Iblis Sungai Telaga Jilid 49

 
Jilid 49

Pertanyaan itu membuat mukanya si pria berubah sedikit pucat dan merah, entah dia likat atau terkejut tetapi lekas juga dia tertawa dan berkata manis : "Saru nama besar yang telah lama kudengar ! Sungguh berbahagia aku yang sekarang ini aku dapat bertemu denganmu suthay ! Aku yang rendah ialah Cek Hong Bu Ciu Tong si Angin Merah ! Suthay terimalah hormatku !"

Kusir itu sudah lantas memberikan hormatnya sambil ia berbangkit, sedangkan matanya yang tajam tak mau menyimpang dari wajahnya si nikouw.

Ceng Ciat Nikouw melirik pula pria setengah tua itu.

"Oh, kiranya seorang gagah dari Heng Keng To !" katanya tertawa manis. "Sungguh kecewa mataku yang ada bijinya tak bisa mengenali orang Kang Ouw yang tersohor ! Maaf, maaf !"

Memang juga pria itu Ciu Tong dari Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam, adik seperguruan dari Beng Leng Cinjin, ketua Hek Keng To dan suheng, kakak seperguruan yang kedua dari Tan Hong. Dialah orang golongan sesat tetapi dia telah ketahui namanya Hong Gwa Sam Mo yang tidak dapat dipandang ringan. Maka itu tidak mau dia berlaku sembrono, hanya itu dia sangat tertarik oleh kecantikanya Peng Mo yang centil itu, hingga disaat itu juga darahnya bagaikan bergolak. Maka disaat detik itu, disamping jeri, dia ingin mendapati si nikouw.

Cia Tong memegang lis dengan tangan kiri. Mestinya ia menarik mengedutnya, membikin kudanya membuka langkah untuk menarik keretanya, tetapi sekarang, dia berdiam saja, seperti juga tangan kirinya kehabisan tenaga.

"Ciu sicu" kemudian ia mendengar suara merdu dari si nikouw, "pagi-pagi begini sicu berada di tengah jalan ini, sebenarnya sicu hendak pergi kemanakah ? Nampaknya sicu agak tergesa-gesa !"

Ciu Tong bingung tapi ia lekas memberikan jawabannya. "Aku hendak pergi ke Hek Sek San." demikian sahutnya.

Mendadak ia berhenti. Sebab ia ingat tak dapat ia sembarang

bicara Peng Mo tersenyum manis.

"Kita sama-sama orang Kang Ouw, kalau kita kebetulan bertemu satu dengan lain, tak apa-apa bila kita memasang omong !" katanya manis. "Bukankah kau tak bakal terbinasa, Ciu Sicu. Laginya kita..."

Parasnya Ciu Tong merah. Dia jengah sendirinya. Sikapnya barusan bukan lagi sikap orang Kang Ouw. Sebagai orang Kang Ouw, tak dapat ia pemaluan. Ia lantas berpura batuk untuk guna melindungi diri, terus dia tertawa.

"Harap jangan salah mengerti, suthay !" katanya. "Jika suthay benar suka memandang mukaku, aku senang sekali yang kita mengikat perkenalan. Itulah suatu kehormatan bagiku, hingga mukaku bagaikan ditempel emas !" Senang Peng Mo mendengar orang bicara demikian hormat. Ia mengangkat kepalanya memandang wanita itu, wajahnya sendiri tersungging senyum ramai, matanya mengawasi mata orang.

"Ah !" serunya perlahan.

Tetapi Ciu Tong telah mendengar itu, dia senang sekali. Suara itu sangat merdu dan membuat hatinya berdebaran. Hingga ia merasai dirinya seperti lagi terbang melayang- layang.

Peng Mo, orang mengawasi dia dengan sinar mata menyayangi.

"Su thay." berkata pula jago muda dari Hek Keng To itu. "Kalau kita sama tujuannya tidak ada halangannya buat su thay naiki keretaku ini untuk kita jalan bersama-sama. Maukah su thay diantar oleh buat satu rintangan ?"

Itulah kata-kata yang menggirangkan Peng Mo. Itulah tawaran yang ia harap-harap semenjak tadi. Saking girangnya, alisnya bangun berdiri. Tapi ialah seorang licik, ia beraksi membawa diri agar orang memandang tinggi padanya.

Bukankah ia menang diatas angin ?

"Terima kasih, sicu." katanya. "Meski benar tujuan kita sama tetapi aku tak berani kalau sicu sampai mesti mengantarku. Harap sicu tidak berlaku sungkan !"

Ciu Tong berpikir. Tiba-tiba ia sadar. Tak dapat ia dipengaruhi nikouw ini. Ia pun jeri terhadap Hong Gwa Sam Mo. Maka itu lekas-lekas ia memberi hormat seraya berkata : "Kalau su thay mengatakan demikian, baiklah ! Maaf, su thay. Ijinkanlah aku pamitan ! Sampai kita jumpa lagi !" Selekasnya suaranya berhenti, jago dari Hek Keng To itu menggemprak kudanya yang ia sekalian bentak, maka berbengarlah kuda itu, yang terus membuka langkahnya, hingga roda-roda kereta tadi berjalan bergelindingan !

Peng Mo melengak. Orang pergi berlalu mendadak. Tak ada waktu buat ia bicara pula. Bahkan buat lompat naik ke kereta, kesempatan sudah tidak ada lagi. Ia berdiri diam saja mengawasi kereta berlalu meninggalkannya.

"Hai !" serunya kemudian saking mendongkol. "Awas, Ciu Tong ! Hendak aku lihat, berapa kuatnya hatimu ! Mesti datang saatnya yang kau jatuh kedalam tanganku !"

Dengan satu lompatan, nikouw ini lantas lari untuk menyusul kereta itu. Ia lari dengan ilmunya "Hoa Eng Lie Hong".

Ciu Tong sendiri kabur dengan pikirannya pusing kacau, tak dapat ia melupai si pendeta perempuan. Ia seperti kehilangan sesuatu. Selagi sadar, ia jeri terhadap Bajingan itu. Selekasnya pikirannya butek, ia ingin mendekatinya. Pernah ia melihat seperti si nikouw cantik berada di depannya.

"Sayang aku tidak ajak dia naik keretaku." pikirnya kemudian, menyesal. Ceng Ciat Nikouw seperti lagi main mata dengannya !

"Ciu sicu !" tiba-tiba ia mendengar suara merdu memanggilnya. Lebih dulu ia pun bagaikan mendengar tawa yang manis sekali. Ia menjadi bingung. Ia lalu berpikir mungkin ada harganya kalau dia bersahabat dengan Hong Gwa Sam Mo yang pasti bisa membantu segala usahanya Hek Keng To..... Oleh karena pikirannya kacau itu tanpa merasa, Bek Hoan Siancu membuat keretanya berlari kendor. Bahkan dilain saat mendadak kudanya menghentikan langkahnya, hingga keretanya turut berhenti juga. Ia menjadi melengak, matanya mendelong ke depan, kemudian ia melihat juga ke sekitarnya.

"Ah !" serunya sendiri perlahan. Ia menyesal sudah tidak mau lantas mengikat persahabatan dengan Peng Mo. Dalam pikiran sadar seperti itu ia bisa menggunakan otaknya.

"Ciu sicu ! Ciu Sicu !" tiba-tiba ia mendengar panggilan halus disaat ia hendak menjalankan pula keretanya. "Ciu sicu, tunggu dahulu. "

Itulah suara Peng Mo, maka giranglah Ciu Tong.  "Ada apa ?" sahutnya sambil ia menoleh ke belakang,

bahkan kudanya pun diputar untuk dikasih balik ke tempat darimana si nikouw datang..........

Boleh dibilang di dalam sekejap saja disusul dengan berkelebatnya tubuh bagaikan bayangan. Peng Mo sudah berlompat naik ke atas kereta, malah dengan tidak malu-malu lagi dia lantas duduk disampingnya kusir. Bukannya dia likat, dia justru bersenyum manis.

"Ada beberapa kata-kata yang pinni ingin tanyakan kepada sicu. " katanya merdu.

"Jangan sungkan, su thay !" berkata Ciu Tong cepat. "Pengajaran apakah itu ? Katakanlah !"

Roda-roda kereta bergelindingan terus, karenanya kereta itu berjalan dengan tetap bergoncang seperti biasanya, maka juga tubuh Ciu Tong dan si nikouw menjadi saling bentur tak hentinya, memangnya tempa bukannya lega dan mereka duduk rapat satu sama lain. Di hatinya si kusir saban-saban berdenyut kapan tubuhnya membentur tubuh yang lunak dari penumpangnya yang tak diundang itu..........

Masih ada satu hal yang membuat hatinya Ciu Tong saban- saban bergoncang. Itulah harum kewanitaan dari tubuhnya Sek Mo.

"Sicu" berkata Ceng Ciang Nikouw yang memecahkan kesunyian diantara mereka berdua, "Sudikah kau mengijinkan aku masuk ke dalam keretamu ini ?"

Ciu Tong memegang les mengendalikan kudanya, akan tetapi diam-diam ia selalu melirik wanita disisinya itu. Ia seperti tak bosan-bosannya ia bersinggungan demikian rupa sampai ia tak dapat dengar perkataan orang.

Peng Mo menoleh akan memandang muka orang, maka juga ia mendapati jago dari Hek Keng To itu lagi medelong mengawasinya. Di dalam hati ia girang sekali. Tahulah ia yang ia telah berhasil mempengaruhi pria disisinya ini. Dalam girangnya ia tertawa garing.

"Ciu sicu !" sapanya kemudian. "Ciu sicu, kau kenapakah ? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku ?" Ia melirik dan tertawa pula.

Ciu Tong bagaikan mendusin dari tidurnya. "Ah !" katanya. "Apakah katamu ?"

Peng Mo menatap tajam. "Jangan berlagak pilon, sicu !" katanya aleman. "Bukankan sicu tak melihat mata padaku ? Bukankah kau tak sudi bicara denganku ?"

Ciu Tong jengah tetapi ia paksakan diri tertawa.

"Bukan, bukan begitu !" katanya cepat. "Sebenarnya aku tengah memikirkan sesuatu. Harap suthay tidak menjadi kecil hati !"

Peng Mo tertawa.

"Oh, kiranya sicu lagi berpikir ! Tidak, aku tidak menjadi kecil hati !"

Karena berjalan terus, tubuh mereka berduapun saban- saban saling beradu !

"Haa !" Ciu Tong menggeprak kudanya. Kemudian ia menoleh kepada orang disampingnya untuk berkata : "Suthay tolong ulangi apa katamu barusan. Suka sekali aku mendengarnya !"

Peng Mo bersenyum.

"Pinni ingin masuk ke dalam keretamu, bolehkah ?" katanya.

Ciu Tong bungkam. Airmukanya pun berubah sedikit.

Peng Mo heran, hingga ia mau menerka apakah Hong Kun bersembunyi di dalam kereta itu. Walaupun demikian, ia tidak mengatakan sesuatu lagi, tak mau ia mendesak. Pikirnya, "Cukup sudah asal aku mendapatkan dia sebagai gantinya. "

Tapi kemudian ia didesak rasa ingin tahunya. "Tak apalah sicu, tak dapat aku masuk kedalam keretamu." katanya. "Hanya dapatkah sicu menjelaskan sesuatu padaku

?"

Lega juga hatinya Cek Hong Sian cu yang orang tidak mendesaknya.

"Apakah itu suthay ?" sahutnya. "Silahkan tanyakan. Asal apa yang aku tahu, pasti suka aku memberikan keterangan !"

Peng Mo mengawasi dengan sinar mata lunak. Ketika ia bicara, ia pun bicara dengan sabar.

"Sicu" demikian katanya, "didalam keretamu ini ada atau tidak murid dari Pay In Nia yang sedang menyembunyikan diri

?"

Peng Mo tidak tahu halnya It Hiong tulen dan It Hiong palsu, maka itu ia mengira Hong Kun sebagai muridnya Tek Cio Siangjin. Ia mendengar nama Gak Hong Kun selama pertempurannya di Ngo Tay San di waktu mana Hong Kun menyebut dirinya sebagai murid dari Pay In Nia.

Hatinya Ciu Tong tergerak mendapat pertanyaan nikouw ini. Ia jadi ingat pada Tio It Hiong. Ketika baru-baru ini ia turut Beng Leng Cinjin menyerbu Siauw Lim Sie, ia pernah menempur It Hiong dan Kiauw In. Karena perbedaannya golongan sesat dan lurus, pihak Pay In Nia jadi termasuk musuhnya. Sekarang ia mendengar disebutnya nama Tio It Hiong, maka ingatlah dia akan kekalahannya di gunung Siong San serta lolosnya ia dari ujung pedang di jalan umum di kaki gunung Heng San. Karena ia menjadi berpikir. Setelah dapat menentramkan hatinya, ia menggeleng-geleng kepala.

Katanya : "Aku dengan pihak Pay In Nia adalah musuh satu dengan lain, mana mungkin dia bersembunyi di dalam keretaku ?"

Peng Mo heran, ia tidak ketahui adanya permusuhan diantara Pay In Nia adan Heng Keng To.

"Kenapa kalian kedua belah pihak bentrok ?" demikian tanyanya.

"Hm !" Ciu Tong memperdengarkan suara membenci. "Pihak sana menganggap diri sebagai pihak lurus !"

"Tetapi sicu" kata Peng Mo tawar, "dahulu Gak Hong Kun menjadi murid Pay In Nia tetapi sekarang dia telah menjadi muridnya Im Ciu It Mo !"

Ciu Tong heran sekali. Kenapa Peng Mo menyebut Gak Hong Kun ? Yang ia tahu, muridnya Pay In Nia cuma dua ialah Cio Kiauw In dan Tio It Hiong dan belakangan karena ada hubungannya dengan Tio It Hiong, Pek Giok Peng menjadi murid yang ketiga. Kenapa sekarang muncul Gak Hong Kun ? Menurut apa yang ia tahu, Gak Hong Kun adalah muridnya It Yap Tojin dari Heng San Pay. Bagaimana sebenarnya ?

Saking herannya, jago Heng Keng To ini menggeleng- gelengkan kepalanya.

"Suthay" katanya. "Mungkin kau telah kena orang  persilatan ! Atau kau sendiri yang keliru ! Di dalam keretaku ini tidak ada Gak Hong Kun yang menyembunyikan dirinya !"

Sek Mo pun heran.

"Kau tahu ?" katanya menjelaskan. "Gak Hong Kun itu adalah seorang pemuda dengan baju panjang dan menggedong pedang dipunggungnya. Sudah satu malam aku mengejarnya, ketika tadi dia tiba disini dari kejauhan aku melihat dia lompat kedalam keretamu ini !"

"Suthay, benarkah orang itu Gak Hong Kun ?" Ciu Tong tegaskan.

Peng Mo agak bersangsi.

"Dialah seorang pemuda dengan ilmu silat pedangnya hebat !" sahutnya, "dan ilmu ringan tubuhnya pun mahir sekali. Hanya waktu aku menemuinya, dia tidak sehat disebabkan dia telah makan obat Thay Siang Hoang Han Tan dari Im Ciu It Mo. Nama Gak Hong Kun itu dia sendiri yang menyebutnya."

Mendengar disebutnya nama Im Ciu It Mo, Ciu Tong mulai mengerti duduknya hal.

"Ah, apakah dia bukannya. " katanya ragu-ragu,

hingga suaranya terputus sampai disitu.

Peng Mo tidak sabaran menyaksikan tingkahnya pria tampan ini.

"Ah, buat apa kau menerka sana menduga sini !" tegurnya. "Cukup asal kau menjawab aku secara terus terang ! Di dalam tenda keretamu ini ada orang bersembunyi atau tidak ?"

"Tidak !" sahut Ciu Tong cepat. "Tidak." Sepasang alisnya si nikouw terbangun.

"Benarkah tidak ?" tanyanya. "Baiklah ! Sudah kita jangan bicarakan pula urusan itu ! Kau akur bukan ?" Lantas ia berpaling ke kiri dan kanan di mana terdapat banyak pepohonan, sebab itulah rimba. Ia melihat cuaca.

"Ciu Sicu." tanyanya kemudian. "Sekarang ini kau sedang menuju kemana ?"

Ciu Tong melengak. Pertanyaan itu menyadarkannya. Saking asyiknya mereka bicara, keretanya tengah berjalan menuju Hek Sek San kebalikannya ! Tanpa merasa mereka sudah berjalan satu jam lebih, mereka sudah melalui lebih daripada dua puluh lie. Hingga mereka telah berada di luar wilayah kecamatan Ngo tay koan ! Untuk kembali ke Hek Sek San, kereta harus diputar balik !

Sesudah melengak sekian lama, Cak Hong Siancu mengawasi Peng Mo, terus dia tertawa. Dia tanya, "Bukankah tadi kau bilang bahwa kau mau pergi ke Hek Sek San ?

Dengan demikian, kita jadi ada bersamaan tujuan.” Nikouw itu tertawa manis.

"Bagiku si orang Kang Ouw, kemana aku pergi, semua itu sama saja !" sahutnya. "Aku girang bertemu denganmu, sicu, bahkan kita agaknya cocok sekali satu dengan lain. Sicu, dapat kita berjalan bersama-sama, bahkan aku merasa, berat buat berpisah dari kau. " 

Selagi bicara itu, lemah lembut nampaknya si nikouw, hingga dia mendatangkan kesan baik bagi Ciu Tong hingga jago Hek Keng To yang berpengalaman itu menjadi jatuh hati, hingga ia tak ingat lagi tugasnya menuju ke Hek Sek San !

"Meskipun aku tak dapat berpisah dari kau," kata Sek Mo kemudian. "akan tetapi aku tidak memikir buat pergi ke Hek Sek San. " Ciu Tong heran. "Kenapakah ?" tanyanya.

Dengan sinar matanya yang sayup-sayup, Sek Mo menatap penarik kereta itu.

"Jalanan ke Hek Sek San itu jalan tegal belukar yang sepi sunyi." sahutnya. "Di sana tidak ada tempat yang indah menarik hati, tidak juga rumah penginapan atau rumah makan, dimana kita dapat berplesiran. Sekarang ini dengan kita duduk berdua saja diatas kereta ini, aku pun merasa kurang gembira."

Ciu Tong menyela kata orang. "Aku mau pergi ke Hek Sek San, di sana kana kau tunaikan tugasku, habis itu, akan aku temani kau pesiar ke tempat-tempat yang indah dan menarik hati, untuk kita dapati kepuasaan ! Kau setuju, bukan ?"

"Tak sudi aku pergi ke Hek Sek San." kata Peng Mo manja. "Di sana ada Im Ciu It Mo, orang yang paling menjemukan ! Kalau kau pergi ke sana kau aku tak mau mengikut !"

Tapi Ciu Tong tertawa.

"Habis," katanya, "habis kalau menurut kau, kita harus pergi kemana ?"

Peng Mo menekan dahi orang, dia bersenyum.

"Nah, beginilah baru kau menjadi saudaraku yang manis !" katanya girang. "Kau bilanglah !" kata Ciu Tong, yang ia pun girang sekali. "Bilang kemana kita harus menuju. Akan kau ikut kau !"

Peng Mo menengadah langit, agaknya dia berpikir. "Mari kita pergi ke Kang Lam !" bilangnya sejenak

kemudian. "Kang Lam indah segala-galanya ! Kau akur bukan

?"

Dengan matanya yang tajam tetapi jeli, Sek Mo menatap orang yang disampingnya itu. ia menantikan jawaban.

Perlahan sekali ia menyanyikan syairnay Pek Kie Ek, "Mengenang Kang Lam":

"Kang Lam indah, sudah semenjak dahulu kala !  Kalau matahari muncul, merahnya melebihi api ! Kalau musim semi datang, air sungainya hijau kebiru-

biruan !

Dapatkah Kang Lam tak dikenangkan ?"

Suara itu merdu sekali, puas Ciu Tong mendengarnya. "Baik, baik !" katanya cepat. "Baik akan kau selalu

mendampingimu ! Kang Lam memang indah, dengan aku berada bersama, bagaimana aku berbahagia !"

Berkata begitu, jago Hek Keng To ini mengangguk berulang-ulang.

"Hm, kau bisa saja !" kata Peng Mo yang cahaya mukanya terang sekali.

"Nah, sudah !" katanya kemudian. "Tengah hari akan segera tiba, mari kita percepat perjalanan kita !" Ciu Tong tertawa, dia mencambuk kudanya. Maka dengan berlarinya Bienatang itu, terdengarlah suara berisiknya roda- roda keretanya. Sang kuda pun meringkik beberapa kali.

Dua-dua Ciu Tong dan Peng Mo ada pikirannya masing- masing, tetapi dalam hal asmara untuk berplesiran hati mereka bersatu. Selagi kuda berlari-lari masih mereka berbicara tak hentinya, saban-saban sambil tertawa, mereka terus bergurau........

Tiba disebuah tikungan, disitu terdapat jalan cagak. Ciu Tong hendak mengambil jalan yang satu untuk memasuki sebuah dusun atau mendadak Peng Mo menarik dan menahan kudanya.

"Kita menuju ke kecamatan Kang pou !" kata nikouw itu. "Di sana ada restoran Kui Hiang Koan yang tersohor. Di sini tidak menarik !" Ia pun melirik manis pada si sahabat baru.

Ciu Tong tertawa.

"Baik su thay. Akan aku iringi kehendakmu." bilangnya. "Kita harus berjalan malam-malam ! Bagaimana, apakah kau dapat makan rangsum kering ? Aku kuatur kau nanti mengeluh perutmu perih. "

Peng Mo bersenyum. Ia menarik las kuda, membuat binatang itu mengambil jurusan jalan besar.

"Kita akan jalan siang dan malam !" kata ia. "Jalan malam pun menarik hati, kita dapat melihat sinarnya si putri malam yang indah permai. Jangan kau menguatirkan apa-apa, akan aku membuatmu puas !' Selagi kedua orang itu berbicara dan bergurau, mereka tidak tahu bahwa diatas kereta mereka diatas tenda, ada rebah seorang lain yang tidur nyenyak sekali hingga dia mirip mayat hidup. Dialah Gak Hong Kun. Dia terganggu urat syarafnya tetapi dia tak kenal capek, adalah setelah berlompat naik ke atas keretanya Ciu Tong dan merebahkan diri disitu, kontan dia tidur pulas demikian nyenyaknya. Dengan demikian dia telah dibawa terus oleh jago Hek Keng To itu diluar tahu si jago dan diluar tahunya sendiri.......

Kota kecamatan Kangpou terletak di tengah jalan hubungan yang ramai dan penting antara utara dan selatan hingga banyak kereta dan orang mondar mandir di sana, kotanya pun ramai sekali. Disitu terdapat banyak restoran dan kedia teh, begitu juga rumah-rumah penginapan. Siapa lewat disitu pasti dia mampir akan bermalam. Ada pula tempat keramaiannya, yang terpisah dari pusat kota kira lima lie.

Itulah sebuah rimba ditengah-tengah mana terdapat bagian yang tumbuh pelbagai macam bungan dan walaupun di musim gugur, semua pepohonan itu tetap hidup segar hingga selalunya indah pula sejuk. Sangat menyenangkan dan nyaman rasanya berdiam disitu. Dan Kui Hiang Koan justru dibangun dan dibuka ditengah-tengah rimbah itu indah. Dia bagai dikurung pohon-pohon itu. Dan untuk tiba disitu orang merasa leluasa dengan dibuatnya sebuah jalan besar yang berbata putih, tepat sampai di muka hotel sekali.

Hotel kenamaan itu tinggi dan besar, ruang dalam berlapis- lapis, ada lauteng dan sanggounya, ada pelbagai paseban atau pafiliunnya dimana orang dapat duduk berangin atau main catur. Setiap halamannya ada taman kecilnya.

Sedangkan gentengnya hijau dan temboknya merah, membuat menarik hati siapa gemar akan syair........... Oleh karena hotal ternama, para tamunya juga orang-orang yang tersohor atau berharta seperti pemuda-pemuda hartawan dan gagah para saudagar besar bahkan tak terkecuali kaum Lok Lim Rimba hijau kalangan atas. Mereka itu termasuk golongan orang-orang yang tangannya terlepas yang biasa dilayani oleh nona-nona manis pelayan biasa atau tukang-tukang bernyanyi.

Di muka umum pemilik hotel adalah Siang Kang Ba Fung Theng Liok Cim si Tongkat Tak Berbayang dari Siangkan.

Sedangkan sebenarnya dialah seorang Kang Ouw golongan sadar yang benci akan segala kejahatan, maka juga sambil mengusahakan perusahaannya itu, diam-diam ia dapat mengawasi gerak geriknya setiap orang kaum sesat yang singgah di hotelnya itu.

Menarik hati adalah seluruh ruang dari Kui Hiang Koan, Kui Hiang berarti hanya kesatria yang harum. Maka itu disemua bagian temboknya dipajang gambar-gambar lukisan yang indah-indah serta syair-syari yang berarti. Diantaranya ada sebuah lian atau syair berpigura yang penulisnya menyebut dirinya "Anak nakal !" Sudah tulisan huruf-hurufnya indah dan "gagah", bunyinya pun mengherankan banyak orang.

Beginilah lian itu.

"Semasa hidupnya tiada  lawan. Berlaksa urusan tak meminta bantuan".

Bersama si penulis syair si Anak Nakal itu tertera juga namanya pemilik Kui Hiang Koan.

Sudah belasan tahun Kui Hiang Koan diusahakan. Selama itu belum pernah terjadi peristiwa apa juga di dalam hotel itu. Kata orang kesejahateraan itu berkatnya syair itu bahwa sekalipun orang-orang yang bermusuh satu dengan lain mereka tak berani berselisih atau berkelahi di dalam Kui Hiang Koan.

Demikian itu satu hari maka Ciu Tong bersama Peng Mo telah menghentikan keretanya yang berkuda dua di depan hotel yang tersohor itu. Cek Hong Siancu memimpin Sek Mo turun dari kereta untuk bertindak masuk ke dalam hotel, sedangkan seorang pelayan sudah lantas menyambuti tali kereta itu ke istal buat dijagai dan dirawat kudanya.

Sementara itu diluar tahunya si jongos hotel, Hong Kun tetap tertidur nyenyak diatas tenda kereta itu.

Untuk dapat mengambil hatinya Peng Mo, Ciu Tong meminta sebuah kamar yang terkurung taman bunga serta memesan barang hidangan yang istimewa. Sambil menenggak arak perlahan-lahan, mereka ngobrol dengan asyiknya.

Sampai jam tiga lewat mereka masih terus bergurau memain asmara.

Sekonyong-konyong daun pintu kamar terbuka dan satu bayangan orang menyeplok masuk tanpa diketahui sepasang merpati yang lupa daratan itu. Merekalah yang dibilang : "Arak tak memabukkan orang, orang mabuk sendirinya." Ciu Tong pula merasa sangat puas karena ia selalu membaui bau harum kewanitaan.....

Bayangan atau orang yang baru masuk itu sudah lantas mengawasi bergantian kepada si pria dan wanita, juga seluruh kamar, sesudah itu mendadak ia memperdengarkan suaranya. "Hm !"

Peng Mo yang mendengar paling dahulu hingga dia  menjadi terkejut. Dengan lantas dia mengangkat kepalanya, mengawasi orang itu. Dalam kagetnya dia menegur, "Siapakah kau ? "Hampir berbareng dengan itu, ia berjingkrak bangun sambil sebelah tangannya menarik lengan Ciu Tong hingga keduanya jadi berdiri berendeng.

Ciu Tong pun mengawasi orang dengan ia bermata berkedip-kedip, tetapi ia lekas sadar dari separuh sintingnya selekasnya ia sudah melihat nyata. Lantas ia menyapa, "Oh, Ie Tok Sinshe ! Malam begini sinshe datang kemari, ada apakah pengajaranmu ?"

Orang itu memang Ie Tok Sishe, hanya dialah si Ie Tok Sinshe palsu, sebab dia adalah Couw Kong Put Lo. Dia bersenyum atas teguran itu.

"Saudara Ciu, bagus, bagus !" demikian katanya. "Saudara, datangku si tua kemari ialah guna mengambil pulang sebuah guci arak !"

Ciu Tong melengak. Tidak mengerti dia akan kata-kata itu.

Peng Mo sebaliknya dapat menerka, maka juga ia lantas menatap orang itu dengan matanya dibuka lebar-lebar sehingga sinarnya tampak bengis tetapi ketika ia bicara, ia tertawa : "Tua tua, kau keliru mengenali orang ! Di sini tidak ada guci arak yang kau cari itu !"

Couw Kong Put Lo menunjuki tampang heran, nampak ia mendongkol. Ia mengira Peng Mo tidak mau mengenalnya sebab si Bajingan Es sudah mendapati pacar baru. Walaupun sepintas lalau, dahulu hari pernah mereka berdua bercinta- cintaan. Ia tidak puas sebab orang seperti tak sudi mengenalnya !

Setelah melengak sejenak, Couw Kong Put Lo lantas terasadar. Ia mengerti yang orang tak mengenalnya karena ia lagi menyamar sebagai Ie Tok Sinshe. Ia mengenakan topeng yang merupakan wajah lain orang. Biar begitu, ia toh tergiur hatinya menyaksikan bekas pacar itu demikian menggairahkan. Hampir ia menyebut dirinya sebagai Couw Kong Put Lo dan bukannya Ie Tok Sinshe. Syukur ia dapat mencegahnya. Sebagai gantinya kata-kata, ia berpura batuk. Walaupun demikian, ia tetap likat.

Ciu Tong jeri terhadap Ie Tok Sinshe, tapi setelah mengawasi sekian lama dan mendengari pembicaraan orang dengan Peng Mo, ia bercuriga. Terutama ia merasa cemburu. Saking tak puas, ia lantas kata keras : "Sahabat, di depan aku Cek Hong Siansu, jangan kau mendusta ! Jikalah kau tahu gelagat, baiklah besok kita bicara pula !"

Kata-kata itu tak terlalu keras tetapi itu lah pengusiran.

Couw Kong Put Lo pun merasa tak puas. Sebenarnya ia jelas melihat Peng Mo ada bersama pria lain. Di sini mereka bertemu secara kebetulan saja. Ia sengaja muncul dengan maksud menggertak Ciu Tong. Ia percaya orang bakal menjadi ketakutan dan pergi menyingkir. Ia tak mengira, Siansu itu justru tak takut padanya. Mungkin Ciu Tong sudah mengetahui penyamarannya itu......

Couw Kong Put Lo tertawa dingin. Ia tak puas.

"Eh, saudara Ciu !" katanya. "Apakah kau hendak menguji kepandaianku si orang tua menggunakan racun maka barulah kau puas ?'

Sepasang alisnya Ciu Tong terbangun.

"Sret !" dia menghunus pedang di punggungnya. Lantas dia tertawa tawar dan kata sabar : "Aku yang rendah barulah takluk jika aku menghadapi Ie Tok Sinshe yang sejati yaitu Tok Mo Cianpwe yang namanya tersohor di seluruh dunia sungai telaga, sebaliknya terhadap si palsu, hendak kau main- main dengan pedang disaat habis aku minum arak."

Jago dari Heng Keng To ini menjadi bercuriga dan menyangka orang adalah orang palsu. Ia pula tak senang sebab ia terganggu kesenangannya. Orang hendak merampas pacarnya ! Mana ia mau mengerti ? Demikian ia menantang.

Couw Kong Put Lo membawa sikap tenang-tenang saja. "Saudara Ciu" katanya. "Walaupun ilmu pedang Hek Keng

To sangat tersohor tetapi kau, mana kau sanggup menyambut aku barang tiga jurus ? Maka itu tak usahlah kau bicara tentang digunakannya Racun !"

Sebisa-bisa Couw Kong Put Lo tetap hendak membawa tingkahnya Tok Mo, tenang tapi jumawa. Walaupun ia bicara dengan Ciu Tong, ia tak lengah akan melirik kepada Peng Mo.

Ciu Tong gusar tak terhingga, maka melesatlah ia ke depan orang tua itu. Pedangnya segera digeraki dipakai membacok. Ia menggunakan tipu pedang "Angin Puyuh Menyapu Salju."

Cepat luar biasa, Couw Kong Put Lo berkelit. Ia melihat ilmu pedang orang telah terlati baik tetapi ia tak takut. Ia tertawa dingin dan kata : "Dengan ilmu pedang begini macam kau berani menerbitkan onar di dalam Kui Hiang Koan ? Hmm

!"

Hebat kata-kata itu menusuk hatinya Ciu Tong. Dia terkejut hingga segera dia menghentikan serangannya terlebih jauh.

Sedangkan menurut panas hatinya ingin dia menikam mampus pada penggoda ini. Memang semenjak beberapa puluh tahun untuk di Selatang dan Utara baik dikalangan Putih maupun golongan Hitam, tak ada orang yang berani berkelahi di dalam penginapannya Liok Cim ini. Siapa menjadi orang Kang Ouw yang sudah biasa bertualang jarang yang tak mendengar namanya pemilik penginapan Kiu Hiang Koang. Dan Ciu Tong bukannya satu kecuali. Itulah sebabnya kenapa jago Hek Keng To ini lantas merubah sikapnya. Tapi ia penasaran, maka tak mau ia mengalah dan kata : "Kalau kita bicara dari hal peraturan Kui Hiang Koan, maka kaulah yang paling utama harus mendapat hukuman !"

Couw Kong Put Lo menyambut dengan tawanya......

"Apakah katamu ?" katanya sengaja.

"Jika peristiwa malam ini aku keluarkan di muka umum" berkata Ciu Tong, "hendak aku lihat kau masih mempunyai muka atau tidak untuk melihat orang ! Berbareng kepalsuanmu sebagai Tok Mo juga pasti akan terbongkar."

Kata-kata itu ditutup dengan tawa yang nyaring.

Di dalam hati Couw Kong Put Lo terkejut juga hingga tanpa merasa ia berhenti tertawa. Hanya sebentar ia berkata pula : "Saudara Ciu, jangan kau mencoba memfitnahku ! Kau lihat disini cuma ada kita orang bertiga ! Pula di saat ini ada tengah malam buta. Nah, saudara, bagaimana kalau buat urusan dia kita berbicara dengan mementang jendela."

Tamu tak diundang ini berpaling kepada Peng Mo dan menunjuknya.

Couw Kong Put Lo tidak tahu halnya Ciu Tong menuduh dialah Tok Mo palsu tanpa buktinya bahwa jago Hek Keng To itu cuma menerka dan menggertak saja. Ciu Tong menggunakan akal biasa yang disebut "Menimpuk rimba dengan batu secara sembarangan saja". Kapan dia mendengar suaranya penggoda ini menjadi lunak, dia mendapat hati.

Maka dia tertawa terkekeh dan kata : "Sicu tahu selatan, dialah si orang gagah ! Kau saudara, kaulah si orang gagah itu

!"

"Hm !" Couw Kong Put Lo memperdengarkan suara dinginnya. Agaknya dia mencoba menguasai kemarahannya. Lantas dia bertindak ke meja perjamuan untuk duduk diatas sebuah kursi, sembari berbuat begitu dia kata : "Jangan tertawakan aku, si tua hendak mencicipi arak kalian !" Terus dia mengangkat poci arak, menuang isinya ke dalam sebuah cawan. Dia pun mengisikan cawan-cawannya CIu Tong dan Peng Mo. Setelah itu sendirinya dia menengak isi cawannya !

Selama itu Peng Mo berdiam saja. Ia cuma memperhatikan gerak geriknya kedua orang itu, sekarang menyaksikan perubahan sikap dari si tetamu tidak diundang, ia lantas menoleh kepada Ciu Tong. Ia memberi isyarat dengan menjebikan bibirnya, habis mana ia menghampiri kursi buat terus berduduk disitu.

Ciu Tong tertawa dingin, dia masuki pedangnya kedalam sarungnya. Dia pun terus berkata tawar : "Sahabat, kalau kau ada sesuatu, bicaralah supaya aku dapat mendengarnya."

Couw Kong Put Lo mengangkat cawannya. Dia tertawa. "Mari kita keringi dulu cawan kita !" katanya dengan

gembira. "Malam yang indah ini pun tak dapat disia-siakan !" Dan dia mendahului meneguk araknya. Ciu Tong dan Peng Mo saling mengawasi. Keduanya bercuriga dan kuatir nanti kena dibokong. Mereka tidak minum arak mereka dan juga membungkam.

Couw Kong Put Lo membuat main janggutnya yang mirip janggut kambing, dia tertawa terbahak-bahak.

"Sungguh diluar sangkaku si orang tua yang dua orang yang gagah kaum Kang Ouw yang tersohor tidak memiliki nyali besar untuk minum arak yang disuguhkan oleh aku si orang tua !" demikian katanya. Dan dia tertawa puas.

Peng Mo tertawa dan kata : "Orang Kang Ouw yang licik dan licik, aku si pendeta telah banyak melihatnya ! Dan kau tuan, kau orang kalangan apa, sampai nama dan julukanmu pun kau tak berani memberitahukannya ! Cobalah kau pikirkan, apakah caramu ini ada caranya laki-laki sejati kaum kangouw ?"

Couw Kong Put Lo mengawas tajam nikouw itu, kembali dia tertawa.

"Su thay yang baik, kau cuma ingat sahabat yang baru hingga kau melupai sahabat yang lama!" katanya. "Ah, aku si tua walaupun rupaku telah berubah akan tetapi suaraku tetap suaraku yang lama ! Kau bilang kau tidak kenal aku si tua, itulah rada keterlaluan !"

Kembali dia mengisikan cawannya terus cawan itu diangkat.

"Aku minta sukalah saudara Ciu berlaku sedikit polos !" kata dia. "Saudara mari kita mengeringi cawan kita ! Habis minum maka aku si tua akan memberitahukan namaku yang buruk !" Ciu Tong sebenarnya cerdik dan jumawa, tak biasanya ia menerima ajakan atau penghinaan, maka itu di dalam keadaan sesulit itu ia lantas mendapat satu pikiran. Mendadak sontak ia bangkit berdiri dan mengangkat cawannya terus ia berkata nyaring : "Aku Ciu Tong di dalam dunia Kang Ouw, ada juga namaku yang kecil, maka arak ini biar ada rencananya yang dapat memutuskan haus, akan aku coba meminumnya !" Ia terus membawa cawan ke mulutnya untuk ditengak kering ! Tetapi ia tidak telan itu, ia berpura jatuh membungkuk pada belakang kursi, tangannya dipakai menekan semua arak itu. lantas dikeluarkan pada tangan bajunya !

Couw Kong Put Lo heran menyaksikan Ciu Tong "roboh" demikian cepat hingga ia menerka yang ia telah menggunakan racunnya terlalu banyak. Ia pula terlalu tergiur terhadap Peng Mo hingga ia tak ingat akan memperhatikan Ciu Tong benar terkena racun atau tidak.

Peng Mo tak menyangka Ciu Tong lagi main gila, melihat kawan itu roboh tak sadarkan diri ia bersyukur yang ia tidak minum arak dan tidak roboh karenanya. Ia girang yang ia tidak berlagak menjadi seorang kosen. Di sebelah itu heran yang tamunya demikian lihai.....

"Aku pun harus mencoba." pikirnya kemudian. Dia tetap berlaku tenang. lalu dia kata pada tamunya itu : "Orang jaman dulu kala berkata, 'Sekali sinting lenyap seribu kedukaan', karena itu pinni juga ingin menemani kau lotiang untuk mengeringi cawanku supaya kita sama-sama mabok."

Dengan lirikan tajam dan menggiurkan hati, Peng Mo memandang Couw Kong Put Lo terus ia berbangkit dan bertindak lembut menghampiri orang tua itu sambil ia mengangkat cawannya.

Tamu itu girang sekali. Ia cuma memperhatikan Peng Mo.

Pikirnya kalau Peng Mo pun mabuk betapa senangnya dia nanti.........

Karena ini ia menyambut ajakan si nikouw. Biar bagaimana ia rada bimbang. Tak puas ia andiakata Peng Mo roboh seperti Ciu Tong. pasti ia akan kurang merasai kenikmatan.

Karenanya ia tak lantas menengak araknya.

Sek Mo tertawa.

"Bagaimana, eh ?" tegurnya. "Apakah kau tak memandang mata kepada aku Peng Mo ?"

Couw Kong Put Lo tersengsam. Tapi dia tertawa.

"Minum ?" katanya. "Sebenarnya tak tega aku kalau sampai kau sinting ! Dengan begitu kita sudah menyia-nyiakan malam yang indah ini !" Ia menoleh kepada Ciu Tong, akan melihat jago Hek Keng To itu.

Ciu Tong diam tak berkutik di kursinya.

Peng Mo menghampiri lebih dekat pada si tamu, dia membawa aksinya.

"Kau mau minum atau tidak ?" tanyanya manja.

"Minum, pasti aku akan minum !" sahut Couw Kong Put Lo, yang jadi lupa pada dirinya sendiri. "Asalkan tidak takuti menjadi mabuk, aku si tua akan melayanimu." Meski ia berkata begitu, ia tapinya tidak lantas minum araknya.

Kedua orang itu berdiri berhadapan dekat sekali satu dengan lain, tak ada sekali terpisahnya.

"Kau menyia-nyiakan kebaikan orang, akan aku tidak hiraukan kau !" kata Peng Mo, yang terus melemparkan cawannya, hingga cawan itu terus jatuh ke lantai, pecah dan araknya melelehan.

Couw Kong Put Lo tercengang, hingga ia terdiam saja.

Justru ia tercengang atau lantas ia terkejut sekali. Tahu-tahu ia sudah tidak memakai topengnya lagi sebab penutup mukanya itu secara tiba-tiba dijambret Sek Mo tanpa berdaya

!

Segera Pek Mo tertawa geli.

"Oh, kiranya kau, Couw Kong Put Lo. Tidak lagi berkumis atau berjanggut, bahkan mukanya putih dan segar mirip anak muda. Dengan telah berhasil memahamkan isinya kitab "So Lie Kang," dia berhasil mempertahankan kemudaannya. Di dalam usia lanjut, dia nampak seperti orang setengah tua.

Tak marah Couw Kong Put Lo yang Peng Mo melocotkan kedoknya itu, bahkan ia lantas tertawa. Katanya gembira, "Lakon asmara kita dahulu hari itu, aku si tua masih mengenangkannya setiap siang dan malam, tak dapat aku melupakannya. Malam ini, siapa sangka, kita telah bertemu pula. Maka itu sudah selayaknya kalau cinta kasih kita itu kita lanjuti, kita sambung pula."

Peng Mo tertarik hati. Dalam soal asmara dialah juara. Dia selalu mengagumi paras tampan, sambil membuat main topeng orang, ia tertawa dan kata : "Kalau ini dipakai wanita, entah bagaimana jadi macamnya !" Ia tertawa mengimplang pria di depannya. Wajahnya tersungging senyuman. Ia benar- benar menggiurkan.

Couw Kong Put Lo mengawasi nikouw itu, hatinya melonjak-lonjak, matanya bersinar berapi, sikapnya bagaikan singa hendak menerkam mangsanya.

Peng Mo berkelit lincah ke sisi meja, ketika orang hendak merangkulnya !

Karena ia merangkul tempat kosong, Couw Kong Put Lo menjadi terkusruk ke depan, sampai ia menubruk dinding. Hampir dia roboh terguling. Dengan cepat ia memutar tubuh buat maju pula kepada pacarnya.

Sek Mo menghindarkan dari dengan ia berputar di seputar meja, sembari lari itu ia tertawa manis. Sebab si pria terus mengejar, mereka lantas bagaikan main petak di seputar meja itu !

Kedua orang itu demikian asyik bergurau hingga mereka melupakan Ciu Tong yang masih diam mendekam seperti juga dia benar-benar tak sadarkan diri sebab terkena obat biusnya Couw Kong Put Lo itu.

Sesudah merasa puas mempermainkan pria di depannya itu, Sek Mo menyerah dengan ia berpura terlalu letih dengan nafas tersengal-sengal ia roboh dilantai sesudah ia membentur kursinya Ciu Tong !

Couw Kong Put Lo berlompat menubruk sembari tertawa, ia berkata : "Sudah su thay, sudah cukup kau menunjuki kenakalanmu ! Mari kita pergi ke sorga !" Sambil saling berpeluk, keduanya bangkit berdiri. Peng Mo sempat menjebi ke arah Ciu Tong unguk memberitahukan Couw Kong Put Lo yang dia kuatir Ciu Tong nanti keburu siuman.

Couw Kong Put Lo mengulur tangan kirinya kepada Ciu Tong, niatnya menotok otot suwtian di belakang batok kepalanya jago Hek Keng To itu. Sembari dia tertawa dan kata

: "Apakah kau kuatir obat biusku kurang cukup kuat ? Nah, begini sja, kau tentu tak akan berkuatir lagi. "

Belum berhenti kata-katanya si jago tua itu, tau-tau tubuhnya Ciu Tong sudah bergerak bangun seraya sebelah tangannya diluncurkan ke pinggang orang buat menotok jalan darah tay meh.

Couw Kong Put Lo kaget sekali sampai tak sempat dia berdaya hingga seketika juga tubuhnya roboh terkulai dilantai.

Peng Mo kaget sekali, tetapi dia sangat cerdik. Dia lantas menuding Put Lo sambil mendamprat: "Oh, bajingan tua bangka ! Bagaimana kau berani menghina aku si pendeta ?" Dan terus ia mendepak membuat tubuh orang berbalik !

Setelah itu lantas dia berpaling kepada Ciu Tong sembari menanya : "Saudara Ciu, kau tak kurang suatu apa bukan ?"

Ciu Tong tertawa puas.

"Aku yang muda mana mudah saja aku kena minum racun

?" katanya. Terus ia mengawasi Couw Kong Put Lo seraya berkata : "Setan tua ini menganggu kesenangan kita, sudah selayaknya dia mendapat bagiannya !" Rupanya panas hatinya jago Hek Keng To ini, dia maju menghampiri terus dia menendang tubuh yang lagi rebah tak berkutik itu !

"Aduh !" demikian satu jeritan hebat, jeritan kesakita dibarengi dengan robohnya satu tubh manusia.

Itu bukannya jeritannya Put Lo hanya Ciu Tong gelar Cek Hong Siancu !

Peng Mo melengak. Dia kaget dan heran hingga dia terus mengawasi Ciu Tong yang tubuhnya terhuyung-huyung, tangannya memegang kaki kanannya. Di lain pihak Couw Kong Put Lo tampak telah meletik bangun untuk terus mengawasi bergantian kepada Ciu Tong dan Peng Mo !

Hatinya Peng Mo bercekat menyaksikan kelicikan dua orang itu, ia pun bingung sekali. Siapakah yang harus ia berati ? Put Lo si sahabat lama atau Ciu Tong si kawan baru ?

Put Lo lihai sekali. Sudah puluhan tahun dia melatih tenaga dalamnya. Ketika tadi dia dibokong Ciu Tong dia roboh tak berdaya, tetapi dia bukannya pingsan hanya tetap sadar, maka diam-diam dia mencoba mengarahkan tenaga dalamnya untuk ia dapat pulih tenaganya. Kebetulan sekali untuknya, selagi ia mencoba menyelamatkan diri itu Peng Mo menendang padanya terkena otot kehidupannya, maka dia bebas dengan segera. Maka juga sekalian membalas sakit hati, dia menghajar kakinya jago Hek Keng To itu yang mendepak padanya !

Ciu Tong merasai sakit bukan main, terasa hampir kakinya patah. Maka selekasnya dia dapat berdiri tegak, dia lantas menghunus pedangnya. "Setan tua, serahkan jiwamu !" bentaknya sambil terus menikam ulu hati orang.

Put Lo berkelit, sambil berkelit, dia menyentil belakang pedangnya penyerang itu hingga pedangnya terpental, baiknya tak lepas dari tangan pemiliknya.

Dalam hal imu silat atau tenaga dalam, Put Lo menang dari Ciu Tong, akan tetapi ilmu pedang Hek Keng To juga tidak dapat dipandang ringan.

Couw Kong Put Lo batuk-batuk, terus dia tertawa. "Saudara Ciu !" katanya. "kita tidak bermusuhan satu

dengan lain, bahkan kita dari satu kalangan, karena itu kenapa kau hendak mengadu jiwa denganku ?"

Ciu Tong gusar, dia membentak : "Tapi kau pikirlah baik- baik ! Kenapa kau melintangi golok dan merampas kekasih orang ? Apakah kau masih menghargai cara-cara kaum Kang Ouw ?"

Lenyap tawanya Put Lo, lantas dia berwajah tawar. "Habis, apakah tetap kau hendak mengadu jiwa ?"

tanyanya. "Kau toh tak mampu melawan aku si orang tua ? Dalam hal asmara kau juga tidak dapat menandingi aku. Maka itu baiklah kau berlaku tenang, kau menerima baik kalau kita membagi rasa ! Bagaimana pendapatmu ?"

Mendengar itu merah mukanya Peng Mo.

"Ciis, setan tua !" bentaknya. "Bagaimana kau berani menghina aku begini rupa ? Siapa yang menghendaki ilmumu yang didapati dari kitab So Lie Kang itu ?" Di mulut nikouw berkata keras, demikian matanya tetapi dibuat main.

Melihat tingkahnya Peng Mo itu, Ciu Tong gusar sekali.

Tetapi ia membungkam. Adalah setelah kakinya tak terasakan nyeri hebat seperti tadi, ia maju menyerang pula kepada Tok Mo palsu. Lima kali dia menyerang berulang-ulang hingga pedangnya berkilauan dan suara anginnya berserabutan, sampai api lilin pun bergoyang-goyang !

Couw Kong Put Lo benar lihai. Dia tidak membalas. Asal dibacok, ditikam atau ditebas, dia berkelit secara gesit dan lincah sekali, senantiasa dia menyingkir dari ujung pedang. Baru kemudian dia kata secara menantang : "Akan kau mengalah buat sepuluh jurus seranganmu, supaya dengan begitu puaslah hatimua, supaya kau dapat berpikir dan mengerti !"

Ciu Tong menyerang berantai lima kali dengan ilmu pedang istimewa dari Hek Keng To, biar bagaimana ia cepat dan gesit selalu ia gagal. Karenanya ia menjadi berpikir.

Lantaran berpikir ini hawa amarahnya berkurang sendirinya. Begitulah ia menghentikan serangannya lebih jauh untuk berkata dengan tawar : "Setan tua, kau berjumawa !

Bagaimana kau berani bertahan buat sepuluh jurusku ? Apakah ini lima jurus yang sudah lewat masuk hitungan atau tidak ?"

Put Lo mengawasi orang dengan tampangnya sangat temberang terus dia tertawa !

"Eh, orang she Ciu !" demikian sahutnya. "Jika memangnya kau mempunyai kegembiraanmu bolehlah kau menyerang pula kepadaku sepuluh jurus lagi ! Ketahuilah olehmu, aku si orang tua, aku akan tidak membalas menyerangmu !"

Hatinya Ciu Tong panas tetapi dia tersenyum. Terus dia mengangkat pedangnya.

"Berhati-hatilah kau !" teriaknya seraya terus memutar pedangnya itu untuk mulai dengan penyerangannya. Itulah jurus silat "Angin Puyuh Menggulung Gubuk" yang dimulai dengan serangan dari bawah sesaat pedangnya berputar.

Put Lo kaget oleh serangan itu. Itulah karena disaat itu ia kebetulan berdiri membelakangi tembok. Terpisahnya tidak ada dua kaki. Sangat sulit buat ia berkelit mundur. Pedang pun terus dibolang balingkan. Maka jalan selamat baginya cuma berlompat tinggi. Karenanya tidak ada jalan lain, segera ia mengeluarkan ilmu penolong dirinya yang istimewa. Begitu dia berkelit, begitu ia bagaikan lenyap dari pandangan mata !

Apakah yang terjadi ?

Di saat serangan tiba, Put Lo mundur menempelkan tubuhnya pada tembok terus ia menjejak lantai, terus kedua tangannya ditempelkan juga kepada tembok. Kali ini ia menggunakan "Pek Houw Yu Cong", ilmu "Cecak merayap memain di tembok" hingga ia dapat melompat naik lima kaki tingginya !

Ciu Tong heran dan kagum. Tipunya sangat lihai, sebab dia menebas dari bawah ke atas, terus ke bawah lagi disebabkan pedangnya diputar sebab bagaikan angin puyuh yang.

Kecepatannya itu dinamakan "Hung Khong Thian Mo", "Kuda Langit Jalan Udara". Ia heran dan kagum sebab ia gagal.

Karena menghilang, dengan cepat ia memutar tubuh ! Maka ia mendapati Put Lo lagi berdiri di belakangnya ! Selekasnya ia tiba diatas, Put Lo menekan tembok dengan kedua tangan dan kakinya, membuat tubuhnya mencelat melewati kepala orang, hingga ia dapat menaruh kaki di lantas tanpa dapat dilihat lawan. Gerakan itu dilakukan dengan kecepatannya.

Couw Kong Put Lo menyangkal kata-katanya, kalau dia menyerang, pasti celakalah jago dari Hek Keng To itu, tak nanti dia sempat menangkis atau berkelit.

Peng Mo bingung, menyaksikan pertempuran itu. Kalau keduanya sudah bersungguh-sungguh, salah satu pasti bakal roboh korban, atau ada kemungkinan dua-duanya nanti sama- sama mendapat luka.

Kalau sampai terjadi begitu, itulah berabe ! Pemilik Kui Hiang Koan pastilah bakal jadi gusar sekali atau urusan mereka bertiga, rahasia asmara mereka bakal tersebar luas. Pasti ia bakal dapat malu besar karenanya.

"Tahan !" akhirnya dia berseru.

Put Lo tertawa nyaring. Katanya nyaring juga : "Kau takut ?

Apakah yang harus ditakuti ? Walaupun ilmu pedangnya saudara Ciu sangat lihai dan dia juga telengas, tak nanti dia dapat berbuat sesuatu atas diriku !"

Mendengar itu, mukanya Ciu Tong menjadi merah. Ia merasa kulit mukanya sangat panas ! Tapi dialah orang Kang Ouw yang berpengalaman, dia tahu diri. Dia anggap dimana dia harus berhenti. Maka dia menguasai dirinya, mengekang hawa amarahnya. Justru Peng To memperdengarkan cegahannya itu, walaupun dengan jengah, dia toh tertawa dan kata : "Couw Kong cianpwe, benar-benar kau lihai ! Baiklah dengan memandang mukanya Peng Mo Su thay, suka aku menghentikan pertempuran kita ini !" Dan dia masuki pedangnya kedalam sarungnya, dia pula bertindak mundur.

Sepasang alisnya Put Lo bangun berdiri.

"Kau baik, Saudara Ciu" katanya. "Senang aku menerima kebaikanmu ini !"

Berkata begitu, jago tua ini memutar tubuhnya untuk menghampiri Peng Mo. Ia mau menjambret ujung bajunya si nikouw, nikouw, buat ditarik diajak masuk kedalam.

Sek Mo tertawa.

"Ah, kau terlalu !" katanya, matanya mengawasi Ciu Tong. "Mana dapat ?"

Put Lo pun tertawa. Kata dia : "Saudara Ciu laki-laki sejati, hatinya terbuka ! Dia toh cuma membiarkan aku si tua berjalan lebih dahulu satu tindak ! Sebentar akan tiba gilirannya ! Ha ha ha!"

Mukanya Ciu Tong merah padam, bukan main ia mengekang diri, dadanya sampai naik turun. Ia mengawasi Peng Mo, wajahnya murah.

"Su thay" katanya, "kau."

Cuma begitu ia dapat membuka mulutnya, terus ia membungkam.

Peng Mo bingung juga. Ya, ia ingin merasakan segar, siapa tahu dua orang itu tak sudi saling mengalah. Mana dapat ia memecah diri. Ia pula tak dapat bicara. Bergantian ia mengawasi kedua kekasih itu, lalu tiba-tiba setelah megngertak gigi ia kata sengit : "Kalian berdua boleh bertempur sampai hidup atau mati ! Aku mau pergi !"

Dengan hanya satu kali menjejak lantai, nikouw ini sudah lantas lompat keluar jendela !

Dua-dua Couw Kong Put Lo dan Ciu Tong Siancu melengak.

Itulah perubahan sikapnya Biekuni yang mereka tak sangka sama sekali, hingga tidak ada kesempatan buat mereka mencegah. Mereka lantas saling mengawasi lantas keduanya sama-sama lompat juga ke jendela untuk lari menyusul !