Iblis Sungai Telaga Jilid 46

 
Jilid 46

Dalam bingungnya, Ya Bie lari di sepanjang kali itu. Tidak ada jalanan disitu, batu berserakan, rumput dan pohon duri berimbunan. Hanya syukur rintangan itu tidak berarti bagi si nona, yang biasa hidup ditanah pegunungan dan sering berkeliaran. Walau demikian, waktu dia sudah lari lima lie, Tok Mo menyusul makin dekat.........

Mulanya si nona takut sekali yang ia nanti dikejar tetapi sekarang rasa takutnya itu lenyap dan sebaliknya diganti rasa jemunya. Ia membenci orang jahat. Bahkan ia bertekad bulat akan membantu Kiauw In, walaupun ia harus adu jiwa !

"Pergi kau kabur lebih dulu !" ia kata pada si orang utan kepada siapa ia menyerahkan Kiauw In untuk dibawa kabur kemudian ia menghunus pedangnya untuk terus lari balik guna memapaki Tok Mo !

Kapan Ya Bie telah melihat tegas kepada Tok Mo, ia mendapati si Bajingan tak lagi membawa-bawa Lek Hoat Jiu Long. Mungkin si tangan buntung itu telah disembunyikan di salah sebuah gua supaya si Bajingan leluasa bergerak.

Tok Mo heran menyaksikan Ya Bie datang dengan tampang mukanya si nona merah karena marah, ia sampai melengak. Ia pun mendapat kenyataan nona itu tidak lagi memondong Kiauw In serta orang utannya lenyap bersama. Ia menanti hingga tinggal tiga timbak dan nona itu berhenti berlari untuk menghadapi orang seraya terus menegur, "He, budak liar !

Rupanya kau mengendali ilmunya Kip Hiat Hong Mo si siluman bangkotan maka kau berani berlaku kurang ajar begitu rupa terhadapku !"

"Kaulah yang kurang ajar !" Ya Bie membentak gusar. "Kenapa kau mengejar-ngejar aku dan sekarang kau berani menghina guruku ?"

Begitu suara berhenti, si nona lantas menikam !

Tok Mo berkelit. Dia tak segera membalas menyerang. "Mana budak piaraanmu itu ?" tanya dia perlahan. "Kau taruh dia dimanakah ?"

"Di sana !" sahut Ya Bie, suaranya keras dan tajam dan tangannya pun menunjuk ke tepi kali.

Tok Mo menoleh ke arah yang ditunjuk itu. Dia melihat sesuatu yang meringkuk seperti rumput di pinggir kali. Muka atau kepala orang tak tampak sebab tubuh itu menungging. Ia melihat orang seperti tubuhnya Kiauw In. Maka lantas saja ia bertindak ke sana. Tapi baru satu langkah, ia sudah membatalkannya.

Si Bajingan mendadak ingat Ya Bie sedang menggunakan Hoan kak Bie Ciu, ilmu silumannya itu. Maka itu ia terus menatap si nona, lalu dengan suara dingin, dia berkata pada nona itu, "Ilmu gaibmu itu jangan kau pertunjukan pula di hadapanku, cuma-cuma kau bakal mempertontonkan keburukanmu !"

Dan dia tertawa terbahak-bahak.

Ya Bie polos, kurang berpengalaman. Dia menunjuki tampang heran, dia mengawasi si Bajingan itu, siapa sebaliknya menatap muka orang untuk menerka hatinya.

"Hm ! Hm !" Tok Mo mengasih dengar pula suaranya yang dingin. "Jangan kau mempermainkan pula padaku ! Awas, akan aku membuat dan menderita hingga nanti mau mati kau tak dapat, mau hidup kau tak bisa. Lihat siapa nanti yang akan menolongmu." Tanpa menanti orang membuka mulutnya, ia menambahkan pula, "Mana dia bocah she Cio itu ? Kau mau beritahu aku atau tidak ?" Di mulut Tok Mo mengatakan demikian, sebaliknya terus bekerja. Dia memukul ke arah yang lagi rebah melingkar itu. Itulah pukulan tangan "Udara Kosong."

Walaupun terserang hajaran, tubuh itu tak bergeming. Cuma rumputnya saja yang rebah bangun. Melihat itu, si penyerang heran. Dia mengawasi tajam. Dia mau percaya mungkin itu benar tubuhnya si nona.....

Ya Bie mengawasi saja gerak gerik orang, otaknya pun bekerja. Selagi si Bajingan itu nampak ragu-ragu, ia tertawa tawar dan kata dengan nada mengancam, ""Kalau kau membinasakan kau, apakah kau tidak takut guru nanti mencari kau buat minta ganti jiwa ?"

Kata-kata itu sederhana tetapi hatinya Tok Mo goncang.

Dia jeri.

Apakah yang sebenarnya dalam hal ini ?

Kiranya To Mo ini si Bajingan adalah si Bajingan yang palsu. Sebetulnya dialah Couw Kong Put Lo, yang tengah memahami kitab kewanitaan So Lie Kang yang tinggalnya di dekat Cianglo ciang. Selama dilembah Goh Cit Kok pernah dia merasai tangannya Kip Hiat Hong Mo hingga hampir jiwanya  melayang. Sedangkan Tok Mo yang satu lagi yang merampas Gak Hong Kun di rimba dekat Khotiam cun dari hadapannya Hong Gwa Sam Mo serta Ya Bie, dia juga Tok Mo palsu. Sebab dialah Kim Lam It Tok. Hanya Ya Bie sendiri yang tak dapat membedakan yang mana Tok Mo yang palsu dan asli.

Tak berani Tok Mo palsu ini mencelakai Ya Bie, dia cuma ingin mendapatkan Kiauw In sebagai muridnya, sedangkan kecantikannya nona Cio membuat hatinya goncang. Tapi dia terus membawa aksinya. "Gurumu berkepandaian apa maka kau gunakan dia buat menggertak aku ?" demikian katanya sambil tertawa tawar. "Sudah jangan kau sebutkan gurumu itu ! Baik aku jelaskan kepada kau tentang tabiatku. Aku lemah menghadapi yang lunak dan kokoh berhadapan dengan yang keras ! Kau baik- baiklah, serahkan budak she Cio itu padaku, akan aku bebaskan sehelai nyawamu !"

Tapi Ya Bie menjadi gusar.

"Siapa takut padamu ?" bentaknya. Ia maju pula dengan tebasannya.

Tok Mo menangkis. Kembali dia tak membalas.

Ya Bie menjadi berpikir. Ia pun ingat kepada Kiauw In.

Bukankah Tok Mo menggunakan racun ? Pasti dia mempunyai obat pemunah racunnya ! Maka itu perlu ia mendapatkan obat guna membantu Nona Cio. Apa jalannya ? Tiba-tiba ia mendapat akal.

"Kau lihat kakakku yang tidak sadarkan diri itu !" katanya kemudian pada si Bajingan. "Baik kau berikan obat padaku, untuk aku menyadarkan dia, nanti sesudah dia siuman akan aku bujuki dia supaya dia suka menjadi muridmu !"

Tok Mo melihat ke sekitarnya. Sang magrib tengah mendatangi. Maka pikirnya, tak dapat dia melayani nona ini yang cuma akan membuang-buang waktu saja. Lantas dia merogoh sakunya dan mengeluarkan obatnya. Hanya sesaat dia bersangsi. Bagaimana kalau nona ini mengakalinya ? Maka dia mengulapkan obatnya itu. "Inilah obat itu !" katanya. "Bagaimana dengan kau, bicara benar-benar atau tidak ?'

"Siapa menipu ?" sahut si nona yang justru mau memperdayai si Bajingan. "Mari serahkan obatmu itu padaku, lalu kau bawa nona itu kemari !"

"Jika aku si orang tua tak memberikan obat ?" tanya pula si Bajingan.

"Kau tak dapat menyentuh tubuhnya !" kata Ya Bie keras. Karena berbareng dengan itu ia menggunakan ilmunya, Hoan Kak Bie Ciu buat membikin kacau pikirannya Bajingan itu.

Hatinya Tok Mo goncang. Ia berpaling ke arah Kiauw In. Ia bertindak ke arah Ya Bie. Di saat itu, lenyaplah keragu- raguannya. Ia membuka peles obatnya dan mengeluarkan dua butir yang ia serahkan pada si nona, habis itu ia simpan pula pelesnya.

"Jika kau main gila terhadapku," katanya mengancam si nona, "jangan kau sesalkan bila aku berlaku telengas terhadapmu !" lantas ia memutar tubuhnya buat lari ke tepi kali, untuk menghampiri tubuh yang dikatakan tubuhnya Kiauw In itu. Segera ia mengangkatnya.

Tepat itu waktu Ya Bie menggerakkan tangannya menyerang ke arah si Bajingan. Dia menggunakan pukulan Udara Kosong menghajar punggung orang yang dia niat merobohkannya kecemplung ke dalam kali !

Di saat Tok Mo mengangkat tubuhnya "Kiauw In", Ya Bie bekerja lebih jauh. Dia menggunakan ilmu Sin Kut Kang membuat tubuhnya menjadi ringkas, hingga ia mirip seorang bocah umur lima atau enam tahun sesudah mana dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk lompat tinggi dua tombak, lompat lurus ke tepi yang lain dari kali itu !

Tok Mo sendiri terkejut, selekasnya dia mengangkat tubuhnya Kiauw In. Tubuh itu menjadi keras dan berat sekali. Selekasnya dia mengawasi, dia menjadi kaget berbareng gusar. Itulah bukan tubuh manusia, hanya sebuah batu besar

! Tentu sekali dia menjadi sangat gusar, sebab ternyata dia telah diakali pula. Justru dia bergusar itu, tibalah serangan angin dari si nona. Dia kaget tapi tak berdaya, tubuhnya segera tertolak keras tercemplung di dalam kali !

Segera terdengarlah satu suaa nyaring dan air bermuncratan tinggi.

Ya Bie sendiri telah tiba di lain tepi, nafasnya memburu sebab dia berlompat dengan sekuat tenaganya. Dia mendengar suaranya air nyaring itu serta melihat air muncrat naik, dia girang sekali. Itu artinya Tok Mo sudah tercebur.

Lebih girang pula ialah dia telah berhasil mengakali obat orang. Lantas dia melepaskan Sin Kut Kang, hingga tubuhnya menjadi besar seperti biasa. Lebih dahulu ia periksa obat, ia mencium baunya, terus ia membungkus dengan sapu tangannya, disimpan di dalam sakunya. Akhirnya ia lari ke tempat kemana si orang utan membawa Kiauw In.

Tok Mo sementara itu tidak mati kelelap di dalam kali. Dia bisa berenang, maka dia cuma kaget dan pakaiannya kuyup. Dia menyesal dan gusar dengan berbareng. Dengan berenang dia menyampaikan tepian, untuk merayap naik. Batu yang dia peluki, dia telah lepaskan, dibiarkan tenggelam di dalam kali. Ketika dia memandang ke atas dia melihat satu bayangan orang. Dia menerka itulah Ya Bie si cerdik. Dia menggertak gigi dan lalu bersiul nyaring sekali guna melampiaskan penasarannya ! Sementara itu tadi, So Hun Cian Li sudah berlari-lari ke hulu sungai. Dia mengikuti tepian. Dia menjalankan perintah nonanya membawa lari nona Cio. Dengan cepat dia tiba di hulu sungai, tempat sumbernya. Di situ air dangkal dan batu- batu besar berserabutan. Dia berhenti disitu akan menantikan nonanya.

Tanpa terasa sang sore telah tiba.

Duduk di tepi jalan, si orang utan menanti tetapi dia telah terduduk sekian lama, tak juga nonanya muncul. Dia menjadi heran terus dia berPekik berulang-ulang. Kalau nonanya mendengar suaranya itu dia tentu akan dihampiri.

Belum lama si orang dikejutkan satu suara perlahan di depannya, waktu ia mengawasi, kiranya itulah setangkai buah yang baru jatuh ! Buah itu sebesar jari tangan. Melihat itu ia mengilar sekali. Tetapi ia lagi bertugas melindungi nona Cio, tidak berani ia memungut buah itu untuk memakannya.

Tak lama jatuh pula tangkai buah yang lainnya. Buahnya selipat ganda besar dari buah yang pertama itu.

Orang utan itu mengawasi. Tampaknya dia sangat mengilar. Dia menoleh ke arah darimana dia datang tadi, tetap dia tidak melihat Ya Bie, nonanya. Dia heran. Dia menoleh pula melihat kedua buah, lantas dia tak sanggup bertahan lagi dari keinginannya memakannya. Maka ia meletakkan Kiauw In ditanah dan lompat kepada buah itu. Dia menjemput dan membawa buah itu ke hidungnya, untuk dicium atau dia melemparkannya pula. Dia pun lompat minggir.

Sunyi suasana disekitar situ. Si orang utan melihat kelilingan. Tetapi Ya Bie tak kelihatan. Maka ia menoleh ke arah buah, lalu maju menghampiri, buat menjemputnya. Kali ini tak sangsi pula, dia makan buah itu. Selekasnya habis buah itu, dia lompat akan menjemput buah yang kedua. Kali ini dia tak lompat mundur pula, dia terus makan itu.

Boleh dibilang baru habis buah yang kedua itu, jatuh pula yang ketiga.

Tanpa sungkan-sungkan, si orang utan pungut buah itu.

Lalu terjadilah lakon buah jatuh dan tak hentinya si orang utan memungut dan memakannya. Dengan begitu tanpa merasa, dia telah meninggalkan Nona Kiauw In yang tetap rebah tak sadarkan diri itu. Dia menghampiri dan menjemput buah tanpa lompat mundur pula. Itulah sebabnya kenapa dia jadi terpisah dari nona Cio. Baru kemudian, tanpa merasa dia telah menyeberangi kali dangkal itu dan tiba di tepi lainnya terus ke dalam rimba !

Justru di depannya Kiauw In yang tengah rebah pingsan itu muncul seorang wanita tua, yang tangannya memegang tongkat. Dengan mata bersinar, nenek itu mengawasi si nona, terus dia tertawa tawar dan kata seorang diri, "Dasar aku si tua besar rejeki, aku dapat pula satu bahan yang berbakat buat dijadikan muridku !"

Terus si nenek membungkuk dan mengulur sebelah tangannya, yang taruh di depan hidung si nona, untuk merasai hembusan nafas, setelah mana ia pun meraba nadinya nona itu. Kemudian ia menatap muka orang, lalu pakaiannya, akan akhirnya mengawasi pedang di bahu si nona.

Untuk sejenak, nenek ini memperlihatkan wajah seram, terus dia menengadah langit dan tertawa dingin, lalau dia kata pula seorang diri, "Rupanya nona ini muridnya si rahib tua she Cio dari Pay In Nia, baik aku bawa pulang. Inilah kebetulan sebab beberapa hari yang lalu, aku telah rampas si bocah she Tio dari tangannya Tok Mo dan dia pun murid Pay In Nia !

Dua-dua anak itu berada ditanganku, dengan begitu aku akan membuat malu pada si Cio imam tua, guna membalas sakit hati tusukan pedangnya dahulu hari !"

Nenek itu ialah Im Ciu It Mo, orang yang merampas Gak Hong Kun si It Hiong palsu. Dia tertawa pula dengan girangnya. Kemudian dari sakunya dia mengeluarkan sebutir obat pemunah racun, yang dia masukkan ke dalam mulutnya Kiauw In sambil dia berkata, "Entah siapa yang dapat mempelajari ilmu meracuninya Tok Mo dan dia melakukannya terhadap anak muda. Hm, segala api kunang-kunang !"

Si nenek terus berdiam. Sambil mengawasi nona, ia menantikan bekerjanya obatnya.

Lewat sekian lama, Kiauw In siuman. Ia bergerak untuk terus bangun berduduk. Ketika ia membuka mata, ia melihat si nenek di depannya.

"Kau terkena racun, nona." si nenek lantas berkata. "Sekian lama kau tinggal tak sadarkan diri. Siapakah yang telah meracunimu ?"

Kiauw In melegaka hatinya dengan menggerakkan kedua tanganya, untuk diulurkan diluruskan. Setelah itu ia mengawasi si nenek. Ia melihat sinar mata orang serta wajah yang seram, lantas ia menerka yang ia kembali bertemu dengan orang kaum sesat. Sendirinya, hatinya mengggigil.

Tapi menduga si neneklah yang menolong menyadarkanya, ia lantas memberi hormat sambil berkata, "Boanpwe bertemu Tok Mo ditengah jalan, dia merobohkan dengan racunnya. Terima kasih yang locianpwe berprihatin terhadapku. Locianpwe, siapakah yang telah membantu aku ?"

Si nenek tertawa dingin.

"Tok Mo !" katanya. "Bajingan tak tahu malu !" Hanya sedetik, dia menambahkan, "Obat Ceng Liang San buatanku dapat memunahkan racun apa juga dan dalam waktu yang singkat sekali !"

Itulah jawaban yang tak langsung terhadap pertanyaan si nona.

Kiauw In cerdas, dapat ia menerka maksud orang itu.

Kembali ia memberi hormat, kali ini untuk mengucap terima kasih.

"Nona, kau terkena racun hebat, mungkin racun di dalam tubuhmu tidak segera musnah seluruhnya." kata si nenek. "Dan itu berbahaya buat hari depanmu, karena itu, supaya aku tak menolong kepalang tangggung, maukah kau makan sebutir lagi ?"

Ia lantas merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir pil merah dadu yang ia terus angsurkan kepada si nona.

Diam-diam Kiauw In mengatur pernafasannya. Ia merasa sehat seluruhnya. Karena itu ia mengangsurkan kembali obat itu sambil ia kata, "Terima kasih locianpwe. Aku merasa tubuhku sudah sehat seluruhnya, karenanya tak berani aku makan obat locianpwe ini."

Si nenek mengawasi. Diam-diam dia memuji kecerdasan orang. Sebenarnya dia memberikan obat guna melemahkan urat syaraf si nona, agar dia lupa ingatan, supaya dia dapat dijadikan murid. Dia berbuat begini karena dia tahu pasti, di dalam keadaan sehat, tak nanti Kiauw In sudi menjadi muridnya.

"Sebutir obat tak berarti apa-apa !" katanya tertawa. "Kalau kau makan ini, nona, besar faedahnya untuk kesehatanmu.

Baiklah kau jangan sungkan."

Kiauw In bersangsi. Tak ada alasan buat ia menampik terus, maka terpaksa ia menyambuti pula obat itu dan terus menelannya.

"Hahaha !" It Mo tertawa saking riang dan puas hatinya. "Nah, nona kalau kau tidak menyela tempatku yang buruk, maukah kau turut aku untuk bermalam di sana ? Setelah terang tanah kau boleh pergi."

Lantas si nenek mengulur tangannya buat memegang tangan si nona, guna dituntun. Di dalam waktu yang singkat itu, Kiauw In tetap sadar. Ia menyingkirkan tangannya sambil ia mundur dua tindak.

Nenek itu heran yang ia tak dapat mencekal tangan orang. Ia insyaf itulah disebabkan si nona lihai ilmu silatnya. Tetapi ia berpura wajar, maka ia kata, "Baiklah nona, kalau kau kuatir tempatku buruk. Nah, kau pergilah !"

Dengan membawa tongkatnya, nenek itu memutar tubuhnya dan berjalan dengan perlahan-lahan.

Kiauw In merasa tak enak hati. Ia mengenal budi dan orang telah menolongnya. "Tunggu, locianpwe" katanya seraya ia bertindak menghampiri. "Locianpwe, dapatkah aku yang muda mengetahui nama atau gelaran mulia dari cianpwe ?"

Im Ciu It Mo berpaling dan berdiri diam, "Tak usah tergesa- gesa, sanak." katanya. "Kelak di belakang hari kau akan ketahui namaku."

"Locianpwe." Kiauw In tanya pula, "ketika tadi Locianpwe tiba disini apakah Locianpwe melihat seorang nona bersama seekor orang utan ?"

"Orang utan ?" nenek itu menjawab. "Dia lari ke dalam rimba sana dimana dia mencari makan. Tentang anak perempuan, tak aku melihatnya."

Hatinya Kiauw In bercekat. Ia kuatir Ya Bie terbinasa ditangannya Tok Mo sebab nona itu mau membantunya. Maka ia kata, "Locianpwe, hendak aku mencari adikku itu. Sampai jumpa pula !" Terus ia memutar tubuh dan berlalu.

Im Ciu It Mo mengawasi sambil menyeringai.

"Hendak aku lihat, berapa jauh kau dapat pergi." katanya.

Kiauw In baru berjalan sepuluh tombak lebih tatkala ia merasai panas dalam tubuhnya. Ia terkejut dan heran.

Matanya segera berkunang-kunang, penglihatannya kabur dan kepalanya pun pusing, bumi bagaikan berputar. Lekas-lekas dia menjatuhkan diri untuk berduduk buat lantas mengatur pernafasannya. Selama itu ia masih ingat segala apa, hingga ia lantas menerka apa mungkin tubuhnya belum bebas dari sisa racun. Sama sekali ia tidak menyangka jelek pada si

nenek penolong. Hanya sesaat kemudian, pikirannya mulai lemah, meskipun ia bisa berpikir tetapi tak dapat ia mengingat sesuatu yang ia pikir itu. Matanya pun berkunangan semakin hebat. Diakhirnya habis sudah tenaga berpikirnya. Maka ia duduk diam bagaikan patung.

Tak lama maka terdengarlah suara bentrokannya tongkat kepada tanah. Itulah Im Ciu It Mo yang telah tiba. Dia menghampiri si nona. Dan mengawasinya seketika. Terus ia tertawa terkekeh. Kemudian lagi dia menarik tangannya si nona itu sambil berkata, "Mari turut aku !"

Kiauw In tetap berdiam saja, ia jinak bagaikan kambing.

Karena ditarik ia bangun berdiri.

Si nenek tertawa pula dan kata, "Seorang terhormat tak akan melakukan sesuatu yang gelap, maka itu aku si wanita tua, setelah aku merampas murid orang, perlu aku meninggalkan tanda peringatan. "

Menyusul kata-katanya itu, Im Ciu It Mo menekan pesawat rahasia pada gagang tongkatnya. Lantas melesat sesuatu tinggi setombak lebih terus jatuh ke tanah hingga menerbitkan suara. Inilah lambang peringatannya yang dia namakan "Pie Hoat Kwie Lian Kim Pay" atau pay atau lencana emas "Muka Bajingan dengan Rambut Riap-riapan".

Demikian Kiauw In dibawa si nenek, lenyap daLam Sang gelap petang.

Belum lama perginya si nenek, Ya Bie muncul bersama orang utannya, yang ia berhasil mencarinya. Nona ini sia-sia saja mencari Nona Cio. Adalah si orang utan yang berPekik tak hentinya dan kemudian pergi ke tempat dimana Kiauw In diletakinya. Disini dia menoleh kepada nonanya dan menggerak-geraki kedua tangannya. Ya Bie bingung sekali. Kiauw In adalah kenalan baru tetapi kesannya terhadap nona itu mendalam sekali. Ia berdiri diam mengawasi gerak gerik binatang piarannya itu. Si orang utan mencium batu, tanah dan rumput dimana Kiauw rebah dan duduk, terus dia berjalan mengikuti jalan yang dilalui Im Ciut It Mo dan Kiauw In. Hanya selang beberapa puluh tombak, segera dia kembali. Dia mencari terus disekitar situ sampai mendadak berlompat dan tangannya lantas mencekal kimpay, lencana emas yang ditinggalkan si Bajingan wanita tua. Dia lari membawa itu kepada nonanya.

Ya Bie menyambuti lencana itu, yang bersinar di cahayanya air kali. Ia mendapati ukiran yang merupakan sebuah muka bengis seperti bajingan yang rambutnya terlepas dan terurai. Lencana itu tidak ada hurufnya.

Tak dapat Ya Bie menerka benda itu berarti apa atau siapa pemiliknya, ia membulak baliknya dengan sia-sia belaka.

Karena ia tetap tidak berdaya mencari tahu, kimpay itu ia memasuiki ke dalam sakunya.

Di saat itu, mendadak si nona mendengar suara apa-apa yang terbawa angin. Ia kuatir Tok Mo datang menyusul, lekas- lekas ia mengajak orang utannya lari untuk masuk ke dalam rimba untuk bersembunyi.

Demikianlah Ya Bie karena mencintai It Hiong telah mengajak binatang piaraannya berputar-putar mencari si anak muda dan kemudian Kiauw In dan nona Cio sebaliknya dalam perjalanannya membuat penyelidikan telah terjatuh ke tangan si nenek Im Ciu It Mo hingga selang satu bulan dia muncul di Hek Sek San sebagai pesuruh dari Bajingan wanita tua itu untuk mengusir pergi Hay Thian Sin Ni dari gua Lu Sian Giam ! In Ciu It Mo telah menyembunyikan diri selama tiga puluh tahun. Setelah berhasil melatih ilmu Sun Im Cit Sat Kang, dia muncul pula dalam dunia Kang Ouw dan kali ini dengan cita- citanya yang besar guna menjagoi dunia persilatan ! Buat mencapai cita-citanya itu, dia membutuhkan dan mencari banyak pembantu yang terdiri dari muda mudi. Demikian dia mendapati Tio It Hiong palsu dan Cio Kiauw In yang dia beri obat menghilangi ingatan pribadinya, hingga orang dapat dititahkan berbuat segala apa menuruti kehendaknya, tanpa orang sadar akan perbuatannya itu. Obatnya itu yang lihai dia beri nama Thay Siang Hoan Huo Tan - pil mustajab berubah roh atau sifat.

Sesudah sadar habis makan Tay Siang Hoang Huo Tan, Kiauw In cuma kenal Im Ciu It Mo seorang, yang segala perintahnya ia turuti tak perduli ia dititahkan menyerbu api atau air.

Sementara itu Im Ciu It Mo jeri terhadap beberapa jago Bu Lim rimba persilatan seperti Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia, Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian, Pie Sie Siansu dari kuil Gwan Sak Sie di Ngo Tay San dan Kio Hiat Hong Mo di Cenglo Ciang juga Ie Tok Sinshe si jago racun yang empat puluh tahun dahulu telah terjatuh kedalam lembah es. Seorang lagi yang dia segani ialah Hay Thian Sin Ni dari Pouw To Sie di Haylam.

Sekarang hatinya menjadi besar sebab dia dapat kenyataan separuh dari orang-orang yang disegani itu sudah menutup mata sedangkan kepandaiannya sendiri bertambah lihai.

Sebenarnya ia menyuruh Kiauw In mengusir Hay Thian Sin Ni dengan maksud memancing kemarahannya si nikouw supaya nikouw ini datang mencari padanya, agar mereka bisa mengadu kepandaian. Tidak ia sangka halnya Sin Ni berpandangan jauh dan dengan lunak mengajak Cukat Tan dan Teng Hiang meninggalkan guanya itu........ Setelah itu, Im Ciu It Mo hendak menyeterukan Pie Sie Siansu dan Kip Hiat Hong Mo buat nanti menjagoi dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun. Ia percaya bahwa ia bakal dapat mengalahkan kedua musuhnya itu ! Begitulah dengan mengajak Gak Hong Kun dan Cio Kiauw In ia berangkat ke Ngo Tay San. Semua muridnya yang lainnya ia tinggalkan di gunungnya sebab ia mempunyai suatu maksud lain.

Gak Hong Kun dan Cio Kiauw In telah dikenal umum menjadi murid-muridnya siapa. Kalau mereka melakukan sesuatu karena diperintah Hant tua ini orang tak akan menyangka jelek kepadanya. Dengan begitu, ia jadi seperti memfitnah Pay In Nia sebab Hong Kun tengah menyamar sebagai It Hiong. Sebaliknya murid-muridnya yang asli, tak usah mereka itu menjual muka berkeliaran di tempat umum kecuali nanti dalam pertempuran Bu Lim Cit Cun.

Satu hal lagi ialah It Mo menyerang Gwan Sek Sie secara menggelap. Dia bersama dua orang muridnya yang mirip boneka itu sampai di Ngo Tay San setelah perjalanan tak kurang sepuluh hari.

Gwan Sek Sie menjadi salah satu cabang dari Siauw Lim Sie, kuilnya besar dan agung. Tiba di depan kuil, It Mo mengawasi dengan perhatian kiri kanannya. Ia tiba waktu fajar, maka itu dari dalam kuil masih terdengar suara para pendeta tengah liam keng membaca ro la seperti biasanya setiap pagi. Ketika itu hawa nyaman dan burung-burung masih mengoceh disarangnya.

Dengan senantiasa membawa tongkatnya, Im Ciu It Mo mendaki tangga. Hong Kun dan Kiauw In mengikutinya. Tiba di muka pintu gerbang, si Bajingan membisiki sesuatu kepada kedua pengikutnya terus dia lompat naik ke tembok untuk masuk ke dalam kuil. Kedua murid itu masih berdiam sekian lama baru mereka pun turut berlompat masuk.

Selama itu disekitar situ tak ada seorang pendeta jua.

Semua tengah berkumpul di Toa tian pendopo besar, sedikit yang berdiam di masing-masing ruang atau tempatnya. Itulah yang menyebabkan tiga orang itu dapat memasuki kuil tanpa rintangan.

Semasuknya Hong Kun dan Kiauw In ke dalam kuil, mereka lantas merabu setiap pendeta yang diketemukan. Maka juga selewatnya beberapa ruang atau pendopo, setiap pendeta yang bertugas di semua pendopo itu telah mesti menerima bagiannya terluka atau terbinasa. Dan teriakan-teriakannya mereka itu sampai terdengar ke Toa-tian, hingga para pendeta disitu menjadi terkejut.

Segera juga dari dalam Toa tian terdengar suara genta dan nyaring mengalun sampai di luar pendopo itu. Dengan begitu maka berhentilah suara membaca doa. Di dalam sekejap seluruh pendopo menjadi sunyi sekali.

Di kuil Gwan Sek Sie, tak pernah terjadi disaat orang melakukan ibadah itu orang berhenti serentak, dan semua hati lantas menjadi tegang sendirinya.

Sebelum mereka mendapat perintah dari ketuanya, mereka tidak berani sembarang bergerak. Semua berdiam dengan hormat dan tenang dihadapan Sang Buddha. Semua duduk dengan kepala tunduk dan mata dipejamkan. Tak ada seorang juga yang berkisar dari tempatnya.

Segera setelah kesunyian itu, terdengarlah suaranya Pie Te Siansu, ketua dari Gwan Sek Sie, yang perutnya besar, "Para petugas, kalian kembali ke tempat masing-masing ! Para murid, bersiaplah dengan senjatamu masing-masing guna menghadapi setiap kejadian !"

Semua pendeta itu memperdengarkan penyahutan mereka bahwa mereka sudah mengerti. Lantas semuanya memberi hormat dan segera berlalu, pulang ke masing-masing tempat tugasnya. Sedangkan para murid, habis bubaran, sudah lantas kembali dengan membawa senjatanya masing-masing. Justru itu tibalah Hong Kun berdua.

Pie Te Taysu bertindak ke depan dua orang muda-mudi itu seraya terus memberi hormat.

"Sicu berdua," ia menegur, "kenapa sicu lancang memasuki kuil kami serta sudah lantas melakukan penyerangan hingga timbul korban-korban jiwa dan luka ? Apakah sicu tidak pernah membayangkan pikiran bagaimana menderitanya orang-orang yang roboh sebagai korban-korban itu ?"

Pendeta ini sudah lantas menerima laporan tentang penyerbuan tak disangka itu.

Kiauw In berdua Hong Kun melongo saling mengawasi, mereka tidak menjawab teguran itu.

"Kedua sicu," Pie Te bertanya pula. "siapakah guru sicu dan dengan kuil kami ada permusuhan apa ?"

Kiauw In tidak menjawab, dia hanya bersenyum. Lantas dia maju dua tindak dibarengi dengan satu serangan jurus Hang Liong Hok Houw Ciang. Pie Te terkejut tetapi dapat dia berkelit ke samping. Terus ia mengawasi tajam nona penyerangnya itu. Sama sekali ia tidak mau membalas menyeranga, sebab ia merasa aneh akan serbuan itu. Kiauw In berlompat maju, ia menyerang pula, bahkan kali ini ia menghajar terus menerus sampai tujuh kali !

Pie Te Taysu repot mengelakkan dirinya. Di sebelah itu herannya bertambah-tambah. Ia mengenali ilmu silatnya Pat Pie Sin Kit, yang didasarkan atas tenaga Tong Cu Kang. In Gwa Sian manusia aneh, dia tak kenal paras elok dan dia juga tak pernah mempunyai murid perempuan. Maka itu siapa nona ini yang justru menggunakan ilmu silatnya si pengemis ?

Menguasai diri sendiri, Pie Te memuji Sang Buddha. Tetap ia berlaku sabar.

"Sicu," tanyanya pula, "kau pernah apakah dengan sicu In Gwa Sian ?"

Ditanya begitu dengan disebutnya nama In Gwa Sian, Kiauw In berhenti menyerang, ia menggeleng kepala. Dengan sinar mata buram ia mengawasi saja si pendeta. Sebagai seorang pendeta tua dan banyak pengalamannya, Pie Te lantas menerka sebabnya si nona berlaku aneh itu : Menyerbu, menyerang dan berdiam......

Justru Kiauw In berdiam, justru Hong Kun menyerang, bahkan dia ini menggunakan pedangnya. Dengan berkilauan menyilaukan mata ujung pedang mencari sasaran pada perut besar dari si pendeta ! Pie Te Taysu tak mundur atau berkelit, dia membiarkan pedang mengenai perutnya itu.

Aneh, pedang itu melesat ke sisi dan cuma merobek jubahnya si pendeta.

"Sicu !" Pie Te tanya penyerang itu, "Sicu, pernah apakah kau dengan It Yap Totiang dan Heng San ?" Inilah karena dia mengenali ilmu silatnya kaum Heng San Pay. Hong Kun tertawa. Dia tidak menyerang pula, sambil menarik pulang pedangnya, dia terus berdiri diam. Pie Te Taysu mengawasi tajam anak muda itu, lalu mendadak ia berseru keras laksana bunyi guntur di siang hari. Ia mau mencoba menyadarkan muda mudi itu., yang ia terka sebabnya kenapa mereka menjadi demikian rupa.

Hong Kun dan Kiauw In tampak terkejut, keduanya melengak. Tapi cuma sebentar, mereka pulang asal seperti semula. Mereka berdiri bengong tak berbicara, tak bergerak. Berdua mereka berhadapan. Hanya sebentar matanya Hong Kun mencilas lalu mendadak dia menyerang pula.

Pie Te Taysu berkelit ke samping terus ia berseru : "Ringkus mereka ini !"

Segera muncul dua orang pendeta setengah tua, yang jubahnya abu-abu dan senjatanya golok kaylo dan sebatang tongkat panjang masing-masing. Dan mereka lantas menyerang Hong Kun dan Kiauw In. Menyusul itu, tiga puluh enam pendeta lainnya turut bergerak pula, cuma mereka bukan membantu menyerang hanya terus mengambil sikap mengurung. Sebab mereka telah mengatur tiu atau pasukan istimewa, yang diberi nama Lohan Tiu atau Tiu Arhat !

Pendeta bersenjata tongkat itu menempur Gak Hong Kun.

Dia bersilat dengan Lohan Thung hoat, ilmu silat Tongkat Arhat. Dengan menderunya anginnya tongkat, terang ternyata itulah Gwa Kang atau Nge Gung, ilmu silat keras. Tetapi dia menghadapi ilmu silat pedang Heng San Pay yang mengutamakan keringanan dan kegesitan tubuh, maka tongkatnya tak dapat berbuat banyak. Pendeta yang bersenjata golok menggunakan ilmu silat Golok Arhat, nampaknya dia bisa bergerak cepat dan tenaga dalamnya sempurna karena mana sanggup dia melayani Kiauw In hingga senjata mereka berdua berkelebatan bagaikan kilat, naik dan turun ke sisi kiri dan kanan.

Pie Te Taysu menonton dengan kekaguman. Lekas juga tiga puluh jurus telah berlalu tetapi si pendeta bergenggaman tongkat tak dapat berbuat apa-apa terhadap lawannya. Ia mencoba mengerahkan tenaga, tetap ia tak memperoleh hasil. Walaupun otaknya tidak sadar, Hong Kun tak melupai ilmu silatnya. Apa pula diapun mulai mendapat tambahan ilmu san Im Cut Kang dari Im Ciu It Mo. Maka itu sesudah banyak jurus itu, ia lalu mencoba kekerasan. Begitulah ketika satu kali tongkat meluncur ke tubuhnya, ia menangkis dengan satu tebasan !

Berisik suara terbenturnya kedua senjata yang percik apinya berhamburan. Melihat beradunya senjata itu, Pie Te Taysu terperanjat. Baru sekarang ia mendapat tahu yang pemuda yang menggunakan Kie Kwat Kiam pedang mustika. Hingga bisa-bisa tongkat muridnya nanti terbabat kutung.

"Tahan !" ia berseru. Ia berkuatir muridnya nanti bercelaka dan nama Gwan Sek Sie tercemar.

Pertempuran berhenti lantas. Kedua lawan sama-sama mundur. Bahkan Kiauw In dan lawannya turut berhenti juga. Semua lantas mengawasi si pendeta tua !

"Kedua sicu." Pie Te menanya muda mudi itu. "Sicu, apakah kalian ingat nama atau gelaran guru kalian ? Dapatkah sicu sekalian menyebutnya buat lolap dengar ?"

Suaranya pendeta ini perlahan dan ramah, suara itu mendatangkan kesan baik bagi si muda mudi. Kiauw In mengawasi, sinar matanya memain. Ia nampak mengingat-ingat.

"Guruku ialah Im Ciu It Mo." sahutnya sejenak kemudian. Hong Kun mengulapkan tangannya dan tertawa. Katanya,

"Baru aku ingat itu. Tetapi kau telah mendahului menyebutnya..."

Kata-kata itu lucu, maka semua pendeta bersenyum tak kecuali dua pendeta yang baru habis bertempur itu.

Pie Te tidak menghiraukan lagak orang, bahkan ia mencoba menirunya.

"Guru kalian bukannya cuma satu." katanya pula, tetapi ramah. "Mesti ada guru kalian yang lainnya ! Coba sebutkan !"

Muda mudi itu saling mengawasi, mereka tidak lantas menjawab, mereka hanya lantas tunduk untuk berpikir. Pie Te Taysu semua mengawasi. Terus kedua muda mudi itu berpikir. Mereka seperti lagi mengasah otak, buat mengingat-ingat.

Mereka menggaruk-garuk belakang kepala mereka atau memegangi dahi. Masih mereka tak dapat ingat.

"Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian. " berkata Pie Te Taysu

perlahan. Ia mau membantu mengingati, "It Yap Totiang dari Heng San !"

Kata-kata itu diucapkan satu demi satu dan dengan penuturan ilmu Toan im Jip Bie. Maka juga masuknya ke dalam telinga tajam dan tegas sekali. Muda mudi itu nampak terkejut, mereka mengangkat kepala mereka mau mereka membuka mulut atau di detik yang lain mereka batal. Lantas sinar mata mereka menjadi geram dan kepala mereka digoyang-goyangi ! Hal itu menunjuki hebatnya obat Toay Siag Hoang Hun Tan dari Im Ciut It Mo.

Ketika itu mendadak terdengar seruan yang sangat nyaring dan tajam, entah darimana datangnya. Hanya tahu-tahu telah masuk ke dalam pendopo besar. Suara itu membuat telinga ketulian dan hati berdebaran. Sedangnya para pendeta heran, Hong Kun dan Kiauw In mendadak lompat menyerang menyerbu Lohan Tiu !

Ketigapuluh enam pendeta terkejut, tetapi mereka sempat menangkis, buat seterusnya mereka melayani kedua penyerbu itu, hingga mereka jadi bertarung seru sekali.

Kiauw In lemah lembut tetapi setelah mendengar seruan itu mendadak dia menjadi beringas, ia selalu menyerang dengan bengis. Hong Kun bengis juga tetapi dialah tak aneh sebab sejak gagal dalam urusan asmara, dia berubah sifat, dia jadi mudah membenci dan tak segan-segan melukai dan membunuh orang, hanya saja, seruan itu membuatnya bertambah ganas, dia bagaikan memandang para pendeta seperti musuh-musuh besarnya !

Sudah seratus tahun lebih Lohan Tiu menjadi Barisan istimewa dari Siauw Liem Sie. Barisan itu dianggap sebagai pembela dan pelindung, maka juga setiap pendeta yang menjadi anggautanya semua telah terlatih baik. Dengan begitu, mereka dapat bekerja sama dengan sempurna. Cepat dan lincah mereka mengambil tempatnya masing-masing, terutama dalam hal mengganti kedudukan atau saling mengisi kekosongan. Diantaranya ada dua jurus utama yang dinamakan "It Ceng Jie Hu" atau Satu lurus, dua kiri dan kanan". Artinya saban habis menikam atau membacok, golok tentu diteruskan dipakai menebas kedua samping. Apa yang merugikan Hong Kun dan Kiauw In ialah walaupun mereka sama-sama lihai, perguruan asal mereka berlainan, jadi dalam hal bekerja sama mereka tidak mendapatkan kecocokan. Benar mereka sudah mempelajari Sun Im Cit Sat Kang tetapi latihannya belum lama dan karenanya belum sempurna. Demikianlah tidak lama, dari rapat mereka dapat dipisahkan satu dari lain.

Pie Te Taysu memuji Sang Buddha setelah dia menonton sekian lama dan mendapatkan muda mudi itu gagah berani dan ulet sekali. Ia cuma heran yang seperti lupa ingatan.

Justru tengah pertempuran berlangsung dan Pie Te Taysu lagi beragu-ragu, tiba-tiba ia lihat dari ambang pintu pendopo munculnya seorang pendeta usia setengah tua, yang jubahnya kuning, pendeta mana bertindak masuk dengan cepat. Dia melihat pertempuran itu tetapi dia tidak menghiraukan, langsung dia menghampiri Pie Te, untuk terus memberi hormat sambil menjura dan memuji San Buddha.

Pie Te Taysu membalas hormat sambil mengawasi dengan tajam, hingga ia mengenali bahwa orang adalah pendeta dari Siauw Lim Sie pusat di Siong San. Maka lekas-lekas ia berkata, "Ada apakah dengan kunjungan ini ? Silahkan masuk !"

Walaupun pendeta itu ada dari tingkat lebih muda, terhitung sebagai kemenakan murid, Pie Te toh berlaku hormat seperti biasa.

Pendeta itu menjura pula sambil mengucap terima kasih. Kemudian dari punggungnya dia meloloskan satu bungkusan kuning, dari dalam mana dia mengeluarkan sejilid naskah hoat-tia sambil mengangsurkan dengan kedua tangannya, ia berkata, "Tecu diperintahkan Paman guru Liauw In menyampaikan hoat-tiap ini dengan permintaan supaya paman menyampaikannya kepada bapak ketua disini."

Pie Te Taysu menyambut. Ia melihat hoat-tiap diikat dengan tali kain kuning dan dilapis dengan tali sutera merah, maka tahulah ia artinya kiriman itu.

"Apakah pesannya kakak seperguruan Liauw In ?" tanyanya.

Pesuruh itu menjawab dengan perlahan, "Paman guru Liauw In berkatai bahwa hari upacara besar harus dirahasiakan supaya pihak sesat tak dapat datang mengacau."

Pendeta tua itu mengangguk, terus ia memutar tubuh buat berjalan dengan cepat ke dalam, tetapi baru beberapa tindak dia sudah berhenti melangkah, dia memutar tubuh pula sembari berkata, "Keponakan Bu Kie pergilah kau beristirahat

!" Setelah itu ia melanjuti berjalan masuk.

Pendeta pesuruh itu memang Bu Kie namanya. Dialah murid tingkat dua dan gurunya ialah Ang Sian Siangjin, Tianglo dari Kam Ih.

Sejak wafatnya Pek Cut taysu dan matinya Ang Sian Siangjin disusul dengan matinya ke empat Tianglo, Siauw Lim Sie selalu berada dalam saat-saat tegang maka juga kuil dijaga keras. Pendeta tertua tinggal Liauw In seorang, karena mana pendeta ini harus bekerja keras memegang tampuk pimpinan sementara sebelum pemilihan atau pengakuan ketua baru, kemudian dengan persetujuannya semua pendeta pemilihan ketua dilaksanakan dan diangkat ialah seorang murid yang usianya masih muda dari Pek Cut Siansu, sedangkan kelima Kam Ih dipilih dari angkatan kedua. Karena itu upacara pelantikan harus dilakukan. Biasanya upacara itu dilakukan secara besar dan agung dan khidmat. Maka juga undangan harus dikirim secara meluas terhadap semua cabang Siauw Lim Sie. Hanya kali ini disamping kehidmatan upacara mau dilakukan secara tertutup supaya jangan ada pihak luar yang mendapat tahu, agar tak ada pengacauan oleh pihak luar itu.

Hatinya Bu Kie lega setelah dia selesai menjalankan tugasnya, maka itu sempat dia menyaksikan bentroknya Lohan Tiu hanya tahu bahwa itulah pertempuran benar-benar sedangkan mulanya dia menyangka kepada latihan biasa.

Selama memasuki kuil dia pula tidak melihat para pendeta yang terbinasa dan terluka, maka dia tak tahu apa-apa. Hanya apa yang mengherankannya ialah pihak yang diserang itu cuma dua orang muda, sepasang muda mudi. Sendirinya dia memasang mata tajam untuk melihat tegas terutama guna mencari tahu dari ilmu silat mana muda mudi itu, mereka ada rumah perguruan atau partai mana. Selekasnya dia melihat tegas, dia heran hingga dia tercengang. Dia mengenali itulah suami isteri Tio It Hiong dan Cio Kiauw In, dua orang pelindung atau penolong dari Siauw Lim Sie. Hanya sedetik itu, dia tak dapat mengenali penyamarannya Gak Hong Kun.

Maka dia hanya mengenali It Hiong.

"Aneh !" pikirnya. "Kenapa kedua penolong dari Siauw Lim Sie justru bertempur di Gwan Sek Sie ini ?"

Tak lama Bu Kie ragu-ragu itu, sebab ia telah terpengaruhkan perasaan hatinya sendiri yang tegang. Tiba- tiba dia berseru dengan panggilannya, "Sicu Tio It Hiong !"

Sedangnya pertempuran berlangsung hebat itu, karena itu seperti tidak ada yang dengar sebab orang bertempur terus dengan serunya. Yang menyahuti ialah berisiknya bentrokan pelbagai senjata tajam. Dari heran, Bu Kie menjadi penasaran. Dia memang bertabiat keras. Dia melihat tegas, kecuali tiga puluh enam pendeta yang lagi berkelahi itu, yang lainnya yang berkumpul di pinggiran tidak ada yang tidak menunjuki tampang gusar. Kenapakah orang agaknya sangat membenci muda mudi itu ?

Segera setelah habis sabarnya, pendeta pesuruh dari Siauw Lim Sie lantas berseru, "Tahan !" Hebat suaranya itu tetapi dia tak dapat menghentikan Lohan Tiu. Adalah dua orang pendeta yang tak turut bertempur yang lantas lari menghampiri pendeta dari Siong San itu, untuk mengawasinya dengan mata mendelik. Mereka memberi hormat tetapi keduanya menanya dengan suara dalam, "Suheng, kalau suheng tidak punya urusan apa-apa, silahkan istirahat di dalam pendopo samping sana ! Buat apa suhen berseru ?"

"Su heng" ialah kakak seperguruan.

Bu Kie sedang mengawasi medan pertempuran, waktu ia melihat dua pendeta muda itu dan mendengar suara orang yang dalam itu.

"Hm !" ia memperdengarkan suara dingin. "Sute berdua, apakah kalian kenal atau mengenali sepasang muda mudi yang sedang dikepung itu ?"

"Sute" ialah adik seperguruan.

Salah seorang pendeta bukannya menjawab hanya menanya keras, "Suheng pernah apakah dengan mereka itu ?"

Itulah kata-kata yang nadanya mengejek. Hampir Bu Kie mendamprat pendeta itu, baiknya ia ingat bahwa mereka adalah dari satu perguruan dan ia sendiri berkedudukan lebih tinggi.

"Hm !" ia mengasih dengar pula suara dinginnya, sebab saking hebatnya ia menguasai hatinya yang panas itu, sedang wajahnya terlihat merah padam. "Kedua muda mudi itu bukan sanak atau kadang dari kakakmu ini tetapi mereka adalah kedua penolong dan pembela dari kuil kami !"

Kedua pendeta itu heran sampai mereka mengawasi dengan mendelong.

"Apakah pria itu adalah Tio It Hiong yang melabrak dan mengusir kawanan bajingan penyerbu Siauw Lim Sie ?" mereka tegaskan.

Bu Kie membaliki dengan suara dalamnya, "Sute, apakah kau tidak kenal tuan penolong kami itu ?"

Belum lagi si pendeta menjawab, atau dari medan pertempuran terdengar suara bentakan dan berisikanya beradunya senjata. Kiranya pihak Lohan Tiu telah memperkeras serangannya. Itulah yang dinamakan perubahan tingkat dua dan namanya ialah "Bun Had Tiauw Thian," Berlaksa Buddha Menghadap Ke Langit kepada Tuhan".

Pendeta yang menjadi pimpinan Barisan sudah lantas lompat kepada Hong Kun dan Kiauw In buat mulai dengan seranganya dahsyat. Karena desakan itu, muda mudi itu melawan dengan sama kerasnya.

Dengan perubahan itu, para pengurung lantas berubah menjadi dua rombongan dan pengurungan atau penyerangan menjadi bergantian. Yang kiri dan yang kanan bergantian maju, serangannya hebat sekali. Itulah yang menyebabkan suara berisik itu.

Bu Kie terperanjat menyaksikan perubahan itu. Dan melihat nyata bagaimana muda mudi itu didesak hebat.

Sampai disitu terlihat bedanya diantara Hong Kun dan Kiauw In. Si anak muda ternyata kalah latihan, dia kalah ulet. Kerja sama mereka jadi tak teratur dan berat sebelah.

Di pihak Lohan Tiu, orang tetap bersemangat dan ulet. Kegagahan para pendeta itu tak berkurang bahkan lebih mantap.

Bu Kie menjadi mandi peluh tanpa merasa. Dia mesti menyaksikan suasana hebat itu. Di dalam keadaan seperti itu, lebih-lebih tidak sempat dia meneliti Hong Kun. Dia hanya menyangkan bahwa It Hiongsudah mulai letih, ia tidak memikir kenapa tuan penolong dari Siauw Lim Sie itu menjadi demikian lemah, bahwa ilmu silatnya beda dari ilmu silatnya Kiauw In. Mereka berdua toh suci dan sute, kakak beradik seperguruan. Kenapa bukannya mereka menang atau dapat merobohkan keluar dari tiu tetapi justru terus terkurung. 

Di saat itu tampak Hong Kun dikepung empat buah golok, yang menyerangnya dari atas dan bawah, dari kiri dan kanan. Dari berkelit sambl menangkis jurus "Dengan Delapan Tangan Membunuh Naga" sebuah jurus istimewa dari Heng San Pay. Dengan berkelit itu, dapat dia mundur tiga tindak. Tapi dia tak luput seluruhnya. Ada golok yang menggores celananya, serta mengenai betisnya hingga kulitnya berdarah.

"Tahan !" berteriak Bu Kie sambil dia berlompat maju, niatnya membantu orang yang dia sangka It Hiong itu, tetapi bukannya dia maju, dia justru tertarik balik sebab mendadak ada tangan yang kuat yang membetotnya dari belakangnya. Hingga dia menjadi heran dan lekas-lekas menoleh. Sehingga dia melihat Pie Te Taysu dihadapannya.

"Susiok !" panggilnya sambil dia lekas-lekas memberi hormat. Di saat itu mukanya masih merah sebab gusar dan mendongkol.

Pie Te Taysu mrengulapkan tangan terus ia tertawa. "Sutit, selesailah tugasmu !" katanya. "Pergilah kau pulang

!"

Bu Kie sang kemenakan murid melengak.

"Susiok," katanya pada paman guru itu, "orang didalam itu

ialah. "

Belum habis ia berkata tubuhnya Bu Kie sudah terpental keundakan tangga Toa tian. Tapinya dia tak jatuh, dapat dia berdiri tegak. Lantas dia mendengar suara yang disalurkan dengan ilmu Toan Im Jip Bit : "Dua orang ini sudah menyerbu kuil, dia telah membinasakan dan melukai beberapa anggauta kita, maka itu mereka berdua hendak ditawan untuk diperiksa. Sutit, baik jangan campur tangan hanya lekas-lekas kau pulang membawa laporan."

Bu Kie bingung, ia bersangsi. Tetapi ia mempunyai tugas, ia pun mesti percaya paman gurunya itu. Maka itu dengan hati tak karuan rasa lantas ia melakukan perjalanan pulang.

Hong Kun sementara itu letih sekali, kecuali luka dibetisnya itu, ia terluka parah sebab ia masih dapat memaksa bergerak dengan cepat dan cepat. Kiauw In tidak terluka, tapi sia-sia saja percobaannya akan menerobos keluar. Beberapa kali ia mencoba selalu gagal hingga ia kembali terdesak ke dalam tiu dan terkurung.

"Kedua sicu !" terdengar Pie Te Taysu berkata nyaring, "jika kalian sudi meletakkan senjata kalian dan manda ditangkap, pinceng akan memberi ampun kepada kalian !"

Suara itu mendapat jawaban tidak diperhatikan sama sekali. Sekalipun telah diulang dan diulangi beberapa kali. Muda-mudi itu berkelahi terus. Mereka tampak seperti tak mendengar apa-apa.

Pie Te Taysu telah melihat keadaan orang, ia menduga muda mudi itu menjadi korban racun maka ia merasa kasihan terhadap mereka dan tak ingin segera membinasakannya.

Tidaklah demikian dengan para pendeta yang bersakit hati dan membenci hingga memikir menuntu balas bagi sekalian saudara mereka. Demikianlah, habis seruan Pie Te berseru- seru itu, pemimpin tiu berseru nyaring goloknya diangkat naik digeraki sebagai aba-bab, maka lagi sekali tiu bergerak secara luar biasa gesit dan bengis. Bayangan orang dan sinar golok bergerak makin cepat.

Di dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba dari pojok kiri pendopo terlihatnya berkelebat satu bayangan terus tampak munculnya seorang seebie, kacung pendeta. Dia lari menghampiri Pie Te Taysu untuk memberi hormat dan berkata, "Di houw tian terdapat musuh, maka itu Ciang bun Su sun menitahkan Susiok pergi menghadangnya !"

Ciang bun Su Cun ialah ketua kuil dan houw tian pendopo belakang. Di pendopo belakang itu terdapat banyak kamat, satu diantaranya menjadi "Ceng sit" kamar istirahat dari Sie Siansu, ketua dari Gwan Sek Sie. Kamar dipisahkan sendiri dengan sebuah taman.

Pie Te Taysu kaget sekali.

"Baiklah !" bilangnya sambil memberi isyarat.

Selagi kacung ini mengundurkan diri, Pie Te sudah berlompat ke gang yang menuju ke belakang.

Semua pendeta di kiri dan kanan heran melihat Pie Te Taysu berlalu secara demikian tergesa-gesa, tetapi karena aturan kuil keras sekali, tanpa ijin atau perintah, mereka tidak berani meninggalkan tempat.