Iblis Sungai Telaga Jilid 50

 
Jilid 50

Di luar Peng Mo tak tampak ! Entah dia menyingkir kemana.......

Sebaliknya, mereka lantas menyaksikan sesuatu yang membuat mereka heran dan kaget karean mereka tidak mendapat tahu tak dapat menerka, di dalam Kui Hiang Koan sudah terjadi perkara apa !

Di jalan umum yang menuju ke penginapan terdengar suara berisik dan tampak banyak orang berjalan berlari-lari dalam rombongan-rombongan dari empat atau lima orang, semua mengenakan pakaian hitam, semua bersenjata, seperti juga mereka itu lagi menghadapi musuh besar. Lebih-lebih ialah cahaya sangat terang dari banyak obor dan lentera yang membuat golok dan pedang bercahaya berkilau-kilau.

Bentakan-bentakan pun terdengar tak putusnya. Kawanan orang-orang berseragam itu terus menuju ke sebelah kiri penginapan.

Ciu Tong mengangkat kepalanya, memandang ke arah kiri itu. Ia melihat sebuah pemandangan dimana terdapat cahaya terang naik tinggi, umpama kata sampai diudara, seluruhnya merah. Ketika itu mungkin baru jam empat tetapi langit terang bagaikan siang hari. Lekas-lekas jago Hek Keng To ini menoleh ke sisinya, atau dia melengak ! Couw Kong Put Lo tidak ada disisinya itu, entah kapan perginya dia dan setahu dia pergi kemana. Maka lekas-lekas ia berlompat naik ke genteng. Maka sekarang ia bisa melihat diantara cahaya api itu, didalam sebuah halaman beberapa orang berseragam hitam tengah mengurung dan menyerang seorang pemuda yang bergenggaman pedang. Mereka itu bertempur sambil membentak-bentak. Diantaranya terdengar juga suaranya ringkik kuda !

"Aneh !" pikir Ciu Tong atau segera dia ingat bahwa di dalam kereta karungnya justru termuatkan sesuatu yang penting miliknya Im Ciu It Mo. "Mungkinkah yang terbakar itu istal dimana mereka dan kudaku ditambatkan ?"

Karena ia mengingat demikian, tanpa ayal sedetik juga, jago Hek Keng To ini berlari-lari diatas genteng menuju ke tempat kebakaran dan perkelahian itu. Baru ia melintasi beberapa wuwungan, mendadak ada sinar pedang yang berkelebat menyambar pinggangnya sambil ia dibentak : "Tahan !" Cepat luar biasa, ia berlompat ke samping akan berkelit buat seterusnya memutar tubuh, mengawasi penyerangnya itu.

Itulah seorang muda yang goloknya tajam mengkilat. "Kau siapakah tuan ?" Cui Tong mendahului menyapa. "Tuan dari golongan mana ? Aku sendiri ialah Ceng Hong Siancu Ciu Tong. "

Orang itu tidak mau menyebutkan nama dan golongannya, dia hanya menjawab bengis. "Kami mau membekuk orang jahat yang melepas api ! Mau apa kau pergi menuju kesana ?"

Ciu Tong mendongkol atas perlakuan itu, maka ia pun kata tak kalah bengisnya : "Tuan kenapa kau tak sudi memberitahukan nama atau gelaranmu ? Kenapa kau justru merintangi aku ? Rupa-rupanya kaulah konco dari pelepas api itu !"

Pemuda bergegaman golok itu menjadi gusar sekali.

"Di Hek Keng To juga tidak ada orang baik-baik !" katanya nyaring. "Mana orang ? Mari kepung manusia ini jangan biarkan dia lolos !"

Atas seruan itu, dari empat penjuru wuwungan lantas muncul empat orang berseragam hitam yang terus mengurung jago dari pulau Ikan Lodan Hitam itu.

"Segala manusia tak berguna !" kata Ciu Tong yang tertawa tawar. "Kalian mau mencari mampus ?" Dan ia menghunus pedangnya.

"Bekuk dia !" membentak si pemuda bersenjatakan golok itu yang lalu mendahului maju menyerang.

Ciu Tong berkelit atau mana ia diserang pula beruntun hingga lima kali. Si anak muda berdarah panas dan telah mendesak keras. Menyusul dia maju pula empat orang kawannya itu. Dengan lantas Ciu Tong mengenali kelima orang itu bersilat dengan ilmu silat golongannya Koay To Ciok Peng si Golok Kilat. Ia berlaku lincah akan selalu berkelit sampai satu kali ia menangkis keras hingga pedang dan golok bentrok nyaring dan berisik. Dengan begitu ia menghalangi kelima orang itu dengan ia terus lompat mundur ke sebuah wuwungan dimana ia berdiri tegak sambil berseru : "Tahan ! Tuan, kau pernah apakah dengan Koay To Ciok Peng Ciok Cianpwe ?"

Jago Hek Keng To ini menghormati Koay To Ciok Peng juga maka ia membahasakannya cianpwe, orang tingkat lebih tua yang terhormat. Ia pun sengaja menanya untuk menegaskan saja. Namanya Ciok Peng sangat dikenal dan ia menghargainya.

Memang Ciok Pen, sejak beberapa tahun ini, telah menjadi pengusaha dari Kui Hiang Koan, maka itu para pelayan atau pegawai hotel itu mesti murid-muridnya. Sedangkan menurut orang yang tahu pemilik sah dari Kui Hiang Koan adalah seorang jago rimba persilatan yang tersohor yang sudah lama hidup menyembunyikan diri. Terhadap Ciok Peng sendiri Ciu Tong tidak jeri tetapi ingin dia berhati-hati.

Atas kata-kata Ciu Tong yang terakhir lagi si anak muda menjawab dingin : "Tuan mudamu ini ialah muridnya keluarga Ciok dan namaku San Sie ! Kau telah ketahui nama guruku, sekarang terangkan mau apa kau datang ke tempat kami ini ?"

Ciu Tong dapat menyadari diri. Ia merangkapkan tangannya memberi hormat.

"Aku baru tadi sore tiba disini dan singgah di penginapanmu, tuan." ia memberi keterangan. "Tempat kebakaran itu justru tempat dimana keretaku ditaruh, maka itu hendak aku melihatnya !"

Begitu dia menutup kata-katanya, orang she Ciu itu lekas berlompat untuk melanjuti kepergiannya.

" Tahan !" si anak muda membentak pula.

Dan ia mencoba menghadang lagi. "Tuan mudamu masih hendak menanyakan sesuatu."

Cegahan anak muda itu diikuti oleh ke empat kawannya.

Sikap mereka itu sangat mengancam

Ciu Tong gusar tetapi ia masih menguasai dirinya.

"Ada apakah pengajaranmu tuan ?" tanyanya tetap hormat. See Sie menatap tajam. Dia melirik.

"Kui Hiang Koan mempunyai aturannya sendiri !" katanya keras. "Kau telah ketahui itu, tetapi kenapa kau melanggarnya

? Apakah kau sengaja ?"

Ciu Tong melihat ke arah kobaran, ia menjadi bingung sekali. Api berkobar demikian rupa hingga ia kuatir keretanya menjadi hangus. Di dalam kereta itu ada termuat "batang yang sangat berharga", tetapi pemuda garang dan jumawa ini menghalang-halanginya !

"Aku mau melihat keretaku itu !" katanya mendongkol. "Di dalam keretaku itu termuat barang yang berharga. Apakah dengan begitu aku jadi melanggar aturan penginapanmu ?"

See Sie membalingkan goloknya. "Di dalam kereta bertenda semacam itu juga dimuatkan barang berharga ?" katanya mengejek. "Ha ha ! Sungguh lihai tipu dayamu untuk mengelabui orang !" Ia lantas menghadapi ke empat kawannya untuk memberi isyarat, setelah mana, ia menyambungi berkata lebih jauh pada tamunya : "Barang pentingmu itu bukan dibakar oleh orang-orang kami ! Buat apa kau tergesa-gesa tak karuan ?"

Hebat kata-kata ini. Dengan begitu bukan saja Ciu Tong tidak dipercaya bahkan tetapi dia dicurigai sebagai konconya si pembakar !

Pikirannya Ciu Tong bagaikan kacau. Ia gusar dan berkuatir. Ia menyaksikan menghebatnya api. Ia pula makin nyata suara bentrokannya pelbagai senjata tajam. Terpaksa ia menghunus pula pedangnya, sambil ia berkata keras : "Bocah, kalau kau mampu, kau rintangilah aku !"

Kata-kata bengis itu ditutup dengan satu tikaman kepada si anak muda, untuk diteruskan ditebas ke kiri dan kanan kepada ke empat orang berseragam hitam itu.

See Sie berkelit lalu sembari maju pula ia membalas membabat pinggang orang !

Ciu Tong gusar, hatinya pansa. Ia melawan dengan hebat.

Cuma karena musuh ada berlima ia mesti memecah juga perhatiannya berbareng ia mesti melayani ke empat orang lainnya itu, yang juga berkepandaian bukan sembarangan. Hingga tak mudah untuk merobohkan atau mengundurkannya. Karena ia adalah seorang yang berpengalaman, ia tahu caranya melayani banyak lawan, hanya ia tidak menyangka kelima lawan itu pun lihai, hingga tak dapat ia pandang  ringan. Jurus demi jurus telah dilewati, lama-lama Ciu Tong menjadi bingung juga. Tak berhasil ia meloloskand iri. Setelah sampai pada jurus yang ketiga puluh ia merasakan bagaimana sukarnya untuk meloloskan diri. Mak ia menyesal sekali yang mula-mula ia telah tak memandang mata kepada kelima musuh itu.

Tengah mereka lagi bertempur seru, tiba-tiba Ciu Tong mendengar teriakan berulang-ulang : "Bekuk dia ! Bekuk dia !"

Teriakan itu datangnya dari bawah genteng. Itu tibanya orang-orang Kui Hiang Koan berjumlah besar dan mereka itu telah mendatangi semakin dekat. Itu pula berati yang perguruan mereka telah diperketat.........

Tengah bertempur itu, Ciu Tong berpikir keras, bagaimana ia harus meloloskan diri. Tadinya ia memandang soal remeh sekali. Diam-diam dia memperhatikan ke empat pengepungnya yang berseragam hitam itu. Ia mencari salah satu yang terlemah. Selekasnya ia mendapati, lantas ia menggunakan tipu. Selagi menghadapi lawan itu sengaja ia bergerak lambat......

Lawan itu girang melihat musuh lamban, tidak waktu lagi dia membacok hebat kepada perut lawannya !

Ciu Tong bersiaga. Setibanya golok, ia berkelit sambil memiringkan tubuhnya, dengan begitu mudah saja dia memutar pedangnya membalas menebas lengan orang berbareng dengan mana, tangan kirinya pun menyerang dengan satu bacokan tangan kosong.

Lawan itu kaget sekali, sebab serangannya gagal. Ia melihat kalau ia tidak melepaskan goloknya, lengannya Bisa buntung. Tetapi ia berhati keras, tak sudi ia menyerah dengan begitu saja. Maka ia berkelit, tangannya dikasih turun, sambil bertindak maju sambil mendekam dia meninju dengan tangan kirinya pada pinggangnya lawan itu !

Saking gagah si hitam itu bersedia mati bersama. Ciu Tong kaget. Dia kalah hati. Maka dia lompat mundur.

Mendadak ada suara angin datang dari belakang. Kembali Ciu Tong terkejut. Tahulah ia yang orang membokongnya dari belakang itu. Inilah berbahaya, sebab dari depannya musuh tadi melanjuti menyerangnya !

Justru itu bentakan terdengar dan kilaunya golok tampak menyambar. Itulah See Sie yang menyerang justru lawan itu lagi terancam di depan dan belakang. Dia datang dari samping

!

Di dalam saat yang berbahaya itu, Ciu Tong ingat satu jalan buat menyelamatkan dirinya ialah dengan keras ia menjejak genteng hingga genteng pecah dan bolong, lantas ia menceploskan tubuhnya ke dalam lobang genteng itu sambil pedangnya diputar dipakai menangkis ke sekitarnya!

Maka lenyaplah ia dari atas genteng bagaikan ditelan rumah !

See Sie berlima tercengang. Mereka tidak sangka lawan sedemikian cerdik, sudah meloloskan diri dengan cara yang sangat luar biasa itu.

Anak muda yang dikepung orang-orang Kui Hiang Koan adalah Gak Hong Kun. Dia tidur sangat nyenyak diatas tenda kereta sampai lewat satu hari dan satu malam. Dia telah disadarkan oleh ringkik kuda. Dia heran waktu dia membuka matanya dia tak tahu bahwa malam itu sudah jam dua kira- kira. Dia melihat ke sekitarnya. Dia lantas melihat sinar api bergoyang-goyang di bawah tenda kereta. Karena seram ingin ia melihat api itu api apa. Lantas dia berbangkit atau "Duk !", kepalanya kena membentur genteng hingga dia merasa nyeri. Justru itulah yang membuatnya sadar. Dia mendak pula, kembali dia mengawasi ke sekelilingnya. Tak dapat dia melihat tegas sebab cahaya api lemah dan juga memain saja. Dia berdiam, matanya dipejamkan. Dia mencoba mengingat-ingat.

"Ah !" serunya tertahan. Lewat sedetik ia ingat bahwa ia tengah dikepung orang tapi dia berhasil lompat naik ke atas kereta dimana dia mendekam akan menyembunyikan diri dan tanpa merasa disitu dia ketiduran hingga pula nyenyak.

"Ah, aku berada dimana sekarang ?" demikian dia tanya dirinya sendiri.

Kembali terdengar ringkik kuda. Kali ini tahulah Hong Kun halnya dia tidur diatas kereta di dalam istal, disisi kandang kuda.

Karena dia tidak dapat berdiri atau duduk tegak diatas tenda itu, Hong Kun merayap turun akan mendekati sinar terang itu hingga dia mendapat kenyataan, inilah pelita yang berada pada dinding istal. Terus dia merayap turun akan berduduk di tempat kusir. Tengan dia berfikir, tiba-tiba pikirannya menjadi gelap pula. Maka tanpa disengaja dia menepuk-nepuk kereta sambil dia tertawa keras !

Di waktu malam begitu, pengurus istal sudah lama tidur nyenyak. Memangnya mereka tidak tidur di istal, maka juga tawanya Hong Kun itu dapat penyahutan ringkik kuda. Tak lama dia berhenti tertawa, ringkik kuda pun lenyap. Bangkit dari tempat duduknya, Hong Kun pergi ke tenda. Kali ini otaknya rada terang. DI muka pintu tenda, dia berdiri mengawasi tetapi dia tak melihat apa-apa. Karena gelapnya dalam tenda dia menyangka itulah sebuah kereta kosong.

Tetapi dia ingin mausk kedalamnya walaupun tanpa ada niatnya yang tertentu.

Selekasnya dia menyingkap tenda, Hong Kun bertindak memasukinya. Sang gelap membuatnya tak melihat apa juga. Maka tu dia keluar, dia menghampiri pelita di tembok untuk diambil dan dibawa kembali ke dalam kereta. Kereta itu benar kosong, cuma terdapat tempat duduknya. Ketika dia mengangkat tempat duduk yang kosong, dia melihat sebuah peti atau kotak kecil yang warnanya hitam, rupanya bekas di cat.

Dia mencekal gelang peti untuk diangkat. Ketika dia menyentil peti itu dua kali terdengar suara yang menyatakan peti bukannya kosong. Peti itu tak ada satu kaki persegi. Dia mengawasi. Dia agaknya heran. Tapi dia tak mengerti. Kenapa ia ketarik hati. Bahkan dia berniat membukanya walaupun tanpa maksud.

Muridnya It Yap Tojin mengangkat peti kecil itu, dia membulak baliknya, dia menyentil-nyentil pula tetapi tak dapat dia membukanya, tidak ada anak kunCinya atau alat rahasianya untuk membuka itu. Sementara itu tangan kirinya yang memegang pelita itu, hingga cahaya apinya bermain- main.

Lewat lagi beberapa saat, dalam keadaan syaraf tak sehat itu, Hong Kun tampak mendongkol. Belum juga ia bisa membuka peti itu. Ia mengawasi dengan tajam, sinar matanya bengis. Tiba-tiba saja naik darahnya, maka peti itu dilemparkan kedalam kereta, ia sendiri lantas merebahkan diri. Tangannya masih memegangi pelita tadi. Tubuhnya bergerak- gerak, sebentar meringkuk, sebentar dilempengkan. Hingga dia mirip seekor caCing. Dia bergerak sekian lama. Karena bergeraknya sedikit keras, kereta sampai bergoyang-goyang.

Tiba-tiba anak muda ini tertawa sendirinya, terus dia bangun untuk berduduk. Tangan kanannya menyambar peti hitam tadi, akan dibulak balik di depan matanya, habis mana dia meletakkannya diatas kereta di depannya. Tiba-tiba saja dia menggunakan tangannya menghajarnya !

Tak pecah peti itu, cuma satu kali bersuara keras disebabkan hajaran itu.

Hong Kun mengangkatnya pula, ia membulak balik lagi kemudian menaruhnya kembali dengan dibanting. Mendadak tutup peti itu terbuka dengan sendirinya dengan bersuara nyaring beberapa kali. Selekasnya peti terbuka, dari dalamnya menyorot keluar sinar hijau yang membuat mukanya si anak muda menjadi hijau juga, hingga wajahnya nampak mirip wajah bajingan.......

Rupanya sinar itu dianggapnya bagus, maka juga Hong Kun tertawa nyaring, dia terbahak-bahak hingga dia melangsing sebab perutnya mulas lantaran tertawa itu, yang berisik bukan cuma didalam kereta hanya jauh jauh keluar. Dia terus tertawa dengan terlebih keras pula, berbareng dengan mana pelitanya dilemparkan ke tenda keretanya !

Sebenarnya itulah obat beracun Thay Siang Hoang Hun Tan buatannya Im Cio It Mo yang It Mo memesan Ciu Tong membawanya ke Hek Sek San. Obat itu lihai tetapi tidak ada baunya. Maka juga terkena obat, Hong Kun tidak merasakan apa-apa. Ia tertawa kalap justru disebabkan pengaruhnya  obat itu. Ia tertawa terus sampai pelitanya telah membakar tenda, apinya merembet dari kecil menjadi besar, menjadi membakar seluruh kereta itu.

Pengaruh obat membuat si anak muda makin besar.

Cahaya api tetap hijau. Di dalam waktu yang pendek, peti lantas berupa mirip bola api. Karena peti itu pun menyala.

Hong Kun baru kaget sesudah dia merasai hawa panas, sebab api membakar rambutnya juga bajunya. Karena ini, dia menjadi sedikit sadar. Dia melemparkan peti, dia lompat turun dari kereta.

Api tidak ada yang padamkan, dari kereta menyambar ke rumput terus ke lainnya barang di dalam istal itu. Kebetulan sekali angin malam seperti membantu meniupinya. Maka mulai dari kereta Hek Tak Seng Kun, Dewa Api terus menyambar bangunan istal seluruhnya. 

Baru setelah itu pihak Kui Hiang Koan mendapat tahu adanya bahaya api. Maka mereka menjadi kaget, berisik dan repot. Mereka lantas menerka kepada perbuatan orang jahat ! Disamping membunyikan kentongan, orang repot berdaya memadamkan api itu.

See Sie adalah orang yang memegang pimpinan, disamping menitahkan orang memerangi api, ia membawa beberapa orang untuk mencari si orang jahat. Ia pula memasang jaga- jaga di sana sini.

Kui Hiang Koan luas beberapa bun, semuanya dihubungi dengan jalan yang kecil. Di jalan-jalan itulah yang orang-orang berseragam hitam lari mondar mandir atau berdiri diam melakukan penjagaan. Semua mereka itu membekal golok yang kedua bagian mukanya berkilat berkilauan. Hong Kun berlari-lari tanpa tujuan. Dia pula tidak tahu dirinya berada dimana. Dia terus terpengaruhkan obat pengganggu syaraf itu. Dia kaget waktu dia mendengar ada yang memegatnya sambil membentak, terus orang mengurungnya dengan mereka itu memperlihatkan golok- golok telanjang.

"Berhenti !" demikian teriakan itu.

Hong Kun berhenti berlari. Ia melihat delapan orang mengurungnya, ia mendelong mengawasi mereka itu, mulutnya bungkam.

Semua orang mengawasi si anak muda yang rambut dan bajunya bertanda bekas kebakar. Lalu See Sie menegur dingin

: "Bangsar, apakah kau masih berlagak pilon ?"

Dengan kelakuan orang separuh mengerti separuh tidak, si anak muda balik bertanya : "Kenapa kalian memegat aku ?"

"Kau bekas terbakar, pastilah kau si penjahat yang melepas api !" bentak seorang berseragam. "Kawan-kawan, mari kita ringkus dia !"

Menyusul itu enam buah golok menyerang berbareng kepada Hong Kun. Anak muda itu segera menyambuti. Dia terpengaruhkan obat tetapi ilmu silatnya tidak dilupakan karenanya. Selekasnya pelbagai senjata beradu, nyaring dan berisik suaranya. Dua barang golok lantas mental terbuang.

"Awas !" beberapa orang berseru, "Hati-hati !"

Mereka itu tidak takut, mereka maju pula. Yang goloknya terlepas mencari dulu senjatanya itu. Hong Kun berdiri diam, matanya mengawasi, pedangnya dilintangi.

"Kalian menyerang aku, kenapakah ?" tanya dia, sikapnya ketolol-tololan. "Kenapa kalian tidak mengenali aku ?"

Sementara itu tiba pula serombongan lain dari orang-orang berseragam hitam itu. Mereka pada membawa obor hingga wajahnya Hong Kun tampak tegas, tidak ada orang yang mengenali si anak muda. Mereka tidak tahu yang anak muda ini memakai topeng, sedang menyamar sebagai Tio It Hiong.

Sekarang, yang jadi pemimpin rombongan lantas menanya

: "Tuan, kau berani mengacau di Kui Hiang Koan ini, sudah selayaknya kau berani memperkenalkan dirimu ! Beritahukan nama besar tuan, nanti aku pergi melapor kepada majikan kami !"

Di luar dugaan, orang itu berubah sikapnya menjadi lunak. "Akulah Gak Hong Kun dari Heng San !" sahutnya si anak

muda seenaknya saja. "Siapa itu majikan kalian ? Suruhlah dia

datang kemari menemui aku !"

Tanpa disengaja, anak muda ini menyebutkan nama aslinya. Dia tak ingat lagi yang dia lagi memalsukan Tio It Hiong.

Semua orang berseragam itu berdiam saja, tetap mereka mengurung. Cuma seorang yang diam-diam lari mencari Ciok Peng, guna memberi laporan. Maka itu tak lama kemudian Koay To si Golok Kilat sudah muncul bersama delapan orang pengiringnya, yang pun hitam seragamnya. Bakan di belakang dia ada Siang Kun Buan thung Liok Cim. Ciok Peng sudah lantas mengasi si anak muda, yang tenang habis kena terbakar dan tampan, bahkan dia mengenali Tio It Hiong murid dari Pay In Nia ! Maka ia menjadi heran sekali.

"Tio It Hiong Laote !" akhirnya dia menanya, "apakah benar-benar kau hendak menyeterukan lohu ?"

Laote atau "adik tua" adalah panggilan hormat terhadap anak muda yang dihargai. Sedangkan lohu adalah "aku" untuk orang tua berbicara dengan anak mdua, artinya "aku si orang tua".

Siang Kun Bu teng sebaliknya tetap tertawa tawar. "Hm ! Sekarang ini orang dan buktinya telah ada, tak usah dikuatir yang kau nanti menggunakan lidahmu yang tajam untuk menyangkal perbuatanmu ini !"

Liok Cim telah terluka dan rumah bercelaka, itulah satu permusuhan yang besar sekali, sekarang dia justru menghadapi musuh besarnya, maka dapat dia mengenali musuhnya itu, sudah sepantas saja dia menyatakan kemurkaannya. Hanya sayang, hutang itu dibebankan atas dirinya Tio It Hiong karena dia tidak tahu musuhnya ialah Gak Hong Kun !

Ciok Peng menghalangi sahabatnya itu. Ia takut, saking gusar si sahabat nanti segera turun tangan. Dia pun maju lebih jauh.

"Tio It Hiong !" sapanya, sebab pertanyaannya belum memperoleh jawaban.

Gak Hong Kun mengawasi dengan mendelong. Dia tetap tidak menjawab. Salah seorang berseragam hitam menyela : "Ciok Loyacu, bocah ini barusan menyebukan namanya sendiri ! Menurut dia, dia she Gak, bukannya she Tio !"

Ciok Peng menjadi terlebih heran pula.

"Apakah dia menyebut juga namanya ?" tanyanya. "Apakah namanya itu ?"

Orang yang ditanya berpikir keras.

"Ya, dia menyebutkan namanya." sahutnya. Lalu dia ragu- ragu dan suaranya terputus-putus. "Dia menyebut Gak. Gak, entah, entah, apa, Jun".

"Hm !" Koay To si Golok Kilat memperdengarkan suara dinginnya. Matanya mengawasi gusar pada orangnya itu, hingga orang itu menundukkan kepala saking takut.

"Tio It Hiong !" Liok Cim menegur pula keras. "Tio It Hiong, apakah kau tetap berpura-pura pilon ?"

Kali ini Hong Kun bagaikan terasadar, maka dia lantas mengawasi dengan mata dibuka lebar, sinarnya bengis. Dengan dingin dia berkata nyaring : "Buat apakah kau pentang bacot keras-keras. Jika kau benar laki-laki, mari sambut barang beberapa jurus ilmu pedang Heng San Pay ku

!'

Hong Kun menyamar menjadi It Hiong, tetapi disaat dibawah pengaruh pil Thay Siang Hoang Hun Tan itu, dia ingat hanya she dan namanya sendiri, partainya sendiri juga. Mendengar jawaban itu yang berupa tantangan, Liok Cim menjadi heran.

Dunia Kang Ouw ketahui baik Tio It Hiong murid dari Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia, kenapa dia sekarang ini menyebut partainya ialah Heng San Pau dan tadi namanya Gak entah apa Kun ?

Koay To Cio Peng pun heran sekali tetapi karena dia harus memegang derajat supaya nama Kui Hiang Koan yang tersohor puluhan tahun tak jadi jatuh mata, dia perlu membekuk dahulu anak muda ini. Dia pula tahu semua orangnya bukanlah lawan dari si anak muda, jadi perlu ia turun tangan sendiri.

"Anak muda !" bentaknya, "tak perduli kau orang macam apa, karena kau telah mengacau disini, kaulah musuh lohu ! Lihatlah golokku !'

Kata-kata itu dibarengi dengan satu serangan. Karena golok diputar, Hong Kun seperti juga lantas kena terkurung atau ketutupan sinar senjata tajam itu.

Melihat kesehatan dan kelincahannya, tak kecewa Ciok Peng memperoleh gelarannya Koay To si Golok Kilat.

Otaknya Hong Kun bagaikan sadar, selekasnya dia melihat golok musuh menyambar berulang-ulang. Dia tidak mau menangkis, dia hanya main berkelit hingga nampak kelincahannya yang luar biasa. Tujuh kali dia berkelit, lima tindak dia mundur. Setelah itu mendadak dia berseru-seru : "Aku Tio It Hiong ! AKu Tio It Hiong ! Kenapa kalian menyerang aku ?"

Ciok Peng menunda penyerangannya ! "Bukankah kau yang melepas api menerbitkan kebakaran ?" tegurnya. Dan dengan goloknya dia menunjuk ke tempat dimana api masih berkobar-kobar.

Hong Kun berpaling ke tempat kebakaran.

"Kamu yang melepas api membakar aku !" katanya nyaring. "Sekaragn kamu mau menyangkal itu ?"

Pil beracun membuat pikirannya anak muda ini kacau tak karuan. Sealgi dia memperdengarkan suaranya itu keras, dia pun lantas menyerbu rombongan orang-orang berseragam hitam !

Dua orang maju menangkis dengan golok guna menghadang, tetapi golok mereka kena disampok terbang, menyusul mana si anak muda berlompat lari nyeplos diantara dua musuh itu yang tak berani merintanginya. Dia kabur keras sekali.

"Kejar !" teriak Ciok Peng yang menjadi panas hati. "Jangan kasih dia lolos !" Dan dia mendahului berlompat lari mengejar.

Liok Cim turut mengejar, hanya ia memencar rombongannya.

Hong Kun kabur, tanpa tujuan. Dia lagi langsung ke depan, maka itu dia mesti melewati beberapa pendopo, beberapa halaman terbukan dan taman-taman bunga kecil. Dia lari dan berlompatan mirip seekor rubah atau tupai.

Di sepanjang jalan itu, selalu ada orang yang melintang, yang menghadang, tetapi semua dapat dilewati, baik karena senjatanya diterbangkan maupun karena mereka dilukai. Malam itu sunyi tetapi sekarang berubah menjadi sangat berisik, lonceng Kui Hiang Koan berbunyi nyaring tak hentinya. Suara kebakaran pun riuh dan teriakan-teriakan serta bentakan-bentakan menambah ramainya. Di dalam keadaan berisik dan kacau itu, Hong Kun lari terus-terusan, sering kali dia berlompatan. Toh disaat tak sadar itu, dia ingat mencari tempat yang ruyuk dan celah untuk menyembunyikan diri.

Begitulah ketika ia melihat sebuah jendela terbuka, didalam mana ada cahaya api yang terbayang diantara kain jendela, sewajarnya saja dia lompat memasuki jendela itu dengan satu lompatan "Ular Hijau Melintas Pohon".

"Oh !" jerit seorang wanita, menyusul mana suatu hembusan angin yang keras menjurus ke mulut jendela itu, kepada orang yang berlompat masuk !

Hong Kun terkejut. Tubuhnay telah tertolak keras hingga dia terhuyung membentur tembok. Justru itu, api pun padam secara tiba-tiba. Di dalam gelap dan sunyi, terdengar suara berkeresekan perlahan dari orang yang tengah mengenakan pakaian terburu-buru.

Hong Kun merasai kepalanya pening, dia sangat lelah.

Tengah sadar dan tidak, dia jatuh berduduk di lantai, punggungnya menyender pada tembok. Bahkan dia terus berdiam. Karena dia memejamkan matanya hendak tidur.....

Tidak antara lama, api di dalam kamar menyala pula. Bahkan kali ini dengan terlebih terang, maka tegas nyata tampak kamar itu seluruhnya. Itulah sebuah kamar tamu. Pembaringan tertutup kelambu yang indah sebanding dengan kamarnya seorang nona anak pahlawan atau putri bangsawan. Kamar pula berbau harum, membangkitkan rasa gairah sukma.

Setelah menyalanya api, tampak di depan pembaringan itu berdiri seorang wanita yang bukan lain dari pada Sek Mo atau Peng Mo, si Bajingan Es. Wajahnya ramai dengan senyuman manis, matanya tajam jeli mengawasi seluruh kamarnya, sedangkan tangannya masih merapihkan jubahnya.

Diatas pembaringan, yang kelambunya terpentang, rebah seorang pria setengah tua, matanya dipejamkan, separuh tubuhnya tertutup selimut. Dia rebah dengan diam saja, entah lelah atau terlalu kantuk. Dia sampai tak menghiraukan bahwa barusan ada orang yang lancang masuk ke dalam kamarnya itu !

Siapakah pria itu ?

Dialah Couw Kong Put Lo si ahli So Lie Kang, kitab ilmu awet muda. Dia berada bersama Peng Mo di dalam satu kamar, dapat dimengerti bahwa mereka tengah berplesiran.

Ketika siangnya Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo berselisih disebabkan memperebutkan dia, Peng Mo yang cerdas lantas memikir jalan guna mencari kepuasan dirinya. Ia berpokok pada satu soal : Mendapati dua-dua pria itu atau hanya satu diantaranya. Jalannya ialah ia meninggalkan kamar dengan lompat keluar dari jendela. Ia tapinya tidak kabur terus hanya bersembunyi di tempat gelap, matanya mengawasi ke jendela. Ia melihat Couw Kong Put Lo menyusul keluar. Segera ia menyampok dengan pukulan angin kepada pria itu, ia sendiri menyingkir ke semak pohon bunga lainnya.

Couw Kong Put Lo seorang Kang Ouw ulung. Dia tak roboh karena serangan pukulan angin itu. Dia berkelit dan sempat melihat satu tubuh langsing berkelebat lewat. Dia lantas menerka, itulah Peng Mo yang memanggilnya. Sebab serangan angin itu tidak hebat. Ketika ia menoleh, dia melihat Ciu Tong lompat keluar dari kamar. Dia tak ingin mengenai serangan itu, dia menyingkirkan diri dari penglihatan orang.

Ciu Tong sebaliknya cuma mencari Peng Mo. Dia sebal dan jemu terhadap Couw Kong Put Lo, dia justru hendak menyingkir dari situ. Langsung dia lompat naik ke atas genteng karena dia menyangka Peng Mo mengambil jalan itu. Lacur baginya, dia berpapasan dengan See Sie dan jadi bertempur karenanya !

Put Lo sebaliknya menyusul ke tempat kemana tubuh ramping tadi menghilang. Segera ia melihat si nikouw tengah mengawasinya. Ia lompat kepada wanita itu, terus keduanya saling bersenyum. Di lain saat, si wanita telah dituntun diajak jalan berbareng. Mereka melintasi sebuah taman, tiba di sebuah kamar dimana tampak sinar api. Mereka melongok di jendela dan menyaksikan sebuah kamar dengan perlengkapan indah. Dengan berani keduanya memasuki kamar itu !

"Sungguh kamar yang indah, cocok untuk kita !" Put Lo kata tertawa.

Peng Mo mengiringi tawa itu.

Di saat sepasang merpati ini menikmati lakon asmaranya, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi diluar, mereka tak mendengarnya. Mimpi sedap mereka baru terganggu loncat masuknya Hong Kun. Peng Mo yang menyerang, terus dia menyalakan lilin. Selekasnya dia mengenali orang itu ialah orang yang lagi ia cari seperti dalam impian, perlahan-lahan dia menghampirinya. Luar biasa Hong Kun, cepat sekali dia telah tidur pulas dan menggeros.

Hatinya Peng Mo berdebaran. Ia sudah mengambil keputusan, Couw Kong Put Lo mau ditinggal pergi, sebaliknya Hong Kun mau dibawa lari. Hanya belum lagi ia bekerja, mendadak ia mendengar daun pintuk diketuk keras dua kali, terus terdengar suara orang berkata : "Tetamu kami, harap suka membuka pintu !" Disebelah itu terdengar suara orang lainnya : "Aku lihat bocah itu lari kemari, lantas dia lenyap !

Mestinya dia berada di dalam kamar ini !"

Peng Mo berdiam, Couw Kong Put Lo sebaliknya. "Siapa ?" tanyanya lagi. "Siapa yang mengetuk pintu ?"

Tanpa menanti jawaban, Peng Mo menyambar tubuhnya Hong Kun buat diangkat dan dipondong dibawa lari bersembunyi ke belakang pembaringan.

"Buka pintu ! Lekas !" demikian terdengar suara.

Terpaksa Put Lo turun dari pembaringannya, dengan tindakan tak tetap ia menghampiri pintu dan membukakan. Maka segera ia melihat serombongan orang berseragam hitam, yang semua membekal senjata tajam.

"Hei, bagaimana ini ?" tanya Put Lo tak puas. "Malam gelap gulita begini, kenapa kalian mengganggu tidurku ?"

"Maaf, tuan !" berkata seorang sambil memberi hormat. "Di dalam kamar tuan ini ada siapa lagi? Kami mendapat perintah akan memeriksa setiap kamar !" Put Lo tidak melihat Peng Mo, ia menerka orang sudah pergi menyembunyikan diri, maka itu lantas ia memperlihatkan sikap tawar.

"Kalian keluarlah !" bentaknya.

Beberapa orang itu saling mengawasi. Nampak mereka tidak senang.

"Maaf, tuan" kata orang yang tadi, tetap sabar. "Kami mendapat perintah membekuk seorang penjahat yang membakar penginapan kami. Maka itu kami minta suka apalah kau memandang pemilik kami, supaya kau sudi mengijinkian kami melakukan pemeriksaan !"

Put Lo memperdengarkan tampang gusar.

"Di sini tidak ada si pembakar rumah !" katanya keras. "Tidak ada orang lainnya ! Kalian mau pergi atau tidak ?" Ia hendak menggertak rombongan itu.

Si pemimpin rombongan menghunus goloknya. Kata dia terpaksa : "Tuan, karena tuan tidak sudi memberi muka kepada kami, maaf !'

Rombongan itu turut menghunus goloknya masing-masing, lantas mereka mengatur diri, bersiap-siap untuk menggeledah

!

Couw Kong Put Lo menjadi sangat tidak puas.

"Hm, hm !" ia perdengarkan suara dingin berulang-ulang. "Kalian mencari mati kalian sendiri. Jangan kalian mengatakan aku si orang tua telengas !" Rombongan itu tidak menghiraukan ancaman, mereka lantas menggeledah. Mereka tidak mendapati siapa juga. Diantaranya tiada ada yang menyangka ke belakang pembaringan......

Si pemimpin rombongan menjadi bingung. Dia heran dan bercuriga. Tadi justru dia sendiri yang melihat si pelepas api lari ke halaman ini. Pelepas api itu tidak ada ! Habis, kemanakah ia itu menyingkir ?

"Kalian sudah memeriksa seluruhnya ?" tanyanya pada kawan-kawannya.

"Sudah !" sahut rombongan itu, yang terus berkumpul di belakang pemimpinnya ini.

Put Lo diam-diam girang dan heran. Girang sebab orang tidak mendapatkan bukti, heran sebab dia menerka-nerka kemana menyingkirnya Peng Mo. Tentang datangnya Hong Kun, dia memangnya tidak tahu sama sekali.

"Cukup sudah kalian menggeledah ?" tanyanya bengis. "Kalian sudah menghina padaku si orang tua ! Jangan kalian harap akan dapat keluar pula dari kamar ini !"

Kata-kata itu ditutup dengan satu gebrakan pada meja hingga meja itu pecah. Dengan bengis dia mengawasi rombongan itu dan berulang-ulang dia memperdengarkan suara dingin. "Hm ! Hm! Dia pula berdiri tegak dan keren.

Si pemimpin rombongan penasaran. Sebenarnya dia tak kenal hati. Sikapnya mengancam dari tetamu membuat orangnya bersiap sedia melakuka perlawanan. "Coba periksa disitu !" perintahnya sambil menunjuk ke belakang pembaringan.

Rombongan itu ragu-ragu.

"Periksa !" perintah si pemimpin. "Dia tentu bersembunyi disitu !"

Justru itu tiba-tiba angin menghembus kelambu, lilin diatas meja padam seketika. Maka gelaplah seluruh kamar. Justru itu terdengar beberapa orang menjerit tertahan, terdengar juga suara orang dan golok roboh ke lantai !

Lewat sekian lama, lilin telah menyala pula. Tiga orang tampak berdiri, yang lainnya rebah malang melintang. Si pemimpin baru saja melayap bangun, mukanya pucat pasi dan merah padam bergantian sebab malu dan marah. Kamar itu kosong. Kelambu belakang pembaringan tersingkap. Di situ ada kamar pakaian. Yang heran, penghuni kamar tadipun turut lenyap !

Pemimpin rombongan itu heran. Ia mendapatkan tidak ada orangnya yang luka, walaupun mereka roboh dan rebah, cuma golok mereka yang terlepas dan berserakan di lantai. Ketika kawan-kawannya pada bergerak bangun, mereka semua saling mengawasi dengan muka menyeringai saking likat.

Habis menjemput goloknya, mereka meninggalkan kamar dengan mulutnya semua bungkam.

Peng Mo telah berlaku lihai sekali. Mendengar orang hendak menggeledah belakang pembaringan, dia mengeluarkan pukulan angin yang membuat pelita padam. Menyusul itu, dia memondong Hong Kun berlompat meninggalkan kelambu. Dengan sampokan lihai, dia merobohkan rombongan itu. Maka mudah saja dia lari meninggalkan kamar. Hong Kun tetap dikempitnya.

Couw Kong Put Lo, orang Kang Ouw berpengalaman. Ia tahu apa artinya angin itu dan padamnya pelita. Tanpa ragu sedikit juga, ia lompat keluar dari dalam kamar. Tak sudi dia menjadi rewel dan pusing.

Peng Mo membawa Hong Kun lari sampai di jalan besar ditepi rimba. Ia melihat sang fajar bakal segera tiba. Ia heran mendapati Hong Kun menjublak saja. Dengan prihatin dia menanya : "Saudaraku yang baik, kau kenapakah ?"

Hong Kun tidak menjawab, dia tetap berdiam saja.

Peng Mo heran dan menerka-nerka, lantas ia merogoh sakunya mengeluarkan peles obat, mengambil tiga butir pil, yang ia terus jejalkan ke dalam mulutnya si anak muda.

Itulah obat pemusnah racun dari Hong Gwa Sam Mo. Inilah obat yang di Ngo Tay San ia banggakan terhadap Im Ciu It Mo yang katanya dapat memusnahkan racun Thay Siang Hoang Hun Tan.

Habis mengasi makan obat itu, Peng Mo tarik si anak muda dibawa masuk kedalam rimba, di tempat yang terkurung. Di situ ia suruh si anak muda duduk ditanah, terus ia menguruti, akan mencoba meluruskan jalan darahnya.

Disaat itu Hui Hiang Koan sudah menderita kerugian kebakaran. Kecuali istal, telah musnah beberapa ruang lainnya yang berdekatan. Hanya akhirnya api dapat juga dipadamnkan hingga tampak puing dan abunya saja, asapnya yang masih mengepul...... Ciok Peng gusar dan mendongkol bukan main. Sia-sia belaka ia mencari si orang jahat yang melepas api itu. Tetapi ia memerintahkan orang-orangnya berjaga-jaga, melarang orang masuk terutama keluar. Kerugian benda ia tak hiraukan, yang hebat ialah nama baik Kui Hiang Koan akan tercemar.

Akhirnya Koay To beramai berkumpul di Toa tian, ruang besar. Tetap ia bergusar.

"Setelah fajar, undanglah semua tetamu hadir diruang ini !" demikian perintahnya. Ia masih hendak terus membuat penyelidikan.

Ciu Tong sementara itu lolos juga dari kepungannya Dee Sie sekalian sesudah dia menjebloskan diri ke dalam kamar yang gelap gulita. Dia menjaga diri supaya tidak roboh keras dan terluka. Untuk herannya, kakinya menginjak barang yang lunak yang terus pecah. Kiranya dia jatuh diatas kasur.

"Aduh !" terdengar jeritan tajam tetapi halus.

Menyusul itu orang she Ciu ini terasampok tangan yang halus yang membuatnya terguling jatuh ke lantai. Ia terkejut. Ia menerka yang ia sudah jatuh diatas pembaringannya orang perempuan. Ia merasai nyeri sekali tetapi ia menahannya. Ia menutup mulut sedang otaknya bekerja memikirkan jalan lolos

! Matanya pun melihat kelilingan, tak perduli kamar gelap sekali.

Tiba-tiba tampak cahaya terang ! Kiranya lilin diatas meja telah ada yang menyalakan. Disitu berdiri seorang nona dengan baju hijau, matanya berkesap kesip mengawasi tamunya yang tak diundang itu. Terang dia kaget dan heran, dia pula gusar. Ciu Tong memandang nona itu, ia menoleh ke pembaringan. Tampak ia jengah. Di situ tidak orang lainnya.

Si nona tetap berdiam saja, cuma tangannya memegangi ikat pinggangnya.......

Ciu Tong berbangkit perlahan-lahan. Lega juga hatinya mengetahui si nona sendirian saja. Lekas sekali timbullah nafsu birahinya.

"Peng Mo lenyap, sekarang ada gantinya, nona ini !

Bukankah ini jodoh ?" demikian pikirnya. Maka lekas-lekas ia merangkap tangannya memberi hormat pada nona itu seraya berkata : "Nona, Kui Hiang Koan terbakar, nona ketahui atau tidak ?"

"Hm !" si nona memperdengarkan jawabannya.

"Kui Hiang Koan kebakaran tetapi kau jatuh dari atas genteng ke atas pembaringanku ! Benar bukan ?"

"Maaf, nona. Itulah tidak aku sengaja." kata jago Hek Keng To itu. Ia merendah sendirinya sebab tak berani ia membuka rahasianya.

Nona itu mengawasi dengan mata mendelik, lantas dia tertawa.

"Kau. kau bukannya orang baik-baik !" katanya,

tangannya menuding. "Aku larang kau mengaco belo !"

Ciu Tong mengawasi, hatinya bekerja. Ia lantas duga si nona siapa dan macam orang apa ? Adalah dia tahu hotel ? Kalau benar dialah seorang nona ! Kenapa dia bersendirian saja ? Biar bagaimana hotel adalah sebuah tempat dimana naga dan ular biasa berdiam bercampuran ! Adakah diantara dia orang Lang Ouw ? Gerak geriknya tak mirip-miripnya ! Toh dia tenang, dia tak bingung.

Jago Hek Keng To ini menatap si nona, kata dia sungguh- sungguh. "Nona, aku orang baik atau jahat, nona dapat lihat sendiri. Nona dapat menetapkannya. Bahkan mungkin ada saatnya yang nona menyukai aku si orang jahat."

Nona itu balik menatap, ia agaknya kurang mengerti. "Aku Ya Bie, aku tak menyukai orang jahat !" katanya

kemudian. "Orang yang aku sukai ialah seorang kakak Hiong

!"

Ciu Tong melongo. Tak mengerti ia akan kepolosan nona tiu, hingga ia mau menerka orang benar-benar polos atau tengah berlagak polos. Lalu ia bersenyum dan maju satu tindak, ia memberi hormat pula.

"Nona, kebetulan sekali kita bertemu disini !" katanya. "Di empat penjuru lautan, manusia itu sebenarnya bersaudara ! Nona, aku mohon bertanya she yang mulia serta nama besar dari nona ! Bagaimanakah aku harus memanggilnya ?"

Nona itu mengangkat kepalanya. Dia berpikir. Tiba-tiba dia tertawa.

"Namaku Ya Bie !" katanya pula kemudian. "Pernah kau dengar atau tidak ?"

Ciu Tong mengernyitkan alisnya, otaknya berfikir keras. Ia mengingat-ingat namanya orang-orang Kang Ouw yang ia pernah kenal dan dengar. Mana ada yang bernama Ya Bie. Nama itu aneh ! Belum pernah ia mendengarnya ! Maka ia heran sekali.

Si nona mengawasi, tanpa menanti jawaban lagi ia berkata pula : "Ya Bie dari Ceng Lo Ciang ! Aku datang dari pegunungan Ceng Lo Ciang itu ! Masihkah kau belum pernah mendengarnya !"

Ciu Tong terpaksa menggeleng kepala, agaknya dia bingung.

"Maafkan aku nona yang aku kurang pendengaran dan penglihatanku kurang luas" demikian katanya. "Menyesal aku belum pernah mendengar nama nona. Walaupun demikian kita toh dapat menjadi sahabat bukan ?"

Ya Bie memperlihatkan tampang tidak senang.

"Jika kau tidak tahu ya sudah " katanya. "Memangnya siapakah yang menginginkan kau ketahui nama nonamu ini ?"

Ciu Tong sebaliknya tertawa. Dia maju lagi dua tindak. "Aku menyesal nona, aku mohon maaf yang aku tak

mengenal nona !" kata dia hormat. "Aku girang yang sekarang

telah aku mengetahuinya !"

Ya Bie polos, pengalamannya sangat sedikit. Melihat tingkahnya Ciu Tong, ia tertawa sendirinya.

"Ah, kau benar orang tak punya muka !" katanya. "Terhadap seorang wanita kau bicara bergula begini manis !"

Senang hatinya Ciu Tong. Ia menyangka si nona menyukainya. Maka maulah ia bergurau. "Nona, sabuk hijaumu indah sekali !" demikian pujinya mengangkat-angkat. "Nona, dari bahan apakah kau membuatnya ?" Lalu dengan berani dia mengulur tangannya akan meraba sabuk dipinggangnya nona itu. Tapi dia bukan meraba atau menoel, mendadak saja dia terus menotok jalan darah "Yauw hiat" nona itu.

Ya Bie berseru kaget, baru setengahnya ia sudah roboh lemas.

Tak terkirakan girangnya Ciu Tong. Dia telah berhasil membokong nona yang polos itu, yang kecantikannya sangat menggiurkannya. Maka dia tertawa terbahak-bahak. Kemudian tanpa ayal lagi, dia membungkuk akan memondong, mengangkat tubuh si nona guna dipindahkan ke atas pembaringan. Bahkan dengan kecepatan luar biasa, dia pun meloloskan sabuk hijau nona itu, hingga usahanya tinggal satu tindak lagi....

Sekonyong-konyong jago Hek Keng To ini menjadi kaget sekali. Sabuk hijau itu memperlihatkan cahaya berkilau. Saking kagetnya dia mencelat mundur tiga tindak, matanya mengawasi mendelong terhadap sabuk itu yang dirabanya bukan terasa sebagai kain.....

Mengawasi terlebih jauh, Ciu Tong menjadi terlebih kaget hingga dia bergidik jeri.

Sabuk itu ternyata seekor ular yang sekarang kedua biji matanya memain bercahaya merah seperti darah. Begitu pun merah juga lidahnya yang pastinya beracun sebab itulah ular hijau yang disebut ular bunga laut. Cuma Ciu Tong belum tahu ular itu ular apa, dia hanya menyangka.... Ular itu melingkar ditubuhnya Ya Bie, kepalanya diangkat, matanya mengawasi manusia dihadapannya, lidahnya tetapi diulur keluar masuk.

Walaupun dia jatuh, Ciu Tong bersiap sedia andia kata binatang itu lompat menyambarnya. Sesudah lewat sekian lama, ia mendapati sang binatanga hanya diam melingkar, hatinya menjadi tenang. Dia tak berkuatir lagi seperti semula.

"Ha !" pikirnya, "sekiranya dia mengembara dengan mengandali ularnya ini...Hm !"

Segera jago Hek Keng To itu menghunus pedangnya, tanpa ragu pula ia menebas ke arah ular itu, ia tidak membacok sebab bacokannya dapat mengenai tubuhnya si nona. Ia pula tidak menikam karena kuatir tikamannya kurang tepat. Ia telah memikir, asal ular itu sudah mati, akan puaslah ia ! Ia pun mau membinasakanulat itu sebab ia sangat mengilari si nona. Bukankah si nona itu bagaikan daging angsa, bayangan yang sudah disajikan di depannya ? Ia percaya ilmu silatnya lihai, maka ia merasa pasti dapat ia membunuh binatang beracun itu.

Baru pedang diluncurkan setengah atau Ciu Tong sudah merasakan lengannya lengan kanan yang dipakai menebas itu nyeri sekali, dan rasa sakit itu terus menyelusup ke ulu hatinya. Karena itu, tidak dapat ia terus menggunakan tenaganya untuk menebas ular itu. 

Masih ada satu hal lagi, yang membuat disebelahnya nyeri lengannya itu juga tubuhnya tertarik keras ke belakang, hingga dia menjadi mundur limbung tiga tindak, hampir dia terguling jatuh. Selekasnya dia sudah dapat menetapkan tubuhnya, dia lantas menoleh ke belakang. Kembali dia menjadi kaget sebab dia melihat siapa yang telah menariknya itu ! Ialah seekor orang utan yang tubuhnya besar dan berbulu tebal, yang mestinya bertenaga kuat sekali, sebagaimana dia mudah saja dibetot mundur itu, sedang matanya Bienatang itu yang bengis dipakai mengawasi padanya secara menyeramkan !

Orang utan itu membuka lebar mulutnya hingga tampak giginya atas dan bawah yang tajam, dia pula berPekik beberapa kali, habis mana dia bukan menerkam manusia itu, dia hanya lompat ke pembaringan untuk memondong bangun tubuhnya Ya Bie.

Sebelumnya dia dikasih bangun dan duduk dipembaringan, nona dari Cenglo ciang itu sebenarnya sudah lantas ingat apa yang barusan terjadi. Tak ia lemah dan roboh, ia pingsan sebentar saja, hingga ia menjadi tidak berdaya. Setelah sadar ia lantas mengerahkan tenaga dalamnya. Ia pula menggunakan Sin Kut Kang, ilmu memperciut tubuhnya.

Selekasnya sudah dapat menyalurkan seluruh darahnya, bebaslah ia dari totokan pada jalan darahnya itu.

Ya Bie adalah Cianglo ciang adalah muridnya Kip Hiat Hong Mo, walaupun dia belum pernah merasai atau menikmati hubungan pria wanita atau suami istri, dia telah sering melihatnya. Karena itu dia lantas mengetahui maksudnya Ciu Tong. Maka dari bersikap tenang, dia menjadi gusar sekali Ciu Tong hendak membukai pakaiannya. Itulah dia harus balas.

Dia polos tetapi dia cerdas bagaimana harus bertindak. Maka dia berpura-pura masih lemas meskipun sebenarnya kesehatannya sudah pulih seluruhnya. Dia merebahkan diri sambil mengawasinya si pria, matanya mengintai. Si orang utan tidak tahu niatnya sang majikan, dia muncul secara tiba-tiba, melihat si nona terancam bahaya, dia membetot Ciu Tong keras sekali.

Menampak demikian, Ya Bie lantas berlompat turun dari atas pembaringan degnan sebab ia menjemput ularnya, hanya waktu ia mengangkat kepalanya menoleh ke arah Ciu Tong, pria itu lenyap entah kemana. Sementara itu kecuali sinar lilin, kamar pun mulai diterangi remang-remang sang fajar. Justru itu terdengar juga suara genta dan berisik dari Kui Hiang Koan hanya samar-samar.

Ya Bie pergi ke jendela, dia menengadah langit. Katanya seorang diri, perlahan : "Sekarang sudah terang tanah, dapat aku cari dia ! Kemana juga kau pergi akan aku cari padamu. Hendak aku membalas untuk perbuatan ceriwis dan kurang ajarmu ini !"

Begitu berpikir begitu si nona bekerja. Ia memadamkan lilin, terus ia lompat keluar jendela.

Si orang utan berlompat menyusul nonanya itu sambil dia beberapa kali memperdengarkan Pekiknya.

Ciu Tong sementara itu keluar dari jendela dengan pikirannya kaget. Dia sangat berduka, menyesal dan mendongkol dengan berbareng. Dialah seorang Kang Ouw yang berpengalaman, namanya pun cukup terkenal, bahkan dia pernah menemukan orang segolongannya yang luar biasa baik di jalan putih maupun di jalan hitam, akan tetapi kali ini dia dibuat kecele oleh seorang Ya Bie yang dia belum kenal sama sekali, yang namanya dia belum pernah dengar !

Siapakah nona itu ? Kenapa dia berikat pinggangkan seekor ular ? Dan kenapa dia membawa-bawa orang utannya yang bertenaga luar biasa itu ? Lagi pula nona itu dari golongan manakah ?