Iblis Sungai Telaga Jilid 39

 
Jilid 39

"Oh, sicu, mengapakah sicu begini berkukuh ?" katanya kemudian. "Soal asmara pria dan wanita, perubahannya banyak sekali, setiap waktu bisa didapatkan. Di detik ini mereka berselisih, di lain detik mereka akur pula malah lebih akrab dari yang sudah-sudah. Pinlap lihat baiklah urusan ini

diserahkan kepada sicu yang mengurusnya sendiri "

"Hm, pendeta tua !" berkata Teng Thian dingin. "Soal jodoh adikku ini ada soal yang lain sifatnya ! Perlu aku campur tahu guna membereskannya !"

"Maaf, sicu !" kata si pendeta. "Pinlap adalah kaum beragama, harap sicu maklum yang dalam urusan asmara itu, tak dapat pinlap bicara banyak !"

Mendadak darahnya Teng Thian meluap. "Kelihatannya, tak dapat tidak, aku si tua mesti menerjang masuk !" teriaknya.

Kedua matanya Gouw To dipentang lebar, janggutnya yang panjang pun bergerak bangun.

"Maaf, sicu" katanya, "pinlap mesti menghormati tugas kami karena itu tidak dapat pinlap mengijinkan sicu berbuat semau maunya disini !" Tepat disaat kedua jago itu hendak bertempur, di jalanan Ceng Siong To itu tampak sesosok tubuh kecil ramping berlari- lari mendatangi, lekas sekali orang itu sudah tiba. Maka terlihat nyata dialah Tan Hong dari Hek Keng To. Dia lantas berdiri diam mengawasi semua orang terutama Gouw To dan Teng Thian.

Siauw Wan Goat mengenali nona itu, dia menghampiri. "Kakak Tan Hong, kau telah bertempur dengan kakak

Hiong atau tidak ?" tanyanya.

Nona Tan menggeleng kepala.

"Selama dua bulan ini aku terus mencari dia dengan sia- sia." sahutnya.

"Kakak, apakah kakak sudah lupa ?" Wan Goat tanya. "Bukankah pada bulan yang baru lalu kau bersama dia telah pergi ke gubuk ke tempat menyepi dari kakak seperguruanmu

?"

Ditanya begitu, Tan Hong dapat menerka duduknya pertanyaan itu, maka mendadak saja ia tertawa. Orang bicara diri It Hiong palsu !

"Kakak mau mencari dia itu ?" tanyanya. "Kalau begitu, buat apa kakak datang mencari ke Siauw Lim Sie ini ?"

Mukanya Wan Goat menjadi merah, tetapi ia toh kata pelan, "Kemudian setelah itu aku pun telah menemui Kakak Hiong di rumah penginapan di kecamatan Kwieteng. Selama satu malam kami telah beromong-omong. " "Oh, begitu..." kata Tan Hong, perlahan. Di dalam hati, ia menerka-nerka It Hiong atau Hong Kun yang Wan Goat ketemui di Kwieteng itu.

"Malam itu kakak Hiong telah mengatakan " kata pula

Wan Goat, kembali mukanya merah saking likatnya, "dia. "

Tan Hong melirik nona itu. Ia menerka orang salah paham.

Tapi ia tertawa dan berkata : "Pastilah malam itu kakak merasai kenikmatan pula "

"Cis. " Wan Goat meludah. "Ah, kakak, kau masih dapat

menggodia aku. Kau tahu aku sekarang lagi sangat penasaran, aku seperti mau mati saja. "

Nona Siauw lantas menangis sesegukan, air matanya meleleh keluar.

Tan Hong menghampiri, ia menepuk bahu orang.

"Ah, anak tolol, "katanya. "Kakak bergurau saja ! Kenapa kau begini bersusah hati ? " Ia pun menggunakan saputangannya membantu menepas air mata nona itu, "Aku cuma main-main. "

Siauw Wan Goat mau percaya bahwa ia telah digodia.

"Kau tahu kakak, apakah katanya kakak Hiong malam itu ?" kata ia.

Tan Hong mengawasi.

"Kakak Hiong bicara banyak." kata pula Wan Goat yang terus memberitahukan pembicaraan itu, lebih benar pembicaraannya It Hiong dengan Teng Thian. Tan Hong segera berpikir, "Kalau begitu, dia bukanlah Tio It Hiong palsu !". Maka lantas ia berkata, "Habis itu kakak Hiong mu itu lantas pergi, bukan ?"

Tapi kakak Hiong gusar sekali karena aku terlalu melit." Wan Goat berkata.

"Dia mencabut pedangnya dan membacok ujung meja ! Kata kakak Hiong bahwa dia tak nanti sembarang menyia- nyiakan orang, bahwa dalam urusan jodoh kita harus menikah dengan sah dan terang ! Kata dia pula, kalau sampai terjadi demikian, lebih dahulu dia harus bicara dengan kedua kakak Pek Giok Peng dan Cio Kiauw In. Akhirnya dia kata, urusan kami itu harus dicari tahu dahulu sampai jelas, sebab dia menyangkal perhubungan diantara kami berdua. "

Mendengar sampai disitu, Kang Teng Thian campur bicara. "Kami tengah menyusul dia sampai di jalan umum diluar

kecamatan Kwie teng." katanya. "Disitu si bocah she Tio main gila, selalunya dia menyangkal, dia pun kurang ajar. Dia berani melawan aku si orang tua ! Sealgi bertempur, dia mengangkat kaki dan kabur !"

Mendengar keterangannya Teng Thian itu, Tan Hong bingung juga. Pemuda itu It Hiong atau Hong Kun ?

Wan Goat mengawasi kakak seperguruannya lalu dia menangis pula. Kata dia, "Justru buat urusanku ini, kami datang menyusul kakak Hiong ke Siauw Lim Sie ini. Di luar dugaan, kami telah bertempur dengan para taysu itu. "

Berkata demikian, si nona menunjuk ke arah Gouw To sekalian, atau mendadak ia melengak. Disitu tak ada seorang pun pendeta ! Mereka telah pergi secara diam-diam setelah sebentaran mereka mendengari pembicaraannya kedua nona itu.

Tan Hong pun melengak tetapi dia lantas berkata : "Kakak berdua, kalian tunggu ! Nanti aku pergi ke Siawu Lim Sie untuk meminta keterangan !" lantas dia lari ke arah kuil.

Siauw Wan Goat lompat untuk menahan.  "Kakak !" tanyanya. "Kakak hendak menanyakan

bagaimana ?'

Tan Hong berdiam sejenak.

"Aku hendak menanyakan kakak Kiauw In dan Giok Peng berdua sudah kembali atau belum." sahutnya, "Mereka itu menjanjikan aku datang kemari."

Begitu berkata, Nona Tan lari pula. Wan Goat melongo.

Kang Teng Thian lompat kepada adiknya itu yang ia tarik bahunya.

"Tio It Hiong belum pulang ke Siong San !" katanya. "Mari kita pergi !"

Sekarang Teng Thian percaya keterangannya Gouw To, maka ia tidak mau menarik panjang urusan pertempurannya barusan.

Wan Goat bersangsi. "Aku hendak menantikan kembalinya kakak Tan Hong." katanya. "Aku akan mendengar apa katanya. "

Teng Thian berpikir keras hingga wajahnya menjadi suaram.

"Budak Tan Hong dan Hek Keng To datang ke Siong San." katanya, "bukankah dia pun hendak mencari Tio It Hiong ?"

“Mungkin benar, mungkin bukan. " kata Wan Goat yang

pikirannya kacau.

"Kenapa begitu ?" sang kakak tanya heran. Kakak ini melengak.

"Memang kakak Tan Hong lagi mencari kakak Hiong." menjawab si adik seperguruan. "Tetapi datangnya ke Siong San ini guna mencari kakak Kiauw In. '

Teng Thian tertawa.

"Tidak mungkin budak setan itu merepotkan dirinya sendiri

!" katanya. "Mungkin dia pun mencintai bocah she Tio itu !"

Wan Goat berdiam, hatinya memukul. Kakak itu mungkin benar. Kalau benar, tambah lagi satu soal baginya. Ia mulai merasa cemburu. Kedua kakak beradik itu berdiri sekian lama dengan masing-masing berdiam saja. Wan Goat tunduk.

Sekian lama itu tak nampak Tan Hong kembali.

"Hmm !" bersuara Theng Thian. "Keledia-keledia gundul itu mencegah kita mencegah kita mendatangi kuilnya, sebaliknya mereka menerima kedatangannya Tan Hong. Bagaimana itu

?. Bukankah itu disebabkan mereka sengaja hendak mempersulit kita ? Hmm, apakah begitu perbuatannya orang- orang suci?"

Wan Goat mengangkat kepalanya, memandang kakaknya itu. Si kakak masih lagi uring-uringan, maka juga dia merasa demikian terhadap pendeta-pendeta dari Siauw Lim Sie. Ia pun lihat wajah muram dari kakaknya itu, yang terang sedang sakit hati.

"Sudah kakak, jangan kakak sesalkan mereka." kata ia menghibur. "Mereka itu mempunyai aturannya sendiri yang harus ditaatinya."

"Tetapi setiap kuil adalah tempat umum, tempat terbuka !" kata Teng Thian masih mendongkol. "Mestinya setiap kuil terbuka pintunya buat orang-orang dari empat penjuru dunia ! Kenapa aneh tingkahnya sekalian keledia gundul dari Siauw Lim Sie ini ? Bukankah terang-terang mereka jahil dan mau main gila terhadap kita ?"

Wan Goat bingung, ia kuatir kakak ini gusar dan nanti menyerbu Siauw Lim Sie. Itulah berbahaya dan makin mempersulit juga usahanya mencari si kakak Hiong.

"Kakak, mari kita tunggu sebentar lagi," katanya kemudian. "Kita tunggu kembalinya kakak Tan Hong. Nanti kita ketahui pasti kakak Hiong ada di dalam kuil atau tidak "

Teng Thian sangat menyayangi adiknya itu. Ia berkasihan sekali maka dia menungkuli hatinya, menahan sabar. Lewat pula sekian lama, Tan Hong tetap belum muncul.

Teng Thian mengangkat kepalanya melihat langit. Ia mendapat kenyataan sang magrib telah tiba. Di pohon-pohon suara burung sudah mulai terdengar. "Hm !" katanya, seraya tangannya menjambret lengan adiknya. "Mari !"

Wan Goat lagi berdiam, ia terkejut, tetapi ia toh turut ditarik kakaknya itu.

Kang Teng Thian mengajak saudaranya itu ke kuil Siauw Lim Sie karena mereka berlari tidak lama sampailah mereka di depan pintu dari Hoe In rareja bagian bawah, dari Siauw Lim Sie. Justru mereka sampai lantas mereka mendengar berisiknya senjata-senjata beradu bercampur dengan suara bentakan hinga meeka menjadi heran. Sebaliknya di bagian luar itu suasana sangat sunyi, satu orang pun tak nampak.

Tanpa membuka mulut, Teng Thiang menuntun adiknya memasuki pintu gerbang kuil yang tak tertutup dan tak terkunci. Mereka berlari-lari. Mereka lari dari bagian dalam sampai di pendopo dalam ke pendopo Wie To Tian. Masih mereka maju terus hingga melintasi sederet kamar yang pasti adalah kamarnya para pendeta. Sekarang mereka berada di lorong yang menjadi halaman muka dari Toa tian pendopo utama.

Adalah disini kedua sisi halaman terlihat banyak sekali pendeta berbaris. Semua bersenjatakan golok kayoo dan tongkat panjang sianthung. Mereka itu tengah menyaksikan dua orang yang tengah bertempur di tengah-tengah halaman. Kecuali suara berisik senjata, sekarang keadaannya sunyi sekali.

Walaupun demikian kedatangannya Teng Thian berdua ada juga yang melihatnya. Empat orang pendeta segera muncul untuk menghadang. Wan Goat sementara itu sedang melihat tegas siapa yang lagi bertempur itu. Tan Hong dengan seorang pendeta tua. Tanpa merasa, ia berseru : "Kakak Tan Hong !"

Seorang pendeta yang menghadang menegur : "Sicu berdua kenapa sicu masih tidak mau turun gunung ? Sicu mau apakah ?"

Kang Teng Thian habis sabar, mendadak dia menyerang dengan pukulan Bu Eng Sin Kun atas mana ke empat pendeta itu menjerit tertahan, tubuhnya terhuyung-huyung lalu terus roboh terguling.

Semua pendeta di kiri dan kanan menjadi kaget, mereka menjadi gusar lantas mereka maju mengurung. Beberapa pendeta lainnya lekas-lekas membantu ke empat kawannya yang roboh itu yang terus dibawa menyingkir.

Kang Teng Thian tidak takut, dia menghadapi sekalian pendeta itu.

"Para suhu, apakah kalian hendak mencoba merasai Bu Eng Sin Kun ?" tanyanya.

Belum berhenti suaranya si jago tua, seorang pendeta usia lima puluh lebih maju menghadapinya untuk segera menanyai

: "Tanpa sebab sicu lancang datang kemari dan melukai orang, sebenarnya sicuorang tangguh dari mana ? Harap sicu menjelaskan dahulu supaya aku si pendeta kecil dapat melayanimu !"

"Kedudukan apa kau punyai maka kau mau bicara denganku ?" Teng Thian membalas. "Mana pimpinanmu ? Aku hendak bicara dengannya !" Ketika itu pendeta yang menempur Tan Hong ialah Gouw To Taysu, telah menangkis sanhopang dari Nona Tan terus dia mencelat memisahkan diri, untuk menghampiri Teng Thian, setelah mengawasi Teng Thian berdua Wan Goat, dia memberi hormat dan berkata : "Lolap Gouw To adalah ketua dari kuil Hau Ih dari Siauw Lim Sie ! Kang Sicu ada apakah pengajaran sicu ?"

Kang Teng Thian mengawasi pendeta tua itu, sendirinya ia menjadi kagum dan menaruh hormat. Si pendeta sangat tenang, sikapnya sabar dan menghormat. Orang pun berwajah welas asih.

"Toahweshio, buat apa Toahweshio masih menanyakan lagi

?" sahutnya dengan balik bertanya. "Bukankah tadi diluar telah aku menjelaskannya ?"

"Dengan sebenar-benarnya Sicu Tio It Hiong belum kembali ke kuil kami ini." sahut Gouw To dengan sabar, "maka itu aku mohon Kang Sicu mempercayai perkataanku ini. Lolap harap sudi apalah sicu lekas turun gunung."

Teng Thian memperdengarkan suara dingin. Kata dia : "Pintu Buddha terbentang lebar terbuka untuk umum. Karena itu bagaimana kalau aku si orang she Kang masuk ke dalam untuk memeriksanya ?"

Alisnya si pendeta terbangun.

"Maaf, sicu." katanya. "maaf yang lolap tidak berani sembarang melanggar aturan kami sendiri hanya untuk menerima tamu-tamu agung !"

"Hm ! Hm !" Teng Thian kembali memperdengarkan suara dinginnya. "Aku si orang she Kang ingin bertemu dengan Tio It Hiong si bocah tetapi taysu berkokoh mencegahnya, apakah dengan begitu taysu menghendaki aku terpaksa menggunakan kekerasan ?"

Gouw To Taysu melengak. Orang tak sabaran sekali ! "Kang sicu, kau telah menjadi sangat bergusar !" katanya.

"Kang sicu, sebenarnya buat urusan apakah kau mencari Tio

Sicu ? Maka lolap menanya melit padamu."

"Aku yang rendah datang mencari Tio It Hiong buat mengurus urusan jodoh yang ruwet diantara dia dan adik seperguruanku ini." sahut Teng Thian. Terpaksa dia harus memberikan keterangannya. "Aku mesti bertemu sendiri dengannya guan dia mengasihkan keputusannya !"

Ketika itu Tan Hong yang ditinggalkan Gouw To, datang menghampiri. Dia telah menyimpan senjatanya dan tindakannya tenang. Terus dia berkata : "Bapak pendeta mengatakan adik Hiong belum kembali, itulah mungkin benar, akan tetapi kedua kakak Kiauw In dan Giok Peng yang telah menjanjikan datang kemari, benar-benarkah mereka tidak ada diatas gunung ? Inilah sulit buat orang mempercayainya !"

Gouw To memuji Sang Buddha.

"Tio Sicu serta keluarganya itu benar-benar belum kembali kemari !" kata dia sungguh-sungguh. "Lolap belum pernah omong dusta !"

Siauw Wn Goat lantas campur bicara. Dia mencari It Hiong, dia memikiri anak muda itu tetapi dia pun tak menghendaki kakak seperguruannya yang aseran itu bentrok dengan Siauw Lim Sie. Maka dia berkata : "Baiklah, kalau Toahweshio melarang kami memasuki kuilmu untuk memeriksa, tetapi sekaran aku minta dapatkah kami pergi ke kamarnya kakak Hiong itu, buat melihat sebentar saja ?"

Gouw To bersangsi.

"Itulah..." katanya, tetapi segera dia disela Tan Hong, yang berkata sambil tertawa : "Apakah benar-benar taysu, aturan kuil kalian ini tak dapat memberi keleluasaan kapada umum ?"

Gouw To mengasi lihat sikap sungguh-sungguh hingga tampangnya menjadi keren.

"Sicu, kaulah seorang wanita muda sekali tetapi kenapa kau bicara begini lancang ?" tegurnya. "Ada sebabnya kenapa kami tidak dapat kami menerima kalian memasuki kuil kami ini. "

Ia terus menoleh pada sekalian murid Siauw Lim Sie yang lagi mengurung itu, ia mengibaskan tangannya, memberi tanda supaya mereka itu mundur. Setelah itu ia menambahkan : "Baiklah dengan bersedia nanti ditegur kakakku yang menjadi ketua kami, suka aku membiarkan sicu semua ke kamar suci di belakang puncak gunung kami ini, ke tempat yang diperuntukkan Tio Sicu supaya sicu puas dan tak lagi mengatakan lolap mendusta ! Nah, silahkan !"

Menutup kata-katanya itu yang merupakan undangan, si pendeta merapatkan kedua tangannya selaku tanda hormat. Setelah itu dia mendahului bertindak maju guna memimpin ketiga tamu-tamunya itu.

Dengan memperdengarkan suara dingin, Kang Teng Thian mengikuti berjalan bersama Siauw Wan Goat dan Tan Hong mengintil di belakang mereka. Mereka berjalan di jalan Ceng Siong To itu dengan tenang dan tanpa bicara. Jarak Hau Ih kuil Bagian bawah dari Siauw Lim Sie dengan Ceng Thian pendopo utama, ada tiga atau empat lie jauhnya. Selama itu mereka merasai shiliran angin diantara dahan-dahan dan daun-daun cemara (siong), sedangkan suasana magrib makin nyata.

Tepat ketika rombongan ini mendekat Ceng Thian, Siauw Lim Sie pusat, maka dari arah kuil itu tampak tiga orang berlari-lari mendatangi hingga lekas juga mereka itu sudah sampai di depannya Gouw To berempat itu. Di katakan berempar si pendeta tua pergi seorang diri, semua murid atau bawahannya di tinggal di Hau Ih.

Dari tiga orang pendeta itu yang berjalan di muka adalah seorang pendeta tua berjubah kuning, yang tangannya memegang tongkat sianthung. Selekasnya dia menghentikan tindakannya, dia melintangi tongkatnya itu sambil dia memperdengarkan suaranya yang keren : "Sute Gouw To, sungguh besar nyalimu ! Kenapa kau berani melanggar aturan kuil ? Kenapa kau lancang mengajak orang luar memasuki daerah terlarang ini ?"

Gouw To menjura, memberi hormat pada orang yang menegurnya itu, wajahnya menunjuki yang ia jeri sekali.

"Ciangbun suheng maaf," berkata ia. "Beberapa sicu datang kemari mereka memaksa hendak menemui Sicu Tio It Hiong. Telah siauwte memberikan keterangan bahwa Tio Sicu belum kembali, mereka tidak mau mengerti, mereka mendesak dan memaksa juga. Karena itu buat menghindari pertempuran yang tak dikehendaki, siauwte terpaksa memimpin mereka datang kemari guna melihat tempatnya Tio Sicu. Demikianlah maka siauwte telah terpaksa berani melanggar aturan kuil kita. Buat itu, siauwte bersedia menerima hukuman. "

Sepasang alisnya pendeta berjubah kuning itu terbangun. "Telah kami menerima perintah dari Ciang bun suheng yang melarang siapa pun mendatangi tempat terlarang !" berkata ia keras. "Sekarang sute, lekas kau kembali ke Hau Ih

! Keadaan disini, akan kakakmu yang urus !"

"Ciangbun suheng" ialah kakak seperguruan yang menjadi ketua dan "siauwte" berarti "adik kecil" sebagai gantinya "aku".

"Siauwte menurut perintah !" berkata Gouw To yang sambil memberi hormat, setelah mana ia membalik tubuhnya buat lari kembali ke Hau Ih.

Hatinya Kang Teng Thian panas menyaksikan kejadian di depan matanya itu. Maka berulang kali ia memperdengarkan suara dingin "Hm !". Kemudian sambil tertawa, dia kata : "Kiranya pendeta-pendeta agung dari Siauw Lim Sie pandai sekali menipu orang ! Baiklah, aku yang rendah, hendak aku paksa memasuki daerah terlarang dari kalian. Hendak melihat apakah aturan itu !" Dan lantas ia bertindak maju.

"Tahan !" berseru si pendeta berjubah kuning. "Tuan, apakah tuan ialah Tocu Kang Teng Thian dari To Liong To ? Kenapa tocu mendesak begini rupa ? Kenapakah buat urusan yang kecil, tocu pasti hendak merusak aturan kuil kami ?"

Teng Thian menghentikan tindakannya. Ia merasa anginnya tongkat yang dipakai menghadangnya. Pendeta itu telah lantas melintangi tongkatnya itu. Ia pun tidak senang.

"Biasanya Bu Eng Sin Kun ku tidak mengenali orang !" katanya keras. "Rupa-rupanya taysu ingin belajar kenal dengan ilmu silatku itu !" "Amidha Buddha !" pendeta tua itu memuji junjungannya. "Kang Tocu tidak suka mendengar kata-kataku si pendeta tua, kau memaksa hendak melanggar daerah kami. Baiklah, lolap Ang Sian, ingin lolap mencoba-coba kepandaian Tocu itu. !"

Begitu berhenti kata-katanya si pendeta tua, maka dua orang yang datang bersamanya, dua pendeta dari angkata kedua dengan memutar goloknya masing-masing sudah lantas memajukan diri ke sisi kanan dan kiri pendeta tua itu.

Sampai itu waktu Tan Hong pun bertindak maju. Dia berkata dingin : "Aku Tan Hong, aku datang kemari karena aku menyambuti janji ! Jadi kami bukan datang sengaja untuk kalian kaum Siauw Lim Sie ! Taysu, kalau kau tetap melarang kami masuk, itulah artinya kau sudah berkeras tak bicara soal keadilan ! Dengan merintangi kami, kalian pastilah telah menghina kami sebab kalian mengandalkan pengaruh kalian !"

Ang Sian melirik kepada nona itu.

"Lolap cuma menerima perintah untuk melindungi daerah terlarang kuil kami !" kata ia. "Nona dapat menggunakan lidah nona yang tajam tetapi aku tidak menghiraukan itu !"

Kang Teng Thian tidak memperdulikan pembicaraan orang itu. Ia hanya menoleh kepada Tan Hong.

"Apakah kau tahu tempat mondoknya Tio It Hiong ?" tanyanya pada si nona.

Nona itu menggeleng kepala. "Aku tidak tahu." sahutnya. "Sicu Tio It Hiong tidak berada di kuil kami ini !" berkata Ang Sian. "Aku minta sicu sekalian jangan salah mengerti, supaya kita jangan menjadi berselisih karenanya ! Kini sudah tiba jam pertama, silahkan sicu sekalian pergi turun gunung !"

Mendengar dan menyaksikan semua itu, kembali Siauw Wan Goat menjadi bingung. Ia ingin mencari Tio It Hiong tetapi ia juga tak menghendaki kakaknya bertempur melawan pihak Siauw Lim Sie. Saking bingung, ia berdiam mengawasi sang rembulan, tetapi otaknya terus bekerja. Mendadak ia mendapat satu pikiran.

"Taysu !" katanya pada Ang Sian. "Sebagai mana taysu pikir kalau aku sendiri yang masuk untuk menemui kakak Hiong ?"

Ang Sian menjawab cepat : "Maaf, nona. Tak dapat aku menerima baik permintaanmu ini !"

Sampai disitu, habis sudah kesabarannya Kang Teng Thian. "Aku si orang she Kang, tak sempat aku melayani kau

bicara lebih jauh !" teriaknya. "Lihat kepalanku !" dan ia menyerang dengan Bu Eng Sin Kun.

Ang Sian Siangjin bertindak ke samping buat berkelit. Ia tahu lihainya ilmu silat jago dari To Liong To itu. Tak mau ia menyampoknya. Habis itu ia putar tongkatnya dengan ilmu silat Lohan thung, ia hanya menutup diri.

Teng Thian sedang murka, ia tidak memperdulikan segala apa. Ia menyerang dengan hebat, dengan kedua tangannya silih berganti, maka itu dapat dimengerti dahsyatnya Bu Eng Sin Kun. Tetapi Lohan thungnya si pendeta juga mempunyai latihan puluhan tahun, dapat dia menutup dirinya dengan baik.

Siauw Wan Goat bingung sekali. Tak berdaya buat ia maju disama tengah. Ia sangat menguatirkan kakaknya nanti salah tangan hingga onar menjadi hebat dan tak ada jalan untuk menghindarkannya.....

Tan Hong menonton dengan mulut terbuka. Dia kagum sekali menyaksikan lihainya dua orang yang lagi mengadu ilmu kepandaian itu.

Kedua kawannya Ang Sian pun menonton dengan pikiran mereka tak tenang, mereka kagum berbareng berkuatir buat keselamatan pemimpin mereka itu.

Ang Sian melakukan tugasnya. Pula sungguh jelek kalau Kang Teng Thian, bajingan dari luar lautan diberi kesempatan memasuki kuil Siauw Lim Sie. Apa kata orang luar kalau mengetahuinya? Pula, suasana tak mengijinkan.

Harus diketahui ketika itu Siauw Lim Sie tengah mengalami kedukaan. Itulah sebab ketua mereka, Pek Cut Taysu telah tiba saatnya untuk berkumpul. Mengenai hal itu belum diumumkan sampai Gouw To dari Hau Ih, belum mendapat tahu.....

Pertempuran diantara jago tua itu berlangsung terus.

Mereka sama lihainya. Seratus jurus telah dilalui, mereka tetap sama tangguhnya. Masing-masing sudah menggunakan kepandaiannya, tiada juga hasilnya Bu Eng Sin Kun, ilmu silat tanpa bayangan tak mempan terhadap si pendeta tua.

Kemudian tiba saatnya Ang Sian Siangjin menggunakan tipu tongkat Tiam Hoa Sek Koan, "Membuyarkan Warna kosong". Dengan begitu ia paksa Kang Teng Thian mundur tiga tindak. Kesempatan itu ia gunakan untuk berkata : "Kang Tocu, ilmu silatmu benar luar biasa lihai. Lolap sekarang menginsafinya ! Tocu harap kau mengenal selatan dan lekas- lekas turun gunung ! Lolap berjanji kalau nanti Tio Sicu datang kemari, akan lolap menyampaikan kepadanya tentang minatmu ini !"

Tetapi Kang Teng Thian gusar.

"Aku si tua datang kemari, aku suka datang kapan saja !" katanya bengis. "Dan aku tidak perdulikan tempat itu kadung naga atau gua harimau ! Pendeta tua, apakah kau sangka dengan sebatang tongkatmu ini kau dapat menghina aku ?

Hm !"

Kata-kata itu berarti jago tua dari To Liong To tak sudi di suruh pergi karena pengaruhnya tongkat, atau dengan lain arti, Ang Sian dapat bertahan sebab dia mengandal tongkatnya yang lihai itu.

Ang Sian Siangjin dapat menerka hati orang, ia menjadi tidak puas. Hingga wajahnya yang tenang menjadi suaram, alisnya pun terbangun. Ia lantas kata sungguh-sungguh, "Kang Tocu, apakah ini artinya kau mau bertempur terus dengan lolap dan kita tak akan berpisah sebelum ada kepastian siapa hidup, siapa mati ?"

Teng Thian tertawa dingin secara menghina.

"Aku si tua sudah biasa mengembara dan biasa melihat darah berhamburan !" katanya keras. "Mana aku takuti hanya sebatang tongkat. Kau benar pendeta tua ! Mari kita jangan berpisah sebelum kita melihat siapa mati siapa hidup !

Setujukah kau ?" Ang Sian mengawasi senjata ditangannya, mulutnya berkelamik, otaknya bekerja. Kemudian ia menyerukan Sang Buddha untuk akhirnya berkata : "Kita berdua bertempur lolap menggunakan tongkatku ini, tocu dengan bertangan kosong. Kalau hal itu didengar dunia Kang Ouw, rasanya kurang bagus atau mungkin orang akan mentertawakannya karena dianggap jenaka ! Laginya kalau umpama kata lolap menang, terang itulah bukan menang kegagahan !" Ia lantas menancapkan tongkatnya di lantai, dalamnya dua kaki, setelahh mana ia menggulung lengan bajunya. Ia berkata pula : "Kang Tocu, kau tidak mau mendengar nasehatku si pendeta tua supaya kau turun gunung, tetapi lolap pun telah menerima perintah ketuaku untuk melarang orang-orang asing lancang memasuki kuil kami. Maka itu sekarang baik kita atur begini saja. Tocu mari kita putuskan urusan kita ini dengan kepandaian kita !"

"Kau benar pendeta tua." kata Teng Thian. Dan dengan sengaja dia tambahkan : "Silahkan lohweshio mencabut tongkatmu ini !"

Tapi Ang Sian berkata dengan sungguh-sungguh. "Tidak tocu ! Akan aku si pendeta tua menggunakan tangan kosong ! Dengan ilmu silat Lohan Kun, akan aku layani Bu Eng Sin Kun

!"

"Bagus !" berseru para jago tua dari To Liong To itu. "Nah, kau lihatlah tanganku !" Dan ia lantas menyerang dengan jurus silat "Guntur mengguratkan langit", sebelum kepalannya meluncur anginnya sudah mendahului.

"Tunggu dahulu !" berseru Ang Sian sambil ia berkelit. "Aku masih ada bicara lagi."

Kang Teng Thian tertawa. "Apakah itu ?" tanyanya. "Apakah itu pesan terakhir ?

Silahkan ucapkan !"

Ang Sian menatap muka orang.

"Kalau kita tetap bertempur seperti tadi, entah itu kapan habisnya." katanya. "Aku mempunyai satu jalan dengan apa urusan mudah disudahi. "

"Apa juga adanya itu, aku si tua bersedia menerimanya !" kata Teng Thian cepat. "Kau sebutkanlah ! Hendak aku lihat, apakah jalanmu itu pendeta !"

Ang Sian tertawa. Selagi orang tak sabaran, ia bergembira. "Jangan kuatir tocu" berkata ia. "Lolap menjadi muridnya

Sang Buddha, tak nanti lolap mengandung maksud jahat ! Aku nanti melayani tocu selama beberapa jurus guna mencari beberapa anak tangga untuk memudahkan kita turun ke bawahnya !"

"Sudah, jangan bicara saja !" jago To Liong To memutus. "Bilanglah apa adanya itu !"

Ang Sian melirik kepada Tan Hong semua lalu ia menghadapi pula Teng Thian untuk berkata dengan nyaring, "Kalau kita hanya bertempur, kita akan menemui pula jalan buntu. Maka itu aku ingin membataskan sampai hanya tiga puluh jurus ! Di dalam tiga puluh jurus itu, asal tocu dapat mengalahkan lolap, akan lolap beri kebebasan buat Tocu memasuki kuil kami ini. Sebaliknya jika Tocu gagal, maka aku minta Tocu beramai segera pergi berangkat meninggalkan tempat ini! Nah, bagaimana Tocu pikir caraku ini ?" "Bagus !" berseru Kang Teng Thian dengan cepat. "Baiklah bagiku !"

Hatinya Siauw Wan Goat lega mendengar perjanjiannya Ang Sian Siangjin itu, sedangkan mulanya ia berkuatir takut nanti Teng Thian kena terpedayakan. Celaka kalau saudaranya itu roboh. Di lain pihak ia bersyukur kepada pendeta itu yang hatinya mulia.

Tan Hong sebaliknya, ia berdiam sampai tunduk saja, alisnya pun dikernyitkan. Nona ini ragu-ragu dengan kesudahannya pertempuran itu.

Wan Goat melihat sikapnya Nona Tan, ia menghampiri nona itu.

"Kakak, kau pikirkan apa ?" tanyanya.

Tan Hong menggeleng kepala, kemudian ia menghela nafas.

"Aku melihat bahwa akhirnya pertempuran ini bakal hebat sekali." katanya. "Aku berkuatir yang dua-duanya bakal celaka bersama !"

Nona Siauw terkejut.

"Apa kata kakak ?" tanyanya.

Tan Hong menunjuk kepada Ang Sian dan Teng Thian. "Dua ekor harimau berkelahi, mana dapat mereka berhenti

dengan bersahaja ?" sahutnya. "Kau lihat saja !" Wan Goat menoleh ke arah yang ditunjuk. Kiranya Teng Thian dan Ang Sian sudah mulai bertarung dan pertarungan sudah lantas menjadi hebat. Sebab Kang Teng Thian tidak memikir lain daripada cepat menang supaya ia bisa segera mencari Tio It Hiong.

Dengan mendelong Wan Goat menonton terus, pikirannya kacau. Maka ia mencekal keras tangannya Tan Hong guna menungkuli tegang hatinya.

Kedua pengikutinya Ang Siang pun menonton dengan mendelong, sedangkan dengan menyiapkan goloknya, mereka harus memasang mata dan bersiap sedia.

Hebatnya pertempuran membuat kedua pihak yang menonton pada mengundurkan diri. Anginnya pelbagai serangan hebat sekali, salah-salah orang bisa celaka karenanya.

Pertarungan berlangsung dengan cepat, terus dengan hebat. Karena itu walaupun mereka hanya bertaruh, kenyataan mereka menjadi mengadu jiwa. Pihak yang satu bertahan, pihak yang lain hendak merobohkanya. Tak heran kalau pihak yang ini mesti mengeluarkan kepandaiannya.

Sebagai seorang pendeta, orang beribadat pelajarannya Ang Sian Siangjin berpokok pada "Liok Bie Cia bhie", Enam kesempurnaan dan sebagai orang sesat, Kan Teng Thian berdasarkan "Hek Khie Sia kang", ilmu hawa hitam. Sebagai pokok dasar silatnya, Ang Sian menggunakan Lohanthung, tongkat arhat, sebaliknya Teng Thian memperkuat diri dengan Bu Eng Sin Kun, silat tanpa bayangan. Ang Sian sekarang melepaskan tongkatnya, karena bertangan kosong ia mengandalkan Lohan Kun, silat Tangan Arhat. Beda daripada pertempuran yang umumu, mereka biasa memisahkan diri sejauh tiga atau empat tombak.

Hebatnya pelbagai pukulan membuat Tan Hong dan Siauw Wan Goat mundur lebih jauh lagi, sedangkan kedua murid Siauw Lim Sie, pengiringnya Ang Sian Siangjin entah telah pergi kemana.

Siauw Wan Goat berkuatir bukan main. Kedua lawan itu sudah bertempur lama, sampai mereka lupa pada janji tiga puluh jurus. Diantara mereka pun tidak ada juru pemisah.

"Kenapakah kakakku jadi begini sukar !" kata Wan Goat pada Tan Hong. "Aku berkuatir. "

"Ya, akupun berkuatir." kata Nona Tan.

Boleh dibilang baru saja suaranya Nona Tan berhenti atau mereka berdua sudah mendengar seruan tertahan yang hebat, terus mereka melihat kedua orang yang bertempur itu sama- sama mencelat mundur. Tubuh mereka terhuyung-huyung, terus keduanya sama roboh !

Menyaksikan demikian mulanya kaget Tan Hong, lantas menarik tangannya Wan Goat buat diajak lari memburu.

Wan Goat kaget bukan main.

"Suheng !" teriaknya sambil dia lari tertarik Tan Hong. Selekasnya sampai pada kakak seperguruannya, ia lompat untuk menubruk dan memegang bahunya kakak itu niat untuk digoyang-goyang atau ia menjadi kaget bukan kepalang. Ia mendapati kepalanya Kang Teng Thian sudah pecah, polonya hancur, mukanya penuh darah, nyawanya pun sudah terbang

! "Suheng !" teriak si nona yang terus menangis karena dia habis daya. Justru itu di belakangnya, dia mendengar suara pendeta yang memuji Sang Buddha sembari terus ia berkata dengan suara dalam : "Suheng telah menegakkan aturan kita, ia mentaati perintah Ciangbun suheng, karenanya dia telah berpulang ke nirwana. Siancay ! Siancay !" Kesudahannya

suara itu menjadi serak dan tangisan tertahan......

Tan Hong menoleh dengan lantas, maka di sisinya tubuhnya Ang Sian Siangjin ia melihat seorang pendeta tua berjubah kuning tengah menjura memberi hormat pada pendeta yang lagi rebah tidak berkutik itu.

Tadi itu Kang Teng Thian kalah sabar dengan Ang Sian Siangjin. Dia ingin merebut kemenangan supaya dia bisa mencari It Hiong, maka sesudah bertempur sekian lama tanpa hasil, dia mencari saat terakhirnya. Selekasnya ia memperoleh kesempatan yang paling baik, dia lompat menerjang dengan satu hajaran maut ke dadanya Ang Sian.

Pendeta dari Siauw Lim Sie itu kena terdesak, tak dapat ia menangkis atau berkelit. Maka itu terpaksa ia pun menggunakan hajaran mautnya guna membalas menyerang. Dan ia menyambut musuh pada kepalanya. Maka juga akibatnya mereka saling terhajar, dua-duanya roboh. Yang satu kepalanya pecah, yang lain dadanya ringsak. Jiwanya melayang dengan berbareng......

Tan Hong mengenali pendeta itu ialah Gouw Ceng Taysu, salah satu dari lima ketua Ngo Lo dari bahagian Kam Ih dari Siauw Lim Sie. Pendeta mana datang selekasnya dia menerima laporannya kedua pengikut dari Ang Sian tetapi dia tiba terlambat hingga dia cuma bisa menyesal dan berduka. Tengah Nona Tan diam saja karena dia tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba ia melihat cahaya terang yang lagi mendatangi dengan cepat hingga dilain saat ia mendapati tiga atau empat puluh pendeta menghampiri ke arahnya. Mereka itu pada membawa lentera hingga terang sekali tampak mereka berlerot.

Tepat itu waktu, satu sinar tampak berkelebat dari bawah melesat ke atas gunung sampai di tempat mereka berkumpul. Hanya sedetik segera ternyata sinar itu sinarnya sebuah pedang yang tajam yang dibawa oleh seorang pemuda.

Setibanya pemuda itu bertindak perlahan menghampiri Gouw Ceng Taysu.

"Orang pandai dari manakah yang telah datang kemari ?" Gouw Ceng menyapa sebelum ia melihat tegas. "Pinceng minta suka apalah sicu memberitahukan nama atau gelaran sicu yang mulia. "

Anak muda itu berjalan terus hingga ia berada di depan si pendeta terus ia mengangkat kedua tangannya buat memberi hormat sambil dia berkata : "Aku yang rendah ialah Tio It Hiong ! LoSiansu, selamat bertemu pula !'

Kata-kata Tio It Hiong menyadarkan Siauw Wan Goat yang sekian lama itu masih menangis sesegukan perlahan. Dengan cepat dia berpaling maka diantara terangnya banyak lentera dari para pendeta Siauw Lim Sie, ia dapat melihat wajah tampan dan sikap gagah dari kakak Hiongnya.....

Sementara itu It Hiong heran sekali. Ia melihat rebahnya Ang Sian yang lagi diangkat oleh beberapa pendeta.

"Apakah ada terjadi sesuatu, loSiansu ?" ia tanya Gouw Ceng. Pendeta itu menoleh air matanya. Dia tak lantas menjawab si anak muda hanya sambil mengawasi muridnya Ang Sian, ia berkata : "Kalian bawa Ang Suheng ke Tatmo Ih dan semua orang lainnya lekas pulang !"

Perintah itu dilakukan dengan cepat.

Setelah semua muridnya pergi, Gouw Ceng menghela nafas dan berkata, "Tidak disangka-sangka Ang Suheng karena.....

karena urusan ini telah mesti kehilangan jiwanya bersama- sama Kang Teng Thian.

Hampir pendeta ini menyebutkan hal Ang Sian menempur Teng Thian sebab Teng Thian memaksa mencari si anak muda.

It Hiong heran. Ia melihat si pendeta seperti beragu-ragu.

Ia lantas menoleh ke sekitarnya, maka sekarang ia melihat rombongannya Kang Teng Thian yang terpisahnya dari ia berdua Gouw Ceng kira-kira tiga tombak. Tan Hong lagi berdiri diam bersama Siauw Wan Goat, di depan mereka rebah mayat satu orang, yaitu ketua partai To Liong To, sesosok mayat yang berlumuran darah. Ia mengerutkan alis, otaknya bekerja. Lantas ia dapat menerka sebab musababnya peristiwa hebat ini.

"Kakak Tan Hong !" ia segera memanggil nona dari Hek Keng To itu, "Nona, apakah "

Ketika itu Tan Hong tengah berdiri melongo. Ia girang bukan main melihat anak muda itu, yang ia cari semenjak mereka berpisah di Ay Lao San. Ia heran atas datangnya si anak muda yang menggunakan ilmu ringan tubuh yang luar biasa itu. Ia memang tak tahu halnya It Hiong pandai Gie Kiam Sut. Sekarang ia melihatnya untuk pertama kali. Pula untuk sesaat, meskipun ia bergirang ia kuatir nanati bertemu pula dengan Tio It Hiong palsu. Ia bagaikan baru mendusin dari mimpinya tatkala ia mendengar panggilan anak muda itu. Tidak ayal lagi, ia menarik tangannya Siauw Wan Goat untuk diajak menghampiri. Ia berjalan perlahan-lahan sembari menghampiri itu, ia mengawasi muka orang.....

It Hiong pun mengawasi, malah segera menyapa, "Kakak, kakak mencurigai aku bukan ? Kakak, akulah Tio It Hiong !

Kakak, bagaimana dengan Paman Beng dan saudara Hoay Giok ?"

Kata-katanya ini melenyapkan kesangsian Tan Hong. Itulah tanda rahasia dari mereka memisahkan diri di gunung Ay Lao San. Dengan pertanyaan itu, maka teranglah It Hiong ini It Hiong tulen.

Bukan main girangnya Tan Hong. Sekarang dia girang tanpa kesangsian sedikit juga. Maka dia lompat maju akan menyambar tangannya si anak muda sembari tertawa gembira, dia berkata riang : "Oh, kau benar benarlah adik Hiong ? Oh, adik, kau membuat kakakmu bersengsara mencarimu berputar-putaran !"

Saking girangnya nona ini tak malu-malu lagi mencekal lengannya si anak muda dan berbicara secara terbuka itu, ia sampai tak menghiraukan Wan Goat disisinya.

Nona Siauw pun menghampiri, ia menjambret ujung baju si anak muda.

"Kakak Hiong. !" katanya. Suaranya sedih setelah mana ia

terus menangis sedu sedan dan air matanya bercucuran deras. It Hiong heran hingga ia melongo.

"Eh, eh, kalian lagi berpepasan apakah ini ?" tanyanya.

Sampai disitu, Gouw Ceng Taysu lantas memperdengarkan suara dinginnya : "Hm !" ia mengawasi bengis pada Tan Hong dan Wan Goat setelah mana dia berkata : "Tio Sicu, ketika Sicu tiba disini barusan, apakah sicu tidak bertemu dengan ketua Hau Ih dari Siauw Sit San, sute Gouw To ? Kenapa sicu masih belum ketahui halnya ketua dari To Liong To sudah lancang memasuki daerah terlarang kami ?"

Kembali It Hiong melengak, tapi hanya sedetik, ia lantas merangkap kedua tangannya buat memberi hormat pada pendeta itu.

"Maafkan aku yang muda, loSiansu." katanya. "It Hiong datang kemari secara sangat tergesa-gesa, maksudku ialah untuk segera cepat menemui ayah angkatku yang katanya telah terluka parah ! Begitulah malam-malam juga aku datang kemari, karena aku tidak mau mengagetkan Hau Ih langsung datang kemari, bahkan aku menggunakan ilmu ringan tubuh Gie Kiam Sut. Demikianlah aku jadi tidak ketahui hal yang dikatakan loSiansu barusan."

Wan Goat sementara itu ketahui kesalahannya, sembari menangis ia campur bicara, katanya : "Kakak Hiong, semua ini adalah salahku ! Akulah yang membujuki kakak seperguruanku datang ke Siauw Lim Sie ini hingga kesudahannya terjadi ini peristiwa hebat sekali dan sangat menyedihkan. Kakak, kau bunuhlah aku supaya dapat aku

menebus dosaku. " Muka cantik dari si nona menjadi pucat sekali, kedua belah pipinya penuh teralirkan air matanya yang bercucuran deras. Ia menangis sesegukan. Tapi ia mencoba menguasai dirinya, maka juga kemudian, walaupun sambil terputus-putus dapat ia menjelaskan tindak tanduknya bersama Kang Teng Thian kakaknya seperguruannya itu, bagaimana mereka itu sudah mendaki Siauw Lim Sie sampai akhirnya terjadi peristiwa sangat hebat dan menyedihkan itu, sebab Teng Thian dan Ang Sian Siangjin mesti membuang jiwanya secara kecewa.

Mendengar penuturan itu, It Hiong menarik nafas dalam- dalam, matanya mengawasi Gouw Ceng Taysu, pendeta mana berdiam sejak tadi. Kemudian barulah dia berkata : "Tio Sicu, kaulah tuan penolong kami, dengan memandang muka Sang Buddha yang maha suci, dapatlah buat sementara itu lolap menyudahi urusan ini sampai disini, buatku tak campur tahu pula. Sicu, segala sesuatu lolap serahkan kepada sicu untuk memutuskannya. Sekarang tinggal soalnya In LoSiansu yang lukanya sangat parah, jiwanya terancam bahaya setiap detik, maka itu perlu sicu lekas pergi menjenguknya di dalam kuil kami, supaya sicu dapat kesempatan menemuinya ! Nah, perkenankanlah lolap pergi dahulu ! Maaf !'

Begitu dia berkata, begitu pendeta itu memberi hormat dan berlalu dengan cepat.

Sejenak It Hiong melengak, lalu lekas-lekas ia membalas hormatnya si pendeta. Kemudian ia berdiri menjublak pula karena pikirannya kacau sekali. Ia menengadah langit, mengawasi si puteri malam. Ia terus berdiam saja.

Selama itu, Tan Hong berdiam saja. Ia melihat dan mendengar. Mulanya beragu-ragu It Hiong ini It Hiong tulen atau It Hiong palsu. Ia lalu dapat mengambil ketetapan bahwa orang adalah It Hiong tulen. Bukan main girangnya. Inilah pemuda dengan siapa ia bersama-sama mendatangi gunung Ay Lao San, dimana mereka bekerja sama menempuh bahaya. Inilah si pemuda yang sekian lama ia cari-cari dan baru menemukannya pula. Sekarang ia melihat kekasihnya itu, walaupun baru sepihak sebab ia yang tergila-gila sendiri pada It Hiong "digembrengi" Siauw Wan Goat. Biar bagaimana ia adalah seorang wanita, dan sebagai wanita tak dapat ia membiarkan lain wanita mencoba "merampas" kekasihnya itu. Maka juga tanpa ia merasa timbul rasa cemburunya. Tapi ia sabar dan dapat berlaku tenang. Maka ia tidak menyela guna menegur Wan Goat. Hanya sambil tertawa ia menyapa, "Adik Hiong ! Adik, kau sedang pikirkan apa ? Kenapa kau tidak lekas-lekas pergi melihat In Locianpwe ?"

It Hiong terkejut. Sapaan si nona membuatnya sadar. "Kakak, harap tunggu aku di Hau Ih dari Siauw Lim Sie !"

katanya. Lalu tanpa menghiraukan Wan Goat lagi, ia memutar tubuhnya buat berlari pergi.

Tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat dan seorang menghadang di depannya si anak muda. Dialah Siauw Wan Goat, nona dari To Liong To. Nona ini memiliki Kwei Siam Tong Hian, ilmu ringan tubuh yang mengagumkan.

"Kakak Hiong, benarkah kau begini tega ?" kata nona itu, tampang dan suaranya sedih. "Kenapa kau pergi tanpa mengucapkan sepatah kata padaku ? Kakak. "

It Hiong melengak. Terpaksa, ia menunda langkahnya. "Tak dapatkah urusan kita ini kita bicarakan lain kali saja ?"

tanyanya. "Sekarang ayah angkatku yang tengah terluka parah. " "Kakak, aku tidak berani merintangi kau menjenguk In Locianpwe." sahut Wan Goat. "Hanya aku ingat pada kakak Kang Teng Thian. Kakak Kang datang kemari dan mengantarkan jiwanya cuma disebabkan dia mau cari kau buat mendengar kabar baik dari kau. "

Tak senang It Hiong dengan kata-kata nona itu. Ia merasa seperti dibangkit. Maka juga sepasang alisnya bangun berdiri. Tapi dia menahan hawa amarahnya.

"Nona, aku minta kau jangan bagaikan melihat aku." katanya. "Soal cinta bukannya soal yang dapat dipaksakan !"

Mendadak Wan Goat menghentikan mengucurnya air matanya, ia pula menggertak gigi.

"Kau begini tipis perasaan, kau menyangkal cintamu sendiri

!" katanya keras. "Kalau begitu kau kembalikanlah kesucian tubuhku !"

It Hiong melengak, lalu mukanya padam. "Jangan kau mengaco belo !" bentaknya.

"Jangan kau menyembur orang dengan darah. Kau memfitnah aku. Kau membuatku penasaran!"

Wan Goat juga gusar, sampai tubuhnya bergemetar.

"Kata-katamu masih mendengung dalam telingaku !" katanya keras. "Apakah yang kau telah janjikan padaku ?"

Suara si nona keras tetapi tajam dan menggetar. It Hiong melengak. Ia mengawasi nona itu, tampang siapa mendatangkan rasa kasihan. Nona itu sangat bergusar dan bersedih sekali. Dia menyintai dan berpepasan. Dia korban cintanya, cinta yang ditumpahkan ditempat yang keliru. Dia telah tersesat. Kesudahannya dia harus dikasihhani. Biar bagaimana It Hiong berkasihan terhadapnya. Tapi baginya urusan adalah lain.

"Orang dengan siapa kau bercinta-cintaan bukannya aku !" katanya kemudian dengan keras. Ia berkata dengan menguatkan hatinya. "Apa yang kalian bicarakan itu tidak ada hubungannya denganku !"

Tubuhnya Wan Goat bergemetar pula. Kali ini ia seperti dihajar guntur. Mendadak ia berlompat atau menubruk It Hiong dengan kedua tangannya ia memegangi kedua bahunya si anak muda terus mengerung-gerung....

Hampir It Hiong menolakkan kedua belah tangannya, sebab hatinya pun panas. Syukur di detik itu juga dapat ia menguasai diri. ia dapat mengerti si nona kalap, sebab orang telah mengakalinya dan merusak kehormatan tubuhnya yang paling suci. Sebab nona tertipu karena dia sangat mencintainya. Ia boleh tak menyukai nona itu tetapi si nona sebenarnya harus dikasihhani.

Tak dapat berbuat sesuatu, It Hiong menjadi berdiri diam saja.

Wan Goat menangis sampai ia berhenti sendirinya, karena It Hiong berdiam saja. Ia pun tak dapat berkata apa-apa.

It Hiong berdiam walaupun pikirannya kacau, ia mencoba berpikir. Ia harus dapat lolos dari urusannya nona ini. Ketika itu sudah jam empat, rembulan indah juga sunyi. Si puteri malam yang sudah menggeser ke barat membuat tubuh orang menciptakan bayangannya.

Selagi muda mudi ini sedang menjublak tiba-tiba mereka dikejutkan bunyinya genta jam lima yang datangnya dari dalam kuil.

It Hiong menghela nafas, ia melepaskan diri dari Wan Goat.

Ia bertindak perlahan, mulutnya memperdengarkan suara perlahan hampir tak terdengar, "Kalau gunting tak memutuskan benang masih tetap kusut dan itulah hebat. "

Wan Goat pun berkata :"Kakak Hiong malam ini aku dapat berada bersama-sama kau inilah saat paling berbahagi bagiku. Kakak, biarnya kau menyuruh aku mati, aku tak penasaran atau menyesal ! Kakak. "

It Hiong mengawasi nona itu yang mukanya penuh bekas air mata. Sedih hatinya mukanya si nona toh bersenyum redup. Dia cantik, biar bagaimana dia tetap manis. Sinar matanya nona itu juga mendatangkan rasa haru.

Wan Goat merapikan rambutnya yang kusut !

"Ya, kakak, aku mengatur sekarang" katanya perlahan, "tidak selayaknya aku menggembrengi kau. "

Mendengar suara nona itu, sejenak It Hiong berdiam. Ia heran berbareng berlega hati, tapi cuma sejenak lantas ia mengasi lihat tampang sungguh-sungguh.

"Nampaknya sekarang kau dapat menenangi dirimu." katanya. "Ya." sahut nona itu. "Sekarang aku insyaf bahwa sampai sebegitu jauh tindak tandukku kejam. Memang tak dapat aku memaksakan kau supaya kau menganggap aku sebagai istrimu ! Laginya apa gunanya nama belaka. Sekarang aku cuma ingin kau memikir menyintai aku supaya aku pun menyerahkan ketika padamu supaya kedua hati menjadi satu, menjadi saling menyinta buat selama-lamanya sampai laut kering dan batu bonyok, supaya hati kita kuat bagaikan kokohnya emas murni. Kakak Hiong ! Dapatkah kau menerima baik keinginanku semacam itu. Kakak, kau terimalah !'

It Hiong mesti berpikir keras. Lagi satu kesulitan !

Menerima tetapi ia telah mempunyai beberapa istri ! Tidak menerima, bagaimana si nona harus dikasihhani ? Bagaimana kalau nona itu nekad berpikiran pendek ? Bukankah secara tidak langsung ia juga yang membinasakannya ?

Beberapa detik lamanya anak muda ini mengawasi langit. Sang fajar indah dan nyaman. Di waktu demikian, seharusnya orang tenang dan berpikiran terbuka.

"Baiklah, aku terima permintaanmu ini." akhirnya ia kata. "Cuma dengan begini aku menjadi menyia-nyiakan kau buat seumur hidupmu ! Sebenarnya buat apakah itu ?"

Hatinya Wan Goat lega.

"Kakak, aku tahu kesulitanmu." katanya. "Tetapi aku tak akan mendatangkan kesulitan untukmu. Di dalam segala hal akan aku dengar dan turut kata-katamu. Buatku sudah cukup, sudah mempuaskan hatiku, asal kau menyerahkan hatimu "