Iblis Sungai Telaga Jilid 44

 
Jilid 44

Tanpa beristirahat lagi, muda mudi itu berjalan terus. Di situ mereka tak menemui orang, tak juga tukang kayu. Jadi tidak ada orang yang keterangannya dapat diminta. Maka mereka berjalan terus sampai di pinggang gunung dimana ada jurang yang memutuskan jalan.

"Kakak." kata si anak muda. "Kita salah jalan. Kita bisa kecemplung !"

Teng bergembira, selagi si anak muda masgul. Dia tertawa. "Kalau jalanan sudah buntu, mari kita singgah disini !"

katanya. "Kita duduk dahulu, baru kita melanjuti perjalanan kita. Aku merasa sedikit letih. " Dia pun mendahuui duduk

numprah di atas sebuah batu besar !

Cukat Tan berdiri diam, matanya mengawasi ke jurang. Tak tampak jalanan. di depannya uap atau sisa halimun menutupi segala apa. Di atas puncak pun tampak asap atau mega hitam.

"Lihat, ada orang lagi mendatangi !" begitu si anak muda mendengar suaranya si nona, selagi ia terus masih mengasi mengawasi ke depan, guna mencari jalanan. Ia lantas menoleh. Maka ia dapat melihat orang itu, yang ditunjuk Teng Hiang.

Orang itu seorang wanita tua, badannya kuning, rambutnya terlepas, tangan kanannya mencekal tongkat, sedang tangan kirinya mengempit seseorang. Dia dapat berjalan dengan cepat. Hanya sebentar, dia sudah sampai di depannya Teng Hiang.

Cukat Tan lekas-lekas menghampiri.

Teng Hiang sudah lantas menghadapi wanita tua itu. "Numpang tanya, nenek." katanya. "Dimanakah pernahnya

Lu Sian Giam ?"

Wanita tua itu tidak berhenti berjalan, cuma melirik satu kali kepada nona yang menyapanya, dia jalan terus.

Cukat Tan menerka orang ada orang rimba persilatan, dia menyusul cepat hingga dia lantas berdiri berendeng dengan Teng Hiang, hingga mereka sama-sama seperti menghadang si nenek tua.

"Hm !" si nenek memperdengarkan suara dingin, lalu tongkatnya diangkat, agaknya dia hendak menggunakan kekerasan, tetapi ketika dia telah mengawasi Cukat Tan, dia tersengsem kegantengan anak muda itu. Dia membatalkan menggerakkan tongkatnya, dia terus berdiri tegak, matanya mengawasi tajam pada Cukat Tan !

"Mohon tanya, locianpwe." berkata Cukat Tan sambil memberi hormat. "Tahukah locianpwe jalan mana yang harus diambil buat pergi ke Lu Sian Giam ?" Nenek itu mengawasi orang dengan mata meram melek, lalu mendadak dia mementang lebar matanya itu, sinarnya sinar dari kegusaran.

"Bocah !" katanya. "Kau mencari Lu Sian Giam, buat apakah ?"

Cukat Tan terkejut, juga Teng Hiang. Matanya si nenek sangat bengis. Telah mereka menemui banyak orang tapi belum pernah melihat sinar mata seperti sinar matanya si nenek ini.

"Kami mau pergi ke Lu Sian Giam buat satu urusan." Teng Hiang mewakilkan kawannya menjawab, sebab si anak muda tak dapat segera memberikan jawabannya.

Sinar mata bengis si nenek dipindahkan kepada si nona. "Hm !" dia memperdengarkan suara dinginnya, "Budak bau,

siapa bicara denganmu ?"

Cukat Tan menjadi tidak puas. Nenek itu kasar sekali. Tapi dia masih menahan sabar.

"Ada umum dalam kalangan Kang Ouw, kalau orang tidak kenal satu sama lain suka saling bertanya." bilangnya. "Demikian dengan kami. Buat apa locianpwe bergusar ?"

Parasnya nenek itu berubah. Dia tak sebengis semula. Tapi dia tertawa dengan suaranya yang tak sedap.

"Kau benar juga, bocah !" katanya.

"Hanya kenapakah kau melintang di depanku ?" "Itu. " sahut Cukat Tan yang tergugu. Sebagai orang

jujur, tahu ia yang bersalah sebab tidak karu-karuan mereka datang dengan menentang di tengah jalan. Dia pun lekas- lekas bertindak ke pinggir. Begitu juga kawannya.

Nenek itu lantas saja berjalan melewati muda mudi itu, sesudah beberapa tindak ia berpaling kepada mereka itu.

"Jika kalian mau pergi ke Lu Sian Giam, mari ikuti aku !" katanya.

Justru orang lewat disisinya Teng Hiang, justru dapat melihat mukanya orang yang dikempit si nenek. Kebetulan saja ada angin menghembus membuat tutup saputangan hijau di muka orang itu tersingkap.

Dan ia melihat wajahnya It Hiong. "Eh !" serunya tertahan.

Si nenek mendengar suara si nona, dia menghentikan jalannya, dia memutar tubuh. "Kau berseru apa ?" tegurnya.

Teng Hiang sudah lantas berbisik dengan Cukat Tan, lalu keduanya lari menyusul si nenek. "Siapakah itu yang kau kempit nenek ?" si pemuda tanya.

Nenek itu melihat ke muka orang kempitannya itu, maka ia melihat tutup muka orang tersingkap. Untuk sejenak dia melengak.

"Kalian kenalkah orang ini ?" tanyanya pada si muda mudi. Cukat Tan dan Teng Hiang saling mengawasi, mau mereka membuka mulut tetapi dua-duanya batal. Si nona bersangsi sebab ia mau menyangka pada Gak Hong Kun.

Sekarang ia ingat hal maksudnya berjalan bersama Hong Kun yaitu guna meminta bantuannya Kip Hiat Hong Mo, guna ia berdaya membalaskan sakit hati gurunya. Sekarang keadaan telah berubah disebabkan pacarnya ialah Cukat Tan dan pihaknya Cukat Tan pihak lurus, pihak yang bertentangan dengan golongannya kaum sesat.

Cukat Tan lain pikirannya. Dia dari pihak lurus dan diapun sangat menghargai Tio It Hiong. Ia tahu It Hiong ada yang palsu tetapi kepalsuannya itu sangat sukar dibedakannya buat itu orang memerlukan waktu dan ketelitian. Demikian kali ini. It Hiong ini yang tulen atau yang palsu ? Karenanya hendak ia mencari tahu. Pertanyaan si nenek membuatnya Bingung.

Maka ia jadi berdiri diam saja.

"Kamu berani tak menjawab pertanyaanku ?" tanya si nenek bengis. Dia rupanya menjadi panas hati. Segera dia mengancam dengan senjatanya sebatang tongkat.

Dua-dua Cukat Tan dan Teng Hiang terperanjat. Anginnya tongkat membuat mereka sadar. Sendirinya mereka sama- sama mundur satu tindak. Tapi si pemuda menjadi tidak senang. Orang sangat galak. Maka ia menghunus pedangnya. "Siapakah itu yang kau kempit ?" ia tanya keras, alisnya terbangun. Teng Hiang juga menghunus pedangnya. "Lekas turunkan dan tinggalkan orang itu !" katanya nyaring. "Hm !"

Si wanita tua tertawa berulang kali.

"Kamu berdua mempunyai nyali, kamu berniat menantang aku !" katanya. "Kalian benar gagah! Jika kalian dapat melayani aku sebanyak lima jurus, akan aku serahkan orang ini kepada kamu!"

Berkata begitu si nenek menancapkan tongkatnya ke tanah untuk dia menurunkan tubuh yang dikempit itu dan diletaki di tanah. Habis itu dia menggerakkan kedua tangannya buat terus membentak, "Nah, kalian majulah berbareng !"

Cukat Tan ingin lekas-lekas mendapat kepastian orang yang pingsan itu Tio It Hiong tulen atau si palsu, dia mengedipi mata pada Teng Hiang, setelah mana dia putar pedangnya terus dia mulai menyerang wanita tua itu. Dia menggunakan jurus "Badai Menggulung Salju" dari "Soat Hoa Kiam hoat", ilmu silat pedang "Bunga Salju".

Teng Hiang menyambut isyarat dari pacarnya itu, dia pun maju menyerang. Dia menggunakan jurus "Guntur Mengagetkan De Dasar Kering".

Si nenek melihat tibanya pedang yang cahayanya berkilau. Dia mengangkat kedua tangannya untuk menyampok, maka terpentallah kedua buah pedang itu !

Dua-dua Cukat Tan dan Teng Hiang heran. Aneh ilmu silatnya si nenek. Nenek itu pun bertangan kosong.

"Tahan !" nenek itu berseru selagi muda mudi itu mau maju pula. "Hm !"

"Perempuan tua, kau mengaku kalahkah ?" tanya Teng Hiang.

Nenek itu tertawa. "Kalian baru bergerak satu kali, tahu sudah aku asal usulnya ilmu pedang kalian !" katanya. Dia terus mengawasi muda mudi itu, dia sampai mengemplang. Kemudian seperti juga dia mengoceh seorang diri, dia berkata pula, "Perguruan kalian berdua berdiri di tempat yang bertentangan, diantara si lurus dan si sesat. Tetapi kenapa kalian berdua berjalan bersama-sama dan kalian pun mau pergi ke Lu Sian Giam ?"

"Jangan banyak omong tak perlunya !" bentak Cukat Tan. "Lihat pedangku !"

Dan anak muda ini menikam dada orang.

Si nenek tidak menangkis atau menyampok seperti tadi, dia hanya berkelit dengan lincah sembari dia berkata, "Ilmu silat Soat Hoa Kiam Hoat dari kau baru mencapai tujuh atau delapan bagiannya !"

Cukat Tan melengak, dia mundur tiga tindak. Aneh, si nenek yang dapat menerka dengan tepat.

Teng Hiang penasaran, dia tertawa.

"Nah, bagaimana dengan asal usul ilmu pedangnya nonamu ini ?" tanyanya. Lantas dia menyerang pula mencari iganya si nenek. Dan dia menyerang terus menerus dengan tiga jurus yang berlainan, cepatnya bukan buatan.

Nenek itu tidak mengangkat kedua kakinya, tak pula dia geser, tetapi dengan kaki nancap itu dia berkelit berulang- ulang, tubuhnya bergerak ke kiri dan kanan menyingkir dari tiap tikaman. Itulah jurus "Angin Menggoyang Bunga Gelaga", semua tiga tikaman hebat tidak ada yang mengenakan sasarannya. "Hai budak bau !" bentaknya. "Masih kau tidak mau menghentikan tanganmu ! Hatimu telengas ya, tetapi ilmu silatnya Thian Ciu si tua bangka, baru kau dapati tujuh bagian

!"

Mendengar keterangan itu Teng Hiang pun melongo.

Selama itu sang matahari pagi sudah muncul dan cahayanya telah membuyarkan halimun maka juga sekarang di depan mereka melintang diantara kedua tepi jurang, tampak sebuah jembatan batu berupa seperti panglari. Hanya sebagian yang lain masih tertutup uap hitam.

Justru jembatan itu tampak, justru tampak juga mendatanginya seorang dari ujung yang lain itu. Dialah seorang nikouw tua yang jubahnya gerombongan. Hebat jalannya si biarawati, sebentar saja sampai sudah dia di depannya ketiga orang itu. Terus dia mengawasi ketiganya untuk kemudian menghadapi si nenek buat memberi hormat sambil menyapa, "Sudah tiga puluh tahun kita tidak bertemu sicu, adakah kau baik-baik saja ?"

Kapan si nyonya tua melihat nikouw itu dia heran sampai dia melengak tetapi hanya sejenak. Dia sadar seperti biasa lagi. Lantas dia berkata, "Oh, Hay Thian Lo yia. Sungguh beruntung kita dapat berjumpa pula !"

Ketika itu pun Cukat Tan bersama Teng Hiang sudah lantas lekas-lekas menyimpan pedang mereka masing-masing dan Cukat Tan segera menghampiri si pendeta wanita buat memberi hormat sambil berlutut.

Hay Thian Sin Ni, pendeta wanita tua itu menggerakkan tangan kirinya, maka bangun berdirilah si anak muda. "Anak Tan, sebentar kita bicara di Lu Sian Giam !" katanya tertawa.

Cukat Tan menyahuti "Ya", ia terus berdiri tegak. Mulanya hendak ia memperkenalkan Teng Hiang pada nikouw itu atau Teng Hiang sudah mendahului merangkapkan kedua tangannya memberi hormat pada biarawati itu.

Ketika itu, si nenek telah memperdengarkan tawa dingin, tawanya keras, suaranya menikam telinga. Sengaja di depannya Hay Thian Sin Ni, hendak dia mempertontonkan ilmunya "Sun Im Cit Sat Kang" Hawa dingin.

Cukat Tan dan Teng Hiang kaget, lekas-lekas mereka menenangkan hati mereka.

Berhenti tertawa, si wanita tua berkata dingin, "Tak kusangka yang Thian Ciu siluman tua telah mengajari seorang murid yang telah berontak mendurhaka terhadap perguruannya ! Sungguh memalukan !"

Teng Hiang baru bertenang hati, ketika dia mendengar almarhum gurunya dicaci wanita tua itu, tak ampun lagi ia menghunus pedangnya.

"Orang setua ini masih banyak menggunakan mulutnya melukai orang !" bentaknya. Lantas dia berlompat maju berniat menyerang si nenek.

"Nona kecil, tahan !" berseru Hay Thian Sin Ni.

Teng Hiang mendengar kata, dia tak maju lebih jauh hanya berlompat mundur untuk terus berdiri disisinya Cukat Tan. Si nenek mengawasi tajam pada si pendeta wanita, matanya bercahaya bengis. Setelah itu ia kata keras, "Nikouw tua, kitalah musuh-musuh sampai kita mati, maka itu kalau kau mempunyai nyali besar, lain tahun di malam tanggal lima belas, beranikah kau pergi ke puncak gunung In Bu San untuk di sana kita mencari keputusan siapa lebih tinggi, siapa lebih rendah ?"

Hay Thian Sin Ni memperlihatkan wajah tak puas. "Mana dapat pinni hadir di dalam sidang Bu Lim Cit Cun

kalian ?" kanyanya sabar. "Walaupun demikian, seperti kau janjikan akan pinni datang ke sana untuk pinni nanti belajar kenal dengan ilmu Sun Im Cit Sat Kang dari Im Ciu It Mo !"

Wanita tua itu kembali memperdengarkan suaranya yang serak itu, dia menyambut tongkatnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya dia mengangkat mengempit pula si anak muda yang pingsan itu, terus dia berjalan pergi menyeberang di jembatan, hingga dia lenyap di lain tepi itu.

Dia memangnya Im Ciu It Mi, si Bajingan Tunggal Bertangan Kejam dan orang yang dikempitnya Gak Hong Kun, si Hiong palsu.

"Mari kita pergi !" mengajak Hay Thian Sin Ni setelah Im Ciu It Mo pergi sekian lama.

Cukat Tan dan Teng Hiang mengangguk, terus mereka mengikuti nikouw itu.

Lu Sian Giam berada di pinggangnya bukit Hek Sek San.

Itulah sebuah gua diantara dinding batu-batu gunung. Gua itu tersembunyi. Di depan dan di sekitarnya pun terdapat banyak batu bermacam-macam bentuknya. Luasnya gua kira sepuluh tombak persegi.

Nama Lu Sian Giam atau Karang Dewa Lu didapat dari adanya sebuah batu besar yang muncul sendirian saja yang berbentuk manusia, tampangnya mirip seorang rahib agama To ialah dewa Lu Tong.

Di langit-langit gua pada sekitanya terdapat stalaktit yang putih mengkilat, maka juga diwaktu udara gelap dan sedangnya hujan angin ribut, warna putih mengkilat itu berupa seperti ratusan pelita !

Maka itulah dia keanehannya sang gunung.

Tadinya Lu Sian Giam menjadi tempat berpariwisata, ramai disaat indah dari kedua musim semi dan gugur. Banyak pria dan wanita yang berpesiar ke situ, tapi semenjak munculnya Im Ciu It Mo, Hek Sek San lantas juga menjadi tempat yang ditakuti. Jangan kata datang, mendengar saja orang sudah jeri.

Ada sebabnya kenapa Hay Thian Sin Ni muncul dari tempat menyepinya. Itulah karena kematian menyedihkan dari Teng In Tojin, ketua dari Ngo Bie Pay, sebab dia sendiri berasal dari partai itu. Dia merantau guna mencari seorang jahat, sampai dia mencurigai si Bajingan Tunggal itu. Demikian dia menyelidiki dan lalu menguntit sampai Hek Sek San dimana dia hidup bersendiri di Lu Sian Giam.

Tiba di dalam gua, Hay Thian Sin Ni lantas menceritakan pada Cukat Tan perihal munculnya Im Ciu It Mo bahwa itulah pertanda dari ancaman bencana dunia rimba persilatan, terutama kaum lurus. Kemudian ia tanya si anak muda, bagaimana dengan penyelidikannya anak muda itu telah berhasil memperoleh endusan atau tidak.

Cukat Tan malu sendirinya.

"Menyesal tecu tak berguna." sahut pemuda itu yang membahasakan dirinya tecu-murid-. "Sampai sebegitu jauh tecu belum pernah memperoleh hasil apa juga kecuali mendengar kabar tentang munculnya pula Tok Mo bahwa halnya empat Tianglo dari Kam Ih dari Siauw Lim Sie serta ketua dari Bu Tong dan Kun Lun Pay telah terbinasa secara menyedihkan. Di dalam hal itu, tecu mencurigai Tok Mo..."

"Mengenai kematiannya para Tianglo dan ketua itu rasanya tak mungkin itulah perbuatannya Tok Mo." Sin Ni mengutarakan dugaannya. "Aku percaya Tok Mo tidak mempunyai semacam kepandaian. Di dalam golongan sesat cuma Im Ciu It Mo yang sanggup melakukan itu." 

"Beberapa hari yang lalu," Teng Hiang turut bicara, "tecu beramai telah bertemu dengan Tok Mo diluar dusun Kho Tiam cu. Kami belum sampai bertempur tetapi Tok Mo mengatakan bahwa kami bertiga telah terkena racun jahatnya. Dia memaksa kami menjadi muridnya kalau kami masih mau hidup. Melihat sekarang ini, kami masih tak kurang suatu apa, mungkin dia cuma menggertak kami. Kami dapat membantu Siauw Wan Goat. Tok Mo tak dapat berbuat apa-apa atas diri kami. Dia sangat kesohor, mungkin  itu  cuma  kosong belaka. "

"Di dalam hal itu, mungkin ada terjadi sesuatu yang belum jelas." berkata Hay Thian Sin Ni. "Tok Mo memang kesohor kejam tetapi dia tetap seorang angkatan tua, tak nanti dia mendustai kalian." Berkata begitu dengan tangan kanannya, nikouw itu mengambil sebuah peles dari tembok dinding. Dia mengambil obat pulung yang dia terus berikan kepada kedua muda mudi itu.

Cukat Tan berdua tak tahu obat itu obat apa tetapi mereka terus saja makan habis.

"Pada empat puluh tahun dahulu." Hay Thian Sin Ni bercerita lebih jauh. "Ketika Tok Mo mulai mengganas, racunnya dia buat dari pelbagai macam racun yang dia cari dan kumpulkan dari seluruh negara. Racunnya itu tidak ada obat yang dapat memunahkannya. Kemudian, lewat dua tahun, barulah ketua dari kuil Bie Lek Sie di gunung Kiu Kiong San berhasil membuat pil yang dapat mengalahkan itu. Obat itu diberi nama Wan Ie Jie."

"Aku sendiri menyakinkan soal obat racun pada dua puluh tahun kemudian, dan inilah obatnya, yang syukur dapat menandingi obat dari Bie Lek Sie itu."

Baru sekarang Cukat Tan berdua ketahui yang mereka telah makan kay tok wan, pil pemunah racun.

Teng Hiang sangat bersyukur, dia berlutut di depan si nikouw memberi hormat sambil menghaturkan terima kasihnya. Ia kata tak tahu ia bagaimana nanti ia membalas budi itu.

Sin Ni menerima baik hormat itu, kemudian dia mengawasi Cukat Tan untuk bertanya, "Anak Tan, gurumu telah menutup mata. Maka itu kau, apakah kau masih ingat aturan dari Ngo Bie Pay?"

Anak muda itu buru-buru bertekuk lutut. Dia takut sekali. "Tecu bersalah, locianpwe." katanya. "Silahkan locianpwe mewakilkan guruku menjatuhkan hukuman atas diriku. "

Teng Hiang yang masih berlutut melirik si anak muda yang berada disisinya, maka ia melihat si anak muda mengucurkan air mata dengan dahinya penuh peluh dan tubuhnya bergetar. Hal itu membuatnya malu sendiri dan juga berkasihan terhadap anak muda itu. Dengan memberanikan hati, ia berbisik pada kekasihnya, "Jodoh kita bersatu disebabkan perbuatanku, karena itu, kau sampai melanggar aturan adik, tetapi tidak apa, Teng  Hiang  bersedia  mati menggantikanmu "

Ketika itu, Hay Thian Sie Ni duduk tak berkutik dan tak bersuara juga.

Cukat Tan berdiam terus, juga Teng Hiang. Maka gua menjadi sunyi sekali.

Lewat sekian lama, terdengarlah nikouw menghela nafas panjang, terus wajahnya yang keras menjadi lunak. Setelah itu terdengar suaranya yang terang dan tegas, "Sakit hati guru hendak dibalaskan, cinta kasih tak merubahnya ! Nah, kalian dapatkah melakukan itu ?"

Kedua muda mudi itu saling memandang, lantas Cukat Tan memberikan jawabannya, "Sanggup locianpwe ! Meski tubuhku hancur lebur pasti akan aku mencari balas buat almarhum suhu !"

"Suhu" ialah guru, atau panggilan untuk guru. Dengan menahan rasa malunya, Teng Hiang turut memberikan janjinya. Kata dia, "Tecu suka berjanji sampai laut kering batu membusuk, hingga kepala putih !"

Hay Thian Sin Ni memandang tajam muda mudiitu, selang sekian lama baru dia mengangguk.

"Kalian bangun !" katanya perlahan. Di lain pihak, ia mengembalikan peles obatnya ke tempatnya. Setelah itu ia berkata pula, "Pinni memanggil kalian datang kemari ialah buat mengajari kalian ilmu silat Tay Lo Hian Kang serta Touw Liong Kiam Hoat sebab itulah yang akan membantu banyak pada kalian dalam usaha kalian mencari balas terhadap musuh gurumu, anak Tan."

Bukan main girangnya Cukat Tan dan Teng Hiang. Sudah mereka diberi ampun mereka pula hendak diwariskan ilmu istimewa Tay Lo Hian Kang ialah ilmu Langit-langit dan juga ilmu Touw Liong Kiam Hoat ilmu pedang Membunuh Naga. Maka lekas-lekas mereka mengucap terima kasih sambil mengagguk-angguk.

"Barusan kalian sudah menjalankan kehormatan, tak usah lagi." mencegah si nikouw.

Lagi sekali keduanya mengucap terima kasih, terus mereka berbangkit. Di saat Cukat Tan hendak menanya, guru itu mau menitahkan apa, tiba-tiba si nikouw memberi isyarat buat mereka berdiam. Mereka menurut tetapi mereka heran.

Hay Thian Sin Ni berdiam tetapi matanya mengawasi ke mulut gua, sesaat kemudian dengan seluruh suara "Toan Im Jip Nit" ia menanya, "Sahabat baik dari mana telah berkunjung ke gua Lu Sian Giam ini ?" Pertanyaan itu diucapkan dengan tenang dan perlahan tetapi terdengarnya diluar terang dan tegas.

Cukat Tan dan Teng Hiang heran, mereka memasang telinga dan mata. Samar-samar mereka mendengar suara seperti berdebur-deburnya ujung baju atau lantas juga tampak tubuh orang memasuki gua. Mereka terkejut.

Lantas keduanya berlompat ke sisi masing-masing dan pedangnya segera dihunus. Dengan tajam mereka mengawasi.

Orang itu mengawasi tindakannya, dia mengawasi ketiga penghuni gua, sesudah mana barulah dia menghadapi Hay Thian Sin Ni, sembari memberi hormat dia berkata, "Dengan ini aku menyampaikan titah guruku supaya nikouw tua meninggalkan gua Lu Sian Giam ini sebelum matahari turun, agar dengan demikian kerukunan diantara kita menjadi tidak terganggu !"

Hay Thian Sin Ni bersenyum.

"Lie sicu, siapakah itu gurumu ?" ia tanya.

Pendatang itu ada seorang wanita muda. Dia menjawab bahwa gurunya ialah Im Ciu It Mo.

"Oh !" berseru Cukat Tan setelah dia melihat tegas si nona dan mendengar suaranya itu, tetapi belum lagi ia sempat berbicara Teng Hiang sudah mendahuluinya, sembari bertindak maju, nona ini menyapa nona itu, "Nona Cio Kiauw In ! Nona Cio Kiauw In !"

Memang nona itu Kiauw In adanya hanya terhadap suaranya Cukat Tan dan Teng Hiang ia bagaikan tak mendengar apa-apa, cuma mengawasi Teng Hiang untuk bertanya, "Kau siapakah ? Kenapa kau berkata-kata tidak karuan ? Kau memanggil siapakah ?"

Teng Hiang melengak saking herannya. Dia segera menatap. Tak salah, nona itu Nona Cio Kiauw In. Tetapi aneh, kenapa nona itu tidak mengenalinya ?

Apa yang tak biasanya pada Nona Cio ialah pada rambut ditepi telinganya ditancapkan setangkai bunga merah darah. Ia jadi berpikir keras. Tak nanti nona ini bukannya Nona Cio ! Hanya, kenapakah dia menjadi demikian berubah ?

Cukat Tan juga mengawasi dengan tajam. Ia heran seperti Teng Hiang.

Tiba-tiba si nona, dengan sepasang alisnya terbangun menegur Hay Thian Sin Ni.

"Eh, nikouw tua bagaimana ? Kau menerima baik permintaan guruku ini atau tidak ?"

Hay Thian Sin Ni tidak menjawab, hanya dia tertawa.

Kemudian dengan ramah dia tanya, "Sicu, apakah she dan nama sicu ?"

Nona ini melengak. Agaknya dia berpikir keras, untuk mengingat-ingat.

"Aku bernama Poan..... Mo. " sahutnya akhirnya.

Sementara itu Cukat Tan lantas melihat bahwa si nona tak sadar wajar, maka ia menjadi bercuriga. Tiba-tiba ia memanggil nona itu keras-keras, "Cio Kiauw In ! Cio....

Kiauw....... In. !" Suara itu mendengung di dalam gua, kerasnya dapat memekakkan telinga. Si nona yang ditegur agak terkejut. Lewat sekian lama baru dia tampak tenang pula. Tapi hanya sejenak dia pun berubah pula. Wajahnya nampak keras, tanda dari kegusaran. Alisnya bangun berdiri, sambil menarik pedangnya dari bahunya dia berseru, "Budak bau ! Bagaimana kau berani berlaku kurang ajar terhadap nonamu ?" Terus dia menghunus pedangnya untuk diputar !

Menyaksikan demikian Cukat Tan bertambah heran. Lalau Teng Hiang melirik padanya dan berkata perlahan, "Dengan menggunakan pedang akan kita dapati bukti kenyataan dia bersilat dengan ilmu pedang Pay In Nia atau bukan. "

Cukat Tan mengerti, ia lantas menghunus pedangnya, lalu sembari tertawa ia kata pada Nona Cio, "Nona Cio hendak memberi pengajaran padaku, baiklah akan aku menerimanya dengan segala senang hati."

Walaupun si nona mengancam dengan pedangnya sudah siap sedia di depan dadanya, tetapi dia tidak maju menyerang, bahkan anehnya terhadap gerakan dan kata-katanya si anak muda ia seperti tak melihat dan tak mendengar. Sebaliknya dia cuma mengawasi tajam pada Hay Thian Sin Ni yang duduk bersila saja !

Sesudah mengawasi sekian lama, nona itu memperdengarkan suara tawa yang tidak tegas, lalu mendadak dia menghunus pedangnya dan menikam kepada si nikouw tua !

"Tahan !" teriak Cukat Tan yang maju menyampok pedang si nona. Ia memang selalu waspada. Ia lantas menggunakan jurus "Badai Menyapu Salju". Nona itu dapat mengelit pedangnya, setelah itu berbalik dia menyerang si pemuda. Dia menggunakan jurus "Anak Panah Mencari Sasarannya", ujung pedangnya menikam dada.

Hebat tikaman itu, Cukat Tan mesti mengelakkan diri dengan gerakan Tiat Poan Kio atau Jembatan Papan Besi, tubuhnya ditegakkan rata dari perut sampai ke kepala. Hampir dia tak lolos.

Sampai disitu maka Teng Hiang sudah lantas mengenali ilmu silat nona itu, benar ilmu silat Pay In Nia. Dia itu berarti si nona besar Nona Cio Kiauw In.

Habis berkelit itu, Cukat Tan terus menendang lengan si nona, supaya ia sempat berdiri pula. Tapi si nona lihai. Dia cuma mengegosi sedikit pedangnya lantas senjatanya itu dipakai pula menebas kaki orang !

Masih sempat Cukat Tan menarik pulang kakinya. Kembali ia menyerang, kali ini ia menebas punggung nona itu, yang menyebut dirinya Pan Mo, yaitu Setengah Bajingan.

Kali ini aneh si nona. Dia tidak menangkis, hanya dia berkelit mundur. Justru dia berlompat, Teng Hiang lantas mengenali cara berlompatannya itu, ialah ilmu ringan tubuh Te In Coam, atau Tangga Mega.

"Nona Cio Kiauw In !" Teng Hiang segera memanggil. "Nona, mana dapat kau mendustai aku !"

Mendengar suaranya Teng Hiang itu, si nona melengak sedikit, selekasnya dia sadar, lantas dia maju pula menyerang Cukat Tan, kali ini dia terus merangsak dan menyerang dengan gencar ! Sementara itu Cukat Tan yang sudah dapat menduga sebabnya kenapa si nona yang ia kenali benar Kiauw In adanya menjadi seperti orang tak beres ingatan itu. Mestinya dia terkena pengaruh obat atau ilmu gaib. Ketika diserang itu dia selalu berkelit.

Si nona menjadi tidak puas.

"Anak bau !" dampratannya. "Kenapa kau selalu berkelit ?

Kenapa kau tidak melayani sungguh-sungguh padaku ? Apakah kau takut ?"

Cukat Tan hendak menjawab si nona atau Hay Thian Sin Ni sudah mendahuluinya.

Nikouw itu kata pada si nona, "Sicu Poan Mo, kau telah menyampaikan pesan gurumu, sekarang silahkan kau pulang

!"

Kali ini si nona mendengar kata. Dia memasuki pedangnya ke dalam sarungnya.

"Nikouw tua, ingat baik-baik !" berkata dia. "Sebentar, sebelum matahari turun, kau mesti meninggalkan tempat ini ! Jangan kau membuat guruku gusar !"

Selekasnya suaranya berhenti tubuh si nona sudah mencelat mundur, keluar dari gua hingga dilain saat dia telah tak nampak lagi.

Cukat Tan lekas-lekas menyimpan pedangnya, terus ia berkata kepada gurunya yang baru itu, "Menurut penglihatan tecu, Nona Poan Mo barusan adalah Nona Cio Kiauw In, muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia, hanya heran, kenapa dia seperti orang tak sadarkan diri ? Locianpwe, kenapa locianpwe tidak mau menangkapnya buat mengobati dia ?"

"Aneh !" Teng Hiang turut bicara. "Nona Cio lihai luar biasa, kenapa dia kena orang tawan dan pengaruhkan begini rupa ?

Dia mengaku menjadi muridnya lain orang dan sudi diperintah-perintah. "

Hay Thian Sin Ni bersenyum.

"Dia sedang menjalankan karmanya." katanya. "Itulah soal gaib yang kalian tak mudah mengertinya. "

"Hanya locianpwe." kata Cukat Tan pula. "Sekarang ada jaman kacau, kaum sesat lagi beraksi, habis nona Cio kena dipengaruhkan, dia berada di pihak sesat. Itulah berbahaya. Itu pula dapat mencelakai si nona sendiri. "

"Kau benar, anak Tan." berkata Hay Thian Sin Ni. "Ada sebabnya kenapa aku tidak dapat turun tangan membantu nona itu. "

Cukat Tan dan Teng Hiang menjadi heran, tetapi sebab si nikouw tidak sudi memberikan keterangan lebih jauh terpaksa mereka tidak berani memaksa bertanya.

Hay Thian Sin Ni dapat membaca hatinya muda mudi itu, maka ia berkata, "Tak usah kalian menjadi heran. Akan aku jelaskan sedikit. Dari gerak geriknya, aku sudah ketahui dialah murid dari Pay In Nia. Ada baiknya sekarang dia mengikuti Im Ciu It Mo, supaya dia dapat mewariskan kepandaiannya si Bajingan Tunggal itu. Si Bajingan pandai dua macam ilmu lihai. Ialah ilmu Sun Im Dit Sat Kang itu serta ilmu tangan kosong Tauwlo Cia, Tangan Halus." Mendengar keterangan itu Cukat Tan dan Teng Hiang mengangguk.

Lewat sekian lama, Hay Thian Sin Ni mengambil peles obatnya dari dalam dinding, untuk disimpan di dalam sakunya, kemudia setelah mengangkat hudrim, kebutannya ia merapihkan pakaiannya.

"Kita jangan layani dia itu." katanya. "Mari kita pergi !" Cukat Tan berdua menurut, mereka mengikut pergi.

Sekarang kita melihat dahulu Cio Kiauw In.

Ketika itu hari Nona Cio berpisah dari It Hiong di kota Tang hong, ia langsung menuju ke Gakyang. Dan waktu ia tiba di kota itu, Teng Hiang bersama Gak Hong Kun sudah meninggalkannya dua hari di muka, tetapi ia sabar dan teliti. Ia membuat penyelidikan hingga ia mendapat keterangan di tempat persinggahannya bahwa dua orang itu sudah menuju ke Kho-tiam-cu, kemana ia segera menyusul.

Hari itu ditengah jalan, Kiauw In tiba di sebuah rimba yang lebat, yang rindang, yang hawanya adem, maka sekalian beristirahat, ia berhenti dan duduk dibawahnya sebuah pohonnya, diatasnya akar yang besar dan menonjol keluar.

Belum lama si nona beristirahat itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang yang nyaring sekali.

"Kita sudah berlari-lari setengah hari, kenapa kakak Tio It Hiong ku masih tak dapat dicari ?" demikian suara itu, suara wanita. "Kau tentulah bukan makhluk baik-baik, pastilah kau sedang menipu aku !" Lalu terdengar suara serak dari seorang pria, "Siapa itu Tio It Hiong, aku tidak tahu. Hanya sahabatku itu yang mengaku sendiri begitu. Saban kali dia ketemu orang, dia mengatakan dirinya Tio It Hiong, dan beberapa orang yang bertemu dengannya memanggil dia Tio It Hiong juga. Hanya aku. "

"Jangan kau mengoceh saja !" si wanita menyela. "Dimana adanya Tio It Hiong yang kau sebut itu ? Hayo kau ajak aku pergi padanya !"

Selama itu, kedua orang itu mendatangi semakin dekat. Hatinya Kiauw In tertarik sekali. Orang menyebut-nyebut It

Hiong. Ia duduk terus dibawah pohon itu, tetapi ia membawa lagak tak perhatian. Diam-diam saja ia memasang mata.

Ketika itu dari jalan dari mana ia datang, Kiauw In mendengar suara orang berbicara sambil tertawa-tawa. Lekas- lekas ia menoleh. Kiranya itulah dua orang hweshio, atau pendeta. Setengah tua, jubahnya serupa, jubah kuning dengan gelang emas ditangan kirinya masing-masing. Suara mereka itu keras. Dari kejauhan ia merasa wajah orang ia kenal.

Tak lama tibalah kedua orang suci itu. Mereka berjalan sambil terus bicara dan tertawa. Sama sekali mereka tak memperhatikan si nona yang duduk sendirian saja. Sebaliknya Kiauw In lantas mengenali para Liong Houw Siang Ceng si pendeta Naga dan Pendeta Harimau dari kuil Gwan Sek Sie dan Ngo Tay San.

Baru kedua pendeta itu lewat lima tombak lebih, dari jalan dalam rimba muncullah dua orang yang tadi terdengar dengan suara nyaring. Merekalah seorang wanita serta seorang pria yang rambutnya hijau, si wanita berusia tujuh atau delapan belas tahun, si pria setengah tua dan agaknya licik. Bersama mereka itu ada seekor orang utan besar.

Setelah mereka lihat pria dan wanita itu, Liong Houw Siang Ceng menghentikan tindakannya di tengah jalan dan mengawasi kedua orang itu.

Si nona cantik melihat dua orang suci itu seperti menghadang di tengah jalan, dia mengawasi, lalu dia terbangun, kemudian dengan senyuman manis, dia menyapa, "Kalian berdua pendeta, apakah hati kalian belum bersih dan otak kalian belum kosong ? Kenapa kalian mengawasi nonamu begini rupa ? Kenapa kalian juga menghadang di tengah jalan

?"

Bu Siang Hweshion tertawa dan kata, "Sicu adalah seorang wanita, sudi apalah sicu jangan bicara sembarangan saja !

Sebenarnya pinceng mau mohon bertanya, pria yang berjalan bersama sicu ini orang macam apakah ?"

Si nona tertawa.

"Bapak pendeta, mari nonamu memberikan keterangan sebenar-benarnya saja kepada kalian ?" sahutnya polos. "Dengan begitu maka tak usahlah kalian nanti menanya banyak-banyak." Dia berhenti sebentar, dia mengawasi kedua pendeta, baru dia berkata pula, "Bapak pendeta, aku sendiri adalah Ya Bie, muridnya Kip Hiat Hong Mo Tou Hwe Jie dari Cenglo ciang ! Dan itu." dia menunjuk kepada si orang utan, "dialah So Hian Cian Li."

Kedua pendeta terdiam mendengar disebutnya nama Tou Hwe Jie, mereka saling memandang, paras mereka menjadi tenang kembali. "Dan ini sahabat rambut hijau ?" Bu Siang menanya pula, karena si nona tidak segera melanjuti keterangan. "Dia pernah apakah dengan sicu ?"

Si nona menggeleng kepalanya.

"Aku tidak tahu namanya dia." sahutnya

"Dialah sahabat yang aku ketemukan di tengah jalan."

Sementara itu, Lek Hoat Jiu Long demikian si pria berambut hijau berdiam saja. Dia kenal kedua pendeta itu. Dia telah membinasakan pendeta dari Gwan Sek Sir, pasti itu orang tentu mencari dia guna menuntut balas. Sekarang dia bertemu dengan Liong Houw Siang Ceng sendiri, maka dia berlagak pilon. Di dalam hati dia mengharap orang tidak mengenalinya. Tapi, sudah dia mendengar suara si nona yang terakhir dia berpura tertawa dan kata pada nona itu, "Ah, nona Ya Bie gemar bergurau ! Bagaimana orang sendiri nona mengatakannya tak kenal ?"

Berkata begitu, dia mengedipi mata pada si nona.

Ya Bie seorang golongan sesat, tetapi dia polos, dia pula baru mulai muncul, dia tak mengenal terlalu banyak gerak gerik orang, bahkan melihat tingkahnya Lek Hoat Jiu Lok, dia menjadi sebal. Maka juga dia membuka lebar matanya, dengan tampang gusar dia kata pada pria itu, "Apa kau bilang

? Siapakah orang tuamu sendiri ?"

Liong Hauw Siang Ceng terus mengawasi dan mendengari, lantas timbul kecurigaannya. Terlihat tegas bahwa si wanita polos dan si pria licik. Maka mereka lantas mengawasi pula si pria. "Sahabat rambut hijau," berkata Bu Sek Hweshio kemudian, "kau ingat tegas, siapakah pinceng?"

Suara itu keras bagaikan guntur. Lek Hoat Jiu Long kaget sampai tubuhnya bergemetar. Dia mundur dua tindak untuk menenangkan hatinya yang bergoncang, untuk bersiap sedia, tangan kirinya mengeluarkan bie hun tok hun, tangan kanan mencabut sebatang pedang pendek.

"Keledia botak dari Gwan Sek Sie !" kemudian dia membentak. "Apakah kamu mau mencari mampusmu ? Tuan besar kamu ialah Lek Hoat Jiu Long !"

Mendengar nama itu, bukan main gusarnya kedua pendeta.

Jadi inilah musuh mereka ! Bagaikan kalap Bu Sek lantas berteriak berlompat maju dengan tinjunya !

Inilah saat yang ditunggu Lek Hoat Jiu Long yang licik. Dia tidak menangkis atau menghadang, waktu dia diserang itu dia lantas bergerak ke samping buat menyelamatkan diri dari ancaman tinju maut. Tapi dia bukan hanya berkelit, dia pun membuat pembalasan dengan caranya sendiri. Dia mengayun tangan kirinya, menyebarkan bubuk mautnya dan meluncurkan tangan kanannya, menikam dadanya si penyerang !

Bu Sek terkejut melihat gerakan lawan itu, apa pula selekasnya dia melihat asap merah tua itu. Dia mundur sambil lompat berjumpalitan ke belakang terus dia menahan nafas untuk segera mengerahkan tenaga dalamnya. Walaupun demikian dia kurang cepat, sebab penyerangan bubuk tepat sedangkan dia maju. Maka juga dia telah kena menyedot tak sedikit bubuk bius itu. Bau harum masuk ke dalam hidungnya, mendesak masuk ke otak, membuat kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang terus dia terhuyung-huyung dan roboh ke tanah !

Pedang pendek Lek Hoat Jiu Lon tidak berhasil seperti bubuknya itu, inilah sebab ketika dia menyerang Bu Sek, Bu Siang yang memasang mata melihat gerakannya itu dan pedangnya segera dihajar dengan gelang emasnya si pendeta hingga gelang itu terpental dan tangannya si penyerang kaku baal !

Bu Siang menguatirkan keselamatan saudara seperguruannya itu, maka juga habis menghajar pedang lawan dia lompat kepada Bu Sek untuk memondongnya bangun.

Lek Hoat Jiu Long gusar dan penasaran, justru Bu Siang lompat kepada Bu Sek, dia sendiri menerjang pendeta itu. Lagi-lagi dia menyebar bubuk beracunnya.

Tiba-tiba terdengarlah seruan yang nyaring halus lalu satu sinar berkilat berkelebat, menyusul itu Lek Hoat Jiu Long memperdengarkan jeritan yang menyayatkan hati sebab tangannya yang menyebar bubuknya terkutung tiba-tiba sebatas bahunya dan terjatuh ke tanah, tubuhnya pun turut roboh kebanting. Saking kesakitan, dia berkoresan ditanh.

Menyusul itu satu tubuh langsing berlompat ke depan beberapa orang itu. Kiranya dialah Nona Cio Kiauw In, yang membantu tepat pada Bu Siang Hweshio.

Ya Bie lantas mengawasi Nona Cio dan menegur, "Eh, eh, kenapa tidak karuan kau mengutungkan lengan orang ? Jika kau mau bertempur, nonamu bersedia melayani kau beberapa jurus !" Kiauw In mengawasi nona itu. Ia lantas berkesan baik.

Orang cantik dan polos.

"Adik kecil," katanya tanpa menghiraukan tantangan orang, "tahukah kau siapa orang yang berambut hijau ini dan benda apa yang dia sebarkan ?"

"Aku tidak tahu." sahut si polos.

"Inilah semacam bubuk beracun." Kiauw In kasih tahu. "Asal orang ada Kang Ouw jahat, maka dia menggunakan racun ini buat mencelakai orang."

Ya Bie heran, dia tertawa.

"Kakak," tanyanya ramah, "kenapa dengan sekali melihat saja kau ketahui itu ?"

Kiauw In berpaling kepada kedua pendeta.

"Lihat dua orang pendeta itu," katanya. "Mereka telah terkena racun ini !"

Ya Bie menoleh, maka ia melihat kecuali pendeta yang pertama, yang kedua pun telah roboh tidak berdaya, tubuh mereka tak berkutik. Ia menjadi kaget.

"Eh, eh, kenapa kedua pendeta tua itu kehilangan jiwanya

?" tanyanya. Dia menyangka Liong Houw Siang Ceng telah terbinasakan Lek Hoat Jiu Long, maka dia menjadi gusar seketika, hingga dia menggertak giginya segera dan membisikan orang utannya, "Pergi kau, kutungkan tangan yang satunya dari orang itu !" So Hua Cian Li lantas berseru terus dia berlompat pergi.

Paling dahulu dia memungut pedang pendeknya Lek Hoat Jiu Long, sebelum si rambut hijau tahu apa-apa, lengannya yang sebelah lagi itu sudah lantas ditebas kutung !

Sebagai orang tanpa tangan, Lek Hoat Jiu Long roboh pingsan bermandikan darah !

Ketika itu Kiauw In sudah lantas menghampiri kedua pendeta itu. Dia mengeluarkan obatnya pendeta dari Bie Lek Sie yang It Hiong bagi padanya, obat itu ia masuki ke dalam mulutnya Bu Sek dan Bu Siang, kemudian tanpa menanti orang siuman ia bertindak menghampiri Ya Bie untuk bertanya, "Adik, bukankah tadi kau mengatakan hendak mencari kakak entah apa Hiong ?"

Ditanya begitu mukanya Ya Bie mendadak bersemu dadu, walaupun demikian dia menjawab secara polos, "Dialah kakak Hiong yang aku paling sukai ! Dia bernama Tio It Hiong.

Guruku. "

"Gurumu telah aku ketahui !" tiba-tiba terdengar satu suara yang nyaring, yang orangnya segera sampai di dekat mereka itu. Orang berlompat pesat sekali. Kiranya dialah seorang laki- laki tua berkeriputan yang berdandan sebagai pelajar.

Setibanya itu, si orang tua lantas mengawasi tajam kepada Kiauwn In, kemudian dia menuding kepada Ya Bie sambil berkata keras, "Namanya gurumu itu Kip Hiat Hong Mo, ada apakahnya yang luar biasa ? Nama itu tak usah dipamerekan

!"

Ya Bie lantas mengenali pada Ie Tok Sinshe atau Tok Mo yang dua hari lalu ia ketemukan di Kho tiam cu, yang ia permainkan dengan Hoan Kak Bie Ciu, ketika mana ia hampir bercelaka karena ilmu Sam Hiauw Lo Piang Ciang orang itu, karenanya ia merasa jeri jgua, tak berani ia mempermainkan pula. Karena itu dengan mata dipentang lebar-lebar dia mengawasi saja.

Nampak Tok Mo puas karena si nona tak menjawabnya, dia tertawa sampai melenggak, kemudian habis tertaaw segera tampak pula wajahnya yang menakutkan saking bengisnya. "Kalau kalian tahu diri, lekas kalian kasih tahu padaku !" katanya bengis. "Siapakah yang mengutungkan kedua lengannya Lek Hoat Jiu Long ?"

Kiauw In menerka orang tua ini bukan orang lurus, karenanya ia berhati-hati, tidak mau ia berlaku sembrono.

"Locianpwe." tanyanya, dapatkah aku mengetahui she dan nama besar dari locianpwe ?"

Tok Mo tertawa terkekeh-kekeh, nadanya dingin.

"Bocah bau ! Apakah namamu ?" dia balik bertanya kasar. "Siapa gurumu ? Bagaimana sampai namaku si orang tua kau tidak tahu ?"

Ya Bie lantas menimbrung, "Kakak, dialah Tok Mo yang juga dipanggil Ie Tok Sinshe ! Kakak awas terhadap ilmu silat tangannya yang aneh !"

Dengan mata bengis, Tok Mo mengawasi si nona polos.

Terus dia tertawa terkekeh.

"Namaku si orang tua," kata dia, "sudah dikenal sejak empat puluh tahun lalu ! Didalam dunia rimba persilatan, siapa yang tak tahu dan tak takut ? Hanya sekarang, setelah aku baru muncul pula, yang mengetahui aku sangat sedikit ! Hmm

!"

Nyata dari suaranya si tua ini jumawa, hatinya puas tak puas.

Kiauw In sementara itu sudah lantas menerka Tok Mo atau Ie Tok Mo atau Ie Tok Sinshe ini tentulah orang yang telah membunuh mati secara rahasia jago-jago Siauw Lim, Bu Tong dan lainnya. Hal ini membuatnya girang berbareng berkuatir. Ia berkuatir sebab ia menerka orang mestinya lihai luar biasa. Dan ia bergirang karena ia memikir inilah kesempatan ia mencoba ilmu silatnya Khi-Bun Pat kwa kiam terhadap lawan yang tangguh. Ia pikir juga, sungguh besar faedahnya bagi It Hiong kalau jago tua itu dapat dirobohkan atau disingkirkan.

"Hanya kalau dia menggunakan racunnya," pikirnya pula.

Karena ini, ia berdiam terus.

"Eh, budak !" tegur Tok Mo bengis, "aku tanya kau, kenapa kau diam saja ? Kau mau menjawab atau tidak ?"

Kiauw In melengak. Sangsi buat memberikan jawabannya. "Kakak, bilangilah !" Ya Bie menganjurkan. Nona ini benar-

benar sangat polos. "Siapakah guru kakak ? Kenapa kakak tidak berani berkatainya ?"

Justru itu, Nona Cio telah mendapat sebuah pikiran, maka dia tertawa tawar dan kata, "Akulah Cio Kiauw In muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia ! Bagaimana ?"

Si muka keriputan itu nampak terbengong, terus dia mengawasi tajam pada nona di depannya itu, dari atas ke bawah dan sebaliknya, dia tertawa. "Bagus !" katanya nyaring. "Nampaknya bakatmu baik sekali ! Mari kau turut si orang tua pulang ke tempatku, untuk belajar ilmu ! Sungguh kau berbahagia !"

Kiauw In tetap mengawasi, matanya dibuka lebar, sinar matanya menandakan kemarahannya. Tetapi dapat dia menguasai dirinya. Maka ketika dia menjawab suara sabar, "Locianpwe, tidak ada halangannya yang locianpwe hendak mengambil murid hanya sebelum itu ingin aku menanya, apakah locianpwe dapat melawan pedangku ?"

Dengan satu gerakan cepat, Nona Cio menghunus pedangnya. Terus dia menambahkan kata-kata, "Dalam hal ilmu kepandaian, locianpwe cuma pandai menggunakan racun, maka itu dalam halnya ilmu tangan kosong atau bersenjata, locianpwe tak dapat dibungkam !"

Alisnya Tok Mo bangkit. Dia tak puas sebab telah mengekangnya. Kata-kata si nona berarti bahwa janganlah dia menggunakan racunnya. Lalu dia tertawa terkekeh.

"Anak perempuan, kau sangat licik !" katanya. "Kau menggunakan akal muslihat untuk membuat hatiku panas ! Apakah kau sangka aku tidak tahu itu ? Baiklah ! Karena kau takut aku si tua menggunakan racun, hendak aku menggunakan sepasang tanganku guna melayani ilmu pedangmu Khie bun Pat kwa Kiam. Supaya kalau sebentar kau kalah, kau kalah dengan puas !"

Berkata begitu, si orang tua menggulung tangan bajunya, terus dia mengangkat sepasang tangannya.

Ya Bie dipinggiran terus mengawasi saja. Dia jeri terhadap ilmu silatnya Tok Mo, tetapi dia mendengar Tok Mo mau melawan pedang, hal itu membuatnya girang. Ingin dia menyaksikan pertempuran itu. Ia pun kagum terhadap Kiauw In, yang berhasil membikin si tua suka bertempur tanpa menggunakan racun. Saking girang, mendadak dia tertawa sendirinya !

Tok Mo heran, dia menoleh.

"Eh, budak liar, kau tertawakan apa ?" tegurnya.

Ya Bie tidak menghiraukan teguran itu, bahkan dia mencibirkan mulutnya untuk menggodia si orang tua, kemudian dia menoleh kepada Kiauw In untuk berkata, "Kakak, kau tenang-tenang saja melayani dia ! Kalau sampai kau tak berdaya nanti akan aku bantu kau dengan Hoan Kak Bie Ciu supaya kau lolos dari bahaya !"

Tok Mo gusar sekali, maka juga dia membentak si nona polos, "Kalau kau lancang campur tangan, lebih dahulu akan aku habiskan nyawamu !" Kemudian dia meneruskan pada Nona Cio, "Kau dengar ! Kau perhatikan. Jika kau kalah, kau mesti tunduk dan menurut dengan baik-baik menjadi muridku

! Kau tahu !'

Kiauw In berpura pilon, dia melirik lalu tertawa. "Locianpwe" katanya hormat. "seandianya locianpwe yang

mengalah buat setengah jurus, bagaimana ?"

Tok Mo melengak. Itulah dia tidak sangka. Hanya sejenak dengan wajah muka padam, dia kata keras, "Kalau aku kalah, maka di dalam waktu satu tahun akan aku turut segala perintahmua, aku bersedia menerjang api atau air, tak nanti aku menampik." Belum lagi Kiauw In mengatakan sesuatu, Ya Bie sudah bertepuk tangan dan mendahului berseru. "Bagus ! Bagus ! Bukan cuma satu tahun saja kau mesti turut segala perintahnya kakak ini, kau juga mesti mengutungkan sebelah tanganmu !"

"Tutup bacotmu !" membentak si orang tua mendongkol bukan main.

Ya Bie polos tetapi dia pun jenaka, dan dapat bergurau bahkan kata-katanya tajam.

Sementara itu Liong Houw Siang Ceng telah siuman dari gangguan bubuk beracun, maka lantas melihat Kiauw In hendak bertempur dengan si orang tua keriputan yang berdandan sebagai pelajar itu, lekas-lekas mereka menghampiri si nona untuk memberi hormat.

"Sicu, terima kasih buat pertolongan sicu !" mengucap Bu Siang Hweshio.

Sedangkan Bu Sek berkata, "Buat membereskan orang tua ini, bagaimana kalau pinceng yang turun tangan ?" Dia pun lantas menurunkan gelang emas dari lengannya.

"Kepala keledia !" Tok Mo membentak mendongkol. "Dirimu sendiri masih ditolongi seorang nona, apakah kau rasa kau sanggup melayani aku si orang tua ? Kau mundurlah !"

Bu Sek heran, tak dapat dia menerima perlakuan itu.

Alisnya bangkit.

"Baiklah pinceng bersedia menerima pengajaranmu, sicu !" katanya. Dan segera dia mendahului menyerang ! Dia lantas menggunakan ilmu silat tangan kosongnya itu, Sam Hiauw Liok Piau Ciang, jurus "Sepasang Naga Merampas Mutiara" untuk menyambuti gelang lawan. dia menyentil Liong Houw Siang Houw, sepasang gelang Naga dan Harimau.

Dengan satu suara terang nyaring, sepasang gelang itu kena disentil terpental. Bahkan Bu Sek merasai kedua lengannya tergetar dan nyeri. Saking kageti dia lompat mundur sambil berseru dengan pertanyaannya.