Iblis Sungai Telaga Jilid 51

Jilid 51

Biar bagaimana jago Hek Keng To ini sangat tertarik kecantikannya Ya Bie. Sekeluarnya dari jendela, dia kabur sembari otaknya bekerja keras. Maka itu dia lari tanpa arah. Dia memasuki rimba. Kapan dia sudah melewati rimba itu dan berada di jalan umum, baru dia terasadar karena angin pagi yang halus meniup mukanya. Tapi dia baru sadar separuhnya

! Yang separuhnya lagi sadar setelah telinganya mendengar suara genta !

Demikianlah bagaikan baru mendusin dari tidur nyenyak, dia memasang mata melihat ke depan dan sekitarnya. Tiba- tiba dia melihat dua orang dibawahnya sebuah pohon yanglie yang besar. Itulah seorang berjubah pendeta tengah menguruti seorang muda. Dia cuma melihat jubah, sebab orang alim tengah membaliki belakang kepadanya. Sesudah mengawasi sekian lama, dia merasa bahwa dia kenal jubah itu serta potongan tubuh orang. Dia melengak terus dia mengingat-ingat. Segera dia ingat kepada Peng Mo si Bajingan Es. Tiba-tiba timbul rasa cemburunya. Tidak ayal pula dia berlompat lari kepada nikouw itu.

Peng Mo menoleh kapan ia mendengar suara berisik di belakangnya. Dengan begitu ia menjadi melihat dan mengenali jago dari Hek Keng To itu. Lantas saja ia mengasi suara menghina dari hidungnya. Cuma sebegitu, terus ia tak menghiraukan orang. Ia terus melanjuti dayanya membantu si anak muda guna meluruskan saluran jalan darahnya. Ciu Tong telah datang cukup dekat, maka dia lantas mengenali si anak muda sebagai Tio It Hiong dari Pay In Nia. Dia tak tahu yang Hong Kun sudah menyamar sebagai muridnya Tek Cio Siangjin. Dia kaget hingga dia mundur dua tindak. Segera dia menghunus pedangnya, sambil menunjuki si anak muda dia membentak : "Eh, orang she Tio, kau telah menipu dan membawa kemana Tan Hong adik seperguruanku

?"

Jago Hek Keng To ini tidak cuma menanya, bahkan dia terus maju pula sambil membabat dengan pedangnya itu !

Peng Mo terkejut. Karena ia melihat gerak gerik orang, mudah saja ia menyampok pedang orang itu.

"Tahan !" bentaknya dingin.

Ciu Tong tertawa, walaupun pedangnya kena dibikin terpental tapi syukur tak lepas dari tangannya. Biar bagaimana dia menyukai nikouw ini. Bukankah diatas kereta kudanya telah bergurau secara gembira sekali. Bukankah selama itu dia terus duduk berendeng dengan wanita cantik itu ? Sampai saat ini kesannya tetap baik. Maka juga suka dia mengalah.

Dia telah disampok pedangnya dan dibentak, tetapi dia masih dapat bersabar. Demikianlah dia dapat memaksakan dirinya tertawa.

"Su thay, apakah su thay kenal bocah ini ?" begitu dia tanya.

Peng Mo melirik sambil mendelik. Sahutnya dingin : "Dialah muridnya Im Ciu It Mo ! Kau peduli apa padanya ?"

Ciu Tong melengak atas jawaban itu. Dia lantas mengawasi meneliti jawabannya Peng Mo. Ketika itu Hong Kun sudah mendusin dan sadar tujuh bagian. Obatnya Hong Gwa Sam Mo dapat juga melawan obat Thay Siang Hong Hun Tan. Ia melihat Ciu Tong dan akhirnya dia itu ia berdiam saja. Ia pun tidak membuka mulutnya. Peng Mo telah menyampok pedang orang.

Ciu Tong tetap mengawasi tajam, tetap dia tak dapat membedakan It Hiong palsu dan It Hiong tulen. Maka dia menganggap inilah pemuda yang menjadi musuh besarnya ! Musuh tak dapat hidup bersama, seperti si sesat dan si lurus, tak dapat berdiri berdampingan ! Dia pula jelus karena gerak geriknya Peng Mo menguruti pemuda itu ! Dendam kesumat dan kejelusan bercampur menjadi satu membuat hatinya sangat panas, hingga dadanya turun naik, mukanya merah padam, otot-otot pada mukanya menonjol. Matanya merah membara ! Timbul pulalah niatnya menyerang dan membinasakan anak muda itu !

Peng Mo selalu memperhatikan orang sekalipun dia tengah membantu Hong Kun, sering-sering dia melirik, maka itu dapat ia melihat sikapnya Ciu Tong itu. Diam-diam ia terkejut.

Segera ia menunda usahanya membantu Hong Kun, terus ia menoleh seraya bangkit berdiri.

"Kau mau apa ?" tegurnya. "Kenapa kau kelihatan begini bengis ?"

Ciu Tong tengah dikuasai amarahnya, dia seperti tak mendengar suaranya Peng Mo itu, justru si Bajingan Es bangun, justru dia lompat maju dan pedangnya terus dipakai membacok kepalanya Hong Kun ! Peng Mo kaget luar biasa. Tak sempat dia menyampok pedangnya jago Hek Keng To itu. Dia kaget sebab bagaimana kalau si anak muda terbinasakan penyerang itu ?

"Traaang !" demikian satu suara nyaring, suara dari beradunya senjata-senjata tajam, menyusul mana terlihat percikan api pada meletik, dua sinar pedang lantas berpisah serta berpisah juga dua sosok tubuh yang sama-sama berlompat mundur !

Ciu Tong kaget dan heran ! Peng Mo terlebih heran pula ! Itulah Hong Kun yang menangkis pedangnya jago Hek

Keng To itu. Dia telah memasang mata, dia cepat luar biasa,

maka juga selagi diserang itu dia dapat menghunus pedangnya dan menangkis serangan lawan sesudah dia mencelat bangun dalam gerakannya "Lee Hie Ta Teng", Ikan tamora meletik !

Ciu Tong mundur dengan kaget. Dia telah merasai tangkisan yang keras sekali. Ini justru membuat dugaannya makin kuat bahwa si anak muda ialah It Hiong adanya.

"Aku tidak salah mata !" pikirnya.

Peng Mo sebaliknya heran karena anak muda itu sadar demikian cepat dan dapat mengelak ancaman maut itu. Ia tahu orang sudah mendusin hanya tidak menyangka tenaganya pulih demikian rupa.

Habis mundur itu, Ciu Tong segera maju pula. Dia tidak takut bahkan dia makin penasaran. Maka dia menyerang pula. Tapi baru pedangnya meluncur atau pedang itu sudah tertahan, terlilit sesuatu yang berwarna hijau, membarengi mana telinganya mendengar satu bentakan yang cempreng merdu !

"Ah !" serunya terkejut. Segera dia menoleh. Lantas dia menjadi terlebih kaget pula. Yang merintangi dia ternyata Ya Bie adanya, dan ularnya si nona yang mengganggu tikamannya itu !

Ya Bie mengasi lihat wajah murka tetapi toh ia terus ia bersenyum ketika ia berkata sambil menanya : "Di tengah malam gelap gulita kau telah menghina aku, itu masih belum cukup. Kenapa sekarang kau masih hendak membinasakan Kakak Hiong ku ?"

Berkata begitu, si nona melepaskan lilitan ularnya kepada pedang lawan. Lantas ular hijau itu mengangkat kepalanya, memperlihatkan lidahnya yang lancip dan tajam !

Ciu Tong menarik pulang pedangnya sambil dia mundur satu tindak, tetapi dia terus menuding Hong Kun seraya bertanya : "Pernah apakah kau dengan dia ?"

Ya Bie mendahului menjawab cepat : "Dialah kakak Hiong ku !" Terus ia menghampiri Hong Kun, untuk berdiri berendeng dengannya.

Selama itu Hong Kun pun berdiri diam sebab dia juga merasa heran dengan munculnya secara tiba-tiba dari nona itu.

Ya Bie melanjuti kata-katanya sebelum Ciu Tong berkata pula : "Sebenarnya aku lagi mencari kau buat membikin perhitungan ! Tapi sekarang aku telah bertemu dengan kakak Hiong kun ini, baiklah, akan kau tidak sudi berurusan lebih lama pula denganmu, kau maburlah ! Lekas !' Justru itu, Peng Mo sambil tertawa menghampiri si nona.

Dia berdiri di depan orang.

"Adik Ya Bie, kau salah mengenali orang." katanya dengan manis. "Dia ini bukannya Tio It Hiong."

Peng Mo lagi menggunakan akal bulusnya. Sebenarnya dia belum pernah melihat sama sekali wajahnya asli dari It Hiong maupun Hong Kun. Dia banyak jeri terhadap nona ini. Waktu diluar kota Gakyang, dia bertemu dengan Ya Bie, disitu dia mengetahui si nona ialah muridnya Kip Hiat Hong Mo yang lihai dan dia telah menyaksikan sendiri halnya si nona pandai ilmu sihir Hoan Kak Bie Ciu, bahkan Kim Lam It Tok yang lihai yang menyamar sebagai Tok Mo, si Bajingan Racun kena dipermainkan nona itu. Jadi dia pun tidak berani main gila terhadap si nona. Maka ia menggunakan cara liciknya ini.

Ya Bie mengawasi Peng Mo, ia menggeleng kepala. "Tak dapat aku percaya kau !" katanya selang sejenak.

"Sebab aku menemui Kakak Hiong, salalu aku melihat kau

berada bersama, kau berada disampingnya ! Apakah bukannya kau hendak merampas Kakak Hiong ku ini ?"

"Sabar, adik". Peng Mo membujuki. "Jangan tergesa-gesa !

Apakah kau tak akan mendatangkan tertawaan orang kalau kau memaksa mengakui orang sebagai Kakak Hiong mu ?"

Ya Bie heran. Ia jadi curiga. Maka ia mengawasi Hong Kun, mengawasi lagi.

Selama itu Ciu Tong berdiri diam saja. Dia belum mau mengangkat kaki walaupun si nona dari Cenglo ciang telah mengusirnya. Ia menyaksikan tingkahnya Peng Mo itu, maka tahulah ia yang Peng Mo pasti menyintai Hong Kun. Maka ia menjadi jelus.

"Hm !" ia bersuara di dalam hati. Mau ia merusak usaha si Bajingan Es. Segera ia membentak Tio It Hiong. "Tio It Hiong, apakah kau masih berlagak pilon saja ? Jika kau tidak serahkan adikku Tan Hong padaku, hendak aku mengadu jiwaku dengan jiwamu !"

Sengaja orang she Ciu ini memutar pedangnya sehingga terdengar siutan angin yang keras. Selama itu ia mengawasi Peng Mo dan Ya Bie, menantikan sikapnya mereka itu. Tapi mendadak ia menjadi kaget sekali. Tahu-tahu tubuhnya telah terangkat dan terlempar jauh dua tombak ! Syukur dia hanya jatuh duduk. Ketika terangkat itu, ia cuma merasa tubuhnya tercekal dua buah tangan yang berbulu ! Sebab itulah si orang utan yang melontarkannya !

"So Hun Cian Li, jangan ladeni dia !" Ya Bie berseru.

Si orang utan membuka mulutnya, dia mengangguk, terus dia pergi ke belakang pohon.

Biar bagaimana Ciu Tong merasa nyeri. Tetapi dia tak menghiraukan itu. Dia melanjuti akalnya memecah belah. Sembari masih duduk numprah itu, dia berkata nyaring : "Tio It Hiong, sungguh lihai akalmu menipu kaum wanita !

Perempuan siapa saja menginginimu, mereka seperti juga seluruh yang menyerbu api !"

Peng Mo mendongkol. Ia tahu maksudnya Ciu Tong berkaok-kaok itu ialah supaya Ya Bie percaya Hong Kun benar It Hiong. Itulah bakal merugikannya. Kalau sampai si nona merampas kekasihnya ? Maka dengan mata mendelik dan menggertak gigi, ia mengawasi orang asal luar lautan itu ! Ya Bie menarik ujung jubahnya si nikouw.

"Dia itu orang jahat, jangan layani dia !" katanya sambil menunjuk Ciu Tong.

Peng Mo berpaling. Lantas ia bersenyum.

"Adik Ya Bie, cara bagaimana kau ketahui dia itu orang busuk ?" tanyanya.

Mukanya si nona menjadi merah, tandanya ia jengah. "Tadi malam dia mencoba menganggu aku." sahutnya.

Terus ia tunduk sambil membuat main ularnya.

Peng Mo cerdas, ia mengerti kata-katanya si nona itu. Pasti tadi malam Ciu Tong sudah mencoba main gila terhadap si nona. Diam-diam, ia melirik pada Hong Kun, memberi isyarat supaya anak muda itu pergi menyingkir. Ia sendiri lantas kata pula pada si nona : "Bagaimana adik? Dia itu berani main gila terhadapmu ? Dia berhasil atau tidak ?"

Ya Bie mengangkat mukanya. Parasnya masih merah. Dia tetap likat. Sambil menggeleng kepala, ia kata keras : "Tidak ! Dia cuma. "

"Binatang itu sangat tak tahu malu !" berkata Peng Mo sengit. "Kau harus ajar adat padanya, supaya tahu rasa."

Ya Bie menggeleng kepala.

"Barusan telah aku katakan." sahutnya. "Aku telah dapat menemukan Kakak Hiong, maka itu biar aku beri ampun padanya. " Hong Kun sementara itu tak mengangkat kaki walaupun dia mengerti isyarat Peng Mo. Dia justru memikir harus dia mendapati Ya Bie.....

Peng Mo mendongkol melihat si anak muda tak mau pergi hingga ia menjejak tanah terus sebelah tangannya menyampok Ya Bie, di lain pihak tangan kirinya menarik Hong Kun buat diajak lari keluar dari rimba itu !

Tiba-tiba Peng Mo kaget. Mendadak saja di depannya muncul si orang utan menghadangnya. Tentu ia menjadi berkuatir apabila ia kena dirintangi. Ketika barusan ia menyerang Ya Bie, ia gagal, serangannya tidak mengenai sasarannya, maka ia takut Ya Bie mengejarnya. Maka itu dengan kedua tangannya terus ia menyerang So Hun Cian Li !

Si orang utan tak kena dihajar. Dia dapat berkelit.

Memangnya dialah seekor binatang yang cerdas dan ringan tubuh, dia pula muridnya Kip Hiat Kong Mo, dia makin lincah. Dia tak lari, dia tetap menghalangi dua orang itu, tidak peduli Sek Mo menyerang terus beruntun beberapa kali.

Selagi Peng Mo menyerang terus pada So Hun Cian Li buat merobohkannya atau sedikitnya buat membikin dia itu tidak menghadangnya lebih jauh, tiba-tiba ada benda hijau melesat kepadanya, ke arah tangannya.

"Aduh. !" dia menjerit seraya memegangi lengan kirinya,

tubuhnya terus roboh ke tanah terus dia merintih tak henti, sedangkan keringat dingin membasahi dahinya !

Ya Bie bertindak menghampiri si nikouw, mulanya ia menoleh kepada Hong Kun, terus ia kata kepada nikouw itu : "Kakak Peng Mo, kenapa kau begitu bermuka tebal ? Kenapa kau hendak merampas Kakak Hiong ku ini ? Nah, aku mau lihat sekarang, kau masih berani mencoba merampasnya atau tidak."

Peng Mo kena dipagut ular, racunnya binatang itu sudah menyerang terus ke lengan bagian atas. Mulai naik ke sikut atau pergelangan tangan, menjalar ke sebelah atas lagi menuju ke paha. Tangan itu pun segera membengkak dan memerah.

Peng Mo merasa nyeri sekali sampai tubuhnya bergemetaran seluruhnya, kapan dia mendengar suara si nona, dia mengangkat kepalanya mengawasi nona itu dengan sinar mata membenci. Dia pun menggertak gigi. Dengan tangan kanannya dia mengeluarkan peles obat pemunah racun istimewa buaTan Hong Gwa Sam Mo, dengan mulutnya dia membuka peles obat itu, untuk dengan cepat mengunyah dan menelan beberapa butir diantaranya. Dia memikir obatnya itu dapat menentang atau memunahkan racun si ular hijau.

Menyaksikan penderitaannya Peng Mo, Ya Bie merasa kasihan juga.

"Obatmu itu mana dapat menolongmu. " katanya.

"Obatmu itu mana dapat memunahkan racunnya Siang Liong ? Dengan memandang mukanya kakak Hiong, suka aku membantu kau !"

Si nona mengeluarkan peles obatnya, buat mengambil sebutir pil warna hijau yang terus ia jejalkan ke mulutnya si Bajingan Es.

Ketika itu sudah terang tanah, matahari sudah melancarkan cahayanya ke seluruh rimbah. Dari kejauhan terdengar berisiknya suara riuh dari banyak orang. Lekas sekali tibalah serombongan orang berseragam hitam. Tiba di hutan yangliu itu mereka itu segera berpencar diri, buat mengurung Ya Bie bertiga !

Seorang muda dengan pakaian singsat dengan diikuti dua orang berpakaian hitam bertindak maju. Mereka menghampiri sampai di depannya Ya Bie bertiga itu. Dia terus mengangkat tangannya memberi hormat seraya memperkenalkan diri dan bertanya : "Aku yang muda adalah See Sie ! Aku mohon bertanya nona bertiga, apakah kalian adalah tamu-tamu dari penginapan kami ?"

Ya Bie mengawasi orang, dia terus menoleh, tangannya menunjuk, "Itu di kamar sebelah sana!"

See Sie mengawasi si orang utan di belakangnya nona itu, dia heran hingga melongo.

"Di dalam kamarmu itu mana muat begini banyak orang serta hewan itu ?" tanyanya.

Ditanya begitu, si nona tertawa.

"Kau menanya terlalu banyak !" sahutnya. "Kau usilan !"

See Sie heran sekali. Si nona dan kawan-kawannya itu mengherankan ia, menimbulkan kecurigaannya. Diantara mereka itu juga ada si orang utan yang tentunya liar.......

"Pemilik penginapan kami memerintahkan aku yang muda datang kemari buat mengundang nona beramai datang berkumpul di ruang besarnya" katanya. "Ada sesuatu yang hendak didamaikan " Ketika itu Peng Mo bangkit berdiri ! Habis makan obatnya si nona, nyerinya lenyap, bengkak lengannya kempes.

"Ada urusan apa pemilik hotel mengundang kami ?" dia bertanya.

See Sie memperlihatkan tampang sungguh-sungguh. "Apakah su thay beramai masih belum tahu ?" sahutnya.

Lantas dia menjelaskan. "Tadi malam Kui Hiang Koan telah terbakar dan pemiliknya lagi mencari orang yang membakarnya."

Si Bajingan Es tertawa dingin.

"Hotelmu terbakar dan kalian masih belum berhasil mencari pembakarnya ? Hm !"

See Sie menajadi sabar. Sejak semula ia menguasai dirinya. "Kalian mau pergi atau tidak ?" tanyanya gusar.

Dengan acuh tak acuh, Peng Mo kata : "Kau datang kemari buat mengundang atau buat menawannya ?"

Sepasang alisnya See Sie bangkit berdiri.

"Hm !" diapun memperdengarkan suara dingin. "Kau tidak sudi minum arak undangan hanya arak dendaan. Nah, kalian lihatlah di sana ! Itu contohnya !

Peng Mo menoleh ke arah yang ditunjuk. Di sana tampak rombongan orang berseragam hitam tengah menggiring Couw Kong Put Lo. Ia melihat kekasihnya itu jalan dengan tunduk saja serta tangannya di belakangkan. Mereka itu tengah menuju ke ruang besar yang dimaksudkan. Semua pengiring itu membekal golok. Ia heran.

"Couw Kong Put Lo lihai, kenapa dia kena ditawan beberapa orang itu ?" demikian pikirnya. Atau mendadak dia ingat halnya di belakang pemilih Kui Hiang Koan ada seorang terahasia yang lihai, jago rimba persilatan yang sudah lama hidup menyendiri.

Tak lama muncul pula satu rombongan lain lagi. Kali ini orang yang digiring ialah Ciu Tong. Di dalam rombongan itu terdapat juga beberapa orang dengan pakaian singsat pertanda bahwa merekalah orang-orang Bu Lim rimba persilatan. Yang paling menyolok mata adalah seorang pendeta dengan jubah kuning.

Hanya sedetik itu Peng Mo mengenali siapa si pendeta. Dialah Bu Kie dari Siauw Lim Sie, yang di dekat gunung Ngo Tay San sudah pernah memegatnya. Semua mereka itu berjalan sambil tunduk saja.

Ketika itu pun See Sie mengawasi Gak Hong Kun untuk terus menanya : "Tuan, aku mengenal baik tampang tuan. Siapakah guru tuan yang mulia itu ?"

See Sie ingat halnya ia pernah bertemu Tio It Hiong diluar kota Gakyang. Ketika itu Liong Houw Siang Ceng Pendeta Naga dan Harimau yang mau membalaskan sakit hati dari adik seperguruannya yang sebelumnya telah menempur si anak muda she Tio itu tetapi ketika itu gurunya Koay To Ciok Peng telah memisahkan mereka kedua pihak dengan memberikan keterangan bahwa musuhnya Liong Houw Siang Ceng adalah musuhnya It Hiong yang memfitnah It Hiong bahwa mungkin ada seseorang yang sudah menyamar menjadi Tio It Hiong.

Sekarang ia melihat Gak Hong Kun mirip dengan Tio It Hiong yang ia pernah ketemukan di luar kota Gakyang itu cuma sekarang ini "Tio It Hiong" berdiam saja maka karena ia merasa heran, ia bukan menanya nama orang hanya nama dan gelaran gurunya orang itu.

Gak Hong Kun tetap berdiri menjublek bagaikan tidak mendengar pertanyaan orang, dia berdiam saja.

Melihat demikian Ya Bie tertawa.

"Kakak Hiong !" katanya. "Kakak, orang tanya kau kenapa kau diam saja ?" Ia pun mengulur tangannya menarik ujung tangan bajunya si pemuda.

Bagaikan orang baru mendusin, Hong Kun memutar tubuh. "Apa ?" tanyanya singkat.

"Siapakah gurumu yang mulia itu tuan ?" See Sie mengulangi pertanyaannya.

Hong Kun berpikir lalu jawabnya ayal-ayalan : "Aku yang muda ialah Tio..... It Hiong murid dari Heng San. "

Itulah jawaban yang membukan rahasia sendiri. Habis membelai Siauw Lim Sie, namanya Tio It Hiong menjadi sangat tersohor hingga semua orang Kang Ouw atau rimba persilatan tahu baik sekali yang ia adalah murid ahli waris dari Cio Tek Siangjin dari Pay In Nia. Sekarang Hong Kun menyebut nama It Hiong tapi dari Heng San.

Ya Bie pun heran.

"Kakak Hiong, jangan kau sembarang bicara !" katanya. "Kenapa kau menyebut dirimu murid dari Heng San Pay ?" See Sie sebaliknya tertawa. kata dia : "Nona pengalamanmu tentang dunia Kang Ouw masih terlalu cetek. Tuan ini telah membuat pengakuan tanpa disiksa lagi !" Terus dia mengulapkan tangannya kepada kawan-kawannya seraya menambahkan : "Aku mengundang kalian suka pergi ke ruang besar kami !"

Di dalam keadaan seperti itu, Ya Bie dan terutama Peng Mo tidak dapat menampik lagi, maka bersama-sama mereka lantas berseragam itu mengiringi mereka.

Di tengah jalan si Bajingan Es atau Bajingan Paras Elok mengasah otaknya. Dia heran sekali, dia bingung hingga tak dapat dia memberi keputusan sendiri. Kekasihnya ini siapakah

? Dia benar Tio It Hiong atau hanya murid dari Heng San Pay

? Kalau dia It Hiong dialah murid dari partai kaum lurus, kenapa dia turut Im Ciu It Mo, bahkan dia pergi ke Gwa Sek Sie dimana dia melakukan penyerangan dan pembunuhan ? Taruh kata dia telah makan Thay Siang Hoan Hun Tan tetapi diapun sudah diberi obatnya yang mujarab, bukankah kesadarannya telah pulih separuhnya ? Ya mustahil beginilah Tio It Hiong yang orang sohor itu. Aneh ! Dia menyebut diri Tio It Hiong, dia pun mengaku murid Heng San Pay !

Hampir meledak otaknya Peng Mo walaupun dialah si Bajingan cerdik dan licin. Dia baru berhenti berfikir ketika dia dikejutkan suaranya See Sie : "Sudah sampai !" Dia mengangkat kepalanya dan melihat pintunya sebuah ruang besar berada dihadapannya.

Segera juga mereka bertindak memasuki ruang besar itu, yang benar-benar luas sekali. Di dalam situ telah kedapatan banyak orang duduk berkumpul, pria dan wanita, tua dan muda. Dari dandanannya mereka itu semua, terang sekali mereka ada dari pelbagai golongan, orang-orang Kang Ouw, saudagar, pemuda tukang berfoya-foya, pembesar negeri dan nyonya-nyonya hartawan atau berpangkat.

Di tengah ruang tergantung sehelai tirai sulam yang lebar yang ujungnya nempel dengan lantai. Di empat penjuru dinding terdapat lentera-lentera berkaca, juga pelbagai pigura lukian dan tulisan. Suasana ialah kemewahan merangkap kewibawaan.

Di depan tirai itu terdapat beberapa buah kursi, yang semua ada orang-orang yang duduki. Diantarany Koay To Ciok Peng si Golok Kilat, Bu Eng Thung Liok Ciu si Tongkat Tanpa Bayangan, serta seorang nikouw setengah tua yang berjubah warna gwee pee, putih rembulan, yang wajahnya cantik.

Ciok Peng lantas memasang mata selekasnya dia melihat tibanya rombongannya Ya Bie ini, terutama ia mengawasi Peng Mo, si nona serta orang utannya yang besar itu.

See Sie menghampiri gurunya, buat memberi hormat seraya memberikan laporannya halnya beberapa orang ini telah ditemui didalam hutan yangliu. Kemudian dia mundur ke samping.

Ciok Peng mengangguk.

"Apakah tamu-tamu yang diundang sudah hadir semuanya

?" tanyanya.

"Kira-kira sudah semuanya." sahut seorang yang baru berbangkit habis dia batuk-batuk dan mengangguk. Dialah pengurus hotel yang memelihara janggut seperti janggut kambing dan bajunya thungsha yaitu baju panjang. Kemudian pengurus hotel ini berpaling akan menghadapi sekalian tetamunya, tiga kali tangannya ditepuk, hingga sunyilah ruang yang besar itu. Tadinya ada beberapa orang yang ramai berbicara. Kembali dia batuk-batuk, baru dia berkata : "Para hadirin ! Hotel kami telah terbakar, kalian tentu telah ketahui ! Pastilah tadi malam kalian menjadi kaget sekali, hingga kalian terganggu dalam impian sedap kalian !

Sudah begitu sekarang ini kami pun membuat capek pada kalian dengan mengundang kalian hadir disini ! Para hadirin buat semua itu atas nama pemilik, kami menghaturkan maaf."

Kuasa ini berhenti sejenak, lantas dia menambahkan : "Kebakaran ini cuma memusnahkan istal serta beberapa kamar yang berhubungan. Jadi itulah kerugian yang tidak berarti, hanya disebelah itu ada sesuatu yang penting. Itulah nama baiknya Kui Hiang Koan selama beberapa puluh tahun. Dengan sambil mengucap banyak berterima kasih kepada sekalian orang gagah kaum Kang Ouw dan Bu Lim, belum pernah kami terganggu. Sekalipun sehelai bulu ayam atau selembar kulit bawang. Itu artinya belum pernah ada orang yang berani melanggar aturan kami !"

Kata-kata yang terakhir ini diucapkan secara tandas. Selagi mengucapkan itu, pengurus hotel itu mengawasi hadirin.

Setelah itu dia melanjuti dengan suaranya yang dibesarkan : "Sekarang para tamu sudah hadir dalam ruang ini, maka itu dengan ini jalan kami mohon bantuan berharga dari kalian untuk mencari orang yang melepas api itu."

Kata-kata itu diakhiri dengan seluruh ruang sunyi senyap.

Ciok Peng menantikan sekian lama, dengan perlahan dia bangkit dari kursinya. Dia menghadapi para hadirin untuk memberi hormatnya, kemudian baru dia bicara, suaranya dalam : "Semenjak dibangun, Kui Hiang Koan bekerja untuk para tamunya yang datang dari delapan penjuru angin, dan selama itu, segala aturannya yang dikeluarkan pasti dilaksanakan sebagaimana layaknya. Apa lacur, tadi malam toh ada orang yang mengacau, mengganggu kami dengan orang itu melepas api melakukan pembakaran ! Justru itulah perbuatan yang melanggar peraturan kami ! Maka itu sekarang aku minta yang melepas api, sukalah dia jangan merembet-rember lain orang, sudi apalah dia mengajukan diri, untuk bertanggung jawab ! Kau minta sahabat itu suka bangun berdiri, dengan begitu lohu suka sekali bersahabat dengannya, tetapi jika dia tidak mengenal persahabatan, dia tetap menyembunyikan kepalanya, dia cuma mampu menonjolkan ekornya, hm! Lohu tak dapat mengatakan apa- apa lagi..."

Dengan "lohu" aku si orang tua, Ciok Peng bicara dengan merendah diri. Selagi ia berkata itu, matanya diarahkan tajam kepada Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo.

Kiranya dua orang berdiam saja sebab mereka telah kena ditawan dengan "Kak Kiong Tiam-hoat", "Dititik di antara udara". Tegasnya mereka ditotok dari jauh, tanpa tangan mengenakan tubuhnya. Mereka sangat mendongkol tetapi mereka tidak dapat membuka suara, cuma air mukanya saja menunjuki bahwa hati mereka sangat panas.

Semua mata orang lain juga diarahkan kepada dua orang itu, hingga sikap mereka itu menambah panasnya hati Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo, sampai sinar matanya seperti berapi !

Hadirin berjumlah seratus orang lebih tapi ruang sunyi senyap. Lewat beberapa detik, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara memekik yang keras, terus tampak si orang utan bertubuh besar itu bagaikan orang habis sabar, dia menggerakkan tubuhnya, menarik-narik ujung bajunya Ya Bie, kemudian kedua tangannya itu digerak-geraki memberi isyarat buat mereka berdua mengangkat kaki !

Si nona juga agaknya hilang sabarnya, dia lantas berkata dengan suara tinggi : "Kalau tak mempunyai kepandaian menawan si pelepas api itu, ya sudah saja ! Kenapa kalian hendak mengganggu kami semua ? Nona kalian mau pergi !"

Benar-benar Ya Bie menarik si orang utan bertindak ke pintu besar.

Sesosok tubuh berkelebat cepat. Lantas tampak See Sie menghadang di depan si nona dan orang utannya. Goloknya dilintangkan !

Segera terdengar suara berat Cio Peng : "Nona, tunggu dulu ! Nona, lohu ingin menanyakan sesuatu !"

Ya Bie tidak mau membawa tabiatnya yang gemar bergurau atau jail, ia menarik si orang utannya, untuk bersama-sama menghampiri Ciok Peng. Ia berdiri tegak untuk terus berkata : "Kau mau bicara apa dengan nonamu ?

Mustahilkah kau menyangka aku si pelepas api itu ?"

Liok Cim tidak puas mendengar pertanyaan jumawa itu. "Hm !" dia memperdengarkan suara dinginnya. "Budak liar,

usiamu masih begini muda, kenapa mulutmu sudah belajar nakal ?" Ya Bie gusar mendengar teguran itu, alisnya terbangun, matanya dibuka lebar.

"Si orang tua, dia toh cuma pandai memaki orang !" katanya tajam. "Segala penjahat membakar rumah saja tak mampu membekuknya ! Dengan kepandaian semacam itu bagaimana urusan yang kecil begini hendak dibesar-besarkan

? Cuma itu akan membuat orang tertawa sampai mati karenanya !"

Ciok Peng lekas mengulapkan tangannya pada Liok Cim. Ia melihat ular hijau dipinggangnya si nona, ia percaya ular itu beracun, sedangkan di sini nona itu berdiri si orang utan yang setinggi dan sebesar orang. Ia menerka orang bukan sembarang orang, hanya ia tak dapat menerka pasti orang dari golongan mana. Karenanya sejak tadi ia mengawasi saja nona itu.

"Harap dimaklumi nona," katanya tertawa. "Lohu sudah ada umur, mataku sudah kurang terang lagi, maka itu lohu tidak ketahui nona dari perguruan mana dan apakah nama atau gelaran nona yang mulia ?"

Di tanya begitu Ya Bie tertawa geli. Ia pun mencibirkan bibir.

"Jika kau tidak tahu, sudah !" sahutnya. "Kalau kau mau juga aku menyebut nama guruku, aku kuatir kau kaget dan takut. "

Ciok Peng tertawa lebar, agaknya dia gembira.

"Tak ada halangannya, tak ada halangannya, nona !" katanya. "Silahkan nona memberitahukannya !" Justru itu si nikouw berjubah gweepee itu, yang usianya setengah tua, campur berbicara, kata pada Ya Bie : "Pinni mungkin dapat menerka beberapa bagian, nona ! Bukankah guru nona itu ialah Touw Houw Jie Touw Losicu dari Cenglo ciang ? Benar bukan ?"

Ya Bie girang pendeta wanita itu dapat menyebut nama gurunya, dia tertawa.

"Oh, guru benar, kenalkah kau akan guruku ?" tanyanya. "Sungguhlah kau yang dapat disebut banyak penglihatannya, luas pendengarannya ! Kau bukannya seperti dua orang tua bangka itu, mereka sembrono, mereka cuma pandai mencaci orang !"

Nikouw atau nikouw itu ialah Hay Thian Sin ni dari Hay In Am, biara Mega Laut di pulau Poau To San, Laut Selatan Lam Hay. Karena dia telah menyampaikan kesempurnaan, di dalam usia tujuh puluh lebih, sekarang wajahnya seperti orang setengah tua saja. Dia hadir di Kui Hiang Koan ini bukannya kebetulan saja, dia hanya memenuhi suatu undangan, guna menemui pemilik hotel yang tersohor itu, si pemilik yang hidup menyendiri, jago rimba persilatan yang terahasia, yang umum menyebut saja Bu Lim It Hiap. Mereka hendak membicarakan soal suasana penting dunia rimba persilatan, perihal ancaman berbahaya bagai kaum lurus. Karena ia kebetulan berada di hotel, ia jadi menghadiri pertemuan para penghuni hotel itu.

Ia bermata jeli, ia melihat kepolosannya Ya Bie.

"Nona, tahukah kau siapa si pelepas api itu ?" tanyanya pula kemudian, lembut.

Ciok Peng dan Liok Cim sementara itu berdiam saja. Hati mereka kurang nyaman. Di luar sangkaan, mereka menghadapi seorang bocah muridnya si jago kesohor dari Cenglo ciang.

Ya Bie menggeleng kepala.

"Aku tidak tahu" sahutnya singkat. "Aku hanya tengah mencari kakak Hiong ku itu !"

Dan ia menunjuk kepada Hong Kun.

Hay Thian Sin Ni mengangguk

"Apakah nama lengkap kakak Hiong mu itu ?" tanyanya pula.

Mukanya si nona menjadi merah. Dia likat sekali. Tapi matanya membelalak.

"Dialah Tio It Hiong " sahutnya.

Hay Thian Sin Ni telah melihat Hong Kon. Pemuda itu masih meninggalkan bekas-bekas terbakar pada rambut dan pakaiannya. Lalu dia kata pada si nona : "Kakak Hiong mu itu telah melepas api, kenapa kau masih membelai dia ? Kau tahu atau tidak bahwa dengan begini kau telah merusak nama gurumu ?"

Hong Kun sementara itu sudah sadar separuhnya. Obatnya Peng Mo membuat pengaruhnya Thay Siang Hoan Hun Tan punah sebagiannya. Karena tenaga ingatan taknya tak murni sewaktu dia sehat seluruhnya. Dia seperti mengerti hal yang lagi diperbincangkan itu itu, lantas dia mengingat-ingat terutama halnya dia bersembunyi diatas tenda kereta. Justru berpikir itu, dia menoleh kepada Ciu Tong, mendadak dia berludah : "Cis ! Dia, dia ! Itulah dia !" Dan ia menunjuk pada jago Hek Keng To itu, suaranya berhenti secara tiba-tiba.

Tiba-tiba tangan kanannya Hay Thian Sin Ni diangkat, terus dilancarkan ke arah Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo. Dengan demikian ia melakukan penyerangan dengan ilmu "Kek Kiong Tiam hoat," terhadap dua orang itu.

Dengan mendadak itu dua-dua Couw Kong Put Lo dan Ciu Tong pada mengeluarkan nafas lega. Sedetik itu juga, mereka sadar dan pulih ingatannya. Maka itu mengertilah mereka akan lihainya si pendeta perempuan hingga di dalam sekejap lenyaplah penasaran dan dongkolnya.

Ya Bie sebaliknya, menarik ujung bajunya Hong Kun. Dia tak sabaran.

"Kakak Hiong, bicaralah !" katanya. "Kakak kenapa kau diam saja ?"

Pikirannya Hong Kun kacar tapi suaranya si nona membuatnya sadar, hatinya terus goncang. Atas kata-kata si nona, ia lantas berkata : "Menurut apa yang aku yang muda ketahui tidak ada orang yang sengaja membakar istal itu, cuma benda yang ditaruh didalam keretanya saudara itu menyala sendiri. "

Ciu Tong adalah orang yang ditunjuk Hong Kun. Dia kaget dan menjadi gusar sekali. Maka dia berteriak : "Apakah kau bocah yang membakar barang berharga itu ? Jika kau tidak bicara dengan terus terang awas ! Kau harus mengganti dengan jiwamu !"

Ciok Peng puas menyaksikan pembicaraan dua orang itu. Ia mulai dapat menduga-duganya hal! Maka ia tertawa, terus ia kata manis : "Kita semua ada orang-orang Kang Ouw, sahabat-sahabat satu dengan lain ! Nah, silahkan duduk supaya kita dapat bicara secara tenang !"

Dengan satu tepukan tangan Koay To membikin dua berseragam hitam datang dengan beberapa buah kursi, dengan begitu dia jadi mengundang Hong Kun beramai berduduk bersama-sama.

Hong Kun masih berfikir keras, ia belum juga sadar seluruhnya, tetapi ia ingat ingin membersihkan diri dari tuduhan membakar istal, ada yang ia lupa waktu ia memberikan penuturannya terlebih jauh.

Ciu Tong heran mendapat tahu barang penting yang ia bawa itu dapat menyala sendiri. Ia melongo, memang ia membawa itu dengan keretanya tetapi itulah barang titipannya Im Ciu It Mo, tak berani ia membukanya, hingga ia tak tahu juga rahasianya seperti keterangannya Hong Kun itu.

Kemudian ia ingat halnya ia sudah makan obat beracun dari Tok Mo, bahwa setiap bula ia mesti makan obat pemunahnya, atau kalau tidak, katanya ia bisa mati dengan tubuhnya bakal rusan dan lodoh, darahnya bakal menjadi tanha, akan akhirnya tinggallah kerangka atau tulang belulangnya. Bahwa ia telah tiba di Kanglam ini, itulah sebab ia terpikat Peng Mo hingga ia berniat berfoya-foya beberapa hari dengan nikouw itu, sesudah itu baru ia melanjuti perjalanannya ke Hek Sek San, siapa tahu urusan berupa sepeti onar besar ini ! Ia menjadi bingung. Ia pikir kalau pulang ke Hek Sek San ia bakal mati juga ! Maka ia duduk menjublak saja.......

Lewat sesaat Couw Kong Put Lo bangkit. Kata dia : "Sekarang sudah terang sebab musababnya kebakaran, perkenankanlah aku si orang tua memohon diri !" Ia bicara terhadap tuan rumah tetapi ia melirik pada Peng Mo habis itu ia bertindak ke pintu ruang besar itu.

Peng Mo masih memberati Hong Kun, sebenarnya belum ada niatnya meninggalkan pemuda itu, akan tetapi keadaan sekarang lain, terpaksa ia melegakan hatinya. Ia memang harus segera berlalu dari Kui Hiang Koan. Maka itu ia berlalu dengan mengikuti Couw Kong Put Lo, hanya selagi mau memutar tubuh, ia melirik dahulu kepada si anak muda yang ia gilai itu.

Semua hadirin lainnya menganggap urusan sudah beres, satu demi satu mereka memohon diri meninggalkan ruang besar itu.

Hay Thian Sin Ni diam-diam berkata dengan Ciok Peng : "Hong Gwa Sam Mo muncul sendiri, sekarang dia agaknya bersekongkol dengan orang yang menyamar sebagai Tok Mo itu, mungkin ada maksudnya yang tertentu mereka datang kesini. "

Ciok Peng terkejut.

"Su thay menganggap dia Tok Mo sendiri ?" sahutnya. "Betul !" sahut sang nikouw. "Dialah si palsu !"

Ketika itu Ciu Tong merasakan seluruh tubuhnya kejang.

Lekas sekali keluar darah dari mulut, hidung. mata dan telinganya. Darah hidup dan mukanya perlahan-lahan berubah menjadi pucat kebiru-biruan.........

"Lihat ! Lihat !" berseru See Sie yang paling dulu melihat keadaan tamu hotelnya itu yang dia tunjuk. Semua orang heran.

Hay Thian Sin Ni segera menghampiri untuk melihat dengan teliti muka orang serta darahnya yang mengalir keluar itu, ia lantas menghela nafas dan kata : "Sicu ini mungkin telah terkena racunnya Tok Mo palsu itu. Jangan sentuh

padanya !"

Begitu tangannya berkelebat nikouw dari Lam Hay ini telah mengeluarkan sebuah peles batu gemala dari dalam dimana ia menuang semacam bubuk dengan jeriji tanganya, ia cipratkan itu ke tubuhnya jago Hek Keng To itu, kepada tempat-tempat yang mengeluarkan darah.

Selagi Ciu Tong diobati itu, mendadak dari luar Toa thia terdengar siulan nyaring dan lama yang suaranya dapat menggoncangkan hati. Ketika Hong Kun mendengar suara aneh dan dahsyat itu, bagaikan orang sadar mendadak dia berlompat sambil mencabut pedangnya, terus dia menyerang Ciok Peng serta beberapa orang didekatnya Koay To !

Hebat serangan itu, walaupun dia lihai Ciok Peng toh kaget.

Hanya sebelum pinggangnya kena terbabat kutung maka Trang ! Terdengar suara nyaring, tahu-tahu pedang itu sudah terlepas dan jatuh di lantai !

Berbareng dengan itu terdengar pula suara aneh dan dahsyat tadi. Hong Kun bagaikan disihir, dia berlompat dan lari keluar ruang.

Hay Thian Sin Ni menyaksikan kejadian itu, dia mengebutkan kebutannya seraya berkata : "Itulah ilmu gaib. " Tapi belum berhenti suaranya itu, satu bayangan

orang sudah berkelebat dihadapannya, sebatang pedang terbulang balingkan hingga mendatangkan hawa dingin yang menggigilkan tubuh. Kilauannya pedang pun membikin bayangan tak tampak tegas.

Ciok Peng semua kaget dan mundur, Hay Thian Sin Ni tidak menjadi terkecuali tetapi Sin Ni mundur buat segera maju pula, tangannya mengebut dengan kebutannya yang halus dan lembut itu, yang sebaliknya mendadak kaku sebagai tombak menghadang pedang itu !

Di dalam sekejap, pedang yang menyerang itu telah terlilit kebutannya Sin Ni. Dengan begitu tampaklah pemiliknya seorang nona yang cantik, tangan kirinya mengempit Ciu Tong, tangan kanannya mencoba menarik buat meloloskan pedangnya itu. Dia menggunakan jurus silat "Lek Poat Tay San, Mencabut Gunung Tay San".

Hay Thian Sin Ni lantas mengenali Cio Kiauw In yang matanya terbuka lebar tetapi mulutnya bungkam.

"Ah !" mengeluh pendeta itu terharu. Ia lantas melepaskan libatan kebutannya pada pedangnya si nona, ia mundur satu tindak.

Kiauw In tidak melihat siapa juga, dia menarik pedangnya dan pergi berlalu !

Tiba-tiba terdengar pula satu suara nyaring, suara siulan mulut. Siulan itu dimulai dengan panjang diakhiri dengan dua yang pendek. Kapan Kiauw In mendengar itu, dia menghentikan langkah di ambang pintu besar, dia berdiri sebentar, dia melihat ke kiri dan kanan lalu terus dia berlompat kembali !

Itulah Ya Bie yang menggunakan "Hoan Kak Bie Ciu" yang lihai, membuat matanya Nona Cio bimbang hingga dia melihat pintu besar itu seperti jurang yang penuh dengan kabut hingga tak tampak jalanannya. Dia melihat ke sekitarnya, dia bingung sekali.

Ya Bie tertawa habis ia menggunakan ilmunya itu, setelah itu ia bersiul, menitahkan So Hua Cian Li maju membentur pinggang kirinya Kiauw In, setelah mana dia roboh sendirinya.

Nona Cio terhuyung-huyung beberapa tindak, Ciu Tong lepas dari kempitannya. Dia kaget, dia melihat kepada Ciu Tong. Kiranya jago Hek Keng To itu lagi rebah disisinya.

Lekas-lekas dia menjemputnya buat dikempit kembali. Hanya itu dia tidak tahu yang mau dia tolongi itu bukan Ciu Tong sejati, hanya si orang utan !

Hay Thian Sie Ni menyaksikan peristiwa itu, dia memuji : "Buddha Maha Pemurah. Nona, ilmu sihirmu lihai sekali tetapi tak dapat kau membantu Ciu Tong ! Dia telah terkena racunnya Im Ciu It Mo ! Dia telah membakar Kui Hiang Koan ! Biarkanlah mereka pergi !"

Lagi-lagi terdengar suara aneh dan dahsyat tadi datangnya ke Toa thia bagaikan kilat cepatnya. Hanya kali ini di dalam ruang yang besar itu sudah lantas tambah seorang yang berbaju kuning dan rambutnya kusut awut-awutan, yang matanya tajam, bengis luar biasa dan tangannya mencekal sebatang tongkat panjang. Dialah seorang nenek-nenek yang berdiri tegak.

Kiauw In mendengar siulan itu, mendadak dia lari ke sisinya si nenek. Nampaknya dia seperti orang baru mendusin dari tidur nyenyaknya. Si orang utan yang dikempitnya dia haturkan kepada nenek itu. Itulah Im Ciu It Mo si nenek lihai, hanya karena di Ngo Tay San dia kalah bertempur ilmu tenaga dalam dari Pie Sie Siansu maka perlu dia lekas-lekas pulang ke Hek Sek San untuk beristirahat sambil mengobati diri, tetapi justru dia lagi beristirahat ada orangnya yang mengabarkan bahwa kereta barang yang dikendarai Ciu Tong telah menukar haluan, sudah menuju ke Kang Lam, maka dia kaget. Terpaksa dengan  masih belum sembuh dia pergi menyusul dengan dia mengajak Kiauw In. Di sepanjang jalan, dia mencari keterangan sampai dia mendengar keretanya singgai di Kui Hiang Koan.

Sebagai orang lihai Im Ciu It Mo ketahui siapa pemilik sejati dari rumah penginapan yang tersohor itu ialah musuh besar dari kaum sesat, maka ia kuatir Ciu Tong tak dapat lebih jauh oleh racunnya hingga benda pentingnya itu dibawa si orang she Ciu ke Kui Hiang Koan. Hanya dia menerka keliru, Ciu Tong bukan berkhianat, hanya dia lalai disebabkan urusan asmara.

Im Ciu It Mo sangat membenci Ciu Tong, dia puas yang Kiauw In menyerahkannya kepadanya, akan tetapi sesudah mengawasi sekian lama dia kaget dan menjadi gusar sekali. Dia mendapati bukannya si penghianat atau pendurhaka, hanya seekor orang utan. Maka sambil menggertak gigi, dia menyerang dengan pukulan mautnya, Tauw lo ciang !

Hay Thian Sin Ni menyaksikan itu. Ia menyerukan sang Buddha, seraya terus berkata : "Sicu, binatang itu tidak bersalah dosa, kau berlakulah murah hati terhadapnya !" Dan ia mengulur tangannya yang kanan buat terus ditarik pulang. Karena itulah jurus silat "Ciat Im To Yang, Menyambut Im, Memimpin Yang" (Im dan Yang ialah wanita dan pria, atau negatif dan positif). Maka itu tubuhnya So Han Cian Li telah terlindungkan. Serangan kematian dari Im Ciu It Mo meleset mengenai batu, maka hancurlah batu itu yang terbang berhamburan dan lantai pun melesak dalam !

Sementara itu Ya Bie terkejut. Dia tidak kenal wanita itu yang matanya tajam sekali, dia gugup. Hingga sendirinya runtuhlah ilmu sihirnya yang biasa dipakai mengabur mata orang ! Itulah sebabnya kenapa si orang utan berubah sendirinya menjadi asalnya hingga Im Cio It Mo mendapati dia terpedayakan dan murka karenanya. Karena ia kuatir binatang piaraannya itu bercelaka, sempat ia menetapkan hatinya, terus ia memperdengarkan siulannya untuk menggunakan Sin Kut Kang, ilmu memperciut tubuh sendiri, dengan begitu tubuh besar So Han Cian Li seperti manusia berubah kecil seperti anak kera. Karena ini ilmunya itu dapat bekerja berbareng dengan ilmunya Hay Thian Sin Ni hingga gagallah serangannya si nenek.

So Hun Cian Li pun cerdas, dengan tubuhnya itu berubah menjadi kecil, dia berontak melepaskan diri dari cekalannya Kiauw In, dia berlompat minggir untuk terus lari ke sisinya Ya Bie buat berPekik berulang-ulang.

Im Ciu It Mo berdiri melongo, dia heran yang pukulan mautnya itu tidak memberikan hasil seperti kehendaknya. Dia pun mendongkol sekali. Segera dia melihat kepada semua orang di depannya. Hatinya tercekat, selekasnya dia mengenali Hay Thian Sin Ni, Koay To Ciok Peng dan Bu Eng Thung Liok Cim, semua orang Kang Ouw kenamaan. Cuma Ya Bie, si nona yang memegangi ular ditangannya yang didampingi si orang utan, sangat asing baginya tetapi sebab si nona pandai ilmu Hoan Kak Bie Ciu dan Sin Kut Kang, ia menerka orang mesti ada hubungannya dengan Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie ! Biasanya Im Ciu It Mo tidak kenal kepuasan, tak suka dia mengalah kalau dia belum mendapatkan atau mencapai sesuatu keinginannya, tidak mau dia sudah saja. Kali ini dia gusar sekali. Mesti Ya Bie dibekuk dan dihajar. Tetapi dia sekarang lagi terluka di dalam, terpaksa mesti dia menyabari diri. Di dalamnya pula ada Hay Thian Sin Ni yang tak dapat dibuat permainan. Maka dia menghela nafas, dia mengekang amarahnya. Kemudian dia mengawasi Ciu Tong yang rebah dilantai tanpa berkutik. Lantas dia mengibasi tangan pada Kiauw In.

Itulah isyarat supaya Nona Cio menjemput Ciu Tong buat dibawa pergi dan Kiauw In segera bekerja dengan menurut perintah. Hanya belum lagi ia mengangkat kaki, Ciok Peng mendahuluinya lompat ke depan Im Ciu It Mo untuk memberi hormat seraya berkata sabar : "Locianpwe, aku mohon supaya locianpwe sudi memberi muka padaku agar locianpwe tidak merusak aturan penginapan kami dengan sesukanya saja menangkap dan membawa orang pergi dari sini !"

Im Ciu It Mo mengawasi tajam.

"Hm !" dia perdengarkan suara dinginnya. "Apakah ini namanya aku si perempuan tua merusak aturan hotelmu ini, kalau aku datang membekuk orang yang berkhianat kepadaku buat aku membawanya pulang guna dihukum ?"

Ciok Peng terus berlaku merendah. Kata dia hormat : "Aturan penginapan kami ini sudah diadakan sejak tiga puluh tahun yang lampau, maka itu locianpwe sebagai seorang tertua pasti telah mengetahuinya. "

Mendengar suara orang itu, tiba-tiba Im Ciu It Mo ingat kepada Kang Ouw In Hiap, si pemilik terahasia dari Kui Hiang Koan. Maka ia lantas berpikir keras. Ia pun ingat pula akan luka tubuhnya bagian dalam. Maka mau tidak mau ia mesti mengendalikan dirinya. Tapi ia tertawa dingin ketika ia membuka mulutnya.

"Saudara Ciok". katanya. "Habis sekarang kau menghendaki aku si nenek tua bagaimana harus bertindak ?" Dengan kata- katanya ini masih dia mengharap agar Koay To suka mengalah terhadapnya.

Ciok peng tertawa. Jawabnya : "Kami minta locianpwe suka menyerahkan orang she Ciu ini kepada kami buat itu kami sangat berterima kasih !"

Parasnya si nenek menjadi sangat suaram, sinar matanya berjilatan tak hentinya. Lewat sejenak dia menoleh kepada Cio Kiauw In seraya berkata : "Kau lepaskan murid durhaka itu !

Mari kita pergi !"

Kiauw In menurut, dia meletakkan tubuhnya Ciu Tong dilantai, tapi baru saja dia melepaskan tangannya, mendadak Im Ciu It Mo meluncurkan tangannya terhadap orang she Ciu itu, hingga terdengar jeritannya yang tertahan, terus tubuhnya bergulingan beberapa kali.

Menyusul itu dua sosok bayangan orang melesar keluar dari pintu besar itu !

See Sie terkejut, dia berseru, dia lompat mengejar, terus terdengar bentakannya berulang-ulang, hanya suaranya makin lama makin jauh, sampai lenyap sendirinya.......

Ya Bie menarik So Hun Cian Li, buat diajak pergi menyusul...... Melihat demikian, Hay Thian Sin Ni kata pada Ciok Peng dan Lik Cim : "Mereka berdua bukan lawan dari Im Ciu It Mo. Hendak pinni pergi menyambut mereka !"

Dan pendeta wanita ini lenyap dari ruang besar penutupnya suaranya itu.

Kita sekarang hendak melihat dahulu kepada Bu Kie si pendeta Siauw Lim Sie yang sebab keliru mengenali Hong Kun sebagai It Hiong sudah menyusul ke Kui Hiang Koan tetapi kena diserang dengan totokan kosong hingga diapun digiring ke Toa thia dari hotel itu. Waktu Hay Thian Sin Ni membebaskan Couw Kong Put Lo dan Ciu Tong dari totokan istimewa itu, dia turut terbebaskan karena dia sekalian kena terseret. Setelah itu, dia terus berdiam saja sebab dia ingin menyaksikan si Tio It Hiong palsu. Dia pun berdiam saja sebab dia sengaja supaya Ciok Peng tidak memperhatikannya, tetapi sekaburnya Gak Hong Kun diam-diam dia pergi menyusul.

Sementara itu Im Ciu It Mo yang bersama Cio Kiauw In keluar dari hotel menyangka Hong Kun bakal menantinya di luar hotel itu. Menurut ia Hong Kun belum bebas dari pengaruh obatnya yang lihai itu. Bukankah tadi Hong Kun terkejut mendengar siulannya yang dahsyat ? Tapi setibanya diluar, ia menjadi heran. Ia melihat kelilingan, Hong Kun tak ada ! Ia pula tidak mendengar suara pertempuran apa-apa. Karena ini ia menerka tentulah Hong Kun pergi menyingkirkan diri ke belakang hotel, ke dalam rimba. Maka tak ayal lagi, sambil memberi isyarat kepada Kiauw In supaya si nona mengikutinya lari ke belakang hotel itu.

Di belakang rimba itu ada sebuah lotengnya yang banyak batunya serta pohon-pohon yang katai, yang terkurung pegunungan yang berlugat lagot, yang puncaknya tinggi.

Kesana Im Ciu It Mo menuju. Sekalian mencari Hong Kun, ia perlu menyingkir dari wilayah hotel. Ia tak sudi ada yang menyusulnya.