Iblis Sungai Telaga Jilid 52

Jilid 52

Im Ciu It Mo mempunyai kepandaian ringan tubuh yang lihai tetapi sekarang dia tak berani menggunakan itu sekehendak hatinya. Luka di dalam melarang ia memakai tenaga keterlaluan. Karenanya, ia lari kurang cepat, bahkan perlahan. Di situ dia membelok ke sebuah tikungan hingga dia lantas melihat cahaya pedang berkilauan sebab beberapa orang tengah bertarung. Dengan mengajak Kiauw In, dia lekas-lekas pergi ke sana. Baru jarak empat tombak, ia sudah melihat tegas It Hiong tengah menempur Hong Gwa Sam Mo. Ia pun lantas menjadi heran. Ia mendapat ilmu pedang It Hiong lain dari biasanya selama dia terkekang obatnya, sekarang ini It Hiong luar biasa lincah dan sinar matanya sangat bercahaya. Dia lantas maju lebih dekat, hingga timbullah rasa herannya. Ia menampak seorang Tio It Hiong yang lainnya, yang lagi rebah ditanah dan disisi It Hiong ini berdiri seorang pendeta dengan jubah kuning. Si pendeta agaknya lagi menjagai It Hiong yang rebah itu.

Sama sekali Im Ciu It Mo belum pernah melihat Tio It Hiong, ia cuma mengenal Gak Hong Kun yang menyamar menjadi pemuda she Tio itu, tak heran kalau ia tak mengerti kenapa sekarang ada dua Tio It Hiong dengan yang satu lagi berkelahi, yang lainnya sedang rebah tak berdaya. Ia tua dan berpengalaman, toh tak dapat ia memikir hal aneh itu ! Yang mana It Hiong yang telah makan obatnya ? Maka ia berdiri diam memandang ke depannya itu.

Kiauw In sebaliknya. Ia melihat dua Tio It Hiong itu, mendadak ia berseru dan tubuhnya digeraki maju untuk berlompat, atau segera It Mo menahannya, menarik ia kembali.

Hal yang sebenarnya ialah yang lagi bertempur itu Tio It Hiong dan yang rebah adalah Gak Hong Kun dan It Hiong tengah dikepung oleh Hong Gwa Sam Mo. Walaupun demikian, pemuda kita itu segera mendapat lihat tibanya Im Ciu It Mo. Ia tidak kenal si nenek tetapi ia menyangka orang adalah kaum sesat dan mungkin konco atau kenalannya Sam Mo. Ia menempur Sam Mo guna mencegah Hong Kun nanti dilarikan Peng Mo. Maka itu melihat ada orang datang, ia memikir tak dapat ia berkelahi lebih lama pula. Di saat ia henda menggunakan satu jurus istimewa dari ilmu pedangnya, mendadak ia melihat seorang nona muncul dari belakang si nenek, malah ia segera mengenali Kiauw In, tunangannya itu. Tiba-tiba saja hatinya tergetal. Inilah sebab ia heran sekali.

Kenapa Kiauw In ada bersama si nenek ? Hingga ia mau menerka, mungkinkah ada dua Kiauw In seperti ada dua It Hiong ? Dan kenapa si nona tiu agaknya menjadi bodoh ? Kenapa melihat dia, nona itu berdiam saja ?

Segera It Hiong memikir buat mencari kepastiannya.

Lantaran ini, ia mendongkol yang Sam Mo terus mengurungnya. Tiba-tiba saja timbul semangatnya. Lantas ia menggunakan "Samhong Sauw Hoat" atau "Angin puyuh menyapu salju", salah satu jurus istimewa dari ilmu pedang Khiebun Patkwa Kiam. Dengan memutar pedangnya, ia paksa Sam Mo mundur dengan kaget. Dengan begitu juga, ia mendapat peluang waktu, hingga ketika ia mencelat dengan menggunakan ilmu pedang meluncur Gie Kiam Sut, di dalam satu detik tiba sudah dia di depannya Kiauw In.

"Kakak !" Ia lantas memanggil. Nona Cio terus berdiri diam, cuma matanya mengawasi saja.

It Hiong heran dan menjadi bercuriga karenanya. Ia menjadi bersangsi.

"Kakak !" panggilnya pula. "Kakak Kiauw In !" Ia pun maju mendekati, guna mengulurkan tangannya mencekal tangan si nona.

Di saat itu, hatinya It Hiong tergerak luar biasa.

Justru tangannya si anak muda diulur itu, justru ada satu bayangan hitam yang menghajarnya, maka terkejutlah ia. Tapi ia tak menjadi bingung. Dengan satu gerakan "Wan Te Hoan In - Di bawah Lengan Membalik Mega", ia memutar tangannya, berkelit dari serangan sambil berbareng mencekal tongkat itu !

Penyerangan itu ialah penyerangannya Im Ciu It Mo, sebab tak dapat dia mengijinkan orang meraba Kiauw In. Bukan main herannya dia tatkala dia mendapat serangannya itu gagal, bahkan sebaliknya ujung tongkatnya kena orang tangkap. Dia justru menggunakan pukulan "Tauw Lo Thung- hoat" yang istimewa ! Maka luar biasalah herannya sebab dia menyangka "Gak Hong Kun" menjadi sedemikian lihainya.........

Habis menangkap tongkatnya si nenek lihai, It Hiong tadi bertindak terlebih jauh. Ia justru berdiam, mendelong mengawasi Kiauw In, yang pun tetap berdiam saja.

Juga Im Ciu It Mo berdiam sebab kagum dan herannya buat si anak muda yang lihai itu, hingga ketiga pihak jadi sama-sama tak berkutik...... Sementara itu berdatanganlah beberapa orang lain. Itulah Hay Thian Sin Ni bersama Ya Bie dan So Hun Cian Li si orang utan raksasa.

Selekasnya Ya Bie melihat It Hiong, girangnya luar biasa.

Tidak waktu lagi, ia berkaok-kaok : "Kakak Hiong ! Kakak Hiong !" Terus ia lari menghampiri. Akan tetapi, setelah ia datang dekat, ia melengak sebab ia melihat ditanah ada satu Tio It Hiong lainnya yang lagi rebah menggeletak ! Maka berhentilah ia dengan teriakannya, dengan langkahnya, terus ia menggunakan sapu tangannya mengucak-ucak matanya karena ia mengira matanya itu lamur !

Hong Gwa Sam Mo juga berdiri menjublak setelah mereka ditinggalkan It Hiong, sedangkan sebenarnya itulah kesempatan mereka buat membawa kabur pada It Hiong yang lagi rebah itu. Itulah disebabkan mereka pun heran akan adanya dua It Hiong !

Peng Mo heran sekali. It Hiong yang ditempur ia bertiga berilmu silat luar biasa lihai, beda daripada It Hiong yang dirobohkannya dengan ditotok oleh Hiat Mo, kakak seperguruannya. Bahkan melihat It Hiong, hatinya jadi semakin tertarik. It Hiong lebih menggiurkan hatinya....

Im Ciu It Mo melihat tibanya Hay Thian Sin Ni, ia melirik dan terus mengawasi dengan tampang gusar. Segera terdengar tawa dinginnya, disusul dengan tegurannya : "Eh, nikouw tua. Setelah kau berhasil dengan usahamu, sudah selayaknya kau memalingkan mukamu dan pergi ! Bukankah aku si wanita tua telah mengalah terhadapmu ? Sekarang kau datang pula ke sini, apakah maumu?" Kapan It Hiong mendengar suaranya Im Ciu It Mo itu, segera ia menoleh kepada Hay Thian Sin Ni. Sebenarnya ia tidak kenal It Mo dan Sin Ni dan yang lain-lainnya lagi. Yang ia kenal cuma Ya Bie bersama Hong Kun yang memalsukan dirinya itu. Tentu saja, ia pun gelap mengenai segala peristiwa di Kui Hiang Koan. Demikianlah ia berdiam saja, melainkan ia menoleh kepada Hay Thian Sin Ni.

Nikouw tua itu tidak menjawab Im Ciu It Mo, sebaliknya ia mengawasi It Hiong.

"Sicu, sudikah sicu memberitahukan nama besarmu padaku

?" demikian ia tanya.

Sampai disitu It Hiong melepaskan ujung tongkatnya Im Ciu It Mo yang ia cekal terus sekian lama, ia memutar tubuh akan menghadapi pendeta yang menyapanya itu, dengan air muka terang ia menjawab : "Aku yang muda ialah Tio It Hiong dari Pay In Nia ! Su-thay, dapatkah aku yang muda menanyakan gelaran suci dari su-thay ?"

Hay Thian Sin Ni bersenyum. Ia menjawab cepat. "Pinni ialah Hay Thian" sahutnya. "Kiranya sicu adalah

murid pandai dari sahabatku Tek Cio Toya ! Kau lihai sekali,

sicu. Sungguh, melihat padamu melebihkan daripada pendengaran belaka!"

Mendengar pembicaraannya kedua orang itu Ya Bie lantas saja menyela : "Kaulah Kakak Hiong dari Pay In Nia ! Habis orang itu, siapakah dia ?" Dan dia menunjuk Hong Kun yang tak berdaya itu. Dia pula menunjuki tampang sangat heran.

Si nona menunjuk kepada Hong Kun, tunjukannya itu diterima So Hun Cian Li dengan salah tafsir. Mendadak saja si orang utan berlompat kepada Hong Kun, tubuh siapa disambar dan diangkat, dibawa kehadapan nonanya, dibanting ke tanah !

Hong Kun ditotok Hiat Mo pada jalan darahnya yang disebut tay-meh, ketika dia digbaruki si orang utan, jalan darahnya itu terkena batu, maka dengan sendirinya dia bebas. Lantas saja dia mengeluarkan nafas panjang, sesudah mana dia berjingkrak bangun. Ketika dia menoleh kepada It Hiong, dia berdiri melongo. Agaknya dia seperti mengenali anak muda itu....

Selagi semua orang itu berdiam, mendadak saja Im Ciu It Mo memperdengarkan suara dahsyat yang biasa, siulan yang menggoncangkan hatinya Kiauw In dan Hong Kun. Habis itu, dia berlompat lari, untuk menghilang kedalam rimba diatas gunung. Selekasnya dia kabur itu, Kiauw In dan Hong Kun lari menyusul !

It Hiong dan Ya Bie terperanjat saking herannya, keduanya bergerak untuk mengejar.

"Sicu berdua, tahan !" seru Hay Thian Sin Ni mencegah.

It Hiong sudah berlompat sejauh satu tombak, dia berhenti dan berbalik. Ya Bie, seperti dijanji atau diperintah, turut kembali juga.

Hay Thian Sin Ni berpaling kepada Hong Gwa Sam Mo, kata dia sabar : "Toyu bertiga, persilakan ! Disini sudah tidak ada urusan kalian !"

Suara itu halus tetapi nadanya menyuruh pergi ! Hong Gwa Sam Mo baru saja menempur It Hiong, mereka bertiga tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap anak muda itu, mereka tak puas tapi mereka tak berdaya. Hiat Mo dan Tam Mo saling mengawasi,lantas mereka memutar tubuh, buat berjalan pergi. Peng Mo sebaliknya, si Bajingan Es masih memberati It Hiong, dia hendak diam saja.

"Sumoay !" Hiat Mo Hweshio memanggil. "Sumoay, mari kita pergi !"

Bu Kie berada diantara mereka, sejak tadi dia terus membungkam, dia cuma menonton, akan tetapi menyaksikan tingkahnya Sam Mo dia tertawa dan kata : "Kalau tikus melihat kuCing tetapi dia tidak mau lantas pergi, dia mau menunggu sampai kapan lagi ?"

Peng Mo mendelik terhadap pendeta itu, lalu terpaksa dia mengangkat langkahnya, pergi mengikut kedua kakak seperguruannya itu.

It Hiong sementara itu memberi hormat kepada Hay Thian Sin Ni.

"Cianpwe Sin Ni, ada pengajaran apakah dari cianpwe untukku yang muda ?" tanyanya.

"Ada pembicaraan yang pinni hendak lakukan." sahut nikouw itu. "Mari kita cari tempat dimana kita dapat bicara dengan menyenangkan." Dan terus ia bertindak turun gunung.

Bu Kie mendekati It Hiong, yang ia pegang ujung bajunya sebelum si anak muda mengikuti nikouw itu. Kata dia gembira

: "Tio sicu, kiranya kaulah sicu Tio It Hiong ! Aku si pendeta kecil, mataku kabur ! Ah, aku harus dihajar !" Dan dia menyentil kedua telinganya ! It Hiong menjublak menyaksikan tingkahnya pendeta yang sarangu-dunguan itu, ia mengawasi, kemudia ia tertawa dan menanya : "Bapak pendeta, adakah kau dari Siauw Lim Sie ?"

Bu Kie nampak girang sekali.

"Tak salah !" sahutnya mengangguk. "Tak salah, aku yang muda ialah Bu Kie ! Aku hendak memberitahukan sicu tentang suatu urusan yang aneh !"

It Hiong heran, dia menatap pendeta itu. Ingin dia mendengar keterangan si pendeta, tetapi ketika dia menoleh, Hay Thian Sin Ni sudah berjalan terus dan berhenti ditengah jalan di depannya sebuah jurang dangkal. Nikouw itu lagi bicara dengan seorang muda tetapi ia agaknya tengah manantikannya.

"Bapak pendeta." katanya. "Kalau ada urusan, tak dapatkah kita bicara sambil berjalan ?" ia tanya si pendeta kepada siapa ia berpaling. Namun, tanpa menanti jawaban lagi, ia menarik ujung jubah orang untuk diajak jalan bersama hingga mereka berdua menjadi jalan berendeng.

Ya Bie bersama si orang utan jalan mengikuti si anak muda itu.

Sambil berjalan, Bu Kie menuturkan segala sesuatu yang dia lihat di kuil Gwan Sek Sie digunung Ngo Tay San. Kemudia ia tertawa dan menambahkan : "Syukur Sang Buddha kami amat bijaksana. Dia membuat hari itu aku bertemu denganmu, Tio Sicu ! Maka tercapailah maksud hatiku !" Rupanya si pendeta merasa puas luar biasa disebabkan dia sudah melakukan sesuatu yang sangat menggirangkannya, dia tertawa dan terus bersenyum berseri-seri.

It Hiong sebaliknya. Walaupun ia senang mendengar penuturan si biksu, ia toh masgul. Kalau Gak Hong Kun kena diracuni Im Ciu It Mo hingga ingatannya menjadi terganggu, mungkin sekali Kiauw In pun diperlakukan demikian. Jadi, tadi itu, wanita yang berada disisinya si nyonya tua bermata kelabu mesti Kiauw In adanya, dia bukanlah Kiauw In yang palsu !

Menerka demikian, si anak muda bergidik sendirinya. Kalau benar, sungguh hebat bagi Kiauw In ! Nona itu harus dikasihhani ! Dia pasti menderita sekali.

Habis bercerita, Bu Kie tidak memperhatikan anak muda disisinya. Dia kelelap dalam kepuasannya, seorang diri dia tertawa saja.

Dilain saat, tiba sudah mereka di depannya Hay Thian Sin Ni, sejarak lima tombak. Di situ Bu Kie menghadap It Hong dan kata : "Tio Sicu, semoga kau menjaga dirimu baik-baik ! Ijinkanlah aku meminta diri !" Dan ia bertindak pergi tanpa menanti jawaban lagi. Dia turun gunung dengan tindakan lebar.

It Hiong bagaikan sadar mendengar suara si pendeta. "Bapak guru, tahan !" panggilnya.

Bu Kie kembali.

"Ada pengajaran apakah Tio sicu ?" "Apakah bapak mau pulang langsung ke Siauw Lim Sie ?" tanya si pemuda.

"Benar !" si pendeta mengangguk.

"Kalau begitu, bapak, aku mohon pertolonganmu." kata It Hiong perlahan. "Di sana dikamar disuci ada kedua nona Pek Giok Peng dan Tan Hong, tolong bapak. "

Tiba-tiba si anak muda memutuskan kata-katanya itu. Bu Kie heran hingga ia mengawasi, terus ia menatap.

"Apa itu, sicu ?" tanyanya. "Kenapa sicu tidak bicara terus

?"

It Hiong berpikir, lalu dia menggeleng kepala. "Sudah, tak usahlah. " katanya kemudian.

Bu Kie menjublak, ia sangat tidak mengerti. Ia pun tak

dapat menerka hati orang.

Hanya sebentar, It Hiong toh berkata juga. Katanya : "Aku minta bapak sukalah memberitahukan kedua nona itu halnya aku hendak pergi ke gunung Hek Sek San guna membantu kakak Cio Kiauw In. "

Niatnya si anak muda ialah meminta Giok Peng dan Tan Hong menyusulnya, buat membantu padanya atau segera ia ingat, Siauw Lim Sie pun membutuhkan bantuannya kedua nona itu, jadi nona-nona itu lebih tepat berdiam terus di Siauw Lim Sie.

Bu Kie tertawa, alisnya terbangun. "Apakah cuma sebegini pesanmu, sicu ?" tanyanya, nadanya separoh menggoda. "Kala ada apa-apa yang sukar dipesan dengan mulut, silahkan sicu tulis surat saja, nanti aku sampaikan sekalian. "

It Hiong menggeleng kepala.

"Sudah, tidak ada apa-apa lagi." katanya. "Cukup asal mereka ketahui kemana aku pergi, agar mereka tak membuat pikiran."

Si anak muda lantas memberi hormat pada pendeta itu, yang dibalasnya, setelah mana, ia terus menghampiri Hay Thian Sin Ni.

Ya Bie yang sudah jalan mendahului menyambut si anak muda. Dia tertawa.

"Kakak Hiong." katanya manis. "Kenapa ada banyak sekali yang diomongkan dengan bapak pendeta itu ? Cianpwe Sin Ni sudah melanjuti perjalanannya dan kita disuruh menyusulnya ke Kui Hiang Koan. Nah, mari kita lekas pergi !"

It Hiong tidak mencintai Ya Bie tetapi gerak gerik si nona yang manis dan wajar mendatangkan kesan baiknya. Pula, mengingat pertolongannya Kip Hiat Hong Mo terhadapnya, Ya Bie terhitung juga saudari seperguruannya. Maka ia mau memandang nona itu sebagai adiknya.

"Apakah Sin Ni sendiri yang menitahkan adik menyampaikan pesannya ini padaku ?" tanya ia bersenyum, kemudian mengusap-usap rambut yang bagus dari nona itu. Bukan kepalang girangnya Ya Bie mendapat perlakuan lemah lembut dari It Hiong ini. Dengan sebenarnya ia mencintai anak muda itu hingga ia berani secara diam-diam meninggalkan Cianglo ciang, guna mencari padanya. Ia gagah tetapi ia hijau dalam pengalaman. Maka ia tetap bersikap polos. Ia girang sekali yang hari itu ia dapat menemui It Hiong, malah si anak muda telah mengusap-usap rambutnya itu. Ia merasai manis sekali hingga air mukanya bercahaya dengan senyumnya berulang-ulang. Ia pun nampak seperti tambah cantik dan manis !

Lalu bertiga mereka mempercepat langkahnya guna menyusul Hay Thian Sin Ni. Ya Bie memegangi ujung bajunya It Hiong hingga berdua mereka menjadi jalan berendeng. So Hun Cian Li berlari-lari mengintil di belakangnya muda mudi itu.

Tanpa merasa It Hiong tertawa menyaksikan nona disisinya masih saja bersenyum berseri-seri, hingga wajahnya menjadi ramai sekali.

"Adik, kapannya kau turun gunung ?" tanyanya kemudian. "Apakah Touw Locianpwe gurumu itu baik-baik saja ?"

Ya Bie bersenyum menatap si anak muda. "Aku turun gunung diluar tahunya guru." sahutnya terus terang. "Aku turun gunung buat mencari kau, Kakak Hiong. Entah sudah berapa bulan aku merantau, entah berapa banyak lie telah aku lalui, banyak tempat yang aku telah pergikan, bahkan aku telah menemui orang busuk. "

It Hiong memotong kata-kata orang, karena si nona menyerocos terus. "Kenapa kau demikian bercapek lelah mencari aku, adik ?" demikian selanya. "Kenapa buat turun gunung kau sampai berlaku secara diam-diam hingga kau mendustai gurumu ?"

Mukanya si nona menjadi merah. Ia polos, ia merasa malu sendirinya. Ia jengah. Toh ia menjawab.

"Aku suka pada kau, Kakak Hiong !" begitu jawabnya polos. "Karenanya aku mau mencari kau!"

Hatinya It Hiong tergetar. Kembali lakon asmara. Kembali ada seorang nona yang tergila-gila terhadapnya. Maka ia berpikir : "Apakah ini bukan kembali bencana asmara seperti katanya guruku ? Ah, adik, kau harus dikasihhani. Adik, kau

belum merasai apa itu asmara. Kau tahu, kadang kala itulah penderitaan belaka. "

Tentu sekali, Ya Bie tak dapat mendengar kata-kata It Hiong di dalam hati itu. Karena orang tidak mengatakan sesuatu atas jawabannya itu, ia menatap si anak muda. Ia mendapati orang berdiam seperti tengah berfikir.

"Eh, Kakak Hiong, apakah juga kau sedang pikirkan ?" tanyanya halus, prihatin sekali.

It Hiong menghela nafas.

"Aku memikirkan halmu, adik." sahutnya. "Aku pikir sudah waktunya buat kau pulang ke Ciang lo ciang. Kau harus mencegah yang gurumu nanti memikirkan dan mengawatirkanmu. "

Ya Bie melengak, hingga ia tak tertawa pula. Ia menatap si anak muda. "Kakak Hiong" tannyanya heran. "Kenapa kakak menghendaki kau pulang ? Kakak tahu, aku ingin selama- lamanya mengikuti kau. "

It Hiong melongo, matanya mendelong terhadap nona itu. "Kakak Hiong" si nona melanjuti. "mari aku beritahukan kau

! Sejak itu hari kau berangkat dari Ciang lo ciang, entah

kenapa, hatiku menjadi kosong, dalam hal apa juga, aku tidak bergembira. Setiap hari aku senantiasa ingat kau dan didalam benak otakku, melainkan wajahmu yang membayang-bayang, hanya wajahmu yang berseri-seri yang terbayang-bayang !

Aku menjadi berjalan salah, berduduk salah juga. Aku jadi

suka mencari tempat yang sunyi diman aku dapat berduduk diam seorang diri, hatiku berpikir, hingga selama ini aku lupa dahaga dan lapar, bahkan ilmu silatku, aku malas melatihnya ! Suhu sampai mengatakan bahwa aku tersesat ! Aku tidak tahu apa itu yang dinamakan setan penggoda ! Aku cuma tahu bahwa aku menyukaimu dan selalu memikirkanmu, aku girang sekali apabila aku bertemu dan melihatmu !"

It Hiong berdiam. Si nona bicara terus-terusan dalam kepolosannya. Dia tidak membuat-buatnya. Dia bagaikan kekanak-kanakan dalam kegembiraannya yang murni.

Wajahnya ketika itu mendatangkan rasa haru, sebab dia nampak bersedih dan diujung matanya ada air mata mengembang. Ya, dia seperti mau menangis !

It Hiong mengawasi, berkasihan berbareng merasa lucu. "Adik." katanya menghibur. "Jika kau tidak mau pulang,

sudahlah ! Sudah, jangan kau berduka ! Hanya, bagaimana dapat kau selalu mengikuti kakakmu ini ? Kau tahu, aku bakal pergi entah sampai dimana ! Apakah kau tidak takut ?" Walaupun airmatanya berlinang, mendengar suaranya si anak muda, nona itu tertawa. Lekas-lekas dia menepas airmatanya itu.

"Kakak Hiong, benarkah kata-katamu ini?" ia mengawasi. "Oh, sungguh bagus !"

It Hiong merasai hatinya tertekan batu besar dan berat. Itulah cinta pertama yang bersemi di dalam hatinya Ya Bie. Nona itu sangat polos hingga dia mengutarakan cintanya dengan itu cara sangat wajar, tak berliku-liku, tanpa malu- malu

"Bagaimana nantinya ?" si anak muda tanya dirinya sendiri. "Bagaimana aku harus bertindak agar bebas dari gerembengannya bocah ini ?"

Sementara itu mereka berjalan terus, Ya Bie pernah singgah di Kui Hiang Koan, ia tahu jalan untuk pergi ke restoran itu. Ia berjalan dengan gembira, tanganya menarik ujung bajunya si pemuda. Senantiasa ia bersenyum berseri- seri. Ia cantik, ia nampak manis sekali. Ia pula dapat berjalan dengan ringan dan cepat !

Jalan yang dilalui jalan batu diantara pohon-pohon yangliu. Di dalam waktu semakanan nasi, tiba sudah mereka ditempat yang dituju. Ketika itu tengah hari, maka juga restoran itu penuh dengan banyak tamu-tamu. Mereka itu makan dan minum dengan gembira, tak hentinya terdengar teriakan kepada pelayan buat minta arak dan barang hidangan.

Memasuki ruang besar, It Hiong melihat kelilingan. Ia belum tahu Hay Thian Sin Ni duduk dimeja yang mana, atau mungkin di lain ruang. Segera juga, rombongannya itu menarik perhatian para tamu. ia berdua Ya Bie berpakaian seperti umumnya banyak orang lain, mereka tak menimbulkan perhatian orang, tidak demikian dengan pengikut mereka, si orang utan So Hun Cian Li !

Orang utan itu besar dan tampangnya bengis !

Baiknya lekas juga seorang pelayan yang pipinya terokmok datang menghampiri It Hiong. Dia memberi hormat sambil membungkuk seraya lantas menanya : "Tuan, apakah Tuan Tio ?"

It Hiong mengangguk.

"Aku Tio It Hiong" sahutnya. "Apakah kau tahu Hay Thian. "

Pelayan itu menyela, "Majikan kami memesan aku menantikan kau, Tuan Tio. Silahkan tuan turut aku !" Dan dia memutar tubuh buat berjalan keluar dari ruang besar itu, terus pergi ke samping dimana ada jalanan yang terapit pohon-pohon bunga.

It Hiong bertiga. Dari ruang yang ramai dan berisik, mereka tiba ditempat yang sunyi dan tenang, sesudah melewati beberapa halaman, mereka jalan disebuah lorong yang kecil panjang, yang kedua sisinya penuh tertanamkan pohon bunga seruni, yang warnanya kuning, putih, ungu dan merah, indah dipandangnya. Siapa berada disitu tentu hatinya terbuka......

Ujungnya jalanan itu merupakan sebuah halaman dimana ada sebuah bangunan rumah tak besar dan belakangnya terbatas dengan dinding gunung. Karena letaknya, tak heran tampang itu tenang dan nyaman. Tiba di muka pintu Pekarangan, si pelayan menghentikan langkahnya, untuk tangannya terus mengetuk pintu seraya berkata pada It Hiong : "Tuan Tio, silakan masuk ! Aku meminta diri !" Dan tanpa menanti jawaban lagi, dia ngeloyor pergi.

It Hiong mengawasi pelayan itu dan bersenyum, kemudian dia menghadapi pintu Pekarangan, yang terbuka sedikit, hingga untuk memasukinya orang harus berjalan miring. Ia menarik tangannya Ya Bie dan menyeplos masuk disitu.

"Tio Sicu, masuklah !" tiba-tiba si anak muda mendengar satu suara halus bagaikan suara nyamuk. Sebab itulah suara yang dikeluarkan dengan "Gie Gie Toan Seng" saluran "Bahasa Semut". Perlahan tetapi toh sangat terang.

Pintu Pekarangan itu tertutup rapat pula selekasnya It Hiong bertiga memasukinya, seperti juga itulah sebuah pintu rahasia, tak ada suaranya sama sekli, seperti tadi terbuka renggangnya.

Mereka sekarang berada didalam halaman taman bunga yang teratur rapi, ada gunung-gunungnya yang mungil.

Halaman itu penuh dengan daun rontok, seperti juga taman sudah lama tanpa penghuninya. Hanya keadaannya tetap menarik hati, suasananya tenang sekali. Disitu orang tak merasa jeri, sebaliknya menaruh hormat.

Diatas tanah penuh daun itu tak tampak tapak kaki, maka itu untuk berjalan lebih jauh, It Hiong menggunakan "Te In Ciong", ilmu ringan tubuh "Tangga Mega:. Ia mencekal tangannya Ya Bie dan mengangkatnya, buat dibawa lari bersama.

Jalanan disitu berliku-liku. "Eh, mana So Hun Cian Li ?" tanya Ya Bie rada terkejut. Ia melihat ke belakang dan tak nampak orang utannya.

It Hiong melihat kesekelilingnya. Binatang itu benar tak terlihat.

"Biarlah dia menanti diluar !" katanya, lalu jalan terus.

Selekasnya mereka melintasi bukit buatan itu, muda mudi itu mendengar satu suara berkelisik di belakangnya. Lantas mereka menoleh, atau mereka menyaksikan si orang utan melesat lewat disisi mereka, terus binatang itu berdiri diatas tangga di depan sebuah rumah, yang bagaikan menghadang di depan mereka.

Itulah sebuah rumah batu dan tangganya itu berbatu marmer.

So Hun Cian Li memekik, kaki tangannya digerak-geraki.

Agaknya dia girang sekali.

Ya Bie mengulapkan tangannya, melarang binatangnya berisik.

Selekasnya tiba di muka undakan tangga terakhir, It Hiong menghadapi pintu sembari menjura, ia kata perlahan : "Tio It Hiong bersama Ya Bie telah tiba dan memohon bertemu dengan Sin Ni Locianpwe."

Bagaikan ada angin yang meniupnya, daun pintu lantas terbuka, maka It Hiong segera bertindak masuk, diturut oleh Ya Bie dan So Hun Cian Li. Di dalam terdapat tiga buah kamar, yang satu terang, yang dua gelap. Di tengah-tengah ada sebuah ruang kecil. Dinding tengah tergantungkan sehelai tirai. Di depan itu, sebuah perapian kuno kaki tiga, tubuh perapiannya terang mengkilau, entah dari bahan apa terbuatnya. Dari dalam perapian mengepul asap dupa yang harum.

Di sebelah kiri itu, diatas sebuah kursi kayu merah, terlihat Hay Thian Sin Ni berduduk seorang diri. Di kanannya ada para-para buku, meja tulis serta sebuah kursi. Jendela dan meja bersih sekali, tak ada debunya. Di situ tak ada lainnya orang lagi. Suasana sunyi dan nikmat, seperti diluar tadi. Apa yang toh terdengar ialah ocehannya dua ekor burung diluar rumah.

Selekasnya dua orang itu berada didalam, dengan isyarat tangannya, si nikouw kata : "Sengaja pinni mengundang Tio sicu datang kemari supaya kau bertemu dengan Bu Lim Cianpwe disini, agar kau mendapat petunjuk buat menghadapi rombongan bajingan rimba persilatan nanti."

It Hiong dan Ya Bie memberi hormat, baru mereka berduduk. Ia heran mendengar nikouw itu menyebut "Bu Lim Cianpwe" yaitu orang tingkat tua dari rimba persilatan. Disitu toh tidak ada orang lainnya.

"Boanpwe bersedia menerima petunjuk." katanya, walaupun dia heran sekali. Matanya kembali melihat ke sekitarnya.

Hay Thian Sin Ni melihat sikapnya si anak muda, ia tidak berkata apa-apa hanya berkata pula : "Bu Lim Cianpwe itu ada hubungannya sangat erat dengan Tek Cio Totiang gurumu itu, sicu. Hanya semenjak tiga puluh tahun dahulu ia menutup diri, dia tak mau menemui orang pula, karena dia telah berkeputusan buat hidup menyendiri di dalam kesunyiannya kaum Kang Ouw golongan sesat itu, yang mudah saja main bunuh, dia telah memikir lain. Bertambah hebat sepak terjangnya kaum itu hingga dia tergerak hatinya dan semangatnya. Dia lantas mengambil sikap mencoba untuk menumpasnya ! Dia telah ketahui perbuatanmu melindungi gunung Siong San, sicu, maka ia pikir kaulah seorang calon yang tepat. "

Berkata sampai disitu, Hay Thian Sin Ni berhenti, matanya terus mengawasi ke tirai.

Melihat demikian, tahulah It Hiong bahwa si Bu Lim Cianpwe, tertua rimba persilatan itu berada di belakang tirai itu. Lantas dia berbangkit untuk menjura ke arah tirai sambil ia kata hormat : "Tio It Hiong, murid Pay In Nia menghunjuk hormat kepada Cianpwe serta bersedia menerima segala petunjuk. "

"Jangan memakai adat peradatan, Tio Laote !" terdengar dari balik tirai itu suara perlahan tetapi jelas sekali. "Silakan duduk ! Selama kau merantau, laote, pernah atau tidak kau bertemu dengan seorang yang disebut Tok Mo ?"

It Hiong menurut, ia berduduk.

"Boanpwe ketahui tentang dia tetapi belum pernah melihat orangnya." sahutnya. "Di dalam waktu satu malam, kelima tertua dari Siauw Lim Sie menemui ajalnya disebabkan racun, mungkin itulah hasil perbuatannya Tok Mo. Pula boanpwe sendiri pernah pingsan dikarenakan boanpwe kena meraba kertas lambang pembunuhannya, lambang yang berbunyi Giok Lauw Kip Ciauw. Sejak boanpwe turun gunung, telah boanpwe pergi ke pelbagai tempat propinsi Sucoan, Ouwlam, Ouwpak dan Holam, tetapi tak pernah boanpwe berhasil mencarinya. "

"Pernah aku bertemu dengan Tok Mo dan malah pernah juga bertempur dengannya !" tiba-tiba Ya Bie campur bicara.

Dibalik tirai itu terdengar tawa nyaring, disusul dengan kata-kata ini : "Nona kecil, Tok Mo yang kau ketemukan itulah Tok Mo palsu !" Kemudian kata itu ditambahkan kepada Hay Thian Sin Ni : "Toasuhu, coba bilang, menurut kau, Tok Mo masih hidup atau sudah mati ?"

Orang yang ditanya mengernyitkan dahinya.

"Sulit untuk mengatakannya." sahutnya. "Kalau kita melihat kematiannya kelima tertua Siauw Lim Sie, tak mungkin itulah perbuatannya si palsu Kim Lam It Tok atau Couw Kong Put Lo. Mereka berdua pasti tak mempunyai kepandaian semacam itu."

Kembali si Bu Lim Cianpwe tertawa.

"Agaknya tak tepat kalau dikatakan Tok Mo muncul pula dalam dunia Kang Ouw." katanya pula. "Tio Laote telah mencari dia berputaran, tak mungkin dia menyabarkan diri dan tak muncul ! Mungkinkah dia sudi terus menyembunyikan kepalanya saja dan cuma menongolkan ekornya ?"

Setelah kata-kata itu, dari belakang tirai terdengar satu suara perlahan, entah si Bu Lim Cianpwe melakukan apa.

Hay Thian Sin Ni tertawa dan kata : "Ketika dulu hari itu dilakukan penyergapan kepada Tok Mo dilembah Peng Kok, Losicu toh turut bersama menurunkan tangan, leh karena itu kenapa Losicu tidak hendak melukiskan wajah dan potongan tubuhnya dia itu, supaya sekarang Tio sicu dapat mendengar dan mengetahuinya ? Dengan demikian, selanjutnya Tio sicu dapat berlaku berhati-hati terhadapnya."

Orang dibalik tirai itu menghela nafas perlahan.

"Dahulu hari itu telah tiga kali lohu pernah bertemu dengan Tok Mo." katanya kemudian. Dia membahasakan diri lohu, si orang tua. "Hanya selama itu belum pernah satu kali juga lohu melihatnya berwajah atau berdandan serupa, bahkan senjata dan gerak gerik silatnya pun berlainan ! Karena itu, bagaimanakah lohu harus melukiskannya ?"

It Hiong merapatkan keningnya mendengar suaranya si Bu Lim Cianpwe itu. Pikirnya : "Kenapa di dalam dunia ada manusia jahat dan beracun yang licin itu ?" Kemudian ia kata : "Locianpwe, baiklah locianpwe jangan memusingkan diri memikirkan tentang dia. Selanjutnya, asal boanpwe menemukannya, tak perduli si asli atau palsu, hendak boanpwe membunuhnya saja ! Tidakkah itu paling sempurna

?"

"Kakak Hiong, itu benar !" Ya Bie memuji. Tapi Hay Thian Sin Ni memuji Sang Buddha.

"Jangan kau terlalu bengis, Tio Sicu." katanya. "Di dalam segala hal, kita jangan melupakan Thian Yang Maha Kuasa !"

Jago yang tak dikenal itu campur bicara. Kata dia : "Lohu sudah menyembunyikan diri tiga puluh tahun, belum dapat lohu mencapai kesempurnaan, maka itu di dalam hal ini, lohu menyetujui sikapnya Tio laote. Hanya, biar bagaimana, bengis itu juga ada batasnya dan pada bengis harus ditambahkan kecerdasan ! Oleh karenanya Tio laote, kau bertindaklah dengan berhati-hati !"

"Terima kasih, locianpwe !" berkata It Hiong.

Tiba-tiba tirai itu bergerak keras bagaikan dipermainkan badai, mendadak dari celah-celahnya meluncur keluar satu sinar putih mengkilat, juga menyilaukan mata. Menyusul itu, terdengar suaranya si jago rimba persilatan yang tidak dikenal itu : "Tio laote, inilah sebutir mutiara Lee-cu, harap kau terima sebagai bingkisan pertemuan kita ini. Sambutlah !"

Dengan perlahan, benda bercahaya itu bergerak ke arah It Hiong, tapi tanpa merasa mengulur tangannya menyambuti, hingga ia melihat tegas dan merasa, mutiara ada sebesar telur burung merpati, tubuhnya bening, sinarnya memancar ke empat penjuru. Hingga bisa dimengerti yang itulah mustika adanya. Lekas-lekas dia berkata : "Locianpwe, hadiah sangat berharga ini tak sanggup boanpwe menerimanya. Boanpwe biasa hidup mengembara, mana dapat boanpwe membawa- bawa mustika ini yang pasti akan menarik perhatian orang banyak, terutama kaum sesat. Mungkin mutiara dapat membahayakan keselamatanku sedangkan boanpwe barangkali tak dapat menjaganya. Oleh karena itu, harap locianpwe jangan kecil hati, harap locianpwe suka menerimanya kembali. "

Lantas It Hiong menolakkan tangannya seraya melepaskan cekalannya, atas mana mutiara itu bergerak kembali ke arah tirai.

Bu Lim Cianpwe itu tertawa berkakak.

"Tio Laote, sungguh kau muda dan gagah, hatimu putih bersih !" berkata dia dengan kekaguman. "Tetapi laote, lohu mengenalmu ! Kau bukanlah si kemaruk harta dunia ! Baik laote ketahui, kalau mutiara ini mutiara belaka, tak nanti aku menghadiahkannya kepadamu. "

Kata-kata itu dihentikan secara tiba-tiba. Ketika itu justru dibuat pemikiran oleh It Hiong, yang memikirnya, "Oh, kiranya mutiara ini ada faedahnya. hanya entah khasiatnya dan

bagaimana cara menggunakannya ?" Tanpa merasa, ia menoleh ke arah Hay Thian Sin Ni.

Nikouw itu mengangguk kepada si anak muda. Itulah isyarat untuk anak muda itu menerimanya.

Selama itu, mutiara masih bagaikan mengambang saja di muka celah-celah tirai, tak mau jatuh dan sinarnya terus mencorong ke segala arah.

Menyaksikan itu, It Hiong menerka si jago tak dikenal sengaja menahannya.

Justru itu maka terdengarlah suaranya Bu Lim Cianpwe itu : "Tio Laote, baiklah kau ketahui tentang mutiara Leecu ini !

Inilah mutiara berasal dari dalam karang laut cui-seng-giam di laut utara Pak Hay dan karena besarnya, dapat dimengerti yang umurnya pasti sudah diatas seribu tahun. Ini pula mutiaranya naga hitam Lee Liong, yang meninggalkannya di dalam karang disaat dia hendak menukar kulit dan entah berapa banyak bulan harus lewat sebelumnya dia bercahaya seperti sekarang ini. Mutiara ini berkhasiat antaranya guna melemahkan pelbagai macam racun dan mengobati rupa-rupa penyakit. Kalau mutiara ini dimasuki ke dalam mulut dan dikemuh, di dalam satu jam dia bisa menghidupi orang yang telah mati keracunan dan lainnya. Kau suka merantau laote, kau lagi menjalankan tugas perikemanusiaan, sewaktu-waktu kau bisa menghadapi bahaya keracunan, dari itu kalau kau membawa mutiara di tubuhmu, pasti itu besar faedahnya. Inilah untuk persiagaan saja, maka itu janganlah kau tampik !"

Menyusul kata-kata itu, mutiara kembali meluncur kepada si anak muda.

It Hiong menyambuti, kali ini untuk terus menyimpan didalam sakunya. Ia berbangkit buat menjura, memberi hormat sambil berkata : "Terima kasih, locianpwe ! Andiakata cianpwe sudah tidak ada pesan lainnya, boanpwe memohon diri !"

Orang gagah tak dikenal itu tertawa.

"Saat pertapaanku juga akan berakhir, maka itu, laote, persilakanlah !" katanya gembira. "Di dalam hal-hal lainnya, kau dapat meminta pengajaran dari Hay Thian Sin Ni saja !"

Habis itu sunyilah ruang tersebut.

"Mari kita pergi !" kata Hay Thian Sin Ni kemudian. Ia berbangkit dan bertindak mendahului.

It Hiong berdua Ya Bie mengikuti.

Tiba diluar taman, Hay Thian Sin Ni baru berkata pula : "Tio sicu, apabila kau pergi ke Hek Sek San, kau harus waspada terhadap Im Ciu It Mo, buat jala beracunnya yang dinamakan Hoa Hiat Thian Lo, jala langit yang melumerkan darah. Nah, sampai nanti di dalam pertemuan besar di In Bu San, kita akan berjumpa pula !"

Kata-kata itu diakhiri dengan orangnya lompat ke sisi mereka, ke dalam pepohonan lebat, hingga orang tak sempat mengatakan sesuatu. "Mari kita pun pulang !" It Hiong mengajak Ya Bie.

Nona polos itu mengikuti. Setibanya di Kui Hiang Koan, mereka beristirahat, setelah itu dimulailah perjalanan mereka menuju ke gunung Hek Sek San. Hatinya It Hiong tak tenang. Ia selalu ingat Kiauw In dan mengawatirkan kakak seperguruan itu, yang pun menjadi kekasihnya, maka itu ia melakukan perjalanan secepat bisa. Turutnya Ya Bie dan So Hun Cian Li membuatnya tak dapat menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Pasti nona itu dan orang utannya tak sanggup menyusulnya.

It Hiong pula pikir, Ya Bie harus diberitahukan bahwa perjalanannya ini akan penuh dengan ancaman bencana. Di sarangnya Im Ciu It Mo, pasti bisa akan ditemui dimana- mana. Satu kali, ia melirik nona itu. Ia mendapatkan selainnya cantik, nona itu benar-benar polos, wajahnya sangat menarik hati.

"Inilah sulit" pikirnya kemudian. "Dia polos tetapi dia berasal dari tempat kaum sesat. Siapa tahu kalau hatinya mudah berubah ? Kalau dia merasa dipersakiti, yaitu kalau aku tinggalkan dia, mungkin dia bersakit hati. Inilah berbahaya.

Dia belum tahu apa-apa, sakit hati membuatnya sanggup melakukan apa juga. Dia pula mudah disesatkan orang jahat. Kalau dia menjadi sesat, itulah berbahaya. Tak mudah menaklukan orang dengan kepandaian seperti dia "

Anak muda kita tidak mencintai Ya Bie, walaupun nona itu cantik manis. Ia hanya menyayangi. Ia pula menganggap, tak dapat ia melepaskan nona itu, agar dia tak sampai terjatuh ke dalam tangannya orang jahat. Maka ia mengambil keputusan, sulit atau tidak, si nona dan orang utannya harus diajak bersama ! "Adik Ya Bie" kemudian katanya kepada si nona. "kau hendak mengikuti aku ke Hek Sek San, aku pikir lebih baik kau menyamar menjadi pria. Inilah guna menjaga agar ditengah jalan, kau tak usah menarik perhatian orang banyak. Kau setujukah ?"

Nona itu menatap si anak muda, matanya dibuka lebar.

Hanya sejenak, dia mengangguk.

Senang It Hiong. Syukur nona itu suka menurut.

Di kecamatan pertama, It Hiong singgah untuk membeli pakaian buat Ya Bie dan So Hun Cian Li. Di dalam hotel, nona itu berdandan hingga dia serupa sebagai seorang kacung. Si orang utan juga berpakaian, mirip seorang bujang tua. Pula selanjutnya, mereka berjalan dengan menunggang kuda, hingga perjalanan dapat dilakukan dengan cepat tanpa si anak muda memikirkan nona itu dan binatangnya.

Selang beberapa hari, tiba sudah mereka di Kho-tiam-cu, sebuah dusun yang harus dilalui buat orang pergi ke Hek Sek San. Karena sudah magrib, mereka mencari hotel. It Hiong minta dua kamar, satu buat dia sendiri, yang satunya buat Ya Bie dan So Hun Cian Li.

Habis bersantap, It Hiong duduk seorang diri dikamarnya. Kembali ia ingat Kiauw In, maka ia menyesal juga di Siauw Lim Sie mereka jalan berpencaran hingga nona itu terjatuh kedalam tangannya Im Ciu It Mo. Ia berpikir sambil matanya mengawasi tajam Keng Hong Kiam, pedangnya yang digantung di tembok.

Dengan lewatnya sang waktu, tanpa merasa si anak muda tidur kepulasan, hingga ia terasadar dengan terperanjat apabila ia mendengar tanda waktu tiga kali yang diperdengarkan dari tembok kota. Ketika ia membuka matanya, sisa lilinnya masih menyala. Justru itu, mendadak angin menghembus dari jendela, membuat sisa lilin padam hingga kamar menjadi gelap seketika.

Menyusul itu ada angin bertiup perlahan, membawa bau harus dari dupa, yang membuat otak pusing hingga orang ingin tidur.....

Sebagai orang yang telah berpengalaman, It Hiong tahu apa artinya bau harum itu. Ada orang mau mencelakainya. Lantas ia lompat turun dari pembaringannya, akan menjambret pedangnya. Adalah niatnya, akan lompat keluar, buat menyusul orang yang menyulut hio itu. Tiba-tiba kepalanya pusing dan tubuhnya terhuyung mau jatuh. Ia lekas-lekas menguatkan hati dan memusatkan pikirannya. Ia lantas merogoh sakunya buat mengambil obat kay-yoh dari si pendeta tua dari Bie Lek Sie atau tangannya mengeluarkan Lee-cu yang didapat di Kui Hiang Koan.

Selekasnya keluar dari saku, mutiara itu lantas mengeluarkan cahaya terang, menerangi seluruh ruang, hingga segala apa tampak tegas, hingga tampak juga semacam asap beterbangan.

Lekas-lekas It Hiong memasuki mutiara mustika itu  kedalam mulutnya. Lantas ia merasai hawa dingin. Seketika itu juga, lenyap pusingnya dan tubuhnya tak terhuyung pula. Ia menjadi girang sekali. Inilah yang pertama kali ia membuktikan khasiatnya mutiara mustika itu. Selekasnya ia menyimpan mutiara, dengan membawa pedangnya, ia lompat keluar dari jendela, terus lompat naik ke tembok Pekarangan hingga ia sempat melihat sesosok bayangan hitam kabur keluar dusun. "Tak perlu aku susul dia" pikirnya. Ia merasa percuma, orang tentu takkan kecandak sebab dia bisa menyembunyikan dirinya. Ia pun tak kurang suatu apa.

Masih sekian lama It Hiong berdiri diatas tembok, disaat dia mau lompat turun akan kembali ke kamar, tiba-tiba ia mendengar suara yang terbawa angin : "Anak tolol ! Pedang Keng Hong Kiam yang mengangkat nama toh lenyap !" Itulah suara "Gie Gie Toan Im" saluran "Bahasa Semut".

Dua kali suara itu terdengar, lantas lenyap.

Anak muda kita heran sekali. Ia mengangkat dan melihat pedangnya, terus ia menghunusnya. Ia bukan mendengar suara nyaring seperti biasa, hanya suara dari besi biasa.

Pedang pula bukan bersinar menyilaukan amta, cuma mengkilat sedikit saja. Maka bukan kepalang kagetnya ! Jadi benar pedangnya telah orang curi dengan jalan ditukar !

"Aku toh pusing hanya sejenak. "pikirnya. "Kenapa aku

tidak mendengar apa-apa san orang dapat berlalu tanpa suara

? Kalau begitu, dia telah memiliki ilmu ringan tubuh yang sangat sempurna Siapakah dia ?"

It Hiong berdiri menjublak diatas tempat itu. Kemudian ia memikiri, menerka-nerka. Siapakah pencuri pedang itu ?

Musuhkah ? Dia dari golongan manakah ? Kenapa pedangnya dicuridengan ditukar ? Apakah maksudnya si pencuri ? Kenapa ia dipancing mengubar ? Ia bingung sekali. Sejenak itu, pikirannya menjadi gelap.

Tengah si anak muda berdiam, ia melihat dua sosok tubuh mendatangi cepa sekali ke arahnya. Ia lantas menyangka kepada musuh. Tidak ayal lagi ia mendahului menyerang dengan satu pukulan dari Han Long Hok Houw. Atau : "Kakak Hiong, jangan ! Inilah aku !"

Kiranya itulah Ya Bie bersama So Hun Cian Li, yang datang menyusul. Bagus kedua-duanya dapat berkelit dari serangan dahsyat itu. Di saat lain, keduanya sudah berdiri di depan si anak muda.

"Malam-malam kau keluar, kakak Hiong ?" Ya Bie bertanya. "Apakah ada musuh ?"

It Hiong menghela nafas.

"Pedangku ada yang curi. " sahutnya perlahan, tanda

kemasgulannya.

"Apa ?" tanya Ya Bie, kaget dan heran. "Pedang kakak lenyap ? Kemana kaburnya si pencuri ?"

It Hiong menggeleng kepala, terus ia menengadah langit. Ia membiarkan sang angin menyampok-nyampok bajunya.

Ya Bie pun berdiam. Nona ini heran dan bingung.

"Adik Ya Bie, mari kita pulang." kemudian kata si pemuda perlahan. Dan ia mendahului lompat turun dari tembok.

Ya Bie mengikuti.

Tiba dikamarnya, It Hiong menyulut lilin. Ia memeriksa seluruh kamarnya, tidak terlihat apa juga yang mencurigakan. Ketika itu, asap pun telah buyar habis. Maka ia duduk dikursinya, pikirannya kacau. Ya Bie berduka menyaksikan orang bersusah hati itu.

Karena ia turut berdiam, kamar menjadi sangat sunyi. Kesunyian segera diganggu So Hun Cian Li, yang masuk belakangan. Dia muncul sambil berjingkrakan dan memekik- mekik, sedangkan sebelah tangannya memegangi sehelai kain.

Ya Bie segera mengambil kain dari tangan binatang piaraannya itu.

"Kakak Hiong, kau lihat apakah ini ?" katanya sambil mengangsurkannya.

It Hiong menyambuti, hingga ia lantas dapat membaca : "Di atas sungai jernih berliku sembilan,

pedang mustika akan dikembalikan sebagai adanya.”

Itulah sehelai cita tersulam, yang tersulamkan juga empat buah huruf dengan benang sulamnya berwarna kuning muda. Bunyinya surat ialah "Giok Lauw Kip Ciauw !"

Itulah lambang kematian !

Mulanya heran, It Hiong menjadi gusar, maka ia banting kain itu ke lantai ! Ia kenali lambang kematian, yang pernah ia lihat di Siauw Lim Sie. Itulah bukti ancaman dari Ie Tok Sinshe atau Tok Mo. Itu pula keputusan kematian !

Ya Bie menjemput kain itu, untuk dilihat teliti.

"Kakak Hiong, kau melihat apakah yang mencurigakan ?" tanyanya.

"Ada racunnya !" It Hiong berteriak, kaget. "Lepaskan lekas

!" Ya Bie tertawa dan kata : "Setelah sesuatu lewat ditangannya So Hun Cian Li, racun apapun sudah tidak ada lagi !"

Si nona bergembira sekali, tingkahnya jenaka.

It Hiong melongo mengawasi nona itu. Dia itu memang tak keracunan. Lewat sesaat ia menarik nafas lega, hatinya menjadi tenang.

Ya Bie sementara itu mengutip perlahan berulang-ulang : "Kiu Kiok Ceng Kee... Kiu Kiok Ceng Kee. " Itulah kata-kata

yang terjemahannya adalah "sungai jernih berliku sembilan" atau "sungai dengan sembilan tikungan". Ya, ditempat manakah adanya sungai itu ?

Kemudian si nona mengawasi It Hiong, yang berduduk menjublak saja. Kepalanya ditundukkan, sedangkan api lilin bergoyang-goyang, cahayanya menyinari suaram wajah pemuda itu.

"Kakak Hiong." kemudia si nona bertanya. "Mungkinkah pencuri pedang itu seorang sangat kosen dan kau kuatir tak sanggup melawannya ?"

It Hiong menggeleng kepala. Ia tak menjawab. Ya Bie mengawasi, ia heran.

Tiba-tiba It Hiong menyambar surat ditangan si nona, untuk dibawa ke depan pelita, untuk diperiksa dengan teliti, dibulak balik depan belakang dan atas bawahnya, kemudian sembari meletakkan itu di meja, ia kata seorang diri : "Tok Mo

? Ya, Tok Mo ! Aku memang mau mencari dia, dia mendahului datang ! Dia mencoba main gila terhadapku !" Ya Bie mendengar kata-kata orang, dia menjadi bertambah heran.

"Benarkah Tok Mo si pencuri pedang ?" tanyanya. "Tok Mo ini manusia siapakah yang menyaruh memalsukannya ?" Dia menanya demikian sebab meski belum berpengalaman, telah dua kali dia menemui Tok Mo palsu - Couw Kong Put Lo dan Kin Lam It Tok ! Dia polos, mudah saja dia menerka pada Tok Mo palsu lagi !

Suara si nona membuat It Hiong sadar bahwa benar dikolong langit ini ada banyak Tok Mo palsu, yang suka bergaya licik dan telengas. Hanya empat huruf "Giok Lauw Kip Ciauw" membuatnya menerka kepada Tok Mo yang asli.

Sinarnya pun lain, yang dahulu hijau, dan ini muda, dan dahulu beracun, ini tidak !

"Biarlah," pikirnya kemudian. "Dia yang palsu atau bukan, aku toh harus mencari padanya ! Pedangku harus dicari dan dirampas pulang !" Maka terus ia mengawasi Ya Bie dan bertanya, "Adik, apakah katamu barusan ? Bukankah kau menanya dimana letaknya Kiu Kiok Ceng Kee ?"

"Ya" sahut si nona mengangguk.

It Hiong berfikir sebentar, lantas dia menjawab : "Kiu Kiok Ceng Kee berada di proponsi Hokkian, diatas bukit, Bu In San, jaraknya dari sini seribu lie lebih."

Ya Bie mengernyitkan keningnya. Ia berdiam untuk berpikir. Hanya sejenak, ia mengangkat kepalanya, wajahnya tampak berseri-seri saking ia bergirang. "Aku mengerti sekarang !" kata ia. "Nah, mari kita lantas berangkat menyusulnya ke Bu Ie San, siapa tahu ditengah jalan dapat kita menyandaknya. Hanya entahlah, dia mengambil jalan yang mana. "

Senang It Hiong memandang nona itu, sudah cantik, dia manis sekali, terutama dia sangat polos, segalanya wajar. Tak mau ia mengatakan bahwa pemikiran nona itu terlalu sederhana, agar si nona tidak menjadi kecewa. Toh ia merasa lucu sendirinya, hingga tak dapat ia mencegah tertawanya......

Ya Bie mementang mata mengawasi pemuda itu.

"Apakah keliru apa yang aku katakan barusan ?" tanyanya.

Dia heran.

"Sebaliknya !" sahut si anak muda mengangguk.

Tiba-tiba wajahnya It Hiong suaram pula. Kembali ia ingat Kiauw In yang berada ditangannya Im Ciu It Mo dan itulah berbahaya. Kiauw In tak sadarkan diri, orang dapat berbuat sesukanya terhadapnya.......

Di lain pihak, ia malu berbareng mendongkol sebab hilangnya pedangnya. Ia boleh tak usah mengandalkan pedang tetapi pedang itu hadiah dari ayahnya Giok Peng di Lek Tiok Po. Maka itu, biar bagaimana, pedang itu harus dapat dirampas pulang !

"Mana lebih dahulu ? Membantu Kiauw In atau mencari pedang ?" demikian ia pikir dalam kesangsian. Sulitnya, tanpa pedang, tak dapat ia menggunakan ilmu "Gie Kiam Hui Heng", jalan terbang bareng dengan pedang. Untuk menghadapi Im Ciu It Mo, ia pula membutuhkan pedang. Terhadap lawan lainnya, itulah lain. Ya Bie, yang berdiri di depan si anak muda, terus mengawasi, hingga ia melihat air muka orang berubah-ubah saking anak muda itu berpikir keras. Ia pun tidak berani menanya apa-apa.

Barulah It Hiong terkejut ketika percikan lilin meletik menyambar ke tangannya.

"Ah !" serunya. "kenapa aku jadi begini tolol ? Orang toh lebih penting daripada pedang !"

Maka ia lantas menepuk meja.

"Mari kita pergi ke Hek Sek San !" katanya keras.

Tepukan itu membuat pedang diatas meja berlempar jatuh ke lantai. It Hiong segera menjemput itu.

Ya Bie heran.

"Kakak Hiong. " katanya, "kau mau pergi dahulu ke Hek

Sek San, bukan ? Jadinya kau mau membiarkan pedangmu. "

Alisnya si anak muda bangkit.

"Jiwanya Kakak Kiauw In lebih penting." bilangnya. "Dalam segala hal kita harus dapat membedakan mana yang lebih perlu !"

Ya Bie mementang pula matanya, sinarnya memain, terus dia mengangguk. "Kakak benar !" katanya kemudian. "Memang tak dapat kakak membiarkan kekasihmu nanti tersiksa dan bercelaka, tanpa kakak pergi menolongnya !"

Hebat si nona. Dia kenal asmara tetapi dia toh tetap polos.

Cuma, kalau ia memikirkan itu, sendirinya tubuhnya menggigil......

Ya Bie menyinta, tak mau ia merampas kekasih lain orang tetapi ia pun tak sudi kehilangan kekasihnya sendiri. Buat ia cukup asal ia tak usah berpisah dari anak muda itu.......

"Kakak Hiong," katanya kemudian, "aku ingin supaya tetap aku berada disisimu, agar aku dapat melakukan segala apa untukmu ! Sudikah kau meluluskan aku ?"

Lagi-lagi si nona menatap mukanya si pemuda. Tak likat ia mengawasi orang.

It Hiong tak memikir banyak tentang kata-katanya nona polos itu sebab pikirannya dipusatkan pada Kiauw In, soal caranya menyerbu Hek Sek San guna membantu Kiauw In. Bagaimana ia harus bertindak.

"Baik, adik !" sahutnya. "Bagus kau suka membantu aku !" Bukan main senangnya Ya Bie mendengar suara itu.

"Mari kita lekas berangkat !" dia mengajak. "Fajar bakal lekas tiba !"

It Hiong melongok ke jendela. Memang fajar lagi mendatangi. Terpaksa ia menggendol pedang palsu itu. "Nah, mari kita berangkat !" ajaknya. Ia padamkan lilin dan terus bertindak keluar.

Ya Bie mengikuti. Dengan satu siulan, ia memanggil So Hun Cian Li.

Segera perjalanan dilakukan. It Hiong nampak mirip puteranya seorang hartawan yang diikuti kacungnya.

Angin fajar bertiup halus, rembulan masih bersisa.

Sekeluarnya dari batas dusun, langsung mereka menuju ke Hek Sek San. Mereka mendekati kaki gunung pada jam delapan lewat, jaraknya tinggal tujun atau delapan lie lagi.

Justru itu diarah belakang mereka, mereka mendengar suara kuda, yang makin lama terdengarnya makin keras, pertanda bahwa orang cepat sekali datangnya, bahkan segera juga mereka dilewati oleh empat penunggang kuda yang tengan menuju ke Hek Sek San sebagai mereka sendiri. Empat orang itu berdandan sebagai orang Kang Ouw dan yang kabur di muka mirip seorang wanita. Menarik perhatian adalah dua orang yang ditengah, sebab masing-masing menggendol sebuah karung besar, melendung dan tinggi kira lima kaki.

Entah benda apa isinya itu!

Penunggang kuda paling belakang tampak tegas. Dia berkepala besar dan berjenggotan. Mulanya dia mengawasi It Hiong bertiga, sesudah lewat, masih dia menoleh satu kali, dari mulutnya terdengar suara tertahan, "Oh !. "

Mereka itu kabur luar biasa cepat !

It Hiong merasa aneh, hingga timbul kecurigaannya, maka ia memberi isyarat kepada Ya Bie, terus ia melarikan kudanya buat menyusul, atas mana si nona dan orang utannya lantas menyusul, untuk dapat menguntit.

Dari jalan besar, empat orang itu mengkol memasuki jalan kecil, akan setelah beberapa tikungan menghilang disebuah rimba.

Jalan kecil itu bukan jalan umum, bala dan banyak durinya, banyak batunya juga, suasananya belukar dan sunyi. Tidak ada lain orang berlalu lintas disitu.

It Hiong memasang mata. Ia mendapat kenyataan jalan kecil itu menjurus ke gunung, dan jalannya lugat-legot.

Puncak gunung tinggi umpama kata nempel pada mega.

Walaupun si anak muda tidak kenal tempat, tetapi dia menerka bahwa ia sudah tiba didekat-dekat sarangnya Im Ciu It Mo, hingga ia pun mau menerka yang empat orang tadi menjadi murid-muridnya si bajingan.

It Hiong dan Ya Bie cepat dapat menyusul sampai di muka rimba. Di situ So Hun Cian Li berPekik beberapa kali. Inilah sebab banyak buah diatas pohon yang membuatnya mengilar. Ia sampai berjingkrakan.

Kiranya ke empat orang tadi bukan menghilang kedalam rimba hanya mereka telah turun dari atas kudanya masing- masing. Semua binatang itu ditambat dipohon. Mereka sendiri duduk berkumpul. Kedua bungkusan mereka itu diletaki disisi mereka. Mereka melihat tibanya It Hiong bertiga, semua mengawasi terutama terhadap si anak muda. Mulanya agak heran, mereka lekas mendapat pulang ketenangannya, bahkan si pria yang berkepala besar bagaikan menyambuti itu lantas menegur tawar, "Saudara Gak, dimatamu benar tidak ada orang lain ! Kita telah bertemu disini, kenapa kau tidak menyapa kami ? Hm !"

Belum sempat It Hiong menjawab, si wanita sudah menambahkan pria itu : "Kenapa kau mengatakan demikian, Toako ? Orang itu berkepandaian silat pedang Heng San Pay ! Apakah Toako mengira dapat Toako melawan dia ?

Laginya. "

"Toako" ialah kakak paling tua.

"Laginya apa ?" si Toako menyela dan matanya mencelak. "Tampang jumawa binatang ini membuat orang sebal ! Nanti aku coba-coba adatnya !" Dan ia bangkit berdiri untuk menghampiri anak muda kita.

"Tahan, Toako !" seru si nona setelah dia melirik pergi- pulang pada It Hiong.

Pria itu menghentikan langkahnya. Agaknya dia jeri pada wanita muda itu.

Mendengar panggilan "saudara Gak" itu, tahulah It Hiong yang orang telah salah menyangka padanya. Ia juga percaya mereka itu ada kawan atau sebawahannya Im Ciu It Mo.

Inilah kebetulan. Mereka itu dapat diikuti terus sampai ke sarangnya si bajingan. ia berpura tidak mendengar, ia ajak Ya Bie dan So Hun Cian Li duduk dibawah sebuah pohon untuk mereka mengeluarkan rangsum kering dan memakannya.

Si wanita, yang kepalanya dibungkus dengan pita hijau bertindak menghampiri dengan perlahan-lahan, setelah datang cukup dekat, dia mengawasi, terus dia memperdengarkan suaranya : "Oh, kiranya seekor binatang." Ya Bie tidak puas.

"Apa katamu ?" tegurnya.

Wanita itu bersenyum ewah. Dia menengadah langit. Dia bukannya menjawab, hanya dia kata seorang diri : "Seekor binatang menyaru menjadi manusia, mana bisa dia mengelabui sepasang mata nonamu ! Dan kau, kau sama dengan aku, mengapa kau menyamar menjadi pria ?" tegurnya kemudian.

Parasnya Ya Bie menjadi merah. Ia malu kena dikenali.

Tapi ia menyangkal.

"Ngaco belo !"tegurnya. "Kau mempunyai bukti apa ?" Wanita itu tertawa sambil melirik.

"Mau bukti ?" katanya. Mendadak tangannya disampoki ke arah So Hun Cian Li, anginnya keras sekali hingga kopiahnya si orang utan terbang jatuh.

Wanita dan tiga orang kawannya tertawa berkakakan. Sebaliknya Ya Bie, ia menjadi jengah dan mendongkol !

So Hun Cian Li juga tidak puas. Walaupun dia binatang, dia mempunyai perasaan. Tak senang dia orang permainkan.

Matanya mencilak bengis dan tubuhnya berlompat secara tiba- tiba, kedua tangannya diluncurkan guna menyambar wanita itu yang dia arah rambut kepalanya. Dia bergerak dengan gerakan "Bayangan Tonggeret Melewati Cabang Pohon", gerakannya sangat cepat.

Wanita berikat kepala hijau itu kaget sekali. Tahu-tahu ia melihat satu sosok bayangan hitam berlompat kepadanya. Segera ia berkelit. Masih ia terlambat sedikit. Ikat kepalanya itu terasambar jatuh, tepat seperti ia menjatuhkan kopiahnya si orang utan itu. Lantas ia berdiri diam sambil menenteramkan hatinya.

So Hun Cian Li lompat mundur pula, akan berduduk kembali di bawah pohon.

Tanpa ikat kepala, kusutlah rambut si wanita, apa pula itu waktu ada angin bertiup hingga mukanya ketutupan. Terpaksa ia menjeraput ujat kepalanya itu, untuk diambil pula. Dengan sinar mata bengis, ia mengawasi si orang utan.

Si pria bermata gede dan berkepala harimau tutul menjadi panas hatinya.

"Tangkap mata-mata itu !" teriaknya, tangannya menuding It Hiong. "Jahanam itu menyamar sebagai Gak Hong Kun !

Telah aku lihat tegas penyamarannya itu !"

It Hiong mendongkol yang ia dikatakan Hong Kun palsu dan dituduh mata-mata, tetapi ia pun merasa lucu, hingga ia bergusar bercampur geli dihati. Ia menahan sabar, ia terus duduk bercokol saja sambil tetap membungkam.

"Hm !" si wanita pun memperdengarkan suara tawarnya. "Lagak mereka bagaikan lagak setan ! Mereka telah menyelundup ke wilayah Hek Sek San ini, memang, tak mestinya mereka orang baik-baik !"

"Benar !" seru si kepala macan tutul. "Tak mungkin mereka orang baik-baik !" Sekonyong-konyong saja dia lompat mencelat pada It Hiong, tangannya diluncurkan guna dipakai menjambak dada orang ! Dengan mudah It Hiong berkelit ke sini.

"Jika kami mau bertempur, sebutkan dahulu nama kamu !" katanya sabar.

Gagal cengkramannya, si macan tutul menyampok dengan tangannya yang lain. Dia tak menghiraukan kata-kata orang. Baru setelah menyampok itu, yang gagal pula, dia kata : "Mustahil Gak Hong Kun tak tahu nama kami ? Kaulah si Gak Hong Kun palsu, maka juga kau bagaikan orang yang tanpa dikompas sudah mengaku sendirinya !" Baru dia menutup kata-katanya, atau dia melengak sejenak seraya terus bertanya : "Kau...... kau. " Inilah sebab mendadak ia ingat

keterangan muridnya Im Ciu It Mo tentang Gak Hong Kun tengah menyamar sebagai Tio It Hiong dan dia itu sudah menerbitkan pelbagai keonaran, hingga karenanya, Gak Hong Kun itu telah dipengaruhi Im Ciu It Mo, buat diperintah mengacau terlebih jauh. Belakangan Im Ciu It Mo tahu Gak Hong Kun adalah Tio It Hiong palsu akan tetapi sudah terlanjur, dia membiarkannya saja, melainkan murid-muridnya dipesan untuk menyimpan rahasia.

Si kepala macan tutul itu takut nanti membeberkan rahasianya Im Ciu It Mo tentang It Hiong palsu itu, maka selanjutnya dia membungkam.

Si wanita kawannya si macan tutul itu berpikir lain. Dia bahkan kata nyaring : "Tak peduli dia siapa, bekuk saja ! Kita bicara belakangan !" Dan dia menggantikan maju, untuk segera menyerang dengan dua-dua tangannya sebab dia menggunakan ilmu silat "Ngo Heng Ciang" pukulan tangan - Lima Benda Utama (itulah kelima elemen, logam, kayu, air, api dan tanah). It Hiong mendongkol kapan ia merasai sambaran angin pedas dari wanita itu, maka ia menangkis dengan keras diteruskan dengan serangan membalas "Hang Liong Hok Houw Kun", guna memaksa orang mundur. Wanita itu bandel, habis mundur, dia maju pula, bahkan dia berlaku telengas, selanjutnya dia saban-saban mengincar nadi orang ! Dia memiliki dua tangan yang lihai.

Heran It Hiong yang orang demikian lihai, umpama kata ia terkurung kedua tangannya lawan, terpaksa ia melayaninya dengan seksama. Orang cepat, ia gesit, orang merangsak, ia mendesak. Selewatnya dua puluh jurus, ia menjadi habis sabar.

"Apakah kau masih tidak mau berhenti menyerang ?" tanyanya. "apakah artinya pertempuran kita ini ?" ia menolak, lalu mencelat mundur.

Wanita itu tertawa dingin.

"Habis, kau mau bertempur dengan cara apa yang ada artinya ?" tanyanya.

It Hiong menatap tajam.

"Kita tidak kenal satu pada lain." katanya. "Kita juga tidak bermusuhan ! Kenapa kita mesti bertempur secara membabi buta begini ?"

Wanita itu melengak. Pertanyaan itu benar sekali. Tapi hanya sebentar, lantas dia memperdengarkan suara dinginnya

: "Hm ! Siapakah kau sebenarnya ? Kenapa kau datang ke Hek Sek San ini ? Mau apa kau ?"

It Hiong tertawa. "Nona, apakah kau muridnya Im Ciu It Mo ?" ia tanya, sebaliknya daripada menjawab.

"Su-moay !" memanggil si pria berkepala macan tutul, yang matanya berputar. "Su-moay" ialah panggilan "adik seperguruan".

Si wanita menoleh dan melirik, terus dia tertawa. "Jangan khawatir, Toasuko." sahutnya. "Toasuko" ialah

kakak perguruan yang paling tua. Ia lantas mengawasi It Hiong dan bertanya, "Kau sebut dahulu namamu buat kami dengar !"

It Hiong menerka orang bangsa licik tetapi ia tidak takut. "Aku Tio It Hiong !" sahutnya dengan sebenar-benarnya.

Bertepatan dengan suaranya si anak muda, di pihak sana terdengar suara tertahan, lalau tampak dua orang pria yang menjagai dua bungkusan besar pada roboh tak berdaya, dan kedua bungkusannya itu telah dirampas Ya Bie dan So Hun Cian Li yang membawanya lari ke luar rimba.

Si wanita dan pria kawannya kaget sekali, tanpa menghiraukan kawannya yang roboh itu, mereka berlompat ke luar rimba, untuk mengejar. Si wanita pun meninggalkan It Hiong.

Terpaksa, anak muda kita lari menyusul. Tiba di luar rimba, ia mendapati Ya Bie berdua lari mendaki gunung, mereka itu sudah terpisah sejauh seratus tombak lebih. Walaupun membawa kantung besar, nona itu dan orang utannya dapat lari sangat cepat. Si pria berkepala mirip kepala macan tutul berseru, dia mengejar dengan keras.

Sembari lari mengejar, si wanita berikat kepala hijau melepaskan panah api empat atau lima kali, anak panah mana meluncur ke udara hingga tampak seperti bunga api yang sinarnya Biru.

Melihat itu It Hiong menghela nafas, ia menghentikan larinya. Ya Bie dan So Hun Cian Li di lain pihak lekas juga lenyap diantara semak rumput tebal di pinggang gunung.

Si wanita pengejar masih saja berulang-ulang melepaskan panah apinya, sebab rupanya itulah suatu pertanda untuk kaumnya.

Tiba-tiba It Hiong dua orang dari pihak lawan, yang tadi kena dirobohkan. Ia pikir, mereka itu dapat diminta keterangannya, atau mereka boleh dijadikan petunjuk jalan. Maka ia lari kembali ke dalam rimba.

Hari tanpa terasa mulai gelap, maka di dalam rimba, tujuannya sudah mulai suaram. Syukur masih ada sisa sinar matahari, yang dapat menembus rimba. Maka itu, kedua orang tadi tampak masih rebah tak berdaya, suaranya pun tidak terdengar.

It Hiong menghampiri dua orang itu, ia mengangkat saru demi satu untuk diperiksa. Ia mendapati orang tak berdaya disebabkan totokan. Lantas ia menotok, buat membikin orang tak dapat berkutik, sesudah mana ia menotok pula, membuatnya siuman. Dua orang itu mendusin denan lantas mengeluarkan nafas dalam-dalam, matanya terus dibuka, akan tetapi lantaran tubuhnya tak dapat bergerak, mereka cuma bisa mengawasi si anak muda musuhnya itu........

"Kau mau apa ?" tanya mereka lewat sesaat. Sebab si anak muda cuma menatapnya.

It Hiong menunjuki sikap garang.

"Jika kamu menyayangi jiwa kamu, kamu bicaralah !" katanya. "Satu pertanyaan aku ajukan, satu pertanyaan kamu mesti jawab !"

"Bagaimana kalau lo-cu tak menjawab ?" tanya yang satu. Dia menyebut dirinya "lo-cu" artinya "aku si tua". Agaknya dia pun mau bersikap keras.

Kali ini It Hiong tertawa. Ia pun mengubah sikapnya. "Apa yang hendak ditanyakannya olehku yang muda,"

sahutnya sabar, "ialah soal yang sangat biasa saja dan juga

sangat singkat !"

Kedua orang itu merapatkan matanya. Agaknya tak sudi mereka bicara.

It Hiong menyambar lengan seseorang, tenaganya dikerahkan. Segera orang itu bergemetar sekujur badannya, sebab dia merasakan nyeri sekali. Wajahnya juga menunjuki dia mencoba mempertahankan diri. Toh dia memperdengarkan satu kali suara "Hm !"

It Hiong perkendor cekalannya. Ia memberi ketika akan orang itu bernafas lega. "Saudara, kau mau bicara atau tidak ?" tanyanya, sabar.

Orang itu kembali memejamkan matanya, dadanya dibesarkan, sedang dahinya mengucurkan peluhnya.

It Hiong mengawasi. Ia mendongkol berbareng mengagumi keberanian orang.

"Aku yang rendah ingin tanyakan," katanya pula, tetap sabar, "jalan mana berdiamnya Im Ciu It Mo di dalam gunung ini. Aku minta saudara jangan terus bersikap berkepala batu sebab itu cuma kana membuatmu menderita saja !"

Orang itu tetap tidak mengambil mumat, dia tetap membungkam.

Terpaksa, habis juga sabarnya anak muda kita. "Kau terlalu, sahabat !" katanya, dan ia perkeras

cekalannya. Kali ini ia membuat tulang orang berbunyi meretak, hingga orang meringis dan peluh di dahinya turun tetes demi tetes.

Dengan paksakan diri, orang itu memperlihatkan tampang gusar, matanya pun mendelik. Habis menggertak gigi, dia kata keras : "Kau... kau..... mesti.... menjawab dahulu. aku !"

It Hiong menerka orang tak tahan menderita. Ia mengendorkan pula cekalannya.

"Apa yang kau hendak tanyakan ?" tanyanya. "Sebutkanlah

!"

Orang itu menatap beberapa detik. "Kau jelaskan dahulu she dan namamu yang asli" katanya. "Juga tentang dirimu ! Nanti baru aku pikir-pikir, dapat aku menjawab pertanyaanmu atau tidak. "

It Hiong melengak. Itulah pertanyaan aneh. Ia pun merasa mungkin barusan ia menerka keliru waktu ia menyangka orang menyerah disebabkan tak sanggup menahan siksaan. Kiranya orang tetap bernyali besar dan beradat keras.

"Aku she Tio dan namaku It Hiong." demikian ia menjawab dengan suka mengalah.

Tiba-tiba orang itu mengangkat kepalanya menengadah langit dan tertawa nyaring.

"Orang licik !" serunya. "Orang licin !"

Sepasang alisnya It Hiong bangkit. Sejenak itu, dia mendongkol. Orang tida percaya padanya sedang ia sudah berlaku jujur.

"Belum pernah aku mendusta !" katanya sengit, saking gusar. "Apabila dalam hal she namaku ! Tak pernah aku memalsukan diri ! Jika kau tetap main gila terhadapku, jangan nanti kau menyesal !"

Orang itu berhenti tertawa, tetapi kedua matanya itu tetap dipentang lebar-lebar.

"Orang dengan nama Tio It Hiong !" katanya keras. "Orang itu telah aku lihat sampai dua orang! Kaulah Tio It Hiong muridnya siapa ? Jangan kau menjawab sembarangan saja !" It Hiong menganggap pertanyaan itu beralasan. Ia tahu tentang adanya dua Tio It Hiong disebabkan penyamarannya Gak Hong Kun, yang sifatnya -diluar dugaannya- berubah, menjadi rendah, hingga namanya rusak karenanya. Karena ini, ditanya orang itu, ia mengangguk.

"Bagus pertanyaanmu !" sahutnya. "Tepat ! Akulah Tio It Hiong murid Pay In Nia ! Aku bukannya Tio It Hiong yang palsu !"

Orang itu mengawasi, terutama pedang di punggungnya si anak muda. Lalu katanya : "Kalau benar kau Tio It Hiong dari Pay In Nia, tolong kau perlihatkan dahulu pedangmu yang kesohor itu, supaya itu menjadi bukti yang kuat ! Dapatkah ?"

Itu pula pertanyaan yang sangat beralasan, tetapi itu membuat sulit pada It Hiong. Baru saja pedangnya kena orang curi. Dapatkah ia membuka rahasia ? Tidakkah itu sangat memalukan ? Maka juga ia menggigil seluruh tubuhnya, saking menahan mendongkolnya, ia pun merasa hatinya nyeri bagaikan ditusuk-tusuk. Tapi, tanpa memberi keterangan, orang ini tentunya sukar mempercayainya. Maka itu ia berdiri diam dengan likat.

Orang itu mengawasi, hatinya menerka-nerka. Sampai ia mau menyangka bahwa inilah Tio It Hiong palsu yang ketiga ! Karena ia tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya, ia cuma bisa beberapa kali memperdengarkan ejekan "Hm ! Hm

!" dan tertawa dingin. Tapi itu sudah cukup membuat si anak muda panas hati dan malu tak berdaya.........

It Hiong mencoba menguasai diri. Akhirnya dapat ia mengambil keputusan buat tidak membuka rahasia tentang tercurinya pedangnya itu. Maka ia kata : "Percuma kau melihat Keng Hong Kiam ! Kau toh belum pernah melihatnya dan tak tahu palsu atau tulennya ! Bagaimana kau bisa mengenali dan membedakannya ?"

Pertanyaan ini membuat hati orang tergerak, hingga orang ini nampak reda kemendongkolannya. Dia pula tampak merasa heran juga. Dengan kurang tegas, dia kata kemudian, "Selama di Lek Tiok Po, pernah aku menyaksikan sinarnya Keng Hong Kiam. Hanya entah bagaimana bentuk aslinya. "

Mendengar suara itu, It Hiong menanya : "Kapan kau pernah pergi ke Lek Tiok Po ? Dimana pernah kau melihat sinarnya Keng Hong Kiam ?"

Orang itu berdiam, tetapi terang ia tengah berpikir keras, memikirkan pertanyaan anak muda kita. Lewat sesaat, dia menjawab pertanyaan : "Dahulu hari itu, akulah bawahannya Loyacu Pek Kiu Jie, oleh karena aku kemaruk sama harta dan kedudukan lebih baik, aku terpincuk memasuki rombongan Hek Sek San, hingga sekarang aku masuk dalam kalangan kaum sesat, hingga aku mesti melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan rasa peri-keadilan ! Ya, semuanya yang aku lakukan, semua itu tidak serasi dengan tugas orang Kang Ouw sejati. "

Berkata begitu, orang itu menjadi lesu. Terang dia telah menyesal. Kemudian dia menghela nafas dan melanjuti berkata tanpa diminta pula. Katanya : "Selama di Hek Sek San, yang pertama kali aku melihat Tio It Hiong ialah ketika dia dibawa datang oleh Im Ciu It Mo waktu ia pulang.

Bersama dia ada seorang nona she Cio. Sifatnya muda mudi itu bagaikan terpengaruh sesuatu yang menganggu atau mengekang ingatannya, hingga mereka tak tampak wajar lagi. Ketika itu aku belum tahu siapa si pemuda, hanya menerka Tio It Hiong dari Pay In Nia. Belakangan aku ingat bahwa Tio It Hiong ialah calon menantu dari Lek Tiok Po, yaitu tunangannya nona Pek Giok Peng. Maka aku heran, kenapa dia ada bersama nona Cio itu. Aku pula heran Tio It Hiong yang kesohor gagah, yang sejak peristiwa di Siong San namanya telah naik tinggi, kenapa dia kena dipengaruhi Im Ci It Mo ? Demikianlah aku bercuriga dan menduga-duga. "

It Hiong mendengari orang yang mengoceh bagaikan tengah mengigau atau ngelamun itu. Tak ia memotong atau menanya.

Sementara itu, si puteri malam mulai menyinari rimba itu. Dengan perantaraan sinar rembulan, tampak wajah orang itu mirip wajahnya orang gagah. Hanya entahlah hatinya, dia tengah memikirkan apa.

Lewat sesaat, orang itu menambahkan : "Tak lama maka tahulah aku bahwa pemuda itu bukannya Tio It Hiong, hanya Gak Hong Kun dari Heng San Pay, yang menyaru menjadi Tio It Hiong ! Yang aneh ialah binatang itu memakai bahan apa maka dia dapat menyamar menjadi demikian sempurna !"

"Cukup !" It Hiong akhirnya menyela. "Tak usah kita bicarakan lebih jauh soal itu. Cukup asal kau memberitahukan aku dimana sarangnya Im Ciu It Mo."

Orang itu mengawasi, tampangnya sungguh-sungguh. Katanya, "Sebelum kau membuktikan dirimu sebagai Tio It Hiong sejati, sekalipun kau menghendaki jiwaku, tidak nanti aku membuka mulutku."

It Hiong bingung. Kecuali Keng Hong Kiam, tidak ada jalan lain buat membuktikan dirinya. Ia menjadi gusar karena orang mengotot. Maka akhirnya ia kata bengis : "Kau terang sudah lama berdiam di Lek Tiok Po, mustahil kau tidak mengenali aku ?" "Tapi tak sukar buat orang mendatangi Lek Tiok Po !" kata orang itu, tetap bersikeras. "Tak ada larangannya akan mendatangi dusun itu, bukan ? Sekarang mari aku tanya kau. tahukah kau aturan di Lek Tiok Po ? Tahukah kau namanya loteng Nona Pek Giok Peng ?"

It Hiong menatap. Ia mendongkol tetapi ia menahan sabar. "Apakah pertanyaanmu cuma ini dua macam ?" ia

menegaskan.

Orang itu mengangguk.

"Kalau demikian, kau dengarlah biar jelas !" kata si anak muda, nyaring. "Siapa hendak berkunjung ke Lek Tiok Po, ditempat satu lie di muka dusun itu orang sudah harus turun dari kudanya. Dan loteng tempat kediamannya Nona Pek Giok Peng ialah loteng Ciat Yan Lauw ! Nah, benar atau tidak jawabanku ini ?"

Orang itu mengangguk.

"Tak salah !" bilangnya. "Namun. "

"Namun apa lagi ?" bentak It Hiong.

"Kedua pertanyaanku itu, Gak Hong Kun pun dapat menjawabnya." sahut orang itu.

It Hiong mendongkol dan bingung. Orang sangat membelar. Ia melihat si puteri malam yang dengan lekas sudah mulai miring. Mungkin ketika itu sudah jam tiga. Ia lalu memikirkan Ya Bie. Entah nona itu telah pergi atau berada dimana. Maka ia pikir, baik ia tak usah membuang-buang waktu lebih lama pula. Ia pula tidak berniat membinasakan orang, yang ada satu laki-laki sejati. Diakhirnya ia menghela nafas dan kata keras : "Dengan memandang kepada poocu dari Lek Tiok Po, suka aku memberi ampun padamu ! Nah, kau pergilah !"

Pengusiran itu dibarengi dengan satu tepukan pada bahu orang yang membuat orang itu bebas bebas dari totokannya tadi, tetapi dia heran hingga dia berdiri menjublak. Dia menarik nafas lega, bukannya dia kabur, dia justru melongo mengawasi si anak muda. Tadinya dia menyangka bahwa dialah sisa mati....

It Hiong tidak mau melayani lebih lama, bahkan tanpa menoleh lagi, ia bertindak keluar dari rimba.

"Kakak Tio, tahan !" mendadak orang itu memanggil.

It Hiong mendengar akan tetapi ia berlagak tuli, ia jalan terus tanpa berpaling.

Orang itu menggerakkan kaki tangannya, juga tubuhnya, habis itu dia lari menyusul.

"Kakak Hiong ! Kakak Hiong !" panggilnya berulang-ulang. "Kakak Hiong, tunggu ! Tunggu, aku mau bicara !"

Terpaksa, It Hiong menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kau mau apa ?" ia tanya.

Habis menyusul dengan berlari keras, nafas orang itu tersengal-sengal. "Apakah benar kau Tio It Hiong, hiapsu yang selama hidupku aku kagumi ?" tanyanya terengah-engah.

It Hiong masih mendongkol ketika ia menjawab : "Terserah pada kau, kau percaya aku atau tidak ! Buat apa kau menanya melit- melit lagi ?"

"Aku percaya, ya, aku percaya. " kata orang itu kemudian.

Di depan It Hiong nafasnya masih memburu keras, hingga tak dapat dia melanjuti kata-katanya.

It Hiong mengawasi. Biar bagaimana ia mengherani sikap orang itu.

"Kenapa kau jadi begini tergesa-gea ?" tanyanya. "Aku menganggap bahwa aku tak perlu bicara lagi denganmu ! Kau pun tak perlu bicara pula denganku !"

Orang itu berdiri tegak. Nafasnya mulai reda.

"Aku ingin bicara dengan sebenar-benarnya" katanya kemudian. "Terhadap sesama orang rimba persilatan, aku ingin bicara secara jujur, supaya hati nuraniku tak kecewa. "

Sepasang alisnya It Hiong bangkit.

"Kau, kamu orang-orangnya Im Ciu It Mo, masihkah kau mempunyai hati nurani ?" tegasnya. "Hati nurani, hati tulus dan putih bersih, itulah yang disebut liangsim."

"Tio tayhiap, aku masih mempunyai hati nuraniku !" teriak orang itu. "Inilah sebabnya kenapa aku lari menyusulmu !

Hendak aku memberitahukan kau tentang sarangnya Im Ciu It Mo !" It Hiong menghela nafas.

"Jadi kau tak kuatir bahwa akulah Tio It Hiong palsu ?" tanyanya.

Orang itu nampak jengah, tetapi hanya sejenak, dia berwajah seperti biasa pula.

"Sekarang aku percaya kau, Tio tayhiap." sahutnya, suaranya tetap. "Kau begini gagah dan jujur, kau tak mau memaksa orang, kalau kau bukan Tio It Hiong asli, habis siapa lagi ?"

Dia mengangkat tangannya, menyusuti peluh di dahinya. Terus dia menambahkan : "Menghadapi orang semacam kau, taruh kata kau bukannya Tio It Hiong, aku pun ingin bicara terus terang. "

It Hiong menengadahi si puteri malam, ia bersikap tenang dan membiarkan orang mengoceh sendirinya. Ia bagaikan tak mendengar suara orang.

Orang itu mendekati satu langkah. Lalu katanya, perlahan sekali. "Sarangnya Im Ciu It Mo berada disebuah gua batu diperutnya gunung Hek Sek San ini, letaknya di lembah Kian Gee Kiap Kok. "

Lembah itu berarti lembah sempit gigi anjing.......

Mendengar keterangan itu, It Hiong memutar tubuh cepat sekali.

"Apa katamu ?" ia tanya. Orang itu, dengan sama perlahannya, mengulangi keterangannya.

It Hiong girang.

"Untuk pergi ke sana, aku mesti mengambil jalan arah mana ?" tanyanya kemudian. "Berapa jauhnya lembah itu dari sini ? Coba kau terangkan biar jelas !"

Orang itu menunjuk ke arah gunung, ke atasnya. "Kalau tayhiap mendaki pinggang gunung itu,"sahutnya

seraya memberikan keterangannya, "terus tayhiap menuju ke barat. Setelah melewati beberapa punggung puncak. "

Mendadak dia berhenti, It Hiong pun memasang telinganya. Lantas samar-samar ia mendengar suara berdebarannya ujung baju yang terasampok-sampok angin, suara itu tercampur suaranya dedaunan. Suara itu pun segera didengar terang oleh orang itu tetapi dia ini terus melanjuti keterangannya : "Di barat itu ada sebuah lembah yang dalam, yang berada dibawah jurang. Itulah lembah Kian Gee Kiap Kok itu.

Disitu. "

Mendadak kata-kata orang terputus. Mendadak saja It Hiong mencekal lengannya dan menariknya kaget, hingga orang terhuyung berpindah ke belakangnya. Gerakan itu diikuti dua sambaran cahaya putih mengkilat, yang lenyap diantara rumput.

"Siapa ?" tanya si anak muda nyaring.

Tidak ada jawaban. Sunyi disekitar mereka. Cuma angin bertiup perlahan diantaranya pepohonan. Hanya, didalam kesunyian itu, menyambar pula dua sinar putih lainnya, habis mana, suasana sunyi kembali.

It Hiong mendongkol, dia menolak keras dengan tangan kanannya, membuat sinar putih itu terasampok jatuh ke samping, mengenai batu hingga bersuara nyaring dua kali. Kiranya itulah dua batang senjata rahasia sam-leng-piauw.

Menyusul itu muncullah seorang tua dengan baju panjang gerombongan, tangannya memegang tongkat bambu, matanya bersinar bengis. Di belakang orang itu mengintil seorang lain ialah salah seorang yang tadi Ya Bie totok pingsan, jadi dialah kawan dari orang yang It Hiong lagi mintakan keterangannya.

Si orang tua segera menuding dengan tongkat bambunya itu.

"Kawanmu telah merampas dua kantong barangku, kemana kaburnya dia ?" tegurnya.

Belum sempat It Hiong menjawab, atau orang di belakangnya si orang tua menuding orang di belakangnya anak muda kita, untuk menegur bengis : "Pengkhianat ! Kemarilah kau !" Dan dia segera menghunus goloknya.

Orang di belakangnya It Hiong itu tidak takut, ia pun menghunus goloknya dan berlompat maju.

"Apakah kau sangka aku takut padamu ?" tantangnya. It Hiong hendak mencegah, tetapi sudah terlambat.

Dua orang itu sama-sama menjadi orang-orangnya Im Ciu It Mo akan tetapi ketika itu bukan lagi sebagai kawan, bahkan mirip musuh besar. Mereka saling menyerang dengan hebat. Kebetulan sekali, kepandaian mereka berimbang hingga pertempuran menjadi seru sekali.

Si orang tua tak menghiraukan pertempuran itu, agaknya dia tak bersangkut paut sedikit juga. Dia maju setindak pada It Hiong, dia kata tawar : "Hm ! Barang lohu juga ada yang berani ganggu! Sungguh bernyali besar !"

Dengan jumawa dia menyebut "lo-hu", aku si orang tua.

It Hiong sebaliknya. Dia sangat memperhatikan dua orang yang lagi mengadu jiwa itu hingga sikap dan kata-katanya si orang tua dia seprti tak melihat dan tak mendengarnya. Ia memperhatikan orang yang tadi ia ajak bicara itu sebab ia menganggap orang sebagai seorang laki-laki sejati. Orang toh berani omong terus terang dan bersedia merubah perbuatan sesatnya. Karenanya, ia kuatir orang itu nanti mendapat luka andiakata dia kena dikalahkan kawannya yang galak itu.

Mereka itu bertempur hebat.

Si orang tua gusar sebab It Hiong tidak menghiraukannya. "Kau dengar tidak kata-kata lohu ?" tegurnya keras.

Suaranya mendengung bagaikan genta besar hingga dapat

membuat orang kaget dan ketuliat !

It Hiong menoleh acuh tak acuh. Ia melirik si orang tua. Tetapi ia membungkam. Ia berpaling pula akan mengawasi dua orang yang lagi bertarung itu.

Habis sudah sabarnya si orang tua. Janggutnya yang mirip janggut kambing gunung sampai bangkit berdiri, bergerak- gerak diantara seliwerannya sang angin. Dia tapinya tidak segera mengumbar hawa amarahnya terhadap si anak muda, dia cuma mengawasi, tampangnya bersangsi entah dia jeri atau berkasihan......

Tongkat di tangan si orang tua menggetar, sebab tangannya itu bergemetaran, mungkin disebabkan dia lagi mengekang diri.

It Hiong menonton dengan lama-lama nampak sinar matanya sinar tak puas. Rupanya dia sebal menyaksikan pertempuran berlarut-larut, hebat tetapi tanpa keputusan.

Mendadak si orang tua menghadapi orang yang lagi berkelahi itu.

"Masih kamu tidak mau berhenti ?" tegurnya, keren.

Dua orang itu mendengar teriakan, tetapi mereka bertempur terus. Itulah saat mati-hidup bagi mereka, tidak ada yang mau sudah saja hanya karena titah itu.

Sang waktu berjalan terus. Si puteri malam sudah mulai doyong ke barat. Mungkin ketika itu sudah mendekati jam lima. Angin bertiup keras dan hawa sangat dingin. Di kejauhan bahkan beberapa kali terdengar mengaumnya sang raja hutan

!

Si orang tua terperanjat mendengar suara harimau, mukanya sampai menjadi pucat, hanya setelah itu, dia pun bersiul lama, suaranya keras, hingga terdengar kumandangnya. Itulah pertanda bahwa dia memiliki ilmu tenaga dalam yang sempurna.

Selekasnya sirap siualannya itu, orang itu agaknya gusar. ia mengibaskan tongkatnya, terus ia maju ke medan pertempuran. Ia pun terus menyampok. Maka beruntun terdengar dua kali suara berkontrang. Segera goloknya dua orang kawan yang menjadi musuh satu dengan lain itu terlepas dari cekalannya, masing-masing dan terpental jauh. Yang hebat ialah telapakan tangan kanan mereka, yang tadi memegang golok itu, pecah kulitnya dan mengeluarkan darah, nyerinya bukan main. Keduanya lantas lompat mundur dan bersama-sama, saling mendelong, mereka mengawasi orang tua itu.

"Kamu semua bukannya makhluk baik-baik !" bentak si orang tua gusar. "Hampir lohu kena ditipu kamu berdua !"

It Hiong menyaksikan lihainya si orang tua, diam-diam ia mengagumi di dalam hati. Tapi ia berdiam terus, memasang mata sambil memasang telinga. Dia heran mendengar dua orang itu dikatakan memperdayakan orang tua itu. Bukankah mereka berdua orangnya Im Ciu It Mo ? Entah dia ditipu dalam urusan apa ? Bukankah dia maksudkan dua kantung besar yang dibawa kabur Ya Bie berdua ?

Kembali terdengar derum harimau. Lagi-lagi si orang tua tampak kaget. Justru dia kaget, justru dia terlihat makin gusar. Kali ini kedua biji matanya mencorong bengis.

"Eh, apakah kamu berdua masih tidak mau bicara ?" demikian tegurnya, garang. Dia juga menuding dengan tongkat bambunya yang lihai itu. "Apakah benar-benar kamu sudah bosan hidup lebih lama pula ?"

Kedua orang itu saling mengawasi, keduanya mendelong.

Mereka tetap menutup mulut.

Si orang tua terus menatap, sampai orang yang tadi datang bersamanya Bisa juga berbicara. Kata dia : "Dengan sebenarnya barang itu tadi telah kena dirampas di dalam hutan dan yang merampas ialah konconya bocah ini !" Dia menuding It Hiong.

Orang tua itu gusar pula.

"Apakah katamu ?" tegurnya bengis. Dia gusar terus- terusan. "Konconya dia bukankah koncomu juga ? Hm ! Tipu daya licik Im Ciu It Mo telah dilakukan terhadap diriku si orang tua !"

Kiranya si orang tua menyangka It Hiong adalah Gak Hong Kun "muridnya" Im Ciu It Mo. Karenanya, terhadap It Hiong dia tidak lantas turun tangan, dia hanya melayani kedua orang itu, yang berseragam hitam, sampai dia mendengar keterangan si hitam yang mengiringinya tadi. Karena ini dia menerka makin keras yang Im Ciu It Mo sudah menggunakan akal, menugaskan dua orangnya menipu padanya dengan melenyapkan dua bungkusan atau kantung besar itu.

Tegasnya dia menuduh barangnya dibawa kabur oleh dua orang itu.

Dua orang itu berdiri menjublak. Tak dapat mereka membuat si orang tua mengerti akan duduknya hal, mereka tidak dipercaya.

Lewat sesaat maka si hitam bekas orang Lek Tiok Po, yang setelah bertemu It Hiong ini hendak merubah cara hidupnya, tidak berdiam saja. Dia memberi hormat pada orang tua itu seraya berkata : "Harap lotiang bersabar, nanti aku pergi mencarinya. " Begitu dia berkata, begitu dia memutar

tubuh, terus dia berlari pergi, hingga dilain detik, dia sudah lenyap ditempat gelap.

Melihat caranya orang berlalu itu, It Hiong menerka bahwa orang hendak menggunakan ketika itu buat mengangkat kaki. Ia lantas mengherani si orang tua, apa pula dia mau mencari kedua kantung besar itu ? Kenapa si orang tua sangat menghargakannya ?

Tiba-tiba si anak muda kita ingat Ya Bie dan orang utannya. Mereka sudah pergi sekian lama dan belum kembali ! Kemana perginya mereka itu ? Apakah mereka menemui sesuatu ?

Karena ini, ingin ia menyusul, mencari mereka. Karenanya ia memberi hormat pada si orang tua, terus ia pun pergi ! Ia kabur turun gunung.

Orang tua itu menyaksikan orang pergi saling susul, berulang kali dia memperdengarkan ejekannya : "Hm ! Hm !" Kemudian dia menunjuk murkanya pada si hitam, yang masih berdiri menjublak.

"Masih kau tidak mau pergi ?" bentaknya. Dan tongkatnya dikasih bekerja.

Orang itu memperdengarkan teriakan tertahan, tubuhnya terus roboh untuk tak berkutik pula.

Masih si orang tua mencaci kalang kabutan. Rupanya dia tetap sangat mendongkol. Entah sebab hilangnya kedua kantung itu, atau dia merasa terhina karena sudah diperdayakan Im Ciu It Mo........

Habis mencaci, orang tua itu mengangkat kepalanya, dongak melihat langit. Aneh ! Dia tertawa dua kali, tawanya keras dan nyaring dan lama ! Tawa itu mengalun tinggi, bagaikan melayang-layang di tengah udara.......

Berhenti tawa itu, deruman harimau menyambungnya.

Seperti harimau itu menyambuti suara majikannya. Dan benar saja, lekas tampak seekor raja hutan lari mendatangi. Harimau itu besar sekali. Itulah macan loreng. Dia datang bersama angin yang berbau engas. Tiba di depan si orang tua, dia berdiri sambil menggoyang-goyang ekornya !

"Kemana mereka itu telah pergi ?" tanya si orang tua kepada macan itu. "Apakah kau telah berhasil mencarinya ?"

Aneh si raja hutan. Dia mengerti kata-kata orang. Dia mengangguk. Lantas dia memutar tubuh, buat berlari pergi. Justru itu tubuh si orang tua pun mencelat, lompat akan duduk bercokol diatas punggungnya, hingga dilain detik mereka berdua kabur bersama !

It Hiong kagum menyaksikan jinak dan lulutnya raja hutan itu.

Sekarang kita melihat dahulu Ya Bie bersama So Hun Cian Li, yang menyingkir dengan membawa dua buah bungkusan besar itu. Mereka mendaki bukit. Sebenarnya Ya Bie tidak tahu isinya karung. Dia berbuat begitu sebab dia sebab terhadap si nona dengan ikat kepala hijau itu. Jadi dia mau melampiaskan kemendongkolannya. Satu keinginannya yang lain ialah ia berniat membekuk salah seorang dari mereka itu, guna memaksa orang menunjuki dia sarangnya Im Ciu It Mo.

Si nona dan pria berkepala besar mirip kepala macan tutul itu mengejar terus. Mereka mendongkol sekali. Orang lari keras, mereka lari makin keras. Mereka ingin menyandak.

Mereka berlari-lari ke tengah atau pinggang puncak. Di situ mereka menikung ke sebuah tikungan yang penuh dengan rumput dan batu-batu sependirian manusia, hingga mudah sekali akan bersembunyi disitu. Disitu pula tak ada jalan tembusnya. Ya Bie sudah lantas membalik tubuh, akan mengawasi orang-orang yang mengejarnya. Ia melihat orang mendatangi semakin dekat. Tidak ada jalan lolos lagi andiakata musuh menggeledah tempat itu. Sekira orang terpisah sepuluh tombak lagi, mendadak ia menarik tubuhnya So Hun Cian Li buat disuruh mendak, sambil ia berseru menggunakan ilmu Hoan Kak Bie Cin. Terus dua potong batu besar dilemparkan keluar tempat sembunyinya, hingga kedua batu itu tampak seperti kedua kantung besar tadi !

"Hm, budak bau !" berseru si nona dengan ikat kepala hijau, yang menyangka orang kabur dengan meninggalkan barang rampasan. "Budak bau, kau masih tahu diri ! Tapi awas kau ! Sebentar, setelah menerima barangku, akan aku bereskan kau !"

Kata-kata itu diucapkan berbareng dengan orangnya berlompat kepada kedua batu yang merupakan dua kantung besar itu. Ia tunduk, akan melihat. Tak ia mendapatkan kantungnya. Ia heran, hingga ia menerka mungkin itu ketutupan rumput Maka ia membowek rumput, hingga ular

dan tikus pada kaget dan lari serabutan. Tetap karung tak ada, kecuali batu-batu besar.

Si pria membantu mencari berputaran tanpa hasil.