Iblis Sungai Telaga Jilid 47

 
Jilid 47

Mendadak ada terdengar sesuatu suara diatas penglari Toa-tain disusul dengan terlihatnya beberapa titik hitam menyambar ke arah

Lohan Tiu. Berbareng juga mendengung siulan keras dan nyaring, seperti tangisan iblis, sangat menusuk telinga dan menembusi hati hingga tubuh orang menggigil karenanya. Bukan itu saja, titik-titik hitam itu telah membentur beberapa buah golok hingga goloknya tiga orang pendeta terlepas dari cekalannya dan terpental jatuh, habis mana titik-titik hitam itu lantas terbang pergi.

Karena itulah beberapa ekor kampret.

Heran bahwa kampret dapat membuat golok terpental, maka itu pada itu pastilah ada sebabnya dan sebab itu bukan lain bahwa kampret itu telah ditimpukkan oleh seseorang yang tenaga dalamnya mahir sekali.

Seterbangnya beberapa ekor kampret itu, lagi ada titik-titik hitam seperti tadi yang menyambar kedalam tiu. Kembali ada tiga buah golok yang jatuh ke lantai sedang si pendetanya berkaok kesakitan dan tangannya yang kiri memegang lengannya yang kanan yang memegang golok itu !

Kembali tiga ekor kampret terbang pergi.

Kejadian itu hebat bekerjanya, Lohan Tiu menjadi kacau seketika, apa pula ketika terdengar pula siulan nyaring dan menyeramkan, mendengar mana sebaliknya, Hong Kun dan Kiauw In seperti mendapat semangat lantas keduanya menyerang dengan hebat hingga dilain saat mereka berhasil menerobos kurungan, tak perduli lowongannya tiu itu sudah lantas ditambal oleh kawan-kawannya yang diluar kalangan.

Pemimpin Lohan Tiu yang merasa heran segera memperdengarkan suaranya, "Orang pandai dari mana telah datang kemari ? Kenapa kau menyembunyikan kepala menonjolkan ekor ? Kenapa kau menyerang secara menggelap

? Bagaimana andiakata kau memperlihatkan dirimu ?"

Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, hanya setelah diulangi dengan terlebih keras, barulah terdengar jawabannya yang berupa tawa dingin berulang-ulang. Kemudian barulah terdengar kata-katanya, "Muridku, jangan libatkan diri dengan ini rombongan keledia gundul ! Lekas kalian menyerbu ke dalam kamar pertapaan, gurumu hendak menempur si keledia tua Pie Sie !"

Hong Kun dan Kiauw In melengak, tetapi segera mereka menjawab, lantas mereka berlompat pergi menuju ke belakang, memasuki gang untuk ke Houw tian. Kawanan pendeta hendak menghadang, sayang mereka terlambat.

Itulah karyanya Im Ciu It Mo yang mula-mulanya terus main menyembunyikan diri karena sifatnya ialah menggunakan tenaga kedua murid istimewa itu, guna mengacau pendeta-pendeta dari Gwan Sek Sie. Dengan begitu dia juga main perang urat syaraf. Sebab aneh Kiauw In dan "Tio It Hiong" menyerbu kuil Gwan Sek Sie yang menjadi cabang dari Siauw Lim Sie. Dia girang melihat kedua murid itu bisa mengacau dengan baik, sampai ia mendapatkan mereka itu terkurung. Maka juga, sampai disitu, ia menolong meloloskan mereka itu, yang terus diberi tugas lain.

Lebih dahulu daripada itu Im Ciu It Mo telah menghajar mati beberapa pendeta houw tian. Dengan begitu dia menggunakan akal mengacaukan kedua belah pihak hingga saatnya Pie Te Taysu meninggalkan Toa-tian. Ia sengaja memperdengarkan suara nyaring buat mengejutkan orang.

See bie yaitu kacung pendeta yang menjaga Ceng sit menjadi murid termuda dari Pie Sie Siansu. Ketika dia mendengar suara itu, dia keluar untuk melihat. Dia membekal pedang. Dia muda tetapi cerdas. Dengan mengira-ngira dari mana suara datang dia menuju ke arah suara itu lalu tiba ditaman. Di sini dia tidak melihat musuh. Maka dia lantas mendekam, bersembunyi diantara pepohonan bunga.

Belum lama maka muncullah Im Ciu It Mo di dalam taman itu. Dia heran yang dia tidak melihat orang. Dia menghentikan tindakannya sambil berpikir. Lalu dia bersiul pula terus tertawa dingin.

Dari tempat sembunyinya, si siebie melihat orang itu, seorang wanita tua dengan pakaian kuning, matanya tajam, tangannya memegang tongkat panjang. Wanita itu celinguk ke empat penjuru. Dengan tangan memegang golok kaylo, ia lantas menyiapkan biji thie-liam-cu, mutiara besi yang dijadikan senjata rahasia, kemudian dengan berlompatan dia pergi ke tempat lebat di depan wanita itu, jaraknya lima atau enam kaki. Ia menanti si wanita justru melihat ke arah lain, mendadak dengan cepatnya, ia mencelat tinggi melewati semak, untuk menyerang dengan senjata rahasianya itu dengan sasarannya ialah tu-tong, jiu-tong dan thian-cut, ketiga jalan darah yang berbahaya. Ketika tubuhnya turun, dia terus berjumpalitan menghampiri si wanita, buat melanjuti menyerang dengan goloknya !

Siebie itu lihai tetapi ia masih terlalu muda bagi si nenek yang lihai itu.

Nenek itu terkejut tapi dia dapat segera berkelit mundur, hingga dia bebas dari senjata rahasia, sebab tongkatnya segera diputar dipakai melindungi tubuhnya sedang serangan golok ditangkis keras sampai siebie itu kaget sebab tangannya nyeri sebagai akibat beradunya kedua senjata tongkat kontra golok, dan goloknya terbang pergi !

Ketika si siebie menginjak tanah, dia memisahkan diri setombak lebih.

Sebenarnya Im Ciu It Mo masih hendak menyembunyikan dirinya, sekarang dia terpegok. Dia jadi benci si bocah dan berniat membinasakannya. Itulah jalan membungkam mulut orang. Maka juga dengan tak sudi memberi kesempatan beristirahat kepada bocah itu, dia lompat menghantam dengan tongkatnya ! Bocah itu kaget, dia lantas menjerit minta tolong, meski begitu dia tidak diam saja, dengan cepat dia menjatuhkan diri terus berguling sejauh empat kaki.

Hebat serangan si wanita, tongkatnya sampai nancap tiga kaki dan tanah muncrat ke empat penjuru !

Im Ciu It Mo melengak sedetik. Adalah diluar dugaannya, yang serangannya gagal. Hal itu menambah kegusarannya. Ia mencabut tongkatnya dengan niat menghajar pula. Ia melihat orang terpisah satu tombak dari ianya.

Siebie itu melihat sinar mata si nenek, ia memutar tubuh dan lari pergi. Nenek itu penasaran, dia berlompat menyusul terus dia menyerang !

Bocah itu sangat lincah, dia tersusul dan dihajar, tetapi dia masih dapat berkelit. Maka dia terus diserang lagi, tetapi sampai tiga kali, tetap dia selamat.

Si nenek heran hingga ia berdiam sampai ia melihat ujung tongkatnya tercantelkan sebatang gelang emas.

"Ah !" serunya kemudian.

Itulah gelang, yang merintangi tongkatnya hingga ujung tongkat gagal mengenakan si bocah. Pantas tadi dia merasa tongkatnya tertahan sesuatu. Maka ia sekarang berpikir menerka-nerka, siapa pemiliknya gelang emas itu. Ya, siapakah ?

"Ah, mestinya ini gelang emasnya Pie Sie Siansu ketua Gwan Sek Sie " pikirnya kemudian. Karena ini, tidak

bersangsi pula, dia membentak, "Pie Sie si kepala gundul bangkotan, kapannya kau pelajari ini kepandaian hina dina, menyembunyikan kepala menongolkan ekor ? Kenapa kau tak berani menemui orang ?"

Tepat si nenek membuka suara jumawa itu, mendadak di depan matanya muncul dua orang pendeta setengah tua, jubahnya seragam dengan warna kuning, mukanya lebar, tangannya sama-sama bersenjatakan sepasang Liong Houw Kim Hoan, gelang emas naga-nagaan dan harimau-harimauan.

Melihat gelang emas itu maka mengertilah It Mo siapa pelepasnya tadi. Hanya berbareng dengan ini, dia menjadi heran sekali.

Gelang emas pada tongkatnya lenyap secara tiba-tiba tanpa dia merasakannya, hingga dia menjadi bingung. Dia juga heran yang si siebie tadi pun hilang tak karuan. Dia tidak tahu, justru Liong Houw Sian Ceng muncul justru siebie itu lari menghilang kedalam semak pohon bunga.

Kedua pendeta lantas memberi hormat kepada wanita itu. "Sicu," kata yang satu, "Sicu sudah langsung memasuki kuil

dan juga telah membinasakan dan melukai beberapa saudara kami, sekarang sicu berkaok-kaok mengatai guru kami, apakah artinya itu ? Apakah sicu sangka Gwan Sek Sie dapat membiarkan orang berbuat begitu kurang ajar dan kejam, main membunuh orang ?"

Im Ciu It Mo sedang heran dan gusar, teguran itu membuatnya naik darah.

"Kamu mempunyai kepandaian apa maka kamu berani begini kurang ajar terhaap aku si wanita tua ?" demikian tegurnya. Bu Sek terbangun sepasang alisnya. Kata dia, "Aku yang muda memang berkepandaian rendah sekali, itulah aku ketahui maka itu aku bukanlah lawan sicu, akan tetapi walau demikian gelang ditangan kami hendak mengajar adat kepada orang yang tidak tahu aturan sopan santun !"

It Mo mengangkat tongkatnya, dia tertawa.

"Aku si wanita tua tidak memikir menempur segala anak muda !" katanya menghina. "Maka itu lekas kamu suruh Pie Sie si gundul bangkotan supaya dia muncul menemui aku, supaya dia iseng-iseng mencoba kedua rupa kepandaianku, Sun Im Lu San Kang dan tongkat Tuowlo Thung Hoat !"

Bu Sek tertawa.

"Buat apa kau berjumawa begini rupa, sicu ?" katanya. "Baiklah, dengan sepasang gelang emas Naga dan Harimau kami, siauwseng akan mencoba melayani kedua rupa kepandaian yang istimewa itu ! Tak usahlah sicu menganggu ketenangan guruku !"

Pendeta ini bukan cuma berkata, dia malah segera mengeluarkan senjatanya dengan apa dia mendahului menyerang ! Tanpa bergerak tubuh dan kakinya, Im Ciu It Mo menyambut serangan itu dengan tongkat. Sengaja ia membuat ujung tongkat terkutungkan sepasang gelang lawan.

Bu Sek terkejut buat keberaniannya musuh itu, sampai pucat. Tak ayal lagi dia mengerahkan tenaga Tay Poan liak Sian Kang, Prajna besar. Dia menggerakkan kedua tangannya menarik pulang gelangnya itu.

Im Ciu It Mo bersenyum dan kata, "Murid ajarannya Pie Sie si gundul tua ada juga kepandaiannya !" Dia memuji tetapi dia pun mengejek. Tiba-tiba dia ingat bahwa datangnya ini ada guna membantu kedua muridnya lolos dari Lohan Tiu, supaya Pie Tie Taysu dapat dipancing pergi dari tin-nya itu, maka ia lantas merubah sikapnya dari takabur menjadi sabar sekali.

Kata dia dengan tenang,

"Akulah si wanita tua sengaja datang kemari buat dengan ilmuku Sun Im Cit San Kang belajar kenal dengan ilmu silat lihai Siauw Lim Sie, karena itu kalau ketua Pie Sie sedang bertapa, baiklah sekarang kau bolah titahkan orang memanggil Pie Te Taysu datang menemui aku."

Bu Sek dan Bu Siang saling mengawasi. Itulah pertanda bahwa sekalipun mereka berdua bukannya lawan setimpal nenek ini, dari itu baiklah permintaan si nenek diterima baik. Dengan demikian Bu Sek lantas berpaling ke semak pohon bunga untuk berkata dengan perintahnya, "Sute, lekas mengundang paman guru datang kemari !'

Dari dalam pepohonan itu terdengar jawaban yang mengiyakan lalu tampak satu bayangan orang kecil berlompat lari ke jalan yang menjurus ke depan.

Im Ciu It Mo mendapat lihat kepergiannya bayangan kecil itu. Ia kuatir sebelum Pie Te datang, Bu Sek dan Bu Siang juga nanti pergi ke Toa-tian, maka itu ia lantas perdengarkan siulannya yang nyaring itu guna memberi isyarat kepada Hong Kun dan Kiauw In, setelah mana ia kata kepada kedua pendeta di depannya itu, "Aku si wanita tua juga ingin belajar kenal dengan kepandaian lihai dari Liong Houw Siang Ceng."

Itulah tantangan kepada kedua pendeta itu, supaya mereka berdua bersama menyerangnya. Tapi dia juga bukan cuma menantang, dia lantas mulai menyerang supaya si kedua pendeta tak sempat memikir lainnya. Kedua pendeta itu tak menyangka orang menantang sambil terus menyerang. Terpaksa, terpaksa mereka harus menyambut serangan itu, terutama pertama-tama untuk mengelakan diri dari hajaran orang. Akan tetapi belum sampai mereka bergerak lebih dahulu, mendadak Im Ciu It Mo sudah berlompat pergi terus menghilang ! Sebaliknya yang tampak ialah Pie Te Taysu, paman guru mereka ! Mereka heran hingga mereka melengak. Lekas-lekas mereka memberi hormat kepada paman guru mereka itu kemudian ketika mereka mau bicara mereka didahului si paman guru !

Pie Te Taysu mengernyitkan alisnya dan berkata : "Sutit, kita kena diakali si jahat dan licik itu ! Si bajingan tua sungguh cerdik !"

"Paman, apakah paman tak melihat Im Ciu It Mo ?" Bu Siang tanya.

"Rupanya dia sudah kembali ke pendopo besar," menyahut sang paman guru, yang lebih dahulu memuji sang Buddha. "Mungkin dia hendak membantu sepasang muda mudi yang terkurung di dalam Barisan rahasia Lohan Tiu itu. "

Liong Houw Siang Ceng melengak.

"Bagaimana kalau kami berdua pergi ke pendopo besar ?" tanyanya.

Pie Te Taysu menggeleng kepala. "Sudah, tak usah !" jawabnya.

Memang tepat terkaan Pie Te Taysu. Im Ciu It Mo sudah menyingkir ke pendopo besar dimana ia membantu kedua muridnya, sepasang muda mudi itu. Dan justru Pie Te Taysu itu berbicara, muncullah Cio Kiauw In dan Gak Hong Kun yang nampak sudah sangat letih sebab mereka masih bersiap dengan pedangnya masing-masing.

Melihat orang muncul tanpa Im Ciu It Mo, Pie Te Taysu kata kepada kedua kemenakan muridnya, "Kamu layani mereka secara main-main, supaya mereka dapat terlibat. Aku sendiri, hendak mencari si bajingan bangkotan itu !"

Belum berhenti suara pendeta ini, tubuhnya sudah berlompat pergi, keluar dari taman bunga itu.

Liong Houw Siang Ceng tidak sempat memikir apa-apa. Kiauw In dan Hong Kun sudah tiba di depan mereka dan muda mudi itu sudah lantas menyerang pada mereka, yang diarah dadanya. Mereka menangkis sambil berlompat mundur.

Bu Sek Hweshio heran, kapan ia melihat si pemuda yang ia kenali sebagai murid dari Pay In Nia ialah Tio It Hiong. Sama sekali ia tak dapat membedakan It Hiong tulen dari It Hiong palsu, hingga ia tidak tahu bahwa pemuda ini sebenarnya Hong Kun adanya.

Lantas ia menjadi memikiri peristiwa baru-baru ini di luar kota Gakyang, ditengah jalan dimana "Tio It Hiong" ini sudah menggunakan bubuk beracun membinasakan dua muridnya, ia pun lantas ingat keterangannya Koiy To Ciok Peng halnya ada Tio It Hiong palsu. Dan sekarang It Hiong menyerang kemari !

Justru itu Bu Siang membentak si pemuda, "Murid licik dari Pay In Nia, apakah sekarang kau masih hendak menipu orang dengan wajah palsumu ?" Mendengar suara saudaranya itu, Bu Sek menyangka pasti kepada It Hiong palsu. Maka berdua mereka menyambuti penyerangannya muda mudi itu, hingga sepasang pedang jadi bentrok dengan gelang-gelang yang berkilauan hingga terdengarlah suaranya yang berisik, sedang percikan apinya pun berpeletikan, suara nyaring memekakkan telinga, percikan yang menyilaukan mata.

Yang mengagetkan ialah mereka harus mundur satu tindak saking kerasnya bentrokan itu.

Kiauw In dan Hong Kun mundur juga, dengan sinar mata lalu berdua mereka saling mengawasi. Jelas dari tampangnya hal muda mudi itu sudah letih sekali. Toh mereka tetap gagah

!

Sepasang pendeta Naga dan Harimau itu penasaran. Dengan muka merah mereka maju pula, diwaktu mereka menyerang mereka menggunakan silat gelang mereka yang diberi nama Liong Houw Hong In - Angin dan Mega Naga dan Harimau.

Sebaliknya kedua pendeta yang sedang panas hati, telah bergerak dengan keras dan lincah. Memangnya merekalah tenaga-tenaga baru.

Tengah muda mudi itu terdesak demikian hebat, tiba-tiba dari kejauhan terdengar satu suara nyaring dan tajam. Muda- mudi itu mendapat dengar suara itu, sambil membela diri mereka memasang telinga.

Segera terdengar suara ulangan dari suara nyaring itu. Kali ini suara itu sangat berpengaruh bagi si muda mudi.

Mendadak sontak lenyaplah keletihan mereka, secara tiba-tiba mereka menjadi gagah pula, bahkan mata mereka juga lantas berubah menjadi bersinar sangat tajam dan bengis.

Habis dua kali suara nyaring itu, tibalah gilirannya kedua pendeta mendengar seperti suara laler. Itulah bukannya suara dari orang yang pertama tadi hanya puji Sang Buddha dan suara itu ialah isyarat dari Pie Sie Siansu yang menggunakan ilmu saluran suara Thian Liong Sian Ciang "Nyanyian Suci Naga langit".

Kalau suara nyaring tadi menakuti, suara yang belakang ini lembut dan membangunkan semangat dan suara ini menentang suara yang pertama itu. Dengan demikian Thian Liong Siang Ceng jadi tengah menempur suara iblis Sun Im Cit Sat Kang dari Im Ciu It Mo.

Aneh pengaruhnya kedua suara itu. Kedua pendeta dan sepasang muda mudi sudah lantas berhenti bertarung.

Sendirinya mereka pada mengundurkan diri, yang pertama berwajah keren, yang kedua tampak tenang. Kedua belah pihak sama-sama bungkam.

Beberapa kali mereka maju pula, untuk bertempur lagi, terus mereka mundur kembali. Hingga mereka seperti bermain-main.

Mereka bergerak mengikuti nada atau iramanya kedua rupa suara keras dan lembut itu.

Secara demikian diam-diam Pie Sie Siansu dan Gwasn Sek Sie tengah menempur ilmunya Im Ciu It Mo yang dilatih selama empat puluh tahun. Mereka mengadu tenaga dalam yang berupa suara, tanpa tangan-tangan mereka bentrok satu dengan lain. Walaupun demikian, mereka bertempur jauh terlebih hebat daripada Liong Houw Siang Ceng kontra sepasang muda mudi itu.

Im Ciu It Mo datang ke Gwan Sek Sie dengan berniat melakukan penyerangan dan pembunuhan, buat memancing munculnya Pie Sie Siansu, supaya nanti mereka bertemu dan bertarung selama pertemuan di Bu Lim Cit Cun. Siapa tahu disini mereka sudah mengadu kepandaian lebih dahulu. Hanya kali ini, dia tak dapat sembarang mengundurkan diri. Siapa mundur secara sepihak, dia bisa celaka sendiri.

Sesudah berlangsung sekian lama, suara keras dari Im Ciu It Mo terdengar menjadi kendor dan kendor, hingga akhirnya dia seperti tertindih puji sang Buddha.

Menghadapi Ceng-sit, kamar suci dari pendeta kepala, terdapat sebuah taman, disitu tumbuh sebuah pohon cemara yang besar dan tua, banyak dahannya dan lebat daunnya.

Justru selagi pertempuran luar biasa itu berlangsung, di atas pohon itu terdapat seorang yang rambutnya terlepas terurai, yang kedua biji matanya bersinar sangat tajam, sinarnya kebiru-biruan.

Itulah dia Im Ciu It Mo yang lagi menggunakan ilmunya, San Im Cit Sut Kang. Sinar matanya itu sekarang tampak kurang tenang.

Sembari menongolkan sedikit kepala, kembali ia memperdengarkan suaranya yang nyaring itu, yang menyeramkan lebih hebat daripada yang semula. Terang ia sudah mengerahkan tenaga dalamnya secara dahsyat sekali.

Tengah kedua gelombang suara yang keras dan lunak bertempur seru itu, tiba-tiba saja keduanya berhenti di dalam sekejap, menyusul mana sinar mencorong dari kedua matanya Im Ciu It Mo pun menjadi suaram dan lenyap disusul dengan berhentinya juga suara puji Buddha. Hanya berbareng dengan itu, satu bayangan hitam kecil tujuh atau delapan kaki panjangnya terlihat berkelebat

ke arah Cengsitu, kamar semedhi dari kuil, akan tetapi belum lagi bayangan itu dapat masuk, dia sudah berhenti setengah jalan bagaikan ada yang merintanginya, terus jatuh ke tanah sambil memperdengarkan suara nyaring. Kiranya itulah sebatang tongkat panjang.

Dari dalam kamar semadhi segera terdengar suara tawa disusul kata-kata ini : "Kau berbelas kasihan sicu tua, terima kasih !

Telah aku menerima pengajaranmu. Sicu, kesesatan itu datangnya dari diri sendiri maka juga baiklah sicu jangan lupa memuji."

Apakah yang sebenarnya sudah terjadi ?

Itulah pertanda bahwa pertarungan mengadu tenaga dalam sudah sampai diakhirnya dan Sun Im Cit Sat Kang diperdalam empat puluh tahun dari It Mo kalah dari Tay Poanjiak Sin Kang dari Pie Sie Siansu, tenaga dalam yang diberi nama "Sian Liong Ciang Im"

Nyanyian Naga Langit itu. It Mo tidak sampai terluka atau terbinasa, tetapi tenaga dalamnya telah terkuras habis delapan atau sembilan bagian. Pie Sie Siansu masih berbelas kasihan, kalau tidak It Mo tentu telah dihajar hingga dia kehilangan nyawanya. Ia masih mengharap lawannya itu sadar dan merubah kekuatannya untuk menjadi orang baik- baik. Tapi It Mo bertabiat keras. Dia selalu mau menang sendiri, sesudah kalah mengadu suara, dia masih penasaran, dia menyerang dengan tongkatnya itu, tongkat mana kena disampok jatuh oleh orang yang dibokongnya.

Menyusul berhentinya pertempuran kedua jago itu, berhenti juga perkelahian diantara dua rombongan orang di dalam taman karena herannya, mereka itu jadi saling mengawasi.

Im Ciu It Mo berlompat turun dari atas pohon, berdiri ditanah, dia terhuyung-huyung dahulu, nafasnya pun memburu. Masih dia penasaran, maka juga sambil menuding ke arah Cengsit dia berkata termoga-moga : "Pie Sie tua bangka gundul. Jangan kau bergirang dahulu ! Lain tahun di ini hari, aku si wanita tua, akan aku datang pula guna membalas dan membayarkan penasaranku ini !"

Ancaman itu diakhiri dengan satu suara seperti bersuit perlahan, atas mana Cio Kiauw In dan Gak Hong Kun segera bertindak menghampiri ke depan Bajingan itu.

Liong Houw Siang Ceng tak terbengong terlebih lama pula.

Mereka melihat kedua lawannya bertindak pergi, mereka berlompat akan menyusul atau mereka terus merandak tubuh, mereka mendengar ini suara yang halus sekali, "Muridku, berikanlah mereka satu jalan hidup. "

Maka merekapun segera menyimpan gelang mereka. Bu Sek Hweshio berpaling ke arah kuil, kata dia, "Suhu,

membinasakan orang jahat berarti berbuat kebaikan untuk umum, kenapa mereka harus diberi hidup ?"

Dari dalam kamar bersemadhi terdengar pula suara halus ini : "Amida Buddha ! Kau mengertilah muridku, baik atau jahat semua itu tak akan lolos dari takdirnya. Karena itu buat apa kau menambah kejahatan ? Biarkan mereka pergi. "

Selagi si pendeta berkata-kata itu, Im Ciu It Mo telah mengerahkan sisa tenaganya untuk berlompat keluar dari taman kuil buat pergi mengangkat kaki dengan diikuti Hong Kun dan Kiauw In.

Liong Houw Siang Ceng mengawasi ketiga orang itu pergi berlalu, hati mereka nyeri sekali. Mereka bersakit hati buat beberapa adik seperguruannya yang berbinasa dan terluka yang sakit hatinya tak terbalaskan. Tak dapat mereka menentang guru mereka itu yang hatinya mulia hingga kemudian mereka hanya dapat berdiam dan bertunduk saja.

Im Ciu It Mo keluar dari tembok tengah dengan terus menuju ke gunung belakang. Selekasnya dia tiba diatas, terang di dalam hati dia terkejut tak terkira. Itulah sebab dia melihat lima tombak di depan dia, Pie Te Taysu lagi berdiri sambil mengawasinya.

Walaupun dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi, dia toh berlaku tenang, bahkan sembari tertawa dingin dia kata : "Sungguh diluar dugaanku yang diluar kuil Gwan Sek Sie ini aku dapat bertemu dengan bapak pendeta yang mulia !

Selamat bertemu !"

Habis mengucap demikian kembali jago wanita ini memperdengarkan suara perlahan terhadap Kiauw In dan Hong Kun guna mengisiki kedua muda mudi yang berada dibawah pengaruhnya itu buat segera menyerang si pendeta tua.

Sepasang muda mudi itu masih sangat letih akan tetapi mendengar perintah itu tiba-tiba mereka bersemangat pula, mendadak saja mereka seraya terus berlompat maju, hendak menyerang pendeta di depannya itu.

Pie Te Taysu tertawa.

"Sicu, jangan kau salah paham !" katanya sabar. "Datangku kemari bukannya buat menempur kalian bertiga guru dan murid."

Kiauw In berpaling pada It Mo, terus dia menyerang Pie Te Taysu.

Sungguh pendeta menangkis dengan satu kebutan ujung jubahnya yang gerombongan.

"Sicu," katanya sabar. "Kau telah berkelahi satu malam suntuk. Kau sudah letih sekali, maka itu jangan mencari kesengsaraan lebih jauh. "

Justru pendeta itu berbicara dengan si nona, Gak Hong Kun maju menyerang, menebas ke arah pinggang. Pie Te Taysu tidak menangkis, karena ia lagi menghadapi Kiauw In.

Tubuhnya jadi berada disampingnya penyerang, maka itu ia terus memutar tubuhnya itu, bahkan dengan berani ia memasang perutnya, untuk dibiarkan kena tertebas !

Hebat, pedang mengenai perut tetapi tak mempan, bahkan setelah satu suara nyaring, pedang itu terpental jatuh ke tanah sejauh enam kaki sebab cekalannya Hong Kun terlepas sendirinya !

Im Ciu It Mo terkejut menyaksikan kegagalannya kedua murid itu. Ia sendiri tak berdaya, sebab ia terluka parah. Tapi seorang It ciu. Sekarang tidak lagi memperlihatkan tampang seram atau garang. Sebaliknya dia tertawa. "Eh, anak-anak, jangan kalian sembrono !" demikian ia tegur Hong Kun dan Kiauw In. "Baiklah kalian dengari apa pengajarannya bapak pendeta yang mulia ini."

Pie Te Taysu memuji Sang Buddha.

"Sicu," tanyanya, "bagaimanakah dengan lukamu ?"

Pertanyaan diluar sangkaan itu membuat Im Ciu It Mo melengak. Tak dapat ia menerka maksudnya si pendeta itu.

"Tak usah taysu merisaukan hati." sahutnya kemudian. "Aku si wanita tua masih dapat bertahan !"

"Sicu," berkata pula si pendeta, "telah empat puluh tahun kau bertapa, kau sudah mendapatkan kemajuan yang tak sedikit. Hanya kau masih belum menyadari apa artinya nama dan laba !"

Kembali si wanita tua membungkam.

"Hm !" demikian terdengar suaranya paling akhir, suara tawar.

Dengan sinar mata tajam, Pie Te Taysu menatap wanita tua itu, terus ia kata dengan kata demi kata yang terang dan tegas :

"Sicu, aku si pendeta tua menerima perintah dari ketua kami buat pihak kami menyudahi semua perbuatan pihakmu membinasakan dan melukai murid-murid kami, supaya kalian bertiga dibiarkan bebas meninggalkan kuil kami ini !" Cuma sedetik si pendeta berdiam, segera ia menambahkan

: "Cuma aku si pendeta tua ingin menasehati sicu secara sungguh-sungguh hati."

Hatinya It Mo menggetar, akan tetapi ia mencoba menenangi diri, selagi ia ditatap, ia membalas mengawasi.

"Silahkan bicara, taysu !" katanya.

Pie Te Taysu berkata : "Kesesatan itu adalah perbuatan diri sendiri, maka itu aku si pendeta tua ingin memohon sicu suka memikirkan dan menyadarinya, supaya kelak di belakang hari tidaklah sampai sicu menyia-nyiakan kebaikan ketua ini yang menjadi kakak seperguruanku, yang suka membebaskanmu supaya sicu memperoleh jalan hidupmu ! "

Selekasnya dia mengucapkan kata-katanya itu, Pie Te Taysu segera berlalu pergi menuruni lereng itu. Im Ciu It Mo melongo saja. Coba ia tidak tengah terluka parah, pasti ia tak mau mengerti. Tak puas ia dengan nasehat itu. Ia telah dipengaruhi kejumawaannya, keinginannya menjadi orang pandai dan disegani. Nama termashur dan kedudukan telah menutupi kesadarannya. Dia telah dibudaki sigarnya suka menang sendiri dan keunggulan yang melebihkan orang lain. Demikian, seberlalunya si pendeta, dia tertawa dingin berulang-ulang untuk mengejek pendeta yang murah hati itu. Kemudian ia mengulapkan tangannya, menyuruh Hong Kun menjemput pedangnya, buat mereka terus berjalan turun dari lereng itu, guna meninggalkan gunung Gwan Sek Sie.

Mereka berjalan baru beberapa tombak atau dari balik sebuah batu karang yang besar muncul seorang wanita dengan dandanan jubah kependetaan, usianya setengah tua, tampangnya genit, pinggangnya tergantungkan sepasang golok. Dan wanita itu segera menghadang di tengah jalan. Gak Hong Kun terkejut selekasnya dia melihat wajah wanita itu. Dia sedang dibawah pengaruh It Mo tetapi dia masih ingat orang yang menghadang di depan mereka ini. Dia hanya lupa nama orang. Apa yang dia ingat adalah dia pernah roboh dibawah pengaruh bubuk biusnya.........

Kapan Im Ciu It Mo sudah melihat orang itu, dia lantas kata dingin : "Eh, Sek Mo Ceng Ciang Nikouw. Bagaimana kau berani main gila dihadapan si wanita tua ?"

Wanita setengah tua itu, seorang nikouw ialah Ceng Kiang Bajingan Paras Elok. Dia tertawa geli dan kepalanya bergoyang-goyang seumpama bunga yang bertangkai. Ketika dia membuka mulutnya, terdengarlah sahutnya yang sabar.

"Eh, perempuan tua, kau harus mengenali aku !" demikian katanya. "Sekarang ini telah aku menukar gelarku ! Aku bukan lagi Sek Mo hanya Peng Mo, si Bajingan Es ! Dan sekarang aku berhadapan dengan kau karena aku ingin menguji kepandaianku terhadap kepandaianmu "San Im Cit Sat Kang !"

It Mo heran hingga ia melengak, ia lagi terluka. Mana dapat ia berkelahi ? Sebalik kejumawaannya Peng Mo membuat darahnya bergolak. Hatinya sangat panas. Saking mendongkol ia lantas tertawa nyaring. Hanya kali ini suaranya tidak berpengaruh dan menakuti seperti biasanya. Sekarang ini suaranya lemah dan juga tidak lama. Ia mau menggertak orang tetapi ia gagal.

Selekasnya ia bersuara itu, lantas nafasnya memburu keras sekali hingga ia lalu selekasnya memegangi bahunya Kiauw In supaya tubuhnya tidak terhuyung roboh. Pada mulanya hati Peng Mo menegang ketika ia mendengar suaranya It Mo itu tetapi selewatnya itu dengan matanya yang tajam ia mendapat kenyataan orang seperti lagi terluka parah, maka berubahlah hatinya dari jeri menjadi berani ! Dan tak lagi ia menunjuki tampang centilnya. Rupanya menjadi bengis dan matanya menyorong galak sekali.

"Hai bajingan perempuan tua !" demikian tegurnya. "Bajingan perempuan mana bisa kau menyembunyikan kepadaku hal kekalahanmu di Gwan Sek Sie ? Jika kau tahu selatan, lekas kau serahkan murid orang yang kau rampas itu kepadaku supaya dapat aku membawanya pergi ! Dengan begini jadi tak usahlah kerukunan kita menjadi terganggu !"

Berkata begitu Peng Mo menunjuk Hong Kun.

Selama orang bicara It Mo berdiam saja. Diam-diam ia mencoba meluruskan nafasnya dan mengumpulkan tenaganya juga. Ia mencoba mencegah agar darahnya tak bergolak terus. Kemudian ia mengawasi Hong Kun dan terutama Kiauw In. Dengan mengawasi muda mudi itu, ia bagaikan tak mendengar kata-kata lanjutan dari si Bajingan Es.

Ceng Ciat Nikouw juga mengawasi tajam pada Hong Kun, si anak muda yang tampan. Pemuda itu tetap ganteng walaupun pikirannya tak sadar hingga dia membuatnya si bajingan wanita menjadi mengiler. Peng Mo ingin segera merangkul pemuda tampan itu.

Dengan Peng Mo berdiam dan It Mo tidak menjawab, sejenak itu sunyilah suasana diantara mereka kedua belah pihak. Hanya It Mo berpikir keras bagaimana harus melayani bajingan yang menjadi saingannya itu. Ia lagi terluka, tak dapat ia menggunakan kekerasan. Apa akal ? Karena Hong Kun kena dirampas Peng Mo itulah suatu penghinaan dan kehinaan untuknya. Pasti nama besarnya bakal tercemar. Asal namanya rusak, tak dapat ia berdiri pula di muka orang banyak, diantara sesama kawannya kaum sesat.......

Ada satu hal yang dikuatirkan Im Ciu It Mo, Sek Mo atau Peng Mo biasanya bertiga, sebagaimana julukan mereka ialah Hong Gwa San Mo, Tiga bajingan dari luar perbatasan, kalau sekarang muncul Peng Mo, siapa tahu kedua kawannya tak berada di tempat yang berdekatan ? Satu Peng Mo sudah tak dapat dilawan, bagaimana lagi apabila datang dua saudaranya itu ? Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin tidak dapat dipandang ringan !

It Mo mengawasi wanita di depannya yang lagi tersengsem oleh ketampanannya Hong Kun. Diam-diam tetapi dengan disengaja ia batuk untuk perlahan. Peng Mo sadar mendengar suara batuk itu, kulit mukanya menjadi merah. Lekas sekali telah muncul nafsu birahinya. Maka lantas dia mengawasi tajam pada It Mo.

"Bagaimana, eh ?" tegurnya. "Apakah kau tak sudi minum arak hutangan hanya lebih suka menenggak arak doang? Hari ini aku, Peng Mo mau mendapat bagianku !"

It Mo tidak menjawab pertanyaan orang, dia hanya mengalihkan itu.

"Aku heran akan Hong Gwa Sam Mo." demikian katanya. "Kenapa sekarang cuma muncul Peng Mo, satu nikouw ? Aku Im Ciu It Mo, walaupun aku tengah terluka ingin aku belajar kenal dengan kepandaiannya Sam Mo bertiga ! Jadilah perlu supaya nanti di dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun di In Bu San, dapat kita mengambil keputusan !" Peng Mo cerdas dan licik, mana ia tak dapat menerka maksudnya It Mo itu ? Maka ia tertawa dan kata, "Kau mau maksudkan kedua saudara seperguruanku ? Mereka berdua berada diatas ! Mereka tengah menikmati kota dan hutan di sana, disebelah dalam. Bajingan tua, kau tahulah diri sedikit !"

It Mo menahan sabar.

"Oh, kiranya Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin, kedua orang lihai itu juga takut menemui aku!" demikian katanya.

Peng Mo menjadi panas hati, alisnya terbangun, matanya mencelak bengis !

"Jika kau bertemu dengan kakakku yang tua, Hiat Mo Hweshio sukar dijamin yang darahmu tak akan bermuncratan

!" katanya sengit.

Im Ciu It Mo menggerakkan kepalanya hingga rambutnya turut bergerak juga.

"Aku si orang tua tak memiliki apa juga !" katanya. "Dengan sesungguhnya ingin sekali aku bertemu dengan Hiat Mo ! Apakah yang aku takuti ?"

Peng Mo tak puas, ia pun berkata nyaring. "Mungkin kakakku yang kedua Tam Mo Tojin menyukai jantungmu untuk dikorek dikeluarkan guna dilihat-lihat warnanya putih atau hitam !"

Peng Mo tidak tahu bahwa dengan caranya itu It Mo sedang mengulur waktu. Segera diam-diam wanita tua ini tengah mengerahkan tenaga dalamnya guna menyembuhkan lukanya. Dengan perlahan-lahan dia berhasil membuat lukanya sembuh.

Sebagai seorang licik telah dia memikir semakin lama dia mengulur waktu, semakin baik untuknya. Asal dia sembuh ! It Mo pun berlaku cerdik. Apa yang dikatakan Peng Mo tak dia hiraukan, sedangkan dia biasanya pemarah, mukanya mudah menjadi merah padam. Bahkan dia dapat bersenyum dan tertawa.

"Sebenarnya memang ada niatku memberi kau jantungku kepada kakakmu yang nomor dua itu!" katanya sengaja. "Hanya itu aku tidak tahu kakakmu menginginkan itu atau tidak !" Dia hening sebentar untuk meneruskan, "Hari ini aku si wanita tua sangat beruntung karena aku tidak bertemu dengan Hiat Mo dan Tam Mo ! Dengan demikian maka bebaslah aku dari ancaman darahku bermuncratan dan jantungku dikorek keluar untuk dilihat warnanya ! Aku justru bertemu kau, wanita tua hingga kita jadi berhadapan wanita dengan wanita, hingga pertemuan ini tak merugikan siapa juga ! Ha ha ha !"

Alisnya Peng Mo terbangun.

"Eh, kau dengar tidak ?" tegurnya. "Bukankah barusan telah kukatakan supaya muridmu kau serahkan padaku, supaya dengan begitu dapat aku beri jalan hidup padamu ?"

It Mo melengak. Tak ia sangkat bahwa orang menimbulkan pula hal yang ia telah alihkan itu. Tapi ia lekas bersenyum.

Kata ia,

"Aku si wanita tua bukannya tak ikhlas memberikannya, cuma aku pikir, aku memberikannya padamu juga tak ada gunanya !" Peng Mo heran dengan jawaban itu. Sejenak ia pun melengak. Lalu dia tersenyum dan kata : "Tak dapat aku diperdaya kau ! Dia toh seorang pria, kenapa dia boleh tak ada gunanya ?" Berkata begitu, dia melirik tajam pada Hong Kun, sinar matanya menunjuki bahwa dia sangat mengiler terhadap si pemuda.

It Mo tertawa.

"Aku si orang tua, aku juga seorang yang telah berpengalaman !" katanya. "Dahulu hari lakon asmaraku melebihi lakon asmaramu sekarang ! Dahulu itu, asal aku menemui pria yang tampan, hatiku lantas goncang keras dan semangatku seperti terbang pergi. "

Bajingan ini berhenti bicara secara tiba-tiba. Terus dia berdiam saja.

Sebenarnya Peng Mo sangat tertarik hati mendengar kata- kata orang itu. Asal ada soal asmara, tak perduli itu sebenarnya soal nafsu birahi, lantas saja dia menjadi sangat gembira. Maka juga, dengan tak sabaran dia lantas bertanya, "Bagaimana, eh ? Murid priamu itu apakah dia telah kehilangan tenaga laki-lakinya ? Dia pula, benarkah ?"

Dengan sendirinya, Peng Mo nampak kurang gembira. Puas It Mo melihat rupa orang itu. Ia mengerti yang kata-

katanya telah memberi pengaruh. Maka terus ia main komedi.

"Sahabatku, sabar !" demikian katanya. "Buat apa tergesa- gesa ? Kau tahu, bicaraku si wanita tua belum sampai diakhirnya. " Peng Mo menggertak gigi. Dia tak sabaran.

"Perempuan tua !" tegurnya. "Urusan asmara dahulu, hari itu baiklah ditangguhkan dahulu ! Apa yang aku ingin ketahui sekarang ialah apa benar dia pelu ? Aku minta kau bicara secara jujur!"

It Mo berpikir keras. Inilah saat yang mendesak. Kalau ia menjawab Hong benar pelu, Hong Kun pasti tak akan dibawa pergi. Kalau ia menjawab, sebaliknya Peng Mo dapat menjadi gusar dan ia dapat dimarahi. Itulah berbahaya. Bagaimana kalau mereka bertiga diserang nenek cabul itu ? Ia lagi terluka parah, tak sanggup ia melawan wanita itu. Kalau Hong Kun dibawa lari saja, pasti sudah ia bakal mendapat malu. Tapi dasar cerdas, tiba-tiba ia mendapat pikiran.

"Muridku ini," kata ia sambil mengangkat kepalanya, "dia sedang muda dan gagahnya. Kalau kau mendapati dia, kau pasti bakal merasa puas luar biasa, cuma. "

Peng Mo bukan main tertarik ketampanannya Hong Kun, yang ia kuatir ialah pemuda itu tak memiliki tenaga kelelakiannya, sekarang ia mendengar It Mo mengatakan si anak muda gagah sekali, girangnya bukan kepalang. Tapi, mendengar kata-kata "cuma" dari si bajingan di depannya, mendadak hatinya menjadi bimbang. Seketika juga ia menjadi tak sabaran pula, hingga dia maju menghampiri It Mo, untuk berkata keras, "Bajingan tua, jangan kau jual lagak pula !

Lekas kau bicara !"

Matanya Peng Mo terbuka lebar, sinarnya bengis.

Selama itu Kiauw In dan Hong Kun berdiam saja. Mereka mendengari pembicaraannya kedua bajingan tua itu tetapi mereka tak mendengari apa-apa. Inilah sebab keduanya tengah dipengaruhi Thay Siang Hoan Hun Tan, pil pelupa diri, yang mereka diberi makan oleh It Mo. Berdua mereka cuma bengong mengawasi It Mo saja.

Peng Mo mengerutkan alis, matanya mengawasi It Mo. Ia heran orang tidak menjawabnya.

"Hayo, kau bicaralah !" desaknya. "Apa mungkin muridmu itu berhati keras seperti Liu Hee Hui dijaman dahulu, yang tak gentar akan soal asmara ? Aku tak percaya ada pria yang lain dapat lolos dari genggamanku !"

It Mo tertawa tawar.

"Muridku ini bukannya suhengku Liu Hee Hui !" sahutnya. "Dia juga bukan telah kehilangan tenaga kelaki-lakiannya. Dia hanya makan obat Thay Siang Hoang Hun Tan dari si wanita tua, dengan demikian, hilang sudah kecerdasannya ! Karena itu, mana dia dapat mengerti urusan asmara ?"

Peng Mo melengak. Mulanya berdiam terus, dia tampak murka, matanya mendelik pula.

"Aku tak perdulikan muridmu itu ada gunanya atau tidak !" katanya kemudian sengit. "Hari ini dia bertemu denganku, hendak aku bawa dia pergi ! Hendak aku mencobanya !"

Kata-katanya ditutup dengan tubuhnya si Bajingan bergerak, agaknya dia hendak mengajukan diri buat memegang Hong Kun buat diseret pergi.

It Mo berpikir keras. Selama memperdayai wanita itu, diam- diam ia sudah mencoba terus mengerahkan tenaga dalamnya. Lekas sekali ia telah memperoleh kemajuan. Maka itu sampai disitu ia dapat berpikir, "Aku merasa kesehatanku sudah pulih banyak.

Bersama kedua muridku, kami ada bertiga ! Mustahil aku tidak dapat lawan kepadanya ? Sedikitnya kami dapat mundur teratur. "

Selam itu It Mo pun heran. Ia masih belum juga melihat munculnya Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin, dua anggota lainnya itu dari Hong Gwa Sam Mo. Mereka itu biasanya tak pernah memisahkan diri dan tadipun Peng Mo mengatakan bahwa kedua saudara angkatnya itu berada berdekatan.

Dimana adanya mereka itu berdua ? Apakah mereka lagi menyembunyikan diri ?

"Ah, perduli apa mereka itu !" pikir Im Ciu It Mo kemudian.

Sendirnya nyalinya menjadi besar pula.

Peng Mo maju lebih dekat pula. Orang tetap tak menjawabnya.

"Kau harus tahu diri !" tegurnya pula. "Kau harus tahu selatan ! Mari dengan baik-baik kau serahkan muridmu supaya persahabatan diantara kita tetap terjamin !"

It Mo berlaku sabar sekali.

"Orang setolol dia percuma aku serahkan dia padamu !" sahutnya. "Maka itu aku pikir lebih baik kau memberi muka kepada aku si perempuan tua supaya kita tetap bersahabat !"

Hatinya Peng Mo tergerak juga mendengar kata-kata orang itu, ia ingat kalau It Mo tidak tengah terluka, sulit buat ia menempurnya. Mungkin ia kalah seurat. Sekarang bagaimana ia harus bertindak ? It Mo agaknya membalas........ "Tak dapat aku sudah saja. " pikirnya lebih jauh. Daging

tinggal dicaplok saja !

Lantas Peng Mo mengawasi tajam kepada Hong Kun, sekian lama, barulah ia berpaling kepada It Mo. Ia bersenyum, bersenyum licik. Terus dia kata, "Bajingan tua, kau benar juga

! Memang kita kaum sungai telaga, baik digunung maupun di air, ada saatnya buat kita saling bertemu ! Baiklah, bajingan tua. Aku dengar kata-katamu, kita saling mengalah, untuk melindungi kerukunan kita kelak di belakang hari. Cuma, bajingan tua, kau harus menerima baik dahulu satu permintaanku."

Lega juga It Mo mendengar orang berubah sikap.

"Aku kagum yang kau dapat melihat selatan, sahabatku." katanya. "Sekarang tolong coba beritahukan aku, apakah permintaanmu itu ?"

"Itulah permintaan yang sangat sederhana." sahut Peng Mo, si Bajingan Es. "Kau bagi aku sedikit obat pemunah pil Thay Siang Hoan Hun Tan, supaya aku dapat menyadarkan muridmu itu, supaya dengan demikian dapat aku pinjam dia selama satu bulan "

It Mo melengak. Itulah permintaan yang diluar dugaannya. Mana dapat ia memberikan obat pemunah itu ? Mana dapat ia meminjamkan Hong Kun, apa pula buat satu bulan ? Apa dayanya sekarang ? Agaknya pertempuran tak dapat disingkirkan........

Selagi berpikir keras, It Mo memandang ke sebelah depan, sambil mengangkat kepalanya ia mengawasi heran diatas tanjakan, di lereng di depannya itu. Ia melihat cahaya matahari. Ketika itu sudah siang, sebab sang pagi telah lewat sekian lama. Sunyi disekitar mereka. Cuma angin bertiup halus dan burung-burung kecil beterbangan.

Parasnya si Bajingan Tunggal berubah dengan cepat. Dari tenang ia menjadi bersungguh-sungguh, menjadi tegang.

Dengan tawar dia berkata kepada si Bajingan Es. "Bagaimana sahabat andiakata aku si wanita tua tidak suka memberikan obat pemunah kepadamu ?"

Dengan begitu, It Mo sudah mengambil keputusan akan apabila perlu mengadu tenaga dan kepandaian ! Lalu terjadi hal diluar dugaan !

Peng Mo, yang tadinya selalu bersikap keras, mendadak saja bersenyum dan tertawa !

"Telah aku menerka bahwa tak nanti kau sudi memberikan obat pemunahmu itu !" katanya. "Tapi tak apalah ! Aku Peng Mo, aku pun telah membuat obat pemunah yang dapat memusnahkan obat Thay Siang Hoang Hun Tan buatanmu itu

!"

Berkata begitu, si bajingan mengawasi lawannya.

"Jika kau memberi pinjam muridmu padaku buat lamanya satu bulan maka di belakang hari pastilah persahabatan kita dapat dilanjuti seperti sediakala !" ia menambahkan kemudian.

Pergi pulang, Peng Mo tetap menghendaki murid orang itu.

Im Ciu It Mo tertawa nyaring. Tak lagi dia jeri seperti semula tadi. "Jika aku tidak sudi memberikan muridku itu, kau akan berbuat apa ?" tanyanya seperti menantang.

Parasnya Peng Mo menjadi merah padam, matanya bercahaya jahat.

"Kalau begitu, jangan kau sesalkan Peng Mo telengas !" sahutnya keras.

Begitu lekas ia berkata, begitu lekas juga Peng Mo menyerang. Ia menggunakan tangan kirinya dan sasarannya ialah dada orang.

Tetapi serangan itu gertakan belaka, serangan benar-benar adalah susulan tangan kanan, yang menuju ke buah pinggang

!

Im Ciu It Mo juga menjadi seorang bajingan yang lihai dan telengas, dia sudah berpengalaman di dalam pertempuran, tidak mudah dia kena dijual. Dia tidak menangkis, hanya dengan gesit sekali dia memutar tubuh sambil berkelit tiga kali, sebaliknya, menyusuli kesulitan itu, tongkat panjangnya dikasihh bekerja guna membalas menghajar. Dia menggunakan jurus silat, "Si Sembrono Menggebuk padi". Dia tidak menyerang cuma satu kali, hanya dimulai dengan ujung yang satu diteruskan dengan ujung yang lain. Mengenai atau tidak mengenai, ia membalas dan serempak !

Peng Mo terperanjat sebab dua-dua serangannya gagal, lebih-lebih setelah tongkat panjang berkelebat ke arahnya. Untuk menyelamatkan diri, terpaksa dia menyingkir sambl berlompat tujuh tindak, kalau tidak tongkat yang panjang ia pasti bakal menegur juga tubuhnya. Sebab serangan tongkat dilakukan dengan luar biasa cepatnya. Selekasnya Peng Mo lolos dari serangannya, baru saja orang berdiri tatap muka, Im Ciu It Mo sudah mengasih dengar siulannya yang nyaring yang terkenal itu atas mana Hong Kun dan Kiauw In yang semenjak tadi berdiri diam saja, lantas maju sambil menggerakkan senjatanya, menghampiri si Bajingan Es guna dikepung bersama, pedang mereka berdua menikam berbareng !

Peng Mo terkejut. Itulah ia tidak sangka. Guna menyelamatkan diri, dia berkelit dengan jurus silat Tiat Poan kio, Jembatan Papan

Besi, hingga tubuhnya melengak rata, kedua ujung pedang lewat diatas perut atau dadanya. Dia kaget berbareng mendongkol, maka juga selekasnya dia bisa bangkit berdiri, dia lantas membalas menyerang dengan berjingkrak lompat, menendang berbareng kepada muda mudi itu. Itulah jurus silatnya yang diberi nama Wan Yon Twie Kaki, Burung Mandarin.

Kiauw In dan Hong Kun terkena pengaruh obat tetapi ilmu silatnya tak terganggu seperti ingatan atas syarafnya, maka juga ketika didepak itu, keduanya dapat menyingkirkan diri dengan sama-sama berlompat mundur.

Habis mendepak itu, Peng Mo berlompat untuk berdiri, karena selama menendang itu, kedua tangannya menekan tanah, sebab tengah melengak tadi, kedua tangannya itu diteruskan diturunkan. Sekarang, setelah bangun berdiri dengan cepat ia menyambut kingato, sepasang goloknya yang tergantung dipinggangnya. Oleh karena hatinya panas, tanpa ayal pula ia maju menyerang dalam gerakan Sepasang Walet Terbang Berbareng. ia menyerang pula kepada dua dua Hong Kun dan Kiauw In, karena mana, sepasang goloknya dilancarkan ke kiri dan kanan. Sepasang anak muda itu berani, keduanya lantas menangkis untuk seterusnya melakukan perlawanan, hingga bertiga mereka menjadi bertarung, hingga pedang-pedang dan golok-golok tak hentinya berkelebatan menikam dan menebas, menyambar ke bawah.

Di dalam sekejap itu, orang bagaikan berkelahi untuk mati dan hidup !

Im Ciu It Mo menyaksikan kedua pembantunya turun tangan. Dia jeri terhadap Peng Mo maka dia mengajukan muda mudi itu.

Walaupun demikian dia masih memikir menguatirkan kedua muridnya itu nanti kalah dari bajingan itu. Ia berdiri diam di dekat mereka, siap sedia dengan tongkatna. Sembari menonton dia memikirkan bagaimana ia harus turun tangan guna merebut kemenangan. Ia ingin menyelak maju selekasnya datang kesempatannya.

Dengan sepasang goloknya, Peng Mo benar-benar lihai, walaupun demikian untuknya ia melayani dua orang yang urat syarafnya terganggu, jika tidak, tidak nanti dia dapat melayani Kiauw In dan Hong Kun, yang mempunyai masing-masing ilmu pedangnya yang istimewa.

Selainnya cahaya pedang berkilauan, percikan api pun sering bermuncratan dan suara beradunya pedang dan golok senantiasa mendatangkan suara berisik. Sekian lama itu, mereka masih selalu berimbang.

It Mo memasang mata, tidak cuma terhadap medan pertempuran, kadang-kadang ia melirik ke sekitarnya karena ia kuatir akan munculnya si Bajingan lainnya, saudara- saudaranya Peng Mo.

Setelah bertempur sekian lama itu tanpa hasil, Peng Mo lantas memikir buat menggunakan bubuk biusnya. Ia pula mengawasi Hong Kun, ketampanannya yang membuat hatinya goncang, ia suka menggertak gigi sekira gatal sendirinya.

Hong Kun tidak menghiraukan yang orang selalu menginplangnya. Selagi urat syarafnya terganggu itu, dia tak kenal akan asmara.

Dia tetap berkelahi dengan keras sampai satu kali mendadak pedangnya meluncur secara sangat membahayakan Peng Mo hingga

si Bajingan Es terkejut dan repot membela dirinya.

Hingga Peng Mo penasaran sekali belum juga ia bisa membekuk anak muda, walaupun ia sudah mencoba pelbagai macam ilmu silatnya. Diakhirnya likat atau tidak, ia memikir terpaksa ia mesti minta bantuannya Tam Mo dan Hiat Mo, dua orang saudaranya.

Maka itu selekasnya ia sudah mengambil keputusan sembari berkelahi itu, sekonyong-konyong, ia memperdengarkan siulannya yang nyaring, siulan yang berupa isyarat. Suaranya itu satu pendek dua panjang, iramanya mirip "burung jenjang menangis atau bajingan memekik-mekik".

Sebenarnya sejak di Ngo Tay San, ditengah jalan, Hong Gwa Sam Mo sudah melihat Im Ciu It Mo bersama-sama Kiauw In dan Hong Kun, selekasnya melihat Hong Kun, hatinya Sek Mo tergiur bukan main. 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(