Iblis Sungai Telaga Jilid 53

Jilid 53

Diam-diam Ya Bie tertawa di dalam hati. Dari tempatnya berdiam, ia menonton lagak orang. Mereka itu bercapek, lelah dan heran dan bingung dan penasaran juga ! Ia dan orang utannya tak terlihat sebab mereka merupakan batu besar yang diam bercokol saja. "Heran, su-moay !" kata si pria. "Telah kita mencari di seluruh sini, mereka tak tampak, juga tidak kedua bungkusan besar itu ! Apakah tadi kau melihatnya dengan nyata ?"

"Tak salah, suheng !" sahut si wanita, si adik seperguruan (su-moay), sedangkan pria itu Toasuhengnya, kakak seperguruannya. "Kau toh tahu gelaranku ! Jangan kata baru sejarak lima tombak, sekalipun lima puluh tombak, orang tak akan lolos dari mataku ! Tak percuma aku dijuluki Sin Gan Go Bie -Alis Lentik Bermata Malaikat !-"

Pria itu tertawa.

"Cuma malam ini Sin Gan Go Bie telah menjadi lamur !" katanya. "Atau orang telah mempermainkannya !"

Wanita itu berdiam. Tiba-tiba saja ia ingat sesuatu. Lantas ia menghampiri si pria sampai dekat sekali, untuk berbisik ditelinganya : "Tak mungkinkah aku terkena Yam-gan-hoat, ilmu sihir menutupi mata ?"

Pria itu memperlihatkan tampang heran. "Mungkin....... mungkin. " katanya ragu-ragu.

Wanita itu berpikir pula, atau tiba-tiba "Ya ! Ya !"serunya. "Ya apa ?" tanya si pria, terperanjat.

"Aku rasanya ingat barusan," sahut si wanita. "Kedua karung itu jatuh bagaikan bayangan, terus saja lenyap. Kalau wanita itu membuangnya, dia dan binatangnya itu tak nanti lolos dari mataku !"

Si pria tertawa. "Kalau begitu, mereka pasti bersembunyi disini !" katanya. "Habis dimanakah sembunyinya mereka ? Kita telah mencari tanpa hasil. Apakah mereka sempat bersembunyi di dekat-

dekat sini ?"

Wanita itu berseru tertahan, matanya celigukan. Tidak ada orang didekatnya, tampak hanya rumput tebal dan tinggi serta batu-batu besar dan kecil. Di balik batu, di dalam semak rumput, mereka itu tak tampak !

"Celaka ! Sungguh celaka !" di pria mengoceh seorang diri saking panas hatinya. "Habis, bagaimana dapat kita membekuknya ?"

Masih si wanita celingukan ke sekitarnya, tubuhnya turut berputaran. Ia mementang lebar matanya, yang katanya pandai ilmu SIn Gan Go Bie !

Tengah mereka itu berdua berdiam, tiba-tiba mereka mendengar geraman harimau, disusul dengan siulan yang panjang.

"Suhu datang !" sru si pria. "Suhu" ialah guru - bapak guru mereka.

Si wanita berpikir keras.

"Suko, mari !" panggilnya. "Suko" ialah "kakak seperguruan", mirip dengan Toa-suheng, kakak seperguruan yang paling tua.

Pria itu, yang kebetulan memisahkan diri dua-tiga tombak, bertindak menghampiri. Setelah dia datang dekat, si nona membetot baju orang, untuk terus membisikinya. Habis itu, keduanya memisahkan diri.

Nona itu mempunyai akal yang busuk sekali. Kewalahan mencari Ya Bie tanpa hasil, sedangkan ia masih penasaran dan percaya orang masih bersembunyi di dekat-dekat situ, dia memikir menggunakan api, guna membakar hutan rumput itu. Demikian, habis membisiki kawannya, mereka lantas melepas api. Hingga dilain saat, rumput itu terus menyala dan apinya mulai berkobar. Kebetulan bagi mereka, angin gunung pun tengah meniup keras.

Orang utan paling takut pada api, apa pula ketika api mulai menghampiri padanya. Dari jauh-jauh, hawa api sudah hangat lalu panas, sedang asapnya mengepul berhembus-hembus.

Ya Bie pun mulai merasa panasnya api itu. Tak dapat mereka bersembunyi lebih lama pula, apa pula So Hun Cian Li sudah mulai berPekik-Pekik. Tidak ayal lagi, berbareng punahnya ilmu sihir mereka, si nona menarik lengannya si orang utan buat diajak berlompat ke tempat yang belum dimakan api.

Si wanita, yang selalu mementang mata, melihat berlompatnya dua sosok tubuh. Dia girang sekali. Itu berarti akalnya sudah memberi hasil. Lantas dialompat memapaki bahkan dia terus menyerang !

"Perempuan berkepala pria, apakah kau masih memikir buat lolos lagi ?" dia menegur bengis. Agaknya dia puas sekali. Serangannya pun hebat, sebab dia menggunakan dua-dua tangannya sambil terus diulangi setelah yang pertama gagal, begitupun yang kedua ! Ya Bie berlompat sambil berkelit, ia rada lambat, walaupun tubuhnya tak kena terhajar tetapi mukanya terasampok anginnya hingga ia merasai kulit mukanya pedas. Hal itu membuatnya gusar. Belum lagi ia melihat tegas siapa si penyerang, ia sudah lantas meraba pinggangnya meloloskan sabuk ular hijaunya.

Si wanita penasaran, dia maju terus, dia menyerang pula, atau dia kaget waktu dia melihat senjatanya lawan bersinar mengkilat dan berkutik-kutik. Lekas-lekas dia menahan diri seraya terus berkelit. Dia lompat mundur tiga tindak, lantas dia mengawasi.

So Hun Cian Li masih tetap mengenakan baju dan celananya, pakaiannya seorang tua, hanya sekarang ini, ikat kepalanya sudah lolos, hingga terlihat tegas muka binatangnya. Ia telah dihadang si pria yang berkepala besar seperti kepala macan tutul itu dan pria itu menyerang keras sebab dia tak memandang mata pada seekor binatang.

Si orang utan tidak mau memberi hati. Dia tidak menangkis atau berkelit, bahkan dia menyambuti tinju penyerang dengan satu sambaran, guna menangkap tangan orang, sedang tangan yang sebelah lagi, menjambak dada lawan itu !

Sebenarnya pria itu berkepandaian tidak rendah, kalau toh dia kena terjambret itu, itulah disebabkan dia sembrono, tadinya dia memandang tak mata pada si orang utan atau mawas. Dia kaget hingga dia mundur terhuyung. Justru itu, dia pun mesti menoleh ke arah kawannya yang lagi berkelahi dengan si kacung - Ya Bie, yang menyamar menjadi pria itu. Dia mendapati adik seperguruannya itu lagi berdiri diam mengawasi lawannya, hingga dia menjadi heran. Biasanya su- moay yang jumawa itu tak mudah memberi ampun kepada lawan, maka aneh akan menyaksikan ia tak bertindak terus..... "Mungkinkah ia gagal ?" pikirnya. Karenanya ia lantas memandang Ya Bie. Ia mendapati nona dalam penyamaran itu lagi berdiri sambil bersenyum, tangannya memegang seekor ular hijau yang kecil, yang tubuhnya bergerak melingkar- lingkar dan tubuhnya itu berkilauan. Ular itu mempunyai mata yang tajam dan lidah merah seperti darah dan lidahnya lagi diulur memain !

Semua kejadian barusan terjadi dalam sekejap. Ialah habis si wanita menyulut rumput, dan Ya Bie berdua lompat keluar dan mereka segera diserang. Menyusul itu, api berkobar-kobar dan dengan cepat merembet kesana kemari, hingga cahayanya menjadi terang, hingga berempat mereka terlihat nyata.

Selagi api mulai mendekati mereka itu, terlihat diantara rumput suatu sinar hijau berkilau, menyusul itu tak sedikit bayangan hitam yang bergerak-gerak mengikuti angin, angin mana pun menyiarkan bau baCin.

Si wanita dapat menguasai dirinya. Dia menghadapi Ya Bie dan kata dingin : "Mana dia dua kantung kami yang kau bawa lari tadi ? Dimana kau sembunyikannya ? Jika kau masih menyayangi jiwa, lekas kau keluarkan dan bayar pulang kepada kami !"

"Lekas bicara !" si pria nimbrung, tak kurang galaknya. "Dimana barang kami itu ?"

Parasnya Ya Bie menunjuki dia likat. Dia pun merasa, merampas milik orang bukanlah perbuatan benar. Tapi ia tak puas yang orang berlaku kasar sekali. Lalu ia pun ingat dimana barang ditinggalkannya. "Itu di sana !" sahutnya sambil ia menunjuk.

Si pria dan wanita menoleh ke arah ditunjuk itu. Mereka melihat sinar hijau samar-samar serta sesuatu yang berbayang hitam bergerak-gerak.

"Celaka !" mendadak si wanita menjerit tajam.

"Celaka !" si pria pun menjerit sama. Bahkan dia ini terus menghela nafas.

Keduanya melongo mengawasi sinar hijau samar-samar itu serta bayangan hitam yang seperti berlompatan dan dari situ pun bertiup bau yang busuk, yang dapat membuat orang mual hendak tumpah-tumpah.

Ya Bie heran. Tak tahu ia barang apa itu. Ia hanya menerka bahwa kedua orang itu pastilah orang-orang kaum sesat.

Justru itu si pria berpaling, untuk terus membentak : "Budak bau, kau merusakkan dua kantung kami ! Bagaimana kami harus bertanggung jawab terhadap guru kami ?"

Ya Bie tertawa, mulutnya dicibirkan.

"Kau aneh !" sahutnya. "Kamu sendiri yang melepas api dan membakar barangmu itu ! Kenapa kamu menyalahkan aku ?"

Si wanita sebaliknya, gusar sekali. Matanya mendelik. "Awas kau !" teriaknya. "Kalau tetap kau bicara seenaknya

saja, nanti nonamu membunuhmu !" Terus dia melirik kepada si pria, guna mengasi isyarat, setelah mana keduanya bergerak, mengambil sikap mengepung si nona. Karena mereka cuma berdua, mereka berdiri di kiri dan kanan orang.

Tiba-tiba terasa deburan angin keras. Belum lagi kedua orang itu menyerang si nona, atau seekor harimau loreng dan besar sekali sudah tiba didekat mereka, sejarak tiga tombak. Dari atas punggung binatang liar itu lantas lompat turun si orang tua dan dia terus bertindak ke arah api.

"Suhu !" si wanita dan pria berseru dengan berbareng. Orang tua itu mengawasi api, hidungnya dipakai mencium-

cium. Api hampir padam tetapi cahaya hijaunya masih tampak tipis-tipis. Bayangan hitam tadi sudah lenyap. Api pun, karena tiupan angin, menjurus ke arah lain.

Akhirnya orang tua itu menoleh kepada Ya Bie, untuk mengawasi tajam.

"Hm !" dia bersuara dingin. "Apakah ini si bangsat yang merampas kantung kita ?" Dia pun menuding.

"Benar dia !" menjawab si murid wanita.

Si orang tua maju dua langkah kepada nona kita. Dia mengawasi dari atas ke bawah dan sebaliknya. Mendadak wajahnya kelihatan suaram, matanya pun bercahaya sangat bengis.

"Siapa kamu ?" mendadak dia bertanya keras dan keren. Ya Bie mengawasi tampang orang yag sangat bengis itu,

diam-diam ia merasa rada jeri. "Aku Ya Bie dan ini So Hun Cian Li." ia menjawab, suaranya sedikit bergetar.

"Siapakah guru kamu ?" si orang tua tanya pula, sama bengisnya. "Bicaralah sejujurnya !"

Ya Bie mempunyai sifat aneh. Ialah, ia paling senang kalau orang menanyakan perihal gurunya. Demikian kali ini, pertanyaannya si orang tua membuat lenyap rasa jerinya.

Sebaliknya, ia menjadi girang sekali. Hingga ia mendadak seperti sudah lupa akan urusan itu. Ia menjadi girang sekali hingga ia lantas tertawa.

"Guruku ialah Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie !" sahutnya terus terang. "Kip Hiat Hong Mo dari Cianglo ciang ! Apakah Lojinkee kenal guruku itu ?"

Sambil balik bertanya itu, ia membahasakan orang Lojinkee, artinya orang tua yang dihormati.

Air mukanya si orang tua berubah selekasnya dia mendengar nama Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie, hingga ia menatap tajam, menyusul mana, wajahnya tak lagi sesuaram dan sebengis tadi. Dia lantas berwajah ramah tamah. Perlahan sekali terdengar suaranya, bagaikan orang mendumel.....

Orang tua ini bukan lain daripada Gwa To Sin Mo, jago dari Houw Tauw Gay, jurang kepala harimau, dari gunung Tiam Cong San. Sudah selama tiga puluh tahun dia memahamkan ilmu sesat kaum kiri, yaitu Co To Pang-bun, hingga di dalam ilmu sesat atau kepandaiannya itu, dia merupakan suatu golongan tersendiri. Dia pandai menangkap segala macam binatang berkaki dua atau berkaki empat, teristimewa dalam hal menangkap ular. Pria dan wanita itu menjadi murid-murid kesayangannya. Atas anjurannya Im Ciu It Mo, dia hendak membuat jala hijau "Hoan Hiat Thian Lo - Jala Mencairkan Darah". Maksud utamanya dibuat senjata rahasia itu ialah guna membasmi semua jago pelbagai partai persilatan yang tersohor.

Buat banyak tahun, Sin Mo sudah menangkap dan membinasakan banyak macam ular beracun yang dicampur menjadi satu dengan lain-lain macam benda beracun, hingga merupakan semacam pupur, yang ia taruh didalam dua kantung besar itu. Racun itu mau diserahkan kepada Im Ciu It Mo di Hek Sek San. Kedua muridnya itu yang diperintah mengantarkannya dengan diikuti dua orang muridnya Im Ciu It Mo sendiri. Dia sendiri masih hendak mengurus sesuatu, maka dia pergi menunggang harimaunya. Secara kebetulan, mereka berempat bertemu Ya Bie dan barangnya kena dirampas si nona, sedangkan kedua muridnya Im Ciu It Mo itu ditotok nona itu, hingga, kalau yang satu kena dibawa oleh It Hiong, yang lainnya ketolongan oleh Sin Mo sendiri. Setelah memperoleh keterangan dari muridnya It Mo itu, Sin Mo lantas menyusul kedua muridnya. Bertemu sama It Hiong, ia menyangka It Hiong adalah Hong Kun muridnya It Mo. Karena ini, dia sampai mau menyangka It Mo hendak memperdayakannya. Sekarang, menghadapi Ya Bie, baru dia ketahui duduknya kejadian. Lantas dia menjadi serba salah.

Dia mengenal namanya Hong Mo dan jeri terhadapnya. Dia pun segani ilmu Hoan Kek Bie Cin dari Hong Mo hingga tak berani dia sembarang turun tangan terhadap Ya Bie. Demikian dia membawa sikap sabar.......

Melihat sisa sinar hijau serta baunya barang yang terbakar, Gwa To Sin Mo tahu yang dua karung racunnya sudah terbakar habis. Dia pula melihat dua muridnya berdiam saja terhadap Ya Bie. Mengertilah dia yang dua orang murid itu pasti tak dapat berbuat sesuatu terhadap muridnya Hong Mo itu. Dia sebenarnya sangat nyeri dihati dan gusar sekali. Bubuk racunnya, yang dikumpulkan dan dibuat begitu lama dengan susah payah, sekarang ludas didalam sekejap !

Menuruti hatinya, hendak dia membinasakan Ya Bie, tetapi dia segani Kip Hiat Hong Mo.......

Selama keadaan sunyi diantara mereka kedua belah pihak, mendadak kesitu datang seseorang lain, yang segera ternyata Tio It Hiong adanya. Inilah sebab anak muda itu lagi menyusul dan mencari Ya Bie berdua.

"Kakak Hiong ! Kakak Hiong !" Ya Bie berseru-seru dengan kegirangan selekasnya ia melihat pemuda itu, bahkan setibanya si anak muda, ia lompat menubruk hingga It Hiong mesti merangkulnya supaya orang tidak sampai terjatuh. Nona itu berkelakuan mirip bocah cilik, saking polosnya, dia tak kenal malu atau likat.

It Hiong mengusap-usap rambut orang, ia memperlakukan dengan lemah lembut seperti juga nona itu adalah adiknya sendiri.

"Ada apakah ?" tanyanya kemudian, karena ia melihat sikap aneh dari Gwa To Sin Mo dan pria dan wanita muridnya si Bajingan dari Houw Tauw Gay. Perlahan-lahan, ia menolak tubuh si nona.

"Oh, kiranya kalian dari satu rombongan !" kemudian kata Sin Mo, sesudah dia mengawasi orang sekian lama.

It Hiong tak puas menyaksikan lagak orang takabur. "Kiranya kau juga rombongan Im Ciu It Mo ?" tanyanya

tawar.

"Apa katamu ?" Sin Mo tegaskan. Ya Bie yang bersender pada bahunya si anak muda, seenaknya saja, menalangi si anak muda itu menjawab. Katanya : "Kakak Hiong ku ini menanya kau, kau satu gerombolan dengan Im Ciu It Mo atau tidak ?"

Gwa To Sin Mo gusar sekali, kedua matanya sampai bersinar mencorong.

"Kalau benar bagaimana ?" tanyanya, bengis. "Kalau tidak benar, bagaimana ?"

It Hiong tertawa dan mendahului si nona menjawab. "Aku dengan kau, lotiang, tidak bermusuhan." katanya

sabar. "Adalah dengan murid-muridmu ini kami terlibat selama satu malam. "

Sin Mo membentak sambil menuding Ya Bie : "Kalau bukannya budak itu merampas barangku, aku si tua, tak akan aku memandang kau walaupun satu kali lirik saja !"

Si wanita dengan ikat kepala hijau campur bicara.

"Dia bukannya laki-laki !" dia memberitahukan gurunya. "Dia seorang budak perempuan ! Suhu salah mata !" Dan dia mencibir pada Ya Bie, agaknya dia memandang sangat rendah. Dia menambahkan : "Wanita menyamar menjadi pria, mana dia dapat menjadi orang baik-baik !"

Mendengar kata-kata orang, Ya Bie baru sadar bahwa ia sedang menyamar. Ia tunduk melihat pakaiannya dan mukanya menjadi merah. Hanya sejenak, mendadak ia mengangkat kepalanya dan membentak : "Jika kembali kau enteng mulut dan mengoceh tidak karuan, awas, di depan gurumu ini nanti aku mengajar adat padamu !"

"Tutup bacotmu !" Sin Mo mewakili muridnya.

Hebat bentakan itu, telinga ketulian bagaikan mendengar guntur. Dua-dua Ya Bie dan si wanita berikat kepala hijau berdiam.

Sejenak itu, mereka semua membungkam.

Sin Mo mengawasi ke satu arah, entah apa yang dia lagi pikirkan.

Diam-diam It Hiong berbisik pada Ya Bie : "Baik kau kembalikan barang orang itu. Kalau kita berkata terus dengan mereka, urusan kita sendiri bisa gagal karenanya. "

Mulutnya si nona dimonyongkan.

"Dia sendiri yang telah menyalakan api membakarnya. "

sahutnya.

Mendengar demikian, It Hiong lantas berpaling kepada si orang tua.

"Lotiang," sapanya, "apabila sudah tidak ada pesan lain, aku memohon diri !" Dan ia menarik tangannya Ya Bie, buat diajak bertindak pergi.

"Tahan dulu !" seru Gwa To Sin Mo, keren.

"Ada apa, lotiang ?" tanya It Hiong. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh. "Silakan bicara !"

Si kepala macan dan wanita berikat kepala hijau bertindak maju, guna menghadang.

Dengan satu gerakan tubuh pesat, Sin Mo maju mendekati.

Lantas dia menuding si muda mudi dan kata keras : "Kalian telah merusak bahan obatku ! Tak mudah buat kalian berlalu dari sini dengan masih hidup !"

"Nonamu tidak percaya kau !" bentak Ya Bie, menyela. "Apakah kau sangka kau dapat menempur kakak Hiong ku ini

? Hm !"

Sin Mo melirik nona jumawa itu.

"Kalian harus mengerti, lohu adalah orang yang mengerti segala apa," kata dia. "Lohu dapat membedakan mana yang benar mana yang salah !" Dia batuk-batuk. Terang dia menahan hawa amarahnya. Kata dia pula : "Bukankah benar barangku itu kau yang bawa lari dan yang membakar ialah muridku ?"

Mendengar orang bicara dari hal yang pantas, reda kejumawaannya Ya Bie.

"Kau benar, lotiang !" sahutnya.

"Walaupun demikian," kata pula si orang tua. "Siapa merampas barangku maka kedua tangannya harus dikutungkan !" Tiba-tiba saja dia berubah sikap pula dan suaranya pun tegas sekali. Ya Bie panas hati, hendak dia menegur atau It Hiong mengutiknya. Maka ia terus berdiam, melainkan sinar matanya serta wajahnya yang berubah menjadi suaram.

Sin Mo tertawa beberapa kali. Lalu kembali dia menjadi sabar, suaranya menjadi ramah pula ketiak ia berkata : "Suka aku memandang mukanya sahabat Touw si Kip Hiat Hong Mo

! Kali ini suka aku melanggar aturanku sendiri ! Aku memberi ampun kepada sepasang lenganmu !"

It Hiong mengerti bahwa orang tengah menindak turun dari tangga, ia lantas kata dengan tawar : "Lotiang, selesai sudahkah kau bicara ? Aku yang muda hendak melanjuti perjalanan kami!"

"Eh, nanti dulu !" kata Sin Mo, cepat. "Masih ada lagi !" "Silahkan bicara !" kata It Hiong, terang dan jelas, bahkan

agak lantang. Ia mulai sebal akan lagak orang.

Sin Mo seperti tak menghiraukan itu. Dia justru tertawa. "Beginilah tabiat anak muda, keras dan bandel !" katanya.

"Sama denganku semasa aku muda ! Sungguh itulah sifat yang harus disayangi !"

"Lotiang !" kata It Hiong tak sabaran, "kalau ada bicara, bicaralah. Kami perlu sekali hendak pergi ke Kian Gee Kiap Kok dimana kami mempunyai urusan penting !"

"Baik, baik !" sahut si orang tua. "Lohu justru mau pergi ke Kian Gee Kiap Kok itu ! Nah, mari kita pergi bersama !"

It Hiong heran hingga ia melengak. "Kenapa lotiang mau pergi bersama kami ?" tanyanya. Gwa To Sin Mo tertawa.

"Bersama-sama kau, lohu hendak menemui Im Ciu It Mo !" sahutnya terus terang. "Di depan dia itu hendak aku jelaskan dan buktikan bahwa kedua kantung obat itu telah dirusak oleh kalian ! Dengan begitu lohu hendak membuat bahwa lohu tidak merusak kepercayaanku disebabkan salah janji !"

It Hiong takut orang terlalu licik dan ia nanti kena diperdayakan. Tak sudi ia nanti kena perangkap. Maka ia memberi hormat dan kata : "Aku yang muda masih hendak mencari seorang kawanku, dari itu silakan lotiang berjalan lebih dahulu ! Kita bertemu saja nanti di Kian Gee Kiap Kok ! Bagaimana ?"

Alisnya si orang tua bangkit berdiri. Dia tertawa bergelak. "Lohu bukan orang dari golongan ternama kaum rimba

persilatan yang lurus," kata dia, "walaupun demikian, dalam dunia Kang Ouw, lohu mempunyai juga namaku sebagai laki- laki ! Tak nanti lohu menurunkan tangan hina dina terhadap kalian kaum muda ! Apakah yang kau khawatirkan ?"

It Hiong jengah sebab rahasia hatinya dibeber orang tua itu. Tapi ia kata, "Seorang bujang tuaku telah pergi entah kemana, dari itu tidak dapat aku meninggalkan dia pergi tanpa memperhatikannya. "

Masih si tua mengotot.

"Aku si tua bermaksud baik !" demikian katanya. "Aku khawatir kamu tidak tahu dimana letaknya Kian Gee Kiap Kok ! Karenanya lohu suka menemani kalian jalan bersama-sama ! Janganlah kita menyia-nyiakan waktu. Tapi baiklah, akan lohu berdiam disini menantikanmu, pergi kau lekas mencari orangmu itu !"

Hatinya It Hiong tercekat juga, memang tak tahu dia dimana letaknya lembah Gigi Anjing itu. Di lain pihak, dia memikirkan So Hun Cian Li. Barusan itu si kera telah pergi mengeleos entah kemana....

"Kakak Hiong," Ya Bie berbisik, "kau jeri pergi bersamanya

?"

"Bukan begitu," sahut si anak muda. "Mana So Hun Cian Li

?"

Ya Bie melihat kelilingnya. Ia tidak melihat binatang

piaraannya itu. Lantas dia bersiul nyaring beberapa kali.

Tiba-tiba muncullah sesosok tubuh yang mulanya tampak sebagai sebuah batu besar. Itulah si orang utan.

Gwa To Sin Mo heran. Dia melihat seorang tua, tetapi setelah diawasi, itulah seekor orang utan yang mengenakan pakaian orang tua. Diam-diam hatinya bercekat. Heran seekor orang utan dapat merubah diri dengan ilmu Hoan Kak Bie Cin.

Selekasnya menengok si orang utan, It Hiong mengajak, "Lotiang, mari kita berangkat !"

Sin Mo mengangguk.

Maka berangkatlah mereka dalam rupa satu rombongan.

Cahayanya matahari pagi masih lemah. Lembah Kian Gee Kiap Kok itu berada di sebelah barat Hek Sek San, mukanya terapit dengan dua batu karang besar bagaikan dinding, renggangnya kecil sekali hingga cuma muat satu orang berlalu lintas disitu. Jalanan itu, sudah sempit, juga berliku-liku dan tidak rata, sebentar mendaki, sebentar mudun ke bawah. Jalannya sendiri tak rata dengan batu koral sebesar telur ayam. Bisa-bisa orang kesandung atau terpeleset. Jalan sulit itu cuma sepuluh tombak lebih, habis itu, tampak jalanan lebar setombak lebih dan tertumbuhkan banyak rumput.

Dinding kiri dan kanan tinggi dan lamping, licin, tanpa pepohonan. Rumput pun tidak.

Kapan Gwa To Sin Mo, beramai tiba di mulut gua, hari sudah mulai tengah hari. Diantara rombongan Sin Mo, cuma si pria dengan kepala macan tutul itu yang pernah datang ke guanya It Mo dan mengenalinya.

"Sudah sampai !" kata si kepala macan tutul itu, yang berjalan di muka. Terus dia menghentikan tindakannya. Dia mengangkat kepalanya, dongak melihat ke atas.

It Hiong semua dongak tetapi mereka tidak melihat mulut gua. Semuanya heran.

"Bo Pa, mana dia mulutnya gua ?" tanya Sin Mo, sang guru. Bu Pa, si kepala macan tutul, menunjuk ke atas.

"Nanti, tecu memanggil !" katanya.

Bu Pa ini sebenarnya bergelar Tok Jiauw Bu Pa, si Macan Tutul Berkabut Berkuku Beracun dan si wanita bernama In Go gelar SIn Gan Go Bie, si Alis Lentik Bermata Sakti. Merekalah muridnya Sin Mi. Lantas Bu Pa mengulur sebelah tangannya, menekan sebuah ujung batu pada dinding gunung, hingga terdengar beberapa kali suara nyaring tingtong, menyusul mana terbukalah sebuah mulut gua yang kecil sekali, dari mana segera terdengar suara orang : "Siapa ?"

"Bu Pa dari Houw Tauw Gay !" sahut Bu Pa.

"Tunggu sebentar !" kata pula suara di mulut lubang kecil itu, sedangkan pintunya tertutup pula, hingga kembali tak tampak bekas-bekasnya.

Tak usah lama orang berdiri menanti.

"Silahkan masuk !" tiba-tiba terdengar suara mengundang.

Kali ini dinding bergerak dan bersuara, terus terbuka sebuah pintu rahasia, bergeraknya sangat perlahan, besarnya pintu lima kaki kira-kira, lebar dibawah, ciut diatas. Di sebelah dalam tampak gelap, cuma terasa angin bertiup.

Pintu itu merupakan sebuah batu besar.

Bu Pa mengajak rombongannya bertindak masuk. Tanpa bersuara, pintu rahasia itu lantas tertutup pula seperti sediakala.

Di belakang gua itu terdapat jalan pegunungan semacam gang atau terowongan, di kiri dan kanannya, diatasnya, juga terdapat batu, seperti dibawahnya, batu injakannya. Rupanya itulah terowongan buatan manusia. Di atas tampak cahaya suaram, yang membuat orang melihat jalanan dengan samar- samar. Sembari jalan diam-diam It Hiong kata di dalam hati : "Tanpa bersama Gwa To Sin Mo, tak nanti aku sanggup mencari sarangnya Im Ciu It Mo ini. Itulah lembah, atau lebih benar gua, yang sangat istimewa."

Berjalan tak lama, habis sudah terowongan itu dilewati, maka mereka lantas berada di sebuah tempat terbuka, sebuah lembah yang mirip mangkuk lebar, luasnya dua sampai tiga puluh bahu sekitarnya. Di sekitar itu, semuanya dinding bukit yang lamping, batunya hitam-hitam. Sinar matahari menembusi uap. Dari suatu bagian dinding terdapat air mengalir keluar, berupa sebuah sumber atau kali kecil, merintangi lembah itu, nyeplos di sebuah liang diseberang, atau hadapannya. Di atas kali kecil itu melintang sebuah jembatan kayu, yang buatannya indah, hingga indah juga pemandangan disitu.

Menyeberangi kali itu terdapat semacam taman bunga serta sebuah rumah batu dengan beberapa wuwungannya. Tiba di muka rumah batu itu, selagi Bu Pa hendak memanggil orang, atau mereka lantas mendengar tawa terkekeh yang keluar dari dalam rumah dan kata-kata ini : "Sahabat Sin Mo, kau telah datang ! Maaf, maaf, aku gagal menyambut siang- siang !"

Suara itu berhenti berbareng dengan terpentangnya daun pintu, maka diambang pintu itu lantas tampak Im Ciu It Mo, muncul dengan air muka berseri-seri, tangannya memegang tongkatnya.

"Wanita tua, kau sungkan sekali !" berkata Sin Mo, yang pun tertawa. Dan ia bertindak memasuki rumah batu itu, diturut murid-muridnya serta It Hiong dan Ya Bie bertiga. Rumah batu itu katai tetapi ruang dalamnya lebar sekali.

Rupanya itulah perut gunung yang digali dibuat menjadi ruang rumah.

Dengan ramah It Mo mengundang para tetamunya berduduk dan seorang kacung wanita yang kecil segera datang dengan air teh dengan cangkirnya yang lima hijau dan sebuah merah.

Habis suguhan teh itu, Im Ciu It Mo tertawa dan kata manis

: "Aku membuat Sin Mo bercapek lelah datang sendiri membawa baarng, pastilah barang-barang itu bukan sembarang bahan ! Sahabatku, aku si perempuan tua, lebih dahulu aku menghaturkan terima kasihku !"

It Mo telah menyuguhkan teh yang dicampuri racun, maksudnya supaya ia memperoleh bahan obat atau racun dengan gratis, sekalian ia hendak menguasai dirinya Sin Mo, seperti dia telah mengekang Hong Kun dan Kiauw In.

Sin Mo, sebaliknya menghela nafas.

"Sayang, bahan obat itu telah hilang ditengah jalan. "

kata dia, lesu.

It Mo heran, hingga air mukanya berubah. Inilah diluar sangkaan ia. Sendirinya ia tertawa dingin.

"Bagaimana, sahabat Sin," ia lantas tanya. "Adakah ini akal untuk memperdayakan bocah umur tiga tahun ?"

"Lohu tidak pernah bicara dusta, sahabatku !" kata Sin Mo, sungguh-sungguh. Dia jengah tetapi dia penasaran sebab dia tidak dipercaya. "Dengan sebenarnya bahan obat itu hilang ditangannya ketiga orang itu !"  

Li. Dan dia menunjuk It Hiong bertiga Ya Bie dan So Hun Cian

Im Ciu It Mo mengawasi It Hiong. Dia tertawa lebar. "Dialah muridku si perempuan tua !" katanya. "Cara bagaimana dia membuat obatmu hilang ?" Mendadak Sin Mo menjadi gusar.

"Dia ini muridmu ?" tanyanya gusar. It Mo mengangguk.

"Buat apa disebutkan pula," sahutnya. "Dia bernama Gak Hong Kun !"

Gwa To Sin Mo penasaran dan mendongkol.

"Barangku itu dirampas mereka !" katanya keras. "Kalau mereka benar muridmu, perempuan tua, kau pun harus memberi keadilan padaku !"

"Memang barang itu dirampas mereka ini !" In Go turut bicara seraya terus dia menuturkan duduknya kejadian.

Im Ciu It Mo putus asa berbareng murka sekali. Musnahnya bahan obat itu membuat ia gagal membikin obat racunnya yang lihai --Hoa Hiat Thian-lo itu. Dia gusar hingga tubuhnya menggigil. Dengan tongkatnya, dia lantas menuding anak muda kita.

"Hong Kun, sudah gilakah kau ?" tegurnya, bengis. It Hiong tahu yang orang telah keliru mengenali padanya. Dia dikirakan Gak Hong Kun. Dia berdiam saja ditegur keras itu. Dia cuma mengawasi wanita tua itu. Dengan berdiam saja itu, dia jadi sama dengan gerak geriknya Hong Kun yang telah dikasih makan obat Thay-siang Hoan Hun Tan.

It Mo tidak gusar yang "muridnya" itu berdiam saja. Dia menyangka orang tolol karena pengaruh obatnya. Maka dia kembali berpaling kepada Sin Mo. Dia menghendaki mendapatkan obat yang baru. Dia pula tak bergusar pula pada sahabat atau tamunya itu. Sebaliknya, dia tertawa.

"Beginilah memang kelakuannya muridku, otaknya mirip orang tak beres," kata dia. "Dia telah membakar bahan obat itu, biarlah, kali ini suka aku memberi ampun padanya."

Sin Mo tertawa dingin.

"Tetapi, perempuan tua, bagaimana dengan janji kita ?" tanyanya. "Janji itu berlaku atau tidak?"

It Mo berdiam sebentar, baru dia menjawab.

"Kenapa tak berlaku?" jawabnya, membaliki. "Namun, sahabat Sin Mo, aku minta kau sukalah membawakan aku pula obatmu itu."

Gwa To Sin Mo menggeleng kepala.

"Perempuan tua, janganlah kau bicara secara mudah begini." katanya. "Kalau lohu mesti mengumpul pula bahan obat itu, sekalipun dalam waktu satu tahun, aku masih belum tahu akan dapat mengumpulnya lengkap atau tidak. "

It Mo terkejut, parasnya pucat. "Kalau begitu, mana itu keburu untuk tanggal harinya Bu Lim Cit Cun ?" katanya, bingung. "Aku hendak membuat Hoa Hiat Thianlo justru guna menjagoi di dalam rapat persilatan besar itu !"

"Itulah karena terpaksa," sahut Sin Mo wajar. "Aku tak dapat berbuat apa-apa !"

Hatinya It Mo bercekat, terus wajahnya menjadi dingin. "Sebenarnya itu ada hubungannya sangat besar denganmu

!" katanya kemudian. "Kau tahu air teh harum barusan ?"

Air teh yang disuguhkan itu, yang diminum Gwa To Sin Mo, telah dicampurkan racun.

Sin Mo dapat menerka dari lagu suara orang bahwa air teh itu mesti telah diracunkan, bahwa ia dan kedua muridnya sudah kena minum racun itu, tetapi dia sendiri adalah ahli racun, dia tak menghiraukan itu. Maka itu, mendengar suara orang, yang seperti mengancam secara diam-diam itu, dia tenang-tenang saja. Bahkan dia tertawa dan kata : "Kiranya, perempuan tua, kau telah main gila dengan air tehmu itu !

Kiranya perut lohu sudah keracunan ! Ha ha ha ha !"

Im Ciu It Mo berlaku tawar. Kata dia dingin : "Racun itu ada banyak macamnya dan di depan kau, sahabat Sin Mo, kalau aku menggunakan racun yang umum, aku bagaikan jual lagak di depan ahli ! Tapi racun di dalam air tehku ini racun lain macam ! Kau tahu, itulah racun serangga Toh-hoa-ciang asal dari tanah Biauw-kiang !"

Jago Hek Sek San berhenti sebentar, selagi tamunya belum mengatakan sesuatu, dengan tampang bangga, dia menambahkan : "Racun Toh-hoa-ciang sangat jahat tetapi masih ada obat untuk memunahkannya, cuma itu harus dipunahkan oleh orang yang membuat racun itu sendiri, tidak oleh orang lain. Sahabat Sin Mo, aku tahu kaulah seorang ahli racun, karenanya tak usah aku si perempuan tua menjelaskan lagi !"

Kali ini Sin Mo kaget berbareng gusar sekali. Dia berdiri menjublak bagaikan patung. Sebab dia menyesal yang dia kurang berhati-hati hingga dia kalah licin dari sahabatnya yang licik ini. Sedangkan kedua murid, Bu Pa dan In Go, mendengar suaranya It Mo, mereka menjadi takut tak terhingga, tubuh mereka menggigil !

Bukan main puasnya It Mo akan mengawasi ketiga orang itu, guru dan murid-muridnya. Ia tertawa perlahan, tertawa dingin atau mengejek. Kemudian ia berkata pula : "Sin Mo, kita adalah orang-orang dari satu kalangan, sahabat-sahabat baik ! Percaya aku si perempuan tua, tidak nanti aku mencelakai kau, asal saja kau suka mendengar kataku !

Sekarang aku suka menjanjikan kau setiap kali kau melakukan sesuatu padaku, setiap kali aku memberikan kau sedikit obat pemunah racunku itu, nanti, sesudah kau menyelesaikan tiga rupa Pekerjaan maka kau akan mendapatkan obat yang terakhir yang membuatmu bebas dari racun dan menjadi sehat walafiat seperti sedia kala !"

Sin Mo seorang berpengalaman, apa yang dikatakan It Mo itu, tak sepatah kata yang dia jawab, sebaliknya dengan diam- diam, dia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Dia mau mencoba mengusir racun yang maha dahsyat itu. Asal dia berhasil, dia akan bebas dan tak nanti kena orang kekang dan pengaruhkan. Begitulah mulanya jago tua ini merasai seluruh jalan darahnya berjalan lurus, adalah apa yang dinamakan otot "Kie Keng Pat Meh," yang rada tak wajar, agaknya lamban. Tapi ini saja sudah cukup menginsafkan padanya bahwa racun musuh nyata sudah bekerja dan tak lagi berdiam disuatu anggota tubuhnya itu. Ia jadi berpikir keras. Tiba-tiba ia tertawa lebar dan kata : "Lohu telah berusia lanjut, karenanya buat apa aku takuti segala racun serangga ? Lohu tidak membenci atau bersakit hati terhadapmu, aku tidak penasaran, hanya itu aku benci yang kau telah menurunkan tangan jahat kepada ini anak-anak muda !'

Im Ciu It Mo tertawa.

"Sahabat Sin Mo !" katanya gembira. "Nyata kau terlalu memandang ringan pada aku si perempuan tua ! Silahkan kau tengok warnanya teh itu, dari situ kau akan ketahui sendiri !"

Memang, diantara enam cawan teh itu, lima berwarna hijau dan yang satunya merah. Di situ ada tiga cawan, yang air tehnya belum terminum. Itu artinya, It Hiong bertiga tidak turut minum bersama, hingga mereka tak usah keracunan !

Mendengar keterangannya Im Ciu It Mo, In Go dan Bu Pa beranggapan yang telah minum racun adalah Gwa To Sin Mo, guru mereka sendiri, sebab itu adalah teh yang airnya merah. Mereka kaget tetapi taklah kaget sebagai semula.

In Go licik, ia hendak mencari kepastian. Ia tertawa dan kata pada Im Ciu It Mo : "Terima kasih locianpwe Im Ciu, yang kau berkenan menaruh belas kasihan atas diriku. "

Im Ciu memperlihatkan tampang si tua agung-agungan. Dia mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya dan kata : "Kalian bangsa orang muda dan dari tingkat rendah, mana aku si orang memandang mata pada kalian ! Kalau aku berbuat busuk terhadap kalian, bukankah orang bakal mentertawakan aku ?"

Selagi orang berkata jumawa itu, In Go pun turut tertawa, hanya sembari tertawa diam-diam ia menggunakan kedua tangannya untuk mengulapkannya perlahan, tetapi berbareng dengan itu, segumpal jarumnya yang halus sekali, telah terluncurkan ke mukanya si wanita tua, sembari berbuat begitu, ia membarengi berkata : "Segala kepandaian tidak berarti, pastilah locianpwe tidak menaruh di mata locianpwe !"

Hebat bokongan itu, Im Ciu It Mo bermata jeli dan cepat, tetapi hampir dia kena terhajar. Satu kibasan tangan kanannya membuat jarum beracun itu terkebut runtuh jatuh ke tanah !

Akan tetapi In Go tidak berhenti dengan satu kali menyerang saja, dia menyerang saling susul, segumpal demi segumpal. Bahkan bukan si nona, malah Bu Pa turut turun tangan bersama, hingga mereka menyerang bergantian beruntun-runtun tak hentinya.

Gwa To Sin Mo menyaksikan penyerangan kedua muridnya itu, yang membuat Im Ciu It Mo menjadi repot, ia puas berbareng mendapat pikiran. Bukankah ia telah kena minum racun yang sangat jahat itu ? Tidakkah hal itu membuatnya sangat bersakit hati ? Maka juga, justru murid-muridnya menyerang, dia turut menyerang juga ! Secara tiba-tiba dia menggunakan pukulan kedua tangannya, Siang-wie-ciang !

Hebat serangannya Sin Mo ini, angin serangannya saja telah membuat jarum-jarum yang runtuh berbalik menyerang pula pada sasarannya tadi ! Dalam repotnya Im Ciu It Mo menggunakan dua-dua tongkat dan tangan kosongnya menangkis setiap serangan ketiga orang lawan itu, dan dia membuat jarum-jarum mundar mandir diantara pelbagai serangan mereka kedua belah pihak. Dia pun memiliki serangan yang dahsyat.

Dalam tenaga dalam, Im Ciu It Mo menang jauh dari pada In Go dan Bu Pa, kalau toh dia menjadi repot, ialah mulanya dia memandang tak mata pada mereka berdua, siapa sebaliknya menyerang dengan semangat penuh, sebab mereka hendak membantu guru mereka. Setiap serangan, jarum yang menyambar terdiri dari lima sampai enam batang, begitu pun jarumnya Bu Pa.

Biasanya jarum itu mengarah kerongkongan orang, siapa terkena, dia jangan harap selamat lagi. Tapi Im Ciu It Mo sangat lihai, dia menggunakan Tauw-lo thung, tongkatnya yang lihai itu, secara lihai sekali. Di samping itu, ada sampokan-sampokannya dengan tangan kirinya...........

Sampai di situ, Gwa To Sin Mo tidak menghiraukan pula derajatnya. Dia turun tangan, membantui kedua muridnya yang lihai itu. Dia mendesak hebat, saban-saban dia menyampok balik semua jarum beracun itu yang dikembalikan It Mo ! Dia bermaksud, kalau It Mo terkena jarum, hendak dia memaksa dia itu membuat perjanjian akan saling menukar kay-yoh, yaitu obat pemunah racun masing-masing.

Demikian berempat mereka bertempur, satu melawan tiga, atau tiga mengepung satu. Dan dua-dua pihak, karena digunakannya jarum beracun, sama-sama memperhatikan jarum itu saja.

Pertempuran itu memberikan satu kesempatan baik bagi It Hiong. Ia datang buat mencari Kiauw In. Sejak mulai memasuki gua, ia selalu memasang mata, mengharap dapat melihat bakal istrinya itu. Hanya, seperti telah diketahui, selama itu ia selalu berpura-pura tolol, hingga ia mirip dengan Gak Hong Kun, si It Hiong palsu yang dipengaruhkan obatnya It Mo. Selama itu juga, diam-diam ia memperhatikan seluruh ruang dan formasinya. Ia menerka-nerka dimana Kiauw In dikurung.

Mendengar It Mo halnya air teh dicampuri racun, di dalam hati, anak muda kita ini terkejut. Syukur ia dan Ya Bie berdua tidak minum air teh itu. Ia dapat bersabar sampai tiba saatnya pertempuran disebabkan In Go habis sabar. Di saat In Go menyerang dengan jarum dan It Mo menangkis, mengertilah dia yang ketika baiknya pun telah tiba.

Begitulah selagi orang bertarung seru, diam-diam It Hiong menarik Ya Bie, buat menyelinap ke pojok dimana terdapat sebuah pintu batu. So Hun Cian Li cerdik, dia segera bergerak mengikuti. Dengan demikian, bertiga mereka memasuki pintu pojok itu dan menghilang di baliknya.

Empat orang yang lagi mengadu jiwa itu tidak sempat melihat mereka bertiga.

Pertempuran berjalan cepat tetapi saking serunya, sang waktu berlalu dengan tak kurang cepatnya. Im Ciu It Mo menjadi repot sekali. Dia nampak seperti kehabisan nafas. Memangnya lukanya disebabkan melawan Pie Sie Siansu di Gwan Sek Sie belum sembuh seluruhnya. Mungkin dia tak akan bertahan lebih lama lagi.

Di lain pihak, Gwa To Sin Mo ingin pertempuran disudahi dengan lekas. Dia seperti lupa yang dia telah kena minum racun, dia berkelahi dengan keras sekali. Dia mendesak terus- terusan. Karenanya, diluar tahunya, dia menyebabkan racunnya It Mo bekerja lebih cepat dari biasanya. Dengan mengerahkan tenaga dalam terlalu keras, dia bagaikan menyebabkan tubuhnya lebih cepat lelah dan lemah. Demikian sudah terjadi, selagi hatinya ingin lekas-lekas merebut kemenangan, selagi dia mendesak sekeras-kerasnya, tenaganya berkurang sendirinya, hingga sendirinya pula desakannya menjadi kendor.......

It Mo sendiri, kedudukannya tak menjadi lebih baik walaupun Sin Mo sudah letih itu. Inilah karena ia sudah menjadi lelah terlebih dahulu. Nafasnya menjadi tersengal- sengal, gerak-gerik tongkatnya menjadi lamban. Maka satu kali telah terjadi, satu kali dia lambat menangkis, sebatang jarum mampir dan nancap dibahunya. Mendadak saja dia merasai nyeri yang sangat. Dengan begitu, ia jadi mendapat luka diluar dan didalam. Ia insaf yang ia menghadapi bencana, lantas ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, guna mencegah racun jarum menjalar ke lain bagian dari tubuhnya. Berbareng dengan itu, segera ia memperdengarkan suaranya yang nyaring dan tajam, guna memanggil murid-muridnya. Ia merasa bahwa ia perlu memperoleh bantuan. Sedangkan tadinya ia merasa sendiri saja ia akan sanggup bertahan.

Selekasnya It Mo berseru itu, selekasnya juga buyarlah tenaga dalamnya, maka itu racun pun bekerja, menyerang ke lain-lain bagian tubuhnya itu. Sekarang tak dapat ia bertahan lama lagi, di dalam waktu satu detik, tubuhnya bergemetar dan menggigil, segera robohlah ia !

In Go tertawa melihat orang roboh itu.

"Nah, lihatlah sekarang !" katanya mengejek. "Kau masih menaruh mata pada kami atau tidak?" Justru itu, racun di dalam tubuhnya Sin Mo pun bekerja keras sekali, dia mulai tak dapat bertahan. Syukur untuk dianya, ialah otaknya masih tetap jernih hingga dapat dia berpikir. Selekasnya It Mo roboh, dia khawatir orang lantas mati. Lantas dia mengeluarkan dua butir obat pulungnya.

"In Go, lekas jejalkan sebutir pil merah ke dalam mulutnya

!" Ia menitahkan muridnya yang wanita. "Ini obatnya !" Ketika ia menyerahkan obat itu, tangannya bergemetar.

In Go menyambut obat itu tetapi ia sembari menanya : "Suhu, buat apa membantu dia ? Nenek-nenek ini sangat jahat dan tidak kenal malu !"

"Supaya dia jangan segera mati," sahutnya nafasnya mendesak. "Supaya dia masih hidup dan suka mengeluarkan obat pemunah racunnya, guna mengobati aku. Racunnya dia itu sudah... be... bekerja....di.... di.... dalam..... tubuhku. "

Baru habis mengucap itu, Sin Mo roboh tak tertahan pula, malah terus dia mengeluh meringis-ringis sebab dia merasa sangat nyeri di dalam tubuhnya......

In Go tahu khasiat obat gurunya, yang sebenarnya terdiri dari tiga macam dan warnanya merah, hitam dan putih. Obat merah guna bertahan sedikit waktu, agar racun tidak menjalar ke nadi. Racun menyerang nadi berarti jiwa si kurban tak tertolong pula. Obat hitam memperlambat menjalarnya racun. Dan obat putih buat menyembuhkan seluruhnya. Karena ini, segera ia menjejalkan obat merah ke mulutnya It Mo sebagaimana perintah gurunya, ia bantu obat itu dengan secawan air teh.

Bu Pa sudah lantas membantu gurunya, yang ia pondong dan dudukan di atas kursi. Hanya, sebab guru itu lemah dan terus merintih, ia bingung sekali. Ia tidak tahu caranya guna membantu.

In Go tidak memperhatikan gurunya, ia hanya menjagai It Mo.

Dengan demikian, ruang gua yang luas itu menjadi sunyi kecuali dengan rintihannya Sin Mo, yang makin lama menjadi makin lemah, mulutnya bagaikan sukar bernafas.

Lewat sesaat, tiba-tiba saja tampak dua sosok tubuh berlompat muncul, cepat bagaikan bayangan, keduanya lompat langsung ke arah Im Ciu It Mo.

"Sumoay, awas !" teriak Bu Pa yang awas matanya.

In Go segera menoleh, hingga ia melihat tibanya dua orang perempuan. Tanpa mengatakan sesuatu, ia menyerang kepada mereka itu, guna mencegah mereka datang mendekati It Mo.

"Duk !" demikian satu suara nyaring, dan nona yang baru datang itu, yang maju paling muka, kena terhajar. Sebab dia tidak sempat menangkis atau berkelit. Di lain pihak, nona yang lainnya sudah lantas mendukung bangun pada It Mo, guna memeriksa lukanya.

Kiranya kedua nona itu adalah murid-muridnya Im Ciu It Mo, yang termasuk dalam Cit Biauw Yauw-ni, Tujuh Siluman Wanita. Yang dua ini ialah Ek Sam Biauw dan Ek Su Biauw.

Ek Sam Biauw menyaksikan gurunya pingsan, lantas dia menoleh ke sekitarnya, hingga dia dapat melihat Sin Mo bertiga. Dia pun segera mengenali mereka itu. "Bagus !" serunya dingin. "Kalian datang dengan alasan membawa bahan obat lantas kalian menggunakan kesempatan kalian menyerang secara menggelap kepada guru kami ini ! Hm ! Kalau guru kami ini tidak siuman lagi, awas, jangan harap kalian dapat keluar dari sini dengan masih hidup

!"

In Go menjawab ancaman itu sambil tertawa.

"Budak, tak dapatkah kau mengurangkan kata-katamu yang tak sedap ini ?" tanyanya. "Kau harus ketahui yang guru kamu itu roboh oleh jarumku !"

Ek Su Biauw gusar sekali, matanya melotot. Lantas tangannya diayun, hingga melesatlah pisau belati yang disembunyikan di dalam tangan bajunya, sinarnya itu berkelebat menikam ke arah dada atau perutnya nona di hadapannya ! Dan dia menggunakan dua-dua tangannya, menyerang dengan dua pisau belati, disusul dengan tikaman yang ketiga !

Dengan lincah In Go berkelit, menyusul itu, ia mengayun tangan kirinya sambil ia tertawa dan kata nyaring : "Kau juga boleh coba merasai jarumku yang beracun !"

Tetapi itu hanya itu gertakan belaka, sebab jarumnya tidak melesat !

In Go cerdas. Ia tahu bagaimana harus bersiasat. Ia membutuhkan obatnya Im Ciu It Mo guna membantu gurunya, maka itu ia harus menggunakan tipu daya. Tak berfaedah akan berkutat dengan Su Biauw atau Sam Biauw...... Su Biauw tidak melihat datangnya jarum, maka dia maju pula.

"Su-moay, tahan !" Sam Biauw mencegah. Saudara itu menunda majunya.

"Apa ?" tanyanya seraya menoleh kepada kakaknya.

Belum lagi Sam Biauw menjawab, In Go yang cerdik sudah mendahului : "Budak, kalau kau mau bertempur terus, kau tunggu dulu sampai siumannya gurumu ! Waktunya masih belum kasip..."

Ek Su Biauw mengawasi musuh itu, lalu dia kata : "Jika kau tahu selatan, lekas kau keluarkan obat pemunahmu ! Dengan demikian, akan aku ampuni jiwamu !"

In Go balik mengawasi dengan mata melotot.

"Nona, aku tak segalak kau !" katanya, sabar. "Mudah saja kau mengancam jiwa orang ! Kau tahu, gurumu telah diberi obat pemunahnya, segera dia bakal terasadar ! Buat apa kau galak tidak karuan ?"

Tengah dua orang itu mengadu lidah, tubuhnya It Mo tampak berkutik, terus saja dia mengeluarkan nafas panjang. Ketika dia membuka matanya, penglihatannya masih lemah, masih kabur. Dia pula sangat lesu.

In Go maju dua tindak.

"Locianpwe !" panggilnya. "Locianpwe, tahukah kau siapa yang menolong menghidupkan pula padamu ?" Baru siuman itu, otaknya It Mo masih butek. Karenan lemahnya, ia merapatkan pula matanya dan tidak menjawab.

"Mau apa kau membuat banyak berisik ?" Su Biauw menegur bengis.

Bu Pa memimpin bangun gurunya. Dia merasa tubuh sang guru panas sekali. Dia bingung sekali. Selekasnya dia melihat It Mo siuman, dia teriaki saudara seperguruannya : "Su-moay, masih kau tidak mau minta obat ?"

Mendengar suara orang, Sam Biauw dan Su Biauw segera sadar. Su Biauw cerdik. Dia pikir pihaknya yang lebih unggul. Maka ia berbisik pada kakak : "Sam-cie, guru kita sudah sadar, kita jangan berikan obat pada musuh ! Kita lihat, apa budak itu bisa bikin terhadap kita !"

Su Biauw lain daripada adik seperguruannya itu. Dia teliti dan dapat berfikir. Lekas dia mengasah otaknya, terus dia berkata : "Soal pergaulan dalam dunia Kang Ouw tak semudah pikiranmu, anak tolol !"

Sam Biauw heran, dia mengawasi kakak itu. Tapi karena dia tahu sang kakak cerdas, dia terus berdiam.

Im Ciu It Mo menjadi terlebih sadar, sambil dibantu Sam Biauw, dia mencoba bangun berdiri, untuk terus duduk dikursi.

In Go mengawasi orang, lantas dia berkata nyaring : "Locianpwe sudah mendusin ! Nah, mari kita bicarakan urusan perdagangan kita !'

It Mo berpengalaman puluhan tahun, begitu mendengar suara orang, dapat ia mengerti maksudnya itu. Orang mengajaknya menukar kayyoh, obat pemunah racun. Hanya ia cerdik, ia tidak lantas menjawab. Diam-diam ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Jalan darah dibahunya mandek, bahkan terasakan sedikit nyeri. Itu artinya racun lawan belum bersih dari tubuhnya. Lebih tegas lagi, ia belum bebas dari kekangan lawan. Jadi, tak dapat ia bersikeras.

Maka ia menarik nafas dalam.

"Sam Biauw, muridku," kemudian ia kata pada muridnya, sedang matanya dipentang lebar, "pergi lekas kau mengambil kayyoh !"

Sam Biauw berbangkit.

"Baik, suhu" katanya. Terus dia keluar dari rumah batu itu. Ia kembali dengan cepat, tanganya membawa sebuah peles kecil. Lantas dia menyerahkan itu pada gurunya.

It Mo menyambuti, terus ia menggapai terhadap In Go. "Mari !" katanya. "Ini obatnya !"

In Go menghampiri, ia menyambuti peles obat itu.

"Terima kasih, locianpwe," katanya hormat. Toh sembari berkata itu, ia mengawasi tajam pula pada It Mo sambil ia tertawa dingin.

It Mo keras kepala, dia mendongkol sekali ! Toh dia harus bersabar. Seumurnya belum pernah dia menerima penghinaan semacam itu, hingga dia gusar salah, tertawa tak bisa. Maka dia lantas katanya : "Obat itu campurkan arak, lantas kasih minum pada gurumu !" 

In Go mengawasi peles obat itu. "Mana araknya ?" tanyanya kemudian.

Ek Su Biauw menunjuk ke pojok dimana ada sebuah almari. "Itulah arak beracun," katanya. "Maukah kau menyaksikan

kami meminumnya ?"

In Go tidak menghiraukan kata-kata orang. Ia tahu bahwa ia tengah diejek. Ia segera pergi mengambil arak itu, terus ia mengaduki obatnya, yang pun terus ia kasih gurunya minum, sesudah mana, ia menantikan sang waktu seraya ia mengawasi gurunya itu.

"Hm ! Hm !" It Mo tertawa dingin, "Budak, kau terlalu sembrono !" Dia pula memperlihatkan wajah suaram.

In Go mendengar suara itu, ia menoleh dengan sabar dan mengawasi dengan tenang. Kemudian ia kata tertawa : "Locianpwe, mengapa locianpwe memandang jiwa locianpwe ringan sekali ? Laginya, bukankah diantara kita tidak ada permusuhan besar ? Kenapa kita mesti mengadu jiwa hingga dua-duanya terluka parah atau terbinasa bersama ?"

Tajam kata-kata itu. Mendengar demikian, wajahnya Im Ciu It Mo menjadi merah padam. Ia insaf, nona di depannya itu cerdas dan berpikiran panjang, dia tak mudah kena diakali.

"Bukankah aku si perempuan tua telah memberikan kayyoh kepada gurumu ?" katanya kemudian. "Apakah kau belum mau memberikan kayyoh padaku ?"

In Go bersenyum, terus dia tertawa manis.

"Locianpwe, kau dan kami memiliki kepandaian yang sama

!" sahutnya sabar. "Kita baru sama-sama memberikan obat separuh ! Bagaimana kalau kita bicara pula sebentar setelah guruku siuman ?"

Dua orang itu saling mengawasi, hati mereka sama-sama bekerja.

It Mo berdiam. Ia kewalahan terhadap nona cerdik itu.

Tak lama maka Gwa To Sin Mo terlihat bergerak terus dia menghela nafas lega. Selekasnya dia sadar, terdengar suaranya dalam : "Teh !. air teh !"

Menyusul itu, jago ini membuka matanya dan terus ia berduduk tegak.

Bu Pa lantas lari ke meja, guna mengambil air teh. Di antara enam cawan, ia mengambil yang merah.

"Suheng !" In Go berseru melihat perbuatan tergesa-gesa kakak seperguruan itu.

Bu Pa melengak. Segera ia insyaf. Lekas-lekas ia menukar cawan itu dengan air teh yang hijau. Ia lantas memberikan gurunya minum.

Cepat sekali, Gwa To Sin Mo sadar seluruhnya. Lantas ia mementang mata mengawasi sekitarnya, terutama terhadap pihak lawan. Sambil mengawasi Im Ciu It Mo, ia tertawa dan kat : "Eh, perempuan tua, aku kagum sekali atas kepandaianmu !"

It Mo jengah sekali.

"Sudahlah !" katanya, memaksakan diri tertawa, "Mari kita saling menukar kayyoh, supaya kita tak usah mengobrol tak karuan, jadi membuang-buang waktu saja !" Ia terus menoleh kepada Sam Biauw, akan melirik, memberi isyarat buat muridnya mengambil obat.

Kedua pihak sama cerdiknya, masing-masing cuma memberikan obat sebagian, baru setelah itu, menukar obat selengkapnya. Sam Biauw memberikan In Go arak dengan warna merah yang kental, dan In Go menyerahkan sebutir pil hitam.

Habis makan obat, kedua bajingan berduduk diam masing- masing, akan mengerahkan tenaga dalam mereka, guna mencari tahu kesehatan mereka sudah pulih seluruhnya atau belum. Sementara itu, meskipun sudah sembuh, terasa darah mereka belum terasalurkan sempurna. Tanpa perhatian seksama, hal itu tak akan terasakan.

Im Ciu It Mo jauh terlebih jumawa dari pada Gwa To Sin Mo. Walaupun ia merasa yang sisa racun belum terusir semua, ia sudah beraksi pula. Inilah sebab ia percaya habis akan ketangguhan tenaga dalamnya yang sempurna sekali. Ia pula telah membuat banyak kayyoh, hingga ia menjadi tak berkhawatir sama sekali. Sekarang ia mau mempuaskan kemendongkolannya. Ia mau mendapat pulang muka terangnya. Habis mengerahkan tenaga dalam itu, lantas ia tertawa terkekeh-kekeh !

"Sahabat Sin Mo !" demikian, ia kata jumawa. "Sahabat, jiwamu tinggal satu tahun lagi ! Di dalam waktu satu tahun, jika kau tidak mendapat obat dari aku si nenek-nenek, tubuhmu akan berubah hancur menjadi darah semuanya ! Ha ha ha !"

Sin Mo berlagak tidak mengerti, hingga tampak dia ketolol- tololan. "Eh, eh," sahutnya kemudian, "apakah obat yang kau berikan padaku bukan obat seluruhnya ? Jadinya kau menipu aku si tua ?"

It Mo sangat puas, dia tertawa pula sangat girangnya. "Di mulut kau memuji aku si perempuan tua !" katanya.

"Kau pandai pura-pura ! Baik, aku terangkan padamu, obatku barusan obat yang asli, bukannya aku menipu kau ! Hanya obat itu bekerjanya sangat perlahan, obat yang cuma memperpanjang waktu saja ! Satu tahun selewatnya hari ni, racunku masih harus bekerja pula, maka itu, tua bangka, hendak aku melihat kepandaianmu !"

Sin Mo menjadi sangat mendongkol. Orang benar-benar sangat licik. Tapi dapat ia mengekang dirinya. Hanya, sengaja ia memperlihatkan wajah gusar. Kata dia nyaring : "Di dalam dunia Kang Ouw, orang sebenarnya harus paling menghargai kehormatan diri ! Maka itu, kalau kau benar tidak memberikan obat yang membersihkan diriku seluruhnya, lohu hendak mengadu jiwa denganmu !"

It Mo mengawasi, ia tertawa dan tertawa pula. Ia merasa puas sekali sudah mempermainkan musuh itu. Habis tertawa, ia berhenti dengan memperlihatkan sikap sungguh-sungguh. Kata ia dingin : "Kalau kau menghendaki tubuhmu bersih seluruhnya dari racunku, kau mesti berjanji di dalam waktu satu tahun kau mesti mendengar segala kata-kataku ! Kau mesti bersedia diperintah olehku ! Kau mengerti ?"

Mendengar itu, tampang gusar sekali dari Sin Mo bertukar menjadi wajah dingin menghina. "Kiranya demikian kehendakmu !" katanya. "Hanya baiklah kau ketahui, peristiwa kita hari ini adalah apa yang dibilang si buaya darat bertemu si penipu."

It Mo heran menyaksikan tampangnya Sin Mo, yang berganti air muka tak hentinya itu. Lenyaplah rasa puasnya tadi. Sekarang ia merasa bahwa ia benar-benar menemui lawan yang tangguh. Habis berpikir, ia berpura tertawa dan kata : "Sahabat, jangan menggertak aku buat mendapati obatku ! Memangnya kau masih belum puas ?"

Gwa To Sin Mo memperlihatkan tampang sungguh- sungguh. Ia pun kata : "Im Ciu It Mo, jangan kau puas terlebih dahulu ! Kau juga hidup senangmu tinggal setengah tahun lagi ! Bukankah kita masing-masing masih meninggalkan separuh dari obat kehidupan kita ? Obat yang terakhir ? Aku bakal hidup lebih lama setengah tahun dari pada kau, maka aku masih mempunyai kesempatan menyaksikan bagaimana kau nanti merasai penderitaan siksaan racunku ! Ha ha ha !"

Di dalam hati It Mo kaget. Ia memang tahu, tubuhnya belum bersih seluruhnya dari racun lawan itu. Ia gusar, menggertak gigi. Tapi, apa ia bisa bikin ? Lawan menggunakan siasat, dengan gigi membayar gigi. Tak dapat ia mengumbar hawa amarahnya ! Bahkan ia menyesal yang ia kalah cerdik, hingga ia kalah unggul ! Bahkan sejenak itu, tak dapat ia menjawab orang.

Ek Su Biauw bertabiat keras. Mendengar gurunya kena terpedayakan, dia bangkit berdiri, sambil menuding Gwa To Sin Mo, dia kata bengis : "Kau juga jangan bergirang dahulu ! Jika kau tidak menyerahkan kayyoh, apakah kau sangka kau dapat keluar dari tempat kami ini ?" "Budak tidak tahu adat !" In Go menegur, gusar. "Jika kau bicara, jangan kau bermuka tebal ! Apakah kau mau berkelahi

?" Lantas dia berlompat maju, tangan kanannya yang menggenggam jarumnya diluncurkan, sedang tangan kirinya menolak pingang, hingga dia tampak keren sekali.

Tepat itu waktu ada datang seorang yang dandanannya sama seperti Sam Biauw dan Su Biauw. Dia pula seorang nona muda. Tanpa menoleh kepada siapa juga, dia lari langsung kepada Im Ciu It Mo. Setibanya, dia membungkuk memberi hormatnya, untuk seterusnya berbisik di telinga si bajingan nenek. Setelah itu, tanpa menanti perintah atau pesan, dia lari kembali. Dapat diterka bahwa dia membawa berita dari suatu kejadian penting sekali.

Im Ciu It Mo nampak terkejut akan tetapi dia sengaja bersikap tenang saja. Di sisi dia sebaliknya Sam Biauw dan Su Biauw nampak bingung sendirinya ! Wajah mereka nyata tak tenang lagi !

Gwa To Sin Mo dan murid-muridnya menonton lagak oang, lalu Sin Mo kata dengan suaranya dalam : "Eh, perempuan tua, bukankah kita asalnya sahabat kekal satu dengan lain ? Maka itu, mari kita bicara secara terus terang ! Bagaimana dengan kayyoh kita yang terakhir ini, kau mau tukar atau tidak

?"

Im Ciu It Mo seperti juga tidak mendengar kata-kata orang. Seterimanya laporan dari nona tadi, pikirannya menjadi kacau sekali. Saking kuatnya hatinya, dia masih dapat bersikap tenang. Toh dia berdiam saja. Sebenarnya dia lagi berpikir keras bagaimana harus mengambil tindakan.......

In Go tidak sabaran. Melihat pihak sana berdiam saja, dia kata dengan suara keras pada gurunya, "Suhu, orang tidak memperdulikan kita ! Buat apa suhu menanya dia lebih jauh ? Di dalam keadaan kedua belah pihak bakal rusak bersama, belum tentu suhu yang bakal menampak kerugian lebih hebat

! Suhu, kau lihai sekali, kaulah ahli racun, mustahil dalam waktu satu tahun kau tidak sanggup mengobati dan menyembuhkan dirimu sendiri. Aku tak percaya ! Suhu, mari kita pergi !"

Berkata begitu, nona ini membuat main matanya, melirik sana melirik sini, untuk kemudian dia membuka tindakan kakinya, akan melangkah ke arah pintu.

Ek Su Biauw terkejut. Dia menyangka benar-benar orang hendak mengangkat kaki sebelum orang menyerahkan kayyoh. Dengan satu gerakan tubuh yang ringan, ia berlompat maju untuk menghadang In Go.

"Kalian mau pergi, ya ?" tanyanya, mengejek. "Tak mudah, sahabat !"

Kata-kata itu diiringi dengan satu sambaran tangan Tauw- lo-ciang, ilmu silat istimewa dari Im Ciu It Mo. Itulah justru yang membuat It Mo mengangkat namanya !

In Go tidak takut. Ia memang sudah siap sedia. Bahkan semenjak tadi, tangannya sudah mengenggam jarum beracunnya. Begitulah atas tibanya serangan mendadak itu, ia tidak berkelit atau menangkis, ia justru menyambuti tangan lawan dengan tangannya yang berjarum itu !

"Aduh !" Su Biauw menjerit seraya dia lompat mundur.

Karena ketika tangannya bentrok dengan tangannya In Go, ia merasakan sesuatu yang menusuk yang mendatangkan rasa sangat nyeri. Ketika ia sudah berdiri tetap dan membawa tangannya ke depan mukanya, ia mendapati beberapa titik merah dan ditengah-tengah titik-titik itu ada titik hitam yang halus sekali ! Titik merah-hitam itu seperti menjalar ke arah nadinya !

Tiba-tiba saja titik-titik itu mendatangkan rasa nyeri yang terlebih hebat, nyeri hampir sukar tertahankan, maka dengan tangan kirinya memegangi tangan kanannya itu, tubuhnya terus limbung dan mundur terhuyung-huyung.....

Sam Biauw kaget sekali. Dia lompat kepada saudaranya itu, untuk memegangi tubuhnya agar jangan roboh. Ia lantas saja ketahui bahwa kembali pihaknya kena dirugikan ! Sudah gurunya, sekarang saudari seperguruan ini terkena racun lawan !

Selama detik-detik lewat, mendadak Su Biauw roboh untuk tak sadarkan diri !

"Kau kejam !" teriak Sam Biauw pada In Go, matanya menyala saking gusar.

Orang yang ditegur sebaliknya tertawa.

"Budak itu sangat bermulut besar !" sahutnya, seenaknya saja. "Aku beri rasa sedikit padanya ! Inilah tepat sebagai ganjaran !"

Im Ciu It Mo bingung tak kepalang. Kembali roboh korban dipihaknya. Mana dapat ia bertahan lebih lama ? Maka ia harus memutar haluan, buat memutar arah layar !

"Sin Mo !" lalu katanya terpaksa pada lawannya itu, "benar apa katamu barusan ! Kita memang asal satu golongan ! Kalau kita bertempur terus, itu cuma-cuma akan merusak kerukunan kita ! Ya, paling benar mari kita saling menukar obat kita. "

Gwa To Sin Mo tertawa nyaring.

"Jika kau masih mempunyai kepandaian yang lainnya, tak ada halangannya buat kau pertunjukan terlebih jauh !" katanya, tawar. "Lohu selalu bersedia untuk menontonnya !"

Sengaja dia menggunakan kata-kata "lohu" sebagai penggantiannya "aku".

Im Ciu It Mo mengendalikan dirinya. Dia tidak menjawab, hanya dari sakunya dia menarik keluar sebungkus obat bubuk, selekasnya dia sudah memeriksanya teliti, dia melemparkan itu kepada lawannya. Tapi dia tidak mau kalah aksi. Sembari menyerahkan obatnya itu, dia kata seenaknya : "Aku si perempuan tua, aku bersedia berlaku murah hati, lebih dahulu aku menyerahkan obatku padamu !"

Sin Mo sudah lantas menjambret bungkusan obat itu, akan dengan sama cepatnya membukanya. Tanpa ragu pula, sebungkus obat itu ia masuki ke dalam mulutnya, buat segera dikunyah dan ditelan !

Habis itu, ia pun merogoh sakunya, akan mengeluarkan obatnya, sembari melemparkan itu pada Ek Sam Biauw, ia kata : "Lekas kau kasih makan obat ini pada bocah itu !" Kemudian ia kembali duduk, akan berdiam saja, buat beristirahat sambil menyalurkan tenaga dalamnya. Dengan demikian, ia belum memberikan obatnya yang terakhir pada It Mo.

Sam Biauw menyambuti sebutir obat merah, terus ia jejalkan itu ke dalam mulut adik seperguruannya. Selama itu, It Mo terus diam menonton saja. Ia tahu diri, ia membungkam. Ia kalah unggul, terpaksa ia mesti menyerah. Ia membiarkan Sin Mo mempermainkannya. Ia tahu sengaja Sin Mo berbuat demikian, kesatu buat menggoda atau mempermainkannya, kedua agar dia memiliki ketika akan menyembuhkan diri dahulu. Sin Mo berpatokan : "Lebih baik aku mencelakai orang, jangan orang mencelakai aku !" Sebab dia ingin selamat.

It Mo duduk berdiam terus, pikirannya tetap kacau. Sebelum mendapat obat tak sanggup ia menentramkan hatinya. Ia juga memikirkan laporan muridnya tadi, murid itu sebenarnya mengabarkan hal adanya orang mengacau di dalam guanya itu. Ia sudah pikir, begitu ia mendapat obat dari Sin Mo, baru ia mau meninggalkan guanya itu.

Maka itu, selama itu seluruh ruang menjadi sangat sunyi.

Tidak lama, Su Biauw sudah siuman. Dia berdiam menyender pada bahu Sam Biauw, kakak seperguruannya itu. Dia perlu beristirahat.

Bu Pa dan In Go menempati diri di kiri dan kanan gurunya, guna melindungi guru itu. Mata mereka dipasang tajam, buat sesuatu kejadian yang tak diingini.

Belum terlalu lama maka ruang yang sunyi itu telah kedatangan sesosok bayang hitam, yang mulanya berloncat masuk dalam rupa segumpal cahaya terang. Bayangan itu lantas berdiri tegak ditengah ruang besar itu, matanya lantas menatap semua hadirin. Di akhirnya, dia menghadapi Im Ciu It Mo dan tertawa gembira. "Eh, Im Ciu, perempuan tua !" demikian tegurnya kemudian, "perempuan tua, apakah kau tak menyesalkan aku yang aku datang secara tiba-tiba ini, tanpa melaporkan dan meminta perkenan lagi dari kau ? Apakah aku tidak lancang ?"

Orang asing itu tertawa geli, agaknya dia jenaka.

Segera juga semua orang melihat tegas pada tetamu yang tidak diundang itu. Dia kiranya seorang ni-kouw atau pendeta wanita kaum agama Hud Kauw, yang usianya baru tiga puluh tahun. Dia mengenakan jubah suci tetapi dipinggangnya tergantung sepasang pedang, alisnya lentik. Maka dialah seorang pendeta yang cantik, yang nampak rada centil.....

Im Ciu It Mo mengawasi dengan melongo. Ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Setelah itu ia tertawa dingin berulang-ulang : "Hm ! Hm !" Terus dia berkata : "Oh, kiranya Peng Mo Nikouw yang terhormat yang datang berkunjung !

Ah, kenapakah muridku yang mengawal pintu lalai sekali ? Kenapa dia tidak terlebih dahulu datang melaporkan padaku ? Maafkan aku si perempuan tua, aku jadi tak dapat menyambut sebagaimana mestinya, aku menjadi kurang hormat !"

Im Ciu It Mo bukannya jeri terhadap Peng Mo si Bajingan Es, kalau toh dia berlaku demikian merendah, ini disebabkan keadaannya yang sulit itu. Selagi tubuhnya belum bersih dari sisa racun, Sin Mo pun belum berlalu dari guanya itu. Ia pun heran yang Peng Mo bisa masuk secara demikian mudah ke guanya yang sangat terahasia itu. Pula Peng Mo bukanlah tamu yang disukai olehnya !

Peng Mo tertawa dan kata : "Pengawal pintumu itu bukannya gemar memain dan lalai, dia hanya si kantung nasi ! Dia terlalu tolol !" It Mo tidak lantas menjawab, dia hanya berpikir : "Hong Gwa Sam Mo belum pernah berpisah satu dari lain, sekarang Peng Mo muncul seorang diri, mestinya Hiat Mo dan Tam Mo Tosu lagi bersembunyi atau menantikan diluar. " Tapi tak

dapat ia berdiam saja, apa pula terlalu lama, maka ia lantas berkata : "Peng Mo, kalau kau ada urusan, kau bicaralah !"

Peng Mo tertawa geli.

"Apakah aku mesti mengatakannya pula ?" dia balik bertanya. "Pinni datang kemari guna mencari dan menyusul Gak Hong Kun !"

Gak Hong Kun belum pulang ke Kian Gee Kiap Kok, yang datang bersama Sin Mo ialah Tio It Hiong, akan tetapi si Bajingan Es ini keliru mengenalinya. Mendengar itu, It Mo mengerti akan kekeliruannya kenalan itu. Tapi sengaja ia kata

: "Peng Mo, kenapa kau begini menggilai orang laki-laki ? Dengan perilakumu ini, mana dapat kau menuntut penghidupan sucimu, untuk menghadap San Buddha nanti ?"

Matanya Peng Mo mendelik.

"Jangan ngoceh tidak karuan !" bentaknya. "Itulah bukan urusanmu ! Mana dia Gak Hong Kun?"

Dari dalam ruang itu, dari arah sebuah kursi, terdengar ini suara nyaring : "Suhu sekalian bukankah orang sesama golongan ? Ada urusan apakah maka kalian sampai berselisih begini ?"

Itulah suaranya Sin Mo, yang setelah lewat sekian waktu itu merasa kesehatannya sudah pulih. Ia kurang puas sebab Peng Mo garang sekali. Ia tidak tahu yang It Mo dan Peng Mo bukannya bermusuh hanya mereka lagi memperebuti seorang pria !

Peng Mo berpaling mengikuti suara pertanyaan itu, maka ia melihat seorang tua yang tampangnya bersih tetapi matanya tajam, yang lagi duduk dengan diapit dua orang pria dan wanita, yang ketiga-tiganya asing baginya.

"Siapakah kau, lo-sicu ?" ia tanya Sin Mo. "Cara bagaimana kau berani usil urusannya Peng Mo?"

Sin Mo tetap duduk dengan tenang dikursinya itu. "Gelaran lohu ialah yang orang luar sebut Gwa To Sin Mo,"

ia memperkenalkan dirinya. "Kalau lohu sampai berani mencampur bicara, maksudku tak lain tak bukan keculai mengharap kalian janganlah merusak kerukunan. "

"Hm !" Peng Mo memperdengarkan suara dingin. "Tapi baiklah kalau Losicu sudi memberikan pertimbanganmu, nanti aku jelaskan duduknya perkara."

It Mo mendengari pembicaraan dua orang itu, dia tak puas.

Dia pun bingung. Sin Mo sudah makan obatnya, dia sembuh dan kesehatannya pulih seluruhnya. Dia sebaliknya. Di pihaknya, bahkan Su Biauw keracunan juga. Itulah tidak menguntungkan baginya. Ia pula perlu pertolongannya Sin Mo. Bagaimana kalau Sin Mo sampai bentrok dengan Peng Mo

? Bukankah urusannya bakal jadi rusak ? Ia bisa celaka karenanya ! Maka dalam bingungnya, dia lantas campur bicara.

"Eh, sahabat Sin Mo !" demikian dia menyela, "apakah kau masih takut aku si orang tua nanti memperdayaimu ?" Gwa To Sin Mo bersenyum. Ia dapat membaca hati orang.

Maka lantas ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa buah butir pil, sembari menyerahkan itu pada In Go, ia kata : "Kau bagi rata obat ini pada mereka itu berdua !"

It Mo dan Su Biauw menyambuti obat, terus mereka menelannya, habis itu, keduanya terus duduk berdiam bagaikan tengah bersamadhi.

Peng Mo menonton, dia heran. Ada urusan apa diantara kedua belah pihak ?

"Kalian lagi bikin apa ?" tanyanya, saking herannya.

Gwa To Sin Mo merasa tak leluasa buat menuturkan duduknya hal yang sebenarnya, ia tertawa dan kata : "Bukankah suhu datang kemari mencari orang ? Kenapa suhu tidak mau segera mencarinya ? Ha ha ha ! Lohu mau pergi !"

Begitu dia berkata, begitu Sin Mo berbangkit, terus dia mengajak In Go dan Bu Pa bertindak pergi.

Peng Mo menerka-nerka mendengar suaranya Sin Mo itu.

Bukankah itu petunjuk bahwa orang yang ia lagi cari berada di dalam gua itu ? Maka itu, tanpa mempedulikna orang berlalu, ia lantas mengawasi It Mo bertiga bersama muridnya itu.

It Mo lagi menyalurkan darahnya, begitu juga Su Biauw.

Adalah Sam Biauw yang berdiri menemani mereka itu berdua. Dia berdiam saja, tetapi dia mendapat firasat bahaya yang mengancam mereka. Tadi dia telah melihat sikap garang dari Peng Mo. Maka itu diam-diam dia mengawasi gerak geriknya si Bajingan Es. Dia juga tak menghiraukan lagi kepergiannya Sin Mo bertiga. Habis mengawasi orang, Peng Mo bertindak menghampiri It Mo. Dia berjalan pelahan-lahan. Setelah datang dekat, sambil memperlihatkan senyuman aneh, dia kata : "Jiwa gurumu bersama jiwa kamu berdua berada di dalam tanganku, oleh karena itu jika kau tahu gelagat, lekas kau bicara secara terus terang ! Bilanglah dimana adanya Gak Hong Kun sekarang !

Kau mengerti ?"

Sam Biauw cerdik. Tak mudah ia dipermainkan. Dia gusar sekali tetapi dapat dia menguasai diri. Musuh mestinya tangguh, harus dia mengalah. Dia pula mesti menang waktu. Dia ketahui, tak dapat dia menyangkal hal Gak Hong Kun tidak ada di dalam gua. Si nikouw pendeta perempuan, tentuanya tidak bakal percaya padanya. Maka diakhirnya dia pikir, baik dia pancing orang masuk ke dalam, untuk dia menjebak orang dalam kamar rahasia. Oleh karena itu, dia lantas memperlihatkan tampang putus asa.

"Dia berada di dalam gua disebelah dalam ruang ini," kaanya tawar. "Kalau Toa suhu mempunyai kepandaian, pergi Toa suhu susul sendiri padanya di daLam Sana. "

Parasnya Peng Mo menjadi padam. Lantas dia menyeringai tawar.

"Budak cilik !" katanya dingin. "Awas jika kau main gila terhadapku ! Baiklah kau pikir masak-masak dahulu, baru kau menjawab aku !"

"Mana aku berani mendustai kau, Toasuhu ?" kata Sam Biauw lekas. "Di sana ada pintu pojok. Silahkan Toasuhu masuk dari sana !" Dia pun menunjuk ke pintu yang disebutkan itu di pojok kiri. Peng Mo melengak. Sebabnya ialah ia menerka, di dalam situ tentu ada perangkapnya. Sebaliknya, kalau ia tidak memasuki pintu itu, ia bakal dapat malu. Laginya, tak dapat ia melepaskan maksudnya dengan begitu saja !

Hanya sebentar ia bersangsi, si nikouw lantas menggertak giginya. Segera ia bertindak memasuki pintu pojok itu !

Sekarang kita melihat dulu pada It Hiong bersama Ya Bie dan So Hun Cian Li, yang kita tinggalkan semenjak dia meninggalkan Gwa To Sin Mo dan kedua muridnya itu, guna mereka mencari Kiauw In.

Semasuknya di pintu pojok itu, It Hiong melihat sebuah ruang kecil di kanan mana ada sebuah pintu yang tertutup rapat. Empat penjuru dinding ada dinding batu putih. Di satu arah, di tengah ruang, ada sebuah gang atau lorong yang sempit. Di dalam situ tampak cahaya api remang-remang.

Ruang atau kamar kecil itu, tidak ada orangnya. Habis meneliti seluruh kamar, It Hiong bertindak di lorong sempit itu. Ia mendapatkan beberapa tikungan, hingga ia mesti jalan belok sana belok sini, jauhnya kira tiga puluh tombak. Sinar terang lemah tampak di ujung lorong. Kiranya itulah tempat terbuka dan sampai disitu jalanan sangat sempit, cuma muat satu orang saja. Dari situ, orang bisa melihat langit. Kedua lamping tinggi dan licin. Tanah pun sumPek dan basah.

It Hiong maju terus di jalan sempit itu. Setelah belasan tombak, ia sampai di muka sebuah gua. Ia berhenti sebentar akan menoleh, melihat kepada Ya Bie, habis itu, ia menyeplos masuk ke dalam gua itu !

Di luar dugaan, selagi lorongnya sangat cupat, gua sebaliknya lebar sekali dan di empat penjuru dindingnya ada api pelita. Di suatu pinggiran terdapat banyak dapur besar dan kecil, jumlahnya kira empat puluh buah. Apinya semua dapur itu pun sedang berkobar. Di atas setiap dapur ada kwalinya, kwali besi yang mirip eng atau tripod, pendupaan kaki tiga dan pada tiap tutupnya terdapat sebatang semprong asap, hanya warnanya berlainan dan asapnya menghembus tinggi, baru buyar. Asap itu berwarna-warni dan dilangit kamar ada sawang apinya.

Di setiap pinggiran dapur terdapat beberapa puluh orang laki-laki, yang tubuhnya telanjang sebatas dada. Mereka semua repot mengurusi api, atau dapurnya, dan atas datangnya It Hiong, mereka tak menghiraukan sama sekali.

Ya Bie heran. Dia mengagumi warna-warni asap itu, yang tujuh rupa. Ia tersengsam sampai ia lupa bahwa ia berada di dalam gua yang berbahaya.

So Hun Cian Li pun gembira, hingga ia berPekik dan menari-nari !

It Hiong memperhatikan tujuh macam warna asap itu, yang beda dari pada asap umumnya. Kemudian ia mengawasi itu puluhan kuli dapur. Mereka pun aneh, muka mereka sama semuanya. Sesudah diteliti, baru ternyata yang mereka semua mengenakan topeng seragam.

"Heran !" pikirnya. "Tempat ini tentulah tempat Im Ciu It Mo memasak obat racunnya tetapi heran tak ada bau yang luar biasa. "

Tidak ada pengurus atau kepala tukang masak itu. Hawa disitu juga panas sekali. Si orang utan takut hawa api tetapi dia sanat tertarik hati, dengan bersembunyi di belakang Ya Bie, dia berPekik-Pekik.

It Hiong menghampiri seorang tukang masak itu. "Tuan, dapatkah aku mengajukan satu pertanyaan ?"

tanyanya hormat.

Orang itu tidak menjawab, hanya dengan tangannya dia menunjuk pada mulut, bibir dan telinganya.

Anak muda itu bertambah heran. Ia menerka orang tidak berani bicara di tempat banyak orang itu. Ia mencekal tangannya seorang dan menariknya ke mulut gua. Di sini dia mengulangi pertanyaannya.

Di luar sangkaan, mendadak orang itu meloloskan tangannya yang dipegang itu, terus dia meninju dibarengi satu depakan. Nyata dia bergerak cepat sekali. Serangan itu mengarah dada dan perut.

It Hiong kaget. Itulah diluar dugaannya. Syukur ia awas dan gesit. Dengan muda ia berkelit ke samping, kedua tangannya digeraki juga. Tangan yang satu dipakai menangkis, tangan yang lain buat menangkap kaki orang !

Orang itu berontak, kembali dia meninju.

Tidak ada niatnya si anak muda mencelakai orang. Ia tidak membalas menyerang, hanya kali ini tangannya digeraki untuk mengekang penyerang itu. Terutama ia mencekal kaki orang hingga orang tak dapat berkutik, sedangkan sebelah tangannya dia itu dipegang keras sampai dia tak dapat meronta. "Aku cuma menanya kau, kenapa kau menyerang aku ?" kemudian It Hiong tanya pula. Ia tertawa manis tetapi tangan dan kaki orang itu dibikin tak berdaya ! Ia pun menarik pula, buat membawa orang keluar. Atau mendadak, ia mendengar bunyi kelenengan nyaring, terus di mulut gua itu jatuh turun sebuah pintu besi, sesudah mana dari empat penjuru terlihat asap tujuh warna menyembur !

Kalau tadi semua asap itu tidak berbau apa-apa, sekarang tercium bau yang sangat memualkan, hingga orang mau tumpah-tumpah. Asap pula lantas makin lama makin tebal, hingga yang terlihat tinggal sinar api dapur.....

It Hiong pun kaget. Manyusul keluarnya asap itu, orang yang ia pegangi itu roboh terkulai, mungkin dia terbinasakan rekan atau rekan-rekannya, mungkin dia mati disebabkan asap itu.

Lekas sekali tubuh orang itu menjadi dingin, akan akhirnya nafasnya pun berhenti berjalan......

"Hebat !" pikir It Hiong, yang menjadi bingung. Tidak disangka-sangka, Im Ciu It Mo demikian lihai.

Selagi ia berpikir keras, It Hiong merasa punggungnya ada yang tubruk. Hampir ia menangkis sambil menyerang, kapan ia ingat pada Ya Bie, maka batal menyerang, ia berbalik merangkul tubuh orang. Hanya tak dapat ia memastikan, tubuh itu tubuh si nona polos atau bukan.

Tak dapat It Hiong membuka suara, buat bicara dengan nona itu. Sejak munculnya asap, ia sudah menahan nafas. Walaupun demikian, asap memasuki mulut dan tenggorokan, atau kerongkongannya menjadi perih. Matanya juga terasa pedas. Masih It Hiong memeluki tubuh yang lunak itu, yang ia belum berani pastikan Ya Bie atau bukan. Dengan tebalnya asap, tak dapat ia melihat muka orang. Ia hanya menerka, kalau orang itu Ya Bie, tentulah Ya Bie telah pingsan disebabkan asap itu. Ia pun pernah memikir, kalau dia itu bukannya Ya Bie, kenapa orang menubruknya........

"Jika dia Ya Bie dan dia mati sungguh dia harus dikasihhani. " It Hiong bagaikan ngelamun. "Dia baik sekali,

dia datang kemari buat membantui aku. Tak nanti aku dapat melupakannya !"

Asap terus bergulung-gulung. Lama-lama It Hiong menjadi kewalahan. Hampir ia tak dapat membuka matanya itu. Ia membuka mata lebar-lebar tetapi ia tidak mampu melihat atau membedakan apa juga. Hanya asap tebal yang tampak.

Akhir-akhirnya pemuda kita menjatuhkan diri, akan duduk bersila ditanah, matanya dipejamkan. Bagaikan bersamadhi, ia memasang telinganya. Di tempat begitu, ia terus waspada.

Terutama, ia harus dapat melawan serangannya racun. Caranya ini membuat hatinya terbuka dan pikirannya tenang dan terang !

Tiba-tiba It Hiong ingat mustika mutiara Leecu hadiah dari Bu Lim In-Cin, si orang rimba persilatan yang tak dikenal di Kui Hiang Koan. Bukankah mutiara itu katanya dapat membasmi racun dan lainnya ? Maka tanpa ayal pula, ia merogoh keluar mutiaranya itu. 

Benar mujizat mutira Lee-cu, ketika itu sinarnya nampak lemah tetapi segera juga buyarlah asap yang tebal itu. Si anak muda masih belum tahu bahwa mutiaranya sudah menunjuki khasiatnya, ia masih meram saja. Dengan tangannya, ia meraba mukanya orang yang rebah di pangkuannya, dengan begitu ia bisa memasuki Lee-cu ke dalam mulut orang......

Selekasnya Lee-cu berada di dalam mulut orang itu, asap datang menyerang pula. It Hiong merasai itu pada hidung dan mulutnya. Tapi ini membuat mengerti akan adanya perubahan itu. Masih ia meram saja.

Tiba-tiba si anak muda merasa ada tangan lunak menggoyang-goyang bahunya, disusul dengan suara halus ini

: "Kakak Hiong......... Kakak Hiong "

Itulah suaranya Ya Bie.

Baru sekarang si anak muda membuka matanya. Maka ia melihat Ya Bie, ditangan siapa tercekal Lee-cu, yang menyiarkan sinar terang bergemerlapan. Nona itu tetap rebah dipangkuannya, mukanya menghadapi muka ia, wajahnya nona itu ramai dengan senyuman berseri-sei. Agaknya si nona tengah merasai sesuatu yang membuatnya sangat gembira.

It Hiong pun girang. Suaranya si nona menandakan si nona itu sudah sadar berkat kemukjizatannya mutiara mustika itu. Begitulah maka ia membuka matanya, hingga ia melihat nona itu, bahkan sinarnya empat buah mata seperti kontak satu dengan lain. Ia melihat sinar mata si nona terang, jernih dan halus, wajar sekali. Karenanya, tanpa merasa, hatinya berdebaran, semangatnya bagaikan melayang-layang.

"Kakak Hiong !" terdengar pula suara si nona, halus dan merdu. "Kakak Hiong !" Justru panggilan itu membuat si anak muda terasadar ! Hatinya masih guncang, tetapi matanya segera dipejamkan pula, supaya ia bisa menenangkan diri.

"Ha, It Hiong !" katanya di dalam hati, "It Hiong, kenapa kau berbuat begini ? Kenapa hatimu tergerak oleh nona yang kau pandang sebagai adikmu sendiri ?"

Lewat sejenak.....

"Oh, adik, kau sudah mendusin ?" tanyanya, walaupun suaranya menggetar.

"Kakak. " kata si nona.

"Apa adik ?" It Hiong tanya. Tubuh nona itu bergerak. "Kakak !" katanya pula.

Segera It Hiong ingat yang mereka lagi berada di dalam guanya Im Ciu It Mo, bahwa baru saja mereka diganggu asap jahatnya si wanita tua. Itulah berbahaya. Setiap waktu, dapat orang menyerang mereka. Maka ia lantas melihat kelilingnya.

Masih ada sisa asap tebal. Perlahan-lahan asap mumbul, lenyap di langit-langit ruang.

Ya Bie masih memegangi mutiara, yang sinarnya terus mencorong.

Ruang tetap sunyi saja, tak terdengar suara apa juga. It Hiong tunduk, ia melihat si nona, dengan rebah tenang, lagi membuat main Lee-cu dalam genggaman kedua tangannya bergantian.

"Hawa beracun sudah buyar." kata si anak muda kemudian. "Mari kita keluar !"

Tubuh si nona tak bergerak. Dia seperti ketagihan rebah diatas pangkuan orang.

"Begitu ?" katanya, acuh tak acuh, seperti juga dia tak insyaf yang mereka lagi berada di sarang orang jahat.......

It Hiong heran menyaksikan lagak orang, hingga ia mau menerka mungkin si nona belum bersih dari racunnya asap jahat itu.

"Adik, coba kau kemut pula mutiara itu." katanya. "Dengan begitu sisa racun akan bersih semuanya. "

Si nona tapinya tertawa manis.

"Mana ada racun di dalam tubuhku ?" katanya, tertawa pula. "Cuma, aku rasanya letih sekali, aku bagaikan ingin rebah terus. "

It Hiong terkejut, hingga ia melengak.

Kembali si nona tertawa, hingga seluruh tubuhnya bergerak. Dengan matanya yang celi dia menatap si anak muda. Di saat itu, mukanya berwarna merah dadu. Ia layu- layu segar !

Itulah pengaruh kewanitaan....... "Kakak Hiong." kata ia pula, perlahan, selagi si anak muda masih berdiam saja. "Kakak, aku girang sekali ! Kakak, kenapa aku merasai seluruh tubuhku letih sekali ?"

Tiba-tiba Lee-cu lepas dari tangan si nona, mutiara itu menggelinding ke depannya So Hun Cian Li, binatang mana lagi rebah mendekam tak jauh di sisi mereka.

Orang utan itu takut api, sejak tadi dia mendekam saja, mukanya ditempel rapat pada tanah, tetapi asal terlalu tebal, dia kena juga menyedot asap itu, hingga dia bagaikan lupa daratan. Sekian lama dia dalam keadaan sadar dan tidak sadar, tetapi selekasnya asap buyar dan mutiara jatuh ke depan mukanya, mendadak ia sadar seluruhnya.

Sekonyong-konyong, satu bayangan orang berlompat ke arah So Hun Cian Li.

It Hiong terkejut. Itulah seorang perempuan. Lebih dahulu daripada itu, ia telah melihat jatuhnya mutiara mustikanya.

Justru mutiara itulah yang disambar nona itu, yang segera berlompat mundur pula, gerakannya cepat bagaikan kilat. Mau It Hiong mencegah atau ia telah terlambat. Lantas ia menjadi terlebih kaget pula ! Ya Bie tidak berada lagi di pangkuannya.....

"Ha !" serunya, yang terus berjingkrak bangun. Ia lantas melihat gerak-geriknya bayang orang yang cepat dan ke empat tangannya bayangan itu saling menyambar. Segera ia mengenali, Ya Bie tengah berkutat dengan Ek Su Biauw, muridnya Im Ciu It Mo itu !

Su Biauw muncul sesudah sekian lama sehabis ia melepaskan asap beracunnya, karena ia mendengar suara sunyi saja, ia menyangka It Hiong semua sudah terkena racun dan pingsan, maka ia muncul, hingga ia menyaksikan Ya Bie lagi rebah di pangkuan si anak muda, malah ia melihat jatuhnya mutiara dari tangannya si nona itu. Maka ia lantas lompat menjambret merebutnya !

Ya Bie melihat orang datang, ia berseru nyaring, ia berjingkrak bangun, untuk terus menyerang nona penjambret mutiara itu.

Su Biauw licik, dia dapat berkelit, tetapi Ya Bie cepat dan menyerang pula, maka itu jadi bertempurlah mereka berdua.

Dengan tangan kanan mengepal mutiara, Su Biauw berkelahi dengan hanya tangan kirinya. Ia menutup tubuhnya dengan ilmu "Sebelah tangan menutup langit". Di dalam hal tenaga dan kepandaian silat, dia menang setingkat dari pada Ya Bie. Sebaliknya, muridnya Touw Hwe Jie menang gesit dan lincah. Dengan begitu, mereka jadi seimbang.

It Hiong menyaksikan sekian lama, tetapi pikirannya ada pada Lee-cu. Itulah benda mustika dan hadiah dari Bu Lim In- Cin, tak dapat ia membuatnya lenyap. Lewat sesaat dan orang masih bertarung saja, ia habis sabar.

"Tinggalkan mutiara !" teriaknya. "Tinggalkan atau kau tak bakal dapat ampun !"

Walaupun dia berseru demikian itu, tubuhnya It Hiong toh sudah mencelat ke medan pertempuran dan kedua tangannya segera bergerak, hingga di dalam sekejap saja ia telah memisahkan dua nona yang lagi bertempur itu, hingga mereka pada berdiri diam !

Su Biauw melihat mutiara di tangannya. Dia tertawa. Nyata dia tak takut. "Adakah ini barangmu ?" dia tanya.

"Hm !" It Hiong memberikan jawabannya. "Mari serahkan padaku !"

Su Biauw menatap si anak muda.

"Gak Hong Kun," katanya kemudian, suaranya lunak. "Apakah budak ini yang membuat kau berubah menjadi begini rupa ?" Ia terus menoleh kepada Ya Bie, sinar matanya menandakan dia sangat membenci.

Alisnya It Hiong bangun berdiri.

"Jangan banyak bicara lagi !" bentaknya. "Tak ada waktu buat mengadu lidah denganmu !"

Parasnya Su Biauw menjadi padam. Agaknya dia mendongkol.

"Jika kau tidak mengembalikan mutiara padamu ?" dia tanya, dingin.

"Jangan kau salahkan kalau aku berlaku keras !" ada jawabannya si anak muda, keras.

Itu bukan jawaban belaka, jawaban itu dibuktikan berbareng dengan perbuatan. Cepat luar biasa, sebelah tangannya si anak muda meluncur dengan satu cengkraman "Kim Liong Ciu -- Tangan Menawan Naga !"

Ek Su Biauw masih dapat berkelit, hanya dia kalah cepat, bajunya kena terjambret hingga pecah, hingga ia pun merasai kulitnya panas dan nyeri. Berbareng dengan itu, mendadak pintu gua terpentang lebar, lantas bayangan orang bergerak-gerak. Di dalam satu kelebatan saja, tiga orang wanita telah muncul diambang pintu itu, terus masuk kedalam. Dandanan mereka itu, dari pakaian sampai cara menjalin rambutnya, serupa saja. Yang beda melainkan usia mereka tetapi toh tak terpaut jauh.

Kiranya merekalah Ek Toa Biauw, Ek Jie Biauw dan Ek Cit Biauw, tiga diantara Cit Biauw Lie, tujuh wanita siluman murid-muridnya Im Ciu It Mo.

Selekasnya Toa Biauw terancam bahaya, segera ia menyerang It Hiong yang dia hajar punggungnya dimana ada jalan darah cie-tong. Inilah seranga yang membuat jambretannya si naak muda gagal. Jika tidak, Su Biauw tak akan separuh lolos.

Heran It Hiong menyaksikan ketiga nona itu sangat mirip dengan Su Biauw. Mereka itu cantik-cantik tetapi pun berwajah centil.

"Kalian mencari mampus," tegurnya sengit. Walaupun demikian, ia tidak menghiraukan mereka itu, ia bergerak menyambar pula kepada Su Biauw. Kali ini dia berlompat dengan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.

"Aduh !" Su Biauw menjerit sambil dia berkelit mundur, akan tetapi sebelumnya itu, pergelangan tangannya sudah dicekal si anak muda, yang terus merampas pulang mutiara dari genggamannya !

Sebagai pemuda gagah, sebagai laki-laki sejati, anak muda kita tidak mau mencekal terus pada Su Biauw. Dia melepaskannya selekasnya dia berhasil merampas pulang Lee- cu. Kalau dialah seorang lain, pasti dia membekuk Su Biauw guna memaksa orang menunjuki dimana dikurung atau beradanya Kiauw In.

Habis melepaskan tangan si nona, ia mengawasi nona-nona itu.

"Apakah cuma kalian saja murid-muridnya Im Ciu It Mo ?" ia tanya dingin.

Ek Toa Biauw mengawasi pemuda itu, lantas alisnya yang lentik terbangun, air mukanya pun berubah. Kelihatan tegas dia licik.

"Gak Hong Kun !" katanya tawar. Dia pula tertawa dengan suaranya tak sedap. "Gak Hong Kun! Kenapa kau menjadi begini tidak berbudi ? Kenapakah kau menghina adikku ?" Ia maksudkan Su Biauw. Kemudian dia berpaling pada adiknya itu dan menanya : "Barang apakah yang dia rampas darimu ?"

Toa Biauw tidak menyangka sama sekali bahwa It Hiong bukannya Hong Kun dan ia pula mengira Su Biauw berkasih- kasihan dengan pemuda itu hingga timbullah rasa jelusnya.

It Hiong tidak menanti orang bicara.

"Kamu dengar atau tidak perkataanku ?" ia tanya keras. Toa Biauw berpaling pula pada anak muda itu.

"Apa ?" dia balik bertanya. Dia mengganda tertawa.

Sementara itu Cit Biauw telah mengawasi Ya Bie dan orang utannya. "Siapakah kau ?" tegurnya. "Kenapa kau lancang masuk kemari ?"

Belum lagi Ya Bie menjawab nona itu, It Hiong sudah mendahului.

"Baiklah kalian ketahui !" katanya nyaring. "Bicara terus terang, akulah Tio It Hiong ! Aku bukannya Gak Hong Kun kalian !"

Cit Biauw paling muda, pengalamannya masih hijau. Dia heran mendengar keterangannya It Hiong. Timbullah keragu- raguannya hingga dia jadi menjublak saja.

Tidak demikian dengan Toa Biauw.

"Gak Hong Kun !" katanya keras. Tetap dia mengukuhi anggapannya sendiri. "Gak Hong Kun, tak peduli kau menukar nama apa, tak dapat kau mendustai aku !" Kemudian dia menoleh kepada Su Biauw, akan melanjutkan menanya : "Apakah kau yang mengajak dia masuk kemari ?

Su Biauw menggeleng kepala. Dia tidak dapat menjawab sebab dia lagi merasa sangat heran kenapa si anak muda demikian lihai, mudah saja mutiara ditangannya dirampas tanpa dia sempat berdaya. Tadi pun, kalau anak muda itu tidak dibokong Toa Biauw, dia tentu tak akan lolos. Karena kepandaiannya anak muda itu, dia mau percaya bahwa orang benar bukannya Hong Kun....

"Habis siapakah dia ?" demikian pikirnya. "Dia sangat mirip dengan Hong Kun. "

Su Biauw jatuh hati pada Hong Kun semenjak semula dia melihat orang she Gak itu, dia selalu mencoba akan mendekati si pemuda, tetapi dalam usahanya itu dia mendapat rintangan samar-samar dari Toa Biauw, sang kakak paling tua, hingga dia jadi kurang bebas.

Toa Biauw tidak lantas mendapat jawaban dari adiknya itu, dia tidak puas, maka juga --dalam jelusnya-- dia kata pula : "Aku yang menjadi kakakmu, aku rupanya tidak disenangi kau, mungkin disebabkan aku telah menggangu kesenanganmu, adikku. " Suara itu pun dingin sekali.

Su Biauw malu dan mendongkol. Kakak itu telah menyindirnya. Walaupun demikian, ia berdiam saja, melainkan wajahnya menjadi gelap.

Toa Biauw puas melihat orang berdiam dan malu, lantas dia bersenyum. Lalu dia berkata pula : "Oh, mungkin kata- kataku berkelebihan, adikku, walaupun demikian, harap kau tidak taruh hati. "

Habis berkata, kakak itu mengibasi tangannya terhadap Jie Biauw dan Cie Biauw, sembari ia meneruskan : "Mari kita pergi

! Tak dapat kita berdiam disini, nanti kita mengganggu orang yang sedang memasang omong !"

Terus kakak ini memutar tubuhnya, tetapi ketika ia melangkah, tindakannya ayal-ayalan seperti juga dia tak ingin berlalu dari ruang itu.......

Ya Bie mengawasi mereka itu, ia mendengar dan melihat, tetapi ia mendengarnya dengan separuh mengerti dan separuh tidak. Ia hanya mendapati kata-katanya Toa Biauw keras dan tajam dan wajahnya tak mengasih. Tapi ia tak menghiraukan mereka itu, ia hanya melirik pada It Hiong, memberi isyarat supaya si anak muda tanya nona-nona itu perihal Kiauw In. It Hiong pun mendadak ingat halnya Nona Cio. "Tahan !" teriaknya pada Toa Biauw semua.

Nona itu menghentikan langkahnya. Lantas dia berpaling. Memang dia sengaja mau menggodia Su Biauw, jalannya pun di buat-buat lambatnya.

"Apa ?" tanyanya pada si anak muda. "Apakah kau tidak takut kami nanti mengganggumu ?"

"Hm !" It Hiong memperdengarkan suara mendongkol. "Lekas bilang dimana adanya Cio Kiauw In sekarang !"

Toa Biauw bersikap ugal-ugalan. Tingkahnya centil sekali. "Mau apa kau mencari dia ?" tanyanya dingin.

It Hiong gusar.

"Jika kamu tahu selatan, lekas kamu bicara terus terang !" katanya keras. "Kalau tidak, harap jangan menyesal, aku yang rendah terpaksa tak berlaku sungkan lagi terhadap kamu !"

"Aduh, aduh !" Toa Biauw berseru-seru, kembali tingkahnya dibikin-bikin. "Sungguh mulut besar!" Terus dia berpaling pula pada adiknya seraya berkata : "Nah, adik, kau harus sadar, nyatanya orang datang kemari bukannya buat mencari kau hanya orang lain !"

Habis sabarnya It Hiong sebab Toa Biauw tidak menghiraukan dan nona itu selalu mengejek Su Biauw. Tiba- tiba saja ia melayangkan sebelah tangan pada nona itu. Toa Biauw berdiri berendeng dengan Jie Biauw dan Cit Biauw, meliha datangnya serangan, ia berkelit berbareng bersama dua orang adiknya itu. Berhasil mereka membebaskan diri.

Ketujuh muridnya Im Ciu It Mo itu bukannya cuma barengan dandanan dan senjatanya, juga caranya berkelahi, ialah selalu mereka bertujuh, atau sedikitnya beberapa orang seadanya mereka bersama. Itu pula yang membuatnya menjadi lihai.

Melihat orang dapat menyelamatkan diri, It Hiong maju terus guna mengulangi serangannya. Ia menggunakan jurus- jurus dari Hang Liong Hok Houw-ilmu menaklukan naga menundukkan harimau.

Toa Biauw bertiga berlompat mundur buat segera mengambil tempatnya masing-masing, dengan demikian, dapat mereka membuat perlawanan. Mereka merenggang dan merapatkan diri dengan sempurna. Kalau mereka maju, enam buah tangan mereka bekerja sama.

Su Biauw pun lantas turun tangan. Menuruti suara hatinya, tak sudi dia membantui ketiga saudara seperguruan itu, lebih- lebih Toa Biauw, akan tetapi ia mesti mentaati peraturan dan pesan gurunya. Begitulah terpaksa ia mengambil tempatnya, untuk maju dan mundur bersama. Karena mereka telah terlatih sempurna, tidaklah heran apabila mereka berempat jadi tangguh sekali, It Hiong bagaikan dikurung sekawanan kupu-kupu.

Cit Biauw Lie terancam hukuman berat kalau mereka menyaitui aturan gurunya. Maka juga mereka bertempur dengan sungguh-sungguh, mereka seperti tak takut mati. Sebenarnya, kalau mereka menempur It Hiong satu lawan satu, tak seorang juga dari mereka yang sanggup bertahan lebih dari tiga jurus, tetapi sekarang mereka dapat bertahan dengan baik. Mereka mundur kalau diserang, atau mereka merangsak pula selekasnya datang kesempatan.

Ya Bie berdiri menonton bersama So Hun Cian Li. Si nona mementang lebar matanya. Tak ada kesempatan buat dia turun tangan membantu It Hiong.

Terus pertempuran berlangsung. Keadaan masih berimbang. It Hiong menang unggul, cuma bedanya, ia tidak memiliki Keng Hong Kiam seperti semasa ia menempur musuh di Ay Lao San. Ia pula berniat menawan musuh, supaya si orang tawanan dapat dipaksa menyebutkan dimana Kiauw In dikurung. Keadaan berlarut-larut membuat ia akhirnya menjadi tidak sabaran. Kurungan lawan itu lihai sekali. Jadi harus dia memecahkannya. Maka juga, lagi sesaat, ia harus bertindak.

Dengan satu gerakan Tangga Mega, anak muda kita menjejak tanah, untuk mencelat tinggi, lalu tubuhnya seperti berada di "tengah udara", ia melihat ke bawah, kepada musuh.

Musuh heran menyaksikan orang berlompat tinggi, sendirinya gerakan mereka tak berjalan sebagaimana selayaknya. Sebab musuh diatas dan tak dapat diserang sambil berlompat tinggi juga. Terutama yang heran adalah Toa Biauw, murid terpandai dari It Mo. Tengah dia heran itu mendadak tubuhnya It Hiong turun ke arahnya seraya terus menyerang padanya !

Cepat luar biasa, si nona berkelit, menyusul itu, ia membalas menyerang. Selagi ia berkelit, tempatnya yang kosong sendirinya diisi Cit Biauw. Dia ini justru yang kepandaiannya terendah diantara mereka bertujuh. Dengan begitu juga, It Hiong jadi berada paling dekat dengan nona yang ketujuh itu, maka terus ia menyerang si nona.

Cit Biauw terkejut. Belum sempat ia memperbaiki kedudukannya. Guna menyelamatkan diri, ia berkelit dengan satu gerakan "Tiat Poan Kio" atau Jembatan Papan Besi.

Tubuhnya melenggak seperti terlentang sebatas perutnya. Mestinya ia meneruskan itu dengan berjumpalitan atau menyelosor terus. Justru begitu, It Hiong meneruskan menggerakkan kedua belah tangannya. Maka bentroklah tangannya dengan tangannya Taoa Biauw, yang telah membalas menyerang itu.

Cit Biauw dapat melenggak, ia lolos dari hajaran, tetapi anginnya tangannya si anak muda mengenai dadanya, serangan angin itu membuatnya terkejut, hingga tak dapat ia bergerak lebih jauh sebagaimana kehendaknya Barisannya.

Dengan begitu juga kacaulah pengurungan mereka. Ia sendiri merasa malu hingga mukanya menjadi merah.

Toa Biauw yang tangannya beradu dengan tangannya It Hiong, kena tergempur mundur beberapa tindak, tubuhnya terhuyung-huyung, ketika ia dapat berdiri tetap pula, ia merasa tubuhnya bagian dalam bergolak, hingga ia pun mesti berdiri diam akan memperbaiki saluran nafasnya.

Dengan Toa Biauw beristirahat dan Cit Biauw berdiam, tinggallah Su Biauw dan Jie Biauw. Mereka tidak takut. Mereka melanjuti pengurungan. Sekarang mereka menggunakan joan- pian, yaitu cambuk lunak, dengan senjata itu, It Hiong dikepung pula. Habis menyerang dadanya Cit Biauw, It Hiong merasa likat sendirinya. Justru itu, kedua cambuk menyambar padanya.

Terpaksa, ia harus membela diri. Cambuk datang dari kiri dan kanan. Yang hebat, ujung cambuk ada senjata tajamnya. Ia juga mengeluh, yang kedua nona itu tidak mau mengalah.

Maka buat menyambuti kedua batang cambuk, ia mementang tangannya ke kiri dan kanan.

Itulah gerakan "Co Yu Kay Kong -- Kiri Kanan Mementang Busur". Dengan itu, It Hiong menyambar ujung cambuk lawan, untuk menangkap dan mencekalnya. Kedua nona lihai, mereka berhasil lekas-lekas menarik pulang senjata lunaknya itu. Setelah itu, mereka menyerang pula, bahkan dengan keras. Terang maksudnya guna membikin si anak muda repot, agar Cit Biauw dan Toa Biauw sempat bernafas......

Toa Biauw dan Cit Biauw sempat melegakan diri. Toa Biauw lantas memikir buat menggunakan tipu daya. Mereka memang masih mempunyai perangkap. Diam-diam dia melirik kepada Cit Biauw. Setelah itu, bukannya dia maju akan menyerangnya pula, dia justru bertindak ke kanannya, dimana ada sebuah pojokan. Pada dinding sebelah kiri, tangannya menekan sesuatu. Selekasnya terdengar satu suara perlahan, disitu terpentang sebuah pintu rahasia, pintunya kecil. Lantas dia bersiul dua kali, menyusul tubuhnya memasuki pintu itu.

Cit Biauw menyusul dengan cepat, akan memasukinya juga.

Su Biauw dan Jie Biauw mendengar siulan itu, diam-diam mereka menoleh hingga mereka melihat kedua kawan itu menghilang ke dalam pintu rahasia. Lantas Su Biauw menyerang keras pada It Hiong, selagi si anak muda terdesak, mendadak ia berlompat mundur. "Jie jia, kita menyingkir atau tidak ?" dia tanya Jie Biauw, si kakak nomor dua.

Jie Biauw tertawa.

"Maksudmu, saudara ?" tanyanya.

"Kau tahu maksudku, hanya. " sahut si saudara ke

empat.

Jie Biauw tertawa pula.

"Hm, budak !" katanya. "Kau tak ikhlas meninggalkannya, bukan ?"

Memang Su Biauw mencintai Hong Kun dan tak ingin memeletnya masuk ke dalam perangkap. Ia hanya tidak tahu, It Hiong bukannya pemuda she Gak itu. Ia tetap tidak mengenali anak muda ini, si pemuda tulen bukan yang   palsu. Ia pula tidak ingat halnya Hong Kun sudah minum

Thay-siang Hoan Hun Tan dan kesadarannya telah terganggu, sedangkan pemuda ini sehat walafiat. Bahkan It Hiong selalu menyebut-nyebut Kiauw In.

Cit Biauw pun lain lagi. Dia belum pernah merantau, dia tak tahu mana Hong Kun mana It Hiong. Dia cuma tahu melihat Hong Kun dan sekarang pemuda di depannya ini sama dengan Hong Kun itu. Laginya Hong Kun jarang berdiam di dalam goa, sebab It Mo selalu memerintahkannya bekerja di luaran.

Sedangkan kalau Hong Kun pulang ke Kian Gee Kiap Kok, It Mo pun menjaga keras kedua pihak bercampur gaul erat-erat. Hingga kalau mereka bertemu, bertemunya sebentaran di depan sang guru. Ketika itu, Su Biauw pun mendapat satu pikiran lain. Dia mau percaya, mungkin benar pemuda ini bukannya Hong Kun hanya lain orang yang menyamar menjadi Hong Kun itu.......

Karena berpikir demikian, gerakannya si nona menjadi kendor, lantas dia kena didesak.

Jie Biauw pun lantas mendapat pikiran serupa. Dalam kesempatannya, dia lompat ke sisinya Su Biauw dan terus kata berbisik pada adik seperguruan itu : "Budak, jangan kau sesatkan sang asmara ! Rupanya dia ini benar bukan Gak Hong Kun. "

Selama mundur, Su Biauw telah sampai di dinding, disitu dia menempelkan tubuhnya pada tembok, dengan mendelong, dia mengawasi si anak muda. Tiba-tiba dia mengernyitkan alis dan menghela nafas.......

It Hiong heran kedua nona itu menghentikan pengepungannya, bahkan orang bediri menjublak dan agaknya berduka. Ia lantas melihat kelilingnya. Di situ sudah tidak ada lain orang lagi kecuali kedua nona itu. Bahkan Ya Bie bersama So Hun Cian Li lenyap juga ! 

"Ah !" serunya tertahan. Lantas ia lari ke pintu, untuk melongok. Mendadak ia mendengar suara berkelisik di belakangnya, dengan cepat ia menoleh. Kembali ia menjadi heran. Pintu rahasia sudah tertutup pula, Su Biauw dan Jie Biauw pun lenyap !

Semua terjadi di dalam sekejap !

"Kemana Ya Bie dan si orang utan ?" pikirnya. Ia bingung juga. Ia menguatirkan mereka itu kena terjebak musuh. Jangan kata suaranya Ya Bie, Pekiknya So Hun Cian Li pun tak terdengar.....

Kiauw In belum dapat ditemukan, sekarang Ya Bie berdua juga lenyap. Saking bingung, It Hiong menjadi gusar.

Mendadak saja ia bersiul keras dan lama, hingga seluruh ruang bagaikan tergetar !

Sekonyong-konyong pintu gua terbuka dan satu bayangan orang berlompat muncul !

"Ah, kiranya kau disini !" seru bayangan itu, yang lantas tertawa nyaring. "Berapa sengsara aku mencarimu !"

"Hm !" It Hiong memperdengarkan suara dingin setelah dia melihat tegas orang itu, Peng Mo, si Bajingan Es.

Nikouw itu menghampiri, tindakannya halus, langkahnya menggiurkan. Kali ini dia tertawa centil.

"Berhenti !" It Hiong membentak, melarang orang mendekatinya.

Tanpa merasa Peng Mo menghentikan langkahnya, parasnya menjadi suaram. Hanya sejenak, dia tertawa pula.

"Ah, kau membuatku kaget !" katanya. Dengan sama perlahan seperti tadi, ia bertindak pula akan mendekati si anak muda.

It Hiong memperlihatkan tampang gusar.

"Awas !" ancamnya. "Lagi satu langkah kau maju, jangan sesalkan aku tak mengenal kasihan !" Suara itu bengis sekali. Kembali Peng Mo menghentikan langkahnya. Hanya kali ini dia tidak menjadi heran atau kaget. Bahkan dia tertawa pula dan kata : "Aku ingin memasang omong denganmu ! Toh boleh, bukan ?"

It Hiong mendelikkan matanya.

"Di antara kita ada kelainan jalan !" katanya. "Apakah yang dapat dibicarakan ?"

Peng Mo tetap tertawa manis. Dia tak menghiraukan sikap keras pemuda itu. Inilah sebab ia menyangka pemuda itu adalah kekasihnya.

"Ah, kau tega. " katanya. "Kenapa kau begini tawar

terhadapku ? Tipis sekali budi rasamu ! Mustahil berbicara saja tidak dapat ! Kau. "

"Tutup mulut !" bentak It Hiong, menyela. Dia menjadi semakin gusar.

Sepasang alisnya si Bajingan Es bangkit.

"Apakah kau menghendaki aku turun tangan ?" tanyanya mendongkol.

It Hiong tidak memperdulikan pertanyaan itu. Kiauw In membuatnya bingung, lalu itu ditambah dengan hilangnya Ya Bie berdua So Hun Cian Li. Maka ia bertindak ke dinding, akan meneliti seluruh dinding itu, guna mencari pintu rahasia.

Dinding itu tapinya licin seluruhnya, tak ada sesuatu yang ia dapatkan atau mencurigakannya.

Peng Mo menjadi panas hati. Orang tidak menghiraukannya. Maka ia menggertak gigi dan kata dengan sengit : "Jika aku tidak mengasi lihat kepandaianku kepadamu, kau pasti tidak mengetahui lihainya Hong Gwa Sam Mo !" Lantas ia bertindak maju, dengan perlahan, tangannya  meraba sakunya mengeluarkan Bie Hun Tok Hun, pupur biusnya. Selekasnya ia berada di belakang si anak muda, yang tetap memperhatikan dinding, mendadak ia berseru nyaring dan tangannya yang memegang pupurnya, dikibaskan hingga pupur jahatnya itu lantas tersebar menyambar ke mukanya si anak muda. Pupur itu berupa seperti asap atau uap merah. 

It Hiong mendengar seruan itu, ia berpaling dengan lantas, selekasnya ia melihat asap, lantas ia menutup hidungnya, untuk menahan nafas, sedangkan tubuhnya sengaja diterhuyung-huyungkan hingga jatuh ke tanah ! Lalu, sambil rebah itu diam-diam ia memasang mata.

Peng Mo girang melihat usahanya telah berhasil. Tapi ia belum puas. Ia mau mendapatkan Gak Hong Kun. Maka ia bertindak menghampiri anak muda kita. Segera setelah datang dekat, sambil berjongkok ia mengulur sebelah tangannya, jari tangannya dibuka, guna menotok jalan darah pingsan anak muda itu !

Tiba-tiba si Bajingan Es menjadi kaget sekali. Belum lagi totokannya mengenai sasarannya, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah ditangkap It Hiong bahkan terus dipencet hingga dia mati kutunya !

"Tak kusangka kau begini telengas !" berkata si anak muda sambil dia berlompat bangun, suaranya keras, wajahnya keren.

Peng Mo tak berdaya, tetapi dia hanya kaget saja, waktu dia ditegur itu bukannya dia jauh, dia justru tertawa manis. "Yang telengas bukannya aku, hanya kau !" dia membalik. "Secara baik-baik aku bicara denganmu, kau justru tidak mempedulikan aku ! Kenapa ?" Dan ia menghela nafas.

It Hiong heran juga. Inilah karena ia tidak tahu bahwa orang menerka siapa ianya. Ia melengak sebentar, terus ia menanya : "Bukankah kita tidak kenal satu dengan lain, dan tidak berhubungan juga ? Kenapa kau membokong aku ?

Apakah artinya perbuatan kejammu barusan ?"

Peng Mo merasai pipinya panas. Toh ia tetap tertawa manis.

"Apakah kau masih belum tahu hatinya orang perempuan

?" tanyanya. Ia menghela nafas pula. Lantas ia melanjuti : "Sejak di Ngo Tay San, aku menyusul kau sampai disini ! Toh kau masih saja tak mengenal budi terhadapku !"

Entah darimana datangnya, tiba-tiba si nikouw bercucuran air mata, nampaknya ia sangat bersedih berbareng penasaran saking menyesalnya.......

It Hiong mengawasi. Ia heran tetapi ia mengerti, disini ia menghadapi pula bencana asmara. Ia menjadi mendapat dua rupa perasaan, orang harus dikasihhani berbareng lucu.

Sendirinya ia menghela nafas, lantas ia melepaskan cekalannya.

"Kau pergilah !" katanya akhirnya.

Peng Mo tidak lantas mengangkat kaki, bahkan ia menatap si anak muda. Dia mengira bahwa air matanya benar-benar mustika wanita, sebab air mata dapat membuat hati orang lemah. Maka ia maju lagi satu tindak. "Mari kita pergi bersama. " katanya halus.

It Hiong sementara itu sudah bertindak ke dinding yang lain, untuk mencari terus pintu rahasia, kata-kata orang itu ia dengar tetapi seperti tidak mendengarnya. Ia tidak mempedulikan.

Peng Mo menghampirkan, dengan kedua tangannya, ia memegang kedua bahunya si anak muda. Nampak ia sangat berduka.

"Saudaraku yang baik," katanya, "kau tidak mempedulikan aku, kalau begitu kau bunuh saja aku. Itu lebih baik,

bukan ?"

It Hiong tetap memekakkan telinga, terus saja ia mencari pesawat rahasia. Hatinya Peng Mo guncang memegang bahu si anak muda, tubuhnya bergetar. Sendirinya terbangunlah nafsu birahinya. Ia mencoba menguasai diri, hingga giginya seperti berjatrukan.

It Hiong tetap mencari pintu rahasia dengan asyiknya.

Panas hatinya Peng Mo. Ia menganggap orang terlalu. Kedua matanya bersinar membara. Tiba-tiba ia mencekal keras bahu orang dan mengajukan mulutnya buat menggigit ! Si anak muda kaget sekali. Ia pun merasa nyeri. Maka ia memutar tubuh sambil tangannya menyampok ! Kontan nikouw itu terguling.

"Kau !. Kau gila ?" bentak si anak muda sambil menuding.

Ia heran orang menjadi kalap begitu. Dalam gusarnya, ia sampai tak dapat mengatakan lebih.

Rebah ditanah, Peng Mo menangis. "Kau kejam !" katanya. "Kau pria sangat kejam !"

It Hiong mengawasi. Tiba-tiba ia sadar. Sendirinya berkuranglah kemarahannya.

"Kau keliru," katanya kemudian, tak bengis lagi. "Kau keliru mengenali orang !"

Masih si nikouw menangis.

"Aku tidak keliru," bilangnya. "Dasar kau yang kejam, kau tipis budi !"

Bukannya ia gusar, si anak muda menjadi tertawa. "Kau kira kau tidak keliru mengenali orang ?" tanyanya

sabar. "Nah, kau bilanglah, siapakah aku ?"

Tanpa berpikir lagi, Peng Mo menjawab : "Tio It Hiong !" Maka heranlah si anak muda, hingga dia melengak.

Peng Mo pun mengawasi, ia berkata pula : "Saudara Tio, kau telah dicelakai Im Cit It Mo ! Dia telah memberi kau obatnya yang lihai, yang membuat syarafmu terganggu hingga kau tak lagi sadar sesadar-sadarnya ! Kau toh kehilangan ingatanmu yang sehat, bukan ?" Ia berbangkis dan berjalan menghampiri.

It Hiong mengawasi. Masih dia heran.

"Kau salah mengenali orang !" katanya pula. "Orang yang kau maksudkan itu Gak Hong Kun, bukannya aku ! Bagaimana hubungan diantara kalian berdua, aku tidak tahu menahu !' Peng Mo mendelik pula.

"Masa bodoh, kau Tio It Hiong atau Gak Hong Kun !" katanya keras, mengotot. "Tidak hari ini tak dapat aku melepaskan kau !"

It Hiong jadi mendongkol. Ia tertawa tawar.

"Kau tak mau melepaskan aku ?" tegaskannya. "Habis, kau mau apakah ?"

Sekonyong-konyong Peng Mo tertawa. Dia menatap. "Saudara yang baik," katanya. "Kau dengarlah aku !

Hendak aku bicara terus terang padamu ! Asal saja kau suka turut aku berlalu dari sini, dalam hal apa juga akan aku turuti kau !"

Mendengar kata orang itu, mendadak It Hiong mendapat satu pikiran.

"Benar-benarkah kau akan turut segala kehendakku ?" ia menegaskan.

Peng Mo tertawa pula.

"Saudara yang baik !" katanya, manis --dia sangat girang--, "Suadara, benar-benar akan kau iringi segala kehendakmu !"

Mendadak pula It Hiong memperlihatkan tampang kerennya.

"Baik !" katanya keras. "Sekarang aku menyuruh kau pergi

! Nah, pergilah !" Peng Mo melengak, lenyap tawanya. dia menjadi panas hati.

"Hm !" dia perdengarkan suara dinginnya. Mukanya pun menjadi pucat. "Baiklah !"
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(