Iblis Sungai Telaga Jilid 40

 
Jilid 40

"Kakak Hiong, apakah kau ragu-ragu ?" tanya Wan Goat. "Kalau begitu baiklah, akan aku terima nasibku. " Lalu ia

menangis pula.

It Hiong melengak.

"Aku terima kau tanpa ragu-ragu !" katanya kemudian. "Oh, kakak Hiong, akhir-akhirnya !" seru si nona yang

menjadi tertawa. "Kakak !" It Hiong mengangguk.

Wan Goat menghampiri anak muda itu buat mencekal kedua tangannya erat-erat.

"Kakak, tak berani aku mengganggu kau lebih lama pula." katanya. "Kakak, kau pergilah ke kuil! Aku pun mau lantas pergi !"

It Hiong menghela nafas.

"Adik, kau pergilah !" katanya. "Sampai kita jumpa pula !"

Dengan perlahan Wan Goat melepaskan cekalannya, ia mundur satu tindak. Ia menatap wajah si anak muda, sekian lama ia berdiam saja. Kemudian ia menggigit giginya dan bertindak kepada mayatnya Kang Teng Thian untuk memberi hormat pada mayat itu akan akhirnya untuk dipondong.

"Kakak Hiong, aku pergi !" katanya sambil menoleh pada si anak muda. It Hiong mengawasi, ia mengangguk.

Wan Goat lantas berjalan, baru kira lima tombak mendadak It Hiong memanggil, "Adik Wan Goat tunggu !" Dan dia lari menghampiri.

Wan Goat menghentikan langkahnya. "Bagaimana kakak ?" tanyanya heran.

"Apakah kau mau pulang langsung ke To Liong To ?" It Hiong tanya.

Si nona mengangguk.

"Ya." sahutnya. "Sekarang hendak aku mengubur jenazah kakakku ini di kaki gunung, habis itu hendak aku pulang langsung ke To Liong To. Di sana nanti hendak aku menuruti kata-katamu kakak, hendak aku merubah cara hidupku dari sesat menjadi lurus, hendak aku meninggalkan "kalangan kaum Hek To."

"Itu bagus adik ! Sekarang aku mau tanya kau, sudikah kau melakukan sesuatu untukku ?"

Wan Goat mengawasi tajam.

"Apakah itu kakak ? Bilanglah ! Biarnya menyerbu api, senang aku melakukannya !"

It Hiong berkata perlahan, "Aku minta adik tolong mencari tahu tentang kepandaiannya mereka yang turut dalam Bu Lim Cit Cun. Lebih baik lagi kalau mereka itu dapat diadu domba hingga mereka bentrok diantara kawan sendiri." Wan Goat berpikir.

"Buat mencari tahu tentang kepandaian mereka, mungkin dapat." sahutnya kemudian. "Hanya membuat mereka bentrok satu dengan yang lain, ini sulit juga. Tapi baiklah, akan aku coba sebisaku ! Dapat, bukan ?"

It Hiong mengangguk.

"Nah, kau berhatilah !" pesannya. "Nanti kita bertemu pula di In Bu San !"

Wan Goat mengiyakan perlahan, ia berdiri diam saja. It Hiong sebaliknya.

"Nah, aku pergi !" katanya, terus ia memutar tubuh dan berlari pergi.

Sesampainya di kuil Siauw Lim Sie, It Hiong tidak berani mendatangkan banyak berisik. Di sana orang repot menyembanyangi Ang Sian Siangjin. Maka ia minta seorang kacung mengantarkannya kepada Liauw In Taysu, setelah keduanya bicara sebentar lantas mereka pergi ke kamar tempat In Gwa Sian berobat.

Pat Pie Sin Kit terluka parah sekali. Kalau ia toh masih dapat bertahan itu terutama disebabkan kekuatan tubuhnya, yang dibantu pula obat dari Siauw Lim Sie yaitu pil Bun Biauw Leng Tan yang Pek Cut Taysu berikan padanya. Di lain pihak ia dapat menguatkan hati karena ia ingin sekali dapat menemani It Hiong, anak angkat yang ia sangat sayang dan cintai. Di sepanjang jalan It Hiong dan Liauw In tidak omong barang sepatah kata. Keduanya pun mendukai Pek Cut Taysu dan Ang Sian Siangjin. Tiba di pintu model rembulan, Liauw In menghentikan langkahnya, dengan perlahan ia kata pada It Hiong, "Sicu, sudah sampai ! Silahkan kau masuk seorang diri

!"

"Terima kasih." sahut si anak muda, yang terus melambai si pendeta, untuk melangkah maju terus. Ia memasuki taman menuju ke kamar tempat beradanya In Gwa Sian. Dari luar, sudah terdengar suara rintihan perlahan. Mendengar mana ia merasa hatinya sakit. Maka ia mempercepat langkahnya.

Tiba di muka pintu, meski hatinya mendesak, It Hiong tidak melupai aturan dari Siauw Lim Sie. Ia mengetuh pintu yang tidak dikunci, hanya dirapatkan.

Seorang kacung membuka pintu, dia menatap si anak muda, hendak ia bertanya atau Liauw In dari kejauhan memperdengarkan suaranya, "Anak Ceng, kau sambut dan pimpinlah Tio Sicu masuk !"

Mendengar itu si kacung memberi hormat. "Silahkan !" ia mengundang.

It Hiong bertindak masuk, terus kedalam kamar. Ia tidak menanti sampai ditunjuki lagi oleh kacung itu. In Gwa Sian rebah diatas pembaringan. Rintihannya tak hentinya. It Hiong melihat muka si ayah sangat pucat, rambutnya kusut, matanya dirapatkan. Kecuali rintihannya, dadanya pun bergerak turun naik. Itulah tampang dari "pelita kekurangan minyak."

Dengan lantas air matanya si anak muda bercucuran deras.

Ia lompat ke depan pembaringan untuk berlutut, dengan suara sedih dan serak ia memanggil-manggil : "Ayah ! Ayah ! anak Hiong pulang !"

In Gwa Sian berdiam saja. Dia tak menyahuti dan tubuhnya pun tak bergerak.

Bukan main kuatirnya It Hiong, hatinya terasa hancur. Ia lantas memeluki kedua kakinya ayah angkat itu.

"Ayah !" ia memanggil pula. "Ayah, anak Hiong pulang !

Lihatlah !"

Dengan air mata tergenang, hingga ia menjadi bagaikan lamur, anak muda itu mengawasi ayah angkatnya itu. Baru sekarang In Gwa Sian membuka matanya perlahan-lahan. Sekian lama ia mengawasi si anak angkat. Rupanya ia telah mendengar dan mengenali, maka tampaklah senyumnya.

"Hiong... anak Hiong. kau telah pulang ?" katanya

perlahan dan putus-putus. Setelah itu nafasnya memburu. Meski begitu ia dapat menggerakkan tangannya menyuruh anaknya duduk.

It Hiong berbangkit untuk memeluki tubuh ayah itu, buat dikasih duduk menyender.

"Ayah, ayah terluka dibagian apa ?" tanyanya. "Kenapa lukanya begini parah ?"

"Tak... usah aku menjelaskan lagi tentang itu. " kata si

ayah sangat perlahan dan sukar. "Kau juga jangan menangis.... Kau dengar kata-kataku yang terakhir. " Airmatanya si anak muda bercucuran pula dengan deras, hatinya sakit. Ia melihat ayah angkat itu tak dapat bertahan lebih lama.

"Ayah mau memesan apa. " katanya kemudian. "Bicaralah

ayah, anak Hiong mendengari. "

Terpaksa, anak ini menangis menggerung.

"Sicu, sekarang bukan saatnya untuk menangis. " demikian

satu suara di belakangnya si anak muda. Itulah suaranya Liauw In Taysu yang telah menyusul dan terus mendampingi si anak muda. "Baiklah sicu coba membantu tenaga pada ayahmu supaya ia dapat bicara dengan rapi. "

It Hiong bagaikan disadarkan. Sejak tadi, saking berduka, ia lupa pada daya pertolongan. Maka tak ayal lagi, ia segera memberi pertolongannya. Ia meletakkan tangannya di jalan darah hoa kay dari ayah angkat itu, terus ia menyalurkan hawa dari dalam tubuhnya. Ia menggunakan dua-dua pelajaran dari Hian-bun Sian THian Khie kang serta Gie Kiam Sut. Di lain pihak dengan tangan kirinya, ia mengeluarkan hosin ouw, untuk menyerahkan itu pada Liauw In supaya si pendeta yang menyuapi pada ayahnya.

Di dalam waktu sehirupan teh, bekerja sudah pengaruh bantuan tenaga dalam serta obat hosin ouw yang mujarab itu. Rasa nyeri telah dapat ditekan dan ditindih. Maka dilain detik, mukanya In Gwa Sian tampak bersemu merah dadu, kedua matanya yang melek tenang seperti sedia kala. Selekasnya dia dapat mengeluarkan nafas untuk melegakan hatinya yang sesak dengan bantuan tenaga sendiri, dengan menggerakkan kedua tangannya dapat ia bangun untuk berduduk, untuk terus mencoba meluruskan lebih jauh pernafasannya. Ilmu tenaga dalam dari In Gwa Sian ialah Tong Cu Kang, "Tong Cu" ialah anak kecil, anak yang belum melepaskan nafsu birahinya. Jadi tenaga dalamnya lebih kokoh dari pada kebanyakan orang lain. Dalam usia yang sudah lanjut itu - sembilan puluh tujuh tahun- In Gwa Sian masih kuat dan gagah, kesehatannya sempurna. Kalau bukan terluka hebat sekali, ia tak akan sepayah ini. Bantuan tenaga dalamnya itu serta obat dari kaum Siauw Lim Sie membuatnya kuat bertahan sampai pulangnya It Hiong ini. Ia berkeras hati karena ingin ia sekali lagi melihat wajah anak pungutnya yang ia sangat kasihi itu.

Selama itu, kamar itu menjadi sangat sepi.

Dengan tangan kanannya, It Hiong masih menekan ayah angkat itu. Tangannya itu bergemetaran. Sebab ia telah menggunakan semua tenaga dalamnya. Kepalanya telah mengeluarkan hawa seperti asap, dahinya bermandikan peluh yang menetes berbutir-butir.

Sewaktu In Gwa Sian baru terluka, Liauw In telah melihat keadaannya yang sangat berbahaya itu, maka bersama-sama Pek Cut, sang kakak seperguruan merangkap ketua, ia telah membantu dengan tenaga dalam Tay Poan jiak Sian Kang, juga obat Ban Hiauw Leng Tan, tetapi pertolongan itu cuma berupa bantuan sejenak buat menjaga orang tak segera putus jiwa. Sekarang pendeta itu melihat kesungguhannya It Hiong. Ia menjadi menguatirkan keselamatan anak muda yang gagah yang menjadi penolong Siauw Lim Sie. Kalau tenaga dalamnya habis, pemuda itu bisa mati sendirinya, atau sedikitnya ia bakal bercacat seumur hidupnya. Maka ia menganggap anak muda itu perlu ditolong. Sebagai orang yang cerdas ia mengerti bagaimana ia harus menolongnya. Tiba-tiba ia berkata dengan suara cukup keras : "In Sicu, lolap memohon diri ! Silahkan sicu berdua berbicara !" Dengan suara keras itu, Liauw In hendak menyadarkan dua-dua In Gwa Sian dan It Hiong, yang seperti tengah kalap dengan masing-masing keadaan dirinya, terutama supaya In Gwa Sian melihat anak angkatnya itu dan mencegahinya.

Setelah berkata itu, ia lantas bertindak pergi, tetapi bukannya berlalu terus hanya bersembunyi di pojok kamar, guna mengintai.

Nyerinya In Gwa Sian sudah berkurang, dia mulai sadar, selekasnya dia membuka matanya, dia melihat keadaan anak angkatnya, ia mengerti bahwa anak itu sudah menolongnya dengan melakukan pengobatan besar. Segera ia mengerahkan tenaganya dan menutup jalan darah hoa kay di dadanya.

Dengan demikian ia menolak balik tenaga dalamnya si anak, yang disalurkan masuk kembali kedalam tubuhnya. Dan dengan demikian It Hiong menjadi mendapat bantuan tenaga, walaupun itulah tenaganya sendiri yang pulang asal.

Lewat lagi sekian lama, In Gwa Sian mengangkat tangannya It Hiong yang ditempel dan ditekankan kepada dadanya, lalu dengan suara dalam ia kata, "Anak Hiong, lekas kau kerahkan tenaga dalam dan salurkan nafasmu kemudian kau istirahat. Mesti kau ingat, besar sekali tanggung jawabmu kelak ! Tak dapat kau merusak dirimu secara berlebihan. Itu bukannya kebaktian !"

It Hiong sangat terharu. Ayah angkatnya sangat baik hati.

Ia menyahut perlahan, terus ia duduk bersila, untuk menyalurkan nafasnya guna mengumpuli tenaga dalamnya. Selekasnya ia melihat si anak muda beristirahat lega, hatinya Liauw In. Meski begitu terus ia mengintai, tak mau ia segera munculkan diri. Tak mau ia mengganggu ayah dan anaknya itu. Sesudah satu jam It Hiong berbangkit, wajahnya tak bercahaya. Itulah bukti dari halnya dia telah mengobral tenaga dalamnya. ia mengawasi ayahnya sekian lama baru ia menanya : "Ayah, ayah hendak bicara apa ? Bicaralah ayah !"

In Gwa Sian membuka matanya, ia batuk satu kali. "Ayahmu telah berpuluh tahun menjelajahi dunia Sungai

Telaga, semua perbuatannya adalah melit." katanya. "Anakku, kau adalah ahli waris Hang Liong Hok Houw Cian. kau pula

anakku, maka itu ingatlah, janganlah kau turun namaku !" Ia berdiam sedetik terus menambahkan, "Tentang gurumu si imam hidung kerbau, dia sudah tawar hati terhadap harta dunia, dia sudah mengundurkan diri, sekarang dia tengah merantau, entah kemana, tapi dia tetap ahli pedang yang namanya tersohor diempat penjuru lautan, kaulah ahli warisnya. Dari itu kau harus menggunakan ilmu pedang gurumu itu untuk menggetarkan dunia Sungai Telaga, agar kau tak menyiakan ajarannya gurumu itu yang telah memelihara dan mendidikmu !"

"Akan aku ingat, ayah" berkata si anak muda yang memberikan janjinya. Dia berdiri tegak dan hormat.

In Gwa Sian menghela nafas, melegakan dadanya. Setelah itu dia menambahkan, katanya, "Dalam pertemuan besar di gunung Tay San itu, pertempuran luar biasa hebat. Di sana jago pihak lawan ada si siluman Thia Cie Lojin, dia benar sudah mati, kawannya masih banyak, setiap waktu bisa mengacau dan mengganggu pula dunia rimba persilatan, maka itu dengan Keng Hong Kiam, kau harus dapat menyapu ia yang jahat ! Kau harus membuat jasa dengan membela keadilan dengan jalan membasmi kelaliman !" Orang tua ini bicara dengan bersungguh-sungguh, nafasnya sampai memburu, wajahnya menjadi merah, selagi sinar matanya mencorong, kumis janggutnya pun bergerak mana lagi sekali ia mengeluarkan nafasnya, lalu ia melanjuti kata-katanya, "Mungkin sudah takdirnya habis pertemuan di gunung Tay San itu Pek Cut Taysu bakal pulang ke tanah barat dan Bu Teng Sin ong, ialah ketua dari Bu Tong Pay- Gauw Han bersama dua adik seperguruannya telah hilang jiwanya di Sam Goan Kiong. Di sanalah itu Leng In Totiang ketua dari Ngo Bie Pay, Bo Sim Totiang ketua dari Kun Lun Pay serta adik seperguruannya yang wanita, Beng Sin Suthay, mereka mengalami nasib seperti Gauw Han bertiga. Mereka menutup mata secara mendadak. Merekalah orang-orang ternama, tak pantasnya mereka kena serang secara menggelap ! Aneh, tapi mereka tak dilukai dan juga tak terkena racun ! Tidakkah itu aneh ? Maka aku mau percaya, bukankah itu namanya kutukan ? Selama tiga bulan ini anak, kau selalu berada diluar, kau tentu telah mendengar tentang semua peristiwa hebat menyedihkan itu, pernahkah kau memikirkannya ? Apakah sebabnya ?"

Berkata begitu, nafasnya si jago tua memburu. Di dalam keadaan segenting itu, dia masih ingat urusan dunia Sungai Telaga, tentang bencana rimba persilatan. Hingga ia jadi bicara banyak.

It Hiong berdiam. Justru selama saat-saat yang disebutkan ayah angkatnya itu ia lagi berada di dalam gua di Bu Lian Sha, dan ditengah perjalanan pulang, ia menghadapi beberapa peristiwa yang disebutkan si ayah ia tidak tahu menahu. Maka, mendengar kata-kata sang ayah, hendak ia meminta keterangan, atau ayah itu sudah melanjuti perkataannya.

"Hebat cara pembunuhan pihak yang bekerja didalam gelap itu." kata si ayah. "Mereka bisa membinasakan musuh tanpa suara apa-apa, tanpa meninggalkan bekas atau tapaknya. Menurut setahuku, cuma In Tok Sinshe yang dapat berbuat demikian, hanya dia itu, pada empat puluh tahun yang lalu, sudah dikeroyok kaum sadar hingga dia terluka dan tercemplung kedalam jurang Mustahil dia tertolong dan sekarang masih hidup."

Disebutnya nama In Tok Sinshe membuat It Hiong heran.

"Sebenarnya dia orang macam apakah ?" tanya anak ini.

Nafasnya In Gwa Sian memburu keras, mukanya menjadi pucat. Rupanya dia telah bicara terlalu banyak. Maka dia sudah lantas memejamkan mata dan duduk diam saja. Tapi tak lama dia sudah melanjuti pula : "Tak ada waktu lagi buat aku menjelaskan asal usulnya In Tok Sinshe serta cabang persilatannya. Hanya dia telah mempelajari semacam ilmu racun atau racun yang jahat sekali, andiakata dia sudah melatih sempurna ilmunya itu di dalam kalangan sepuluh tombak sekitarnya, dia dapat meniup atau menyemburkan racunnya untuk membunuh oang tanpa ada tanda luka atau bekas lainnya. Pada empat puluh tahun lampau itu saja, dia sudah lihai hingga dia mesti dikeroyok sampai dia terjungkal ke dalam jurang. Mungkinkah sekarang. "

Makin lama suaranya si jago tua makin perlahan.

"Ah, ayahmu telah bicara terlalu jauh. " kata ia kemudian,

habis ia beristirahat beberapa menit. "Baik, aku tak usah bicara lebih banyak tentang In Tok Sinshe itu. Hanya anak Hiong hendak aku pesan kau, kalau kelak kemudian kau bertemu lawan pandai meniup atau menyemburkan racun tak peduli ia In Tok atau bukan, jalan yang paling mudah mengusirnya ialah kau gunakan api. Racun itu asal bertemu api bakal musnah sendirinya. Kau ingat ini baik-baik !" "Ya, anak Hiong ingat, ayah..." sahut si anak angkat.

Habis bicara itu dan mendengar janji anaknya, nafasnya In Gwa Sian tampak lurus dan wajahnya pun bercahaya lalu dia tertawa kemudian lagi dia berkata dengan suaranya terang dan jelas, "Aku sudah berusia sembilan puluh tahun, taruh kata aku menutup mata sudah tidak ada yang kau berati lagi. Kau anak, kau pun jangan berduka karena aku meninggal dunia. Kau ingat saja membuat satu perbuatan baik. Kau pun harus cari tahu kematiannya ketua-ketua Bu Tong, Ngo Bie dan Kun Lun Pay itu supaya si penjahat dapat dibinasakan !"

"Anak Hiong akan ingat ayah." sahut si anak. Airmatanya meleleh.

In Gwa Sian sebaliknya tertawa terbahak. Kata dia gembira, "Gurumu si hidung kerbau itu pernah meramalkan aku katanya aku selewatnya delapan tahun lagi tak akan luput dari takdirku, karenanya lantas dia menyuruh aku menyendiri dan menyepi supaya aku lolos dari takdir itu. Ha ha ha ! Sekarang tepat sudah delapan tahun dan ternyata ramalannya cocok, tepat sekali ! Sejak jaman dulu, manusia siapakah yang tak pernah mati ? Karena itu masih kau hendak menolak orang perempuan menangis tidak karu-karuan ?"

It Hiong tunduk, tak berani ia mengangkat kepalanya.

Biarnya ia gagah, ia toh tak tega mengawasi ayah angkat itu. Biar bagaimana ia merasa berat kalau ayah itu sampai mesti meninggalkannya.......

Liauw In melihat wajah si pengemis serta kegembiraannya itu, diam-diam ia mengerti. Itulah sinar terang terakhir dari seorang yang telah tiba saatnya harus kembali ke dunia dari mana dia datang. Ia percaya tinggal lagi sesaat maka si pengemis jago itu bakal meninggalkan mereka semua.....

Tepat pendeta itu akan menghampiri It Hiong buat memberi kisikan, maka seorang kacung pendeta datang padanya dengan laporannya bahwa Nona Cio serta dua orang sicu lainnya mohon bertemu."

Sejenak si pendeta heran atau segera ia menjadi girang. "Lekas undang masuk !" perintahnya.

Kacung itu mengundurkan diri untuk di detik yang lain kembali bersama tiga orang tamunya, Cio Kiauw In, Pek Giok Peng dan Tan Hong.

Matanya Kiauw In segera tergenang air selekasnya ia melihat keadaan In Gwa Sian, pengemis yang ia paling hormati itu. Ia jamu untuk memeluk sambil ia kata duka, "Paman In bagaimana ?"

In Gwa Sian girang melihat nona itu yang rambutnya sudah lantas ia usap-usap.

"Pamanmu tidak kurang suatu apa, anak In." katanya manis. "Buat apa kau menangis ?"

"Katanya paman terluka, apa sekarang paman banyak baikan ?" Giok Peng tanya. Nona ini menahan terharu hatinya.

In Gwa Sian mengawasi nona itu.

"Oh, anak Peng, kau juga sudah kembali !" katanya. "Bagus

! Bagus ! Aku sudah baik anak !" Pengemis itu mengawasi nona yang ketiga, terus ia menatap. Ia tampak mau membuka mulutnya tetapi batal.

Tan Hong heran sehingga ia melengak. Lantas ia menghampiri sampai dekat.

"In Locianpwe, terimalah hormatnya Tan Hong !" katanya sambil ia memberi hormat.

"Tak usah." kata In Gwa Sian yang terus menanya Kiauw In. "Anak In, apakah nona ini datang bersama-sama kalian ?"

Nona Cio mengangguk.

"Ya, Paman."sahutnya. "Inilah adik Tan yang telah membantu adik Hiong mendaki gunung Ay Lao San dimana ia membantu menyerbu kaum Losat Bun hingga akhirnya Paman Beng telah dapat ditolong dibawa pulang."

In Gwa Sian mengangguk dengan perlahan. Ia hendak membuka mulutnya atau mendadak wajah terangnya si tua perlahan-lahan mukanya menjadi pucat lalu daging pipinya berkedotan, alis dan kumisnya pun bergerak-gerak. Yang paling nyata ialah nafasnya segera memburu. Habis itu terdengarlah suara seraknya terputus-putus, "Anak Hiong.....anak..... jagalah dirimu. menyingkirlah dari

bencana asmara. Ingatlah huruf paras itu dimulai dari.....

huruf. golok dan cinta itu adalah penyesalan. Ingatlah anak

!"

Belum lagi jago tua itu menutup kata-katanya atau tampak matanya terbalik terus kepalanya teklok lantas tubuhnya roboh dari duduknya itu, rebah diatas pembaringan sebab rohnya telah berangkat meninggalkan dunia yang fana ini. Dengan demikian maka berlalulah seorang jago tua yang namanya kelak dibuat sebutan. It Hiong menjerit, menubruk tubuh ayah angkat itu terus ia pingsan. Ketiga nona itu pun lantas menangis menggerung-gerung, semuanya berlutut di depan pembaringan. Liauw In si pendeta tua pun terharu sekali. Walaupun ia telah menjadi seorang suci yang bebas dari segala apa keduniawian, ia toh merasa sangat terharu hingga air mata tergenang.....

Lewat sesaat It Hiong lantas bekerja. Dibantu sejumlah pendeta ia merawat jenasah ayah angkat itu, untuk menguburnya di gunung Siong San itu selesai mana ia menjadi sangat pendiam hingga ia seperti tidak melihat dan tidak mendengar.

Ketika itu musim dingin, daun-daun berjatuhan, salju beterbangan. Malam itu hawa dingin meresap ke tulang- tulang. Seluruh kuil Siauw Lim Sie terbenam dalam kesunyian. Dimana-mana api telah dipadamkan.

Justru di dalam kesunyian tiu maka tiba-tiba diatas puncak tampak suatu titik hitam bergerak-gerak dengan gesit, bagaikan terbang naik ke atas wuwungan kuil tanpa menerbitkan suara barang sedikit juga. Titik itu bayangan sesosok tubuh lantas mondar mandir di atas genting, akan kemudian terlihat dia berlompat naik ke puncak. Ketika itu terdengar siulan yang panjang, suara seperti suara burung malam, lalu bayangan itu tampak berlari-lari turun gunung......

Besoknya pagi-pagi, tengah para pendeta berdoa menjalankan agamanya tiba-tiba lonceng besar berbunyi. Maka berhentilah mereka semua secara mendadak. Semua lantas lari ke pendopo besar Tay Hiong Poo tian, tampang mereka menandakan mereka bergelisah atau ketakutan seperti juga bencana besar tengah mengancam mereka semua.

Itulah sebab Siauw Lim Sie telah mengalami kejadian yang hebat sekali.

Tadi malam itu, empat diantara lima pendeta tua dan beribadat Ngo Lo dari Siauw Lim Sie ialah Gouw Ceng, Gouw Hoat, Gouw Leng dan Gouw Gie telah kedapatan mati tanpa sebab musabab, mati tak karuan seperti Bu Tong Sam Kiam, tiga jago pedang dari Bu Tong Pay. Tubuh mereka tak terluka atau lainnya. Setelah itu tiba berita yang Gouw To Taysu yang kelima dari Ngo Lo yang berdiam di Siauw Lim Hen In, ruang bawah, malam itu pun mati secara tiba-tiba dan tanpa terluka!

Liauw In menjadi kaget dan bingung dan repot selekasnya dia menerima laporan. Tetapi dia masih ingat akan paling dahulu mengirim beberapa rombongan muridnya pergi menjelajahi dan menggeledah seluruh gunung buat mencari si penjahat.

It Hiong juga dikejutkan dan diherankan suara genta itu.

Segera ia lari mencari Liauw In, tanpa perkenan lagi ia lancang memasuki pendopo besar.

"Kebetulan sicu datang !" menyambut Liauw In sambil memberi hormat. "Justru ada urusan besar dalam hal mana lolap ingin memohon pendapat sicu. "

Pendeta itu lantas menyuruh semua muridnya mengundurkan diri buat melakukan tugasnya masing-masing, setelah itu ia mengawasi It Hiong seraya berkata, "Sicu mari kita bicara di dalam ! Bersediakah sicu ?" It Hiong mengangguk dan mengikuti pendeta itu, sampai di Ceng-sit kamar peristirahatan dimana ia paling dahulu diundang duduk dan dipersilakan duduk. Kemudian dengan tampang sungguh-sungguh sang pendeta berkata padanya, "Sicu pasti telah mengetahui perihal keapesan Siauw Lim Sie kami, semua itu disebabkan keganasan musuh, keganasan yang sebelumnya belum pernah terdengar. Mala petaka yang menimpa kami sama sepert yang diterima ketika partai Bu Tong, Kun Lun dan Ngo Bie Pay. Kalau pembunuhan gelap itu dilanjuti, entah bagaimana nasibnya kaum rimba persilatan golongan lurus dan sadar."

"Harap jangan berduka, taysu." It Hiong menghibur. "Yang sudah tinggal sudah, yang penting ialah daya pencegahan untuk yang akan datang. Baiklah taysu berlaku tenang supaya dapat kita berpikir dan berunding. "

"Amida Buddha." Liauw In memuji sambil merapatkan tangannya. "Semoga sang Buddha kami berkasihan dan dapat membantu menyingkirkan ancaman bagi kaum rimba persilatan itu ! Hanya sicu, lolap sudah tua dan pengetahuanku cetek. Pula sekarang pikiranku sedang kacau, tak dapat lolap memikirkan sesuatu. Maka itu kebetulan sicu datang kepada kami ini, lolap ingin minta pikiran dan pengajaran dari sicu."

It Hiong membalas hormat.

"Jangan terlalu sungkan, taysu." katanya. "It Hiong muda dan kurang pengetahuan. Akan tetapi demi keadilan dan kebaikan kaum rimba persilatan, pasti dia akan berbuat semampunya dan dengan sungguh-sungguh !"

Liauw In tunduk. Nampak ia sedang berpikir keras. Melihat demikian, si anak muda pun turut berdiam dan berpikir. Ia belum tahu, bahkan belum pernah mendengar tentang bajingan dari empat puluh tahun yang lampau itu. Karena mengasah otak, tiba-tiba ia ingat kata-kata terakhir dari ayah angkatnya hal In Tok Sinshe, jago ahli racun empat puluh tahun yang lalu.

"Taysu," lantas ia tanya Liauw In. "Taysu telah berusia lanjut dan banyak merantau, apakah taysu ingat halnya seorang ahli racun tukang membunuh sesama manusia dari beberapa puluh tahun yang silam yang disebut In Tok Sinshe

?"

Ditanya begitu, mendadak Liauw In mengangkat kepalanya, mengawasi tetamunya. Ia nampak heran.

"Sicu, apakah sicu pernah bertemu dia ?" ia balas bertanya sebelum menjawab. It Hiong melihat orang terkejut dan heran itu.

"Belum pernah aku yang rendah bertemu dengan orang itu.

Tentangnya aku cuma pernah mendengar dari ayah angkatku." sahutnya.

Liauw In mencoba menenangkan dirinya.

"Semoga janganlah orang itu muncul pula !" katanya habis memuji sang Buddha.

"In To Sinshe pada empat puluh tahu dahulu telah dikeroyok oleh banya orang kaum lurus dan telah terjatuh ke dalam jurang lembah."

"Kecuali In Tok Sinshe apakah ada orang kedua yang kejam seperti dia ?" It Hiong tanya. Sang pendeta menggelengkan kepala.

"Tidak." sahutnya. "Mengenai In Tok Sinshe itu lolap juga belum pernah menemuinya, hanya lolap mendengar dari guru kami yang ketika itu turut di dalam rombongan yang mengeroyoknya."

Alisnya It Hiong terbangun.

"Menurut aku yang rendah, taysu." katanya bersungguh- sungguh. "Mengenai semua pembunuhan ini, aku tak perduli itu dilakukan oleh In Tok Sinshe atau bukan, karena kejahatan dan keganasan itu si pembunuh tidak seharusnya dibiarkan lebih lama pula dalam dunia ini, kalau tidak pasti akan roboh lebih banyak lagi orang rimba persilatan golongan lurus."

Liauw In tertarik dengan kata-kaanya anak muda ini.

"Sicu muda dan gagah, sudah sepantasnya kalau sicu suka bertanggung jawab melenyapkan manusia sejahat itu." katanya. "Tetapi dia datang dan pergi tak berbekas, gerak geriknya dalam rahasia, untuk mencari dia itulah bukan Pekerjaan mudah."

"Taysu benar." It Hiong membenarkan. "Tetapi apakah kiat harus berdiam saja ?"

Kembali si pendeta memuji sang Buddha.

"Lolap bebal, sicu, sekarang ini lolap tak dapat memikir sesuatu." kata ia kemudian. "Hanya dapat lolap jelaskan, di dalam dunia sungai telaga, orang tak lepas dari kungkungan nafsu dan nama. " It Hiong heran. Pikirnya, "Aneh, pendeta ini. Dia agaknya tak prihatin mengenai pembunuhan hebat ini dan sekarang dia bicara tentang filsafat. "

Liauw In memandang si anak muda, yang berdiam saja.

Lalu ia meneruskan kata-katanya, "Dari huruf nafsu itu muncul budi dan penasaran, orang saling bermusuhan dan saling membunuh, dan darimana itu orang bersedia menyingkir dia atau mereka yang tak sepaham dengannya, orang mudah sembarang melakukan pembunuhan cuma buat mengangkat dirinya, untuk menjadi jago rimba persilatan !"

It Hiong berdiam. Ia cuma mengawasi si pendeta.

Liauw In menambahkan, "Lolap tidak tahu orang yang melakukan pembunuhan hebat itu, perbuatannya disebabkan oleh nafsunya atau keinginannya memperoleh nama besat itu, hanya dapat lolap menerka walaupun sekarang dia masih dalam rahasia, tak lama lagi namanya bakal muncul juga !

Asal sudah dapat diketahui siapa dia, dan bagaimana asal usulnya, dapat kita berdaya menghadapinya."

It Hiong beranggapan pendeta ini terlalu lemah atau mungkin ia rada jeri. Itulah sikap yang ia tak setujui. Maka ia berkata, "Taysu, beberapa kata-kata yang ingin aku ucapkan di depan taysu, hanya aku kuatir aku nanti dikatakan lancang

!"

"Sicu menjadi penolong kami, kami sangat bersyukur." berkata si pendeta. "Karena itu, kalau ada pengajaran dari sicu, silahkan utarakan saja ! Lolap mohon supaya kami janganlah dipandang sebagai orang luar. "

"Maksudku begini, taysu." berkata It Hiong mengeluarkan pikirannya. "Aku memikir akan mencari dan menyingkirkan dahulu si jahat itu, setelah itu baru akan mau menghadapi urusan Bu Lim Cit Cun dari kawanan bajingan dari luar lautan itu. Mulai besok, aku akan membuat penyelidikan. Di samping itu aku pun mohon lekas-lekas memilih dan mengangkat ketua serta kepala-kepala dari Ngo Ih, supaya Siauw Lim Sie dapat berdiri tegak seperti sedia kala. Setelah itu supaya taysu beramai turut bekerja guna dapat menghentikan bencana rimba persilatan. Dengan begini kita jadi dapat bekerja berbareng dan bersama."

"Amida Buddha !" Liauw In memuji. "Sungguh sicu gagah dan bermurah hati. Lolap sangat kagum. Hanya, sicu, dengan usaha kita ini, entah akan roboh lagi beberapa orang kita kaum rimba persilatan lurus. "

"Harap taysu tidak demikian murah hati, taysu." berkata si anak muda. "Dengan jalan ini aku justru mengenai siasat membunuh untuk menghentikan pembunuhan."

Pendeta Siauw Lim Sie itu mengawasi tuan penolong partainya, parasnya berubah, alis dan kumisnya bergerak.

"Baiklah !" katanya selang sesaat. "Akan lolap ambil ini jalan membunuh ! Hanya sicu, walaupun sicu gagah sekali, kau harus jangan melupakan pepatah yang berkata satu tangan tidak dapat melawan empat tangan. Bagaimana kalau lolap menugaskan dua orang kami yang ilmu silatnya terpilih untuk mereka mengikuti sicu ?"

"Itulah tidak usah, taysu." It Hiong menampik. "Untuk melayani si jahat itu, apapun sekarang baru bersifat penyelidikan, tak usah aku merepotkan murid-murid taysu. Lagi pula aku ingin pergi ke In Bu Sam supaya kalau bisa, dapat aku menghalang-halangi usaha Bu Lim Cit Cun itu, supaya mereka gagal dan runtuh sebelum waktunya." "Sicu, apa sebenarnya Bu Lim Cit Cun itu ?" tanya Liauw In, yang belum jelas sebab ia belum pernah mendengarnya.

"Itulah suatu nama baru kamu sesat." kata It Hiong, yang lantas menuturkan apa yang ia lihat dan dengar tentang usahanya It Yap Tojin dari Heng San Pay.

Liauw In menghela nafas.

"Inilah yang dinamakan nafsu dan nama." katanya masgul. "Orang mau menuruti suara hatinya, orang mau menjadi tersohor, sampai pun satu diantara tiga kiamkek, jago pedang terbesar seperti It Yap Tojin telah melangkah ke jalan yang sesat. "

Demikian kedua orang itu bicara sampai merasa tiba sang sore, waktunya menyalakan api penerang. It Hiong lantas berpamitan. Di saat ia mau berlalu, mendadak seorang kacung pendeta lari datang dengan tergesa-gesa, untuk segera berkata keras tetapi tidak lantas, "Di pendopo. Tay Hong

Po tian.... di sana..... terjadi........ perkelahian. !"

"Siapakah orang yang datang itu ?" Liauw In tanya, terkejut.

Kacung itu menggeleng kepala, masih tersengal-sengal, tak dapat dia lantas berbicara pula.

"Nanti aku yang lihat !" kata It Hiong yang segera lompat keluar dari kamar untuk lari ke pendopo yang disebutkan itu.

Tiba diluar pendopo Tay Hong Po tian, It Hiong melihat beberapa orang pendeta sudah roboh dilantai, sejumlah yang lain lagi berada dengan tampang jeri, sebab walaupun mereka bersenjata, mereka tak lantas menyerang lawan. Mereka itu cuma mengurung sejauh empat lima tombak.

Lantas juga si anak muda meliha tamu-tamunya Siauw Lim Sie itu, yang berdiri berkumpul di dalam pendopo. Merekalah empat orang, yang satu berdandan sebagai pendeta, yang tiga seperti orang biasa saja. Mereka itu justru lagi berkaok-kaok menitahkan para pendeta Siauw Lim Sie itu menyerahkan Lok Giok Hud Thung, tongkat gemala hijau dari Sang Buddha, tanda kebesaran ketua Siauw Lim Sie atau Siauw Lim Pay.

Setelah mengawasi sebentar, It Hiong lantas lompat maju ke depan empat penyerbu itu, untuk bertanya dengan keras. "Para sahabat, ada urusan apa kalian datang ke Siauw Lim Sie ini ?"

Si pendeta yang usianya sudah lima puluh lebih, berkata nyaring, "Urusan kami, kaum Siauw Lim Sie, tidak usah ada orang luar yang mencampuri !"

Selagi orang bicara, It Hiong sempat mengawasi pendeta itu, yang mengenakan jubah merah, mukanya potongan muka kuda, matanya berjelalatan dan senjatanya bukan golok kayTo su seperti umumnya senjata para pendeta, hanya sebuah golok besar. Hingga goloknya saja sudah menyatakan dia bukanlah orang Buddha.

Habis mengawasi si pendeta, It Hiong memandang ketiga kawannya dia itu. Orang yang satu berdandan sebagai pelajar, tubuhnya kecil dan kurus, kulit mukanya pada berkerut, alis dan kumisnya ubanan semua, sepasang matanya tajam sekali. Orang yang kedua, usia pertengahan, menggendol sebatang golok, dia berdandan sebagai orang rimba persilatan. Yang ketiga adalah seorang wanita yang berwajah centil atau genit, mukanya tembam, pupurnya tebal, bercat bibir atau pipi, dan usianya lebih kurang empat puluh tahun.

It Hiong merasa si pendeta yang ia rasa kenal tetapi ia lupa dimana pernah menemuinya. Tiga yang lain, semuanya asing. Ia tak senang dengan kata-kata dan sikapnya pendeta, tetapi ia berlaku sabar.

"Bapak pendeta, kalau kaulah orang Siauw Lim Sie, kenapa kau tidak mentaati aturan partaimu?" tanyanya. "Kalau kau mempunyai urusan untuk bertemu dengan ketuamu, apakah dapat dibenarkan, sekarang kau melukai banyak murid Siauw Lim Sie yang menjadi sesama orang beragamamu ?"

Pendeta berjubah merah itu tertawa bergelak.

"Pek Cut ketua Siauw Lim Sie sudah wafat, sekarang mana ada ketua lainnya lagi ?" katanya jumawa. "Aku si pendeta tua adalah Pek Cian, aku menjadi adik seperguruan dari Pek Cut, karenanya sekarang aku pulang ke kuil ini buat menyambut kedudukan sebagai ketua itu !"

Si pendeta terus mengawasi si anak muda, sambil dia bersenyum. Terang yang dia memandang sebelah mata pada anak muda itu.

It Hiong bersuara dingin ketika ia berkata pula, "Bapak pendeta, kau mempunyai bukti apa yang memastikan kaulah adik seperguruan dari Pek Cut Taysu ?"

Si pendeta gusar, kata dia bengis, "Kau orang luar, berhakkah kau untuk menanyakan sesuatu tentang diriku ?"

It Hiong bersenyum, alisnya terbangun. "Setiap murid Buddha dilarang berbicara dusta !" katanya. "Belum pernah aku mendengar yang Siauw Lim Sie mempunyai murid bernama Pek Cian."

Pendeta itu bukan marah, hanya tertawa.

"Eh, Tio It Hiong bocah, hak apa kau miliki untuk menanya aku si pendeta tua ?" tegurnya. "Kalau kau tahu selatan, lantas kau menggelinding pergi dari sini, dengan demikian dapat aku mengampuni jiwamu buat banyak hari !"

Heran It Hiong yang orang mengenalinya dan dapat menyebut namanya seenaknya saja hingga ia melengak sejenak. Ia menatap pendeta itu sambil kata di hatinya, "Heran pendeta ini ! Darimana dia tahu she dan namaku ?"

Pendeta itu menjadi marah, maka selagi orang berdiam, dia kata keras : " Kau biasa mengandalkan In Gwa Sian, si pengemis bangkotan. Kau berani melakukan segala macam perbuatanmu secara bebas, kau berani menyampuri segala urusan orang lain ! Sekarang si pengemis tua sudah mampus, kenapa kau masih tidak tahu diri ? Kenapa kau justru mencampur tahu urusan Siauw Lim Sie ? Apakah kau sudah bosan hidup ?"

Belum lagi It Hiong menjawab kata-kata menghina itu tiba- tiba dari belakangnya terdengar suara keras, "Kan Tie Uh !

Masihkah ada mukamu pulang kemari menemui aku ?"

Si anak muda menoleh, maka ia melihat munculnya Liauw

In.

Ketika itu Liauw In sudah melihat murid-muridnya yang

pada rebah binasa dan terluka, hatinya panas. "Adakah ini perbuatanmu ?" dia menegur pendeta itu yang dia menyebutnya Kan Tie Uh, sedang si pendeta sendiri mengaku bernama Pek Cian.

Pendeta berjubah merah itu kata takabur, "Liauw In, aku si pendeta adalah Pek Cian. Kau jangan berlagak pilon.

Bagaimana kau berani menyebutku Kan Tie Uh ? Ha ha ha !"

Ketika itu kawannya Pek Cian yang berdandan sebagai pelajar itu memperdengarkan suara "Hm!" yang dingin dan kepalanya terus diangkat, dipakai menengadah langit, sedangkan kedua belah tangannya digendongkan ke punggungnya. Dengan sikap jumawa itu dia seperti tak memperhatikan dan tak memperdulikan Liauw In semua.

Pek Cian terkejut mendengar suara dingin "Hm !" itu hingga dia berpaling dan mukanya pun tampak pucat, hanya sebentar dia mendapat pulang ketabahannya, hingga sikapnya menjadi tenang seperti semula.

"Liauw In" katanya dingin. "Jangan kau bicara tidak karuan

! Aku datang kemari kau ketahui atau tidak, dengan maksud baik sebab aku tidak mau bertindak secara selingkuh ! Hendak aku menjelaskannya supaya kau ketahui !"

"Amida Buddha !" Liauw In memuji. "Silahkan kau jelaskan itu !"

Pek Cian mengawasi dengan mata merah karena gusarnya. Kata dia dingin, "Dengan telah meninggalnya Pek Cut, kakak seperguruanku itu, maka kedudukannya harus kau yang mewakilkan kedudukannya. Itulah menurut pantas ! Maka itu Liauw In, kau harus menyerahkan padaku tongkat kebesaran Siauw Lim Sie ! Aku maksudkan Pek Giok Hud Thung ! Kau mengerti atau tidak?" Liauw In gusar sekali, hingga dia tertawa. Hanya nadanya menandakan dia sangat menyesal dan mendongkol, dia penasaran sekali. Selekasnya dia berhenti tertawa, dia kata dingin, "Kan Tie Uh, pantaskah kau menyebut dirimu Pek Cian

? Pada dua puluh tahun lebih yang lampau kau telah diusir dari kuil dan partai, bagaimana sekarang kau berani pulang dan juga menangih kedudukan ketua ? Ha ! Sungguh tidak tahu malu !"

Mendengar sampai disitu, maka tahulah It Hiong bahwa si pendeta ialah Kan Tie Uh, si pendeta murtad dari Siauw Lim Sie, Lagi sekali ia mengawasi muka orang sampai tiba-tiba ia ingat pendeta ini ialah pendeta yang telah kabur dan lolos dari ujung pedangnya di gunung Ay Lao San, baru-baru ini. Maka ia menyesal sekali yang dulu hari itu, ia telah berlaku murah, membiarkan orang hidup terus......

Memang Kan Tie Uh telah lolos dari bahaya di Ay Lao San itu tetapi bukannya dia menyesal dan bertobat, dia bahkan penasaran hingga dia tak mau merubah kekeliruannya, dia mau hidup terus sebagai jago. Tapi dia tahu diri. Setelah kematiannya Kee Liong, ia insaf tentang ilmu silatnya belum sempurna. Jadi tak dapat baginya kalau dia mau bekerja terus. Dia tidak mau pergi ke pertemuan di Tay San sebab dia tahu di sana dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tetapi juga dia tidak mau kembali ke sarangnya kaum Bwe Hoa Bun.

Sebaliknya dengan satu keputusan tetap, dia pergi ke Cenglo Ciang, maksudnya mencari Couw Kong Put Lo. Dia berhasil dalam perjalanannya menemui orang yang dicari itu tetapi dia tidak kesampaian maksudnya. Mereka berdua tidak bersahabat. Couw Kong Put Lo tidak mau membantu bahkan menjahilinya. Dia dianjurkan pergi ke Peng Kok, lembah di gunung Thian San untuk menemui Ie Tok Sinshe. Couw Kong Put Lo percaya Ie Tok sudah mati pada empat puluh tahun dahulu, jadi kalau Kan Tie Uh pergi ke Thian San, dia bakal capik lagak.

Di luar dugaan Couw Kong Put Lo, Ie Tok masih hidup dan dilembah es justru dia mempelajari ilmu pukulan es beracun. Selama dia belum berhasil, dia menyiksa dan menyekap diri sampai dia merasa cukup dan berniat muncul pula di Tionggoan guna menuntut balas terhadap setiap orang yang dahulu mengeroyoknya.

Sungguh kebetulan bagi Tie Uh, justru Ie Tok Sinshe keluar dari tempat menyekap dirinya. Di tengah jalan mereka bertemu satu dengan lain, lantas dia menggabung diri buat bekerja sama walaupun tujuannya ialah masing-masing.

Demikian sedang terjadi, beberapa orang ketua partai telah terbinasakan secara aneh, secara rahasia dan tak berbekas juga.

Kan Tie Uh mengandal betul pada Ie Tok, dia lantas berdandan kembali sebagai pendeta, lantas dia mengajak rombongannya pergi ke Siauw Lim Sie. Bahkan dia pakai pula nama suCinya yang dulu ialah Pek Cian, bukan main besar maksudnya pendeta murtad ini yakni guna memperoleh jabatan ketua Siauw Lim Sie dan Siauw Lim Pay.

Tak terkirakan gusarnya Tie Uh yang Liauw In mendampratnya sebagai murid murtad atau pemberontak. Setelah dia melihat wajah suaram dari Ie Tok Sinshe, lantas hatinya menjadi semakin besar. Demikian dia kata bengis, "In, kalau kau tidak nyebur ke sungai Hong Ho, hatimu tidak mampus, maka itu baiklah akan aku menyempurnakanmu !"

Begitu dia menutup kata-katanya begitu Kan Tie Uh menghunus goloknya atau kawannya yang setengah tua itu mendahului maju sambil berkata nyaring, "Suhu, kasihlah muridmu yang bekuk jahanam ini !"

Selekasnya ia menghunus goloknya, orang yang mengaku murid ini sudah lantas membacok Liauw In.

Pendeta ini berkelit setengah tindak, ia tidak menangkis atau membalas menyerang, ia hanya berkata nyaring, "Kan Tie Uh, baiklah kau turun gunung untuk meninggalkan tempat ini ! Masih ada ketika buat kau menyesal dan merubah kelakuanmu. Dengan begitu leluhur kita dapat berlaku murah hati dengan memberi ampun padamu !"

"Hm !" Kan Tie Uh mengasih dengar suara dinginnya. Dia tak mau menjawab sama sekali.

Si orang setengah tua menjadi murid Bwa Hoa Bun, ilmu goloknya adalah penyaluran dari ilmu tongkat Siauw Lim Sie yang terdiri dari seratus jurus, dan dia telah berhasil melatihnya. Maka ilmu goloknya ini menjadi lihai. Setiap gerakannya mendatangkan hembusan angin keras. Karena Liauw In masih terus main berkelit, lima kali terus dia menyerang tak hentinya.

Para murid Siauw Lim Sie panas hati, ingin mereka mewakilkan Liauw In menghajar musuh jumawa itu, tetapi kapan mereka melihat si pelajar, mereka jadi sangsi. Pelajar itulah musuh yang paling berbahaya.

Kawan wanita dari Kan Tie Uh adalah Hiat Ciu Jie Nio si nyonya Tangan Berdarah. Dia berasal dari kaum Jalan Hitam di Kwan gwa. Di sana dia terkenal telengas, maka juga dia mendapat julukan itu. Dia juga cepat pikirannya, mudah dia mengiringi rasa hatinya. Sudah begitu dia juga paling menggemari kepelesiran dengan bangsa pria, hingga dia banyak sahabat dan kekasihnya. Sebaliknya, setiap pria yang menantangnya, pasti dia membunuhnya.

Biasanya si sesat suka bergaul erat dengan si sesat.

Demikian juga dengan Ie Tok dan Jie Nio. Kebetulan sekali mereka bertemu di tengah jalan di Pek liong twie, lantas mereka menjadi sahabat satu dengan lain. Lantas dengan sukanya sendiri Jie Nio mengaku menjadi murid. Demikian mereka berdua selalu bersama-sama memasuki wilayah Tionggoan sampai bertemu dengan Kan Tie Uh, hingga kedua pihak lantas bekerja sama. Ie Tok bersedia membantu si kawan merebut kedudukan ketua Siauw Lim Sie.

Hian Ciu Jie Nio tidak puas menyaksikan kawannya tak dapat merobohkan Liauw In walaupun pendeta itu sudah dirangsek hebat, lantas ia berlompat maju sambil berteriak.

Senjataya yang beracun pun sudah lantas dikeluarkan. Segera dia menyerang Liauw In tiga kali. Senjatanya itu semacam gaitan Cui tok Bwe hon Toat, digerakinya ke arah kepala terus ke dada. Gerakannya luar biasa, sedangkan cahayanya bersinar menyilaukan mata.

Liauw In Taysu sabar sekali. Terus ia main mundur, sampai tiga kali. Baru setelah itu, dua kali ia membalas dengan tangan kosong buat menghindarkan celaka.

It Hiong terus menonton. Ia tidak mau segera membantu Liauw In, hanya diam-diam ia memasang mata kepada si orang pelajar yang gerak geriknya menarik perhatian. Ia mau percaya orang lihai. Ia melihat pertempuran menjadi hebat. Terang Kan Tie Uh tak mudah mundur, sedangkan kawannya si nyonya galak sekali. "Mereka pasti tak akan mundur, apabila tidak diberi rasa." pikir si anak muda kemudian. Maka juga ia lompat kepada Liauw In untuk membisik, "Taysu, silahkan mundur sebentar, tetapi lekas-lekas taysu menitahkan sekalian muridmu menyediakan banyak obor dengan api. Mereka mesti bersiap sedia mengurung musuh yang mirip pelajar itu. Tentang ini dua orang jalanan pria dan wanita, biarlah aku yang membereskannya."

Setelah berkata begitu, dari sisi si pendeta It Hiong maju ke depannya, terus ia menghunus Keng Hong Kiam hingga pedangnya itu memberi cahaya berkilauan.

Hiat Ciu Jie Nio terkejut melihat si anak muda dengan pedang yang tajam itu, dia mundur dua tindak, tetapi dia berkata nyaring, "Eh bocah, apakah kau tepat untuk bertempur denganku Hiat Ciu Jie Nio ? Nah, kau sebutkanlah she dan namamu !"

It Hiong mengawasi tajam.

"Aku yang rendah ialah Tio It Hiong dari Pay In Nia." sahutnya hormat.

Justru anak muda kita melayani si nyonya berbicara, kawannya si nyonya, si orang setengah tua yang berpakaian hitam itu, tiba-tiba datang membacok pinggangnya. Ia melihat itu, wajar saja ia menangkis.

Selekasnya kedua senjata bentrok nyaring, golok si penyerang buntung seketika dan terpental hingga dia menjadi kaget. Lalu bergusar maka juga dia berseru, "Eh, bocah, kau menggunakan pedang mustika. Itu bukan berarti kepandaianmu !" Ia menimpukkan gagang goloknya sambil berkata pula, "Kalau kau benar gagah, kau sambut senjata rahasiaku !"

Hebat golok buntung itu menyambar tetapi It Hiong dengan mudah saja menyambutnya dengan menjepit dengan dua jari tangan kirinya !

Jie Nio turun tangan secara mendadak setelah dia melihat kawannya gagal, dia menyerang dengan senjatanya yang beracun itu. Ujung senjata mencari mukanya si anak muda yang lagi mengawasi si baju hitam.

It Hiong terancam bahaya, syukur ia tidak menjadi gugup. Dengan cepat ia berkelit dan sambil berkelit itu, golok musuh dipakai menimpuk balik pada si musuh. Ia mengelit dari senjatanya si nyonya sebab sudah tak keburu buat dia menangkis. Habis berkelit barulah dia maju dua tindak akan membalas menebas lawan wanita itu.

Muridnya Kan Tie Uh berani. Dia berhasil menyambuti goloknya yang ditimpukkan balik kepadanya itu. Dia maju pula sambil menggunakan golok buntungnya membacok si anak muda.

Berbareng dengan itu, Jie Nio pun menyerang karena dia tahu pedang lawan tajam luar biasa, dia tak mau membuat senjatanya bentrok. Maka itu ia berkelahi secara lincah, dia banyak berlompatan ke sana kemari.

Menghadapi kepungan ini, It Hiong bertempur dengan menggunakan gerakan dari Khie bun Patkwa Kiam.

Hanya sebentar mereka sudah bertempur dua puluh jurus lebih. 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(