Iblis Sungai Telaga Jilid 34

 
Jilid 34

Dengan melesat naik ke tembok, dapat Tan Hong memandang ke dalam Pekarangan, kepada markas sekali. Ia berdiam sekian lama, tidak ada orang atau bayangannya yang ia lihat. Dengan berani ia pergi ke pendopo depan. Disini ia mengintai ke dalam dengan menyantol kakinya di payot, setelah itu ia melepaskan cantelannya untuk menjatuhkan diri ke lantai. Ringan sekali tubuhnya hingga ia tidak menerbitkan suara apa juga.

Itulah halaman depan dari pendopo muka. Itulah tempat yang ia pernah datangi bersama-sama Tio It Hiong dan Whie Hoay Giok. Maka juga, walaupun tempat gelap, ia dapat maju dengan mudah. Kalau perlu, ia berjalan dengan merayap, secara demikian ia melintasi Toa tian, ruang besar, sampai di belakangnya. Belakangnya Toa tian berupa sebuah halaman terbuka yang kiri dan kanannya terapit dengan deretan pelbagai kamar, banyaknya umpama kata mirip sarang tawon

!

Dengan berhati-hati, Tan Hong berjalan melintasi deretan kamar-kamar itu sampai diujung itu, ia menikung ke arah barat. Di sinipun ada halaman yang serupa, hanya ditengah- tengah halaman itu terdapat sebuah ranggon atau loteng yang panjang bentuknya. Sambil menempel tubuh pada dinding, Tan Hong mengawasi loteng itu. Ia mengharap munculnya salah seorang Losat Bun, buat ia cukup, guna ia memaksa dia memberikan segala keterangan yang diingininya.

Justru itu, nona ini menjadi kaget sekali. Tempat ia menyendiri justrulah sebuah pintu rahasia. Dan pintu sudah lantas terbuka. Syukur terbukanya secara perlahan-lahan, hingga ia sempat melompat minggir. Pintu terpentang dengan dibarengi berkelebatnya sebatang golok disusul dengan munculnya orang yang membawa golok itu, seorang laki-laki yang bertubuh kekar. Tan Hong tidak mau menyebabkan orang memperdengarkan suaranya, ia lantas mendahului turun tangan. Ia berlompat untuk menotok dengan totokan ilmu Mo Teng Ka. Sasarannya ialah jalan darah kek tiam dibatok kepala orang. Hanya sedetik saja, robohlah orang itu tak sadarkan diri. Dengan satu gerakan cepat, Tan Hong memondong orang buat dibawa masuk kedalam pintu rahasia itu. Ia berlaku berani sebab ia tak kuatir nanti ada perangkap disebelah dalam pintu itu. Sesampainya didalam, ia lantas merapatkan pintu. Tempat gelap tetapi Tan Hong lantas menyalakan bahan apinya. Maka ia melihat pintu itu adalah jalan keluar dari sebuah ruang di dalam tanah. Ia letaki orang tawanannya, lantas ia berpikir. Hanya sebentar, ia menepuk jalan darah orang untuk menyadarkannya, menyusul mana ia merampas golok orang dan mencekal keras pergelangan tangannya sambil orang itu ditatap dengan tajam.

Sambil mengeluarkan suara perlahan, orang tawanan itu terasadar, terus dia membuka matanya, tapi segera juga dia merasakan nyeri hingga hampir dia menjerit atau ia batal sebab tengkuknya terasa dingin terancam goloknya sendiri.

"Jika kau sayang jiwamu, jangan buka suara !" Nona Tan mengancam. "Dan dengan sejujur-jujurnya kau jawab setiap pertanyaan nonamu ini !"

Bukan main nyerinya cekalan si nona, orang lantas bermandikan peluh pada dahinya, mukanya menyeringai menahan sakit, dan giginya dirapatkan buat bisa bertahan. Ia memperdengarkan suara "Ya" yang tak nyata.

"Hendak aku tanya kau." Tan Hong mulai dengan pertanyaannya. "Bagaimana dengan itu pemuda yang dua bulan yang lampau telah datang kemari menempur Barisan rahasia kamu ? Benarkah dia dikurung disini ?"

Orang itu menggeleng kepala. "Tidak benar !" sahutnya. Tan Hong perkeras cekalannya membuat orang itu berjangit pula. Dia pun merasa sangat tersiksa.

"Kau tidak mau bicara secara jujur ?" tanya pula si nona. "Apakah kau tidak menyayangi jiwamu ?"

"Aku. aku yang rendah tidak mendusta sedikit

juga. " sahut orang tawanan itu. "Dia memang tidak

berada disini. "

Tan Hong membuka matanya lebar-lebar, otaknya bekerja.

Kemudian ia perlunak cekalannya itu.

"Apakah anak muda itu telah melarikan diri dari sini ?" tanyanya pula kemudian. "Tahukah kau kemana larinya dia ?"

Orang itu melegakan nafasnya.

"Mana aku yang rendah mendapat tahu." sahutnya. "Kauwcu telah mencari dia sampai setengah hari tetapi dia tetap tak dapat ditemukan "

Tan Hong menganggap tak usah ia menanya lebih banyak lagi. Penyahutan orang ini sama dengan keterangannya Kwie Tiok Giam Po bahwa mereka itu tak tahu kemana perginya Tio It Hiong. Karena itu, dengan goloknya ia mengetuk otot pingsan si orang tawanan hingga dia roboh tak sadarkan diri lagi. Kemudian dengan membawa golok orang, ia bertindak ke sebelah dalam. Dengan terangnya api, ia melihat anak-anak tangga. Terowongan cuma memuat satu orang.

Selekasnya ia berjalan, Tan Hong merasai hembusan angin yang sangat dingin yang membuat apinya berkelak kelik hampir padam. Karena api terus bergerak gerak, sulit buat melihat nyata. Keras keinginannya mencari Tio It Hiong, ia lupa pada bahaya. Ia maju terus bahkan ia meniup apinya, sebab ada api pun percuma. Ia mengerahkan tenaga lunak Mo Teng Ka, ia bertindak dengan langkah yang ringan.

Jalan kira-kira dua puluh tindak, Tan Hong merasai hawa makin dingin. Tanpa merasa, ia menggigil. Tanpa merasa juga, langkahnya menjadi lebih berat. Toh ia berjalan terus atau tiba-tiba ia mendengar bunyinya kelenengan, terus kaki kirinya melesak disebabkan anak tangganya turun sendirinya. Dengan begitu, tubuhnya menjadi miring, seperti mau roboh.

Meski demikian, si nona tak menjadi gugup. Dengan lantas ia menjejak dengan kaki kanan membuat tubuhnya mencelat mundur sekalian ia berjumpalitan dengan loncatan "Auw Cu Coan In", Elang Menembusi Mega. Dengan begitu sendirinya ia mundur kira setengahnya. Lantas ia mundur terus sampai di pintu gua.

Karena kaget dan mengeluarkan tenaga secara tiba-tiba, napasnya si nona memburu dan peluh membasahi dahinya. Baru saja ia memikir tindakan apa yang ia mesti ambil, mendadak ada hembusan sinar api kebiru-biruan menyambar padanya. Ia kaget, ia lompat ke samping. Lantas ia mencoba membuka pintu tetapi gagal. Daun pintu tak dapat ditolak terbuka. Makin insaflah ia, yang ia lagi terancam bahaya maut.

"Rupanya orang Losat Bun dapat mendengar suara kelenengan tadi," pikirnya. Ia mesti lekas menyingkir kalau ia mau selamat. Di dalam keadaan seperti itu, ia tidak menjadi putus asa. Ia ingat orang tawanannya maka ia hampiri orang itu akan menotok mendusin padanya, setelah mana ia kata : "Lekas buka pintu rahasia ini !"

"Apa kau kata ?" tanya orang itu yang baru sadar hingga karenanya dia masih layap-layap matanya seperti mata orang kantuk dan telinganya pun belum dapat mendengar dengan baik.

"Lekas buka pintu !" perintah Tan Hong hingga ia menghajar telinga orang.

"Oh !" seru orang tawanan itu yang kaget disebabkan rasa nyeri pada telinganya itu. Sekarang dia sadar betul-betul.

Maka dia lantas bertindak ke arah pintu. Baru dua langkah tubuhnya sudah limbung, terus dia roboh.

Tan Hong dapat melihat, dia menyambar tubuh orang buat terus sekalian dibawa ke depan pintu sekali.

"Lekas buka pintu !" ia mengulangi perintahnya. "Kalau kau ayal-ayalan akan aku bacok padamu, kau tak akan dapat ampun lagi !"

Meski begitu bacokan toh dilakukan pada dada orang hingga dada itu terluka ringan dan darahnya lantas mengucur keluar. Kaget dan kesakitan terutama ketakutan, orang itu menyambar pintu untuk tangannya meraba alat rahasianya hingga dilain detik daun pintu telah terpentang.

Tan Hong mandek dan berlompat keluar tanpa ragu pula, ia lari terus ke depan untuk seterusnya berlompat naik ke atas payon. Ia mendapatkan rembulan sudah berada di tengah langit hingga ia bisa mengawasi tegas pelbagai wuwungan rumah. Ia merayap di genteng untuk menghampiri tembok sebab niatnya ialah meninggalkan markas Losat Bun itu.

Bagaikan bayangan ular, dari bagian lain dari payon itu muncul seorang lain yang terus membentak dengan suaranya yang nyaring seperti kelenengan, "Hai budak hutan, kau berani menyelundup masuk ke dalam Losat Bun !" Kata-kata itu dibarengi meluncurnya senjatanya yang mengarah iganya Nona Tan !

Tan Hong memutar tubuhnya, goloknya diayun, diangkat memapaki senjata penyerangnya. Kiranya itulah sebatang joanpian, maka dengan bentroknya kedua senjata, ruyung lunak itu terhajar terpental. Tan Hong tak bisa menggunakan golok, ia terpaksa menggunakan senjatanya orang tawanannya tadi sebab senjata itu terus ia bawa-bawa.

Segera setelah berhadapan, kedua pihak dapat saling melihat nyata satu pada lain. Kiranya penyerang itu ialah Cin Cia Koan Im Lou Hong Hai. Dia mengenali Nona Tan seperti Tan Hong pun mengenalnya. Sebab baru-baru ini di lembah Lok Han Kok, keduanya pernah saling bertemu dan bertempur. Hong Hui membenci lawannya ini seba dia ingat sakit hatinya Cian Pie Long kun, Sutouw Kit.

"Hai, budak bau dari Hek Keng To, kau serahkanlah jiwamu

!" membentak Hong Hui yang terus mengulangi serangannya. Tapi dia menggunakan siasat, mulanya dia menusuk dada lalu mendadak dia merubah sasarannya, senjatanya terus bergerak ke atas dan ke bawah beruntun sampai tiga kali.

Tan Hong repot. Itulah disebabkan senjatanya yang tak cocok itu. Sedangkan lawannya berlaku sangat lincah dan gesit, dia mendesak terus hingga ia mesti lebih banyak berlompat atau berkelit dan beberapa kali menggulingkan tubuh diatas genteng, maka satu kali habis bergulingan itu, ia terus lompat ke atas tembok Pekarangan.

Tan Hong tak mudah bingung, sembari berkelahi ia telah memikir jalan buat meloloskan diri. Ia telah melihat kesana kemari. Ketika ia sudah berdiri di atas tembok, ia mendapatkan Hong Hui menyusulnya. Tidak bersangsi pula, ia menyambut wanita itu dengan timpukan goloknya sambil ia membentak : "Perempuan busuk, lihat senjataku !"

Dengan berkilauan golok menyambar ke arah tongcu dari Losat Bun itu. Di lain pihak, habis menimpuk Tan Hong berlompat terus keluar tembok Pekarangan. Hanya diluar dugaannya, belum lagi ia berdiri tegak, ia sudah mendengar suara menyambarnya senjata yang diiringi dengan bentakan keras : "Kalau kau mau hidup, kau diamlah untuk mandah diringkus !"

Kiranya itulah Hong Ho Lui Sin Peklie Cek, yang dengan satu ayunan genggaman bonekanya, To Kak Tongjin sudah menantikan untuk menghadang. Tan Hong mundur setindak. Ia melihat musuh tinggi besar dan gagah mirip seorang arhat yang bengis.

Tepat si nona mundur, tepat ia mendengar juga suara lainnya di belakangnya. Suara tertawa dingin berulangkali. Maka lekas-lekas ia menoleh. Dengan demikian ia melihat seorang musuh pula, orang mana bertubuh katai dan dandanannya seperti seorang pelajar. Dia bermata sangat tajam, mulutnya lancip, kumisnya pendek. Dari tubuhnya dan tangannya terang dialah seorang kurus kering. Tetapi dia bersenjatakan sepasang ruyung Long gaepang. Dialah Sam Ciu Pie Kauw Hu Leng, tongcu nomer dua dari partai agamanya Kwie Tiok Giam Po ! Dialah yang berjuluk si Kunyuk Tangan Tiga.

"Eh, perempuan genit, malam-malam kau menyatroni markas Losat Bun kami," kata si kunyuk itu. "Apakah maumu ? Apakah kau sengaja mencari aku Sam Ciu Pie Kauw untuk mengikat jodoh kita berdua ? Kalau benar, kau jangan malu- malu, mari kita bergandengan tangan !" Tan Hong mendongkol sekali. Terang orang tengah menggodanya. Ia lantas menarik keluar senjatanya. Tanpa mengatakan sesuatu, ia maju menyerang si kunyuk yang ceriwis dan kurang ajar itu !

Hu Leng bermata jeli dan gesit, ketika ia menyelamatkan diri, ia sengaja menjatuhkan tubuhnya buat bergulingan ditanah. Dasar bergelar si kunyuk, ia rupanya pandai Kauw Kan, Si Kera. Ia tidak gusar, ia terus tertawa haha hihi.

"Mari !" katanya. "Jangan kau galak nona manis !"

Di mulut tongcu ini bernada manis, sepasang senjatanya tapinya dipakai menyerang dengan sigap menjepit musuh ! Tan Hong tidak mau mengadu senjata. Ia percaya senjata lawan berat sekali. Maka ia lompat mundur tiga tindak.

Justru itu datang lagi dua lawan. Yang satu ialah Lou Hong Hui yang menyusul dan yang lainnya Teng Hiang yang baru muncul. Rupanya Nona Teng datang sebab dia mendengar bunyi kelenengan. Teng Hiang kini gusar sekali, dengan mata mendelik dia mengawasi Tan Hong, sedang dari mulutnya keluar ajakan buat Hu Leng dan Peklie Cek, "Kedua tongcu mari maju bersama ! Kita bekuk dahulu budak bau, baru nanti kita bicara !"

Hu Leng menyambut ajakan dengan dia mendahului menyerang. Dia berada di belakangnya Tan Hong, langsung saja dia menghajar punggungnya nona itu ! Tan Hong repot juga. Ia mesti menghadapi musuh di depan dan di belakang dan musuh berjumlah empat, Peklie Cak tidak dengan segera turun tangan tetapi dia dengan senjatanya yang berat luar biasa itu, melakukan pengawasan, bersiap sedia untuk menghadang kalau-kalau musuh berniat angkat kaki. Tak kecewa Tan Hong mendapat julukan si Rase Sakti Bermuka Gemala, meski terkurung banyak musuh, hatinya tak menjadi ciut. Dari mendongkol dan gusar, dia berhasil menenangkan diri, hingga ia bisa menggunakan otaknya untuk berpikir. Begitulah ketika ia diserang Hu Leng dia berkelit sambil mendak setelah dia berdiri pula dia berdiri sambil berlompat pada penyerangnya, buat membalas menyerang dengan sanhopang yang cahayanya berkilau. Diwaktu menyerang itu dia mengerahkan tenaga dalam Mo Teng Ka.

Hu Leng terkejut karena serangan kilat itu. Ia pun tidak menyangka yang serangannya bakal gagal. Ia melihat cahaya berkilau itu. Tak sempat buat ia berkelit, terpaksa ia menggunakan senjatanya menangkis ! Suatu suara nyaring adalah akibat beradunya kedua senjaa. Tapi Hu Leng kaget pula. Itulah sebab ruyung kirinya terlepas dan terpental dan ujung senjata lawan terus melesat mengenakan bahunya hingga ia merasakan nyeri sekali. Rasa nyeri itu nyelusup ke hulu hatinya ! Mau tidak mau si kunyuk terhuyung mundur lima tindak.

Habis menyerang Hu Leng, Tan Hong mesti melayani Lou Hong Hui, sebab Tongcu wanita dari Losat Bun itu sudah lantas menerjang, beradunya senjatanya, buat membantu kawannya sekalian mencoba melampiaskan sakit hatinya.

Hong Hui pun menyerang secara sangat hebat.

Peklie Cek adalah seorang tongcu yang memegang derajat kehormatan dirinya. Tadi ia cuma menghadang seterusnya tak mungkin membantu kawan-kawannya mengepung lawan.

Bukan saja lawan itu seorang diri, dia juga seorang wanita. Tapi setelah melihat Hu Leng kena dihajar, tak dapat ia berdiam lebih lama pula. Ia melihat ilmu silat lawan bukan sembarang ilmu silat. Ia pun segera dapat melihat bagaimana Lou Hong Hui tidak dapat mendesak lawan itu. "Lou Tongcu !" ia lantas memperdengarkan suaranya, "silakan kau mundur untuk beristirahat. Biarlah aku si orang tua yang melayani dia !"

Berkata begitu, tanpa menanti Hong Hui mundur, Peklie Cek terus maju sambil menyerang ke tengah-tengah diantara dua orang yang lagi bertempur seru itu. Melihat demikian dua- dua Teng Hiang dan Lou Hong Hui lompat mundur menahan diri. Tan Hong bernafas sengal-sengal. Ia telah menggunakan terlalu banyak tenaga melayani sekian musuhnya itu. Ia berdiri diam sambil memegang senjatanya, matanya mengawasi semua musuh terutama si orang tua yang bersenjatakan boneka itu.

Peklie Cek mendekati Nona Tan, matanya mengawasi bengis.

"Kau berani banyak lagak disini, mari kau sambut beberapa jurusku !" dia berkata keras terus dia menyerang.

Tan Hong tidak berani menangkis, ia berkelit. Peklie Cek hendak menawan si nona, ia juga mau menunjuki kegagahannya, ketika nona itu berkelit, maka ia menyerang pula dan waktu nona itu berkelit pula ia terus merangsek. Kali ini terus-terusan hingga ia menyerang tak henti-hentinya selama lima jurus ! Tan Hong terus masih berkelit.

Teng Hiang bertepuk tangan, bersorak sorai menyaksikan cara berkelahi lawan itu, kata dia nyaring : "Bagus ! Bagus ! Sungguh menarik hati ! Lihat ! Lihat si Rase Sakti Bermuka Gemala menjadi seperti seekor tikus. Eh, eh, kalian lagi bertarung atau lagi bermain-main ?" Hatinya Tan Hong menjadi panas sekali mendengar ejekan itu. Sebenarnya ia tak mau menangkis lawan sebab diam-diam ia lagi mengumpulkan tenaganya. Sekarang tidak dapat ia berkelit terus-terusan, maka ia lantas mencari kesempatan.

Kembali Peklie Cek menyerang lawannya. Dia menjadi penasaran. Suaranya Teng Hiang pun membuat hatinya bergolak. Dia menyerang dengan cepat sekali sebab ingin dia merobohkan lawannya itu.

Dan inilah saat baik dari Tan Hong. Dengan satu gerakan tubuh yang lincah ia berkelit ke samping, lalu sama cepatnya ia berkelit itu, sanhopang diluncurkan ke sikut penyerangnya itu. Ia telah mengerahkan tenaga Mo Teng Ka pada tongkatnya itu. Jika serangan ini mengenai sasarannya, pasti putuslah lengan orang yang diserang itu. Peklie Cek lihai.

Selekasnya serangannya gagal, ia dapat membaca gerak gerik lawan yang tidak berkelit dengan melompat jauh. Ia lantas bersikap sedia. Akan tetapi Tan Hong cepat luar biasa, ia mendahului.

Hong Hu Lui Sin terperanjat. Ia merasai sikutnya sedikit nyeri sebab sambaran angin sanhopang. Maka ia lantas berlaku cepat luar biasa. Ia menangkis serangan lawan.

Hendak ia membuat senjata lawan terhajar hingga lepas dari cekalan dan terpental. Tan Hong sedang menyerang ketika ia ditangkis. Tidak sempat ia menarik pulang senjatanya. Dengan begitu kedua senjata lantas beradu dengan keras sekali  hingga suaranya terdengar nyaring. Percikan api pun bermuncratan karenanya.

Dan dua lawan tangannya sesemutan dan bergemetaran !

Peklie Cek tidak tahu yang senjata lawan telah dikerahkan dengan tenaga dalam Mo Teng Ka yang luar biasa. Ia menyangka senjata itu hanya senjata biasa. Maka kaget dan heranlah ia atas kesudahannya bentrokan itu. Sungguh diluar dugaan yang si nona demikian besar tenaganya serta senjatanya pun tangguh sekali. Dengan mendelong ia awasi nona itu, kemudian kata dengan kekaguman, "Nona, kau berkepandaian begini rupa, tak kecewa kau menjadi orang Hek Keng To."

Setelah suaranya orang tua itu, maka disitu terdengar satu suara nyaring, tajam, terang dan jelas : "Ketiga Tongcu pulanglah ! Budak itu datang kemari tanpa maksudnya yang buruk. Dia cuma hendak menjual jiwanya untuk sang cinta ! Nah, berilah ampun kepadanya !"

Itulah suaranya Kwie Tiok Giam Po, suaranya disalurkan dengan ilmu "To Kia Toan Im", saluran nafas teratas yang dikeluarkan oleh wanita tua itu dari atas ranggon kecil di Toa tian.

Tan Hong cerdik sekali. Ia kenali suaranya ketua Losat Bun itu yang segera juga ia berkata : "Kauwcu, jika tidak ada apa- apa lagi darimu, Tan Hong meminta perkenan untuk mengundurkan diri !" Ia berkata begitu tapi tanpa menantikan jawaban lagi, ia lantas bertindak. Mulanya ia menghadapi Peklie Cek dang Hu Leng, untuk memberi hormat, terus ia mengawasi Teng Hiang dan Lou Hong Hui dengan sinar mata kemarahan, habis itu ia menyimpan pula senjatanya, baru lantaslah ia berlalu, tak cepat dan perlahan sampai ia lenyap diantara kegelapan malam.

Hu Leng memegangi bahu kirinya, ia menjemput senjatanya, untuk melindungi mukanya dia berkata : "Beginilah hasilnya tabiatku yang suka belas kasihan ! Asal aku melihat nona yang cantik, tanganku lantas menjadi lembut, maka aku telah kena dicurigai budak tadi ! Ha ha ha ha !" Lou Hong Hui melirik kawan itu, ia memperlihatkan tampang menghina tetapi tidak mengatakan sesuatu.

Teng Hiang sebaliknya. Nona jail ini kata sambil tertawa : "Nona-nona tak menyukai sepasang kumis setan dibibirmu ini

!"

"Mari aku tambahkan kata-kata katamu ini !" berkata Lou Hu Leng tertawa. "Bukankah kau maksudkan nona-nona jemu terhadapku ?"

Teng Hiang tidak melayani bicara, melainkan ia tertawa.

Sampai disitu maka berangkatlah mereka pulang dengan berjalan bersama-sama dengan perlahan-lahan.

Sementara itu Tan Hong sudah lantas kembali ke gua yang tadi, sebab ia tak menyingkir terus dari gunung itu. Ia belum menyelidiki seluruh gunung Ay Lao San tapi sekarang ia percaya memang benar Tio It Hiong tidak berada di markas di gunung itu. Ia merasa sangat letih, maka ia terus merebahkan diri, tidur pulas hingga tibanya sang fajar. Pagi itu pun ia tak segera meninggalkan gunung, hanya ia masih berputaran di sekitar kaki gunung, buat mencari terus, di gua-gua atau tempat lebat lainnya. Demi ini, tak mengenal lelah ia memakai waktu beberapa hari. Hingga ia kemudian mengambil kepastian kalau It Hiong tidak dibinasakan pihak Losat Bun dengan tubuh raganya dilenyapkan. Pasti anak muda itu  sudah lolos dan turun gunung dengan tidak kurang apa-apa, tapi toh masih terus ia mencari ditanah pegunungan itu hingga tanpa merasa ia memasuki wilayah gunung Bu Liang San.

Hari itu tengah pikiran si nona kacau sekali, tiba-tiba ia melihat jauh di depannya ada bayangan orang, bayangan yang kecil yang lagi berlompatan naik dan turun. Ia belum melihat tegas bayangan itu tetapi ia lantas menerka bahwa orang tengah berlatih ilmu ringan tubuh atau dia itu lagi bermain-main seorang diri......

"Baiklah, aku menemui dia. " pikir nona ini yang terus

saja lari ke arah bayangan itu atau lebih benar sosok tubuh manusia. Tak mudah akan datang dekat kepada orang itu, hanya setelah ia datang mendekati, selekasnya ia melihat nyata, ia menjadi hilang harapan. Orang itu adalah seorang anak umur lima atau enam tahun, seorang bocah perempuan.

"Ah !. " serunya perlahan. Tapi sudah kepalang ia

bertindak menghampiri anak itu.

Si anak melihat ada orang asing datang, dia tak menghiraukan. Tetap dia lompat naik dan lompat turun atau berlompatan kesana kemari.

Tan Hong menghentikan tindakannya, dia tertawa dan menyapa : "Adik kecil, sungguh gembira kau bermain-main ! Adik, maukah kau bicara sebentar denganku ?"

Justru itu, anak kecil lagi lompat naik keatas sebuah pohon, disitu dia menyangkolkan kedua kakinya pada sebuah dahan, tubuhnya ditarik melonjor terus hingga dia tergantung, kaki diatas, kepala dibawah terus dia berayun-ayun. Itulah sikap To Kwa Kim Ciong, Menggantung Lonceng Emas. Sembari berbuat begitu, dengan tingkahnya seorang gagah ia menggerakkan kedua belah tangannya pada orang yang menanyanya sambil sekalian membuat main bibirnya juga.

Caranya itu seperti orang bergurau atau mengejek.....

Tan Hong tak menghiraukan lagak orang.

"Adik kecil" tanyanya pula, "maukah kau bicara denganku

?" Sekarang si nona cilik tertawa, nyaring suaranya.

"Kalau kau mempunyai kepandaian, kau nyandaklah nonamu !" serunya. "Kalau kau dapat menyandak aku, baru suka bicara aku denganmu !" Dan terus mencelat ke lain dahan, gerakannya mirip gerakan kera kecil, hebat dan lincah.

Biar bagaimana Tan Hong tak puas.

"Ah, anak." katanya didalam hati, "baru saja belajar sampai disini kau sudah jumawa. Anak, mau turun !" meneruskan

berkata, sambil berbuat begitu ia meluncurkan sebelah tangannya buat menggapai terus menarik. Dengan berbuat begitu ia mengerahkan tenaga Mo Teng Ka yang lunak.

Nona cilik itu tidak dapat bergerak lagi. Mudah saja ia tertangkap dan dikasihh turun perlahan-lahan, kemudian dengan masih memegangi pergelangan tangan orang, Tan Hong menanya sambil tertawa : "Oh, adik, kau sungguh lihai."

Nona cilik itu mengawasi orang yang menegurnya. "Katanya kau mau bicara denganku, dari hal apakah ?" dia

tanya.

"Aku hendak tanya kau, adik" sahut Tan Hong, "kau pernah lihat atau tidak seorang anak muda usia kurang lebih dua puluh tahun yang biasa mengabloki pedang dipunggungnya ? Anak muda itu pada kira dua bulan yang lalu telah datang kemari. "

"Apakah hubungannya anak muda itu dengan kau ?" si nona cilik bertanya pula sebelum ia menjawab orang. "Kami bersahabat satu dengan lain" sahutnya.

"Bukankah pemuda itu pandai ilmu Gie Kiam Hui Hang ?" si Nona Tanya lagi.

Tan Hong heran hingga ia menyerukan "Oh...!" perlahan. "Gie Kiam Hui Hang" berarti "menerbangkan pedang". Ia tidak tahu yang It Hiong pandai ilmu itu atau tidak. Ia lantas tunduk dan berpikir, hingga dia tidak lantas memberikan jawabannya.

Nona cilik itu bertanya pula, "Bukankah dialah si anak muda yang datang ke Cenglo Ciang mencari Couw Kong Put Lo si bocah ?"

Tan Hong memperdengarkan melongo. Ia tidak tahu bahkan belum pernah mendengar nama Couw Kong Put Lo. Tentu saja ia tak tahu juga Couw Kong Put Lo itu orang kaum mana, lurus atau sesat. Tapi ia maka lantas menanya : "Dimana adanya Couw Kong Put Lo sekarang ?"

Anak itu mau menjawab atau mendadak dia mengerutkan mukanya terus ia mengeluarkan nafas melegakan dirinya. Dia pun tunduk dan berkata perlahan : "Ah, aku tak dapat melanjuti latihan Sin Kut Kang ku. "

Tan Hong mengawasi dengan tidak mengerti. Si nona bicara apa yang tak ditanyakan. Ia pun lantas melihat nona cilik itu bergemetar atau bergidik, tubuhnya lantas terhuyung- huyung ke kiri dan ke kanan, lalu dengan perlahan-lahan tubuhnya itu menjadi besar hingga ia merupakan seorang gadis usia lima atau enam belas tahun....

Saking heran dan terkejut Nona Tan mundur dua tiga tindak. Tetapi ia mengawasi dengan tajam. Setelah itu nona itu menggerakkan tubuh atau pinggangnya, terus ia berdiri tegak. Dia mengawasi orang asing di depannya terus ia bertanya : "Mengapa kau mengawasi aku begitu rupa ? Apakah kau belum pernah mempelajari ilmu Sin Kut Kang ?"

Tentang ilmu Sin Kut Kang itu pernah Tan Hong mendengar dibicarakan Beng Leng Cinjin, kakak seperguruannya yang tertua. Katanya itulah suatu ilmu yang terdapat dalam kita "Ie Kin Kang" dari Tat Canwan atau Budhi dharma pencipta dari ilmu silat Siauw Lim Pay, cuma ilmu itu sudah lenyap dari peredaran. siapa tahu sekarang ditanah pegunungan ini, ia mendengar si nona cilik menyebutnya bahkan juga nona itu tubuhnya dari kecil berubah menjadi besar itu.

Setelah mengawasi pula sejenak, Tan Hong menghampiri. Ia melihat orang tidak bermaksud buruk. Ia menanya halus : "Adik, apakah Sin Kut Kang ini pelajaran dari dalam kitab Ie Kin Kang ? Adik, siapakah itu gurumu ? Dan apakah namanya gurumu itu ?"

Mendadak si nona mengawasi dengan matanya dibuka lebar.

"Apa, apa kau menanya semua ini ?" tanyanya. "Kau sebenarnya mau mencari Couw Kong Put Lo atau hendak mengadu lari denganku ?"

Kembali Tan Hong melengak. Heran nona ini. Tapi justru ia melengak itu si nona justru sudah memutar tubuh buat lari ke dalam rimba. Walaupun dia heran sekali, Tan Hong pun segera lari menyusul. Ia pun ingin mengetahui tentang Couw Kong Put Lo yang disebutkan nona itu. Mereka berlari-lari melintasi rimba itu lalu disebuah tikungan Tan Hong kehilangan nona yang dikejarnya, sia-sia saja nona mencari kesana kemari. Disitu pun banyak pepohonan dan batu-batu besar dan batu-batu besar itu yang disebut batu rebung- letaknya tak teratur.

"Adik ! Adik !" ia memanggil-manggil.

Tan Hong tidak berani sembarangan untuk memasuki batu- batu rebung itu yang setelah dia awasi mirip sebuah "tiu" atau Barisan rahasia.

Sia-sia belaka panggilan itu yang terdengar cuma jawaban berupa kumandang yang lenyap terbawa angin. Sementara itu matahari sudah doyong pula ke barat. Sang magrib dengan cepat mendatangi. Dan Tan Hong berada seorang diri diantara tumpukan batu itu. Ia menjadi merasa sangat kesepian. Ia melihat kesekitarnya dengan pikiran kosong.

Tiba-tiba dari sela-sela beberapa buah batu rebung itu muncul seorang tua dewasa, tubuh tertutup jubah keimaman, dialah seorang yang kurus dan wajahnya pucat. Melihat orang itu, Tan Hong menjadi girang dengan mendadak. Tanpa menghiraukan siapa orang itu, ia lantas bertindak menghampiri, sembari memberi hormat dia menanya.

"Totiang, mohon bertanya, apakah Couw Kong Put Lo tinggal disini ?"

Orang itu mengawasi.

"Siapakah kau ?" dia balik bertanya. "Ada urusan apa kau mencari Couw Kong Put Lo ?" "Aku yang muda dari Hek Keng To," si nona menyahut dengan sebenar-benarnya. "Aku ingin menemui Couw Kong Put Lo guna menanyakan tentang seorang muda. "

Orang dengan jubah imam itu memperdengarkan suara "Oh !" perlahan. Rupanya ia merasa sedikit heran. Kemudian ia berkata pula : "Aku si orang tua ialah Couw Kong Put Lo. Kau ada bicara apa nona ? Mari masuk kedalam, di sana kita dapat bicara sambil duduk !" Ia pun terus mengasi jalan.

Tan Hong mengawasi. Ia melihat air muka orang berubah.

Tak mau ia lancang memasuki tempat orang.

"Jangan sungkan, totiang," katanya. "Aku cuma mau menanyakan tentang si orang muda. Tak berani aku mengganggu waktu totiang. "

Lantas orang tua itu menunjuk tampang tidak puas.

"Anak perempuan !" katanya dingin. "Nah, kau tanya itu !" "Orang muda itu totiang, biasa berdandan ringkas dan

membawa pedang di punggungnya, usianya dua puluh lebih. Apakah totiang pernah melihat dia ?"

Ditanya begitu, si orang tua tertawa lebar.

"Di dalam dunia persilatan ada banyak anak muda yang biasa membawa-bawa pedang !" katanya. "Sebenarnya nona, siapakah yang Nona Tanyakan itu ?"

"Dialah Tio It Hiong muridnya Tek Cio Totiang dari Pay In Nia." Tan Hong memberikan keterangannya. "Apakah totiang pernah bertemu dengannya ?" "Hm ! Hm !" orang itu mengasi dengan suara dingin. "Kiranya nona mencari bocah she Tio itu ! Percuma saja nona

!"

Tan Hong terkejut. Lantas muncul kekuatirannya, "Apakah adik Hiong telah menampak bencana?" Maka ia lantas menanya : "Totiang, apakah totiang pernah bertemu dengan dia ?"

Couw Kong Put Lo- demikian nama orang itu- tidak puas yang orang berulang-ulang memanggilnya Totiang. Itulah panggilan khusus buat rahib dari kaum To Kauw.

"Hm, bocah wanita !' katanya keras, "bagaimana kau memaksakan kau menjadi si hidung kerbau dari kalangan Sam Ceng ? Hm !"

"Sam Ceng" ialah tri tunggal kalangan To Kauw dan Couw Kong Put Lo tak menyukainya walaupun ia toh mengenakan jubah kaum agama itu.

Tan Hong heran hingga ia melengak. Tapi ia cerdas dan cerdik. Ia lantas ingat halnya banyak orang rimba persilatan yang tabiat dan sifatnya aneh.

"Maaf, maaf locianpwe" katanya cepat. "Harap locianpwe maafkan aku..." Ia lantas menatap tajam baru ia menambahkan, "Locianpwe, apakah anak muda she Tio itu pernah datang kemari ?"

"Hm !" kembali si orang tua mengasi dengan suara dinginnya. "Bukan saja bocah itu pernah datang kemari, bahkan hampir aku si tua menjual di waktu untuknya ! Dia sekarang berada di Goh Cit Kok, dia tinggal bersama dan galang gulung dengan Kip Hiat Hong Mo ! Mau apa kau cari dia?"

Mendengar itu Tan Hong girang berbareng terkejut. Girang sebab ia mendapat kabar ini, jadi Tio It Hiong tidak terbinasa, hanya ia kaget sebab ia menerka tentunya si "Adik Hiong" kena terkurung di dalam lembah Goh Cit Kok itu. Disaat dia hendak menanya pula, ia mendengar seperti orang berjalan yang datangnya dari belakang batu disisi jalan lalu sirap.

Untuk sejenak ia heran, hingga ia berdiam saja. Di lain saat ia toh terus menanya juga, "Locianpwe, dapatkah locianpwe menjelaskan padaku tentang pemuda Tio It Hiong itu ?"

Couw Kong Put Lo suka memberi keterangan. Kata dia, "Dia kesasar di Cenglo Ciang lalu dia ketemu denganku.

Lantas bersama-sama kami pergi ke Goh Cit Kok maksudnya guna membinasakan Kip Hiat Hong MoTouw Hwe Jie.

Kesudahannya aku si orang tua telah terluka didalam, tenagaku habis. Sebaliknya bocah itu, dia bukannya membantu aku, dia justru bersahabat dengan Touw Hwe Jie. Ketika aku pulang kemari, dia masih berada dilembah itu !"

Tan Hong mendapat harapan, walau ia tetap merasa kurang senang. Maka mau ia menanya pula orang tua itu atau ia lantas melihat mendatanginya dua orang. Seorang wnita tua dan seorang lagi seorang nona. Rupanya suara tadi suaranya mereka itu. Lekas-lekas dia bersembunyi dibalik batu darimana ia terus mengintai.

Selagi berjalan itu terdengar suara nyaring dari si nona, "Jangan kau berkuatir, Ciok Kauwcu ! Touw Hwe Jie berubah, suka turut dalam rombongan Bu Lim Cit Cun kalau Tio It Hiong ada bersamanya. Inilah soal mudah,aku Teng Hiang akan aku mencarikan seorang Tio It Hiong ! Kalau kita akali dia dengan Tio It Hiong palsu, mustahil dia tak mau muncul ?" "Hm !" Si perempuan tua memperdengarkan suaranya yang dingin. "Budak setan, enak saja kau bicara ! Touw Hwe Jie bukannya seorang bocah cilik, mana dia mudah diperdayakan

? Kalau kita pakai Tio It Hiong palsu, kemudian akal itu pecah bukankah itu bakal mendatangkan kesudahan yang lebih hebat ?"

"Hal itu jangan kauwcu kuatirkan." berkata pula si nona ialah Teng Hiang seperti dia menyebut namanya. "Aku tahu halnya seorang Tio It Hiong palsu. Di dalam segala hal dia sangat mirip dengan Tio It Hiong yang tulen. Jangan kata Touw Hwe Jie, Kauwcu sendiri yang bermata awas mungkin kau bakal tak dapat membedakannya !"

Dua orang itu bicara sambil berjalan terus sampai mereka melewati batu rebung di belakang mana Tan Hong menyembunyikan diri. Si wanita ialah Kwie Tiok Giam Po.

Teng Hiang membenci It Yap Tojin tak sudi ia mengangkat imam itu menjadi kepala dari Bu Lim Cit Cun. Maka itu selekasnya ia mendengar halnya Touw Hwe Jie dari Kwie Tiok Giam Po, dia membujuki kepala Losat Bun itu pergi ke Goh Cit Kok guna mencari Touw Hwe Jie, buat mengundang dan mengajaknya bekerja sama. Mereka gagal. Touw Hwe Jie menampik dengan alasan ia tidak mau campur pula urusan dunia Kang Ouw. Tapi mereka penasaran, mereka membujuki nyonya yang berilmu itu, sampai Touw Hwe Jie kewalahan dan memberitahukan, kalau toh ia muncul, ia akan berdiri di pihaknya Tio It Hiong atau sedikitnya Tio It Hiong yang datang mengundang atau memintanya turun gunung.

Habis daya Kwie Tiok Giam Po mengajak Teng Hiang berjalan pulang dengan tangan hampa tetapi di tengah jalan ini Teng Hiang mengutarakan akalnya buat memakai Tio It Hiong palsu buat memperdayakan Touw Hwe Jie. Bekas pelayannya Giok Peng itu mengusulkan Gak Hong Kun, maka kalau kejadian hendak dia pergi mencari Tio It Hiong palsu itu.

Diluar dugaan Teng Hiang, pembicaraan mereka itu dapat didengar Tan Hong.

Sementara itu Kwie Tiok Giam Po sudah lantas melihat Couw Kong Put Lo yang berdiri diam diatas batu rebung. Ia tertawa, dia berkata sambil menggapai : "Itu imam palsu, kenapa kau berdiri diam saja ? Apakah kau tengah mencuri dengar pembicaraan kami ?"

Couw Kong Put Lo menjawab dengan dingin : "Bagus perbuatan kalian ya ! Kalian menggunakan Tio It Hiong yang palsu buat mengakali Touw Hwe Jie, supaya dia turun gunung turut dalam usaha kalian ! Apakah kalian hendak mengacau dunia Kang Ouw hingga terwujudlah bencana berdarah rimba persilatan ?"

"Eh, Couw Kong Put Lo, jangan kau berpura-pura menjadi orang baik-baik !" kata Kwie Tiok Giam Po menegur. "Kau tahu kami hendak membangun apa yang dinamakan Bu Lim Cit Cun

! Kalau nama kau dapat turut mengambil bagian !"

"Ah, itulah suatu nama yang baru" berkata Couw Kong Put Lo, "perempuan tua bangkotan, bagaimana caranya kalian hendak membangun Bu Lim Cit Cun itu ?"

Kwie Tiok Giam Po menunda langkahnya. "Bu Lim Cit Cun bakal dipilih dengan menguji dulu kepandaian silat seseorang," ia memberikan keterangannya. "Dia yang paling lihai, dia  bakal diangkat menjadi pemimpin utama. Pemilihan sudah ditetapkan akan dilakukan pada tanggal lima belas bulan pertama lain tahun, diwaktu malam di puncak In Bu San. Apakah ada minatmu untuk turut dalam pemilihan itu ?"

Couw Kong Put Lo tertawa menyeringai, nampak dia masgul.

Dua puluh tahun Couw Kong Put Lo sudah melatih ilmu silatnya, dia memang bercita-cita buat menjagoi dalam dunia rimba persilatan, tetapi peristiwa di Goh Cit Kok membuatnya berduka dan masgul, sebab dia gagal mengumbar nafsu birahinya ! Hingga kesudahannya habislah tenaganya, hingga kepandaian silatnya tak dapat dipergunakan tanpa ia memiliki tenaga. Maka akhirnya ia ada minat, tiada tenaganya.

"Nanti saja bila waktunya sudah tiba !" kata dia. "kalau ada kegembiraanku, akan aku pergi ke In Bu San untuk melihat- lihat !"

"Sampai bertemu pula !" berkata Kwie Tiok Giam Po yang terus saja berlari pergi.

Couw Kong Put Lo pun lantas masuk ke antara batu-batu rebungnya.

Tan Hong sementara itu telah berpikir keras. Selagi Couw Kong Put Lo berbicara dengan Kwie Tiok Giam Po, ia pikirkan halnya It Hiong. Gerakan Bu Lim Cit Cun itu mengancam ketentraman kaum rimba persilatan, hal itu perlu disampaikan pada pihak Siauw Lim Pay. Ia pula perlu lekas pergi ke Siauw Lim Sie guna menemui Giok Peng dan Kiauw In guna mengabarkan tentang Tio It Hiong yang sudah lolos dari Ay Lao San, hanya entah berada dimana.

"Aku tidak tahu jalan keluar, baik aku ikuti dua orang itu," kemudian ia pikir lebih jauh. Dan lantas ia bekerja, ia berlompat akan menyusul Kwie Tiok Giam Po dan Teng Hiang, yang berlalu sambil berlari-lari. Sempat ia melihat orang menikung, ia menyusul terus, ia menguntit.

Di lain pihak, Gak Hong Kun sudah kabur bersama Teng It Beng. Selekasnya mereka berdua ditolongi secara tak langsung oleh gurunya, It Yap Tojin. Ia merasai bahunya sakit tetapi ia lari terus, sampai mencapai tigapuluh lie lebih, baru mereka mencari tempat singgah, guna beristirahat, buat mengobati luka mereka selama beberapa hari. Sejak itu ia sangat membenci orang To Liong To dan berniat sangat membalas sakit hati. Selama itu ia cuma bisa menyesal dan mendendam sebab ia insyaf seorang diri tak sanggup ia melawan Kang Teng Thian.

Pada suatu hari berdua Teng It Beng, Gak Hong Kun menimbulkan soal sakit hati itu.

Teng It Beng tertawa dan kata : "Saudaraku, tentang itu aku telah pikir jalannya hanya saja kita tidak dapat membalas langsung kepada Siauw Wan Goat dan Kang Teng Thian. "

"Bagaimana itu saudara Teng ?" Hong Kun tanya. "Coba kau jelaskan !"

"Sekarang ini Kang Teng Thian berdua lagi mencari Tio It Hiong" kata kakak angkat itu, "itu artinya mereka berada di luar To Liong To, maka juga marilah kita pergi ke pulaunya, kita serbu untuk membinasakan atau melukakan sejumlah orangnya. Tidakkah jalan ini akan melampiaskan juga sakit dendam kita ?"

"Jalan ini dapat diambil, cuma karena bukan terhadap mereka berdua rasanya kurang mempuaskan" Hong Kun menyatakan pikirannya. "Tetapi saudaraku," Teng It Beng terangkan lebih jauh, "itu pun suatu jalan buat menimpakan kesalahan pada Tio It Hiong

! Apakah kau tidak dapat berpikir sampai ke situ ? Dengan begini kita menambah hebatnya permusuhan mereka supaya mereka saling balas membalas diantara kawan sendiri ! Kita sendiri, menonton dari kejauhan saja !"

Gak Hong Kun terasadar.

"Kakak benar !" katanya bersuara. "Kenapa otakku menjadi begini gelap ? Kakak bagus akalmu ini, hayo kita segera berangkat ke To Liong To !'

Maka berangkatlah mereka itu.

Pulau To Liong To adalah sebuah pulau kecil diluar wilayah Liawrong. Pesisir yang terdekat dengannya ialah kecamatan Aulinsia, tempat yang hidup bagi kaum nelayan serta penduduk pedagang setempat. Disitu Gak Hong Kun berdua menyewa perahu, untuk pergi ke To Liong To. Selekasnya mereka mencari keterangan seperlunya mengenai pulau itu. Kira tengah hari tibalah mereka ditengah laut hingga disekitarnya mereka tak melihat daratan. Disitu gelombang makin besar dan sang angin bertiup makin keras. Ombak saban-saban mendampar kendaraan air, yang dapat laju dengan pesat.

Ketika matahari mulai turun ke barat ditengah laut muncul sebuah perahu yang besar yang layarnya tiga buah. Perahu besar itu menuju ke perahu kecil. Di atas perahu besar itu berkibar sebuah bendera besar yang memain diantara deburan sang angin. Dengan lekas kedua perahu sudah terpisah kira sepuluh tombak lebih satu dengan lain, lantas tukang perahu melaporkan pada Gak Hong Kun dan Teng It Beng soal perahu besar itu miliknya To Liong To. Cuma entah buat urusan apa mereka dihampiri.

Gak Hong Kun mengerutkan alis, tak tahu ia harus mengatakan apa, tetapi Teng It Beng kata : "Aku sudah mengerti, kau mundurlah!"

Tukang perahu itu menurut, ia mengundurkan diri. Segera juga terdengar suara bentakan dari luar perahu.

"Bagus mereka datang !" kata Teng It Beng. "mari kita labrak mereka, supaya mereka tahu siapa kita !"

Gak Hong Kun mengangguk. Berdua mereka lantas pergi keluar. Kedua kendaraan terpisah tinggal tiga tombak, lantas pihak perahu besar menggunakan dadung bandringan akan mencangkol tiang perahu layar perahu kecil.

Bendera perahu besar, bendera To Liong To merupakan naga yang tengah menonjolkan kukunya yang tajam, yang mulutnya bergigi tajam dipentang lebar. Di sisinya ada pula gambar tengkorak hitam dasar menyolok mata.

Di muka perahu besar itu terlihat sejumlah orang yang berpakaian seragam hitam, tubuhnya tinggi besar, tampangnya bengis, senjatanya golok semua. Lantas yang menjadi Tauwbak atau kepala berseru : "Perahu kecil, lekas serahkan semua barangmu, nanti aku beri jalan hidup buat kamu semua !"

Hong Kun menjawab perintah yang mengancam itu : "Kalau kamu bisa, kamu datanglah kemari mengambil sendiri !" Tauwbak itu bernama Thia Han Bin senjatanya sebuah golok besar, dua jeriji tangan kirinya buntung, sebab ketika bertempur di Siauw Lim Sie baru-baru ini dia kena ditebas pedangnya Pek Giok Peng. Dia menerima tantangan, dia berlompat ke perahu kecil, lantas saja dia menebas ke arah Gak Hong Kun dan Teng It Beng yang berdiri berendeng.

Gak Hong Kun menghunus pedangnya, ia menyampok pedang musuh itu.

Thia Han Bin terkejut. Hebat sambutan lawan hingga ia mundur setindak dan tangannya sesemutan. Tengah ia melongo, Hong Kun kata padanya : "Hendak aku pinjam mulutmu ! Kau beritahu pemimpinmu bahwa Tio It Hiong dari Pay In Nia datang untuk membuat perhitungan dengan Kang Teng Thian !"

Sengaja anak muda ini bersuara keras supaya anak buah kedua perahu itu mendengar terang-terang. Thian Han Bin tidak tahu akal orang. Ia percaya kata-kata itu, sembari maju pula guna menyerang kembali, ia teriaki salah satu orangnya ; "Lekas memberi laporan pada Tio To Cah. "

Hong Kun mau menunjuki pengaruhnya, ia menyambut serangan dengan keras sekali, setelah itu, ia membalas menyerang. Kembali ia berlaku keras, ia mendesak. Tiga kali ia membalas, saban-saban ia berseru nyaring dengan tebasan yang ketiga menyampok golok lawan hingga golok itu terpental ke laut, lalu menyusul tikamannya yang membuat musuh menjerit dengan tubuhnya roboh bermandikan darah sebab ujung pedang menembusi dadanya !

Dengan satu depakan, Gak Hong Kun membuat tubuh orang akhirnya tercebur ke laut ! Berbareng dengan robohnya orang itu ke laut, dari dalam perahu besar muncul tujuh orang lainnya. Serempak mereka itu lompat ke perahu kecil guna menerjang si anak muda.

"Kamu ingin cari mampus ?" bentak Teng It Beng yang maju menghadang akan terus menerjang, maka dalam beberapa gebrakan saja, empat orang roboh binasa. Tiga rebah terluka merintih-rintih !

Gak Hong Kun menjadi seperti kalap, dia lompat naik ke perahu besar, dia menerjang setiap orang yang paling dahulu diketemui hingga orang terbinasa atau terluka, hingga perahu besar itu berisik dengan jeritan-jeritan, rintihan dan tubuh bergelimpangan dilantai perahu, selain mereka yang roboh ke laut.

Segera juga dari dalam perahu muncul seorang usia empat puluh tahun lebih, yang tangannya mencekal seutas " Twie Hua Hot Bing So", tali "Pengejar Roh Perampas Nyawa".

Dengan suara "hm !" berulang-ulang dengan nadanya seorang mabuk, dia membentak "Bocah she Tio, bagaimana berani kau main gila disini ?" lalu terus ia menyerang !

Gak Hong Kun berkelit sambil dia pun berseru, "Kalau kau benar laki-laki sejati, kau beritahukan namamu !"

Orang itu menunda penyerangannya, dia mirip orang mabuk tetapi tubuhnya dapat berdiri tegak tanpa terhuyung sedikit juga. Dengan lantas ia menjawab : "Akulah Tio Siong Kang, Tocu nomor enam dari To Liong To ! Akan aku ambil nyawamu !" Dan ia meneruskan menerjang. Hebat serangan itu sebab talinya diluncurkan menjadi kaku dan dipakai untuk menotok jalan darah ! Tapi itulah tidak aneh, karena dalam menggunakan senjatanya itu Tio Siong Kang sudah berlatih selama dua puluh tahun lebih. Sebab itulah senjata istimewa, yang langka. Hanya hari itu, Tio Siong Kang tengah menenggak banyak arak, hingga dia sudah pusing tujuh bagian diwaktu datang laporan perihal penyerbuan musuh tidak dikenal itu.

Gak Hong Kun menyambut serangan itu. Hendak ia membuat tali putus. Maka ia membabat.

Lihai Siong Kang, dia dapat tahu maksud musuh. Dia menghindar diri dari babatan itu. Sebaliknya, begitu dia berkelit, begitu dia menyerang pula. Dua-dua gerakannya itu sama gesit dan cepatnya. Maka disitu mereka berdua lantas bertarung dengan seru. Gak Hong Kun terkejut. Beberapa kali ia menghadapi ancaman senjata lawan itu. Maka itu ketahui lihainya lawan, ia menggunakan tipu dari ilmu silat Heng San Pay, partainya itu.

Lekas juga Teng It Beng pun naik ke perahu besar, setelah ia menyaksikan dua orang itu lagi bertarung seru, ia tidak membantui kawannya. Sebaliknya ia melabrak musuh, hingga ia menyapu bersih kira-kira lima atau enam puluh orang To Liong To, setelah itu baru ia kembali ke tempat pertempuran, akan menonton....... 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(