laote !" katanya pula kemudian. "Aku minta supaya peristiwa barusan jangan kau buat pikiran !"

Hong Kun merasa lega mendapatkan jalan darahnya tak tertekan pula, hanya untuk sejenak ia masih bingung.

"Terima kasih, locianpwe !" katanya yang mendadak berlompat memisahkan diri beberapa tindak, setelah mana dia memutar tubuhnya, terus dia menatap orang dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Orang itu sebaliknya pun mengawasi, sebab ia tetap bersangsi, It Hiong dan Hong Kun satu orang atau dua........

"Tio laote," tanya pula Sin Mo lewat sesaat. "kenapa In Go tidak sadarkan diri ? Tahukah kau sebabnya ? Bagaimana kalau lohu memeriksanya ?"

Hong Kun menjadi bingung. Sebenarnya apa yang dipikirkan ialah segera kabur dengan membawa In Go, supaya di lain tempat, dapat ia ganggu kehormatannya nona itu.

Sekarang si jago tua menanya demikian padanya. Buat kabur dengan begitu saja, dia ragu-ragu. Dia memondong tubuh si nona, tak nanti dia dapat lari cepat dan lolos dari tangannya si bajingan. Bagaimana sekarang ?

Di dalam keadaaan sadar sejenak itu, mendadak Hong Kun ingat halnya si nona adalah muridnya si Bajingan. Maka inilah kebetulan, bajingan itu dapat ia pengaruhi selama si nona belum ia bebaskan atau serahkan. Nona itu dapat digunakan sebagai alat mengancam.

Gwa To Sin Mo menghampiri In Go. Seperti katanya barusan, hendak ia memeriksa kenapa murid itu berdiam saja, tak bergerak, tak sadar.

Hong Kun tak mau dengan mudah saja menyerahkan murid orang. Maka itu selagi si bajingan menghampiri dan sudah mendekati, mendadak ia membentak : "Tahan ! Berdiri diam disitu !"

Sin Mo heran hingga dia berdiri melengak, setelah sadar, dia mengawasi tajam.

"Kau kenapa, Tio Laote ?" tanyanya heran. "Kenapa sikapmu ini ?" Hong Kun bersikap dingin ketika dia menjawab : "Dalam dunia Kang Ouw terdapat banyak sekali kecurangan, karena itu, aku harus berhati-hati ! Demikian dalam urusan kita ini ! In Go ini sahabatku, dari itu lotiang, kau perlu membuktikan dahulu bahwa dia benarlah muridmu ! Apakah bukti lotiang ?"

Gwa To Sin Mo berdiri menjublak mendengar pertanyaan itu, tetapi cuma sejenak, lantas timbul kemarahannya. Alis dan janggut kambing hutannya bangkit berdiri, janggut itu bergoyang-goyang sendirinya ! Dia pun mesti menahan hawa amarahnya. Kemudian lagi, dia tertawa dingin.

"Ka menyebut diri sebagai sahabatnya In Go, apakah buktinya ?" dia balik bertanya.

Hong Kun tertawa. Ia mendongkol yang usahanya dirintangi, ia lupa segala apa.

"Dia berdiam saja ditanganku, itulah buktinya !" ia menjawab keras, sikapnya mengejek. "Dia bukan melulu sahabatku, dia juga daging suguhanku ! Hm !"

Mukanya Gwa To Sin Mo menjadi pucat dan biru saking gusarnya.

"Bagaimana dapat Im Ciu It Mo mendidik murid begini bagus ?" katanya sengit. "Baik, Tio laote! Seakrang hendak aku menyaksikan bagaimana kelicinanmu ! Hendak aku mendapat bukti, siapakah pemilik daging suguhan itu."

Sembari berkata Sin Mo bertindak perlahan menghampiri si anak muda. Hong Kun bingung. Tadi ia cuma membuka mulut lebar saja. Lantas dia mengangkat tubuhnya In Go, di bawa ke depan dadanya. Sembari berbuat begitu, dia berkata nyaring : "Jika lotiang maju lagi satu tindak maka aku akan membinasakan dahulu nyawanya In Go !" Sembari mengancam itu, dia bertindak mundur. Dia mau mundur ke dalam rimba, untuk terus melarikan diri !

Gwa To Sin Mo tidak menghiraukan ancaman itu. Ia melihat orang mundur, ia maju terus. Karena si anak muda mundur tindak demi tindak, ia pun maju langkah demi langkah.

Tak berani Hong Kun membuktikan ancamannya akan membinasakan si nona. Dia masih berat. Dia percaya, kalau In Go mati, tentu si Bajingan tak mau sudah dengan begitu saja.

Demikian dua orang itu, dengan yang satu mundur yang lain maju. Walaupun dengan sangat lambat, akhir-akhirnya mereka masuk juga ke dalam rimba, diantara banyak pepohonan ke dalam mana Hong Kun berniat lari menyelindung agar si jago tua sukar mengejarnya.......

Mendadak Sin Mo menghentikan langkahnya. Lantas dia kata dingin : "Kau harus ketahui sifatku si orang tua !

Seumurku, belum pernah aku menerima ancaman atau paksaan ! Apakah kau memikir menggunakan In Go sebagai manusia jaminan supaya aku tidak turun tangan terhadapmu ? Hm, kau keliru ! Dengan begitu kau justru mencari mampusmu sendiri ! Kau tahu atau tidak ?"

Hong Kun makin bingung. Jantungnya berdebaran. Tak tega dia membinasakan In Go. Dia juga tidak berani melakukannya ! Dia menjadi serba salah ! Tanpa merasa, dia rangkul pula si nona dalam pelukannya. "Tua bangka ini mengikuti aku, belum juga dia mau turun tangan. Apakah yang dia pikirkan ?" demikian tanyanya di dalam hatinya. "Ah, dia juga tentu cuma menggertak aku. "

Terus si anak muda mengasah otaknya. Kemudian ia mendapat satu akal, maka ia lantas menanya : "Lotiang, bagaimana lotiang pikir kalau keadaan kita berdua berubah menjadi sebaliknya ? Lotiang menjadi aku dan aku menjadi lotiang ?"

Sin Mo menjadi berpikir pula. Ia mengangguk-angguk dan kata seorang diri : "Seorang muda dalam keadaan berbahaya, pikirannya tidak kacau itulah pertanda dari orang yang bersemangat. "

Lantas ia mengusuti janggutnya dan mengawasi anak muda itu. Lalu lewat sekian lama, dengan wajah menjadi sabar lagi, ia kata perlahan " "Kau letakan dahulu In Go ! Percaya, lohu akan berbuat suatu kebaikan untuk dirimu !"

Jago tua ini mau menghargai orang yang bernyali besar.

Karena itu, kata-katanya itu mempunyai arti yang sebenarnya. Dia berniat merekoki jodoh muridnya dengan jodoh si pemuda. Dia belum tahu yang In Go adalah kekasihnya Bu Pa

!

Tapi lain adalah niatnya Hong Kun. Dia bukan mencintai In Go. Hanya dia ingin mendapatkan tubuh orang, guna melampiaskan nafsu birahinya.

Lantas si anak muda tertawa dan tanya : "Lotiang, kebaikan apa itu yang lotiang hendak perbuat atas diriku ?" dia pikir, kalau ada kesempatannya, janji si jago tua ini hendak dia memegangnya erat-erat. Gwa To Sin Mo tertawa.

"Laote !" katanya, yang merubah pula cara panggilannya. "Laote, telah lohu melihat jelas segala tindak tandukmu diatas batu besar tadi ! itulah bagus sekali ! Maka itu cobalah kau terka, kebaikan apa hendak kuberikan terhadapmu ?"

Puas Hong Kun mendengar suaranya si Bajingan tua. Tapi dia bermain komedi. Dia menggeleng kepala.

"Sulit, sulit lotiang !" sahutnya. Teka-teki lotiang sukar sekali untuk diterkanya ! Aku minta lebih baik lotiang saja yang menjelaskannya ! Sulitkah ?"

Habis berkata begitu, si anak muda menurunkan tubuhnya In Go, untuk diberdirikan. Supaya si nona dapat berdiri tegak, ia mengulurkan lengan kirinya guna menjagai tubuh orang.

In Go rapat kedua belah matanya. Dia berdiri menyender di tubuhnya si pemuda.

Dengan caranya itu, Hong Kun mau mengelabui Gwa To Sin Mo, agar si Bajingan menyangka nona itu lagi berdiri supaya dia dikira sudah meluluskan permintaan orang itu.

Sin Mo mengawasi, dia mengangguk.

"Tio laote !" katanya. "apakah dengan sesungguhnya hatimu yang kau mencintai In Go ?"

Hong Kun mengangguk.

"Ya," sahutnya. "Lotiang mau apakah ?" Sin Mo menatap, dia menjawab : "Lohu berniat agar In Go. "

Belum sempat si jago tua melanjuti kata-katanya itu, mendadak dari antara segunduk pohon rumput tampak mencelat keluarnya seorang anak muda, yang terus lari ke arah Gak Hong Kun !

Pemuda she Gak itu waspada, dia melihat munculnya orang, lekas-lekas dia memegangi tubuhnya In Go buat diajak menyingkir dari anak muda itu. Tapi si anak muda maju terus dengan sama cepatnya, bahkan dia segera menyerang !

Hong Kun mengenali serangan itu serangan Ngo Heng Ciang. Lekas-lekas dia berkelit. Sekarang dia mengenali Bu Pa, maka dia berseru dengan tegurannya : "Eh, Bu Pa, kau berani kurang ajar ya?" Dia sengaja menyebut keras-keras namanya anak muda tu karena ada pula maksudnya, yang supaya Sin Mo yang mencegak sepak terjang muridnya itu. Dia mau menunjuki yang dia sabar luar biasa, bahwa dia tak mau sembarang bertempur........

Walaupun demikian, Hong Kun tidak pernah menyangka yang segala gerak geriknya yang tadi dipergoki Gwa To Sin Mo telah terlihat oleh Bu Pa sebab muridnya si Bajingan ini mengiringi gurunya. Dan Bu Pa gusar sekali karena kekasihnya telah orang permainkan .

Sebegitu jauh, Bu Pa terus bersembunyi di luar rimba. Ia mengintai dan melihat segala apa. Ia telah menyaksikan gerak geriknya In Go. Ia pun menyaksikan sikap gurunya. Biarnya ia panas hati, ia tetap mentaati pesan gurunya buat tidak sembarang muncul. Terus ia melihat dan mendengari. Paling akhir habislah sabarnya kapan ia dapat menerka maksudnya gurunya, yang agaknya tertarik hati oleh si anak muda dan berniat merekoki jodohnya In Go dengan pemuda itu. Maka tanpa menanti guru itu menyatakan mau menyerahkan In Go, ia lantas muncul dan terus menyerang Hong Kun.

Si anak muda she Gak berkelit, ketika ia diserang pula, kembali ia mengegos tubuhnya. Hal itu membuat kemurkaannya Bu Pa meluap. Maka waktu dia menyerang buat ketiga kalinya, dia sekalian menyiapkah tok-ciam, jarum beracun di tangan kirinya.

Sampai disitu, tak dapat Hong Kun berkelit terus. Terpaksa dia menangkis serangan orang, hingga tangan mereka berdua bentrok keras. Justru kedua tangan beradu, justru tangan kirinya Bu Pa bergerak. Menyusul mana benda-benda halus dan berkeredepan menyambar ke arahnya.

Hong Kun melihat senjata rahasia itu. Dia tahu itulah mesti senjata beracun. Bukankah Gwa To Sin Mo tukang membuat benda beracun ? Maka itu, supaya tidak berkelit untuk sia-sia belaka, ia mengajukan tubuhnya In Go guna dijadikan semacam perisai.

Jarum rahasia dari Bu Pa dilepaskan bukan hanya satu kali. Itulah serangan berantai. Jarum pertama mengenai tubuhnya In Go, segera menyusul yang kedua. Inilah tidak disangka Hong Kun. Dia baru kaget ketika ada senjata rahasia yang mengenakan bahu kanannya dimana nancap sampai empat atau lima batang jarum !

"Aduh !" dia berteriak disebabkan rasa nyeri, menyusul mana bahunya itu bagaikan beku karena kesemutan dan nyerinya.

Menyusul itu, tangan kanannya Bu Pa pun tiba. Karena dia ini tidak berhenti sampai disitu saja. Dengan bahu kanannya terkena jarum rahasia, tidak dapat Hong Kun menggunakan tangannya itu buat menangkis membela diri, terpaksa ia mengajukan pula tubuhnya In Go yang ia masih belum mau melepaskannya.

Kali ini Bu Pa berlaku cerdik. Melihat tubuh kekasihnya diajukan, dia membatalkan serangannya yang hebat itu. Ia mengubahnya dengan serangan lainnya. Kalau serangan yang pertama menuruti ilmu Ngo Heng Ciang, yang belakangan satu jurus dari Kim Liok Ciu, Tangan Menawan Naga. Maka juga, hanya di dalam sedetik, In Go sudah pindah ke dalam rangkulannya.

Hampir pemuda itu menangis menyaksikan kekasihnya pingsan bagaikan tidur nyenyak. Lekas-lekas ia menyuapi obat pemunah racunnya. Setelah itu menyusul tepukannya pada jalan darah si nona buat menyadarkannya.

Lewat sesaat, mendadak In Go mengeluarkan suara tertahan, terus dia membuka matanya. Maka dia lantas melihat yang tubuhnya berada dalam pelukan kekasihnya.

"Kakak !" panggilnya lemah, seperti berbisik.

Dengan sikap sangat menyayangi, Bu Pa tanya : "Adik, apa yang kau masih rasakan pada tubuhmu ?"

In Go menggeleng kepala, terus ia memejamkan pula matanya. Sebagai gantinya, airmatanya terus meleleh keluar. Ia menangis terisak-isak perlahan.

Sampai disitu, Bu Pa mencabuti jarum rahasianya dari tubuhnya kekasihnya itu. Bahaya sudah tidak ada lagi, karena obatnya sudah bekerja, menolak dan membasmi racunnya. Bahkan lekas juga si nona pulih tenaganya hingga ia bisa berbangkit, akan bangun berdiri seperti sedia kala. Ia melirik pada kakak seperguruannya seraya bertanya : "Kakak, kau mengawasi saja padaku, kenapakah ?"

Bu Pa menatap, terus dia menghela nafas.

"Adik, kau tak tahukah bagaimana bahayanya keadaanmu barusan ?" dia balik bertanya.

In Go menggigit bibinya. Ia tunduk. Mukanya pun berubah merah sampai ke telinganya. Lagi-lagi ia melirik si anak muda.

Bu Pa tetap mengawasi, maka itu sinar empat mata mereka beradu satu dengan lain. Sinar mata itu jauh lebih berarti dari pada kata-kata mereka.

Tiba-tiba mereka berdua itu dikejutkan oleh satu suara merintih. Lantas keduanya menoleh ke arah dari mana suara itu datang. Maka mereka menoleh ke arah dari mana suara itu datang. Maka mereka melihat si anak muda yang lagi rebah di tanah.

"Dia kenapakah ?" tanya In Go kaget, lalu tubuhnya mau lompat menghampiri.

Bu Pa menarik bajunya si nona.

"Adik masih mau melihatnya ?" tanya. "Dialah seorang hina dina !"

Suara itu bernada menyesali dan beririh hati. In Go menatap anak muda itu. "Kakak," tanyanya. "kenapa kakak menghina orang ? Kenapa kakak agaknya sangat membenci pemuda itu ?"

Bu Pa membuka matanya lebar-lebar, dari mulutnya terdengar suara tawar "Hm !"

"Kau tak tahu, adikku," sahutnya kemudian. "Hampir saja kau bercelaka ditangannya sebab lenyapnya kesucian dirimu !"

Bu Pa bicara terus, menuturkan apa yang ia saksikan perihal gerak geriknya si anak muda, yang mau merusak kehormatannya si nona.

Mukanya In Go menjadi merah, hatinya pun memukul keras. Di luar dugaannya, segala perbuatannya si anak muda, segala gerak geriknya sendiri telah terlihat gurunya serta kakak seperguruannya itu.

Bu Pa melihat kekasih itu malu sekali. Lantas ia menghibur

: "Tak usah kau bersusah hati, adik. Dia pun telah seperti selaruh diantara api, jiwanya tinggal sekali hembusan saja. "

In Go mengawasi kakak seperguruan itu dengan matanya dibuka lebar.

"Kakak" tanyanya, "apakah dia tak sanggup melawan kakak dan telah terluka parah ?"

Bu Pa tertawa, agaknya dia puas.

"Dia terkena beberapa batang jarum beracun." sahutnya. "Dia bersuara itu tentu disebabkan racunnya jarum sedang bekerja." Si nona tampak kurang puas, matanya berkesip beberapa kali.

"Kakak, tahukah kakak siapa dia itu ?" kemudian dia tanya.

Bu Pa melihat sikapnya si nona, ia merasa tak enak hati. Ia pun berpikir : "Aneh adik ini ! Dari ancaman maut aku menolongnya, tak juga dia menghaturkan terima kasih padaku. Kenapa dia justru prihatin terhadap manusia rendah

itu ?" Tapi dia toh menjawab kekasihnya itu.

"Kau tahu dia siapa, adikku ?" demikian tanyanya. "Dialah Gak Hong Kun muridnya Im Ciu It Mo ! Dia tampan tetapi hatinya busuk seperti racun. "

"Eh, kakak !" si nona menyela kata-kata orang. "Kakak, kaulah seorang laki-laki sejati. Kenapa kau bicara seperti perilakunya seorang wanita ?"

Bu Pa tertawa terpaksa.

"Itulah hal yang harus ditanyakan kepada kau sendiri, adik." sahutnya. Lalu ia mengangkat kepalanya dan menarik nafas perlahan.

In Go tertawa.

"Ah, kakak kau aneh !" katanya, manis. "Kakak, kau jenaka, kau pun harus dikasihhani !"

Tapi si anak muda kata sungguh-sungguh : "Adik, hatimu telah berubah ! Kau telah melupakan hari kita dulu-dulu !"

In Go tertawa terus sampai terpingkal-pingkal. Kemudian ia mendelik pada si pria. "Tolol !" katanya keras. "Jangan jadi tolol ! Jangan kau memikir terlalu banyak ! Apakah kau sangka aku In Go seorang wanita yang mudah berubah hatinya ?"

Bu Pa memperlihatkan wajah dingin, sebisa-bisa ia mengendalikan hatinya yang panas. Kata dia : "Adik, suaramu manis didengarnya, tetapi hatimu. " Tiba-tiba ia berhenti di

tengah jalan.

In Go tertarik kata-kata pemuda itu, lenyap tawanya.

Sebaliknya, dengan jari tangannya ia menekan dahi orang, sembari menggertak gigi ia kata : "Siapa suruh apa yang kau katakan , kau anggap seperti tidak ada. "

"Kapan aku berbuat demikian, adik ? Thian menjadi saksinya. "

"Tapi cobalah kau pikir-pikir !" kata si nona.

Bu Pa berdiam, otaknya bekerja. Akhirnya ia kata : "Adik, jangan kau bergurau pula padaku ! Asal hatimu tidak berubah, bersedia aku andiakata kau menitahkan aku naik ke langit atau masuk ke dalam tanah !"

Si nona mengawasi.

"Aku bukannya mau menyuruh kau naik ke langit atau masuk ke dalam bumi !" katanya manja. "Buat apa melakukan sesuatu sesukar itu ? Asal kau buktikan kata-katamu dan memberi itu suatu wujud, itu sudah cukup ! Itu saja akan menjadi tanda kasihmu padaku !"

Bu Pa mencekal keras tangan si nona. Dia nampaknya Bingung, hatinya tegang. "Jangan main teka teki, adik." katanya perlahan. "Tak dapat aku menerkanya. Coba kau memberikan penjelasan padaku."

In Go menatap muka orang, terus dia tertawa.

"Itulah musuhnya Tio It Hiong !" katanya kemudian. "Kalau kau benar mencintai aku, kenapa kau melupakan itu ?"

Mendengar itu, barulah Bu Pa sadar. Dahulu pernah satu kali, selagi keduanya berlatih silat, mereka berjanji buat nanti sehidup semati. Dan ketika itu In Go sembari bergurau mengasi tahu si anak muda kalau dia sudah memiliki kepandaian sebagai Tio It Hiong dan dapat mengalahkan pemuda she Tio itu, baru ia -- si pemudi -- sudi menyerahkan diri pada si pemuda, buat mereka berdua menjadi pasangan suami istri. Bu Pa telah memberikan janjinya, hanya kemudian, dia telah melupakan itu sampai sekarang dia ditegur sang kekasih !

Satu hal harus dijelaskan, Bu Pa dan In Go belum pernah merantau. Maka itu tentang namanya Tio It Hiong mereka cuma mendengar orang buat sebutan, orangnya sendiri belum pernah mereka menemui atau melihatnya. Laginya, tanpa sebab musabab, tak ada alasannya buat Bu Pa mencari It Hiong guna mengadu kepandaian kecuali dia mencari alasan yang dibikin-bikin. Siapa tahu sekarang, si adik ingin dia membuktikan janjinya itu. Dan justru ditimbulkan di saat si nona habis bertemu dengan Tio It Hiong palsu !

Bu Pa tahu benar tabiatnya sang adik seperguruan yang keras dan sukar buat ditundukkan. Tapi dia pun cerdas. Justru Hong Kun merintih itu, justru dia mendapat suatu akal. 
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).