Iblis Sungai Telaga Jilid 41

 
Jilid 41

Si pelajar menonton dengan perhatian, kemudian dia menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada Kan Tie Uh atas mana pendeta murtad itu lantas berlompat maju, buat mengepung si anak muda. Sebenarnya dia jeri tetapi terpaksa dia maju juga, sebab dia malu terhadap Ie Tok. Goloknya sudah lantas menjurus ke bahunya musuh lamanya itu.

It Hiong melihat orang maju, ia berkelit. Lantas ia memikir walaupun ia tak usah takut tetapi cara berkelahi itu bukannya cara yang sempurna, ia pun pasti bakal menyia-nyiakan banyak waktu yang berharga. Maka ia mengambil keputusan akan menghajar Kan Tie Uh, membekuk atau membunuhnya !

Kan Tie Uh berlaku cerdik walaupun mengepung ia tidak mau merapatkan diri. Tapi It Hiong justru mengarah padanya, ia yang selalu di awasi. Selekasnya kesempatan tiba, secara sekonyong-konyong tubuhnya si anak muda lompat melesat kepada pendeta itu. Ilmu ringan tubuh Tangga Mega dipersatukan dengan ilmu Gie Kam Sut, Pedang Terkendalikan, maka pesat sekali ia sudah berada di depan si pendeta dan menikam dadanya dengan tikaman "Burung Air Mematuk Ikan."

Kan Tie Uh kaget sekali, dia berlompat mundur beberapa tindak. Tidak demikian dengan si orang berbaju putih, ia menyangka dengan baru menaruh kaki, si anak muda pasti hilang dayanya, maka dia berlompat terus membacok anak muda itu.

It Hiong melihat datangnya lawan itu, ia menyambutnya dengan cepat. Selekasnya kedua kakinya menginjak tanah, ia berkelit meringankan tubuh sambil berdiri dengan kaki kiri, selagi golok lewat, kaki kanannya diangkat dilayangkan ke tubuh penyerangnya itu sedang pedangnya disabetkan dengan sama cepatnya !

Hanya satu kali si baju hitam menjerit, lantas tubuhnya roboh mandi darah, sedang Keng Hong Kiam telah membabat lengannya dan kaki si anak muda nyasar ke dadanya, hingga tubuhnya terpental setombak dan jatuh terbanting sampai dia tak berkutik pula. Hiat Ciu Jie Nio kaget, hingga ia sudah lantas mencari mundur. Hebat apa yang ia saksikan itu. Si pelajar pun heran dan kaget, beberapa kali ia mengasih dengar suara dinginnya, "Hm !"

Kan Tie Uh pun terkejut hingga dia jadi berdiam saja. Sementara itu, cahaya terangnya api jelas tampak. Itulah disebabkan datang perkumpulannya para pendeta, yang semua membawa obor. Makin lama jumlah mereka itu makin banyak. Lebih dari seratus orang. Lekas sekali medan pertempuran berikut si pelajar telah kena terkurung.

Si pelajar kelihatan tidak tentram. Dia ngeri terhadap api.

Dengan menggertak gigi dan mata melotot, ia mengawasi para pendeta yang membawa obor itu.

It Hiong tidak memperhatikan Barisan api itu, justru Jie Nio mundur justru ia melompat kepada Kan Tie Uh. Ia berniat membekuk atau merobohkan si murtad itu, si biang keladi.

Pedangnya sudah meluncur ke dada orang ! Itulah salah sebuah tipu dari ilmu pedang Sam Cay Kiam dari Tek Cio Siangjin.

Kan Tie Uh sedang gugup ketika sertang tiba. Ia melihat sinar pedang berkelebat. Ia kaget dan mencoba berkelit tetapi kalah cepat, baju didadanya pecah robek dan kulitnya mengeluarkan darah sebab ujung pedang telah menggoresnya.

Setelah tikaman pertama itu memberi hasil walaupun tak telak, It Hiong mengulangi dengan tikaman susulannya atau "Traaang !" pedangnya kena ditangkis oleh senjatanya Hiat Ciu Jie Nio dengan kesudahannya bentrokan itu mengakibatkan berkelebat sinar api warna biru terus ujung senjatanya si nona terkutung dan jatuh ke tanah !

Itulah sebab Jie Nio menyaksikan terlukanya Tie Uh sudah lantas menangkis tikaman susulan dari si anak muda. Tie Uh sendiri yang ketolongan sudah lompat melejit. It Hiong mengawasi wanita yang merintanginya itu, siapa terkejut di dalam hati sebab terkutungnya ujung senjatanya mengingatkan ia bahwa lawan menggunakan pedang mustika.

Si orang tua yang berdandan sebagai pelajar itu selalu berdiam saja, tetapi sekarang melihat suasana buruk bagi pihaknya mendadak dia berkata nyaring, "Mari kita pergi !" dan dia mendahului mengangkat kakinya. Dia menggapai kepada dua kawannya supaya mereka segera menyusulnya.

It Hiong melihat orang kabur, dia lompat untuk menyusul. Para pendeta melihat si pelajar tua sudah pergi, mereka lantas bergerak, berniat mengurung dan menyerbu Kan Tie Uh bertiga.

Jie Nio jeri melihat kaburnya si pelajar, ia segera merapatkan diri bersama Kan Tie Uh dan si pria berbaju hitam. Tie Uh masih berlepotan darah di dadanya. Bagus untuknya lukanya tidak parah.

Dengan tangan kanannya, Jie Nio melintangi senjatanya di depan dadanya sendiri. Dengan tangan kirinya dia merogoh sakunya buat mengeluarkan serupa barang mirip seruling bukannya seruling, warnanya hijau, panjangnya satu kaki. Selekasnya dia mengibaskan tangan kirinya, dari dalam benda itu meluncur keluar satu gulung asap yang tajam menyerang hidungnya, siapa kena menciup asap itu lantas dia berbangkis tak hentinya dan matanya mengeluarkan air.

Dengan beberapa orang pendeta yang pertama terkena asap itu, mereka berbangkis terus-terusan, mata mereka mengeluarkan air, tanganpun menekan dada masing-masing, lalu dilain detik semua menjadi lemas dan roboh tak berdaya. Para pendeta yang lainnya kaget, mereka gusar, maka lupa pada ancaman bahaya, mereka lantas menyerang dua orang itu dengan menimpukkan masing-masing senjatanya.

Jie Nio berlaku cerdik, dia mendahului lari disusul oleh Tie Uh. Sebentar saja mereka berdua sudah lenyap. Setelah kuil menjadi sunyi pula, ternyata ketika itu sudah jam empat.

Liauw In repot mengobati para muridnya yang terluka serta mengurus yang terbinasa. Justru itu ia melihat satu sosok tubuh putih bagaikan sinar melompat turun dari atas genteng, ketika ia mengawasi dia mengenali It Hiong yang kembali dengan mengempit tubuhnya seseorang.....

Sambil melemparkan tubuhnya orang yang dikempit itu ke lantai, It Hiong berkata pada si pendeta, "Taysu, inilah si murid murtad dan pendurhaka dari Siauw Lim Sie ! Silahkan Taysu menghukumnya."

Liauw In sudah lantas mengenali Kan Tie Uh, segera ia merapatkan kedua belah tangannya seraya memuji, "Berkat Sang Buddha. dan untung bagusnya kuil kami ! Siancay !

Siancay !" Kemudian ia memberi hormat pada si anak muda sambil mengucap, "Terima kasih Sicu !" It Hiong membalas hormat, terus dia kata, "Orang ini telah terhajar tanganku, dia tidak akan bertahan lama lagi, karena itu kalau taysu ingin mendengar keterangannya, baik taysu lekas-lekas memeriksanya !"

Liauw In menggeleng kepala.

"Dia seorang jahanam, mana dapat dia bicara jujur !" sahut si pendeta. "Paling benar ialah membuat dia tak usah menderita terlebih lama pula. "

"Aku yang muda hanya menyaksikan kawannya si pelajar tua itu," kata It Hiong. "Entah dia orang dari golongan mana. Nampak dia licik sekali. "

Liauw In diingatkan kepada orang tua yagn lihai itu, maka dia lantas balik bertanya, "Sicu telah mengejarnya, apakah yang sicu dapatkan ?"

"Sungguh malu buat menyebutnya taysu." sahut si anak muda. "Setibanya aku di Hea Ih, dia telah tak nampak lagi. Justru aku berjalan pulang, aku bersamplokan dengan Kan Tie Uh ini, maka segera aku menghajarnya roboh dan membawanya pulang. "

Berbareng dengan kata-katanya si anak muda, tubuhnya Tie Uh yang rebah di lantai itu mendadak berkelejit terus berdiam sedangkan dari mulutnya terlebih dulu menyembur keluar darah hidup. Dengan demikian dia menarik nafas yang penghabisan.

Liauw In menghela nafas. "Beginilah nasibnya seorang murid murtad dan pendurhaka

!" katanya. "Pek Cian, semoga di lain penitisan kau nanti dapat berbuat baik !"

Menyusul kata-katanya si pendeta mendadak ada angin menghembus masuk hingga semua lilin di dalam pendopo tertiup padam ! It Hiong terkejut, tangannya menyambar lengannya Liauw In buat diajak berlompat keluar dari pendopo itu ! Dia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Dia pun menegur, "Sahabat dari mana datang kemari ? Silahkan kau perlihatkan diri !"

Teguran itu tidak mendapat jawaban walaupun telah diulangi. Maka itu lewat beberapa detik, It Hiong mengajak si pendeta kembali ke dalam pendopo yang lilinnya telah dipasang pula.

Dengan terangnya api lilin, kedua orang itu menjadi terperanjat. Itulah sebelah mayat Kan Tie Uh telah lenyap dan sebagai gantinya di lantai tertancap sebatang pisau belati yang berwarna hijau tertusuk sehelai kertas seperti sutera.

Yang hebat ialah beberapa pendeta yang terluka, sekarang sudah mati semuanya !

It Hiong maju satu tindak kepada surat itu, yang ia pegang dan angkat, niatnya buat diserahkan kepada Liauw In atau tiba-tiba ia menjadi kaget sekali sebab mendadak saja tangan kanannya itu menjadi kaku, terasakan hawa dingin bersalurkan naik dari lengannya itu.

"Hawa beracun !" serunya dan terus ia terhuyung dan roboh !

Liauw In kaget sekali. Ia menoleh dengan cepat hingga ia melihat orang roboh terbanting. Ketika itu ia sedang bingun mengawasi mayat-mayat para muridnya yang baru mati disaat api lilin padam. Lekas-lekas ia memondong tubuh si anak muda buat memeriksanya.

Parasnya It Hiong seperti biasa saja, tetapi matanya dipejamkan. Yang menguatirkan itulah tubuhnya sangat lemas dan nafasnya berjalan dengan perlahan sekali, seperti juga itulah tarikan nafasnya yang terakhir........

Pendeta itu segera meletakkan tubuh orang diatas kursi, dengan dimiringkan, terus dia membantu dengan menyalurkan hawa tubuhnya kepada anak muda itu. Ia menggunakan ilmu Tay Poan jiak Sian Kang, tangan kanannya ditekankan pada bagian jalan darah hoa kay si anak muda. Itulah cara buat menguatkan tubuh bagian dalam buat mencegah menjalarnya racun. Dengan tangan kiri, ia pun mengeluarkan obat Kay Tok Ban Leng Tan, pil buat melawan racun yang ia terus masuki ke dalam mulut orang yang pingsan itu.

Lewat setengah jam Liauw In mengangkat tangannya. Ia mendapatkan nafasnya si anak muda lebih teratur, tinggal tubuhnya tetap lemas dan tak dapat bergerak. Ia mengawasi, bingungnya tak terkirakan. Hebat racun yang menyerang anak muda itu. Dulu belum pernah ia melihatnya. Setelah berdiam sekian lama dan otaknya bekerja, lantas pendeta ini ingat bahwa keadaan It Hiong ini sama dengan keadaan matinya para Tianglo dari Kam Ih, adik-adik seperguruannya itu.

Suasana di dalam pendopo itu sungguh-sungguh membuat hati orang ciut. Di situ Liauw In berada sendiri saja, berdua dengan It Hiong yang masih hidup tetapi tidak berdaya. Yang lain-lainnya ialah para muridnya yang telah menjadi mayat.

Api lilin berkelik-keliik suaram. Di dalam keadaan yang menegang hati itu, pendeta dari Siauw Lim Sie itu dikejutkan dengan tiba-tibanya terdengar tindakan dari banyak kaki. Ia sudah lantas menoleh sambil bersedia menyambut musuh. Maka legalah hatinya kapan ia sudah melihat tegas siapa yang datang itu ialah Kiauw In bersama-sama Pek Giok Peng dan Tan Hong.

Dua nona yang pertama hendak memberi hormat pada Liauw In atau Tan Hong yang melihat It Hiong rebah diatas kursi tanpa berkutik menjadi kaget hingga dia sudah lantas menjerit keras sekali. Hingga mereka menoleh dan menjadi kaget juga karenanya.

Nona Cio yang paling dahulu berlompat pada kekasihnya itu untuk meraba muka orang lalu dada dan kaki tangannya, atau tiba-tiba ia melihat kertas di tangan kanannya It Hiong.

"Apa ini ?" tanyanya heran, lalu tangannya diulur. "Jangan !" teriak Liauw In. "Jangan pegang !" Nona itu menjadi terlebih heran pula. "Kenapakah taysu ?" tanyanya.

"Apakah adik Hiong terkena racun ?" Giok Peng tanya sambil dia menyambar kertas ditangannya si anak muda.

Liauw In kaget hendak ia mencegah tetapi sudah kasip. Justru itu mendadak Giok Peng menjerit lantas tubuhnya roboh ke lantai berdiam seperti It Hiong !

Kiauw In dan Tan Hong kaget sekali. Tahulah mereka sekarang bahwa kertas atau surat itu ada racunnya. Tapi Tan Hong telah banyak pengalamannya, maka ia mengeluarkan sarung tangan kulit dan dengan memakai itu, ia mengambil kertas beracun itu dari tangan Giok Peng, sembari berbuat begitu, ia tanya Kiauw In, "Kakak Kiauw In, kau mempunyai obat pemunah racun atau tidak ?"

Nona Cio berdiri menjublak. Dia tak punya obat yang diminta itu.

Liauw In menggeleng kepala, sembari menghela nafas, ia kata : "Tak ada gunanya lagi. Telah lolap membantu Tio

Sicu dengan obat kami tetapi tidak ada hasilnya. Racun itu terlalu hebat dan tak aku kenal. "

Kiauw In bingung tetapi oraknya bekerja. Biar bagaimana ia adalah seorang yang sabar dan pendiam, otaknya cerdas.

Tiba-tiba ia ingat sesuatu, terus ia meraba ke sakunya It  Hiong hingga ia menarik keluar sebuah peles hijau kecil, ialah obat Wan In Jie bekal dari si pendeta tua dari kuil Bie Lek Sie !

Dengan cepat nona ini mengeluarkan enam butir, paling dahulu ia masuki itu ke dalam mulutnya Giok Peng, kemudian enam butir lagi ia suapi pada It Hiong.

Selama itu, sudah lama It Hiong tak sadarkan diri disebabkan serangan racun jahat itu. Seharusnya dia sudah mati tetapi dia dapat bertahan berkat kekuatan tubuhnya terutama karena pertolongan belut emas. Selama di Ay Lao San, karena khasiatnya darah belut itu dia dapat bertahan dari serangan racunnya Kwie Tiok Giam Po.

Giok Peng tidak pernah makan darah belut emas tetapi ia terkena racun baru saja dan segera mendapat pertolongan, racun tak sampai bekerja secara hebat di dalam tubuhnya itu. Sekira sehirupan teh, saling susul Giok Peng dan It Hiong siuman, bahkan segera mereka dapat bangun berdiri.

Keduanya heran melihat Liauw In bertiga tengah menjublak mengawasi mereka berdua, hingga mereka pun mendelong. Segera juga terdengar pujinya Liauw In, lantas ia mencekal keras tangannya It Hiong. "Tio Sicu, kau toh tak kurang suatu apa bukan ?"

It Hiong mengangguk, ia lantas ingat apa yang terjadi. "Tidak apa-apa, taysu jangan kuatir !" sahutnya. Kemudian

ia menoleh kepada Giok Peng yang lagi dipayang oleh Tan Hong. Nona itu nampaknya masih letih.

"Apakah kakak Peng. ?" tanyanya.

"Ya, ia terkena racun." Kiauw In menerangkan sambil ia mengembalikan obat orang. "Dia keracunan seperti kau, adik. Dia pun baru siuman. Inilah obat bapak pendeta dari Bie Lek Sie yang menolong kalian, maka itu simpanlah obat ini baik- baik !"

It Hiong menyambuti obatnya dan menyimpannya, terus ia ingat peristiwa tadi. Ia menghela nafas dan menanya, "Mana dia surat beracun itu ? Apakah bunyinya ?"

Tan Hong melepaskan Giok Peng, ia terus membeber surat yang ia pegang dengan sarung tangannya. Diantara sinar lilin, kertas itu tampak sebagai kertas istimewa, lunak dan ringan mirip kertas sutera, warnanya kuning muda. Dan suratnya terdiri dari hanya empat buat huruf : "Giok Lauw Kip Ciauw". Ia membacakan itu dengan keras, lalu menunjuki juga pada It Hiong semua. Biarpun ia membacakan surat itu, Nona Tan toh bingung, ia tidak dapat artikan bunyinya surat, yang arti seadanya ialah "Loteng gemala segera memanggil". (Lauteng gemala adalah Giok Lauw dan segera memanggil, Kip Ciauw).

It Hiong berdiri di belakang nona itu, Ia melihat surat itu dan membacanya, lalu kata, "Sungguh manusia jahat dan beracun. Di atas kertas maut ini pun ia melukiskan kata-kata yang begini indah! Dengan begini maka ia sudah menghina para sastrawan !"

"Aku tidak mengerti bunyinya GIok Lauw Kip Ciauw, tetapi aku tahu pasti itulah tentu suatu tanda peringatan dari si orang jahat." berkata Tan Hong. "Apakah yang indah di dalam empat huruf ini ?"

"Bicara dari halnya empat huruf itu," berkata Kiauw In bersenyum, "soal hanya berkisar kepada lakon Lie Ho di jaman kerajaan Tong. Arti ringkas dari itu ialah mati tanpa sakit lagi."

Giok Peng sudah sadar seluruhnya, dia heran. "Kakak." tanyanya pada Kiauw In. "Apakah kakak tahu

orang macam bagaimana yang menggunakan racun jahat ini

?"

Kiauw In menggeleng kepala.

"Aku tidak tahu." sahutnya. "Pertanda dan caranya ini pun belum pernah aku melihat atau menemuinya. Bahkan juga aku belum pernah mendengar ada orang atau orang-orang angkatan lebih tua yang menceritakannya. " Ia hening sejenak, lalu berpaling pada Liauw In dan menambahkan, "Dalam hal ini aku yang muda mohon keterangan dari Taysu."

Dengan matanya yang jeli ia terus mengawasi pendeta itu.

Liauw In sebaliknya, dengan mata mendelong mengawasi surat ditangannya Tan Hong. Ia memperdengarkan suara yang tak tegas hingga mirip orang tengah menggerutu, sedangkan tangannya membuat main kumis janggutnya.

Mendengar suaranya si nona, ia berpaling kepada nona itu, ia menghela nafas ketika ia menjawab, "Pengetahuan lolap sangat sedikit, tetapi menurut terkaanku kalau surat itu bukan dari Ie Tok Sinshe sendirinya, tentunya dari seorang muridnya. "

"Taysu," It Hiong turut bicara, "coba taysu tolong menjelaskan terlebih jauh. Diantara kami ini tidak ada yang mengenal ahli racun itu. "

Si pendeta mengangguk. Terus ia menoleh kepada Tan Hong.

"Sicu, coba tolong bakar kertas itu." pintanya. "Kita akan dapat melihat tulen atau palsunya. "

Tan Hong mengiakan, ia bertindak ke api lilin, untuk menyodorkan kertas itu ke api atau mendadak api membesar membakar huruf-huruf hijau itu sambil memperdengarkan suara meretek dan mengeluarkan asap hijau.

Menyaksikan itu, semua orang terperanjat.

"Tidak salah ! Tidak salah !" berkata Liauw In berulang- ulang sambil dia mengangguk-angguk, ia terus memandang semua orang itu untuk kemudian menghadapi It Hiong dan berkata, "Benar-benar dialah Ie Tok Sinshe dari empat puluh tahun lampau yang telah tercemplung di lembah es ! Pernah guruku bicara tentang dia, tetapi yang lolap ingat hanya sedikit sekali. Hanya mengenai empat huruf itu lantaran luar biasa itu kesanku rada mendalam. "

Pendeta dari Siauw Lim Sie itu mengangkat kepalanya memandang ke langit. Ia bagaika lagi mengingat-ingat. Setelah itu ia melanjuti keterangannya. "Di masa mudanya, Ie Tok Sinshe itu pernah hidup merantau berbuat kebaikan, hanya kemudian entah kenapa setahu dia mendapat pukulan apa lantas dia menyembunyikan diri. Lewat dua puluh tahun lebih baru ada sahabat-sahabat rimba persilatan yang mengetahui bahwa dia hidup menyendiri di tepi kali Lie Hoa Kan di Kiam Kok, Secoan Selatan. Kiranya di sana dia gemar berlayar sambil menghadapi bunga-bunga indah atau bersilat pedang diantara sumber-sumber air dan rimba guna melewati hari-hari yang tenang dan senggang."

"Kelihatannya dia selain pandai silat juga ilmu surat." kata Kiauw In.

Liauw In membuka matanya terus ia menghela nafas. "Memang asalnya dialah orang kaum lurus !" bilangnya.

"Ilmu silatnya ialah ilmu pedang Thian Tan Kiam, Lari ke langit dan ilmu tangan kosong Jie Lay Hud Ciang, Tangan sang Buddha Mendatang. Dia telah sampai ke tingkat sempurna terutama ilmu ringan tubuhnya hingga karenanya orang memberikan dia julukan Kwee Wie Hui yaitu Bintang Terbang. Dalam ilmu surat, dia paham pelbagai syair jaman Han dan Tong dan Song dan Goan, lebih-lebih kitab pelbagai rasul. " Selagi si pendeta bercerita sampai disitu, Giok Peng menunjukkan tampang herannya.

"Kalau ilmu silatnya demikian lihai, kenapa dia tak terus menjadi orang Kangouw sejati ?" tanyanya. "Kenapa dia justru hidup menyendiri di Kiam Kok hingga dia tak dapat melakukan sesuatu guna kebaikan umum ? Bukankah sia-sia belaka dia memiliki kepandaian itu ?"

"Orang-orang yang suka hidup menyendiri kebanyakan orang-orang luar biasa." kata Kiauw In. "Memang biasa orang- orang lihai suka hidup menyepi di gunung-gunung atau dalam rimba. Hanya mengenai dia yang aneh itu, sesudah menyepi puluhan tahun kenapa dia muncul buat menjadi orang jahat ?"

"Tentang perubahan sikapnya orang itu dari lurus menjadi sesat lolap tidak tahu." berkata pula Liauw In, "tetapi yang membuatnya dimusuhkan orang banyak ialah dikarenakan dia sangat gemar mencelakai atau membunuh orang dengan racunnya itu. Sejak dia hidup menyendiri di Kiam kok selama beberapa puluh tahun dunia Kang Ouw aman sejahatera.

Kemudian entah bagaimana jalannya dia berhasil mendapatkan kitab Tok Kang, sejilid kitab ilmu racun. Dia rajin belajar dan tekun, kitab itu telah berhasil dipahamkan sesudah itu timbullah niatnya menjadi jago dunia Kang Ouw untuk itu dia main membunuh setiap orang ternama, tak peduli orang kaum sesat atau lurus, maka juga diselatan atau utara tak kurang dari beberapa puluh orang yang sudah roboh sebagai korbannya.

Itulah yang menyebabkan orang bersatu padu mencari dan menyerbunya. Tan Hong tanya ketika itu diwaktu dia membunuh orang dan melakukannya bukan secara menggelap tetapi selalu dengan meninggalkan suratnya semacam ini. "Tidak salah !" sahut pendeta itu. "Menurut keterangan guruku, setiap korbannya tentu ada mencekal suratnya itu ! Maka juga menurut sangkaan, dia bukan meninggalkan surat habis dia membunuh orang yang memegang surat ini. Jadi inilah kertas yang menjadi alat pembunuhan."

Tan Hong menoleh pada Giok Peng dan It Hiong, dia merasa bersyukur mereka itu tak kurang suatu apa.

"Karena dia membunuh orang dengan racunnya, habis kenapa dia dipanggil Ie Tok Sinshe ?" tanyanya pula. Ie Tok Sinshe berarti Tuan yang menghembuskan racun.

"Itulah keanehannya !" sahut Liauw In. "Kalau lain orang menggunakan racun pada senjatanya, dia hanya menggunakan kertas."

"Tapi apa benar-benar dapat hembuskan racun ?" tanya Kiauw In.

"Benar ! Itulah keistimewaannya !" sahut Liauw In. "Sayang dia nyatanya masih hidup dan sekarang muncul pula dengan keganasannya."

"Aneh ! dia dapat hembuskan racun." kata Tan Hong. "Taruh kata dia punyai kay yoh, obat pemunahnya, dia tidak mungkin dapat gunakan racun dan obatnya berbarengan !

Dapatkan itu diramu sama-sama ?"

"Dapat, sicu !" kata Liauw In. "Caranya ialah tubuhnya lebih dulu dibuat kebal sehingga tubuhnya itu tempatnya daya tolak bekerjanya racun. Orang semacam dia, peluh dan hawanya sudah racun semua, asal dia bernafas, hembusan nafasnya itu bisa menyebabkan kematian orang. Jadinya dia tidak membutuhkan lagi obat pemunah racun." Giok Peng heran mendengar halnya tubuh orang kebal dari racun.

"Kalau begitu bagaimana dia dapat dibunuh untuk disingkirkan ?" tanyanya.

"Jangan heran, kakak." berkata Tan Hong tertawa. "Siapa jahat dia bakal mati sendirinya ! Itulah sudah takdir Maha Kuasa. Tentang ini baik kita bicarakan belakangan saja.

Sekarang aku ingin tanya pada taysu, apakah artinya empat huruf itu ? Adakah itu pertanda atau ancaman untuk siapa yang bakal dibinasakan ?"

Liauw In suka bicara. Mulanya dia menyerukan Sang Buddha, lalu ia terus menjawab si nona. Katanya, "Memang ada orang-orang jahat yang menggunakan sesuatu pertanda guna menggertak atau mengancam musuhnya yang hendak dibinasakannya. Ada yang memakai surat gertakan Mencekak Nyawa atau ancaman Merampas Jiwa atau tanda Tangan Berdarah atau pula gambar kepala bajingan, tapi Ie Tok Sinshe ini rupanya mau mengaguli kepandaiannya dalam ilmu surat, maka telah dia pakai empat hurunya itu. Caranya ini memang baru dan luar biasa.

Menyusul kata-katanya si pendeta, Tan Hong mengucap seorang diri, "Dongeng tentang Lie Ko Giok Lauw Kip Ciauw !"

Melihat lagak orang jenaka, Kiauw In bersenyum.

"Adik Tan Hong, agaknya kau sangat tertarik dengan empat huruf itu." katanya. "Ingat adik, itu justru surat ancaman kematian dari Ie Tok Sinshe !" ia berhenti sejenak untuk menghela nafas, akan akhirnya menambahkan perlahan, "Entah berapa banyak korban lagi bakal terjatuh ke dalam tangannya jago racun itu "

Mendengar suara si nona, Liauw In terkejut. Dia bagaikan disadarkan oleh kata-kata itu, kemudian dia kata masgul, "Tidak disangka-sangka dia muncul pula dan kembali mengancam secara hebat dan ganas ini."

Sebaliknya It Hiong menjadi sangat gusar. Kalau tadi ia diam saja, sekarang tiba-tiba ia kata keras, "Aku Tio It Hiong, jika aku tidak menumpas si jahat itu, pasti sia-sia belaka aku telah menerima pendidikan dan warisan dari guruku dan pesan ayah angkatku !"

Ia pun mencekal gagang pedangnya untuk menambahkan, "Pula aku bakal menyia-nyiakan Keng Hong Kiam pedangku ini

!"

Kiauw In tertawa menyaksikan orang demikian gusar.

"Ah, adik !" katanya. "Darimana kau memperoleh adat kerasmu ini ? Inilah berupa kesemboronona ! Mari kita berunding dengan loSiansu, waktunya masih banyak buat kita. "

It Hiong mengawasi nona itu, ia bersenyum. Diam-diam ia bersyukur terhadap si nona yang tenang itu. Giok Peng menghampiri adik Hiongnya untuk berkata, "Adik, racun di dalam tubuhmu mungkin belum bersih seluruhnya. Karena itu baiklah kau pergi beristirahat ! Baru kita berunding pula."

Liauw In mengawasi bergantian pada para tetamunya itu.

Sekarang hatinya mulai tentram. "Sicu berdua benar." katanya pada nona Cio dan nona Pek. "Tio Sicu, silahkan kau beristirahat. Besok baru kita berbicara pula."

Tan Hong sementara itu dengan menggunakan sarung tangan kulit menjemput dan memeriksa pisau belati yang dipakai menancapnya surat ancamannya itu Ie Tok Sinshe itu kemudian ia masuki ke dalam sakunya. Tak mudah ia melupakan "Giok Lauw Kip Ciauw" yang berarti panggilan kilat ke dunia baka."

Tiba-tiba It Hiong mengingat sesuatu.

"Kakak," tanyanya pada Kiauw In. "kakak beramai mendengar berita apa maka kalian datang malam-malam kesini ?"

"Sebenarnya kami sendang mengejar seorang perempuan jahat." Giok Peng mendahului menjawab. "Hampir kakak Tan Hong hilang jiwa karena dia itu !"

Belum lagi It Hiong sempat menanya tegas siapa wanita jahat itu, Kiauw In sudah mendahului menanya, "Adik, bagaimana caranya maka kau mendapati surat ancaman ini ?"

It Hiong pun tikda dapat menjawab kecuali halnya ia telah mendapati surat itu tanpa menyangka ada racunnya yang demikian ganas.

Karena itu marilah kita kembali sebentar pada saat Hiat Ciu Jie Nio dan Kan Tie Uh berdua kabur dari dalam kuil.

Selolosnya dari pendopo besar dari Siauw Lim Sie, mereka tidak kabur terus-terusan. Inilah sebab mereka penasaran, hati mereka belum puas. Mereka hanya berdiam sembunyi di tempat gelap. Mereka memikir sebentar, sesudah Siauw Lim Sie sepi, hendak mereka menyatroninya pula, guna membinasakan sejumlah pendeta guna melampiaskan hati mereka.

Tempat dua orang in mengumpat adalah sebuah tempat yang di depan pintu gerbang Siauw Lim Sie yang jaraknya dari pintu beberapa puluh tombak. Belum lama mereka mendekam disitu sambil mengawasi ke arah luar, mereka melihat sesosok tubuh manusia yang hitam seperti bayangan lari mendatangi.

"Entah siapa orang itu ?" kata Kun Tie Uh. Jie Nio mengawasi tajam.

"Mungkin dialah guruku." sahutnya kemudian. "Mungkin guruku datang buat menyambut kita !"

Keduanya mengawasi terus, selekasnya bayangan itu mendatangi dekat, mereka lantas keluar dari persembunyian mereka buat menyambut atau segera keduanya menjadi kaget. Setelah datang dekat, bayangan itu kiranya Tio It Hiong yang menjadi musuh mereka !

It Hiong pun segera mendapat lihat dua orang itu, hingga ia menjadi gusar sekali.

Hiat Ciu Jie Nio sudah lantas menyerang dia dengan tidak membuka suara lagi. Dia menikam dengan Bwe hoa-Toat, senjatanya yang berujung tajam. Sampai disitu, Kan Tie Uh pun menebali muka, dia maju membantui kawannya, hingga dengan demikian si anak muda menjadi dikerubuti.

Tak sempat It Hiong menghunus senjatanya, terpaksa ia melayani dengan tangan kosong, dengan kelincahannya ilmu ringan tubuh Tangga Mega, sedangkan ilmu silatnya ialah "Hang Liong Hok Houw Ciang", Menaklukan Naga, Menundukkan Harimau. Dengan ilmunya ini, ia membuat kedua musuh repot. Lewat sepuluh jurus, habis sudah sabarnya. Mendadak ia bersiul nyaring sambil teus melakukan dua gerakan saling susul. Pertama-tama ia menggertak Jie Nio hingga wanita itu kaget, menyusul mana, ia menghajar Kan Tie Uh !

"Langsung Menyerbu Istana Naga Kuning" adalah jurus yang digunakan si anak muda. Jurus itu satu tetapi terpecah tiga, maka juga Tie Uh kaget, repot dia menangkis. Saking repotnya dia tak dapat membela diri lebih jauh, dadanya kena terhajar hingga tubuhnya terpental jauh setombak lebih dan roboh terjungkal tak sadarkan diri !

Hiat Ciu Jie Nio menjadi orang Kang Ouw golongan jalan hitam dari Kwan Gwa, dia sangat licik. Melihat kawannya roboh, bukannya maju untuk membantu, dia justru mengambil langkah seribu, guna menyelamatkan dirinya. Dia kabur ke belakang kuil, mendaki puncak.

It Hiong tidak mau mengejar, setelah melihat sudah pergi jauh, ia lantas menghampiri Kan Tie Uh buat mengangkat tubuhnya guna dikempit dan dibawa pulang ke Siauw Lim Sie.Jie Nio kabur terus. Dia melintasi sebuah rimba hingga ia mendapati di depannya sebuah rumah dengan beberapa ruangan yang seluruhnya terkurung pagar. Itulah justru Ceng sit, rumah peristirahatan yang digunakan Kiauw In beramai, yang ketika itu jendelanya cuma dirapati dan apinya tidak ada.

"Baik aku bersembunyi di dalam situ." pikir Jie Nio. Ia berhati-hati, sebelum memasukinya, ia menimpuk dahulu dengan sebutir batu, setelah tidak mendapat sambutan apa- apa kecuali suara batu membentur kursi dan lantas sunyi, hendak ia menghampiri, buat berjalan masuk ke dalamnya. Di saat dia mau bertindak masuk ke pintu, mendadak ia melihat sinar golok berkelebat dan angin bersiur dari sampingnya. Ia kaget sekali.

Ia tahu itulah serangan gelap. Maka dengan cepat ia berkelit, terus ia memutar tubuh hingga ia melihat penyerangnya ialah seorang wanita dengan baju warna abu- abu serta senjatanya berupa ruyung sanhopang. Sebab itu ialah Tan Hong dari Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam.

"Siapa kau ?" Nona Tan sudah lantas menegur. Jie Nio tidak takut, bahkan ia tertawa tawar.

"Bocah, kau berdiri biar tegak, jangan kaget !" katanya takabur. "Akulah Hiat Ciu Jie Nio dari Giok Long Twee di Kwan Gwa !"

Tepat itu waktu Kiauw In dan Giok Peng berlompat keluar dari dalam rumah dimana mereka sengaja berdiam saja ketika mereka mendengar suara batu menghajar kursi.

"Jangan pedulikan dia Jie Nio atau Sam Nio !" teriak Giok Peng. "Mari kita bekuk dia !" Dan dia mendahului menerjang.

Jie Nio berkelit. Tak berani dia sembarang buat menangkis.

Karena dia berkelit itu, dia lantas diserang pula dengan bertubi-tubi. Sebab penyerangnya justru menggunakan ilmu silat Khie Bun Patkwa Kiam.

Repot jago dari Kwan Gwa itu. Dengan maju mundur dia didesak terus. Hingga dia mundur dua tombak lebih. Karena itu dia akhirnya dia terpaksa melakukan satu penangkisan yang keras, yang tepat mengenai senjata lawan, hingga kedua senjata mereka bentrok nyaring sekali. Percikan apinya sampai muncrat, bahkan sendirinya, mereka sama-sama mundur setengah tindak !

Jie Nio terkejut. Ia merasai tenaga lawan besar sekali.

Justru dia berdiam, justru Tan Hong menyerang. Terpaksa, ia mesti melayani penyerangannya itu. Karena ini kembali senjata mereka beradu. Malah kali ini, ia pun mundur sampai satu tindak. Baru sekarang ia merasa jeri. Ia melayani yang dua kalau ia dikepung bertiga, pasti ia akan bercelaka. Tapi ia tidak takut, bahkan muncul hati kejamnya. Diam-diam ia menyiapkan Toa wan-tong, pipa racunnya yang berupa mirip seruling kecil dan pendek.

Tan Hong maju pula selekasnya senjatanya kena sampok. Ia mengerahkan tenaga lunak Mo Teng Ka, yang disalurkan kepada senjatanya itu terus ia menyerang dengan tiga jurus berantai.

Jie Nio tertawa tawar.

"Budak bau !" katanya. "Jangan kau takabur ! Hendak aku lihat, betapa lihainya kepandaianmu!" Dan kembali ia menyerang dengan tenaga yang dikerahkan !

Kedua senjata beradu pula dengan keras sekali, atau Jie Nio menjadi kaget. DI luar dugaannya senjatanya kalah dan patah, hingga ujungnya terpental jauh dua tombak lebih !

Dalam kaget dan jeri Hiat Ciu segera lompat ke samping, dari situ ia terus mengayun sebelah tangannya menyerang dengan pipanya yang mirip seruling itu. Hingga lekas tampak mengepulnya asap seperti halimun ! Tan Hong girang, hendak dia mendesak lawan atau mendadak ia melihat lawannya lenyap dari pandangan matanya hingga ia melengak. "Adik Tan Hong, lekas mendak berkelit !" terdengar suaranya Kiauw In.

Tan Hong pun asal kalangan hitam, ia pula cerdik sekali. Suaranya nona Cio menyadarkan padanya. Tidak ayal pula ia berlompat sambil terus menjatuhkan diri sejauh dua tombak lebih. Dengan demikian, loloslah ia dari asap yang berbahaya itu ! Ketika ia berlompat bangun dan menoleh, ia melihat Kiauw In dan Giok Peng tengah menyerang sesosok bayangan tubuh manusia. Bayangan itu sangat gesit, dia mencelat pergi dengan terus menghilang ke dalam rimba !

"Kita jangan kejar dia !" kata Kiauw In. "Mungkin ada terjadi sesuatu di dalam Siauw Lim Sie ! Mari kita pergi ke sana !" Dan dia mendahului pergi.

Tan Hong dan Giok Peng mengerti, mereka menyahuti, lantas mereka lari menyusul. Demikianlah mereka berhasil menolong It Hiong yang terkena racun itu. Habis It Hiong menutur, Kiauw In menggantikan bercerita. Hingga mereka menjadi ketahui hal ikhwalnya masing-masing.

"Sekarang sudah jam lima." kata Giok Peng. "Baiklah sebentar setelah terang tanah kita memeriksa puncak belakang buat mencari wanita jahat itu. "

Liauw In berpikir, lalu ia berkata, "Meski Jie Nio itu jahat dan berani, lolap percaya sekarang tak akan dia berdiam lebih lama pula disini. Dia sendirian saja, tak dapat dia berbuat sesuatu. "

Giok Peng tertawa.

"Jadinya LoSiansu hendak melepaskan dia ?" tanyanya. Liauw In memuji Sang Buddha, lalu dia kata, "Bagaimana pendapat sicu kalau kita melepaskan seorang jahat supaya dia dapat kesempatan berubah kejahatannya ?"

Nona Pek mengangguk, ia tidak mengatakan sesuatu.

Pendeta itu membuat main mutiaranya, nampak ia berduka.

"Sebenarnya lolap tidak memikirkan Jie Nio walaupun dia jahat." katanya kemudian. "Yang lolap kuatirkan ialah kalau- kalau si bajingan beracun yang tua yaitu Ie Tok Sinshe nanti muncul pula guna mengacau dunia rimba persilatan. "

Kata-kata si pendeta membuat It Hiong berempat menjadi berdiam. Memang benar pendeta tua ini. Musuh lihai dan tak ketahuan juga datang dan perginya......

Ketiga nona dan pemuda itu saling mengawasi, kemudian si pemuda kata dengan nada suara penuh kemurkaan : "LoSiansu menguatirkan Ie Tok Sinshe, aku yang muda sebaliknya mencurigai si pelajar yang datang bersama-sama Kun Tie Uh dan Hiat Ciu

Jie Nio itu. Aku menerka dia bukan sembarangan orang.

Aku mau percaya kalau kita ketahui asal usul dia, mungkin kita akan mendapat endusan juga tentang Ie Tok Sinshe sendiri, dia benar telah muncul pula atau tidak. "

"Lolap memikir sebaliknya." kata Liauw In kemudian. "Lolap justru mau menerka bahwa pelajar tua itu adalah Ie Tok Sinshe sendiri. "

It Hiong tertawa. "Kalau benar dialah Ie Tok Sinshe itulah paling baik !" katanya. "Kalau dia benar muncul pula dalam dunia Kang Ouw guna mengacau maka aku si orang muda dengan mengandalkan warisan pelajaran guruku serta ini pedang  Kang Hong Kiam hendak aku cari dia buat kita mengadu kepandaian hingga salah satu mati atau hidup. Biar bagaimana ancaman bencana kaum rimba persilatan harus dihalau !"

"Sicu begini gagah dan mulia hati, lolap kagum sekali !" berkata Liauw In. "Memang kecuali sicu, ada sangat sukar mendari orang lain yang dapat melayani Ie Tok Sinshe !

Hanya satu hal hendak lolap minta yaitu supaya sicu senantiasa waspada."

"Terima kasih loSiansu !" kata It Hiong. "Karena kita tidak harusnya menyia-nyiakan waktu, aku memikir akan turun gunung selekasnya terang tanah !"

"Bagaimana kalau aku berjalan bersama-sama kau, adik Hiong ?" tanya Tan Hong. "Dengan aku turut padamu, mungkin aku dapat membantu sesuatu. "

Nona Tan sangat mencintai si anak muda maka juga dia lupa akan bahaya yang dapat mengancam dirinya. Habis berpisahan di Ay Lao San repot dia mencari anak muda itu atau disini setelah bertemu si anak muda mau meninggalkannya pula buat suatu perjalanan yang tak ketentuan jauh dekatnya dan bahaya mengancamnya atau tidak.

It Hiong dapat menerka hatinya nona itu, diam-diam dia bersyukur.Kiauw In dan Giok Peng pun sangat memikirkan keselamatan si anak muda tetapi di depannya Liauw In tak dapat mereka mengutarakan rasa hati mereka seperti Tan Hong itu. Mereka harus membalaskan perasaan itu. Adalah Giok Peng yang mengawasi Kiauw In dan kemudian berkata dengan perlahan padanya, "Bagaimana kalau aku bersama Kakak In turut kau, adik ? Bukankah itu jauh terlebih baik ? Dengan begini tak usahlah kita nanti saling memikirkan. "

Kiauw In berdiam saja. Ia ada terlalu halus akan dapat berkata seperti Giok Peng itu. Lebih-lebih ia tak seperti Tan Hong. Ia pula insyaf, belum tentu It Hiong akan menyambut baik permintaan mereka. Ada kemungkinan si anak muda akan beranggapan bahwa turutnya mereka akan merepotkan saja padanya mengingat lawan yang mau dicari itu lawan luar  biasa lihai. Demikian ia cuma bersenyum.

It Hiong mengawasi Tan Hong dan Giok Peng. Ia menginsyafi cintanya mereka itu tetapi ia berpikir seperti terkaannya Kiauw In. Tak ada perlunya buat mereka itu turut bersamanya. Mereka mungkin lebih banyak menyulitkan dari pada dapat membantunya.

Kiauw In melihat sinar matanya It Hiong, ia dapat mengerti maksud kekasihnya itu, maka kemudian ia bersenyum dan kata, "Menurut aku lebih baik kita biarkan adik Hiong pergi seorang diri, sebab ia sendiri saja sudah cukup. Mengingat lawan adalah ahli racun yang luar biasa dengan kita turut pergi bersama, kita mungkin akan menambah menyulitkan saja. "

Giok Peng dan Tan Hong mengawasi melongo pada Nona Cio. Itulah kata-kata diluar dugaan mereka. Tanpa merasa mereka mengeluarkan suara heran.

"Kita bertiga baiklah berdiam di dalam kuil saja." Kiauw In menambahkan. "Di sini kita dapat membantu membuat penjagaan hingga hatinya adik Hiong menjadi lega dan tenang sebab tak usah lagi ia menguatirkan keselamatan kuil. Dengan begini kita justru membantu banyak pada adik Hiong ! Benar bukan ?"

Giok Peng mencibir.

"Kakak bicara enak saja !" katanya. "Sungguh kata-kata yang sedap di dengarnya ! Kakak tak kupercaya bahwa hatimu sekeras ini hingga kau tega membiarkan adik Hiong pergi seorang diri. "

Tan Hong mendengari saja, mulutnya ditutup. Tidak berani ia campur bicara sebab ia belum mempunyai hak apa-apa atas dirinya It Hiong. Mengenai urusan itu ia lebih setuju Giok Peng. Dilain pihak terhadap Kiauw In ia menghormati berbareng jeri....

"Segala urusan harus ada perbedaannya yang mengenai umum dan pribadi." kata Kiauw In kemudian. "Urusan pula ada yang penting, ada yang ringan. Semua itu mesti kita bisa memisahkannya. Janganlah, karena urusan pribadi, kita menggagalkan usah adik Hiong, yang hendak bekerja guna umum. Kedua adikku, harap kalian tak terpengaruh cinta asmara, kita harus dapat memikir jauh. Adikku, cobalah pikirkan kata-kataku ini benar atau tidak. "

It Hiong bersyukur sekali kepada nona yang bijaksana itu. "Kau benar suci" katanya kepada si kakak seperguruan.

"Kau bicara dengan melihat jauh ke depan. Maka itu kakak Peng dan kakak Hong silahkan kalian berdiam saja di kuil ini guna membantu loSiansu membuat penjagaan ! Kalian setuju bukan ?"

Giok Peng tertarik oleh kata-katanya Kiauw In, maka juga ia lantas mengangguk. "Suka kau mendengar kau, adik." katanya pada It Hiong. "Tapi kau sendiri, baik-baik kau menjaga dirimu. "

"Terima kasih kakak aku akan menjaga diri baik-baik." sahutnya. Kemudian ia menoleh kepada Tan Hong yang terus berdiam saja. Ia percaya nona ini tentu bersusah hati, maka ia mengawasi kepadanya.

Nona Tan justru mengangkat kepalanya hingga sinar matanya bentrok dengan sinar matanya si anak muda.

"Ya." katanya. Tak lebih.

It Hiong merasa lega, bukan malu maka juga ia tertawa. "Sang fajar akan segera tiba, nah, mari kita pulang ke

kamar peristirahatan !" ia mengajak. "Kakak bertiga, kalian

perlu beristirahat sedangkan kau, aku hendak berkemas- kemas !"

Ketiga nona itu mengangguk, lantas mereka pamitan dari Liauw In untuk kembali ke Ceng sit.

Dengan sungguh-sungguh Liauw In berkata kepada It Hiong, "Sicu, semoga kau berhasil dengan perjalananmu, kau selamat tak kurang suatu apa supaya kaum rimba persilatan dapat dihindarkan dari ancaman malapetaka besar ! Sicu berhati-hatilah, jangan lengah barang sedikit juga !"

It Hiong mengangguk.

"Terima kasih loSiansu." katanya. "Akan aku yang muda mengingat baik-baik pesan ini." Segera ia memberi hormat pula untuk pamitan setelah mana ia mengajak ketiga nona meninggalkan kuil Siauw Lim Sie. Perlahan-lahan mereka menuju ke puncak belokan. Di saat itu selagi fajar menyingsing angin halus datang bertiup. Di ufuk timur tampak cahaya memutih. Hawa udara rasanya nyaman. Mereka itu berjalan sambil berbicara dan tertawa- tawa. Kira setengah jam tiba sudah mereka di Ceng sit diluar pagar bambu.

Giok Peng tertawa dan kata, "Tidak kusangka, setelah tinggal disini beberapa kali telah datang orang jahat mengganggu kita !"

"Kecuali penjahat perempuan tadi, siapakah yang pernah datang kemari ?" tanya Tan Hong.

"Ada, umpama Gak Hong Kun. " sahut nona Pek yang

lantas lenyap tawanya. Mengingat orang she Gak itu, muncul kemendongkolannya, hingga ia lantas menggertak gigi.

Tadinya masih ada kesan baik terhadap pemuda itu sebab mereka pernah bersahabat dan berpacaran, kesan itu lenyap dan berubah menjadi kebencian sehabis Hong Kun menyerbu secara ganas pada Lek Tiok Po. Karena itu juga lenyap budinya si anak muda yang pernah mencarikan dan memberikan hosin ouw, obat mujarab itu. Ia paling sakit hati ketika ia dibikin tak sadar dan diculik bekas kekasih itu.

Tan Hong tidak tahu hal ikhwalnya Hong itu terhadap Giok Peng, ia masih menanya, "Kakak, benarkah Gak Hong Kun bermuka demikian tebal hingga dia berani datang pula menemui kakak ?"

Giok Peng tidak menjawab hanya matanya tergenang air, ia mendahului melompat masuk ke dalam Ceng sit, hingga It Hiong bertiga menyusul. Rumah masih gelap, lilin sudah lantas dinyalakan. It Hiong melempangkan tubuhnya dan mengeluarkan nafas lega. Ia meloloskan pedangnya dan bersenandung, "Sampai kapan dapat aku membunuh ular naga ?"

Kiauw In melirik anak muda, sembari bersenyum ia kata, "Ha.. dari manakah dapat pelajari kebiasaan kata bukumu ini

?"

Berkata begitu, si nona menyodorkan pakaian si anak muda dan It Hiong lantas membuntalnya rapi. Kata anak muda ini, "Jangan repot-repot, kakak ! Apakah kakak bertiga tak mau beristirahat dahulu ?"

Ketika itu Tan Hong, yang pergi ke belakang muncul dengan baskom dan saputangan buat mencuci muka, waktu ia menoleh kepada Giok Peng, ia terperanjat. Nona Pek sedang duduk menyender di pembaringan, tampang mukanya muram dan air matanya tergenang.

"Ah, kakak Peng !" katanya heran. "Kenapakah kakak berduka ?"

Nona ini lantas menghampiri dan menyusuti air mata orang. Baru setelah itu Kiauw In dan It Hiong mengetahui yang Giok Peng berduka. Lantas mereka menghampiri.

"Kau kenapakah kakak ?" tanya It Hiong bingung. "Mungkinkah kau tak suka aku. "

Tak suka Giok Peng melihat orang datang mengerumuninya. Ia jengah sendiri. "Cis !" ia berludah. "Akulah orang Kang Ouw, mana aku memberatimu hingga urusan besar dapat digagalkan karenanya ?" Ia lantas menghela nafas, habis mana ia menambahkan, "Aku hanya berdua dan mendongkol kapan teringat kejadian malam itu dirumah penginapan sebab penghinaannya Gak Hong Kun ! Jika tidak Teng Hiang muncul secara tiba-tiba, pasti aku tidak akan hidup sampai sekarang ini ! Hanya aneh si Teng Hiang entah dia mempunyai urusan apa, dia justru berbaikan dengan si busuk itu !"

"Teng Hiang telah jatuh hati terhadap Cukat Tan dari Ngo Bie Pay, tidak nanti dia main gila dengan Hong Kun." kata Kiauw In.

"Aku percaya dia tak akan menyintai pemuda itu. "

"Ya, tapinya aneh, mau apa budak itu mencari Hong Kun ?" kata Tan Hong tertawa.

It Hiong pun heran hingga ia berpikir, hanya sejenak kemudian ia tertawa dan kata, "Aku percaya itulah urusan mengenai pertemuan kaum sesat itu di In Bu San nanti !"

"Sebenarnya bagaimanakah sepak terjangnya kawanan itu dapat dicegah atau dihentikan ?" tanya Kiauw In. "Hong Kun telah menyamar menjadi kau, adik. Sudah melakukan banyak kejahatan kalau sekarang dia bekerja sama diengan Ie Tok Sinshe, itulah berbahaya. Entah bencana apa lagi bakal mengenakan dunia rimba persilatan. "

Giok Peng gusar sekali hingga dia kata bengis, "Buat apa juga demi umum, akan aku bunuh Gak Hong Kun !"

Alisnya It Hiong terbangun. "Aku menyesal yang aku berulang kali telah menaruh belas kasihan terhadapnya." katanya. "Buktinya sekarang dia menjadi biang bencana. "

Kiauw In melirik pemuda itu.

"Sudah, jangan kau menyesal. Sekarang marilah kita bekerja sama untuk menghadapinya nanti, cuma untuk bertindak janganlah bertindak sembrono, kita harus memikirkannya dahulu."

It Hiong mengawasi si nona yang cantik ayu itu, yang cerdas dan tenang.

"Nah, kakak, kakak mempunyai pikiran apakah ?" tanyanya. Kiauw In berpikir, baru ia menjawab.

"Sekarang ini adik, tugasmu ialah tetap mencari tahu tentang Ie Tok Sinshe itu. Aku sendiri, aku memikir buat mencari Gak Hong Kun dan Teng Hiang guna menyelidiki tindak tanduk mereka berdua. "

“Tetapi aku, aku bersama adik Tan Hong, apakah yang aku harus kerjakan ?" tanya Giok Peng.

Kiauw In mencekal erat-erat tangannya nona itu. "Tugas kalian, kedua adikku, besar sekali tanggung

jawabanya." kata ia. "Kalian harus tetap berdiam disini guna membantu melindungi Siauw Lim Sie !" Ia menatap dalam lalu menambahkan, "Adik Peng, Hong Kun membencimu dan mungkin dia masih menyimpan maksud jahat, karenanya kalau kau bertemu dengannya, ada kemungkinan kau kena terjebak. Jadi adalah paling tepat kalau kau berdua adik Hong berdiam disini."

Giok Peng mengangguk. Ia biasanya penurut terhadap Nona Cio.

"Baik, kakak." katanya. "Harap kakak berhati-hati !" Niatnya Tan Hong adalah mengikuti It Hiong tetapi karena

Kiauw In telah berkata demikian tak berani ia menentang, kapan ia melihat Giok Peng akur, ia pun tidak berani mengatakan sesuatu.

It Hiong berangkat, setibanya sang pagi. Ia meninggalkan obatnya pendeta dari Bek Lek Sie yang ia bagi kepada ketiga nona itu.

Kiauw In turun gunung bersama, hanya sesampainya di kota Tenghong, dimana mereka singgah satu malam terus mereka berpisahan.