Iblis Sungai Telaga Jilid 37

 
Jilid 37

"Apakah itu ?" sahutnya. Ia menjawab saking terpaksa. "Lekas bilang !"

Hong Kun tersenyum. Sengaja dia membawa lagak ugal- ugalan.

"Itulah bukan syarat sukar sebaliknya sangat mudah !" sahutnya. "Itulah asal kau dapat mengembalikan adik Giok Peng kepadaku supaya dia menjadi istriku. Kau sendiri sejak saat ini kau mesti mundur dari dunia Kang Ouw, dan nama Tio It Hiong tetap menjadi namaku si orang sungai telaga. "

Tanpa menanti suara orang berhenti, It Hiong sudah lantas berseru : "Bangsat tak tahu malu. Kalau kau dapat melayani aku sepuluh jurus apa juga kau kehendaki akan aku luluskan

!"

Meskipun ia berkata demikian, dalam murkanya, It Hiong tidak mau menanti jawaban lagi. Dengan kecepatan luar biasa, ia lompat menerjang orang yang menyamar menjadi dirinya itu. Keng Hong Kiam berkelebat menyambar ke perut orang. Hong Kun cerdik, tidak mau dia menangkis. Dia justru lompat ke samping terus kepada Giok Peng untuk berlindung, diantara si cantik itu yang pinggangnya dia rangkul. Lalu sembari tertawa mengejek dia berkata : "Nah, orang she Tio, kau menerima baik syaratku ini atau tidak ? Kau harus ketahui tuan Gak kamu ini tidak mempunyai banyak waktu melayanimu !"

Kembali si anak muda menoleh kepada It Beng buat mengedipi mata. Kali ini dia menganjuri sahabat itu kabur dengan membawa Hauw Yan. Dia pun sudah memikir buat membawa Giok Peng lari bersama !

Sulit buat It Hiong memilih : Menolong dahulu istrinya atau anaknya ?

Kembali Hauw Yan menjerit. Itulah siasatnya It Beng hendak membikin kacau hatinya si pemuda musuhnya itu. Ia pikir selagi si anak muda bingung hendak ia berlompat pergi buat kabur dari Ciat Yan Lauw......

Hampir It Hiong kalap selekasnya ia mendengar jeritan anaknya itu. Ia ingat hanya kepada puteranya itu. Mendadak dia lompat melesat kepada It Beng, itulah gerakan "Katak Loncat". Berbareng dengan itu, Keng Hong Kiam pun digerakkan dipakai menusuk si penculik anak dengan tikaman "Peng Ter Sang Lui", Guntur di Tanah Datar. Sasarannya ialah pinggang lawan.

Di dalam keadaan seperti itu, It Hiong menggunakan kepandaian dari ilmu sejati. Coba ia sempat memikir, seandianya ia menggunakan ilmu "Hoan Kak Bie Ciu" ajarannya Touw Hwe Jie, pasti ia akan berhasil. Hanya ilmu itu adalah ilmu sesat....... It Beng bukan sembarang orang. Dia bekerja dengan telah memikir dahulu. Ia pula selalu memasang mata. Selekasnya ia melihat It Hiong berlompat, ia pun berlompat ke samping. Tak mau ia menjadi sasaran pedangnya lawan. Tapi ia bukan menghindari diri. Ia masih mempunyai satu akal lain. Ialah sambil berkelit itu, dengan tangan kirinya mengangsurkan tubuhnya Hauw Yan buat dipakai menghadang pedang lawan, sambil ia berseru, "Ilmu pedangmu lihai sekali ! Nah, kau bunuhlah anak ini ! Ha ha ha.."

It Hiong kaget tak terkirakan. Kalau tikamannya mengenakan sasaran, sasaran itu bukan pinggang lawan hanya tubuhnya Hauw Yan. Tapi ia lihai sekali. Ia cepat bukan main. Berbareng kaget, tangannya digeser ke lain arah, diteruskan ke betis lawan !

Teng It Beng sudah menerka kalau lawan dapat membatalkan serangannya. Lawan itu tentu akan menarik pulang pedangnya, tidak ia sangka bahwa orang dapat meneruskan menusuk ke bawah kakinya. Tentu sekali ia menjadi kaget. Lantas menjejak tanah, buat berlompat tinggi. Tetapi ia mengapungi tubuh bukan melulu guna menyelamatkan diri, ia sempat membalas menyerang juga, ialah ia menendang dengan sebelah kaki selagi ia mengangkat kedua-dua kakinya !

Itulah depakan "In Lie Twie", Kaki Didalam Mega. Dengan menendang secara begitu, tubuh si penendang sekalian diputar, maka juga Teng It Beng kemudian dapat turun dan menaruh kaki dipintu.

Orang she Teng itu sangat cepat tetapi It Hiong terlebih cepat pula. "Tae In Ciong" Lompatan Tangga Mega, istimewa sekali. Dengan mudah anak muda ini dapat menghindarkan diri dari depakan itu. Di lain pihak, ia pun menggunakan pula pedangnya sembari berkelit, ia menebas !

"Taar !" demikian terdengar satu suara lantas It Beng memperdengarkan seruan tertahan. Inilah sebab tak keburu ia menyingkir diri. Lengan kirinya sebatas bahu kena tertebas dan kutung karenanya, disusul dengan tubuhnya yang terhuyung-huyung dan terus roboh ke lantai !

It Hiong berlaku cepat luar biasa. Selagi tangan kanannya menebas, tangan kirinya menyambar. Maka berhasillah ia merampas Hauw Yan, yang tak usah sampai jatuh terbanting.

"Anakku !" serunya perlahan. Tapi, waktu ia menoleh ke arah Gak Hong Kun, si pemalsu itu sudah lenyap, lenyap bersama Giok Peng. Sebab terang sudah, selagi ia menempur It Beng, Hong Kun yang licik telah menggunakan kesempatan kabur dengan membawa si nona !

Di dalam keadaan seperti itu, tak sempat It Hiong memikir banyak. Dari dalam rumah besar ia telah lantas mendengar samar-samar suara senjata beradu serta bentakan berulang- ulang. Tidak berayal sedetik juga, ia membawa anaknya lari ke arah kepada mana lantas melihat roboh bergelimpangannya beberapa orang dari Lek Tiok Po. Hal mana membuatnya kaget dan berkuatir, lekas dia lari terus kedalam, hingga ia melihat suatu pemandangan yagn hebat !

Di dalam Toa thia, ruang besar dari Lek Tiok Po, orang tengah bertempur seru. Disatu bagian, Kiauw In lagi dilibat dengan dua orang tua yang tampang dan dandanannya sangat beda dari kebanyakan orang. Di pojok kiri Pek Thian Liong dengan pedang ditangan sedang menempur seorang tua setengah tua yang senjatanya joanpian. Dan pojok kanan, nyonya rumah Ban Kim Hong lagi bertarung seorang yang kate gemuk, usianya lanjut.

Diantara tiga rombongan itu, It Hiong melihat Thian Long dalam keadaan berbahaya sebab dia terdesak lawannya seorang setengah tua. Maka ia menganggap perlu ia membantu pemuda itu yang menjadi iparnya. Maka sambil terus memeluki Houw Yan, ia berlompat melayang kepada si ipar untuk mana ia mesti loncat lewat di atas kepalanya Kiauw In. Selekasnya ia tiba, ia lantas membacok pada musuh hingga musuh itu roboh seketika ! Sebab musuh tak sempat berdaya.

Pek Thian Liong terkejut mendapat pertolongan tak disangka-sangka itu, akan tetapi kapan ia sudah mengangkat kepalanya dan melihat orang yang menolongnya, ia heran hingga ia mendelong mengawasinya. Sebab ia mendapati orang itu Tio It Hiong adanya !

"Saudara Tio !" teriaknya atau ia berhenti.

"Aneh !" pikirnya kemudian. Masih ia mengawasi iparnya itu. "Tadi dia datang lantas mengejar Paman Tong dan juga melukai ayah ! Tapi sekarang dia datang pula justru membantu aku ? Bahkan dia membinasakan musuh !"

It Hiong tidak melihat Thian Liong bingung itu, tak sempat ia mengawasi orang atau memperhatikannya, sebab segera ia lompat ke arah Cio Kiauw In.

Ketika itu nona Cio sedang diserang oleh kedua lawannya yang dapat bekerja sama dengan baik, hingga ia menjadi repot hingga ia mesti berkelit dengan berloncatan kesana kemari. Ketika itu It Hiong tiba justru ia lagi menahan serangan sepasang tangannya orang tua yang dikiri, sedangkan orang tuan yang dikanannya membarengi menghajar punggungnya, sebab ia membaliki belakang pada musuhnya itu.

Dengan kecepatan yang luar biasa, It Hiong membabat kutung tangannya penyerang di sebelah kanan hingga dia itu menjerit keras terus dia roboh dengan kesakitan, giginya dirapatkan buat menahan nyeri dan mukanya meringis hingga tak sedap dipandang !

"Tahan !" teriaknya It Hiong selekasnya ia merobohkan musuh itu.

Suara itu sangat nyaring dan keras, pengaruhnya besar sekali. Sebab dua rombongan yang lagi berkelahi itu berhenti dengan sekejap. Ia berdiri tegak dengan tampang gagah, sebelah tangan memegang pedang terhunus, tangan yang lain mengempo Hauw Yan !

Kiauw In berdiri melongo mengawasi anak muda itu. Ban Kim Hong bersama si orang tua katai dan terokmok sudah lantas menghampiri, keduanya mengawasi dengan tajam.

Ketika itu ruang besar yang barusan ramai dan berisik, sekarang menjadi sunyi senyap.

"Hai anak bau !" si orang tua katai gemuk lantas memperdengarkan suaranya yang dingin menegur It Hiong, "kau telah menipu. Dari Kolong ta kami telah kami turut datang kemari membantui kau, katanya guna membalaskan sakit hatimu, kenapa sekarang kau jadi berbalik, bahkan kau telah membunuh muridku dan melukai saudaraku ? Apakah kau rasa kau sanggup bertahan dari pukulan Peng Thiang Ciang ku ?" "Peng Thian Ciang" ialah pukulan Tangan Es.

It Hiong tidak kenal orang tua ini bahkan Kolong ta yang disebutkan si orang tua juga ia tak tahu, belum pernah ia mendengarnya. Tapi melihat tampang dan dandanan orang serta ilmu silatnya yang lihai ia menerka pada salah satu golongan bajingan dari luar lautan. Ketika itu ia pun sedang melihat keliling ruang besar itu.

Di pojok ruang diatas kursi tampai Pek Kiu Jia duduk menyender dengan tubuhnya mandi darah yang keluar dari balutan dadanya. Nampak orang tua itu sudah tak berdaya, mukanya pucat, kedua matanya rapat. Ketika itu Thian Liong sedang menghampiri ayahnya itu buat ditolongi. Thian Liong menangis dengan airmata bercucuran deras.

Di lantasi rebak menggeletak tiga sosok tubuh, dan diantaranya orang-orang Lek Tiok Po. Yang ketiga ialah Tong Wie Lam, si guru silat tua. Melihat berdiamnya tubuh mereka bertiga itu, terang bahwa mereka sudah tak bernyawa....

Ketika itu Hauw Yan telah hilang kagetnya. Kapan ia melihat Ban Kim Hong dan Kiauw In, ia berteriak memanggil, "Nenek !". Setelah itu ia menjerit menangis terus tangan dan tubuhnya digerak-gerakkan seperti yang mau nubruk neneknya itu.

Teriakan anak itu membuat It Hiong bagaikan terasadar, maka ia lantas mengangsurkan anaknya kepada Kiauw In sambil ia berkata : "Kakak, kau jagai anak ini, bersama-sama ibu, pergilah kau beristirahat ! Kau serahkan semua musuh padaku !"

Kiauw In menyambut Hauw Yan tetapi matanya masih mengawasi It Hiong sedangkan mulutnya bungkam. Inilah sebab ia pun diliputi rasa herannya. Ia ingin memperoleh kepastian pemuda itu It Hiong tulen atau It Hiong palsu.....

Ban Kim Hong melihat cucunya telah diserahkan pada Kiauw In, ia segera menghampiri nona itu terus membisiki, untuk akhirnya ia menyambuti sang cucu.

It Hiong sendiri segera menoleh akan menghadapi si orang tua katai teromok. Ia memberi hormat sembari menanya, "Mohon tanya lotiang, aku dari Kolong ta, apakah she dan nama besarmu ?"

Orang tua itu tengah membalut tangan kawannya mendapat pertanyaan itu, dia menjawab tawa ejekan berulang-ulang kemudian ia kata bengis, "Bocah she Tio, kau banyak berlagak pilon ya ? Aku si orang tua telah membantu jiwamu bahkan aku telah ajari kau ilmu Peng Thian Ciang tetapi sekarang kau berpura tidak mengenalku. Hm, sunggu kau pandai sungguh lihai caramu berpura-pura ini !"

Sembari berkata si orang tua sudah bangun berdiri dan terus setindak dengan setindak menghampiri si anak muda, dia tidak saja mengawasi dengan tajam, kedua tangannya pun disiapkan untuk menyerang.

Mendengar suara si orang tua, It Hiong lantas ketahui di dalam halnya mereka berdua pasti ada suatu hal yang luar biasa.

"Lotiang, harap lotiang jangan bergusar dulu", ia lekas berkata. "Rupanya telah orang menipu lotiang tetapi dia bukanlah aku. Dialah Gak Hong Kun, dia " "Jangan banyak bacot !" si orang tua menyela. Ia gusar sekali, "Kalau bukan kau Tio It Hiong yang menipu aku, siapa lagi ? Hm !"

Kali ini si orang tua lantas menyerang dengan tangan kanannya rupanya dia sudah tak tahan sabar lagi. Segera juga serangan ini membawakan sambaran angin yang keras dan dingin sekali, sampai pun Ban Kim Hong dan Kiauw In menggigil hingga lekas-lekas mereka menjauhkan diri.

It Hiong juga merasai sambaran hawa dingin, tetapi ia memiliki tenaga dalam yang sungguh luar biasa, ia dapat bertahan, apa pula selekasnya pun ia minggir ke samping mengasi lewat sambaran itu. Ia tidak membalas menyerang. Hanya ia lekas berkata pula : "Sabar lotiang ! Aku minta lotiang dengar dahulu kata-kataku. Setelah itu kalau perlu, aku bersedia akan menyambut pukulan Tangan Es dari lotiang. "

Si orang tua heran. Dia telah menyeranga dengan tujuh atau delapan bagian tenaganya. Aneh, si anak muda dapat menghindari diri secara demikian mudah, orang tenang- tenang saja. Belum pernah ia menghadapi lawan setangguh ini. Maka ia tidak mengulangi serangannya.

"Kau bicaralah !" sahutnya.

"Lotiang, orang yang menipu lotiang adalah Tio It Hiong palsu !" It Hiong memberikan keterangannya. "Dia sebenarnya Gak Hong Kun yang telah banyak melakukan kejahatan ! Dia bukan melainkan menipu lotiang, dia juga telah melakukan banyak pembunuhan dan semua kejahatannya itu dia timpakan atas diriku !"

Si orang tua menatap anak muda di depannya itu. "Benarkah aku salah mata ?" katanya seperti kepada dirinya sendiri. Lantas dia mengangkat kepalanya, "Kau katakan ada seorang lain yang menyamar sebagai kau. Baik ! Di mana adanya dia sekarang ?"

"Dia sudah kabur, lotiang !" sahut It Hiong. "Dia malah membawa lari isteriku !"

"Oh, orang muda lihai !" kata orang tua itu. "Tak dapat aku meladeni ocehanmu !" Dan dia maju pula setindak, berniat menyerang.

"Tahan lotiang !" berseru Kiauw In yang maju menghampiri. "Kalau lotiang tidak percaya adik Hiongku ini, itulah sulit ! Sekarang begini saja ! Silahkan lotiang turut adikku pergi menyusul orang yang menipu lotiang itu supaya dia dibekuk ! Dengan demikian, bukankah urusan gelap bakal lantas menjadi terang ?"

Orang tua itu berpikir, terus dia mengangguk. Tapi dia masih berdiri diam saja.

It Hiong memberi hormat pula.

"Jika aku, Tio It Hiong mendusta, aku bersedia menyerahkan diri kepada lotiang buat lotiang hukum sesuka lotiang !" katanya. "Tidak nanti kau menyangkal atau melawan

!"

"Baik !" jawab si orang tua akhirnya. Kemudian ia menoleh kepada sepasang orang tua berwajah dan berdandan aneh itu untuk berkata : "Mari kita pergi !" Begitu berkata dia lantas berangkat, terus dia diikuti dua orang tua kawannya itu. It Hiong segera menoleh kepada mertuanya dan Kiauw In untuk minta mereka itu lekas mengobati Kiu Jie. Ia kata ia akan lekas pergi dan lekas pulang dan nanti sepulangnya baru mereka dapat bicara banyak. Setelah memberi hormat, ia lantas pergi untuk menyusul ketiga orang tadi.

Sampai disitu barulah lega sedikit hatinya Ban Kim Hong. Dengan berlalunya orang jahat, Lek Tiok Po menjadi aman, maka ia lantas memanggil orang-orangnya buat mengurus semua mayat serta membersihkan seluruh ruang dan Pekarangan. Ia sendiri bersama Kiauw In lekas-lekas masuk ke dalam guna mengobati suaminya.

Sampai disini perlu kita kembali dahulu kepada Gak Hong Kun dan Teng It Beng, waktu mereka dipegat Tio Siong Kang yang membikin perahu mereka terbalik dan karam sehingga mereka tercebur ke laut. Hingga kemudian tersiarlah berita bahwa Tio It Hiong sudah mati kelelap, tenggelam di lautan.

Pengalaman dua kali tercebur di laut membuat It Beng dan Hong Kun menjadi cerdik. Demikian kali itu, selekasnya mereka tercebur, lantas mereka menutup mulut dan menahan nafas. Tentu sekali, karenanya, mereka jadi tak menenggak air laut, baik dari mulut maupun dari hidung mereka. Hong Kun memegangi pinggiran perahu, ia pula menjambret leher bajunya It Beng. Lalu bersama-sama mereka berdiam saja.

Tak berani mereka lekas-lekas timbul. Dengan perpegangan pada perahu, mereka juga tak terbawa arus gelombang.

Setelah berdiam sekian lama di dalam air, keduanya timbul dengan perlahan-lahan. Tetap mereka memegangi pinggiran perahu, supaya jangan hanyut terdampar gelombang.

Musuh tidak ada, mereka tak melihat apa-apa. Sementara itu, selain tubuh rasanya kaku bekas terendam air terlalu lama, mereka juga merasa haus dan lapar. Tak adanya musuh membuat hati mereka sedikit lega.

"Saudara Gak, bagaimana sekaran ?" tanya It Beng.

Hong Kun naik ke dasar perahu yang sekarang jadi berada di muka air. Kawannya menatap dia. Mereka melihat bagaimana perahu terbalik itu bergerak-gerak mengikuti arus. Entah berapa lie jauhnya mereka sudah dibawa pergi.

"Kita, menanti nasib kita. " kata It Beng.

"Lihat ! Lihatlah di sana !" tiba-tiba Hong Kun berseru, tangannya menunjuk. Ketika itu, dia tengah memandang jauh ke depan. Di sana tampak sebuah titik hitam, "Bukankah itu sebuah pulau kecil ?"

It Beng menoleh, ia mengawasi.

"Ya, mirip !" serunya. "Mari kita pergi ke sana !"

Orang she Teng cuma bisa berkata demikian, berbuat dia tak mampu. Di situ tidak ada pengayuh ! Mana dapat mereka mengemudikan perahunya itu ? Keduanya saling mengawasi, saling menyeringai.

Hong Kun berdiam tetapi otaknya bekerja.Diantara saat menghadapi maut itu, dia tak mudah menyerah. Maka juga tak heran kemudian, sambil menggertak gigi, mendadak ia menghajar perahunya ! Maka pecahlah perahu itu !

"Eh, kau bikin apakah ?" tanya It Beng terkejut. "Perahu inilah penolong jiwa kita ! Tanpa perahu ini kita sudah lama mampus di dasar laut. " Hong Kun tidak menjawab, hanya dia bekerja. Dia meloloskan papan yang pecah, untuk dipakai mengayuh air.

"Kau lihat, apakah ini bukannya mengayuh ?" katanya kemudian. Terus dia naik ke atas perahu pecah itu, yang tetap masih terbalik. Terus dia mengayuh.

"Oh...!" seru It Beng yang menjadi girang. Maka ia pun mengambil sehelai papan. Ia juga naik ke punggung perahu, buat turut mengayuh....

Demikian, dengan mengambil banyak waktu tiba juga dua orang itu di pesisir pulau kecil itu. Hari sudah magrib, laut tenang. Di permukaan laut terlihat sisa sinar layung menyilaukan mata.

Selekasnya perahu kandas diatas pasir, keduanya lantas mereka jalan ke arah pulau dan mendakinya. Tidak ada pepohonan, ada juga rumput dan lumut yang sampai pada batu karang hingga lumut itu sukar diinjak saking licinnya. Sedangkan mereka letih dan lapar dan dahaga. Selama satu lie, mereka tak menemui orang, tak ada rumah ataupun gubuk. Ada juga burung laut yang terbang berbondong- bondong. Diakhirnya mereka merebahkan diri untuk beristirahat.

"Biar bagaimana, perlu kita menghilangi lelah. " kata

Hong Kun.

Mereka memilih tempat yang kering. It Beng tertawa menyeringai.

"Lihat, pakaian kuyup kita kering sendirinya !" katanya. "Bagus juga untung kita ini sebab kita tak usah jadi setan- setan gentayangan di dasar laut. Ha ha ha ! Nah, mari kita tidur dahulu. "

Benar-benar si orang she Teng memejamkan matanya !

Hong Kun pun turut kawannya itu mencoba buat tidur.

Kapan sang malam telah lewat, sang pagi muncul dengan hawanya yang nyaman. Sinar matahari indah lemah, angin bersiur halus. Beristirahat satu malam membuat kawan itu merasa segar seperti biasa. Mereka mendusin atau duduk berhadapan saling mengawasi dengan menyeringai. Mereka ingin halnya mereka belum lepas dari kesulitan. Paling celaka ialah geruyukannya perut mereka.

Tengah berdiam itu, It Beng dan Hong Kun mendengar samar-samar suara orang yang terbawa angin. Diam-diam mereka memperoleh harapan. Jadi pulau itu ada penghuninya. Mereka mengharap akan memperoleh makanan walaupun buat satu kali bersantap saja. Tak bersangsi pula, mereka berangkat dan lari ke arah suara itu.

Sejauh kira setengah lie, di sana tedapat sebuah jalan kecil diantara batu-batu karang. Jalan itu menikung berputar, membawa orang ke sebuah jurang yang menghadapi laut. Di situ terdapat sebuah halaman berbatu, luas tiga sampai empat puluh tombak persegi. 

Tepat berdiri diujung jurang, terlihat dua orang yang membaliki belakang. Mereka itu berdiri berendeng. Yang seorang terang seorang tua, bajunya panjang dan gerombongan dan yang lainnya dandanannya ringkas. Dia ini mungkin baru berusia lebih kurang empat puluh tahun. Dilihat dari gerak geriknya yang satu seperti lagi mengajari sesuatu ilmu, yang lain lagi menerimanya..... "Harrr !" tiba-tiba si tua berseru dan tangannya diluncurkan, dihajarkan ke arah laut. Ketika ia menarik pulang tangannya dengan cepat ada air yang seperti tersedot naik, besarnya sebesar tiang, dan naiknya sepuluh tombak lebih.

Hajaran pun membuat air menerbitkan suara keras. Kemudian air bagaikan tiang itu terombang ambing karena si orang tua menggoyang tangannya ke kiri dan ke kanan.....

Orang yang satunya tertawa, dia memuji sambil bertepuk tangan !

It Beng berdua berjalan mendekati dua orang itu, mereka berhenti sedikit jauh untuk menonton terus. Mereka bahwa tangannya orang tua itu lihai luar biasa. Tengah mereka mengawasi mendadak mereka merasa haa dingin menyambar ke arah mereka, sehingga mereka terkejut. Apa pula kapan segera terlihat si orang tua membalik tubuh sasmbil berseru serta kedua tangannya diluncurkan ke sekitarnya !

Yang paling mengherankan ialah orang kedua, selagi si orang tua menarik air naik, air naik saban-saban dia menjemput ikan yang terbawa air itu, setiap ikan dimasukkan ke dalam korang di punggungnya !

Seberhentinya air meluncur, karunya si orang setengah tua sudah berisikan banyak ikan. Kedua orang itu lantas tertawa berkakakan pertanda girang hatinya. Kemudia si orang setengah tua bertindak pergi, atau mendadak kawannya yang tua berseru tertahan sebab dia melihat Hong Kun berdua !

Baru sekarang It beng berdua melihat muka si orang tua, keduanya terkejut.

Muka itu kurus kering, potongannya mirip muka kuda, kulitnya merah sekali, matanya bersinar kebiruan. Ada kumis dan janggutnya tipis. Yang menyolok ialah hidunya yang bengkung dan panjang mirip paruh burung elang. Sedang kawannya bermata besar, alisnya gomplok dan berewokan, kelihatannya bengis....

Hanya sebentar dua orang itu mengawasi Hong Kun dan It Beng, lantas mereka berjalan pergi. Tingkahnya seperti mereka tak melihat dua orang asing itu. Mereka berjalan dengan perlahan, sembari berbicara dan tertawa-tawa.

"Hmm !" It Beng memberi dengar suara mendongkol sambil dia mengawasi punggung orang.

Hong Kun sebaliknya bersenyum dan kata : "Perut kita tak tahu diri, dan bolehnya minta makan! Toh pantas kalau kita lebih dahulu menyapa orang. "

It Beng mendongkol, dia tak menjawab.

Tanpa perdulikan lagi kawannya, Hong Kun lari menyusul dua orang itu. Ia menyandak dan mendahului lalu di depan orang. Ia memutar tubuhnya seraya memberi hormat dan menyapa : "Maaf lotiang berdua ! Kami korban-korban dari perahu kami yang karam di tengah laut, kami hanyut sampai disini. kami amat lapar karena itu. Bagaimana kalau kami

memohon bantuan lotiang."

Mendahului si orang tua, orang setengah tua itu membentak : "Kolong ta mempunyai aturannya sendiri yang melarang orang asing lancang mendatangi pulau ini ! Atau kalau toh orang dapat masuk, dia dilarang keluar lagi dari sini dengan masih hidup !"

Hong Kun melengak. Hanya sejenak. Dia lantas tertawa. "Kami kemari karena terdampar gelombang, tak ada maksud jahat dari kami !" ia berkata pula. "Kalau dapat kami ingin minta sebuah perahu kecil serta sedikit rangsum supaya kami bisa segera berlalu dari sini. Buat semua itu kami

sangat bersyukur, terlebih dahulu kami menghaturkan banyak terima kasih !"

Orang setengah tua itu tertawa dan sekaligus dia mengejek, terus dia meletakkan korang ikannya, buat segera menyerang dengan satu sampokan, ia membentak : "Jangan rewel ! Serahkan jiwamu !"

Hong Kun berkelit. Hendak ia membuka mulutnya atau serangan yang kedua telah tiba. Terpaksa ia menghindari diri pula. Habis itu tak ada kesempatan buat ia membuka mulut. Terus terusan ia diserang pergi datang sampai tujuh jurus hingga ia mesti berputaran. 

Setelah tujuh jurus itu, si orang setengah tua masih tidak mau berhenti bahkan sebaliknya dia menjadi gusar sekali, maka juga serangannya menjadi bertubi-tubi, makin hebat. Hong Kun heran dan mendongkol.

"Kalau aku tak melawan dia, tentu makin gila." pikirnya. "Baik aku bekuk dia barang kali aku bisa memakai dia sebagai orang tanggungan guna memaksa si kakek melayani aku bicara. "

Cepat sekali muridnya It Yap Tojin berpikir, segera ia mewujudkan itu. Selekasnya serangan tiba, dia menyambut dengan satu tebasan tangan kanan.

Habis tangkisan itu, kedua tangan beradu keras hingga terdengar suaranya. SI orang setengah tua terkejut sebab dia mesti tertolak mundur sampai tiga tindak. Melihat demikian Hong Kun tidak mau sudah, ia lantas membalas menyerang. Ia maju sambil berlompat dan tangan kirinya diluncurkan ke dada orang. Tetapi itulah gerakan belaka, selekasnya lawan bergerak untuk menangkis ia mengulur tangan kanannya untuk menangkap pergelangan tangan lawan itu, ia mencekal keras dengan jurus silat kim na cia, " Tangan Menawan."

Si orang setengah tua kaget untuk sia-sia belaka.

Lengannya kena terpegang tanpa ia berdaya bahkan waktu Hong Kun mengerahkan tenaganya, dia justru kehabisan tenaga ! Tubuhnya menjadi lemas, mukanya meringis kesakitan.

Si orang tua hidung bengkun mendapat dengar suara itu, dia menoleh. Maka dia menyaksikan lawannya itu. Dia menggertak gigi, daging di mukanya bermain berkerutan.

Hong Kun mengawasi orang tua itu dan berkata dingin : "Kiranya segini saja kepandaian orang lihai dari Kolong ta !"

Matanya si orang tua bersinar bengis.

"Bagaimana kalau kau menyambut beberapa jurus Peng Thian Ciang dari aku si orang tua ?" tanyanya dingin.

Hong Kun tertawa. Dia berkata tak lagi dingin seperti tadi, "Kita baru bertemu satu dengan lain, kita tidak bermusuhan. Aku pun telah dipaksa turun tangan, karena itu aku minta lotiang suka maklum."

Tapi si muka merah gusar.

"Kau murid siapa ?' tegurnya. "Apa she dan namamu ?" Hong Kun melepaskan cekalannya membuat si orang setengah tua bebas, tetapi dia menggerakkan tangannya, dipulir sedikit hingga orang terhuyung roboh ke tanah. Setelah itu dia mengawasi pula si orang tua.

"Aku yang muda she Gak. " katanya atau mendadak dia

merandak.

"Apa ?" si orang tua pun sudah lantas menegasi.

It Beng telah bertindak menghampiri, belum dia datang dekat, dia telah menggoyangkan kepala dan mengedipi mata mencegah menyebut namanya yang sebenarnya. Maka si anak muda batal. Tetapi ia lekas menyambuti, "Aku yang rendah she Tio bernama It Hiong. Aku mohon bertanya she dan nama mulia dari lotiang. ?"

Hong Kun menyebut namanya tanpa nama perguruannya sebab tak berani dia lancang menyebut namanya Tek Cio Tojin.

"Oh !" bersuara si hidung bengkung, yang terus mengawasi tajam pada si anak muda. Kemudian dengan dingin ia kata : "Baiklah aku si orang tua hendak mencoba-coba ilmu silatmu kaum Pay In Nia, untuk mengetahui namanya nama kosong belaka atau benar berisi ! Orang she Tio, kau hunuslah pedangmu !"

Hong Kun telah menyaksikan kepandaian orang, tak berani ia sembarang turun tangan. Ia kuatir si orang tua nanti menjadi mendongkol dan gusar maka ia memberi hormat dan berkata : "Aku yang renah, pelajaranku belum berarti apa-apa

! Mana berani aku berlaku kurang ajar di depan cianpwe ? Laginya habis perahu karean aku letih sekali tak ada tenagaku. Aku sangat berterimakasih jika cianpwe suka mengijinkan aku duduk untuk beristirahat. "

Mendengar suara orang, si orang tua berubah menjadi sabar seketika, dia bicara pula, suaranya tetapi masih tetap dingin. Kata ia : "Hari ini Hay Thian It Siauw dari Kolong ta suka berbuat baik dengan tidak melaksanakan peraturan pulaunya ini. Melulu karena aku memandang kepada mukanya Tek Cio Siangjin. Lagakmu pun menyukai aku si orang tua, maka suka aku memberi ampun pada jiwamu ! nah, mari ikut aku ke guaku !"

Tanpa menanti jawaban dari It Hiong, si orang tua mengawasi pada orang setengah tua itu untuk membentak : "Makhluk yang memalukan ! Masih kau tidak mau lantas pulang ?"

Orang itu lekas bangkit bangun terus dia pungut korang ikannya kemudian dengan mata melotot mengawasi Hong Kun, dia bertindak dengan cepat mendahului lari pulang.

Hong Kin berdua It Beng mengikuti si orang tua, yang sekarang ia tahu bergelar si "Kokok belok Tunggal dari Lautan langit." Hay Thian It Siauw, suatu julukan yang tepat mengingat muka orang memang berwajah seperti burung bajingan.

Jalanan kecil dan banyak tikungannya. Entah disengaja atau bukan si orang tua berjalan dengan tubuh separuh terhuyung-huyung tetapi makin lama makin cepat umpama kata seperti asap ditiup angin hingga dia seperti lenyap disetiap tikungan. Hingga kedua orang yang mengikutinya heran dan mesti mengeluarkan kepandaiannya untuk menyusul atau mereka bakal ketinggalan dan kehilangan. Meski begitu selama kira setengah jam, mereka ketinggalan belasan tombak.

Jalanan lebih juah makin sempit dan juga makin turun hingga mereka tiba disebuah lembah yang berada di tengah- tengah pulau. Di sini barulah Hong Kun berdua mendapat sebuah tempat yang luas kira tiga puluh tombak persegi, tanahnya bukan dipasangi batu hanya pelbagai macam batok binatang laut hingga berjalan di atas itu, orang mendengar suara tindakan kaki, sedangkan warnanya rupa-rupa.

Diseputar halaman itu tampak hanya dinding gunung yang penuh dengan beraneka batu dan batu karang yang telah lumutan hingga semua tampak hijau.

Si orang tua menghampiri sebuah gua yang ada pintunya. Dia lantas memandang daun pintu yang tadi cuma dirapatkan. Hong Kun lihat daun pintu terbuat dari kulit kerang raksasa. Di dalam terdapat cahaya terang yang kemudian ternyata adalah cahaya dari serenceng ya beng ca, mutiara-mutiara yang mirip bunga bwe.

Bagian dalam gua itu dibikin seperti semacam kamar.

Semua perabotan seperti kursi, meja dan lainnya terbuat dari batok dari macam-macam binatang juga. Jadi semua itulah barang-barang yang langka.

Si orang tua tertawa dan berkata : "Aku si orang tua, aku tinggal di luar lautan ini sudah beberapa puluh kali musim panas dan musim dingin. Sudah biasa aku tinggal di dalam batu karang yang aku gali dan ku korek ini. Kalian juga jangan sungkan-sungkan, dapat kalian duduk atau tidur sesukanya dengan bebas !"

Hong Kun berdua mengucap terima kasih lalu berduduk.

Mereka heran yang si orang tua yang berwajah bengis dan tak mengasih ini, sekarang telah berubah menjadi begini ramah tamah. Lagak benarkah ini atau palsu belaka ?

Segera setelah itu, orang tua itu jalan mundar mandir atau mengambil ini, meraba itu. Agaknya dia repot sendirinya.

Sampai kemudian si orang setengah tua muncul dengan sebuah nampan yang ada isinya yang masih mengepul yang dia letaki di aas meja, sambil dia berkata : "Suhu, ikan sudah matang !"

Hong Kun dan It Beng melihat itu memang sepiring besar masakan ikan, jumlahnya ikan dua sampai tiga puluh ekor. Bau sedap lantas menyerang hidung mereka, hingga mereka mengilar. Memangnya mereka sudah sangat lapar !

Si orang tua menghampiri dengan tangannya membawa sebuah batok kerang, yang dijadikan tempat arak. Kata dia : "Tuan-tuan berdua, silahkan mencoba ikan dari Kolong ta !"

Hong Kun berdua It Beng menghaturkan terima kasih, mereka menerima undangan tanpa sungkan-sungkan, maka berempat mereka duduk mengitari meja untuk mengisi perut. Mereka berjumlah berempat sebab si orang setengah tua turut serta.

Hong Kun berdua It Beng dapat bermakan dengan puas, walaupun makan cuma ikan satu macam, bahkan ikan menjadi seperti nasi. Mereka pun minum banyak. Arak itu mirip arak bek hoa. Cuma berbau sedikit amis. Habis bersantap, keduanya merebahkan diri dan tidur pulas tanpa merasa. Dan mereka terus tidur beberapa hari dan malam tanpa merasa.

Sebab araknya si orang tua dicampuri semacam obat pulas.

Hay Thian It Siauw tidak berniat membinasaka dua orang asing itu tetapi kalau dia sudah membuat orang lupa daratan, itulah sebab dia hendak menghanyutkan orang di atas perahu kecil. Sebab ialah ia tak ingin orang ketahui tentang berdiamnya ia di pulau karang itu. Tapi sebelum dia sempat mewujudkan niatnya itu, kebetulan dia telah kedatangan tiga orang sahabat "Hek Hay Sim Kang" Tiga si Kejam dari Hek Hay, Laut Hitam. Mereka datang guna menyampaikan kabar perihal pemilihan Bu Lim Cit Cun.

Dari tiga si kejam dari Hek Hay itu yang tertua ialah Lo Toa Sun Wan. Dialah seorang perampok yang ganas kejam, kegemarannya ialah membakar rumah atau perahu orang, merampas jiwa. Dalam halnya ilmu silat dia tak lihai, tetapi dia tersohor sebab kekejamannya itu, karean tabiatnya yang mudah berubah-ubah hingga sukar kawan-kawannya yang menemaninya kecuali dua saudara angkatnya, ialah Loe Jie Moo Sian, si nomor dua dan Lao Sam Leng Seng, si nomor tiga.

Sebagai perampok licik, ada maunya kenapa Sun Wan membaiki Hay Thian It Siauw. Ialah dia ingin diajari ilmu Thian Peng Ciang, Tangan Es itu, serta agar ia dapat mengatasi nama Kolong ta guna menakut-nakuti orang. Ia mau menyampaikan kabar tentang Bu Lim Cit Cun juga sekalian guan membujuknya muncul dalam dunia Kang Ouw.

Demikian selekasnya dia menemui si kokok belok Tunggal dari Laut Langit, Sun Wan lantas menuturkan hal pemilihan Bu Lim Cit Cun itu, menuturkan secara menarik hati, kemudian dia berdiam, mengawasi muka orang, untuk menanti jawaban.

Hay Thian It Siauw tertawa lebar.

"Kalian tak tahu tingginya langit tebalnya bumi !" katanya nyaring. "Rupanya kalian mau memaksakan kesulitan bagiku !" “Tetapi to cu, " kata Lo Toa yang memanggil "to co" pemilik pulau. "To cu tersohor gagah perkasa dan Thian Peng Ciang menjagoi dunia rimba persilatan, lau to ca tidak mau menggunakan ketika baik ini buat memegang pimpinan dunia persilatan, tocu mau tungu sampai kapan ? Apakah tidak sia- sia kepandaian to cu kalau itu tidak dipertunjuki kepada umum

?"

"Kedudukan ketua Bu Lim Cit Cun itu, " Lo Jie dan Lo Sam turut membujuk, "tak tepat kalau diduduki lain orang kecuali tocu. Kalau nama tocu sudah terangkat naik, nama kita pasti akan turut naik pula."

Hay Thian It Siauw senang mendengar pujianitu, hingga dia tertawa bergelak.

"Baiklah kalian bersabar, nanti aku pikir-pikir saran kalian ini !" katanya.

Hay Thia Sam Kong tahu selatan, mereak tidak mendesak. Mereka pun tahu sang waktu masih banyak. Tapi mereka toh tanya, bagaimana kalau mereka bertiga pergi lebih dahulu guna mendengar-dengar berita terlebih jauh.

"Itulah boleh !" Hay Thian It Siauw memberikan persetujuan.

"Tetapi suhu," berkata si orang setengah tua, si murid, "bagaimana kalau kita habisi saja kedua makhluk itu, supaya mereka tak merepotkan ?"

Dia menunjuk pada Hong Kun berdua yang masih rebah tak sadarkan diri.

"Siapakah mereka itu ?" tanya Hek Hay Sam Kong. Hay Thian It Siauw menerangkan tentang dua orang itu, lalu dia menambahkan, "Jika aku si tua memikir buat muncul pula dalam dunia Kang Ouw, dua orang ini ada faedahnya untukku. Mereka mempunyai kepandaian silat yang baik yang bisa dipakai membantuku. Nah, Lo Sam pergilah kau bergaul dengan mereka itu, sekalian kau mencari tahu tentang asal usul mereka !"

Sun Wan menurut, Hong Kun dan It Beng dinaiki ke dalam sebuah perahu lantas mereka dibawa berlayar. Ketika akhirnya mereka berdua mendusin dari "tidurnya", mereka sudah sampai di sebuah pesisir dimana mereka lantas mendarat.

Lantas kedua pihak berbicara ternyata mereka mendapat kecocokan, lantas mereka bergaul erat, mereka hidup bersama. Dari jazirat Liauw tong, mereka pergi ke selatan tempat yang mereka kehendaki. Di ceelam mereka singgah beberapa hari lantas mereka menuju ke propinsi Kangsay.

Dalam persahabatan ini, Hong Kun dan It Beng memang cerdik. Hek Hay Sam Kong dapat dilagui. Bertiga mereka itu tersohor kejam tetapi dalam hal kejujuran, dalam hal mempercayai kawan, mereka lebih menang. Mereka diangkat- angkat, mereka merasa diri mereka sebagai orang-orang gagah.

Ada maksudnya yang mendalam, kenapa Hong Kun mengajak ketiga sahabat itu menuju ke Kangsay. Dia ingat Lek Tiok Po dimana dia berniat melakukan sesuatu yang menumpahkan darah guna melampiaskan dendamnya. Dia Hek Hay Sam Kong bagaikan "tak tahu diri", mereka hendak mengangkat nama di wilayah Tionggoan, di depan Hong Kun berduan, mereka hendak mempertontonkan kegagahan mereka itu ! Inilah sebab mereka sudah pandai ilmu Thian Peng Ciang, pukulan Tangan Es Langit. Kesudahannya mereka hendak menjual lagak itu masgul ! Di luar dugaan mereka semula, mereka roboh di Lek Tiok Po sebab Tio It Hiong muncul secara mendadak. Bahkan Lo Sam Leng Seng kehilangan lengan kirinya. Baru mereka mendengar penjelasannya It Hiong, pertempuran dihentikan dan mereka bersama pergi, menyusul Hong Kun si It Hiong palsu.

Hek Hay Sam Kong berlari-lari sampai diluar Lek Tiok Po, mereka tidak melihat Hong Kun yang dimata mereka It Hiong adanya, sia-sia mereka mencoba mencari di sekitarnya sampai It Hiong yang keluar belakangan dari Lek Tiok Po dapat menyusul mereka.

Sun Wan sedang bercuriga keras ketika ia melihat It Hiong menyusulnya. Mendadak dia menerka It Hiong ini tentulah Hong Kun yang menyamar. Ia juga ingat hilangnya tangannya Leng Seng.

"Bocah itu bukan orang baik-baik." serunya kepada kedua saudara angkatnya, "Mari kita bunuh padanya."

Leng Seng dan Mo Sian menyetujui anjuran saudara tuanya itu. Lantas mereka maju bersama-sama tanpa memberi ketika lagi pada It Hiong. Mereka maju mengurung dan menyerang.

Si anak muda bingung. Ia justru hendak menyusul Hong Kun. Ia memikir keselamatannya Giok Peng. Ia pula tidak niat mencelakai tiga oang ini. Tapi mereka menyerang dengan lantas, mereka tidak suak memperhatikan keterangannya.

Kepandaiannya Sun Wan dalam ilmu Thian Peng Ciang, enam puluh bagian sempurna, dia keluarkan semua kepandaiannya sebab dia sangat ingin merobohkan dna membinasakan si anak muda. Tiga puluh jurus lewat dengan cepat, sampai disitu hatinya It Hiong panas juga. Itulah sebab waktunya yang berharga jadi diganggu Hek Hay Sam Kong, dia pun ingat karean orang datang bersama-sama Hong Kun dan It Beng, mereka bertiga ini pasti bukan orang baik-baik.

"Kenapa aku mesti berlaku murah terhadap mereka ?" pikirnya kemudian. Karena ini segera ia menghunus pedangnya, sedangkan tadi ia melayani dengan tangan kosong. Ia lebih banyak menghindari diri dari pelbagai serangan.

"Awas !" teriak Lo Hie Ni Sie selekasnya ia melihat sinar luar biasa pedang mustika.

"Awas, jangan sentuh pedang bocah ini !"

Meski ia berkata demikian, jago Teluk Hitam itu toh maju dengan golongnya ten To, goloknya sebatang.

Lo Sam Leng Seng bersenjatakan sepasang boan koan-pit. Karena lengannya kutung sebelah, terpaksa dia menggunakan tangan kiri saja. Walaupun demikian dapat dia menggunakan senjatanya dengan baik, sebab dia memiliki ilmu silat yang istimewa. Diapun lebih berlompatan ke kiri dan kanan, tak sudi dia menempur depan berdepan. Dia pula ditolong tubuhnya yang ringan.

Karena habis sabarnya, It Hiong lantas menggunakan Khie bun Pat Kwa kiam dengan jurus silat "Ban Thian hoa Ie" Hujan bunga seluruh langit. Ia lekas juga membalas mengurung musuh dengan sinar pedangnya. Sekonyong-konyong terdengar suara beradunya senjata tajam serta benda logam yang terbabat putus segera itu disusul dengan jeritan kesakitan yang tertahan lalau sesosok tubuh tampak roboh dengan bermandikan darah !

Sebab itulah Lo Jie Mo Sian yang lancang maju telah menerima bagiannya hingga tibalah ajalnya. Dia yang menganjurkan kawan-kawannya berhati-hati tetapi dia juga yang mendahului berangkat ke dunia lain......

Lo Sam Leng Seng menjadi sangat gusar, justru It Hiong belum sempat menarik pedangnya pulang. Dia lompat menerjang, menusuk dengan senjatanya yang mirip kuas itu, pit besi yang ujungnya lancip dan tajam.

It Hiong dapat melihat majunya musuh, ia mempercepat menarik pulang pedangnya, ia meneruskan mendahului membabat ke belakang sembari menyerang itu, ia mendadak berjongko.

Hanya satu kali terdengar suara tertahan lantas tubuhnya Lo Sam roboh terkulai karena Keng Hong Kiam mengenai tepat pinggangnya hingga jiwanya terampas seketika itu juga.

Sun Wan bersuit luar biasa, dia bukannya menjadi takut dan pergi mengangkat kaki, dia itu justru menjadi sangat gusar, nekad dan keras niatnya menuntut balas. Maka dia menyerang It Hiong berulang-ulang, dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, hingga si anak muda terserang hawa dingin bertubi-tubi.

It Hiong menjadi kewalahan, sedang sebenarnya tak ada niatnya untuk membunuh orang. Ia justru bingung memikirkan Giok Peng. Sekarang Sun Wan membuatnya tak sabaran. Orang sangat menganggu padanya., waktunya pun seperti terampas. Terpaksa ia melayani dengan sama kerasnya.

"Kau bandel !" teriaknya. "Kau terlalu !"

Itulah kata-katanya si anak muda yang menyerbu hawa dingin, pedangnya ditebaskan ke kepala orang !"

Baru sekarang Sun Wan kaget. Ia berkelit ke samping, dan tangannya dipakai menyampok pedang. Ia ingin supaya pedang lawan terasampok terpental. Akan tetapi It Hiong lihai. Selagi pedangnya disampok itu, ia memutar balik pedangnya, kakinya turut maju untuk menyusuli sebuah tebasan "Bianglala menutupi langit."

Sun Wan terkejut, tetapi buatnya percuma saja. Susulannya lawan terlalu cepat baginya, sebelum ia sempat berdaya tangannya sudah terbabat kutung sebatas bahu, maka robohlah dia dengan menjerit kesakitan, merintih tidak hentinya.

It Hiong mengawasi tajam. Melihat orang tersiksa itu, ia maju untuk menendang, membikin orang tak menderita terlebih lama pula. Hingga sampai disitu habis sudah kejahatan puluhan tahun dari Hek Hay Sam Kong yang ganas itu. Setelah itu ia berlari pergi guna menyusul Gak Hong Kun.

Muridnya It Yap Tojin mengeraskan hati meninggalkan pergi pada Teng It Beng, si sahabat karib dan saudara angkat yang sangat setia padanya, ia lebih memerlukan memondong Giok Peng buat dibawa kabur. Ia berkuatir, ia pun bergirang karena kekasihnya itu berada dalam rangkulannya. Tinggal ia mencari tempat dan ketika buat mempuaskan nafsu binatangnya. Ia berlari-lari sambil kadang-kadang bersenyum- senyum. Setelah enam atau tujuh puluh lie, Hong Kun lari terus menerus. Ia takut orang mengejar dan menyandaknya. Sering pula ia menoleh ke belakang buat melihat kalau-kalau ada musuh yang mengejarnya. Hatinya lega sesudah mendapat kenyataan tak ada orang yang menyusul.

Di siu saat pemuda she Gak ini sudah berada di dalam kamar dari sebuah hotel, dimana ia singgah. Ia meletakkan Giok Peng diatas pembaringan. Ia menyuruh pelayan lekas menyediakan barang makanan dan arak !

Selama itu nona Pek rebah tak berkutik. Ia masih tidur nyenyak sebab totokannya pada jalan darahnya, jalan darah hek lian.

Sembari menenggak araknya, perlahan Hong Kun mengasi muka dan tubuh orang. Puas hatinya. Tanpa merasa ia telah mengeringi tiga poci arak. Ketika itupun sudah jam tiga.

Pengaruh air arak, mempengaruhkan anak muda itu. Ia tujuh atau delapan bagian sinting. Begitulah ketika ia berbangkit akan bertindak ke pembaringan, tubuhnya terhuyung-huyung, perlahan-lahan ia membuka bajunya. Ia hendak mempuaskan hatinya.

"Tio It Hiong bocah !" pikirnya di dalam hati. "Tio It Hiong, apa kau bisa bikin atas diriku ? Ha ha ha !"

Hong Kun meloloskan pedang dari pinggangnya, ia letaki itu diatas meja. Ia lantas kembali ke pembaringan untuk mengawasi Giok Peng. Atau ia melihat satu tubuh yang ramping berdiri di depannya. Ia mengucek matanya yang sudah rada kabur, sebagaimana kabur juga pikirannya yang sadar, sebab ia telah terjatuh di bawah pengaruh arak serta nafsu birahinya.

"Adik Peng !" ia menegur sambil ia mementang kedua belah tangannya untuk merangkul tubuh yang langsing itu.

Ia menyangka Giok Peng sudah bebas dari pengaruh totokannya dan telah mendusin.

Tubuh ramping itu berkelit, maka si anak muda merangkul angin. Hampir dia roboh terkusruk. Lekas-lekas dia mempertahankan diri, otaknya pun dikerjakan untuk berpikir. Dia memutar tubuh buat mengawasi tubuh ramping itu, yang bergerak mirip bayangan. Dia melihat orang berada disisi meja, tubuhnya membaliki belakang.

Dengan langkahnya yang terhuyung Hong Kun menghampiri meja. Selekasnya dia datang dekat, dia mementang pula kedua tangannya untuk menubruk merangkul angin.

"Adik Peng !" katanya. "Adik Peng kenapa kau diam saja ?

Kenapa tak mau bicara ? Apakah masih marah padaku ?"

Tubuh ramping itu berdiri diam diambang pintu, kemana berusaha ia berkelit.

Hong Kun mengawasi tajam, ia tetap melihat si nona, Giok Peng adanya. Ia menjadi penasaran. Kali ini ia menubruk sambil berlompat. Lagi-lagi ia gagal. Tak berhasil ia merangkul tubuh ramping itu yang menggiurkan. Dalam penasaran ia menubruk pula dengan berat. Kembali ia gagal. Ketika ia menubruk kembali, maka berdua mereka seperti saling berkejaran bagai orang main petak dalam kamar mengitari meja. Hong Kun memang sedang sinting, berputaran seperti itu membuat kepalanya bertambah pusing. Matanya pun dari melihat samar-samar menjadi kabur. Maka itu setelah berputaran lagi beberapa kali, robohlah ia sendirinya. Tapi ia masih memanggil-manggil "Adik Peng" berulang-ulang. Baru dia berhenti setelah dia tumpah-tumpah. Atau diakhirnya dia berdiam, tubuh dan mulutnya sebab dia telah jatuh pulas sendirinya......

Wanita dengan tubuh ramping itu bertindak menghampiri perlahan. Ia memanggil-manggil : Hong Kun ! Hong Kun !" Ia pula memegang bahu orang, untuk dikoyak-koyak beberapa kali.

Hong Kun tetap berdiam bagai mayat !

Sampai disitu si nona barulah tertawa, terus ia memutar tubuhnya akan menghampiri pembaringan.

Pek Giok Peng masih tetap rebah, sekarang dia sudah bebas dari pengaruh totokan Hong Kun. Lewatnya banyak waktu membuat totokan berkurang sendirinya, sedangkan dia mempunyai tubuh yang kuat. Cuma karena sudah berdiam terlalu lama, jalan darahnya belum pulih.

Orang dengan tubuh ramping itu mengawasi nona Pek, agaknya dia heran. Selekasnya ia melihat wajah merah dari si nona. Ia sampai mengeluarkan seruan perlahan. Tahulah ia yang nona itu menjadi korban totokan. Maka lekas ia mengulur tangannya guna memeriksa dibagian mana dari tubuhnya yang telah tertotok.

Dengan tubuhnya dikasihh bangun itu, bergeraklah darah Giok Peng. Bagaikan kontak, sadar pula ingatannya. Ia lantas membuka kedua matanya hingga ia bisa melihat orang di depannya. Ia mengawasi dengan tajam.

"Teng Hiang !" serunya kemudian dengan heran. Wanita itu yang benar Teng Hiang adanya, tertawa. "Nona !" katanya. "Nona, kenapa kau berada di dalam

penginapan ini bersama-sama Tuan Gak?"

Giok Peng kaget bukan main. Kembali ia sadar-ingat akan hal ikhwalnya ketika ia dirumahnya diserbu It Hiong palsu dan dibokong. Sendirinya mukanya menjadi merah sebab ia merasa sangat malu.

"Mana adik Hiong ?" tanyanya. It Hiong adalah yang ia paling dahulu ingat. Ia pun lantas berlompat turun dari pembaringan.

Teng Hiang menunjuk pada sosok tubuh yang rebah dilantai.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(