Iblis Sungai Telaga Jilid 45

 
Jilid 45

"Siapakah kau ?" Sedangkan sepasang matanya dipentang lebar.

"Hm !" Tok Mo tertawa dingin, parasnya menunjuki dia puas sekli. "Telah aku mengenali kaulah murid dari Gwan Sek Sie ! Si tua yang gundul itu dahulu hari pun mengalah tiga bagian terhadapku ! Orang dengan kepandaian semacam kau ini, bagaimana kau berani berlaku kurang ajar terhadap aku si orang tua ?"

Bu Sek bertambah gusar. Orang telah menghina gurunya. Dengan berani dia lompat menyerang, gelangnya dilontarkan !

Itulah ilmu silat tersohor dari kuil Gwan Sek Sie namanya Liong Houw Hong In - Badai Naga dan Harimau-.

Tok Mo tidak berani menyambut serangan itu, dia hanya berkelit ke sisi, baru dari itu dia menoleh dengan keras. Dia menjadi gusar, sebab berkelit baginya berarti yang dia telah didesak. "Oh, keledia gundul tak tahu selatan !" bentaknya. "Aku si tua tak dapat mengampuni kau ! Demi muridku yang dikutungkan dua belah tangannya itu, aku akan menangih hutang berikut bunganya !"

Menutup kata-kata sengitnya itu, Tok Mo mengeluarkan Giok Lauw Kio Ciauw, alat mautnya itu tetapi justru dia hendak menyerang, Kiauw In bersama Ya Bie sudah lompat menghadang di depannya. Dan nona Cio segera berkata, "Orang itu jahat sekali, dia suka menyebar bubuk beracun mencelakai orang ! Akulah yang mengutungkan lengan  kirinya, jika kau hendak membuat perhitungan, kau lakukanlah itu atas diri nonamu ini !"

Ya Bie pun berkata, "Lengan kanan dia itu akulah yang menyuruh So Han Cian Li membuntungkannya dan peristiwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan kedua pendeta ini !"

Sementara itu hatinya Bu Sek tak tenang. Kepandaiannya yang istimewa itu masih tidak dapat berbuat apa terhadap lawan yang lihai sekali ini. Terpaksa dia mundur.

Bu Siang menarik adik seperguruannya terus dia kata nyaring kepada Kiauw In, "Nona Cio, sampai jumpa pula !" Segera dia lompat bersama adiknya pergi melenyapkan diri ke dalam rimba.

Tok Mo mengawasi kedua nona, parasnya yang muram perlahan-lahan menjadi reda.

"Lek Hoat Jiu Long muridku ini." demikian tanyanya, "kenapa kalian jadi bertempur dengannya?" Berkata begitu dia menunjuk pemuda si rambut hijau yang rebah tak berkutik. Baru sekarang Kiauw In tahu bahwa orang yang disebut Lek Hoat Jiu Long dan menjadi muridnya To Mo, pantaslah dia jahat dan mudah menggunakan bubuk beracunnya. Karena ia tak dapat lantas menjawab, ia berdiam saja.

Melihat demikian, Ya Bie mendelik kepada Tok Mo terus dia tertawa dan kata, "Muridmu itu berbuat bagus sekali, pantas dia mendapat pembalasan setimpal ini !"

Wajahnya Tok Mo menjadi padam pula. Nona ini membuatnya gusar.

"Budak liar !" bentaknya. "Jangan kau kurang ajar ! Coba kau bilangi aku, apa yang muridku ini telah lakukan ? Kau bicaralah dengan terus terang, nanti aku si tua memutuskan siapa salah siapa benar ! Asal ada setengah patah saja dari kata-katamu yang dusta, aku si tua tak akan mengampunimu

!"

Ya Bie berlaku tenang, bahkan dia merapikan dulu rambutnya.

"Sebenarnya panjang buatku menutur," katanya seenaknya saja. "Apakah kau tak nanti sebal mendengarkannya ?"

Tok Mo menyimpan pula senjata rahasianya itu, dia bertindak maju dengan kepala diangkat.

"Kau bicaralah !" katanya. "Jangan kalian mencari alasan untuk kabur !"

Ya Bie suka bercerita, dan ia menuturkan perbuatannya Lek Hoat Jiu Long. Beginilah keterangannya itu : Hari itu ditanah berumput diluar Kho tiam cu, ia mengajak orang utannya menyingkir dari bajingan yang lainnya itu, lewat belasan lie barulah dia berhenti berlari-lari. Justru disitu ia bertemu dengan Lek Hoat Jiu Long yang kabur dari rumah penginapan. Jiu Long kabur seperti orang kurang sadar saking bingungnya, dia merasa seperti ada orang yang mengejarnya. Dia kena menubruk si orang utan, yang terus membantingnya roboh, setelah mana dia dijambak, dibawa ke depannya Ya Bie.

Sambil berbuat itu, si orang utan berPekik tak hentinya, Jiu Long kaget terus dia pingsan.

Ya Bie mengira Jiu Long itu adalah orang Kang Ouw, dia menyuruh orang utannya mengangkatnya bangun, lalu dia menolong menyadarkannya.

Tidak lama Jiu Long siuman. Dia heran mendapati dirinya di pangku seorang nona yang tubuhnya menyiarkan bau harum kewanitaan dan tampangnya cantik. Lupa pada keadaan dirinya, dia tertawa girang.

Ya Bie adalah seorang gadis, ia menjadi tak senang. "Ha, kau kenapakah ?" tegurnya sambil melemparkan

tubuh orang.

Jiu Long mengasih lihat tampang memohon. "Nona, kau penuhkanlah keinginanku !" katanya.

Ya Bie tak menghiraukan. Ia belum kenal kata0kata asmara.

"Eh, tahukah kau kakak Hiongku ?" tanyanya. "Kakak Hiongku itu adalah seorang muda yang biasa membawa-bawa pedang pada punggungnya." Jiu Long senang sekali. Dia merasa si nona polos dan mudah diakali. Dia mencekal tangan orang dan tertawa.

"Tio It Hiong ?" katanya. "Dialah sahabatku. Ada apa kau mencari dia ?"

Nona itu tertawa.

"Aku mau mencari kakak Hiong tetapi itu tidak ada hubungannya dengan kau !" sahutnya. "Karena kaulah sahabatnya, kau tentu tahu dimana adanya dia sekarang ! Maukah kau mengantarkan aku kepadanya ?"

Jiu Long tertawa, bukan main girangnya.

"Tak sukar hatiku mengajak kau pergi kepada kakak Hiongmu itu !" katanya. "Hanya sebelumnya kau harus menerima baik satu syaratku. "

"Apakah syar itu ?" tanya si nona cepat. "Kau sebutkanlah

!"

Jiu Long tertawa bergelak. dia menggerak-geraki kedua

belah tangannya, memperlihatkannya pria dan wanita tengah bersenang-senang berplesiran.

Si nona mementang matanya. Tak dapat ia menangkap artinya isyarat itu. Ia berdiri menjublak mengawasi.

Lek Hoat Jiu Long mengulangi gerak gerik tangannya itu. "Nona yang baik, kau telah mengerti bukan ?" tanyanya. Ya Bie menggeleng kepala. "Aku tidak mengerti." sahutnya. "Coba kau bicara biar jelas

!"

Makin senang hatinya Jiu Long. Ia mendapati si nona masih

hijau.

"Benar-benarkah kau tidak mengerti ?" dia menegaskan. Mendadak dia lompat maju dua tindak, matanya mengawasi dengan sinar menyala. Terus dia kata pula, perlahan, "Nona yang baik, kaulah nona yang telah dewasa, masihkah kau tak mengerti maksudku ? Ni, begini. " Ia memberi petaan pula

dengan kedua belah tangannya.

Ya Bie tetap mengawasi dengan mendelong, kepalanya digeleng-geleng. Kemudian dia tertawa dan kata, "Asal kau benar-benar dapat mengantarkan kau kepada kakak Hiongku, apa juga yang kau kehendaki aku perbuat, akan aku lakukan !'

Lek Hoat Jiu Long tidak kenal It Hiong, dia cuma mengoceh saja, tak tahu dia dimana si anak muda, tetapi dia cerdik luar biasa, dia licik mana untuk mewujudkan apa yang dia pikir, dia tak memilih jalan lain. Mengawasi kecantikan si nona saja, dia sudah mengiler.......

"Aku menjamin bahwa akan kau ajak kau mencari kakak Hiongmu itu !" kata dia sambil menepuk-nepuk dada. "Kau jangan kuatir nona !" Ia tertawa, terus ia menambahkan, "Nona asal kau suka memenuhi kehendakku, hingga tubuh kita dapat tergabung menjadi satu, apa juga perintahmu, akan aku turuti !"

Mendadak menutup kata-katanya itu, Jiu Long berlompat menubruk si nona ! Ya Bie tidak kaget karena terkaman itu. Sebenarnya dia tidak setolol seperti diperkirakan Jiu Long. Barusan dia berlagak saja yang ia tak mengerti gerak gerik orang. Ia mencintai It Hiong, itu artinya dia sudah kenal asmara. Karena ia menerka orang adalah satu bajingan paras elok, ia hendak mencoba hati orang. Demikian ketika ia diterkam itu dengan cepat ia berkelit terus ia menggunakan ilmunya, Hoan Kak Bie Ciu si orang utan ia jadikan penggantinya !

Waktu ia ditubruk si nona menjerit nyaring.

Jiu Long lantas merasa bahwa ia telah merangkul tubuh orang yang hangat, hingga ia bagaikan ditinggalkan rohnya saking puas hatinya. Dia mengawas muka orang. Si nona cantik. Tanpa dia ketahui, si nona sendiri sebenarnya sudah memisahkan diri. Segera ia lari ke dalam rimba sambil memondong tubuh orang. Dalam tempat yang sunyi itu, hendak dia melampiaskan nafsu binatangnya.

Ya Bie sementara itu mengintai gerak gerik orang. Dia mendongkol berbareng merasa lucu. Kemudian dia berduduk di atas sebuah batu besar, matanya mengawasi langit, pikirannya sperti melayang-layang. Di saat itu hatinya terasa kosong.......

Selang tak berapa lama terdengarlah suara Pekik berulang- ulang lalu tampak orang utan lari berlompat menghampiri nonanya. Di depan si nona, kembali dia memperdengarkan Pekikannya berulang-ulang, kedua kakinya atau tangannya digeraki demikian rupa, seperti juga dia melukiskan apa yang terjadi diantara dia dan Lek Hoat Jiu Long.

So Hun Cian Li sudah pandai benar dalam hal menghisap darah orang dan Lek Hoat Jiu LOng bukanlah lawannya, karena dia itu telah menjadi letih bukan main, semangatnya seperti meninggalkannya, si orang utan melepaskan diri dari rangkulannya tanpa dia ketahui.

Ya Bie mengawasi binatang piaraannya itu dan tak melihat si rambut hijau keluar bersama, tahulah dia apa yang telah terjadi pada orang itu. Ia menepuk-nepuk si orang utan dan bersenyum.

Lewat sekian lama barulah tampak Lek Hoat Jiu Long muncul dari dalam rimba, tindakannya perlahan, tubuhnya terhuyung, pakaiannya kusut. Kapan dia melihat si nona sedang duduk dibatu, dia tertawa dan berkata, "Nona tak dapat aku melupai cintamu terhadapku, aku telah tidur dan bermimpi baik sampai aku membuatmu menantikan lama disini, harap maafkan aku !" Dan dia memberi hormat. Dia menjura dalam !

Ya Bie tertawa atas lagak orang itu, dia meliriknya lalu berkata, "Kau telah menjanjikan aku mencari kakak Hiong. Sekarang hayolah kau antarkan aku ! Mari lekas !"

"Ya" sahut jiu Long. Dan lantas dia bertindak pergi. Demikianlah maka juga bertiga mereka berjalan bersama-

sama. Lewat tiga hari barulah mereka tiba di wilayah Gakyang

itu, di rimba luar kota, hingga mereka bersamplokan dengan Liong Houw Siang Ceng dan menjadi bertempur karenanya. Hingga si rambut hijau menerima bagian sebagai pembalasan kejahatannya sebegitu jauh.

Begitulah penuturannya Ya Bie, yang selalu bergembira, sampai tahu-tahu dia mendapati nona Cio Kiauw In membaliki belakang dan telinganya tampak merah. Tok Mo sebaliknya, dia lantas lari menghampiri muridnya buat memeriksa nadinya, habis mana dia katanya, "Ah ! Masih dapat ditolong, cuma mestilah aku menjadi berabe karenanya. " Terus dia

merogoh sakunya mengeluarkan sebutir obat putih, yang dia jejali ke dalam mulutnya si murid, setelah mana dia diam mengawasi guna menantikan reaksi dari obatnya itu.

Sesaat itu muka pucat pasi dari Jiu Long tetap tak berubah.

Maka juga Tok Mo kemudian menghembuskan hawa dari mulutnya ke mukanya si murid. Hawanya itu berupa seperti halimun. Hanya sebentar habis dihembuskannya hawa itu, tubuhnya Jiu Long bergeming. Dia siuman terus merintih dan membuka matanya.

Tok Mo meletakkan tubuh orang ditanah.

"Kau rebahlah !" katanya pada murid itu. "Aku hendak membereskan dua anak perempuan itu, buat mengambilnya sebagai murid." Ia berbangkit terus ia menghadapi Kiauw In dan Ya Bie ke depan siapa ia berlompat pesat.

Ketika itu Kiauw In berada berdekatan dengan Ya Bie sebab ia ingin minta keterangan lebih jauh tentang It Hiong, sebab nona itu selalu menyebut It Hiong sebagai "kakak Hiong" nya.

Ya Bie tidak kenal nona Cio, tak tahu dia ada hubungan apa diantara It Hiong dan nona itu, karena polosnya dia menjelaskan segala apa dengan terang.

Mendengar keterangannya itu, Kiauw In mengerutkan alisnya. Ia terharu buat nona polos itu, yang sendirinya tergila-gila terhadap It Hiong.

Sementara itu Nona Cio tidak mau lantas menyingkir dari hadapannya Tok Mo. Asal ia mau dapat ia berbuat begitu, tetapi ia memikir mencari keterangan hal orang tua ini, Bukankah dia pernah berhubungan rapat dengan Hoat Ciu Jiu Long dan telah melakukan penyerangan hebat pada pihak Siauw Lim Sie ? Ia pula tidak takut, ingin ia mencoba Khie bun Patkwa Kiam dan Ten In Ciong, ilmu ringan tubuh Tangga Mega buat menjajaki berapa lihainya si Bajingan itu.

Barulah si nona dan Ya Bie berhenti bicara dan menoleh, setelah mereka mendengar suaranya Tok Mo yang menghampirinya memperdengarkan suara nyaring. Kiauw In melirik Bajingan itu.

Berkatalah Tok Mo, "Kalian tak menggunakan ketika kalian buat lari pergi, benar-benar kalian bernyali besar. Kalianlah orang yang cocok yang aku cari, kalian berbakat dan pantas menjadi murid-muridku !"

Kiauw In tidak menjawab, hanya ia menghunus pedangnya dan memutar itu !

Ya Bie sebaliknya berkata, "Kalau kau hendak merampas murid orang, kau mesti pertunjuki dahulu kepandaianmu yang sebenar-benarnya !"

"Hm !" si Bajingan memperdengarkan suara dinginnya. "Sudah, jangan kita bicara saja dari hal-hal kosong belaka

!" katanya. "Nah, mari kita mulai bertempur !"

Kiauw In tidak menjawab, dia cuma mengangguk, terus dia maju menyerang. Serangan itu didahului dengan tangan kirinya diluncurkan lurus.

Kapan Tok Mo melihat caranya si nona menyerang, tak berani dia menangkis. Dengan kecepatan luar biasa, dia mundur satu tindak, terus dia menggeser kaki kirinya ke kiri. Dengan begitu, dengan berada disamping dia membalas menghajar lengan kanan si nona.

Dengan satu gerakan, "Pelangi Menggaris Langit" Kiauw In menangkis ke kanan. Dengan jalan ini, ia membikin si penyerang membatalkan serangannya itu, setelah itu dengan cepat dan lincah ia mengulangi serangannya.

Kembali Tok Mo menyingkirkan diri dari serangan hebat itu.

Ternyata dia sangat gesit. Setiap kali habis diserang, segera dia dapat membalas. Dengan demikian dia mengimbangi kecepatan si nona. Maka juga terliaht mereka berdua seimbang sekali.

Kedua pihak tidak bermusuhan tetapi karena sama-sama ingin merebut kemenangan pertempuran menjadi berjalan hebat. Sama-sama mereka mengeluarkan kepandaian masing- masing. Kiauw In tidak bermusuh dengan lawannya ini tetapi demi It Hiong, hendak menyingkirkannya, supaya dari siang- siang dapat disingkirkan salah satu ancaman bencana rimba persilatan. Tok Mo sebaliknya sangat ingin menaklukan si nona, supaya nona itu suka menjadi muridnya. Buat berhasilnya Bu Lim Cit Cun, ia memerlukan banyak pembantu dan kawan, dan nona itu, dengan menjadi muridnya, ia sanggup bakal menjadi bantuan tenaga yang besar sekali.

Maka juga, tak ingin ia melepaskan Kiauw In. Begitulah, ia terpaksa mengeluarkan kepandaian "Sam Hiauw Lok Piau Ciang".

Khie bun Patkwa Kiam sudah terkenal sejak puluhan tahun. Kiauw In telah mempelajari itu dengan sempurna, sekarang ia dibantu dengan keringan tubuh dari ilmu Tangga Mega. Ia jadi dapat bersilat dengan baik sekali. Dengan begitu, ia membuat Tok Mo sulit lekas-lekas merobohkannya. Sekian lama itu, mereka tetap berimbang saja, mereka sama tangguhnya. Ya Bie kagum dan heran menonton pertempuran yang hebat itu, yang ia belum pernah saksikan. Dialah nona yang baru mulai memunculkan diri di dalam dunia Kang Ouw. Dia pun merasa tegang sendirinya.

Sedang pertempuran berlalu itu, sekonyong-konyong terdengar satu bentakan keras, tampak tubuhnya Tok Mo mencelat tinggi satu tombak leibh, lalu dari atas dengan mengibasi tangan bajunya, tubuhnya itu turun kebawah sambil menyerang lawannya, yang diarah batok kepalanya !

Inilah akibatnya Tok Mo heran dan penasaran, sebab tak sudi dia kena dikalahkan si nona. Maka ia mengeluarkan salah satu jurus silatnya itu, "Hian Thian Pek Te" "Mengangkat Langit Membelah Bumi".

Kiauw In mendapat dengar seruan orang dan melihat tubuhnya orang itu mencelat naik, ia dapat menerka maksudnya musuh, maka juga ia tetap tenang dan waspada dan bersiap sedia. Kapan ia telah melihat tegas gerakan lawan itu, ia tidak mau mundut atau berkelit ke samping, ia justru menikam ke atas, menyambut serangan hebat itu. Itulah jurus "Sebatang Tiang Menyangga Langit". Dan itulah pula berarti keras lawan keras.

Tok Mo terkejut sekali. Belum lagi tangannya mengenai sasarannya, tangannya itu sudah merasai nyerinya hawa pedang, maka itu dia kelabakan hendak menarik pula tangannya itu. Tapi dasar jagi, dia tidak gugup. Dia menjejakkan kakinya yang satu dengan kaki yang lain, tenaga dalamnya dikerahkan. Dengan begitu, tubuhnya Bisa membalik naik terapung pula. Menyusul itu, dia terus bergerak ke samping, hingga dia dapat turun di tanah tanpa kurang suatu apa-apa. "Hebat !" pikirnya. Dia malu sendirinya, parasnya menjadi suaram.

Kiauw In tidak melanjuti menyerang, ia justru menarik pulang pedangnya. Sambil bersenyum manis, ia menghadapi lawan itu.

"Terima kasih locianpwe, kau telah mengalah padaku." katanya.

"Hm !" Tok Mo memperdengarkan suara dinginnya. Nyata dia penasaran. "Tangan kosong melawan pedang, kalah sejurus tak berarti apa-apa. Bagaimana kalau aku si orang tua hendak mencoba-coba menggunakan ilmu pedangku Thian Tan Kiam Hoat, guna melayani ilmu pedang kesohor dari Pay In Nia ? Bersediakah kau melayani aku beberapa jurus ?"

Kiauw In bersikap tawar ketika ia memberikan jawaban, "Jika locianpwe hendak main-main pula, aku minta biarlah kau menggariskan beberapa aturan atau syarat !"

Tok Mo melengak.

"Eh, budak bau, ada apakah akal muslihatmu ?" tanyanya heran. "Kau hendak menggariskan apa lagi ? Coba jelaskan, buat aku dengar."

Nona Cio melirik.

"Kita mengadu pedang, caranya jalan apa yang dinamakan sampai batas saling towel, cukuplah sudah !" sahutnya. "Atau apakah locianpwe menghendaki ada bahaya jiwa ?"

Masih Tok Mo heran, hingga dia berdiam sejenak. "Terserah pada kau !" ia bilang akhirnya. Kiauw In mengangguk.

"Baiklah kita tetapkan begini" katanya. "Siapa menang, dia hidup ! Siapa kalah, dia mati ! Diantara kita tidak ada lagi berbelas kasihan !"

Tok Mo tertawa terkekeh.

"Baiklah !" sahutnya. "Aku si tua tak takut padamu !"

Kiauw In bukannya jumawa, kalau toh ia menyebut caranya itu, inilah sebab keinginannya menyingkirkan Tok Mo yang ia percaya adalah seorang yang mengancam keselamatan dunia rimba persilatan.

Tok Mo pun telah mengambil keputusannya. Kiauw In dari pihak lurus, tak nanti dia berlaku curang. Sifat lawan itu membuatnya berkesan baik. Tapi ia mau menjadi jago, pasti ia hendak mengambil orang menjadi muridnya, karenanya, karena gagal dia membujuk, terpaksa hendak ia merampas jiwa orang....

Tepat disaat kedua orang itu mau mengadu jiwa, mendadak Ya Bie menyela.

"Tahan !" teriaknya, suaranya nyaring bagaikan kelenengan.

Kiauw In dan Tok Mo batal bergerak, sama-sama mereka mengawasi si nona. "Cara kalian kurang tepat !" berkata Ya Bie. "Umpama kata, ada bagiannya yang bocor !"

Tok Mo menjadi tidak puas.

"Budak bau !" bentaknya, "apakah yang kau maksudkan itu

?"

Ya Bie mencibirkan mulutnya. Dia kocak sekali. "Barusan ada dikatakan siapa menang dia hidup, siapa

kalah dia mati !" katanya. "Itulah kurang jelas ! Bagaimana kalau salah satu pihak gagal tetapi dia tak sampai dilukai ? Apakah dengan begitu si kalah nanti lantas membunuh dirinya sendiri ?"

Tok Mo melengak, lantas ia menatap Kiauw In. "Budak bau, kau bilanglah !" katanya.

Seenaknya saja Tok Mo suka mengucap "budak bau" nya !

"Siapa kalah jurusnya, dia kalah jiwanya !" sahut Kiauw In tanpa berpikir pula.

"Bagus !" berseru Tok Mo yang lantas menghunus pedangnya bersiap buat maju.

"Tenang, locianpwe !" Ya Bie berseru pula. "Locianpwe, aku belum bicara habis ! Buat apa tergesa-gesa tak karuan ?"

"Hmm !" Tok Mo lagi-lagi memperdengarkan suara dinginnya mengejek. Terpaksa dia menunda menggerakkan pedangnya. Kata dia sengit, "Eh budak liar, apa lagi tingkah polahmu ? Jangan kau membuat aku si tua habis sabar, nanti aku akan lebih dulu membekukmu !"

Kiauw In sebaliknya tertawa, ia menganggap nona itu jenaka.

"Adik yang baik, aku ingin omong apa lagi ?" tanyanya manis. "Lekas kau bicara !"

Ya Bie membuka matanya lebar-lebar, ia menatap si bajingan.

"Aku tanya kau !" katanya tenang. "Bagaimana andiakata kalian sama tangguhnya, tak ada yang kalah, seri saja ?"

Tok Mo berdiam, Kiauw In pun nampak melongo tetapi ia dapat menerka maksud yang sebenarnya dari Ya Bie ini. Nona itu hendak memancing bangkitnya kemendongkolan atau kemarahannya si Bajingan yang bertabiat keras dan rada jumawa itu. Maka itu iapun lantas menggunakan akalnya.

"Kau benar adik !" katanya tertawa. Terus dia menoleh kepada lawannya, untuk berkata, "Di dalam hal ini aku minta sukalah locianpwe yang memberikan kepastian !"

Tok Mo menunjuk tampang tak sabaran, tetapi ia mesti membawa sikapnya secara jantan, maka dia tertawa lebar.

"Baiklah aku mengalah, budak bau, agar kaulah yang membuat keputusan !" katanya. "Tak ingin aku orang nanti tertawakan dan mengatakan aku si tua menghina dan menindih si muda !"

Kiauw In lantas tunduk, untuk berpikir. Diam-diam ia saling melirik dengan Ya Bie. Lewat sesaat ia kata, "Ah, aku juga tak dapat memikir cara yang baik. " Tetapi lekas ia mengangkat

kepalanya untuk berkata kepada Ya Bie, "Adik yang baik, kau menyadarkan kami, kau tentu mempunyai jalan pemecahannya ! Adik, cobalah kau yang bicara !"

Ya Bie menoleh kepada Tok Mo.

"Kalau aku yang bicara, kau suka turut kata-kataku atau tidak ?" dia tanya.

"Bicaralah !" jawab Tok Mo tak sabaran, tangannya pun diulapkan, "Lekas bicara !"

Nona itu maju satu tindak. Dengan jari tangannya yang lancip, dia menunjuk pada si Bajingan.

"Aku lihat ilmu pedang kalian sama-sama ilmu pedang kenamaan," demikian katanya, "maka itu menurut pandanganku, pastilah sudah kalian bakal seri, tak ada yang menang, tak ada yang kalah! Cumalah kau, locianpwe, sebab kau menang latihan, kau jadi menang diatas angin, jika kalian bertempur lama, dengan menghamburkan banyak waktu, akhirnya kakak ini yang tentu bakal kalah ! Nah, apa katamu, benar atau tidak perkataanku ini ?"

Hebat nona dari Cenglo Ciang ini. Tok Mo mengangguk.

"Benar benar !" sahutnya. "Lekas bilang, bagaimana caramu ?"

"Dalam pertempuran mengadu pedang ini, orang harus berlaku adil." kata pula Ya Bie. "Mengenai ini, aku mempunyai dua cara. " "Lekas bilang, apakah itu !" desak Tok Mo.

"Yang pertama ialah," menjelaskan si nona, "kalau harus bertempur dalam batas lima puluh jurus, kalau kalian sama tangguhnya maka kaulah yang kalah, locianpwe dan karena itu kau harus loloskan semua senjata rahasia beracun yang berada di dalam tubuhmu terpaksa menggoyang ekor ngeloyor pergi."

Mendadak saja Ya Bie menghentikan kata-katanya, terus dia mengawasi tajam si Bajingan guna mendengar suara orang.

Tok Mo menggeleng-geleng kepala.

"Kau bicara guna pihak sana, itulah tak dapat !" bilangnya. Ya Bie tertawa.

"Tapi cobalah kau pikir !" katanya. "Kau seorang tingkat tua bertempur dengan seorang tingkat muda, tetapi si tingkat tua tidak mau mengalah barang sedikit jua, kalau orang mendengar, apakah si tua tak kuatir dia nanti ditertawakan ? Laginya kau bukannya diminta untuk sudi mengalah atau memberi muka sesudahnya satu pertempuran sungguh- sungguh ! Andiakata kau merasa tidak unggulan, sudah saja baik pertempuran ini dibatalkan !"

Tok Mo mesti berpikir keras. Tak dia menyangka Ya Bie tengah mengocoknya. Dia lalu menimbang-nimbang, mustahil di dalam waktu dua atau tiga puluh jurus tak dapat dia mengalahkan nona itu. Bukankah ilmu pedangnya Thian Tan Kiam Hoat, "Lari ke Langit" lihai luar biasa ! Diakhirnya dia mengangguk dan kata, "Baiklah, aku terima caramu ini ! Nah, bagaimana yang kedua itu ?"

Ya Bie tertawa.

"Yang kedua itu" katanya, "kalau kakak ini kalah, dia akan menjadi muridmu. Sebaliknya, apabila kaulah yang kalah, kau harus menguntungkan sebelah tanganmu dan buat selama- lamanya kau mesti keluar dari dunia Kang Ouw !"

Tok Mo berpikir keras. Ia heran nona semuda itu tetapi pikirannya demikian bagus dan pandangannya demikian jauh. Ia pula merasa si nona lihai sekali, caranya yang diajukan itu sangat hebat....

Tengah orang berpikir itu, Ya Bie sudah berkata pula, "Orang ada demikian termashur di dalam dunia Kang Ouw, tetapi heran, di dalam urusan sekecil ini dia membawa sikapnya yang beragu-ragu seperti caranya nenek saja. !"

Parasnya Tok Mo berubah pucat dan merah. Tapi tak dapat dia bergusar.

"Oh, budak liar yang licin !" katanya memaksa diri tertawa. "Budak, aku si orang tua telah kena kau jual."

Mendengar suara orang itu, Kiauw In sengaja memasuki pedangnya ke dalam sarungnya terus ia kata pada Ya Bie, "Adik, mari kita pergi ! Berbicara dengan orang semacam ini hanya membuang waktu ! Sungguh tak menggembirakan !" Dan terus ia memutar tubuhnya buat berjalan pergi.......

"Tahan !" teriak si Bajingan agak bingung. "Kiranya kalian berdua pandai sekali menggunakan lidah kalian ! Dengan cara kalian yang licik ini, kalian mau cari alasan buat kabur pergi !" Kiauw In menoleh.

"Siapa yang mau kabur ?" bentaknya. "Hunuslah senjatamu

!"

Berkata begitu si nona sendiri sudah menghunus pula

pedangnya.

Wajah To Mo menjadi padam.

"Dua dua syaratmu itu aku si tua menerimanya !" katanya sengit. "Hanya pada itu, pada yang pertama harus ditambahkan sepatah kata ! Ialah kalau sudah lima puluh jurus kita masih saja seri, itu harus ditambah menjadi seratus jurus sampai ada keputusan siapa menang siapa kalah !"

Dengan kata-kata ini, Tok Mo bermaksud mengandalkan usianya lebih tua atau latihannya terlebih lama. Ia memiliki latihan beberapa puluh tahun dan ia percaya lama-lama si nona akan kalah ulet.

"Baik !" Kiauw In berseru selekasnya orang baru menutup mulutnya. "Jangan kau menyesal nanti !"

Dan si nona dengan membawa pedangnya ke dadanya segera menikam langsung.

Tok Mo terperanjat. Tak ia sangka si nona begitu bicara begitu menyerang. Dengan agak repot, dia menggerakkan pedangnya menangkis tikaman itu.

Nona Cio berlaku cerdik. Tikamannya itu gertakan belaka.

Baru menikam setengah jalan, ia sudah merubahnya. Ia menunda setengah jalan, untuk terus menikam dari sisi dan begitu lekas jago tua itu menangkis pedang, kembali ia memutar gerakannya akan melanjutkan merabu !

Di dalam sekejap, Tok Mo lantas kena terkurung sinar pedang. Dengan ilmu pedang Khie bun Patkwa Kiam, Kiauw In mendesak secara berantai. Ia seperti tak hendak memberi kesempatankepada lawannya itu. Selagi pedangnya bergerak bagaikan kilat berkeredepan tubuhnya mengikutinya bergerak dengan lincah sekali.

Tok Mo sudah lantas kena terkurung selama dua puluh jurus, dia dipaksa menjadi si pembela diri saja. Pernah dia mencoba memperbaiki dirinya, dia tidak berhasil. Di dalam hati dia kaget. Maka dia mencoba terus agar dia bisa merubah keadaannya yang berbahaya itu. Sebegitu jauh dia dapat menjaga diri, tetapi lama-lama ?

Lima jurus lagi telah lewat, si Bajingan tetap terkurung sinar pedang.

"Tiga puluh jurus !" Ya Bie berseru di luar kalangan pertempuran. Dia menonton tetapi dengan sendirinya dia mengangkat diri menjadi wasit dan selama menonton itu dia menghitung jurus demi jurus sampai kepada jurus yang ketiga puluh itu !

Seruan si nona mendatangkan kesan lain di dalam hatinya kedua orang yang lagi mengadu kepandaian itu. Yang satu girang, yang lain berkuatir. Dan yang berkuatir adalah si Bajingan, Celaka kalau dia yang kalah !

Kiauw In bertempur dengan mencampuri Khie bun Patkwa Kiam dengan ilmu silatnya Pat Pie Sin Kit, ilmu Hung Liong Hok Houw Ciang. Selagi menikam ia suka menceling itu dengan pukulan tangan kosongnya. Tak ada kesempatan yang ia lewatkan secara percuma.

Tok Mo tetap menggunakan hanya Tan Kiam serta Sam Hauw Liok Piau Ciang yang lihai, kalau tidak, tidak nanti dia sanggup bertahan sekian lama itu walapun dia sudah sangat terdesak. Keuletan dan ketabahannya membuatnya berhati mantap seterusnya dia berlaku sangat waspada, awas dan gesit.

Tiba-tiba Kiauw In menikam lawan sambil ia membarengi menghajar bahu lawannya itu. Ia mencari jalan darah thian coan si lawan.

Tok Mo merasai sambaran angin pada bahunya itu, bahu kanan. Lekas-lekas dia berkelit tetapi dia sedikit terlambat, maka kagetlah dia tatkala dia merasai nyeri pada bahunya itu. Tangannya si nona menowelnya seperti juga tangan itu serupa senjata tajam. Dasar dia lihai dan telah berpengalaman, selagi dia terserang itu, mendadak dia melayangkan sebelah kakinya

! Ia membalas pukulan tangan dengan tendangan !

Kiauw In pun kaget. Inilah diluar dugaannya. Celakalah, ia pun sedang tanggung, mengegos tubuh sukar, menangkis sulit. Syukur ia tabah, ia tak putus asa. Ia sudah lantas menyerang, menebas iga lawan !

Inilah siasat terluka atau terbinasa bersama !

"Hm !" Tok Mo memperdengarkan suaranya sambil dia berlompat mundur, menyingkir dari tebasan itu. Dia mundur sejauh tiga tindak. Asal dia lambat, pasti tajamnya pedang menyapanya ! Walaupun demikian, dua-duanya sama-sama mengeluarkan peluh dingin. Itulah sebabnya si nona insyaf yang barusan ia telah menghadapi ancaman maut.

Kiauw In baru mundur atau sinar pedang berkelebat ke arahnya. Itulah serangannya Tok Mo, yang begitu mundur begitu maju pula guna melakukan penyerangan, sebab dia hendak merebut kedudukan, supaya selanjutnya dialah yang menggantikan merabu lawan, untuk didesak dan dirobohkan.

Kiauw In menginsyafi bahaya. Ia pun tahu, tak dapat lawan diberi ketika mendesak kepadanya. Maka itu bertentangan dengan cara biasanya, ia bukannya berkelit dari tusukan maut itu, ia justru menangkis ! Hingga ia melawan kuat dengan kuat

!

"Traaang !" begitu satu suara nyaring dari bentroknya kedua pedang !

Sebagai kesudahan dari beradunya kedua senjata, Kiauw In tertolak mundur tiga tindak, lalu dengan susah payah ia menahan tubuhnya untuk berdiri tetap.

Di pihak Tok Mo pun mundur, hanya cuma satu tindak, tetapi berbareng dengan itu dia merasai lengannya tergetar nyeri, hingga dia ketahui bahwa tenaganya si nona besar sekali.

"Tak kusangka budak ini bertenaga begini besar." kataya di dalam hati. Terus dia tertawa dingin dan kata, "Bagus ilmu pedangmu ! Bagaimana, beranikah kau menyambut pula satu jurusku?" Dan tanpa menanti jawaban lagi, dia maju menyerang ! Dia membacok ! Tak berani Kiauw In mengadu tenaga pula. Tadi pun ia melakukannya saking terpaksa. Kalau ia paksa melawan dengan keras, bisa-bisa ia terluka di dalam hati. Maka itu gunanya ia menangkis. Ia justru berkelit ke samping, untuk dari samping itu membalas dengan satu tebasan !

Tok Mo mengerti yang orang tidak mau mengadu tenaga dengannya, ia pun lekas memutar tubuh, tetapi ia bukannya berkelit, hanya ia menangkis tebasan itu. Ia menggunakan tenaganya sebab ia pikir, tangkisannya pun sama hebatnya seperti bacokannya.

Kiauw In berlaku sangat cerdik. Niatnya ia menebas tetapi selekasnya ia melihat lawan dapat bersiap menangkisnya, tebasan itu dijadikan gertakan belaka. Dengan cepat ia menarik pulang, lalu dengan sama cepatnya ia menikam !

Itulah jurus "Anak Panah mencari Sasarannya".

Tok Mo terkejut, tengah ia menangkis tak dapat ia menggunakan pedangnya itu menangkis pula. Terpaksa ia berlompat berkelit dengan cepat sekali, hingga ia bebas dari ancaman maut !

"Hebat" pikirnya. Maka insyaflah ia akan lihainya ilmu pedang dari Pay In Nia.

Tentu sekali jago tua ini tidak mau mengalah. Mengalah berarti ia bakal kehilangan muka. Maka ia menggerakkan pula pelbagai jurus dari Thian Tan Kiam, ilmu pedangnya itu guna melayani si nona, buat mencari ketika akan memiliki keadaan agar ialah yang memegang pimpinan. "Sudah empat puluh jurus !" Ya Bie berseru pula sambil dia tertawa nyaring. "Tinggal lagi sepuluh jurus ! Hendak aku lihat bagaimana lihainya Thian Tan Kiam mu itu !"

Kalau Thian Tan Kiam digunakan oleh si Bajingan dari empat puluh tahun yang lampau, tak nanti Kiauw In dapat bertahan lama, tetapi kali ini Tok Mo adalah si Bajingan palsu. Maka juga, setelah kewalahan itu, dia lantas berkelahi dengan terus mengandal kekuatan tenaganya. Dia terus-terusan berlaku keras !

Kiauw In sebaliknya mengandalkan keringanan tubuhnya, maka itu di sini terlihat kekerasan melayani kelunakan.

Namanya mereka ini pin bu, mengadu kekuatan untuk memastikan siapa menang, siapa kalah, kenyataannya sebaliknya. Mereka ini mengadu kekuatan benar-benar bukan menang atau kalah mati !

Terus-terusan kedua pedang berkelebatan dan sinarnya berkilauan, dengan begitu lewat sudah lima puluh jurus, tetapi sebab syaratnya si Bajingan, pertandingan dilanjuti tanpa beristirahat lagi. Tok Mo toh meminta seratus jurus dan seterusnya sampai ada keputusan siapa menang dan siapa kalah. Dan Tok Mo pun terus menggunakan kekuatan tenaga lahirnya, dia melotot dengan bernoat membuat si nona akhirnya kehabisan tenaga dan letih karenanya...............

Lama-lama Ya Bie menjadi habis sabar, ia menganggap Tok Mo tidak memegang janji, dari menggoda saja, ia menjadi gusar. Tak lagi ia mengeluarkan kata-kata bergurau atau mengejek, mendadak ia menghunus pedangnya dan lompat menikam ! Tapi kemarahan si nona justru mendatangkan keuntungan bagi Tok Mo. Dia gusar dan mendongkol dan penasaran, tetapi dasar jago ulung, dia pun pandai berfikir. Ada saatnya yang dia bisa berlaku sabar dan menggunakan otaknya yang jernih. Diam-diam dia telah memancing pihak lawan, terhitung nona diluar medan pertempuran itu.

Selekasnya Ya Bie menyerang, Tok Mo berlompat mundur sejauh dua tindak.

"Hai !" teriaknya, "hai, mengapa kau campur tangan ? Apakah kau hendak melanggar aturan pertempuran ini ?"

Ya Bie melotot.

"Siapakah yang tak memegang aturan ?" balasnya. "Lima puluh jurus sudah lewat. Kalian tetap sama tangguhnya !

Apakah kau hendak menyangkal itu ?" Tok Mo tertawa dingin.

"Budak bau, kau melupakan syarat tambahanku !" katanya. "Toh telah aku jelaskan, habis lima puluh jurus harus ditambah lagi lima puluh jurus pula, sampai ada yang menang dan kalah !"

Kiauw In pun mendongkol.

"Adik yang baik !" ia menyela. "Untuk melayani orang tak mempunyai kepercayaan ini, tak ada lain jalan daripada menguat rasa padanya supaya dia tahu diri !" Ia terus mengawasi lawannya untuk kata : "Kau menghendaki sampai saatnya menang atau kalah ! Apakah kau sangka nonamu takut ?" Dalam mendongkolnya nona Cio segera menikam dengan jurus pedang "Cun Lui Keng Ciu" atau "Guntur Musim Semi Mengagetkan Kutu Serangga". Pedangnya itu menikam dada untuk diteruskan menggores perut !

Tok Mo melihat datangnya serangan, dia menangkis dengan keras, membuat pedang si nona terpental balik, dilain pihak tangan kirinya merogoh ke sakunya, mengeluarkan "Giok Lauw Kip Ciauw", senjata rahasianya yang beracun hebat itu untuk dipakai menyerang pada saatnya sebentar.

Kiauw In mengulangi serangannya. Ya Bie tidak, ia hanya berdiri menonton hingga ia menyukai hebatnya pertempuran, jauh terlebih hebat daripada yang semula tadi.

Ketika itu disaat tengah hari, kedua pedang bersiuran menyilaukan mata, anginnya juga mender hebat.

Ya Bie mengajak orang utannya mundur karena kuati kena pedang nyasar.

Sekonyong-konyong terdengar teriak nyaring merdu, "Kena

!" Dan sinar pedang meluncur mirip bianglala ! Itulah  serangan hebat dari Kiauw In yang melihat satu kesempatan ! Itulah jurus silat "Memisahkan Kupu-kupu Menikam Ikan" yang mengarah dada."

Kembali Tok Mo kaget. Inilah serangan di luar terkaannya. Sia-sia belaka dia mencoba menghindarkan diri, ujung pedang telah mengenakan juga bahunya hingga kulitnya pecah dan darahnya mengucur keluar ! Luka itu tidak berbahaya tetapi dia toh berdarah-darah. Kiauw In tidak puas dengan hasilnya itu, ia meneruskan menikam lebih jauh. Ia ingin menyingkirkan kutu busuk ini yang berbahaya buat dunia rimba persilatan.

Tok Mo gusar dan penasaran, ia menjadi nekat hingga ia bersedia buat mati bersama. Demikian satu kali habis menangkis pedangnya si nona, pedangnya diputar buat dipakai meneruskan membalas menusuk lawan itu !

Ya Bie melihat ancaman bahaya bagi Kiauw In itu. Ia kaget hingga tanpa terasa ia berseru.

Kiauw In berlompat mundur, tak urung bajunya kena telopak ujung pedang yang menggores sedikit kulitnya. Selekasnya ia dapat berdiri tetap, ingin ia bicara kepada lawannya itu atau Tok Mo yang tak menghiraukan luka dibahunya sendiri sudah berlompat menyusul guna mengulangi serangannya.

Kali ini dia sekalian mengayun tangan kirinya melemparkan bubuk beracunnya hingga semacam uap tertiup angin terbang ke arah nona Cio, bubuk itu yang berwarna merah tua, dapat meluas tiga tombak disekitarnya.

Tak ampun lagi Kiauw In kena menyedot bubuk jahat itu. Ia kaget dan ketahui yang ia telah terkena racun. Ia masih ingat akan obatnya It Hiong tetapi di saat dia hendak merogoh sakunya buat mengeluarkan obat itu kepalanya sudah mendahului pusing dan matanya kegelapan, tidak waktu lagi tubuhnya terhuyung dan roboh tak sadarkan pula !

Tok Mo bersiul nyaring, pertanda dari kepuasan hatinya. Selekasnya dia menyimpan obatnya, dia berjongkok akan memondong tubuhnya nona Cio, kemudian dengan tangannya yang lain dia menjemput tubuhnya Lek Hoat Jiu Long, akan akhirnya membuka tindakan kaki lebar buat berlompat masuk ke dalam rimba dimana ia mau melenyapkan diri.

Ya Bie kaget sekali ketika dia melihat asap luar biasa itu, lantas Kiauw In lenyap dari pandangan matanya. Ia pun bingung sebab ia tidak berani menyerbu uap itu. Meski begitu selang sesaat ia sempat melihat Tok Mo keluar dari alingan uap dan berlari pergi dengan tangan kanan dan kirinya memondong tubuh orang.

"Tua bangka beracun, kemana kau hendak lari ?" ia membentak sambil terus berlompat menyusul.

Si orang utan dengan berpekik beberapa kali lari menyusul nonanya itu.

Tok Mo menggunakan ilmu ringan tubuhnya yang lihai buat menyingkir dari si nona. Dia tidak takut tetap dia segani ilmu gaib si nona, ilmu Hoan Kak Bie Ciu itu, maka juga ia pikir mengangkat kaki adalah terlebih baik buat ianya. Ia lari turun bukit, ia tidak mengambil jalan besar hanya menuju ke arah rimba di bagian gunung sebelah barat daya.

Kedua pihak berlari-lari dengan keras sekali, yang satu kabur yang lain mengejar tetapi lama-lama Ya Bie kena ditinggal di belakang sejauh tiga puluh tombak. Hebat ilmu lari cepat dari si Bajingan.

Saking kuatirnya Bajingan itu lenyap, Ya Bie kepada si orang utan sambil menitahkan "Lekas susul !"

Binatang itu sangat cerdas, dia membuka matanya, dia memekik beberapa kali, lantas dia lari keras buat menyusul Tok Mo. Dia telah dilatih oleh Kip Hiat Hong Mo, dia pun bisa menaiki pohon dan gunung, dia ulet dan larinya keras. Tok Mo licik dan cerdik, dia tidak hanya lari di jalan pegunungan, tetapi dengan ilmu ringan tubuh "Ciauw Siang Hai, Terbang di Atas Rumput", dia lari berlompatan diantara rumput semak dan pepohonan kecil. Ketika itu dia sudah sampai ditengah puncak dan menoleh ke belakang, tampak olehnya Ya Bie terpisah jauh tujuh atau delapan puluh tombak dari ianya. Hal ia membuat pikirannya tenang. Lantas dia menikung ke suatu jalan kecil untuk berdiam disitu, guna meluruskan nafasnya. Ia pun masih memikirkan bagaimana caranya supaya Ya Bie letih hingga tidak berdaya, dengan begitu barulah dia merasa puas. Maka adalah tidak disangka- sangka tahu-tahu dia telah disusul si orang utan, tetapi binatang itu sangat cerdik. Si orang utan tidak segera muncul di depan orang yang disusulnya itu, hanya menyembunyikan diri di tempat lebat kira dua tombak terpisahnya. Diam-diam dia memasang mata.

Tok Mo beristirahat sambil terus mengawasi Ya Bie, yang ia hendak ajar adat. Sengaja ia menantikan sekian lama.

Pikirnya, setelah Ya Bie datang dekat baru dia mau lari pula. Kalau Ya Bie mengejar terus, nona itu bakal letih luar biasa, tenaganya akan habis sebab dia tak pernah beristirahat sama sekali. Ia melihat Ya Bie ketinggalan masih jauh, ia meletakkan tubuhnya orang yang ia bawa lari itu. Dengan jailnya, ia perdengarkan tawa dinginnya beberapa kali, supaya Ya Bie dapat mendengar dan menyusulnya ke situ.

Tepat Tok Mo sedang kegirangan itu sebab dia menerka Ya Bie bakal dapat dipermainkan, mendadak dia menjadi kaget sekali. Dari belakangnya orang telah menikam padanya, walaupun dia lihai, dia toh tidak mendapat tahu sampai orang telah menyekek belakang lehernya sampai dia sukar bernafas dan peluhnya lantas saja mengucur keluar ! Dalam kagetnya dan sukar bernafas itu, Tok Mo toh masih ingat buat membebaskan diri, maka dengan tangan kanannya dia menghajar ke belakang atau mendadak dia merasa jalan darah thian-cut dikerongkongannya kena tercekek keras, tubuhnya terus bergemetar dan menggigil, terus tubuhnya roboh tak sadarkan diri !

Si orang utan tak berhenti sampai disitu. Setelah berhasil dengan membokong dan merobohkan si Bajingan, dia pun maju, guna menjambret dada orang, untuk ditinju dengan keras, menyusul mana, dia merobek baju orang. Saking girang dan puas, dia terus berPekik nyaring berulang kali.

Selagi tertawa itu, si orang utan mendapat lihat tubuhnya Kiauw In yang rebah tak berkutik ditanah. Lantas dia lari menghampiri, dia angkat tubuh itu lalu dia bawa lari ke arah di jurusan mana Ya Bie tengah lari mendatangi. Rupanya dia hendak memapaki nonanya itu.

Ketika Ya Bie lari mendekati binatang piaraannya kira sepuluh tombak lagi, ia melihat binatangnya itu telah berhasil merampas Kiauw In. Dia girang sekali. Apa yang membuatnya kuatir yaitu masih belum dapat diketahui bagaimana dengan nona Cio, jiwanya telah melayang atau tidak.....

Hanya sesaat kemudian, orang utan dan nonanya sudah datang dekat satu dengan lain.

Ya Bie girang, dia memberi isyarat kepada So Hua Cian Li, atas mana si orang utan menyerahkan nona yang dia berhasil merampas dari Tok Mo itu. Ia berPekik-Pekik pula dan berjingkrakan, girangnya bukan buatan.

Ya Bie lantas menerima tubuh si nona Cio. Lega hatinya apabila mendapati nona itu tidak terluka, kecuali dia tetap tak sadarkan diri. Setelah itu ia bingung juga sebab tak tahu ia caranya untuk membuat Kiauw In siuman. Ia tidak mempunyai obat buat menyadarkan orang dari gangguan bubuk beracun. Maka itu selagi memondong si nona, ia berdiam saja, mengawasinya itu. Ia berduka hingga sepasang alisnya berkerenyit.

Sementara itu kira semakanan nasi lamanya, Tok Mo telah sadar sendiri dari pingsannya itu. Itulah karena tanpa tercekek lagi, nafasnya perlahan-lahan mulai berjalan pula dan ia lekas pulih. Nyeri pada kerongkongannya itu pun lenyap seketika.

Setelah siuman dan ingat segala apa, lantas ia mendapati orang tawanannya Kiauw In telah lenyap. Ia terkejut dan mendongkol. Ia panas hati kapan ia ingat yang orang telah membokongnya dan orang tawanannya itu dirampas.

"Aku mesti bekuk binatang jahat itu !" katanya sengit. "Akan aku besut kulitnya !"

Tiba-tiba jago tua ini mendapat dengar suara Pekikan orang utan, lantas ia lari ke sebelah depan, untuk melihat. Maka ia mau dapatkan di kaki puncak, si orang utan lagi berlompatan dan Ya Bie tengah memondong Kiauw In orang tawanannya itu.

"Bagus !" katanya dalam hati. Ia girang yang orang tak pergi menghilang. Maka ia berlompat turun, guna lari kepada nona itu.

Ya Bie bingung tetapi dia tak kelelap dalam kebingungan, maka juga ia mendapat lihat ketika Tok Mo tengah lari mendatangi ke arahnya ! Ia tahu yang ia tidak dapat melawan si Bajingan. Syukur ia tidak menjadi putus asa. Tiba-tiba ia ingat satu akal. Dengan ilmunya, ia membuat sebuah batu didekatnya berubah menjadi Kiauw In. Ia sendiri lantas kabur bersama nona yang masih pingsan itu, sedangkan binatangnya lari menyusul. Ia lari mendakii bukit.

Tok Mo lari turun terus. Beberapa kali ia teraling pepohonan, maka ia tidak dapat melihat Ya Bie menghilang. Waktu ia sudah sampai di tempat Ya Bie tadi, nona itu dan orang utannya tidak ada, ada juga Kiauw In yang lagi rebah tak bergerak. Hatinya lega juga sedikit. Lekas-lekas ia menjemput Kiauw In untuk dipondong pula.

"Kau budak" katanya seorang diri, "Sekarang baru kau tahu lihainya aku si orang tua ! Kau cerdas, kau kabur dengan meninggalkan kawanmu ini tetapi berhati-hatilah, kau akan aku tak lepaskan kamu berdua !"

Selagi berkata begitu di depannya si Bajingan berkelebat dua bayangan orang mendaki bukut, waktu ia mengawasi, ia mengenali Ya Bie dan orang utannya. Tiba-tiba ia tertawa dingin, menandakan hatinya mendongkol puas. Mendongkol sebab orang kabur dan puas karena ia melihat orang sedang lari itu.

Baru saja si Bajingan mau lari menyusul atau ia merasa heran sebab tubuhnya Kiauw In terasa dingin dan bentuknya pun rasanya lain. Ia tunduk akan melihat atau ia kaget dan tercengang. Itu bukannya Kiauw In, hanya sebuah batu besar

!

"Ah, aku diperdayakan !" seraya menyesal, ia lemparkan batu itu ke bawah bukit.

Menyesal dan gusar Tok Mo masih dapat mengendalikan diri. Ia pungut Lek Hoat Jiu Long untuk dipondong buat dibawa lari ke arah mana Ya Bie menyingkir. Ia hendak menyusul nona itu, maka ia mesti menahan sabar.

Sayang bagi Ya Bie dalam ilmu ringan tubuh, dia kalah jauh dari Tok Mo. Ia pun memondong Kiauw In, hingga larinya bertambah kendor. Tapi ia cerdik, selekasnya ia mendapat tahu dan masuk masuk ke dalam rimba lebat.

Rimba itu, ditengah-tengahnya ada sebuah kali kecil, yang lebarnya sepuluh tombak lebih. Ketika Ya Bie tiba ditepi kali, ia sudah bermandikan keringat dan nafasnya memburu. Ia melihat air kali bersih sekali.

Si orang utan dapat mengikuti nonanya, di sisi si nona, berulang kali ia memperdengarkan suaranya, tangannya menunjuk ke belakang !

Ya Bie tahu ia diberi bisikan bahwa ada orang mengejarnya. Ketika itu ia mendapati matahari sudah turun jauh ke barat. Sudah mendekati magrib. Ia bingung juga.

Bagaimana ia harus menyingkir lebih jauh. Kiauw In terus tak sadar. Itulah berabe dan berbahaya buat nona itu. Ia tidak tahu tubuhnya si nona ada obat yang mujarab.

Di sana Tok Mo lari mendatangi semakin dekat. So Hun Cian Li kembali berbunyi tak hentinya dan tangannya terus menunjuk ke arah Tok Mo.