Iblis Sungai Telaga Jilid 43

 
Jilid 43

Tidakkah itu mencurigakan ? Tidakkah membangkitkan iri hati atau cemburu ? Maka itu, habis dibalut si anak muda lantas mengawasi tajam nona di depannya itu. Ia nampak tak puas.

Teng Hiang menyaksikan perubahan sikap orang, ia dapat menerka sebabnya. Itulah salah paham. Maka ia menggenggam tangan orang, sembari tertawa ia berkata :

"Oh, adik. Kau kenapakah ? Orang yang aku cintai cuma kau sendiri, tak nanti aku melakukan sesuatu yang membuatmu kecewa !"

Cukat Tan melepaskan tangannya, dia menghela nafas, lalu menoleh ke arah lain.

"Kau berduka, kau pun tidak puas nampaknya. Kau membuatku nyeri dihati." kata Teng Hiang pula. "Kalau benar kau mengusirku, nah.. kau caci dan hajar aku, aku terima ! Coba kau bicara !"

"Enak saja kau bicara !" kata anak muda itu tawar. "Aku.... aku. "

Tak sanggup Teng Hiang meneruskan kata-katanya, kerongkongannya bagaikan terkanCing, air matanya terus mengucur turun.

Si anak muda mengawasi, pikirannya bimbang. Ia merasa kasihan, tetapi kecurigaannya tetap belum lenyap. Ia ingat kata-kata bahwa wanita itu pandai mengeluarkan air mata. Maka pikirnya, "Dapatkah kau mengalah ?" Tiba-tiba Cukat Tan tertawa lebar.

"Ya, Cukat Tan tolol !" katanya. "Nah, aku minta jangan kau menggunakan akal muslihatmu ini."

Teng Hiang melengak. Nyeri hatinya mendengar ucapan itu. Lantas air matanya mengucur deras.

"Oh, adik. Kau membenci aku ?" katanya sembari menangis. Ia mencekal keras tangannya si anak muda. "Kalau benar, bunuhlah aku ! Tak dapat aku bertahan dari perlakuanmu ini, aku tak sanggup !"

Otaknya si anak muda bekerja keras. Ia berkasihan, ia terharu, toh hatinya ragu-ragu. Ia mengawasi nona itu. Tanpa merasa ia menepisi air mata orang.

"Aku Cukat Tan, terhadap siapa pun tak pernah aku berlaku palsu !" katanya keras. "Kalau aku menyinta, aku menyinta sesungguh-sungguhnya dan kalau aku membenci, aku membencinya sangat ! Jika orang main gila padaku, bisa aku marah. "

Teng Hiang menatap, air matanya masih meleleh keluar. "Apakah yang pernah aku lakukan, adik ?" tanyanya.

"Kenapa aku mesti mendustai kau ?"

Cukat Tan membuka mulutnya, ia batuk. Hanya sesaat, kemudia sembari tunduk ia kata juga, "Jika kakak menganggap aku buruk dan kau ingin mencintai lain orang, kau bilanglah terus terang padaku. Jika Cukat Tan berhati palsu, tak nanti malam ini dia muncul di kamar ini merusak kesenangan kalian berdua !" Teng Hiang kagum buat kepolosannya si anak muda. Ia menatap orang, tiba-tiba ia tertawa terus ia kata, "Adik, hatiku telah diserahkan padamu ! Adik, hatiku tak akan dapat berubuah, tak perduli lautan kering dan batu membusuk !

Apakah kau menjadi tidak senang sebab aku berjalan bersama Gak Hong Kun ?"

Di tanya begitu si anak muda melengak.

Nona itu tertawa, terus ia kata pula. "Aku tahu adik, kau marah padaku sebab kau mencintaiku! Sekarang aku telah melihat tegas bagaimana kau mencintai aku, adik. "

Teng Hiang menarik tangan, ia mengajak si pemuda duduk berendeng di tepi pembaringan.

"Adik, kenapa kau dapat berada disini ?" tanyanya kemudian. "Kenapa kau dapat membantu aku di saat yang tepat ini ?"

Luar biasa lekas, lenyap rasa tak puasnya anak muda ini. Ia melihat si nona berlaku jujur terhadapnya.

"Kakak." katanya kemudian. "Aku melihat kau bersama Gak Hong Kun sejak di penginapan di dalam kota Gakyang, lantas aku menguntitmu. Itulah sebabnya kenapa aku berada disini

?"

Teng Hiang merasa puas berbareng lega hatinya. Kalau ia menyeleweng, celakalah ia. Syukur ia tetap berlaku jujur. Tapi ia toh kata, "Cis ! Katanya wanita bercemburu ternyata sekarang adik, kau pun jelus. "

Cukat Tan merasai mukanya panas. "Menyesal kakak." katanya. "Sayang aku menyangka keliru padamu ! Kakak toh tidak menggusari aku bukan ?"

Teng Hiang melirik terus dia tertawa.

Sikapnya si nona membuat hatinya si anak muda lega sekali. Ia turut tertawa.

Muda mudi itu tidak cuma duduk berendeng hanya mereka saling menyender. Mereka saling terbenam didalam lautan asmara sampai mereka melupakan Siauw Wan Goat yang sejak tadi berdiam di dekat jendela. Nona itu berpikiran kosong, dia bagaikan tak melihat dan mendengar....

Tiba-tiba Wan Goat dikejutkan keruyuk ayam jago, pertanda tibanya sang pagi. Lantas ia melihat ke arah Teng Hiang dan Cukat Tan. Mereka itu tak tampak, dikasih terus di depan pembaringan tampak sepatu mereka.

"Ah !" seru nona ini. Mukanya merah. Lantas ia lompat keluar jendela, untuk bertindak keluar dari rumah penginapan, untuk berjalan terus-terusan di waktu pagi yang sejuk dan sepi itu. Hingga tahu-tahu ia telah melalui tujuh atau delapan belas lie, ia berada ditanah pegunungan, di depannya sebuah rimba. Di sini ia terkejut dan sadar, sebab lantas dia melihat berkelebatannya golok-golok dan pedang-pedang !

"Di pagi begini, kenapa ada orang bertempur di atas gunung ?" pikirnya, heran. "Orang-orang macam apakah mereka-mereka itu ? Baik aku melihatnya. " Maka lantas ia

mempercepat langkah. Setelah datang dekat kira enam tombak dari tempat perkelahian, Wan Goat menyembunyikan diri di balik sebuah batu karang yang besar, dari situ ia memasang mata.

Yang bertempur itu ialah seorang nona dengan senjatanya sebatang golok dan seorang pemuda bersenjatakan pedang. Muka mereka itu tak tampak jelas. Kira dua tombak jauhnya dari mereka itu berdua, dipinggaran terlihat dua orang lainnya tengah menonton. Mereka ini adalah seorang pendeta penganutnya Sang Buddha serta seorang imam atau rahib pengikutnya Loa Cu Yang Maha Agung.

Sementara itu dengan lewatnya sang waktu, tibalah sang terang tanah, maka di lain saat dapat sudah Wan Goat mengenali si pria dang melihat tegas si wanita yang mengadu jiwa itu. Dialah Gak Hong Kun si It Hiong palsu serta seorang nikouw setengah tua yang tampangnya centil.

Selekasnya dia melihat Hong Kun, Wan Goat menenangkan hatinya. Lantas dia mengawasi tajam kepada pemuda itu guna memastikan ia It Hiong tulen atau palsu.

Nikouw itu lihai, sepasang goloknya bergerak-gerak memperdengarkan suara anginnya yang keras. Hanya aneh walaupun ia mendesak, dia seperti tidak mau melukai si anak muda, goloknya cuma memain di sekitar tubuh orang.....

Gak Hong Kun juga tidak mau mengalah, dia mengeluarkan kepandaiannya, ilmu silat Heng San Pay, maka juga mereka jadi bertempur seru.

Pendeta wanita itu berpengalaman, ia tahu si pemuda lihai, hendak ia mengadu kepandaian. Kapan pertempuran sudah melalui lima puluh jurus, perubahan lantas tampak. Gerak geriknya Hong Kun mulai kendor, nafasnya telah memburu, peluhnya sudah membasahi dahinya. Justru itu si nikouw kata manis, "Eh, saudara she Tio, apakah kau masih tak sudi menyerah kalah ? Bukankah kau sudi mendengar kata-katanya kakakmu ini ?"

Alisnya Hong Kun bangun berdiri, matanya mendelik. "Aku tidak percaya nikouw siluman, ilmu golokmu dapat

mengalahkan ilmu pedang Heng San Pay !" katanya takabur.

Nikouw itu tertawa geli.

"Jangan kau mendustai aku, anak !" kata dia. "Kau toh muridnya Tek Cio Totiang dari Pay In Nia, kenapa kau menyebut dirimu dari Heng San Pay ?'

"Hm !" Hong Kun perdengarkan suara dinginnya. Dia menyamar sebagai It Hiong, tak dapat dia membuka rahasianya sendiri. Barusan dia keliru menyebut ilmu pedang Heng San Pay. Karena itu dia terus menutup mulutnya, terus saja dia menyerang hebat guna bisa mendesak lawannya itu !

Dari tempat bersembunyi Wan Goat mengagumi ilmu silatnya pemuda itu. Ia pun dapat melihat orang merah karena terlalu menguras tenaga serta peluhnya menetes turun tanpa merasa, ia merasa berkasihan........

Tepat itu waktu maka terdengarlah suara keras dari beradunya pedang dengan golok. Itulah akibat siasatnya Gak Hong Kun. Hong Kun sudah letih sekali, terpaksa dia mengandalkan pedang mustikanya, yang tajam luar biasa.

Disaat golok mengancam, dia sengaja menangkis sambil menebas dengan sisa tenaganya ! Sepasang goloknya si nikouw bukan senjata mustika tetapi tangguhnya luar biasa, sebab terbuatnya dari campuran emas dan besi pilihan, maka juga kena terpapas pedang istimewa terdengarlah suara nyaring dan berisik itu, goloknya tapinya tetap utuh !

Hong Kun heran sampai dia mundur satu tindak dan berdiri mendelong. Tapi cuma sedetik lantas dia sadar akan keadaannya. Maka juga lekas-lekas dia mengeluarkan bie hun tok hun, bubuk biusnya yang menjadi seperti benda saktinya. Dengan mengikuti tiupan angin, ia menyebarkannya.

Melihat asap merah tua terbang ke arahnya, si pendeta wanita tidak menjadi takut, bahkan dia tertawa dan kata, "Oh, saudara yang baik, segala bubuk begini mana dapat membuat kakakmu ? Cuma mukamu yang tampan yang membuat hatiku goncang !"

Walaupun dia tertawa manis, si pendeta toh menggunakan golok kirinya akan melakukan penyerangan penangkisan, membuyarkan asap itu dengan cepat, sedangkan golok kanannya dipakai membacok ke dada lawan.

Hong Kun terperanjat, mendapati nikouw setengah tua itu dapat memunahkan bubuknya yang lihai, terus dia menjadi kaget mendapati golok orang berkelebat ke arahnya. Dengan kelabakan dia menangkis. Tapi tangkisannya itu tidak mengenai, cuma menyampok angin. Lantas setelah itu, dia menjadi kaget sekali sebab jalan darahnya-jalan darah hoa kay-telah kena tertotok. Sekejap itu juga dia merasai tubuhnya kaku, lalu kepalanya pusing lantas dia terhuyung dua kali terus tubuhnya roboh ke tanah dengan dia tak sadarkan diri lagi ! Nikouw itu tertawa nyaring menandakan dia sangat girang. Lantas dia lompat kepada Hong Kun guna menyambar tubuh orang buat diangkat dan dikemoit kemudian dia menoleh kepada dua orang tua yang menonton tadi--si pendeta dan imam--dia melirik dengan tampang bangga.

Si pendeta tertawa lebar dan kata, "Su moay, kau beruntung !"

"Su moay" ialah adik seperguruan wanita.

Justru pendeta itu tertawa, justru mereka mendengar satu bentakan nyaring lantas tampak berkelebatnya sesosok tubuh hitam menghadang di depan nikouw sejarak satu tombak.

Segera setelah berdiri diam, bayangan itu ternyata adalah seorang nona usia tujuh atau delapan belas tahun, disamping siapa pun berdiri seekor orang utan besar sekali.

Sambil berdiri tegak, ia menunjuk tubuhnya Hong Kun dan menanya si nikouw : "Bukankah anak muda itu Tuan Tio It Hiong ?"

Nikouw itu heran hingga dia menatap. Dia mendapati nona itu memiliki muka bundar seperti bulan purnama, tampangnya sangat cantik, matanya jeli, cuma sinar matanya itu mirip sinar mata genit. Dia tidak menjawab, hanya balik bertanya acuh tak acuh, "Kau siapakah ? Kau murid siapa ? Bagaimana kau berani mencampur tahu urusannya Sek Mo ?"

"Sek Mo" ialah bajingan paras elok.

Berkata begitu, dia lantas memasuki sepasang goloknya ke dalam sarangnya. Nona itu mengawasi secara bersahaja. Ia menjawab, "Aku ialah Kip Hiat Hong Mo ! Kalian tidak mengenal aku, aku tidak menggusarimu !" Ia menunjuk pula tubuhnya Hong Kun untuk berkata lagi, "Kau serahkan Tuan Tio kepadaku !"

Di sebutnya nama Kip Hiat Hong Mo mengagetkan kepada nikouw itu, juga si pendeta dan si imam. Kemudian si pendeta maju menghampiri akan mengawasi si nona dari atas ke bawah dan sebaliknya setelah mana dia membentak dingin, "Budak bau ! Siapakah kau ? Lekas kau bicara dengan terus terang. Tangannya Hiat Mo tak ada halangannya buat membacokkan satu jiwa !"

"Hiat Mo" ialah Bajingan Darah.

Nona itu tidak kaget atau takut, dia tetap tenang-tenang saja. Lantas dia menuding si pendeta seraya menanya si nikouw, "Kau bernama Sek Mo dan dia Hiat Mo. Habis apakah namanya kawanmu itu ? Dialah seorang rahib atau rahib bajingan apa ?"

Hiat Mo tertawa dingin.

"Dialah Tam Mo !" dia menjawab. "Kalau kau benar Kip Hiat Hong Mo, kenapa kau tidak mengenali kami Hong Gwa Sam Mo ?"

"Tam Mo" ialah Bajingan Tamak dan "Hong Gwa Sam Mo" yaitu Tiga Bajingan dari Dunia Luar.

Si nona meraba ke pinggangnya, meloloskan seekor ular hijau yang melilit pinggangnya itu, sambil mengibaskan itu ia kata, "Senjata ini senjata apakah ? Kalian lihat ?" Ular kecil warna hijau itu mempunyai sepasang mata merah seperti darah, tajam sinarnya, sedangkan tubuhnya panjang tiga kaki. Lidahnya yang diulur keluar pun berwarna merah dadu. Dia mengangkat kepalanya digoyangi ke kiri dan ke kanan. Tingkahnya seperti hendak memagut orang !

Seluruhnya tampangnya itu, dia membuat orang jeri.

Tiba-tiba saja, Tam Mo si rahib meluncurkan tangannya menghajar tangan kanannya si nona yang lagi memegangi ular itu. Dia bergerak tanpa sebut dan tanpa bersuara lagi. Inilah sebab dia mengenali ular itu sebagai sian-liong, ular beracun istimewa yang hidup di Siong San yang racunnya dapat memunahkan seratus macam racun lainnya, bahkan siapa dapat minum darahnya, tubuhnya bakal menjadi sangat ringan dan gesit. Jadi ular itu ular sangat langka.

Nona itu tidak kena diserang secara mendadak itu. Selagi orang menyerangnya, ia berseru, tubuhnya berkelit-kelit ke belakangnya Tam Mo si Bajingan Tamak. Di lain pihak, orang utan disisinya mendadak telah berubah sebagai ia sendiri sebab ia telah menggunakan ilmu Hoan Kak Biu Ciu !

Tam Mo hendak mencekal tangannya si nona guna merampas ularnya, siapa tahu ketika tangannya mengenai sasarannya dia menjadi kaget. Dia bukan memegang tangan yang putih halus, hanya sesuatu yang berbulu dan licin hingga cengkramannya lolos sendirinya !

Dalam herannya Tam Mo mengawasi si nona. Ia tetap mendapati nona tadi. Maka lagi sekali ia menggerakkan tangannya menangkap tangan orang !

Tepat itu waktu si Bajingan Tamak mendengar suara nyaring ini di belakangnya, "Tam Mo, sian-liong ada disini !" Nona itu pun menyebut sian-liong, naga sakti pada ularnya itu.

Selekasnya dia mendengar suaranya si nona, Tam Mo menjadi sangat kaget. Dia melihat tangan yang dipegang olehnya bukan tangannya si nona, hanya lengannya si orang utan, binatang mana yang berwajah bengis, mengawasi dia dengan membuka lebar-lebar mulut nya serta mementang matanya yang bersinar galak. Tapi dia tidak takut. Dialah salah satu dari Hong Gwa Sam Mo yang kesohor kosen dan kejam. Dari kaget dia menjadi gusar, lantas dia mengerahkan tenaganya untuk melempar orang utan itu !

Menyusul gerakannya Tam Mo, si nona berseru nyaring lalu terlihatlah si orang utan jumpalitan di tengah udara dan jatuhlah justru ke arah nikouw setengah tua.

Melihat demikian pendeta wanita itu bergerak dengan cepat untuk berkelit tetapi gagal. Dia kurang cepat maka tubuhnya kena terbentur hingga dia jatuh karena mana Hong Kun pun terlepas dari kempitannya.

Akan tetapi ia tak kurang suatu apa, dengan gesit dia berlompat bangun akan menyambar tubuhnya si anak muda hingga Hong Kun kena dikempit pula. Tentu sekali dia menjadi gusar tak terkirakan. Maka juga dia terus menyampok binatang hutan itu.

"Tahan su-moay." teriak Tam Mo.

Sek Mo heran tetapi dia mendengar kata, maka serangannya itu dikesampingkan. Dia berdiri diam menoleh kepada saudara seperguruannya yang nomor dua itu. Justru dia berdiam, tiba-tiba dia merasai tubuh Hong Kun seperti berbulu tajam yang menusuk-nusuk lengannya. Maka dia tunduk akan melihatnya. Lantas dia menjadi heran sekali.

Itulah bukan si anak muda, hanya si orang utan ! Selagi orang heran dan melengak, si nona tertawa dan berkata nyaring, "Tuan Tio ada ditanganku ! Yang kau kempit ialah So Hun Cian Li ! Buat apakah kau mengempit dia ?"

Bukan kepalang mendongkolnya si nikouw. Telah orang permalukannya !

"Kip Hiat Hong Mo !" teriaknya. "Kau telah merampas orangku, mana dapat aku berdiam saja ? Kamilah Hong Gwa Sam Mo, tak dapat kami kehilangan muka !" Lantas dia lemparkan si orang utan ke arah nona itu ! Menyusul itu, dia pun menghunus sepasang goloknya ! 

Ketika itu Hiat Mo pun memperdengarkan suara dinginnya ! "Jiete, mari kita turun tangan ! Kita harus membantu Sam Moay membekuk budak bau itu !'

"Jite" ialah saudara yang nomor dua, dan "Sam Moay" adik yang ketiga.

Tam Mo si Bajingan Tamak juga gusar. Dia menoleh kepada si nona, untuk berkata bengis. "Kip Hiat Hong Mo, saat kematianmu sudah tiba !"

Ketika itu si orang utan, yang telah dilemparkan tidak jatuh terbanting. Dia dapa turun dengan menaruh kaki dengan baik. Dia pun tidak gusar terhadap orang yang melemparkannya, hanya dia bertindak menghampiri si nona, akan berdiri di sisinya seperti semula. Nona itu terus bersikap wajar. Sembari tertawa manis, ia mengawasi ketiga bajingan itu kemudian ia kata, "Buat apa kalian jadi galak begini ? Taruh kata kalian dapat mengalahkan aku, tak nanti kalian dapat merobohkan guruku ! Akulah Ya Bie dan tuan Tio ini jantung hatiku !" Ia hening sejenak, lalu ia menambahkan, "Aku baru berhasil mewariskan lima bagian ilmu guruku yang disebut Hoan Kak Bie Cie, ilmu menyalin rupa. Tetapi dengan ilmuku ini saja sudah kalian berani membuka mulut besar ? Hm !"

Hong Gwa Sam Mo saling mengawasi, mata mereka memain. Mereka merasa Hoan Kak Bie Ciu lihai, karena mana tak berani mereka sembarang bergerak.

Sek Mo mengawasi tajam pada si nona. Dia jelus sekali. "Sebenarnya kau pernah apakah dengan Kip Hiat Hong Mo

?" tanyanya kemudian. "Kau bicara terus terang, nanti aku ampunkan selembar jiwamu !"

Nona itu suka menjawab dengan sebenar-benarnya.

"Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie adalah guruku !" demikian jawabnya. "Hayo bilang kalian takut atau tidak dengan guruku itu ?"

Si nona bicara polos seperti seorang bocah cilik, tingkahnya jenaka. Dia seperi bukan lagi bicara dengan musuh yang lihai dan ganas. Sikapnya ini justru membuat ketiga bajingan serba salah - menangis tak bisa, tertawa tak dapat.

Sek Mo sangat penasaran, ingin ia mendapatkan pulang Hong Kun tetapi dia jeri. Dia kuatir nanti tak sanggup melayani si nona. Kapan dia memandang Hong Kun, dia merasa sangat gatal. Dalam mendongkolnya itu dia mengernyitkan alis. Tiba- tiba dia mendapat sebuah pikiran. Maka tiba-tiba juga dia tertawa.

"Nona Ya Bie, apakah kau mau mencari jantung hatimu ?" tanyanya ramah. "Bukankah jantung hatimu itu seorang she Tio ?"

Ya Bie suka diajak bicara. Dia menunjuk It Hiong palsu di dalam kempitannya itu.

"Pemuda tampan ini ialah Tuan Tio It Hiong yang menjadi kekasihku." dia berkata. "Apakah kau mau mengatakan dia bukannya Tuan Tio ?"

Sek Mo si Bajingan Paras Elok menggeleng kepala. "Kau keliru. " katanya. Tiba-tiba dia berdiam. Sukar

buatnya mendusta.

Ya Bie heran, dengan melengak ia mengawasi Hong Kun. Sek Mo berpikir keras, ia mendapat satu pikiran lain.

"Dialah Tuan Tio yang palsu." dia lantas berkata. "Dia bukan Tuan Tio yang tulen."

Kata-kata itu dapat dipercaya Ya Bie, yang cerdik tetapi polos yang kurang pengalaman. Ia pun keluar dari Cenglo Ciang dengan diluar tahu gurunya. Di sebelah itu, kata-kata itu juga menyadarkan Siauw Wan Goat yang sejak tadi menyembunyikan diri terus hingga ia bisa melihat dan mendengar semua itu.

"Kau benar !" berkata Ya Bie. Dia muda dan polos tetapi dia cerdik. Sek Mo senang mendengar perkataannya si nona itu.

"Dia bukan Tuan Tio, nona. Dia jadi bukanlah jantung hatimu." katanya. "Nona yang baik, kau kembalikan dia padaku !"

Ya Bie bersangsi. Tak mau ia lantas menyerahkan pemuda ditangannya itu. Ia hanya justru mengawasi wajah orang.

"Nanti, akan kutanya dahulu dia." katanya. "Kalau dia benar bukan Tuan Tio, akan aku serahkan dia padamu."

Lantas nona ini menekan jalan darah siutong dari Hong Kun, guna menghidupkan darahnya, guna membebaskan dia dari totokan.

Tidak lama maka pemuda itu sudah dapat membuka matanya. Lantas dia mendapat kenyataan yang tubuhnya rebah dipangkuannya seorang nona yang tubuhnya menyiarkan bau harum kewanitaan. Dengan sendirinya timbullah nafsu birahinya. Dia lantas ingat segala apa. Sebagai seorang licik, lekas-lekas dia memejamkan pula matanya.

Nikmat rasanya dipangku seorang nona manis seperti Ya Bie.

Ya Bie mencintai It Hiong selekasnya dia lihat anak muda itu, tetapi itulah gadis suci. Ia tak punya pengalaman, maka itu selekasnya anak muda ini sadar dan membuka matanya, ia lantas meletakkannya diatas tanah. Kemudian ia menggoyang- goyangkan kedua bahunya anak muda itu.

"Kau siapa sebenarnya ?" tanyanya. "Kau Tuan Tio It Hiong atau bukan ?"

Itulah pertanyaan polos sekali, atau tolol. Hong Kun membuka pula matanya, ia menggerakkan tubuhnya untuk bangun, duduk di tanah. Lantas ia mengawasi nona di depannya itu. Kemudian ia berpaling kepada Heng Gwa Sam Mo. Ia berpikir karena ia tidak tahu si nona menanya ia dengan maksud baik atau jahat. Dasar ia cerdik, sebelum memberikan penyahutannya, ia balik bertanya, "Siapakah kau ? Mau apa kau menanyakan aku ?"

Ya Bie tidak sabaran melihat lagak orang sembarang, dia menjawab berbareng menanya.

"Akulah Ya Bie dari Cenglo Ciang." sahutnya. "Kau Tio It Hiong atau bukan ?"

"Oh, saudara yang baik !" tiba-tiba Sek Mo menimbrung. "Sekarang ini jiwamu sudah berada ditangan kami, kau bicaralah terus terang !"

Sek Mo belum pernah melihat Tio It Hiong palsu, maka itu ia takut kalau orang mengaku sebagai It Hiong, dia bakal dibawa pergi si nona. Itu artinya, ia bakal kehilangan pemuda itu. Karena itu, ia sengaja mengeluarkan kata-katanya itu akan mengancam atau menggertak si anak muda.

Hong Kun sebaliknya, belum pernah pergi ke Cenglo Ciang.

Tentu saja dia tidak kenal Ya Bie, cuma dia ingat perdamaiannya dengan Teng Hiang buat pergi ke Cenglo Ciang, guna membujuki Kip Hiat Hong Mo membantu usaha Bu Lit Cit Cun. Ketika itu, Teng Hiang juga tidak menyebut namanya Ya Bie ini. Ia menjadi bingung : Ya Bie, It Hiong atau musuhnya ? Ancamannya si nikouw barusan pun menciutkan hatinya. Melihat orang berdiam, Ya Bie makin keras ingin mengetahui tentang dirinya pemuda itu. Ia lantas mengawasinya tajam dengan ia mengerahkan tenaga ilmu Hoan Kak Bie Ciu.

Hong Kun menggigil selekasnya sinar matanya beradu dengan sinar mata si nona. Lantas seperti tak sadarkan diri. Justru begitu, ia mendengar bentakan si nona, "Kau bernama apa ? Lekas bilang !'

Tanpa sadar, sendirinya Hong Kun menjawab, "Aku yang rendah ialah Gak Hong Kun, muridnya It Yap Totiang dari Heng San Pay, dan aku menyamar menjadi Tio It Hiong itulah karena aku berniat mencelakai padanya."

Kapan Seng Mo mendengar jawabannya Hong Kun itu, diam-diam dia bergirang sekali. Si anak muda benar-benar bukannya It Hiong yang asli. Pikirnya, pasti ia akan dapat hidup bersama anak muda itu, yang tentunya tak akan dibawa pergi oleh si nona yang lihai.

Ya Bie sebaliknya menjadi gusar sekali, hingga matanya mendelik dan mulutnya memperdengarkan suara sengit, "Cis ! Kaulah bukan satu manusia baik-baik ! Kenapa kau menyamar untuk mencelakai Tuan Tio ?"

Di bawah pengaruh ilmu Hoan Kak Bie Ciu itu, Hong Kun tak dapat menggunakan kecerdikannya atau mendusta terus, dia menjadi serta si orang jujur dan polos. Atas kata-kata si nona itu dia berkata, "Aku berbuat begitu karena aku hendak membalas sakit hatiku, karena aku penasaran sudah kehilangan pacarku. Aku bertekad tak akan hidup bersama- sama dalam dunia ini dengan musuhku dalam asmara itu !

Nona, karena urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau, aku minta sukalah kau bebaskan aku. " Siauw Wan Goat ditempatnya bersembunyi mendengar jelas pembicaraan itu, maka sekarang ia mendapat bukti kepastian akan kata-katanya Teng Hiang, hal adanya dua Tio It Hiong. It Hiong dari Heng San dan It Hiong dari Siong San. Tentu sekali, karena itu ia menjadi gusar. Ia sangat membenci Hong Kun hingga ia lantas memikir keluar dari tempat sembunyinya itu guna membuat perhitungan dengan orang Heng San Pay yang busuk itu. Tapi belum lagi ia bergerak atau ia mesti mendelong mengawasi ke arah Ya Bie sekalian.

Mendadak Wan Goat mendengar suara tawa serak, yang membuat telinganya nyeri, yang membikin hatinya menggetar, maka lekas-lekas ia menenangkan hatinya itu dan mengawasi ke arah Ya Bie semua dimana ia melihat di depannya Hong Gwa Sam Mo dan si nona tambah seorang tua yang mukanya keriputan yang berdandan sebagai pelajar. Dan itulah si orang tua lihai yang ia kenali !

Berhenti tertawa, orang tua keriputan itu lantas mengawasi tajam Ya Bie semua, terus ia berkata, "Pemuda ini telah menerima baik menjadi muridku, bagaimana kalau aku membawanya pergi ?"

Ya Bie memberikan jawabannya, sabar. "Orang ini jahat, dia hendak mencelakai Tua Tio. Karena dia telah bertemu denganku, dia seharusnya tak dapat hidup lebih lama pula ! Kalau lotiang hendak mengambil dia sebagai murid, lebih dahulu lotiang harus meninggalkan nama atau gelaranmu !"

"Oh, nona kecil. Kau ingin mengetahui namaku ?" menjawab orang tua itu. "Aku adalah yang orang juluki Ie Tok Sinshe atau yang orang-orang Kang Ouw sebut Tok Mo !"

"Tok Mo" ialah Bajingan Racun. Ya Bie tidak kenal dan tidak tahu Ie Tok Sinshe siapa, dia kata polos, "Kau diseebut Tok Mo. Mereka bertiga dipanggil Hong Gwa Sam Mo. Karena itu kau dari satu golongan dengan guruku. "

Si none menyebut satu golongan sebab mereka sama-sama "Mo" alias Bajingan !

"Hm !" Tok Mo mengasih dengar suara dinginnya. Tanpa menoleh lagi kepada Hong Gwa Sam Mo, dia tanya si nona, "Siapakah itu gurumu ?"

Ya Bie tertawa.

"Namanya guruku tersohor sekali !" sahutnya. "Banyak orang yang takut mendengarnya ! Baik tak usah aku sebutkan

!"

Matanya Ie Tok mendelik, lalu parasnya menjadi padam.

"Cobalah kau sebutkan buat aku dengar !" katanya dingin. "Hendak aku si tua mencoba, aku takut atau tidak mendengarnya !"

Si nona memperlihatkan lagak jenaka.

"Baik, kau dengarlah !" katanya. "Guruku itu Kip Hiat Hong Mo dari Cenglo Ciang !"

Tanpa merasa si orang tua melengak tapi hanya sekejap, dia pulih seperti semula. Dia mengasih dengar tawanya, yang menyakiti telinga. Hendak dia menggunakan suara tawanya itu untuk menundukkan Ya Bie. Tetapi Ya Bie telah berhasil menguasai ilmunya Hoan Kak Bie Ciu, ia tak kena terpengaruhkan. Ia berdiri tenang seperti biasa, wajahnya tersungging senyumannya yang manis.

Sebaliknya tawanya si orang tua mempengaruhi Hong Gwa Sam Mo. Ketiga bajingan itu mendadak merasai hatinya ciut, lalu bergoncang keras saking jerinya, didalam sekejap mereka sudah lompat untuk berlari pergi !

Si orang tua heran melihat Ya Bie tak kurang suatu apa, maka tahulah dia bahwa orang telah mahir tenaga dalamnya. Jadi si nona tak dapat dipandang ringan. Karena itu, dengan lantas dia merubah sikapnya.

"Bukankah gurumu itu, Kip Hiat Hong Mo telah pergi ke In Bu San memenuhi undangan Bu Lim Cit Cun ?" demikian tanyanya mengalihkan persoalan.

Ya Bie menggeleng kepala.

"Sudah beberapa puluh tahun, guruku tak keluar dari Cenglo Ciang." katanya. "Mana dapat guruku turut dalam pertemuan di In Bu San itu ?"

"Oh, begitu ?" kata si orang tua. Terus dia berpaling kepada Hong Kun, untuk berkata, "Nah, anak muda, mari kita pergi !"

Hong Kun masih terpengaruhkan Hoan Kak Bie Ciu, dia baru sadar tujuh bagian. Dia berdiri diam saja. Dia cuma melengak mengawasi si Bajingan Racun.

Dengan tindakan lenggang lenggok, Tok Mo menghampiri anak muda itu. "Anak muda." katanya. "Kalau kau ingin mempelajari ilmu racun dari aku si orang tua, mari kau turut aku pergi ke In Bu San ! Nona itu tak dapat dibuat permainan, dari itu buat apa kau berdiri saja disini ? Mari !"

Dia lantas mengulur tangannya buat memegang lengan orang, guna ditarik atau mendadak saja diantara mereka terdengar satu suara bersiul yang nyaring luar biasa, yang seperti menikam telinga, sampai sekalipun Tok Mo yang lihai, dia kaget juga hingga jantungnya memukul berulang-ulang. Dengan lantas dia mendapat kenyataan itulah suaranya si nona !

Habis bersiul secara aneh itu, Ya Bie tertawa gembira terus dia menggodia Tok Mo dengan ia membuat main tangannya di depan mukanya.

Tok Mo tahu orang menjailinya tetapi dia menahan sabar, dia tak sudi melayani. Dia hanya menarik tangannya Hong Kun buat diajak pergi.

Baru tiga tombak lebih jauhnya dia berjalan, Tok Mo lanas mendengar pula tawanya si nona, tawa gelak yang dibawa sang angin. Dari tertawa perlahan, si nona terus tertawa keras dan nyaring.

Tok Mo heran mendengar perubahan tawanya itu hingga tanpa merasa dia menoleh untuk melihat si nona. Segera dari heran dia jadi melengak. Dia melihat nona itu tertawa terpingkel-pingkel, sampai ia memegangi perutnya.....

Si Bajingan Racun pula heran tak kepalang. Disampingnya Ya Bie, dia melihat seorang pemuda tampan. Itulah Gak Hong Kun ! Maka juga, wajar saja kalau dia lantas berpaling ke sampingnya, akan melihat si anak muda yang dia tuntun itu. Segera dia berdiri menjublak ! Dia bukan melihat Hong Kun, hanya seekor orang utan besar !

"Ah.. !" serunya tertahan. Ia lantas mengerahkan tenaga dalamnya, buat memusatkan perhatiannya. Karena ia dapat menerka, apa yang ia saksikan itu tentulah ilmu gaib dari Ya Bie.

Tak lama si orang tua melengak, lantas dia menjadi mendongkol sekali. Dia bergusar sebab dia merasa orang tengah mempermainkannya ! Maka lantas saja dia melemparkan si orang utan hingga binatang itu terpental setombak lebih !

Orang utan itu telah terdidik sempurna oleh Kip Hiat Hong Mo. Dia telah memiliki tubuh yang kuat dan lincah seperti yang biasa dipunyai ahli silat kelas satu, hingga dia dinamakan So Han Cian Li, si cantik penyedot arwah. Dia tak hiraukan sambaran atau lemparan semacam itu. Selekasnya tubuhnya terpental, dia jumpalitan terus dia menjatuhkan diri di tanah dengan kedua kakinya mendahului. Dia menghadapi Tok Mo, beberapa kali dia memperdengarkan suaranya, lantas dia bertindak ke samping nonanya.

Tok Mo menjadi bertambah dongkol sebab satu orang saja tidak dapat dia robohkan. Lantas hawa amarahnya itu ditumpahkan terhadap si nona manis, sambil tertawa dengan mata melotot dia bertindak menghampiri nona itu. Di sampok sang angin, janggutnya model janggut kambing bergerak memain.

"Budak bau !" bentaknya setelah datang dekat. "Sungguh nyalimu besar ! Cara bagaimana kau berani mempermainkan aku si orang tua ? Nyata kau tahu hidup atau mampus !" Suaranya itu keras dan serak, didengarnya tak sedap.

"Eh, Tok Mo !" katanya. "Kau sudah begini tua, toh kau masih beradat keras begini ? Bagaimana dapat kau sembarang mencaci orang ? Kenapa kau tidak mau mencaci dirimu sendiri yang tak punya guna ? Nonamu menggunakan ilmu Hoan Kak Bie Ciu yang diberi nama memindahkan bunga menyambut pohon, tetapi kau tidak mampu melihatnya ! Ha ha ha !'

Tok Mo bertindak terus. Dia maju pula dua langkah. "Budak bau !" teriaknya. "Hari ini aku si tua akan

memampuskan dulu padamu ! Habis ini baru aku akan pergi ke Cenglo Ciang mencari Kip Hiat Hong Mo guna membuat perhitungan dengannya!"

Kata-kata itu ditutup dengan satu luncuran tangan menghajar si nona ! Itulah satu jurus lihai dari ilmu silat ciptaannya sendiri yang dinamakan Sam Hiauw Liok Piauw Ciang atau pukulan tangan kosong "Tiga Gerakan Enam Perubahan." Anginnya saja sudah bergemuruh dan bertiup hebat, lantas tangannya bergerak-gerak seperti juga tangan itu terdiri dari ratusan, hingga Ya Bie nampaknya bagaikan ketutupan semua tangannya itu. Anginnya juga mendatangkan hawa yang dingin.

Nampaknya Ya Bie tak dapat lolos dari serangan dahsyat itu. Ia kaget sebab di dalam hal pertempuran ia tak punya pengalaman. Ia menyesal yang barusan sudah berlaku nakal dengan mempermainkan si orang tua. Di saat berbahaya itu tapinya ia ingat akan membela diri, pertama dengan menutup semua jalan darahnya, kemudian guna melompat menyingkir. Ia memangnya cerdas, selagi terancam bahaya itu tiba-tiba ingat akan kepandaiannya yang didapat dari Kitab Ie Kien Kang, itulah ilmu Sin Kut Kang, meringkaskan tulang belulang. Tak ayal lagi, ia menggunakan kepandaiannya itu.

Hanya di dalam sekejap si nona telah berubah bentuk tubuhnya. Dari seorang nona berusia tujuh belas tahun, dia menjadi kecil seperti bocah umur umur tiga atau empat tahun.

Menyusul mana, dia menjatuhkan diri bergulingan di tanah dengan jurus "CaCing Bergulingan di Pasir." Dia pula bukannya menggulingkan tubuh buat menyingkir pergi, dia justru bergulingan ke kakinya Tok Mo sehingga selekasnya dia datang dekat, dia dapat membalas menyerang !

Tok Mo heran mendapatkan serangannya gagal. Sudah begitu dia menjadi kaget merasai angin menyambar di kakinya. Ia tahu itulah suatu serangan terhadapnya. Untuk membela diri, hendak ia menendang musuh atau ternyata dia kurang gesit, mendadak ia merasai totokan pada jalan darah yong goan di kakinya. Kontan kakinya itu kaku dan tenaganya lenyap, tanpa berdaya ia terhuyung mundur beberapa tindak, sebab gagal mempertahankan diri tubuhnya roboh seketika, rebah ditanah !

Selekasnya dia berhasil menyerang Ya Bie berlompat bangun, tanpa memperdulikan lagi kepada musuh, dia menarik So Han Cian Li untuk berlari pergi. Dia lari turun gunung. Tok Mo tidak jadi bercelaka karena totokan itu. Habis rebah dia bangun untuk berduduk, terus dia lekas-lekas menguruti kakinya, hingga di lain saat kakinya itu sudah pulih seperti biasa. Waktu dia lompat bangun, dia tidak melihat si nona dan orang utannya. Tapi yang membuatnya mendongkol ialah juga Gak Hong Kun, si anak muda yang ia mau jadikan muridnya juga terus lenyap dari hadapannya ! "Kurang ajar !" dampratnya. Mukanya merah padam. Kemudian ia memikirkan juga kenapa si anak muda dapat lenyap. Mulai dari jatuh sampai ia berduduk dan mengobati diri waktu yang dilewatkan hanya sejenak, dari itu kemana lari atau sembunyinya anak muda itu ?

Di sekitarnya, di jalanan kecil, sepi saja. Di situ tak ada seorang manusia lainnya. Ada juga rumput dan angin yang bertiup bersiur-siur.

Tengah jago ini berdiri diam dengan pikiran kacau itu tiba- tiba ia mendengar suara yang ia kenali sebagai "Gie Gi Toan Im" yaitu bahasa Semut yang disalurkan secara luar biasa, suaranya cuma mendengung perlahan di telinga !

Beginilah suara itu, "Ie Tok Sinshe ! Aku si wanita tua hendak membalas sakit hati dari tamparan sebuah tangan, maka juga aku telah bawa pergi anak angkatnya Pat Pie Sin Kit si pengemis pemabokan tua bangkotan itu ! Nanti di dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun di Gunung In Bu San, kita akan berjumpa lagi !"

Terkejut Tok Mo mendengar suara yang luar biasa itu. Inilah karena ia ketahui cuma satu orang yang pandai ilmu Bahasa Semut ialah Im Ciu It Mo, Si Bajingan Tunggal Bertangan Lihai yang menjadi kok cu pemilik lemah dari Pat Ban Nia, gunung di Inlam Barat. Ia heran kenapa bajingan itu mendadak muncul di tempat ini, bahkan dia datang merampas si anak muda. Karena ia tahu orang adalah seorang wanita lihai yang tak dapat dibuat permainan, ia berkeok, "Eh, perempuan tua ! Kenapa kau tidak memperlihatkan dirimu untuk kita buat pertemuan ?"

Pertanyaan itu tak ada jawaban, maka juga lewat sesaat tahulah Tok Mo bahwa orang telah pergi jauh, ia menyesal dan sangat mendongkol, dadanya terasa sesak, sebab tidak ada jalan buat melampiaskannya. Maka ia menghampri batu karang besar dibalik mana Siauw Wan Goat lagi menyembunyikan diri. Sebelum tiba ia sudah meluncurkan tangannya menghajar dari jarak yang cukup jauh. Ia menggunakan pukulan Sam Hiauw Liok Piauw Ciang yang lihai.

Hebat pukulan itu, batu itu pecah berhamburan ! Hanya setelah itu, adalah hal yang membuat si Bajingan Racun menjadi heran. Di balik batu terdengar tawa yang nyaring, disitu tampak Siauw Wan Goat bersama seorang tua yang segalanya sama dengan dia sendiri. Pakaian, wajah dan tinggi besar tubuhnya.

Matanya melengak. Tok Mo menjadi gusar.

"Siapakah kau ?" tegurnya bengis. "Kenapa kau menyaru menjadi aku ?"

Orang tua itu tertawa pula, kali ini sambil melengak. Suara tawa itu berkumandang ketengah udara. Setelah tawa sirap, dia lantas mengasi lihat tampang tawar dan berkata seenaknya saja, "Aku yang rendah ialah Ie Tok Sinshe !

Entahlah, kau yang menyamar menjadi aku atau aku yang menjadi kau !'

Tok Mo gusar bukan main. Dia memang sedang mendongkol. Dengan suaranya yang serak dia kata sengit."Kau telah menyaru mejadi aku si tua, kau juga memalsukan namanya Ie Tok Sinshe. Karena kaulah manusia yang tak tahu malu, tak dapat kau dibiarkan hidup di dalam dunia ini !" Dan dengan kemarahannya itu si Bajingan Racun maju dan menyerang.

Orang yang diserang itu tidak berkelit atau berlompat mundur, dengan berani dia menyambuti serangan, maka diantara bentrokan tangan mereka, sama-sama mereka bertolak mundur satu tindak !

Tok Mo terkejut di dalam hati mendapati orang memiliki tenaga yang sama kuatnya dengan tenaganya sendiri. Ia juga menjadi dongkol dan penasaran, maka segera tangannya merogoh sakunya untuk mengeluarkan senjatanya yang istimewa ialah "Giok Lauw Kip Ciauw" kertas yang empat hurufnya dapat menyala itu. Selekasnya ia mengibaskan tangannya dan senjata rahasianya itu berkilau tampaklah asap bagaikan halimun yang warnanya merah tua !

Melihat asap luar biasa itu, orang yang mengaku Ie Tok Sinshe itu tertawa lebar. Dia juga merogoh ke sakunya dan mengeluarkan benda yang serupa, yang juga dapat memperlihatkan api berkilau !

Dari mendongkol dan penasaran dan bergusar sangat, Tok Mo menjadi heran, dia beragu-ragu. "Di kolong langit ini dimana ada orang yang dapat menyamar menjadi dianya begini sempurna, sama tampang dan senjatanya juga ?"

"Benarkah dia Ie Tok Sinshe sejati ?" ia menduga-duga, saking kerasnya berpikir ia menjadi bingung, "Kalau bukan, siapakah dia sebenarnya. ?"

Tok Mo mengeluarkan peluh dingin di dahinya.......

Selekasnya asap lenyap diserbu angin, Tok Mo tidak lagi melihat orang yang menyamarnya itu. Dia heran hinga dia berdiri menjublak, tetapi karena sadar itu dia ingat akan dirinya. Mendadak dia pun lari ke dalam rimba dimana dia menghilang.

Sekarang marilah kita melihat kepada Cukat Tan dan Teng Hiang yang ditinggalkan Siauw Wan Goat di dalam rumah penginapan. Mereka bangun dari tidurnya sesudah matahari naik tinggi. Cukat Tan bangun dari pembaringan dengan mata kesap kesip, selekasnya ia mengenakan bajunya, ia melihat di atas meja tertindih ciaktay, yakni tempat menancapkan lilin sehelai kertas yang bergerak-gerak tertiup angin yang menghembus masuk dari jendela.

Melihat surat itu, Cukat Tan bagaikan orang yang baru siuman dari pingsa ! Maka ingatlah ia yang tadi malam ia telah menempur Gak Hong Kun, bagaimana Siauw Wan Goa ada bersamanya di dalam kamarnya itu. Coba malam itu tidak ada Wan Goat yang membantu, ia yang lagi mengobati Teng Hiang pasti bakal roboh di tangan jahat dari musuh. Setelah itu, karena terbenam dalam laut asmara dengan Teng Hiang, ia atau mereka berdua sampai melupakan Nona Siauw.

Sekarang nona itu entah pergi kemana. Saking likat sendirinya, ia merasai pipinya panas. Pipinya yang jadi bersemu merah itu !

"Ah !" ia memperdengarkan suaranya. Karena ia menyangka surat itu ditinggalkan oleh Wan Goat, ia menoleh ke pembaringan dan kata nyaring, "Celaka ! Tadi malam kita melupai Nona Siauw Wan Goat yang berada di dalam kamar ini ! Dia telah melihat segala apa ! Sungguh malu ! Sekarang dia telah pergi "

Agaknya Teng Hiang terkejut, tetapi ia segera tertawa. "Apakah adik Siauw pergi dengan meninggalkan surat ?" tanyanya.

"Tertindih dengan tempat lilin, ada sehelai surat." sahut Cukat Tan. "Mungkin itu surat peninggalannya. Kau bangunlah

!"

Sembari berkata begitu, si anak muda menghampiri meja, akan mengambil kertas itu dan membaca surat yang tertulis di atasnya.

"Ah !" serunya tertahan.

"Apakah budak itu mentertawakan kita ?" tanya Teng Hiang, yang mendengar tawa orang. Ia pun turun dari pembaringannya.

Cukat Tan berdiri menjublak mengawasi kertas itu. "Apakah sebenarnya ?' tanya si nona yang menghampiri

untuk berdiri di samping si kekasih hingga ia pun dapat melihat kertas itu, yang ada suratnya, singkat saja.

"Lekas pergi ke Lu Sian Giam, untuk berrunding."

Pou To Lo sie....

Cukat Tan mengawasi si nona, nampak dia malu sekali. Kemudian dia menghela nafas dan kata seorang diri, "Cukat Tan, kau sudah melakukan satu kesalahan besar. Belum kau

membalaskan sakit hati gurumu, kau sudah kelelap dalam cinta dan menemani kepelesiran. Apakah masih ada mukamu untuk menemui arwah gurumu nanti ?"

Habis berkata begitu, dengan tindakan perlahan pemuda ini menghampiri pembaringan untuk mengambil pedangnya. Mendadak saja dia menghunus senjatanya itu, terus dia menebas batang lehernya !

Bukan main kagetnya Teng Hiang, sembari menjerit dia berlompat untuk menyampok lengan orang hingga pedangnya si anak muda meleset dan mengenai kulitnya terus pedang itu terlepas dan jatuh ke lantai. Kulit itu mengeluarkan darah, yang lantas mengalir membasahi bajunya.

Cukat Tan berdiri melengak, wajahnya sangat muram.

Ketika ia sadar, ia menggertak gigi lalu dengan tangan kirinya dia menghajar batok kepalanya sendiri !

Kembali Teng Hiang kaget. Sebenarnya dia sedang memeluki tubuh si anak muda.

"Kau gila ?" serunya seraya menghajar iga orang guna mencegak turunnya tangan mautnya anak muda itu.

Karena iganya dihajar itu, serangan tangannya Cukat Tan gagal pula. Tangannya itu cuma mengenai pipinya hingga pipinya itu menjadi bersemu merah.

Teng Hiang membawa tubuh orang untuk diduduki di kursi, terus dia mengawasi dengan mata dibuka lebar. Tadi pun dia memperdengarkan suara dinginnya.

"Ada apakah sebenarnya ?" tanyanya. "Kenapa kau nekad begini ? Apakah kakakmu membuatmu malu ?"

Dengan "kakak" si nona membahasakan dirinya.

Cukat Tan duduk diam, matanya dipejamkan, nafasnya memburu. Rupanya dia penasaran dan menyesal berbareng. Teng Hiang sudah lantas mengobati luka orang.

"Adik" katanya. "Dengan perbuatanmu ini, kau dapat ditertawai orang. Dengan begitu, apakah kau kira kakakmu pun bisa hidup lebih lama pula ?"

Sampai disitu Cukat Tan beharu membuka matanya dan berkata bersungguh-sungguh, "Kau tahu siapa Pou To Lo sie ? Dialah seorang nikouw tua dari Pou To ! Dan dialah locianpwe Haw Thian Sin Ni dari biara Pek Liam Am dibukit Pou To Haylam. Tadi malam locianpwe itu telah datang kemari, sedangkan dia biasanya tak pernah keluar dari pintu barang setindak juga. Dia pula tertua dari Ngo Bie pya, partai kami.

Kalau bukan urusan guruku yang menutup mata karena dicelakai orang, tak mungkin dia datang kemari mencari aku.... aku sendiri..... aku. "

Lantas si anak muda menangis.

Teng Hiang mengeluarkan saputangannya, akan menepasi air mata anak muda itu. Dia heran atas datangnya nikouw tua dari Pou To itu dan merasa malu sendirinya, sebab lakon asmaranya dengan Cukat Tan telah kena dipergoki, mukanya pun menjadi merah.

"Apakah kau kenali benar tulisannya locianpwe itu ?" tanyanya, suaranya menggetar.

"Tidak salah lagi." sahut Cukat Tan. "Kalau locianpwe menulis surat, pada ketuanya selalu ada tandanya yaitu lukisan tipis dari sepasang burung jenjang putih. Sering aku melihatnya dalam surat-suratnya, yang di alamatkan kepada guruku. Nah, kau lihat, apakah itu ?"

Si anak muda menyerahkan suratnya Hay Thian Sin Ni itu. Teng Hiang menyambuti dan melihat. Benar ia mendapati gambar sepasang burung itu. Hanya habis melihat, ia lantas tertawa.

"Kenapakah kau berduka dan berkuatir tidak karuan ?" tanyanya. "Bukankah Hay Thian Sin Ni cuma meminta kita pergi padanya ke Lu Sian Gam ? Aku lihat, dia tentu cuma akan membicarakan sesuatu yang penting. Nah, mari kita lekas pergi memenuhi panggilannya itu."

Matanya si anak muda terbuka lebar.

"Mana ada mukaku buat menemui locianpwe itu ?" katanya. "Tadi malam ia telah mempergoki kita ! Aku menjadi murid kepala dari Ngo Bie Pay, tetapi selagi guruku mati  tercelakakan orang, aku justru berplesiran. "

Teng Hiang menatap orang.

"Oh, kira begitu !" katanya. Dia tertawa. "Sungguh tolol !"

Cukat Tan berlompat bangun untuk berdiri tegak dan alisnya pun terbangun.

"Masihkah kau dapat bicara begini ?" tegurnya. "Hm !"

Teng Hiang berhenti bicara. Dia pun lantas memperlihatkan sikap sungguh-sungguh.

"Sepasang suami isteri saling mencinta, itulah wajar." bilangnya. "Inilah bukannya sesuatu yang tak dapat dilihat orang. Adik, kaulah orang Kang Ouw. Kenapa kau membawa sikapnya si kutu buku ? Takkah itu mengecewakan ? Sudah, jangan kau banyak pikir, mari kita lekas berangkat untuk menemui locianpwe itu dan menerima pengajarannya !"

Tanpa menanti jawaban, nona ini menarik pemuda itu. Dengan membawa pauwhoknya, mereka lantas keluar dari rumah penginapan.

Cukat Tan menurut tanpa mengatakan sesuatu.

Sembari berberesan dengan pemilik hotel, Teng Hiang bersenyum dan kata, "Kami mau berangkat sekarang !

Tahukah kau mana jalan ke Lu Sian Giam ?" Ia pun menyerahkan sepotong perak.

Pemilik hotel itu tertawa.

"Buat pergi ke Lu Sian Giam, nona." katanya, "sekeluarnya dari dusun ini, silahkan kalian menuju ke tenggara, sesudah melalui tujuh atau delapan belas lie, kalian akan tiba di bukit Hek Sek San. Hanya kalau tidak ada urusan terlalu penting

lebih baik nona jangan pergi ke gunung itu. "

Berkata begitu tuan rumah itu tapinya tertawa. Cukat Tan heran hingga dia bertanya. "Kenapakah ?"

demikian tanyanya.

Tuan rumah menggeleng kepala, mendadak parasnya berubah menjadi pucat. Dia hendak membuka mulutnya tetapi gagal.

"Cis !" Teng Hiang memperdengarkan suaranya seraya dia menarik tangannya si anak muda. "Mari kita berangkat ! Buat apa melayani dia. Menyebalkan saja !" Cukat Tan menurut, maka berdua mereka meninggalkan Kho tiam-cu. Mereka berjalan langsung ke arah tenggara. Di dalam waktu yang pendek, mereka sudah melalui kira delapan belas lie. Benar saja, mereka telah tiba di kaki bukit Hek Sek San. Bukit itu panjang tinggi dan rendah tak menentu dan disitupun banyak batu, antaranya ada batu yang aneh-aneh bentuknya. Walaupun di waktu pagi, bukit tampak seram.