Iblis Sungai Telaga Jilid 48

 
Jilid 48

Dimatanya, Hong Kun adalah si anak muda yang ia ketemukan di kota Gakyang, yang ia telah tawan tetapi yang kena dirampas oleh Tok Mo. Ia tidak berani lantas turun tangan setelah ia mengenali Im Ciu It Mo yang ia segani, walaupun demikian ia minta dengan sangat agar dua saudaranya suka mengikuti ia menguntit It Mo bertiga.

Selama Im Ciu It Mo menyerbu Gwan Sek Sie dan bertempur seru itu, Peng Mo bertiga menonton sambil bersembunyi dalam rimba, diatas pohon hingga mereka dapat melihat tegas jalannya pertempuran. Peng Mo girang sekali menyaksikan It Mo terluka di dalam, hingga ia membayangi Hong Kun si tampan, sudah berada dalam rangkulannya...........

Dasar jumawa, disamping ingin mendapati si anak muda, Sek Mo juga mau mempertontonkan kegagahannya. Begitulah ia menemui Im Ciu It Mo sambil meminta dua saudaranya tetap menyembunyikan diri dengan dipesan agar mereka itu jangan muncul kecuali ia memberi isyarat. Ia ingin mereka menonton bagaimana ia merampas Hong Kun

Tam Mo dan Hiat Mo mengiringi permintaannya san sumoay adik seperguruan, terhadap siapa mereka suka mengalah.

Demikianlah sudah terjadi, selama Peng Mo melayani It Mo berbicara dan bertempur sampai dia dikepung Hong Kun dan Kiauw In, mereka terus menonton saja dari atas pohon. Hanya selama paling belakang, hati mereka tegang sendirinya sebab pertempuran seru dan meminta waktu lama sehingga mereka kuatir adik itu gagal dan terluka. Begitulah, selekasnya mereka mendengar isyarat itu, tak ayal lagi mereka berlompatan turun dari atas pohon dan lari mendatangi kepada sang sumoay.

Bahkan Hiat Mo segera menyerang Kiauw In selagi nona itu membaliki belakang dan menyerangnya dengan pukulan tangan kosong Tangan Bajingan Asuara atau Bajingan Raksasa.

Syukur Kiauw In dapat mendengar hal datangnya bantuan lawan dan ia keburu berkelit dari serangan berbahaya itu.

Dengan loncatan Tangga Mega, ia menjatuhkan dirinya tiga tindak.

Dengan si nona mencelat menyingkir, tinggallah Hong Kun sendiri melayani Peng Mo. Dengan ilmu silat pedang Heng San Kiam Hoat, tak nanti Hong Kun mudah dikalahkan lawannya itu, apa lacur, kawan sudah menggunakan senjata rahasianya, yaitu sebuah peluru yang ditimpukan, meledak pecahlah dia dan bubuknya terbang berhamburan. Lawan itu bukannya Peng Mo, hanya Tam Mo, yang menyerang secara diam-diam. Peng Mo melihat saudaranya menimpuki peluru, ia lompat dan menghajarnya pecah. Ia sendiri terus lompat maju kepada Hong Kun.

Bubuk beracun itu berbau harus dan buyarnya pesat, saking kerasnya Bieus bukan hanya Hong Kun, melainkan Peng Mo sendiri roboh bersama. Hanya itu Tam Mo berlaku dengan sangat cepat. Dia segera lompat kepadan Peng Mo, akan menciumnya dengan sebuah kantong harum, setelah dia melihat sang adik seperguruan sadar dan membuka matanya, dia kata sambil tertawa,

"Sumoay, saudaramu telah membantumu. Maka kau gunakanlah baik-baik kesempatan ini !" Selekasnya dia siuman dan mendengar suara saudaranya itu, Peng Mo lantas bergerak, ia lompat bangun. Ia girang sekali. Terus dia menoleh, mengawasi Hong Kun yang rebah tak berkutik dengan pedangnya terletak disisinya. Tak ayal lagi, dia lompat ke sisi anak muda itu, buat memondongnya bangun. Dia pula menolong memungut pedangnya pemuda itu. Ketika ia hendak menjemput goloknya sendiri, mendadak ada bayangan tongkat panjang menyambar dibarengi anginnya.

Bukan main kagetnya Peng Mo. Kedua tangannya lagi memegangi Hong Kun, tak sempat ia menangkis, malah berkelit pun sukar.

Justru itu mendadak ada angin keras yang menolak tongkat itu. Tahulah ia yang Tam Mo, kakaknya sudah membantunya. Pasti tongkat telah dihajar dengan Siulo Mo Ciang, pukulan Tangan Bajingan Raksasa itu. Maka itu tanpa berpikir panjang pula, ia berlompat pergi sambil mengempit tubuhnya Hong Kun. Ia memang pandai ilmu loncat "Rusa Menggali Lobang". Sekali dia melejit, dia lari terus turun gunung !

Kiauw In habis berkelit dan mundur, dia kaget waktu dia mendapati benda meledak dan asap berhamburan, baunya membuat kepalanya pusing dan matanya berkunang-kungan. Mulainya ia memikir maju pula buat membantui Hong Kun, atau ia terus jatuh duduk disebabkan bubuk bius yang lihai itu. Ia tidak pikir tetapi ia tak dapat bangun berdiri pula !

It Mo mau membantu Hong Kun karena dihadang Hiat Mo Hweshio, ia jadi menempur si Bajingan Darah itu. Tetapi baru bebarapa jurus ia sudah memaksa lawannya lompat mundur. Justru itu ia menyaksikan Hong Kun dibawa lari oleh Peng Mo. Bukan main panas hatinya, ia lompat menyusul tetapi kembali ia dirintangi Hiat Mo, bahkan kali ini selagi ia menghajar si Bajingan Es, tongkatnya kena terhajar keras sekali oleh Hiat Mo sampai tongkat itu terlepas dan jatuh dan ia merasai sangat nyeri di dalam tubuhnya. Maka insyaflah ia akan kelemahan dirinya. Hanya sebagai seorang yang berpengalaman yang tak mau hilang muka, ia lantas kata dingin : "Tak kusangka Hong Gwa Sam Mo juga dapat bertindak secara begini tak tahu malu !"

Tam Mo yang memungut sepasang goloknya Peng Mo menjawab dingin : "Siapa beruntung dia dapat, siapa malang dia gagal.

Semua itu sudah takdir ! Karena itu bajingan tua buat apa kau menyesal ?" Dia sengaja menyebut orang si Bajingan Tua. Pula kata-katanya itu mempunyai arti : It Mo menawan murid orang, pantas kalau murid orang itu dirampasnya. Jadi mereka saling ganti merampas..........

Hiat Mo pun tertawa dan kata nyaring, "Adik seperguruanku menyukai muridmu itu, maka dia meminjamnya untuk dipakai buat sementara waktu. Maafkanlah dia yang sudah terlalu terburu nafsu hingga dia berbuat salah terhadapmu, cianpwe. Di sini aku si pendeta muda menalanginya menghatur maaf, harap dia suka dimaklumi !" Terus si pendeta menjura dalam.

Bukan main sulitnya It Mo. Marah salah, tidak marah ia mendongkol sekali. Berkeras pun ia tidak bisa. Hanya dasar Bajingan ulung pandai pikir. Pengalaman membuatnya pintar dan cerdik.

"Hong Kun telah dibawa lari. Kini aku tak bisa berbuat apa- apa. " demikian pikirnya. "Baiklah, aku bersabar." Maka

terus dia menjawab si Bajingan Darah : "Adikmu itu tepat julukannya ! Dia memandang paras elok dan asmara lebih hebar dari jiwanya !

Cumalah tanpa obat pemusnahnya sia-sia saja dia nanti menghadapi pemuda yang linglung itu, yang suka berdiam saja bagai patung ! Mana ada rasa nikmatnya ?"

Hiat Mo berlagak pilon. Jawabnya sabar, "Tentang urusan diantara pria dan wanita, maafkan aku si pendeta. Aku tak suka mencampur tahu !"

It Mo berpaling kepada Tam Mo si Tamak. Kata dia, "Muridku ini telah kena mencium bubuk biusmu, dia duduk tidak berkutik, apakah dia juga hendak dipinjam oleh kau, rahib tua ?"

Dengan rahib tua yang dimaksudkan tosu tua, penganut To Kauw, agama To.

Tam Mo Tojin menggoyang-goyangi tangannya.

"Tidak, tidak !" katanya cepat. "Pinto adalah orang kaum Sam Ceng, biasanya kami pantang paras elok ! Mana pinto memikir hal demikian ?"

Hiat Mo sementara itu mengawasi Kiauw In yang lagi duduk berdiam saja, bersila ditanah, tangannya menunjang dagu, matanya dipejamkan. Nona itu mirip orang yang lagi tidur nyenyak. Lantas dia tertawa dan berkata : "Tidak disangka obat paling beracun It Toan In buatan adik seperguruanku yang nomer dua begini lihai, asal orang menciumnya orang lantas tak sadarkan diri ! Budak ini cuma membaui sedikit, terus dia roboh dan tak ingat apa-apa lagi. Tam Mo pun tertawa, dia juga berkata : "Kakak, jangan kakak meniup mengepul keterlaluan ! Inilah kepandaian yang sangat tak ada artinya ! Kalau ilmu ini dicoba di depan Cianpwe Im Ciu itu sama saja orang bertingkah di depan ahli

!"

Berkata begitu, kawan ini melirik kepada Hiat Mo Hweshio, guna memberi isyarat, kemudian ia menoleh pula kepada Im Ciu It Mo untuk memberi hormat sambil menjura, seraya berkata : "Cianpwe, kami berdua memohon diri !" lalu terus mereka memutar tubuhnya jalan menuruni lereng !

Hati It Mo panas sekali. Belum pernah orang menghinanya secara demikian. "Tahan !" teriaknya, sambil dia berlompat maju untuk menghadang. Kedua Bajingan menghentikan langkahnya. Mereka pun berpaling. Hiat Mo mengasi lihat wajah heran ketolol-tololan, dengan berpura pilon dia bertanya, "Cianpwe, ada perintah apa lagi ?" Im Ciu It Mo mengangkat tongkatnya, dipakai menunjuk kepada Kiauw In.

"Obat pingsan kalian membuat pemudi itu menderita !" katanya. "Apakah dapat kalian pergi dengan begini saja ?"

Tam Mo Tojin tertawa. Dia maju dua tindak.

"Tidak, tidak !" sahutnya. "Ini hanya permainan kecil saja, locianpwe ! Tak usahlah locianpwe terlalu memperhatikannya ! Kenapa locianpwe tak mau menyadarkannya sendiri ?"

"Kalian boleh main gila !" bentak It Mo. "Jika kalian tak menyadarkan muridku ini, hati-hatilah tongkatku tidak akan mengenal persahabatan lagi !"

Dengan satu gerakkan tangan, It Mo membuat tongkatnya melesat dan nancap pada sebuah pohon kayu sebesar pelukan manusia, nancapnya dalam dua kaki dan ujungnya yang lain bergoyang-goyang.

Di waktu melontarkan tongkatnya itu, It Mo menggunakan seluruh tenaga dalamnya yang mulai pulih kembali. Ia tidak membuka mulut, hanya menyalurkan nafasnya dengan rapi.

Hiat Mo dan Tam Mo terbengong menyaksikan kepandaian wanita tua itu. Memangnya mereka jeri. Kalau toh mereka berani main gila, itu disebabkan It Mo tengah terluka parah. Tidak disangka yang si Bajingan Tunggal dapat sembuh demikian cepat.

Habis terguguh sebentar, Hiat Mo lantas tertawa. Dia memang sangat cerdik dan licik. Lantas dia kata : "Perkara ini perkara kecil ! Tak usah kau bergusar orang tua ! Nah ! Jie Sute, lekas kau sadarkan budak perempuan itu ! Memang siapa yang membelenggu, dialah yang harus melepaskannya

!"

Tam Mo sebaliknya. Dia membawa aksi memandang ringan. Kata dia sengaja pada It Mo : "Sicu toh seorang ahli. Apakah artinya bubuk bius It Toat In dari aku ini ? Pasti bubukku ini tak dilihat mata ! Ha ha !"

Berkata begitu, tanpa menoleh lagi kepada si Bajingan Tunggal, Bajingan Tamak bertindak ke arah Kiauw In yang masih berduduk diam bagaikan patung itu.

Sementara itu mukanya It Mo menjadi merah padam dan pucat pasi bergantian, sebab ia insyaf yang kedua bajingan itu tengah mengejeknya, walaupun demikian terpaksa dia berdiam saja sebab memang dia tidak sanggup menyadarkan Nona Cio. Selekasnya dibikin siuman oleh Hiat Mo, Kiauw In lantas bangkit berdiri. Ia menggerakkan tubuhnya dan melonjorkan tangan dan kakinya untuk melemaskan otot-ototnya, sesudah itu ia melihat ke sekitarnya. Dengan ayal-ayalan ia memasuki pedangnya ke dalam sarungnya.

Segera setelah itu, It Mo menatap bengis kepada Tam Mo dan Hiat Mo yang justru lagi membaliki belakang padanya.

Kemudian ia kata seperti orang mendamai tetapi nadanya mengancam : "Di saat aku Im Ciu It Mo pu ia seluruh kegusaranku, maka itulah hari akhir dari kamu bertiga Hong Gwa Sam Mo".

Terus ia membuka langkahnya akan menghampiri Kiauw In guna memegang tangan orang.

"Muridku, mari kita pergi !" dia mengajak. Kemudian diapun menyambar tongkat dipohon untuk ditarik lolos. Sesudah itu sambil itu, sambil dipayang Nona Cio dia bertindak turun gunung !

Memang hebat sekali luka di dalam tubuh dari Im Ciu It Mo. Kalau tadi ia bisa beraksi sebentar menggertak Hong Gwa Sam Mo itulah karena dia memaksakan diri, dia mencoba mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya itu. Sekarang setelah urusan beres, ia merasai pula nyerinya itu. Hingga Kiauw In mesti memegangi ia selama mereka berlalu. Untuk penghinaan yang It Mo tak mudah melupakannya. Di depan matanya Hong Kun telah dibawa lari oleh Peng Mo, Bajingan Paras Elok, Tam Mo dan Hiat Mo pun mengoloknya, menambah sakit hatinya. Maka juga kelak dalam pertempuran Bu Lim Cit Cun, di sana telah terjadi sesuatu kontrak di sana ! Sementara itu, Pie Te Taysu, habis dia memberi nasihat kepada Im Ciu It Mo dilereng gunung, terus dia pulang ke dalam taman.

Biarnya dia seorang pertapa dan suci, dia pun mendongkol yang tak karu-karuan. It Mo datang mengacau itu artinya menghina Sang Buddha pujaannya. Hanya saking taatnya kepada ajarannya nabinya itu, ia menahan perasaan hatinya, ia menguasai dirinya untuk tetap berlaku sabar. Itulah uji derita yang harus dimiliki oleh setiap umat beragama.

Tiba ki go gee mai, pintu rembulan dari taman, Pie Te bertemu dengan Liong Hauw Siang Ceng serta muridnya bertiga, yang pun baru tiga, ia merunduk dan bertanya kepada kedua pendeta Naga dan Harimau : "Tahukan kalian berapa orang murid kita yang terbinasa dan terluka ?"

Liong Hauw Siang Ceng bertiga memberi hormat sambil menjura. Lantas Bu Sek menjawab : "Diantara para petugas di pendopo, dua terluka parah, lima terluka ringan. Diantara murid tingkat dua, telah terluka enam anggauta."

Alisnya sang pendeta terbangun.

"Adakah mereka semua telah diobati ?" tanyanya pula.

Siebie kecil, kacung muridnya Liong Houw Siang Ceng menjawab : "Semua telah dirawat, cuma kedua pendeta yang terluka parah itu, sampai sekarang ini masih belum siuman."

Bibirnya Pie Te bergerak, kumis dang janggutnya terbangun, pertanda bahwa ia gusar sekali, akan tetapi ia tetap bungkam. Ia dapat mengendalikan kemurkaannya. Ia berdiri diam sekian lama, lalu ia menatap kedua pendeta di depannya itu, kemudian ia memutar tubuh, meninggalkan pintu model rembulan itu. Selekasnya ia melangkah dari ambang pintu, ia berpaling dan kata : "Bu

Sek dan Bu Siang, kedua kemenakan, pergilah kalian ke seluruh pendopo guna melakukan penyeledikan !"

Kedua pendeta itu mengangguk, tetapi mereka bertindak menghampiri, hingga mereka berada di belakangnya si pendeta tua.

"Paman guru !" katanya.

Pie Te Taysu memutar tubuh. "Ada apakah ?" tanya dia.

Liong Hauw Siang Ceng saling mengawasi, kemudian Bu Sek yang membuka mulutnya. Katanya perlahan-lahan sekali, "Paman, bukankah paman baru dari gunung belakang ?"

Pie Te Taysu bersenyum.

"Sebelumnya kalian membuka mulut, lolap telah ketahui maksud pertanyaan kalian." katanya. Berkata begitu, dia menatap tajam sekali.

Bu Sek dan Bu Siang tunduk, mereka menjura sambil merangkapkan kedua tangannya masing-masing.

Pie Te Taysu mengawasi, terus dia menghela nafas. "Lolap telah mentaati pesan dari ciangbun suheng, di

lereng gunung belakang sana telah lolap mengasi lolos pada Im Ciu It Mo bertiga." katanya, memberikan keterangan. Ciangbun suheng ialah panggilan yang berarti kakak seperguruan (suheng) yang berbareng pun menjadi ketua (ciangbun).

Liong Houw Siang Ceng berdiam. Sesaat kemudian, mereka mengangkat kepala mereka.

"Paman." kaat Bu Siang. "Kami berdua memohon perkenan paman untuk turun gunung buat melakukan suatu perjalanan ! Dapatkah ?"

Dengan "kami berdua", Liong Houw Siang Ceng menyebutkan "tua ca" yang berarti "murid" tetapi disisi kata- kata itu selain untuk merendahkan diri berbareng juga untuk menghormati sang susiok, paman guru.

Pie Te Taysu mengawasi kedua kemenakan murid itu. Ia menghela nafas.

"Kemenakanku," sahutnya kemudian. "Sekarang ini ada jaman lagi kacau dari dunia Sungai Telaga. Karena itu dengan tenaga kalian berdua untuk menyusul Im Ciu It Mo, hasilnya sungguh sukar diterka. Dengan kata lain, mungkin kalian tak akan berhasil."

"Kami berdua justru hendak mencari tahu sampai dimana kejahatan dan tenaga Bajingan itu !" Bu Sek turut bicara.

Parasnya si pendeta tua berubah, tetapi dia berkata cepat : "Baik, kalian boleh pergi ! Cuma haruslah kalian hati-hati !"

Bu Siang dan Bu Sek girang sekali, mereka bersyukur.

Mereka memohon ijinnya sang paman guru disebabkan di saat itu guru mereka Pie Sie Siansu, sedang menyekap diri, hidup bersendirian di dalam sebuah kamar suci dan segala tugasnya diwakilkan pada Pie Te, sang paman guru yang menginap Ing Ciang Ih, pendopo tempat pendeta kepala, ketua Gwan Sek Sie.

Sekarang kita melihat dulu pada Sek Mo alias Peng Mo si Bajingan Es. Dia kabur dengan mengempIt Hong Kun. Jalan yang diambil yaitu lereng di belakang gunung Gwan Sek San. Dia lari dan jalan cepat bergantian selama tujuh atau delapan lie tak henti-hentinya.

Baru setelah itu dia memperlahan langkahnya.

Sebenarnya Sek Mo adalah seorang nikouw, tapi cara hidupnya mirip separuh siluman. Dengan telah berhasil mendapatkan Gak Hong Kun girangnya tak kepalang.

Sehingga dia bagaikan tengah bermimpi manis, terus dia menatap wajah tampan si pemuda, hingga ia seperti juga hendak mencaplok dan menelan pemuda itu..........

Ketika itu angin gunung meniup, membuat berdeburan jubarahnya si nikouw, sedangkan sinar layung matahari memancarkan wajahnya yang cantik tetapi berwajah sangat centil, bayangannya berpeta di jalan lereng itu. Dia berjalan perlahan dengan tindakan elok, lemah gemulai..........

Sembari jalan, Sek Mo memikirkan dimana dia harus singgah atau mondok, maka juga matanya selalu mencari rumah atau pondokan dimana ia mengharap ia bisa menumpang bermalam, supaya disitu malam juga dapat ia mempuaskand irinya, bagaikan bidadari terbang melayang- layang diangkasa........

Toh didalam keadaan sepertiitu, ia masih sadar akan keganjilan diri atau perbuatannya. Sebab sebagai seorang wanita, apa pula wanita yang beribadat, mengapa ia mengempit dan memeluki seorang pria muda belia ? Tidakkan itu akan membuat orang heran dan curiga ? Ia telah memikir dan mencari saja sebuah gua tetapi ia tak setujui itu. Ia pula kuatir Im Ciu It Mo nanti dapat menyusulnya.

Selagi berpikir itu, Sek Mo berjalan dengan perlahan-lahan.

Kapan ia melihat cuaca ia mulai bingung. Sang lohor sudah tiba, sang magrib lagi mendatangi, sedang ia belum juga mendapatkan pondokan.

Terpaksa, si Bajingan Es lantas mempercepat langkahnya.

Di sebelah depan terdapat sebuah tikungan, selewatnya mana tampak sebuah tanah kosong yang bertumbuhkan rumput tebal.

Justru ia menikung justru ia melihatnya sesosok tubuh manusia, cepat bagaikan bayangan berkelebat.

Peng Mo terkejut hingga ia melengak, lantas ia maju dua tindak.

"Sahabat, siapa disitu ?" tegurnya. "Silahkan sahabat keluar untuk kita bertemu."

Dari dalam semak terdengar tawa nyaring disusul paling dahulu dengan munculnya sebuah kepala orang yang gundul, segera seluruh tubuhnya tampak, nyata dialah seorang pendeta dengan jubahnya warna kuning. Dia tertawa pula, terus dia berlompat hingga di detik yang lain dia sudah berdiri di depannya Sek Mo. Jaraknya lima kaki satu dengan yang lain.

Dengan mata dibuka lebar, pendeta itu mengawasi Peng Mo dan Hong Kun bergantian, terutama si anak muda. Peng Mo melihat pendeta itu berumur kurang lebih tiga puluh tahun, mukanya montok, matanya bundar. Ia merasa asing terhadap orang suci itu. Karena orang mengawasi terus padanya, ia mau menyangka pendeta itu kurang pendidikan, atau dialah si pendeta cabul sebab dia terus mengawasi padanya !

Habis mengawasi Hong Kun, pendeta itu mengangkat kepalanya, akan memandangi si wanita untuk terus menanya hormat : dari mana didapatnya si anak muda yang yang dikempitnya..........

Ditanya begitu, Peng Mo justru tertawa. Ia lantas menjawab tetapi bukannya menyahuti pertanyaan orang, dia justru balik bertanya : "Suheng, apakah nama suci suheng ?"

Pendeta itu merakopi kedua tangannya.

"Pinceng ialah Bu Kie dari Siauw Lim Sie." jawabnya. Peng Mo tertawa manis, matanya memain galak.

"Suheng, untuk apalah maksud suheng maka suheng menguntitku ?" dia tanya. Kembali dia menanya.

Bu Kie tidak puas terhadap pertanyaan itu yang dibarengi dengan tingkah centil. Maka dia kata keras : "Akulah pendeta yang mengutamakan aturan-aturan agama, sekalipun si wanita cantik yang muncul di depanku, tak nanti hatiku tergiur, maka itu aku minta sukalah kau menghargai dirimu sendiri !" Parasnya Sek Mo berubah. Inilah tidak disangkanya. Dia menjadi tidak senang hingga dia lantas memperlihatkan tampang bengis.

Kata dia keras : "Air tidak mengganggi air sungai, orang mengambil jalannya sendiri-sendiri, maka itu, kepala keledia, kau pikir baik-baik ! Sekarang ini telah tiba saatnya buat kau memanjat sorga !"

Bu Kie makin gusar. Bentaknya : "Oh, manusia penuh dosa

! Tak dapat kau lolos dari tanganku! Rupanya inilah yang dinamakan jodoh !"

Diantara waktu Bu Kie keluar dari Gwan Sek Sie dengan saatnya Peng Mo merampas Hong Kun dan turun dari gunung, bedanya ialah setengah hari satu malam. Karena itu, mereka berpapasan dari siang-siang. Tapi itulah bukan soal bagi si pendeta. Dia hanya tertarik oleh tampangnya Hong Kun yang mirip It Hiong hingga ia menyangka pemuda itulah murid Pay In Nia. Orang yang telah melepas budi besar terhadap Siauw Lim Sie. Maka itu, selagi si anak muda terjatuh dalam tangannya wanita cabul, hendak ia membantunya. Telah ia mendengar berita perihal It Hiong lagi menempuh bahaya.

Karena ia tidak sanggup memberikan bantuannya, ia mundar mandir saja di sekitar gunung Ngo Pay San. Sungguh kebetulan hari ini, ia bertemu dengan Peng Mo yang lagi melarikan Hong Kun sebagai It Hiong palsu !

Tempat Hong Gwa Sam Mo bertempur dengan Im Ciu It Mo, Bu Kie dapat melihat. Ia menonton dari tempat jauh tanpa ia dapat dilihat mereka itu. Sampai Im Ciu It Mo menghilang, ia tidak tahu tetapi disini apa mau mereka berselompokan.

Maka ia lantas muncul dan merintanginya. Peng Mo mendongkol. Kata dia dingin : "Kepala keledia gundul, kita berjodoh ! Marilah hendak aku lihat, kepandaian apa yang kau miliki !"

Berkata begitu, dengan berani si wanita menunjukan dirinya. Masih ia mengempIt Hong Kun. Ia bertindak dengan langkah elok tetapi ia sengaja mau menabrak pendeta itu !

Bu Kie gusar, dia bersiap sedia. Kedua tangannya digeraki dengan berbareng ! Tangan kiri diluncurkan ke muka si wanita dengan jurus : "Arhat Menggoyang Lonceng", tangan kanannya menyambar Hong Kun buat dirampas.

Inilah jurus "Di dalam Laut Menawan Naga". Dua-dua jurus itu adalah jurus-jurus dari "Cap jie Na Liong Ciu", "Dua belas Tangan Menawan Naga", yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Tangan kiri separuh menggertak, tangan kanan bekerja benar-benar.

Peng Mo terkejut merasai angin menyambar keras. Dengan cepat ia mencelat mundur dua tindak. Dengan begitu bebaslah ia dari dua-dua tangannya si pendeta.

Menyaksikan kelincahan si wanita, tahulah Bu Kie yang dia lagi menghadapi bukan sembarang wanita. Ia lantas maju pula untuk merangsak. Kembali ia menggerakkan kedua belah tangannya. Kali ini dengan gerakan "Merogoh Rembulan Didalam Air". Kedua tangannya bergerak ke kiri dan kanan tubuh orang. saking cepatnya, tangan kanannya sudah lantas menyentuh tubuhnya si anak muda.

Peng Mo kaget sekali. Dia tidak menyangka si pendeta demikian lihai, hingga dia telah kena ditipu. Lekas-lekas dia menangkis dan merampas pulang tetapi dia gagal. Tubuhnya Hong Kun sudah pindah tangan. Dan Bu Kie berlaku cerdik, dengan lantas dia memutar tubuh untuk berlari pergi !

Bukan main panas hatinya Peng Mo. Maka juga ia lantas lari mengejar. Dulu di dalam rimba diluar kota Gakyang ia telah dipermainkan Ya Bie, yang menggunakan ilmu silat. Tetapi sekarang Bu Kie mempermainkannya terang-terang. Ia pun tidak takut terhadap pendeta itu. Bahkan dia bisa berlari dengan keras. Dengan dua kali lompat, ia sudah dapat menyandak dan melewatinya, untuk terus menghadang.

Dengan memondong tubuhnya Hong Kun, Bu Kie tak dapat lari keras. Ia pun segera menjadi repot selekasnya si wanita menyerangnya. Tadi Sek Mo melayani ia dengan satu tangan, sekarang ia membela diri dengan satu tangan juga, sebab tangan yang lain terus mengempit tubuhnya si anak muda.

Untung baginya, ilmu silatnya yang dinamakan Nu Liong Cu - Menawan Naga dan Kim kong Ciang Hoat, Tangan Arhat, sudah sempurna hingga ia dapat melindungi dirinya. Setelah terdesak ia berdiri tegak, matanya mengawasi tajam pada si Bajingan Paras Elok.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa kau begini mendesak aku

?" tanyanya.

Alisnya Peng Mo bangun, matanya mendelik.

"Kau telah merampas sahabatku, apakah itu bukannya permusuhan ?" dia balik bertanya sambil membentak.Bu Kie mengawasi mukanya Hong Kun. Lantas dia memperlihatkan tampang sabar.

"Mari aku memberikan keteranganku" katanya. "Pemuda ini adalah orang gagah yang pernah melepas budi terhadap Siauw Lim Sie. Dialah sicu Tio It Hiong yang budiman. Kita kaum rimba persilatan toh membedakan budi dari dendam ? Dia sekarang terancam bahaya, mana dapat aku tidak menolongnya guna membalas budinya ?"

"Hm !" Peng Mo memperdengarkan ejekannya. "Kiranya pemuda ini tuan penolong dari Siauw Lim Sie kamu !"

Bu Kie mengangguk. "Tak salah !" sahutnya.

Dari murka, mendadak Peng Mo tertawa. Dia pandai sekali memainkan peranan.

"Dia... dia.. Denganku pun bermusuhan !" katanya. "Bagaimana sekarang ?"

"Bagaimana kalau pinceng yang bertanggung jawab sendiri

?" tanya Bu Kie yang mau percaya keterangan dusta si wanita licik.

"Pinceng sangat menghargai kau, bapak pendeta, maka juga pinni suka mengalah.: kata Peng Mo. Ia sekarang membahasakan dirinya pinni, si nikouw melarat, untuk merendahkan diri. "Nah, coba kau pikir masak-masak, kepandaian apa yang lihai yang kau miliki buat kau melayaniku."

Bu Kie berlaku sabar.

"Paling baik ialah kau mengalah supaya kelak di belakang hari akan aku membalas kebaikanmu ini." sahutnya.

Mendadak saja Peng Mo gusar. "Mana dapat !" serunya sambil dia maju untuk menyerang dengan dua-dua tangannya. Dia pun membentak : "Sudah, jangan ngaco belo saja !" Terus dua tangannya terluncurkan hingga si pendeta membuat perlawanan.

Dengan tangan kiri tetap mengempIt Hong Kun, dengan tangan kanannya si pendeta menangkis serangan dahsyat itu. Berbareng dengan itu ia pun berkelit dari tangan lawan yang lainnya.

Setelah beradu tangan itu Peng Mo ketahui tentang musuhnya ini. Musuh kuat tenaga luarnya tetapi belum sempurna tenaga dalamnya. Ia sendiri masih lemah tetapi sebagai seorang yang berpengalaman, ia bisa mengimbangi diri bagaimana harus melayani lawan yang tangguh itu.

Begitulah ia menyerang gencar dengan dua-dua tangannya, sebagaimana dia pun dengan lincah sekali berkelit sana dan berkelit sini atau sewaktu-waktu dia lari berputaran mengelilingi lawan untuk membikin lawan pusing dan repot, terutama agar lemas kehabisan tenaganya. Lawan mengempit si anak muda !

Hong Gwan Sam Mo mempunyai ilmu silat istimewa yang diberi nama "San Hoa Siauw Cia" atau "Menyebar Bunga". Maka juga Sek Mo sudah lantas menggunakan ilmunya itu. Ia berputaran terus, saban-saban ia menyerang dengan ilmu silatnya itu. Bu Kie menjadi repot, hingga jangan kata menyerang, membela diri saja sukar. Ia tak dapat bergerak dengan leluasa. Sedangkan mulanya ia memikir menggunakan kekerasan akan melumpuhkan lawannya itu. Ia tidak menyangka bahwa lawan licik sekali dan pula masih mempunyai kegesitan. Sesudah menyerang beberapa puluh kali dengan sia-sia saja pendeta itu menjadi bingung juga. Ia mulai lelah karena sudah menggunakan tenaga terlalu banyak.

Sebaliknya Peng Mo. Dia lihai, dia mendapat lihat lawan mulai kehabisan tenaga, lantas dia menggencarkan serangannya. Dia menyerang sambil lompat berputaran untuk membikin lawan pusing kepala. Dia pula selamanya menyingkir dari serangan dahsyat lawannya itu.

Bagus buat Bu Kie, walaupun dia sudah kalah angin tetapi ia masih dapat bertahan. Terus ia mengempIt Hong Kun yang ia sangka It Hiong adanya, ia selalu menangkis serangan, atau kalau ia berkelit selamanya ia berkelit dengan lompat mundur. Ia selalu mundur di jalan pegunungan itu.

Peng Mo bertempur dengan gembira. Harapannya telah timbul. Ia melihat lawan sudah terdesak hingga lekas juga si anak muda yang dijadikan barang perebutan bakal segera kembali ke dalam rangkulannya. Ia tertawa saking girangnya.

"Bapak pendeta awas !" katanya kemudian yang lantas menyerang dengan ilmu silat "Boan Thian Hoa In, Hujan Bunga di Seluruh Langit". Dengan begitu saking gencarnya serangan kedua belah tangannya bergerak-gerak cepat bagaikan bayangan berkelebatan.

Bu Kie Hweshio bingung. Matanya telah berkunang-kunang.

Satu kali ia berkelit dari serangannya lawan. Ia bisa menyelamatkan dirinya tetapi karena lambat, angin serangannya Peng Mo mengenai Hong Kun yang tak sadarkan diri. "Aduh !" mendadak si anak muda menjerit karena serangan itu membuatnya siuman. Ia tertotok pada jalan darah giok-cim di belakang batok kepalanya itu.

"Ah, kau sadar Tio sicu !" kata Bu Kie girang sambil dia mengambil kesempatan mengawasi muka si anak muda.

Justru itu pendeta ini mengeluarkan jeritan tertahan.

Sedangnya dia tunduk, tangannya Peng Mo menghajar bahu kirinya hingga dia roboh dan hatuh bergulingan dengan Hong Kun terus terkempit.

Peng Mo lompat menyusul, tangannya pun menyambar Hong Kun. Apa mau, ia telah kena injak sebuah batu bundar, maka tidak ampun lagi, ia terpeleset dan jatuh, hingga bertiga mereka jadi bergumulan. Tubuh mereka bergelindingan.

Karena jalanan disitu turun, mereka jatuh ke bawah sejauh belasan tombak, baru mereka kena terhalangi batu karang besar disebuah tikungan !

Dua-dua Peng Mo dan Bu Kie merasakan nyeri sekali, sebaliknya Hong Kun yang berada ditengah-tengah diantara mereka berdua tak kurang suatu apa. Selekasnya tubuhnya tak bergulingan pula, Peng Mo menarik tangan kirinya melepaskan cekalannya atas Hong Kun, dengan cepat dia bangun berduduk buat menyerang Bu Kie atau mendadak ia menjadi kaget dan segera membatalkan serangannya itu, tidak dapat dihajar atau Hong Kun yang mesti dihajar terlebih dahulu ! Walaupun demikian ia tidak sempat menarik pulang tangannya, karena mana dengan disampingkan, ia jadi kena menyampok batu karang hingga batu karang itu pecah berserakan !

Justru Peng Mo menyampingkan serangannya, justru Bu Kie dan Hong Kun berlompatan bangun berbareng. Bu Ki memangnya tidak pingsan dan Hong Kun siuman sebab kepalanya - jalan darah giok-cim kena terserempet sampokannya Peng Mo. Dengan berlompat bangun, keduanya jadi berdiri terpisah satu dari lain.

Asap bius It Toan In - Segumpal Awan - dari Tam Mo adalah obat bius yang istimewa. Siapa mencium asap itu kontan dia pingsan dan tubunya menjadi lemas. Namun kekuatan obat itu tak lama, cuma enam jam. Selewatnya waktu itu, dapat orang siuman sendirinya. Selayaknya Hong Kun harus sudah sadar siang-siang, tetapi diapun terkena obat Thay Siang Hoan Han Tan dari Im Ciu It Mo, maka juga dia pingsan lebih lama dari semestinya. Hingga dia menjadi barang perebutan dan dibawa berlari-lari. Syukur untuknya, sampokan meleset dari Peng Mo membuatnya terasadar, hanya sejenak dia merasakan nyeri hingga dia mengeluh "aduh". Hanya tetap setelah siuman itu dia masih terpengaruhi obatnya It Mo. Ia berdiri menjublak saja, tak tahu Peng Mo dan Bu Kie itu lawan atau kawan.........

Si nikouw mengebuti pakaiannya yang berdebu, terus ia mengawasi Hong Kun sambil ia memperlihatkan senyuman manisnya.

Memang ia berwajah sangat genit dan sekarang ia beraksi nampaknya ia menggairahkan.

"Ah, adikku yang baik, bagaimana kau rasa ?" tanyanya prihatin. Lantas ia bertindak menghampiri akan mencekal dan menggenggam tangan orang erat-erat, agaknya ia sangat mengasihi.

Bu Kie merasai bahunya nyeri sekali, tetapi ia tidak menghiraukan itu. "Tio sicu !" ia memanggil Hong Kun yang ia tetap sangka It Hiong adanya, "sicu, siauteng ialah pendeta dari Siauw. "

"Sie-cu ialah pengamal atau penderma dan oleh kaum beragama biasa digunakan sebagai panggilan.

Dengan mendadak Peng Mo memutus kata-katanya si biksu dengan menyampok padanya sedangkan mulutnya memperdengarkan suara kasar sekali : "Jika kau tahu diri, lekas kau mengangkat kaki dari sini."

Bu Kie berkelit sambil mundur. Ia tidak mau menangkis atau melawan. Luka dibahunya hebat sekali, hingga ia insyaf tak nanti ia sanggup menggempur pendeta wanita itu.

"Sicu Tio It Hiong !" ia memanggil si anak muda, "Tio sicu !

Apakah kau telah melupai Bu Kie dari Siauw Lim Sie ?"

Atas suaranya si biksu, Hong Kun cuma mengawasi pendeta itu, matanya mendelong, tubuh berdiri bagaikan terpaku sedangkan kedua tangannya ia biarkan dipegangi si nikouw atau nikouw. Ia tak bergirang atau bergusar, ia melongo saja.

Sampai disitu tahulan Bu Kie bahwa It Hiong, penolong dari Siauw Lim Sie telah orang pengaruhi, entah dengan obat atau ilmu apa. Sekarang ia menjadi heran kenapa pemuda yang demikian gagah dan cerdas kena orang celakai. Tak mungkin pemuda itu kena pengaruh paras elok. Sedangkan selama di Gwan Sek Sie, It Hiong ada berdua bersama Kiauw In, pacarnya.

"Aneh !" demikian ia cuma bisa kata dalam hati. Peng Mo beraksi akan mengambil hatinya si anak muda. Ia sampai tak merasa likat tingkahnya itu ditonton Bu Kie. Ia tidak

mendapati hasil, Hong Kun tetap berdiam saja, bungkam dan tawar, matanya mendelong saja. Karena itu ia jadi berpikir keras.

Satu kali ia mendongkol karena kekasih tak melayaninya.

Dalam mendongkol dan masgulnya, mendadak ia ingat perkataannya It Mo tentang pil Thay Siang Hoan Hun Tan, bahwa tanpa obatnya itu, Hong Kun akan tak ada faedahnya.......

"Ah !" serunya di dalam hati, mukanya menjadi merah. Dia likat sendirinya. Diapun merasa malu sudah beraksi dihadapannya Bu Kie. Tapi ketika dia menoleh kepada pendeta asal Siauw Lim Sie itu, hatinya lega juga. Bu Kie lagi tunduk diam, rupanya dia sedang berpikir keras.

"Bagus !" pikirnya pula. Lantas timbul keinginannya akan mencium Hong Kun. Disitu toh tak ada orang yang melihatnya. Bu Kie tengah kelelap dalam pikirannya.

Justru ia mau mengangsurkan mukanya, tiba-tiba telinganya dengar satu suara lapat-lapat : "Ah !"

Mulanya melengak, nikouw ini menjadi mendongkol. "Kurang ajar !" pikirnya. Ia gusar terhadap Bu Kie, yang ia

sangka telah mengeluarkan suara itu guna mengganggunya. Hendak ia menghajarnya, atau segera ia mendengar tawa yang nyaring, hingga ia menjadi kaget. Ketika ia menoleh ia melihat munculnya secara tiba-tiba dari Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin, kedua saudara seperguruannya yang berdiri berendeng disampingnya. Sebaliknya, waktu ia berpaling kepada Bu Kie, pendeta itu sudah lenyap entah kapan dan kemana perginya !

"Suheng !" kemudian ia memanggil kedua saudara seperguruannya itu.

Tam Mo Tojing dilain pihak sudah bertindak akan menjemput sepasang goloknya saudaranya, sembari menghampiri dan menyodorkan golok itu, dia berkata :  "Bunga indah tak membuat orang lupa daratan, hanya orang sendiri yang melupai dirinya ! Sumoay kau rupanya telah terpesonakan pemuda tampan ini hingga kau lupa segala apa ! Benarkah ?"

Hiat Mo Hweshio pun kata tertawa : "Selama satu hari ini pastilah sumoay telah merasakan kenikmatan yang memuaskan sekali ! Lihatlah, hati sumoay memain, matanya bercanda dan pinggangnya lemas ! Ha ha ha ! Kau tahu sumoay, kau membuat kami berdua mencari kau ubek-ubakan diempat penjuru angin, sampai kami bermandikan peluh sampai kita menjadi seperti si hweshio bersengsara dan Tojin menderita."

Mukanya Sek Mo menjadi merah saking likat tetapi ia tak gusar cuma ia mendelik kepada kedua saudara seperguruan itu.

"Cis !" katanya sengit. "Suheng berdua, mulut kalian tak bersih !"

Meski begitu ia menyambuti sepasang goloknya yang terus ia masuki ke dalam sarungnya. Hiat Mo dan Tam Mo saling mengawasi dan tertawa.

Kemudian mereka pun saling memandang dengan sang adik seperguruan untuk bersenyum juga bersama-sama. Selama itu mereka tidak perhatikan lagi pada Gak Hong Kun yang sejak tadi berdiri menjublak saja. Mereka baru sadar ketika melihat sesosok tubuh berlompat kepada mereka sambil sebatang pedang dibalingkan, hingga serentak mereka berlompat misah menjauhkan diri dati tubuh orang itu yang ternyata Gak Hong Kun adanya !

Ketika itu sang malam telah tiba dengan cepat, maka juga sinar pedang nampak berkilauan, anginnya pun bersuara nyaring menyambar kepada Hong Gwa Sam Mo. Habis serangan yang pertama itu menyusul yang lainnya karena si anak muca bersilat dengan serupa jurus silat pedang berantai dari Heng San Pay !

Tam Mo segera memasang mata. Habis menyerang beberapa kali itu, kembali Hong Kun berdiri menjublak, matanya mendelong ke satu arah. Ke arah sebuah batu karang.

"Sute, tahan !" berseru Hiat Mo kepada Tam Mo si Bajingan Loba, yang tadi beraksi hendak melakukan penyerangan membalas.

Peng Mo pun sudah lantas memberi isyarat supaya kedua saudaranya jangan sembarang turunt angan, terus ia mengawasi Hong Kun yang ia hampiri dengan langkah perlahan-lahan, niatnya membokong dengan satu totokan, supaya anak muda itu kembali mati kesadarannya.......

Habis berdiri diam itu sekonyong-konyong Hong Kun tertawa nyaring, disusul dengan suara gusarnya berulang- ulang : "Hm ! Hm !". Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak. Diakhirnya, dia tampak berdiam dengan tampang sangat berduka, tubuhnya tak bergerak.

Peng Mo mengawasi kelakuan tidak beres ingatan dari orang yang dikasihhaninya itu, ia merasa sangat kasihan, maka setelah orang berdiam, ia menghampirinya. Dengan jari tangan kanan, ia menotok jalan darah ouwtian dari si anak muda.

Heran pemuda itu. Dia seperti tidak merasai totokan itu. Mendadak ia memutar tubunya sambil terus miring sedikit, dengan pedangnya dia membarengi menebas.

Si Bajingan Es menjadi kaget dan heran sekali. Syukur dia sempat berlompat berkelit. Hampir lengan kanannya kena terbabat.

"Bagaimana kalau kakakmu yang muda membantumu ?" tanya Tam Mo si rahib agama To yang terus mengibaskan tangan kanannya, maka juga sebutir peluru It Toan In lantas meluncur ke arah si anak muda.

Cuaca sudah mulai gelap. Hong Kun tak melihat apa-apa, apa pula peluru bius itu. Ia toh luput dari roboh tak sadarkan diri. Justru ia tengah berlompat ke samping, pada Peng Mo yang ia serang pula.

"Kau.... kau..." tegurnya Peng Mo.

Peluru lewat terus, tanpa mengenai sasarannya, jatuh ke tanah, tak meledak. Dengan begitu bebaslah anak muda itu. Bahkan dia tetap tidak tahu bahwa orang telah menyerangnya dengan senjata rahasia. Peng Mo mengawasi sekian lama lantas menghampiri.

"Adik !" sapanya tertawa. "Apakah kau hendak bilang ?"

Karena orang memegang pedang terhunus dan barusan baru saja dia menyerang, Sek Mo tidak berani menghampiri sampai dekat, ia pula siap sedia kuatir nanti diserang lagi.

Hong Kun bicara seorang diri, suaranya sangat perlahan hingga tak terdengar kata-katanya, dengan tangannya dikasih turun, ia terus berdiri diam.

"Sumoay" Tam Mo berkata kepada adik seperguruannya itu, "kalau kita menghadapi musuh, hati kita lemah dan kita menaruh belas kasihan, itu artinya kita mudah mendapat celaka. Maka itu, baiklah pemuda ini dibekuk terlebih dahulu, sesudah itu baru kau baiki dia. Nanti aku yang mewakilkan kau menawannya. "

Begitu ia berkata, tanpa menanti jawaban lagi dari si adik seperguruan, Tam Mo lantas bertindak kepada Hong Kun sambil terus menyerang dengan tangan kosong.

Hong Kun seperti tidak melihat orang menyerangnya, hanya justru ia lari turun gunung ! Dengan begitu kembali ia bebas dari serangan itu. Malah ia lari terus hingga ia lenyap di dalam kegelapan !

Tam Mo heran hingga ia berseru sendirinya. Ia sudah lantas menarik pulang tangannya. "Ah, jie suheng !" Peng Mo kaget dan menyesalkan saudaranya yang nomor dua itu, "Kau lihat, lantaran diserang olehmu dia telah pergi kabur. " Saking menyesal, si nikouw membanting-banting kaki.

Tanpa berunding lagi ia lari menyusul.

Hiat Mo tertawa menyaksikan adik seperguruan itu demikian tergila-gila pada si anak muda. Kata dia tertawa : "Bocah tolol itu lagi tak sadarkan diri, dia dapat lari kemana ? Mustahil dia bisa naik ke langit ! Ha ha ha !"

"Kau benar, suheng." berkata Tam Mo yang barusan disesalkan adiknya dan dia menyesal juga. "Sekarang mari kita pergi membantu mencari pemuda itu, supaya dia tak usah bersusah hati. Bisa-bisa dia penasaran dan bergusar."

Hiat Mo mengangkat kepalanya, melihat ke langit. Ia mendapati sudah banyak bintang dan rembulan bermodel sisir.

"Nah, marilah kita pergi !" sahutnya. "Kita sama-sama si biksu dan Tojin menderita. Ada baiknya kita berjalan malam- malam guna melemaskan otot-otot kaki kita."

Habis dia mengucap itu, bersama saudaranya, Bajingan Tamak itu lantas berangkat menyusul.

Malam itu kedua anggauta Hong Gwan Sam Mo ini mesti berputaran di gunung Ngo Tay San itu, entah berapa puncak telah didaki dan berapa rimba telah dilewati, emreka tidak dapat menyusul atau mencari Sek Mo, adik seperguruan yang paling muda itu !

Karenanya, mereka mencari terus sampai munculnya sang fajar tetapi sia-sia belaka !

Biar bagaimana, keduanya merasa letih. Maka mereka berdiri di sebuah puncak, matanya mengawasi sekitarnya. Dengan begitu mereka sekalian beristirahat. Keduanya berdiam saja. Mereka itu, yang satu berkepala gundul, yang lain berjanggut seperti janggutnya kambing gunung.

Keduanya berdiam, mereka cuma dapat bersenyum berduka.

Lewat sekian lama dengan membungkam saja. Kemudian Hiat Mo si Bajingan Darah yang berkata terlebih dahulu.

"Adikku, mari kita turun gunung !" demikian katanya kepada sang jie-sute, adik seperguruannya yang nomor dua itu. "Bagaimana kalau kita pergi ke Biauw Im Am, biaranya adik kita itu ?"

Tam Mo akur, ia mengangguk. Karena Hiat Mo sudah lantas berjalan, ia bertindak mengikuti.

Sekarang kita menyusul Sek Mo atau Peng Mo si Bajingan Paras Elok atau Bajingan Es. Ia menyusul terlambat, sejarak belasan tombak. Tetapi syukur sinar bintang membantunya hingga samar-samar ia bisa melihat bayangannya si anak muda. Ia perkeras larinya untuk dapat menyandak. Yang membuat masgul dan berkuatir ialah larinya Hong Kun, sebentar ke kiri, sebentar ke kanan, seperti orang berkelit- kelit.

Dalam bingung dan penasaran, Sek Mo lari dengan ilmunya yang dinamakan "Hon Eng Lie Heng", "Merubuh bayangan, meninggalkan bentuk". Maka ia bagaikan melesat seperti sesosok bayangan hitam.

Apa pula adalah Hong Kun. Dia lari cepat dan lama diluar dugaan, mungkin itu disebabkan lari tanpa tujuan atau karena pikirannya tidak sadar. Terus terusan dia kabur tiga sampai empat puluh lie, sampai dua jam lamanya, masih belum ia mau berhenti. Maka taklah kecewa ia menjadi murid tunggal dari Heng San Pay karena dia telah berhasil mewariskan kepandaiannya ilmu ringan tubuh gurunya, It Yap Tojin. Dalam tak sadara, dia pula seperti dapat tenaga istimewa. Hingga ia tak kenal lelah. Sudah lari puluhan lie, dia nafasnya tak memburu. hanya, sebab lari tanpa tujuan itu, beberapa kali dia terpeleset dan jatuh memegang tanah !

Peng Mo Ni kouw menggunakan ilmu lari seluruhnya tak berhasil dia menyusul si anak muda yang digilainya itu, sampai dia bermandikan peluh dan bajunya demek, sedang nafasnya tersengal. Tetapi dia beradat keras dan penasaarn, makin tak dapat menyandak, dia lari makin sengit.

Demikian yang seorang lari tanpa tujuan, yang lain dengan akan maksudnya, lalu dengan sendirinya mereka bagaikan main kejar-kejaran atau mengadu kepandaian lari. Dan mereka berlari-lari ditanah pegunungan, diantara rumput tebal, diantaranya batu besar dan pepohonan.

Lagi tiga puluh lie dilalui, maka terpisah sudah mereka dari wilayah gunung Ngo Tay San, lewat jauh sekali.

Sebelumnya fajar, Hong Kun sudah melintasi sebuah tanjakan dan mulai berlari-lari di jalan umum. Dari jauh sekali, Peng Mo melihat anak muda itu, dalam rupa seperti bayangan lenyap didalam suatu benda yang gelap. Ia menyusul terus.

Setelah cuaca sedikit terang, benda gelap itu mirip sebuah gubuk, tapi sesuah dihampiri dekat kiranya kereta bertenda yang ditarik kuda, yang berhenti di tepi jalan.

"Heran. " pikir si Bajingan Es. "Kenapa kereta ini

diberhentikan di tepi jalan ini tanpa kusir ? Keretanya juga tanpa sesuatu pertanda hingga tak diketahui pemiliknya siapa." Sesudah berdiri mengawasi sekian lama, dengan dia tetap tak melihat ada orang keluar dari dalam kereta itu, Peng Mo habis sabar.

"Kereta ini ada penumpang atau tidak ?" demikian dia tanya. "Pinni hendak menanyakan sesuatu."

Tiada jawaban dari dalam kereta. Tidak sekalipun, pertanyaan telahh diulang beberapa kali.

Oleh karena ia tak mendapat jawaban, si Bajingan Es menjadi mendongkol.

"Kurang ajar !" pikirnya. Maka hendak dia menaiki kereta itu, guna memeriksa dalamnya. Atau disaat itu dari tepi jalan dimana ada rumput tebal tampak munculnya seorang pria yang berjalan perlahan sambil dia merapikan pakaiannya, kemudian dia melompat naik ke atas kereta itu untuk membuka tambatan tali kudanya, guna memegang juga cambuknya. Hanya sebelum dia memberangkatkan kereta, dia tunduk akan melirik ke bawah kereta kepada si nikouw !

Karuan Peng Mo pun memandang muka orang. Empat buah mata bentrok sinarnya satu sama lain. Lantas Peng Mo merasa seperti pernah mengenal kusir itu, cuma ia tak ingat nama atau gelarannya dan lupa juga dimana mereka pernah jumpa. Yang pasti si kusir pun orang Kang Ouw !

Pria itu tampan, bajunya panjang biru punggungnya menggendol pedang yang ada rendanya -renda merah. Dia sudah setengah tua tetapi nampak seperti seorang muda dan gerak geriknya halus. Hampir Peng Mo lupa akan dirinya, karena ia mengawasi saja kusir kereta itu, akhirnya bagai orang baru sadar, ia memberi hormat dan menanya : "Sicu, pinni mohon bertanya, kereta ini ada penumpangnya atau tidak ?"

Kusir itu melongo. Ia tersengsem oleh suara merdu dari biksui, tanpa merasa ia menurunkan tangannya yang mencekal cambuk dan terus mengawasi muka orang. Ia tidak lantas menjawab, hanya bersenyum.

Orang pengalaman seperti Peng Mo ketahui baik bahwa orang telah tertarik oleh dirinya, maka itu ia menjadi girang sekali.

"Sia-sia belaka aku menyusul si anak muda, ada baiknya kusir ini menjadi penggantinya." demikian pikirnya. Karena ia sudah pandai beraksi lantas ia mempertunjuki gerak geriknya yang menggairahkan.

"Sicu !" katanya tertawa manis, alisnya memain, "sicu, apakah kau tak dengar ? Pinni menumpang bertanya, di dalam keretamu ini ada penumpangnya atau tidak ?"

"Oh !" pria itu kaget. Ia seperti baru sadar dari tidur. "suthay, apakah gelaranmu yang mulia dari suthay ?" bukannya menjawan, ia malah sebaliknya.

"Ha, kau licik, anak !" kata Peng Mo di dalam hati, sebab ia bukan dijawab hanya ditanya. "Awas kalau sebentar kau sudah tergenggam olehku ! Asal saja kau telah mengundangku naik ke dalam keretamu ! Sampai itu waktu mana dapat si anak muda lolos dari tanganku."

Dengan tindakan elok, Peng Mo menghampiri kereta dua tindak, hingga ia jadi berdiri di sisinya. Di situ ia berdiri, sambil tertawa ia berkata : "Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah Beng Hiat Nikouw dari Biauw Im Am, salah seorang dari Hong Gwa Sam Mo. Sicu belum lagi pinni belajar kenal dengan she dan namamu yang mulia dan tersohor !"