Iblis Sungai Telaga Jilid 38

 
Jilid 38

Giok Peng mengawasi tubuhnya pemuda itu. Lantas ia ingat peristiwa hebat di Lek Tiok Po. Kemudian ia mendekati, untuk mengawasi si anak muda. Air matanya tergenang. Sambil mengawasi ia terbenam dalam keheranan. Ia tanya dalam hati

: "Bukankah adik Hiong telah melihat peristiwa di rumah itu ? Kenapa sekarang ia sempat makan minum sampai lupa daratan ? Mungkinkah dia ini bukannya adik Hiong ?" Pek Giok Peng tidak tahu yang ia telah dilarikan Gak Hong Kun sebab sebelumnya ia dibawa kabur, Hong Kun sudah mendahului menotoknya hingga ia tidak sadarkan diri. Lebih dulu dari pada itu ia pun telah ditotok hingga habis tenaganya.

Untuk mendapatkan kepastian, nona Pek mengambil lilin diatas meja, ia bawa itu untuk dipakai menyuluhi mukanya Hong Kun guna diawasi dengan teliti.

Teng Hiang tertawa geli menyaksikan lagak si nona. "Nona," katanya. "Kau biasanya teliti. kenapa

menghadapi suami sendiri kau jadi bingung begini ? Benarkah

nona tidak bisa lantas mengenali dia siapa ?" Dari berjongkok, Giok Peng bangkit berdiri. "Dia ini bukannya adik Hiong !" katanya.

"Nona, apakah nona telah tidur bersamanya dalam sebuah pembaringan ?" si bekas budak pelayan tanya. Dia tertawa pula.

Muka Giok Peng menjadi merah dan pucat pasi, kagetnya bukan main. Ia telah dibawa-bawa dan dibawa juga ke penginapan ! Apakah yang orang perbuat atas dirinya ? Ia tak tahu sama sekali !

"Teng Hiang !" tanyanya kemudian, jantungnya memukul. "Sudah berapa lama kau berada disini ? Ataukah kau baru datang dan melihat dia baru saja roboh mabuk dan tertidur ?"

Teng Hiang sangat cerdik dan jahil, hendak ia menggoda nona bekas majikannya itu. "Budakmu baru saja sampai nona." demikian sahutnya. "Dia berada diatas pembaringan ketika dia melihat budakmu ini, dia turun dan mengejarku, untuk membekuk aku. Selagi lari berputaran dia roboh hingga terus dia ketiduran. "

Giok Peng menutupi mukanya, ia menangis. Katanya, "Aku Siauw Yan Jie, mana aku ada muka akan melihat orang lagi. aku malu terhadap adik Hiong !'

Teng Hiang mengawasi, diam-diam dia bersenyum.

Katanya di dalam hati, "Siauw Yan Jie biasanya membanggakan kecerdikannya, kali ini kena aku jual. "

Kemudian ia menghela nafas dan berkata perlahan, "Nona, buat apa nona bingung dan menangis ? Bukankah sudah seharusnya yang satu istri tidur bersama-sama suaminya ?"

Giok Peng berhenti menangis, ia menyusut air matanya. Terus ia menuding orang yang lagi tidur nyenyak itu. "Masih kau bicara seenakmu ini ? Lihat dia, dia adik Hiong atau bukan

?"

Teng Hiang memperlihatkan tampang sungguh-sungguh. "Apakah dia bukannya adik Hiong ?" dia balas bertanya.

Giok Peng berdiri menjublak. Benar dia bingung, mendadak dia lompat ke meja, menyambar pedang Kie Koat kepunyaan Hong Kun, buat ditarik untuk dihunus.

Teng Hiang terkejut. Hebat cara jahilnya ini. Tapi ia masih sempat berfikir dan bertindak. Ia pun loncat kepada si nona, guna mencekal pergelangan tangan orang. "Jangan sembrono, nona !" katanya, ia tidak menjadi bingung, sebaliknya ia tertawa. "Mari duduk, dengarkan apa kata budakmu. Nona tetap putih bersih."

Berkata begitu, bekas budak ini menarik tangan nonanya buat disilahkan duduk.

Sebagaimana kita ketahui, Teng Hiang ada dalam perjalanan mencari Hong Kun alias It Hiong palsu. Ia telah ketahui hubungan diantara It Hiong dan Touw Hwe Jie, maka itu, habis bertemu dengan Kwie Tiok Giam Po, ia membutuhkan bantuannya It Hiong palsu itu. Ia mau menggunakan It Hiong palsu itu buat mengakali dan membujuki Touw Hwe Jie muncul, turut dalam pemilihan Bu Lim Cit Cun. Dari Ay Lao San, ia kembali ke Tionggoan, disepanjang jalan ia menyelidiki tentang It Hiong palsu.

Sampai sebegitu jauh ia masih belum berhasil. Paling belakang ini ia bertemu Gouw Ceng Tokouw keluar dari kota Gakyang, ia heran mendapatkan mukanya si rahib wanita rusak bekas goresan pedang. Atas pertanyaannya, Gouw Ceng menuturkan tentang peristiwanya sampai It Hiong merusak mukanya itu.

Mendengar demikian, Teng Hiang lantas meminta keterangan terlebih jauh setelah mana ia mencoba menyusul It Hiong.

Sungguh kebetulan ia melihat It Hiong tengah berlari-lari sambil memondong seorang wanita. Ia bersembunyi dan mengintai lalu mengintil, menguntitnya. Ia melihat tegas It Hiong bagaikan orang ketakutan ada yang kejar. Ia mengikuti terus sampai dihotel, dimana ia senantiasa mengintai hingga ia mengenali wanita itu ialah Pek Giok Peng, bekas nona majikannya. Karena ini selagi mula-mula ia ragu-ragu sekarang ia merasa pasti pria itu adalah Gak Hong Kun adanya.

"Bagus !" pikirannya. Teng Hiang girang, ia tetap hendak mendapati Hong Kun.

Ia pula mau membantu Giok Peng. Hong Kun mau dipakai buat memancing Touw Hwe Jie dan Giok Pek supaya si nona membantu merakoki jodohnya dengan Cukat Tan. Selama itu ia mengintai dari luar jendela, hingga ia dapat menyaksikan tingkahnya Hong Kun dengan gerak gerik Giok Peng. Dengan kecerdikannya ia berhasil menyampuri obat pulas hong hau yeh dalam araknya si anak muda hingga kejadianlah Hong Kun lakon sinting. Tiba saatnya ia masuk ke dalam kamar. Ia membuka jendela tanpa diketahui Hong Kun. Demikian ia  telah mempermainkan si anak muda, hingga anak muda itu roboh dan tidur nyenyak.

"Nona, budakmu sudah tahu pasti dia bukanlah Tuan Tio !" katanya si bekas budak kemudian. "Aku mencari dia sejak di tengah jalan, maka juga disini aku berhasil membantu nona." Ia mengambil pedang orang dan melepaskan juga cekalannya sambil menambahkan, "Nona dialah Gak Hong Kun !'

Giok Peng kaget mukanya pucat.

"Tenang nona," Teng Hiang menghibur. "Hong Kun berniat jahat tetapi dia belum berhasil menganggu nona ! Inilah budakmu berani bertanggung jawab ! Hanya nona mengenai urusanku sendiri aku minta nona jangan melupakannya !"

Hatinya Giok Peng tenang sedikit. Toh ia masih meragukan kejujuran bekas budak itu. Ia takut si budak sekongkol dengan Hong Kun. Ia lantas mengawasi tubuhnya sendiri, terutama ia memeriksa pakaian dan kanCing bajunya. Baru hatinya lega setelah ia tidak mendapat sesuatu yang mencurigakan. Toh ia tak puas sebab ia telah orang pondong-pondong.

"Teng Hiang, mari kau bicara terus terang padaku !" katanya pula. "Apakah kau benar telah menguntitnya selama disepanjang jalan dan sampai disini pun kau belum pernah berpisah atau meninggalkannya walaupun setengah tindak ?"

Teng Hiang tertawa.

"Siauw Yan Jie sangat tersohor !" katanya. "Sekarang kemana perginya kejujurannya ? Pula, mustahil seorang nona tak merasa kalau tubuhnya ada yang ganggu. Kenapa nona bercuriga sampai begini ?"

Pek Giok Peng menarik nafas dalam-dalam.

"Karena pengalaman hebat di Lek Tiok Po, pikiranku menjadi kacau !" ia mengakui. "Eh, Teng Hiang, kau toh gadis putih bersih, mengapa kau ketahui segala hal wanita ini ?"

Si bekas budak bersenyum, bibirnya dia buat main. "Itulah buktinya nona bagaimana budakmu prihatin

terhadapmu."

"Kita berdua bergaul sejak masih kecil." berkata Giok Peng. "Walaupun kitalah nona majikan dan budak pelayan, kita hidup seperti kakak beradik. Hal kau ketahui sendiri.Teng Hiang, sekarang ini kau menolong aku, aku sangat bersyukur padamu, hendak aku menghaturkan terima kasih."

"Jangan mengucap begini, nona." berkata Teng Hiang sungguh-sungguh. "Kata-kata nona ini menandakan nona menganggapku sebagai orang luar. Nona bilang terus terang aku memohon supaya kau lekas-lekas berangkat ke Ngo Bie San supaya kau bisa lekas-lekas menyelesaikan urusan jodohku !" "Akan aku lakukan itu, Teng Hiang !" berkata Giok Peng yang baru ingat bahwa ia pernah berjanji kepada bekas budak ini yang ia mau merokoki jodohnya dengan Cukat Tan. "Kau tunggu saja kabar baik dari aku !"

Teng Hiang mengangguk, girangnya bukan main kemudian dia tertawa dan tunduk, biar bagaimana dia toh likat juga.....

Selama itu dengan lewatnya sang waktu, terlihat tubuhnya Hong Kun bergulik.

"Adik Peng....adik Peng..... adik. " demikian suaranya

berulang-ulang. Ia memanggil dalam mengigaunya.

Teng Hiang tertawa.

"Nona," tanyanya kemudian, "bagaimana duduknya maka dia telah membawa nona kemari ?"

Pek Giok Peng melirik si pemuda, mulanya melengak, terus mukanya menjadi merah, matanya terbuka lebar, giginya dikertak. Mendadak ia berlompat bangun.

"Teng Hiang, mari pedang itu !" serunya. "Jahanam ini harus dimampuskan !"

Si nona berkata demikian sambil tangannya menyambar pedang ditangannya Teng Hiang.

"Sabar, nona." berkata si bekas budak, yang menarik tangannya. "Coba nona tuturkan dahulu duduknya hal. Masih ada waktu buat nona membinasakan dia. "

Teng Hiang masih hendak melanjuti usahanya memakai Hong Kun sebagai umpan guna memancing Touw Hwe Jie. Karena itu tak dapat ia membiarkan anak muda itu dibunuh si nona. Sedapat-dapatnya ia mencari alasan untuk mencegahnya.......

Ditanya Teng Hiang itu, maka Giok Peng lantas ingat peristiwa di Lek Tiok Po. Tiba-tiba saja "It Hiong" datang menyerbu, ayahnya dilukai, Tong Wie lam dihajar. Hauw Yan dirampas, ia sendiri ditotok tak berdaya dan akhirnya dibawa lari. Semua itu membuat darahnya bergolak. Ia bersedih berbareng gemas dan gusar sekali.

"Kalau jahanam ini tidak dibinasakan, rumahku bakal tak aman seterus-terusnya !" serunya. Tapi, habis berkata itu, ia menangis, air matanya meleleh keluar......

Teng Hiang telah memikir masak-masak akalnya.......

"Nona," katanya sungguh-sungguh, "kalau nona bermusuh dengannya tak berani aku menanya jelas sebab musababnya, cuma di dalam hal ini, aku minta suka apalah nona dapat membedakan dengan jelas dahulu, orang ini benar-benar Tuan Tio atau bukan. Setelah itu, baru nona turun tangan !

Kalau nona berlaku sembrono, apabila nona berbuat keliru, pasti kelak nanti nona bakal menyesal seumur hidup nona. "

Pek Giok Peng berdiam, lenyap tampang gusarnya.

Sekarang ia beragu-ragu. Teng Hiang benar. Celaka kalau ia keliru turun tangan. Ia menghampiri Hong Kun, akan menatap mukanya. Ia makin heran. Ia terganggu keragu- raguannya.......

Sebenarnya asal si nona dapat menenangi hatinya, dapat ia mengambil ketetapan. Tetapi peristiwa sedemikian rupa, ia telah mendapat goncangan hingga kecerdasannya terpengaruhkan. Tak sadar ia yang Teng Hiang telah bicara putar balik.

Teng Hiang tertawa didalam hati, mengawasi nonanya bersangsi itu. Inilah justru hal yang dikehendakinya. ia harus dapat mengekang hatinya si nona.

"Baik, kita sadarkan dia." katanya kemudian. "Lalu kita tanya padanya, dengan begitu kita bakal mendapat kepastian."

Lalu tanpa menanti persetujuannya Giok Peng, Teng Hiang menghampiri Hong Kun guna menggoyang-goyang dan menepuk-nepuk tubuh orang buat menyadarkannya.

Perlahan-lahan Hong Kun membuka matanya, mengawasi kedua nona itu terus dia meram pula, kelihatannya dia masih ingin tidur. Ketika dia bergerak untuk berduduk di lantai nampak dia masih seperti kantuk. Dia tunduk dan diam saja.

Teng Hiang menggertak gigi. Ia menyesal yang ia memberikan hong hau yeh terlalu banyak hingga si anak muda sukar disadarkan lekas-lekas. Tapi ia tidak kekurangan akal. Lantas juga ia menotok jalan darah jintiong dari anak muda itu.

Hong Kun melengak, lantas ia berjingkrak bangun, tetapi tubuhnya terhuyung, maka ia lekas-lekas berdaya berdiri tetap. Kemudian dia mengawasi kedua nona itu, bergantian dari yang satu kepada yang lain."

"Oh !" serunya kemudian. "Kalian lagi bikin apa, heh ?" "Tuan Tio, kau sudah sadar ?" berkata Teng Hiang, yang

sengaja bukannya memanggil Hong Kun atau Tuan Gak. Hong Kun mengawasi Teng Hiang, yang ia lantas kenali. Ia heran, hingga ia berdiam saja, matanya mendelong.

"Tuan Tio." kata pula Teng Hiang. "Malam tadi kau dengan nona Pek. "

Sampai disitu, sadar sudah Hong Kun. Ia ingat segala sesuatu. Ia menjadi girang.

"Oh, adik Peng !" katanya, nyaring dan terus tertawa. "Teng Hiang, kau lihat atau tidak ? Hubunganku dengan nona Pek telah dipulihkan !"

Teng Hiang melirik. Ia dapat mengerti maksudnya pemuda itu.

"Hm, aku tahu akal bulusmu !" pikirnya. Tapi ia berpura- pura. Ia kata : "Ya, aku tahu tentang kalian berdua. Jodoh kalian kuat sekali ! Kalian membuatku si Teng Hiang mengiri !" Mendadak budak ini berhenti. ia merasa bahwa ia salah bicara. Maka lekas-lekas pula ia memperbaikinya. Katanya pula : "Tuan Tio, kalian adalah pasangan yang telah mempunyai anak. Jangan kau bergura. Kau bicara di depan si nona. Apak kau tak takut nona nanti merasa malu dan jengah

?"

Berkata begitu, budak ini mengawasi tajam pemuda itu. Sebaliknya, mendadak Hong Kun memperlihatkan tampang muram. Ia ingat semuanya dan kali ini ia telah dipergoki Teng Hiang. Biar bagaimana, Teng Hiang telah ketahui rahasianya. Itulah ia tidak inginkan. Maka itu mendadak ia mendapat pikiran untuk membinasakan budak itu. Dengan satu gerakan cepat, Hong Kun mencelat ke meja, niatnya menyambar pedangnya. Tapi segera ia kecewa sebab pedangnya itu tidak berada ditempatnya. Tapi dia tidak berhenti sampai disiut. Ia merasa tangannya cukup lihai untuk menggantikan Kie Koat Kiam, pedangnya. Maka juga waktu ia memutar tubuhnya, sebelah tangannya membabat dengan keras ke arah Teng Hiang !"

"Budak, serahkan jiwamu !" diapun membentak.

Teng Hiang kaget sekali, di dalam gugup dia berkelit. Tak urung bahunya kena terserempet hingga ia merasa nyeri sampai ke ulu hatinya. Tentu sekali ia menjadi gusar.

"Jahanam tak tahu selatan !" bentaknya. "Kau sangka Teng Hiang takut padamu ?"

Berkata begitu, si nona sudah lantas menghunus Kie Koat Kiam yang berada ditangannya.

Kejadian itu sangat mendadak dan cepat sekali. Hong Kun kurang berpikir, ia tidak dapat menangkap maksudnya Teng Hiang. Karenanya tindakkannya itu menyerang nona Teng membuat dia membuka rahasianya sendiri.

Pek Giok Peng heran, ia berdiam mengawasi dua orang itu. Sekarang ia tahu pasti It Hiong itu palsu, ialah Gak Hong Kun, tetapi kalau ia toh bersangsi bertindak itulah karena ia masih ragu-ragu selagi ia tak sadar, Hong Kun telah mengganggu kesucian dirinya atau tidak.......

Hong Kun tak menyerang pula selekasnya ia melihat Teng Hiang menghunus pedangnya. "Teng Hiang !" tegurnya. "Teng Hiang, kau telah mempergoki rahasiaku, kau juga mencuri pedangku, mana dapat kau melepaskan padamu ?"

"Tolol !" bentak Teng Hiang yang terus tertawa. Karena sekarang ia mengerti si anak muda salah paham.

Hong Kun terkejut. Ia cerdas, teguran tolol itu membuatnya segera berpikir. Cepat ia merubah haluan. Ia melirik Giok Peng, terus ia tegur si bekas budak pelayan. "Teng Hiang !

Kau gadis putih bersih, kenapa kau mengintip kami suami isteri ? Tidak malukan ?"

"ciss !" si nona berludah tetapi ia mengedip mata. "Siapa mau bergurau denganmu ? Kau tahu, aku mencari kau sebab ada suatu urusan yang aku hendak bicarakan denganmu !"

Hong Kun dapat menerka hati orang. Ia pun tertawa. "Kau mencari aku buat satu urusan ?" tanyanya

mengulangi. "Kalau kau mau bicara, kau pulangkan dahulu pedangku !'

Teng Hiang tertawa.

"Siapa menghendaki pedangmu ini ?" katanya. "Ini aku kembalikan !"

Berkata begitu, nona itu mengangkat pedangnya. Ia pun bertindak menghampiri si anak muda, lalu sembari mengangsurkan pedang ia kata perlahan, "Jika kau ingin aku menyimpan rahasiamu, kau mesti menolong aku melakukan sesuatu !" Hong Kun mendengar pada suara orang. Orang rupanya hendak memaksa ia. Ia ingat halnya ia minum dan cepat sinting. Ia memikirkan, tadi ia telah ganggu kehormatan Giok Peng atau belum. Karena ini, di waktu ia menyambuti pedangnya, untuk digembloki di punggungnya, diam-diam ia sekalian memeriksa pakaiannya masih rapi atau tidak. Ia tidak melihat sesuatu tanda. Maka pikirnya, "Hm, budak setan ini ! Dia sangat cerdik dan licik dan rupanya mau memaksa kau ! Dalam hal apakah ? Baiklah aku gunakan dia buat menyebar urusanku dengan  Giok  Peng  supaya  umum mengetahuinya. "

Tak lama anak muda ini berpikir lantas ia tertawa dan kata pada Teng Hiang, "Urusan jodohku dengan Nona Giok Peng bukan lagi satu rahasia, inilah sudah diketahui umum !

Karenanya aku tak tahu yang kau nanti membuka rahasia ! Sebenarnya kau hendak bicara urusan apa ? Kau katakanlah !"

Matanya Teng Hiang berputar, bibirnya pun memain. Tiba- tiba ia berbisik di telinga anak muda itu, "Jangan kau banyak lagak ! Jangan kau main gila terhadapku ! Telah kulihat dengan mataku sendiri, kau belum berhasil mengganggu kesuciannya Pek Giok Peng ! Tapi kalau kau ingin menyampaikan hasratmu itu, kau harus memohon bantuanku

!"

Hong Kun melengak. "Benarkah ?" tanyanya.

Teng Hiang mengangguk. Lantas ia melirik pada Giok Peng.

Nona Pek memperhatikan gerak geriknya dua orang itu. Ia menerka jelek. Ia merasa pemuda di depannya itu bukannya It Hiong. Bahkan sebaliknya, ia lantas menerka kepada Gak Hong Kun. Mendadak saja timbullah kemurkaannya. Hampir ia mengambil tindakan kepada pemuda itu atau mendadak ia ingat Lek Tiok Po, rumahnya. Di sana ayahnya terluka parah dan Hauw Yan anaknya, entah terjatuh di tangan siapa. Maka ia memikir baiklah lekas-lekas ia meninggalkan dua orang itu. Demikan selagi muda mudi itu lagi berdaya akan mengakali satu pada lain, mendadak ia lompat ke jendela untuk lari keluar. Hong Kun terperanjat, hendak ia lari mengejar.

"Sabar !" Teng Hiang mencegah sambil menarik tangan orang. "Apa kau tak takut nanti berpapasan dengan Tio It Hiong ?"

Hong Kun tertawa.

"Siapakah berani memalsukan namaku ?" katanya. Ia tetap mengakui diri sebagai Tio It Hiong.

Teng Hiang tertawa terkekeh.

"Gak Hong Kun !" katanya. "Di depan Teng Hiang tidak dapat kau main gila ! Baik kau ketahui, aku bermaksud baik, hendak aku mewujudkan cita-citamu."

"Hai budak setan yang licin !" bentak Hong Kun. "Macammu hendak membantu aku ? Hm ! Lepaskan tanganmu, kalau tidak aku tak akan memberi ampun lagi padamu !"

Hong Kun mengibaskan tangannya hingga terlepas dari cekalannya Teng Hiang, dia terus bertindak ke jendela.

"Gak Hong Kun !" berkata Teng Hiang. "Gak Hong Kun !

Apakah kau tak sudi Teng Hiang menyimpan lebih lama rahasiamu ?" Hong Kun terkejut, ia melengak, hingga ia menghentikan langkahnya. Kemudian ia menoleh.

"Aku mempunyai rahasia apakah ?" tanyanya. "Rahasia apa yang kau tahu ?"

"Rahasia apa ? Hm !" si nona memperdengarkan suaranya. "Itulah........ rahasia....... kau.......... menyamar.........

sebagai.......... Tio....... It Hiong. "

Sengaja Teng Hiang mengucapkan kata-kata sepatah dengan sepatah.

Hong Kun kaget. Itulah hebat. Itulah rahasia mati hidupnya

! Tiba-tiba timbullah hati jahatnya. Nona ini jahat, dia harus disingkirkan ! Maka diam-diam dia memegang gagang pedangnya, dan sambil memutar tubuhnya, dia menghunus pedangnya itu dan menebas pedangnya ke arah si nona !

Teng Hiang sementara itu selalu bercuriga dan bersiap sedia. Dialah seorang nona yang cerdik, tak mudah ia mempercayai orang sebagai Hong Kun yang pikirannya mudah berubah. Demikian, dengan matanya yang celi ia dapat melihat gerakannya pemuda itu. Selekasnya sinar pedang berkelebat, ia berlompat mundur.

"Kau hendak membunuh orang ?" bentaknya. "Kau hendak membinasakan aku buat menutup mulutku ? Kalau benar, kau jangan memandang aku si Teng Hiang terlalu rendah !'

Hong Kun melengak. Tak dapat dia mengulangi serangannya.

"Teng Hiang !" katanya habis dia melengak sejenak. Lantas dia mengasih lihat senyuman manisnya, "Teng Hiang, bagaimana kalau kita berbicara dengan memantang jendela lebar-lebar ?"

Si nona tertawa.

"Kau tak lagi berlaku galak ?" tanyanya. "Bicara terus terang, aku tidak bersakit hati terhadapmu. Aku tidak menyembunyikan apa juga. Buatku sudah cukup asal kau melakukan sesuatu untukku !"

"Apakah itu ?" tanya Hong Kun cepat. "Kau sebutkanlah !'

"Inilah mudah !" berkata Teng Hiang yang lantas mengasi tahu bahwa dia ingin Hong Kun ikut padanya ke Cenglo Ciang, di sana dengan menyamar sebagai Tio It Hiong, anak muda itu harus membujuki supaya Touw Hwe Jie suka muncul buat turut dalam gerakan Bu Lim Cit Cun.

"Aku menerima baik permintaan kau ini !" kata Hong Kun mengangguk. "Cuma kau, kau harus dapat buat selama- lamanya menyimpan rahasiaku !'

"Aku berjanji !' Teng Hiang berikan perkataannya.

Sampai disitu, matang sudah pembicaraannya dua orang licik itu.

"Mari kita berangkat !" kemudian Teng Hiang mengajak.

Tapi Hong Kun tak mudah melupakan Giok Peng. Dia ingin lekas-lekas mendapatkan nona itu, sesudah itu barulah dia puas. Begitulah sekeluarnya dari kamar hotel, dia kata : "Kau hendak membantu aku mendapatkan adik Peng !

Bagaimanakah caranya itu ?" "Kau sabar !" kata si Nona. "Jangan kau tergesa-gesa tidak karuan. Nanti kita bicarakannya pula !"

Asyik dua orang ini berbicara hingga mereka tidak melihat sesosok tubuh berkelebat masuk dalam hotel itu, hingga keadaan mereka mirip dengan lakon si "cang coreng hendak menangkap tonggeret tetapi si burung gereja mengintai di belakangnya". Maka juga pembicaraan dan lagak mereka malam itu telah ada yang ketahui tanpa mereka mengetahuinya. Ini juga yang menyebabkan kemudian diantara Teng Hiang dan Cukat Tan timbul gelombang.....

Sementara itu, mari kita melihat Pek Giok Peng yang lolos dari jendela hotel dari mana ia kabur terus. Ketika itu sudah fajar. Pikirannya kusut sekali. Maka ia cuma lari sekeras- kerasnya menuju pulang ke Lek Tiok Po.

Kapan nona itu sudah lari sampai di Siang Cui pu, selagi ia menoleh ke belakang ia melihat seorang lagi berlari-lari mendatangi. Terang orang itu lari menyusulnya. Bahkan lekas sekali, orang telah menyandak ia. Tinggal lagi tiga atau empat tombak, hingga ia bisa melihat tegas yang orang itu ialah Tio It Hiong !

Bagaikan burung yang takut akan anak panah, demikian Giok Peng. Mendadak ia perkeras larinya. Dalam kacau pikiran seperti itu, ia tak sempat berpikir. Ia lari dengan ilmu lari cepat Tangga Mega.

"Kakak !" berteriak orang yang menyusul itu, suaranya nyaring, "Kakak, tunggu !"

Bagaikan orang yang tak mendengar panggilan, Giok Peng kabur terus. Mulanya orang itu melengak, tetapi hanya sedetik, lantas ia menjual pula. Ia juga lari mengguani ilmu Tangga Mega itu.

Bahkan ia dapat lari denan pesat. Maka belum lama ia sudah menyandak. Ia lari melewati, baru ia memutar tubuh, guna menghadang si nona.

"Kakak !" katanya. "Kakak, kau kenapakah ?"

Pek Giok Peng berhenti berlari untuk dengan segera mundur dua tindak.

"Gak Hong Kun !" bentaknya. "Gak Hong Kun, kau terlalu memaksa aku, akan aku adu jiwaku !" Terus dengan kedua tangannya, dengan satu jurus dari hang Liong Hoa Houw Ciang, Menakluk Naga, Menundukkan Harimau, ia maju menyerang.

Orang itu berkelit, melejit ke sisi orang lalu dengan mudah ia memegang kedua tangan si nona sambil ia berkata perlahan

:

"Kakak ! Akulah Tio It Hiong, kakak ! Kau lihatlah aku biar terang !"

Giok Pek terkejut, ia lihai. Ia pula menggunakan Hang Liong Hok Houw Ciang, maka aneh demikian mudah orang berkelit bahkan terus menangkap tangannya. Maka juga ia melengak. Ia mengawasi orang itu. Tio It Hiong yang ia sangka Gak Hong Kun adanya. Di saat itu pikirannya masih kacau, masih ia belum sempat berpikir tenang.

Tio It Hiong demikianlah orang yang menyusul itu terharu, kapan ia menyaksikan keadaan istrinya itu yang begitu kebingungan. "Oh, kakak !" katanya perlahan. "Kakak, semua ini telah terjadi karena kesalahanku. Kakak, aku membuat kau menderita. Kakak, kau lihatlah aku !"

Pek Giok Peng menatap perlahan-lahan, ia menenangkan hatinya. Karena ini, lekas juga ia mengenali adik Hiongnya itu. Tanpa merasa ia melompat menubruk dan merangkul terus ia menangis tersedu-sedu.

"Adik !" katanya tertahan.

Tio It Hiong membalas merangkul. Tapi ia tidak mengatakan sesuatu, ia membiarkan orang menangis. Menangis akan melegakan hati yang penat. Ia cuma menjumpai si nona dengan sebutir obat pulung "Leng Sian Poa Hiat", obat penenang syaraf dan penyalur darah.

"Tenang kakak" katanya kemudian. "Anak kita Hauw Yan telah aku rampas pulang dan telah aku berikan kepada kakak Kiauw In. Diantara orang-orang jahat yang menyerbu Lek Tiok Po cuma Hong Kun seorang yang dapat lolos. Nah, mari kita pulang."

Mendengar anaknya selamat, hatinya Giok Peng lega bukan main hingga sejenak itu ia cepat bersenyum. Ia mendongak mengawasi si adik Hiong, air matanya tergenang.

"Adik Hiong mari !" katanya kemudian. "Adik, mari kita lekas pulang. Aku mau melihat Hauw Yan."

It Hiong mengangguk.

Demikian mereka berdua berlari-lari pulang. Tatkala mereka sampai di rumah Pek Kiu Jie justru lagi menderita cepat sekali sebab lukanya yang sangat parah. Ban Kim Hong menangis ketika ia melihat puterinya pulang.

"Anak Peng, ayahmu. " katanya terus ia berdiam.

Keadaannya membuat ia tak dapat melanjutkan kata-katanya.

Giok Peng pun sangat kaget. Dengan air mata bercucuran deras, ia lari menghampiri pembaringan ayahnya, mendekati ayah itu.

"Ayah .... ! Ayah. !" panggilnya, sedangkan tangannya

dielus ke pipi ayahnya itu.

Mukanya Kiu Jie sangat pucat. Ia mendengar suara orang memanggil, ia membuka matanya yang sekian lama meram saja. Ia mengenali puterinya maka ia bersenyum.

"Anak Peng. " katanya sangat perlahan. "Kau sudah

pulang, anak, hatiku lega. "

Kata-kata itu berhenti sebab nafasnya si jago tua mendadak memburu.

Melihat keadaan mertuanya itu tanpa ayal lagi It Hiong mengeluarkan hosin ouw untuk terus disuapinya sedangkan dilain pihak ia lantas membantu dengan tenaga Hian Bun Sian Thian Khie kang pada jalan darah hoy kay di dadanya si orang tua.

Giok Peng mundur untuk menyandar kepada ibunya.

Bersama ibu dan lainnya, ia menyaksikan bagaimana It Hiong tengah menggunakan kepandaiannya membantu ayahnya supaya darah si ayah dapat disalurkan dengan baik supaya pernafasannya menjadi lurus pula. Diam-diam ia pun melelehkan air matanya........ Semua orang berdiam, semua kamar menjadi sangat sunyi. Semua mata diarahkan kepada tuan rumah dan menantunya itu, semua berkuatir, tapi semua pun mengharap-harap......

Lewat sekian lama perubahan telah nampak. Orang melihat muka pucat dari Kie Jie perlahan-lahan berubah menjadi merah, menyusul mana matanya bersinar pula seperti biasa, tak sesuaram seperti tadi.

Legalah hatinya semua orang. Mereka percaya pocu mereka yang tua telah tertolong. Dengan sendirinya, tampang semua orang pun menjadi tenang bahkan terus bergirang.

Itulah khasiatnya hosin ouw dan lihainya kepandaian It Hiong, Hian Bun Sian Thian Khie kang !

Kapan akhirnya It Hiong menarik pulang tangannya, ia menarik nafas dalam-dalam sebab ia telah menggunakan banyak sekali tenaga dan semangatnya yang dipusatkan pada cara pengobatannya itu, kemudian ia menyusuti peluh yang membasahi dahinya. Akhirnya ia bersenyum dan kata : "Ayah sudah bebas dari segala ancaman. "

Begitu habis si anak muda berkata, maka seorang nampak menjatuhkan diri berlutut di depannya buat memberi hormat sambil mengangguk-angguk dan berkata : Adik Tio, kau telah menolong jiwa ayahku, maka kau terimalah hormatnya Pek Thian Liong ! Adik, aku sangat bersyukur dan berterima kasih padamu !"

Memang orang itu ialah Thian Liong, kakaknya Giok Peng, yang sejak tadi berdiam saja dengan jantungnya memukul keras sebab dia menguatirkan sangat keselamatan ayahnya. Tadinya dia, begitupun yang lainnya sudah putus asa. Sebab keadaannya Kiu Jie makin lama makin berat.

It Hiong buru-buru membungkuk akan membalas hormat buat memimpin bangun iparnya itu.

"Jangan banyak menggunakan adat peradatan saudara." katanya.

Sementara itu Kiu Jiterus tidur, maka orang tak dapat mendatangkan suara berisik di dalam kamarnya itu.

Ban Kim Hong lega hati dan bergirang sangat. Puas ia memandang menantunya yang muda, tampan, gagah dan lihai itu.

"Anak Hiong." katanya kemudian, "Jika kau tidak datang tepat pada waktunya, entah bagaimana nasibnya Lek Tiok Po ini ! Musuh demikian tangguh dan datangnya pun secara sangat mendadak, hingga kena diserbu. Ketika itu anak Peng dan Kiauw In baru pulang. Mereka mengatakan halnya kau masih berada di Ay Lao San dimana kau menghadapi sesuatu bencana. Aku justru mengharap-harapmu !"

It Hiong menjura pada ibu mertuanya itu.

"Dengan berkah ibu, syukur anakmu tidak kurang suatu apa." katanya hormat. "Di dalam ancaman bahaya, aku telah memperoleh keselamatan dan juga keberutungan sebab secara kebetulan aku mendapat kepandaian ilmu pedang Gie Kiam Sut serta juga ilmu gaib Hoan Kak Bie Cia."

Lantas si anak muda menggunakan ketika itu menuturkan halnya ia membantu Beng Kee Eng dan seorang diri menempur Kwie Tiok Giam Po yang mempunyai Barisan pedang yang istimewa hingga ia kecemplung ke dalam jurang, hingga justru di dalam gua tak dikenal ia mendapat pelajaran ilmu pedang itu sedangkan di Cenglo Ciang, ia bertemu dengan Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie, yang dengan sukarela bahkan secara memaksa, mengajarinya ilmu gaib itu. Diakhirnya ia menutur segala sesuatu selama ia dalam perjalanan pulang.

Pek Giok Peng prihatin sekali mendengar ceritanya It Hiong tentang tergila-gilanya Siauw Wan Goat dan Gouw Ceng Tokouw terhadap suaminya itu, lalu dia kata sengit : "Cis !

Segala perempuan itu ! Mereka tentu akan menjadi edan karena tergila-gilanya itu."

Kiauw In sebaliknya, ia tertawa manis..

"Semua itu adalah akibat kejahatannya Gak Hong Kun adanya. Dia telah memindahkan bencana kepada adik Hiong !"

Mendengar disebutnya nama Hong Kun alisnya Giok Peng bangun sendiri. Ia memang sangat aseran, hawa amarahnya mudah timbul.

"Jahanam itu harus dibekuk !" katanya sengit. "Dia harus diCincang menjadi berlaksa potong ! Dengan begitu saja, barulah hatiku puas !"

Ban Kim Hong, sang ibu menghela nafas. "Itulah alamat dari bakal maju atau mundurnya dunia rimba persilatan." kata ibu yang berpikiran panjang itu. "Itu pula karena takdir asmaranya anak Hiong. Selanjutnya baiklah kalian berhati- hati, sebab sekaranglah tiba saatnya ancaman malapetaka umum itu !"

Thian Liong juga gusar sekali. "Sayang kepandaianku tidak berarti." katanya sengit. "Kalau tidak pasti akan aku cari jahanam Gak Hong Kun itu guna membinasakannya !"

Ketika itu, It Hiong ingat sesuatu.

"Mana iparku Soaw Hoaw ?" tanyanya. "Aku tidak melihatnya. "

"Dia telah terluka dan sekarang lagi berobat." sahut Giok Peng. "Ketika dia membantu Hauw Yan diCiat Yan Lauw, dia dilukai Teng It Beng. Syukurlah lukanya tidak berbahaya."

It Hiong menghela nafas., ia nampak berduka.

"Kakak" katanya kemudian kepada Thian Liong, iparnya itu, "guna melindungi Lek Tiok Po buat mencegah serbuan pula dari orang-orang jahat, bagaimana kalau aku memberi sedikit dari apa yang aku bisa kepada kakak ? Apakah kakak tidak keberatan ?"

Mendengar tawaran itu, bukan main girangnya Thian Liong hingga wajahnya lantas menjadi ramai dengan senyuman. Ia segera berkata : "Saudaraku, kau baik sekali. Sungguh aku beruntung! Saudaraku, terima kasih !"

Dan ia memberi hormat pada iparnya itu sambil menjura dalam tanpa memperdulikan bahwa dalam tingkat derajat sang ipar berada jauh terlebih rendah. Dialah kakak ipar tertua dan It Hiong moay hu suami adiknya.

Repot It Hiong membalas hormat Toako nya itu. Ia tertawa dan kata : "Sebenarnya adalah aturan di dalam kalangan rimba persilatan, di dalam partai mana juga sebelum orang mendapat perkenan dari gurunya tak dapat dia mewariskan atau mengajari ilmu kepandaian partainya, kepada orang dari partai lainnya. Akan tetapi dengan aku menerima pelajaran dari Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie diantara dia dan aku tidak ada hubungan resmi sebagai guru dengan muridnya.

Karena itu kakak, kebetulan sekarang aku mewariskan kepandaianku itu kepada kakak buat kau nanti gunakan melindungi tempat dan keluarga kita ini..."

Thian Liong dan lainnya mengangguk-angguk. It Hiong bicara dari hal yang benar.

Setelah itu It Hiong lantas mengajari Toakonya itu rahasianya itu, rahasia pelajaran Hoan Kak Bie Cia, setelah Thian Liong dapat mengapalinya, dia diminta mengundurkan diri buat terus mempelajari sendiri dengan tekun.

Demikianlah satu malam telah berlalu. Setibanya sang fajar, It Hiong lantas berkemas dan berangkat. Ia mau pergi ke Siauw Lim Sie guna melihat ayah angkatnya yang katanya terluka parah. Ia memesan untuk Kiauw In dan Giok Peng nanti pergi menyusul.

Sementara itu selagi peristiwa di Lek Tiok Po baru reda, maka di Siauw Lim Sie pertempuran telah terjadi !

Itulah gara-garanya Siauw Wan Goat dan Kang Teng Thian, kakak seperguruannya yang hendak membelainya, sebab mereka itu telah pergi ke Siauw Lim Siw buat mencari It Hiong juga Pat Pin Kit In Gwa Sian guna mereka minta keadilan bagi tingkah polahnya It Hiong......

Ketika itu pihak Siauw Lim Sie selalu melakukan penjagaan bergiliran. Itulah akibatnya pertempuran besar di puncak gunung Tay San. Mereka menganggap ancaman bencana belum reda dan bersiaga siang dan malam adalah baik sekali. Maka juga semua murid Siauw Lim Sie telah diberi pesan wanti-wanti untuk berjaga-jaga. Diantara aturan yang dikeluarkan Pek Cut Taysu ketika Siauw Lim Pay mempersiapkan semua ialah tamu-tamu siapapun, sebelum ada perkenan dari ketua itu, dilarang diijinkan masuk ke kuil Siauw Lim Sie.

Demikian Kang Teng Thian dan Siauw Wan Goat, ketika mereka baru sampai di jalan gunung yang sempit diselat Ceng Siong kiap, meterak sudah dapat dilihat empat orang peronda dari Siauw Lim Sie dan mereka pun dicegah melangkah terlebih jauh.

Pendeta yang menjadi kepala rombongan peronda itu memberi hormat sambil menanyakan nama dan gelaran terhormat, dari kedua tamu itu serta juga maksud kedatangannya ke Siauw Lim Sie.

"Akulah tocu dari To Liong To, namaku Kang Teng Thian." Teng Thian memberitahukan. "Kami datang mencari Tio It Hiong buat membicarakan satu urusan !"

Pendeta kepala peronda itu bernama Gouw Beng. Dialah murid Siauw Lim Sie, angkatan ketiga. Kawan-kawannya ialah ketiga adik seperguruannya. Kapan ia mendengar nama Kang Teng Thian, tahulah ia bahwa tamunya itu seorang bajingan luar lautan. Karenanya ia sampai melengak, hingga menatap Teng Thian dan kawannya itu. Lekas ia menjawab dengan singkat : "Tio It Hiong tidak berada di kuil kami, silahkan Kang Sicu kembali saja."

"Hmm !" jago dari To Liong To itu memberi dengar suara dinginnya. "Pek Cut Hweshio tentu berada di dalam kuilnya ! Pergi kau bilang dia bahwa kau si orang tua datang mencari padanya !"

Gaow Beng menjadi tidak senang. Orang takabur dan juga kurang ajar. Namanya ketua Siauw Lim Sie disebut seenaknya saja.

"Ciangbun Sucouw kami tidak biasanya menemui orang kalangan sesat !" katanya. "Kang Sicu, harap kau tahu sesuatu dan... pergilah !"

Sepasang alis gomplok dari Teng Thian bangkit berdiri, matanya yang besar berputar-putar. Memangnya dia telah tidak puas hatinya.

"Beginilah caranya kamu, kaum Siauw Lim Sie menyambut tamunya ?" tanyanya keras.

Siauw Wan Goat melihat suasana buruk, ia maju di depan kakaknya itu dan berkata sabar kepada Gouw Beng, "Kami datang kemari hendak mencari Tio It Hiong sebab kami mempunyai urusan dengannya. Karena itu Tay hweshio, tidak usah kau bersikap keras begini !"

Gouw Beng tak sabaran.

"Diantara kaum lurus dan kaum sesat tak ada pergaulan !" katanya keras. "Kalian datang kemari, mana ada maksud baik

? Siauw Lim Sie pun tidak mempunyai tempat untuk menerima kunjungan kaum sesat ! Baik kau jangan rewel lagi."

Kang Teng Thian menjadi gusar sekali.

"Keledia gundul, kau sangat tidak tahu aturan" bentaknya. "Apakah kau hendak mencoba aku si orang tua ?" Gouw Beng mundur satu tindak, tongkat panjangnya sianthung segera dilintangi.

"Tugasku si pendeta tua ialah istimewa, membekuk kawanan tikus yang berani lancang menyerbu gunung kami !" katanya, "dan tongkat ditanganku ini tak mengenal siapa juga

!"

Aksinya pendeta ini diteladani ketiga kawan-kawannya, maka juga berempat mereka itu sudah lantas mengambil kedudukannya, bersiap menghadang penyerbu.

Kang Teng Thian tertawa nyaring. Dia tak takut sama sekali. Dia pun mendongkol.

"Lihat tanganku !" dia berseru, terus tangan kanannya dikibaskan. Nampaknya dia cuma mengancam tetapi itulah satu jurus dari Bu Eng Sin Kun, pukulan silat Tanpa Bayangan.

Gouw Beng memperdengarkan suara tertahan, tubuhnya terhuyung mundur tiga tindak, terus dia roboh !

Ketiga pendeta kaget sekali. Orang toh cuma mengancam, sedangkan jarak diantara kedua belah pihak kira-kira satu tombak/. Toh Gouw Beng toboh tak karuan.

Dalam kagetnya dua orang pendeta berlompat maju akan membantu kawannya dan yang satu segera kabur pulang guna mengasi laporan.

Kang Teng Thian menoleh kepada adiknya.

"Sumoay, mari ikut aku !" katanya. Dan dia bertindak maju mendekati gunung. Siauw Wan Goat bertindak mengikuti, hatinya tak tentram. Sebab dia tak ingin, tak memikir buat bentrok dengan pihak Siauw Lim Sie. Walaupun dia tergila-gila terhadap It Hiong, dia masih sadar.....

Jago dari To Liong To itu mendaki terus di jalan apa yang dijuluki jalan batu ceng siong tao. Dengan cepat mereka sudah melalui lima puluh tombak, dari lantas tampak samar- samar bangunan dari Siauw Lim Sie yang besar dan megah. Sebuah batu hijau yang besar di palang tegak, di sana terukir empat huruf yang besar sekali, bunyinya, "Tong Teng Pie Ae" artinya "sama-sama menaiki gili gili sana". Maksudnya : mencapai kesempurnaan. Dibawah pintu gerbang itu, terlihat lima orang pendeta diantara siapa pemimpinnya mengenakan jubah kuning, kumis dan alisnya telah putih semua, mukanya keras tetapi sedikit bersemu dadu, sedangkan sepasang matanya hidup bersinar.

Di belakang pendeta itu berdiri kawannya yang jubahnya warna putih rembulan, usinya kira lima puluh tahun, mukanya bundar dan montok tapi yang paling menyolok adalah alisnya yang berdiri, suatu tanda bahwa dia berkepandaian silat sempurna. Senjatanya adalah sepasang hongpiansan mirip sekop.

Tiga pendeta yang lainnya ialah ketiga peronda yang tadi, yang sudah mendahului lari pulang dengan membawa pemimpinnya yang kena dirobohkan itu.

Melihat tibanya tamu tak diundang itu, si pendeta berjubah kuning sudah lantas menyapa : "Kang sicu dari To Liong To secara tiba-tiba saja sicu mendatangi gunung ini dan juga telah melukai murid kami, apakah maksudmu ?" Pertanyaan itu bernada kegusaran.

Teng Thian menghentikan langkahnya. Dia mengawasi pendeta penegurnya itu.

"Aku si tua datang kemari buat mencari Tio It Hiong guna membuat perhitungan dengannya !" sahutnya keras. "Tadi murid-murid kalian sudah mencegah kami tetapi syukur aku si tua masih berbelas kasihan terhadap mereka !"

Pendeta berjubah kuning itu tertawa-tawa. "Pinlap bernama Gouw To, usiaku sudah tujuh puluh tahun lebih." katanya. "Tetapi selama hidupku, belum pernah aku melihat orang yang tak tahu aturan seperti kau ! Kalau kau memikir mencari Sicu Tio It Hiong, silahkan pergi mencarinya di Pay In Nia."

"Tetapi Tio It Hiong berada di kuil Siauw Lim Sie kamu ini !" bentak Kang Teng Thian. "Kedelai gundul, beranikah kau menghalang-halangiku ?"

Lantas si pendeta berjubah putih rembulan maju melewati Gouw To, ia memberi hormat pada pendeta tua itu sambil berkata : "Susiok, tecu Bu Tim memohon perkenan susiok untuk melemparkan orang jahat ini turun gunung ! Dapatkah

?"

"Susiok" adalah paman guru, dan "tecu" ialah murid. Yang pertama dipakai sebagai panggilan, dan yang belakangan sebagai sebutan pengganti "aku".

Kang Teng Thian tertawa dingin berulang-ulang.

"Kau hendak melemparkan aku si orang tua turun gunung

?" katanya, suaranya menantang atau mengejek. "Baik, kau coba-cobalah kepandaianku !" Bu Tim menjadi gusar sekali.

"Jangan mencoba tidak karuan !" bentaknya. "Lihat senjataku !"

Pendeta ini lantas memutar hongpiansan hingga anginnya menderu-deru, sebab tongkatnya itu, tongkat panjang mirip toya terbuat dari besi, berat dan kuat. Dan pula sudah lantas menyerang menggunakan jurus silat "Tam Ie San Iliat" atau "Awan gelap muncul tiga kali."

Kang Teng Thian berlompatan mundur tiga tindak, menyingkir dari serangan itu yang diulangi secara berantai sampai tiga kali. Segera setelah itu, ia menggerakkan tangan kanannya sambil membentak, "Keledia gundul, berhati-hatilah kau menyambut tanganku ini !"

Dengan digerakinya tangan itu makahebatlah angin mendesak ke arah lawan, mendadak dan tanpa bentuk atau wujudnya !

Bu Tim menjadi pendeta angkatan kedua, ilmu silatnya tak lemah lagi, kepandaian ilmu luarnya, ilmu keras, yaitu gwa kang telah mencapai kesempurnaan, maka itu segera menginsyafi lihainya pukulan lawan itu.

Dengan cepat ia berkelit. Tapi begitu berkelit, begitu ia mengulangi serangannya, menyerang dari samping. Kali ini dengan jurus silat "Gwan Sek Tian Tiouw" atau "Si batu boncel mengurung kepala". Dengan begitu hongpiansan menghajar ke arah kepala.

Kali ini Teng Thian tidak lari berkelit. Sebaliknya, tangannya diluncurkan ke atas, dipakai menyambut hajaran lawan itu. Maka bentroklah tongkat si pendeta dengan tangan si bajingan dari To Liong To, dengan kesudahannya Bu Tim kaget sekali disamping hongpiansan terlepas dan terpental, si pemilik sendiri tertolak mundur delapan tindak dengan tubuh terhuyung-huyung ! Hampir dia roboh !

Mukanya Gouw To berubah kapan ia menyaksikan kesudahannya pertempuran itu, alisnya sampai terbangun. Sekarang ia insaf akan lihai lawan. Ia mau turun tangan atau mendadak empat pendeta dengan jubah putih rembulan muncul secara tiba-tiba dan mereka itu lantas mengambil sikap mengurung, yang dua memegang tongkat besi, yang dua lagi golok keyTo.

Kang Teng Thian tak puas melihat sikap para pendeta itu, tanpa berkata apa-apa, ia maju melakuka penyerangan, hanya kali ini tak dapat ia dalam satu gebrakan saja membuat musuh roboh atau mundur.

Kiranya ke empat pendeta Siauw Lim Sie itu bertempur dengan menggunakan Barisan rahasia Su Ciang Tiu. Mereka menyerang berputaran. Saking cepatnya, mereka tak dapat terhajar Bu Eng Kun musuhnya. Sebaliknya, Teng Thian nampak repot. Semua serangannya selalu gagal sebab cepatnya setiap lawan menghindari diri. Baru sekarang ia insyaf yang Siauw Lim Pay besar, tak dapat dipandang ringan. Terpaksa ia menyabarkan diri, guna menenangkan hatinya.

Siauw Wan Goat sendiri menonton, hatinya tidak karuan rasa. Ia datang buat mencari Tio It Hiong, bukannya buat berkelahi. Siapa tahu kakaknya tak sabaran dan terus saja bersikap keras. Ia pun menjadi bersusah hati. Tapi ia bisa berpikir. Maka ia lantas maju menghampiri Gouw To Tayasu untuk memberi hormat seraya berkata : "LoSiansu, mengapakah kalian tak mengijinkan aku menemui kakak It Hiong ?'

Gouw To mengawasi si nona. Dia membalas hormat. "Siapa itu kakak Hiong mu ?" tanyanya.

"Dialah Tio It Hiong, murid dari Pay In Nia." Wan Goat menerangkan.

"Tio It Hiong sudah lama pergi meninggalkan kuil kami." Gouw To memberitahukan.

Wan Goat melengak. Inilah ia tidak sangka. Selagi ia hendak menanya pula, mendadak ia mendengar seruannya Kang Teng Thian sambil si kakak itu menyerang dengan satu jurus dari "Kwie Hian Tong Hiang" tubuhnya masuk ke dalam kalangan tongkat terus kedua tangannya bergerak. Maka terpentallah dua batang tongkat besi serta si pendetanya pun roboh terguling !

Gouw To terperanjat mendapatkan Su Ciang Tiu kena dipecahkan jago dari To Liong To dan dua orang Siauw Lim Sie dirobohkan. Sinar matanya sampai menjeltiat tanda bahwa ia telah menjadi murka.

"Amidha Buddha !" pujinya. "Kang sicu sungguh lihai, kau telah melukai bebeapa anggauta Siauw Lim Sie. Apakah itu artinya kau masih memandang mata kepada partai kami ?"

Sebenarnya Teng Thian membebaskan diri dari kurungan dengan ilmunya itu, Kwie Hiau Tong Hian baru setelah itu ia menghajar roboh dua orang musuhnya. Kapan ia mendengar suaranya si pendeta kata : "Lohweshio cuma memuji saja padaku ! Kalau Lohweshio mau memberi pengajaran silahkan sebutkan caranya !"

Itulah sambutan atau tantangan terhadap Gouw To. Maka juga si pendeta menjadi tidak senang sedangkan sebenarnya masih menahan sabar sebisa-bisa. Sepasang alisnya sampai bangkit berdiri.

"Kang sicu." katanya keras. "Segala-galanya terserah kepada sicu ! Sebutkan saja lolap selalu bersedia untuk menemanimu !"

Lalu dengan satu kibasan tangan pendeta ini menyuruh murid-muridnya mundur. Si pendeta berbaju putih rembulan sudah lantas maju untuk membantu kedua orang kawannya yang roboh itu, habis menjemput goloknya mereka itu, ia terus berdiri dipinggiran akan mengawasi kedua orang yang sudah berhadap-hadapan itu.

"Sebenarnya tidak ada niatku si orang tua lancang mendaki gunung ini." kata Teng Thian kemudian. "Kalau aku toh sudah datang juga kemari, itu melulu buat mengurus jodohnya adik seperguruanku ini dengan Tio It Hiong ! Aku mencari bocah itu yang telah menyia-nyiakan kekasihnya buat berhitungan dengannya supaya nama adik seperguruanku ini tidak cemar karenanya supaya ia mendapati nama baik dan haknya sebagaimana selayaknya."

"Oh, begitu !" berkata Gouw To. "Tapi Tio Sicu tidak ada disini ! Kami murid-murid Sang Buddha. Kami tidak biasanya mendusta."

Kang Teng Thian melengak. "Kalau benar Tio It Hiong tidak ada disini, baiklah."katanya kemudian. "Aku percaya kalian lohweshio ! Hanya sekarang aku ingin bertemu dengan In Gwa SIan si pengemis bangkotan ! Anak pungutnya sudah menghina adik angkatku, aku mau minta keadilan dari dianya !"