Iblis Sungai Telaga Jilid 42

 
Jilid 42

Sementara ini, kita melihat dulu kepada Gak Hong Kun dan Teng Hiang bedua. Seberangkatnya dari Sian Cui pa, mereka menuju ke propinsi Secuan, untuk terus menuju langsung ke Ay Lao Sa. Ketika mereka baru sampai di dusun Kho Thiam cu diluar propinsi Ouwpak, mereka bertemu dengan Lam Hong Hoan dan Bok Cee Lauw, dua bajingan dari To Liong To, pulau naga melengkung.

Kedua bajingan itu, bajingan-bajingan nomor dua dan nomor lima, telah mendengar berita tentang lenyapnya Kang Teng Thian dan Siauw Wan Goat, saudara-saudara mereka yang sulung dan bungsu, yang tak ada warta beritanya lagi sejak bubarnya pertemuan di In Bu San, maka mereka lantas mencari berputaran. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Siauw Tiong Beng dan Cie Seng Ciang, bajingan-bajingan nomor tiga dan empat. Kemudian lagi, mereka mendengar kabar halnya Kang Teng Thian telah kehilangan jiwanya di Siauw Sit San dan Siauw Wan Goat lenyap tak karuan, maka berempat mreka lantas pergi ke Siauw Lim Sie guna membuat penyelidikan. Kebetulan mereka bertemu dengan Gak Hong Kun. Lam Hong Hoan menyangka Hong Kun adalah It Hiong maka muncullah kemurkaannya disebabkan ia ingat urusannya Wan Goat, kehilangan kesucian dirinya di dalam rumah penginapan di Lap kee, hingga ingin dia membalaskan sakit hati saudaranya itu.

"Eh, Tio It Hiong !" serunya bengis. "Kita benar-benar musuh satu dengan lain, maka disini kita bertemu pula !" Tapi kapan dia melihat Teng Hiang berada bersama pemuda itu, ia tegur nona itu, "Budak busuk ! Lantaran mencari laki, kau sudah mendurhaka dari rumah perguruanmu !"

Hong Kun kaget karena teguran itu, dia pun jeri melihat jago-jago dari To Liong To itu berjumlah empat orang. Syukur ia dapat melegakan hati sebab ia disangka It Hiong adanya.

Maka ia menabahkan hati, sambil tertawa ia kata, "Harap jangan gusar. Lam Cianpwe ! Kalau ada urusan, mari kita bicara secara baik-baik."

"Bocah, masih kau berlagak pilon !" bentak Hong Hoan yang terus meraba senjatanya, cambuk lunak, untuk diputarkan.

Ketika itu Siauw Tiong Beng pun kata keras, "Dia ini juga yang menyerbu dan membakar benteng kira serta membinasakan Lie Tay Kong serta beberapa orang murid kita."

Teng Hiang bingung. Dia tidak tahu tentang urusan yang disebut-sebut itu. Dia hanya menyangka orang salah mencari alamat. Maka hendak ia memberi keterangan, agar perjalanannya tak usah terganggu.

"Lamcianpwe." tanyanya. "Kalau cianpwe hendak mencari orang untuk membuat perhitungan dengannya, harap cianpwe mengenali dulu biar jelas ! Dia ini. "

Gak Hong Kun menerka nona itu hendak membuka rahasia kepalsuannya, dengan tampang gusar ia membentak, "Akulah Tio It Hiong, kalau aku bekerja tak pernah aku menyangkal ! Aku juga tidak takut ! Jiwa ketua kamu Kang Teng Thian telah hilang ditanganku, maka perhitungan itu kamu hitunglah atas namaku !"

Di saat genting itu, Hong Kun masih hendak menimpakan kesalahan kepada It Hiong. Sikapnya itu membuat heran sekali pada Teng Siang, sedangkan Cie Seng Ciang menjadi gusar, hingga dia sudah lantas berlompat maju menyerang pada si anak muda itu !

Hong Kun berbicara dengan berwaspada, selekasnya serangan tiba dia mundur satu tindak, sambil mundur diapun menghunus pedangnya pedang Kie Koat, untuk dengan itu lantas membuat penyerangan membalas, ia ada murid Heng San Pay. Wajar saja ia menggunakan ilmu silat ajaran gurunya jurus Mega Musim Semi.

Cie Seng Ciang terkejut, segera dia menarik pulang tangannya. Sebagai seorang Kang Ouw kawakan, tak mudah ia diselomoti. Dia pun berlompat mundur untuk terus mengeluarkan senjatanya, kaitan Cohu Wan-yho kauw. Dia lantas menantang, "Kalau kau benar-benar memiliki kepandaian, mari layani aku beberapa jurus !"

Kata-kata itu ditutup dengan saru serangan kaitan jurus "Burung Walet Terbang Sepasang", yang dapat berubah menjadi tiga pecahan, maka juga sasaran adalah perut, dada dan bahu !

Hong Kun gagah tetapi dia repot atas serangan luar biasa itu, hampir pedang mustikanya tak dapat digunakan, sebisa- bisa dia melindungi diri. Tak mau, atau tak dapat dia membalas menyerang. Baru selewatnya dua puluh jurus, hatinya menjadi tetap pula. Ia telah melihat cara orang bersilat, ia seperti dapat meraba-raba. Demikian selewatnya itu, ia juga mulai membalas menyerang. Pedangnya yang tajam menguntungkan padanya.

Cie Seng Ciang kewalahan melayani pedang mustika lawan, dengan begitu dengan sendirinya dia terus berbalik kena diserang terus terdesak.

Bok Cee Lauw menyaksikan perubahan itu, dia lantas lompat memasuki kalangan, menyerang dengan senjatanya yang luar biasa itu, Goat Lun. Dengan demikian, Seng Ciang menjadi mendapat angin pula, hingga pertempuran menjadi berimbang. hanya, walaupun demikian, pedang mustika lawan membuat dia dan saudaranya harus waspada.

Hong Kun berkelahi dengan mantap. Setelah menang di atas angin, dia lantas memikir menggunakan bubuk beracunnya. Tak ingin dia pertempuran menjadi berlarut-larut lama. Dia pula hendak menunjuki ketangguhannya ! Cie Seng Ciang dan Bok Cee Lauw berkelahi sama kerasnya, dengan begitu lima batang senjata mereka jadi bergerak-gerak dengan sangat cepat, setiap gerakannya membahayakan lawan masing-masing.

Teng Hiang melihat bahwa pertempuran itu sangat membahayakan jiwa kedua belah pihak, tak dapat ia membiarkannya terus.

"Tahan !" demikian serunya.

Suara itu sangat tajam, bagaikan suara genta perak masuk ke dalam telinga. Dengan sendirinya ketiga orang itu menghentikan pertempurannya, semua mengawasi si nona.

Teng Hiang sebaliknya, lantas tertawa manis. Kata dia, "Bukankah kita orang-orang dari satu kaum ? Kalian bertempur demikian hebat, buat apakah ?"

Bok Cee Lauw mengawasi bengis.

"Budak !" serunya. "Budak, apakah kau hendak menipu aku

?"

"Siapakah yang hendak menipu kamu ?" si nona membaliki.

Hanya kali ini dia bicara dengan tampang dan muka sungguh- sungguh.

Sie Seng Ciang heran.

"Murid Pay In Nia ini, apapun hendak dibilang, dia adalah musuh kami !" katanya nyaring. "Dan kau, jika kau tidak memandang kepada Thian Cie Lojin, tak nanti aku memberi ampun padamu!' Suara itu menyatakan bahwa bajingan-bajingan dari To Liong To itu menganggap Hong Kun sebagai It Hiong.

Justru Seng Ciang bicara itu, Hong Kun dengan tangan kirinya meroboh sakunya buat mengeluarkan bubuk beracunnya, atau mendadak dia menjadi kaget sebab tahu- tahu ada serangan menyambar mukanya. Dengan gesit dia berkelit sambil tubuhnya pun lompat ke samping hingga dia bebas.

Teng Hiang melihat kawan itu berlompat, ia menyusul.

Ketika Hong Kun lari terus, ia turut lari juga !

"Kita terpedayakan !" kata Hong Hoan menyesal, dialah yang menyerang Hong Kun barusan.

Seng Ciang menoleh, maka ia mendapati dua orang itu sudah lari jauh, mereka tengah mendaki puncak. Ia penasaran, maka bersama ketiga saudaranya, ia lari mengejar.

Hong Kun dan Teng Hiang tidak lari terus. Mereka mendekam, bersembunyi di sebuah semak rumput tinggi dan tebal. Dari dalam situ diam-diam mereka memasang mata.

Selekasnya Hong Hoan berempat sudah lewat, mereka muncul untuk lari balik, buat mengambil jalan mereka sendiri. Sesudah lari belasan lie, barulah mereka tidak lari lagi hanya berjalan perlahan-lahan.

Teng Hiang menyusuti peluhnya.

"Aku terembet-rembet olehmu..." ia sesalkan Hong Kun. Hong Kun tertawa menyeringai. "Tapi aku pun, karena hendak membantu kau, aku jadi bertemu mereka itu !" katanya.

"Hari sudah magrib, mari kita cari pondokan !" Teng Hiang memutuskan. "Malam ini kita beristirahat."

Selagi berkata begitu, Nona Teng memandang ke depan. Ia melihat sebuah kereta tengah mendatangi dan si kusir kereta lagi tak henti-hentinya membentak-bentak binatang penari kereta itu, sedangkan cambuknya dibunyikan berulang kali.

Kereta itu memakai kerudung dan binatang penariknya nampak sudah letih sekali.

"Lihat binatang itu !" kata si nona tertawa. "Kasihan, dia sudah tak kuat menarik keretanya !'

"Eh !" serunya, tiba-tiba. "Jiu Long tengah berbuat apakah

?"

Sementara itu, kuda sudah lantas mendatangi dekat,

sampai tinggal tujuh tombak lagi.

Tiba-tiba Hong Kun lari memapaki kereta itu, untuk dia lantas menegur, "Eh, sahabat berambut hijau ! Sahabat rambut hijau !"

Si kusir mengangkat kepalanya selekasnya dia melihat orang she Gak itu dia tertawa.

"Ha ha ha Gak Laote !" serunya girang. "Selamat bertemu !"

Seketika itu juga kereta pun dihentikan. Teng Hiang pun menghampiri, maka ia melihat si kusir mempunyai rambut hijau seluruhnya, mukanya kira potongannya mirip muka kuda, sepasang matanya tajam dan galak seperti mata maling hingga siapa melihatnya pasti akan merasa jemu terhadapnya.

Lek Hoat Jiu Long demikian kusir itu sudah lompat turun dari keretanya. Dia menghampiri Hong Kun untuk mencekal tangan orang sembali tertawa dia kata, "Gak Laote, ada urusan apa kau berada disini?" Belum lagi si anak muda menjawab, dia sudah mendahului memandang Teng Hiang seraya terus menanya pula, "Nona itu, adakah dia berjalan bersama-samamu ?"

Hong Kun tidak menjawab, dia hanya tertawa. Kemudian dia kata, "Kami ingin singgah disini, dimanakah ada kampung atau penginapan ? Berapa jauh kiranya dari sini ?"

"Bagus !" kata Jiu Long tertawa. "Sebenarnya aku hendak singgah di Pekyang-peng tetapi karena bertemu kau disini, kita singgah di sini saja. Tempat penginapan tak jauh di sana. Mari kita berjalan sambil memasang omong supaya kita tak kesepian. " Ia menunjuk ke keretanya seraya berkata pula,

"Silakan kau dan nona itu naik ke kereta laote !" Dia berkata kepada Hong Kun tetapi matanya terus melirik Teng Hiang. Ia memanggil "laote" kepada si anak muda. Itulah panggilan yang menandakan eratnya hubungan mereka berdua.

Tanpa sungkan Hong Kun lompat naik ke atas kereta, kemudian ia menggapai pada Teng Hiang sebagai pertanda ia mengundang nona itu naik bersama.

Teng Hiang tidak menyukai wajah dan tampangnya Lek Hoat Jiu Long. Ia sebal terhadap mata orang yang galak, sebenarnya tak ingin dia naik ke kereta orang itu tetapi mengingat kepada Hong Kun ia naik juga. Ia suka mengalah sebab ia membutuhkan bantuannya anak muda itu.

Kapan si nona menyingkap tenda kereta, ia mendapatkan kereta itu gelap sekali. Tak ada jendelanya. Tanpa merasa ia berseru dan keluar pula.

Hong Kun  heran. "Ada apa ?" tanyanya.

Teng Hiang menunjuk ke dalam kereta, kepalanya digelengkan.

Ketika itu barulah si kusir kereta kata pada Hong Kung, "Laote berdiam disini saja, tak usah kalian masuk !"

Hong Kun heran hingga ia lantas menyingkap tenda tetapi di dalam gelap, ia tidak melihat apa-apa, setelah itu ia tak menghiraukannya lebih jauh.

Teng Hiang sebaliknya heran, hingga ia menjadi bercuriga. Pikirnya, "Orang ini bermacam luar biasa, pasti dia bukannya orang baik-baik. Kenapa Gak Hong Kun bersahabat erat dengannya ?" Karena ini diam-diam ia menyingkap pula tenda dan nyelusup masuk ke dalamnya. Kali ini dia menyalakan api hingga ia melihat ke dalam kereta itu duduk bercokol seorang tua, matanya dipejamkan, alisnya dirapatkan, mukanya keriputan.Dandanannya mirip seorang pelajar. Dia duduk tak bergeming, sebagai orang lagi tidur nyenyak.

Dengan menyuluhi apinya itu, kemudian Teng Hiag mendapatkan di kakinya si orang tua rebah melingkar seorang perempuan muda, yang kaki dan tangannya terikat, tetapi punggungnya menggendol cepatan pedang panjang. Pedang itu menandakan halnya si nona mestinya orang rimba persilatan. Mukanya nona itu tak tampak sebab sebagian mukanya itu tertutup rambutnya yang panjang dan terurai dan dari muka yang sebelah saja, dia tak terlihat tegas dan tak dapat dikenali.

Oleh karena si orang tua tetap duduk tak berkutik, Teng Hiang maju mendekati si nona orang tawanan itu. Ia berjongkok untuk dapat menyingkap rambutnya. Kali ini ia berhasil. Wanita itu Siauw Wan Goat adanya.

Tiba-tiba matanya si nona yang tadinya dirapatkan dibuka, dipakai mengawasi nona Teng. Biji mata itu diputar beberapa kali, lalu ditutup pula. Sebagai gantinya air matanya lantas meleleh keluar.

Teng Hiang heran dan terkejut. Air mata itu berarti permintaan tolong. Karenanya ia menduga pasti Wan Goat tak berdaya sebab totokan. Tiba-tiba timbul rasa kasihannya, meskipun mereka berdua tak bersahabat. Mereka sama-sama orang Kang Ouw dan sama-sama wanita juga. Rasa kasihan dapat timbul sendirinya.

Diam-diam Teng Hiang meletakkan jari tangannya di tubuhnya Siauw Wan Goat. Tanpa menerbitkan suara apa-apa, ia menotok jalan darah si nona itu, "jalan darah hoa kay" untuk menyalurkan tenaganya ke dalam tubuh orang.

Setelah lewat waktu sehirupan teh, Siauw Wan Goat menghela nafas. Dia membuka mulutnya hendak bicara tetapi gagal. Dia pun mencoba menggerakkan pinggangnya.

Teng Hiang terus berdiam. Ia mengerti pertolongannya telah membawa hasil baik. Ia tidak mau membuka suaranya supaya ia tak membuat si orang tua mendusin. Karena itu ia cuma memberi isyarat gerak-gerakan tangan bahwa ia hendak membantu nona itu.

Wan Goat mengangguk, wajahnya menunjuki bahwa dia sangat bersyukur.

Tiba-tiba terdengar satu suara batuk kering, Teng Hiang terkejut hingga ia lantas menoleh kepada si orang tua. Ia mendapati mata orang terbuka dan sinarnya sangat tajam, hanya sedetik sinar itu sirna. Dalam kagetnya Teng Hiang mundur ke mulut tenda, ia bersiap sedia karena ia menyangka si orang tua telah mendusin dari tidurnya dan telah melihat padanya !

Orang tua itu terus duduk diam seperti semula, matanya cuma terbuka selewatan itu lalu dipejamkan pula.

Menyaksikan demikian Teng Hiang mau menerka bahwa orang tua itu tengah terluka dan lagi menyalurkan pernafasanya guna mengobati lukanya itu luka di dalam tubuh.

"Kalau dugaanku ini tepat, si orang tua itu lagi menghadapi saat gentingnya." pikirnya. "Di dalam keadaan seperti itu dia pasti tidak dapat menggerakkan tangan atau kakinya.

Bukankah ini saat paling baik buat membantu Wan Goat ?"

Teng Hiang cerdas dan pengalamannya pun tidak sedikit, melihat keadaan itu, hatinya menjadi besar. Dengan berindap- indap ia maju pula. Dengan jeriji tangannya yang kuat ia mencoba memutuskan tali belenggunya Nona Siauw.

Tepat itu waktu si orang tua keriputan itu membuka pula kelopak matanya hingga tampak pula sinar matanya yang tajam dan bengis itu, tajam mengawasi Nona Teng, sedang dari mulutnya terdengar satu suara dingin. Teng Hiang kaget hingga tubuhnya bergemetar. Hanya untung baginya, lagi-lagi orang tua itu kembali berdiam saja. Dengan berani ia mengangkat bagian tubuhnya Wan Goat.

Karena hatinya tegang, tanpa merasa tangannya bergemetar, sampai apinya bergetar, cahaya memain.

Kedua nona sama-sama tahu diri, maka itu keduanya bergerak tanpa membuka suara. Mereka saling memberi isyarat dengan kedipan mata, buat bersiap melarikan diri bersama.

Lagi-lagi terdengar satu suara tawar, hanya kali ini suara itu disusul dengan kata-kata ini, "Kamu sudah terkena racun yang jahat, apakah kamu masih memikir buat melarikan diri ?"

Itulah suara dingin dan bengis dari si orang tua. Kedua nona kaget, hingga tubuh mereka menggigil. Kata-kata racun yang jahat membuat mereka kaget sekali.

Wan Goat kurang pengalaman, lantas meraba-raba tubuhnya buat mencari tahu anggauta tubuhnya yang mana yang terkena racun seperti katanya orang tua itu. Ia tidak mendapatkan sesuatu. Maka ia menjadi gusar dan menegur si orang tua, "Kaulah seorang yang usianya sudah lanjut, bagaimana kau masih menggertak menakut-nakuti orang ?"

Teng Hiang sendiri diam-diam mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, tiba-tiba ia merasa pengerahannya itu tak lurus, jalan darahnya seperti mendapat hambatan, sedangkan lengannya lantas terasakan dingin. Tidak ayal lagi, tanpa ragu, ia menghunus pedangnya untuk terus mengancam dadanya si orang tua sambil membentak. "Lekas keluarkan obat pemunahmu atau akan aku ambil nyawamu !" Setelah itu ia mengedipi mata pada Wan Goat menyuruh nona itu turun tangan. Nona Siauw segera menghunus pedangnya, dengan lantas ia menikam ke arah tantian dari si orang tua.

Sejenak orang tua itu kaget atau lantas dia tenang pula, bahkan dengan dingin dia berkata, "Oo, bocah, darimana kau dapati pelajaran menjadi galak ini ? Baiklah akan aku si orang tua memberikan kamu obat pemunahnya !"

Berbareng dengan kata-katanya itu dada dan perut si orang tua bergerak atau segera juga pedangnya nona-nona itu dapat disampok ke samping. Menyusul itu tubuhnya nampak limbung. Hanya kali ini dia terus menyodorkan tangan kirinya yang mencekal sebuah peles obat pulung !

Dengan cepat Wan Goat menyambut peles obat itu, terus ia mundur satu tindak, untuk membuka tutup peles. Ia menyimpan dahulu pedangnya. Atau segera ia mendengar si orang tua berkata dengan suaranya yang serak, "Sudah cukup kalau kau makan satu butir saja ! Eh, apakah kalian berani makan obatku ini ?"

Wan Goat heran hingga ia menjublak. Teng Hiang pun turut terpengaruhkan, sampai ia juga beragu-ragu. Obat itu harus dimakan atau tidak ?

Tiba-tiba Teng Hiang ingat sesuatu, maka kembali ia mengancam dengan pedangnya.

"Siapakah kau ?" tanyanya bengis.

Si orang tuamerem melek, atau ia lantas mementang matanya itu. "Aku si orang tua ialah yang dipanggil Ie Tok Sinshe !" sahutnya tenang.

Dua-dua Teng Hiang dan Siauw Goat tidak kenal Ie Tok Sinshe. Dengar pun belum pernah halnya jago racun yang namanya tersohor pada empat puluh tahun dahulu itu.

"Kenapa aku belum pernah mendengar namamu ?" tanya Wan Goat polos. "Apakah kau kenal kakak seperguruanku ?"

Si orang tua tertawa.

"Siapakah itu kakak seperguruanmu ?" tanyanya. "Berapakah usianya ?"

"Kakak seperguruanku itu Kang Teng Thian." Nona Siauw menjawab dengan sebenarnya. "Dia sudah berusia enam puluh tahun. Dia pun sudah "

"Jangan ngoceh tidak karuan dengannya adik !" Teng  Hiang kata. Dan ia lantas menyerang, menikam dengan satu jurus dari ilmu silat pedang yang istimewa dari Thian Cie Lojin.

Orang tua berkeriputan itu menjerit, tubuhnya berputar, bergerak dari tempatnya duduk, turun ke bawah, berdiri di dalam kereta ! Teng Hiang mendapatkan serangannya gagal, ia mengulanginya. Si orang tua mengibaskan lengan tangan bajunya.

"Apakah kau muridnya Thia Cio si siluman tua ?" tegurnya.

Teng Hiang gusar yang gurunya disebut sebagai si siluman tua, bukannya ia menjawab ia justru menyerang saja, bahkan dengan dua tusukan saling susul. Di dalam murkanya itu dapat dimengerti kalau serangannya hebat sekali. Hebat si orang tua. Dia sangat gesit dan lincah. Dengan bergerak ke kiri dan kanan, tubuhnya bebas dari ujung pedang. Kemudian dia kata tenang-tenang, "Ilmu pedangmu ini telah mendapati lima bagian dari kepandaian gurumu itu ! Tidak kecewa, tidak kecewa ! Aku justru ingin mengambil kau sebagai muridku !"

Menutup kata-katanya itu si orang tua lantas menyedot, membuat padam apinya Teng Hiang, padam disedot ke dalam mulutnya ! Maka seketika itu juga gelaplah kereta.

Nona Teng dan Wang Goat kaget sekali, tentu saja mereka bingun dan ingin menyingkir dari dalam kereta itu atau mereka menjadi terlebih kaget pula. Mendadak api berkelebat menyambar kain tenda yang terus menyala hingga tampaklah cahaya terangnya api itu ! Dirintangi api, Teng Hiang dan Wan Goat tidak dapat lompat keluar. Terpaksa mereka kembali ke tempat dimana tadi mereka mengambil tempat.

Bertepatan dengan itu berhentilah kereta itu berjalan dan dari luar kereta lantas terdengar suara nyaring, "Oh budak perempuan busuk ! Bagaimana kau berani membakar keretaku

?"

Itulah suaranya si tukang kereta. Api sementara itu berkobar terus, atau mendadak datang hembusan angin yang keras yang membuat kebakaran itu padam.

Ketika itu si orang tua keriputan sudah lompat turun ke tanah, dia memutar tubuhnya dan menggapai ke kereta, "Anak, mari turun !"

Lek Hoat Jiu Long sementara itu kaget melihat dari dalam keretanya lompat turun orang tua bermuka keriputan itu. Sejak dia lolos dari bahaya di luar kota Ceelam dimana dia ditolongi Gak Hong Kun dan Teng It Beng dia terus merantau. Dia mengerti keganasannya bubuk beracun yang menyebabkan mati dan lukanya dua orang muridnya pendeta dari Goan Cie Sie, maka kemudian dia mencari bubuk serupa itu. Dengan mempunyai benda beracun dia jadi semakin jahat.

Pada suatu hari di dalam kota Gakyang, Lek Hoat Jiu Long bertemu dengan Siauw Wan Goat. Dia tersengsem oleh kecantikannya nona itu lantas ia menguntitnya. Malam itu, kira-kira jam tiga di penginapan, Wan Goat disergap. Dia memasuki kamar dengan membongkar jendela. Langsung dia menghampiri pembaringan. Waktu dia menyingkap kelambu, lantas dia melihat si nona sedang tidur yang tubuhnya sangat menggiurkan. Tanpa ayal lagi dia melancarkan tangannya niatnya akan menotok nona tiu agar si nona tak sadarkan diri.

"Plak-plok !" demikian terdengar dua kali suara tamparan.

Itulah tamparan pada mukanya Lek Hoat Jiu Long, yang membuatnya kaget dan nyeri, kepalanya pusing, telinganya berbunyi. Tapi dia tak takut, dia justru gusar. Maka sambil memutar tubuh, dia menyerang ke arah darimana serangan datang. Itulah jurus "Harimau Galak Menoleh."

Serangan ini mendatangkan satu suara keras tetapi juga menyebabkan si penyerang merasai tangannya nyeri.

Serangan dia bukan mengenai sasarannya hanya sebuah kursi hingga kursi itu berantakan ! Dia heran ! Kursi biasa dipinggiran dinding, kenapa sekarang berada di tempat lain bahkan di belakangnya.

Dalam bingung Jiu Long menoleh ke kelilingan. Kamar itu kosong. Kursi di sisi meja jadi tidak ada. Jadi itulah kursi yang barusan terhajar olehnya. "Heran !" pikirnya sambil berdiri menjublak.

Tiba-tiba terdengar suara orang bicara, datangnya dari kelambu. Kata suara itu, "Lek Hoat Jiu Long, kau wakilkan aku membawa wanita ini ke penginapan di Kho tiam cu. Kau tahu atau tidak ?"

Jiu Long bukan menjawab ia hanya segera menyerang pula ke dalam kelambu, hingga kelambunya tersingkap, hingga ia melihat si nona rebah melingkar dengan tangan dan kakinya terbelenggu sedangkan rambutnya tubuhnya tak berkutik. Ia menjadi bertambah heran.

Hanya sebentar datang pula suara dari dalam kelambu itu, dingin dan mengancam, "Jika kau tahu diri, lekas lakukan apa yang aku perintahkan ! Lekas ! Awas jangan memikir yang tidak-tidak terhadap si wanita ! Atau kau bakal mati dengan terlebih dahulu mengalami siksaan dengan api ! Hm !"

Jiu Lonng tidak puas. Ia tidak melihat orang yang suaranya pun tidak dikenal.

"Sahabat, jangan membawa lagak bajinganmu." tegurnya. "Kenapa kau bersembunyi saja hingga kau malu menemui orang ?"

"Plak-plok !" demikian terdengar pula suara gaplokan pada telinga, dan kali ini lebih hebat hingga matanya Jiu Long berkunang-kunang dan pipi bengap, bahkan mulutnya mengeluarkan darah hidup !

Kali ini runtuhlah semangatnya Lek Hoat Jiu Long. Dengan menahan nyerinya, ia merangkap kedua belah tangannya sembari memberi hormat dengan menjura ia kata memohon, "Cianpwe, tolong aku. Berbelas kasihan padaku. Baiklah aku yang muda akan aku lakukan apa yang diperintahkan !" Ia terus menghampiri pembaringan akan mengangkat dan memondong tubuhnya Wan Goat buat dibawa keluar dari dalam kamar bahkan malam-malam juga, ia membawanya keluar dari kota Gakyang. Setelah fajar muncul ia menyewa kereta, tubuhnya si nona diletaki di dalam kereta itu, yang tendanya ditutup rapat setelah itu ia sendiri yang bekerja sebagai kusir melakukan perjalanannya itu.

Kemudian lagi dari dalam kereta muncullah seorang tua muka keriputan, yang berdandan sebagai pelajar. Melihat orang tua itu, Lok Hoat Jiu Long kaget dan heran, nyalinya ciut.

"Apakah kau si penarik kereta ?" tanya orang tua itu sambil menuding seraya terus dia mengulapkan tangannya, untuk segera membentak, "Masih kau tidak mau lekas-lekas menjalankan keretamu ini ?"

Sementara itu Teng Hiang dan Wan Goat tidak memperdulikan si orang tua keriputan itu, mereka lantas berlari pergi. Gak Hong Kun melihat perbuatan orang.

"Teng Hiang !" teriaknya. "Teng Hiang, aku ada disini !"

Teng Hiang berlari terus ketika ia menoleh, ia kata, "Masih kau tidak mau mengangkat kaki ? Dialah Ie Tok Sinshe !"

Hong Kun heran hingga ia melengak. "Apa itu Ie Tok Sinshe ?" tanyanya.

Lek Hoat Jiu Long bergetar seluruh tubuhnya kapan dia mendengar disebutnya nama Ie Tok Sinshe itu, diam-diam ia berlari pergi tetapi baru lari empat tombak dia sudah berhenti, terus dia berjalan balik langsung menghampiri si orang tua untuk memberi hormat sambil menjura.

"Cianpwe Ie tok Sinshe." katanya, suaranya menggetar. "Dapatkah nona yang diikat itu yang berada di dalam kereta diserahkan kepadaku ?"

"Apa ?" tanya si orang tua keriputan dingin.

Kembali Lek Hoat Jiu Long memberi hormat, ia membungkuk hampir mengenai tanah.

"Aku menerima perintah orang buat mengantar nona itu ke Kho tiam cu." ia memberi keterangan. "Kalau cianpwe menyerahkan dia padaku maka dapat aku menyelesaikan tugasku. "

Ketika itu Teng Hiang bertiga sudah memisahkan diri belasan tombak jauhnya.

"Apa ?" tanya si orang tua, acuh tak acuh atau mendadak tubuhnya mencelat terus dia lari, hingga dilain saat tahu-tahu dia sudah menyusul ketiga orang itu dan menghadangnya !

"Hai, anak !" dia menegur. "Tubuhmu telah terkena racun mana dapat kau berlari pergi ? Apakah kau sudah tak menghendaki lagi nyawamu ?"

Terpaksa, Teng Hiang bertiga berhenti berjalan.

Kata lagi si orang tua, "Jika kamu mau mendapatkan obat pemunahnya, kau mesti menjadi muridku !" Gak Hong Kun gusar, tanpa mengatakan sesuatu ia menghunus pedangnya, terus ia membabat pinggangnya orang tua itu !

"Hendak aku lihat, Ie Tok Sinshe mempunyai bisa apa !" demikian dia membentak.

Lincah sekali orang tua bermuka keriputan itu lompat berkelit. Ia tidak membalas menyerang, ia pula tidak menegur hanya sambil tertawa ia kata, "Ah anak, apakah kau juga ingin menjadi muridku ?" Ia bertanya sambil menatap.

Hong Kun tertawa tawar.

"Bagaimana kalau aku menghendaki itu ?" tanyanya.

Mendadak, lagi sekali ia menyerang, tubuhnya mencelat maju, pedangnya membacok !

Salah satu jurus dari Heng San Pay, namanya "Angin Menggulung Menjumpalitkan Salju."

Sebelum pedang tiba pada sasarannya, tubuh si orang tua sudah lenyap dari depan penyerangnya, siapa sebaliknya lantas merasai tengkuknya tertiup angin shilir yang hawanya nyaman. Ia tertiup pada bagian jalan darah ouw lian.

"Ha ha ha !" terdengar si orang tua tertawa. "Kamu bertiga, kamu sudah terkena racunku yang sangat beracun ! Di dalam waktu satu bulan, lekas-lekas kamu tiba di In Bu San buat mengangkat aku sebagai gurumu !'

Selekasnya suara orang itu sirap, orangnya pun sudah lantas pergi berlalu. Teng Hiang bertiga melihat orang kabur ke arah rimba dimana dia lenyap. Mereka heran, mereka mengawasi dengan melongo. Justru mereka berdiam, Lek Hoat Jiu Long lari kepada mereka. Setibanya mendadak dia berlompat kepada Siauw Wan Goat yang terus dia totok jalan darahnya di pempilingannya.

Nona Siauw kaget sekali. Boleh dibilang ia tengah tak bersiaga. Tak dapat ia berlompat guna menyingkirkan diri. Apa yang ia bisa lakukan ialah melengos kepalanya tetapi segera ia merasai nyeri pada dahinya !

Teng Hiang berada di dekatnya Nona Siauw, dia pun terperanjat. Sebab datangnya serangan tak disangka-sangka, walaupun demikian dia sempat menyampok kepada penyerang itu !

Jiu Long tengah menyerang, ia tidak memikirkan lainnya apa juga. Ia baru kaget setelah diserang itu. Walaupun ia mau berkeliat masih ia terlambat sedikit, maka lengan kanannya kena terhajar sampai ia limbung tiga tindak.

Tidak ada maksud mencelakai dari Jiu Long yang menyerang Wan Goat. Ia hanya hendak merobohkan si nona buat ditawan, diantarkan ke Kho tiam cu seperti ia diperintahkan "orang yang ia tidak kenal" itu sekalian ingin ia mengambil hatinya nona itu. Penyerangannya Teng Hiang itu membuatnya kaget, bahkan ia lantas menginsyafi nona ini mestinya kosen, ia sendiri melawan kedua nona itu, ia bersangsi akan memperoleh kemenangan. Begitulah ia menoleh kepada Hong Kun dengan maksud meminta bantuan sahabat itu.

Hong Kun sebaliknya, menggeleng-geleng kepala. "Mari kita pergi !" dia mengajak. "Sampai di Kho tiam cu baru kita bicara !'

Wan Goat sementara itu baru melihat tegas, orang yang bicara belakangan ini mirip dengan It Hiong.

"Kakak, apakah kakak baru datang dari Siong San ?" tanyanya kepada Teng Hiang.

Ia heran, kalau orang itu It Hiong kenapa si anak muda dapat mendahuluinya.

"Bukan." sahut Teng Hiang. Nona Siauw berpikir keras.

"Dimana kakak bertemu kakak Hiong ?" kemudian dia tanya pula Nona Teng. "Sekarang kalian mau pergi kemana ?"

Baru sekarang Teng Hiang mengerti yang Wan Goat menerka Hong Kun adalah It Hiong.

"Kasihan dia masih belum sadar. " pikirnya. "Dia tetap

tidak dapat membedakan kepalsuannya Hong Kun. " Maka ia

menghela nafas dan kata menyesal, "Adik, pengalamanmu dalam kalangan Kang Ouw masih sangat sedikit. "

Heran Wan Goat memperoleh jawaban yang bukan jawaban itu. Sambil mengawasi nona itu, ia menghampiri sampai dekat, untuk terus menggenggam tangan orang.

"Apakah katamu kakak ?" tanyanya ia.

Sejenak itu Teng Hiang serba salah. Ia sudah janji kepada Hong Kun yang ia tidak akan membuka rahasia orang. Sebaliknya ia berkasihan terhadap si bungsu dari pulau Naga Melengkung ini yang jujur dan polos hingga menjadi bodoh. Ia terpaksa menjawab, "Dia ini bukannya Tio It Hiong dari Siong San, dialah Tio It Hiong dari Heng San."

Wan Goat berdiri menjublak saking bingung. Baru ia tahu hal adanya It Hiong dari Siong San dan Heng San.....

Hatinya Hong Kun tak wajar kapan ia melihat Wan Goat.

Apa pula nona ini terus memasang omong dengan Teng Hiang maka juga ia lantas kata keras pada si nona Teng, "Teng Hiang, kau mau pergi ke Bu Liang San atau tidak ?"

Teng Hiang cerdik. Ia dapat menangkap maksudnya Hong Kun, maka sambil menarik tangannya Wan Goat ia menghampiri pemuda itu. Ia pun tertawa.

"Kenapa kau marahi aku ?" tanyanya.

Hong Kun tidak membuka mulut lagi, ia mengibaskan tangannya terus ia memutar tubuh dan berjalan pergi. Terus ia berlari-lari. Dengan berlalunya mereka bertiga, berlalu juga Lek Hoat Jiu Long. Selekasnya mereka itu pergi dari belakang kereta muncullah seorang pemuda yang terus lari menyusul.

Siapakah pemuda itu ? Dia bukan lain dari Cukat Tan dari Ngo Bie Pay !

Sudah sekian lama Cukat Tan menguntit Teng Hiang dan Hong Kun berdua, waktu mereka itu naik kereta ia bersembunyi di belakang kereta itu, walaupun demikian ia heran atas munculnya si orang tua keriputan itu. Ia tak tahu kapan datang dan masuknya orang ke dalam kereta. Hanya gerak gerik dan segala kata-kata Teng Hiang selama di dalam kereta ia lihat dan dengar semua. Balik pada Hong Kun, setibanya di tempat tujuan dan mengambil hotel, dia sengaja minta empat buah kamar, dengan begitu mereka masing-masing mendapati sebuah dan letaknya kamar Teng Hiang dan Wan Goat ia yang pilih juga supaya sebentar malam dapat ia wujudkan apa yang ia pikir.

Tak ada rasa cintanya Hong Kun sedikit jua terhadap Wan Goat, kalau dia main asmara dengan nona itu, itu melulu guna melampiaskan tak kepuasan dan pikiran pepatnya. Bahkan semenjak kejadian di Lapkee ia menjadi banyak pusing. Di lain pihak dia kuatir Wan Goat nanti membuka rahasian. Maka itu diam-diam dia telah berunding dengan Lek Hoat Jiu Long dalam hal dia hendak turun tangan terhadap Teng Hiang, sedang Jiu Long ingin mendapatkan Wan Goat !

Adalah diluar dugaannya kedua laki-laki busuk itu, gerak gerik mereka ada yang awasi tanpa mereka curiga apa-apa. Di sana ada burung gereja di belakangnya si tonggeret !

Malam itu Lek Hoat Jiu Long sudah di dalam kamarnya dengan matanya terbuka seluruhnya. Dia lagi menantikan kesempatan. Di depan matanya terbayang kecantikan Nona Siauw. Di dalam otaknya, dia juga ingat akan si orang tak dikenal yang telah menggaploknya, yang menyuruhnya mengantarkan nona tawanannya itu. Maka sendirinya hatinya menjadi kurang tentram.

Kapan telah mendengar suara kentongan dua kali, Jiu Long lompat turun dari pembaringan. Ia lantas menolak daun jendela, hingga ia melihat gelap petang di luar hotel dan sang malam sunyi sekali. Rupanya semua penghuni penginapan lainnya sudah pada berlayar di pulau kapuk atau mereka tengah bermimpi...... Hanya bersangsi sebentar, Jiu Long dapat menguasai dirinya. Napsu binatangnya mengalahkan keragu-raguannya. Segera ia merogoh sakunya dimana ia menyimpan bie hun to hun, bubuk biusnya. Ia pun memeriksa pisau belari di pinggangnya. Di akhirnya, sambil menggertak gigi, ia lompat keluar dari kamarnya. Langsung ia menuju ke kamarnya Siauw Wan Goat, yang terpisah dengan sebuah halaman, sedangkan kamarnya Teng Hiang, terpisah dari kamarnya Nona Siauw dengan sebuah gang. Tegasnya, kedua kamar nona-nona itu terpisah satu dari lain. Itulah karyanya Gak Hong Kun.

Di bawah jendelanya Wan Goat, Jiu Long mendekam sambil memasang telinga dan mata, telinga mendengari suara dari dalam kamar, matanya melihat kelilingnya, terus ia mengintai ke dalam kamar itu. Selekasnya dia mendapati segala apa sunyi, lantas dia mengeluarkan pisau belatinya, guna mencongkel daun jendela, habis membuka itu, segera ia menghembuskan masuk bubuk jahatnya. Ia meniup dengan hawa mulutnya ! Setelah itu ia berdiam menantikan selama beberapa detik. Selekasnya ia mendapatkan kepastian kamar tetap sunyi, dengan berani ia mementang kedua daun jendela, untuk berlompat masuk ke dalamnya.

Di dalam kamar, memandang kepada pembaringan Jiu Long menjadi heran. Pembaringan itu serta seluruh kamar tak ada penghuninya, entah Siauw Wan Goat telah pergi kemana. Kemudian ia terkejut sendirinya. Selagi ia mengawasi api lilin di atas meja, ia merasa seram. Mendadak ia ingat si orang tak dikenal, yang tak memperlihatkan diri tetapi yang ia takuti......

Karena jerinya itu, Jiu Long lantas merasakan rupa-rupa. Ia seperti melihat satu wajah yang bengis dimana-mana diseluruh kamar itu dan telinganya seperti mendengar tawa dingin dari orang yang ditakutinya itu ! Dalam takutnya itu, walaupun ia telah memikirnya, Jiu Long juga tidak dapat melompat jendela buat pergi berlari. Ia jalan mondar mandir dengan pikiran tidak karuan. Dia seperti pusing kepala dan kabur matanya, tak dapat dia mencari pintu atau jendela......

Paling akhir tibalah saat yang penghabisan. Mendadak Lek Hoat Jiu Long menjerit sendiri dan roboh tak berdaya !

Sebenarnya Siauw Wan Goat sudah meninggalkan hotelnya dan tengah membuat perjalanan ke In Bu San. Malam itu ia tak dapat lantas tidur pulas, sebab hatinya terus bekerja.

Terutama ia pikirkan Tio It Hiong. Kenapa ada It Hiong dari Siong San dan dari Heng San ? Karena ia mencintai It Hiong dari Siong San, ia mengambil ketetapan tak memperdulikan siapa. Ia hanya memerlukan It Hiong dari Siong San itu !

"Syukur aku bertemu Teng Hiang." pikirnya kemudian. Tanpa Teng Hiang tak nanti ia lolos dari tangan musuh. Bukankah ia telah ditawan dan dibelenggu ?

Kemudian ia memikirkan It Hiong dari Heng San ini dan kawannya itu.

"Yang pasti mereka berdua bukan orang baik-baik. Baiklah aku menyingkir dari hadapan mereka !" demikian pikirnya lebih jauh. "Kalau tidak bisa aku roboh ditangan mereka itu !"

Wan Goat tidak secerdik Teng Hiang, tetapi dasar orang Kang Ouw dapat juga ia memikir sesuatu untuk kebaikannya. Malam yang sunyi pun membantu menjernihkan otaknya.

"Aku mesti bekerja guna It Hiong!" katanya di dalam hati. Kapan ia ingat janjinya pada Tio It Hiong. Maka ia mengambil keputusan batal pulang ke To Liong To, sebaliknya mau ia pergi ke In Bu San, guna menyelidiki gerak geriknya kaum sesat di sana guna merusak sepak terjangnya Bu Lim Cit Cun. Ia pun ingin melihat si orang tua bermuka keriputan itu, sebenarnya dia orang macam apa !

Segera Wan Goat mengambil keputusannya, lantas dia bekerja. Dia lompat turun dari pembaringannya dengan membawa pedangnya. Dia membuka pintu kamar dan meninggalkan kamar itu secara diam-diam. Hampir ia lantas pergi atau ia ingat Teng Hiang si nona penolong maka ia pikir baiklah ia menemui nona itu guna menghaturkan terima kasih serta berpamitan. Maka menujulah ia ke gang yang akan membawanya ke kamarnya nona Teng.

Selagi mendekati pintu kamar, Wan Goat heran. Ia mendengar suara bergbarukan di dalam kamarnya Teng Hiang seperti terbalik-baliknya kursi dan meja. Ia menjadi bercuriga, sambil berlompat ia sampai di depan pintu. Ia lantas mengangkat tangannya guna mengetuk pintu atau segera ternyata pintu itu cuma dirapatkan. Baru saja terbentur tangan, daun pintu sudah terbuka. Maka juga di dalam situ lantas terlihat dua orang sedang bertempur, dan diantara sinar lilin, cahaya pedang berkilauan.

Wan Goat bertindak masuk terus ia memasang mata. Ia melihat salah seorang ialah yang berwajah seperti Tio It Hiong dan yang lainnya seorang muda yang mengenakan topeng.

Pertempuran itulah yang mendatangkan suara berisik kursi meja tadi.

"Berhenti !" seru Wan Goat sambil dia menghunus pedangnya. Si anak muda bertopeng melompat mundur, terus ia mengawasi nona itu, untuk akhirnya lantas menanya, "Nona, apakah kau nona Siauw. ?"

Wan Goat melintangi pedangnya di dadanya. "Siapakah kau ?" dia balik bertanya.

Hong Kun sebaliknya menjadi jengah melihat munculnya nona itu. Ia pun kuatir dengan berbicara, si anak muda bakal membuka rahasianya hingga Wan Goat mengetahuinya. Dasar cerdik, ia lantas mendapat akal.

"Adik Wan Goat, buat apa diajak bicara lagi dengannya ?" katanya. "Dia si bangsat perampas paras elok. Mari kita bekuk dahulu baru kita bicara lagi !"

Wan Goat merasai kulit mukanya panas mendengar kata- kata perampas paras elok itu. Itu artinya si anak muda bertopeng adalah seorang penjahar tukang memetik bunga, tukang mengganggu kehormatan atau kesuciannya kaum wanita. Ia lantas melihat ke pembaringan. Di sana Teng Hiang rebah tak berkutik dan pakaiannya kusut ! Rupanya dia telah orang totok pingsan.....

Bukan main gusarnya Nona Siauw, mendadak saja dia menikam si anak muda.

Anak muda itu terkejut, lantas dia mundur dan pedangnya dipakai menangkis. Sama sekali dia tidak membalas menyerang. Cuma dengan suara dingin, dia kata, "Hm, Nona Siauw ! Kau lihat dia biar tegas, dia orang macam apakah ?" Dia menunjuk, menuding pada Hong Kun, sambil meneruskan. "Dialah Tio It Hiong palsu ! Dialah Heng San." Tak sempat si anak muda melanjuti kata-katanya, Hong Kun sudah lantas lompat maju menikam padanya, hingga ia mesti menangkis dan melayani bertempur pula ! Cuma sebab ia tahu lawan memakai pedang mustika, tak mau ia mengadu senjata. Terpaksa ia mundur ke jendela.

Siauw Wan Goat bagaikan terasadar selekasnya dia mendengar keterangan bahwa Tio It Hiong itu adalah Tio It Hiong palsu. Bukankah Teng Hiang telah berkatai ia bahwa Tio It Hiong ada yang dari Siong San, ada juga yang dari Heng San. Tapi dia masih saja bersangsi hendak ia menyapa tegas- tegas dulu kepada Teng Hiang. Maka ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya terus ia lompat ke pembaringan untuk memeluk dan mengangkat tubuhnya kenalan itu.

Teng Hiang lemas, tak ada tanya yang ia telah kena tertotok. Lantas ia berpaling kepada dua orang di dalam kamar itu, mengawasi bergantian dengan tajam.

"Apa yang kamu sudah perbuat atas dirinya kakak Teng ini

?" tanyanya.

"Buat apa disebut lagi ?" Hong Kun mendahului menjawab. "Siapa tukang merampasi wajah elok dia pasti menggunakan obat pulas !" Berkata begitu mendadak dia lompat menerjang pula si anak muda sambil dia membentak : "Lekas kau keluarkan obat pemunah racunmu ! Jangan kau tak tahu diri !"

Si anak muda bertopeng berkuatir melihat keadaannya Teng Hiang itu. Inilah terbukti dari sinar matanya. Karena mukanya tertutup kedok, wajahnya tak tampak. Dengan cepat dia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kota kemala terus dia lompat ke arah pembaringan atau Hong Kun segera menghadangnya ! "Kalau kau berani maju lagi satu tindak," orang she Gak itu mengancam dengan pedangnya juga, "awas !"

Terpaksa anak muda bertopeng itu mundur pula ! Wan Goat mengawasi.

"Kalau kau yang membikin kakak Teng tak sadar ini, lekas kau lemparkan obat pemunahmu itu!" katanya pada si anak muda.

Anak muda itu nampak bersangsi lalu tingkahnya dia menjadi gusar sekali. Itulah sebab Hong Kun menghalanginya. Sinar matanya tampak berkelebat bengis.

"Gak Hong Kun !" teriaknya, pedangnya diangkat. "Jika kau tidak lekas menyingkir, jangan salahkan aku, jika aku membeber rahasiamu !"

Hong Kun melengak, tanpa merasa dia mundur setindak.

Tapi hanya sejenak, dia lantas tertawa bergelak.

"Aku Tio It Hiong !" katanya. "Aku mempunyai rahasia apakah ?"

Justru Hong Kun mundur. Justru si anak muda berlompat ke pembaringan, pedangnya sekalian ditebaskan kepada jago dari Heng San Pay itu hingga si jago muda itu kaget dan mundur pula.

Selekasnya dia datang dekat Teng Hiang, si anak muda membuka tutup kota gemalanya itu hingga kelihatan satu cahaya mengkilat sebab isinya adalah sebutir mutiara mustika. Dengan cepat mutiara itu diajukan ke hidungnya si nona yang lagi tak sadarkan diri. Hanya sebentar mutiara itu disimpan pula. Si anak muda kerja cepat sekali, hingga Wan Goat melengak.

Hong Kun menjadi bersangsi. Tak berani dia menyerang pula, kuatir si anak muda membuktikan ancamannya membeber rahasianya. Pedangnya sudah diangkat tinggi tapi diturunkan pula. Tapi dia tak dapat berdiam saja, maka ia kata dingin, "Aku tidak percaya mutiaramu dapat menyadarkan pingsan yang disebabkan obat bius yang beracun ! Ha ha ha..."

Begitu dia mengucapkan perkataannya yang terakhir itu, begitu juga Hong Kun melengak. Ia insaf bahwa ia telah keliru berkata-kata. Ia lupa hingga ia menyebut tentang obat biusnya.

Si anak muda sebaliknya, tertawa nyaring.

"Mutiaraku ini ialah Soat Liong Cu !" katanya. "Tak peduli racun apa juga pasti dapat dipunahkan dan orang akan siuman karenanya ! Apakah lihainya obat biusmu itu bie hun Toa hun itu ?'

Justru itu terdengar suaranya Siauw Wan Goat, "Kakak Teng, kau tidak kenapa-napakah ?"

Memang ketika itu Teng Hiang telah membuka matanya terus dia menggerakkan tubuhnya berduduk diatas pembaringan. Lekas juga dia mengawasi si anak muda bertopeng itu.

Si anak muda melihat orang sudah mendusin, dia memutar tubuhnya, berniat mundur atau mendadak sebelah tangannya Teng Hiang menyambar ke mukanya, membuat kedoknya terlepas hingga lantas tampak wajahnya seluruhnya !

Melihat anak muda itu, Teng Hiang memperdengarkan seruan perlahan, lantas dengan mendelong mengawasi si anak muda, air matanya mengucur turun.....

Pemuda itu ialah Cukat Tan !

Muda mudi itu lantas saling mengawasi. Si pemuda sangat berduka, si pemuda berkasihan berbareng panas hatinya.

Bahkan ia sampai lupa, yang Hong Kun dibiarkan saja.

Wan Goat mengawasi muda mudi itu. Ia lantas dapat menerka duduknya hal. Ia menjadi kurang leluasa, maka ia bertindak untuk mengundurkan diri. Karena ini ia menjadi melihat Hong Kun.

Justru itu It Hiong palsu lagi bergerak menikam Cukat Tan. "Celaka !" berseru nona Siauw yang segera menebuk

lengan si jahat itu.

Dua-dua Cukat Tan dan Teng Hiang bagaikan terasadar. Keduanya terkejut tapi sudah kasip bagi Cukat Tan ! Ujung pedang Hong Kun sudah merobek bajunya, bahu dan dagingnya tertusuk hingga darahnya mengucur keluar. Tapi sadar dengan melawan rasa nyerinya, dia lantas membalas menyerang dengan satu tendangan "Ekor Harimau". Untuk itu lebih dulu ia mendak dengan gesit.

Hong Kun tengah berpuas hati karena dapat melukakan pemuda itu, yang menjadi penghadangnya, dia kurang siap sedia, maka juga dia kena terdepak nyeri, tubuhnya pun terpelanting. Teng Hiang kaget melihat Cukat Tan berdarah-darah. Ia lompat kepada anak muda itu untuk terus membayangnya.

"Bagaimana lukamu, adik ?" tanyanya prihatin sekali. Cukat Tan berkeras hati walau lukanya tak ringan.

"Tak apa-apa," sahutnya tertawa menyeringai, lalu dengan cepat sekali, ia menebas kepada Hong Kun.

Sia-sia saja serangan itu, Hong Kun telah tak nampak. "Dia sudah lari kabur !" berkata Siauw Wan Goat yang

menghampiri.

"Dia lari kemana ?" tanya Cukat Tan gusar sekali. Ia mengangkat kakinya buat melangkah berniat mengejar.

Teng Hiang menubruk pemuda itu.

"Sabar, dik !" katanya lemah lembut. "Buat menuntut balas, waktunya masih banyak ! Mari aku balut dahulu lukamu. "

Dan dia membawa si anak muda ke pembaringan untuk disuruh duduk, ia sendiri lantas mengeluarkan obat lukanya. Dengan cepat dia mengobati dan membalut lukanya anak muda itu.

Selama itu sang waktu telah berjalan terus, tahu-tahu sudah jam lima.

Selama itu Wan Goat pun berdiam saja, otaknya bekerja. Ia tetap meragukan pemuda yang mirip It Hiong itu. "Siapakah dia ?" tanyanya dalam hati. Maka terbayanglah lakon di hotel Lapkee. Di akhirnya ia mau menerka, pemuda tadilah yang telah merusak kesucian dirinya. Hal ini membuatnya malu dan gusar sekali. Ya, ia amat penasaran !

Ketiga orang itu tak memperdengarkan suara apa-apa, maka juga dengan memainnya api lilin, tubuh mereka merupakan bayangan-bayangan yang bergerak-gerak sendirinya.

Teng Hiang buat lukanya Cuka Tan. Di sebelah situ, ia merasa tidak enak hati. Si pemuda terluka justru di tangannya si anak muda dengan siapa ia berjalan bersama-sama. Maka juga terhadap Cukat Tan, ia likat, ia merasa jengah sendirinya. Ia cerdas dan cerdik, tetapi menghadapi soal asmara, pikirannya menjadi kurang terang. Tak tahu ia apa yang ia harus ucapkan guna memberikan keterangan kepada kekasihnya ini. Maka dengan mata tergenang air, ia hanya dapat mengawasi anak muda itu......

Cukat Tan juga memikirkan nona yang ia gilai itu. Kalau ia telah tidak menguntit, apa akan terjadi atas diri si nona ?

Bukankah itu sangat berbahaya ?

Tadi itu Hong Kun memasuki kamarnya Teng Hiang sesudahnya dia menghembuskan masuk bubuk biusnya, disaat dia memondong tubuh si nona untuk dinaiki ke atas pembaringan, muncullah Cukat Tan yang telah mengintai dan terus menghalanginya. Hingga mereka jadi bertempur sampai datangnya Siauw Wan Goat.

Cukat Tan baru mulai main asmara, ia kurang pengalaman.

Biar bagaimana ia heran yang Teng Hiang bergaul dengang Gak Hong Kun bahkan bergalang gelung yaitu berjalan bersama-sama. 
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).