Iblis Sungai Telaga Jilid 54

Jilid 54

Benar-benar si Bajingan Es memutar tubuhnya, buat terus bertindak ke pintu !

Tapi, di muka pintu, di sana berdiri Im Ciu It Mo bersama Ek Sam Biauw !

Im Ciu It Mo telah beristirahat cukup, dapat dia bersemadhi, juga telah bersih racun jarum yang menyerang tubuhnya, hingga telah pulih seluruh kesehatannya, maka dengan mengajak Sam Biauw, dia lekas-lekas pergi ke kamarnya ini yang menjadi kamar peranti memasak racun. Ketika sampai di kamar dapurnya, dia menjadi heran sekali. Tak ada barang satu muridnya di kamar tersebut, dapurnya tapinya terus menyala. Maka dia menjadi mendongkol sekali. Dia pula bergusar mengetahui si Bajingan Es telah lancang memasuki guanya terus ke dapur obatnya itu, hingga rahasia dapurnya kena terlihat orang. Karena itu, selekasnya dia melihat Peng Mo lagi bertindak ke pintu, tiba-tiba saja dia menyerang dengan satu pukulan Tauw-lo-ciang !

Bukan main kagetnya Peng Mo. Serangan itu, selainnya sangat mendadak, juga tak disangka-sangka olehnya, seperti juga dia tak mengira yang Im Ciu It Mo dengan sekonyong- konyong saja muncul di ambang pintu. Dalam kagetnya, dia lantas berkelit. Tak kecewa Hong Gwa Sam Mo menjagoi dalam dunia Kang Ouw, mereka memiliki kepandaiannya. Demikian si Bajingan Es itu. Hanya walaupun dia bebas dari tangan lawan, anginnya serangan toh mengenai juga bahunya hingga dia merasai nyeri sekali. Juga, belum lagi dia dapat berdiri tegak, telinganya sudah mendengar suara dingin berulang-ulang : "Hm ! Hm !"

Im Ciu It Mo melangkah ke dalam kamar dapurnya itu, langkah demi langkah. Dialah yang bersuara dingin itu.

Sembari melangkah itu bergantian dia menatap tajam pada Peng Mo dan It Hiong. Akhirnya dia kata sengit : "Siapa yang telah melihat dapurku ini, jangan dia harap keluar dari sini dengan masih bernyawa !" Dia terus mengangkat tongkat Touw-lo-thungnya sambil membentak : "Siapa yang tahu diri, lekas dia mengambil keputusannya sendiri ! Atau kalian berdua baiklah menjadi sepasang bebek mandarin mati !

Yang dipanggil bebek mandarin itu sebenarnya ialah burung yuan-yang atau wanyoh.

Peng Mo jeri hingga dia mundur setindak dengan setindak. Dia mengerti baik sekali yang dia bukanlah lawan dari Im Ciu It Mo. Ketika dia datang ke sarang orang ini, dia ada bersama dua saudaranya, Hiat Mo si Bajingan Darah dan Tam Mo si Bajingan Tamak. Hanya dua saudara angkat itu bersembunyi di luar gua. Dia masuk dengan diam-diam. Di ruang besar, dia melihat Im Ciu It Mo lagi duduk bersemadhi, tetapi dia sangat bernafsu ingin menemui "kekasihnya", maka tanpa memanggil lagi dua kakak seperguruannya, dia meninggalkan Im Ciu It Mo, dia masuk terus kedalam sampai di kamar tempat membuat obat itu. Sekarang, selain gagal menghadapi It Hiong, dia pun kepergok pemilik gua....

It Hiong lain dari pada Peng Mo, ia tidak kenal takut. Apa pula ketika itu ia lagi sangat berkeinginan keras mendapatkan Kiauw In. ia pun sedang mendongkol sebab semua muridnya It Mo kabur meninggalkannya, hingga ia merasa sulit mencari mereka itu. Maka kebetulan sekali sekarang ia berhadapan dengan It Mo sendiri. Inilah tepat dengan bunyinya pepatah yang berkata "buat meloloskan genta mesti orang yang mengikatnya sendiri". Demikianlah, sebaliknya mundur atau berdiri tetap ditempatnya, dia justru berlompat maju akan memapaki It Mo.

"Kebetulan sekali kau muncul !" katanya sambil tertawa seraya terus ia menyiapkan tenaganya guna menyambut segala kemungkinan.

Menyaksikan gerak geriknya It Hiong itu, Peng Mo keliru menerka hati orang. Dia justru menduga It Hiong mau membelainya. Diam-diam dia merasa manis sekali.....

Im Ciu It Mo menatap It Hiong lebih tajam pula. Dia heran atas sikap orang.

"Kau siapakah ?" tanyanya bengis.

"Akulah Tio It Hiong dari Pay In Nia !" sahut It Hiong dengan tegas dan terang. "Telah kau mengenalinya baik ?"

Parasnya It Mo berubah-ubah, dari pucat menjadi merah. Dia mendongkol sekali. Lantas dia kata pula keras : "Bocah, jangan kau berjumawa ! Akan aku si perempuan tua mengujimu akan mengetahui pasti kau si tulen atau si palsu !"

Lantas It Mo maju sambil memutar tongkatnya dengan apa ia terus mengurung si anak muda, tongkatnya itu bergerak- gerak bagaikan bayangan dan anginnya seperti menderu-deru. Sebab ilmu silat yang dia gunakan itu ialah "Kwie Eng Twie Hun -- Bayangan Bajingan Mengejar Roh". It Hiong mengawasi tongkat lawan dengan matanya seperti berkunang-kunang, tak tahu pasti ia yang mana serangan benar-benar dan yang mana gertakan belaka, dari itu terpaksa ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega, akan berkelit menyingkirkan diri dari ancaman malapetaka ! Hanya itu, belum lagi ia tetap menginjak tanah, tongkat sudah menyambar pula !

Hebat serangannya pemilik gua itu.

Kembali It Hiong berkelit, malah ia mesti menyelamatkan diri berulang-ulang hingga lima kali, hingga ia mesti undur lima tindak. Yang terakhir ini, sambil berkelit, ia menghunus pedangnya. Itulah Pekerjaan yang sulit tetapi ia berhasil melakukannya. Barulah setelah itu, ia menyambut penyerangan terlebih jauh. Ia menyampok tongkat panjang lawan dengan sampokan satu jurus dari ilmu pedang Khie Bun Patkwa Kiam.

Tongkatnya It Mo kena tertangkis, hingga terpental, atas mana si anak muda berlompat maju, akan membalas menyerang dengan satu susulan tikaman "Burung Sungai Mematuk Ikan".

Begitu si anak muda membalas menyerang, repotlah Im Ciu It Mo. Dia dapat menangkis dengan dia sambil mundur, tetapi justru mundurnya itu membuat lawan memperoleh kesempatan akan maju, hingga selanjutnya dialah yang kena didesak, ditikam dan ditebas berulang-ulang. Dia menggunakan ilmu tongkatnya dengan separuh sia-sia sebab tak sanggup dia segera memperbaiki diri seperti semula tadi !

"Tahan !" akhirnya It Mo berseru. It Hiong suka mengiringi kehendak orang. Begitu ia berhenti menyerang, begitu ia berlompat mundur. Lawan menggunakan tongkat panjang, tak dapat ia memernahkan diri terlalu dekat dengannya, agar ia tak sampai kena dibokong.

Im Ciu It Mo mengawasi pula si anak muda, kali ini ia menatap dengan luar biasa sungguh-sungguh. Dari mulutnya terdengar suara perlahan seperti orang menggerutu : "Benar- benar dia murid dari Pay In Nia, dari si imam tua she Cio ! Dia ini bersilat dengan ilmu Tangga Mega dan Khie Bun Patkwa Kiam. "

"Apakah kau kenal Gak Hong Kun ?" tanyanya kemudian, yang herannya tak segera lenyap. Sebab ia mendapati dua orang yang segala-galanya sangat sama satu dengan lain.

"Aku kenal !" sahut si anak muda mengangguk.

"Dimana adanya Gak Hong Kun sekarang ?" Im Ciu It Mo tanya pula.

"Aku tidak tahu," sahut lagi si anak muda.

"Apakah bukan kau telah membunuhnya lalu menyamar datang kemari ?"

It Mo menyangka jelek maka dia bertanya begitu. "Kau mengoceh tak karuan !" jawab It Hiong sambil

tertawa. "Bukankah kau jago Kang Ouw yang telah

berpengalaman beberapa puluh tahun ? Mengapa kau dapat mengucapkan kata-kata jenaka itu ? Ha ha ha !" "Hai, bocah !" teriak It Mo dengan bentakannya. "Beranikah kau mentertawakanku ?"

It Hiong tertawa pula.

"Kenapa aku tak berani tertawa ?" jawabnya menantang. "Sebab apa perlunya buat aku menyamar menjadi Gak Hong Kun ? Kau yang menerkaku yang bukan-bukan !"

It Mo melengak. Dia bungkam.

"Ini........ ini. " katanya kemudian, sukar.

Peng Mo turut menjadi heran, dia jadi ingin ketahui hal yang benar.

"Kenapakah Gak Hong Kun menyamar menjadi kau ?" ia tanya si anak muda. Berani ia mencampur bicara.

Di tanya begitu, panas hatinya It Hiong.

"Sebab dia mau melakukan pelbagai macam kejahatan !" sahutnya sambil berteriak. "Dan dia telah melakukannya !

Dengan itu dia mau menimpakan segala kejahatannya atas diriku !"

Diam-diam It Mo mengangguk.

"Jadinya kalian berdua musuh satu pada lain !" katanya. "Sebenarnya kami berdua bukannya musuh bahkan sahabat

satu dengan lain." kata It Hiong. Dua-dua Peng Mo dan It Mo heran sekali, maka keduanya mengawasi mendelong kepada si anak muda. Ek Sam Biauw turut merasa aneh, hingga dia pun mengawasi.

Habis mengucap keras itu, It Hiong menghela nafas.

"Hal yang benar ialah," katanya kemudian, dengan sabar, "Hong Kun kalah denganku dalam urusan asmara, dia menjadi bersakit hati dan membenci aku, maka dia telah melakukan semua perbuatannya itu. Sebaliknya aku, terhadapnya sama sekali aku tidak membenci atau mendendam."

Mendengar itu, Peng Mo berduka bukan main. Jadi sekian lama ia telah kena orang permainkan, hingga ia tergila-gila dan mencari-cari It Hiong tak ujungnya. Dalam kedukaannya itu, ia mengangkat kepala menengadah langit-langit kamar di dalam goa itu.......

It Mo pun berdiam sekian lama, akan akhirnya menanya si anak muda, "Kau bilang kau tidak membenci atau mendendam terhadap Gak Hong Kun, habis apa perlunya kau menyerbu ke tempatku ini ? Buat apakah ?"

It Hiong tertawa nyaring.

"Aku mencari kakakku, Kakak Cio Kiauw In !"

Mendengar disebutnya nama Kiauw In, hati It Mo bercekat.

Tapi dia cerdik bahkan licin. Dia lantas bermain komedi.

"Pernah apakah kau dengan Cio Kiauw In ?" dia sengaja menanya.

Ditanya begitu, It Hiong gusar. "Dia pernah apa denganku, apakah perlunya kau usilan ?" dia balik menanya.

Im Cio It Mo mengulapkan tongkatnya. Kata dia keras, "Aku si perempuan tua memandang mata pada gurumu ! Kali ini suka aku memberi ampun padamu ! Nah, kau pergilah, lekas !"

"Hm !" It Hiong menjawab pengusiran itu. "Tak semudah ini, nyonya tua ! Biarnya aku mesti menginjak-injak Kian Gee Kiap Kok hingga rata dengan bumi, mesti aku mencari dahulu kakak In ku itu !"

It Mo mengawasi pula pemuda itu buat kesekian kalinya. Diam-diam ia bercekat hati. Orang berani dan telah bertekad bulat. Ia pula telah menyaksikan kepandaiannya pemuda itu barusan. Hingga ia harus berfikir dengan seksama. Ingin ia menempur pula, tetapi ia ragu-ragu. Telah ia melihat tegas, Peng Mo mencintai anak muda itu, kalau ia mencoba mengusir It Hiong dengan paksa, pasti si Bajingan Es akan berdiri dipihaknya anak muda itu ! Dan itulah berbahaya ! Melayani It Hiong seorang diri ia belum merasa pasti, bagaimana kalau It Hiong dibantu wanita yang lagi mabuk cinta itu ?

"Ah !" pikirnya kemudian. "Baiklah aku tarik Peng Mo ke pihakku. "

Sebagai seorang berpengalaman, wanita tua ini dapat cepat menggunakan otaknya. Maka ia lantas mengawasi kepada Peng Mo, untuk berkata sambil tertawa : "Toyu Peng Mo, bukankah kita berdua orang dari satu golongan ? Nah, bagaimana jika aku sempurnakan minatmu supaya kau berhasil berjodoh dengan Gak Hong Kun ?" Peng Mo melongo mendengar tawaran itu. Tak ia sangkat kata-kata semacam itu dapat keluar dari It Mo si Bajingan Tunggal. Maka ia lantas menerka-nerka : "Hm ! Jika dia bukan hendak menipuku, mestinya dia ingin memeras sesuatu dari aku !"

Segera Peng Mo ingat peristiwa di Ngo Tay San. Di gunung itu, buat merampas Gak Hong Kun, Hong Gwa Sam Mo sampai bentrok dengan It Mo dan ketika itu mereka tidak berhasil.

Sekarang It Mo mengajukan sarannya itu.

"Hm ! Dia tentu hendak merusak perhubunganku dengan It Hiong. " demikian pikirnya. Tetap dia bercuriga. Maka itu,

diakhirnya, dia menggeleng-geleng kepala dan kata : "Terima kasih,  sahabatku,  aku  bersyukur  buat  kebaikan  hatimu ini. "

Habis berkata itu, ia segera berpaling kepada It Hiong. Im Ciu It Mo menyela lagak orang. Tegurnya pada si

Bajingan Es : "Bukankah kau mau mencari Gak Hong Kun ? Nah, habis mau apakah kau datang kemari ?"

Peng Mo tidak menjawab pertanyaan itu. Bahkan menoleh pun tidak. Sebaliknya ia kata pada si anak muda : "Saudara Tio, mari aku bantu kau mencari Cio Kiauw In ! Bagaimana nanti kau hendak mengucap terima kasih padaku ?"

"Entahlah !" sahut It Hiong cepat. "Entahlah dengan cara apa tetapi pasti !"

Peng Mo tertawa manis.

"Kata-katamu menjadi suatu kepastian, bukan ?" katanya. "Apakah kau tak akan menyesal ?" It Hiong menjawab keras, "Aku yang muda, belum pernah aku omong kosong !"

Di saat itu, keras sangat keinginannya si anak muda mendapati Kiauw In, kekasihnya yang ia paling cintai dan hargai, Kiauw In cantik dan luas dan jauh pandangan matanya, dia sabar luar biasa, dia tak kenal kejelusan. Cuma ia tidak pernah menyangka apa itu yang Peng Mo bakal minta sebagai pembalasan budi ! Maka kembali ia menghadapi "bencana asmara".......

It Mo menjadi gusar melihat tingkahnya Peng Mo Ia tahu yang ia gagal membujuk atau mencoba memperdayai wanita itu. Maka ia kata keras : "Peng Mo ! Jika kau tahu selatan, lekas-lekas kau keluar dari sini ! Jika tidak, awas, dengan tanganku akan aku bunuh padamu !"

Mendengar suara orang itu, bukannya dia lantas mengangkat kaki, Peng Mo justru tertawa. Malah lantas dia kata : "Menurut aku, lebih baik kau siang-siang menyerahkan Nona Cio ! Janganlah kau keliru pikir hingga nanti lembah Kian Gee Kiap ini berikut kamar obatmu ini musnah tampak rata !"

It Mo sudah gusar, sekarang ia mendengar suara orang itu. Kegusarannya meluap, hingga umpama kata rambut ubannya pada bangkit berdiri, sedangkan sinar matanya menyala tajam sekali. Kalau dapat, ia ingin dengan satu kemplangan saja membuat wanita centil dan gila laki itu mampus disitu juga !

It Hiong tidak sabaran, selagi orang berbicara itu, ia justru mencampur bicara.

"Dimana adanya Nona Cio Kiauw In ?" tanyanya bengis. "Kau memberitahukan atau tidak ?" It Mo mencoba menyabarkan diri.

"Jika kau berani, mari turut aku !" katanya tak sekeras tadi, lenyap pula tampang bengisnya. Dan ia bertindak ke dinding kiri. Dia mengangkat sebelah tangannya, akan menekan sesuatu pada dinding itu.

Satu suara keras segera terdengar, disusul dengan terpentangnya sebuah pintu rahasia yang keci.

Sambil membawa tongkatnya, It Mo bertindak memasuki pintu itu. Ia lantas disusul muridnya.

It Hiong melongok sejenak, lantas ia menyusul masuk. "Saudara Tio, awas akan pembokongan !" Peng Mo

memberi ingat. Sebelumnya pintu itu tertutup pula, ia pun berlompat memasukinya.

Pintu rahasia itu merupakan pintu dari sebuah lorong atau jalan terowongan. Hawa disitu sumPek dan tak menyedapkan hidung.

It Mo dan muridnya berjalan dengan cepat sekali. Inilah tak heran sebab mereka kenal baik guanya sendiri itu.

It Hiong berlaku berani, ia mengikuti dengan cepat, cuma ia mengambil jarak kira dua tombak. Di belakang ia, Peng Mo mengintil terus.

Lorong itu mendaki, sebagaimana makin jauh orang jalan main naik. Lorong pula ada beberapa pengkolannya. Setelah itu, jalan berubah makin lebar. Bahkan mulai pula tampak cahaya terang. Sesudah berjalan sekian lama, tibalah mereka di ujung lorong. Kiranya itu merupakan bagian belakang gunung.

Sinar terang tadi ada sinarnya si puteri malam, sinar yang lemah sekali. Di situ angin sebaliknya bertiup keras.

It Hiong percaya ketika itu sudah jauh malam.

Di sini It Mo dan Sam Biauw berjalan terus, sampai di depannya sebuah jurang batu karang. Itulah kaki jurang. Karena disitu ada sebuah gua batu dan cahaya api tampak di mulut gua.

It Hiong berlompat maju, guna memernahkan dia lebih dekat dengan It Mo dan muridnya itu. Dengan saling susul, mereka memasuki mulut gua. Peng Mo turut juga sebab dia tak sudi ketinggalan.

Setibanya di dalam gua, di sana tampak sinar terang dari api. Maka It Hiong lantas melihat juga Ya Bie, dengan tangan memegangi ular hijaunya, lagi menempur dua orang musuh.

So Hun Cian Li berada bersama di dalam gua itu, pakaiannya sudah rubat-rabit.

Selekasnya dia berada di dalam, It Mo bersiul nyaring sekali, atas mana kedua orang muridnya segera menghentikan pengepungannya terhadap Ya Bie, dan Ya Bie pun suka berdiri diam.

It Mo membuka mata lebar-lebar. Ia melihat belasan orang laki-laki dengan tubuh besar dan seragam hitam pada rebah bergeletakan di lantai tanah, maka juga ia segera memperdengarkan suara dinginnya, "Hm ! Apakah semua ini hasil perbuatannya budak itu ?" Dan dengan tongkatnya ia menuding Ya Bie. Ia menanya kepada murid-muridnya.

Ek Toa Biauw maju setindak.

"Budak ini mengerti ilmu siluman !" menjawab murid kepala ini sambil dia pun menuding muridnya Touw Hwe Jie. "Dan ular ditangannya itu sangat beracun ! Semua mereka itu, karena tidak berhati-hati telah kena dipagut ular hingga mereka roboh tak berdaya !'

Sengaja Toa Biauw menyebut lihainya ular hijau dari Ya Bie agar ia bisa mengelakkan tanggung jawabnya.

It Hiong sementara itu menghampiri Ya Bie. Ia puas yang nona itu tak kena perangkap lawan. Bahkan dia berhasil merobohkan banyak musuh.

"Adik, kau tak kurang suatu apa, bukan ?" tanyanya halus. Nona itu masih bernafas terengah-engah.

"Aku kena ditusuk satu kali pedangnya kakak Cio !" katanya.

It Hiong terkejut, hingga segera ia mengawasi tubuhnya si nona, hingga ia melihat belakang bahu kiri nona itu, bajunya telah robek dan disitu tampak darah segar ! Tidak ayal lagi, ia menotok atasan bahu itu, guna menghentikan darahnya yang masih mengalir keluar, kemudian dengan sama cepatnya ia mengeluarkan obatnya akan mengobati luka itu.

Ya Bie tertawa melihat keprihatinan si anak muda. "Kakak Hiong, aku tidak kenapa-napa. " katanya

bersenyum manis.

Justru itu terdengar suara nyaring bengis dari Im Ciu It Mo, "Eh, bocah she Tio ! Orang yang kau hendak cari berada disini

! Hendak aku lihat, kepandaian apa kau miliki hingga kau sanggup membantunya !"

It Hiong menoleh dengan cepat. Maka ia melihat Cio Kiauw In berada dalam rombongannya ketujuh muridnya Im Ciu It Mo. Nona itu memegangi pedang tetapi sinar matanya tolol tampangnya mirip orang hilang ingatan. Bukan main sedihnya ia.

"Kakak In !" serunya, "Kakak In !"

Dan segera ia maju untuk menghampiri.

"Serrr ! Serrrr !" demikian suara nyaring terdengar saling susul. Itulah suara anginnya beberapa lembar cambuk lunak, yang dihajarkan kepada si anak muda.

It Hiong terkejut, ia berlompat mundur pula.

"Kakak Kiauw In !" ia memanggil lagi. "Kakak Kiauw In !" Nona Cio mendengar, dia mengawasi dengan berdiam saja.

Terang sekali matanya memperlihatkan sinar ketololan, suatu

bukti yang dia tak sadarkan diri seluruhnya. Dia mendengar tetapi sebagai tiada..........

Im Ciu It Mo berkata pula, tetap dengan suaranya yang dingin. "Dia telah makan obatku si tua, obat Thay-siang Hoan Hun Tan !" demikian katanya. "Mana dia mengenali pula padamu ? Hm !"

It Hiong berduka berbareng mendongkol melihat keadaannya Kiauw In itu serta menyaksikan lagak tengik jumawa dari si wanita tua dan busuk, kata-katanya wanita itu membuat darahnya bergolak, matanya merah dan bersinar membara. Begitulah tanpa mampu mengendalikan diri lagi, ia menghunus pedangnya menerjang lawan.

Dengan menggerakkan tongkatnya dengan jurus silat "Mengangkat tongkat, Menutup pintu", Im Ciu It Mo menangkis sambil dia berlompat berkelit.

"Bocah, jangan tergesa-gesa !" teriaknya. "Jika kau hendak menempur aku, baik, tetapi masih ada waktunya, kita tak akan kelambatan ! Mari kita bicara dahulu !"

It Hiong tetap mendongkol, ia gusar sekali. "Apa lagi yang hendak dibicarakan ?" tegurnya. Im Ciu It Mo menjawab dengan tenang.

"Aku si wanita tua," katanya, "aku yang tua tak sudi menghina yang muda, aku tidak mau menjadi si besar menindih si kecil ! Lebih-lebih sungkan kami yang banyak merebut kemenangan dari yang sedikit ! Aku malu kalau aku sampai ditertawai orang Kang Ouw !"

"Habis kau mau apa ?" bentak It Hiong sambil menuding dengan pedangnya. "Aku ingin yang kita berdua membuat garis," sahut It Mo, tertawa tawar. "Kita mengadakan syarat atau perjanjian !

Dengan cara demikian, kalau sebentar kau mampus, kau tak bakal penasaran !"

"Lekas jelaskan !" It Hiong membentak pula. Ia menjadi sangat tak sabaran.

Im Ciu It Mo bersenyum ewah. Dia lantas menunjuk Nona Kiauw In.

"Syaratku sangat sederhana !" sahutnya acuh tak acuh. "Begini : Kalau kau dapat mengalahkan pedang ditangannya dia itu, akan aku memberikan kebebasan padamu buat membawanya pergi ! Percayaitu aku si wanita tua, tak nanti aku menghalang-halangi padamu !"

It Hiong melengak mendengar syarat itu. Sungguh, itulah diluar dugaannya ! Jadi dia hendak diadu dengan kakaknya itu, dengan pacarnya sendiri ! Ia melengak saking mendongkol dan gusar melewati batas !

Sulitnya bagi si anak muda. Kiauw In tengah tak sadarkan diri, hal itu bisa mendatangkan bencana untuk dirinya si nona demikian pun buat dirinya sendiri. Bagaimana kalau si nona atau ia salah menurunkan tangan ?

Ya Bie melihat dan mendengar. Ia dapat mengerti kesulitannya si anak muda. Ia pun bingung hingga ia turut berdiam saja.

Im Ciu It Mo mengawasi si anak muda, dia puas sekali. Beberapa kali dia memperdengarkan tawa dinginnya. Itulah penghinaan yang sangat. Tawanya pun bernada mirip Pekiknya si burung malam. "Eh, bocah she Tio !" katanya pula, habis tawanya yang paling belakang. "Eh, bocah, apakah kau tidak mau bertanding dengan Cio Kiauw In ? Jika benar, aku si perempuan tua, aku tidak mau memaksamu ! Baik, aku persilahkan kau berlalu dari sini !"

Matanya It Hiong terbuka lebar hingga menjadi mendelik.

Ia pun menggertak giginya.

"Baiklah !" sahutnya singkat. "Kau suruhlah kakak In maju

!"

Sesaat itu, anak muda kita dapat juga mengambil

keputusannya.

"Tunggu dahulu !" tiba-tiba Peng Mo, si Bajingan Es, menyela. "Aku hendak bicara sedikit."

"Siapa menghendaki kau banyak bacot !" bentak It Mo pada nikouw itu. "Minggir !"

Tapi nikouw itu membelar. Dia mengotot.

"Cara bertempur itu tidak adil ! Syarat itu tak tepat !"

"Apa yang tidak adil ?" bentak It Mo. "Taruh kata dia kalah, aku pun tidak menghendaki jiwanya !"

Dengan dia, It Mo maksudkan It Hiong. Peng Mo Nikouw masih tidak mau mengerti. "Taruh kata dia menang, Kiauw In toh tetap milikmu, bukan

?" katanya. Ia pun maksudkan "dia" dengan It Hiong. "Nona itu lupa akan dirinya sendiri, dia bagaikan mayat hidup !"

Mendengar suaranya Peng Mo itu, hatinya menggetar. Ia insaf kenapa Kiauw In tidak mengenali pacarnya, pula nona itu berdiam saja. Memang, si nona telah menjadi korban obat jahat dari Im Ciu It Mo, kalau tidak, tak nanti dia tak sadarkan diri. Kalau ia menang obat apa bisa dipakai mengobati Kiauw In ?

It Mo sangat cerdik. Dia berpura tidak mengerti. "Nah, kau bilanglah." katanya pada si pemuda. "Kau

mempunyai pikiran apa ? Atau apakah yang kau hendak ajukan ? Kau bicaralah !"

Mendengar itu, It Hiong lantas kata pada It Mo, "Cianpwe, kau telah memberi kelonggaran padaku, baik, aku terima !

Buat itu terlebih dahulu terimalah terima kasihku ! Hanya sebelum kami mulai bertempur, lebih dahulu hendak aku minta sesuatu. "

Im Ciu It Mo tertawa terkekeh. Dia geli sekali.

"Begini," sahut It Hiong, "Andiakata aku berhasil merebut kemenangan dari Nona Kiauw In, cianpwe mesti memberikan aku obat pemunah mesti memberikan aku obat pemunah guna menyembuhkan dia dari siksaan obat Thay-siang Hoan Hun Tan !"

"Tak sukar buat aku memberikan obat itu !" katanya singkat. "Asal kau hendak mencoba-coba Barisan rahasiaku, Barisan Cit Biauw Tin !" It Hiong menjawab tanpa berpikir pula. "Baik !" demikian sahutnya.

Anak muda itu mau mengajukan diri, tetapi Ya Bie menghampiri dan berbisik ditelinganya : "Kakak Hiong, kau harus menggunakan tipu Hoan Kak Bie Cin, ajarannya guruku, kau totok pada Kakak In, setelah itu, kita segera membawanya berlalu !"

"Tapi," kata It Hiong, "kita membutuhkan obat pemunahnya. "

Tapi si nona langsung melirik dan tertawa manis.

"Aku tidak percaya Thay-siang Hoan Hun Tan demikian lihai

!" katanya. "Mustahil kita tidak dapat mencari lain obat buat menyembuhkannya !"

It Hiong menggeleng kepala.

"Obat memang banyak tetapi. "

"Tetapi," si nona menyela, "bukankah tadi hawa beracun di dalam gua telah disirnakan oleh cahaya mutiara mustikamu, kakak Hiong ?"

It Hiong bukannya kalah cerdas dari si nona, tetapi ia tengah pepat pikiran. Ia pula memikir buat mencoba kejujurannya Im Ciu It Mo. Andiakata Bajingan itu menyangkal, itulah urusan lain. Hanya kata-katanya Ya Bie membuat pikirannya terbuka, hingga ia dapat sedikit lebih tenang. "Bagaimana kalau sekarang kita mulai bertempur ?" demikian ia tanya It Mo.

Si Bajingan mengawasi.

"Bagaimana kehendakmu," balas tanyanya. "Kau mau menempur dahulu Tio Kiauw In atau melawan Barisan Cit Biauw Tin ku ?"

Belum lagi It Hiong menjawab, atau ia sudah didahului oleh Ya Bie : "Kakak Hiong ! Kau tempur dahulu Kakak Kiauw In !"

Nona itu mempunyai pikirannya sendiri. Dia memang sangat cerdas.

It Mo mendongkol sekali.

"Budak bau !" bentaknya. "Budak bau, mau apa kau banyak mulut ? Kau tunggu sampai sebentar lagi, aku pun hendak membuat perhitungan denganmu !"

Ya Bie menatap, ular hijaunya dibuat main ditangannya. "Siapa jeri padamu ?" katanya, mengejek. Ia memang

sangat berani.

It Hiong mengulapkan tangannya, mencegah nona itu melayani It Mo mengadu lidah.

"Nah, locianpwe," katanya, "silahkan kau suruh kakak In keluar !"

Sementara itu orang-orangnya It Mo yang dipagut ular telah dapat ditolongi kawannya hingga terasadar pula, setelah itu It Mo memberi isyarat buat orang-orangnya itu pada mengundurkan, akan memberi peluang ditengah gua, yang memangnya lebar sekali. Ruang itu luas kira-kira dua puluh tombak persegi. Dekat dinding terdapat para-para alat senjata, suatu bukti ruang itu ruang peranti berlatih silat.

Habis menyuruh orang-orangnya mundur, It Mo bertindak ke pinggir kiri dimana ada sebuah kursi, di situ ia lantas menjatuhkan diri untuk berduduk, buat membawa tingkahnya sebagai ketua atau pemimpin. Ia lantas diapit oleh ketujuh Biauw-Yauw-lie, murid-muridnya berikut Kiauw In.

Ya Bie bersama Peng Mo mengambil tempat di sisi kanan, keduanya memasang mata terhadap It Mo dan sekalian orangnya itu.

Aneh ada So Hun Cian Li, dia justru duduk tePekur dan ngelenggut !

It Hiong sudah lantas maju ke tengah ruang kosong itu, matanya mengawasi tajam ke arah Cio Kiauw In. Ia berlaku tenang tetapi toh pikirannya kacau, sebab ia berduka, berkhawatir berbareng mendongkol dan gusar. Ia terutama sangat mengawatirkan Kiauw In, yang tak sadarkan diri itu. Ia mendongkol hingga hampir ia memuntahkan darah saking keras mengekang diri.

Im Ciu It Mo berlaku ayal-ayalan. Masih dia memandang dahulu pada orang-orangnya dan ke sekitarnya.

"Eh, bocah she Tio, kau sudah siap atau belum ?" demikian tanyanya, disengaja, meski juga ia telah melihat sendiri bagaimana orang sudah bersiap sedia. Ia mau memperlambat waktu, guna menegangkan pikirannya anak muda itu. "Sudah siap !" sahut It Hiong, yang sebisanya menentramkan hatinya. "Mari !"

Im Ciu It Mo mengerahkan tenaga dalamnya, sesudah mana dua kali ia memperdengarkan Pekiknya yang aneh, hanya kali ini Pekik perlahan, sedangkan dengan sepasang matanya yang bersinar tajam, ia mengawasi Kiauw In, menatap muka orang.

Tubuhnya Nona Cio menggetar waktu ia mendengar dua kali Pekik itu, mendadak matanya yang bersinar tolol menjadi bercahaya tajam, setelah mana dia mengangkat kepala atau mukanya, mengawasi si Bajingan.

Selekasnya kedua sinar matanya beradu satu dengan lain, Kiauw In lantas membungkuk memberi hormat pada si Bajingan. Dia bagaikan kena sihir.

Lagi dua kali Im Ciu It Mo memperdengarkan suaranya, kali ini dengan dua kali siulan tajam, kemudian ia menuding pada It Hiong sembari dia memberi perintah pada nona dibawah pengaruh gaibnya itu : "Kau bekuk bocah itu !"

"Ya !" menyahut Kiau In dengan cepat, setelah mana dia menoleh ke arah yang ditunjuk It Mo, ialah ke arah It Hiong, yang ia awasi dengan tampang mendelong, sedikit juga tak ada perasaan apa-apa. Sebaliknya, sinar matanya ialah sinar mata jahat ! Setelah itu, sambil menghunus pedangnya, nona itu berlompat maju, akan tiba di depannya si anak muda, sejarak empat atau lima kaki.

"Kakak !" It Hiong menyapa. Kiauw In mendengar bagaikan tidak mendengar, masih dia mendelong mengawasi si anak muda. Kembali sinar matanya itu sinar mata tolol.

It Hiong mengawasi nona itu, pikirannya tetap kacau. Ia berkasihan terhadap si nona berbareng mendongkol terhadap Im Ciu It Mo. Justru mereka berdua tengah saling memandang, kembali terdengar Pekiknya It Mo, dua kali Pekik pendek seperti tadi.

Menyusul Pekik itu, Kiauw In lompat maju pada It Hiong, pedangnya diputar terus dipakai menikam !

Saking cepatnya si nona, hampir dadanya si anak muda terpanggang, syukur ia dapat cepat bekelit ke samping. Cuma ujung bajunya kena terobek sedikit ! Biar bagaimana, dia heran dan terkejut juga.

Melihat caranya si nona menyerang, maka It Hiong telah mendapat kenyataan yang kakak In-nya sudah berhasil menyempurnakan latihan ilmu pedang guru mereka, ilmu pedang Khie Bun Patkwa Kiam. Hal ini menggirangkan hatinya. Hanya ia berduka yang si nona tak ingat diri. Dan sekarang ia mesti melayani si kakak seperguruan dalam keadaan mirip musuh besarnya.....

Tak ada niatnya si anak muda akan sedikit juga mencelakai Kiauw In, di lain pihak, ia mesti berkelahi dengan sungguh- sungguh sebab si nona sebaliknya menyerang ia dengan hebat sekali. Gagal dengan tikamannya yang pertama itu, Kiauw In terus menangkis sampai delapan kali, tikaman dan tebasannya itu berbahaya semuanya, celaka kalau orang kurang waspada dan kalah gesit ! It Hiong selalu menyelamatkan diri dengan pelbagai loncatan Te In Ciong, ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Selama itu juga, tak pernah satu kali pun ia membalasa menyerang.

Ya Bie menonton dengan hatinya tegang sendirinya. Selagi si anak muda tidak pernah membalas menyerang, anak muda itu sendiri senantiasa terancam bahaya. Ia menjadi sangat berkuatir, sulit buat ia menenangkan diri.

"Kenapa kakak Hiong tidak mau membalas ?" demikian pikirnya. "Ia hendak menanti sampai kapan ?" Dan ia menjadi demikian tidak sabar hingga akhirnya, ia berseru : "Kakak Hiong ! Kakak ! Lekas hunus pedangmu !"

Memang benar, si anak muda belum juga mencabut pedangnya.

Masih saja It Hiong bertangan kosong. Ia cuma berkelit sana dan berkelit sini. Ia bergerak diantara pelbagai tikaman dan tebasan pedang yang sangat membahayakan itu. Sebab si nona berkelahi dengan sungguh-sungguh. Dia tidak sadar tetapi dia toh tak melupakan ilmu pedangnya. Itulah hebatnya ilmu sihir dari Im Ciu It Mo, si Bajingan Tunggal !

It Hiong insyaf bahaya yang mengancam dirinya, ia mengerti kekhawatirannya Ya Bie, tetapi ia tidak mau menggunakan pedangnya sebab ia takut nanti kesalahan melukai pacarnya itu, si kakak perguruan yang cantik, luwes, yang ia sangat hargakan.

Im Ciu It Mo menonton dengan puas. Adalah keinginannya yang utama akan mengadu domba itu dua saudara seperguruan, supaya mereka saling bunuh, hanya keinginan itu ia sangsikan akan berwujud. Inilah karena dia mau menerka, biarnya It Hiong lebih lihai daripada Kiauw In, mungkin It Hiong tidak berniat melukai, jangan kata membinasakan, kakak seperguruannya itu.........

Syukur buat It Hiong, ia telah menyampaikan kesempurnaannya dalam hal melatih Khiebun Patkwa Kiam, hingga ia dapat melebihi Kiauw In.

Ditengah ruang itu, kedua lawan bergerak sangat cepat, tubuh mereka bagaikan berputaran, maka juga banyak penonton, ialah orang-orangnya Im Ciu It Mo, lantas saja matanya seperti kabur disebabkan sangat cepatnya kedua tubuh muda mudi itu bergerak-gerak, terpaksa, mereka itu menjadi heran dan kagum, semua mengawasi dengan mendelong.......

Im Ciu It Mo juga menjadi sangat kagum, hingga ia memuji pada Tek Cio Siangjin yang dapat mengajari murid-muridnya menjadi demikian lihai. Di lain pihak, dia menjadi bertambah penasaran dan berkhawatir. Muda mudi itu bisa menjadi lawannya yang paling berbahaya andiakata mereka berdua tetap dikasih tinggal hidup, dari itu ingin dia yang dua orang itu sama-sama terbinasa di depannya ini !

Lebih dahulu daripada itu, It Mo ingin sekali It Hiong kena terpancing atau terpedayakan hingga si anak muda juga kena makan Thay-siang Hoan Hun Tan, hingga pemuda itu dapat dipengaruhkan sebagai si pemudi. Kalau mereka berdua dapat menjadi alatnya.....

Sementara itu pertarungan sudah berjalan terus dan mengalami perubahan juga. Itulah sebab, sampai itu waktu, It Hiong mulai berubah sikap. Si anak muda kadang-kadang membalas menyerang, walaupun hanya dengan tangan kosong. Karena sekarang anak muda itu mau mencari ketika akan menotok si nona. Dengan penyerangan pembalasannya itu, ia mencari kelemahan si nona.........

Begitulah, sinar pedang berkilauan dan tangan kosong berkelebatan.

Setelah pertarungan berjalan begitu lama tanpa tanda- tanda salah satu bakal kalah, diantara para penonton muncul kecurigaan apa tak mungkin muda mudi itu tengah membuat pertunjukan. Nampaknya aneh mereka tetap sama tangguhnya sedang yang satu bersenjata tajam, bahkan pedang yang panjang, dan yang lainnya bertangan kosong. Mestinya si tangan kosong yang bakal terdesak terlebih dahulu......

Sedangkan sebenarnya, karena ingatannya terganggu, Kiauw In cuma mampu berkelahi menurut gerak geriknya yang biasa, tak dapat ia menggunakan kecerdasan atau kecerdikan asalnya, yang sejati. It Hiong sebaliknya, dapat ia memahamkan setiap gerak gerik si nona yang seperti itu-itu juga.

Sampai disitu, Im Ciu It Mo yang lihai dapat melihat yang akalnya bakal tidak memberikan dia hasil yang memuaskan. Dia berpendapat, tak nanti muda mudi itu dapat saling membinasakan seperti sering terjadia diantara kedua orang musuh yang lagi mengadu jiwa. Hampir ia menghentikan pertermpuran itu guna digantikan saja oleh tujuh orang muridnya. Karena ini, ia terus menonton sambil otaknya bekerja.......

Dengan berlangsungnya pertempuran, lantas juga tampak Kiauw In mulai bermuka semu dadu dan dahinya pun mulai mengeluarkan sedikit peluh. Itulah bukti yang ia telah mengeluarkan tenaga terlalu banyak, hingga ia mulai terserang letihnya. Karenanya, juga terus terlihat yang pedangnya tak lagi bergerak gesit seperti jurus-jurus permulaan.

Di sebelahnya si nona, It Hiong tetap tenang dan tangguh.

Ia puas melihat Kiauw In mulai bergerak kendor, tetapi ia tidak mau berlaku sembrono dengan lekas-lekas turun tangan menotok si nona. Ia berlaku sabar menantikan sang waktu......

Peng Mo Nikouw adalah seorang yang berpengalaman, setelah pertempuran berjalan sekian jauh itu, dia mulai dapat menerka hatinya It Hiong. Walaupun demikian, dia nyatanya kurang sabar, maka juga akhir-akhirnya dia memperdengarkan suaranya.

"Saudara Tio !" demikian teriaknya. Atau dia berhenti dengan mendadak, sebab justru itu waktu, Kiauw In melakukan satu penyerangan dahsyat !

Ya Bie heran, hingga dia menanya ; "Eh, Toa-suhu, mengapa kau tidak melanjuti kata-katamu?"

"Toa-suhu" adalah panggilan yang berarti guru besar atau guru tua.

Dengan matanya terus mengikuti gerak gerik pedang, Peng Mo menghela nafas. Itulah jawabannya terhadap si nona yang polos itu.

Ketika itu tujuh muridnya Im Ciu It Mo pun mulai habis sabar, sebab mereka menyaksikan pertarungan muda mudi itu berlarut, setelah saling memandang, mereka terus berpaling kepada guru mereka, akan mengawasi guru itu. Mereka ingin turun tangan membantu si pemudi mengeroyok si pemuda......... Im Ciu It Mo sebaliknya berpikir lain. Dia masih dapat menyabarkan diri. Dia tidak mempedulikan sekalian muridnya itu. Tetap dia duduk tak bergeming, cuma wajahnya yang memperlihatkan hatinya tegang sendirinya. Parasnya si Bajingan suaram........

Si Bajingan Tunggal dipersulit oleh janjinya tadi kepada It Hiong, maka itu, tak dapat dia sembarang bertindak. Dia merasa malu kalau sampai si anak muda menegurnya.

Sedangkan maksudnya adalah memegang harga diri supaya nanti dihormati kaum rimba persilatan.

Lebih-lebih disitu berada Ya Bie, muridnya Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie serta Peng Mo salah seorang anggauta dari Hong Gwa Sam Mo, pasti pamornya turun seketika apabila mereka itu mengabarkan tak tepat janjinya ini. Di lain pihak, tak mudah untuknya membekap mulutnya dua orang ini, yang tak sanggup dia membinasakannya.

It Mo pun mengerti maksud ketujuh muridnya itu, diam- diam dia mengasah otaknya, ia berpikir keras. Dengan tongkatnya, berulang kali dia mengetuk-ngetuk lantai, guna mencari ilham........

Sekonyong-konyong It Mo dikejutkan satu teriakan "Aduh !" disusul suara jatuhnya pedang ke lantai, dengan lantas dia mengangkat mukanya, mengawasi ke tengah medan pertempuran. Maka dia melihat It Hiong tengah merangkul tubuhnya Kiauw In yang terhuyung-huyung dan pedangnya nona itu menggeletak ditanah sejauh lima kaki.

Biar bagaimana, It Mo terkejut sendirinya dan hatinya berdenyutan. Ia tidak menyangka Kiauw In roboh demikian cepat. Ia tidak menerka yang si nona, sudah berkelahi keras terus menerus, akhirnya letih sendirinya, hingga tenaganya bagaikan habis, darahnya telah bergolak berlebihan. Tepat disaat dia melakukan satu serangan, It Hiong menggunakan kesempatan yang baik, sembari berkelit si anak muda menyentil pedangnya si nona hingga terlepas, menyusul mana, dia ditotok jalan darahnya -- jalan darah bun-hiang dan hoa kay, hingga ia menjadi terhuyung dan mudah saja tubuhnya disambar dan dipeluk hingga tak usah dia roboh terguling !

Walaupun It Hiong memeluki si nona, ia toh berdiri diam mengawasi wajah nona itu. Inilah sebab ia melihat wajahnya Kiauw In, mukanya pucat dan matanya mendelong saja, hingga ia menjadi terharu sekali.

"Kakak Hiong, mari kita pergi !" begitu Ya Bie berkata setelah dia menyaksikan kesudahannya pertempuran itu. Tapi dia masih harus mengulangi itu beberapa kali, baru It Hiong seperti mendusin. Maka sembari terus memegangi tubuhnya Kiauw In, dia berpaling kepada Im Ciu It Mo, akan mengawasi si Bajingan Tunggal.

Tiba-tiba Im Ciu It Mo memperdengarkan suaranya yang keras : "Bocah she Tio, jangan kau pergi dahulu ! Ingat, masih ada Cit Biauw Tin !"

Si Bajingan memperingatkan orang dengan Barisan rahasianya, Barisan Cit Biauw Tin itu.

It Hiong menjawab terang dan tegas : "Sekarang ini aku perlu lekas-lekas mengobati kakak Kiauw In ! Tentang Cit Biauw Tin, biarlah lain kali saja aku mencobanya !" Dan sambil membopong Kiauw In, ia terus bertindak menuju ke mulut gua. Mendadak saja terdengar suara angin bergerak, segera Cit Biauw Tauw ni, nona-nona muridnya si Bajingan Tunggal, bergerak maju untuk menghadang.

Im Ciu It Mo pun segera berkata nyaring : "Apakah kau mempunyai kepandaian untuk mempunahkan khasiat dari obatku Thay-siang Hoan Hun Tan ? Lebih baik kau melayani dahulu Cit Biauw Tin, supaya sekalian saja kau memperoleh obatku !"

It Hiong menoleh.

"Terima kasih untuk kebaikanmu, cianpwe !" katanya nyaring. "Tak usah, tak usahlah aku meminta obat Thay-siang Hoan Hun Tan lagi dari cianpwe !"

Dan terus ia berjalan pula.

Ketujuh nona sudah lantas menghadang di mulut gua.

Dengan masing-masing mencekal cambuk, mereka bersikap mengancam.

Ya Bie menyaksikan suasana itu, dengan satu siulan nyaring ia membangunkan si orang utan yang bertubuh besar dan berwajah bengis itu, sedangkan ia sendiri, segera bertindak ke mulut gua sambil membulang-balingkan tangannya dimana ularnya melilit-lilit lengannya !

"Kakak Hiong, akan aku membuka jalan untukmu !" kata si nona berani.

Menyusul kata-katanya itu, muridnya Touw Hwe Jie sudah mencelat ke sebelah depan It Hiong, untuk berjalan di muka guna membuka jalan diantara ketujuh nona penghadang itu. Ular hijau itu mengangkat kepalanya, dia membuka mulutnya akan mempermainkan lidahnya !

Dari ketujuh nona itu, yang ditengah ialah Jie Biauw bersama Cit Biauw, nona-nona kedua dan ketujuh. Mereka itu telah menyaksikan belasan orangnya menempur si nona "cilik" tetapi mereka semua kena terpagut ular dan roboh tak berdaya, karena itu, melihat ular datang dekat, mereka lompat menyingkir. Hanya itu, justru mereka berdua menjauhkan diri, empat yang lainnya berbareng menyerang dengan cambuk mereka !

Ya Bie melihat datangnya serangan, ia memutar tangannya, ia mengangkat ularnya tinggi-tinggi. Dengan itu ia membela dirinya. Sebab itulah yang dinamakan jurus silat "Sian So Hok Liong" atau "Tambang Dewa Merantai Naga".

Hebat si ular hijau, dia menyambuti ke empat cambuk untuk terus melilitnya !

Nona-nona itu kaget sekali, serentak mereka menarik cambuk mereka, untuk mencoba meloloskannya. Di lain pihak, Ya Bie sebaliknya menarik ularnya.

Kedua pihak jadi berkutat, karena itu majunya It Hiong yang memeluki Kiauw In menjadi terhalang. Mereka jadi berhenti di belakangnya si Nona Tanggung.

Peng Mo bingung menyaksikan suasana bentrok itu. Dia insyaf, kalau pertempuran sampai terjadi, itulah tak menguntungkan pihaknya It Hiong. Itulah mungkin yang dikehendaki Im Ciu It Mo.

Sekian lama Peng Mo berdiam, akan tetapi otaknya diputar, akhirnya ia dapat memikir satu jalan. Maka lantas ia berpaling pada It Mo, sembari tertawa tawar, ia kata : "Hm, Im Ciu It Mo yang ternama di keliling jagat, kiranya dia cuma pandai menggunakan cara-cara yang rendah !"

Mukanya It Mo menjadi merah padam. Panas dia mendengar ejekan itu.

"Peng Mo !" bentaknya. "Peng Mo, apakah maksudmu ?" Peng Mo mengimplang.

"Kau masih berlagak pilon ?" jawabnya. "Kalau peristiwa ini sampai tersiar diluaran, hendak aku lihat bagaimana mukamu, dimana kau hendak menaruhnya ?"

Kembali parasnya It Mo berubah. Sebenarnya dia puas yang muridnya menempur Ya Bie dan ingin melihat kesudahannya, siapa sangka tahu-tahu Peng Mo memperdengarkan ejekan, serta ancamannya itu !

"Hm ! Hm !" dua kali dia memperdengarkan tawa dinginnya. Dia pun menyeringai mengejek. Terus dia menambahkan : "Mereka itu sendiri yang hendak berkelahi, habis apakah sangkut pautnya dengan aku !"

Peng Mo memperlihatkan tampang memandang enteng.

Dia juga tertawa dingin.

"Dengan kata-katamu, It Mo, kau telah menonjolkan hatinya Suma Ciauw !" katanya. "Buat apakah kau bersikap begini rendah ?"

Suma Ciauw adalah orang yang di hati lain, berkata lain lagi. Mendadak It Mo gusar sekali.

"Kau berani begini kurang ajar terhadapku ?" tegurnya. "Kau berani bicara tidak karuan ?"

Dari tertawa dingin, Peng Mo menyambut teguran itu dengan tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat mukanya dan memelengoskan itu, matanya dibuat main.

"Kita sebenarnya orang-orang satu golongan !" kata dia. "Dan itulah sebabnya kenapa pin-ni berani bicara sejujur- jujurnya memberi nasihat padamu, cianpwe. Kalau cianpwe hendak mengangkat nama dan melindungi itu di dalam dunia rimba persilatan, yang paling dahulu dan paling utama ialah memegang kepercayaan atas diri sendiri, buat mengharga nama harum ! Coba cianpwe pikir, benar atau tidak kata- kataku ini !"

Telak kata-kata itu, dan It Mo merasai dia kena terejek. Di dalam hati, dia kaget sekali.

Sementara itu pergulatan masih berlaku diantara ke empat Cit Biauw Yauw Lie serta Ya Bie, yang melilitkan ular hijaunya kepada cambuknya ke empat muridnya Im Ciu It Mo itu.

Kedua belah pihak telah saling menarik, saling membetot.

Ya Bie mesti memperkokoh tenaga dalamnya melayani empat orang lawan sekaligus !

Masih ada tiga orang muridnya Im Ciu It Mo. Setelah orang berkutat sekian lama tanpa kesudahan, mereka itu lantas memikir buat turun tangan, guna membantui ke empat saudara seperguruan itu. Begitulah setelah saling melirik, dengan diam-diam mereka bergerak serempak, untuk menyerang Ya Bie secara membokong ! Hebat buat Ya Bie. Untuk menyelamatkan dirinya, dia mesti melepaskan ularnya dan sendirinya juga mesti berkelit sambil terus berlompat menyingkir, akan tetapi sebelum ia sempat bertindak, guna menyelamatkan diri itu, si orang utan sudah mendahuluinya.

Binatang itu sangat waspada. Dia seperti tahu yang nonanya mau dibokong. Justru orang menyerang, justru dia berlompat maju, buat menalangi Ya Bie menjambret-meraup tiga batang cambuk. Dia menggunakan kedua tangannya.

Ya Bie sendiri sementara itu sudah menggunakan kecerdasan dan kecerdikannya. Di saat genting itu, ia masih ingat bagaimana harus bertindak. Dengan tiba-tiba dia memperdengarkan seruannya yang nyaring, dia menggunakan ilmu gaibnya, Hoan Kak Bie Cin ! Maka didalam sekejap saja So Hun Cian Li berubah wujud menjadi Im Ciu It Mo !

Ketiga citBiauw Yauw Lie terkejut mendengar jeritannya nona itu, sejenak itu juga kacaulah pikirannya dan kaburlah penglihatan matanya, sedangkan hati mereka terasakan gentar sendirinya. Selagi membokong Ya Bie, mendadak mereka melihat yang lompat kepada mereka adalah Im Ciu It Mo, guru mereka sendiri !

Serentak mereka itu memperdengarkan jeritan kaget, dengan cepat mereka menarik pulang cambuknya masing- masing sambil mereka pun berlompat mundur.

Ya Bie menggunakan kesempatan yang baik. Kalau tadi ia menarik, sekarang ia mendadak mengangsurkan tangannya -- ya, ularnya; dengan cara demikian, ia membuat lilitannya menjadi longgar, berbareng dengan itu, tangan kirinya menyusul meluncur dengan satu hajaran jurus silat "Cian Eng Ciang" atau tangan Seribu Bayangan, untuk menghadang sekalian lawannya itu !

Selagi ketiga nona kabur penglihatannya, empat yang lainnya lantas saja mundur dengan terhuyung-huyung sebab dengan tiba-tiba saja cambuk mereka lepas dari libatan, hingga mereka mesti terpaksa mundur sendirinya, mundur dengan tindakan kaki tidak teratur. Syukur untuk mereka, tidak sampai mereka pada terguling roboh. Tapi hajaran Cian Eng Ciang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk memperbaiki diri, sedangnya mata mereka pun kabur, serangan tiba. Maka kali ini, tanpa ampun pula, mereka pada roboh terduduk mendeprok !

Dengan roboh dan menyingkirnya ketujuh penghadang itu, maka terbukalah jalan di muka pintu gua. Maka dengan saling susul, It Hiong dan kawan-kawannya berlompatan keluar.

Selekasnya ke empat nona bagaikan sadar dan membuka matanya, begitu mereka berlompat bangun, mereka mendapati ketiga lawan sudah berada diluar gua. It Hiong keluar bersama si orang utan. Hanya itu Peng Mo, selagi ia keluar bersama, terhadap So Hun Cian Li, dia telah melakukan sesuatu......

Ek Toa Biauw mementang matanya, terus ia berseru, lalu tubuhnya mau berlompat menyusul.

"Tahan !" mencegah Im Ciu It Mo.

"Ada apa, suhu ?" tanya Toa Biauw sambil dia batal mengejar, dia membalik diri sambil mengajukan pertanyaannya itu kepada gurunya. "Toa Biauw, mari," si guru memanggil tanpa dia menjawab dahulu muridnya.

Murid itu datang menghampiri, sedangkan enam orang kawannya lantas mengawasi padanya dan pada guru mereka itu, sebab mereka ingin sekali mengetahui guru itu hendak mengatakan atau berbuat apa.

"Ada titah apa, suhu ?" Toa Boauw menanya pula setibanya ia di depan gurunya kepada siapa ia menjura hormat.

Im Ciu It Mo menarik muridnya sampai dekat sekali, untuk terus membisikinya, kemudian dengan mengulapkan tangannya, ia kata tegas-tegas : "Dengan begini aku hendak menguji kecerdasan kalian ! Nah, pergilah !"

Ek Toa Biauw mengangguk, terus ia memutar tubuh, lalu dengan satu gerakan tangan, ia minta kawan-kawannya turut padanya. Ia pun mendahului bertindak pergi. Maka bagaikan angin melesat, tubuh-tubuh yang langsing itu pada berlompatan keluar gua.

Ketika itu diluar gua, Ya Bie yang membuka jalan dengan jalan di muka dan Peng Mo berjalan paling belakang selaku pelindung. Dengan memondong Kiauw In, yang tetap tak sadarkan diri, It Hiong berjalan ditengah-tengah. Si orang utan berada di belakang si anak muda atau di depannya si Bajingan Es.

Mereka mesti melalui jalan yang sempit, bagaikan terjepit antara dua dinding gunung. Jika tidak berhati-hati, mereka akan kena menyentuh batu-batu yang nonjol keluar dari ujung tepian dinding disitu, batu besar yang ujungnya lancip tajam. Di dalam ini pula orang tak dapat melihat langit, hanya ada sinar remang-remang, seperti cahaya kunang-kungan.

Syukurlah mereka masih mampu melihat jalanan untuk dapat maju terus.

Di dalam hati, It Hiong menerka-nerka darimana datangnya sinar terang itu. Biar bagaimana, mereka merasa sedikit berkhawatir.....

Mereka juga tidak tahu jalan itu bakal menuju kemana, ke arah buntu atau ke jalan keluar.....

Sekian lama mereka berjalan, mereka belum sampai juga diakhirnya. Mereka cuma mengkol di beberapa tikungan.

Selama itu, masih tampak sinar terang itu yang warnanya kehijau-hijauan......

Jalanan sempit sekali, hingga orang mau menerka bahwa mereka sedang menuju ke jalan buntu.....

Jangan kata Ya Bie, yang masih hijau, Peng Mo pun mendapati serupa kekhawatiran.

Cuma It Hiong yang tidak memikirkan itu, sebab perhatiannya lagi dipusatkan kepada Kiauw In, yang berada dalam pondongannya, bagaimana nona itu akan dapat ditolong dari pengaruhnya obat Thay-siang Hoan Hun Tan yang lihai itu....

Masih mereka berjalan terus. Kembali sebuah tikungan dilewatkan.

Tiba-tiba Ya Bie menghentikan langkahnya. Keragu- raguannya sampai di puncaknya hingga tak berani ia sembarangan maju terus. "Kakak Hiong !" panggilnya sambil menoleh pada si anak muda. Tanpa merasa, suaranya agak menggetar.

It Hiong pun menghentikan langkahnya.

"Ada apa ?" tanyanya heran. Ia heran sebab otaknya tetap berada pada Kiauw In. Terus ia kelelap dalam pikiran memikirkan obat untuk menyembuhkan nona Cio.......

"Kakak Hiong," kata Ya Bie. "Kita sudah berjalan lama sekali, kita sudah melalui jauh, kenapa jalan sempit ini masih juga belum tiba pada ujungnya. Aku pun mendapat rasa jalan makin sempit. "

Mendengar itu barulah It Hiong bagaikan sadar. Maka lantas ia memasang amta, melihat ke depan dan ke sisi kiri dan kanannya.

"Adik Ya Bie benar," Peng Mo turut bicara. "Apakah tak mungkin jalanan ini benar jalanan buntu ? Apakah tak mungkin ada sebabnya kenapa Im Ciu It Mo membiarkan kita lari tanpa dia mengejar ?"

It Hiong berpikir. Kata-katanya kedua kawan itu beralasan.

Terpaksa, ia pun menjadi bercuriga. Walaupun demikian, sebagai orang yang telah banyak pengalamannya, dapat ia bersikap tenang. Terus ia memasang matanya, maka juga, habis si Bajingan Es berkata itu, ia melihat si Bajingan justru berada disisinya, terpisah kira tiga kaki, dan tubuhnya Bajingan itu cuma sebatas ketiaknya. Sebaliknya Ya Bie, yang berada di depannya, terlihat sedikit lebih tinggi daripadanya, lebih tinggi sebatas kepala...... Hanya sejenak It Hiong lantas menerka sebabnya mereka jadi katai dan tinggi tak rata itu. Itulah tanda bahwa habis menikung itu, mereka tengah mendaki. Mungkin mereka lagi menuju ke arah puncak gunung !

Akhir-akhirnya pemuda she Tio itu tertawa.

"Maju terus !" katanya kemudian. "Mari kita maju dengan hati tenang ! Kita tengah menuju ke puncak gunung !"

Ya Bie heran hingga dia melengak.

"Kakak Hiong," tanyanya tak mengerti, "bagaimana kau bisa menerka begini ? Benarkah jalan sempit ini jalanan menuju ke puncak gunung ?"

It Hiong menoleh pada Peng Mo. Kata dia : "Aku percaya yang taysu juga telah melihat sebagai aku. "

Peng Mo pun melengak mendengar kata-kata si anak muda, hingga ia jadi berfkir. Ia tidak segera menjawab, hanya lalu memperhatikan formasi tempat dimana mereka berdiri.

Memang tanah agak manjat naik. Baru setelah itu, dia kata pada Ya Bie : "Eh, adik, apakah kau tidak memperhatikan formasi tanah yang kita injak ini, iya atau tidak ? Tanpa sejauh satu tombak, nampak tegas tanah disini mudun ke bawah, meninggi ke atas ! Sungguh, dalam hal ini kakak Hiongmu itu jauh terlebih cerdik dari pada kita !"

Seruannya si Bajingan Es pun menyadarkan Ya Bie, ia memang cerdas.

It Hiong pun lantas berkata pada nona itu : "Adik Ya Bie, baiklah kau juga ingat bahwa itulah suatu pengalaman buat orang yang menjelajah dalam dunia Kang Ouw !" Ya Bie sadar, ia pun girang.

"Iya, akan aku ingat baik-baik !" sahutnya, sedangkan hatinya lega bukan main.

Maka bertiga mereka berjalan terus mendaki, sampai mereka mesti berjalan sambil sedikit membungkuk. Sinar terang guram itu terus membantu mereka.

Mungkin mereka sudah melalui dua puluh tombak lebih, lantas jalanan makin sempit. Di lain pihak, sinar itu makin terang, seumpama terangnya cahaya si puteri malam !

Ya Bie berjalan terus bagaikan merayap, lalu merayap benar-benar !

It Hiong mesti memondong tubuh Kiauw In, tidak dapat ia merayap seperti si nona. Apa akal ? Lantas ia menggunakan Gie Heng Hui Heng Sut, ilmu pedang rahasia bagaikan terbang melayang. Itulah ilmu ringan tubuh yang teratas. Maka majulah ia bagaikan asap mengepul naik !

Hanya sebentar, pemuda ini sudah melewati Ya Bie, dua puluh tombak lebih.

Peng Mo Nikouw sebaliknya maju dengan menggunakan ilmu Pek-houw Yu Cian Kang, atau Cicak Merayap di Tembok. Maka ia dapat maju mirip tikus atau ulat.

Jalanan menanjak itu tinggi dua ratus tombak lebih, tempat yang dapat diinjak kaki pun licin. Syukur buat Ya Bie, dia tak menghadapi kesulitan. Sebab Kip Hiat Hong Mo telah mewariskan dia ilmu ringan tubuh yang sangat mahir, hingga dia tak usah kalah dengan orang Kang Ouw kelas satu yang mana juga. Walaupun demikian, nona itu telah dapat disusul dan dilampaui oleh Peng Mo. Hal itu membuatnya penasaran, ia tak mau kalah, ia lantas percepat larinya. Di lain detik, berhasillah ia merendeng si Bajingan Es. Saking girang ia tertawa nyaring.

Peng Mo cuma menoleh dan melirik, ia maju terus tanpa mengatakan sesuatu.

Ya Bie tertawa tanpa sengaja, itu justru membahayakan padanya. Siapa lagi menggunakan ilmu ringan tubuhnya, pantang baginya buat tertawa, sebab dengan tertawa, ia mengganggu pemusatan pikirannya sendiri. Demikian si nona, lantaran ia tertawa, tubuhnya turun pula, sejauh sepuluh tombak lebih, hingga ia tertinggalkan pula oleh si Bajingan Es. Ia kaget sekali. Hampir ia jatuh. Untuk menyelamatkan diri, selain meminta bantuan ularnya, yang ia libatkan kesisinya dimana ada sepotong batu besar. Dengan begitu, ia bukan saja tak jatuh terus, bahkan ia lantas dapat merayap naik pula.

Akhirnya nona kita tiba ditempat yang aman, disitu ia bercokol dengan mengeluarkan nafas, melegakan hati. Ia bergidik kapan ia ingat bahaya barusan yang mengancamnya. Itulah ancaman bahaya maut ! Syukur ada si ular hijau, yang dapat melibat batu besar dan menahan tubuh nonanya !

Tempat aman itu berupa sebuah gua, yang gelap sekali. Di situ Ya Bie meluruskan nafasnya.

"Adik Ya Bie ! Adik Ya Bie !" demikian berulang kali terdengar suara panggilannya It Hiong. "Kakak..... Hiong. !" si nona menjawab, nafasnya belum

lurus seluruhnya. "Kakak kau. kau dimana ?"

"Aku disini !" begitu terdengar suara Peng Mo, yang bagaikan menalangi It Hiong menjawab. "Adik Ya Bie, mari merayap naik kemari !"

Saking gelapnya gua, mereka tidak melihat satu sama lain.

Sebenarnya Peng Mo terpisah dari muridnya Touw Hwe Jie cuma setombak lebih....

Ya Bie mendengar suara orang dan mengira-ngira dari mana suara itu datang, maka ia lantas merayap menghampiri. TIba di depannya Peng Mo, samar-samar ia melihat It Hiong lagi duduk sambil terus memondong tubuhnya Kiauw In. Ia terpisah dari kakak itu cuma tiga atau empat kaki.

Bagaikan anak kecil, melihat It Hiong, tiba-tiba Ya Bie menangis ! Sebab ia sangat girang dapat menemui pula anak muda itu. Ia lekas merayap naik, untuk mendekati, setelah mana sambil menangis terus ia merangkul bahu pemuda itu.

It Hiong terkejut. Tak tahu ia sebabnya kelakuan si adik Ya Bie......

Bahkan Peng Mo juga tidak kurang herannya.

Kiranya Ya Bie berduka karena ingat bahaya yang mengancamnya selagi ia jatuh turun itu, sesudah lega hati, ia membayangi itu, lalu ia sedih sendirinya. Ia menangis hingga tubuhnya bergemetaran.

It Hiong mengusap-usap rambut yang hitam indah dari nona itu. "Sudah, jangan menangis, adikku !" katanya, menghibur, membujuki seperti juga si nona ialah seorang bocah cilik. "Sebenarnya kau kenapakah ?"

Mendengar pertanyaan itu, lega hati si nona. Ia memangnya tidak berduka lara. Maka setelah mendengar suara si anak muda, yang merdu sekali bagi telinganya, tiba- tiba ia tertawa. Mendadak saja hatinya terbuka pula.

Selagi si anak muda heran, si nona jengah sendirinya. Ia berhenti tertawa dan menyelusupkan mukanya di atas bahu oang. Baru setelah itu, ia berkata perlahan " Barusan aku lupa yang aku lagi mengerahkan tenaga dalamku, untuk dapat lari keras dengan ilmu ringan tubuh, tiba-tiba saja aku tertawa, maka sendirinya tubuhku jatuh turun, hingga hampir aku menemui ajalku."

It Hiong heran hingga ia melengak.

"Benarkah ?" tanyanya. "Bukankah ilmu ringan tubuhmu sudah sempurna sekali ? Kenapa kau masih takut jatuh ?

Apakah kau bukannya dibikin menjadi mendongkol atau penasaran sendiri sebab diantara kita bertiga, kaulah yang larinya kurang cepat ? Kalau benar begitu, kau keliru. "

Peng Mo mendengar pembicaraan itu, dia tertawa. "Adik !" katanya. "adik, ilmu ringan tubuhmu sudah

sempurna sekali sedangkan usiamu masih sangat muda ! Aku tahu, didalam dunia Kang Ouw, cuma beberapa gelintir orang saja yang sanggup menyamaimu ! Memangnya kau ingin menyaingi kakak Hiong mu ini?"

Ya Bie senang mendengar kata-kata orang dua orang itu, ia mementang matanya, terus ia menghela nafas. "Barusan, Toa-suhu," kata ia, "ketika aku dapat menyandak kau, girangku bukan kepalang, maka juga aku tertawa tanpa dipikir pula, siapa tahu lantaran tertawa, tenagaku lenyap hingga aku jatuh turun. Syukur sekali Sian Liong, ularku, telah menolong padaku, kalau tidak, tentulah jiwaku sudah melayang. "

Begitu dia menyebut Sian Liong, ularnya yang Naga Sakti itu, tiba-tiba Ya Bie ingat akan So Hun Cian Li, si orang utan, hingga tanpa merasa, ia berseru dengan pertanyaannya : "Mana So Hun Cian Li ?"

Diam-diam It Hiong pun terperanjat. Ia juga melupai orang utan itu. Ia hanya tidak menyangka binatang itu kena ditawan Im Ciu It Mo sebab So Hun Cian Li sudah mewariskan kepandaian ringan tubuh dari Kip Hiat Hong Mo.

"Entah dia pergi kemana, " kata si anak muda kemudian. "Sebentar, sekeluarnya dari sini, kita cari padanya ! Aku percaya dia tak nanti terancam bahaya !"

Peng Mo tertawa. Dia pun turut bicara.

"Adik, kau legakan hatimu !" katanya. "Binatang itu menjadi kesayangan gurumu, dia telah dididik sempurna, tidak nanti dia roboh ditangannya Im Ciu It Mo. Pula, tidak nanti Im Ciu It Mo berani mencelakainya ! Mana berani dia menanam bibit permusuhan dengan gurumu ? Itu pula dapat mengganggu usahanya membangun Bu Lim Cit Cun. "

Sejak keluar dari Cianglo ciang, belum pernah Ya Bie ketinggalan atau berpisah dari orang utannya, sekarang keduanya terpisah, tidak heran kalau hatinya menjadi tidak tenang. Ia tidak tahu sebabnya kenapa So Hun Cian Li tidak berjalan bersamanya. Dia tidak sangka bahwa Peng Mo telah main gila terhadapnya dengan dia itu menuntun tangan gelap terhadapnya Bienatang kesayangannya.

Disaat sama-sama molos dari mulut gua, Peng Mo berjalan di belakangnya So Hun Cia Lie, maka itu mudah saja dia menotok binatang itu. Si orang utan tidak bercuriga sama sekali. Orang pula menggunakan ilmu totoknya yang lihai. Dua jari tangan diulurkan pada jalan darah tay-meh di pinggangnya Bienatang itu. Ilmu totok itu ilmu ciptaan Hong Gwa Sam Mo sendiri, beda dari pada ilmu yang dimiliki orang. Siapa kena tertotok, ia tidak segera roboh, hanya nantinya, lewat sekian waktu. Jadinya totokan bekerja belakangan.

Peng Mo berbuat demikian karena ia takut kepada Ya Bie, takut si nona nanti menggunakan ilmu Hoan Kak Bie Cin terhadapnya. Kalau dia menotok So Hun Cian Li hingga binatang itu roboh seketika, dia khawatir nanti dicurigai It Hiong atau Ya Bie, maka dia menggunakan kepandaian istimewanya itu.

Maksudnya Peng Mo merobohkan si orang utan tak lebih tak kurang karena kehendaknya mendapati It Hiong, supaya anak muda itu nanti menjadi penggantinya Gak Hong Kun ! Dia tetap ingin melampiaskan nafsu binatangnya terhadap anak muda kita. Dia menggunakan akal bulusnya ini sebab dia merasa gagal memancing It Hiong dengan paras elok, dengan kecentilannya dan dengan obat beracun juga. Dengan kekerasan terang dia telah tidak berhasil. Maka sekarang dia memakai akal membaiki, dengan melepas budi membantui si anak muda menentang Im Ciu It Mo, agar orang itu nanti ingat dan mau membalas budinya. Lain dari itu, dia pula hendak menggunakan Ya Bie buat dijadikan sandera, jaminan manusia, agar It Hiong suka "menyerah" kepada kehendaknya..... Selagi Ya Bie bingung karena lenyapnya So Hun Cian Li, Peng Mo diam-diam bergirang di dalam hatinya. Ia hanya berpura-pura saja yang ia membantu membujuki nona yang cerdas tetapi masih hijau itu. Benar-benar hatinya si nona menjadi tidak tenang dan berkhawatir pula seperti semula.

Sekian lama mereka sama-sama berdiam, maka juga terperanjatlah mereka bertiga ketika tiba-tiba saja mereka mendengar orang menghela nafas serta suara seperti merintih. Kiranya itulah suara dari mulutnya Kiauw In, yang sadar di pangkuan It Hiong.

Si anak muda terperanjat berbareng hatinya lega, tidak ayal lagi ia lantas menguruti nona itu, supaya dia bebas seluruhnya dari totokannya yang membuat orang seperti tidur nyenyak.

Meskipun ia masih terpengaruhkan obat Thay-siang Hoan Hun Tan, sebebasnya totokannya It Hiong, Kiauw In dapat sadar seperti biasa, tinggal otot-otot syarafnya saja yang tetap terganggu.

Ya Bie girang sekali mendengar Nona Cio terasadar. "Kakak In mendusin !" katanya gembira. "Bagaimana

sekarang ?"

Saking prihatin, nona ini meraba-raba mukanya Kiauw In. "Gua ini gelap sekali, bagaimana mukanya Kakak In dapat

dilihat ?" tanyanya kemudian.

It Hiong seperti tidak mendengar kata-katanya nona itu. Ia sedang terbenam dalam pikiran bagaimana caranya ia harus membantu pacarnya, bebas dari pengaruh obatnya Im Ciu It Mo. Baru sesaat kemudian ia kata : "Kau benar, adik. Memang kita harus dapat melihat mukanya. "

Tiba-tiba It Hiong ingat Lee-cu, mutiara mustikanya. Lantas ia merogoh sakunya dan mengasi keluar mutiara itu. Hingga di dalam sekejap, cahaya terang dari benda mustika lantas menerangi seluruh gua, yang ternyata hanya sebuah gua  kecil.

Untuk dapat melihat wajah pacarnya, It Hiong membawa tangannya yang memegang mutiara ke mukanya Kiauw In, matanya sendiri terus mengawasi.

Ya Bie menggeser tubuh buat melihat dari dekat, sambil separuh bersender pada tubuhnya It Hiong. Ia mengawasi nona Cio. Dengan suara prihatin, ia menghela nafas perlahan.

Kiauw In memejamkan kedua matanya, mukanya pucat. Ia bagaikan lagi tidur nyenyak. Nafasnya pun terasalurkan dengan tenang.

It Hiong membawa Lee-cu ke hidungnya si nona terpisah hanya dua dim kira-kira, dengan demikian ia bisa memandang jelas parasnya si nona. Cuma sebab matanya nona itu tertutup, ia tidak dapat melihat sinarnya yang guram.

Diarahkan kepada mukanya Kiauw In, aneh mutiara mustika itu. Mendadak sinarnya menjadi suaram, atau dilain saat, lantas terang pula seperti biasa. Kiranya mutiara itu terkena nafasnya si nona. Samar-samar nampak, hawa nafas nona itu bercahaya hijau. Lagi sekali, mutiara suaram dan bercahaya kembali.

It Hiong mengawasi terus. Ia pun membiarkan mutiaranya tetap berada diatas hidungnya sang kakak seperguruan. Maka ia melihat tegas bagaimana saban si nona mengeluarkan nafas, saban-saban sinar mutiara itu guram, lalu terang. Lalu tampak suatu perubahan lain. Sinar hijau dari nafasnya si nona perlahan-lahan menjadi makin kecil dan makin kecil, sinar itu bagaikan buyar atu menipis dengan perlahan-lahan. Sebaliknya, mulutnya si nona seperti juga dapat menyedot sinar terang dari mutiara mustika itu.

Nampaknya Kiauw In senang sekali dengan Lee-cu. Dalam keadaan seperti lagi tidur itu, terus menerus ia menarik nafas keluar dan masuk. Keluar ia mengeluarkan hawa hijau, masuk ia memasuki sinar putih terang dari sinar mutiara mustika itu. Lewat lagi sekian lama, maka habis atau hilanglah sudah cahaya hijau itu -- ialah warna kotor dari Thay-siang Hoan Hun Tan dari Im Ciu It Mo. Habis itu, ia terus berdiam, ia seperti lagi tidur pula dengan nyenyaknya.

It Hiong terus mengawasi, ia tidak bergerak agar tidak mengganggu si nona.

Ya Bie mementang matanya lebar-lebar mengawasi perubahan yang terjadi atas dirinya nona Cio itu. Tampak tegas yang ia merasa aneh. Ia juga tidak berani memperdengarkan suara apa-apa, supaya ia tidak mengganggu nona itu.

Dengan sabar It Hiong menyimpan mutiaranya, matanya terus ditatapkan ke muka Kiauw In. Ia memasang mata, tetapi hatinya bekerja. Ia pun heran dengan kesudahannya gerak- geriknya mutiara mustika itu. Maka ia sangat ingin tahu bagaimana kesudahannya nanti. Perlahan-lahan ia memperoleh harapan besar sebab ia mendapat kenyataan pacarnya tidur sangat nyenyak. Itu bukan tanda bahaya, hanya alamat baik........ Sehabisnya ia bicara paling belakang, Peng Mo sementara itu duduk bersila sambil bersemadhi, guna mengumpulkan tenaga, buat menenangkan diri. Ia terus berada di dalam kegelapan sang gua sampai It Hiong mengeluarkan Lee-cu, hingga ia bisa samar-samar melihat sedikit sinar terang, ketika ia membuka matanya, baru ia melihat tegas cahaya terang itu, hingga ia ketahui dari mana datangnya cahaya itu. Berbareng terkejut dan heran, mendadak timbul rasa tamaknya ! Ialah ia ingin memiliki mutiara itu !

"Bagaimana aku harus mendapatkannya ?" demikian pikirnya. Ketika itu Ya Bie justru seperti sedang menghadang di depannya. "Kalau aku gagal dengan satu kali rampas saja, jangan aku harap nanti bisa molos keluar dari sini. "

Hebat si nikouw, selagi di satu pihak ia ingin memiliki mutiara mustika, di pihak lain ia pun sangat bernafsu mengangkangi dirinya It Hiong sendiri, si pemuda gagah dan tampan yang setiap waktu dapat menimbulkan rasa birahinya. Maka itu, letih berpikir ia terus duduk berdiam. Ia harap dengan bersemadhi ia nanti dapat mengekang diri, agar ia selalu bisa berlaku tenang.

Tiba-tiba Peng Mo dikejutkan satu suara tertahan : "Oh !" dan menyusul itu terdengar seru girang dari Ya Bie : "Kakak Kiauw In mendusin !"

Memang juga nona Cio sudah terasadar, ketika ia membuka matanya, paling dahulu ia melihat It Hiong, disusul dengan kesadarannya bahwa ia rebah di pangkuannya anak muda itu, hingga saking terkejut dan heran ia mengeluarkan seruan tertahan itu.

It Hiong diam menjublak selekasnya ia mendengar suara pacarnya itu. Ia heran dan berbareng girang. Itulah berarti yang Kiauw In sudah bebas dari pengaruh jahat dari obat yang lihai dari Im Ciu It Mo. Hanya berbareng dengan itu, masih ada sedikit kekuatirannya yang ingatannya si nona nanti terganggu disebabkan sudah terlalu lama dia menjadi korbannya Thay-siang Hoan Hun Tan.

Kiauw In mengawasi It Hiong, lalu Ya Bie, yang suara kegirangannya ia dengar, setelah itu dengan cepat ia menggerakkan tubuhnya, buat bangun berdiri. Nampaknya ia mirip orang yang baru sembuh dari penyakit berat, karena sambil berdiri itu, ia toh menghimpit tubuhnya pada tubuh It Hiong, nafasnya kelihatan memburu.

Kemudian lagi Nona Cio mengawasi Ya Bie, untuk sembari tertawa bertanya : "Adik Ya Bie, kenapakah kau mengawasi saja kakakmu ini ? Memangnya kau lihat aku bagaimana ?"

Ya Bie girang tak terkirakan. Dia tidak lantas menjawab pertanyaan orang, ia justru maju merangkul nona itu, setelah mana barulah ia berkata : "Kau telah mengenali aku, kakak ! Kau nyata telah sadar seluruhnya !"

Kiauw In menatap nona di depannya itu.

"Apakah katamu, adik ?" tanyanya heran, sepasang alisnya pun terbangun.

"Pantas kau masih belum tahu, kakak !" sahut Ya Bie. "Kau telah makan obat Thay-siang Hoan Hun Tan dari Im Ciu It Mo, lantas kesadaranmu lenyap, hingga kau tak ingat lagi dirimu sendiri. Hal ini telah berjalan selama beberapa bulan kakak !

Sekarang kakak sadar. Inilah aneh ! Sama sekali kakak belum diobati. Kiauw In sudah pulih seluruhnya, maka itu mendengar keterangan Ya Bie, ia menjadi heran. Ia tak ingat apa-apa sejak ia terkena obatnya Im Ciu It Mo. Ia pun heran yang ia sembuh tanpa obat! Kenapakah ? Karena itu, keras ia memikirkannya, kepalanya ditundukkan.

It Hiong telah berbangkit bangun. Biar bagaimana, ia masih mengkhawatirkan masih ada sisa pengaruh obatnya It Mo terhadap pacarnya itu. Maka dengan menggunakan mutiaranya mirip sebagai lampu, ia menerangi mukanya si nona dan mengawasinya dengan seksama.

Kiauw In tengah berfikir keras ketika matanya disilaukan cahaya mutiara, seperti terpengaruhkan sesuatu, kesegarannya atau semangatnya terbangun dengan tiba-tiba. Maka ia sudah lantas mengangkat mukanya, untuk terus menatap It Hiong. Ia pun membuka bibirnya, buat sambil menghadapi mutiara itu menarik nafas dalam-dalam !

Selekasnya si nona menyedot cahaya mutiara dihadapannya itu, mendadak saja It Hiong terasadar ! Terang sudah yang cahaya mutiara mustika itu yang menjadi penawar bagi nona itu ! Ya, pengaruhnya Thay-siang Hoan Hun Tan telah disirnakan Lee-cu !

Jadi Lee-cu adalah mutiara mustika serba guna !

Sampai disitu, tanpa ragu pula, anak muda kita mengangsurkan mutiaranya ke mulut si nona, untuk  memasuki itu ke dalam mulut orang seraya ia berkata lembut : "Kakak, kau kemutlah mutiara ini, lalu ludahmu kau telah masuk kedalam perutmu, habis itu lantas kau rasakan tubuhmu, bagaimanakah perubahannya !" Ya Bie heran mendengar kata-kata si pemuda, hingga ia melengak.

Dengan mutiara dikemut si nona, gua menjadi gelap pula dalam seketika.

It Hiong segera meraba bahunya Kiauw In, di sisi siapa ia berdiri. Ia bersiap sedia untuk sesuatu kejadian. Di lain pihak, dengan perlahan ia kata pada Ya Bie : "Adik, kau berhati- hatilah. "

"Ya", menjawab si nona polos, yang terus mengawasi ke arah muda mudi itu. Ia dapat menangkap artinya kata-kata si pemuda, sebab habis itu, gelaplah gua itu. Bahkan dengan mengeluarkan ularnya, ia terus memernahkan diri di depannya si pemuda. Sedangkan ularnya, dengan memutar-mutar lidahnya, memperlihatkan sinar berkilauan pada lidahnya itu.

Sementara itu lain lagi perasaannya Peng Mo. Selekasnya dia mendapat kenyataan gua berubah menjadi gelap pula.

Ketika itu dia telah dipengaruhi pelbagai perasaan tamak dan kemaruk, sebab dia ingin memperoleh si anak muda serta mutiaranya itu, karena dia menghendaki sangat memperoleh tubuhnya anak muda itu. Gelap petang itu adalah ketika atau kesempatan paling baik baginya, demikian pikirnya. Lebih dahulu ia mengawasi tajam ke arah ketiga muda mudi itu yang sedang berdiam diri, lalu mendadak ia meluncurkan tangannya kepada mereka !

Ketika itu, Peng Mo masih belum menginsyafi khasiat dari Lee-cu. Ia menyangka It Hiong memasuki itu ke dalam mulutnya Kiauw In melulu untuk mencoba-coba saja. Di lain pihak, ia tak menyangsikan lihainya obat dari Im Ciu It Mo, hingga ia pun tidak percaya nona Cio bakal sembuh karena mutiara itu. Ketika ia meluncurkan tangannya itu, mendadak ia menariknya pulang. Tiba-tiba ia melihat satu cahaya kehijau- hijauan, yang bergerak-gerak. Ia kenali itulah lidahnya Sian Liong, ularnya Ya Bie, yang ia telah ketahui dengan baik beracunnya. Maka juga batallah ia hendak melakukan penyerangan membokong. Di lain pihak lagi, kecerdikannya membuatnya dapat memikir aka.

"Adik Ya Bie !" tegurnya, kemudian sembari tertawa. "Adik, apakah nona Cio sudah terasadar ? Benarkah ?"

Ia menanya sambil bertindak menghampiri.

"Ya," Ya Bie menjawab. Tetapi dia menambahkan : "Toa- suhu, jangan kau mendekati kami !"

Kata-kata itu dikeluarkan wajar, tanpa sungkan-sungkan, sedangkan ularnya, si nona membulang-balingkannya. Hingga dengan mata malamnya, Peng Mo dapat melihatnya. Dia jeri sekali dan lekas-lekas dia mundur pula. Hanya, karena sangat panas hatinya, dia menggertak giginya sendiri. Dia sangat membenci nona itu.

"Tio sicu. " kemudian dia memanggil It Hiong.

Suara itu halus, akan tetapi berhenti dengan tiba-tiba. Dengan itu Peng Mo ingin mendapat kenyataan si pemuda membencinya atau tidak. Tegasnya ia masih dipandang sebagai sahabat atau lawan.......

Jawabannya It Hiong diberikan dengan cepat.

"Kakak Kiauw In sudah mendusin," demikian suara si anak muda. "Toa suhu, mari kita pergi mencari jalan keluar dari gua ini." Ketika itu, Kiauw In sudah mengeluarkan mutiara dari dalam mulutnya dan menyerahkan itu pada si anak muda, kemudian ia kata : "Oh, kiranya Toa-suhu Peng Mo pun berada disini. "

Itulah kata-kata ringkas dan sederhana, tetapi mendengar itu, tubuhnya Peng Mo menggigil. Inilah sebab si Bajingan insyaf, dengan sadarnya nona Cio, makin sult buat ia mendapatkan It Hiong. Maka itu, saking bingung, ia sampai tak dapat menyambuti kata-katanya si nona.

Adalah Ya Bie, yang menalangi menjawab.

"Dia datang untuk mencari Gak Hong Kun !" kata nona itu. "Setelah dia bertemu dengan Kakak Hiong, dia lantas tak meneruskan pergi mencari orang she Gak itu !'

Tak tentram hatinya It Hiong mendengar kata-katanya Ya Bie itu. Ia kuatir nona polos ini nanti bicara terus tanpa pembatasan, hingga dia khawatir juga Peng Mo nanti menjadi tak puas dan mendongkol karenanya. Berbahaya andiakata Peng Mo bergusar dan mengambil tindakan keras. Maka itu, ia berkata pula : "Kakak In, kau harus menghaturkan terima kasih kepada Toa-suhu. Mengenai kebebasan kakak ini, Toa- suhu telah memberikan bantuannya. "

Lega hatinya Peng Mo mendengar suaranya It Hiong itu. Ia justru berkuatir si nona menjadi beranggapan lain mengenai dirinya. Ia lantas menyambungi si anak muda. Katanya : "Di dalam kalangan Kang Ouw sudah umum orang saling membantu ! Itulah bantuanku yang tidak berarti ! Tio sicu, berat kata-katamu. " Di dalam hatinya, Ya Bie mengatakan "Cis !". Ia sebal terhadap si Bajingan Es. Tetapi ia tidak mengatakan apa yang ia pikir itu.

"Kakak Hiong, mari kita pergi !" kata ia, sengaja dengan suara nyaring.

Walau ia mengatakan demikian, muridnya Touw Hwe Jie tak bergeming. Ia berdiri diam dengan waspada, ular beracunnya tetap ditangannya, siap sedia buat menurunkan tangan apabila saatnya tiba.....

Peng Mo melihat sikapnya Ya Bie, ia menahan sabar. Ia harus tahu diri. Di saat seperti itu, tidak dapat ia menggunakan kekerasan. Sesudah Kiauw In sadar, It Hiong memperoleh tenaga bantuan yang besar sekali. Ia juga takut Ya Bie nanti mengatakan hal-hal yang dapat menyakiti hatinya. Bahkan saking cerdiknya, ia lantas tertawa dan kata : "Tio sicu, mari pinni membuka jalan buat kalian !"

Peng Mo sudah lantas merubah panggilannya, tidak lagi saudara Tio hanya Tio sicu. Habis itu, terus dia meringankan langkahnya.

"Banyak capek saja, Toa-suhu !" kata It Hiong, yang di dalam hatinya dapat menerka nikouw itu jeri terhadap ularnya Ya Bie. Diam-diam ia menarik ujung bajunya si nona, guna membiarkan pendeta perempuan itu melewatinya.

Selekasnya si nona menggeser tubuh, Peng Mo maju terus. It Hiong memanggil Ya Bie, buat diajak berjalan bersama,

ia sendiri membuka langkahnya dengan sebelah tangan memapah Kiau In dan tangannya yang lain mengangkat tinggi mutiara mustikanya. Lee-cu dipakai sebagai lentera. Berempat mereka berjalan dengan perlahan-lahan.

Gua itu memang gua yang merupakan jalanan di dalam perut gunung, jalannya selalu berliku-liku, dikedua sisinya, sepanjangnya hanya dinding gunung. Pada langit-langit gua terdapat stalaktit. Yang heran ialah jalanannya yang rata seperti buatan manusia.

Peng Mo berjalan terus di depan. Mulanya masih terdengar suara tindakan kakinya samar-samar yang terbawa angin, atau di lain saat, lalu tak terdengar sama sekali.

It Hiong tidak pedulikan orang yang telah pergi jauh atau meninggalkannya. Apa yang ia pikirkan ialah halnya Kiauw In, yang harus dilindungi keluar dari terowongan itu. Ia ingin dapat menyingkir jauh dari Im Ciu It Mo, agar si Bajingan Tunggal tak dapat menyusulnya.

Bertiga It Hiong berjalan terus. Entah berapa buah tikungan telah dilalui. Rintangan tidak ada, kecuali batu gunung yang menonjol keluar. Mungkin mereka sudah berjalan selama satu jam lebih, baru mereka melihat sinar terang samar-samar. Di situ pun mulai terasa siurannya angin dingin. Angin mendatangkan hawa segar.

"Mungkin kita bakal muncul di mulut gua. " kata Kiauw In

perlahan.

"Kita harus waspada," kata Ya Bie, yang berjalan di belakang nona Cio. "Kita mesti berhati-hati supaya jangan sampai kita terbokong atau terperangkap di mulut goa oleh Im Ciu It Mo !"

Kiauw In tertawa manis. "Kau telah belajar berlaku cerdik, adik !" katanya. "Pantaslah Peng Mo Nikouw pun rada jeri terhadapmu !"

It Hiong tertawa dan turut bicara.

"Berhati-hati berarti bernyali besar !" katanya. "Adik Ya Bie memang tengah belajar banyak !"

Senang Ya Bie mendengar pujiannya muda mudi itu. "Mari kasikan aku yang keluar dahulu di mulut gua !"

katanya kemudian, tertawa. "Biarlah aku dapat berlatih lebih jauh !"

Dengan gerakan gesit, si nona polos sudah mendahului It Hiong dan Kiauw In yang dia lewatkan, terus dia lari ke mulut gua yang sudah berada di depannya.

"Hati-hati, adik !" Kiauw In memperingatkan.

Selama itu, dengan perlahan-lahan, tenaganya Kiauw In mulai pulih. Selanjutnya tak lagi ia dipapah, cuma kepalanya masih ditempel pada dada lebar dari si pemuda. Di dalam keadaan seperti itu, tidak lagi ia merasa likat. Ia berjalan dengan perlahan. Di dalam hati, ia pun senang yang ia dapat berdampingan dengan kekasihnya itu. Biar bagaimana, ia tetap seorang wanita muda....

Segera juga Ya Bie sudah sampai di mulut gua atau terowongan luar biasa itu. Ia sekarang mau berlompat keluar. Masih lagi beberapa kaki, ia sudah bersiap dengan ularnya, yang dililitkan di lengannya. Ketika ia akhirnya berlompat, ia menggunakan tipu loncat "Ya Bie Toan Hiat", Kijang hutan loncat keluar dari lubang. Tepat si nona bergerak, cepat Kiauw In lompat menghadang di depannya It Hiong sebab si anak muda mau segera menyusul.

"Sabar !" katanya. Lalu ia mengawasi ke mulut gua.

Hanya sebentar, lalu terdengar suara Ya Bie, sebagai jeritan atau seruan.

It Hiong khawatir nona itu menghadapi lawan tangguh, sambil menarik lengannya Kiauw In, ia lompat keluar, maka sempat ia melihat Ya Bie berdiri sedikit jauh dari mulut gua itu, tubuhnya terhuyung, hingga ia memegangi sebuah pohon kecil. Masih si nona itu mengeluarkan suara tajam, sedangkan di atasan rambutnya masih tampak sisa mirip halimun keungu- unguan.

Di dalam sekelebatan saja, It Hiong menerka Ya Bie terkena semacam bubuk bius, maka itu sambil menyuruh Kiauw In menanti, ia berlompat pesat pada kawannya itu. Ia menggunakan ilmu lompat ringan Tangga Mega. Selekasnya ia tiba, ia sambar tubuh orang, buat diangkat dan dibawa berlompat kembali. Sama cepatnya, ia mengeluarkan Lee-cu yang terus ia dijejalkan ke dalam mulut si nona.

Tadi itu, Ya Bie telah berlaku cerdik. Ketika ia berlompat, ulatnya dibulang balingkan dahulu dan ia pun menahan nafasnya. Adalah setelah ia berlompat keluar, suatu benda mirip asap yang warnanya keungu-unguan, yang ia tak lihat dari mana datangnya, sudah menyambar kepadanya. Ia tidak kena mencium atau menyedot uap itu tetapi mukanya bagaikan ketutupan, terus ia merasa bingung sekali, maka juga ia sudah lantas perdengarkan seruannya itu. Ia masih dapat mengingat buat membela diri, maka juga sambil menggoyang-goyang ularnya, ia lompat pula ke pohon kecil itu, sampai It Hiong muncul dan menolongnya. Syukur ia tak sampai roboh.

Lekas sekali mutiara kena dikemut, Ya Bie mendapat pulang kesadarannya. Hawa yang adem dari mutiara membuatnya --hati dan otaknya-- segar pula seketika. Bahkan sebaliknya, ia menjadi sangat segar. Tapi ia cerdik dan nakal, ia menyender terus di tubuhnya It Hiong, ia pula tak mau segera membuka matanya. Ia berdiam saja, tanpa berkutik.......

It Hiong dan juga Kiauw In, tidak menyangka apa-apa.

Mereka hanya menerka orang menjadi korbannya bubuk bius yang berupa seperti halimun ungu itu. Karena itu, sebaliknya dari bercuriga, mereka justru berkhawatir buat keselamatannya nona itu.

Selagi si anak muda memeluki tubuh orang, Kiauw In lekas- lekas mengurutinya. Mereka pun memikirkan, sampai kapan nona itu akan mendusin. Tak tahunya, orang lagi menikmati hangatnya tubuh si anak muda serta "sedap"nya urutan tangan halus nona Cio....

Hanya sebentar, Kiauw In lantas merasai nafasnya si nona sudah pulih. Ia meraba nadi orang, nadi itu pun biasa saja.

"Ia tak kurang suatu apa," katanya kemudian, hatinya lega.

Ya Bie khawatir rahasianya terbuka. Habis mendengar kata- katanya Kiauw In, ia lantas memperdengarkan suara perlahan, terus ia membuka matanya. Ia nampak terkejut, maka ia berlompat bangun, setelah mana, ia mengeluarkan mutiara dari dalam mulutnya. It Hiong menyambut mustika mutiara itu buat disimpan di dalam sakunya.

"Bagaimana rasamu, adik ?" tanyanya perlahan.

Ya Bie melirik Kiauw In, lantas ia menggelengi kepala. Nona Cio menggenggam tangan orang dan tertawa.

"Kembali kau belajar cerdik !" katanya. "Ini pula satu pengalaman ! Apakah kau mendapat lihat orang macam apa yang membokongmu ?"

Ya Bie tidak menjawab, ia melainkan menggeleng pula kepalanya sambil tangannya membuat main ularnya. Di dalam hati ia khawatir Kiauw In nanti mendapat lihat sikap pura- puranya itu.....

"Melihat macamnya bubuk atau asap itu," kata It Hiong, yang mengungkapkan dugaannya, "pasti penyerangan dilakukan oleh Peng Mo Nikouw."

"Memang juga, diantara Hong Gwa Sam Mo tak akan ada orang yang baik hatinya." kata Kiauw In.

Ya Bie berlega hati mendapat tahu nona Cio tidak mencurigainya.

"Sayang sebelum aku melihat si penyerang, kepalaku sudah lantas terasa pusing," kata dia.

Baru nona itu mengucapkan kata-katanya itu, atau mereka bertiga segera mendengar tawa dingin berulang-ulang, yang datangnya dari suatu arah, menyusul mana lantas tampak munculnya beberapa orang, yang mulanya terlihat seperti bayangan saja !

It Hiong yang paling dahulu berpaling. Suara dan orang- orang itu datangnya dari tengahnya tiga puncak yang bagaikan menjadi satu. Nampaknya tak ada jalanan di sana itu. Toh dari sana ada orang yang memperlihatkan diri.

Lekas sekali orang-orang itu sudah sampai di depannya si anak muda bertiga. Mereka berjumlah berlima, semuanya bersenjatakan pedang dan golok. Dilihat dari tampangnya, mereka mestinya bukan sembarang orang Kang Ouw. Mereka itu berdiri berbaris.

Menghadapi rombongan itu, anak muda kita berlaku sangat tenang. Ia bukannya mengawasi orang, hanya ia menengadah langit melihat awan disekitarnya. Ketika itu malam, mungkin sudah jam empat. Sisa rembulan remang-remang dan angin bertiup shilir. Masih terlihat cukup tegas, kelima orang itu berwajah bengis. Kulit muka mereka seperti hijau.....

Dengan satu kelebatan saja, It Hiong sudah mengenali kelima orang itu -- orang-orang Kang Ouw dari kalangan sesat.

Ya Bie tidak kenal kelima orang itu, sedangkan Kiauw In mengenalnya samar-samar.

Mereka itu adalah kelima bajingan dari To Liong To, ialah Lam Hong Hoan, Cie Seng Ciang, Siauw Tiong Beng, Bok Cee Lauw dan Tio Siong Kan. Mereka telah meninggalkan pulau mereka dan pergi merantau setelah kematiannya ketua mereka, To Cu Kang Teng Thian yang mati bersama Ang Sian Taysu disebabkan mereka itu berdua berkelahi mati-matian. Mereka mengembara buat mencari Siauw Wan Goat, adik angkat mereka. Di luar dugaan mereka telah bertemu Im Ciu It Mo dan roboh sebagai korbannya Thay-siang Hoan Hun Tan, obat biusnya si Bajingan Tunggal, hingga mereka tak sadarkan diri seperti Gak Hong Kun dan Cio Kiauw In. Setelah urat syarafnya terganggu, mereka dikurung di puncak gunung Hek Sek San, di sana mereka diajari ilmu menggunakan senjata rahasia beracun yang lihai, yaitu Sun Im Ciat Sat Kang. Sebab Im Ciu It Mo hendak menggunakan mereka itu sebagai senjata guna nanti menjagoi dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun. Supaya mereka itu menjual jiwa baginya !

Im Ciu It Mo merasa penasaran kepada It Hiong, maka itu terpaksa ia mengeluarkan orang tawanannya yang lihai itu, guna mereka menempur si anak muda.

Rombongannya kelima Bajingan ini adalah rombongannya It Mo yang pertama. Di setiap tikungan lainnya masih ada jago-jagonya yang disembunyikan. Itulah orang-orang yang diandali maka juga tadinya dia tak mau mengejar It Hiong bertiga, hanya ia memegat di muka terowongan atau mulut goa ini. Semua orangnya telah dibikin kacau urat syarafnya, supaya mereka berkelahi tanpa kesadaran hanya menuruti saja segala perintahnya.

Lam Hong Hoan yang bersenjatakan juan pian terbuat dari baja sudah maju paling dahulu, matanya mengawasi tajam dan bengis pada ketiga muda mudi di depannya. Ia maju dengan membuka langkah lebar. Segera ia membentak : "Bunuh mereka !" Dan terus ia menyerang dengan senjata lunaknya itu !

Menyusul bentakan itu, empat Bajingan lainnya turut bergerak serentak. Hanya mereka lebih dahulu lompat memencar, guna mengambil sikap mengurung ketiga orang itu, sesudahnya, baru serempak mereka menyerang ! It Hiong bermata celi, ia sudah lantas dapat melihat sinar mata orang -- sinar mata guram seperti sinar matanya Kiauw In sebelum nona itu sadar. Maka tahulah ia yang ia tengah menghadapi lawan dari kalangan apa. Karena ini, tak ingin ia yang Kiauw In dan Ya Bie menempur mereka itu. Ia sudah lantas berlompat maju, akan melayani kelima lawan itu. Ia segera menggunakan ilmu pedang Kie-bun Patkwa Kiam.

Kepada Kiauw In dan Ya Bie, ia menggunakan kesempatan akan memesan : "Kalian jangan maju, hanya bersiaga saja !"

Kiauw In dapat menangkap maksudnya si anak muda, ia terus menarik tangannya Ya Bie untuk diajak menyingkir dari pengepungan, kemudian mereka berdua berdiri di tempat terpisah lima kaki, buat benar-benar memasang mata.

"Bagaimana, kakak ?" tanya Ya Bie heran. "Mana dapat kita menonton saja kakak Hiong menempur lima orang jahat itu ? Mereka semua nampaknya kosen-kosen. "

"Kita menyimpan tenaga. " Kiauw In membisiki. "Kita

menonton dahulu, kalau perlu baru kita turun tangan membantui kakak Hiongmu !"

Ya Bie berdiam tetapi matanya segera mengawasi kepada It Hiong.

Pertempuran, atau lebih benar pengepungan sudah berlaku. Senjatanya musuh berkilau tak hentinya. Mereka itu menyerang dengan hebat. It Hiong kelihatan bergerak bagaikan naga licin diantara para penyerangnya itu.

Sesudah terkepung sekian lama, panas juga hatinya si anak muda. Orang seperti sangat ingin membinasakannya. Mereka itu berkelahi seperti tak kenal ampun. Sinar mata mereka suaram tetapi ilmu silat mereka tak berkurang lihainya.

Sejak keluar dari rumah perguruan, tak pernah It Hiong melupakan pesan gurunya.

"Kau mengampunilah dimana kau mampu !" demikian pesan itu. Selamanya It Hiong melakukannya. Tapi sekarang ia didesak begini rupa. Mana mampu ia meloloskan diri kalau ia melayani mereka seperti biasa ? Musuh pun entah masih ada berapa banyak lagi kawannnya.

Lagi satu kesukaran dari It Hiong, ialah pedangnya telah orang curi dan pedangnya yang sekarang ini tidak dapat dipakai memapas kutung sejata lawan seperti kalau ia menggunakan Keng Hong Kiam. Maka kemudian ia memikir buat melontarkan senjata-senjata musuh dengan ia mengandalkan tenaga dalamnya, yang disalurkan kepada lengan atau pedangnya.

Tanpa merasa pertempuran sudah berlangsung sebanyak empat puluh jurus, selama itu belum juga kelima Bajingan dapat menang diatas angin. Inilah sebab, walaupun mereka berlima lihai, tetapi It Hiong bukan lagi sembarang lawan, ilmu silat si anak muda sudah mencapai batas kemahirannya.

Lam Hong Hoan nampak penasaran, ia perhebat tikaman dan tebasannya bergantian. Ia bersenjatakan sebatang ruyung panjang. Anginnya senjata itu bersuara nyaring.

Tengah pertarungan berlangsung, dari kejauhan terdengar satu suara, sebentar singkat sebentar panjang. Itulah suara yang tak menyenangi siapa yang mendengarnya. Itulah suara yang umum menyebutnya tangisan bajingan Seram

iramanya ! Mendengar suara itu, Lam Hong Hoan berlima memperhebat serangannya secara tiba-tiba. Mereka nampaknya bagaikan sedang kalap. Selagi merangsak itu, mereka mengeluarkan bentakan perlahan.

Demikianlah Siauw Tong Beng dengan golok lunaknya menebas dari samping kepada bahu kirinya It Hiong. Itulah tebasan "Menghunus Golok, Memutus Air". Berbareng dengan itu, dengan sepasang rodanya, Bok Cee Lauw menyerang iganya It Hiong kiri dan kanan.

Ketika itu It Hiong tengah menangkis bacokannya Cie Seng Ciang serta tangan kirinya menolak ruyungnya Lam Hong Hoan, nampaknya iganya menjadi kosong. Pasti semua lawannya tidak tahu bahwa dengan itu ia justru lagi memasang umpan !

Kiauw In dan Ya Bie terkejut, berbareng mereka berseru, berbareng juga mereka berlompat maju, berniat membantu anak muda pujaannya itu. Akan tetapi belum lagi mereka memasuki kalangan, aau mereka sudah mendengar satu suara nyaring, yang disusul dengan terbangnya ketiga senjatanya lawan, sedangkan Siauw Tiong Beng dan Bok Cee Lauw lompat mundur serentak, tubuhnya terhuyung tujuh tindak, setelah itu baru mereka bisa mempertahankan diri untuk berdiri tegak.

Setelah berdiri tegak itu, Siauw Tiong Beng memegangi tangan kanannya, yang telapakannya mengalirkan darah hidup. Bok Cee Lauw sebaliknya menurunkan kedua-dua tangannya dan tubuhnya bergemetaran, sedang mukanya pucat, giginya berjatrukan dan dari mulutnya terdengar rintihan perlahan.... Kiranya It Hiong menerbangkan senjata orang dengan satu gerakan berbareng dari kedua kakinya, yang mendupak selekasnya dia menjejak tanah guna mengapungi tubuh.

Itulah satu tipu dari ilmu Gie Kiam Hui Heng, terbang dengan mengendalikan pedang, sedangkan kedua belah kakinya mengerahkan tenaga dari Hian bun Sian Thian Khie-kang.

Ketiga lawan lainnya kaget sekali apabila mereka menyaksikan dua kawan mereka kena dibikin tak berdaya itu, mereka berdiri diam dengan mendelong, hingga mereka lupa membantu atau sekalipun menghibur saja.

Sementara itu dari pojok gunung terdengar pula suara siulan nyaring tetapi pendek, selekasnya Lam Hong Hoan mendengar itu, dia bagaikan lupa pada mendelong atau rasa ngerinya, tiba-tiba saja dia berlompat maju akan menerjang pula kepada lawan.

Tapi Hong Hoan bukan maju sendiri, bahkan dia telah orang dahului.

Itulah Tio Sing Kang, yang telah menyerang selekasnya dia mendengar suara siulan yang luar biasa itu ! Dengan sepasang kaitannya, kaitan Wan Yho Kauw, dia menerjang It Hiong di atas dan di bawah !

Di antara tujuh bajingan dari To Liong To, ilmu silatnya Tio Sing Kang yang paling rendah, walaupun demikian, sepasang senjatanya itu, telah dia latih selama dua puluh tahun lebih, maka itu dapat dimengerti yang ilmu kaitannya tak dapat disamakan dengan orang-orang Kang Ouw yang kebanyakan. Dengan ilmu kaitannya itu, dia dapat termasuk orang golongan tingkat utama. Karena dia berasal dari bajak, dia pula pandai sekali berenang dan selusup, sedangkan gerakan ringannya, dalam ilmu Kwie Sian Tong Hian --Iblis Berkelebat-- dia dapat disamakan dengan Siauw Wan Goat, adik angkatnya itu.

Cie Seng Ciang juga turun tangan membarengi penyerangannya Tio Siong Kang itu. Bajingan ini lantas menyerangdengan timpukan senjata rahasianya yang berupa thie-lian-cie, biji teratai besi.

Alisnya It Hiong berbangkit melihat lawan menggunakan senjata rahasia. Ia jadinya dibokong ! Sementara itu, dengan satu gerakan Tangga Mega, ia telah dapat menyingkirkan diri dari beberapa senjata lawan-lawannya itu, habis mana ia terus bertindak !

"Aduh !" demikian terdengar jeritannya Cie Seng Ciang.

Tio Siong kan menoleh dengan lantas, atau hatinya menjadi gentar. Seng Ciang roboh dengan mandi darah, tangannya memegangi pedangnya yang sudah menjadi buntung.

Ruyungnya Lam Hong Hoan sendiri terpental tinggi, syukur tak lepas dari cekalannya.

Walaupun demikian, menyaksikan kebinasaannya Seng Ciang, Siong Kang menjadi gusar sekali, hingga ia lantas maju pula sambil berseru : "Saudara Lam, mari kita maju bersama ! Kita harus membalaskan sakit hatinya saudara-saudara kita !"

Lam Hong Hoan menyahuti sambil menjerit keras, selagi Siong Kang menyerang dengan kaitannya, ia menyerbu dengan ruyungnya.

Justru itu dari belakangnya dinding batu tampak munculnya dua orang citBiauw-Yauw Lie, hanya sejenak, mereka lenyap pula. Mereka berlalu selekasnya mereka masing-masing menyambar dan mengempit Siauw Tiong Beng dan Bok Cee Lauw, yang tadinya pada duduk di tanah tengah menungkuli rasa nyerinya........

Selagi Siong Kan dan Hong Hoan menyerang ia dengan hebat, It Hiong sebaliknya berkesan baik terhadap mereka itu. Memangnya ia tidak berniat membinasakan ketujuh Bajingan dari To Liong To, kalau tadi ia membinasakan juga Seng Ciang, itulah disebabkan meluapnya amarahnya seketika lantaran Bajingan she Cie itu menyerang ia dengan senjata rahasia. Ia dapat mengerti kemarahannya saudara angkat bajingan itu terhadapnya.

Demikian, karena It Hiong tidak berniat membinasakan lawan, ia jadi melayani mereka itu bagaikan ia sedang bermain petak. Ia menggunakan melulu kegesitan dan kelincahan tubuhnya.

Lekas sekali, sang fajar telah tiba.

Ketika itu Kiauw In, disamping memasang mata, telah memberesi rambutnya yang kusut, kemudian ia menengadah langit, lalu mengeluarkan nafas melegakan kalbunya.

Ya Bie sebaliknya ! Nona itu mengawasi pertempuran dengan dia seperti tak sanggup mengendalikan hatinya. Dia tak sabar sekali.

"Bagaimana, eh ?" katanya kemudian. "Kenapa kakak Hiong bermurah hati terhadap sekalian lawannya itu ?"

Kiauw In menghela nafas.

"Kakakmu itu sedapatnya hendak pantang membunuh." katanya menjelaskan. "Dia biasa menggunakan timbangan yang adil disebelahnya dia memang memiliki apa yang dinamakan hati wanita. "

Ya Bie berdiam, dia agak kurang mengerti. Tapi hanya sejenak, dia lantas kata keras : " Kakak Hiong takut melanggar bencana pembunuhan tetapi aku, Ya Bie tidak !"

Nona ini sudah melibatkan ularnya pada pinggangnya, lalu ia membukanya pula.

"Kakak, tolong kau waspada !" katanya kemudian tiba-tiba, lalu sebelum lenyap suara mendengungnya kata-katanya itu, tubuhnya sudah mencelat maju, bahkan terus ia memperdengarkan seruannya yang tajam. Sebab ia lantas menggunakan ilmu sesatnya --Hoan Kak Bie Cin. Dengan suaranya itu, ia hendak mengacaukan pikirannya sekalian musuh !

Setelah itu si polos sudah berada diantara musuh sambil ia membulang-balingkan Sian Liong, si Naga Sakti, ular beracunnya itu !

Tio siong Kang kalah latihan semadhinya dari pada Lam Hong Hoan, selekasnya dia mendengar suaranya Ya Bie, tubuhnya lantas menggigil sendirinya, menyusul mana, hatinya pun berdebaran, bahkan segera juga gerak gerik sepasang kaitannya lantas menjadi ayal secara tiba-tiba.

Ya Bie bermata sangat celi, ia melihat perubahan pada bajingan she Tio itu, tidak ayal pula, ia merangsak pada Bajingan itu, untuk meluncurkan ularnya kepada dada dan perut orang !

Tio Siong Kang terkejut, tetapi ia belum tahu lihainya si Naga Sakti, untuk membela diri, guna membinasakan binatang menyelosor itu, segera ia menghajar dengan dua-dua kaitannya kiri dan kanan. Adalah keinginannya akan dengan satu kali kait, binatang jahat itu nanti mati dengan tubuhnya terkutung menjadi dua potong !

Adalah diluar sangkaan dari jago dari To Liong To itu bahwa Sian Liong lihai sekali. Tubuhnya yang bersisik, yang tak seperti ular lain umumnya yang kulitnya cuma licin saja, tak mempan senjata tajam, kebalnya luar biasa. Dia pula sangat celi dan cerdas. Dia melihat tibanya kaitan, dia lantas berkelit melejit, menyusul mana, selagi tubuhnya bebas dari ancaman petaka, mulutnya sendiri tahu-tahu sudah memegat lengan kanan Bajingan itu !

Ketika itu Lam Hong Hoan pun memperoleh kesempatan menghajar ke arah pinggang si nona, ruyung panjangnya digerakkan dengan hebat, dengan tenaga sepenuhnya, dengan antaran seluruh tenaga dalamnya !

Ya Bie cerdik sekali. Begitu ia melihat ancaman bahaya, ia tidak mau menangkis, hanya dengan satu gerakan lincah, ia menjatuhkan diri ke tanah terus bergulingan sejauh lima kaki lebih ! Hingga bebaslah ia dari ancaman maut. Tapi setelah selamat itu, segera ia berlompat bangun, buat berlompat lebih jauh menghampiri pula lawan, guna merapatkan ! Inilah daya cerdik guna membuat lawan tidak leluasa mengunakan senjatanya yang panjang.

Kembali dari kejauhan terdengar siul nyaring tetapi pendek, berulang-ulang. Kali ini suara itu jauh lebih mendesak !

Lam Hong Hoan berlompat mundur, ruyungnya ditarik pulang, kemudian dia mengawasi kepada Siong Kang, setelah mana dia berlompat pula, kali ini berlompat mundur, maka selanjutnya dia lari menghilang dari tempat dari mana tadi mereka muncul !

Tio Siong Kang rebah ditanah. Dia roboh terkulai setelah berdiri diam tak lama. Tubuhnya bergemetar, mukanya menjadi pucat pasi. Hebat pagutannya Sian Liong yang beracun itu.

Tanpa berkutik pula, ia hilang nyawanya dengan tubuhnya tetap menggeletak di tanah.

Ya Bie melihat kaburnya Hong Hoan, saking panas hatinya, hendak ia mengejar.

"Adik Ya Bie !" tiba-tiba ia mendengar panggilannya It Hiong. "Adik, jangan kejar musuh !"

Mendengar suara itu, si nona mendengar kata. Dia sangat patuh terhadap kakak Hiongnya itu ! Sebaliknya dari pada mengejar musuh, dia memutar tubuhnya dan menghampiri si anak muda, menghadapi siapa dia tertawa manis.

"Ada apakah kakak ?" tanyanya gembira. Kiauw In menghampiri kawan itu.

"Adik, apakah kau ketahui namanya beberapa orang ini ?" tanyanya.

Ya Bie membuka mata lebar-lebar, terus dia menggeleng kepala.

Nona Cio menghela nafas, lalu ia menoleh pada It Hiong. "Sungguh tak kusangka !" kata ia perlahan setelah ia menatap wajahnya si pemuda. "Sungguh tak kusangka, orang- orang dari To Liong To pun dapat dipengaruhi Im Ciu It Mo, hingga mereka kena diperintah mengadu jiwa. "

It Hiong mengawasi dua orang yang rebah ditanah. "Kakak mengenali mereka ?" tanyanya.

Kiauw In tertawa dan menjawab. "Ketika kawanan bajingan menyerbu Siauw Lim Sie, mereka ini telah memperlihatkan dirinya, namun ketika itu aku mengenalinya samar-samar.

Yang aku ingat lebih tegas, itulah dia !"

Si nona menunjuk tubuhnya Tio Siong Kang.

It Hiong pun kata : "Yang barusan kabur itu adalah Lam Hong Hoan, locu nomor dua dari To Liong To. Baru-baru ini di pinggang gunung Heng San, pernah aku menempur Lam Hong Hoan dan Bok Cee Lauw. Maka dua korban ini, mereka tentulah kawan-kawannya mereka itu."

"Kalau merekalah Tujuh Bajingan dari To Liong To," tanya Ya Bie, "kenapa sekarang cuma ada lima orang ? Mungkinkah

?"

Mendadak saja si nona menghentikan kata-katanya itu.

Tiba-tiba ia ingat mungkin masih ada dua orang, yang belum terpengaruhkan Im Ciu It Mo atau mereka itu berdua dapat meloloskan diri....

Kata-katanya Ya Bie mengingatkan It Hiong pada Siauw Wan Goat, nona Bajingan nomor tujuh yang tergila-gila kepadanya, bahkan karenanya itu sudah terpedayakan Gak Hong Kun. Entah dimana adanya nona itu sekarang..... Kemudian It Hiong pun ingat akan kematiannya Kang Teng Thian, ketua To Liong To. Jago itu telah menuduh dialah orang yang mencelakai Siauw Wan Goat itu. Bagaimana fitnah itu sedangkan ia adalah seorang yang putih bersih ?

Kang Teng Thian mengajak Siauw Wan Goat mendatangi Siauw Lim Sie di gunugn Siong San, di sana dia tak mau mengerti, maka juga dalam pertempurannya dengan Ang Sian Siangjin, ia berdua bersama biarawan itu telah membuang jiwa bersama-sama......

"Itulah hebat" pikir It Hiong. "Semua itu gara-garanya Hong Kun."

Mengenang Siauw Wan Goat, It Hiong menyesal dan berduka. Bukankah nona itu sangat mencintainya, hingga dia menjadi tergila-gila ? Karena itu, dia telah menderita, kesucian dirinya sampai dirusak Hong Kun.

Tanpa merasa, anak muda kita menghela nafas, wajahnya pun suaram.

Ya Bie terkejut, dia heran. Mulanya ia melengak sejenak, cepat-cepat ia menanya : "Kakak Hiong, apakah aku keliru bicara ?"

Pemuda itu menggeleng kepala.

Kiauw In sebaliknya dari pada Ya Bie. Ia dapat menerka kedukaannya si anak muda, sebab ia tahu lakonnya Siauw Wan Goat itu. Maka ia lantas melirik anak muda itu dan bersenyum. "Adik Ya Bie, kau tidak salah bicara !" ia pun kata. "Dia -- orang ini-- sangat berat bencana asmaranya ! Dia tentunya telah mengingat kepada Siauw Wan Goat dari To Liong To. "

Mendengar suara si nona, mukanya It Hiong menjadi merah, ia merasai kulitnya panas. Tepat dugaan nona itu. Dengan alisnya berkernyit, ia berpaling ke lain arah. Tak mau ia mengatakan sesuatu.

Tapinya Kiauw In sangat halus budi Pekertinya. Tak sedikit juga ia menyesal atau jelus dengan lakon asmara kekasih itu. Ia pun dapat membaca hatinya si anak muda. Maka ia lantas tertawa dan kata : "Eh, eh, kau kenapakah ? Kecelakaannya Siauw Wan Goat yang harus dikasihhani, aku percaya bukanlah perbuatanmu !"

It Hiong menoleh, mengawasi pacarnya.

"Jika aku yang berbuat tak tahu malu seperti itu, apakah kakak kira ada mukaku buat datang menemuimu ?" katanya.

Lantas nona Cio memperlihatkan wajah sungguh-sungguh. "Sudah, jangan kita bicarakan urusan sampingan itu !"

demikian katanya. "Kita sekarang lagi berada di tempat yang

berbahaya ! Nanti saja, selolosnya kita dari Hek Sek San, setelah ada kesempatan, kita pergi cari Siauw Wan Goat buat membantui dia melakukan pembalasannya !"

Sekonyong-konyong It Hiong menghunus pedangnya. "Gak Hong Kun !" katanya sengit. Terus dia membacok

batu di depannya, hingga batu itu pecah dengan memuncratkan percikan apinya. Itulah tanda bahwa ia sangat penasaran terhadap murinya It Yap Tojin.

Ya Bie melengak menyaksikan perbuatannya It Hiong.

Inilah sebab ia tidak tahu tentang lakonnya Siauw Wan Goat dengan Gak Hong Kun dan anak muda itu sendiri.

Matahari sementara itu mulai menaik dan halimun sudah buyar, maka tanah pegunungan itu mulai terlihat terang dan nyata.

Kiauw In segera mengawasi ke sekitarnya, hingga ia mendapatkan sebuah jalan kecil untuk turun gunung.

"Untuk dapat keluar dari gunung ini, kita cuma dapat mengambil jalan kecil itu," katanya, menghela nafas. Ia masgul.

Ya Bie si polos kata : "Tadi pun musuh kita menyingkir dari jalan dari jalan itu ! Mari kita pergi, asal kita berhati-hati !

Mungkin ada perangkap di tengah jalan sana "

It Hiong mementang lebar kedua matanya.

"Untuk keluar dari sini, kita jangan takut pada perangkap lagi !" katanya keras. Nyata bahwa ia masih panas hati.

"Benar !" seru Ya Bie, gembira dan bersemangat. "Apa yang harus dibuat takut ? Mari kita pergi!"

Malah nona polos ini terus mengajak ujung bajunya Kiauw In buat diajak berjalan.

Nona Cio mau mengikuti kawan muda itu atau It Hiong segera menghadang di depan mereka. "Jangan sembarangan, adik !" kata si anak muda pada Ya Bie. "Biar aku yang membuka jalan !"

Dan anak muda ini lantas bertindak di muka, mengambil jalan kecil itu.

Jalan kecil menanjak naik itu, banyak tikungannya. Jalan pun sempit.

Kira setengah lie jauhnya, tiba sudah orang di jalan yang buntu -- buntu karena terpegat sebuah jurang yang dalam mungkin seribu tombak. Dari dalam jurang itu tampak uap mengepul naik, diantara sorotan cahaya matahari, uap itu memberi penglihatan aneka warna.

"Sungguh berbahaya !" kata It Hiong. "Terang kita salah jalan !"

Kiauw In mengawasi anak muda itu. Kalau It Hiong maju terus, dia pasti akan tercemplung ke dalam jurang. Syukur, matahari terang sekali. Ia lalu mengawasi ke seputarnya.

Kesudahannya, bertiga mereka berdiri melengak. Tak tampak jalan lain ! Habis, kemana perginya musuh yang kabur tadi ?

Kiauw In berdiam sambil otaknya bekerja. TIba-tiba ia tertawa.

"Kita tolol !" katanya. "Di sini mesti ada sebuah gua, yang menjadi jalanan keluar ! Hanya gua itu rupanya tertutup hingga kita tidak melihatnya. "

It Hiong dan Ya Bie membenarkan dugaan itu. "Mari kita cari !" Kiauw In menambahkan, mengajak.

Kedua kawan itu mengangguk. Bertiga mereka lantas memutar tubuh, buat berjalan baik. Hanya kali ini mereka berjalan dengan perlahan sambil selalu memeriksa kedua sisi jalanan itu.

Mereka mesti menggunakan waktu banyak sebab mereka berjalan dengan sangat perlahan. Perjalanan yang jauh tak ada setengah lie meminta waktu lama. Sudah satu jam tetapi mereka belum menemui jalanan atau gua yang dicari itu.

It Hiong menjadi mendongkol dan penasaran.

"Aku tidak percaya Im Ciu It Mo demikian lihai hingga dia mampu mengurung kita di puncak gunung ini !" katanya sengit.

Melihat orang mengumbar hawa nafsunya, Kiauw In tertawa.

"Adik !" katanya manis. "Sejak kapan kau belajar tak tahan sabar ? Toh terang-terang kita melihat musuh mengambil jalan ini ! Kalau disini tidak ada jalan keluarnya, habis dari manakah lenyapnya mereka itu ? Mungkinkah mereka naik ke langit ? Mulanya toh mereka datang, lalu pergi !"

"Jika kita tidak menemukan jalanan itu," Ya Bie turut bicara, "kita merayap turun saja ! Apa yang mereka dapat lakukan atas diri kita ?"

It Hiong tidak berkata apa-apa. Mereka berjalan balik lagi. Tanpa merasa, selagi mereka itu naik dan turun, sang waktu sudah mendekati tengah hari.

Tio It Hiong duduk di tanah, otaknya bekerja, matanya melihat jauh ke depan. Ia heran yang mereka tak berhasil mencari jalan keluar itu.

Kiauw In dan Ya Bie turut berduduk, untuk beristirahat.

Gunung itu sunyi, cuma angin bersiuran. Ya Bie membekal rangsum kering, ia keluarkan itu dan membagi kedua kawannya. Dengan begitu, mereka dapat mengisi perut.

Si nona sangat polos, tiba-tiba dia tertawa.

"Aku girang dapat berdiam bersama-sama kalian, kakak Hiong !" kata ia. "Sekali pun sampai lama, ya, sampai lama sekali, aku senang !"

Hatinya si anak muda tergetar, dengan wajah likat, ia melirik nona Cio.

Nona itu berpura-pura tak mendapat lihat anak muda itu. "Adik yang tolol !" katanya tertawa. "Janganlah kau bicara

setolol ini ! Paling benar, kau bersiaplah terhadap senjata gelap dari pihak lawan !"

Ya Bie terperanjat, juga It Hiong.

Memang benar katanya Kiauw In itu. Maka mereka lantas menoleh kelilingan.

Tiba-tiba dari sebuah tikungan muncul satu tubuh manusia bagaikan bayangan, tubuh itu lari cepat seumpama terbang. Kiauw In bertiga melihat orang, serempak mereka berlompat bangun, untuk bersiap sedia menyambut. Mereka menerka kepada musuh. Hanya It Hiong, di lain saat sudah lantas berlompat maju, guna memapaki orang itu.

Lekas sekali orang yang mendatangi itu tiba dekat kepada si anak muda, untuk lega hatinya anak muda itu. Dia kiranya So Hun Cian Li. Ia lantas tak bersiap siaga lagi.

Di depannya It Hiong, si orang utan memperdengarkan suaranya beberapa kali dan kedua tangannya yang berbulu digerak-geraki. Entah apa yang mau dikatakan.

Syukurlah Ya Bie datang menyusul. Nona itu lantas bersiul.

Melihat si nona polos, nampak So Hun Cian Li girang bukan kepalang. Dia berlompat menubruk, terus dia memeluki erat- erat nona itu sedang Pekiknya diperdengarkan berulang-ulang. Baru sesudah lewat sekian lama, dia melepaskan pelukannya.

Apa yang telah terjadi atas dirinya orang utan ini ?

Sebenarnya dia telah ditotok Peng Mo, hingga dia ketinggalan, sesudah orang berjalan jauh lima atau enam tombak, dia roboh sendirinya. Dia kehilangan tenaganya, dia rebah terkulai.

Sementara itu tibalah ketujuh Yauw Lie murid-muridnya Im Ciu It Mo. Mereka diperintahkan guru mereka mengatur perangkap guna membekuk It Hiong beramai. Ek Toa Biauw mengajak kawan-kawannya pergi ke jalan kecil itu. Lantas mereka melihat si orang utan sedang rebah menggeletak.

Mereka heran, tetapi mereka menerka orang utan itu sudah mati, maka mereka tidak menghiraukannya. Tidak demikian dengan Ek Cit Biauw, si nona bungsu. Dia jail, sembari lewat itu dia mendepak pinggangnya si orang utan. Dia mau tahu, binatang itu benar sudah mati atau bukan. Justru ia mendepak, ia mendepak tepat jalan darah orang yang ditutup Peng Mo.

Lekas sekali So Hun Cian Li siuman, hanya ketika dia membuka kedua matanya, dia melihat beberapa orang tengah berlari-lari pergi. Dia lantas menduga kepada Ya Bie bertiga, maka dia berlompat bangun, terus dia lari menyusul, untuk mengikuti.

Cit Yauw Lie menggunakan jalan rahasia, mereka tak usah seperti It Hiong beramai yang mesti melintasi banyak pengkolan serta mendaki tinggi dua ratus tombak. Tiba di atas, mereka terus bekerja. Keenam nona tahu si orang utan siuman tetapi mereka membiarkannya. Adalah Ek Cit Biauw yang mengajak So Hun Cian Li bermain-main....

Kemudian, ketika Ek Toa Biauw mendengar tawanya Ek Cit Biauw serta Pekiknya si orang utan, tiba-tiba ia mendapat pikiran kenapa ia tidak mau menggunakan orang utan itu sebagai perangsang, guna menipu It Hiong semua menghampiri pesawat rahasia mereka. Inilah sebabnya kenapa ia membiarkan terus si orang utan mengikuti mereka sampai di atas puncak datar.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).